BAB I PENDAHULUAN Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah pengembangan watak dan karakter manusia unggul

dari sisi intelektual, spiritual, emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik tolak kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai hasil proses pendidikan. Pada hakikatnya, pendidikan merupakan upaya membangun budaya dan peradaban bangsa. Oleh karena itu, UUD 1945 secara tegas mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan adalah salah satu unsur paling penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri manusia itu sendiri serta selain itu pendidikan juga merupakan proses pembentukan pribadi dan karakter manusia. Kemudian, pada satu fokus yang lebih khusus yaitu pendidikan formal, manusia diberikan dasar-dasar pengetahuan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dan menghadapi kenyataan hidup dimana didalam pendidikan formal dalam hal ini adalah sekolah menjadi suatu jenjang yang mungkin memang sudah selayaknya dilalui dalam proses kehidupan manusia. Kemudian dalam pendidikan sekolah itu, manusia juga selain melatih kedewasaan juga mengasah intelektualitasnya dan kompetensinya dalam tanggung jawab dan kesadaran. Seperti telah dituliskan sebelumnya, pada dunia sekolah, manusia dilatih intelektualitasnya dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu yang diajarkan dalam proses pendidikannya pada jenjang-jenjang yang telah ada dan diatur. Untuk itu, pada pendidikan sekolah sangat diperlukan adanya perencanaan dalam pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan tersebut. Perencanaan yang dimaksud adalah kurikulum pendidikan atau sekolah yang di dalamnya terdapat standar-standar pembelajaran dan pengembangan intelektualitas manusia. Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau supervise. Pengawasan bertanggung jawab tentang keefektifan program itu. Oleh karena itu, supervise haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Setelah kita mengetahui realita yang terjadi seperti yang sudah tersebut di atas,maka diperlukan sebuah penjelasa secara rinci dan mendetail tentang supervisi pendidikan agar para pendidik dapat memahami betapa perlu dan pentingnya supervisi pendidikan itu.

Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Guru sebagai sumber daya pendidikan yang memegang peran penting, harus dibina dan dikembangkan terus-menerus, agar dapat melakukan tugas dan fungsinya secara profesional. Oleh karena itu, sehingga pembahasan mengenai perlunya supervisi pendidikan itu bertolak dari anggapan bahwa guru adalah suatu profesi yang selalu berkembang, dan perkembangan profesi itu sangat ditentukan oleh faktor internal maupun faktor external guru itu sendiri. Guru yang profesional memiliki ciri-ciri antara lain : 1. Memiliki kemampuan sebagai orang ahli dalam bidang mendidik dan mengajar. 2. Memiliki rasa tanggung jawab, yaitu mempunyai komitmen dan kepedulian terhadap tugasnya. 3. Memiliki rasa sejawat dan menghayati tugasnya sebagai suatu karier hidup serta menjunjung tinggi kode etik jabatan guru (Sahertian, 2000). PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN Dari segi etimologi, supervisi diambil dari kata super artinya mempunyai kelebihan tertentu seperti kelebihan dalam kedudukan, pangkat dan kualitas, sedangkan visi artinya melihat atau mengawasi. Sedangkan dalam arti terminologi, ada beberapa definisi yang akhirnya dari beberapa definisi itu dapat disimpulkan bahwa supervisi pendidikan adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaannya secara aktif. TUJUAN SUPERVISI Pendidikan Adapun tujuan supervisi pendidikan dapat dirinci sebagai berikut : 1. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar. 2. Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan. 3. Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan berhasil secara optimal. 4. Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya. 5. Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan dan kekurangan, serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.

Supervisi terhadap kegiatan yang bersifat teknis edukatif. kepala sekolah dan seluruh staf yang berada dalam sekolah yang bersangkutan. 1. Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data yang objektif yang diperoleh dalam kenyataan proses pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar). sharing of experience” serta memberi support. Prinsip Ilmiah. Prinsip Demokratis Yakni dilaksanakan berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab sehingga guru merasa perlu untuk mengembangkan tugasnya. Supervisi teknis administratif. serta guru dengan seluruh tenaga pengajar yang lain. Berusaha meningkatkan kualitas wawasan dan pengetahuan guru dan pegawai dengan cara melakukan pembinaan secara berkala. Mengembangkan dan mencari metode-metode belajar mengajar yang baru yang lebih sesuai dan lebih baik.Dalam buku Pedoman Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama dijelaskan bahwa kegiatan supervisi pada dasarnya akan diarahkan pada hal-hal sebagai berikut : 1. 2. Membangkitkan dan merangsang semangat guru dan pegawai sekolah. 2. percakapan pribadi. PBM dan evaluasi. yaitu : 1. terencana dan kontinu. ada 2 sasaran pokok dalam supervisi. dorongan dan menstimulasi guru sehingga mereka merasa tumbuh bersama. 4. PRINSIP SUPERVISI Pendidikan 1. Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga diri dan martabat guru. Setiap kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis. 1. keuangan serta administrasi sarana dan prasarana pendidikan. bukan menakutkan. 3. Untuk memperoleh data diperlukan alat perekam data (angket. observasi. 2. yang meliputi kurikulum. dengan ciri-ciri : 1. Mengembangkan kerjasama yang baik dan harmonis antara guru dan siswa. 2. FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN Fungsi supervisi pendidikan dapat diperinci sebagai berikut : . meliputi administrasi personal. Prinsip Demokratis dan Kreatif Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi kreativitasnya jika supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan. dan lain-lain). material. Prinsip Kerja Sama Yakni mengembangkan usaha bersama atau “sharing of idea. 3. Selain itu.

4. 2. Manfaat kerjasama antar sekolah dan masyarakat . 3. Partisipasi guru dalam kegiatan kurikuler dan ko-kurikuler 3. Administrasi tata usaha Pelaksanaan usul kenaikan pangkat guru dan pegawai Pelaksanaan kenaikan gaji berkala guru dan pegawai Buku kas umum. penggunaan dan pemeliharaan alat pengajaran Pengadaan. Pembagian tugas 2. SPP. koperasi dan lain-lain Supervisi Sarana dan Prasarana Pendidikan Menilai : 1. Supervisi Pelaksanaan Kurikulum 1. Bentuk dan sifat kerjasama antar sekolah dan masyarakat 2. workshop. 4. 7. Jadwal dan rencana tahunan guru 4. Membantu serta membina guru dengan cara memberikan petunjuk sehingga keterampilan dan kemampuannya meningkat. Supervisi Ketatausahaan Menilai : 1. 5. Statistik peresensi guru. Membantu kepala sekolah/ guru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah. penggunaan dan pemeliharaan material Supervisi Hubungan Sekolah dan Masyarakat 1. bangunan dan halaman sekolah Pengadaan dan penggunaan alat dan perabot kantor Pengadaan. 6. Cara mengkoordinasi kegiatan belajar mengajar. Program bimbingan siswa 2. dan lain-lain 4. Partisipasi guru dalam penataran. Penerapan satuan pelajaran sebagai sistem dan penyampaian materi pelajaran 5. 3. Supervisi Ketenagaan 1. 3. 2. 2. lokakarya. 2. RUANG LINGKUP SUPERVISI PENDIDIKAN Program supervisi pendidikan meliputi penelitian dan pembinaan mengenai hal-hal sebagai berikut : 1. dan lain-lain 3. Penyelenggaraan dan keadaan perpustakaan sekolah Penyelenggaraan dan keadaan laboratorium Pemeliharaan gedung. Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum dengan segala sarana dan prasarana. Perencanaan evaluasi belajar (harian. Pelaksanaan PBM yang meliputi : 1. semester dan UAN) 3.1. Rencana tahunan sekolah 3. 5. Kehadiran guru di sekolah dan di kelas 2.

teknis. 5. penelitian. daya cipta. Tipe demokratis semu yaitu supervisor dengan licik memaksakan keinginannya. 2000) adalah : 1. Tipe demokratis yaitu supervisi berfungsi membina otoritas supervisor seimbang dengan otoritas pihak yang disupervisi. memberikan support (supporting). 1. Pembinaan. Tipe laisse-fire yaitu supervisor menginterpretasikan demokrasi dengan memberikan kebebasan kepada bawahannya. Tipe manipulasi diplomasi yaitu supervisor melaksanakan prinsip demokrasi seperti rapat. Sebagai koordinator . 4. Olivia (dalam Sahertian. PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN 1. Supervisi Preventif Dalam proses supervisi. 3. namun dengan kelihaiannya ia menggiring pikiran peserta sesuai kehendaknya. baik secara prinsipil. 1. Supervisi Korektif Dalam proses supervisi. partisipasi. PERANAN SUPERVISI PENDIDIKAN Supervisi berfungsi membantu (assisting). supervisor bersifat mencari kesalahan bawahannya. sehingga supervisor kehilangan otoritasnya sendiri. supervisor mengutamakan kerjasama. 2. supervisor memperhatikan prestasi bawahannya (seperti : inisiatif. 1. sehingga peranan supervisi pendidikan menurut Pieter F.3. Tipe otokratis yaitu menganggap bahwa ia sebagai penentu segala kebijakan dan bagaimana menjalankannya. namun nampak seolah-olah demokratis. Supervisi Kooperatif Dalam supervisi. dan mengikutsertakan. efektivitas dan efisiensi kerjasama TIPE SUPERVISI PENDIDIKAN Bentuk supervisi dapat dibedakan atas : 1. maupun dalam melaksanakan instruksi dari supervisor. supervisor memberikan nasehat-nasehat untuk menghindari kesalahankesalahan. dan lain-lain) yang kemudian memberikan berbagai macam penghargaan yang sesuai. Supervisi Konstruktif Dalam supervisi. musyawarah dan toleransi dengan bawahan demi kemajuan pendidikan.

Persentase penilaian diklasifikasikan atas dasar tingkat : A = 81% – 100% = Baik sekali B = 61% – 80% = Baik . Sebagai evaluator TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN Menurut Ary Gunawan.2) 3. Sebagai konsultan 3. maka kolom A.1) 2.2. 3. Berfungsi memperbaiki situasi belajar mengajar 3. maka teknik yang digunakan adalah teknik individual sehingga dijamin kerahasiaannya. B. supervisor menyiapkan instrumen. Kunjungan/ observasi kelas (S. 1. Sebagai pemimpin kelompok 4. 5.3) Petunjuk Penggunaan Instrumen S. agar penilaian benar-benar sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada. D. Teknik Individual (Individual Technique) Bila masalah yang dihadapi bersifat pribadi.1 1. ada 2 jenis teknik supervisi pendidikan yaitu : 1. Menurut John Minor Gwin (dalam Sahertian. Mengisi instrumen S.1 setelah supervisor mengadakan observasi PBM. Bertujuan untuk mencatat data kemajuan tentang PBM 2. C. Laporan data sikap profesional guru dari kepada sekolah kepada pengawas (S. 1. maka penyelesaiannya dapat dilakukan dengan “teknik kelompok”. 4. 2000) bahwa teknik individual itu seperti : 1. 2. Teknik Kelompok (Group Technique) Jika menurut supervisor permasalahannya sejenis. E diisi tanda cek (ü) sesuai dengan hasil observasi 4. Data sikap profesional guru (S. Kunjungan kelas Observasi kelas Percakapan pribadi Intervisitasi Menyeleksi berbagai materi untuk mengajar INSTRUMEN SUPERVISI PENDIDIKAN Untuk melakukan supervisi.

Syarat-syarat Rekrutmen Pengawas . Pengawas Sekolah Muda : Golongan III/C. MENPAN 118/1996 tentang jabatan fungsional pengawas dan angka kreditnya dijelaskan : 1.3 Tujuan instrumen S. 2.3 adalah memberikan gambaran tentang sikap profesional seluruh guru pada seluruh wilayah pembinaan. III/D 3. Huruf A. Cara mengisi instrumen S. B. Tujuan instrumen S.C = 41% – 60% D = 21% – 40% E = 1% – 20% = Sedang = Kurang = Sangat kurang 1. 2. Isinya merupakan kumpulan hasil penilaian dari instrumen S. 3.2 1. D. Pengawas Sekolah Madya : Golongan IV/A. Partisipasi guru 2. IV/ B. Kerjasama guru dengan seluruh staf di sekolah 4.1 Setiap pertanyaan diberi tanda cek (ü) Analisis dan kesimpulan diisi seperti instrumen S. E dihitung dengan mengalikannya dalam angka persentase. Petunjuk Penggunaan Instrumen S.1 nomor 1. kemudian dinyatakan dengan huruf yang sesuai dengan kriteria tersebut. Petunjuk Penggunaan Instrumen S. C. Pengawas Sekolah Utama : Golongan IV/D.2 : Kriteria yang digunakan sama dengan instrumen S.2 merupakan data sikap profesional guru. Jenjang Jabatan Pengawas 1. IV/E. IV/C. 4. Keaktifan guru 3.2. Berfungsi sebagai sumber data untuk melihat profesional guru saat menjalankan tugasnya. 2 dan 3. yang dilihat dari : 1. JENJANG JABATAN DAN PANGKAT SERTA PERSYARATAN REKRUTMEN PENGAWAS PENDIDIKAN AGAMA Berdasarkan Kep. III/B. 2. Sikap profesional guru dilihat dari moral kerjanya yang terealisasi dalam reaksi mental emosional guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Pengawas Sekolah Pratama : Golongan III/A.

Pengawas pelajaran agama yang bertugas pada TK. BA..1. 1. atau MTs.2. 2.4. SD. 1. 4. Persyaratan khusus 3.3. MA (berpendidikan minimal S. RA. Telah mengikuti pendidikan dan pelatihan kedinasan di bidang pengawasan pendidikan agama. Usia maksimal 5 tahun sebelum usia pensiun 1. Persyaratan umum 2. 3. Berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru agama minimal 6 tahun 2. SDLB.4. berkedudukan minimal memiliki salah satu spesialisasi mata pelajaran). Menag bagi pengawas sekolah utama (IV/D dan IV/ E) Sekretaris Jenderal Depag bagi pengawas sekolah madya (IV/B dan IV/C) Kepala biro kepegawaian Depag bagi pengawas sekolah madya (IV/A) Kakanwil Depag bagi pengawas sekolah Pratama (III/A sampai III/D) 1. SMA/ SMK. berkedudukan minimal penata muda). MI. 2.1. MD (pendidikan minimal D II yang sesuai.2.2. 4.3. Memiliki keterampilan dan keahlian yang sesuai. 1. Kompetensi akademik Kompetensi praktis Kompetensi pendukung . Pengawas pelajaran agama yang bertugas pada SMP.1.1. 1.1. Pengangkatan pertama kali 1.2.1.3. Kompetensi 4.

sedikitnya terdapat lima subsistem yang saling bekerjasama. Artinya sebahagian besar guru ( 57 % ) tidak atau belum memenuhi syarat. (3) sarana dan prasarana pendidikan. dan (3) guru dan tenaga kependidikan yang profesional. dan (5) kualitas calon peserta didik. dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan dan satuan pendidikan. Guru memiliki posisi yang sangat penting dan menetukan. sebagai berikut . Guru berada pada lini paling depan dalam keterlaksanaan proses pemelajaran di sekolah. Membicarakan strategi pengembangan pendidikan. sarana prasarana. Dari kelima subsistem tersebut kompetensi guru memiliki peran yang paling ldominan. Dari analisis rangkuman data pendidikan di Sumatera Barat tahun 2004/2005. Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003. Dengan sedemikian besarnya beban tugas dan tanggung jawab guru. jika dipersandingkan dengan guru yang memenuhi syarat seperti yang diungkap bapak Wardiman di atas. tenaga non kependidikan adalah penting. akan sangat sulit untuk bisa dipahami bagaimana guru dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan harapan. Guru merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kualitas dan kebermaknaan proses pemelajaran di dalam kelas. Dalam sistem persekolahan gedung. (2) kurikulum. Demikian diungkapkan mantan Menteri Pendidikan Nasional Wardiman Djoyonegoro dalam wawancara dengan Metro TV dalam rangka menyambut hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei 2005. dan tidak profesional. (4) kultur masyarakat yang menunjang. inovatif dan kreaktif. tidak kompeten. Imran ( 1989 : 112 ) mengungkapkan bahwa guru merupakan tokoh kunci dalam proses tranformasi manusian Indonesia untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. “hanya 43 % guru yang memenuhi syarat “. yakni (1) guru sebagai tenaga pendidik. ditemukan masalah yang terkait dengan kelayakan guru dari sudut tingkat pendidikan. Dalam pada itu dikemukakannya. . guru yang berdedikasi. tentang Sisdiknas Bab XI Pasal 39 ayat (1). Sedikitnya terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam membangun pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap sumber daya manusia (SDM). yakni : (1) sarana dan prasarana belajar . tetapi tampa guru yang bermutu. dijelaskan tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi. guru yang profesional semua masukan lain tidak akan mempunyai arti banyak. kurikulum. pengembengan. karena sebaik apapun kurikulum dan selengkap apapun fasilitas akan menjadi tidak bermakna apabila berada ditangan guru yang kurang profesional. pengelolaan.Pendahuluan. (2) buku dan atau sumber belajar yang berkualitas. Syaiful (2000 : 73 ) mengatakan : guru adalah orang tua kedua bagi anak didik .

tentu menuntut perobahan paradigma guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab utama proses pemelajaran di kelas. mulai dari membuka peluang bagi guru untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.72 % 12. dan dihadapkan pada situasi dan kultur baru yang belum tentu cocok dengan kontek dan kultur tempat mereka bertugas.12 % 3 Tidak memenuhi tingkat pendidikan di 9.34 % SMK 74. Perobahan paradigma tentang masalah pendidikan. karena guru tersebut diangkat/dicabut dari kontek dan habitat aslinya. dan digulirkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang berbasis kompetensi. guru layak untuk SD/MI tingkat pendidikan D-II keguruan ke atas. untuk SMP/MTS tingkat pendidikan D-III keguruan ke atas. Kalau kualifikasi kelayakan menggunakan Undang-Undang Guru dan Dosen tentu tingkat ketidak layakannya akan menjadi jauh bergeser. tahun 2005) Kualifikasi layak.64 % 5.86 % (Sumber : Diknas Sumbar . mendorong lahirnya MGMP dan atau MGBS. Penataran/pelatihan itu tidak memberikan hasil yang signifikan kearah perbaikatan dan peningkatan mutu pendidikan menerut analisis para ahli banyak kemungkinan penyebabnya.95 % SMA 78. Salah satu diantaranya. untuk SMA/MA/SMK tingkat pendidikan S-1 keguruan ke atas.51 % 19. semi layak. Namun upaya itu pada realitanya tidak menampakan hasil yang signifikan kearah peningkatan mutu pendidikan secara nasional. baik dengan biaya pemerintah ataupun dengan biaya mandiri. Melakukan pelatihan/penataran ditingkat kabupaten.68 % 14. Setelah mereka sampai ditempat . Memahami kondisi di atas telah berbagai upaya dilakukan oleh semua pihak yang merasa bertanggung jawab tentang peningkatan mutu pendidikan. dan tidak layak tersebut.97 % 5.3 % 10.Kualifikasi Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Latar Belakang Pendidikan (ijazah) Dengan Bidang Studi yang Diajarkan No PERSYARATAN SD 1 Memenuhi tingkat pendidikan minimal 75. Sehingga pelatihan/penataran melahirkan kebingungan baru yang mendorong guru menjadi apatis serta mempertahan status kuo.41 % 2 Semi memenuhi pendidikan non keguruan 15. propinsi dan nasional. apalagi diwilayah Indonesia Timur. Memperhatikan data yang ada di Sumatera Barat di atas tentu kondisi ketidak layakan guru secara nasional tidak akan berbeda jauh. sebagaimana terdapat dalam rangkuman di atas adalah.47 % bawah persyaratan minimal SLTP 76.

Supervisi klinis dapat dilakukan bersiklus jika dibutuhkan. kita respon dengan “A” seperti yang lalu kita akan gagal. Secara kemitraan keduanya menganalisis proses pemelajaran yang telah dirancang dan disepakati. Supervisi klisnis memberikan kebebasan untuk memilih tanggapan terhadap berbagai ransangan yang ada. Sehingga konsep “AMBAK” yang ditawarkan Bobbi De Porter dalam Quantum Learning dapat direalisasaikan di ruang kelas. Pemelajaran akan lebih bermakna dan berkualitas. supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan profesional guru dalam pelaksanaan proses pemelajaran. kemudian dicarikan alternatif pemecahan permasalah yang ditemui dalam proses pemelajaran tersebut agar dapat ditingkatkan kualitasnya. Dengan bimbingan tersebut diharapkan terjadi peningkatan kualitas pemelajaran. Antara guru yang disupervisi dengan supervisor dapat saling bertukar argumen. Supervisi dilakukan bukan dalam kontek mencari kesalahan dan kelemahan guru yang di supervisi. Karena guru dapat memperlebar ruang yang terdapat antara ransangan dan tanggapan yang datang silih berganti. bukan merupakan hubungan antara bawahan dan atasan dan atau hubungan antara guru dengan murid. Johan J. setiap guru memimpin proses pemelajaran. Richard Waller dalam La Solo ( 1983 : 27 ) mengatakan : . bila kita menghadapi sebuah stimulan tahun lalu atau bulan lalu kita respon dengan “A” yang setara dengan stimulan tersebut maka kita berhasil. Tetapi apa bila hari ini kita mendapatkan stimulan yang sama dengan stimulan yang lalu. Bolla ( 1985 : 19 ) mengatakan bahwa. direspon “ A plus “ baru ada peluang untuk berhasil. Antara guru yang disupervisi dengan supervisor adalah mitra sejajar. mereka kembali kepada kebiasaan lama yang sudah tidak relevan lagi. Dengan kata lain. Bimbingan diarahkan pada upaya pemberdayaan guru dalam menguasai aspek teknis pemelajaran. baik di dalam ataupun di luar ruang kelasnya. Pelaksanaan supervisi klinis menuntut perobahan paradigma guru dan supervisor. Supervisi klinis adalah sebuah upaya berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas pemelajaran dengan tampa mengangkat/mencabut guru dari habitat dan kultur aslinya. Keduanya saling memperkaya dan meningkatkan kualitas diri. Pengertian Supervisi Klinis.tugasnya habis mengikuti penataran/pelatihan. Covey (2005 : 25 ) menggambarkan situasi seperti itu dengan hanya 4 kata “ Nothing fails like succes” ( tidak ada sesuatu yang gagal seperti keberhasilan). tidak ada yang dinilai dan yang menilai.

media dan keterampilan pemelajaran secara terintegrasi. Supervisor merefleksikan data dan fakta objektif hasil observasi selama proses pemelajaran berlansung. karena ia merasa kurang maksimal dalam pelaksanaan proses pemelajaran. Aspek dan jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru dan atau sebuah kesepakan hasil kajian bersama antara guru dengan supervisor. 4. Walaupun guru menggunakan berbagai strategi. observation and intensive intelectual analysis of actual teaching performance in the interest of rational modification “ Pendapat Richard di atas mengenai supervisi klinis memfokuskan pada upaya perbaikan proses pemelajaran yang dilakukan bersiklus. . Perbaikan itu dilaksanakan secara berkelanjutan dalam beberapa siklus sampai kondisi yang diinginkan dapat dicapai. bukan perintah atau instruksi atasan pada bawahan. metoda. Guru juga dapat meminta agar ia disupervisi dengan supervisi klinis. 2. Hal ini didasari oleh hasil analisis supervisi umum yang dilakukan oleh kepala sekolah dan atau tim yang ditunjuk kepala sekolah. 5. Supervisi klinis dapat dilakukan atas permintaan guru. Berdasarkan dua pertimbangan di ataslah supervisi klinis dapat dilakukan terhadap seorang guru. Supervisi klinis diharapkan juga dapat melahirkan re-invantion dan atau inovasi yang relevan dengan kultur dan kondisi masing-masing sekolah. karena ia merasa bulum mampu melaksanakan strategi atau keterampilan mengajar terntentu. Walaupun demikian masih dituntut persetujuan. Instrumen supervisi dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan. Supervisi klinis dilakukan dalam bentuk bimbingan dan atau berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas pemelajaran. Balikan diberikan segera setelah kegiatan supervisi berlansung. antara lain adalah : 1. sasaran supervisi klinis hanya pada aspek dan jenis keterampilan yang disepakati. Hasil supervisi memberikan petunjuk bahwa guru tertentu perlu bantuan dan bimbingan agar mampu melaksalanakan proses pemelajaran yang lebih berkualitas dan bermakna.“ Clinical supervision may be defined as supervision focused upon the inprovement of instruction by means of sistematic cycles of planning. Supervisi klinis juga dapat diminta oleh kepala sekolah agar dilakukan terhadap guru tertentu. 6. kerelaan dan pemahaman yang mendalam dari guru yang akan di supervisi dengan supervisi klinis. 3. Selanjutnya La Solo (1983 : 56 ) menjelaskan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan supervisi klinis. atau guru tersebut menemui masalah dalam proses pemelajaran yang ia tidak mempu mengatasinya sendiri.

yang berisi saran pembinaan dan legalitas kegiatan. SMA NEGERI 1 BATANG ANAI KAB. Ketiga lebaran observasi. Instrumen ini sifatnya terbuka dan setelah digunakan harus dimiliki oleh guru yang disupervisi. 10. pengelolaan kelas dan interaksi dengan siswa dalam proses pemelajaran. dan kesimpulan diskusi sebagai balikan. akademik . Satu siklus supervisi klinis terdiri dari 5 ( lima ) tahapan kegiatan yaitu : a). melaksanakan proses pemelajaran. melakukan observasi dan merefleksikan data dan fakta hasil observasi. Setelah didapat pemahaman bersama dan dirasa belum mencapai kondisi optimal yang diinginkan.7. Guru yang disupervisi diberikan kesempatan seluas-luasnya memberikan argumentasi yang mendasari pilihan tindakan dan perilaku yang digunakan dalam proses pemelajaran. 9. Pertama lembaran kesepakatan yang terdiri dari 4 (empat ) aspek yakni : aspek kependidikan. apa fokus persoalan yang akan disupervisi. supervisi dapat dilanjutkan pada siklus berikutnya. refleksi. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengar penjelasan dari pada memberikan arahan apalagi perintah. Karena data. c). d). Dalam lembaran ini disepakati. Kedua lembaran perangkat dan media pemelajaran apa yang menjadi pilihan. b). Instrumen Supervisi Klinis Instrumen supervisi klinis terdiri dari beberapa bagian. PADANG PARIAMAN . diskusi/balikan. supervisor dan kepala sekolah. fakta dan kesimpulan yang terdapat dalam instrumen inilah yang akan dijadikan dasar dalam perencanaan kekiatan pada siklus selanjutnya. menyusun perencanaan. merancang siklus berikutnya. merumuskan kesepakatan. dan e). Keempat lembaran penutup. 8.

Pangkat / Golongan : ____________________________ : ____________________________ : ____________________________ III. Bidang 1 Kependidikan Aspek 1. Supervisor : 1. Nama 2. NIP. Mengajar di kelas 6.SUMATERA BARAT INSTRUMEN SUPERVISI KLINIS I. NIP._______________________________ 2. 3._______________________________ Keterangan ___________ ___________ . Mata Pelajaran : ____________________________ 5. Guru yang disupervisi: 1. Semester : ____________________________ : ____________________________ : ____________________________ II. Kurikulum Acuan 7. 3. Bidang dan Aspek yang disepakati untuk disupervisi: No. Pangkat / Golongan : ____________________________ : ____________________________ : ____________________________ 4. Nama 2.

200._______________________________ 2._______________________________ 2.._______________________________ ______________________ 2._______________________________ 3._______________________________ 4._______________________________ 2. Perangkat Pemelajaran .._______________________________ ______________________ __________ 3 Pengelolaan Kelas 1. (__________________) NIP. Guru yang disupervisi. (___________________) NIP. Akademik 1.3. RANCANGAN PEMBELAJARAN 1._______________________________ ___________ ___________ Pasar Usang._______________________________ ___________ ___________ ___________ 3 Interaksi dengan siswa dalam proses 1. Supervisor._______________________________ 3. …………….

Silabus 3. Bahan Ajar 5 Skenario 6. Penilaian Proses b. Yang _______________ direncanakan: Keterangan . Program Tahunan & Smt 2. No. Media Pemelajaran. Analisis Materi 4. Penilaian Hasil 1) Pengetahuan 2) Sikap 3) Keterampilan __________________________ _____________ _______________________________________ _______________________________________ __________________________ 2.No Jenis Perangkat Penjelasan Ada Kurang Tidak ada Keterangan 1. Jenis Media dan Penjelasan Sumber Ada Kurang Tidak ada Belajar yang digunakan 1. Pemelajaran 7. Alat Bantu Proses Instrumen Penilaian a.

Bahan ajar c. Chart b. Pemodelan _____________________________________________ g. Tenaga Ahli h. Grafik / Gambar e. Buku sumber d. dimanfaatkan a. Kependidikan Catatan Hasil Pengamatan _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ _________________ . learning e. Media cetak c. e learning Yang 2. e.a. Simulasi _______________ _______________ ______________________________ ______________________________ ______________________________ ______________________________ f. Grafik / gambar d. Lingkungan Belajar PENGATAN PROSES PEMELAJARAN N Aspek yang o. disupervisi 1.

_________________ _______________ ___________________________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ Akademik/materi pembelajaran ___________________________ ___________________________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ _________________ _______________ ___________________________ _________________ _______________ _________________ 3. _______________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ _________________ ._______________ ___________________________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ _________________ _______________ ___________________________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ _________________ _______________ __________________________ _________________ _______________ 2.

_______________ ___________________________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________ _________________ _______________ ___________________________ ___________________________ ___________________________ Pengelolaan Kelas __________________________ _________________ _______________ _________________ _______________ 4. _________________ _______________ _________________ ___________________________ _______________ _________________ ___________________________ _______________ ___________________________________________________________ _________________ _________________________________________________ _______________ _________________ _______________ _________________ _______________ _________________ ______________ Interaksi dengan Siswa _________________ _______________ _________________ .

_______________ _________________ _______________ _________________ _______________ _________________ _______________ _________________ ______________ REFLEKSI HASIL PENGAMATAN _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _______ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ .

_____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _______________ KESIMPULAN HASIL DISKUSI _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ ______________________________________________________________ SARAN-SARAN 1.____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ ___________________________________ .____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ ___________________________________ 3.____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ ___________________________________ 2.

Penutup Telah dilaksanakan supervise klinis pada hari _____________ tanggal ___ bulan __________ tahun 200_ terhadap Bapak / Ibu_____________________ guru mata pelajaran ______________ mengajar pada kelas _______ jam pelajaran ke ____ Pasar Usang. Catatan : .200Supervisor Guru yang disupervisi (_____________________) (____________________) NIP. ……. NIP.____________________________________________________________________________ _____________________________________________________________________________ ___________________________________ IX.4.

Pertama tim supervisi klinis di tingkat kabupaten/kota. Organisasi Pelaksana Supervisi Klinis. hasil diskusi/balikan dan saran pembinaan dijadikan bahan untuk merumuskan perencanaan pada siklus selanjutnya. Penutup . Kemudian tim ini bertanggung jawab membina. untuk supervisor dan arsip sekolah. Tim kabupaten ini dibekali secara khusus dengan semua pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang supervisor supervisi klinis. tetapi dapat menyentuh persoalan paling dasar yakni peningkatan keterampilan guru dalam mengelola proses pemelajaran dalam kelas. Anggota tim ini dipilih dari guru-guru berkualitas dengan latar belakang pendidikan minimal Strata 1 ( S1). Apabila kualitas pemelajaran dalam kelas sudah dapat dioptimalkan maka peningkatan mutu pendidikan akan dapat direalisasikan pata tataran kenyataan ( tangibel ). Upaya peningkatan mutu pendidikan hanya akan menjadi ilusi kalau peningkatan proses pemelajaran dalam kelas tidak terujud secara berkelanjutan. Blanko ini di isi rangkap 3 (tiga). 2. Kerena mutu pendidikan itu berangkat dari kondisi proses pemelajaran dalam ruang kelas. Kemudian juga pembinaan terhadap tim rayon/kecamatan dapat dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. untuk guru yang disupervisi. refleksi. Tim supervisi klinis ditingkat rayon dan kecamatan beranggotakan 3 sampai 5 orang. Pada tataran operasional tim kabupaten/kota berbagi tugas mengawasi dan mendampingi tim rayon/kecamatan. Tim ini beranggotakan pengawas pendidikan Kabupaten/kota ditambah dengan beberapa orang guru senior pilihan.1. mengawasi dan mendampingi tim kedua yang berada di tingkat rayon dan atau beberapa sekolah sejenis yang berdekatan lokasi untuk tingkat SMP/MTS dan SMA/SMK. Pembinaan dan pembekalan tim supervisi klinis tingkat rayon/kecamatan ini menjadi tanggung jawab tim supervisi klinis tingkat kabupaten/kota. Pelaksanaan supervisi klinis dapat direalisasikan dengan membentuk dua buah tim. Supervisi klinis dapat menjadi salah satu bentuk alternatif dari sekian banyak alternatif. Catatan observasi. Untuk SD/MI tim dibentuk pada tingkat kecamatan. Hal ini dimungkinkan karena sepervisi klinis tidak membutuhkan struktur organisasi yang rumit dan dapat dilaksanakan dengan anggaran yang relatif kecil. agar penyimpangan konsep secara dini dapat diketahui dan diluruskan.

sampai kita mengetahui bagaimana kegagalan untuk mengetahui itu membentuk pikiran dan perbuatan kita. Apabila hari ini kita ditentukan oleh masa lalu. hanya sedikit hal yang dapat kita lakukan terhadap perubahan. Jasarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Sumatera Barat. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagian kita. Strategi Instruksional . Taufik Sabirin. tampa mungkin kita kejar hanya dengan merenung dan berangan-angan. antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Apabila kita mendasari pilihan dengan warisan kebiasaan dan keberhasilan masa lalu. ( 1991 ) Instructional Technology . past. R ( 2005 ) The 8th Habit .Covey ( 2005 : 62 ) mengatakan. karena kondisi kekinian bergerak jauh lebih cepat dari apa yang kita pikirkan. Mari kita berbuat dan berbuat sebagai warisan untuk anak-cucu kita kelak dikemudian hari Drs. Peningkatan mutu pendidikan harus kita mulai hari ini dan dari diri kita sendiri. J. Nip. M. Dan karena itu tidak berhasil mengetahui apa-apa yang tidak berhasil kita ketahui. Covey. Diruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan itu. Present and Future. Menggapai Keagungan. (1995). Wilayah cakupan apa yang kita pikirkan dan kita kerjakan dibatasi oleh apa yang tidak kita ketahui. Melampau efektifitas. dan ia akan makin jauh meninggalkan kita. Latar Belakang Teori dan Penalarannya. Stephen. Clorado : University of Kentucky Libraries Unlimited INC Englewood. Gery. .Pd. Referensi Abizar. Padang : FPTK IKIP Padang. Angli. kalau tidak kita akan digilas oleh pikiran dan angan-angan kita sendiri. maka ia akan mempersempit ruang yang ada. 131 853 131 Guru SMA 1 Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman. apakah masa depan kita masih akan ditentukan oleh masa lalu ?.

Quantum Learning. Terjemahan Ary Nilandari.13:43 by akhmadsudrajat 1. ( 2000 ) . 04/10/2008 . Bandung: PT. 2. pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.De porter. Supervisi Klinis untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Posted Sab. Apa supervisi klinis itu? Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan. diantaranya: • • • • Tidak ada balikan dari orang yang kompeten sejauhmana praktik profesional telah memenuhi standar kompetensi dan kode etik Ketinggalan iptek dalam proses pembelajaran Kehilangan identitas profesi Kejenuhan profesional (bornout) . Mizan Pustaka. Mengapa supervisi klinis diperlukan? Beberapa alasan mengapa supervisi klinis diperlukan. Bobbi.

4. Apa tujuan supervisi klinis? Secara umum tujuan supervisi klinis untuk : • • • • • Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.• • • • • Pelanggaran kode etik yang akut Mengulang kekeliruan secara masif Erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan (PT) Siswa dirugikan. Fokus supervisi klinis adalah: (1) perbaikan proses pembelajaran. obyektif dan tiidak bersifat menyalahkan. (3) keterampilan dalam proses pembelajaran. Bersifat interaktif. (2) keterampilan mengembangkan kurikulum. Apa prinsip-prinsip dalam supervisi klinis? Beberapa prinsip yang menjadi landasan bagi pelaksanaan supervisi klinis. adalah: • • • • Hubungan antara supervisor dengan guru. Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan. Diskusi atau pengkajian balikan bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan. terutama bahan pembelajaran. dan (3) didasarkan atas kesepakatan bersama dan pengalaman masa lampau. tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya Rendahnya apresiasi dan kepercayaan masyarakat dan pemberi pekerjaan 3. 5. guru dengan mahasiswa PPL adalah mitra kerja yang bersahabat dan pebuh tanggung jawab. . Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Pelaksanaan keputusan ditetapkan atas kesepakatan bersama. seperti: (1) keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan. Apa karakteristik supervisi klinis? Supervisi klinis memiliki karakteristik sebagai berikut: • • • Perbaikan dalam pembelajaran mengharuskan guru mempelajari keterampilan intelektual dan bertingkah laku berdasarkan keterampilan tersebut. Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa keterampilan. terbuka. (2) keterampilan penampilan pembelajaran yang memiliki arti bagi keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran dan memungkinkan untuk dilaksanakan. kepala sekolah dengan guru.

Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan. dan (5) menentukan teknik pelaksanaan observasi. metode. dan (5) menentukan teknik pelaksanaan obeservasi. (8) hindari saran secara langsung. (4) mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama. Bandung. Prosedur pelaksanaan berupa siklus. antara lain: (1) harus luwes. 2001. dan tetap berada di ruang lingkup pembelajaran. dan lain-lain yang terkait dengan pembelajaran. (3) menentukan fokus obsevasi. dan (9) merumuskan kembali kesepakatan-kesepakatan sebagai tindak lanjut proses perbaikan. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: (1) menciptakan suasana yang intim dan terbuka. . 2007. waktu. media. (6) data hasil pengamatan tidak disebarluaskan. Tahap pelaksanaan observasi. (4) menentukan alat bantu (instrumen) observasi. dkk.• • • Hasil tidak untuk disebarluaskan Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru. mulai dari tahap perencanaan. (5) tidak bersifat menyalahkan. Supervisi Bimbingan dan Konseling (Bahan Pelatihan BK di Cikole). (2) mengulas kembali tujuan pembelajaran. evaluasi hasil belajar. tahap pelaksanaan (pengamatan) dan tahap siklus balikan. (4) mengkaji data hasil pengamatan. (3) tidak bersifat menilai. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Agus Taufiq. (3) mengulas kembali hal-hal yang telah disepakati bersama. (2) tidak mengganggu proses pembelajaran. Tahap akhir (diskusi balikan). (2) mengkaji rencana pembelajaran yang meliputi tujuan. 6. Sumber : Iim Waliman. (7) penyimpulan. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: (1) memberi penguatan. Bagaimana prosedur supervisi klinis? Pelaksanaan supervisi klinis berlangsung dalam suatu siklus yang terdiri dari tiga tahap berikut : • • • Tahap perencanaan awal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful