Sri Waluyanti, dkk.

ALAT UKUR DAN
TEKNIK
PENGUKURAN
JILID 2

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang
ALAT UKUR DAN
TEKNIK
PENGUKURAN
JILID 2
Untuk SMK
Penulis : Sri Waluyanti
Djoko Santoso
Slamet
Umi Rochayati
Perancang Kulit : TIM
Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm
Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
WAL WALUYANTI, Sri
a Alat Ukur dan Teknik Pengukuran Jilid 2 untuk SMK oleh
Sri Waluyanti, Djoko Santoso, Slamet, Umi Rochayati ---- Jakarta :
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat
Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,
Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
xvii, 261 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
Daftar Tabel : Lampiran. B
Daftar Gambar : Lampiran. C
Glosarium : Lampiran. D
ISBN : 978-602-8320-11-5
ISBN : 978-602-8320-13-9
KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah
melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari
penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi
siswa SMK.
Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.
Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya
kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas
oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.
Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download),
digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat.
Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya
harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan
ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat
untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh
Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat
memanfaatkan sumber belajar ini.
Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini.
Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar
dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami
menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh
karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.
Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
KATA PENGANTAR PENULIS
Pertama-tama penulis panjatkan puji syukur kahadlirat Allah s.w.t.
atas segala rahmat dan kuruniaNya hingga penyusunan buku kejuruan
SMK Alat Ukur dan Teknik Pengukuran ini dapat terselesaikan.
Buku ini disusun dari tingkat pemahaman dasar besaran listrik,
jenis-jenis alat ukur sederhana hingga aplikasi lanjut yang merupakan
gabungan antar disiplin ilmu. Untuk alat ukur yang wajib dan banyak
digunakan oleh orang yang berkecimpung maupun yang mempunyai
ketertarikan bidang elektronika di bahas secara detail, dari pengertian, cara
kerja alat, langkah keamanan penggunaan, cara menggunakan, perawatan
dan perbaikan sederhana. Sedangkan untuk aplikasi lanjut pembahasan
dititik beratkan bagaimana memaknai hasil pengukuran. Penyusunan ini
terselesaikan tidak lepas dari dukungan beberapa pihak, dalam
kesempatan ini tak lupa kami sampaikan rasa terimakasih kami kepada :
1. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Ditjen Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah Deparmeten Pendidikan Nasional
yang telah memberi kepercayaan pada kami
2. Kesubdit Pembelajaran Direktorat Pembinaan SMK beserta staff yang
telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan dukungan
hingga terselesaikannya penulisan buku.
3. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta beserta staff
yang telah membantu kelancaran administrasi
4. Ketua Jurusan beserta staff Pendidikan Teknik Elektronika FT-UNY
atas fasilitas dan dukungannya hingga terselesaikannya tugas ini.
5. Teman-teman sesama penulis buku kejuruan SMK di lingkungan FT-
UNY atas kerjasama, motivasi, pengertian dan dukungan kelancaran
pelaksanaan.
6. Para teknisi dan staff pengajaran yang memberi kelonggaran
penggunaan laboratorium dan kelancaran informasi.
7. Dan orang yang selalu ada di hati dan di samping penulis dengan
segala pengertian, dukungan semangat dan motivasi hingga
terselesaikannya penyusunan buku ini.
Tak ada yang sempurna kecuali Dia yang memiliki segala puji. Oleh karena
itu masukan dan saran penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan
ini, atas saran dan masukannya diucapkan banyak terimakasih.
Tim penyusun,
DAFTAR ISI
BAB Halaman
KATA PENGANTAR PENULIS i
1. PENDALULUAN 1
1.1. Parameter Alat Ukur 1
1.1.1. Sistem Satuan Dalam Pengkuran 3
1.1.2. Satuan Dasar dan Satuan Turunan 3
1.1.3. Sistem-sistem satuan 4
1.1.4. Sistem Satuan Lain 6
1.2. Kesalahan Ukur 6
1.2.1. Kesalahan kesalahan Umum 6
1.2.2. Kesalahan-kesalahan sistematis 8
1.2.3. Kesalahan-kesalahan Tidak Sengaja 9
1.3. Klasifikasi Kelas Meter 9
1.4. Kalibrasi 10
1.4.1. Kalibrasi Ampermeter Arus Searah 10
1.4.2. Kalibrasi Voltmeter Arus Searah 11
1.5. Macam-macam Alat Ukur Penunjuk Listrik 12
1.5.1. Alat Ukur Kumparan putar 13
1.5.2. Alat Ukur Besi Putar 19
1.5.2.1. Tipe Tarikan (Attraction) 20
1.5.2.2. Tipe Tolakan (Repolsion) 22
1.5.3. Alat Ukur Elektrodinamis 24
1.5.4. Alat Ukur Elektrostatis 27
1.6. Peraga Hasil Pengukuran 28
1.6.1. Light Emitting Dioda (LED) 28
1.6.2. LED Seven Segmen 30
1.6.3. LCD Polarisasi Cahaya 33
1.6.4. Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube/CRT) 35
1.6.4.1. Susunan Elektroda CRT dan Prinsip Kerja 35
1.6.4.2. Layar CRT 38
1.6.4.3. Gratikulasi 40
2. MULTIMETER
2.1. Multimeter Dasar 42
2.1.1. Ampermeter Ideal 42
2.1.2. Mengubah Batas Ukur 43
2.1.3. Ampermeter AC 47
2.1.4. Kesalahan Pengukuran 48
2.1.4.1. Kesalahan Paralaks 48
2.1.4.2. Kesalahan Kalibrasi 49
2.1.4.3. Kesalahan Pembebanan 50
2.2. Voltmeter
55
2.2.1. Mengubah Batas Ukur 55
2.2.2. Hambatan Masukkan Voltmeter 58
2.2.3. Kesalahan Pembebanan Voltmeter 59
2.3. Ohmmeter 63
2.3.1. Rangkaian Dasar Ohmmeter Seri 63
2.3.2. Ohmmeter Paralel 66
2.4. Multimeter Elektronik Analog 67
2.4.1. Kelebihan Multimeter Elektronik 67
JILID 1
2.4.2.. Konstruksi Multimeter Analog 69
2.4.3. Multimeter Elektronik Fungsi Tegangan DC 69
2.4.4. Multimeter Elektronik Fungsi Tegangan AC 70
2.4.5. Multimeter Elektronik Fungsi Ohm 71
2.4.6. Parameter Multimeter Elektronik Analog 72
2.4.6.1. Spesifikasi dan Parameter Multimeter Elektronik 72
2.4.6.1.1. Spesifikasi Umum 72
2.4.6.1.2. Range Pengukuran dan Akurasi 72
2.4.6.2. Langkah Keselamatan Alat 73
2.4.7. Prosedur Pengoperasian 74
2.4.7.1. Persiapan Pengukuran 74
2.4.7.2. Panel Depan dan Fungsi Multimeter 75
2.4.7.3. Pengukuran Tegangan 78
2.4.7.3.1. Pengukuran Tegangan DC 78
2.4.7.3.2. Pengukuran Tegangan AC 80
2.4.7.4. Kalibrasi Voltmeter 81
2.4.7.4.1. Kalibrasi Uji Kelayakan Meter 82
2.4.7.4.2. Harga Koreksi Relatif dan Kesalahan Relatif 84
2.4.7.5. Pengukuran Arus DC 85
2.4.7.5.1. Kalibrasi Arus 87
2.4.7.5.2. Harga Koreksi Relatip dan kesalahan relatip 89
2.4.8. Pengukuran Tahanan 90
2.4.9. Pengukuran Keluaran Penguat Audio Frekuensi (dB) 94
2.4.10. Pengukuran Arus Bocor (ICEO) transistor 95
2.4.11. Pengukuran Dioda ( termasuk LED) 96
2.4.12. Pengukuran Kapasitor 98
2.4.12. Pengetesan Komponen 99
2.4.13.1. Pengetesan Dioda 99
2.4.13.2. Pengetesan Transistor 102
2.4.13.3. Pengetesan SCR 104
2.4.14. Perawatan 106
2.4.14.1. Mengganti Sekering 106
2.4.14.2. Perawatan Penyimpanan Meter 107
2.4.15. Perbaikan 107
2.5. Multimeter Elektronik Digital 109
2.5.1. Bagian-bagian Multimeter Digital 109
2.5.2. Spesifikasi Digital Multimeter 112
2.5.3. Prinsip Dasar Pengukuran 115
2.5.3.1. Voltmeter 115
2.5.3.2. Ohmmeter 117
2.5.3.3. Pengukuran Frekuensi 117
2.5.3.4. Pengukuran Perioda dan Interval Waktu 118
2.5.3.5. Kapasitansimeter 120
2.5.4. Petunjuk Pengoperasian 122
2.554. Mengatasi Gangguan Kerusakan 123
3. LCR METER
3.1. Prinsip Dasar Pengukuran Komponen LCR 126
3.1.1. Prinsip pengukuran Resistansi 126
3.1.1.2. Jembatan Kelvin 128
3.1.1.3. Jembatan Ganda Kelvin 130
3.1.2. Prinsip Dasar Pengukuran L 132
1.2. LCR meter model 740 140
3.2.1 Spesifikasi LCR meter 140
3.2.2. Pengoperasian 143
3.3. Pembacaan Nilai Pengukuran 145
3.3.1. Pengukuran Resistansi 146
3.3.2. Pengukuran Kapasitansi 149
3.3.3. Pengukuran Induktansi 153
3.4. Pengukuran Resistansi DC Dengan Sumber Luar 156
3.5. Pengukuran resistansi DC 158
4. PENGUKURAN DAYA
4.1. Pengukuran Daya Rangkaian DC 160
4.2. Pengukuran Daya Rangkaian AC 162
4.2.1 Metoda tiga Voltmeter dan metode tiga Ampermeter 163
4.3. Wattmeter 164
4.3.1. Wattmeter satu fasa 164
4.3.2. Wattmeter tiga fasa 166
4.3.3. Pengukuran Daya Reaktif 168
4.3.4. Konstruksi dan Cara Kerja Wattmeter 168
4.3.4.1. Wattmeter tipe elektrodinamometer 168
4.3.4.2. Wattmeter tipe induksi 169
4.3.4.3. Wattmeter tipe thermokopel 170
4.3.4.4. Prinsip Kerja Wattmeter Elektrodinamometer 171
4.3.5. Spesifikasi Alat 175
4.3.6. Karakteristik 175
4.3.7. Prosedur Pengoperasian 175
4.3.7.1. Pengukuran daya DC atau AC satu fasa 175
4.3.7.2. Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi nilai
perkiraan
176
4.3.7.3. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan melebihi nilai
perkiraan
176
4.3.7.4. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan dan arus
melebihi nilai perkiraan
177
4.3.7.5. Pengukuran daya tiga fasa (metode dua watt meter) 177
4.3.7.6. Pengukuran daya tiga fase jika tegangan dan arus
melebihi nilai perkiraan
178
4.3.8. Pemilihan Range 179
1.3.9. Keselamatan Kerja 179
4.3.10. Error (Kesalahan) 179
4.4. Error Wattmeter 180
4.5. Watt Jam meter 183
4.5.1. Konstruksi dan Cara Kerja Wattjam meter 184
4.5.2. Pembacaan 186
4.6. Meter Solid States 187
4.7. Wattmeter AMR 187
4.8. Kasus Implementasi Lapangan 188
4.9. Faktor Daya 191
4.9.1. Konstruksi 191
4.9.2. Cara Kerja 192
4.9.3. Faktor Daya dan Daya 195
4.9.4. Prosedur Pengoperasian Cos Q meter 198
4.10. Metode Menentukan Urutan Fasa 200
JILID 2
4.10.1. Kawat Penghantar Tiga Fasa 200
4.10.2. Prinsip Dasar Alat Indikator Urutan Fasa 203
4.10.3. Cara Kerja Alat 203
4.10.4. Prosedur Pengoperasian Alat 206
5. PENGUJI TAHANAN ISOLASI DAN KUAT MEDAN
5.1.1. Pengujian Tahanan Isolasi 210
5.1.2. Pengukuran Tahanan Isolasi 212
5.2. Tahanan Pentanahan (Earth Ground Resistance) 216
5.2.1. Cara Menguji Sistem Pentanahan 217
5.2.2. Pentanahan dan Fungsinya 217
5.2.3. Nilai Tahanan yang Baik 218
5.2.4. Dasar-dasar Pentanahan 219
5.2.4.1. Komponen elektroda pentanahan 219
5.2.4.2. Hal -hal yang mempengaruhi tahanan tanah 220
5.2.5. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah 222
5.2.5.1. Ukuran tahanan tanah 223
5.2.5.2. Cara menghitung tahanan tanah 223
5.2.5.3. Cara mengukur tahanan tanah 224
5.2.6. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah 224
5.2.6. 1. Cara kerja uji Drop Tegangan 225
5.2.6. 2. Cara Menempatkan Tiang Pancang 225
5.2.6. 3. Ukuran selektif 226
5.2.7. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah Ukuran Tanpa
Pancang
227
5.2.7.1. Ukuran impedansi tanah 229
5.2.7.2. Tahanan tanah dua kutub 229
5.2.7.3. Mengukur Tahanan Tanah di Kantor Pusat 230
5.2.8. Aplikasi Tahanan Pentanahan yang Lain 233
5.2.8. 1. Lokasi aplikasi 233
5.2.8. 2. Uji-uji yang direkomendasikan 234
5.3. Pengukuran Medan 235
5.3.1. Field meter Statik : 235
5.3.1.1. Data Teknik 239
5.3.1.1.1. Ukuran Fieldmeter Statik 239
5.3.1.1.2. Letak Pin : 240
5.3.1.2. Metode Pengukuran 240
5.3.1.2.1. Pengaturan Offset 240
5.3.1.2.2. Penghitungan Pengisian Muatan 240
5.3.1.3. Perawatan 241
5.3.1.4. Instruksi Peringatan 241
5.3.2. Field meter Statik Digital 241
5.3.2.1. Diskripsi Instrument 241
5.3.2.2. Fungsi Display 242
5.3.2.3. Prosedur Pengukuran 242
5.3.2.3.1. Set-up 242
5.3.2.3.2. Persiapan Pengukuran 243
5.3.2.4. Data Teknik 243
5.3.3. Smart Field Meter 243
6. PEMBANGKIT SINYAL
6.1. Fungsi Generator 247
6.1.1. Pendahuluan 247
6.1.2. Konstruksi dan Cara kerja 247
6.1.3. Spesifikasi 249
6.1.4. Prosedur Pengoperasian 250
6.1.4.1.Troubleshooting dengan teknik signal tracing 250
6.1.4.2. Troubleshooting menggunakan teknik sinyal pengganti 251
6.1.5. Penggunaan generator fungsi sebagai bias dan sumber
sinyal
252
6.1.5.1. Karakteristik beban lebih pada amplifier 253
6.1.5.2. Pengukuran Respon Frekuensi 253
6.1.5.3. Setting Peralatan Tes 254
6.1.5.4. Peraga Respons Frekuensi 254
6.1.5.5. Pengetesan Tone Control Sistem Audio 255
6.1.4.6. Pengetesan speaker dan rangkaian impedansi 256
6.1.4.7 Keselamatan Kerja 258
6.2. Pembangkit Frekuensi Radio 258
6.2.1. Konstruksi dan Cara Kerja 259
6.2.1.1. Direct Digital Synthesis 259
6.2.1.2. Creating Arbitrary Waveform 262
6.2.1.3. Pembangkit Gelombang 265
6.2.1.4. Generasi Bentuk Gelombang Pulsa 265
6.2.2. Ketidaksempurnaan Sinyal 266
6.2.2.1. Cacat Harmonis 266
6.2.2.2. Cacat Non-Harmonis 267
6.2.2.3. Pasa Noise 267
6.2.2.4. Kesalahan Kuantisasi 268
6.2.2.5. Pengendali Tegangan Keluaran 268
6.2.3. Pengendali Tegangan Keluaran 270
6.2.3.1. Rangkaian Tertutup Ground 270
6.2.3.2. Atribut Sinyal AC 271
6.2.4. Modulasi 273
6.2.4.1. Modulasi Amplitudo (AM) 274
6.2.4.2. Frequency Modulation (FM) 274
6.2.4.3. Frequency-Shift Keying (FSK) 275
6.2.4.5. Sapuan Frekuensi 276
6.2.4.6. Sinyal Sinkron dan Marker 277
6.2.4.6.1. Burst 277
6.2.4.6.2. Gated Burst 279
6.2.5. Spesifikasi Alat 279
6.2.6. Prosedur Pengoperasian Pengukuran Pulsa noise 280
6.3. Pembangkit Pulsa 282
6.4. Sweep Marker Generator 282
6.4.1. Prosedur Pengoperasian 282
6.4.1.1. Alignment penerima AM 282
6.4.1.2. Alignment penerima Komunikasi FM 284
7.1. Pengantar 287
7.1.1. Pemahaman Dasar Sinyal 287
7.1.2. Pengetahuan dan Pengukuran Bentuk Gelombang 289
7.1.2.1. Gelombang kotak dan segiempat 291
7.1.2.2. Gelombang gigigergaji dan segitiga 292
7.1.2.3. Bentuk Step dan Pulsa 292
7.1.2.4. Sinyal periodik dan Non periodik 292
7.1.2.5. Sinyal sinkron dan tak sinkron 292
7.1.2.6. Gelombang kompleks 293
7.1.3. Pengukuran Bentuk Gelombang 294
7.1.3.1. Frekuensi dan Perioda 294
7.1.3.2. Tegangan 294
7.1.3.3. Amplitudo 294
7.1.3.4. Pasa 295
7.1.3.5. Pergeseran Pasa 295
7.2. Operasi Dasar CRO 295
7.2.1. Prinsip Kerja Tabung Sinar Katoda 298
7.2.2. Sensitivitas Tabung 300
7.3. Jenis-Jenis Osiloskop 301
7.3.1. Osiloskop Analog 301
7.3.2. Jenis- jenis Osiloskop Analog 302
7.3.2.1. Free Running Osciloscope 302
7.3.2.2. Osiloskop sapuan terpicu 303
7.3.2.3. CRO Dua Kanal 305
7.3.2.4. CRO Penyimpanan Analog (Storage Osciloscope) 308
7.4. Osiloskop Digital 313
7.4.1.Prinsip Kerja CRO Digital 313
7.4.2. Metoda Pengambilan Sampel 314
7.4.3. Pengambilan Sampel Real-Time dengan Interpolasi 314
7.4.4. Ekuivalensi Waktu Pengambilan Sampel 316
7.4.5. Osiloskop Penyimpan Digital 316
7.5. Spesifikasi Osiloskop 318
7.5.1. Spesifikasi Umum 318
7.5.2. Mode Peraga Vertikal 318
7.5.3. Perhatian Keamanan 319
7.6. Pengukuran Dengan Osikoskop 319
7.6.1. Pengenalan Panel Depan dan Fungsi 319
7.6.2. Pengukuran Tegangan DC 321
7.6.3. Pengukuran Tegangan AC 323
7.6.4. Pengukuran Frekuensi 326
7.6.4.1. Peralatan yang Dibutuhkan 326
7.6.4.2. Pengukuran Frekuensi Langsung 327
7.6.4.3. Pengukuran Frekuensi Model Lissayous 328
7.6.5. Pengukuran Pasa 329
7.7.1. MSO Sumbu XYZ Aplikasi Pada Pengujian Otomotif 331
7.7.2. Mixed Signal Oscilloscope 331
7.7.3. Osiloskop Digital Pospor (Digital Phospor Osciloscope / DPO) 331
7.7.4. Arsitektur Pemrosesan Paralel 332
7.7.5. Mudah Penggunaan 335
7.7.6. Probe 336
7.8. Pengoperasian Osiloskop 338
7.8.1. Pengesetan 338
7.8.2. Menggroundkan osiloskop 338
7.8.3. Ground Diri Pengguna 339
7.8.4. Pengaturan Pengendali 339
7.8.5. Penggunaan Probe 339
7.8.6. Pengukuran Tegangan 342
7.8.7. Pengukuran Waktu dan Frekuensi 342
7.8.8. Pengukuran Lebar dan Waktu Naik Pulsa 343
7.8.9. Pengukuran Pergeseran Pasa 344
8. FREKUENSI METER
8.1. Frekuensi Meter Analog . 345
8.1.1. Alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar 345
8.1.2. Alat pengukur frekuensi dari type alat ukur rasio 347
8.1.3. Alat ukur frekuensi besi putar 348
8.2. Frekuensi Meter Digital 349
8.2.1. Prinsip kerja 349
8.2.2. Rangkaian frekuensi meter digital yang disederhanakan 353
8.3. Metode Pengukuran 354
8.3.1. Pengukuran Frekuensi dengan counter 354
8.3.2 Pengukuran Frekuensi System Heterodyne 355
8.3.3. Pengukuran Perioda Dengan Counter Perioda Tunggal 357
8.3.4. Pengukuran Perbandingan atau Perbandingan Ganda 359
8.3.5. Pengukuran Interval Waktu dengan Counter 359
8.3.6. Pengukuran Interval Waktu 360
8.3.7. Totalizer 362
8.4. Kesalahan pengukuran 365
8.4.1. Kesalahan pada “gate” 365
8.4.2. Kesalahan Time Base 366
8.4.3. Kesalahan “Level trigger”. 368
9. PENGANALISA SPEKTRUM
9.1. Pengantar dan Sejarah Perkembangan Spektrum Analiser 370
9.1.1.Tantangan Pengukuran Sinyal RF Modern 372
9.1.2. Pertimbangkan Pengukuran 372
9.2. Jenis-jenis Penganalisa Spektrum 373
9.2.1. Penganalisa Spektrum tersapu 373
9.2.2. Penganalisa Vektor Sinyal dengan Analisis Modulasi Digital 374
9.2.3. Kunci Konsep Analisis Spektrum Waktu Riil 377
9.3. Dasar Analisa Spektrum Waktu Riil 381
9.3.1. Analisa Multi Ranah Korelasi Waktu 381
9.3.2. Prinsip Kerja Spektrum Analisa Waktu Riil 383
9.3.3. Penganalisa Spektrum Waktu Riil 384
9.3.4. Pengaruh Ranah Frekuensi dan Waktu Terhadap Kecepatan
Pencuplikan
388
9.3.5. Pemicuan Waktu Riil 389
9.3.5.1. Sistem Picu dengan Akuisis Digital 390
9.3.5.2. Mode Picu dan Corak 392
9.3.5.3. Sumber-sumber Picu RSA 392
9.3.5.4. Membangun Topeng Frekuensi 394
9.3.5.5. Pewaktuan dan Picu 395
9.3.5.6. Baseband DSP 396
9.3.5.7. Kalibrasi / Normalisasi 396
9.3.5.8. Penyaringan 396
JILID 3
9.3.5.9. Analisa Transformasi Fast Fourier 397
9.3.5.10. Modulasi Amplitudo, Frekuensi dan pasa 401
9.3.5.11. Pengukuran Ranah frekuensi 404
9.4. Aplikasi Dalam Penggunaan 415
9.4.1. Informasi Keselamatan 415
9.4.2. Mengukur Perbedaan antara Dua Sinyal Pada Layar 416
9.4.3. Resolving SInyal of Equal Amplitudo 418
9.4.4. Pemecahan Sinyal 419
9.4.5. Pengukuran Frekuensi 421
9.4.6. Pengukuran Sinyal Terhadap Noise 422
9.4.7. Demodulasi Sinyal AM 423
10. PEMBANGKIT POLA
10.1. Latar Belakang Sejarah 431
10.2. Sinyal Pengetesan 432
10.2.1. Komponen Sinkronisasi 432
10.2.2. Sinyal Luminansi (Video Monokrom) 433
10.2.3. Informasi Warna (Krominansi) 433
10.2.4. Ukuran IRE 434
10.2.5. Sinyal Tes TV 434
10.3. Pola Standar 435
10.3.1. Pola Pengetesan EIA 436
10.3.2. Penyusunan Bingkai 436
10.3.3. Pemusatan 436
10.3.3. Linieritas Pembelokan 437
10.3.4. Aspek Perbandingan 439
10.3.5. Cakupan Kontras 439
10.3.6. Penjalinan Gambar (Interlacing) 439
10.3.7. Resolusi 440
10.4. Pola Pengetesan Batang Untuk Pengecekan Lapisan 442
10.4.1. Pengetesan Ringing Dalam Gambar 442
10.4.2. Sinyal Monoscope 444
10.4.3. Chart Bola Untuk Pengetesan Linieritas Kamera 444
10.4.4. Sinyal Batang Warna Standar EIA 446
10.4.5. Batang SMPTE 447
10.4.6. Batang Bidang Putih Penuh 100% 449
10.4.7. Batang Warna Putih EIA 75% 450
10.4.8. Jendela 450
10.5. Pengembangan Pola 451
10.6. Pembangkit Pola 453
10.6.1. Blok diagram Pattern generator 455
10.6.2. Kontrol dan Spesifikasi Pola generator 458
10.7. Spesifikasi 459
10.8. Aplikasi 459
10.8.1. Prosedur Penggunaan Pembangkit Pola 459
10.8.2. Pengukuran Lebar Penalaan Tuner Televisi 461
10.8.3. Pengaturan Gambar dan Suara Menggunakan Pattern generator 462
10.8.4. Pembangkit pola dipasaran 464
10.8.5. Pola Pengetesan Sinyal Video 467
11.MESIN TESTER
11.1. Pengantar 468
11.1.1. MSO 470
11.1.2. Verivikasi Sifat operasi Sistem Whindshield Wiper Automatis 471
11.1.3. Pemicuan MSO Pada Bingkai Kesalahan 474
11.1.4. Pemicuan MSO Mengungkapkan Glitch Acak 476
11.1.5. Penambahan Pengetesan Throughput ECU Otomotip 477
11.1.6. Karakteristik Input dan Output 478
11.2. Elektronik Pengetesan Fungsi Otomotif Menggunakan 479
Sistem Komponen
11.2.1. Penghitungan 479
11.2.2. Komunikasi Serial 481
11.2.3. Instrumentasi Pengukuran Frekuensi Rendah 482
11.2.4. Pensaklaran Beban dan Pengukuran 483
11.2.5. Peletakkan Semua Bersama 485
11.3. Aplikasi 486
11.3.1. Pengetesan Rem Anti-lock dan Kontrol Daya Tarik 486
11.3.1.1. Sensor Reluktansi yang dapat divariasi 486
11.3.1.2. Deteksi Kelicinan Roda 486
11.3.1.3. Pengetesan Deteksi Kelicinan Roda 487
11.3.2. Pengetesan Ambang Kecepatan Roda 487
11.3.3. Pengetesan Selenoid Pengarah 488
11.3.4. Pengetsan Smart Drivers 490
11.3.5. Pengujian Remote Keyless Elektronik Otomotif 491
11.3.6. Perlindungan Immobilizer 492
11.3.7. Pengetesan Pengapian 494
11.3.8. Pengetesan Kepemilikan 495
11.3.9. Pengetesan Sistem Pemantauan Tekanan Ban (TPMS) 496
11.3.10. Kalibrasi Pengukuran Kerugian Jalur 499
11.3.11. Kerugian Jalur Pengukuran dan Kalibrasi Pesawat 500
11.3.12. Mesin Tester 501
11.3.13. Spesifikasi 502
11.3.14. Keunikan Pengetesan Fungsi Otomotif 502
11.4. Rupa rupa Penguji Mesin 504
11.5. Penganalisa Gas 505
12. SISTEM POSISI GLOBAL (GPS)
12.1. Pengantar Teknologi GPS 518
12.1.1. Segemen ruang 521
12.1.2. Gerakan Satelit 522
12.1.3. Konstruksi GPS Satelit 523
12.1.4. Sinyal Satelit 525
12.1.5. Segmen Kontrol 526
12.1.6. Segmen Pemakai 527
12.2. Cara Bekerja GPS 528
12.2.1. Koreksi Perbedaan Posisi 528
12.2.2. Navigasi Sederhana 529
12.2.3. Menghitung Jarak Satelit 531
12.2.4. Perhitungan Posisi 532
12.2.5. Sumber-sumber kesalahan 533
12.3. Differential GPS (DGPS) 539
12.3.1. Koreksi Perbedaan Posisi 539
12.3.2. Menentukan Nilai Koreksi 539
12.3.3. Penyiaran Nilai Koreksi 540
12.3.4. Koreksi Pengukuran Cakupan Semu 540
12.3.5. Penerima Acuan 541
12.4. Petunjuk Pengoperasian GPS Maestro 4050 542
12.4.1. Instalasi GPS 543
12.4.2. Pengoperasian Dasar 544
12.4.3. Menu Utama 545
12.4.4. Point Of Interest (POI) 546
12.4.5. Perencana Perjalanan (Trip Planner) 547
12.4.6. Prosedur Point Of Interest (POI) 551
12.4.7. Prosedur Perencana Perjalanan (Trip Planner) 552
13. PERALATAN ELEKTRONIKA KEDOKTERAN
13.1.1 MRI (Magnetic Resonance Imaging) 554
13.1.1.1.Scan MRI 556
13.1.1.2.Konstruksi Mesin MRI 557
13.1.1.3. Resonansi Magnetik 559
13.1.1.4. Keselamatan MRI 561
13.1.1.5. Magnet MRI 562
13.1.1.6.Magnit MRI Tambahan 563
13.1.2. Mesin MRI 564
13.1.2.1. MRI Images 565
13.1.2.2. Keuntungan MRI 566
13.1.2.3. Alasan Melakukan MRI 566
13.1.2.4. Kelemahan MRI 567
13.1.3. MRI Masa depan 568
13.1.3.1. Pengertian FMRI 568
13.13.2. Perbedaan Antara MRI dan FMRI 568
13.13.3. Tata cara pemeriksaan dan apa yang akan dialami pasien saat
pemeriksaan MRI :
569
13.2.1. Pengertian CT SCAN 569
3.2.1.1. Penemuan Sinar X 571
13.2.1. 2. Pengertian Sinar X 572
13.2.2. Mesin Sinar X 573
13.2.3. Prosedur Scanning 576
13.2.3.1. Cara kerja CT Scan dan Perkembangnnya 577
13.2.3.2. Pengoperasian Alat
579
13.2.3.3. Optimalisasi Peralatan Dengan Model jaringan
580
13.2.4.1. Perawatan 581
13.2.4.2. Kapan CT scan diperlukan 581
13.3.1. Diagnosis Medis Penggambaran Sonography 582
13.3.1.1. Pengertian Ultrasonik Medis 582
13.3.1. 2. Penggambaran Medis Ultrasonography 583
13.3.2. Aplikasi Diagnostik 584
13.3.2.1. Pengolahan Suara Menjadi Gambar 586
13.3.2.2. Produksi Gelombang Suara 586
13.3.2.3. Menerima Pantul 586
13.3.2.4. Pembentukan Gambar 587
13.3.2.5. Susunan transduser linier 588
13.3.3. Metoda Sonography 589
13.3.3.1. Sonography Doppler 589
13.3.3.2. Mesin Ultrasonik 591
13.3.4. Perbedaan Jenis Ultrasonik 594
13.3.5. Prosedur Pengujian Dengan Ultrasonik 596
13.3. Penggambaran Dari Kedokteran Nuklir 597

13.4.1. Prosedur Pengujian 597
13.4.2. Prosedur Pelaksanaan 601
13.4.3. Resiko 609
13.4.4. Keterbatas Tomograpi Emisi Positron 609
13.4.5. Teknik Cardiosvascular Imaging 610
13.4.6. Scanning Tulang 610
DAFTAR PUSTAKA
A
DAFTAR TABEL B
DAFTAR GAMBAR C
GLOSARIUM D
4.1. Pengukuran Daya Rangkaian DC
Daya arus searah dapat diukur
dengan alat pengukur volt dan alat
pengukur amper, yang
dihubungkan seperti terlihat pada
gambar 4-1. Dalam hal ini penting
untuk diperhitungkan kerugian-
kerugian daya yang terjadi, olah
adanya alat-alat pengukuran.
Gambar 4-1. Pengukuran daya dengan memakai voltmeter dan ampermeter.
Misalkan, bila beban adalah R,
tegangan beban adalah V dan
arus beban adalah I, sedangkan
voltmeter dan ampermeter
mempunyai tahanan dalam R
v
dan
R
a
. Tegangan pada voltmeter
adalah V
v
dan arus pada
ampermeter adalah I
a
. Dengan
mempergunakan rangkaian pada
gambar 4-1, akan didapatkan :
Tujuan
Pembahasan ini bertujuan
membekali kemapuan :
1. Mendiskripsikan jenis dan
prinsip pengukuran daya
2. Menggunakan wattmeter
sebagai alat ukur daya
3. Menjelaskan prinsip kerja
watt jam meter
4. Memprediksi beaya
pemakain listrik.
Pokok Bahasan
1. Metoda pengukuran
daya
2. Jenis-jenis wattmeter
dan cara penggunaan
3. Prinsip kerja wattmeter
jam (WH)
4. Kasus aplikasi lapangan
wattmeter jam (WH).
BAB 4 PENGUKURAN DAYA
Keterangan :
V : voltmeter A : Ampermeter
Vv
Rv
Rv
Vv
R
Pada gambar (1b), bila dimisalkan
tahanan dalam dari voltmeter
adalah 10 K? , sedangkan v
ltmeter menunjukkan 100 V, dan
ampermeter menunjukkan 5 A,
maka daya pada beban adalah :
( ) W x W 499 10 / 100 5 100
4 2
= ÷ =
Ada dua cara penyambungan
pengukuran daya dengan
menggunakan voltmeter dan
ampermeter seperti ditunjukkan
pada gambar 1 diatas. Pada
gambar (a) Ampermeter terhubung
antara beban dan Voltmeter. Maka
voltmeter tidak hanya mengukur
tegangan V
L
yang ada di beban
tetapi juga mengukur tegangan
yang drop di Ampermeter. Jika Ra
merupakan tahanan dari
Ampermeter, drop tegangan
Pada gambar (b) Voltmeter
terhubung antara beban dengan
Ampermeter. Maka ampermeter
tidak hanya menunjukkan arus
yang melewati beban tetapi juga
arus yang melewati voltmeter.
Arus yang melalui voltmeter
V
V
R
V
I =
dimana Rv = tahanan dalam voltmeter.
I I R I R I V
a a v
= + =
,
Maka daya yang akan diukur adalah :
a a a v
R I I V R I W
2
2
÷ = =
Dengan cara yang sama, pada gambar 4-1b
diperoleh :
v
v
a v
R
V
I V I V W
2
÷ = =
a a
R I V =
Konsumsi daya beban :
( )
a
a a L
R I I V
I V I V I V V I V
2
÷ =
÷ = ÷ =
Konsumsi daya beban
( )
V V
V L
R
V
I V
R
V
I V I I V I V
2
÷ =
|
|
.
|

\
|
÷ = ÷ = =
Dalam kedua kasus, daya yang
ditunjukkan oleh instrumen sama
dengan konsumsi daya pada
beban ditambah konsumsi alat
ukur daya.
Untuk memperoleh besarnya daya
pada , perlu dilakukan koreksi
pada kerugian daya yang
disebabkan oleh alat ukur. Dalam
kondisi normal nilai kerugian daya
pada alat ukur cukup kecil bila
dibandingkan dengan daya beban.
Bagaimanapun juga ampermeter
dan voltmeter akan membebani
rangkaian yang dapat
menyebabkan kesalahan dalam
pengukuran daya
4.2. Pengukuran Daya Rangkaian AC
Dalam arus bolak-balik daya yang
ada setiap saat berubah sesuai
dengan waktu. Daya dalam arus
bolak-balik merupakan daya rata-
ratanya. Jika sedang dalam
kondisi steady state, daya yang
ada pada saat itu dirumuskan P
= V I.
Dimana P = merupakan harga daya saat itu,
V = tegangan
I = arus.
Jika sinyalnya adalah sinusoidal,
maka arus akan tertinggal dengan
tegangan dalam fasanya dengan
sudut ? , kemudian:
( ) ϕ ω
ω
÷ =
=
t Sin I i
t Sin V v
m
m
Maka besarnya daya adalah sebagai berikut :
( )
t Jika
t Sin t Sin I V I V P
m m
ω θ
ϕ ω ω
=
÷ = =
sehingga diperoleh
( )
( ) | | ϕ θ ϕ
ϕ θ θ
÷ ÷ =
÷ =
2
2
Cos Cos
I
V
Sin Sin I V P
m
m
m m
Daya rata-rata untuk tiap periode adalah :
Dimana V dan I merupakan harga
rms dari tegangan dan arus. Cos
? merupakan faktor daya dari
beban. Dari hasil yang diperoleh
didapatkan bahwa faktor daya (cos
f ) berpengaruh dalam penentuan
besarnya daya dalam sirkit AC, ini
berarti bahwa wattmeter harus
digunakan dalam pengukuran
daya dalam sirkuit AC sebagai
pengganti Ampermeter dan
Voltmeter
4.2.1 Metoda tiga Voltmeter dan metode tiga Ampermeter
Daya satu fasa dapat diukur
dengan menggunakan tiga
Voltmeter atau tiga Ampermeter.
Gambar 4-2 memperlihatkan
pengukuran daya dengan
menggunakan metode tersebut.
Gambar 4-2. Pengukuran daya metoda tiga voltmeter dan tiga
ampermeter
Dalam metoda tiga Voltmeter,
masing-masing alat pengukur volt
menunjukkan V1, V2 dan V3,
maka:
1
2
1
2
V1
V2
V3
A1
A2
A3
R
R
Beban Beban
V3
I
V1
V2=IR
f
V
I2 =V/R
I1
I 3
f
ϕ
ϕ
Cos I V
Cos
I
V
m
m
=
=
2
( )
2
1
2
2
2
3
2
1 1
2 1
2
2
2
1
2
3
2
1
2
V V V R W
Cos
R
V
V Cos I V W
Cos V V V V V
÷ ÷
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
= =
+ + =
ϕ ϕ
ϕ
Dalam menggunakan metode tiga
Ampermeter, masing-masing alat
pengukur amper menunjukkan I
1
,
I
2
, I
3
maka:
( )
2
1
2
2
2
3
1 2 1
2 1
2
2
2
1
2
3
2
2
I I I
R
W
Cos I R I Cos I V W
Cos I I I I I
÷ ÷ =
= =
+ + =
ϕ ϕ
ϕ
4.3. Wattmeter
Wattmeter digunakan untuk
mengukur daya listrik searah (DC)
maupun bolak-balik (AC). Ada 3
tipe Wattmeter yaitu
Elektrodinamometer, Induksi dan
Thermokopel. Jika ditinjau dari
fasanya ada 2 yaitu wattmeter satu
fasa dan wattmeter tiga fasa.
4.3.1. Wattmeter satu fasa
Elektrodinamometer dipakai
secara luas dalam pengukuran
daya, wattmeter tipe
Elektrodinamometer dapat dipakai
untuk mengukur daya searah (DC)
maupun daya bolak-balik (AC)
untuk setiap bentuk gelombang
tegangan dan arus dan tidak
terbatas pada gelombang sinus
saja. Wattmeter tipe
elektrodinamometer terdiri dari
satu pasang kumparan yaitu
kumparan tetap yang disebut
kumparan arus dan kumparan
berputar yang disebut dengan
kumparan tegangan, sedangkan
alat penunjuknya akan berputar
melalui suatu sudut, yang
berbanding lurus dengan hasil
perkalian dari arus-arus yang
melalui kumparan-kumparan
tersebut. Gambar 4-3
menunjukkan susunan wattmeter
satu fasa.
Gambar 4- 3. Wattmeter satu fasa
Arus sesaat didalam kumparan
yang berputar (kumparan
tegangan) adalah Ip, besarnya
Ip=e/Rp dimana e adalah
tegangan sesaat pada jala - jala
dan Rp adalah tahanan total
kumparan tegangan beserta
tahanan serinya. Defleksi
kumparan putar sebanding dengan
perkalian Ic dan Ip , defleksi rata-
rata selama satu perioda dapat
dituliskan :
dt I I K rata rata
p c
= ÷
dimana: rata-rata = defleksi sudut rata-rata kumparan
K = konstanta instrumen
Ic = arus sesaat dalam kumparan arus
Ip = Arus sesaat di dalam kumparan tegangan
Dengan menganggap sementara
Ic sama dengan arus beban I
(secara aktual Ic = Ip + I) dan
menggunakan nilai Ip = e/Rp
didapatkan :
( ) *
1
dt I e
T
K dt
R
e
I K rata rata
p
= = ÷
Menurut definisi, daya rata-rata didalam suatu rangkaian adalah :
dt I e rata rata P = ÷
Elektrodinamometer yang
dihubungkan dalam konfigurasi
gambar 4-3 mempunyai defleksi
yang sebanding dengan daya rata-
rata. Jika f dan I adalah besaran
sinus dengan bentuk e = Em sin wt
dan I = Im sin (wt + f ) maka
persamaan (*) berubah menjadi :
ϕ Cos I E K rata rata = ÷
Kumparan kompensasi dibagian
dalam kumparan arus
Kumparan arus
Kumparan
tegangan
R beban
Kumparan arus
Jala-jala
dimana E dan I menyatakan nilai -
nilai rms tegangan dan arus f
menyatakan sudut fasa antara
tegangan dan arus.
Wattmeter elektrodinamometer
membutuhkan sejumlah daya
untuk mempertahankan medan
magnetnya, tetapi ini biasanya
sangat kecil dibandingkan daya
beban sehingga dapat diabaikan,
Jika diperlukan pembacaan daya
yang tepat, arus kumparan harus
sama dengan arus beban, dan
kumparan potensial harus
dihubungkan diantara terminal
beban.
Kesulitan dalam menempatkan
sambungan kumparan tegangan
diatasi dengan wattmeter yang
terkompensasi. Kumparan arus
terdiri dari dua kumparan, masing-
masing mempunyai jumlah lilitan
yang sama. Salah satu kumparan
menggunakan kawat lebih besar
yang membawa arus beban
ditambah arus untuk kumparan
tegangan. Kumparan lain
menggunakan kawat kecil (tipis)
dan hanya membawa arus ke
kumparan tegangan. Tetapi arus
ini berlawanan dengan arus
didalam kumparan besar,
menyebabkan fluks yang
berlawanan dengan fluks utama.
Berarti efek I dihilangkan dan
wattmeter menunjukkan daya yang
sesuai.
4.3.2. Wattmeter tiga fasa
Pengukuran daya dalam suatu
sistem fasa banyak, memerlukan
pemakaian dua atau lebih
wattmeter. Kemudian daya nyata
total diperoleh dengan
menjumlahkan pembacaan
masing-masing wattmeter secara
aljabar. Teorema Blondel
menyatakan bahwa daya nyata
dapat diukur dengan mengurangi
satu elemen wattmeter dan
sejumlah kawat-kawat dalam
setiap fasa banyak, dengan
persyaratan bahwa satu kawat
dapat dibuat common terhadap
semua rangkaian potensial.
Gambar 4-4 menunjukkan
sambungan dua wattmeter untuk
pengukuran konsumsi daya oleh
sebuah beban tiga fasa yang
setimbang yang dihubungkan
secara delta.
Kumparan arus wattmeter 1
dihubungkan dalam jaringan A,
dan kumparan tegangan
dihubungkan antara (jala-jala, line)
A dan C. Kumparan arus
wattmeter 2 dihubungkan dalam
jaringan B , dan kumparan
tegangannya antara jaringan B
dan C. Daya total yang dipakai
oleh beban setimbang tiga fasa
sama dengan penjumlahan aljabar
dari kedua pembacaan wattmeter.
Diagram fasor gambar 4-5
menunjukkan tegangan tiga fasa
V
AC
, V
CB
, V
BA
dan arus tiga fasa
I
AC
, I
CB
dan I
BA
. Beban yang
dihubungkan secara delta dan
dihubungkan secara induktif dan
arus fasa ketinggalan dari
tegangan fasa sebesar sudut ?.
Gambar 4-4. Metode ARON
Gambar 4-4 Konfigurasi Wattmeter
Kumparan arus wattmeter 1
membawa arus antara I
A’A
yang
merupakan penjumlahan vektor
dan arus-arus fasa I
AC
dan I
AB
.
Kumparan potensial wattmeter 1
dihubungkan ke tegangan antara
V
AC
. Dengan cara sama kumparan
arus wattmeter 2 membawa arus
antara I
B’B
yang merupakan
penjumlahan vektor dari arus-arus
fasa I
BA
dan I
AC
, sedang tegangan
pada kumparan tegangannya
adalah tegangan antara V
BC
.
Karena beban adalah setimbang,
tegangan fasa dan arus-arus fasa
sama besarnya dan dituliskan :
V
AC
= V
BC
= V dan I
AC
= I
CB
=I
BA
= I
Daya dinyatakan oleh arus dan tegangan masing-masing wattmeter
adalah:
W
1
= V
AC
.I
A’A
Cos (30°-?) = VI Cos (30°-?)
W
2
= V
BC
.I
B’B
Cos (30°+?) = VI Cos (30°+?)
dan
W
1
+W
2
= VI Cos (30°-?) + VI Cos (30°+?)
= VI Cos 30°Cos ? + Sin 30°Sin? + Cos30°Cos? -Sin30°sin?)
= 3 VI Cos?
Persamaan diatas merupakan
besarnya daya total dalam sebuah
rangkaian tiga fasa, dan karena itu
kedua wattmeter pada gambar
secara tepat mengukur daya total
tersebut. Dapat ditunjukkan bahwa
penjumlahan aljabar dari
pembacaan kedua wattmeter akan
memberikan nilai daya yang benar
untuk setiap kondisi yang tidak
Wattmeter 1
Kumparan arus
Kumparan tegangan
Kumparan arus
Kumparan arus
Kumparan arus Kumparan tegangan
Wattmeter 2
R
R
beban
A
B
C
setimbang. Jika kawat netral dari
system tiga fasa juga tersedia
seperti halnya pada beban yang
tersambung dalam hubungan
bintang 4 kawat, sesuai dengan
teorema Blondel, diperlukan tiga
wattmeter untuk melakukan daya
nyata total.
Gambar 4-5. Diagram fasor tegangan tiga fasa V
AC
, V
CB
, V
BA
dan arus
tiga fasa I
AC
, I
CB
dan I
BA
.
4.3.3. Pengukuran Daya Reaktif
Daya reaktif yang disuplai ke
sebuah rangkaian arus bolak-balik
sebagai satuan yang disebut VAR
(Volt-Ampere-Reaktif), yang
memberikan perbedaan antara
daya nyata dan daya oleh
komponen reaktif. Merupakan dua
fasor E dan I yang menyatakan
tegangan dan arus pada sudut
fasa ?. Daya nyata adalah
perkalian komponen-komponen
sefasa dari tegangan dan arus
(E.I.cos ?), sedang daya reaktif
adalah perkalian komponen-
komponen reaktif yaitu E.I.sin ?
atau E.I.cos (? - 90°).
4.3.4. Konstruksi dan Cara Kerja
Wattmeter
Wattmeter analog terdiri dari 3 tipe
yaitu wattmeter tipe
elektrodinamometer, wattmeter
tipe induksi dan wattmeter tipe
thermokopel.
4.3.4.1. Wattmeter tipe
elektrodinamometer.
Wattmeter tipe
elektrodinamometer terdiri dari
satu pasang kumparan yaitu
kumparan yang tetap disebut
kumparan arus dan kumparan
yang berputar disebut dengan
kumparan tegangan, sedangkan
alat penunjuknya akan berputar
melalui suatu sudut, yang
berbanding lurus dengan hasil
perkalian pada arus-arus yang
melalui kumparan-kumparan
tersebut (gambar 4-6).
Gambar 4-6. Konstruksi wattmeter elektrodinamometer
Kumparan arus dari Wattmeter
dihubungkan secara seri dengan
rangkaian (beban), dan kumparan
tegangan dihubungkan parallel
dengan line. Jika arus line
mengalir melewati kumparan arus
dari wattmeter, maka akan
membangkitkan medan disekitar
kumparan. Kuat medan ini
sebanding dengan besarnya arus
line Kumparan tegangan dari
wattmeter dipasang seri dengan
resisitor yang mempunyai nilai
resistansi sangat tinggi. Tujuannya
adalah untuk membuat rangkaian
kumparan tegangan dari meter
mempunyai ketelitian tinggi. Jika
tegangan dipasangkan ke
kumparan tegangan, arus akan
sebanding dengan tegangan line.
4.3.4.2. Wattmeter tipe induksi
Seperti alat ukur wattmeter
elektrodinamometer, alat ukur tipe
induksi mempunyai pula sepasang
kumparan-kumparan yang bebas
satu dan lainnya. Susunan ini
menghasilkan momen yang
berbanding lurus dengan hasil kali
dari arus-arus yang melalui
kumparan-kumparan tersebut,
dengan demikian dapat pula
dipergunakan sebagai alat
pengukur watt. Untuk
memungkinkan hal ini F
1
dalam
gambar 4-7 didapat dari arus
beban I dan F
2
dari tegangan
beban V. Perlu diperhatikan bahwa
F
2
akan mempunyai sudut fasa
sebesar 90°terlambat terhadap V.
Hubungan antara fasa-fasa
diperlihatkan dalam gambar 4-8,
dan menurut persamaan di dapat :
ϕ α cos sin =
Gambar 4-7. Gambar 4-8
Diagram vektor wattmeter Diagram vektor wattmeter
jenis elektrodinamometer jenis induksi
Untuk mendapatkan F
2
mempunyai sudut fasa yang
terlambat 90° terhadap V, maka
jumlah lilitan kumparan dinaikkan
sedemikian rupa, sehingga
kumparan tersebut dapat dianggap
induktansi murni. Dengan keadaan
ini maka F
2
sebanding dengan
V/? sehingga didapat :
ϕ α φ φ ω cos sin
2 1
KVI =
Dengan cara ini pengukuran daya
dapat dimungkinkan . Alat
pengukur watt tipe induksi sering
dipergunakan untuk alat ukur yang
mempunyai sudut yang lebar, dan
banyak dipakai dalam panil-panil
listrik.
4.3.4.3. Wattmeter tipe thermokopel
Alat pengukur watt tipe
thermokopel merupakan contoh
dari suatu alat pengukur yang
dilengkapi dengan sirkuit
perkalian yang khusus.
Konfigurasi alat ukur ini
diperlihatkan dalam gambar 4-9.
Bila arus-arus berbanding lurus
terhadap tegangannya, dan arus
beban dinyatakan sebagai
maka akan didapatkan :
i k i dan v k i
2 2 1 1
= =
( ) ( ) i v k k i i i i i i
2 1 2 1
2
2 1
2
2 1
4 4 = = ÷ ÷ +
a
f
V
I2
I1=I
V
I
F1
F2
a
f
Gambar 4-9 Prinsip wattmeter jenis thermokopel
Harga rata – rata dari hasil
persamaan tersebut diatas, adalah
sebanding dengan daya beban.
Dalam gambar 4-9, i
1
= k
1
v adalah
arus sekunder dari transformator
T
1
, dan 2i
2
= 2k
2
i adalah arus
sekunder dari transformator T
2
.
Bila sepasang tabung thermokopel
dipanaskan dengan arus-arus ( i
1
+
i
2
) dan ( i
1
- i
2
), maka gaya listrik
secara termis akan digerakkan
berbanding lurus kwadrat dari
arus-arus, dan akan didapat dari
masing-masing thermokopel. Bila
kedua thermokopel tersebut
dihubungkan secara seri
sedemikian rupa sehingga
polaritasnya terbalik, maka
perbedaan tegangan tersebut
pada ujung-ujungnya akan dapat
diukur melalui suatu alat pengukur
milivolt. Dengan demikian maka
penunjukan dari alat ukur milivolt
tersebut akan berbanding dengan
daya yang akan diukur.
Alat pengukur watt jenis
thermokopel ini dipakai untuk
pengukuran daya-daya kecil pada
frekuensi audio. Pada saat ini
terdapat banyak bentuk dari alat
pengukur watt, yang dilengkapi
dengan sirkit-sirkit kalkulasi
khusus, dan berbagai detail dapat
ditemukan pada alat-alat ukur
tersebut.
4.3.4.4. Prinsip Kerja Wattmeter Elektrodinamometer
Wattmeter pada dasarnya
merupakan penggabungan dari
dua alat ukur yaitu Amperemeter
dan Voltmeter, untuk itu pada
Wattmeter pasti terdiri dari
kumparan arus (kumparan tetap)
mA
Thermokopel
Hampa (Vacuum)
T1
T2
i
i1
i1
i1 + i2
i1 - i2
V
dan kumparan tegangan
(kumparan putar), sehingga
pemasangannyapun juga sama
yaitu kumparan arus dipasang seri
dengan beban dan kumparan
tegangan dipasang paralel dengan
sumber tegangan.
Apabila alat ukur Wattmeter
dihubungkan dengan sumber daya
(gambar 4-10), arus yang melalui
kumparan tetapnya adalah i
1
,
serta arus yang melalui kumparan
putarnya i
2
, dan dibuat supaya
masing-masing berbanding lurus
dengan arus beban i dan tegangan
beban v, maka momen yang
menggerakkan alat putar pada alat
ukur ini adalah i
1.
i
2 =
Kvi untuk
arus searah, dimaka K adalah
adalah suatu konstanta, dengan
demikian besarnya momen
berbanding lurus dengan daya
pada beban VI .
Untuk jaringan arus bolak balik maka :
( ) | | ϕ ω ϕ ÷ ÷ = = t KVI Kvi i i 2 cos cos
2 1
Yang didapat dengan asumsi bahwa :
( ) ϕ ω
ω
÷ =
=
t I i
t V V
m
m
sin
sin
dan i
2
adalah sefasa dengan V,
maka penunjukan akan
berbanding dengan VI cos f ,
yang sama dengan daya yang
dipakai oleh beban. Jadi dengan
demikian untuk arus searah
maupun untuk arus bolak-balik
dapat dikatakan bahwa
penunjukan dari alat ukut
Wattmeter tipe elektrodinamik
akan berbanding lurus dengan
daya beban.Gambar 4-11.
menunjukkan beberapa variasi
penyambungan alat ukur
wattmeter tergantung dengan
sistem yang dipilih.
F1 F2
M
R
Beban
i1
i2
i
V
Sumber Daya Sumber Daya Beban
V
F1 F2 i1 i
i2
M
R
Gambar. 4-10. Rangkaian wattmeter jenis elektrodinamometer
Gambar 4-11. Variasi penyambungan wattmeter.
Salah satu tipe wattmeter
elektrodinamometer adalah tipe
Portable Single Phase wattmeter.
Alat ukur ini dapat dirancang untuk
mengukur DC dan AC (25 ~ 1000
Hz) dengan akurasi tinggi.
Konstruksi wattmeter tipe Portable
Single Phase ditunjukkan pada
gambar 4-12. dan hubungan
internal dari alat ukur ditunjukan
pada gambar 4-13.
Gambar 4-12. Konstruksi wattmeter tipe Portable Single Phase
Seperti ditunjukkan pada gambar
4-12, alat ukur wattmeter ini
dikemas dalam kotak bakelite yang
kuat. Bagian-bagian external dari
wattmeter dijelaskan sebagai
berikut :
(1) Jarum penunjuk
(2) Kaca : dfungsikan untuk
mengeliminir kesalahan
parallax dalam pembacaan.
(3) Pengatur Nol (Zero) :
digunakan untuk mengatur
posisi nol dari penunjukan
(4) Skala : terdiri dari 120 bagian
(linear)
(5) Terminal tegangan :
digunakan untuk
menyambungkan tegangan.
Terminal common tegangan
diberi tanda (±), dan terminal
tegangan yang lain
mengindikasikan ukuran
tegangan terukur.
(6) Terminal arus : Salah satu
terminal diberi tanda (±)
untuk menunjukkan bahwa
terminal ini dihubungkan
dengan terminal common
tegangan, dan terminal arus
yang lain mengindikasikan
ukuran arus terukur.
(7) Tabel Perkalian : letak tabel
perkalian di sisi samping alat
ukur, tabel ini digunakan
untuk menentukan besarnya
daya nyata dari nilai
penunjukan.
Gambar 4-13. Hubungan internal wattmeter tipe Portable Single Phase
CC
CC
VC
1A
5A
+/-
+/-
120V 240V
6 5 4 2
1 3
7
4.3.5. Spesifikasi Alat
Spesifikasi teknik dan karakteristik alat ukur wattmeter :
Tipe : 2041
Akurasi : ± 0.5% dari nilai skala penuh
Ukuran dimensi : 180 x 260 x 140 mm
Berat : 2.8 Kg
Panjang skala : 135 mm
Skala : 120 bagian
Frekuensi : DC, 25 – 1000 Hz
Kapasitas Overload : Rangkaian tegangan ..... 50%
Rangkaian arus ............ 100%
4.3.6. Karakteristik :
Efek pemanasan diri : ± 0.15%
Perbedaan Pengukuran antara DC dan AC : ± 0.1%
Efek temperature eksternal : ± 0.2% /10°C
Efek medan maghnit eksternal : ± 0.65% /400 A/m
Respons Frekuensi : 45 – 65 Hz ....0.0%
50 – 1000 Hz ...0.1%
Efek faktor daya : ± 0.1%
Factor daya dari 1.0 sampai 0.5
Tabel 4-1. Rating, internal impedance, and rated power loss
Range Rating Internal
Impedance
Rated power loss
(VA)
Voltage
Current
120 V Approx 12,000 ? Approx 1.2VA
240 V Approx 24,000 ? Approx 2.4VA
0.2 / 1 A
0.2 A 24 W 48 W Approx 16.35 ? Approx 0.66VA
1 A 120 W 240 W Approx 0.56 ? Approx 0.56VA
1 / 5 A
1 A 120 W 240 W Approx 0.93 ? Approx 0.93VA
5 A 600 W 1.2KW Approx 0.034 ? Approx 0.84VA
5 / 25 A
5 A 600 W 1.2KW Approx 0.068 ? Approx 1.72VA
25 A 3 KW 3KW Approx 0.0027 ? Approx 1.69VA
4.3.7. Prosedur Pengoperasian
4.3.7.1. Pengukuran daya DC atau AC satu fasa :
Hubungkan kumparan arus secara
seri terhadap beban. Dengan cara
menghubungkan terminal
kumparan arus (.± ) ke sumber
tegangan, sedangkan ujung
kumparan arus yang lain (A)
dihubungkan ke beban.
Hubungkan kumparan
tegangan secara parallel
dengan beban. Dengan cara
menghubungkan terminal
kumparan tegangan (±) ke
beban, sedangkan ujung
terminal tegangan yang lain (V)
dihubungkan ke ujung beban
yang lainnya.
Jika jarum penunjuk bergerak
kearah kiri, tukar ujung-ujung
kumparan tegangannya.
4.3.7.2. Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi nilai perkiraan
Seperti pada gambar 4-15,
sambungkan trafo arus (CT) ke
rangkaian arus. Kalikan rasio
transformasi arus dengan W (nilai
terukur dikalikan konstanta) untuk
mendapatkan daya beban. Jangan
membuka rangkaian arus sampai
pengukuran selesai.
Gambar 4 – 15 Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi
nilai perkiraan
4.3.7.3. Pengukuran daya satu fasa tegangan melebihi nilai
perkiraan
Seperti pada gambar 4-16,
sambungkan trafo tegangan (P.T)
ke rangkaian tegangan. Untuk
mendapatkan daya beban, kalikan
rasio lilitan dari transformator
dengan W (nilai terukur dikalikan
konstanta). Jika dimungkinkan,
hubungkan grounding konduktor
dari sumber daya ke rangkaian
arus.
Power
Source
Load
Gambar 4-14 Hubungan kumparan arus seri terhadap beban
Power
Source
Load
± A A
Gambar 4 - 16 Pengukuran daya satu fasa jika tegangan melebihi nilai
perkiraan
4.3.7.4. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan dan arus melebihi
nilai perkiraan
Seperti pada gambar 4-17,
hubungkan trafo tegangan (P.T) ke
rangkaian tegangan, dan trafo arus
( C.T ) ke rangkaian arus. Daya
beban ditentukan dengan rumus :
W = ( nilai yang terindikasi x konstanta perkalian ) x rasio C.T x
rasio P.T
Contoh, nilai terindikasi = 120,
konstanta perkalian =5 ( 120V, 5A)
Rasio P.T= 6600/110
Rasio CT= 50/5
W = 120x5x6600/110x50/5=360.000=360kW
Gambar 4-17 Pengukuran daya satu fasa jika arus dan tegangan
melebihi nilai perkiraan
4.3.7.5. Pengukuran daya tiga fasa (metode dua watt meter)
Pengukuran daya tiga fasa
dilakukan dengan menghubungkan
dua watt meter, seperti yang
ditunjukkan gambar 4-18. Nilai
daya diindikasikan dengan
penjumlahan aljabar dari nilai
Power
Source
Load
A A
Power
Source
Load
A A
Power
Source
Load
Ground
indikasi pada dua wattmeter.
Ketika faktor daya dari rangkaian
yang diukur lebih besar dari 50%,
kedua meter akan mempunyai nilai
posotif. Total daya beban dihitung
dengan penjumlahan dari dua nilai
ini.
Tetapi, jika faktor daya dari
rangkaian lebih rendah dari 50%,
satu atau dua wattmeter akan
memberi indikasi negatif
(penunjuk akan bergerak ke kiri).
Jika ini terjadi baliklah hubungan
tegangan dari meter dengan
defleksi negatif. Jika dibalik maka
akan menunjukkan nilai positif.
Kurangkan nilai ini dari nilai
terindikasi pada meter yang lain,
untuk menghasilkan daya beban
total.
Gambar 4-18 Pengukuran daya tiga fasa (metode dua wattmeter)
4.3.7.6. Pengukuran daya tiga fase jika tegangan dan arus melebihi
nilai perkiraan
Hubungkan dua wattmeter seperti
ditunjukkan gambar 4-19 , lalu ikuti
prosedur nomor (5) diatas. Daya
beban total tiga fase dengan
menjumlahkan perhitungan
pembacaan daya dari dua meter.
Setiap perhitungan dihasilkan
dengan mengalikan rasio PT dan
rasio CT dengan W (nilai
terindikasi x konstanta perkalian).
Gambar 4-19 Pengukuran daya tiga fasa jika arus dan tegangan melebihi
nilai perkiraan
A A
± A A
R
S
T
Load
R
S
T
Load
4.3.8. Pemilihan Range
Ketika melakukan pengukuran, jika
arus beban tidak diketahui,
hubungkan rangkaian ke terminal
arus yang lebih tinggi dari nilai
perkiraan. Kemudian pasang
wattmeter ke rangkaian. Range
tegangan dan arus diatur dengan
menggunakan saklar.Rasio dari
range tegangan adalah 120 V dan
240 V sedangkan range arus
adalah 1 A dan 5 A.
Ketika menggunakan trafo arus,
yakinlah tidak membuat loop
terbuka dalam rangkaian sekunder
ketika mengubah range arus. Jika
trafo arus dilengkapi dengan
sebuah lilitan sekunder , tutup
rangkaian dengan kunci pertama,
dan kemudian rubah range.
Tabel 4-2. Tabel konstanta pengali (tegangan perkiraan 120/240V, arus
perkiraan 1/5A)
Range Arus
Konstanta Pengali
Range Tegangan
120 V 240 V
1 A 1 2
5 A 5 10
Tabel konstanta pengali diatas
ditempatkan disisi dari wattmeter,
dan digunakan untuk
mengkonversi nilai terbaca dari
skala ke nilai daya. Daya beban =
Nilai terindikasi x konstanta
pengali
4.3.9. Keselamatan Kerja
(1) Letakkan wattmeter pada
permukaan rata
(2) Cek apakah penunjuk pada
posisi nol (0) pada skala. Jika
tidak putarlah pengatur nol
(lihat gambar 4-12) sampai
jarum penunjuk pada posisi
nol.
(3) Pastikan sumber daya pada
rangkaian yang akan diukur
pada posisi off sebelum
rangkaian terangkai dengan
benar.
4.3.10. Kesalahan (Kesalahan)
Induktansi dari kumparan
tegangan pada wattmeter adalah
penyebab adanya kesalahan,
tetapi dengan tahanan non-induktif
yang tinggi yang dipasang seri
dengan kumparan tegangan dapat
mengurangi kesalahan ini.
Penyebab lain adanya kesalahan
adalah
1. Drop tegangan pada
rangkaian
2. Arus yang diambil oleh
kumparan tegangan
Pada wattmeter standar,
kesalahan ini disebabkan karena
adanya tambahan kumparan
kompensasi, kesalahan yang
disebabkan oleh adanya kumparan
kompensasi ini dapat diatasi
dengan memasang kumparan
kompensasi sedemikian rupa
sehingga menghasilkan medan
yang berlawanan arah dengan
medan yang dihasilkan oleh
kumparan arus.
4.4. Kesalahan Wattmeter
1. Kesalahan akibat perbedaan
rangkaian.
Ada 2 kemungkinan untuk
merangkai wattmeter pada
rangkaian AC fase tunggal,
seperti terlihat pada gambar 4-20,
sekaligus dengan diagram
vektornya.
(a)
(a) (b)
Gambar 4- 20. Rangkaian wattmeter AC satu fasa
Pada gambar 4-20(a) kumparan
arus tidak dilalui arus, sedangkan
pada rangkaian gambar 4-20(b)
arus melalui kumparan arus.
Sebuah wattmeter sebenarnya
diharapkan dapat menunjukkan
daya yang dipakai oleh beban,
tetapi pembacaannya sebenarnya
sedikit kelebihan yang disebabkan
oleh rugi-rugi daya pada rangkaian
instrument. Besarnya kesalahan
tergantung dari banyaknya
rangkaian.
Perhatikan gambar 4-20(a). Jika
cos f adalah power faktor beban,
maka daya pada beban adalah =
V I cos f . Sekarang, tegangan
pada kumparan tegangan adalah
V
1
yang merupakan jumlah vektor
dari tegangan beban V dan drop
tegangan pada kumparan arus =
V’ (= I r. di , dimana r adalah
resistansi pada kumparan arus).
Maka pembacaan daya oleh
wattmeter = V
1
I cos f , dimana f
adalah beda fase antara V
1
dan I
seperti terlihat pada diagram
vektor gambar 4-20(a).
I
V
R
V1
V1
I
I
V
R
I
I1
V
V’
V
(c)
(d)
2. Kesalahan akibat induktansi kumparan tegangan
Kesalahan pembacaan pada wattmeter disebabkan juga oleh
induktansi pada kumparan tegangan.
Gambar 4-21. Rangkaian kumparan tegangan
a. Jika induktansi kumparan tegangan diabaikan :
R
V
R R
V
I
V
=
+
=
) (
2
φ θ = , terlihat pada gambar 4-21 a.
Jadi pembacaan wattmeter
= θ Cos
R
V
I
1
........................................(1)
b. Jika induktansi kumparan tegangan diperhitungkan :
P
L L
Z
V
X R
V
X R R
V
I =
+
=
+ +
=
2 2 2 2
2
) (
Dimana
2
I ini tertinggal terhadap V dengan sudut a
(gambar 4-21 b ) sehingga
R
?=f
V
I1
I2
I1
a)
b)
I2
V
1
cos f . I = ( V cos f + V’) I
= V.I cos f + V’ I
= V I cos f + I
2
. r
= Daya beban + Daya pada
rangkaian kumparan
tegangan.
(a)
(b)
tan
R
L
R
X
R R
X
V L
V
L
ω
= =
+
=
) (
Jadi pembacaan wattmeter :
=
V
Z
V I θ cos
1
=
V
Z
V I ) ( cos
1
α φ ÷
Jadi pembacaan wattmeter
= ) ( cos
1
α φ ÷
R
V
I .................................(2)
Persamaan (1) untuk
pembacaan wattmeter dimana
induktansi kumparan tegangan
diabaikan dan persamaan (2)
untuk pembacaan wattmeter
dimana induktansi kumparan
tegangan ikut diperhitungkan.
Faktor koreksi yang diberikan
oleh perbandingan antara
pembacaan sesungguhnya (W
t
)
dengan pembacaan yang ada
pada wattmeter (W
a
) adalah :
) ( cos cos
cos
) ( cos cos
cos
1
1
1
α φ α
φ
α φ α
φ
÷
=
÷
=
R
I V
R
I V
W
W
a
t
Pada prakteknya karena sangat kecil, maka 1 cos = α
Maka :
) ( cos
cos
α φ
φ
÷
=
a
t
W
W
Kesalahan pembacaan adalah :
= Pembacaan yang ada – pembacaan sesungguhnya
= pembacaan yang ada
ada yang pembacaan x
) ( cos
cos
α φ
φ
÷
= pembacaan yang ada
( )
|
|
.
|

\
|
÷
÷
α φ
φ
cos
cos
1
ada yang pembacaan x
α φ φ
φ α φ φ
sin sin cos
cos sin sin cos
+
÷ +
=
= ada yang pembacaan x
α φ φ
α φ
sin sin cos
sin sin
+
= ada yang pembacaan x
α φ
α
sin cot
sin
+
Jadi presentase kesalahan = % 100
sin cot
sin
x
α φ
α
+
3. Kesalahan akibat medan
STRAY (Pengganggu)
Karena medan yang bekerja
pada instrument ini adalah kecil,
maka mudah dipengaruhi oleh
kesalahan akibat medan
pengganggu dari luar. Oleh
karena itu harus dijaga agar
sejauh mungkin berada dari
medan STRAY tadi. Tetapi ,
kesalahan akibat medan ini
pada umumnya dapat
diabaikan.
4. Kesalahan akibat kapasitansi
dalam kumparan tegangan
Pada bagian rangkaian
kumparan tegangan , terutama
pada bagian tahanan serinya
akan selalu muncul kapasitansi
walaupun kecil. Akibatnya akan
mengurangi besarnya sudut,
dengan demikian mengurangi
kesalahan yang diakibatkan
induktansi pada rangkaian
kumparan tegangan. Pada
kenyataannya pada beberapa
wattmeter, sebuah kapasitor
dihubungkan paralel terhadap
tahanan seri untuk
mendapatkan rangkaian
kumparan tegangan yang non-
induktif.
Jelas bahwa kompensasi yang
berlebihan akan membuat
resultante reaktansi kapasitif,
dengan demikian akan
menyebabkan sudut negatif.
5. Kesalahan akibat EDDY-
Current (Arus pusar)
Eddy-current adalah medan arus
bolak-balik pada bagian-bagian
logam yang padat dari instrument.
Ini dihasilkan oleh medan bolak-
balik pada kumparan arus akan
mengubah besar dan kuat medan
kerja, dengan demikian
menimbulkan kesalahan bagi
pembacaan wattmeter.
Kesalahan ini tidak mudah
dihitung meskipun dapat menjadi
sangat besar jika tidak berhati-
hati dalam memindahkan bagian
padat dari dekat kumparan arus
tadi.
4.5. Watt Jam meter
Watt jam meter merupakan alat
ukur untuk mengukur energi listrik
dalam orde Kwh. Karena energi
merupakan perkalian antara daya
dengan waktu, maka watt jam
meter membutuhkan kedua faktor
ini. Pada prinsipnya, watt jam meter
adalah sebuah motor kecil yang
mempunyai kecepatan sebanding
dengan daya yang melaluinya.
Total putaran dalam suatu waktu
sebanding dengan total energi,
atau watt-jam, yang dikonsumsi
selama waktu tersebut. Alat ukur
watt jam tidak sering digunakan di
laboratorium tetapi banyak
digunakan untuk pengukuran
energi listrik komersil.
Kenyataannya adalah bahwa
disemua tempat dimanapun,
perusahaan listrik menyalurkan
energi listrik ke industri dan
pemakai setempat (domestik). Alat
ini bekerja berdasarkan prinsip
kerja induksi.
4.5.1. Konstruksi dan Cara Kerja Watt jammeter
Elemen alat ukur watt jam satu
fasa ditunjukkan pada gambar 4-
22 dalam bentuk skema.
Kumparan arus dihubungkan seri
dengan jala-jala, dan kumparan
tegangan dihubungkan paralel.
Kedua kumparan yang dililitkan
pada sebuah kerangka logam
dengan desain khusus melengkapi
dua rangkaian maghnit. Sebuah
piringan aluminium ringan
digantung di dalam senjang udara
medan kumparan arus yang
menyebabkan arus pusar mengalir
di dalam piringan. Reaksi arus
pusar dan medan kumparan
tegangan membangkitkan sebuah
torsi (aksi motor) terhadap piringan
dan menyebabkannya berputar.
Gambar 4 - 22. Konstruksi watt jam meter
Torsi yang dibangkitkan sebanding
dengan kuat medan kumparan
tegangan dan arus pusar di dalam
piringan yang berturut-turut adalah
fungsi kuat medan kumparan arus.
Berarti jumlah putaran piringan
sebanding dengan energi yang
telah dipakai oleh beban dalam
selang waktu tertentu, dan diukur
dalam kilowatt-jam (kWh, kilowatt
jam). Poros yang menopang
piringan aluminium dihubungkan
melalui susunan roda gigi ke
mekanisme jam dipanel alat ukur,
melengkapi suatu pembacaan
kWh yang terkalibrasi dalam
desimal.
Redaman piringan diberikan oleh
dua maghnit permanen kecil yang
ditempatkan saling berhadapan
pada sisi piringan. Bila piringan
berputar, maghnit-maghnit
permanen mengindusir arus pusar
di dalamnya. Arus-arus pusar ini
bereaksi dengan medan maghnit
dari maghnit-maghnit permanen
kecil dan meredam gerakan
piringan.
Kalibrasi alat ukur watt jam
dilakukan pada kondisi beban
penuh yang diijinkan dan pada
kondisi 10% dari beban yang
diijinkan. Pada beban penuh,
kalibrasi terdiri dari pengaturan
magnit magnit
poros
piringan
Jala-jala
Kumparan
tegangan
piringan
Magnit inti
Kumparan
arus beban
posisi maghnit-maghnit permanent
kecil agar alat ukur membaca
dengan tepat. Pada beban-beban
yang sangat ringan, komponen
tegangan dari medan
menghasilkan suatu torsi yang
tidak berbanding langsung dengan
beban. Kompensasi kesalahan
diperoleh dengan menyisipkan
sebuah kumparan pelindung atau
pelat diatas sebagian kumparan
tegangan dengan membuat alat
ukur bekerja pada 10% beban
yang diijinkan. Kalibrasi alat ukur
pada kedua posisi ini biasanya
menghasilkan pembacaan yang
memuaskan untuk semua beban-
beban lainnya. Sebuah alat ukur
watt jam satu fasa ditunjukkan
pada gambar 4-23.
Gambar 4-23. Mekanik meter induksi elektromekanik
Meter induksi elektromekanik
beroperasi dengan menghitung
putaran dari cakram aluminium
yang dibuat berputar dengan
kecepatan proporsional dengan
power yang digunakan. Alat ini
mengkonsumsi power yang kecil
sekitar 2 watts. Cakram metalik
bekerja dengan dua kumparan.
Kumparan satu disambungkan
dengan sebuah benda yang
menghasilkan flux magnetik yang
Keterangan :
(1) Kumparan tegangan, yang dihubungkan paralel
dengan beban
(2) Kumparan arus, dihubungkan seri dengan beban
(3) Stator
(4) Piringan Aluminium Rotor
(5) rotor brake magnets
(6) spindle dengan worm gear
(7) Display dial : 1/10, 10 dan 1000 , 1, 100 dan
10000.dials berputar searah jarum jam
proporsional dengan tegangan dan
kumparan kedua disambungkan
dengan benda yang menghasilkan
flux magnetik yang proporsional
dengan arus. Keadaan ini
menghasilkan eddy currents di
cakram dan efeknya adalah gaya
yang digunakan dalam cakram
proporsional dengan hasil arus
dan tegangan. Magnet permanen
menggunakan gaya berlawanan
yang proporsional dengan
kecepatan rotasi cakram, hal ini
menyebabkan sebuah
pengereman yang menyebabkan
cakram berhenti berputar. Tipe
meter yg didiskripsikan di atas
digunakan pada AC fasa tunggal.
Perbedaan konfigurasi antara fasa
tunggal dan tiga fasa adalah
terletak adanya tambahan
kumparan tegangan dan arus.
Gambar 4-24. Meter induksi elektromekanik, 100 A 230/400 V. cakram
baling-baling aluminium horisontal merupakan pusat meter
Pengukuran energi dalam sistem
tiga fasa dilakukan oleh alat ukur
watt jam fasa banyak. Kumparan
arus dan kumparan tegangan
dihubungkan dengan cara yang
sama seperti wattmeter tiga fasa.
Masing-masing fasa alat ukur watt
jam mempunyai rangkaian
maghnetik dan piringan tersendiri,
tetapi semua piringan dijumlahkan
secara mekanis dan putaran total
permenit dari poros sebanding
dengan energi total tiga fasa yang
dipakai.
4.5.2. Pembacaan
Cakram aluminium dilengkapi
dengan sebuah spindle yang
mempunyai worm-gear untuk
menggerakkan register. Register
seri dengan dial yang berfungsi
untuk merekam jumlah energi
yang digunakan. Dial termasuk
tipe cyclometer, yaitu sebuah
display seperti odometer yang
menampilkan setiap dial digit
tunggal lewat jendela pada
permukaan meter, atau tipe pointer
dimana sebuah pointer
menunjukkan setiap digit. Pointer
biasanya berputar dalam arah
berlawanan dengan mekanik ulir.
Jumlah energi yang dipergunakan
ditunjukkan oleh putaran cakram,
dinotasikan dengan simbol KWh
yang diberikan dalam unit watt jam
per putaran. Dengan mengetahui
nilai KWh, seorang pelanggan
dapat menentukan konsumsi daya
yang dipergunakan dengan cara
menghitung putaran cakram
dengan stopwatch. Jika waktu
yang dibutuhkan cakram dalam
detik untuk menyelesaikan satu
putaran adalah t, dan daya dalam
watt adalah P=3600xKWh/t.
Contoh, jika KWh=7.2 dan satu
putaran membutuhkan waktu 14.4
detik, maka dayanya adalah 1800
watts. Metode ini dapat digunakan
untuk menentukan konsumsi daya
dari peralatan rumah tangga.
Sebagian besar meter listrik
domestik masih dicatat secara
manual, dengan cara
perwakilan/utusan dari perusahaan
listrik atau oleh pelanggan.
Dimana pelanggan membaca
meter, pembacaan harus
dilaporkan ke perusahaan listrik
lewat telepon,post atau internet.
Seorang karyawan perusahaan
listrik biasanya mengunjungi
pelanggan sedikitnya setiap tahun
untuk mengecek pembacaan
pelanggan serta melakukan
pengecekan keselamatan dasar
meter.
4.6. Meter Solid States
Jenis meter meter listrik terbaru
adalah solid state yang dilengkapi
dengan LCD untuk menampilkan
daya serta dapat dibaca secara
otomatis.
Selain dapat mengukur listrik yang
digunakan , meter solid state dapat
juga merekam parameter lain dari
beban dan suplai seperti
permintaan maksimum, faktor
daya, dan daya reaktif yang
digunakan. Meter solid state dapat
menghitung jumlah listrik yang
dikonsumsi, dengan penetapan
harga yang bervariasi menurut
waktu setiap hari, minggu, dan
musim.
4.7. Wattmeter AMR
Sebagian besar meter solid state
menggunakan arus transformer
untuk mengukur arus. Ini artinya
bahwa arus tidak melewati meter
sehingga meter dapat di letakkan
di lokasi yang jauh dari konduktor
yang membawa arus. Teknologi
meter solid state ini merupakan
keuntungan bagi instalasi yang
menggunakan daya besar,
teknologi ini memungkinkan juga
Gambar 4-25. Meter listrik solid state
menggunakan transformer arus
jarak jauh dengan meter
elektromekanikal, hal ini jarang
dilakukan.
Meter elektronik sekarang ini
dilengkapi dengan komunikasi
teknologi antara lain low power
radio, GSM, GPRS, Bluetooth,
IRDA yang terpisah dari hubungan
konvensional, dengan
menggunakan RS-232 dan RS-
485. Meter elektronik dapat
menyimpan semua penggunaan
daya dengan waktu penggunaan
dan dapat menayangkan kembali
hanya dengan meng-klik tombol,
data pembacaan disimpan dengan
akurat. Profile data ini diproses
dan hasilnya berupa laporan atau
grafik. Pembacaan meter jarak
jauh menerapkan aplikasi
telemetri. Biasanya, meter yang di
desain untuk pembacaan semi
automatik mempunyai serial port
untuk komunikasi dengan
meletakkan LED infra merah
diatas permukaan meter.
4.8. Kasus Implementasi Lapangan
Pada dasarnya, besarnya energi
yang telah dipakai oleh pelanggan
ditunjukkan dengan angka-angka
(register) yang tertera pada alat
ukur kWh meter. Jumlah
pemakaian yang sebenarnya
dihitung berdasarkan angka-angka
yang tertera pada register
sebelumnya (awal) yang
dikurangkan terhadap angka-
angka yang tertera pada register
terakhir (akhir) atau dapat
dinyatakan dengan rumus kWh =
(selisih pembacaan meter kWh) x
Faktor Meter. Selisih pembacaan
meter kWh = Penunjukan meter
bulan ini - Penunjukan meter bulan
lalu. Faktor Meter = Rasio CT x
Rasio PT x Faktor Register
Kasus Aplikasi Lapangan
4.8.1. Pelanggan Tegangan rendah (TR) yang tidak
memerlukan CT (pelangan dengan tarif S2-R1-R2-R3-
U1). Untuk tarif S2-R3-U1 :
Stand meter bulan lalu : 07139
Stand meter bulan lalu : 06825
Selisih pembacaan meter : 314 ( pemakaian kWh).
Untuk tarif R2-R3
Stand meter bulan ini : 15762
Selisih pembacaan standmeter : 269 (pemakaian kWh).
Pemakaian blok1= (60jamX daya
terpasang1300VA)/1000 =
78kWh
Pemakaian blok 2 = (pemakaian total – blok1) = 191
kWh.
Perhitungan biaya gunakan CT tariff S3-R4-U2.
4.8.2. Pelanggan Tegangan Rendah (TR) yang menggunakan CT (pelanggan
dengan tarif: S3 - R4 - U2)
Stand meter bulan ini = 70495
Stand meter bulan lalu = 68231
selisih pembacaan meter = 2264 x Faktor meter (CT)
= .......... Pemakaian kWh
4.8.3. Pelanggan TM dipasang kWh Meter merk Fuji tipe FF23HTI, 100v 5 A, 3
fase 4 kawat, dengan:
Trafo arus terpasang = 100/5 A, Rasio CT = 20
Trafo tegangan terpasang = 20.000/100 V, Rasio PT = 200
Faktor register = 1
Stand meter bulan ini : LWBP = 5.690 dan WBP
Stand meter bulan lalu : LWBP = 5.600 dan WBP
Jadi : Selisih pembacaan meter LWBP = 5.690 - 5.600 = 90
Selisih pembacaan meter WBP = 2.516 - 2.500 = 16
Maka: Pemakaian kWh LWBP = 20 x 200 x 1 90
= 360.000 kWh
Pemakaian kWh WBP = 20 x 200 x 1 16
= 64.000 kWh
4.8.4. Pelanggan dipasang kWh Meter merk Mecoindo tipe A6C1, 3 fase 4
kawat, 25/5 A, P/S 20.000/V3/100/V3, 50 Hz, dengan :
Trafo arus terpasang = 100/5 A
Untuk kWh meter jenis ini, arus pengenal meter 25/5 A, maka rasio
CT sebenarnya menjadi = 100/5 : 25/5 = 4
Meter jenis ini dirancang untuk dipasang pada tegangan menengah
20.000 VOLT, jadi rasio PT tidak dihitung. Faktor register = 200
Stand meter bulan ini : LWBP = 08970 dan WBP = 03540
Stand meter bulan ini : LWBP = 07920 dan WBP = 03030
Selisih pembacaan meter LWBP = 8970 - 7920
= 1050
Selisih pembacaan meter WBP = 3530 - 3030
= 510
Maka : Pemakaian kWh LWBP = 4 x 200 x 1050
= 840.000 kWh
Pemakaian kWh WBP = 4 x 200 x 510
= 408.000 kWh
Catatan:
* Bila pada meter kWh tidak tercantum adanya faktor register
(konstanta), maka faktor register dianggap = 1
* Untuk pengukuran tegangan rendah (TR), tidak ada rasio PT
4.8.5. Pembacaan pemakaian energi reaktif
Cara pembacaan dan perhitungannya sama dengan pembacaan
kWh Meter.
Pemakaian kVARh = (Selisih pembacaan kVARh) x Faktor meter
Selisih pembacaan kVARh = Penunjukan kVARh bulan ini -
Penunjukan kVARh bulan lalu
Faktor meter = Rasio CT x Rasio PT x Faktor register
Pelanggan h-3/TM, pengukuran TM dipasang kVARH merk Osaki
tipe OR91SH, 58/100 V, 5A, dengan:
Trafo arus (CT) terpasang = 125/5 A
Trafo tegangan (PT) terpasang = 20.000/100 V
Stand meter kVARh bulan ini = 7.860
kVARh bulan lalu = 6.750
Konstanta meter = 0,1
Faktor meter = 125/5 x 20.000/100 x 0,1 = 500
Selisih pembacaan kVARh = 7.860 - 6.750
= 1.110
Pemakaian kVARh = 1.110 x 500 kVARh
= 555.000 kVARh
4.8.6. Cara pembacaan pemakaian daya listrik
Pemakaian daya maksimum oleh
pelanggan setiap bulannya. Meter
jenis ini dipasang untuk
mengetahui daya maksimum yang
dipakai pelanggan tiap bulannya.
Bila dipasang kW Max, maka hasil
perhitungannya masih harus dibagi
dengan faktor daya sebesar 0,85.
Golongan pelanggan yang
dipasangi alat ini adalah hotel (H-
3) I5, dan industri Tanur Busur (I-
4). kW Max atau kVA Max yang
dipasang adalah dengan interval
15 menit. Yang dimaksud dengan
istilah daya terukur maksimum
dengan interval 15 menit adalah
"Nilai daya terukur maksimum
untuk tiap bulan sama dengan 4
(empat) kali nilai tertinggi dari kVA
yang dipakai selama tiap 15 (lima
belas) menit terus menerus dalam
bulan tersebut". Untuk saat ini kVA
Max yang terpasang kebanyakan
dari jenis yang menggunakan
jarum penunjuk.
Rumusnya dapat dituliskan :
Daya terukur = Penunjukan meter x Faktor meter
Faktor meter = CT terpasang : CT meter x PT terpasang x register
Contoh:
Pelanggan Tanur Busur I-4/TM, pengukuran TM, dipasang MW Max
merk Enertec tipe A7A11, 3 fase 3 kawat, 50 Hz, 3 x 600/5A, 3 x
20.000/100 V, dengan :
Trafo arus terpasang = 300/5 A
Trafo tegangan terpasang = 20.000/100 V
Penunjukan meter = 20
Faktor register = 1
Faktor meter = 300/5 : 600/5 x 20.000/100 : 20.000/100 x
= 0,5
Daya terukur = 20 x 0,5 = 10 MW
4.9. Faktor Daya (Cos ? )
Menurut definisi, faktor daya
adalah cosinus sudut fasa antara
tegangan dan arus, dan
pengukuran faktor daya biasanya
menyangkut penentuan sudut fasa
ini. Pada dasarnya instrumen ini
bekerja berdasarkan prinsip
elektrodinamometer, dimana
elemen yang berputar terdiri dari
dua kumparan yang dipasang
pada poros yang sama tetapi
tegak lurus satu sama lain.
Kumparan putar berputar di dalam
medan maknetik yang dihasilkan
oleh kumparan medan yang
membawa arus jala-jala. Ini
ditunjukkan dalam kerja alat ukur
faktor daya.
4.9.1. Konstruksi
Alat ukur faktor daya kumparan
bersilang (crossed-coil power
faktor meter) seperti terlihat pada
gambar 4-26 dan 4-27. Instrumen
ini mempunyai sebuah coil diam,
yang terdiri dari F
1
dan F
2
. Dengan
dihubungkan seri dengan line
supply maka akan dialiri arus.
Jelaslah bahwa medan yang
merata akan dihasilkan oleh F1
dan F2, yang sebanding dengan
arus line. Pada medan ini
diletakkan moving coil C1 dan C2
yang dipasang pada tangkai atau
spindle yang sama. Kedua moving
coil ini adalah coil tegangan C1
yang mempunyai tahanan seri R,
sedangkan coil C2 mempunyai
induktansi L. Harga R dan L
seperti halnya lilitan C1 dan C2,
diatur sedemikian hingga ampere-
turn pada C1 dan C2 sama besar.
Arus I1 sefasa dengan tegangan
supply V, sedangkan I2 lagging
(tertinggal) 90° (atau mendekati
90°) dibelakang V.
Gambar 4-26 Rangkaian alat ukur faktor daya satu fasa
F2 F1
C1
C2
I2 I1
L R Beban
Supply
I
skala
Gambar 4-27. Konstruksi alat ukur faktor daya
4.9.2. Cara Kerja
Dianggap bahwa power-faktor (p.f)
sama dengan satu, yaitu I (arus)
sefasa dengan V (tegangan).
Kemudian I
1
sefasa dengan I
sedangkan I
2
lagging 90°terhadap
I. Akibatnya timbul sebuah kopel
yang bekerja pada C
1
,
menimbulkan gaya gerak
mengarah bidang tegak lurus
terhadap sumbu magnit kumparan
F
1
dan F
2
. Secara bersamaan
dengan posisi penunjuk pada p.f
sama dengan 1. Sedangkan pada
C
2
tidak ada kopel.
Sekarang anggap bahwa p.f = 0,
yaitu I lagging 90° terhadap V.
Dalam hal ini I
2
dibuat sefasa
dengan I sedangkan I
1
berbeda
fasa 90°dengan I. Akibatnya, tidak
ada kopel pada C
1
tetapi akan
timbul kopel pada C
2
sehingga
bidangnya tegak lurus terhadap
sumbu megnetis F
1
dan F
2
.
Pada harga p.f pertengahan,
simpangan penunjuk akan
bersesuaian dengan simpangan
sudut p.f, yaitu F, atau cos F. Jika
instrumen ini dikalibrasi langsung
menunjukkan besarnya p.f.
Pada beban seimbang 3 fasa,
instrumen ini dimodifikasi
sedemikian agar C1 dan C2
bersudut 120° satu sama lain,
bukannya 90°seperti pada supply
fasa tunggal. Seperti terlihat pada
gambar 4-28, C
1
dan C
2
dihubungkan seri terhadap fasa
ketiga (sehingga mengalirkan arus
line). Karena tidak diperlukan fasa
bercelah diantara arus-arus pada
C
1
dan C
2
, I
1
dan I
2
tidak
ditentukan oleh circuit fasa
bercelah (fasa splitting), akibatnya
instrumen ini tidak akan
berpengaruh oleh perubahan
frekuensi maupun bentuk
gelombang arus.
Kumparan 1
Kumparan 2
Kumparan medan
skala
Gambar 4-28. Rangkaian alat ukur faktor daya tiga fasa
Alat ukur faktor daya dengan daun
terpolarisasi (polarized vane
power-faktor meter) ditunjukkan
dalam sketsa konstruksi gambar 4-
29. Instrumen ini terutama
digunakan dalam sistem daya tiga
fasa sebab prinsip kerjanya
bergantung pada pemakaian
tegangan tiga fasa.
Gambar 4-29. Alat ukur faktor daya tipe daun terpolarisasi
Kumparan luar adalah kumparan
potensial yang dihubungkan ke
antaran-antaran sistem tiga fasa.
Penyambungan tegangan tiga fasa
ke kumparan potensial
menyebabkan bertindak seperti
F2 F1
C1
C2
I2
I1
R
R
Beban
Supply 3 fasa
skala
120
o
lead lag
Jarum penunjuk
Medan 3 fasa
(potensial)
Daun putar
Daun putar
Kumparan arus
Daun redaman
stator motor induksi tiga fasa
sewaktu membangkitkan fluksi
magnit berputar. Kumparan
ditengah atau kumparan arus
dihubungkan seri dengan salah
satu antaran fasa, dan ini
mempolariser daun-daun besi.
Daun-daun terpolarisasi bergerak
di dalam medan magnit berputar
dan mengambil suatu posisi
dimana medan putar pada suatu
saat mempunyai fluksi polarisasi
paling besar (maksimal). Posisi ini
merupakan indikasi sudut fasa dan
berarti indikasi faktor daya.
Instrumen ini dapat digunakan
dalam sistem satu fasa dengan
syarat bahwa rangkaian pemisah
fasa (serupa dengan yang
digunakan dalam motor satu fasa)
ditambahkan untuk
membangkitkan medan magnit
putar yang diperlukan.
Konstruksi faktor daya
digambarkan gambar 4-30. dapat
digunakan untuk satu fasa maupun
tiga fasa. Alat tersebut mempunyai
range tegangan dan arus seperti
tertera pada tabel 4-3.
Gambar 4-30 Konstruksi faktor daya (Cos ? meter)
Range Tegangan dan Arus
100 V 85 – 160 V
200 V 160 – 320 V
400 V 320 – 500 V
1 A 0,1 – 2 A
5 A 0,5 – 10 A
25 A 2,5 – 50 A
Tabel 4-3. Range tegangan dan arus
Seperti ditunjukkan pada gambar
4-30, alat ukur Cos ? meter
bagian-bagian eksternalnya
dijelaskan sebagai berikut :
(1) Jarum penunjuk
(2) Kaca : difungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam
pembacaan.
(3) Skala : bagian kanan pada beban induktif, faktor dayanya
ketinggalan (lag).
(4) Skala : bagian kiri pada beban kapasitif, faktor dayanya mendahului
(lead).
(5) Tabel range tegangan dan arus, tabel ini digunakan untuk
memilih tegangan pada selektor.
(6) Terminal arus, salah satu terminal diberi tanda (±) untuk
menunjukkan bahwa terminal ini dihubungkan dengan terminal
common tegangan, dan terminal arus yang lain mengindikasikan
ukuran arus terukur.
(7) Terminal arus, untuk memilih batas ukur sesuai dengan besaran
yang diukur.
(8) Selektor tegangan.
(9) Terminal tegangan : digunakan untuk menyambungkan tegangan.
Terminal common tegangan diberi tanda (±), dan terminal tegangan
yang lain mengindikasikan ukuran tegangan dipilih.
(10) Terminal untuk menghubungkan kawat penghantar.
4.9.3. Faktor Daya dan Daya
Secara umum daya listrik
mengandung unsur resistansi dan
reaktansi atau impedansi
kompleks sehingga daya yang
diserap tergantung pada sifat
beban. Hal tersebut dikarenakan
yang menyerap daya adalah
beban yang bersifat resistif,
sedang beban yang bersifat reaktif
tidak menyerap daya. Dengan
demikian perkalian antara
tegangan efektif dengan arus
efektif adalah merupakan daya
semu ( S )
S = V I VA
Sedangkan besarnya daya nyata
(P ) adalah :
P = V I Cos u Watt
Disamping adanya daya nyata (P
), daya semu ( S ), ada daya yang
disebabkan oleh beban reaktif (Q
), besarnya adalah :
Q = V I Sin u VAR
Hubungan antara ketiga daya
nyata, daya semu dan daya reaktif
dapat dilukiskan dengan segitiga
daya.
Gambar 4 – 30. Segitiga Daya
Perbandingan antara daya nyata dengan daya semu disebut dengan
faktor daya
P V . I . Cos u
Faktor daya = --- = ----------------- = Cos u
S V . I
Sewaktu menyebut faktor daya dikatakan ketinggalan jika u > 0, karena
arus ketinggalan dari tegangannya.
Gambar 4 – 31. Daya bersifat induktif
Demikian daya juga dikatakan mendahului jika u < 0, karena arusnya
mendahului tegangannya.
Gambar 4 – 32. Daya bersifat kapasitif
P
Q
S
R
JX1


P
Q
S
R
-JX1
P
Q
S
?
Contoh Aplikasi :
1. Sebuah tahanan R = 22 O seri dengan reaktansi kapasitip X
C
= 10 O
mempunyai tegangan efektif sebesar 100 V. Tentukan informasi daya
lengkap.
Solusi :
Z = \ R
2
+ X
C
2
= \ 22
2
+ 10
2
= 24,17 O
U
eff
100
I
eff
= ---------- = -------- = 4,137 A
Z 24,17
P = Ieff
2
. R = 4,137
2
. 22 = 376,52 Watt
Q = Ieff
2
. X
C
= 4,137
2
. 10 = 171,15 VAR
S = Ieff
2
. Z = 4,137
2
. 24,17 = 413,66 VA
2. Rangkaian terdiri dari tahanan R seri dengan elemen yang belum
diketahui, mempunyai tegangan effektif sebesar 50 V, daya 30 Watt,
dan faktor daya 0,707 menyusul. Tentukan besarnya elemen-
elemen tersebut, bila rangkaian bekerja pada frekuensi 100 Hz.
Solusi :
P = V
eff
. I
eff
. Cos u
30 = 50. I
ef f
. 0,707
30
I
eff
= -------------- = 0,8486 A
50 . 0,707
P = I
eff
2
. R
30
30 = ( 0, 8486 )
2
. R ÷ R = ----------- = 41,659 O
( 0, 8486 )
2
Cos u = 0,707 menyusul berarti bebannya induktif
u = arc Cos 0,707 = 45°
Z = R + j X
L
÷ X
L
= R Tg 45°
= 41,659 O
eL = 2 t f L
eL 41,659 O
L = -------- = -------------
2 t f 2 t .100
= 66,30 mH
Atau :
V eff 50
Z = -------- = ---------- = 58,9205 O < 45°
I eff 0,8486
R
Cos u = ---
Z
R = 58,9205 . 0,707
= 41,656 O
4.9.4. Prosedur Pengoperasian Cos ? Meter
4.9.4.1. Pengukuran Faktor Daya (Cos ? ) satu fasa :
Hubungkan kumparan arus secara
seri terhadap beban. Dengan cara
menghubungkan terminal
kumparan arus (.± ) ke sumber
tegangan, sedangkan ujung
kumparan arus yang lain (A, pilih
besar arus sesuai dengan tabel 4-
3) dihubungkan ke beban.
Hubungkan kumparan tegangan
secara parallel dengan beban.
Dengan cara menghubungkan
terminal kumparan tegangan (±)
ke (P
1
), sedangkan ujung
terminal tegangan yang lain
(P
2
) dihubungkan ke ujung
beban yang lainnya.
Pilih selektor tegangan sesuai
dengan tegangan sumber yang
akan diukur faktor dayanya
(perhatikan tabel 4-3).
Jika jarum penunjuk bergerak
kearah kiri, berarti sifat
bebanya kapasitif, maka faktor
dayanya mendahului (lead).
Jika jarum penunjuk bergerak
kearah kanan, berarti sifat
bebanya induktif, maka faktor
dayanya ketinggalan (lag) lebih
jelasnya perhatikan gambar 4-
33.
Gambar 4-33 Pengukuran faktor daya satu fasa
4.9.4.2. Pengukuran Faktor Daya (Cos ? ) tiga fasa :
Hubungkan kumparan arus secara
seri terhadap beban. Dengan cara
menghubungkan terminal
kumparan arus (±) ke sumber
tegangan, sedangkan ujung
kumparan arus yang lain (A, pilih
besar arus sesuai dengan tabel 4-
3) dihubungkan ke beban.
Hubungkan kumparan
tegangan secara parallel
dengan beban. Dengan cara
menghubungkan terminal
kumparan tegangan (±) ke (P
1
dan R), ujung terminal
tegangan yang lain
dihubungkan ke ujung beban
yang lainnya, sedangkan (P
2
dan S) serta (P
3
dan T)
dihubungkan ke sumber
maupun ke beban.
Pilih selektor tegangan sesuai
dengan tegangan sumber yang
akan diukur faktor dayanya
(perhatikan tabel 4-3).
Jika jarum penunjuk bergerak
kearah kiri, berarti sifat
bebanya kapasitif, maka faktor
dayanya mendahului (lead).
Jika jarum penunjuk bergerak
kearah kanan, berarti sifat
bebanya induktif, maka faktor
dayanya ketinggalan (lag) lebih
jelasnya perhatikan gambar 4-
34.
± 25A 5A P1 P2 P3
200V
` 100 V 400 V
Ke beban
Ke
sumber
P
N
Gambar 4-34 Pengukuran faktor daya tiga fasa
4.10. Metode Menentukan Urutan Fasa
4.10.1. Kawat Penghantar Tiga Fasa
Sebuah sumber berfasa tiga adalah sumber yang mempunyai tiga
tegangan yang sama, tetapi berbeda fasa 120
0
terhadap satu sama lain.
Dari ketiga macam fasa terdapat bermacam-macam notasi, yaitu :
Fasa I : 1 atau A atau R
Fasa II : 2 atau B atau S
Fasa III : 3 atau C atau T
Untuk mengetahui mana fasa R, fasa S, atau fasa C dapat digunakan
dengan metode sebagai berikut :
Gambar 4-36. Metode menentukan urutan fasa dengan R dan C
± 25A 5A P1 P2 P3
200V
` 100 V 400 V
Ke beban
R
S
T
Ke sumber
I
R
R
S
T
V
SR
V
TS
V
RT
I
S
I
T
V
R
V
C
R
C
N
V
Jika urutan fasa seperti gambar 4-37 (urutan yang benar) maka
besarnya tegangan yang terukur pada volt meter SN lebih kecil dari
harga-harga V
C
dan V
R
atau lebih kecil dari V
RT.
I
R
mendahului
V
RT
dengan sudut 45
o
dan berada di dalam segitiga tegangan. Jika
fasa R dan T dibalik akan diperoleh urutan fasa yang terbalik
(perhatikan gambar 4-38).
4-38 I
R
tetap mendahului V
RT
, tetapi berada di luar segitiga
tegangan. Hal ini mengakibatkan besarnya tegangan S
N
(tegangan
R
S
T
S
R
T
Gambar 4–37. Phasor diagram saat urutan fasa
Gambar 4–38. Phasor diagram saat urutan fasa tidak
V
SR
S R
V
R
V
T
V
C
V
R
V
SR
T
N
I
R
R
S
N
T
V
SR
V
S
V
ST
V
C
pada voltmeter ) jauh lebih besar dibanding dengan tegangan V
RT
(tegangan Line).
Disamping metode di atas dapat juga digunakan metode lain, yaitu
dengan menggunakan dua buah lampu pijar dengan daya yang
sama dan sebuah kapasitor. Indikasi urutan fasa ditunjukkan
dengan kondisi :
Lampu yang terang merupakan urutan fasa I
Lampu yang redup merupakan urutan fasa II
Pada C adalah urutan fasa III.
Gambar 4-39. Metode menentukan urutan fasa dengan lampu
Adapun alat ukur yang digunakan untuk mengetahui urutan fasa
adalah indikator test urutan fasa. Gambar 4-40 menggambarkan
konstruksi indikator test urutan fasa.
1 1
Gambar 4-40. Konstruksi indikator test urutan fasa
Seperti ditunjukkan pada gambar 4-40, alat ukur indikator test urutan fasa
bagian-bagian externalnya dijelaskan sebagai berikut :
(1) Piringan yang berputar
(2) Arah panah piringan yang berputar
L
1
L
2
C
1
4
6
7
8
5
3
2
(3) Range tegangan yang tersedia
(4) Range frekuensi yang tersedia
(5) Kabel penghubung dari indikator test urutan fasa ke masing-masing
fasa
(6) Fasa R atau 1 atau A warna kuning
(7) Fasa S atau 2 atau B warna hijau
(8) Fasa T atau 3 atau C warna ungu
4.10.2. Prinsip Dasar Alat Indikator Urutan Fasa
Indikator urutan fasa ini mampu untuk menentukan urutan sistem 3 fasa
3 kawat. Karena supply 3 fasa – 3 kawat harus diketahui urutan fasanya.
dengan indikator urutan fasa sederhana dapat menemukan fasa mana
yang dipilih untuk diikuti dengan benar.
4.10.3. Cara Kerja Alat
Cara kerja rangkaian sangat sederhana berdasarkan phasor
bidang kompleks. Menghubungkan tiga reaktansi yang sama
Masukan kawat 3
fasa dengan
urutan yang tidak
diketahui
Pilih 1 sebagai R kemudian lihat lampu yang
paling terang adalah kawat yang fasanya
mengikuti. Oleh karena itu urutan fasanya
adalah 1-3-2.
Impedansi Z dari
tiga cabang
indikator harus
sama dengan :
Setiap lampu
memiliki resistansi
ohmik sama
dengan R (k? ).
Kapasitor harus
mempunyai nilai :
Lampu paling terang menunjukkan fasa
yang mengikuti R
Gambar 4-41. Prinsip indikator urutan fasa
nilainya ke dalam susunan sistem tiga bintang tanpa kabel netral.
Jika semua reaktansi positip sistem akan seimbang dan tidak ada
tegangan pada titik netral. Namun arus kapasitor akan tertinggal
90
o
terhadap tegangan, sehingga sistem tidak lama seimbang dan
titik netral 0 mempunyai tegangan (Von).
Karena tegangan line konstan, fasa tegangan akan menyusun
kembali dalam rangka memberi tegangan pada titik netral Von.
Secara matematis resolusi untuk 3 fasa – 3 kawat 3 X 220 V.
Ini memungkin ditunjukkan titik 0 dari indikator hubungan bintang,
yang akan mendapatkan tegangan Uon berkaitan dengan kawat
netral N disupply :
Uon = (Urn. Yr + Usn.Ys + Utn.Yt)/(Yr + Ys) + Yt.
Oleh karena itu, akan digantikan tegangan fasa baru terhadap titik
netral menggantikan referensi terhadap N. Tegangan fasa
percabangan :
Dikerjakan secara matematika dan mengingat bahwa ini berkaitan
dengan phasor bidang kompleks maka akan diperoleh :
UL = 220 v ; Uf = 127 Volt
Uro = 170 v ( indikator percabangan kapasitor)
Uso = 190 v (cabang yang mengikuti percabangan kapasitor )
Uto = 51 v (cabang yang mengikuti cabang dengan lampu yang diterang)
UL = tegangan line (220 V dari 3 X 220 V system bintang) Urs, Ust, Utr
UF = tegangan fasa (UL / ) = 127 V, Urn, Usn, Utn
Zr = Xc ; Zs = R dan Zt = R impedansi indikator
Yr = 1/Zr ‘ Ys = 1/Zs ; Yt = 1/Zt admitansi percabangan
3
Uro = Urn - Uon
Uso = Usn - Uon
Uto = Utn – Uon
arus fasa percabangan (arus
line)
Ir = Uro . Yr
Is = Uso . Ys
It = Uto . Yt
Sekarang verifikasi bahwa
titik netral telah tergantikan :
Uro + Uso + Uto = - 3 . Uon
dan sebagai tegangan line
konstan :
Urs = Uro - Uso
Ust = Uso - Uto
Uto = Uto - Uro
Sebagaimana yang terlihat percabangan dengan tegangan terbesar
(asumsikan indikator telah dihubungkan dalam urutan yang benar RST).
Cabang dengan 190 Volt, misal lampu akan lebih terang dari pada yang
hanya 51 Volt. Oleh karena itu fasa yang mengikuti percabangan
kapasitor adalah yang dihubungkan pada terminal dengan lampu yang
paling terang. Juga mungkin perlu diketahui mengapa harus
menggunakan lampu pijar dengan tegangan yang sama, dengan
tegangan line misal 190 – 220 Volt. Karena jika digunakan lampu pijar
indikator 127 Volt akan bekerja namun, tidak diinginkan untuk membeli
lampu baru setiap menggunakan peralatan untuk pengujian.
Contoh lain yang ada dipasaran
Catatan :
Dalam pengujian urutan fasa ini akan membutuhkan 2 lampu pijar
dengan tegangan kerja sama dengan sistem tegangan line missal 3 X
380 Volt rating tegangan 380 Volt, dalam sistem 3 X rating 220 Volt.
Kapasitor juga dengan tegangan kerja AC dengan rating tegangan
sama dengan dua kali tegangan line (menjadikan lebih aman). Tiga
elemen dihubungkan dalam hubungan bintang namun tanpa kabel
netral. Mengukur resistansi kontak ohmik R dari lampu pijar. Kondisi
sesuai bila ketiga reaktansi sama, sehingga reaktansi kapasitip
menjadi :
XC = R and Xc = 1 / (2.?. f . C ) sehingga :
C = 1 / ( 2. ? . f . R)
dengan R dalam kilo ohms, C dalam mikro farad dan f = 50 Hz ,
didapatkan nilai kapasitor
C [uF] = 1 / ( 0.12 ? R ) = 3.185 / R [kohm]
http://www.knoppinc.com/phase_seq.htm
http://www.tesco-advent.com/tesco-phase-
sequence.html
Gambar 4-42. Contoh indikator urutan fasa yang lain
4.10.4. Prosedur Pengoperasian Alat
Gambaran prosedur pengoperasian indikator test urutan fasa
sebagai brikut :
™ Digunakan transformator tiga fasa, dengan rangkaian seperti
gambar 4- 43.
Gambar 4 – 43. Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan R dan
C pada urutan benar
™ Teliti rangkaian, jika telah yakin sumber tegangan AC 3 fasa
dihubungkan. R
V
diatur hingga diperoleh harga V
R
= V
C
,
kemudian catat besarnya tegangan penunjukan V
R
, V
C
dan V.
Apabila besarnya V lebih kecil dari V
R
dan V
C
, dan lead indikator
urutan fasa dihubungkan dengan posisi R pada terminal a
4
;S
pada terminal b
4
; dan T pada terminal c
4
, maka arah putaran
piringan dari lead indikator urutan fasa ke kanan (searah jarum
R
S
T
N
jam). Dengan demikian urutan fasanya sudah betul, dan urutan
fasanya adalah R S T.
™ Selanjutnya sumber tegangan dimatikan, beban kapasitor
dipindahkan pada terminal a
4
; resistor pada terminal c
4.
Lead indikator posisinya juga dipindahkan.
Gambar 4 – 44 Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan R
dan C pada urutan salah
™ Sumber tegangan 3 fasa dihidupkan, besarnya tegangan
penunjukan V
R
, V
C
dan V dicatat. Apabila besarnya V lebih
besar dari V
R
dan V
C
, dan lead indikator urutan fasa
R = 500?
C = 6,5 —F
V
R
S
T
N
V
VR
VC
dihubungkan dengan posisi R pada terminal c
4
; S pada terminal
b
4
; dan T pada terminal a
4
, maka arah putaran piringan dari
lead indikator urutan fasa ke kiri (berlawanan arah jarum jam).
Dengan demikian urutan fasanya salah, dan urutan fasanya T
S R .
™ Dapat pula gambar 4-43 dilakukan dengan cara mengganti
resistor dengan lampu pijar LP
1
pada terminal a
4
; Voltmeter
dengan lampu pijar LP
2
pada terminal b
4
; posisi lead indikator
tetap.
Gambar 4 – 45. Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan
lampu pada urutan benar
™ Sumber tegangan 3 fasa dihidupkan, lampu yang terang LP
1
dan
yang redup LP
2
, arah putaran piringan dari lead indikator urutan
fasa ke kanan (searah jarum jam). Dengan demikian urutan
fasanya sudah betul, dan urutan fasanya adalah R S T.
™ Selanjutnya sumber tegangan dimatikan , kemudian beban
dipindahkan : lampu pijar LP
2
pada terminal c
4
, kapasitor C
pada terminal b
4
, dan posisi lead indikator tetap.
Gambar 4 – 46 Pengoperasian indikator test urutan fasa
dengan lampu pada urutan salah
™ Sumber tegangan 3 fasa dihidupkan, lampu yang terang LP
2
dan yang
redup LP
1
, arah putaran piringan dari lead indikator urutan fasa ke kiri
(berlawanan arah jarum jam). Dengan demikian urutan fasanya salah,
dan urutan fasanya adalah S R T.
5.1. Pengujian Tahanan Isolasi
Tahanan isolasi adalah tahanan
yang terdapat diantara dua kawat
saluran yang diisolasi satu sama
lain atau tahanan antara satu kawat
saluran dengan tanah (ground).
Pengukuran tahanan isolasi
digunakan untuk memeriksa status
isolasi rangkaian dan perlengkapan
listrik, sebagai dasar pengendalian
keselamatan. Secara prinsip
penguji tahanan isolasi adalah dua
kumparan V dan C yang
ditempatkan secara menyilang
gambar 5 -1. Kumparan V
Tujuan
Setelah mengikuti pembahasan tentang penguji tahanan isolasi dan
kuat medan, para pembaca diharapkan dapat :
1. Mampu menjelaskan prinsip dasar tahanan isolasi
2. Mampu menjelaskan cara mengukur tahanan pentanahan
3. Mampu menjelaskan prinsip dasar alat ukur medan
BAB 5
PENGUJI TAHANAN ISOLASI DAN
KUAT MEDAN
Pokok Bahasan
Tananan isolasi merupakan hal yang harus diperhatikan saat
memasang instalasi listrik dengan menggunakan kawat tertutup.
Demikian pula tahanan pentanahan juga harus diperhatikan. Kedua
hal tersebut oleh konsumen sering diabaikan sehingga sering
berakibat fatal bagi penggunanya. Oleh karena itu cara-cara
pengukurannya perlu diketahui.
Pelepasan muatan elektrostatik merupakan masalah utama pada
kebanyakan tempat kerja yang menggunakan teknologi mikro
elektronik, sebagai contoh Microchips. Pelepasan muatan
elektrostatik juga sangat berbahaya untuk beberapa cabang industri,
sebagai contoh industri telekomunikasi, industri plastik dan industri
pembuatan bahan peledak. Pengisian muatan listrik lebih dari 10.000
V dapat membahayakan manusia, bahan dan peralatan.
Elektrostatik field meter digunakan untuk pengukuran pengisian
muatan listrik pada suatu obyek secara ”non kontak”. Alat ini
mengukur medan elektrostatik dari suatu obyek dalam satuan Volt,
dan banyak digunakan dalam industri kontrol statik.
besarnya arus yang mengalir
adalah E/Rp dan kumparan C
besarnya arus yang mengalir
adalah E/Rx. Rx adalah tahanan
yang akan diukur. Jarum akan
bergerak disebabkan oleh
perbandingan dari kedua arus,
yaitu sebanding dengan Rp/Rx
atau berbanding terbalik terhadap
tahanan yang akan diukur.
Gambar 5 – 1 Pengujian tahanan isolasi
Variasi tegangan tidak akan
berpengaruh banyak terhadap
harga pembacaan, karena
hasilnya tidak ditentukan dari
sumber tegangan arus searah.
Sumber tegangan arus searah
adalah sumber tegangan tinggi,
yang dihasilkan dari pembangkit
yang diputar dengan tangan.
Umumnya tegangannya adalah
100, 250, 500, 1000 atau 2000 V.
Sedangkan daerah pengukuran
yang efektif adalah 0,02 sampai 20
MO dan 5 sampai 5.000 MO.
Tetapi sekarang pengujian
tahanan isolasi menggunakan
sumber tegangan tinggi dari
tegangan tetap sebesar 100
sampai 1.000 V yang didapat dari
baterai sebesar 8 sampai 12 V
dan disebut alat pengujian tahanan
isolasi dengan baterai. Alat ini
membangkitkan tegangan tinggi
lebih stabil dibanding dengan yang
menggunakan generatar diputar
dengan tangan.
Gambar 5–2 Konstruksi penguji tahanan isolasi menggunakan baterai
Seperti ditunjukkan pada gambar 5-2, alat ukur penguji tahanan isolasi
bagian-bagian externalnya dijelaskan sebagai berikut :
(1) Jarum penunjuk
(2) Kaca, difungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam
pembacaan.
(3) Skala
(4) Check baterai
(5) Tombol pengaktif meter
(6) Lubang line untuk colok oranye dan lubang earth untuk colok hitam
(7) Probe meter dengan penjepit
(8) Probe meter runcing, juga sebagai pencolok pengecekan beterai.
5.1.1. Pengukuran Tahanan Isolasi
Pengukuran tahanan isolasi untuk
perlengkapan listrik menggunakan
pengujian tahanan isolasi, yang mana
pengoperasiannya pada waktu
perlengkapan rangkaian listrik tidak
bekerja atau tidak dialiri arus listrik.
Secara umum bahan isolasi yang
digunakan sebagai pelindung
dalam saluran listrik atau sebagai
pengisolir bagian satu dengan
bagian lainnya harus memenuhi
syarat-syarat yang sudah
ditentukan. Harga tahanan isolasi
antara dua saluran kawat pada
6 1
5
4
2
3
7
8
peralatan listrik ditetapkan paling
sedikit adalah 1000 x harga tegangan
kerjanya. Misal tegangan yang
digunakan adalah 220 V, maka
besarnya tahanan isolasi minimal
sebesar : 1000 x 220 = 220.000 O
atau 220 KO. Ini berarti arus yang
diizinkan di dalam tahanan isolasi 1
mA/V. Apabila hasil pengukuran nilai
lebih rendah dari syarat minimum
yang sudah ditentukan, maka
saluran/kawat tersebut kurang baik
dan tidak dibenarkan kalau digunakan.
Waktu melakukan pengukuran
tahanan isolasi gunakan tegangan
arus searah sebesar 100 V atau lebih,
ini disebabkan untuk mengalirkan
arus yang cukup besar dalam
tahanan isolasi. Di samping
untuk menentukan besarnya
tahanan isolasi, nilai tegangan
ukur yang tinggi juga untuk
menentukan kekuatan bahan
isolasi dari saluran yang akan
digunakan. Walaupun bahan-
bahan isolasi yang digunakan
cukup baik dan mempunyai
tahanan isolasi yang tinggi, tetapi
masih ada tempat-tempat yang
lemah lapisan isolasinya, maka
perlu dilakukan pengukuran.
5.1.2. Prosedur Pengujian Tahanan Isolasi
Sebelum menggunakan alat pengujian tahanan isolasi perlu dilakukan
langkah sebagai berikut :
1. Melakukan pengecekan kondisi batere meter dengan menghubungkan
colok oranye ke line dan B check (gambar 5- 3). Baterai masih dalam
kondisi baik, jika jarum menunjuk pada tanda huruf B di peraga meter
(gambar 5-4).
Gambar 5-3 Pengecekan kondisi Gambar 5-4 Baterai dalam
baterai kondisi baik
2. Meter siap digunakan, dengan menghubungkan colok oranye ke lubang
line dan colok hitam ke lubang earth (gambar 5-5).
Gambar 5-5 Meter siap
digunakan
Gambar 5-6 Mengukur tahanan
isolasi
3. Yakinkan bahwa kawat yang akan diukur tahanan isolasinya tidak
terhubung dengan sumber tegangan (tidak berarus)
4. Hubungkan colok oranye dan colok hitam dengan ujung-ujung kawat
yang akan diukur tahanan isolasinya, tekan tombol pengaktif meter dan
baca penunjukkan jarum (gambar 5-6).
5.1.3. Pengujian Tahanan Isolasi Pada Instalasi Listrik
Jika kawat listrik terdiri dari dua
kawat saluran misal kawat fasa
dan kawat nol N, maka tahanan
isolasinya adalah : (1) antara
kawat fasa dengan kawat nol N,
(2) antara kawat fasa dengan
tanah G, (3) antara kawat nol N
dengan tanah G. Pada saat
melakukan pengukuran tahanan
isolasi antara fasa dan nol N, hal
pokok yang perlu diperhatikan
adalah memutus semua alat
pemakai arus yang terpasang
secara paralel pada saluran
tersebut.
Gambar 5 – 7 Pengukuran tahanan isolasi antara
fasa dengan nol N
Contoh : lampu-lampu, motor-
motor, voltmeter, dan sebagainya.
Sebaliknya semua alat pemutus
seperti : kontak, penyambung-
penyambung, dan sebagainya yang
tersambung secara seri harus
ditutup.
Di samping digunakan untuk
mengetahui keadaan tahanan
isolasi, juga untuk mengetahui
kebenaran sambungan yang ada
pada instalasi. Jika terjadi
sambungan yang salah atau
hubung singkat dapat segera
diketahui dan diperbaiki. Gambar 5
- 8 di bawah mencontohkan
pengukuran tahanan isolasi pada
instalasi listrik bangunan baru.
Gambar 5 - 8 Pengukuran tahanan isolasi antara
fasa dengan tanah G
Gambar 5 - 9 Pengukuran tahanan isolasi antara
nol N dengan tanah G
Gambar 5-10 Pengukuran tahanan isolasi antara
instalasi dengan tanah G
5.2. Tahanan Pentanahan (Earth Ground Resistance)
Tahanan pentanahan merupakan
hal yang tidak boleh diabaikan
dalam pemasangan jaringan
instalasi listrik . Pentanahan yang
kurang baik tidak hanya
membuang-buang waktu saja,
tetapi pentanahan yang kurang baik
juga berbahaya dan meningkatkan
resiko kerusakan peralatan. Tanpa
sistem pentanahan yang effektif,
maka akan dihadapkan pada resiko
kejutan listrik, disamping itu juga
mengakibatkan kesalahan
instrumen, distorsi harmonik.
masalah faktor daya dan delima
kemungkinan adanya intermitten.
Jika arus gangguan tidak
mempunyai jalur ke tanah melalui
sistem pentanahan yang di desain
dan dipelihara dengan baik, arus
gangguan akan mencari jalur yang
tidak diinginkan termasuk manusia.
Sebaliknya, pentanahan yang baik
tidak hanya sekedar untuk
keselamatan; tetapi juga digunakan
untuk mencegah kerusakan
peralatan industri. Sistem
pentanahan yang baik akan
meningkatkan reliabilitas peralatan
dan mengurangi kemungkinan
kerusakan akibat petir dan arus
gangguan. Miliyaran uang telah
hilang tiap tahunnya di tempat kerja
karena kebakaran akibat listrik.
Kerugian-kerugian di atas tidak
termasuk biaya pengadilan dan
Gambar 5 – 11 Elektroda yang
mempunyai pengaruh lapisan
Organisasi pemberi rekomendasi standar
untuk kemananan pentanahan
• OSHA (Occupational Safety Health
Administration)
• NFPA (National Fire Protection
Association)
• ANSI/ISA (American National
Standards Institute and Instrument
Society of America)
• TIA (Telecommunications I ndustry
Association)
• IEC (International Electrotechnical
Commission)
• CENELEC (European Committee for
Electrotechnical Standardization)
• IEEE (Institute of Electrical and
Electronics Engineers).
hilangnya produktivitas individu dan perusahaan.
5.2.1. Cara Menguji Sistem
Pentanahan
Dalam waktu yang lama, tanah
yang korosif dengan kelembaban
tinggi, mengandung garam, dan
suhu tinggi akan menurunkan
batang pentanahan dan
sambungan-sambungannya.
Walaupun sistem pentanahan saat
awalnya dipasang mempunyai
harga tahanan pentanahan ke
tanah rendah, tahanan sistem
pentanahan akan meningkat jika
batang pentanahan rapuh. Alat
ukur pentanahan, yang dibuat
industri, adalah alat pencari
kesalahan yang tidak diragukan
guna membantu pemeliharaan.
Masalah-masalah listrik yang
sering mati berkaitan dengan
pentanahan kurang baik atau
kualitas daya yang rendah. Itulah
sebabnya sangat dianjurkan
semua pentanahan dan
sambungan pentanahan harus
diperiksa minimal satu tahun sekali
sebagai bagian dari rencana
pemeliharaan. Selama periode
pemeriksaan, jika terjadi
peningkatan nilai tahanan lebih dari
20 %, harus dilakukan pencarian
sumber permasalahan dan
dilakukan koreksi agar nilai
tahanannya lebih rendah, dengan
mengganti atau menambah batang
pentanahan ke dalam sistem
pentanahan.
Gambar 5 – 12 Tanah yang korosif
5.2.2. Pentanahan dan Fungsinya
NEC, National Electrical Code
(Kitab Undang-undang Kelistrikan
Nasional), Pasal 100
mendefinisikan pentanahan.
Pentanahan sebagai: “membuat
hubungan, baik sengaja ataupun
tidak sengaja antara rangkaian
listrik dan tanah, atau
menghubungkan dengan benda
konduksi yang berada di tanah.”
Ketika berbicara tentang
pentanahan, sebenarnya ada dua
subjek yang berbeda: pentanahan
bumi dan pentanahan alat.
Pentanahan bumi adalah hubungan
sengaja dari rangkaian konduktor,
biasanya netral, ke elektroda tanah
yang ditempatkan di bumi.
Peralatan pentanahan menjamin
kerja peralatan dalam struktur
bangunan ditanahkan dengan baik.
Kedua sistem pentanahan perlu
dijaga terpisah kecuali untuk
sambungan antara kedua sistem.
Ini untuk mencegah perbedaan
tegangan potensial kemungkinan
loncatan api kalau terjadi
sambaran petir. Perlunya
pentanahan disamping melindungi
manusia, tanaman, dan peralatan
juga untuk memperoleh jalur yang
aman untuk penghamburan arus
liar, sambaran petir, listrik statis,
interferensi elektromagnetik (EMI)
dan sinyal gangguan frekuensi
radio (RFI).
Gambar 5 – 13 Sambaran petir
5.2.3. Nilai Tahanan yang Baik
Ada kerancuan antara pentanahan
yang baik dan nilai tahanan yang
seharusnya. Idealnya suatu
pentanahan besar tahanannya nol
ohm. Tidak ada satu standar
mengenai ambang batas nilai
tahanan pentanahan yang harus
diikuti oleh semua badan. Tetapi
badan NFPA dan IEEE telah
merekomendasikan nilai tahanan
pentanahan lebih kecil atau sama
dengan 5 Ohm.
Gambar 5 –14 Nilai tahanan pentanahan ideal
Badan NEC menyatakan bahwa
untuk meyakinkan impedansi
sistem ke tanah besarnya kurang
dari 25 Ohm dan tercantum dalam
NEC 250.56. Fasilitas dengan
peralatan yang sensitif nilai
tahanan tanahnya harus 5 ohm
atau kurang. Industri
telekomunikasi telah mengguna-
kan 5 ohm atau kurang sebagai
nilai tahanan pentanahan dan
sambungan. Tujuan nilai tahanan
pentanahan adalah untuk
mendapatkan tahanan pentanahan
yang serendah mungkin yang bisa
dipertimbangkan baik secara
ekonomis dan secara pisik
5.2.4. Dasar-dasar Pentanahan
5.2.4.1. Komponen elektroda pentanahan
Elektroda pentanahan umumnya
dibuat dari bahan yang sangat
konduktif/tahanan rendah seperti
baja atau tembaga, besar tahanan
elektroda tanah dan
sambungannya umumnya sangat
rendah sehingga arus mengalir
tidak terhambat. Hubungan antara
penghantar tanah dan elektroda
tanah seperti gambar di bawah.
Penghantar
tanah
Elektrode
tanah
Hubungan antara
penghantar tanah
dan elektroda tanan
Gambar 5 – 15 Hubungan antara
penghantar tanah dan elektroda tanah
Tahanan kontak tanah di sekitar
elektroda menurut National Institute
of Standards (lembaga pemerintah
dalam Departemen Perdagangan
AS) menunjukkan bahwa tahanan
hampir dapat diabaikan dengan
ketentuan bahwa elektroda
pentanahan bebas cat, pelumas,
dan lain-lain. Elektroda
pentanahan harus dalam
hubungan yang tetap dengan
tanah.
Sedangkan tahanan tanah di
sekitar elektroda, pentanahan
dikelilingi tanah yang secara
konseptual terbentuk dari sel-sel
yang melingkari semuanya
memiliki ketebalan sama. Sel-sel
yang paling dekat dengan elektroda
pentanahan memiliki jumlah area
terkecil yang menghasilkan tingkat
tahanan terbesar. Masing-masing
sel berikutnya membentuk area
lebih besar yang menghasilkan
tahanan lebih rendah. Pada
akhirnya ini akan mencapai titik
dimana sel-sel tambahan
menawarkan tahanan kecil ke
tanah di sekitar elektroda
pentanahan. Jadi berdasarkan
informasi ini,maka akan difokus
pada cara-cara untuk mengurangi
tahanan tanah ketika memasang
sistem pentanahan.
5.2.4.2. Hal-hal yang mempengaruhi tahanan tanah
Pertama, NEC code (1987, 250-
83-3) mensyaratkan panjang
elektroda pentanahan minimum 2,5
meter (8 kaki) dihubungkan dengan
tanah. Ada empat variabel yang
mempengaruhi tahanan sistem
pentanahan, yaitu:
1. Panjang/kedalaman elektroda pentanahan
Satu cara yang sangat efektif untuk
menurunkan tahanan tanah adalah
memperdalam elektroda
pentanahan. Tanah tidak tetap
tahanannya dan tidak dapat
diprediksi. Ketika memasang
elektroda pentanahan, elektroda
berada di bawah garis beku
(frosting line). Ini dilakukan
sehingga tahanan tanah tidak akan
dipengaruhi oleh pembekuan tanah
di sekitarnya. Secara umum,
menggandakan panjang elektroda
pentanahan bisa mengurangi
tingkat tahanan 40%. Ada kejadian-
kejadian dimana secara fisik tidak
mungkin dilakukan pendalaman
batang pentanahan daerah-daerah
yang terdiri dari batu, granit, dan
sebagainya. Dalam keadaan
demikian, metode alternatif yang
menggunakan semen pentanahan
(grounding cement) bisa
digunakan.
2. Diameter elektroda
pentanahan
Menambah diameter elektroda
pentanahan berpengaruh sangat
kecil dalam menurunkan tahanan.
Misalnya, bila diameter elektroda
digandakan tahanan pentanahan
hanya menurun sebesar 10%.
3. Jumlah elektroda pentanahan
Cara lain menurunkan tahanan
tanah adalah menggunakan banyak
elektroda pentanahan. Dalam
desain ini, lebih dari satu elektroda
dimasukkan ke tanah dan
dihubungkan secara paralel untuk
mendapatkan tahanan yang lebih
rendah. Agar penambahan
elektroda efektif, jarak batang
tambahan setidaknya harus sama
dalamnya dengan batang yang
ditanam. Tanpa pengaturan jarak
elektroda pentanahan yang tepat,
bidang pengaruhnya akan
berpotongan dan tahanan tidak
akan menurun. Untuk membantu
dalam memasang batang
pentanahan yang akan memenuhi
kebutuhan tahanan tertentu, maka
dapat menggunakan tabel tahanan
pentanahan di bawah ini. Ingatlah,
ini hanya digunakan sebagai
pedoman, karena tanah memiliki
lapisan dan jarang yang sama
(homogen). Nilai tahanan akan
sangat berbeda-beda.
Gambar 5 – 16 Elektroda yang mempunyai ‘pengaruh lapisan
Tabel 5 – 1 Tahanan pentanahan
Jenis Tanah
Tahanan
Jenis
Tanah
R
E
Tahanan Pentanahan
Kedalaman Electroda
ke tanah
( Meter)
Potongan
Pentanahan
( Meter)
M?O 3 6 10 5 10 20
Tanah lembab,seperti
rawa
30 10 5 3 12 6 3
Tanah Pertanian,
tanah liat
100 33 17 10 40 20 10
Tanah liat berpasir 150 50 25 15 60 30 15
Tanah lembab
berpasir
300 66 33 20 80 40 20
Campuran 1:5 400 - - - 160 80 40
Kerikil lembab 500 160 80 48 200 100 50
Tanah kering berpasir 1000 330 165 100 400 200 100
Kerikil kering 1000 330 165 100 400 200 100
Tanah berbatu 30.000 1000 500 300 1200 600 300
Batu karang 10
7
- - - - - -
4. Desain sistem pentanahan
Sistem pentanahan sederhana
terdiri dari satu elektroda
pentanahan yang dimasukkan ke
tanah. Penggunaan satu elektroda
pentanahan adalah hal yang umum
dilakukan dalam pentanahan dan
bisa ditemukan di luar rumah atau
tempat usaha perorangan lebih
jelasnya perhatikan gambar 5 – 17.
Gambar 5 – 17 Elektroda pentanahan
Ada pula sistem pentanahan
kompleks terdiri dari banyak batang
pentanahan yang terhubung,
jaringan bertautan atau kisi-kisi,
plat tanah, dan loop tanah (gambar
5 – 18) .
Gambar 5– 18 Hubungan beberapa
elektrode pentanahan
Sistem-sistem ini dipasang secara
khusus di substasiun pembangkit
listrik, kantor pusat, dan tempat-
tempat menara seluler. Jaringan
kompleks meningkatkan secara
dramatis jumlah kontak dengan
tanah sekitarnya dan menurunkan
tahanan tanah.
Gambar 5 – 19 Jaringan bertautan
Gambar 5 – 20 Pelat tanah
5.2.5. Metode Pengetesen Pentanahan Tanah
Ada empat jenis metode pengetesen pentanahan tanah:
• Tahanan tanah (menggunakan tiang pancang)
• Gerak benda potensial (menggunakan tiang pancang)
• Selektif (menggunakan 1 klem 1 dan tiang pancang)
• Tanpa tiang pancang (hanya menggunakan 2 klem)
5.2.5.1. Ukuran tahanan tanah
Hal-hal yang menentukan tahanan tanah
Resistivitas tanah (Soil Resistivity)
paling penting dalam menentukan
desain sistem pentanahan untuk
instalasi baru (aplikasi lapangan
hijau) guna memenuhi syarat
tahanan tanah. Idealnya, harus
menemukan lokasi dengan
tahanan tanah serendah mungkin.
Tapi seperti yang dibahas
sebelumnya, kondisi tanah yang
buruk bisa diatasi dengan sistem
pentanahan yang lebih rumit.
Komposisi tanah, kandungan
embun, dan suhu mempengaruhi
tahanan tanah. Tanah jarang
bersifat homogen dan tahanan
tanah akan sangat berbeda secara
geografis dan pada kedalaman
tanah berbeda. Kandungan uap
berubah berdasarkan musim,
berbeda-beda menurut sifat
sublapisan tanah, dan kedalaman
posisi air permanen. Karena tanah
dan air umumnya lebih stabil di
tempat yang lebih dalam,
direkomendasikan agar batang
pentanahan ditempatkan sedalam
mungkin di dalam tanah, pada
permukaan air tanah jika
memungkinkan. Juga, batang
pentanahan harus dipasang di
tempat yang suhunya stabil, yaitu
di bawah garis beku. Agar sistem
pentanahan efektif, maka harus
dirancang agar tahan pada kondisi
terburuk.
5.2.5.2. Cara menghitung
tahanan tanah
Prosedur pengukuran yang
digambarkan di bawah ini
menggunakan metode Wenner
yang diterima secara universal
yang dikembangkan oleh Dr. Frank
Wenner dari US Bureau of
Standards (Biro Standar AS) tahun
1915. (F. Wenner, A Method of
Measuring
Rumusnya adalah sebagai berikut:
ρ = 2 πA R
( ρ ?= rata-rata tahanan tanah pada
kedalaman A dalam ohm-cm)
t?= 3,1416
A = jarak antara elektroda dalam
cm
R = nilai tahanan terukur dalam
ohm dari uji instrumen
Catatan:
Ohm-centimeter pada nilai 100
dapat diubah ke ohm-meter.
Perhatikan satuannya.
Contoh:
Memasang batang pentanahan
sepanjang tiga meter sebagai
bagian dari sistem pentanahan.
Untuk mengukur tahanan tanah
pada kedalaman tiga meter
tersebut, jarak antara elektroda tes
dihitung tiga meter. Bila tahanan
tanah diukur dengan menggunakan
alat ukur, maka nilai tahanan
dibaca dalam ohm. Dalam hal ini
diasumsikan nilai tahanan adalah
100 ohm.
Jadi, dalam soal ini diketahui:
A = 3 meter, dan R = 100 ohm.
Maka tahanan tanahnya adalah:
ρ = 2 x t x A x R
ρ ?= 2 x 3,1416 x 3 meter x 100
ohm
ρ ?= 1885 Om
5.2.5.3. Cara mengukur tahanan tanah
Untuk mengetes tahanan tanah,
hubungkan pengetes pentanahan
seperti ditunjukkan gambar 5-19.
Seperti terlihat, empat tiang
pancang tanah ditempatkan di
tanah dalam posisi garis lurus,
jarak satu sama lain sama. Jarak
antara tiang pancang tanah
minimal tiga kali lebih besar dari
kedalaman tiang. Jadi jika
kedalaman masing-masing tiang
pancang adalah satu kaki (0,30
meter), pastikan jarak antar tiang
pancang lebih dari tiga kaki (0,91
meter). Alat ukur menghasilkan
satu arus yang diketahui melalui
dua tiang pancang luar dan
penurunan beda tegangan diukur
antara dua tiang pancang bagian
dalam. Dengan menggunakan
hukum Ohm (V=IR), alat uji
tersebut secara otomatis
menghitung tahanan tanah. Karena
hasil pengukuran sering terdistorsi
dan dibuat tidak valid yang
dikarenakan oleh potongan-
potongan logam di bawah tanah,
maka diperlukan ukuran tambahan
sumbu tiang pancang diputar 90
derajat. Dengan mengubah
kedalaman dan jarak beberapa kali,
profil bisa dihasilkan guna
menentukan sistem tahanan tanah
yang sesuai. Ukuran tahanan tanah
sering berubah dipengaruhi oleh
adanya arus tanah dan
harmonisnya. Untuk mencegah hal
ini, maka alat ukur dilengkapi
Automatic Frequency Control
(AFC) System (Sistem Kendali
Frekuensi Otomatis). Ini biasanya
memiliki frekuensi pengetesan
dengan jumlah noise minimal
sehingga memungkinkan untuk
mendapat hasil pembacaan yang
jelas.
Gambar 5 – 21 Cara mengukur tahanan tanah
5.2.6. Metode Pengetesen Pentanahan Tanah Ukuran Drop
Tegangan
Metode uji drop Tegangan (Fall-of-
Potential) digunakan untuk
mengukur kemampuan sistem
pentanahan tanah atau elektroda
individual untuk menghamburkan
energi dari suatu tempat.
Gambar 5 – 22 Uji drop tegangan
5.2.6. 1. Cara kerja uji drop tegangan
Pertama, elektroda kepentingan
tanah harus dilepaskan dari tempat
itu.
Kedua, alat uji dihubungkan ke
elektroda tanah. Kemudian, uji drop
tegangan 3 kutub, dua tiang
pancang tanah di tanah dalam
garis lurus – jatuh dari elektroda
tanah. Biasanya, jarak 20 meter
(65 kaki) sudah cukup. Untuk lebih
rinci tentang penempatan tiang
pancang, lihat bagian berikutnya.
Arus yang dikenal dihasilkan oleh
alat ukur antara tiang pancang luar
(tiang pancang tanah bantuan) dan
elektroda tanah, sedangkan
jatuhnya potensi tegangan diukur
antara tiang pancang tanah dalam
dan elektroda tanah. Dengan
menggunakan Hukum Ohm (V =
IR), alat uji tersebut secara
otomatis menghitung tahanan
elektroda tanah. Hubungkan alat uji
pentanahan seperti yang
ditunjukkan dalam gambar. Tekan
START dan baca nilai R
E
(tahanan). Ini adalah nilai
sebenarnya dari elektroda
pentanahan pada tes. Jika
elektroda pentanahan paralel atau
seri dengan batang pentanahan
lain, maka nilai R
E
adalah nilai total
semua tahanan.
5.2.6. 2. Cara Menempatkan Tiang Pancang
Untuk mencapai tingkat akurasi
tertinggi ketika melakukan uji
tahanan tanah 3 kutub, diperlukan
agar penyelidikan dilakukan di luar
bidang pengaruh elektroda
pentanahan pada uji dan tanah
bantuan. Jika Anda tidak berada di
luar bidang pengaruh, daerah
efektif tahanan akan tumpang tindih
dan membuat pengukuran tidak
valid. Tabel adalah panduan
penetapan penyelidikan secara
tepat (tiang pancang dalam) dan
tanah bantuan (tiang pancang luar).
Untuk menguji ketepatan hasil dan
untuk memastikan bahwa tiang
pancang luar di luar bidang
pengaruh, reposisi (pemindahan
posisi) tiang pancang luar
(penyelidikan) 1 meter (3 kaki)
dalam salah satu arah dan lakukan
pengukuran baru. Jika ada
perubahan yang signifikan dalam
pembacaan (30%), Anda harus
menambah jarak antara uji batang
pentanahan pada uji, tiang pancang
dalam (penyelidikan) dan tiang
pancang luar (pentanahan
bantuan) sampai nilai-nilai yang
diukur benar-benar tetap ketika
memindahkan tiang pancang
dalam (penyelidikan).
Tabel 5 – 2 Panduan penetapan penyelidikan
5.2.6.3. Ukuran selektif
Pengetesen selektif sangat mirip
dengan pengujian drop tegangan,
keduanya menghasilkan ukuran
yang sama, tapi dengan cara yang
jauh lebih aman dan lebih mudah.
Ini dikarenakan dengan pengujian
selektif elektroda tanah tidak harus
dilepaskan dari sambungannya ke
tempat itu. Teknisi tidak harus
membahayakan dirinya dengan
melepaskan pentanahan, juga tidak
membahayakn orang lain atau
Kedalaman Electroda
ke tanah
Jarak pancang
bagian dalam
Jarak pancang
bagian luar
2 m 15 m 25 m
3 m 20 m 30 m
6 m 25 m 40 m
10 m 30 m 50 m
perlengkapan listrik di dalam
bangunan tanpa pentanahan.
Seperti halnya uji drop tegangan,
dua tiang pancang tanah
ditempatkan di tanah secara
segaris, jauh dari elektroda tanah.
Biasanya, jarak 20 meter (65 kaki)
sudah cukup. Alat uji tersebut
kemudian dihubungkan ke
elektroda tanah terkait, dengan
kelebihan bahwa koneksi
(hubungan) di pada tempat itu tidak
perlu dilepaskan. Akan tetapi,
kelem khusus ditempatkan di
sekitar elektroda tanah, yang
menghilangkan pengaruh tahanan
paralel dalam sistem yang
ditanahkan, jadi hanya elektroda
tanah terkait yang diukur. Seperti
sebelumnya, arus yang diketahui
dihasilkan oleh alat ukur antara
tiang pancang luar (tiang pancang
tanah bantu) dan elektroda tanah,
sedangkan jatuhnya potensi
tegangan diukur antara tiang
pancang tanah dalam dan
elektroda tanah. Hanya arus yang
mengalir melalui elektroda tanah
terkait yang diukur menggunakan
kelem tersebut. Arus yang
dihasilkan juga akan mengalir
melalui tahanan paralel lain, tapi
hanya arus melalui kelem (yakni,
arus yang melalui elektroda tanah
terkait) yang digunakan untuk
menghtiung tahanan (V=IR). Jika
tahanan total sistem pentanahan
harus diukur, maka masing-masing
tahanan elektroda tanah harus
diukur dengan menempatkan
kelem di sekitar masing-masing
elektroda tanah individual.
Kemudian total tahanan sistem
pentanahan bisa ditentukan dengan
kalkulasi. Menguji tahanan
elektroda tanah individu dari
menara transmisi tegangan tinggi
dengan pentanahan overhead atau
kawat statis mengharuskan agar
kawat-kawat ini dilepaskan. Jika
sebuah menara memiliki lebih dari
satu pentanahan di landasannya,
maka harus dilepaskan juga satu
per satu.
Meskipun demikian alat ukur ini
memiliki aksesoris pilihan, kelem
berdiameter 320 mm (12,7 inchi)
pada transformator arus, yang bisa
mengukur tahanan satuan masing-
masing kaki, tanpa melepaskan
timah pentanahan atau kawat statis
overhead / pentanahan.
Gambar 5 – 23 Pengetesen selektif
Hubungkan penguji tahanan tanah
seperti ditunjukkan. Tekan START
dan baca nilai RE. Ini adalah nilai
tahanan elektroda tanah yang diuji
5.2.7. Metode Pengetesen Pentanahan Tanah
Ukuran tanpa tiang pancang
Alat uji pentanahan tanah buatan
industri dapat mengukur tahanan
loop pentanahan tanah untuk
sistem multipentanahan hanya
menggunakan klem arus. Teknik uji
ini menghilangkan bahaya dan
kegiatan yang memakan waktu
untuk melepaskan pentanahan
paralel, dan juga proses untuk
menemukan lokasi yang cocok
untuk tiang pancang pentanahan
bantu. Dapat juga melakukan uji
pentanahan tanah di tempat-
tempat yang tidak dipertimbang-
kan sebelumnya: dalam gedung, di
tonggak menara pembangkit atau
di manapun tidak bisa diketemukan
tanah. Dengan metode uji ini, dua
klem ditempatkan di sekitar batang
pentanahan tanah atau kabel
penghubung dan masing-masing
dihubungkan ke alat uji. Tiang
pancang pentanahan tanah tidak
digunakan sama sekali. Tegangan
yang diketahui diinduksi oleh satu
klem, dan arus diukur mengguna-
kan klem kedua.
Gambar 5 – 24 Pengetesen alur arus metoda tanpa pancang
Alat uji tersebut secara otomatis
menentukan tahanan loop tanah
pada batang pentanahan ini. Jika
hanya ada satu jalan ke tanah,
seperti di banyak tempat
pemukiman, metode tanpa tiang
pancang ini tidak akan memberikan
nilai yang cocok dan metode uji
drop tegangan bisa digunakan. Alat
ukur tersebut bekerja berdasarkan
prinsip bahwa dalam sistem yang
ditanahkan secara paralel/multi
tahanan bersih dari semua cara
pentanahan akan sangat rendah
ketika dibandingkan dengan jalan
tunggal (yang sedang diuji). Jadi,
tahanan murni dari semua tahanan
jalan hasil paralel secara efektif
adalah nol. Ukuran tanpa tiang
pancang hanya mengukur tahanan
batang pentanahan secara paralel
dengan sistem pentanahan bumi.
Jika sistem pentanahan tersebut
tidak paralel dengan tanah maka
akan memiliki sirkuit terbuka atau
mengukur tahanan loop tanah.
Gambar 5 – 25 Susunan metoda tanpa pancang
Pengaturan menggunakan
metode 1625
5.2.7.1. Ukuran impedansi tanah
Ketika mencoba menghitung arus
hubung pendek yang mungkin
terjadi dalam pembangkit listrik
atau keadaan arus/tegangan tinggi,
maka menentukan impedansi
pentanahan yang kompleks adalah
penting. Hal ini dikarenakan
impedansi akan membentuk
elemen induktif dan kapasitif.
Karena induktifitas dan tahanan
diketahui dalam sebagian besar
kasus, maka impedansi aktual bisa
ditentukan dengan menggunakan
perhitungan kompleks. Karena
impedansi tergantung frekuensi,
maka peralatan yang
menggunakan sinyal gelombang 55
Hz untuk keperluan perhitungan
mendekati frekuensi operasi
tegangan. Ini memastikan bahwa
ukuran tersebut mendekati nilai
frekuensi operasi sebenarnya.
Dengan menggunakan peralatan
tersebut, kemungkinan bisa didapat
ukuran langsung yang akurat
tentang impedansi pentanahan.
Teknisi alat pembangkit listrik, yang
menguji jalur transmisi tegangan
tinggi, tertarik dengan dua hal.
Tahanan tanah dalam kasus
hantaman petir dan impedansi dari
seluruh sistem dalam kasus arus
pendek pada titik tertentu. Arus
hubung pendek (short circuit)
dalam kasus ini berarti kawat aktif
yang putus lepas dan menyentuh
benda logam suatu menara
(tower).
5.2.7.2.Tahanan tanah dua kutub
Dalam keadaan dimana
memasukkan tiang ke tanah tidak
praktis atau tidak memungkinkan,
alat uji tersebut memberikan
kepada pengguna kemampuan
untuk melakukan ukuran tahanan
tanah dua kutub, seperti
ditunjukkan di bawah ini. Untuk
melakukan uji ini, teknisi harus
memiliki akses ke tanah yang baik,
dikenal seperti semua pipa air
logam. Pipa air harus cukup
panjang dan terbuat dari logam
keseluruhan tanpa kopling atau
flens penyekat. Alat seperti balat
melakukan pengujian dengan arus
yang relatif tinggi (arus sirkuit
pendek> 250 mA) yang
memastikan hasil stabil.
Gambar 5 – 26 Mengukur tahanan tanah dengan dua kutub
5.2.7.3.Mengukur Tahanan Tanah
Di kantor pusat (central offices)
Ketika melakukan pemeriksaan
pentanahan di kantor pusat ada
tiga ukuran berbeda yang
diperlukan. Sebelum pengujian,
tempatkan MGB (Master Ground
Bar/Batang Pentanahan Utama)
dalam kantor pusat untuk
menentukan jenis sistem
pentanahan yang ada. Seperti
ditunjukkan gambar 5 – 27 di
bawah, MGB akan mentanahkan
tanah yang terhubung ke:
• MGN (Multi-Grounded Neutral)
atau jasa pendapatan,
• bidang tanah,
• pipa air, dan
• baja gedung atau bangunan
Gambar 5 – 27. MGB mentanahkan tanah
* Pertama, lakukan uji tanpa tiang
pancang pada seluruh
pentanahan yang lepas dari
MGB. Tujuannya untuk
memastikan bahwa semua
pentanahan terhubung,
Rangkaian ekuivalen untuk
pengukuran dua titik
Bidang
ground
Pipa air
Bangunan baja
khususnya MGN. Penting untuk
dicatat bahwa pengguna tidak
sedang mengukur tahanan
individu, tapi tahanan loop dari
apa yang dikelemkan di
sekitarnya. Seperti ditunjukkan
gambar 5 - 28, sambungkan alat
ukur tersebut dan kelem induksi
dan sensing, yang terletak di
sekitar masing-masing hubungan
untuk mengukur tahanan MGN,
bidang pentanahan, pipa air, dan
baja gedung.
* Kedua, lakukan uji drop tegangan 3
kutub pada seluruh sistem
pentanahan, yang terhubung ke
MGB seperti diilustrasikan pada
gambar 5 -29. Untuk
mendapatkan tanah yang jauh,
banyak perusahaan telepon
memanfaatkan pasang-an kabel
tak terpakai yang keluar sejauh
satu mil. Catat hasil pengukuran
dan ulangi uji ini setidaknya
setahun sekali.
* Ketiga, ukur tahanan individu
sistem pentanahan dengan
menggunakan uji selektif dari alat
ukur tersebut. Hubungkan alat uji
ukur tersebut seperti yang
ditunjukkan dalam gambar 5 - 30.
Ukur tahanan MGN; nilainya adalah
tahanan kaki MGB tertentu.
Kemudian ukur bidang tanah. Hasil
pembacaan menunjukkan nilai
tahanan sebenarnya dari bidang
tanah kantor pusat. Sekarang
berpindah ke pipa air, dan
kemudian ulangi untuk tahanan
baja gedung.
Penguna alat bisa dengan mudah
memeriksa (memverifikasi) akurasi
pengukuran ini melalui Hukum
Ohm. Tahanan baku satuan, ketika
dihitung, harus sama dengan
tahanan seluruh sistem yang
diberikan (memungkinkan untuk
kesalahan yang beralasan karena
semua elemen tanah mungkin
tidak bisa diukur). Metode-metode
uji ini memberikan ukuran paling
akurat dari suatu kantor pusat,
karena memberikan kepada
pengguna tahanan individu dan
perilaku nyata dalam suatu sistem
pentanahan. Meskipun akurat,
ukuran-ukuran tersebut tidak akan
menunjukkan cara sistem bekerja
sebagai suatu jaringan, karena jika
terjadi ledakan petir atau gagal
arus, semuanya terhubung.
Gambar 5 – 28 Pengetesen kantor pusat tanpa pancang
Gambar 5 – 29 Pelaksanaan pengetesen drop tegangan pada sistem
pentanahan secara keseluruhan
Gambar 5 – 30 Pengukuran tahanan tanah masing-masing pada sistem
pentanahan menggunakan pengetesen terpilih
Untuk membuktikan ini, pengguna
perlu melakukan beberapa uji
tambahan pada tahanan individu.
Pertama, lakukan uji drop tegangan
3 kutub pada masing-masing kaki
lepas dari MGB dan catat masing-
masing ukuran. Gunakan lagi
Hukum Ohm, ukuran-ukuran ini
harus sama dengan tahanan
seluruh sistem. Dari perhitungan-
perhitungan tersebut pengguna
akan melihat bahwa dari 20 %
hingga 30 % lepas dari nilai RE
total. Yang terakhir, ukur tahanan
berbagai kaki MGB dengan
menggunakan metode tanpa tiang
pancang selektif. Cara ini bekerja
seperti metode tanpa tiang
pancang, tapi berebda dalam cara
penggunaan dua kelem terpisah.
Penempatkan kelem tegangan
induksi sekitar kabel yang
mengarah ke MGB, dan karena
MGB terhubung dengan sumber
arus, yang paralel dengan sistem
pentanahan, pengguna alat telah
mencapai syarat itu. Tempatkan
kelem sensing dan letakkan di
sekitar kabel pentanahan yang
mengarah ke bidang tanah. Ketika
kita mengukur tahanan, ini adalah
tahanan sebenarnya bidang tanah,
ditambah jalan paralel MGB. Dan
karena harus sangat rendah ohm-
nya, maka pasti tidak memiliki
pengaruh nyata pada bacaan
terukur. Proses ini bisa diulang
untuk kaki-kaki lain dari batang
pentanahan, yaitu pipa air dan baja
bangunan. Untuk mengukur MGB
melalui metode selektif tanpa tiang
pancang, tempatkan kelem
tegangan induksi sekitar garis pipa
air tersebut (karena pipa air
tembaga memiliki tahanan yang
sangat rendah) dan hasil
pembacaannya adalah tahanan
untuk MGN saja.
5.2.8. Aplikasi Tahanan Pentanahan yang Lain
5.2.8. 1. Lokasi aplikasi
Ada empat aplikasi khusus untuk
mengukur kemampuan sistem
pentanahan tanah. Lokasi aplikasi
sebagian besar, ada menara 4 kaki
dengan masing-masing kaki
terpasang ke tanah sendiri-sendiri.
Tanah-tanah ini kemudian
dihubungkan dengan kabel
tembaga. Di dekat menara ada
gedung tempat sel, tempat semua
perlengkapan transmisi. Dalam
gedung tersebut ada pentanahan
halo dan MGB, dengan tanah halo
yang terhubung ke MGB. Gedung
tempat sel ditanahkan pada 4 pojok
yang terhubung dengan MGB
melalui kabel tembaga dan 4 pojok
tersebut terinterkoneksi melalui
kawat tembaga. Juga ada
sambungan antara cincin
pentanahan gedung dan cincin
pentanahan tower (menara).
Gambar 5 – 31 Susunan khas sistem pentanahan pada suatu
instalasi menara selular.
Substasiun listrik adalah pangkalan
pada sistem transmisi dan
distribusi dimana tegangan
biasanya diubah dari nilai tinggi ke
nilai rendah. Substasiun khusus
akan berisi struktur pemutusan
jalur, pengalih tegangan tinggi
(high-voltage switchgear), satu
atau lebih transformator daya,
pengubah tegangan rendah (low-
voltage switchgear), perlindungan
gelombang, kontrol, dan
pengukuran (metering).
Tempat pengubah jarak jauh yang
juga dikenal sebagai slick sites,
dimana konsentrator jalur digital
dan perlengkapan telekomunikasi
lain beroperasi. Tempat jarak jauh
ditanahkan secara khusus pada
ujung kabinet lain dan kemudian
akan memiliki serangkaian tiang
pancang tanah sekitar kabinet yang
terhubung dengan kawat tembaga.
Sebagian besar sistem
perlindungan gagal arus karena
petir mengikuti desain setelah
desain yang keempat pojok
gedungnya ditanahkan dan
biasanya terhubung lewat kabel
tembaga. Tergantung pada ukuran
gedung dan nilai tahanan yang
dirancang untuk dicapai, jumlah
batang tahanan akan berbeda-
beda.
5.2.8.2. Uji-uji yang direkomendasikan
Pengguna akhir diharuskan
melakukan tiga uji yang sama
untuk masing-masing aplikasi:
ukuran tanpa tiang pancang,
ukuran drop tegangan 3 kutub dan
ukuran selektif. Ukuran tanpa tiang
pancang, pertama lakukan ukuran
tiang pancang pada:
• Kaki-kaki individu menara dan
empat pojok gedung
(tempat/menara sel)
• Semua sambungan pentanahan
(substasiun listrik)
• Jalur yang berjalan ke tempat
jarak jauh (remote switching)
• Tiang pancang tanah gedung
tersebut (perlindungan dari
petir).
Untuk seluruh aplikasi, ini bukan
ukuran tahanan tanah yang
sebenarnya karena merupakan
tanah jaringan tersebut. Cara ini
terutama berfungsi sebagai uji
kontinuitas guna memastikan
apakah tempat itu ditanahkan,
hingga kita bisa melakukan
sambungan listrik, dan bahwa
sistem tersebut bisa dilewati arus.
Ukuran drop tegangan 3 kutub,
kedua saat mengukur tahanan
seluruh sistem melalui metode
drop tegangan 3 kutub, pikirkan
tentang aturan untuk penetapan
tiang pancang. Ukuran ini harus
direkam dan pengukuran harus
dilakukan setidaknya dua kali per
tahun. Ukuran ini adalah nilai
tahanan untuk seluruh tempat.
Terakhir, lakukan ukur pertanahan
individu dengan uji selektif. Ini akan
membuktikan integritas pertanahan
individu, sambungan-
sambungannya, dan tentukan
apakah potensi pentanahan benar-
benar sama secara keseluruhan.
Jika ukuran menunjukkan itngkat
variabilitas yang lebih besar dari
yang lain, alasannya harus
ditentukan. Tahanan harus diukur
pada:
- Masing-masing kaki menara dan
keempat pojok gedung
(tempat/menara seluler)
- Batang pentanahan individu dan
sambungan-sambungannya
- Kedua ujung dari tempat jarak
jauh (remote switching)
- Keempat pojok gedung
(perlindungan dari petir)
Gambar 5 – 32 Susunan khas sistem
pentanahan gardu i nduk
Gambar 5 – 34
Penggunaan pengetesan tahanan tanah
terpilih pada sistem penangkal petir
5.3. Pengukuran Medan
5.3.1. Field meter Statik :
Gambar 5 - 35 Mekanik field meter (www.ee.nmt.edu/`langmuir)
Field meter statik dikenal juga
sebagai field mills. Dalam sebuah
field meter, penghantaran,
pentanahan, rotating shutter dan
elektrode digunakan sebagai
elemen pengukuran. Field meter
Gambar 5 – 33 Penggunaan pengetesan tanpa pancang pada instalasi
swtching jarak jauh.
berfungsi untuk mengukur suatu
kuat medan, prinsip kerja field
meter yaitu mengubah medan
menjadi tegangan yang sebanding
dengan medan listrik. Prinsip
kerjanya menggunakan prinsip
induksi dari suatu muatan listrik
pada elektrode yang ada pada field
meter, setelah dikuatkan pada
suatu amplifier, sinyal
dimodulasikan dan di filter untuk
menghasilkan tegangan.
Gambar 5-35 menunjukkan
komponen mekanik field meter
statik. Motor memutar shutter dan
light chopper. Medan listrik
diinduksikan pada elektrode, sinyal
dari light chopper digunakan untuk
demodulasi sinyal periodik dari
elektrode. Rangkaian elektronik dari
field meter statik terdiri dari
rangkaian Transient Protection,
Charge Ampifier, Differential
Amplifier, Decommutator, Filter,
Buffer dan Photo Transistor.
Secara lengkap ditunjukkan pada
gambar 5 - 36.
Gambar 5 -36 Rangkaian elektronik field meter statik.
Gambar 5-35 menunjukkan komponen mekanik dari field meter dimana
salah satu komponen utamanya adalah elektrode, dari gambar terlihat ada
4 buah elektrode yaitu satu pasang elektrode A dan satu pasang elektrode
B. Pasangan elektrode A terbuka ketika pasangan elektrode B tertutup
dan sebaliknya. Sinyal periodik dari satu pasangan berbeda 180 derajat
dengan sinyal periodik pasangan yang lainnya.
Berdasarkan gambar 5-36,
keluaran setiap pasang elektrode
dikuatkan oleh sebuah amplifier,
muatan yang terinduksi dirubah ke
tegangan. Differential amplifier
berfungsi untuk menguatkan output
A
K
E
C
1
2 1
2
1
2
+
-
3
2
6
7
4
+
-
3
2
6
7
4
+
-
3
2
6
7
4
+
-
3
2
6
7
4
500
300
100
100
500
1
2
300 +
-
3
2
6
7
4
1
2
33 K
33 K
82 K
100 K
100 K
100 K
82 K
+
-
3
2
6
7
4
470 K
560 K
200
470 K
68 K
7 K
10 K
0 , 1
0,01
10 K
Pair A
Pair B
+
VA
VB
VC
V4
Transient Protection
Charge Amplifier
LED / Photo Transistor
Differential Amplifier Decommutator Filter Buffer
Switch Analog
dari amplifier. Modulator adalah
suatu amplifier sederhana yang
mempunyai penguatan +/- 1
tergantung sinyal dari light chopper,
sinyal searah yang dihasilkan oleh
demodulator
seperti ditunjukkan pada gambar 5-
36. Filter dan buffer melengkapi
demodulasi dan menghasilkan
tegangan yang sebanding dengan
besaran medan elektrik.
Penambahan komponen-
komponen pada input dan output
berfungsi untuk perlindungan
terhadap tegangan transient.
Semua resistansi yang digunakan
dalam ohm, nilai kapasitansi lebih
besar dari 1 piko farad dan lebih
kecil dari 1 mikro farad. Bentuk
gelombang dari tegangan V
A
, V
B
,
V
C
, V
2
, V
3
dan V
4
ditunjukkan pada
gambar berikut.
VA
VB
V2
V3
VC
V4
0 5 10 15 20
Time (mS)
Gambar 5 – 37. Hasil pengukuran tegangan
Field meter statik mempunyai
parametrik amplifier. Medan listrik
menyebabkan terbangkitnya arus
AC, arus yang terbangkit
sebanding dengan besarnya
kekuatan medan. Arus ini dapat
diukur dengan menggunakan
sebuah selektive amplifier yaitu
dengan menggunakan elektrode
influenz berupa logam emas.
Elektrode ini merupakan sebuah
elektrode non galvanis. Metode
pengukuran yang diterapkan tidak
menggunakan bahan radioaktif.
Gambar 5 - 38. Field meter Statik
Gambar 5-38. menunjukkan bentuk
phisik field meter statik dan
rangkaian elektronik yang ada di
dalam field meter statik.
Sistem modulator dengan sistem
elektronik diintegrasikan dalam
sebuah tabung metal yang
dihubungkan ke ground. Elektrode
influenz berbentuk bintang (star).
Di ujung elektrode ini dipasangkan
sebuah ground yang dihubungkan
dengan roda baling-baling.
Bagian ini berupa logam emas
yang keras untuk melindungi
distorsi galvanik. Elektrode influenz
berfungsi untuk melindungi ring
elektrode dari gerakan mekanik.
Disisi belakang ada sebuah tombol
untuk mengaktifkan pengaturan
offset. Transfer data ke elektronik
menggunakan interface serial RS-
485, panjang kabel maksimal yang
diijinkan 10 meter.
Gambar 5-39 (a) menunjukkan
rotating shutters yang berada pada
permukaan belakang field meter.
Salah satu pemakaian field meter
di luar ruangan ditunjukkan pada
gambar 5-39 (b), pada gambar
tersebut field meter digunakan
untuk mengukur medan yang
ditimbulkan oleh suatu pemancar.
Gambar 5 - 39. a. Rotating shutters pada permukaan belakang field meter
(a)
(b)
b. Field meter digunakan di luar ruangan
5.3.1.1. Data Teknik
5.3.1.1.1. Ukuran Fieldmeter Statik
Gambar 5 - 40 Ukuran fieldmeter statik
Tabel 5 - 3 Spesifikasi field meter statik
Karakteristik Parameter
Range
Pengukuran
20kV/m, 80kV/m, 200kV/m, 800kV/m
Ketelitian ± 5% dalam medan homogen
Kalibrasi
Dalam sebuah medan homogen dari plate kondens
Ukuran plate : 200mm x 200mm
Jarak plate : 25mm
Sistem modulator centric terintegrasi dalam sebuah
grounded-plate
Power supply 5V DC ± 5% / e.g. 80mA
Interface serial RS-485
Penguat aluminium – clamp dengan ulir
Waktu operasi 8 jam setiap hari minimal 2 tahun
Dapat dihubungkan dengan Kompatibel PC.
5.3.1.1.2. Letak Pin :
Gambar 5 - 41 Letak pin
fieldmeter statik
Gambar 5 - 42 Aluminium-
clamp dengan ulir
1 = RS-485 Data B
2 = RS-485 Data A
3 = Power-supply (+5V DC ±5%)
4 = Ground (GND)
Aluminium-Clamp difungsikan sebagai penguat fieldmeter ketika
dipergunakan untuk melakukan pengukuran.
5.3.1.2. Metode Pengukuran :
5.3.1.2.1. Pengaturan Offset
Untuk mengatur offset, aturlah protection-cap ke system
modulator.
Tekan tombol offset sesaat. Setelah ± 2 detik, pengaturan offset
otomatik dilakukan.
5.3.1.2.2. Penghitungan Pengisian Muatan :
Nilai pengukuran dikirim berupa sinyal digital dengan lebar data 8
bit. Bit pertama merupakan 200-an bagian dari range pengukuran. Range
pengukuran dimasukkan dalam bit kedua. Pengukuran kuat medan (E)
dihitung dengan cara range pengukuran dikalikan dengan arus output
dalam mA.
Untuk menghitung pengisian muatan (V) = kuat medan (E) x jarak (A).
Contoh Aplikasi :
Range (MB) 200kV/m, Nilai biner yang terkirim (GB) 64h 100 Bit
E = MB/200 x GB = 200 kV/m / 200 x 100 = 100kV/m
Jarak objek Fieldmeter statik = 5 cm ( 0,05m)
Pengisian muatan (U) = Kuatmedan (E) x Jarak (A) (dalam meter)
U = E x A = 100.000 V/m x 0,05 m = 5.000 V
5.3.1.3. Perawatan :
Sistem modulator membutuhkan
perawatan untuk dibersihkan serta
pengaturan offset yang harus
dilakukan secara rutin.
5.3.1.4. Instruksi Peringatan :
Pengukuran ini tidak untuk
pengukuran dalam area
explosive
Untuk medan elektrostatik
yang sangat kuat,
fieldmeter statik harus di
ground kan.
Pengosongan muatan
sparkle ke sistem
modulator dapat merusak
rangkaian elektronik
5.3.2. Field meter Statik Digital
Field meter di bawah ini termasuk
statik field meter yang mampu
untuk mengukur medan listrik AC,
medan maghnit AC dan tegangan
body.
5.3.2.1. Diskripsi Instrument
Gambar 5 - 43 Instrumen field meter digital
A) AC/DC-output
B) Earthing socket
Jika digunakan untuk
pengukuran medan listrik dan
tegangan body, kabel hitam
(grounding) disambungkan ke
soket ground. Ujung yang
lainnya disambungkan dengan
jepitan buaya untuk membuat
sebuah pentanahan (jangan
disambungkan ke lubang)
C) Measuring probe socket
Probe pengukuran untuk
mengukur medan maghnit atau
medan listrik, kabel pengukuran
warna merah untuk pengukuran
tegangan body.
D) Display
Display digunakan menampilkan
nilai terukur (digital).
E) On/Off Switch
F) Filter button
Tekan tombol filter untuk
mengaktifkan fungsi ini, pada
display akan nampak seperti
simbol sebuah gelombang ~.
Penekanan kembali tombol filter
akan meng-non aktifkan fungsi
ini. Filter aktif mengukur
frekuensi antara 500Hz sampai
100kHz.
G) Low Pass push button
H) Push button untuk tone
I) Field dial
Putar field dial untuk
mengaktifkan pengukuran
medan berikut :
Medan listrik dalam V/m (Volt
per meter)
* 0 - 20 V/m
* 0 - 200 V/m
* 0 - 2000 V/m
Medan maghnit dalam nT
(Nanotesla)
* 0 - 200 nT
* 0 - 2000 nT
* 0 - 20 000 nT.
J) Battery
Battery berada di sisi belakang
instrument, tempat battery dapat
dibuka dengan menggunakan
kunci atau obeng. Instrumen ini
membutuhkan battery 9 Volt.
5.3.2.2. Fungsi Display :
Bagian-bagian display ditunjukkan dalam gambar berikut :
Gambar 5 – 44 Display field meter digital
(K) Fungsi Filter (low pass 2kHz).
Jika ” ? ” ditunjukkan berarti
fungsi filter aktif.
[L] Fungsi Filter (high pass 50Hz)
Jika "~" ditunjukkan berarti
fungsi filter aktif.
[N] Measurement value
[O] Measurement field indicator
[M] : Battery warning
Jika muncul “ BAT “ , battery
harus diganti jika tidak maka
akan terjadi kesalahan
pengukuran.
5.3.2.3. Prosedur Pengukuran :
5.3.2.3.1. Set-up :
Sebelum melakukan pengukuran.
Ikuti langkah-langkah berikut :
Buka tempat battery pada
bagian belakang instrument
dengan menggunakan obeng
Masukkan battery 9 Volt atau
accu
Tutup tempat battery
Masukkan probe untuk
pengukuran medan maghnit
dan listrik atau untuk
pengukuran tegangan body
Jika dibutuhkan pentanahan
hubungkan dengan kabel
grounding
ON kan instrumen
Putar dial ke tipe medan yang
diinginkan dan level sensitivitas
5.3.2.3.2. Persiapan Pengukuran
Untuk membuat pengukuran efektif
dan memperoleh hasil valid
membutuhkan persiapan. Ikuti
langkah-langkah berikut :
- Pertama, ruangan yang akan
diukur dibersihkan. Pengukuran
kekuatan medan ditulis pada
suatu plan.
- Semua peralatan dalam kondisi
ON
- Nilai ambang yang direkomendasi
adalah :
Medan listrik : 10 - 100 V/m
Medan maghnit: 10- 1000 nT
body voltage: 0- 1 V
- Catatan bahwa kekuatan medan
maghnit dan listrik naik apabila
jaraknya semakin dekat.
5.3.2.4. Data Teknik
Tabel 5 - 4 Data teknik
5.3.3. Smart Field Meter
Smart Field Meter
(Electromagnetic Field meter)
mempunyai tampilan kombinasi
antara ciri utama peralatan
monitoring kualitas medan dengan
kenyamanan dan kesederhanaan
multi meter. Pengoperasian
multimode (rerata, puncak dan
pulsa) memungkinkan pengukuran
sinusoidal dan medan modulasi
Property Ukuran dimensi dalam mm
Phisik 155 x 80 x 36
Probe 130 x 40 x 24
Cable 1,50 m
Weight
with Battery : 215 g
Probe : 118 g
Display LCD, 2 1/2
Parallel direction TRMS
Frequency band
Tanpa Filter : 16 Hz - 100 kHz ± 1 dB
dengan Filter: 16 Hz - 500 Hz ± 1 dB
Measuring fields
electric field : 20/200/2000 V/m
magnetic field : 200/2000/20000 nT
AC Voltage 20/200 (/2000) V
dengan penampilan rerata atau
nilai puncak secara bersama.
Respon cepat dapat digunakan
untuk analisis data secara jarak
jauh dan kontrol medan loop
tertutup. Disain ringan mudah
dibawa dengan battery tahan lama
dan probe isotropik dapat
dipisahkan memberi keuntungan
bagi para pengguna.
Gambar 5 – 45 Smart field meter
5.3.3.1. Aplikasi Smart Field Meter
Smart Field Meter dapat digunakan
untuk mengevaluasi dan mengukur
medan elektromaghnit dari
beberapa sumber medan yaitu :
Gambar 5-46, menunjukkan salah
satu pemakaian Smart Field Meter
untuk mengukur medan suatu
Stasiun pemancar. Gambar 5-47.
menggambarkan respon frekuensi
hasil pengamatan. Sumbu
mendatar menunjukkan frekuensi
dimulai dari 600 MHz sampai
dengan 2.100 MHz. Sumbu tegak
menunjukkan display field meter
dalam dB mulai dari – 20 dB
sampai dengan 5 dB.
AM, FM, TV dan Stasiun Seluler
Pemancar dan Radio CB
Komputer dan Monitor Peralatan
Ponsel
Oven mikrowave
Industri, Peralatan Kedokteran
Sistem test EMC
Gambar 5 - 46 Aplikasi smart field meter
Gambar 5 - 47 Frekuensi respon
5.3.3.2. Spesifikasi Smart Field Meter
Pemahaman spesifikasi peralatan diperlukan sebagai
pembekalan kemampuan penilaian produk. Disamping penilaian
kesesuaian kebutuhan, juga optimalisasi penggunaan secara
aman. Spesifikasi field meter salah satu produk ditunjukkan pada
tabel berikut ini.
Tabel 5 – 5 Spesifikasi smart field meter
Karakteristik Parameter
Lebar Cakupan 0.2 - 600 V/m
Cakupan frekuensi 0.2 MHz-3000 MHz
Probe langsung Omni directional
Cakupan (V/m, skala
penuh)
2, 20, 200, 600
Akurasi kalibrasi +/- 0.5 dB
Deviasi linieritas
+/- 1.5 dB (cakupan 10-100% dari skala
penuh).
Probe respon frekuensi
+/- 2.5 dB (0.5 MHz–3GHz), -3 dB @
0.2MHz
Probe isotropik +/- 1.5 dB (100, 500, and 2500 MHz).
Mode operasi Rerata, pulsa dan puncak
Pengenolan Otomatis dan / atau pengaturan
Umur baterai 100 jam (9V batere alkalin).
6.1. Fungsi Generator
6.1.1. Pendahuluan
Function Generator (generator
fungsi) adalah alat tes elektronik
yang berfungsi sebagai
pembangkit sinyal atau gelombang
listrik. Bentuk gelombang pada
umumnya terdiri dari tiga jenis,
yaitu sinusoida, persegi, dan
segitiga. Pada gambar 6-1 dapat
dilihat salah satu jenis generator
fungsi.
Dengan generator fungsi ini
seorang teknisi dapat melakukan
pengetesan suatu alat yang akan
dites (devices under test). Dari
analisis terhadap hasil berbagai
bentuk gelombang respons alat
tersebut, akan dapat diketahui
ketepatan karakteristik sesuai
dengan ketentuan yang
dikehendaki.
Gambar 6-1. Contoh generator Fungsi
6.1.2. Konstruksi dan Cara Kerja
Blok diagram generator fungsi
dapat dilihat pada gambar 6-2.
Pada umumnya frekuensi yang
dibangkitkan dapat divariasi
dengan mengatur kapasitor dalam
rangkaian LC atau RC. Dalam
instrumen ini frekuensi
dikendalikan oleh variasi arus yang
mengemudikan integrator.
Generator fungsi memberikan
keluaran berbentuk gelombang
sinus, segitiga dan kotak dengan
jangkauan frekuensi dari 0,01
Hertz sampai 100 kilo Hertz.
Frekuensi terkendali tegangan
(frequency controlled voltage)


Tujuan :
Setelah mempelajari bab pembangkit sinyal diharapkan akan dapat :
1. Mendiskripsikan jenis-jenis pembangkit sinyal
2. Menjelaskan konstruksi dan cara kerja pembangkit sinyal generator
3. Menjelaskan spesifikasi pmbengkit sinyal
3. Menjelaskan kegunaan sinyal generator dalam pengetesan
BAB 6
PEMBANGKIT SINYAL
mengatur dua sumber arus Upper
dan Lower Constant Current
Source. Upper Constant Current
Source mensuplai arus tetap ke
integrator yang menghasilkan
tegangan output naik secara linier
terhadap waktu, menurut
persamaan berikut :
Kenaikan dan penurunan arus
akan mengakibatkan naik atau
turunnya slope tegangan output,
yang akan mengatur besarnya
frekuensi. Tegangan komparator
akan mengubah keadaan ke level
maksimum tegangan output
integrator yang telah ditetapkan.
Perubahan ini akan memutus
sumber arus konstan Upper
beralih ke Lower constant current
source
Sumber arus konstan Lower akan
mencatu arus balik ke integrator,
sehingga tegangan output turun
secara linier terhadap waktu. Bila
output mencapai batas minimum
yang ditetapkan, maka tegangan
komparator akan berubah keadaan
dan menyambung ke Upper
constant current source, demikian
seterusnya kembali seperti
semula. Dengan demikian
terjadilah siklus yang terus
menerus.Tegangan output
integrator adalah bentuk
gelombang segitiga yang besar
frekuensinya tergantung pada
besar kecil arus yang dicatu oleh
kedua sumber arus konstan Upper
dan Lower.
Keluaran komparator memberikan
tegangan gelombang kotak
(SQUARE) dengan duty cycle
50%. Rangkaian diode resistance
mengatur slope dari gelombang
segitiga (TRIANGLE) sehingga
amplitudonya berubah
menghasilkan gelombang SINUS
dengan distorsi kurang dari 1 %.
Jenis konektor yang dipakai
tergantung frekuensi kerjanya.
Kebanyakan generator fungsi
generasi terbaru frekuensi
kerjanya sampai 20MHz memakai
konektor jenis-BNC, dengan
terminasi 50 ~ 75 Ω.
Generator fungsi seperti lazimnya
kebanyakan generator sinyal,
terdapat juga bagian attenuator,
beberapa jenis gelombang
modulasi output, dan memiliki
fasilitas frekuensi gelombang
sapuan yang memberi
kemampuan untuk pengetesan
respons frekuensi dari rangkaian
elektronik yang diberikan.
Beberapa generator fungsi
dilengkapi kemampuan
membangkitkan sinyal derau putih
(pink noise).
V
output
= -

idt
C
1
Gambar 6 – 2 Blok diagram generator fungsi
6.1.3. Spesifikasi
Sebagai produk dari pabrik
pembuat instrumen elektronik
generator fungsi dilengkapi
spesifikasi instrumen. Para
pemakai (users) akan
mendapatkan informasi teknik
penting tentang produk yang
mereka pakai. Berikut diberikan
contoh sebuah spesifikasi dari
sebuah generator fungsi yang
lazim dipakai.
Gambar 6-2. Blok diagram generator fungsi
Sumber arus
konstan atas
Pengendali
frekuensi
Integrator
Komparator
tegangan
Sumber arus
konstan bawah
Tahanan diode
rangkaian
pembentuk
Keluaran
penguat 2
Keluaran
penguat 1
C
square
triangle
sinus
Tabel 6.1 Spesifikasi generator fungsi
6.1.4. Prosedur Pengoperasian
Dalam uraian tentang prosedur
pengoperasian generator fungsi
akan dijelaskan berbagai aplikasi
dari generator fungsi, antara lain :
troubleshooting dengan teknik
signal tracing, troubleshooting
dengan teknik signal substitution
atau teknik sinyal pengganti,
penggunaan generator fungsi
sebagai bias dan sumber sinyal,
karakteristik penguat dengan
beban lebih (overload), berbagai
pengukuran respons frekuensi,
pengetesan performansi penguat
dengan gelombang persegi,
pengetesan speaker dan
rangkaian impedansi. Uraian
berikut akan berisi penjelasan cara
pengetesan, setting up peralatan,
dilengkapi dengan uraian dan
gambar kerja tentang pelaksanaan
pengetesan masing-masing.
6.1.4.1. Troubleshooting dengan teknik signal tracing
Salah satu teknik troubleshooting
untuk mencari kerusakan pada
komponen system audio adalah,
dengan mengijeksikan sinyal dari
generator fungsi pada bagian input
alat yang akan dites. Kemudian
osiloskop dipakai untuk memeriksa
output setiap tingkat dari penguat.
Hal ini dimulai dari bagian input
dan bergerak kearah output. Bila
suatu tingkat memberikan sinyal
output yang cacat atau tidak ada
OUTPUT UTAMA
Rentang Frekuensi. . ........0.5Hz sampai 3MHz dalam 6 Rentang
Bentuk Gelombang ...........6 (Sinus, persegi, segitiga, Ramp, +Pulse, - Pulse)
Amplitudo . . . . . . . . . . . . .20Vp-p sampai Open (10Vp-p in to 50W)
Attenuator . . . . . . . . . . . . .0dB, -20db (+2%)
Impedansi Output . . . . . . .50W (+2%)
DC Offset . . . . . . . . . . . . .+10V (pull ADJ.)
Frequency Adjust . . . . . . .Counter Accuracy
Distorsi . . . . . . . . . . . . .<1%, 1Hz to 100KHz
Rise/Fall Time. . . . . . . . . .<60nS
V.C.F. Input . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .0 to +10V control
SYNC OUTPUT
Rise Time . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .<40nS
Level . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . >3Vp-p (open)
Bentuk gelombang . . . . . . . . . . . . . .Square, Pulse
SWEEP
Modus . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .Linear/Log Sweep
Lebar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .>100:1 Continously Variable
Rate . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .From 10mS to 5S Continuously
Variable
Output Sweep. . . . . . . . . . . . . . . . . .10Vp-p (open)
Impedansi Output . . . . . . . . . . . . . . .1KW +2%
output sama sekali, maka dapat
diduga pada tingkat tersebut
terdapat kerusakan. Sinyal input
yang lazim digunakan berbentuk
sinusoida dengan amplitudo
rendah, sedemikian rupa supaya
tidak menimbulkan cacat bentuk
pada tingkat berikutnya. Pada
gambar 6-3 dapat dilihat
troubleshooting pada rangkaian
penguat audio menggunakan
teknik signal tracing.
Teknik yang sama dapat
diterapkan pada peralatan non-
audio. Umumnya generator fungsi
dapat menghasilkan sinyal sampai
2 MHz, bahkan beberapa model
mampu memberikan frekuensi
sampai 10 MHz atau lebih tinggi.
Pada teknik sinyal tracing ini tidak
diperlukan tegangan DC-offset dari
generator fungsi, walaupun
rangkaian penguat audio
menggunakan kopling kapasitor
yang mampu memblokir tegangan
DC yang berasal dari sumber.
Gambar 6.3. Gambar troubleshooting menggunakan teknik pelacakan sinyal
6.1.4.2.Troubleshooting menggunakan teknik sinyal pengganti
Variasi dari metode signal tracing
adalah dengan memanfaatkan
sinyal frekuensi audio yang
berfungsi sebagai sinyal
pengganti, diinjeksikan pada
berbagai titik dalam peralatan yang
sedang dites. Dalam teknik ini
pertama kali sinyal diinjeksikan
pada titik terdekat dengan
speaker, kemudian bergerak maju
menuju tingkat sebelumnya secara
bertahap sampai tidak terdengar
suara pada speaker. Tingkat yang
tidak menghasilkan suara pada
speaker diduga mengandung
kerusakan. Gambar 6-3 dapat
dipakai sekaligus untuk
troubleshooting menggunakan
teknik sinyal pengganti. Perlu
diperhatikan bahwa pada teknik
sinyal pengganti ini pengaturan
tegangan DC offset sumber sinyal
dijamin harus cocok dengan
tegangan bias masing-masing
tingkat pada sistem audio tersebut.
Ketidak sesuaian tegangan offset
dari operasi normal rangkaian,
dapat berakibat operasi tingkat
tersebut cut-off dan akan nampak
seolah-olah terjadi kerusakan,
bahkan dapat juga menyebabkan
kerusakan pada bagian tersebut.
Penguat
Audio
Driver Penguat
daya
Generator fungsi
Oleh karena itu dapat digunakan
kapasitor kopling pada probe
sehingga tegangan DC offset tidak
akan masuk menggangu titik kerja
karena sinyal tetap mengambang
pada titik kerja yang dikehendaki.
Teknik sinyal pengganti ini cukup
menggunakan indikator speaker
saja, karena suara yang keluar
dari speaker sudah cukup untuk
mendeteksi ada / tidaknya
kerusakan.
6.1.5. Penggunaan generator fungsi sebagai bias dan sumber
sinyal
Beberapa generator fungsi modern
mampu mencampurkan tegangan
DC-offset pada tegangan output
ACnya.
Gambar 6.4. Penggunaan generator fungsi sebagai kombinasi bias dan
sumber sinyal
Seperti nampak pada gambar 6-4
kemampuan ini dapat dipakai
untuk membias transistor penguat
yang dites dengan melengkapi
Osiloskop
atau
Ch B
Generator fungsi
Ch A
komponen AC dari sinyal input.
Dengan mengamati output
penguat pada osiloskop, amplitudo
dan bias transistor dapat
dioptimalkan pada output tidak
cacat. Dengan melakukan variasi
DC-offset, maka pengaruh
beberapa bias (klas A, B dan C)
dapat ditentukan.
6.1.5.1. Karakteristik beban lebih pada amplifier
Titik beban lebih (overload) dari
beberapa penguat sulit ditentukan
dengan cara pengetesan
menggunakan input gelombang
sinusoida. Bentuk gelombang
segitiga merupakan bentuk
gelombang ideal untuk keperluan
ini, karena setiap titik awal dari
linieritas mutlak suatu gelombang
dapat dideteksi dengan baik.
Dengan output segitiga kondisi
puncak pembebanan lebih dari
sebuah penguat akan mudah
ditentukan. Kondisi overload
tersebut dapat dilihat pada gambar
6-5.
Gambar 6-5. Karakteristik penguat kondisi overload
6.1.5.2. Pengukuran Respon Frekuensi
Generator fungsi dengan
kapabilitas sweep adalah ideal
untuk pengecekan respons
frekuensi pada peralatan seperti
penguat, kendali bass dan treble,
filter band-pass, filter High Pass
dan Low Pass, rangkaian kopling,
dan speaker maupun rumah
speaker. Penguat IF, tuned circuit,
notch filter dan rangkaian
impedansi lainnya. Dengan range
frekuensi generator fungsi sampai
minimal 1 MHz, maka dapat
dipakai untuk pengukuran,
mengaturan dan analisis respons
peralatan pasip atau aktip sampai
batas frekuensi tersebut.
Sebagai tambahan pada fasilitas
sweep internal, beberapa
generator memiliki input frekuensi
terkontrol tegangan (VCF =
voltage controlled frequency), yang
memungkinkan pengendalian
sinyal sweep oleh gelombang
sinus atau pola khusus lainnya.
Juga beberapa unit tercakup
rentang audio dari 20 Hz ~ 20 kHz
dapat masuk dalam satu sweep
dengan mudah.
Bentuk gelombang
masukan
Bentuk gelombang
keluaran
6.1.5.3. Setting Peralatan Tes
Prosedur berikut ini mengacu
gambar. 6-6 . menjelaskan cara
penyiapan dan metode pengukuran
respons frekuensi.
1. Pilih rentang frekuensi yang
dikehendaki pada generator.
2. Sambungkan kabel dari
terminal output pada generator
ke input horisontal (X) dari
osiloskop.
3. Pasang osiloskop pada posisi
input X-Y.
4. Dengan pembangkit sweep
pada posisi OFF, variasikan
operasi dari alat pada frekuensi
dasar.
5. Nyalakan signal sweep dan
atur lebar dan titik awal untuk
melacak semua arah yang
dikehendaki oleh ”marker”
pada layar. Atur kecepatan
sweep sehingga displai bebas
dari derau.
6. Sambungkan output generator
dengan input rangkaian yang
akan dites. Bila perlu sisipkan
terminasi untuk matching
impedance antara output
generator dengan input
rangkaian. Hal ini tidak perlu
kalau impedansi input dan
output telah cocok misalkan
sebesar 50Ω.
7. Sambungkan input vertical (Y)
osiloskop untuk mengukur
tegangan output beban dari
rangkaian yang dites.
8. Pilih bentuk sinyal sinus,
segitiga, atau persegi manakah
yang sesuai. Sinyal sinus yang
lazim dipakai pada pengecekan
respons frekuensi.
mengendalikannya sesuai
tegangan sweep.
6.1.5.4. Peraga Respon Frekuensi
Bila menggunakan osiloskop
kovensional, maka peraga yang
diperoleh akan nampak seperti
gambar 6-7 Penguatan atau
atenuasi relatip dari seluruh
frekuensi dalam pita tersebut akan
ditampilkan. Tampilan akan dapat
dianalisis untuk menerima atau
menolak karakteristik respons
frekuensi. Dalam penguat pita-
lebar, tujuan analisis umumnya
adalah untuk menjaga respons
frekuensi rata pada lebar-pita
selebar mungkin. Tampilan
respons frekuensi dari rangkaian
filter dan kopling menunjukkan
frekuensi dan ketajaman cut-off.
Gambar 6-7. Peragaan respon frekuensi penguat audio
6.1.5.5. Pengetesan Tone Control Sistem Audio
Bila penguat audio yang dites
dilengkapi dengan kendali bass
dan treble, pengaruh pengendalian
itu pada keseluruhan respons
dapat ditentukan degan tes respos
frekuensi jalan kalau pengendalian
dilakukan pada range frekuensi
secara penuh. Gambar berikut
memberikan gambaran hasil
respons frekuensi dari variasi tone
control.
Komponen
yang dites
Osiloskop
Sweep Generator
Peragaan
osiloskop
Gambar 6-6. Setting Peralatan dan Pengukuran Respon
Frekuensi
Gambar 6-8 Pengaruh variasi tone control pada
frekuensi respons system audio
6.1.4.6. Pengetesan speaker dan rangkaian impedansi
Generator fungsi dapat dipakai
untuk memperoleh informasi
mengenai impedansi input suatu
speaker atau sembarang
rangkaian impedansi yang lain
terhadap frekuensi. Dengan kata
lain frekuensi resonansi rangkaian
dapat ditentukan.
Adapun prosedur pengetesannya
adalah sebagai berikut:
1. Hubungkan peralatan seperti
tertera pada gambar 6-9
osiloskop dapat dipakai untuk
memastikan apakah output
generator fungsi tidak dalam
kondisi terpotong.
2. Bila menggunakan metode
voltmeter, variasikan nilai
frekuensi sampai range penuh
dan logaritmik tegangan terukur
pada terminal speaker terhadap
frekuensi. Skala dB dari
Voltmeter AC sesuai untuk
mengkonversi data ke dalam
satuan respons standar.
3. Bila memilih menggunakan
CRO, maka gunakan sweep
untuk pengukuran respons
frekuensi.
Frekuensi Hz
Gambar 6-9a. Pengetesan sistem speaker
Gambar 6-9b. Karakteristik sistem speaker dan rangkaian impedansi
4. Dalam pengetesan speaker
tegangan sinyal percakapan
akan naik pada frekuensi
rendah. Frekuensi resonansi
Z
f
f
Speaker system
Function Generator
Speaker
Generator Fungsi
Voltmeter db
Osiloskop
Frekuensi Hertz c. Hasil Grafik
100
10K 1K
100K 10 0
-20
-15
-10
0
+5
+10
+15
+20
-5
b. Rangkaian ekuivalen dari pengaturan pengetesan
R = Z
dihasilkan seperti pada kurva
gambar 6.9.c. Hal ini sangat
dipengaruhi oleh konstruksi
kotak speaker. Para perancang
kotak speaker dapat
menggunakan karakteristik yang
dihasilkan, untuk mengevaluasi
pengaruh berbagai faktor seperti
bahan peredam, jenis bahan
kotak speaker, dan tentu saja
jenis speakernya sendiri.
5. Dalam pengetesan rangkaian
impedansi, tidak perlu terjadi
resonansi pada frekuensi
rendah. Tetapi bila mendekati
resonansi level sinyal akan naik.
Impedansi rangkaian dapat
diukur pada frekuensi resonansi,
atau pada frekuensi lain bila
dikehendaki, dengan cara
seperti berikut :
(a) Hubungkan resistor variabel
non-konduktif, seperti pada
gambar 6.9b.
(b) Ukur tegangan pada titik E1
dan E2 dan atur resistor
variabel R1, sehingga
tegangan E2 = ½ dari E1.
(c) Impedasi dari rangkaian =
nilai resistor variabel R1
yang diperoleh.
6.1.4.7. Keselamatan Kerja
1. Periksa apakah tegangan pada
ground Generator fungsi
terhadap netral stop kontak tetap
0 Volt.
2. Bila ternyata tegangan ground
tersebut tidak sama dengan nol,
laporkan pada teknisi atau
instruktur, hentikan sementara
percobaan.
3. Jangan biasakan memutar
tombol-tombol kontrol diluar
ketentuan praktikum
4. Jangan coba masukkan
tegangan DC atau apapun ke
terminal output Generator fungsi.
5. Jangan coba memasukkan
tegangan apapun ke input.
terminal EXT SYNC, selain
tegangan eksternal sinkronisasi
yang diperlukan (tanyakan pada
instruktur).
6. Jangan menggunakan Generator
fungsi pada tempat yang
bersuhu sangat tinggi,
kelembaban tinggi dan dalam
medan elektromagnetik tinggi.
7. Simpanlah Generator fungsi di
tempat yang sejuk, dan bebas
debu. Sebaiknya disimpan
dalam almari tertutup dan berilah
silika-gel untuk menghindari
kelembaban dalam almari.
6.2. Pembangkit Frekuensi
Radio
Dalam penggunaan RF generator
banyak dipakai pada bidang
telekomunikasi atau dalam bidang
RF (radio frequency). Peralatan
dan komponen di bidang
telekomunikasi sering
membutuhkan pengetesan, baik
dalam masa pembuatan,
pemasangan maupun
pemeliharaan. Simulasi sinyal
input kadang diperlukan untuk
mengganti komponen rusak, atau
menganalisis karakteristik piranti di
bawah kondisi sinyal yang
berbeda.
Pada gambar nampak seorang ahli
teknik sedang melakukan
pengujian sistem elektronik
dengan menggunakan generator
RF modern, yang disebut
Arbitrary/Generator fungsi. Alat ini
dapat digunakan untuk berbagai
keperluan, seperti pengetesan
frekuensi respons piranti RF,
seperti pengukuran lebar pita filter
atau penguat IF, pengukuran
distorsi intermodulasi, simulasi
sinyal radar, maupun pengukuran
bilangan derau (NF, noise figure).
Instrumen ini mampu
membangkitkan sinyal Continous
Wave (CW) sampai 240 MHz, dan
sinyal pulsa sampai 120 MHz,
dengan daya output sampai 16
dBm. Sinyal ini dapat dimodulasi
dalam frekuensi, amplitudo dan
fasa melalui generator modulasi
internal yang tersedia atau sumber
dari luar sampai modulasi
frekuensi 50 kHz.
6.2.1. Konstruksi dan Cara kerja
6.2.1.1. Direct Digital Synthesis
Metoda DSP (digital signal
processing) dipakai pada banyak
pemakaian. Dengan metoda ini
banyak hal dapat dilakukan,
seperti : digital audio CD Player,
piano, bentuk gelombang
kompleks dapat dengan mudah
dibuat atau direproduksi
menggunakan metode
pembangkitan sinyal digital. AFG
ini menggunakan teknik
pembangkitan gelombang yang
disebut DDS (Direct Digital
Synthesis) untuk semua jenis
gelombang fungsi kecuali pulsa.
Seperti nampak pada gambar di
bawah nampak aliran data digital
menyatakan gelombang yang
diinginkan, dibaca secara beruntun
dari memori bentuk gelombang
dan dipasang pada input konverter
DAC. DAC diberi input clock pada
frekuensi sampling generator
fungsi sebesar 200 MHz dan
outputnya merupakan sederet
tegangan undak (step) mendekati
bentuk gelombang yang
diinginkan. Filter low pass “anti-
aliasing” kemudian menghaluskan
gelombang undak untuk
membangkitkan bentuk gelombang
akhir.
Jenis AFG ini menggunakan dua
buah filter “anti aliasing”. Sebuah
filter eliptik orde ke-9 dipakai untuk
gelombang sinus kontinyu, sebab
mempunyai lebar pita yang rata
dan frekuensi cut-off yang tajam
diatas 80MHz. Karena filter eliptik
menghasikan beberapa “ringing”
untuk bentuk gelombang selain
sinus kontinyu, filter orde ke-7
berfasa linier dipakai untuk semua
bentuk gelombang fungsi. Untuk
bentuk gelombang standar,
arbitrary waveform didefinisikan
dengan lebih kecil dari 16.384
(16K) titik, generator fungsi
memakai memori bentuk
gelombang sebesar 16K kata.
Sedangkan untuk generator fungsi
yang didefinisikan lebih dari 16K
titik, generator fungsi memakai
memori bentuk gelombang
sebesar 65.536 (64K) kata
(words).
AFG ini mempunyai nilai amplitudo
4.096 level tegangan diskrit atau
12-bit resolusi vertikal. Data
bentuk gelombang spesifik dibagi
kedalamsampel sedemikian rupa,
sehingga satu siklus bentuk
gelombang dengat tepat mengisi
memori bentuk gelombang (lihat
gambar di bawah
untukgemombang sinus). Bila
anda membangkitkansembarang
bentuk gelombang yang tidak
berisi tepat 16 K atau 64K titik,
bentuk gelombang akan secara
otomatik direntang oleh titik-titik
perulangan atau oleh interpolasi
antara titik-titik yang ada yang
diperlukan untuk mengisi memori
bentuk gelombang. Bilasemua
memori bentuk gelombang terisi
satu siklus gelombang, setiap
lokasi memori sesuai dengan
sudut fasa 2pi/16.384 radian atau
2pi/65.536 radian.
Generator DDS menggunakan
teknik akumulasi fasa untuk
mengendalikan pengalamatan
memori bentuk gelombang. Selain
penghitung untuk membangkitkan
alamat memori sekuensial, juga
dipakai ”adder”. Pada setiap siklus
clock, konstanta dibebankan pada
register kenaikan fasa (the phase
increment register, PIR )
ditambahkan pada hasil yang ada
dalam akumulator fasa. MSB (the
most-significant bits) dari output
akumulator fasa dipakai untuk
pengalamatan memori bentuk
gelombang. Dengan mengubah
konstanta PIR, jumlah siklus clock
yang diperlukan untuk menaiki
tangga meliputi seluruh memori
bentuk gelombang ikut berubah,
sehingga terjadi perubahan pada
frekuensi output. Bila konstanta
PIR baru dibebankan pada
register, frekuensi bentuk
gelombang mengubah fasa secara
kontinyu mengikuti siklus clock
berikutnya. PIR menentukan
kecepatan nilai fasa berubah
terhadap waktu dan akhirnya
mengendalikan frekuensi yang
disintesis. Semakin besar bit
dalam akumulator fasa akan
menghasilkan resolusi frekuensi
yang makin halus. Bila PIR hanya
mempengaruhi nilai kecepatan
perubahan nilai fasa (bukan
fasanya itu sendiri), perubahan
dalam frekuensi bentuk gelombang
mempunyai fasa kontinyu.
AFG ini menggunakan akumulator
fasa 64-bit yang dapat
menghasilkan 2 ~ 64 X 200 MHz
atau 10,8 picoHertz resolusi
frekuensi internal. Perlu dicatat
bahwa 14 atau 16 MSB dari
register fasa dipakai sebagai
alamat memori bentuk gelombang.
Akan tetapi bila menyintesis
frekuensi rendah ( < 12,21 KHz ),
alamat tidak akan berubah
sepanjang siklus clock dan
beberapa titik akan diloncati. Bila
cukup banyak titik diloncati, gejala
”aliasing” akan terjadi dan bentuk
gelombang output akan
mengalami distorsi.
6.2.1.2. Creating Arbitrary Waveforms
Untuk aplikasi pada umumnya,
tidak perlu menciptakan suatu
bentik gelombang sembarang
(arbitrary) dengan sejumlah titik
khusus selama generator fungsi
mengulang titik (atau interpolasi)
yang perlu untuk mengisi memori
bentuk gelombang. Contoh kalau
anda memilih 100 titik, setiap titik
bentuk gelombang akan diulang
dengan rerata 16.384 / 100 atau
163,84 kali. Pada alat ini anda
Gambar 6-13 Phase accumulator circuitry
Teorema Sampling Nyquist menyatakan bahwa untuk
mencegah terjadinya aliasing, komponen frekuensi tertinggi
dari bentuk gelombang output yang diinginkan harus lebih
kecil dari setengah frekuensi sampling (dalam alat ini dipakai
100 MHz)
tidak perlu menubah panjang
bentuk gelombang untuk
mengubah frekuensi output.
Semua yang harus dikerjakan
menciptakan bentuk gelombang
dengan panjang berapapun, dan
kemudian mengatur frekuensi
output generator fungsi. Tetapi
untuk memperoleh hasil yang
terbaik (dan meminimalkan
kekeliruan kuantisasi tegangan,
direkomendasikan bahwa
penggunaan rentang penuh (full
range) dari pembentuk gelombang
DAC ( digunakan 4.096 semua
tingkat ).
Hanya melaui panel belakang
dapat menggunakan interpolasi
linier untuk menghaluskan transisi
antar titik bentuk gelombang. Hal
itu memungkinkan menciptakan
bentuk gelombang sembarang
dengan titik-titik yang relatip
sedikit. Frekuensi dapat diperoleh
maksimal 25 MHz. Tetapi perlu
dicatat bahwa manfaat frekuensi
batas atas, biasanya kurang
dipengaruhi keterbatasan
bandwidth generator fungsi dan
aliasing. Komponen bentuk
gelombang di atas bandwidth 3 dB
akan diredam.
Ketika memilih bentuk gelombang
pada fungsi panel belakang
generator, tidak perlu
memasukkan pilihan interval
waktu. Pilihan interval waktu
ditambahkan bilamana diperlukan
bentuk gelombang yang sangat
komplek. Hanya melalui panel
belakang, dapat digunakan
interpolasi linier untuk
memperhalus peralihan antar
bentuk gelombang. Dalam
perkembangannya memungkinkan
membentuk gelombang acak yang
dengan sejumlah titik yang relatip
sedikit. Instrumen 33250A,
keluaran gelombang acak
frekuensi tertinggi MHz.
Bagaimanapun, perlu dicatat
bahwa batas atas yang biasa
digunakan sedikit lebih rendah
dari pada pembatasan luas bidang
pada fungsi generator. Komponen
bentuk gelombang generator
fungsi di atas lebar band -3 dB
akan diperlemah. Bila pada
keluaran frekuensi diatur sampai 5
MHz frekuensi keluaran
sebenarnya akan menjadi 5 MHz
dan amplitudo akan dilemahkan
3dB. Pada frekuensi sekitar 8
MHz, distorsi bentuk gelombang
dalam kaitan dengan aliasing akan
menjadi penting. Beberapa
aliasing akan ada dalam bentuk
gelombang arbitrary, tetapi akan
menyusahkan atau tidaknya
tergantung pada aplikasi spesifik
pemakaian.
Pada saat membentuk gelombang
arbitrary, generator fungsi akan
selalu berusaha untuk replicate
pada saat merekam, sehingga
menghasilkan versi data periodik
dalam memori bentuk gelombang.
Bagaimanapun, dimungkinkan
bentuk dan pasa sinyal yang
terjadi diskontinyuitas pada bagian
akhir. Bila bentuk gelombang
diulangai sepanjang waktu, titik
akhir diskontinyuitas ini akan
mengantarkan kesalahan
kebocoran dalam ranah frekuensi
yang dikarenakan banyak
spektrum diperlukan untuk
menguraikan diskontinuitas.
Kesalahan kebocoran disebabkan
bila rekaman bentuk gelombang
tidak meliputi jumlah siklus
keseluruhan dari frekuensi dasar.
Daya frekuensi dasar, dan
harmonisnya ditransfer pada
komponen spektrum segi empat
fungsi pencuplikan. Kesalahan
kebocoran dapat dikurangi dengan
mengatur panjang jendela meliputi
jumlah integer dari siklus
dalam jendela, untuk mengurangi
ukuran residu titik akhir
diskontinuitas. Beberapa sinyal
dikomposisikan dari diskrit, yang
berkaitan dengan frekuensi non
harmonis. Karena sinyal ini tidak
diulang-ulang, semua komponen
frekuensi tidak dapat menjadi
harmonisasi berkaitan dengan
panjang jendela. Penanganan
situasi ini harus secara hati-hati
untuk meminimkan bagian akhir
diskontinyuitas dan kebocoran
spektrum.
Gambar 6-14 Bentuk gelombang arbitrary dengan diskontinyuitas
Gambar 6-15 Spektrum dari bentuk gelombang diatas pada 100 kHz
6.2.1.3. Pembangkit Gelombang
Untuk mengeliminasi distorsi
aliasing pada frekuensi yang lebih
tinggi, 3325E menggunakan teknik
pembangkit gelombang kotak
yangberbeda untuk menghasilkan
gelombang kotak. Untuk
frekuensi di atas 2 MHz,
gelombang kotak dibuat dengan
routing DDS pembangkit
gelombang sinus ke dalam
komparator. Keluaran digital dari
komparator kemudian digunakan
sebagai basis keluaran bentuk
gelombang kotak. Duty cycle
bentuk gelombang dapat divariasi
dengan mengubah threshold
komparator . Untuk frekuensi di
bawah 2 MHz pembentuk
gelombang berbeda dibebankan
kepada pembentuk gelombang
memory untuk meminimkan jitter.
Gambar 6-16 Rangkaian pembangkit bentuk gelombang kotak
6.2.1.4. Generasi bentuk gelombang pulsa
Untuk mengeliminasi distorsi
aliasing pada frekuensi yan lebih
tinggi, 33250 A juga menggunakan
teknik pembangkitan bentuk
gelombang yang berbeda untuk
membuat gelombang pulsa.
Pembangkitan gelombang pulsa,
siklus clock dihitung diturunkan
pada kedua perioda dan lebar
pulsa. Untuk mencapai resolusi
amplitudo yang halus frekuensi
clock divariasi dari 100 Mhz
sampai 200 MHz dengan
menggunakan PLL (Phase Lock
Loop).
Untuk mencapai resolusi lebar
pulsa yang halus, analog ditunda
(0 sampai 10 ns) diaplikasikan
pada ujung akhir perioda. Waktu
naik dan turun dikontrol oleh
rangkaian yang memvariasi
muatan arus dalam kapasitor.
Perioda, lebar pulsa dikendalikan
secara independen dalam batasan
yang pasti.
Anti-Aliasing Filter
Comparatorr
DAC
DAC
Gambar 6-17. Rangkaian pembangkit bentuk gelombang pulsa
Gambar 6-18 Parameter bentuk gelombang pulsa
6.2.2. Ketidaksempurnaan sinyal
Untuk bentuk gelombang sinus,
ketidaksempurnaan sinyal paling
mudah untuk diuraikan dan diamati
dalam ranah frekuensi dengan
menggunakan penganalisa
spektrum. Banyak komponen
sinyal keluaran yang mempunyai
frekuensi berbeda dengan
frekuensi dasar (pembawa)
dipandang sebagai sinyal palsu.
Ketidaksempurnaan sinyal dapat
dikatagorikan sebagai harmonis,
non harmonis atau pasa noise dan
dispesifikasikan relatip terhadap
tingkat pembawa atau dBc.
6.2.2.1. Cacat Harmonis
Komponen harmonis selalu
muncul pada kelipatan dari
frekuensi dasar yang disebabkan
oleh sifat non linieritas dalam
pembentuk tegangan DAC dan
elemen jalur sinyal lain. Tipe
30250A menggunakan filter
frekuensi rendah 100 MHz untuk
melemahkan harmonis frekuensi
yang sangat tinggi. Pada frekuensi
lebih rendah dan amplitudo lebih
rendah, mungkin ada sumber
distorsi harmonis lain yang
menyebabkan arus mengalir
melalui kabel yang dihubungkan
ke penghantar keluaran serempak
(syn). Arus ini menyebabkan
timbulnya tegangan gelombang
kotak dengan amplitudo rendah
pada ujung-ujung resistansi kabel
pengaman. Tegangan ini dapat
bercampur dengan tegangan
sinyal utama. Jika dalam aplikasi
tidak bisa diabaikan kabel dapat
dipindahkan atau dilemahkan.
Jika dalam aplikasi membutuhkan
penggunaan penghantar keluaran
serempak, pengaruh ini dapat
diminimkan dengan
menterminasikan dengan kabel
yang mempunyai impedansi beban
tinggi.
6.2.2.2. Cacat Non-Harmonis
Sumber terbesar dari komponen
non harmonis spurs ( dinamakan
"spurs/taji") adalah bentuk
gelombang DAC. Ketaklinearan
dalam DAC mengarah pada
timbulnya harmonic alias atau
“folded back”, ke dalam bandpass
dari generator fungsi. Harmonis
spur ini sangat signifikan pada
saat terdapat hubungan sederhana
antara frekuensi sinyal dan
frekuensi pencuplikan generator
fungsi (200MHz). Misal pada
frekuensi 75 MHz, DAC
menghasilkan harmonis pada 150
MHz dan 225 MHz. Harmonis
yang 50 MHz dan 25 MHz berasal
dari frekeunsi pencuplikan
generator fungsi 200 MHz, akan
muncul seperti taji pada 50 MHz
dan 25 MHz. Sumber lain dari non
harmoni spurs adalah
penghubung sumber-sumber
sinyal yang tidak berkaitan dengan
sinyal keluaran (seperti clock
mikroprossor). Spurs ini biasanya
mempunyai amplitudo tetap (= -
75 dBm atau 112 μVpp)
amplitudo ini tidak bias diabaikan
terutama sinyal di bawah 100
mVpp. Untuk mencapai amplitudo
rendah dengan kandungan spurs
minimum, keluaran generator
fungsi dipertahankan pada level
relatip tinggi dan menggunakan
attenuator eksternal jika
dimungkinkan.
6.2.2.3. Fasa Noise
Pasa noise diakibatkan dari
perubahan kecil frekuensi keluaran
sesaat (jitter). Noise datar pada
sekitar frekuensi dasar dan
bertambah sebesar 6 dBc/oktaf
terhadap frekuensi pembawa.
Pada 33250A noise pasa
ditampilkan jumlah dari semua
komponen noise dengan band 30
KHz berpusat pada frekuensi
dasar. Hubungan integrasi noise
pasa terhadap jitter memenuhi
persamaan berikut.
6.2.2.4. Kesalahan Kuantisasi
Resolusi DAC terbatas (12 bit)
menjadi penyebab utama
kesalahan kuantisasi tegangan.
Asumsi kesalahan secara seragam
didistribusikan melebihi cakupan ±
0,5 nilai bit terendah (least-
significant bit /LSB), ekuivalen
tingkat noise -74 dBc untuk
gelombang sinus yang
menggunakan cakupan DAC
penuh (4096 tingkatan). Panjang
memori bentuk gelombang
terbatas menjadi penyebab utama
terjadinya kesalahan pasa
kuantisasi. Perlakuan kesalahan
ini seperti modulasi pasa tingkat
rendah dan dengan asumsi
distribusi merata melampaui
cakupan LSB, tingkat ekuivalen
noise -76 dBc untuk gelombang
sinus yang mempunyai panjang
sampel 16K. Standarisasi bentuk
gelombang menggunakan
cakupan masukan DAC dan
panjang sampel 16K. Beberapa
bentuk gelombang arbitrary yang
menggunakan kurang dari
cakupan masukan DAC, atau
ditetapkan dengan lebih sedikit
dibanding 16.384 poin-poin, akan
memperlihatkan secara
proporsional kesalahan kuantisasi
relatip lebih tinggi.
6.2.2.5. Pengendali Tegangan Keluaran
Multiplier analog digunakan untuk
mengendalikan sinyal yang
mempunyai amplitudo melampaui
10 dB. Seperti ditunjukkan pada
gambar 6-19. satu dari beberapa
masukan multiplier dilewatkan
dalam sebuah filter anti-aliasing.
Masukan lain berasal dari control
tegangan DC yang merupakan
jumlah dari dua keluaran DAC.
Salah satu DAC diatur sesuai
dengan tegangan nominal
amplitudo keluaran yang
dikehendaki. DAC kedua
memberikan suatu tegangan untuk
mengkoreksi variasi respon
frekuensi generator fungsi.
Prosedur kalibrasi 33250A
dilengkapi semua informasi yang
diperlukan untuk menghitung nilai
DAC. Dua attenuator (- 10 dB dan
– 20 dB) dan penguat (+20 dB)
digunakan sebagai variasi
kombinasi untuk mengendalikan
tegangan keluaran dalam step 10
dB melampaui lebar cakupan nilai
amplitudo ( 1 mVpp sampai 10
Vpp).
Catatan :
Perlu diperhatikan bahwa offset dc merupakan jumlah sinyal ac setelah
attenuator, sebelum penguat keluaran. Ini memungkinkan sinyal ac kecil di
offsetkan dengan tegangan dc yang relatip besar. Misal tegangan 100mVpp
dapat dioffsetkan dengan hampir 5Vdc (dalam beban 50 ? ).
Pada saat merubah cakupan, selalu mensaklar attenuator yang demikian ini
menyebabkan tegangan keluaran tidak pernah melampaui pengaturan awal
amplitudo arus. Bagaimanapun, gangguan sesaat atau glitch yang
disebabkan oleh pensaklaran, dalam beberapa aplikasi dapat menyebabkan
masalah. Untuk alasan inilah, 33250A mengembangkan range hold untuk
menyegarkan saklar attenuator dan amplifier dalam arus kerjanya.
Bagaimanapun, amplitudo, akurasi dan resolusi offset (seperti halnya
ketepatan bentuk gelombang) mungkin berpengaruh kurang baik ketika
mengurangi amplitudo di bawah cakupan yang diharapkan. Sebagaimana
ditunjukkan di bawah ini 33250A memiliki impedansi seri keluaran yang tetap
50 ?, membentuk pembagi tegangan dengan tahanan beban.
Gambar 6-19 Rangkaian kendali
amplitudo output
50 ? Zo
Rl
VL
V gen
Gambar 6-20 Impedansi keluaran generator
fungsi
Sebagai kenyamanan, impedansi
beban dapat ditetapkan
sebagimana diperlihatkan oleh
generator fungsi dan dengan
demikian dapat diperagakan
tegangan beban dengan benar.
Jika impedansi beban sebenarnya
berbeda dengan nilai yang
ditetapkan, amplitudo yang
diperagakan, offset, dan tingkatan
tinggi / rendah menjadi salah.
Variasi tahanan sumber diukur dan
diperhitungkan selama instrumen
dikalibrasi. Oleh karena itu akurasi
tegangan beban terutama
bergantung pada akurasi tahanan
beban dengan persamaan
ditunjukkan di bawah ini.
6.2.3.Pengendali Tegangan Keluaran
6.2.3.1. Rangkaian Tertutup Ground
Kecuali untuk antar muka
hubungan jarak jauh dan pemicu,
33250A diisolasi dari ground
chasis (tanah). Isolasi ini
membantu mengeliminasi
rangkaian tertutup ground dalam
system dan juga memungkinkan
ke acuan sinyal keluaran tegangan
selain terhadap ground.
Ilustrasi di bawah ini menunjukkan
generator fungsi dihubungkan ke
beban melalui kabel koaksial.
Terdapat banyak perbedaan dalam
tegangan ground (VGND) yang
akan cenderung membuat arus
IGND mengalir ke dalam
pengaman kabel, sehingga
menyebabkan penurunan
tegangan pada impedansi
pengaman (Zshield). Akibatnya
penurunan tegangan (IGND X
Zshiled) mengakibatkan kesalahan
tegangan beban. Bagaimanapun,
karena instrumen diisolasi,
terdapat impedansi seri yang
besar (umumnya 1 M? parallel 45
nF) dalam jalur yang berlawanan
dengan aliran arus IGND dengan
demikian mengurangi efek ini.
Gambar 6-21 Pengaruh rangkaian tertutup ground
Pada frekuensi di atas beberapa
KHz pengaman kabel koaksial
menjadi bersifat induktif, lebih baik
dari pada resistif dan kabel
berfungsi seperti transformator.
Bila ini terjadi, ada kecenderungan
daya pengaman arus konduktor
sama besarnya namun dalam arah
yang berlawanan. Tegangan drop
dalam pengaman serupa dengan
tegangan drop pada konduktor. Ini
dikenal sebagai balun effect dan
pada frekuensi yang lebih tinggi ini
mengurangi rangkaian tertutup
ground.Perlu diperhatikan bahwa
resistansi pengaman lebih rendah
menyebabkan balun effect menjadi
lebih banyak, merupakan faktor
frekuensi lebih rendah. Oleh
karena itu, kabel koaksial dengan
dua atau tiga pita rambut
pengaman sangat lebih baik dari
pada dengan pita rambut
pengaman tunggal. Untuk
mengurangi kesalahan karena
rangkaian tertutup ground,
hubungan generator fungsi dan
beban menggunakan kabel
koaksial kualitas tinggi. Ground
pada beban dilewatkan melalui
kabel pengaman. Jika
dimungkinkan, generator fungsi
dan beban dihubungan dengan
saluran listrik yang sama untuk
memperkecil perbedaan tegangan
ground.
6.2.2.4. Atribut Sinyal AC
Kebanyakan sinyal ac berupa
gelombang sinus. Dalam faktanya,
beberapa periodik sinyal dapat
ditampilkan sebagai penjumlahan
dari gelombang sinus yang
berbeda. Besaran gelombang
sinus biasanya di spesifikasi
dengan harga puncak, puncak ke
puncak atau efektif (root
meansquare /rms). Semua
besaran ini dengan asumsi bahwa
bentuk gelombang memiliki
tegangan offset nol.
Gambar 6-22 Nilai tegangan yang penting pada gelombang sinusoida
Tegangan puncak bentuk
gelombang merupakan harga
absolute dari semua titik dalam
bentuk gelombang. Tegangan
puncak ke puncak merupakan
perbedaan antara harga
maksimum dan minimum.
Tegangan rms diperoleh dengan
menjumlahkan kuadrat tegangan
disetiap titik bentuk gelombang,
dibagi jumlah titik dan kemudian
hasil bagi diakar pangkat dua.
Harga rms bentuk gelombang juga
menunjukkan daya rata-rata sinyal
satu siklus . Daya = (Vrms)
2
/ Rl
Crest faktor merupakan
perbandingan harga sinyal puncak
terhadap harga rms dan harganya
akan berbeda sesuai dengan
bentuk gelombang. Tabel di bawah
ini menunjukkan beberapa bentuk
gelombang pada umumnya
dengan besanrnya crest faktor dan
harga rms.
Tabel 6-2 Crest faktor dan bentuk gelombang
Vp-p
T = 1/f
Vrms = 0.77 Vp
Adakalanya tingkatan arus bolak-
balik ditetapkan dalam " desibel
relatip terhadap 1 milliwatt" ( dBm).
Karena dBm menampilkan tingkat
daya yang diperlukan untuk
mengetahui tegangan rms sinyal
dan resistansi beban dalam hal ini
dapat diperhitungkan :
Untuk gelombang sinus beban 50
? berkaitan dengan tegangan
dBm ditunjukan dalam tabel
berikut.
Tabel 6-3 Konversi dBm
6.2.4. Modulasi
Modulasi merupakan proses
memodifikasi sinyal frekuensi
tinggi (disebut sinyal pembawa,
carrier signal) dengan sinyal
informasi frekuensi rendah
(disebut sinyal pemodulasi,
modulating signal). Bentuk
gelombang sinyal pemodulasi bisa
beraneka ragam, sedangkan
bentuk sinyal pembawa biasanya
gelombang sinusoida. Dua jenis
modulasi yang terkenal adalah AM
(amplitudo modulation) dan FM
(frequency modulation). Kedua
jenis modulasi tersebut
memodifikasi amplitudo, frekuensi
pembawa sesuai dengan harga
sesaat sinyal pemodulasi. Jenis
modulasi ketiga adalah frequency-
shift keying (FSK), yang memiliki
frekuensi output bergeser antara
dua frekuensi tergantung pada
keadaan sinyal pemodulasi digital.
Generator fungsi akan menerima
sumber modulasi internal dan
eksternal. Bila anda memilih
sumber internal, maka gelombang
termodulasi dibangkitkan oleh
proses pembangkit DDS dari
prosesor signal digital (DSP, digital
signal processor). Namun bila
dipilih sumber eksternal, maka
dBm = 10 x log10(P / 0.001)
dimana P = VRMS 2/ RL
gelombang termodulasi
dikendalikan oleh level sinyal dari
panel belakang generator fungsi
bertanda MODULATION IN. Sinyal
eksternal disampel dan didigitalkan
oleh konverter analog ke digital
(ADC) dan kemudian disambung
ke DSP. Sumber sinyal
pemodulasi, dapat dihasilkan
stream sampel digital yang
mewakili gelombang pemodulasi.
Perlu dicatat bahwa pada FSK,
frekuensi output ditentukan oleh
level sinyal dari konektor
TRIGGER IN pada panel
belakang.
6.2.4.1. Modulasi Amplitudo (AM)
Untuk AM, DSP merupakan contoh
modulasi DAC yang kemudian
mengendalikan amplitudo keluaran
melalui sebuah pengali analog.
DAC dan pengali sama seperti
yang digunakan untuk mengatur
tingkat keluaran generator fungsi.
Bentuk AM pemancar
menggunakan pembawa double
sideband dan merupakan jenis
modulasi yang digunakan pada
kebanyakan stasiun radio AM.
Gambar 6-23 Modulasi amplitudo
Jumlah modulasi amplitudo
merupakan apa yang dinamakan
kedalaman modulasi yang
direferensikan sebagai bagian dari
cakupan amplitude. Misalnya
seting kedalaman 80%
menyebabkan amplitudo bervariasi
dari 10% sampai 90% dari seting
amplitudo (90% - 10%) = 80%)
dengan salah satu siyal
pemodulasi (± 5V) internal atau
eksternal.
6.2.4.2. Frequency Modulation
(FM)
Frekuensi modulasi dan DSP
menggunakan sampel modulasi
untuk memodifikasi frekuensi
keluaran instrumen dengan
mengubah isi PIR. Perlu dicatat
bahwa karena panel belakang
masukan modulasi dihubungkan
langsung, 33250A dapat
digunakan untuk menandingi
osilator yang frekuensinya
dikendalikan dengan tegangan
(VCO). Variasi frekuensi bentuk
gelombang modulasi dari frekuensi
pembawa dinamakan deviasi
frekuensi. Bentuk gelombang
dengan frekeunsi deviasi di bawah
1% dari lebar sinyal modulasi
direferensikan sebagai FM band
sempit. Bentuk gelombang dengan
deviasi yang lebih besar
direferensikan sebagai FM band
lebar. Bandwidth sinyal yang
dimodulasi dapat didekati dengan
persamaan berikut.
BW8 2 X (lebar band sinyal
modulasi) untuk FM band sempit
BW8 2 X )Deviasi + lebar band
sinyal modulasi ) untuk FM band
lebar.
Stasiun FM komersial di Amerika
pada umumnya mempunyai lebar
band modulasi 15 kHz dan deviasi
75 kHz, membuat band lebar. Oleh
karena itu, lebar band modulasi =
2 X (75 kHz + 15 kHz) = 180 kHz.
Jarak antar kanal 200 kHz.
Gambar 6-24. Modulasi frekuensi
6.2.4.3. Frequency-Shift Keying (FSK)
FSK serupa dengan FM kecuali
perubahan frekuensi antara dua
harga preset. Kecepatan
pergeseran keluaran antara dua
frekeunsi (dinamakan frekuensi
pembawa dan frekuensi harapan)
ditentukan oleh kecepatan
generator internal atau level sinyal
Trig In pada panel belakang.
Perubahan frekuensi seketika dan
pasa kontinyu. Sinyal internal
modulasi berbentuk gelombang
kotak dengan duty cycle 50%.
Kecepatan FSK dapat diatur
secara internal dari 2 mHz sampai
100 kHz.
Gambar 6-25. Frequency shift keying
6.2.4.5. Sapuan Frekuensi
Sapuan frekuensi serupa dengan
FM namun tidak menggunakan
bentuk gelombang pemodulasi.
DSP internal mengatur frekuensi
keluaran yang didasarkan pada
salah satu fungsi linier atau
logaritmis. Dalam sapuan linier,
perubahan frekuensi keluaran
konstan hertz per detik. Dalam
sapuan logaritmis, perubahan
frekuensi keluaran dalam
konstanta oktaf/detik atau decade
per detik. Sapuan logaritmis
sangat berguna untuk meliputi
cakupan frekuensi yang luas
dimana resolusi pada frekuensi
rendah secara potensial akan
kehilangan sapuan linier. Sapuan
dibangkitkan dengan
menggunakan sumber pemici dari
dalam atau luar berupa perangkat
keras sumber pemicu. Bila sumber
eksternal dipilih, generator fungsi
akan menerima perangkat keras
pemicu yang diterapkan pada
konektor panel belakang Trig In.
Generator Fungsi memulai satu
sapuan pada setiap menerima Trig
In berupa pulsa TTL.
Satu sapuan terdiri dari sejumlah
langkah-langkah kecil frekuensi.
Karena setiap langkah mengambil
waktu yang sama, sapuan waktu
yang lebih lama menghasilkan
langkah lebih kecil dan oleh
karena itu resolusinya lebih baik.
Jumlah titik titik frekuensi diskrit
dalam sapuan secara otomatis
dihitung oleh generator fungsi dan
didasarkan pada waktu sapuan
yang telah dipilih.
Gambar 6-26 Frekuensi sapuan
Pemicu sapuan, sumber picu
dapat berupa sinyal eksternal,
kunci atau komentar yang diterima
dari antarmuka jarak jauh.
Masukan sinyal picu eksternal
dihubungkan Trig In yang berada
pada panel belakang.
Penghubung ini kecuali TTL,
berada pada tingkat kompatibel
dan direferensikan terhadap
ground chasis (bukan ground
mengambang). Bila tidak
digunakan sebagai masukan,
konektor Trig In dapat
dikonfigurasikan sebagai keluaran
sehingga memungkinkan
instrument 33250A untuk memicu
instrumen lain pada waktu yang
sama sebagai pemicu kejadian
internal.
6.2.4.6. Sinyal Sinkron dan Marker
Keluaran penghantar sync pada
panel belakang menuju tinggi pada
setiap permulaan sapuan. Jika
fungsi marker disable (lumpuh),
sinyal sync menuju rendah pada
titik tengah sapuan. Jika fungsi
marker memungkinkan, sinyal syn
menuju rendah pada saat
frekuensi keluaran mencapai
frekuensi marker tertentu.
Frekuensi marker harus berada
diantara frekuensi mulai dan
frekuensi berhenti. Penggunaan
fungsi marker untuk
mengidentifikasi frekuensi tertentu
dalam respon piranti yang diuji
(Device under test/DUT) missal
jika diinginkan untuk identifikasi
frekuensi resonansi. Untuk
mengerjakan ini, hubungkan
keluaran sync ke satu kanal
osiloskop dan hubungkan keluaran
DUT pada kanal osiloskop yang
lain. Kemudian, picu osiloskop
dengan ujung awal dari sinyal sync
pada posisi permulaan frekuensi
pada sisi kiri osiloskop. Lakukan
penyesuaian frekuensi marker
sampai sinyal syn menuju keadaan
rendah, respon piranti akan
membentuk corak yang menarik.
Frekuensi dapat dibaca pada
peraga panel belakang instrument
33250A.
Gambar 6-27 Sweep with marker at DUT resonance
6.2.4.6.1. Burst
Keluaran generator fungsi dapat
diatur pada bentuk gelombang
dengan jumlah siklus tertentu yang
dinamakan burst. Burst dapat
digunakan dalam salah satu dari
dua mode burst siklus N (juga
dinamakan triggered burst atau
gated burst). Burst siklus N
merupakan burst siklus N yang
terdiri dari bentuk gelombang
dengan jumlah siklus tertentu (1
sampai 1.000.000) dan selalu
diaktifkan dengan peristiwa picu.
Burst juga dapat diset untuk
menghitung tak hingga yang
dihasilkan pada bentuk gelombang
kontinyu pada generator fungsi
terpicu.
Gambar 6-28 Bentuk gelombang keluaran sync dan tiga siklus bentuk
gelombang burst
Untuk burst, sumber picu dapat
berupa sinyal eksternal, suatu
pewaktu internal, kunci, atau
komand yang diterima dari
antarmuka jarak jauh. Masukan
sinyal picu eksternal melalui
penghantar Trig In yang berada
pada panel belakang. Penghantar
ini kecuali TTL, berada pada
tingkat kompatibel dan
direferensikan terhadap ground
chasis (bukan ground
mengambang). Bila tidak
digunakan sebagai masukan,
penghantar dapat dikonfigurasikan
sebagai keluaran sehingga
memungkinkan 33250A untuk
memicu instrumen lain pada saat
yang sama sebagai pemicu
kejadian internal. Pengaruh picu
dapat ditunda sampai 85 detik
(penambahan 100 picodetik) untuk
menyerempakkan permulaan burst
dengan kejadian lain.
Trigger delay juga dapat disisipkan
untuk mengkompensasi peundaan
kabel dan waktu respon instrumen
lain dalam system. Pada burst N
siklus selalu dimulai dan diakhiri
pada titik yang sama pada bentuk
gelombang, yang dinamakan start
phase. Pasa permulaan pada 0°
berhubungan dengan awal
perekaman bentuk gelombang dan
360° berhubungan dengan akhir
perekaman bentuk gelombang.
Misal perkiraan aplikasi
memerlukan dua bentuk
gelombang sinus frekuensi 5 MHz
yang secara pasti satu sama lain
berbeda pasa 90°. Dapat
menggunakan dua 33250A seperti
diuraikan berikut ini. Pertama
rencanakan satu generator fungsi
sebagai master dan yang lain
sebagai slave. Seperti ditunjukkan
6-29. hubungkan penghantar
keluaran master 10 MHz ke
penghantar masukan slave 10
MHz dengan menggunakan kabel
koaksial kualitas tinggi. Konfigurasi
ini akan meyakinkan bahwa kedua
instrumen akan membangkitkan
secara pasti frekuensi sama dan
tidak akan terdapat istilah
pergeseran pasa diantara kedua
instrumen. Berikutnya, hubungkan
dua penghantar masukan dan
keluaran trigger bersama-sama
untuk memungkinkan master
memicu slave.
Keluaran
sinkronisasi
Keluaran
utama
Gambar 6-29 Konfigurasi dua instrumen
Setelah membuat hubungan seperti
yang ditunjukan gambar 6-29. ikuti
langkah-langakh di bawah ini.
1. Atur kedua instrumen pada
keluaran bentuk gelombang
sinus dengan frekuensi 5 MHz.
2. Pada kedua instrumen, diatur
pada mode N siklus burst, set
burst menghitung sampai tiga
siklus, dan set pasa permulaan 0
derajat.
3. Pada master, pilih sumber picu
internal dan memungkinkan
sinyal keluaran picu dengan
rising edge dari penghantar Trig
Out.
4. Pada slave, pilih sumber picu
eksternal dan memungkinkan
pemicuan pada rising edge dari
sinyal picu.
5. Dengan menggunakan
osiloskop, verifikasi bahwa
kedua instrumen sekarang
membangkitkan bentuk
gelombang burst tiga siklus.
Kemudian lakukan penyesuaian
parameter penundaan picu satu
instrumen untuk membawa burst
keduanya ke dalam kelurusan
satu sama lain. Sekarang dua
instrumen diserempakkan dan
akan tetap diserempakkan
sampai pengaturan parameter
penundaan picu.
6. Atur pasa permulaan dari satu
instrumen pada 90°. Kemudian,
atur penjumlah burst pada
masing-masing instrumen
sebagaimana diperlukan untuk
aplikasi. Jika diperlukan bentuk
gelombang burst kontinyu, pilih
jumlah burst tak hingga pada
kedua instrumen dan
memungkinkan pemicuan
manual pada master. Dalam
contoh ini, menjadi parameter
penunda picu, konstanta system
kalibrasi.
Sekali ditetapkan, kedua
instrumen dipertahankan lurus
dalam waktu, sekalipun jika
frekuensi atau pasa permulaan
diubah. Setiap waktu master
dipicu slave, kedua instrumen
diserempakkan kembali. Jika
tenaga diedarkan, instrumen
dapat distel kembali dengan
pemugaran keterlambatan picu
sebelumnya. Perlu dicatat
bahwa perbedaan harga
penundaan mungkin diperlukan
jika pasangan instrumen yang
digunakan berbeda atau jika
bentuk gelombang fungsi yang
dipilih berbeda.
6.2.4.6.2. Gated Burst
Dalam mode gated burst, bentuk
gelombang keluaran merupakan
salah satu on atau off didasarkan
pada level sinyal eksternal yang
diaplikasikan pada konektor panel
dengan Trig In. Pada saat sinyal
gate benar keluaran generator
fungsi bentuk gelombang kontinyu.
Bila sinyal gate menuju salah,
siklus bentuk gelombang arus
dilengkapi dan kemudian
generator fungsi berhenti selagi
tetap berada pada level tegangan
yang sesuai dengan pasa burst
awal dari bentuk gelombang yang
dipilih. Bentuk gelombang noise,
keluaran berhenti seketika bila
sinyal gate menuju salah.
6.2.5. Spesifikasi Alat
Model : AFG3251 / AFG3252
Channels : 1 / 2
Sine Wave : 1 μHz to 240 MHz
Amplitudo
<200 MHz : 50 mVp-p to 5 Vp-p / –30 dBm to 18.0 dBm
>200 MHz : 50 mVp-p to 4 Vp-p / –30 dBm to 16.0 dBm
Harmonic Distortion (1 Vp-p)
10 Hz to 1 MHz : <–60 dBc
1 MHz to 5 MHz : <–50 dBc
5 MHz to 25 MHz : <–37 dBc
>25 MHz : <–30 dBc
THD (10 Hz – 20 kHz, 1 Vp-p) : <0.2%
Spurious (1 Vp-p)
10 Hz to 1 MHz : <–50 dBc
1 MHz to 25 MHz : <–47 dBc
>25 MHz :<–47dBc+ 6 dBc/octave
Phase Noise, typical : <–110 dBc/Hz at 20 MHz, 10 kHz
offset, 1 Vp-p
Residual Clock Noise : –57 dBm
Modulation : AM, FM, PM
Source : Internal/External
Internal Modulation Frequency : 2 mHz to 50.00 kHz
Frequency Shift Keying : 2 keys
Source : Internal/External
Internal Modulation Frequency : 2 mHz to 1.000 MHz
Sweep : Linear, logarithmic
Burst :Triggered, gated
Internal Trigger Rate : 1.000 ms to 500.0 s
Gate and Trigger Sources : Internal, external, remote interface
ArbitraryWaveforms : 1 mHz to 120 MHz
Sample Rate : 2 GS/s
Waveform Memory : 2 to 128 K
6.2.6. Prosedur Pengoperasian Pengukuran bilangan pulsa noise
Bilangan derau atau NF (Noise
Figure) adalah suatu parameter
penting dari amplifier
telekomunikasi, yang menyatakan
berapa besar sumbangan noise
pada output amplifier. Hal itu
menjelaskan turunnya nisbah
sinyal ke derau SNR (signal to
noise ratio), yang disebabkan oleh
komponen dalam rantai sinyal.
Definisinya merupakan nisbah
antara signal terhadap derau dari
output terhadap input. Misalnya
dari : ponsel dan penguat pada
stasiun pangkalan TDMA, GSM
dan standar radio burst-type
lainnya. Untuk memperoleh hasil
pengukuran yang teliti, bilangan
noise harus diukur dengan
amplifier yang dioperasikan pada
kondisi mode pulsa seperti kondisi
operasi normalnya.
Gambar 6-30 Pengukuran lebar band dari filter bandpass dan
penguat IF
Setiap penguat RF baru dan filter
dirancang memiliki karakteristik
bandpass yang harus diukur untuk
meyakinkan hasil sesuai tujuan
rancangan. Kebanyakan peguat
dirancang memiliki respon linier
sepanjang cakupan frekuensi
aplikasi. Hal serupa, filter
dirancang untuk melewatkan band
frekuensi yang telah ditetapkan
sebelumnya dan menolak yang
lain. Kedua jenis komponen yang
cenderung memiliki cakupan
frekuensi dimana respon amplitudo
relatip datar. Pada salah satu
ujung cakupan respon amplitudo
ini secara mantap berkurang. Titik
dimana respon turun -3 dB dari
amplitudo puncak ke puncak
didefinisikan sebagai batasan
lebar band.
Dalam aplikasi ini misalnya kita
akan menguji penguat IF 140 MHz
dan mengukur batas frekuensi
atas dan bawah lebar band
dimana amplitudo keluaran turun -
3 dB. Turun -3dB ekuivalen
dengan 70,71% harga puncak ke
puncak. AFG memberikan sapuan
gelombang sinus seperti sinyal
masukan ke penguat dan
penganalisa spektrum melacak
sinyal keluaran dalam mode hold
peak. Menekan tombol mode
sweep AFG mengantarkan layar
dengan semua bentuk gelombang
yang perlu dilihat, meliputi
tampilan bentuk gelombang itu
sendiri (gambar 6-31). Tampak
bentuk gelombang pada bingkai
didekat layar bagian bawah.
Meringkas semua detil yang
menyolok berkaitan dengan sinyal
yang dibangkitkan : amplitudo,
frekuensi, slope dari gelombang
ramp yang meningkatkan frekuensi
dan panjang total sapuan (waktu).
Gambar 6-32 melukiskan
instrumen pelacak dari
penganalisa spektrum.
Penggunaan marker, instrumen
menghasilkan cakupan frekuensi
dari 133 MHz sampai 147 MHz.
Diluar lebar band ini respon
penguat di bawah titik -3 dB.
Gambar 6-31 Bantuk gelombang keluaran generator fungsi
Gambar 6-32 Pelacakan
penganalisa spektrum
6.3. Pembangkit Pulsa
6.3.1. Pendahuluan
Generator pulsa ini dipakai pada
pengukuran dengan
dikombinasikan pemakaian CRO.
Dengan pengukuran ini dihasilkan
informasi kualitatif dan kuantitatif
tentang peralatan yang sedang
dites. Pengetesan yang sering
dilakukan dengan generator pulsa
ini adalah pengetesan transient
respons dari amplifier. Perbedaan
pokok antara generator pulsa
dengan generator gelombang
kotak, adalah pada duty cyclenya.
Pada generator gelombang kotak
duty cyclenya 50%. Pada
generator pulsa, duty cyclenya
bervariasi, dimana duty cycle
dirumuskan sebagai berikut.
6.3.2. Spesifikasi Alat
Ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi oleh sebuah
generator pulsa.
1. Pulsa harus mempunyai distorsi
minimal, sehingga setiap
distorsi yang terjadi pada
peraga murni hanya disebabkan
oleh alat yang dites.
2. Karateristik dasar dari pulsa
adalah rise time, overshoot,
ringing, sag dan undershoot.
6.4. Sweep Marker Generator
6.4.1. Prosedur Pengoperasian
6.4.1.1. Alignment penerima AM
Prosedur pelaksanaan alignment
penerima AM dilakukan sebagai
berikut
1. Gunakan rangkaian pengetesan
seperti nampak pada gambar 6-
33, dengan snyal generator
pada posisi output gelombang
sweep linier.
2. Menggunakan pengetesan
gambar 6-33 dengan mengatur
generator untuk menghasilkan
peragaan sapuan linier.
3. Jika penghitungan frekuensi
senter teliti akan digunakan
selama pengetesan. Generator
fungsi dengan penghitung
frekuensi (peraga digital)
merupakan langkah sederhana.
Sebelum operasi sapuan
dimulai, atur pemutar frekuensi
pada generator untuk mencapai
frekuensi yang diinginkan. Cek
melalui penghitung dan
tempatkan marker pada layar
osiloskop dengan
menggunakan lemak pinsil.
4. Sinyal dapat dinjeksikan melalui
salah satu mixer (455 kHz)
atau pada antenna. Bila injeksi
sinyal 455 kHz pada masukan
mixer, osilator harus
dipasipkan.
5. Bila respon IF yang diamati
pada masukan detektor AM,
probe detektor RFdiperlukan
kecuali jika titik demodulasi
telah ditetapkan oleh pabrikan.
Duty cycle =
de pulseperio
pulsewidth
6. Pengaturan tuning penguat IF
dapat dilakukan seperti yang
diinginkan memperoleh kurva
respon IF yang dikehendaki.
Seringkali, setiap rangkaian
tune diatur untuk memperoleh
amplitudo maksimum pada titik
tengah frekuensi IF.
Bagaimanapun, beberapa
penguat IF tune bertingkat
untuk mencapai lebar band
yang diinginkan.
Sapuan eksternal mungkin
digunakan jika diinginkan
gelombang sinus atau pola sapuan
lain. Menghubungkan sumber
tegangan sapuan eksternal ke jack
masukan VCF dari generator.
Tegangan sapuan eksternal dapat
juga diaplikasikan pada masukan
horisontal osliloskop. Pengaturan
frekuensi marker, dapat dilakukan
dengan power suplly yang dapat
divariasi diumpankan pada jack
masukan VCF. Masukan horisontal
osiloskop dan penghitung mungkin
dapat digunakan untuk mengukur
frekuensi keluaran.
Bagaimanapun, sama dengan
operasi sapuan eksternal, mungkin
ini lebih nyaman dalam pengaturan
frekuensi marker menggunakan
tegangan keluaran GCV untuk
mengendalikan masukan
horisontal osiloskop. Karena
memungkinkan berkorelasi
langsung antara peraga osiloskop,
penghitung frekuensi dan
pengaturan frekuensi generator.
Gambar 6-33 Alignment penerima AM
RF
Amplifier
Mixer IF Amp
AM
detektor
Audio
Amp
Osilator
Hor
455 kHz
Vert
CRO
Sweep Function Generator
6.4.1.2. Aligment penerima komunikasi FM
Pengetesan pada gambar 6.-33
dapat dipakai untuk proses
alignment pesawat penerima FM,
yaitu bagian frekuensi menengah
(intermediate frequency = IF) 455
kHz, dan bagian diskriminator.
Untuk ketepatan pengaturan
frekuensi tersebut dapat dipakai
sumber marker kristal-terkontrol
(crystal-controlled marker source)
455 kHz, dengan cara sebagai
berikut:
1. Pilih bentuk gelombang sweep,
dan gunakan sinyal ke bagian
IF 455 kHz.
2. Bila sinyal output bagian IF 455
kHz didisplaikan, kurva respons
akan nampak seperti gambar 6-
34.a marker (marker) “pip”
seharusnya pada pusat kurva
respons.
3. Bila kurva respons diskriminator
diperagakan, kurva respons
akan nampak seperti gambar 6-
34b. Kurva ”S” harus setimbang
pada setiap sisi dari “pip”
marker.
Dalam skenario alignment
penerima hanya dapat dievaluasi
dan diverifikasi tanpa pengaturan.
Dimana rangkaian tune dapat
diatur, dengan mengikuti prosedur
pabrikan untuk meyakinkan
bahwa respon keseluruhan dicapai
dengan tepat.
Gambar 6-34 Alignment dari penerima IF komunikasi FM dan diskriminator
CRO
Sweep Function Generator
RF
Amplifier
Fst
Mixer
Fst
IF Amp
demodulator Audio
Amp
Osilator
2nd
Mixer
Osilator
2nd
IF Amp
475 455 435 kHz
455 kHz
Penerima radio FM
A B
6.4.1.3 Pengukuran Noise Figure
Noise figure merupakan parameter
penting dalam penguat
telekomunikasi seperti seberapa
banyak noise yang
dikonstribusikan oleh penguat
dalam sinyal keluaran. Ini
menguraikan degradasi
perbandingan sinyal terhadap
noise yang disebabkan oleh
komponen sinyal. Ini didefiniskan
sebagai perbandingan sinyal
terhadap noise pada keluaran
yang pada inputnya dapat berupa
:Telpon seluler dan penguat
pangkalan stasiun TDMA, GSM
dan jenis burst radio standar yang
hanya bertenaga mesin
sepanjang slot waktu aktip untuk
memelihara tenaga. Untuk
mencapai ketelitian hasil
pengukuran, noise figure harus
diukur dengan penguat yang
dioperasikan dalam mode pulse
seperti selama operasi normal.
Suatu metoda pengukuran SNR
yang populer adalah metoda faktor
Y. Hal ini terletak pada kalibrasi
sumber derau dengan nisbah
derau lebih (ENR = excess noise
ratio) yang dihubungkan ke input
amplifier yang dites (lihat gambar
6-34). Kanal 1 dari AFG3252
menyebabkan amplifier ON dan
OFF melalui signal pulsa yang
mengemudikan input bias penguat.
Lebar dan kecepatan pengulangan
pulsa di atur sesuai dengan
standar pengetesan. Penganalisa
spektrum dikonfigurasikan dalam
mode gated time hanya untuk
mengukur keluaran penguat
selama saklar pada posisi pasa.
Kanal 2 dari sinyal picu AFG
pada spektrum serempak untuk
mengendalikan pulsa pembias
penguat.
Penurunan noise figure dengan
metoda ini pertama diperlukan
untuk menentukan apa yang
dinamakan faktor Y yang
merupakan perbandingan
kepdatan noise keluaran dari
sumber noise dalam keadaan ON
dan OFF. Untuk dapat mencapai
reproduksi hasil pengukuran
rerata dari pengukuran yang
dikehendaki.
Dengan faktor Y diukur dan ENR
dibagi dengan sumber yang
menghasilkan noise untuk
frekuensi tertentu, noise figure
sekarang dapat dihitung sebagai
berikut :
Sebagai contoh asumsikan bahwa
ENR adalah 5,28 dB dan
kepadatan noise yang diukur
ditingkatkan dari -90 dBm/Hz
sampai -87 dBm/Hz setelah
sumber noise ditune. Faktor Y dari
3dB yang diperlukan untuk diubah
ke nilai linier untuk digunakan
dalam persmaan di atas.
Penggunaan formula Y(lin) =
10Y(dB)/10 dcapai Y(lin) =1,995.
Pengisian harga ini ke dalam
formula di atas untuk noise figure
NF=5,3 dB.
Keuntunga penggunaan AFG
dalam aplikasi ini bahwa
NF= ENR dB – (10log (Y-1)).
menawarkan dua kanal yang dapat
disinkronkan dalam frekuensi dan
pengaturan ampitudo secara
independen disesuaikan level bias
yang diperlukan penguat dan
masukan picu dari penganalisa
spektrum atau pengukur noise
figure.



7.1 Pengantar
7.1.1. Pemahaman Dasar Sinyal
Gerakan alami dalam bentuk
gelombang sinus, serupa ombak
lautan, gempa bumi, suara bising
dan bergetar, suara melalui udara
atau frekuensi alami dari gerakan
tubuh. Energi, getaran partikel dan
gaya yang tidak tampak meliputi
pisik alam semesta. Cahaya
merupakan bagian partikel, bagian
gelombang berupa frekuensi
dasar, yang dapat diamati sebagai
warna.
Pengamatan dan pengukuran
untuk melihat perbedaan gerakan
diperlukan alat yang mampu
memvisualisasi. Berdasarkan
visualisasi tersebut gerakan dapat
dibedakan kekuatan, besarnya
perioda pengulangan. Alat yang
mampu mevisualisasikan gerakan
periodik ini dinamakan osiloskop.
Osiloskop merupakan perangkat
yang sangat dibutuhkan untuk
perancangan, pabrikasi atau
perbaikan peralatan elektronika.
Perkembangan teknologi sekarang
ini para teknisi atau ahli
membutuhkan ketersediaan
perangkat terbaik untuk
menyelesaikan tantangan
pengukuran secara cepat dan
tepat. Osiloskop merupakan kunci
jawaban tantangan tuntutan
pengukuran secara akurat.
Kegunaan osiloskop tidak dibatasi
pada dunia elektronik. Dengan
transduser yang tepat osiloskop
dapat mengukur semua jenis
phenomena. Transduser
merupakan piranti yang
menciptakan sinyal listrik dalam
respon terhadap rangsangan pisik
seperti suara, tekanan mekanik,
tekanan, cahaya atau panas.
Sebuah mikropon merupakan
transducer yang mengubah suara
ke dalam sinyal listrik. Gambar 7-1
menunjukkan data ilmiah yang
dapat dikumpulkan oleh osiloskop.
Tujuan
Setelah mengikuti pembahasan
osiloskop pembaca diharapkan
mampu :
1. Mampu menjelaskan prinsip
dasar operasi CRO
2. Mampu mendiskripsikan
jenis-jenis CRO
3. Mampu menjelaskan prinsip
pengukuran sinyal dengan
CRO.
Pokok Bahasan
Pembahasan CRO meliputi :
1. Pengertian jenis-jenis sinyal,
amplitudo, frekuensi dan fasa.
2. Operasi dasar CRO
3. Jenis-jenis CRO Analog dan
digital
4. Pengoperasian CRO untuk
pengukuran karakteristik sinyal.
5. MSO perkembangan CRO
digital dalam aplikasi khusus.
BAB 7
OSILOSKOP


Gambar 7-1. Pengambilan data dengan CRO
Osiloskop digunakan oleh semua
orang dari ahli fisika sampai
teknisi perbaiki TV. Ahli mesin
otomotif menggunakan osiloskop
untuk mengukur getaran mesin.
Peneliti medis menggunakan
osiloskop untuk mengukur
gelombang otak. Berbagai
kemungkinan tidak ada akhirnya.
Setelah membaca bahasan ini
akan mampu :
1. Menguraikan bagaimana
osiloskop bekerja
2. Menguraikan perbedaan
antara osiloskop analog,
penyimpan digital, phaspor
digital dan pencuplikan digital.
3. Menguraikan jenis-jenis bentuk
gelombang
4. Memahami pengendali dasar
osiloskop
5. Melakukan pengukuran
sederhana.
Buku manual yang disertakan
dengan osiloskop akan memberi
informasi khusus tentang
bagaimana menggunakan
osiloskop. Beberapa penghasil
osiloskop juga memberikan
banyak aplikasi untuk membantu
dalam aplikasi pengukuran
tertentu.
Osiloskop sinar katoda (cathode
ray oscilloscope) selanjutnya
disebut instrumen CRO
merupakan instrumen yang sangat
bermanfaat dan terandalkan untuk
pengukuran dan analisa bentuk-
bentuk gelombang dan gejala lain
dalam rangkaian elektronik yang
bersifat dinamis. Pada dasarnya
CRO merupakan alat pembuat
grafik yang menunjukkan
bagaimana sinyal berubah
terhadap waktu : sumbu vertikal
mempresentasikan tegangan dan
sumbu horisontal
mempresentasikan waktu.
Intensitas atau kecerahan
peragaan seringkali disebut
sumbu Z.
Grafik yang digambarkan dapat
menginformasikan banyak tentang
sinyal yang diukur diantaranya :
- harga tegangan dan waktu
sinyal.



- menghitung frekuensi sinyal
osilasi.
- gerakan bagian dari rangkaian
yang direpresentasikan dalam
bentuk sinyal.
- kesalahan fungsi komponen
seperti sinyal terdistorsi.
- seberapa banyak sinyal DC
atau sinyal AC.
- seberapa banyak sinyal noise
dan apakah noise berubah
mengikuti perubahan waktu.
Gambar 7-2: Peraga bentuk gelombang komponen X, Y, Z. (www.interq or
japan/se-inoue/e-oscilo0.htm)
Dalam pemakaian CRO yang
biasa, sumbu X masukan
horisontal berupa tegangan tanjak
(ramp voltage) linier yang
dibangkitkan secara internal yang
merupakan basis waktu (time
base) secara periodik
menggerakkan bintik cahaya dari
kiri ke kanan melalui permukaan
layar. Tegangan yang akan
diamati dimasukkan ke sumbu Y
atau masukan vertikal CRO,
menggerakkan bintik cahaya ke
atas dan ke bawah sesuai dengan
nilai sesaat tegangan masukan.
Selanjutnya bintik cahaya akan
menghasilkan jejak berkas gambar
pada layar yang menunjukan
variasi tegangan masukan sebagai
fungsi waktu. Bila tegangan
masukan berulang dengan laju
yang cukup cepat, gambar akan
kelihatan sebagai pola yang diam
pada layar. Dengan demikian
CRO melengkapi suatu cara
pengamatan tegangan yang
berubah terhadap waktu.
Disamping tegangan CRO dapat
menyajikan gambaran visual dari
berbagai fenomena dinamik
melalui pemakaian transduser
yang mengubah arus, tekanan,
tegangan, temperatur, percepatan
dan banyak besaran fisis lainnya
menjadi tegangan.
7.1.2. Pengetahuan dan Pengukuran Bentuk Gelombang
Istilah umum untuk suatu pola
pengulangan dari waktu ke waktu
adalah gelombang, misal
gelombang suara, gelombang
otak, dan gelombang tegangan
atau semua pola yang berulang.
Osiloskop mengukur gelombang
tegangan. Satu siklus dari


gelombang merupakan bagian dari
pengulangan gelombang. Satu
bentuk gelombang merupakan
penampilan grafik dari
pengulangan gelombang. Suatu
bentuk gelombang tegangan
menunjukkan waktu pada sumbu
horisontal dan tegangan pada
sumbu vertikal.
Gambar 7-3. Bentuk gelombang pada umumnya
Gambar 7-4. Sumber-sumber bentuk gelombang pada
umumnya
Mengungkapkan bentuk
gelombang sebagian besar
tentang sinyal. Kapanpun dapat
dilihat perubahan tinggi bentuk
gelombang, waktu dalam sumbu
horisontal. Garis lurus diagonal
merupakan perubahan linier
tegangan naik ataupun turun
tegangan keadaan mantap.
Ketajaman sudut pada bentuk
gelombang menunjukkan
perubahan mendadak. Gambar 7-
3 menunjukkan bentuk gelombang
pada umumnya dan gambar 7-4
menunjukkan sumber-sumber
bentuk gelombang pada
umumnya.


Jenis-jenis Gelombang
Gelombang dapat diklasifikasi kedalam jenis :
- Gelombang sinus
- Gelombang kotak dan segi empat
- Gelombang segitiga dan gigi gergaji
- Bentuk step dan pulsa
- Sinyal periodik dan non periodik
- Sinyal sinkron dan asinkron


7.1.2.1 Gelombang Kotak dan Segi empat
Gelombang kotak merupakan
bentuk gelombang lain yang
umum. Pada dasarnya gelombang
kotak merupakan tegangan yang
on dan off (tinggi dan rendah)
pada interval yang teratur. Ini
merupakan gelombang standar
untuk menguji penguat – penguat
baik amplitudo bertambah
gelombang kotak mempunyai
distorsi minimum. Rangkaian
televisi, radio dan komputer sering
menggunakan gelombang kotak
untuk sinyal pewaktuan.
Gelombang segi empat
menyerupai gelombang kotak
kecuali bahwa interval waktu tinggi
dan rendahnya tidak sama
panjang. Terutama sekali
diperlukan pada saat untuk
menganalisa rangkaian digital.

7.1.2.1. Gelombang Sinus
Gelombang sinus merupakan
bentuk gelombang dasar untuk
beberapa alasan. Mempunyai sifat
harmonis matematis Tegangan
dalam saluran dinding bervariasi
seperti gelombang sinus. Tes
sinyal yang dihasilkan rangkaian
osilator dari pembangkit sinyal
seringkali berupa gelombang sinus.
Kebanyakan sumber-sumber daya
menghasilkan gelombang sinus
(AC menandakan arus bolak-balik,
meskipun tegangan bolak-balik jua,
DC arus rata yang berarti arus dan
tegangan seperti yang dihasilkan
baterai.Gelombang sinus damped
merupakan kasus tertentu yang
dapat dilihat pada rangkaian yang
berosilasi namun menurun dari
waktu ke waktu. Gambar 7-5
menunjukkan macam-macam
bentuk gelombang.



7.1.2.2. Gelombang gigigergaji dan segitiga
Gelombang gigigergaji dan
segitiga hasil dari rangkaian yang
dirancang untuk mengendalikan
tegangan secara linier, seperti
sapuan horisontal dari osiloskop
analog atau scan raster televisi.
Transisi antar tingkat tegangan
dari perubahan gelombang ini
kecepatannya konstan. Transisi
dinamakan ramp ditunjukkn pada
gambar 7-8.
Gambar 7-8. Step, pulsa dan rentetan pulsa
7.1.2.3. Bentuk Step dan Pulsa
Sinyal seperti step dan pulsa
jarang terjadi atau tidak secara
periodik ini dinamakan single shot
atau sinyal transien. Step
menunjukkan perubahan tegangan
mendadak seperti perubahan
pada pemidahan saklar on power.
Pulsa menunjukkan perubahan
tegangan mendadak, serupa
dengan perubahan tegangan jika
memindahkan saklar power on
dan kemudian off lagi. Pulsa
mungkin ditunjukkan satu bit dari
informasi yang berjalan melalui
rangkaian komputer atau mungkin
glitch atau dalam rangkaian cacat.
Kumpulan pulsa-pulsa berjalan
bersama membuat pulsa train.
Komponen digital dalam komputer
komunikasi dengan setiap
penggunaan pulsa yang lain.
Pulsa biasanya juga dalam sinar X
dan peralatan komunikasi.
Gambar 7-8 menunjukan contoh
bentuk step dan pulsa dan pulsa
train.
7.1.2.4. Sinyal periodik dan Non periodik
Pengulangan sinyal direferensikan
sebagai sinyal periodik, sementara
sinyal yang perubahannya konstan
dikenal sebagai sinyal non
periodik.
7.1.2.5. Sinyal sinkron dan tak sinkron
Bila pewaktuan berhubungan
dengan keberadaan dua sinyal,
sinyal direferensikan sebagai
sinyal sinkron. Sinyal clock, data
dan alamat di dalam komputer
merupakan contoh sinyal sinkron.
Asinkron merupakan istilah yang
digunakan untuk menguraikan
sinyal antara yang tidak



berhubungan dengan keberadaan
pewaktuan. Karena tidak ada
korelasi waktu antara aksi
penyentuhan kunci pada keyboard
komputer dan clock di dalam
komputer, ini dipandang sebagai
sinyal asinkron.
7.1.2.6. Gelombang kompleks
Banyak bentuk gelombang yang
mengkombinasikan karakteristik
sinus, kotak, step dan pulsa untuk
menghasilkan bentuk gelombang
yang memenuh tantangan
osiloskop. Sinyal informasi
mungkin ditempelkan dalam
bentuk variasi amplitudo, fasa dan
atau frekuensi. Contoh meskipun
sinyal dalam gambar 7-9
merupakan sinyal video komposit
biasa, ini dicampur banyak siklus
dari bentuk gelombang frekuensi
yang lebih tinggi yang ditempelkan
dalam amplop frekuensi yang lebih
rendah. Misal ini biasanya sangat
diperlukan untuk mengetahui
tingkat relatip dan pewaktuan yang
berhubungan dengan step. Untuk
melihat sinyal ini diperlukan
sebuah osiloskop yang mengambil
amplop frekuensi rendah dan
campuran dalam gelombang
frekuensi lebih tinggi dalam suatu
intensitas peunjukan yang bernilai
sehingga dapat dilihat keseluruhan
kombinasi sebagai gambar yang
dapat diinterpretasikan secara
visual. Osiloskop phosphor
analog dan digital sangat
menyenangkan untuk melihat
gelombang kompleks. Gambar 7-
9. mengilustrasikan peraga yang
memberikan informasi kejadian
frekuensi yang diperlukan atau
penilaian intensitas, penting untuk
dipahami apa sebenarnya bentuk
gelombang.
Gambar 7-9. Bentuk gelombang komplek video
1 2 3



Perioda
1 detik


1
3 siklus
perdetik
= 3 Hz
Gambar 7-10.
perioda
gelombang sinus

kompleks


7.1.3. Pengukuran Bentuk Gelombang
Banyak istilah digunakan untuk
menguaikan jenis - jenis
pengukuran yang dilakukan
dengan osiloskop. Pada bagian ini
menguraikan beberapa
pengukuran dan istilah pada
umumnya.
7.1.3.1. Frekuensi dan Perioda
Jika ada pengulangan sinyal, ini
memiliki frekuensi. Frekuensi
diukur dalam Hertz dan sama
dengan jumlah pengulangan sinyal
dalam waktu satu detik
direferensikan sebagai siklus
perdetik. Pengulangan sinyal juga
mempunyai perioda ini mengambil
banyak waktu untuk sinyal
melengkapi satu siklus. Perioda
dan frekuensi timbal balik satu
sama lain, sehingga 1/perioda
sama dengan frekuensi dan
1/frekuensi sama dengan perioda.
Misal gelombang sinus dalam
gambar 7-10 mempunyai frekuensi
3Hz dan perioda 1/3 detik.
7.1.3.2. Tegangan
Tegangan merupakan jumlah
potensial listrik atau kekuatan
sinyal antara dua titik rangkaian.
Biasanya satu dari titik ini adalah
ground atau nol volt, namun tidak
selalu. Untuk mengukur tegangan
dari puncak maksimum ke puncak
minimum dari bentuk gelombang,
direferensikan sebagai tegangan
puncak ke puncak.
7.1.3.3. Amplitudo
Amplitudo referensi terhadap
sejumlah tegangan antara titik
dalam rangkaian. Amplitudo
biasanya direferensikan tegangan
maksimum dari sinyal yang diukur
terhadap ground. Bentuk
gelombang ditunjukkan dalam
gambar 7-11 mempunyai
amplitudo 1V dan puncak ke
puncak 2V.
2
Gambar 7-11. Amplitudo dan derajat gelombang sinus
0° 90° 180° 270°
2
+1 V
-1V


7.1.3.4. Fasa
Fasa terbaik dijelaskan dengan
melihat pada gelombang sinus.
Level tegangan dari gelombang
sinus didasarkan pada gerakan
melingkar. Lingkaran mempunyai
360°, satu siklus gelombang sinus
mempunyai 360° sebagaimana
ditunjukkan dalam gambar 7-11.
Penggunaan derajat dapat
digunakan sebagai acuan untuk
sudut fasa gelombang sinus bila
ingin menguraikan seberapa
banyak perioda telah dilalui.
7.1.3.5. Pergeseran Fasa
Pergeseran fasa menguraikan
perbedaan antara dua sinyal
serupa satu sama lain. Bentuk
gelombang gambar 7-12 ditandai
arus sehingga dikatakan tertinggal
fasa dengan bentuk gelombang
yang ditandai tegangan, karena
gelombang mencapai titik sama
dalam siklus ¼ siklus
(360°/4=90°). Pergeseran fasa
biasanya dalam elektronik
dinyatakan dalam derajat.
Gambar 7-12 Pergeseran fasa
7.2. Operasi Dasar CRO
Subsistem utama CRO untuk
pemakaian umum ditunjukkan
gambar diagram di bawah ini
terdiri atas :
1. Tabung sinar katoda (CRT)
2. Penguat vertikal (vertikal
amplifier)
3. Rangkaian trigger (Trigger
Circuit)
4. Penguat Horisontal
(Horisontal Amplifier).
Tabung sinar katoda atau CRT
merupakan jantung siloskop ,
pada dasarnya CRT menghasilkan
berkas elektron yang dipusatkan
secaravtajam dan dipercepat pada
kecepatan yang sangat tinggi.
Berkas yang tajam dan kecepatan
tinggi bergerak dari sumbernya
(senapan elektron) ke layar CRT
bagian depan, membentur bahan
lapisan flouresensi yang melekat
di permukaan CRT. Akibat
benturan ini menimbulkan energy
yang cukup untuk membuat layar
tegangan Arus
Fasa 90°
0


bercahaya dalam sebuah bintik kecil.
Dalam perjalanannya menuju
layar, berkas elektron melewati
sefasang pelat defleksi vertikal
dan sefasang pelat defleksi
horisontal. Tegangan yang
dimasukkan pada pelat defleksi
vertikal dapat menggerakkan
berkas elektron pada bidang
vertikal sehinga bintik CRT
bergerak dari atas ke bawah.
Sedangkan tegangan yang
dimasukkan pada pelat defleksi
horisontal dapat menggerakkan
berkas elektron pada bidang
horisontal sehingga bintik akan
bergerak dari kiri ke kanan.
Gerakan-gerakan ini tidak saling
bergantungan satu sama lain
sehingga bintik CRT dapat
ditempatkan di setiap tempat pada
layar dengan menghubungkan
masukan tegangan vertikal dan
horisontal yang sesuai secara
bersamaan. Bentuk sinyal yang
diamati dihubungkan ke masukan
penguat vertikal dengan
menggunakan probe. Penguat
vertikal dilengkapi rangkaian
attenuator atau pelemah yang
telah dikalibrasi, biasanya diberi
tanda Volt/Div. Setelah sinyal
diperkuat cukup untuk
mengendalikan bintik CRT
diteruskan ke bagian defleksi
vertikal.
Generator basis waktu disediakan
untuk operasi internal, sedangkan
dalam pengoperasian eksternal
basis waktu diambil dari sinyal
masukan pada horisontal amplifier
seperti pada gambar. Generator
basis waktu membangkitkan
gelombang gigi gergaji yang
digunakan sebagai tegangan
defleksi horisontal dalam CRT.
spot
Gambar 7-13. Operasi dasar CRO
Input
layar berlapis
pospor
Attenuattor
dan pra
penguat
Penguat
Vertikal
Rangkaian
Triger
Penguat
Horisontal
senapan elektron pembelok vertikal
trigger dalam
Pembelok horisontal
Trigger dari luar


Bagian gelombang gigi gergaji
yang menuju positip bersifat linier,
dan laju kenaikkan dapat disetel
dengan alat control di panel
depan yang diberi anda Time/Div.
Tegangan diumpankan pada
penguat horisontal, gigi geraji
positip dimasukkan pada pelat
defleksi horisontal CRT sebelah
kanan dan gigi gergaji menuju
negatip dumpankan pada pelat
defleksi horisontal sebelah kiri.
Tegangan-tegangan ini akan
menyebabkan berkas elektron
akan menyapu sepanjang layar
dari arah kiri ke kanan, dalam
satuan waktu yang dikontrol oeh
Time/Div. Tegangan defleksi
kedua fasangan pelat secara
bersamaan menyebabkan bintik
CRT meninggalkan berkas
bayangan pada layar. Ini
ditunjukkan pada gambar 7-14..
Pada gambar ini menunjukkan
sebuah tegangan gigi gergaji
dimasukkan ke pelat defleksi
horisontal dan sinyal gelombang
sinus dimasukkan pada pelat
defleksi vertikal. Karena tegangan
penyapu horisontal bertambah
secara lnier terhadap waktu, maka
bintik CRT bergerak sepanjang
layar pada kecepatan konstan
dari kiri ke kanan. Pada akhir
penyapuan bila tegangan gigi
gergaji tiba-tiba turun dari harga
maksimalnya ke nol, bintik CRT
kembali dengan cepat ke posisi
awal di bagian kiri layar dan tetap
berada disana sampai ada
penyapuan baru. Bila secara
bersamaan diberikan sinyal
masukan pada pelat defleksi
vertikal, berkas elektron akan
dipengaruhi oleh dua gaya, yaitu
satu dalam bidang horisontal
menggerakkan bintik CRT dengan
laju linier, dan satu lagi dalam
bidang vertikal menggerakan bintik
CRT dari atas ke bawah sesuai
dengan besar dan polaritas sinyal
masukan. Dengan demikian gerak
resultante dari berkas elektron
menghasilkan peragaan sinyal
masukan vertikal pada CRT
sebagai fungsi waktu.


Gambar 7-14. Hubungan basis waktu masukan dan tampilan
7.2.1. Prinsip Kerja Tabung Sinar Katoda
Tabung sinar katoda pada
beberapa penganalisa logika
(Logic Analysers) defleksi secara
magnetik, dapat monokrom atau
warna. Pada jenis ini peraga
menggunakan teknik seperti yang
digunakan pada TV . Dalam
tabung sinar katoda storage
oscilloscope pada dasarnya
serupa dengan defleksi
elektrostatik jenis tabung yang
akan dijelaskan di bawah ini hanya
ditambahkan satu atau lebih
storage meshes.
fokus akselerasi photon
F K 1 2 p vertikal p Horisontal
Gambar 7-15. Strktur tabung gambar
layar
sinyal masukan vertikal
t (waktu)
V
layar CRO
0
1
2
3
4
5
6
7
8
0
4
8
6
2
8, 2,2 6,
Basis waktu


Tabung sinar katoda merupakan
komponen utama jantung
oasiloskop, pada dasarnya terdiri
dari susunan elektroda yang
dilapisi kaca bejana. Elektroda-
elektroda berfungsi sebagai berikut
- Susunan tiga elektroda (triode)
yang berfungsi membangkitkan
berkas elektron, biasa disebut
sinar katoda yang terdiri dari
katoda (K) filamen pemanas
(F), grid pengontrol (G) dan
elektroda pemercepat berkas
elektron (1).
- Elektroda pemfokus berkas
elektron (2).
- Berkas elektron dipercepat
sebelum mencapai pelat
defleksi.
- Pelat pembelok vertikal
mengubah arah berkas
sebanding dengan beda
tegangan kedua pelat. Bila
beda tegangan nol atau besar
tegangan kedua pelat sama
berkas akan dilewatkan lurus.
Disebut pelat defleksi vertikal
karena dapat membelokkkan
berkas ke arah vertikal,
sehingga berkas dapat berada
pada layar berupa titik yang
bergerak dari atas ke bawah.
Pelat defleksi horisontal serupa
dengan defleksi vertikal hanya
arah pembelokkan berkas
elektron dalam arah horisontal
dari kiri ke kanan.
- Setelah berkas dbelokkan
akan menumbuk lapisan
flouresensi yang berada
pada permukaan layar
tabung sinar katoda.
Lapisan terdiri dari lapisan
tipis pospor, olahan kristal
garam metalik yang sangat
halus didepositkan pada
kaca. Akibatnya berkas
berpijar, semua emisi
cahaya dalam arah maju.
Gambar 7-16. Sistem pembelokan berkas elektron
Beda tegangan pada elektroda
focus diatur agar berkas yang
menumbuk layar berupa bintik
yang kecil. Sayangnya , jika tidak
ada pengontrol lain seringkali
didapati pengaturan control focus
minimum titik yang terbentuk,
melebar berbeda dengan titik
berkas tinggi minimum. Ini dapat
dicegah dengan memberikan
control astigmatism. Dalam kasus
tabung sinar katoda sederhana
terdiri dari potensiometer yang
mengatur beda tegangan relatip
?Y
D
V
L
d


pada elektroda Anoda akhir dan
layar terhadap tegangan pelat
defleksi. Pengaturan fokus dan
astigmatism memungkinkan
dicapai titik berkas elektron
dalam ukuran sekecil mungkin.
Pada saat berkas elektron
dilewatkan diantara dua pelat
pembelok vertikal yang
mempunyai beda tegangan V volt
antara kedua pelat defleksinya
maka berkas akan didefleksikan
secara vertikal besarnya :
Dimana
L = Panjang pelat
D = jarak antara pelat dan titik pada sumbu dimana defleksi diukur.
d = jarak antar pelat
Va = tegangan pemercepat yang diberikan
K = konstanta yang berhubungan dengan muatan dan masa
Brilliance atau intensitas modulasi
atau juga dinamakan modulasi Z
dicapai dengan memberikan beda
tegangan pada katoda atau grid
yang mengontrol intensitas berkas
elektron. Pada umumnya
perubahan 5 V akan menghasilkan
perubahan kecerahan yang nyata,
ayunan maksimum sekitar 50V
akan memadamkan intensitas
penjejakan berkas elektron.
Secara normal berkas akan
dipadamkan selama flayback atau
penjejakan balik berupa
elektroda pemadam yang dapat
mendefleksikan berkas tanpa
mencapai layar.
7.2.2. Sensitivitas Tabung
Pelat defleksi dari tabung sinar
katoda dihubungkan dengan
penguat, yang dapat menjadikan
perancangan relatip sederhana
bila diperlukan amplitudo keluaran
rendah, namun diperlukan tabung
yang memiliki sensitivitas setinggi
mungkin. Penguat yang diperlukan
memiliki lebar band yang lebar,
kapasitansi antar pelat harus
dijaga rendah sehingga harus
dalam ukuran kecil dan terpisah
secara baik. Untuk mencapai
penjejakan yang jelas dari sinyal
yang mempunyai pengulangan
frekuensi rendah energy berkas
harus tinggi. Idealnya tabung
harus pendek (praktis) : D kecil
Cerah (tegangan pemercepat
tinggi) : V besar kapasitas pelat
pembelok pemercepat rendah : L
kecil, d besar. Ini menghasilkan
tabung dengan sensitivitas sangat
besar, diformulasikan :
KVLD
? Y = --------------------
2 Va d


Kebutuhan sensitivitas tinggi
kontradiksi dengan persamaan.
Praktisnya tabung sinar katoda
diperoleh dari hasil kompromi.
Oleh karena itu teknik yang
dikembangkan untuk
meningkatkan parameter yang
dipilih dengan tanpa mengabaikan
terhadap parameter yang lain.
Kecemerlangan penjejakan
dengan sensitivitas tetap terjaga
baik dapat ditingkatkan dengan
melewatkan berkas melalui
sistem defleksi dalam kondisi
energy rendah. Ini dicapai dengan
menggunakan tegangan beberapa
kilovolt pada layar tabung sinar
katoda.
7.3. Jenis-jenis Osiloskop
7.3.1. Osiloskop Analog
Pada dasarnya sebuah osiloskop
analog bekerja dengan
menerapkan sinyal tegangan yang
diukur secara langsunng diberikan
pada sumbu vertikal dari berkas
elektron yang berpindah dari kiri
melintasi layar osiloskop –
biasanya tabung sinar katoda.
Disisi sebaliknya dari layar
diberlakukan dengan perpendaran
pospor yang menyala dimana saja
berkas elektron membenturnya.
Sinyal tegangan membelokkan
berkas ke atas dan turun
berpindah secara proporsional
sebagaimana perindahan secara
hrisontal, pelacakan bentuk
gelombang pada layar. Lebih
sering berkas membentur lokasi
layar tertentu, semakin terang
nyalanya.
Gambar 7-17. Blok diagram CRO analog
? Y KLD
Sensitivitas = ---------- = -----------
V 2 Va d

attenuator Penguat
vertikal
System
triger
System vertikal
Generator
sinkronisasi
Penguat
horisontal
Time base
System horisontal
System
pembangkit
elektron
Probe
masukan
CRT


CRT membatasi cakupan
frekuensi yang dapat diperagakan
dengan osiloskop analog. Pada
frekuensi yang sangat rendah,
sinyal muncul sebagai titik terang
bergerak lambat yang sulit
membedakan sebagai ciri bentuk
gelombang. Pada frekuensi tinggi
kecepatan penulisan CRTterbatas.
Bila frekuensi sinyal melbihi
kecepatan menulis CRT, peraga
menjadi sangat samar untuk
dilihat. Osiloskop analog tercepat
dapat memperagakan frekuensi
sampai sekitar 1 GHz.
Bila sinyal dihubungkan rangkaian
probe osiloskop, tegangan sinyal
berjalan melalui probe ke sistem
vertikal dari osiloskop. Gambar 7-
17. mengilustasikan bagaimana
osiloskop analog memperagakan
sinyal yang diukur. Tergantung
pada bagaimana pengaturan skala
vertikal (control Volt/div),
attenuator mengurangi tegangan
sinyal dan sebuah penguat
menambah tegangan sinyal.
Selanjutnya sinyal berjalan
langsung ke pelat pembelok
vertikal dari CRT. Tegangan yang
diberikan pada pelat pembelok
menyebabkan perpendaran pada
titik yang bergerak melintasi layar.
Nyala titik dibuat oleh berkas
elektron yang membentur pospor
luminansi di dalam CRT.Tegangan
positip menyebabkan titik
berpindah ke atas sementara
tegangan negatip menyebabkan
titik bergerak ke bawah.
7.3.2. Jenis-jenis Osiloskop Analog
7.3.2.1. Free Running Osciloskop
Free running oscilloscope
merupakan jenis CRO generasi
awal yang sederhana, secara blok
diagram prinsip kerjanya
dijelaskan berkut ini. Pada kanal
(Channel) vertikal terdapat
penguat sinyal yang fungsinya
mengendalikan pelat defleksi
vertikal. Penguat vertikal
mempunyai penguatan yang tinggi
sehingga keluaran berupa sinyal
yang kuat ini harus dilewatkan
attenuator. Penguat horisontal
dihubungkan ke suatu sinyal time
base internal dan dikontrol oleh
pengontrol penguatan horisontal
dan mengontrol dua frekuensi
sapuan : pemilih sapuan dan
sapuan vernier.
Generator time base
menghasilkan bentuk gelombang
gigi gergaji yang berguna untuk
mendefleksikan berkas dalam
arah horisontal. Tegangan antara
pelat defleksi horisontal CRT
disusun supaya titik berkas
elektron pada posisi sisi kiri dari
layar pada saat tegangan gigi
gergaji nol. Berkas elektron akan
ditarik ke kanan sebanding
dengan tegangan ramp yang
diberikan. Jika pengaturan
memberikan tegangan ramp
mencapai maksimum berkas akan
berada diujung sebelah kanan
layar. Untuk satu ramp lengkap
tegangan gigi gergaji, bentuk
gelombang gigi gerjaji akan jatuh
secara cepat kembali ke nol,
berkas akan kembali diujung kiri
layar; pada kasus ini titik pada
layar mencapai posisi ujung dan
secara cepat dikembalikan ke
posisi awal, Akibat aksi ini garis


retrace (flyback) digambarkan
pada layar. Masalah ini
diselesaikan dengan pemberian
pulsa blanking pada saat retrace
memadamkan berkas selama
waktu flyback. Ini akan
mengurangi garis retrace pada
layar.
Gambar 7-18. Blok diagram CRO free running
Osiloskop free running merupakan
instrumen harga murah, time base
generator harus disinkronisasikan
dengan sinyal pada penguat
vertikal agar peragaan pada layar
CRT stabil. Dengan kata lain
bentuk gelombang bergerak
melintasi layar dan tetap tak stabil.
Sinkronisasi diperlukan untuk
menyamakan waktu lintasan
sapuan sinyal time base dengan
jumlah perioda gelombang
vertikal. Jadi bentuk gelombang
vertikal dapat terkunci pada layar
CRT jika frekuensi sinyal masukan
vertikal merupakan kelipatan dari
frekuensi sapuan (fv = n fs).
7.3.2.2. Osiloskop Sapuan Terpicu (Triggered – Sweep
Osciloscope)
Osiloskop free running harga
murah mempunyai keterbatasan
pemakaian. Misalnya rise time
pulsa tidak dapat diukur dengan
free running osiloskop, namun
dapat diukur dengan
menggunakan triggered-sweep
osciloscpe. Triggered-sweep
osciloskop dipandang lebih
serbaguna dan merupakan
standar industry. Dalam triggered-
sweep mode pembangkit gigi
gergaji tidak membangkitkan
tegangan ramp kecuali dikerjakan
dengan trigger pulsa. Triggered
sweep memungkinkan peragaan
sinyal vertikal pada CRT dalam
durasi yang sangat pendek, pada
Posisi vertikal
Posisi horisontal
Attenuator
Tegangan Tingi
dan Power
Supply
Sinkronisas Time


bidang layar yang cukup besar,
sederhana karena sapuan dimulai
dengan pulsa trigger yang diambil
dari bentuk gelmbang yang
diamati.
Secara blok diagram dari dasar
triggered-sweep oscilloscope
digambarkan di bawah ini, meliputi
sumber tegangan, CRT, jalur
tunda, sistem penguat vertikal,
trigger pick-off amplifier, rangkaian
trigger, generator sapuan, penguat
horisontal dan rangkaian sumbu Z.
Pada saat sinyal diberikan pada
masukan vertikal, segera
diteruskan ke preamplifier (A)
diubah dalam sinyal push-pull.
Sinyal diteruskan ke vertikal output
amplifier (C) melalui rangkaian
penunda (B). Sinyal dari vertikal
output amplifier digunakan untk
mengendalikan berkas elektron
CRT secara vertikal,
menyebabkan titik pada layar
bergerak secara vertikal. Sebuah
sample sinyal vertikal diambil dari
vertikal preamplifier sebelum
delay line diberikan ke penguat
trigger pick-off (D) diteruskan ke
rangkaian trigger (E). Sinyal ini
akan digunakan dengan sistem
time base (E.F.G). Sinyal trigger
digunakan untuk memaksa waktu
yang berhubungan antara sinyal
vertikal dan time base. Sinyal
trigger pick-off dibentuk menjadi
sinyal trigger oleh rangkaian
trigger (E). Trigger ini memicu
sweep generator menghasilkan
sinyal ramp (F), kemudian
diperkuat dan diubah ke dalam
bentuk sinal push pull oleh
penguat horisontal (G).
dihubungkan dengan pelat defleksi
horisontal CRT dan menyebabkan
penjejakan secara horisontal pada
layar mengikuti kenaikan tegangan
ramp. Keluaran sweep generator
(F) menggerakkan berkas selama
waktu naik dan kembali keposisi
awal selama off.
Attenuator dan sistem penguat
vertikal memungkinkan
diperagakan pada layar
pengukuran tegangan dari range
beberapa mV sampai beberapa
ratus volt Volt/div, pemilihan
control factor pembelok vertikal
dan pengkalibrasi sinyal. Time
/div dan control vernier memilih
kecepatan sapuan dan masukan
eksternal harisontal. Kontrol
Slope menentukan apakah
sapuan ditrigger pada slope + atau
– dari sinyal trigger. Level control
memilih sautu titik dimana trigger
sapuan diberikan. Kontrol
intensitas dan focus memungkin
peragaan focus dengan tingkat
kecerahan yang tepat.


Gambar 7-19. Blok diagram osiloskop terpicu
Perbedaan peragaan sinyal hasil pengukuran antara osloskop free
running dan triggered-sweep osciloskop seperti di bawah ini.
Gambar 7-20. Peraga osiloskop Gambar 7-21.
free running Peraga osiloskop
terpicu(www.interq or jp/japan/se-inoue/e-oscilo0.htm)
7.3.2.3. CRO Dua Kanal
7.3.2.3.1. CRO Jejak Rangkap (Dual Trace CRO)
Pemakaian osloskop sekarang ini
hampir semuanya memiliki peraga
yang mampu membandingkan
waktu dan amplitudo antara dua
bentuk gelombang. Untuk
mencapai dual trace pada layar
dapat menggunakan satu dari dua
teknik : (1) berkas tunggal
ditujukan dua sinyal kanal dengan
alat elekctronic switching (dual


level
Slope
posisi horisontal +
Attenuator Delay
line
Penguat
vertikal
PS
tegangan
rendah
Trigger
pick off
Tegangan
tinggi
Rangkaian
trigger
Sweep
generator
Penguat
horisontal
posisi vertikal V/div
fokus intensitas
CRT
Time/div


trace). (2). Dua berkas diberikan
ke satu peraga setiap sinyal kanal
(dual beam). Karena konstruksi
CRT dual beam dan split-beam
mahal, biasanya digunakan teknik
dual trace.
Dengan dual trace osiloskop
mempunyai dua rangkaian
masukan vertikal yang diberi tanda
A dan B. Saluran A dan B
mempunyai pra penguat dan
saluran tunda yang identik.
Keluaran pra penguat A dan B
diumpankan ke sebuah saklar
elektronik yang secara bergantian
menghubungkan masukan
penguat vertikal akhir dengan
keluaran pra penguat. Saklar
elektronik juga berisi rangkaian
untuk memilih variasi mmodus
peragaan, Penguat vertikal akhir
menyediakan tegangan pelat
defleksi, berturut-turut
menghubungkan ke dua kanal
input dengan saklar elektronik.
Saklar elektronik dioperasikan
dengan menggunakan salah satu
multivibrator free-running atau
dengan pulsa yang berasal dari
rangkaian time base, berturut-turut
dalam chopped mode atau
alternate mode. Bila saklar
modus berada pada posisi
alternate (bergantian), saklar
elektronik secara bergantian
menghubungkan penguat vertikal
akhir ke saluran A dan saluran B.
Penyaklaran ini terjadi pada
permulaan tiap-tiap penyapuan
yang baru. Kecepatan
pemindahan saklar elektronik
diselaraskan dengan kecepatan
penyapuan, sehingga bintik CRT
mengikuti jejak sinyal saluran A
pada satu penyapuan dan sinyal
saluran B pada penyapuan
berikutnya.
Gambar 7-22. Blok diagram CRO jejak rangkap
Saluran
B
mode X-Y
Trigger Ext
Saluran
A
Attenuator
Penunda Saklar
elektronik
Penguat
vertikal
Attenuator
Penunda
Generator
penyapu
Rangkaian
pemicu
Penguat
horisontal


Karena tiap penguat vertikal
mempunyai rangkaian pelemahan
masukan yang telah terkalibrasi
dan sebuah pengontrol posisi
vertikal, amplitudo sinyal masukan
dapat diatur secara tersendiri
sehingga kedua bayangan
ditempatkan secara terpisah pada
layar. Alternate mode biasanya
digunakan untuk melihat sinyal
frekuensi tinggi, kecepatan sweep
lebih cepat dari pada 0,1 ms/div
sehingga dapat diperoleh
peragaan sinyal yang simultan dan
stabil.
Dalam mode chopped
(tercincang), saklar elektronik
berkerja penuh pada kecepatan
100 sampai 500 kHz, seluruhnya
tidak bergantung pada frekuensi
generator penyapu. Dalam modus
ini penyaklaran secara berturut-
turut menghubungkan segmen-
segmen kecil gelombang A dan B
ke penguat vertikal akhir. Pada
laju pencincangan yang sangat
cepat misal 500 kHz, segmen 1—s
dari setiap bentuk elombang
diumpankan ke CRT untuk
peragaan. Jika laju pencincangan
jauh lebih cepat dari laju
penyapuan horisontal, segmen-
segmen terpisah yang kecil
diumpankan ke penguat vertikal
akhir bersama-sama akan
menyusun kembali bentuk
gelombang A dan B yang asli
pada layar CRT, tanpa
mengakibatkan gangguan yang
nyata pada kedua bayangan. Jika
kecepatan penyaklaran hampir
sama dengan kecepatan
pencincangan segmen-segmen
kecil dari gelombang yang
tercincang akan kelihatan sebagai
bayangan-bayangan terpisah dan
kesinambungan peragaan
bayangan hilang. Dalam hal ini
akan lebih baik menggunakan
modus alternate.
7.3.2.3.2. Osiloskop Berkas
Rangkap (Dual Beam
CRO)
CRO jenis berkas rangkap
menerima dua sinyal masukan
vertikal dan memperagakannya
sebagai dua bayangan terpisah
pada layar CRT. Osiloskop berkas
rangkap menggunakan CRT
khusus yang menghasilkan dua
berkas elektron yang betul-betul
terpisah yang secara bebas dapat
disimpangkan kea rah vertikal.
Dalam beberapa CRT berkas
rangkap keluaran senapan
elektron tunggal dipisahkan secara
mekanis menjadi dua berkas
terpisah yang disebut teknik
pemisahan berkas. Sedangkan
CRT jenis lain berisi dua senapan
elektron terpisah, masing-masing
menghasilkan berkas sendiri. CRT
berkas rangkap mempunyai dua
fasang pelat defleksi vertikal, satu
fasang untuk tiap saluran dan satu
fasang pelat deflesi horisontal.
Secara disederhanakan CRO
berkas rangkap secara blok
diagram digambarkan di bawah
ini. CRO berkas rangkap
mempunyai dua saluran vertikal
yang identik yang ditandai dengan
A dan B. Tiap saluran terdiri dari
pra penguat dan pelemah
masukan, saluran tunda, penguat
vertikal akhir dan pelat-pelat
vertkal CRT. Generator basis
waktu menggerakkan fasangan


tunggal pelat-pelat horisontal
menyapu kedua berkas sepanjang
layar pada laju kecepatanyang
sama. Geneator penyapu dapat
dipicu secara internal dari salah
satu saluran dari suatu sinyal
pemicu yang dihubungkan dari
luar, atau dari tegangan jala-jala.
Gambar 7-23. Diagram blok osiloskop berkas rangkap yang disederhanakan
7.3.2.4. CRO Penyimpanan Analog (Storage Osciloscope)
Keistimewaan ekstra disediakan
pada beberapa scope analog
penyimpan. Keistimewaan ini
memungkinkan pola penjejakan
normal rusak dalam hitungan detik
untuk tetap tinggal pada layar.
Dalam rangkaian listrik kemudian
dapat dengan sengaja jejak pada
layar diaktifkan disimpan dan
dihapus.
Penyimpan disempurnakan
dengan menggunakan prinsip
emisi sekunder. Bila berkas titik
elektron menulis dilewatkan pada
permukaan pospor, momen tidak
hanya menyebabkan pospor
beriluminasi, namun energi kinetik
berkas elektron membentur
elektron lain sehingga bebas
meninggalkan permukaan pospor.
Ini meninggalkan muatan positip.
Osiloskop penyimpan mempunyai
satu atau lebih elektron gun
sekunder yang dinamakan flood
gun memberikan keadaan banjir
elektron bernergi rendah berjalan
menuju layar pospor. Elektron-
elektron dari senapan banjir
sangat lebih kuat menuju area
layar pospor dimana senapan
menulis telah meninggalkan
muatan positip, dengan cara ini
elektron-elektron dari senapan
banjir mengeluminasi kembali
pospor dengan memberikan
muatan positip pada layar. Jika
energi elektron dari senapan banjir
tepat seimbang, setiap elektron
Selektor picu
Attenuator saluran
tunda
Penguat
vertikal
Attenuator
Saluran
tunda
Penguat
vertikal
Rangkaian
pemicu
Generator
penyapu
penguat
horisontal
Saluran A
Saluran B
Picu luar
A
B
Jala-jala


senapan banjir merobohkan satu
elektron sekunder pospor,
sehingga mempertahankan
muatan positip daerah yang
diiluminasi. Dengan cara demikian
gambar asli yang telah ditulis
dengan senapan tulis dapat tetap
tinggal dalam waktu yang lama.
Kelebihan CRO penyimpanan
adalah mampu merekam hasil
pengukuran sinyal, dan tetap
diperagakan meskipun sinyal
masukan telah dihilangkan. Ini
sangat membantu untuk
pengamatan suatu peristiwa yang
terjadi sekali saja akan lenyap dari
layar. CRT penyimpan dapat
menyimpan peragaan jauh lebih
lama, sampai beberapa jam
setelah bayangan terbentuk pada
pospor. Ciri ingatan atau
penyimapanan bermanfaat
sewaktu memperagakan bentuk
gelombang sinyal yang
frekuensinya sangat rendah.
Frekuensi sangat rendah bila
diukur dengan CRO biasanya
bagian awal peragaan akan
menghilang sebelum bagian akhir
terbentuk pada layar. CRT
penyimpan dapat digolongkan
sebagai tabung dengan dua
kondisi stabil dan tabung setengah
nada (half tone). Tabung dua
kondisi stabil akan menyimpan
satu peristiwa atau tidak
menyimpan, hanya menghasilkan
satu level keterangan bayangan.
Tabung dengan dua kondisi stabil
dan setengah nada keduanya
mengunakan fenomena emisi
elektron sekunder guna
membentuk dan menyimpan
muatan elektrostatik pada
permukaan satu sasaran yang
terisolasi. Pembahasan berikut
berlaku untuk kedua jenis tabung
tersebut.
Bila sebuah sasaran ditembak
oleh satu aliran elektron primer,
satu pengalihan energy yang
memisahkan elektron lain dari
permukaan sasaran akan terjadi
dalam satu proses yang disebut
emisi sekunder. Jumlah elektron
sekunder yang dipanaskan dari
permukaan sasaran bergantung
pada kecepatan elektron primer,
intensitas berkas elektron,
susunan kimia dari bahan sasaran
dan kondisi permukaannya.
Karakteristik ini dinyatakan dalam
perbandingan emisi sekunder,
yang didefinisikan sebagai
perbandingan antara arus emisi
sekunder terhadap arus berkas
primer yaitu :
Prinsip kerja tabung penyimpan
dengan kondisi dua stabil yang
elementer digambarkan gambar 7-
24 di bawah ini. Jika tegangan
sasaran tinggi, sasaran ditulis
(direkam), jika tegangan sasaran
rendah sasaran terhapus. Dengan
demikian tabung mempunyai
suatu penunjukan elektris dan
kondisi penyimpanannya tidak
dapat dilihat.
? = Is/Ip


Gambar 7-24 Tabung penyimpan dengan sasaran ganda dan dua
senapan elektron
Gambar 7-25 CRT penyimpan sasaran ganda dan dua senapan elektron
Pada gambar 7-25 menunjukkan
prinsip sebuah tabung penyimpan
dengan dua kondis stabil yang
mampu menuliskan, menyimpan
dan menghapus sebuah
bayangan. Tabung penyimpan ini
berbeda dengan tabung
penyimpan dengan sasaran
Rasio emisi sekunder Tindakan senapan banjir
menulis
Tindakan senapan banjir
hapus
Titik potong
Tegangan sasaran
Kolektor 200 V
Katoda senapan banjir
0 V
Katoda senapan penulis
-2000 Volt
? = 1
? = 0
pulsa untuk menghapus
Pengembalian perlahan
-2000 V
Senapan banjir
Pulsa gerbang
Senapan
penulis
Elektroda
pengumpul
+200 V
Senapan ganda


mengambang, mempunyai dua
aspek perbedaan yaitu : (1)
memiliki permukaan sasaran
ganda dan memiliki senanpan
berkas elektron kedua. Senapan
berkas elektron kedua disebut
senapan banir (flood gun),
fungsinya memancarkan berkas
elektron primer kecepatan rendah
membanjiri seluruh permukaan
sasaran. Ciri yang menonjol dari
senapan banjir adalah membanjiri
sasaran sepanjang waktu dan
tidak hanya sebentar seperti
halnya yang dilakukan senapan
penulis. Titik stabil rendah adalah
beberapa volt negative terhadap
katoda senapan banjir, dan titik
stabil atas adalah + 200V, yaitu
tegangankolektor. Sedangkan
tegangan katoda senapan penulis
-2000V, dan kurva emisi
sekundernya ditindihkan di atas
kurva senapan banjir. Gabungan
efek senapan penulis dan
senapan banir merupakan
penjumlahan efek masng-masing
berkas berkas elektron itu sendiri.
Bila senapan penulis dibuka,
berkas elektron primernya
mencapai sasaran pada potensial
2000V, yang menyebabkan emisi-
emisi ekunder sasaran tinggi.
Dengan demikian tegangan
sasaran meninggalkan titik stabil
rendah dan mulai bertambah.
Akan tetapi senapan berkas
elektron banjir berusaha
mempertahankan sasaran pada
kondisi stabilnya dan melawan
pertambahan tegangan sasaram.
Jika senapan penulis dialihkan ke
posisi bekerja cukup lama guna
membawa sasaran melewati titik
potong, berkas elektron senapan
banjir akan membantu senapan
berkas elektron penulis dan
membawa sasaran sepenuhnya
ke titik stabil atas, sehingga
sasaran dituliskan.
Meskipun jika hubungan ke
senapan penulis diputuskan,
sasaran akan dipertahankan oleh
berkas elektron senapan banjir
dalam kondisi stabil atas, dengan
demikian menyimpan informasi
yang disampaikan oleh senapan
penlis. Bila senapan penulis tidak
cukup lama bekerja membawa
sasaran melewati titik poton,
berkas elektron senapan banjir
akan memindahkan sasaran
kembali ke kondisi stabil bawa
dan tidak terjadi penyimpanan.
Menghapus sasaran berarti hanya
menyimpan tegangan saran
kembali ke tingkat stabil rendah.
Ini dilakukan dengan
mendenyutkan kolektor ke negatip
sehingga secara seketika kolektor
menolak elektron emisi sekunder
dan memantulkan kembali ke
sasaran. Ini memperkecil arus
kolektor Is, dan perbandingan
emisi sekunder turun di bawah
satu. Selanjutnya sasaran
mengumpulkan elektron primer
dari senapan banjir (pada saat ini
senapan penulis idak bekerja) dan
bermuatan negatip. Tegangan
sasaran berkurang samapai
mencapai titik stabil rendah
akibatnya pengemisian terhenti
dan sasaran dalam kondisi
terhapus. Stelah penghapusan
kolektor dikembalikan ke
tegangan positip semula (+200V)
dengan demikian pulsa


penghapus dikembalikan ke nol.
Seperti ditunjukan pada gambar 7-
24 ini terjadi secara perlahan-
lahan, sehingga sasaran tidak
dikemudikan secara idak sengaja
melalui titik potong dan kembali
menjadi tertulis (terekam).
Permukaan sasaran tabung
penyimpan pada gambar 7-24
terdiri dari sejumlah sasaran
logam terpisah yang secara
elektris terpisah satu sama lain
dan diberi angka 1 sampai 5.
Senapan banjir dikonstruksi
sederhana tanpa pelat-pelat
defleksi, dan memancarkan
elektron berkecepatan rendah,
menutup semua sasaran terpisah.
Bila senapan penulis ditembakkan,
sebuah berkas elektron terpusat
berkecepatan tinggi diarahkan
sasaran kecil (dalam hal ini nomor
3). Kemudian sasaran yang satu
ini bermuatan positip dan
dituliskan ke titik stabil atas. Bila
senapan penulis dimatikan lagi,
elektron banjir mempertahankan
sasaran nomor 1 pada titik stabil
atas. Semua sasaran lain
dipertahanan pada titik stabil
bawah.
Langkah terakhir dalam
perkembangan tabung penyimpan
dua kondisi stabil dengan tembus
pandang adalah penggantian
masing-masing sasaran logam
dengan sebuah pelat dielektrik
tunggal. Pelat penyimpan dari
bahan dielektrik terdiri dari lapisan
partikel-partikel fosfor yang
terhambur setiap bagian dari
luasan permukaan mampu ditulis
atau dipertahankan positip atau
dihapus mempertahankan negatip
tanpa mempengaruhi permukaan
pelat di sebelahnya. Pelat
dielektrik ini diendapkan pada
sebuah permukaan pelat gelas
yang dilapisi bahan konduktif.
Lapisan konduktif disebut
punggung pelat sasaran (storage
target back plate), berfungsi
mengumpulkan berkas elektron
emisi sekunder. Di samping
senapan penulis dan
perlengkapan pelat defleksi CRT
penyimpan ini mempunyai dua
senapan banjir dan sejumlah
elektroda pengumpul yang
membentuk sebuah lensa berkas
elektron guna mendistribusikan
berkas elektron banjir secara
merata pada seluruh luasan
permukaan sasaran penyimpan.
Setelah senapan penulis
menuliskan bayangan bermuatan
pada sasaran penyimpan,
senapan banir menyimpan
bayangan. Bagian sasaran yang
dituliskan telah ditembaki oleh
berkas elektron banjir yang
mengalihkan energy ke lapisan
fosfor dalam bentuk cahaya
terlihat.
Pola cahaya ini dapat dilihat
melalui permukaan pelat gelas.
Karena sasaran permukaan
penyimpan dapat positip atau
negatip, maka terangnya keluaran
cahaya yang dihasilkan oleh
berkas elektron banjir biasanya
memiliki kecerahan (brightness)
penuh ataupun minimal. Tidak
terdapat skala kabur diantara
kedua batas.


7.4. Osiloskop Digital
7.4.1. Prinsip Kerja CRO Digital
Pada CRO digital menyediakan
informasi sinyal secara digital
disamping peragaan CRT
sebagaimana CRO analog. Pada
dasarnya CRO digital terdiri dari
CRO laboratorium konvensional
berkecepatan tinggi ditambah
dengan rangkaian pencacah
elektronik yang keduanya berada
dalam satu kotak kemasan.
Rangkaian kedua unit
dihubungkan dengan memakai
sebuah pengontrol peragaan
logic, memungkinkan pengukuran
pada kecepatan dan ketelitian
tinggi. CRO penunjuk angka
pembacaan,. kenaikan waktu (rise
time), amplitudo dan beda waktu,
bergantung pada posisi alat
control seperti TIME/DIV,
AMPLTUDE/DIV dan PROGRAM
dengan hasil relatip lebih akurat.
Pada saat probe osiloskop
digital diberi masukan,
pengaturan amplitudo sinyal
pada sistem vertikal seperti
osiloskop analog. Selanjutnya
sinyal analog diubah ke dalam
bentuk digital dengan
rangkaian analog-to-digital
converter (ADC). Dalam sistem
akuisi sinyal sampel pada titik
waktu diskrit, diubah dalam
harga digital disebut sample
point. Sampel clock sistem
digital menentukan seberapa
sering ADC mengambil sampel.
Kecepatan clock “ticks” disebut
sample rate dan diukur dalam
banyak sampel yang diambil
dalam satuan detik (jumlah
sample/detik).
Hasil dari ADC disimpan dalam
memori sebagai titik-titik bentuk
gelombang. Mungkin lebih dari
satu titik sampel dibuat satu titik
bentuk gelombang. Titik-titik
bentuk gelombang secara
bersama-sama membentuk
rekaman bentuk gelombang.
Jumlah titik bentuk gelombang
yang digunakan untuk membentuk
rekaman disebut record length.
Sistem trigger menentukan kapan
perekaman sinyal dimulai dan
diakhiri. Peragaan menerima
rekaman titik-titik bentuk
gelombang setelah disimpan
dalam memori. Kemampuan
osiloskop tegantung pada
pemroses pengambilan titik. Pada
dasarnya osiloskop digital serupa
dengan osiloskop analog, pada
saat pengukuran memerlukan
pengaturan vertikal, horisontal dan
trigger.


Gambar 7-26. Blok diagram osiloskop digital
7.4.2. Metoda Pengambilan Sampel
Metoda pengambilan sampel
menjelaskan bagaimana osiloskop
digital mengumpulkan titik-titik
sampel. Untuk perubahan sinyal
lambat, osiloskop digital dengan
mudah mengumpulkan lebih dari
cukup titik sampling untuk
mengkonstruksi gambar secara
akurat. Oleh karena itu untuk sinyal
yang lebih cepat (seberapa cepat
tergantung pada kecepatan
sampling osiloskop) osiloskop tidak
dapat mengumpulkan cukup
sampel . Osiloskop digital mampu
melakukan dua hal yaitu :
- mengumpulkan beberapa titik
sampel dari sinyal dalam jalan
tunggal ( real-time sampling
mode ) dan kemudian
menggunakan interpolasi.
Interpolasi merupakan teknik
pemrosesan untuk
mengestimasi apakah bentuk
gelombang pada beberapa titik
nampak sama seperti aslinya.
- membangun gambar bentuk
gelombang sepanjang waktu
pengulangan sinyal (
equivalent-time sampling
mode).
7.4.3. Pengambilan Sampel Real-Time dengan Interpolasi
Osiloskop digital menggunakan
pengambilan sampel real-time
seperti metoda sampling standar.
Dalam pengambilan sampel real-
time, osiloskop mengumpulkan
sampel sebanyak yang dapat
menggambarkan sinyal
sebenarnya. Untuk pengukuran
sinyal tansien harus menggunakan real time sampling.
Peraga
Sistem Akusisi
Pengubah
analog ke
digital
Memori
Pemroses
Sistem
triger
Sistem
peraga
digital

Sistem
Horisontal
Sample
Clock
Sistim Vertikal
Attenuat
Penguat
Vertikal


Gambar 7-27. Pengambilan sampel real -time
Osiloskop digital menggunakan
interpolasi dalam memperagakan
sinyal secepat yang osiloskop
dapat hanya dengan
mengumpulkan beberapa titik
sampel. Inperpolasi adalah
menghubungkan titik. Interpolasi
linier sederhana menghubungkan
titik sampel dengan garis lurus.
Interpolasi sinus menghubungkan
titik sampel dengan titik kurva
(gambar 7-28) . Dengan
interpolasi sinus , titik-titik dihitung
untuk mengisi waktu antar sampel
riil. Proses ini meskipun
menggunakan sinyal yang
disampel hanya beberapa kali
dalam satu siklus dapat
diperagakan secara akurat.
Gambar 7-28. Interpolasi sinus dan linier


gelombang sinus
yang direprduksi
dengan
interpolasi sinus
gelombang sinus
yang direproduksi
dengan
menggunakan
linier interpol asi
kecepatan pengambilan sampel
bentuk gelombang yang dikonstruksi dengan titik sampel


7.4.4. Ekuivalensi Waktu Pengambilan Sampel
Beberapa osloskop digital dapat
menggunakan ekuivalen waktu
pengambilan sampel untuk
menangkap pengulangan sinyal
yang sangat cepat. Ekuivalensi
waktu pengambilan sampel
mengkonstruksi gambar
pengulangan sinyal dengan
menangkap sedikit bit informasi
dari setiap sinyal (gambar 7-30) .
Bentuk gelombang secara perlahan
dibangun seperti untai cahaya yang
berjalan satu persatu. Dengan
mengurutkan sampel titik-titk
muncul dari kiri ke kanan secara
berurutan, sedangkan pada
random sampling titik-titik muncul
secara acak sepanjang bentuk
gelombang
Gambar 7-29. Akusisi pembentukan gelombang
7.4.5. Osiloskop Penyimpan Digital
Osiloskop penyimpan digital atau
disingkat DSO (Digital Storage
Osciloscpe), sekarang ini merupakan
jenis yang lebih disukai untuk aplikasi
kebanyakan industri meskipun CRO
analog sederhana masih banyak
digunakan oleh para hobist. Osiloskop
penyimpan digital menggantikan
penyimpan analog yang tidak stabil
dengan memori digital, yang dapat
menyimpan data selama yang
dikehendaki tanpa mengalami
degradasi. Ini memungkinkan untuk
pemrosesan sinyal yang kompleks
dengan rangkaian pemroses digital
kecepatan tinggi.




Gambar 7-30. Osiloskop
penyimpan digital


Gelombang
dibentuk dengan
titik sampel
akuisisi siklus
pertama
akusisi siklus kedua
akusisi siklus
ketiga

akuisis siklus ke n


Masukan vertikal, sebagai
pengganti pengendali penguat
vertikal adalah digitalisasi dengan
rangkaian pengubah analog
menjadi digital (analog digital
converter) hasilnya sebagai data
yang disimpan dalam memori
mikroprosesor. Data selanjutnya
diproses dan dikirim untuk
diperagakan, awalnya osiloskop
penyimpan digital menggunakan
peraga tabung sinar katoda, namun
sekarang lebih disukai dengan
menggunakan LCD layar datar.
Osiloskop penyimpan digital
dengan peraga LCD warna sudah
umum digunakan. Data dapat
diatur dikirim melalui pemrosesan
LAN atau WAN atau untuk
pengarsipan. Layar gambar dapat
langsung direkam pada kertas
dengan alat berupa printer atau
plotter , tanpa memerlukan kamera
osiloskop. Osiloskop memiliki
perangkat lunak penganalisa sinyal
sangat bermanfaat untuk
penerapan ranah waktu misal
mengukur rise time, lebar pulsa,
amplitudo, spektrum frekuensi,
histogram, statistik, pemetaan
persistensi dan sejumlah parameter
yang berguna untuk seorang
engineer dalam bidang
spesialisasinya seperti
telekomunikasi. analisa disk drive
dan elektronika daya.
Osiloskop digital secara prinsip
dibatasi oleh performansi
rangkaian masukan analog dan
frekuensi pengambilan sampel.
Pada umumnya kecepatan
frekuensi pengambilan sampel
sekurang-kurangnya dua kali
komponen frekuensi tertinggi dari
sinyal yang diamati. Osiloskop
dapat memvariasi timebase dengan
waktu yang teliti. Misal untk
membuat gambar sinyal yang
diamati secara berulang.
Memerlukan salah satu clock atau
memberikan pola yang berulang.
Bila diperbandngkan antara
osiloskop penyimpan analog
dengan osiloskop penyimpan
digital, osiloskop penyimpan digital
memiliki beberapa kelebihan antara
lain.
- Peraga lebih jelas dan besar
dengan warna pembeda untuk
multi penjejakan.
- Ekuivalen pengambilan sampel
dan pengamatan menunjukkan
resolusi lebih tinggi di bawah
—V.
- Deteksi puncak.
- Pre-trigger
- Mudah dan mampu menyimpan
beberapa penjejakan
memungkinkan pada awal kerja
tanpa trigger.
- Ini membutuhkan reaksi
peraga cepat (beberapa
osiloskop memiliki
penundaan 1 detik).
- Knob harus besar dan
perpindahan secara halus.
- Juga dapat digunakan untuk
penjejakan lambat seperti variasi
temperatur sepanjang hari,
dapat direkam.
- Memori osiloskop dapat disusun
tidak hanya sebagai satu
dimensi namun juga sebagai
susunan dua dimensi untuk
mensimulasikan pospor pada
layar. Dengan teknik digital
memungkinkan analisis
kuantitatip .


- Memungkinkan untuk
pengamatan otomasi.
Kelemahan osiloskop
penyimpan digital adalah
kecepatan penyegaran layar
terbatas. Pada osiloskop analog,
pemakai dapat mengindra
berdasarkan intuisi kecepatan
trigger dengan melihat pada
keadaan penjejakan CRT. Untuk
osiloskop digital layar terkunci
secara pasti sama untuk
kecepatan sinyal kebanyakan
yang mana kecepatan
penyegaran layar dilampaui.
Satu hal lagi, seringkali titik
terlalu terang glitches atau
penomena lain yang jarang
didapat pada layar hitam putih
dari osiloskop digital standar,
persistansi dari pospor CRTpada
osiloskop analog rendah
membuat glitch dapat dilihat jika
diberikan beberapa trigger
berurutan. Keduanya sulit
diselesaikan sekarang ini
dengan pospor osiloskop digital,
data disimpan pada kecepatan
penyegaran tinggi dan
dipergakan dengan intensitas
yang bervariasi untuk
mensimulasikan persistensi
penjejakan dari CRT osiloskop.
7.5. Spesifikasi Osiloskop
Untuk melihat seberapa bagus
kualitas osiloskop dapat dilihat dari
nilai spesifikasi instrument yang
bersangkutan. Dalam
pembahasan ini diambil spesifikasi
dari Osciloscope Hewlett Packard
(HP) type 1740 A. Dipilih
Osiloskop HP 1740 karena jenis
dua kanal yang dapat mewakili
osiloskop analog.
7.5.1. Spesifikasi Umum
Jenis osiloskop dua kanal sistem
defleksi vertikal memiliki 12 faktor
defleksi terkalibrasi dari 5 mV/div
sampai 20V/div. Impedansi
masukan dapat dipilih 50? atau 1
M? untuk memenuhi variasi
pengukuran yang diperlukan.
Sistem defleksi horisontal memiliki
kecepatan sapuan terkalibrasi dari
2s/div sampai 0,05 —s/div,
kecepatan penundaan sapuan dari
20 ms/div sampai 0,05—s/div.
Pengali 10 untuk memperluas
semua sapuan dengan faktor 10
dan sapuan tercepat 5 ns/div.
Dalam mode alternate ataupun
Chop control trigger-view
dimungkinkan memperagakan tiga
sinyal yaitu kanal A, kanal B dan
sinyal trigger.
7.5.2. Mode Peraga Vertikal
Kanal A dan kanal B diperagakan
bergantian dengan sapuan
berurutan (ALT). Kanal A dan
kanal B diperagakan dengan
pensaklaran antar kanal pada
kecepatan 250 kHz, selama
pensaklaran (Chop) berkas
dipadamkan, kanal A ditambahkan
kanal B (penambahan aljabar) dan
trigger view.


7.5.3. Perhatian Keamanan
Untuk pencagahan kerusakan
diperhatikan selama
pengoperasian, perawatan dan
perbaikan peralatan. Untuk
meminimumkan kejutan casis
instrument atau cabinet harus
dihubungkan ke ground secara
listrik. Instrumen menggunakan
kabel AC tiga konduktor hijau
untuk dihubungkan dengan ground
listrik.
7.6. Pengukuran Dengan Osiloskop
7.6.1. Pengenalan Panel Depan dan Fungsi
1. Pengenalan Fungsi Panel
Depan dijelaskan searah
jarum jam dimulai dari saklar
daya.
2. Saklar on / off untuk
mengaktifkan CRO putar
tombol searah jam.
3. CRO aktif ditandai dengan
lampu menyala.
4. Time/ div untuk mengatur
lebar sinyal agar mudah
dibaca.
5. Tombol time kalibrasi
digunakan saat
mengkalibrasi waktu, bila
kalibrasi telah dilakukan
posisi ini tidak boleh diubah-
ubah.
6. Terminal kalibrasi tempat
dihubungkan probe pada
saat kalibrasi.
Posisi X digunakan untuk
menggeser tampilan sinyal
dalam peraga kea rah
horizontal.
7. Triger digunakan untuk
mengatur besarnya picu
sedangkan picu negatip atau
positip diatur dengan tombol
kecil dibawahnya kanan
positip kiri negatip.
8. Input ext, adalah tempat
memasukkan sinyal dari luar
yang dapat difungsikan
sebagai time base.
9. Ground tempat
disambungkan dengan
ground rangkaian yang
diukur.
10. Fokus untuk mengatur focus
tampilan sinyal pada layar.
11. Posisi Y digunakan untuk
mengatur posisi tampilan
sinyal yang diukur pada
kanal 2 arah vertikal.
12. Input kanal 2 merupakan
terminal masukan untuk
pengukuran sinyal.
Lebar band : batas atas mendekati 20 MHz.
Kopel DC : dc sampai 100 MHz untuk kedua mode Ri 50? dan 1M?.
Kopel AC : mendekati 10Hz sampai 100 MHz dengan probe pembagi 10:1
Rise time : = 3ns diukur dari 10% sampai 90% .
Faktor defleksi :
Range : 5mV/div sampai 20V/div (12 posisi terkalibrasi).
Vernier : bervariasi


Gambar 7-31. Fungsi tombol panel depan CRO
13. Kalibrasi tegangangan perlu
diatur pada saat kalibrasi agar
tepat pada harga seharusnya.
Bila tegangan ini telah tercapai
tombol tidak boleh diubah-ubah,
karena dapat mempengaruhi
ketelitian pengukuran.
14. Mode operasi atau pemilih
kanal, digunakan untuk memilih
mode operasi hanya
menampilkan kanal 1, kanal 2
atau keduanya.
15. Volt/div digunakan untuk
mengatur besarnya tampilan
amplitudo untuk mempermudah
pembacaan dan ketelitian hasil
pengukuran. Pengaturan yang
baik adalah pengaturan yang
menghasilkan tampilan
amplitudo terbesar tanpa
terpotong.
16. Pemilih AC, DC , ground diatur
sesuai dengan besaran yang
diukur, untuk pengukuran
tegangan batere digunakan DC,
pengukuran frekuensi pada
posisi AC dan menepatkan
posisi berkas pada posisi
ground.
17. Terminal masukan kanal 1
sama fungsinya dengan
terminal masukan kanal 2,
Posisi
vertikal
Ch 1
Input
Ch 1
Time/
div
kalibrasi
Lampu
indikator
Saklar
on/off
Tombol
kalibrasi
Posisi X
Intensita
s
Triger
Fokus
Posisi
vertikal
ch 2
Input Ch 2
gratikul
Berkas
elektron
kalibrasi
teg
mode
operasi
Volt/div
Ground
pemilih AC,
ground, DC
Inp
Ext


tempat dihubungkannya sinyal
yang akan diukur.
18. Posisi Y kanal 1 untuk
mengatur tampilan sinyal pada
layar kea rah vertikal dari
masukan kanal 1.
19. Berkas elektron menunjukkan
bentuk sinyal yang diukur, bila
garis terlalu tebal dapat di
tipiskan dengan mengatur
focus, dan bila terlalu terang
dapat diatur intensitasnya.
20. Gratikul adalah skala
pembacaan sinyal. Sinyal
dibaca perkolom gratikual
dikalikan posisi divisi. Misal
mengukur tegangan amplitudo
tingginya 3 skala gratikul akan
terbaca 6 volt jika posisi Volt/div
pada 2V.
7.6.2. PengukuranTegangan DC
7.6.2.1. Alat dan bahan yang diperlukan
1. CRO 1 buah
2. Probe CRO 1 buah
3. Batere 6 Volt 1 buah
4. Kabel secukupnya
7.6.2.2. Kalibrasi CRO
Sebelum pengukuran tegangan
DC, dilakukan kalibrasi dengan
langkah-langkah sebagai berikut.
1. Sebelum pengukuran dilakukan,
terlebih dahulu osiloskop
dikalibrasi dengan cara berikut.
Menghubungkan probe
osiloskop pada terminal kalibrasi
dan ground. Model osiloskop
yang berbeda ditunjukkan pada
gambar 7-32.
2. Kemudian time/div dan Volt/div
di atur untuk memperoleh besar
tegangan dan frekuensi
kalibrasi. Osiloskop yang
digunakan mempunyai nilai
kalibrasi 1 Volt dengan
frekuensi 1 kHz. Mengatur
Volt/div pada 1 Volt/div, time
div diatur pada 1 ms dihasilkan
peragaan seperti gambar
berikut. Bila penunjukkan tidak
satu skala gratikul penuh atur
tombol kalibrasi pada Volt/div
hingga penunjukkan satu skala
penuh. Demikian juga untuk
waktu bila lebar tidak satu skala
gratikul penuh atur tombol
kalibrasi time/div agar tepat
satu skala gratikul penuh.
Setelah itu tombol kalibrasi
jangan diubah-ubah.


Gambar 7-32.. Pengawatan kalibrasi
Gambar 7-33. Bentuk gelombang kalibrasi
3. Saklar pemilih posisi AC, DC
ground diposisikan pada gound,
berkas diamati dan ditepatkan
berimpit dengan sumbu X.
Input
kalibrasi
ground
T ime
kalibrasi
Kanal 1
V kalibrasi


Gambar 7-34. Berkas elektron senter tengah
4. Probe dihubungkan dengan
kutub batere positip ground
kutub betere negatip, saklar
pemilih posisi dipindahkan ke
DC sehingga berkas akan
berpindah pada posisi keatas.
Besarnya lompatan dihitung
denan satuan kolom sehingga
harga penunjukan adalah =
jumlah kolom loncatan X posisi
Volt/div. Bila Volt/div posisi 1
maka harga penunjukan
adalah = 6 kolom div x
1Volt/div = 6 Volt DC.
Gambar 7-35. Loncatan pengukuran tegangan DC
7.6.3. Pengukuran Tegangan AC
7.6.3.1. Peralatan yang diperlukan
1. CRO 1 buah 3. Audio Frekuensi Genarator 1 buah
2. Probe 1 buah 4. Kable penghubung secukupnya.
7.6.3.2. Prosedur Pengukuran
1. Pemilih diposisikan pada AC,
bila hanya digunakan satu
kanal tetapkan ada kanal 1 atau
kanal 2.
2. Sumber tegangan AC dapat
digunakan sinyal generator ,
dihubungkan dengan masukan
CRO pengawatan ditunjukkan
gambar 7-36.


Gambar 7-36. Pengawatan pengukuran dengan function generator
3. Frekuensi sinyal generator di
atur pada frekuensi 1 kHz
dengan mengatur piringan pada
angka sepuluh dan menekan
tombol pengali 100 ditunjukkan
pada gambar di bawah.

Gambar 7-37. Pengaturan function generator panel depan
Gambar 7-38. Pengaturan frekuensi sinyal
ditekan
On, putar ke
kanan


4. Tombol power (tombol merah) di
tekan untuk mengaktifkan sinyal
generator.
Diamati bentuk gelombang pada
layar dan baca harga
amplitudonya.
Gambar 7-39. Bentuk gelombang V/div kurang besar
Amplitudo terlalu besar tidak terbaca penuh, volt/div dinaikkan pada
harga yang lebih besar atau putar tombol berlawanan arah jarum jam.
Gambar 7-40. Bentuk gelombang intensitas terlalu besar
Gambar terlalu terang, intensitas
diatur sehingga diperoleh gambar
yan mudah dibaca, dan intensitas
baik seperti gambar berikut.


Gambar 7-41. Bentuk gelombang sinus
3. Cara lain dengan menempatkan
time/div pada XY diperoleh
peragaan sinyal garis lurus
sehingga pembacaan kolom
lebin teliti. Saklar time/div diatur
putar ke kanan searah jarum
jam. Untuk peragaan seperti ini
intensitas jangan terlalu terang
dan jangan berlama-lama.
7.6.4. Pengukuran Frekuensi
7.6.4.1. Peralatan yang dibutuhkan
1. CRO 1 buah
2. Audio Function Generator 2 buah
3. Probe 2 buah
4. Kabel penghubung secukupnya
6 kolom
div bila
posisi
Volt/div 1
maka
V=6Vp-p
Gambar 7-42. Bentuk
gelombang mode XY



7.6.4.2. Pengukuran Frekuensi Langsung
Pengukuran frekuensi langsung dengan langkah-langkah seperti berikut :
1. Melakukan kalibrasi CRO
dengan prosedur seperti dalam
pengukuran tegangan DC
diatas.
2. Probe dihubungkan dengan
keluaran sinyal generator.
3. Frekuensi di atur pada harga
yang diinginkan berdasarkan
keperluan, sebagai acuan baca
penunjukan pada skala sinyal
generator.
4. Atur Volt divisi untuk
mendapatkan simpangan
amplitudo maksimum tidak cacat
(terpotong).
5. Time/div diatur untuk
mendapatkan lebar sinyal
maksimum tidak cacat
(terpotong).
6. Lebar sinyal diukur dari sinyal
mulai naik sampai kembali naik
untuk siklus berikutnya.
T= perioda
Gambar 7-43. Pengukuran frekuensi langsung
T perioda =
8 X time/div
F = 1/T


Gambar 7-44. Pengawatan pengukuran frekuensi langsung
7.6.4.3. Pengukuran Frekuensi Model Lissayous
Pada pengukuran jenis ini
diperlukan osiloskop dua kanal
dan sinyal yang telah diketahui
frekuensinya, pengukuran
dilakukan dengan langkah-langkah
berikut ini.
1. Sinyal yang telah diketahui
dihubungkan pada kanal yang
kita tandai sebagai acuan
misalnya pada X.
2. Sinyal yang akan diukur
dihubungkan pada kanal yang
lain.
3. Amplitudo diatur untuk
mendapatkan amplitudo yang
sama besarnya bila
penyamaan tidak dapat
dicapai dengan pengaturan
Volt/div, tombol kalibrasi diatur
untuk mencapai kesamaan
amplitudo. Kesamaan ini
penting supaya diperoleh
bentuk lissayous sempurna.
4. Misalnya sebelum di
lissayouskan kedua sinyal
mempunyai amplitudo sama
frekuensi berbeda seperti
gambar di atas. Time/div diatur
dipindahkan pada posisi
lissayous. Jika sinyal warna
hijau adalah masukan X dan
merah Y pada layar akan
menunjukkan perbandingan
seperti gambar berikut.


Sinyal X
Gambar 7-45. Pengukuran frekuensi model Lissayous
7.6.5. Pengukuran Fasa
7.6.5.1. Alat dan bahan yang diperlukan
1. CRO 1 buah
2. Rangkaian penggeser phasa 1 buah
3. Probe 2 buah
4. Kabel penghubung secukupnya
7.6.5.2. Prosedur Pengukuran Beda Phasa
Pengukuran fasa dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara
langsung dan model lissayous.
1. Pengukuran secara langsung, kedua sinyal dihubungkan pada
masukan kanal 1 dan kanal 2.
t T = perioda
Gambar 7-46. Pengukuran beda fasa langsung

Sinyal Y
Fx : Fy = 1 : 2
Fx = (Fy/2)



Beda fasa
= (t/T) X 360°


2. Pengukuran beda fasa dengan
mode lissayous kedua sinyal
dihubungkan pada kedua
terminal masukan CRO.
Kemudian time divisi diatur
pada posisi XY. Penampilan
peraga berdasarkan
perbandingan dan perbedaan
fasa ditunjukkan pada table
berikut.
Gambar 7-47. Perbandingan frekuensi 1: 3 beda fasa 90°
Perbandingan
XY
1:1
0
o
45
o
90
o
135
o
220
o
360
o
1:2
0
o 22 30’ 45
o
90
o
135
o
180
o
1:3
0
o
15
o
30
o
60
o
90
o
120
o
1:4
0
o
11 15’ 22 30’
45
o 67 30’ 90
o
Gambar 7-48. Beda fasa dan beda frekuensi model lissayous


7.7.1. MSO Sumbu XYZ Aplikasi Pada Pengujian Otomotif
7.7.2. Mixed Signal Oscilloscope
Sebuah osiloskop sinyal dicampur
(mixed signal oscilloscope /
MSO) memiliki dua jenis masukan,
jumlah kecil ( pada umumnya dua
atau empat) kanal analog.
Pengukuran diperoleh dengan
basis pewaktuan tungal, dapat
dilhat pada peraga tunggal dan
banyak kombinasi sinyal yang
dapat digunakan untuk memicu
osiloskop.
Gambar 7-49. Mixed storage oscilocope (MSO)
MSO mengkombinasi semua
kemampuan pengukuran model
Digital Storage osciloscope (DSO)
dengan beberapa kemampuan
pengukuran penganalisa logika
(logic Analyzer). Pada umumnya
MSO menindak lanjuti
kekurangan kemampuan
pengukuran digital dan
mempunyai sejumlah besar kanal
akuisisi digital dari penganalisa
logika penuh namun
penggunaannya tidak sekomplek
penganalisa logika. Pengukuran
sinyal campuran pada umumnya
meliputi karakterisasi dan
pencarian gangguan, sistem
menggunakan rangkain campuran
analog, digital dan sistem meliputi
pengubah analog ke digital (ADC),
pengubah digial ke analog (DAC)
dan sistem pengendali. Arsitektur
MSO merupakan perpaduan
antara DSO (Digital Storage
Osciloscope) atau lebih tepatnya
DPO (Digital Phospor
Osciloscope) dengan panganalisa
logika (Logic Analyzer).
7.7.3. Osiloskop Digital Pospor (Digital Phospor Osciloscope /
DPO)
Osiloskop digital pospor (DPO)
menawarkan pendekatan
osiloskop arsitektur baru,
Arsitektu ini memungkinkan DPO
mengantarkan akuisisi unik dan
kemampuan rekonstruksi sinyal
secara akurat.
Sementara DPO menggunakan
arsitektur pemrosesan serial untuk
pengambilan, peragaan dan


analisa sinyal, DPO menggunakan
arsitektur pemrosesan parallel
mempunyai dedikasi unik
perangkat keras ASIC untuk
memperoleh gambar bentuk
gelombang, mengantarkan
kecepatan pengambilan bentuk
gelombang tinggi yang
menghasilkan visualisasi sinyal
pada tingkat yang lebih tinggi.
Performansi ini menambah
kemungkinan dari kesaksian
kejadian transien yang terdapat
pada sistem digital, seperti pulsa
kerdil, glitch dan kesalahan
transisi. Deskripsi dari arsitektur
pemrosesan parallel dijelaskan
berikut ini.
7.7.4. Arsitektur Pemrosesan Paralel
Tingkat input pertama DPO serupa
dengan osiloskop analog sebuah
penguat vertikal dan tingkat kedua
serupa DSO sebuah ADC. Namun
DPO secara signifikan berbeda
dari konversi analog ke digital
yang dahulu. Kebanyakan
osiloskop analog DSO atau DPO
selalu ada terdapat sebuah holdoff
selama waktu proses
pengambilan data, pemasangan
sistem lagi dan menunggu untuk
kejadian pemicuan berikutnya.
Selama waktu ini, osiloskop tidak
melihat semua aktivitas sinyal.
Kemungkinan melihat perubahan
atau pengulangan kejadian lambat
mengurangi penambahan waktu
holdoff.
Gambar 7-50. Arsitektur pemrosesan paralel dari osiloskop digital pospor
Dapat dinotasikan bahwa
kemungkinan untuk menentukan
besarnya kemungkinan dari
pengambilan dengan melhat pada
kecepatan update peraga. Jika
semata-mata mempercayakan
pada kecepatan update, ini mudah
untuk membuat kesalahan dari
kepercayaan pengambilan
osiloskop pada semua informasi
tentang bentuk gelombang pada
saat nyata atau tidak. Osiloskop
penyimpan digital memproses
bentuk gelombang yang diambil
secara serial. Kecepatan
mikroprosesor merupakan
penentu dalam proses ini karena
ini membatasi kecepatan
Amp
Digital
fosfor
mikroprosesor

Peraga


ADC


pengambilan bentuk gelombang.
Rasterisasi DPO bentuk
gelombang didigitkan diteruskan
ke data base pospor digital. Setiap
1/30 detik atau sekitar kecepatan
mata menerima sebuah snapshot
dari gambar sinyal yang disimpan
dalam data base, kemudian
disalurkan secara langsung ke
sistem peraga. Rasterisasi data
bentuk gelombang dan secara
langsung disalin ke memori
peraga, dari data base
dipindahkan ke pemrosesan data
tidak dapat dipisahkan dalam
arsitektur yang lain. Detail sinyal,
terjadi timbul tenggelam dan
karakteristik dinamis dari sinyal
yang diambil dalam waktu riil.
DPOs mikroprosesor bekerja
secara parallel dengan sistem
akuisisi terpadu untuk
memperagakan managemen,
pengukuran otomasi dan
pengendali instrument sehingga
tidak mempengaruhi kecepatan
akuisisi osiloskop.
Gambar 7-51. Peragaan sinyal DPO
Bila data base pospor digital
diumpankan ke peraga osiloskop,
mengungkapkan bentuk
gelombang pada peraga
diintensifkan, sebanding dengan
proporsi frekeunsi sinyal pada
setipa titik kejadian, sangat
menyerupai penilaian karakteristik
intensitas dari osiloskop analog.
DPO juga memungkinkan
memperagakan informasi variasi
frekeunsi kejadian pada peraga
seperti kekontrasan warna, tidak
seperti pada psiloskop analog.
Dengan DPO mudah untuk
melihat perbedaan antara bentuk
gelombang yang terjadi pada
hampir setiap picu.
Osiloskop digital pospor (DPO)
merupakan teknik antara teknologi
osiloskop analog dan digital.
Terdapat persamaan pengamatan
pada frekuensi tinggi dan rendah,
pengulangan bentuk gelombang,
transien dan variasi sinyal dalam
waktu riil. DPO hanya memberikan
sumbu intensitas (Z) dalam waktu
rill yang tidak ada pada DSO
konvensional.


DPO ideal yang memerlukan
perancangan terbaik dan piranti
pelacak gannguan untuk cakupan
aplikasi yang luas (contoh gambar
19). DPO yang pantas dicontoh
untuk pengujian topeng
komunikasi, digital debyg dari
sinyal intermittent, perancangan
pengulangan digital dan aplikasi
pewaktuan.
Kemampuan pengukuran
osiloskop ditingkatkan sehingga
memungkinkan bagi anda untuk :
- Membuat, mengedit dan
berbagi dokumen dilakukan
osiloskop, sementara
osiloskop tetap bekerja
dengan intrumen dalam
lingkungan tertentu.
- Akses jaringan mencetak dan
berbagi file sumber daya
- Mengakses window komputer
- Melakukan analisis dan
dekomentasi perangkat lunak
- Menghubungkan ke jaringan
- Mengakses internet
- Mengirim dan menerima e-mail
Gambar 7-52. Paket pilihan software
Peningkatan Kemampuan Sebuah
osiloskp dapat ditingkatkan
sehingga mampu mengakomodasi
kebutuhan perubahan. Beberapa
osiloskop memungkinkan pemakai
untuk :
Gambar 7-53 aplikasi modul
Gambar 7-54. Modul video Gambar 7-55 Pengembangan analisis


1. Menambah memori kanal untuk
menganalisa panjang rekaman
yang leih panjang
2. Menambah kemampuan
pengukuran untuk aplikasi
khusus
3. Menambah daya osiloskop
untuk memenuhi cakupan
probe dan modul
4. Bekerja dengan penganalisa
pihak ketiga dan produktivitas
perangkat lunak kompatibel
window.
5. Menabah asesoris seperti
tempat baterai dan rak.
6. Aplikasi modul dan perangkat
lunak memungkinkan untuk
menstransformasi osiloskop ke
dalam perangkat analisa
tertentu dengan kemampuan
tinggi untuk melakukan fungsi
seperti analisa jitter dan
pewaktuan, sistem verifikasi
memori mikroprosesor,
pengujian komunikasi standar,
pengukuran pengendali
piringan, pengukran video,
pengukuran daya dan
sebagainya .
Gambar 7-56. Tombol pengendali posisi tradisional
7.7.5. Mudah Penggunaan
Osiloskop mudah dipelajari dan
mudah untuk membantu bekerja
pada frekuensi dan produktivitas
puncak. Sama halnya tidak ada
satupun pengendali mobil khas,
tidak ada satupun pemakai
Gambar 7-57 peraga sensitip tekanan
Gambar 7-58 Menggunakan pengendali grafik
Gambar 7-59. Osiloskop portable


osilsokop yang khas. Kedua
pemakai instrument tradisional
dan yang mengalami
perkembangan dalam area
window / internet. Kunci untuk
mencapai pemakai kelompok
besar demikian adalah fleksibilitas
gaya pengoperasian. Kebanyakan
osiloskop menawarkan
keseimbangan pencapaian dan
kesederhanaan dengan member
pemakai banayk cara untuk
mengoperasikan instrument.
Tampilan panel depan disajikan
untuk pelayanan pengendalian
vertikal, horisontal dan picu.
Penggunaan banyak antara muka
icon grafik membantu memahami
dan dengan tak sengaja
menggunakan kemampuan yang
lebih tinggi. Peraga sensitip
sentuhan menyelesaikan isu
kekacauan dalam kendaraan dan
sementara memberi akses yang
jelas bersih pada tombol layar.
Memberi garis bantu yang dapat
digunakan sebagai acuan. Kendali
intuitif memungkinkan para
pemakai osiloskop merasa
nyaman mengendalikan osiloskop
seperti mengendalikan mobil,
sementara memberi waktu penuh
pada pengguna untuk mengakses
osiloskop. Kebanyakan osilskop
portable membuat osiloskop
efisien dalam banyak perbedaan
lingkungan kerja di dalam
laboratorium ataupun di lapangan
7.7.6. Probe
7.7.6.1. Probe pasip
Untuk pengukuran sinyal dan
besar tegangan, probe pasip
memberikan kemudahan dalam
pemakaian dan kemampuan
cakupan pengukuran. Fasangan
probe tegangan pasip dengan
arus probe akan memberi solusi
ideal pengukuran daya.
Probe attenuator pengurangan
10X (baca sepulu kali) membebani
rangkaian dalam perbandingan
sampai 1X probe dan merupakan
suatu tujuan umum probe pasip.
Pembebanan rangkaian menjadi
lebih ditujukan pada frekuensi
yang lebih tinggi dan atau sumber
sinyal impedansi yang lebih tinggi,
sehingga meyakinkan untuk
menganalisa interaksi
pembebanan sinyal / probe
sebelum pemilihan probe. Probe
attenuator 10K meningkatkan
keteliatian pengukuran, namun
juga mengurangi amplitudo sinyal
pada masukan osiloskop dengan
factor 10.
Probe pasip memberikan solusi
sempurna terhadap tujuan
pengamatan pada umumnya.
Namun, probe pasip tidak dapat
mengukur secara akurat sinyal
yang memiliki waktu naik ekstrim
cepat dan mungkin terlalu sering
membebani sensitivitas rangkaian.
Bila kecepatan sinyal clock
bertambah dan tuntutan
kecepatan lebih tinggi dari pada
kecepatan probe sedikit akan
berpengaruh terhadap hasil
pengukuran. Probe aktif dan
diferensial memberikan
penyelesaian ideal untuk
pengukuran sinyal kecepatan
tinggi atau diferensial.


Gambar 7-60. Probe pasip tipikal beserta asesorisnya
Karena ini mengecilkan sinyal,
probe attenuator 10X membuatnya
sulit melihat sinyal kurang dari
10mV puncak ke puncak.
Penggunaan probe atenuator 10X
sebagaiana tujuan penggunaan
probe pda umumnya, namun
dengan probe 1X dapat diakses
dengan kecepatan rendah, sinyal
amplitudo rendah. Beberapa probe
memiliki saklar atenuasi antara 1X
dan 10X jika probe mempunyai
pilihan seperti ini yakinkan
pengaturan penggunaan
pengukuran benar.
7.7.6.2. Probe aktif dan Probe
Differensial
Penambahan kecepatan sinyal
dan tegangan lebih rendah
membuat hasil pengukuran yang
akurat sulit dicapai. Ketepatan
sinyal dan pembebanan piranti
merupakan isu kritis. Solusi
pengukuran lengkap pada
kecepatan tinggi, solusi
pengamatan ketepatan tinggi
untuk menyesuaikan performansi
osiloskop (gambar 7-62).
Gambar 7-61. probe performansi tinggi


Probe aktif dan diferensial
menggunakan rangkaian terpadu
khusus untuk mengadakan sinyal
selama akses dan transmisi ke
osiloskop, memastikan integritas
sinyal. Untuk pengukuran sinyal
dengan waktu naik tinggi, probe
aktif kecepatan tinggi atau probe
diferensial yang akan memberikan
hasil yang lebih akurat.
Gambar 7-62. Probe sinyal terintegrarasi
7.8. Pengoperasian Osiloskop
7.8.1. Pengesetan
Pada bagian ini menguraikan
bagaiaman melakukan
pengesetan dan mulai
menggunakan osiloskop khusus,
bagaimana melakukan ground
osiloskop mengatur pengendalian
dalam posisi standard an
menggnati probe.
Penabumian merupakan langkah
penting bila pengaturan untuk
membuat pengukuran atau
rangkaian bekerja. Sifat
penbumian dari osiloskop
melindungi pemakai dari tegangan
kejut dan penabumian sendiri
melindungi rangkaian dari
kerusakan.
7.8.2. Menggroundkan
osiloskop
Menggroundkan osiloskop artinya
menghubungkan secara listrik
terhadap titik acuan netral, seperti
ground bumi. Ground osiloskop
dilakukan dengan mengisi tiga
kabel power ke dalam saluran
ground ke ground bumi.
Menghubung osiloskop dengan
ground diperlukan untuk
keamanan jika menyentuh
tegangan tinggi kasus osiloskop
tidak diground banyak kasus
meliputi tombol yang muncul
diisolasi ini dapat memberi resiko
kejut. Bagaimanapun dengan
menghubungkan osiloskop ke
ground secara tepat, arus berjalan
melalui alur ground ke ground
bumi lebih baik dari pada tubuh ke
groun bumi.
Ground juga diperlukan untuk
pengukuran yang teliti dengan
osiloskop. Osiloskop
membutuhkan berbagi ground
yang sama dengan banyak
rangkaian yang diuji.
Gambar 7-63. Probe reliable khusus pin IC


Banyak osiloskop tidak
membutuhkan pemisah hubungan
ke bumi ground. Osiloskop
mempunyai dengan menjaga
kemungkinan resiko kejut dari
pengguna.
7.8.3. Ground Diri Pengguna
Jka bekerja dengan rangkaian
terpadu (IC), juga diperlukan untuk
mengubungkan tubuh dengan
ground. Rangkaian terpadu
mempunyai alur konduksi tipis
yang dapat dirusak oleh listrik
statis yang dibangun pada tubuh.
Pemakai dapat menyelamatkan IC
mahal secara sederhana dengan
alas karpet dan kemudian
menyentuh kaki IC. Masalah ini
diselesaikan pakaian dengan tali
pengikat ground ditunjukkan
dalam gambar 6.4. Tali pengikat
secara aman mengirim perubahan
statis pada tubuh ke ground bumi.
7.8.4. Pengaturan Pengendali
Bagian depan osiloskop biasanya
terbagi dalam 3 bagian utama
yang ditandai vertikal, horisontal
dan picu. Osiloskop mungkin
mempunyai bagian-bagian lain
tergantung pada mmodel dan jenis
analog atau digital. Kebanyakan
osiloskop memiliki sekurang-
kurangnya dua kanal masukan
dan setiap kanal dapat
memperagakan bentuk gelombang
pada layar. Osiloskop multi kanal
sangat berguna untuk
membandingkan bentuk
gelombang. Beberapa osiloskop
mempunyai tombol AUTOSET dan
atau DEFAULT yang dapat
mengatur untuk mengendalikan
langkah menampung sinyal. Jika
osilskop tidak memiliki
kemampuan ini, perlu dibantu
mengatur pengendalian posisi
standar sebelum pengukuran
dilakukan. Pada umumnya
instruksi pengaturan osiloskop
posisi standar adalah sebagai
berikut :
- Atur osiloskop untuk
mempergakan kanal 1
- Atur skala vertikal volt/div dan
posisi ditengah cakupan posisi
- Offkan variable volt/div
- Offkan pengaturan besaran
- Atur penghubung masukan
kanal 1 pada DC
- Atur mode picu pada auto
- Atur sumber picu ke kanal 1
- Atur picu holdoff ke minimum
atau off
- Atur pengendali intensitas ke
level minimal jika disediakan
- Atur pengendali focus untuk
mencapai ketajaman peraga
- Atur posisi horisontal time/div,
posisi berada ditengah-tengah
cakupan posisi.
7.8.5. Penggunaan Probe
Sebuah probe berfungsi sebagai
komponen kritis dalam sistem
pengukuran, memastikan
integritas sinyal dan
memungkinkan pengguna untuk
mengakses semua daya dan
performansi dalam osiloskop. Jika
probe sangat sesuai dengan
osiloskop, dapat dipastikan
mengakses semua daya dan
performansi osiloskop dan akan
memastikan integritas sinyal
terukur.


Probe dikompensasi dengan benar
Gambar 7-64. Hasil dengan probe
dikompensasi
Probe tidak dikompensasi
Gambar 7- 65 Hasil dengan probe dikompensasi
Probe kompensasi berlebihan
Gambar 7-66. Probe kompenasi berlebihan
Kebanyakan osiloskop mempunyai
acuan sinyal gelombang kotak
disediakan pada terminal depan
digunakan untuk menggantikan
kerugian probe. Instruksi untuk
mengganti kerugian probe pada
umumnya sebagai berikut :
- Tempatkan probe pada kanal
vertikal
- Hubungkan probe ke probe
kompensasi misal acuan sinyal
gelombang kotak
- Ground probe dihubungkan
dengan ground osiloskop
- Perhatikan sinyal acuan
gelombang kotak
- Buat pengaturan probe yang
tepat sehingga ujung
Probe
pengatur
sinyal
Amplitudo
tes sinyal
1MHz
Amplitudo
sinyal
berkurang
Probe
pengatur
sinyal
Probe
pengatur
sinya l
Amplitudo tes
sinyal 1MHz


gelombang kotak berbentuk siku.
Gambar 7-67. Tegangan puncak ke puncak
Pada saat mengkompensasi,
selalu sertakan beberapa asesoris
yang perlu dan hubungkan probe
ke kanal vertikal yang akan
digunakan. Ini akan memastikan
bahwa osiloskop memiliki
kekayaan listrik sebagaimana
yang terukur.
Teknik Pengukuran Dengan Osiloskop.
Ada dasar pengukuran dengan
osiloskop adalah tegangan dan
waktu. Oleh karena itu untuk
pengukuran yang lain pada
dasarnya adalah satu dari dua
teknik dasar tersebut. Dalam
pengukuran ini merupakan
penggabuangan teknik instrument
analog dan juga dapat digunakan
untuk menginterpretasikan
peragaan DSO dan DPO.
Kebanyakan osiloskop digital meliputi perangkat pengukuran yang
diotomatiskan. Pemahaman bagaimana membuat pengukuran secara
Gambar 7-68. Pengukuran amplitudo senter
gratikul waktu
Pengukuran senter
gratikul horisontal dan
vertikal
Gambar 7-69. Pengukuran
tegangan
Tegangan
puncak ke
puncak
Tegangan
puncak
Sumbu nol Harga RMS
gratikul


manual akan membantu dalam memahami dan melakukan pengecekan
pengukuran otomatis dari DSO dan DPO.
7.8.6. Pengukuran Tegangan
Tegangan merupakan bagian dari
potensi elektrik yang
diekspresikan dalam volt antara
dua titik dalam rangkaian. Biasa
salah satu titiknya dalah ground
(nol volt) namun tidak selalu.
Tegangan dapat diukur dari
puncak ke puncak yaitu titik
maksimum dari sinyal ke titik
minimum. Harus hati-hati dalam
mengartikan tegangan tertentu.
Terutama osiloskop piranti
pengukur tegangan. Pada saat
mengukur tegangan kuantias yang
lain dapat dihitung. Misal hukum
ohm menyaakan bahwa tegangan
antara dua tiik dalam rangkaian
sama dengan arus kali resistansi.
Dari dua kuantitas ini dapat
dihitung :
Tegangan = arus X resistansi
Arus = (Tegangan / resistansi )
Resistansi = (tegangan / arus).
Rumusan lain hokum daya, daya
sinyal DC sama dengan teganga
kali atus. Perhitungan lebih
komplek untuk sinyal AC, namun
pengukuran tegangan merupakan
langkah pertama untuk
penghitungan besaran yang lain.
Gambar 7-67 menunjukkan satu
dari tegangan puncak (Vp) dan
tegangan puncak ke puncak (Vp-
p). Metode yang paling dasar dari
pengukuran tegangan adalah
menghitung jumlah dari luasan
divisi bentuk gelombang pada
skala vertikal osiloskop .
Pengaturan sinyal meliputi
pembuatanan layar secara vertikal
untuk pengukuran tegangan
terbaik (gambar 7-67). Semakin
banyak area layar yang digunakan
pembacaan layar semakin akurat .
Beberapa osiloskop mempunyai
satu garis kursor yang membuat
pengukuran bentuk gelombang
secara otomatis pada layar, Tanpa
harus menghitung tanda gratikul.
Kursor merupakan garis
sederhana yang dapat berpindah
melintasi layar. Dua garis kursor
horisontal dapat bergerak naik dan
turun untuk melukiskan amplitudo
bentuk gelombang dari teganga
yang diukur, dan dua garis
vertikal bergerak ke kanan dank e
kiri untuk pengukuran waktu.
Pembacaan menunjukkan posisi
tegangan atau waktu.
7.8.7. Pengukuran Waktu dan Frekuensi
Pengukuran waktu dengan
menggunakan skala horisontal
dari osiloskop. Pengukuran waktu
meliputi pengukuran perioda dan
lebar pulsa. Frekuensi kebalikan
dari perioda sehingga perioda
dikeahui, frekuensi merupakan
satu dibagi dengan perioda.


Sebagaimana pengukuran
tegangan, pengukuran waktu lebih
akurat bila diatur porsi sinyal yang
diukur meliputi sebagian besar
area dari layar seperti ditunjukkan
gambar 7-67.
7.8.8. Pengukuran Lebar dan
Waktu Naik Pulsa
Dalam banyak aplikasi, detail
bentuk pulsa penting. Pulsa dapat
menjadi distorsi dan menyebabkan
rangkaian digital gagal fungsi dan
pewaktuan pulsa dalam rentetan
pulsa seringkali signifikan.
Pengukuran pulsa standar berupa
lebar pulsa dan waktu naik pulsa.
Waktu naik berupa sebagian pulsa
pada saat beranjak dari tegangan
rendah ke tinggi. Waktu naik
diukur dari 10% sampai 90% dari
tegangan pulsa penuh.
Ini mengurangi sudut transisi
ketidakteraturan pulsa. Lebar
pulsa merupakan bagian dari
waktu pulsa beranjak dari rendah
ke tinggi dan kembali ke rendah
lagi. Lebar pulsa diukur pada 50%
dari tegangan penuh (gambar 7-
70).
Gambar 7-70. Pengukuran rise time dan lebar pulsa
Rise time
tegangan
Fall time
Lebar pulsa
100%
90%


50%

10%
0 %


7.8.9. Pengukuran Pergeseran Fasa
Metode untuk pengukuran
pergeseran fasa, perbedaan waktu
antara dua sinyal periodik yang
identik, menggunakan mode XY.
Teknik pengukuran ini meliputi
pemberian sinyal masukan pada
sistem vertikal sebagaimana
biasanya dan kemudian sinyal
sinyal lain diberikan pada sistem
horisontal yang dinamakan
pengukuran XY karena kedua
sumbu X dan Y melakukan
penjejakan tegangan. Bentuk
gelombang yang dihasilkan dari
susunan ini dinamakan pola
Lissayous (nama ahli Fisika
Perancis Jules Antoine
Lissayous). Dari bentuk pola
Lissayous dapat dibaca
perbedaan fasa antara dua sinyal
dapat juga perbandingan frekuensi
(gambar 7-48) menunjukkan pola
untuk perbandingan frekuensi dan
pergeseran fasa yang bervariasi.
8.1. Frekuensi Meter Analog
Frekuensi meter adalah meter
yang digunakan untuk mengukur
banyaknya pengulangan gerakan
periodik perdetik. Gerakan
periodik seperti detak jantung,
ayunan bandul jam.
Ada dua jenis frekuensi meter
analog dan digital. Frekuensi
meter analog merupakan alat ukur
yang digunakan untuk mengukur
besaran frekuensi dan yang
berkaitan dengan frekuensi.
Terdapat beberapa jenis
frekuensimeter analog diantaranya
jenis batang atau lidah getar, alat
ukur ratio dan besi putar. Dalam
mengukur frekuensi atau waktu
perioda secara elektronik dapat
dilakukan dengan beberapa cara.
8.1.1. Alat ukur frekuensi jenis
batang atau lidah bergetar
Alat ukur frekuensi lidah getar
prinsip kerjanya berdasarkan
resonansi mekanis. Jika sederetan
kepingan baja yang tipis
membentuk lidah-lidah getar,
masing-masing mempunyai
frekuensi getar yang berbeda.
Lidah-lidah getar dipasang
bersama-sama pada sebuah alas
fleksibel yang terpasang pada
sebuah jangkar elektromagnit.
Kumparan elektromagnet diberi
energi listrik dari jala-jala arus
bolak-balik yang frekuensinya
akan ditentukan, maka salah satu
dari lidah-lidah getar akan
beresonansi dan memberikan
defleksi yang besar bila frekuensi
getarnya sama dengan frekuensi
medan magnet bolak-balik
tersebut.
Gambar 8 -1 Kerja frekuensi meter
jenis batang getar
Tujuan
Setelah mengikuti pembahasan
tentang frekuensi meter, para
pembaca diharapkan dapat :
1. Mendiskripsikan jenis-jenis
frekuensi meter
2. Mampu menjelaskan prinsip kerja
frekuensi meter
3. Mampu memahami cara
penggunaan frekuensi meter.
Pokok Bahasan
Dalam frekuensi meter
pembahasan meliputi :
1. Frekuensimeter analog jenis-
jenis dan prinsip kerjanya
2. Frekuensimeter digital cara
kerja, metoda pengukuran, jenis
– jenis kesalahan dan cara
penggunaannya.
BAB 8
FREKUENSI METER
48 49 50 51 52
Gambar 8 -2 Prinsip frekuensi meter jenis batang getar
Batang yang frekuensi dasarnya
sama dengan frekuensi
elektromagnet diberi energi, akan
membentuk suatu getaran.
Getaran batang ini dapat dilihat
pada panel alat ukur berupa
getaran batang ditunjukkan
melalui jendela. Apabila frekuensi
yang diukur berada diantara
frekuensi dua batang yang
berdekatan, maka kedua batang
akan bergetar dan frekuensi jala-
jala paling dekat pada batang
yang bergetar paling tinggi.
Frekuensi langsung terbaca
dengan melihat skala pada bagian
yang paling banyak bergetar (
misal 50 Hz).
Pada lidah getar gaya bekerja
berbanding lurus dengan kuadrat
fluksi magnet tetap ¢ yang
disebabkan oleh magnet
permanen dan fluksi arus bolak-
balik ¢
m
sin ωt (pada gambar 8-2).
Alat ukur ini mempunyai
keuntungan karena konstruksi
sederhana dan sangat kokoh,
tidak dipengaruhi oleh tegangan
atau bentuk gelombang,
penunjukannya secara bertangga
dalam 0,5 atau 1 Hz. Untuk
mempertahankan kalibrasi,
syaratnya getaran batang-batang
dipertahankan dalam batas-batas
yang wajar. Kerugian alat ini
penunjukan tidak cepat mengikuti
perubahan-perubahan frekuensi.
Sehingga alat ukur jenis ini hanya
dipergunakan untuk frekuensi-
frekuensi komersiil.
Gambar 8 – 3 . Bentuk frekuensi
meter batang getar
8.1.2. Alat pengukur frekuensi dari type alat ukur rasio
Dalam alat ukur frekuensi ini,
kumparan-kumparan medan
sebagian membentuk dua
rangkaian resonansi terpisah.
Kumparam medan 1 seri dengan
induktor L
1
dan kapasitor C
1
, dan
membentuk sebuah rangkaian
resonan yang diset ke suatu
frekuensi sedikit di bawah skala
terendah dari instrumen.
Kumparan medan 2 adalah seri
dengan induktor L
2
dan kapasitor
C
2
, dan membentuk sebuah
rangkaian resonan yang diatur
pada frekuensi sedikit lebih tinggi
dari skala tertinggi instrumen.
Gambar 8 - 4 Prinsip frekuensi meter jenis meter pembagi
Konstanta-konstanta rangkaian
dipilih sedemikian rupa sehingga
menyebabkan arus-arus tersebut
mempunyai resonansi masing-
masing 42 Hz dan 58 Hz seperti
pada gambar 8-4. Rasio dari I
1
dan I
2
akan berubah secara
monoton dengan frekuensi-
frekuensi di atas dan di bawah 50
Hz.pada pertengahan skala.
Kedua kumparan medan disusun
seperti pada gambar 8-3 dan
dikembalikan ke jala-jala melalui
gulungan kumparan yang dapat
berputar. Torsi yang berputar
sebanding dengan arus yang
melalui kumparan putar, arus ini
terdiri dari penjumlahan kedua
arus kumparan medan. Karena
torsi yang dihasilkan oleh kedua
arus terhadap kumparan putar
berlawanan dan torsi tersebut
merupakan fungsi dari frekuensi
tegangan yang dimasukkan.
Setiap frekuensi yang dimasukkan
dalam batas ukur instrumen,
membangkitkan torsi yang
menyebabkan jarum berada pada
posisi yang hasil pengukuran.
Torsi pemulih dilengkapi dengan
sebuah daun besi kecil yang
dipasang pada kumparan yang
berputar. Alat ukur ini biasanya
terbatas pada frekuensi jala-jala.
i1 arus pada M1
i2 arus pada M2
8.1.3. Alat ukur frekuensi besi putar
Prinsip kerja alat ukur ini
tergantung pada perubahan arus
yang dialirkan pada dua rangkaian
paralel, satu induktif dan yang
lain non induktif. Bila terjadi
perubahan frekuensi dua
kumparan A dan B yang terpasang
permanen sumbu-sumbu
magnetnya akan saling tegak lurus
satu sama lain. Bagian pusat
dipasangkan sebuah jarum
panjang dari besi lunak ringan
dan lurus sepanjang resultante
medan magnet dari dua
kumparan. Alat ukur ini tidak
menggunakan peralatan
pengontrol (ditunjukkan pada
gambar 8–5).
Gambar 8 – 5 Prinsip Alat Ukur frekuensi besi putar
Gambar 8 – 6 Bentuk frekuensi meter analog
Rangkaian tersusun dari elemen-
elemen seperti halnya jembatan
Wheatstone sebagai penyeimbang
pada frekuensi sumber. Kumparan
Tinggi
rendah
Lb
Rb
L3
Ra
B A
N
Suplai
A mempunyai tahanan seri R
A
dan
paralel dengan induktansi L
A
;
kumparan B seri dengan R
B
dan
paralel dengan induktansi L
B
.
Induktansi L berfungsi untuk
membantu menekan harmonis-
harmonis tinggi pada bentuk
gelombang arus, sehingga
memperkecil kesalahan
penunjukan alat ukur.
Alat ukur saat dihubungkan
dengan sumber tegangan, arus
akan mengalir melalui kumparan A
dan B dan menghasilkan kopel
yang berlawanan. Jika frekuensi
sumber yang diukur tinggi, maka
arus yang mengalir pada
kumparan A akan lebih besar
dibanding dengan arus yang
mengalir pada kumparan B,
dikarenakan adanya penambahan
reaktansi dari induktansi L
B
.
Akibatnya medan magnet
kumparan A lebih kuat dibanding
medan magnet kumparan B,
sehingga jarum bergerak
mendekati sumbu medan magnet
pada kumparan A. Jika frekuensi
sumber yang diukur rendah, maka
kumparan B mengalirkan arus
lebih besar dari kumparan A dan
jarum akan bergerak mendekati
sumbu medan magnet pada
kumparan B. Alat ukur ini dapat
dirancang pada batas ukur
frekuensi yang lebar maupun
sempit tergantung pada
parameter-parameter yang ada
pada rangkaian.
8.2. Frekuensi Meter Digital
8.2.1. Prinsip kerja
Sinyal yang akan diukur
frekuensinya diubah menjadi
barisan pulsa, satu pulsa untuk
setiap siklus sinyal. Kemudian
jumlah pulsa yang terdapat pada
interval waktu tertenu dihitung
dengan counter elektronik. Karena
pulsa ini dari siklus sinyal yang
tidak diketahui, jumlah pulsa pada
counter merupakan frekuensi
sinyal yang diukur. Karena counter
elektronik ini sangat cepat, maka
sinyal dari frekuensi tinggi dapat
diketahui.
Blok diagram rangkaian dasar
meter frekuensi digital
diperlihatkan pada gambar 8-7.
sinyal frekuensi tidak diketahui
dimasukkan pada schmitt trigger.
Gambar 8 – 7 Rangkaian dasar frekuensi meter digital.
Sinyal diperkuat sebelum masuk
Schmitt Trigger. Dalam Schmitt
Trigger sinyal diubah menjadi
gelombang kotak (kotak) dengan
waktu naik dan turun yang sangat
cepat, kemudian dideferensier dan
dipotong (clipped). Keluaran dari
Schmitt Trigger berupa barisan
pulsa, satu pulsa untuk setiap
siklus sinyal. Pulsa keluaran
Schmitt Trigger masuk ke gerbang
start-stop. Bila gerbang terbuka
(start), pulsa input melalui gerbang
ini dan mulai dihitung oleh counter
elektronik. Bila pintu tertutup (stop),
pulsa input pada counter berhenti
dan counter berhenti menghitung.
Counter memperagakan (display)
jumlah pulsa yang telah masuk
melaluinya antara interval waktu
start dan stop. Bila interval waktu
ini diketahui, kecepatan dan
frekuensi pulsa sinyal input dapat
diketahui. Misalnya f adalah
frekuensi dari sinyal input, N jumlah
pulsa yang ditunjukkan counter dan
t adalah interval waktu antara start
dan stop dari gerbang. Maka
frekuensi dari sinyal yang tidak
diketahui dapat dihitung dengan
persamaan di bawah ini
.
Untuk mengetahui frekuensi
sinyal input, interval waktu
gerbang antara start dan stop
harus diketahui dengan teliti.
Interval waktu perlu diketahui
sebagai time base rangkaian
secara blok diagram ditunjukkan
pada gambar 8 – 8. Time base
terdiri dari osilator kristal dengan
frekuensi tetap, schmit trigger,
dan pembagi frekuens. Osilator
diketahui sebagai osilator clock
harus sangat teliti, supaya
ketepatannya baik, kristal ini
dimasukkan ke dalam oven
bertemperatur konstan.
Output dari osilator frekuensi
konstan masuk ke Schmitt Trigger
fungsinya mengubah gelombang
non kotak menjadi gelombang
kotak atau pulsa dengan
kecepatan yang sama dengan
frekuensi osilator clock. Barisan
pulsa kemudian masuk melalui
rangkaian pembagi frekuensi
persepuluhan yang dihubungkan
secara cascade. Setiap pembagi
persepuluhan terdiri dari
penghitung sepuluhan dan
pembagi frekuensi dengan 10.
hubungan dibuat dari output setiap
pembagi persepuluhan secara
serie, dan dilengkapi dengan
switch selektor untuk pemilihan
time base yang tepat.
Gambar 8 - 8 Time base selektor.
Gambar 8-8. Blok diagram pembentukan time base
F= .
t
N
Pada blok diagram gambar 8-8.
frekuensi osilator clock adalah 1
MHz atau 10
6
Hz. Jadi output
Schmitt Trigger 10
6
pulsa per
detik. Pada setiap 1x dari switch
ada 10
6
pulsa per detik, dan
interval waktu antara dua pulsa
yang berturutan 10
-6
detik atau
1μdetik. Pada tiap 10
-1
x, pulsa
telah melalui satu pembagi
persepuluhan, dan berkurang
dengan faktor 10, dan sekarang
ada 10
5
pulsa perdetik. Jadi
interval waktu diantaranya adalah
10 μdetik. Dengan cara yang
sama, ada 10
4
pulsa per detik
pada tap 10
-2
x dan interval
waktunya 100 μdetik; 10
3
pulsa
per detik pada tap 10
-3
x dan
interval waktu 1 mdetik; 10
2
pulsa
per detik pada tap 10
-4
x dan
interval waktu 10 mdetik; 10 pulsa
perdetik pada tap 10
-5
dan interval
waktu 100 mdetik; satu pulsa per
detik pada tap 10
-6
x dan interval
waktunya 1 detik. Interval waktu
antara pulsa-pulsa ini adalah time
base dan dapat dipilih dengan
switch selektor (switch pemilih).
Pernyataan simbolik dari
rangkaian flip-flop (FF)
digambarkan pada gambar 8 - 9.
Gambar 8 - 9 Pernyataan simbolik dari rangkaian flip-flop.
Flip-flop berfungsi sebagai
gerbang start dan stop, dan
rangkaian flip-flop diperlihatkan
pada gambar 8-10. ini adalah
rangkaian multivibrator bistable
dan mempunyai dua keadaan
seimbang.
Gambar 8 – 10 Rangkaian flip-flop (multivibrator bistable)
RB RB
RC RC
R R
Tegangan negatif diberikan pada
set terminal S, merubah flip-flop ke
keadaan 1. bila sekarang pulsa
negatip diberikan pada terminal
reset R, flip-flop berubah menjadi
keadaan 0. perlu dicatat dalam hal
pulsa positif digunakan untuk
merubah flip-flop dari satu
keadaan ke yang lain, suatu
inverter harus digunakan pada
terminal input untuk merubah
pulsa trigger positif menjadi pulsa
negatif. Pada langkah ini akan
diketahui cara kerja gerbang AND,
karena ini digunakan pada
rangkaian instrumen digital.
Gambar 8 - 11 Rangkaian AND
Gerbang AND lambang gerbang
AND diperlihatkan pada gambar
8-11. Input A dan B sedang
outputnya A.B, dibaca sebagai “A
dan B”. Bila input dalam bentuk
pulsa tegangan positif, input A dan
B “Reverse Bias” semua dioda
(pada gambar 8-11), dan tidak ada
arus melalui tahanan sehingga
outputnya positif. Bila salah satu
input 0, ada arus melalui dioda
karena mendapat bias maju dan
output 0. bila dua input tersebut
berubah terhadap waktu, respon
rangkaian AND diperlihatkan pada
gambar 8 - 12. Tabel kebenaran
untuk rangkaian ini diberikan pada
gambar 8 - 12, 0 menyatakan tidak
ada input atau output, dan 1
menyatakan ada input dan output.
Keadaan 0 (state 0)
Bila output

Υ pada tegangan positif dan
output Y pada tegangan 0
Keadaan 1 (state 1)
Bila output

Υ pada tegangan nol dan output
Y pada tegangan positip
Gambar 8-12. Tabel Kebenaran dari suatu gerbang AND
Secara singkat gerbang AND
mempunyai dua input dinyatakan
dengan simbol A dan B. Bila
tegangan positif diberikan pada
salah satu terminal input, gerbang
terbuka dan tetap terbuka selama
tegangan positif tetap pada input
tersebut. Dengan gerbang terbuka
pulsa, positif yang diberikan pada
inpit lainnya dapat muncul
sebagai pulsa positif pada output
(pada gambar 8 -12). Sebaliknya
bila gerbang ditutup, pulsa tidak
dapat melaluinya. Rangkaian
lengkap untuk pengukuran
frekuensi diperlihatkan pada
gambar 8 - 13.
Gambar 8 – 13 Rangkaian untuk mengukur frekuensi.
Pulsa positif dari sumber frekuensi
yang tidak diketahui sebagai sinyal
yang dihitung masuk pada input
A gerbang utama dan pulsa positif
selektor time base masuk pada
input B ke “gerbang start”. Mula-
mula flip-flop FF, pada keadaan 1.
Tegangan pada output Y
dimasukkan pada input A salah
satu terminal masukan dari
“gerbang stop” berfungsi
membuka gerbang. Tegangan 0
dari output Y flip-flop FF
1
yang
masuk ke input A dari “start
gerbang” menutup gerbang ini.
Bila “gerbang stop” terbuka, pulsa
positif dari time base dapat lewat
pada set input terminal S dari flip-
flop FF
2
dan menjadikannya tetap
pada Keadaan 1. tegangan 0 dari
output

Υ masuk pada terminal B
dari gerbang utama. Karena itu
tidak ada pulsa dari sumber
frekuensi yang tidak diketahui,
dapat lewat melalui gerbang
utama. Supaya mulai bekerja,
pulsa positif disebut pulsa
pembaca (“Read Pulse”) diberikan
pada terminal reset R dari FF
1
,
ini menyebabkan FF
1
berubah
keadaan dari 1 ke 0. Sekarang
output

Υ tegangan positif dan
output Y nol. Sebagai hasilnya,
“gerbang stop” menutup dan
“gerbang start” terbuka. Pulsa
pembaca yang sama diberikan
pada dekade counter
menyebabkannya menjadi nol dan
penghitungan mulai bekerja.
Bila pulsa lain dari time base
masuk, ini dapat lewat gerbang
start ke terminal, reset FF
2
merubah dari keadaan 1 ke
keadaan 0. Tegangan positif yang
dihasilkan dari input Y (disebut
sinyal gating) dimasukkan pada
input B dari gerbang utama,
membuka gerbang tersebut.
Sekarang pulsa dari sumber
frekuensi yang tidak diketahui
dapat lewat dan dicatat pada
counter. Pulsa yang sama lewat
gerbang start masuk pada set
input S dari FF
1
merubahnya dari
keadaan 0 ke 1. Ini menyebabkan
gerbang start tertutup dan
gerbang stop.terbuka. Tetapi
karena gerbang utama tetap
terbuka, pulsa dari sumber
frekuensi yang tidak diketahui
tetap lewat menuju counter.
Pulsa selanjutnya dari time base
selektor lewat melalui “gerbang
stop” yang terbuka ke terminal
input set S dari FF
2
, merubah
kembali ke keadaan 1. Input dari
terminal

Υ menjadi nol, dan
karenanya gerbang utama
menutup penghitungan berhenti.
Jadi counter menghitung jumlah
pulsa yang lewat gerbang utama
pada interval waktu antara dua
pulsa yang berturutan dari selektor
time base. Sebagai contoh, time
base dipilih 1 detik, jumlah pulsa
yang ditunjukkan counter
merupakan frekuensi sumber yang
tidak diketahui dalam satuan Hz.
Peralatan terdiri dari dua gerbang
AND dan dua flip-flop, disebut
gerbang control flip-flop.
8.2.2. Rangkaian Frekuensi Meter Digital yang Disedehanakan
Rangkaian frekuensi meter digital sederhana diperlihatkan pada gambar
8 – 14.
Gambar 8 - 14 Rangkaian digital frekuensi meter.
Ada dua sinyal yang harus diikuti :
Sinyal input diperkuat dan masuk
ke Schmitt Trigger, dimana sinyal
dirubah menjadi barisan pulsa.
Time base dibentuk oleh Schmitt
Trigger menjadi pulsa-pulsa
terpisah 1μ detik. Pulsa ini masuk
ke rangkaian dekade 6 (DDA’S).
Switch selektor mengeluarkan
interval waktu yang diperoleh dari
1μ detik sampai 1 detik. Input dari
time base berasal dari osilator
clock dan schmitt trigger.
Pulsa output pertama dari switch
time base selektor lewat melalui
schmitt trigger ke gerbang control
flip-flop. Gerbang control flip-flop
dalam keadaan dimana sinyal
yang memenuhi dapat masuk ke
gerbang utama adalah AND
gerbang, pulsa sinyal input
dibiarkan masuk ke DCAs, dimana
mereka akan dihitung semua dan
didisplay. Proses ini berlanjut
sampai pulsa kedua sampai pada
control flip-flop dari DDAs (dekade
deviding assembles) atau
rangkaian pembagi dekade.
Kontrol gerbang berganti keadaan
dan mengeluarkan sinyal dari
gerbang utama dan tidak ada lagi
pulsa yang diizinkan masuk ke
rangkaian penghitung, karena
gerbang utama sudah tutup. Jadi
jumlah pulsa yang lewat selama
selang waktu tertentu dihitung dan
didisplay pada DCAS. Frekuensi
dapat dibaca langsung dalam hal
time base selektor menggerakkan
titik desimal pada display.
8.3. Metode Pengukuran
8.3.1. Pengukuran Frekuensi
Dengan Counter
Frekuensi dapat diukur dengan
menghitung jumlah siklus dari
sinyal yang tidak diketahui selama
interval waktu yang dikontrol.
Gambar 8 - 15 memperlihatkan
diagram untuk counter yang
bekerja sebagai pengukur
frekuensi.
Ada dua sinyal yang perlu diikuti
sinyal input dan sinyal gating.
Kedua sinyal masuk ke gerbang
utama, yang biasanya merupakan
gerbang AND 2 input. Input sinyal
yang akan diukur frekuensinya,
pertama kali masuk ke suatu
amplifier dan kemudian ke
rangkaian schmitt trigger. Di sini
sinyal dirubah menjadi gelombang
kotak yang amplitudonya tidak
tergantung dari amplitudo
gelombang input. Gelombang
kotak ini dideferensier, sehingga
sinyal yang datang pada
sepanjang gerbang utama terdiri
dari barisan pulsa tajam yang
terpisah oleh periode sinyal input
yang sebenarnya.
Sinyal input atau sinyal yang
dihitung frekuensi melalui
pengukuran.
Sinyal gating ini memberikan selang
waktu dimana counter (yang terdiri dari
susunan dekade counter) akan
menghitung semua pulsa yang masuk.
Gambar 8-15 Blok diagram dari counter electronik yang bekerja sebagai
pengukur frekuensi
Gating sinyal di dapat dari osilator
kristal. Pada diagram blok gambar
8-15. osilator atau frekuensi time
base adalah 1 MHz. Output dari
time base dibentuk oleh rangkaian
schmitt trigger, sehingga menjadi
pulsa-pulsa yang terpisah 1μ
detik, masuk ke rangkaian
pembagi persepuluhan (dekade
devider). Dalam contoh
diperlihatkan 6 DDAs digunakan
yang outputnya dihubungkan
dengan time base selektor. Switch
pada panel depan memungkinkan
untuk dipilihnya interval waktu 1μ
detik. Output dari time base
selektor lewat melalui schmitt
trigger dan masuk ke gerbang
control flip-flop. Gerbang kontrol
kemudian berada pada keadaan
lain yang akan menolak sinyal
yang memenuhi dari gerbang
utama. Gerbang utama ini tertutup
dan tidak ada lagi pulsa yang
masuk ke DCAs. Display DCAs
sekarang menunjukkan jumlah
pulsa yang diterima selama
interval waktu yang diberikan oleh
time base.
Karena frekuensi dapat
didefinisikan dengan jumlah
kemunculan fenomena tertentu
pada selang waktu yang
didefinisikan counter akan
mendisplay frekuensi sinyal.
Biasanya switch selector time
base menggerakkan titik desimal
display, sehingga frekuensi dapat
dibaca langsung dalam Hertz,
kilohertz atau megahertz.
8.3.2. Pengukuran Frekuensi
System Heterodyne
Kemampuan pengukuran dari
counter elektronik pada mode
kerja “frekuensi” dapat diperluas
dengan menggunakan
“heterodyne converter”. Ini
diperlihatkan pada blok diagram
gambar 8-16. Sinyal input
dimasukkan pada heterodyne
converter, yang terdiri dari osilator
reference dan mixer stage
dengan filter low-pass. Frekuensi
sinyal input f
s
dan frekuensi
osilator reference, f
0,
dimasukkan
pada mixerstage yang akan
menghasilkan jumlah dan selisih
dua frekuensi tersebut. Tetapi filter
filter low-pass, hanya melaukan
selisih frekuensinya pada
rangkaian gerbang dari counter.
Counter kemudian menghitung
frekuensi (fo-fs) atau (fs-f0),
tergantung pada apakah frekuensi
sinyal input di atas atau di bawah
frekuensi osilator reference.
Kebutuhan untuk mengetahui
apakah penjumlahan atau
pengurangan terhadap frekuensi
reference yang akan dibaca
counter, supaya memperoleh
frekuensi sinyal yang tidak
diketahui, kadang-kadang
mempersulit pekerjaan, tetapi
metode ini memperluas daerah
penggunaan counter dengan
efektif. Suatu counter dengan time
base frekuensi 1 MHz biasanya
mempunyai daerah frekuensi input
sekitar 5 MHz. Pengguna
frekuensi converter memperluas
daerah ini sampai 500 MHz atau
lebih tinggi.
Beberapa counter yang lebih
sophisticated mempunyai
perlengkapan untuk unit plugon
yang mudah dapat dihubungkan
frekuensi converter dengan
memasukkan sambungan yang
tepat pada frame counter. Dekade
Divider Assemblies (DDAs) pada
rangkaian osilator counter
menghitung frekuensi time base
dari 1 MHz turun sampai 1 Hz,
melengkapi perioda 1 detik.
Keuntungan dari time base 1 detik,
adalah bahwa pembacaan
frekuensi input dalam siklus
perdetik, suatu gambaran yang
telah umum. Bila time base
lainnya dipilih dengan mengatur
control “time base” pada panel
depan, titik desimal pada display
akan terletak pada posisi tertentu,
sehingga pembacaan kembali
dalam siklus perdetik.
Gambar 8 – 16. Konversi frekuensi Heterodyne
Tidak perlu menggunakan time
base 1 detik, pada kenyataannya
banyak penggunaan yang
membutuhkan time base yang
berbeda. Sebagai contoh, bila
roda drum putaran pada gambar
8–23 mempunyai keliling 100 cm,
kecepatan tali (v) dalam cm/detik
adalah 100 kali kecepatan sudut
roda drum ® dalam putaran
perdetik; jadi V = 100 R,
kecepatan tali dapat dibaca
langsung dalam cm/detik, bila
counter menghitung 100 pulsa
perputaran untuk waktu 1 detik.
Bila kecepatan tali diinginkan
dalam cm/menit counter dapat
diatur untuk menghitung 100 pulsa
perputaran untuk 60 detik dengan
menggunakan 10 cam pada roda
drum.
Gambar 8 – 17. Gambar putaran drum menghasilkan 10 pulsa perputaran untuk
digunakan dengan counter.
8.3.3. Pengukuran Perioda Dengan Counter Perioda Tunggal
Pada beberapa penggunaan lebih
diinginkan pengukuran perioda
sinyal dari pada frekuensinya. Ini
dapat dilakukan dengan merubah
susunan blok diagram dari
rangkaian pengukur frekuensi,
sehingga sinyal yang dihitung dan
sinyal gating bertukar tempat.
Pada gambar 8-18. diperlihatkan,
blok diagram counter dalam mode
penguran “perioda”. Sinyal gating
dibentuk dari input yang tidak
diketahui, sekarang mengatur,
membuka dan menutup gerbang
utama. Pulsa yang terpisah secara
tetap dari osilator kristal dihitung
untuk satu perioda frekuensi sinyal
yang tidak diketahui. Sebagai
contoh terlihat pada gambar 8-18.
time base di atur pada 10 μdetik
(time base frekuensi 100 khz), dan
jumlah pulsa 100 kHz yang
muncul selama perioda sinyal,
yang tidak diketahui dihitung dan
didisplay pada DCAs.
Gambar 8 – 18. Diagram blok dari counter pada mode kerja “periode tunggal”
dan “periode ganda rata-rata”
Ketelitian dari pengukuran perioda
dapat dinaikkan dengan
menggunakan mode kerja
“perioda ganda rata-rata”.
Pengukuran tipe ini sama dengan
pengukuran perioda tunggal, yaitu
sinyal gating dibentuk dari sinyal
input yang tidak diketahui dari
sinyal yang dihitung dari time base
osilator. Perbedaan dasar ialah
bahwa gerbang utama diteruskan
terbuka untuk lebih lama dari
suatu periode sinyal yang tidak
diketahui. Ini dipenuhi dengan
melewatkan sinyal yang tidak
diketahui melalui satu atau lebih
DDAs, sehingga periode ini
diperlebar dengan faktor 10,100
atau lebih.
Gambar 8-18. memperlihatkan
mode periode ganda rata-rata,
sebagai modifikasi pengukuran
periode tunggal dengan
memotong jalur dari blok diagram.
Frekuensi kristal 1 MHz dibagi
oleh 1 DDA menjadi frekuensi 100
khz (periode 10 μdetik). Pulsa
clock ini dibentuk oleh frekuensi
trigger dan dimasukkan pada
gerbang utama untuk dihitung.
Sinyal input yang periodenya akan
diukur diperkuat, dibentuk dengan
trigger perioda, dan masuk ke 5
DDAs secara cascade,
menghitung frekuensi input yang
dibagi dengan faktor 10
5
. Sinyal
yang terbagi ini kemudian dibentuk
dengan “multiple-period trigger”
(rangkaian schmitt trigger lainnya)
dan masuk pada “gerbang control
flip-flop”. Gerbang control ini
memberikan “pulsa stop” dan
pulsa yang memenuhi untuk
gerbang utama. Pada umumnya,
gerbang utama selalu terbuka
dengan membersarnya interval
waktu, pada kenyataannya
kenaikan interval waktu ini 10
5
.
dalam hal DCAs menghitung
jumlah dari interval 10 μdetik yang
terjadi selama 100.000 x perioda
input. Pembacaan logik
direncanakan supaya titik desimal
display berada pada tempat yang
tepat.
8.3.4.Pengukuran Perbandingan
atau Perbandingan Ganda
Pengukuran perbandingan
adalah efek dari pengukuran
periode dengan frekuensi dari dua
sinyal yang lebih rendah berfungsi
sebagai “gating sinyal” dan
frekuensi sinyal yang lebih tinggi
sebagai sinyal yang dihitung
(counted sinyal). Dengan
perkataan lain, frekuensi sinyal
yang lebih rendah mengambil alih
time base. Pada blok diagram
gambar 8-19. menunjukkan hal
ini. Jumlah siklus sinyal frekuensi
tinggi f
1
yang terjadi selama
perioda sinyal frekuensi rendah f
2
dihitung dan didisplay pada DCAs.
Pengukuran perbandingan ganda
memperluas perioda sinyal
frekuensi rendah dengan suatu
faktor misalnya 10.000 dan
sebagainya. Perlu dicatat bahwa
“selektor time base” pada posisi
“external” dan f
1
mengambil alih
fungsi “osilator internal”.
Gambar 8-19. Blok diagram counter yang bekerja sebagai “perbandingan” dan
“perbandingan ganda”.
8.3.5. Pengukuran Interval Waktu Dengan Counter
Pengukuran interval waktu dapat
dilakukan dengan blok dasar
seperti pada pengukuran
“perbandingan”. Pengukuran ini
berguna untuk mencari lebar pulsa
dari suatu bentuk gelombang.
Blok diagram untuk pengukuran ini
diberikan pada gambar 8-20.
Bentuk ini memperlihatkan dua
input terminal A dan B diparalel
dan satu kanal memberikan pulsa
yang memenuhi untuk gerbang
utama dan pada kanal yang lain
pulsa yang tidak memenuhi.
Gerbang utama terbuka pada titik
“leading edge” dari gelombang
sinyal input dan tertutup pada titik
“Trailing edge” dari gelombang
yang sama. Ini dinyatakan sebagai
“slope selection” seperti yang
diberikan pada blok diagram.
“Trigger level” control memilih
suatu titik dari gelombang sinyal
datang, kapan pengukuran dimulai
dan kapan berhenti.
Gambar 8-20. Blok diagram counter sebagai pengukur “interval waktu”
8.3.6. Pengukuran Interval
Waktu
Pada pengukuran interval waktu,
gerbang sinyal dibuka dan ditutup
oleh sinyal input, melewatkan
frekuensi time base untuk dihitung.
Pada diagram blok gambar 8-20.
trigger perioda melengkapi pulsa
pembuka untuk gerbang utama,
sedangkan multiple period trigger
mensupply pulsa penutup untuk
gerbang utama. Semua pulsa
dibentuk dari gelombang input
yang sama, tetapi satu schmitt
trigger bereaksi pada “positif going
sinyal” dan schmitt trigger lainnya
bereaksi pada “negatif going
sinyal”. Suatu ”trigger level”
mengatur pemilihan titik pada
gelombang yang datang, baik
positif atau negatif, dimana
rangkaian ditrigger. Pengaturan ini
dapat memperkecil noise dan
mengurangi pengaruh adanya
harmonik pada pengukuran. Kerja
dari pengaturan trigger level
diperlihatkan pada gambar 8 - 21.
Satu penggunaan dari pengukuran
waktu interval memerlukan
kejelasan lebar pulsa dan rise time
dari gelombang yang tidak ada
diketahui, dengan menggunakan
bagian “slope-selection” dari
instrumen (lihat gambar 8 - 21).
Gerbang sinyal dibuka pada suatu
titik pada “leading edge” dari input
sinyal oleh trigger level control dari
amplifier A. Gerbang tertutup pada
suatu titik pada “trailing edge dari
sinyal input oleh trigger level
control dari amplifier B. Lebar
pulsa dicatat oleh pencatat digital
dan tergantung pada setting dari
“time base selektor”.
Gambar 8 – 21. Trigger level control
Bila time base selektor di set pada 1μ detik (frekuensi 1 MHz) counter
membaca interval waktu langsung dalam 1μ detik.
Penggunaan lainnya diperlihatkan
pada gambar 8 - 23. Disini suatu
electronic counter digunakan
untuk mengukur waktu delay dari
suatu relay. Fungsi relay untuk
mengatur pembukaan atau
penutupan gerbang sinyal dan
jumlah siklus time base generator
dihitung oleh DCAs.
Gambar 8 – 22.
Slope triggering
Waktu respon yang berbeda-beda diukur seperti berikut :
Waktu delay : Gerbang dibuka dengan adanya tegangan coil. Gerbang
ditutup oleh kontak yang normal tertutup (normally clossed
contacts), bila mereka terbuka.
Waktu transfer : Gerbang dibuka oleh kontak normal tertutup, saat mereka
terbuka. Gerbang ditutup oleh kontak normal terbuka, saat
mereka tertutup.
Waktu pick-up : Gerbang dibuka oleh penggunaan tegangan coil. Gerbang
ditutup oleh kontak normal terbuka, saat aktif tertutup.
Waktu drop-out : Gerbang dibuka oleh peniadaan tegangan coil. Gerbang
ditutup oleh kontak normal terbuka, saat mereka kembali ke
posisi terbuka normalnya pada pen-energian kembali coil
tersebut.
8.3.7. Totalizer
Totalizer menghitung dan
melengkapi pembacaan (read out)
dari jumlah total pulsa yang
diterima DCAs, dengan tidak
menggunakan waktu gerbang
khusus. Totalizer dapat digunakan
untuk menghitung segala sesuatu,
dari jumlah kotak yang datang
pada jalur produksi sampai pulsa
detektor partikel nuklir.
Scaler adalah totalizer dengan
beberapa macam faktor skala
yang dipasang sebelum “Read-
out”. Scaler pada umumnya
berguna untuk merubah unit.
Sebagai contoh, bila kita
memperoleh satu pulsa untuk
setiap telur yang berguling ke
bawah dan kita ingin mengetahui
berapa lusin telur yang berguling,
faktor skala 12 diberikan, sehingga
setiap hitungan menyatakan 1
lusin telur.
Hal yang sama digunakan pada
tachometer, dimana diketahui
jumlah total putaran, faktor skala
adalah jumlah pulsa dari generator
tachometer perputaran. Pen-
skalaan mudah dipenuhi dengan
cara yang sama, diturunkan dari
Gambar 8 – 23. Pengukuran waktu delay suatu relay
time base, disebut dengan
menggunakan pembagi binary (2),
pembagi dekade (10), atau tipe
lain dari feedback dividers.
Suatu penggunaan totalizer
adalah “Preset Counter”
(Penskalaan Khusus) yang tepat
untuk pengaturan proses. Bila
jumlah total pada read-out terbaca
hal yang sama seperti pada
jumlah “Preset” (yang diketahui
dari switches), pulsa ditimbulkan
dan unit ini berhentimenghitung
sampai reset. Kontak penutup
(contact closure) yang
ditambahkan pada preset nomer
dapat digunakan sebagai pengatur
mesin. Sebagai contoh, misalkan
kita menggulung lilitan kawat dan
kita dapatkan pick off yang
menghasilkan satu pulsa setiap
lilitan. Bila diperlukan 50 lilitan,
maka kontak penutup (contact
closure) pada preset nomer dapat
digunakan untuk mengatur
mekanisme perlilitan, dan
menghentikannya setelah putaran
50 lilitan yang diperlukan. Fungsi
yang sama dapat sangat berguna
pada program quality-control yang
memerlukan sample dari setiap
jumlah unit yang diberikan.
Sebagai contoh, dengan
menggunakan contact closure
untuk menjalankan mekanisme
pengeluaran, setiap 100 telur yang
diambil dari kandang dan telah
diperiksa. Fungsi ganda dapat
diperoleh dengan menggunakan
lebih dari satu preset number dan
set of switches. Misalkan kita
menginginkan men “tap” coli pada
lilitan ke 10, 20 dan 25. Dengan
menggunakan y preset number,
kita dapat memerintahkan mesin
untuk membuat “tap” bila dia
mencapai 3 pertama dari lilitan
preset number, dan berhenti pada
yang keempat. Counter akan
menutup kontak sementara, tetapi
melanjutkan menghitung sampai
mencapai jumlah keempat.
Penyelesaian
a. Frekuensi f : KHz Hz
x t
N
4 , 3 3400
10 10
034
3
= = =

b. Untuk menguji hasil, kita harus menggunakan waktu gatingyang lebih
rendah, misalnya 1 ms. Bila frekuensi antara 3000 dan 3499 Hz
pembacaan akan : 3000 x 1 x 10
-3
= 3,499 karena meter mempunyai
display 3 digit, dapat memperlihatkan pembacaan 003 pada kedua kasus
diatas.
c. Supaya diperoleh hasil yang lebih baik (resolusi yang lebih baik) kita harus
menggunakan waktu gating yang lebih tinggi, misalnya 100m detik.
Contoh Aplikasi
Perioda gerbang 1 m detik; 10 m detik, 100 m detik, 1 detik dan 10 detik yang
melengkapi digital counter-time-frequency meter mempuny ai display 3 digit.
Perioda gating 10m detik dipilih untuk mengukur frekuensi yang tidak diketahui
dan diperoleh pembacaan 034. Berapakah harga frekuensi ? langkah-langkah
apa yang diambil untuk (a) menguji kepercayaan hasilnya ? (b) memperoleh
hasil yang lebih teliti ?
Misalkan frekuensi lebih
mendekati 3420 Hz daripada 3400
Hz Pembacaan meter akan 3420 x
100 x 10
- 3
= 342.
Tidak ada kelebihannya bila waktu
gating dinaikkan menjadi 1 detik
atau 10 detik. Misalkan frekuensi
3424 Hz dan waktu gating
ditetapkan 1 detik. Pembacaannya
adalah 3424 x 1 = 3424. Tetapi
karena meter hanya mempunyai 3
digit, meter akan menunjukkan
suatu overflow. Hal yang sama
untuk gating time (waktu gating)
10 detik.
Pembacaan ini memerlukan posisi
9 digit dan karena meter
digunakan pada read out μ detik
akan memperlihatkan adanya
overflow, sebab meter hanya
mempunyai display 8 digit. Karena
itu pembacaan 500 detik tidak
dapat dilakukan pada range μ
detik.
Marilah dicoba readout m detik.
500 detik = 500 x 10
3
m detik =
50.000 m detik.
Contoh Aplikasi
Suatu timer digital dengan read-out 8 digit ditetapkan untuk mendapatkan
ketelitian 0.005 % dari pembacaan, ±1 dalam digit terakhir. Read-out dalam
detik, m detik dan μ detik. Misalkan instrumen ini memenuhi spesifikasi,
berapakah kesalahan maksimum bila pembacaan :
a. 05000000 μ detik
b. 00 000 500 detik ?
c. Berapakah ketelitian nominal maksimum dalam unit waktu dengan mana
pembacaan b. dapat dilakukan dengan instrumen ini ?
Penyelesaian
a. Pembacaan 05 000 000 μ detik atau pembacaan = 5000 000 μ detik = 5 x
10
6
μ detik.
0.005% pembacaan = ±
100
005 . 0
x 5 x 10
6
= ±250 μ detik.
Digit pada LSD sekarang mempunyai harga 1μ detik. ∴Kesalahan
maks. ± 250 ± 1 = 251 μ detik.
b. Pembacaan 00 000 500 detik atau pembacaan 500 detik.
0,005% pembacaan = ±
100
005 . 0
x 500 = ± 0.025 detik.
Digit pada LSD sekarang mempunyai harga 1 detik.
∴kesalahan maksimum = ± 0.025 ± 1,025 detik.
c. Ketelitian maksimum berarti kesalahan minimum. Kesalahan minimum
diperoleh bila waktu dibaca pada read-out μ detik.
500 s = 500 x 10
6
μ detik = 500 000 000 μ detik.
∴readout m detik akan mendisplay pembacaan : 00 500 000
0,005% pembacaan = ±
100
10 500 005 , 0
3
x x
= ± 25 m detik.
LSD mempunyai harga 1 ms.
∴ Ketelitian maksimum yang mungkin, dengan mana pembacaan 500
detik dapat dilakukan oleh meter ini ialah ± 25 ± 1 = ± 26m detik.
8.4. Kesalahan pengukuran
8.4.1. Kesalahan pada “gate”
Pengukuran frekuensi dan waktu
dengan counter elektronik
mempunyai beberapa
ketidaktelitian, karena instrumen
itu sendiri. Satu kesalahan
instrumen yang paling umum
adalah “gating error” yang terjadi
pada pengukuran frekuensi dan
perioda. Untuk pengukuran
frekuensi, gerbang utama terbuka
dan tertutup oleh pulsa output
osilator. Ini menyebabkan sinyal
input dapat lewat melalui gerbang
dan dihitung oleh DCAs. Pulsa
gating tidak sinkron dengan sinyal
input; pada kenyataannya
keduanya adalah sinyal yang
sama sekali tidak berhubungan.
Pada gambar 8-24. interval gating
diberikan oleh gelombang.
Gelombang (a) dan (b)
menyatakan sinyal input yang
mempunyai fasa berbeda
dibandingkan dengan sinyal
gating. Dengan jelas, pada satu
hal akan terbaca 6 pulsa, dalam
hal yang lain hanya 5 pulsa dapat
lewat melalui gerbang. Sehingga
terdapat ketidakpastian
perhitungan ±1 dalam
pengukuran ini.
Dalam mengukur frekuensi
rendah, gating error dapat
mempengaruhi pada kesalahan
hasilnya. Ambilah sebagai contoh
pada keadaan dimana frekuensi
10 Hz yang akan diukur dan
interval gating time 1 detik
(pemisalan yang beralasan).
Gambar 8-24. Gating error
Dekade counter akan
menunjukkan 10 ±1, ketidaktelitian
10%. Oleh karena itu pada
frekuensi rendah pengukuran
periode lebih disukai dari pada
pengukuran frekuensi. Garis
pemisah antara pengukuran
frekuensi dan pengukuran perioda
dinyatakan sebagai berikut,
misalkan :
f
c
= frekuensi kristal (atau
frekuensi clock) dari instrument.
f
x
= frekuensi dari sinyal input
yang tidak diketahui.
Pada pengukuran perioda, jumlah pulsa yang terhitung sama dengan
.
fx
fc
Np =
Pada pengukuran frekuensi dengan gerbang waktu 1 detik, jumlah pulsa
yang terhitung
. fx Nf =
Frekuensi cross over, dimana N
p
= N
f
adalah :
fo
fo
fc
= atau fo = fc
Sinyal pada frekuensi lebih
rendah dari fo akan dapat diukur
pada mode “period”; supaya
meminimumkan pengaruh dari
gating error ± 1. Pengurangan
ketelitian pada fo disebabkan
oleh gating error ± 1 adalah
fc
100
persen.
.
8.4.2. Kesalahan Time Base
Ketidaktelitian pada time base
juga menyebabkan kesalahan
pengukuran. Pada pengukuran
frekuensi, time base juga
membuka dan menutup sinyal
gerbang, dan ini melengkapi pulsa
yang dihitung. Kesalahan time
base terdiri dari kesalahan
kalibrasi osilator, kesalahan
stabilitas kristal jangka pendek
dan jangka panjang.
Beberapa metoda untuk kalibrasi
kristal sering digunakan. Satu dari
teknik kalibrasi yang paling
sederhana adalah men “zerobeat”
osilator kristal dengan frekuensi
standar yang ditransmisikan oleh
stasion radio standard seperti
Metoda ini memberikan hasil yang
dapat dipercaya, dengan tingkatan
ketelitian 1 bagian untuk 10
6
,
yang dinyatakan 1 siklus pada
frekuensi osilator kristal 1 MHz.
Bila “zero beating” dilakukan
secara visual (daripada untuk di
dengar), sebagai contoh dengan
menggunakan CRO, ketelitian
kalibrasi pada umumnya dapat
mencapai 1 bagian dalam 10
7
.
Beberapa stasiun radio dengan
frekuensi sangat rendah (VLF)
meliputi daratan Amerika Utara
dengan sinyal yang tepat pada
range 16-20 kHz. Frekuensi
pendengar yang rendah cocok
untuk “Automatic Servo-Controlled
Tuning” yang dapat di “Slaved” ke
salah satu sinyal dari stasion ini.
Kesalahan antara osilator kristal
lokal dengan sinyal yang datang
dapat direkam pada “strip-chart
recorder”. Diagram yang
disederhanakan untuk prosedur ini
diberikan pada gambar 8-25.
Ketelitian kalibrasi dapat
diperbaiki dengan menggunakan
stasion VLF daripada stasion HF,
karena jalan transmisi untuk
frekuensi yang sangat rendah
lebih singkat dari pada untuk
transmisi frekuensi tinggi.
Kesalahan stabilitas kristal jangka
pendek disebabkan oleh variasi
frekuensi sesaat karena transien
tegangan, schock dan vibrasi,
siklus pemanasan kristal,
interferensi listrik dan sebagainya.
Kesalahan ini dapat
diminimumkan dengan mengambil
pengukuran frekuensi selama
selang waktu gerbang time yang
panjang (10 detik sampai 100
detik) dan pengukuran perioda
rata-rata ganda (multiple periode
average measurement). Gambar
untuk stabilitas jangka pendek
pada kombinasi standar kristal-
oven pada orde 1 atau 2 bagian
per 10
7
.
Gambar 8–25. Kalibrasi sumber frekuensi lokal.
Kesalahan stabilitas jangka
panjang merupakan sumber
ketidaktelitian pada pengukuran
frekuensi atau waktu. Stabilitas
jangka panjang adalah fungsi dari
usia dan memperburuk kristal.
Karena kristal pada temperatur
bersiklus dan dijaga pada osilasi
yang kontinu, tegangan selama
perbuatan dibebaskan, dan
partikel kecil yang tertangkap pada
permukaan dialirkan untuk
mengurangi ketebalannya. Pada
umumnya, fenomena ini akan
menyebabkan kenaikan frekuensi
osilator.
Kurva perubahan frekuensi
terhadap waktu diperlihatkan pada
gambar 8–21. Ketepatan
perubahan frekuensi kristal mula-
mula pada orde 1 bagian per 10
6
per hari. Kecepatan ini akan
menurun, bila kristal digunakan
pada temepratur operasinya,
secara normal kira-kira 50 s/d 60
o
C, dengan stabilitas puncak 1
bagian per 10
9
. Bila instrumen
yang mengandung kristal dibuka
dari sumber daya untuk perioda
waktu yang cukup untuk
pendinginan, slope baru karena
bertambahnya usia akan terjadi
bila instrumen digunakan kembali.
Mungkin frekuensi osilasi yang
sebenarnya sesudah pendinginan
akan berubah beberapa siklus,
dan frekuensi permulaannya tidak
akan dicapai lagi, kecuali
dilakukan kalibrasi.
Gambar 8 - 26. Perubahan frekuensi terhadap waktu untuk “oven-controlled
crystal”
Untuk memperlihatkan efek
stabilitas jangka panjang dengan
ketelitian pengukuran yang
absolut, misalkanlah osilator
dikalibrasi 1 bagian dalam 10
9
,
dan dicapai stabilitas jangka (long-
term stability) 1 bagian dalam 10
8
per hari. Misalkan lebih lanjut
bahwa kalibrasi dilakukan 60 hari
yang lalu. Ketelitian yang
digaransikan saat ini adalah 1 x
10
-9
+ 60 x 10
-8
= 6.01 x 10
-7
, atau
6 bagian dalam 10
7
. sehingga
dapat dilihat bahwa ketelitian
absolut maksimum dapat dicapai,
bila kalibrasi yang tepat dilakukan
pada waktu yang relatif pendek
sebelum digunakan untuk
pengukuran.
8.4.3. Kesalahan “Level trigger”.
Pada pengukuran interval waktu
dan periode, sinyal gerbang
dibuka dan ditutup oleh sinyal
input. Ketelitian dengan mana
gerbang dibuka atau ditutup
adalah fungsi dari kesalahan
“Trigger Level”. Pada penggunaan
yang umum, sinyal input diperkuat
dan dibentuk, dan kemudian
dimasukkan ke rangkaian schmitt
trigger yang mensuplay gerbang
ini dengan pula pengatur.
Biasanya sinyal input berisi
sejumlah komponen yang tidak
diharapkan atau noise, yang akan
diperkuat bersama-sama dengan
sinyal.
Waktu dimana terjadi terigger
pada rangkaian schmitt adalah
fungsi dari penguatan sinyal input
dan dari perbandingan “sinyal to
noise”. Pada umumnya kita dapat
mengatakan bahwa kesalahan
waktu trigger dikurangi dengan
amplitudo sinyal yang besar dan
rise time yang cepat.
Ketelitian maksimum diperoleh bila
hal-hal seperti di bawah ini terjadi :
a. Pengaruh dari kesalahan “one-
count gating error” (satu
hitungan pada gerbang)
diminimumkan dengan
pengukuran frekuensi lebih
besar dari vfc dan
pengukurandi di bawah vfc,
dimana fc adalah frekuensi
clock dan counter.
b. Karena stabilitas jangka
panjang mempunyai pengaruh
yang akumulatif, ketelitian
pengukuran sangat tergantung
pada waktu sejak kalibrasi
terakhir terhadap standard
primer atau sekunder.
c. Ketelitian dari pengukuran
waktu sangat dipengaruhi oleh
slope dari sinyal datang yang
mengatur sinyal gerbang.
Amplitudo sinyal yang besar
dan rise time yang cepat
memberikan ketelitian yang
maksimum.


DAFTAR PUSTAKA
Agilent.2007. Agilent Automotive Electronics 10 Aplication Note on
Design Debug and Function. Agilent Test. USA. © Agilent
Technologies,Inc. www.agilent.com
Basic oscilloscope operationCreative Commons Attribution License,
version 1.0. To view a copy of this license, visit
http://creativecommons.org/licenses
Bernard Grob. 1984. Basic Television And Video Sistem. Singpore. Mc
Graw Hill International Edition Singapore
Carson Kennedy.1999. Introduction to GPS (Global Position System).
Leica Geosystem AG. Switzerland. www.leica-geosystems.com
Cooper, William D, 1999. Instrumentasi Elektronik dan Teknik
Pengukuran. (Terjemahan Sahat Pakpahan). Jakarta : Penerbit
Erlangga.(Buku asli diterbitkan tahun 1978)
Creative Commons 559 Nathan Abbott Way, Stanford, California 94305,
USA
David Matzke dkk. USE OF THE OSCILLOSCOPE. Science Learning
Center. Data University Of Michigan-Dearbon.
Deboo and Burrous.1977. Integreted Circuit And Semiconductor Devices
: theory and application. Tokyo Japan : Kogakusha.Ltd
Fluke. Principles testing methods and applications.
http://www.newarkinone.thinkhost.com/brands/p
romos/ Earth_Ground_Resistance.pdf
Garmin.(2000). GPS Guide for beginner. Garmin Corporation. USA.
www.garmin.com
Gekco. 2002. A Video Tutorial. Copyright Gekco.
http://www.gekco.com/vidprmr.htm tanggal 1 Oktober
Hai Hung Chiang. (1984). Electrical And Electronic Instrumentation. A
wiley Interscience New York. Publication Jhn Wiley And Son.
LAMPIRAN. A


Healthline Network,Inc. 2007. Equipment Information. 2007 Healthline
Networks, Inc. All rights reserved.
http://www.healthline.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information
http://www.diagnostic medical IS\Medical ultrasonography -
Wikipedia,the free encyclopedia.mht
Jean-Marie Zogg.2002. GPS Basics Introduction to the system Aplication
overview. Thalwil Switzerland. www.u-blox.com
Kamran Khan. (2007). XYZ of Oscilloscopes. Posted by bailarina on 29
May 2007. www.sribd.com
Knopp Intercorporated. http://www.knoppinc.com/phase_seq.htm
Leader Electronics. Instruction Manual LCR Bridge Model LCR-740.
Leader electronics.Corp.
Le Magicien. 2000. 3 PHASE - 3 Wires Sequence Indikator. Tersedia
dalam
http://www.geocities.com/lemagicien_2000/elecpage/3phase/3pha
se.html diakses tanggal 19 Juni 2008
Magellan. Magellan Maestro
TM
4050 User Manual. San Dimas CA
91773. Magellan Navigation Inc.
Manual stargass :
http://images.mycdmm.de/file/353bb62d149fcebb6f5537f0c8f152
203b41f7c9
Muslimim ,M. 1984. Alat-alat Ukur Listrik dan Pengukuran Listrik.
Bandung : CV.Armico.
Phase Squence Indoicator . tesco dua kawat . http://www.tesco-
advent.com/tesco-phase-sequence.html
R.S. Panti Rapih. MRI ( Magnetik Resonance Imaging ) Instalasi
Radiologi.R.S. Panti Rapih .
http://health.howstuffworks.com/mri1.htm
Soedjana, S., Nishino, O. 1976. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik.
Jakarta : PT. Pradnya Paramita.


Sanwa Electric. Instructional Manual YX-360 TRD Multitester. Sanwa
Electric
Sri M. Shanmukha Chary. 2005. Intermediate Vocational Course, 2
nd
Year TV servicing Lab-II Manual. Andra Pradesh. Director of
Intermediate Education Govt.
Stanford. Basic oscilloscope operationCreative Commons Attribution
License,version 1.0. To view a copy of this license, visit
http://creativecommons.org/licenses Creative Commons 559
Nathan Abbott Way, Stanford, California 94305, USA Instrument
Co.Ltd.
Textronix. 2005. Fundamentals Of Real-Time Spectrum Analysis. USA.
Textronics. Inc. www.tektronix.com
Wikipedia.2007. Global Positioning System.
http://wikipedia.org/wiki/GPS
http://computer.howstuffworks.com/monitor1.htm
"http://en.wikipedia.org/wiki/CRO/Cathode_ray_tube"
www.tektronix.com/signal_generators 9
(www.interq or japan/se-inoue/e-oscilo0.htm)
http://www.doctronics.co.uk/scope.htm
http://www.tek.com/Measurement/App_Notes/37W_18400/eng/37W_184
00_0.pdf
http://productsearch.machinedesign.com/featuredproducts/Industrial_Co
mputers_Embedded_Computer_Components/Data_Acquisition/Spe
ktrum_Analyzers_Signal_Analyzers
http://www.aboutnuclear.org/view.cgi?fC=The_Atomhttp://www.radiologyi
nfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR


http://www.duncaninstr.com/images
http://www.humminbird.com/images/ PDF/737.pdf
http://www.eaglesonar.com/Downloads/Manuals/Files/IntelliMap640c_01
43-881_121305.pdf tanggal 20 Desember 07
http://www2.tek.com/cmswpt/tidownload.lotr?ct=TI&cs=wpp&ci=3696&lc=
EN&wt=480&wtwi=3696&wtla=EN&wtty=TI&wtsty=White+Paper&wt
pt=DOWNLOAD&wtbu=Instrumens+Business&wtpl=Real+Time+Sp
ektrum+Analyzers&wtlit=37W-19285-
0&wtsize=27+KB&wtver=1.0&wtcat=tektronix&wtnbrp=0&wtmd=RS
A2203A%2CRSA2208A%2CRSA3303A%2CRSA3308A%2CRSA3
408A&wtti=EMI+Measurements+Using+Tektronix+Real-
Time+Spektrum+Analyzers
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.tek.com/Measurement/App_Notes/37W_18400/eng/37W_184
00_0.pdf
http://productsearch.machinedesign.com/featuredproducts/Industrial_Co
mputers_Embedded_Computer_Components/Data_Acquisition/Spe
ktrum_Analyzers_Signal_Analyzers
http://www2.tek.com/cmswpt/tidownload.lotr?ct=TI&cs=wpp&ci=3696&lc=
EN&wt=480&wtwi=3696&wtla=EN&wtty=TI&wtsty=White+Paper&wt
pt=DOWNLOAD&wtbu=Instrumens+Business&wtpl=Real+Time+Sp
ektrum+Analyzers&wtlit=37W-19285-
0&wtsize=27+KB&wtver=1.0&wtcat=tektronix&wtnbrp=0&wtmd=RS
A2203A%2CRSA2208A%2CRSA3303A%2CRSA3308A%2CRSA3
408A&wtti=EMI+Measurements+Using+Tektronix+Real-
Time+Spektrum+Analyzers
http://images.mycdmm.de/file/353bb62d149fcebb6f5537f0c8f152203b41f
7c9 Manual stargass
(www.wikimediafoundation.org/ Oktober 2007)
http://www.aboutniclear.org/view


http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.healthline.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information
http://health.howstuffworks.com/mri1.htm
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26b.html CT ijo
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26c.html sumber CAT
http://www.radiologyinfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1
http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/Part2_26d.html
http://en.wikilipedia.org/wiki/Functional_magnetik_resonance_imaging
http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_imaging
http://www.aboutnuclear.org/view.cgi?fC=The_Atomhttp://www.radiologyi
nfo.org/en/info.cfm?PG=PET&bhcp=1http://rst.gsfc.nasa.gov/Intro/P
art2_26d.htm
http://www.medicalim
http://www.nmr-services.com /Process%20NMR
http://www.healthline.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information
http://health.howstuffworks.com/mri1.htm
http://www.DiagnostikMedicalIS/Medicalultrasonography-Wikipedia,the
freeencyclopedia.mht.
http://www.humminbird.com/images/PDF/737.pdf
DAFTAR TABEL
No. Tabel Nama Tabel Halaman
Tabel 1-1 Besaran-besaran satuan dasar SI 3
Tabel 1-2 Beberapa contoh satuan yang diturunkan 4
Tabel 1-3 Perkalian desimal 5
Tabel 1-4 Satuan bukan SI yang dapat dipakai bersama
dengan satuan
5
Tabel 1-5 Konversi Satuan Inggris ke SI 6
Tabel 1-6 Letak alat ukur waktu digunakan 9
Tabel 1-7 Beberapa Contoh Alat Ukur Penunjuk Listrik 13
Tabel 1-8 Tabel kebenaran decoder BCD 33
Tabel 1-9 Karakteristik beberapa fosfor yang lazim
digunakan
39
Tabel 2-1 Kalibrasi Arus 50
Tabel 2-2 Harga R
x
dan D 64
Tabel 2-3 Spesifikasi Umum Meter Elektronik Analog 72
Tabel 2-4 Probe Multimeter Pengukuran Tegangan Tinggi 72
Tabel 2-5 Range Pengukuran dan Akurasi 73
Tabel 2-6 Kalibrasi Voltmeter 84
Tabel 2-7 Kesalahan dan Koreksi Relatip 85
Tabel 2-8 Kalibrasi Arus 89
Tabel 2-9 Kesalahan dan Koreksi Relatip 90
Tabel 2-10 Spesifikasi Multimeter Digital 114
Tabel 3-1 Pembacaan nilai pengukuran 145
Tabel 3-2 Pengaturan saklar NORMAL pada +1,00 146
Tabel 3-3 Range multiplier 158
Tabel 4-1 Rating, Internal Impedance, and rated power loss 175
Tabel 4-2 Konstanta Pengali (Tegangan perkiraan
120/240V, arus perkiraan 1/5A
179
Tabel 4-3 Range Tegangan dan Arus 194
Tabel 5-1 Tahanan pentanahan 221
Tabel 5-2 Panduan Penetapan Penyelidikan 226
Tabel 5-3 Spesifikasi Field Meter Statik 239
Tabel 5-4 Data Teknik 243
Tabel 5-5 Spesifikasi Smart Field Meter 246
Tabel 6-1 Spesifikasi generator fungsi 250
Tabel 6-2 Crest faktor dan bentuk gelombang 272
Tabel 6-3 Konversi dBm 273
Tabel 9-1 Span dipilih, dihapus dan kecepatan sampel
efektif
388
Tabel 9-2 Perbandingan pengaruh perubahan pengaturan
span pada ranah frekuensi dan waktu
389
Tabel 9-3 Beberapa model penganalisa spectrum waktu riil 414
Tabel 9-4 Data Spesikasi 415
Tabel 9-5 Simbol-simbol keamanan 415
Tabel 9-6 Kebutuhan Alat Pelengkap 416
Tabel 10-1 Saklar pol a gambar 456
Tabel 11-1 Spesifikasi 502
LAMPIRAN B
Tabel 11-2 Karakteristik Pengetesan Alat 503
Tabel 11-3 Cakupan Nilai Antara Kandungan Gas Aman 515
Tabel 12-1 Faktor-faktor kesalahan 538
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Nama gambar Halaman
Gambar 1-1 Alat ukur standar galvanometer 2
Gambar 1-2 Alat ukur sekunder 3
Gambar 1-3 Posisi pembacaan meter 7
Gambar 1-4a Pembacaan yang salah 7
Gambar 1-4b Pembacaan yang benar 7
Gambar 1-5 Pengenolan meter tidak tepat 7
Gambar 1-6 Posisi pegas 8
Gambar 1-7 Kalibrasi sederhana ampermeter 10
Gambar 1-8 Kalibrasi sederhana voltmeter 11
Gambar 1-9 Hukum tangan kiri Fleming 14
Gambar 1-10 Prinsip kerja alat ukur 15
Gambar 1-11 Momen penyimpang 16
Gambar 1-12 Penentuan dari penunjukkan alat ukur kumparan
putar
17
Gambar 1-13 Skala alat ukur kumparan putar 17
Gambar 1-14 Peredaman alat ukur kumparan putar 18
Gambar 1-15 Gerakan jarum penunjuk dari suatu alat ukur 19
Gambar 1-16 Prinsip kerja instrumen tipe tarikan 20
Gambar 1-17 Beberapa bagian instrumen tipe tarikan 21
Gambar 1-18 Besarnya momen gerak 21
Gambar 1-19 Beberapa bagian penampang jenis repulsion 23
Gambar 1-20 Dua buah lembaran besi yang berbentuk seperti
lidah
23
Gambar 1-21 Prinsip alat ukur elektrodinamis 25
Gambar 1-22 Rangkaian ampermeter elektrodinamis 26
Gambar 1-23 Rangkaian voltmeter elektrodinanmis 26
Gambar 1-24 Skema voltmeter elektrostatis 27
Gambar 1-25 Rekombinasi elektron 29
Gambar 1-26 Polaritas dan simbol LED 29
Gambar 1-27 LED 30
Gambar 1-28 Rangkaian LED 30
Gambar 1-29 Skematik seven segmen 31
Gambar 1-30 Peraga seven segmen 31
Gambar 1-31 Rangkaian dekoder dan seven segmen 32
Gambar 1-32 Macam-macam peragaan seven segmen 32
Gambar 1-33 Konstruksi LCD 33
Gambar 1-34 Contoh peraga LCD pada multimeter 34
Gambar 1-35 Perkembangan LCD pada implementasi monitor
TV
35
Gambar 1-36 Skema CRT 36
Gambar 1-37 Cutaway rendering of a color CRT 36
Gambar 1-38 Senapan elektron 37
Gambar 1-39 Tanda skala gratikul 40
Gambar 2-1 Basic meter unit 42
Gambar 2-2a Ampermeter shunt 43
Gambar 2-2b Ampermeter dengan basic meter unit 43
Gambar 2-3 Contoh soal ampermeter shunt 44
LAMPIRAN C
Gambar 2-4 Ampermeter dengan ring yang berbeda 45
Gambar 2-5 Ayrton shunt 46
Gambar 2-6 Rangkaian penyearah pada Ampermeter AC 47
Gambar 2-7 Contoh dasar ampermeter AC 48
Gambar 2-8 Hasil posisi pembacaan meter 49
Gambar 2-9 Kalibrasi arus 49
Gambar 2-10a Rangkaian tanpa meter 50
Gambar 2-10b Rangkaian dengan meter 51
Gambar 2-11 Rangkaian ekivalen thevenin 51
Gambar 2-12 Contoh soal thevenin 52
Gambar 2-13 Contoh soal 52
Gambar 2-14 Contoh soal 54
Gambar 2-15 Voltmeter DC sederhana 54
Gambar 2-16 Voltmeter dengan basic meter unit dan multiplier 55
Gambar 2-17 Contoh soal voltmeter 56
Gambar 2-18 Contoh Implementasi 57
Gambar 2-19a Tegangan tanpa meter 60
Gambar 2-19b Tegangan dengan meter 60
Gambar 2-20a Rangkaian tanpa meter 60
Gambar 2-20b Rangkaian dengan meter 60
Gambar 2-21 Rangkaian penyelesaian aplikasi 1 61
Gambar 2-22 Rangkaian penyelesaian aplikasi 2 62
Gambar 2-23 Dasar ohmmeter seri 63
Gambar 2-24 Pembuatan tanda/skala ohmmeter 65
Gambar 2-25 Skala logaritmis pada ohmmeter seri 65
Gambar 2-26 Aplikasi ohmmeter seri 66
Gambar 2-27 Dasar ohmmeter parallel 67
Gambar 2-28 Skala ohmmeter parallel 67
Gambar 2-29 Jenis-jenis multimeter elektronik di pasaran 68
Gambar 2-30 Mulmeter elektronik 69
Gambar 2-31 Rangkaian voltmeter DC elektronik 69
Gambar 2-32 penyearah 70
Gambar 2-33 Rangkaian ohmmeter elektronik 71
Gambar 2-34 Gambar saklar jarum nol 74
Gambar 2-35 Gambar pemilih fungsi 74
Gambar 2-36 Panel depan 75
Gambar 2-37 Fungsi jarum penunjuk 75
Gambar 2-38 Fungsi skala 75
Gambar 2-39 Fungsi zero adjust secrew 76
Gambar 2-40 Fungsi ohm adjust knob 76
Gambar 2-41 Fungsi selector switch 77
Gambar 2-42 Fungsi lubang kutub (VAO terminal) 77
Gambar 2-43 Fungsi lubang kutub + (common terminal) 78
Gambar 2-44 Knob pemilih range 78
Gambar 2-45 Rangkaian pengukur tegangan DC 79
Gambar 2-46 Penunjukan pengukuran tegangan DC 79
Gambar 2-47 Pengawatan pengukuran tegangan DC salah 80
Gambar 2-48 Knob pemilih range 80
Gambar 2-49 Rangkaian pengukuran tegangan AC jala-jala
PLN
81
Gambar 2-50 Penunjukan pengukuran tegangan AC 81
Gambar 2-51 Rangkaian Kalibrasi Tegangan 83
Gambar 2-52 Rangkaian Pengukuran Arus DC 85
Gambar 2-53 Knob Pemilih Range 86
Gambar 2-54 Skala Penunjukkan Arus DC 86
Gambar 2-55 Knob Pemilih Range 87
Gambar 2-56 Rangkaian Pengukuran Arus DC yang Salah 87
Gambar 2-57 Rangkaian Kalibrasi Arus 88
Gambar 2-58 Cara Pemasangan Ohmmeter 91
Gambar 2-59 Posisi Pemindahan Range Ohmmeter 91
Gambar 2-60 Kalibrasi Ohmmeter 92
Gambar 2-61 Penempatan Resistor pada Pengukuran OHM 92
Gambar 2-62 Penunjukkan Hasil Pengukuran Ohm 93
Gambar 2-63 Rangkaian Pengukuran Resistansi 93
Gambar 2-64 Membuka Sekrup Pengunci 94
Gambar 2-65 Bagian Belakang Meter 94
Gambar 2-66 Posisi Skala dB Meter 95
Gambar 2-67 Pengenolan Sebelum Mengukur Hambatan 95
Gambar 2-68 Pengukuran Arus Bocor Transistor NPN 96
Gambar 2-69 Posisi Saklar Pembacaan I
CEO
96
Gambar 2-70 Rangkaian Pengetesan LED dengan Ohmmeter 97
Gambar 2-71 Pengukuran Arus I
F
Dioda Bias Maju 97
Gambar 2-72 Pengukuran Arus I
R
Dioda Bias Mundur 98
Gambar 2-73 Posisi Skala Pembacaan LV 98
Gambar 2-74 Gerakan Jarum Pengukuran Kapasitor 99
Gambar 2-75 Posisi Skala Kapasitor 99
Gambar 2-76 Pengenolan jarum Ohmmeter 100
Gambar 2-77 Pengetesan Dioda Bias Maju 101
Gambar 2-78 Pengetesan Dioda Bias Balik 101
Gambar 2-79 Knob Selektor Posisi Ohmmeter 102
Gambar 2-80 Gambar Kalibrasi Ohmmeter 102
Gambar 2-81 Pengetesan Transistor NPN Emitor Negatip
Meter Nunjuk Nol
103
Gambar 2-82 Pengetesan Transistor NPN Kolektor Negatip
Meter Nunjuk Nol
103
Gambar 2-83 Pengetesan Base Emitor Reverse 104
Gambar 2-84 Pengetesan Basis Kolektor Reverse 104
Gambar 2-85 SCR Anoda Gate dikopel Katoda Tegangan
Negatip
105
Gambar 2-86 Gate Dilepaskan Posisi Jarum Tetap Nol 105
Gambar 2-87 Elektroda SCR FIR 3D 106
Gambar 2-88 Pelepasan Skrup Pengunci Sekring 106
Gambar 2-89a Posisi Sekering dalam PCB 107
Gambar 2-89b Sekering 107
Gambar 2-90 Pengetesan sekering 107
Gambar 2-91 Pengukuran Baterai 108
Gambar 2-92 Pengecekan Colok Meter 108
Gambar 2-93 Pengubah analog ke digital 110
Gambar 2-94 Bentuk gelombang pencacah pengubah analog
ke digital
111
Gambar 2-95 Meter Digital 111
Gambar 2-96a Sistem Pengukuran Tegangan 115
Gambar 2-96b Bentuk Gelombang Tegangan 116
Gambar 2-97 Pengukuran Resistansi dengan Voltmeter Digital 117
Gambar 2-98 Sistem dan Bentuk Gelombang Pengukuran
Frekuensi
118
Gambar 2-99 Sistem dan Bentuk Gelombang Pengukuran
Perioda
119
Gambar 2-100 Sistem Pengukuran Interval Waktu 120
Gambar 2-101 Sistem dan Bentuk Gelombang pengukuran
kapasitansi
121
Gambar 2-102 Macam-macam Meter Digital 122
Gambar 2-103 Multimeter Digital dengan Selektor dan Otomatis 124
Gambar 2-104 Macam-macam Multimeter Digital di Pasaran 125
Gambar 3-1 Jembatan Wheatstone 126
Gambar 3-2 Jembatan Kelvin 128
Gambar 3-3 Jembatan Ganda Kelvin 130
Gambar 3-4 Jembatan Pembanding Induktansi 132
Gambar 3-5 Jembatan Maxwell 133
Gambar 3-6 Jembatan Hay 135
Gambar 3-7 Jembatan Pembanding Kapasitansi 137
Gambar 3-8 Jembatan Schering 138
Gambar 3-9 Panel -panel LCR Meter 141
Gambar 3-10 Sisi Atas Case 142
Gambar 3-11 Panel Belakang LCR Meter 143
Gambar 3-12 Posisi Saklar Off 144
Gambar 3-13 Posisi Nol Meter 144
Gambar 3-14 Panel Depan LCR Meter 145
Gambar 3-15 Cara Mengukur Resistansi 146
Gambar 3-16 Posisi Selector 146
Gambar 3-17 Posisi DC R 147
Gambar 3-18 Posisi Normal 147
Gambar 3-19 Posisi On 147
Gambar 3-20 Range Multiplier 147
Gambar 3-21 Pengaturan Indikator Meter Nol 148
Gambar 3-22 Pembacaan Indikator RCL 148
Gambar 3-23 Selector pada Posisi C 149
Gambar 3-24 Saklar Source pada AC/RL 149
Gambar 3-25 Dial D Q pada 0 149
Gambar 3-26 Saklar D Q pada posisi x 1 150
Gambar 3-27 Saklar Normal +1,00 pada posisi Normal 150
Gambar 3-28 Saklar Power pada posisi On 150
Gambar 3-29 Kontrol Sensitivity 150
Gambar 3-30 Posisi Kapasitor yang diukur 151
Gambar 3-31 Mengatur Saklar Range Multiplier 151
Gambar 3-32 Mengatur Dial D Q 151
Gambar 3-33 Mengatur Knob RCL dan Dial D Q 152
Gambar 3-34 Mengatur Saklar D Q pada Posisi x 10 152
Gambar 3-35 Pembacaan Hasil Pengukuran 152
Gambar 3-36 Saklar Pemilih pada Posisi L 153
Gambar 3-37 Saklar Sumber Tegangan AC 153
Gambar 3-38 Saklar DQ x 1 – x 10 dipilih Posisi x1 154
Gambar 3-39 Saklar Normal pada Posisi Normal 154
Gambar 3-40 Saklar Range Pengali pada Posisi 1 mH 154
Gambar 3-41 Posisi Induktor yang Diukur 155
Gambar 3-42 Penunjukan Jarum 155
Gambar 3-43 Hubungan ke Sumber Tegangan Luar 157
Gambar 3-44 Pengukuran R dengan Sumber dari Luar 158
Gambar 3-45 Pengukuran C, L dengan Sumber dari Luar 158
Gambar 4-1 Pengukuran Daya dengan Memakai Voltmeter
dan Ampermeter
160
Gambar 4-2 Pengukuran Daya Metoda Tiga Voltmeter dan
Tiga Ampermeter
163
Gambar 4-3 Wattmeter Satu Fasa 165
Gambar 4-4 Metode ARON 167
Gambar 4-5 Diagram Fasor Tegangan Tiga Fasa Vac, Vcb,
Vba dan Arus Tiga Fasa Iac, Icb, dan Iba
168
Gambar 4-6 Konstruksi Wattmeter Elektrodinamometer 169
Gambar 4-7 Diagram Vektor Wattmeter Jenis
Elektrodinamometer
170
Gambar 4-8 Diagram Vektor Wattmeter Jenis Induksi 170
Gambar 4-9 Prinsip Wattmeter Jenis Thermokopel 171
Gambar 4-10 Rangkaian Wattmeter Jenis Elektrodinamometer 172
Gambar 4-11 Variasi Penyambungan Wattmeter 173
Gambar 4-12 Konstruksi Wattmeter Tipe Portable Single
Phase
174
Gambar 4-13 Hubungan Internal Wattmeter Tipe Portable
Single Phase
174
Gambar 4-14 Hubungan Kumparan Arus Seri terhadap Beban 176
Gambar 4-15 Pengukuran Daya Satu Fasa jika Arus Melebihi
Nilai Perkiraan
176
Gambar 4-16 Pengukuran Daya Satu Fasa jika Tegangan
Melebihi Nilai Perkiraan
177
Gambar 4-17 Pengukuran Daya Satu Fasa jika Arus dan
Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan
177
Gambar 4-18 Pengukuran Daya Tiga Fasa (Metode Dua
Wattmeter)
178
Gambar 4-19 Pengukuran Daya Tiga Fasa jika Arus dan
Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan
178
Gambar 4-20 Rangkaian Wattmeter AC Satu Fasa 180
Gambar 4-21 Rangkaian Kumparan tegangan 181
Gambar 4-22 Konstruksi Wattjam Meter 184
Gambar 4-23 Mekanik Meter Induksi Elektromekanik 185
Gambar 4-24 Meter Induksi Elektromekanik, 100A 230/400 V
Cakram Baling-baling Aluminium Horizontal
Merupakan Pusat Meter
186
Gambar 4-25 Meter Listrik Solid State 187
Gambar 4-26 Rangkaian Alat Ukur Faktor Daya Satu Fasa 191
Gambar 4-27 Konstruksi Alat Ukur Faktor Daya 192
Gambar 4-28 Rangkaian Alat Ukur Faktor Daya Tiga Fasa 193
Gambar 4-29 Alat Ukur Faktor Daya Tipe Daun Terpolarisasi 193
Gambar 4-30 Konstruksi Faktor Daya (Cos Q meter) 194
Gambar 4-31 Segitiga Daya 196
Gambar 4-32 Daya Bersifat Induktif 196
Gambar 4-33 Daya Bersifat Kapasitif 196
Gambar 4-34 Pengukuran Faktor Daya Satu Fasa 199
Gambar 4-35 Pengukuran Faktor Daya Tiga Fasa 200
Gambar 4-36 Metode Menentukan Urutan Fasa dengan R dan
C
200
Gambar 4-37 Fasor Diagram saat Urutan Fasa Benar 201
Gambar 4-38 Fasor Diagram saat Urutan Fasa Salah 201
Gambar 4-39 Metode Menentukan Urutan Fasa dengan
Lampu
202
Gambar 4-40 Konstruksi Indikator Tes Urutan Fasa 202
Gambar 4-41 Prinsip Indikator Tes Urutan Fasa 203
Gambar 4-42 Contoh Indikator Tes Urutan Fasa yang Lain 205
Gambar 4-43 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan R
dan C pada Urutan Benar
206
Gambar 4-44 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan R
dan C pada Urutan Salah
207
Gambar 4-45 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan
Lampu pada Urutan Benar
208
Gambar 4-46 Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan
Lampu pada Urutan Salah
209
Gambar 5-1 Penguji Tahanan Isolasi 211
Gambar 5-2 Penguji tahanan Isolasi Menggunakan Baterai 212
Gambar 5-3 Pengecekan Kondisi Baterai 213
Gambar 5-4 Baterai dalam Kondisi Baik 213
Gambar 5-5 Meter Siap Digunakan 214
Gambar 5-6 Pengukuran Tahanan isolasi 214
Gambar 5-7 Pengukuran Tahanan Isolasi antara Fasa
dengan Nol N
214
Gambar 5-8 Pengukuran tahanan isolasi antara Fasa dengan
Tanah G
215
Gambar 5-9 Pengukuran tahanan isolasi antara nol N dengan
Tanah G
Gambar 5-10 Pengukuran Tahanan Isolasi antara Instalasi
dengan Tanah G
215
Gambar 5-11 Elektroda yang Mempunyai Pengaruh Lapisan 216
Gambar 5-12 Tanah yang korosif 217
Gambar 5-13 Sambaran petir 218
Gambar 5-14 Nilai Tahanan Pentanahan yang Ideal 218
Gambar 5-15 Hubungan antara Penghantar Tanah dan
Elektroda Tanah
219
Gambar 5-16 Elektroda yang mempunyai pengaruh lapisan 221
Gambar 5-17 Elektroda Pentanahan 222
Gambar 5-18 Hubungan Beberapa Elektroda Pentanahan 222
Gambar 5-19 Jaringan Bertautan 222
Gambar 5-20 Pelat Tanah 222
Gambar 5-21 Cara Mengukur Tahanan Tanah 224
Gambar 5-22 Uji drop tegangan 225
Gambar 5-23 Uji Selektif 227
Gambar 5-24 Pengetesan alur arus metoda tanpa pancang 228
Gambar 5-25 Susunan Metoda tanpa Pancang 229
Gambar 5-26 Mengukur Tahanan Tanah dengan Dua Kutub 230
Gambar 5-27 MGB Mentanahkan Tanah 230
Gambar 5-28 Pengetesan kantor pusat tanpa pancang 231
Gambar 5-29 Pelaksanaan Pengujian Jatuh Tegangan pada
Sistem Pentanahan Secara Keseluruhan
232
Gambar 5-30 Pengukuran Tahanan Tanah Masing-masing
pada Sistem Pentanahan Menggunakan
Pengujian Terpilih
232
Gambar 5-31 Susunan Khas Sistem Pentanahan pada Suatu
Instalasi Menara Seluler
233
Gambar 5-32 Susunan Khas Sistem Pentanahan pada Gardu
Induk
235
Gambar 5-33 Penggunaan Pengetesan tanpa Pancang pada
Instalasi Switching Jarak Jauh
235
Gambar 5-34 Penggunaan Pengetesen Tahanan Tanah
Terpilih pada Sistem Penangkal Petir
235
Gambar 5-35 Mekanik field meter 235
Gambar 5-36 Rangkaian Elektronik Field Meter Statik 236
Gambar 5-37 Hasil pengukuran tegangan 237
Gambar 5-38 Field Meter Statik 237
Gambar 5-39a Rotating Shutters pada Permukaan Belakang
Field Meter
238
Gambar 5-39b Field Meter Digunakan Diluar Ruangan 238
Gambar 5-40 Ukuran field meter statik 239
Gambar 5-41 Letrak Pin Field Meter Statik 240
Gambar 5-42 Aluminium-Clamp dengan Ulir 240
Gambar 5-43 Instrumen Field Meter Digital 241
Gambar 5-44 Display Field Meter Digital 242
Gambar 5-45 Smart field meter 244
Gambar 5-46 Aplikasi smart field met er 245
Gambar 5-47 Frekuensi respon 245
Gambar 6-1 Contoh Generator Fungsi 247
Gambar 6-2 Blok Diagram Generator Fungsi 249
Gambar 6-3 Gambar Troubel Shooting Menggunakan Teknik
Signal Tracing
251
Gambar 6-4 Penggunaan Generator Fungsi Sebagai
Kombinasi Bias dan Sumber Sinyal
252
Gambar 6-5 Karakteristik Amplifier pada Overload 253
Gambar 6-6 Setting Peralatan dan Pengukuran Respon
Frekuensi
255
Gambar 6-7 Peragaan Respon Frekuensi Audio Amplifier 255
Gambar 6-8 Pengaruh Variasi Tone Kontrol 256
Gambar 6-9a Pengetesan Sistem Speaker 257
Gambar 6-9b Karakteristik Pengetesan Sistem Speaker dan
Rangkaian Impedansi
257
Gambar 6-10 Pengoperasian Generator RF 259
Gambar 6-11 Rangkaian Direct Digital Synthesis 260
Gambar 6-12 Presentasi Gelombang Sinus dalam Memori
Gelombang
261
Gambar 6-13 Phase Accumulator Circuitry 262
Gambar 6-14 Bentuk gelombang arbitrary dengan
diskontinyuitas
264
Gambar 6-15 Spektrum bentuk gelombang di atas pada 100
kHz
264
Gambar 6-16 Rangkaian pembangkit bentuk gelombang kotak 265
Gambar 6 -17 Rangkaian pembangkit bentuk gelombang pulsa 266
Gambar 6-18 Parameter bentuk gelombang pulsa 266
Gambar 6-19 Rangkaian kendali amplitudo output 269
Gambar 6-20 Impedansi keluaran generator fungsi 269
Gambar 6-21 Pengaruh rangkaian tertutup ground 271
Gambar 6-22 Nilai tegangan yang penting pada gelombang
sinus
272
Gambar 6-23 Modulasi amplitudo 274
Gambar 6-24 Modulasi frekuensi 275
Gambar 6-25 Frequensi shift keying 275
Gambar 6-26 Fekuensi sapuan 276
Gambar 6-27 Sweep with marker at DUT resonance 277
Gambar 6-28 Bentuk gelombang keluaran syn dan tiga siklus
bentuk gelombang burst
278
Gambar 6-29 Konfigurasi dua instrumen 278
Gambar 6-30 Pengukuran lebar band dari filter bandpass dan
penguat IF
280
Gambar 6-31 Bentuk gelombang keluaran generator fungsi 281
Gambar 6-32 Pelacakan Penganalisa spektrum 281
Gambar 6-33 Alignment penerima AM 283
Gambar 6-34 Alignment dari penerima IF komunikasi FM dan
diskriminator
284
Gambar 7-1 Pengambilan Data dengan CRO 288
Gambar 7-2 Peraga Bentuk Gelombang Komponen X, Y, Z 289
Gambar 7-3 Bentuk Gelombang pada Umumnya 290
Gambar 7-4 Sumber-sumber Bentuk Gelombang pada
Umumnya
290
Gambar 7-5 Gelombang Sinus 291
Gambar 7-6 Bentuk Gelombang Kotak dan Segiempat 291
Gambar 7-7 Bentuk Gelombang Gigi Gergaji dan Segitiga 291
Gambar 7-8 Step, Pulsa dan Rentetan Pulsa 292
Gambar 7-9 Bentuk Gelombang Komplek Video Komposit 293
Gambar 7-10 Frekuensi dan Perioda Gelombang Sinus 293
Gambar 7-11 Amplitudo dan Derajat Gelombang Sinus 294
Gambar 7-12 Pergeseran Pasa 295
Gambar 7-13 Operasi Dasar CRO 296
Gambar 7-14 Hubungan Basis Waktu Masukan dan Tampilan 298
Gambar 7-15 Struktur Tabung Gambar 298
Gambar 7-16 Sistem Pembelokan Berkas Elektron 299
Gambar 7-17 Blok Diagram CRO Analog 301
Gambar 7-18 Blok Diagram CRO Free Running 303
Gambar 7-19 Blok Diagram Osiloskop Terpicu 305
Gambar 7-20 Peraga Osiloskop Free Running 055
Gambar 7-21 Peraga Osiloskop Terpicu 305
Gambar 7-22 Blok Diagram CRO Jejak Rangkap 306
Gambar 7-23 Diagram Blok Osiloskop Berkas Rangkap yang
Disederhanakan
308
Gambar 7-24 Tabung Penyimpan dengan Sasaran Ganda dan
Senapan Elektron
310
Gambar 7-25 CRT Menyimpan dengan Sasaran Ganda dan
Dua Senapan Elektron
310
Gambar 7-26 Blok Diagram Osiloskop Digital 314
Gambar 7-27 Pengambilan Sampel Real Time 315
Gambar 7-28 Interpolasi Sinus dan Linier 315
Gambar 7-29 Akusisi Pembentukan Gelombang 316
Gambar 7-30 CRO Function Generator 316
Gambar 7-31 Fungsi Tombol Panel Depan CRO 320
Gambar 7-32 Pengawatan Kalibrasi 322
Gambar 7-33 Bentuk Gelombang Kalibrasi 322
Gambar 7-34 Berkas Elektron Senter Tengah 323
Gambar 7-35 Loncatan Pengukuran Tegangan DC 323
Gambar 7-36 Pengawatan Pengukuran dengan Function
Generator
324
Gambar 7-37 Pengaturan Function Generator Panel Depan 324
Gambar 7-38 Pengaturan Frekuensi Sinyal 324
Gambar 7-39 Bentuk Gelombang V/div Kurang Besar 325
Gambar 7-40 Bentuk Gelombang Intensitas terlalu Besar 325
Gambar 7-41 Bentuk Gelombang Sinus 326
Gambar 7-42 Bentuk Gelombang Mode XY 326
Gambar 7-43 Pengukuran Frekuensi Langsung 327
Gambar 7-44 Pengawatan Pengukuran Frekuensi Langsung 328
Gambar 7-45 Pengukuran Frekuensi Model Lissayous 329
Gambar 7-46 Pengukuran Beda Pasa Langsung 329
Gambar 7-47 Perbandingan Frekuensi 1 : 3 Beda Pasa 90
o
330
Gambar 7-48 Beda Pasa dan Beda Frekuensi Model
Lissayous
330
Gambar 7-49 Mixed Storage Osciloscope (MSO) 331
Gambar 7-50 Arsitektur Pemrosesan Parallel dari Osiloskop
Digital Pospor
332
Gambar 7-51 Peragaan Sinyal DPO 333
Gambar 7-52 Paket Pilihan Software 334
Gambar 7-53 Aplikasi Modul 334
Gambar 7-54 Modul Video 334
Gambar 7-55 Pengembangan Analisis 334
Gambar 7-56 Tombol Pengendali Tradisional 335
Gambar 7-57 Peraga Sensitif Tekanan 335
Gambar 7-58 Menggunakan Pengendali Grafik 335
Gambar 7-59 Osiloskop Portable 335
Gambar 7-60 Probe Pasip Tipikal beserta Asesorisnya 337
Gambar 7-61 Probe Performansi Tinggi 337
Gambar 7-62 Probe Sinyal Terintegrasi 338
Gambar 7-63 Probe Reliabel Khusus Pin IC 338
Gambar 7-64 Hasil dengan Probe Dikompensasi dengan
benar
340
Gambar 7-65 Hasil dengan Probe Tidak Dikompensasi 340
Gambar 7-66 Hasil dengan Probe Dikompensasi dengan
kompensasi berlebihan
340
Gambar 7-67 Tegangan Puncak ke Puncak 341
Gambar 7-68 Pengukuran Tegangan Senter Horizontal 341
Gambar 7-69 Pengukuran Tegangan Senter Vertikal 341
Gambar 7-70 Pengukuran rise time dan lebar pulsa 343
Gambar 8-1 Kerja frekuensi meter jenis batang getar 345
Gambar 8-2 Prinsip frekuensi meter jenis batang getar 346
Gambar 8-3 Bentuk frekuensi meter batang getar 346
Gambar 8-4 Prinsip frekuensi meter jenis meter pembagi 347
Gambar 8-5 Prinsip alat ukur frekuensi besi putar 348
Gambar 8-6 Bentuk frekuensi meter analog 348
Gambar 8-7 Rangkaian dasar meter frekuensi digital 349
Gambar 8-8 Blok Diagram Pembentukan Time Base 350
Gambar 8-9 Pernyataan simbolik dari rangkaian flip-flop 351
Gambar 8-10 Rangkaian flip-flop (multivibrator bistable) 351
Gambar 8-11 Rangkaian AND 351
Gambar 8-12 Tabel kebenaran dari suatu rangkaian AND 352
Gambar 8-13 Rangkaian untuk mengukur frekuensi 352
Gambar 8-14 Rangkaian digital frekuensi meter 353
Gambar 8-15 Blok diagram dari counter elektronik yang
bekerja sebagai pengukur frekuensi
355
Gambar 8-16 Konversi Frekuensi Hiterodin 356
Gambar 8-17 Gambar putaran drum menghasilkan 10 pulsa
perputaran untuk digunakan dengan counter
357
Gambar 8-18 Diagram blok counter pada mode kerja perioda
tungal dan perioda ganda rata-rata
358
Gambar 8-19 Blok diagram counter yang bekerja sebagai
perbandingan dan perbandingan ganda
359
Gambar 8-20 Blok diagram counter sebagai pengukur interval
waktu
360
Gambar 8-21 Trigger level control 361
Gambar 8-22 Slope triggering 361
Gambar 8-23 Pengukuran waktu delay suatu relay 362
Gambar 8-24 Gating error 365
Gambar 8-25 Kalibrasi sumber frekuensi lokal 367
Gambar 8-26 Perubahan frekuensi vs waktu untuk ”oven
controlled crystal”
368
Gambar 9-1 Langkah sapuan penganalisa spektrum pada
serangkaian unsur frekuensi seringkali terjadi
kesalahan transien diluar arus sapuan jalur yang
digaris kuning
372
Gambar 9-2 Arsitektur tipikal penganalisa spektrum sapuan 374
Gambar 9-3 Blok diagram VSA sederhana 375
Gambar 9-4 Arsitektur tipikal penganalisa spektrum waktu riil 376
Gambar 9-5 Sampel, bingkai dan blok hirarki memori dari 377
RSA
Gambar 9-6 Penganalisa spektrum waktu riil blok akuisisi dan
pemrosesan
378
Gambar 9-7 Penggunaan topeng frekuensi pada pemicuan
ranah frekuensi waktu riil
379
Gambar 9-8 Topeng frekuensi pada level burst rendah 380
Gambar 9-9 Penggunaan topeng frekuensi untuk memicu
sinyal berada pada sinyal besar sinyal tertentu
dalam lingkungan spectrum kacau
380
Gambar 9-10 Peraga spektogram 381
Gambar 9-11 Pandangan waktu dikorelasikan, peraga daya
terhadap frekuensi (kiri) dan spektogram (kanan)
381
Gambar 9-12 Ilustrasi dari beberapa waktu dikorelasikan
disediakan untuk pengukuran pada RTSA
382
Gambar 9-13 Pandangan multi ranah menunjukan daya
terhadap waktu, daya terhadap frekuensi dan
demodulasi FM
383
Gambar 9-14 Pandangan multi ranah menunjukan spektogram
daya terhadap frekuensi, daya terhadap waktu
383
Gambar 9-15 Blok diagram pemrosesan sinyal digital pada
penganalisa spektrum waktu riil
385
Gambar 9-16 Diagram pengubah digital turun 386
Gambar 9-17 Informasi passband dipertahankan dalam I dan
Q terjadi pada setengah kecepatan sampel
387
Gambar 9-18 Contoh lebar band pengambilan lebar 388
Gambar 9-19 Contoh lebar band pengambilan sempit 388
Gambar 9-20 Pemicuan waktu riil 390
Gambar 9-21 Pemicuan sistem akuisisi digital 391
Gambar 9-22 Proses pemicuan penganalisa spektrum waktu
riil
393
Gambar 9-23 Definisi topeng frekuensi 395
Gambar 9-24 Spectrogram menunjukkan sinyal transien diatur
pada pembawa. Kursor diatur pada titik picu
sehingga data sebelum picu ditampilkan, diatas
garis kursor dan data setelah picu diperagakan
dibawah garis kursor. Garis sempit putih pada
sisi kiri daerah biru dinotasikan data setelah
picu.
395
Gambar 9-25 Satu bingkai spektogram yang menunjukkan
kejadian picu dimana sinyal transien terjadi
disekitar topeng frekuensi
398
Gambar 9-26 Tiga bingkai sampel Sinyal Ranah Waktu 398
Gambar 9-27 Diskontinuitas yang disebabkan oleh ekstensi
periodic dari sampel dan bingkai tunggal
398
Gambar 9-28 Profil jendela Blackman-Harris 4B (BH4B) 399
Gambar 9-29 Sinyal akuisisi, pemrosesan dan peraga
menggunakan bingkai overlap
400
Gambar 9-30 Vektor besaran dan Pasa 401
Gambar 9-31 Typical Sistem Telekomunikasi digital 402
Gambar 9-32 Blok diagram analisa modulasi RSA 403
Gambar 9-33 Spektogram frekuensi sinyal hopping mode SA
waktu riil
405
Gambar 9-34 Beberapa blok yang diperoleh dengan
menggunakan picu frekuensi untuk
mengukur topeng pengulangan frekuensi
transien pensaklaran
405
Gambar 9-35 Mode SA standar menunjukkan pengukuran
frekuensi diatas 1GHZ menggunakan span
maxhold
406
Gambar 9-36 Perbandingan spektogram frekuensi terhadap
waktu
406
Gambar 9-37 Spektogram pengesetan frekuensi di atas 5 MHz
of dan waktu 35 ms
408
Gambar 9-38 Frekuensi terhadap waktu pengesetan di atas 5
MHz of dan waktu 25 ms
408
Gambar 9-39 Pengesetan frekuensi di atas 50 Hz dari
frekuensi dan waktu 1 ms yang diperbesar
408
Gambar 9-40 Peraga daya terhadap waktu 409
Gambar 9-41 Pengukuran CCDF 409
Gambar 9-42 Pengukuranpengaturan transien I/Q terhadap
waktu untuk data
410
Gambar 9-43 Analisa demodulasi AM sinyal pulsa
dengan menggunakan pengunci pergeseran
amplitudo
410
Gambar 9-44 Analisa demodulasi FM sinyal yang
dimodulasi dengan sinus
410
Gambar 9-45 Analisa demodulasi PM pasa tak stabil melebihi
panjang burst.
410
Gambar 9-46 Analisa EVM dari waktu ke waktu sinyal 16 QAM
mengungkapkan distorsi amplitudo
411
Gambar 9-47 Peraga konstelasi menunjukkan pasa 411
Gambar 9-48 Peraga diagram mata menunjukkan kesalahan
besaran rendah dalam sinyal PDC
412
Gambar 9-49 Analisa modulasi W-CDMA handset dibuka loop
penendali daya. Peragaan konstelasi (rendah
kanan) menunjukkan kesalahan berkaitan
dengan glitch besaryang terjad selama level
transisi yang dapat dilihat dalam hubungan daya
terhadap waktu (atas kiri)
412
Gambar 9-50 Spektogram, konstelasi, EVM dan kesalahan
pasa terhadap waktu dari frekuensi hopping
sinyal
412
Gambar 9-51 Ilustrasi peraga codogram 413
Gambar 9-52 Pengukuran kodogram dari mode W-CDMA
diringkas kesalahan pasa terhadap waktu dari
frekuensi hopping sinyal
413
Gambar 9-53 Macam-macam model penganalisa spectrum di
pasaran
414
Gambar 9-54 Penempatan Marker pada sinyal 10 MHz 417
Gambar 9-55 Penggunaan Marker Fungsi Delta 418
Gambar 9-56 Pengaturan Pencapaian Dua Sinyal 419
Gambar 9-57 Sinyal Amplitudo Sama Belum Terpecahkan 420
Gambar 9-58 Resolusi Sinyal Amplitudo Sama Sebelum Lebar
band Video Dikurangi
420
Gambar 9-59 Pencacah Menggunakan Penanda 422
Gambar 9-60 Pengukuran Sinyal Terhadap Noise 423
Gambar 9-61 Sinyal AM 425
Gambar 9-62 Pengukuran Modulasi Dalam Span Nol 425
Gambar 9-63 Pengukuran Modulasi Dalam Span Nol 426
Gambar 9-64 Pengukuran Modulasi Dalam Span Nol 426
Gambar 9-65 Pengukuran Parameter Waktu 426
Gambar 9-66 Sinyal AM Demodulasi Kontinyu 427
Gambar 9-67 Menetapkan titik Offset 429
Gambar 9-68 Menentukan Offset 429
Gambar 9-69 Demodulasi Sinyal Broadcast 430
Gambar 10-1 Penjejakan bingkai gambar 432
Gambar 10-2 Pola standar EIA 435
Gambar 10-3 Tanda panah pengetesan bingkai 436
Gambar 10-4 Pengujian pemusatan dan sumbu horisontal 437
Gambar 10-5 Pengetesan linieritas vertikal horisontal 438
Gambar 10-6 Pengetesan aspek perbandingan dan kontras 439
Gambar 10-7 Pengetesan interfacing 440
Gambar 10-8 Pengetesan resolusi horisontal 441
Gambar 10-9 Pengetesan ringing 443
Gambar 10-10 Chart bola pengecekan linieritas 445
Gambar 10-11 Pola bola untuk pengetesan linieritas kamera 446
Gambar 10-12 Sinyal batang warna standar 447
Gambar 10-13 Pola putih, I dan Q 447
Gambar 10-14 Bentuk gelombang tangga 448
Gambar 10-15 Level sinkronisasi 449
Gambar 10-16 Pengetesan bidang putih penuh 449
Gambar 10-17 Pengetesan bidang warna putih 75% 450
Gambar 10-18 Pola jendela pengecekan frekuensi rendah 451
Gambar 10-19 Pengetesan puritas 451
Gambar 10-20 Pengetesan linieritas sistem 452
Gambar 10-21 Pengetesan ramp termodulasi 453
Gambar 10-22 Pengaturan konvergensi 454
Gambar 10-23 Pengetesan area gambar aman 454
Gambar 10-24 Blok diagram pembangkit pola 457
Gambar 10-25 Tombol panel depan pembagkit pola 458
Gambar 10-26 Pengawatan penggunan pola non video
komposit
460
Gambar 10-27 Pengawatan pengujian lebar penalaan tuner 461
Gambar 10-28 Pattern generator dengan TV pengetesan fungsi 464
Gambar 10-29 Model -model pembagkit pola di pasaran 465
Gambar 10-30 Blok Diagram Penerima Televisi BW 466
Gambar 10-31 Pola pengetesan sinyal video 467
Gambar 11-1 Bagan Serial Buses Mesin Tester 468
Gambar 11-2 Mesin tester 469
Gambar 11-3 Mixer Signal Osciloscope (MSO) 470
Gambar 11-4 Pengambilan Gambar Ganda SPI dan CAN
dengan Menggunakan MSO
471
Gambar 11-5 Kesalahan acak yang teramati dalam dekode
CAN pada bingkai data 1D:07F HEX
473
Gambar 11-6 Pemicuan pada CAN bingkai error mengisolasi
perbedaan akuisisi CAN pada bingkai transmisi
pengulangan bentuk gelombang glitch
475
Gambar 11-7 Perbesaran bentuk gelombang glitch pada CAN 476
Gambar 11-8 Lebar pulsa pemicu pengulangan sumber acak
dan glitch
477
Gambar 11-9 Masukan dan keluaran ECU 478
Gambar 11-10 Rak PC Mountable 480
Gambar 11-11 Serial communications 481
Gambar 11-12 Modul variasi protocol serial 482
Gambar 11-13 Rangkaian Card breadboard 483
Gambar 11-14 Saklar beban tipikal 484
Gambar 11-15 Pengawatan "m" instruments x 4 2-wire busses x
"n" DUT pins "m" instruments x 4 2-wire busses
x "n" DUT pins
485
Gambar 11-16 Perancangan system fungsi tes elektronik
otomotif
486
Gambar 11-17 Bentuk gelombang sapuan untuk keempat
sensor roda
487
Gambar 11-18 Respon ABS/TC ECM terhadap masukan VRS 488
Gambar 11-19 Pengarah solenoid sisi bawah 488
Gambar 11-20 Profil tegangan deaktivasi solenoid 489
Gambar 11-21 Penerapan pulsa pengetesan untuk menetukan
system integritas
490
Gambar 11-22 Profil arus solenoid 491
Gambar 11-23 Modul bodi kontrol 492
Gambar 11-24 Pemancar 492
Gambar 11-25 Aliran fungsi aksi immobilizer 494
Gambar 11-26 Immobilizer 495
Gambar 11-27 Pohon keputusan yang digunakan respon ECM 496
Gambar 11-28 Aliran aksi fungsionalitas TPMS 497
Gambar 11-29 Deviasi frekuensi ESA4402B 498
Gambar 11-30 Data bit pada ESA4402B 499
Gambar 11-31 Pengaturan kalibrasi pada umumnya 500
Gambar 11-32 Mesin Tester 501
Gambar 11-33 Piranti Scan 504
Gambar 11-34 Macam-macam peralatan diagnosa mesin 505
Gambar 11-35 Pemasangan alat uji 505
Gambar 11-36 Tombol 24-56 penganalisa gas 507
Gambar 11-37 Halaman manajer aplikasi 507
Gambar 11-38 Halaman pilihan bahasa 507
Gambar 11-39 Halaman fole manajer 508
Gambar 11-40 Halaman inisialisasi 509
Gambar 11-41 Pilihan icon 510
Gambar 11-42 Tampilan hasil tes standar 511
Gambar 11-43 Halaman tes standar 512
Gambar 11-44 Pilihan bahan bakar 513
Gambar 11-45 Peraga jumlah kendaraan yang diuji 513
Gambar 11-46 Kurva kandungan gas 514
Gambar 11-47 Hitogram gas kendaraan 515
Gambar 11-48 Gambar posisi sensor oksigen 516
Gambar 11-49 Precleaner transparan eksternal 517
Gambar 12-1 Macam-macam Tampilan GPS 519
Gambar 12-2 Peralatan system posisi global 520
Gambar 12-3 Fungsi dasar GPS 521
Gambar 12-4 Segmen ruang 521
Gambar 12-5 Posisi satelit 522
Gambar 12-6 Menunjukan cakupan efektif 522
Gambar 12-7 Posisi 28 satelit pada jam 12 UTC pada
tanggal 14 April 2001
523
Gambar 12-8 Konstruksi satelit 523
Gambar 12-9 Blok diagram system posisi global 524
Gambar 12-10 Pseudo Random Noise 526
Gambar 12-11 Posisi Lokasi Segmen Kontrol 527
Gambar 12-12 Bidang implemenasi GPS 527
Gambar 12-13 Sinyal system posisi global 528
Gambar 12-14 Pendeteksian kapal 528
Gambar 12-15 Pendeteksian posisi oran ditengah lautan 529
Gambar 12-16 Pemanfaatan GPS untuk pengukuran tanah 529
Gambar 12-17 GPS portable sederhana 530
Gambar 12-18 Penentuan posisi dengan 3 satelit 530
Gambar 12-19 Penentuan posisi dengan 4 satelit 531
Gambar 12-20 Hubungan pulsa satelit dengan penerima 531
Gambar 12-21 Penentuan posisi dengan 4 satelit 532
Gambar 12-22 Gambar perhitungan ?t 532
Gambar 12-23 Rambatan gelombang dari lapisan ionosper 534
Gambar 12-24 GPS dengan fekuensi ganda 535
Gambar 12-25 Antena cincin 536
Gambar 12-26 Terjadinya multipath 536
Gambar 12-27 Pengukuran DOP 536
Gambar 12-28 Satelit geometri PDOP 537
Gambar 12-29 Pengaruh Gugusan bintang pada nilai PDOP 538
Gambar 12-30 Koreksi perbedaan posisi 539
Gambar 12-31 Hubungan stasiun acuan dalam pengukuran 540
Gambar 12-32 Pengukuran nilai koreksi cakupan luas 540
Gambar 12-33 Pengkuran nilai koreksi cakupan semu 541
Gambar 12-34 GPS Maestro 4050 Berbagai Sudut Pandang 542
Gambar 12-35 Pemasangan GPS 543
Gambar 12-36 Pemasangan Piringan Perekat 544
Gambar 12-37 Pemasangan Baterai 544
Gambar 12-38 Pengaturan Volume 545
Gambar 12-39 Pengaturan Tingkat Kecerahan Gambar 545
Gambar 12-40 Menu Halaman 1 546
Gambar 12-41 Menu Halaman 2 547
Gambar 12-42 Keypad 548
Gambar 12-43 Layar Peta Mode Normal 549
Gambar 12-44 Layar Peta Mode Perjalanan 550
Gambar 12-45 Layar Peta Menunjukan Perjalanan 551
Gambar 12-46a Daftar Katagori 551
Gambar 12-46b Daftar Sub Katagori Belanja 551
Gambar 12-47 Perbelanjaan Terdekat dengan Posisi Saat itu 552
Gambar 12-48 Masukan Nama Perjalanan 552
Gambar 12-49 Tampilan Add 552
Gambar 12-50 Tampilan Save 553
Gambar 12-52 Pengaturan Tujuan 553
Gambar 12-53 Ketuk Sears Buka Menu 553
Gambar 13-1 Hasil scan otak MRI 555
Gambar 13-2 Mesin MRI 556
Gambar 13-3 MRI panjang terbuka tipikal 557
Gambar 13-4 Scaner MRI sebanding antara panjang dan
pendeknya
557
Gambar 13-5 Scaner MRI berdiri 557
Gambar 13-6 Scaner MRI terbuka 557
Gambar 13-7 Blok diagram rangkaian MRI 558
Gambar 13-8 Ruang pengendali pengoperasian MRI 559
Gambar 13-9 Scan MRI tangan patah 560
Gambar 13-10 Tampak dalam gambar dongkrak kasur jerami
terisi dihisap ke dalam sistem MRI
561
Gambar 13-11 Poto perbandingan gambar otak kiri laki-laki
atelitik muda (25
t
th), tengah (86 th) dan umur
(76 th) mempunyai penyakit Alzheimer's
semua digambar dalam tingkat yang sama
562
Gambar 13-12 menunjukkan pertumbuhan tumor dalam otak
wanita dilihat dari irisan lateral.
563
Gambar 13-13 Organ dalam digambar dengan MRI 564
Gambar 13-14 Perbandingan CAT scan, dan MRI cenderung
lebih detail dan kontras
565
Gambar 13-15 Scan MRI menunjukkan tubuh bagian atas
dilihat dari samping sehingga tulang tulang
belakang kelihatan jelas
565
Gambar 13-16 Irisan Axial, coronal dan sagitall 567
Gambar 13-17 MRI gambar kepala irisan tunggal 569
Gambar 13-18 Urutan temporal scan FMRI (irisan tunggal) 569
Gambar 13-19 aktivasi otak 3D 569
Gambar 13-20 Posisi CT scan 570
Gambar 13-21 Scan irisan otak 570
Gambar 13-22 Scan dada 571
Gambar 13-23 Gambar tabung dasar CT scan 572
Gambar 13-24 Emisi cahaya atom 572
Gambar 13-25 Hasil CT scan otak 573
Gambar 13-26 Mesin sinar x 573
Gambar 13-27 Pancaran poton 574
Gambar 13-28 Hasil CAT jantung dan torax 575
Gambar 13-29 Ide dasar penyinaran sinar x 576
Gambar 13-30 Prinsip dasar penyinaran sinar x pada CAT dan
hasil
576
Gambar 13-31 CT scan multi irisan 578
Gambar 13-32 Tabung dasar mesin CT scan 579
Gambar 13-33 Ruang kontrol dan pelaksanaan scanning 579
Gambar 13-34 Jaringan sistem manajemen gambar 580
Gambar 13-35 Hasil CT scan otak 582
Gambar 13-36 ultrasonik pertumbuhan janin (umur 12 minggu)
dalam kandungan ibu. Pandngan samping bayi
ditunjukkan (kanan ke kiri) kepala, leher, badan
dan kaki
583
Gambar 13-37 bayi dalam kandungan dilihat dengan sonogram 584
Gambar 13-38 perkembangan bayi 29 minggu ultrasonik 3D 594
Gambar 13-39 Pengujian Ultasonik Selama kehamilan 585
Gambar 13-40 Sonograph menunjukkan gambar kepala janin
dalam kandungan
585
Gambar 13-41 Medical sonographic scanner 587
Gambar 13-42 Sensor suara 588
Gambar 13-43 Spektrum Doppler Arteri 590
Gambar 13-44 Spektrum warna Arteri yang sama 590
Gambar 13-45 Ultrasonik Doppler untuk mengukur aliran darah
melalui jantung. Arah aliran darah ditunjukkan
pada layar dengan warna yangberbeda
590
Gambar 13-46 Bagian-bagian mesin ultrasonik 592
Gambar 13-47 Perkembangan janin dalam kandungan 594
Gambar 13-48 Peralatan Positron Emisi Tomography (PET) 599
Gambar 13-49 Gambar skeletal anomali 600
Gambar 13-50 Warna hijau kelenjar ludah, warna merah gonfok
adenomas
600
Gambar 13-51 Mesin PET 601
Gambar 13-52 Gambar Scanner PET lengkap 601
Gambar 13-53 Hasil Scan kepala dengan SPECT 602
Gambar 13-54 Refleksi sinar pada proses penggambaran 603
Gambar 13-55 Gambar otak normal yang digambarkan dalam 3
posisi yang berbeda
603
Gambar 13-56 Pengurangan alkohol 604
Gambar 13-57 Penambahan alkohol 604
Gambar 13-58 Hasil SPECT dan CT dari torso bagian atas
tubuh manusia ditunjukkan kedua tulang dan
organ dalam
604
Gambar 13-59 Cylodran bagian instrumen PET yang digunakan
untuk menghasilkan radioisoto umur pendek
Menunjukkan cyclotron bagian instrumen PET
605
Gambar 13-60 PET mengungkapkan kemajuan kanker dada
kiri pasien
605
Gambar 13-61 Rangkaian Irisan PET menunjukkan distribusi
kondisi anomalous otak
606
Gambar 13-62 Scan PET dapat menunjukan pola dalam otak
yang membantu dokter analisis parkinson
606
Gambar 13-63 Scan otak penderita Parkinson 606
Gambar 13-64 Perbandingan hasil MRI 607
Gambar 13-65 Hasil scan termal 608
LEMBAR PENGESAHAN
GLOSSARY
airbag deployment Airbag adalah suatu pengekangan pasif (tidak
memerlukan campur tangan manusia) di rancang
dalam bentuk tas memompa ketika terjadi benturan.
Terbuat dari bahan fleksibel yang dapat memompa bila
terjadi tabrakan mobil.
akuisisi Akuisisi data merupakan pencuplikan waktu riil untuk
membangkitkan data yang dapat dimanipulasi oleh
komputer.
amniocentesis Amniocentesis adalah prosedur yang digunakan
dalam mendiagnosa cacat janin pada awal
trimester kedua kehamilan.
anti-aliasing Dalam pemrosesan sinyal digital anti-aliasing
merupakan teknik meminimkan aliasing pada saat
merepresentasikan sinyal resolusi tinggi pada resolusi
yang lebih rendah.
anti-lock brake Anti-lock brakes dirancang untuk mencegah
peluncuran dan membantu pengendara
mempertahankan kendali kemudi selama situasi
pemberhentian darurat
attenuator Attenuator merupakan piranti elektronik yang
mengurangi amplitudo atau daya sinyal tanpa
membuat bentuk gelombang cacat. Attenuator
biasanya biasanya berupa piranti pasip terdiri dari
resistor.
Bandpass Filter Penyarring frekuensi yang hanya melewatkan
frekuensi menengah.
chip Serpihan kristal tunggal yang berisi rangkaian
terpadu.
claustrophobic Tidak nyaman di ruang sempit, gelap tertutup.
Common Mode
Rejection Ratio
Besaran yang dapat menunjukkan kualitas
penguat beda merupakan perbandingan antara
besarnya penguatan common dan penguatan
penguat beda.
cyclotron Unsur radiasi yang dihasikan oleh mesin scan
sebelum pengujian dimulai.
Debug
Mengidentifikasi dan melokalisir letak kesalahan .
LAMPIRAN D
densifying Perbandingan harga atas beribu-ribu nama merek
produk untuk semua kebutuhan.
distorsi Cacat gelombang
ECU test
throughput
Piranti throughput misalnya perubahan RS 232
dengan CAN dan sebaliknya dapat membuat atau
memecahkan performansi sitem pengetesan.
efek piezolistrik Bila sumbu mekanik dari Kristal diberi tekanan maka
akan timbul beda tegangan pada sumbu listrik. Bila
pada sumbu listrik diberi tegangan maka akan terjadi
perubahan keadaan disepanjang sumbu mekanik.
Bila pada sumbu listrik diberi tegangan AC maka akan
terjadi getaran di sumbu mekanik dengan frekuensi
naturalnya. Semakin tipis Kristal frekuensi getar
semakin tinggi.
elektron gun Susunan elektroda yang menghasilkan berkas
elektron yang dapat dikendalikan difokuskan dan
dibelokkan sebagaimana dalam gambar tabung
televisi.
electrocardiogram Electrocardiogram, juga dinakaman EKG atau ECG,
merupakan pengetesan sederhana yang mendeteksi
dan merekam aktivitas kelistrikan jantung.
encrypte code Kode yang digunakan dalam program Java , anda
dapat menggunakan sistem manajemen menjaga
profil pemakai dengan menggunakan passwaord.
fisiologi Istilah dalam fisiologi yang berasal dari kata physics
yang berarti alami dan logos yang berarti kata.
Fisiologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari
berbagai fungsi organisme hidup.
gastrointestinal Berkaitan dengan perut dan isi perut.
Glitch
Dalam elektronika, glitch adalah suatu sinyal listrik
jangka waktu pendek yang pada umumnya hasil
suatu kesalahan atau kesalahan disain
High Pass Filter Penyaring frekuensi yang hanya melewatkan
frekuensi tinggi
Immoblizer Tidak ada definisi standar, merupakan keadaan yang
tidak sesuai dengan perancangan.
Interlace
Dua bidang gambar yang tampak dalam satu layar
televise, namun setiap bidang gambar di scan secara
terpisah.
Interpolasi Interpolasi adalah menghubungkan titik. Interpolasi
linier sederhana menghubungkan titik sampel dengan
garis lurus.
Indomitabel Tidak mampu untuk diperdaya, ditundukkan; lunak,
atau ditaklukkan; tak tertundukkan .
interferensi Percampuan dua gelombang atau lebih dapat saling
memperkuat atau melemahkan tergantung dari
kedudukan pasa satu dengan yang lain.
intravascular Dalam pembuluh darah
Intermittent Selang waktu mulai dan berhenti berselang-seling
dengan sebentar-sebentar sinonim dengan periodik
Intuitif Tentang, berkenaan dengan, atau timbul dari intuisi
kompatibel Dapat digunakan secara bersama-sama dengan
tanpa merubah dan menambah peralatan lain dalam
sistem. Misal penerima TV warna dan hitam putih
untuk menerima siaran dari pemancar yang sama
Low Pass Filter Penyaring frekuensi yang hanya melewatkan
frekeunsi rendah.
luminansi Istilah yang digunakan untuk menandai kecerahan
atau hitam putihnya gambar televisi.
neonatal Berkaitan dengan bayi baru.
noise Sinyal yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam
sistem.
noise figure Dalam telekomunikasi noise figure (NF) merupakan
suatu ukuran degradasi dari perbandingan sinyal
terhadap noise, yang disebabkan oleh komponen
dalam sinyal RF.
osteoporosis Pengapuran / pengkeroposan tulang
Partikel Suatu bagian yang sangat kecil
Patologi forensic Ilmu penyakit forensik adalah suatu cabang
kedokteran yang terkait dengan menentukan
penyebab kematian, pada umumnya untuk kasus
hukum pidana dan kasus hukum perdata dalam
beberapa yurisdiksi.
pacemaker Pacemaker berupa alat kecil yang membantu detak
jantung dengan simulasi listrik membantu
mengendalikan irama jantung.
Penomena Suatu kejadian, keadaan, atau fakta yang dapat
diterima oleh pikiran sehat.
peripheral Periperal merupakan piranti komputer seperti drive
CD-ROM atau printer yang bukan merupakan bagian
utama computer seperti memori, mikroprosesor.
Periperal eksternal seperti mouse, keyboard, monitor,
printer.
peripheral
neuropathy
Peripheral neuropathy merupakan masalah
dengan kegelisahan yang membawa informasi ke dan
dari otak dan tulang belakang. Sakit ini
mengakibatkan, hilangnya sensasi, dan ketidak-
mampuan untuk mengendalikan otot.
portable Dapat dijinjing tidak ditempatkan secara permanen.
protocol Dalam teknologi informasi, protokol adalah
satuan aturan yang khusus dalam koneksi
telekomunikasi .
pseudo-range Cakupan pengukuran semu digunakan bersama-
sama dengan estimasi posisi SV yang didasarkan
pada data empiris yang dikirim oleh masing-masing
SV. Data orbital (empiris) memungkinkan penerima
untuk menghitung posisi SV dalam tiga dimensi pada
saat pengiriman sinyal secara berunyun.
radio isotop Suatu versi elemen kimia yang memiliki inti tak sabil
dan mengemisikan radiasi selama decay untuk
membentuk kestabilan. Radio isotop penting
digunakan dalam diagnosa medis untuk pengobatan
dan penyelidikan.
radiactive decay Radioactive decay merupakan suatu proses
ketidakstabilan inti atom karena kehilangan energi
berupa emisi radiasi dalam bentuk partikel atau
gelombang elektromagnetik.
real time waktu yang sebenarnya pada saat terjadi nya proses.
Resolution Kejelasan atau ketajaman gambar,
retrace Kembalinya berkas elektron dari sistem scanning
televisi sisi kanan layar ke sisi kiri layar monitor.
rise time Waktu yang diperlukan pulsa untuk naik dari 10%
amplitudo maksimum sampai 90%.
ringing Dengan hanya satu sinyal yang diberikan pada
terminal osiloskop dan yang lain tidak dihubungkan
dapat dilihat adanya beberapa sinyal yang tidak
berguna. Sinyal ringing tidak menambah amplitude
tegangan, yang bertambah adalah frekuensinya
karena factor ketiga.
scrambling CSS, Content Scrambling System, merupakan
system enkripsi lemah yang digunakan pada
kebanyakan DVD komersial.
shadow mask Lapisan logam berlubang di dalam monitor warna
untuk meyakinkan bahwa berkas elektron hanya
menumbuk titik pospor dengan warna yang benar dan
tidak mengiluminasi lebih dari satu titik.
S/N Ratio Perbandingn sinyal terhadap noise meruakan
perbandingan dari sinyal yang dikehendaki terhadap
sinyal yang tak diinginkan.
sweep vernier Sapuan dari atas ke bawah untuk mengukur posisi
terhadap skala.
tomography Berkaitan dengan scan medis.
Transduser Transduser merupakan suatu piranti yang dapat
mengubah besaran non listrik menjadi besaran listrik
dan sebaliknya.
transceiver Pemancar dan penerima sinyal yang ditempatkan
dalam satu kemasan.
transien Transien dapat didefinisikan sebagai lonjakan
kenaikkan arus yang mempunyai durasi 50 sampai
100 milidetik dan kembali normal pada tegangan
sumber 28 Volt membutuhkan waktu 50 mili detik atau
lebih.
troubleshooting Proses pencarian letak gangguan atau kerusakan.
Vasodilatation Pelebaran pembuluh darah.
Virtual Virtual sekarang ini secara filosofi distilahkan
sebagai sesuatu yang tidak nyata, namun
memungkinkan untuk diperagakan sepenuh kualitas
nyata.

Sri Waluyanti, dkk.

ALAT UKUR DAN TEKNIK PENGUKURAN
JILID 2 SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional Dilindungi Undang-undang

ALAT UKUR DAN TEKNIK PENGUKURAN
JILID 2
Penulis

Untuk SMK
: Sri Waluyanti Djoko Santoso Slamet Umi Rochayati : TIM : 18,2 x 25,7 cm

Perancang Kulit Ukuran Buku WAL a

WALUYANTI, Sri Alat Ukur dan Teknik Pengukuran Jilid 2 untuk SMK oleh Sri Waluyanti, Djoko Santoso, Slamet, Umi Rochayati ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008. xvii, 261 hlm Daftar Pustaka : Lampiran. A Daftar Tabel : Lampiran. B Daftar Gambar : Lampiran. C Glosarium : Lampiran. D ISBN : 978-602-8320-11-5 ISBN : 978-602-8320-13-9

Diterbitkan oleh

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional

Tahun 2008

KATA SAMBUTAN
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK. Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia. Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar ini. Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya, kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat kami harapkan.

Jakarta, Direktur Pembinaan SMK

KATA PENGANTAR PENULIS Pertama-tama penulis panjatkan puji syukur kahadlirat Allah s.w.t. atas segala rahmat dan kuruniaNya hingga penyusunan buku kejuruan SMK Alat Ukur dan Teknik Pengukuran ini dapat terselesaikan. Buku ini disusun dari tingkat pemahaman dasar besaran listrik, jenis-jenis alat ukur sederhana hingga aplikasi lanjut yang merupakan gabungan antar disiplin ilmu. Untuk alat ukur yang wajib dan banyak digunakan oleh orang yang berkecimpung maupun yang mempunyai ketertarikan bidang elektronika di bahas secara detail, dari pengertian, cara kerja alat, langkah keamanan penggunaan, cara menggunakan, perawatan dan perbaikan sederhana. Sedangkan untuk aplikasi lanjut pembahasan dititik beratkan bagaimana memaknai hasil pengukuran. Penyusunan ini terselesaikan tidak lepas dari dukungan beberapa pihak, dalam kesempatan ini tak lupa kami sampaikan rasa terimakasih kami kepada : 1. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Deparmeten Pendidikan Nasional yang telah memberi kepercayaan pada kami 2. Kesubdit Pembelajaran Direktorat Pembinaan SMK beserta staff yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan dukungan hingga terselesaikannya penulisan buku. 3. Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta beserta staff yang telah membantu kelancaran administrasi 4. Ketua Jurusan beserta staff Pendidikan Teknik Elektronika FT-UNY atas fasilitas dan dukungannya hingga terselesaikannya tugas ini. 5. Teman-teman sesama penulis buku kejuruan SMK di lingkungan FTUNY atas kerjasama, motivasi, pengertian dan dukungan kelancaran pelaksanaan. 6. Para teknisi dan staff pengajaran yang memberi kelonggaran penggunaan laboratorium dan kelancaran informasi. 7. Dan orang yang selalu ada di hati dan di samping penulis dengan segala pengertian, dukungan semangat dan motivasi hingga terselesaikannya penyusunan buku ini. Tak ada yang sempurna kecuali Dia yang memiliki segala puji. Oleh karena itu masukan dan saran penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan ini, atas saran dan masukannya diucapkan banyak terimakasih. Tim penyusun,

2. Kesalahan Paralaks 2.1. Gratikulasi 2.4.1.4.3. Kesalahan-kesalahan sistematis 1.2.DAFTAR ISI BAB KATA PENGANTAR PENULIS 1. Sistem Satuan Dalam Pengkuran 1.1.6.6. Parameter Alat Ukur 1. Kelebihan Multimeter Elektronik Halaman i 1 1 3 3 4 6 6 6 8 9 9 10 10 11 12 13 19 20 22 24 27 28 28 30 33 35 35 38 40 42 42 43 47 48 48 49 50 55 55 58 59 63 63 66 67 67 .2.5.3.3. MULTIMETER 2.4.1.1. Sistem-sistem satuan 1.2.6. Alat Ukur Besi Putar 1. Ampermeter Ideal 2.1. Multimeter Elektronik Analog 2. Mengubah Batas Ukur 2.2.2.4. Tipe Tarikan (Attraction) 1. Macam-macam Alat Ukur Penunjuk Listrik 1. Alat Ukur Elektrodinamis 1.2.4.4.2. Voltmeter 2. Mengubah Batas Ukur 2. Kalibrasi 1. Ampermeter AC 2. Klasifikasi Kelas Meter 1. Kesalahan Pembebanan 2.6.2. Kesalahan-kesalahan Tidak Sengaja 1.4.2.5.6. LED Seven Segmen 1. Kesalahan Kalibrasi 2.1.5.1. Tabung Sinar Katoda (Cathode Ray Tube/CRT) 1.1.3.6.2.1.1. Ohmmeter 2. Light Emitting Dioda (LED) 1.3.1.4.2.5.4.1.1.1.1.6.3. Tipe Tolakan (Repolsion) 1. Multimeter Dasar 2.5.4. Kesalahan Pengukuran 2. Kesalahan Ukur 1. Layar CRT 1. Sistem Satuan Lain 1.1.1.4.2.3.2. Kalibrasi Ampermeter Arus Searah 1.1. LCD Polarisasi Cahaya 1.4.4.5. Alat Ukur Elektrostatis 1.3.6.1.2.1. Hambatan Masukkan Voltmeter 2.3.2.1.1.3. Alat Ukur Kumparan putar 1.1. Susunan Elektroda CRT dan Prinsip Kerja 1.2. PENDALULUAN JILID 1 1.2.4. Kesalahan Pembebanan Voltmeter 2. Rangkaian Dasar Ohmmeter Seri 2.4.2.2. Kalibrasi Voltmeter Arus Searah 1.3. Satuan Dasar dan Satuan Turunan 1. Peraga Hasil Pengukuran 1. Ohmmeter Paralel 2.5.3. Kesalahan kesalahan Umum 1.2.1.

2.4. Perawatan Penyimpanan Meter 2.1.4.4.1. Pengukuran Arus Bocor (ICEO) transistor 2. Prinsip pengukuran Resistansi 3.7.1.1.1. Harga Koreksi Relatip dan kesalahan relatip 2.8.1.4.3. Ohmmeter 2.2.3.14.2.4.4.7.1.2.3.14. Mengganti Sekering 2.11.4.5.12. Prinsip Dasar Pengukuran L 1.1.5.4. Pengukuran Tegangan AC 2.4.554.4. Pengukuran Arus DC 2. Pengukuran Keluaran Penguat Audio Frekuensi (dB) 2.7. Spesifikasi dan Parameter Multimeter Elektronik 2.2.4.7. LCR METER 3.13.4.4.4.13.3. Parameter Multimeter Elektronik Analog 2. Spesifikasi Digital Multimeter 2.2. Pengukuran Tegangan DC 2.4. Pengukuran Tahanan 2.2.12.7.2.1.6.4.1.2. Jembatan Kelvin 3. Pengetesan Komponen 2.4.1.4.4..7.4. Pengetesan Dioda 2.7.5.2.5.9.2.5.5. Jembatan Ganda Kelvin 3.15. Harga Koreksi Relatif dan Kesalahan Relatif 2.6.4. Persiapan Pengukuran 2.14.10. Pengetesan SCR 2.4.5. Prinsip Dasar Pengukuran Komponen LCR 3.3.4.1.5.7. Mengatasi Gangguan Kerusakan 3. Kalibrasi Uji Kelayakan Meter 2.1. Multimeter Elektronik Fungsi Tegangan AC 2.5.4.1.13. Multimeter Elektronik Digital 2.4.4.5. Pengukuran Dioda ( termasuk LED) 2.1.3.5. Kapasitansimeter 2.3.2. Langkah Keselamatan Alat 2.6.1. Prinsip Dasar Pengukuran 2.5.1.5.5.4.3.2.4. Voltmeter 2.4. Pengukuran Kapasitor 2. Multimeter Elektronik Fungsi Tegangan DC 2.7. Prosedur Pengoperasian 2.4.1.5.4.7. Pengukuran Tegangan 2.7. Pengetesan Transistor 2.3.4.6.4. Kalibrasi Voltmeter 2. Petunjuk Pengoperasian 2. Perawatan 2.4. Range Pengukuran dan Akurasi 2. Panel Depan dan Fungsi Multimeter 2. LCR meter model 740 69 69 70 71 72 72 72 72 73 74 74 75 78 78 80 81 82 84 85 87 89 90 94 95 96 98 99 99 102 104 106 106 107 107 109 109 112 115 115 117 117 118 120 122 123 126 126 128 130 132 140 . Perbaikan 2.7. Spesifikasi Umum 2.4.4.3. Kalibrasi Arus 2.3.3. Pengukuran Perioda dan Interval Waktu 2.3.1. Pengukuran Frekuensi 2. Konstruksi Multimeter Analog 2.1. Bagian-bagian Multimeter Digital 2. Multimeter Elektronik Fungsi Ohm 2.4.6.4.2.4.4.2.

Pengukuran Daya Rangkaian DC 4.2. Wattmeter tipe thermokopel 4.1.3.2.1.7.10.5.3. Pengukuran daya tiga fase jika tegangan dan arus melebihi nilai perkiraan 4.3. Keselamatan Kerja 4. Pembacaan Nilai Pengukuran 3.3. Error Wattmeter 4.3. Pengukuran daya tiga fasa (metode dua watt meter) 4.3. Pengukuran Daya Rangkaian AC 4.3.3. Prosedur Pengoperasian 4. Faktor Daya dan Daya 4.1 Spesifikasi LCR meter 3.7.5.2. Pengukuran Resistansi 3.5.3. Cara Kerja 4. Pengoperasian 3.3.3.4. Prosedur Pengoperasian Cos Q meter 4.3.9. Pengukuran Resistansi DC Dengan Sumber Luar 3. Pengukuran Kapasitansi 3. Konstruksi dan Cara Kerja Wattmeter 4. Pengukuran Induktansi 3. Wattmeter 4.9.2. Spesifikasi Alat 4.3.3.1.2.4. Konstruksi dan Cara Kerja Wattjam meter 4.3. Watt Jam meter 4.5.9.2. Wattmeter tipe elektrodinamometer 4.3.3.3.2. Konstruksi 4. Wattmeter AMR 4.9.3. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan melebihi nilai perkiraan 4. Pengukuran Daya Reaktif 4.8.10.2.1. Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi nilai perkiraan 4. Wattmeter tipe induksi 4. Prinsip Kerja Wattmeter Elektrodinamometer 4.4.7.2.3.3.1. Metode Menentukan Urutan Fasa 160 162 163 164 164 166 168 168 168 169 170 171 175 175 175 175 176 176 177 177 178 179 179 179 180 183 184 186 187 187 188 191 191 192 195 198 200 .3. Pembacaan 4.1.6. PENGUKURAN DAYA 4.3.3.4.6.2.4.3.7.3. Faktor Daya 4. Pemilihan Range 1.1.7.7.4.4. Karakteristik 4.8.4.3.3. Error (Kesalahan) 4. Pengukuran resistansi DC 140 143 145 146 149 153 156 158 JILID 2 4.1 Metoda tiga Voltmeter dan metode tiga Ampermeter 4.2. Wattmeter satu fasa 4.6.9. Pengukuran daya DC atau AC satu fasa 4.4.3.3. Wattmeter tiga fasa 4.4.5.7.3.5. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan dan arus melebihi nilai perkiraan 4. Kasus Implementasi Lapangan 4.7. Meter Solid States 4.9.

1.1.1. Fungsi Generator 6. Cara menghitung tahanan tanah 5. Pengujian Tahanan Isolasi 5.5.2.2.4. Smart Field Meter 6. Set-up 5.1.7. 2. Mengukur Tahanan Tanah di Kantor Pusat 5.2. Perawatan 5. Pengaturan Offset 5. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah Ukuran Tanpa Pancang 5. Cara Menempatkan Tiang Pancang 5.2.2.1. Prosedur Pengoperasian Alat 5. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah 5.1.2.2.1. Ukuran Fieldmeter Statik 5.1.2. Diskripsi Instrument 5.5.3. Tahanan tanah dua kutub 5.5. Instruksi Peringatan 5.4.1.2.1.3.4.1. Letak Pin : 5.1. PENGUJI TAHANAN ISOLASI DAN KUAT MEDAN 5.3. Cara mengukur tahanan tanah 5. Cara Kerja Alat 4.3.2.3.2.2.4.3. Cara Menguji Sistem Pentanahan 5.1. Prosedur Pengukuran 5.6.5. Cara kerja uji Drop Tegangan 5.2. Fungsi Display 5.7.1.2.3. Prinsip Dasar Alat Indikator Urutan Fasa 4.8.2.2.2.2.2.3.2.2.3.2.1.8.2. Tahanan Pentanahan (Earth Ground Resistance) 5.2.10.1.2.3.4. Metode Pengetesan Pentanahan Tanah 5.3.2.2.2.1.2.6.2.3.3.3. Kawat Penghantar Tiga Fasa 4.3.7.2. Konstruksi dan Cara kerja 200 203 203 206 210 212 216 217 217 218 219 219 220 222 223 223 224 224 225 225 226 227 229 229 230 233 233 234 235 235 239 239 240 240 240 240 241 241 241 241 242 242 242 243 243 243 247 247 247 .3.3.2.6.1.3.1. PEMBANGKIT SINYAL 6.2.2.2. Pengukuran Medan 5.1.1.4.3.1. Persiapan Pengukuran 5. Nilai Tahanan yang Baik 5. Ukuran selektif 5. Metode Pengukuran 5. 3. Ukuran tahanan tanah 5.3.2.1. Pengukuran Tahanan Isolasi 5.2.1. Data Teknik 5.1. Data Teknik 5.8.3. Komponen elektroda pentanahan 5.10.10.6.1.7.2.3. Dasar-dasar Pentanahan 5.1.2.1. 2.2.2. Field meter Statik : 5.3.2. 1.4. Penghitungan Pengisian Muatan 5. Uji-uji yang direkomendasikan 5. Field meter Statik Digital 5. Lokasi aplikasi 5. Pendahuluan 6. Aplikasi Tahanan Pentanahan yang Lain 5.3.3. Ukuran impedansi tanah 5. Pentanahan dan Fungsinya 5.3.10. 1.3.2. Hal-hal yang mempengaruhi tahanan tanah 5.

2.1.2. Modulasi 6.1. Pengendali Tegangan Keluaran 6. Sapuan Frekuensi 6.4. Penggunaan generator fungsi sebagai bias dan sumber sinyal 6.3.2.2.2.4.1. Pembangkit Pulsa 6.2. Rangkaian Tertutup Ground 6.1.2. Frequency Modulation (FM) 6. Pembangkit Frekuensi Radio 6.1.4.3. Cacat Non-Harmonis 6. Prosedur Pengoperasian 6.1.4.1. Atribut Sinyal AC 6.1.5.3.4. Prosedur Pengoperasian 6. Generasi Bentuk Gelombang Pulsa 6.1.4.1.2.2.5. Gated Burst 6. Kesalahan Kuantisasi 6.4.5. Pengetesan speaker dan rangkaian impedansi 6. Cacat Harmonis 6.6.1.2.1. Peraga Respons Frekuensi 6.2.2.2. Sinyal Sinkron dan Marker 6. Alignment penerima AM 6.1. Pengetesan Tone Control Sistem Audio 6.5.1.1.2.2. Pengendali Tegangan Keluaran 6.2.5.1.5.6.3.3. Pasa Noise 6.1.2. Troubleshooting menggunakan teknik sinyal pengganti 6.5.2. Alignment penerima Komunikasi FM 249 250 250 251 252 253 253 254 254 255 256 258 258 259 259 262 265 265 266 266 267 267 268 268 270 270 271 273 274 274 275 276 277 277 279 279 280 282 282 282 282 284 . Spesifikasi Alat 6.4.1. Direct Digital Synthesis 6.2.2.6.2. Spesifikasi 6. Karakteristik beban lebih pada amplifier 6.2. Setting Peralatan Tes 6.2.3.4.4. Sweep Marker Generator 6.2. Creating Arbitrary Waveform 6.1.5.1.2.5.2.2.1. Pengukuran Respon Frekuensi 6. Burst 6.Troubleshooting dengan teknik signal tracing 6. Ketidaksempurnaan Sinyal 6.2.3.3.6.2.1.1.7 Keselamatan Kerja 6.2.4. Modulasi Amplitudo (AM) 6.4.1.4.2.2.4.6.2.4. Konstruksi dan Cara Kerja 6.1.4.2.2.2.4.1.4. Frequency-Shift Keying (FSK) 6.2.2.1.4.2. Prosedur Pengoperasian Pengukuran Pulsa noise 6.4. Pembangkit Gelombang 6.1.5.3.6.

1. 7.2.7.1.3.2.2. Frekuensi dan Perioda Tegangan Amplitudo Pasa Pergeseran Pasa Operasi Dasar CRO Prinsip Kerja Tabung Sinar Katoda Sensitivitas Tabung 7. Pengantar Pemahaman Dasar Sinyal Pengetahuan dan Pengukuran Bentuk Gelombang Gelombang kotak dan segiempat Gelombang gigigergaji dan segitiga Bentuk Step dan Pulsa Sinyal periodik dan Non periodik Sinyal sinkron dan tak sinkron Gelombang kompleks 287 287 289 291 292 292 292 292 293 294 294 294 294 295 295 295 298 300 301 301 302 302 303 305 308 313 313 7.1.2. 7.2.1.1.1.3.6.5.3.1. 7.1.2. 7. 7. 7.4.1. 7.2.4.2.Prinsip Kerja CRO Digital .5.2.1.3.4.2.3.1.3.1.3.3. 7.1.1. 7. 7. 7. 7.3. 7.4.3.3.2.4.2.1. 7. 7. Jenis-Jenis Osiloskop Osiloskop Analog Jenis.1.3.2.2. Osiloskop Digital 7. CRO Dua Kanal 7.1.1.3.3.1.3.2. 7. 7.2. CRO Penyimpanan Analog (Storage Osciloscope) 7.3.jenis Osiloskop Analog Free Running Osciloscope Osiloskop sapuan terpicu 7.1. 7. 7.2.2.1.2. Pengukuran Bentuk Gelombang 7.1.

Osiloskop Digital Pospor (Digital Phospor Osciloscope / DPO) 7. Menggroundkan osiloskop . 7.2.4.5.7. Pengukuran Frekuensi Model Lissayous 7.6.7. Osiloskop Penyimpan Digital 7.5.6.2. Metoda Pengambilan Sampel 7. Pengambilan Sampel Real-Time dengan Interpolasi 7. Mudah Penggunaan 7.1. Pengesetan 7.5. Mode Peraga Vertikal 7. Pengukuran Dengan Osikoskop Pengenalan Panel Depan dan Fungsi Pengukuran Tegangan DC 314 314 316 316 318 318 318 319 319 319 321 323 326 326 327 328 329 331 331 331 332 335 336 338 338 338 7.6. Probe 7.6. Perhatian Keamanan 7.8.2. Spesifikasi Umum 7.7. Ekuivalensi Waktu Pengambilan Sampel 7.6. Pengukuran Pasa 7.3. Pengoperasian Osiloskop 7.1.4. Peralatan yang Dibutuhkan 7. 7.8.1.5.3. Pengukuran Frekuensi 7.4.5. Pengukuran Frekuensi Langsung 7.1. Spesifikasi Osiloskop 7.4. Arsitektur Pemrosesan Paralel 7.4.2.7.5.3.5.2.6.1.4.3.4.6.7.4. MSO Sumbu XYZ Aplikasi Pada Pengujian Otomotif 7.4.3. Pengukuran Tegangan AC 7.4.6.2.7.6. Mixed Signal Oscilloscope 7.7.8.6.

Rangkaian frekuensi meter digital yang disederhanakan 8.3.2.1.6. Frekuensi Meter Digital 8.8. Pengukuran Interval Waktu dengan Counter 8.3.3. 339 339 339 342 342 343 344 345 345 347 348 349 349 353 354 354 355 357 359 359 360 362 365 365 366 8.4.1. Pengaturan Pengendali 7.1. Penggunaan Probe 7.6.8. Prinsip kerja 8.3. Alat pengukur frekuensi dari type alat ukur rasio 8.8.2. Pengukuran Perioda Dengan Counter Perioda Tunggal 8.8.8.3.3.3.8. Alat ukur frekuensi besi putar 8.9.1. Kesalahan pada “gate” 8.8. Kesalahan pengukuran 8. Pengukuran Pergeseran Pasa 8. Pengukuran Interval Waktu 8.2. Totalizer 8.1.7.1. Pengukuran Lebar dan Waktu Naik Pulsa 7.1. Pengukuran Waktu dan Frekuensi 7.5.3.4.2. Frekuensi Meter Analog .2. Pengukuran Tegangan 7. FREKUENSI METER 8.3.2 Pengukuran Frekuensi System Heterodyne 8.1.3.5. Metode Pengukuran 8. Pengukuran Frekuensi dengan counter 8. Kesalahan Time Base .4. Alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar 8.8.7.4.4.3.2. Pengukuran Perbandingan atau Perbandingan Ganda 8. Ground Diri Pengguna 7.7.

3.3. Penganalisa Vektor Sinyal dengan Analisis Modulasi Digital 9. 9.2. Jenis-jenis Penganalisa Spektrum 9. Pemicuan Waktu Riil 9.5.3. 9.3.5.1.2.1.3.3.2.2.5. 9.3.3.2.1.3. 9.1.3. 9.3. Penganalisa Spektrum tersapu 9.8.4.3.8.6. Dasar Analisa Spektrum Waktu Riil 9.5.5. Penganalisa Spektrum Waktu Riil 9.5.1.1.3.5. Pengantar dan Sejarah Perkembangan Spektrum Analiser 9.7. 9.3.5. Analisa Multi Ranah Korelasi Waktu 9.4.5. PENGANALISA SPEKTRUM 9.4.Tantangan Pengukuran Sinyal RF Modern 9.2.5.1. 9.2.2. Prinsip Kerja Spektrum Analisa Waktu Riil 9.3. Pengaruh Ranah Frekuensi dan Waktu Terhadap Kecepatan Pencuplikan 370 372 372 373 373 374 377 381 381 383 384 388 389 390 392 392 394 395 396 396 396 9. 368 JILID 3 9.3. Sistem Picu dengan Akuisis Digital Mode Picu dan Corak Sumber-sumber Picu RSA Membangun Topeng Frekuensi Pewaktuan dan Picu Baseband DSP Kalibrasi / Normalisasi Penyaringan .3.3. Kesalahan “Level trigger”. Pertimbangkan Pengukuran 9. Kunci Konsep Analisis Spektrum Waktu Riil 9.

Pengukuran Frekuensi 9. PEMBANGKIT POLA 10.5.1. Pola Standar 10.5.1. Komponen Sinkronisasi 10.2.3. Pemecahan Sinyal 9. Mengukur Perbedaan antara Dua Sinyal Pada Layar 9.2. Pengukuran Ranah frekuensi 9.3.4.4.4. Cakupan Kontras . Pola Pengetesan EIA 10.4.3.3.3.1.2.5.2. Modulasi Amplitudo.3. Penyusunan Bingkai 10.5.4. Linieritas Pembelokan 10.5.3.3.3.2.3.3.4.2. Informasi Warna (Krominansi) 10. Aspek Perbandingan 10. Resolving SInyal of Equal Amplitudo 9.6. Sinyal Luminansi (Video Monokrom) 10.5. Pengukuran Sinyal Terhadap Noise 9.3. 10.1.9.4. Sinyal Tes TV 10.2. Aplikasi Dalam Penggunaan 9.2.3.4.7.2. Latar Belakang Sejarah Sinyal Pengetesan 431 432 432 433 433 434 434 435 436 436 436 437 439 439 10. Ukuran IRE 10. Demodulasi Sinyal AM 10.11.4. Frekuensi dan pasa 9.4. Pemusatan 10.3. Informasi Keselamatan 9.4.10. Analisa Transformasi Fast Fourier 397 401 404 415 415 416 418 419 421 422 423 9.9.

Kontrol dan Spesifikasi Pola generator 10.6.3.7.1.4. 10. Pengukuran Lebar Penalaan Tuner Televisi 10.4.3. Pengembangan Pola Pembangkit Pola 10.4. Penjalinan Gambar (Interlacing) 10.4.2.6.1. Pengetesan Ringing Dalam Gambar 10. MSO 11. Blok diagram Pattern generator 10.8. Chart Bola Untuk Pengetesan Linieritas Kamera 10. Spesifikasi Aplikasi 10. Pembangkit pola dipasaran 10.4. Pola Pengetesan Batang Untuk Pengecekan Lapisan 439 440 442 442 444 444 446 447 449 450 450 451 453 455 458 459 459 459 461 462 464 467 10.2. Pengantar 468 470 471 11.8.3.4. Jendela 10.2. Verivikasi Sifat operasi Sistem Whindshield Wiper Automatis . Batang SMPTE 10. Batang Warna Putih EIA 75% 10.5.8.1.10.4.2.1. Resolusi 10.4.1.3.1.6.8.4.7.8.MESIN TESTER 11. Prosedur Penggunaan Pembangkit Pola 10. 10. Pengaturan Gambar dan Suara Menggunakan Pattern generator 10. Batang Bidang Putih Penuh 100% 10. Pola Pengetesan Sinyal Video 11.6.5. Sinyal Monoscope 10.7.6.8. Sinyal Batang Warna Standar EIA 10.4.1.4.8.5.

2.2.3.4.1.3.2.6.2. Komunikasi Serial 11. Deteksi Kelicinan Roda Pengetesan Deteksi Kelicinan Roda Pengetesan Ambang Kecepatan Roda Pengetesan Selenoid Pengarah Pengetsan Smart Drivers Pengujian Remote Keyless Elektronik Otomotif Perlindungan Immobilizer 11. Kerugian Jalur Pengukuran dan Kalibrasi Pesawat . Kalibrasi Pengukuran Kerugian Jalur 11.3.2.3. 11.9. Instrumentasi Pengukuran Frekuensi Rendah 11.1. Penghitungan 11.3. Peletakkan Semua Bersama 11. Pemicuan MSO Mengungkapkan Glitch Acak 11. Elektronik Pengetesan Fungsi Otomotif Menggunakan Sistem Komponen 11.1.3.2. Pengetesan Pengapian 11.1.4. 11.6.3. Sensor Reluktansi yang dapat divariasi 11. Karakteristik Input dan Output 11. 11.3.1.3.1. Pensaklaran Beban dan Pengukuran 11.3.3.3.3. 11.5.4. Pemicuan MSO Pada Bingkai Kesalahan 11.3.11.3.1.8. Aplikasi 474 476 477 478 479 479 481 482 483 485 486 486 486 486 487 487 488 490 491 492 494 495 496 499 500 11.2. Pengetesan Kepemilikan 11.5. Pengetesan Rem Anti-lock dan Kontrol Daya Tarik 11.1.11.10.3.1. Penambahan Pengetesan Throughput ECU Otomotip 11.3. Pengetesan Sistem Pemantauan Tekanan Ban (TPMS) 11.2.7.2.5.3.3. 11. 11.1.

1. Segemen ruang 12. Segmen Kontrol 12.3.2. Spesifikasi 11.4.3.14. Koreksi Pengukuran Cakupan Semu 12.3. Sumber-sumber kesalahan 12.5.2. Petunjuk Pengoperasian GPS Maestro 4050 .3. Menghitung Jarak Satelit 12.6.1.1.2.11.5.2.3.1. Differential GPS (DGPS) 12.1.4.5.1.2. Koreksi Perbedaan Posisi 12. Mesin Tester 11. Cara Bekerja GPS 12.1. Keunikan Pengetesan Fungsi Otomotif 11.2.5.4.3. Segmen Pemakai 12. Penganalisa Gas 12. Konstruksi GPS Satelit 12. Pengantar Teknologi GPS 501 502 502 504 505 518 521 522 523 525 526 527 528 528 529 531 532 533 539 539 539 540 540 541 542 12.4. Penerima Acuan 12.3. Gerakan Satelit 12.1.3.2. Koreksi Perbedaan Posisi 12.1. Perhitungan Posisi 12.1.3.12.2. SISTEM POSISI GLOBAL (GPS) 12.3.13. Penyiaran Nilai Koreksi 12.4. Sinyal Satelit 12. Rupa rupa Penguji Mesin 11.3. Menentukan Nilai Koreksi 12. Navigasi Sederhana 12.2.3.

1.2.3. Menu Utama 12. Keuntungan MRI 13.1.4.2.1.4.4.1.6. Keselamatan MRI 13. 13.4.1.4. Prosedur Point Of Interest (POI) 12. Pengertian FMRI 13.4.2. Perbedaan Antara MRI dan FMRI 13.1.13.1. Pengoperasian Dasar 12. Pengertian CT SCAN .1.6.1. Tata cara pemeriksaan dan apa yang akan dialami pasien saat pemeriksaan MRI : 13. Prosedur Perencana Perjalanan (Trip Planner) 13.2.1.7.3. Magnet MRI 13.1. Resonansi Magnetik 13.3.1.3. MRI Images 13. Kelemahan MRI MRI Masa depan 13.1 MRI (Magnetic Resonance Imaging) 543 544 545 546 547 551 552 554 556 557 559 561 562 563 564 565 566 566 567 568 568 568 569 569 13.Magnit MRI Tambahan 13. Perencana Perjalanan (Trip Planner) 12.12.2.1.2. Instalasi GPS 12.1.Konstruksi Mesin MRI 13. PERALATAN ELEKTRONIKA KEDOKTERAN 13.3.5.2.1.1. Mesin MRI 13.4.1.4.4.1.2.1.2.1.1.1.2.1.13. Alasan Melakukan MRI 13.1.4.5. Point Of Interest (POI) 12.1.Scan MRI 13.3.

3.3.3.2.1.3.1.3. Diagnosis Medis Penggambaran Sonography 581 581 582 582 583 584 586 586 586 587 588 589 589 591 594 596 597 13.1.2. Pengolahan Suara Menjadi Gambar 13. Mesin Sinar X Prosedur Scanning 13.3.1.2.3.2. Pengertian Ultrasonik Medis 13.2.3. Pengoperasian Alat 580 13.1.3. Aplikasi Diagnostik 13.3.4.2. Susunan transduser linier 13. Penggambaran Medis Ultrasonography 13.5.3. Penemuan Sinar X 571 572 573 576 577 579 13.3.3.2.3.3. Menerima Pantul 13. Pengertian Sinar X 13.2. Optimalisasi Peralatan Dengan Model jaringan 13.3. 13. Metoda Sonography 13. Mesin Ultrasonik 13. 2.2.4.3. Perbedaan Jenis Ultrasonik Prosedur Pengujian Dengan Ultrasonik Penggambaran Dari Kedokteran Nuklir .4. Perawatan 13.3.3. Sonography Doppler 13.2.1.5.2.3. 2.1.1.3. Kapan CT scan diperlukan 13.1.2.2.3. 13.3.2.1.2.2.1. Pembentukan Gambar 13.2.2.3.3. Produksi Gelombang Suara 13. 13. Cara kerja CT Scan dan Perkembangnnya 13.4.2.2.

4.6.2.3.4.1.4.4.4.5.13. 13. Prosedur Pengujian Prosedur Pelaksanaan Resiko Keterbatas Tomograpi Emisi Positron Teknik Cardiosvascular Imaging Scanning Tulang 597 601 609 609 610 610 DAFTAR PUSTAKA A DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR GLOSARIUM B C D . 13. 13. 13. 13.4.4.

Pengukuran Daya Rangkaian DC Daya arus searah dapat diukur gambar 4-1. Dengan mempergunakan rangkaian pada gambar 4-1. 4.1. Kasus aplikasi lapangan wattmeter jam (WH). Jenis-jenis wattmeter dan cara penggunaan 3. tegangan beban adalah V dan arus beban adalah I. bila beban adalah R. Menjelaskan prinsip kerja watt jam meter 4. Vv Rv Vv Rv R Gambar 4-1. Keterangan : V : voltmeter A : Ampermeter Misalkan. olah dihubungkan seperti terlihat pada adanya alat-alat pengukuran. Memprediksi beaya pemakain listrik. akan didapatkan : . Tegangan pada voltmeter adalah Vv dan arus pada ampermeter adalah Ia . sedangkan voltmeter dan ampermeter mempunyai tahanan dalam Rv dan Ra. Menggunakan wattmeter sebagai alat ukur daya 3. Dalam hal ini penting dengan alat pengukur volt dan alat untuk diperhitungkan kerugianpengukur amper. yang kerugian daya yang terjadi.BAB 4 PENGUKURAN DAYA Tujuan Pembahasan ini bertujuan membekali kemapuan : 1. Mendiskripsikan jenis dan prinsip pengukuran daya 2. Prinsip kerja wattmeter jam (WH) 4. Pengukuran daya dengan memakai voltmeter dan ampermeter. Metoda pengukuran daya 2. Pokok Bahasan 1.

. Jika Ra merupakan tahanan dari Ampermeter. drop tegangan Va I Ra Konsumsi daya beban : VL I V VI Va I I 2 Ra VI Va I Pada gambar (b) Voltmeter terhubung antara beban dengan Ampermeter. maka daya pada beban adalah : W 100 x 5 100 2 / 10 4 499 W Ada dua cara penyambungan pengukuran daya dengan menggunakan voltmeter dan ampermeter seperti ditunjukkan pada gambar 1 diatas. Pada gambar (a) Ampermeter terhubung antara beban dan Voltmeter. Maka voltmeter tidak hanya mengukur tegangan VL yang ada di beban tetapi juga mengukur tegangan yang drop di Ampermeter. sedangkan v ltmeter menunjukkan 100 V.Vv I R I Ra . Maka ampermeter tidak hanya menunjukkan arus yang melewati beban tetapi juga arus yang melewati voltmeter. bila dimisalkan tahanan dalam dari voltmeter adalah 10 K? . Ia I 2 Maka daya yang akan diukur adalah : W I2 R Vv I a I a Ra 2 Dengan cara yang sama. pada gambar 4-1b diperoleh : W VI Vv I a Vv Rv Pada gambar (1b). Arus yang melalui voltmeter IV V RV dimana Rv = tahanan dalam voltmeter. dan ampermeter menunjukkan 5 A.

daya yang ada setiap saat berubah sesuai ada pada saat itu dirumuskan P dengan waktu. maka arus akan tertinggal dengan tegangan dalam fasanya dengan sudut ? . Untuk memperoleh besarnya daya pada . Jika sedang dalam Dalam arus bolak-balik daya yang kondisi steady state.Konsumsi daya beban V IL V I IV V I V RV VI V2 RV Dalam kedua kasus. perlu dilakukan koreksi pada kerugian daya yang disebabkan oleh alat ukur. kemudian: v Vm Sin ω t i I m Sin ω t ϕ Maka besarnya daya adalah sebagai berikut : P V I Vm I m Sin ω t Sin ω t ϕ Jika θ ω t sehingga diperoleh P Vm I m Sin θ Sin θ ϕ Vm Im Cos ϕ Cos 2θ ϕ 2 Daya rata-rata untuk tiap periode adalah : . Pengukuran Daya Rangkaian AC ratanya. daya yang ditunjukkan oleh instrumen sama dengan konsumsi daya pada beban ditambah konsumsi alat ukur daya. bolak-balik merupakan daya rataDimana P = merupakan harga daya saat itu. V = tegangan I = arus.2. Dalam kondisi normal nilai kerugian daya pada alat ukur cukup kecil bila dibandingkan dengan daya beban. Jika sinyalnya adalah sinusoidal. Bagaimanapun juga ampermeter dan voltmeter akan membebani rangkaian yang dapat menyebabkan kesalahan dalam pengukuran daya 4. Daya dalam arus = V I.

masing-masing alat pengukur volt menunjukkan V1. Dari hasil yang diperoleh didapatkan bahwa faktor daya (cos f ) berpengaruh dalam penentuan besarnya daya dalam sirkit AC.1 Metoda tiga Voltmeter dan metode tiga Ampermeter Daya satu fasa dapat diukur dengan menggunakan tiga Voltmeter atau tiga Ampermeter. maka: . Cos ? merupakan faktor daya dari beban.Im Cos ϕ 2 V I Cos ϕ Vm Dimana V dan I merupakan harga rms dari tegangan dan arus. V2 A3 A1 A2 R 1 1 V3 2 V1 Beban 2 R Beban V1 I2 =V/R f f V V2=IR V3 I I1 I3 Gambar 4-2. V2 dan V3. Gambar 4-2 memperlihatkan pengukuran daya dengan menggunakan metode tersebut.2. Pengukuran daya metoda tiga voltmeter dan tiga ampermeter Dalam metoda tiga Voltmeter. ini berarti bahwa wattmeter harus digunakan dalam pengukuran daya dalam sirkuit AC sebagai pengganti Ampermeter dan Voltmeter 4.

Jika ditinjau dari fasanya ada 2 yaitu wattmeter satu fasa dan wattmeter tiga fasa. Ada 3 tipe Wattmeter yaitu 4. masing-masing alat I 32 W I 12 I22 pengukur amper menunjukkan I1. wattmeter tipe Elektrodinamometer dapat dipakai untuk mengukur daya searah (DC) maupun daya bolak-balik (AC) untuk setiap bentuk gelombang tegangan dan arus dan tidak terbatas pada gelombang sinus saja. kumparan tetap yang disebut kumparan arus dan kumparan berputar yang disebut dengan kumparan tegangan. Induksi dan Thermokopel.V3 2 W W V12 V2 2 2 V1 V2 Cos ϕ V1 V2 Cos ϕ R V1 2 V1 I Cos ϕ 1 R V3 2 2 V2 2 Dalam menggunakan metode tiga Ampermeter. I2. Wattmeter Wattmeter digunakan untuk mengukur daya listrik searah (DC) maupun bolak-balik (AC). sedangkan alat penunjuknya akan berputar melalui suatu sudut. yang berbanding lurus dengan hasil perkalian dari arus-arus yang melalui kumparan-kumparan tersebut. Wattmeter satu fasa Elektrodinamometer dipakai secara luas dalam pengukuran daya. Wattmeter tipe elektrodinamometer terdiri dari satu pasang kumparan yaitu Elektrodinamometer. I3 maka: 2 I 1 I 2 Cos ϕ I 2 R I 1 Cos ϕ I 12 V I 1 Cos ϕ R I3 2 2 I22 W 4. .3.3. Gambar 4-3 menunjukkan susunan wattmeter satu fasa.1.

daya rata-rata didalam suatu rangkaian adalah : P rata Elektrodinamometer yang dihubungkan dalam konfigurasi gambar 4-3 mempunyai defleksi yang sebanding dengan daya ratarata rata rata e I dt rata. defleksi ratarata selama satu perioda dapat dituliskan : rata rata K I c I p dt dimana: rata-rata = defleksi sudut rata-rata kumparan K = konstanta instrumen Ic = arus sesaat dalam kumparan arus Ip = Arus sesaat di dalam kumparan tegangan Dengan menganggap sementara Ic sama dengan arus beban I (secara aktual Ic = Ip + I) dan menggunakan nilai Ip = e/Rp didapatkan : rata rata KI e dt Rp K 1 e I dt T * Menurut definisi.3. Defleksi kumparan putar sebanding dengan perkalian Ic dan Ip .Kumparan kompensasi dibagian dalam kumparan arus Kumparan arus Kumparan tegangan R beban Jala-jala Kumparan arus Gambar 4. Jika f dan I adalah besaran sinus dengan bentuk e = Em sin wt dan I = Im sin (wt + f ) maka persamaan (*) berubah menjadi : K E I Cosϕ . besarnya Ip=e/Rp dimana e adalah tegangan sesaat p ada jala .jala dan Rp adalah tahanan total kumparan tegangan beserta tahanan serinya. Wattmeter satu fasa Arus sesaat didalam kumparan yang berputar (kumparan tegangan) adalah Ip.

dan kumparan tegangan dihubungkan antara (jala-jala. Teorema Blondel menyatakan bahwa daya nyata dapat diukur dengan mengurangi satu elemen wattmeter dan sejumlah kawat-kawat dalam setiap fasa banyak.dimana E dan I menyatakan nilai nilai rms tegangan dan arus f menyatakan sudut fasa antara tegangan dan arus. . Kumparan lain menggunakan kawat kecil (tipis) dan hanya membawa arus ke kumparan tegangan. menyebabkan fluks yang berlawanan dengan fluks utama. Gambar 4-4 menunjukkan sambungan dua wattmeter untuk pengukuran konsumsi daya oleh sebuah beban tiga fasa yang terkompensasi. Kemudian daya nyata total diperoleh dengan menjumlahkan pembacaan masing-masing wattmeter secara aljabar. VB A dan arus tiga fasa IAC . Salah satu kumparan menggunakan kawat lebih besar yang membawa arus beban ditambah arus untuk kumparan tegangan. Kumparan arus wattmeter 1 dihubungkan dalam jaringan A. memerlukan dua atau lebih pemakaian wattmeter. dengan persyaratan bahwa satu kawat dapat dibuat common terhadap semua rangkaian potensial. masingmasing mempunyai jumlah lilitan yang sama. Kesulitan dalam menempatkan sambungan kumparan tegangan diatasi dengan wattmeter yang 4. arus kumparan harus sama dengan arus beban. Wattmeter tiga fasa Pengukuran daya dalam suatu sistem fasa banyak.2. Tetapi arus ini berlawanan dengan arus didalam kumparan besar. Jika diperlukan pembacaan daya yang tepat. Daya total yang dipakai oleh beban setimbang tiga fasa sama dengan penjumlahan aljabar dari kedua pembacaan wattmeter. Berarti efek I dihilangkan dan wattmeter menunjukkan daya yang sesuai. line) A dan C.3. Kumparan arus terdiri dari dua kumparan. Beban yang dihubungkan secara delta dan dihubungkan secara induktif dan arus fasa ketinggalan dari tegangan fasa sebesar sudut ?. ICB dan IB A. tetapi ini biasanya sangat kecil dibandingkan daya beban sehingga dapat diabaikan. setimbang yang dihubungkan secara delta. VCB . Diagram fasor gambar 4-5 menunjukkan tegangan tiga fasa VAC . Wattmeter elektrodinamometer membutuhkan sejumlah daya untuk mempertahankan medan magnetnya. dan kumparan tegangannya antara jaringan B dan C. Kumparan arus wattmeter 2 dihubungkan dalam jaringan B . dan kumparan potensial harus dihubungkan diantara terminal beban.

Wattmeter 1 Kumparan arus R Kumparan tegangan Kumparan arus C A R Kumparan arus Kumparan arus Kumparan tegangan beban B Gambar 4-4.IA’A Cos (30°-?) = VI Cos (30°-?) W 2 = VBC .IB’B Cos (30°+?) = VI Cos (30°+?) dan W 1+W 2 = VI Cos (30°-?) + VI Cos (30°+?) = VI Cos 30°Cos ? + Sin 30°Sin? + Cos30°Cos? -Sin30°sin?) = 3 VI Cos? Persamaan diatas merupakan besarnya daya total dalam sebuah rangkaian tiga fasa. dan karena itu kedua wattmeter pada gambar secara tepat mengukur daya total tersebut. Dapat ditunjukkan bahwa penjumlahan aljabar dari pembacaan kedua wattmeter akan memberikan nilai daya yang benar untuk setiap kondisi yang tidak . Karena beban adalah setimbang. Kumparan potensial wattmeter 1 dihubungkan ke tegangan antara VAC . sedang tegangan pada kumparan tegangannya adalah tegangan antara VBC . tegangan fasa dan arus-arus fasa sama besarnya dan dituliskan : Wattmeter 2 VAC = VBC = V dan IAC = ICB =IB A = I Daya dinyatakan oleh arus dan tegangan masing-masing wattmeter adalah: W 1 = VAC . Metode ARON Gambar 4-4 Konfigurasi Wattmeter Kumparan arus wattmeter 1 membawa arus antara IA’A yang merupakan penjumlahan vektor dan arus-arus fasa IAC dan IAB. Dengan cara sama kumparan arus wattmeter 2 membawa arus antara IB’B yang merupakan penjumlahan vektor dari arus-arus fasa IB A dan IAC .

Merupakan dua fasor E dan I yang menyatakan tegangan dan arus pada sudut fasa ?. Daya nyata adalah perkalian komponen-komponen sefasa dari tegangan dan arus (E.sin ? atau E.I. yang memberikan perbedaan antara daya nyata dan daya oleh komponen reaktif. yang .I. sesuai dengan teorema Blondel. VCB. 4. Jika kawat netral dari system tiga fasa juga tersedia seperti halnya pada beban yang tersambung dalam hubungan bintang 4 kawat. ICB dan IBA. Gambar 4-5. VB A dan arus tiga fasa IAC .cos (? . sedang daya reaktif adalah perkalian komponenkomponen reaktif yaitu E.3. Wattmeter tipe elektrodinamometer.4.setimbang. wattmeter tipe induksi dan wattmeter tipe thermokopel. Diagram fasor tegangan tiga fasa VAC . Konstruksi dan Cara Kerja Wattmeter Wattmeter analog terdiri dari 3 tipe yaitu wattmeter tipe elektrodinamometer.3.3. diperlukan tiga wattmeter untuk melakukan daya nyata total. sedangkan alat penunjuknya akan berputar melalui suatu sudut.1.4. 4.90°). Wattmeter tipe elektrodinamometer terdiri dari satu pasang kumparan yaitu kumparan yang tetap disebut kumparan arus dan kumparan yang berputar disebut dengan kumparan tegangan.cos ?).3.I. Pengukuran Daya Reaktif Daya reaktif yang disuplai ke sebuah rangkaian arus bolak-balik sebagai satuan yang disebut VAR (Volt-Ampere-Reaktif). 4.

Kuat medan ini sebanding dengan besarnya arus 4. Gambar 4-6. Jika arus line mengalir melewati kumparan arus dari wattmeter. Jika tegangan dipasangkan ke kumparan tegangan. dan kumparan tegangan dihubungkan parallel dengan line. maka akan membangkitkan medan disekitar kumparan.2. dengan demikian dapat pula alat dipergunakan sebagai line Kumparan tegangan dari wattmeter dipasang seri dengan resisitor yang mempunyai nilai resistansi sangat tinggi. alat ukur tipe induksi mempunyai pula sepasang kumparan-kumparan yang bebas satu dan lainnya. dan menurut persamaan di dapat : sin α cos ϕ . arus akan sebanding dengan tegangan line. Untuk memungkinkan hal ini F 1 dalam gambar 4-7 didapat dari arus beban I dan F 2 dari tegangan beban V. Wattmeter tipe induksi Seperti alat ukur wattmeter elektrodinamometer. Tujuannya adalah untuk membuat rangkaian kumparan tegangan dari meter mempunyai ketelitian tinggi. pengukur watt. Perlu diperhatikan bahwa F 2 akan mempunyai sudut fasa sebesar 90° terlambat terhadap V. Konstruksi wattmeter elektrodinamometer Kumparan arus dari Wattmeter dihubungkan secara seri dengan rangkaian (beban).berbanding lurus dengan hasil perkalian pada arus-arus yang melalui kumparan-kumparan tersebut (gambar 4-6). Susunan ini menghasilkan momen yang berbanding lurus dengan hasil kali dari arus-arus yang melalui kumparan-kumparan tersebut.3.4. Hubungan antara fasa-fasa diperlihatkan dalam gambar 4-8.

dan arus beban dinyatakan sebagai maka akan didapatkan : i1 i1 k1 v i2 2 dan i 2 i1 i2 2 k2 i 4 i1 i2 4k1 k 2 v i . Diagram vektor wattmeter jenis elektrodinamometer Gambar 4-8 Diagram vektor wattmeter jenis induksi Untuk mendapatkan F2 mempunyai sudut fasa yang terlambat 90° terhadap V. Alat pengukur watt tipe induksi sering dipergunakan untuk alat ukur yang 4.a V f I2 a I F1 I1=I F2 f V Gambar 4-7. maka jumlah lilitan kumparan dinaikkan sedemikian rupa. Bila arus-arus berbanding lurus terhadap tegangannya. sehingga kumparan tersebut dapat dianggap induktansi murni.3. Dengan keadaan ini maka F 2 sebanding dengan V/? sehingga didapat : ωφ1 φ 2 sin α Dengan cara ini pengukuran daya dapat dimungkinkan . dan banyak dipakai dalam panil-panil listrik. Wattmeter tipe thermokopel Alat pengukur watt tipe thermokopel merupakan contoh dari suatu alat pengukur yang dilengkapi dengan sirkuit perkalian yang khusus.4. Konfigurasi alat ukur ini diperlihatkan dalam gambar 4-9. KVI cos ϕ mempunyai sudut yang lebar.3.

Alat pengukur watt jenis thermokopel ini dipakai untuk pengukuran daya-daya kecil pada frekuensi audio.i1 + i2 Thermokopel Hampa (Vacuum) T1 i1 V i1 mA T2 i1 .4. Pada saat ini terdapat banyak bentuk dari alat pengukur watt. i1 = k1v adalah arus sekunder dari transformator T1. yang dilengkapi dengan sirkit-sirkit kalkulasi khusus. Bila kedua thermokopel tersebut dihubungkan secara seri sedemikian rupa sehingga polaritasnya terbalik. 4. Bila sepasang tabung thermokopel dipanaskan dengan arus-arus ( i1 + i2) dan ( i1 . Dalam gambar 4-9. Prinsip Kerja Wattmeter Elektrodinamometer dan Voltmeter. dan 2i2 = 2k 2i adalah arus sekunder dari transformator T2.i2 ). adalah sebanding dengan daya beban. dan akan didapat dari masing-masing thermokopel. dan berbagai detail dapat ditemukan pada alat-alat ukur tersebut.i2 i Gambar 4-9 Prinsip wattmeter jenis thermokopel Harga rata – rata dari hasil persamaan tersebut diatas. Dengan demikian maka penunjukan dari alat ukur milivolt tersebut akan berbanding dengan daya yang akan diukur. untuk itu pada Wattmeter pada dasarnya Wattmeter pasti terdiri dari merupakan penggabungan dari kumparan arus (kumparan tetap) dua alat ukur yaitu Amperemeter .4.3. maka gaya listrik secara termis akan digerakkan berbanding lurus kwadrat dari arus-arus. maka perbedaan tegangan tersebut pada ujung-ujungnya akan dapat diukur melalui suatu alat pengukur milivolt.

sehingga pemasangannyapun juga sama yaitu kumparan arus dipasang seri dengan beban dan kumparan tegangan dipasang paralel dengan sumber tegangan. arus yang melalui kumparan tetapnya adalah i1 . . dengan demikian besarnya momen berbanding lurus dengan daya pada beban VI . 4-10. i2 = Kvi untuk arus searah.dan kumparan tegangan (kumparan putar). menunjukkan beberapa variasi penyambungan alat ukur wattmeter tergantung dengan sistem yang dipilih. yang sama dengan daya yang dipakai oleh beban. Apabila alat ukur Wattmeter dihubungkan dengan sumber daya (gambar 4-10). dan dibuat supaya masing-masing berbanding lurus dengan arus beban i dan tegangan beban v. maka momen yang menggerakkan alat putar pada alat ukur ini adalah i1. serta arus yang melalui kumparan Untuk jaringan arus bolak balik maka : putarnya i2 . maka penunjukan akan berbanding dengan VI cos f . Jadi dengan demikian untuk arus searah maupun untuk arus bolak-balik dapat dikatakan bahwa penunjukan dari alat ukut Wattmeter tipe elektrodinamik akan berbanding lurus dengan daya beban.Gambar 4-11. Rangkaian wattmeter jenis elektrodinamometer dan i2 adalah sefasa dengan V. i1 i2 Kvi KVI cosϕ cos 2ωt ϕ V V m sin ω t i I m sin ω t ϕ i1 F1 F2 i Yang didapat dengan asumsi bahwa : i1 i2 M Sumber Daya V F1 F2 i i2 Beban Sumber Daya M V R Beban R Gambar. dimaka K adalah adalah suatu konstanta.

Variasi penyambungan wattmeter. . Alat ukur ini dapat dirancang untuk mengukur DC dan AC (25 ~ 1000 Hz) dengan akurasi tinggi.Gambar 4-11. Konstruksi wattmeter tipe Portable Single Phase ditunjukkan pada gambar 4-12. Salah satu tipe wattmeter elektrodinamometer adalah tipe Portable Single Phase wattmeter. dan hubungan internal dari alat ukur ditunjukan pada gambar 4-13.

Konstruksi wattmeter tipe Portable Single Phase Seperti ditunjukkan pada gambar 4-12. Terminal common tegangan 1A CC 5A CC VC diberi tanda (±). dan terminal arus yang lain mengindikasikan ukuran arus terukur. dan terminal tegangan yang lain mengindikasikan ukuran tegangan terukur. alat ukur wattmeter ini dikemas dalam kotak bakelite yang kuat. (7) Tabel Perkalian : letak tabel perkalian di sisi samping alat ukur. (6) Terminal arus : Salah satu terminal diberi tanda (±) untuk menunjukkan bahwa terminal ini dihubungkan dengan terminal common tegangan. Hubungan internal wattmeter tipe Portable Single Phase . Bagian-bagian external dari wattmeter dijelaskan sebagai berikut : (1) Jarum penunjuk (2) Kaca : dfungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam pembacaan. tabel ini digunakan untuk menentukan besarnya daya nyata dari nilai penunjukan. (3) Pengatur Nol (Zero) : digunakan untuk mengatur posisi nol dari penunjukan (4) Skala : terdiri dari 120 bagian (linear) (5) Terminal tegangan : digunakan untuk menyambungkan tegangan.6 5 4 2 1 3 7 Gambar 4-12. 120V 240V +/- +/- Gambar 4-13.

. 25 – 1000 Hz Kapasitas Overload : Rangkaian tegangan . Dengan cara Hubungkan kumparan arus secara menghubungkan terminal seri terhadap beban.2KW 3KW Internal Impedance Approx 12.0% 50 – 1000 Hz .2VA Approx 2.... 100% 4.5.56 ? Approx 0...72VA Approx 1.± ) ke sumber terminal tegangan yang lain (V) tegangan..0.65% /400 A/m Respons Frekuensi : 45 – 65 Hz .0027 ? Rated power loss (VA) Approx 1.3. .56VA Approx 0.2KW 1..0.3.. 50% Rangkaian arus .7.1% Factor daya dari 1.0 sampai 0. sedangkan ujung dihubungkan ke ujung beban kumparan arus yang lain (A) yang lainnya..3.1% Efek faktor daya : ± 0.3.1% Efek temperature eksternal : ± 0.6.2 / 1 A 1/5A 5 / 25 A 0.2 A 1A 1A 5A 5A 25 A 24 W 120 W 120 W 600 W 600 W 3 KW Rating 120 V 240 V 48 W 240 W 240 W 1.5% dari nilai skala penuh Ukuran dimensi : 180 x 260 x 140 mm Berat : 2..5 Tabel 4-1..4VA Approx 0.69VA 4. Spesifikasi Alat Spesifikasi teknik dan karakteristik alat ukur wattmeter : Tipe : 2041 Akurasi : ± 0..034 ? Approx 0.4.93 ? Approx 0. Dengan cara kumparan tegangan (±) ke menghubungkan terminal beban.15% Perbedaan Pengukuran antara DC dan AC : ± 0..35 ? Approx 0. Rating.000 ? Approx 24..2% /10° C Efek medan maghnit eksternal : ± 0..84VA Approx 1.. and rated power loss Range Voltage Current 0.93VA Approx 0..000 ? Approx 16.. internal impedance. dihubungkan ke beban. tukar ujung-ujung kumparan tegangannya.7. Karakteristik : Efek pemanasan diri : ± 0.1. Hubungkan kumparan Jika jarum penunjuk bergerak tegangan secara parallel kearah kiri.66VA Approx 0.8 Kg Panjang skala : 135 mm Skala : 120 bagian Frekuensi : DC. Pengukuran daya DC atau AC satu fasa : dengan beban. sedangkan ujung kumparan arus (.068 ? Approx 0. Prosedur Pengoperasian 4..

Power Load Source ± A A Gambar 4-14 Hubungan kumparan arus seri terhadap beban 4.7. Kalikan rasio transformasi arus dengan W (nilai terukur dikalikan konstanta) untuk Power Load Source Gambar 4 – 15 Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi nilai perkiraan 4. kalikan arus. Untuk dari sumber daya ke rangkaian mendapatkan daya beban. rasio lilitan dari transformator .3. Jangan membuka rangkaian arus sampai sambungkan trafo arus (CT) ke pengukuran selesai. mendapatkan daya beban. Jika dimungkinkan. Pengukuran daya satu fasa jika arus melebihi nilai perkiraan Seperti pada gambar 4-15.3.7. sambungkan trafo tegangan (P. Pengukuran daya satu fasa tegangan melebihi nilai perkiraan dengan W (nilai terukur dikalikan Seperti pada gambar 4-16.T) hubungkan grounding konduktor ke rangkaian tegangan. rangkaian arus.2.3. konstanta).

T Contoh.T= 6600/110 Rasio CT= 50/5 W = 120x5x6600/110x50/5=360.7. konstanta perkalian =5 ( 120V.Power Source Source Load Load A A Gambar 4 . 5A) Rasio P.000=360kW Power Load Source A A Ground Gambar 4-17 Pengukuran daya satu fasa jika arus dan tegangan melebihi nilai perkiraan 4.T x rasio P.7. seperti yang .16 Pengukuran daya satu fasa jika tegangan melebihi nilai perkiraan 4. Daya hubungkan trafo tegangan (P. dan trafo arus W = ( nilai yang terindikasi x konstanta perkalian ) x rasio C.T) ke beban ditentukan dengan rumus : rangkaian tegangan. Nilai Pengukuran daya tiga fasa diindikasikan dengan dilakukan dengan menghubungkan daya penjumlahan aljabar dari nilai dua watt meter. Pengukuran daya satu fasa jika tegangan dan arus melebihi nilai perkiraan Seperti pada gambar 4-17. nilai terindikasi = 120.4.5. ( C.3.T ) ke rangkaian arus. Pengukuran daya tiga fasa (metode dua watt meter) ditunjukkan gambar 4-18.3.

R S T A A ± A A Load Gambar 4-18 Pengukuran daya tiga fasa (metode dua wattmeter) 4. Kurangkan nilai ini dari nilai terindikasi pada meter yang lain. Ketika faktor daya dari rangkaian yang diukur lebih besar dari 50%. Pengukuran daya tiga fase nilai perkiraan Hubungkan dua wattmeter seperti ditunjukkan gambar 4-19 .7. jika faktor daya dari rangkaian lebih rendah dari 50%.6. lalu ikuti prosedur nomor (5) diatas. Jika ini terjadi baliklah hubungan tegangan dari meter dengan defleksi negatif. Load Gambar 4-19 Pengukuran daya tiga fasa jika arus dan tegangan melebihi nilai perkiraan . Daya beban total tiga fase dengan menjumlahkan perhitungan R S T jika tegangan dan arus melebihi pembacaan daya dari dua meter. Tetapi. untuk menghasilkan daya beban total. kedua meter akan mempunyai nilai posotif.indikasi pada dua wattmeter. Total daya beban dihitung dengan penjumlahan dari dua nilai ini. Setiap perhitungan dihasilkan dengan mengalikan rasio PT dan rasio CT dengan W (nilai terindikasi x konstanta perkalian). Jika dibalik maka akan menunjukkan nilai positif.3. satu atau dua wattmeter akan memberi indikasi negatif (penunjuk akan bergerak ke kiri).

(3) Pastikan sumber daya pada rangkaian yang akan diukur pada posisi off sebelum rangkaian terangkai dengan benar. Kesalahan (Kesalahan) Induktansi dari kumparan tegangan pada wattmeter adalah penyebab adanya kesalahan. hubungkan rangkaian ke terminal arus yang lebih tinggi dari nilai perkiraan. dan kemudian rubah range. dan digunakan untuk mengkonversi nilai terbaca dari skala ke nilai daya. tetapi dengan tahanan non-induktif yang tinggi yang dipasang seri dengan kumparan tegangan dapat mengurangi kesalahan ini. Arus yang diambil oleh kumparan tegangan Pada wattmeter standar. yakinlah tidak membuat loop terbuka dalam rangkaian sekunder ketika mengubah range arus. jika arus beban tidak diketahui.10. Range tegangan dan arus diatur dengan menggunakan saklar. Daya beban = Nilai terindikasi x konstanta pengali 4. kesalahan yang disebabkan oleh adanya kumparan kompensasi ini dapat diatasi dengan memasang kumparan kompensasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan medan yang berlawanan arah dengan Range Arus 1 A 5 A Tabel konstanta pengali diatas ditempatkan disisi dari wattmeter.8. Pemilihan Range Ketika melakukan pengukuran. Tabel 4-2.3.3. .3. Jika trafo arus dilengkapi dengan sebuah lilitan sekunder . Tabel konstanta pengali (tegangan perkiraan 120/240V. Penyebab lain adanya kesalahan adalah 1. Jika tidak putarlah pengatur nol (lihat gambar 4-12) sampai jarum penunjuk pada posisi nol. Ketika menggunakan trafo arus.4. Kemudian pasang wattmeter ke rangkaian.9. Drop tegangan pada rangkaian 2. tutup rangkaian dengan kunci pertama. Keselamatan Kerja (1) Letakkan wattmeter pada permukaan rata (2) Cek apakah penunjuk pada posisi nol (0) pada skala.Rasio dari range tegangan adalah 120 V dan 240 V sedangkan range arus adalah 1 A dan 5 A. arus perkiraan 1/5A) Konstanta Pengali Range Tegangan 120 V 240 V 1 2 5 10 4. kesalahan ini disebabkan karena adanya tambahan kumparan kompensasi.

dimana f adalah beda fase antara V1 dan I seperti terlihat pada diagram vektor gambar 4-20(a). Kesalahan akibat perbedaan rangkaian. Kesalahan Wattmeter 1.4. sedangkan pada rangkaian gambar 4-20(b) arus melalui kumparan arus. Maka pembacaan daya oleh wattmeter = V1 I cos f . Ada 2 kemungkinan untuk merangkai wattmeter pada rangkaian AC fase tunggal. Perhatikan gambar 4-20(a). Sebuah wattmeter sebenarnya diharapkan dapat menunjukkan daya yang dipakai oleh beban. Sekarang.20. Jika cos f adalah power faktor beban. tegangan pada kumparan tegangan adalah V1 yang merupakan jumlah vektor dari tegangan beban V dan drop tegangan pada kumparan arus = V’ (= I r. di .medan yang dihasilkan oleh kumparan arus. Besarnya kesalahan tergantung dari banyaknya rangkaian. V1 I V V1 R I V R (a) (a) V V’ (b) V I1 I (c) I (d) Gambar 4. sekaligus dengan diagram vektornya. seperti terlihat pada gambar 4-20. . 4. maka daya pada beban adalah = V I cos f . tetapi pembacaannya sebenarnya sedikit kelebihan yang disebabkan oleh rugi-rugi daya pada rangkaian instrument. dimana r adalah resistansi pada kumparan arus). Rangkaian wattmeter AC satu fasa Pada gambar 4-20(a) kumparan arus tidak dilalui arus.

..... I1 V Cos θ R ..(1) Jadi pembacaan wattmeter b. r = Daya beban + Daya pada rangkaian kumparan tegangan.. Rangkaian kumparan tegangan a..... Jika induktansi kumparan tegangan diperhitungkan : (R R) XL R XL Dimana I 2 ini tertinggal terhadap V dengan sudut (gambar 4-21 b ) sehingga I2 V 2 2 2 V 2 V ZP a . 2. Kesalahan akibat induktansi kumparan tegangan Kesalahan pembacaan pada wattmeter disebabkan juga oleh induktansi pada kumparan tegangan.. Jika induktansi kumparan tegangan diabaikan : I2 θ = V V ( R RV ) R φ ...I cos f + V’ I = V I cos f + I2 ..............V1 cos f ...... I = ( V cos f + V’) I = V.. terlihat pada gambar 4-21 a..... I2 V ?=f a) I1 R b) I2 (a) (b) I1 Gambar 4-21...

.........tan XL ( RV R) XL R ω LV R Jadi pembacaan wattmeter : = I 1 V cos θ I V cos ( φ α ) = 1 ZV ZV V cos ( φ α ) ....(2) R tegangan ikut diperhitungkan. maka cos α Maka : Wt Wa cos φ cos ( φ α ) Kesalahan pembacaan adalah : = Pembacaan yang ada – pembacaan sesungguhnya = pembacaan yang ada cos φ x pembacaan yang ada cos ( φ α ) = pembacaan yang ada 1 cos φ cos φ α cos φ sin φ sin α cos φ x pembacaan yang ada cos φ sin φ sin α sin φ sin α = x pembacaan yang ada cos φ sin φ sin α ..... Faktor koreksi yang diberikan oleh perbandingan antara pembacaan sesungguhnya (W t ) dengan pembacaan yang ada pada wattmeter (W a) adalah : Jadi pembacaan wattmeter = I1 Persamaan (1) untuk pembacaan wattmeter dimana induktansi kumparan tegangan diabaikan dan persamaan (2) untuk pembacaan wattmeter dimana induktansi kumparan Wt Wa V I1 cos φ R1 V I1 cos α cos ( φ R α ) cos φ cos α cos ( φ 1 α) Pada prakteknya karena sangat kecil.................

Oleh karena itu harus dijaga agar sejauh mungkin berada dari medan STRAY tadi. 4. Alat ukur watt jam tidak sering digunakan di laboratorium tetapi banyak digunakan untuk pengukuran energi listrik komersil. Kesalahan ini tidak mudah dihitung meskipun dapat menjadi sangat besar jika tidak berhatihati dalam memindahkan bagian padat dari dekat kumparan arus tadi. Kesalahan akibat kapasitansi dalam kumparan tegangan Pada bagian rangkaian kumparan tegangan . watt jam meter adalah sebuah motor kecil yang mempunyai kecepatan sebanding dengan daya yang melaluinya. yang dikonsumsi selama waktu tersebut. Kesalahan akibat medan STRAY (Pengganggu) Karena medan yang bekerja pada instrument ini adalah kecil. terutama pada bagian tahanan serinya akan selalu muncul kapasitansi walaupun kecil. sebuah kapasitor dihubungkan paralel terhadap tahanan seri untuk mendapatkan rangkaian kumparan tegangan yang noninduktif. Pada prinsipnya. 5. atau watt-jam.5. Kesalahan akibat EDDYCurrent (Arus pusar) Eddy-current adalah medan arus bolak-balik pada bagian-bagian logam yang padat dari instrument. dengan demikian akan menyebabkan sudut negatif. dengan demikian mengurangi kesalahan yang diakibatkan induktansi pada rangkaian kumparan tegangan. Akibatnya akan mengurangi besarnya sudut. maka watt jam meter membutuhkan kedua faktor ini. Watt Jam meter Watt jam meter merupakan alat ukur untuk mengukur energi listrik dalam orde Kwh. kesalahan akibat medan ini pada umumnya dapat diabaikan. Total putaran dalam suatu waktu sebanding dengan total energi. Tetapi . Ini dihasilkan oleh medan bolakbalik pada kumparan arus akan mengubah besar dan kuat medan kerja. Karena energi merupakan perkalian antara daya dengan waktu. perusahaan listrik menyalurkan energi listrik ke industri dan . dengan demikian menimbulkan kesalahan bagi pembacaan wattmeter. maka mudah dipengaruhi oleh kesalahan akibat medan pengganggu dari luar. Pada kenyataannya pada beberapa wattmeter.sin α x pembacaan yang ada cot φ sin α sin α Jadi presentase kesalahan = x 100% cot φ sin α = 3. 4. Kenyataannya adalah bahwa disemua tempat dimanapun. Jelas bahwa kompensasi yang berlebihan akan membuat resultante reaktansi kapasitif.

tegangan membangkitkan sebuah Kedua kumparan yang dililitkan torsi (aksi motor) terhadap piringan pada sebuah kerangka logam dan menyebabkannya berputar. Bila piringan berputar. dan diukur dalam kilowatt-jam (kWh. dengan desain khusus melengkapi dua rangkaian maghnit. menyebabkan arus pusar mengalir Kumparan arus dihubungkan seri di dalam piringan. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip kerja induksi. kilowatt jam). Redaman piringan diberikan oleh dua maghnit permanen kecil yang ditempatkan saling berhadapan pada sisi piringan. Konstruksi dan Cara Kerja Watt jam meter piringan aluminium ringan Elemen alat ukur watt jam satu digantung di dalam senjang udara fasa ditunjukkan pada gambar 4medan kumparan arus yang 22 dalam bentuk skema. Reaksi arus dengan jala-jala. Pada beban penuh. dan kumparan pusar dan medan kumparan tegangan dihubungkan paralel. melengkapi suatu pembacaan kWh yang terkalibrasi dalam desimal.22. Berarti jumlah putaran piringan sebanding dengan energi yang telah dipakai oleh beban dalam selang waktu tertentu. Konstruksi watt jam meter Torsi yang dibangkitkan sebanding dengan kuat medan kumparan tegangan dan arus pusar di dalam piringan yang berturut-turut adalah fungsi kuat medan kumparan arus. Sebuah Jala-jala poros Kumparan tegangan piringan magnit piringan magnit Magnit inti Kumparan arus beban Gambar 4 . Kalibrasi alat ukur watt jam dilakukan pada kondisi beban penuh yang diijinkan dan pada kondisi 10% dari beban yang diijinkan.5. Poros yang menopang piringan aluminium dihubungkan melalui susunan roda gigi ke mekanisme jam dipanel alat ukur.1. kalibrasi terdiri dari pengaturan . 4. Arus-arus pusar ini bereaksi dengan medan maghnit dari maghnit-maghnit permanen kecil dan meredam gerakan piringan.pemakai setempat (domestik). maghnit-maghnit permanen mengindusir arus pusar di dalamnya.

dials berputar searah jarum jam Meter induksi elektromekanik beroperasi dengan menghitung putaran dari cakram aluminium yang dibuat berputar dengan kecepatan proporsional dengan power yang digunakan. Cakram metalik bekerja dengan dua kumparan. dihubungkan seri dengan beban (3) Stator (4) Piringan Aluminium Rotor (5) rotor brake magnets (6) spindle dengan worm gear (7) Display dial : 1/10. Mekanik meter induksi elektromekanik Keterangan : (1) Kumparan tegangan. yang dihubungkan paralel dengan beban (2) Kumparan arus. 1. Kumparan satu disambungkan dengan sebuah benda yang menghasilkan flux magnetik yang . Pada beban-beban yang sangat ringan.posisi maghnit-maghnit permanent kecil agar alat ukur membaca dengan tepat. Kalibrasi alat ukur pada kedua posisi ini biasanya menghasilkan pembacaan yang memuaskan untuk semua b ebanbeban lainnya. 10 dan 1000 . komponen tegangan dari medan menghasilkan suatu torsi yang tidak berbanding langsung dengan beban. Sebuah alat ukur watt jam satu fasa ditunjukkan pada gambar 4-23. Alat ini mengkonsumsi power yang kecil sekitar 2 watts. Gambar 4-23. 100 dan 10000. Kompensasi kesalahan diperoleh dengan menyisipkan sebuah kumparan pelindung atau pelat diatas sebagian kumparan tegangan dengan membuat alat ukur bekerja pada 10% beban yang diijinkan.

Magnet permanen menggunakan gaya berlawanan yang proporsional dengan kecepatan rotasi cakram. yaitu sebuah display seperti odometer yang menampilkan setiap dial digit tunggal lewat jendela pada permukaan meter.5. Tipe meter yg didiskripsikan di atas digunakan pada AC fasa tunggal. yang digunakan. Meter induksi elektromekanik. Kumparan arus dan kumparan tegangan dihubungkan dengan cara yang sama seperti wattmeter tiga fasa. Keadaan ini menghasilkan eddy currents di pengereman yang menyebabkan cakram berhenti berputar. Gambar 4-24. Register seri dengan dial yang berfungsi untuk merekam jumlah energi jam mempunyai rangkaian maghnetik dan piringan tersendiri.2. cakram baling-baling aluminium horisontal merupakan pusat meter Pengukuran energi dalam sistem tiga fasa dilakukan oleh alat ukur watt jam fasa banyak. Masing-masing fasa alat ukur watt 4. Dial termasuk tipe cyclometer.proporsional dengan tegangan dan kumparan kedua disambungkan dengan benda yang menghasilkan cakram dan efeknya adalah gaya yang digunakan dalam cakram proporsional dengan hasil arus dan tegangan. Pembacaan Cakram aluminium dilengkapi dengan sebuah spindle yang mempunyai worm-gear untuk menggerakkan register. hal ini menyebabkan sebuah flux magnetik yang proporsional dengan arus. atau tipe pointer . tetapi semua piringan dijumlahkan secara mekanis dan putaran total permenit dari poros sebanding dengan energi total tiga fasa yang dipakai. Perbedaan konfigurasi antara fasa tunggal dan tiga fasa adalah terletak adanya tambahan kumparan tegangan dan arus. 100 A 230/400 V.

Meter solid state dapat menghitung jumlah listrik yang dikonsumsi.4 4. jika KWh=7. Teknologi meter solid state ini merupakan keuntungan bagi instalasi yang menggunakan daya besar. pembacaan harus dilaporkan ke perusahaan listrik lewat telepon. Meter Solid States Jenis meter meter listrik terbaru adalah solid state yang dilengkapi dengan LCD untuk menampilkan daya serta dapat dibaca secara otomatis. Seorang karyawan perusahaan listrik biasanya mengunjungi pelanggan sedikitnya setiap tahun untuk mengecek pembacaan pelanggan serta melakukan pengecekan keselamatan dasar meter. Selain dapat mengukur listrik yang digunakan .7. Contoh. Dengan mengetahui nilai KWh. dengan cara perwakilan/utusan dari perusahaan listrik atau oleh pelanggan.dimana sebuah pointer menunjukkan setiap digit. Jumlah energi yang dipergunakan ditunjukkan oleh putaran cakram. Meter listrik solid state .6. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan konsumsi daya dari peralatan rumah tangga. Ini artinya bahwa arus tidak melewati meter sehingga meter dapat di letakkan di lokasi yang jauh dari k onduktor yang membawa arus. dinotasikan dengan simbol KWh yang diberikan dalam unit watt jam per putaran. Sebagian besar meter listrik domestik masih dicatat secara manual. seorang pelanggan dapat menentukan konsumsi daya yang dipergunakan dengan cara menghitung putaran cakram dengan stopwatch. dan daya reaktif yang digunakan. maka dayanya adalah 1800 watts. Wattmeter AMR Sebagian besar meter solid state menggunakan arus transformer untuk mengukur arus. dan musim. 4. minggu. meter solid state dapat juga merekam parameter lain dari beban dan suplai seperti detik. dengan penetapan harga yang bervariasi menurut waktu setiap hari. dan daya dalam watt adalah P=3600xKWh/t.2 dan satu putaran membutuhkan waktu 14. Pointer biasanya berputar dalam arah berlawanan dengan mekanik ulir. Jika waktu yang dibutuhkan cakram dalam detik untuk menyelesaikan satu putaran adalah t. teknologi ini memungkinkan juga Gambar 4-25. Dimana pelanggan membaca meter.post atau internet. permintaan maksimum. faktor daya.

besarnya energi yang telah dipakai oleh pelanggan ditunjukkan dengan angka-angka (register) yang tertera pada alat ukur kWh meter.8. Perhitungan biaya gunakan CT tariff S3-R4-U2. Pemakaian blok1= (60jamX daya terpasang1300VA)/1000 = 78kWh Pemakaian blok 2 = (pemakaian total – blok1) = 191 kWh. angka yang tertera pada register terakhir (akhir) atau dapat dinyatakan dengan rumus kWh = (selisih pembacaan meter kWh) x Faktor Meter. Bluetooth. hal ini jarang dilakukan. Meter elektronik sekarang ini dilengkapi dengan komunikasi teknologi antara lain low power radio. Selisih pembacaan meter kWh = Penunjukan meter bulan ini . Profile data ini diproses dan hasilnya berupa laporan atau grafik. dengan menggunakan RS-232 dan RS485. meter yang di desain untuk pembacaan semi automatik mempunyai serial port untuk komunikasi dengan meletakkan LED infra merah diatas permukaan meter. Jumlah pemakaian yang sebenarnya dihitung berdasarkan angka-angka yang tertera pada register sebelumnya (awal) yang dikurangkan terhadap angkaKasus Aplikasi Lapangan dan dapat menayangkan kembali hanya dengan meng-klik tombol. Pembacaan meter jarak jauh menerapkan aplikasi telemetri. . IRDA yang terpisah dari hubungan konvensional. Faktor Meter = Rasio CT x Rasio PT x Faktor Register 4. Untuk tarif R2-R3 Stand meter bulan ini : 15762 Selisih pembacaan standmeter : 269 (pemakaian kWh). Meter elektronik dapat menyimpan semua penggunaan daya dengan waktu penggunaan 4.8. Untuk tarif S2-R3-U1 : Stand meter bulan lalu : 07139 Stand meter bulan lalu : 06825 Selisih pembacaan meter : 314 ( pemakaian kWh).menggunakan transformer arus jarak jauh dengan meter elektromekanikal. Biasanya. GSM.1. Kasus Implementasi Lapangan Pada dasarnya.Penunjukan meter bulan lalu. GPRS. Pelanggan Tegangan rendah (TR) yang tidak memerlukan CT (pelangan dengan tarif S2-R1-R2-R3U1). data pembacaan disimpan dengan akurat.

000 kWh = 4 x 200 x 510 = 408..4.690 dan WBP Stand meter bulan lalu : LWBP = 5...500 = 16 Maka: Pemakaian kWh LWBP = 20 x 200 x 1 90 = 360.3. 3 fase 4 kawat. Faktor register = 200 Stand meter bulan ini : LWBP = 08970 dan WBP = 03540 Stand meter bulan ini : LWBP = 07920 dan WBP = 03030 Selisih pembacaan meter LWBP = 8970 ..516 .000/100 V.8. 3 fase 4 kawat. dengan: Trafo arus terpasang = 100/5 A. Pelanggan dipasang kWh Meter merk Mecoindo tipe A6C1. dengan : Trafo arus terpasang = 100/5 A Untuk kWh meter jenis ini..5.U2) Stand meter bulan ini = 70495 Stand meter bulan lalu = 68231 selisih pembacaan meter = 2264 x Faktor meter (CT) = .600 = 90 Selisih pembacaan meter WBP = 2. 50 Hz.8..690 .4. 100v 5 A. maka faktor register dianggap = 1 * Untuk pengukuran tegangan rendah (TR). 25/5 A. arus pengenal meter 25/5 A.600 dan WBP Jadi : Selisih pembacaan meter LWBP = 5. maka rasio CT sebenarnya menjadi = 100/5 : 25/5 = 4 Meter jenis ini dirancang untuk dipasang pada tegangan menengah 20.8.000 VOLT. P/S 20.R4 ... Pelanggan Tegangan Rendah (TR) yang menggunakan CT (pelanggan dengan tarif: S3 .7920 Selisih pembacaan meter WBP Maka : Pemakaian kWh LWBP Pemakaian kWh WBP = 1050 = 3530 . Rasio PT = 200 Faktor register =1 Stand meter bulan ini : LWBP = 5.2. tidak ada rasio PT 4.000/V3/100/V3. Pemakaian kWh 4. Rasio CT = 20 Trafo tegangan terpasang = 20.2..3030 = 510 = 4 x 200 x 1050 = 840.000 kWh Catatan: * Bila pada meter kWh tidak tercantum adanya faktor register (konstanta).000 kWh . jadi rasio PT tidak dihitung.000 kWh Pemakaian kWh WBP = 20 x 200 x 1 16 = 64. Pelanggan TM dipasang kWh Meter merk Fuji tipe FF23HTI.

5.750 = 1.750 Konstanta meter = 0. pengukuran TM dipasang kVARH merk Osaki tipe OR91SH. bulan tersebut".000 kVARh 4.8. Yang dimaksud dengan Pemakaian daya maksimum oleh istilah daya terukur maksimum pelanggan setiap bulannya.1 Faktor meter = 125/5 x 20. maka hasil perhitungannya masih harus dibagi yang dipakai selama tiap 15 (lima belas) menit terus menerus dalam dengan faktor daya sebesar 0. Meter dengan interval 15 menit adalah jenis ini dipasang untuk "Nilai daya terukur maksimum mengetahui daya maksimum yang untuk tiap b ulan sama dengan 4 dipakai pelanggan tiap bulannya. 58/100 V. (empat) kali nilai tertinggi dari kVA Bila dipasang kW Max. 50 Hz.4.000/100 V Stand meter kVARh bulan ini = 7.000/100 x 0.000/100 V. dengan: Trafo arus (CT) terpasang = 125/5 A Trafo tegangan (PT) terpasang = 20. 3 x 20. dan industri Tanur Busur (Ijarum penunjuk.6. pengukuran TM.860 .85. Untuk saat ini kVA Golongan pelanggan yang Max yang terpasang kebanyakan dipasangi alat ini adalah hotel (Hdari jenis yang menggunakan 3) I5. Pembacaan pemakaian energi reaktif Cara pembacaan dan perhitungannya sama dengan pembacaan kWh Meter. 5A. dengan : Trafo arus terpasang = 300/5 A . Cara pembacaan pemakaian daya listrik 15 menit. 3 fase 3 kawat.8. dipasang MW Max merk Enertec tipe A7A11.860 kVARh bulan lalu = 6.110 Pemakaian kVARh = 1. kW Max atau kVA Max yang dipasang adalah dengan interval Rumusnya dapat dituliskan : Daya terukur = Penunjukan meter x Faktor meter Faktor meter = CT terpasang : CT meter x PT terpasang x register Contoh: Pelanggan Tanur Busur I-4/TM.1 = 500 Selisih pembacaan kVARh = 7.6. 3 x 600/5A. Pemakaian kVARh = (Selisih pembacaan kVARh) x Faktor meter Selisih pembacaan kVARh = Penunjukan kVARh bulan ini Penunjukan kVARh bulan lalu Faktor meter = Rasio CT x Rasio PT x Faktor register Pelanggan h-3/TM. 4).110 x 500 kVARh = 555.

sedangkan coil C2 mempunyai induktansi L.5 = 20 x 0. Pada medan ini diletakkan moving coil C1 dan C2 yang dipasang pada tangkai atau spindle yang sama. Ini ditunjukkan dalam kerja alat ukur faktor daya. Faktor Daya (Cos ? ) Menurut definisi. dimana elemen yang berputar terdiri dari dua kumparan yang dipasang pada poros yang sama tetapi tegak lurus satu sama lain. yang terdiri dari F1 dan F2. Kumparan putar berputar di dalam medan maknetik yang dihasilkan oleh kumparan medan yang membawa arus jala-jala. diatur sedemikian hingga ampereturn pada C1 dan C2 sama besar.5 = 10 MW gambar 4-26 dan 4-27. 4.000/100 x = 0. Konstruksi Alat ukur faktor daya kumparan bersilang (crossed-coil power faktor meter) seperti terlihat pada skala F1 C1 C2 F2 I Supply I2 I1 L R Beban Gambar 4-26 Rangkaian alat ukur faktor daya satu fasa . Dengan dihubungkan seri dengan line supply maka akan dialiri arus. 4. Instrumen ini mempunyai sebuah coil diam.000/100 : 20.9. yang sebanding dengan arus line. Jelaslah bahwa medan yang merata akan dihasilkan oleh F1 dan F2.1.Trafo tegangan terpasang Penunjukan meter Faktor register Faktor meter Daya terukur = 20. faktor daya adalah cosinus sudut fasa antara tegangan dan arus. dan pengukuran faktor daya biasanya menyangkut penentuan sudut fasa ini. Arus I1 sefasa dengan tegangan supply V. sedangkan I2 lagging (tertinggal) 90° (atau mendekati 90°) dibelakang V.000/100 V = 20 =1 = 300/5 : 600/5 x 20. Kedua moving coil ini adalah coil tegangan C1 yang mempunyai tahanan seri R. Harga R dan L seperti halnya lilitan C1 dan C2. Pada dasarnya instrumen ini bekerja berdasarkan prinsip elektrodinamometer.9.

Pada beban seimbang 3 fasa. I1 dan I2 tidak ditentukan oleh circuit fasa bercelah (fasa splitting). Cara Kerja Dianggap bahwa power-faktor (p.f) sama dengan satu.9. Konstruksi alat ukur faktor daya 4.skala Kumparan 1 Kumparan 2 Kumparan medan Gambar 4-27. atau cos F. Secara bersamaan dengan posisi penunjuk pada p. C1 dan C2 dihubungkan seri terhadap fasa ketiga (sehingga mengalirkan arus line). Akibatnya timbul sebuah kopel yang bekerja pada C1. tidak ada kopel pada C1 tetapi akan timbul kopel pada C2 sehingga bidangnya tegak lurus terhadap sumbu megnetis F1 dan F2. . bukannya 90° seperti pada supply fasa tunggal. yaitu I (arus) sefasa dengan V (tegangan).f.f. Sedangkan pada C2 tidak ada kopel. Seperti terlihat pada gambar 4-28. yaitu F. Pada harga p. yaitu I lagging 90° terhadap V.f pertengahan.f = 0. Kemudian I1 sefasa dengan I sedangkan I2 lagging 90° terhadap I. akibatnya instrumen ini tidak akan berpengaruh oleh perubahan frekuensi maupun bentuk gelombang arus. Dalam hal ini I2 dibuat sefasa dengan I sedangkan I1 berbeda fasa 90° dengan I. Jika instrumen ini dikalibrasi langsung menunjukkan besarnya p. instrumen ini dimodifikasi sedemikian agar C1 dan C2 bersudut 120° satu sama lain. Sekarang anggap bahwa p.2. menimbulkan gaya gerak mengarah bidang tegak lurus terhadap sumbu magnit kumparan F1 dan F 2. simpangan penunjuk akan bersesuaian dengan simpangan sudut p. Karena tidak diperlukan fasa bercelah diantara arus-arus pada C1 dan C2.f sama dengan 1. Akibatnya.

lag skala lead F1 C1 120o C2 I1 I2 Supply 3 fasa F2 R Beban R Gambar 4-28. Rangkaian alat ukur faktor daya tiga fasa Alat ukur faktor daya dengan daun terpolarisasi (polarized vane power-faktor meter) ditunjukkan dalam sketsa konstruksi gambar 429. Instrumen ini terutama digunakan dalam sistem daya tiga fasa sebab prinsip kerjanya bergantung pada pemakaian tegangan tiga fasa. Jarum penunjuk Daun redaman Medan 3 fasa (potensial) Daun putar Kumparan arus Daun putar Gambar 4-29. Penyambungan tegangan tiga fasa ke kumparan potensial menyebabkan bertindak seperti . Alat ukur faktor daya tipe daun terpolarisasi Kumparan luar adalah kumparan potensial yang dihubungkan ke antaran-antaran sistem tiga fasa.

stator motor induksi tiga fasa sewaktu membangkitkan fluksi magnit berputar. Kumparan ditengah atau kumparan arus dihubungkan seri dengan salah satu antaran fasa, dan ini mempolariser daun-daun besi. Daun-daun terpolarisasi bergerak di dalam medan magnit berputar dan mengambil suatu posisi dimana medan putar pada suatu saat mempunyai fluksi polarisasi paling besar (maksimal). Posisi ini merupakan indikasi sudut fasa dan berarti indikasi faktor daya.

Instrumen ini dapat digunakan dalam sistem satu fasa dengan syarat bahwa rangkaian pemisah fasa (serupa dengan yang digunakan dalam motor satu fasa) ditambahkan untuk membangkitkan medan magnit putar yang diperlukan. Konstruksi faktor daya digambarkan gambar 4-30. dapat digunakan untuk satu fasa maupun tiga fasa. Alat tersebut mempunyai range tegangan dan arus seperti tertera pada tabel 4-3.

Tabel 4-3. Range tegangan dan arus
Range Tegangan dan Arus 100 V 85 – 160 V 200 V 160 – 320 V 400 V 320 – 500 V 1A 0,1 – 2 A 5A 0,5 – 10 A 25 A 2,5 – 50 A

Gambar 4-30 Konstruksi faktor daya (Cos ? meter)

Seperti ditunjukkan pada gambar 4-30, alat ukur Cos ? meter (1) (2)

bagian-bagian eksternalnya dijelaskan sebagai berikut :

Jarum penunjuk Kaca : difungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam pembacaan. (3) Skala : bagian kanan pada beban induktif, faktor dayanya ketinggalan (lag). (4) Skala : bagian kiri pada beban kapasitif, faktor dayanya mendahului (lead). (5) Tabel range tegangan dan arus, tabel ini digunakan untuk memilih tegangan pada selektor. (6) Terminal arus, salah satu terminal diberi tanda (±) untuk menunjukkan bahwa terminal ini dihubungkan dengan terminal common tegangan, dan terminal arus yang lain mengindikasikan ukuran arus terukur. (7) Terminal arus, untuk memilih batas ukur sesuai dengan besaran yang diukur. (8) Selektor tegangan. (9) Terminal tegangan : digunakan untuk menyambungkan tegangan. Terminal common tegangan diberi tanda (±), dan terminal tegangan yang lain mengindikasikan ukuran tegangan dipilih. (10) Terminal untuk menghubungkan kawat penghantar. 4.9.3. Faktor Daya dan Daya Secara umum daya listrik mengandung unsur resistansi dan reaktansi atau impedansi kompleks sehingga daya yang diserap tergantung pada sifat beban. Hal tersebut dikarenakan yang menyerap daya adalah beban yang bersifat resistif, sedang beban yang bersifat reaktif tidak menyerap daya. Dengan demikian perkalian antara tegangan efektif dengan arus efektif adalah merupakan daya semu ( S ) S=VI VA Sedangkan besarnya daya nyata (P ) adalah : P = V I Cos Watt Disamping adanya daya nyata (P ), daya semu ( S ), ada daya yang disebabkan oleh beban reaktif (Q ), besarnya adalah : Q = V I Sin VAR

Hubungan antara ketiga daya nyata, daya semu dan daya reaktif dapat dilukiskan dengan segitiga daya.

Q

S

P

Gambar 4 – 30. Segitiga Daya Perbandingan antara daya nyata dengan daya semu disebut dengan faktor daya P V . I . Cos Faktor daya = --- = ----------------- = Cos S V.I Sewaktu menyebut faktor daya dikatakan ketinggalan jika arus ketinggalan dari tegangannya. > 0, karena

Q
R
S

JX1
P

Gambar 4 – 31. Daya bersifat induktif Demikian daya juga dikatakan mendahului jika mendahului tegangannya. < 0, karena arusnya
P R

?
S

-JX1
Q

Gambar 4 – 32. Daya bersifat kapasitif

Contoh Aplikasi : 1. Sebuah tahanan R = 22 seri dengan reaktansi kapasitip XC = 10 mempunyai tegangan efektif sebesar 100 V. Tentukan informasi daya lengkap. Solusi : Z = R2 + XC 2 = 222 + 102 = 24,17

Ueff 100 I eff = ---------- = -------- = 4,137 A Z 24,17 P = Ieff2 . R = 4,137 2 . 22 = 376,52 Watt Q = Ieff2 . XC = 4,137 2 . 10 = 171,15 VAR S = Ieff2 . Z = 4,1372 . 24,17 = 413,66 VA 2. Rangkaian terdiri dari tahanan R seri dengan elemen yang belum diketahui, mempunyai tegangan effektif sebesar 50 V, daya 30 Watt, dan faktor daya 0,707 menyusul. Tentukan besarnya elemenelemen tersebut, bila rangkaian bekerja pada frekuensi 100 Hz. Solusi : P = Veff . Ieff . Cos 30 = 50. I
eff

. 0,707

30 I eff = -------------- = 0,8486 A 50 . 0,707 P=I
2 eff

.R

30 = ( 0, 8486 )2 . R Cos

30 R = ----------- = 41,659 ( 0, 8486 )2 = 0,707 menyusul berarti bebannya induktif

= arc Cos 0,707 = 45° Z = R + j XL XL = R Tg 45° = 41,659 L=2 fL

L 41,659 L = -------- = ------------2 f 2 .100 = 66,30 mH Atau : V eff 50 Z = -------- = ---------- = 58,9205 I eff 0,8486 R = --Z < 45°

Cos

R = 58,9205 . 0,707 = 41,656 4.9.4. Prosedur Pengope rasian Cos ? Meter 4.9.4.1. Pengukuran Faktor Daya (Cos ? ) satu fasa : Hubungkan kumparan arus secara Pilih selektor tegangan sesuai seri terhadap beban. Dengan cara dengan tegangan sumber yang menghubungkan terminal akan diukur faktor dayanya kumparan arus (.± ) ke sumber (perhatikan tabel 4-3). tegangan, sedangkan ujung Jika jarum penunjuk bergerak kumparan arus yang lain (A, pilih kearah kiri, berarti sifat besar arus sesuai dengan tabel 4 bebanya kapasitif, maka faktor 3) dihubungkan ke beban. dayanya mendahului (lead). Hubungkan kumparan tegangan Jika jarum penunjuk bergerak secara parallel dengan beban. kearah kanan, berarti sifat Dengan cara menghubungkan bebanya induktif, maka faktor terminal kumparan tegangan (±) dayanya ketinggalan (lag) lebih jelasnya perhatikan gambar 4 ke (P1), sedangkan ujung 33. terminal tegangan yang lain (P2) dihubungkan ke ujung beban yang lainnya.

Dengan cara dayanya mendahului (lead). Dengan cara dihubungkan ke sumber menghubungkan terminal maupun ke beban.4. sedangkan ujung dengan tegangan sumber yang kumparan arus yang lain (A. Pengukuran Faktor Daya (Cos ? ) tiga fasa : Hubungkan kumparan arus secara dan S) serta (P3 dan T) seri terhadap beban. maka faktor dengan beban. menghubungkan terminal Jika jarum penunjuk bergerak kumparan tegangan (±) ke (P1 kearah kanan. sedangkan (P2 . berarti sifat bebanya induktif. Jika jarum penunjuk bergerak Hubungkan kumparan kearah kiri. kumparan arus (±) ke sumber Pilih selektor tegangan sesuai tegangan. yang lainnya.9. maka faktor dan R). pilih akan diukur faktor dayanya besar arus sesuai dengan tabel 4 (perhatikan tabel 4-3).2. 3) dihubungkan ke beban. berarti sifat tegangan secara parallel bebanya kapasitif. ujung terminal dayanya ketinggalan (lag) lebih tegangan yang lain jelasnya perhatikan gambar 4 dihubungkan ke ujung beban 34.Ke P sumber N Ke beban ± 25A 5A P1 P2 P3 200V ` 100 V 400 V Gambar 4-33 Pengukuran faktor daya satu fasa 4.

Dari ketiga macam fasa terdapat bermacam -macam notasi. Kawat Penghantar Tiga Fasa Sebuah sumber berfasa tiga adalah sumber yang mempunyai tiga tegangan yang sama.Ke sumber R S T Ke beban ± 25A 5A P1 P2 P3 200V ` 100 V 400 V Gambar 4-34 Pengukuran faktor daya tiga fasa 4.1. atau fasa C dapat digunakan dengan metode sebagai berikut : IR R VSR S VTS T IT VRT V R IS N C VR VC Gambar 4 -36. yaitu : Fasa I : 1 atau A atau R Fasa II : 2 atau B atau S Fasa III : 3 atau C atau T Untuk mengetahui mana fasa R. fasa S.10. Metode menentukan urutan fasa dengan R dan C .10. tetapi berbeda fasa 120 0 terhadap satu sama lain. Metode Menentukan Urutan Fasa 4.

Hal ini mengakibatkan besarnya tegangan SN (tegangan R VR R T VR S R VSR . IR mendahului VRT dengan sudut 45o dan berada di dalam segitiga tegangan. S S VST T VS R T VC N Gambar 4–38. Jika fasa R dan T dibalik akan diperoleh urutan fasa yang terbalik (perhatikan gambar 4-38). Phasor diagram saat urutan fasa tidak 4-38 IR tetap mendahului VRT. tetapi berada di luar segitiga tegangan. Phasor diagram saat urutan fasa Jika uruta n fasa seperti gambar 4-37 (urutan yang benar) maka besarnya tegangan yang terukur pada volt meter SN lebih kecil dari harga-harga VC dan VR atau lebih kecil dari VRT.T IR VT S VC N VSR VSR Gambar 4–37.

Metode menentukan urutan fasa dengan lampu Adapun alat ukur yang digunakan untuk mengetahui urutan fasa adalah indikator test urutan fasa. Indikasi urutan fasa ditunjukkan dengan kondisi : Lampu yang terang merupakan urutan fasa I Lampu yang redup merupakan urutan fasa II Pada C adalah urutan fasa III. Konstruksi indikator test urutan fasa Seperti ditunjukkan pada gambar 4-40. yaitu dengan menggunakan dua buah lampu pijar dengan daya yang sama dan sebuah kapasitor.pada voltmeter ) jauh lebih besar dibanding dengan tegangan VRT (tegangan Line). Disamping metode di atas dapat juga digunakan metode lain. 6 7 5 3 2 1 8 4 1 1 Gambar 4 -40. alat ukur indikator test urutan fasa bagian-bagian externalnya dijelaskan sebagai berikut : (1) Piringan yang berputar (2) Arah panah piringan yang berputar . L1 L2 C Gambar 4 -39. Gambar 4-40 menggambarkan konstruksi indikator test urutan fasa.

Pilih 1 sebagai R kemudian lihat lampu yang paling terang adalah kawat yang fasanya mengikuti. Cara Kerja Alat Cara kerja rangkaian sangat sederhana berdasarkan phasor bidang kompleks.10. Kapasitor harus mempunyai nilai : Lampu paling terang menunjukkan fasa yang mengikuti R Gambar 4-41.(3) Range tegangan yang tersedia (4) Range frekuensi yang tersedia (5) Kabel penghubung dari indikator test urutan fasa ke masing-masing fasa (6) Fasa R atau 1 atau A warna kuning (7) Fasa S atau 2 atau B warna hijau (8) Fasa T atau 3 atau C warna ungu 4.10. Karena supply 3 fasa – 3 kawat harus diketahui urutan fasanya.3. Prinsip indikator urutan fasa 4. Prinsip Dasar Alat Indikator Urutan Fasa Indikator urutan fasa ini mampu untuk menentukan urutan sistem 3 fasa 3 kawat. dengan indikator urutan fasa sederhana dapat menemukan fasa mana yang dipilih untuk diikuti dengan benar.2. Masukan kawat 3 fasa dengan urutan yang tidak diketahui Impedansi Z dari tiga cabang indikator harus sama dengan : Setiap lampu memiliki resistansi ohmik sama dengan R (k? ). Meng hubungkan tiga reaktansi yang sama . Oleh karena itu urutan fasanya adalah 1-3-2.

Usn. Yt = 1/Zt admitansi percabangan Ini memungkin ditunjukkan titik 0 dari indikator hubungan bintang . Zs = R dan Zt = R impedansi indikator Yr = 1/Zr ‘ Ys = 1/Zs . Jika semua reaktansi positip sistem akan seimbang dan tidak ada tegangan pada titik netral. Utr UF = tegangan fasa (UL / ) = 127 V. UL = tegangan line (220 V dari 3 X 220 V system bintang) Urs. Ust.Uro 3 Dikerjakan secara matematika dan mengingat bahwa ini berkaitan dengan phasor bidang kompleks maka akan diperoleh : UL = 220 v . Utn Zr = Xc . Ys It = Uto . Uon dan sebagai tegangan line konstan : Urs = Uro .Uso Ust = Uso . Uf = 127 Volt Uro = 170 v ( indikator percabangan kapasitor) Uso = 190 v (cabang yang mengikuti percabangan kapasitor ) Uto = 51 v (cabang yang mengikuti cabang dengan lampu yang diterang) .Uon Uto = Utn – Uon arus fasa percabangan (arus line) Ir = Uro . akan digantikan tegangan fasa baru terhadap titik netral menggantikan referensi terhadap N.Uon Uso = Usn .Yt)/(Yr + Ys) + Yt. Yt Sekarang verifikasi bahwa titik netral telah tergantikan : Uro + Uso + Uto = . Oleh karena itu.Uto Uto = Uto . yang akan mendapatkan tegangan Uon berkaitan dengan kawat netral N disupply : Uon = (Urn. Yr + Usn.nilainya ke dalam susunan sistem tiga bintang tanpa kabel netral. Karena tegangan line konstan. Urn. sehingga sistem tidak lama seimbang dan titik netral 0 mempunyai tegangan (Von). Secara matematis resolusi untuk 3 fasa – 3 kawat 3 X 220 V. fasa tegangan akan menyusun kembali dalam rangka memberi tegangan pada titik netral Von. Namun arus kapasitor akan tertinggal 90o terhadap tegangan. Yr Is = Uso .3 .Ys + Utn. Tegangan fasa percabangan : Uro = Urn .

Contoh indikator urutan fasa yang lain .12 ? R ) = 3. Catatan : Dalam pengujian urutan fasa ini akan membutuhkan 2 lampu pijar dengan tegangan kerja sama dengan sistem tegangan line missal 3 X 380 Volt rating tegangan 380 Volt.Sebagaimana yang terlihat percabangan dengan tegangan terbesar (asumsikan indikator telah dihubungkan dalam urutan yang benar RST). R) dengan R dalam kilo ohms.htm Gambar 4-42.?. Tiga elemen dihubungkan dalam hubungan bintang namun tanpa kabel netral.tesco-advent.knoppinc. f . sehingga reaktansi kapasitip menjadi : XC = R and Xc = 1 / (2. didapatkan nilai kapasitor C [uF] = 1 / ( 0. C ) sehingga : C = 1 / ( 2. C dalam mikro farad dan f = 50 Hz . Kondisi sesuai bila ketiga reaktansi sama. Cabang dengan 190 Volt. Juga mungkin perlu diketahui mengapa harus menggunakan lampu pijar dengan tegangan yang sama.185 / R [kohm] Contoh lain yang ada dipasaran http://www. misal lampu akan lebih terang dari pada yang hanya 51 Volt. Mengukur resistansi kontak ohmik R dari lampu pijar.com/tesco-phasesequence.html http://www. f . Karena jika digunakan lampu pijar indikator 127 Volt akan bekerja namun. dengan tegangan line misal 190 – 220 Volt. ? . tidak diinginkan untuk membeli lampu baru setiap menggunakan peralatan untuk pengujian.com/phase_seq. dalam sistem 3 X rating 220 Volt. Oleh karena itu fasa yang mengikuti percabangan kapasitor adalah yang dihubungkan pada terminal dengan lampu yang paling terang. Kapasitor juga dengan tegangan kerja AC dengan rating tegangan sama dengan dua kali tegangan line (menjadikan lebih aman).

Apabila besarnya V lebih kecil dari VR dan VC.43. VC dan V. maka arah putaran piringan dari lead indikator urutan fasa ke kanan (searah jarum .4.4. jika telah yakin sumber tegangan AC 3 fasa dihubungkan.10. Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan R dan C pada urutan benar Teliti rangkaian. RV diatur hingga diperoleh harga VR = VC. dengan rangkaian seperti gambar 4.S pada terminal b4 . kemudian catat besarnya tegangan penunjukan VR. dan lead indikator urutan fasa dihubungkan dengan posisi R pada terminal a4 . Prosedur Pengoperasian Alat Gambaran prosedur pengoperasian indikator test urutan fasa sebagai brikut : Digunakan transformator tiga fasa. R S T N Gambar 4 – 43. dan T pada terminal c4 .

VC dan V dicatat. besarnya tegangan penunjukan VR. Lead indikator posisinya juga dipindahkan. Dengan demikian urutan fasanya sudah betul. Apabila besarnya V lebih besar dari VR dan VC. dan urutan fasanya adalah R S T.5 F VC Gambar 4 – 44 Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan R dan C pada urutan salah Sumber tegangan 3 fasa dihidupkan. beban kapasitor dipindahkan pada terminal a 4 .jam). resistor pada terminal c4. Selanjutnya sumber tegangan dimatikan. dan lead indikator urutan fasa . VR R = 500? R S T N V C = 6.

maka arah putaran piringan dari lead indikator urutan fasa ke kiri (berlawanan arah jarum jam). Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan lampu pada urutan benar Sumber tegangan 3 fasa dihidupkan. S pada terminal b4 . Dengan demikian urutan fasanya salah. lampu yang terang LP1 dan yang redup LP2. Dapat pula gambar 4-43 dilakukan dengan cara mengganti resistor dengan lampu pijar LP1 pada terminal a4. dan urutan fasanya T SR. posisi lead indikator tetap. Voltmeter dengan lampu pijar LP2 pada terminal b4. arah putaran piringan dari lead indikator urutan fasa ke kanan (searah jarum jam). dan urutan fasanya adalah R S T. dan T pada terminal a4 . Dengan demikian urutan fasanya sudah betul. .dihubungkan dengan posisi R pada terminal c4 . Gambar 4 – 45.

dan posisi lead indikator tetap. kemudian beban dipindahkan : lampu pijar LP2 pada terminal c4. arah putaran piringan dari lead indikator urutan fasa ke kiri (berlawanan arah jarum jam). kapasitor C pada terminal b 4 . lampu yang terang LP2 dan yang redup LP1. Gambar 4 – 46 Pengoperasian indikator test urutan fasa dengan lampu pada urutan salah Sumber tegangan 3 fasa dihidupkan. .Selanjutnya sumber tegangan dimatikan . Dengan demikian urutan fasanya salah. dan urutan fasanya adalah S R T.

Pengisian muatan listrik lebih dari 10. industri plastik dan industri pembuatan bahan peledak. sebagai contoh industri telekomunikasi. Kedua hal tersebut oleh konsumen sering diabaikan sehingga sering berakibat fatal bagi penggunanya. Pelepasan muatan elektrostatik juga sangat berbahaya untuk beberapa cabang industri. Mampu menjelaskan cara mengukur tahanan pentanahan 3. Demikian pula tahanan pentanahan juga harus diperhatikan. Secara prinsip penguji tahanan isolasi adalah dua kumparan V dan C yang ditempatkan secara menyilang gambar 5 -1. Mampu menjelaskan prinsip dasar alat ukur medan Pokok Bahasan Tananan isolasi merupakan hal yang harus diperhatikan saat memasang instalasi listrik dengan menggunakan kawat tertutup. dan banyak digunakan dalam industri kontrol statik. sebagai dasar pengendalian keselamatan. Mampu menjelaskan prinsip dasar tahanan isolasi 2.1. Pengujian Tahanan Isolasi Tahanan isolasi adalah tahanan yang terdapat diantara dua kawat saluran yang diisolasi satu sama lain atau tahanan antara satu kawat saluran dengan tanah (ground). Alat ini mengukur medan elektrostatik dari suatu obyek dalam satuan Volt. Oleh karena itu cara-cara pengukurannya perlu diketahui. sebagai contoh Microchips. 5. para pembaca diharapkan dapat : 1. bahan dan peralatan.000 V dapat membahayakan manusia. Kumparan V . Pelepasan muatan elektrostatik merupakan masalah utama pada kebanyakan tempat kerja yang menggunakan teknologi mikro elektronik.BAB 5 PENGUJI TAHANAN ISOLASI DAN KUAT MEDAN Tujuan Setelah mengikuti pembahasan tentang penguji tahanan isolasi dan kuat medan. Pengukuran tahanan isolasi digunakan untuk memeriksa status isolasi rangkaian dan perlengkapan listrik. Elektrostatik field meter digunakan untuk pengukuran pengisian muatan listrik pada suatu obyek secara ”non kontak”.

Gambar 5 – 1 Pengujian tahanan isolasi Variasi tegangan tidak akan berpengaruh banyak terhadap harga pembacaan. 250. Umumnya tegangannya adalah 100. Alat ini membangkitkan tegangan tinggi lebih stabil dibanding dengan yang menggunakan generatar diputar dengan tangan. 1000 atau 2000 V. yaitu sebanding dengan Rp/Rx atau berbanding terbalik terhadap tahanan yang akan diukur.02 sampai 20 MO dan 5 sampai 5. . karena hasilnya tidak ditentukan dari sumber tegangan arus searah. Rx adalah tahanan yang akan diukur.000 V yang didapat dari baterai sebesar 8 sampai 12 V dan disebut alat pengujian tahanan isolasi dengan baterai. yang dihasilkan dari pembangkit yang diputar dengan tangan.besarnya arus yang mengalir adalah E/Rp dan kumparan C besarnya arus yang mengalir adalah E/Rx. Tetapi sekarang pengujian tahanan isolasi menggunakan sumber tegangan tinggi dari tegangan tetap sebesar 100 sampai 1. Sedangkan daerah pengukuran yang efektif adalah 0. Sumber tegangan arus searah adalah sumber tegangan tinggi. Jarum akan bergerak disebabkan oleh perbandingan dari kedua arus.000 MO. 500.

(3) Skala (4) Check baterai (5) Tombol pengaktif meter (6) Lubang line untuk colok oranye dan lubang earth untuk colok hitam (7) Probe meter dengan penjepit (8) Probe meter runcing. bagian-bagian externalnya dijelaskan sebagai berikut : (1) Jarum penunjuk (2) Kaca.6 1 7 2 3 4 8 5 Gambar 5–2 Konstruksi penguji tahanan isolasi menggunakan baterai Seperti ditunjukkan pada gambar 5 alat ukur penguji tahanan isolasi -2.1. Pengukuran Tahanan Isolasi Pengukuran tahanan isolasi untuk perlengkapan listrik menggunakan pengujian tahanan isolasi. Secara umum bahan isolasi yang digunakan sebagai pelindung dalam saluran listrik atau sebagai pengisolir bagian satu dengan bagian lainnya harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan. juga sebagai pencolok pengecekan beterai.1. Harga tahanan isolasi antara dua saluran kawat pada . yang mana pengoperasiannya pada waktu perlengkapan rangkaian listrik tidak bekerja atau tidak dialiri arus listrik. difungsikan untuk mengeliminir kesalahan parallax dalam pembacaan. 5.

Melakukan pengecekan kondisi batere meter dengan menghubungkan colok oranye ke line dan B check (gambar 5.3). 5. Waktu melakukan pengukuran tahanan isolasi gunakan tegangan arus searah sebesar 100 V atau lebih.000 O atau 220 KO. Gambar 5-3 Pengecekan kondisi baterai Gambar 5-4 Baterai dalam kondisi baik .peralatan listrik ditetapkan paling sedikit adalah 1000 x harga tegangan kerjanya. Baterai masih dalam kondisi baik. maka besarnya tahanan isolasi minimal sebesar : 1000 x 220 = 220.2. Walaupun bahanbahan isolasi yang digunakan cukup baik dan mempunyai tahanan isolasi yang tinggi. Prosedur Pengujian Tahanan Isolasi Sebelum menggunakan alat pengujian tahanan isolasi perlu dilakukan langkah sebagai berikut : 1. maka perlu dilakukan pengukuran. tetapi masih ada tempat-tempat yang lemah lapisan isolasinya. ini disebabkan untuk mengalirkan arus yang cukup besar dalam tahanan isolasi. Apabila hasil pengukuran nilai lebih rendah dari syarat minimum yang sudah ditentukan. Ini berarti arus yang diizinkan di dalam tahanan isolasi 1 mA/V. Misal tegangan yang digunakan adalah 220 V. Di samping untuk menentukan besarnya tahanan isolasi. nilai tegangan ukur yang tinggi juga untuk menentukan kekuatan bahan isolasi dari saluran yang akan digunakan. jika jarum menunjuk pada tanda huruf B di peraga meter (gambar 5-4). maka saluran/kawat tersebut kurang baik dan tidak dibenarkan kalau digunakan.1.

2. maka tahanan adalah memutus semua alat isolasinya adalah : (1) antara pemakai arus yang terpasang kawat fasa dengan kawat nol N. Meter siap digunakan. (3) antara kawat nol N dengan tanah G. Pengujian Tahanan Isolasi Pada Instalasi Listrik melakukan pengukuran tahanan Jika kawat listrik terdiri dari dua isolasi antara fasa dan nol N. secara paralel pada saluran (2) antara kawat fasa dengan tersebut. Yakinkan bahwa kawat yang akan diukur tahanan isolasinya tidak terhubung dengan sumber tegangan (tidak berarus) 4.3.1. Gambar 5-5 Meter siap digunakan Gambar 5-6 Mengukur tahanan isolasi 3. tanah G. tekan tombol pengaktif meter dan baca penunjukkan jarum (gambar 5-6). Hubungkan colok oranye dan colok hitam dengan ujung-ujung kawat yang akan diukur tahanan isolasinya. hal kawat saluran misal kawat fasa pokok yang perlu diperhatikan dan kawat nol N. 5. Pada saat . dengan menghubungkan colok oranye ke lubang line dan colok hitam ke lubang earth (gambar 5-5).

8 di bawah mencontohkan ditutup. juga untuk mengetahui kebenaran sambungan yang ada motor.sambungan yang salah atau penyambung.8 Pengukuran tahanan isolasi antara fasa dengan tanah G Gambar 5 . dan sebagainya. Di samping digunakan untuk pengukuran tahanan isolasi pada mengetahui keadaan tahanan instalasi listrik bangunan baru. Gambar 5 .Gambar 5 – 7 Pengukuran tahanan isolasi antara fasa dengan nol N Contoh : lampu-lampu. dan sebagainya yang hubung singkat dapat segera tersambung secara seri harus diketahui dan diperbaiki.9 Pengukuran tahanan isolasi antara nol N dengan tanah G . Gambar 5 . Jika terjadi Sebaliknya semua alat pemutus pada seperti : kontak. instalasi. motor. voltmeter. penyambung.isolasi.

Gambar 5 – 11 Elektroda yang mempunyai pengaruh lapisan Sebaliknya. gangguan akan mencari jalur yang maka akan dihadapkan pada resiko tidak diinginkan termasuk manusia. masalah faktor daya dan delima instalasi listrik .Gambar 5-10 Pengukuran tahanan isolasi antara instalasi dengan tanah G 5. tetapi juga digunakan untuk mencegah kerusakan peralatan industri. Kerugian-kerugian di atas tidak termasuk biaya pengadilan dan . Jika arus tetapi pentanahan yang kurang baik mempunyai jalur ke tanah melalui sistem pentanahan yang di desain juga berbahaya dan meningkatkan resiko kerusakan peralatan. Tanpa dan dipelihara dengan baik. Pentanahan yang kurang baik tidak hanya kemungkinan adanya intermitten. dalam pemasangan jaringan instrumen. Tahanan Pentanahan (Earth Ground Resistance) Tahanan pentanahan merupakan kejutan listrik. pentanahan yang baik tidak hanya sekedar untuk keselamatan. Organisasi pemberi rekomendasi standar untuk kemananan pentanahan • OSHA (Occupational Safety Health Administration) • NFPA (National Fire Protection Association) • ANSI/ISA (American National Standards Institute and Instrument Society of America) • TIA (Telecommunications I ndustry Association) • IEC (International Electrotechnical Commission) • CENELEC (European Committee for Electrotechnical Standardization) • IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers).2. arus sistem pentanahan yang effektif. Miliyaran uang telah hilang tiap tahunnya di tempat kerja karena kebakaran akibat listrik. disamping itu juga kesalahan hal yang tidak boleh diabaikan mengakibatkan distorsi harmonik. Sistem pentanahan yang baik akan meningkatkan reliabilitas peralatan dan mengurangi kemungkinan kerusakan akibat petir dan arus gangguan. gangguan tidak membuang-buang waktu saja.

mengandung garam.1. tanah yang korosif dengan kelembaban tinggi. dan suhu tinggi akan menurunkan batang pentanahan dan sambungan-sambungannya. Itulah sebabnya sangat dianjurkan semua pentanahan dan sambungan pentanahan harus diperiksa minimal satu tahun sekali sebagai bagian dari rencana pemeliharaan. baik sengaja ataupun tidak sengaja antara rangkaian listrik dan tanah. National Electrical Code (Kitab Undang-undang Kelistrikan Nasional). Masalah-masalah listrik yang perusahaan. Walaupun sistem pentanahan saat awalnya dipasang mempunyai harga tahanan pentanahan ke tanah rendah. harus dilakukan pencarian sumber permasalahan dan dilakukan koreksi agar nilai tahanannya lebih rendah. sering mati berkaitan dengan pentanahan kurang baik atau kualitas daya yang rendah. sebenarnya ada dua .” Ketika berbicara tentang pentanahan. Alat ukur pentanahan. Gambar 5 – 12 Tanah yang korosif 5. atau menghubungkan dengan benda konduksi yang berada di tanah. dengan mengganti atau menambah batang pentanahan ke dalam sistem pentanahan. adalah alat pencari kesalahan yang tidak diragukan guna membantu pemeliharaan.2.hilangnya produktivitas individu dan 5. Cara Menguji Sistem Pentanahan Dalam waktu yang lama. Selama periode pemeriksaan.2. jika terjadi peningkatan nilai tahanan lebih dari 20 %. Pentanahan dan Fungsinya NEC. yang dibuat industri. Pasal 100 mendefinisikan pentanahan. Pentanahan sebagai: “membuat hubungan. tahanan sistem pentanahan akan meningkat jika batang pentanahan rapuh.2.

Peralatan pentanahan menjamin kerja peralatan dalam struktur bangunan ditanahkan dengan baik. Perlunya pentanahan disamping melindungi manusia. Tetapi badan NFPA dan IEEE telah merekomendasikan nilai tahanan pentanahan lebih kecil atau sama dengan 5 Ohm. . Tidak ada satu standar mengenai ambang batas nilai tahanan pentanahan yang harus diikuti oleh semua badan.2. dan peralatan juga untuk memperoleh jalur yang aman untuk penghamburan arus liar. tanaman. sambaran petir.subjek yang berbeda: pentanahan bumi dan pentanahan alat. Ini untuk mencegah perbedaan tegangan potensial kemungkinan loncatan api kalau terjadi sambaran petir. Nilai Tahanan yang Baik Ada kerancuan antara pentanahan yang baik dan nilai tahanan yang seharusnya. interferensi elektromagnetik (EMI) dan sinyal gangguan frekuensi radio (RFI).3. listrik statis. ke elektroda tanah yang ditempatkan di bumi. Kedua sistem pentanahan perlu dijaga terpisah kecuali untuk sambungan antara kedua sistem. Pentanahan bumi adalah hubungan sengaja dari rangkaian konduktor. Idealnya suatu pentanahan besar tahanannya nol ohm. Gambar 5 – 13 Sambaran petir 5. biasanya netral.

besar tahanan elektroda tanah dan sambungannya umumnya sangat rendah sehingga arus mengalir tidak terhambat.Gambar 5 –14 Nilai tahanan pentanahan ideal Badan NEC menyatakan bahwa kan 5 ohm atau kurang sebagai untuk meyakinkan impedansi nilai tahanan pentanahan dan sistem ke tanah besarnya kurang sambungan. Penghantar tanah Hubungan antara penghantar tanah dan elektroda tanan Elektrode tanah Gambar 5 – 15 Hubungan antara penghantar tanah dan elektroda tanah . Industri ekonomis dan secara pisik telekomunikasi telah mengguna5.2. Tujuan nilai tahanan adalah untuk dari 25 Ohm dan tercantum dalam pentanahan NEC 250. Hubungan antara penghantar tanah dan elektroda tanah seperti gambar di bawah.2. Komponen elektroda pentanahan Elektroda pentanahan umumnya dibuat dari bahan yang sangat konduktif/tahanan rendah seperti baja atau tembaga.1. Dasar-dasar Pentanahan 5.4. Fasilitas dengan mendapatkan tahanan pentanahan peralatan yang sensitif nilai yang serendah mungkin yang bisa baik secara tahanan tanahnya harus 5 ohm dipertimbangkan atau kurang.4.56.

dan lain-lain. Diameter elektroda elektroda pentanahan. Dalam yang terdiri dari batu. bila diameter elektroda di sekitarnya. Panjang/kedalaman elektroda pentanahan Satu cara yang sangat efektif untuk demikian. pentanahan dikelilingi tanah yang secara konseptual terbentuk dari sel-sel yang melingkari semuanya 5. elektroda pentanahan berada di bawah garis beku Menambah diameter elektroda (frosting line). dan desain ini. Secara umum. Elektroda pentanahan harus dalam hubungan yang tetap dengan tanah. tahanannya dan tidak dapat diprediksi. metode alternatif yang menggunakan semen pentanahan menurunkan tahanan tanah adalah cement) bisa memperdalam elektroda (grounding pentanahan. dipengaruhi oleh pembekuan tanah Misalnya. Ada empat variabel yang 83-3) mensyaratkan panjang mempengaruhi tahanan sistem elektroda pentanahan minimum 2.2. Hal-hal yang mempengaruhi tahanan tanah Pertama. Masing-masing sel berikutnya membentuk area lebih besar yang menghasilkan tahanan lebih rendah. Jadi berdasarkan informasi ini. NEC code (1987. Tanah tidak tetap digunakan.2. granit.5 pentanahan.Tahanan kontak tanah di sekitar elektroda menurut National Institute of Standards (lembaga pemerintah dalam Departemen Perdagangan AS) menunjukkan bahwa tahanan hampir dapat diabaikan dengan ketentuan bahwa elektroda pentanahan bebas cat. 250. yaitu: meter (8 kaki) dihubungkan dengan memiliki ketebalan sama. Ada kejadian. Sel-sel yang paling dekat dengan elektroda pentanahan memiliki jumlah area terkecil yang menghasilkan tingkat tahanan terbesar. Ini dilakukan pentanahan berpengaruh sangat sehingga tahanan tanah tidak akan kecil dalam menurunkan tahanan.maka akan difokus pada cara-cara untuk mengurangi tahanan tanah ketika memasang sistem pentanahan. lebih dari satu elektroda sebagainya.tanah.4.3. 1. Dalam keadaan dimasukkan ke tanah dan . Sedangkan tahanan tanah di sekitar elektroda. Jumlah elektroda pentanahan kejadian dimana secara fisik tidak Cara lain menurunkan tahanan mungkin dilakukan pendalaman tanah adalah menggunakan banyak batang pentanahan daerah-daerah elektroda pentanahan. Ketika memasang 2. pentanahan bisa mengurangi tingkat tahanan 40%. digandakan tahanan pentanahan menggandakan panjang elektroda hanya menurun sebesar 10%. pelumas. Pada akhirnya ini akan mencapai titik dimana sel-sel tambahan menawarkan tahanan kecil ke tanah di sekitar elektroda pentanahan.

maka dapat menggunakan tabel tahanan pentanahan di bawah ini. karena tanah memiliki lapisan dan jarang yang sama (homogen). Untuk membantu dalam memasang batang pentanahan yang akan memenuhi kebutuhan tahanan tertentu. Tanpa pengaturan jarak elektroda pentanahan yang tepat. Gambar 5 – 16 Elektroda yang mempunyai ‘pengaruh lapisan Tabel 5 – 1 Tahanan pentanahan Tahanan Jenis Tanah RE M? O Tanah lembab. Ingatlah.000 107 Tahanan Pentanahan Kedalaman Electroda Potongan ke tanah Pentanahan ( Meter) ( Meter) Jenis Tanah 3 10 33 50 66 160 330 330 1000 - 6 5 17 25 33 80 165 165 500 - 10 3 10 15 20 48 100 100 300 - 5 12 40 60 80 160 200 400 400 1200 - 10 6 20 30 40 80 100 200 200 600 - 20 3 10 15 20 40 50 100 100 300 - . Agar penambahan elektroda efektif.dihubungkan secara paralel untuk mendapatkan tahanan yang lebih rendah. ini hanya digunakan sebagai pedoman. jarak batang tambahan setidaknya harus sama dalamnya dengan batang yang ditanam. tanah liat Tanah liat berpasir Tanah lembab berpasir Campuran 1:5 Kerikil lembab Tanah kering berpasir Kerikil kering Tanah berbatu Batu karang 30 100 150 300 400 500 1000 1000 30. Nilai tahanan akan sangat berbeda-beda. bidang pengaruhnya akan berpotongan dan tahanan tidak akan menurun.seperti rawa Tanah Pertanian.

Gambar 5 – 19 Jaringan bertautan . Gambar 5– 18 Hubungan beberapa elektrode pentanahan Sistem-sistem ini dipasang secara khusus di substasiun pembangkit listrik. kantor pusat. jaringan bertautan atau kisi-kisi. Desain sistem pentanahan Sistem pentanahan sederhana terdiri dari satu elektroda pentanahan yang dimasukkan ke tanah. dan tempattempat menara seluler. plat tanah. Jaringan kompleks meningkatkan secara dramatis jumlah kontak dengan tanah sekitarnya dan menurunkan tahanan tanah. Gambar 5 – 17 Elektroda pentanahan Ada pula sistem pentanahan kompleks terdiri dari banyak batang pentanahan yang terhubung. dan loop tanah (gambar 5 – 18) .4. Penggunaan satu elektroda pentanahan adalah hal yang umum dilakukan dalam pentanahan dan bisa ditemukan di luar rumah atau tempat usaha perorangan lebih jelasnya perhatikan gambar 5 – 17.

Agar sistem pentanahan efektif.2. embun. kandungan terburuk. pada air tanah jika tahanan tanah. Frank posisi air permanen.2. batang menemukan lokasi dengan memungkinkan.Gambar 5 – 20 Pelat tanah 5.1. Tapi seperti yang dibahas tempat yang suhunya stabil. pentanahan harus dipasang di tahanan tanah serendah mungkin.2. harus permukaan Juga. Metode Pengetesen Pentanahan Tanah Ada empat jenis metode pengetesen pentanahan tanah: • Tahanan tanah (menggunakan tiang pancang) • Gerak benda potensial (menggunakan tiang pancang) • Selektif (menggunakan 1 klem 1 dan tiang pancang) • Tanpa tiang pancang (hanya menggunakan 2 klem) 5. menggunakan metode Wenner berbeda-beda menurut sifat yang diterima secara universal sublapisan tanah.5. maka harus buruk bisa diatasi dengan sistem pentanahan yang lebih rumit.5. Idealnya.5. Kandungan uap digambarkan di bawah ini berubah berdasarkan musim. dirancang agar tahan pada kondisi Komposisi tanah. Ukuran tahanan tanah Hal-hal yang menentukan tahanan tanah Resistivitas tanah (Soil Resistivity) dan air umumnya lebih stabil di tempat yang lebih dalam. kondisi tanah yang di bawah garis beku.2. dan suhu mempengaruhi tahanan tanah. paling penting dalam menentukan desain sistem pentanahan untuk direkomendasikan agar batang instalasi baru (aplikasi lapangan pentanahan ditempatkan sedalam hijau) guna memenuhi syarat mungkin di dalam tanah. dan kedalaman yang dikembangkan oleh Dr. yaitu sebelumnya. Cara menghitung tanah akan sangat berbeda secara tahanan tanah geografis dan pada kedalaman Prosedur pengukuran yang tanah berbeda. Karena tanah Wenner dari US Bureau of . Tanah jarang bersifat homogen dan tahanan 5.

Dalam hal ini diasumsikan nilai tahanan adalah 100 ohm. Karena jelas. Alat ukur menghasilkan ini. Untuk mencegah hal pancang lebih dari tiga kaki (0. bisa dihasilkan guna minimal tiga kali lebih besar dari profil kedalaman tiang. Dengan mengubah jarak satu sama lain sama. dikarenakan Seperti terlihat. jarak antara elektroda tes dihitung tiga meter. Jarak antara tiang pancang tanah kedalaman dan jarak beberapa kali. maka alat ukur dilengkapi Frequency Control satu arus yang diketahui melalui Automatic dua tiang pancang luar dan (AFC) System (Sistem Kendali Frekuensi Otomatis).Standards (Biro Standar AS) tahun 1915.30 sering berubah dipengaruhi oleh adanya arus tanah dan meter). alat uji sehingga memungkinkan untuk tersebut secara otomatis mendapat hasil pembacaan yang menghitung tahanan tanah. Dengan menggunakan dengan jumlah noise minimal hukum Ohm (V=IR).1416 A = jarak antara elektroda dalam cm R = nilai tahanan terukur dalam ohm dari uji instrumen Catatan: Ohm-centimeter pada nilai 100 dapat diubah ke ohm-meter. dan R = 100 ohm. empat tiang potongan logam di bawah tanah. pastikan jarak antar tiang harmonisnya.2.91 meter). dalam soal ini diketahui: A = 3 meter. Cara mengukur tahanan tanah Untuk mengetes tahanan tanah. Jadi. Maka tahanan tanahnya adalah: ρ =2x xAxR ρ ? 2 x 3. . hasil pengukuran sering terdistorsi hubungkan pengetes pentanahan dan dibuat tidak valid yang oleh potonganseperti ditunjukkan gambar 5-19. Bila tahanan tanah diukur dengan menggunakan alat ukur. Ukuran tahanan tanah pancang adalah satu kaki (0. sumbu tiang pancang diputar 90 derajat. Jadi jika menentukan sistem tahanan tanah kedalaman masing-masing tiang yang sesuai.3. (F. maka nilai tahanan dibaca dalam ohm. pancang tanah ditempatkan di maka diperlukan ukuran tambahan tanah dalam posisi garis lurus. Ini biasanya penurunan beda tegangan diukur antara dua tiang pancang bagian memiliki frekuensi pengetesan dalam.5. A Method of Measuring Rumusnya adalah sebagai berikut: ρ = 2 πA R ( ρ ? rata-rata tahanan tanah pada = kedalaman A dalam ohm-cm) = ? 3.1416 x 3 meter x 100 = ohm ρ ? 1885 Om = 5. Perhatikan satuannya. Untuk mengukur tahanan tanah pada kedalaman tiga meter tersebut. Wenner. Contoh: Memasang batang pentanahan sepanjang tiga meter sebagai bagian dari sistem pentanahan.

Biasanya. sedangkan tegangan 3 kutub. Cara kerja uji drop tegangan Pertama. jarak 20 meter dan elektroda tanah. Kedua.6. Kemudian. Untuk lebih . uji drop (tiang pancang tanah bantuan) dan tanah. Gambar 5 – 22 Uji drop tegangan 5. Arus yang dikenal dihasilkan oleh itu.6. 1. elektroda kepentingan rinci tentang penempatan tiang tanah harus dilepaskan dari tempat pancang.2.Gambar 5 – 21 Cara mengukur tahanan tanah 5. Metode Pengetesen Pentanahan Tanah Ukuran Drop Tegangan Metode uji drop Tegangan (Fall-of. dua tiang elektroda pancang tanah di tanah dalam jatuhnya potensi tegangan diukur antara tiang pancang tanah dalam garis lurus – jatuh dari elektroda tanah.pentanahan tanah atau elektroda Potential) digunakan untuk individual untuk menghamburkan mengukur kemampuan sistem energi dari suatu tempat. alat uji dihubungkan ke alat ukur antara tiang pancang luar elektroda tanah. lihat bagian berikutnya.2. Dengan menggunakan Hukum Ohm (V = (65 kaki) sudah cukup.

Tekan START dan baca nilai RE (tahanan). juga tidak membahayakn orang lain atau . Ini dikarenakan dengan pengujian selektif elektroda tanah tidak harus dilepaskan dari sambungannya ke tempat itu.3. maka nilai RE adalah nilai total semua tahanan. Jika elektroda pentanahan paralel atau seri dengan batang pentanahan lain. Hubungkan alat uji pentanahan seperti yang ditunjukkan dalam gambar. alat uji tersebut secara otomatis menghitung tahanan elektroda tanah. Tabel adalah panduan pancang penetapan penyelidikan secara bantuan) sampai nilai-nilai yang tepat (tiang pancang dalam) dan diukur benar-benar tetap ketika tiang pancang tanah bantuan (tiang pancang luar). diperlukan dalam salah satu arah dan lakukan agar penyelidikan dilakukan di luar baru. Untuk menguji ketepatan hasil dan untuk memastikan bahwa tiang pancang luar di luar bidang Tabel 5 – 2 Panduan penetapan penyelidikan Kedalaman Electroda ke tanah 2m 3m 6m 10 m Jarak pancang bagian dalam 15 m 20 m 25 m 30 m Jarak pancang bagian luar 25 m 30 m 40 m 50 m 5. tiang pancang dan membuat pengukuran tidak dalam (penyelidikan) dan tiang luar (pentanahan valid. Cara Menempatkan Tiang Pancang Untuk mencapai tingkat akurasi pengaruh. Ukuran selektif Pengetesen selektif sangat mirip dengan pengujian drop tegangan. 5. Jika ada bidang pengaruh elektroda pengukuran pentanahan pada uji dan tanah perubahan yang signifikan dalam pembacaan (30%).6. Teknisi tidak harus membahayakan dirinya dengan melepaskan pentanahan.2. Ini adalah nilai sebenarnya dari elektroda pentanahan pada tes. memindahkan dalam (penyelidikan). daerah menambah jarak antara uji batang efektif tahanan akan tumpang tindih pentanahan pada uji. tapi dengan cara yang jauh lebih aman dan lebih mudah.6.IR). Jika Anda tidak berada di luar bidang pengaruh. Anda harus bantuan. 2. keduanya menghasilkan ukuran yang sama. reposisi (pemindahan tiang pancang luar tertinggi ketika melakukan uji posisi) (penyelidikan) 1 meter (3 kaki) tahanan tanah 3 kutub.2.

arus yang diketahui dihasilkan oleh alat ukur antara tiang pancang luar (tiang pancang tanah bantu) dan elektroda tanah. Seperti halnya uji drop tegangan. Alat uji tersebut kemudian dihubungkan ke elektroda tanah terkait. tapi hanya arus melalui kelem (yakni. Arus yang dihasilkan juga akan mengalir melalui tahanan paralel lain. Meskipun demikian alat ukur ini memiliki aksesoris pilihan. jauh dari elektroda tanah. jarak 20 meter (65 kaki) sudah cukup. arus yang melalui elektroda tanah terkait) yang digunakan untuk menghtiung tahanan (V=IR). kelem khusus ditempatkan di sekitar elektroda tanah. Jika tahanan total sistem pentanahan harus diukur. Seperti sebelumnya. dua tiang pancang tanah ditempatkan di tanah secara segaris. Biasanya. yang bisa mengukur tahanan satuan masingmasing kaki.perlengkapan listrik di dalam bangunan tanpa pentanahan. Jika sebuah menara memiliki lebih dari satu pentanahan di landasannya. . tanpa melepaskan timah pentanahan atau kawat statis overhead / pentanahan. jadi hanya elektroda tanah terkait yang diukur.7 inchi) pada transformator arus. maka masing-masing tahanan elektroda tanah harus diukur dengan menempatkan kelem di sekitar masing-masing elektroda tanah individual. Menguji tahanan elektroda tanah individu dari menara transmisi tegangan tinggi dengan pentanahan overhead atau kawat statis mengharuskan agar kawat-kawat ini dilepaskan. dengan kelebihan bahwa koneksi (hubungan) di pada tempat itu tidak perlu dilepaskan. Kemudian total tahanan sistem pentanahan bisa ditentukan dengan kalkulasi. yang menghilangkan pengaruh tahanan paralel dalam sistem yang ditanahkan. sedangkan jatuhnya potensi tegangan diukur antara tiang pancang tanah dalam dan elektroda tanah. maka harus dilepaskan juga satu per satu. kelem berdiameter 320 mm (12. Hanya arus yang mengalir melalui elektroda tanah terkait yang diukur menggunakan kelem tersebut. Akan tetapi.

Tegangan leh untuk tiang pancang pentanahan yang diketahui diinduksi o satu bantu.Gambar 5 – 23 Pengetesen selektif Hubungkan penguji tahanan tanah seperti ditunjukkan.kan klem kedua. Dapat juga melakukan uji klem. Dengan metode uji ini. Teknik uji klem ditempatkan di sekitar batang ini menghilangkan bahaya dan pentanahan tanah atau kabel kegiatan yang memakan waktu penghubung dan masing-masing untuk melepaskan pentanahan dihubungkan ke alat uji. di industri dapat mengukur tahanan tonggak menara pembangkit atau loop pentanahan tanah untuk di manapun tidak bisa diketemukan sistem multipentanahan hanya tanah. dua menggunakan klem arus. Tiang paralel. Tekan START dan baca nilai RE. dan juga proses untuk pancang pentanahan tanah tidak menemukan lokasi yang cocok digunakan sama sekali.2. tempat yang tidak dipertimbang- .7. Metode Pengetesen Pentanahan Tanah Ukuran tanpa tiang pancang Alat uji pentanahan tanah buatan kan sebelumnya: dalam gedung. Ini adalah nilai tahanan elektroda tanah yang diuji 5. dan arus diukur menggunapentanahan tanah di tempat.

Ukuran tanpa tiang pancang hanya mengukur tahanan batang pentanahan secara paralel dengan sistem pentanahan bumi. tahanan murni dari semua tahanan jalan hasil paralel secara efektif adalah nol. seperti di banyak tempat pemukiman. Jika hanya ada satu jalan ke tanah. Jika sistem pentanahan tersebut tidak paralel dengan tanah maka akan memiliki sirkuit terbuka atau mengukur tahanan loop tanah. Pengaturan menggunakan metode 1625 Gambar 5 – 25 Susunan metoda tanpa pancang . metode tanpa tiang pancang ini tidak akan memberikan nilai yang cocok dan metode uji drop tegangan bisa digunakan. Jadi.Gambar 5 – 24 Pengetesen alur arus metoda tanpa pancang Alat uji tersebut secara otomatis menentukan tahanan loop tanah pada batang pentanahan ini. Alat ukur tersebut bekerja berdasarkan prinsip bahwa dalam sistem yang ditanahkan secara paralel/multi tahanan bersih dari semua cara pentanahan akan sangat rendah ketika dibandingkan dengan jalan tunggal (yang sedang diuji).

7.5. teknisi harus memiliki akses ke tanah yang baik.7. maka menentukan impedansi pentanahan yang kompleks adalah penting. Arus hubung pendek (short circuit) dalam kasus ini berarti kawat aktif yang putus lepas dan menyentuh benda logam suatu menara (tower). dikenal seperti semua pipa air logam. maka impedansi aktual bisa ditentukan dengan menggunakan perhitungan kompleks. kemungkinan bisa didapat ukuran langsung yang akurat tentang impedansi pentanahan. Ini memastikan bahwa ukuran tersebut mendekati nilai frekuensi operasi sebenarnya. Untuk melakukan uji ini. Teknisi alat pembangkit listrik. yang menguji jalur transmisi tegangan tinggi. Tahanan tanah dalam kasus hantaman petir dan impedansi dari seluruh sistem dalam kasus arus pendek pada titik tertentu. tegangan.2. maka peralatan yang menggunakan sinyal gelombang 55 Hz untuk keperluan perhitungan mendekati frekuensi operasi 5. Dengan menggunakan peralatan tersebut. Hal ini dikarenakan impedansi akan membentuk elemen induktif dan kapasitif. tertarik dengan dua hal.2.1. alat uji tersebut memberikan kepada pengguna kemampuan untuk melakukan ukuran tahanan tanah dua kutub. Karena impedansi tergantung frekuensi. . Alat seperti balat melakukan pengujian dengan arus yang relatif tinggi (arus sirkuit pendek> 250 mA) yang memastikan hasil stabil. Ukuran impedansi tanah Ketika mencoba menghitung arus hubung pendek yang mungkin terjadi dalam pembangkit listrik atau keadaan arus/tegangan tinggi.2. Pipa air harus cukup panjang dan terbuat dari logam keseluruhan tanpa kopling atau flens penyekat.Tahanan tanah dua kutub Dalam keadaan dimana memasukkan tiang ke tanah tidak praktis atau tidak memungkinkan. seperti ditunjukkan di bawah ini. Karena induktifitas dan tahanan diketahui dalam sebagian besar kasus.

Rangkaian ekuivalen untuk pengukuran dua titik

Gambar 5 – 26 Mengukur tahanan tanah dengan dua kutub 5.2.7.3.Mengukur Tahanan Tanah Di kantor pusat (central offices) Ketika melakukan pemeriksaan pentanahan di kantor pusat ada tiga ukuran berbeda yang diperlukan. Sebelum pengujian, tempatkan MGB (Master Ground Bar/Batang Pentanahan Utama) dalam kantor pusat untuk menentukan jenis sistem pentanahan yang ada. Seperti

ditunjukkan gambar 5 – 27 di bawah, MGB akan mentanahkan tanah yang terhubung ke: • MGN (Multi-Grounded Neutral) atau jasa pendapatan, • bidang tanah, • pipa air, dan • baja gedung atau bangunan

Bidang ground

Pipa air
Bangunan baja

Gambar 5 – 27. MGB mentanahkan tanah * Pertama, lakukan uji tanpa tiang pancang pada seluruh pentanahan yang lepas dari MGB. Tujuannya untuk memastikan bahwa semua pentanahan terhubung,

khususnya MGN. Penting untuk dicatat bahwa pengguna tidak sedang mengukur tahanan individu, tapi tahanan loop dari apa yang dikelemkan di sekitarnya. Seperti ditunjukkan gambar 5 - 28, sambungkan alat ukur tersebut dan kelem induksi dan sensing, yang terletak di sekitar masing-masing hubungan untuk mengukur tahanan MGN, bidang pentanahan, pipa air, dan baja gedung. * Kedua, lakukan uji drop tegangan 3 kutub pada seluruh sistem pentanahan, yang terhubung ke MGB seperti diilustrasikan pada gambar 5 -29. Untuk mendapatkan tanah yang jauh, banyak perusahaan telepon memanfaatkan pasang-an kabel tak terpakai yang keluar sejauh satu mil. Catat hasil pengukuran dan ulangi uji ini setidaknya setahun sekali. * Ketiga, ukur tahanan individu sistem pentanahan dengan menggunakan uji selektif dari alat ukur tersebut. Hubungkan alat uji ukur tersebut seperti yang ditunjukkan dalam gambar 5 - 30.

Ukur tahanan MGN; nilainya adalah tahanan kaki MGB tertentu. Kemudian ukur bidang tanah. Hasil pembacaan menunjukkan nilai tahanan sebenarnya dari bidang tanah kantor pusat. Sekarang berpindah ke pipa air, dan kemudian ulangi untuk tahanan baja gedung. Penguna alat bisa dengan mudah memeriksa (memverifikasi) akurasi pengukuran ini melalui Hukum Ohm. Tahanan baku satuan, ketika dihitung, harus sama dengan tahanan seluruh sistem yang diberikan (memungkinkan untuk kesalahan yang beralasan karena semua elemen tanah mungkin tidak bisa diukur). Metode-metode uji ini memberikan ukuran paling akurat dari suatu kantor pusat, karena memberikan kepada pengguna tahanan individu dan perilaku nyata dalam suatu sistem pentanahan. Meskipun akurat, ukuran-ukuran tersebut tidak akan menunjukkan cara sistem bekerja sebagai suatu jaringan, karena jika terjadi ledakan petir atau gagal arus, semuanya terhubung.

Gambar 5 – 28 Pengetesen kantor pusat tanpa pancang

Gambar 5 – 29 Pelaksanaan pengetesen drop tegangan pada sistem pentanahan secara keseluruhan

Gambar 5 – 30 Pengukuran tahanan tanah masing-masing pada sistem pentanahan menggunakan pengetesen terpilih Untuk membuktikan ini, pengguna perlu melakukan beberapa uji tambahan pada tahanan individu. Pertama, lakukan uji drop tegangan 3 kutub pada masing-masing kaki lepas dari MGB dan catat masingmasing ukuran. Gunakan lagi Hukum Ohm, ukuran-ukuran ini harus sama dengan tahanan seluruh sistem. Dari perhitunganperhitungan tersebut pengguna akan melihat bahwa dari 20 % hingga 30 % lepas dari nilai RE total. Yang terakhir, ukur tahanan berbagai kaki MGB dengan menggunakan metode tanpa tiang pancang selektif. Cara ini bekerja seperti metode tanpa tiang pancang, tapi berebda dalam cara penggunaan dua kelem terpisah. Penempatkan kelem tegangan induksi sekitar kabel yang mengarah ke MGB, dan karena MGB terhubung dengan sumber arus, yang paralel dengan sistem pentanahan, pengguna alat telah mencapai syarat itu. Tempatkan kelem sensing dan letakkan di sekitar kabel pentanahan yang mengarah ke bidang tanah. Ketika

kita mengukur tahanan, ini adalah tahanan sebenarnya bidang tanah, ditambah jalan paralel MGB. Dan karena harus sangat rendah ohmnya, maka pasti tidak memiliki pengaruh nyata pada bacaan terukur. Proses ini bisa diulang untuk kaki-kaki lain dari batang pentanahan, yaitu pipa air dan baja

bangunan. Untuk mengukur MGB melalui metode selektif tanpa tiang pancang, tempatkan kelem tegangan induksi sekitar garis pipa air tersebut (karena pipa air tembaga memiliki tahanan yang sangat rendah) dan hasil pembacaannya adalah tahanan untuk MGN saja.

5.2.8. Aplikasi Tahanan Pentanahan yang Lain 5.2.8. 1. Lokasi aplikasi Ada empat aplikasi khusus untuk halo dan MGB, dengan tanah halo mengukur kemampuan sistem yang terhubung ke MGB. Gedung pentanahan tanah. Lokasi aplikasi tempat sel ditanahkan pada 4 pojok sebagian besar, ada menara 4 kaki yang terhubung dengan MGB dengan masing-masing kaki melalui kabel tembaga dan 4 pojok terpasang ke tanah sendiri-sendiri. tersebut terinterkoneksi melalui tembaga. Juga ada Tanah-tanah ini kemudian kawat antara cincin dihubungkan dengan kabel sambungan tembaga. Di dekat menara ada pentanahan gedung dan cincin pentanahan tower (menara). gedung tempat sel, tempat semua perlengkapan transmisi. Dalam gedung tersebut ada pentanahan

Gambar 5 – 31 Susunan khas sistem pentanahan pada suatu instalasi menara selular. Substasiun listrik adalah pangkalan pada sistem transmisi dan distribusi dimana tegangan biasanya diubah dari nilai tinggi ke nilai rendah. Substasiun khusus akan berisi struktur pemutusan jalur, pengalih tegangan tinggi (high-voltage switchgear), satu atau lebih transformator daya, pengubah tegangan rendah (lowvoltage switchgear), perlindungan

gelombang, kontrol, dan pengukuran (metering). Tempat pengubah jarak jauh yang juga dikenal sebagai slick sites, dimana konsentrator jalur digital dan perlengkapan telekomunikasi lain beroperasi. Tempat jarak jauh ditanahkan secara khusus pada ujung kabinet lain dan kemudian akan memiliki serangkaian tiang pancang tanah sekitar kabinet yang terhubung dengan kawat tembaga.

Sebagian besar sistem perlindungan gagal arus karena petir mengikuti desain setelah desain yang keempat pojok gedungnya ditanahkan dan biasanya terhubung lewat kabel tembaga. Tergantung pada ukuran gedung dan nilai tahanan yang dirancang untuk dicapai, jumlah batang tahanan akan berbedabeda.

5.2.8.2. Uji-uji yang direkomendasikan Pengguna akhir diharuskan seluruh sistem melalui metode melakukan tiga uji yang sama drop tegangan 3 kutub, pikirkan untuk masing-masing aplikasi: tentang aturan untuk penetapan ukuran tanpa tiang pancang, tiang pancang. Ukuran ini harus direkam dan pengukuran harus ukuran drop tegangan 3 kutub dan ukuran selektif. Ukuran tanpa tiang dilakukan setidaknya dua kali per tahun. Ukuran ini adalah nilai pancang, pertama lakukan ukuran tahanan untuk seluruh tempat. tiang pancang pada: • Kaki-kaki individu menara dan Terakhir, lakukan ukur pertanahan empat pojok gedung individu dengan uji selektif. Ini akan membuktikan integritas pertanahan (tempat/menara sel) individu, sambungan• Semua sambungan pentanahan sambungannya, dan tentukan (substasiun listrik) • Jalur yang berjalan ke tempat apakah potensi pentanahan benarbenar sama secara keseluruhan. jarak jauh (remote switching) • Tiang pancang tanah gedung Jika ukuran menunjukkan itngkat tersebut (perlindungan dari variabilitas yang lebih besar dari yang lain, alasannya harus petir). ditentukan. Tahanan harus diukur Untuk seluruh aplikasi, ini bukan pada: ukuran tahanan tanah yang Masing-masing kaki menara dan sebenarnya karena merupakan keempat pojok gedung tanah jaringan tersebut. Cara ini (tempat/menara seluler) terutama berfungsi sebagai uji Batang pentanahan individu dan kontinuitas guna memastikan sambungan-sambungannya apakah tempat itu ditanahkan, Kedua ujung dari tempat jarak hingga kita bisa melakukan jauh (remote switching) sambungan listrik, dan bahwa Keempat pojok gedung sistem tersebut bisa dilewati arus. (perlindungan dari petir) Ukuran drop tegangan 3 kutub, kedua saat mengukur tahanan

Field meter .1.35 Mekanik field meter (www. penghantaran. Dalam sebuah field meter.nmt.Gambar 5 – 32 Susunan khas sistem pentanahan gardu induk Gambar 5 – 34 Penggunaan pengetesan tahanan tanah terpilih pada sistem penangkal p etir Gambar 5 – 33 Penggunaan pengetesan tanpa pancang pada swtching jarak jauh. pentanahan. Pengukuran Medan 5.edu/`langmuir) Field meter statik dikenal juga sebagai field mills.3. Field meter Statik : Gambar 5 .3.ee. instalasi 5. rotating shutter dan elektrode digunakan sebagai elemen pengukuran.

Motor memutar shutter dan light chopper. Buffer dan Photo Transistor.36.01 Filter 7K Buffer 4 4 560 K 0. Differential amplifier berfungsi untuk menguatkan output 7 2 + + + + 3 3 470 K 3 7 + 6 6 - - - VA 2 2 2 6 3 - 33 K 100 K 4 6 2 4 200 6 + V4 . prinsip kerja field meter yaitu mengubah medan menjadi tegangan yang sebanding dengan medan listrik. setelah dikuatkan pada suatu amplifier. Berdasarkan gambar 5-36. Medan listrik diinduksikan pada elektrode. sinyal dimodulasikan dan di filter untuk menghasilkan tegangan. dari gambar terlihat ada 4 buah elektrode yaitu satu pasang elektrode A dan satu pasang elektrode B.berfungsi untuk mengukur suatu kuat medan.1 1 33 K 7 7 100 K 82 K 7 7 68 K + Pair B 10 K 100 500 300 1 2 2 3 2 1 4 10 K Switch Analog 6 VB K A C E VC LED / Photo Transistor Transient Protection Charge Amplifier Gambar 5 -36 Rangkaian elektronik field meter statik. muatan yang terinduksi dirubah ke tegangan. Gambar 5-35 menunjukkan komponen mekanik dari field meter dimana salah satu komponen utamanya adalah elektrode. Secara lengkap ditunjukkan pada gambar 5 . Sinyal periodik dari satu pasangan berbeda 180 derajat dengan sinyal periodik pasangan yang lainnya. keluaran setiap pasang elektrode dikuatkan oleh sebuah amplifier. Pasangan elektrode A terbuka ketika pasangan elektrode B tertutup dan sebaliknya. Decommutator. Rangkaian elektronik dari field meter statik terdiri dari rangkaian Transient Protection. Differential Amplifier. Decommutator 100 K 470 K 0. Charge Ampifier. Prinsip kerjanya menggunakan prinsip induksi dari suatu muatan listrik pada elektrode yang ada pada field meter. sinyal dari light chopper digunakan untuk demodulasi sinyal periodik dari elektrode. Gambar 5-35 menunjukkan komponen mekanik field meter Differential Amplifier Pair A 82 K 2 1 100 500 300 1 2 2 3 4 statik. Filter.

Hasil pengukuran Field meter statik mempunyai parametrik amplifier. VC. VB. Arus ini dapat diukur dengan menggunakan tegangan sebuah selektive amplifier yaitu dengan menggunakan elektrode influenz berupa logam emas. Bentuk gelombang dari tegangan VA. Medan listrik menyebabkan terbangkitnya arus AC. sinyal searah yang dihasilkan oleh demodulator Semua resistansi yang digunakan dalam ohm. Filter dan buffer melengkapi demodulasi dan menghasilkan tegangan yang sebanding dengan besaran medan elektrik. Elektrode ini merupakan sebuah elektrode non galvanis. nilai kapasitansi lebih besar dari 1 piko farad dan lebih kecil dari 1 mikro farad. V3 dan V4 ditunjukkan pada gambar berikut. Modulator adalah suatu amplifier sederhana yang mempunyai penguatan +/.1 seperti ditunjukkan pada gambar 536. . VB V2 V3 VC V4 0 5 10 15 20 Time (mS) Gambar 5 – 37.dari amplifier. VA tergantung sinyal dari light chopper. V2. arus yang terbangkit sebanding dengan besarnya kekuatan medan. Penambahan komponenkomponen pada input dan output berfungsi untuk perlindungan terhadap tegangan transient. Metode pengukuran yang diterapkan tidak menggunakan bahan radioaktif.

Field meter Statik Gambar 5-38.39. rotating shutters yang berada pada permukaan belakang field meter. Di ujung elektrode ini dipasangkan sebuah ground yang dihubungkan Salah satu pemakaian field meter di luar ruangan ditunjukkan pada dengan roda baling-baling. pada gambar yang keras untuk melindungi tersebut field meter digunakan distorsi galvanik. Rotating shutters pada permukaan belakang field meter . sebuah tabung metal yang Gambar 5-39 (a) menunjukkan dihubungkan ke ground. 485. elektrode dari gerakan mekanik. menunjukkan bentuk Disisi belakang ada sebuah tombol phisik field meter statik dan untuk mengaktifkan pengaturan rangkaian elektronik yang ada di offset. Transfer data ke elektronik menggunakan interface serial RSdalam field meter statik. Elektrode influenz untuk mengukur medan yang berfungsi untuk melindungi ring ditimbulkan oleh suatu pemancar. (a) (b) Gambar 5 . Elektrode influenz berbentuk bintang (star). Bagian ini berupa logam emas gambar 5-39 (b).38. a.Gambar 5 . panjang kabel maksimal yang Sistem modulator dengan sistem elektronik diintegrasikan dalam diijinkan 10 meter.

Field meter digunakan di luar ruangan .b.

1. Ukuran Fieldmeter Statik Gambar 5 . Kalibrasi Power supply Interface Penguat Waktu operasi .1.3.g.1.3.3 Spesifikasi field meter statik Karakteristik Range Pengukuran Ketelitian Parameter 20kV/m.5. Data Teknik 5. 80kV/m. 80mA serial RS-485 aluminium – clamp dengan ulir 8 jam setiap hari minimal 2 tahun Dapat dihubungkan dengan Kompatibel PC.1.40 Ukuran fieldmeter statik Tabel 5 . 200kV/m.1. 800kV/m ± 5% dalam medan homogen Dalam sebuah medan homogen dari plate kondens Ukuran plate : 200mm x 200mm Jarak plate : 25mm Sistem modulator centric terintegrasi dalam sebuah grounded-plate 5V DC ± 5% / e.

Bit pertama merupakan 200-an bagian dari range pengukuran.5. Untuk menghitung pengisian muatan (V) = kuat medan (E) x jarak (A). Range pengukuran dimasukkan d alam bit kedua. fieldmeter ketika 5. Tekan tombol offset sesaat.2.05m) Pengisian muatan (U) = Kuatmedan (E) x Jarak (A) (dalam meter) U = E x A = 100.3. pengaturan offset otomatik dilakukan.000 V . Metode Pengukuran : 5.2. Contoh Aplikasi : Range (MB) 200kV/m.3.2. 5.1. aturlah protection-cap ke system modulator.42 Aluminiumclamp dengan ulir Aluminium-Clamp difungsikan sebagai penguat dipergunakan untuk melakukan pengukuran. Setelah ± 2 detik.1. Letak Pin : Gambar 5 .000 V/m x 0. Pengukuran kuat medan (E) dihitung dengan cara range pengukuran dikalikan dengan arus output dalam mA.41 Letak pin fieldmeter statik 1 = RS-485 Data B 2 = RS-485 Data A 3 = Power-supply (+5V DC ±5%) 4 = Ground (GND) Gambar 5 . Nilai biner yang terkirim (GB) 64h 100 Bit E = MB/200 x GB = 200 kV/m / 200 x 100 = 100kV/m Jarak objek Fieldmeter statik = 5 cm ( 0. Pengaturan Offset Untuk mengatur offset.1.2.1.1. Penghitungan Pengisian Muatan : Nilai pengukuran dikirim berupa sinyal digital dengan lebar data 8 bit.1.3.05 m = 5.3.2.

3. Field meter Statik Digital Field meter di bawah ini termasuk statik field meter yang mampu untuk mengukur medan listrik AC. 5.3.3. Diskripsi Instrument fieldmeter statik harus di ground kan.4.1. kabel hitam medan listrik.2. kabel pengukuran (grounding) disambungkan ke warna merah untuk pengukuran soket ground.5. Instruksi Peringatan : Pengukuran ini tidak untuk pengukuran dalam area explosive Untuk medan elektrostatik yang sangat kuat.1. medan maghnit AC dan tegangan body.1. Ujung yang tegangan body. Pengosongan muatan sparkle ke sistem modulator dapat merusak rangkaian elektronik 5.2. Perawatan : Sistem modulator membutuhkan perawatan untuk dibersihkan serta pengaturan offset yang harus dilakukan secara rutin. 5. Gambar 5 .43 Instrumen field meter digital sebuah pentanahan (jangan A) AC/DC-output disambungkan ke lubang) B) Earthing socket Jika digunakan untuk C) Measuring probe socket Probe pengukuran untuk pengukuran medan listrik dan mengukur medan maghnit atau tegangan body.3. lainnya disambungkan dengan jepitan buaya untuk membuat D) Display .3.

Set-up : Sebelum melakukan pengukuran. Ikuti langkah-langkah berikut : [O] Measurement field indicator [M] : Battery warning Jika muncul “ BAT “ . Buka tempat battery pada bagian belakang instrument dengan menggunakan obeng . Prosedur Pengukuran : 5. dibuka dengan menggunakan G) Low Pass push button kunci atau obeng.3.3. * 0 .20 000 nT.200 nT simbol sebuah gelombang ~.2. Jika ” ? ” ditunjukkan berarti fungsi filter aktif.3.2. Instrumen ini H) Push button untuk tone membutuhkan battery 9 Volt. [N] Measurement value 5.Medan listrik dalam V/m (Volt Display digunakan menampilkan per meter) nilai terukur (digital).1.2. Filter aktif mengukur J) Battery Battery berada di sisi belakang frekuensi antara 500Hz sampai instrument. [L] Fungsi Filter (high pass 50Hz) Jika "~" ditunjukkan berarti fungsi filter aktif.20 V/m E) On/Off Switch * 0 . battery harus diganti jika tidak maka akan terjadi kesalahan pengukuran. tempat battery dapat 100kHz.200 V/m F) Filter button * 0 .2. akan meng-non aktifkan fungsi ini. pada (Nanotesla) display akan nampak seperti * 0 .3.2000 nT Penekanan kembali tombol filter * 0 .3. I) Field dial Putar field dial untuk mengaktifkan pengukuran medan berikut : 5. * 0 . Fungsi Display : Bagian-bagian display ditunjukkan dalam gambar berikut : Gambar 5 – 44 Display field meter digital (K) Fungsi Filter (low pass 2kHz).2000 V/m Tekan tombol filter untuk Medan maghnit dalam nT mengaktifkan fungsi ini.

2.3.4. ruangan yang akan Tutup tempat battery diukur dibersihkan.50 m with Battery : 215 g Probe : 118 g LCD.Nilai ambang yang direkomendasi adalah : grounding Medan listrik : 10 .3.1000 nT Putar dial ke tipe medan yang body voltage: 0. puncak dan pulsa) memungkinkan pengukuran sinusoidal dan medan modulasi .Masukkan battery 9 Volt atau membutuhkan persiapan.2. Persiapan Pengukuran maghnit dan listrik naik apabila Untuk membuat pengukuran efektif jaraknya semakin dekat.2.Pertama. Data Teknik Tabel 5 . Smart Field Meter Smart Field Meter (Electromagnetic Field meter) mempunyai tampilan kombinasi antara ciri utama peralatan monitoring kualitas medan dengan kenyamanan dan kesederhanaan multi meter.Semua peralatan dalam kondisi pengukuran tegangan body ON Jika dibutuhkan pentanahan hubungkan dengan kabel .100 kHz ± 1 dB dengan Filter: 16 Hz .3.100 V/m ON kan instrumen Medan maghnit: 10.3.3.1 V diinginkan dan level sensitivitas . 2 1/2 TRMS Tanpa Filter : 16 Hz . dan memperoleh hasil valid 5.4 Data teknik Property Phisik Probe Cable Weight Display Parallel direction Frequency band Measuring fields AC Voltage Ukuran dimensi dalam mm 155 x 80 x 36 130 x 40 x 24 1.500 Hz ± 1 dB electric field : 20/200/2000 V/m magnetic field : 200/2000/20000 nT 20/200 (/2000) V 5. dan listrik atau untuk . Pengukuran Masukkan probe untuk kekuatan medan ditulis pada pengukuran medan maghnit suatu plan. Ikuti langkah-langkah berikut : accu . Pengoperasian multimode (rerata.Catatan bahwa kekuatan medan 5.

3. FM. TV dan Stasiun Seluler Pemancar dan Radio CB Komputer dan Monitor Peralatan Ponsel Oven mikrowave Industri.1. . Respon cepat dapat digunakan untuk analisis data secara jarak jauh dan kontrol medan loop tertutup. Peralatan Kedokteran Sistem test EMC Gambar 5 -46. Sumbu mendatar menunjukkan frekuensi dimulai dari 600 MHz sampai dengan 2.100 MHz. Disain ringan mudah dibawa dengan battery tahan lama dan probe isotropik dapat dipisahkan memberi keuntungan bagi para pengguna. menggambarkan respon frekuensi hasil pengamatan. menunjukkan salah satu pemakaian Smart Field Meter untuk mengukur medan suatu Stasiun pemancar.3.dengan penampilan rerata atau nilai puncak secara bersama. Sumbu tegak menunjukkan display field meter dalam dB mulai dari – 20 dB sampai dengan 5 dB. Gambar 5 – 45 Smart field meter 5. Gambar 5-47. Aplikasi Smart Field Meter medan elektromaghnit dari Smart Field Meter dapat digunakan untuk mengevaluasi dan mengukur beberapa sumber medan yaitu : AM.

47 Frekuensi respon 5. Disamping penilaian kesesuaian kebutuhan.3.Gambar 5 .2.3. . Spesifikasi field meter salah satu produk ditunjukkan pada tabel berikut ini. Spesifikasi Smart Field Meter Pemahaman spesifikasi peralatan diperlukan sebagai pembekalan kemampuan penilaian produk. juga optimalisasi penggunaan secara aman.46 Aplikasi smart field meter Gambar 5 .

Tabel 5 – 5 Spesifikasi smart field meter Karakteristik Lebar Cakupan Cakupan frekuensi Probe langsung Cakupan (V/m. 200. .2.2 .5 dB (cakupan 10-100% dari skala penuh). skala penuh) Akurasi kalibrasi Deviasi linieritas Probe respon frekuensi Probe isotropik Mode operasi Pengenolan Umur baterai Parameter 0.1.5 dB (100. pulsa dan puncak Otomatis dan / atau pengaturan 100 jam (9V batere alkalin). 500.2 MHz-3000 MHz Omni directional 2.5 dB (0. +/. -3 dB @ 0.5 dB +/. Rerata. and 2500 MHz).2MHz +/. 20.600 V/m 0.0. 600 +/.1.5 MHz–3GHz).

akan dapat diketahui ketepatan karakteristik sesuai dengan ketentuan yang dikehendaki. Fungsi Generator 6. Pendahuluan Function Generator (generator fungsi) adalah alat tes elektronik yang berfungsi sebagai pembangkit sinyal atau gelombang listrik.1. Mendiskripsikan jenis-jenis pembangkit sinyal 2. Gambar 6-1. dan segitiga. Dengan generator fungsi ini seorang teknisi dapat melakukan pengetesan suatu alat yang akan dites (devices under test).1.1. Dalam instrumen ini frekuensi dikendalikan oleh variasi arus yang mengemudikan integrator. Menjelaskan kegunaan sinyal generator dalam pengetesan 6.BAB 6 Tujuan : PEMBANGKIT SINYAL Setelah mempelajari bab pembangkit sinyal diharapkan akan dapat : 1.2. Menjelaskan konstruksi dan cara kerja pembangkit sinyal generator 3. Generator fungsi memberikan keluaran berbentuk gelombang sinus.1. Konstruksi dan Cara Kerja Blok diagram generator fungsi dapat dilihat pada gambar 6-2. yaitu sinusoida. Pada gambar 6-1 dapat dilihat salah satu jenis generator fungsi.01 Hertz sampai 100 kilo Hertz. Menjelaskan spesifikasi pmbengkit sinyal 3. Contoh generator Fungsi 6. Dari analisis terhadap hasil berbagai bentuk gelombang respons alat tersebut. Pada umumnya frekuensi yang dibangkitkan dapat divariasi dengan mengatur kapasitor dalam rangkaian LC atau RC. segitiga dan kotak dengan jangkauan frekuensi dari 0. Frekuensi terkendali tegangan (frequency controlled voltage) . Bentuk gelombang pada umumnya terdiri dari tiga jenis. persegi.

yang akan mengatur besarnya frekuensi. terdapat juga bagian attenuator. demikian seterusnya kembali seperti semula.mengatur dua sumber arus Upper dan Lower Constant Current Source. Upper Constant Current Source mensuplai arus tetap ke integrator yang menghasilkan tegangan output naik secara linier terhadap waktu. Jenis konektor yang dipakai tergantung frekuensi kerjanya. dengan terminasi 50 ~ 75 Ω. Bila output mencapai batas minimum yang ditetapkan.Tegangan output integrator adalah bentuk gelombang segitiga yang besar frekuensinya tergantung pada besar kecil arus yang dicatu oleh kedua sumber arus konstan Upper dan Lower. Dengan demikian terjadilah siklus yang terus menerus. Tegangan komparator akan mengubah keadaan ke level maksimum tegangan output integrator yang telah ditetapkan. Keluaran komparator memberikan tegangan gelombang kotak (SQUARE) dengan duty cycle 50%. dan memiliki fasilitas frekuensi gelombang sapuan yang memberi kemampuan untuk pengetesan respons frekuensi dari rangkaian elektronik yang diberikan. beberapa jenis gelombang modulasi output. menurut persamaan berikut : Voutput = - 1 idt C∫ Kenaikan dan penurunan arus akan mengakibatkan naik atau turunnya slope tegangan output. Rangkaian diode resistance mengatur slope dari gelombang segitiga (TRIANGLE) sehingga amplitudonya berubah menghasilkan gelombang SINUS dengan distorsi kurang dari 1 %. Perubahan ini akan memutus sumber arus konstan Upper beralih ke Lower constant current source Sumber arus konstan Lower akan mencatu arus balik ke integrator. sehingga tegangan output turun secara linier terhadap waktu. . Kebanyakan generator fungsi generasi terbaru frekuensi kerjanya sampai 20MHz memakai konektor jenis-BNC. maka tegangan komparator akan berubah keadaan dan menyambung ke Upper constant current source. Generator fungsi seperti lazimnya kebanyakan generator sinyal. Beberapa generator fungsi dilengkapi kemampuan membangkitkan sinyal derau putih (pink noise).

Berikut diberikan contoh sebuah spesifikasi dari sebuah generator fungsi yang lazim dipakai. Spesifikasi Sebagai produk dari pabrik pembuat instrumen elektronik generator fungsi dilengkapi spesifikasi instrumen. Blok diagram generator fungsi Keluaran penguat 2 sinus Gambar 6 – 2 Blok diagram generator fungsi 6.1.C Sumber arus konstan atas Keluaran penguat 1 square Integrator Komparator tegangan Pengendali frekuensi triangle Tahanan diode rangkaian pembentuk Sumber arus konstan bawah Gambar 6-2.3. Para pemakai (users) akan mendapatkan informasi teknik penting tentang produk yang mereka pakai. .

. . . troubleshooting dengan teknik signal substitution atau teknik sinyal pengganti. . Ramp. . . . pengetesan performansi penguat dengan gelombang persegi. . . .Pulse) Amplitudo . . . . .F. . . .C. . . . . . . . Troubleshooting dengan teknik signal tracing osiloskop dipakai untuk memeriksa Salah satu teknik troubleshooting output setiap tingkat dari penguat. . pengetesan speaker dan rangkaian impedansi. . . . . . . . . . .. . . . . . 6. . . . . . dilengkapi dengan uraian dan gambar kerja tentang pelaksanaan pengetesan masing-masing. . . . setting up peralatan. . . . . .. . . . . .0. Prosedur Pengoperasian Dalam uraian tentang prosedur pengoperasian generator fungsi akan dijelaskan berbagai aplikasi dari generator fungsi. . . . . antara lain : troubleshooting dengan teknik signal tracing.1. . . . karakteristik penguat dengan beban lebih (overload). . .<40nS Level . . .5Hz sampai 3MHz dalam 6 Rentang Bentuk Gelombang . . . . . . . .0dB. . . . . . . . . .1 Spesifikasi generator fungsi OUTPUT UTAMA Rentang Frekuensi. . . .. . . . .1. . . . .. . . . . . .. .>100:1 Continously Variable Rate ..From 10mS to 5S Continuously Variable Output Sweep. penggunaan generator fungsi sebagai bias dan sumber sinyal. . Uraian berikut akan berisi penjelasan cara pengetesan. . . . .. . . . . . . . Bila dengan mengijeksikan sinyal dari suatu tingkat memberikan sinyal generator fungsi pada bagian input output yang cacat atau tidak ada alat yang akan dites.Square. segitiga. . Pulse SWEEP Modus . . . . . untuk mencari kerusakan pada Hal ini dimulai dari bagian input komponen system audio adalah.Linear/Log Sweep Lebar . . . .) Frequency Adjust . ..<60nS V. . . persegi. .50W (+2%) DC Offset . . . .. . 1Hz to 100KHz Rise/Fall Time. . . . . . . . >3Vp-p (open) Bentuk gelombang .1.1KW +2% 6. . . .. . .Tabel 6. . . . . .. . . . . . . . . . .4. . . . . . . . .+10V (pull ADJ.0 to +10V control SYNC OUTPUT Rise Time . . . . . . . . .6 (Sinus. . . . . . . . . . -20db (+2%) Impedansi Output . . . . . . . . .Counter Accuracy Distorsi . .10Vp-p (open) Impedansi Output . . .. . . . . Kemudian .. . ... .. . . . . . . . . . . . . .<1%. Input . . . berbagai pengukuran respons frekuensi. . . . +Pulse. . . . .20Vp-p sampai Open (10Vp-p in to 50W) Attenuator . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . dan bergerak kearah output. .4.

Sinyal input yang lazim digunakan berbentuk sinusoida dengan amplitudo rendah. bahkan beberapa model mampu memberikan frekuensi sampai 10 MHz atau lebih tinggi.1. Tingkat yang seolah-olah terjadi kerusakan. Gambar troubleshooting menggunakan teknik pelacakan sinyal 6. tidak menghasilkan suara pada bahkan dapat juga menyebabkan speaker diduga mengandung kerusakan pada bagian tersebut.output sama sekali.2. pada titik terdekat dengan Ketidak sesuaian tegangan offset speaker. diinjeksikan pada berbagai titik dalam peralatan yang tegangan DC offset sumber sinyal dijamin harus cocok dengan sedang dites. kemudian bergerak maju dari operasi normal rangkaian. Perlu sinyal frekuensi audio yang diperhatikan bahwa pada teknik berfungsi sebagai sinyal sinyal pengganti ini pengaturan pengganti. maka dapat diduga pada tingkat tersebut terdapat kerusakan.3. sedemikian rupa supaya tidak menimbulkan cacat bentuk pada tingkat berikutnya. kerusakan.4. Pada gambar 6-3 dapat dilihat troubleshooting pada rangkaian penguat audio menggunakan teknik signal tracing. Penguat Audio Generator fungsi Driver Penguat daya Gambar 6. Umumnya generator fungsi dapat menghasilkan sinyal sampai 2 MHz. Teknik yang sama dapat diterapkan pada peralatan nonaudio. Pada teknik sinyal tracing ini tidak diperlukan tegangan DC-offset dari generator fungsi. Gambar 6-3 dapat . Dalam teknik ini tegangan bias masing-masing pertama kali sinyal diinjeksikan tingkat pada sistem audio tersebut.Troubleshooting menggunakan teknik sinyal pengganti dipakai sekaligus untuk Variasi dari metode signal tracing troubleshooting menggunakan adalah dengan memanfaatkan teknik sinyal pengganti. menuju tingkat sebelumnya secara dapat berakibat operasi tingkat bertahap sampai tidak terdengar tersebut cut-off dan akan nampak suara pada speaker. walaupun rangkaian penguat audio menggunakan kopling kapasitor yang mampu memblokir tegangan DC yang berasal dari sumber.

karena suara yang keluar dari speaker sudah cukup untuk mendeteksi ada / tidaknya kerusakan.1.5. Penggunaan generator fungsi sebagai kombinasi bias dan sumber sinyal Seperti nampak pada gambar 6-4 kemampuan ini dapat dipakai untuk membias transistor penguat yang dites dengan melengkapi . Teknik sinyal pengganti ini cukup menggunakan indikator speaker saja. 6.4.Oleh karena itu dapat digunakan kapasitor kopling pada probe sehingga tegangan DC offset tidak akan masuk menggangu titik kerja karena sinyal tetap mengambang pada titik kerja yang dikehendaki. Penggunaan generator fungsi sebagai bias dan sumber sinyal Beberapa generator fungsi modern DC-offset pada tegangan output mampu mencampurkan tegangan ACnya. Generator fungsi atau Osiloskop Ch A Ch B Gambar 6.

mengaturan dan analisis respons . notch filter dan rangkaian Juga beberapa unit tercakup impedansi lainnya. karena setiap titik awal dari Bentuk gelombang masukan Bentuk gelombang keluaran Gambar 6-5. kendali bass dan treble. 6. kapabilitas sweep adalah ideal Sebagai tambahan pada fasilitas untuk pengecekan respons internal. B dan C) dapat ditentukan. dipakai untuk pengukuran. Dengan range rentang audio dari 20 Hz ~ 20 kHz frekuensi generator fungsi sampai dapat masuk dalam satu sweep minimal 1 MHz.1.komponen AC dari sinyal input.5. filter High Pass voltage controlled frequency). Kondisi overload segitiga merupakan bentuk tersebut dapat dilihat pada gambar gelombang ideal untuk keperluan 6-5. rangkaian kopling. maka pengaruh beberapa bias (klas A.1. beberapa sweep frekuensi pada peralatan seperti generator memiliki input frekuensi penguat. Bentuk gelombang ditentukan. Dengan melakukan variasi DC-offset. amplitudo dan bias transistor dapat dioptimalkan pada output tidak cacat. Penguat IF. yang dan Low Pass. tuned circuit. sinus atau pola khusus lainnya.5. Karakteristik penguat kondisi overload 6. terkontrol tegangan (VCF = filter band-pass.2. Karakteristik beban lebih pada amplifier linieritas mutlak suatu gelombang Titik beban lebih (overload) dari dapat dideteksi dengan baik.1. beberapa penguat sulit ditentukan Dengan output segitiga kondisi dengan cara pengetesan puncak pembebanan lebih dari menggunakan input gelombang sebuah penguat akan mudah sinusoida. ini. Dengan mengamati output penguat pada osiloskop. maka dapat dengan mudah. memungkinkan pengendalian dan speaker maupun rumah sinyal sweep oleh gelombang speaker. Pengukuran Respon Frekuensi peralatan pasip atau aktip sampai Generator fungsi dengan batas frekuensi tersebut.

input X-Y. Tampilan akan dapat dianalisis untuk menerima atau menolak karakteristik respons Sambungkan output generator dengan input rangkaian yang akan dites. Sambungkan kabel dari terminal output pada generator ke input horisontal (X) dari osiloskop. 1. maka peraga yang diperoleh akan nampak seperti gambar 6-7 Penguatan atau atenuasi relatip dari seluruh frekuensi dalam pita tersebut akan ditampilkan. atau persegi manakah yang sesuai. Pilih bentuk sinyal sinus. 6-6 . Dalam penguat pitalebar. . frekuensi.1. Hal ini tidak perlu kalau impedansi input dan output telah cocok misalkan sebesar 50Ω. Tampilan respons frekuensi dari rangkaian filter dan kopling menunjukkan frekuensi dan ketajaman cut-off. variasikan operasi dari alat pada frekuensi 8. 3. Sinyal sinus yang lazim dipakai pada pengecekan respons frekuensi.5. mengendalikannya sesuai tegangan sweep. dasar. tujuan analisis umumnya adalah untuk menjaga respons frekuensi rata pada lebar-pita selebar mungkin. gambar. Dengan pembangkit sweep pada posisi OFF. menjelaskan cara penyiapan dan metode pengukuran respons frekuensi. Pilih rentang frekuensi yang dikehendaki pada generator. 4. Sambungkan input vertical (Y) osiloskop untuk mengukur tegangan output beban dari rangkaian yang dites.6.4. Peraga Respon Frekuensi Bila menggunakan osiloskop kovensional.3. Nyalakan signal sweep dan atur lebar dan titik awal untuk melacak semua arah yang dikehendaki oleh ”marker” pada layar. Pasang osiloskop pada posisi 7. 6. Setting Peralatan Tes Prosedur berikut ini mengacu 6.1. 5. segitiga. Bila perlu sisipkan terminasi untuk matching impedance antara output generator dengan input rangkaian. Atur kecepatan sweep sehingga displai bebas dari derau. 2.5.

5.Sweep Generator Peragaan osiloskop Osiloskop Komponen yang dites Gambar 6-6. Gambar berikut dilengkapi dengan kendali bass gambaran hasil dan treble.1. pengaruh pengendalian memberikan respons frekuensi dari variasi tone itu pada keseluruhan respons control. Peragaan respon frekuensi penguat audio 6. Pengetesan Tone Control Sistem Audio dilakukan pada range frekuensi Bila penguat audio yang dites secara penuh. dapat ditentukan degan tes respos frekuensi jalan kalau pengendalian .5. Setting Peralatan dan Pengukuran Respon Frekuensi Gambar 6-7.

Pengetesan speaker dan rangkaian impedansi generator fungsi tidak dalam Generator fungsi dapat dipakai kondisi terpotong. untuk memperoleh informasi mengenai impedansi input suatu 2. Bila memilih menggunakan tertera pada gambar 6-9 CRO. 1. . variasikan nilai speaker atau sembarang frekuensi sampai range penuh rangkaian impedansi yang lain dan logaritmik tegangan terukur terhadap frekuensi.Frekuensi Hz Gambar 6-8 Pengaruh variasi tone control pada frekuensi respons system audio 6.4.1. Voltmeter AC sesuai untuk Adapun prosedur pengetesannya mengkonversi data ke dalam adalah sebagai berikut: satuan respons standar. maka gunakan sweep osiloskop dapat dipakai untuk untuk pengukuran respons memastikan apakah output frekuensi. Dengan kata pada terminal speaker terhadap lain frekuensi resonansi rangkaian frekuensi. Skala dB dari dapat ditentukan. Hubungkan peralatan seperti 3. Bila menggunakan metode voltmeter.6.

Generator Fungsi Voltmeter db Speaker Osiloskop Gambar 6-9a. Rangkaian ekuivalen dari pengaturan pengetesan R = Z +20 +15 +10 +5 0 -5 -10 -15 -20 0 1K 10K 10 100 100K c. Hasil Grafik Frekuensi Hertz Gambar 6-9b. Pengetesan sistem speaker Function Generator Speaker system f f Z b. Karakteristik sistem speaker dan rangkaian impedansi 4. Frekuensi frekuensi resonansi . Dalam pengetesan speaker tegangan sinyal percakapan akan naik pada rendah.

Jangan biasakan memutar 7. 5. Pembangkit Frekuensi Radio pemasangan maupun Dalam penggunaan RF generator pemeliharaan. Peralatan menganalisis karakteristik piranti di di bidang dan komponen bawah kondisi sinyal yang telekomunikasi sering berbeda. sehingga tegangan E2 = ½ dari E1. percobaan. bersuhu sangat tinggi. Bila ternyata tegangan ground 6. (b) Ukur tegangan pada titik E1 dan E2 dan atur resistor variabel R1. terminal output Generator fungsi. 6. untuk mengevaluasi pengaruh berbagai faktor seperti bahan peredam. Hal ini sangat dipengaruhi oleh konstruksi kotak speaker. Impedansi rangkaian dapat diukur pada frekuensi resonansi. dengan cara seperti berikut : (a) Hubungkan resistor variabel non-konduktif.c. 3. 5. 2. Jangan coba masukkan silika-gel untuk menghindari tegangan DC atau apapun ke kelembaban dalam almari.9b. laporkan pada teknisi atau kelembaban tinggi dan dalam instruktur. Jangan coba memasukkan tegangan apapun ke input. selain 1. atau RF (radio frequency). hentikan sementara medan elektromagnetik tinggi.7. Sebaiknya disimpan ketentuan praktikum dalam almari tertutup dan berilah 4. atau pada frekuensi lain bila dikehendaki. 0 Volt. Jangan menggunakan Generator tempat yang fungsi pada tersebut tidak sama dengan nol. . Keselamatan Kerja terminal EXT SYNC.4.2. (c) Impedasi dari rangkaian = nilai resistor variabel R1 yang diperoleh. Simpanlah Generator fungsi di tempat yang sejuk.1. 6. dan tentu saja jenis speakernya sendiri. dan bebas tombol-tombol kontrol diluar debu. baik dalam masa pembuatan. tidak perlu terjadi resonansi pada frekuensi rendah.dihasilkan seperti pada kurva gambar 6. Periksa apakah tegangan pada tegangan eksternal sinkronisasi ground Generator fungsi yang diperlukan (tanyakan pada terhadap netral stop kontak tetap instruktur). membutuhkan pengetesan.9. Tetapi bila mendekati resonansi level sinyal akan naik. jenis bahan kotak speaker. Dalam pengetesan rangkaian impedansi. Para perancang kotak speaker dapat menggunakan karakteristik yang dihasilkan. Simulasi sinyal banyak dipakai pada bidang input kadang diperlukan untuk telekomunikasi atau dalam bidang mengganti komponen rusak. seperti pada gambar 6.

dan sinyal pulsa sampai 120 MHz. piano. dibaca secara beruntun dari memori bentuk gelombang dan dipasang pada input konverter DAC. seperti : digital audio CD Player. AFG ini menggunakan teknik pembangkitan gelombang yang disebut DDS (Direct Digital bilangan derau (NF. DAC diberi input clock pada frekuensi sampling generator fungsi sebesar 200 MHz dan outputnya merupakan sederet tegangan undak (step) mendekati . Instrumen ini mampu membangkitkan sinyal Continous Wave (CW) sampai 240 MHz. simulasi sinyal radar. Sinyal ini dapat dimodulasi dalam frekuensi.1. maupun pengukuran 6. seperti pengetesan frekuensi respons piranti RF. seperti pengukuran lebar pita filter atau penguat IF. pengukuran distorsi intermodulasi. noise figure). bentuk gelombang kompleks dapat dengan mudah dibuat atau direproduksi menggunakan metode pembangkitan sinyal digital.2. amplitudo dan fasa melalui generator modulasi internal yang tersedia atau sumber dari luar sampai modulasi frekuensi 50 kHz. Alat ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan. yang disebut Arbitrary/Generator fungsi.1.Pada gambar nampak seorang ahli teknik sedang melakukan pengujian sistem elektronik dengan menggunakan generator RF modern. Konstruksi dan Cara kerja 6. Synthesis) untuk semua jenis gelombang fungsi kecuali pulsa. Dengan metoda ini banyak hal dapat dilakukan. Seperti nampak pada gambar di bawah nampak aliran data digital menyatakan gelombang yang diinginkan. Direct Digital Synthesis Metoda DSP (digital signal processing) dipakai pada banyak pemakaian. dengan daya output sampai 16 dBm.2.1.

arbitrary waveform didefinisikan dengan lebih kecil dari 16. Jenis AFG ini menggunakan dua buah filter “anti aliasing”. Data bentuk gelombang spesifik dibagi kedalamsampel sedemikian rupa. AFG ini mempunyai nilai amplitudo 4. setiap lokasi memori sesuai dengan sudut fasa 2pi/16.384 (16K) titik. Sebuah filter eliptik orde ke-9 dipakai untuk gelombang sinus kontinyu. generator fungsi memakai memori bentuk gelombang sebesar 16K kata. . Untuk bentuk gelombang standar. filter orde ke-7 berfasa linier dipakai untuk semua bentuk gelombang fungsi.096 level tegangan diskrit atau 12-bit resolusi vertikal. sehingga satu siklus bentuk gelombang dengat tepat mengisi memori bentuk gelombang (lihat gambar di bawah untukgemombang sinus).384 radian atau 2pi/65. Karena filter eliptik menghasikan beberapa “ringing” untuk bentuk gelombang selain sinus kontinyu.536 (64K) kata (words). Filter low pass “antialiasing” kemudian menghaluskan gelombang undak untuk membangkitkan bentuk gelombang akhir. generator fungsi memakai memori bentuk gelombang sebesar 65. Bila anda membangkitkansembarang bentuk gelombang yang tidak berisi tepat 16 K atau 64K titik. bentuk gelombang akan secara otomatik direntang oleh titik-titik perulangan atau oleh interpolasi antara titik-titik yang ada yang diperlukan untuk mengisi memori bentuk gelombang. sebab mempunyai lebar pita yang rata dan frekuensi cut-off yang tajam diatas 80MHz.bentuk gelombang yang diinginkan. Bilasemua memori bentuk gelombang terisi satu siklus gelombang. Sedangkan untuk generator fungsi yang didefinisikan lebih dari 16K titik.536 radian.

Bila konstanta PIR baru dibebankan pada register. Bila PIR hanya mempengaruhi nilai kecepatan perubahan nilai fasa (bukan fasanya itu sendiri). .Generator DDS menggunakan teknik akumulasi fasa untuk mengendalikan pengalamatan memori bentuk gelombang. PIR ) ditambahkan pada hasil yang ada dalam akumulator fasa. MSB ( the most-significant bits) dari output akumulator fasa dipakai untuk pengalamatan memori bentuk gelombang. Semakin besar bit dalam akumulator fasa akan menghasilkan resolusi frekuensi yang makin halus. perubahan dalam frekuensi bentuk gelombang mempunyai fasa kontinyu. Dengan mengubah konstanta PIR. konstanta dibebankan pada register kenaikan fasa ( the phase increment register. Pada setiap siklus clock. sehingga terjadi perubahan pada frekuensi output. juga dipakai ”adder”. jumlah siklus clock yang diperlukan untuk menaiki tangga meliputi seluruh memori bentuk gelombang ikut berubah. frekuensi bentuk gelombang mengubah fasa secara kontinyu mengikuti siklus clock berikutnya. PIR menentukan kecepatan nilai fasa berubah terhadap waktu dan akhirnya mengendalikan frekuensi yang disintesis. Selain penghitung untuk membangkitkan alamat memori sekuensial.

Creating Arbitrary Waveforms yang perlu untuk mengisi memori Untuk aplikasi pada umumnya. Contoh kalau tidak perlu menciptakan suatu anda memilih 100 titik. setiap titik bentik gelombang sembarang bentuk gelombang akan diulang (arbitrary) dengan sejumlah titik khusus selama generator fungsi dengan rerata 16.21 KHz ). Perlu dicatat bahwa 14 atau 16 MSB dari register fasa dipakai sebagai alamat memori bentuk gelombang.1. alamat tidak akan berubah sepanjang siklus clock dan beberapa titik akan diloncati. bentuk gelombang. gejala ”aliasing” akan terjadi dan bentuk gelombang output akan mengalami distorsi. Pada alat ini anda mengulang titik (atau interpolasi) .8 picoHertz resolusi frekuensi internal.Gambar 6-13 Phase accumulator circuitry AFG ini menggunakan akumulator fasa 64-bit yang dapat menghasilkan 2 ~ 64 X 200 MHz atau 10. komponen frekuensi tertinggi dari bentuk gelombang output yang diinginkan harus lebih kecil dari setengah frekuensi sampling (dalam alat ini dipakai 100 MHz) 6.2. Akan tetapi bila menyintesis frekuensi rendah ( < 12.2. Teorema Sampling Nyquist menyatakan bahwa untuk mencegah terjadinya aliasing.384 / 100 atau 163. Bila cukup banyak titik diloncati.84 kali.

tidak perlu menubah panjang bentuk gelombang untuk mengubah frekuensi output. Hanya melaui panel belakang dapat menggunakan interpolasi linier untuk menghaluskan transisi antar titik bentuk gelombang. Komponen bentuk gelombang di atas bandwidth 3 dB akan diredam. Dalam perkembangannya memungkinkan membentuk gelombang acak yang dengan sejumlah titik yang relatip sedikit. Bagaimanapun. keluaran gelombang acak frekuensi tertinggi MHz. Frekuensi dapat diperoleh maksimal 25 MHz. dimungkinkan bentuk dan pasa sinyal yang terjadi diskontinyuitas pada bagian akhir. tetapi akan menyusahkan atau tidaknya tergantung pada aplikasi spesifik pemakaian. Instrumen 33250A. Kesalahan kebocoran disebabkan bila rekaman bentuk gelombang tidak meliputi jumlah siklus . tidak perlu memasukkan pilihan interval waktu. generator fungsi akan selalu berusaha untuk replicate pada saat merekam. Komponen bentuk gelombang generator fungsi di atas lebar band -3 dB akan diperlemah. Tetapi perlu dicatat bahwa manfaat frekuensi batas atas. Bila pada keluaran frekuensi diatur sampai 5 MHz frekuensi keluaran sebenarnya akan menjadi 5 MHz dan amplitudo akan dilemahkan 3dB.096 semua tingkat ). Pada frekuensi sekitar 8 MHz. biasanya kurang dipengaruhi keterbatasan bandwidth generator fungsi dan aliasing. Hanya melalui panel belakang. Bila bentuk gelombang diulangai sepanjang waktu. Pada saat membentuk gelombang arbitrary. Pilihan interval waktu ditambahkan bilamana diperlukan bentuk gelombang yang sangat komplek. Beberapa aliasing akan ada dalam bentuk gelombang arbitrary. direkomendasikan bahwa penggunaan rentang penuh (full range) dari pembentuk gelombang DAC ( digunakan 4. dapat digunakan interpolasi linier untuk memperhalus peralihan antar bentuk gelombang. perlu dicatat bahwa batas atas yang biasa digunakan sedikit lebih rendah dari pada pembatasan luas bidang pada fungsi generator. Semua yang harus dikerjakan menciptakan bentuk gelombang dengan panjang berapapun. sehingga menghasilkan versi data periodik dalam memori bentuk gelombang. Ketika memilih bentuk gelombang pada fungsi panel belakang generator. titik akhir diskontinyuitas ini akan mengantarkan kesalahan kebocoran dalam ranah frekuensi yang dikarenakan banyak spektrum diperlukan untuk menguraikan diskontinuitas. distorsi bentuk gelombang dalam kaitan dengan aliasing akan menjadi penting. Bagaimanapun. Hal itu memungkinkan menciptakan bentuk gelombang sembarang dengan titik-titik yang relatip sedikit. dan kemudian mengatur frekuensi output generator fungsi. Tetapi untuk memperoleh hasil yang terbaik (dan meminimalkan kekeliruan kuantisasi tegangan.

dan harmonisnya ditransfer pada komponen spektrum segi empat fungsi pencuplikan. Daya frekuensi dasar. Beberapa sinyal dikomposisikan dari diskrit. Kesalahan kebocoran dapat dikurangi dengan mengatur panjang jendela meliputi jumlah integer dari siklus dalam jendela. Penanganan situasi ini harus secara hati-hati untuk meminimkan bagian akhir diskontinyuitas dan kebocoran spektrum. Karena sinyal ini tidak diulang-ulang. Gambar 6-14 Bentuk gelombang arbitrary dengan diskontinyuitas Gambar 6-15 Spektrum dari bentuk gelombang diatas pada 100 kHz . yang berkaitan dengan frekuensi non harmonis. untuk mengurangi ukuran residu titik akhir diskontinuitas.keseluruhan dari frekuensi dasar. semua komponen frekuensi tidak dapat menjadi harmonisasi berkaitan dengan panjang jendela.

Untuk frekuensi di atas 2 MHz. Waktu membuat gelombang pulsa. naik dan turun dikontrol oleh Pembangkitan gelombang pulsa. pada kedua perioda dan lebar Perioda. Pembangkit Gelombang Untuk mengeliminasi distorsi aliasing pada frekuensi yang lebih tinggi.4. lebar pulsa dikendalikan pulsa.6. Untuk mencapai resolusi secara independen dalam batasan amplitudo yang halus frekuensi yang pasti. aliasing pada frekuensi yan lebih Untuk mencapai resolusi lebar tinggi.3.2.1. gelombang kotak dibuat dengan routing DDS pembangkit gelombang sinus ke dalam komparator. clock divariasi dari 100 Mhz sampai 200 MHz dengan . DAC DAC Comparatorr Gambar 6-16 Rangkaian pembangkit bentuk gelombang kotak 6. Generasi bentuk gelombang pulsa menggunakan PLL (Phase Lock Untuk mengeliminasi distorsi Loop).2. 33250 A juga menggunakan pulsa yang halus. 3325E menggunakan teknik pembangkit gelombang kotak yangberbeda untuk menghasilkan gelombang kotak. rangkaian yang memvariasi siklus clock dihitung diturunkan muatan arus dalam kapasitor.1. Untuk frekuensi di bawah 2 MHz pembentuk gelombang berbeda dibebankan kepada pembentuk gelombang memory untuk meminimkan jitter. analog ditunda teknik pembangkitan bentuk (0 sampai 10 ns) diaplikasikan gelombang yang berbeda untuk pada ujung akhir perioda. Duty cycle bentuk gelombang dapat divariasi dengan mengubah threshold komparator . Keluaran digital dari Anti-Aliasing Filter komparator kemudian digunakan sebagai basis keluaran bentuk gelombang kotak.

6. Ketidaksempurnaan sinyal Untuk bentuk gelombang sinus.2.2.1.2. mungkin ada sumber distorsi harmonis lain yang menyebabkan arus mengalir melalui kabel yang dihubungkan . Banyak komponen sinyal keluaran yang mempunyai frekuensi berbeda dengan frekuensi dasar (pembawa) dipandang sebagai sinyal palsu.Gambar 6-17. ketidaksempurnaan sinyal paling mudah untuk diuraikan dan diamati dalam ranah frekuensi dengan menggunakan penganalisa spektrum. Ketidaksempurnaan sinyal dapat dikatagorikan sebagai harmonis.2. Cacat Harmonis Komponen harmonis selalu muncul pada kelipatan dari frekuensi dasar yang disebabkan oleh sifat non linieritas dalam pembentuk tegangan DAC dan elemen jalur sinyal lain. non harmonis atau pasa noise dan dispesifikasikan relatip terhadap tingkat pembawa atau dBc. Rangkaian pembangkit bentuk gelombang pulsa Gambar 6-18 Parameter bentuk gelombang pulsa 6. Pada frekuensi lebih rendah dan amplitudo lebih rendah. Tipe 30250A menggunakan filter frekuensi rendah 100 MHz untuk melemahkan harmonis frekuensi yang sangat tinggi.

2. . ke dalam bandpass dari generator fungsi. Untuk mencapai amplitudo rendah dengan kandungan spurs minimum. Misal pada frekuensi 75 MHz.2. Ketaklinearan dalam DAC mengarah pada timbulnya harmonic alias atau “folded back”. Harmonis spur ini sangat signifikan pada saat terdapat hubungan sederhana antara frekuensi sinyal dan frekuensi pencuplikan generator fungsi (200MHz).2. Noise datar pada sekitar frekuensi dasar dan bertambah sebesar 6 dBc/oktaf terhadap frekuensi pembawa. Jika dalam aplikasi tidak bisa diabaikan kabel dapat 6. pengaruh ini dapat diminimkan dengan menterminasikan dengan kabel yang mempunyai impedansi beban tinggi. Hubungan integrasi noise pasa terhadap jitter memenuhi persamaan berikut.ke penghantar keluaran serempak (syn). noise pasa Pada 33250A dipindahkan atau dilemahkan. muncul seperti taji pada 50 MHz dan 25 MHz. Spurs ini biasanya mempunyai amplitudo tetap (= 75 dBm atau 112 μVpp) amplitudo ini tidak bias diabaikan terutama sinyal di bawah 100 mVpp.3. Cacat Non-Harmonis Sumber terbesar dari komponen non harmonis spurs ( dinamakan "spurs/taji") adalah bentuk gelombang DAC. Tegangan ini dapat bercampur dengan tegangan sinyal utama. Fasa Noise Pasa noise diakibatkan dari perubahan kecil frekuensi keluaran sesaat (jitter). Arus ini menyebabkan timbulnya tegangan gelombang kotak dengan amplitudo rendah pada ujung-ujung resistansi kabel pengaman. DAC menghasilkan harmonis pada 150 MHz dan 225 MHz. keluaran generator fungsi dipertahankan pada level relatip tinggi dan menggunakan attenuator eksternal jika dimungkinkan. Harmonis yang 50 MHz dan 25 MHz berasal dari frekeunsi pencuplikan generator fungsi 200 MHz. Sumber lain dari non harmoni spurs adalah penghubung sumber-sumber sinyal yang tidak berkaitan dengan sinyal keluaran (seperti clock mikroprossor). akan 6. Jika dalam aplikasi membutuhkan penggunaan penghantar keluaran serempak.2.2. ditampilkan jumlah dari semua komponen noise dengan band 30 KHz berpusat pada frekuensi dasar.

4.2. Asumsi kesalahan secara seragam didistribusikan melebihi cakupan ± 0. Pengendali Tegangan Keluaran mengkoreksi variasi respon Multiplier analog digunakan untuk frekuensi generator fungsi. DAC kedua memberikan suatu tegangan untuk . tingkat ekuivalen noise -76 dBc untuk gelombang sinus yang mempunyai panjang sampel 16K. Dua attenuator (. Beberapa bentuk gelombang arbitrary yang menggunakan kurang dari cakupan masukan DAC. dB melampaui lebar cakupan nilai Salah satu DAC diatur sesuai amplitudo ( 1 mVpp sampai 10 dengan tegangan nominal Vpp). Kesalahan Kuantisasi Resolusi DAC terbatas (12 bit) menjadi penyebab utama kesalahan kuantisasi tegangan. 6.2. akan memperlihatkan secara proporsional kesalahan kuantisasi relatip lebih tinggi. mengendalikan sinyal yang Prosedur kalibrasi 33250A mempunyai amplitudo melampaui dilengkapi semua informasi yang 10 dB. amplitudo keluaran yang dikehendaki.2.5 nilai bit terendah (leastsignificant bit /LSB).2.6.10 dB dan masukan multiplier dilewatkan – 20 dB) dan penguat (+20 dB) dalam sebuah filter anti-aliasing. Standarisasi bentuk gelombang menggunakan cakupan masukan DAC dan panjang sampel 16K. digunakan sebagai variasi Masukan lain berasal dari control kombinasi untuk mengendalikan tegangan DC yang merupakan tegangan keluaran dalam step 10 jumlah dari dua keluaran DAC.384 poin-poin. Panjang memori bentuk gelombang terbatas menjadi penyebab utama terjadinya kesalahan pasa kuantisasi. satu dari beberapa DAC. Perlakuan kesalahan ini seperti modulasi pasa tingkat rendah dan dengan asumsi distribusi merata melampaui cakupan LSB. atau ditetapkan dengan lebih sedikit dibanding 16. Seperti ditunjukkan pada diperlukan untuk menghitung nilai gambar 6-19.5. ekuivalen tingkat noise -74 dBc untuk gelombang sinus yang menggunakan cakupan DAC penuh (4096 tingkatan).

gangguan sesaat atau glitch yang disebabkan oleh pensaklaran. sebelum penguat keluaran.Gambar 6-19 Rangkaian kendali amplitudo output Catatan : Perlu diperhatikan bahwa offset dc merupakan jumlah sinyal ac setelah attenuator. Bagaimanapun. selalu mensaklar attenuator yang demikian ini menyebabkan tegangan keluaran tidak pernah melampaui pengaturan awal amplitudo arus. Zo V gen 50 ? Rl VL Gambar 6-20 Impedansi keluaran generator fungsi . Misal tegangan 100mVpp dapat dioffsetkan dengan hampir 5Vdc (dalam beban 50 ? ). Sebagaimana ditunjukkan di bawah ini 33250A memiliki impedansi seri keluaran yang tetap 50 ?. dalam beberapa aplikasi dapat menyebabkan masalah. amplitudo. Ini memungkinkan sinyal ac kecil di offsetkan dengan tegangan dc yang relatip besar. 33250A mengembangkan range hold untuk menyegarkan saklar attenuator dan amplifier dalam arus kerjanya. Untuk alasan inilah. akurasi dan resolusi offset (seperti halnya ketepatan bentuk gelombang) mungkin berpengaruh kurang baik ketika mengurangi amplitudo di bawah cakupan yang diharapkan. Pada saat merubah cakupan. membentuk pembagi tegangan dengan tahanan beban. Bagaimanapun.

Bagaimanapun.3. Rangkaian Tertutup Ground IGND mengalir ke dalam Kecuali untuk antar muka pengaman kabel. Jika impedansi beban sebenarnya berbeda dengan nilai yang ditetapkan.Sebagai kenyamanan.Pengendali Tegangan Keluaran 6. impedansi beban dapat ditetapkan sebagimana diperlihatkan oleh generator fungsi dan dengan demikian dapat diperagakan tegangan beban dengan benar. Terdapat banyak perbedaan dalam dengan aliran arus IGND dengan demikian mengurangi efek ini. Isolasi ini pengaman (Zshield). ke acuan sinyal keluaran tegangan karena instrumen diisolasi. terdapat impedansi seri yang Ilustrasi di bawah ini menunjukkan besar (umumnya 1 M parallel 45 ? generator fungsi dihubungkan ke nF) dalam jalur yang berlawanan beban melalui kabel koaksial. Oleh karena itu akurasi tegangan beban terutama bergantung pada akurasi tahanan beban dengan persamaan ditunjukkan di bawah ini.3. 6. offset. selain terhadap ground. dan tingkatan tinggi / rendah menjadi salah. tegangan ground (VGND) yang akan cenderung membuat arus . sehingga hubungan jarak jauh dan pemicu.1. menyebabkan penurunan 33250A diisolasi dari ground tegangan pada impedansi chasis (tanah).2. amplitudo yang diperagakan. Akibatnya membantu mengeliminasi penurunan tegangan (IGND X rangkaian tertutup ground dalam Zshiled) mengakibatkan kesalahan system dan juga memungkinkan tegangan beban. Variasi tahanan sumber diukur dan diperhitungkan selama instrumen dikalibrasi.2.

Atribut Sinyal AC Kebanyakan sinyal ac berupa gelombang sinus. Besaran gelombang sinus biasanya di spesifikasi frekuensi lebih rendah. beberapa periodik sinyal dapat ditampilkan sebagai penjumlahan dari gelombang sinus yang berbeda. merupakan faktor 6. Tegangan drop dalam pengaman serupa dengan tegangan drop pada konduktor. . lebih baik dari pada resistif dan kabel berfungsi seperti transformator.4.2. dengan harga puncak. Oleh karena itu. Ini dikenal sebagai balun effect dan pada frekuensi yang lebih tinggi ini mengurangi rangkaian tertutup ground. Ground pada beban dilewatkan melalui kabel pengaman. Dalam faktanya.Perlu diperhatikan bahwa resistansi pengaman lebih rendah menyebabkan balun effect menjadi lebih banyak. Jika dimungkinkan. generator fungsi dan beban dihubungan dengan saluran listrik yang sama untuk memperkecil perbedaan tegangan ground. hubungan generator fungsi dan beban menggunakan kabel koaksial kualitas tinggi. Bila ini terjadi. Untuk mengurangi kesalahan karena rangkaian tertutup ground. Semua besaran ini dengan asumsi bahwa bentuk gelombang memiliki tegangan offset nol.Gambar 6-21 Pengaruh rangkaian tertutup ground Pada frekuensi di atas beberapa KHz pengaman kabel koaksial menjadi bersifat induktif. ada kecenderungan daya pengaman arus konduktor sama besarnya namun dalam arah yang berlawanan. kabel koaksial dengan dua atau tiga pita rambut pengaman sangat lebih baik dari pada dengan pita rambut pengaman tunggal. puncak ke puncak atau efektif (root meansquare /rms).2.

Vrms = 0. Daya = (Vrms)2 / Rl Crest faktor merupakan perbandingan harga sinyal puncak terhadap harga rms dan harganya akan berbeda sesuai dengan bentuk gelombang. Tabel 6-2 Crest faktor dan bentuk gelombang . Harga rms bentuk gelombang juga menunjukkan daya rata-rata sinyal satu siklus . Tegangan puncak ke puncak merupakan perbedaan antara harga maksimum dan minimum.77 Vp Vp-p T = 1/f Gambar 6-22 Nilai tegangan yang penting pada gelombang sinusoida Tegangan puncak bentuk gelombang merupakan harga absolute dari semua titik dalam bentuk gelombang. Tegangan rms diperoleh dengan menjumlahkan kuadrat tegangan disetiap titik bentuk gelombang. dibagi jumlah titik dan kemudian hasil bagi diakar pangkat dua. Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa bentuk gelombang pada umumnya dengan besanrnya crest faktor dan harga rms.

maka gelombang termodulasi dibangkitkan oleh proses pembangkit DDS dari prosesor signal digital (DSP. Generator fungsi akan menerima sumber modulasi internal dan eksternal.001) dimana P = VRMS 2/ RL Untuk gelombang sinus beban 50 ? berkaitan dengan tegangan dBm ditunjukan berikut. carrier signal) dengan sinyal informasi frekuensi rendah (disebut sinyal pemodulasi. Bentuk gelombang sinyal pemodulasi bisa beraneka ragam. digital signal processor). maka . Dua jenis modulasi yang terkenal adalah AM (amplitudo modulation) dan FM (frequency modulation). Namun bila dipilih sumber eksternal. Jenis modulasi ketiga adalah frequencyshift keying (FSK). frekuensi pembawa sesuai dengan harga sesaat sinyal pemodulasi. modulating signal). yang memiliki frekuensi output bergeser antara dua frekuensi tergantung pada keadaan sinyal pemodulasi digital.4. Karena dBm menampilkan tingkat daya yang diperlukan untuk mengetahui tegangan rms sinyal dan resistansi beban dalam hal ini dapat diperhitungkan : dBm = 10 x log10(P / 0. Modulasi Modulasi merupakan proses memodifikasi sinyal frekuensi tinggi (disebut sinyal pembawa. Bila anda memilih sumber internal.2. Kedua jenis modulasi tersebut memodifikasi amplitudo.Adakalanya tingkatan arus bolakbalik ditetapkan dalam " desibel relatip terhadap 1 milliwatt" ( dBm). dalam tabel Tabel 6-3 Konversi dBm 6. sedangkan bentuk sinyal pembawa biasanya gelombang sinusoida.

2. Sinyal eksternal disampel dan didigitalkan oleh konverter analog ke digital (ADC) dan kemudian disambung ke DSP.1. Sumber sinyal 6. Bentuk AM pemancar menggunakan pembawa double sideband dan merupakan jenis modulasi yang digunakan pada kebanyakan stasiun radio AM. Bentuk gelombang dengan frekeunsi deviasi di bawah 1% dari lebar sinyal modulasi direferensikan sebagai FM band . frekuensi output ditentukan oleh level sinyal dari konektor TRIGGER IN pada panel belakang. DAC dan pengali sama seperti yang digunakan untuk mengatur pemodulasi.4. Modulasi Amplitudo (AM) Untuk AM. Misalnya seting kedalaman 80% menyebabkan amplitudo bervariasi dari 10% sampai 90% dari seting amplitudo (90% . DSP merupakan contoh modulasi DAC yang kemudian mengendalikan amplitudo keluaran melalui sebuah pengali analog. Perlu dicatat bahwa karena panel belakang masukan modulasi dihubungkan langsung. Variasi frekuensi bentuk gelombang modulasi dari frekuensi pembawa dinamakan deviasi frekuensi.2.gelombang termodulasi dikendalikan oleh level sinyal dari panel belakang generator fungsi bertanda MODULATION IN.10%) = 80%) dengan salah satu siyal pemodulasi (± 5V) internal atau eksternal.2. 6. Gambar 6-23 Modulasi amplitudo Jumlah modulasi amplitudo merupakan apa yang dinamakan kedalaman modulasi yang direferensikan sebagai bagian dari cakupan amplitude. 33250A dapat digunakan untuk menandingi osilator yang frekuensinya dikendalikan dengan tegangan (VCO). tingkat keluaran generator fungsi. dapat dihasilkan stream sampel digital yang mewakili gelombang pemodulasi. Frequency Modulation (FM) Frekuensi modulasi dan DSP menggunakan sampel modulasi untuk memodifikasi frekuensi keluaran instrumen dengan mengubah isi PIR.4. Perlu dicatat bahwa pada FSK.

Bandwidth sinyal yang dimodulasi dapat didekati dengan persamaan berikut. Stasiun FM komersial di Amerika pada umumnya mempunyai lebar band modulasi 15 kHz dan deviasi 75 kHz. FSK serupa dengan FM kecuali Perubahan frekuensi seketika dan perubahan frekuensi antara dua pasa kontinyu. membuat band lebar. generator internal atau level sinyal Gambar 6-25. Modulasi frekuensi 6. Frequency-Shift Keying (FSK) Trig In pada panel belakang. Bentuk gelombang dengan deviasi yang lebih besar direferensikan sebagai FM band lebar. Frequency shift keying . Jarak antar kanal 200 kHz. Sinyal internal harga preset.sempit. Gambar 6-24. BW 8 2 X (lebar band sinyal modulasi) untuk FM band sempit BW 8 2 X )Deviasi + lebar band sinyal modulasi ) untuk FM band lebar. lebar band modulasi = 2 X (75 kHz + 15 kHz) = 180 kHz. Kecepatan modulasi berbentuk gelombang pergeseran keluaran antara dua kotak dengan duty cycle 50%.2. Oleh karena itu. frekeunsi (dinamakan frekuensi Kecepatan FSK dapat diatur pembawa dan frekuensi harapan) secara internal dari 2 mHz sampai ditentukan oleh kecepatan 100 kHz.4.3.

Generator Fungsi memulai satu sapuan pada setiap menerima Trig In berupa pulsa TTL. Sapuan Frekuensi Sapuan frekuensi serupa dengan FM namun tidak menggunakan bentuk gelombang pemodulasi. Jumlah titik titik frekuensi diskrit dalam sapuan secara otomatis dihitung oleh generator fungsi dan didasarkan pada waktu sapuan yang telah dipilih. Gambar 6-26 Frekuensi s apuan Pemicu sapuan.2. konektor Trig In dapat dikonfigurasikan sebagai keluaran sehingga memungkinkan instrument 33250A untuk memicu instrumen lain pada waktu yang sama sebagai pemicu kejadian internal. generator fungsi akan menerima perangkat keras pemicu yang diterapkan pada konektor panel belakang Trig In.4. perubahan frekuensi keluaran dalam konstanta oktaf/detik atau decade per detik. Bila tidak digunakan sebagai masukan. sumber picu dapat berupa sinyal eksternal. Karena setiap langkah mengambil waktu yang sama. perubahan frekuensi keluaran konstan hertz per detik. Dalam sapuan linier. DSP internal mengatur frekuensi keluaran yang didasarkan pada salah satu fungsi linier atau logaritmis. kunci atau komentar yang diterima dari antarmuka jarak jauh. Sapuan dibangkitkan dengan menggunakan sumber pemici dari dalam atau luar berupa perangkat keras sumber pemicu. sapuan waktu yang lebih lama menghasilkan langkah lebih kecil dan oleh karena itu resolusinya lebih baik. Penghubung ini kecuali TTL. Dalam sapuan logaritmis. Satu sapuan terdiri dari sejumlah langkah-langkah kecil frekuensi. berada pada tingkat kompatibel dan direferensikan terhadap ground chasis (bukan ground mengambang). Sapuan logaritmis sangat berguna untuk meliputi cakupan frekuensi yang luas dimana resolusi pada frekuensi rendah secara potensial akan kehilangan sapuan linier. .6.5. Bila sumber eksternal dipilih. Masukan sinyal picu eksternal dihubungkan Trig In yang berada pada panel belakang.

000. Burst siklus N merupakan burst siklus N yang terdiri dari bentuk gelombang dengan jumlah siklus tertentu (1 sampai 1. Frekuensi marker harus berada diantara frekuensi mulai dan frekuensi berhenti. Lakukan penyesuaian frekuensi marker sampai sinyal syn menuju keadaan rendah. Gambar 6-27 Sweep with marker at DUT resonance 6. picu osiloskop dengan ujung awal dari sinyal sync pada posisi permulaan frekuensi pada sisi kiri osiloskop.1. Kemudian.6. Jika fungsi marker memungkinkan.6. Burst dapat digunakan dalam salah satu dari dua mode burst siklus N (juga dinamakan triggered burst atau gated burst). sinyal sync menuju rendah pada titik tengah sapuan.2.4. Burst juga dapat diset untuk menghitung tak hingga yang dihasilkan pada bentuk gelombang kontinyu pada generator fungsi terpicu. Untuk mengerjakan ini.4. respon piranti akan membentuk corak yang menarik.2. Sinyal Sinkron dan Marker Keluaran penghantar sync pada panel belakang menuju tinggi pada setiap permulaan sapuan. Burst Keluaran generator fungsi dapat diatur pada bentuk gelombang dengan jumlah siklus tertentu yang dinamakan burst. Frekuensi dapat dibaca pada peraga panel belakang instrument 33250A.000) dan selalu diaktifkan dengan peristiwa picu. . Jika fungsi marker disable (lumpuh). sinyal syn menuju rendah pada saat frekuensi keluaran mencapai frekuensi marker tertentu. hubungkan keluaran sync ke satu kanal osiloskop dan hubungkan keluaran DUT pada kanal osiloskop yang lain. Penggunaan fungsi marker untuk mengidentifikasi frekuensi tertentu dalam respon piranti yang diuji (Device under test/DUT) missal jika diinginkan untuk identifikasi frekuensi resonansi.6.

Trigger delay juga dapat disisipkan untuk mengkompensasi peundaan kabel dan waktu respon instrumen lain dalam system. yang dinamakan start phase. Masukan sinyal picu eksternal melalui penghantar Trig In yang berada pada panel belakang. Berikutnya. . Pada burst N siklus selalu dimulai dan diakhiri pada titik yang sama pada bentuk gelombang. Pertama rencanakan satu generator fungsi sebagai master dan yang lain sebagai slave. kunci. berada pada tingkat kompatibel dan direferensikan terhadap ground chasis (bukan ground mengambang). Misal perkiraan aplikasi memerlukan dua bentuk gelombang sinus frekuensi 5 MHz yang secara pasti satu sama lain berbeda pasa 90°. sumber picu dapat berupa sinyal eksternal. hubungkan penghantar keluaran master 10 MHz ke penghantar masukan slave 10 MHz dengan menggunakan kabel koaksial kualitas tinggi. Konfigurasi ini akan meyakinkan bahwa kedua instrumen akan membangkitkan secara pasti frekuensi sama dan tidak akan terdapat istilah pergeseran pasa diantara kedua instrumen. Pengaruh picu dapat ditunda sampai 85 detik (penambahan 100 picodetik) untuk menyerempakkan permulaan burst dengan kejadian lain.Keluaran sinkronisasi Keluaran utama Gambar 6-28 Bentuk gelombang keluaran sync dan tiga siklus bentuk gelombang burst Untuk burst. Bila tidak digunakan sebagai masukan. hubungkan dua penghantar masukan dan keluaran trigger bersama-sama untuk memungkinkan master memicu slave. suatu pewaktu internal. Pasa permulaan pada 0° berhubungan dengan awal perekaman bentuk gelombang dan 360° berhubungan dengan akhir perekaman bentuk gelombang. atau komand yang diterima dari antarmuka jarak jauh. Penghantar ini kecuali TTL. Seperti ditunjukkan 6-29. penghantar dapat dikonfigurasikan sebagai keluaran sehingga memungkinkan 33250A untuk memicu instrumen lain pada saat yang sama sebagai pemicu kejadian internal. Dapat menggunakan dua 33250A seperti diuraikan berikut ini.

tenaga diedarkan. sekalipun jika 5. dalam waktu.Gambar 6-29 Konfigurasi dua instrumen instrumen diserempakkan dan Setelah membuat hubungan seperti akan tetap diserempakkan yang ditunjukan gambar 6-29. Setiap waktu master kedua instrumen sekarang dipicu slave. ikuti sampai pengaturan parameter langkah-langakh di bawah ini. Jika diperlukan bentuk siklus. sinus dengan frekuensi 5 MHz. Pada master. Pada slave. jumlah burst tak hingga pada 3. atur penjumlah burst pada 2. Kemudian. Perlu dicatat keduanya ke dalam kelurusan bahwa perbedaan harga satu sama lain. eksternal dan memungkinkan Sekali ditetapkan. dan set pasa permulaan 0 gelombang burst kontinyu. Atur pasa permulaan dari satu instrumen pada 90°. Pada kedua instrumen. pilih derajat. pilih sumber picu kalibrasi. diatur masing-masing instrumen pada mode N siklus burst. 1. kedua pemicuan pada rising edge dari instrumen dipertahankan lurus sinyal picu. Jika gelombang burst tiga siklus. Dalam rising edge dari penghantar Trig contoh ini. Atur kedua instrumen pada keluaran bentuk gelombang 6. kedua instrumen membangkitkan bentuk diserempakkan kembali. set sebagaimana diperlukan untuk burst menghitung sampai tiga aplikasi. konstanta system 4. Sekarang dua . menjadi parameter Out. penunda picu. verifikasi bahwa diubah. Dengan menggunakan frekuensi atau pasa permulaan osiloskop. penundaan picu. instrumen Kemudian lakukan penyesuaian dapat distel kembali dengan parameter penundaan picu satu pemugaran keterlambatan picu instrumen untuk membawa burst sebelumnya. pilih sumber picu kedua instrumen dan internal dan memungkinkan memungkinkan pemicuan sinyal keluaran picu dengan manual pada master.

00 kHz Frequency Shift Keying : 2 keys Source : Internal/External Internal Modulation Frequency : 2 mHz to 1. remote interface ArbitraryWaveforms : 1 mHz to 120 MHz Sample Rate : 2 GS/s Waveform Memory : 2 to 128 K . gated Internal Trigger Rate : 1. 1 Vp-p Residual Clock Noise : –57 dBm Modulation : AM. Model : AFG3251 / AFG3252 Channels :1 / 2 Sine Wave : 1 μHz to 240 MHz Amplitudo <200 MHz : 50 mVp-p to 5 Vp-p / –30 dBm to 18. PM Source : Internal/External Internal Modulation Frequency : 2 mHz to 50. 6.4. Pada saat sinyal gate benar keluaran generator fungsi bentuk gelombang kontinyu.0 dBm >200 MHz : 50 mVp-p to 4 Vp-p / –30 dBm to 16.2.penundaan mungkin diperlukan jika pasangan instrumen yang digunakan berbeda atau jika 6. Bentuk gelombang noise. logarithmic Burst :Triggered. external. FM.000 MHz Sweep : Linear. keluaran berhenti seketika bila sinyal gate menuju salah. siklus bentuk gelombang arus dilengkapi dan kemudian generator fungsi berhenti selagi tetap berada pada level tegangan yang sesuai dengan pasa burst awal dari bentuk gelombang yang dipilih. typical : <–110 dBc/Hz at 20 MHz.2. 10 kHz offset. bentuk gelombang keluaran merupakan salah satu on atau off didasarkan pada level sinyal eksternal yang diaplikasikan pada konektor panel dengan Trig In. Spesifikasi Alat bentuk gelombang fungsi yang dipilih berbeda.2.000 ms to 500. Gated Burst Dalam mode gated burst.0 s Gate and Trigger Sources : Internal. 1 Vp-p) : <0.2% Spurious (1 Vp-p) 10 Hz to 1 MHz : <–50 dBc 1 MHz to 25 MHz : <–47 dBc >25 MHz :<–47dBc+ 6 dBc/octave Phase Noise.6.0 dBm Harmonic Distortion (1 Vp-p) 10 Hz to 1 MHz : <–60 dBc 1 MHz to 5 MHz : <–50 dBc 5 MHz to 25 MHz : <–37 dBc >25 MHz : <–30 dBc THD (10 Hz – 20 kHz.5. Bila sinyal gate menuju salah.

Misalnya Figure) adalah suatu parameter dari : ponsel dan penguat pada penting dari amplifier stasiun pangkalan TDMA. Titik dimana respon turun -3 dB dari amplitudo puncak ke puncak didefinisikan sebagai batasan lebar band. filter dirancang untuk melewatkan band frekuensi yang telah ditetapkan sebelumnya dan menolak yang lain. Definisinya merupakan nisbah Gambar 6-30 Pengukuran lebar band dari filter bandpass dan penguat IF Setiap penguat RF baru dan filter dirancang memiliki karakteristik bandpass yang harus diukur untuk meyakinkan hasil sesuai tujuan rancangan. Dalam aplikasi ini misalnya kita akan menguji penguat IF 140 MHz dan mengukur batas frekuensi atas dan bawah lebar band dimana amplitudo keluaran turun 3 dB. operasi normalnya. Pada salah satu ujung cakupan respon amplitudo ini secara mantap berkurang.6. bilangan menjelaskan turunnya nisbah noise harus diukur dengan sinyal ke derau SNR (signal to amplifier yang dioperasikan pada noise ratio). Kedua jenis komponen yang cenderung memiliki cakupan frekuensi dimana respon amplitudo relatip datar. yang menyatakan dan standar radio burst-type berapa besar sumbangan noise lainnya. yang disebabkan oleh kondisi mode pulsa seperti kondisi komponen dalam rantai sinyal. Hal serupa.6. GSM telekomunikasi. Untuk memperoleh hasil pada output amplifier. Prosedur Pengoperasian Pengukuran bilangan pulsa noise antara signal terhadap derau dari Bilangan derau atau NF (Noise output terhadap input. Kebanyakan peguat dirancang memiliki respon linier sepanjang cakupan frekuensi aplikasi.71% harga puncak ke . Hal itu pengukuran yang teliti. Turun -3dB ekuivalen dengan 70.2.

puncak. meliputi tampilan bentuk gelombang itu sendiri (gambar 6 -31). Gambar 6-31 Bantuk gelombang keluaran generator fungsi Gambar 6-32 Pelacakan penganalisa spektrum . Meringkas semua detil yang menyolok berkaitan dengan sinyal yang dibangkitkan : amplitudo. slope dari gelombang ramp yang meningkatkan frekuensi dan panjang total sapuan (waktu). AFG memberikan sapuan gelombang sinus seperti sinyal masukan ke penguat dan penganalisa spektrum melacak sinyal keluaran dalam mode hold peak. Gambar 6-32 melukiskan instrumen pelacak dari penganalisa spektrum. Tampak bentuk gelombang pada bingkai didekat layar bagian bawah. Menekan tombol mode sweep AFG mengantarkan layar dengan semua bentuk gelombang yang perlu dilihat. frekuensi. Penggunaan marker. Diluar lebar band ini respon penguat di bawah titik -3 dB. instrumen menghasilkan cakupan frekuensi dari 133 MHz sampai 147 MHz.

2.1.1. Karateristik dasar dari pulsa adalah rise time. Perbedaan pokok antara generator pulsa dengan generator gelombang kotak. Sebelum operasi sapuan peraga murni hanya disebabkan oleh alat yang dites. 2. Cek melalui penghitung dan tempatkan marker pada layar osiloskop dengan menggunakan lemak pinsil. sehingga setiap distorsi yang terjadi pada 6. .4. Pendahuluan Generator pulsa ini dipakai pada pengukuran dengan dikombinasikan pemakaian CRO. probe detektor RFdiperlukan kecuali jika titik demodulasi telah ditetapkan oleh pabrikan. 5.3. Bila injeksi sinyal 455 kHz pada masukan mixer. 3. Pada generator pulsa. Pengetesan yang sering dilakukan dengan generator pulsa ini adalah pengetesan transient Duty cycle = respons dari amplifier.1.6. Generator fungsi dengan penghitung frekuensi (peraga digital) merupakan langkah sederhana.2. overshoot. Alignment penerima AM Prosedur pelaksanaan alignment penerima AM dilakukan sebagai berikut 1. Menggunakan pengetesan gambar 6-33 dengan mengatur generator untuk menghasilkan peragaan sapuan linier. Spesifikasi Alat Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah generator pulsa.3. Pembangkit Pulsa 6. adalah pada duty cyclenya.4. sag dan undershoot.4.3. Prosedur Pengoperasian 6.1. ringing. Gunakan rangkaian pengetesan seperti nampak pada gambar 633. osilator harus dipasipkan. atur pemutar frekuensi pada generator untuk mencapai frekuensi yang diinginkan. Jika penghitungan frekuensi senter teliti akan digunakan selama pengetesan. Pulsa harus mempunyai distorsi minimal. Sweep Marker Generator 6. dimana duty cycle dirumuskan sebagai berikut. Pada generator gelombang kotak duty cyclenya 50%. 4. Sinyal dapat dinjeksikan melalui salah satu mixer (455 kHz) atau pada antenna. duty cyclenya bervariasi. pulsewidth pulseperio de 6. Bila respon IF yang diamati pada masukan detektor AM. Dengan pengukuran ini dihasilkan informasi kualitatif dan kuantitatif tentang peralatan yang sedang dites. dengan snyal generator pada posisi output gelombang sweep linier. dimulai. 1.

Tegangan sapuan eksternal dapat juga diaplikasikan pada masukan horisontal osliloskop. sama dengan operasi sapuan eksternal. Menghubungkan sumber tegangan sapuan eksternal ke jack masukan VCF dari generator. Pengaturan frekuensi marker. Pengaturan tuning penguat IF dapat dilakukan seperti yang diinginkan memperoleh kurva respon IF yang dikehendaki. Bagaimanapun. Sapuan eksternal mungkin digunakan jika diinginkan gelombang sinus atau pola sapuan lain.6. Karena memungkinkan berkorelasi langsung antara peraga osiloskop. setiap rangkaian tune diatur untuk memperoleh amplitudo maksimum pada titik tengah frekuensi IF. Bagaimanapun. Seringkali. Masukan horisontal osiloskop dan penghitung mungkin dapat digunakan untuk mengukur frekuensi keluaran. mungkin ini lebih nyaman dalam pengaturan frekuensi marker menggunakan tegangan keluaran GCV untuk mengendalikan masukan horisontal osiloskop. Sweep Function Generator 455 kHz CRO Vert Hor Audio Amp RF Amplifier Mixer IF Amp AM detektor Osilator Gambar 6-33 Alignment penerima AM . beberapa penguat IF tune bertingkat untuk mencapai lebar band yang diinginkan. penghitung frekuensi dan pengaturan frekuensi generator. dapat dilakukan dengan power suplly yang dapat divariasi diumpankan pada jack masukan VCF.

Kurva ”S” harus setimbang berikut: pada setiap sisi dari “pip” 1. dengan cara sebagai 34b.4. Aligment penerima komunikasi FM (intermediate frequency = IF) 455 Pengetesan pada gambar 6.2. Bila sinyal output bagian IF 455 dan diverifikasi tanpa pengaturan. Sweep Function Generator CRO RF Amplifier Fst Mixer Fst IF Amp 2nd Mixer 2nd IF Amp demodulator Audio Amp Osilator Osilator Penerima radio FM A B 475 455 435 kHz 455 kHz Gambar 6-34 Alignment dari penerima IF komunikasi FM dan diskriminator .-33 kHz. dengan mengikuti prosedur 34. kurva respons (crystal-controlled marker source) akan nampak seperti gambar 6455 kHz. dan gunakan sinyal ke bagian Dalam skenario alignment IF 455 kHz.1. dan bagian diskriminator. dapat dipakai untuk proses Untuk ketepatan pengaturan alignment pesawat penerima FM. marker.a marker (marker) “pip” pabrikan untuk meyakinkan seharusnya pada pusat kurva bahwa respon keseluruhan dicapai respons. dengan tepat. frekuensi tersebut dapat dipakai yaitu bagian frekuensi menengah 3. penerima hanya dapat dievaluasi 2.6. kHz didisplaikan. kurva respons Dimana rangkaian tune dapat akan nampak seperti gambar 6diatur. Bila kurva respons diskriminator sumber marker kristal-terkontrol diperagakan. Pilih bentuk gelombang sweep.

1. Sebagai contoh asumsikan bahwa ENR adalah 5.995. noise figure sekarang dapat dihitung sebagai berikut : NF= ENR dB – (10log (Y-1)). Dengan faktor Y diukur dan ENR dibagi dengan sumber yang menghasilkan noise untuk frekuensi tertentu.3 dB. Keuntunga penggunaan AFG dalam aplikasi ini bahwa . Suatu metoda pengukuran SNR yang populer adalah metoda faktor Y. Penurunan noise figure dengan metoda ini pertama diperlukan untuk menentukan apa yang dinamakan faktor Y yang merupakan perbandingan kepdatan noise keluaran dari sumber noise dalam keadaan ON dan OFF.4.28 dB dan kepadatan noise yang diukur ditingkatkan dari -90 dBm/Hz sampai -87 dBm/Hz setelah sumber noise ditune. Hal ini terletak pada kalibrasi sumber derau dengan nisbah derau lebih (ENR = excess noise ratio) yang dihubungkan ke input amplifier yang dites (lihat gambar 6-34).3 Pengukuran Noise Figure Noise figure merupakan parameter penting dalam penguat telekomunikasi seperti seberapa banyak noise yang dikonstribusikan oleh penguat dalam sinyal keluaran. Untuk mencapai ketelitian hasil pengukuran. Kanal 1 dari AFG3252 menyebabkan amplifier ON dan OFF melalui signal pulsa yang mengemudikan input bias penguat. Penggunaan formula Y(lin) = 10Y(dB)/10 dcapai Y(lin) =1. Ini menguraikan degradasi perbandingan sinyal terhadap noise yang disebabkan oleh komponen sinyal. Untuk dapat mencapai reproduksi hasil pengukuran rerata dari pengukuran yang dikehendaki. Faktor Y dari 3dB yang diperlukan untuk diubah ke nilai linier untuk digunakan dalam persmaan di atas. Penganalisa spektrum dikonfigurasikan dalam mode gated time hanya untuk mengukur keluaran penguat selama saklar pada posisi pasa. noise figure harus diukur dengan penguat yang dioperasikan dalam mode pulse seperti selama operasi normal. Lebar dan kecepatan pengulangan pulsa di atur sesuai dengan standar pengetesan. GSM dan jenis burst radio standar yang mesin hanya bertenaga sepanjang slot waktu aktip untuk memelihara tenaga. Pengisian harga ini ke dalam formula di atas untuk noise figure NF=5.6. Ini didefiniskan sebagai perbandingan sinyal terhadap noise pada keluaran yang pada inputnya dapat berupa :Telpon seluler dan penguat pangkalan stasiun TDMA. Kanal 2 dari sinyal picu AFG pada spektrum serempak untuk mengendalikan pulsa pembias penguat.

menawarkan dua kanal yang dapat disinkronkan dalam frekuensi dan pengaturan ampitudo secara independen disesuaikan level bias yang diperlukan penguat dan masukan picu dari penganalisa spektrum atau pengukur noise figure. .

Jenis-jenis CRO Analog dan digital 4. OSILOSKOP Pokok Bahasan Pembahasan CRO meliputi : 1. Mampu menjelaskan prinsip pengukuran sinyal dengan CRO. Pengoperasian CRO untuk pengukuran karakteristik sinyal. Gambar 7-1 menunjukkan data ilmiah yang dapat dikumpulkan oleh osiloskop. 7. Transduser merupakan piranti yang menciptakan sinyal listrik dalam respon terhadap rangsangan pisik seperti suara. tekanan mekanik. Alat yang mampu mevisualisasikan gerakan periodik ini dinamakan osiloskop. Osiloskop merupakan kunci jawaban tantangan tuntutan pengukuran secara akurat. frekuensi dan fasa. suara melalui udara atau frekuensi alami dari gerakan tubuh. Dengan transduser yang tepat osiloskop dapat mengukur semua jenis phenomena. Osiloskop merupakan perangkat yang sangat dibutuhkan untuk perancangan. 2.BAB 7 Tujuan Setelah mengikuti pembahasan osiloskop pembaca diharapkan mampu : 1. Pengertian jenis-jenis sinyal. Energi. Perkembangan teknologi sekarang ini para teknisi atau ahli membutuhkan ketersediaan perangkat terbaik untuk menyelesaikan tantangan pengukuran secara cepat dan tepat. Pengamatan dan pengukuran untuk melihat perbedaan gerakan diperlukan alat yang mampu memvisualisasi.1. yang dapat diamati sebagai warna. tekanan. MSO perkembangan CRO digital dalam aplikasi khusus. . getaran partikel dan gaya yang tidak tampak meliputi pisik alam semesta. Kegunaan osiloskop tidak dibatasi pada dunia elektronik.1. Pemahaman Dasar Sinyal Gerakan alami dalam bentuk gelombang sinus. Mampu mendiskripsikan jenis-jenis CRO 3. serupa ombak lautan.1 Pengantar 7. pabrikasi atau perbaikan peralatan elektronika. cahaya atau panas. Mampu menjelaskan prinsip dasar operasi CRO 2. gempa bumi. amplitudo. Berdasarkan visualisasi tersebut gerakan dapat dibedakan kekuatan. besarnya perioda pengulangan. 5. suara bising dan bergetar. Cahaya merupakan bagian partikel. Sebuah mikropon merupakan transducer yang mengubah suara ke dalam sinyal listrik. bagian frekuensi gelombang berupa dasar. Operasi dasar CRO 3.

. Osiloskop sinar katoda (cathode ray oscilloscope) selanjutnya disebut instrumen CRO merupakan instrumen yang sangat bermanfaat dan terandalkan untuk pengukuran dan analisa bentukbentuk gelombang dan gejala lain dalam rangkaian elektronik yang bersifat dinamis. Menguraikan jenis-jenis bentuk gelombang 4. Menguraikan bagaimana osiloskop bekerja 2. Pada dasarnya CRO merupakan alat pembuat grafik yang menunjukkan bagaimana sinyal berubah terhadap waktu : sumbu vertikal mempresentasikan tegangan dan sumbu horisontal mempresentasikan waktu. Intensitas atau kecerahan peragaan seringkali disebut sumbu Z. Pengambilan data dengan CRO Osiloskop digunakan oleh semua orang dari ahli fisika sampai teknisi perbaiki TV. penyimpan digital.Gambar 7-1. Ahli mesin otomotif menggunakan osiloskop untuk mengukur getaran mesin. Melakukan pengukuran sederhana. Setelah membaca bahasan ini akan mampu : 1. Berbagai kemungkinan tidak ada akhirnya. phaspor digital dan pencuplikan digital. Memahami pengendali dasar osiloskop 5. Beberapa penghasil osiloskop juga memberikan banyak aplikasi untuk membantu dalam aplikasi pengukuran tertentu. Peneliti medis menggunakan osiloskop untuk mengukur gelombang otak. Buku manual yang disertakan dengan osiloskop akan memberi informasi khusus tentang Grafik yang digambarkan dapat menginformasikan banyak tentang sinyal yang diukur diantaranya : bagaimana menggunakan osiloskop. harga tegangan dan waktu sinyal. 3. Menguraikan perbedaan antara osiloskop analog.

seberapa banyak sinyal noise dan apakah noise berubah mengikuti perubahan waktu. misal tegangan. (www. gerakan bagian dari rangkaian yang direpresentasikan dalam bentuk sinyal. Selanjutnya bintik cahaya akan menghasilkan jejak berkas gambar pada layar yang menunjukan variasi tegangan masukan sebagai fungsi waktu. Tegangan yang akan diamati dimasukkan ke sumbu Y atau masukan vertikal CRO. tekanan. percepatan dan banyak besaran fisis lainnya menjadi tegangan. tegangan.2. Satu siklus dari gelombang suara. pengulangan dari waktu ke waktu Osiloskop mengukur gelombang adalah gelombang. dan gelombang tegangan Istilah umum untuk suatu pola atau semua pola yang berulang. gambar akan kelihatan sebagai pola yang diam pada layar. temperatur. 7. seberapa banyak sinyal DC atau sinyal AC. Y. menggerakkan bintik cahaya ke atas dan ke bawah sesuai dengan nilai sesaat tegangan masukan. kesalahan fungsi komponen seperti sinyal terdistorsi.interq or japan/se-inoue/e-oscilo0. sumbu X masukan horisontal berupa tegangan tanjak (ramp voltage) linier yang dibangkitkan secara internal yang merupakan basis waktu (time base) secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri ke kanan melalui permukaan layar. Bila tegangan masukan berulang dengan laju yang cukup cepat. Gambar 7-2: Peraga bentuk gelombang komponen X. Pengetahuan dan Pengukuran Bentuk Gelombang otak. Dengan demikian CRO melengkapi suatu cara pengamatan tegangan yang berubah terhadap waktu.htm) Dalam pemakaian CRO yang biasa. Z.menghitung frekuensi sinyal osilasi.1. gelombang . Disamping tegangan CRO dapat menyajikan gambaran visual dari berbagai fenomena dinamik melalui pemakaian transduser yang mengubah arus.

Bentuk gelombang pada umumnya Gambar 7-4. Suatu bentuk gelombang tegangan menunjukkan waktu pada sumbu horisontal dan tegangan pada sumbu vertikal. Gambar 73 menunjukkan bentuk gelombang pada umumnya dan gambar 7-4 menunjukkan sumber-sumber bentuk gelombang pada umumnya. waktu dalam sumbu horisontal. Satu bentuk gelombang merupakan penampilan grafik dari pengulangan gelombang.gelombang merupakan bagian dari pengulangan gelombang. Sumber-sumber bentuk gelombang pada umumnya Mengungkapkan bentuk gelombang sebagian besar tentang sinyal. Garis lurus diagonal merupakan perubahan linier tegangan naik ataupun turun tegangan keadaan mantap. Ketajaman sudut pada bentuk gelombang menunjukkan perubahan mendadak. Gambar 7-3. Kapanpun dapat dilihat perubahan tinggi bentuk gelombang. Jenis-jenis Gelombang Gelombang dapat diklasifikasi kedalam jenis : Gelombang sinus Gelombang kotak dan segi empat Gelombang segitiga dan gigi gergaji Bentuk step dan pulsa Sinyal periodik dan non periodik Sinyal sinkron dan asinkron .

meskipun tegangan bolak-balik jua. umum. Kebanyakan sumber-sumber daya menghasilkan gelombang sinus (AC menandakan arus bolak-balik.2. 7.2. Mempunyai sifat harmonis matematis Tegangan dalam saluran dinding bervariasi seperti gelombang sinus.7. Rangkaian .1. gelombang kotak mempunyai distorsi minimum. Ini dan rendahnya tidak sama merupakan gelombang standar panjang. Pada dasarnya gelombang Gelombang segi empat kotak merupakan tegangan yang menyerupai gelombang kotak on dan off (tinggi dan rendah) kecuali bahwa interval waktu tinggi pada interval yang teratur. Tes sinyal yang dihasilkan rangkaian osilator dari pembangkit sinyal seringkali berupa gelombang sinus. Gambar 7-5 menunjukkan macam-macam bentuk gelombang. Gelombang Sinus Gelombang sinus merupakan bentuk gelombang dasar untuk beberapa alasan. Terutama sekali untuk menguji penguat – penguat diperlukan pada saat untuk baik amplitudo bertambah menganalisa rangkaian digital.1. radio dan komputer sering Gelombang kotak merupakan menggunakan gelombang kotak bentuk gelombang lain yang untuk sinyal pewaktuan.1 Gelombang Kotak dan Segi empat televisi. DC arus rata yang berarti arus dan tegangan seperti yang dihasilkan baterai.Gelombang sinus damped merupakan kasus tertentu yang dapat dilihat pada rangkaian yang berosilasi namun menurun dari waktu ke waktu.1.

7.1.2.2. Gelombang gigigergaji dan segitiga Transisi antar tingkat tegangan Gelombang gigigergaji dan dari perubahan gelombang ini segitiga hasil dari rangkaian yang kecepatannya konstan. Transisi dirancang untuk mengendalikan dinamakan ramp ditunjukkn pada tegangan secara linier, seperti gambar 7-8. sapuan horisontal dari osiloskop analog atau scan raster televisi.

Gambar 7-8. Step, pulsa dan rentetan pulsa 7.1.2.3. Bentuk Step dan Pulsa Sinyal seperti step dan pulsa jarang terjadi atau tidak secara periodik ini dinamakan single shot atau sinyal transien. Step menunjukkan perubahan tegangan mendadak seperti perubahan pada pemidahan saklar on power. Pulsa menunjukkan perubahan tegangan mendadak, serupa dengan perubahan tegangan jika memindahkan saklar power on dan kemudian off lagi. Pulsa mungkin ditunjukkan satu bit dari informasi yang berjalan melalui rangkaian komputer atau mungkin glitch atau dalam rangkaian cacat. Kumpulan pulsa-pulsa berjalan bersama membuat pulsa train. Komponen digital dalam komputer komunikasi dengan setiap penggunaan pulsa yang lain. Pulsa biasanya juga dalam sinar X dan peralatan komunikasi. Gambar 7-8 menunjukan contoh bentuk step dan pulsa dan pulsa train. sinyal non

7.1.2.4. Sinyal periodik dan Non periodik dikenal sebagai Pengulangan sinyal direferensikan periodik. sebagai sinyal periodik, sementara sinyal yang perubahannya konstan

7.1.2.5. Sinyal sinkron dan tak sinkron dan alamat di dalam komputer Bila pewaktuan berhubungan merupakan contoh sinyal sinkron. dengan keberadaan dua sinyal, Asinkron merupakan istilah yang sinyal direferensikan sebagai digunakan untuk menguraikan sinyal sinkron. Sinyal clock, data sinyal antara yang tidak

berhubungan dengan keberadaan pewaktuan. Karena tidak ada korelasi waktu antara aksi penyentuhan kunci pada keyboard 7.1.2.6. Gelombang kompleks Banyak bentuk gelombang yang mengkombinasikan karakteristik sinus, kotak, step dan pulsa untuk menghasilkan bentuk gelombang yang memenuh tantangan osiloskop. Sinyal informasi mungkin ditempelkan dalam bentuk variasi amplitudo, fasa dan atau frekuensi. Contoh meskipun sinyal dalam gambar 7-9 merupakan sinyal video komposit biasa, ini dicampur banyak siklus dari bentuk gelombang frekuensi yang lebih tinggi yang ditempelkan dalam amplop frekuensi yang lebih rendah. Misal ini biasanya sangat diperlukan untuk mengetahui tingkat relatip dan pewaktuan yang berhubungan dengan step. Untuk

komputer dan clock di dalam komputer, ini dipandang sebagai sinyal asinkron.

melihat sinyal ini diperlukan sebuah osiloskop yang mengambil amplop frekuensi rendah dan campuran dalam gelombang frekuensi lebih tinggi dalam suatu intensitas peunjukan yang bernilai sehingga dapat dilihat keseluruhan kombinasi sebagai gambar yang dapat diinterpretasikan secara visual. Osiloskop phosphor analog dan digital sangat menyenangkan untuk melihat gelombang kompleks. Gambar 79. mengilustrasikan peraga yang memberikan informasi kejadian frekuensi yang diperlukan atau penilaian intensitas, penting untuk dipahami apa sebenarnya bentuk gelombang.

kompleks
Gambar 7-9. Bentuk gelombang komplek video

1

2

3 1
3 siklus perdetik
= 3 Hz Perioda

Gambar 7-10. perioda gelombang sinus

1 detik

7.1.3. Pengukuran Bentuk Gelombang Banyak istilah digunakan untuk menguraikan menguaikan jenis jenis pengukuran dan umumnya. pengukuran yang dilakukan dengan osiloskop. Pada bagian ini 7.1.3.1. Frekuensi dan Perioda Jika ada pengulangan sinyal, ini memiliki frekuensi. Frekuensi diukur dalam Hertz dan sama dengan jumlah pengulangan sinyal dalam waktu satu detik direferensikan sebagai siklus perdetik. Pengulangan sinyal juga mempunyai perioda ini mengambil banyak waktu untuk sinyal 7.1.3.2. Tegangan Tegangan merupakan jumlah potensial listrik atau kekuatan sinyal antara dua titik rangkaian. Biasanya satu dari titik ini adalah ground atau nol volt, namun tidak 7.1.3.3. Amplitudo Amplitudo referensi terhadap sejumlah tegangan antara titik dalam rangkaian. Amplitudo biasanya direferensikan tegangan maksimum dari sinyal yang diukur 0° +1 V

beberapa istilah pada

melengkapi satu siklus. Perioda dan frekuensi timbal balik satu sama lain, sehingga 1/perioda sama dengan frekuensi dan 1/frekuensi sama dengan perioda. Misal gelombang sinus dalam gambar 7-10 mempunyai frekuensi 3Hz dan perioda 1/3 detik.

selalu. Untuk mengukur tegangan dari puncak maksimum ke puncak minimum dari bentuk gelombang, direferensikan sebagai tegangan puncak ke puncak. terhadap ground. Bentuk gelombang ditunjukkan dalam gambar 7-11 mempunyai amplitudo 1V dan puncak ke puncak 2V.

90° 180° 270°

2 2 -1V
Gambar 7-11. Amplitudo dan derajat gelombang sinus

7.1.3.4. Fasa Fasa terbaik dijelaskan dengan melihat pada gelombang sinus. Level tegangan dari gelombang sinus didasarkan pada gerakan melingkar. Lingkaran mempunyai 360°, satu siklus gelombang sinus mempunyai 360° sebagaimana 7.1.3.5. Pergeseran Fasa Pergeseran fasa menguraikan perbedaan antara dua sinyal serupa satu sama lain. Bentuk gelombang gambar 7-12 ditandai arus sehingga dikatakan tertinggal fasa dengan bentuk gelombang

ditunjukkan dalam gambar 7-11. Penggunaan derajat dapat digunakan sebagai acuan untuk sudut fasa gelombang sinus bila ingin menguraikan seberapa banyak perioda telah dilalui.

yang ditandai tegangan, karena gelombang mencapai titik sama dalam siklus ¼ siklus (360°/4=90°). Pergeseran fasa biasanya dalam elektronik dinyatakan dalam derajat.

tegangan Arus

0

Fasa 90°
Gambar 7-12 Pergeseran fasa

7.2. Operasi Dasar CRO Subsistem utama CRO untuk pemakaian umum ditunjukkan gambar diagram di bawah ini terdiri atas : 1. Tabung sinar katoda (CRT) 2. Penguat vertikal (vertikal amplifier) 3. Rangkaian trigger (Trigger Circuit) 4. Penguat Horisontal (Horisontal Amplifier). Tabung sinar katoda atau CRT merupakan jantung siloskop ,

pada dasarnya CRT menghasilkan berkas elektron yang dipusatkan secaravtajam dan dipercepat pada kecepatan yang sangat tinggi. Berkas yang tajam dan kecepatan tinggi bergerak dari sumbernya (senapan elektron) ke layar CRT bagian depan, membentur bahan lapisan flouresensi yang melekat di permukaan CRT. Akibat benturan ini menimbulkan energy yang cukup untuk membuat layar

bercahaya dalam sebuah bintik Dalam perjalanannya menuju layar, berkas elektron melewati sefasang pelat defleksi vertikal dan sefasang pelat defleksi horisontal. Tegangan yang dimasukkan pada pelat defleksi vertikal dapat menggerakkan berkas elektron pada bidang vertikal sehinga bintik CRT bergerak dari atas ke bawah. Sedangkan tegangan yang dimasukkan pada pelat defleksi horisontal dapat menggerakkan berkas elektron pada bidang horisontal sehingga bintik akan bergerak dari kiri ke kanan. Gerakan-gerakan ini tidak saling bergantungan satu sama lain sehingga bintik CRT dapat ditempatkan di setiap tempat pada layar dengan menghubungkan masukan tegangan vertikal dan horisontal yang sesuai secara
senapan elektron

kecil. bersamaan. Bentuk sinyal yang diamati dihubungkan ke masukan penguat vertikal dengan menggunakan probe. Penguat vertikal dilengkapi rangkaian attenuator atau pelemah yang telah dikalibrasi, biasanya diberi tanda Volt/Div. Setelah sinyal diperkuat cukup untuk mengendalikan bintik CRT diteruskan ke bagian defleksi vertikal. Generator basis waktu disediakan untuk operasi internal, sedangkan dalam pengoperasian eksternal basis waktu diambil dari sinyal masukan pada horisontal amplifier seperti pada gambar. Generator basis waktu membangkitkan gelombang gigi gergaji yang digunakan sebagai tegangan defleksi horisontal dalam CRT.

pembelok vertikal

Input Attenuattor dan pra penguat

Penguat Vertikal

spot

layar berlapis pospor trigger dalam Rangkaian Triger Trigger dari luar Penguat Horisontal

Pembelok horisontal

Gambar 7-13. Operasi dasar CRO

bintik CRT kembali dengan cepat ke posisi awal di bagian kiri layar dan tetap berada disana sampai ada penyapuan baru. Tegangan defleksi kedua fasangan pelat secara bersamaan menyebabkan bintik CRT meninggalkan berkas bayangan pada layar. berkas elektron akan dipengaruhi oleh dua gaya. Bila secara bersamaan diberikan sinyal masukan pada pelat defleksi vertikal. Pada akhir penyapuan bila tegangan gigi gergaji tiba-tiba turun dari harga maksimalnya ke nol. dan laju kenaikkan dapat disetel dengan alat control di panel depan yang diberi anda Time/Div. maka bintik CRT bergerak sepanjang layar pada kecepatan konstan dari kiri ke kanan. Karena tegangan penyapu horisontal bertambah secara lnier terhadap waktu.. Ini ditunjukkan pada gambar 7-14.Bagian gelombang gigi gergaji yang menuju positip bersifat linier. Tegangan diumpankan pada penguat horisontal. . dan satu lagi dalam bidang vertikal menggerakan bintik CRT dari atas ke bawah sesuai dengan besar dan polaritas sinyal masukan. dalam satuan waktu yang dikontrol oeh Time/Div. yaitu satu dalam bidang horisontal menggerakkan bintik CRT dengan laju linier. gigi geraji positip dimasukkan pada pelat defleksi horisontal CRT sebelah kanan dan gigi gergaji menuju negatip dumpankan pada pelat defleksi horisontal sebelah kiri. Tegangan-tegangan ini akan menyebabkan berkas elektron akan menyapu sepanjang layar dari arah kiri ke kanan. Dengan demikian gerak resultante dari berkas elektron menghasilkan peragaan sinyal masukan vertikal pada CRT sebagai fungsi waktu. Pada gambar ini menunjukkan sebuah tegangan gigi gergaji dimasukkan ke pelat defleksi horisontal dan sinyal gelombang sinus dimasukkan pada pelat defleksi vertikal.

Dalam storage meshes. Strktur tabung gambar . Pada jenis ini peraga akan dijelaskan di bawah ini hanya menggunakan teknik seperti yang ditambahkan satu atau lebih digunakan pada TV . fokus akselerasi photon layar F K 1 2 p vertikal p Horisontal Ga mbar 7-15. 8.V 1 5 layar CRO 6 2 . 0 2 4 3 7 sinyal masukan vertikal 0 2 t (waktu) Basis waktu 4 6 8 Gambar 7-14.2 8 6.1. Prinsip Kerja Tabung Sinar Katoda Tabung sinar katoda pada tabung sinar katoda storage beberapa penganalisa logika oscilloscope pada dasarnya (Logic Analysers) defleksi secara serupa dengan defleksi magnetik.2. Hubungan basis waktu masukan dan tampilan 7. dapat monokrom atau elektrostatik jenis tabung yang warna.

Elektrodaelektroda berfungsi sebagai berikut Susunan tiga elektroda (triode) yang berfungsi membangkitkan berkas elektron.Tabung sinar katoda merupakan komponen utama jantung oasiloskop. grid pengontrol (G) dan elektroda pemercepat berkas elektron (1). Setelah berkas dbelokkan akan menumbuk lapisan flouresensi yang berada pada permukaan layar tabung sinar katoda. Akibatnya berkas berpijar. Lapisan terdiri dari lapisan tipis pospor. sehingga berkas dapat berada pada layar berupa titik yang bergerak dari atas ke bawah. biasa disebut sinar katoda yang terdiri dari katoda (K) filamen pemanas (F). Berkas elektron dipercepat sebelum mencapai pelat defleksi. melebar berbeda dengan titik berkas tinggi minimum. Dalam kasus tabung sinar katoda sederhana terdiri dari potensiometer yang mengatur beda tegangan relatip . Ini dapat dicegah dengan memberikan control astigmatism. Disebut pelat defleksi vertikal karena dapat membelokkkan berkas ke arah vertikal. Sistem pembelokan berkas elektron Beda tegangan pada elektroda focus diatur agar berkas yang menumbuk layar berupa bintik yang kecil. Pelat defleksi horisontal serupa dengan defleksi vertikal hanya arah pembelokkan berkas elektron dalam arah horisontal dari kiri ke kanan. jika tidak ada pengontrol lain seringkali didapati pengaturan control focus minimum titik yang terbentuk. Bila beda tegangan nol atau besar tegangan kedua pelat sama berkas akan dilewatkan lurus. Pelat pembelok vertikal mengubah arah berkas sebanding dengan beda tegangan kedua pelat. ?Y d L V D Gambar 7-16. olahan kristal garam metalik yang sangat halus didepositkan pada kaca. Elektroda pemfokus berkas elektron (2). pada dasarnya terdiri dari susunan elektroda yang dilapisi kaca bejana. Sayangnya . semua emisi cahaya dalam arah maju.

Penguat yang diperlukan memiliki lebar band yang lebar. kapasitansi antar pelat harus dijaga rendah sehingga harus dalam ukuran kecil dan terpisah akan memadamkan intensitas penjejakan berkas elektron. Ini menghasilkan tabung dengan sensitivitas sangat besar. ayunan maksimum sekitar 50V 7. Pada saat berkas elektron dilewatkan diantara dua pelat pembelok vertikal yang mempunyai beda tegangan V volt antara kedua pelat defleksinya maka berkas akan didefleksikan secara vertikal besarnya : KVLD ? Y = -------------------2 Va d Dimana L = Panjang pelat D = jarak antara pelat dan titik pada sumbu dimana defleksi diukur. Untuk mencapai penjejakan yang jelas dari sinyal yang mempunyai pengulangan frekuensi rendah energy berkas harus tinggi.2. secara baik. namun diperlukan tabung yang memiliki sensitivitas setinggi mungkin. Secara normal berkas akan dipadamkan selama flayback atau penjejakan balik berupa elektroda pemadam yang dapat mendefleksikan berkas tanpa mencapai layar. Pada umumnya perubahan 5 V akan menghasilkan perubahan kecerahan yang nyata.2. d = jarak antar pelat Va = tegangan pem ercepat yang diberikan K = konstanta yang berhubungan dengan muatan dan masa Brilliance atau intensitas modulasi atau juga dinamakan modulasi Z dicapai dengan memberikan beda tegangan pada katoda atau grid yang mengontrol intensitas berkas elektron. Idealnya tabung harus pendek (praktis) : D kecil Cerah (tegangan pemercepat tinggi) : V besar kapasitas pelat pembelok pemercepat rendah : L kecil. Pengaturan fokus dan astigmatism memungkinkan dicapai titik berkas elektron dalam ukuran sekecil mungkin. Sensitivitas Tabung Pelat defleksi dari tabung sinar katoda dihubungkan dengan penguat.pada elektroda Anoda akhir dan layar terhadap tegangan pelat defleksi. diformulasikan : . d besar. yang dapat menjadikan perancangan relatip sederhana bila diperlukan amplitudo keluaran rendah.

Blok diagram CRO analog . Osiloskop Analog Pada dasarnya sebuah osiloskop analog bekerja dengan menerapkan sinyal tegangan yang diukur secara langsunng diberikan pada sumbu vertikal dari berkas elektron yang berpindah dari kiri melintasi layar osiloskop – biasanya tabung sinar katoda. Disisi sebaliknya dari layar diberlakukan dengan perpendaran pospor yang menyala dimana saja Kecemerlangan penjejakan dengan sensitivitas tetap terjaga baik dapat ditingkatkan dengan melewatkan berkas melalui sistem defleksi dalam kondisi energy rendah.3. semakin terang nyalanya. Lebih sering berkas membentur lokasi layar tertentu. berkas elektron membenturnya. Praktisnya tabung sinar katoda diperoleh dari hasil kompromi.3. pelacakan bentuk gelombang pada layar. Ini dicapai dengan menggunakan tegangan beberapa kilovolt pada layar tabung sinar katoda.Sensitivitas = ?Y ---------V KLD = ----------2 Va d Kebutuhan sensitivitas tinggi kontradiksi dengan persamaan. 7. CRT Probe masukan attenuator Penguat vertikal System vertikal System pembangkit elektron System horisontal System triger Generator sinkronisasi Penguat horisontal Time base Gambar 7-17.1. Sinyal tegangan membelokkan berkas ke atas dan turun berpindah secara proporsional sebagaimana perindahan secara hrisontal. Oleh karena itu teknik yang dikembangkan untuk meningkatkan parameter yang dipilih dengan tanpa mengabaikan terhadap parameter yang lain. Jenis-jenis Osiloskop 7.

Free Running Osciloskop Free running oscilloscope merupakan jenis CRO generasi awal yang sederhana. Selanjutnya sinyal berjalan langsung ke pelat pembelok vertikal dari CRT.1. Pada kanal (Channel) vertikal terdapat penguat sinyal yang fungsinya mengendalikan pelat defleksi vertikal. pada kasus ini titik pada layar mencapai posisi ujung dan secara cepat dikembalikan ke posisi awal. Untuk satu ramp lengkap tegangan gigi gergaji. Akibat aksi ini garis . berkas akan kembali diujung kiri layar.Tegangan positip menyebabkan titik berpindah ke atas sementara tegangan negatip menyebabkan titik bergerak ke bawah. Tegangan antara pelat defleksi horisontal CRT disusun supaya titik berkas elektron pada posisi sisi kiri dari layar pada saat tegangan gigi gergaji nol. Penguat horisontal dihubungkan k suatu sinyal time e base internal dan dikontrol oleh pengontrol penguatan horisontal dan mengontrol dua frekuensi sapuan : pemilih sapuan dan sapuan vernier. Jenis-jenis Osiloskop Analog 7. Gambar 717. attenuator mengurangi tegangan sinyal dan sebuah penguat menambah tegangan sinyal. Tergantung pada bagaimana pengaturan skala vertikal (control Volt/div). bentuk gelombang gigi gerjaji akan jatuh secara cepat kembali ke nol. secara blok diagram prinsip kerjanya dijelaskan berkut ini.3. Bila sinyal dihubungkan rangkaian probe osiloskop.3. Pada frekuensi tinggi kecepatan penulisan CRTterbatas. tegangan sinyal berjalan melalui probe ke sistem vertikal dari osiloskop. Bila frekuensi sinyal melbihi kecepatan menulis CRT. Generator time base menghasilkan bentuk gelombang gigi gergaji yang berguna untuk osiloskop analog memperagakan sinyal yang diukur.2. peraga menjadi sangat samar untuk dilihat. sinyal muncul sebagai titik terang bergerak lambat yang sulit membedakan sebagai ciri bentuk gelombang.2. Berkas elektron akan ditarik ke kanan sebanding dengan tegangan ramp yang diberikan. Nyala titik dibuat oleh berkas elektron yang membentur pospor luminansi di dalam CRT. Jika pengaturan memberikan tegangan ramp mencapai maksimum berkas akan berada diujung sebelah kanan layar. mengilustasikan bagaimana 7. Osiloskop analog tercepat dapat memperagakan frekuensi sampai sekitar 1 GHz. Penguat vertikal mempunyai penguatan yang tinggi sehingga keluaran berupa sinyal yang kuat ini harus dilewatkan attenuator. Pada frekuensi yang sangat rendah. mendefleksikan berkas dalam arah horisontal. Tegangan yang diberikan pada pelat pembelok menyebabkan perpendaran pada titik yang bergerak melintasi layar.CRT membatasi cakupan frekuensi yang dapat diperagakan dengan osiloskop analog.

Dalam triggeredmurah mempunyai keterbatasan sweep mode pembangkit gigi pemakaian.retrace (flyback) digambarkan pada layar.3. menyamakan waktu lintasan sapuan sinyal time base dengan jumlah perioda gelombang vertikal. Jadi bentuk gelombang vertikal dapat terkunci pada layar CRT jika frekuensi sinyal masukan vertikal merupakan kelipatan dari frekuensi sapuan (fv = n fs). Triggered-sweep durasi yang sangat pendek. Misalnya rise time gergaji tidak membangkitkan pulsa tidak dapat diukur dengan tegangan ramp kecuali dikerjakan free running osiloskop. Osiloskop Sapuan Terpicu (Triggered – Sweep Osciloscope) serbaguna dan merupakan Osiloskop free running harga standar industry. Blok diagram CRO free running Osiloskop free running merupakan instrumen harga murah. pada osciloskop dipandang lebih . Dengan kata lain bentuk gelombang bergerak melintasi layar dan tetap tak stabil.2. time base generator harus disinkronisasikan dengan sinyal pada penguat vertikal agar peragaan pada layar CRT stabil. Triggered dapat diukur dengan sweep memungkinkan peragaan menggunakan triggered-sweep sinyal vertikal pada CRT dalam osciloscpe. namun dengan trigger pulsa. Tegangan Tingi dan Power Supply Sinkronisas Time Posisi horisontal Gambar 7-18. Sinkronisasi diperlukan untuk 7. Masalah ini diselesaikan dengan pemberian pulsa blanking pada saat retrace Posisi vertikal Attenuator memadamkan berkas selama waktu flyback.2. Ini akan mengurangi garis retrace pada layar.

penguat horisontal dan rangkaian sumbu Z. Sebuah sample sinyal vertikal diambil dari vertikal preamplifier sebelum delay line diberikan ke penguat trigger pick-off (D) diteruskan ke rangkaian trigger (E). trigger pick-off amplifier. kemudian diperkuat dan diubah ke dalam bentuk sinal push pull oleh penguat horisontal (G). Trigger ini memicu sweep generator menghasilkan sinyal ramp (F). rangkaian trigger. Secara blok diagram dari dasar triggered-sweep oscilloscope digambarkan di bawah ini. Kontrol intensitas dan focus memungkin peragaan focus dengan tingkat kecerahan yang tepat. Level control memilih sautu titik dimana trigger sapuan diberikan. Sinyal ini akan digunakan dengan sistem time base (E. Sinyal trigger digunakan untuk memaksa waktu yang berhubungan antara sinyal vertikal dan time base. Pada saat sinyal diberikan pada masukan vertikal. Sinyal trigger pick-off dibentuk menjadi sinyal trigger oleh rangkaian trigger (E). dihubungkan dengan pelat defleksi horisontal CRT dan menyebabkan penjejakan secara horisontal pada layar mengikuti kenaikan tegangan ramp. generator sapuan. menyebabkan titik pada layar bergerak secara vertikal. .F. Sinyal diteruskan ke vertikal output amplifier (C) melalui rangkaian penunda (B). sistem penguat vertikal. meliputi sumber tegangan. segera diteruskan ke preamplifier (A) diubah dalam sinyal push-pull. pemilihan control factor pembelok vertikal dan pengkalibrasi sinyal.G). jalur tunda. Attenuator dan sistem penguat vertikal memungkinkan diperagakan pada layar pengukuran tegangan dari range beberapa mV sampai beberapa ratus volt Volt/div. sederhana karena sapuan dimulai dengan pulsa trigger yang diambil dari bentuk gelmbang yang diamati. Kontrol Slope menentukan apakah sapuan ditrigger pada slope + atau – dari sinyal trigger.bidang layar yang cukup besar. Sinyal dari vertikal output amplifier digunakan untk mengendalikan berkas elektron CRT secara vertikal. CRT. Time /div dan control vernier memilih kecepatan sapuan dan masukan eksternal harisontal. Keluaran sweep generator (F) menggerakkan berkas selama waktu naik dan kembali keposisi awal selama off.

Gambar 7-20.1.3. Blok diagram osiloskop terpicu Perbedaan peragaan sinyal hasil pengukuran antara osloskop free running dan triggered-sweep osciloskop seperti di bawah ini.3. Untuk .3. Peraga osiloskop Gambar 7-21.V/div posisi vertikal Attenuator Delay line Penguat vertikal CRT PS tegangan rendah inte nsitas Trigger pick off Tegangan tinggi fokus Penguat horisontal Rangkaian trigger Sweep generator level + Slope Time/div posisi horisontal Gambar 7-19.2.2. CRO Dua Kanal 7.3. CRO Jejak Rangkap (Dual Trace CRO) mencapai dual trace pada layar Pemakaian osloskop sekarang ini dapat menggunakan satu dari dua hampir semuanya memiliki peraga teknik : (1) berkas tunggal yang mampu membandingkan ditujukan dua sinyal kanal dengan waktu dan amplitudo antara dua alat elekctronic switching (dual bentuk gelombang. free running Peraga osiloskop terpicu(www.htm) 7.interq or jp/japan/se-inoue/e-oscilo0.

Saluran A Attenuator Penunda Saklar elektronik Penguat vertikal Saluran B Attenuator Penunda mode X-Y Generator penyapu Trigger Ext Rangkaian pemicu Penguat horisontal Gambar 7-22. Dengan dual trace osiloskop mempunyai dua rangkaian masukan vertikal yang diberi tanda A dan B. Penguat vertikal akhir menyediakan tegangan pelat defleksi. Saluran A dan B mempunyai pra penguat dan saluran tunda yang identik. Keluaran pra penguat A dan B diumpankan ke sebuah saklar elektronik yang secara bergantian menghubungkan masukan penguat vertikal akhir dengan keluaran pra penguat. Kecepatan pemindahan saklar elektronik diselaraskan dengan kecepatan penyapuan. Penyaklaran ini terjadi pada permulaan tiap-tiap penyapuan yang baru. biasanya digunakan teknik dual trace.trace). Saklar elektronik dioperasikan dengan menggunakan salah satu multivibrator free-running atau dengan pulsa yang berasal dari rangkaian time base. Saklar elektronik juga berisi rangkaian untuk memilih variasi mmodus peragaan. berturut-turut menghubungkan ke dua kanal input dengan saklar elektronik. saklar elektronik secara bergantian menghubungkan penguat vertikal akhir ke saluran A dan saluran B. Karena konstruksi CRT dual beam dan split-beam mahal. Bila saklar modus berada pada posisi alternate (bergantian). berturut-turut dalam chopped mode atau alternate mode. sehingga bintik CRT mengikuti jejak sinyal saluran A pada satu penyapuan dan sinyal saluran B pada penyapuan berikutnya. Dua berkas diberikan ke satu peraga setiap sinyal kanal (dual beam). Blok diagram CRO jejak rangkap . (2).

kecepatan sweep lebih cepat dari pada 0. Generator basis waktu menggerakkan fasangan . Tiap saluran terdiri dari pra penguat dan pelemah masukan. Dalam hal ini akan lebih baik menggunakan modus alternate. Jika kecepatan penyaklaran hampir sama dengan kecepatan pencincangan segmen-segmen kecil dari gelombang yang tercincang akan kelihatan sebagai bayangan-bayangan terpisah dan kesinambungan peragaan bayangan hilang. seluruhnya tidak bergantung pada frekuensi generator penyapu. Sedangkan CRT jenis lain berisi dua senapan elektron terpisah. penguat vertikal akhir dan pelat-pelat vertkal CRT. CRO berkas rangkap mempunyai dua saluran vertikal yang identik yang ditandai dengan A dan B.1 ms/div sehingga dapat diperoleh peragaan sinyal yang simultan dan stabil. Dalam modus ini penyaklaran secara berturutturut menghubungkan segmensegmen kecil gelombang A dan B ke penguat vertikal akhir. Jika laju pencincangan jauh lebih cepat dari laju penyapuan horisontal. 7. CRT berkas rangkap mempunyai dua fasang pelat defleksi vertikal. Dalam beberapa CRT berkas rangkap keluaran senapan elektron tunggal dipisahkan secara mekanis menjadi dua berkas terpisah yang disebut teknik pemisahan berkas. Pada laju pencincangan yang sangat cepat misal 500 kHz. amplitudo sinyal masukan dapat diatur secara tersendiri sehingga kedua bayangan ditempatkan secara terpisah pada layar.2. Osiloskop Berkas Rangkap (Dual Beam CRO) CRO jenis berkas rangkap menerima dua sinyal masukan vertikal dan memperagakannya sebagai dua bayangan terpisah pada layar CRT. Osiloskop berkas rangkap menggunakan CRT khusus yang menghasilkan dua berkas elektron yang betul-betul terpisah yang secara bebas dapat disimpangkan kea rah vertikal.3. segmen 1 s dari setiap bentuk elombang diumpankan ke CRT untuk peragaan. saklar elektronik berkerja penuh pada kecepatan 100 sampai 500 kHz. tanpa mengakibatkan gangguan yang nyata pada kedua bayangan. Alternate mode biasanya digunakan untuk melihat sinyal frekuensi tinggi.2. Secara disederhanakan CRO berkas rangkap secara blok diagram digambarkan di bawah ini. masing-masing menghasilkan berkas sendiri. satu fasang untuk tiap saluran dan satu fasang pelat deflesi horisontal. Dalam mode chopped (tercincang). saluran tunda.Karena tiap penguat vertikal mempunyai rangkaian pelemahan masukan yang telah terkalibrasi dan sebuah pengontrol posisi vertikal.3. segmensegmen terpisah yang kecil diumpankan ke penguat vertikal akhir bersama-sama akan menyusun kembali bentuk gelombang A dan B yang asli pada layar CRT.

Diagram blok osiloskop berkas rangkap yang disederhanakan 7. Keistimewaan ekstra disediakan Ini meninggalkan muatan positip. dengan cara ini emisi sekunder. CRO Penyimpanan Analog (Storage Osciloscope) meninggalkan permukaan pospor. pada beberapa scope analog Osiloskop penyimpan mempunyai penyimpan. Jika beriluminasi. layar pospor dimana senapan Penyimpan disempurnakan menulis telah meninggalkan dengan menggunakan prinsip muatan positip. Saluran A Saluran B Attenuator Saluran tunda Penguat vertikal Picu luar B Jala-jala A Rangkaian pemicu Generator penyapu penguat horisontal Selektor picu Gambar 7-23. atau dari tegangan jala-jala. momen tidak pospor dengan memberikan hanya menyebabkan pospor muatan positip pada layar. setiap elektron elektron lain sehingga bebas . Elektrondapat dengan sengaja jejak pada elektron dari senapan banjir layar diaktifkan disimpan dan sangat lebih kuat menuju area dihapus. Geneator penyapu dapat Attenuator saluran tunda Penguat vertikal dipicu secara internal dari salah satu saluran dari suatu sinyal pemicu yang dihubungkan dari luar. Keistimewaan ini satu atau lebih elektron gun memungkinkan pola penjejakan sekunder yang dinamakan flood normal rusak dalam hitungan detik gun memberikan keadaan banjir untuk tetap tinggal pada layar. namun energi kinetik energi elektron dari senapan banjir berkas elektron membentur tepat seimbang.tunggal pelat-pelat horisontal menyapu kedua berkas sepanjang layar pada laju kecepatanyang sama. Bila berkas titik elektron-elektron dari senapan elektron menulis dilewatkan pada banjir mengeluminasi kembali permukaan pospor.4.2. elektron bernergi rendah berjalan Dalam rangkaian listrik kemudian menuju layar pospor.3.

CRT penyimpan dapat menyimpan peragaan jauh lebih lama. dan tetap diperagakan meskipun sinyal masukan telah dihilangkan. Tabung dengan dua kondisi stabil dan setengah nada keduanya mengunakan fenomena emisi elektron sekunder guna dan menyimpan membentuk muatan elektrostatik pada permukaan satu sasaran yang terisolasi. sehingga mempertahankan muatan positip daerah yang diiluminasi. yang didefinisikan sebagai perbandingan antara arus emisi sekunder terhadap arus berkas primer yaitu : ? = Is/Ip Prinsip kerja tabung penyimpan dengan kondisi dua stabil yang elementer digambarkan gambar 724 di bawah ini. Jumlah elektron sekunder yang dipanaskan dari permukaan sasaran bergantung pada kecepatan elektron primer. satu pengalihan energy yang memisahkan elektron lain dari permukaan sasaran akan terjadi dalam satu proses yang disebut emisi sekunder. Dengan cara demikian gambar asli yang telah ditulis dengan senapan tulis dapat tetap tinggal dalam waktu yang lama. sasaran ditulis (direkam). . Bila sebuah sasaran ditembak oleh satu aliran elektron primer. sampai beberapa jam setelah bayangan terbentuk pada pospor. jika tegangan sasaran rendah sasaran terhapus. Karakteristik ini dinyatakan dalam perbandingan emisi sekunder. intensitas berkas elektron. Dengan demikian tabung mempunyai suatu penunjukan elektris dan kondisi penyimpanannya tidak dapat dilihat. Kelebihan CRO penyimpanan adalah mampu merekam hasil pengukuran sinyal. Frekuensi sangat rendah bila diukur dengan CRO biasanya bagian awal peragaan akan menghilang sebelum bagian akhir terbentuk pada layar.senapan banjir merobohkan satu elektron sekunder pospor. Ciri ingatan atau penyimapanan bermanfaat sewaktu memperagakan bentuk gelombang sinyal yang frekuensinya sangat rendah. CRT penyimpan dapat digolongkan sebagai tabung dengan dua kondisi stabil dan tabung setengah nada (half tone). Tabung dua kondisi stabil akan menyimpan satu peristiwa atau tidak menyimpan. Jika tegangan sasaran tinggi. susunan kimia dari bahan sasaran dan kondisi permukaannya. Ini sangat membantu untuk pengamatan suatu peristiwa yang terjadi sekali saja akan lenyap dari layar. Pembahasan berikut berlaku untuk kedua jenis tabung tersebut. hanya menghasilkan satu level keterangan bayangan.

Tabung penyimpan ini berbeda dengan tabung penyimpan dengan sasaran .Senapan banjir Elektroda pengumpul pulsa untuk menghapus Senapan penulis Pulsa gerbang -2000 V Senapan ganda +200 V Pengembalian perlahan Gambar 7-24 Tabung penyimpan dengan sasaran ganda dan dua senapan elektron Rasio emisi sekunder Tindakan senapan banjir Tindakan senapan banjir hapus menulis Titik potong ? =1 ? =0 -2000 Volt Katoda senapan penulis Tegangan sasaran 0V Kolektor 200 V Katoda senapan banjir Gambar 7-25 CRT penyimpan sasaran ganda dan dua senapan elektron Pada gambar 7-25 menunjukkan prinsip sebuah tabung penyimpan dengan dua kondis stabil yang mampu menuliskan. menyimpan dan menghapus sebuah bayangan.

Tegangan sasaran berkurang samapai mencapai titik stabil rendah akibatnya pengemisian terhenti dan sasaran dalam kondisi terhapus. dan perbandingan emisi sekunder turun di bawah satu. mempunyai dua aspek perbedaan yaitu : (1) memiliki permukaan sasaran ganda dan memiliki senanpan berkas elektron kedua. Sedangkan tegangan katoda senapan penulis -2000V. Menghapus sasaran berarti hanya menyimpan tegangan saran kembali ke tingkat stabil rendah. Meskipun jika hubungan ke senapan penulis diputuskan. Stelah penghapusan kolektor dikembalikan ke tegangan positip semula (+200V) dengan demikian pulsa . sasaran akan dipertahankan oleh berkas elektron senapan banjir dalam kondisi stabil atas. berkas elektron senapan banjir akan memindahkan sasaran kembali ke kondisi stabil bawa dan tidak terjadi penyimpanan. fungsinya memancarkan berkas elektron primer kecepatan rendah membanjiri seluruh permukaan sasaran. Ciri yang menonjol dari senapan banjir adalah membanjiri sasaran sepanjang waktu dan tidak hanya sebentar seperti halnya yang dilakukan senapan penulis. yaitu tegangankolektor. Selanjutnya sasaran mengumpulkan elektron primer dari senapan banjir (pada saat ini senapan penulis idak bekerja) dan bermuatan negatip. sehingga sasaran dituliskan. Gabungan efek senapan penulis dan senapan banir merupakan penjumlahan efek masng-masing berkas berkas elektron itu sendiri. Titik stabil rendah adalah beberapa volt negative terhadap katoda senapan banjir. Senapan berkas elektron kedua disebut senapan banir (flood gun). berkas elektron primernya mencapai sasaran pada potensial 2000V.mengambang. dengan demikian menyimpan informasi yang disampaikan oleh senapan penlis. Ini memperkecil arus kolektor Is. Jika senapan penulis dialihkan ke posisi bekerja cukup lama guna membawa sasaran melewati titik potong. yang menyebabkan emisiemisi ekunder sasaran tinggi. Akan tetapi senapan berkas elektron banjir berusaha mempertahankan sasaran pada kondisi stabilnya dan melawan pertambahan tegangan sasaram. dan kurva emisi sekundernya ditindihkan di atas kurva senapan banjir. Ini dilakukan dengan mendenyutkan kolektor ke negatip sehingga secara seketika kolektor menolak elektron emisi sekunder dan memantulkan kembali ke sasaran. Bila senapan penulis dibuka. Dengan demikian tegangan sasaran meninggalkan titik stabil rendah dan mulai bertambah. Bila senapan penulis tidak cukup lama bekerja membawa sasaran melewati titik poton. berkas elektron senapan banjir akan membantu senapan berkas elektron penulis dan membawa sasaran sepenuhnya ke titik stabil atas. dan titik stabil atas adalah + 200V.

Di samping senapan penulis dan perlengkapan pelat defleksi CRT penyimpan ini mempunyai dua senapan banjir dan sejumlah elektroda pengumpul yang membentuk sebuah lensa berkas elektron guna mendistribusikan banjir secara berkas elektron merata pada seluruh luasan permukaan sasaran penyimpan. Bila senapan penulis ditembakkan. Lapisan konduktif disebut punggung pelat sasaran (storage target back plate). Pelat dielektrik ini diendapkan pada sebuah permukaan pelat gelas yang dilapisi bahan konduktif. dan memancarkan elektron berkecepatan rendah. Kemudian sasaran yang satu ini bermuatan positip dan dituliskan ke titik stabil atas. Setelah senapan penulis menuliskan bayangan bermuatan pada sasaran penyimpan. senapan banir menyimpan bayangan. elektron banjir mempertahankan sasaran nomor 1 pada titik stabil atas. Langkah terakhir dalam perkembangan tabung penyimpan dua kondisi stabil dengan tembus pandang adalah penggantian masing-masing sasaran logam dengan sebuah pelat dielektrik tunggal. Tidak terdapat skala kabur diantara kedua batas. maka terangnya keluaran cahaya yang dihasilkan oleh berkas elektron banjir biasanya memiliki kecerahan (brightness) penuh ataupun minimal. sebuah berkas elektron terpusat berkecepatan tinggi diarahkan sasaran kecil (dalam hal ini nomor 3). Seperti ditunjukan pada gambar 724 ini terjadi secara perlahanlahan. menutup semua sasaran terpisah. Senapan banjir dikonstruksi sederhana tanpa pelat-pelat defleksi. . Bila senapan penulis dimatikan lagi. Pelat penyimpan dari bahan dielektrik terdiri dari lapisan partikel-partikel fosfor yang terhambur setiap bagian dari luasan permukaan mampu ditulis atau dipertahankan positip atau dihapus mempertahankan negatip tanpa mempengaruhi permukaan pelat di sebelahnya. Permukaan sasaran tabung penyimpan pada gambar 7-24 terdiri dari sejumlah sasaran logam terpisah yang secara elektris terpisah satu sama lain dan diberi angka 1 sampai 5. Semua sasaran lain dipertahanan pada titik stabil bawah.penghapus dikembalikan ke nol. Karena sasaran permukaan penyimpan dapat positip atau negatip. sehingga sasaran tidak dikemudikan secara idak sengaja melalui titik potong dan kembali menjadi tertulis (terekam). Pola cahaya ini dapat dilihat melalui permukaan pelat gelas. berfungsi mengumpulkan berkas elektron emisi sekunder. Bagian sasaran yang dituliskan telah ditembaki oleh berkas elektron banjir yang mengalihkan energy ke lapisan fosfor dalam bentuk cahaya terlihat.

bergantung pada posisi alat control seperti TIME/DIV. pada saat pengukuran memerlukan pengaturan vertikal. memungkinkan pengukuran pada kecepatan dan ketelitian tinggi.7. Dalam sistem akuisi sinyal sampel pada titik waktu diskrit. diubah dalam harga digital disebut sample .4. Selanjutnya sinyal analog diubah ke dalam bentuk digital dengan rangkaian analog-to-digital converter (ADC).4. Hasil dari ADC disimpan dalam memori sebagai titik-titik bentuk gelombang. horisontal dan trigger. Peragaan menerima rekaman titik-titik bentuk gelombang setelah disimpan dalam memori. Jumlah titik bentuk gelombang yang digunakan untuk membentuk rekaman disebut record length. AMPLTUDE/DIV dan PROGRAM dengan hasil relatip lebih akurat. amplitudo dan beda waktu. Prinsip Kerja CRO Digital Pada CRO digital menyediakan informasi sinyal secara digital disamping peragaan CRT sebagaimana CRO analog. Titik-titik bentuk gelombang secara bersama-sama membentuk rekaman bentuk gelombang. Mungkin lebih dari satu titik sampel dibuat satu titik bentuk gelombang.. pengaturan amplitudo sinyal pada sistem vertikal seperti osiloskop analog. Pada dasarnya CRO digital terdiri dari CRO laboratorium konvensional berkecepatan tinggi ditambah dengan rangkaian pencacah elektronik yang keduanya berada dalam satu kotak kemasan. Kemampuan osiloskop tegantung pada pemroses pengambilan titik. point.1. Sistem trigger menentukan kapan perekaman sinyal dimulai dan diakhiri. Pada dasarnya osiloskop digital serupa dengan osiloskop analog. kenaikan waktu (rise time). Sampel clock sistem digital menentukan seberapa sering ADC mengambil sampel. Osiloskop Digital 7. Rangkaian kedua unit dihubungkan dengan memakai sebuah pengontrol peragaan logic. Kecepatan clock “ticks” disebut sample rate dan diukur dalam banyak sampel yang diambil dalam satuan detik (jumlah sample/detik). Pada saat probe osiloskop digital diberi masukan. CRO penunjuk angka pembacaan.

osiloskop digital dengan mudah mengumpulkan lebih dari cukup titik sampling untuk mengkonstruksi gambar secara akurat. Metoda Pengambilan Sampel Metoda pengambilan sampel menjelaskan bagaimana osiloskop digital mengumpulkan titik-titik sampel. 7. Interpolasi merupakan teknik pemrosesan untuk mengestimasi apakah bentuk gelombang pada beberapa titik nampak sama seperti aslinya. Pengambilan Sampel Real-Time dengan Interpolasi time.3. osiloskop mengumpulkan Osiloskop digital menggunakan sampel sebanyak yang dapat pengambilan sampel real-time menggambarkan sinyal seperti metoda sampling standar. Oleh karena itu untuk sinyal yang lebih cepat (seberapa cepat tergantung pada kecepatan sampling osiloskop) osiloskop tidak dapat mengumpulkan cukup sampel .Peraga Sistem Akusisi Sistim Vertikal Pengubah analog ke digital Pemroses Sistem peraga digital Attenuat Penguat Vertikal Memori Sistem triger Sistem Horisontal Sample Clock Gambar 7-26. membangun gambar bentuk gelombang sepanjang waktu pengulangan sinyal ( equivalent-time sampling mode). Untuk perubahan sinyal lambat. sebenarnya.2.4. . Untuk pengukuran Dalam pengambilan sampel realsinyal tansien harus menggunakan real time sampling. Blok diagram osiloskop digital 7. Osiloskop digital mampu melakukan dua hal yaitu : mengumpulkan beberapa titik sampel dari sinyal dalam jalan tunggal ( real-time sampling mode ) dan kemudian menggunakan interpolasi.4.

Pengambilan sampel real-time Osiloskop digital menggunakan interpolasi dalam memperagakan sinyal secepat yang osiloskop dapat hanya dengan mengumpulkan beberapa titik sampel. Interpolasi sinus menghubungkan titik sampel dengan titik kurva (gambar 7-28) . Inperpolasi adalah menghubungkan titik. gelombang sinus yang direprduksi dengan interpolasi sinus gelombang sinus yang direproduksi dengan menggunakan linier interpolasi Gambar 7-28. Interpolasi linier sederhana menghubungkan titik sampel dengan garis lurus. Interpolasi sinus dan linier . Dengan interpolasi sinus .bentuk gelombang yang dikonstruksi dengan titik sampel kecepatan pengambilan sampel Gambar 7-27. Proses ini meskipun menggunakan sinyal yang disampel hanya beberapa kali dalam satu siklus dapat diperagakan secara akurat. titik-titik dihitung untuk mengisi waktu antar sampel riil.

Ini memungkinkan untuk pemrosesan sinyal yang kompleks dengan rangkaian pemroses digital kecepatan tinggi. Ekuivalensi Waktu Pengambilan Sampel Beberapa osloskop digital dapat Bentuk gelombang secara perlahan menggunakan ekuivalen waktu dibangun seperti untai cahaya yang pengambilan sampel untuk berjalan satu persatu.4.4. Gelombang dibentuk dengan titik sampel akuisisi siklus pertama akusisi siklus kedua akusisi siklus ketiga akuisis siklus ke n Gambar 7-29. sekarang ini merupakan jenis yang lebih disukai untuk aplikasi kebanyakan industri meskipun CRO analog sederhana masih banyak digunakan oleh para hobist. Dengan sampel titik-titk menangkap pengulangan sinyal mengurutkan yang sangat cepat. Osiloskop Penyimpan Digital Osiloskop penyimpan digital atau disingkat DSO (Digital Storage Osciloscpe). Akusisi pembentukan gelombang 7.7.4. Osiloskop penyimpan digital menggantikan penyimpan analog yang tidak stabil dengan memori digital. yang dapat menyimpan data selama yang dikehendaki tanpa mengalami degradasi.5. Osiloskop penyimpan digital . Gambar 7-30. Ekuivalensi muncul dari kiri ke kanan secara sedangkan pada waktu pengambilan sampel berurutan. mengkonstruksi gambar random sampling titik-titik muncul pengulangan sinyal dengan secara acak sepanjang bentuk menangkap sedikit bit informasi gelombang dari setiap sinyal (gambar 7-30) .

sebagai pengganti pengendali penguat vertikal adalah digitalisasi dengan rangkaian pengubah analog menjadi digital (analog digital converter) hasilnya sebagai data yang disimpan dalam memori mikroprosesor. Bila diperbandngkan antara osiloskop penyimpan analog dengan osiloskop penyimpan digital. . lebar pulsa. tanpa memerlukan kamera osiloskop. awalnya osiloskop penyimpan digital menggunakan peraga tabung sinar katoda. pemetaan persistensi dan sejumlah parameter yang berguna untuk seorang engineer dalam bidang spesialisasinya seperti telekomunikasi. Osiloskop digital secara prinsip dibatasi oleh performansi rangkaian masukan analog dan frekuensi pengambilan sampel. Ini membutuhkan reaksi peraga cepat (beberapa osiloskop memiliki penundaan 1 detik). Juga dapat digunakan untuk penjejakan lambat seperti variasi temperatur sepanjang hari.Masukan vertikal. Ekuivalen pengambilan sampel dan pengamatan menunjukkan resolusi lebih tinggi di bawah V. Memori osiloskop dapat disusun tidak hanya sebagai satu dimensi namun juga sebagai susunan dua dimensi untuk mensimulasikan pospor pada layar. Pre-trigger Mudah dan mampu menyimpan beberapa penjejakan memungkinkan pada awal kerja tanpa trigger. amplitudo. Deteksi puncak. Layar gambar dapat langsung direkam pada kertas dengan alat berupa printer atau plotter . Dengan teknik digital memungkinkan analisis kuantitatip . dapat direkam. Data dapat diatur dikirim melalui pemrosesan LAN atau WAN atau untuk pengarsipan. osiloskop penyimpan digital memiliki beberapa kelebihan antara lain. Pada umumnya kecepatan frekuensi pengambilan sampel sekurang-kurangnya dua kali komponen frekuensi tertinggi dari sinyal yang diamati. Knob harus besar dan perpindahan secara halus. Memerlukan salah satu clock atau memberikan pola yang berulang. Osiloskop dapat memvariasi timebase dengan waktu yang teliti. Peraga lebih jelas dan besar dengan warna pembeda untuk multi penjejakan. spektrum frekuensi. analisa disk drive dan elektronika daya. Osiloskop penyimpan digital dengan peraga LCD warna sudah umum digunakan. Osiloskop memiliki perangkat lunak penganalisa sinyal sangat bermanfaat untuk penerapan ranah waktu misal mengukur rise time. histogram. Data selanjutnya diproses dan dikirim untuk diperagakan. statistik. Misal untk membuat gambar sinyal yang diamati secara berulang. namun sekarang lebih disukai dengan menggunakan LCD layar datar.

kanal B dan sinyal trigger. Spesifikasi Osiloskop Untuk melihat seberapa bagus kualitas osiloskop dapat dilihat dari nilai spesifikasi instrument yang bersangkutan. Untuk osiloskop digital layar terkunci secara pasti sama untuk kecepatan sinyal kebanyakan yang mana kecepatan penyegaran layar dilampaui. Sistem defleksi horisontal memiliki kecepatan sapuan terkalibrasi dari 2s/div sampai 0.2. persistansi dari pospor CRTpada osiloskop analog rendah membuat glitch dapat dilihat jika diberikan beberapa trigger berurutan. Pada osiloskop analog.5. dari Osciloscope Hewlett Packard (HP) type 1740 A.05 s/div. Keduanya sulit diselesaikan sekarang ini dengan pospor osiloskop digital. Satu hal lagi.5.1.Memungkinkan untuk pengamatan otomasi. Dipilih Osiloskop HP 1740 karena jenis dua kanal yang dapat mewakili osiloskop analog. kanal A ditambahkan kanal B (penambahan aljabar) dan trigger view. data disimpan pada kecepatan penyegaran tinggi dan dipergakan dengan intensitas yang bervariasi untuk mensimulasikan persistensi penjejakan dari CRT osiloskop.05 s/div. Kelemahan osiloskop penyimpan digital adalah kecepatan penyegaran layar terbatas. pemakai dapat mengindra berdasarkan intuisi kecepatan trigger dengan melihat pada keadaan penjejakan CRT.5. Pengali 10 untuk memperluas semua sapuan d engan faktor 10 dan sapuan tercepat 5 ns/div. Dalam mode alternate ataupun Chop control trigger-view dimungkinkan memperagakan tiga sinyal yaitu kanal A. Kanal A dan kanal B diperagakan dengan pensaklaran antar kanal pada penomena lain yang jarang didapat pada layar hitam putih dari osiloskop digital standar. Dalam pembahasan ini diambil spesifikasi 7. Mode Peraga Vertikal Kanal A dan kanal B diperagakan bergantian dengan sapuan berurutan (ALT). Impedansi masukan dapat dipilih 50? atau 1 M? untuk memenuhi variasi pengukuran yang diperlukan. kecepatan penundaan sapuan dari 20 ms/div sampai 0. Spesifikasi Umum Jenis osiloskop dua kanal sistem defleksi vertikal memiliki 12 faktor defleksi terkalibrasi dari 5 mV/div sampai 20V/div. 7. seringkali titik terlalu terang glitches atau 7. kecepatan 250 kHz. . selama pensaklaran (Chop) berkas dipadamkan.

Vernier : bervariasi 7. 4. dihubungkan probe pada 12.1. adalah tempat tombol searah jam. Input kanal 2 merupakan saat kalibrasi. Posisi Y digunakan untuk posisi ini tidak boleh diubahmengatur posisi tampilan ubah. Ground tempat lebar sinyal agar mudah disambungkan dengan dibaca. perawatan dan perbaikan peralatan.Lebar band : batas atas mendekati 20 MHz. Pengenalan Panel Depan dan Fungsi 7. kecil dibawahnya kanan 2. 7. kalibrasi telah dilakukan 11. ground rangkaian yang 5. CRO aktif ditandai dengan yang dapat difungsikan lampu menyala. sebagai time base.5. Kopel DC : dc sampai 100 MHz untuk kedua mode Ri 50? dan 1M?. Fokus untuk mengatur focus mengkalibrasi waktu. terminal masukan untuk Posisi X digunakan untuk pengukuran sinyal.6. digunakan saat 10. Tombol time kalibrasi diukur. Saklar on / off untuk positip kiri negatip. Faktor defleksi : Range : 5mV/div sampai 20V/div (12 posisi terkalibrasi). Kopel AC : mendekati 10Hz sampai 100 MHz dengan probe pembagi 10:1 Rise time : = 3ns diukur dari 10% sampai 90% . sinyal yang diukur pada 6. Perhatian Keamanan Untuk pencagahan kerusakan diperhatikan selama pengoperasian. Triger digunakan untuk 1. memasukkan sinyal dari luar 3.3. Terminal kalibrasi tempat kanal 2 arah vertikal. Pengukuran Dengan Osiloskop 7. Pengenalan Fungsi Panel mengatur besarnya picu Depan dijelaskan searah sedangkan picu negatip atau jarum jam dimulai dari saklar positip diatur dengan tombol daya.6. Instrumen menggunakan kabel AC tiga konduktor hijau untuk dihubungkan dengan ground listrik. . Time/ div untuk mengatur 9. menggeser tampilan sinyal dalam peraga kea rah horizontal. Untuk meminimumkan kejutan casis instrument atau cabinet harus dihubungkan ke ground secara listrik. Input ext. mengaktifkan CRO putar 8. bila tampilan sinyal pada layar.

untuk pengukuran 14. DC mode operasi kalibrasi teg Input Ch 2 Gambar 7-31. 15. Volt/div digunakan untuk mengatur besarnya tampilan 17. Pemilih AC. Kalibrasi tegangangan perlu baik adalah pengaturan yang diatur pada saat kalibrasi agar menghasilkan tampilan tepat pada harga seharusnya. amplitudo terbesar tanpa Bila tegangan ini telah tercapai terpotong. Fungsi tombol panel depan CRO pengukuran. DC . tombol tidak boleh diubah-ubah. Terminal masukan kanal 1 sama fungsinya dengan amplitudo untuk mempermudah terminal masukan kanal 2. Mode operasi atau pemilih tegangan batere digunakan DC. ground. kanal 2 posisi berkas pada posisi atau keduanya. karena dapat mempengaruhi 16. pembacaan dan ketelitian hasil . ground diatur sesuai dengan besaran yang ketelitian pengukuran. diukur. ground.gratikul Berkas elektron Intensita s Saklar on/off Lampu indikator Time/ div Tombol kalibrasi kalibrasi Posisi X Triger Inp Ext Posisi vertikal Ch 1 Input Ch 1 Fokus Ground Posisi vertikal ch 2 Volt/div pemilih AC. kanal. digunakan untuk memilih pengukuran frekuensi pada mode operasi hanya posisi AC dan menepatkan menampilkan kanal 1. Pengaturan yang 13.

Gratikul pembacaan sinyal. PengukuranTegangan DC 7. dan bila terlalu terang dapat diatur intensitasnya. 7. Posisi Y kanal 1 untuk dikalikan posisi divisi. Model osiloskop yang berbeda ditunjukkan pada gambar 7-32.adalah skala tempat dihubungkannya sinyal 20. 2.2.1. dibaca perkolom gratikual 18. Alat dan bahan yang diperlukan 1. Kemudian time/div dan Volt/div di atur untuk memperoleh besar tegangan dan frekuensi kalibrasi. bila garis terlalu tebal dapat di tipiskan dengan mengatur focus. bentuk sinyal yang diukur.6.6. 3. Kalibrasi CRO Sebelum pengukuran tegangan DC. 7.2. 1. 2. Sebelum pengukuran dilakukan. terlebih dahulu osiloskop dikalibrasi dengan cara berikut. 4. time div diatur pada 1 ms dihasilkan peragaan seperti gambar berikut. dilakukan kalibrasi dengan langkah-langkah sebagai berikut.6. Menghubungkan probe osiloskop pada terminal kalibrasi dan ground.2.2. Sinyal yang akan diukur. Demikian juga untuk waktu bila lebar tidak satu skala gratikul penuh atur tombol kalibrasi time/div agar tepat satu skala gratikul penuh. Osiloskop yang digunakan mempunyai nilai . Berkas elektron menunjukkan pada 2V. Bila penunjukkan tidak satu skala gratikul penuh atur tombol kalibrasi pada Volt/div hingga penunjukkan satu skala penuh. Mengatur Volt/div pada 1 Volt/div. terbaca 6 volt jika posisi Volt/div 19. Setelah itu tombol kalibrasi jangan diubah-ubah. Misal mengatur tampilan sinyal pada mengukur tegangan amplitudo layar kea rah vertikal dari tingginya 3 skala gratikul akan masukan kanal 1. CRO 1 buah Probe CRO 1 buah Batere 6 Volt 1 buah Kabel secukupnya kalibrasi 1 Volt dengan frekuensi 1 kHz.

DC ground diposisikan pada gound.V kalibrasi Kanal 1 ground T ime kalibrasi Input kalibrasi Gambar 7-32. berkas diamati dan ditepatkan berimpit dengan sumbu X. . Bentuk gelombang kalibrasi 3. Pengawatan kalibrasi Gambar 7-33. Saklar pemilih posisi AC..

Audio Frekuensi Genarator 1 buah 2.6. Besarnya lompatan dihitung denan satuan kolom sehingga harga penunjukan adalah = jumlah kolom loncatan X posisi Volt/div. bila hanya digunakan satu kanal tetapkan ada kanal 1 atau kanal 2. Probe dihubungkan dengan kutub batere positip ground kutub betere negatip. Kable penghubung secukupnya. 2.Gambar 7-34.3. Pemilih diposisikan pada AC. Gambar 7-35.6. Berkas elektron senter tengah 4. Loncatan pengukuran tegangan DC 7.3. 7.2. dihubungkan dengan masukan CRO pengawatan ditunjukkan gambar 7-36. Peralatan yang diperlukan 1.1. CRO 1 buah 3. saklar pemilih posisi dipindahkan ke DC sehingga berkas akan berpindah pada posisi keatas. Prosedur Pengukuran 1. Bila Volt/div posisi 1 maka harga penunjukan adalah = 6 kolom div x 1Volt/div = 6 Volt DC. .6. Pengukuran Tegangan AC 7.3. Probe 1 buah 4. Sumber tegangan AC dapat digunakan sinyal generator .

Pengaturan function generator panel depan ditekan Gambar 7-38. Gambar 7-37. putar ke kanan Gambar 7-36. Pengawatan pengukuran dengan function generator 3. Frekuensi sinyal generator di atur pada frekuensi 1 kHz dengan mengatur piringan pada angka sepuluh dan menekan tombol pengali 100 ditunjukkan pada gambar di bawah.On. Pengaturan frekuensi sinyal .

Gambar 7-40. . Bentuk gelombang intensitas terlalu besar Gambar terlalu terang. dan intensitas baik seperti gambar berikut. volt/div dinaikkan pada harga yang lebih besar atau putar tombol berlawanan arah jarum jam.4. Gambar 7-39. Tombol power (tombol merah) di tekan untuk mengaktifkan sinyal generator. Bentuk gelombang V/div kurang besar Amplitudo terlalu besar tidak terbaca penuh. intensitas diatur sehingga diperoleh gambar yan mudah dibaca. Diamati bentuk gelombang pada layar dan baca harga amplitudonya.

6 kolom div bila posisi Volt/div 1 maka V=6Vp-p Gambar 7-41. Bentuk gelombang mode XY 7. Pengukuran Frekuensi 7. Kabel penghubung secukupnya . Gambar 7-42.6. Untuk peragaan seperti ini intensitas jangan terlalu terang dan jangan berlama-lama.4. CRO 1 buah 2. Audio Function Generator 2 buah 3.6.4. Bentuk gelombang sinus 3. Probe 2 buah 4. Cara lain dengan menempatkan time/div pada XY diperoleh peragaan sinyal garis lurus sehingga pembacaan kolom lebin teliti.1. Saklar time/div diatur putar ke kanan searah jarum jam. Peralatan yang dibutuhkan 1.

Atur mendapatkan simpangan dengan prosedur seperti dalam amplitudo maksimum tidak cacat pengukuran tegangan DC (terpotong). Melakukan kalibrasi CRO 4. Time/div mendapatkan lebar sinyal keluaran sinyal generator. Pengukuran Frekuensi Langsung Pengukuran frekuensi langsung dengan langkah-langkah seperti berikut : Volt divisi untuk 1. maksimum tidak cacat 3.6. diatur untuk 2.4. generator. Frekuensi di atur pada harga (terpotong).2. sebagai acuan baca 6. Probe dihubungkan dengan 5.7. Lebar sinyal diukur dari sinyal mulai naik sampai kembali naik penunjukan pada skala sinyal untuk siklus berikutnya. T perioda = 8 X time/div F = 1/T T= perioda Gambar 7-43. Pengukuran frekuensi langsung . diatas. yang diinginkan berdasarkan keperluan.

hijau adalah masukan X dan 3. penyamaan tidak dapat . tombol kalibrasi diatur diperlukan osiloskop dua kanal untuk mencapai kesamaan dan sinyal yang telah diketahui amplitudo. Amplitudo diatur untuk merah Y pada layar akan mendapatkan amplitudo yang menunjukkan perbandingan sama besarnya bila seperti gambar berikut. Time/div diatur 2. Jika sinyal warna lain. gambar di atas. Sinyal yang akan diukur dipindahkan pada posisi dihubungkan pada kanal yang lissayous. berikut ini. pengukuran penting supaya diperoleh dilakukan dengan langkah-langkah bentuk lissayous sempurna. Sinyal yang telah diketahui 4. Pengukuran Frekuensi Model Lissayous dicapai dengan pengaturan Pada pengukuran jenis ini Volt/div. Pengawatan pengukuran frekuensi langsung 7.Gambar 7-44.4. Kesamaan ini frekuensinya.6.3. lissayouskan kedua sinyal dihubungkan pada kanal yang mempunyai amplitudo sama kita tandai sebagai acuan frekuensi berbeda seperti misalnya pada X. Misalnya sebelum di 1.

2. Alat dan bahan yang diperlukan 1. Kabel penghubung secukupnya 7. kedua sinyal dihubungkan pada masukan kanal 1 dan kanal 2.5.5.6. Pengukuran secara langsung. Pengukuran beda fasa langsung . Pengukuran frekuensi model Lissayous 7. 1.1. Pengukuran Fasa 7. Prosedur Pengukuran Beda Phasa Pengukuran fasa dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara langsung dan model lissayous.6. Beda fasa = (t/T) X 360° t T = perioda Gambar 7-46. Probe 2 buah 4. CRO 1 buah 2.6.5.Sinyal Y Fx : Fy = 1 : 2 Fx = (Fy/2) Sinyal X Gambar 7-45. Rangkaian penggeser phasa 1 buah 3.

Perbandingan frekuensi 1: 3 beda fasa 90° Perbandingan XY 1:1 0o 45o 90o 135o 220o 360o 1:2 0o 1:3 0o 15o 30o 60 o 22 30’ 45 o 90 o 135 o 180 o 90o 120o 1:4 0o 11 15’ 22 30’ 45o 67 30’ 90 o Gambar 7-48. Pengukuran beda fasa dengan mode lissayous kedua sinyal dihubungkan pada kedua terminal masukan CRO. Gambar 7-47. Kemudian time divisi diatur pada posisi XY. Penampilan peraga berdasarkan perbandingan dan perbedaan fasa ditunjukkan pada table berikut. Beda fasa dan beda frekuensi model lissayous .2.

Pengukuran diperoleh dengan Gambar 7-49. Arsitektur MSO merupakan perpaduan antara DSO (Digital Storage Osciloscope) atau lebih tepatnya DPO (Digital Phospor Osciloscope) dengan panganalisa logika (Logic Analyzer). Pengukuran 7.7. dapat (mixed signal oscilloscope / dilhat pada peraga tunggal dan banyak kombinasi sinyal yang MSO) memiliki dua jenis masukan. Mixed Signal Oscilloscope Sebuah osiloskop sinyal dicampur basis pewaktuan tungal. Mixed storage oscilocope (MSO) MSO mengkombinasi semua kemampuan pengukuran model Digital Storage osciloscope (DSO) dengan beberapa kemampuan pengukuran penganalisa logika (logic Analyzer). digital dan sistem meliputi pengubah analog ke digital (ADC). dapat digunakan untuk memicu jumlah kecil ( pada umumnya dua osiloskop. Osiloskop Digital Pospor DPO) Osiloskop digital pospor (DPO) menawarkan pendekatan osiloskop arsitektur baru.7.7. sistem menggunakan rangkain campuran analog. pengubah digial ke analog (DAC) dan sistem pengendali. (Digital Phospor Osciloscope / kemampuan rekonstruksi sinyal secara akurat. Sementara DPO menggunakan arsitektur pemrosesan serial untuk pengambilan. Arsitektu ini memungkinkan DPO mengantarkan akuisisi unik dan sinyal campuran pada umumnya meliputi karakterisasi dan pencarian gangguan. peragaan dan .7. MSO Sumbu XYZ Aplikasi Pada Pengujian Otomotif 7. Pada umumnya MSO menindak lanjuti kekurangan kemampuan pengukuran digital dan mempunyai sejumlah besar kanal akuisisi digital dari penganalisa logika penuh namun penggunaannya tidak sekomplek penganalisa logika.2. atau empat) kanal analog.1.3.

7. Jika semata-mata mempercayakan pada kecepatan update. DPO secara signifikan berbeda Kemungkinan melihat perubahan dari konversi analog ke digital atau pengulangan kejadian lambat yang dahulu. Deskripsi dari arsitektur pemrosesan parallel dijelaskan berikut ini. Kecepatan mikroprosesor merupakan penentu dalam proses ini karena ini membatasi kecepatan . Arsitektur pemrosesan paralel dari osiloskop digital pospor Dapat dinotasikan bahwa kemungkinan untuk menentukan besarnya kemungkinan dari pengambilan dengan melhat pada kecepatan update peraga. ini mudah untuk membuat kesalahan dari kepercayaan pengambilan osiloskop pada semua informasi tentang bentuk gelombang pada saat nyata atau tidak. mengantarkan kecepatan pengambilan bentuk gelombang tinggi yang menghasilkan visualisasi sinyal pada tingkat yang lebih tinggi. Namun melihat semua aktivitas sinyal. 7.analisa sinyal. Kebanyakan mengurangi penambahan waktu osiloskop analog DSO atau DPO holdoff. pemasangan Tingkat input pertama DPO serupa sistem lagi dan menunggu untuk dengan osiloskop analog sebuah kejadian pemicuan berikutnya. selalu ada terdapat sebuah holdoff selama waktu proses Amp ADC Digital fosfor Peraga mikroprosesor Gambar 7-50. seperti pulsa kerdil.4. osiloskop tidak serupa DSO sebuah ADC. penguat vertikal dan tingkat kedua Selama waktu ini. Arsitektur Pemrosesan Paralel pengambilan data. DPO menggunakan arsitektur pemrosesan parallel mempunyai dedikasi unik perangkat keras ASIC untuk memperoleh gambar bentuk gelombang. Osiloskop penyimpan digital memproses bentuk gelombang yang diambil secara serial. Performansi ini menambah kemungkinan dari kesaksian kejadian transien yang terdapat pada sistem digital. glitch dan kesalahan transisi.

sebanding dengan proporsi frekeunsi sinyal pada setipa titik kejadian. transien dan variasi sinyal dalam waktu riil. pengukuran otomasi dan pengendali instrument sehingga tidak mempengaruhi kecepatan akuisisi osiloskop. Setiap 1/30 detik atau sekitar kecepatan mata menerima sebuah snapshot dari gambar sinyal yang disimpan dalam data base. Osiloskop digital pospor (DPO) merupakan teknik antara teknologi osiloskop analog dan digital. Detail sinyal. dari data base dipindahkan ke pemrosesan data tidak dapat dipisahkan dalam arsitektur yang lain. terjadi timbul tenggelam dan karakteristik dinamis dari sinyal yang diambil dalam waktu riil. DPOs mikroprosesor bekerja secara parallel dengan sistem akuisisi terpadu untuk memperagakan managemen. DPO juga memungkinkan memperagakan informasi variasi frekeunsi kejadian pada peraga seperti kekontrasan warna. mengungkapkan bentuk gelombang pada peraga diintensifkan. Peragaan sinyal DPO Bila data base pospor digital diumpankan ke peraga osiloskop. DPO hanya memberikan sumbu intensitas (Z) dalam waktu rill yang tidak ada pada DSO konvensional. Rasterisasi data bentuk gelombang dan secara langsung disalin ke memori peraga.pengambilan bentuk gelombang. Rasterisasi DPO bentuk gelombang didigitkan diteruskan ke data base pospor digital. kemudian disalurkan secara langsung ke sistem peraga. . tidak seperti pada psiloskop analog. sangat menyerupai penilaian karakteristik intensitas dari osiloskop analog. pengulangan bentuk gelombang. Gambar 7-51. Terdapat persamaan pengamatan pada frekuensi tinggi dan rendah. Dengan DPO mudah untuk melihat perbedaan antara bentuk gelombang yang terjadi pada hampir setiap picu.

19). Paket pilihan software Gambar 7-53 aplikasi modul Gambar 7-54. perancangan Akses jaringan mencetak dan berbagi file sumber daya Mengakses window komputer Melakukan analisis dan dekomentasi perangkat lunak Menghubungkan ke jaringan Mengakses internet Mengirim dan menerima e-mail Gambar 7-52. Modul video Gambar 7-55 Pengembangan analisis Peningkatan Kemampuan Sebuah kebutuhan perubahan. DPO yang pantas dicontoh untuk pengujian topeng komunikasi. mengedit dan berbagi dokumen dilakukan osiloskop.DPO ideal yang memerlukan perancangan terbaik dan piranti pelacak gannguan untuk cakupan aplikasi yang luas (contoh gambar pengulangan digital dan aplikasi pewaktuan. sementara osiloskop tetap bekerja dengan intrumen dalam lingkungan tertentu. digital debyg dari sinyal intermittent. Kemampuan pengukuran osiloskop ditingkatkan sehingga memungkinkan bagi anda untuk : Membuat. Beberapa osiloskp dapat ditingkatkan osiloskop memungkinkan pemakai sehingga mampu mengakomodasi untuk : .

Gambar 7-56. sistem verifikasi untuk memenuhi cakupan memori mikroprosesor. Menambah memori kanal untuk 6. Osiloskop portable 7. Menambah kemampuan tertentu dengan kemampuan pengukuran untuk aplikasi tinggi untuk melakukan fungsi khusus seperti analisa jitter dan 3. Sama halnya tidak ada satupun pengendali mobil khas. tidak ada satupun pemakai . 4. pengukran video.7. Aplikasi modul dan perangkat lunak memungkinkan untuk menganalisa panjang rekaman menstransformasi osiloskop ke yang leih panjang dalam perangkat analisa 2. perangkat lunak kompatibel pengukuran daya dan window. Menambah daya osiloskop pewaktuan. Tombol pengendali posisi tradisional Gambar 7-57 peraga sensitip tekanan Gambar 7-58 Menggunakan penge ndali grafik Gambar 7-59. Menabah asesoris seperti tempat baterai dan rak.1. 5.5. probe dan modul pengujian komunikasi standar. Bekerja dengan penganalisa pengukuran pengendali pihak ketiga dan produktivitas piringan. sebagainya . Mudah Penggunaan Osiloskop mudah dipelajari dan mudah untuk membantu bekerja pada frekuensi dan produktivitas puncak.

6. Memberi garis bantu yang dapat digunakan sebagai acuan. Probe attenuator pengurangan 10X (baca sepulu kali) membebani rangkaian dalam perbandingan sampai 1X probe dan merupakan suatu tujuan umum probe pasip. Probe attenuator 10K meningkatkan menggunakan kemampuan yang lebih tinggi. Tampilan panel depan disajikan untuk pelayanan pengendalian vertikal. Fasangan probe tegangan pasip dengan arus probe akan memberi solusi ideal pengukuran daya. sementara memberi waktu penuh pada pengguna untuk mengakses osiloskop. Kunci untuk mencapai pemakai kelompok besar demikian adalah fleksibilitas gaya pengoperasian. horisontal dan picu. Kebanyakan osilskop portable membuat osiloskop efisien dalam banyak perbedaan lingkungan kerja di dalam laboratorium ataupun di lapangan keteliatian pengukuran.osilsokop yang khas.7. Probe pasip Untuk pengukuran sinyal dan besar tegangan. namun juga mengurangi amplitudo sinyal pada masukan osiloskop dengan factor 10. Probe 7. Probe aktif dan diferensial memberikan penyelesaian ideal untuk pengukuran sinyal kecepatan tinggi atau diferensial. Kedua pemakai instrument tradisional dan yang mengalami perkembangan dalam area window / internet. Peraga sensitip sentuhan menyelesaikan isu kekacauan dalam kendaraan dan sementara memberi akses yang jelas bersih pada tombol layar. probe pasip memberikan kemudahan dalam pemakaian dan kemampuan cakupan pengukuran.1. Namun. probe pasip tidak dapat mengukur secara akurat sinyal yang memiliki waktu naik ekstrim cepat dan mungkin terlalu sering membebani sensitivitas rangkaian. Pembebanan rangkaian menjadi lebih ditujukan pada frekuensi yang lebih tinggi dan atau sumber sinyal impedansi yang lebih tinggi. Kebanyakan osiloskop menawarkan keseimbangan pencapaian dan kesederhanaan dengan member pemakai banayk cara untuk mengoperasikan instrument. Kendali intuitif memungkinkan para pemakai osiloskop merasa nyaman mengendalikan osiloskop seperti mengendalikan mobil. .6. Bila kecepatan sinyal clock bertambah dan tuntutan kecepatan lebih tinggi dari pada kecepatan probe sedikit akan berpengaruh terhadap hasil pengukuran.7. sehingga meyakinkan untuk menganalisa interaksi pembebanan sinyal / probe sebelum pemilihan probe. Probe pasip memberikan solusi sempurna terhadap tujuan pengamatan pada umumnya. Penggunaan banyak antara muka icon grafik membantu memahami dan dengan tak sengaja 7.

solusi pengamatan ketepatan tinggi untuk menyesuaikan performansi osiloskop (gambar 7-62). sinyal amplitudo rendah. probe attenuator 10X membuatnya sulit melihat sinyal kurang dari 10mV puncak ke puncak.Gambar 7-60. Probe pasip tipikal beserta asesorisnya Karena ini mengecilkan sinyal. Probe aktif dan Probe Differensial Penambahan kecepatan sinyal dan tegangan lebih rendah membuat hasil pengukuran yang akurat sulit dicapai. Gambar 7-61.7. Beberapa probe memiliki saklar atenuasi antara 1X dan 10X jika probe mempunyai pilihan seperti ini yakinkan pengaturan penggunaan pengukuran benar. Solusi pengukuran lengkap pada kecepatan tinggi. 7. Penggunaan probe atenuator 10X sebagaiana tujuan penggunaan probe pda umumnya. namun dengan probe 1X dapat diakses dengan kecepatan rendah.6.2. Ketepatan sinyal dan pembebanan piranti merupakan isu kritis. probe performansi tinggi .

. Untuk pengukuran sinyal dengan waktu naik tinggi.8. bagaimana melakukan ground osiloskop mengatur pengendalian dalam posisi standard an menggnati probe. Menggroundkan osiloskop Menggroundkan osiloskop artinya menghubungkan secara listrik terhadap titik acuan netral. Gambar 7-62. Osiloskop membutuhkan berbagi ground yang sama dengan banyak rangkaian yang diuji. Bagaimanapun dengan menghubungkan osiloskop ke ground secara tepat.8.Probe aktif dan diferensial menggunakan rangkaian terpadu khusus untuk mengadakan sinyal selama akses dan transmisi ke osiloskop.1. Ground juga diperlukan untuk pengukuran yang teliti dengan osiloskop. Pengoperasian Osiloskop 7. Sifat penbumian dari osiloskop melindungi pemakai dari tegangan kejut dan penabumian sendiri melindungi rangkaian dari kerusakan. Probe sinyal terintegrarasi Gambar 7-63. Probe reliable khusus pin IC 7.2. Menghubung osiloskop dengan ground diperlukan untuk keamanan jika menyentuh tegangan tinggi kasus osiloskop tidak diground banyak kasus meliputi tombol yang muncul diisolasi ini dapat memberi resiko kejut. Ground osiloskop dilakukan dengan mengisi tiga kabel power ke dalam saluran ground ke ground bumi. Pengesetan Pada bagian ini menguraikan bagaiaman melakukan pengesetan dan mulai menggunakan osiloskop khusus. seperti ground bumi.8. Penabumian merupakan langkah penting bila pengaturan untuk membuat pengukuran atau rangkaian bekerja. memastikan integritas sinyal. probe aktif kecepatan tinggi atau probe diferensial yang akan memberikan hasil yang lebih akurat. 7. arus berjalan melalui alur ground ke ground bumi lebih baik dari pada tubuh ke groun bumi.

Pengaturan Pengendali Bagian depan osiloskop biasanya terbagi dalam 3 bagian utama yang ditandai vertikal. perlu dibantu mengatur pengendalian posisi standar sebelum pengukuran dilakukan.4. .Banyak osiloskop tidak membutuhkan pemisah hubungan ke bumi ground. Osiloskop mempunyai dengan menjaga kemungkinan resiko kejut dari pengguna. Tali pengikat secara aman mengirim perubahan statis pada tubuh ke ground bumi. dapat dipastikan mengakses semua daya dan performansi osiloskop dan akan memastikan integritas sinyal terukur. Ground Diri Pengguna Jka bekerja dengan rangkaian terpadu (IC). Osiloskop mungkin mempunyai bagian-bagian lain tergantung pada mmodel dan jenis analog atau digital. horisontal dan picu. Kebanyakan osiloskop memiliki sekurangkurangnya dua kanal masukan dan setiap kanal dapat memperagakan bentuk gelombang pada layar. Rangkaian terpadu mempunyai alur konduksi tipis yang dapat dirusak oleh listrik statis yang dibangun pada tubuh. posisi berada ditengah-tengah cakupan posisi. Pemakai dapat menyelamatkan IC mahal secara sederhana dengan alas karpet dan kemudian menyentuh kaki IC.5. memastikan integritas sinyal dan memungkinkan pengguna untuk mengakses semua daya dan performansi dalam osiloskop. juga diperlukan untuk mengubungkan tubuh dengan ground.8. Beberapa osiloskop mempunyai tombol AUTOSET dan atau DEFAULT yang dapat mengatur untuk mengendalikan langkah menampung sinyal. Osiloskop multi kanal sangat berguna untuk membandingkan bentuk gelombang. Masalah ini diselesaikan pakaian dengan tali pengikat ground ditunjukkan dalam gambar 6.3.4. Jika probe sangat sesuai dengan osiloskop. 7. Penggunaan Probe Sebuah probe berfungsi sebagai komponen kritis dalam sistem pengukuran. Jika osilskop tidak memiliki kemampuan ini. 7.8. 7. Pada umumnya instruksi pengaturan osiloskop posisi standar adalah sebagai berikut : Atur osiloskop untuk mempergakan kanal 1 Atur skala vertikal volt/div dan posisi ditengah cakupan posisi Offkan variable volt/div Offkan pengaturan besaran Atur penghubung masukan kanal 1 pada DC Atur mode picu pada auto Atur sumber picu ke kanal 1 Atur picu holdoff ke minimum atau off Atur pengendali intensitas ke level minimal jika disediakan Atur pengendali focus untuk mencapai ketajaman peraga Atur posisi horisontal time/div.8.

Probe dikompensasi dengan benar Probe pengatur sinyal Amplitudo tes sinyal 1MHz Gambar 7-64. Probe kompenasi berlebihan Kebanyakan osiloskop mempunyai acuan sinyal gelombang kotak disediakan pada terminal depan digunakan untuk menggantikan kerugian probe. Instruksi untuk mengganti kerugian probe pada umumnya sebagai berikut : Tempatkan probe pada kanal vertikal Hubungkan probe ke probe kompensasi misal acuan sinyal gelombang kotak Ground probe dihubungkan dengan ground osiloskop Perhatikan sinyal acuan gelombang kotak Buat pengaturan probe yang tepat sehingga ujung .65 Hasil dengan probe dikompensasi Probe kompensasi berlebihan Amplitudo tes sinyal 1MHz Probe pengatur sinya l Gambar 7-66. Hasil dengan probe dikompensasi Probe tidak dikompensasi Probe pengatur sinyal Amplitudo sinyal berkurang Gambar 7.

gelombang kotak berbentuk siku. Tegangan puncak Tegangan puncak ke puncak Harga RMS Sumbu nol Gambar 7-67. Pengukuran tegangan Pada saat mengkompensasi. Teknik Pengukuran Dengan Osiloskop. Dalam Kebanyakan osiloskop digital meliputi perangkat pengukuran yang diotomatiskan. Oleh karena itu untuk untuk menginterpretasikan pengukuran yang lain pada peragaan DSO dan DPO. pengukuran ini merupakan Ada dasar pengukuran dengan penggabuangan teknik instrument osiloskop adalah tegangan dan analog dan juga dapat digunakan waktu. Pemahaman bagaimana membuat pengukuran secara . dasarnya adalah satu dari dua teknik dasar tersebut. Tegangan puncak ke puncak gratikul Pengukuran senter gratikul horisontal dan vertikal Gambar 7-68. selalu sertakan beberapa asesoris yang perlu dan hubungkan probe ke kanal vertikal yang akan digunakan. Ini akan memastikan bahwa osiloskop memiliki kekayaan listrik sebagaimana yang terukur. Pengukuran amplitudo senter gratikul waktu Gambar 7-69.

Harus hati-hati dalam mengartikan tegangan tertentu. Beberapa osiloskop mempunyai satu garis kursor yang membuat pengukuran bentuk gelombang secara otomatis pada layar. dan dua garis vertikal bergerak ke kanan dank e kiri untuk pengukuran waktu. namun pengukuran tegangan merupakan langkah pertama untuk penghitungan besaran yang lain. Biasa salah satu titiknya dalah ground (nol volt) namun tidak selalu.manual akan membantu dalam memahami dan melakukan pengecekan pengukuran otomatis dari DSO dan DPO. Perhitungan lebih komplek untuk sinyal AC. Rumusan lain hokum daya. Tegangan dapat diukur dari puncak ke puncak yaitu titik maksimum dari sinyal ke titik minimum. Kursor merupakan garis sederhana yang dapat berpindah melintasi layar. Terutama osiloskop piranti pengukur tegangan. Frekuensi kebalikan Pengukuran waktu dengan dari perioda sehingga perioda menggunakan skala horisontal dikeahui. Pengukuran waktu satu dibagi dengan perioda. Pengukuran Tegangan Tegangan merupakan bagian dari potensi elektrik yang diekspresikan dalam volt antara dua titik dalam rangkaian. Semakin banyak area layar yang digunakan pembacaan layar semakin akurat . Dua garis kursor horisontal dapat bergerak naik dan turun untuk melukiskan amplitudo bentuk gelombang dari teganga yang diukur. Dari dua kuantitas ini dapat dihitung : Tegangan = arus X resistansi Arus = (Tegangan / resistansi ) Resistansi = (tegangan / arus). Pembacaan menunjukkan posisi tegangan atau waktu.8.8.7.6. Pengukuran Waktu dan Frekuensi lebar pulsa. 7. Tanpa harus menghitung tanda gratikul. 7. Misal hukum ohm menyaakan bahwa tegangan antara dua tiik dalam rangkaian sama dengan arus kali resistansi. Gambar 7-67 menunjukkan satu dari tegangan puncak (Vp) dan tegangan puncak ke puncak (Vpp). Metode yang paling dasar dari pengukuran tegangan adalah menghitung jumlah dari luasan divisi bentuk gelombang pada skala vertikal osiloskop . Pada saat mengukur tegangan kuantias yang lain dapat dihitung. daya sinyal DC sama dengan teganga kali atus. frekuensi merupakan dari osiloskop. Pengaturan sinyal meliputi pembuatanan layar secara vertikal untuk pengukuran tegangan terbaik (gambar 7-67). meliputi pengukuran perioda dan .

pengukuran waktu lebih akurat bila diatur porsi sinyal yang diukur meliputi sebagian besar area dari layar seperti ditunjukkan gambar 7-67. Pengukuran rise time dan lebar pulsa . Pulsa dapat menjadi distorsi dan menyebabkan rangkaian digital gagal fungsi dan pewaktuan pulsa dalam rentetan pulsa seringkali signifikan. Pengukuran Lebar dan Waktu Naik Pulsa Dalam banyak aplikasi. detail bentuk pulsa penting. Waktu naik diukur dari 10% sampai 90% dari tegangan pulsa penuh.8. Ini mengurangi sudut transisi ketidakteraturan pulsa. Rise time Pengukuran pulsa standar berupa lebar pulsa dan waktu naik pulsa. Lebar pulsa diukur pada 50% dari tegangan penuh (gambar 770). Waktu naik berupa sebagian pulsa pada saat beranjak dari tegangan rendah ke tinggi. Fall time 100% 90% tegangan 50% 10% 0% Lebar pulsa Gambar 7-70. Lebar pulsa merupakan bagian dari waktu pulsa beranjak dari rendah ke tinggi dan kembali ke rendah lagi.8.Sebagaimana pengukuran tegangan. 7.

Perancis Jules Antoine Teknik pengukuran ini meliputi Lissayous). sumbu X dan Y melakukan . perbedaan waktu gelombang yang dihasilkan dari susunan ini dinamakan pola antara dua sinyal periodik yang Lissayous (nama ahli Fisika identik. Bentuk Metode untuk pengukuran pergeseran fasa. Dari bentuk pola pemberian sinyal masukan pada Lissayous dapat dibaca sistem vertikal sebagaimana perbedaan fasa antara dua sinyal biasanya dan kemudian sinyal dapat juga perbandingan frekuensi sinyal lain diberikan pada sistem (gambar 7-48) menunjukkan pola horisontal yang dinamakan untuk perbandingan frekuensi dan pengukuran XY karena kedua pergeseran fasa yang bervariasi.8.9. Pengukuran Pergeseran Fasa penjejakan tegangan. menggunakan mode XY.7.

Alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar Alat ukur frekuensi lidah getar prinsip kerjanya berdasarkan resonansi mekanis. Frekuensi Meter Analog Frekuensi meter adalah meter yang digunakan untuk mengukur banyaknya pengulangan gerakan periodik perdetik.1. Kumparan elektromagnet diberi energi listrik dari jala-jala arus bolak-balik yang frekuensinya akan ditentukan.1. alat ukur ratio dan besi putar. para pembaca diharapkan dapat : 1.BAB 8 FREKUENSI METER Pokok Bahasan Dalam frekuensi pembahasan meliputi : meter Tujuan Setelah mengikuti pembahasan tentang frekuensi meter. Mendiskripsikan jenis-jenis frekuensi meter 2. metoda pengukuran. Frekuensimeter digital cara kerja. Frekuensimeter analog jenisjenis dan prinsip kerjanya 2. 8. Mampu memahami cara penggunaan frekuensi meter. maka salah satu dari lidah-lidah getar akan beresonansi dan memberikan defleksi yang besar bila frekuensi getarnya sama dengan frekuensi medan magnet bolak-balik tersebut. Lidah-lidah getar dipasang bersama-sama pada sebuah alas fleksibel yang terpasang pada sebuah jangkar elektromagnit. Terdapat beberapa jenis frekuensimeter analog diantaranya jenis batang atau lidah getar. masing-masing mempunyai frekuensi getar yang berbeda. Frekuensi meter analog merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur besaran frekuensi dan yang berkaitan dengan frekuensi. Ada dua jenis frekuensi meter analog dan digital. Jika sederetan kepingan baja yang tipis membentuk lidah-lidah getar. Mampu menjelaskan prinsip kerja frekuensi meter 3. Gerakan periodik seperti detak jantung. 1. 48 49 50 51 52 Gambar 8 -1 Kerja frekuensi meter jenis batang getar . ayunan bandul jam.1. Dalam mengukur frekuensi atau waktu perioda secara elektronik dapat dilakukan dengan beberapa cara. 8. jenis – jenis kesalahan dan cara penggunaannya.

syaratnya getaran batang-batang dipertahankan dalam batas-batas yang wajar. akan membentuk suatu getaran. Sehingga alat ukur jenis ini hanya dipergunakan untuk frekuensifrekuensi komersiil. Getaran batang ini dapat dilihat pada panel alat ukur berupa getaran batang ditunjukkan melalui jendela. Bentuk frekuensi meter batang getar . Gambar 8 – 3 . Alat ukur ini mempunyai keuntungan karena konstruksi sederhana dan sangat kokoh. Kerugian alat ini penunjukan tidak cepat mengikuti perubahan-perubahan frekuensi.Gambar 8 -2 Prinsip frekuensi meter jenis batang getar Batang yang frekuensi dasarnya sama dengan frekuensi elektromagnet diberi energi. Pada lidah getar gaya bekerja berbanding lurus d engan k uadrat fluksi magnet tetap ¢ yang disebabkan oleh magnet permanen dan fluksi arus bolakbalik ¢m sin ωt (pada gambar 8-2). Frekuensi langsung terbaca dengan melihat skala pada bagian yang paling banyak bergetar ( misal 50 Hz). Apabila frekuensi yang diukur berada diantara frekuensi dua batang yang berdekatan.5 atau 1 Hz. penunjukannya secara bertangga dalam 0. maka kedua batang akan bergetar dan frekuensi jalajala paling dekat pada batang yang bergetar paling tinggi. Untuk mempertahankan kalibrasi. tidak dipengaruhi oleh tegangan atau bentuk gelombang.

resonan yang diset ke suatu i1 arus pada M 1 i2 arus pada M2 Gambar 8 .1. Alat pengukur frekuensi dari type alat ukur rasio frekuensi sedikit di bawah skala Dalam alat ukur frekuensi ini. arus ini terdiri dari penjumlahan kedua arus kumparan medan. Rasio dari I1 dan I2 akan berubah secara monoton dengan frekuensifrekuensi di atas dan di bawah 50 Hz. Torsi pemulih dilengkapi dengan sebuah daun besi kecil yang dipasang pada kumparan yang berputar. dan membentuk sebuah induktor L1 dan kapasitor C1. 2 Kumparam medan 1 seri dengan C2. Setiap frekuensi yang dimasukkan dalam batas ukur instrumen. .pada pertengahan skala. Kedua kumparan medan disusun seperti pada gambar 8-3 dan dikembalikan ke jala-jala melalui gulungan kumparan yang dapat berputar. Karena torsi yang dihasilkan oleh kedua arus terhadap kumparan putar berlawanan dan torsi tersebut merupakan fungsi dari frekuensi tegangan yang dimasukkan.8. Torsi yang berputar sebanding dengan arus yang melalui kumparan putar. dan rangkaian resonan yang diatur pada frekuensi sedikit lebih tinggi membentuk sebuah rangkaian dari skala tertinggi instrumen.4 Prinsip frekuensi meter jenis meter pembagi Konstanta-konstanta rangkaian dipilih sedemikian rupa sehingga menyebabkan arus-arus tersebut mempunyai resonansi masingmasing 42 Hz dan 58 Hz seperti pada gambar 8-4. Alat ukur ini biasanya terbatas pada frekuensi jala-jala. terendah dari instrumen. kumparan-kumparan medan Kumparan medan 2 adalah seri sebagian membentuk dua dengan induktor L dan kapasitor rangkaian resonansi terpisah.2. membangkitkan torsi yang menyebabkan jarum berada pada posisi yang hasil pengukuran.

Kumparan . Alat ukur ini tidak perubahan frekuensi dua menggunakan peralatan kumparan A dan B yang terpasang pengontrol (ditunjukkan pada permanen sumbu-sumbu gambar 8–5). magnetnya akan saling tegak lurus rendah Tinggi A Ra N L3 B Lb Rb Suplai Gambar 8 – 5 Prinsip Alat Ukur frekuensi besi putar Gambar 8 – 6 Bentuk frekuensi meter analog Rangkaian tersusun dari elemenelemen seperti halnya jembatan Wheatstone sebagai penyeimbang pada frekuensi sumber. Bila terjadi kumparan.1. Alat ukur frekuensi besi putar satu sama lain.8.3. Bagian pusat Prinsip kerja alat ukur ini dipasangkan sebuah jarum tergantung pada perubahan arus panjang dari besi lunak ringan yang dialirkan pada dua rangkaian dan lurus sepanjang resultante paralel. satu induktif dan yang medan magnet dari dua lain non induktif.

Dalam Schmitt Trigger sinyal diubah menjadi gelombang kotak (kotak) dengan waktu naik dan turun yang sangat cepat.1. jumlah pulsa pada counter merupakan frekuensi sinyal yang diukur. arus akan mengalir melalui kumparan A dan B dan menghasilkan kopel yang berlawanan. Alat ukur saat dihubungkan dengan sumber tegangan. sehingga jarum bergerak mendekati sumbu medan magnet pada kumparan A.2. Keluaran dari Schmitt Trigger berupa barisan . Karena counter elektronik ini sangat cepat. maka kumparan B mengalirkan arus lebih besar dari kumparan A dan jarum akan bergerak mendekati sumbu medan magnet pada kumparan B. Prinsip kerja Sinyal yang akan diukur frekuensinya diubah menjadi barisan pulsa. 8. kemudian dideferensier dan dipotong (clipped). Induktansi L berfungsi untuk membantu menekan harmonisharmonis tinggi pada bentuk gelombang arus. Frekuensi Meter Digital 8. kumparan B seri dengan RB dan paralel dengan induktansi LB. Jika frekuensi sumber yang diukur tinggi.A mempunyai tahanan seri RA dan paralel dengan induktansi LA. sehingga memperkecil kesalahan penunjukan alat ukur. Sinyal diperkuat sebelum masuk Schmitt Trigger. Gambar 8 – 7 Rangkaian dasar frekuensi meter digital. maka sinyal dari frekuensi tinggi dapat diketahui. Blok diagram rangkaian dasar meter frekuensi digital diperlihatkan pada gambar 8-7. Karena pulsa ini dari siklus sinyal yang tidak diketahui. Akibatnya medan magnet kumparan A lebih kuat dibanding medan magnet kumparan B. maka arus yang mengalir pada kumparan A akan lebih besar dibanding dengan arus yang mengalir pada kumparan B. Alat ukur ini dapat dirancang pada batas ukur frekuensi yang lebar maupun sempit tergantung pada parameter-parameter yang ada pada rangkaian. Kemudian jumlah pulsa yang terdapat pada interval waktu tertenu dihitung dengan counter elektronik.2. dikarenakan adanya penambahan reaktansi dari induktansi LB. satu pulsa untuk setiap siklus sinyal. sinyal frekuensi tidak diketahui dimasukkan pada schmitt trigger. Jika frekuensi sumber yang diukur rendah.

Barisan pulsa kemudian masuk melalui rangkaian pembagi frekuensi persepuluhan yang dihubungkan secara cascade. supaya ketepatannya baik. pulsa input melalui gerbang ini dan mulai dihitung oleh counter elektronik. Output dari osilator frekuensi konstan masuk ke Schmitt Trigger fungsinya mengubah gelombang non kotak menjadi gelombang kotak atau pulsa dengan kecepatan yang sama dengan frekuensi osilator clock. Setiap pembagi persepuluhan terdiri dari penghitung sepuluhan dan pembagi frekuensi dengan 10.8 Time base selektor. Blok diagram pembentukan time base .pulsa. interval waktu gerbang antara start dan stop harus diketahui dengan teliti. Misalnya f adalah frekuensi dari sinyal input. start dan stop. t Untuk mengetahui frekuensi sinyal input. kristal ini dimasukkan ke dalam oven bertemperatur konstan. Bila interval waktu ini diketahui. Counter memperagakan (display) jumlah pulsa yang telah masuk melaluinya antara interval waktu . Time base terdiri dari osilator kristal dengan frekuensi tetap. kecepatan dan frekuensi pulsa sinyal input dapat diketahui. pulsa input pada counter berhenti dan counter berhenti menghitung. N jumlah pulsa yang ditunjukkan counter dan t adalah interval waktu antara start dan stop dari gerbang. schmit trigger. Pulsa keluaran Schmitt Trigger masuk ke gerbang start-stop. Osilator diketahui sebagai osilator clock harus sangat teliti. Bila gerbang terbuka (start). hubungan dibuat dari output setiap pembagi persepuluhan secara serie. Bila pintu tertutup (stop). Interval waktu perlu diketahui sebagai time base rangkaian secara blok diagram ditunjukkan pada gambar 8 – 8. satu pulsa untuk setiap siklus sinyal. Maka frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini F= N . Gambar 8-8. Gambar 8 . dan pembagi frekuens. dan dilengkapi dengan switch selektor untuk pemilihan time base yang tepat.

dan sekarang ada 105 pulsa perdetik. dan interval waktu antara dua pulsa yang berturutan 10-6 detik atau 1μdetik.9 Pernyataan simbolik dari rangkaian flip-flop. Pernyataan simbolik dari rangkaian flip-flop (FF) digambarkan pada gambar 8 . 10 pulsa perdetik pada tap 10-5 dan interval waktu 100 mdetik. 102 pulsa per detik pada tap 10-4x dan interval waktu 10 mdetik. pulsa telah melalui satu pembagi persepuluhan.Pada blok diagram gambar 8-8. frekuensi osilator clock adalah 1 MHz atau 106 Hz. satu pulsa per detik pada tap 10-6x dan interval waktunya 1 detik. ini adalah rangkaian multivibrator bistable dan mempunyai dua keadaan seimbang. 103 pulsa per detik pada tap 10-3x dan interval waktu 1 mdetik. Interval waktu antara pulsa-pulsa ini adalah time base dan dapat dipilih dengan switch selektor (switch pemilih). Pada setiap 1x dari switch ada 106 pulsa per detik. Pada tiap 10-1x. RC R R RC RB RB Gambar 8 – 10 Rangkaian flip-flop (multivibrator bistable) . Jadi output Schmitt Trigger 106 pulsa per detik. Gambar 8 . Jadi interval waktu diantaranya adalah 10 μdetik.9. Dengan cara yang sama. dan rangkaian flip-flop diperlihatkan pada gambar 8-10. Flip-flop berfungsi sebagai gerbang start dan stop. dan berkurang dengan faktor 10. ada 104 pulsa per detik pada tap 10 -2 x dan interval waktunya 100 μdetik.

Bila input dalam bentuk pulsa tegangan positif. dan 1 menyatakan ada input dan output. flip-flop berubah menjadi keadaan 0.12. ada arus melalui dioda karena mendapat bias maju dan output 0. karena ini digunakan pada rangkaian instrumen digital. Pada langkah ini akan diketahui cara kerja gerbang AND. Gambar 8 . Bila salah satu input 0. dan tidak ada arus melalui tahanan sehingga outputnya positif. perlu dicatat dalam hal pulsa positif digunakan untuk merubah flip-flop dari satu keadaan ke yang lain. Input A dan B sedang outputnya A.12. Gambar 8-12.Keadaan 0 (state 0) Keadaan 1 (state 1) Bila output Υ pada tegangan positif dan output Y pada tegangan 0 Bila output Υ pada tegangan nol dan output Y pada tegangan positip − − Tegangan negatif diberikan pada set terminal S. Tabel kebenaran untuk rangkaian ini diberikan pada gambar 8 .B. bila dua input tersebut berubah terhadap waktu. merubah flip-flop ke keadaan 1. bila sekarang pulsa negatip diberikan pada terminal reset R. dibaca sebagai “A dan B”.11 Rangkaian AND Gerbang AND lambang gerbang AND diperlihatkan pada gambar 8-11. 0 menyatakan tidak ada input atau output. input A dan B “Reverse Bias” semua dioda (pada gambar 8-11). Tabel Kebenaran dari suatu gerbang AND . respon rangkaian AND diperlihatkan pada gambar 8 . suatu inverter harus digunakan pada terminal input untuk merubah pulsa trigger positif menjadi pulsa negatif.

Bila pulsa lain dari time base masuk. ini menyebabkan FF1 berubah keadaan dari 1 ke 0. Sebaliknya bila gerbang ditutup. Sebagai hasilnya. gerbang terbuka dan tetap terbuka selama tegangan positif tetap pada input tersebut. “gerbang stop” menutup dan “gerbang start” terbuka. Rangkaian lengkap untuk pengukuran frekuensi diperlihatkan pada gambar 8 . positif yang diberikan pada inpit lainnya dapat muncul sebagai pulsa positif pada output (pada gambar 8 -12). Bila tegangan positif diberikan pada salah satu terminal input. Pulsa positif dari sumber frekuensi yang tidak diketahui sebagai sinyal yang dihitung masuk pada input A gerbang utama dan pulsa positif selektor time base masuk pada input B ke “gerbang start”. Tegangan pada output Y dimasukkan pada input A salah satu terminal masukan dari “gerbang stop” berfungsi membuka gerbang. pulsa positif dari time base dapat lewat pada set input terminal S dari flipflop FF2 dan menjadikannya tetap pada Keadaan 1. tegangan 0 dari output Υ masuk pada terminal B − dari gerbang utama. pulsa tidak dapat melaluinya. Sekarang output Υ tegangan positif dan output Y nol. Supaya mulai bekerja. Dengan gerbang terbuka pulsa. Tegangan 0 dari output Y flip-flop FF1 yang masuk ke input A dari “start gerbang” menutup gerbang ini. ini dapat lewat gerbang start ke terminal. dapat lewat melalui gerbang utama. pada keadaan 1. Bila “gerbang stop” terbuka.13. Gambar 8 – 13 Rangkaian untuk mengukur frekuensi. Karena itu tidak ada pulsa dari sumber frekuensi yang tidak diketahui. pulsa positif disebut pulsa pembaca (“Read Pulse”) diberikan pada terminal reset R dari FF1. Pulsa pembaca yang sama diberikan pada dekade counter menyebabkannya menjadi nol dan penghitungan mulai bekerja. Mulamula flip-flop FF.Secara singkat gerbang AND mempunyai dua input dinyatakan dengan simbol A dan B. reset FF2 − .

Sebagai contoh. Gambar 8 .2. Jadi counter menghitung jumlah pulsa yang lewat gerbang utama pada interval waktu antara dua pulsa yang berturutan dari selektor time base. Tetapi karena gerbang utama tetap terbuka. merubah kembali ke keadaan 1. . membuka gerbang tersebut. Pulsa yang sama lewat gerbang start masuk pada set input S dari FF1 merubahnya dari keadaan 0 ke 1. Input dari terminal Υ menjadi nol.2.terbuka. Pulsa selanjutnya dari time base selektor lewat melalui “gerbang stop” yang terbuka ke terminal input set S dari FF2. Ini menyebabkan gerbang start tertutup dan gerbang stop. time base dipilih 1 detik. Peralatan terdiri dari dua gerbang AND dan dua flip-flop. dan karenanya gerbang utama menutup penghitungan berhenti.14 Rangkaian digital frekuensi meter. Rangkaian Frekuensi Meter Digital yang Disedehanakan Rangkaian frekuensi meter digital sederhana diperlihatkan pada gambar 8 – 14. − 8. disebut gerbang control flip-flop.merubah dari keadaan 1 ke keadaan 0. Sekarang pulsa dari sumber frekuensi yang tidak diketahui dapat lewat dan dicatat pada counter. jumlah pulsa yang ditunjukkan counter merupakan frekuensi sumber yang tidak diketahui dalam satuan Hz. pulsa dari sumber frekuensi yang tidak diketahui tetap lewat menuju counter. Tegangan positif yang dihasilkan dari input Y (disebut sinyal gating) dimasukkan pada input B dari gerbang utama.

Ada dua sinyal yang perlu diikuti sinyal input dan sinyal gating.3. Time base dibentuk oleh Schmitt Trigger menjadi pulsa-pulsa terpisah 1μ detik. Kontrol gerbang berganti keadaan dan mengeluarkan sinyal dari gerbang utama dan tidak ada lagi pulsa yang diizinkan masuk ke rangkaian penghitung. Input sinyal yang akan diukur frekuensinya. Sinyal input diperkuat dan masuk ke Schmitt Trigger.3. Gerbang control flip-flop dalam keadaan dimana sinyal yang memenuhi dapat masuk ke gerbang utama adalah AND gerbang. Frekuensi dapat dibaca langsung dalam hal time base selektor menggerakkan titik desimal pada display. pulsa sinyal input dibiarkan masuk ke DCAs. Switch selektor mengeluarkan interval waktu yang diperoleh dari 1μ detik sampai 1 detik. pertama kali masuk ke suatu amplifier dan kemudian ke rangkaian schmitt trigger. karena gerbang utama sudah tutup. Gambar 8 . Input dari time base berasal dari osilator clock dan schmitt trigger. Metode Pengukuran 8. Sinyal gating ini memberikan selang waktu dimana counter (yang terdiri dari susunan dekade counter) akan menghitung semua pulsa yang masuk. . Gelombang kotak ini dideferensier. dimana mereka akan dihitung semua dan didisplay. Kedua sinyal masuk ke gerbang utama. Pengukuran Frekuensi Dengan Counter Frekuensi dapat diukur dengan menghitung jumlah siklus dari sinyal yang tidak diketahui selama interval waktu yang dikontrol. 8. Proses ini berlanjut sampai pulsa kedua sampai pada control flip-flop dari DDAs (dekade deviding assembles) atau rangkaian pembagi dekade.1. sehingga sinyal yang datang pada sepanjang gerbang utama terdiri dari barisan pulsa tajam yang terpisah oleh periode sinyal input yang sebenarnya.15 memperlihatkan diagram untuk counter yang bekerja sebagai pengukur frekuensi.Ada dua sinyal yang harus diikuti : Sinyal input atau sinyal yang dihitung frekuensi melalui pengukuran. yang biasanya merupakan gerbang AND 2 input. dimana sinyal dirubah menjadi barisan pulsa. Di sini sinyal dirubah menjadi gelombang kotak yang amplitudonya tidak tergantung dari amplitudo gelombang input. Jadi jumlah pulsa yang lewat selama selang waktu tertentu dihitung dan didisplay pada DCAS. Pulsa output pertama dari switch time base selektor lewat melalui schmitt trigger ke gerbang control flip-flop. Pulsa ini masuk ke rangkaian dekade 6 (DDA’S).

Gambar 8-15 Blok diagram dari counter electronik yang bekerja sebagai pengukur frekuensi Gating sinyal di dapat dari osilator kristal. Pada diagram blok gambar 8-15. osilator atau frekuensi time base adalah 1 MHz. Output dari time base dibentuk oleh rangkaian schmitt trigger, sehingga menjadi pulsa-pulsa yang terpisah 1μ detik, masuk ke rangkaian pembagi persepuluhan (dekade devider). Dalam contoh diperlihatkan 6 DDAs digunakan yang outputnya dihubungkan dengan time base selektor. Switch pada panel depan memungkinkan untuk dipilihnya interval waktu 1μ detik. Output dari time base selektor lewat melalui schmitt trigger dan masuk ke gerbang control flip-flop. Gerbang kontrol kemudian berada pada keadaan lain yang akan menolak sinyal yang memenuhi dari gerbang utama. Gerbang utama ini tertutup dan tidak ada lagi pulsa yang masuk ke DCAs. Display DCAs sekarang menunjukkan jumlah pulsa yang diterima selama interval waktu yang diberikan oleh time base. Karena frekuensi dapat didefinisikan dengan jumlah kemunculan fenomena tertentu pada selang waktu yang didefinisikan counter akan mendisplay frekuensi sinyal. Biasanya switch selector time base menggerakkan titik desimal display, sehingga frekuensi dapat dibaca langsung dalam Hertz, kilohertz atau megahertz. 8.3.2. Pengukuran Frekuensi System Heterodyne Kemampuan pengukuran dari counter elektronik pada mode kerja “frekuensi” dapat diperluas dengan menggunakan “heterodyne converter”. Ini diperlihatkan pada blok diagram gambar 8-16. Sinyal input dimasukkan pada heterodyne converter, yang terdiri dari osilator

reference dan mixer stage dengan filter low-pass. Frekuensi sinyal input fs dan frekuensi osilator reference, f , dimasukkan 0 pada mixerstage yang akan menghasilkan jumlah dan selisih dua frekuensi tersebut. Tetapi filter filter low-pass, hanya melaukan selisih frekuensinya pada rangkaian gerbang dari counter. Counter kemudian menghitung frekuensi (fo-fs) atau (fs-f0), tergantung pada apakah frekuensi sinyal input di atas atau di bawah frekuensi osilator reference. Kebutuhan untuk mengetahui apakah penjumlahan atau pengurangan terhadap frekuensi reference yang akan dibaca counter, supaya memperoleh frekuensi sinyal yang tidak diketahui, kadang-kadang mempersulit pekerjaan, tetapi metode ini memperluas daerah penggunaan counter dengan efektif. Suatu counter dengan time base frekuensi 1 MHz biasanya mempunyai daerah frekuensi input

sekitar 5 MHz. Pengguna frekuensi converter memperluas daerah ini sampai 500 MHz atau lebih tinggi. Beberapa counter yang lebih sophisticated mempunyai perlengkapan untuk unit plugon yang mudah dapat dihubungkan frekuensi converter dengan memasukkan sambungan yang tepat pada frame counter. Dekade Divider Assemblies (DDAs) pada rangkaian osilator counter menghitung frekuensi time base dari 1 MHz turun sampai 1 Hz, melengkapi perioda 1 detik. Keuntungan dari time base 1 detik, adalah bahwa pembacaan frekuensi input dalam siklus perdetik, suatu gambaran yang telah umum. Bila time base lainnya dipilih dengan mengatur control “time base” pada panel depan, titik desimal pada display akan terletak pada posisi tertentu, sehingga pembacaan kembali dalam siklus perdetik.

Gambar 8 – 16. Konversi frekuensi Heterodyne

Tidak perlu menggunakan time base 1 detik, pada kenyataannya banyak penggunaan yang membutuhkan time base yang berbeda. Sebagai contoh, bila roda drum putaran pada gambar 8–23 mempunyai keliling 100 cm, kecepatan tali (v) dalam cm/detik adalah 100 kali kecepatan sudut roda drum ® dalam putaran perdetik; jadi V = 100 R,

kecepatan tali dapat dibaca langsung dalam cm/detik, bila counter menghitung 100 pulsa perputaran untuk waktu 1 detik. Bila kecepatan tali diinginkan dalam cm/menit counter dapat diatur untuk menghitung 100 pulsa perputaran untuk 60 detik dengan menggunakan 10 cam pada roda drum.

Gambar 8 – 17. Gambar putaran drum menghasilkan 10 pulsa perputaran untuk digunakan dengan counter.

8.3.3. Pengukuran Perioda Dengan Counter Perioda Tunggal membuka dan menutup gerbang Pada beberapa penggunaan lebih utama. Pulsa yang terpisah secara diinginkan pengukuran perioda tetap dari osilator kristal dihitung sinyal dari pada frekuensinya. Ini untuk satu perioda frekuensi sinyal dapat dilakukan dengan merubah yang tidak diketahui. Sebagai susunan blok diagram dari contoh terlihat pada gambar 8-18. rangkaian pengukur frekuensi, time base di atur pada 10 μdetik sehingga sinyal yang dihitung dan (time base frekuensi 100 khz), dan sinyal gating bertukar tempat. jumlah pulsa 100 kHz yang Pada gambar 8-18. diperlihatkan, muncul selama perioda sinyal, blok diagram counter dalam mode yang tidak diketahui dihitung dan penguran “perioda”. Sinyal gating didisplay pada DCAs. dibentuk dari input yang tidak diketahui, sekarang mengatur,

Gambar 8 – 18. Diagram blok dari counter pada mode kerja “periode tunggal” dan “periode ganda rata-rata”

Ketelitian dari pengukuran perioda dapat dinaikkan dengan menggunakan mode kerja “perioda ganda rata-rata”. Pengukuran tipe ini sama dengan pengukuran perioda tunggal, yaitu sinyal gating dibentuk dari sinyal input yang tidak diketahui dari sinyal yang dihitung dari time base osilator. Perbedaan dasar ialah bahwa gerbang utama diteruskan terbuka untuk lebih lama dari suatu periode sinyal yang tidak diketahui. Ini dipenuhi dengan melewatkan sinyal yang tidak diketahui melalui satu atau lebih DDAs, sehingga periode ini diperlebar dengan faktor 10,100 atau lebih. Gambar 8-18. memperlihatkan mode periode ganda rata-rata, sebagai modifikasi pengukuran periode tunggal dengan

memotong jalur dari blok diagram. Frekuensi kristal 1 MHz dibagi oleh 1 DDA menjadi frekuensi 100 khz (periode 10 μdetik). Pulsa clock ini dibentuk oleh frekuensi trigger dan dimasukkan pada gerbang utama untuk dihitung. Sinyal input yang periodenya akan diukur diperkuat, dibentuk dengan trigger perioda, dan masuk ke 5 DDAs secara cascade, menghitung frekuensi input yang dibagi dengan faktor 105. Sinyal yang terbagi ini kemudian dibentuk dengan “multiple-period trigger” (rangkaian schmitt trigger lainnya) dan masuk pada “gerbang control flip-flop”. Gerbang control ini memberikan “pulsa stop” dan pulsa yang memenuhi untuk gerbang utama. P ada umumnya, gerbang utama selalu terbuka dengan membersarnya interval waktu, pada kenyataannya

kenaikan interval waktu ini 105. dalam hal DCAs menghitung jumlah dari interval 10 μdetik yang terjadi selama 100.000 x perioda input. Pembacaan logik direncanakan supaya titik desimal display berada pada tempat yang tepat. 8.3.4.Pengukuran Perbandingan atau Perbandingan Ganda Pengukuran perbandingan adalah efek dari pengukuran periode dengan frekuensi dari dua sinyal yang lebih rendah berfungsi sebagai “gating sinyal” dan frekuensi sinyal yang lebih tinggi sebagai sinyal yang dihitung

(counted sinyal). Dengan perkataan lain, frekuensi sinyal yang lebih rendah mengambil alih time base. Pada blok diagram gambar 8-19. menunjukkan hal ini. Jumlah siklus sinyal frekuensi tinggi f1 yang terjadi selama perioda sinyal frekuensi rendah f2 dihitung dan didisplay pada DCAs. Pengukuran perbandingan ganda memperluas perioda sinyal frekuensi rendah dengan suatu faktor misalnya 10.000 dan sebagainya. Perlu dicatat bahwa “selektor time base” pada posisi “external” dan f1 mengambil alih fungsi “osilator internal”.

Gambar 8-19. Blok diagram counter yang bekerja sebagai “perbandingan” dan “perbandingan ganda”.

8.3.5. Pengukuran Interval Waktu Dengan Counter Blok diagram untuk pengukuran ini Pengukuran interval waktu dapat diberikan pada gambar 8-20. dilakukan dengan blok dasar Bentuk ini memperlihatkan dua seperti pada pengukuran input terminal A dan B diparalel “perbandingan”. Pengukuran ini dan satu kanal memberikan pulsa berguna untuk mencari lebar pulsa yang memenuhi untuk gerbang dari suatu bentuk gelombang. utama dan pada kanal yang lain

dimana rangkaian ditrigger. Satu penggunaan dari pengukuran waktu interval memerlukan kejelasan lebar pulsa dan rise time dari gelombang yang tidak ada diketahui. gerbang sinyal dibuka dan ditutup oleh sinyal input.pulsa yang tidak memenuhi. dengan menggunakan bagian “slope-selection” dari instrumen (lihat gambar 8 . kapan pengukuran dimulai dan kapan berhenti.21. Gerbang utama terbuka pada titik “leading edge” dari gelombang sinyal input dan tertutup pada titik “Trailing edge” dari gelombang yang sama.3. tetapi satu schmitt trigger bereaksi pada “positif going sinyal” dan schmitt trigger lainnya bereaksi pada “negatif going sinyal”.6. Semua pulsa dibentuk dari gelombang input yang sama. Pengaturan ini dapat memperkecil noise dan mengurangi pengaruh adanya harmonik pada pengukuran.21). Gambar 8-20. “Trigger level” control memilih suatu titik dari gelombang sinyal datang. Pengukuran Interval Waktu Pada pengukuran interval waktu. Kerja dari pengaturan trigger level diperlihatkan pada gambar 8 . Gerbang sinyal dibuka pada suatu titik pada “leading edge” dari input . Blok diagram counter sebagai pengukur “interval waktu” 8. sedangkan multiple period trigger mensupply pulsa penutup untuk gerbang utama. melewatkan frekuensi time base untuk dihitung. baik positif atau negatif. Suatu ”trigger level” mengatur pemilihan titik pada gelombang yang datang. Ini dinyatakan sebagai “slope selection” seperti yang diberikan pada blok diagram. Pada diagram blok gambar 8-20. trigger perioda melengkapi pulsa pembuka untuk gerbang utama.

Lebar pulsa dicatat oleh pencatat digital dan tergantung pada setting dari “time base selektor”. Slope triggering Penggunaan lainnya diperlihatkan pada gambar 8 . Gerbang tertutup pada suatu titik pada “trailing edge dari sinyal input oleh trigger level control dari amplifier B. Gambar 8 – 22. Trigger level control Bila time base selektor di set pada 1μ detik (frekuensi 1 MHz) counter membaca interval waktu langsung dalam 1μ detik. Fungsi relay untuk mengatur pembukaan atau penutupan gerbang sinyal dan jumlah siklus time base generator dihitung oleh DCAs. . Gambar 8 – 21.23. Disini suatu electronic counter digunakan untuk mengukur waktu delay dari suatu relay.sinyal oleh trigger level control dari amplifier A.

faktor skala 12 diberikan. dari jumlah kotak yang datang pada jalur produksi sampai pulsa detektor partikel nuklir. Sebagai contoh. Scaler adalah totalizer dengan beberapa macam faktor skala yang dipasang sebelum “Readout”. 8. saat mereka tertutup. Gerbang ditutup oleh kontak normal terbuka. Scaler pada umumnya berguna untuk merubah unit. faktor skala adalah jumlah pulsa dari generator tachometer perputaran. saat aktif tertutup. Totalizer Totalizer menghitung dan melengkapi pembacaan (read out) dari jumlah total pulsa yang diterima DCAs. dimana diketahui jumlah total putaran. Totalizer dapat digunakan untuk menghitung segala sesuatu. Gerbang dibuka oleh peniadaan tegangan coil. Pengukuran waktu delay suatu relay Waktu respon yang berbeda-beda diukur seperti berikut : Waktu delay Waktu transfer : Waktu pick-up : Waktu drop-out : : Gerbang dibuka dengan adanya tegangan coil. dengan tidak menggunakan waktu gerbang khusus. saat mereka kembali ke posisi terbuka normalnya pada pen-energian kembali coil tersebut. Penskalaan mudah dipenuhi dengan cara yang sama. Gerbang dibuka oleh kontak normal tertutup. Gerbang dibuka oleh penggunaan tegangan coil. diturunkan dari . Hal yang sama digunakan pada tachometer. saat mereka terbuka. Gerbang ditutup oleh kontak normal terbuka. sehingga setiap hitungan menyatakan 1 lusin telur. Gerbang ditutup oleh kontak normal terbuka. Gerbang ditutup oleh kontak yang normal tertutup (normally clossed contacts).7. bila mereka terbuka.3. bila kita memperoleh satu pulsa untuk setiap telur yang berguling ke bawah dan kita ingin mengetahui berapa lusin telur yang berguling.Gambar 8 – 23.

20 dan 25. Suatu penggunaan totalizer adalah “Preset Counter” (Penskalaan Khusus) yang tepat untuk pengaturan proses. 1 detik dan 10 detik yang melengkapi digital counter-time-frequency meter mempuny ai display 3 digit. 100 m detik. disebut dengan menggunakan pembagi binary (2). dapat memperlihatkan pembacaan 003 pada kedua kasus diatas. dan menghentikannya setelah putaran 50 lilitan yang diperlukan. Misalkan kita menginginkan men “tap” coli pada lilitan ke 10. Dengan menggunakan y preset number.4 KHz t 10 x10 − 3 b. misalkan kita menggulung lilitan kawat dan kita dapatkan pick off yang menghasilkan satu pulsa setiap lilitan. Bila jumlah total pada read-out terbaca hal yang sama seperti pada jumlah “Preset” (yang diketahui dari switches). . dengan menggunakan contact closure untuk menjalankan mekanisme pengeluaran. pulsa ditimbulkan dan unit ini berhentimenghitung sampai reset. misalnya 100m detik. Contoh Aplikasi Perioda gerbang 1 m detik. dan berhenti pada yang keempat. maka kontak penutup (contact closure) pada preset nomer dapat digunakan untuk mengatur mekanisme perlilitan. setiap 100 telur yang diambil dari kandang dan telah diperiksa. Supaya diperoleh hasil yang lebih baik (resolusi yang lebih baik) kita harus menggunakan waktu gating yang lebih tinggi. atau tipe lain dari feedback dividers. Sebagai contoh. Frekuensi f : N 034 = = 3400Hz = 3. Bila diperlukan 50 lilitan. Kontak penutup (contact closure) yang ditambahkan pada preset nomer dapat digunakan sebagai pengatur mesin.499 karena meter mempunyai display 3 digit. Fungsi ganda dapat diperoleh dengan menggunakan lebih dari satu preset number dan set of switches. Bila frekuensi antara 3000 dan 3499 Hz -3 pembacaan akan : 3000 x 1 x 10 = 3. misalnya 1 ms. c. Perioda gating 10m detik dipilih untuk mengukur frekuensi yang tidak diketahui dan diperoleh pembacaan 034. kita harus menggunakan waktu gatingyang lebih rendah. pembagi dekade (10). Untuk menguji hasil. kita dapat memerintahkan mesin untuk membuat “tap” bila dia mencapai 3 pertama dari lilitan preset number. Fungsi yang sama dapat sangat berguna pada program quality-control yang memerlukan sample dari setiap jumlah unit yang diberikan. tetapi melanjutkan menghitung sampai mencapai jumlah keempat.time base. 10 m detik. Berapakah harga frekuensi ? langkah-langkah apa yang diambil untuk (a) menguji kepercayaan hasilnya ? (b) memperoleh hasil yang lebih teliti ? Penyelesaian a. Sebagai contoh. Counter akan menutup kontak sementara.

Read-out dalam detik. Misalkan frekuensi 3424 Hz dan waktu gating Contoh Aplikasi ditetapkan 1 detik. Tetapi karena meter hanya mempunyai 3 digit.005% pembacaan = ± 6 Digit pada LSD sekarang mempunyai harga 1μ detik. ±1 dalam digit terakhir.025 ± 1. .025 detik.005% pembacaan = ± 0.3 = 342. m detik dan μ detik. Karena itu pembacaan 500 detik tidak dapat dilakukan pada range μ detik. 100 c. Pembacaan 00 000 500 detik atau pembacaan 500 detik. Berapakah ketelitian nominal maksimum dalam unit waktu dengan mana pembacaan b.000 m detik. Pembacaannya adalah 3424 x 1 = 3424. 100 ∴ Kesalahan 0. 0.005 x 500 = ± 0. Misalkan instrumen ini memenuhi spesifikasi. Digit pada LSD sekarang mempunyai harga 1 detik. 00 000 500 detik ? c. 500 detik = 500 x 103m detik = 50. sebab meter hanya Marilah dicoba readout m detik.005 6 x 5 x 10 = ±250 μ detik. b. Pembacaan 05 000 000 μ detik atau pembacaan = 5000 000 μ detik = 5 x 10 μ detik. Kesalahan minimum diperoleh bila waktu dibaca pada read-out μ detik. maks. 05000000 μ detik b. 6 500 s = 500 x 10 μ detik = 500 000 000 μ detik. berapakah kesalahan maksimum bila pembacaan : a. Suatu timer digital dengan read-out 8 digit ditetapkan untuk mendapatkan ketelitian 0. mempunyai display 8 digit.Misalkan frekuensi lebih mendekati 3420 Hz daripada 3400 Hz Pembacaan meter akan 3420 x 100 x 10. 0. Pembacaan ini memerlukan posisi 9 digit dan karena meter digunakan pada read out μ detik akan memperlihatkan adanya overflow. Tidak ada kelebihannya bila waktu gating dinaikkan menjadi 1 detik atau 10 detik.005 % dari pembacaan.025 detik. Hal yang sama untuk gating time (waktu gating) 10 detik. meter akan menunjukkan suatu overflow. ∴ kesalahan maksimum = ± 0. dapat dilakukan dengan instrumen ini ? Penyelesaian a. Ketelitian maksimum berarti kesalahan minimum. ± 250 ± 1 = 251 μ detik.

Gambar 8-24.005 x500 x10 3 = ± 25 m detik.4. Ketelitian maksimum yang mungkin. gerbang utama terbuka dan tertutup oleh pulsa output osilator.4. 0.∴ readout m detik akan mendisplay pembacaan : 00 500 000 0. Untuk pengukuran frekuensi. Kesalahan pada “gate” Pengukuran frekuensi dan waktu dengan counter elektronik mempunyai beberapa ketidaktelitian. pada kenyataannya keduanya adalah sinyal yang sama sekali tidak berhubungan. interval gating diberikan oleh gelombang. Dengan jelas. Sehingga terdapat ketidakpastian perhitungan ±1 dalam pengukuran ini. dalam hal yang lain hanya 5 pulsa dapat lewat melalui gerbang. Pada gambar 8-24. Gelombang (a) dan (b) menyatakan sinyal input yang mempunyai fasa berbeda dibandingkan dengan sinyal gating. Kesalahan pengukuran 8.1. karena instrumen itu sendiri. dengan mana pembacaan 500 detik dapat dilakukan oleh meter ini ialah ± 25 ± 1 = ± 26m detik. Dalam mengukur frekuensi rendah. 100 ∴ 8. Ini menyebabkan sinyal input dapat lewat melalui gerbang dan dihitung oleh DCAs. Pulsa gating tidak sinkron dengan sinyal input. gating error dapat mempengaruhi pada kesalahan hasilnya. pada satu hal akan terbaca 6 pulsa. Gating error . Ambilah sebagai contoh pada keadaan dimana frekuensi 10 Hz yang akan diukur dan interval gating time 1 detik (pemisalan yang beralasan). Satu kesalahan instrumen yang paling umum adalah “gating error” yang terjadi pada pengukuran frekuensi dan perioda.005% pembacaan = ± LSD mempunyai harga 1 ms.

ketidaktelitian 10%. fx Pada pengukuran frekuensi dengan gerbang waktu 1 detik. yang dinyatakan 1 siklus pada frekuensi osilator kristal 1 MHz.Dekade counter akan menunjukkan 10 ±1. time base juga membuka dan menutup sinyal gerbang. Kesalahan time base terdiri dari kesalahan kalibrasi osilator. jumlah pulsa yang terhitung sama dengan Np = fc . Garis pemisah antara pengukuran frekuensi dan pengukuran perioda dinyatakan sebagai berikut. dimana Np = Nf adalah : fc = fo atau fo = fo Sinyal pada frekuensi lebih rendah dari fo akan dapat diukur pada mode “period”. Pada pengukuran frekuensi. Kesalahan Time Base Ketidaktelitian pada time base juga menyebabkan kesalahan pengukuran. ketelitian kalibrasi pada umumnya dapat mencapai 1 bagian dalam 107. sebagai contoh dengan menggunakan CRO. Oleh karena itu pada frekuensi rendah pengukuran periode lebih disukai dari pada pengukuran frekuensi. Metoda ini memberikan hasil yang dapat dipercaya. supaya meminimumkan pengaruh dari gating error ± 1. dan ini melengkapi pulsa yang dihitung. Beberapa stasiun radio dengan frekuensi sangat rendah (VLF) meliputi daratan Amerika Utara dengan sinyal yang tepat pada range 16-20 kHz. Satu dari teknik kalibrasi yang paling sederhana adalah men “zerobeat” osilator kristal dengan frekuensi standar yang ditransmisikan oleh stasion radio standard seperti fc ketelitian pada fo disebabkan oleh gating error ± 1 adalah 100 fc persen. Frekuensi cross over. Pada pengukuran perioda.2. dengan tingkatan ketelitian 1 bagian untuk 106. fx = frekuensi dari sinyal input yang tidak diketahui. jumlah pulsa yang terhitung Nf = fx. misalkan : fc = frekuensi kristal (atau frekuensi clock) dari instrument. Frekuensi pendengar yang rendah cocok untuk “Automatic Servo-Controlled Tuning” yang dapat di “Slaved” ke . 8. Beberapa metoda untuk kalibrasi kristal sering digunakan. Bila “zero beating” dilakukan secara visual (daripada untuk di dengar).4. Pengurangan . kesalahan stabilitas kristal jangka pendek dan jangka panjang.

Stabilitas jangka panjang adalah fungsi dari usia dan memperburuk kristal. karena jalan transmisi untuk frekuensi yang sangat rendah lebih singkat dari pada untuk transmisi frekuensi tinggi. Ketepatan perubahan frekuensi kristal mulamula pada orde 1 bagian per 106 per hari. secara normal kira-kira 50 s/d 60o C. tegangan selama perbuatan dibebaskan. Karena kristal pada temperatur bersiklus dan dijaga pada osilasi yang kontinu. Kesalahan stabilitas jangka panjang merupakan sumber ketidaktelitian pada pengukuran frekuensi atau waktu. dengan stabilitas puncak 1 bagian per 109. Kecepatan ini akan menurun. Kurva perubahan frekuensi terhadap waktu diperlihatkan pada gambar 8–21. siklus pemanasan kristal. fenomena ini akan menyebabkan kenaikan frekuensi osilator. Kalibrasi sumber frekuensi lokal. schock dan vibrasi. slope baru karena bertambahnya usia akan terjadi . Bila instrumen yang mengandung kristal dibuka dari sumber daya untuk perioda waktu yang cukup untuk pendinginan. Kesalahan ini dapat diminimumkan dengan mengambil pengukuran frekuensi selama selang waktu gerbang time yang panjang (10 detik sampai 100 detik) dan pengukuran perioda rata-rata ganda (multiple periode average measurement). Kesalahan stabilitas kristal jangka pendek disebabkan oleh variasi frekuensi sesaat karena transien tegangan. dan partikel kecil yang tertangkap pada permukaan dialirkan untuk mengurangi ketebalannya. Kesalahan antara osilator kristal lokal dengan sinyal yang datang dapat direkam pada “strip-chart recorder”. bila kristal digunakan pada temepratur operasinya. Gambar 8–25. Gambar untuk stabilitas jangka pendek pada kombinasi standar kristaloven pada orde 1 atau 2 bagian per 107. Diagram yang disederhanakan untuk prosedur ini diberikan pada gambar 8-25. Ketelitian kalibrasi dapat diperbaiki dengan menggunakan stasion VLF daripada stasion HF. interferensi listrik dan sebagainya.salah satu sinyal dari stasion ini. Pada umumnya.

Pada penggunaan yang umum. dan dicapai stabilitas jangka (longterm stability) 1 bagian dalam 108 per hari. Pada pengukuran interval waktu dan periode. dilakukan kalibrasi. Perubahan frekuensi terhadap waktu untuk “oven-controlled crystal” Untuk memperlihatkan efek stabilitas jangka panjang dengan ketelitian pengukuran yang absolut. Kesalahan “Level trigger”. Ketelitian yang digaransikan saat ini adalah 1 x 10-9 + 60 x 10-8 = 6. atau 6 bagian dalam 107.3. Ketelitian dengan mana gerbang dibuka atau ditutup adalah fungsi dari kesalahan “Trigger Level”. Pada umumnya kita dapat mengatakan bahwa kesalahan waktu trigger dikurangi dengan amplitudo sinyal yang besar dan rise time yang cepat. Mungkin frekuensi osilasi yang sebenarnya sesudah pendinginan akan berubah beberapa siklus. misalkanlah osilator dikalibrasi 1 bagian dalam 109. 8.01 x 10-7. sinyal input diperkuat dan dibentuk. .bila instrumen digunakan kembali. sehingga dapat dilihat bahwa ketelitian absolut maksimum dapat dicapai. Biasanya sinyal input berisi sejumlah komponen yang tidak diharapkan atau noise. Misalkan lebih lanjut bahwa kalibrasi dilakukan 60 hari yang lalu. bila kalibrasi yang tepat dilakukan pada waktu yang relatif pendek sebelum digunakan untuk pengukuran. kecuali Gambar 8 .4. yang akan diperkuat bersama-sama dengan sinyal. dan kemudian dimasukkan ke rangkaian schmitt trigger yang mensuplay gerbang ini dengan pula pengatur. Waktu dimana terjadi terigger pada rangkaian schmitt adalah fungsi dari penguatan sinyal input dan dari perbandingan “sinyal to noise”. sinyal gerbang dibuka dan ditutup oleh sinyal input. dan frekuensi permulaannya tidak akan dicapai lagi.26.

Pengaruh dari kesalahan “onecount gating error” (satu hitungan pada gerbang) diminimumkan dengan pengukuran frekuensi lebih besar dari vfc dan pengukurandi di bawah vfc. b. c. Karena stabilitas jangka panjang mempunyai pengaruh yang akumulatif. ketelitian pengukuran sangat tergantung pada waktu sejak kalibrasi terakhir terhadap standard primer atau sekunder. dimana fc adalah frekuensi clock dan counter.Ketelitian maksimum diperoleh bila hal-hal seperti di bawah ini terjadi : a. . Ketelitian dari pengukuran waktu sangat dipengaruhi oleh slope dari sinyal datang yang mengatur sinyal gerbang. Amplitudo sinyal yang besar dan rise time yang cepat memberikan ketelitian yang maksimum.

© Agilent Technologies.com/vidprmr.LAMPIRAN. USA. Electrical And Electronic Instrumentation. Singpore.gekco.newarkinone.agilent. (1984). Stanford.leica-geosystems. Publication Jhn Wiley And Son. (Terjemahan Sahat Pakpahan).htm tanggal 1 Oktober Hai Hung Chiang. William D. A wiley Interscience New York. 1999. 2002.com/brands/p romos/ Earth_Ground_Resistance. To view a copy of this license. visit http://creativecommons. Garmin Corporation. http://www.2007. GPS Guide for beginner.Inc. USA. Jakarta : Penerbit Erlangga. Science Learning Center.pdf Garmin.0. Copyright Gekco. 1984. www.org/licenses Bernard Grob.garmin. Basic Television And Video Sistem. Principles testing methods and applications.1999.Ltd Fluke. A Video Tutorial. California 94305. http://www. Mc Graw Hill International Edition Singapore Carson Kennedy. A DAFTAR PUSTAKA Agilent.com Cooper. Integreted Circuit And Semiconductor Devices : theory and application. USE OF THE OSCILLOSCOPE. www.1977. USA David Matzke dkk.(2000). www. version 1.com Basic oscilloscope operationCreative Commons Attribution License. Tokyo Japan : Kogakusha. Leica Geosystem AG. Deboo and Burrous. Data University Of Michigan-Dearbon. .thinkhost.com Gekco.(Buku asli diterbitkan tahun 1978) Creative Commons 559 Nathan Abbott Way. Switzerland. Agilent Test. Agilent Automotive Electronics 10 Aplication Note on Design Debug and Function. Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran. Introduction to GPS (Global Position System).

knoppinc.howstuffworks. Bandung : CV.. 2000. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik.2002.3 Wires Sequence Indikator.com/tesco-phase-sequence.html R. Tersedia dalam http://www. Posted by bailarina on 29 May 2007. All rights reserved.M. Pradnya Paramita. http://www. 2007.htm Soedjana. http://www. MRI ( Magnetik Resonance Imaging ) Instalasi Radiologi.S.mht Jean-Marie Zogg. Nishino. S.S. Instruction Manual LCR Bridge Model LCR-740. Phase Squence Indoicator . 3 PHASE .Inc. 2007 Healthline Networks.healthline. San Dimas CA 91773. Manual stargass : http://images.tescoadvent.de/file/353bb62d149fcebb6f5537f0c8f152 203b41f7c9 Muslimim .html diakses tanggal 19 Juni 2008 Magellan. Panti Rapih. Equipment Information. Magellan Maestro TM 4050 User Manual.htm Leader Electronics.com Kamran Khan.the free encyclopedia.diagnostic medical IS\Medical ultrasonography Wikipedia. Alat-alat Ukur Listrik dan Pengukuran Listrik.R. Panti Rapih .mycdmm. http://health. Thalwil Switzerland.sribd. www.Armico. www.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information http://www.Healthline Network. . Leader electronics. (2007). O.com/phase_seq.com/lemagicien_2000/elecpage/3phase/3pha se. Magellan Navigation Inc. XYZ of Oscilloscopes.com Knopp Intercorporated.u-blox. tesco dua kawat . Inc.Corp. 1976.geocities. Jakarta : PT. GPS Basics Introduction to the system Aplication overview.com/mri1. Le Magicien. 1984. http://www.

htm) http://www.cgi?fC=The_Atomhttp://www.howstuffworks.tek.org/licenses Creative Commons 559 Nathan Abbott Way. To view a copy of this license. Textronics. USA Instrument Co.nmr-services.htm "http://en. Stanford. visit http://creativecommons. Fundamentals Of Real-Time Spectrum Analysis. Intermediate Vocational Course. www. Global Positioning System.pdf http://productsearch.com/signal_generators 9 (www.0. Textronix.cfm?PG=PET&bhcp=1 http://rst.doctronics.medicalim http://www. California 94305.Ltd. USA.htm http://www. Stanford.gov/Intro/Part2_26d.wikipedia. Instructional Manual YX-360 TRD Multitester.2007. Andra Pradesh.com/Measurement/App_Notes/37W_18400/eng/37W_184 00_0.nasa.org/wiki/CRO/Cathode_ray_tube" www. 2005.com/monitor1.gsfc.tektronix.org/wiki/GPS http://computer.radiologyi nfo.aboutnuclear. Sanwa Electric nd Sri M. Inc.org/view.Sanwa Electric.machinedesign. Director of Intermediate Education Govt. http://wikipedia.co.uk/scope. Basic oscilloscope operationCreative Commons Attribution License. 2 Year TV servicing Lab-II Manual.version 1.com/featuredproducts/Industrial_Co mputers_Embedded_Computer_Components/Data_Acquisition/Spe ktrum_Analyzers_Signal_Analyzers http://www.interq or japan/se-inoue/e -oscilo0.com /Process%20NMR .tektronix. 2005.htm http://www.org/en/info.com Wikipedia. Shanmukha Chary.

nasa.com /Process%20NMR http://www.tek.duncaninstr.radiologyinfo.org/en/info.http://www.gsfc.com/Downloads/Manuals/Files/IntelliMap640c_01 43-881_121305.pdf http://www.pdf http://productsearch.com/cmswpt/tidownload.lotr?ct=TI&cs=wpp&ci=3696&lc= EN&wt=480&wtwi=3696&wtla=EN&wtty=TI&wtsty=White+Paper&wt pt=DOWNLOAD&wtbu=Instrumens+Business&wtpl=Real+Time+Sp ektrum+Analyzers&wtlit=37W-192850&wtsize=27+KB&wtver=1.nmr-services.humminbird.gov/Intro/Part2_26d.medicalim http://www.org/view .lotr?ct=TI&cs=wpp&ci=3696&lc= EN&wt=480&wtwi=3696&wtla=EN&wtty=TI&wtsty=White+Paper&wt pt=DOWNLOAD&wtbu=Instrumens+Business&wtpl=Real+Time+Sp ektrum+Analyzers&wtlit=37W-192850&wtsize=27+KB&wtver=1.tek.com/cmswpt/tidownload.machinedesign.com/featuredproducts/Industrial_Co mputers_Embedded_Computer_Components/Data_Acquisition/Spe ktrum_Analyzers_Signal_Analyzers http://www2.0&wtcat=tektronix&wtnbrp=0&wtmd=RS A2203A%2CRSA2208A%2CRSA3303A%2CRSA3308A%2CRSA3 408A&wtti=EMI+Measurements+Using+Tektronix+RealTime+Spektrum+Analyzers http://images.htm http://www.com/images http://www.eaglesonar.com/images/ PDF/737.de/file/353bb62d149fcebb6f5537f0c8f152203b41f 7c9 Manual stargass (www.mycdmm.0&wtcat=tektronix&wtnbrp=0&wtmd=RS A2203A%2CRSA2208A%2CRSA3303A%2CRSA3308A%2CRSA3 408A&wtti=EMI+Measurements+Using+Tektronix+RealTime+Spektrum+Analyzers http://www.com/Measurement/App_Notes/37W_18400/eng/37W_184 00_0.cfm?PG=PET&bhcp=1 http://rst.pdf tanggal 20 Desember 07 http://www2.aboutniclear.wikimediafoundation.org/ Oktober 2007) http://www.tek.

gov/Intro/Part2_26c.radiologyinfo.pdf .mht.com/images/PDF/737.healthline.cfm?PG=PET&bhcp=1http://rst.nmr-services.healthline.nasa.gov/Intro/Part2_26d.nmr-services.cfm?PG=PET&bhcp=1 http://rst.cgi?fC=The_Atomhttp://www.medicalim http://www.com/mri1.gsfc.htm http://www.nasa.http://www.cfm?PG=PET&bhcp=1 http://rst.org/wiki/Medical_imaging http://www.nasa.org/en/info.aboutnuclear.gov/Intro/Part2_26d.htm http://www.gsfc.gsfc.gov/Intro/P art2_26d.radiologyinfo.html CT ijo http://rst.gsfc.radiologyinfo.wikipedia.org/en/info.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information http://health.medicalim http://www.gsfc.nasa.nasa.com\CTscan\ Ctimaging equipment Information http://health.org/wiki/Functional_magnetik_resonance_imaging http://en.com/mri1.org/en/info.radiologyi nfo.org/view.com /Process%20NMR http://www.org/en/info.howstuffworks.htm http://www.htm http://www.wikilipedia.DiagnostikMedicalIS/Medicalultrasonography-Wikipedia.the freeencyclopedia.com /Process%20NMR http://www.humminbird.cfm?PG=PET&bhcp=1 http://rst.html sumber CAT http://www.gov/Intro/Part2_26b.html http://en.howstuffworks. http://www.

Tabel Tabel 1-1 Tabel 1-2 Tabel 1-3 Tabel 1-4 Tabel 1-5 Tabel 1-6 Tabel 1-7 Tabel 1-8 Tabel 1-9 Tabel 2-1 Tabel 2-2 Tabel 2-3 Tabel 2-4 Tabel 2-5 Tabel 2-6 Tabel 2-7 Tabel 2-8 Tabel 2-9 Tabel 2-10 Tabel 3-1 Tabel 3-2 Tabel 3-3 Tabel 4-1 Tabel 4-2 Tabel 4-3 Tabel 5-1 Tabel 5-2 Tabel 5-3 Tabel 5-4 Tabel 5-5 Tabel 6-1 Tabel 6-2 Tabel 6-3 Tabel 9-1 Tabel 9-2 Tabel 9-3 Tabel 9-4 Tabel 9-5 Tabel 9-6 Tabel 10-1 Tabel 11-1 Nama Tabel Besaran-besaran satuan dasar SI Beberapa contoh satuan yang diturunkan Perkalian desimal Satuan bukan SI yang dapat dipakai bersama dengan satuan Konversi Satuan Inggris ke SI Letak alat ukur waktu digunakan Beberapa Contoh Alat Ukur Penunjuk Listrik Tabel kebenaran decoder BCD Karakteristik beberapa fosfor yang lazim digunakan Kalibrasi Arus Harga Rx dan D Spesifikasi Umum Meter Elektronik Analog Probe Multimeter Pengukuran Tegangan Tinggi Range Pengukuran dan Akurasi Kalibrasi Voltmeter Kesalahan dan Koreksi Relatip Kalibrasi Arus Kesalahan dan Koreksi Relatip Spesifikasi Multimeter Digital Pembacaan nilai pengukuran Pengaturan saklar NORMAL pada +1. Internal Impedance. arus perkiraan 1/5A Range Tegangan dan Arus Tahanan pentanahan Panduan Penetapan Penyelidikan Spesifikasi Field Meter Statik Data Teknik Spesifikasi Smart Field Meter Spesifikasi generator fungsi Crest faktor dan bentuk gelombang Konversi dBm Span dipilih.LAMPIRAN B DAFTAR TABEL No. and rated power loss Konstanta Pengali (Tegangan perkiraan 120/240V.00 Range multiplier Rating. dihapus dan kecepatan sampel efektif Perbandingan pengaruh perubahan pengaturan span pada ranah frekuensi dan waktu Beberapa model penganalisa spectrum waktu riil Data Spesikasi Simbol-simbol keamanan Kebutuhan Alat Pelengkap Saklar pola gambar Spesifikasi Halaman 3 4 5 5 6 9 13 33 39 50 64 72 72 73 84 85 89 90 114 145 146 158 175 179 194 221 226 239 243 246 250 272 273 388 389 414 415 415 416 456 502 .

Tabel 11-2 Tabel 11-3 Tabel 12-1 Karakteristik Pengetesan Alat Cakupan Nilai Antara Kandungan Gas Aman Faktor-faktor kesalahan 503 515 538 .

LAMPIRAN C DAFTAR GAMBAR No. Gambar Gambar 1-1 Gambar 1-2 Gambar 1-3 Gambar 1-4a Gambar 1-4b Gambar 1-5 Gambar 1-6 Gambar 1-7 Gambar 1-8 Gambar 1-9 Gambar 1-10 Gambar 1-11 Gambar 1-12 Gambar 1-13 Gambar 1-14 Gambar 1-15 Gambar 1-16 Gambar 1-17 Gambar 1-18 Gambar 1-19 Gambar 1-20 Gambar 1-21 Gambar 1-22 Gambar 1-23 Gambar 1-24 Gambar 1-25 Gambar 1-26 Gambar 1-27 Gambar 1-28 Gambar 1-29 Gambar 1-30 Gambar 1-31 Gambar 1-32 Gambar 1-33 Gambar 1-34 Gambar 1-35 Gambar 1-36 Gambar 1-37 Gambar 1-38 Gambar 1-39 Gambar 2-1 Gambar 2-2a Gambar 2-2b Gambar 2-3 Nama gambar Alat ukur standar galvanometer Alat ukur sekunder Posisi pembacaan meter Pembacaan yang salah Pembacaan yang benar Pengenolan meter tidak tepat Posisi pegas Kalibrasi sederhana ampermeter Kalibrasi sederhana voltmeter Hukum tangan kiri Fleming Prinsip kerja alat ukur Momen penyimpang Penentuan dari penunjukkan alat ukur kumparan putar Skala alat ukur kumparan putar Peredaman alat ukur kumparan putar Gerakan jarum penunjuk dari suatu alat ukur Prinsip kerja instrumen tipe tarikan Beberapa bagian instrumen tipe tarikan Besarnya momen gerak Beberapa bagian penampang jenis repulsion Dua buah lembaran besi yang berbentuk seperti lidah Prinsip alat ukur elektrodinamis Rangkaian ampermeter elektrodinamis Rangkaian voltmeter elektrodinanmis Skema voltmeter elektrostatis Rekombinasi elektron Polaritas dan simbol LED LED Rangkaian LED Skematik seven segmen Peraga seven segmen Rangkaian dekoder dan seven segmen Macam-macam peragaan seven segmen Konstruksi LCD Contoh peraga LCD pada multimeter Perkembangan LCD pada implementasi monitor TV Skema CRT Cutaway rendering of a color CRT Senapan elektron Tanda skala gratikul Basic meter unit Ampermeter shunt Ampermeter dengan basic meter unit Contoh soal ampermeter shunt Halaman 2 3 7 7 7 7 8 10 11 14 15 16 17 17 18 19 20 21 21 23 23 25 26 26 27 29 29 30 30 31 31 32 32 33 34 35 36 36 37 40 42 43 43 44 .

Gambar 2-4 Gambar 2-5 Gambar 2-6 Gambar 2-7 Gambar 2-8 Gambar 2-9 Gambar 2-10a Gambar 2-10b Gambar 2-11 Gambar 2-12 Gambar 2-13 Gambar 2-14 Gambar 2-15 Gambar 2-16 Gambar 2-17 Gambar 2-18 Gambar 2-19a Gambar 2-19b Gambar 2-20a Gambar 2-20b Gambar 2-21 Gambar 2-22 Gambar 2-23 Gambar 2-24 Gambar 2-25 Gambar 2-26 Gambar 2-27 Gambar 2-28 Gambar 2-29 Gambar 2-30 Gambar 2-31 Gambar 2-32 Gambar 2-33 Gambar 2-34 Gambar 2-35 Gambar 2-36 Gambar 2-37 Gambar 2-38 Gambar 2-39 Gambar 2-40 Gambar 2-41 Gambar 2-42 Gambar 2-43 Gambar 2-44 Gambar 2-45 Gambar 2-46 Gambar 2-47 Gambar 2-48 Gambar 2-49 Ampermeter dengan ring yang berbeda Ayrton shunt Rangkaian penyearah pada Ampermeter AC Contoh dasar ampermeter AC Hasil posisi pembacaan meter Kalibrasi arus Rangkaian tanpa meter Rangkaian dengan meter Rangkaian ekivalen thevenin Contoh soal thevenin Contoh soal Contoh soal Voltmeter DC sederhana Voltmeter dengan basic meter unit dan multiplier Contoh soal voltmeter Contoh Implementasi Tegangan tanpa meter Tegangan dengan meter Rangkaian tanpa meter Rangkaian dengan meter Rangkaian penyelesaian aplikasi 1 Rangkaian penyelesaian aplikasi 2 Dasar ohmmeter seri Pembuatan tanda/skala ohmmeter Skala logaritmis pada ohmmeter seri Aplikasi ohmmeter seri Dasar ohmmeter parallel Skala ohmmeter parallel Jenis-jenis multimeter elektronik di pasaran Mulmeter elektronik Rangkaian voltmeter DC elektronik penyearah Rangkaian ohmmeter elektronik Gambar saklar jarum nol Gambar pemilih fungsi Panel depan Fungsi jarum penunjuk Fungsi skala Fungsi zero adjust secrew Fungsi ohm adjust knob Fungsi selector switch Fungsi lubang kutub (VAO terminal) Fungsi lubang kutub + (common terminal) Knob pemilih range Rangkaian pengukur tegangan DC Penunjukan pengukuran tegangan DC Pengawatan pengukuran tegangan DC salah Knob pemilih range Rangkaian pengukuran tegangan AC jala-jala PLN 45 46 47 48 49 49 50 51 51 52 52 54 54 55 56 57 60 60 60 60 61 62 63 65 65 66 67 67 68 69 69 70 71 74 74 75 75 75 76 76 77 77 78 78 79 79 80 80 81 .

Gambar 2-50 Gambar 2-51 Gambar 2-52 Gambar 2-53 Gambar 2-54 Gambar 2-55 Gambar 2-56 Gambar 2-57 Gambar 2-58 Gambar 2-59 Gambar 2-60 Gambar 2-61 Gambar 2-62 Gambar 2-63 Gambar 2-64 Gambar 2-65 Gambar 2-66 Gambar 2-67 Gambar 2-68 Gambar 2-69 Gambar 2-70 Gambar 2-71 Gambar 2-72 Gambar 2-73 Gambar 2-74 Gambar 2-75 Gambar 2-76 Gambar 2-77 Gambar 2-78 Gambar 2-79 Gambar 2-80 Gambar 2-81 Gambar 2-82 Gambar 2-83 Gambar 2-84 Gambar 2-85 Gambar 2-86 Gambar 2-87 Gambar 2-88 Gambar 2-89a Gambar 2-89b Gambar 2-90 Gambar 2-91 Gambar 2-92 Gambar 2-93 Gambar 2-94 Penunjukan pengukuran tegangan AC Rangkaian Kalibrasi Tegangan Rangkaian Pengukuran Arus DC Knob Pemilih Range Skala Penunjukkan Arus DC Knob Pemilih Range Rangkaian Pengukuran Arus DC yang Salah Rangkaian Kalibrasi Arus Cara Pemasangan Ohmmeter Posisi Pemindahan Range Ohmmeter Kalibrasi Ohmmeter Penempatan Resistor pada Pengukuran OHM Penunjukkan Hasil Pengukuran Ohm Rangkaian Pengukuran Resistansi Membuka Sekrup Pengunci Bagian Belakang Meter Posisi Skala dB Meter Pengenolan Sebelum Mengukur Hambatan Pengukuran Arus Bocor Transistor NPN Posisi Saklar Pembacaan ICEO Rangkaian Pengetesan LED dengan Ohmmeter Pengukuran Arus IF Dioda Bias Maju Pengukuran Arus IR Dioda Bias Mundur Posisi Skala Pembacaan LV Gerakan Jarum Pengukuran Kapasitor Posisi Skala Kapasitor Pengenolan jarum Ohmmeter Pengetesan Dioda Bias Maju Pengetesan Dioda Bias Balik Knob Selektor Posisi Ohmmeter Gambar Kalibrasi Ohmmeter Pengetesan Transistor NPN Emitor Negatip Meter Nunjuk Nol Pengetesan Transistor NPN Kolektor Negatip Meter Nunjuk Nol Pengetesan Base Emitor Reverse Pengetesan Basis Kolektor Reverse SCR Anoda Gate dikopel Katoda Tegangan Negatip Gate Dilepaskan Posisi Jarum Tetap Nol Elektroda SCR FIR 3D Pelepasan Skrup Pengunci Sekring Posisi Sekering dalam PCB Sekering Pengetesan sekering Pengukuran Baterai Pengecekan Colok Meter Pengubah analog ke digital Bentuk gelombang pencacah pengubah analog ke digital 81 83 85 86 86 87 87 88 91 91 92 92 93 93 94 94 95 95 96 96 97 97 98 98 99 99 100 101 101 102 102 103 103 104 104 105 105 106 106 107 107 107 108 108 110 111 .

00 pada posisi Normal Saklar Power pada posisi On Kontrol Sensitivity Posisi Kapasitor yang diukur Mengatur Saklar Range Multiplier Mengatur Dial D Q Mengatur Knob RCL dan Dial D Q Mengatur Saklar D Q pada Posisi x 10 Pembacaan Hasil Pengukuran Saklar Pemilih pada Posisi L 111 115 116 117 118 119 120 121 122 124 125 126 128 130 132 133 135 137 138 141 142 143 144 144 145 146 146 147 147 147 147 148 148 149 149 149 150 150 150 150 151 151 151 152 152 152 153 .Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 2-95 2-96a 2-96b 2-97 2-98 Gambar 2-99 Gambar 2-100 Gambar 2-101 Gambar 2-102 Gambar 2-103 Gambar 2-104 Gambar 3-1 Gambar 3-2 Gambar 3-3 Gambar 3-4 Gambar 3-5 Gambar 3-6 Gambar 3-7 Gambar 3-8 Gambar 3-9 Gambar 3-10 Gambar 3-11 Gambar 3-12 Gambar 3-13 Gambar 3-14 Gambar 3-15 Gambar 3-16 Gambar 3-17 Gambar 3-18 Gambar 3-19 Gambar 3-20 Gambar 3-21 Gambar 3-22 Gambar 3-23 Gambar 3-24 Gambar 3-25 Gambar 3-26 Gambar 3-27 Gambar 3-28 Gambar 3-29 Gambar 3-30 Gambar 3-31 Gambar 3-32 Gambar 3-33 Gambar 3-34 Gambar 3-35 Gambar 3-36 Meter Digital Sistem Pengukuran Tegangan Bentuk Gelombang Tegangan Pengukuran Resistansi dengan Voltmeter Digital Sistem dan Bentuk Gelombang Pengukuran Frekuensi Sistem dan Bentuk Gelombang Pengukuran Perioda Sistem Pengukuran Interval Waktu Sistem dan Bentuk Gelombang pengukuran kapasitansi Macam-macam Meter Digital Multimeter Digital dengan Selektor dan Otomatis Macam-macam Multimeter Digital di Pasaran Jembatan Wheatstone Jembatan Kelvin Jembatan Ganda Kelvin Jembatan Pembanding Induktansi Jembatan Maxwell Jembatan Hay Jembatan Pembanding Kapasitansi Jembatan Schering Panel-panel LCR Meter Sisi Atas Case Panel Belakang LCR Meter Posisi Saklar Off Posisi Nol Meter Panel Depan LCR Meter Cara Mengukur Resistansi Posisi Selector Posisi DC R Posisi Normal Posisi On Range Multiplier Pengaturan Indikator Meter Nol Pembacaan Indikator RCL Selector pada Posisi C Saklar Source pada AC/RL Dial D Q pada 0 Saklar D Q pada posisi x 1 Saklar Normal +1.

Gambar 3-37 Gambar 3-38 Gambar 3-39 Gambar 3-40 Gambar 3-41 Gambar 3-42 Gambar 3-43 Gambar 3-44 Gambar 3-45 Gambar 4-1 Gambar 4-2 Gambar 4-3 Gambar 4-4 Gambar 4-5 Gambar 4-6 Gambar 4-7 Gambar 4-8 Gambar 4-9 Gambar 4-10 Gambar 4-11 Gambar 4-12 Gambar 4-13 Gambar 4-14 Gambar 4-15 Gambar 4-16 Gambar 4-17 Gambar 4-18 Gambar 4-19 Gambar 4-20 Gambar 4-21 Gambar 4-22 Gambar 4-23 Gambar 4-24 Gambar Gambar Gambar Gambar 4-25 4-26 4-27 4-28 Saklar Sumber Tegangan AC Saklar DQ x 1 – x 10 dipilih Posisi x1 Saklar Normal pada Posisi Normal Saklar Range Pengali pada Posisi 1 mH Posisi Induktor yang Diukur Penunjukan Jarum Hubungan ke Sumber Tegangan Luar Pengukuran R dengan Sumber dari Luar Pengukuran C. 100A 230/400 V Cakram Baling-baling Aluminium Horizontal Merupakan Pusat Meter Meter Listrik Solid State Rangkaian Alat Ukur Faktor Daya Satu Fasa Konstruksi Alat Ukur Faktor Daya Rangkaian Alat Ukur Faktor Daya Tiga Fasa 153 154 154 154 155 155 157 158 158 160 163 165 167 168 169 170 170 171 172 173 174 174 176 176 177 177 178 178 180 181 184 185 186 187 191 192 193 . L dengan Sumber dari Luar Pengukuran Daya dengan Memakai Voltmeter dan Ampermeter Pengukuran Daya Metoda Tiga Voltmeter dan Tiga Ampermeter Wattmeter Satu Fasa Metode ARON Diagram Fasor Tegangan Tiga Fasa Vac. Vcb. Icb. dan Iba Konstruksi Wattmeter Elektrodinamometer Diagram Vektor Wattmeter Jenis Elektrodinamometer Diagram Vektor Wattmeter Jenis Induksi Prinsip Wattmeter Jenis Thermokopel Rangkaian Wattmeter Jenis Elektrodinamometer Variasi Penyambungan Wattmeter Konstruksi Wattmeter Tipe Portable Single Phase Hubungan Internal Wattmeter Tipe Portable Single Phase Hubungan Kumparan Arus Seri terhadap Beban Pengukuran Daya Satu Fasa jika Arus Melebihi Nilai Perkiraan Pengukuran Daya Satu Fasa jika Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan Pengukuran Daya Satu Fasa jika Arus dan Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan Pengukuran Daya Tiga Fasa (Metode Dua Wattmeter) Pengukuran Daya Tiga Fasa jika Arus dan Tegangan Melebihi Nilai Perkiraan Rangkaian Wattmeter AC Satu Fasa Rangkaian Kumparan tegangan Konstruksi Wattjam Meter Mekanik Meter Induksi Elektromekanik Meter Induksi Elektromekanik. Vba dan Arus Tiga Fasa Iac.

Gambar 4-29 Gambar 4-30 Gambar 4-31 Gambar 4-32 Gambar 4-33 Gambar 4-34 Gambar 4-35 Gambar 4-36 Gambar 4-37 Gambar 4-38 Gambar 4-39 Gambar 4-40 Gambar 4-41 Gambar 4-42 Gambar 4-43 Gambar 4-44 Gambar 4-45 Gambar 4-46 Gambar 5-1 Gambar 5-2 Gambar 5-3 Gambar 5-4 Gambar 5-5 Gambar 5-6 Gambar 5-7 Gambar 5-8 Gambar 5-9 Gambar 5-10 Gambar 5-11 Gambar 5-12 Gambar 5-13 Gambar 5-14 Gambar 5-15 Gambar 5-16 Gambar 5-17 Gambar 5-18 Gambar 5-19 Gambar 5-20 Gambar 5-21 Alat Ukur Faktor Daya Tipe Daun Terpolarisasi Konstruksi Faktor Daya (Cos Q meter) Segitiga Daya Daya Bersifat Induktif Daya Bersifat Kapasitif Pengukuran Faktor Daya Satu Fasa Pengukuran Faktor Daya Tiga Fasa Metode Menentukan Urutan Fasa dengan R dan C Fasor Diagram saat Urutan Fasa Benar Fasor Diagram saat Urutan Fasa Salah Metode Menentukan Urutan Fasa dengan Lampu Konstruksi Indikator Tes Urutan Fasa Prinsip Indikator Tes Urutan Fasa Contoh Indikator Tes Urutan Fasa yang Lain Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan R dan C pada Urutan Benar Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan R dan C pada Urutan Salah Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan Lampu pada Urutan Benar Pengoperasian Indikator Urutan Fasa dengan Lampu pada Urutan Salah Penguji Tahanan Isolasi Penguji tahanan Isolasi Menggunakan Baterai Pengecekan Kondisi Baterai Baterai dalam Kondisi Baik Meter Siap Digunakan Pengukuran Tahanan isolasi Pengukuran Tahanan Isolasi antara Fasa dengan Nol N Pengukuran tahanan isolasi antara Fasa dengan Tanah G Pengukuran tahanan isolasi antara nol N dengan Tanah G Pengukuran Tahanan Isolasi antara Instalasi dengan Tanah G Elektroda yang Mempunyai Pengaruh Lapisan Tanah yang korosif Sambaran petir Nilai Tahanan Pentanahan yang Ideal Hubungan antara Penghantar Tanah dan Elektroda Tanah Elektroda yang mempunyai pengaruh lapisan Elektroda Pentanahan Hubungan Beberapa Elektroda Pentanahan Jaringan Bertautan Pelat Tanah Cara Mengukur Tahanan Tanah 193 194 196 196 196 199 200 200 201 201 202 202 203 205 206 207 208 209 211 212 213 213 214 214 214 215 215 216 217 218 218 219 221 222 222 222 222 224 .

Gambar 5-22 Gambar 5-23 Gambar 5-24 Gambar 5-25 Gambar 5-26 Gambar 5-27 Gambar 5-28 Gambar 5-29 Gambar 5-30 Gambar 5-31 Gambar 5-32 Gambar 5-33 Gambar 5-34 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 5-35 5-36 5-37 5-38 5-39a Gambar 5-39b Gambar 5-40 Gambar 5-41 Gambar 5-42 Gambar 5-43 Gambar 5-44 Gambar 5-45 Gambar 5-46 Gambar 5-47 Gambar 6-1 Gambar 6-2 Gambar 6-3 Gambar 6-4 Gambar 6-5 Gambar 6-6 Gambar Gambar Gambar Gambar 6-7 6-8 6-9a 6-9b Gambar 6-10 Uji drop tegangan Uji Selektif Pengetesan alur arus metoda tanpa pancang Susunan Metoda tanpa Pancang Mengukur Tahanan Tanah dengan Dua Kutub MGB Mentanahkan Tanah Pengetesan kantor pusat tanpa pancang Pelaksanaan Pengujian Jatuh Tegangan pada Sistem Pentanahan Secara Keseluruhan Pengukuran Tahanan Tanah Masing-masing pada Sistem Pentanahan Menggunakan Pengujian Terpilih Susunan Khas Sistem Pentanahan pada Suatu Instalasi Menara Seluler Susunan Khas Sistem Pentanahan pada Gardu Induk Penggunaan Pengetesan tanpa Pancang pada Instalasi Switching Jarak Jauh Penggunaan Pengetesen Tahanan Tanah Terpilih pada Sistem Penangkal Petir Mekanik field meter Rangkaian Elektronik Field Meter Statik Hasil pengukuran tegangan Field Meter Statik Rotating Shutters pada Permukaan Belakang Field Meter Field Meter Digunakan Diluar Ruangan Ukuran field meter statik Letrak Pin Field Meter Statik Aluminium-Clamp dengan Ulir Instrumen Field Meter Digital Display Field Meter Digital Smart field meter Aplikasi smart field met er Frekuensi respon Contoh Generator Fungsi Blok Diagram Generator Fungsi Gambar Troubel Shooting Menggunakan Teknik Signal Tracing Penggunaan Generator Fungsi Sebagai Kombinasi Bias dan Sumber Sinyal Karakteristik Amplifier pada Overload Setting Peralatan dan Pengukuran Respon Frekuensi Peragaan Respon Frekuensi Audio Amplifier Pengaruh Variasi Tone Kontrol Pengetesan Sistem Speaker Karakteristik Pengetesan Sistem Speaker dan Rangkaian Impedansi Pengoperasian Generator RF 225 227 228 229 230 230 231 232 232 233 235 235 235 235 236 237 237 238 238 239 240 240 241 242 244 245 245 247 249 251 252 253 255 255 256 257 257 259 .

Y. Z Bentuk Gelombang pada Umumnya Sumber-sumber Bentuk Gelombang pada Umumnya Gelombang Sinus Bentuk Gelombang Kotak dan Segiempat Bentuk Gelombang Gigi Gergaji dan Segitiga Step. Pulsa dan Rentetan Pulsa Bentuk Gelombang Komplek Video Komposit Frekuensi dan Perioda Gelombang Sinus Amplitudo dan Derajat Gelombang Sinus Pergeseran Pasa Operasi Dasar CRO Hubungan Basis Waktu Masukan dan Tampilan Struktur Tabung Gambar Sistem Pembelokan Berkas Elektron Blok Diagram CRO Analog Blok Diagram CRO Free Running 260 261 262 264 264 265 266 266 269 269 271 272 274 275 275 276 277 278 278 280 281 281 283 284 288 289 290 290 291 291 291 292 293 293 294 295 296 298 298 299 301 303 .Gambar 6-11 Gambar 6-12 Gambar 6-13 Gambar 6-14 Gambar 6-15 Gambar 6-16 Gambar 6 -17 Gambar 6-18 Gambar 6-19 Gambar 6-20 Gambar 6-21 Gambar 6-22 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 6-23 6-24 6-25 6-26 6-27 6-28 Gambar 6-29 Gambar 6-30 Gambar 6-31 Gambar 6-32 Gambar 6-33 Gambar 6-34 Gambar 7-1 Gambar 7-2 Gambar 7-3 Gambar 7-4 Gambar 7-5 Gambar 7-6 Gambar 7-7 Gambar 7-8 Gambar 7-9 Gambar 7-10 Gambar 7-11 Gambar 7-12 Gambar 7-13 Gambar 7-14 Gambar 7-15 Gambar 7-16 Gambar 7-17 Gambar 7-18 Rangkaian Direct Digital Synthesis Presentasi Gelombang Sinus dalam Memori Gelombang Phase Accumulator Circuitry Bentuk gelombang arbitrary dengan diskontinyuitas Spektrum bentuk gelombang di atas pada 100 kHz Rangkaian pembangkit bentuk gelombang kotak Rangkaian pembangkit bentuk gelombang pulsa Parameter bentuk gelombang pulsa Rangkaian kendali amplitudo output Impedansi keluaran generator fungsi Pengaruh rangkaian tertutup ground Nilai tegangan yang penting pada gelombang sinus Modulasi amplitudo Modulasi frekuensi Frequensi shift keying Fekuensi sapuan Sweep with marker at DUT resonance Bentuk gelombang keluaran syn dan tiga siklus bentuk gelombang burst Konfigurasi dua instrumen Pengukuran lebar band dari filter bandpass dan penguat IF Bentuk gelombang keluaran generator fungsi Pelacakan Penganalisa spektrum Alignment penerima AM Alignment dari penerima IF komunikasi FM dan diskriminator Pengambilan Data dengan CRO Peraga Bentuk Gelombang Komponen X.

Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 7-19 7-20 7-21 7-22 7-23 Gambar 7-24 Gambar 7-25 Gambar 7-26 Gambar 7-27 Gambar 7-28 Gambar 7-29 Gambar 7-30 Gambar 7-31 Gambar 7-32 Gambar 7-33 Gambar 7-34 Gambar 7-35 Gambar 7-36 Gambar 7-37 Gambar 7-38 Gambar 7-39 Gambar 7-40 Gambar 7-41 Gambar 7-42 Gambar 7-43 Gambar 7-44 Gambar 7-45 Gambar 7-46 Gambar 7-47 Gambar 7-48 Gambar 7-49 Gambar 7-50 Gambar 7-51 Gambar 7-52 Gambar 7-53 Gambar 7-54 Gambar 7-55 Gambar 7-56 Gambar 7-57 Gambar 7-58 Gambar 7-59 Gambar 7-60 Gambar 7-61 Gambar 7-62 Blok Diagram Osiloskop Terpicu Peraga Osiloskop Free Running Peraga Osiloskop Terpicu Blok Diagram CRO Jejak Rangkap Diagram Blok Osiloskop Berkas Rangkap yang Disederhanakan Tabung Penyimpan dengan Sasaran Ganda dan Senapan Elektron CRT Menyimpan dengan Sasaran Ganda dan Dua Senapan Elektron Blok Diagram Osiloskop Digital Pengambilan Sampel Real Time Interpolasi Sinus dan Linier Akusisi Pembentukan Gelombang CRO Function Generator Fungsi Tombol Panel Depan CRO Pengawatan Kalibrasi Bentuk Gelombang Kalibrasi Berkas Elektron Senter Tengah Loncatan Pengukuran Tegangan DC Pengawatan Pengukuran dengan Function Generator Pengaturan Function Generator Panel Depan Pengaturan Frekuensi Sinyal Bentuk Gelombang V/div Kurang Besar Bentuk Gelombang Intensitas terlalu Besar Bentuk Gelombang Sinus Bentuk Gelombang Mode XY Pengukuran Frekuensi Langsung Pengawatan Pengukuran Frekuensi Langsung Pengukuran Frekuensi Model Lissayous Pengukuran Beda Pasa Langsung o Perbandingan Frekuensi 1 : 3 Beda Pasa 90 Beda Pasa dan Beda Frekuensi Model Lissayous Mixed Storage Osciloscope (MSO) Arsitektur Pemrosesan Parallel dari Osiloskop Digital Pospor Peragaan Sinyal DP O Paket Pilihan Software Aplikasi Modul Modul Video Pengembangan Analisis Tombol Pengendali Tradisional Peraga Sensitif Tekanan Menggunakan Pengendali Grafik Osiloskop Portable Probe Pasip Tipikal beserta Asesorisnya Probe Performansi Tinggi Probe Sinyal Terintegrasi 305 055 305 306 308 310 310 314 315 315 316 316 320 322 322 323 323 324 324 324 325 325 326 326 327 328 329 329 330 330 331 332 333 334 334 334 334 335 335 335 335 337 337 338 .

bingkai dan blok hirarki memori dari 338 340 340 340 341 341 341 343 345 346 346 347 348 348 349 350 351 351 351 352 352 353 355 356 357 358 359 360 361 361 362 365 367 368 372 374 375 376 377 .Gambar 7-63 Gambar 7-64 Gambar 7-65 Gambar 7-66 Gambar 7-67 Gambar 7-68 Gambar 7-69 Gambar 7-70 Gambar 8-1 Gambar 8-2 Gambar 8-3 Gambar 8-4 Gambar 8-5 Gambar 8-6 Gambar 8-7 Gambar 8-8 Gambar 8-9 Gambar 8-10 Gambar 8-11 Gambar 8-12 Gambar 8-13 Gambar 8-14 Gambar 8-15 Gambar 8-16 Gambar 8-17 Gambar 8-18 Gambar 8-19 Gambar 8-20 Gambar 8-21 Gambar 8-22 Gambar 8-23 Gambar 8-24 Gambar 8-25 Gambar 8-26 Gambar 9-1 Gambar 9-2 Gambar 9-3 Gambar 9-4 Gambar 9-5 Probe Reliabel Khusus Pin IC Hasil dengan Probe Dikompensasi dengan benar Hasil dengan Probe Tidak Dikompensasi Hasil dengan Probe Dikompensasi dengan kompensasi berlebihan Tegangan Puncak ke Puncak Pengukuran Tegangan Senter Horizontal Pengukuran Tegangan Senter Vertikal Pengukuran rise time dan lebar pulsa Kerja frekuensi meter jenis batang getar Prinsip frekuensi meter jenis batang getar Bentuk frekuensi meter batang getar Prinsip frekuensi meter jenis meter pembagi Prinsip alat ukur frekuensi besi putar Bentuk frekuensi meter analog Rangkaian dasar meter frekuensi digital Blok Diagram Pembentukan Time Base Pernyataan simbolik dari rangkaian flip-flop Rangkaian flip-flop (multivibrator bistable) Rangkaian AND Tabel kebenaran dari suatu rangkaian AND Rangkaian untuk mengukur frekuensi Rangkaian digital frekuensi meter Blok diagram dari counter elektronik yang bekerja sebagai pengukur frekuensi Konversi Frekuensi Hiterodin Gambar putaran drum menghasilkan 10 pulsa perputaran untuk digunakan dengan counter Diagram blok counter pada mode kerja perioda tungal dan perioda ganda rata-rata Blok diagram counter yang bekerja sebagai perbandingan dan perbandingan ganda Blok diagram counter sebagai pengukur interval waktu Trigger level control Slope triggering Pengukuran waktu delay suatu relay Gating error Kalibrasi sumber frekuensi lokal Perubahan frekuensi vs waktu untuk ”oven controlled crystal” Langkah sapuan penganalisa spektrum pada serangkaian unsur frekuensi seringkali terjadi kesalahan transien diluar arus sapuan jalur yang digaris kuning Arsitektur tipikal penganalisa spektrum sapuan Blok diagram VSA sederhana Arsitektur tipikal penganalisa spektrum waktu riil Sampel.

Satu bingkai spektogram yang menunjukkan kejadian picu dimana sinyal transien terjadi disekitar topeng frekuensi Tiga bingkai sampel Sinyal Ranah Waktu Diskontinuitas yang disebabkan oleh ekstensi periodic dari sampel dan bingkai tunggal Profil jendela Blackman-Harris 4B (BH4B) Sinyal akuisisi. daya terhadap waktu Blok diagram pemrosesan sinyal digital pada penganalisa spektrum waktu riil Diagram pengubah digital turun Informasi passband dipertahankan dalam I dan Q terjadi pada setengah kecepatan sampel Contoh lebar band pengambilan lebar Contoh lebar band pengambilan sempit Pemicuan waktu riil Pemicuan sistem akuisisi digital Proses pemicuan penganalisa spektrum waktu riil Definisi topeng frekuensi Spectrogram menunjukkan sinyal transien diatur pada pembawa. daya terhadap frekuensi dan demodulasi FM Pandangan multi ranah menunjukan spektogram daya terhadap frekuensi.Gambar 9-6 Gambar 9-7 Gambar 9-8 Gambar 9-9 Gambar 9-10 Gambar 9-11 Gambar 9-12 Gambar 9-13 Gambar 9-14 Gambar 9-15 Gambar 9-16 Gambar 9-17 Gambar 9-18 Gambar 9-19 Gambar 9-20 Gambar 9-21 Gambar 9-22 Gambar 9-23 Gambar 9-24 Gambar 9-25 Gambar 9-26 Gambar 9-27 Gambar 9-28 Gambar 9-29 Gambar 9-30 Gambar 9-31 Gambar 9-32 RSA Penganalisa spektrum waktu riil blok akuisisi dan pemrosesan Penggunaan topeng frekuensi pada pemicuan ranah frekuensi waktu riil Topeng frekuensi pada level burst rendah Penggunaan topeng frekuensi untuk memicu sinyal berada pada sinyal besar sinyal tertentu dalam lingkungan spectrum kacau Peraga spektogram Pandangan waktu dikorelasikan. diatas garis kursor dan data setelah picu diperagakan dibawah garis kursor. peraga daya terhadap frekuensi (kiri) dan spektogram (kanan) Ilustrasi dari beberapa waktu dikorelasikan disediakan untuk pengukuran pada RTSA Pandangan multi ranah menunjukan daya terhadap waktu. pemrosesan dan peraga menggunakan bingkai overlap Vektor besaran dan Pasa Typical Sistem Telekomunikasi digital Blok diagram analisa modulasi RSA 378 379 380 380 381 381 382 383 383 385 386 387 388 388 390 391 393 395 395 398 398 398 399 400 401 402 403 . Garis sempit putih pada sisi kiri daerah biru dinotasikan data setelah picu. Kursor diatur pada titik picu sehingga data sebelum picu ditampilkan.

Gambar 9-33 Gambar 9-34 Gambar 9-35 Gambar 9-36 Gambar 9-37 Gambar 9-38 Gambar 9-39 Gambar 9-40 Gambar 9-41 Gambar 9-42 Gambar 9-43 Gambar 9-44 Gambar 9-45 Gambar 9-46 Gambar 9-47 Gambar 9-48 Gambar 9-49 Gambar 9-50 Gambar 9-51 Gambar 9-52 Gambar 9-53 Gambar 9-54 Gambar 9-55 Spektogram frekuensi sinyal hopping mode SA waktu riil Beberapa blok yang diperoleh dengan menggunakan picu frekuensi untuk mengukur topeng pengulangan frekuensi transien pensaklaran Mode SA standar menunjukkan pengukuran frekuensi diatas 1GHZ menggunakan span maxhold Perbandingan spektogram frekuensi terhadap waktu Spektogram pengesetan frekuensi di atas 5 MHz of dan waktu 35 ms Frekuensi terhadap waktu pengesetan di atas 5 MHz of dan waktu 25 ms Pengesetan frekuensi di atas 50 Hz dari frekuensi dan waktu 1 ms yang diperbesar Peraga daya terhadap waktu Pengukuran CCDF Pengukuranpengaturan transien I/Q terhadap waktu untuk data Analisa demodulasi AM sinyal pulsa dengan menggunakan pengunci pergeseran amplitudo Analisa demodulasi FM sinyal yang dimodulasi dengan sinus Analisa demodulasi PM pasa tak stabil melebihi panjang burst. Analisa EVM dari waktu ke waktu sinyal 16 QAM mengungkapkan distorsi amplitudo Peraga konstelasi menunjukkan pasa Peraga diagram mata menunjukkan kesalahan besaran rendah dalam sinyal PDC Analisa modulasi W-CDMA handset dibuka loop penendali daya. Peragaan konstelasi (rendah kanan) menunjukkan kesalahan berkaitan dengan glitch besaryang terjad selama level transisi yang dapat dilihat dalam hubungan daya terhadap waktu (atas kiri) Spektogram. konstelasi. EVM dan kesalahan pasa terhadap waktu dari frekuensi hopping sinyal Ilustrasi peraga codogram Pengukuran kodogram dari mode W-CDMA diringkas kesalahan pasa terhadap waktu dari frekuensi hopping sinyal Macam-macam model penganalisa spectrum di pasaran Penempatan Marker pada sinyal 10 MHz Penggunaan Marker Fungsi Delta 405 405 406 406 408 408 408 409 409 410 410 410 410 411 411 412 412 412 413 413 414 417 418 .

I dan Q Bentuk gelombang tangga Level sinkronisasi Pengetesan bidang putih penuh Pengetesan bidang warna putih 75% Pola jendela pengecekan frekuensi rendah Pengetesan puritas Pengetesan linieritas sistem Pengetesan ramp termodulasi Pengaturan konvergensi Pengetesan area gambar aman Blok diagram pembangkit pola Tombol panel depan pembagkit pola Pengawatan penggunan pola non video komposit Pengawatan pengujian lebar penalaan tuner Pattern generator dengan TV pengetesan fungsi Model-model pembagkit pola di pasaran Blok Diagram Penerima Televisi BW Pola pengetesan sinyal video Bagan Serial Buses Mesin Tester Mesin tester Mixer Signal Osciloscope (MSO) 419 420 420 422 423 425 425 426 426 426 427 429 429 430 432 435 436 437 438 439 440 441 443 445 446 447 447 448 449 449 450 451 451 452 453 454 454 457 458 460 461 464 465 466 467 468 469 470 .Gambar 9-56 Gambar 9-57 Gambar 9-58 Gambar 9-59 Gambar 9-60 Gambar 9-61 Gambar 9-62 Gambar 9-63 Gambar 9-64 Gambar 9-65 Gambar 9-66 Gambar 9-67 Gambar 9-68 Gambar 9-69 Gambar 10-1 Gambar 10-2 Gambar 10-3 Gambar 10-4 Gambar 10-5 Gambar 10-6 Gambar 10-7 Gambar 10-8 Gambar 10-9 Gambar 10-10 Gambar 10-11 Gambar 10-12 Gambar 10-13 Gambar 10-14 Gambar 10-15 Gambar 10-16 Gambar 10-17 Gambar 10-18 Gambar 10-19 Gambar 10-20 Gambar 10-21 Gambar 10-22 Gambar 10-23 Gambar 10-24 Gambar 10-25 Gambar 10-26 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 10-27 10-28 10-29 10-30 10-31 11-1 11-2 11-3 Pengaturan Pencapaian Dua Sinyal Sinyal Amplitudo Sama Belum Terpecahkan Resolusi Sinyal Amplitudo Sama Sebelum Lebar band Video Dikurangi Pencacah Menggunakan Penanda Pengukuran Sinyal Terhadap Noise Sinyal AM Pengukuran Modulasi Dalam Span Nol Pengukuran Modulasi Dalam Span Nol Pengukuran Modulasi Dalam Span Nol Pengukuran Parameter Waktu Sinyal AM Demodulasi Kontinyu Menetapkan titik Offset Menentukan Offset Demodulasi Sinyal Broadcast Penjejakan bingkai gambar Pola standar EIA Tanda panah pengetesan bingkai Pengujian pemusatan dan sumbu horisontal Pengetesan linieritas vertikal horisontal Pengetesan aspek perbandingan dan kontras Pengetesan interfacing Pengetesan resolusi horisontal Pengetesan ringing Chart bola pengecekan linieritas Pola bola untuk pengetesan linieritas kamera Sinyal batang warna standar Pola putih.

Gambar 11-4 Gambar 11-5 Gambar 11-6 Gambar 11-7 Gambar 11-8 Gambar 11-9 Gambar 11-10 Gambar 11-11 Gambar 11-12 Gambar 11-13 Gambar 11-14 Gambar 11-15 Gambar 11-16 Gambar 11-17 Gambar 11-18 Gambar 11-19 Gambar 11-20 Gambar 11-21 Gambar 11-22 Gambar 11-23 Gambar 11-24 Gambar 11-25 Gambar 11-26 Gambar 11-27 Gambar 11-28 Gambar 11-29 Gambar 11-30 Gambar 11-31 Gambar 11-32 Gambar 11-33 Gambar 11-34 Gambar 11-35 Gambar 11-36 Gambar 11-37 Gambar 11-38 Gambar 11-39 Gambar 11-40 Gambar 11-41 Gambar 11-42 Gambar 11-43 Pengambilan Gambar Ganda SPI dan CAN dengan Menggunakan MSO Kesalahan acak yang teramati dalam dekode CAN pada bingkai data 1D:07F HEX Pemicuan pada CAN bingkai error mengisolasi perbedaan akuisisi CAN pada bingkai transmisi pengulangan bentuk gelombang glitch Perbesaran bentuk gelombang glitch pada CAN Lebar pulsa pemicu pengulangan sumber acak dan glitch Masukan dan keluaran ECU Rak PC Mountable Serial communications Modul variasi protocol serial Rangkaian Card breadboard Saklar beban tipikal Pengawatan "m" instruments x 4 2-wire busses x "n" DUT pins "m" instruments x 4 2-wire busses x "n" DUT pins Perancangan system fungsi tes elektronik otomotif Bentuk gelombang sapuan untuk keempat sensor roda Respon ABS/TC ECM terhadap masukan VRS Pengarah solenoid sisi bawah Profil tegangan deaktivasi solenoid Penerapan pulsa pengetesan untuk menetukan system integritas Profil arus solenoid Modul bodi kontrol Pemancar Aliran fungsi aksi immobilizer Immobilizer Pohon keputusan yang digunakan respon ECM Aliran aksi fungsionalitas TPMS Deviasi frekuensi ESA4402B Data bit pada ESA4402B Pengaturan kalibrasi pada umumnya Mesin Tester Piranti Scan Macam-macam peralatan diagnosa mesin Pemasangan alat uji Tombol 24-56 penganalisa gas Halaman manajer aplikasi Halaman pilihan bahasa Halaman fole manajer Halaman inisialisasi Pilihan icon Tampilan hasil tes standar Halaman tes standar 471 473 475 476 477 478 480 481 482 483 484 485 486 487 488 488 489 490 491 492 492 494 495 496 497 498 499 500 501 504 505 505 507 507 507 508 509 510 511 512 .

Gambar 11-44 Gambar 11-45 Gambar 11-46 Gambar 11-47 Gambar 11-48 Gambar 11-49 Gambar 12-1 Gambar 12-2 Gambar 12-3 Gambar 12-4 Gambar 12-5 Gambar 12-6 Gambar 12-7 Gambar 12-8 Gambar 12-9 Gambar 12-10 Gambar 12-11 Gambar 12-12 Gambar 12-13 Gambar 12-14 Gambar 12-15 Gambar 12-16 Gambar 12-17 Gambar 12-18 Gambar 12-19 Gambar 12-20 Gambar 12-21 Gambar 12-22 Gambar 12-23 Gambar 12-24 Gambar 12-25 Gambar 12-26 Gambar 12-27 Gambar 12-28 Gambar 12-29 Gambar 12-30 Gambar 12-31 Gambar 12-32 Gambar 12-33 Gambar 12-34 Gambar 12-35 Gambar 12-36 Gambar 12-37 Gambar 12-38 Gambar 12-39 Gambar 12-40 Gambar 12-41 Gambar 12-42 Gambar 12-43 Pilihan bahan bakar Peraga jumlah kendaraan yang diuji Kurva kandungan gas Hitogram gas kendaraan Gambar posisi sensor oksigen Precleaner transparan eksternal Macam-macam Tampilan GPS Peralatan system posisi global Fungsi dasar GPS Segmen ruang Posisi satelit Menunjukan cakupan efektif Posisi 28 satelit pada jam 12 UTC pada tanggal 14 April 2001 Konstruksi satelit Blok diagram system posisi global Pseudo Random Noise Posisi Lokasi Segmen Kontrol Bidang implemenasi GPS Sinyal system posisi global Pendeteksian kapal Pendeteksian posisi oran ditengah lautan Pemanfaatan GPS untuk pengukuran tanah GPS portable sederhana Penentuan posisi dengan 3 satelit Penentuan posisi dengan 4 satelit Hubungan pulsa satelit dengan penerima Penentuan posisi dengan 4 satelit Gambar perhitungan ?t Rambatan gelombang dari lapisan ionosper GPS dengan fekuensi ganda Antena cincin Terjadinya multipath Pengukuran DOP Satelit geometri PDOP Pengaruh Gugusan bintang pada nilai PDOP Koreksi perbedaan posisi Hubungan stasiun acuan dalam pengukuran Pengukuran nilai koreksi cakupan luas Pengkuran nilai koreksi cakupan semu GPS Maestro 4050 Berbagai Sudut Pandang Pemasangan GPS Pemasangan Piringan Perekat Pemasangan Baterai Pengaturan Volume Pengaturan Tingkat Kecerahan Gambar Menu Halaman 1 Menu Halaman 2 Keypad Layar Peta Mode Normal 513 513 514 515 516 517 519 520 521 521 522 522 523 523 524 526 527 527 528 528 529 529 530 530 531 531 532 532 534 535 536 536 536 537 538 539 540 540 541 542 543 544 544 545 545 546 547 548 549 .

Gambar 12-44 Gambar 12-45 Gambar 12-46a Gambar 12-46b Gambar 12-47 Gambar 12-48 Gambar 12-49 Gambar 12-50 Gambar 12-52 Gambar 12-53 Gambar 13-1 Gambar 13-2 Gambar 13-3 Gambar 13-4 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 13-5 13-6 13-7 13-8 13-9 13-10 Gambar 13-11 Gambar 13-12 Gambar 13-13 Gambar 13-14 Gambar 13-15 Gambar 13-16 Gambar 13-17 Gambar 13-18 Gambar 13-19 Gambar 13-20 Gambar 13-21 Gambar 13-22 Gambar 13-23 Gambar 13-24 Gambar 13-25 Gambar 13-26 Gambar 13-27 Gambar 13-28 Gambar 13-29 Gambar 13-30 Layar Peta Mode Perjalanan Layar Peta Menunjukan Perjalanan Daftar Katagori Daftar Sub Katagori Belanja Perbelanjaan Terdekat dengan Posisi Saat itu Masukan Nama Perjalanan Tampilan Add Tampilan Save Pengaturan Tujuan Ketuk Sears Buka Menu Hasil scan otak MRI Mesin MRI MRI panjang terbuka tipikal Scaner MRI sebanding antara panjang dan pendeknya Scaner MRI berdiri Scaner MRI terbuka Blok diagram rangkaian MRI Ruang pengendali pengoperasian MRI Scan MRI tangan patah Tampak dalam gambar dongkrak kasur jerami terisi dihisap ke dalam sistem MRI Poto perbandingan gambar otak kiri laki-laki t atelitik muda (25 th). dan MRI cenderung lebih detail dan kontras Scan MRI menunjukkan tubuh bagian atas dilihat dari samping sehingga tulang tulang belakang kelihatan jelas Irisan Axial. coronal dan sagitall MRI gambar kepala irisan tunggal Urutan temporal scan FMRI (irisan tunggal) aktivasi otak 3D Posisi CT scan Scan irisan otak Scan dada Gambar tabung dasar CT scan Emisi cahaya atom Hasil CT scan otak Mesin sinar x Pancaran poton Hasil CAT jantung dan torax Ide dasar penyinaran sinar x Prinsip dasar penyinaran sinar x pada CAT dan hasil 550 551 551 551 552 552 552 553 553 553 555 556 557 557 557 557 558 559 560 561 562 563 564 565 565 567 569 569 569 570 570 571 572 572 573 573 574 575 576 576 . Organ dalam digambar dengan MRI Perbandingan CAT scan. tengah (86 th) dan umur (76 th) mempunyai penyakit Alzheimer's semua digambar dalam tingkat yang sama menunjukkan pertumbuhan tumor dalam otak wanita dilihat dari irisan lateral.

warna merah gonfok adenomas Mesin PET Gambar Scanner PET lengkap Hasil Scan kepala dengan SPECT Refleksi sinar pada proses penggambaran Gambar otak normal yang digambarkan dalam 3 posisi yang berbeda Pengurangan alkohol Penambahan alkohol Hasil SPECT dan CT dari torso bagian atas tubuh manusia ditunjukkan kedua tulang dan organ dalam Cylodran bagian instrumen PET yang digunakan untuk menghasilkan radioisoto umur pendek Menunjukkan cyclotron bagian instrumen PET PET mengungkapkan kemajuan kanker dada kiri pasien Rangkaian Irisan PET menunjukkan distribusi kondisi anomalous otak Scan PET dapat menunjukan pola dalam otak yang membantu dokter analisis parkinson Scan otak penderita Parkinson Perbandingan hasil MRI Hasil scan termal 578 579 579 580 582 583 584 594 585 585 587 588 590 590 590 592 594 599 600 600 601 601 602 603 603 604 604 604 605 605 606 606 606 607 608 .Gambar 13-31 Gambar 13-32 Gambar 13-33 Gambar 13-34 Gambar 13-35 Gambar 13-36 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 13-37 13-38 13-39 13-40 13-41 13-42 13-43 13-44 13-45 Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar Gambar 13-46 13-47 13-48 13-49 13-50 13-51 13-52 13-53 13-54 13-55 Gambar 13-56 Gambar 13-57 Gambar 13-58 Gambar 13-59 Gambar 13-60 Gambar 13-61 Gambar 13-62 Gambar 13-63 Gambar 13-64 Gambar 13-65 CT scan multi irisan Tabung dasar mesin CT scan Ruang kontrol dan pelaksanaan scanning Jaringan sistem manajemen gambar Hasil CT scan otak ultrasonik pertumbuhan janin (umur 12 minggu) dalam kandungan ibu. Pandngan samping bayi ditunjukkan (kanan ke kiri) kepala. badan dan kaki bayi dalam kandungan dilihat dengan sonogram perkembangan bayi 29 minggu ultrasonik 3D Pengujian Ultasonik Selama kehamilan Sonograph menunjukkan gambar kepala janin dalam kandungan Medical sonographic scanner Sensor suara Spektrum Doppler Arteri Spektrum warna Arteri yang sama Ultrasonik Doppler untuk mengukur aliran darah melalui jantung. leher. Arah aliran darah ditunjukkan pada layar dengan warna yangberbeda Bagian-bagian mesin ultrasonik Perkembangan janin dalam kandungan Peralatan Positron Emisi Tomography (PET) Gambar skeletal anomali Warna hijau kelenjar ludah.

LEMBAR PENGESAHAN .

Serpihan kristal tunggal yang berisi rangkaian terpadu.LAMPIRAN D GLOSSARY airbag deployment Airbag adalah suatu pengekangan pasif (tidak memerlukan campur tangan manusia) di rancang dalam bentuk tas memompa ketika terjadi benturan. Mengidentifikasi dan melokalisir letak kesalahan . Tidak nyaman di ruang sempit. Attenuator biasanya biasanya berupa piranti pasip terdiri dari resistor. Besaran yang dapat menunjukkan kualitas penguat beda merupakan perbandingan antara besarnya penguatan common dan penguatan penguat beda. Penyarring frekuensi yang hanya melewatkan frekuensi menengah. Anti-lock brakes dirancang untuk mencegah peluncuran dan membantu pengendara mempertahankan kendali kemudi selama situasi pemberhentian darurat Attenuator merupakan piranti elektronik yang mengurangi amplitudo atau daya sinyal tanpa membuat bentuk gelombang cacat. Terbuat dari bahan fleksibel yang dapat memompa bila terjadi tabrakan mobil. Amniocentesis adalah prosedur yang digunakan dalam mendiagnosa cacat janin pada awal trimester kedua kehamilan. Dalam pemrosesan sinyal digital anti-aliasing merupakan teknik meminimkan aliasing pada saat merepresentasikan sinyal resolusi tinggi pada resolusi yang lebih rendah. akuisisi amniocentesis anti-aliasing anti-lock brake attenuator Bandpass Filter chip claustrophobic Common Mode Rejection Ratio cyclotron Debug . Unsur radiasi yang dihasikan oleh mesin scan sebelum pengujian dimulai. Akuisisi data merupakan pencuplikan waktu riil untuk membangkitkan data yang dapat dimanipulasi oleh komputer. gelap tertutup.

Kode yang digunakan dalam program Java . Electrocardiogram. Dua bidang gambar yang tampak dalam satu layar televise. Bila pada sumbu listrik diberi tegangan maka akan terjadi perubahan keadaan disepanjang sumbu mekanik. glitch adalah suatu sinyal listrik jangka waktu pendek yang pada umumnya hasil suatu kesalahan atau kesalahan disain Penyaring frekuensi frekuensi tinggi yang hanya melewatkan elektron gun electrocardiogram encrypte code fisiologi gastrointestinal Glitch High Pass Filter Immoblizer Interlace Tidak ada definisi standar. merupakan pengetesan sederhana yang mendeteksi dan merekam aktivitas kelistrikan jantung. Fisiologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari berbagai fungsi organisme hidup.densifying distorsi ECU test throughput efek piezolistrik Perbandingan harga atas beribu-ribu nama merek produk untuk semua kebutuhan. Cacat gelombang Piranti throughput misalnya perubahan RS 232 dengan CAN dan sebaliknya dapat membuat atau memecahkan performansi sitem pengetesan. juga dinakaman EKG atau ECG. namun setiap bidang gambar di scan secara . Berkaitan dengan perut dan isi perut. Semakin tipis Kristal frekuensi getar semakin tinggi. merupakan keadaan yang tidak sesuai dengan perancangan. Istilah dalam fisiologi yang berasal dari kata physics yang berarti alami dan logos yang berarti kata. Bila sumbu mekanik dari Kristal diberi tekanan maka akan timbul beda tegangan pada sumbu listrik. Dalam elektronika. Susunan elektroda yang menghasilkan berkas elektron yang dapat dikendalikan difokuskan dan dibelokkan sebagaimana dalam gambar tabung televisi. Bila pada sumbu listrik diberi tegangan AC maka akan terjadi getaran di sumbu mekanik dengan frekuensi naturalnya. anda dapat menggunakan sistem manajemen menjaga profil pemakai dengan menggunakan passwaord.

Pengapuran / pengkeroposan tulang Suatu bagian yang sangat kecil Ilmu penyakit forensik adalah suatu cabang kedokteran yang terkait dengan menentukan penyebab kematian. Tidak mampu untuk diperdaya. berkenaan dengan. atau timbul dari intuisi Dapat digunakan secara bersama-sama dengan tanpa merubah dan menambah peralatan lain dalam sistem. yang hanya melewatkan Indomitabel interferensi intravascular Intermittent Intuitif kompatibel Low Pass Filter luminansi neonatal noise Istilah yang digunakan untuk menandai kecerahan atau hitam putihnya gambar televisi. ditundukkan. Misal penerima TV warna dan hitam putih untuk menerima siaran dari pemancar yang sama Penyaring frekuensi frekeunsi rendah. pada umumnya untuk kasus hukum pidana dan kasus hukum perdata dalam beberapa yurisdiksi. atau ditaklukkan. tak tertundukkan . Dalam telekomunikasi noise figure (NF) merupakan suatu ukuran degradasi dari perbandingan sinyal terhadap noise. Percampuan dua gelombang atau lebih dapat saling memperkuat atau melemahkan tergantung dari kedudukan pasa satu dengan yang lain. noise figure osteoporosis Partikel Patologi forensic .terpisah. Berkaitan dengan bayi baru. Interpolasi Interpolasi adalah menghubungkan titik. Sinyal yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam sistem. lunak. Interpolasi linier sederhana menghubungkan titik sampel dengan garis lurus. yang disebabkan oleh komponen dalam sinyal RF. Dalam pembuluh darah Selang waktu mulai dan berhenti berselang-seling dengan sebentar-sebentar sinonim dengan periodik Tentang.

mikroprosesor. Radio isotop penting digunakan dalam diagnosa medis untuk pengobatan dan penyelidikan. Kembalinya berkas elektron dari sistem scanning televisi sisi kanan layar ke sisi kiri layar monitor. hilangnya sensasi.pacemaker Pacemaker berupa alat kecil yang membantu detak jantung dengan simulasi listrik membantu mengendalikan irama jantung. Data orbital (empiris) memungkinkan penerima untuk menghitung posisi SV dalam tiga dimensi pada saat pengiriman sinyal secara berunyun. Sakit ini mengakibatkan. atau fakta yang diterima oleh pikiran sehat. Suatu kejadian. Dalam teknologi informasi. printer. dan ketidakmampuan untuk mengendalikan otot. dapat Penomena peripheral Periperal merupakan piranti komputer seperti drive CD-ROM atau printer yang bukan merupakan bagian utama computer seperti memori. Kejelasan atau ketajaman gambar. Dapat dijinjing tidak ditempatkan secara permanen. keyboard. radio isotop radiactive decay real time Resolution retrace . waktu yang sebenarnya pada saat terjadinya proses. adalah koneksi peripheral neuropathy portable protocol pseudo-range Cakupan pengukuran semu digunakan bersamasama dengan estimasi posisi SV yang didasarkan pada data empiris yang dikirim oleh masing-masing SV. Peripheral neuropathy merupakan masalah dengan kegelisahan yang membawa informasi ke dan dari otak dan tulang belakang. monitor. Periperal eksternal seperti mouse. Suatu versi elemen kimia yang memiliki inti tak sabil dan mengemisikan radiasi selama decay untuk membentuk kestabilan. protokol satuan aturan yang khusus dalam telekomunikasi . Radioactive decay merupakan suatu proses ketidakstabilan inti atom karena kehilangan energi berupa emisi radiasi dalam bentuk partikel atau gelombang elektromagnetik. keadaan.

Sinyal ringing tidak menambah amplitude tegangan. Content Scrambling System. scrambling shadow mask S/N Ratio sweep vernier tomography Transduser transceiver transien troubleshooting Vasodilatation Virtual . Virtual sekarang ini secara filosofi distilahkan sebagai sesuatu yang tidak nyata. Berkaitan dengan scan medis. Pemancar dan penerima sinyal yang ditempatkan dalam satu kemasan. Sapuan dari atas ke bawah untuk mengukur posisi terhadap skala. Transien dapat didefinisikan sebagai lonjakan kenaikkan arus yang mempunyai durasi 50 sampai 100 milidetik dan kembali normal pada tegangan sumber 28 Volt membutuhkan waktu 50 mili detik atau lebih. namun memungkinkan untuk diperagakan sepenuh kualitas nyata. Lapisan logam berlubang di dalam monitor warna untuk meyakinkan bahwa berkas elektron hanya menumbuk titik pospor dengan warna yang benar dan tidak mengiluminasi lebih dari satu titik. CSS. Proses pencarian letak gangguan atau kerusakan. Pelebaran pembuluh darah. Perbandingn sinyal terhadap noise meruakan perbandingan dari sinyal yang dikehendaki terhadap sinyal yang tak diinginkan. Transduser merupakan suatu piranti yang dapat mengubah besaran non listrik menjadi besaran listrik dan sebaliknya. yang bertambah adalah frekuensinya karena factor ketiga. merupakan system enkripsi lemah yang digunakan pada kebanyakan DVD komersial.rise time ringing Waktu yang diperlukan pulsa untuk naik dari 10% amplitudo maksimum sampai 90%. Dengan hanya satu sinyal yang diberikan pada terminal osiloskop dan yang lain tidak dihubungkan dapat dilihat adanya beberapa sinyal yang tidak berguna.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful