UJIAN AKHIR PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAMA TERPADU PERKEMBANGAN PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU DI INDONESIA Oleh : Adi Sucandra

(0906114635) Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau Sejarah Perlindungan Tanaman Indonesia Menurut Untung (2007), kegiatan perlindungan tanaman di Indonesia telah berlangsung sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan Belanda sebelum tahun 1900, kegiatan pertanian masih bersifat alami, hanya diusahakan untuk pemenuhan kebutuhan sendiri serta belum tersentuh ilmu pengetahuan dan teknologi. Sekitar tahun 1600, VOC yang merupakan kumpulan pedagang Belanda menguasai perdagangan produk-produk pertanian Indonesia terutama pulau Jawa. Komoditas yang berkembang saat itu didominasi tanaman perkebunan yakni cengkeh, kopi dan gula tebu. Setelah VOC bangkrut, kekuasaan beralih pada pemerintahan kolonial Belanda. Selama pemerintahan ini perkebunan khususnya kopi, tebu, kakao dan tembakau mulai dikembangkan. Kebijakan tanam paksa (Cultuurstelsel) mulai dijalankan tahun 1830-1870. Perkembangan kegiatan penelitian pertanian dan pembentukan dinas khusus yang menangani pertanian rakyat baru terlihat pada masa penjajahan Belanda setelah tahun 1900. Pendirian Kebun Raya Bogor dianggap sebagai tonggak dimulainya kegiatan-kegiatan pertanian di Indonesia, termasuk penelitian hama dan penyakit tanaman. Lembaga-lembaga penelitian mulai banyak didirikan dengan berbagai komoditas yang ditangani sehingga banyak hasil-hasil penelitian diperoleh dan dipublikasikan. Departemen Pertanian, Kerajinan dan Perdagangan Hindia Belanda dibentuk pada 1 Januari 1905 dengan Direktur pertama kalinya Dr. M. Treub. Tugas Departemen Pertanian adalah memperbaiki keadaan pertanian, peternakan dan perikanan tradisional yang kemudian dikenal sebagai pertanian rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jaringan irigasi dan infrastruktur lainnya guna meningkatkan produksi padi, palawija, dan sayuran. Adanya kebijakan Departemen Pertanian menyebabkan produksi tanaman pangan meningkat sehingga kebutuhan beras di luar Jawa dapat dipenuhi dari hasil sawah di pulau Jawa (Untung, 2007). Pada masa pendudukan Jepang 1942-1945, dan masa pencapaian kemerdekaan 1945-1950 sebagaian besar peneliti Belanda ditahan dan atau dipulangkan ke negeri Belanda. Bahkan lebih dari 80% peneliti senior Belanda kembali ke Belanda. Pada zaman kolonial Jepang, tidak ada perhatian sama sekali terhadap peningkatan produksi pertanian.

Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 tidak diiringi dengan kemerdakaan pangan. Indonesia justru mengalami kekurangan pangan setelah memproklamirkan kemerdekaan. Masalah utama yang dihadapi pemerintah dan rakyat Indonesia adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan secara cukup untuk seluruh penduduk. Pada tahun 1946-1947 terjadi kekeringan panjang yang menurunkan produksi beras sehingga Indonesia harus melakukan impor dari negara lain (Untung, 2007). Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Rencana program pemenuhan kebutuhan pangan rakyat dicoba dikembangkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno, termasuk pengembangan tanaman pangan baik padi maupun jagung, meskipun hasil yang diperoleh masih rendah. Indonesia mengadopsi teknologi revolusi hijau untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan istilah Panca Usaha Tani, meliputi penggunaan benih unggul, perbaikan pengairan, penggunaan pestisida untuk menekan hama penyakit, penggunaan pupuk anorganik, perbaikan teknik pemasaran (Martono, 2009). Konsep Panca Usaha Tani lahir pada tahun 1962 (Untung, 2007), dinilai cukup sukses, terbukti hasil padi dapat ditingkatkan dua kali lipat. Penggunaan pestisida sintetik di seluruh dunia termasuk di Indonesia semakin meningkat dan dominan pada era 1950. Penghargaan dan penerimaan masyarakat terhadap teknik-teknik pengendalian hama lainnya menurun. Penggunaan pestisida oleh sebagian besar petani dianggap lebih efektif, lebih praktis, serta mendatangkan keuntungan ekonomi lebih besardibandingkan pengggunaan teknik-teknik pengendalian hama lainnya. Era setelah tahun 1960 merupakan era keemasan pestisida kimia. Permintaan dan penggunaan pestisida pertanian meningkat sangat cepat sehingga menumbuhkan industri-industri raksasa multinasional yang menguasai pasar pestisida dunia (Untung, 2006). Keberhasilan penggunaan pestisida dalam melindungi tanaman dari serangan hama pernah menimbulkan optimisme masyarakat bahwa masalah hama sudah dapat terselesaikan secara tuntas. Optimisme tersebut mendorong negara-negara seluruh dunia menerapkan teknologi intensifikasi pertanian untuk peningkatan produksi pangan. Teknologi intensifikasi yang dikenal sebagai teknologi revolusi hijau dianggap mampu meningkatkan produksi pangan dunia dalam waktu cepat. Kesuksesan program Panca Usaha Tani disebarluaskan dalam program Demonstrasi Massal pada MT 1964/1967. Program-program intensifikasi seperti Demonstrasi Massal (Demas), Bimbingan Massal (Bimas), Intensifikasi Massal (Inmas), Intensifikasi Khusus (Insus) melibatkan jutaan petani dan jutaan hektar sawah. Program-program intensifikasi tersebut dianggap mampu meningkatkan produksi padi dan meningkatkan taraf hidup petani (Untung, 2007), namun belum mampu membawa Indonesia berswasembada beras (Martono, 2009) Pada masa pemerintahan Orde Baru tahun 1970an, Presiden Soeharto mengeluarkan Program Repelita I dan diikuti dengan Repelita-repelita selanjutnya. Program pembangunan berencana tersebut memberikan prioritas utama pada pembangunan pertanian nasional dengan tujuan peningkatan produksi padi menuju tercapainya swasembada beras nasional (Untung, 2007). Dalam program swasembada pangan tersebut, pestisida dimasukkan sebagai salah satu paket

1. 2. 3. 4.

produksi yang harus diambil sebagai kredit oleh petani peserta program. Kredit tersebut nanti harus dikembalikan oleh petani setelah panen tiba. Kebijakan intensifikasi pertanian yang mendorong peningkatan penggunaan pestisida oleh petani di Indonesia yang semula belum mengenal pestisida (Untung, 2006). Usaha mencapai swasembada beras dilakukandengan memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi revolusi hijau. Berbagai sarana dan prasarana dibangun seperti bendungan-bendungan besar yang dapat meningkatkan luas panen tanaman padi. Berbagai program peningkatan produksi beras diintroduksikan dan diterapkan secara nasional pada kurun waktu tertentu sampai tahun 1990an. Pada tahun 1978-1979 terjadi letusan hama wereng coklat padi padaratusan ribu hektar sawah. Pada tahun 1985±1986, populasi kembali meletusdan merusak lahan padi seluas kira-kira 275.000 hektar (Untung, 2006). Ledakan serupa ini terjadi pula di Malaysia dan Thailand antara tahun 1977 dan 1990 (Whitten et al., 1990). Hama wereng coklat merupakan hama padi ³baru´. Sebelum tahun 1970 hama ini belum pernah tercatat sebagai hama padi penting Indonesia. Akibat letusan wereng coklat tersebut pencapaian sasaran produksi beras nasional terhambat. Namun, ironisnya, sampai tahun1979, banyak pakar belum menyadari bahwa kemunculan dan letusan wereng coklat di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari penggunaan pestisida kimia. Sejak tahun 1977, kelompok pakar perlindungan tanaman mengusulkan agar Pemerintah menerapkan PHT untuk mengendalikan hama-hama tanaman pangan. Pada tahun 1980 Pemerintah melaksanakan Proyek Rintisan Penerapan PHT pada tanaman padi di 6 propinsi yaitu: Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. Dari kegiatan tersebut dapat diketahui bahwa sawah yang menerapkan PHT produktivitasnya tidak berbeda dengan sawah nonPHT tetapi penggunaan pestisida kimia lebih sedikit Untung, 2006). Pada tahun 1984 Indonesia berhasil mencapai sasaran swasembada berasnaional. Pada tahun 1985/1986 status swasembada beras terancam karena terjadi lagi letusan lokal wereng coklat padi di pulau Jawa. Banyak hasil penelitian yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa sebagian insektisida padi yang direkomendasi mendorong terjadinya resurjensi wereng coklat (Untung dan Mahrub, 1986 dalam Untung, 2006). Pada titik kritis tahun 1985 ± 1986, ketika ledakan kedua wereng coklat padi sangat mempengaruhi kondisi swa sembada beras yang baru saja tercapai, Indonesia memilih menggunakan pendekatan PHT. Pemerintah mengumumkan Kebijakan PHT Nasional Indonesia pada tanggal 5 November 1986, dengan munculnya Instruksi Presiden no. 3 tahun 1986 (INPRES 3/86)tentang Pengendalian Hama Wereng Cokelat Padi. Melalui Inpres tersebut, Presiden menginstruksikan untuk melakukan paling sedikit 4 butir kebijakan, yaitu: Menerapkan PHT untuk pengendalian hama wereng batang cokelat dan hamahama padi lainnya melarang penggunaan 57 nama dagang formulasi (merek) insektisida pada padi Melaksanakan koordinasi untuk peningkatan pengendalian wereng cokelat Melakukan pelatihan petani dan petugas tentang PHT

Inpres 3/1986 tersebut merupakan tonggak sejarah penerapan PHT di Indonesia (Untung, 2006). Kebijakan pelarangan pestisida tersebut diikuti dengan kebijakan pemerintah tentang pencabutan subsidi pestisida pada tahun 1989 (Martono, 2009). Langkah-langkah kebijakan tersebut memperoleh penghargaan dari banyak negara dan lembaga internasional (Untung, 2000).Sebagai tindaklanjut dari INPRES 3/86, dibentuklah kelompok kerja menteri antarsektor untuk menerapkan kebijakan PHT. Tanggungjawab penerapan PHT dipindahkan dari Departemen Pertanian ke BAPPENAS. Prioritas yang diutamakan adalah mengubah perilaku petani, administrator dan petugas pertanian dengan meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan mereka. Kegiatan awal yang dilakukan adalah menyelenggarakan rekrutmen dan kursus kilat PHT untuk memilih dan melatih para calon pemandu, pengamat hama, petugas penyuluh lapangan (PPL) dan petani. Bank Dunia menyetujui realokasi sisa pinjamannya yang digunakan pada proyek Penyuluhan Nasional (USD 4,2 juta untuk Proyek Penyuluhan Nasional tahap II) untuk pelatihan PHT. Integrated Crop Protection (ICP) FAO membantu Direktorat Perlindungan Tanaman Departemen Pertanian untuk memperoleh data lapangan PHT dan memperluas kisaran latihan kepada para spesialis. Varietas tahan wereng (VUTW, misalnya IR36 dan IR64) dipromosikan dengan lebih gencar, dan jaringan Pengamatan, Peramalan dan Peringatan Dini diperluas agar dapat dengan segera mengatasi permasalahan hama (wereng) di lapangan. Proyek Perintis PHT Nasional dilaksanakan di Jawa, Sumatera dan Sulawesi Selatan. Antara tahun 1980 dan 1983, Program Nasional PHT menerima bantuan teknis dari kelompok khusus IRRI dan proyek penelitian dari Jepang (FAO, 1989). ICP mulai memperkuat Program Nasional PHT Indonesia pada tahun 1980 dengan mengingkatkan paket pelatihan dan teknologi dengan pengalaman yang diperoleh dari proyeksi Program Nasional Filipina. Direktorat Perlidungan Tanaman mengatur pelaksanaan demonstrasi PHT dengan pendekatan yang sama dengan pendekatan pada program Bimas (LAKU). Pada tahun 1984, ICP dan Direktorat Perlindungan Tanamanmelakukan survei pada lahan-lahan demonstrasi PHT dan melihat bahwa populasi hama di beberapa wilayah meningkat pesat (van de Fliert, 1993). Setelah Inpres 3/1986, dukungan yuridis terhadap PHT diperkuat dengan keluarnya UU. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. UU tersebut menyatakan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu. Berdasarkan UU ini, tahun 1995 Pemerintah menetapkan Peraturan Pemerintah No.6 tahu 1995 tentang Perlindungan Tanaman. Dengan dua peraturan perundang-undangan tersebut, kedudukan PHT sebagai kebijakan nasional perlindungan tanaman menjadi sangat kuat (Untung, 2007) PERKEMBANGAN PHT DI INDONESIA Di Indonesia padi merupakan tanaman pokok yang sudah dibudidayakan ratusan tahun lalu dan dari padilah kebanyakan bangsa Indonesia mendapatkan karbohidrat.Dalam rangka untuk mendapatkan tambahan bahan yang dikonsumsi,

