PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang : a. bahwa kuantitas dan kualitas ruang terbuka publik terutama Ruang Terbuka Hijau (RTH) saat ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan hidup perkotaan yang berdampak keberbagai sendi kehidupan perkotaan antara lain sering terjadinya banjir, peningkatan pencemaran udara, dan menurunnya produktivitas masyarakat akibat terbatasnya ruang yang tersedia untuk interaksi sosial; b. bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memberikan landasan untuk pengaturan ruang terbuka hijau dalam rangka mewujudkan ruang kawasan perkotaan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; c. bahwa dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diperlukan adanya Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 2. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4833);

3. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara RI; 4. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara RI; 5. Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu; 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 01/PRT/M/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM TENTANG PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN.

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Menteri adalah Menteri Pekerjaan Umum. Pasal 2 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan dimaksudkan untuk: a. menyediakan acuan yang memudahkan pemangku kepentingan baik pemerintah kota, perencana maupun pihak-pihak terkait, dalam perencanaan, perancangan, pembangunan, dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan ruang terbuka hijau dalam penyusunan rencana dan rancangan pembangunan dan pengelolaan ruang terbuka hijau. memberikan bahan kampanye publik mengenai arti pentingnya ruang terbuka hijau bagi kehidupan masyarakat perkotaan. memberikan informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat dan pihak-pihak terkait tentang perlunya ruang terbuka hijau sebagai pembentuk ruang yang nyaman untuk beraktivitas dan bertempat tinggal.

2.

3.

b.

c. d.

Pasal 3 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan bertujuan untuk: a. b. menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air; menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat; meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih. Pasal 4 (1) Ruang lingkup Peraturan Menteri memuat: a. b. c. (2) ketentuan umum, yang terdiri dari tujuan, fungsi, manfaat, dan tipologi ruang terbuka hijau; ketentuan teknis yang meliputi penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan; prosedur perencanaan dan peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

c.

Materi muatan tentang pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimuat secara lengkap dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. Pasal 5

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Peraturan Menteri ini disebarluaskan kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk diketahui dan dilaksanakan.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Mei 2008 MENTERI PEKERJAAN UMUM,

DJOKO KIRMANTO

LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 05/PRT/M/2008 TANGGAL : 26 Mei 2008 PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN .

........ 2............................................................................ 3.................................... 1.................................................3. 2..................1....2 Pada Lingkungan/Permukiman............................................. ..................3..............3.......................3.................................................................................. Daftar Tabel......................... 4..........................3..3....5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan.................................1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam................................................................ Manfaat RTH....... Fungsi RTH.........................3 Lembaga/Badan Hukum......4............................................................................ BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4........................1....... BAB I KETENTUAN UMUM 1......... Istilah dan Definisi...................................... 2................................................................................................................................... 2.......... Peran Masyarakat.... RTH Fungsi Tertentu.................2 Peran Swasta.......................................1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan.......... Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan...................... 2...............3 Kota/Perkotaan..........2........................................................................................ 2..... 2.. Arahan Penyediaan RTH...8.3 Pemeliharaan Tanaman.............................................................DAFTAR ISI Daftar Isi................................................................. BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2... Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman.................................. 2........ 2............................. 2........... Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan... 1................... Daftar Gambar................2.............4....3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota....................... 4................... Tipologi RTH.................2................. 4.............2 Penanaman...............4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau........4 Penghargaan dan Kompensasi.........................................................................4................................................................................................................................... 4...................... 1........... Ketentuan Penanaman............................................................5......................................................6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu................................3...... 3..............7......................... Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah..................... .............. 2..........4......................................... 1......................... 2..............................4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman... 1..............2............ ............. .................................. 1........ Prosedur Perencanaan........................................................ .............. 3.......2.......2.. 2........................2...........................................2......... Kriteria Vegetasi RTH..3...................2............................................................ .................3.1.............................................................................................................1 Pada Bangunan/Perumahan..........2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota................................................................................................. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan........................1 Peran Individu/Kelompok............ Prakata........................... Ruang Lingkup Pedoman..... 2............................................. 2.. 4... 2............................................ i i iii iv v 1 1 1 1 3 5 5 6 6 9 9 10 10 12 14 31 31 32 33 34 36 38 43 43 43 44 45 47 47 47 52 55 59 59 59 61 61 62 62 ..................................................... Tujuan Penyelenggaraan RTH................ Acuan Normatif....... BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3.....1.....................................4........................................................6.........2............4.......... 1..............4...............................2.......................................

......................... Gambar Contoh RTH Taman........................................ Pilihan Vegetasi untuk Dikembangkan di RTH............................................................................................ L-1 L-2 L-5 L-9 Bibliografi.....................................................Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Bagan Proporsi RTH Wilayah Perkotaan........................... Contoh Perhitungan Hutan Kota............................................................. L-11 ii ..................................

...............DAFTAR TABEL Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel Tabel 1............................ RTH Sempadan Danau dan Mata Air..........................................................................5 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH............... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan.......................3 3....................3 C.10 2.................. Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan...... Contoh Tanaman untuk Di Bawah Jalan Layang...........................................................2 3.......8 2...9 2................4 2................1 3..................................................................... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan......................... Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk....................... Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen..................................................................3 2....14 3........................5 2.... Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara................................1 2...... Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air....................................... Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai.................... Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor......4 3............... Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api................................ Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api.......................... Contoh Vegetasi untuk Pemakaman...5 C............ Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor........................... 5 7 8 9 22 25 26 32 33 33 34 37 37 38 39 40 43 50 51 53 54 57 L-6 L-6 L-7 L-7 L-8 iii ...7 2.. Contoh Tanaman untuk Roof Garden............4 Tabel C................................................. Bandung...............................11 2................... Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki............... Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota....... Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET.................2 C............................................1 1...3 2........ Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan.................................................................................... Kepemilikan RTH.............6 2.................... Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Hutan Kota............1 C.......2 1. Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET...........2 2............ Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota.. Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004.........12 2....................................................... Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Gelombang Panjang...........13 2............

... Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH Di Bawah Jalan Layang....................14 2......3 3...........................8 2...........................................................................................................2 B.. Contoh Taman Rukun Warga.........................…………………………….....12 2...............4 2................................................................................................. Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki........6 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan.... Contoh Taman Rukun Kelurahan..........................................6 3................... Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara.......... Jalur Tanaman Tepi Pembatas Pandang........ Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan....................2 2............................ Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif)...........1 3....................................................................................... Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden...........1 B...........................................3 B................................3 2........................................1 B. Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT)............................ Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan....................15 2...... Contoh Taman Rukun Warga.....13 2........................ Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin................9 2. Tipologi RTH.. Pola Tanam Hutan Kota Strata 2........................................... Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak......... Contoh Taman Rukun Kelurahan........7 2....DAFTAR GAMBAR Gambar 1........................................................1 2...............5 2...........2 2...6 2.............5 B............... ..................................11 2.........2 3...................................... Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan Dan Pengendalian.......................4 3.. Contoh Taman Kota. Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman............... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai....... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) . Contoh Taman Kecamatan.................................. Jalur Tanaman pada Median Penahan Silau Lampu Kendaraan......................................... 4 7 12 15 15 17 18 19 19 20 21 21 23 24 25 29 30 31 48 48 49 50 51 52 53 60 L-2 L-2 L-3 L-3 L-4 L-4 iv .....................4 B.........7 4..... Jalur Tanaman Tepi Peneduh......................................................................... Contoh Taman Rukun Kecamatan.10 2... Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT)...............................5 3................................... Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif)..............16 3.........................1 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 1.............. Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang...................... Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air......... Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) .........

Pedoman ini dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Perencanaan Sub Panitia Teknis Tata Ruang. ketentuan penanaman dan pemeliharaan tanaman. Proses penyusunan pedoman ini telah melibatkan berbagai kalangan masyarakat termasuk para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka. kriteria vegetasi untuk RTH. v .PRAKATA Buku pedoman ini disusun oleh Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Departemen Pekerjaan Umum dan merupakan salah satu rujukan teknis Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten serta seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terutama para praktisi dan para akademisi di berbagai kegiatan yang dalam tugas dan kegiatannya berkaitan dengan penyediaan dan pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan. Pedoman ini berisi rujukan untuk penyediaan RTH. prosedur perencanaan dan peran masyarakat yang semuanya merupakan pedoman teknis yang berlaku secara nasional. pemanfaatan RTH.

pada kota/perkotaan. penanaman dan pemeliharaan tanaman. jaringan tenaga listrik. 28 Tahun 2002. c. b). meliputi: a). Istilah dan Definisi 1. fungsi dan manfaat RTH.Ketentuan Umum Bab I BAB I KETENTUAN UMUM 1. dan yang dimaksud dengan benda mati adalah tanah. 1. tentang Peraturan Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum f. dan kebutuhan fungsi tertentu. e. d. Acuan Normatif Undang-Undang RI No. Keputusan Presiden RI No. warna dan suasana yang merupakan pembentuk lansekap. Elemen lansekap. 7 Tahun 2004. acuan normatif. suara. adalah garis batas luar pengaman untuk mendirikan bangunan dan atau pagar yang ditarik pada jarak tertentu sejajar dengan as jalan. tepi saluran. pada lingkungan/permukiman. kedudukan pedoman penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam rencana tata ruang wilayah. kaki tanggul. 3. adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak. jumlah penduduk.2. tepi luar kepala jembatan. Pedoman ini dilengkapi dengan foto dan gambar contoh beberapa RTH. pemanfaatan RTH: pada bangunan/perumahan. Peraturan Pemerintah RI No. dan elemen-elemen lainnya yang berbentuk padat maupun cair. Ruang Lingkup Pedoman Pedoman ini terdiri dari ketentuan umum dan ketentuan teknis serta lampiran-lampiran sebagai pelengkapnya.1. Elemen lansekap yang berupa benda terdiri dari dua unsur yaitu benda hidup dan benda mati. 63 Tahun 2002. Garis sempadan. Ketentuan teknis merupakan pedoman rinci. 34 Tahun 2006. tentang Jalan g. pasir. tentang Bangunan Gedung Undang-Undang RI No. tepi situ/rawa. baik yang bersifat alamiah maupun buatan manusia. tepi waduk. dan ketentuan penanaman. 1 . Ketentuan umum meliputi ruang lingkup pedoman. b. Jalur hijau. 36 Tahun 2005.3. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung h. adalah jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan a. SNI 03-1733-2004. adalah segala sesuatu yang berwujud benda. fungsi tertentu. arahan penyediaan RTH. tentang Sumber Daya Air Undang-Undang RI No. tentang Hutan Kota Peraturan Pemerintah RI No. penyediaan RTH berdasarkan: luas wilayah. tentang Penataan Ruang Peraturan Pemerintah RI No. tepi sungai. 2. 32 Tahun1990. kriteria vegetasi RTH. 4. prosedur perencanaan dan peran masyarakat. sedangkan yang dimaksud dengan benda hidup ialah tanaman. as rel kereta api. pipa gas. batu. tujuan penyelenggaraan RTH. Hutan kota. Tatacara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan 1. 26 Tahun 2007. istilah dan definisi. tepi mata air. dan tipologi RTH. yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang berwenang.

17. adalah tumbuhan berkayu dengan percabangan mulai dari pangkal batang dan memiliki lebih dari satu batang utama. 13. Pohon besar. 16. Kawasan. adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas antara lain berupa kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. Koefisien Daerah Hijau (KDH). berupa lahan yang diperkeras maupun yang berupa badan air. 11. Ruang terbuka hijau privat. Perdu. nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi lahannya. Koefisien Dasar Bangunan (KDB). 7. Penutup tanah. 18. Ruang Terbuka Hijau (RTH). adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung yang diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 9. Pohon. adalah berbagai kegiatan masyarakat. Pohon kecil. 14. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada lingkungan jalan. Ruang terbuka. Pohon sedang. baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah. adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok. adalah ruang terbuka di wilayah perkotaan yang tidak termasuk dalam kategori RTH. adalah semua jenis tumbuhan yang difungsikan sebagai penutup tanah. 10. adalah kesatuan geografis yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional serta mempunyai fungsi utama tertentu. adalah pohon yang memiliki ketinggian sampai dengan 7 meter. Kawasan perkotaan. adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan.Ketentuan Umum Bab I 5. yang penggunaannya lebih bersifat terbuka. pengawasan jalan (RUWASJA). adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau. Peran masyarakat. tempat tumbuh tanaman. yang timbul atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat sesuai dengan hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan penataan ruang. baik yang tumbuh tanaman secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. adalah semua tumbuhan berbatang pokok tunggal berkayu keras. adalah angka persentase perbandingan antara luas seluruh lantai dasar bangunan gedung dan luas lahan/tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai sesuai rencana tata ruang dan rencana tata bangunan dan lingkungan. 19. Lansekap jalan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. 8. Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan lingkungan jalan yang indah. 20. Ruang terbuka non hijau. 6. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 2 . adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa lebih dari 12 meter. adalah pohon yang memiliki ketinggian dewasa 7-12 meter. 12. Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. 15.

perencanaan tata ruang wilayah kota harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau yang luas minimalnya sebesar 30% dari luas wilayah kota. adalah bentuk alami dari struktur percabangan dan diameter tajuk. Taman lingkungan. RDTR Kota. Sabuk hijau (greenbelt). edukasi atau kegiatan lain pada tingkat lingkungan. Tanggul. adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai. Ruang terbuka hijau publik. pemanfaatan ruang. penataan ruang wilayah provinsi. semak. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Wilayah. yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan kondisi geografis. juga dimuat dalam RTR Kawasan Perkotaan yang merupakan rencana rinci tata ruang wilayah Kabupaten. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. edukasi atau kegiatan lain pada tingkat kota. Biasanya merupakan tanaman antara bagi tanah yang kurang subur sebelum penanaman tanaman yang tetap (permanen). Vegetasi/tumbuhan. Kedudukan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Penataan ruang merupakan suatu sistem proses perencanaan tata ruang. 30. atau RTR Kawasan Strategis Kota.4. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 3 . dan pengendalian pemanfaatan ruang. adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar. adalah RTH yang memiliki tujuan utama untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu. 1. Adapun ketentuan lebih lanjut mengenai penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau diatur dalam pedoman ini. penataan ruang wilayah kabupaten/kota. 29. 25. adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Berdasarkan wilayah administrasinya. Taman kota. adalah tumbuhan berbatang hijau serta tidak berkayu disebut sebagai 24. herbaseus. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. 27. adalah lahan terbuka yang berfungsi sosial dan estetik sebagai sarana kegiatan rekreatif. 22. dan rumput. adalah kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya. penataan ruang terdiri atas penataan ruang wilayah nasional. Tajuk. 23. Semak. meliputi pohon. adalah jenis tanaman penutup permukaan tanah yang bersifat selain mencegah erosi tanah juga dapat menyuburkan tanah yang kekurangan unsur hara. perdu. Tanaman penutup tanah. Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau selain dimuat dalam RTRW Kota. 26.Ketentuan Umum Bab I 21. Di dalam Undang-Undang No. 28.

tempat pemakaman umum. penyediaan RTH yang bersifat privat. area pengembangan keanekaragaman hayati. Kedalaman rencana penyediaan dan pemanfaatan RTH pada masing-masing rencana tata ruang tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 1. tempat rekreasi dan olahraga masyarakat. k. dan ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut.1 Kedudukan Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH dalam RTR Kawasan Perkotaan Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan. i. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 4 . kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi.Ketentuan Umum Bab I Gambar 1. j. h. g. buatan maupun historis. e. dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi: a. b. pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan. d.1. c. area mitigasi/evakuasi bencana. kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis. area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan. melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya. f. pengamanan sumber daya baik alam.

1. Ketentuan pemanfaatan RTH secara umum. Tipologi masing-masing RTH.1 Kedalaman Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan RTH Jenis Rencana Tata Ruang Rencana Tata Ruang Wilayah 1) 2) Kota (Rencana Umum) 3) 4) 5) Kedalaman Muatan Luas minimum yang harus dipenuhi. indah. RDTRK/RTR Kawasan 1) Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan 2) (Rencana Rinci) 3) 4) 5) 6) 1. penyerap air hujan. Rencana penyediaan RTH yang dirinci berdasarkan jenis/tipologi RTH. pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami dapat berlangsung lancar.5. Fungsi RTH RTH memiliki fungsi sebagai berikut: a. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 5 . nyaman. Indikasi program mewujudkan penyediaan RTH pada masing-masing kawasan/bagian wilayah kota. c. dan luas dengan skala yang lebih detail/besar. Alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis: memberi jaminan pengadaan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota). hingga konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya.6.Ketentuan Umum Bab I Tabel 1. Penetapan jenis dan lokasi RTH yang akan disediakan. produsen oksigen. lokasi. Konsep-konsep rencana RTH sebagai arahan untuk pengembangan disain selanjutnya. Tujuan Penyelenggaraan RTH Tujuan penyelenggaraan RTH adalah: a. Arahan elemen pelengkap pada RTH. sebagai peneduh. Tahap-tahap implementasi penyediaan RTH. Ketentuan tentang peraturan zonasi. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat. segar. b. dan bersih. arahan elemen pelengkap pada RTH. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman. alternatif vegetasi pengisi ruang khususnya arahan vegetasi dalam kelompok-kelompok besar. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air.

b. Manfaat tidak langsung (berjangka panjang dan bersifat intangible).Ketentuan Umum Bab I penyedia habitat satwa.pembentuk faktor keindahan arsitektural. . kepentingan. yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh.menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota. penyerap polutan media udara. serta.meningkatkan kenyamanan. buah. bunga. .2 berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 6 .merupakan media komunikasi warga kota.sumber produk yang bisa dijual.7. . 1. 1. air dan tanah. sayur mayur. pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada (konservasi hayati atau keanekaragaman hayati).bisa menjadi bagian dari usaha pertanian. Fungsi estetika: . yaitu pembersih udara yang sangat efektif. .wadah dan objek pendidikan.8. memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah. Fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu: Fungsi sosial dan budaya: . . kehutanan dan lainlain. Tipologi RTH Pembagian jenis-jenis RTH yang ada sesuai dengan tipologi RTH sebagaimana Gambar 1. .tempat rekreasi. sejuk) dan mendapatkan bahan-bahan untuk dijual (kayu. penahan angin. Manfaat RTH Manfaat RTH berdasarkan fungsinya dibagi atas: a. dan keberlanjutan kota seperti perlindungan tata air.menggambarkan ekspresi budaya lokal. segar.menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun. perkebunan. penelitian. daun. seperti tanaman bunga. keseimbangan ekologi dan konservasi hayati. maupun makro: lansekap kota secara keseluruhan. . pemeliharaan akan kelangsungan persediaan air tanah. empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan. dan pelatihan dalam mempelajari alam. daun. b. Fungsi ekonomi: . Manfaat langsung (dalam pengertian cepat dan bersifat tangible). buah). lingkungan permukimam. Dalam suatu wilayah perkotaan.

maupun pola planologis yang mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan. usaha c. tersebar). RTH dapat mengikuti pola ekologis (mengelompok. pertokoan. estetika. 3. Pekarangan rumah tinggal b. Dari segi kepemilikan. Taman kota f.2 berikut. Hutan kota g. Pembagian jenis-jenis RTH publik dan RTH privat adalah sebagaimana tabel 1.2 Kepemilikan RTH No. dan ekonomi. RTH dibedakan ke dalam RTH publik dan RTH privat. 1. memanjang. Taman RW c. Ruang dibawah jalan layang RTH Publik RTH Privat V V V V V V V V V V V V V V V V V dan tempat 2. Taman atap bangunan RTH Taman dan Hutan Kota a. Sabuk hijau (green belt) RTH Jalur Hijau Jalan a. Taman kecamatan e. Taman RT b. Taman kelurahan d. Tabel 1. V V Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 7 . Jenis RTH Pekarangan a. Secara struktur ruang. Pulau jalan dan median jalan b. lapangan olahraga. kawasan lindung dan taman-taman nasional serta RTH non alami atau binaan seperti taman. Dilihat dari fungsi RTH dapat berfungsi ekologis. Jalur pejalan kaki c. Halaman perkantoran. sosial budaya.2 Tipologi RTH Secara fisik RTH dapat dibedakan menjadi RTH alami berupa habitat liar alami. pemakaman atau jalur-jaur hijau jalan.Ketentuan Umum Bab I Fisik Fungsi Ekologis Struktur Kepemilikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) RTH Alami Sosial Budaya Estetika Pola Ekologis RTH Publik RTH Non Alami Ekonomi Pola Planologis RTH Privat Gambar 1.

Pemakaman RTH Publik V V V V V V RTH Privat Catatan: taman lingkungan yang merupakan RTH privat adalah taman lingkungan yang dimiliki oleh orang perseorangan/masyarakat/swasta yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas. RTH sempadan pantai e. estetika/arsitektural. termasuk aksesibilitas bagi penyandang cacat. 4. Berikut ini tabel arahan karakteristik RTH di perkotaan untuk berbagai tipologi kawasan perkotaan: Tabel 1.d. RTH sempadan rel kereta api b. ekonomi. Jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi c.3 Fungsi dan Penerapan RTH pada Beberapa Tipologi Kawasan Perkotaan Tipologi Kawasan Perkotaan Pantai Pegunungan Rawan Bencana Berpenduduk jarang s. RTH sempadan sungai d. Jenis RTH Fungsi Tertentu a. Baik RTH publik maupun privat memiliki beberapa fungsi utama seperti fungsi ekologis serta fungsi tambahan.Ketentuan Umum Bab I No. Khusus untuk RTH dengan fungsi sosial seperti tempat istirahat. sedang Berpenduduk padat Karakteristik RTH Fungsi Utama Penerapan Kebutuhan RTH pengamanan wilayah pantai sosial budaya mitigasi bencana konservasi tanah konservasi air keanekaragaman hayati mitigasi/evakuasi bencana dasar perencanaan kawasan sosial ekologis sosial hidrologis berdasarkan luas wilayah berdasarkan fungsi tertentu berdasarkan luas wilayah berdasarkan fungsi tertentu berdasarkan fungsi tertentu berdasarkan fungsi tertentu berdasarkan jumlah penduduk berdasarkan fungsi tertentu berdasarkan jumlah penduduk Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 8 . yaitu sosial budaya. maka RTH ini harus memiliki aksesibilitas yang baik untuk semua orang. RTH pengamanan sumber air baku/mata air f. sarana olahraga dan atau area bermain. Karakteristik RTH disesuaikan dengan tipologi kawasannya.

baik keseimbangan sistem hidrologi dan keseimbangan mikroklimat.000 jiwa 120.000 24. serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota.250 9. Tabel 2. dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH per kapita sesuai peraturan yang berlaku. Penyediaan RTH Berdasarkan Luas Wilayah Penyediaan RTH berdasarkan luas wilayah di perkotaan adalah sebagai berikut: ruang terbuka hijau di perkotaan terdiri dari RTH Publik dan RTH privat. Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk Untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk.000 disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 1. b. proporsi RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% ruang terbuka hijau publik dan 10% terdiri dari ruang terbuka hijau privat.000 jiwa Tipe RTH Taman RT Taman RW Taman Kelurahan Taman kecamatan Pemakaman Luas minimal/ unit (m2) 250 1. Target luas sebesar 30% dari luas wilayah kota dapat dicapai secara bertahap melalui pengalokasian lahan perkotaan secara tipikal sebagaimana ditunjukkan pada lampiran A. maupun sistem ekologis lain yang dapat meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II BAB II PENYEDIAAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 2. maka proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya. Proporsi 30% merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota.1. apabila luas RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku.5 0.3 0.1 Penyediaan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No 1 2 3 Unit Lingkungan 250 jiwa 2500 jiwa 30. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan a.2 Lokasi di tengah lingkungan RT di pusat kegiatan RW dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan dikelompokan dengan sekolah/ pusat kecamatan tersebar 4 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 9 .2 1.0 0.

sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam. RTH kawasan perlindungan setempat berupa RTH sempadan sungai.0 12.000 jiwa Hutan kota untuk fungsi-fungsi tertentu c. yang berfungsi untuk berbagai aktivitas.1. Untuk memudahkan di dalam pengklasifikasian pekarangan maka ditentukan kategori pekarangan sebagai: a. dan RTH pengamanan sumber air baku/mata air.5 Lokasi di pusat wilayah/ kota di dalam/ kawasan pinggiran disesuaikan dengan kebutuhan 5 480. Luas pekarangan disesuaikan dengan ketentuan koefisien dasar bangunan (KDB) di kawasan perkotaan.1 Pada Bangunan/Perumahan a. RTH kategori ini meliputi: jalur hijau sempadan rel kereta api. 2.2. jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 3 (tiga) pohon pelindung ditambah dengan perdu dan semak serta penutup tanah dan atau rumput. pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan penggunaan lahan agar fungsi utamanya tidak teganggu.2. ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat.000 disesuaikan disesuaikan Luas minimal/ kapita (m2) 0. seperti tertuang di dalam PERDA mengenai RTRW di masing-masing kota. Pekarangan Rumah Besar Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah besar adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) kategori yang termasuk rumah besar adalah rumah dengan luas lahan di atas 500 m2. Penyediaan RTH Berdasarkan Kebutuhan Fungsi Tertentu Fungsi RTH pada kategori ini adalah untuk perlindungan atau pengamanan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 10 .3 4. RTH sempadan pantai. jalur hijau jaringan listrik tegangan tinggi. RTH Pekarangan Pekarangan adalah lahan di luar bangunan. Arahan Penyediaan RTH 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No Unit Lingkungan Tipe RTH Taman kota Luas minimal/ unit (m2) 144.

maka untuk RTH dapat memanfaatkan ruang terbuka non hijau. serta penutup tanah dan atau rumput.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB diatas 70%. memiliki minimal 2 (dua) pohon kecil atau sedang yang ditanam pada lahan atau pada pot berdiameter diatas 60 cm. pertokoan dan tempat usaha dengan KDB dibawah 70%. Keterbatasan luas halaman dengan jalan lingkungan yang sempit. c.3. teras-teras bangunan bertingkat dan disamping bangunan. tidak menutup kemungkinan untuk mewujudkan RTH melalui penanaman dengan menggunakan pot atau media tanam lainnya. Pekarangan Rumah Kecil Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah kecil adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah kecil adalah rumah dengan luas lahan dibawah 200 m2. Pertokoan. dan tempat usaha umumnya berupa jalur trotoar dan area parkir terbuka. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. dan Tempat Usaha RTH halaman perkantoran.2. RTH dalam Bentuk Taman Atap Bangunan (Roof Garden) Pada kondisi luas lahan terbuka terbatas. b. dan ditanam pada area diluar KDB yang telah ditentukan. Perkantoran. Pekarangan Rumah Sedang Ketentuan penyediaan RTH untuk pekarangan rumah sedang adalah sebagai berikut: 1) kategori yang termasuk rumah sedang adalah rumah dengan luas lahan antara 200 m2 sampai dengan 500 m2. Persyaratan penanaman pohon pada perkantoran. 2) ruang terbuka hijau minimum yang diharuskan adalah luas lahan (m2) dikurangi luas dasar bangunan (m2) sesuai peraturan daerah setempat. serta penutup tanah dan atau rumput. teras rumah. Penyediaan RTH pada kawasan ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) Untuk dengan tingkat KDB 70%-90% perlu menambahkan tanaman dalam pot. pertokoan. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 2 (dua) pohon pelindung ditambah dengan tanaman semak dan perdu. dan lain-lain Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 11 . a. berlaku seperti persyaratan pada RTH pekarangan rumah. 3) jumlah pohon pelindung yang harus disediakan minimal 1 (satu) pohon pelindung ditambah tanaman semak dan perdu. RTH Halaman Perkantoran. seperti atap gedung.

2 Pada Lingkungan/Permukiman a. atau pada kawasan-kawasan dengan kepadatan tinggi dengan lahan yang sangat terbatas. seperti pot dengan berbagai ukuran sesuai lahan yang tersedia. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% . dengan luas minimal 250 m2. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk dalam lingkup 1 (satu) RT.80% dari luas taman. dengan perakaran yang mampu tumbuh dengan baik pada media tanam yang terbatas. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman. Luas taman ini adalah minimal 1 m2 per penduduk RT. pemilihan material. Untuk itu bangunan harus memiliki struktur atap yang secara teknis memungkinkan. tahan terhadap hembusan angin serta relatif tidak memerlukan banyak air.1 Contoh Struktur Lapisan pada Roof Garden Tanaman untuk RTH dalam bentuk taman atap bangunan adalah tanaman yang tidak terlalu besar.2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 300 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayani.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II dengan memakai media tambahan. sistem utilitas bangunan. Lahan dengan KDB diatas 90% seperti pada kawasan pertokoan di pusat kota. aspek pemeliharaan peralatan tanaman Gambar 2. aspek keselamatan dan keamanan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 12 . lapisan kedap air (waterproofing ). RTH dapat disediakan pada atap bangunan. 2. media tanam. khususnya untuk melayani kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembuatan taman atap bangunan adalah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) struktur bangunan.

serta kegiatan masyarakat lainnya di lingkungan RW tersebut. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . kegiatan olahraga masyarakat.90% dari luas taman. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. dengan luas minimal taman 9. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 13 . Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 80% . RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kecamatan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II juga terdapat minimal 3 (tiga) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas. juga terdapat minimal 10 (sepuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan. juga terdapat minimal 25 (duapuluhlima) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman aktif dan minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. b.000 m2. RTH Taman Rukun Warga RTH Taman Rukun Warga (RW) dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu RW.000 m2. Lokasi taman berada pada radius kurang dari 1000 m dari rumah-rumah penduduk yang dilayaninya. Luas taman ini minimal 0. Luas taman ini minimal 0. dengan luas minimal 1. Luas taman ini minimal 0. khususnya kegiatan remaja. Pada taman ini selain ditanami dengan berbagai tanaman sesuai keperluan.5 m2 per penduduk RW. Lokasi taman berada pada wilayah kelurahan yang bersangkutan. dengan luas taman minimal 24. c. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat disediakan dalam bentuk taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kelurahan.250 m2.30 m2 per penduduk kelurahan. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) minimal seluas 70% .80% dari luas taman. juga terdapat minimal 50 (limapuluh) pohon pelindung dari jenis pohon kecil atau sedang untuk taman aktif dan minimal 100 (seratus) pohon tahunan dari jenis pohon kecil atau sedang untuk jenis taman pasif. Lokasi taman berada pada wilayah kecamatan yang bersangkutan. sisanya dapat berupa pelataran yang diperkeras sebagai tempat melakukan berbagai aktivitas.2 m2 per penduduk kecamatan. d.90% dari luas taman.

pantai. b. RTH Taman Kota RTH Taman kota adalah taman yang ditujukan untuk melayani penduduk satu kota atau bagian wilayah kota.000 penduduk dengan standar minimal 0. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). c. Berbentuk jalur: hutan kota pada lahan-lahan berbentuk jalur mengikuti bentukan sungai. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 14 . Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum.2. juga terdapat semak dan penutup tanah dengan jarak tanam tidak beraturan.000 m2. dan Mendukung pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Bergerombol atau menumpuk: hutan kota dengan komunitas vegetasi terkonsentrasi pada satu areal. d. Lebar minimal hutan kota berbentuk jalur adalah 30 m. Komunitas vegetasi tumbuh menyebar terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil.100% dari luas hutan kota. saluran dan lain sebagainya. dengan luas taman minimal 144. dengan luas minimal 2500 m. Menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota. perdu. d. Hutan kota dapat berbentuk: a. jalan. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 80% . b. Struktur hutan kota dapat terdiri dari: a. Hutan Kota Tujuan penyelenggaraan hutan kota adalah sebagai peyangga lingkungan kota yang berfungsi untuk: a. Menyebar: hutan kota yang tidak mempunyai pola bentuk tertentu. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi dan olah raga. Memperbaiki dan menjaga iklim mikro dan nilai estetika. Taman ini melayani minimal 480. dengan jumlah vegetasi minimal 100 pohon dengan jarak tanam rapat tidak beraturan. Jenis vegetasi yang dipilih berupa pohon tahunan. c. yaitu memiliki komunitas tumbuhtumbuhan selain terdiri dari pepohonan dan rumput. Hutan kota berstrata banyak. b.90%. dan semak ditanam secara berkelompok atau menyebar berfungsi sebagai pohon pencipta iklim mikro atau sebagai pembatas antar kegiatan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 2. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . yaitu hanya memiliki komunitas tumbuhtumbuhan pepohonan dan rumput. Meresapkan air.3 Kota/Perkotaan a. Hutan kota berstrata dua. b.3 m2 per penduduk kota.

2 Pola Tanam Hutan Kota Strata 2 Gambar 2.3 Pola Tanam Hutan Kota Strata Banyak Luas ruang hijau yang diisi dengan berbagai jenis vegetasi tahunan minimal seluas 90% dari luas total hutan kota.Pa z dengan: La adalah adalah P0 K adalah R adalah C adalah PAM adalah t adalah Pa adalah z adalah luas hutan kota yang harus dibangun jumlah penduduk konsumsi air/kapita (lt/hari) laju peningkatan pemakaian air faktor pengendali kapasitas suplai air perusahaan tahun potensi air tanah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 15 . K ( 1 + R – C ) t – PAM . Dalam kaitan kebutuhan air penduduk kota maka luas hutan kota sebagai produsen air dapat dihitung dengan rumus: La = P0 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.

Sabuk hijau dapat berbentuk: RTH yang memanjang mengikuti batas-batas area atau penggunaan lahan tertentu. Mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari. Hutan kota.9375 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0. Kebun campuran. lebar jalur. yang telah ada sebelumnya (eksisting) dan melalui peraturan yang berketetapan hukum.9375 gram 2 adalah jumlah musim di Indonesia c. dan lain-lain) atau membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar tidak saling mengganggu.9375 )(2) m2 dengan: Lt adalah luas Hutan Kota pada tahun ke t (m2) Pt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t Kt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke Tt adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t 54 adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari. yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Hutan kota dalam kaitan sebagai produsen oksigen dapat dihitung dengan metode Gerakis (1974). 0. daerah rendah dengan drainase yang kurang baik sering tergenang air hujan yang dapat mengganggu aktivitas kota serta menjadi sarang nyamuk. serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya. untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. dipenuhi pepohonan. Penahan angin. Fungsi lingkungan sabuk hijau: Peredam kebisingan. sebagai berikut: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. dipertahankan keberadaannya. pesawahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 16 . pemisah kawasan. Mengatasi penggenangan. Sabuk Hijau Sabuk hijau merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota. sehingga berperan sebagai pembatas atau pemisah. Penapis cahaya silau. perkebunan.

a. f) ditanam secara berbaris. Sedangkan median berupa jalur pemisah yang membagi jalan menjadi dua lajur atau lebih. RTH Jalur Hijau Jalan Untuk jalur hijau jalan. c) bentuk percabangan batang tidak merunduk. serta tingkat evapotranspirasi rendah. Mengatasi penggurunan. d. Disarankan agar dipilih jenis tanaman khas daerah setempat. Pada jalur tanaman tepi jalan 1) Peneduh a) ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 1. sehingga akan meningkatkan jumlah air tanah yang akan menahan perembesan air laut ke daratan. Median atau pulau jalan dapat berupa taman atau non taman. Gambar 2.4 Contoh Tata Letak Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan adalah RTH yang terbentuk oleh geometris jalan seperti pada persimpangan tiga atau bundaran jalan. g) tidak mudah tumbang. RTH dapat disediakan dengan penempatan tanaman antara 20–30% dari ruang milik jalan (rumija) sesuai dengan klas jalan. perlu memperhatikan 2 (dua) hal. yaitu fungsi tanaman dan persyaratan penempatannya. Untuk menentukan pemilihan jenis tanaman. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 17 . RTH hijau di dalam kota akan meningkatkan resapan air. e) berasal dari perbanyakan biji.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Mengatasi intrusi air laut. Dalam pedoman ini dibahas pulau jalan dan median yang berbentuk taman/RTH. b) percabangan 2 m di atas tanah. Penyerap dan penepis bau. d) bermassa daun padat.5 m dari tepi median). yang disukai oleh burung-burung.

jarak tanam rapat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Contoh jenis tanaman: a) Kiara Payung (Filicium decipiens) b) Tanjung (Mimusops elengi) c) Bungur (Lagerstroemia floribunda) Gambar 2. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Angsana (Ptherocarphus indicus) Akasia daun besar (Accasia mangium) Oleander (Nerium oleander) Bogenvil (Bougenvillea Sp) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 18 . perdu/semak.5 Jalur Tanaman Tepi Peneduh 2) Penyerap polusi udara a) b) c) d) terdiri dari pohon. bermassa daun padat. memiliki kegunaan untuk menyerap udara.

Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) f) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara payung (Filicium decipiens) Teh-tehan pangkas (Acalypha sp) Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Bogenvil (Bogenvillea sp) Oleander (Nerium oleander) Gambar 2.7 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Kebisingan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 19 .6 Jalur Tanaman Tepi Penyerap Polusi Udara 3) Peredam kebisingan a) b) c) d) terdiri dari pohon. perdu/semak. bermassa daun rapat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. berbagai bentuk tajuk. membentuk massa.

jarak tanam rapat < 3 m. jarak tanam rapat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) Bambu (Bambusa sp) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander (Nerium oleander) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 20 . bermassa daun padat. bermassa daun padat. Contoh jenis tanaman: a) b) c) d) e) Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Swietania mahagoni) Tanjung (Mimusops elengi) Kiara Payung (Filicium decipiens) Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis) Gambar 2. perdu/semak. ditanam berbaris atau membentuk massa.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II 4) Pemecah angin a) b) c) d) tanaman tinggi.8 Jalur Tanaman Tepi Pemecah Angin 5) Pembatas pandang a) b) c) d) tanaman tinggi. perdu/semak. ditanam berbaris atau membentuk massa.

9 Jalur Tanaman Tepi Pem mbatas Pan ndang b. m berma assa daun padat.10 Jalur Tanaman pada Med dian Penah han Silau Gambar 2 endaraan Lampu Ke Pedom Penyediaan dan Pemanfa man faatan Ruang T Terbuka Hijau di Kawasan P Perkotaan 21 1 . ditana rapat. p Contoh jen tanaman nis n: a) b) c) d) Bogen (Bogenv nvil villea sp) Kemb bang sepatu (Hibiscus r rosasinensis) s Olean nder (Netriu oleander) um r Nusa Indah (Mus ssaenda sp) 2.5 m. am keting ggian 1.Penyediaan RT di Kawasan Perkotaan P TH n Bab II Gambar 2. Pada medi ian Penahan s silau lampu kendaraan a) b) c) d) tanam perdu/s man semak.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II c. Persimpangan 30 m kaki empat tidak Pada ujung Tanaman rendah Tanaman rendah tegak lurus persimpangan 80 m 80 m Tanaman tinggi Tanaman tinggi Catatan: . berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian < 0. antara lain: 1) Daerah bebas pandang di mulut persimpangan Pada mulut persimpangan diperlukan daerah terbuka agar tidak menghalangi pandangan pemakai jalan. dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah.Tanaman tinggi. Persimpangan persimpangan Tanaman rendah Tanaman rendah kaki empat tegak Mendekati 80 m 100 m lurus tanpa kanal persimpangan Tanaman tinggi Tanaman tinggi 50 m 2. Penempatan dan pemilihan tanaman dan ornamen hiasan harus disesuaikan dengan ketentuan geometrik persimpangan jalan dan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi. misalnya: .8 m . (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. 02/T/BNKT/1992). Pada Persimpangan Jalan Beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam penyelesaian lansekap jalan pada persimpangan.Pangkas Kuning (Duranta sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 22 .Tanaman rendah.2 Kriteria Pemilihan Tanaman pada Persimpangan Jalan Jarak dan Jenis Tanaman Letak Tanaman Kecepatan 40 Kecepatan 60 km/jam km/jam 40 m Pada ujung 20 m 1.Soka berwarna-warni (Ixora stricata) . Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0. Tabel 2.Lantana (Lantana camara) . Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya.80 m. berbentuk pohon dengan percabangan di atas 2 meter Bentuk Persimpangan 2) Pemilihan jenis tanaman pada persimpangan Penataan lansekap pada persimpangan akan merupakan ciri dari persimpangan itu atau lokasi setempat.

Pinang jambe (Areca catechu) .Bungur (Lagerstromea Loudonii) . misalnya: 1) Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh: . c) Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah. Ruang pejalan kaki yang dilengkapi dengan RTH harus memenuhi hal-hal sebagai berkut: 1) Kenyamanan.Tanjung (Mimosups Elengi) e.11 Jalur Tanaman pada Daerah Bebas Pandang b) Bila pada persimpangan terdapat pulau lalu lintas atau kanal yang dimungkinkan untuk ditanami.Khaya (Khaya Sinegalensis) .Palem raja (Oreodoxa regia) . adalah cara mengukur ditawarkan oleh sistem pedestrian yaitu: kualitas fungsional yang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 23 .Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2.Lontar (siwalan) (Borassus flabellifer) 2) Tanaman pohon bercabang > 2 m Contoh: . RTH Ruang Pejalan Kaki Ruang pejalan kaki adalah ruang yang disediakan bagi pejalan kaki pada kiri-kanan jalan atau di dalam taman. sebaiknya digunakan tanaman perdu rendah dengan pertimbangan agar tidak mengganggu penyeberang jalan dan tidak menghalangi pandangan pengemudi kendaraan.

warisan dan nilai yang dianut terhadap lingkungan. jarak rata-rata orang berjalan di setiap tempat umumnya berbeda dipengaruhi oleh tujuan perjalanan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Orientasi. menghindari kekumuhan dan lokasi tuna wisma. kondisi cuaca. Ruang Terbuka Hijau di Bawah Jalan Layang Penyediaan RTH di bawah jalan layang dalam rangka: a) b) c) sebagai area resapan air.12 Contoh Pola Tanam RTH Jalur Pejalan Kaki 3) Pedoman teknis lebih rinci untuk jalur pejalan kaki dapat mengacu pada Kepmen PU No. disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. meliputi: Kriteria dimensional. Jalur pejalan kaki harus aksesibel untuk semua orang termasuk penyandang cacat. tentang Persyaratan Teknis Aksesiblitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan dan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Ruang Pejalan Kaki. marka jalan) pada lansekap untuk membantu dalam menemukan jalan pada konteks lingkungan yang lebih besar. kondisi permukaan jalan dan kondisi iklim. Kemudahan berpindah dari satu arah ke arah lainnya yang dipengaruhi oleh kepadatan pedestrian. kepadatan penduduk. f. 468/KPTS/1998 tanggal 1 Desember 1998. 24 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . kebiasaan dan gaya hidup. agar area di bawah tertata rapi. asri. dan indah. Gambar 2. 2) Karakter fisik. Pada umumnya orang tidak mau berjalan lebih dari 400 m. kebiasaan dan budaya. berupa tanda visual (landmark. Kriteria pergerakan. kehadiran penghambat fisik.

RTH Fungsi Tertentu RTH fungsi tertentu adalah jalur hijau antara lain RTH sempadan rel kereta api. serta berukuran tidak terlalu besar.lengkung dalam . Jalan rel kereta api lurus b. Gambar 2. Tabel 2.3 Lebar Garis Sempadan Rel Kereta Api Jalan Rel Kereta Api terletak di: a. Berkaitan dengan hal tersebut perlu dengan tegas menentukan lebar garis sempadan jalan kereta api di kawasan perkotaan. RTH pengamanan sumber air baku/mata air. RTH sempadan pantai. RTH jaringan listrik tegangan tinggi. g. RTH sempadan danau.lengkung luar Tanaman >11 m >23 m >11 m Obyek Bangunan >20 m >23 m >11 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 25 .13 Contoh Pemanfaatan Vegetasi pada RTH di Bawah Jalan Layang Pemilihan tanaman seyogianya dari jenis yang tahan ternaungi sepanjang waktu dan relatif tahan kekurangan air.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) e) f) menghindari permukiman liar. Jalan rel kereta api belokan/lengkungan . memperlembut bagian/struktur bangunan yang berkesan kaku. RTH sempadan sungai.1. mengingat keterbatasan tempat. Jalur Hijau (RTH) Sempadan Rel Kereta Api Penyediaan RTH pada garis sempadan jalan rel kereta api merupakan RTH yang memiliki fungsi utama untuk membatasi interaksi antara kegiatan masyarakat dengan jalan rel kereta api. menutupi bagian-bagian struktur jalan yang tidak menarik. g.

3. Dalam peralihan jalan lurus ke jalan lengkung diluar as jalan harus ada jalur tanah yang bebas. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di dalam galian.5 m 2. Ketentuan jarak bebas minimum antara penghantar SUTT dan SUTET dengan tanah dan benda lain ditetapkan sebagai berikut: Tabel 2. yang secara berangsur–angsur melebar dari jarak lebih dari 11 sampai lebih dari 23 m. Garis sempadan jalan rel kereta api pada belokan adalah lebih dari 23 m diukur dari lengkung dalam sampai as jalan. Lokasi Bangunan beton Pompa bensin Penimbunan bahan bakar Pagar Lapangan terbuka Jalan raya Pepohonan Bangunan tahan api Rel kereta api SUTT 66 KV 150 KV 20 m 20 m 20 m 20 m 50 m 20 m 3m 6.5 m 2.5 m 1.5 m 2.5 m 20 m 20 m SUTR 1. Pelebaran tersebut dimulai dalam jarak 20 m di muka lengkungan untuk selanjutnya menyempit lagi sampai jarak lebih dari 11 m. 9.2.3 m 0.5 m 8m 3.5 m 8.5 m.5 m 1. 1. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak di tanah timbunan diukur dari kaki tanggul.3 m 0.5 m 2.4 Tabel Jarak Bebas Minimum SUTT dan SUTET No.5 m 0.3 m 0.5 m 2.5 m 3. 5.5 m 0.3 m 0. f) g) g.5 m 20 m 20 m 0.5 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 0. 7.5 m 1. 8.5 m 0.3 m 0.5 m 15 m SUTM 2.5 m 2. Jalur Hijau (RTH) pada Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Ketentuan lebar sempadan jaringan tenaga listrik yang dapat digunakan sebagai RTH adalah sebagai berikut: a) b) Garis sempadan jaringan tenaga listrik adalah 64 m yang ditetapkan dari titik tengah jaringan tenaga listrik. Garis sempadan jalan rel kereta api yang terletak pada tanah datar diukur dari as jalan rel kereta api. Garis sempadan jalan rel kereta api sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak berlaku apabila jalan rel kereta api terletak di tanah galian yang dalamnya 3.5 m 0.5 m 1.3 m 20 m 20 m Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 26 . 6. 2. diukur dari puncak galian tanah atau atas serongan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Kriteria garis sempadan jalan kereta api yang dapat digunakan untuk RTH adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) Garis sempadan jalan rel kereta api adalah ditetapkan dari as jalan rel terdekat apabila jalan rel kereta api itu lurus.5 m 0.5 m 1.5 m 8m 20 20 20 20 20 20 m m m m m m SUTET 500 KV 20 m 20 m 50 m 3m 15 m 15 m 8. Garis sempadan jalan perlintasan sebidang antara jalan rel kereta api dengan jalan raya adalah 30 m dari as jalan rel kereta api pada titik perpotongan as jalan rel kereta api dengan as jalan raya dan secara berangsur–angsur menuju pada jarak lebih dari 11 m dari as jalan rel kereta api pada titik 600 m dari titik perpotongan as jalan kereta api dengan as jalan raya.5 m 0.3 m 0.5 m 1. 4.

Sesuai peraturan yang ada. sungai di perkotaan terdiri dari sungai bertanggul dan sungai tidak bertanggul. tanggul dapat diperkuat. televisi dan kereta gantung SUTT 66 KV 150 KV 3m 20 m 3m 2.5 m 14 m 8.5 m 8.5 m 3m 20 m 20 m 20 m SUTET 500 KV 8. 12.5 m SUTM 20 m 20 m 20 m 20 m SUTR 20 m 20 m 20 m 20 m Saluran kabel SKTM SKTR 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m 20 m Keterangan: SUTR SUTM SUTT SUTET SKTR SKTM = = = = = = Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Saluran Udara Tegangan Rendah Udara Tegangan Menengah Udara Tegangan Tinggi Udara Tegangan Ekstra Tinggi Kabel Tegangan Rendah Kabel Tegangan Menengah g. b) Sungai tidak bertanggul: 1) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: 27 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . jaringan telekomunikasi. 10. a) Sungai bertanggul: 1) 2) 3) 4) Garis sempadan sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 3 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. maka lahan yang diperlukan untuk tapak tanggul baru sebagai akibat dilaksanakannya ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) harus dibebaskan.3. Garis sempadan sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sekurang-kurangnya 5 m di sebelah luar sepanjang kaki tanggul. Kecuali lahan yang berstatus tanah negara. 13. Dengan pertimbangan untuk peningkatan fungsinya. Lokasi Jembatan besi/ tangga besi/ kereta listrik Dari titik tertinggi tiang kapal Lapangan olah raga SUTT lainnya pengahantar udara tegangan rendah. 11. RTH Sempadan Sungai RTH sempadan sungai adalah jalur hijau yang terletak di bagian kiri dan kanan sungai yang memiliki fungsi utama untuk melindungi sungai tersebut dari berbagai gangguan yang dapat merusak kondisi sungai dan kelestariannya. diperlebar dan ditinggikan yang dapat berakibat bergesernya garis sempadan sungai.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 m.100%. RTH sempadan pantai merupakan area pengaman pantai dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan oleh gelombang laut seperti intrusi air laut. b) 3) 4) 5) Garis sempadan sebagaimana dimaksud pada butir 1) dan 2) diukur ruas per ruas dari tepi sungai dengan mempertimbangkan luas daerah pengaliran sungai pada ruas yang bersangkutan. Untuk sungai yang terpengaruh pasang surut air laut. Lebar RTH sempadan pantai minimal 100 m dari batas air pasang tertinggi ke arah darat. erosi. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 20 m. Sungai kecil yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai kurang dari 500 km2. tiupan angin kencang dan gelombang tsunami. abrasi. Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 m sampai dengan 20 m.4. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 30 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai memiliki fungsi utama sebagai pembatas pertumbuhan permukiman atau aktivitas lainnya agar tidak menggangu kelestarian pantai. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 10 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 100 m. Dalam hal ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 1) tidak terpenuhi. jalur hijau terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurangkurangnya 100 (seratus) meter dari tepi sungai. dengan ketentuan konstruksi dan penggunaan harus menjamin kelestarian dan keamanan sungai serta bangunan sungai. Garis sempadan sungai tidak bertanggul yang berbatasan dengan jalan adalah tepi bahu jalan yang bersangkutan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 28 . g. Luas area yang ditanami tanaman (ruang hijau) seluas 90% . penetapan garis sempadannya sekurang-kurangnya 50 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan. maka segala perbaikan atas kerusakan yang timbul pada sungai dan bangunan sungai menjadi tanggungjawab pengelola jalan. 2) Garis sempadan sungai tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan sebagai berikut: a) Sungai besar yaitu sungai yang mempunyai daerah pengaliran sungai seluas 500 km2 atau lebih. garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 m dihitung dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Beberapa jenis tumbuhan di ekosistem mangrove antara lain: Avicenia spp. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. RTH Sumber Air Baku/Mata Air RTH sumber air meliputi sungai. Khusus untuk RTH sempadan pantai yang telah mengalami intrusi air laut atau merupakan daerah payau dan asin. erosi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 29 . Trengguli. dan mata air. Xylocarpus spp.14 Contoh Penanaman Vegetasi pada RTH Sempadan Pantai g. Untuk mata air. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Fasilitas dan kegiatan yang diijinkan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) b) Tidak bertentangan dengan Keppres No. Tanjung. Formasi Hutan Mangrove sangat baik sebagai peredam ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur. Excoecaria spp. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. Asam Landi (Pichelebium dulce) dan Mahoni (Switenia mahagoni ) relatif lebih tahan jika dibandingkan Kesumba. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. pemilihan vegetasi diutamakan dari daerah setempat yang telah mengalami penyesuaian dengan kondisi tersebut. Rhizophora spp. c) d) Sonneratia spp. dan Nypa sp. dan Kuku. RTH terletak pada garis sempadan yang ditetapkan sekurang-kurangnya 200 (dua ratus) meter di sekitar mata air. melindungi dari ancaman gelombang pasang. danau/waduk. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.5. Kiputri. Angsana. Aegiceras sp. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. Bruguiera spp. Gambar 2. Lumnitzera spp. wildlife habitat dan meredam angin kencang. Untuk danau dan waduk.

5 m. atau dengan pohon pelindung. jarak antar makam satu dengan lainnya minimal 0. Untuk penyediaan RTH pemakaman. pencipta iklim mikro serta tempat hidup burung serta fungsi sosial masyarakat disekitar seperti beristirahat dan sebagai sumber pendapatan.6. luas dan jumlah masing-masing blok disesuaikan dengan kondisi pemakaman setempat. maka ketentuan bentuk pemakaman adalah sebagai berikut: a) b) c) d) ukuran makam 1 m x 2 m. tiap makam tidak diperkenankan dilakukan penembokan/ perkerasan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Gambar 2. e) f) g) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 30 . pemakaman dibagi dalam beberapa blok. ruang hijau pemakaman termasuk pemakaman tanpa perkerasan minimal 70% dari total area pemakaman dengan tingkat liputan vegetasi 80% dari luas ruang hijaunya. batas terluar pemakaman berupa pagar tanaman atau kombinasi antara pagar buatan dengan pagar tanaman. RTH Pemakaman Penyediaan ruang terbuka hijau pada areal pemakaman disamping memiliki fungsi utama sebagai tempat penguburan jenasah juga memiliki fungsi ekologis yaitu sebagai daerah resapan air.15 Contoh Penanaman Pada RTH Sumber Air Baku dan Mata Air g. batas antar blok pemakaman berupa pedestrian lebar 150-200 cm dengan deretan pohon pelindung disalah satu sisinya. tempat pertumbuhan berbagai jenis vegetasi.

mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. ketinggian tanaman bervariasi. memiliki nilai estetika yang menonjol. Pertokoan. tidak merusak konstruksi dan bangunan. dahan tidak mudah patah.1 Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan a.3. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. perakaran tidak mengganggu pondasi.3.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Pemilihan vegetasi di pemakaman disamping sebagai peneduh juga untuk meningkatkan peran ekologis pemakaman termasuk habitat burung serta keindahan. tidak beracun. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pekarangan Rumah Besar. Kriteria Vegetasi RTH 2.16 Contoh Pola Penanaman pada RTH Pemakaman 2. Halaman Perkantoran. Kriteria Vegetasi untuk Taman Atap Bangunan dan Tanaman dalam Pot Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 31 . jenis tanaman tahunan atau musiman. tidak berduri. Pekarangan Rumah Kecil. sistem perakaran masuk ke dalam tanah. tahan terhadap hama penyakit tanaman. Gambar 2. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. dan Tempat Usaha Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) b. Pekarangan Rumah Sedang.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 32 . perakaran tidak mengganggu pondasi.2 Kriteria Vegetasi untuk RTH Taman dan Taman Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk taman lingkungan dan taman kota adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tidak beracun. tahan terhadap hama penyakit tanaman. mudah dalam pemeliharaan. mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.5 Contoh Tanaman untuk Roof Garden No. ketinggian tanaman bervariasi. kecepatan tumbuh sedang. sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung. perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan. I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 II 1 2 3 Ground Cover Jenis dan Nama Tanaman Perdu/semak Akalipa merah Nusa Indah merah Daun Mangkokan Bogenvil merah Azalea Soka daun besar Bakung Oleander Palem Kuning Sikas Alamanda Puring Kembang Merak Rumput Gajah Lantana ungu Rumput kawat Nama Latin Keterangan Acalypha wilkesiana Musaenda erytthrophylla Notophanax scutelarium Bougenvillea glabra Rhododendron indicum Ixora javonica Crinum asiaticum Nerium oleander Chrysalidocaus lutescens Cycas revolata Aalamanda cartatica Codiaeum varigatum Caesalphinia pulcherima Axonophus compressus Lantana camara Cynodon dactylon Daun berwarna Berbunga Berdaun unik Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Berbunga Daun berwarna Bentuk unik Merambat berbunga Daun berwarna Berbunga Tekstur kasar Berbunga Tekstur sedang 2. warna hijau dengan variasi warna lain seimbang. jarak tanam setengah rapat sehingga menghasilkan keteduhan yang optimal. jenis tanaman tahunan atau musiman. tetapi tidak terlalu gelap. berupa habitat tanaman lokal dan tanaman budidaya. tahan dan tumbuh baik pada temperatur lingkungan yang tinggi.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II a) b) c) d) e) tanaman tidak berakar dalam sehingga mampu tumbuh baik dalam pot atau bak tanaman. tidak berduri. Tabel 2. tajuk cukup rindang dan kompak.3. dahan tidak mudah patah. relatif tahan terhadap kekurangan air. perawakan dan bentuk tajuk cukup indah.

Jenis dan Nama Tanaman Nama Latin Keterangan 1 Bunga Kupu-kupu Bauhinia Purpurea Berbunga 2 Sikat botol Calistemon lanceolatus Berbunga 3 Kemboja merah Plumeria rubra Berbunga 4 Kersen Muntingia calabura Berbuah 5 Kendal Cordia sebestena Berbunga 6 Kesumba Bixa orellana Berbunga 7 Jambu batu Psidium guajava Berbuah 8 Bungur Sakura Lagerstroemia loudonii Berbunga 9 Bunga saputangan Amherstia nobilis Berbunga 10 Lengkeng Ephorbia longan Berbuah 11 Bunga Lampion Brownea ariza Berbunga 12 Bungur Lagerstroemea floribunda Berbunga 13 Tanjung Mimosups elengi Berbunga 14 Kenanga Cananga odorata Berbunga 15 Sawo Kecik Manilkara kauki Berbuah 16 Akasia mangium Accacia mangium 17 Jambu air Eugenia aquea Berbuah 18 Kenari Canarium commune Berbuah Catatan: pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat 2. i) batang dan sistem percabangan kuat. g) toleran terhadap keterbatasan sinar matahari dan air. e) tahan terhadap hama penyakit. agar tumbuhan lain dapat tumbuh baik sebagai penutup tanah.3 Kriteria Vegetasi untuk Hutan Kota Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) memiliki ketinggian yang bervariasi. 1 2 3 Nama Tanaman Kiara Beringin Loa Ficus spp Ficus benyamina Ficus glaberrima Nama Latin Jenis burung/potensi Punai (Treron sp) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 33 .3. tidak mudah patah. j) batang tegak kuat.6 Contoh Pohon untuk Taman Lingkungan dan Taman Kota No. f) berumur panjang. m) jenis tanaman yang ditanam termasuk golongan evergreen bukan dari golongan tanaman yang menggugurkan daun (decidous). d) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara. Tabel 2.7 Contoh Pohon Pengundang Burung untuk Hutan Kota No. b) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang kehadiran burung. n) memiliki perakaran yang dalam. k) sistem perakaran yang kuat sehingga mampu mencegah terjadinya longsor. c) tajuk cukup rindang dan kompak.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tabel 2. h) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. l) seresah yang dihasilkan cukup banyak dan tidak bersifat alelopati.

Kayu Batu. Tembelekan Lantana camara Balsa Orchoma lagopus Cendana India Santaum album Suren Toona sureni Gopasa Vitex gopassus Kesumba Keling. Ameliorasi iklim mikro. beberapa jenis burung madu Burung ukut-ukut Srigunting Bahan pembuat sarang Buah dapat dimakan Pengundang serangga Katagori pohon langka Tahan pangkas Buah dapat dimakan Bumbu dapur 2. Pacar Keling Bixa orellana Kemlandingan Leucaena glauca Kayu Palele Castanopsis javanica Trengguli.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No. Jati Seberang Peronema canescens Jati Tectona grandis Dahat Tectona hamiltoniana Salam Eugeniu polyantha Lantana Merah. Srindit (Loriculus pusillus) Jalak (sturnidae) dan.3. Kayu Homalium tomentosum Kerbau. tumbuhan berukuran tinggi dengan luasan area yang cukup dapat mengurangi efek pemanasan yang diakibatkan oleh radiasi energi matahari.4 Kriteria Vegetasi untuk Sabuk Hijau Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: Peredam kebisingan. 4 Nama Tanaman Dadap Erythrina varigata Nama Latin 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Dangdeur Aren Buni Buni hutan Kembang merak Serut Jamblang Salam Gosampinus heptaphylla Arenga pinatta Antidesma bunius Antidesma montanum Caesalpinia pulcherrima Syzygium paucipuncatum Streblus asper Syzygium cumini Syzygium polyanntum Jenis burung/potensi Betet (Psittacula alexandri). Gia Kedondong Bulan Canarium littoralle Johar Cassia siamea Keladan Dipterocarpus gracillis Ampupu Eucalyptus alba 10 – 20 20 – 30 30 – 40 40 – 50 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 34 . Mengatasi penggenangan.8 Contoh Tanaman untuk Sabuk Hijau yang Tahan Terhadap Penggenangan Air Lama genangan (hari) 0 – 10 Jenis tanaman Nama Lokal Nama Latin Sungkai. Penapis cahaya silau. Tabel 2. Golden Shower Cassia fistula Dalingsem. peletakan tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi dan menyerap cahaya. untuk fungsi ini dipilih penanaman dengan vegetasi berdaun rapat. Pemilihan vegetasi berdaun rapat berukuran relatif besar dan tebal dapat meredam kebisingan lebih baik.

lebar jalur. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup tebal. sabuk hijau berupa jalur pepohonan yang tinggi lebar dan panjang. Sengon Laut. Pada daerah payau dapat dipilih pohon Mahoni (Swietenia mahagoni) dan Asam Landi (Pichecolobium dulce). Mengatasi penggurunan. Mengatasi intrusi air laut. Beberapa spesies tanaman seperti Cempaka (Michelia champaca). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 35 . Pola tanam sabuk hijau sebagai penahan angin adalah sebagai berikut: Sabuk hijau membentuk jalur hijau cembung ke arah datangnya angin. dan Tanjung (Mimosups elengi) adalah tanaman yang dapat mengeluarkan bau harum. Jeungjing Kosambi Tekik Kopi Meranti tembaga Sonokeling Meranti merah Keluarga Mahoni Cemara laut 50 – 60 60 – 70 70 – 80 90 – 100 100 – 200 300 Semar. Sabuk hijau yang dibangun harus cukup panjang agar dapat melindungi objek dengan baik. Mengamankan pantai dan membentuk daratan. Kihiyang Sonoleking Senon. yang telah terbukti dapat meredam ombak dan membantu proses pengendapan lumpur di pantai.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Lama genangan (hari) Jenis tanaman Nama Lokal Pinus Benquet Tusam Wedang Angsana Laban Weru. sabuk hijau ini dapat berupa formasi hutan mangrove. Penyerap dan penepis bau. Sabuk hijau yang terlalu tipis kurang dapat melindungi karena masih dapat diterobos angin. tanaman yang dipilih adalah yang daya evapotranspirasinya rendah. akan menjadikan angin laminar dan mencegah terbentuknya angin turbulen. dapat melindungi daerah dari hembusan angin yang membawa serta pasir. Sabuk hijau seyogyanya ditempatkan tepat pada arah datangnya angin dan obyek yang dilindungi harus berada di bagian belakangnya. Kenanga (Cananga odorata). untuk membangun sabuk hijau yang berfungsi sebagai penahan angin perlu diperhitungkan beberapa faktor yang meliputi panjang jalur. Casuarina equisetifolia Intsia bijuga Samanea saman Gluta renghas Nama Latin Sumber: Soerianagara dan Indrawan (1988) Penahan angin. Pendusta utan Kihujan Rengas Pinus insularis Pinus mercusii Pterocarpus javanicus Pterocarpus indicus Vitex pubescens Albizzia procera Dalbergia sisso Paraserianthes falcataria Schleichera oleosa Albizzia lebbeck Coffea spp Shorea leprosula Dalbergia latifolia Shorea ovalis Swietenia spp. jalur pepohonan yang rapat dan tinggi dapat melokalisir bau dan menyerap bau. yang terletak di bagian yang mengarah ke hembusan angin.

Tanaman harus terdiri dari beberapa strata yaitu tanaman tinggi sedang dan rendah. b) sistem perakaran masuk kedalam tanah. dengan dahan yang kuat namun cukup lentur. sehingga mampu menutup secara baik. f) batang tegak kuat. tetapi tidak terlalu gelap.3. tidak mudah patah dan tidak berbanir. tidak dapat berfungsi sebagai penahan angin. q) tahan terhadap hama penyakit. d) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia. dan RTH Jalur Pejalan Kaki Kriteria untuk jalur hijau jalan adalah sebagai berikut: 1) Aspek silvikultur: a) b) c) d) e) f) 2) berasal dari biji terseleksi sehat dan bebas penyakit. sistim perakaran padat. r) tahan terhadap pencemaran kendaraan bermotor dan industri. batang tegak dan keras pada bagian pangkal. 2.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Tanaman yang ditanam didominasi oleh tanaman yang cukup tinggi. n) buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung. Sebaliknya kerapatan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terbentuknya angin turbulen. o) sebaiknya tidak berduri atau beracun. g) perawakan dan bentuk tajuk cukup indah. u) berumur panjang. c) fase anakan tumbuh cepat. Kerapatan yang kurang. j) daun sebaiknya berukuran sempit (nanofill). t) sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. e) batang dan sistem percabangan kuat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 36 . tidak merusak konstruksi dan bangunan. s) mampu menjerap dan menyerap cemaran udara.5 Kriteria Vegetasi untuk RTH Jalur Hijau Jalan a. Sifat biologi: a) tumbuh baik pada tanah padat. m) saat berbunga/berbuah tidak mengotori jalan. tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa. memiliki pertumbuhan sempurna baik batang maupun akar. l) daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang. perbandingan bagian pucuk dan akar seimbang. Kriteria Vegetasi untuk Taman Pulau Jalan dan Median Jalan. Memiliki kerapatan daun berkisar antara 70–85%. i) ukuran dan bentuk tajuk seimbang dengan tinggi pohon. p) mudah sembuh bila mengalami luka akibat benturan dan akibat lain. k) tidak menggugurkan daun. tajuk simetris dan padat. h) tajuk cukup rindang dan kompak.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Tabel 2.9 Contoh Tanaman untuk Peneduh Jalan dan Jalur Pejalan Kaki
No I 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 II 1 2 3 4 5 Nama Lokal Pohon Bunga Kupu-kupu Bunga kupu-kupu ungu Trengguli Kayu manis Tanjung Salam Melinjo Bungur Cempaka Tanjung Perdu/semak/groundcover Canna Soka jepang Puring Pedang-pedangan Lili pita Nama Latin Tinggi (m) 8 8 15 12 15 12 15 18 18 12 0.6 0.3 0.7 0.5 0.3 Jarak Tanam (m) 12 12 12 12 12 6 6 12 12 12 0.2 0.2 0.3 0.2 0.15

Bauhinia purpurea Bauhinia blakeana Cassia fistula Cinnamommum iners Mimosups elengi Euginia polyantha Gnetum gnemon Lagerstroemia floribunda Michelia champaca Mimosups elengi Canna varigata Ixora spp Codiaeum varigatum Sansiviera spp Ophiopogon jaburan

b.

Kriteria Vegetasi untuk RTH di Bawah Jalan Layang Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) tanaman yang tahan dan dapat hidup dengan baik pada tempat yang ternaungi secara permanen; tidak membutuhkan penyinaran matahari secara penuh; relatif tahan kekurangan air; perakaran dan pertumbuhan batang yang tidak mengganggu struktur bangunan; sebaiknya merupakan tanaman dari jenis yang mempunyai kemampuan dalam mengurangi polusi udara; dapat hidup dengan baik pada media tanam pot atau bak tanaman.

Tabel 2.10 Contoh Tanaman untuk RTH di Bawah Jalan Layang
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama lokal Balancing Talas-talasan Hanjuang Philodendron Pedang-pedangan Xanadu Singonium Yuca Dracaena Spatipilum

Dieffenbachia spp Calathea spp Cordyline spp Philodendron spp Sansiviera spp Philodendron xanadu Syngonium spp Yucca elephantipes Dracaaena spp Spathypillum spp

Nama latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

37

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

2.3.6 Kriteria Vegetasi untuk RTH Fungsi Tertentu a. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) k) tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; batang dan sistem percabangan kuat; batang tegak kuat, tidak mudah patah dan tidak berbanir; perawakan dan bentuk tajuk cukup indah; daun tidak mudah rontok karena terpaan angin kencang; buah berukuran kecil dan tidak bisa dimakan oleh manusia secara langsung; tahan terhadap hama penyakit; berumur panjang.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH rel kereta api, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi, disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian pada daerah masingmasing. Tabel 2.11 Contoh Vegetasi untuk RTH Sempadan Rel Kereta Api
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Nama Daerah Flamboyan Angsana Ketapang Kupu-kupu Kere paying Johar Tanjung Mahoni Akasia Bungur Kenari Johar Damar Nyamplung Jakaranda Liang liu Kismis Ganitri Saga Anting-anting Asam kranji Johar Cemara Pinus Beringin Nama Latin Delonix regia Pterocarpus indicus Terminalia cattapa Bauhinia purpurea Filicium decipiens Cassia multiyoga Mimusops elengi Swientenia mahagoni Acacia auriculiformis Lagerstroemia loudonii Canarium commune Cassia sp. Agathis alba Calophyllum inophyllum Jacaranda filicifolia Salix babilinica Muehlenbeckia sp. Elaeocarpus spahaericus Adenanthera povoniana Elaeocarpus grandiflorus Pithecelobium dulce Cassia grandis Cupresus papuana Pinus merkusii Ficus benjamina

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

38

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

Pola tanam vegetasi di sepanjang rel kereta api harus memperhatikan keamanan terhadap lalu lintas kereta api, tidak menghalangi atau mengganggu penglihatan masinis, serta tidak menggangu kekuatan struktur rel kereta api. Pola tanam yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: a) b) jarak maksimal dari sumbu rel adalah 50 m; pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.

b. Kriteria Vegetasi untuk Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Kriteria pemilihan vegetasi dan pola tanam untuk RTH ini adalah sebagai berikut: jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman yang memiliki dahan yang kuat, tidak mudah patah, dan perakaran tidak mengganggu pondasi; b) akarnya menghujam masuk ke dalam tanah. Jenis ini lebih tahan terhadap hembusan angin yang besar daripada tanaman yang akarnya bertebaran hanya di sekitar permukaan tanah; c) daunnya tidak mudah gugur oleh terpaan angin dengan kecepatan sedang; d) bukan merupakan pohon yang memiliki bentuk tajuk melebar; e) merupakan pohon dengan katagori kecil (small tree); f) fase anakan tumbuh cepat, tetapi tumbuh lambat pada fase dewasa; g) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia; h) pola penanaman pemilihan vegetasi memperhatikan ketinggian yang diijinkan; i) buah tidak bisa dikonsumsi langsung oleh manusia; j) memiliki kerapatan yang cukup (50-60%); k) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Pemilihan jenis dan ketinggian vegetasi dimaksudkan agar penanaman vegetasi pada RTH jalur SUTT maupun SUTET, tidak menimbulkan gangguan terhadap jaringan listrik serta menghindari bahaya terhadap penduduk di sekitarnya. Lokasi penanaman harus memperhatikan jarak bebas minimum yang diijinkan. Tabel 2.12 Contoh Vegetasi untuk RTH SUTT dan SUTET
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Nama Suku dan Jenis Nama Lokal Mangkokan Sarai raja Palem kobis Kesumba Jarak kosta Bunga Perawakan Semak Pohon sedang Pohon kecil Pohon kecil Semak Pohon kecil Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) /5 10/5-25 5/3-4 10/2-8 /2 10/2-6

a)

Nothopanax scutellarium Merr. Caryota mitis Lour. Licuala grandis L. Bixa orellana L. Jatropha gossypifolia L. Bauhinia purpurea L.

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

39

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan

Bab II

No.

Nama Suku dan Jenis

Nama Lokal kupu-kupu Kembang kuning Kembang merak Kembang sepatu kecil Serut Kemuning Kecubung gunung

Perawakan

Diameter Batang (cm)/ Tinggi (m) 20/2-6 - /3-5 - /2 10/2-5 10/-7 - /5

7. 8. 9. 10. 11. 12.

Cassia surattensis Burm. F. Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz. Malvaviscus arbpreus Cav. Streblus asper Lour. Muraya paniculata (L.) Jack. Brugmansia candida Pers.

Semak Semak Semak Pohon kecil Pohon kecil Semak

c.

Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) i) j) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah; tumbuh baik pada tanah padat; sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan; kecepatan tumbuh bervariasi; tahan terhadap hama dan penyakit tanaman; jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan; tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap; berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya; dominasi tanaman tahunan; sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.

Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah masing-masing. Tabel 2.13 Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Daerah Bungur Jening Khaya Pingku Lamtorogung Puspa Kenanga Locust Kisireum Manglid Cengal Flamboyan

Lagerstromia speciosa Pithecolobium lobatum Khaya anthotheca Dysoxylum excelsum Leucaena lecocephala Schima wallichii Canangium adoratum Hymenaena courburil Eugenia cymosa Michelia velutina Hopea sangkal Delonix regia

Nama Latin

Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

40

anthotheca Nama Latin Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 41 . 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Nama Daerah Tanjung Trembesi Beringin Kepuh Angsret Nyamplung Leda Tengkawanglayar Johar Merbau pantai Tengkawangmajau Hoe Merawan Blabag Pala hutan Cemara sumatra Palur raja Kibeusi leutik Kaliandra Balam sudu Sawo duren Kedinding Kepuh Dadap Salam Sungkai Matoa/kasai Locust Ebony/kayuhitam Kempas Sawo kecik Asam Pingku Johar Angsana Tengkawang layar Kecapi Palem Raja Kalak Saputangan Bacang Kayu manis Kawista Kenanga Khaya Khaya Khaya Mimusops elengi Samanea saman Ficus benjamina Sterculia foetida Spathodea campanulata Callophylum inophyllum Eucalyptus deglupta Shorea mecistopteryx Cassia siamea Intsia bijuga Shorea palembanica Eucaliyptus platyphylla Hopea mangarawan Terminalia citrina Myristica fatua Casuarina sumatrana Oreodoxa regia Lindera srtichchytolia Calliandra marginata Palaguium sumatranum Crysophyllum cainito Albizzia leppecioides Sterculia foetida Erythrina cristagalli Eugenia polyantha Pheronema canescens Pometia pinnata Hymenaea courbaril Dyospiros celebica Kompasia excelsa Manilkara kauki Tamarindus indica Dysoxyllum exelsum Cassia grandis Pterocarpus indicus Shorea mecistopteryx Shandoricum koetjape Oerodoxa regia Poliantha lateriflora Maniltoa brawneodes Manejitera foetida Cinnamomun burmanni Feronia limonia Canangium odoratum Hopea bancana Shorea selanica Pterogota alata K. grandiflora K. sinegalensis K.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II No.

penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak (random start) pada peta. daya transpirasi rendah. batang dan sistem percabangan yang kuat. tahan terhadap hama dan penyakit tanaman. pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan. Bungur (Lagerstroemia speciosa). 1993): Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). d) e) f) g) d. Karet Munding (Ficus elastica). sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh. Vegetasi ideal yang ditanam pada RTH pengaman sumber air merupakan vegetasi yang tidak mengkonsumsi banyak air atau yang memiliki daya transpirasi yang rendah. sehingga dapat menahan erosi dan meningkatkan infiltasi (resapan) air. e. Kiara Payung (Filicium decipiens). Manggis (Garcinia mangostana). untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m. sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar permukiman. jarak maksimal dari pantai adalah 100 m. tiupan angin dan hempasan gelombang air pasang. Beberapa tanaman yang memiliki daya transpirasi yang rendah antara lain (Manan. bakau merupakan tanaman yang khas sebagai pelindung pantai. Kriteria Vegetasi untuk RTH pada Sumber Air Baku/Mata Air Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) relatif tahan terhadap penggenangan air. Damar (Agathis loranthifolia). sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai. sebelum di lapangan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) c) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kirikanan sungai besar dan sungai kecil (anak sungai). Kriteria Vegetasi untuk RTH Sempadan Pantai Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) merupakan tanaman lokal yang sudah teruji ketahanan dan kesesuaiannya tehadap kondisi pantai tersebut. sistem perakaran yang yang kuat sehingga mampu mencegah abrasi pantai. Kelapa (Cocos nucifera). Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 42 . toleransi terhadap kondisi air payau. 1976 dan Kurniawan. memliki sistem perakaran yang kuat dan dalam.

sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.2 Penanaman Pada proses penanaman harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a) bibit tanaman harus memiliki percabangan dan perakaran yang sehat. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 43 . berumur panjang. sedapat mungkin mempunyai nilai ekonomi. tidak merusak konstruksi dan bangunan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II f. Kriteria Vegetasi untuk RTH Pemakaman Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) g) h) sistem perakaran masuk kedalam tanah. Untuk menghasilkan media tanam yang baik maka tanah harus digemburkan dengan menggunakan cangkul hingga kedalaman pertumbuhan akar dan ditambahkan pupuk organik/kompos secukupnya. Penanaman dapat dilakukan setelah tanah dibiarkan selama 3–5 hari. b) besarnya diameter lubang tanam sama dengan lingkaran tajuk terluar tanaman dengan kedalaman setebal bola akar ditambah 10 cm.14 Contoh Vegetasi untuk Pemakaman No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama Lokal Bougenvil Kemboja Putih Puring Lili pita Tanjung Dadap Kembang merak Jamblang Salam Nama Latin Potensi berbunga berbunga berwarna berbunga pengundang burung pengundang serangga buah dapat dimakan pengundang burung Bougenvilia sp Plumeria alba Codiaeum varigatum Ophiopogon jaburan Mimosups elengi Erythrina varigata Caesalpinia pulcherrima Syzygium cumini Syzygium polyanntum 2. batang tegak kuat. tidak mudah patah dan tidak berbanir. Tabel 2.4. atau menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi langsung. Tanah yang baik sebagai media tanam adalah tanah yang gembur mengandung cukup unsur hara. c) masukkan tanah di sekeliling bola akar. dan tanah yang berasal dari bagian atas lubang tanam diurugkan di bagian atas tanaman.1 Persiapan Tanah untuk Media Tanam Lokasi tanah yang akan dijadikan media tanam harus diolah terlebih dahulu. dapat berupa pohon besar. sedang atau kecil disesuaikan dengan ketersediaan ruang.4. tajuk cukup rindang dan kompak. 2. dikembalikan ke bagian bawah lubang tanam. tahan terhadap hama penyakit.4. tetapi tidak terlalu gelap. kemudian tanah yang berasal dari bagian bawah. Ketentuan Penanaman 2.

Pupuk yang diberikan pada tanaman dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik (misalnya NPK atau urea). Penyiraman Tujuan penyiraman tanaman. Waktu pemangkasan yang tepat adalah setelah masa pertumbuhan generatif tanaman (setelah selesai masa pembungaan) dan sebelum pemberian pupuk. selain untuk menyeimbangkan laju evapotranspirasi. mati atau berpenyakit. Penetrasi air siraman sedalam 15-20 cm ke dalam tanah. Pemangkasan tanaman dapat dilakukan dengan tujuan: 1) Pemangkasan untuk kesehatan pohon: Pemangkasan untuk tujuan ini dilakukan pada cabang. Waktu penyiraman yang terbaik adalah pada pagi atau sore hari.4. Waktu penyiraman pada dasarnya dapat dilakukan kapan saja saat dibutuhkan. Untuk daerah dengan kelembaban tinggi penyiraman pada pagi hari lebih baik daripada sore hari. dapat menjadi indikasi bahwa siraman air sudah dinyatakan cukup. Pemupukan Prinsip dasar pemupukan adalah mensuplai hara tambahan yang dibutuhkan sehingga tanaman tidak kekurangan makanan.Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II d) agar pohon yang baru ditanam tidak bergoyang.3 Pemeliharaan Tanaman a. juga berfungsi melarutkan garam-garam mineral dan juga sebagai unsur utama pada proses fotosintesis. 2) Pemangkasan untuk keamanan penggunaan taman: Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. dengan ujung diikat pada batang pohon. b. tidak pada permukaan daun tanaman. dalam upaya menghindari penyakit yang disebabkan oleh cendawan. dahan dan ranting yang retak. patah. dahan dan ranting. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 44 . diperlukan alat penahan (kayu pemancang/ajir) yang ditancapkan di seputar pohon. 2. yang dapat mengancam keamanan pengguna taman. Pemangkasan Tujuan pemangkasan tanaman adalah untuk mengontrol pertumbuhan tanaman sesuai yang diinginkan serta menjaga keamanan dan kesehatan tanaman. e) tanaman disiram secukupnya. Pupuk yang digunakan untuk pohon-pohon taman biasanya pupuk majemuk NPK. Penyiraman siang hari hendaknya dilakukan langsung pada permukaan tanah. c.

Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan Bab II Di daerah pejalan kaki diperlukan ruang yang bebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 2. mekanis. 3) Pemangkasan untuk keamanan pengguna jalan: Pemangkasan dengan tujuan ini dilakukan pada cabang. layu. kubus. bulat. Gejala Serangan Gejala serangan hama pada umumnya langsung dapat terlihat dari kerusakan bagian tanaman. kerena disamping dapat mengakibatkan korsleting/ kebakaran. molusca maupun hewan lainnya seperti burung. 4) Pemangkasan untuk tujuan estetis: Pemangkasan dengan tujuan ini adalah untuk menghasilkan penampilan tanaman lebih baik atau lebih indah. piramida. yang dapat menghalangi pandangan pengguna jalan. ulat.4 Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Hama tanaman dapat disebabkan oleh hewan. Sedangkan penyakit tanaman disebabkan oleh jamur. bakteri. nematoda dan penyakit fisiologis. dahan dan ranting. seperti bentuk daun. bercak daun. Batang atau dahan yang menyentuh kabel telepon dan listrik perlu dipangkas. Cara Pengendalian Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan cara karantina. Beberapa diantaranya tidak terlihat dengan mata telanjang sehingga perlu di teliti di laboratorium. Dengan memperhatikan jenis dan kerapatan daun. biologi dan kimiawi. berlubang. juga gesekan yang intensif dapat mengganggu kesehatan pohon. silindris. kambing. baik berupa serangga. Secara kasat mata seringkali terlihat populasi binatang berupa larva. Untuk jalan umum yang dilalui kendaraan diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar 4.4. Gejala serangan penyakit terlihat adanya akar. berubah warna dan penampilan tidak menarik. bunga maupun buah yang tidak sempurna. karat. dan lain sebagainya.5 m dari permukaan tanah. mozaik dan sebagainya. a. maka pemangkasan dapat menghasilkan tanaman dengan bentuk-bentuk tajuk spiral. virus. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 45 . teknik budidaya. b. fisik. 2. kelinci dan sebagainya. Untuk jalan yang dilalui kendaraan pada daerah permukiman diperlukan ruang terbebas dari juntaian ranting dan dahan pohon sekitar minimal 3.5 m dari permukaan tanah. Dapat juga terjadi bagian tanaman yang terkikis. maupun imagonya.5-5 m dari permukaan tanah.

RTH Halaman Perkantoran. RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan. dan bunga). serta memberikan keseimbangan dan keserasian antara bangunan dan lingkungan. RTH Taman Rukun Tetangga Taman Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut. dan Tempat Usaha RTH pada halaman perkantoran. selain tempat utilitas tertentu. tanaman pot dimaksud dapat diatur dalam susunan/bentuk vertikal. sayur. dan lain-lain. RTH Taman Rukun Tetangga dapat pula dimanfaatkan sebagai suatu community garden dengan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 47 . Untuk efisiensi ruang. olah raga. dan penambah estetika suatu bangunan sehingga tampak asri. pertokoan. dan tempat usaha berfungsi sebagai penghasil O2. Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut. maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial. dan tempat untuk menyelenggarakan berbagai aktivitas di luar ruangan seperti upacara. Pemanfaatan RTH pada Lingkungan/Permukiman RTH pada Lingkungan/Permukiman dapat dioptimalkan fungsinya menurut jenis RTH berikut: a. dapat dimanfaatkan pula sebagai area parkir terbuka.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III BAB III PEMANFAATAN RTH DI KAWASAN PERKOTAAN 3. bazar. RTH dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan sebagai berikut: a. Selain fungsi tersebut. pertokoan. RTH dapat dimanfaatkan pula untuk menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup. peredam kebisingan. fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah. b. Untuk rumah dengan RTH pada lahan pekarangan yang tidak terlalu luas atau sempit. dan tempat usaha.2. carport.1. Pemanfaatan RTH pada Bangunan/Perumahan RTH pada bangunan/perumahan baik di pekarangan maupun halaman perkantoran. Pertokoan. RTH Pekarangan Dalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan. 3.

dan buah-buahan yang dapat dimanfaatkan oleh warga. POHON PELINDUNG JALUR PEJALAN KAKI Gambar 3.2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 48 .1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga KURSI TAMAN ARENA MAINAN ANAK JALUR PEJALAN KAKI POHON PELINDUNG Gambar 3. sayur.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III menanam tanaman obat keluarga/apotik hidup.

LAP. Taman ini dapat berupa taman aktif. baik olahraga maupun aktivitas lainnya. serta kegiatan sosial lainnya di lingkungan RW tersebut. RTH Kelurahan RTH kelurahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penduduk dalam satu kelurahan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 49 . dengan fasilitas utama lapangan olahraga (serbaguna). dan beberapa jenis bangunan permainan anak yang tahan dan aman untuk dipakai pula oleh anak remaja.3 Contoh Taman Rukun Warga c. dimana aktivitas utamanya adalah kegiatan yang lebih bersifat pasif. VOLLEY TEMPAT DUDUK TEMPAT DUDUK LAPANGAN RUMPUT TEMPAT DUDUK LAPANGAN BASKET Gambar 3. kegiatan olahraga masyarakat. beberapa unit bangku taman yang dipasang secara berkelompok sebagai sarana berkomunikasi dan bersosialisasi antar warga.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III b. Fasilitas yang disediakan berupa lapangan untuk berbagai kegiatan. dengan jalur trek lari di seputarnya. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau dengan pohonpohon tahunan. RTH Rukun Warga RTH Rukun Warga (RW) dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan remaja. atau dapat berupa taman pasif. misalnya duduk atau bersantai.

lebar 5 m panjang 325 m. 3) perdu. WC umum.1 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kelurahan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% Fasilitas 1) 2) 3) 4) Pasif 80 – 90% 5) 1) 2) 3) 4) lapangan terbuka. 4) penutup tanah. 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). kursi-kursi taman. WC umum. 2) semak.4 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Aktif) Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 50 .Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. 3) perdu.5–2 m. 1 unit kios (jika diperlukan). 1 unit kios (jika diperlukan). trek lari. sirkulasi jalur pejalan kaki. 4) penutup tanah. lebar 1. KIOS AREA PARKIR KIOS Gambar 3. kursi–kursi taman. 2) semak. Vegetasi 1) minimal 25 pohon (pohon sedang dan kecil).

2 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis Taman Aktif Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80% 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Fasilitas lapangan terbuka. Vegetasi 1) minimal 50 pohon (sedang dan kecil). lebar 5 m panjang 325 m. lapangan basket. trek lari. atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif. 2) semak. RTH Kecamatan RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan. lapangan volley. parkir kendaraan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 51 . Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga. 4) penutup tanah. 3) perdu.5 Contoh Taman Kelurahan (Rekreasi Pasif) d. kursi-kursi taman. sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau. dengan jalur trek lari di seputarnya.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III KIOS AREA PARKIR Gambar 3. termasuk sarana kios (jika diperlukan). Kelengkapan taman ini adalah sebagai berikut: Tabel 3. WC umum.

3) parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan).5–2 m. lebar 1. Semua fasilitas tersebut terbuka untuk umum. 2) WC umum. 3) perdu.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Jenis Taman Pasif Koefisien Daerah Fasilitas Hijau (KDH) 80–90% 1) sirkulasi jalur pejalan kaki. Taman ini dapat berbentuk sebagai RTH (lapangan hijau). 4) kursi-kursi taman. Pemanfaatan RTH pada Kota/Perkotaan a. dan kompleks olah raga dengan minimal RTH 30%. taman bermain (anak/balita). RTH Taman Kota RTH Taman kota dapat dimanfaatkan penduduk untuk melakukan berbagai kegiatan sosial pada satu kota atau bagian wilayah kota. fasilitas olah raga terbatas. Vegetasi 1) lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil). 2) semak. yang dilengkapi dengan fasilitas rekreasi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 52 . taman khusus (untuk lansia). 4) penutup tanah. taman bunga.6 Contoh Taman Kecamatan 3. SARANA OLAHRAGA KIOS SARANA OLAHRAGA AREA PARKIR SARANA OLAHRAGA PLAZA HUTAN KECIL Gambar 3.3.

wisata alam. parkir kendaraan termasuk sarana kios (jika diperlukan). unit lapangan volley (15 x 24 m). Hutan kota Hutan kota dapat dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi dan penyangga lingkungan kota (pelestarian. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 1) Vegetasi 150 pohon (pohon sedang dan kecil) semak. Fasilitas yang harus disediakan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan seperti kursi taman. 10) kursi.7 Contoh Taman Kota (Rencana Taman Kota Pangkalanbun Kabupaten Kotawaringin Barat) b. penghasil produk hasil hutan. TAMAN BURUNG 8. lebar 7 m panjang 400 m. meliputi aktivitas pasif seperti duduk dan beristirahat dan atau membaca. sayur). GSG & LAP. rekreasi. atau aktivitas yang aktif seperti jogging. keanekaragaman hayati). ekonomi (buah-buahan. AMPHITEATER 10. LABIRIN & LEISURE AREA 7. Hutan kota dapat juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas sosial masyarakat (secara terbatas.3 Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien Daerah Hijau (KDH) 70–80 % Fasilitas lapangan terbuka. senam atau olahraga ringan lainnya). SCULPTURE 11. perdu. oksigen. JOGGING TRACK Gambar 3. unit lapangan basket (14x26 m). AREA MAIN ANAK-ANAK 6. KOLAM 3. sirkulasi pejalan kaki/jogging track. BASKET 9. trek lari. LOTUS POND 12. PARKIR 2. 2) 3) 1. 7) panggung terbuka. wahana pendidikan dan penelitian. penutup tanah. 9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian. 8) area bermain anak. CANNOE POND 5. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 53 . WC umum.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel 3. GERBANG UTAMA 4. daun. perlindungan dan pemanfaatan plasma nutfah.

RTH Jalur Pejalan Kaki RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai: Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya. d. Untuk itu diperlukan introduksi tanaman pengundang burung pada hutan kota. emisi kendaraan. RTH di Bawah Jalan Layang Selain sebagai daerah resapan air. sampah yang bau dan terbengkalai. RTH Jalur Hijau Jalan Pulau Jalan dan Median Jalan Taman pulau jalan maupun median jalan selain berfungsi sebagai RTH. e. tekstur bawah kaki. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai: Gelombang Pendek (%) 10 80 10 Gelombang Panjang (%) 100 10 90 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 54 .Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Idealnya hutan kota merupakan ekosistem yang baik bagi ruang hidup satwa misalnya burung. faktor audial (suara) dan faktor visual. juga dapat dimanfaatkan untuk keindahan/estetika kota. vegetasi yang mengeluarkan bau. Sabuk Hijau Sabuk hijau berfungsi sebagai daerah penyangga atau perbatasan antara dua kota. Sebagai penyeimbang temperatur. juga dapat dimanfaatkan untuk fungsi lain seperti sebagai pembentuk arsitektur kota. yang mempunyai peranan penting antara lain mengontrol populasi serangga. Tabel 3. f. kelembaban. Median jalan dapat dimanfaatkan sebagai penahan debu dan keindahan kota. vegetasi. sehingga sabuk hijau dapat menjadi RTH bagi kedua kota atau lebih tersebut. RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. Sabuk hijau dimaksudkan sebagai kawasan lindung dengan pemanfaatan terbatas dengan pemanfaatan utamanya adalah sebagai penyaring alami udara bagi kota-kota yang berbatasan tersebut. Jalur tanaman tepi jalan atau pulau jalan selain sebagai wilayah konservasi air.4 Kemampuan Hutan dalam Mengendalikan Gelombang Pendek dan Panjang Respon Daun Dipantulkan Diserap Dibiaskan Diteruskan c.

gardu listrik. mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung. sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut. dan pemantauan. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan. RTH Fungsi Tertentu a. RTH Sempadan Sungai Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. 3. c. kabel telpon. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia. 55 Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan . peningkatan fungsi sungai.4.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Lokasi penempatan utilitas seperti drainase. perizinan. maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam. pada zona sungai danau. Membuat saluran drainase. waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan. pelestarian. Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas. sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat. perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi. pemasangan rentangan kabel listrik. papan penyuluhan dan peringatan. dan pipa air minum. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. serta rambu-rambu pekerjaan. Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan: a) b) c) d) budi daya pertanian rakyat. Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan. b. dan lain-lain.

RTH Sempadan Pantai RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut. bangunan pengambilan dan pembuangan air.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III e) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum maupun kereta api. termasuk gangguan terhadap kualitas visual. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. wildlife habitat dan meredam angin kencang. juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Tidak bertentangan dengan Keppres No. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan. Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai. keolahragaan. pelestarian. 32 Tahun 1990. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Pemilihan vegetasi mengutamakan vegetasi yang berasal dari daerah setempat. Aktivitas memantau. RTH Sumber Air Baku/Mata Air Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan. Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi. dan g) pembangunan prasarana lalu lintas air. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 56 . Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai. peningkatan fungsi sumber air baku/mata air. dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya. e. keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada jenis-jenis flora yang bernilai sebagai tumbuhan obat. Memantau fluktuasi debit sungai maksimum. melindungi dari ancaman gelombang pasang. erosi. Mengamankan kawasan sempadan sungai. menghalau. f) penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. serta penutupan vegetasi di sempadan sungai. c) d) e) d. perizinan. maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut: a) b) Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan. dan pemantauan. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai.

sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut. dan pembangunan prasarana lalu lintas air. pemasangan rentangan kabel listrik.Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan Bab III Tabel berikut ini memberikan gambaran mengenai dimensi sempadan serta pemanfaatannya pada masing-masing jenis RTH sebagai berikut: Tabel 3. papan penyuluhan dan peringatan. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 57 . keolahragaan. pelindung.5 RTH Sempadan Danau dan Mata Air No. RTH Pemakaman Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. penyelenggaraan kegiatankegiatan yang bersifat sosial. kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan C. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya. dan pemersatu ruang kota. Jenis RTH Dimensi Sempadan 1. Danau/waduk Minimal 50 m dari titik pasang tertinggi Pemanfaatan jaringan utilitas. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota. dan pipa air minum. pendukung ekosistem. pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api. kabel telpon. serta rambu-rambu pekerjaan. budi daya pertanian rakyat. pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau. f. a) b) c) d) e) f) g) h) 2. daerah resapan air. b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan. bangunan pengambilan dan pembuangan air.

pelaksanaan pembangunan RTH. pengadaan lahan. Prosedur Perencanaan Ketentuan prosedur perencanaan RTH adalah sebagai berikut: a) penyediaan RTH harus disesuaikan dengan peruntukan yang telah ditentukan dalam rencana tata ruang (RTRW Kota/RTR Kawasan Perkotaan/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/Rencana Induk RTH) yang ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat. pemanfaatan dan pengendalian. untuk memberikan kesempatan akses dan mencegah terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengawasan dan pengendalian pemanfaatan ruang oleh masyarakat dan swasta dalam pengelolaan RTH.1.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV BAB IV PROSEDUR PERENCANAAN DAN PERAN MASYARAKAT 4. perancangan teknik. e) pemanfaatan RTH untuk penggunaan lain seperti pemasangan reklame (billboard) atau reklame 3 dimensi. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin hak masyarakat dan swasta. memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna RTH. d) penyediaan dan pemanfaatan RTH privat yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk pengembang disesuaikan dengan ketentuan perijinan pembangunan. ekologis dan estetis. 4. harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: mengikuti peraturan dan ketentuan yang berlaku pada masing-masing daerah. c) tahapan penyediaan dan pemanfaatan RTH publik meliputi: 1) 2) 3) 4) 5) perencanaan. pemanfaatan dan pemeliharaan. dengan prinsip: a) menempatkan masyarakat sebagai pelaku yang sangat menentukan dalam proses pembangunan ruang ruang terbuka hijau. b) memposisikan pemerintah sebagai fasilitator dalam proses pembangunan ruang terbuka hijau. tidak mengganggu kualitas visual dari dan ke RTH. Peran Masyarakat Peran masyarakat dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH merupakan upaya melibatkan masyarakat. c) menghormati hak yang dimiliki masyarakat serta menghargai kearifan lokal dan keberagaman sosial budayanya. swasta.2. tidak menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tanaman misalnya menghalangi penyinaran matahari atau pemangkasan tanaman yang dapat merusak keutuhan bentuk tajuknya. lembaga badan hukum dan atau perseorangan baik pada tahap perencanaan. tidak mengganggu fungsi utama RTH yaitu fungsi sosial. b) penyediaan dan pemanfaatan RTH publik yang dilaksanakan oleh pemerintah disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 59 . d) menjunjung tinggi keterbukaan dengan semangat tetap menegakkan etika.

pemanfaatan dan pengendalian). Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah kota dalam mewujudkan penghijauan antara lain: dalam lingkup kegiatan pembangunan ruang terbuka hijau (yang meliputi perencanaan. swasta dan badan hukum dalam penyediaan RTH publik meliputi penyediaan lahan. Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH publik dalam peningkatan kualitas dan keamanan lingkungan. Membiayai pembangunan RTH publik.1 Pelibatan Masyarakat pada Pemanfaatan dan Pengendalian Peran masyarakat. d) Turut serta secara aktif dalam komunitas masyarakat pecinta RTH. c) Mengisi seoptimal mungkin lahan pekarangan. pembangunan dan pemeliharaan RTH. berm dan lahan kosong lainnya dengan berbagai jenis tanaman. dimana rencana pembangunannya akan disusun dan ditetapkan. pedoman ini ditujukan pada tahap pemanfaatan ruang terbuka hijau. sarana interaksi sosial serta mitigasi bencana.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV e) memperhatikan perkembangan teknologi dan bersikap profesional. Membiayai pemeliharaan RTH publik. Peran dalam penyediaan RTH ini dapat berupa: a) b) c) d) e) f) Pengalihan hak kepemilikan lahan dari lahan privat menjadi RTH publik (hibah). b) Turut serta dalam meningkatkan kualitas lingkungan di perumahan dalam hal penanaman tanaman. Menyerahkan penggunaan lahan privat untuk digunakan sebagai RTH publik. Mengawasi pemanfaatan RTH publik. Peran masyarakat pada RTH privat meliputi: a) Memberikan penyuluhan tentang peranan RTH dalam peningkatan kualitas lingkungan. pembuatan sumur resapan (bagi daerah yang memungkinkan) dan pengelolaan sampah. baik ditanam langsung maupun ditanam dalam pot. Perencanaan Pemanfaatan dan Pengendalian Pengambilan Keputusan Rencana Pemanfaatan Pelaksanaan Pemanfaatan Pasca Pelaksanaan RTH Pelibatan Pelibatan Pelibatan Gambar 4. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 60 .

Untuk mencapai peran tersebut. Namun. membahas permasalahan. g) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. Untuk mencapai peran tersebut. b) Mengembangkan dan memperkuat kerjasama proses mediasi antara pemerintah. dan sebagainya) dalam mengelola permasalahan. namun juga sosial dan lingkungan dalam memanfaatkan ruang perkotaan. penyelesaian konflik serta respon dari pemerintah melalui jalur yang telah disepakati bersama. c) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi perencanaan.2. Pada kondisi yang lebih berkembang. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pihak swasta: a) Pihak swasta yang akan membangun lokasi usaha (mall. Peran swasta yang diharapkan dalam pemanfaatan ruang perkotaan sama seperti peran yang diharapkan dari masyarakat. 4. Terutama karena kemampuan kewirausahaan yang mereka miliki.2 Peran Swasta Swasta merupakan pelaku pembangunan penting dalam pemanfaatan ruang perkotaan dan ruang terbuka hijau.1 Peran Individu/Kelompok Masyarakat dapat berperan secara individu atau kelompok dalam penyediaan dan pemanfaatan RTH. pelatihan dan diskusi di kelompok-kelompok masyarakat. masyarakat dapat membentuk suatu forum atau komunitas tertentu untuk menghimpun anggota masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap RTH. e) Menggalang dan mencari dana kegiatan dari pihak tertentu untuk proses sosialisasi. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 61 . komunitas. maka terdapat peran lain yang dapat dilakukan oleh swasta. d) Meningkatkan kemampuan masyarakat (forum. konflik yang muncul sehubungan dengan pembangunan ruang terbuka hijau.2. plaza.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV 4. Misalnya: membentuk forum masyarakat peduli ruang terbuka hijau atau komunitas masyarakat ruang terbuka hijau di setiap daerah. masyarakat dan swasta dalam pembangunan ruang terbuka hijau. yaitu untuk tidak saja menekankan pada tujuan ekonomi. dan sebagainya) dengan areal yang luas perlu menyertakan konsep pembangunan ruang terbuka hijau. karena swasta memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat umum. f) Bekerjasama dengan pemerintah dalam menyusun mekanisme pengaduan. mengembangkan konsep serta upaya-upaya untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah. pembangunan serta pemanfaatan ruang terbuka hijau melalui sosialisasi. terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat: a) Anggota masyarakat baik individu maupun kelompok yang memiliki keahlian dan/atau pengetahuan mengenai penataan ruang serta ruang terbuka hijau dapat membentuk suatu komunitas ruang terbuka hijau.

terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan organisasi non-pemerintah antara lain: a) Membentuk sistem mediasi dan fasilitasi antara pemerintah.Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV b) Bekerjasama dengan pemerintah dan masyarakat dalam membangun dan memelihara ruang terbuka hijau. menyusun. Untuk mencapai peran tersebut. pendamping. d) Mendorong dan/atau menfasilitasi proses pembelajaran masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. menghubungkan masyarakat dengan pemerintah dan swasta. swasta dan masyarakat untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan penyusunan RTH perkotaan. c) Menfasilitasi proses pembelajaran kerjasama pemerintah.2. antara lain: Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 62 . atau organisasi lain yang serupa berperan utama sebagai perantara. b) Menyelenggarakan proses mediasi jika terdapat perbedaan pendapat atau kepentingan antara pihak yang terlibat. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. d) Berperan aktif dalam diskusi dan proses pembangunan sehubungan dengan pembentukan kebijakan publik dan proses pelibatan masyarakat dan swasta yang terkait dengan pembangunan ruang terbuka hijau. masyarakat dan swasta serta mengenai proses pengajuan keluhan dan penyelesaian konflik yang terjadi. e) Menciptakan lingkungan dan kondisi yang kondusif yang memungkinkan masyarakat dan swasta terlibat aktif dalam proses pemanfaatan ruang secara proporsional. adil dan bertanggung jawab. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan pembangunan ruang terbuka hijau maupun dengan proses diskusi dan seminar. perwakilan masyarakat dan swasta untuk aktif melakukan mediasi. c) Berperan aktif dalam mensosialisasikan dan memberikan penjelasan mengenai proses kerjasama antara pemerintah. mengawasi kebijakan pemanfaatan ruang perkotaan. e) Mengupayakan bantuan pendanaan bagi masyarakat dalam realisasi pelibatan dalam pemanfaatan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau. Dengan membentuk badan atau lembaga bersama antara pemerintah. dalam rangka mengatasi kesenjangan komunikasi.3 Lembaga/Badan Hukum Lembaga atau badan hukum yang dimaksud merupakan Organisasi nonpemerintah. melaksanakan. maupun dengan proses diskusi dan seminar. Organisasi lain yang memiliki peran dan posisi penting dalam mempengaruhi. Kegiatan ini dapat berupa pemberian pelatihan kepada masyarakat dan/atau yang terkait dalam pembangunan ruang terbuka hijau. f) Menjamin tegaknya hukum dan peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh semua pihak dengan konsisten tanpa pengecualian. masyarakat dan swasta dalam mengatasi kesenjangan komunikasi dan informasi pembangunan ruang terbuka hijau. informasi dan pemahaman di pihak masyarakat serta akses masyarakat ke sumber daya. 4.

Prosedur Perencanaan dan Peran Masyarakat Bab IV DPR/DPRD. Asosiasi profesi.2. Partai politik. dan sebagainya. Lembaga donor. Adapun peran dari masing-masing organisasi tersebut diatas dapat disesuaikan dengan posisi dan keahlian yang dimiliki organisasi dalam membantu atau terlibat proses pembangunan ruang terbuka hijau. RW. Instansi yang terkait dengan pengeloaan RTH/lingkungan hidup. b) Pencantuman nama. unsur kewilayahan seperti RT. sesuai dengan peraturan yang berlaku di wilayah tersebut. dengan persetujuan tertulis dari instansi pengelolanya. Perguruan tinggi.4 Penghargaan dan Kompensasi Penghargaan dan kompensasi terhadap masyarakat/perseorangan. Kelurahan dan Kecamatan. pemeliharaan maupun peningkatan kesadaran masyarakat terhadap RTH dapat berupa: a) Piagam penghargaan yang dikeluarkan oleh lembaga swadaya masyarakat pemerhati RTH/lingkungan hidup. dan badan hukum dalam penyediaan. 4. lembaga atau perusahaan dalam ukuran yang wajar dan tidak mengganggu keindahan. perguruan tinggi. baik perorangan. pembangunan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. sebagai kontributor dalam penyediaan RTH tersebut. swasta. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan 63 .

5%) RTH (6%) RTH (1.5%) JALAN (20%) LAINNYA (7.5%) KDB (80%) KDB (90%) KDB (0%) KDB (70%) KDB (80%) RTH (8%) RTH (2%) RTH (12.LAMPIRAN A (informatif) BAGAN PROPORSI RTH KAWASAN PERKOTAAN (ilustrasi) RUANG PERKOTAAN TERBANGUN TERBUKA HUNIAN (40%) NON HUNIAN (20%) TAMAN (12.5%) RTH PRIVAT 10% RTH PUBLIK 20% RTH KOTA 30% L-1 .

2 Contoh 2 Taman Rukun Tetangga (RT) L-2 .1 Contoh 1 Taman Rukun Tetangga (RT) Gambar B.LAMPIRAN B (informatif) GAMBAR CONTOH RTH TAMAN Gambar B.

Gambar B.4 Contoh Taman Kelurahan L-3 .3 Contoh Taman Rukun Warga (RW) Gambar B.

Gambar B.6 Contoh Taman Kecamatan L-4 .5 Contoh Taman Kelurahan Gambar B.

jumlah air yang dapat disediakan oleh PAM. Dengan kondisi seperti tersebut di atas.256 m3/th. Potensi air tanah 662.Pa z La = dengan: La Po K R C PAM t Pa z adalah luas hutan kota yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan air (Ha) adalah jumlah penduduk kota pada tahun ke 0 adalah konsumsi air per kapita (liter/hari) adalah laju peningkatan pemakaian air (biasanya seiring dengan laju pertambahan penduduk kota setempat) adalah faktor koreksi (besarnya tergantung dari upaya pemerintah dalam penurunan laju pertambahan penduduk) adalah kapasitas suplai air oleh PAM (dalam m3/tahun) adalah tahun ke adalah potensi air tanah saat ini (m3/th) adalah kemampuan hutan kota dalam menyimpan air (m3/ha/th) Contoh perhitungan: Suatu kota dengan luas 2.000) – 6. (203.000 jiwa. Potensi air saat ini. Kapasitas air PAM terpasang 6. Konsumsi air per kapita adalah 65 m3/th. persamaan kebutuhan hutan kota pada tahun 0 (2005) adalah sebagai berikut: 65.200 – 662. memiliki penduduk pada tahun 2005 sebanyak 203.K (1 + R – C)t – PAM .000 Kebutuhan hutan kota = 142 ha (5.8%) L-5 Lt = = 142 ha .1 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Air Kebutuhan air dalam kota bergantung dari faktor: a) b) c) d) kebutuhan air bersih per tahun.3 jt m3/th.LAMPIRAN C (informatif) CONTOH PERHITUNGAN HUTAN KOTA (RTH) C.450 ha. Faktor di atas dapat ditulis dalam persamaan: Po. Kemampuan hutan kota menyimpan air 73.256 73. Kemampuanhutan kota menyimpan air.000 m3/ha/th.307.

yang dimodifikasi dalam Wisesa (1988).77 2.9375 2 m2 adalah luas RTH Kota pada tahun ke t (m2) adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi penduduk pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi kendaraan bermotor pada tahun ke t adalah jumlah kebutuhan oksigen bagi ternak pada tahun ke t adalah tetapan yan menunjukan bahwa 1 m2 luas lahan menghasilkan 54 gram berat kering tanaman per hari.609 474. 2005): Tabel C.1 Kebutuhan Oksigen Manusia di Kota Bandung Tahun 2004 Wilayah Pengembangan (WP) Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Ujungberung Gedebage Jumlah Penduduk (Jiwa) 424.360 204.86 Dari tabel C.000 424.2 Contoh Perhitungan Kebutuhan Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Luasan kebutuhan hutan kota berdasarkan kebutuhan oksigen.339.412. adalah tetapan yang menunjukan bahwa 1 gram berat kering tanaman adalah setara dengan produksi oksigen 0.261 Konsumsi Oksigen Manusia/Hari (gram/hari) Komsumsi Oksigen (gram/hari) 365.893.9375 )(2) dengan: Lt Pt Kt Tt 54 0.624 425. dengan kasus di Kota Bandung (Noor Syailendra.21 0.2 dapat ditentukan besarnya kebutuhan oksigen kendaraan bemotor berdasarkan klasifikasi jenis kendaraan dan rata-rata umum kebutuhan oksigen.160 357.711.254 243.300 505.240 316.597.711 377.C. dengan rumus: Pt + Kt + Tt Lt = (54 )(0. dapat juga dilakukan dengan metode Gerakis (1974). L-6 .004.2 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor Jenis Bahan Bakar Bensin Diesel Rata-rata Pemakaian Bahan Bakar (kg/PS jam) 0.240 840 Tabel C.560 397.9375 gram adalah jumlah musim di Indonesia Contoh perhitungan dengan menggunakan rumus Gerakis (1974) dalam Wisesa (1988).16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 kg Bahan Bakar 2.

311.000 + 324.21 0.680 324.634 582 29.560 4.16 Kebutuhan Oksigen Tiap 1 Liter BB (kg) 2.341 Luas RTH = (54 )(0.9375)( 2 ) Luas RTH = 6.77 2.984.86 Kebutuhan Oksigen (kg/hari) 0.72 ha m2 Catatan: kebutuhan oksigen untuk ternak diabaikan Dengan mengacu pada kebutuhan oksigen manusia.3 Kebutuhan Oksigen Menurut Klasifikasi Jenis Kendaraan Bermotor Klasifikasi Daya Minimal (PS) 1 20 50 100 Kebutuhan Bahan Bakar (kg/PS) 0. maka kebutuhan hutan kota di Kota Bandung pada tahun 2004 adalah sebagai berikut: L-7 .772.5817 11.142 7.412.18 Sepeda motor Kendaraan penumpang Kendaraan truk Kendaraan bus Jumlah Rata-rata Tabel C.993 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 11.259.772.679.760 Total Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 196.440 59.863 13.061 21.77 2.634 29.739.301. kebutuhan oksigen kendaraan di tiap wilayah pengembangan.906 94 1.Tabel C.760 45.21 0.085 45.4 Kebutuhan Oksigen Kendaraan Bermotor di Wilayah Bojonagara Bandung Jenis Kendaraan Mobil Pribadi Motor Truk Bus Minibus umum Jumlah LHR (lalu-lintas harian rata-rata) (kendaraan/hari) 16.341 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka kebutuhan RTH di Wilayah Bojonagara Kota Bandung pada tahun 2004 adalah: 356.634 29.519 56.91 m2 = 672.305 1.0607 21.259.7 11.7652 Kebutuhan Oksigen (gram/hari) 581.085 45.760 87.21 0.760 29.765.76 87.77 2.

00 Kebutuhan RTH (Ha) 672.07 4.42 Luas (%) 28.87 470.28 L-8 .602.12 16.Tabel C.27 856.050.28 2.63 21.09 2.933.28 2.5 Kebutuhan RTH di Kota Bandung Tahun 2004 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Wilayah pengembangan Bojonagara Cibeunying Karees Tegalega Gedebage Ujungberung Kota Bandung Luas wilayah (Ha) 2.330.62 3.40 544.707.730.08 36.13 11.107.61 9.559.04 768.22 250.47 20.16 2.85 29.

Ficus benyamina Cerbera manghas Bougenvillea sp Mirabilis jalapa Amherstia nobilis Lagerstromea loudonii Casuarina junghuniana Casuarina equisetifolia Araucaria heterophylla Michelia champaca Erythrina variegata Erythrina cristagalli Agathis alba Durio zibethinus Dyospiros celebica Delonix regia Elaeocarpus grandisflora Polyathea sp.LAMPIRAN D (informatif) PILIHAN VEGETASI UNTUK DIKEMBANGKAN DI RTH Pengenal Lingkungan Perawakan Daya Tarik Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● Pohon Sedang Pohon Kecil 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 Akalipa hijau kuning Akasia daun besar Akasia kuning Angrek Tanah Angsana Apel Asam Asem landi Bakung Bambu Jepang Beringin Bintaro Bogenvil Bunga pukul empat Bunga saputangan Bungur Cemara gunung Cemara laut Cemara Norfolk Cempaka Dadap belang Dadap merah Damar Durian Ebony/ Kayu hitam Flamboyan Ganitri Glodogan pohon Glodogan tiang Hujan Mas Iris Jambu air Jambu batu Jambu monyet Jarak Jati Jeruk bali Jeruk nipis Johar Kalak Kaliandra Kana Kantil Karet Munding Kasia singapur Acalypha wilkesiana Accacia mangium Acacia auriculaeformis Spathoglotis plicata Pthecarpus indicus Chrysophyllum cainito Tamarindus indica Pitchecolobium dulce Crinum asiaticum Bambusa sp. Polyathea longifolia Cassia fistula Belamcanda chinensis Eugenia aquea Psidium guajava Anacardium occidentale Jatropha integerima Tectona grandis Citrus grandisty Citrus aurantifolia Cassia siamea Polyantha lateriflora Caliandra haematocepala Canna Hibrida Michelia alba Ficus elastica Cassia spectabilis ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L-9 Pengarah No Nama Lokal Nama Latin Bentuk Tajuk Pohon Besar Warna daun Tekstur Semak Bunga Perdu Buah .

Pepaya Carica papaya Pinang Jambe Areca catechu Pinang Mac-arthur Ptychosperma macarthurii Pinus. tusam Pinus mercusii Puspa Schima wallichii Salam Eugenia polyantha Sansiviera/Lidah mertua Sanseviera trifasciata L Sarai raja Caryota mitis Sawo kecik Manilkara kauki Serunai rambat Widelia sp. Sikat botol Callistemon lanceolatus Soka Ixora stricata Sukun Artocarpus altilis Sutra bombay Portulaca gransiflora Tanjung Mimusops elengi Tapak dara Catharanthus roseus Teh-tehan Pangkas Acalypha sp. Nyamplung Callophyllum inophyllum Oleander Nerium oleander Palem Ekor Tupai Wodyetia bifurca Palem kubis Licuala grandis Palem Kuning Chrysalidocarpus lutescens Palem Merah Cytostachys renda Palem Raja Oreodoxa regia Palem Sadeng Livistona rotundifolia Pangkas kuning Duranta sp.10 Pengarah ● ● Tekstur No Nama Lokal Nama Latin Pohon Kecil Semak Bunga Perdu Buah . Trembesi Samanea saman Kelapa Kembang merak Kembang Sepatu ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● L .Perawakan Pohon Sedang Pohon Besar Daya Tarik Bentuk Tajuk Warna daun Potensi di RTH Dapat dikonsumsi ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Reduktor Polutan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Pengenal Link ● 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 Cocos nucifera Caesalphinia pulcherima Hibiscusrosa sinensis Kemboja merah Plumeria rubra Kemuning Muraya paniculata Kenanga Cananga odorata Kenari Canarium commune Kersen Muntingiacalabura Kesumba Bixa orellana Ketapang Terminalia cattapa Ki acret Spathodea companulata Kiara Payung Filicium decipiens Kol Banda */ Pisonia alba Kupu-kupu Bauhinia purpurea Lamtorogung Leucaena leccocephala Landep Baleria priontis Lantana Lantana camara Lengkeng Euphoria longan Lontar / Siwalan Borassus flabellifer Mahoni Switenia mahagoni Mangga Mangifera indica Mangkokan Nothopanax scutellarium Matoa Pometia pinata Menteng Baccaurea motleyana Merawan Hopea mangarawan Mimba Azadirachta indica Nagasari Mesua ferrea Nangka Artocarpus heterophylla Nusa Indah Musaenda sp.

EN. Manan. Bogor. 2004. 1981. Directorate General of Highways. McGraw-Hill. L . Agro Media Pustaka. Pengantar Pengetahuan Dasar Hortikultura. Mendisain. Pedoman Umum Penanaman Jalur Hijau Jalan. Mc Graw – Hill Professional. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. IPB Press. Time Saver Standards for Landscape Architecture. Jakarta. 2004. Spesifikasi Tanaman Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Rully Wijayakusuma. 1993. Departemen Pekerjaan Umum. 1976. Mona Sintia dan Murhananto. Kementerian Lingkungan Hidup. Penebar Swadaya. dalam Dahlan. Tangerang. 1995. 2004. Bogor. Pengaruh Hutan dan Manajemen Daerah Aliran Sungai. Dahlan. dalam Dahlan.BIBLIOGRAFI Charles Harries & Nicholas T. 2001. 2006.11 .. Pemeliharaan Taman. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Daya Transpirasi Tanaman Perkotaan. F. Pedoman Teknik Departemen Pekerjaan Umum. Membuat dan Merawat Taman Rumah.18 Tahun 2003. Jurusan Arsitektur Lansekap Faperta Unbar. 2007. Direktorat Jenderal Cipta Karya. 2004. IPB Press. Depok. Bandung. Landscape Architect’s Portable Hand Book. IPB Press. Hadi Susilo Arifin dan Nurhayati HS Arifin. Dines. Departemen Pekerjaan Umum. Kurniawan. Pembangunan Rumah Sederhana Tidak Bersusun. 1992. 2005. RTH sebagai Unsur Utama Pembentuk Kota Taman. edisi revisi. 1986. Direktorat Jenderal Penataan Ruang. 2004. E N. tentang Garis Sempadan. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Direktorat Jenderal Bina Marga. Persyaratan Teknis Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Dines T Nicholas & Brown D Kyle. Lansekap Jalan. Bandung. Bogor. Ministry of Public Works. Pedoman Perencanaan Median Jalan. Sinar Baru. Perda Depok No. Pemeliharaan Tanaman. 2004. S. 2005. 1988.. Hendro Sunaryo dan Rismunandar. New York. Departemen Pekerjaan Umum. EN. Standard Specifications for Geometric Design of Urban Roads.

Jakarta. 1998. Kajian Kebutuhan Hutan Kota di Kota Bandung. 14 Tahun 1992. Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan L . Jurusan Teknik Planologi FT Unpas. Kota. SNI 031/T/BM/1999. J. Undang-Undang No.1988. dalam Noor Syailendra. tentang Jalan. Undang-Undang No. United States Department of Transportation. 1989. Wisessa. Pustaka Cidesindo. 1977. tentang Perkeretaapian. dalam Endes Nurfilmarasa. RTH Sebagai Unsur Utama Pembentuk Undang-Undang No. 13 Tahun 1992. tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tantangan Lingkungan Hidup dan Lansekap Kota. Ekologi Hutan Indonesia. Highway Economic Requirements System. Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan SNI 033/T/BM/ 1996. 38 Tahun 2004. Surat Kabar Harian Pikiran Rakyat. 27 April 2006. Zoer’aini Djamal Irwan. Penentuan Luas Hutan Kota Berdasarkan Kebutuhan Oksigen.Soerianegara dan Indrawan.12 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful