You are on page 1of 93

RINGKASAN

  • 1. SASARAN STUDI RENCANA INDUK

(1).

Klarifikasi masalah-masalah dan kendala pada pengembangan, konservasi dan pengelolaan sumber daya air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Walanae-Cenranae.

(2).

Memperbaharui dan mengkonfirmasi kembali Rencana Tata Ruang Kabupaten yang sesuai untuk daerah aliran sungai,

(3). Merumuskan rencana alternatip dalam pengembangan dan pengelolaan terpadu sumber-sumber didalam daerah aliran sungai. Target rencana kebutuhan pekerjaan dalam jangka waktu Mendesak (dalam jangka waktu 2 tahun), Jangka Pendek (dalam jangka waktu 5 tahun), Jangka Menengah (jangka waktu 5 – 10 tahun) dan Jangka Panjang (jangka waktu 10-25 tahun).

(4). Mungusulkan Rencana Tindak yang mewujudkan efisiensi dan keberlanjutan system pengelolaan sumberdaya-sumberdaya didalam daerah aliran sungai melalui kegiatan konsultasi umum.

(5).

Munyusun pedoman O&P untuk infrastruktur termasuk danau dan bendung gerak Tempe yang diusulkan.

(6). Mungusulkan suatu organisasi yang bertanggung jawab dalam pengembangan, pemanfaatan, konservasi dan pengelolaan sumberdaya di DAS berdasarkan prinsip kerjasama antara seluruh kabupaten yang terlibat (6 kab.), kewenangannya di dalam DAS maupun ditingkat propinsi.

(7).

Menyusun system informasi sumberdaya air (database SDA, GIS) untuk menunjang efektivitas pemantauan dan pengelolaan sumberdaya di dalam DAS.

(8).

Menyusun materi pelatihan tentang perencanaan dan pengelolaan sumber daya air untuk staf Balai PSDA Kabupaten dan Provinsi.

Pendekatan umum yang diterapkan pada Studi ini adalah seperti yang disebutkan di dalam TOR, termasuk diantaranya:

Konsultasi dengan masyarakat untuk mendapatkan kesepakatan

Melibatkan stakeholder pada kegiatan-kegiatan di dalam DAS.

Mengikutsertakan masyarakat dalam segala aspek.

Pendekatan lintas sektoral

S - 1

2.

KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH DAN NASIONAL

  • 2.1 Kebijakan Pembangunan Nasional Program Pembangunan Nasional 5 tahunan terakhir, atau PROPENAS untuk tahun 2000-2004 menetapkan 5 prioritas utama pembangunan nasional, seperti tercantum di bawah ini:

(1)

Membangun

sistem

politik

yang

demokratis

dan

memelihara

persatuan

dan

(2)

kesatuan nasional, Mewjudkan supremasi hukum dan pemerintahan yang bersih,

 

(3)

Percepatan pemulihan ekonomi dengan penguatan berkelanjutan dari dasar-dasar pembangunan dan kelembagaan yang cocok dengan sistem sosial ekonomi,

(4)

Peningkatan kesejahteraan masyarakat beserta aspek-aspek kualitas kehidupan, keagamaan dan kekuatan kebudayaan, dan

(5)

Percepatan pembangunan daerah.

 

PROPENAS juga menguraikan dasar-dasar pembangunan ekonomi dari tahun 2000 sampai 2004, yang telah diterbitkan pada akhir tahun 2000. Di dalam PROPENAS, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2000 sampai 2004 ditargetkan 6-7%. Target Angka Pertumbuhan Pendapatan Kotor per sektor di Indonesia ditunjukkan tabel di bawah ini:

Angka Pertumbuhan Pendapatan Kotor Sektor Ekonomi dalam PROPENAS

Tahun Sektor Ekonomi
Tahun
Sektor Ekonomi

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Pertanian

2.1%

1.4%

2.5%

2.5%

2.7%

2.9%

Industri

2.6%

4.8%

6.4%

7.3%

8.4%

9.2%

Jasa-Jasa

-1.2%

5.3%

5.5%

6.0%

6.2%

6.4%

Sumber: Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004

Untuk sektor sumber daya air, arahan kebijakan utama seperti tertera di PROPENAS adalah:

Penyusunan ulang tanggung jawab dari Pemerintah Pusat, Provinsi, Swasta dan masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Pengembangan kebijakan sumber daya air nasional dan penyelesaian penetapan hukum untuk pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Penyusunan lembaga kerja sama baik di tingkat Kabupaten maupun Nasional pada sektor sumber daya air. Mempersiapkan dan memfasilitasi penyusunan Badan Pengelola DAS terpadu. Melaksanakan konservasi air permukaan dan air tanah secara terpadu.

Pengendalian polusi air melalui penegakan hukum terutama di daerah tangkapan air.

S - 2

Membangun dan merehabilitasi fasilitas-fasilitas untuk pengendalian banjir, erosi pantai dan perbaikan alur sungai. Peningkatan stabilitas atau perbaikan bendungan, danau, embung dan bangunan penampungan air lainnya. Pembiayaan pengelolaan sumber daya air dengan peran serta dari masyarakat pengguna air, termasuk pengumpulan dan penggunaan uang iuran yang efektif. Peningkatan efektifitas dan efisiensi jaringan irigasi untuk meningkatkan pendapatan petani. Pembangunan jaringan irigasi baru di daerah sawah tadah hujan. Perbaikan dan pengembangan infrastruktur penyediaan air bersih dan pengendali polusi air.

  • 2.2 Otonomi Daerah Peraturan No. 22, yang telah diundangkan tahun 1999 untuk memberikan kewenangan dan tanggung jawab yang lebih luas kepada pemerintah daerah, telah membawa perubahan yang dinamis yang dikenal dengan Otonomi Daerah pada Pemerintah Indonesia. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 25 tahun 2000, seperti tertulis pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), tujuan dari otonomi daerah adalah untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat dan meningkatkan rasa keadilan, hak, demokrasi dan rasa hormat terhadap budaya daerah. Berdasarkan pada kebijakan otonomi daerah, pemerintah kabupaten atau kota mempunyai kekuasaan yang lebih besar untuk berperan dalam pemerintahan daerah. Peranan pemerintah provinsi dibatasi pada permasalahan antar kabupaten atau antar kota, seperti masalah keamanan, pemanfaatan air dan pengendalian terhadap polusi lingkungan. Sementara otonomi daerah masih dalam tahap transisi dan masih butuh waktu untuk stabilitasnya, beberapa masalah umum yang muncul seperti kurangnya sumber daya manusia, kurangnya perencanaan dan ketidakmampuan dalam pelaksanaan, kesulitan dalam memadukan masalah-masalah yang sifatnya lintas kabupaten dan kurangnya dana.

  • 2.3 Kebijakan Pembangunan Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan Ada 3 jenis rencana pembangunan wilayah di tingkat provinsi: GBHD (Garis-Garis Besar Haluan Daerah- Rencana Umum Lima Tahunan), PROPEDA (Program Pembangunan Sosial Ekonomi Lima Tahunan) dan REPETADA (Rencana Pembangunan Tahunan Daerah - Program Pelaksanaan Tahunan). Sebagai hasil dari kebijakan otonomi, peranan pemerintah provinsi pada dasarnya terbatas hanya pada koordinasi masalah lintas kabupaten atau kota. Ini berarti bahwa pemerintah

S - 3

provinsi tidak lagi menjadi pelaksana program pembangunan wilayah lagi tapi hanya sebagai koordinator masalah antar kabupaten.

PROPEDA yang ada (2001-2005) hanya menguraikan garis besar bagi kabupaten-kabupaten untuk merumuskan rencana pembangunan wilayah. Garis besar pembangunan yang berkaitan erat dengan Studi adalah sebagai berikut:

(1) Pengembangan Sumber Daya Alam: aspek-aspek pembangunan wilayah seperti ekonomi, sosial dan kebudayaan harus mendapat perhatian sebagai aspek-aspek yang terpadu dalam pengelolaan sumber-sumber daya alam dan lingkungan.

(2) Pembangunan Perdesaan: Pembangunan Perdesaan harus dipercepat untuk mendorong masyarakat perdesaan mengambil peranan yang lebih besar, dan untuk memberikan rangsangan supaya ikut serta dalam pembangunan perdesaan melalui peningkatan kemampuan kelembagaan perdesaan.

Pengertian dasarnya adalah, peranan utama dari pemerintah provinsi dijabarkan dari Peraturan Pemerintah No. 25, seperti dikutip di bawah ini:

Kewenangan dari pemerintah provinsi adalah menyusun koordinasi antar kabupaten/kota dan item berikut ini sebagaimana ditetapkan dalam Ketentuan 9 dari Peraturan No. 2:

Perencanaan dan pengendalian pengembangan wilayah secara makro;

Pelatihan pegawai pemerintahan untuk tujuan-tujuan khusus;

Alokasi sumber daya manusia untuk administrasi;

Riset yang melibatkan seluruh provinsi;

Pengelolaan pelabuhan-pelabuhan provinsi;

Pengendalian Lingkungan;

Peningkatan kegiatan perdagangan, kebudayaan dan kepariwisataan;

Pengendalian penyebaran penyakit dan hama; dan

Perumusan rencana pengelolaan wilayah untuk seluruh provinsi.

Pemerintah provinsi dapat menjalankan atau melaksanakan sesuatu kewenangan yang tidak mungkin dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota. Pada pelaksanaan ini yang utama dibutuhkan adalah persetujuan dari pemerintah kabupaten/kodya.

Pada sektor sumber daya air, arahan kebijakan utama yang tertulis di PROPEDA adalah:

(1)

Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya air dengan cara yang sesuai dan sama, dengan perkuatan susunan pengelolaan sumber daya air.

S - 4

(2) Meningkatakan kuantitas, kualitas dan partisipasi dari lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya air, terutama Perkumpulan Petani Pengelola Air pada Jaringan Irigasi agar dapat melakukan pengelolaannya.

 

(3)

Meningkatkan kemampuan personal Dina s PSDA Sulawesi Selatan agar dapat menjalankan tugas-tugas mereka dan untuk perkuatan organisasi.

(4)

Memperbaiki sistem koordinasi dengan badan/instansi terkait untuk memberikan keuntungan pada pemakai air dan memungkinkan mereka ntk dapat melakukan pengelolaan fasilitasnya.

3

KONDISI FISIK

3.1

Tata Guna Lahan

Tata guna lahan saat ini – Total luas daerah Studi adalah 789.000 ha (termasuk DAS Gilirang). Lima puluh delapan persen (58 %) dari lahan yang ada atau 458.789 ha digunakan untuk pertanian dan sisanya yaitu 330.912 ha (42 %) adalah lahan non pertanian seperti hutan, padang rumput, rawa-rawa, danau dan permukiman. Kompilasi luasan penggunaan lahan saat ini yang diperoleh dari berbagai sumber memberikan hasil sebagai berikut:

Kompilasi Informasi Penggunaan Lahan Saat ini - Tahun 2002

   

Luas

Karegori Penggunaan Lahan

(ha)

(%)

Sawah

  • 235.985 29,9

 
 
  • 176.527 22,4

 

Ladang Perkebunan dan Kebun

46.277

5,9

Total untuk Lahan Pertanian

 
  • 458.789 58,1

Hutan

  • 119.816 15,2

 

Padang Rumput

  • 160.856 20,4

 

Rawa-Rawa

  • 15.617 2,0

 

Desa (Permukiman)

  • 13.281 1,7

 

Tubuh Perairan

  • 21.343 2,7

 

Total untuk Lahan Non-Pertanian

 
  • 330.912 41,9

Total Semua

789.700

100,0

Sumber: LandSat 2002, Rencana Tata Ruang Kabupaten, Data Statistik Pertanian per Kabupaten, Hutan Kesepakatan Sulawesi Selatan th 1991

Penggunaan lahan yang luas untuk pertanian, dapat mendorong terjadinya erosi. Lahan konservasi yang digunakan untuk perladangan adalah seluas 80.878 ha dan untuk kebun atau perkebunan seluas 46.277 ha, lahan-lahan ini sebetulnya adalah lahan yang termasuk kategori lahan dengan perlindungan erosi dan pengelolaan air yang harus dilakukan dengan hati-hati.

S - 5

3.2

Kondisi Umum Hidrologi pada Potensi Sumber Daya Air

Danau Tempe terletak di tengah-tengah DAS Danau Tempe. Sistem Danau Tempe, selama musim kering dmana ketinggian muka air danau kurang dari + 6 meter akan terbagi menjadi 3 danau yaitu: Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Buaya. Danau Sidenreng dan Buaya terhubung dengan Danau Tempe melalui beberapa alur penghubung. Apabila musim banjir maka akan terbentuk suatu danau yang luas. Dari sebelah utara Danau Tempe mendapat masukan air dari sungai Bila (1.610 km 2 ), dari sebelah barat mendapat masukan air dari beberapa sungai termasuk sungai Batu-Batu, Bilokka, Panincong, Lawo, dll (927 km 2 ), dan dari bagian selatan mengalir Sungai Walanae (3.170 km 2 ). Alur pengeluaran dari Danau Tempe hanyalah melalui sungai Cenranae.

Dasar danau Tempe yang paling rendah mempunyai elevasi +3 meter diatas rata-rata muka laut (m dpal). Pada musim hujan yaitu dari bulan Mei sampai Agustus biasanya tinggi muka air danau naik mencapai elevasi +7 m dpal sampai +9 m dpal dan luasan permukaan airnya bisa mencapai 28.000 ha sampai 43.000 ha.

Sungai Cenranae – Panjang sungai mulai dari muara di Teluk Bone sampai Danau Tempe adalah kurang lebih 69 km. Luas tangkapan airnya sampai di muara adalah 7.380 km 2 . Sedang luasan tangkapan air yang dihitung dari stasiun pengukur muka air Tampangeng sampai muaranya adalah 1.180 km 2 .

Sungai Gilirang – Aliran sungai Gilirang berasal dari pegunungan di sebelah utara mengalir ke arah tenggara ke Teluk Bone dan tidak mempengaruhi Danau Tempe dan juga terletak di luar DAS WalCen, tetapi karena pertimbangan masih terletak dalam satu SWS maka dimasukkan ke Areal Studi. Luas tangkapan air dari sungai Gilirang adalah 518 km 2 sampai di muara, sedang luas tangkapan air sampai pada stasiun pemgukur muka air Gilirang adalah 230 km 2 .

Potensi Air Tanah – Kendati ketersediaan air tanah sedikit, banyak rumah tinggal dan usaha-usaha yang memakai sumur air tanah dangkal yang biasanya mempnyai kedalaman kurang dari 10 meter serta seringkali tercemar oleh drainase permukaan, untuk menyokong pasokan air PDAM atau bahkan untuk menggantikan pasokan air dari PDAM. Untuk menggambarkan potensi air tanah di Areal Studi, areal penyebaran air tanah dibagi menjadi 10 wilayah sebagaimana yang telah diuraikan di Laporan Utama.

Kualitas Air – Kesimpulan utama dari studi kualitas air tanah ditunjukkan sebagai berikut, bahwa:

Pada umumnya, lebih dari 25 tahun yang lalu, air Danau Tempe dan sungai-sungai disekelilingnya sangat sesuai untuk dipakai bagi produksi-produksi perikanan, pertanian dan irigasi.;

S - 6

Sungai-sungai mengandung suspensi padat, unsur-unsur organis dan total nitrogen yang tinggi kecuali di bagian hulu, kondisi demikian menunjukkan bahwa sebagian besar material ini berasal dari wilayah permukiman, dimana sungai-sungai dipergunakan sebagai tempet pembuangan sampah baku, limbah padat atau cair dari penduduk setempat. Danau Buaya lebih jernih dibandingkan yang lainnya dan hanya disinilah macropyte ditemukan dalam jumlah yang melimpah; Air Sumur, sampel tahun 1996 menunjukkan air sumur sesuai untuk air minum, tetapi untuk air sungai tidak sesuai yang disebabkan oleh tingginya konsentrasi besi dan adanya bakteri dari limbah rumah tangga.

Sistem Pengukuran Air – Jumlah total dari stasiun hujan yang dipakai untuk analisa adalah 45 stasiun hujan, data muka air dikumpulkan dari 15 stasiun muka air dan iklim dari 6 stasiun klimatologi.

  • 4 KONDISI LINGKUNGAN

    • 4.1 Penyusunan Perundang-undangan Lingkungan Indonesia Komitmen Pemerintah Indonesia terhadap masalah lingkungan ditunjukkan dengan disusunnya kementerian lingkungan yang dikenal dengan nama Kementerian Negara Pembangunan dan Pengendalian Lingkungan Hidup (PPLH) pada tahun 1977 dan menghasilkan Undang-Undang No. 4 th 1982, yang meletakkan dasar-dasar pertimbangan bagi pengelolaan lingkungan negara. Dalam kaitan dengan kepentingan operasionalnya, Undang-Undang tersebut diikuti dengan Peraturan Pemerintah No. 29 th 1986 (diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1993) tentang Penilaian Dampak Lingkungan yang lebih dikenal dengan proses regulasi AMDAL. Undang-Undang Lingkungan diperbaharui tahun 1997 (dengan Undang-Undang No. 23 th 1997) dan diikuti dengan Peraturan Pemerintah tentang AMDAL yang baru No. 27 tahun 1999. Sejak saat itu peraturan-peraturan itu merupakan perundang-undangan utama tentang kebijakan dan pengelolaan lingkungan di Indonesia.

    • 4.2 Ekologi Daratan di Daerah Studi Hutan dataran tinggi terletak pada daratan dengan ketinggian lebih dari 1.000 m dpal, yaitu di bagian tepi utara, selatan dan barat. Tanaman-tanaman asli masih terdapat di daratan di atas 1.500 m dpal, dimana tanaman berdaun jarum, maple dan oak masih bisa ditemukan. Di bagian lain, penebangan yang berlebihan pada pohon Pinus (yang dikenalkan oleh Belanda) dan pembukaan lahan untuk perkebunan komersil yang selanjutnya hanya menyisakan sedikit atau tidak sama sekali hutan dan tanah dalam

S - 7

kondisi yang rawan terhadap erosi. Hal ini berdampak buruk bagi fauna, dan fauna asli seperti Banteng, Anoa, Tarsier dan Burung Enggang Sulawesi sangat sulit dijumpai.

Pertanian lahan kering dilakukan pada lereng bukit yang lebih rendah dan di dataran rendah tanpa jaringan irigasi. Hampir semua tanaman alami telah habis dan diganti dengan tanaman yang berproduksi (coklat, kelapa, durian, nangka), jagung, dan sayuran termasuk ketela pohon, ubu jalar, cabe dan tomat. Pohon-pohon yang memproduksi kayu juga ditanam, diantaranya pohon jati. Terdapat padang rumput di bagian utara yang terbentuk ketika terjadi pembukaan lahan dan tidak ditanami dan sedikit wilayah yang berhutan dengan tanaman lontar, bambu, ara dan jenis lainnya.

Persawahan melingkupi hampir semua wilayah antara pinggiran lahan kering dan rawa-rawa di sekeliling Danau Tempe, serta wilayah yang sangat luas di bagian timur. Tanaman alami juga telah habis di wilayah ini, dan topografi wilayah ini telah mengalami pendataran dan terasering.

  • 4.3 Lingkungan dan Ekosistem Danau Tempe Danau Tempe adalah lingkungan yang bervariasi dan luar biasa, hal ini dapat dilihat pada tekanan berat yang diterimanya, baik disebabkan oleh alam maupun tingkah laku manusia. Danau ini adalah danau dataran banjir dimana pada musim hujan sungai-sungai yang bermuara padanya jauh melebihi kapasitas dari Sungai Cenranae untuk mengalirkannya ke laut, sehingga danau itu meluas dan sungai-sungai meluap menyebabkan genangan yang meluas pada lahan pertanian dan lahan yang tidak didiami. Hal ini sangat berlawanan dengan musim kemarau dimana sebagian sungai mengering dan danau menjadi berkurang baik luas maupun volumenya. Ketidakmampuan danau untuk menampung aliran pada musim hujan diperburuk oleh berkurangnya kedalaman dalam jangka panjang karena penumpukan sedimen, endapan dari penggundulan hutan di lereng bukit dan erosi dari tebing sungai. Kekeringan di musim kemarau diperburuk oleh digunakannya sejumlah besar air dari sungai di daerah hulu untuk kepentingan irigasi, terutama yang telah dibangun sejak 30 tahun terakhir. Sungai-sungai juga digunakan sebagai tempat pembuangan limbah padat dan sampah baku disebabkan kurangnya infrastruktur sanitasi. Karena itu sungai-sungai dan danau menjadi sangat tinggi kandungan bahan organiknya, proses pembusukan yang menghabiskan kandungan oksigen dalam air menyebabkan bahaya pada kehidupan di elevasi muka air yang rendah di danau (0,3 ppm pada November 2002), yang dapat menyebabkan kematian pada hewan-hewan tertentu. Oleh karena itu, ekologi dari danau yang tersisa dari kerasnya lingkungan alamiah, masih ditambah lagi dengan berbagai aktivitas manusia menjadikannya sebagai lingkungan yang tidak ramah. Kenyataan bahwa ekologi yang tersisa akan menjadi lebih menarik dan lebih

S - 8

penting, tidaklah menjamin akan menjadi langgeng bila dipandang dari tekanan-tekanan lingkungan yang sebagian besar diakibatkan perilaku manusia.

  • 4.4 Lingkungan Hidup Pemecahan masalah yang berhubungan dengan lingkungan hidup dalam DAS adalah masalah kemiskinan yang terjadi di masyarakat terutama petani-petani kecil. Ada banyak alasan penyebab kemiskinan dan yang terlihat jelas adalah kenyataan semakin terbatasnya hasil-hasil pertanian karena kurang dapat diandalkannya pasokan air sepanjang tahun di beberapa wilayah, dan produksi menjadi berkurang dan kehidupan menjadi sangat terganggu karena sebagia besar wilayah tergenang setiap tahunnya. Tujuan akhir dari proyek ini adalah untuk mengatasi permasalahan ini dengan memperbaiki pasokan air untuk irigasi pada sebagian besar wilayah dan mengurangi frekuensi serta perluasan genangan. Berdasarkan kesuksesan di beberapa tempat di Indonesia, besar kemungkinan bahwa metode ini akan dapat diterima, dengan syarat bahwa pengukuran-pengukuran yang direkomendasikan di dalam Rencana Induk diterapkan. Jika hal ini yang terjadi maka pendapatan dan kondisi kehidupan masyarakat akan dapat diperbaiki sesuai dengan proporsinya. Hal tersebut bukanlah satu-satunya keuntungan yang diberikan oleh proyek ini untuk masyarakat setempat. Bangunan sanitasi yang tetap bagi masyarakat yang tinggal di sisi sungai, seperti yang disarankan di atas, akan menghasilkan beberapa manfaat, termasuk perbaikan kesehatan dan kondisi kehidupan masyarakat, perbaikan kualitas air sungai dan danau serta meningkatkan kondisi ekologi. Akan tetapi, survei yang dilakukan proyek ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat ini tetap melakukan aktivitas membuang hajatnya di sungai meskipun sudah dibuatkan jamban di daratan, dan mempergunakan air sungai sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari termasuk untuk minum, meskipun apabila sudah disediakan air bersih dari sumur atau perpipaan. Untuk itu sangatlah penting bahwa perbaikan infrastruktur haruslah dibarengi dengan suatu program pendidikan masyarakat berkenaan dengan bahayanya sanitasi yang jelek.

    • 5 PEMANFAATAN SUMBER DAYA AIR

      • 5.1 Irigasi dan Drainase Pengembangan irigasi di Areal Studi di bawah ini saat sekarang ada yang masih berupa rencana dan sedang berlangsung pembangunannya:

Bendungan Ponre-ponre dan jaringan irigasinya seluas 4.240 ha yang berada di Kabupaten Bone akan dimulai dalam waktu dekat sebagai bagian dari proyek DISIMP yang didanai dengan pinjaman dari JBIC.

S - 9

Rehabilitasi jaringan irigasi dengan sumber air dari Sungai Sadang (dari Bendung Batang) yaitu Sadang VII, Sidenreng I & Sidenreng II, Sadang VI Baranti, Sadang VI Belawa yang semuanya termasuk dalam wilayah irigasi Sadang. Saat ini daerah hulu sungai sedang direhabilitasi dan akan diikuti dengan daerah lainnya dalam proyek DISIMP yang didanai dengan pinjaman JBEC. Bendungan Paselloreng dan Bendung Gilirang beserta jaringan irigasinya. Pelaksanaan proyek fisiknya sudah siap, rancangan detilnya sudah selesai tahun 2001, tetapi disebabkan masalah sosial yaitu relokasi pemukiman dan relokasi desa maka pembangunan bendungan Paselloreng ini ditunda. Pemerintah dan masyarakat setempat tidak mencapai kesepakatan dalam hal akuisisi tanah, kompensasi lahan pertanian, rumah dan fasilitas lainnya. Pembangunannya sendiri diharapkan dalam waktu dekat dapat dilaksanakan.

Program yang telah ada dan yang direncanakan

Sebagian dari usulan proyek irigasi yang disebutkan dalam Rencana Induk JICA (1980) telah dilaksanakan. Untuk beberapa usulan jaringan telah dilakukan rancangan detil dan atau studi kelayakan.

Proyek-Proyek Irigasi yang pekerjaan fisiknya (seperti konstruksi) telah selesai adalah sebagai berikut:

Proyek Irigasi Sanrego di Kabupaten Bone

Proyek Irigasi Langkeme di Kabupaten Soppeng

Proyek Irigasi Bila di Kabupaten Sidrap dan Wajo

Proyek-proyek irigasi dari studi tahun 1980 yang telah dilaksakan rancangan detil dan atau studi kelayakan adalah sebagai berikut:

Pengendalian Banjir Boya dan Bendungan serta Proyek Irigasi Boya

Proyek Irigasi Lawo

Proyek Irigasi Cenranae

Proyek Irigasi Gilirang

Proyek Irigasi Padangeng

Bendungan Serbaguna Walimpong (pada tahap pra-kelayakan pembangunan)

Diskusi Kelompok Terarah (FGD) yang telah dilakukan di Areal Studi memberikan hasil informasi berikut ini. Disamping disain dan pelaksanaan pembangunan yang bagus, keberhasilan dari suatu proyek tergantung pada penerimaan dari masyarakat dan petani sesudah pembangunannya. Sebagian proyek irigasi gagal mendapatkan manfaat karena desainnya hanya berdasar atas aspek teknis saja. Harus diperhatikan pula aspek-aspek yang lain seperti unsur-unsur sosiologi, lingkungan, keterlibatan masyarakat, kelembagaan dan aspek hukum.

S - 10

5.2

Kondisi Banjir, Sedimentasi dan Kekeringan

  • 5.2.1 Banjir Berdasar atas survei lapangan di sepanjang sungai-sungai di Areal Studi, daerah-daerah yang mengalami kerusakan akibat banjir atau genangan adalah 1) Daerah sekeliling Danau Tempe termasuk Danau Sidenreng dan Danau Buaya 2) Bagian hilir Sungai Bila termasuk sisi kanan Sungai Boya dan bagian hilir dari Sungai Lancirang 3) Bagian hilir Sungai Walanae termasuk bagian hilir Sungai Belo dan Lawo pada kedua sisi Sungai Cenranae. Suatu banjir yang terbesar yang masih diingat oleh masyarakat setempat adalah banjir yang terjadi bulan Mei 2002 dan perkiraan kerugiannya ditaksir sekitar 130 milyar rupiah.

  • 5.2.2 Sedimentasi

(1)

Danau Tempe

Perhitungan keseimbangan sedimentasi tahunan Danau Tempe ditunjukkan sebagai berikut: Jumlah sedimen yang diendapkan di Danau Tempe diperkirakan 600.000 m 3 /th pada tahun 1974, 519.000 m 3 /th pada tahun 1997 (berdasar data 20 tahun) dan 742.642 m 3 /th, dan angka rerata sedimentasinya adalah 0,3 cm/th (1974); 0,37 cm/th (1996) dan 0,38 cm/th (2002). Sedimen cenderung untuk mengumpul di wilayah delta sungai dan tidak tersebar merata di wilayah danau seperti yang ditunjukkan oleh suatu gambar. Secara alami nilai berkumpulnya sedimen ini tidaklah terlalu besar bagi DAS, akan tetapi direkomendasikan untuk melakukan perbaikan-perbaikan bagi pengendalian sedimen.

(2)

Sungai Cenranae (perbaikan secara alami)

Selama survey danau tahun 1997 telah dipelajari bahwa volume sedimen yang perlu dipindahkan dari Sungai Cenranae di bawah Danau Tempe adalah lebih dari 3 milyar m 3 . Dengan cara perhitungan yang sama, dengan menggunakan hasil survey topografi yang dilaksanakan selama proyek WalCenMP 2003 menunjukkan bahwa volume yang perlu dikeruk telah berkurang sampai 100.000 m 3 . Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perpindahan sedimen dari bagian hilir dari Danau Tempe, yaitu Sungai Cenranae. Dugaan yang muncul adalah bahwa sedimen tersebut telah berpindah selama banjir besar yang terjadi setiap tahun sejak tahun 1997. Perpindahan sejumlah besar sedimen di hilir ini telah memperlebar penampang-lintang sungai dan karenanya meningkatkan koefisien aliran dari Danau Tempe. Perhitungan awal menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas aliran pada penampang-lintang bagian hilir danau telah mempengaruhi muka air di danau. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian jumlah air yang keluar dari danau sangat dibutuhkan agar ketinggian muka danau masih tersisa seperti di masa-masa lampau.

S - 11

Pengendalian muka danau ini juga dapat memberikan keuntungan yang besar di bidang perikanan dan pengembangan pertanian di danau.

  • 5.2.3 Kondisi Kekeringan Berdasarkan hasil Diskusi Kelompok Terarah (FGD) yang dilaksanakan di Studi ini, permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh kekeringan adalah sebagai berikut :

Saat musim kemarau intrusi air asin mencapai tempat yang jauhnya 15 km dari muara Sungai Cenranae dan air sungai yang terkena intrusi ini tak dapat dimanfaatkan sebagai sumber air tawar oleh penduduk setempat. Keadaan in terjadi di Kabupaten Bone tepatnya di Kecamatan Cenranae. Jaringan-jaringan irigasi baik sawah irigasi maupun sawah tadah hujan tidak mendapatkan pasokan air yang dibutuhkan selama kondisi kekeringan. Hal ini mengakibatkan menurunnya hasil panen tahunan terlebih bila periode ini semakin panjang. Selama musim kemarau pada beberapa tempat seperti Kecamatan Cenranae di Kabupaten Bone terjadi peningkatan serangan penyakit endemik seperti diare, penyakit kulit dan lainnya. Diyakini bahwa hal ini disebabkan memburuknya kualitas air selama musim kemarau dan terlebih lagi pada saat kekeringan panjang terjadi. Air Tanah dan ketersediaan air di sungai-sungai menurun selama masa kekeringan. Hal ini menyebabkan bertambahnya beban untuk pemurnian air dan sistem perpipaan masyarakat terutama di Kabupaten Bone. Muka air tanah di wilayah-wilayah dengan elevasi yang lebih tinggi seperti wilayah berbukit di Kabupaten Bone mengalami penurunan sampai pada kondisi dimana penduduk setempat tidak mungkin lagi untuk mendapatkan air dari sumur-sumur mereka. Gangguan transportasi sungai terjadi bila muka air sungai mengalami penurunan dan perahu-perahu baik yang bermotor maupun tidak mengalami kesulitan beroperasi di sungai ini. Pada saat sekarang kesulitan transportasi sungai terjadi pada musim kemarau. Dan hal ini akan kelihatan lebih nyata lagi bila musim kekeringan panjang terjadi.

  • 5.3 Penyediaan Air Bersih Data Kependudukan – Jumlah penduduk di Daerah Sasaran pada akhir tahun 2001 adalah 1.251.550 jiwa, terdiri atas 592.200 laki-laki dan 659.350 wanita dan kepadatan penduduk

    • di Daerah Sasaran adalah 118,4 jiwa/km 2 . Penduduk di Daerah Sasaran terutama tinggal

    • di kota-kota kabupaten dan persentase permukiman di Areal Studi adalah sebesar 2 %

dari luas keseluruhan. Pertambahan penduduk di 6 kabupaten adalah 0,51 %/th. 3

kabupaten (Sidrap, Wajo, Soppeng) pertambahan penduduknya adalah yang paling

S - 12

rendah. Bahkan pertumbuhan penduduk di Soppeng adalah minus. Angka pertumbuhan penduduk di masa mendatang diproyeksikan sebesar 0,5 %/th.

Kebutuhan Air untuk Industri – Industri-industri besar di Daerah Sasaran adalah: industri gas alam yang menggunakan air dari Sungai Cenranae kurang lebih 100 l/detik dan industri air minum kemasan di mata air Ompo yang menggunakan air kurang lebih 15 m 3 setiap harinya. Kebutuhan air untuk industri lainnya di Daerah Sasaran saat ini bisa dikatakan masih kecil.

  • 5.4 Evaluasi Potensi Sumber Daya Air Ketersediaan air potensial di Areal Studi dianalisa berdasarkan 11 sub DAS dengan dasar perhitungan periode setengah bulanan. Perhitungan keseimbangan air telah dilakukan untuk kondisi saat ini (2001) dan untuk kondisi mendatang (2028). Untuk menunjukkan potensi masa mendatang maka dimasukkan juga pembangunan-pembangunan skala besar seperti Bendungan Walimpong, Bendungan Boya, Bendungan Lejja, Bendungan Lawo, Bendungan Padangeng, Bendungan Torereh dan Bendung Gerak Tempe, dan telah diperimbangkan pula pengaruh-pengaruh kapasitas tampungan dan kehilangan karena evaporasi. Semua kebutuhan air yang signifikan seperti lingkungan sungai dan air untuk perawatan sungai (maintenance flow), penyediaan air bersih perkotaan, dan kolam-kolam perikanan juga telah dipertimbangkan. Hujan rerata tahunan, evaporasi + transpirasi dan run off di Areal Studi adalah 2.300 mm, 1.050 mm dan 1.250 mm. Perhitungan ketersediaan air potensial di Areal Studi adalah sekitar 9,98 milyar m 3 /th. Perhitungan terinci dari ketersediaan air potensial untuk masing-masing distrik air dengan periode setengah bulanan dapat dilihat pada laporan utama. Kondisi Penggunaan Air Saat Ini – Irigasi sejauh ini merupakan bidang yang paling signifikan dalam menggunakan air yaitu sekitar 82% dari total penggunaan air di Areal Studi atau dibutuhkan sekitar 1,36 milyar kubik pada tahun 2001. Penggunaan air untuk penyediaan air baku adalah sekitar 8,4% dan untuk kolam- kolam perikanan adalah sekitar 8,1%. Kebutuhan air untuk perawatan sungai telah diperhitungkan dan mencapai sekitar 17% dari potensi ketersediaan air. Kondisi Penggunaan Air Masa Mendatang – Beberapa faktor yang dipakai untuk perhitungan kebutuhan air di masa mendatang adalah sebagai berikut:

Sistem-sistem irigasi yang termasuk dalam rencana pengembangan yang akan dikembangkan dari kondisi sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi teknis.

S - 13

Intensitas penanaman diharapkan menjadi 230% sampai 280% setiap tahunnya. Kebutuhan air untuk setiap jaringan irigasi telah mempertimbangkan persentase dari intensitas penanaman ini. Areal sistem irigasi desa tidak akan mengalami peningkatan dan intensitas tanamnya tidak akan melebihi 200% setiap tahunnya. Peningkatan intensitas tanam ini akan dicapai lewat peningkatan aktivitas dan rehabilitasi pertanian jaringan irigasi desa melalui program peningkatan kemampuan para petani. Perhitungan kebutuhan air masa mendatang untuk keperluan air baku, telah mempertimbangkan angka pertumbuhan penduduk dan proyeksi pertumbuhan industri. Di sektor perikanan, kebutuhan air masa mendatang telah mempertimbangkan perluasan area untuk perikanan air tawar dan tambak.

Keseimbangan Air Saat Ini dan Mendatang – Keseimbangan air di Areal Studi adalah berdasarkan persediaan dan kebutuhan rerata tahunan dengan dasar setengah bulanan dan menunjukkan tak ada kekurangan yang serius pada masing-masing distrik air untuk sekarang dan masa mendatang pada tahun 2028. Akan tetapi hasil ini tidak berarti bahwa tidak ada kekurangan air yang akan dialami yang disebabkan distribusi hujan musiman dan fluktuasi spasial jangka panjang. Penggunaan air masa mendatang untuk sistem Danau Tempe adalah sekitar 93% dari total potensi yang ada di sistem tersebut. Ilustrasi ini menunjukkan perlunya pengendalian keluaran Danau Tempe melalui pembangunan Bendung Gerak Tempe di masa mendatang.

5.5

Perikanan

  • 5.5.1 Kondisi Umum Perikanan di Areal Studi Data menunjukkan bahwa ada sekitar 6.567 kk yang bekerja di bidang perikanan (yang terdiri atas 1.875 kk di sektor perikanan laut, 3.275 di sektor perikanan danau dan 1.417 di sektor perikanan rawa/sungai) dan 7.845 kk yang bekerja di bidang budidaya perikanan (terdiri atas 2.300 kk di sektor budidaya tambak, 971 kk di sektor budidaya perikanan air tawar dan 4.574 kk di sektor mina padi). Keseluruhan kepala keluarga yang bekerja di bidang perikanan di Daerah Sasaran adalah 60,8% dari keseluruhan kepala keluarga perikanan yang ada di 6 kabupaten atau sekitar 15,84% dari seluruh masyarakat perikanan Provinsi Sulawesi Selatan. Keseluruhan areal untuk perikanan di Daerah Sasaran, tidak termasuk perikanan laut, terdiri atas 14.869 ha danau, 9.604 ha rawa-rawa dan 2.165 ha sungai. Areal perikanan danau dimiliki oleh 3 kabupaten yaitu Wajo, Soppeng dan Sidrap dengan luas masing-masing 8.973 ha, 3.000 ha dan 1.067 ha, sedangkan perikanan di daerah sungai didapati di semua kabupaten di Daerah Sasaran.

S - 14

Tiga jenis sumber perikanan yang dieksploitasi di perairan daratan adalah ikan, yang menempati jumlah terbesar, diikuti oleh udang air tawar dan kerang-kerangan. Ada sedikitnya 20 spesies dari ikan/kerang-kerangan yang hidup di danau dan perairan lainnya.

Perikanan air tawar terdiri atas perikanan danau, sungai dan rawa dan budidaya ikan (kolam air tawar, mina padi dan budidaya kolam air deras). Diantara jenis-jenis aktivitas perikanan air tawar, perikanan danau menempati urutan teratas dengan produksi sekitar 17.714 ton yang merupakan 100% total produksi perikanan danau di Sulawesi Selatan.

  • 5.5.2 Perikanan di Danau Tempe

(1)

Kualitas Air Danau Tempe

Kualitas air di danau dan daerah sekitarnya telah banyak diukur sebelumnya. Pada umumnya kualitas air di DAS Danau Tempe layak untuk perikanan terutama untuk budidaya perikanan air tawar, terkecuali bila terdapat logam berat seperti timbal (Pb), seng (Zn), magnesium (Mg) dan besi (Fe). Konsentrasi tinggi dari logam-logam berat tersebut dapat meracuni beragam kelompok organisma. Konsentrasi dari timbal (Pb), seng (Zn), magnesium (Mg) dan besi (Fe) di Danau Tempe lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi ideal yang dibutuhkan untuk budidaya ikan.

(2)

Kondisi Perikanan Danau Tempe Saat Ini

1) KK Nelayan

Menurut Dinas Perikanan Provinsi, pada tahun 2002 Danau Tempe mempunyai 2.742 kk nelayan (sekitar 10.000 nelayan), terdiri atas 1.758 kk dari Wajo, 376 dari Sidrap dan 608 dari Soppeng. Total jumlah kk nelayan cenderung mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir dan yang telah diamati penurunannya sekitar 14%.

2) Metode dan Peralatan Penangkap Perikanan

Berdasarkan metode perikanan, peralatan penangkap yang dipakai para nelayan di Danau Tempe dikelompokkan dalam 4 kategori:

Jaring Insang (jaring insang set, jaring insang apung, jaring insang dasar, dll.) Perangkap (perangkap pot, penghalang halau, perangkap berpindah, dll.) Pancing dan Tali (tali tangan, pancing gulung, pancing dasar, tali panjang, dll.) Lainnya (jaring lempar, jaring tekan, jaring skop, jaring angkat berpindah, dll)

S - 15

Dilaporkan bahwa lebih dari 20 metode penangkapan ikan dapat dijumpai di Danau Tempe, termasuk juga didalamnya 2 macam peralatan penangkapan ikan tradional yaitu Bungka Toddo dan Pallawang, dan juga metode penangkapan ikan yang dilarang seperti penggunaan aliran listrik dan insektisida/pestisida.

Bungka Toddo menggunakan tanaman terapung seperti Eceng Gondok (Eichornia sp.). Bila air danau surut, Bungka Toddo akan turun di dasar danau. Perangkap yang terbuat dari bilah bambu yang diikat erat bersama-sama, akan merapat di dasar danau sehingga ikan-ikan yang berada di bawahnya tidak dapat lolos. Sebelum pengambilan ikan Bungka Toddo harus diangkat dulu dari perangkap tersebut. Sebagian nelayan menggunakan jaring insang sebagai perangkap disekeliling Bungka Toddo. Musim, lokasi penempatan, luasan, jarak dan bagi hasil menggunakan Bungka Toddo diatur oleh Pemerintah Kabupaten.

Pallawang terletak di pinggiran danau (pantai danau) dengan areal yang dibatasi untuk pengambilan ikan. Sebagian dimiliki oleh pemerintah kabupaten dan sebagian dimiliki oleh individu-individu (Ongko). Pallawang kepunyaan pemerintah kabupaten dipakai sebagai cara pengumpulan pajak melalui pelelangan diantara pemilik modal yang tinggal disekitar danau. Dimulainya pengoperasian dan pengendalian Pallawang ketika muka air naik dan mempunyai kedalaman 1,25 m dibawah puncak pagar Pallawang, tapi ketika muka air lebih naik lagi dan mencapai ketinggian 30 cm di atas pagar, maka batas dari Pallawang disepakati tidak ada lagi dan setiap nelayan diperbolehkan untuk menangkap ikan di dalam areal Pallawang.

(3)

Tempat dan Musim Penangkapan Ikan

Air Danau Tempe dibagi menjadi dua wilayah, yaitu wilayah penangkapan bebas dan wilayah Pallawang. Wilayah penangkapan bebas adalah wilayah dimana setiap nelayan boleh menangkap ikan dengan bebas, sedangkan Pallawang adalah wilayah yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten atau individu dan penangkapan di wilayah ini dilarang kecuali nelayan-nelayan yang mempunyai hak khusus. Periode kepemilikan dan praktek penangkapan diatur oleh pemerintah kabupaten. Wilayah Pallawang terletak pada wilayah dengan kedalaman air dangkal di sekeliling danau.

(4)

Produksi Perikanan

Produksi perikanan Danau Tempe didukung oleh tiga jenis organisma akuatis seperti: ikan, udang-udangan dan kerang-kerangan, dimana masing-masing produksinya pada tahun 2001 adalah 17.398 ton, 416 ton dan 30 ton.

Produksi rata-rata selama 20 tahun terakhir adalah 17.968 ton/th. Data 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa produksi perikanan Danau Tempe cukup stabil

S - 16

dengan kisaran angka antara 15.000 ton sampai 20.000 ton. Perhitungan panen langsung adalah 1.500 – 2.000 kg/ha/th.

(5)

Nilai Produksi

Menurut Dinas Perikanan Provinsi (2002), bahwa nilai produksi perikanan Danau Tempe pada tiga kabupaten pada tahun 2001 mencapai 74,24 milyar rupiah, terdiri atas 46,86 milyar rupiah (62,85%) untuk kabupaten Wajo, 3,15 milyar rupiah (4,24%) untuk Kabupaten Sidrap dan 24,43 milyar rupiah (32,91%) untuk Kabupaten Soppeng.

  • 6 PEMANFAATAN SUMBER DAYA LAHAN

    • 6.1 Kehutanan dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

      • 6.1.1 Kondisi Umum Areal Kehutanan (1)

Areal Hutan Berdasarkan Fungsi Hutan

Berdasarkan Peta Kompilasi Informasi Penggunaan Lahan 2002, kurang lebih 1.198 km 2 atau 15% luasan Areal Studi tertutup oleh areal hutan. Sebaliknya data yang diperoleh dari Departemen Kehutanan menunjukkan bahwa di 6 kabupaten terdapat lebih kurang 2.410 km 2 areal hutan, akan tetapi luasan tersebut termasuk juga areal hutan yang terletak di luar Areal Studi WalCenMP. Areal hutan yang tercatat dan areal hutan sebenarnya di lapangan tentulah sangat berbeda.

Berdasarkan fungsinya areal hutan dapat dibedakan menjadi 4 kategori. Berikut ini disajikan klasifikasi tersebut di 6 kabupaten:

Areal Hutan Berdasarkan Fungsinya di Areal Studi (ha):

Kabupaten

Porsi di

Areal Studi

Hutan

Lindung

Hutan

Produksi

Hutan

Produksi

Cagar

Alam/Hutan

Total

Terbatas

Wisata

Maros

51.900

 

6.073

  • 10.480 6.441

7.174

 

30.168

Bone

250.900

  • 17.161 1.045

    • 59.289 3.971

81.467

Soppeng

134.500

  • 34.865 1.201

    • 10.505 -

46.570

Enrekang

63.400

1.081

  • 37.363 -

-

38.444

Wajo

148.900

-

-

13.153

 

-

13.153

Sidrap

119.100

 

31.155

20.090

11.064

-

 

-

Total

768.700

119.959

88.012

24.298

8.687

240.956

Source:

Harmonization Map between Forest Function Agreement (TGHK) and Regional Spatial Plan of South Sulawesi Province. 1999

(2)

Perladangan Berpindah

Jumlah peladang berpindah di 6 kabupaten adalah sekitar 24.900 jiwa atau 5.000 kk. Perladangan berpindah ini dapat dikurangi atau dihilangkan dengan meningkatkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Lahan-lahan kritis dimana telah dilakukan perladangan berpindah dapat dirubah menjadi lahan yang lebih cocok untuk

S - 17

pertanian yang sesuai. Salah satu sistem bercocok tanam yang tepat untuk merehabilitasi kerusakan lahan tersebut adalah sistem agro-forestry. Sistem ini dianjurkan karena memadukan penanaman pepohonan, pertanian dan peternakan diselingi dengan penanaman tanaman multi fungsi (MPTS) untuk meningkatkan kesuburan tanah.

(3)

Reboisasi dan Penanaman Hutan

Keberhasilan dari program reboisasi dan penanaman hutan hampir sepenuhnya tergantung pada partisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat harus dilibatkan pada setiap tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pendekatan partisipatif oleh masyarakat yang dibantu oleh lembaga desa harus menjadi priroritas utama dalam kegiatan reboisasi dan penanaman hutan di masa-masa mendatang.

(4)

Areal Hutan Berdasar Fungsi yang dipakai untuk Penggunaan Lain

  • Di Kabupaten Maros sekitar 17.765 ha hutan dilaporkan telah digunakan untuk

kepentingan yang lain. Yang paling luas adalah sebagai padang rumput (15.251 ha) diikuti oleh kebun dan perkebunan (1.343 ha) dan dipakai untuk perladangan (645

ha).

  • Di Kabupaten Bone penggunaan hutan untuk kepentingan lain yang paling luas

adalah untuk padang rumput (34.315 ha), untuk perladangan (21.554 ha), untuk kebun atau perkebunan (3.688 ha) dan sisanya untuk sawah dan permukiman.

  • Di Kabupaten Soppeng luasan hutan yang dipakai untuk penggunaan lain adalah

15.595 ha. Penggunaan yang terluas adalah untuk padang rumput (11.141 ha),

perladangan (3.671 ha) dan sisanya dimanfaatkan untuk sawah dan permukiman.

  • Di Kabupaten Wajo luasan hutan yang dipakai untuk kepentingan lainnya adalah

seluas 9.854 ha. Yang terluas adalah untuk padang rumput (3.359 ha), untuk kebun

atau perkebunan (3.068 ha), perladangan (3.052 ha) dan sisanya digunakan untuk permukiman.

  • Di Kabupaten Sidrap areal hutan yang dipakai untuk kepentingan lain adalah seluas

8.608 ha, dengan penggunaan sebagai padang rumput adalah yang terluas (5.894

ha) dan lainnya untuk kebun/perkebunan atau untuk perladangan.

S - 18

6.2

Pertanian

  • 6.2.1 Pertanian Saat Ini Produksi padi sampai saat ini adalah aktivitas yang paling penting untuk sub sektor tanaman pertanian baik di provinsi maupun di tingkat kabupaten di Areal Studi dengan luasan 69% dan 77% dari keseluruhan areal yang ditanami dengan tanaman pangan (tidak termasuk sayuran) pada tahun 2001 seperti yang disarikan tabel di bawah ini:

Proporsi Areal Penanaman Tanaman Pangan th 2001 di Provinsi dan Kabupaten Proyek (%)

Provinsi

 

Padi

Jagung

Kacang

Singkong

Lainnya

Total

Hijau

1/

Provinsi

69

21

 
  • 3 3

4

100

Kabupaten Proyek

77

13

 
  • 4 1

5

100

% dari Provinsi Total 2/

44

25

59

20

45

40

1/: termasuk kedelai, kacang tanah dan ubi jalar 2/: Perbandingan areal penanaman di Kabupaten Proyek dengan total areal penanaman di provinsi

Tanaman pangan yang terpenting setelah padi adalah jagung dengan nilai luasan 13% untuk provinsi dan 21% untuk Kabupaten Proyek dari keseluruhan areal yang ditanami, diikuti oleh kacang hijau. Kedelai dan kacang tanah terutama ditanam di areal sawah di Kabupaten-Kabupaten Proyek tetapi tetap saja luasannya terbatas. Kabupaten-Kabupaten Proyek memberikan hasil hampir setengah dari hasil provinsi untuk tanaman pangan seperti padi, kacang hijau dan tanaman pangan lainnya (kacang kedelai 57% dan kacang tanah 47%). Hal ini memberikan arti bahwa Kabupaten-Kabupaten Proyek telah berperan sebagai basis produksi tanaman pangan di Provinsi Sulawesi Selatan terutama beras.

Diantara Kabupaten Proyek Sidrap, Wajo dan Bone dapat disebut sebagai kabupaten penghasil padi terbanyak di provinsi dengan luasan masing-masing 8%, 13% dan 14% dari keseluruhan areal penanaman di provinsi. Dengan cara yang sama Bone dapat disebut sebagai penghasil besar untuk jagung, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang hijau. Wajo dapat disebut sebagai wilayah penghasil besar untuk kacang tanah, kacang kedelai dan kacang hijau. Soppeng dapat dicatat sebagai wilayah yang banyak menghasilkan kacang tanah.

(1) Pola Tanam

Produksi tanaman pangan di Daerah Sasaran terutama dilakukan di tanah sawah dan produksi untuk tanaman pangan yang sama yang ditanam di ladang luasannya lebih sempit. Pola tanam tanaman pangan yang diterapkan di Kabupaten-Kabupaten Proyek disarikan sebagai berikut:

S - 19

1)

Sawah Irigasi

Pola tanam di areal sawah irigasi pada dasarnya tergantung dari ketersediaan air untuk irigasi pada musim tanam pertama dan kedua sebagai berikut:

Kondisi Penyediaan Air Irigasi

Pola yang

Pola Sekunder

Diterapkan

Sawah dengan penyediaan air yang cukup untuk musim tanam pertama

Padi-Padi

Padi-palawija-padi

dan kedua

Sawah dengan penyediaan air hanya

Padi – padi

Padi – palawija

cukup untuk musim tanam pertama saja

Padi – bero

Seperti ditunjukkan di tabel, para petani cenderung lebih menyukai pola penanaman padi-padi meskipun apabila persediaan air irigasi untuk musim yang kedua tidak dijamin oleh petugas pelayanan irigasi, para petani mengharapkan cukup air hujan pada musim tersebut dan mereka cenderung untuk untung-untungan. Penanaman palawija pada periode diantara 2 musim itu tetap terbatas, tetapi di wilayah jaringan irigasi di Kabupaten Soppeng penanaman palawija dengan irigasi (saluran atau pompa) pada periode ini semakin meluas.

2)

Panen

Tingkat keberhasilan panenan tanaman pangan di Daerah Sasaran dihitung dari luas wilayah panen dengan volume produksi, seperti yang disebutkan dalam statistik disarikan pada tabel di bawah ini:.

Produksi Tanaman Pangan di Daerah Sasaran 1/

 

Satuan Hasil (ton/ha)

 

Tanaman

 

Rerata

Kisaran

Padi (KG kotor)

 

5,2

5,0 – 5,6

Jagung (butir)

 

2,9

2,6 – 3,0

Kacang Hijau (butir)

 

1,2

1,2 – 1,3

Kedelai (butir)

 

1,5

1,2 – 1,7

 

1,3

1,3 – 1,4

Kacang Tanah (tanpa kulit) 1/: Rerata th 1997 sampai 2001

 

Rerata produksi padi di Daerah Sasaran dihitung pada 5,2 ton/ha, secara substansi lebih tinggi dari hasil provinsi yang sebesar 4,4 ton/th. Tingkat produksi padi lebih tinggi di wilayah kabupaten dengan perbandingan areal sawah irigasi dan total sawahnya tinggi (Sidrap, Soppeng dan Maros) dan tingkat produksi itu sama atau lebih rendah pada daerah-daerah dengan perbandingan sawah irigasi dan total sawahnya rendah.

S - 20

Akan tetapi, seperti yang tertulis di statistik tingkat produksi ini terkadang lebih tinggi dari yang ditemukan oleh tim survei M/P, yaitu laporan yang didapat dari wawancara dengan petani-petani ketika dilakukan Survei Dasar Sosial (SBS) dan informasi yang diperoleh dari badan-badan pertanian. Dari informasi semacam itu, tingkat produksi padi berdasar kategori penggunaan lahannya dapat dihitung seperti yang ditunjukkan tabel di bawah ini:

Perhitungan Tingkat Produksi Langsung Padi di Daerah Sasaran

Kategori Penggunaan Lahan

Musim Tanam Pertama (musim hujan)

Musim Tanam Kedua (musim kemarau)

Sawah Irigasi

 

4,5 – 5,5 ton/ha

5,0 – 6,0 ton/ha

Sawah Tadah Hujan

2,0 – 4,0 ton/ha

2,0 – 3,0 ton/ha

7

PERMASALAHAN DAN KENDALA DALAM PENGEMBANGAN, KONSERVASI DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI WALANAE-CENRANAE

  • 7.1 Identifikasi Permasalahan dan Kendala Lewat Studi Identifikasi permasalahan dan kendala lewat Studi ini, termasuk yang diungkapkan oleh berbagai stakeholder disajikan di bawah ini berdasarkan masing-masing sektor.

    • 7.1.1 Permasalahan dan Kendala pada Lingkungan (1)

Lingkungan Fisik

Permasalahan utama yang berkaitan dengan lingkungan fisik DAS adalah kapasitas danau yang tidak mencukupi untuk menampung jumlah air yang masuk di waktu musim penghujan, sehingga permukaan danau meluas dan air mengalami arus balik ke sungai lagi dan melampaui tebing sungai. Kejadian banjir itu makin diperburuk dengan pengendapan secara pertahap di danau, yang telah mengurangi kedalaman danau dan membatasi kemampuannya untuk menghalangi air banjir. Hal tersebut penting diperhatikan, karena hal yang sama akan terjadi yaitu danau akan meluas secara bertahap apabila Bendung Gerak Tempe telah selesai dibangun. Pengendapan danau disebabkan karena erosi tebing sungai, tetapi yang utama adalah perpindahan tanah dari hulu, dimana telah mengalami penggundulan yang berlebih, menyebabkan tumbuhnya rumput dan semak-semak dengan sistem perakaran yang dangkal yang tidak bisa mengikat dan melindungi tanah secara efektif.

S - 21

(2)

Sumber Daya Air dan Kualitas Air

Permasalahan utama pada sumber daya air di DAS adalah tersedianya air hanya dalam jumlah yang sedikit di musim kemarau untuk mendukung kebutuhan air bagi irigasi dan pemeliharaan ekologi danau yang sehat, dan terlalu banyaknya air di musim hujan yang menyebabkan genangan yang luas, kehilangan dan kerusakan rumah, infrastruktur dan produksi pertanian. Kualitas air danau juga memburuk disebabkan konsentrasi air di musim kemarau, akan tetapi penyebab yang lebih serius bagi memburuknya kualitas air di danau itu adalah kandungan bahan organis yang melimpah, yang mengakibatkan berkurangnya persediaan oksigen terlarut karena proses pembusukan material organis tersebut. Sumber-sumber utama dari material-material tersebut adalah dari masyarakat yang tinggal di tepian sungai, yang membuang hajat, menguras toilet dan membuang limbah cairnya ke sungai, disebabkan kurangnya struktur sanitasi. Mereka juga menggunakan sungai untuk tempat pembuangan limbah padat karena mereka tidak mempunyai sistem dan tempat penimbunan limbah.

(3)

Ekosistem Danau Tempe

Dari uraian tentang lingkungan dan ekosistem Danau Tempe di atas, jelaslah bahwa ekologi danau juga menjadi kepentingan internasional, meski begitu penduduk lokal masih tetap bisa bertahan walaupun tekanan lingkungan yang hebat dialaminya. Sumber-sumber tekanan itu termasuk:

Terbatasnya volume air di danau pada musim kemarau, yang menyebabkan kematian dari sebagian binatang, ikan dan tanaman dan dibutuhkannya hal-hal lain untuk bertahan hidup di wilayah yang sangat terbatas tersebut;

Kualitas air danau yang jelek karena pembusukan dari material organis mengurangi jumlah oksigen terlarut sehingga membahayakan kehidupan di bagian bawah danau yang bisa menyebabkan kematian ikan dan binatang lainnya;

Berkurangnya pepohonan dan tanaman lainnya pada tepian danau, yang pada kondisi normal mejadi habitat bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan muda, yang saat ini hanya terdapat pada Bungka yang digunakan memikat dan menangkap ikan;

Berkurangnya areal untuk berkembang biak dan bertenggernya burung-burung yang biasanya disediakan oleh pepohonan di tepian danau dan sekarang hanya terdapat di Bungka saja.

(4)

Ekologi Daratan

Masalah utama dengan ekologi daratan adalah penurunan keanekaragaman hayati. Sebagian besar tanaman alami telah hilang, tempat tinggal spesies tertentu juga hilang dan wilayah-wilayah yang dulunya kaya dengan flora dan fauna sekarang telah dirubah menjadi lahan buatan manusia yang didominasi oleh lahan pertanian.

S - 22

7.1.2

Permasalahan dan Kendala pada Jasa-Jasa Penyediaan Air Bersih (1) PDAM

(2)

Bahkan sampai sekarang pergiliran distribusi air oleh PDAM masih berlangsung. PDAM menghentikan operasionalnya dua hari dalam satu minggu disebabkan tidak efisiennya kapasitas pompa. Kapasitas pompa yang sekarang tidak mencukupi tekanannya secara minimum yang dibutuhkan (contoh – Soppeng). Tidak efisiennya pembagian air oleh PDAM karena tingginya nilai kehilangan air yaitu sekitar 44% (Soppeng). Kapasitas sumur pompa dalam kurang mencukupi dari yang dibutuhkan (Pangkajene, Sengkang). Kebutuhan air potensial untuk perluasan sistem distribusinya bagi pengembangan kota baru sampai sekarang belum diverifikasi (Pangkajene). Kapasitas instalasi pengolahan air tidak dioperasikan sebagaimana mestinya (Sengkang). Kualitas air baku pada musim kemarau menjadi sangat jelek (Sengkang).

IKK dan Lainnya

Instalasi Pengolahan Air yang ada yang dibangun saat program IKK dan IKD, kondisi saat ini menghadapi berbagai kendala, seperti tidak normalnya kondisi Saringan Pasir Cepat (RFS) dan keterbatasan pipa transmisi dan distribusi. Sebagian wilayah di Areal Studi adalah wilayah berbukit dan mengalami masalah kekurangan air, demikian juga halnya dengan wilayah hilir Sungai Cenranae.

  • 7.1.3 Permasalahan dan Kendala pada Sub-Sektor Irigasi Terjadi distribusi air yang kurang merata diantara Kabupaten-Kabupaten. Wilayah hulu lebih banyak mendapat air daripada wilayah hilir. Sebagian besar wilayah hilir dan sedikit wilayah hulu menghadapi masalah sedikitnya air untuk irigasi. Berikut ini adalah penyebab-penyebab khusus untuk masalah tersebut:

    • - Distribusi dari pintu air pada bangunan pembagi atau pada salurannya tidak sesuai dengan kebutuhannya karena tidak mencukupinya kapasitas aliran.

    • - Air di saluran utama dan sekunder telah dipompa untuk irigasi tanpa ijin di wilayah hilir.

    • - Terdapat kerusakan bangunan, saluran dan pintu air yang menyebabkan banyaknya kehilangan air.

    • - Jalan-jalan inspeksi mengalami kerusakan dan belum diperbaiki.

    • - Saluran tersier tidak dibangun pada sebagian wilayah. Kesadaran petani untuk membangun saluran tersier dan kuarter masih sedikit.

    • - Meskipun tingkat sedimentasi di saluran dan bangunan cukup tinggi, pemeliharaan

S - 23

dan pengerukan tidak dilakukan karena terbentur kekurangan dana.

  • - PPA tidak mampu mengumpulkan iuran penggunan air irigasi yang berhubungan dengan operasional dan pemeliharaan jaringan yang ada (sebagian alasannya adalah semenjak pengalihan Otonomi ke kabupaten, dana operasional dan pemeliharaan untuk areal irigasi dari pemerintah pusat tidak ada lagi. Dulunya WUA mengatur dana iuran air sendiri sebelum dimulainya otonomi daerah, sekarang iuran itu dibayarkan ke pemerintah kabupaten dan WUA hanyalah sebagai pengumpul iuran saja.

  • - Jumlah air di bangunan utama (penampung) tidak mencukupi untuk kebutuhan tanaman sebagaimana yang telah direncanakan dengan pola tanam.

  • - Tidak efisiennya penggunaan air karena kekurang pengetahuan petani tentang pola tanam – Kebingungan petani karena perbedaan ramalan hujan pertama oleh para peramal, masyarakat dan petugas. Sebagai hasilnya, para petani seringkali tidak menanam dalam waktu yang bersamaan dan menanam tanpa melakukan koordinasi yang bagus yang menyebabkan tidak efisiennya penggunaan air.

Sebagian besar penyebab-penyebab di atas berhubungan dengan pengelolaan air irigasi yang disebabkan karena 1) kurangnya koordinasi diantara dinas dan cabang dinas irigasi. 2) kurangnya peraturan-peraturan pada distribusi air. 3) Kurangnya kemampuan PPA dan WUA.

  • 7.1.4 Permasalahan dan Kendala Berkaitan dengan Pengelolaan Sungai, Danau dan Hidrologi

(1)

Sungai Walanae, Boya dan Bila

Kapasitas Saluran Sungai di wilayah yang lebih datar dari dataran seringkali tidak cukup untuk mengalirkan aliran banjir yang umumnya mempunyai periode ulang 2 tahunan (hal ini adalah asumsi umum untuk kondisi aliran penuh bagi tebing sungai). Ketika aliran sungai mencapai tingkatan banjir maka air akan meluas ke sisi kiri dan atau ke sisi kanan sungai, dan menggenangi lahan sekitarnya yang lebih rendah dari tanggul tebing sungai.

Salah satu penggalan Sungai Walanae yang tidak cukup kapasitas alirannya adalah dimulai dari sekitar 6 km arah hilir dari jembatan Cabenge sampai ke pertemuan dengan Sungai Cenranae.

Penggalan Sungai Boya dan Bila yang kapasitas alirannya tidak cukup dimulai dari 5 km arah hilir dari jembatan jalan Tanru Tedong sampai muara sungai di Danau Tempe.

(2)

Rumah-Rumah Permukiman di Sepanjang Tebing Sungai

Terdapat banyak rumah yang berdekatan dengan tebing sungai, karena orang-orang lebih suka untuk membangun rumah di tebing sungai, dimana akses ke transportasi sungai lebih mudah. Permukiman manusia yang dekat dengan tebing sungai ini

S - 24

seringkali menghalangi atau menjadi kendala bagi pelaksanaan pekerjaan perbaikan sungai.

(3)

Danau Tempe dan Wilayah Sekelilingnya

Danau Tempe adalah terminal sekunder (tempat penampungan yang mengumpulkan aliran dari sejumlah sungai) dari sungai-sungai di sekelilingnya sebelum mengalir keluar ke Teluk Bone. Sebagai terminal sekunder bagi sungai-sungai, fluktuasi muka air Danau Tempe tergantung pada aliran masuk dan keluar ke dan dari Danau Tempe. Muka air tinggi disebabkan tidak cukupnya kapasitas Sungai Cenranae dan penurunan kapasitas tampungan Danau Tempe, yang disebabkan oleh sedimentasi. Sedimentasi di dasar danau sebagai akibat dari kerusakan hutan pada bagian hulu sub-sub DAS yang merupakan anak sungai yang mengalir ke Danau Tempe. Di musim hujan, air danau berasal dari DAS-DAS yang lebih tinggi dari sungai-sungai di sekelilingnya. Aliran sungai dihambat oleh arus balik dari danau dan seringkali menyebabkan banjir, menggenangi lahan pertanian. Sementara itu di musim kemarau lahan pertanian di daerah sawah tadah hujan menjadi kering dan jumlah ikan di danau mengalami penurunan. Wilayah danau yang kering seringkali digunakan oleh penduduk setempat untuk menanam palawija, yang dianggap sebagai salah satu penyebab sedimentasi danau yang berasal dari sisa-sisa pertanian.

(4)

Pengamatan Hidrologi

Di Areal Studi terdapat jaringan stasiun pengamatan hidrologi dan data-data hidrologi telah lama dikumpulkan dan dicatat. Akan tetapi, jaringan hidrologi ini tidaklah dirawat dengan baik, dan penaksiran yang terinci dari kondisi peralatan-peralatan tersebut sangat dibutuhkan. Jumlah data yang tersedia sangat banyak, akan tetapi tidak semua data dapat diandalkan dan tidak dapat digunakan untuk studi dan rancangan di bidang lingkungan dan keteknikan. Untuk mendesain suatu bangunan tertentu seorang perancang haruslah menggunakan nilai aman yang seringkali lebih besar dari nilai aslinya karena pengukuran-pengukuran parameter yang telah ditentukan yang tersedia kurang akurat.

  • 7.1.5 Permasalahan dan Kendala di Sektor Perikanan Permasalahan dan Kendala di sektor Perikanan di Areal Studi dikelompokkan menjadi : rendahnya pruduksi dan masalah-masalah lainnya. (1)

Rendahnya Produksi

Rendahnya produksi di sektor perikanan berkaitan dengan penurunan stok ikan, karena perairan daratan (danau, sungai dan rawa) mengalami degradasi lingkungan disebabkan polutan dari permukiman manusia dan industri, kekeringan di musim

S - 25

kemarau dan banjir di musim hujan. Penyebab utama lainnya untuk penurunan stok ikan adalah penangkapan berlebih, yang disebabkan tidak berfungsinya undang-undang dan peraturan pengelolaan sumber daya perikanan. Meskipun telah ada sebagian peraturan perikanan di Areal Studi, khususnya di Danau Tempe, peraturan-peraturan itu berbeda tergantung pada masing-masing kabupaten, yang dapat menyebabkan kondisi yang tidak tentu karena para nelayan bebas untuk memasuki wilayah kabupaten lain. Hal ini sering memicu timbulnya konflik yang serius bagi para nelayan dari kabupaten yang berbeda. Penangkapan ikan dengan aliran listrik yang diamati di Danau Tempe juga mempunyai dampak negatif pada jenis ikan tertentu dan harus segera dihentikan.

Rendahnya Produksi Budidaya Ikan berhubungan dengan rendahnya teknologi budidaya ikan, tidak adanya peraturan pemerintah untuk melindungai wilayah perlindungan budidaya ikan dan penurunan sumber daya air untuk budidaya ikan disebabkan tak bisa diperkirakannya muka air danau tahun-tahun belakangan ini.

(2) Permasalahan Lainnya

Permasalahan lainnya dalam perikanan adalah sebagai berikut. Permasalah ini berakar dari kurangnya dukungan pemerintah untuk nelayan.

Rendahnya pendapatan para nelayan

Tinggi dan tidak stabilnya harga peralatan perikanan

Tidak tepatnya sistem pemasaran (seperti kurangnya fasilitas pemasaran dan trasportasi, kurangnya pengetahuan para nelayan tentang seluk beluk pemasaran)

Rendahnya teknologi paska panen (penanganan dan pemrosesan) produksi perikanan.

  • 7.1.6 Permasalahan dan Kendala di Kehutanan dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Areal hutan (hutan produksi terbatas, hutan produksi, hutan lindung dan taman nasional/cagar alam) di semua kabupaten Ar eal Studi telah mengalami konversi oleh penduduk menjadi fungsi lainnya, yang dikenal dengan nama kebun atau perkebunan, lahan sawah, padang rumput, perladangan dan perdesaan dan hutan yang tertinggal telah mengalami degradasi. Aktivitas manusia yang dianggap sebagai penyebab utama degradasi hutan adalah sebagai berikut: (1) Penebangan Liar

Penebangan liar untuk pembangunan rumah atau produksi mebel oleh masyarakat di Kecamatan Baraka, Maiwa (Kabupaten Enrekang), Kecamatan Camba, Mallawa dan Cenrana (Kabupaten Maros). Penebangan liar untuk kayu bakar di semua kabupaten di Areal Studi

S - 26

Penebangan liar untuk kayu bakar oleh industri setempat terjadi di Kecamatan Bontocani (Kabupaten Bone), Kecamatan Mallawa, Camba dan Cenrana (Kabupaten Maros) dan Kecamatan Baraka, Maiwa (Kabupaten Enrekang).

(2) Perladangan Berpindah

Pembakaran hutan oleh penduduk setempat untuk regenerasi padang rumput bagi ternak sapi dan penyiapan lahan untuk tanaman tahunan bagi perladangan berpindah merupakan hal yang biasa. Hutan lindung dan hutan produksi telah dialihkan oleh penduduk setempat menjadi perladangan berpindah dan untuk tanaman perkebunan seperti kopi dan coklat. Erosi angin dan gelombang (abrasi) disebabkan oleh penebangan hutan bakau oleh penduduk setempat di Kecamatan Cenranae (Kabupaten Bone).

Semua hal di atas berhubungan dengan tidak cukupnya pengertian masyarakat tentang fungsi hutan dan pentingnya keberadaan hutan yang mengakar dari faktor-faktor kelembagaan seperti:

1)

Kurangnya pengawasan luasan hutan (kurang fasilitas, kurangnya jumlah petugas, terutama di Kabupaten Maros dan Enrekang), dan

2)

Tidak jelasnya tapal batas resmi hutan dan tapal batas fungsional di lapangan. Tapal batas resmi hutan tidak jelas karena adanya dua macam hukum yaitu Hukum Adat dan Hukum Negara. Meskipun Hukum Negara menyatakan suatu daerah sebagai Hutan Lindung tapi seringkali Hukum Adat mengijinkan perladangan berpindah pada wilayah yang sama untuk penduduk asli berdasarkan prinsip kepemilikan bersama.

  • 7.1.7 Permasalahan dan Kendala di Sektor Pertanian Permasalahan dan kendala di sektor pertanian dapat dibagi menjadi 3; 1) tidak stabilnya ketersediaan sumber daya air, 2) kerusakan dari banjir musiman dan 3) permasalahan lainnya. Kendala paling umum dan paling serius di Areal Studi adalah tidak dapat diandalkannya persediaan air untuk mencukupi kebutuhan penanaman dan banjir musiman pada wilayah dataran rendah. Ketidak stabilan distribusi hujan mengakibatkan besarnya fluktuasi tahunan bagi areal penanaman dan rendahnya produktivitas tanaman, dimana pada kasus-kasus yang cukup serius menambah kesulitan yang sudah diakibatkan karena kekeringan terutama di areal-areal sawah tadah hujan. Wilayah irigasi di hilir seringkali mengalami kekurangan air untuk irigasi karena belum bagusnya pengelolaan ketersediaan air. Permasalahan lainnya di bidang pertanian adalah sebagai berikut: Hasil penerapan praktek-praktek pertanian yang direkomendasikan masih belum

S - 27

memuaskan – Pilihan para petani pada padi sampai saat ini masih menjadi kendala untuk diversifikasi tanaman dan penggunaan air untuk irigasi di musim kemarau yang rasional.

Penyediaan benih padi dan palawija tidak selalu sesuai dengan kebutuhan aktual petani dalam hal macam benih dan waktunya, dan hasil penerapan benih yang berkualitas masih jauh dari target yang ditetapkan oleh dinas pertanian. Hal ini hanyalah sebagian, sebab pada kenyataannya benih-benih pertanian dari pemerintah tidaklah berfungsi dengan baik, ditambah dengan masalah keuangan dan kemampuan teknis pembibit swasta yang masih terbatas.

Kurangnya mesin-mesin pertanian (terutama traktor): Terdapat sejumlah mesin pertanian yang tidak bisa dioperasikan lagi, disebabkan tidak tersedianya toko atau bengkel untuk memperbaiki mesin-mesin tersebut dan pengoperasian mesin yang sembrono.

Harga-harga bahan-bahan pertanian diatas kemampuan keuangan para petani dan persediaan bahan-bahan tersebut seringkali terlambat atau tertunda.

Tidak tepatnya sistem pemasaran (seperti kurangnya fasilitas pemasaran dan transportasi, kekurang tahuan petani pada seluk beluk pemasaran dan ketidak stabilan harga produksi).

Semua kelompok permasalahan di atas berakar dari faktor-faktor dampak negatif lembaga-lembaga pertanian terkait, seperti; a) kurangnya kemampuan keuangan lembaga-lembaga pertanian pemerintah terkait, b) kurangnya kemampuan organisasi petani, c) kurang koordinasinya antar lembaga pertanian formal dan informal, d) kurang efektifnya pelayanan pendukung pertanian e) kurang kongkritnya strategi-strategi pengembangan agribisnis, yang menjadi prioritas dalam Areal Studi dan f) terbatasnya akses petani pada instansi-instansi yang menyediakan kredit.

  • 7.1.8 Permasalahan dan Kendala pada Aspek-Aspek Hukum (1) Belum sepenuhnya dikembangkan dan diimplementasikannya harmonisasi antara Hukum Nasional dan Hukum Setempat. (2) Adanya ketidak seimbangan dalam pelaksanaan antara Hukum Adat (hukum tradisional) dengan Hukum Daerah. Huku m Daerah diimplementasikan berdasar sektor demi sektor dan tingkatan pemerintahan nasional, provinsi dan regional, sementara Hukum Adat seringkali lebih manusiawi, dimengerti dan digunakan oleh penduduk lokal dalam akitivitasnya yang sering kali memberikan dampak pada keberlanjutan DAS seperti penggunaan lahan dan alokasi sumber daya air.

S - 28

(3) Pada desentralisasi egoisme (karena pernyataan hak-hak yang baru) Pemerintah Kabupaten cukup besar dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan terdahulu oleh pemerintah provinsi. Sebagai contoh, distribusi sumber daya air diantara kabupaten-kabupaten akan menjadi sulit karena egoisme kabupaten yang telah berkembang sejak desentralisasi.

(4) Mekanisme penegakan hukum diantara kabupaten dan provinsi belum berfungsi dengan baik. Badan-badan penegak hukum cenderung mengabaikan hukum dan peraturan yang mereka sendiri tak bisa menerapkannya.

(5) Prosedur sertifikasi tanah adalah proses yang memakan waktu lama dan birokratis dan lebih sulit lagi dengan dilaksanakannya desentralisasi.

  • 7.1.9 Permasalahan dan Kendala di Sektor Pariwisata (1) Kurangnya bentang lahan alami sebagai daya tarik tujuan wisata (2) Infrastruktur transportasi yang jelek (3) Fasilitas akomodasi yang di bawah standar (4) Kurangnya fasilitas dasar seperti pelayanan air dan listrik 24 jam dan kurangnya fasilitas sanitasi (5) Kemampuan keuangan yang terbatas untuk penanaman modal di industri pariwisata (6) Dukungan pemerintah yang kurang pada pariwisata di Areal Studi (7) Keterbatasan

pengalaman

dan

keahlian

mempromosikan industri kepariwisataan.

masyarakat

untuk

mengembangkan/

  • 7.2 Struktur Permasalahan DAS dan Keterkaitan Lintas Sektoral Gambar pada halaman berikut ini memberikan ringkasan tentang struktur permasalahan dengan metoda hubungan sebab-akibat. Pada gambar ini, meskipun bukan daftar yang lengkap, semua masalah dan penyebab utama yang telah diidentifikasi dan didiskusikan, digolongkan dalam satu perihal yang menunjukkan faktor-faktor penyebab utama di sisi kiri gambar (dikelompokkan sebagai faktor-faktor fisik/alami, kelembagaan dan manusia) dengan akibat yang ditimbulkan diletakkan dalam perihal/cara yang berurutan, umumnya mengarah ke sebelah kanan dari gambar tersebut.

S - 29

Curah hujan tidak stabil dan seimbangnya curah musiman dan pola Pengembangan Intrusi air laut di Kerusakan
Curah hujan tidak stabil dan
seimbangnya curah
musiman dan pola
Pengembangan
Intrusi air laut di
Kerusakan
Sektor Pariwisata
Tambak
S. Cenranae
Pendapatan
Mangrove
Kapasitas sungai yang
Nelayan
Menurunnya
Sektor Lingkungan
Menurunnya
rendah
Danau Tempe
Penangkapan
Keanekaraga
Banyaknya pemukiman di
sungai sehingga
perbaikan
sumber
berlebihan
an Hayati
Menurunnya
Degradasi Lingkungan
Danau Tempe dan
Sidenreng
kualitas
Konflik
Kapasitas penangkapan
Perbaikan di beberapa
sungai menghambat aliran
di danau
Sektor Perikanan
Penduduk
sungai dan danau
untuk
KEKERINGAN : Rendahnya aliran masuk di msm
Kurangnya dukungan pd
Sistem Bagi Hasil
menurunnya income
Tidak berfungsinya
pengelolan Sumber Daya
(Penegakan Hukum
Pertanian
Erosi
Berpindah
Degradasi
Penebangan
Sedimentasi
Danau Tempe dan
Sidenreng
Banjir
Meningkatnya
Liar
Lahan Kritis
Sektor Kehutanan
Daerah Hulu
Kerusakan
KEKERINGAN : Kurangnya air di musim kemarau untuk
Kurangnya kemampuan
pertanian yang terkait
dan
Tanaman di
Tidak Stabilnya ketersediaan
Kurangnya O&M /
Dinas Pengairan
kurang aktif, kurang
nya kualitas Sistem
yang ada
irigasi untuk pertanian
bagian hilir
Kurangnya strategi yang konkret
pengembangan agribisnis
pelayanan
Produktivitas
Pertanian
Kurangnya pengetahuan
Penyuluhan tidak
optima
tentang Teknologi
Pemahaman yang rendah
masyarakat tentang
Sumberdaya Alam dan
Kualitas benih yg rendah dan
efektifnya sistem
Sektor Pertanian
Kurangnya alat
Gambar Diagram Struktur Permasalahan pada Pengembangan dan Peng elolaan DAS Wal-Cen
Faktor Manusia
Faktor Kelembagaan
Faktor Alam / Fisik

S - 30

Seperti dapat dilihat pada gambar, suatu fenomena masalah di suatu sektor disebabkan oleh kombinasi dari berbagai hubungan penyebab yang berbeda, bahkan seringkali lintas sektor. Sebagai contoh, fenomena masalah “Produksi Pertanian Tidak Optimal” disebabkan beberapa faktor yang datang tidak hanya dari sektor pertanian tapi juga dari sub-sub sektor irigasi, perlindungan/perbaikan sungai dan dari kehutanan dan pengelolaan DAS. Contoh lainnya; fenomena masalah “Merosotnya Lingkungan Danau Tempe sebagai Sumber Daya Pariwisata” disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan yang saling berkaitan. Untuk contoh-contoh di atas, keterkaitan penyebab berasal dari faktor-faktor penyebab yang berbeda yang dikelompokkan dalam faktor-faktor Alami/Fisik, Kelembagaan dan Manusia yang terletak di sebalah kiri gambar. “Keterkaitan penyebab lintas sektoral yang berasal dari faktor-faktor penyebab dengan kelompok yang berbeda” ini adalah alasan yang sangat utama bagi penetapan pendekatan multi sektoral danal pengelolaan suatu DAS. Seperti dapat dilihat pada gambar, penegasan kembali yang bernilai pada bagian ini adalah bahwa “Dengan tujuan untuk memecahkan/mengurangi permasalahan di DAS WalCen, bermacam aktivitas harus dilakukan secara paralel dan berurutan”.

Hal-hal lain yang dapat disebutkan secara umum adalah:

1)

Semua sektor kurang lebih mempunyai hubungan dengan sektor lainnya

2) Hubungan-hubungan tersebut umumnya berasal dari satu sektor ke sektor lainnya (yaitu hubungan satu sisi)

3)

Suatu kesepakatan dibutuhkan untuk melaksanakan beberapa aktivitas secara paralel

4) Dalam jangka panjang, sektor Kehutanan dan Pengelolaan DAS kelihatannya akan

5)

menjadi awal mula sektor yang akan mempengaruhi sektor-sektor lainnya dan untuk itu, dalam pertimbangan bahwa sektor ini baru memetik keuntungan kegiatan dalam waktu yang lebih lama, mengedepankan sektor ini dari sektor lainnya adalah strategi yang layak dan harus dipakai sebagai langkah dasar dari Rencana Kegiatan (seperti menerapkan kemajuan dari sektor ini sebagai acuan). Seperti juga halnya, sektor Lingkungan kelihatannya akan menjadi awal mula sektor yang mempengaruhi sektor lainnya ke dua sesudah Kehutanan dan Pengelolaan DAS, terutama pada sektor Perikanan. Jadi harus diperlakukan sebagai langkah dasar untuk rencana kegiatan bagi sektor Perikanan. Akan tetapi, kualitas air Danau Tempe dan tinggi muka air di musim kemarau membutuhkan kegiatan yang segera dilakukan sebelum kondisi perikanan danau dan sumber daya lingkungan akan mengalami

kemerosotan yang tak bisa diperbaiki. 6) Kegiatan-kegiatan semua sektor harus dilaksanakan sesuai dengan strategi urutan masing-masing sektoral karena prosedur penyiapan/pengadaan mereka yang sepantasnya dilakukan sebagaimana yang telah diberikan pada 4) dan 5) harus dipakai sebagai kondisi awal.

S - 31

8

KERANGKA KERJA PERENCANAAN

  • 8.1 Kerangka Kerja Socio-ekonomi

    • 8.1.1 Asumsi untuk Kerangka Kerja Ekonomi Rata-rata Pendapatan Kotor Tahunan wilayah obyektif studi selama periode 1999-2001 menunjukan pertumbuhan sebesar 4 %, dimana pada periode tersebut wilayah studi mulai pulih dari krisis moneter yang terjadi sejak tahun 1997. Karena keadaan ekonomi di Indonesia masih belum jelas, pada Studi ini, bukan pertumbuhan yang tinggi atau rendah, tapi pertumbuhan yang layak/sedang, sebagai kecenderungan pertumbuhan yang terjadi setelah krisis moneter, diambil sebagai kerangka kerja ekonomi dalam jangka waktu rencana proyek (sampai 2028).

    • 8.1.2 Asumsi untuk Kerangka Kerja Kependudukan Angka pertumbuhan penduduk di 6 Kabupaten di Daerah Studi diproyeksikan berdasarkan kecenderungan pertumbuhan penduduk akhir-akhir ini. Hasilnya dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel: Proyeksi Angka Pertumbuhan Penduduk di enam Kabupaten di Daerah Studi

   

Angka

Proyeksi jumlah Penduduk

Jumlah

     

Kabupaten

Penduduk

Pertumbuhan

     

2001

Penduduk (% / tahun)

2010

2020

2028

  • 1. Maros

  • 274.394 1,29

 

307.945

350.058

387,857

  • 2. Bone

  • 655.091 0,73

 

699.409

752.176

797.242

  • 3. Soppeng

  • 219.901 -0,3

 

213.061

206.755

201.845

  • 4. Wajo

  • 361.039 0,19

 

367.260

374.298

380.025

  • 5. Sidrap

  • 241.448 0,46

 

251.630

263.477

273.300

  • 6. Enrekang

  • 169.203 1,44

 

192.268

221.600

248.257

Total

1.921.076

0,61

2.031.573

2.168.334

2.288.526

Sumber: Sulawesi Sela tan dalam Angka 2001

Berdasarkan pertimbangan yang disebut dibawah ini, kecenderungan angka pertumbuhan penduduk di daerah Studi adalah agak rendah dan hal ini barangkali akan berlangsung dalam beberapa dekade mendatang.

Dalam jumlah tetentu telah terjadi perpindahan penduduk ke daerah perkotaan,

seperti Makassar yang mengalami perluasan secara cepat, dan sepertinya akan terjadi secara menerus. Daerah Studi terutama terdiri dari daerah pedesaan dan posisi sektor pertanian di ekonomi daerah tidak mudah akan berubah dalam dekade-dekade yang akan datang. Fakta ini bersama pertimbangan angka pertumbuhan rata-rata penduduk perkotaan

S - 32

dan pedesaan (masing-masing >5% dan <0,5% dalam periode 1990-1995) pada proyeksi tingkat pertumbuhan penduduk yang yang dapat dibenarkan. Angka penduduk di Daerah Studi tidak sama dengan angka penduduk di enam Kabupaten disebut di atas (angka penduduk di Daerah Studi adalah sekitar satu juta, separuh dari jumlah di 6 Kabupaten), yang membenarkan pertumbuhan yang rendah sebagaimana disebut di atas.

  • 8.1.3 Pendapatan Kotor per Kapita Berdasarkan dua proyeksi disebut di atas ini, proyeksi Pendapatan Kotor per kapita untuk masing-masing Kabupaten telah dibuat dan dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel Proyeksi Pendapatan Kotor Per Kapita (Rp. juta)

Kabupaten

 

Tahun

2000*

2010

2020

Enrekang

2,37

3,07

4,10

Maros

3,31

4,16

5,37

Sidrap

3,51

4,63

6,30

Soppeng

3,2

4,68

7,14

Wajo

4,01

6,60

11,49

Bone

3,05

3,63

4,41

Total Rata-Rata

3,24

4,46

6,47

* Data pendapatan tahun 2000

  • 8.2 Evaluasi Potensi Sumber Daya Air

    • 8.2.1 Perkiraan Air Potensial Curah hujan tahunan rata-rata, evapotranspirasi + infiltrasi dan limpasan permukaan (runoff) untuk Daerah Studi diperkirakan berturut-turut sebesar 2.300 mm, 1.050 mm dan 1.250 mm. Perkiraan ketersediaan potensi air di Daerah Studi sekitar 9,98 x 10 9 m 3 /ahun.

    • 8.2.2 Perkiraan Kebutuhan Air Saat ini. Perhitungan kebutuhan air di daerah studi saat ini, didasarkan pada model konsumsi air dan persediaannya tahun 2001. Kebutuhan air (yaitu konsumsi) mencakup kebutuhan air untuk domestik, perkotaan dan industri, serta air untuk kolam perikanan air tawar dan air untuk perikanan tambak. Konsumsi lain, seperti air untuk peternakan dan kebutuhan lain yang kecil, dianggap tidak penting. Sub-sektor irigasi adalah pengguna air dalam jumlah yang siknifikan yaitu sebesar 82% dari total konsumsi air di daerah studi, dengan kebutuhan totalnya pada tahun 2001 diperkirakan sebesar 1,36 milyar meter kubik. Persentase air untuk penyediaan air baku dan kolam ikan air tawar adalah berturut-turut 8,4% dan 9,1%. Kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai (“river maintenance flow”) dalam kalkulasi

S - 33

diperkirakan sekitar 17% dari ketersediaan potensi air. Perincian kebutuhan air masa kini untuk setiap wilayah distrik air di Daerah Studi, telah dihitung dalam periode setengah bulanan dan untuk setiap sektor/sub-sektor. Air yang digunakan untuk irigasi meliputi kebutuhan air irigasi pada areal rencana pengembangan, areal jaringan irigasi desa dan jaringan irigasi pompa.

  • 8.2.3 Kondisi Kesetimbangan Air Saat Ini Dari perkiraan ketersediaan potensi air dan perhitungan kebutuhan air masi kini di Daerah Studi, kesetimbangan air dihitung dalam periode setengah bulanan. Penggunaan air irigasi mencapai 13,6% dari total ketersediaan potensi air di Daerah Studi. Permintaan air untuk irigasi yang paling tinggi terjadi di sistem Sunga Walanae dan besarnya kira-kira 17,4% (640 MCM/tahun) dari permintaan air total saat ini. Sisa persediaan air potensial di daerah studi punya volume sekitar 8.300 MCM/tahun.

  • 8.2.4 Kebutuhan dan Kesetimbangan Air di Masa Yang Akan Datang.

(1)

Kubutuhan Air di Masa Yang Akan Datang.

Kebutuhan air di masa depan dihitung sebagai permintaan air total pada setiap tahap rencana pengembangan sumber daya air di daerah studi sebagaimana kondisi pada Rencana Pengembangan, Konservasi dan Pengelolaan (RPKP) dan Rencana Tindak. Masing-masing kondisi adalah: Mendesak (sampai 2005), Jangka Waktu Pendek (sampai 2008), Jangka Waktu Sedang (2013) dan Jangka Waktu Panjang (2028). Permintaan air untuk sektor irigasi akan tetap dominan.

(2)

Kesetimbangan Air Saat Ini dan di Masa Yang Akan Datang.

Kesetimbangan air di Daerah Studi dihitung berdasarkan kebutuhan rata-rata tahunan dan perkiran ketersediaan air dalam periode setengah bulanan, tidak menunjukan terjadinya kekurangan yang berarti pada masing-masing wilayah distrik air, baik pada saat ini maupun pada masa depan sampai tahun 2028. Akan tetapi, hasil ini bukan berarti tidak akan terjadi kekurangan air karena distribusi curah hujan musiman dan fluktuasinya dalam jangka wakta panjang. Kekurangan air dapat terjadi pada suatu tahun kering dengan curah hujannya yang rendah di mana ada kekurangan air di sitiap wilayah distrik air.

Penggunaan air dalam masa depan di sistem Danau Tempe akan memerlukan 93% dari air total potensial air pada system danau Tempe tersebut. Hal ini menggambarkan pentingnya kontrol air yang mengalir keluar sistem danau. Bersamaan dengan kontrol air yang mengalir keluar Danau Tempe, permukaan air harus dikontrol dengan cara yang akan mencegah banjir di kota Sengkang yang terletak di tepi Danau Tempe.

S - 34

8.2.5

Kesetimbangan Air Danau Tempe

Studi kesetimbangan air Danau Tempe dilakukan dalam periode harian dengan pemanfaatan data hidrologi dan rencana untuk pengembangan dan konservasi sumber daya air. Seperti dinyatakan sebelumnya, penampang melintang Sungai Cenrana di daerah hilir telah membesar, dan perlunya pengerukan yang sebelumnya diperkirakan punya volume 3.000.000 m 3 , menurut kalkulasi sekarang punya volume 100.000 m 3 . Pembesaran penampang melintang diperkirakan merupakan hasil banjir besar pada tahun 1998. Dalam simulasi, permukaan air pada musim kemarau dapat turun sampai 3 m dan danau hampir jadi kosong. Kecenderungan ini akan lebih besar oleh karena pengembangan sumber daya air (yaitu pembangunan proyek di daerah hulu pada masa mendatang). Menurut hasil perhitungan, danau Tempe akan cepat "mengering” pada musim kemarau bila bendung gerak Tempe tidak dibangun. Jika bendung gerak Tempe dikonstruksi, maka dapat dipenuhi baik persyaratan tinggi permukaan air danau Tempe minimal +5.00 m, maupun debit pemeliharaan (maintenance flow) sebesar 30 m 3 /s untuk sungai Cenranae. Bagaimanpun, berdasarkan studi awal kesetimbangan air di daerah studi, kondisi pada beberapa tahun kering, kelihatannya sulit memenuhi ke dua kondisi diatas

dalam waktu yang bersamaan

Salah satu jalan keluar adalah konstruksi dam dan waduk

.. di daerah hulu. Kemungkinan lain adalah pengelolaan air yang efektif, melalui usulan prakiraan banjir dan kemarau panjang dan system peringatan dini ..

  • 8.3 Penilaian Kesesuian Lahan

    • 8.3.1 Lahan Kritis Lahan kritis di dalam dan luar wilayah hutan di masing-masing Kabupaten di Daerah Studi pada tahun 2001 dapat dilihat di tabel berikut.

Lahan kritis di dalam dan luar wilayah hutan (ha)

 

Lahan Kritis (ha)

 

Kabupaten

Daerah Hutan

Luar Daerah Hutan

Total

Maros

9.995

5.673

15.668

Bone

34.156

23.116

57.272

Soppeng

6.970

6.523

13.493

Enrekang

5.750

10.094

15.844

Wajo

4.445

14.293

18.738

Sidrap

30.871

19.090

49.961

Total

92.187

78.789

170.976

Sumber: Dinas Kehutanan Kabupaten Maros, Soppeng, Enrekang, Bone, Wajo dan Sidrap, 2002

Data di tabel di atas menunjukan bahwa luas total daerah lahan kritis sekitar 171.000 ha. Daerah yang direhabilitasi dalam program yang dilaksanakan oleh Departemen

S - 35

Kehutanan hanya mencapai luas 4.800 ha untuk penghijauan dan 5.636 untuk reboisasi dalam tiga tahun terakhir. Ini sama dengan 1.591 ha/tahun untuk penghijauan dan 1.879 ha/tahun untuk reboisasi. Karena itu, upaya rehabilitasi lahan kritis akan memerlukan jangka waktu panjang, jika dilanjutkan dengan tingkat kecepatan seperti sekarang ini.

Keadaan daerah kehutanan berkaitan dengan fungsi yang diharapakan dapat digunakan sebagai indikator tingkat keadaan kritis daerah hutan. Bilaman daerah hutan tidak punya fungsi yang telah direncanakan, daerahnya dapat jadi lahan kritis.

  • 8.3.2 Kriteria untuk Penilaian Kesesuaian Lahan Daerah Studi dibagi menjadi berbagai kategori penggunaan lahan: yaitu kawasan lindung, jalur hijau (buffer zone), kawasan tanaman budidaya, dan kawasan tanaman tahunan. Kriteria yang digunakan untuk penilaian kategori penggunaan lahan secara singkat dijelaskan di bawah ini:

(1)

Kawasan Lindung:

Kemiringan lebih 45%

Tipe tanah yang sensitif erosi, seperti Regosol, Litosol, Orgonosol, dan Renzina

Zona keamanan aliran sungai minimal 100 m dari tepi sungai untuk sungai besar dan 50 m untuk anak sungai

Kawasan lindung sumber air, dengan radius yang minimal 200 m dari sumber air.

Daerah yang 2.000 m atau lebih atas permukaan laut

Kawasan khusus yang detentukan sebagai kawasan lindung oleh pemerintah

Daerah termasuk “penetapan kawasan lindung” (keputusan menteri Pertanian

No. 683/PTS/UM/8/1981) dengan nilai 175 poin lebih Kawasan hutan lindung dengan batas yang jelas.

Daerah sekitar bendungan dan waduk harus dilindungi sampai sekitar 500 m dari tepi bendungan atau waduk

Cagar Alam ditentukan untuk Konservasi Satwa, Konservasi Alam, Hutan Wisata, Kawasan Pungungsian dan Kawasan Jenies Lindung

Daerah Cagar Alam, Taman Safari, Taman Wisata Nasional yang ditentukan oleh pemerintah

“Right of Way” untuk perlindungan pantai dengan lebar minimum 100 m dari garis pasang tinggi

Pantai dengan hutan bakau, dengan lebar 130 kali perbedaan rata-rata antara pasang tinggi dan surut tahunan, diukur dari garis air surut masuk ke arah darat.

S - 36

(2)

Buffer zone:

“Buffer zone” adalah daerah dengan nilai potensi lahan 125 – 175 poin, dan/atau mempenuhi beberapa kriteria umum seperti berikut:

Dari segi ekonomi, keadaan phisik daerah sesuai untuk kegiatan penanaman

Dari segi ekonomi, daerah sesuai untuk dikembangkan sebagai “buffer zone”

Tidak ada penurunan aspek Ekologi/Lingkungan Hidup

(3)

Kawasan Tanaman Tahunan:

Kawasan yang ditanam tanaman tahunan harus miliki nilai potensi lahan di bawah 124. Daerah seperti ini harus dikembangkan sebagai hutan agrobisnis dan tanaman perkebunan.

(4)

Kawasan Tanaman Budidaya:

Kawasan tanaman budidaya punya kriteria umum yang sama dengan kawasan tanaman tahunan. Akan tetapi tanah milik pribadi, dan tanah milik negara akan dikembangkan sebagai agrobisnis.

  • 8.3.3 Rencana Tata Guna Lahan Rencana Tata Guna Lahan yang direkomendasikan untuk Daerah Studi disajikan dalam table di bawah ini.

Rekomendasi Tata Guna Lahan di DAS Walanae-Cenranae

   

Rekomendasi Rencana Tata Guna Lahan

 

Kawasan

Buffer

Tanaman

Tanaman

 
 

DAS / Sub DAS

 

Lindung

Zone

Tahunan

Budidaya

Total

 

(ha)

(ha)

(ha)

(ha)

(ha)

 
  • 1 Bila

 

-

Kalempang

 

46.093,30

-

-

10.402,34

56.495,64

-

Bila

31.237,55

4.005,55

-

23.380,62

58.623,72

-

Lacinrang

 

2.100,44

-

-

19.705,30

21.805,74

 

Kalola

 

7.986,39

-

-

16.170

24.156,39

   

Sub Total

 

87.417,68

4.005,55

-

69.658,26

161.081,49

 
  • 2 Walanae

 

-

Minraleng

 

49.423,91

931,25

10.192

8.850,11

69.397,27

-

Camparake

 

9.652,28

18.111,17

-

 
  • 2.181 29.944,02

-

Tellu Limpoe

 

15.910,20

7.619,50

-

 
  • 3.862 27.391,90

-

Mario

 

25.326,77

24.173,27

-

 
  • 7.406 56.906,31

-

Belo

9.896,53

5.058,00

2.543

10.681

28.178,65

S - 37

 

Sanrego

  • - 21.863,92

 

-

 

1.133

22.997,27

Other Walanae

  • - 35.329,69

 

10.644,48

-

36.127

82.100,69

 

Sub Total

167.403,30

66.537,67

12.735,00

70.240,14

316.916,11

 

Gilirang

  • 3 6.195,00

 

22.842,00

8.979,43

13.808,33

51.824,76

 

Batu-Batu dan

         
  • 4 46.680,26

-

1.739,50

72.034,86

120.454,62

Tempe Depression

 
  • 5 15.755,06

Cenranae

 

22.772,00

13.574,22

65.269,40

117.370,68

 

Grand Total

323.451,30

116.157,22

37.028,15

291.010,99

767.647,66

 

%

42,14

15,13

4,82

37,91

100,00

Rekomendasi tata guna lahan sebagaimana ditunjukan pada tabel di atas, tidak sesuai dengan pengunaan lahan saat ini. Di beberapa tempat penggunaan lahan memang tidak ikut pedoman yang diuraikan di “Peta Padu Serasi Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Sulawesi Selatan,

1999”

Untuk minimalkan dampak negatif penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan potensi lahan, penggunaannya perlu diarahkan ke fungsi perlindungan. Kawasan lindung yang telah dikonversi ke kawasan produksi harus ditanami pohon, atau pohon buah-buahan untuk mengurangi intensitas penggunaan lahan yang tidak sesuai, hutan produksi terbatas atau hutan konservasi harus dikonversi ke hutan lindung.

Walaupun rekomendasi penggunaan lahan di atas merupakan pola pengembangan penggunaan lahan yang “ideal” dari sudut pandang konservasi, untuk perencanaan jangka waktu panjang betul-betul direkomendasikan hasil ini dibuatkan “tolak ukur” untuk pengelolaan berkelanjutan dalam penggunaan lahan di daerah aliran sungai.

  • 9. RENCANA PENGEMBANGAN, KONSERVASI DAN PENGELOLAAN (rpkp)

    • 9.1 Rencana Aspek Hukum dan Kelembagaan dan Peningkatan Kemampuan

      • 9.1.1 Susunan Lembaga yang diusulkan untuk Penerapan RPKP dan Rencana Tindak Pada periode transisi, diperlukan pendirian lembaga untuk ekonomi regional yang efektif, pelaksanaan pengembangan sumber daya air dalam skala besar, akan dikelola oleh instansi pemerintah pusat dan propinsi yang sudah ada. Istansi yang dianggap sesuai untuk pelaksanaan pekerjaan operasi dan pengelolaan dalam masa yang akan datang dapat di lihat pada tabel di bawah.

S - 38

Rencana susunan jangka waktu panjang difokuskan kepada pendirian badan swadaya untuk pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Perusahan “Jasa Tirta Jeneberang” dengan tipe PJT akan didirikan dalam waktu dekat ini. Perusahaan ini akan berbisnis dalam pemberian jasa komersial (yang dapat dipasarkan), dana akan menggunakan pendapatannya untuk penyediaan jasa non-komersial. Pengolahan air limbah, pengendalian pencemaran, pencegahan banjir, dan pengelolaan DAS termasuk jasa yang diberikan dengan dasar pembayaran produk.

Walaupun telah dibentuk perusahaan semacam PJT, badan pemerintah tetap diperlukan untuk pelaksanaan, pengurusan dan koordinasi pengembangan dan pengelolaan sumber daya air.

Lingkup Pekerjaan

 

Lembaga Yang Berpotensi Mempunyai Keterkaitan

  • 1. Perencanaan

 
  • 1.1 Rencana Strategi

(1)

BAPPENAS (Pemerintah Pusat)

Nasional dan Pedoman Teknis

(2)

KimPrasWil (Pemerintah Pusat)

  • 1.2 Rencana Pengembangan seluruh DAS

(1)

Kantor Proyek Induk PWS Jeneberang (Pemerintah Pusat/Propinsi)

(2)

Balai PSDA (Pemerintah Propinsi)

(3)

Dinas PU Kabupaten (Pemerintah Kabupaten)

  • 2. (1)

Pengembangan &

 

KimPrasWil (Pemerintah Pusat)*

Pelaksanaan

(2)

Kantor Induk PWS Jeneberang atau (diusulkan) PI

Walanae-Cenranae

(Pemerintah Pusat/Propinsi)

(3)

Dinas PU Kabupaten (Pemerintah Kabupaten)

  • 3. Operasi, Pemeliharaan dan

(1)

KimPrasWil (Pemerintah Pusat)*

Pengelolaan

(2)

Kantor Proyek Induk PWS Jeneberang atau (diusulkan) PI

Walanae-Cenranae

(Pemerintah Pusat/Propinsi)

(3)

PIRASS

(4)

Balai PSDA Walanae-Cenranae

(5)

Dinas PU/PSDA Kabupaten (Pemerintah Kabupaten)

  • 4. Pengaturan Pekerjaan termasuk Pengelolaan DAS

BAPPEDAL yang ada dari Pemerintah Pusat dan Propinsi untuk kontrol kualitas air dan BRLKT/Balai P-SDA untuk konservasi tanah

  • 5. Pekerjaan Koordinasi

(1)

PTPA (Pemerintah Propinsi)

 

(2)

PPTPA (Unit Tingkat DAS)

  • 6. Rencana Pengembangan

(1)

BUMD untuk Perikanan dan Pertanian Lahan Basah

Terpadu Danau Tempe

(2)

Pusat Informasi Danau Tempe

Note: KimPraswil hanya terlibat dalam proyek pengembangan skala besar Sumber: Maros-Jeneponto Comprehensive Management Plan Study, Nov.2001 dan informasi updating.

  • 9.1.2 Rencana Peningkatan Kemampuan (Capacity Building Plan) Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) meliputi semua kegiatan yang diperlukan untuk mengembangkan dan mendorong tenaga kerja pada semua tingkat lembaga. Ini termasuk pelatihan dan pendidikan, rencana penempatan staf, pengembangan karier, dan pengembangan imbalan yang adil dan tidak memihak dan pengembangan budaya bersemangat dan progresif dalam lembaga. Masalah dan hambatan yang perlu

S - 39

dipertimbangkan dan ditangani dengan dasar-dasar kebijakan pengembangan dan pengelolaan SDM adalah:

Kekurangnya ketrampilan pengelolaan dan pengawasan pada semua tingkatan Penggunaan SDM yang tidak efisien Perlawanan terhadap perubahan oleh banyak pengambil keputusan dan manajer. Ketidaksesuaian kurikulum pelatihan dengan kebutuhan dalam pekerjaan Kelebihan staf yang harus dilakukan rasionalisasi posisi/jabatan dan diperlukan “pemindahan keluar lembaga” yang bersangkutan. Prasarana pelatihan yang terbatas.

Pembaharuan dan desentralisasi sektor air meme rlukan peningkatan kemampuan semua lembaga dan instansi yang baru atau diorganisir kembali, untuk pemberdayaan dalam penerimaan tanggung jawab dan tugasnya dalam paradigma baru pengelolaan sumber daya air dan irigasi.

Lingkup kegiatan berikut perlu dipertimbangkan sebagai bagian pendekatan peningkatan kemampuan:

1)

Sosialisasi konsep dan konsekwensi desentralisasi dan kebijakan otonomi regional, pengelolaan sumber daya air pada tingkat DAS dan pengalihan wewengan pengelolaan irigasi kepada P3A.

2)

Penentuan ulang peran, tanggung jawab dan tugas baru untuk lembaga pemerintah yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya air dan diarahkan ke unit yang berfokus pelayanan.

3)

Pemberdayaan lembaga untuk memungkinkan pelaksanaan peran baru secara efektif. Hal ini meliputi:

Pengenalan dan pengembangan mekanisme dan peralatan akuntabilitas untuk lembaga pemerintah dalam desentralisasi dan pemberdayaan P3A.

Pengembangan kemampuan individu di lembaga sumber daya air dan irigasi

Pengembangan

kemampuan

lokal

untuk

peningkatan

kemampuan yang

berkelajutan. (1) Pelatihan untuk anggota PTPA dan PPTPA

Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air DAS dan partisipasi pihak terkait (stakeholder) sudah dimulai melalui pendirian Panitia Pelaksana Tata Pengaturan Air PPTA) dan Panitia Tata Pengaturan Air (PTPA). Wakil pihak tekait yang berasal dari lembaga swasta masih perlu dilibatkan, sebagai bagian pelaksanaan

S - 40

agenda pembaharuan pemerintah, di mana pendekatan “bottom-up” dan partisipasi masyarakat dan LSM dianggap penting.

PTPA Sulawesi Selatan telah melakukan tindakan, agar pihak terkait dimasukan di dalam panitia koordinasi. Program pelatihan untuk PTPA dan PPTPA akan meliputi hal-hal berikut:

Pelatihan untuk memperoleh pengertian tentang: 1) Kebijakan Sumber Daya Air yang baru dan arah kebijakannya, 2) pelaksanaan dean kerangka kerja untuk pengelolaan sumber daya air dan 3) pengertian tentang misi lembaga.

Pelatihan supaya semua staf mengerti keadaan fisik daerah studi dan terbiasa dengan rencana tata ruang sumber daya air dan rencana tindak serta mampu meng-update rencana ini jika diperlukan. Staf lembaga harus mampu mengerti perhitungan yang berkaitan dengan alokasi air termasuk kebutuhan dan persediaan air dan semua perhitungan dan perencanaan yang diperlukan untuk melaksanakan misi lembaga.

Pelatihan diperlukan untuk menjelaskan Peran, Tugas dan Fungsi PTPA / PPTPA, termasuk tugas-tgas anggotanya dan tanggung jawab instansinya serta hubungannya dengan instansi lain yang terlibat pelaksanaan tugas RPKP Sumber Daya Air seperti disajikan dalam hasil Studi dan direvisi sesudah itu oleh karena perubahan kondisi.

Pelatihan diperlukan berkaitan pengalihan wewengan pengelolaan irigasi, pengaturan air (distribusi, penyediaan, dan penggunaan air irigasi), pengelolaan aset dan pengelolaan yang transparan & keberlajutan seperti ditentukan dalam UU SDA dan PP 77/2001.

Pelatihan diperlukan supaya Rencana Pengembangan, Konservasi Dan Pengelolaan DAS dimengerti dan dapat di-update, termasuk kemampuan membantu departemen lain yang punya tanggung jawab dalam Pengelolaan DAS.

(2)

Pelatihan prosedur lisensi hak air dan penegakannya. Pelatihan dan Pemberdayaan Staf Balai PSDA

Untuk pengembangan sumber daya manusia diperlukan pelatihan dan motivasi kepada staf lembaga melalui pemberdayaan, supaya mampu melaksanakan tugas sesuai dengan waktu yang ada dan sesuai dana yang ada, serta dengan mutu yang dapat deterima (sesuai standar jaminan mutu).

Staf harus mempunyai tugas yang ditentukan oleh manajemen dan suatu sistem imbalan untuk penyelesaian tugas sesuai dengan standar jaminan mutu.

S - 41

(3)

Pelatihan staf Balai PSDA meliputi:

1).

Pelatihan yang berfokus pada pengertian keadaan fisik di daerah studi, metode perencanaan tata ruang sumber daya air, persediaan air, perhitungan kebutuhan dan kesetimbangan, pengertian rencana tindak dan Rencana Pengembangan, Konservasi dan Pengelolaan di daerah studi seperti di WalCenMP, termasuk kegiatan pengurangan bencana berkaitan dengan banjir dan kemarau panjang, dan peralatan yang diperlukan untuk prakiraan bencana tersebut.

2).

Pelatihan untuk pengertian perhitungan yang diperlukan untuk alokasi dan distribusi air, termasuk monitoring dan administrasi.

3). Pelatihan prosedur operasi dasar untuk operasi dan pemeliharaan, serta pengertian langkah-langkah yang perlu dilaksanakan untuk menjamin persediaan sumber daya air pada fasilitas yang ada.

4).

Pelatihan pemantauan kualitas air (pengambilan sample dan penelitian di laboratorium) untuk semua air permukaan (sungai dan danau) dan air tanah.

5). Metode pamantauan kondisi fisik dan upgrading yang diperlukan untuk fasilitas sumber daya air, serta pengertian metode konstruksi, inspeksi rutin bulanan, laporan, analisa dan evaluasi.

6).

Pelatihan untuk Rencana Tindakan Darurat pada saat banjir, serta prosedur darurat yang diperlukan.

7).

Pelatihan tentang metode pengumpulan data dan pemeliharaan semua peralatan observasi meteorologi, termasuk ARR, AWLR dan kelembaban tanah, serta pengolahan, cara simpan dan perolehan kembali data ini, termasuk perkerjaan lapangan yang dibutuhkan untuk pengumpulan pengukuran di bagian rating curve yang paling tinggi dan paling rendah (misalnya banjir besar dan aliran dasar).

8).

Pelatihan pengelolaan data base dan GIS, spesifik untuk metode yang digunakan dalam lembaga.

9).

Pelatihan tentang konsultasi masyarakat, metode sosialisasi dan pelayanan

(4)

informasi masyarakat berkaitan de ngan pengembangan dan konservasi sumber daya air. Peningkatan Kemampuan Instansi Sumber Daya Air dan Irigasi Kabupaten

Fungsi Seksi Irigasi pada tingkat Kabupaten, Propinsi dan Nasional sedang berubah akibat desentralisasi fungsi Pemerintah ke Kabupaten, transfer pengelolaan irigasi dan pengaturan pendanaan baru. Titik berat sekarang berada pada penyediaan jasa

S - 42

atas permintaan, sedangkan dulu titik berat ada pada penyediaan jasa berdasarkan sumber daya yang ada, dan disediakan oleh dinas. Pelatihan tentang penyediaan jasa yang diminta dari Instansi Irigasi, punya sasaran untuk memperoleh pengetahuan yang lebih dalam tentang masalah berkaitan daerah irigasi. Pengenalan masalah, pemecahan masalah dan penetuan prioritas masalah, masa kini diperlukan di Dinas Irigasi.

Lagipula, di istansi irigasi selain kebutuhan tambahan ketrampilan teknis sipil, telah ditemukan kebutuhan memperoleh tambahan ketrampilan sosial. Pelatihan peningkatan kemampuan harus disesuaikan dengan tingkatnya lembaga (tingkat Nasional/Propinsi/Kabupaten).

Sebagai akibat dari UU 20 / 1999 mengenai desentralisasi dari tugas-tugas Pemerintah, peranan pengelolaan pemerintah Propinsi dan Kabupaten dalam perencanaan, desain dan pelaksanaan, berubah secara mendasar.

Kabupaten sekarang jelas bertanggung jawab untuk pendanaan dan operasi daerah irigasi. Di beberapa tempat, Kepala Dinas Irigasi / Sumber Daya Air Kabupaten mempunyai tingakatan yang dengan Kepala Dinas Irigasi Propinsi. Ini punya dampak untuk misi dan struktur departemen, dan caranya pelaksanaan tugas di Kabupaten. Cabang Dinas, yang dulu di bawah wewenang Propinsi, sekarang di bawah wewenang Kabupaten.

Beberapa Kabupaten seperti Soppeng, sudah respon dengan cara inovatif kepada tantangan baru, melalui penerapan SOPT (Struktur Organisasi Pelaksanaan Tugas) baru dan pembentukan Dinas PSDA Soppeng. Tingkat dan tanggung jawab Kepala Dinas PSDA Soppeng hampir sama dengan tingkat Kepala Dinas PSDA Sulawesi Selatan.

  • 9.2 Rencana Pengembangan, Konservasi dan Pengelolaan (RPKP) Linkungan Hidup

    • 9.2.1 Masalah, Sebab dan Solusi yang Diusulkan Masalah dan solusinya dapat dibagi tiga kategori utama:

(1)

Solusi tanpa Hambatan Nyata – Ini merupakan kategori solusi yang relatif langsung dan tidak punya hambatan untuk keberhasilannya. Kegiatan untuk memecahkan masalah ini diuraikan dalam Laporan Utama dan Environmental Sectoral Report (Laporan Sektor Lingkungan Hidup).

(2)

Solusi dengan Hambatan - Ini merupakan kategori solusi yang lebih rumit, meliputi hambatan, dan solusinya di luar lingkup studi ini.

S - 43

(3) Masalah yang Mungkin Tidak Dapat Dipecahkan – Masalah yang mungkin tidak dapat ditanggulangi memerlukan serangkaian studi untuk menilai besarnya masalah dan untuk menentukan kelayakan solusi. Kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam studi itu serta analisa berikutnya dapat dilihat dalam laporan Environmental Sectoral Report sebagai rekomendasi yang perlu dilaksanakan pada yang akan datang jika studi awal menunjukan bahwa memang ada solusi.

Masalah dalam daftar di bawah ini telah dibahas dalam Laporan Utama dan dalam Environmental Sectoral Report, dan rekomendasinya telah dikembangkan menjadi Rencana Pengembangan, Konservasi dan Pengelolaan (RPKP) untuk Lingkungan Hidup.

(1)

Solusi tanpa Hambatan Nyata

 

Pengurangan Sedimentasi di Danau Tempe

Pengurangan Pencemaran di Danau Tempe

Penetapan of Tempat Bertengger dan Bertelur untuk Burung

Penetapan of Daerah Pembibitan Ikan di Danau Tempe

Penetapan of Habitat untuk Burung Air

Perbaikan of Daerah Penangkapan Ikan Air Tawar

Perbaikan of Kebiasaan Sanitasi di Masyarakat Tepi Sungai

(2)

Solusi dengan Hambatan

 

Penetapan sistem Pembuangan Limbah Padat

Rehabilitasi of Fauna Asli

Mengatasi oposisi terhadap Reservoir

Penyediaan Air Ledin

Pengembangan Eko-Wisata

(3)

Masalah yang Mungkin Tidak Dapat Dipecahkan

 

Restorasi Ekologi Sungai

Jadwal Pelaksanaan yang Diusulkan untuk RPKP Lingkungan Hidup

Kegiatan Prioritas Tinggi

Ada dua masalah lingkungan hidup yang dinilai sebagai prioritas tinggi dalam jadwal rencana tindak di daerah studi:

(1)

Sumber daya air yang tidak didistribusi secara rata dan tidak dikelola dengan baik, di mana kelebihan air pada musim hujan dibiarkan banjiri daerah yang luas dan mangalir ke laut, dan pada musim kemarau kekurangan air membatasi produksi banyak tempat pertanian.

(2) Penurunan mutu ekologis Danau Tempe oleh karena pencemaran organik dan pengambilan air sungai untuk irigasi, yang menyebabkan penurunan mutu kwantitas dan kwalitas air danau yang drastis pada musim kemarau. Hal ini mengancam

S - 44

ekologi Danau Tempe punya arti internasional dan menyediakan pangan dan pendapatan pada banyak orang.

Kegiatan Prioritas Sedang

Kegiatan yang dianggap punya prioritas sedang meliputi dua tindakan yang dimaksud untuk perbaikan lingkungan hidup danau; yaitu:

(1)

Melindungi tanggul sungai yang kena erosi paling parah, melalui normalisasi tepi sungai dan penyediaan pendekatan teknik sipil sederhana lain untuk pengendalian pencemaran dan sedimentasi danau

(2) Melakakan studi untuk menetukan kelayakan penyediaan sistem pengumpulan dan pembuangan limbah padat untuk penduduk desa untuk pencegahan kebiasaan pembuangan samah di sungai saat ini, dari mana sampah hanyut ke dalam laut.

Kegiatan Prioritas Rendah

Tinggal satu kegiatan yang berkaitan dengan eko-wisata yang diberikan prioritas rendah, karena ada beberapa hambatan signifikan yang dapat gagalkan sukses pengembangan usaha seperti ini di DAS. Hambatan ini meliputi penyediaan hotel bermutu internasional dan prasarana lain, dan kebutuhan danadari Pemerintah atau pengusaha dari luar daerah. Tindak yang diusulkan sebagai langkah pertana adalah:

(1)

Melaksannakan studi kelayakan tentang pengembangan usaha eko-wisata yang sehat dan keberlajutan di DAS, dengan fokus pada partisipasi masyarakat lokal.

Jika studi awal menunjukan kelayakan pengembangan ini, mungkin tahap selanjutnya adalah penyusunan Master Plan Eko-Wisata.

  • 9.3 Rencana Pengembangan, Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Lahan

    • 9.3.1 Usulan Tindakan Untuk RPKP Sumber Daya Lahan. Berdasarkan analisa terhadap kondisi yang ada dan permasalahan kehutannan dan DAS di daerah Studi sejumlah kegiatan disusun untuk perbaikan situasinya. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah:

Rehabiltasi Lahan Kritis dan Hutan dengan bermacam-macam jenis tanaman (Kegiatan Inti 1)

Pembangunan pekerjaan fisik untuk konservasi (Kegiatan Inti 2)

Pengembangan masyarakat di wilayah hutan

Menetapkan Batas Wilayah Hutan dan mensosialisasikan kepada masyarakat

Usaha Kehutanan dan Pengembangan Produksi Hutan Non-Kayu

S - 45

Pelatihan / Penyuluhan tentang Pemeliharaan/penjagaan dan Pemanfaatan Produk Hutan Non-Kayu.

Pelatihan / Penyuluhan tentang Pemeliharaan Hutan dan Konservasi Lahan / Air, serta Peraturan/Perundang-undangan Kehutanan.

Rehabilitasi Lahan bekas Tambang di Kabupaten MarosRehabilitasi Huan Bakau di wilayah pantai muara sungai Cenranae

Diantara 9 kegiatan diatas, kombinasi kegiatan pertama, “Rehabilitasi Lahan Kritis dan Hutan dengan Bermacam-macam Jenis Tanaman” dan kedua “ Pembangunan pekerjaan fisik untuk Konservasi” ditempatkan sebagai KEGIATAN INTI untuk RPKP Sumber Daya Lahan, dan kegiatan lainnya akan dikombinasikan dengan kegiatan inti tersebut, yang di arahkan untuk peningkatan efektifitasnya secara sinergi.

  • 9.3.2 Usulan Jadwal Pelaksanaan RPKP Sumber Daya Lahan Rencana Jangka Mendesak / Jangka Pendek (2004-2008) Berikut ini adalah berdasarkan data dan informasi yang dikumpulkan dari Dinas Kehutanan, Pertemuan Konsultasi dengan Masyarakat (PCM), dan Diskusi Kelompok Terarah (FGD), rencana kegiatan mendesak untuk RPKP Sumber Daya Lahan adalah di usulkan sebagaimana ditunjukan berikut ini.

Rencana Jangka Mendesak/Pendek (Sub-DAS Minraleng, Sanrego, Cemparake, Tellulimpoe)

No.

Jenis Kegiatan

1.

Rehabilitasi lahan kritis dan hutan dengan bermacam jenis tanaman

2.

Pembangunan pekerjaan fisik untuk konservasi

3.

Pengembangan masyarakat di wilayah hutan

4.

Penetapan batas wilayah hutan dan mensosialisasikan pada masyarakat

5.

Pengembangan usaha kehutanan dan produk hutan Non-kayu

6.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan produk hutan non-kayu

7.

Rehabilitasi lahan bekas tambang

8.

Rehabilltasi hutan bakau di wilayah pantai muara sungai Cenranae

9.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan hutan dan konservasi lahan atau air serta peraturan/perundang-undangan kehutanan

Rencana Jangka Pendek sampai dengan Menengah (2006-2013)

Rencana kegiatan jangka pendek sampai dengan menengah untuk RPKP Sumber Daya Lahan adalah ditunjukan pada tabel dibawah ini.

S - 46

Rencana Jangka Pendek/Menengah (untuk sub-DAS Bila, Gilireng, Mario, dan Kalempang)

No.

Jenis Kegiatan

1.

Rehabilitasi lahan kritis dan hutan dengan bermacam jenis tanaman , yang sesuai untuk kondisi setempat

2.

Pembangunan pekerjaan fisik untuk konservasi

3.

Pengembangan masyarakat di wilayah hutan

4.

Penetapan batas wilayah hutan dan mensosialisasikan pada masyarakat

5.

Pengembangan usaha kehutanan dan produk hutan Non-kayu

6.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan produk hutan non-kayu

7.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan hutan dan konservasi lahan atau air serta peraturan/perundang-undangan kehutanan

8.

Rehabilitasi lahan bekas tambang

Rencana Jangka Panjang I (2014-2017)

Rencana jangka panjang I dari RPKP Sumber Daya Lahan adalah ditunjukan pada tabel berikut.

Rencana Jangka Panjang I (untuk sub-DAS Belo dan sub-DAS Walanae lainnya)

No.

Jenis Kegiatan

1.

Rehabilitasi lahan kritis dan hutan dengan bermacam jenis tanaman , yang sesuai untuk kondisi setempat

2.

Pembangunan pekerjaan fisik untuk konservasi

3.

Pengembangan masyarakat di wilayah hutan

4.

Penetapan batas wilayah hutan dan mensosialisasikan pada masyarakat

5.

Pengembangan usaha kehutanan

6.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan produk hutan non-kayu

7.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan hutan dan konservasi lahan atau air serta peraturan/perundang-undangan kehutanan

Rencana Jangka Panjang II (2018-2024)

Rencana jangka panjang II dari RPKP Sumber Daya Lahan adalah ditunjukan pada tabel berikut.

Rencana Jangka Panjang II (sub-DAS Lancirang, Cenranae, Cekungan Tempe/Batu-Batu dan Kalola)

No.

Jenis Kegiatan

1.

Rehabilitasi lahan kritis dan hutan dengan bermacam jenis tanaman , yang sesuai untuk kondisi setempat

2.

Pembangunan pekerjaan fisik untuk konservasi

S - 47

3.

Pengembangan masyarakat di wilayah hutan

4.

Penetapan batas wilayah hutan dan mensosialisasikan pada masyarakat

5.

Pengembangan usaha kehutanan

6.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan produk hutan non-kayu

7.

Pelatihan/penyuluhan tentang pemeliharaan hutan dan konservasi lahan atau air serta peraturan/perundang-undangan kehutanan

  • 9.3.3 Perkiraan Biaya Untuk RPKP Sumber Daya Lahan Standar biaya yang digunakan untuk menghitung biaya RPKP Sumber Daya Lahan adalah didasarkan pada biaya standar yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan (biaya standar untuk pengembangan Hutan Produksi sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 126/KPTS – IV/1999), dan standar biaya dan kegiatan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Sosial Kehutanan, Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Tahun Anggaran 1999/2000. Diharapkan sumber biaya untuk kegiatan tersebut berasal dari Anggaran Pemerintah (APBN, APBD, Dana Reboisasi) maupun dari bantuan luar negeri. Perkiraan total anggaran yang dibutuhkan adalah ditunjukan pada tabel berikut.

Tabel: Total Perkiraan Anggaran RPKP Sumber Daya Lahan

No

   

Kegiatan

Satuan

Harga Satuan

Volume & Kebutuhan Anggaran

Volume (unit)

Anggaran

1.

 

Hutan dan Lahan Kritis

       
     

Rehabilitasi

       
   

a.

Wilayah Hutan

       
     

-

Hutan Produksi

Rp / ha

 

46.093

  • 4.653.500 214.493.775.500

     

-

Sosial Kehutanan

Rp / ha

 

46.094

  • 3.700.000 170.547.800.000

   

b.

Non - Wilayah Hutan

Rp / ha

 

78.789

  • 2.668.400 210.240.567.600

2

 

Bangunan Teknis

       
 

-

Pembangunan Check dam

Rp / Unit

50.000.000

307

15.350.000.000

 

-

Pembangunan dam kecil

Rp / Unit

15.000.000

614

9.210.000.000

3.

 

Pengemb. Masyarakat di wil. hutan

Rp/paket

34.565.000

138

4.769.970.000

4

 

Penetapan batas hutan dan sosialisasinya

Rp/km

2.500.000

110

275.000.000

   

pada masyarakat