maka diperlukan pengetahuan tentang percepatan pertumbuhan atau perkembangan dari pada populasi penghasil makanan. Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan Program BIMAS (Bimbingan Masyarakat) dan INMAS (Intensifikasi Masyarakat). Sejak program ini diluncurkan produksi padi bertambah sangat berarti, dari 13,7 juta ton pada tahun 1966 menjadi 26,3 juta ton pada tahun 1979. Penambahan ini didapat tidak dalam setahun pada suatu negara, sebab penambahan tersebut menganut deret hitung. Hasil padi di Indonesia dilaporkan pada tahun 1979 mencapai rata-rata 2,46 ton per hektar. Pada plot percobaan menghasilkan 3 sampai 4 ton. Salah satu penyebab pokok berkurangnya hasil adalah serangan hama dan penyakit. Sedangkan tantangan lainnya adalah faktor lingkungan, seperti adanya kekeringan dan banjir. Hal ini telah ditunjukan dalam suatu percobaan, bahwa rata-rata kehilangan hasil dari hama serangga berkisar dari 19,4 sampai 24,1 prosen yang terjadi pada tahun 1975. Revolusi Hijau : Dengan diberlakukannya Program ³Revolusi Hijau´, maka dalam pelaksanaannya membutuhkan beberapa masukan untuk mendukung program tersebut. Adapun masukan-masukan dimaksud antara lain : a. Varietas produksi Tinggi, Tanaman-tanaman tersebut dikembangkan melalui program pemuliaan tanaman padi di Indonesia dari persilangan antara varietas lokal dengan varietas pendatang. Pada tahun 1968 Indonesia mendatangkan varietas produksi tinggi IR 8, IR 5, C 4 ± 63, IR 20 dan IR 22 dari Piliphina. Pada tahun 1971 varietas berkualitas dengan rasa lebih enak antara lain Pelita I/1 dan Pelita I/2 didatangkan di Indonesia dan didistribusikan secara luas. Varietas tersebut mempunyai masa pertumbuhan sekitar 140 hari dan merupakan jenis tanaman yang relatif ideal untuk kondisi di Indonesia. Pada tahun 1969, varietas produksi tinggi ditanam sekitar 23 persen dari luas lahan program intensifikasi. b. Pupuk Nitrogen, Sejak pemerintah meluncurkan program Intensifikasi, penggunaan pupuk nitrogen telah bertambah sangat berarti. Saat ini penggunaan pupuk nitrogen berkisar antara 30 sampai 88 kg N per hektar. Sedangkan pada pengembangan produksi yang lebih intensif, seperti Jawa, Bali dan Sumatra bagian Utara, rata-rata lebih tinggi dari pada bagian lain wilayah Indonesia (sekitar 92 kg N per hektar). c. Insektisida Penggunaan insektisida dipertimbangkan sehingga sesuatu yang efektif untuk melindungi tanaman dari serangan serangga. Cara ini merupakan pengendalian yang relatif cepat terhadap hama pertanian utama yang banyak. Hal ini telah diperlihatkan, bahwa keuntungan melindungi tanaman dengan menggunakan insektisida dapat meningkatkan hasil sampai 20,7 persen. Beberapa faktor yang menjadi kendala dalam pengendalian BPH dengan menggunakan insektisida, antara lain :

1). BPH berada pada pangkal saluran, hidup pada pangkal batang tanaman padi, Lokasi tersebut membuat sulit untuk menjangkau BPH dengan insektisida. Sehingga insektisida hanya memperbaiki sebagian pengendalian dan hanya sedikit insektisida yang dapat dengan efktif mengendalikan hama. 2). Ketika petani menggunakan insektisida, mereka biasanya menyemprot kanopi padi bagian atas, sehingga insektisida tidak relatif mengendalikan BPH. 3). Petani biasanya menggunakan penyemprot ransel yang membutuhkan air dengan volume tinggi. Hal ini membutuhkan tenaga, sehingga petani dalam prakteknya sering kehilangan air dan dosis dibawah anjuran. 4). Pekerjaan penyemprotan dilaksanakan oleh petani dengan dasar tata waktu tanpa mempertimbangkan prosentase serangga di lapangan. 5). Ketika ada serangga dalam lahan padi, sebagian besar petani akan menggunakan beberpa insektisida yang dapat diperoleh dipasaran. 6). Insektisida dan peralatan perlindungan tanaman sudah selalu tersedia dan dapat digunakan setiap saat oleh petani. Kerugian lahan dengan menggunakan insektisida adalah efek kurang baik pada organisme bukan sasaran, berkembangnya ketahanan populasi hama terhadap insektisida. Penerapan Pengendalian Hama Terpadu. Revolusi Hijau di Indonesia adalah bagian integral dari program intensifikasi. Komponen utama adalah varietas produksi tinggi, penerapan pupuk dan perlindungan tanaman dosis tinggi. Masukanmasukan tersebut mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Sukses pengendalian hama terpadu tergantung pada pengembangan sistem yang efektif pada teknik pengendalian hama existing dan utilizing new. Sistim pengendalian hama/penyakit tanaman yang diterapkan saat ini mengacu kepada konsep pengendalian hama/penyakit tanaman terpadu (PHT). Konsep ini telah lama diperkenalkan dan menjadi kebijakan dasar program perlindungan tanaman sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang No.12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman . Konsep ini menganut 5 (lima) yaitu: (1) Membudidayakan tanaman sehat, (2) memanfaatkan sebesar-besarnya musuh alami, (3) menggunakan varietas tahan, (4) menggunakan pengendalian fisik/mekanik dan (5) dan penggunaan pestisida bilamana perlu. Sehubungan dengan hal tersebut untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam peningkatan produktivitas pertanian, sekaligus mendukung peningkatan ketahanan pangan di Sulawesi Tengah maka perlu adanya rumusan kebijakan untuk menekan terjadinya kehilangan hasil yang disebabkan oleh adanya serangan hama/penyakit tanaman. Sampai sejauhmana kebijakan penerapan pengendalian hama/penyakit tanaman terpadu (PHT) di Sulawesi Tengah, kendala penerapan serta

kebijakan yang diperlukan untuk mensukseskan penerapannya ditingkat petani dianalisis dalam kajian ini.. Komponen teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman mempunyai peran yang tidak kecil dalam peningkatan produktivitas dan kualitas hasil tanaman padi, Kakao dan Bawang merah lokal. Adanya serangan hama dan penyakit secara langsung dapat menurunkan hasil baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Pada tahun 2005 dilaporkan luas serangan hama dan penyakit pada tanaman padi mencapai 12.152,3 ha dengan total kehilangan hasil mencapai 14.061,842 ton GKP atau setara dengan Rp.24.249.136.660, sedangkan luas serangan PBK pada tanaman kakao adalah 37.485 ha dengan taksasi kerugian Rp.59.967.600.000 dan bawang merah seluas 75 ha. Sistim pengendalian hama/penyakit tanaman yang diterapkan saat ini mengacu kepada konsep pengendalian hama/penyakit tanaman terpadu (PHT). Konsep ini telah lama diperkenalkan dan menjadi kebijakan dasar program perlindungan tanaman sejalan dengan diberlakukannya Undang-Undang No.12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman . Konsep ini menganut 5 (lima) prinsip yaitu: (1) Membudidayakan tanaman sehat, (2) memanfaatkan sebesar-besarnya musuh alami, (3) menggunakan varietas tahan, (4) menggunakan pengendalian fisik/mekanik dan (5) dan penggunaan pestisida bilamana perlu. Sehubungan dengan hal tersebut untuk mendukung kebijakan pemerintah daerah dalam peningkatan produktivitas pertanian, sekaligus mendukung peningkatan ketahanan pangan di Sulawesi Tengah maka perlu adanya rumusan kebijakan untuk menekan terjadinya kehilangan hasil yang disebabkan oleh adanya serangan hama/penyakit tanaman. Sampai sejauhmana kebijakan penerapan pengendalian hama/penyakit tanaman terpadu (PHT) di Sulawesi Tengah, kendala penerapan serta kebijakan yang diperlukan untuk mensukseskan penerapannya ditingkat petani akan di kaji dalam penelitian ini. Tabel Persentase petani berdasarkan persepsi pengendalian hama dan penyakit tanaman padi petani terhadap cara

Persepsi Petani Persentase Petani

/ Kabupaten Donggala Kec. Kec. Biromar Dams u ol

Kabupaten Parimou Kec. Tomi ni

Rata Kec. Saus Rata u

Ratarata Rata Sulten Rata g

Penggunaan Racun - Menekan kehilangan hasil dan cepat 100 90 95 100 100 100 97,5

kendalikan hama dan penyakit - Tidak selalu bisa mengendalikan hama dan penyakit Penerapan PHT Pemantauan 40 menekan 50 - Mengatasi serangan lebih awal 10 - Penggunaan musuh alami tidak dapat langsung membunuh hama 0 - Tidak menerapkan 0 0 60 100 50 25 0 5 0 0 2,5 3,75 40 40 0 0 20 30 0 10 5 0 0 0 2,5

penggunaan racun 60 55 40 0 27,5 41,25

Hal yang sama terjadi pada petani bawang merah lokal walaupun penggunaan racun dalam mengendalikan OPT masih dominan (80%) namun persentase yang merasakan penurunan efektivitas racun sudah mencapai 20% lebih tinggi dibandingkan pada tanaman padi. Dari seluruh petani yang pernah mengikuti SLPHT bawang, hanya 10% yang belum menerapkan komponen PHT

KENDALA PENERAPAN PHT Yang menjadi kendala dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu didorong oleh banyak faktor yang pada dasarnya adalah dalam rangka penerapan program pembangunan nasional berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Faktor factor tersebut adalah :

1)

Kegagalan pemberantasan hama secara konvensional

Pemberantasan hama secara konvensional dengan pendekatan pada penggunaan pestisida telah terbukti menimbulkan dampak negatif, antara lain resistensi atau ketahanan hama, srurjensi hama, ledakan hama sekunder, matinya organisma bukan sasaran (musuh alami, serangga berguna, binatang ternak, dan lain-lain), residu pada hasil/produk pertanian, keracunan pada manusia, dan pencemaran lingkungan. 2) Kesadaran tentang kualitas lingkungan hidup Karena dampak negatif pestisida terhadap organisma non sasaran dan lingkungan, maka disadari bahwa penggunaan pestisida dalam pengendalian hama merupakan teknologi pengendalian hama yang bersifat kurang ramah lingkungan. Dengan adanya kesadaran ini, kemudian muncul kesadaran lebih lanjut bahwa untuk pengendalian hama yang ramah lingkungan perlu dicari alternatif teknologi penggunaan pestisida yang ramah lingkungan atau teknologi pengendalian lain selain pestisida yang juga harus ramah lingkungan. Teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan tersebut adalah PHT. 3) Dampak globalisasi ekonomi

Era globalisasi saat ini telah memunculkan era perdagangan bebas antar negara, mengakibatkan produk-produk pertanian harus memenuhi persyaratan ekolabeling. Produk pertanian yang dipasarkan dituntut harus bersifat ramah lingkungan, diantaranya tidak mengandung residu pestisida. Kondisi ini mengakibatkan penerapan teknologi PHT sebagai teknologi pengendalian yang ramah lingkungan menjadi salah satu teknologi alternatif yang dibutuhkan. 4) Kebijakan pemerintah Era globalisasi mengakibatkan tekanan tekanan dunia internasional mengenai kelestarian lingkungan menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, maka pemerintah memberikan dukungan yang sangat besar terhadap penerapan PHT ini. Ini dapat dilihat dengan dikeluarkannya berbagai kebijakan yang mendukung penerapan PHT dalam sistem produksi pertanian. Kebijakan ini telah dikeluarkan sebagai program pemerintah sejak Pelita III. Dasar hukum utama dalam penerapan dan pengembangan PHT di Indonesia adalah Instruksi Presiden No. 3 tahun 1986 dan Undang- Undang No. 12 tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman.

DAFTAR PUSTAKA y Baehaki S.E., P. Sasmita, D. Kertoseputro, dan A. Rifki. 1996. Pengendalian hama berdasar ambang ekonomi dengan memperhitungkan musuh alami serta analisis usaha tani dalam PHT. Temu Teknologi dan Persiapan Pemasyarakatan Pengendalian Hama Terpadu. Lembang. 81 hlm. Sinaga, Meity Suradji, M.Sc., Ph.D., Dasar-dasar ilmu penyakit tumbuhan. Jakarta: Penebar Swadaya,2003. Gliessman, S.R. 2007. Agroecology: The Ecology of Sustainable Food System. Second Edition. CRC Press. New York.

y

y

y

Kenmore, P.E. 1996. Integrated pest management in rice. p. 76-97. In G.J. Persley (Ed.). Biotechnology and Integrated Pest Management. CAB International, Cambridge.

y

Untung, K. 2000. Pelembagaan konsep pengendalian hama terpadu Indonesia. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia 6(1): 1-8. Untung, K. 2007. Kebijakan Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

y

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful