71

BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010-2014
Strategi dan arah kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010--2014 dirumuskan berdasarkan pada RPJMN 2010--2014 dan evaluasi capaian pembangunan pendidikan sampai tahun 2009 serta komitmen pemerintah pada konvensi internasional mengenai pendidikan, khususnya Konvensi Dakar tentang Pendidikan untuk Semua (Education For All), Konvensi Hak Anak (Convention on the Right of Child), Millenium Development Goals (MDGs), dan World Summit on Sustainable Development.

5.1 Strategi Pembangunan Pendidikan Tahun 2010--2014
Strategi merupakan upaya yang sistematis melalui pengintegrasian dari tujuan, sasaran, kebijakan, program, dan kegiatan untuk mencapai misi Depdiknas yang telah ditetapkan. Keenam strategi pembangunan pendidikan nasional pada periode lima tahun mendatang tergambar dalam Gambar 5.1 s.d. Gambar 5.6. Setiap gambar mempunyai makna, yaitu kotak yang di tengah menunjukkan strategi, sedangkan kotak pada lingkaran kedua menunjukkan indikator outcome unit eselon I terkait dan kotak lingkaran terluar menunjukkan indikator output unit eselon II terkait.

Kode angka pada setiap kotak menunjukkan unit kerja terkait. Sekretariat Jenderal (1.0), Inspektorat Jenderal (2.0), Badan Penelitian dan Pengembangan (3.0), Ditjen Pendidikan Tinggi (4.0), Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (5.0), Ditjen Pendidikan Formal dan Informal (6.0), dan Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (7.0). Sementara itu, digit kedua menunjukkan unit eselon II terkait. Penjelasan setiap strategi adalah sebagai berikut.

RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 - 2014

72

5.1.1 Strategi I Perluasan dan pemerataan akses PAUD bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota dilakukan melalui: a) Penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD bermutu yang merata antarprovinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi pemenuhan guru TK/TKLB bermutu; penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD nonformal bermutu; pelaksanaan diklat bidang TK bermutu; dan penyediaan tenaga kependidikan TK/TKLB bermutu yang merata antarprovinsi, kabupaten, dan kota; b) perluasan dan pemerataan akses TK/TKLB bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota; c) keluasan dan kemerataan akses PAUD nonformal bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota; serta d) ketersediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu PAUD, serta keterlaksanaan akreditasi PAUD.

Kerangka berpikir penerapan strategi pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan program dan kegiatan pembangunan pendidikan nasional 2010--2014 dapat dijabarkan pada Gambar 5.1.

BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014

7.2
Ketersediaan Diklat bidang TK
1.Perencanaan kebutuhan WI dan Tenaga Kependidikan 2.Peningkatan kualifikasi dan kompetensi WI dan tenaga kependidikan 3.Pengembangan karier WI dan tenaga kependidikan 4.Pengembangan Standar, Sistem, Program, bahan dan model diklat guru 5.Revitalisasi sarana dan prasarana penyelenggaraan diklat 6.Implementasi peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru berkelanjutan 7.Monitoring dan Evaluasi PTK 8.Pemetaan dalam rangka penjaminan mutu pendidikan 1. Perencanaan kebutuhan Tenaga Kependidikan 2. Pengembangan standar dan sistem Pengadaan dan penempatan Tenaga Kependidikan 3. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi Tenaga Kependidikan 4. Pengembangan karier Tenaga Kependidikan 5. Peningkatan Perlindungan, penghargaan dan kesejahteraan Tenaga Kependidikan 6. Monitoring dan Evaluasi kinerja Tenaga Kependidikan

7.4
Ketersediaan Tenaga Kependidikan TK/TKLB

7.5

7.3

Ketersediaan Guru TK/TKLB

Ketersediaan PTK PAUD Non Formal

RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 - 2014
7.0 Ketersediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD yang merata 6.2
Keluasan dan kemerataan Akses PAUD Non Formal Bermutu

1. Perencanaan kebutuhan guru 2. Pengembangan standar dan sistem Pengadaan dan penempatan guru 3. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru 4. Pengembangan karier guru 5. Peningkatan Perlindungan, penghargaan dan kesejahteraan guru 6. Monitoring dan Evaluasi kinerja guru

1. Perencanaan kebutuhan PTK PAUD Non Formal 2. Pengembangan standar dan sistem Pengadaan dan penempatan PTK PAUD Non Formal 3. Peningkatan kualifikasi, kompetensi PTK PAUD Non Formal 4. Pengembangan karier PTK PAUD Non Formal 5. Peningkatan Perlindungan, penghargaan dan kesejahteraan PTK PAUD Non Formal 6. Monitoring dan Evaluasi kinerja PTK PAUD Non Formal

5.2 & 5.6 5.0 6.0 Perluasan dan Pemerataan Akses PAUD Bermutu dan Berkesetaraan Jender di Semua Prov, Kab dan Kota Keluasan dan kemerataan Akses PAUD Non Formal Keluasan dan kemerataan Akses TK/TKLB

Keluasan dan kemerataan Akses TK/TKLB Bermutu

1. Penyediaan Sarana dan Prasarana 2. Rehabilitasi Sarana dan Prasarana 3. Penyelenggaraan Festival dan Kompetisi 4. Pembinaan M BS 5. Pembinaan Gugus 6. Olahraga Pendidikan TK/TKLB

3.0
Ketersediaan Model Pembelajaran, Data dan informasi, dan Standar Mutu PAUD serta Akreditasi PAUD

1. BOP peserta didik TPA/KB/ SPS 2. Bantuan rintisan PAUD 3. Bantuan APE PAUD 4. Penyelenggaraan Lomba/Pemilihan Mitra PAUD Be rprestasi 5. Pengembangan SIM 6. Penyelenggaran Supervisi, Pelaporan, Pemantauan dan Evaluasi

3.1 3.4
Ketersediaan Model Program Pembelajaran PAUD
1. Pengembangan model-model kurikulum 2. Bantuan profesional pengembangan kurikulum 3. Kajian kurikulum 4. Monitoring dan evaluasi kurikulum

3.3
Ketersediaan Data PAUD

3.2
Ketersediaan Informasi PAUD Berbasis Riset untuk Perumusan Kebijakan Nasional

Ketersediaan Standar Mutu PAUD serta Terlaksananya Akreditasi PAUD

1. Pengembangan standar nasional pendidikan untuk TK/TKLB dan PAUD Non Formal 2. Penyelenggaraan akreditasi TK/TKLB dan PAUD Non Formal

1. Peningkatan mutu data pendidikan nasional 2. Penyusunan statistik 3. Pengembangan dan pemeliharaan: Pangkalan Data Pendidikan Be rbasis Web (Padatiweb); 4. Pengembangan DSS PAUD

1. Penelitian kebijakan akses dan mutu PAUD 2. Pengembangan model penyelenggaraan epembelajaran 3. Pengembangan model PuP3B 4. Pengembangan model penyelenggaraan pendidikan inklusif, multigrade teaching, multyentry-exit system

73

Gambar 5.1: Kerangka berpikir penerapan strategi perluasan dan pemerataan akses PAUD bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota

74

Keberhasilan penerapan strategi ini diukur dari tercapainya target indikator kinerja kunci yang dijabarkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses PAUD Bermutu dan Berkesetaraan Gender di Semua Provinsi, Kabupaten, dan Kota
KONDISI KODE IKK AWAL (2009) 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 APK PAUD Rasio Kesetaraan Gender PAUD Persentase Provinsi Mencapai APK 60 % Persentase Kota Mencapai APK 75% Persentase Kabupaten Mencapai APK 50% APK PAUD Formal Persentase Satuan PAUD Formal Berakreditasi Persentase Guru PAUD Formal Berkualifikasi S-1/D-4 Persentase Guru PAUD Formal Bersertifikat Persentase Guru PAUD Formal Mengikuti PPB
Persentase Tutor PAUD Non Formal Mengikuti PPB

TAHUN 2010 56.7% 98.0% 34.4% 37.6% 37.7% 34.5% 55.6% 14.3% 12% 15% 15% 38.5% 0.0% 2011 2012 2013 2014

53.7% 98.0% 24.2% 28.3% 28.4% 31.8% 48.2% 12.3% 9.7% 5% 5% 35.6% 0.0%

60.1% 63.6% 67.4% 72.9% 98.0% 98.0% 98.0% 98.0% 44.5% 54.7% 64.8% 75.0% 47.0% 56.3% 65.7% 75.0% 47.0% 56.4% 65.7% 75.0% 37.1% 39.7% 42.4% 45.0% 62.9% 70.3% 77.6% 85.0% 16.4% 22.5% 13% 25% 25% 22% 35% 35% 55% 60% 45% 45% 85.0% 85.0% 55% 55%

APK PAUD Non Formal Persentase Satuan PAUD Nonformal Berakreditasi

43.5% 48.5% 54.5% 58.5% 2.5% 6.0% 10.0% 15.0%

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah masa yang berharga dan sangat penting bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulan terhadap perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif maupun sosialnya yang dapat diperoleh melalui pendidikan anak usia dini (PAUD), yang meliputi TK/ RA untuk anak usia 5-6 tahun, serta kelompok bermain, taman penitipan anak, dan berbagai program serupa untuk anak usia 3-4 tahun.

Selain itu beberapa muatan penyiapan anak usia dini untuk belajar di SD/MI diberikan juga di Posyandu dan program Bina Balita. Posyandu yang pada awalnya merupakan program layanan kesehatan bagi ibu dan anak usia dini, kini telah dilengkapi dengan muatan pendidikan. Demikian juga Bina Balita yang memberikan layanan pendidikan pemeliharaan kesehatan anak bagi orangtua, terutama ibu, yang memiliki anak usia di bawah 5 tahun.

BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014

75

5.1.2 Strategi II Perluasan dan pemerataan akses pendidikan dasar universal bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota dilakukan melalui: a) penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan dasar bermutu yang merata antarprovinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi penyediaan guru SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu; penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan Paket A dan Paket B bermutu; penyediaan diklat bidang SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu; penyediaan tenaga kependidikan SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu yang merata antarprovinsi, kabupaten, dan kota; b) perluasan dan pemerataan akses SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota; c) perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket A dan Paket B bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi, kabupaten, dan kota; serta d) penyediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu pendidikan dasar, serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan dasar.

Kerangka berpikir penerapan strategi pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan program dan kegiatan pembangunan pendidikan nasional 2010--2014 dapat dijabarkan pada Gambar 5.2 berikut.

RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 - 2014

Peningkatan Pe rlindungan. m e nulis dan be rhitung siswa kelas 3 SD/SDLB 2 . Pengem bangan m odelm odel kurikulum 2 . M onitoring dan Evaluasi kinerja PTK 5.3 3. Bantuan profe sional pengem bangan kurikulum 3 . D ata dan inform asi. Olahraga Pendidikan 1 .0 Perluasan dan Pe m e rataan Akse s Pe ndidikan Dasar Unive rsal Berm utu dan Be rke se taraan Je nder di Sem ua Provinsi. Penye diaan Sarana dan Prasarana 4. Revitalisasi sarana dan prasarana bagi penyele nggaraan diklat 6. 5.4 3. BOS 2. Rintisan M ode l pembelajaran berbasis TIK 3. Pengem bangan Standar.6 K etersediaan Pendidik dan Tenaga K ependidikan Pendidikan Dasar Bermutu yang m erata 7. Peningkatan Perlindungan. kabupaten. Pem binaan Gugus 9. Pere ncanaan kebutuhan WI dan Te naga Ke pendidikan 2. dan kota . dan Standar M utu Pendidikan D asar serta Akreditasi Pendidikan Dasar 2 1. Pere ncanaan kebutuhan Te naga Kepe ndidikan 2. Pengem bangan standar dan sistem Pengadaan dan pe ne mpatan Te naga Kepe ndidikan 3. Pe me taan kompete nsi literasi me mbaca. Pe nge mbangan model penyelenggaraan pe ndidikan inklusif. Peningkatan kualifikasi dan kom petensi W I dan tenaga kepe ndidikan 3.5 Ketersediaan Informasi Penilaian K ualitas 1 . m ultigrade teaching. Sosialisai hasil UASBN di tingkat kab/kota 4 . Kabupate n dan Kota 3.1 K etersediaan Data Pendidikan D asar 1. 4. Pengem bangan karie r PTK 5. Pe nge mbangan model PuP3B 4 . Peningkatan kualifikasi dan kom pe tensi Te naga Kependidikan 4. Pe nge mbangan DSS Pe ndidikan Dasar 3.SM P/SMPLB. Sistem. Beasiswa 3. Bantuan Be asiswa kete rampilan Paket B 5 . Bantuan pe ningkatan kapasitas ke le mbagaan 6 .0 Ketersediaan M odel Pembelajaran. Penye lenggaraan Fe stival dan Kom pe tisi 7. Pengem bangan karie r guru 5 .0 6. Pe nge mbangan SPM dan SNP 2. Rintisan Pe ndidikan Kesetaraan be rbasis ke cakapan hidup 3 . Pengem bangan standar dan sistem Pengadaan dan pe ne mpatan PTK 3. penghargaan dan kese jahteraan Guru 6 .2 . Implem entasi peningkatan kom petensi dan CPD 7. Evaluasi Be lajar 7 . Program. Pem binaan M BS 8. KTSP 6. Rintisan Sistem inform asi pe nge lolaan Pake t A dan Paket B 8 .2 Ketersediaan Informasi untuk Perum usan K ebijakan Nasional 1 . Pere ncanaan kebutuhan PTK 2. Pe ningkatan mutu data pe ndidikan nasional 2. Pe nye lenggaraan akre ditasi SD/SD LB. M onitoring dan Evaluasi kinerja Diklat dan dampak peningkatan kom pe tensi bagi PTK 8. Pengem bangan karie r W I dan tenaga ke pendidikan 4. Pe nge mbangan dan pe me liharaan: Pangkalan Data Pe ndidikan Be rbasis We b (Padatiwe b). Pe nyusunan Buku/modul pembelajaran be rbasis lokal 4 .2: Kerangka berpikir penerapan strategi perluasan dan pemerataan akses pendidikan dasar universal bermutu dan berkesetaraan gender di semua provinsi. dan Paket A & B 1 . M onitoring dan e valuasi kurikulum Gambar 5. Pe ne litian kebijakan akses dan m utu 2 .4 7. Peningkatan kualifikasi dan kom pe tensi PTK 4.2 7.3 & 5 . Pe nyusunan statistik 3. Pem etaan dalam rangka penjam inan m utu pendidikan 1. Pe nge mbangan model penjam inan dan pe rbaikan m utu hasil UASBN dan UNSM P K etersediaan Standar M utu dan akreditasi Dikdas K etersediaan M odel K urikulum dan Pem belajaran BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 1.0 Keluasan dan kemerataan Akses Pendidikan Paket A & B K eluasan dan kemerataan Akses Pendidikan Paket A & B Bermutu K eluasan dan kemerataan Akses SD /SD LB Bermutu K eluasan dan kemerataan Akses SM P/SM PLB Bermutu Keluasan dan kemerataan Akses SD/SD LB dan SM P/SM PLB 5.76 7. Pe me taan kompete nsi guru SD/SDLB dan guru SM P/SM PLB 3 . Rehabilitasi Sarana dan Prasarana 5.3 Ketersediaan Tenaga Kependidikan SD /SDLB dan SM P/SM PLB Ketersediaan G uru SD /SDLB dan SM P/SM PLB Ketersediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Paket A & B 1 . Pengem bangan karie r Te naga Kepe ndidikan 7. Pere ncanaan ke butuhan Guru 2 . Kajian Kurikulum 4 . Pe nge mbangan model penyelenggaraan e -Pe mbe lajaran 3 . penghargaan dan kesejahte raan PTK 6. bahan dan m odel diklat guru 5. BOP Paket A & B 2 .3 6. m ulty-entry-exit system 3. Pengem bangan standar dan siste m Pengadaan dan pe ne mpatan Guru 3 .5 K etersediaan diklat bidang SD /SDLB dan SM P/SM PLB 1. Peningkatan kualifikasi dan kompete nsi guru 4 . M onitoring dan Evaluasi kinerja guru 1.

0% 80.2 Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Dasar Universal Bermutu dan Berkesetaraan Gender di Semua Provinsi.2 dan Tabel 5.0% 51.0% 1.1% 95.0% 75.8% 96.0% 95.3% 13.5% 74.6% 40.9% 67.0 170 450 7.6% 15.2% 118.4% 32.1% 17.0% 74.2% 55.0% 10.6% 10.2% 9.0% 47.6% 36.0% 68.0% 24.0% 28% 20.0% 7.6% 119.3% 1.5% 80.0 180 450 15.1% 90.8% 25.0% 27.5% 80.5% 85.0% 36.8% 7.0 145 405 0.0% 44.0% 40.0% 79.4% 54.4% 80.5% 91.9% 67.77 Keberhasilan penerapan strategi ini diukur dari tercapainya target indikator kinerja kunci yang dijabarkan pada Tabel 5.0% 17.0% 7.0% 78.4% 70.9% 12.0% 60.0% 82.0% 90.4% 8.0% 7.6% 85.0% 32.2% 98% 63.1% 85.3.4% 54.0% 70.2% 80.0 140 405 0.0% 80.0% 42.0% 85.2014 .0% 75.7% 92.9% 0.0% 25.6% 118.0% 41.0% 95.0% 65.3% 17.6% 97.3% 95.2% 3.0% 1.4% 45.7% 90.0% 0.0% 56.0% RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .0 151 405 5.8% 70.6% 35.4% 39.0% 90.0% 86.2% 73.2% 32. Tabel 5.0% 98% 98% 98% 98% 68.2% 60.1% 0.8% 94.6% 29.0 160 450 7.0% 70.2% 98% 57.3% 6. dan Kota (SD/SDLB/ MI/Paket A) KONDISI KODE IKK AWAL (2009) 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 APK SD/SDLB/MI/Paket A APM SD/SDLB/MI/Paket A Rasio Kesetaraan Gender SD/SDLB/Paket A Persentase Provinsi Mencapai APM > 95% Persentase Kota Mencapai APM > 96% Persentase Kabupaten Mencapai APM > 94% Persentase Peserta Didik SD/SDLB Putus Sekolah Persentase Lulusan SD/SDLB yang Melanjutkan Persentase SD/SDLB Berakreditasi Persentase SD/SDLB Berakreditasi Minimal B Persentase SD/SDLB Menerapkan E-Pembelajaran Persentase Kabupaten/Kota Memiliki SD SBI/RSBI Persentase Kota Memiliki Minimal 2 SD SBI/RSBI Persentase SD/SDLB Berwawasan PuP3B Persentase SD/SDLB Menerapkan KTSP dg Baik Persentase Guru SD/SDLB Berkualifikasi S-1/D-4 Persentase Guru SD/SDLB Bersertifikat Persentase Guru SD/SDLB Mengikuti PPB Persentase Tutor Paket A Mengikuti PPB Rerata Nilai UN SD/SDLB Nilai Total Tertimbang Medali Internasional Skor PIRLS Persentase Program Paket A Berakreditasi 117.0% 1.2% 117.0% 50.9% 68% 82.5% 65.0% 12. Kabupaten.8% 62.3% 57.0% 24.0% 2010 2011 2012 2013 2014 TAHUN 117.8% 29.0% 42.0% 48.2% 95.7% 95.8% 15.

0% 63.8% 56.8% 66.0% 56. seluruh anak usia 7–15 tahun dapat memperoleh pendidikan paling tidak sampai Sekolah Menengah Pertama atau yang sederajat.0% 10% 43.6% 92.4% 61.6% 20% 50.3% 101.3 Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Dasar Universal Bermutu dan Berkesetaraan Gender di Semua Provinsi. baik melalui jalur formal maupun nonformal.0% 44.0% 90.0% 90.4% 7.0% 67.0% 27.4% 65.2% 67.0% 28.0 19 870 15.0% 70.0% 1.2% 7.4% 97.6% 22.5% 59.3% 97.0% 98.6% 79.5% 74% 97.0% 7.2% 30% 56.6% 7.4% 74.8% 67.0% 78.1% 44.0% 7.2% 68.0% 33.0% 55.8% 20. Kabupaten. telah berhasil mencapai kinerja yang cukup signifikan.0% 1.0% 45.0% 1.8% 76.0% 67.0% 74.0% 1.7% 72.6% 79.0% 80.8% 32. Berdasarkan capaian ini.8% 40% 62. Dengan demikian.0 21 870 40.0% 33.0% 2014 110.0% 98.2% 57. dan Kota (SMP/SMPLB/Paket BMTs) KONDISI KODE IKK AWAL (2009) 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 APK Nasional SMP/SMPLB/MTs/Paket B APM Nasional SMP/SMPLB/MTs/Paket B Rasio Kesetaraan Gender SMP/SMPLB/Paket B Persentase Provinsi Mencapai APK > 95% Persentase Kota Mencapai APK > 115% Persentase Kabupaten Mencapai APK > 90% Persentase Peserta Didik SMP/SMPLB Putus Sekolah Persentase SMP/SMPLB Berakreditasi Persentase SMP/SMPLB Berakreditasi Minimal B Persentase SMP/SMPLB Menerapkan E-Pembelajaran Persentase Kabupaten/Kota Memiliki SMP SBI/RSBI Persentase Kota Memiliki Minimal 2 SMP SBI/RSBI Persentase SMP/SMPLB Berwawasan PuP3B Persentase SMP/SMPLB Menerapkan KTSP dengan Baik TAHUN 2010 2011 2012 103.8% 82.0% 76.0% 75.0% 26.0% 1.2% 46.7% 72.8% 98.7% 20.4% 50% 68.0% 55.7% 97.8% 84.0% 74% 32.0% 16.9% 75.0% Persentase Guru SMP/SMPLB Berkualifikasi S1/D4 Persentase Guru SMP/SMPLB Bersertifikat Persentase Guru SMP/SMPLB Mengikuti PPB Persentase Tutor Paket B Mengikuti PPB Rerata Nilai UN SMP/SMPLB Nilai Total Tertimbang Medali Internasional Skor TIMMS Persentase Program Paket B Berakreditasi Program Wajib Belajar 9 Tahun bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan layanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau.2% 25.0% 99.2% 84.8% 7.9% 50. dengan capaian Angka Parisipasi Murni (APM) 95.0% 35.0 20 870 27.0 15 824 0.0% 42.0% 79.3% 79.0% 55.0% 44.0% 14.0% 85.4% 78.0 16 824 0.0% 1.0% 85.3% 73.0 17 824 5. Upaya peningkatan akses pendidikan terutama untuk tingkat pendidikan wajib belajar 9 tahun.78 Tabel 5.0% 90.2% 87.6% 43. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 .8% 7.0% 56.0% 60.18% untuk SMP/MTs/SMPLB/Paket B.0% 90.99% 61% 19.2% 73.0% 0.1% 97. serta Angka Parisipasi Kasar (APK) 96.4% 23.6% 72.4% 77.0% 90.14% untuk SD/MI/SDLB/Paket A. target Wajib Belajar Sembilan Tahun telah tercapai pada tahun 2008.0% 2013 106.

dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua provinsi. kabupaten.2014 . c. berkesetaraan gender. data dan informasi berbasis riset. kabupaten. Kerangka berpikir penerapan strategi pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan program dan kegiatan pembangunan pendidikan nasional 2010--2014 dapat dijabarkan pada Gambar 5. berkesetaraan gender. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan Paket C bermutu. perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket C bermutu. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan menengah bermutu yang merata antarprovinsi.79 5. dan standar mutu pendidikan menengah serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan menengah. berkesetaraan gender. yang meliputi penyediaan guru SMA/SMLB/SMK bermutu. dan penyediaan tenaga kependidikan SMA/SMLB/SMK bermutu yang merata antarkabupaten dan kota.3 Strategi III Perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah bermutu. b. dan kota. penyediaan diklat bidang SMA/SMLB/SMK bermutu. ketersediaan model kurikulum dan pembelajaran.1.3 berikut. serta d. dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua provinsi. dan kota dilakukan melalui: a. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua provinsi. dan kota. kabupaten. perluasan dan pemerataan akses pendidikan SMA/SMLB dan SMK bermutu. dan kota. kabupaten.

5 .1 3 . 4 . M o n e v kin e rja gu ru SM A /SM LB/ SM K 7 . P e n ge m b an gan m o d el P uP 3B 4 . Sistem . Ri n tisan M o d e l p em b elajar an P ake t C b e rb asis TIK 3 . P e n ge m b an gan m o d el p en yelen ggaraan p e n d id ikan in kl u sif. BO P P ake t C 2 . m ultig rad e tea ch ing . d an R e le v an d e n gan K e b u t u h an M asy arakat . P e n ge m b an gan m o d el p en yelen ggaraan e P e m b e lajaran 3 . P e n ge m b an gan d an p e m e lih araan : P an gkalan D ata P e n d id ikan B e rb asi s W e b (P ad ati w e b ). K TSP 7 . P e n i n gkatan ku al if ikasi d an ko m p e te n si gu ru SM A /SM LB/ SM K 4 .5 K e t e rse d iaan d i klat b id an g S M A/ S M L B/S M K K e t e rse d i aan Te n aga K e p en d id ikan S M A / S M L B/ S M K 1 .0 Perlua san da n Pem e rataa n Ak ses Pendidik an S M A/S M LB / SM K P e rl u asan d an P e m e rataan A kse s P e n d id ikan SM A /SM LB Be rmu tu 6 . P e n yu su n an So al U jian N asio n al 2 . & 5 .6 5 . P e n e litian keb ijakan akse s d an m u tu D i km e n 2 . dan S tanda r M utu serta Ak redita si D ik m en 1 . d an ko m p et en si Te n aga K e p e n d id i kan 4 . K ajian ku riku lu m . D ata dan inform asi.3 3 . P e n ye le n ggaraan Fe stival d an K o m p e tisi 8 .5 K e te rse d iaan In f orm asi P e n il aian K u alitas D ikm e n 1 . b ah an d an m o d e l d i klat gu ru 5 . P e n ge m b an gan st an d ar d an siste m P e n gad aan d an p e n e m p atan Te naga K e p e n d id ikan 3 . P e n ge m b an gan karie r gu ru SM A / SM L B / SM K 5 . P e n ge m b an gan stan d ar d an si ste m P e n gad aan d an p e n e m p atan G uru SM A / SM L B / SM K 3 . dan kota . P e n in gkatan m u tu d ata p e n d i d ikan n asio n al 2 . Re h ab ilitasi Sar an a d an P rasaran a 5 . P e n ye d iaan Saran a d an P rasaran a 4 .0 K eters ediaa n M odel Pe m belajaran. P e n in gkat an P e rlind u ngan . M o n e v ki n e rja P TK P ake t C 7K. M o n e v kin e rja Te n aga K e pe nd idikan 1 . p e n gh argaan d an ke se jah te r aan P TK P ake t C 6 . Be asisw a 2 . Kab u p at e n d an Ko t a Perlua san dan Pem erataa n A k ses Pendidik a n Pa k et C P e rl u asan d an P e m e rataan A kse s P e n d id i kan SM K Be rm u tu d an Re l e van 1 . M o n ito r in g d an eval u asi ku riku lu m Gambar 5. U jian N asio n al P e n d id ikan SM A /SM K K e te rse d iaan Stan d ar M u tu se r ta A kr e d itasi D i km e n K e te r se d iaan M o de l K u r ikulu m d an P e m b e lajar an D ikm en BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 1 . Ev alu asi Be lajar 7 . P e n i n gkatan P e rl ind u ngan .80 7. B e rke se t ar aan Je n d e r. Ri n tisan Siste m in f o rm asi p e nge lo laan P ake t C 8 . P e r e n c an aan ke b u tu h an P TK P ake t C 2 .4 7 . P e n in gkatan ku alif ikasi d an ko m p eten si W I d an ten aga ke p e n d id ikan 3 . Ban tu an Be asi sw a ke te ram p ilan 5 . Ban tu an p e n in gkatan kap asitas ke le m b agaan 6 . P e n in gkatan P e rli nd u ngan .0 Pe rluas an da n Pem erata an Ak ses Pendidik an Pak e t C B e rm utu 3 P e rlu asan d an P e m e rat aan A kse s P e n d id ikan M e n e n gah Be rm u t u . BOM M 6 . P e n ge m b an gan Stan d ar. P e n ge m b an gan karie r Te naga K e p e n d id ikan 5 . Im p le m e n tasi p e n in gkatan ko m p eten si d an p ro f e sio n alism e gu ru b erkel an jutan 7 . dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua provinsi. p e n gh argaan d an ke se jah te raan G u r u SM A / SM L B / SM K 6 . P e n ge m b an gan stan d ar d an sistem P e n gad aan d an p e n e m p atan P TK P ake t C 3 . P e re n c an aan ke b u tu h an Te naga K e p e n d id ikan 2 . P e n yu su n an B u ku / m o du l p em be lajaran b e rb asis lo kal 4 . P e n ye le n ggaraan akre d i tasi SM A / SM L B d an SM K 1 .2te rse d iaan G u r u SM A /SM LB / SM K e 7 . kabupaten.3 Kerangka berpikir penerapan strategi perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah bermutu. Ban tu an p ro f e sio n al p e n ge m b an gan ku riku lu m 3 . P e re n c an aan ke b u tu h an G u ru SM A / SM L B / SM K 2 . d i S e m u a P ro v in si. P e n yu su n an statistik 3 .5 .3 6 . Ri n tisan P e n d idikan K e set araan b e rb asis ke c akap an h id u p 3 . P e re n c an aan ke b u tu h an W id yaisw ara (W I) d an Te n aga K e p e n d id ikan 2 . berkesetaraan gender. 4 . 1 . P e n in gkatan ku ali f ikasi.0 K e terse diaan Pendidik dan Tenag a K ependidik a n Pendidik a n M e neng ah 5 .4 3. P e n ge m b an gan m o d el-m od el ku riku lu m 2 . M o n e v kin e rja D iklat d an d am p ak p e n in gkatan ko m p e te n si b agi P TK 8 . m ulty en t ry-exit system 3 . p en gh argaan d an ke se jah te raan Te n aga K e p e nd idikan 6 . P rogram . Re vitalisasi Sarp ras b agi p e n ye le n ggaraan d ikl at 6 . P e m e taan d alam ran gka p e n jam in an m utu p en did ikan K e te rse d iaan P e nd idik d an Te n aga K e p e n d id ikan P ake t C 1 . P e n ge m b an gan SP M d an SN P 2 .2 K e t e rse d iaan D ata D ikm en K e te rse d iaan In f orm asi D i km en u ntu k P eru mu san K e b ijakan N asio n al 1 . P e m b in aan M BS 9 . P e n in gkat an ku alif ikasi d an ko m p e te n si P TK P ake t C 4 . P e n ge m b an gan karie r P TK P ake t C 5 . P e n ge m b an gan karie r W I d an ten aga ke p en did ikan 4 .3 1 . Olah raga P e n d id ikan 3 .

0% 90.0% 7.0 101 1183 73.0% 95.8% 51.0% 59.0% 80.7% 36.0% 48.0% 16.0% 60.0% 10.0% 0.4% 38.6% 46.0% 46.9% 23.8% 49.0% 7.0% 41.500 98.0% 40.0% 70.0% 74.0% 35.0% 33.0% 12.5.0% 316 612 908 1.0 110 1243 69.8% 82.0% 95.0 105 1203 7.0% 35.0% 1.0% 67.0 109 1243 2014 85.0% 50.0% 18.0% 50.5% 31.6% 60.0% 19.2% 55.0% 32.0% 7.0% 32. Kabupaten.0% 41.8% 28.0% 26.0 103 1203 Persentase SMA/SMLB Berwawasan PuP3B Persentase SMA/SMLB Menerapkan KTSP dengan Baik Rerata Nasional Nilai UN SMA/SMLB Nilai Total Tertimbang Medali dari Kompetisi Internasional 7.0% 7.0% 76.4% 27.2% 27.2% 93.0% 61.0% 5.8% 65.2014 .0% 95.0% 42.0% 79. dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat di Semua Provinsi.0% 51.0% 52.4% 86.0% 40. Berkesetaraan Gender.1% 41.0% 2.0% 65.4 Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Menengah Bermutu.0% 90.0% 64.0% 81.9% 35.0% 70.2% 30.0% 22.0% 64.0% RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .0% 90.0% 88.0% 53.0% 70.3% 80.0% 40.81 Keberhasilan penerapan strategi ini diukur dari tercapainya target indikator kinerja kunci yang dijabarkan pada Tabel 5.0% 61.0% 47.0% 64.0% 5.4% 59. dan Kota KONDISI NO IKK AWAL (2009) 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 APK Nasional SMA/SMK/SMLB/MA/Paket C Rasio Kesetaraan Gender SMA/SMK/SMLB/Paket C Persentase Provinsi Mencapai APK Minimal 80% Persentase Kota Mencapai APK Minimal 85% Persentase Kabupaten Mencapai APK Minimal 65% Persentase SMA/SMLB Berakreditasi Persentase SMA/SMLB Berakreditasi Minimal B Persentase SMA/SMLB Menerapkan E-Pembelajaran Persentase Kab/Kota memiliki SMA/SMLB SBI/RSBI Persentase Kota Memiliki 2 SMA SBI/RSBI Persentase Kab/Kota Memiliki SMA Berbasis Keunggulan Lokal TAHUN 2010 2011 2012 2013 82.7% 19.0% 48.0% 92.9% 95.0% 36.0% 14.0% 70.0% 40.0% 80.0% 60.5% 54.6% 72.0% 70.204 97.0% 20.0% 75.0% 70. Tabel 5.4% 30.0 107 1203 Skor PISA (Literasi/Numerasi/Sains) Jumlah SMA/SMLB Bersertifikat ISO 9001:2008 Persentase Guru SMA/SMLB Berkualifikasi S-1/D-4 Persentase guru SMA/SMLB Bersertifikat Persentase Guru SMA /SMLB yang Mengikuti PPB Persentase Tutor Paket C yang Mengikuti PPB Persentase Program Paket C Berakreditasi 20 91.9% 81.0% 41.0% 88.7% 76.4 dan Tabel 5.0% 58.0% 76.0% 23.0% 5.0% 50.

2% 85.0% 90.0% 78.0% 55.0% 15.0% 22.5% 55.014 27.0% 85.0% 16.0% 7.0% 70.0% 26.0% 78.4% 58.7% 32.0% 20.0% 24.0% 60.0 14 33:67 70. Pendidikan vokasi dirasa perlu karena memiliki paradigma yang menekankan pada pendidikan yang menyesuaikan dengan permintaan pasar (demand driven) guna mendukung pembangunan ekonomi kreatif.0% 28.0% 32.0 12 40:60 15.0% 2.0% 0.0% 686 23.0% 20.0% 357 19.0% 26.0% 0.0% 51.0% 98.0% 67.0% 48.0% 57.0% 50.0% 7.0% 30.0% 40.0 9 50:50 82.0% 18.0% 0.0% 64.0% 66. dan Kota (Lanjutan) KONDISI NO IKK AWAL (2009) 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 Persentase Program Keahlian SMK Berakreditasi Persentase Program Keahlian SMK Berakreditasi > B Persentase SMK Menerapkan E-Pembelajaran Persentase Kab/Kota Memiliki SMK RSBI/SBI Persentase Kota Memiliki 2 SMK SBI/RSBI Persentase Kab/Kota dg SMK Berbasis Keunggulan Lokal TAHUN 2010 74.0% 24.6% 42.0% 90.5% 89.4% 67.0% 15.0% 76.82 Tabel 5.0% 5.6% 44.0% 71.0% 50. Kabupaten.0% 0.0% 1.0% 86.0% 80. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan vokasi dapat dilihat dari tingkat mutu dan relevansi yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . Ketersambungan (link) diantara pengguna lulusan pendidikan dan penyelenggara pendidikan dan kecocokan (match) antara employee dengan employer menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan vokasi.0 10 46:54 2011 78.0% 7.6% 95.0% 30.0% 27.0 11 43:57 2012 2013 2014 90.0% 70.0% 44.343 1.8% 93.0% 34.0% 7.4% 87.0% 30.0% 85.0% 10.0% 0.0 13 36:63 Depdiknas memiliki kebijakan untuk membalik rasio peserta didik SMK dibanding SMA dari 30:70 pada tahun 2004 menjadi 67:33 pada tahun 2014.0% 0.671 Persentase SMK Berwawasan PuP3B Persentase SMK Menerapkan KTSP dengan Baik Jumlah SMK Bersertifikat ISO 9001:2008 Persentase SMK Berkemitraan dg Industri Kreatif Persentase Guru SMK Berkualifikasi S-1/D-4 Persentase Guru SMK Bersertifikat Persentase Guru SMK Bersertifikat Kompetensi Persentase Guru SMK yang Mengikuti PPB Persentase Tutor Paket C Kejuruan yang Mengikuti PPB Persentase Program Paket C Kejuruan Berakreditasi Rerata Nasional Nilai UN SMK Nilai Total Tertimbang Medali Kompetisi Internasional Rasio Jumlah Peserta Didik SMA:SMK 31.8% 67.0% 1.0% 62. Berkesetaraan Gender.0% 78. dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat.0% 32.0% 7.0% 18. di Semua Provinsi.0% 60.0% 25.0% 5. Kebijakan ini ditujukan agar keluaran pendidikan dapat lebih berorentasi pada pemenuhan dunia kerja serta kebutuhan dunia usaha dan industri.0% 64.7% 35.0% 0.0% 40.0% 64.0% 68.2% 49.5 Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Menengah Bermutu.0% 21.0% 25.0% 7.000 40.

keterbukaan. Pendidikan kejuruan tidak hanya adaptif tetapi juga harus antisipatif. dan politik serta menjadi jawaban/terobosan pembangunan ekonomi kreatif. dan standar mutu pendidikan tinggi. (e) mempromosikan perubahan demi perbaikan karena pendidikan kejuruan tidak sekedar mendidik dan melatih ketrampilan yang ada. kedisilpinan. seni. keteraturan. religi. berdaya saing internasional.4 Strategi IV Perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu. berkesetaraan gender. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . penyediaan dan perluasan akses PT. solidaritas. penyediaan dosen. ketersediaan data dan informasi berbasis riset. dan jasa.1. 5.4. penyediaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang bermutu. (c) seleksi dan alokasi yaitu mempersiapkan. kebersihan. berdaya saing internasional. dan menempatkan calon tenaga kerja sesuai dengan permintaan pasar kerja. Hal ini dikarenakan pendidikan vokasi memiliki multi-fungsi antara lain (a) sosialisasi yaitu transmisi dan konkritisasi nilai-nilai ekonomi. (d) asimilasi dan konservasi budaya yaitu absorbsi antar budaya masyarakat serta pemeliharaan budaya lokal. kejujuran. profesi. tetapi juga harus berfungsi sebagai pendorong perubahan. perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu. pendidikan vokasi pada tingkat menengah memiliki peranan yang sangat besar terhadap tujuan pembangunan nasional. (b) kontrol sosial yaitu kontrol perilaku dengan norma-norma kerjasama. memilih. Kerangka berpikir penerapan strategi pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan program dan kegiatan pembangunan pendidikan nasional 2010--2014 dapat dijabarkan pada Gambar 5. sistim sosial. akulturasi perubahan dan enkulturasi atau pembawa perubahan bagi masyarakat. dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara yang meliputi pemerataan dan perluasan akses prodi vokasi. dan akademik. Pendidikan vokasi melayani sistim ekonomi. Selanjutnya. dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara dilaksanakan melalui: a. dan b. berkesetaraan gender.83 pekerjaan dengan bidang keahlian yang dipilih dan ditekuninya. serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan tinggi.2014 . berdaya saing internasional. serta berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara.

Pening katan. Penelitian H ibah M ulti Tahun.1 Ke tersediaan Standar Mut u Pe ndidikan Tinggi sert a Terlaksananya Akre ditasi Pendidikan Tinggi 1. berkesetaraan gender. Beasiswa M iskin 1.4 4 . Tinggi 2.5 4.Ak reditasi jurnal Ilm iah Ketersediaan dan Keluasan Akses PT Ketersediaan Penelitian dan Pengabdian Kepada M asyarakat 4. Relevansi dan R evitalisasi Prodi 4. Pening katan Kualitas PT . Pengem bangan standar nasional pendidik an BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 1.2 Ketersediaan D osen 1. K om petisi Olim piade Internasional 6. Penelitian U nggulan Strategis Nasional 8. R S Pendidikan 8.Peng em bang an dan pem eliharaan: Pangk alan D ata Pendidikan Berbasis W eb (Padatiweb). berdaya saing internasional.0 Perluasan dan Pem erataan Ak ses Pendidikan Ting gi Berm utu dan B erdaya Saing Internasional 4 Perluasan dan Pemerataan A kses Pendid ikan Tingg i Bermu tu. Im plem entasi PuP3B 7. H ibah Peningkatan M utu 2. Berday a Saing Internasional.3 Ket erse diaan Data Pendidikan Tinggi 3 . penyediaan dan penguatan Sarpras PTN dan Poltek Neg eri 3. S ertifikasi D osen 4. H ibah K om petisi 4. Penyeleng garaan ak reditasi prog ram studi dan PT Gambar 5.3 K etersediaan Prodi yang Berm utu. dan relevan dengan kebutuhan bangsa dan negara . Im plem entasi PuP3B 5. dan Standar M utu Pendidikan Ting gi serta Akreditasi Pendidikan Tinggi 3.2 K etersediaan Inform asi Pendidik an Tingg i untuk Perum usan Kebijak an N asional Penelitian kebijakan akses dan m utu D ikti 3 . H ibah peng uatan M anajem en Institusi 4. Insentif Sentra H KI 10. Peningkatan K ualifikasi D osen D N 2. Olahraga Pendidikan 4.0 Ketersediaan D ata dan inform asi. 9.84 4. Penelitian D osen M uda 6. Bantuan Kerjasam a Tri Partiet 3. Pening katan Pendidikan D ok ter 7.Peningkatan m utu data pendidikan nasional 2. Peningkatan K ualifikasi D osen LN 3.Peny usunan statistik 3. Berd aya Saing In ternasional. Berkesetaraan Jend er d an Relevan den gan Kebutuhan Bangsa dan Negara 3 . 5. R ekrutm en D osen 1. Beasiswa Prestasi 2. dan Relevan 1. H ibah Penelitian 3.4 Kerangka berpikir penerapan strategi perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu. Pengabdian Kepada M asy arak at. Langganan E-Journal 2.

0% 63. dan Relevan dengan Kebutuhan Bangsa dan Negara KONDISI AWAL (2009) 23.7% 79.0% 41.0% 67. Berdaya Saing Internasional.2% 65 23.8% 57 2 5 9 9 90 127 13 418 42.0% 104.0% 32.4% 5.0% 90.0% 85.0% 12 250 11 75 300 200 2013 28.8% 55.1% 47 1 3 8 6 15 69 9 390 32.0% 6.2% 5.1% 107.7% 90 25.6 Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Tinggi Bermutu. Berkesetaraan Gender.3% 73.0% 36.2014 .4% 7 150 9 25 225 100 2012 27.6% 81.7% 104.2% 125 28.2% 9.6.8% 7.0% 50.0% 0.0% 90.0% 62.0% 4.8% 51.6% 2.2% 15.4% 4.5% 85.4% 0 0 6 0 75 25 TAHUN 2010 24.5% 116.0% 105 27.5% 49.0% 12.8% 111.5% 150 30.0% 94 3 7 12 20 250 300 27 500 70.0% 60 600 37 200 450 600 NO 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 IKK APK PT dan PTA Usia 19-23 Thn *) Rasio Kesetaraan Gender PT Persentase Prodi PT Berakreditasi Persentase Prodi PT Berakreditasi minimal B Jumlah Prodi Berakreditasi Internasional Jumlah PT 300 Terbaik Dunia Versi THES Jumlah PT 500 Terbaik Dunia Versi THES Jumlah PT 200 Terbaik Asia Versi THES Jumlah PT Berbintang 4-5 versi QS Star Jumlah PT Berbintang 1-3 versi QS Star Jumlah PT Berwawasan PuP3B Jumlah PT Bersertifikat ISO 17025 (atau setara) Jumlah PT Anggota GDLN Persentase PT Berakses E-Jurnal Persentase Dosen S-1/Diploma Berkualifikasi S-2 Persentase Dosen Pasca Berkualifikasi S-3 Persentase Dosen PT Bersertifikat Persentase Dosen dg Publikasi Nasional Persentase Dosen Pasca dg Publikasi Internasional Jumlah HAKI yang Dihasilkan Rasio Mhs Vokasi : Total Mhs Diploma dan S-1 APK Prodi Sains Natural Dan Teknologi Jumlah PTN menjadi BHPP Jumlah PTS BHPM Jumlah PTN Berbadan Hukum Beropini WTP Jumlah PTS BHPM Beropini WTP Jumlah Sertifikat ISO 9001:2008 di PTN Jumlah Sertifikat ISO 9001:2008 di PTS *) Kisaran usia peserta didik pendidikan tinggi disesuaikan dengan rata-rata lama bersekolah dari semula 19-24 tahun menjadi 19-23 tahun RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .8% 1.8% 56.6% 44.5% 27 400 20 125 375 400 2014 30.5% 60.3% 57.6% 57 2 5 10 13 150 184 17 445 51.5% 80.4% 75 24.85 Keberhasilan penerapan strategi ini diukur dari tercapainya target indikator kinerja kunci yang dijabarkan pada Tabel 5.4% 6.9% 59.0% 23.9% 7 50 7 5 150 50 2011 26.0% 23.3% 57 3 6 11 16 200 242 22 473 60. Tabel 5.5% 72.4% 104.0% 14.6% 62.4% 47 1 3 8 0 0 11 6 363 23.8% 73.5% 65.7% 48.7% 69.0% 75.9% 77.6% 10.

854.309 82.336 26.786.0% 26.917 5.427.201.745.120.0% 12.876.86 5.379 69.8% 21.8% 74.1% 26. III.601.188.1.112.014 73.968.582.722.372. III dan IV Pembangunan pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup manusia di Indonesia yang ditunjukkan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pembangunan pendidikan memberikan kontribusi langsung dalam meningkatkan parameter tingkat literasi serta jumlah penduduk usia sekolah yang bersekolah yang diukur dari APK gabungan pendidikan dasar.230. JUMLAH SISWA APK SMA/SMLB/SMK/MA/MAK/PAKET C 3 A.900 14.127.839.5% 73. Tinggi 5 A.000 13.3% 13. menengah dan tinggi.171 23.5%.285.867 59.8% 13.099.5% 21.5% 13. Pada tahun 2014.410 76.834.500 31.942.6% 13.216.300 31.2% 26.138. JUMLAH SISWA 117.563.300 10.096 99.553.376 82.833 6.336 2010 117.645 BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 .172.1% 21.123.642.7 APK Gabungan Pendidikan Dasar.000 31.918.172.736.856 24.952 103. JUMLAH PENDUDUK B.252 101.0% 13.128.0% 12.069.909. Dengan mencapai tingkat literasi 98% pada tahun 2014 maka indonesia sudah sejajar dengan negara-negara maju.965 81.650 62.0% 13.4% 21. Menengah. menengah dan tinggi pada tahun 2009 adalah sebesar 78. JUMLAH SISWA APK PT 4 A.601.5 Efek Resultan Strategi II.116.523.152.155. tingkat literasi penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia sudah mencapai 95% dan ditargetkan pada tahun 2014 akan mencapai 98%.968 2014 119. JUMLAH PENDUDUK B.183 60.341.500 12.3% sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 5.6% 26.358.700 30.083 5.9% 13.0% 12.532. APK gabungan pendidikan dasar.3% 74.2% 26.092.094. Tabel 5. dan IV akan memberikan efek resultan pada peningkatan APK gabungan mencapai sekurangkurangnya 86.750 6. JUMLAH SISWA APK Gabungan Dasar.829.223 106.6% 26.600 14.960.978.300 31.290.263 2013 118. JUMLAH SISWA APK SMP/SMPLB/MTs/PAKET B 2 A.195.685.222.471 110.600 9.217 61.962 28.277 27.033 63. Menengah. Kondisi saat ini.000 10.0% 13.484 86.810 2011 117.200 9.038.000 31.7% 21.774.983. JUMLAH PENDUDUK B.239.7.3% 74.400 12.167 5.265 78.474 84.990 85. JUMLAH PENDUDUK B.768.3% 74. dan Tinggi Tahun 2009--2014 APK NO JENJANG 2009 APK SD/SDLB/MI/PAKET A 1 A.100 10.537. JUMLAH PENDUDUK (19-23) B.295.8% 74.200 31.801.200 9.737.000 13.845 79.0% 21.658 79.3% 12.521 98. melalui penerapan strategi II.733 57.963 2012 118.833 4.

Kerangka berpikir penerapan strategi pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan program dan kegiatan pembangunan pendidikan nasional 2010--2014 dapat dijabarkan pada Gambar 5. dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua kabupaten dan kota. berkesetaraan gender. perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa bermutu.87 5. data dan informasi berbasis riset. dan perluasan dan pemerataan akses kursus dan pendidikan life skill bermutu. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . b.1. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. c. berkesetaraan gender. penyediaan model pembelajaran. dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di provinsi yang meliputi peningkatan tingkat literasi yang berkesetaraan gender di kabupaten dan kota.5. dan standar nasional pendidikan orang dewasa berkelanjutan serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan orang dewasa berkelanjutan.2014 .6 Strategi V Perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dilaksanakan melalui: a.

Bantuan pe ndidikan ke cakapan hidup perem puan 6. Bantuan Pe ndidikan ke cakapan keorangtuaan (parenting) 4. bahan diklat dan model diklat PTK 4. Data dan informasi. Bantuan Teknologi e -Uji Kompetensi dan e -Administrasi Bagi TUK 8. Penyusunan statistik pendidikan 3. Bantuan pe ndidikan ke se nian dan olahraga masyarakat lokal 6.3 3.4 4 7.0 Ketersediaan Model Pembelajaran. Tempat Uji Kompetensi (TUK).4 Meningkatnya tingkat literasi yang berkesetaraan gender 7. Pendataan Lembaga Kursus. Peningkatan Lembaga Kursus dan Pelatihan 9. 3. penghargaan dan kesejahteraan 7. Pengembangan SPM dan SNP 2.5 Kerangka berpikir penerapan strategi perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan masyarakat . Perencanaan kebutuhan PTK Pendidikan orang dewasa berkelanjutan 2. Bantuan operasional pendidikan perem puan 7. Bantuan pe ndidikan ke luarga berwawasan ge nder 9. 6. Peningkatan Perlindungan. Bantuan Inovasi perce patan PBA 3. Penyediaan data pendidikan yang handal 2. Kabupaten dan Kota Keluasan dan kemerataan akses pendidikan orang dewasa 1. Bantuan Ke aksaraan 2. Community College 7. Pengembangan dan pemeliharaan Jejaring e-Pendidikan Ketersediaan Standar M utu Pendidikan Orang Dewasa 1. Pengembangan standar dan sistem Pengadaan dan penempatan PTK 3. BOP Kursus 2. bermutu.0 6. Pengembangan Standar. M onitoring dan evaluasi kurikulum BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 K etersediaan Data Pendidikan Orang D ewasa 1. Sistem. Penyelenggaran Lomba dan Kompetisi 3. Pengembangan model-model kurikulum berwawasan PuP3B 2. dan Standar Mutu Pendidikan Orang Dewasa 1.5 Pe rluasan dan Pem erataan Akses Pe ndidikan Ke cakapan Hidup Ketersediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Orang Dewasa Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Orang Dewasa Berkelanjutan. Pembentukan Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK). M onitoring dan Evaluasi kinerja 3. Beasiswa Uji Kompetensi. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi PTK 5.0 Ketersediaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Orang Dewasa 1. Berkesetaraan Gender. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kapasitas Master Pe nguji Uji Kompetensi 5. Penyusunan Standar Kompetensi Kerja dan lulusan 4.88 6. Bantuan pe ngembangan Kapasitas Kelem bagaan PUG 5. Penyelenggaraan akreditasi Lembaga Kursus Gambar 5.1 3. dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat di Semua Provinsi. dan Penyusunan Pedoman Uji Kom pe tensi Bidang Keahlian.4 K etersedian M odel K urikulum dan Pembelajaran orang Dewasa 1. Program. Pengembangan karier PTK 6. Bantuan Pe ndidikan pencegahan trafficking 8.

0% 20.0% 98.0% 4% 2% 12.0% 20.8.8% 84.0% 65.0% 90.0% 72.0% 72.2% 22.0% 40.0% 25.0% 64.0% 70.9% 95. Indikator Kinerja Kunci Penerapan Strategi Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Orang Dewasa Berkelanjutan yang Berkesetaraan Gender dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat KONDISI NO IKK AWAL (2009) 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 512 513 514 515 516 517 Tingkat Literasi Penduduk Usia ≥ 15 Tahun Rasio Kesetaraan Gender Tingkat Literasi Persentase Provinsi dengan Tingkat Literasi > 95% Persentase Kota dengan Tingkat Literasi > 95% Persentase Kab dengan Tingkat Literasi > 95% Persentase Program Keahlian LKP Berakreditasi Persentase PKBM Berakreditasi Persentase Kab/Kota yang Memiliki SKB Persentase Kecamatan yang Telah Memiliki PKBM Persentase Kecamatan yang Telah Memiliki TBM Persentase Kab/Kota yang Mengarusutamakan Gender Persentase Lulusan PKH Bersertifikat Kompetensi Persentase Pemegang SUKMA Menempuh PKH Persentase Remaja 16-20Th Tak Sekolah Mengikuti PKH Persentase Tutor Pendidikan Keaksaraan Mengikuti PPB Persentase Pendidik Kursus Mengikuti Diklat Kompetensi TAHUN 2010 2011 2012 2013 2014 95.0% 90% 78.9% 87.0% 6% 5.0% 85.0% 56.0% 32.4% 98.0% 46.0% 62.0% 97.8% 97.0% 80.0% 60.7% 70.0% 80.8% 79.9% 84.0% 11% 17% 24% 30% 10.0% 75.0% 10. Tabel 5.0% 23.9% 89.89 Keberhasilan penerapan strategi ini diukur dari tercapainya target indikator kinerja kunci yang dijabarkan pada Tabel 5.0% 38.0% 41.2014 .0% 37.0% 97.4% 30.6% 19.9% 40.0% 15.0% 28.8.0% 54.9% 81.0% 15.0% 56.2% 96.0% 98.0% 80.0% 3% 1.3% 69.0% 95.0% 55.9% 48.0% 48.6% 97.0% 5.0% 30.0% 46.0% 85.8% 26.0% 80.0% 19.0% 70.0% 74.0% 5% 5% 10% 9% 15% 16% 20% 19% 25.3% 75.6% 96.0% 14.0% 95.0% 75.8% 98.0% 64.0% 50.0% RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .

dan sistem sekolah sehat yang meliputi perwujudan layanan prima di bidang informasi dan kehumasan pendidikan. pencapaian audit investigasi sesuai dengan standar audit. penyediaan buku ajar yang bermutu dan murah. Kerangka berpikir penerapan strategi pencapaian tujuan yang dikaitkan dengan program dan kegiatan pembangunan pendidikan nasional 2010--2014 dapat dijabarkan pada Gambar 5.6 Strategi VI Penguatan tata kelola.90 5. kebahasaan. kehumasan. perwujudan pelayanan prima di bidang pengelolaan anggaran Depdiknas. dan sistem pengawasan intern dilakukan melalui: a. perwujudan pengelolaan dan pembinaan kepegawaian Depdiknas yang andal.1. dan perwujudan pelayanan prima dalam menunjang fungsi pelayanan umum kementerian. b. perwujudan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu dan teknologi serta pilar pemerkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. dan perwujudan pelayanan prima dalam manajemen operasional Itjen Depdiknas. d. e-pendidikan. penguatan sistem pengendalian manajemen dan sistem pengawasan internal Depdiknas yang meliputi pencapaian intensifikasi dan ekstensifikasi pengawasan yang akuntabel.6. penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di satuan kerja Depdiknas yang meliputi penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di satuan kerja pusat Depdiknas. penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di satuan kerja pusat dan UPT Depdiknas di daerah. c. dan penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di satuan kerja daerah. sistem pengendalian manajemen. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . perwujudan layanan prima di bidang hukum dan organisasi. penyediaan TIK untuk e-learning dan e-administrasi pada semua satuan pendidikan dan satker. penyediaan dan pendayagunaan buku ajar. penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen Depdiknas yang meliputi perwujudan pelayanan prima dalam perencanaan dan kerja sama luar negeri Depdiknas. dan perwujudan sekolah sehat dan kebugaran jasmani peserta didik pada satuan pendidikan dasar dan menengah. perwujudan layanan prima dalam bidang pendidikan dan pelatihan pegawai.

G e rakan H idup A ktif Nasional 3 . P e nge m bangan M ode l dan lom ba Se kolah Se hat 4 .M eng uatny a tata k elola dan sistem peng endalian Satk er Pusat dan U PT Pusat di D aerah 4 .1 Terw ujudny a pelay anan prim a dalam m anajem en operasional itjen 1. siste m kehum asan dan siste m se kolah se hat Te rw ujudnya pelayan an prim a dalam m enunjan g f ungsi pe layanan um um ke me nterian 1. 4. Lap oran Keu. dan Siste m Pengaw asan Inte rn De pdiknas 1.1 . Pe nyele nggaraan Ke hum asan dan pem binaan Inf orm asi P ublik 2 . Re vie w lap o ran ke u an gan de p arte m e n 6. Sos ialis as i p e n gaw as an p e ngad aan b aran g d an jas a 1. A dm Ke pangkatan M enguatny a tata k elola dan sistem pengendalian S atk er D aerah 1. buku ajar. 4. Ke se kre tariatan dan Ke rjasam a UNESC O P enye le nggaraan D iklat P rajabatan. 2. P e n yu s u nan Re n s tra 2 . Pe m b in aan K e u . 2. Pengendalian 3. P enyusunan ranc angan re gulasi bidang pe rbukuan 1 . Pe m binaan Budaya Kerja 3 .1 1. 3 .6 1 . RKA KL. Re kru tm e n P N S Pe m b in aan Bu d aya K e rja Ad m Ke p angkatan Pe n ge m b angan Sis te m Re mu n e ras i 2 . 3. dan D iklat Te knis dan Fungsional Terw ujudnya sekolah sehat dan ke bugaran jasm ani pese rta didik 1 . KL d an Stan d ar Biaya 2 . M onitoring dan Ev aluasi 4. RKA KL . Lakip Satker 2. P em belian/Pe ngalihan hak c ipta buku te ks pe lajaran Buku Pe ngayaan. Pem binaan SPI 5. Evalu as i Lakip D e pd iknas 5.0 1 . Monitoring dan Evaluasi 6 .7 1 . Audit inv estigasi 2. 4. Aud it o pe rasio n al/ko mp re h e n s if d an Au d it kin e rja 2.0 Te rw u jud n ya p e n ge lo laan dan p e m b inaan ke p e gaw aian yan g an d al 1. Aud it te m atik p rogram s trate gis . P engkajian pe m anfaatan/ pendayagunaan buku sekolah 3.1. 4 .1 . Sinergi A ntar K/L 1 . sistem pengendalian manajemen. A dm Ke pan gkatan 1 .2 Ke tersediaan. P e nge ndalian . Perencanaan 2. 3. Evaluas i Ke b ijakan 4 . Pe nge lolaan dan Pe m eliharaan Siste m Jaringan pada Satke r A P BN 2 .0.0 . dan sistem pengawasan intern . Sup e rvis i p e nyu s un an lap o ran ke u an gan d e p arte m e n 7.1. TIK. KL. P engkajian Iptek Kebahasaan dan Kesastraan se rta Kebahasaan dan Kesastraan Te rap an 2.11 Te rwujudnya layanan prim a bidang inf orm asi dan ke hum asan Te rwujudnya layanan prim a bidang diklat pe gawai 1 .SiI P e re n can aan RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .1 & 7.0 & 7 . P e re nc an aan 5 . 5. In sp e ksi m e nd ad ak (s idak) 4. E-P ro cu re m e nt P e nyu s u nan Lap o ran BM N K /L P e mb in aan Lap o ran BM N Satke r Ars ip 1. P e n d amp in gan p e n gadaan barang d an jas a 8. 5 . P em binaan Budaya Ke rja 3.1 0 Te rwujudnya bahasa Indone sia sbg bahasa Ipte k se rta persatuan dan ke satuan bangsa 1. 6 .0 . 6. P e n yu s u nan RKA K L 3 .6 Tercapainya audit inv estig asi sesuai standar audit 1. ke terdayagunaan dan ke terkem bangan SDM.3 Te rw uju d n ya p e layan an p rim a di b idan g pe n ge lo laan an ggaran 1 . Satke r M en g u atn ya tata k elo la d an sistem p en gen d alian man ajem en d i S atu an Kerja 6 1 .2014 1. Ref e ren si dan P an duan pendidik 2. M e ningkatkan P e m erataan Inf orm asi m e lalui Pe m an f aatan M e dia 3 .2 – 2 . 3 . P enyusunan Renstra.9 Te rse dianya TIK pada sem ua satuan pe ndidikan dan Satke r 1 . Pe nge m bangan SDM be rbasis TIK Untuk Pe serta Didik dan P TK 1.5 Te rw ujudnya layanan prim a di bidang hukum dan organisasi Me nguatnya tata ke lola dan siste m pe nge ndalian m anaje m e n 1.5 Te rcapainya inte nsifikasi dan ekste nsifikasi pe ngaw asan yang akuntabe l Te rw u jud n ya p e layan an p rima d alam p e re n can aan dan K LN 1 .0 2 . Ke rjasam a Lu ar N e ge ri 5 . Au d it d in i. Pe nge m bangan . D iklatpim Tingkat II.Fas ilitas i Layan an in te rn asio n al 6 . 3. dan Lakip Satke r 2 . Layan an h uku m Ad m & So s ialis asi P e ratu ran Pe n yus u n an Lakip D e parte m e n Pe m b in aan Lakip Satke r Pe nguatan Tata Ke lola.0 Me nguatnya Siste m Pengendalian Manaje m e n dan Sistem Pengaw asan Internal 2 . Pe n yus u n an Lap oran Ke u . Sistem Pengendalian M anajem en.8 Terse dianya buku ajar be rm utu dan m urah 1. lem baga bahasa. d an Aud it d e n gan tu juan te rte ntu 3. P em e taan Bahasa 1 . M onitoring Tindak Lanjut 1 . 2 . K ajian hasil-hasil audit 1 . Binte k Usaha Kese hatan Se kolah 2 . 4.6 Kerangka berpikir penerapan strategi penguatan tata kelola.0 . Pening k atan k apasitas SD M Itjen 6. Pe nyusunan Re nstra. KL .4 1. 2. P endidikan P e nce gah an P e nyalah gunaan Narkoba dan H IV /A IDS 91 Gambar 5.1 2. 2. Laporan Ke u.1 .III dan IV .0 .

9.0% 15.5% 65.8% 61. akuntabilitas. Tabel 5. Kebijakan teroboson yang selama ini dilaksanakan akan tetap diteruskan menjadi kebijakan strategis pembangunan pendidikan pada masa mendatang. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 .8% 51. Sistem Pengendalian Manajemen. yang dalam jangka menengah dan panjang diharapkan berdampak besar pada peningkatan dan pemerataan akses pendidikan. yaitu pada periode 2010--2014 dengan fokus kebijakan sebagai berikut.8% 58.92 Keberhasilan penerapan strategi ini diukur dari tercapainya target indikator kinerja kunci yang dijabarkan pada Tabel 5. dan citra publik pendidikan.5% 232 18.6% 51.3% 45% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 55% 75% 100% 100% 100% 5% 50% 50% 18% 35% Persentase Satker Menerapkan E-Kepegawaian & Umum Persentase Satker Eselon II Menerapkan DSS Persentase PPK Bersertifikat PBJ Persentase Satker Eselon II Memiliki SPI Rerata Hari Kerja Efektif Pegawai 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 236 237 100% 100% 100% 100% 100% 100% 233 234 235 5.9.6% 8.30% 21. dan daya saing pendidikan. serta penguatan tata kelola.1% 77. dan Sistem Pengawasan Intern KONDISI KODE IKK AWAL (2009) 601 602 603 604 605 Opini Audit BPK RI Skor LAKIP Depdiknas Jumlah Eselon IIA Bersertifikat ISO 9001:2008 Jumlah UPT Pusat Bersertifikat ISO 9001:2008 Persentase Satker dengan Temuan Audit Berkonsekuensi Penyetoran Ke Kas Negara > 500 juta 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 Persentase Penyelesaian Temuan Audit Itjen Persentase Penyelesaian Temuan Audit BPKP Persentase Penyelesaian Temuan Audit BPK Persentase Satker Depdiknas Berdaya-serap > 95% Persentase Satker Depdiknas Menerapkan MBK Persentase Satker Menerapkan E-Keuangan Persentase Satker Menerapkan E-Pengadaan > 50% Paket PBJ WDP/WTP TAHUN 2010 WTP 75 56 35 2011 WTP 75 56 75 2012 WTP 75 56 75 2013 WTP 75 56 75 9.1% 74.6% 79.1% 100% 0% 0% 0% 15.5% 52.0% 91% 92% 93% 76.8% 55.8% 60.0% 95% 82% 65% 70% 75 6 0 21.8% 46.0% 90. peningkatan mutu.0% 12.2 Arah Kebijakan Pembangunan Pendidikan Nasional Tahun 2010--2014 Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan berbagai kebijakan terobosan yang mendasar dan berskala besar selama periode 2005--2009.0% 80.0% 94% 2014 WTP 75 56 75 6. Indikator Kinerja Kunci Strategi Penguatan Tata Kelola.0% 55.

(c) beasiswa untuk pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi.93 5. reformasi pendanaan pendidikan telah menghasilkan terobosan penting yang meliputi program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Permasalahan dalam pendistribusian dan pemanfaatan pendanaan massal ini akan diselesaikan dengan meningkatkan fungsi pengendalian dan pengawasan dengan melibatkan Badan Pemeriksa Keuangan Pembangunan (BPKP). Sejalan dengan amanat Pasal 31 Ayat (1) dan (2) amendemen UUD 1945 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. BKM. Melalui BOS. Pada tahun 2010-2014 Depdiknas akan mempertahankan kegiatan pendanaan pendidikan yang telah terbukti efektif.2. Kegiatan ini telah menjadi best practice yang diakui oleh UNESCO dan berdasarkan survei nasional yang dilaksanakan oleh The Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada Oktober 2008 terungkap bahwa 75. BOS buku. (b) BKM bagi pendidikan dasar dan menengah. Khusus untuk pendidikan dasar. dan (d) bantuan biaya operasional penyelenggaraan (BOP) bagi pendidikan anak usia dini dan nonformal. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . khususnya bagi masyarakat miskin atau yang berkekurangan serta peningkatan mutu melalui Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM).9% responden menyatakan positif dan mendukung program BOS.2014 . yaitu (a) BOS bagi pendidikan dasar. Bantuan Khusus Murid (BKM). Inspektorat Daerah. serta didukung oleh peran serta masyarakat khususnya melalui Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. dan beasiswa telah terbukti dapat secara signifikan menurunkan angka putus sekolah dan meringankan beban orang tua dalam menyediakan biaya pendidikan bagi anak. Depdiknas melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah akan meneruskan program sekolah gratis untuk mendorong terciptanya pendidikan dasar gratis di seluruh Indonesia.1 Reformasi Pendanaan Pendidikan Dalam periode pembangunan 2005--2009. dan beasiswa dari SD hingga perguruan tinggi yang bertujuan mendukung penyediaan dana pendidikan bagi peserta didik.

terpencil. sertifikasi pada pendidik yang berimplikasi pada pemberian penghargaan berupa tunjangan profesi pendidik. Untuk mendorong peningkatan kesejahteraan dan penghargaan guru. pada tahun 2010--2014 Depdiknas mempertahankan: a. 14/2005 tentang Guru dan Dosen yang menempatkan guru sebagai profesi. pada tahun 2010--2014 Depdiknas akan mempertahankan kegiatan-kegiatan peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru melalui: a. Selain itu. b. Sesuai dengan UU RI No.94 5. Peningkatan kesejahteraan dan penghargaan kepada pendidik sesuai dengan UU RI No. beasiswa peningkatan kualifikasi guru menjadi guru dengan kualifikasi minimum S-1/D-4 dan peningkatan kualifikasi dosen menjadi S-2/S-3. pada tahun periode 2010--2014. Untuk melanjutkan pelaksanaan kualifikasi dan sertifikasi yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan pendidik. Pemerintahan Daerah Provinsi. baik guru maupun dosen harus memiliki sertifikat profesi berupa sertifikat pendidik. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. dan KKPS/MKPS. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . b.2. Depdiknas akan melakukan redistribusi guru antarprovinsi sesuai dengan kewenangannya untuk memastikan ketersediaan rasio guru dengan siswa maksimal yang disyaratkan oleh Standar Nasional Pendidikan. subsidi tunjangan fungsional guru. KKKS/MKKS. guru harus memenuhi kualifikasi pendidikan minimal S-1/D-4. dan terluar. pembinaan profesionalisme guru berkelanjutan melalui kegiatan KKG/MGMP. Sesuai dengan PP No. c.2 Reformasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Perluasan dan pemerataan akses pendidikan pada tahun 2005--2009 mengalami kendala yang diakibatkan masalah distribusi guru yang tidak merata di beberapa wilayah di Indonesia. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. kegiatan-kegiatan pelatihan dan pengembangan kompetensi pendidik. sementara dosen berpendidikan minimal S-2/S-3. d. 14/2005 merupakan faktor utama dalam menaikkan motivasi pendidik dalam meningkatkan kualitas mengajar secara berkesinambungan. tunjangan khusus bagi guru yang mengajar di daerah pedalaman.

subsidi rumah dinas kepada tenaga kependidikan di daerah khusus dan tertinggal. penyediaan subsidi perumahan bagi guru di daerah pedalaman. Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS). tunjangan profesi pendidik yang secara bertahap akan dialokasikan dalam APBD. seperti Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia (APSI). Peningkatan kualifikasi dan kompetensi dalam rangka reformasi birokrasi dan manajemen kepegawaian yang didukung dengan sistem penghargaan yang memadai yang merupakan fokus utama dalam periode pembangunan 2010-2014 ditempuh melalui: a. e. pemberian beasiswa S-1 dan S-2 bagi kepala sekolah dan pengawas sekolah serta pemberian beasiswa S-2 untuk quality assurance dan school leadership melalui sandwich program antara LPTK dan perguruan tinggi di luar negeri. Bagi pendidikan nonformal dan informal. Depdiknas akan melanjutkan RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . dan terluar. dan f. dan diklat-diklat teknis bagi tenaga perpustakaan. B. dan administrasi sekolah. d. (d) pamong belajar.2014 . revitalisasi organisasi profesi tenaga kependidikan. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). diklat pengawasan bagi pengawas sekolah. (b) pendidik PAUD. tenaga laboratorium sekolah dan tenaga administrasi sekolah serta tenaga fungsional pendidikan lainnya. dan organisasi profesi tenaga perpustakaan sekolah. d. dan (f) instruktur kursus. c. Selain guru dan dosen.95 c. Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS). dan C. b. tunjangan guru besar untuk pendidikan tinggi. Pada tahun 2010--2014. Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS). penghargaan bagi pendidik berprestasi dan perlindungan hukum dalam bentuk pemberian bantuan hukum kepada guru dan dosen. laboratorium. (e) penilik. terpencil. Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI). seperti (a) tutor pendidikan keaksaraan. kegiatan peningkatan kualifikasi dan kompetensi juga dilakukan pada pendidik dan tenaga kependidikan pada pendidikan nonformal (PTK-PNF). (c) tutor pendidikan kesetaraan Paket A. diklat manajemen dan kepemimpinan untuk kepala sekolah. tenaga kependidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan mutu pendidikan dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan.

000 sekolah. provinsi. penerapan sistem reward and punishment bagi guru sertifikasi yang tidak memenuhi syarat minimum jam mengajar. dan c. magang. peningkatan mutu. 37 unit pendidikan belajar jarak jauh (UPBJJ) universitas BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . peningkatan peran pengawas sekolah dalam penjaminan mutu guru sertifikasi. 82 PTN. Untuk memperbaiki kondisi itu. tata kelola dan citra publik bagi tenaga kependidikan 5. d. baik untuk keperluan e-pembelajaran maupun e-administrasi.96 kegiatan peningkatan kualifikasi dan kompetensi. ataupun pengembangan profesi dengan meningkatkan kerja sama dengan bermitra dengan perguruan tinggi dan asosiasi/forum PTK-PNF di tingkat pusat. Penerapan TIK untuk pendidikan oleh Departemen Pendidikan Nasional dapat memperbaiki akses dan mutu serta sekaligus meningkatkan efektivitas tata kelola. Pengawasan dampak peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peningkatan kualitas peserta didik dalam periode 2005--2009 belum optimal dilaksanakan. Pembinaan dan pengembangan kepegawaian dalam melaksanakan reformasi birokrasi dan peningkatan pengelolaan manajemen kepegawaian.2. Tahun 2008 telah dapat menghubungkan kantor Depdiknas pusat di Jakarta dengan lebih dari 15. serta tata kelola. kursus. kabupaten. dan daya saing pendidikan. termasuk terhadap pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal (PTK-PNF) melalui kegiatan diklat. pada tahun 2010--2014 akan dilaksanakan kegiatan: a. Atas dasar pengalaman dan rasa percaya diri yang diperoleh dari berbagai upaya perintisan tersebut. akuntabilitas. mulai tahun 2006 Depdiknas berkomitmen untuk menerapkan TIK secara massal. dan citra publik pendidikan.3 Penerapan TIK untuk e-Pembelajaran dan e-Administrasi Pendayagunaan TIK diyakini dapat menunjang upaya peningkatan dan pemerataan akses pendidikan. 133 PTS. pengawasan pemenuhan jam mengajar guru. relevansi. b. Penerapan TIK secara besar-besaran tersebut ditandai dengan dioperasikannya Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) untuk menyosialisasikan berbagai kebijakan terbaru Depdiknas ataupun modul-modul pembelajaran. dan/atau kota.

34 dinas pendidikan provinsi. 17 balai/kantor bahasa. tantangan ke depan adalah bagaimana mengembangkan isi e-pembelajaran dan e-administrasi. perluasan akses Jardiknas.4 Pembangunan dan Rehabilitasi Prasarana Pendidikan Sebagai upaya peningkatan warga akses dan atas mutu pendidikan serta menjamin berusaha terpenuhinya hak negara pendidikan. 2 pusat pengembangan pendidikan nonformal dan informal (PPPNFI).2. b. a. 7 balai pengembangan pendidikan nonformal dan informal (BPPNFI). dan tinggi.97 terbuka. pengadaan ruang kelas dan unit sekolah baru. menengah. Pembangunan unit sekolah baru (USB) dilakukan di daerah-daerah yang benarbenar membutuhkan. 31 lembaga penjaminan mutu pendidikan (LPMP). pemerintah memperbanyak dan meningkatkan kualitas berbagai prasarana fisik pendidikan. Peningkatan kemampuan SDM untuk mendukung pendayagunaan TIK di pusat dan daerah. serta pembangunan perpustakaan dan laboratorium. 461 dinas pendidikan kabupaten/kota. Suatu daerah dianggap layak dan membutuhkan RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . pelaporan. d. TV Edukasi dan pengembangan konten pembelajaran berbasis TIK. Pengembangan pusat sumber belajar (learning resources center) berbasis TIK pada pendidikan dasar dan menengah e. Pada tahun 2010--2014. Pengembangan sistem dan model pembelajaran berbasis TIK baik pada pendidikan dasar. Depdiknas akan meneruskan kebijakan dengan ketentuan sebagai berikut. c. 16 balai pengembangan kegiatan belajar (BPKB). pengembangan sistem informasi manajemen untuk memudahkan tugas-tugas perencanaan. dan 17 Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan. penyebarluasan TIK untuk e-pembelajaran dan e-administrasi didukung melalui kegiatan: a. antara lain rehabilitasi prasarana pendidikan. dan pengendalian berbagai macam kegiatan dan program.2014 . Dengan terbangunnya infrastruktur Jardiknas ini. 5. Pada tahun 2010--2014. 60 sanggar kegiatan belajar (SKB).

dan laboratorium komputer di tingkat sekolah/madrasah serta berbagai bentuk laboratorium berspesialisasi di perguruan tinggi. Mekanisme subsidi dipakai dalam membangun RKB yang diberikan kepada sekolah-sekolah. dan daerah yang termasuk kantong kemiskinan. Pendirian perguruan tinggi negeri (PTN) baru yang dilakukan pada provinsi yang belum memiliki PTN dan ditempuh dengan mengubah status salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) yang telah berdiri di provinsi tersebut. perdesaan. penyediaan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar yang sangat penting dan bertugas sebagai media penyampaian publikasi kekayaan intelektual dan sarana pendukung kegiatan pendidikan dan sesuai dengan amanat UU RI No. b. Pengadaan dan pembangunan sarana pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan ditempuh dengan melanjutkan kegiatan-kegiatan: a. baik negeri maupun swasta. pemerintahan provinsi. Periode pembangunan 2005--2009. c. terisolir. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . b. Pembangunan ruang kelas baru (RKB) merupakan upaya lain yang dilakukan dalam rangka memperluas daya tampung satuan pendidikan. 43/2007 tentang Perpustakaan yang mewajibkan semua sekolah/madrasah dan semua perguruan tinggi memiliki perpustakaan sendiri dan berbasis TIK.98 didasarkan pada kebutuhan objektif daerah bersangkutan. dan kota dengan pola umum pembagian beban 50%:30%:20% atau 50%:20%:30%. Pemerintah Kabinet Indonesia Bersatu berkomitmen untuk mengatasi ruang kelas sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI) yang rusak berat dan sedang dengan merekonstruksi atau merehabilitasi gedung SD/MI dengan standar mutu tahan gempa. Pada periode tahun 2010--2014. terpencil. lokasi pembangunan USB cenderung dikonsentrasikan di daerah-daerah pemekaran. Sejalan dengan logika itu. Depdiknas mengembangkan pembagian beban bersama antara Depdiknas. kabupaten. penyediaan laboratorium yang relevan seperti laboratorium IPA. yang diukur dengan angka partisipasi kasar (APK) atau angka partisipasi sekolah (APS) yang telah dicapai daerah tersebut. Untuk mempercepat rehabilitasi tersebut. rehabilitasi tetap merupakan kegiatan yang dipertahankan untuk mengantisipasi kerusakan ruang kelas yang pada periode sebelumnya dalam kondisi rusak ringan dan memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat bencana. laboratorium bahasa.

pada tahun 2010--2014 Depdiknas mempertahankan penyediaan sarana pendidikan yang bersifat massal. (b) penyediaan peralatan TIK untuk mendukung proses pembelajaran seperti perangkat komputer. tidak ada lagi monopoli penulisan. 5. Substansi Permendiknas itu meliputi: a. baik oleh Depdiknas maupun pihak lain. fasilitas teknologi informasi dan komunikasi. bahkan mendorong sebanyak mungkin orang atau lembaga untuk menulis. Sejalan dengan penyediaan sarana pendidikan pada periode sebelumnya. buku. dan fasilitas olahraga. termasuk SLB. menerbitkan. peningkatan mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana pembelajaran seperti peralatan laboratorium.99 Pemerintah akan tetap mengalokasikan dana APBN dalam bentuk dana dekonsentrasi dan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk merehabilitasi ruang kelas SD/MI. alat peraga. dan buku ajar dalam format elektronik. buku dipilih sendiri oleh sekolah melalui rapat dewan guru dengan masa pakai minimal lima tahun.2. 2 Tahun 2008 tentang Buku. penerbitan. dan (e) penyediaan buku-buku pelajaran yang meliputi buku teks ajar dan buku pengayaan.2. SMP. (c) penyediaan peralatan laboratorium bahasa.2014 . peserta didik yang mampu dianjurkan untuk memiliki buku teks pelajaran dengan cara membelinya langsung di toko buku pengecer dan guru tidak diperbolehkan untuk berdagang buku kepada peserta didik. 5. SMA. d. b. yaitu (a) penyediaan peralatan dan bahan habis pakai untuk laboratorium IPA. dan memperdagangkan buku dengan persaingan yang sehat. perpustakaan elektronik. c. dan pendistribusian buku. dan SMK. satuan pendidikan wajib menyediakan buku teks pelajaran dalam jumlah yang cukup di perpustakaan dalam rangka memberikan akses kepada siswa miskin. penggandaan. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .6 Reformasi Perbukuan secara Mendasar Kebijakan perbukuan nasional memasuki fase baru sejak terbitnya Permendiknas Nomor 11 Tahun 2005 tentang Buku Teks Pelajaran yang kemudian diamandemen dengan Permendiknas No. (d) penyediaan sarana olahraga untuk mendukung peningkatan kesehatan jasmani peserta didik.5 Penyediaan Sarana Pendidikan Selain ketersediaan dan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan.

dan f.100 e. akreditasi pendidikan. pemberian subsidi modal kerja oleh Depdiknas. Dalam rangka meningkatkan jumlah terbitan buku dan mendorong kreativitas serta motivasi penulis. Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan telah diterbitkan (a) Peraturan Mendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. dan pemerintah daerah bagi calon pendiri toko buku di daerah-daerah yang belum memiliki toko buku pengecer. dengan harga yang terjangkau serta meniadakan monopoli penulisan. dan pendekatan daya yang komprehensif untuk meningkatkan mutu.2. penggandaan. 5. Depag. Depdiknas akan meneruskan program pembelian hak cipta buku teks pelajaran yang mendukung Program buku murah dalam rangka penyediaan buku teks pelajaran yang bermutu. a. dan pemerintah daerah kemudian mengizinkan siapa saja untuk menggandakannya. (d) Peraturan Mendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. saing pendidikan. penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal. atau memperdagangkannya dengan harga murah.7 Peningkatan Mutu dan Daya Saing Pendidikan dengan Pendekatan Komprehensif Depdiknas telah mengembangkan relevansi. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengamanatkan dikembangkannya Standar Nasional Pendidikan (SNP). pembelian hak copy buku oleh Depdiknas. penerbitan dan pendistribusian buku. (e) Peraturan Mendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Pendekatan komprehensif ini didesain berdasarkan UU RI No. Depag. (c) Peraturan Mendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. mudah diperoleh. menerbitkannya. dan Standar Pelayanan Minimal (SPM). (f) Peraturan Mendiknas Nomor 24 BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . (b) Peraturan Mendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar Nasional Pendidikan Standar Nasional Pendidikan (SNP) berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.

sedangkan standar pembiayaan pendidikan masih dalam prores penyelesaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan. (6) menerapkan standar sarana dan prasarana pendidikan.2014 . Pendidikan Bertaraf Internasional dan Berbasis Keunggulan Lokal Pasal 50 ayat (3) UU RI No. b. (5) menerapkan standar penilaian hasil belajar. sedangkan ayat (5) mengamanatkan bahwa pemerintah kabupaten dan kota mengelola pedidikan dasar dan menengah serta satuan pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Rintisan sekolah/madrasah bertaraf internasional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia telah dilakukan mulai tahun 2005 di samping sekolah/madrasah yang memang sudah bertaraf internasional. dan (8) mengembangkan standar pembiayaan pendidikan.101 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana. Hal ini dapat dilihat dari prestasi beberapa perguruan tinggi. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. dan tingkat SMA berjumlah 199 sekolah. (4) menerapkan standar pengelolaan pendidikan. baik RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . capaian mutu perguruan tinggi telah menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2007. (2) menerapkan standar kompetensi lulusan. Kebijakan tentang SNP akan dilaksanakan melalui kegiatan (1) menerapkan standar isi dalam kurikulum satuan pendidikan. dan melaksanakan sertifikasi guru. SMP berjumlah 100 sekolah. (3) menerapkan standar kualifikasi guru. Perintisan sekolah/madrasah berbasis keunggulan lokal masih dalam tahap sosialisasi. Selama dua tahun terakhir. Karakteristik pendidikan bertaraf internasional adalah bahwa proses dan lulusan pendidikan minimal setara dengan sekolah dan perguruan tinggi di negaranegara maju. (g) Peraturan Mendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. (7) menerapkan standar proses pendidikan. jumlah sekolah yang sedang dirintis maupun yang sudah bertaraf internasional pada tingkat SD berjumlah 39 sekolah. sedangkan untuk SMK berjumlah 179 sekolah.

transparan. dan kota. c. adil. Apabila standar telah dipenuhi maka status akreditasi akan diberikan terhadap program dan/atau satuan pendidikan tersebut. UU Sisdiknas mengamanatkan bahwa pemerintah melakukan akreditasi pada setiap jenjang dan satuan pendidikan untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan. Sebagai akuntabilitas publik. 3) memfasilitasi kerja sama pendidikan antara satuan pendidikan bertaraf internasional dan mitra pendidikan (sister school) di luar negeri. (ii) Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi terhadap program dan/atau satuan pendidikan tinggi. Akreditasi pendidikan dilakukan oleh lembaga independen melalui proses penilaian terhadap mutu layanan dan proses pendidikan pada program dan/atau satuan pendidikan berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Umumnya di kebanyakan negara. Akreditasi dapat dilakukan oleh lembaga mandiri yang mendapat kewenangan dari pemerintah. akreditasi dilakukan secara objektif. Akreditasi oleh Pemerintah dilakukan oleh (i) Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BANS/BANM) terhadap program dan/atau satuan pendidikan dasar dan menengah jalur pendidikan formal. dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu pada SNP. Peringkat akreditasi terdiri atas A. dan (iii) Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal (BAN PNF) terhadap program dan/atau satuan pendidikan jalur nonformal. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . B. 2) membantu penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal yang diselenggarakan oleh masyarakat. akreditasi dilakukan oleh pemerintah dan lembaga akreditasi independen. kabupaten. Akreditasi Pendidikan Salah satu reformasi di bidang pendidikan yang dituangkan ke dalam UU Sisdiknas adalah akreditasi pendidikan sebagai bentuk penjaminan mutu dan akuntabilitas program dan/atau satuan pendidikan.102 negeri maupun swasta yang telah berhasil masuk dalam kategori universitas berkelas dunia ataupun kategori universitas bertingkat Asia. Kebijakan pembangunan pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal akan dilaksanakan melalui kegiatan: 1) meningkatkan jumlah pembangunan satuan pendidikan bertaraf internasional dan berbasis keunggulan lokal minimal satu sekolah di wilayah provinsi.

yaitu (1) SPM disusun sebagai alat Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin akses dan mutu pelayanan dasar kepada masyarakat secara merata dalam rangka penyelenggaraan urusan wajib. dan anggaran. penelitian. Proses akreditasi pendidikan tinggi mencakup kelayakan pelaksana tri darma perguruan tinggi. Lembaga mandiri yang melakukan akreditasi pendidikan harus berbadan hukum Indonesia yang bersifat nirlaba dan memiliki tenaga ahli yang berpengalaman di bidang evaluasi pendidikan.2014 . Proses akreditasi difokuskan pada kelayakan kurikulum dan isi pembelajaran. proses belajar mengajar. dan pengabdian pada masyarakat. Dalam melaksanakan akreditasi BANS/BANM dibantu oleh badan akreditasi provinsi yang dibentuk oleh gubernur. d. sedangkan proses akreditasi pada pendidikan nonformal mencakup kelayakan program dan/atau satuan pendidikan dalam memberikan pendidikan keterampilan fungsional. peran serta masyarakat dan lingkungan/kultur sekolah. pembiayaan. Proses akreditasi pada sekolah dan madrasah difokuskan pada kurikulum dan proses belajar mengajar.103 C. serta peningkatan transparansi proses akreditasi. ketenagaan. sarana dan prasarana. PP No. Kebijakan akreditasi akan dilaksanakan melalui kegiatan peningkatan efektivitas kegiatan akreditasi yang mencakup kemampuan personel. organisasi/kelembagaan sekolah. Standar Pelayanan Minimal (SPM) SPM bidang pendidikan yang ditetapkan dengan Kepmendiknas No. sarana dan prasarana.129a/U/2004 sedang dalam proses penyempurnaan untuk diselaraskan dengan PP No. manajemen sekolah. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan PP No. manajemen dan organisasi kelembagaan. dan sistem penilaian pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam SNP. 65 Tahun 2005 karena SPM pendidikan ini sangat diperlukan untuk menjamin terwujudnya mutu pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah. pembiayaan. (2) SPM ditetapkan oleh pemerintah dan diberlakukan untuk seluruh RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . peserta didik. 65 Tahun 2005. Prinsip-prinsip SPM menurut Pasal 3. guru dan tenaga kependidikan. pencapaian standar kelulusan. yaitu pendidikan dan pengajaran. sarana. dan D masing-masing untuk peringkat yang paling tinggi hingga ke peringkat paling rendah.

terutama kejuruan maupun di tingkat pendidikan tinggi agar lebih siap memasuki dunia kerja. prioritas. mudah diukur. dan kemampuan keuangan nasional dan daerah. Rencana pencapaian SPM tersebut dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategi Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD). konkret.8 Perbaikan Rasio Peserta Didik SMK:SMA dan Pendidikan Vokasi Peningkatan relevansi pendidikan merupakan kebijakan yang ditujukan agar keluaran pendidikan dapat lebih berorientasi pada pemenuhan dunia kerja serta kebutuhan dunia usaha dan industri. Oleh sebab itu.104 pemerintahan daerah provinsi.2. pemerintahan daerah kabupaten. dan (3) pengawasan atas terselenggaranya standar pelayanan minimal (SPM) secara konsisten. 5. terjangkau. (2) menjamin pelaksanaan standar pelayanan minimal (SPM) pada tingkat satuan pendidikan. dan (5) SPM disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan. dan dapat dipertanggungjawabkan serta mempunyai batas waktu pencapaian. dan kota. (3) penerapan SPM oleh pemerintahan daerah merupakan bagian dari penyelenggaraan pelayanan dasar nasional. Peningkatan relevansi pendidikan yang dilaksanakan pada periode 2010--2014 meneruskan perbaikan rasio peserta didik SMK: SMA dan pendidikan vokasi melalui (a) penyesuaian rasio jumlah murid SMK dibanding SMA. selanjutnya pemerintahan daerah menyusun rencana pencapaian SPM yang memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu pada batas waktu pencapaian SPM sesuai dengan peraturan menteri. Untuk menjamin terlaksananya SPM tersebut. (b) peningkatan APK PT vokasi (D-2/D-3/D-4/politeknik). relevansi proses pendidikan formal dan nonformal perlu diarahkan agar peserta didik. (c) peningkatan persentase jumlah mahasiswa BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . baik di tingkat pendidikan menengah. terbuka. Kebijakan tentang standar pelayanan minimal pendidikan akan dilaksanakan melalui kegiatan (1) penetapan standar pelayanan minimal (SPM) yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah dan satuan pendidikan. (4) SPM bersifat sederhana.

khususnya UU Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. Sumber otoritas pengelolaan berbasis otonomi adalah kewenangan atributif yang dimiliki oleh satuan pendidikan sebagai BHP. dasar. sedangkan kewenangan atributif sebagai BHP dimiliki oleh satuan pendidikan merupakan kewenangan asli yang ditetapkan oleh undang-undang. seperti kewenangan otonomi BHP.9 Otonomisasi Satuan Pendidikan Sejalan dengan kerangka hukum reformasi pendidikan.2014 . Otonomi yang diberikan harus diimbangi dengan akuntabilitas yang kuat sehingga lingkungan kelembagaan satuan pendidikan lebih kondusif bagi tumbuhnya pribadi yang mandiri. 5. Kebijakan otonomi satuan pendidikan merupakan strategi demokratisasi dalam pengelolaan pendidikan yang menekankan pada desentralisasi otonomi satuan pendidikan sebagai Badan Hukum Pendidikan (BHP).105 profesi terhadap jumlah lulusan S-1/D-4. inovatif. jenjang pendidikan tinggi. kreatif. dan jalur pendidikan nonformal serta pendidikan luar biasa dengan mengembangkan kegiatan sertifikasi keterampilan khusus. bertanggung jawab. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . dan menengah secara demokratis. juga merupakan jaminan bagi satuan pendidikan untuk mengelola organisasi pendidikannya secara mandiri. otonomi satuan pendidikan selain sebagai bentuk demokratisasi pengelolaan pendidikan. kabupaten.2. Berbeda dengan kebijakan pengelolaan pendidikan secara sentralistik. otoritas satuan pendidikan bersumber dari satu otoritas tertinggi. Oleh karena itu. Otoritas pengelolaan berbasis delegasi kewenangan dapat ditarik kembali oleh pemberi kewenangan (yaitu pemerintah untuk sekolah negeri). dan entrepreneurial. atau kota untuk mengurusi pendidikan anak usia dini. dan (e) peningkatan jumlah sertifikat kompetensi yang diterbitkan pada jenjang pendidikan menengah. demokratis. (d) peningkatan persentase peserta kursus para profesi yang berorientasi kecakapan hidup terhadap lulusan SMP/MTs dan yang sederajat serta SMA/SMK/MA dan yang sederajat yang tidak melanjutkan. Pemerintah memberikan otonomi kepada pemerintahan provinsi. yaitu berupa delegasi kewenangan.

dan pendidikan tinggi. pendidikan menengah. a. supervisor (pengawas). kebijakan otonomi satuan pendidikan dinyatakan dalam bentuk pelaksanaan manajemen berbasis sekolah/madrasah dan otonomi perguruan tinggi. leader (pemimpin-pengayom). inovator (pembaharu). Renstra 2010--2014 merupakan upaya untuk memperkuat implementasi otonomi pendidikan pada satuan pendidikan dasar. Pendidik berperan sebagai ujung tombak pelaksana kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien. Otonomi pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah Salah satu wujud dari otonomi pendidikan. dan motivator (pendorong). melalui kegiatan pengelolaan BOS. Penerapan manajemen berbasis sekolah atau madrasah merupakan kebijakan terobosan yang bertujuan untuk memberikan otonomi yang lebih besar pada sekolah dan madrasah untuk mengelola kegiatan pendidikan dengan menggali potensi dan kekuatan yang ada. pendidikan dasar. Kepala sekolah berperan sebagai edukator (pendidik). dan mengendalikan pelaksanaan pelbagai program sekolah. baik satuan pendidikan negeri maupun swasta pada pendidikan dasar dan menengah 9 tahun diterapkannya konsep dan kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau madrasah (school-based management). tenaga kependidikan. manajer (pengelola). Hasil pendidikan yang bermutu ditentukan oleh kemampuan pengelola pendidikan. kemudian mengembangkan dan memanfaatkannya untuk meningkatkan mutu pendidikan. serta komite sekolah/madrasah. yaitu pendidik. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Dalam UU Sisdiknas No. kepala sekolah merencanakan. sedangkan pemerintah kabupaten dan kota mengelola pendidikan dasar dan menengah.106 Dalam konteks sistem pendidikan nasional sebagaimana ditetapkan dalam UU Sisdiknas. sedangkan komite sekolah atau madrasah berperan sebagai patner dari BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . Pemerintah bertanggung jawab mengelola sistem pendidikan nasional dan pemerintah daerah provinsi melakukan koordinasi atas penyelengaraan pendidikan lintas daerah kabupaten dan kota. 20 Tahun 2003 Pasal 51 ayat 1 dinyatakan bahwa pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. dan penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). mengorganisasikan. Sebagai manajer. administrator (ketatausahaan). mengimplementasikan.

pelayanan. Pasal 50 ayat (6) dinyatakan bahwa perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. atau daerah lain yang masih terisolasi karena belum terbangunnya infrastruktur RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .107 kepala sekolah atau madrasah sebagai wujud dari kepedulian dan partisipasi masyarakat untuk membantu kepala sekolah/madrasah.2. baik dalam tahap perencanaan. 9 Tahun 2009. akuntabilitas. b. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. hal ini sesuai dengan UU No. maupun program-program pendidikan. serta sumber daya pendidikan lainnya.000 kepulauan dengan distribusi pendapatan yang belum merata dan struktur sosial masyarakat yang masih didominasi kelas bawah yang miskin.2014 . terutama bagi mereka yang miskin yang tinggal di daerah perbatasan. pendidik dan tenaga kependidikan. 5. Kemudian ayat (3) menyatakan Akuntabilitas publik badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi wajib diwujudkan dengan jumlah maksimum peserta didik dalam setiap badan hukum pendidikan disesuaikan dengan kapasitas sarana dan prasarana. Prinsip akuntabilitas dalam pengelolaan pendidikan tinggi merupakan faktor yang sangat penting. pelaksanaan. pendidikan nonformal bagi Indonesia menjadi sangat penting. di daerah pegunungan yang relatif terisolasi. Pasal 47 ayat (2) yang menyatakan bahwa Akuntabilitas publik badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi terdiri atas akuntabilitas akademik dan akuntabilitas non-akademik.10 Intensifikasi dan Ekstensifikasi Pendidikan Nonformal dan Informal untuk Menggapaikan Layanan Pendidikan Kepada Peserta Didik yang Tak Terjangkau Pendidikan Formal (Reaching The Unreached) Bagi negara sebesar Indonesia dengan penduduk 230 juta yang tersebar di 18. jaminan mutu. dan evaluasi yang transparan. Penyelenggaraan pendidikan tinggi dilaksanakan dalam program-program studi dan tiap program studi mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebijakan perguruan tinggi masing-masing. Otonomi pada Jenjang Pendidikan Tinggi Dalam UU No. Selanjutnya Pasal 51 ayat (2) menyatakan pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. tentu tidak mungkin bagi Pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada semua warga negaranya melalui pendidikan formal. pulau terpencil. Oleh karena itu.

Pendidikan kesetaraan dilayani melalui program pembelajaran langsung di pusat-pusat kegiatan belajar masyarakat di setiap kecamatan. buta aksara. dan diklat-diklat serta unit pelaksana teknis beberapa departemen. program layanan jemput bola. Pendidikan kecakapan hidup didesain untuk warga negara usia sekolah yang putus sekolah atau tidak melanjutkan sekolah dan bagi warga usia dewasa tidak lagi sekolah yang memerlukan pemberdayaan sosial dan ekonomi. pembentukan lumbung belajar. Program PAUD nonformal dan informal diarahkan untuk memberikan layanan pengembangan anak usia 0--6 tahun secara intensif dengan mengoptimalkan peran orang tua dan pemberdayaan peran serta masyarakat melalui program taman penitipan anak. (d) taman bacaan masyarakat (TBM). komitmen Dakar tahun 2000 menyatakan bahwa setiap anggota UNESCO berkomitmen menurunkan angka buta aksaranya masingmasing menjadi separuh (50%) pada tahun 2015. pendidikan keaksaraan. kelompok bermain. dan satuan PAUD sejenis. Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan layanan khusus (TBM mobile) serta pengadaan mobil yang disalurkan untuk sanggar kegiatan belajar BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . dan Paket C. Untuk pemberantasan buta aksara. sanggar kegiatan belajar di tiap kabupaten dan kota. sekolah-sekolah minggu. serta penduduk kurang beruntung lainnya. Peningkatan budaya baca dilakukan melalui penyediaan bahan bacaan dan sumber informasi lain yang dapat dicapai banyak lapisan masyarakat secara mudah dan murah. Program pendidikan nonformal dan informal telah berhasil dikembangkan desainnya dengan cukup baik melalui program (a) PAUD nonformal. (c) pendidikan kecakapan hidup. (b) pendidikan kesetaraan Paket A. dan (e) pengarusutamaan gender. putus sekolah dan tidak melanjutkan sekolah. dan pendidikan kesetaraan online atau sering disebut sekolah maya. Langkah terobosan dalam program peningkatan budaya baca antara lain melalui pengadaan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). pondokpondok pesantren. Program ini diprioritaskan untuk penduduk miskin.108 perhubungan dan sarana publik secara memadai dan/atau masyarakat yang memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Paket B. pengangguran. pembelajaran untuk TKI dan keluarganya. warga tidak terampil.

dan melakukan pengawasan anggaran berwawasan gender serta pengembangan bahan ajar. a. mengelola. serta pelatihan yang responsif gender. Depdiknas telah berhasil memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari BPK pada tahun 2008 dan ditargetkan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian pada tahun 2010. pengembangan keluarga berwawasan gender. Penataan Kelembagaan 1) Penataan struktur organisasi Depdiknas agar bisa menjadi landasan struktural yang kukuh bagi terbangunnya sistem pengendalian intern yang RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . Pada tingkat pendidikan menengah terdapat ketimpangan gender sebesar 5.11 Penguatan Tata Kelola. PUG bidang pendidikan disinergikan dengan pengembangan satuan pendidikan berwawasan gender.32% pada tahun 2004 menjadi 3. dan citra publik dilaksanakan secara komprehensif dan sistematis. Pada tingkat pendidikan dasar semua anak laki-laki dan perempuan telah memasuki SD/MI/Paket A dan SMP/MTs/Paket B tanpa ketimpangan gender. data dan sistem informasi. dan Citra Publik Pendidikan dengan Pendekatan Komprehensif Penguatan tata kelola. Pencapaian ini melampaui target tahun 2009 sebesar 3. melalui langkah-langkah sebagai berikut.65% atau mencapai target nasional satu tahun lebih cepat. Akuntabilitas.2. tujuan. Sebagai hasil dari upaya peningkatan tata kelola. PUG bidang pendidikan pun telah menunjukkan keberhasilan dalam penurunan disparitas gender penduduk buta aksara. Kebijakan Menteri Pendidikan Nasional untuk melaksanakan Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarustamaan Gender adalah dengan menetapkan Permendiknas Nomor 84/2008 tentang Pelaksanaan PUG bidang pendidikan. Disparitas gender buta aksara menurun dari 7. dan sasaran yang akan dicapai dalam Renstra Depdiknas 2010--2014. 5. akuntabilitas dan standar mutu pelayanan publik. Program pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan telah menghasilkan pencapaian yang signifikan. Untuk itu perlu ada penataan kelembagaan sebagai upaya reformasi birokrasi membentuk Departemen Pendidikan Nasional yang ramping dan efektif serta disesuaikan dengan arah visi.2014 . misi. akuntabilitas. peningkatan kapasitas pemangku pendidikan untuk merencanakan.4%.109 (SKB) dalam memberikan layanan di daerah perdesaan yang jauh dari TBM dan perpustakaan.24% pada akhir tahun 2008.

3) Pembentukan Satuan Pengendalian Intern (SPI) di setiap unit utama.110 andal. dan kerja sama dengan BPKP berupa sinkronisasi Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) untuk menghindari tumpang tindih pengawasan. pusat-pusat. mengandung potensi konflik kepentingan. Penghilangan Konflik Kepentingan 1) Pencabutan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. atau tidak lagi relevan. distortif. tidak efektif. 2) Pelarangan guru dan sekolah menjual buku di sekolah yang bekerja sama dengan penerbit. Reformasi birokrasi ini dimaksudkan untuk menjamin agar tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Renstra Depdiknas 2010--2014 dapat dicapai secara efisien dan efektif. 5) Pengutamaan penyaluran bantuan ke perguruan tinggi dengan sistem hibah kompetisi. Peningkatan Akuntabilitas 1) Pengembangan sistem pengawasan pelaksanaan peraturan perundangundangan yang telah diterbitkan untuk mendorong penguatan tata kelola dan akuntabilitas. perguruan tinggi. pendampingan proses pengadaan sesuai dengan Keppres 80/2003. pemeriksaan kinerja. 4) Pelaksanaan ujian nasional oleh BSNP. optimalisasi peran Inspektorat Investigasi. UPT. peningkatan kapasitas auditor. optimalisasi pemeriksaan dini. pemeriksaan investigasi terhadap kasus khusus. c. 3) Penerapan e-procurement. dan kopertis untuk meningkatkan akuntabilitas dan menuju pemerintahan yang baik. Sampai saat sekarang Itjen telah menyusun draf Permendiknas tentang SPI. Reformasi birokrasi ini akan diikuti dengan perbaikan remunerasi yang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan meningkatkan kualitas penggajian pada pegawainya. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . b. 2) Revitalisasi Inspektorat Jenderal melalui penerapan SIM pengawasan. Pembelian hak cipta buku teks sekolah dan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) maksimal 1/3 harga pasar.

SIM pengendalian internal. dan SIM rehabilitasi sekolah. 6) Peningkatan kapasitas dan kompetensi aparat dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan kegiatan peningkatan kompetensi SDM Aparatur. BPKP. termasuk pemeriksaan. SIM barang milik negara.2014 . kegiatan teknis yang bisa dilakukan adalah menyelenggarakan sosialisasi dan seminar bagi para pengelola pendidikan. maupun BPK. 9) Penindaklanjutan hasil pemeriksaan. serta penambahan frekuensi pemeriksaan. RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . 8) Perluasan dan pengintensifan pengawasan. 3) Peningkatan efektivitas dan efisiensi sistem dan prosedur kerja dengan mengembangkan Sistem Aplikasi Interface (API System) untuk mengintegrasikan aplikasi TIK. meningkatkan internal check. dan memperbaiki pelindungan terhadap aset yang dimiliki. SIM kepegawaian. 10) Penyerahan kepada lembaga penegak hukum penanganan kasus pelanggaran yang tidak mungkin lagi diselesaikan oleh Depdiknas. 5) Peningkatan efektivitas dan efisiensi sistem dan prosedur pembukuan dan pelaporan keuangan sesuai dengan SAI. 12) Pelaksanaan secara tegas dan konsisten Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan KKN. baik pemeriksaan oleh Inspektorat Jenderal. 4) Penginventarisasian terhadap barang milik negara sesuai Sistem Akuntansi Instansi (SAI). 11) Verifikasi atau investigasi pengaduan-pengaduan yang dilaporkan oleh masyarakat dan kemudian menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 7) Peningkatan ketaatan aparat kepada peraturan perundang-undangan dalam menjalankan tugas masing-masing dengan kegiatan sosialisasi dan penerapan reward and punishment.111 2) Pengembangan sistem penguatan hasil penataan sistem dan prosedur kerja dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja. menurunkan potensi konflik kepentingan. 13) Penerapan manajemen berbasis sekolah yang didampingi komite sekolah. melalui penambahan jenis pemeriksaan seperti pemeriksaan dini. pemeriksaan kinerja. dan pemeriksaan investigasi. SIM Keuangan.

Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik Perkembangan teori belajar berdasarkan riset selama hampir 100 tahun secara bertahap mengubah paradigma tentang bagaimana seharusnya guru mengajar dan siswa belajar. d. Konstruktivisme memantapkan teori belajar sebelumnya dan memberikan pencerahan bagi peralihan dari konsep belajar yang berpusat kepada guru (teacher-centered learning) ke arah konsep belajar yang berpusat kepada siswa (student-centered learning). 6) Pemantapan sistem kearsipan secara konsisten dan masif. dan institusi pendidikan. dan PT. program. Peningkatan Standar Mutu Pelayanan Publik 1) Peningkatan mutu manajemen unit kerja melalui program sertifikasi ISO 9001:2008. 5) Pengukuran mutu pelayanan unit kerja secara internal. baik di pusat maupun di daerah. 2) Rekrutmen tenaga akuntan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan. 5. kantor akuntan publik. 16) Pelibatan unsur masyarakat dalam proses pengambilan keputusan pembinaan dan pengembangan sekolah melalui wadah Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah pada tingkat kabupaten dan sekolah.12 Reformasi Pembelajaran yang Mendidik. BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . dan Menyenangkan a. Orientasi yang berpusat kepada siswa pada akhirnya diwujudkan dalam pendekatan belajar aktif (active learning approach). 15) Sosialisasi berbagai kebijakan. kegiatan dan capaian kinerjanya kepada masyarakat luas melalui seminar dan workshop. 4) Pemberian honor tambahan kepada tenaga pembukuan dan pelaporan. kabupaten kota. Temuan teori yang dewasa ini amat populer dan berdampak luas pada skala internasional adalah teori belajar konstruktivisme. baik di tingkat Pusat. Dialogis.2. provinsi. 3) Outsourcing tenaga akuntan dari BPKP.112 14) Sosialisasi penerapan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang dimaksudkan untuk memberikan pemahaman tentang keterbukaan informasi publik.

Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning/CTL) merupakan proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan/konteks ke permasalahan/konteks lainnya. b. kreatif. berinteraksi. Pengetahuan harus ditemukan sebagai suatu keseluruhan yang terintegrasi. menikmati. dan 3) pemberdayaan partisipasi orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan proses pembelajaran berpusat pada peserta didik. dengar. dan mencapai versi kebenaran sendiri yang diverifikasi secara sosial. sosial dan budaya siswa serta dunia kerja. Kebijakan tentang pembelajaran berpusat pada peserta didik dilaksanakan melalui kegiatan: 1) pengembangan model dan sarana pembelajaran berpusat pada peserta didik pada beberapa sekolah di jenjang pendidikan dasar dan menengah. penyelenggaraan pendidikan yang Pola mengajar duduk. dan menyenangkan. Guru harus beralih dari peran sebagai instruktur (pengajar) kepada peran sebagai fasilitator yang memotivasi siswa untuk belajar. Implementasi konsep pembelajaran berpusat pada peserta didik mencakup terbuka dan multimakna. pengalaman belajar harus terbuka dan cukup bebas guna memungkinkan siswa menemukan. 2) pelatihan guru dan kepala sekolah untuk mengelola penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran berpusat pada peserta didik. terutama diemban oleh siswa. CTL dapat RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .113 Gagasan pokok paradigma belajar aktif berlandaskan pada teori konstruktivisme dan inti teori konstruktivisme adalah mengonstruksi makna mengenai pentingnya latar belakang dan budaya siswa untuk diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kurikulum dan tanggung jawab belajar. Proses belajar mengajar merupakan wujud interaksi dinamis antara tugas guru dan siswa dan kerja sama antarsiswa. efektif. catat dan hafal tak dapat dipertahankan.2014 . Proses belajar mengajar hendaknya diintegrasikan ke dalam konteks lingkungan siswa. Pola itu harus diganti dengan kegiatan belajar yang aktif.

tukar pengalaman. yaitu proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman dan siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis. yaitu proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir. 3) pemberdayaan partisipasi orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan proses pembelajaran kontekstual. (4) Masyarakat belajar (learning community). (7) penilaian otentik (authentic assessment). dan mengerjakan apa yang diinginkan guru agar siswa mengerjakannya. bekerja sama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. (2) bertanya (questioning). Hakikat pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang menerapkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. mencatat apa yang telah kita pelajari. membuat jurnal dan karya seni. Pengembangan Organisasi Pembelajaran Pengembangan organisasi pembelajaran (learning organization) berarti bahwa tugas utama satuan pendidikan adalah mengembangkan kemampuan untuk BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . belajar. c. yaitu mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. yaitu membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal dan pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengonstruksi bukan menerima pengetahuan. yaitu kegiatan guru untuk mendorong. dan menilai kemampuan berpikir siswa dan bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. membimbing.114 dipahami sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. serta diskusi kelompok. (5) pemodelan (modeling). bekerja. yaitu cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Kebijakan tentang pembelajaran kontekstual dilaksanakan melalui kegiatan: 1) pengembangan model dan sarana pembelajaran kontekstual pada beberapa sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. yaitu sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. (3) menemukan. (6) refleksi (reflection). dan berbagi ide. 2) pelatihan guru dan kepala sekolah untuk mengelola penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran kontekstual. yakni (1) konstruktivisme (constructivism). serta menilai produk (kinerja) dan tugas-tugas yang relevan dan kontekstual.

Masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan. Pemerintah. Lembaga penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan evaluasi pendidikan. bersilang bagi. keluarga. 2) pelatihan guru dan kepala sekolah untuk pengembangan organisasi pembelajaran. Lembaga penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis. Kebijakan tentang pengembangan organisasi pembelajaran dilaksanakan melalui kegiatan: 1) pengembangan organisasi pembelajaran pada beberapa sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber. lingkungan sosial. dan sumber daya lain secara adil dan merata dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah. subsidi dana. pemerintah daerah.2014 . pelaksana. masyarakat.13 Penguatan Partisipasi Masyarakat di Bidang Pendidikan UU Sisdiknas merumuskan peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan. pengusaha. organisasi profesi. kelompok. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama.115 mengakuisisi. dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Fokus kegiatan utamanya adalah pada pengembangan pada kemampuan belajar untuk belajar (learn to learn). 5. dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan menciptakan pengetahuan baru. pengawasan. 3) pemberdayaan partisipasi orang tua peserta didik dalam pengembangan organisasi pembelajaran. dan pengguna hasil pendidikan.2. dan evaluasi program pendidikan melalui dewan RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber dari penyelenggara. serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan.

untuk biaya investasi. serta bantuan biaya investasi.14 Revitalisasi Pendidikan Inovatif. 5. Dewan Pendidikan sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan. biaya operasional. dan kota yang tidak mempunyai hubungan hierarkis. dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik sesuai dengan standar pelayanan minimal untuk mencapai standar nasional pendidikan. sarana dan prasarana. arahan. kabupaten. dan dukungan tenaga. untuk biaya operasional. peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan yang sekarang berbentuk yayasan. beasiswa. Mewujudkan insan kreatif dengan pola pikir dan moodset kreatif yang diarahkan pada: 1) peningkatan jumlah SDM kreatif yang berkualitas secara berkesinambungan dan tersebar merata di seluruh Indonesia yang dicapai melalui peningkatan BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . arah. arahan dan dukungan tenaga. dan strategi pembangunan pendidikan sebagai berikut: a. dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pasal 45 mengatur bahwa masyarakat dapat memberikan dana pendidikan pada badan hukum pendidikan yang tidak mengikat serta tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan.2. dan badan hukum lain diakui sebagai badan hukum pendidikan. yakni pengembangan kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas. dan beasiswa. provinsi. dalam penyelenggaraan program wajib belajar pendidikan dasar. Komite sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. sarana dan prasarana. Sasaran. Pada Pasal 44 diatur bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menanggung dana pendidikan untuk Badan Hukum Pendidikan Masyarakat (BHPM) dan Badan Hukum Pendidikan (BHP) penyelenggara. perkumpulan. dan/atau bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik. Kreatif dan Enterprenurial Dalam mendukung Pengembangan Ekonomi Kreatif (PEK) tahun 2010-2014. serta pengawasan pendidikan pada tingkat nasional. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Dengan berlakunya UU BHP.116 pendidikan dan komite sekolah/madrasah. Tata kelolanya disesuaikan dengan UU BHP. keterampilan.

fasilitasi pengembangan jejaring dan mendorong kerja sama antar insan kreatif Indonesia di dalam dan luar negeri. mendorong pihak swasta untuk membangun lembaga pendidikan dan pelatihan khususnya yang terkait dengna kebutuhan SDM dalam pengembangan ekonomi kreatif yang berkualitas dengan biaya terjangkau. dan menciptakan akses pertukaran informasi dan pengetahuan ekonomi kreatif di masyarakat 2) peningkatan jumlah dan perbaikan kualitas dan lembaga pendidikan dan pelatihan formal dan informal yang mendukung penciptaan insan kreatif dalam pengembangan ekonomi kreatif yang dicapai melalui pembangunan lembaga pendidikan dan pelatihan formal dan informal yang terkait dengan pengembangan ekonomi kreatif. dan menciptakan dan menjaga sistem standardisasi mutu pendidikan tinggi dan sekolah menengah kejuruan yang terkait dnengan Pengembangan Ekonomi Kreatif. memperbaiki infrastruktur dan kualitas pembelajaran di lembaga pendidikan dan pelatihan. menciptakan keterhubungan dan keterpaduan antara lulusan pendidikan tinggi dan sekolah menengah kejuruan yang terkait dengan pengembangan ekonomi kreatif yang membutuhkan. melakukan kajian dan revisi kurikulum pendidikan dan pelatihan agar lebih berorientasi pada pembentukan kreativitas dan kewirausahaan pada anak didik sedini mungkin. meningkatkan kualitas pendidikan nasional yang mendukung penciptaan kreativitas dan kewirausahaan pada anak didik sedini mungkin. membangun mekanisme kemitraan antara pemerintah. mendorong para wirausahawan sukses untuk berbagi pengalaman dan keahlian di institusi pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi dalam pengembangan ekonomi kreatif 4) penciptaan database dan jejaring insan kreatif di dalam maupun di luar negeri yang dicapai melalui pembangunana data base dan serita sukses insan kreatif dan produk kreatif Indonesia. dan pelatihan dengan pelaku usaha untuk mengembangkan pendidikan dan pelatihan berkualitas dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif. lembaga pendidikan. dan mendorong dan menfasilitasi insan kreatif luar negeri datang ke RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 .2014 .117 anggaran pendidikan untuk mendukung penciptaan insan kreatif indonesia. 3) peningkatan jumlah wirausahawan kreatif sebagai lokomotif industri di bidang ekonomi kreatif yang dicapai melalui pemberian dukungan kepada wirausahawan kreatif yang membutuhkan kemudahan dalam memulai dan menjalankan usaha.

mengembangkan pengelolaan sertifikasi atas teknologi di bidang ekonomi kreatif. hasil penelitian dan perkembangan teknologi yang terkait dengan pengembangan industri di bidang ekonomi kreatif. Mewujudkan teknologi yang mendukung penciptaan kreasi dan terjangkau oleh masyarakat Indonesia yang diarahkan pada: 1) pembentukan basis-basis teknologi pendukung industri di bidang ekonomi kreatif menuju cluster teknologi yang dicapai melalui pembuatan prioritas basis pendukung teknologi informasi dan komunikasi bagi industri di bidang ekonomi kreatif. Mewujudkan industri yang unggul di pasar dalam dan luar negeri. mengembangkan inkubator-inkubator teknologi untuk mendukung Pengembangan Ekonomi Kreatif. d. desain. mengintensifkan kerjsama riset dan teknologi multi disiplin antar institusi pendidikan di bidang ekonomi 3) penguatan iklim usaha kondusif bagi investasi teknologi pendukung ekonomi kreatif yang dicapai melalui pemberian insentif investasi teknologi serta infrastuktur sesuai ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku. menjalin kemitraan yang saling menguntungkan dengan negara yang memiliki teknologi kreatif yang sudah maju. 2) penguatan kapasitas penguasaan teknologi dan kemampuan pemanfaatan komputer di bidang ekonomi kreatif yang dicapai melalui peningkatan jumlah dan mutu lembaga pendidikan dan pelatihan teknologi informasi dan komunikasi di bidang ekonomi kreatif. dengan peran dominan wirausahawan lokal yang diarahkan pada: 1) peningkatan efisiensi serta produktivitas industri untuk meningkatkan keunggulan komparatif yang dicapai melalui penataan industri pendukung terhadap industri di bidang ekonomi kreatif. 2) peningkatan inovasi bermuatan lokal. Meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri secara efektif bagi industri di bidang ekonomi kreatif yang diarahkan pada: BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 . mengoptimalisasikan lembaga riset pemerintah untuk mengembangkan teknologi yang mendukung pengembangan industri di bidang ekonomi kreatif. dan sosialisasi tentang pasar.118 indonesia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan serta membangun jejaring bisnis di bidang ekonomi kreatif. b. sejarah budaya. c. untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang dicapai melalui peningkatan riset sosial-ekonomi. dan seni.

memberikan layanan pengabdian masyarakat berupa edukasi dan layanan informasi HKI. menetukan prioritas riset keanekaragaman hayati indonesia yang berpotensi untuk dipatenkan. menghargai dan bangga sebagai bangsa Indonesia. dan pendidikan tinggi. 2) peningkatan apresiasi terhadap budaya bangsa dan kearifan lokal yang dicapai melalui sosialisasi pentingnya penghargaan atas keaneka-ragaman budaya dalam masyarakat indonesia yang merupakan sumber inspirasi bagi pengembangan ekonomi kreatif. mendukung riset untuk mengembangkan material alternatif yang berciri khas Indonesia sebagai bahan baku industri di bidang ekonomi kreatif. menyusun dan mengim-plementasikan kebijakan kebudayaan yang membawa bangsa Indonesia mencintai. khususnya dalam pemanfaatan bahan baku alternatif. f. lembaga riset pemerintah.119 1) peningkatan kemampuan SDM untuk memanfaatkan bahan baku yang berasal dari alam yang dicapai melalui intensifikasi pelatihan teknologi pengolahan material tepat guna dan ramah lingkungan. Tercapainya tingkat kepercayaan yang tinggi oleh lembaga pembiayaan terhadap industri di bidang ekonomi kreatif sebagai industri yang menarik yang RENCANA STRATEGIS RENCANA STRATEGIS DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 TAHUN 2010 . penggunaan sumber daya alam terbarukan produk dan kreatif ramah yang mengkampanyekan pengembangan berorientasi pada penghematan sumber daya dan ramah lingkungan 3) pembentukan basis-basis teknologi penghasil bahan baku pendukung industri di bidang ekonomi kreatif yang dicapai melalui peningkatan penelitian yang terkait dengan bahan baku sumber daya alam yang terbarukan dan ramah lingkungan dengan memperkuat koordinasi dan kolaborasi antara industri. melakukan intensifikasi kerjsama lembaga pemerintah/swasta dengan industri dibidang ekonomi kreatif. Mewujudkan masyarakat yang menghargai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan mengkonsumsi produk kreatif lokal yang diarahkan pada: 1) penciptaan dan penghargaan terhadap HKI dan sosialisasi pentingnya HKI yang dicapai melalui kampanye pentingnya kreatifitas dan HKI sebagai modal utama keunggulan bersaing dalam era ekonomi kreatif. memberikan bantuan dukungan teknologi pengolahan bahan baku industri di bidang ekonomi kreatif. 2) peningkatan apresiasi dan promosi sadar lingkungan pada industri di bidang ekonomi kreatif yang menggunakan bahan baku alam yang dicapai melalui kampanye lingkungan. e. menjalin kemitraan startegis dengan negara yang sudah maju pada teknologi pengolahan.2014 .

pemerintah.120 diarahkan pada penguatan hubungan antara pelaku bisnis. dan cendekiawan dengan lembaga keuangan yang dicapai melalui fasilitasi interaksi pelaku industri di bidang ekonomi kreatif dengan lembaga pembiayaan untuk mengembangkan skema pembiayaan yang efektif BAB V STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 2010--2014 .

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.