MATEMATIKA – BAHASA INDONESIA

LAPORAN PKP – PGSD
PENGGUNAAN TEKNIK PROBING DALAM KELOMPOK KECIL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA KELAS VI B SD NEGERI PALINGGIHAN PURWAKARTA DAN PENGGUNAAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MEMBACA SISWA KELAS VI SD NEGERI PALINGGIHAN PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501)

Disusun Oleh: Nama :NURYATI NIM : 817280483 Program Studi : 089/PGSD-S1 Pokjar : Purwakarta Masa Registrasi : 2010.1

UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ BANDUNG TAHUN 2010

LEMBAR PENGESAHAN

JUDUL

:

PENGGUNAAN TEKNIK PROBING DALAM KELOMPOK KECIL UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIKA SISWA KELAS VI B SD NEGERI PALINGGIHAN PURWAKARTA DAN PENGGUNAAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MEMBACA SISWA KELAS VI B SD NEGERI PALINGGIHAN PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA NURYATI 817280483 PGSD-S1 PURWAKARTA 2010.1 SD NEGERI PALINGGIHAN PURWAKARTA

Nama Mahaiswa : NIM Program Studi Pokjar Masa Registrasi : : : :

Tempat Penelitian :

Menyetujui, Supervisor

Purwakarta, 28 Maret 2010 Peneliti

Dra. Puji Rahayu, M.Pd. NIP. 196006011986112001

Nuryati NIM. 817280483

i

BIODATA MAHASISWA

UPBJJ Masa Registrasi Pokjar Nama Mahasiswa NIM Program Studi Tempat Mengajar Teman Sejawat Supervisor/Pembimbing

: Bandung : 2010.1 : Purwakarta : Nuryati : 817280483 : PGSD-S1 : SD Negeri Palinggihan : Ida Nurjanah : Dra. Puji Rahayu, M.Pd.

Jadwal Bimbingan/Tutorial : 1. Sabtu/Minggu, 21 – 02 – 2010 2. Sabtu/Minggu, 28 – 02 – 2010 3. Sabtu/Minggu, 07 – 03 – 2010 4. Sabtu/Minggu, 14 – 03 – 2010 5. Sabtu/Minggu, 21 – 03 – 2010 6. Sabtu/Minggu, 28 – 03 – 2010

ii

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirrahim

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas kudrot dan irodatNya penulis dapat menyelesaikan laporan perbaikan pembelajaran ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) dengan judul “Penggunaan Teknik Probing dalam Kelompok Kecil untuk Meningkatkan Pemahaman Matematika Siswa Kelas VI B SD Negeri Palinggihan Purwakarta dan Penggunaan Metode Diskusi untuk Meningkatkan Pemahaman Membaca Siswa Kelas VI B Negeri Palinggihan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia” yang merupakan salah satu syarat dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501) pada Universitas Terbuka UPBJJ Bandung. Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada baginda yang agung Rasulullah SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan kepada seluruh umatnya sampai akhir zaman. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Palinggihan Plered

Purwakarta. Laporan Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) ini telah diupayakan disusun dengan seoptimal mungkin, meskipun tidak menutup kemungkinan terdapat kekurangan di dalamnya. Laporan ini dapat disusun berkat kerjasama semua pihak, maka dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Ibu Dra. Puji Rahayu, M.Pd. sebagai Dosen Pembimbing. 2. Bapak Kosih Rohmansyah, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah SD Negeri Palinggihan. 3. Ibu Ida Nurjanah sebagai teman sejawat. 4. Bapak Drs. Adrian Lamato, suami tercinta yang telah memberikan dorongan, serta memberikan semangat yang tulus selama penyusunan laporan ini. 5. Aditya, Tyan, Nisrina, anak-anakku yang kurang mendapat perhatian dan kasih sayang selama penyusunan laporan ini.

iii

6. Guru-guru dan murid Kelas VI B SD Negeri Palinggihan yang membantu dalam pembuatan laporan ini. Semoga Laporan PKP ini dapat memberikan manfaat yang berharga bagi pengembangan ilmu pendidikan, khususnya di lingkungan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Hanya kepada Allah SWT jualah kita semua berpasrah diri, semoga langkah kita senantiasa dalam bimbingan dan mendapat ridho dariNya. Akhirnya penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan laporan ini.

Purwakarta, 28 Maret 2010

Penulis

iv

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. BIODATA MAHASISWA .............................................................................. KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ A. Latar Belakang Masalah ....................................................................... B. Rumusan Masalah ................................................................................ C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran .......................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA ........................................................................... A. Pembelajaran Matematika di SD .......................................................... 1. Belajar Matematika dan Tujuan Pembelajaran .............................. 2. Metode Mengajar Matematika di SD ............................................. 3. Teknik Probing .............................................................................. 4. Pembelajaran dengan Teknik Probing ........................................... 5. Kelompok Kecil ............................................................................. B. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD................................................. 1. Pengertian dan Tujuan Membaca ................................................... 2. Metode Mengajar Bahasa Indonesia .............................................. 3. Metode Diskusi .............................................................................. 4. Keunggulan dan Kelemahan Metode Diskusi ................................ BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN ..................... A. Subjek Penelitian.................................................................................. B. Deskripsi Per-Siklus ............................................................................. 1. Mata Pelajaran Matematika............................................................ 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. A. Hasil Penelitian .................................................................................... 1. Mata Pelajaran Matematika............................................................ 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia................................................... B. Pembahasan .......................................................................................... 1. Pembahasan Hasil Pembelajaran Matematika ............................... 2. Pembahasan Hasil Pembelajaran Bahasa Indonesia ...................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... A. Kesimpulan .......................................................................................... B. Saran ..................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... LAMPIRAN i ii iii v 1 1 5 5 7 7 7 8 9 10 12 13 13 14 14 15 17 17 18 18 20 22 22 22 32 42 42 43 45 45 45 47

v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Mutu pendidikan dapat ditingkatkan melalui pola pikir yang digunakan sebagai landasan pelaksanaan kurikulum. Pada umumnya proses belajar mengajar berfokus pada guru dan bukan pada siswa akibatnya kegiatan belajar mengajar lebih ditekankan pada pengajaran daripada pembelajaran. Kata pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan dalam kemampuan sikap atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari perjalanan atau pelatihan. Tugas seorang guru di antaranya membuat agar proses pembelajaran pada siswa berlangsung secara efektif juga berkaitan erat dengan proses inovasi pembelajaran yaitu kemampuan guru melakukan penelitian sederhana. Salah satu penelitian sederhana yang dapat dilakukan guru sambil melaksanakan tugasnya di kelas adalah “Penelitian Tindakan Kelas” yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran sekaligus memberikan kontribusi meyakinkan bagi upaya memecahkan masalah-masalah pendidikan pada tataran praktis yaitu proses pembelajaran di kelas. Penelitian Tindakan Kelas merupakan penyelidikan secara sistematis dengan tujuan menginformasikan praktek pembelajaran dalam situasi tertentu. PTK juga merupakan suatu cara bagi guru untuk menemukan apa yang terbaik di dalam situasi kelas mereka itu sendiri, sehingga proses pembelajaran dapat diambil dengan sebaik-baiknya. Penelitian Tindakan Kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dimanfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan dan perbaikan pembelajaran, Mc. Niff (1992:2). Seiring dengan berkembangnya strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centred) yakni bagaimana peserta didik belajar dan memperoleh pengetahuan mereka secara individual atau kelompok dapat membangun sendiri pengetahuannya dari berbagai sumber belajar di sekitar kita.

1

1. Mata Pelajaran Matematika Aliran “konstruktidristik” menyatakan kekuatan matematika antara lain terdiri dari kemampuan untuk: 1. mengkaji, menduga dan memberi alasan secara logis, 2. menyelesaikan soal-soal yang tidak rutin, 3. mengkomunikasikan tentang dan melalui matematika, 4. mengaitkan ide-ide dalam matematika dan ide-ide antara matematika dan kegiatan intelektual lain, 5. mengembangkan percaya diri, watak dan karakter untuk mencari, mengevaluasi dan mengembangkan informasi kuantitatif dan spesial dalam menyelesaikan masalah dalam membuat keputusan. Hal-hal yang dapat menumbuhkan kesadaran tentang kekuatan matematika adalah ketekunan, keuletan, kekerasan hati, minat (interest), keingintahuan (eoriosity), dan daya temu atau daya cipta (inventiress). Mengingat pentingnya matematika bagi pengetahuan dan teknologi maka matematika perlu dipahami dan dikuasai oleh para siswa, hal ini dapat diwujudkan manakala peletakan landasan dasar (Pendidikan Matematika di Sekolah Dasar) berdasarkan pada metode dan cara pendekatan yang dilakukan sehingga sasaran yang diharapkan dapat tercapai. Pada kenyataannya meskipun guru dengan segenap kemampuan, dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan yang dilakukan akan tetapi kenyataanya hasil akhir dari pembelajaran kurang memuaskan. Salah satu pembelajaran yang menjadi kendala di kelas VI B SD Negeri Palinggihan adalah pada mata pelajaran matematika “kompetensi dasar memecahkan masalah perbandingan dan skala.” Pembelajaran ini dilaksanakan semester kedua tahun ajaran 2009/2010 pada tanggal 23 Februari 2010. Hasil ulangan dari kompetensi tersebut kurang memuaska. Dari 33 siswa hanya 17 orang yang memenuhi standar kelulusan atau 51,51%. Kriteria ketuntasan klasikal ditetapkan 75% dari seluruh siswa, permasalahan lainnya adalah dari proses pembelajaran itu sendiri yang belum maksimal, guru kurang memberikan motivasi dan arahan, sehingga siswa tidak ada keberanian untuk bertanya atau menjawab pertanyaan guru, hanya sebagian siswa yang berani mengembangkan pendapatnya. Untuk mengatasi kesulitan-

2

kesulitan tersebut penulis mengambil alternatif berupa pengajaran dengan teknik probing dalam kelompok kecil. Atas dasar uraian yang sudah dikemukakan sebelumnya, maka pembelajaran dalam teknik probing dalam kelompok hasil kecil, dapat dijadikan salah satu alternatif model pembelajaran matematika di kelas VI SD Negeri Palinggihan Purwakarta. Sebagai usaha untuk meningkatkan permasalahan siswa tentang memecahkan masalah perbandingan dan skala. Pembelajaran dengan teknik probing yakni suatu teknik pembelajaran dengan membimbing siswa agar mampu membangun pengetahuannya sendiri. Pembelajaran berbasis masalah menuntut aktivitas mental siswa dalam memahami suatu konsep, melatih siswa untuk refleksikan persepsinya, argumen dan komunikasi ke pihak lain, sehingga guru dapat memahami sekaligus membimbing, mengintervensi, ide baru berupa konsep atau prinsip. Lebih lanjut penulis tertarik untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Penggunaan Teknik Probing dalam Kelompok Kecil untuk Meningkatkan Pemahaman Matematik Siswa Kelas VI B SD Negeri Palinggihan Purwakarta”. 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa merupakan alat komunikasi yang mengandung beberapa sifat sistematika, mana suka, ujar manusia, dan komunikatif. Setiap bahasa mengandung dua sistem yakni sistem bunyi dan sistem makna. Pembelajaran akan berlangsung efektif dan efisien apabila didukung dengan kemahiran guru mengatur strategi pembelajaran. Membaca merupakan kegiatan memahami bahasa tulis, proses membaca sangat rumit dan kompleks karena melibatkan beberapa aktivitas fisik dan mental. Proses membaca terdiri dari beberapa aspek: a. aspek sensori yaitu kemampuan untuk memahami simbol tertulis, b. aspek perseptual yaitu kemampuan untuk menginterpretasi apa yang dilihat sebagai simbol, c. aspek skemata yaitu kemampuan untuk menghubungkan informasi tertulis dengan struktur

pengetahuan yang telah ada, d. aspek berpikir yaitu kemampuan membuat

3

inferensi, evaluasi, dan materi yang dipelajari, e. aspek afektif yaitu yang berkenaan dengan minat pembaca yang terpengaruh terhadap kegiatan membaca. Interaksi antara kelima aspek tersebut secara harmonis akan menghasilkan pemahaman membaca yang baik, yakni terciptanya komunikasi yang baik antara penulis dan pembaca. Membaca mempunyai peran yang sangat penting untuk menambah pengetahuan seseorang. Oleh sebab itu, agar peningkatan pemahaman dalam diri siswa itu terjadi, guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan interaksi beberapa pihak dapat terjadi, guru harus membuat perencanaan pembelajaran yang matang. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya standar kompetensi memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama dengan kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amat) pada teks drama anak mengalami kendala. Masalah yang dihadapi melihat dari hasil ulangan yang dilaksanakan pada semester kedua tahun 2009/2010 pada tanggal 9 Maret 2010. Hasil ulangan kompetensi dasar tersebut masih belum memuaskan, dari 33 siswa hanya 17 orang yang memenuhi standar kelulusan klasikal atau 51,51%. Faktor lain karena pelatihan siswa masih belum terpusat pada pembelajaran, guru kurang memberikan motivasi yang

menyebabkan siswa tidak ada minat untuk belajar Bahasa Indonesia. Berdasarkan pada permasalahan di atas tentu harus ada upaya agar pencapaian hasil belajar dapat meningkat, salah satu upaya yang dilakukan penulis untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran. Sebab metode ini dapat melibatkan seluruh siswa, siswa dapat berbagi pengetahuan, pandangan, dan keterampilan, kegiatan siswa lebih aktif terutama dalam bentuk melalui komunikasi verbal. Untuk itu penulis mengadakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Pemahaman Membaca Siswa Kelas VI B SD Negeri Palinggihan pada Pembelajaran Bahasa Indonesia”.

4

B. Rumusan Masalah 1. Mata Pelajaran Matematika Berdasarkan latar belakang masalah maka indetifikasi masalah yang telah diuraikan sebelumnya dan dari hasil analisis masalah maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah pembelajaran matematika dengan

menggunakan teknik probing dalam kelompok kecil dapat meningkatkan nilai matematika siswa? Untuk lebih terfokusnya penelitian ini maka batasan penelitiannya adalah sebagai berikut: a. Apakah dengan menggunakan teknik probing dalam kelompok kecil pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan pemahaman matematika siswa? b. Apakah ada kendala penerapan teknik probing dalam kelompok kecil pada pembelajaran matematika? 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Hasil penelitian Bahasa Indonesia berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah adalah sebagai berikut: apakah dengan menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan nilai siswa? Untuk lebih terarahnya penelitian ini batasannya adalah sebagai berikut: a. Apakah dengan metode diskusi pemahaman membaca siswa akan meningkat? b. Apakah ada kendala penerapan metode diskusi pada pembelajaran Bahasa Indonesia?

C. Tujuan Penelitian 1. Mata Pelajaran Matematika Tujuan penelitian dengan menggunakan teknik probing dalam kelompok kecil pada pelajaran matematika matematika adalah: a. Untuk mengetahui pemahaman siswa dalam pembelajaran matematika dengan teknik probing.

5

b. Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam KBM dengan menggunakan teknik probing dalam kelompok kecil pada pembelajaran matematika. 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tujuan penerapan metode diskusi pada pembelajaran Bahasa Indonesia adalah: a. Untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode diskusi. b. Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam KBM dengan metode diskusi.

6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Matematika di SD 1. Belajar Matematika dan Tujuan Pembelajaran Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat pundamental dalam jenis dan jenjang pendidikan. Berhasil atau tidaknya pencapaian pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami siswa baik di lingkungan sekolah atau di lingkungan masyarakat. Reber (dalam Muhibbin, 2001: 91) membatasi belajar dengan dua macam definisi yaitu : Pertama belajar adalah the proces of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Kedua, belajar adalah A relaftively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam belajar matematika seseorang dituntut untuk mampu mencapai apa yang menjadi tujuan pembelajaran. pembelajaran matematika sesuai

dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas 2008:134 - 135) yaitu: a. Matematika menggunakan befungsi untuk mengembangkan pemecahan kemampuan masalah dan

matematika

dalam

mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain. b. Tujuan Pembelajaran Matematika Adalah :. 1) Memahami konsep matematika, menjelasakan keterkaitan antara konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan

manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan, dan pernyataan matemtika.

7

3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dam menafsirkan solusi yang diperoleh. 4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam

kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. c. Matematika untuk jenjang Sekolah Dasar adalah sebagai berikut: 1) Bilangan 2) Pengukuran dan Geometri 3) Pengelolaan Data 2. Metode Mengajar Matematika di SD Menurut Lisnawati (dalam Setiawan, 2003:11) menyatakan bahwa: Apabila kita ingin mengajarkan sesuatu pada peserta didik dan berhasil, pertama-tama yang harus diperhatikan adalah metode atau cara pendekatan yang yang dilakukan, sehingga sasaran yang diharapkan dapat tercapai atau terlaksana dengan baik, karena metode atau cara pendekatan yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Metode secara harfiah berarti “cara” dalam pemakaian yang umum , metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep secara sistematis (Muhibbin,2001 ) sedangkan yang dimaksud metode mengajar menurut Tardif ( dalam Muhibbin, 2001: 201) “adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan materipelajaran kegiatan kepada kependidikan, siswa”. Lebih khususnya lanjut kegiatan penyajian (1991:281) Ruseffendi

mengungkapkan bahwa “metode mengajar adalah cara mengajar atau cara menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk setiap pelajaran atau bidang studi.”

8

Pemilihan metode yang benar, efektif dan efisien itu tergantung dari strategi belajar mengajar yang telah dipilih. Guru yang profesional dan kreatif akan memilih metode mengajar yang lebih tepat setelah menentukan topik pembahasan materi dan tujuan pelajaran serta jenis kegiatan belajar siswa yang dibutuhkan. Walaupun pada prinsipnya, tidak satu pun metode mengajar yang dipandang sempurna dan tepat dengan semua pokok bahasan yang ada dalam setiap pembelajaran, karena setiap metode mengajar memiliki keunggulan dan kelemahan yang berbeda, jadi tugas guru di sini adalah bagaimana menyeimbangkan atau memodifikasi setiap metode tersebut agar bisa mengurangi setiap kelemahannya. 3. Teknik Probing Pengertian teknik probing menurut bahasa adalah penyelidikan atau pemeriksaan. Probing berupa pertanyaan yang sifatnya menggali untuk mendapatkan jawaban lebih dari siswa yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami jawaban terhadap pertanyaan sebelumnya. Pandangan lain mengembangkan probing adalah teknik dalam pembelajaran dengan mengajukan satu seri pertanyaan untuk membimbing siswa menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya menjadi pengetahuan baru. Teknik probing dalam pembelajaran adalah cara guru kepada siswa melalui serangkaian pertanyaan yang bertujuan untuk mengiringi siswa sampai pada pemahaman yang dimaksud untuk meningkatkan jawaban sehingga jawaban berikutnya lebih jelas, akurat serta beralasan (Setiawan dan Lina, 2006 :14 ). Menurut Erman ( 2004) probing adalah pembelajaran dengan cara guru memberikan serangkaian pertanyaan kepada siswa yang sifatnya membimbing dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamanya dengan pengetahuan yang disajikan guru. Selanjutnya siswa mengkonstruksinya menjadi pengetahuan baru, jadi konsep baru tidak diberitahu.

9

Tehnik probing merupakan bagian dari metode tanya jawab dimana proses tanya jawab secara acak menjadi dominan sehingga setiap siswa mau tidak mau berpartisipasi aktif. Dalam tanya jawab inin memungkinkan terjadinya komunikasi langsung antara penanya dan yang menjawab. Dalam hal ini guru berperan sebagai penanya dan siswa yang menjawab apabila ada sesuatu yang kurang jelas bagi siswa. 4. Pembelajaran dengan Teknik Probing Pembelajaran dengan Teknik probing menurut Dahar (dalam

Windayana, 2002 : 16 ) adalah “suatu teknik pembelajaran dengan membimbing siswa agar mampu membangun pengetahuannya sendiri.” Pembelajaran dengan teknik probing merupakan bagian dari pembelajaran berbasis masalah, situasi atau masalah menjadi titik tolak pembelajaran. Pembelajaran ini menuntut aktifitas mental siswa dalam memahami suatu konsep, siswa dilatih untuk menrefleksikan persepsinya, mengemukakan dan mengomunikasikan ke pihak lain sehingga memahami proses berpikir siswa, dan guru bisa membimbing dan mengitervensikan ide baru berupa konsep atau prinsip. Dalam pembelajaran denga teknik probing kemungkinan suasana tegang akan tejadi terutama bagi siswa yang tidak siap belajar, namun demikian bisa dibiasakan dan untuk mengurangi ketegangan itu guru menyajikan pertanyaan tersebut dengan disertai senda gurau. Dalam pembelajaran denga teknik probing sama halnya dengan metode inquiri dimana langkah pertamanya adalah menghadapkan siswa pada situasi baru yang mengundang teka-teki, kemudian menyelidiki respon siswa dan dilanjutkan dengan penyelidikan penalarannya. Selama tahap yang dihadapi siswa, guru senantiasa membimbing untuk dapat

mengkomunikasikan perkembangan pengetahuannya. More dan Parkel (dalam Sujarwo 2000 : 19 ) menyatakan bahwa : Ketika siswa menghadapi situasi yang baru, siswa akan menghadapi pertentangan dengan latar belakang pengetahuannya, sehingga muncul tanggapanm berfikir siswa terhadap apa yang dihadapinya berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Latar belakang pengetahuan siswa ikut

10

menentukan respon siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang diahadapinya dan ketika respon itu kurang tepat maka tehnik probing mulai diperlukan. Terdapat dua aktifitas yang saling berhubungan dalam pembelajaran menggunakan teknik probing, yaitu aktifitas berpikir dan fisik yang berusaha membangun pengetahuan baru dan aktifitas guru yang berusaha membimbing siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam membangun pengetahuan baru. Pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik probing langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : a. Langkah I: Guru menghadapkan siswa pada situasi baru, misalnya memperhatikan cerita, bagan gambar atau situasi lainnya yang mengandung teka-teki. b. Langkah II: Guru mengajukan persoalan kepada siswa yang sesuai dengan indikator. c. Langkah III: Guru menunjuk salah satu siswa untuk menjawabnya atau mengerjakannya. d. Langkah IV: Guru mengajukan soal ulangan yang sejenis kepada siswa untuk mengecek apakah permasalahan sudah dikuasai siswa lain atau belum e. Langkah V: Siswa bersama guru membuat rangkuman dan kemudian guru memberikan PR.

Sujarwo (2000) mengemukakan pola umum pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik probing meliputi tiga tahapan yaitu : a. Kegiatan awal: guru menggali pengetahuan prasyarat yang sudah dimiliki siswa atau membahas pekerjaan rumah (PR) dengan menggunakan tehnik probing. b. Kegiatan Inti : proses pembelajaran dengan teknik probing dimulai dari pengembangan dan penerapan-penerapan materi.

11

c. Kegiatan akhir ; membuat suatu rangkuman sebagai kesimpulan dari proses kegiatan pembelajaran dan memberikan PR untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam belajarnya setelah selesai melakukan kegiatan inti. 5. Kelompok Kecil Pembelajaran kelompok kecil merupakan model yang didasari sistematis mengelompokkan siswa agar tercipta pembelajaran yang efektif serta dapat menghasilkan keterampilan sosial siswa bermuatan akademis. Dalam pembelajaran kelompok kecil siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang saling bekerja sama untuk menyelesaikan masalah atau suatu tugas dalam mencapai tujuan bersama (Tim MKPBM dalam siswa, 2006:17). Pembelajaran kelompok kecil menurut Erman (2004) yaitu belajar secara bersama dalam sutau kelompok tertentu untuk memecahkan suatu persoalan kegiatan menemukan. Pembelajaran kelompok kecil sesuai dengan fitrah siswa yaitu manusia sebagai mahluk sosial, yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. Dengan memanfaatkan kenyataan itu belajar kelompok diterapkan dalam matematika. Dengan belajar kelompok, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling membantu dan berbagi tanggung jawab, siswa belajar dan berlatih interaksi dengan temannya, berbagi pengalaman dan pengetahuannya. Guru memainkan peranan yang menentukan dalam menerapkan modal pembelajaran kelompok kecil yang efektif. Materi dan pelajarannya harus disusun sedemikian rupa sehingga setiap siswa dapat bekerja untuk memberikan sumbangan pemikiran atau pengetahuannya pada kelompoknya. Pembelajaran kelompok kecil memungkinkan terjadinya probing. Dalam pembelajaran kelompok kecil akan terjadi diskusi baik antar siswa itu sendiri maupun siswa denga guru. Seperti yang dikemukakan oleh Suhena (dalam Lina, 2006:21) bahwa dalam pembelajaran kelompok kecil gagasan awal siswa lebih mudah dimunculkan. Partisipasi siswa selama pembelajaran lebih terlihat, reaksi siswa cukup baik terhadap kegiatan diskusi, karena

12

masing-masing siswa terlibat diskusi baik dalam lingkup kelompok maupun kelas.

B. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD 1. Pengertian dan Tujuan Membaca Empat keterampilan berbahasa (language skill) yang fungsional dalam interaksi linguistik meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek keterampilan berbahasa itu dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu keterampilan yang besifat mengungkapkan (ekspresif) dan keterampilan yang bersifat menerima (reseptif). Keterampilan berbicara dan menulis termasuk ke dalam keterampilan ekspresif. Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut memiliki keterkaitan secara fungsional. Sebagai keterampilan reseptif, membaca merupakan kegiatan pikiran untuk memperoleh dan memahami informasi dari lambang-lambang informasi dari bahasa tulis. Dalam konteks teknologi makna ini, Nurgiyantoro (1988:225) mengemukakan bahwa “membaca merupakan suatu aktifitas memahami apa yang dituturkan pihak lain melalui sarana tulisan.” Batasan ini memberi arti hakikat membaca sebagai suatu proses kejiwaan untuk mengubah lambang-lambang verbal menjadi wujud makna atau proses indetifikasi dan interprestasi terhadap simbol-simbol tertulis dan mengasosiasikannya dengan makna secara luas. Patede (1998:93) memutuskan hakikat membaca yaitu sebagai berikut: Membaca merupakan suatu proses mengindentifikasi dan membaca mengandung pengertian menyelusuri pesan yang disampaikan melalui sistem bahasa. Jadi, membaca merupakan pengenalan dan persepsi struktur bahasa sebagai keseluruhan untuk memadukan makna yang tersurat dan yang tersirat dengan mengkomunikasikan struktur- struktur bahasa itu. Aktifitas membaca dilakukan dengan beragam cara sesuai dengan fase, tujuan dan metode membaca. Brongton seperti yang dikutip tangan (1990:11) mengemukakan dua aspek keterampilan membaca yang dikaitkan dengan tujuan membaca yaitu: “Keterampilan yang bersifat mekanis dan keterampilan yang bersifat pemahaman (compreheurson skill).” Keterampilan mekanis bertujuan untuk mengawali dan menyuarakan lambang tulisan yang bermakna, sedangkan

13

keterampilan pemahaman bertujuan untuk mengubah wujud tulisan menjadi wujud makna atau menskontruksi dan menangkap makna informasi dari lambanglambang berbahasa tulis. Tujuan setiap pembaca adalah memahami bacaan yang dibacanya. Dengan demikian pemahan merupakan faktor yang amat penting dalam membaca. Pemahaman terhadap bacaan dipandang suatu proses yang terus menerus, dan berkelanjutan. Membaca pemahaman sebagai sebuah proses mempercayai bahwa upaya memahami bacaan sudah terjadi ketika kita belum membaca buku apapun. Begitu besar peran membaca untuk menambah pengetahuan seseorang. Begitu besar pola peran orang lari dalam penyempurnaan pemahaman seseorang terhadap apa yang dibacanya. 2. Metode Mengajar Bahasa Indonesia Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, strategi bermakna, rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus dalam proses pembelajaran guru harus memiliki strategi agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Dalam menyajikan nilai pembelajaran guru tidak terpaku hanya pada satu tehnik saja. Beberapa ciri metode yang baik adalah: mengandung rasa keingintahuan siswa, menantang murid untuk belajar mengaktifkan mental, fisik dan psikis siswa, memudahkan guru mengembangkan kreatif murid, mengembangkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari. Metode yang perlu dikuasai guru dalam mengatur strategi pembelajaran berbahasa yaitu: diskusi, sosio drama atau bermain peran, tanya jawab, penugasan latihan, bercerita, pemecahan masalah, karya wisata. Bahwa tidak ada satu pun metode yang paling tepat dalam pembelajaran, akan tetapi baik tidaknya suatu metode tergantung dari orang yang memberikan pembelajaran. 3. Metode Diskusi Diskusi adalah unsur penting dalam belajar kelompok (Jarahimek dan Parku, 1999:33). Dengan berdiskusi terdapat keanekaragaman pendapat dan sudut pandang dari berbagai kelompok karena partisipasi siswa secara luas sangat diperlukan.

14

Diskusi adalah suatu metode pembelajaran agar siswa dapat berbagi pengetahuan, pandangan keterampilan. Tujuan diskusi adalah untuk mengekspresikan pendapat atau pandangan yang berbeda dan untuk mengidentifikasi berbagai kemungkinan. Jhendal dan Marjono (Depdiknas, 2004-16) mengatakan ada lima

kemampuan berpikir dan penalaran pada diri siswa yaitu: a. Memahami dan menggunakan prinsip dasar logika dan menyampaikan argumen. b. Memahami dan menggunakan prinsip dasar menyampaikan argumen. c. Menggunakan proses mental secara efektif berdasarkan kesamaan dan perbedaan. d. Memahami dan mengunakan prinsip dasar pengujian hipotesis dan pemahaman saintipik. Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran memungkinkan adanya keterlibatan siswa dalam proses interaksi yang lebih luas, antara lain menggunakan tanya jawab sekitar masalah yang dibahas. Biasanya pertanyaan dan jawaban dikemukakan sendiri oleh siswa sehingga hal ini mencerminkan keaktifan siswa yang tinggi dalam belajar. Diskusi dilakukan bertolak dari masalah. 4. Keunggulan dan Kelemahan Metode Diskusi Setiap metode memilki kelebihan dan kelemahan sendiri. Kelebihan dari metode diskusi adalah semua siswa terlibat secara maksimal, interaksi, spontan di antara sesama anggota saling membimbing dan membantu dalam usaha-usaha kelompok. Terlihat pada tujuan, setiap anggota bersifat demokrasi untuk mencapai konsensus pendapat melalui argumentasi. Denis. S. Couran (1974:145-149) mengidentifikasi kelemahan- kelamahan metode diskusi sebagai berikut: adanya anggota kelompok yang tidak patuh, adanya anggota yang mempunyai dukungan cenderung curang/tidak jujur, sebagai anggota tidak setuju dengan pembahasan cenderung mempertahankan pendapat kelompok, ada anggota yang lebih tahu dari anggota yang lain, kadang-kadang timbul konflik pribadi dengan kata-kata yang kurang bijaksana.

15

Langkah langkah penggunaan metode diskusi dalam membaca langkah langkah yang dilakukan dalam pembelajaran membaca: a. Mempersiapkan kondisi yang baik. b. Membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. c. Memberikan penjelasan topik yang akan didiskusikan. d. Melaksanakan diskusi. e. Mempersentasikan hasil diskusi. f. Menyimpulkan hasil diskusi.

16

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A. Subyek Penelitian Subyek yang menjadi penelitian ini adalah siswa kelas VI B SD Negeri Palinggihan yang berlokasi di Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini diambil dari proses pembelajaran Matematika (Eksakta) dan Bahasa Indonesia (Non Eksakta), hal ini dilakukan karena peneliti mengajar tersebut. Waktu yang digunakan untuk melaksanakan penelitian tindakan dimulai dari tanggal 2 Maret 2010 untuk Eksakta (Matematika) dan tanggal 15 Maret 2010 untuk Non Eksakta (Bahasa Indonesia), alasan peneliti untuk mengambil kedua mata pelajaran tersebut karena melihat dari hasil proses pembelajaran keduanya sangat minim, selain itu siswa kurang termotivasi bahkan kelihatan jenuh dan males untuk belajar Matematika dan Bahasa Indonesia. Jadwal pelaksanaan perbaikan pembelajaran tercantum pada tabel di bawah ini: Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Matematika (Eksakta) dan Bahasa Indonesia (Non Eksakta) No 1. 2. 3. 4. Mata Pelajaran Matematika Matematika Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Pelaksanaan Tindakan Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II Hari/Tanggal Selasa, 2 Maret 2010 Selasa, 9 Maret 2010 Senin, 15 Maret 2010 Sabtu, 20 Maret 2010 Waktu 2 x 35 Menit 2 x 35 Menit 2 x 35 Menit 2 x 35 Menit

Karakteristik siswa Kelas VI B yang dijadikan subyek penelitian adalah kelas VI B Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah 33 orang, terdiri dari 18 siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan. Siswa kelas ini rata-rata berusia 12-14 tahun dan berasal dari latar belakang yang berbeda baik dari segi ekonomi maupun dari pendidikan orang tua, pada umumnya siswa-siswa tersebut berasal dari ekonomi rendah. 17

B. Deskripsi Persiklus 1. Mata Pelajaran Matematika a. Tindakan Perbaikan Siklus I 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan pada siklus ini berdasarkan pada hasil pembelajaran sebelumnya yang akan dicari solusinya. Melihat dari hasil analisis dan masalah, peneliti berdiskusi dengan kepala sekolah untuk menentukan waktu pelaksanaan penelitian,

menentukan guru yang dilanjutkan dengan

akan membantu dalam penelitian dan menyusun rencana

merancang

pembelajaran, membuat rencana perbaikan pembelajaran dengan menentukan langkah-langkah yang akan dilaksanakan pada proses pembelajaran, menyusun lembar observasi, menyusun instrumen penilaian. 2) Pelaksanaan Tindakan pembelajaran siklus ini dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Maret 2010 dengan kompetensi dasar memecahkan masalah perbandingan dan skala dengan indikator menjelaskan masalah perbandingan dan skala. Metode yang digunakan adalah

pendekatan teknik probing dengan waktu 2 x 35 menit. Peneliti bertindak sebagai guru, peneliti dibantu oleh seorang pengamat yang mencatat kejadian-kejadian selama proses pembelajaran dengan mengisi lembar observasi. 3) Observasi Lembar observasi yang digunakan adalah observasi yang ditujukan untuk melihat aktivitas siswa dan observasi untuk melihat aktivitas guru selama proses pembelajaran. Hasil dari observasi siklus ini digunakan untuk perbaikan-perbaikan tindakan siklus selanjutnya.

18

4) Refleksi Setelah selesai proses pembelajaran, peneliti dan pengamat mendiskusikan hasil temuan, kelebihan, kekurangan, dan kendalakendala yang dihadapi untuk perbaikan pada siklus selanjutnya. b. Tindakan Perbaikan siklus II 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan pada tahap ini adalah menyusun rencana perbaikan pembelajaran dengan menentukan langkahlangkah yang akan ditempuh, menentukan metode dan teknik pembelajaran yang akan digunakan, selain itu peneliti menyusun instrumen obsevasi dan soal tes yang akan dikerjakan oleh siswa. 2) Pelaksanaan Pembelajaran dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Maret 2010, dengan kompetensi dasar memecahkan masalah perbandingan dan skala indikator menjelaskan cara memecahkan masalah perbandingan dan skala. Pada dasarnya perbaikan pada siklus ini hampir sama dengan pelaksanaan siklus sebelumnya hanya berbedaan terletak pada pembahasan materi pembelajaran. Pada proses pembelajaran peneliti dibantu oleh seorang pengamat yang memantau jalannya proses pembelajaran dengan mengisi lembar observasi keaktifan anak dan peneliti. 3) Observasi Lembar observasi digunakan untuk melihat keberhasilan dalam proses pembelajaran, di mana hasil lembar observasi pada tahap ini dapat membantu menentukan berhasil tidaknya peneliti dalam perbaikan pembelajaran. 4) Refleksi Setelah peneliti selesai melaksanakan perbaikan maka berdiskusi dengan pengamat menganalisis penguasaan hasil belajar dari mulai daya serap secara klasikal, hasil aktifitas siswa selama

19

pembelajaran berlangsung, sehingga peneliti mengetahui berhasil atau tidaknya proses perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan. 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Tindakan Perbaikan Siklus I 1) Perencanaan Pada siklus ini perencanaan diambil setelah menganalisis proses pembelajaran sebelumnya yang mempunyai kendala untuk diperbaiki, pada tahap ini peneliti berdiskusi dengan kepala sekolah dan guru-guru yang ada di lingkungan untuk mencapai

penyelesaian dari masalah yang dihadapi, peneliti menentukan teman sejawat yang akan membantu dalam proses perbaikan pembelajaran. Selanjutnya peneliti merancang dan menyusun rencana perbaikan pembelajaran, dengan menentukan waktu pelaksanaan, menentukan metode, menentukan bentuk tes

penilaian, juga membuat lembar obsevasi yang akan digunakan oleh pengamat untuk memantau proses pembelajaran. 2) Pelaksanaan Tindakan pelaksanaan siklus I ini dilaksanakan pada hari Senin,15 Maret 2010, kompetensi dasar mengindentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, amanat, jalur cerita) dari teks drama anak. indikator yang dicapai adalah menentukan tokoh, sifat, latar, dan tema. Pada pelaksanaan ini peneliti menggunakan metode diskusi siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk mendiskusikan materi pembelajaran dengan menyimak naskah drama yang disediakan. Dalam perbaikan ini peneliti dibantu oleh seorang pengamat yang mengamati proses pembelajaran dengan mengisi lembar observasi yang sudah disediakan. 3) Observasi Observasi dilakukan oleh pengamat dengan mengisi lembar observasi yang telah tersedia, pengamat memantau jalanya proses

20

pembelajaran, baik keaktifan siswa maupun usaha-usaha yang dilakukan peneliti. Hasil dari observasi ini menetukan langkah yang akan ditempuh pada proses pembelajaran selanjutnya. 4) Refleksi Refleksi dilakukan setelah selesai pembelajaran, peneliti bersama pengamat menganalisis hasil temuan-temuan, kelebihan, dan kekurangan, untuk dijadikan bahan ancaman pada perbaikan selanjutnya siklus II. b. Tindakan Perbaikan Siklus II 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan pada tahap ini, peneliti mengkaji dari hasil pembelajaran pada siklus sebelumnya, membuat rencana perbaikan pembelajaran dengan menentukan langkah-langkah yang akan dilaksanakan, menentukan metode, mencari sumber belajar yang berupa naskah drama, menentukan bentuk tes penilaian membuat lembar obsevasi yang akan digunakan oleh pengamat. 2) Pelaksanaan Tindakan pelaksanaan siklus II, pembelajaran dilaksanakan pada hari Sabtu, 20 Maret 2010, dengan kompetensi dasar mengindentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, amanat, jalur cerita) dari teks drama anak. Pada dasarnya pembelajaran pada siklus ini hampir sama dengan pembelajaran sebelumnya hanya berbeda adalah pembahasan naskah drama.

21

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Pada bagian ini dipaparkan mengenai data hasil penelitian dan pembahasannya dari temuan-temuan seluruh kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan. 1. Mata Pelajaran Matematika a. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I Pembelajaran pada siklus I berpedoman pada rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang disusun peneliti. Kompetensi dasar yang diajarkan adalah memecahkan masalah perbandingan dan skala. Pengajaran dilakukan oleh peneliti yang disajikan dalam waktu dua jam pelajaran atau 2 x 35 menit. Metode yang digunakan adalah metode tanya jawab dengan teknik probing dalam kelompok kecil. Pada kegiatan awal dilakukan apersepsi untuk mengecek pengetahuan awal siswa khususnya perbandingan yang telah dipelajarinya di kelas V. Kegiatan inti diberikan pemahaman informasi atau pemahaman tentang cara memecahkan masalah perbandingan dan skala yang dilakukan dengan menggunakan teknik probing. Pada akhir kegiatan peneliti beserta siswa menyimpulkan inti pembelajaran yang dilaksanakan pada hari itu menggunakan teknik probing. Pengamatan pada siklus I difokuskan pada pola probing dalam kegiatan awal, inti dan akhir dan respon siswa terhadap probing, serta aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran. Pada siklus I dalam kegiatan awal yaitu apersepsi selalu mengundang jawaban serempak karena pertanyaan sifatnya mengingat kembali, sehingga guru menunjuk kembali satu orang untuk mengulang jawaban. Pada tahap ini pola probing tidak direncanakan karena tidak sampai pada pembentukan pengetahuan baru siswa dan hanya mengulang materi. Pertanyaan probing pada pembelajaran Siklus I memberikan respon kurang baik, yaitu sebagian siswa hanya diam saja, sebagian siswa hanya diam saja ketika diberi pertanyaan dan hanya sebagian kecil siswa yang memberikan

22

jawaban atas pertanyaan yang telah diajukan hal ini disebabkan karena siswa merasa takut untuk memberikan jawaban. Untuk persentase aktivitas siswa pada siklus I juga masih relatif kecil atau menghasilkan respon kurang baik (45,45%) seperti dilihat pada tabel. Tabel 2 Persentase Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Matematika Siklus I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 S – 25 S – 26 S – 27 S – 28 S – 29 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L Aktivitas Siswa + + ++ + + + ++ + + + + + + + ++ Keterangan = Kurang + = Cukup ++ = Baik

23

30 31 32 33 Kurang Cukup Baik

S – 30 S – 31 S – 32 S – 33

P L L P

+ + ++ 45% 42,42% 12,12%

Selain proses pembelajaran dan persentase aktivitas siswa yang relatif kecil, pembelajaran Siklus I menghasilkan catatan yang kurang memuaskan pada hasil pembelajaran, di mana hanya sebagian siswa yang memperoleh nilai yang baik. Sehingga presentase ketuntasan belajar sekitar 66,66%, dan seluruh siswa hanya mendapatkan rata-rata kelas 59,84. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3 Data Nilai Hasil Perbaikan Pembelajaran Matematika Siklus I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L Nilai 40 40 40 50 60 60 80 70 60 70 60 60 70 40 80 70 50 50 50 70 60 70 65 24 Keterangan

24 S – 24 25 S – 25 26 S – 26 27 S – 27 28 S – 28 29 S – 29 30 S – 30 31 S – 31 32 S – 32 33 S – 33 Persentase Klasikal Rata-rata Kelas

P P P L P L P L L P

60 60 80 50 50 50 60 60 80 50 63,63% 59,84

Berdasarkan tabel 3 di atas, mengapa baru sebagian kecil siswa yang berhasil belajarnya? Menurut pengamatan penelitian disebabkan karena siswa masih beradaptasi dengan pembelajaran yang telah dikembangkan. Refleksi tindakan pembelajaran siklus I berdasarkan orientasi pada pembelajaran siklus I peneliti mengidentifikasi masalah untuk memperbaiki tindakan pembelajaran selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4 Hasil Observasi Pembelajaran Matematika Siklus I No. 1. Temuan Observasi Pengelolaan waktu masih belum tepat Catatan Lapangan Keberanian siswa dalam menjawab serta bertanya masih rendah Sebagian siswa masih takut dengan pembelajaran teknik probing Saran Perbaikan penunjukkan siswa terutama kelompok rendah Dalam memberi contoh soal supaya jelas Dalam pembelajaran agar diselingi permainan

2.

Masalah pembelajaran masih lemah khususnya pecahan

25

b. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II Pembelajaran siklus II masih berpedoman pada rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang telah disusun peneliti. Kompetensi Dasar yang diajarkan adalah memecahkan masalah perbandingan dan skala waktu dan metode yang digunakan sama seperti pembelajaran pada siklus I hanya perubahan pada materi pelajaran. Pada kegiatan awal siswa diberi soal untuk mengecek pengetahuan siswa terhadap materi yang telah disampaikan pada pembelajaran siklus sebelumnya. Pada kegiatan inti diberi contoh soal kemudian dibahas bersama-sama dengan teknik probing dalam kelompok kecil. Langkah selanjutnya, guru meminta siswa ke depan kelas untuk menjelaskan cara mencari perbandingan yang sudah ditentukan, guru membimbing siswa dalam pengerjaannya. Kemudian bersamasama membahas hasil yang dikerjakan oleh siswa tersebut. Kegiatan akhir ditutup dengan menyimpulkan materi dan pemberian tes akhir. Pengamatan aktivitas siswa pada pembelajaran siklus II mengalami peningkatan yang baik di mana pada umumnya siswa melakukan aktivitas memperhatikan pertanyaan/penjelasan juga berdiskusi dengan kelompoknya masing-masing, selanjutnya dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5 Persentase Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Matematika Siklus II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 L/P L L L L L L P P L L L Aktivitas Siswa + + + + ++ + + + Keterangan = Kurang + = Cukup ++ = Baik

26

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kurang Cukup Baik

S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 S – 25 S – 26 S – 27 S – 28 S – 29 S – 30 S – 31 S – 32 S – 33

P P P P P P L P L L P L P P P L P L P L L P

++ + ++ ++ + + ++ ++ ++ ++ ++ + ++ + ++ + + + ++ 15,15% 48,48% 36,36%

Berbeda dengan pembelajaran sebelumnya, tingkat penguasaan dan hasil belajar pada siklus II mengenai peningkatan yang baik, yaitu siswa yang tuntas pada pembelajaran siklus I hanya 21 orang (66,66%) dan pada pembelajaran siklus II 28 orang (84,84%). Hal ini disebabkan karena siswa terbiasa dengan pembelajaran menggunakan teknik probing. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 6.

27

Tabel 6 Data Nilai Hasil Perbaikan Pembelajaran Matematika Siklus II No. Kode Siswa L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L P L L P Nilai 50 50 50 60 70 70 80 70 70 80 70 70 80 50 90 80 60 60 50 70 70 75 70 70 70 90 60 60 60 70 70 90 60 84,84% 68,03 Keterangan

1 S – 01 2 S – 02 3 S – 03 4 S – 04 5 S – 05 6 S – 06 7 S – 07 8 S – 08 9 S – 09 10 S – 10 11 S – 11 12 S – 12 13 S – 13 14 S – 14 15 S – 15 16 S – 16 17 S – 17 18 S – 18 19 S – 19 20 S – 20 21 S – 21 22 S – 22 23 S – 23 24 S – 24 25 S – 25 26 S – 26 27 S – 27 28 S – 28 29 S – 29 30 S – 30 31 S – 31 32 S – 32 33 S – 33 Persentase Klasikal Rata-rata Kelas

28

Refleksi tindakan pembelajaran siklus II berdasarkan orientasi pada tindakan pembelajaran siklus II, peneliti mengidentifikasi masalah yang dapat dilihat pada tabel 7. Tabel 7 Hasil Observasi Pembelajaran Matematika Siklus II No. 1. Temuan Observasi Pengelolaan waktu terdapat ketidakcocokan dengan RPP Catatan Lapangan Siswa sudah berani mengajukan dan menawab pertanyaan Saran Perbaikan Penunjukkan diutamakan pada siswa kelompok rendah

Untuk mengetahui keberhasiln dan kegagalan penelitian, dilakukan serangkaian analisis di antaranya analisis tingkat penguasaan siswa, terhadap pemahaman pembelajaran dengan menghasilkan nilai belajar, dan daya serap klasikal terhadap materi untuk setiap siklus tindakan. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil setiap siklus yang hasilnya dirangkum dalam tabel 8. Tabel 8 Tingkat Penguasaan Hasil Pembelajaran Matematika No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P Sebelum 40 30 40 40 60 50 70 70 50 60 60 50 60 40 70 60 Hasil Perbaikan Siklus I Siklus II 40 50 40 50 40 50 50 60 60 70 60 70 80 80 70 70 60 70 70 80 60 70 60 70 70 80 40 50 80 90 70 80 Keterangan

29

17 S – 17 18 S – 18 19 S – 19 20 S – 20 21 S – 21 22 S – 22 23 S – 23 24 S – 24 25 S – 25 26 S – 26 27 S – 27 28 S – 28 29 S – 29 30 S – 30 31 S – 31 32 S – 32 33 S – 33 Persentase Klasikal Rata-rata Kelas

P L P L L P L P P P L P L P L L P

40 40 40 60 50 60 60 60 60 70 40 40 40 60 60 70 40 51,51% 52,72

50 50 50 70 60 70 65 60 60 80 50 50 50 60 60 80 50 63,63% 59,54

60 60 50 70 70 75 70 70 70 90 60 60 60 70 70 90 60 84,84% 68,03

Grafik 1 Grafik Penguasaan Hasil Pembelajaran Matematika
100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% Persentase Klasikal Sebelum Siklus I Siklus II

Berdasarkan tabel 8 dan grafik I di atas dapat dilihat tingkat keberhasilan pembelajaran, dimana sebelum diadakan perbaikan, penguasaan hasil belajar siswa kelas VI B hanya 51,51%, pada siklus I menjadi 63,63%, dan pada siklus II 84,84%. Sedangkan dilihat dari rata-rata kelas sebelum perbaikan 52,72, pada siklus I 59,54 dan pada siklus II 68,03. Dengan demikian siklus I ke siklus II mengalami kenaikan sekitar 21,21% sedangkan rata-rata kelas mengalami kenaikan 8,45.

30

Tabel 9 Tingkat Keaktifan Pembelajaran Matematika No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kurang Cukup Baik Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 S – 25 S – 26 S – 27 S – 28 S – 29 S – 30 S – 31 S – 32 S – 33 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L P L L P Sebelum + + ++ + + + ++ + + + + + ++ + + ++ 51,51% 36,36% 12,12% Aktifitas Siswa Siklus I Siklus II + + + + + ++ + + ++ + + + + ++ + + ++ ++ + ++ + + + ++ + ++ + ++ + ++ + ++ + + ++ ++ + ++ + + + + + ++ ++ 45,45% 15,15% 42,42% 48,48% 12,12% 36,36% Keterangan = Kurang + = Cukup ++ = Baik

31

Dari hasil observasi proses pembelajaran diperoleh gambaran aktifitas siswa sebagai berikut: aktifitas yang diamati dalam pembelajaran teknik probing dalam kelompok kecil berhasil dengan baik terbukti dengan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan data hasil observasi dan perolehan penguasaan akhir pada setiap siklus disertai diskusi dengan pengamat, maka pembelajaran matermatika dengan teknik probing dengan kelompok kecil mengalami kemajuan dan penelitian dianggap berhasil. 2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I Pembelajaran pada siklus I berpedoman pada rencana pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang telah disusun oleh peneliti. Kompetensi Dasar yang diajarkan mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, amanat dan jalan cerita) dari teks drama anak. Indikator yang akan dicapai adalah siswa dapat menentukan tokoh sifat latar dan tema. Pembelajaran dilaksanakan dalam waktu 2 x 35 menit atau 2 jam pelajaran. Metode yang digunakan adalah metode diskusi dalam siklus ini siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, pada kegiatan awal guru memberikan apersepsi untuk mengecek pengetahuan awal siswa khususnya masalah drama. Pada kegiatan inti dijelaskan cara-cara melakukan diskusi yang baik, setiap siswa mendapatkan naskah drama untuk disimak dan dijadikan bahan diskusi. Pada akhir kegiatan guru dan siswa menyimpulkan inti pembelajaran dan memberikan tes akhir pembelajaran. Pengamatan pada siklus I difokuskan pada diskusi pada kegiatan awal, inti dan akhir. Respon siswa pada pembelajaran membaca dengan metode diskusi pada siklus I pada kegiatan apersepsi siswa-siswa antusias menjawab karena hanya mengulas pelajaran yang sudah lalu. Pada kegiatan inti, siswa melakukan diskusi, pada waktu pelaksanaan diskusi masing-masing siswa mendapatkan teks drama untuk menemukan unsurunsur drama. Dalam pelaksanaannya masih ada siswa yang masih bermain dengan teman kelompok, perhatiannya kurang terfokus pada kegiatan diskusi, dan siswa masih belum berani mengeluarkan pendapatnya. Pada kegiatan akhir guru

32

memberikan tes tertulis untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dan keaktifan dalam diskusi. Untuk presentase dalam diskusi dapat dilihat dalam tabel 10. Tabel 10 Persentase Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siklus I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 S – 25 S – 26 S – 27 S – 28 S – 29 S – 30 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L P Aktivitas Siswa ++ ++ + + + + + + + + + + + + + Keterangan = Kurang + = Cukup ++ = Baik

33

31 32 33 Kurang Cukup Baik

S – 31 S – 32 S – 33

L L P

+ ++ 48,48% 42,42% 9,09%

Selain proses pembelajaran dan aktifitas siswa yang masih rendah, pembelajaran siklus I menghasilkan yang kurang memuaskan pada hasil akhir pembelajaran. Hanya sebagian siswa yang mendapatkan nilai baik. Presentase keberhasilan belajar 69,69% dari seluruh siswa dan hanya mendapatkan nilai ratarata kelas 60,00. Berikut hasil dapat dilihat pada tabel 11. Tabel 11 Data Nilai Hasil Perbaikan Pembelajaran Bahasa Indonesia Siklus I No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P Nilai 50 40 60 80 80 70 50 60 70 50 60 50 60 60 60 70 70 50 70 60 50 50 50 60 34 Keterangan

25 S – 25 26 S – 26 27 S – 27 28 S – 28 29 S – 29 30 S – 30 31 S – 31 32 S – 32 33 S – 33 Persentase Klasikal Rata-rata kelas

P P L P L P L L P

60 60 60 60 70 80 60 60 40 69,69% 60,00

Berdasarkan pada tebel 11, siswa mendapat nilai yang kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena siswa masih belum terfokus pada kegiatan pembelajaran. Di samping itu adalah faktor dari guru, di mana guru kurang memberi penjelasan, kurang memberi arahan dan bimbingan pada waktu pelaksanaan diskusi. Refleksi tindakan pembelajaran siklus I, berdasarkan orientasi pada proses pembelajaran, peneliti mengidentifikasinya, hasil observasi dapat dilihat pada tabel 12. Tabel 12 Hasil Observasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Siklus I No. 1. Temuan Observasi Waktu masih belum tepat Catatan Lapangan Keberanian mengeluarkan pendapat masih rendah Sebagian siswa belum terfokus pada kegiatan diskusi Saran Perbaikan Motivasi dan arahan supaya ditingkatkan

2.

Pengkondisian siswa sebelum pembelajaran

Bimbingan dan arahan agar ditujukan ke semua kelompok

35

b. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II Pembelajaran siklus II masih berpedoman pada perencanaan perbaikan pembelajaran yang disusun peneliti. Kompetensi Dasar yang diajarkan adalah mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, amanat dan jalan cerita). Waktu yang digunakan sama seperti pada pembelajaran siklus I, hanya perubahan pada materi pembelajaran. Pada awal pembelajaran guru mengadakan apersepsi untuk mengetahui pengetahuan siswa terhadap materi yang telah disampaikan pada siklus sebelumnya. Pada kegiatan inti siswa melakukan diskusi. Dan pada kegiatan akhir guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran dan pengerjaan tes tertulis. Pembelajaran siklus II difokuskan pada kegiatan diskusi. Kegiatan awal pemberian apersepsi untuk mengukur pengetahuan siswa, pada kegiatan inti guru memberikan naskah drama, masing-masing siswa mendapat naskah drama untuk disimak selanjutnya didiskusikan dengan kelompoknya pada waktu pelaksanaan diskusi guru berkeliling untuk memantau kegiatan diskusi serta memberikan motivasi dan arahan kepada semua kelompok. Respon siswa terhadap kegiatan diskusi pada pembelajaran Bahasa Indonesia ternyata sangat antusias, siswa berani beradu argumen dengan kelompoknya. Kegiatan akhir guru memberikan tes tertulis untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar pada siklus ini. Hasil keaktifan siswa dapat dilihat pada tabel 13. Tabel 13 Persentase Aktivitas Siswa pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siklus II No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 L/P L L L L L L P P Aktivitas Siswa + + + ++ ++ + + + Keterangan = Kurang + = Cukup ++ = Baik

36

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kurang Cukup Baik

S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 S – 25 S – 26 S – 27 S – 28 S – 29 S – 30 S – 31 S – 32 S – 33

L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L P L L P

+ + + + ++ ++ ++ + ++ + + + + + + ++ + 24,24% 54,54% 21,21%

Berbeda dengan pembelajaran sebelumnya, tingkat penguasaan dan hasil belajar pada siklus II mengenai peningkatan yang baik, yaitu siswa yang tuntas pada pembelajaran siklus I hanya 23 orang (69,69%) dan pada pembelajaran siklus II 27 orang (81,81%). Hal ini disebabkan karena siswa sudah memahami pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 14.

37

Tabel 14 Data Nilai Hasil Perbaikan Pembelajaran Bahasa Indonesia Siklus II No. Kode Siswa L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L P L L P Nilai 60 50 70 70 70 80 50 70 70 60 60 50 70 70 50 70 70 80 70 80 70 60 60 70 70 60 70 70 70 50 90 100 50 81,81% 66,96 Keterangan

1 S – 01 2 S – 02 3 S – 03 4 S – 04 5 S – 05 6 S – 06 7 S – 07 8 S – 08 9 S – 09 10 S – 10 11 S – 11 12 S – 12 13 S – 13 14 S – 14 15 S – 15 16 S – 16 17 S – 17 18 S – 18 19 S – 19 20 S – 20 21 S – 21 22 S – 22 23 S – 23 24 S – 24 25 S – 25 26 S – 26 27 S – 27 28 S – 28 29 S – 29 30 S – 30 31 S – 31 32 S – 32 33 S – 33 Persentase Klasikal Rata-rata kelas

38

Refleksi tindakan pembelajaran siklus II berdasarkan orientasi pada tindakan pembelajaran siklus II, dan hasil diskusi dengan pengamat, peneliti mengidentifikasi masalah dapat dilihat pada tabel 15. Tabel 15 Hasil Observasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Siklus II No. 1. Temuan Observasi Waktu pembelajaran tidak sesuai dengan RPP Catatan Lapangan Siswa sudah aktif bertanya jawab dalam kegiatan diskusi Saran Perbaikan Motivasi siswa dalam belajar harus tetap ditingkatkan

Untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan penelitian, peneliti melakukan serangkaian analisis di antaranya analisis keaktifan dalam diskusi, hasil belajar siswa daya serap klasikal dan rata-rata kelas yang diperoleh terhadap materi pembelajaran dan metode yang digunakan setiap siklus tindakan. Data yang dianalisis diperoleh dari hasil setiap siklus yang hasilnya dirangkum dalam tabel 16. Tabel 16 Tingkat Penguasaan Hasil Pembelajaran Bahasa Indonesia No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 L/P L L L L L L P P L L L P P P P Sebelum 50 40 60 50 50 60 50 50 60 50 50 50 50 50 50 Hasil Perbaikan Siklus I Siklus II 50 60 40 50 60 70 80 70 80 70 70 80 50 50 60 70 70 70 50 60 60 60 50 50 60 70 60 70 60 50 Keterangan

39

16 S – 16 17 S – 17 18 S – 18 19 S – 19 20 S – 20 21 S – 21 22 S – 22 23 S – 23 24 S – 24 25 S – 25 26 S – 26 27 S – 27 28 S – 28 29 S – 29 30 S – 30 31 S – 31 32 S – 32 33 S – 33 Persentase Klasikal Rata-rata Kelas

P P L P L L P L P P P L P L P L L P

60 60 70 60 70 40 40 50 60 60 60 60 60 70 80 70 60 40 51,51% 55,75

70 70 50 70 60 50 50 50 60 60 60 60 60 70 80 60 60 40 69,69% 60,00

70 70 80 70 80 70 60 60 70 70 60 70 70 70 50 90 100 50 81,81% 66,96

Grafik 2 Grafik Penguasaan Hasil Pembelajaran Bahasa Indonesia
90,00% 80,00% 70,00%

60,00%
50,00% 40,00% 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Persentase Klasikal

Sebelum
Siklus I Siklus II

Berdasarkan tabel 16 dan grafik 2 di atas dapat dilihat tingkat keberhasilan pembelajaran, dimana sebelum diadakan perbaikan, penguasaan hasil belajar siswa kelas VI B hanya 51,51%, pada siklus I menjadi 69,69%, dan pada siklus II 81,81%. Sedangkan dilihat dari rata-rata kelas sebelum perbaikan 55,75, pada siklus I 60,00 dan pada siklus II 66,96. Dengan demikian siklus I ke siklus II 40

mengalami kenaikan sekitar 12,12% sedangkan rata-rata kelas mengalami kenaikan 6,09. Tabel 17 Tingkat Keaktifan Pembelajaran Bahasa Indonesia No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Kurang Cukup Baik Kode Siswa S – 01 S – 02 S – 03 S – 04 S – 05 S – 06 S – 07 S – 08 S – 09 S – 10 S – 11 S – 12 S – 13 S – 14 S – 15 S – 16 S – 17 S – 18 S – 19 S – 20 S – 21 S – 22 S – 23 S – 24 S – 25 S – 26 S – 27 S – 28 S – 29 S – 30 S – 31 S – 32 S – 33 L/P L L L L L L P P L L L P P P P P P L P L L P L P P P L P L P L L P Sebelum ++ ++ + + + + + + + + + + + + + ++ 51,51% 39,39% 9,09% Aktifitas Siswa Siklus I Siklus II + + + ++ ++ ++ ++ + + + + + + + + + + + + ++ + + ++ + ++ + + ++ + + + + + + + + + + + ++ ++ + 48,48% 24,24% 42,42% 54,54% 9,09% 21,21% Keterangan = Kurang + = Cukup ++ = Baik

41

Dari hasil observasi proses pembelajaran, tingkat penguasaan hasil pembelajaran Bahasa Indonesia dan refleksi serta diskusi dengan teman sejawat, maka pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode diskusi mengalami kemajuan dapat membantu pemahaman siswa terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia.

B. Pembahasan Hasil Penelitian 1. Pembahasan Hasil Pembelajaran Matematika Dari hasil analisis yang dilakukan penggunaan teknik probing dalam pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman Matematika pada

umumnya berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan yang diinginkan. Tingkat penguasaan dan keberhasilan belajar siswa dalam pembelajaran dengan teknik probing dapat meningkat meskipun siklus I belum mencapai standar ketuntasan. Hal ini disebabkan siswa masih beradaptasi dengan pembelajaran yang dikembangkan dan lemahnya kemampuan berhitung siswa dalam pecahan. Peningkatan hasil belajar siswa secara klasikal menjadi acuan guru dalam melakukan evaluasi pembelajaran cukup tinggi. Meski dalam siklus I belum mencapai pada ketuntasan. Pada pembelajaran tindakan siklus II mencapai hasil 84,84%. Sementara itu jawaban siswa terhadap pertanyaan cukup baik dan aktifitas siswa dalam menanggapi probing juga baik. Aktifitas siswa yang terjadi dalam pembelajaran menggunakan teknik probing akan meningkatkan

pemahaman Matematika siswa menunjukan aktifitas siswa, siswa memperhatikan penjelasan atau pertanyaan guru, melakukan tanya jawab antara siswa dengan siswa ataupun siswa dengan guru sangat dominan. Pembelajaran dengan teknik ini menciptakan suasana belajar yang efektif. Juga mobilitas siswa dalam pembelajaran dengan adanya siswa yang berani mengajukan pendapat dan penjelasan ide mereka di depan kelas, di mana hal ini tidak terjadi pada waktu pembelajaran sebelum menggunakan teknik probing. Secara umum penggunaan teknik probing dalam pembelajaran memecahkan masalah perbandingan dan skala dapat

42

memberi pengaruh dalam meningkatkan pemahaman Matematika siswa dan guru, dapat meningkatkan pembelajarannya. Namun demikian dari hasil pengamatan dan penganalisisan penggunaan teknik probing memiliki kelemahan dan keunggulan. Kelemahannya adalah sebagai berikut: a. Sulit merencanakan waktu yang tepat untuk setiap jenis kegiatan, kadang-kadang ada jawaban yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh guru, sehingga guru mencari alternatif pertanyaan lain, serta memberi bimbingan agar siswa dapat membangun pengetahuan baru. b. Sulit merencanakan serangkaian pertanyaan untuk diajukan satu-satu sampai selesai. Karena apabila pertanyaan dijawab dengan salah, maka pertanyaan lain tidak tersampaikan. c. Sulit menghindari jawaban serempak. Keunggulannya adalah sebagai berikut: a. Siswa diberi kepercayaan untuk membangun sendiri pengetahuannya dan diarahkan untuk belajar mandiri. b. Perhatian siswa dalam pembelajaran yang sedang dipelajarinya lebih terjaga karena siswa selalu mempersiapkan jawaban, sehingga mereka harus siap jika tiba-tiba ditanya oleh guru. 2. Pembahasan Hasil Pembelajaran Bahasa Indonesia Hasil analisis yang dilakukan, penggunaan metode diskusi untuk meningkatkan pemahaman Bahasa Indonesia sesuai yang diharapkan. Tingkat penguasaan dan keberhasilan siswa cukup meningkat, meskipun pada pembelajaran siklus I belum mencapai ketuntasan yang ditetapkan disebabkan pada siklus ini siswa belum memahami benar cara-cara berdiskusi sehingga masih ada beberapa siswa yang belum aktif dan masih lemahnya siswa untuk memahami bacaan. Hasil pembelajaran secara klasikal menjadi acuan dalam keberhasilan dalam pembelajaran. Pada siklus I hasil evaluasi belum mencapai kriteria ketuntasan, akan tetapi pada pembelajaran siklus II telah tercapai dengan memperoleh nilai 81,81% di atas kriteria ketuntasan klasikal yang

43

ditetapkan, yaitu 75% dari seluruh siswa. Kegiatan siswa dalam berdiskusi menunjukan keaktifan, dimana siswa dapat berkolaborasi dengan teman kelompoknya. Menyampaikan ide-ide yang dimiliki dan belajar menerima pendapat orang lain sehingga akan timbul sifat saling menghargai. Kendala yang terjadi adalah penggunaan waktu melebihi jadwal yang ditentukan. Pada umumnya pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode diskusi dapat meningkat.

44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Pembelajaran Matematika Dari hasil penelitian tindakan kelas ini, maka dapat disimpulkan: a. Jika dengan menggunakan teknik probing dalam kelompok kecil dalam pembelajaran Matematika, maka terjadi peningkatan

pemahaman belajar siswa. b. Dengan menggunakan teknik probing dalam pembelajaran Matematika ketersediaan waktu tidak memadai. 2. Pembelajaran Bahasa Indonesia a. Jika dengan menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat meningkatkan pemahaman terhadap pembelajaran pada tujuan yang ingin dicapai. b. Dengan menggunakan metode diskusi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, ketersediaan waktu tidak memadai. B. Saran 1. Pembelajaran Matematika Setelah mengkaji masalah dan kesimpulan, maka penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut: a. Untuk mencapai tujuan pembelajaran Matematika, maka hendaknya menggunakan berbagai teknik, salah satunya teknik probing dalam kelompok kecil. b. Bagi guru bidang studi, dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa, guru dituntut untuk melakukan pendalaman tentang teknik probing. c. Untuk lebih efektitasnya waktu dalam pembelajaran dengan teknik probing, disarankan kepada guru untuk lebih banyak menyediakan waktu pada proses inti pembelajaran.

45

2. Pembelajaran Bahasa Indonesia a. Untuk mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia, maka disarankan kepada guru untuk menggunakan berbagai macam teknik pembelajaran, salah satunya dengan teknik diskusi. b. Disarankan kepada guru yang menggunakan metode diskusi, untuk selalu memberikan dorongan kepada siswa berperan aktif. c. Untuk lebih efektifnya waktu diskusi, maka guru harus memfokuskan siswa pada pokok persoalan yang sedang dibahas dalam diskusi.

46

DAFTAR PUSTAKA

Asrori Mohamad. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. CV. Wacana Prima BNSP Depdiknas, (2008). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdiknas. Erman, (2004). Model-Model Pembelajaran Matematika. Bandung. Lina, N. (2006). Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMA Melalui Pembelajaran Matematika Dengan Teknik Probing Dalam Kelompok Kecil. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan. Muhibbin, (2001). Pembelajaran Matematika Dengan Teknik Probing Dalam Kelompok Kecil Untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar. Skripsi jurusan matematika STKIP Siliwangi Bandung : Tidak diterbitkan. Nurgiyantoro. (1988). Penilaian dalam Pengajaran. Yogyakarta Nurkholis Hanif, Mafrukhi. (2007). Sasebi Saya Senang Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Pateda. (1998). Analisis Kesalahan. Flores: Nusa Indah Santoso Puji, dkk. (2009). Metode Pembelajaran. Bandung: Universitas Terbuka. Sumiati, Asra. (2008). Metode Pembelajaran. CV. Wacana Prima. Setiawan, (2003). Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Teknik Probing Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Komunikasi Matematika Siswa Kelas IC SLTP Negeri 15 Bandung. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak Diterbitkan. Sujarwo, (2000). Pembelajaran Dengan Menggunakan Teknik Probing Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa MAN: Tidak diterbitkan. Tim Bina Karya Guru. (2007). Terampil Berhitung Matematika. Jakarta: Erlangga.

47

Wardani IGAK. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Universitas Terbuka. Warsidi Edi. (2008). Bahasa Indonesia Membuatku Cerdas. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas. Windayana, H. (2002). Perbandingan Kemampuan Anak SD Dalam Memberi Alasan Logis Yang Memperoleh Pembelajaran Teknik Probing Dengan Yang Bisa. Jenis Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

48

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat pernyataan dari teman sejawat 2. Format kesediaan sebagai teman sejawat 3. RPP Siklus I Mata Pelajaran Eksakta 4. Lembar Observasi hasil perbaikan pembelajaran mata pelajaran Eksakta Siklus I 5. RPP Siklus II Mata Pelajaran Eksakta 6. Lembar Observasi hasil perbaikan pembelajaran mata pelajaran Eksakta Siklus II 7. RPP Siklus I Mata Pelajaran Non Eksakta 8. Lembar Observasi hasil perbaikan pembelajaran mata pelajaran Non Eksakta Siklus I. 9. RPP Siklus II Mata Pelajaran Non Eksakta 10. Lembar Observasi hasil perbaikan pembelajaran mata pelajaran Non Eksakta Siklus II. 11. Foto Copy TBS (Tanda Bukti Setor) 12. Foto Copy Kartu Mahasiswa

RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN EKSAKTA SIKLUS I Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu : Matematika : VI/2 : 2 x 35 Menit

A. Standar Kompetensi Melakukan operasi hitung pecahan dalam pemecahan masalah B. Kompetensi Dasar Memecahkan masalah perbandingan dan skala C. Indikator Menjelaskan cara memecahkan masalah yang berkaitan dengan perbandingan I. Tujuan Perbaikan Pembelajaran 1. Meningkatkan pemahaman Matematika siswa dengan menggunakan tehnik probing 2. Guru meningkatkan KBM dengan menggunakan teknik probing II. Materi Pembelajaran Perbandingan Contoh: Ayah membutuhkan 3 mobil truk untuk mengangkut 6 ton pasir yang dikirim ke Jakarta. Berapa mobil truk yang ayah butuhkan apabila akan mengirim 12 ton pasir. Jawab: 3 mobil truk mengangkut 6 ton pasir Truk yang dibutuhkan untuk mengangkut 12 ton pasir adalah 3 : 6 = n : 12 atau 3 = n 6 12 3 x 12 = n x 6 36 = n x 6 n = 36 = 6 6 Jadi, mobil truk yang dibutuhkan untuk mengangkut 12 ton pasir adalah 6. III. Metode Pembelajaran Ceramah, tanya jawab, pendekatan teknik probing, penugasan.

IV. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Awal (10 Menit)  Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama-sama  Guru melakuakn absensi  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran  Guru melakukan apersepsi  Guru menyampaikan langkah-langkah yang akan dicapai dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti (45 Menit)  Siswa menyimak materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru  Siswa dan guru melakukan tanya jawab masalah-masalah yang berhubungan dengan perbandingan  Siswa dengan teman sebangku menentukan perbandingan tertentu secara terbimbing  Guru meminta beberapa siswa ke depan untuk mengerjakan soal, guru membimbing cara pengerjaannya  Bersama-sama membahas soal-soal yang dikerjakan teman 3. Kegiatan Akhir (15 Menit)  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang materi pembelajaran yang baru disampaikan  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang sudah disampaikan  Siswa mengerjakan tes tertulis  Guru memberikan tugas pekerjaan rumah  Guru memberitahukan kepada siswa tentang materi pembelajaran yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya V. Alat dan Sumber Belajar Alat :Sumber : - KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) - Buku Gemar Matematika 6 untuk SD/MI YD. Sumanto, dkk. - Buku Trampil Berhitung Matematika untuk SD kelas VI Tim Bina Karya Guru VI. Evaluasi 1. Prosedur Awal : ada Proses : ada Akhir : ada 2. Jenis : lisan, tertulis 3. Bentuk : uraian 4. Instrumen: Soal-soal terlampir

Mengetahui, Kepala Sekolah

Purwakarta, 2 Maret 2010 Mahasiswa

Kosih Rochmansyah, S.Pd. NIP. 195504121975121003

Nuryati NIM. 817280483

RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN EKSAKTA SIKLUS II Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu : Matematika : VI/2 : 2 x 35 Menit

A. Standar Kompetensi Melakukan operasi hitung pecahan dalam pemecahan masalah B. Kompetensi Dasar Memecahkan masalah perbandingan dan skala C. Indikator Menjelaskan cara memcahkan masalah yang berkaitan dengan perbandingan. I. Tujuan Perbaikan Pembelajaran 1. Meningkatkan pemahaman Matematika siswa dengan menggunakan teknik probing 2. Guru meningkatkan KBM dengan menggunakan teknik probing II. Materi Pembelajaran Perbandingan umur seorang ayah dan anaknya adalah 5 : 2 jumlah umur mereka masing-masing? Jawab: umur ayah : umur anak adalah 5 : 2 Jumlah perbandingan umur mereka adalah 5 + 2 = 7  Umur ayah adalah 5 x 63 tahun = 45 tahun 7  Umur anak adalah 2 x 63 tahun = 18 tahun 7 Jadi, umur ayah 45 tahun dan umur anak 18 tahun III. Metode Pembelajaran Ceramah, tanya jawab, pendekatan teknik probing dalam kelompok kecil, penugasan. IV. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Awal (10 Menit)  Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama-sama  Guru melakukan absensi  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran  Guru melakukan apersepsi  Guru menyampaikan langkah-langkah yang akan dicapai dalam proses pembelajaran

2. Kegiatan Inti (45 Menit)  Siswa menyimak materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru  Siswa dan guru melakukan tanya jawab masalah-masalah yang berhubungan dengan perbandingan  Siswa dengan teman sebangku menentukan perbandingan tertentu secara terbimbing  Guru meminta beberapa siswa ke depan untuk mengerjakan soal, guru membimbing cara pengerjaannya  Bersama-sama membahas soal-soal yang dikerjakan teman 3. Kegiatan Akhir (15 Menit)  Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang materi pembelajaran yang baru disampaikan  Guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran yang sudah disampaikan  Siswa mengerjakan tes tertulis  Guru memberikan tugas pekerjaan rumah  Guru memberitahukan kepada siswa tentang materi pembelajaran yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya V. Alat dan Sumber Belajar Alat :Sumber : - KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) - Buku Gemar Matematika 6 untuk SD/MI YD. Sumanto, dkk. - Buku Trampil Berhitung Matematika untuk SD kelas VI Tim Bina Karya Guru VI. Evaluasi 1. Prosedur Awal : ada Akhir : ada 2. Jenis : lisan, tertulis 3. Bentuk : uraian 4. Instrumen: Soal-soal terlampir

Mengetahui, Kepala Sekolah

Purwakarta, 9 Maret 2010 Mahasiswa

Kosih Rochmansyah, S.Pd. NIP. 195504121975121003

Nuryati NIM. 817280483

RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN NON EKSAKTA SIKLUS I Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : VI/2 : 2 x 35 Menit

A. Standar Kompetensi  Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama B. Kompetensi Dasar  Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan, cerita dan amanat) dari teks drama anak C. Indikator  Menemukan unsur tokoh, sifat, latar dan tema dari teks drama anak I. Tujuan Perbaikan Pembelajaran  Meningkatkan pemahaman membaca Bahasa Indonesia siswa dengan menggunakan metode diskusi II. Materi Pembelajaran Drama anak (menemukan unsur dalam drama) Drama Anak Unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama anak di antaranya: Tokoh, sifat, latar, dan tema. 1. Tokoh adalah pelaku cerita atau drama 2. Sifat atau watak adalah prilaku tokoh 3. Latar adalah tempat atau waktu terjadinya cerita atau peristiwa a. Latar tempat misalnya di jalan, di teras rumah, di sekolah, di kantor polisi dan lain-lain. b. Latar waktu misalnya pada siang hari, malam hari, sore dan lain-lain. 4. Tema adalah hal pokok yang dibicarakan dalam cerita atau drama . Misal: persahabatan, nasihat berbuat baik, kejujuran, keserakahan dan lain-lain III. Metode Pembelajaran Ceramah, diskusi, penugasan IV. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Awal (10 Menit)  Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama-sama  Guru melakukan absensi  Guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran  Guru melakukan apersepsi

Guru menyampaikan langkah-langkah yang akan dicapai dalam proses pembelajaran

2. Kegiatan Inti (45 Menit)  Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok  Guru membagikan lembar kerja pada tiap-tiap kelompok  Guru menjelaskan materi pembelajaran yang akan didiskusikan  Siswa menerima penjelasan tentang materi yang akan didiskusikan  Siswa bekerja sama dengan kelompok untuk menemukan unsur yang terdapat dalam drama anak  Guru mendampingi siswa dalam diskusi  Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi  Kelompok lain menanggapi  Guru mengakhiri kegiatan dengan memberi penegasan serta penguatan berupa pujian  Siswa mengakhiri diskusi dan mencatat hasil diskusi 3. Kegiatan Akhir (15 Menit)  Siswa dibimbing untuk menyimpulkan materi pembelajaran  Guru memberikan tes tertulis  Guru memberikan tugas pekerjaan rumah  Guru memberitahu tentang materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya V. Alat dan Sumber Belajar Alat : Naskah Drama Anak Sumber : KTSP, Buku Bahasa Indonesia Kelas VI dan buku lain yang relevan VI. Evaluasi 1. Prosedur Awal Proses Akhir 2. Jenis Tes 3. Bentuk 4. Alat Evaluasi

: ada : ada : ada : Tertulis : Isian : Soal-soal Purwakarta, 15 Maret 2010 Mahasiswa

Mengetahui, Kepala Sekolah

Kosih Rochmansyah, S.Pd. NIP. 195504121975121003

Nuryati NIM. 817280483

RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN NON EKSAKTA SIKLUS II Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi Waktu : Bahasa Indonesia : VI/2 : 2 x 35 Menit

A. Standar Kompetensi  Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama B. Kompetensi Dasar  Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan, cerita dan amanat) dari teks drama anak C. Indikator  Menemukan unsur tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita dan amanat dari teks drama anak I. Tujuan Perbaikan Pembelajaran  Meningkatkan pemahaman membaca Bahasa Indonesia siswa dengan menggunakan metode diskusi II. Materi Pembelajaran Drama anak (menemukan unsur dalam drama) Drama Anak Unsur-unsur yang terdapat dalam teks drama anak di antaranya: Tokoh, sifat, latar, tema, alur cerita, amanat 1. Tokoh adalah pelaku cerita atau drama. 2. Sifat atau watak adalah prilaku tokoh. 3. Latar adalah tempat atau waktu terjadinya cerita atau peristiwa. a. Latar tempat misalnya di jalan, di teras rumah, di sekolah, di kantor polisi dan lain-lain. b. Latar waktu misalnya pada siang hari, malam hari, sore dan lain-lain. 4. Tema adalah hal pokok yang dibicarakan dalam cerita atau drama . Misal: persahabatan, nasihat berbuat baik, kejujuran, keserakahan dan lain-lain. 5. Alur cerita adalah jalan cerita dari awal sampai akhir cerita. 6. Amanat adalah pesan yang disampaikan dalam cerita atau drama. III. Metode Pembelajaran Ceramah, diskusi, penugasan IV. Langkah-langkah Pembelajaran 1. Kegiatan Awal (10 Menit)  Guru mengucapkan salam dan berdoa bersama-sama  Guru melakukan absensi

Guru menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran Guru melakukan apersepsi Guru menyampaikan langkah-langkah yang akan dicapai dalam proses pembelajaran 2. Kegiatan Inti (45 Menit)  Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok  Guru membagikan lembar kerja pada tiap-tiap kelompok  Guru menjelaskan materi pembelajaran yang akan didiskusikan  Siswa menerima penjelasan tentang materi yang akan didiskusikan  Siswa bekerja sama dengan kelompok untuk menemukan unsur yang terdapat dalam drama anak  Guru mendampingi siswa dalam diskusi  Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusi  Kelompok lain menanggapi  Guru mengakhiri kegiatan dengan memberi penegasan serta penguatan berupa pujian  Siswa mengakhiri diskusi dan mencatat hasil diskusi 3. Kegiatan Akhir (15 Menit)  Bersama-sama menyimpulkan materi pembelajaran  Siswa mengerjakan tes tertulis  Guru memberikan tugas pekerjaan rumah  Guru memberitahu tentang materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya V. Alat dan Sumber Belajar Alat : Naskah Drama Anak Sumber : KTSP, Buku Bahasa Indonesia Kelas VI dan buku lain yang relevan VI. Evaluasi 1. Prosedur Awal Proses Akhir 2. Jenis Tes 3. Bentuk 4. Alat Evaluasi

  

: ada : ada : ada : Tertulis : Uraian : Soal-soal Purwakarta, 20 Maret 2010 Mahasiswa

Mengetahui, Kepala Sekolah

Kosih Rochmansyah, S.Pd. NIP. 195504121975121003

Nuryati NIM. 817280483

Lembar Kerja Diskusi Kelompok Bahasa Indonesia (Non Eksakta) Siklus I Bacalah naskah drama anak yang tersedia lalu diskusikan dengan kelompok, dan kerjakan perintah berikut! 1. 2. 3. 4. 5. Judul Latar Tokoh Tema No. 1) 2) 3) 4) 5) : : : : ..................................................................................................... ..................................................................................................... ..................................................................................................... ..................................................................................................... Nama Tokoh Sifat/Watak Tokoh

Kunci Jawaban Diskusi 1. 2. 3. 4. 5. Judul Latar Tokoh Tema No. 1) 2) 3) 4) 5) : Kebakaran : Diperkampungan, jam 3 pagi : Para penduduk, Ibu, Deni, Ayah, Pria : Peristiwa Kebakaran Nama Tokoh Para penduduk Ibu Deni Ayah Pria Sifat/Watak Tokoh Baik membangunkan penduduk Cekatan Hati-hati Bijaksana Penipu

Kriteria Penilaian Nomor 1 skor Nomor 2 Nomor 3 Nomor 4 Nomor 5

20 20 20 20 20

Nilai Akhir = Jawaban benar x 10 10

Lembar Kerja Diskusi Kelompok Bahasa Indonesia (Non Eksakta) Siklus II

Bacalah naskah drama anak yang tersedia lalu diskusikan dengan kelompok, dan kerjakan perintah berikut! 1. Tuliskan nama-nama tokoh dalam drama tersebut! 2. Jelaskan bagaimana sifat tokoh-tokohnya! 3. Tuliskan latar yang ada dalam naskah drama tersebut! 4. Jelaskan tema dan amanat dari tema tersebut! 5. Susunlah kalimat berikut sesuai urutan jalan cerita naskah drama tersebut! a. Kedua pengawal mencari cermin di pasar. b. Sang Ratu baru bangun dari tidur. c. Kedua pengawal bertemu pemilik toko. d. Pemuda pemilik kaca bertemu dengan Ratu. e. Ratu sadar akan kesalahannya. f. Ratu bercermin dan salah satu cerminnya pecah. g. Ratu memerintahkan pengawal mencari cermin. h. Kedua pengawal bertemu pemuda pemilik cermin. i. Ratu bercermin dan mendapati bayangan wajahnya dipenuhi ulat. j. Kedua pengawal memaksa si pemuda bertemu sang Ratu.

Kunci Jawaban Diskusi 1. Ratu, Pengawal 1, Pengawal 2, Pemilik Toko dan Pemuda.

2. a. Ratu sifatnya serakah b. Pengawal 1 sifatnya pemarah c. Pengawal 2 sifatnya bijaksana d. Pemilik Toko sifatnya baik hati e. Pemuda sifatnya berani

3. a. Latar tempat : Di kerajaan dan di pasar b. Latar waktu : Pagi hari

4. a. Temanya adalah nasehat b. Amanatnya adalah supaya tidak serakah

5. b. Sang Ratu bangun dari tidurnya. f. Ratu bercermin dan salah satu cerminnya pecah. g. Ratu memerintahkan pengawal mencari cermin di pasar. a. Kedua pengawal mencari cermin di pasar. c. Kedua pengawal bertemu pemuda pemilik cermin. j. Kedua pengawal memaksa pemuda bertemu sang Ratu. d. Pemuda pemilik kaca bertemu sang Ratu. i. Ratu bercermin dan mendapati bayangan wajahnya dipenuhi ulat. e. Ratu sadar akan kesalahannya. Kriteria Penilaian Nomor 1 skor Nomor 2 Nomor 3 Nomor 4 Nomor 5

20 20 20 20 20

Nilai Akhir = Jawaban benar x 10 10

Lembar Kerja Siswa Bahasa Indonesia (Non Eksakta) Siklus II

Bacalah teks drama yang tersedia lalu jawablah pertanyaan berikut! 1. Sebutkan tokoh yang terdapat dalam teks drama tersebut! 2. Sebutkan latar dari teks drama tersebut! 3. Sebutkan amanat yang terkandung dari drama tersebut! 4. Sebutkan tema dari drama tersebut! 5. Susunlah kalimat berikut sesuai urutan jalan cerita naskahn drama tersebut! a. Deri merasa malu b. Ibu menasehati Deri agar menjaga kebersihan. c. Deri pulang sekolah d. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan e. Ibu menghampiri Deri f. Deri menjerit-jerit ketakutan g. Ibu memarahi Deri karena meletakkan sepatu sembarangan h. Deri masuk ke kamar tidur i. Ibu memarahi Deri karena jorok j. Ibu kaget melihat sampah berserakan Kunci Jawaban 1. Ibu dan Deri 2. Rumah, malam hari, pagi hari. 3. Menjaga kebersihan 4. Kebersihan 5. c. Deri pulang sekolah g. Ibu memarahi Deri karena meletakkan sepatu sembarangan h. Deri masuk ke kamar tidur f. Deri menjerit-jerit ketakutan e. Ibu menghampiri Deri j. Ibu kaget melihat sampah berserakan i. Ibu memarahi Deri karena jorok a. Deri merasa malu b. Ibu menasehati Deri agar menjaga kebersihan. d. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan Kriteria Penilaian Nomor 1 skor Nomor 2 Nomor 3 Nomor 4 Nomor 5

20 20 20 20 20

Nilai Akhir = Jawaban benar x 10 10

Naskah Lembar Kerja Siswa Bahasa Indonesia (Non Eksakta) Siklus II

Tikus-Tikus Nakal
Suasana di depan sekolah pada suatu hari sepulang sekolah. Terlihat seorang anak sekolah bernama Deri membeli beberapa kantung kacang dari sebuah warung. Ia segera pulang ke rumahnya. Suasana rumah Deri. Deri membuka sepatu dan kaus kakinya. Ia meletakkannya begitu saja di belakang pintu rumahnya. Ia lalu segera pergi ke kamarnya. Ibunya melihat tindakan Deri. Ibu : (marah) “Deri, sepatumu jangan diletakkan sembarangan. Kan, sudah ibu sediakan rak khusus untuk menyimpan sepatu.” Deri : (menyeka keringat di keningnya) “Deri kan capek, Bu. Hari ini rasanya gerah banget. Lagian, kan ada Bi Surti.” Ibu : “Bi Surti pulang kampung selama tiga hari.lagian, kenapa kamu menanyakan Bi Surti?” Deri Ibu : “Biasanya kan Bi Surti yang suka membereskan sepatuku.” : (kesal) “Untuk hal seperti ini, ibu rasa kamu bisa mengerjakannya sendiri” Deri : (segera mengambil sepatu dan kaus kakinya yang berserakan) “Aahh…Ibu.” Deri segera masuk ke kamarnya. Suasana berganti menjadi kamar Deri. Di kamar, terdapat sebuah tempat tidur kecil, kipas angin, meja belajar, dan sebuah tempat sampah. Deri merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Ia melemparkan tasnya ke samping bawah meja belajarnya. Ia belum mengganti baju seragamnya. Lalu ia menyalakan kipas angin. Deri : (sambil membaca buku yang diambilnya dari meja belajar) “Ahh… begini kan lebih enak…” Deri membuka bungkus kacang yang ia beli tadi. Ia membuka satu persatu dan melemparkan begitu saja kulit-kulit kacang ke bawah tempat tidurnya.

Suasana malam. Deri tidak bisa tidur. Ia mendengar suara-suara aneh. Ciiittt…cit…cittt… Deri ketakutan. Dari kolong tempat tidurnya, keluar seekor tikus. Deri kaget. Ia paling takut pada tikus. Tidak berapa lama kemudian, beberapa ekor tikus keluar dari kolong tempat tidurnya. Deri mengambil sapu ijuk. Deri : (mencoba mengusir tikus-tikus) “Ukhhh… mengganggu saja!” (memukul seekor tikus) Beberapa tikus malah menghampiri Deri. Deri Ibu Deri Ibu Deri : (ketakutan dan menjerit-jerit) “Ibu, ibu tolongin Deri!” : (membuka pintu kamar Deri) “Ada apa kok kamu teriak-teriak?” : (wajahnya pucat) “Ibu, banyak si Jerry!” : “Jerry, siapa itu si Jerry?” : (menunjuk ke bawah tempat tidurnya) “Maksud Deri banyak tikus kecil.” Ibu Deri : (kebingungan) “Di mana?” : “Ibu di bawah tempat tidur Deri! Deri takut. Deri tidak mau tidru di kamar Deri” Ibu : “Ya sudah, malam ini kamu tidur bersama kakakmu saja.” Suasana pagi hari. Ibu masuk ke kamar Deri. Ia kaget melihat sampahsampah berserakan di bawah tempat tidur Deri. Ibu Deri Ibu : (berteriak, mukanya cemberut) “Deriii… sini!” : (memakai seragam sekolah) “Ya ada apa, Bu?” : “Lihat!” (menunjuk ke sampah yang berserakah) “Kamu jorok sekali. Pantas banyak tikus di kamarmu.” Deri Ibu : (malu dan tertunduk) “Habis bagaimana dong?” : “Lho kok, malah tanya. Mulai sekarang kamu harus menjaga kebersihan kamarmu. Kamu jangan membuang sampah semabarangan lagi. Kan, sudah ibu sediakan tempat sampah di kamarmu (menunjuk ke tempat sampah) Apa perlu ibu membuatkan plang peringatan di sini?”

Deri

: “Ibu biasa saja. Deri janji tidak akan membuang sampah sembarangan lagi. Deri kapok sama si Jerry-Jerry nakal.” : (tersenyum) “Ya sudah, sekarang kamu pergi ke sekolah. Pulang sekolah nanti, kamu harus membersihkan kamarmu.” : “Baik, Bu!” Sejak saat itu, Deri selalu menjaga kebersihan kamarnya.

Ibu

Deri

Naskah drama ini adalah hasil pengubahan dari cerpen “Tikus-Tikus Nakal”. Sumber: Bobo, 22 Februari 2007

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful