BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA
3.1 ANALISIS NERACA AIR

3-1

Analisis neraca air merupakan bagian dari kegiatan pengembangan sumber daya air. Menurut Sri Harto (1999) pengembangan sumber daya air dapat diartikan secara umum sebagai upaya pemberian perlakuan terhadap fenomena alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan umat manusia. Sedangkan neraca air merupakan suatu gambaran umum mengenai kondisi ketersediaan air dan pemanfaatannya di suatu daerah. Konsep fokus kajian pengembangan sumber daya air dapat meliputi kegiatan: a. Perhitungan potensi sumber daya air. b. Analisis kebutuhan air baik tahun eksisting maupun masa yang akan datang dan sekaligus pembuatan analisis neraca sumber daya airnya. c. Pemberian alternatif sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Analisis neraca air atau keseimbangan air adalah suatu analisa yang menggambarkan pemanfaatan sumber daya air suatu daerah tinjauan yang didasarkan pada perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Faktorfaktor yang digunakan dalam perhitungan dan analisis neraca air ini adalah ketersediaan air dari daerah aliran sungai yang dikaji (yang merupakan ketersediaan air permukaan) dan kebutuhan air dari tiap daerah layanan yang dikaji (yang meliputi kebutuhan air untuk domestik, perkotaan, industri, perikanan, peternakan dan irigasi). Persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung neraca air dapat dinyatakan sebagai berikut: Neraca = Qketersediaan - Qkebutuhan dengan:

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Neraca

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

= neraca air, surplus jika hasil persamaan adalah positif dan defisit apabila hasil persamaan adalah negatif.

3-2

Qketersediaan = debit ketersediaan air. Qkebutuhan = debit kebutuhan air.

Dari persamaan tersebut maka dapat didefinisikan arti dari kekeringan. Kekeringan yang dimaksud disini adalah saat dimana total kebutuhan air untuk berbagai sektor lebih besar daripada jumlah air yang tersedia untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Atau juga dapat pula dikatakan bahwa kekeringan terjadi saat neraca air mengalami defisit atau memiliki nilai negatif. Kepincangan antara jumlah ketersediaan dengan kebutuhan air dapat

menimbulkan permasalahan yang kompleks. Hal ini

akan semakin diperumit

dengan mengingat hubungan tersebut akan selalu berubah setiap saat dengan kondisi perubahan dari kedua aspek tersebut. Oleh karena itu, kedepan dirasa sangat perlu untuk mencari solusi penyelesaian masalah tersebut dengan mengupayakan pengaturan terhadap pola pemanfaatan sumber daya air maupun kebutuhannya selain tetap memperhatikan aspek efisiensi dan konservasi. Berikut ini akan disajikan analisis neraca air untuk seluruh Pulau Jawa-Madura. Pendekatan wilayah yang dipakai adalah wilayah administrasi dengan batasbatasnya. Kebutuhan akan dihitung untuk tiap-tiap kabupaten dan kota sedangkan titik-titik pengambilan akan diambil sesuai dengan batas wilayah dan kontur ketinggian serta struktur-struktur pengambilan air eksisting yang sudah ada yang dirasa dapat mensuplai air untuk memenuhi kebutuhan air di kabupaten yang bersangkutan.

3.1.1

Banten

Propinsi Banten terdiri dari 4 kabupaten dan 2 kota yaitu: Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Cilegon. Dalam sub bab ini hanya akan dibahas analisa neraca air untuk 2 kabupaten saja, yaitu: Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Sedangakan 4 kabupaten/kota yang lain akan dibahas pada sub bab

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

berikutnya. Hal ini karena analisis neraca air pada sub bab berikutnya, yaitu untuk daerah Jabotabek dan sekitarnya, diambil dari Jabotabek Water

3-3

Resources Management Study (JWRMS) yang dipandang sudah sangat
komprehensif dalam melakukan analisa kebutuhan dan ketersediaan airnya. A. Kebutuhan Air

Pemanfaatan air di Propinsi Banten bervariasi dengan kecenderungan terus meningkat dari waktu ke waktu, yang meliputi kebutuhan untuk rumah tangga, perkotaan, industri, peternakan, perikanan dan irigasi. Secara umum, kebutuhan air untuk irigasi jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kebutuhan air untuk sektor lainnya. Kondisi ini akan semakin sulit apabila tidak didukung dengan adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi sumber daya air, diantaranya dengan konservasi daerah tangkapan hujan dan efisiensi dalam penggunaan air. Dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air, prioritas utama adalah untuk pemenuhan kebutuhan air minum/rumah tangga, yang kedua adalah untuk pemenuhan kebutuhan jasa perkotaan dan industri, yang ketiga adalah untuk untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dan sisanya dimanfaatkan untuk kegiatan lain termasuk untuk pengelolaan kualitas air sungai dan pembangkit listrik tenaga air. Seiring dengan perkembangan kebutuhan air untuk rumah tangga, perkotaan dan industri maka kebutuhan untuk irigasi seringkali menjadi tidak tercukupi terutama untuk musim tanam kedua atau ketiga dimana hujan yang turun sudah tidak terlalu banyak. Konflik sering terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antar departemen atau instansi pengelola sumber daya air sehingga perlu adanya suatu pengelolaan sumber daya air yang terpadu.

1. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga, perkotaan dan industri. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga, perkotaan dan industri di Propinsi Banten cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan air untuk rumah tangga dihitung sebagai kebutuhan air 24 jam untuk 1 (satu) orang yang meliputi air untuk minum, masak, mandi cuci dan sanitasi. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup masyarakat dan iklim

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

594. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat dinamika kota dan jenjang suatu kota. 2 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Banten No 1 2 Kabupaten Pandeglang Lebak Kebutuhan Air Domestik (m3/det) 2003 1.705 2015 1.234 2005 1. seperti fasilitas komersial.357 2005 0.232 1.162 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.039 2025 1.441 2020 0.228 2005 1.526 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .118 1. fasilitas ibadah. fasilitas kesehatan dan fasilitas pendukung kota lainnya misalnya pembersihan jalan. Berikut ini disajikan jumlah penduduk untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Banten berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk rumah tangga dan perkotaan sampai tahun 2025 pada Tabel 3.581.2.404 2015 0.370 2010 0.460. 1 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Banten No 1 2 Kabupaten Pandeglang Lebak Jumlah Penduduk (jiwa) 2003 1. Kebutuhan air untuk perkotaan diambil sebagai proporsi dari kebutuhan air untuk rumah tangga dengan persentasi antara 25-40% tergantung dari kemajuan daerah itu sendiri.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA di daerah tersebut.082. Kebutuhan air untuk rumah tangga dapat dihitung dengan mengkalikan standar kebutuhan air per orang per hari dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut.224.3.104.507 2015 1.012 1.605 2. Besarnya kebutuhan air non domestik dapat ditentukan oleh banyaknya fasilitas perkotaan.336.226 2010 1. pemadam kebakaran.122. dan Tabel 3.370.824. 3 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Banten No 1 Kabupaten Pandeglang Kebutuhan Air Non Domestik (m3/det) 2003 0. Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan (municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota.1.753 2. fasilitas pariwisata.841 1.120.306 2010 1.346 1.188.314 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.006 2025 1. Tabel 3.912 1. sanitasi kota dan penyiraman tanaman perkotaan. Tabel 3.099 1.739 2020 1.470 1. Tabel 3. 3-4 Tabel 3.190 1.209 2020 1.482 2025 0.636 2.

602 0.353 2025 0.163 2015 0. 4 Kebutuhan Air untuk Industri di Propinsi Banten No 1 2 Kabupaten Pandeglang Lebak Kebutuhan Air Industri (m3/det) 2003 0. Berikut ini disajikan Tabel 3.094 2005 0. Kebutuhan air untuk keperluan industri sangat dipengaruhi oleh jenis dan skala (ukuran) industri yang ada. Tabel 3. kerbau dan kuda rata- LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Misalnya industri tekstil dan logam berat tentu akan memerlukan air yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan industri perakitan. Sedangkan kebutuhan air untuk pendukung kegiatan industri seperti hidran dapat disesuaikan untuk jenis industrinya.392 0.4 yang berisi kebutuhan air industri untuk tiap kabupaten di Propinsi Banten berikut proyeksinya sampai tahun 2025.243 0.110 2010 0.119 0.452 0. Untuk menghitung kebutuhan air industri di Propinsi Banten ini akan digunakan pendekatan sederhana yang dikembangkan oleh Jabotabek Water Resources Management Study (1994) yaitu penggunaan air industri berdasarkan jumlah karyawan yang bekerja di sektor industri yaitu sebesar 500 liter/karyawan/hari.370 0. Semakin modern peralatan dan teknologi yang digunakan oleh suatu industri akan semakin efisien air yang digunakan.127 0. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dihitung dengan mengkalikan jumlah ternak yang ada di kabupaten tersebut dengan kebutuhan air untuk tiap jenis ternak. Jadi besar kebutuhan air industri ditentukan oleh kebutuhan air untuk diproses.. bahan baku industri dan kebutuhan air untuk pekerjaan industri.521 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.176 0.522 0.149 0.207 0.240 2020 0. kebutuhan air pekerja industri dan pendukung kegiatan industri.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2 Lebak 0. Ternak berkaki 4 besar seperti sapi. Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri. termasuk sebagai bahan baku. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dan perikanan. 2.694 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-5 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

057 0. Pola ini masih terus berlangsung sampai di masa yang akan datang selama masih ada pembukaan lahan pertanian beririgrasi yang baru.5 dan Tabel 3. perkotaan dan industri serta kebutuhan untuk keperluan peternakan dan perikanan.546 2025 1. 6 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Banten No 1 2 Kabupaten Pandeglang Lebak Kebutuhan Air Perikanan (m3/det) 2003 0.057 0.063 2005 0. Tabel 3.060 0.998 0.405 2010 1. Kebutuhan air untuk irigasi sangat mendominasi kebutuhan air di Propinsi Banten apabila dibandingkan dengan kebutuhan untuk keperluan rumah tangga. 5 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Banten No 1 2 Kabupaten Pandeglang Lebak Kebutuhan Air Peternakan (m3/det) 2003 0. Berikut ini disajikan Tabel 3. 3-6 Tabel 3.093 2025 0.603 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.229 0.448 2015 1.390 2005 1.081 2020 0.921 0. Dipakai standar sebesar 7 mm/hari sebagai kebutuhan air untuk perikanan.655 0.427 0.107 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. 3.6 liter/ekor/hari. Kebutuhan air untuk perikanan adalah kebutuhan air untuk mengisi kolam pada saat awal tanam dan kebutuhan untuk penggantian air.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA rata memerlukan air sebesar 40 liter/ekor/hari.494 2020 1.059 0. Sedangkan unggas seperti ayam memerlukan air rata-rata 0.066 0. Kebutuhan air untuk keperluan irigasi.6 yang berisi kebutuhan air untuk peternakan dan perikanan untuk tiap kabupaten di Propinsi Banten berikut proyeksinya sampai tahun 2025. Ternak berkaki 4 kecil seperti kambing atau domba rata-rata memerlukan air sebanyak 5 liter/ekor/hari.065 2010 0.058 0.072 2015 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .062 0.

Dari data luasan lahan areal irigasi tersebut lalu dilakukan proyeksi untuk dapat menentukan luasan lahan areal irigasi di masa yang akan datang sehingga perkiraan kebutuhan air di waktu yang akan datang dapat diperhitungkan pula. Ada juga daerah lain yang hanya bisa menanam padi satu kali dalam satu tahun karena air yang tersedia hanya cukup untuk sekali tanam padi. sistem golongan dan efisiensi irigasi. Data luas lahan areal irigasi didapatkan dari buku Propinsi Dalam Angka yang dikeluarkan oleh BPS. keadaan iklim (curah hujan dan evapotranspirasi).8 yang berisi luas lahan areal irigasi untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Banten berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk irigasi sampai tahun 2025. jenis tanah (untuk memperkirakan laju perkolasi dan kelembaban). cara bercocok tanam dan praktek irigasi untuk tanaman padi (kebutuhan air untuk pengolahan lahan dan penggantian lapisan air). jenis tanaman. namun untuk beberapa daerah tertentu pola tanam yang diterapkan adalah padi-padi-padi apabila memang ketersediaan air mencukupi untuk pola tersebut. Untuk mengurangi puncak kebutuhan air untuk irigasi khususnya pada masa awal musim tanam. Secara umum pola tanam yang ada di wilayah studi adalah padi-padipalawija. maka dilakukan penjadwalan masa awal tanam secara bergiliran yang didasarkan pada besarnya luasan areal maupun lokasi areal. masing-masing golongan dibagi berdasarkan ketersediaan air dan luas areal tanam untuk kebutuhan air masa awal pengolahan lahan.7 dan Tabel 3. Berikut ini disajikan Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Kebutuhan air untuk irigasi tergantung pada beberapa faktor antara lain seperti luas tanam. 3-7 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Pembagian penjadwalan waktu tanam tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa golongan.

335 15.787 7.242 10.889 2015 61.487 7.257 15.139 7.550 6.703 46.734 Apr 5.128 7.575 15.807 7.131 7.550 16.546 45.527 6. Ketersediaan Air Wilayah administrasi Propinsi Banten yang dibahas dalam sub bab ini meliputi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Pandeglang dan Lebak yang termasuk dalam wilayah 2 WS yaitu WS Ciujung-Ciliman dan WS Cisadea-Cikuningan.567 6.678 5.583 6.295 10.639 0.298 12.827 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei 10.672 5.527 Agu 6.029 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.512 5.830 13. Cibungur.617 12.311 12.781 11.456 5.683 0.014 45.173 9.644 0.657 5.507 0.296 15.649 12.514 13.960 8.267 12.822 2005 61.682 12. 7 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Banten BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-8 2025 61.205 9.232 10.389 45.215 10.567 16.929 8. Sedangkan sungai-sungai utama di WS Cisadea-Cikuningan yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air di WS Cisadea-Cikuningan adalah Sungai Cibaliung.445 10.471 7.272 12.137 7.776 11. Cimadur dan Cibareno.654 15. Ciliman dan Ciseukeut.494 13.930 11. 8 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Banten No 1 Kab/ Tahun Jan Feb 15.463 12.494 7.695 16.006 9.604 12.434 10.468 7.714 12.532 5.347 Jun 11.155 7.147 7. Tabel 3.032 No 1 2 Kabupaten Pandeglang Lebak Luas Lahan Areal Irigasi (Ha) 2003 61.740 2005 2010 2015 2020 2025 2 Lebak 2003 2005 2010 2015 2020 2025 7.902 3.660 5.694 15.768 7.560 5.818 11.841 2010 61.984 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.747 Nov 16.938 8.652 16.176 9.146 7.528 13.508 0.399 12.666 5.285 12.154 7.893 3.387 12.575 Pandeglang 2003 7.827 11.414 Mar 15.077 45.518 5.600 Sep 0.242 15.479 7.140 7.431 12.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.533 6.323 3.233 45.737 Des 8.936 2020 61.840 11. Sungaisungai utama yang diambil airnya untuk dimanfatkan guna mencukupi kebutuhan air di WS Ciujung-Ciliman adalah Sungai Ciujung.900 11.806 11.186 9.508 0. B.614 15.748 7.911 7.495 12.643 0.641 0.375 15.983 9.556 11.321 10.507 0.196 9.560 11.907 3.502 9.556 7.961 Jul 12.640 0.268 10.898 3.170 7.542 13.585 11.162 7.413 10.546 5.609 12.559 15.572 11. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .597 11.870 11.610 16.509 11.408 10.161 11.423 10.646 Okt 12.793 11.509 0.894 3.500 13.

612 1.03 Sep 0.230 51.812 0.196 13.273 0.301 5.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Besarnya debit sungai sangat dipengaruhi oleh besarnya curah hujan.168 14. Neraca Air Dalam studi neraca air atau keseimbangan air perlu diketahui jumlah kebutuhan air dari wilayah yang ditinjau dan jumlah ketersediaan air dari titik-titik pengambilan di sungai-sungai yang melayaninya.279 10.495 6.324 0.855 9.358 4.208 0.825 7.088 3.9 berikut ini.327 5.130 22.955 13.770 4.487 5.030 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .99 7.52 Feb 13.476 0.62 Nov 2.932 2.230 12.23 1.71 6.423 10.798 5.145 110.712 11.666 10.624 1.84 Jul 2.45 Des 7.041 4.573 106.28 7.179 48.97 Jun 4.650 11.08 Apr 15.505 12.43 2 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.236 0.894 15.86 3.193 9.618 3.984 4.638 5.939 1.878 1.090 15.570 1. kondisi geologi dan kondisi tanah.996 1.477 2.112 1.835 18.329 21.806 21.398 0.916 7.868 1.217 0.414 34.774 2.676 4. Respon masing-masing sungai dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan.007 44.325 35.163 0.262 80.226 4.223 12.491 22.204 7.979 5.95 5.55 Agu 0.516 6.429 10.625 8.18 0.891 1.783 10.133 15. Sedangnya besarnya kebutuhan tergantung pada jumlah penduduk dan kondisi serta aktifitas masyarakat di masing-masing daerah.032 15.726 0.762 13.533 42.415 0.895 27.206 99.16 0.080 25.414 5.768 10.388 5.227 2.869 11.82 Mar 11.789 5. Besarnya debit andalan yang dipakai sebagai ketersediaan air dari berbagai titik pengambilan untuk masing-masing kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3.666 8.147 3.769 9.323 0.42 Ketersediaan Air (m3/det) Mei 7.98 1.551 4. Air yang tersedia tergantung dari input yang berupa hujan yang jatuh di daerah tangkapan hujan dan respon masing-masing sungai.312 10.068 6. sehingga ketersediaan air akan sangat bervariasi tergantung musim.528 10.457 1.189 4.875 6.291 6.367 8.649 18.049 3.215 6.21 0.028 5.192 5. 3-9 Tabel 3.40 1.569 5.592 12.878 4.628 16.013 2.809 7.986 54. Biasanya di musim penghujan air yang tersedia berupa debit aliran di sungai akan sangat banyak dan melimpah dan sebaliknya saat musim kemarau air yang tersedia sebagai debit aliran di sungai akan sedikit sekali.941 7.09 Okt 0.308 19.321 0.196 6.110 10.107 11.152 0.464 18.732 7.950 11.924 4.309 0.167 2.901 12.507 8.784 3.903 0.342 4.094 0.704 40.705 2.154 1.438 1.928 79.136 2.353 0.463 9.031 6.567 9.840 5.577 62.644 17.25 3. C.870 0.763 31.695 12.820 11.826 35.595 0. 9 Ketersediaan Air di Propinsi Banten No 1 Titik Pengambilan Pandeglang Cibaliung Ciliman Cibungur Ciseukeut Cimoyan Cisata Rangkasbitung Cikoncang Total Lebak Cibinuangeun Cimadur Bojongmanik Cilaki Cibareno Total Jan 15.125 13.709 6.430 4.651 8.839 3.899 5.

63 32.30 43.37 1.44 -0.32 79.81 -1.30 -0.81 20.72 33. 10 Neraca Air di Propinsi Banten No 1 Kabupaten/ Tahun Pandeglang 2003 2005 2010 2015 2020 2025 Lebak 2003 2005 2010 2015 2020 2025 Jan 95.74 44.63 102.70 28.28 3.00 48.23 Neraca Air(m3/det) Jun 21. Kebutuhan air untuk irigasi dihitung dengan memasukkan faktor intensitas tanam dan pergiliran awal musim tanam untuk mereduksi puncak-puncak kebutuhan air irigasi yang sangat besar.24 59.78 35.72 60.38 1.79 -2.70 67. 4.10 dan jumlah bulan defisit disajikan pada Tabel 3.72 4.55 1.43 12.27 101.01 25.44 Nov 20.37 1.27 Mei 49.41 23.17 27.24 66.12 Feb 81.16 2. 3.48 1. Hitungan keseimbangan air dilakukan untuk setiap wilayah kabupaten atau kota berikut dengan ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungaisungai yang melayaninya.56 6.30 3.09 4.98 19. Kebutuhan dan proyeksi kebutuhan air dihitung berdasarkan data-data jumlah penduduk dan luas lahan yang didapat. Selengkapnya hasil analisa neraca air untuk Propinsi Banten sampai dengan tahun 2025 disajikan dalam Tabel 3.88 44.43 20.14 -5.29 18.52 18.26 -1.03 5.05 12.35 25.78 0.78 49.38 45. Ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungai-sungai tersebut dianggap tetap.51 7.61 68.51 7.99 1.53 48.51 20.01 6.52 Apr 102.38 Jul 3.25 44. Tabel 3.04 0.98 Mar 61.10 Sep 2.95 5.07 -6.67 31.38 7.33 94.67 19.29 20.91 45.28 -5.24 45.60 81.65 -6.53 61.50 -0.12 34.80 19.61 34.00 19.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Beberapa kriteria yang dipakai dalam analisis neraca air ini adalah sebagai berikut: 1.15 28.02 -0.14 33.98 34.30 11.85 2. 2.22 80.78 2.98 10.53 29.34 Okt -5.80 80.82 95.85 1.04 19.70 29.44 43.02 3-10 2 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.15 60.43 21.44 -0.91 49.22 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .84 18.75 3.01 32.16 33.42 0.64 32.88 23.11.69 95.47 68.74 81.50 10.11 67.94 45.92 43.22 24.46 93.65 Des 68.11 44.15 Agu 0.67 61.99 1.94 11.92 20.66 29.54 -7.87 101.92 94.91 0.85 24.41 49.30 17.76 102.42 100.90 1.72 2.77 43.07 -0.96 20.20 31.

Wilayah dari studi ini meliputi semua kota di Propinsi DKI Jakarta. 11 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Banten No 1 2 Kabupaten/Kota Pandeglang Lebak 2003 1 1 2005 1 1 2010 1 1 2015 1 1 2020 2 1 2025 2 2 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-11 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Di sebelah timur LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Jabotabek mengandalkan sumber daya air yang berada baik di dalam maupun di luar wilayahnya. Jabotabek mengandalkan sumber daya air tanah yang berada di wilayahnya sendiri serta sumber daya air permukaan yang terletak baik di dalam maupun di luar wilayahnya. Oleh karena itu. wilayah studi diperluas hingga meliputi Kabupaten Serang di Propinsi Banten dan Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta di Propinsi Jawa Barat. Besarnya peran dan perkembangan DKI Jakarta ini menuntut daya dukung sumberdaya terutama sumber daya air untuk menunjang segala kegiatan di DKI Jakarta dan sekitarnya. DKI Jakarta sebagai ibukota Indonesia memiliki peran yang sangat penting sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian di Indonesia. Kabupaten Bogor.1. Kabupaten Bekasi. Studi ini berfokus pada aspek kualitas dan kuantitas dari sumber daya air permukaan dan air tanah dan hasilnya adalah sebuah master plan dari penyediaan air untuk Jabotabek. Kota Bogor dan Kota Bekasi di Propinsi Jawa Barat serta Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang di Propinsi Banten (dahulu Jawa Barat). 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3. Kota Depok. Untuk itu Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Sumber daya air Departemen Pekerjaan Umum pada tahun 1991 melaksanakan studi yang diberi nama Jabotabek Water Resources Management Study (JWRMS) yang merupakan sebuah studi mengenai pengelolaan sumber daya air yang terpadu untuk daerah Jabotabek di Propinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat (serta Banten).2 Jabotabek dan Sekitarnya Dalam sub bab ini akan disajikan tentang analisis neraca air untuk daerah Jabotabek dan sekitarnya.

Aktifitas ini sangat mempengaruhi kualitas air dalam arti yang negatif. keterlibatan pemerintah yang kuat dalam pengelolaan sumber daya air. Konsultan memandang tidak ada lagi studi yang lebih mendetail dan komprehensif mengenai penyediaan air untuk Jabotabek dan sekitarnya dibanding dengan JWRMS. Kelangkaan air yang terus meningkat diperparah oleh pencemaran air sebagai akibat dari semakin meningkatnya aktifitas penduduk dan industri. pengambilan air tanah yang berlebihan di DKI Jakarta.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Jabotabek terdapat suatu sistem waduk (Jatiluhur. terutama di DKI Jakarta. Konflik antar kepentingan antara pengguna air untuk keperluan irigasi. Dari tiga skenario yang dipakai dalam JWRMS. Meskipun pengambilan sumber daya air tanah adalah kecil apabila dibandingkan dengan air permukaan. Tangerang dan Bekasi berakibat pada penurunan permukaan tanah. Maka. konsultan memilih menggunakan skenario ketiga (C) seperti yang disarankan oleh JWRMS yaitu proyeksi yang mengacu pada asumsi bahwa akan terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 3-12 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pembatasan penggunaan air tanah dan lebih mengandalkan pada air permukaan. saat ini ada pertimbangan aspek ekonomi dan sosial yang sangat penting karena 70% dari penduduk DKI Jakarta dan sebagian besar industri di Jabotabek mengandalkan sumber daya air tanah ini. Di sebelah selatan dan barat Jabotabek terdapat Sungai Cisadane. berbeda dari daerah-daerah lainnya. hal ini akan menjadi masalah yang sangat serius apabila tidak segera diambil tindakan yang tepat. konsultan akan mengadopsi metoda perhitungan yang dipakai dalam JWRMS dan memuthakirkan datanya dengan kondisi terkini yaitu tahun 2003. Cirata dan Saguling) yang berada di Sungai Citarum dan berfungsi sebagai penyedia air baku utama untuk DKI Jakarta dan penyedia air irigasi untuk areal pertanian di dalam dan di luar wilayah Jabotabek. perkotaan dan industri semakin sering terjadi dengan intensitas yang terus meningkat. Sumber daya air tanah kebanyakan dipakai di wilayah utara dari Jabotabek. Cidurian dan Ciujung sebagai sumber daya air permukaan utama. Walaupun demikian.

Diasumsikan bahwa wilayah yang akan terhubung dengan sistem pemipaan air umum adalah dalam kasus sebagai berikut: • Air tanah yang tersedia sangat terbatas atau dalam kualitas yang buruk dan kepadatan penduduk diatas 30 orang per hektar. kesediaan untuk membayar biasa sambungan dan kesediaan untuk membayar biaya air bulanan. rumah tangga. industri. Karena kelangkaan sumber daya air di wilayah ini. penggelontoran dan perawatan sungai. Kebutuhan Air BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-13 Pembangunan di wilayah Jabotabek telah menyebabkan peningkatan luas areal perumahan dan industri. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hal ini memerlukan suatu sistem pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi antar sektor kebutuhan dan juga antar sumber ketersediaan. Sektor kebutuhan air yang diperhitungakan antara lain meliputi sektor pertanian. Faktor ini memberikan pengaruh yang sangat penting kepada ketergantungan pada ketersediaan air baku melalui sistem pemipaan. 1. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA A. Kebutuhan air rumah tangga didasarkan pada jumlah orang yang hidup di wilayah studi. jasa. • Air tanah yang tersedia sangat terbatas atau dalam kualitas yang meragukan dan kepadatan penduduk diatas 50 orang per hektar. urbanisasi telah menyebabkan menurunnya kualitas air permukaan di wilayah Jabotabek dan dapat mempengaruhi kehidupan dari jutaan orang yang hidup di wilayah tersebut. dilakukan penelitian terhadap kesediaan penduduk untuk memanfaatkan jaringan penyediaan air. perkotaan dan industri. Terlepas dari masalah untuk dapat memenuhi kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. alokasi air untuk berbagai sektor yang terus berkembang menjadi sangat rumit. perkotaan dan industri. perkantoran. terutama DKI Jakarta. Kebutuhan air dari jaringan penyediaan air sangat dipengaruhi oleh kondisi air tanah di wilayah tersebut. perkotaan dan industri lalu untuk kebutuhan irigasi. perikanan serta pembangkit listrik tenaga air dengan prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. hotel. Dalam rangka untuk memperkirakan jumlah penduduk yang akan memanfaatkan jaringan penyediaan air.

data yang diperoleh sangat kurang untuk dapat menghitung kebutuhan air industri di masa dahulu kala maupun masa sekarang. Melakukan estimasi untuk kebutuhan air industri adalah bukan suatu hal yang mudah. 3-14 Informasi yang tersedia tentang kebutuhan air untuk perkotaan sangat sedikit sekali. Lebih jauh lagi juga diasumsikan bahwa kebutuhan air total untuk perkotaan ini didistribusikan antara air permukaan dan air tanah sama seperti kebutuhan air rumah tangga. Dalam banyak kasus. Diasumsikan bahwa ada korelasi positif antara jumlah penduduk yang tinggal di suatu wilayah tertentu dengan tingkat aktifitas perkotaan. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan sebuah angka rata-rata per karyawan untuk membuat relasi antara kebutuhan total air industri dengan jumlah karyawan yang bekerja di sektor industri. Digunakan angka sebesar 500 liter/karyawan/hari untuk menghitung kebutuhan total air industri LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Walaupun demikian keberagaman dari parameter-parameter produksi sangat besar sehingga tidak dapat ditemukan suatu hubungan dari parameter-parameter tersebut yang dapat digunakan dalam perhitungan kebutuhan air industri.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA • BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Air tanah tersedia dalam kualitas yang baik dan kepadatan penduduk di atas 100 orang per hektar. sebuah usaha dilakukan untuk menemukan hubungan yang dapat digunakan dalam menghitung kebutuhan air industri. Kebutuhan air industri jauh lebih rumit dibandingkan dengan kebutuhan air rumah tangga karena sangat beragamnya proses produksi itu sendiri. Estimasi kebutuhan air perkotaan didasarkan pada estimasi kebutuhan air rumah tangga. Juga diasumsikan bahwa besarnya kebutuhan air perkotaan menunjukkan suatu perkembangan tertentu dari luas wilayah permukiman dimana aktifitas perkotaan ini terjadi.000 industri dari kecil sampai besar. Dengan menggunakan data lebih dari 6. Hal ini menyebabkan sulitnya untuk mengumpulkan data dan melakukan analisis yang konsisten serta untuk memperkirakan kebutuhan di masa yang akan datang secara rinci. Hal ini membuat perkiraan kebutuhan industri di masa yang akan datang menjadi sangat sulit.

970 2010 10.3 4.504 29.4 9.1 4.1 13.137 51.3 18.9 2015 37.2 12.7 80.8 2005 27. Tabel 3.751 5.592 3.227 6.6 Sumber: JWRMS dan hasil analisis Tim Dinamaritama.894 4. air tanah maupun total keduanya.6 2020 38.9 5.595 3.774 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .0 17.055 20.8 3.342 5. 12 Proyeksi Jumlah Penduduk di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 Wilayah DKI Jakarta Bogor Tangerang Bekasi Serang Karawang Purwakarta Total Proyeksi Jumlah Penduduk JWRMS (x 1.3 1.470 4.1 19.3 5.131 4.5 26.9 57.3 14.5 4.9 37.871 4.5 13.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3.2 15.1 135.194 2000 9.455 1.836 2003 7.14 dan Tabel 3.700 5.2 3.243 2.8 7.6 116.568 5.000) 1990 8.073 1. perkotaan dan industri baik itu yang bersumber dari air permukaan.443 2.5 11.435 Sumber: JWRMS dan hasil analisis Tim Dinamaritama.3 16.1 10.4 99.210 3.860 2. sedangkan Tabel 3.3 1.4 3.949 2.5 16.647 6.724 2.0 49.471 2.2 6.332 2005 9.103 2.933 26.4 2.4 2.782 5.830 3.110 2020 12.908 2.9 3.8 2.5 5.1 7.15 menyajikan kebutuhan air total untuk keperluan rumah tangga.078 3.5 22.2 17.6 14.5 1995 13.482 Riil 2025 12.777 2.7 4.1 7.630 6.9 4.146 2.2 11.6 19.3 2.0 2010 36. 13 Kebutuhan Air Permukaan untuk Rumah Tangga.507 3.7 2025 42.1 9.720 4.457 5.4 2. Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 Wilayah DKI Jakarta Bogor Tangerang Bekasi Serang Karawang Purwakarta Total Kebutuhan Air Permukaan RKI (m3/det) 1990 9.095 8.195 2015 11. 3-15 Tabel 3.628 26.902 9.728 7.6 2000 18.965 5.2 1.339 7. Tabel 3.001 39.5 Riil 2003 24.455 23.6 2.0 1.13.974 44.518 7.704 2.758 4.649 3.186 34.12 berikut akan menyajikan proyeksi jumlah penduduk sesuai dengan skenario yang terpilih.144 3.9 7.519 1995 8.511 4.961 9.

4 7.2 31.5 2000 33.9 9.4 3.0 6.0 27.3 2010 47.8 9.4 9.2 17.6 66.9 4.2 5.6 6.6 23.1 7.1 5.2 6. Tabel 3.1 5.3 20.6 6.8 27.6 8.9 2015 48. 14 Kebutuhan Air Tanah untuk Rumah Tangga.5 10.6 4.8 2005 13.6 3.7 5.8 19.1 7.3 7.1 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-16 Riil 2003 5.8 8.2 13.7 6.1 11.9 6.7 6.8 2020 10.3 17.2 7.2 23.4 11. Kebutuhan Air untuk keperluan irigasi.7 183.8 7.6 1995 28.1 14. Perubahan yang berarti diharapkan akan terjadi pada luasan areal sawah beririgrasi di wilayah studi LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .1 10.2 4 15.5 52. Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 Wilayah DKI Jakarta Bogor Tangerang Bekasi Serang Karawang Purwakarta Total Kebutuhan Air RKI (m3/det) 1990 24.7 8.3 5.5 3.1 1995 15.5 4 4.6 2025 52.2 8.8 9.4 2.3 15.8 5 5.7 14.2 5.6 Sumber: JWRMS dan hasil analisis Tim Dinamaritama.8 7. Kebutuhan air untuk irigasi adalah pengguna air tebesar untuk saat ini dan hal yang sama tetap akan terjadi di masa yang akan datang.8 Sumber: JWRMS dan hasil analisis Tim Dinamaritama.6 3.2 17.3 5.6 8.7 11.4 11. 15 Kebutuhan Air Total untuk Rumah Tangga.5 15.6 5.2 15.2 2000 14.4 127.1 6 4.5 22.5 20.2 12.0 4.3 104.4 6.1 2015 10.1 146.7 15.4 7.8 10.7 11.9 4.6 10.9 19.1 30.7 12.8 10.7 5.3 5.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.4 13.3 5.2 19.5 8. Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 Wilayah DKI Jakarta Bogor Tangerang Bekasi Serang Karawang Purwakarta Total Kebutuhan Air Tanah RKI (m3/det) 1990 15.9 23.5 23.1 14.5 5.6 10.7 10.9 2020 49.4 2010 11.2 7.6 Riil 2003 30.6 82.5 4.2 2005 41.7 14.1 8. B.4 2025 10.3 87.2 164.

Pola tanam di masa yang akan datang akan dipengaruhi oleh keinginan untuk meningkatkan pendapatan petani sesuai dengan meningkatnya pendapatan nasional di masa yang akan datang. • Meningkatnya intensitas penanaman. Jumlah produksi juga akan menyesuaikan diri dengan perubahan pola permintaan terhadap hasil produksi pertanian sebagai hasil dari meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan. 3-17 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . menyebabkan reduksi kebutuhan air secara keseluruhan. Pertumbuhan jumlah penduduk akan meningkatkan permintaan akan sayurmayur dan buah-buahan.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA karena laju urbanisasi yang tinggi dan perubahan pada cara bercocok tanam. Perubahan yang diharapkan terjadi dalam cara bercocok tanam akan memberikan pengaruh kepada kebutuhan air sebagai berikut: • Reduksi luas lahan beririgrasi. Dalam hal ini yang terpenting adalah proporsi antara antara penanaman padi (yang banyak memerlukan air) dan penanaman tanaman pertanian bukan padi (yang memerlukan air relatif lebih sedikit). Penekanan dalam proyeksi ini adalah untuk menyediakan air yang cukup untuk keperluan pertanian sehingga perkembangan pertanian di masa yang akan datang dapat didukung. menyebabkan reduksi kebutuhan air total juga menyebabkan reduksi kebutuhan air puncak. Hal ini akan menyebabkan munculnya kesempatan untuk mengintensifkan dan membuka lapangan kerja baru yang berbasis pada pertanian. • Perubahan ke pola penanaman tanaman pertanian bukan padi. Selanjutnya pola tanam yang lebih intensif yang mengarah pada penanaman tanaman pertanian bukan padi juga diperhitungkan dalam studi ini. Langkah pertama dalam menghitung kebutuhan air untuk irigasi adalah memperkirakan luas lahan irigasi yang tersisa di masa yang akan datang sesuai dengan rencana penataan ruang di wilayah studi. menyebabkan naiknya kebutuhan air terutama pada saat musim kemarau.

156 5. Tabel 3.853 65.4 1.2 0.791 3.5 131.723 226.489 3.4 110. Keb.16 berikut ini akan menyajikan proyeksi luas lahan pertanian sesuai dengan skenario yang terpilih.387 52.988 10.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3.805 31.161 2025 18.0 4. 17 Kebutuhan Air Irigasi di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 7 Daerah Irigasi Ciujung Cidurian Cisadane Empang Katulampa Kanal Tarum Barat Kanal Tarum Utara Total Sumber: JWRMS. sedangkan Tabel 3.17 menyajikan kebutuhan air untuk keperluan irigasi beserta proyeksinya untuk tahun 2025.0 28.326 C.5 33.8 1.2 18.266 2.1 2025 11.032 72.8 Luas Lahan Irigasi (Ha) 1990 22. Ketersediaan Air Wilayah Jabotabek ini termasuk dalam 3 wilayah sungai yaitu WS CiujungCiliman. Sungai-sungai utama yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .6 48. WS Ciliwung-Cisadane dan WS Citarum.873 27.1 3. 16 Proyeksi Luas Lahan Irigasi di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 7 Daerah Irigasi Ciujung Cidurian Cisadane Empang Katulampa Kanal Tarum Barat Kanal Tarum Utara Total Sumber: JWRMS.9 1. 3-18 Tabel 3.417 185. Air Irigasi (m3/det) 1990 14.6 57.7 17.862 8.845 85.

Dalam JWRMS telah dilakukan analisis terhadap data hidrologi dan pemodelan komputer untuk mengevaluasi ketersediaan air pada sungai-sungai tersebut. Cisadane. debit ini didasarkan pada kerja sama antara dua waduk tersebut. perkotaan dan industri telah dihitung baik dengan kebutuhan air untuk irigasi maupun tidak. Ciliwung. Volume ini sebagian besar berasal dari Sungai Citarum. terutama untuk kebutuhan air irigasi. Struktur yang dianggap sulit atau tidak mungkin dibangun tidak dimasukkan dalam analisis ini. Tabel ini menyajikan potensi ketersediaan air untuk keperluan rumah tangga. perkotaan dan industri sebesar 31 m3/det. perkotaan dan industri saat ini mencapai 71. Untuk mengindikasikan kemungkinan pertukaran ketersediaan air antar pengguna air. Tabel ini pada dasarnya menyajikan kontribusi dari tiaptiap struktur di tiap-tiap sungai. Potensi ketersediaan air untuk rumah tangga. Potensi ini bisa ditingkatkan menjadi 155 m3/det yang sebesar 95 m3/det berasal dari Sungai Citarum. Interaksi antar struktur dalam satu sungai juga dipertimbangkan. Debit aliran dari sungai-sungai tersebut saat ini sudah sedikit banyak dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan.18 berikut ini menyajikan hasil dari analisis tersebut. misalnya di Sungai Ciujung interaksi antara Waduk Karian dan Pasirkopo menghasilkan ketersediaan air untuk rumah tangga. Konfigurasi kebutuhan dan ketersediaan tersebut lebih jauh lagi telah dilakukan simulasi untuk menentukan pengaruhnya terhadap wilayah yang bersangkutan dan untuk menganalisis interaksi antar daerah aliran sungai. Tabel 3. Potensi yang besar dari Sungai Citarum ini sebagian besar 3-19 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 m3/det. perkotaan dan industri setelah kebutuhan air untuk irigasi di masa yang akan datang telah terpenuhi. Cidurian.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA dapat menyediakan air untuk wilayah ini adalah Sungai Ciujung. Kenaikan potensi sebagai akibat dari pembangunan infrastruktur tambahan dan peningkatan pengelolaan operasional juga sudah dimasukkan ke dalam analisis ini supaya didapatkan pandangan yang menyeluruh mengenai potensi dari ketersediaan air. pada beberapa sungai potensi ketersediaan air untuk rumah tangga. Hasil dari analisis ini juga juga telah digunakan untuk menyeleksi berbagai macam pilihan dan menyusun berbagai macam konfigurasi kebutuhan dan ketersediaan. Bekasi dan Citarum.

Tabel 3.18 juga menampilkan lokasi dari rencana pembangunan struktur baru untuk meningkatkan ketersediaan air di wilayah studi. Cirata dan Jatiluhur. Tidak ada intervensi struktural baru untuk mendukung kebutuhan air irigasi. Untuk kebutuhan irigasi. 3-20 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Usaha peningkatan potensi ketersediaan air dapat dibedakan menjadi: • Intervensi struktural. termasuk pembangunan waduk/reservoir baru beserta dengan sistem saluran pembawanya. peningkatan ketersediaan air melalui peningkatan operasional dari fasilitas yang sudah ada sehubungan dengan peningkatan efisiensi dari penggunaan air. baik untuk meningkatkan kuantitas dari ketersediaan air maupun untuk meningkatkan kualitas air di titik-titik pengambilan.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA diakibatkan oleh peningkatan pengelolaan operasional Waduk Saguling. • Intervensi non struktural. Intervensi struktural untuk meningkatkan ketersediaan air di wilayah studi hanya dipertimbangkan untuk meningkatkan ketersediaan air untuk rumah tangga. perkotaan dan industri. reduksi kebutuhan air di masa yang akan datang dipandang akan mengakibatkan kebutuhan air irigasi akan tercukupi oleh struktur yang sudah ada.

Saat ini: + Pengelolaan operasional + Waduk Cipunegara Pilihan yang kurang menarik: Pasiranji Nameng Pilihan yang sulit dilaksanakan: Parungbadak Sodong Pangkalan Depok Total Eksisting Potensi Tanpa Struktur Dengan Irigasi Tanpa Irigasi 9 13 Dengan Struktur Dengan Irigasi Tanpa Irigasi 24 31 33 3 3 10 4 1. **) ketersediaan air sangat tergantung aliran balik.5 155 (16) *) kebutuhan air irigasi di masa yang akan datang. 18 Ketersediaan Air untuk Rumah Tangga. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3. Perkotaan dan Industri Jabotabek dan Sekitarnya Sungai Ciujung (Pamarayan) + Karian + Pasirkopo + Bojongmanik Cidurian (Rancasumur) + Tanjung Cilawang Cisadane **) Saat ini: * Hulu ( Bogor) * Hilir (Serpong) Masa datang: * Hulu + Kanal Salak + Genteng * Hilir Ciliwung **) * Hulu (Bogor) * Hilir (Depok) Sungai Bekasi Narogong Sistem Citarum .5 5 2 8 4 1 2 6 50 90 95 11 5 12 2 14 31 33 Potensi Max Dengan Irigasi 3-21 14 3 6 95 (11) (5) 21. Sumber: JWRMS.5 50 71.

JWRMS hanya menampilkan satu angka rata-rata untuk tiap tahun.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA D. Neraca Air 3-22 Dalam analisis neraca air untuk daerah Jabotabek dan sekitarnya akan dihitung berdasarkan pemanfaatan sumber daya air yang berlaku pada saat ini (tahun 2003) dan proyeksinya nanti pada tahun 2025. Selengkapnya hasil analisa neraca air untuk Jabotabek dan daerah sekitarnya sampai dengan tahun 2025 disajikan dalam Tabel 3. Angka ini menurut JWRMS adalah angka debit di musim kemarau. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . sehingga meskipun air yang tersedia di Bendung Curug melimpah tetapi air yang bisa dimanfaatkan oleh DKI Jakarta hanya sebesar kapasitas dari Kanal Tarum Barat itu sendiri. Asumsi ini diambil dengan melihat kondisi lapangan saat ini bahwa memang tidak ada pembangunan struktur-struktur baru seperti yang direncanakan di sungai-sungai yang disebutkan diatas. sedangkan untuk air tanah tidak dibahas. Neraca air ini hanya akan memperhitungkan kebutuhan dan ketersediaan dari air permukaan. Berbeda dengan neraca air wilayah lain yang ditampilkan dalam skala waktu bulanan. Asumsi-asumsi lain yang dipakai untuk memperhitungkan besarnya kebutuhan air sesuai dengan asumsi yang dipakai oleh JWRMS pada skenario terpilih dengan pemutakhiran pada jumlah populasi yang ada pada saat ini. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam analisis neraca air ini adalah kapasitas dari struktur yang sudah ada terutama sistem saluran pembawa seperti Kanal Tarum Barat. Untuk ketersediaan air dianggap bahwa upaya peningkatan potensi ketersediaan air baik itu melalui intervensi struktural maupun non struktural yang direncanakan belum dilaksanakan. maka dalam studi Prakarsa Strategis Sumber daya air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan yang mengadopsi metoda perhitungan JWRMS ini analisis neraca airnya juga akan menampilkan satu angka untuk tiap tahunnya.19 berikut ini.

7 3. Sumedang. Kabupaten dan kota tersebut adalah Kabupaten Bogor. Bandung. Tasikmalaya dan Bekasi.1. Sukabumi. Hal ini karena analisis neraca air pada sub bab sebelumnya. Garut. perkotaan.3 (m3/det) 2025 -18. Sumber daya air di Propinsi Jawa Barat ini selain untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Bekasi.3 0.2 -2. Disamping itu sumber daya air di Propinsi Jawa Barat ini juga dipakai untuk memenuhi kebutuhan di luar wilayahnya yaitu untuk mencukupi kebutuhan di Jabotabek dengan transfer antar daerah aliran LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Depok dan Bekasi. Majalengka.5 -0.0 -8. Kuningan. Indramayu. Karawang dan Purwakarta serta Kota Bogor.0 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-23 Sumber: JWRMS dan hasil analisis Tim Dinamaritama.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3. Dalam sub bab ini hanya akan dibahas analisa neraca air untuk 12 kabupaten dan 5 kota saja. Sukabumi.0 -15. industri. Sedangkan 4 kabupaten dan 3 kota yang lain telah dibahas pada sub bab sebelumnya. Cianjur. 3. Purwakarta. diambil dari Jabotabek Water Resources Management Study (JWRMS) yang dipandang sudah sangat komprehensif dalam melakukan analisa kebutuhan dan ketersediaan airnya.3 Jawa Barat Propinsi Jawa Barat terdiri dari 16 kabupaten dan 8 kota yaitu: Kabupaten Bogor. 19 Neraca Air di Jabotabek dan Sekitarnya No 1 2 3 4 5 6 Daerah Irigasi DKI Jakarta Bogor Tangerang Bekasi Serang Karawang Purwakarta Surplus/Defisit 2003 -0. Ciamis. Subang. yaitu untuk daerah Jabotabek dan sekitarnya.3 0. Tasikmalaya.3 10. Bandung.0 -14. Karawang dan Bekasi serta Kota Bogor. peternakan dan perikanan juga dipakai sebagai pembangkit listrik tenaga air. Cimahi. Depok.0 0. Cirebon. Cirebon.

dan yang ketiga adalah untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dan sisanya dimanfaatkan untuk kegiatan lain termasuk untuk pengelolaan kualitas air sungai dan pembangkit listrik tenaga air. Seiring dengan perkembangan kebutuhan air untuk rumah tangga.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA sungai melalui Kanal Tarum Barat dari Bendung Curug di Sungai Citarum sampai ke Sungai Ciliwung di Jakarta. berdampak pula pada peningkatan akan kebutuhan sumber daya air. jumlah air yang ada tidak mungkin bertambah dan ketersediaanya cenderung tidak merata dari waktu ke waktu dan juga cenderung terus berkurang. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. Kebutuhan air untuk rumah tangga dihitung sebagai kebutuhan air 24 jam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kondisi ini akan semakin sulit apabila tidak didukung dengan adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi sumber daya air diantaranya konservasi daerah tangkapan hujan dan efisiensi dalam penggunaan air. 1. perkotaan dan industri. prioritas utama adalah pemenuhan kebutuhan air minum/rumah tangga. yang kedua adalah pemenuhan kebutuhan jasa perkotaan dan industri. Dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. perkotaan dan industri maka kebutuhan untuk irigasi seringkali menjadi tidak cukup terutama untuk musim tanam kedua atau ketiga dimana hujan yang turun sudah tidak terlalu banyak. peternakan perikanan dan irigasi. Secara umum kebutuhan air untuk irigasi jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kebutuhan air untuk sektor lainnya. A. perkotaan dan industri di Propinsi Jawa Barat cenderung meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan jumlah penduduknya yang juga terus meningkat. Di sisi lainnya. Kebutuhan Air 3-24 Dengan semakin meningkatnya populasi yang disertai dengan perkembangan sektor-sektor lainnya di Propinsi Jawa Barat. perkotaan. Pemanfaatan air di Propinsi Jawa Barat meliputi kebutuhan untuk rumah tangga. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. Konflik sering terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antar departemen atau instansi pengelola sumber daya air sehingga perlu adanya suatu pengelolaan sumber daya air yang terpadu. industri.

614 580.587 1.673 2005 2.440 4.442 1. fasilitas pariwisata.054.950 2.763 4.217.434 3.778.014.282 1.279.018 4.542.207 1.673 1.22.077 2025 3.439 5.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA untuk 1 (satu) orang yang meliputi air untuk minum. Kebutuhan air untuk perkotaan diambil sebagai proporsi dari kebutuhan air untuk rumah tangga dengan persentasi antara 25-40% tergantung dari kemajuan daerah itu sendiri.833 1.357 1.038. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .106.554 1.197 409.780.927 420. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat dinamika kota dan jenjang suatu kota.131 4.444 1. Kebutuhan air untuk rumah tangga dapat dihitung dengan mengkalikan standar kebutuhan air per orang per hari dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut.21.034.195.668 2.665 3.045.922 4.869 1. mandi cuci dan sanitasi.398.146 1.459 1.469.172.491.314.407 1.442.316.493.053.041.694 310.547 1. Tabel 3.418.277.906. Berikut ini disajikan jumlah penduduk untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Jawa Barat berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk rumah tangga dan perkotaan sampai tahun 2025 pada Tabel 3.348.452 2.005 267.086 2.892. Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat ditentukan oleh banyaknya fasilitas perkotaan. 3-25 Tabel 3.748 2.701. fasilitas ibadah.830 1.702.391.801.844.189.173. sanitasi kota dan penyiraman tanaman perkotaan.957 4.833 3.512 3.988 1.268 272.246 340.103 1.925. seperti fasilitas komersial.168.684 1.680 1.148 1.371.115 1.114.865 1.817 1.338 2.128.562 1.175 2.916.430 1.20.474 3.918 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 2015 2.107.915 2.807 2.312.954.228. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup masyarakat dan iklim di daerah tersebut. Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan (municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota.230.355 1.538.864.319 1.172 2. dan Tabel 3.394 2.697 2.281.381 1.627 2.863 2.676.896.533 2.237.857.620.527.872 2.977 282.664.894.293 2.192 2.558 1.484 4.807.926.677 2.508 373. 20 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon 2003 2.214 2020 2.813 2.777 801.935.695.673.899 1.882 2.657 2.059.333.468. masak. pemadam kebakaran.569 2.269.047.114 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.417.750 3.125.825. fasilitas kesehatan dan fasilitas pendukung kota lainnya misalnya pembersihan jalan.105.614.298 2.187.708 1.224.153.263 1.968 2.696.280 1.300.002 2.263 1.653.267 304.927.048.

785 7.507 4.309 1.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.950 0.607 0.058 1.162 2.454 2.645 2.955 2.497 2.050 1. termasuk sebagai bahan baku.559 3.659 2.313 1.764 0.609 0.459 0.568 2.595 0.840 5.252 1.118 2.736 0.738 0.135 2.676 0.409 7.317 2.008 0.651 2.183 1.149 1.950 0.339 2.116 1.160 6.837 0.449 7.695 0.830 0.162 0.023 0.581 2.533 2.384 2.615 0.115 2.468 0.295 0.670 0.791 1.440 0.882 0.290 1.125 0.932 1. Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri.831 1.788 2.696 3.917 0.951 3.703 0.441 4.549 0.971 2.394 Kebutuhan Air Domestik 2005 2010 2015 2020 2.132 1.294 0.715 0.350 1.345 1.638 0.346 1.136 2.150 2.697 0.252 1.445 2.270 0.558 0.681 3.752 1.232 0.466 1.601 6.393 0.392 1.463 1. 21 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Barat BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-26 N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon 2003 2.460 2.815 0.837 3.433 0. kebutuhan air pekerja industri dan pendukung kegiatan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .609 5.499 2.489 0.519 0.345 0.449 0.792 1.645 0.587 0.798 0.739 0.438 0.642 0.592 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.123 2.508 2.872 1.752 0.955 1.194 0.674 0.406 3.924 1.359 3.387 0.722 1.080 5.628 2.421 0. 22 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Barat N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kebutuhan Air Non Domestik (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.107 2.891 0.785 0.024 1.372 0.712 3.730 2.241 2.335 0.530 1.005 0.099 0.148 2.300 0.983 0.551 0.115 1.405 1.666 2.716 2.415 6.862 0.460 0.834 1.480 1.167 2.794 0.718 0.836 0.380 0.673 0.348 1.940 7.585 1.178 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.304 0.689 0.779 4.540 (m3/det) 2025 3.874 3.615 2.492 7.547 1.560 0.183 7.244 7.268 1.865 1.402 0.438 0.672 0.235 0.387 4.629 0.241 1.325 1. Tabel 3.404 0.984 0.

234 2.196 0.060 1.764 0.194 2.23 yang berisi kebutuhan air untuk industri untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Barat berikut proyeksinya sampai tahun 2025.059 4.360 0.882 0.059 2025 3. Sedangkan kebutuhan air untuk pendukung kegiatan industri seperti hidran dapat disesuaikan untuk jenis industrinya.335 0.782 1.698 1.807 0.298 0.491 0.423 5.247 0.273 0.363 1.397 0.199 0.370 2.058 3.327 0.323 0.111 0.573 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .696 0.610 0.349 0.447 1.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA industri.630 2.955 0.240 0.162 0.893 0.589 0.057 3.505 0.297 1.150 0.057 Kebutuhan Air Industri (m3/det) 2005 2010 2015 2020 0.184 0.066 1.243 1.282 0.854 0.539 0.649 0.768 1.430 0.620 0.674 0.097 1.928 2.063 1.060 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.516 0.131 0. 3-27 Tabel 3.175 0.134 0.515 0.379 0.591 0.616 1. Berikut ini disampaikan Tabel 3.636 1.470 0.751 0.498 0.436 0.677 0.526 1.111 1.322 0. bahan baku industri dan kebutuhan air untuk pekerjaan industri. Untuk menghitung kebutuhan air industri di Propinsi Jawa Barat ini digunakan pendekatan sederhana yang dikembangkan oleh Jabotabek Water Resources Management Study (1994) yaitu penggunaan air untuk industri berdasarkan jumlah karyawan yang bekerja di sektor industri yaitu sebesar 500 liter/karyawan/hari.711 0.506 0.084 1.232 0. Misalnya industri tekstil dan logam berat tentu akan memerlukan air yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan industri perakitan.422 0.656 0.404 0.878 0. Kebutuhan air untuk keperluan industri sangat dipengaruhi oleh jenis dan skala (ukuran) industri yang ada.301 0. Jadi besar kebutuhan air industri ditentukan oleh kebutuhan air untuk diproses.547 0. 23 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Barat N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon 2003 0.628 0.494 0.737 1.582 0.073 1. Semakin modern peralatan dan teknologi yang digunakan suatu industri maka akan semakin efisien air yang digunakan.446 0.

080 0.137 0.001 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.009 0.139 0.065 0.059 0.074 0.016 0.133 0.019 0.086 0.018 0.058 0. Ternak berkaki empat besar seperti sapi.094 0.053 0.071 0.021 0.122 0.041 0.001 0.097 0.011 0.077 0. kerbau dan kuda rata-rata memerlukan air sebesar 40 liter/ekor/hari. Dipakai standar sebesar 7 mm/hari sebagai kebutuhan air untuk perikanan.6 liter/ekor/hari.097 0.074 0.013 0.049 0.081 0.083 0.043 0. Tabel 3.001 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-28 2.001 0.039 0.001 0.022 0.067 0. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dihitung dengan mengkalikan jumlah ternak yang ada di kabupaten tersebut dengan kebutuhan air untuk tiap jenis ternak.168 0.046 0. Sedangkan unggas seperti ayam memerlukan air rata-rata 0.124 0.035 0.061 0.017 0.089 0.048 0. Kebutuhan air untuk perikanan adalah kebutuhan air untuk mengisi kolam pada saat awal tanam dan kebutuhan untuk penggantian air. Ternak berkaki empat kecil seperti kambing atau domba rata-rata memerlukan air sebanyak 5 liter/ekor/hari.076 0.009 0.130 0. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dan perikanan.056 0. Berikut ini LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .005 0.034 0.042 0.006 0.107 0.059 0.124 0.124 0.119 0.141 0.032 0.125 0.127 0.059 0.035 0.101 0.072 0.132 0.140 0.049 0.047 0. Berikut ini disajikan Tabel 3.010 0.110 0.001 0.088 0.24 yang berisi kebutuhan air untuk peternakan untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Barat berikut proyeksinya sampai tahun 2025.057 0.043 0.012 0.040 0.014 0.132 0.015 0.134 0. 24 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Barat N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kebutuhan Air Peternakan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.009 0.041 0.007 0.087 0.079 0.134 0.039 0.086 0.

Kebutuhan air untuk keperluan irigasi.000 0.000 0.956 0.128 4.355 0.787 0. Pola ini masih akan terus berlangsung sampai di masa yang akan datang selama masih ada pembukaan lahan pertanian beririgrasi yang baru.277 0.193 0.750 0.854 3.220 0. perkotaan dan industri serta kebutuhan untuk keperluan peternakan dan perikanan.382 0.179 8.000 0.000 0. Tabel 3.114 0.405 4.173 6.552 0.922 1. cara bercocok tanam dan dan praktek irigasi untuk tanaman padi (kebutuhan air untuk pengolahan lahan dan penggantian lapisan air). namun untuk beberapa daerah tertentu pola tanam yang diterapkan adalah padi-padi-padi apabila memang ketersediaan air mencukupi untuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .416 0.462 0.177 5.134 0. sistem golongan dan efisiensi irigasi.000 0.377 11.276 4.159 0.000 0.299 0.059 9.757 1.270 0.356 0.921 0.325 0.418 0.529 0.239 0.000 Kebutuhan Air Perikanan (m3/det) 2005 2010 2015 2020 1.182 5.251 11.000 0.434 12.925 0.082 11.161 5.134 0.604 0.879 0.733 8.317 2.849 1.632 0.000 0.134 0.082 0.000 0.084 0.053 7.084 5.161 0.644 5.000 3-29 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.668 1.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA disajikan Tabel 3.337 0.991 0.483 0. Kebutuhan air untuk irigasi sangat mendominasi kebutuhan air di Propinsi Jawa Barat apabila dibandingkan dengan kebutuhan untuk keperluan rumah tangga.412 0.212 0.547 0. Secara umum pola tanam yang ada di wilayah studi adalah padi-padipalawija.25 yang berisi kebutuhan air perikanan untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Barat berikut proyeksinya sampai tahun 2025.249 6.484 9.644 6.059 7. jenis tanaman. Kebutuhan air untuk irigasi tergantung pada beberapa faktor antara lain seperti luas tanam.127 0.286 0. 3.054 0.040 5.456 1.195 0.023 10.134 0. keadaan iklim (curah hujan dan evapotranspirasi).134 0.134 0.000 2025 0. 25 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon 2003 1. jenis tanah (untuk memperkirakan laju perkolasi dan kelembaban).979 0.912 0.133 0.906 5.

412 70.385 48. Data luas lahan areal irigasi didapatkan dari buku Propinsi Dalam Angka yang dikeluarkan oleh BPS.573 369 369 369 369 133 135 138 140 2025 16.042 27.680 1.869 28. Dari data luasan lahan areal irigasi tersebut lalu dilakukan proyeksi untuk dapat menentukan luasan lahan areal irigasi di masa yang akan datang sehingga perkiraan kebutuhan air di waktu yang akan datang dapat diperhitungkan pula.499 51.155 31.596 83.522 369 143 3-30 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA mendukung pola tersebut. 26 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon 2003 18. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .26.647 1.730 18.425 15.050 78.391 29.28 yang berisi luas lahan areal irigasi untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Jawa Barat berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk irigasi untuk saat ini dan untuk tahun 2025.874 30.682 16.928 75.088 25.520 48. Untuk mengurangi puncak kebutuhan air untuk irigasi khususnya pada awal musim tanam.639 1.685 25.191 19.839 31.817 19.603 26. Ada juga daerah lain yang hanya bisa menanam padi satu kali dalam satu tahun karena air yang tersedia hanya cukup untuk sekali tanam padi.060 14.420 30.841 17.503 16.971 52.960 28. maka dilakukan penjadwalan awal musim tanam secara bergiliran yang didasarkan pada besarnya luasan areal maupun lokasi areal irigasi.445 20.348 26.265 18.247 29.964 17.441 17.187 14.458 20.174 21.302 87.750 70.626 26.444 27.299 24.419 30.626 1.622 50.27 dan Tabel 3.567 21.001 26.797 20.956 31.216 29. masing-masing golongan dibagi berdasarkan ketersediaan air dan luas areal tanam untuk kebutuhan air masa awal pengolahan lahan.698 32.383 32.860 74.794 15.907 17. Pembagian penjadwalan waktu tanam tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa golongan.863 72.260 16.548 86.806 21.750 73.699 32.687 32. Tabel 3.073 26.556 1.266 31.760 49.986 71.891 30.874 28.760 369 132 Luas Lahan Areal Irigasi (Ha) 2005 2010 2015 2020 18.737 1. Berikut ini disampaikan Tabel 3. Tabel 3.417 29.777 81.074 27.

216 6.786 12.773 6.652 6.020 13.673 1.159 0.254 15.367 6.712 13.786 10.955 0.763 14.972 19.333 24.864 16.471 13.232 0.595 33.982 7.799 66.269 12.716 1.904 15.816 29.967 9.632 8.922 0.067 17.747 58.473 1.697 14.038 10.545 0.422 23.721 18.037 13.618 52.289 6.012 17.564 10.142 11.825 9.563 0.680 47.543 15.686 13.500 5.200 3.722 11.589 30.627 5.273 0.042 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.280 11.273 0.631 10.421 17.275 0.153 5.849 11.998 12.191 17.004 19.248 8.825 5.062 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 9.619 15.978 6.186 0.809 1.924 22.839 11.078 20.498 26.851 0.246 0.788 0.665 8.840 0.234 24.642 39.204 28.933 13.906 6.443 0.439 11.939 0.132 8.813 16.697 27.096 0.888 16.117 0.075 0.414 0.780 5. 27 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Jan 3.201 5.895 6.292 0.914 0.336 27.500 27.066 Feb 9.136 39. WS Ciwulan dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .987 29.639 0.006 Okt 6.196 39.141 0.795 1.052 Sep 2.562 12.067 0.116 5.944 3.611 10.137 8.061 0.451 5.066 0.139 38.945 25.430 28.760 15.914 13.958 5.853 0.618 54.598 7.971 7.074 0.656 18.084 19.785 15.036 Nov 4.075 0.310 45.426 16.936 10.229 0.684 0.229 0.249 71.741 14.034 22.897 38.774 51.962 17.110 Apr 3.925 20.222 9.358 0.532 8.073 15. 28 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Jan 3.778 47.737 11.360 15.127 Mar 7.911 10.837 36.262 0.298 0.879 12.033 Nov 4.628 0.521 9.767 1.141 0.212 11.328 54.343 13.609 11.180 14.577 11. Ketersediaan Air Wilayah administrasi Propinsi Jawa Barat yang dibahas dalam sub bab ini meliputi 12 kabupaten dan 5 kota termasuk ke dalam wilayah 5 WS yaitu WS Citarum.492 0.363 16.214 0.786 8.726 13.172 0.203 14.179 0.399 8.045 0.995 0.788 19.357 12.207 11. WS Cimanuk-Cisanggarung.815 8.084 17.056 Sep 1.274 43.893 30.939 25.248 3.303 7.981 18.075 7.298 0.453 22.184 6.151 23.580 23.960 12.234 35.487 22. WS Cisadea-Cikuningan.445 37.805 2.486 63.322 42.858 49.118 Mar 8.129 9.826 7.066 1.174 17.066 31.790 20.066 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 7.667 19. Tabel 3.734 8.967 17.915 9.806 1.494 0.726 0.215 0.375 0.790 0.843 13.305 6.001 14.058 Des 0.529 10.005 Okt 8.460 63.295 0.336 0.426 0.527 5.632 6.841 16.468 15.723 19.840 7.179 0.856 20.643 6.567 0.061 Feb 10.129 12.091 18.199 17.295 0.126 0.433 0.354 11.807 17.195 13.178 16.154 21.935 0.826 17.054 Des 0.039 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.283 6.144 9.591 12.786 16.255 34.179 6.171 10.554 0.009 31.050 10.339 14.284 49.192 26.206 13.942 24.097 37.021 4.922 0.883 0.552 13.653 8.783 0.262 0.169 8.339 7.572 20.114 17.028 26.746 3.418 10.375 15.616 2.656 0.312 44.933 10.957 19.157 0.526 11.561 15.825 9.492 10.849 16.246 0.960 9.252 0.679 10.825 0.486 17.221 0.551 61.415 25.694 5.641 40.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-31 Tabel 3.141 7.052 10.584 24.621 9.077 22.994 33.947 21.943 57.157 5.571 16.424 18.064 0.329 14.276 7.114 0.821 9.360 54.403 13.394 37.860 23.090 0.520 13.741 9.117 0.102 Apr 3.214 0.640 11.760 5. B.083 51.948 0.491 49.572 55.995 16.946 27.109 37.275 0.956 18.748 6.088 0.336 6.526 15.

Cimanuk dan Cisanggarung. Ciwulan dan Cimedang. Ciasem dan Cipunagara. Cibuni dan Cisadea. Besarnya debit andalan yang dipakai sebagai ketersediaan air dari berbagai titik pengambilan untuk masingmasing kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA WS Citanduy.29 pada halaman berikut ini. Cilamaya. Cimandiri. Sungai-sungai utama di WS Ciwulan yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Cilaki. Sedangkan sungai-sungai utama di WS Cimanuk-Cisanggarung yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Cipancuh dengan Waduk Cipancuh. Biasanya di musim penghujan air yang tersedia yang berupa debit aliran di sungai akan sangat banyak dan melimpah dan sebaliknya saat musim kemarau air yang tersedia sebagai debit aliran di sungai akan sedikit sekali. Sedangkan di WS Citanduy sungai utama yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan adalah Sungai Citanduy dengan anak-anak sungainya. Besarnya debit sungai sangat dipengaruhi oleh besarnya curah hujan. Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur. Cipatujah. Cikandang. Cikaso. 3-32 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sungai Cipanas. sehingga ketersediaan air akan sangat bervariasi tergantung musim. Ciwaringin. Sungai-sungai utama di WS yang diambil airnya untuk dimanfatkan guna mencukupi kebutuhan air adalah adalah Sungai Citarum dengan sistem waduknya yang terdiri dari Waduk Saguling. Sedangkan di WS Cisadea-Cikuningan sungai-sungai utama yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan adalah Sungai Cimandiri. Cileuteuh.

81 5.37 3.15 0.89 26.11 6.81 97.24 23.69 0.27 73.46 47.38 5.13 78.51 0.85 27.36 79.96 10.30 27.01 Des 94.29 7.61 108.60 8.71 39.58 36.60 1.82 62.13 6.17 3.19 6.70 12.28 Apr 87.90 113.38 21.61 31. Respon masing-masing daerah aliran sungai dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan.52 142.20 141. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .72 96.18 0.22 6.79 5.56 18.42 10. Kebutuhan dan proyeksi kebutuhan air dihitung berdasarkan data-data jumlah penduduk dan luas lahan yang didapat.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.24 10.79 112. C.07 54.05 34.98 76.96 3.15 2.72 124.86 51.61 10.86 70.91 114.15 Sep 20. Air yang tersedia tergantung dari input yang berupa hujan yang jatuh di daerah tangkapan hujan dan respon masing-masing daerah aliran sungai.58 119. 2.43 120.57 1.17 14.22 74.32 18.55 54.62 29.79 12.94 10.92 103.44 9.20 5.00 0.52 87.44 118.74 1.32 143.26 105.68 22.87 63.94 82.40 8.58 21.13 83.37 2.24 107.94 0.57 14.83 157.09 62.50 78.04 61.41 1.65 64.36 21.45 13.35 124.01 110.63 23.41 68.67 9.22 17.36 90.96 4.33 42.75 97.13 14. 29 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Jan 88.47 23.73 131.68 108.58 14.82 143.04 1. Sedangnya besarnya kebutuhan tergantung pada jumlah penduduk dan kondisi serta aktifitas masyarakat di masing-masing daerah.21 2.31 129.97 0.20 1.84 8.39 114.08 43. Hitungan keseimbangan air dilakukan untuk setiap wilayah kabupaten atau kota berikut dengan ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungaisungai yang melayaninya.89 63.52 118. Ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungai-sungai tersebut dianggap tetap.54 Feb 93.15 31.84 136. 3.27 1.53 52.78 46.16 Mar 89.72 3.20 84.48 7.59 26.19 3. Beberapa kriteria yang dipakai dalam analisis neraca air ini adalah sebagai berikut: 1.98 1.80 118.76 6.82 20. Neraca Air Dalam studi neraca air atau keseimbangan air perlu diketahui jumlah kebutuhan air dari wilayah yang ditinjau dan jumlah ketersediaan air dari titik-titik pengambilan di sungai-sungai yang melayaninya.45 5.11 2.27 146.62 22.31 68.21 93.83 149.98 66.38 48.83 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.02 148.38 5.79 2.36 Ketersediaan Air (m3/det) Mei Jun Jul Agu 69.53 41.01 6.08 6.86 52.19 164.14 15.50 55.67 9.26 75.97 60.23 42.07 32.79 32.83 0.13 149.06 Okt 37.78 92.40 32.43 51.48 106.54 32.67 17.55 39.20 5. kondisi geologi dan kondisi tanah.01 182.02 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-33 Nov 78.62 27.25 8.28 211.85 1.44 32.20 0.82 4.

94 18.19 1.92 0.55 5.67 -4.31 -6.73 31.30 -12.10 73.19 38.91 125.43 96.51 32.03 19.48 103.51 20.90 45.18 133.00 -4.32 pada halaman berikut ini.74 8.45 -7.62 -1.05 -1.57 41.34 49.24 70.25 4.88 9.34 38.63 9.98 -6.24 18.61 Apr 78.96 2.80 -1.76 24.11 48.81 78.63 0.31 dan jumlah bulan defisit disajikan dalam Tabel 3.71 11.51 -1.00 6.58 Nov 68.40 -13.27 3.35 -8.51 77.22 28.58 19.71 92.61 3.01 -11.37 -29.46 -33.59 114.43 -4.45 116.85 136.81 100.39 -25.09 28.54 2.55 117.00 1.10 -2.35 1.14 -48.96 125.49 -1.28 26.15 -3.00 10. Tabel 3.14 -24.86 -32.52 -6.49 78.43 -1.58 111.30.39 6.24 -0.54 Agu 6.16 13.45 62.51 102.03 5.75 52.40 104.67 27.13 -0.94 Neraca Air (m3/det) Jun Jul 14.87 138.33 21.31 -2.30 -2.71 43.36 -9.81 -2.90 -7.31 28.41 9.16 7.61 1.93 40.23 129.49 7. Kebutuhan air untuk irigasi dihitung dengan memasukkan faktor intensitas tanam dan pergiliran awal musim tanam untuk mereduksi puncak-puncak kebutuhan air irigasi yang sangat besar.05 5.92 90.62 38.86 40.03 2.22 113.21 Mar 73.49 -4.11 28.60 5.58 19.22 3-34 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.02 -9.62 3.65 51.61 Des 88.59 13.05 -2.11 -23.25 -0.02 13.08 0.35 64.58 111.86 13.33 -9.23 8.59 0.98 -8.85 -11.90 65.57 120.96 30.16 22.99 17. 31 Neraca Air di Propinsi Jawa Barat Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Jan 77.31 -26.84 Nov 66.47 Sep 13.43 -8.53 -0.11 52.23 -6.16 -3.09 70.79 -9.62 -10.16 1.92 137.13 85.17 90.51 Okt 24.00 102.45 19.86 7.65 Feb 75.37 39.88 Des 85.21 43.48 -0.26 70.91 114.71 -26.62 10. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .70 -10.51 113.78 -41.79 53.73 Sep 10.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 4.48 87.35 2.61 21.51 17.03 99.10 50.02 -10.93 27.55 132.17 22.64 4.29 16.34 52.26 -29.31 13.51 5.03 12.46 -5.28 14.08 -0.97 -1.22 -9.73 -5.05 44.62 1.40 44.48 -3.14 8.97 28.09 -6.83 -0.47 71.56 82.68 0.37 80.31 59.76 99.72 -2.85 114.54 -1.15 33.75 74.06 9.74 44. Tabel 3.22 7.48 Mar 75.58 -0.24 94.34 Apr 75.16 1.51 28.65 -0.38 5.92 43.95 82.21 1.08 -12.97 -15.51 -0.54 2.40 -2.21 19.36 68.84 62.10 46.38 121.27 Agu 9. neraca air untuk tahun 2025 disajikan dalam Tabel 3.61 -30.02 28.93 -4.16 19.86 6.48 39.75 92.53 117.64 -5.97 -0.10 -1.67 7.94 -0.86 2.23 -4.63 21.07 89.45 43.72 6.31 41.66 43.55 18.41 111.47 -4.64 -4.51 122. 30 Neraca Air di Propinsi Jawa Barat Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Jan 80.93 40.68 44.73 Mei 55.68 -0.75 81.42 34.46 Mei 53.89 -31.90 -34.64 39.74 76.87 5.82 89.22 -39.85 -1.04 75.01 104.32 -12.18 -7.62 -0.55 -39.96 36.35 -45.00 44.25 -9.00 -0.90 -4.92 1.86 73.72 0.91 2.24 -3.64 0.53 89.91 Feb 77.99 11.10 93.43 13.02 103.95 14.55 57.01 0.43 89.41 -1.31 0.37 -2.70 -8.23 33.02 79.42 11.43 83.57 0.13 134.28 134. Selengkapnya hasil analisa neraca air untuk Propinsi Jawa Barat tahun 2003 disajikan dalam Tabel 3.96 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.07 32.39 30.77 Okt 22.78 -35.03 1.38 -0.23 41.82 28.47 18.38 66.72 67.07 70.29 65.26 14.67 -1.86 0.98 -3.85 106.88 1.49 -16.39 1.13 103.80 -14.52 -11.42 -19.75 -14.45 -5.10 -14.25 -3.51 73.16 41.20 Neraca Air (m3/det) Jun Jul 16.79 62.10 9.23 44.62 -10.81 -39.73 9.61 11.

Pekalongan dan Tegal. Kudus. Grobogan. Sedangkan keenam kotanya terdiri dari: Kota Magelang. Sragen. Semarang Temanggung. A. Batang. Kebutuhan Air Semakin meningkatnya populasi yang disertai dengan perkembangan sektorsektor lainnya di Propinsi Jawa Tengah akan membawa dampak pada peningkatan kebutuhan sumber daya air. Pekalongan. Surakarta. Kebumen. Jepara. Salatiga.4 Jawa Tengah Propinsi Jawa Tengah terdiri dari 29 kabupaten dan 6 kota. 29 Kabupaten tersebut terdiri dari: Kabupaten Cilacap. Rembang. Kendal.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-35 Tabel 3. Sukoharjo. Karanganyar. Pati.1. Banyumas. Magelang. Boyolali. Semarang. Purbalingga. jumlah air yang ada tidak mungkin bertambah dan ketersediaanya cenderung tidak merata dari waktu ke waktu dan juga cenderung terus berkurang. Wonosobo. Wonogiri. 3. Blora. Klaten. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 32 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten/Kota Sukabumi Cianjur Bandung & Kota Cimahi Garut Tasik & Kota Tasik Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon 2003 0 0 5 3 0 0 6 6 7 4 7 0 1 6 5 2005 0 0 5 3 0 0 6 6 7 4 7 0 1 6 5 2010 0 0 5 3 0 0 6 7 7 4 7 0 1 7 5 2015 0 0 5 3 0 0 6 7 7 4 7 0 1 10 5 2020 0 0 5 3 0 0 6 7 6 4 7 0 2 11 5 2025 0 0 5 3 0 0 7 7 6 4 7 0 2 12 6 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. Demak. Purworejo. Pemalang dan Tegal. Banjarnegara. Di sisi lain.

perikanan dan irigasi. Secara umum kebutuhan air untuk irigasi jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kebutuhan air untuk sektor lainnya. Kebutuhan air untuk rumah tangga dihitung sebagai kebutuhan air 24 jam untuk 1 (satu) orang yang meliputi air untuk minum. diantaranya konservasi daerah tangkapan hujan dan efisiensi dalam penggunaan air. seperti fasilitas komersial. perkotaan. mandi cuci dan sanitasi. Konflik sering terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antar departemen atau instansi pengelola sumber daya air sehingga perlu adanya suatu pengelolaan sumber daya air yang terpadu.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Pemanfaatan air di Propinsi Jawa Tengah meliputi pemenuhan untuk kebutuhan rumah tangga. yang ketiga adalah untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dan sisanya dimanfaatkan untuk kegiatan lain termasuk untuk pengelolaan kualitas air sungai dan pembangkit listrik tenaga air. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. 1. fasilitas kesehatan dan fasilitas pendukung kota lainnya misalnya pembersihan jalan. Kondisi ini akan semakin sulit apabila tidak didukung dengan adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi sumber daya air. masak. industri. perkotaan dan industri maka kebutuhan untuk irigasi seringkali menjadi tidak tercukupi terutama untuk musim tanam kedua atau ketiga dimana hujan yang turun sudah tidak terlalu banyak. perkotaan dan industri. pemadam kebakaran. sanitasi kota dan penyiraman 3-36 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan (municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. fasilitas ibadah. peternakan. fasilitas pariwisata. prioritas utama adalah untuk pemenuhan kebutuhan air minum/rumah tangga. yang kedua adalah untuk pemenuhan kebutuhan jasa perkotaan dan industri. Kebutuhan air untuk rumah tangga dapat dihitung dengan mengalikan standar kebutuhan air per orang per hari dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup masyarakat dan iklim di daerah tersebut. Seiring dengan perkembangan kebutuhan air untuk rumah tangga. Daam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. perkotaan dan industri di Propinsi Jawa Tengah cenderung meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk yang juga terus meningkat di propinsi ini.

894 3-37 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.889 1.978 2.699 1.251 228.785 718.367.307 1.261 1.031 901.029 1.410.446.937 1.320.068 2.113 654.171.018 1.245 942.597 281.420 922.630.599.908 686. Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat ditentukan oleh banyaknya fasilitas perkotaan.011 1.459 990.613 799.748 1.666 1.595 556.421 1.586 653. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat dinamika kota dan jenjang suatu kota.739 553.874 848.546 1.274.934 1.359 576.306 679.118.414 935.447.128 1.908 1.595 1.253 999.449 1.168 163.009.317 1.912 387.584 1.711 241.324 699.413 1.069 1.059 2005 1.998 115. Tabel 3.432.728.339 253.569 787.049 2020 1.114.797.122 381.831 953.590.832 1.079 1.484.659 811.941 1.043 824.174.513.525.858 628.135 1.999 1.169.534 1.039.769 1. Kebutuhan air untuk perkotaan diambil sebagai proporsi dari kebutuhan air untuk rumah tangga dengan persentasi antara 25-40% tergantung dari kemajuan daerah itu sendiri.316 1.766 1.824 886.309 1.176.368.630 1.700 875.307 819.097 610.34.143 979.266.994 265.178 453.524 1.045.941 1.782.593 416.323.447 899.263.736 351.012 2.234 323.001 1.057 1.808 116.316 1.762.539 207.140 1.392 693.774 116.349 985.353 786.857 116.052.635 1.006.225 1.523 430.842 1.335.208 1.568 1.062 1.596 989.382.030 908.753.493 974.717.595.849 1.440.779 116.447 919.179.937 821.095 632.343.382 2.752.068.899 1.898 853.681 903.269 481.085 956.392.374 852.759.991 859.951 1.717.111.558.932.397.455.975 752.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA tanaman perkotaan.045 408.408 1.542.641 604.369 923.311 116.682 1.102 705.368 274.949 662.35.269 852.530 1.655.015 2.863 842.975 1.458.983 854.078.524 1.695 1.297.531 806.138. Berikut ini disajikan jumlah penduduk untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Jawa Tengah berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk rumah tangga dan perkotaan sampai tahun 2025 pada Tabel 3.747 1.772.829 238.542.272 750.694.147.527 1.807 1.122 795.288 1.225 1.236.168.372.669 298.811.849.296 1.038 570.561 928.303 1.240 773.230.188.159.916 2.644.437.866.168.342 1.472.778 842.771 969.046.351 1.447 642. Tabel 3.212 261.653 910.887 742.33.397 1. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .271 2025 1.202.895 910.732.705 1.166 718.993 1.292 187.445 478.331 896.588 566.176 952.919.497 271.402.659 1.167.242 710.446.690 830.208 2.772 251.643 1.967 1.098.039.325 601.884 865.508 1.008 169.664.714 906.436 787.273.742.868.471 674.863 1.939 1.607.392 846.058.498 488.385 645.948 1. 33 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Tengah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 2003 1.246 762.942 796.826 1.980 1.200 662.871 697.953 1.635 1.604 1.073.686 2.557 855.265 711.023 1.642 732.080 1.490 1.110 532.302.289.722 1.180.196 1.127.821.526.745 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 2015 1. dan Tabel 3.

569 2.963 0.638 0.378 0.352 1.075 1.521 2.232 2.768 2.782 1.988 2.130 1.613 1.601 3.335 1.490 0.688 2.658 2.067 1.739 2.106 1.955 1.530 0.052 1.461 1.431 0.747 0.137 0.235 1.626 0.331 3.805 0.664 0.300 0.744 0.437 1.315 1.632 1.402 1.350 0.385 1.589 1.049 1.163 3.916 1.870 0.763 0.243 0.888 2.286 1.691 1.000 0.260 2.119 1.157 0.795 0.366 5.756 0.634 0.864 2.504 1.363 0.913 0.461 1.557 1.168 0.859 0.068 2.509 0.920 2.410 2.833 2.507 2.365 1.660 1.910 0.168 0.271 0.098 0.512 1.762 1.236 1.767 0.203 2.866 0.468 0.026 4.781 1.922 1.623 1.011 0.432 1.168 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .883 0.931 1.946 0.180 3.808 0.039 1.000 3.189 2.565 0.763 1.696 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-38 Tabel 3.255 2.933 1.168 0.719 1.433 1.542 0.695 1.978 0. 34 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Tengah N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 2003 1.739 2.501 0.662 0.747 0.536 2.621 3.169 0.709 0.022 1.029 0.344 Kebutuhan Air Domestik (m3/det) 2005 2010 2015 2020 1.578 4.552 0.185 1.916 1.672 0.871 0.140 2.151 0.505 1.083 1.300 0.912 1.550 0.211 1.408 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.845 2.002 1.468 1.832 0.561 0.364 0.580 1.015 0.108 1.780 1.033 0.771 2.063 2.314 1.878 2.952 1.829 2.869 1.787 0.509 1.591 1.825 1.592 0.992 1.605 0.816 0.844 1.647 1.800 0.432 1.677 1.546 1.221 3.418 0.397 0.989 0.168 0.677 0.601 1.446 1.910 1.504 1.903 0.991 1.677 1.644 0.560 0.298 1.938 0.077 2.316 0.523 1.141 1.728 1.319 2.945 0.702 0.482 2.308 1.175 1.001 1.618 1.478 2.085 1.728 1.385 0.531 0.246 0.392 2025 2.689 1.236 3.219 1.

453 0.510 0.770 0.305 0.277 0.550 0.549 0.242 0.230 0.600 0.352 0.522 0.509 0.188 0.315 0.642 0.438 0.223 0.219 0.190 0.322 0.386 0.619 0.507 0.900 1.199 0.666 1.202 0.261 0.336 0. kebutuhan air pekerja industri dan pendukung kegiatan industri.284 0.274 0.127 0.366 0.050 0.182 0.224 0.678 0.286 0.876 0.187 0.342 0.274 0.506 0.218 0.240 0.122 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.529 0.485 0.236 0.110 1.370 0.309 0.780 0.166 0.498 0.690 0.477 0.534 0.103 Kebutuhan Air Non Domestik 2005 2010 2015 2020 0.213 0.051 0.303 0.756 0.247 0.224 0.409 0.434 0.199 0.596 0.250 0.238 0.563 0.208 1.503 0.771 0.167 0.822 0.349 1.320 0.468 0.752 0.191 0.392 0.954 1.168 0.129 0.118 (m3/det) 2025 0.670 0.447 0.625 0.426 0.416 0.090 0.323 0.451 0.530 0.607 0.280 0.279 0.696 0.503 0.074 0.780 0.941 0.145 0.261 0.235 0.258 0. termasuk sebagai bahan baku.325 0.073 1.694 0.421 0.178 0.573 0.371 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.494 0.723 0.231 0.750 0.395 0.786 0.198 0.050 0.430 0.575 0.553 0. Jadi besar kebutuhan air industri ditentukan oleh kebutuhan air untuk LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .051 0.875 0.430 0.265 0.429 0.765 0.406 0.761 0.632 0.389 0.484 0.451 0.113 0.283 0.297 0.115 0.790 0.463 0.347 0.910 0. 35 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Tengah BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-39 N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 2003 0.401 0.345 0.431 0.566 0.451 0.440 0.359 0.229 0.507 0.229 0.553 0.363 0.474 0.516 0.050 0.286 0.193 0.234 0.289 0.300 0.245 0.312 0.203 0. Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri.464 0.661 0.301 0.281 0.443 0.559 0.141 0.356 0.394 0.119 0.332 0.297 0.677 0.373 0.050 0.497 0.241 0.105 0.639 0.477 0.153 0.109 0.260 0.621 0.081 0.159 0.071 0.410 0.593 0.273 0.454 0.261 0.316 0.209 0.529 0.271 0.657 0.099 0.457 0.038 0.

023 0.138 0.185 0.155 0.717 0.118 0.006 0.047 0.025 0.091 0.188 0.145 0.207 0.177 0.071 0.242 0.156 0.034 0.150 0.185 0.149 0.129 0.085 0.200 0.234 0.163 0.155 0.161 0.015 0.565 0.042 0. Sedangkan kebutuhan air untuk pendukung kegiatan industri seperti hidran dapat disesuaikan untuk jenis industrinya.020 0.143 0.158 0.111 0.316 0.185 0.156 0.170 0.041 0. bahan baku industri dan kebutuhan air untuk pekerjaan industri.209 0.019 0.231 0.292 0.507 0.134 0.717 0.335 0.019 0.079 0.394 0.037 0.057 0.080 0.132 0.045 0.040 0.127 0.251 0.36 yang berisi kebutuhan air untuk industri untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Tengah berikut proyeksinya sampai tahun 2025.360 0.574 0.064 0.123 0.061 0. Misalnya industri tekstil dan logam berat tentu akan memerlukan air yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan industri perakitan.060 0.009 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA diproses.118 0.292 0.086 0.647 0.178 0.125 0.079 0.139 0.045 0.091 0.249 0.282 0.028 0.895 1. Tabel 3.365 0.101 Kebutuhan Air Industri (m3/det) 2005 2010 2015 2020 0.107 0.039 0.083 0.456 0.029 0.283 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .313 0.234 0.033 0.059 0.214 0.026 0.389 0.259 0.365 0.254 0.081 0.077 0.022 0.137 0.063 0.104 0.415 0.056 0.115 0.030 0.007 0.086 0.055 1.168 0.359 0.124 0.176 0. Kebutuhan air untuk keperluan industri sangat dipengaruhi oleh jenis dan skala (ukuran) industri yang ada.011 0.140 0.077 0.204 0.165 0.018 0.886 1.353 0. Berikut ini disajikan Tabel 3.087 0.102 0.266 0.011 0.085 0.029 0.014 0.254 0.096 0.121 0. Semakin modern peralatan dan teknologi yang digunakan oleh industri tersebut maka akan semakin efisien air yang digunakan.137 0.550 0.203 0.201 0.013 0.254 0.301 0.180 0.033 0.168 0.569 0.226 0.525 0.147 0.105 0.518 0.194 0.075 0.224 2025 2. 36 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Tengah 3-40 N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal 2003 0.039 0.054 0.332 0.440 0.043 0.450 0.243 0.039 0.395 0.037 0.163 0.207 0.100 0.113 0.130 0.011 0.

072 0.071 0. Sedangkan unggas seperti ayam memerlukan air rata-rata 0. Ternak berkaki empat kecil seperti kambing atau domba rata-rata memerlukan air sebanyak 5 liter/ekor/hari.068 0.028 0.031 0.019 0.024 0.047 0.033 0.037 0.017 0.069 0. Kebutuhan air untuk perikanan adalah kebutuhan air untuk mengisi kolam pada saat awal tanam dan kebutuhan untuk penggantian air. Berikut ini disajikan Tabel 3. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dan perikanan.072 0.029 0.070 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .618 0.068 0.090 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 2003 0.6 liter/ekor/hari.37 dan Tabel 3.117 3-41 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA N o 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Kebutuhan Air Industri (m3/det) 2005 2010 2015 2020 0.036 0.039 0.038 2025 0.070 0.042 0.051 0.030 0.034 0.030 0.044 0.523 0.391 0.110 0.035 0.054 0.031 0. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dihitung dengan mengkalikan jumlah ternak yang ada di kabupaten tersebut dengan kebutuhan air untuk tiap jenis ternak. Dipakai standar sebesar 7 mm/hari sebagai kebutuhan air untuk perikanan.014 0.394 0. Ternak berkaki empat besar seperti sapi.020 0.015 0.971 1. kerbau dan kuda rata-rata memerlukan air sebesar 40 liter/ekor/hari.329 0.028 2.38 yang berisi kebutuhan air untuk peternakan dan perikanan untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Tengah berikut proyeksinya sampai tahun 2025. 2.

192 0.004 0.010 0.079 0.129 0.163 0.081 0.084 0.131 0.067 0.207 0.031 0.056 0.103 0.119 0.085 0.100 0.020 0.008 0.053 0.006 0.085 0.112 0.146 0.020 0.054 0.026 0.071 0.003 0.077 0.068 0.011 0.145 0.084 0.091 0.196 0.178 0.102 0.015 0.168 0.100 0.062 0.096 0.084 0.004 0.002 0.075 0.048 0.077 0.042 0.068 0.119 0.008 0.111 0.054 0.079 0.155 0.023 0.131 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .112 0.086 0.020 0.036 0.070 0.045 0.037 0.045 0.040 0.024 0.056 0.016 0.123 0.094 0.063 0.043 0.301 0.086 0.057 0.082 0.064 0.053 0.119 0.028 0.163 0.027 0.086 0.013 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-42 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.022 0.003 0.090 0.096 0.126 0.024 0.074 0.058 0.096 0.109 0.025 0.066 0.184 0.085 0.024 0.075 0.029 0.092 0.061 0.058 0.019 0.003 0.008 0.037 0.025 0.074 0.169 0.122 0.114 0.063 0.054 0.168 0.129 0.023 0.033 0.065 0.074 0.002 0.006 0.085 0.084 0.016 0.051 0.097 0.167 0.132 0.075 0.058 0.069 0.060 0.051 0.071 0.045 0.026 0.021 0.043 0.084 0.066 0.016 0.036 0.031 0.071 0.061 0.028 0.114 0.011 0.028 0.116 0.061 0.145 0.004 0.061 0.072 0.071 0.044 0.161 0.047 0.131 0.067 0.090 0.063 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.010 0.084 0.073 0.080 0. 37 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Tengah N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Kebutuhan Air Peternakan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.026 0.126 0.115 0.020 0.006 0.040 0.231 0.240 0.092 0.114 0.141 0.065 0.060 0.010 0.071 0.083 0.044 0.045 0.099 0.057 0.078 0.039 0.038 0.161 0.118 0.076 0.047 0.140 0.013 0.020 0.136 0.145 0.151 0.157 0.099 0.013 0.119 0.035 0.

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA
Tabel 3. 38 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Tengah N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Kebutuhan Air Perikanan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 0,520 0,541 0,598 0,661 0,731 0,373 0,383 0,409 0,437 0,467 0,156 0,165 0,189 0,217 0,248 0,473 0,567 0,889 1,395 2,188 0,034 0,031 0,025 0,020 0,016 0,125 0,127 0,132 0,136 0,141 0,176 0,170 0,157 0,145 0,133 0,147 0,145 0,139 0,135 0,130 0,031 0,029 0,023 0,019 0,015 0,048 0,053 0,068 0,088 0,114 0,017 0,019 0,026 0,035 0,047 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,007 0,006 0,004 0,002 0,001 0,023 0,022 0,018 0,015 0,013 0,016 0,013 0,007 0,004 0,003 0,004 0,004 0,003 0,002 0,002 1,578 1,698 2,040 2,450 2,943 10,97 12,18 13,52 9,477 9,882 2 3 7 0,006 0,006 0,005 0,004 0,003 0,557 0,509 0,406 0,323 0,258 3,617 3,817 4,365 4,991 5,708 0,017 0,018 0,021 0,025 0,029 0,061 0,064 0,070 0,076 0,083 2,288 2,307 2,355 2,403 2,453 0,094 0,097 0,104 0,111 0,119 0,280 0,258 0,210 0,171 0,140 1,243 1,220 1,164 1,110 1,059 0,196 0,189 0,172 0,157 0,143 5,144 5,016 4,711 4,425 4,155 0,003 0,000 0,001 0,476 0,104 0,070 0,004 0,000 0,001 0,407 0,111 0,077 0,004 0,000 0,001 0,275 0,129 0,096 0,004 0,000 0,001 0,186 0,151 0,120 0,004 0,000 0,001 0,125 0,176 0,149 2025 0,808 0,499 0,284 3,434 0,013 0,146 0,123 0,125 0,012 0,148 0,064 0,007 0,001 0,011 0,002 0,002 3,534 15,01 9 0,002 0,205 6,527 0,034 0,091 2,504 0,128 0,114 1,011 0,131 3,902 0,004 0,000 0,001 0,085 0,206 0,186

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

3-43

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3. Kebutuhan air untuk keperluan irigasi.

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

3-44

Kebutuhan air irigasi sangat mendominasi kebutuhan air di Propinsi Jawa Tengah apabila dibandingkan dengan kebutuhan untuk rumah tangga, perkotaan dan industri serta kebutuhan untuk peternakan dan perikanan. Kebutuhan air untuk irigasi tergantung pada beberapa faktor antara lain seperti luas tanam, jenis tanaman, keadaan iklim (curah hujan dan evapotranspirasi), jenis tanah (untuk memperkirakan laju perkolasi dan kelembaban), cara bercocok tanam dan dan praktek irigasi untuk tanaman padi (kebutuhan air untuk pengolahan lahan dan penggantian lapisan air), sistem golongan dan efisiensi irigasi. Untuk mengurangi puncak kebutuhan air untuk irigasi khususnya pada awal musim tanam, maka dilakukan penjadwalan awal tanam secara bergiliran yang didasarkan pada besarnya luasan areal maupun lokasi areal. Pembagian penjadwalan waktu tanam tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa golongan, masing-masing golongan dibagi berdasarkan ketersediaan air dan luas areal tanam untuk kebutuhan air masa awal pengolahan lahan. Data luas lahan areal irigasi didapatkan dari buku Propinsi Dalam Angka yang dikeluarkan oleh BPS. Dari data luasan lahan areal irigasi tersebut lalu dilakukan proyeksi untuk dapat menentukan luasan lahan areal irigasi di masa yang akan datang sehingga perkiraan kebutuhan air di waktu yang akan datang dapat diperhitungkan pula. Berikut ini disampaikan Tabel 3.39, Tabel 3.40 dan Tabel 3.41 yang berisi luas lahan areal irigasi untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Jawa Tengah berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk irigasi untuk saat ini dan untuk tahun 2025.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA
Tabel 3. 39 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Tengah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 2003 44.523 26.226 17.360 11.399 31.283 26.910 14.658 28.988 12.296 32.383 18.925 22.869 21.404 24.996 27.288 14.391 11.408 36.042 14.649 21.178 28.352 18.510 19.119 25.736 20.832 20.746 32.620 33.923 49.623 221 80 628 1.846 1.472 999 Luas Lahan Areal Irigasi (Ha) 2005 2010 2015 2020 44.533 44.559 44.584 44.610 26.232 26.247 26.262 26.277 17.364 17.374 17.384 17.394 11.402 11.408 11.415 11.421 31.290 31.308 31.326 31.344 26.916 26.932 26.947 26.963 14.661 14.670 14.678 14.687 28.995 29.011 29.028 29.045 12.299 12.306 12.313 12.320 32.390 32.409 32.428 32.446 18.929 18.940 18.951 18.962 22.874 22.887 22.901 22.914 21.409 21.421 21.434 21.446 25.002 25.016 25.030 25.045 27.294 27.310 27.326 27.341 14.394 14.403 14.411 14.419 11.411 11.417 11.424 11.430 36.050 36.071 36.092 36.112 14.652 14.661 14.669 14.678 21.183 21.195 21.207 21.219 28.359 28.375 28.391 28.407 18.514 18.525 18.536 18.546 19.123 19.134 19.145 19.156 25.742 25.757 25.771 25.786 20.837 20.849 20.861 20.873 20.751 20.763 20.775 20.787 32.627 32.646 32.665 32.684 33.931 33.950 33.970 33.989 49.634 49.663 49.691 49.720 221 221 221 221 80 80 80 80 628 629 629 629 1.846 1.847 1.849 1.850 1.472 1.473 1.474 1.475 999 1.000 1.000 1.001 2025 44.636 26.292 17.404 11.428 31.362 26.978 14.695 29.061 12.327 32.465 18.973 22.927 21.458 25.059 27.357 14.427 11.437 36.133 14.686 21.232 28.424 18.557 19.167 25.801 20.885 20.798 32.702 34.009 49.748 222 80 630 1.851 1.476 1.002

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

3-45

Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

853 11.333 14.582 7.556 11.171 0.195 6.576 6.415 12.676 1.801 0.324 1.263 18.174 20.285 8.475 24.472 8.026 11.090 7.461 4.432 17.362 11.039 0.393 10.122 13.672 10.463 15.382 5.110 12.424 21.627 3.111 1.607 6.000 0.316 11.513 0.469 24.008 18.879 15.481 22.739 Apr 18.923 24.872 5.373 20.596 11.271 26.776 1.918 0.301 3.216 5.405 0.280 29.128 0.430 0.739 6.139 8.419 11.205 1.550 1.136 9.594 10.071 10.349 11.819 23.668 4.520 23.107 2.468 1.574 1.059 5.833 19.353 0.378 7.097 5.418 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 26.289 22.126 8.330 21.423 17.314 8.541 16.832 0.503 Sep 9. 40 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Jan 10.676 3.584 3.763 10.000 0.450 0.935 19.743 13.946 21.158 11.451 24.274 0.573 14.704 17.773 1.432 8.460 0.082 15.759 17.769 1.442 17.897 6.557 14.826 12.865 9.428 11.033 22.338 8.181 27.655 9.500 18.134 0.354 13.159 18.206 1.347 1.801 8.682 2.545 0.544 18.417 34.785 10.996 18.116 5.321 20.629 28.683 8.287 3.964 7.493 0.162 0.157 5.628 14.459 3.716 1.020 9.160 6.987 24.099 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .123 17.295 8.855 5.189 6.826 3.567 Feb 28.657 3.310 24.012 7.681 0.475 8.311 11.202 11.076 9.977 9.607 12.043 10.065 3.371 28.849 9.776 10.860 6.317 3.920 14.602 0.398 6.584 7.421 12.087 15.598 11.824 19.650 25.338 5.634 18.424 22.440 11.148 16.301 9.210 26.718 35.398 13.173 0.963 15.425 6.139 5.336 22.341 13.635 27.033 11.445 2.624 6.320 13.093 5.452 0.369 7.065 0.757 9.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.796 7.780 11.064 0.678 10.906 4.112 0.859 5.525 9.357 5.357 10.567 3.314 11.063 0.214 13.012 23.418 8.102 5.720 9.834 5.963 17.815 10.452 9.750 10.855 4.400 7.289 22.325 11.602 Nov 28.883 30.683 4.250 15.030 0.750 5.000 0.638 3.899 22.807 11.651 14.343 17.739 12.344 18.452 17.602 15.644 15.052 5.961 20.050 0.534 14.123 12.787 21.347 9.328 3.136 9.625 18.127 16.178 9.127 5.754 20.700 5.798 Sep 10.287 14.014 16.682 5.503 25.957 9.068 0.568 1.879 10.714 5.068 0.443 17.217 13.642 0.106 0.312 13.038 8.829 9.933 8.488 8.743 18.758 2.744 2.618 10.748 16.199 16.652 4.407 1.982 7.232 8.598 22.409 30.929 8.572 12.125 18.635 0.559 13.117 Feb 28.596 7.619 11.407 7.790 0.078 9.241 5.327 18.955 9.139 4.443 11.769 1.927 0.444 13.318 6.325 16.448 28.096 1.616 7.776 2.792 16.935 9.457 2.565 18.899 8.553 9.715 21.421 27.833 4.111 20.288 13.311 6.192 7.374 0.692 5.114 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 26.612 7.755 24.709 13.831 6.448 2.096 8.336 20.419 10.000 7.052 17.835 9.317 7.510 24.928 4.418 13.847 11.037 24.235 16.553 34.030 0.643 8.975 15.174 0.903 8.026 0.777 22.084 0.904 16.961 11.209 6.645 Des 10.957 9.881 20.000 31.176 15.826 7.999 23.291 14.117 23.276 11.840 7.785 0.997 24.059 12.145 0.830 12.291 21.563 7.665 21.018 12.958 14.849 7.880 16.601 7.816 30.663 5.506 27.441 13.949 12.350 11.000 0.842 8. Tabel 3.864 16.535 8. 41 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jan 10.032 20.148 13.006 0.811 6.380 30.759 10.000 0.698 7.854 6.608 25.995 7.079 22.696 35.920 17.433 21.962 6.982 23.787 10.671 13.843 8.339 0.135 26.000 6.365 22.080 1.480 0.356 7.381 7.902 6.120 18.658 7.931 13.120 15.619 16.649 10.244 21.371 9.951 10.000 0.283 9.519 34.560 Apr 18.362 13.337 22.915 11.000 7.760 16.466 23.893 11.231 9.751 2.000 6.404 21.222 11.178 15.163 Des 10.926 15.033 15.016 9.051 0.226 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.359 16.158 0.155 Okt 27.923 7.669 1.193 9.372 14.477 0.453 10.000 0.054 11.355 5.117 2.600 3.507 10.549 11.475 11.065 0.962 15.224 Okt 27.535 1.692 11.901 29.193 0.056 8.301 15.643 Mar 24.694 11.322 18.514 10.193 4.497 7.003 2.546 14.509 0.337 6.872 19.930 12.091 9.995 4.634 16.670 22.527 4.792 9.874 9.479 4.861 14.540 4.668 5.341 10.694 2.081 6.177 20.133 7.714 14.412 6.718 8.053 0.618 6.691 16.000 0.001 16.000 0.582 18.003 10.845 24.616 12.282 22.107 4.146 18.142 6.918 29.857 9.306 14.785 8.169 0.211 9.175 4.886 12.324 5.243 1.249 1.495 13.727 21.324 10.572 1.943 10.227 6.487 27.803 17.773 14.074 11.094 18.058 0.897 16.657 14.883 23.367 11.323 17.767 5.071 15.946 10.433 3.570 11.164 0.293 7.565 24.168 0.078 20.267 17.207 0.860 13.835 6.145 15.217 5.473 1.875 20.436 1.215 6.152 11.561 12.377 1.675 9.785 16.636 4.495 17.501 5.958 6.613 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-46 Nov 28.454 10.397 13.524 7.419 11.463 18.108 15.139 9.976 6.677 2.482 25.778 8.378 18.610 7.727 26.070 17.899 21.734 20.929 6.240 17.610 0.250 8.103 24.004 1.236 25.446 0.040 23.905 12.465 25.351 22.540 14.086 0.018 4.349 29.434 2.571 14.526 0.138 18.303 15.785 Mar 25.356 13.231 0.992 6.856 17.782 6.451 17.565 27.202 14.755 6.361 24.018 17.349 20.730 0.000 0.633 9.086 22.949 7.567 12.986 16.850 29.233 7.059 0.319 0.907 6.978 2.802 13.

737 9.315 11.437 1.823 0.139 15. Telomoyo dengan Waduk Sempor.497 0.856 17.024 20.148 26. sebagian WS Progo-Opak-Oyo.454 0.058 0.514 0.513 13.766 12.848 3.051 0.378 0.068 0.332 13. Sengkarang dan Tinap.539 9. sebagian WS Citanduy.479 0. Kali Tipar.241 11.721 1. Bodri.218 6. Kreo.274 0.770 26.940 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Nov 16.733 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA No 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Jan 12.161 17.559 10.378 1.467 17.379 13.548 Sep 6.881 17.000 0.325 1.474 1.241 0.704 28.588 18.277 3-47 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. Sungai-sungai utama di WS Pemali Comal yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Kabuyutan.097 11.898 29.612 0.586 14.453 0.061 11.907 13.145 0.472 1. Pemali. Tuntang dengan Rawa Pening.107 0. B.821 21.419 6.333 23.030 0.230 6.000 0.299 9.207 0.297 25.575 9.857 11.173 23.701 14.593 11.026 0. Sungai-sungai utama di WS Jratun-Seluna yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Kuto.356 18.065 0.709 11.214 15.958 13.655 11.301 Okt 24.559 17.039 0.074 5.657 8.461 11.410 1.904 10.318 22.457 12.406 14.079 17.064 0. Ketersediaan Air Wilayah administrasi Propinsi Jawa Tengah yang meliputi 29 kabupaten dan 6 kota termasuk dalam wilayah 7 buah WS yaitu sebagian WS CimanukCisanggarung.765 0.050 0.545 25. Serang dengan Waduk Kedung Ombo.083 1.217 0.286 16.662 0.171 0.790 10.465 27.267 27.787 0.611 0.481 0.869 Des 6.629 3.332 6.000 31.927 22.312 15.914 20.053 0. Lukulo.547 Apr 9.588 13.377 17. Ijo dan Bogowonto.470 10.137 1.429 7.608 12.270 5.684 9.087 0.384 5. Lusi dan Juwana.471 0.135 5.165 8.217 20.805 18. Jragung.877 23.477 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 10.246 5.579 0.059 0.499 17. WS Jratun-Seluna.835 0.447 0. WS Pemali-Comal.500 23.065 0.378 7.000 Feb 10.790 21.679 10.000 0. Rambut. dan WS Bengawan Solo bagian hulu.431 0.702 2.539 1.803 0. WS Serayu.835 13.832 22.170 11.980 19.185 0.920 0.159 0.997 0.343 0.169 0.912 15.149 24.461 0.064 0.441 12.007 1.574 1. Comal.068 0.000 0.466 9.466 17.491 17. Garang.512 15.128 0.103 3. Sedangkan di WS Bengawan Solo sungai utama yang diambil airnya LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan di WS Serayu sungai-sungai utama yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan adalah Sungai Serayu dengan Waduk Mrica serta anak-anak sungainya.030 0.888 8.308 8. Wawar.551 1.350 1.134 0.905 24.064 16.330 14.808 24.689 0.174 0.235 0.107 22. Sungai utama yang diambil airnya untuk dimanfatkan guna mencukupi kebutuhan air di WS Citanduy adalah adalah Sungai Citanduy dan anak-anak sungainya sedangkan di WS Cimanuk-Cisanggarung yang diambil airnya adalah Sungai Cisanggarung.009 0.055 25.268 17.486 34.535 5.174 0.099 1.170 0.117 15.232 Mar 13. Blukar.

00 15.18 80.06 8. Besarnya debit sungai sangat dipengaruhi oleh besarnya curah hujan.83 11.63 104.37 110.21 0.68 1.57 69.05 20.76 38.04 14.51 0.95 32.56 31.83 7.81 11.70 3.40 2.02 66.67 0.68 2. 42 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Tengah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Jan 192.48 30.10 104.57 61.47 2.42 28.89 44.62 8.25 27.55 2.71 32.96 Des 196.16 5.70 78.21 13.69 1.56 35.54 21.84 11.37 52.62 71.42 4.67 0.32 3.08 1.15 52.69 54.62 66.64 4.08 0.82 70.21 5.58 0.20 28.57 13.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA guna mencukupi kebutuhan adalah Sungai Bengawan Solo dengan Waduk Gajahmungkur serta anak-anak sungainya.12 39.02 34. Besarnya debit andalan yang dipakai sebagai ketersediaan air dari berbagai titik pengambilan untuk masing-masing kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3.68 11.24 50.59 88.31 10.55 93.06 35.25 1.12 6.23 4.42 43.75 13.96 16.01 16.71 99.45 76.78 33.98 144. Tabel 3.28 75.09 50.41 6.44 55.57 76.00 25.41 10.87 58.89 54.56 30.48 23.52 1.10 28.23 24.40 12.53 1.40 10. sehingga ketersediaan air akan sangat bervariasi tergantung musim.63 Mar 197.46 6.17 29.78 1. Biasanya di musim penghujan air yang tersedia berupa debit aliran di sungai akan sangat banyak dan melimpah dan sebaliknya saat musim kemarau air yang tersedia sebagai debit aliran di sungai akan sedikit sekali.18 21.13 3.60 111.44 69.71 12.26 5.15 28.59 1.14 13.08 11.61 0.47 42.36 4.64 3.50 8.30 2.99 88.10 125.41 0.81 50.10 6.81 43.56 23.40 9.62 4.79 22.85 7.35 133.04 Sep 35.96 21.81 13.04 41.09 0.06 22.95 5.68 8.83 31.27 107.42 1.87 11.16 20.53 96.73 0.84 55.61 93.44 76.96 5.84 81.85 8.70 53.80 33.13 35.96 34.77 47.70 67.55 34.23 7.46 0.94 27.80 2.32 11.08 71.33 33.82 41.48 102.35 5.50 1.68 24.22 41.20 20.85 43.87 39.75 39.57 11.93 3.56 32.81 77.04 85.38 60.51 74.02 94.80 30.76 84.79 73.70 1.24 13.61 47.22 5.39 8.69 32.19 0.06 5.33 45.73 51.06 20.54 24.24 13.29 94.21 7.40 44.90 45.09 3-48 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.52 88.27 21.33 20.47 1.70 43.88 10.08 0.50 0.97 85.54 37.29 28.51 9.57 39.16 48.62 12.73 59.99 32.24 112.38 95.87 10.58 36.84 9.30 17.12 1.07 7.02 83.77 19.81 7.06 2.99 47.12 5.99 60.91 24.84 15.69 60.24 4.97 6.81 18.88 17.56 19. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .04 1.03 17.44 27.25 35.88 8.83 46.65 4.11 2.06 28.30 118.86 81.89 2.14 31.91 1.23 33.94 Apr 163.13 7.06 57.80 2.99 45.02 51.03 17.68 98.56 23.70 1.38 0.31 54.69 25.93 14.91 13.08 14.16 26.31 59.10 15.69 1.71 143.65 22.12 34.52 34.55 7.83 114.51 18.28 9.54 46.99 28.73 73.10 2.19 14.56 17.69 13.42 berikut ini.14 103.07 5.20 72.84 12.92 1.96 6.79 48.70 6.72 5.96 11.71 54.40 77.82 75.31 57.70 Ketersediaan Air (m3/det) Mei Jun Jul Agu 109.56 58.57 72.04 146.03 8.27 12.13 9.92 28.11 5.41 28.48 Okt 39.37 65.05 38.64 5.34 32.44 19.37 79.93 1.49 55.56 44.30 11.65 30.96 16.43 22.11 42.90 30.31 13.79 1.97 50.14 2.55 4.03 57.33 12.47 42.19 3.24 Nov 139.53 4.04 39.04 27.16 23.75 2.11 91.94 13.30 Feb 203.70 28.46 40.95 4.81 2.37 0.33 53.23 13.37 9.61 39.89 60.68 56.61 19.65 1.46 0.28 14.64 8.71 6.18 35.56 20.44 78.08 38.63 21.04 35.47 25.81 6.27 7.86 52.79 6.46 16.32 35.57 96.44 6.73 64.95 11.81 57.15 49.31 36.21 9.06 11.20 4.88 17.08 7.53 46.42 71.09 173.43 20.11 36.21 27.35 4.97 20.86 13.89 8.35 0.22 4.13 0.16 40.96 8.17 64.56 56.19 70.96 26.10 41.73 17.40 2.52 7.11 44.57 0.58 22.08 0.16 61.24 14.66 2.68 1.97 84.

4. 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .43. Selengkapnya hasil analisa neraca air untuk Propinsi Jawa Tengah tahun 2003 disajikan dalam Tabel 3. Beberapa kriteria yang dipakai dalam analisis neraca air ini adalah sebagai berikut: 1. Kebutuhan air untuk irigasi dihitung dengan memasukkan faktor intensitas tanam dan pergiliran awal musim tanam untuk mereduksi puncak-puncak kebutuhan air irigasi yang sangat besar. 3. Respon masing-masing daerah aliran sungai dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan. Neraca Air BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-49 Dalam studi neraca air atau keseimbangan air perlu diketahui jumlah ketersediaan dan kebutuhan air dari wilayah yang dilayani dan titik-titik pengambilan di sungai-sungai yang melayaninya. Ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungai-sungai tersebut dianggap tetap. neraca air untuk tahun 2025 disajikan dalam Tabel 3. kondisi geologi dan kondisi tanah.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA C. Air yang tersedia tergantung dari input yang berupa hujan yang jatuh di daerah tangkapan hujan dan respon masing-masing daerah aliran sungai. Kebutuhan dan proyeksi kebutuhan air dihitung berdasarkan data-data jumlah penduduk dan luas lahan yang didapat. Hitungan keseimbangan air dilakukan untuk setiap wilayah kabupaten atau kota berikut dengan ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungaisungai yang melayaninya.45 berikut ini. Sedangnya besarnya kebutuhan tergantung pada jumlah penduduk dan kondisi serta aktifitas masyarakat di masing-masing daerah.44 dan jumlah bulan defisit disajikan dalam Tabel 3.

21 -2.97 49.70 6.26 62.61 -14.50 49.05 27.48 33.71 -1.02 Sep 22.35 23.46 -0.86 Nov 104.60 49.95 0.42 0.72 95.42 23.55 43.24 -3.17 -19.47 21.20 30.04 -6.34 21.23 -3.33 20.57 35.90 0.01 20.28 Agu 9.72 -12.01 92.70 Okt 6.86 -2.45 -2.98 52.16 20.52 7.21 39.20 35.00 19.03 41.89 0.23 -1.38 19.68 18.81 4.66 0.79 1.95 -2.30 3.93 -18.56 16.45 11.24 Apr 138.88 114.05 -0.04 32.43 32.05 92.95 20.03 -2.66 37.76 Des 183.04 28.06 -6.79 -0.16 27.68 -10.62 46.75 -12.78 16.45 -20.52 49.17 0.38 47.56 43.53 2.87 23.54 33.97 59.58 32.41 5.29 -0.81 -1.95 41.11 66.82 64.12 15.91 51.68 74.05 40.02 -2.03 2.91 79. 43 Neraca Air di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Jan 178.35 7.48 -9.02 -13.24 70.36 48.75 15.27 76.33 43.94 70.66 39.16 -6.82 Apr 141.72 -7.89 2.32 51.76 6.73 7.22 -2.29 -22.83 8.68 135.04 16.56 47.00 -4.78 49.41 -8.72 -5.89 10.65 -20.91 2.63 45.63 34.13 6.09 50.56 32.64 76.31 58.63 33. 44 Neraca Air di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jan 176.61 31.08 36.99 8.36 67.62 35.59 2.14 16.24 68.14 4.75 101.56 3.62 3.40 -5.11 -22.22 9.68 37.03 17.18 Feb 168.38 4.22 6.86 89.95 -15.01 -10.84 0.81 64.89 -1.25 1.37 17.13 -8.32 16.55 -7.31 11.75 6.65 3.98 0.31 22.18 -6.46 39.52 75.84 -9.78 Neraca Air (m3/det) Jun Jul 32.03 -14.89 5.15 26.07 28.03 38.57 -6.04 4.11 6.49 -7.68 -20.69 66.45 -0.22 11.00 0.42 121.64 -0.75 32.60 -2.66 -1.00 40.89 10.43 21.31 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.28 71.72 -0.29 40.29 9.70 -3.30 32.05 -13.53 101.62 6.33 34.99 8.13 30.08 20.16 42.01 -2.54 14.40 -10.76 51.10 6.99 -16.70 2.09 -5.08 77.04 -7.98 59.78 6.38 0.81 47.76 29.74 -3.82 4.43 2.79 7.03 59.94 29.40 -0.86 -26.50 29.12 20.49 -4.72 -6.23 -12.61 19.00 -2.16 -3.38 26.51 1.78 -11.94 -3.46 64.69 6.58 59.48 43.48 23.85 -14.63 -4.65 59.03 -5.30 101.69 44.32 12.04 -0.31 46.77 -14.32 3.31 50.16 41.11 87.80 -1.37 -16.73 -3.85 0.29 -0.64 65.33 -1.24 -8.50 -11.58 15.46 15.50 47.14 21.99 4.79 -2.87 75.66 -7.13 49.43 -7.35 54.70 -21.92 18.21 64.76 24.75 10.72 54.89 2.23 -8.21 -1.54 18.65 68.47 Mar 166.29 71.42 20.44 -15.74 18.64 -1.70 9.06 0.54 29.04 9.77 0.38 2.54 -16.27 0.52 13.73 Mei 79.88 23.59 7.64 17.52 35.86 -1.97 4.76 -1.08 63.48 22.97 10.52 55.31 85.30 12.62 40.30 37.31 25.29 40.29 68.19 4.45 -1.14 8.91 144.72 49.61 8.82 65.64 -21.29 -16.99 4.65 -22.48 -11.69 -0.30 Okt 9.94 31.16 -7.89 34.82 44.58 6.80 84.44 1.64 85.89 30.64 -6.51 3.48 7.92 47.73 -1.17 -20.75 -18.43 8.41 36.23 35.14 14.69 4.62 0.09 46.84 92.25 -1.31 8.23 20.78 25.44 32.71 26.46 50.38 78.90 86.95 -7.95 17.12 -6.81 24.57 1.09 62.08 -17.51 40.48 -7.57 9.43 27.57 82.97 81.61 58.04 -32.62 52.09 23.43 Mar 168.96 -2.31 -0.64 19.97 56.86 -11.31 -7.53 12.19 -4.60 -1.07 0.42 -7.89 -11.09 49.40 Sep 19.50 0.50 4.81 15.47 18.63 75.59 -3.14 8.02 -0.48 -6.81 65.95 4.27 18.50 97.17 50.76 -10.46 -2.99 5.29 25.39 3.44 7.62 -9.24 5.57 -16.00 -11.44 22.06 28.84 -11.28 18.55 30.84 8.98 22.05 0.94 -14.74 -0.53 -0.51 33.34 9.53 11.99 Des 180.39 18.13 49.05 0.25 Neraca Air (m3/det) Jun Jul 35.77 70.40 -13.31 -0.24 -4.02 1.16 0.56 -4.60 29.77 7.62 -12.53 -25.48 37.59 -10.01 9.17 -21.45 1.26 10.31 7.47 -8.75 15.63 71.60 -0.87 49.08 -1.58 17.33 -9.39 -2.78 -17.42 18.24 -5.38 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .60 5.91 -20.85 21.92 49.68 33.52 -20.03 48.46 -27.97 -23.93 -3.60 0.51 51.54 33.88 2.67 28.72 -15.88 -0.23 -4.86 65.42 -14.53 44.67 -2.80 19.35 56.59 11.34 -18.91 3.52 60.53 -0.24 -0.50 58.64 21.10 55.60 -9.61 17.26 -8.05 1.64 -7.43 -14.33 10.40 18.16 2.86 -0.68 -9.90 63.56 -11.07 22.29 3.94 70.09 -14.74 -10.91 7.45 76.39 22.00 8.23 -2.14 94.26 -26.90 8.87 51.64 12.69 -0.44 10.14 -7.31 -4.09 80.54 66.40 77.71 -9.62 82.03 -6.93 2.45 20.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.30 29.47 39.16 36.26 -17.98 16.80 83.00 -16.14 10.77 -7.07 13.51 7.56 -10.09 2.73 -18.17 Agu 6.97 -6.22 -4.05 -2.86 28.08 16.85 18.99 -2.53 37.81 1.92 -2.66 -15.04 -0.25 -3.12 -7.08 77.19 6.23 -0.52 30.34 55.18 5.17 31.57 36.78 63.50 -3.30 0.04 49.58 1.22 -0.67 33.87 50.36 23.56 -32.60 39.97 Mei 76.60 7.94 18.15 9.49 -2.46 -14.16 5.66 25.57 -2.12 8.56 -3.18 -6.99 -21.89 0.64 -5.59 11.07 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-50 Nov 107.48 -6.86 60.97 -9.50 76.03 5. Tabel 3.46 135.13 -15.01 42.11 27.95 75.90 3.94 5.63 Feb 171.70 62.14 -8.99 0.12 85.53 33.33 44.97 -17.16 70.10 -12.13 12.85 49.53 -12.33 38.

30 -2.52 -6.21 -0.94 -0.20 13.97 0.03 -0.76 0.84 -3.87 8.08 77.87 3.37 11.00 7.84 -0.05 -7.93 -6.62 4.38 5.71 7.12 84.17 -3.62 2.67 54.39 4.53 30.38 -1.72 -3.48 1.67 -16.87 0.00 -4.25 Des 38.97 -5.06 28.01 57.56 5.34 61.98 80.50 15.14 2.23 63.39 48.90 -0.07 -3.68 0.90 46.54 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Nov 9.81 64.34 5.74 6.22 -0.28 -2.14 7.05 -6.30 63.35 92.77 140.17 -1.02 0.48 1.44 7.51 -0.39 59.24 39.30 60.46 54.25 0.72 6.23 1.28 6.66 Agu 1.34 6.08 1.76 -1.56 79.16 1. Tabel 3.09 43.76 -9.13 6.79 8.94 26.62 15.65 -0.22 2.66 -16.90 -0.28 -6.47 -0.74 -16.20 3.57 6.55 Mar 76.55 Apr 64.20 24.93 -11.46 Feb 57.61 -17.98 43.51 7.66 Okt -5.46 7.37 16.38 Mei 39.10 -1.35 Sep 10.57 -7.67 0.02 1.39 -2.98 Neraca Air (m3/det) Jun Jul 11.42 -7.96 7.35 25.69 80.40 -4.26 -0.20 31.29 36.04 -20.06 0.77 24.98 -2. 45 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Tengah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten/Kota Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal 2003 0 5 0 0 5 5 0 7 3 8 6 3 7 7 0 6 0 2 5 1 3 3 5 4 4 6 2 3 4 5 5 0 6 6 4 2005 0 5 0 0 5 5 0 7 3 8 6 3 7 7 0 6 0 2 5 1 3 3 5 4 4 6 2 3 4 5 5 0 6 6 4 2010 0 5 0 0 5 5 0 7 3 8 6 3 7 7 0 6 0 3 5 1 3 3 5 4 4 6 2 3 4 5 4 0 6 6 4 2015 0 5 0 0 5 5 0 7 3 8 6 3 7 7 0 7 0 4 5 1 3 3 5 4 4 6 2 3 4 5 4 0 6 6 4 2020 0 5 0 0 5 5 0 7 3 8 6 3 7 7 0 7 0 4 5 1 3 3 5 4 4 6 2 3 4 5 4 0 6 6 4 2025 0 5 0 0 5 5 0 7 4 8 6 3 7 7 0 7 1 4 5 1 3 3 6 4 4 6 2 3 4 5 4 0 6 7 4 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.36 113.67 -0.86 -0.96 -19.94 40.83 1.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA No 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Jan 40.04 5.86 46.57 4.57 45.46 -6.46 -1.28 -0.72 -7.57 71.80 8.98 -5.33 0.20 82.21 -5.13 48.11 30.03 -5.39 59.86 0.69 -0.66 -0.34 6.17 9.32 -12.87 19.14 -0.14 20.45 0.47 2.51 64.03 36. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .37 10.36 -0.47 9.22 5.00 -4.47 -5.24 0.00 2.33 -0.92 50.23 15.07 -0.28 116.15 52.26 14.35 -4.22 83.67 3.27 43.96 -0.25 0.86 70.17 20.16 2.50 3.30 0.97 3-51 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.71 8.48 0.73 11.38 14.33 4.

industri. Di beberapa wilayah di Propinsi DIY laju pertumbuhan penduduk dari tahun 1990 sampai dengan 2003 menunjukkan nilai yang negatif.1. perkotaan. Pemanfaatan air di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi pemenuhan untuk kebutuhan rumah tangga. peternakan. Gunung Kidul. yang ketiga adalah untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dan sisanya dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Kebutuhan Air Semakin meningkatnya populasi yang disertai dengan perkembangan sektorsektor lainnya berdampak juga pada peningkatan akan kebutuhan sumber daya air.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-52 3. yaitu: Kabupaten Kulon Progo. jumlah air yang ada tidak mungkin bertambah dan ketersediaanya cenderung tidak merata dari waktu ke waktu dan juga cenderung terus berkurang. Seiring dengan perkembangan kebutuhan air untuk rumah tangga. perkotaan dan industri maka kebutuhan untuk irigasi seringkali menjadi tidak tercukupi terutama untuk musim tanam kedua atau ketiga dimana hujan yang turun sudah tidak terlalu banyak. A. Di sisi lain. perikanan dan irigasi. hal ini mengakibatkan jumlah penduduk untuk terus berkurang apabila dilakukan proyeksi dengan memakai angka pertumbuhan yang negatif tersebut.5 Daerah Istimewa Yogyakarta Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota. Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah yang relatif kecil apabila dibandingkan dengan kota-kota lainnya tetapi memiliki kepadatan yang cukup tinggi. Dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Bantul. yang kedua adalah untuk pemenuhan kebutuhan jasa perkotaan dan industri. prioritas utama adalah untuk pemenuhan kebutuhan air minum/rumah tangga. Konflik sering terjadi karena adanya perbedaan kepentingan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sleman dan Kota Yogyakarta. Secara umum kebutuhan air untuk irigasi jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kebutuhan air untuk sektor lainnya. Kondisi ini akan semakin sulit apabila tidak didukung dengan adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi sumber daya air diantaranya konservasi daerah tangkapan hujan dan efisiensi dalam penggunaan air.

Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan (municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota. Kebutuhan air untuk rumah tangga dihitung sebagai kebutuhan air 24 jam untuk 1 (satu) orang yang meliputi air untuk minum. fasilitas pariwisata. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga.48. mandi cuci dan sanitasi.46. 3-53 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . dan Tabel 3. masak. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup masyarakat dan iklim di daerah tersebut. Kebutuhan air untuk perkotaan diambil sebagai proporsi dari kebutuhan air untuk rumah tangga dengan persentasi antara 25-40% tergantung dari kemajuan daerah itu sendiri. pemadam kebakaran. Kebutuhan air untuk rumah tangga dapat dihitung dengan mengalikan standar kebutuhan air per orang per hari dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut. fasilitas ibadah. Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat ditentukan oleh banyaknya fasilitas perkotaan. Berikut ini disajikan jumlah penduduk untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk rumah tangga dan perkotaan sampai tahun 2025 pada Tabel 3. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat dinamika kota dan jenjang suatu kota. fasilitas kesehatan dan fasilitas pendukung kota lainnya misalnya pembersihan jalan. 1. perkotaan dan industri di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta cenderung meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk yang juga terus meningkat di propinsi ini kecuali untuk daerah yang menunjukkan laju pertumbuhan penduduk yang negatif. sanitasi kota dan penyiraman tanaman perkotaan.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA antar departemen atau instansi pengelola sumber daya air sehingga perlu adanya suatu pengelolaan sumber daya air yang terpadu.47. perkotaan dan industri. Tabel 3. seperti fasilitas komersial. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga.

512 0.329 1. 47 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi DIY N o 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Kebutuhan Air Domestik (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 0.230 0.597 1.136 0.468 0.414 1.472 1.141 0.469 682.44 4 351.210 0.270 338. Kebutuhan air untuk keperluan industri sangat dipengaruhi oleh jenis dan skala (ukuran) industri yang ada.220 0.137 0.605 940.426 834.368 0.766 353. Jadi besar kebutuhan air industri ditentukan oleh kebutuhan air untuk diproses.447 0.157.667 685.452 2.671 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. Misalnya industri tekstil dan logam berat tentu akan memerlukan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .701 2025 0.061.071 0.954 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.399 0.377 0.522 0.450 1.422 0. Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri.476 0.019 390.458 1.183 666.32 5 367.201 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.010 658.262.405 973.58 4 321.142 0. termasuk sebagai bahan baku.407 1. 46 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi DIY N o 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta 2003 375.880 1.154 0.153 815.227 1.424 0.048.05 1 651.26 7 336.220 1.658 2020 324.141 0.256 1.139 0.470 0. Sedangkan kebutuhan air untuk pendukung kegiatan industri seperti hidran dapat disesuaikan dengan jenis industrinya. Tabel 3.473 0.439 0.582 1.156 0. bahan baku industri dan kebutuhan air untuk pekerjaan industri.135 0.129 0.577 0.766 0.376.240 0.621 0.244 0.147 0.102 883. 48 Kebutuhan Air untuk Perkotaan di Propinsi DIY N o 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Kebutuhan Air Non Domestik (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.522 935.742 1.479 0.463 0.570 0.899 0.941 Jumlah Penduduk (jiwa) 2005 2010 2015 368.630 1.491 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3. Tabel 3.205 990.521 0.490 0.474 0.814 0.478 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-54 2025 310.464 1. kebutuhan air untuk pekerja industri dan pendukung kegiatan industri.431 1.189 384.392 674.733 0.800 0.143 0.

137 0.033 0.009 0.50 dan Tabel 3.012 0.031 0.426 0.031 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.032 0.031 0.066 0. Ternak berkaki empat besar seperti sapi.021 0.267 0.6 liter/ekor/hari.031 3 3-55 2025 0.105 0. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dan perikanan.028 0.055 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sedangkan unggas seperti ayam memerlukan air rata-rata 0.51 yang berisi kebutuhan air untuk peternakan dan perikanan untuk tiap kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berikut proyeksinya sampai tahun 2025. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dihitung dengan mengkalikan jumlah ternak yang ada di kabupaten tersebut dengan kebutuhan air untuk tiap jenis ternak.230 0. Berikut ini disampaikan Tabel 3.299 0.008 0. 49 Kebutuhan Air Industri di Propinsi DIY N o 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta 2003 0.036 0.032 0. 2.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA air yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan industri perakitan.016 0. Tabel 3. Semakin modern peralatan dan teknologi yang digunakan suatu industri maka akan semakin efisien air yang digunakan.168 0.034 0. Ternak berkaki empat kecil seperti kambing atau domba rata-rata memerlukan air sebanyak 5 liter/ekor/hari. Berikut ini disajikan Tabel 3.095 0.177 0. Dipakai standar sebesar 7 mm/hari sebagai kebutuhan air untuk perikanan.031 0.105 0. kerbau dan kuda rata-rata memerlukan air sebesar 40 liter/ekor/hari.035 0. Kebutuhan air untuk perikanan adalah kebutuhan air untuk mengisi kolam pada saat awal tanam dan kebutuhan untuk penggantian air.49 yang berisi kebutuhan air untuk industri untuk tiap kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berikut proyeksinya sampai tahun 2025.031 Kebutuhan Air Industri (m /det) 2005 2010 2015 2020 0.

006 2025 0.038 0. namun untuk beberapa daerah tertentu pola tanam yang diterapkan adalah padi-padi-padi apabila memang ketersediaan air mencukupi untuk mendukung pola tersebut.076 0. keadaan iklim (curah hujan dan evapotranspirasi).050 0.000 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-56 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.073 0.068 0.073 0.041 0.293 0. sistem golongan dan efisiensi irigasi.144 0.057 0.001 0.067 0. 50 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi DIY N o 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Kebutuhan Air Peternakan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.074 0. Kebutuhan air irigasi sangat mendominasi kebutuhan air di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta apabila dibandingkan dengan kebutuhan untuk rumah tangga.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.015 0. 3.001 0. Tabel 3. perkotaan dan industri serta kebutuhan untuk peternakan dan perikanan. cara bercocok tanam dan dan praktek irigasi untuk tanaman padi (kebutuhan air untuk pengolahan lahan dan penggantian lapisan air).078 0. Ada juga daerah lain yang hanya bisa menanam LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .038 0.298 0.290 0.006 0.038 0.000 0.000 0.039 0. 51 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi DIY N o 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Kebutuhan Air Perikanan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 0. Secara umum pola tanam yang ada di wilayah studi adalah padi-padipalawija.015 0.037 0.143 0.006 0.082 0.006 0.038 0.142 0.048 0.064 0.145 0.037 0. Kebutuhan air untuk keperluan irigasi. Kebutuhan air untuk irigasi tergantung pada beberapa faktor antara lain seperti luas tanam.283 0.015 0.286 0.036 0. jenis tanaman.297 0.006 0.071 0.144 0.071 0.065 0.039 0.015 0.069 0.001 0.064 0.046 0.015 0.006 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.043 0. jenis tanah (untuk memperkirakan laju perkolasi dan kelembaban).143 0.070 0.015 0.

852 10.016 8. Pembagian penjadwalan waktu tanam tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa golongan.397 12. 52 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi DIY No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta 2003 10.148 16.563 2.948 6.095 13.090 0.322 5. Data luas lahan areal irigasi didapatkan dari buku Propinsi Dalam Angka yang dikeluarkan oleh BPS.876 9. 53 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi DIY Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Jan 3.086 Mar 6.202 4.265 8.972 19. Tabel 3.288 15.156 16.390 21.886 16.066 0.349 23.042 Feb 6.116 0.319 23. masing-masing golongan dibagi berdasarkan ketersediaan air dan luas areal tanam untuk kebutuhan air masa awal pengolahan lahan.199 6. Untuk mengurangi puncak kebutuhan air untuk irigasi khususnya pada awal musim tanam.532 13.055 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.803 4.294 5.53 dan Tabel 3.629 23. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .838 16.615 7.020 14.595 23.662 7. Berikut ini disajikan Tabel 3. Tabel 3.197 14.54 yang berisi luas lahan areal irigasi untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk irigasi untuk saat ini dan untuk tahun 2025.585 23.735 10.012 8.074 2.625 7.621 8.241 0.640 19. Tabel 3.698 21.086 Sep 3.190 16.700 2.100 Apr 4.164 10.198 7.866 10.289 23.093 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 7.864 0.002 10.124 Des 2.111 0.122 Nov 8.913 19.785 7.444 5.605 7.193 4.259 136 136 136 135 2025 10.047 Okt 9.830 15.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA padi satu kali dalam satu tahun karena air yang tersedia hanya cukup untuk sekali tanam padi.720 0.229 135 3-57 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.858 6.824 16.182 6.877 5.52.847 0.049 14.169 16.880 10.295 0.423 0.361 136 Luas Lahan Areal Irigasi (Ha) 2005 2010 2015 2020 10. Dari data luasan lahan areal irigasi tersebut lalu dilakukan proyeksi untuk dapat menentukan luasan lahan areal irigasi di masa yang akan datang sehingga perkiraan kebutuhan air di waktu yang akan datang dapat diperhitungkan pula.118 0.106 7.369 6.127 7. maka dilakukan penjadwalan awal tanam secara bergiliran yang didasarkan pada besarnya luasan areal maupun lokasi areal.450 0.

445 Nov 13.172 14.110 0.708 10.021 13.980 Ketersediaan Air (m3/det) Mei Jun Jul Agu 13. Sungaisungai utama di WS Progo-Opak-Oyo yang diambil airnya untuk dimanfatkan guna mencukupi kebutuhan air adalah adalah Sungai Progo dan anak-anak sungainya.126 0.950 2.242 0.532 3.328 24.361 12.047 Okt 9.624 6.276 5.753 4.123 Des 2.121 Nov 7.385 5.548 0.086 Sep 3.976 7.692 11.710 32.55 berikut ini.054 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.659 20.292 Okt 2.860 9.744 9.469 1.974 14.842 6.728 Mar 40.627 40.553 5.695 7.135 4.396 1.436 15.348 21.168 23.752 0.101 6.766 1.897 31.110 7.870 7. Neraca Air Dalam studi neraca air atau keseimbangan air perlu diketahui jumlah kebutuhan air dari wilayah yang ditinjau dan jumlah ketersediaan air dari titik-titik LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .381 0.092 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 6.768 1.752 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-58 Tabel 3.529 19.163 6.422 5.701 30.435 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.235 15.349 1.980 15.699 Des 16.021 0.127 16.371 2.395 18.726 2.117 0. Ketersediaan Air Wilayah administrasi Propinsi Jawa Tengah yang meliputi 4 kabupaten dan 1 kota seluruhnya termasuk ke dalam wilayah WS Progo-Opak-Oyo. B.780 0. 54 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi DIY Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Jan 3.338 0.461 13. Opak.369 0.668 2.805 1.497 4.646 7.914 6.968 10.921 4.297 6.815 5.859 18.628 13.236 3.949 4.149 3.116 0. Oyo dan Serang dengan Waduk Sermo.212 2.410 4.941 14.039 2. C.976 2. sehingga ketersediaan air akan sangat bervariasi tergantung musim.086 Mar 5.531 2.751 Feb 41.229 8.042 Feb 6.967 8.544 23.651 12. Besarnya debit sungai sangat dipengaruhi oleh besarnya curah hujan.320 17.971 0.633 0.529 9.166 4. Besarnya debit andalan yang dipakai sebagai ketersediaan air dari berbagai titik pengambilan untuk masingmasing kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3.803 15.631 0.090 10.212 Apr 24.303 5. Biasanya di musim penghujan air yang tersedia berupa debit aliran di sungai akan sangat banyak dan melimpah dan sebaliknya pada saat musim kemarau air yang tersedia sebagai debit aliran di sungai akan sedikit sekali.496 Sep 1. 55 Ketersediaan Air di Propinsi DIY No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Jan 33.099 Apr 4.660 1.855 9.796 15.711 1.900 4.321 6.885 19.925 42.606 8. Tabel 3.121 0.

52 Des 13.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA pengambilan di sungai-sungai yang melayaninya.85 Okt -7.66 -15.77 3.22 3.16 -9.61 -10.46 -1.79 Mei 5.05 0.57 dan jumlah bulan defisit disajikan dalam Tabel 3. Sedangkan besarnya kebutuhan tergantung pada jumlah penduduk dan kondisi serta aktifitas masyarakat di masing-masing daerah.15 -0.94 -10.82 3.99 18. Ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungai-sungai tersebut dianggap tetap.18 23.30 16.89 20. 4. kondisi geologi dan kondisi tanah.47 5. 56 Neraca Air di Propinsi DIY Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Jan 29. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .58 berikut ini.17 -0.56.89 -0. Respon masing-masing daerah aliran sungai dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan.01 Apr 18.56 -16.35 -6.74 2.28 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.76 12.61 Feb 34. Kebutuhan air untuk irigasi dihitung dengan memasukkan faktor intensitas tanam dan pergiliran awal musim tanam untuk mereduksi puncak-puncak kebutuhan air irigasi yang sangat besar.02 -17.48 -9.54 Mar 33.36 -4.13 -14.69 Sep -2.33 -5.86 25.77 Nov 5.60 -0. Beberapa kriteria yang dipakai dalam analisis neraca air ini adalah sebagai berikut: 1.09 -8.09 -0.98 1. Air yang tersedia tergantung dari input yang berupa hujan yang jatuh di daerah tangkapan hujan dan respon masing-masing daerah aliran sungai.64 -1.98 12.79 -0. Kebutuhan dan proyeksi kebutuhan air dihitung berdasarkan data-data jumlah penduduk dan luas lahan yang didapat. 2.59 Neraca Air (m3/det) Jun Jul -1.48 -12.80 -0.22 -5.46 Agu -4.85 5.04 -2.09 0.10 -6. neraca air untuk tahun 2025 disajikan dalam Tabel 3.24 4. 3-59 Tabel 3.96 17. 3.03 -0. Selengkapnya hasil analisa neraca air untuk Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2003 disajikan dalam Tabel 3.49 -21.79 3.60 21. Hitungan keseimbangan air dilakukan untuk setiap wilayah kabupaten atau kota berikut dengan ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungaisungai yang melayaninya.85 9.10 3.

84 3. Probolinggo.73 Mar 34.06 0. Pamekasan dan Sumenep.52 4.22 22. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .09 16.59 -1.27 Agu -4.99 -0. Sidoarjo.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-60 Tabel 3.1.01 -10.6 Jawa Timur Propinsi Jawa Timur terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota.57 0.18 3. Mojokerto.06 -9. Bangkalan. Kebutuhan Air Semakin meningkatnya populasi yang disertai dengan perkembangan sektorsektor lainnya di Propinsi Jawa Timur berdampak juga pada peningkatan akan kebutuhan sumber daya air. Pasuruan.10 -0. Jember. Sampang. Blitar. Lamongan.47 -11. Kediri.42 -22. Jombang. Malang.18 12. Ponorogo. Situbondo.41 16. 58 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi DIY No 1 2 3 4 5 Kabupaten/Kota Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta 2003 5 7 6 7 6 2005 5 7 6 7 6 2010 5 7 6 7 6 2015 5 7 6 7 5 2020 5 7 6 7 5 2025 5 7 6 7 5 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.99 1.21 18. Probolinggo. Surabaya dan Batu. 29 Kabupaten tersebut terdiri dari: Kabupaten Pacitan. Banyuwangi. Blitar. 57 Neraca Air di Propinsi DIY Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulon Progo Bantul Gunung Kidul Sleman Kota Yogyakarta Jan 29.24 -6.98 Mei 5.77 3. Di sisi lain.23 -6.80 Feb 35.97 -0. Tabel 3.33 Des 13.54 -10.97 5.88 -10.91 24.47 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.91 -0.78 Neraca Air (m3/det) Jun Jul -1. Pasuruan.28 3.21 3. Bojonegoro.66 20. Gresik.20 Apr 18.99 12. Lumajang. Malang. Trenggalek. Mojokerto.50 Sep -2. Tuban.49 -5. Magetan.23 -1.02 0. 3. Bondowoso.84 -0. Madiun. Tulungagung. Ngawi.07 -5.66 Okt -7.49 2. A.79 -2.24 -12. Sedangkan kesembilan kotanya terdiri dari: Kota Kediri.79 -0.07 9.03 20.08 -5.59 Nov 5.08 -15. jumlah air yang ada tidak mungkin bertambah dan ketersediaanya cenderung tidak merata dari waktu ke waktu dan juga cenderung terus berkurang.60 -15.41 -17.98 -18. Nganjuk.83 -0. Madiun.00 3.

Konflik sering terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antar departemen atau instansi pengelola sumber daya air sehingga perlu adanya suatu pengelolaan sumber daya air yang terpadu. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. 1. Seiring dengan perkembangan kebutuhan air untuk rumah tangga. perkotaan dan industri. mandi cuci dan sanitasi. Kebutuhan air untuk keperluan perkotaan (municipal) adalah kebutuhan air untuk fasilitas kota. industri. Kondisi ini akan semakin sulit apabila tidak didukung dengan adanya usaha untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi sumber daya air diantaranya konservasi daerah tangkapan hujan dan efisiensi dalam penggunaan air. prioritas utama adalah untuk pemenuhan kebutuhan air minum/rumah tangga. pemadam kebakaran. Secara umum kebutuhan air untuk irigasi jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan kebutuhan air untuk sektor lainnya. Kebutuhan air untuk rumah tangga dihitung sebagai kebutuhan air 24 jam untuk 1 (satu) orang yang meliputi air untuk minum. sanitasi kota dan penyiraman tanaman perkotaan. masak. fasilitas pariwisata. Dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga. seperti fasilitas komersial. perikanan dan irigasi. peternakan. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh kebiasaan hidup masyarakat dan iklim di daerah tersebut. perkotaan. fasilitas kesehatan dan fasilitas pendukung kota lainnya misalnya pembersihan jalan. perkotaan dan industri di Propinsi Jawa Timur cenderung meningkat dari tahun ke tahun sesuai dengan perkembangan jumlah penduduk yang juga terus meningkat di propinsi ini. yang kedua adalah untuk pemenuhan kebutuhan jasa perkotaan dan industri. fasilitas ibadah. Besarnya kebutuhan air perkotaan dapat ditentukan oleh 3-61 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . perkotaan dan industri maka kebutuhan untuk irigasi seringkali menjadi tidak tercukupi terutama untuk musim tanam kedua atau ketiga dimana hujan yang turun sudah tidak terlalu banyak. Kebutuhan air untuk rumah tangga dapat dihitung dengan mengalikan standar kebutuhan air per orang per hari dengan jumlah penduduk di wilayah tersebut. yang ketiga adalah untuk pemenuhan kebutuhan air irigasi dan sisanya dimanfaatkan untuk kegiatan lain.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Pemanfaatan air di Propinsi Jawa Timur meliputi kebutuhan untuk rumah tangga.

274.651 1.017.211 829.292 2.057 1.410.335.054 2.330 1. Berikut ini disajikan jumlah penduduk untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Jawa Timur berikut proyeksinya serta kebutuhan air untuk rumah tangga dan perkotaan sampai tahun 2025 pada Tabel 3.61.336 872.362 1.839.080 960.256 881.465.232.161.727 2.423 1.700 999.258 1.101.097 2.212.028 1.197.585 1.519 828.308 1. Kediri Malang.530 2.030 1.150.288.870 3.890 1.432.660.285.408 1.259 1.960 831.629 704.272.871 742.793 833.322 634.480 2.830.523 1.516 588.206 899. Probolinggo Pasuruan & K.657 698.385.112.245.390 1.773 601.769 3.606 3.399 1.567.379 Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 2015 552.363 1. K.332.572.365. dan Tabel 3.143 854.950 1.130 1.238 1.689.024.191.834 1.369.950 708.150 3.230.229.586 1.872 615.676 3.128 1.814 1.961 1.700 1.059.458 823. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.156.177 1.077.080.893 1.614 1.033 996.281.526.719 1.038 1.197 783.178.539.571 1.714.588 1.820 886.433 1.262.625 1.156 1.042.450 1. 59 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.715.984 1.60.311 829.097.471.846 754.510 899.882 2020 572.450 1.575 1.650 621.895.405 1.956 1.592.331 1.391.051.097.283.080.951 908.448.726.424.379.721 890.823.803 762.875.729.336.225.435 1.305 996.057.728 1.032.304.550 2025 582.742.685 740.548 562.711 764.887 970.764 1.213.236.193 844. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya 2003 538.354.598 1. Kebutuhan air untuk perkotaan diambil sebagai proporsi dari kebutuhan air untuk rumah tangga dengan persentasi antara 25-40% tergantung dari kemajuan daerah itu sendiri.146 1. Blitar Kediri & K.280 1.293 2.790 1.896 1. Tabel 3.075.639.759 4.206 3.107. Malang & K.145 2.478.263.017 1.370 1.159 1.305 1.552 1.390 869.336.366.186 562.510 1.958.083.117.252.260 826.438 3.307 3.231.495 2.400 620.295.282 887.419 2.460 1. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .068 1.235.061 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.809 721.324.662.682.028.443.305 1.172.793 1.793 4.216.114.133 1.080 833.444 1.633 2.234.839 978.150 1.304.745 1.951.713 1. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.640 740.079.874 678.813 1.553 575.762.648 2.165.054.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA banyaknya fasilitas perkotaan.750 839.319 1.490.393 1.551 2.002 788.034.299 1.725.793.162 668.318 1.440 1.680 1.163.719 1.302 1.673 861. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.649 1.500 1.067 876.053.296 872.402.070 1. 3-62 Tabel 3.782 1.530 916.205.205.360 671.339.854.163 1.682 865.596.260 2.625 826.064.057 4.083.59.189 1.070 1.756 1. Kebutuhan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat dinamika kota dan jenjang suatu kota.961 1.197.620.437 975.180 1.804 719.283.330.127 1.285 2.380 2005 542.573.251.603 2.019 1.070 1.652 1.090 1.

592 1.300 1.933 1.139 0.658 2.405 2.041 2.184 1.977 1.374 0.583 1.456 1.016 0.613 1.650 (m3/det) 2020 0.502 6.838 1.740 N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.390 0.683 1.632 1.874 1. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.768 0.793 0.755 0.791 1.293 0.164 5.091 1.911 0.499 1.693 0.056 1.430 1.310 2.333 1.402 1.283 1.197 1.975 5.738 1.746 0.126 1.814 1. K.925 1.370 1.923 0.629 1.826 1.833 0.252 1.339 0.917 0.208 2.157 1.908 1.808 0.386 0.947 0.355 1.867 0.956 5.886 0.732 1.645 1. Blitar Kediri & K.208 2.999 4.357 1.405 0. 60 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Timur BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-63 2025 0.193 7.849 1.469 1.829 0.099 2.563 1.377 5.223 2.903 1.468 2.096 1.906 0.278 0.207 0.368 2.529 1. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.594 0.377 0.237 1. Kediri Malang.775 1.541 1.713 5.502 2.434 2.119 2.779 0.683 1.708 0.887 1.833 1.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.170 2.542 Kebutuhan Air Domestik 2005 2010 2015 0.906 0.147 2.817 1.618 1.580 2.450 1.979 1.808 0.259 1.676 1.139 1.079 6. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.026 6.187 1.805 0.249 0.533 0.431 2.265 1.685 0.603 2. Malang & K.772 0.944 4.803 0.768 1.411 1.344 1.697 1.912 0. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya 2003 0.909 0.398 0.257 5.909 0.661 1.696 2.820 0.190 0.841 0.129 1.067 1.914 0.848 0.188 1.215 1.825 0.174 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .647 1.806 1.745 1.604 6.861 1.724 0.550 1.389 1.972 0.221 1.735 1.029 1.040 2.383 0.472 2.338 3.279 3.955 3.821 3.004 1.207 1.159 1.661 3.352 2.326 1.751 1. Probolinggo Pasuruan & K.259 4.483 1.135 7.696 1.062 0.268 1.816 0.

205 0.117 0.798 1.411 0.209 0. kebutuhan air pekerja industri dan pendukung kegiatan industri. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Kebutuhan Air Non Domestik (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.273 0.081 1.855 0.330 0.435 0.451 0.663 1.272 0.293 1.642 0.662 0.284 0.883 1.509 0.357 0.459 0.548 0.241 0. bahan baku industri dan kebutuhan air untuk pekerjaan industri.478 0.587 1.367 0.245 0.305 0.714 1. 61 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Timur N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.713 0. Probolinggo Pasuruan & K.442 0.232 0.508 0.338 0.272 0. Misalnya industri tekstil dan logam berat tentu akan memerlukan air yang LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .230 0.849 1. termasuk sebagai bahan baku.497 0. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.407 0.580 0.509 0.356 0.251 0.115 0.203 0. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.775 0.465 0.789 0.948 0. Kediri Malang.609 0.600 0.322 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-64 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.793 0.566 0.342 0.320 0.977 1.527 0.327 0. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K. Blitar Kediri & K.995 1.462 0.238 0.425 0.388 0.351 0.260 0.577 0. Jadi besar kebutuhan air industri ditentukan oleh kebutuhan air untuk diproses.119 0.520 0.274 0.693 0.644 0.423 0.252 0.559 0.301 0.437 0.273 0.703 0.546 0.249 0.336 0.619 0.250 0.255 0. Kebutuhan air untuk keperluan industri sangat dipengaruhi oleh jenis dan skala (ukuran) industri yang ada.224 0. Malang & K.317 0. Sedangkan kebutuhan air untuk pendukung kegiatan industri seperti hidran dapat disesuaikan dengan jenis industrinya.234 0.271 0.481 0.365 0.277 0.355 0.274 0.401 1.329 0.842 0.379 0.324 1.237 0.275 0.206 0.194 0.416 0. K.340 2.287 1.441 0.484 0.469 0.250 0.384 0.152 1.112 0.185 0.751 1.005 0.417 0.893 0.375 0.205 0.212 0.232 0.478 0.430 0.242 0.221 0.362 0.308 1.402 0.383 0.910 0.242 0.450 0.045 0.541 0.721 0.440 0.358 2.420 0.245 0.221 0.460 0.400 0.273 0.566 0.639 0.662 0.407 0.398 0.247 0.429 0.890 0.612 0.385 0.371 0.246 0.592 0.380 0.362 0.772 0.429 0.678 0.366 0.198 0.376 0.190 0.517 0.474 0.347 0.121 0.231 0.113 0.562 0.612 0.258 0.523 0.356 0. Kebutuhan air industri adalah kebutuhan air untuk proses industri.244 0.278 0.294 0.

025 0.330 0.106 0.378 0.127 0.639 0.078 0.126 0.092 0.113 0.058 0. K.219 0.000 0.064 0. Kediri Malang.040 0.025 0.159 0.803 0.119 0.210 0.068 0.037 0.075 1.507 0. Semakin modern peralatan dan teknologi yang digunakan suatu industri tersebut akan semakin efisien air yang digunakan.055 0.200 0.157 0.413 0. 3-65 Tabel 3.049 0. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya 2003 0.012 0.281 0.088 0.617 0.066 0.376 0.231 1.071 1.917 0.040 0.044 0.023 0.042 0.021 0.114 0.388 0.083 0.128 0.318 0.373 0.140 1.199 1.037 0.025 0.040 0.232 1.089 1.088 0.104 0.019 0.016 0.157 0.871 Kebutuhan Air Industri (m3/det) 2005 2010 2015 2020 0.096 0.065 0.052 0.439 0.076 1.080 0. 62 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Timur N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.065 0.039 0.862 0.326 0.102 0.077 0.928 0.541 0.086 0.494 2025 0.316 0.129 0.639 0.518 0.082 0.051 0.62 yang berisi kebutuhan air untuk industri untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Timur berikut proyeksinya sampai tahun 2025.438 0.249 0. Probolinggo Pasuruan & K.164 0.069 0. Berikut ini disajikan Tabel 3.026 0.069 1.118 0.022 0.063 0. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.090 0.751 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.490 0.086 0.307 4.102 0.033 0.311 0.088 0.246 1.146 0.038 0.083 0.365 0.195 0.084 0.330 0.052 0.025 0.068 0.036 0.033 0.265 0.036 0.339 0.140 0.896 0.016 0.150 0.404 0.032 0.025 0.137 0.082 0.140 0.025 0.081 0.134 3.025 0.067 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .079 0.054 0.720 0.347 0.096 0.306 0.298 1. Blitar Kediri & K.092 0.064 0.984 2.166 0.836 0.102 0.096 0.062 0.055 0.153 0.384 1.323 0.681 2.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA lebih banyak apabila dibandingkan dengan industri perakitan.737 0.133 1.059 0.404 1.447 1.019 0.192 0.701 0.056 0.035 0.742 1.275 0.085 0.099 0.073 1.118 0. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.044 0.854 1.645 0. Malang & K.110 0.088 0. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.126 0.264 0.030 0.484 0.175 0.343 0.

63 dan Tabel 3.085 0.115 0.106 0. Sedangkan unggas seperti ayam memerlukan air rata-rata 0.067 0.029 0.091 0.147 0.087 0.060 0.133 0.130 0.068 0.200 0.075 0.090 0.087 0.168 0.013 0.034 0.038 0. Kebutuhan air untuk perikanan adalah kebutuhan air untuk mengisi kolam pada saat awal tanam dan kebutuhan untuk penggantian air.040 0.043 0.068 0.038 0.044 0.070 0.075 0.171 0.6 liter/ekor/hari.118 0.211 0.067 0. BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-66 Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dihitung dengan mengkalikan jumlah ternak yang ada di kabupaten tersebut dengan kebutuhan air untuk tiap jenis ternak.070 0.038 0.067 0.080 0.068 0.081 0.033 0.082 0.079 0.121 0.084 0.057 0. Dipakai standar sebesar 7 mm/hari sebagai kebutuhan air untuk perikanan.124 0.076 0.046 0. Kebutuhan air untuk keperluan peternakan dan perikanan.088 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.085 0.117 0.067 0.107 0.151 0. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.64 yang berisi kebutuhan air untuk peternakan dan perikanan untuk tiap kabupaten di Propinsi Jawa Timur berikut proyeksinya sampai tahun 2025.084 0.100 0.028 0.072 0.076 0.049 0.128 0.021 0.037 0.075 0.055 0.073 0.032 0.130 0.039 0.189 0.078 0. 63 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Timur N o 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.076 0.156 0.064 0.151 0.067 0.092 0.086 0. Probolinggo Pasuruan & K.083 0.013 0.035 0.180 0.024 0. Blitar Kediri & K.075 0.093 0. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.013 0.067 0.139 0.171 0. Berikut ini disajikan Tabel 3. Ternak berkaki empat besar seperti sapi.081 0.033 0.140 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 2.114 0.069 0.123 0.083 0.110 0.072 0.048 0.015 0.013 0. Tabel 3.053 0.026 0.034 0.014 0.111 0.045 0.101 0.069 0. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Kebutuhan Air Peternakan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.013 0. Malang & K.033 0.130 0. kerbau dan kuda rata-rata memerlukan air sebesar 40 liter/ekor/hari. K.083 0.032 0.026 0.043 0.018 0.035 0. Ternak berkaki empat kecil seperti kambing atau domba rata-rata memerlukan air sebanyak 5 liter/ekor/hari.065 0.098 0. Kediri Malang.143 0.047 0.030 0.056 0.042 0.125 0.044 0.127 0.150 0.091 0.014 0.119 0.074 0.037 0.

020 1.241 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.152 0.458 0.813 0.118 0.121 0.075 0.023 0.028 0.986 0.684 1.078 0.496 3.220 1.098 0.232 3.038 0.029 0.008 0.004 0.105 0.103 0.670 1.280 0.078 1.446 0.093 0.055 0.174 0.074 0.001 0. Malang & K.515 0.001 0.071 0.014 0.604 0.025 0.300 0.311 3.014 0.818 0.689 3.011 0.014 0.860 0.001 1.378 0.034 0.099 0.538 Kebutuhan Air Perikanan (m3/det) 2005 2010 2015 2020 0.417 0.166 13.001 0.885 0.066 0.027 0.022 0.748 1.078 0.873 2.003 2.012 0.269 3.006 0.451 0.071 0. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.247 0.057 0.527 1. Tabel 3.009 0.611 12.107 0. K.622 1.620 0.170 0. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya 2003 0.592 1.022 0.521 0.151 0.055 0.292 3.014 0.132 0.562 17.743 0.503 0.039 0.012 0.768 13.055 0. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .501 0.003 0.047 0.581 9.439 0.611 0.560 3.387 14.075 0.056 0.059 0.415 1.000 0.744 2.395 0.434 0.062 0.001 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-67 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.119 0.308 0.855 0.068 0.070 0.089 0.024 0.044 3.385 2.096 0.637 0.318 2.206 0.375 0.088 0.057 0.442 0.002 0.124 0.001 0.040 0.970 0. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.117 0.014 0.092 0.943 0.092 0.034 0.063 0.372 0.037 15.329 0.132 0.340 0.368 2025 0.550 0.080 3.813 1.084 0.047 0.056 0.320 2.730 14.091 0.645 3.853 0. Blitar Kediri & K.044 0. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.055 0.207 0.237 0.607 16.885 0.254 0.032 0.199 16.164 0.058 0.122 0.051 0.336 0.220 0.578 14.667 4.028 0.011 0.011 0.945 0.074 0.571 1.875 15.783 1.250 0.815 1.815 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA N o 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Kebutuhan Air Peternakan (m3/det) 2003 2005 2010 2015 2020 2025 0.560 0.048 0.370 0.044 0.091 0.047 0.086 0.013 0. 64 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.207 0.032 0.598 0.310 12.011 0.309 3.390 0.449 0.514 1.122 0.000 0.188 0.047 0.701 0.001 0.882 7.644 5.035 0.047 0.713 0.000 0.330 0.038 0.511 1. Kediri Malang.123 0.041 0.388 3.047 0.456 0.350 1. Probolinggo Pasuruan & K.359 0.040 0.015 0.014 0.090 0.792 1.001 0.

namun untuk beberapa daerah tertentu pola tanam yang diterapkan adalah padi-padi-padi apabila memang ketersediaan air mencukupi untuk mendukung pola tersebut. keadaan iklim. Secara umum pola tanam yang ada di wilayah studi adalah padi-padipalawija. Kebutuhan air untuk keperluan irigasi. Pembagian penjadwalan waktu tanam tersebut dikelompokkan ke dalam beberapa golongan. (curah hujan dan evapotranspirasi). perkotaan dan industri serta kebutuhan untuk peternakan dan perikanan. Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA 3. masing-masing golongan dibagi berdasarkan ketersediaan air dan luas areal tanam untuk kebutuhan air masa awal pengolahan lahan. jenis tanah (untuk memperkirakan laju perkolasi dan kelembaban). Data luas lahan areal irigasi didapatkan dari buku Propinsi Dalam Angka yang dikeluarkan oleh BPS. Dari data luasan lahan areal irigasi tersebut lalu dilakukan proyeksi untuk dapat menentukan luasan lahan areal irigasi di masa yang akan datang sehingga perkiraan kebutuhan air di waktu yang akan datang dapat diperhitungkan pula. Untuk mengurangi puncak kebutuhan air untuk irigasi khususnya pada awal musim tanam. sistem golongan dan efisiensi irigasi.65. Berikut ini disajikan Tabel 3. cara bercocok tanam dan dan praktek irigasi untuk tanaman padi (kebutuhan air untuk pengolahan lahan dan penggantian lapisan air). Ada juga daerah lain yang hanya bisa menanam padi satu kali dalam satu tahun karena air yang tersedia hanya cukup untuk sekali tanam padi. Kebutuhan air untuk irigasi tergantung pada beberapa faktor antara lain seperti luas tanam. jenis tanaman. BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-68 Kebutuhan air irigasi sangat mendominasi kebutuhan air di Propinsi Jawa Timur apabila dibandingkan dengan kebutuhan untuk rumah tangga.66 dan Tabel 3. maka dilakukan penjadwalan awal tanam secara bergiliran yang didasarkan pada besarnya luasan areal maupun lokasi areal.67 yang berisi luas lahan areal irigasi untuk tiap-tiap kabupaten di Propinsi Jawa Timur berikut LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .

856 5.324 362 351 340 329 2025 5.016 6.313 38.871 27.950 31.037 9.731 7.432 84.834 39.672 5.641 4.169 56.866 22.374 11.149 32. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.606 22.803 24.056 38.455 36.910 6.621 76.298 65.689 8.808 34.033 4.288 48.014 30. Blitar Kediri & K.553 38. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya 2003 6.570 46.552 32.783 8.955 32.503 31. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.496 49.683 32.384 10.618 8.019 45.562 83.838 38.117 10.136 73.038 33.736 30.963 6.079 24.089 48.995 20. 65 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.574 61. K.541 50.366 35. Kediri Malang.793 81.677 10.884 47. Malang & K.155 31.944 36.371 47.325 29.294 4.606 20.186 30.238 37.699 48.370 23.267 38.807 8.450 37.947 36.502 8.269 21.061 31.454 48.156 65.250 21.119 367 Luas Lahan Areal Irigasi (Ha) 2005 2010 2015 2020 6.868 65.559 38.359 8.479 29.297 47.871 29.426 48.814 37.518 46.261 50.866 28.781 9.970 8.830 20. Probolinggo Pasuruan & K.123 33.213 48.557 35.523 7.045 5.447 35.594 4.373 30.161 38.855 28. 3-69 Tabel 3.952 33.117 35.522 8.717 7.322 31.116 31.858 9.730 30.395 44.966 25.259 38.035 38.547 7.532 28.328 47.666 20.572 28.648 37.537 47.753 24.520 42.078 38.342 27.675 47.885 25.489 28.501 6.820 23.708 7.831 26.002 66.694 35.022 8.351 28.096 8.518 36.166 78.768 64.463 30.232 8.777 33.972 27.431 48.712 30.288 20.617 44.217 29.731 32.199 56.689 4.762 10.860 4.783 28.573 37.663 65. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.494 32. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .322 28.843 28.937 36.550 8.148 36.978 11.104 319 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA proyeksinya serta kebutuhan air untuk irigasi untuk saat ini dan untuk tahun 2025.812 27.935 41.612 43.107 52.155 40.563 38.946 41.480 65.372 38.223 50.997 45.

404 18.658 14.162 30.481 12.867 14.292 5.730 20.459 Des 1.636 2.658 16.483 25.847 21.639 35.620 34.808 19.380 19.427 0.623 12.098 46.410 1.730 17.655 19.860 25.134 7.979 39.959 30.873 15.709 23.561 15.500 17.299 0.719 12.841 26.076 20.351 25.413 19.365 14.201 15.235 2.676 15.287 11.989 26.221 2.630 41. Pasuruan Jan 2.279 29.610 15.689 37.177 22.475 57.568 17.093 3.539 12.456 26.647 19.699 10.651 13.638 9.742 13.139 38.009 42.656 39.779 2. 67 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.685 5.400 6. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.492 8.609 0.524 20.937 20.735 37.022 18.417 3.012 13.685 13.590 3.192 10.959 Sep 1.533 2.553 5.108 22.208 3.973 25.067 31.778 20.949 37.527 18.037 34.320 28.000 0.575 1.141 37.595 11.062 0. K.979 17.195 18.627 19.352 0.652 20.763 4.480 0.543 18.040 21.249 26.180 23.046 32.119 4.583 36.508 3.291 19.859 32.004 4.352 31.245 Sep 1.421 26.354 45.101 35.270 8.313 15.941 23.294 2.922 33.086 12.132 16.783 26.060 11.241 25.618 15.305 23.191 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 3.558 25.216 25.690 18.917 33. K.462 27.667 15.804 3.226 6.240 14.985 2.849 29.066 4.779 21.947 42.577 4. Blitar Kediri & K.127 11.280 0.197 7.574 39.600 6.963 22. Malang & K.383 26.049 18.665 9.491 10.955 20.902 15.572 11.182 Mar 4.578 3.609 18.155 49.802 10.675 32.772 24.431 26.032 15.731 24.892 22.713 7.284 28.738 14.185 Okt 4. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.964 34.140 68.416 34.902 10.025 16.322 3.594 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 2.719 35.305 16.460 13.806 20.802 24.594 27.024 29.277 60.039 19.158 5.451 8.547 27.676 14.798 33.563 20.469 12.199 60.801 14.393 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-70 Nov 3.571 15.889 12.724 29.093 15.654 37.232 29.981 7.357 51.832 6. Probolinggo Pasuruan & K.697 4.889 42. Blitar Kediri & K.232 16.124 46.001 4.944 36.982 3.366 19.001 15.651 3.185 19.740 37.869 44.248 30.252 18.872 43.952 6.690 10.828 21.175 13.083 36.246 7.673 42. Tabel 3.575 6.503 1.398 34.226 22.336 5.663 14.031 23.264 17.653 20.069 42.981 22.448 29.293 6.155 13.036 2.357 4.981 43.010 13.178 3.692 12.536 3.370 34.798 10.980 Nov 3.373 3.911 6.516 41.422 10.142 31.282 35.510 20.052 12.018 41.786 15.394 11.913 3.395 28.451 24.242 16.616 30.084 24.248 15.230 10.377 6.670 18.028 14.669 7.691 14.915 39.839 22.234 60.177 28.065 31.147 7.452 50.673 21.969 13.544 1.719 29.985 3.082 25.158 25.927 44.254 13.827 12.146 Okt 4.448 9.814 39.087 Feb 3.944 4.931 42.050 7.726 11.479 24.024 31.792 0.479 22.807 3.207 24.781 36.909 20. 66 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.863 30. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Jan 3.334 28.183 39.243 25.771 30.813 25.943 6.326 22.186 4.214 34.867 3.580 21.807 49.165 22.949 9.045 20.433 3.931 13.788 36.602 0.832 59.728 34.104 14.879 12.467 36.181 21.888 25.805 14.517 15.386 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .376 11.819 3.739 17.466 13.726 34.078 24.525 14.789 31.170 7.741 20.396 22.376 77.259 16. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.413 25.645 49.286 12.051 68.318 18.183 19.515 3.888 2.358 5.203 12.504 2.072 6.426 50.783 10.353 23.262 37.603 19.139 11.991 30.338 20.781 21.449 51. Kediri Malang.525 28.476 37.361 4.716 11.229 5.708 11.091 24.271 4.835 33.281 5.561 7.794 28.802 17.168 29.983 38.870 22.081 44.339 23.423 25. Malang & K.317 52.039 17.771 16.895 31.800 67.607 25.039 21.156 43.270 22.590 18.978 28.649 15.340 46.773 16.571 16.670 54.951 15.885 29.575 4.520 28.302 29.011 23.030 44.062 17.536 15.655 5.868 5. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.149 18.040 60.376 16.625 30.415 11. Probolinggo Pasuruan & K.828 31.511 21.909 12.914 26.481 26.351 Des 1.535 13.794 17.986 20.865 19.755 14.354 14.041 10.756 17.928 27.749 9.558 23.527 32.929 14.809 2.070 Mar 3.543 6.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.009 13.270 19.347 12.817 31.084 18.269 17.364 18.066 8.073 16.183 15.230 17.881 3.625 17.712 37.672 23.252 7.218 Apr 3.151 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.822 44.702 7.104 9.088 9.233 2.858 34.035 24.534 4.801 0.896 5.078 2.400 23.963 7.509 23.651 0.972 46.995 9.653 10.778 18.298 4.484 42.574 41.028 21.193 9.009 1.575 34.519 18.543 29.601 3.880 7.910 11.328 18.245 27.660 12. Kediri Malang.729 30.696 29.882 1.280 17.713 7.601 23.498 4.137 14.162 1.784 23.978 16.560 35.292 37.217 14.329 5.607 4.702 39.479 20.246 Apr 3.584 12.429 13.782 10.874 23.268 11.281 6.761 15.667 18.126 Feb 3.

248 5. WS Pekalen-Sampean dan WS Madura.122 19.893 20.924 3.520 25.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA No 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Sidoarjo Mojokerto & K.570 7.183 28.651 54. Sungai-sungai utama di WS Madura yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Pejagan.347 26.551 31.613 14.970 32. Rondoningu.155 3.087 6. Deluwang.378 0.817 3.587 21. Sampean.687 1.924 0. sehingga ketersediaan air akan sangat bervariasi tergantung musim.305 Des 9.520 2.854 2. Baru.190 Apr 12.214 17.829 6.489 12. Sanen.988 15.640 21. Kedungbajul. Besarnya debit sungai sangat dipengaruhi oleh besarnya curah hujan.192 3.870 4.695 15.597 17.672 12.354 14.841 4.127 Okt 20.341 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Nov 21.063 19.401 18.244 11.393 1.600 0.166 5.085 52.133 31.329 15. Biasanya di musim penghujan air yang tersedia berupa debit aliran di sungai akan sangat banyak LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .734 14.897 43.483 2.778 31.906 4.283 11.803 1.750 14.630 16.921 1. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Jan 6.962 24.533 0.213 Sep 8. Sampang.581 37. Sungai-sungai utama di WS Pekalen-Sampean yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Rejoso.883 8.369 37.236 15.668 18. Bedadung dan Bondoyudo. Welang.444 13. B.110 Feb 13.697 5.011 18.242 17.495 3.952 14.250 3.001 17. Sungai utama yang diambil airnya untuk dimanfatkan guna mencukupi kebutuhan air di WS Bengawan Solo adalah adalah Sungai Bengawan Solo beserta dengan anak-anak sungainya.145 15. Patemon.185 4.787 5.458 36.799 1.923 23.354 12.782 6.986 2.116 9.785 35.169 24.980 28.182 11.362 18.695 18.238 28.228 5.544 14.554 0.850 8.770 14.418 3.466 9.473 26.805 30.490 3.084 2.827 55.018 11.784 34.269 14. Tarokam dan Saroka.384 64.262 25. Pandean.159 Mar 14.254 7.218 10.993 15.228 9.609 22.092 0.860 1.783 26.108 16.712 20.002 2.760 22.055 5.183 5.852 6.280 11. Klampis.571 24.238 10.539 46. Ketersediaan Air Wilayah administrasi Propinsi Jawa Timur yang meliputi 29 kabupaten dan 9 kota termasuk ke dalam wilayah 4 WS yaitu WS Bengawan Solo bagian hilir.715 3.303 43.775 53.128 19.826 24.122 6.319 0.327 2.323 15.861 49. Kesamben dan Wlingi berikut dengan anak-anak sungainya.780 4.133 25.166 Kebutuhan Air Irigasi (m3/det) Mei Jun Jul Agu 17.068 5.945 5. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.486 14.353 15.664 28.722 22.043 0.575 24.216 22.300 26.303 16.160 13.612 1. Setail.320 29.248 6.131 3-71 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.553 53. WS Brantas. Sungai-sungai utama di WS Brantas yang diambil airnya guna mencukupi kebutuhan air adalah Sungai Brantas dengan Waduk Karangkates.040 14.854 2.486 2.749 16.245 29.539 24.666 43.690 0. Pekalen.770 12.515 6.812 27.417 7.723 7.898 2.089 0.117 63.608 16.354 3.178 24.374 50.721 0.345 20.375 23.910 0.320 20.933 22.572 13.146 13.045 19.526 6.838 14.547 3.426 21.237 31.106 4.

82 25.66 31.00 57.31 165.02 0.00 158.71 14.98 12.53 0.51 8.60 89.33 42.25 3.89 31.97 121.19 50.86 52.70 58.04 49.83 2.70 350.95 47.86 256.75 18.44 61.762 11.68 0.88 19.72 42.25 102.33 0.50 69.72 76.16 40.63 39.93 55.64 68.88 29.00 50.36 72.03 84.07 4. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.43 29.82 19.87 53.33 0.07 52.90 82.29 23.60 120.60 65.00 136.43 40.51 56.95 45.00 78.75 53.76 0.92 92.06 6.19 47.72 107.32 76.97 2. Blitar Kediri & K.84 2. Kediri Malang.28 90.47 60.90 26.87 51.90 6.94 140.70 344.68 37.31 50.57 63.89 32.27 53.53 8.10 38.62 0.22 104.69 4.33 46.73 31.35 88.77 79.03 112.38 11.07 124.58 38.68 44.87 66.42 59.92 14.33 140.56 17.28 13.98 10.07 50.78 1.61 80.00 270.01 5.70 3.10 Nov 9.84 59.41 49.14 2.27 10.03 71.34 39.15 75.82 1.04 58.72 6.21 20.68 92.11 43.31 3.39 36.22 39.40 94.67 22.86 14.92 44.09 103.26 40.40 49.53 108.15 327. Besarnya debit andalan yang dipakai sebagai ketersediaan air dari berbagai titik pengambilan untuk masing-masing kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3.86 0.90 67.40 52.06 62.88 20.26 36.96 9.14 20.65 100.43 66.99 6.04 14.24 0.55 6.33 12.70 63.75 50.83 3.04 14.00 181.14 48.31 8.05 8.40 0.28 0.61 81.46 12.75 99.36 37.64 Okt 0.32 8.84 150.62 132.10 48.47 93.03 66.40 100.10 108.01 19.87 55.85 17.13 2.10 66.18 1. 68 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.71 73.59 123.76 95. Neraca Air Dalam studi neraca air atau keseimbangan air perlu diketahui jumlah kebutuhan air dari wilayah yang ditinjau dan jumlah ketersediaan dari titik-titik pengambilan di sungai-sungai yang melayaninya.18 39.22 92.17 37.76 41.78 54.23 165.76 47.48 Ketersediaan Air (m3/det) Mei Jun Jul Agu 10.50 155.17 4.72 89.56 44.95 4.06 45. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.11 19.30 49.79 0.20 5.62 59.06 47.52 0.70 229. C.30 82.69 76.74 10.23 49.09 37.10 56.99 38.41 36.64 19.13 6.10 90.75 16.13 24.30 121.09 89.46 21.43 12.71 114.03 71.45 Feb 62.57 25.65 36.00 261.21 4.00 74.39 37.70 7. K.15 27.44 2.76 30.37 69.28 37.36 40.19 73.14 107.32 7.87 2.21 72.74 8.24 55. 3-72 Tabel 3.70 74.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA dan melimpah dan sebaliknya saat musim kemarau air yang tersedia sebagai debit aliran di sungai akan sedikit sekali.83 6.10 103.65 94.51 83.20 200.44 171.22 17.68 berikut ini.49 42. Malang & K.20 172.40 5.22 2.76 95.34 95.05 178.53 Mar 47.03 94.69 60.42 39.79 101.41 158.88 4.71 0.75 110.62 67.04 7.11 26.61 2.05 20.48 32.61 25.04 48.93 38.00 109.40 53.56 23.61 113.00 22.32 6.32 0.86 5.50 53.19 50.18 51.24 5.08 6.40 13.71 108.90 45.07 140.47 19.32 90.68 113.91 41.19 45.25 96.71 17.75 119.40 44.23 53. Air yang tersedia tergantung dari input yang berupa hujan yang jatuh di daerah tangkapan hujan dan respon masing-masing LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .04 54.17 35.00 272.79 23.33 Sep 0.44 52.00 76.10 23.30 242.71 63.42 80.18 31.28 Des 21.64 91.08 39.75 5.27 54.75 39.59 46. Probolinggo Pasuruan & K.04 225.50 44.40 6.97 74.15 86.28 116.22 24.29 33.45 62.18 22.02 12.15 64.14 Apr 43.24 0.08 80.87 130.71 97.35 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.11 21.19 29.49 8.54 0.78 68.99 22.62 47.00 114.98 1.55 18.00 139. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.35 136.92 56.22 4. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Jan 58.601 30.25 99.47 5.21 0.75 64.45 95.31 3.73 52.80 66.30 50.

neraca air untuk tahun 2025 disajikan dalam Tabel 3.61 33.55 45.56 21. Blitar Kediri & K. Kediri Malang.35 34.27 74.80 92.87 Sep -1.22 -2.97 95.79 64.39 29.28 22.78 -0.88 -2.17 28.64 -0.79 60.47 -15.12 19.63 123.12 73.13 Neraca Air (m3/det) Jun Jul -0. Kebutuhan dan proyeksi kebutuhan air dihitung berdasarkan data-data jumlah penduduk dan luas lahan yang didapat.21 -12.93 101.53 19.96 5.98 -14.80 41.75 48.73 14.79 34.40 98.35 26. Hitungan keseimbangan air dilakukan untuk setiap wilayah kabupaten atau kota berikut dengan ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungaisungai yang melayaninya.49 37.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA daerah aliran sungai.54 -19.33 39.63 -4.11 100.37 Feb 57.32 58.74 78.26 -25.27 53.02 131.40 24.70 19. Respon masing-masing daerah aliran sungai dipengaruhi oleh jenis penggunaan lahan. K.46 Okt -4.28 122.63 41.98 82.56 20.98 84.63 74.40 32.18 68.47 85.08 33.98 19.95 37.25 239.92 115.60 -7.98 30.51 57.72 4.92 124.65 39.27 27.65 36.53 Nov 5.04 62.84 257.36 86.69 51.40 78. Probolinggo Pasuruan & K.15 44.11 5.44 -10.22 24.97 44.23 10.43 137.71 -1.65 47.45 35.47 -2. 69 Neraca Air di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.70 -21.78 83.13 -1.31 5.34 27.85 27.77 -3.54 73.06 93.28 7.99 2.21 0.67 46.34 33.36 15.69 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .85 43.80 24.22 150.39 79.34 80.82 18.16 -9.14 4.40 8.18 -17.33 62.41 100.23 34.43 62.72 50.58 50.68 Des 18.41 70.99 175.38 65.33 60.93 43.39 37.73 12.11 253. 3.71 berikut ini.13 29. Kebutuhan air untuk irigasi dihitung dengan memasukkan faktor intensitas tanam dan pergiliran awal musim tanam untuk mereduksi puncak-puncak kebutuhan air irigasi yang sangat besar.70 dan jumlah bulan defisit disajikan dalam Tabel 3.68 Apr 39. Sedangnya besarnya kebutuhan tergantung pada jumlah penduduk dan kondisi serta aktifitas masyarakat di masing-masing daerah.03 10.67 52.71 107.80 31.62 23.39 -28.61 Mar 42.53 Agu -2.40 52.85 22.52 -36.67 64. Pasuruan Sidoarjo Jan 54.40 -33.05 0.36 97.66 43.44 61.05 77.38 67.18 -24.13 102.96 47. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.25 19.34 21. 3-73 Tabel 3. Malang & K.99 71. 2.12 28.38 0.69. Selengkapnya hasil analisa neraca air untuk Propinsi Jawa Timur tahun 2003 disajikan dalam Tabel 3.33 97. kondisi geologi dan kondisi tanah.30 -0. Ketersediaan air di titik-titik pengambilan di sungai-sungai tersebut dianggap tetap.54 57.06 35.71 33.27 60.93 -5.92 14.04 59. 4.93 -9.56 -3.39 123.67 Mei 6.65 35.25 29.53 15.95 3.20 83.81 125. Beberapa kriteria yang dipakai dalam analisis neraca air ini adalah sebagai berikut: 1.44 88.99 6.79 120.80 31.70 3.

17 7.74 -9.49 69.24 60.88 -14.93 211.43 11.98 30.81 18.89 -6.56 79.57 34.89 9.64 4.62 -8.26 28.72 31.06 10.82 -51.59 21.74 -4.21 31.37 60.46 234.69 21.44 36.73 38.59 19.15 46.28 -25.49 -31.09 2.50 -6.77 219.50 8.13 60.00 -5.45 17.08 -20.79 -29.28 99.31 -14.36 325.60 -35.89 13.86 60.99 113.63 -5.41 -3.07 73.42 -5.00 23.43 -19.77 -13.79 34.45 39.86 7.89 -3.73 66.87 -27.24 -24.57 42.40 -11.81 -11.43 148.15 -16.76 -1.60 17.59 26.16 31.47 32.59 100.69 61.98 -4.27 3.08 -10.90 20.77 28.30 -5.78 1.59 7.06 47.33 0.84 -2.43 34.54 28.77 18.51 34.90 Apr 39.86 -27.56 -0.31 Apr 150.14 35.84 -9.89 -19.76 -9.55 19.34 -4.11 -25.84 -0.22 -17.31 51.45 -1.05 148.12 16.88 -9.71 122.77 -3.92 29.91 4.62 -5.12 -11.73 1.40 1.59 118.97 17.29 Feb 58.16 9.22 -15.11 29.22 -34.35 114.92 -0.12 -22.92 -4.11 30.75 -1.84 72.67 Agu -2.73 65.34 10.47 94.64 25.99 -2.69 -42.85 -8.57 33.98 -12.12 -4.34 -2.76 -7.06 10.55 -27.58 60.45 -28.95 49.00 -3.43 -27.27 Agu 21.70 -7.52 0.89 14.37 94.60 19.14 64.55 19.25 83.36 0.04 51.12 44.17 3.73 70.23 71.88 123. K.82 23.42 -4.95 8.33 -34.84 -0.80 64.96 306.01 -4.81 35.10 29.84 114.22 -1.34 45.95 33.22 48.59 -8.63 45.15 1.42 -1.03 128.96 36.99 12.82 338.96 20.05 66.18 99.23 14.91 60.74 -22.45 6.68 43.79 -1.08 5.21 -12. Blitar Kediri & K. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K.47 -6.03 8.38 252.06 -4.18 21.68 Mei 76.96 -1.75 -3.70 6.54 Okt -3.43 61.21 7.78 -0.66 174.80 3.58 0.99 -15.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA No 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Mojokerto & K.42 13. Kediri Malang.43 36.43 15.18 29.13 -8.62 10.39 -49.18 32.31 -14.93 -12.86 80.13 17.43 37.52 -4.19 35.26 122.53 -5.78 39.67 -13.11 15.81 -16. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.50 23.13 6.15 50.15 50.96 19.27 25.47 29.91 -11.40 18.52 83.43 27.54 -13.71 Feb 167.35 10.90 -21.61 57.32 Mar 43.37 81.70 4.16 65.54 31.68 -1.52 -52.83 -9.92 14.97 -5.31 19.48 35.27 -6.34 46.89 24.29 -28.31 23.51 326.78 3.81 -7. 70 Neraca Air di Propinsi Jawa Timur Tahun 2025 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K.79 23.59 11.64 211.42 56.52 Sep 37.88 308.06 3.17 219.49 -3.39 -5. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.29 -5.24 -10.17 -3.07 -16.74 -7.46 -40.13 124.28 16.93 Sep -1.65 27.80 46.05 20.80 63.50 49.32 15.85 129.04 9.65 -16.21 -5.56 -61.06 29.09 -13.04 Neraca Air (m3/det) Jun Jul -0.77 6.89 19.51 -22.26 Mei 6.92 10.51 -9. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Jan 54.73 32.42 -23. Malang & K.74 Mar 153.24 86.74 87.16 3.56 33.57 -8.11 34.35 -35.06 63.60 -4.79 11.49 -11.62 -42.85 -8.45 40.74 19.35 21.77 38.42 8.35 51.15 -23.73 27.86 238.85 9.62 -5.81 0.61 49.80 10.93 26.40 43.52 -8.14 -15.11 -6.52 -0.18 162.96 59.25 -1.29 34.60 3.46 -26.19 64.40 91.18 32.01 2.55 -8.43 -8.60 29.07 68.24 56.47 -0.56 -17.40 20.02 14.96 62.84 -17.67 96.62 77.05 19.42 -13.93 205.69 22.50 31.05 -22.28 32.53 -18.25 338.36 62.33 23.43 233.02 -42.84 64.37 86.02 19.66 28.26 64.84 21.12 -5.90 -12.81 -5.17 61.59 14.56 77. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K.81 0.37 70.44 Neraca Air (m3/det) Jun Jul 78.30 Nov 5.89 7.82 25.54 20.94 107.65 97.15 34.46 -4.90 31.68 98.36 9.02 -6.78 -14.67 39.69 1.32 -22.17 63.22 21.04 1.37 127.53 31.13 145.61 14.92 255.40 38.74 -8.97 21.84 8.16 -18.09 -6.90 22.28 -14.18 60.29 -21.31 -11.39 43.41 -8.10 -0.84 206.79 -12.16 21.60 88.49 33.09 -11.71 96.08 37.44 56.77 27.66 28.00 1.99 73.39 20.94 81.34 -32.77 -26.06 49.16 89. Tabel 3. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .68 60.88 -2.61 -2.65 81.08 Des 19.45 7.80 -16.59 3-74 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.36 -23.70 26.23 -5.02 136.80 -25.72 8.00 -8.96 -33.98 49.87 -56.21 -14.62 32.60 92.78 -18.84 2.80 -22.32 Des 65.81 32. Probolinggo Pasuruan & K.64 1.14 14.84 -1.70 -2.45 61.97 23.31 24.24 63.06 0.22 15.96 8.02 -3.19 -5.90 -16.84 -26.76 31.18 -5.18 -5.17 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.44 14.38 73.07 -6.50 -6.98 -7.66 44.08 31.91 -12.35 -13.15 36.76 17.54 -3.45 27.12 Okt 17.28 -10.33 -19.05 -3.32 16.73 23.89 -11.67 54.41 11.02 118.12 -2.03 14.44 16.96 50.57 3.53 38.51 -10.09 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Nov 21.43 123. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya Jan 119.71 67.21 -15.30 83.53 39.64 29.89 14.42 -13.97 27.

kegiatan industri. 71 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Kabupaten/Kota Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar & K. dan usaha komersial lainnya. Malang & K. Batu Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo & K. K. Probolinggo Pasuruan & K. 3. Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Surabaya 2003 5 6 3 0 0 0 1 0 4 4 0 2 0 0 6 0 1 0 8 7 7 6 6 7 4 8 5 6 7 3 2005 5 6 3 0 0 0 1 0 4 4 0 2 0 0 6 0 1 0 8 7 7 6 6 7 4 8 6 6 7 3 2010 5 6 3 0 0 0 1 0 3 4 0 3 0 0 6 0 1 0 8 7 7 6 6 7 4 8 7 6 7 4 2015 5 6 3 0 0 0 1 0 3 4 1 3 0 0 6 0 1 0 8 7 7 6 6 7 4 8 7 6 7 4 2020 5 6 3 0 0 0 1 1 3 4 1 5 1 0 6 0 1 0 8 7 7 6 6 7 4 8 7 6 7 4 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-75 2025 5 6 3 0 0 0 1 1 3 4 1 5 1 0 6 0 1 0 8 7 7 6 6 7 4 8 7 6 7 5 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama. Pasuruan Sidoarjo Mojokerto & K. Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun & K.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3. Pemanfaatan air tanah ini biasanya akan mempunyai kecenderungan semakin meningkat seiring dengan pesatnya laju perkembangan penduduk dan kemajuan pembangunan. Blitar Kediri & K. terutama sebagai sumber pasokan alternatif untuk kebutuhan akan air bersih dan air minum sehari-hari penduduk (rumah tangga).2 ANALISIS POTENSI AIR TANAH Pemanfaatan sumber daya air tanah mempunyai peranan penting dalam menunjang kehidupan masyarakat. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kediri Malang.

Karena tingkat kesarangan dan kelulusan batuan itu ditentukan terutama oleh tingkat konsolidasinya. sebaran. dalam kaitannya dengan hidrogeologi. telah dimulai sejak abad ke 19. kemanfaatan. Pemanfaatan air tanah dalam menunjang kegiatan pembangunan pada masa sekarang ini dirasakan semakin meningkat sehingga menuntut adanya upaya pengelolaan sumberdaya tersebut secara utuh yang berlandaskan fungsi sosial dan ekonomi. yaitu sejak dilakukannya pemboran pertama pada tahun 1848 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Batuan yang mempunyai kesarangan efektif dan kelulusan tinggi akan mempunyai potensi air yang lebih besar. 3-76 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Hidrogeologi merupakan ilmu tentang keterdapatan. keterpaduan dan keserasian. curah hujan. morfologi dan tutupan lahan (land coverage). Pada saat itu tercatat jumlah pengambilan air tanah dari 13 sumur bor yang ada di Kota Jakarta kurang lebih 3. keseimbangan. Setelah pemboran pertama tersebut sukses. di Fort Prins Hendrik (sekitar Mesjid Istiqlal) Jakarta. Pemanfaatan air tanah dalam di daerah Jakarta. yaitu kesarangan (porosity) dan kelulusan (permeability) batuan. pengambilan air tanah dalam jumlah yang cukup berarti dan dianggap sebagai awal pemanfaatan air tanah dimulai pada tahun 1879. menurut catatan yang ada. Sejak saat itu pemanfaatan air tanah dalam untuk penyediaan air bersih mengalami peningkatan sampai dengan saat ini. Bahan lepas berukuran butir pasir atau lebih kasar dan batuan padu memiliki celahan atau rekahan dapat bertindak sebagai akuifer. batuan-batuan dikelompokkan menjadi bahan lepas atau setengah padu dan batuan padu.4 juta m3/tahun. Sebaran dan pergerakan air tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama jenis dan sifat fisik batuan. setelah pengeboran di Hoofdienschool (sekarang kira-kira di Tegalega).BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Air tanah terdapat di dalam suatu lapisan batuan pengandung air (akuifer) yang dipengaruhi oleh sifat fisik batuan. sedangkan bahan lepas berbutir lempung dan batuan padu yang tak bercelah tidak dapat bertindak sebagai akuifer (non akuifer). maka pemanfaatan air tanah untuk penyediaan air bersih mengalami peningkatan yang berarti. Sedangkan di daerah Bandung dan sekitarnya air tanah dalam mulai dimanfaatkan sejak tahun 1893. dan pergerakan air tanah dengan tekanan pada hubungannya terhadap kondisi geologi suatu daerah. Dalam perkembangannya.

pemanfaatan sumber daya air tanah tersebut bahkan digolongkan strategis karena telah menjadi komoditi ekonomi yang memiliki peran penting dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . pengaliran dan pelepasan air tanah. keadilan. kemandirian. Peta ini merupakan lampiran dari Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. Hal tersebut mengandung arti pelaksanaan kewenangan pengelolaan air tanah tetap harus berlandaskan azas pengelolaan yang muaranya adalah ketersediaan sumber daya air tanah secara berkelanjutan (sustainable groundwater resource) yang dapat menjamin pemanfaatannya yang berkelanjutan (sustainable 3-77 groundwater development). serta transparansi dan akuntabilitas publik. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral.2. 716 K/40/MEM/2003. daerah memiliki kewenangan dalam pengelolaan air tanah yang tersedia di wilayahnya dan bertanggungjawab memelihara kelestarian lingkungan. Kendala yang dihadapi oleh sebagian besar pemerintah daerah otonom saat ini adalah terbatasnya data dan informasi potensi air tanah yang diperlukan sebagai acuan dasar dalam pengelolaan air tanah secara utuh.1 Pembagian Cekungan Air Tanah Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas-batas hidrogeologi. Pembagian cekungan air tanah untuk Pulau Jawa dan Madura didasarkan pada Peta Cekungan Air Tanah yang diperoleh dari Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. 22 Tahun 1999 dan Peraturan Pemerintah No. Tujuannya agar ketersediaan dan pemanfaatan air tanah dapat menjamin kelangsungan pembangunan secara berkelanjutan untuk generasi sekarang dan mendatang. tempat berlangsungnya semua kejadian hidrogeologi seperti pengimbuhan. 25 Tahun 2000. 3. Di beberapa daerah. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana diamanatkan oleh UndangUndang No.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA kelestarian.

85 571.12 699.13 1.32 506. 3-78 Tabel 3.702.85 1.14 851.75 1.39 150.674.87 225.294.10 1.108.85 Jumlah Aliran (juta m /th) Bebas Tertekan Total 836 27 863 180 13 193 1.95 1.305.72 berikut ini disajikan nama-nama cekungan air tanah beserta dengan jumlah alirannya baik itu jumlah aliran tertekan maupun jumlah aliran bebas.05 1.10 439.24 451.614.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Pada Tabel 3.43 510.23 893.11 70.492.45 719.89 484.74 207.688.32 2.07 864.432.41 300.98 382.77 603.03 47.809.390.52 525.63 299.21 108.489 428 3 431 413 30 443 164 16 180 103 1 104 795 117 912 595 28 623 550 30 580 978 69 1.33 480.78 1.90 1.218.26 663.093 384 2 386 803 40 843 1.019 37 1.047 691 87 778 415 30 445 519 28 547 98 13 111 448 14 462 224 7 231 445 21 466 554 5 559 362 46 408 638 4 642 18 0 18 46 0 46 248 11 259 366 3 369 503 10 513 43 0 43 23 0 23 65 0 65 49 0 49 644 17 661 130 0 130 153 4 157 427 8 435 210 8 218 872 14 886 3 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .76 1.17 1.483 6 1.91 396.056 759 34 793 451 16 467 276 0 276 1.00 1.47 70.075 18 1.21 3.56 657. 72 Cekungan Air Tanah (CAT) di Pulau Jawa dengan Jumlah Alirannya No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 Nama CAT CAT Labuhan CAT Rawadanau CAT Serang-Tangerang CAT Malingping CAT Jakarta CAT Bogor CAT Sukabumi CAT Cianjur CAT Jampangkulon CAT Bekasi-Karawang CAT Subang CAT Ciater CAT Lembang CAT Batujajar CAT Bandung-Soreang CAT Cibuni CAT Banjarsari CAT Tasikmalaya CAT Garut CAT Malangbong CAT Sumedang CAT Sukamantri CAT Ciamis CAT Kawali CAT Kuningan CAT Majalengka CAT Indramayu CAT Sumber-Cirebon CAT Majenang CAT Sidareja CAT Tegal-Brebes CAT Lebaksiu CAT Purwokerto-Purbalingga CAT Cilacap CAT Nusakambangan CAT Kroya CAT Banyumudal CAT Pekalongan-Pemalang CAT Kebumen-Purworejo CAT Karangkobar CAT Subah CAT Wonosobo CAT Magelang-Temanggung Luas (km2) 725.12 618.567.255.56 1.

55 564.15 198.50 10.613 843 37 880 160 0 160 27 41 68 3.066.233 124 77 137 295 130 21 3-79 Sumber: Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.05 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA No 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 Nama CAT CAT Yogyakarta-Sleman CAT Wates CAT Kendal CAT Sidomulyo CAT Rawapening CAT Ungaran CAT Salatiga CAT Semarang-Demak CAT Karanganyar-Boyolali CAT Eromoko CAT Wonosari CAT Kudus CAT Jepara CAT Pati-Rembang CAT Lasem CAT Watuputih CAT Randublatung CAT Ngawi-Ponorogo CAT Surabaya-Lamongan CAT Tuban CAT Panceng CAT Brantas CAT Bulukawang CAT Sumberbening CAT Pasuruan CAT Probolinggo CAT Lumajang-Jember CAT Besuki CAT Bondowoso-Situbondo CAT Wonorejo CAT Banyuwangi CAT Blambangan CAT Bangkalan CAT Ketapang CAT Sampang-Pamekasan CAT Sumenep CAT Toranggo K/40/MEM/2003.849 163 238 671 835 2.52 398.97 2.890.930.426 406 1.73 1.39 180.649.547 66 1.230.625 446 1.674 163 238 628 711 2.02 741.19 287.925.86 237.85 335.538.75 1.060.83 555.6 8 607.505.52 1.598 433 1.63 401.807.89 422.23 107.123.90 2.12 172.23 420.196.163 124 77 137 238 130 21 175 0 0 43 124 131 33 172 27 70 0 0 0 57 0 0 3. 716 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .10 1.31 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Jumlah Aliran (juta m3/th) Bebas Tertekan Total 504 9 513 38 0 38 79 2 81 42 0 42 133 13 146 145 8 153 10 2 12 783 19 802 1.338 21 1.387.17 487.08 399.14 4.87 1.25 576.51 279.95 616.359 10 0 10 463 0 463 436 11 447 176 4 180 273 4 277 107 9 116 3 0 3 23 9 32 1.91 4.10 1.52 516.756 479 1.98 1.75 32.004. Luas (km2) 842.37 1.

tidak dapat mengalirkan air sama sekali. d. Peta cekungan air tanah tersebut diatas mengungkapkan bahwa air tanah di Pulau Jawa dan Madura dijumpai dalam 2 (dua) sistem akuifer. dimana hasil dari sumur produksinya cukup untuk melayani kebutuhan rumah tangga. Poor Aquifer. Aquiclude. Major Aquifer. Satuan geologi yang bersifat kedap air. Akuifer dengan permeabilitas dan cadangan yang cukup besar. Akuifer dengan permeabilitas dan cadangan yang terbatas. dimana hasil dari sumur produksinya cukup untuk melayani kebutuhan rumah tangga. mempunyai kapasitas debit yang tidak ekonomis untuk sumur produksi.2 Jenis Aquifer Air Tanah 3-80 Dalam pembahasan hidrogeologi dan potensi air tanah sering dijumpai istilahistilah berikut: a. Jenis litologi akuifer tak tertekan diperoleh secara langsung dari singkapan batuan dan pengamatan terhadap dinding sumur gali yang dipakai untuk penyelidikan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Merupakan akuifer lokal dengan permeabilitas dan cadangan yang hanya cukup untuk melayani kebutuhan rumah tangga saja. mempunyai kapasitas debit yang ekonomis untuk sumur produksi. f.2. sedangkan untuk industri dan irigasi layanannya terbatas. yakni sistem akuifer tak tertekan (unconfined aquifer system) yang sering disebut sistem akuifer dangkal (shallow aquifer system) dan sistem akuifer tertekan (confined aquifer system) yang sering disebut akuifer tertekan (deep aquifer system). Aquitard. Satuan geologi yang mempunyai permeabilitas tinggi. e. b. Satuan geologi yang memiliki permeabilitas rendah. Minor Aquifer. industri dan irigasi. Aquifer. Akufer tak tertekan yang dimaksud adalah akuifer yang dibatasi di bagian atasnya oleh muka air bertekanan sama dengan tekanan udara luar dan di bagian bawahnya oleh lapisan batuan yang secara nisbi bersifat kedap air. c.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3.

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA geologi. Data tersebut meliputi jenis litologi. 3-81 3. Hasil dari perhitungan potensi air tanah untuk tiap kabupaten dan kota tersebut di tiap propinsi disajikan dalam Tabel 3. Menjumlahkan aliran-aliran dari cekungan-cekungan air tanah yang berada dalam tiap kabupaten dan kota. 4. Meng-overlay peta cekungan air tanah yang sudah diperoleh dari Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dengan peta batas wilayah administrasi yang diperoleh dari BPS.2. hasilnya adalah potensi air tanah yang dimiliki oleh tiap kabupaten atau kota.73 sampai dengan Tabel 3. Sebaran akuifer tertekan secara vertikal diketahui berdasarkan hasil analisis data geolistrik dan data-data pengeboran yang tersedia. 3. kedudukan akuifer dan sifat air tanah yang dikandungnya. Membagi jumlah aliran yang dimiliki oleh setiap cekungan air tanah ke dalam wilayah-wilayah administrasi kabupaten atau kota yang meliputinya sebanding dengan perbandingan luas daerah cekungan air tanah yang telah dibagi sebelumnya.78 pada halaman berikut ini. 2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Membagi luasan daerah cekungan air tanah tersebut ke dalam wilayah administrasi kabupaten atau kota sesuai dengan batas wilayah administrasi dari kabupaten atau kota yang meliputinya.3 Potensi Air Tanah Untuk dapat mengetahui potensi air tanah yang dimiliki oleh tiap wilayah kabupaten atau kota maka digunakan suatu metoda perhitungan dengan memanfaatkan data yang ada dengan langkap-langkah sebagai berikut: 1.

42 342.63 3.85 111.95 451.59 1.48 0.53 30.79 124.27 345.87 781.34 35.65 1.68 20.70 3.46 907.82 1. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .51 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.35 20.94 10.75 0.62 12.64 28. Tabel 3.112. 73 Potensi Air Tanah di Propinsi Banten No 1 2 3 4 5 6 Kabupaten Pandeglang Lebak Tangerang Serang Kota Tangerang Kota Cilegon Potensi Air Tanah (m3/detik) (juta m3/tahun) 1.95 48.66 15.56 10.35 32.95 2.28 2.38 24. 75 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Kabupaten Bogor Sukabumi Cianjur Bandung Garut Tasikmalaya Ciamis Kuningan Cirebon Majalengka Sumedang Indramayu Subang Purwakarta Karawang Bekasi Kota Bogor Kota Sukabumi Kota Bandung Kota Cirebon Kota Bekasi Kota Depok Potensi Air Tanah (m3/detik) (juta m3/tahun) 1.78 391.77 2.31 79.04 80.528.97 72.31 631.95 1.80 849.40 10.36 3.96 26.33 119.81 48.514.00 731.04 1.23 14.79 883.67 24.20 707.25 22.78 32.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.09 3.29 35.02 101. Tabel 3.122.21 54.25 482.95 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.034.48 771.07 28.83 8. 74 Potensi Air Tanah di Propinsi DKI Jakarta No 1 2 3 4 5 Kabupaten Jakarta Selatan Jakarta Timur Jakarta Pusat Jakarta Barat Jakarta Utara Potensi Air Tanah 3 3 (juta m /tahun) (m /detik) 89.31 87.43 253.73 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-82 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.05 638.53 23.72 2.76 2.

Tabel 3.21 1.94 58.93 12.71 352.70 160.62 7.67 10.78 245.14 0.44 0.00 560.50 10.19 348.80 7.12 342.56 197.69 7.36 380. 77 Potensi Air Tanah di Propinsi DIY No 1 2 3 4 5 Kabupaten Kulonprogo Bantul Gunungkidul Sleman Kota Yogyakarta Potensi Air Tanah (m3/detik) (juta m3/tahun) 59.44 311.18 3.07 242.06 7.16 11.41 0.59 326.21 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-83 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.35 7.94 5. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .67 10.94 7.55 8.72 11.89 19.67 1.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.06 12.72 9.69 10.17 301.20 6.91 288.23 4.25 250.19 9.16 29.86 4. 76 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Tengah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kabupaten Cilacap Banyumas Purbalingga Banjarnegara Kebumen Purworejo Wonosobo Magelang Boyolali Klaten Sukoharjo Wonogiri Karanganyar Sragen Grobogan Blora Rembang Pati Kudus Jepara Demak Semarang Temanggung Kendal Batang Pekalongan Pemalang Tegal Brebes Kota Magelang Kota Surakarta Kota Salatiga Kota Semarang Kota Pekalongan Kota Tegal Potensi Air Tanah (m3/detik) (juta m3/tahun) 131.87 38.08 5.62 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.06 282.48 9.77 227.68 0.40 7.64 0.70 407.23 105.89 167.40 146.64 32.60 124.09 302.18 242.85 220.95 1.88 9.21 163.79 9.45 144.04 6.79 17.72 12.14 337.75 1.64 3.30 297.96 224.76 5.35 329.75 4.41 5.

34 10.80 34.71 10.642.90 23.59 6.41 191.088.89 53.06 454.32 11.09 320.22 12. Pengambilan air tanah dapat menimbulkan dampak negatif bagi sumber daya air tanah dan lingkungan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .68 14.55 4.20 18. 3.09 8.21 6.01 288.63 14.034.75 32.695.63 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-84 Sumber: hasil analisis Tim Dinamaritama.84 14.08 421.34 315.23 0.27 14.87 0.97 8.43 380.52 6.70 0.44 0.39 3.58 7.85 19.29 13.53 1.45 28.2.06 154.80 0.60 52.42 441.17 319.52 0.99 254.47 12.35 1.14 441.4 Prospek Pengembangan Air Tanah Peningkatan kebutuhan akan air bersih untuk rumah tangga dan industri yang cenderung meningkat pada akhirnya akan meningkatkan pengambilan air tanah sebagai salah satu pilihan untuk mencukupinya.66 193.11 833.37 37.37 360.60 595.12 233.90 115.71 2.76 16.178.08 26.53 264.39 114.37 10.06 10.14 26. 78 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Timur No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 Kabupaten Pacitan Ponorogo Trenggalek Tulungagung Blitar Kediri Malang Lumajang Jember Banyuwangi Bondowoso Situbondo Probolinggo Pasuruan Sidoarjo Mojokerto Jombang Nganjuk Madiun Magetan Ngawi Bojonegoro Tuban Lamongan Gresik Bangkalan Sampang Pamekasan Sumenep Kota Kediri Kota Blitar Kota Malang Kota Probolinggo Kota Pasuruan Kota Mojokerto Kota Madiun Kota Surabaya Potensi Air Tanah (m3/detik) (juta m3/tahun) 65.78 1.20 0.00 37.73 13.00 460.09 1.28 9.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.42 615.170.55 3.43 0.81 1.87 1.

Di daerah yang pengambilan air tanahnya belum intensif. air tanah sulit didapat dengan cara membuat sumur gali karena kedudukan muka air tanah relatif dalam. daerah dataran pantai merupakan pilihan utama. Pembuatan sumur gali atau sumur pantek untuk mendapatkan air tanah dari sistem akuifer tak tertekan. Oleh karena itu. apalagi kalau daerah yang akan dikembangkan tersebut terletak di daerah pantai karena rentan terhadap terjadinya kontaminasi air laut. upaya pengawasan dan pemantauan kuantitas dan kualitas air tanah secara periodik oleh pemerintah daerah setempat perlu dilakukan secara dini. Beberapa cara untuk mengoptimalkan pemanfaatkan air tanah yang masih tersedia di daerah yang pengambilan air tanahnya belum intensif adalah sebagai berikut: a. misalnya karena adanya alih fungsi lahan. pengembangan pemanfaatan air tanah masih memungkinkan dilakukan. Penduduk di Pulau Jawa yang terletak di daerah perkotaan. pengambilan air tanah mungkin akan dapat menimbulkan resiko kemerosotan kualitas air tanah dengan adanya penyusupan air laut atau pencemaran oleh bahan pencemar lainnya. Agar pengambilan air tanah dapat dilakukan secara optimal. Salah satu indikasi perubahan kondisi air tanah di suatu daerah adalah adanya penurunan muka air tanah dan juga penurunan kualitas yang disebabkan oleh pengambilan air tanah secara berlebihan atau sebab-sebab lain. Untuk penduduk yang menempati daerah pebukitan.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA sekitarnya apabila tidak dilakukan dengan tepat. pengembangan pemanfaatannya perlu mempertimbangkan skala prioritas peruntukannya. Untuk keperluan industri yang tidak terlalu menuntut syarat kualitas air tanah. yakni yang termasuk dalam wilayah potensi air tanah tinggi. sebagian besar sudah dilayani jaringan pemipaan air baku oleh PDAM dan sebagian lainnya masih memanfaatkan air tanah untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangganya dengan cara membuat sumur gali atau sumur pantek. dalam arti kelestarian ketersedian dan kualitas air tanah tetap terjaga. 3-85 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Meskipun demikian.

peruntukan pemanfaatan.2. A. 3-86 3. Dampak langsung pengambilan air tanah tersebut telah menyebabkan penurunan muka air tanah sehingga membentuk kerucut depresi muka air tanah di sekitar daerah yang pengambilan air tanahnya intensif. pembinaan dan pengendalian. sistem pengaliran air dari lokasi sumber mata air ke lokasi yang membutuhkan dapat dilakukan secara gravitasi. Sedangkan untuk mengetahui LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .5 Permasalahan Penggunaan Air Tanah Pengambilan air tanah yang intensif mengakibatkan berbagai dampak yang bersifat langsung maupun tidak langsung. konservasi. serta pengawasan air tanah. Pemanfaatan air tanah dengan berbagai cara di atas perlu dilakukan dalam kerangka pengelolaan air tanah secara utuh melalui kegiatan inventarisasi potensi.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA b. c. Penurapan mata air berdebit besar (Q > 50 l/detik) terutama yang banyak dijumpai di daerah hulu sungai di pegunungan. Perubahan jumlah air tanah yang terdapat dalam cekungan maka akan diikuti oleh perubahan kedudukan muka air tanah. Kedudukan muka air tanah dapat diperoleh dari pengukuran muka air tanah pada sumur gali dan sumur bor terpilih.. Selanjutnya pada kondisi yang lebih lanjut penurunan muka air tanah menyebabkan dampak berupa penurunan muka tanah/amblesan yang mengakibatkan terjadinya penggenangan atau banjir pada daerah yang ambles tersebut. Selain itu penurunan muka air tanah juga memicu terjadinya kontaminasi air asin atau intrusi air laut. Pembuatan sumur bor untuk mendapatkan air tanah dari sistem akuifer tertekan atau sistem akuifer dalam. Penurunan Muka Air Tanah Kemerosotan kuantitas air tanah ditunjukkan oleh penurunan kedudukan muka air tanah. perencanaan pendayagunaan. oleh karena itu untuk mengetahui perubahan kuantitas maka kita dapat dilakukan melalui observasi penurunan muka air tanah. perizinan.

dilakukan melalui analisis data rekaman muka air tanah otomatis (Automatic Water Level 3-87 Recorder-AWLR) pada sumur pantau. muka air tanah selalu dalam keadaan dinamis. Sedangkan perubahan pola muka air tanah tertekan umumnya disebabkan oleh adanya pengambilan air tanah yang terus meningkat. dan di Kota Bandung penurunan berkisar antara 0. 1. Perubahan kedudukan muka air tanah tak tertekan/dangkal sangat dipengaruhi oleh musim dan besarnya curah hujan.61 – 6.01 – 4. karena daerah imbuhnnya di tempat itu juga.84 – 3. Sehingga indikasi adanya perubahan pola muka air tanah dangkal sebagai akibat pengambilan tidak dapat terlihat jelas. Wilayah Bandung Di daerah Cimahi dan Margaasih penurunan muka air tanah berkisar antara 1.28 m/tahun. Sedangkan kedudukan muka air tanah akuifer dalam berikut perubahan yang terjadi dapat diuraikan sebagai berikut: LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Apabila besar imbuhan air tanah sama dengan jumlah lepasan atau jumlah pengambilan air tanah. Dalam kondisi ini muka air tanah relatif tetap atau tidak berubah oleh waktu. kemudian daerah Majalaya penurunan muka air tanah berkisar antara 0.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA perubahan kedudukan muka air tanah secara menerus.26 m/tahun. maka akan terjadi penurunan muka air tanah yang dapat membentuk kerucut muka air tanah (cone of depression) pada daerah dimana pengambilan air tanah intensif. maka terjadi suatu keseimbangan. Kemudian akibat dari jumlah pengambilan air tanah yang melampaui kemampuan imbuhannya.95 m/tahun. Hal ini ditunjukkan oleh naiknya muka air tanah dangkal sebagai akibat proses pengisian kembali pada musim hujan dan penurunan muka air tanah secara gradual berlangsung pada musim kemarau. dengan fluktuasi musiman pada kedudukan sekitar rata-ratanya.55 – 2.55 – 2. terutama di daerah padat industri.62 m/tahun. di Dayeuhkolot berkisar antara 0. Dalam suatu cekungan air tanah. Berikut ini disajikan penurunan muka air tanah di beberapa wilayah yang sudah sangat kritis. daerah Rancaekek–Cimanggung penurunan berkisar antara 0.77 m/tahun.

02 – 91.50 m bmt.31 m bmt.86 – 42.55 – 53. 2.54 m bmt. Wilayah Jakarta Kedudukan muka air tanah pada dekade 60an. kedalaman muka air tanah tahun 2003 sebesar 64.09 – 2.66 m bmt (di bawah muka tanah).16 m bmt.17 – 84. Pada tahun 1995 muka air tanah di daerah ini berada pada 20.16 m – 78.87 – 3. muka air tanah rata-rata tahun 2003 adalah 61. Sehingga kondisi seperti itu (muka pisometrik di atas muka laut).51 m bmt. 3-88 • Kedudukan muka air tanah di Cimahi Selatan tahun 2003 pada kedalaman 45.39 m bmt.44 – 5. Pada tahun 1995 muka air tanah di daerah ini pada kedalaman 39. Hal ini menunjukkan kecenderungan penurunan muka air tanah rata-rata 2.77 m/tahun. Pada tahun 2000 muka air tanah berkisar antara 28. Kecenderungan penurunan muka air tanah rata-rata 0. bahkan di beberapa tempat sudah mencapai lebih dari 40 m di bawah muka laut (bml). saat ini di wilayah CAT Jakarta dapat dikatakan tidak akan dijumpai lagi.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA • BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Daerah Cimahi Tengah. tercatat umumnya masih berada di atas muka laut. Muka air tanah pada sumur bor produksi di daerah ini mengalami penurunan rata-rata 0. berdasarkan hasil analisis data hidrograf dari sumur pantau di PT Trisulatex.64 m/tahun. pada tahun 2000 pada kedalaman 16.58 m/tahun. Kedudukan muka air tanah tertekan yang telah berada di bawah muka laut sebarannya meliputi hampir seluruh wilayah CAT Jakarta.40 – 99.05 m bmt. di mana garis kontur muka air tanah tertekan nol meter yang ditarik dengan acuan muka LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .05 m bmt. namun setelah dekade 70an muka air tanah pisometrik dari akuifer tengah turun relatif tajam.34 m bmt.96 m bmt. • Daerah Dayeuhkolot. • Kedalaman muka air tanah tahun 2003 di Cikeruh dan Rancaekek adalah 24. Kedalaman muka air tanah pada tahun 2000 berkisar antara 42. Muka air tanah tertekan di wilayah CAT Jakarta pada saat ini menunjukkan telah berada di bawah muka laut. Muka air tanah di daerah ini mengalami penurunan rata-rata 1. Sedang tahun 1999 muka air tanah rata-rata sebesar 51.98 – 60.

Ancol. Bumi Serpong Damai. Lippo Karawaci. Petrochem (No. PT. PT. Sinar Sosro (No. PT. dengan bentuk menyerupai elips. di daerah Jelambar dan Kapuk mencapai kedalaman 40 m bml. Cusson (No. Mess Tongkol (No. 8915). 5562). Kedudukan muka air tanah tertekan pada tahun 2003 ini bila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2001 terjadi peningkatan penurunan antara 1. Aqua (No. PT. dijumpai pada sumur pantau Tegalalur (No. 6098) dan PT GT. 3. Pasir Sariraya (No. Cawang-Sunter. Wilayah Semarang 3-89 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Kerucut penurunan muka air tanah tertekan akuifer bawah di daerah Jl. Cakung-Pulogadung. Kapuk (No.37 12. 5268). Terjadinya kerucut penurunan muka air tanah tertekan tersebut. Nagamas (No. di mana kedudukan muka air tanah terdalam telah mencapai lebih dari 50 m di bawah muka tanah setempat. Bintaro. 5317). yang menyebabkan penurunan muka air tanah hingga pada kedudukan lebih dari 40 m bml. 5545). Cawang. 5565). Batuceper. Hotel Bumi Wiyata (No. Daan Mogot mencapai kedalaman 50 m bml. Cengkareng Permai (No. 7178). Pondokgede dan berlanjut ke timur hingga ke Kota Bekasi. di daerah Cakung mencapai kedalaman 20 m bml. Narogong dan Tambun-Cibitung. 1892). 1880). Migro (No.30 m. 5501). 6076). Daerah dengan kedudukan muka air tanah terdalam ditunjukkan oleh adanya kerucut penurunan muka air tanah. PT. Kebayoran. 8911). Kapuk-Jelambar. PT. Daan Mogot dan Kapuk mencapai kedalaman 40 m bml. Daan Mogot-Kalideres. PT.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA laut dari barat ke timur kurang lebih melewati Kota Tangerang. Kondisi tersebut dijumpai di daerah Jatiuwung. di daerah Cakung mencapai kedalaman 40 m bml. akibat adanya peningkatan pengambilan air tanah yang intensif. Sari Sedap (No. Kerucut penurunan muka air tanah tertekan akuifer tengah di daerah Jl. PT. di daerah Rawamangun dan Tanjungpriok mencapai kedalaman 30 m bml.

3 m). dan Purwasari di bagian utara (3. Di daerah dataran Semarang kedudukan muka air tanah tertekan pada dekade 70an umumnya masih berada di atas muka tanah setempat (positif) atau artesis.7 m di bawah muka tanah setempat atau sekitar 26.7 m di bawah muka laut.7 dan 7. yaitu daerah Pelabuhan Tanjungmas. Kaligawe.5 m. Penurunan Kualitas Air Tanah Kualitas air tanah dipengaruhi oleh 3 (tiga) komponen yaitu: material (tanah dan batuan) yang mengandung atau yang dilewati air tanah. Bangetayu. Terboyo. Pengapon. Guntur dan Demak.5 m. Tempat lainnya yang juga mengalami penurunan berarti antara lain daerah Candisari (4. Daerah dengan kedudukan muka air tanah tertekan terdalam ditandai oleh adanya kerucut penurunan muka air tanah dengan bentuk menyerupai elips yang terpotong oleh garis pantai. Kerucut penurunan muka air tanah tertekan tersebut terjadi akibat pengambilan air tanah yang intensif sehingga mengakibatkan penurunan muka air tanah mencapai 26.33 hingga 17. Genuk. Pada saat ini kedudukan muka air tanah di dataran Semarang telah mencapai 27. dengan kedudukan terdalam di daerah Nolokerto mencapai sekitar 31 m dibawah muka laut. Kaliwungu. Bringin di sebelah barat dan Sumurboto dan Sumberrejo di bagian selatan. Mangkang. Kedudukan muka air tanah tahun 2003 dibandingkan dengan keadaanya pada tahun 2000 pada umumnya bertambah dalam sekitar 0. macam aliran dan LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .7 m di bawah muka laut.75 m. 3-90 B.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Pola kedudukan muka air tanah tertekan selain dipengaruhi oleh topografi juga sangat dipengaruhi oleh intensitas pengambilan air tanah. Tambakbulusan dan Nolokerto. Areal kedudukan muka air tanah tertekan telah berada di bawah muka laut dengan cakupan hampir sebagian besar daerah dataran pantai meliputi daerah Brangsong. sedangkan di daerah pantai yakni sekitar pelabuhan dan Tambakbulusan terjadi penurunan masing-masing 6. Penurunan terbesar terjadi di sekitar daerah Peterongan mencapai 17. Kondisi ini terdapat di daerah Semarang Utara.9 m).

dilakukan pengukuran suhu dan daya hantar listrik (DHL). serta analisis beberapa unsur kimia (nitrat dan amonium) secara langsung di lapangan. Oleh karena itu kualitas air tanah dapat berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. yaitu: volumetri tritasi. Daya 3-91 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . flame fotometri. kimia dan biologi dari contoh air tanah terpilih di laboratorium.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA proses perubahan akibat dari pencemaran yang sesuai dengan hukum fisika. spektrofotometri serapan atom. 1. Untuk baku mutu sumber air minum mengacu kepada PERMENKES RI No: 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum. 1994). spektrofotometri. Air tanah dangkal di daerah pegunungan dan jauh dari pemukiman umumnya memenuhi syarat untuk sumber air minum. elektrometri dan ravimetri. Metode analisis untuk penetapan bakteri coli yaitu dengan menggunakan Indeks JPT/MPN dalam 100 ml contoh dengan sistem 3 tabung. ditunjukkan dari hasil analisis laboratorium contoh air dari mata air Palasari dan mata air Sasaklemah yang terletak di lereng Gunung Manglayang (utara Ujungberung). Hasil analisis laboratorium contoh air dari mata air Palasari dan mata air Sasaklemah menunjukkan tingkat kekeruhan: 3 FTU. warna kurang dari 1 PtCo. Selain itu dilakukan analisis sifat fisika. Parameter-parameter hasil analisis laboratorium kemudian dibandingkan dengan baku mutu yang sesuai dengan peruntukannya. Wilayah Bandung Dalam pemantauan kualitas air tanah dangkal telah dilakukan pengambilan contoh air sebanyak 53 contoh yang berasal dari sumur gali dan sumur pantek di daerah pemukiman dan daerah industri. Berikut ini disajikan penurunan kualitas air tanah di beberapa wilayah yang sudah sangat kritis. kimia dan biologi. kemudian dari mata air. kimia dan logam berat yaitu metode analisis yang berpedoman pada buku pedoman Standard Methods (APHA-AWWA-WEF. Untuk mengetahui gambaran mengenai kualitas air tanah. tes penetapan dan tes penentuan jenis coli. yang meliputi tes perkiraan. 1985) dan Standar Nasional Indonesia (BAPEDAL. Metode analisis yang digunakan pada analisis fisika.

HCO3-: 60.1mg/l untuk mangan) disebabkan batuan akuifer yang banyak mengandung logam besi dan mangan. kesadahan 56. Cl.04 – 174.5 – 6 mg/l.2 mg/l.09 mg/l.3 mg/l. warna lebih dari 15 PtCo.91 – 6. Air tanah dangkal di daerah pemukiman dan industri umumnya tidak memenuhi syarat sebagai sumber air minum.32 – 12.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Hantar Listrik: 83 – 243 mikromhos/cm.1 – 3.4 mg/l. pH: 6. Na+: 4 – 8 mg/l. dari saluran air pembuangan domestik.60. SiO2: 12.61 – 35. Cl-: 8. Pencemaan coli tinja kemungkinan disebabkan oleh “septic tank” 3-92 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .35 – 26. pH kurang dari 6. Kandungan besi dan mangannya tinggi (>0. TDS: 56 – 190 mg/l.01 – 0. Hasil pemeriksaan dari 23 contoh air dari sumur gali dan sumur pantek menunjukkan bahwa kandungan bakteri coli tinja hanya berkembang pada sumur gali. serta mengandung bakteri coli tinja. Zn: 0.01 mg/l.3. Mg2+: 20. Pada umumnya senyawa besi dan mangan sangat umum terdapat dalam tanah dan mudah larut dalam air terutama bila air bersifat asam.lebih dari 50 mg/l. Pb: 0.80 – 19. NO3-: 3. Fe3+: 0.02 mg/l CaCO3.11 – 0.2 – 0.08 – 0.20 mg/l.85 mg/l.3 mg/l untuk besi dan >0. NH4+ lebih dari 1.02 mg/l dan Cd: 0. sedang pada sumur pantek umumnya tidak mengandung bakteri coli tinja. K+: 2. Rendahnya kualitas air tanah dangkal di daerah pemukiman dan industri ini kemungkinan disebabkan oleh litologi akuifer yang merupakan endapan danau dan pencemaran dari buangan limbah domestik.50 mg/l. Cu kurang dari 0. Beberapa parameter yang tidak sesuai persyaratan untuk sumber air minum antara lain: kekeruhan melebihi 5 FTU. Mn2+ lebih dari 0. Kehadiran amoniak dalam air bisa berasal karena adanya rembesan dari lingkungan yang kotor. Ca2+: 6.25 mg/l. SO42-: 1. dan NO3.61 mg/l.5 mg/l.1 mg/l.89 mg/l. lumpur atau karena tingginya kandungan logam besi dan mangan.07 mg/l. Amoniak terbentuk karena adanya pembusukan zat organik secara bakterial atau karena adanya pencemaran pertanian.23 – 0. Kekeruhan dan warna dapat terjadi karena adanya zat-zat koloid berupa zatzat yang terapung serta terurai secara halus sekali.01 – 128. Li+: 0.lebih dari 250 mg/l. CO22-: 44.13 mg/l. kehadiran zat organik.5.55 – 16. Fe3+ lebih dari 0.

5 m maka kedudukan saat ini yang telah mencapai kedalaman 18 . Berdasarkan data pada tahun 80an dimana kedudukan muka air tanah tertekan sekitar 2 . penurunannya hampir merata maksimum 40 mikromhos/cm2. kecuali pada endapan di daerah dataran pantai. Demikian pula ke arah tenggara yaitu searah dengan jalan raya jurusan Solo.7 – 0. Namun akibat pengambilan air tanah yang cenderung terus meningkat telah mengubah kondisi hidrolika air tanah. artinya cukup memenuhi persyaratan sebagai sumber air bersih. Wonodadi dan Karangtengah. Hal ini terlihat dari peningkatan nilai Daya Hantar Listrik (DHL) dan jumlah unsur klorida (Cl-) Pada pengukuran tahun 2003 perubahan DHL berkisar antara 6 hingga 151 mikromhos/cm2 dan di beberapa tempat terjadi perubahan yang sangat besar antara 450 hingga 2. 2.8 m/tahun. 3-93 C. Wilayah Semarang Penurunan kuantitas biasanya akan diikuti oleh penurunan kualitas seperti yang terjadi di daerah Semarang. yaitu meningkatnya kegaraman air tanah.7. terjadi peningkatan yang lebih besar dari harga rata-rata antara 75 hingga 151 mikromhos/cm2. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .260 mikromhos/cm2. Penyebaran Air Tanah Payau/Asin Kualitas air tanah yang terdapat di berbagai kelompok akuifer di Pulau Jawa dan Madura pada umumnya kondisi alamiahnya sangat bagus.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA dibuat terlalu berdekatan dengan sumur atau sumur berdekatan dengan sungai yang telah tercemar oleh tinja manusia. yang berdampak terjadinya penurunan kualitas air tanah. Hal yang menarik adalah bahwa di bagian utara sekitar Tegalrejo.27 m berarti laju penurunan muka air tanah tertekan di dataran Semarang selama 25 tahun terakhir rata-rata mencapai 0. yang diperkirakan terjadi akibat kerusakan konstruksi sumur bor bukan diakibatkan oleh penurunan kualitas air tanah. Randu.

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

Berikut ini disajikan penyebaran air tanah payau/asin di beberapa wilayah yang sudah sangat kritis. 1. Wilayah Jakarta Kriteria air tanah payau/asin didasarkan pada harga daya hantar listrik (DHL) ≥ 1500 µ mhos/cm, kadar khlorida (Cl-) ≥ 500 mg/l, dan atau zat padat terlarut (TDS) ≥ 1000 mg/l. Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan dan analisis laboratorium terhadap contoh air tanah yang diambil, serta telaah beberapa data terdahulu, diketahui bahwa penyebaran air tanah payau/asin pada air tanah tak tertekan meliputi daerah Daan Mogot, Cengkareng dan Kapuk-Jelambar (Jakarta Barat), Penjaringan, Pademangan, Kamal, dan Cilincing (Jakarta Utara), Rawarengas (Jakarta Timur), serta Kebon Jamali, Rawa Jeruk dan Rawa Bokor (Kota Tangerang) yang kesemuanya merupakan daerah dataran pantai. Sedangkan penyebaran air tanah payau/asin pada air tanah tertekan dijumpai di daerah Penjaringan, Ancol, Cilincing, Marunda, Pasar Ikan, dan Tanjungpriok (Jakarta Utara), Daan Mogot, Cengkareng, Kapuk Kamal, Pluit, dan Jelambar (Jakarta Barat), Pulogadung, Cakung, dan Sunter (Jakarta Timur), Gambir (Jakarta Pusat), Pondok Ungu (Kota Bekasi), serta Batuceper (Kota Tangerang). Daerah ini merupakan akuifer air tanah tertekan yang berdekatan dengan garis pantai. Kualitas air tanah di daerah pemantauan pada tahun 2003 ini apabila dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2001 terjadi penurunan kualitas. Hal ini ditunjukkan oleh adanya peningkatan nilai DHL dan jumlah kandungan ion khlorida. Peningkatan nilai DHL berkisar antara 70 – 319 µ mhos/cm, sedangkan peningkatan kandungan ion khlorida berkisar antara 2,1 – 7,0 mg/liter. 2. Wilayah Semarang Kualitas air tanah dangkal di dataran rendah Semarang–Demak umumnya bersifat payau akibat pengaruh batuan endapan laut sebagai penyusun utama alluvium pantai. Kriteria air tanah payau/asin didasarkan atas nilai daya hantar listrik lebih dari 1500 mikromhos/cm atau kadar ion Cl- lebih dari 600 mg/l.

3-94

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Berdasarkan pengukuran lapangan diketahui penyebaran air

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA
tanah

3-95

payau/asin terdapat di daerah rawa, tambak, bekas pantai lama, dan sebagian daerah aliran sungai lama. Daerah tersebut meliputi pantai utara Semarang sekitar Kaligawe, pantai utara dan bagian barat Demak sekitar Wonosalam, Gajah, dan Rejosari.

D.

Penurunan Muka Tanah

Penurunan muka tanah (land subsidence) adalah fenomena alam yang banyak terjadi di kota-kota besar yang berdiri di atas lapisan batuan sedimen. Faktor penyebab terjadinya penurunan tanah yaitu: pengambilan air tanah yang berlebihan, penurunan karena beban bangunan, penurunan karena adanya konsolidasi alamiah dari lapisan-lapisan tanah, serta penurunan karena gayagaya tektonik. Dari beberapa faktor penyebab penurunan tanah ini, penurunan tanah akibat pengambilan air tanah yang berlebihan dipercaya sebagai penyebab utama terjadinya penurunan tanah. Berikut ini disajikan penurunan muka tanah di beberapa wilayah yang sudah sangat kritis.. 1. Wilayah Bandung Di daerah padat industri gejala penurunan tanah diindikasikan dari kerusakan pada lantai sumur pantau atau pondasi sumur bor yang menggantung, sehingga fondasi sumur bor kelihatan lebih menonjol dibanding muka tanah sekitarnya. Hal ini dapat dijumpai antara lain di sumur bor PT. Tridharmatex, PT Dewantex, Leuwigajah, Kec. Cimahi Selatan dan PT. Pan Asia, PT. Safilindo, Kec. Dayeuhkolot di wilayah Kab. Bandung, serta lantai sumur bor PT Vonex Indonesia dan PT Sunsonindo Textile, Kec. Rancaekek, serta PT Bintang Agung, Kec. Ujungberung. Beberapa lokasi di CAT Bandung - Soreang memang mengalami penurunan tanah, dalam periode 2000 – 2002 besarnya penurunan tanah berkisar antara 7 cm sampai sekitar 52 cm, dengan kecepatan penurunan berkisar anatara 2 – 18 mm/bulan.

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA

Dalam periode tersebut, lokasi-lokasi Cimahi (Leuwigajah), Dayeuhkolot, Rancaekek merupakan lokasi yang mengalami penurunan tanah yang relatif lebih besar, yaitu masing-masing sebesar 52 cm, 46 cm dan 42 cm. Besarnya penurunan tanah di beberapa lokasi di CAT Bandung–Soreang tidak selalu berkorelasi positif dengan volume pengambilan air tanah, tetapi dapat juga dipengaruhi oleh besarnya produktivitas akuifer dan keragaman tanah penyusunnya. 2. Wilayah Jakarta Di daerah dataran pantai Jakarta, gejala penurunan muka tanah atau yang lebih dikenal dengan amblesan tanah telah nyata terjadi. Gejala ini telah diketahui sejak beberapa tahun terakhir ini. Meskipun faktor penyebab utama belum dapat diketahui secara pasti, namun faktor penurunan muka air tanah akibat pengambilannya ikut berperan dalam amblesan tanah tersebut. Pengambilan air tanah yang telah melebihi batas aliran alamiahnya, akan mengakibatkan terjadinya kekosongan ronggarongga (pori-pori) akuifer yang semula terisi oleh air tanah dan terperasnya air tanah dalam lapisan penutup akuifer tertekan, sehingga mengakibatkan hilangnya (penurunan) tekanan hidrostatis serta pengkerutan lapisan penutup, maka terjadilah pemampatan dan pemadatan tanah, yang refleksinya adalah penurunan permukaan tanah. Daerah yang terkenan amblesan tanah ini meliputi daerah yang luas dan tidak dapat dilihat seketika, namun harus dalam kurun waktu yang lama. Indikasi adanya amblesan tanah di daerah Jakarta ini ditunjukkan antara lain oleh: • Retaknya bangunan gedung Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral serta gedung Sarinah di Jl. M.H. Thamrin. • Terjadinya genangan air laut pasang di daerah Kapuk Cengkareng, yang semakin meluas dan semakin tinggi air genangannya. • • Miringnya Menara Museum Bahari di daerah Pasar Ikan. Kenampakan terangkatnya konstruksi pondasi sumur bor di Kantor DTLGKP Jl. Tongkol, Jakarta Utara.

3-96

LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa

3 .4 cm/tahun. Kamal dan Cengkareng.0 cm/tahun. sehingga apabila air laut pasang menjadi tergenang. yaitu akibat adanya amblesan tanah. terjadi di daerah Kapuk-Kamal-Cengkareng.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Akibat adanya amblesan tanah tersebut. Berdasarkan hasil pengkajian dan perhitungan matematis yang dilakukan oleh DTLGKP. daerah SenenSunter. sepanjang Jl. Oleh karena itu.6 cm/tahun di daerah sekitar sebelah timur jalan tol lingkar timur.12. Adapun daerah yang mempunyai intensitas amblesan tanah tertinggi. Singosari retak dan terkesan menggantung akibat permukaan tanah ambles. 3-97 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Tongkol. Daan Mogot dengan intensitas amblesan tanah mencapai 12. Amblesan tanah tersebut membentuk pola kerucut dengan laju amblesan terbesar 4 . dan daerah sepanjang Jl. dan daerah Cakung-Pulogadung. Daan Mogot. daerah yang mengalami penurunan dengan laju lebih dari 8 cm/tahun terbentang di sepanjang pantai mulai dari Pelabuhan Tanjungmas ke arah timur hingga wilayah pantai Demak Utara. prediksi laju amblesan tanah di daerah Jakarta ini berkisar antara 1. Daerah paling selatan yang mengalami amblesan mencapai jalan raya Semarang-Purwodadi dengan laju penurunan muka tanah 2 cm/tahun. daerah Pasar Ikan . Wilayah Semarang Berdasarkan hasil penelitian oleh DTLGKP. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan gejala amblesan tanah ditunjukkan antara lain dengan kenampakan sebagai berikut: • Lantai bangunan Sekolah Pelayaran di Jl. kini ketinggiannya menjadi sama dengan muka laut.Jl. fenomena tergenangnya beberapa wilayah bagian Kota Jakarta ini dapatlah disimpulkan. seperti terlihat di daerah Kapuk. Thamrin. 3. Daerah paling barat yang mengalami amblesan terletak disekitar PRPP dengan laju penurunan 2 . maka sangatlah mungkin bila beberapa tempat di daerah Jakarta ini. atau bahkan telah berada di bawah muka laut.0 cm/tahun yang meliputi daerah Kapuk-Kamal-Cengkareng. sepanjang Jl. yang semula ketinggiannya masih berada di atas muka laut.

sumur bor PDAM di Jl. Stasiun kereta api Tawang dengan elevasi + 2 m di atas muka laut kini tergenang oleh air laut pasang. Konstruksi pondasi sumur pantau di STM Perkapalan Jl. sumur bor PDAM di Kampung Peres Jl. 3-98 • • Gejala tersebut menunjukkan adanya amblesan tanah dan bila daerah tersebut dihubungkan dengan pola muka air tanah ternyata daerah dengan gejala amblesan tanah tersebut berada pada daerah depresi muka air tanah terutama daerah dengan kedudukan muka air tanahnya sudah berada di bawah muka laut. Hasanudin. Erowati dan pipa sumur pantau di Pelabuhan Tanjungmas yang terkesan terangkat sekitar 20 cm. LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . Sehingga diperkirakan amblesan tanah tersebut terjadi akibat pengambilan air tanah yang intensif. Kokrosono.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA • BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Kompleks perkantoran Pelabuhan Tanjungmas tergenang air laut pasang.

....2 ANALISIS POTENSI AIR TANAH Pembagian Cekungan Air Tanah Jenis Aquifer Air Tanah Potensi Air Tanah Prospek Pengembangan Air Tanah Permasalahan Penggunaan Air Tanah 3.......... 4 Tabel 3. 7 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Banten ..........2......2........1 3...... 10 Neraca Air di Propinsi Banten..1.................... 8 Tabel 3........... 11 Tabel 3....2. Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya ......1.........6 3...............1 ANALISIS NERACA AIR Banten Jabotabek dan Sekitarnya Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur 1 2 11 23 35 52 60 75 77 80 81 84 86 3...................................................1......1...5 Tabel 3.2 3...... 9 Ketersediaan Air di Propinsi Banten ....1 3............... 3 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Banten ........... 6 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Banten . 15 Tabel 3.............................5 3.......BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-99 3.........2 3.................. 8 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Banten... 6 Tabel 3..... 1 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Banten.. 5 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Banten ................ 13 Kebutuhan Air Permukaan untuk Rumah Tangga.......... 2 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Banten ...... 11 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Banten ...2........... 4 Kebutuhan Air untuk Industri di Propinsi Banten .......2... 8 Tabel 3........ 4 Tabel 3.. 5 Tabel 3....... 10 Tabel 3. 4 Tabel 3........4 3.4 3.......3 3......1...............3 3.......................1.... 12 Proyeksi Jumlah Penduduk di Jabotabek dan Sekitarnya .. 15 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa .. 9 Tabel 3..... 6 Tabel 3............

. 39 Tabel 3.............. 35 Tabel 3......... 37 Tabel 3... 18 Tabel 3.... 14 Kebutuhan Air Tanah untuk Rumah Tangga.. 23 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Barat... 28 Tabel 3............... 30 Tabel 3... 33 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Tengah............. 39 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Tengah 45 Tabel 3... Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya............................ 16 Proyeksi Luas Lahan Irigasi di Jabotabek dan Sekitarnya.................. 43 Tabel 3.................................. 40 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 46 3-100 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa ..... 34 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Tengah ...... 38 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Tengah .................. 31 Tabel 3........ 35 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Tengah...... 16 Tabel 3................. 18 Ketersediaan Air untuk Rumah Tangga.................... 26 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Barat........... 20 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Barat ............................ 27 Tabel 3........... 25 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Barat .... 23 Tabel 3..... 42 Tabel 3... Perkotaan dan Industri Jabotabek dan Sekitarnya ... 26 Tabel 3... 24 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Barat ............................. 22 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Barat............ Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya....................BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3. 33 Tabel 3...... 19 Neraca Air di Jabotabek dan Sekitarnya ............................ 27 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tahun 2003........... 18 Tabel 3........ 21 Tabel 3............... 31 Neraca Air di Propinsi Jawa Barat Tahun 2025 ... 38 Tabel 3... 29 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Barat. 21 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Barat ........ 15 Kebutuhan Air Total untuk Rumah Tangga.... 30 Neraca Air di Propinsi Jawa Barat Tahun 2003 ............ 29 Tabel 3....... 36 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Tengah.. 34 Tabel 3....... 16 Tabel 3..................... 37 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Tengah ........ 32 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Barat .......... 40 Tabel 3.... 25 Tabel 3.............. 28 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tahun 2025...... 34 Tabel 3........... 31 Tabel 3.............. 26 Tabel 3... 17 Kebutuhan Air Irigasi di Jabotabek dan Sekitarnya........

.. 58 Tabel 3. 50 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi DIY. 66 Tabel 3.............. 72 Tabel 3...................... 60 Tabel 3.. 46 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi DIY ..... 55 Ketersediaan Air di Propinsi DIY ........................................... 57 Tabel 3........ 48 Kebutuhan Air untuk Perkotaan di Propinsi DIY .......... 69 Tabel 3.. 45 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Tengah ...................... 60 Tabel 3............ 65 Tabel 3....... 61 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Timur .................. 64 Tabel 3..... 63 Tabel 3................ 41 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2025 46 Tabel 3.............. 56 Neraca Air di Propinsi DIY Tahun 2003 ...................... 53 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi DIY Tahun 2003 ..... 68 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Timur ..... 64 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Timur ................................................. 50 Tabel 3.......... 54 Tabel 3......... 54 Tabel 3............ 55 Tabel 3..... 74 3-101 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa ....... 58 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi DIY . 50 Tabel 3......... 43 Neraca Air di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 .. 58 Tabel 3. 49 Kebutuhan Air Industri di Propinsi DIY ..... 65 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Timur ... 62 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Timur ........ 54 Tabel 3.......... 67 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tahun 2025 . 42 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Tengah............... 62 Tabel 3............................ 51 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi DIY . 66 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 ............................ 67 Tabel 3............ 44 Neraca Air di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2025 .............................BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3................... 70 Tabel 3................. 47 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi DIY................. 56 Tabel 3....... 70 Tabel 3.. 48 Tabel 3. 69 Neraca Air di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 .... 51 Tabel 3.. 56 Tabel 3..... 57 Tabel 3.......... 52 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi DIY ........................... 60 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Timur...................... 63 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Timur.. 57 Neraca Air di Propinsi DIY Tahun 2025 . 59 Tabel 3.. 73 Tabel 3........... 70 Neraca Air di Propinsi Jawa Timur Tahun 2025 ............ 59 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Timur .......... 54 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi DIY Tahun 2025 ...............................

..... 75 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Barat..2..BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3....... 83 Tabel 3................................... 76 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Tengah.................................2.....1....... 75 Tabel 3.. 71 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Timur ............2 3...1 3...................... 78 Tabel 3.5 ANALISIS NERACA AIR Banten 2 Jabotabek dan Sekitarnya Jawa Barat 23 1 11 Jawa Tengah 35 Daerah Istimewa Yogyakarta 52 Jawa Timur 60 75 77 ANALISIS POTENSI AIR TANAH Pembagian Cekungan Air Tanah Jenis Aquifer Air Tanah Potensi Air Tanah 81 80 Prospek Pengembangan Air Tanah 84 Permasalahan Penggunaan Air Tanah 86 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa ..1 3.. 82 Tabel 3....4 3...................2 3.........1....................2 3........... 78 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Timur ...... 74 Potensi Air Tanah di Propinsi DKI Jakarta..........2........ 82 Tabel 3.....2.1..6 3.... 82 Tabel 3.........1........3 3. 84 3-102 3........................2.........3 3... 77 Potensi Air Tanah di Propinsi DIY ... 83 Tabel 3........... 72 Cekungan Air Tanah (CAT) di Pulau Jawa dengan Jumlah Alirannya....1......5 3.......1......4 3...........................................1 3.... 73 Potensi Air Tanah di Propinsi Banten .

Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya 16 18 Tabel 3. 19 Neraca Air di Jabotabek dan Sekitarnya23 Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-103 Tabel 3. 6 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Banten 6 6 8 Tabel 3. 3 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Banten 4 4 Tabel 3. 11 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Banten 11 9 Tabel 3. Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya 16 Tabel 3. 17 Kebutuhan Air Irigasi di Jabotabek dan Sekitarnya 18 Tabel 3. 16 Proyeksi Luas Lahan Irigasi di Jabotabek dan Sekitarnya Tabel 3. 4 Kebutuhan Air untuk Industri di Propinsi Banten 5 Tabel 3. 1 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Banten 4 Tabel 3. 8 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Banten 8 Tabel 3. 20 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Barat 25 Tabel 3. Perkotaan dan Industri di Jabotabek dan Sekitarnya 15 Tabel 3. 7 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Banten Tabel 3. 5 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Banten Tabel 3. 15 Kebutuhan Air Total untuk Rumah Tangga. 21 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Barat 26 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 18 Ketersediaan Air untuk Rumah Tangga. 2 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Banten Tabel 3. 10 Neraca Air di Propinsi Banten 10 Tabel 3. Perkotaan dan Industri Jabotabek dan Sekitarnya 21 Tabel 3. 9 Ketersediaan Air di Propinsi Banten Tabel 3. 14 Kebutuhan Air Tanah untuk Rumah Tangga. 12 Proyeksi Jumlah Penduduk di Jabotabek dan Sekitarnya 15 Tabel 3. 13 Kebutuhan Air Permukaan untuk Rumah Tangga.

26 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tabel 3. 33 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Tengah 37 Tabel 3. 38 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Tengah 43 45 46 46 Tabel 3. 23 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Barat 27 Tabel 3. 46 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi DIY 54 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 44 Neraca Air di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2025 Tabel 3. 43 Neraca Air di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 Tabel 3. 28 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tahun 2025 Tabel 3. 45 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Tengah 51 Tabel 3. 42 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Tengah 48 50 50 Tabel 3. 39 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tabel 3. 30 Neraca Air di Propinsi Jawa Barat Tahun 2003 34 Tabel 3. 37 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Tengah 42 Tabel 3. 31 Neraca Air di Propinsi Jawa Barat Tahun 2025 34 Tabel 3. 22 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Barat Tabel 3. 24 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Barat Tabel 3. 35 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Tengah Tabel 3. 36 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Tengah 39 40 38 Tabel 3. 29 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Barat 33 Tabel 3. 27 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Barat Tahun 2003 Tabel 3. 25 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Barat 28 29 30 31 31 26 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-104 Tabel 3. 34 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Tengah Tabel 3. 32 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Barat 35 Tabel 3. 40 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2003 Tabel 3. 41 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2025 Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3.

64 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi Jawa Timur 66 67 Tabel 3. 50 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi DIY Tabel 3. 68 Ketersediaan Air di Propinsi Jawa Timur 72 69 70 70 Tabel 3. 56 Neraca Air di Propinsi DIY Tahun 2003 59 Tabel 3. 59 Proyeksi Jumlah Penduduk di Propinsi Jawa Timur Tabel 3. 55 Ketersediaan Air di Propinsi DIY 58 Tabel 3. 48 Kebutuhan Air untuk Perkotaan di Propinsi DIY Tabel 3. 70 Neraca Air di Propinsi Jawa Timur Tahun 2025 Tabel 3. 53 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi DIY Tahun 2003 Tabel 3. 58 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi DIY 60 62 63 64 Tabel 3. 54 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi DIY Tahun 2025 Tabel 3. 49 Kebutuhan Air Industri di Propinsi DIY 55 Tabel 3. 51 Kebutuhan Air Perikanan di Propinsi DIY 56 56 57 57 58 54 BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA 3-105 Tabel 3. 61 Kebutuhan Air Perkotaan di Propinsi Jawa Timur Tabel 3. 66 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 Tabel 3. 52 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi DIY Tabel 3. 69 Neraca Air di Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 73 Tabel 3. 63 Kebutuhan Air Peternakan di Propinsi Jawa Timur Tabel 3. 67 Kebutuhan Air Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tahun 2025 Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA Tabel 3. 47 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi DIY 54 Tabel 3. 57 Neraca Air di Propinsi DIY Tahun 2025 60 Tabel 3. 71 Jumlah Bulan Defisit di Propinsi Jawa Timur 75 74 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 60 Kebutuhan Air Rumah Tangga di Propinsi Jawa Timur Tabel 3. 65 Proyeksi Luas Lahan Areal Irigasi di Propinsi Jawa Timur Tabel 3. 62 Kebutuhan Air Industri di Propinsi Jawa Timur 65 Tabel 3.

74 Potensi Air Tanah di Propinsi DKI Jakarta Tabel 3. 76 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Tengah Tabel 3. 73 Potensi Air Tanah di Propinsi Banten 82 82 82 83 3-106 Tabel 3. 77 Potensi Air Tanah di Propinsi DIY 83 Tabel 3. 75 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Barat Tabel 3.BUKU 2 IDENTIFIKASI MASALAH PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA BAB 3 IDENTIFIKASI MASALAH KEKERINGAN DI PULAU JAWA Tabel 3. 78 Potensi Air Tanah di Propinsi Jawa Timur 84 LAPORAN AKHIR Prakarsa Strategis Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Mengatasi Banjir dan Kekeringan di Pulau Jawa . 72 Cekungan Air Tanah (CAT) di Pulau Jawa dengan Jumlah Alirannya 78 Tabel 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.