Breastmilk vs Formula/Breastmilk subtitute, ASI vs Susu Formula 1 jam setelah yasmin lahir, seorang suster bertanya kepada

ayah, “Pak, susu bayinya apa?” “ASI ekslusif suster”, jawab ayah yakin. “Oh, kalau begitu si ibu harus siap dipanggil ke kamar bayi ya, setiap bayinya nangis”, jawab suster sambil terlihat sebal. Dan pertempuran pun dimulai. The truth is, it’s not comparable. Not even close. It’s like compare your healthy heart to a transplant one. When you know the risk of breastmilk subtitute, you’ll know it is good for emergency only. Dikutip dari World Health Organization, Nutrition for Health and Development, Geneva, Switzerland, June 2001; “No breast-milk substitute, not even the most sophisticated and nutritionally balanced formula, can begin to offer the numerous unique health advantages that breast milk provides for babies. Nor can artificial feeding do more than approximate the act of breastfeeding, in physiological and emotional significance, for babies and mothers alike.” Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa ASI mengandung antibodi alami untuk banyak sekali penyakit anak (diare, meningitis, infeksi pernafasan, obesitas, alergi, dan seterusnya), sempurna untuk pencernaan bayi, menimbulkan keterikatan emosi ibu-anak, berpengaruh pada kecerdasan anak, membuat ibu lebih cepat turun berat badannya, dan tentu saja ekonomis. Susu Formula, Why not? Alasan pertama, carry a high risk of contamination. Banyak sekali peluang kuman ikut ke tubuh buah hati kita. Bisa lewat air yang tidak benar benar steril baik untuk campuran susu ataupun untuk mencuci peralatan menyusui, botol dan dot yang tidak bisa dijamin 100% bebas kuman (meskipun anda membeli sterilisizer yang paling mahal). Produk susu formula sendiri bukan merupakan produk steril dan memiliki masa kadaluarsa. Kedua, susu formula tidak mengandung antibodi, jadi bayi lebih mudah terserang penyakit. Ketiga, salah sedikit volume campuran air dan susu, kandungan formulanya otomatis berubah. Lalu susu formula pun berisiko menimbulkan gas dan sembelit pada bayi. Banyak ibu yang senang, setelah diberi susu formula (yang biasanya full lemak) bayinya menjadi gemuk dan lucu, tanpa sadar anaknya telah mengalami obesitas dan terancam penyakit kardiovaskuler dan hipertensi. Dan yang tidak kalah penting, tidak adanya skin to skin contact antara ibu dan bayinya, tentu telah membuat sebuah faktor keterikatan emosi natural ibu dan anak, hilang. Dan tentu saja budget mainan dan peralatan bayi jadi terpangkas untuk membeli susu formula yang memang mahal. Lantas mengapa persentase ibu menyusui di dunia masih rendah (WHO: di bawah 40%) ? Jawabannya adalah; karena yang dihadapi adalah sebuah industri raksasa. Tahukah anda, berapa bisnis value dari breastmilk subtitute product atau susu formula di dunia ini per tahunnya?

Faktanya adalah normal berat bayi turun untuk 4-5 hari pertama. suster dan petugas RS/klinik pun dilarang terlibat dalam kegiatan marketing apapun yang berkaitan dengan susu formula. suster lain dengan sigapnya menunjukan hasil timbangan yasmin yang terus turun. ini tetap dipraktekan ke yasmin yang jelas jelas Full ASI! Harapannya suatu saat bunda merasa sayang ada susu mahal disia siakan dan memutuskan untuk mencobanya. Melanjutkan cerita di atas. Untuk RS bersalin yang kecil bahkan ada yang menerima produk susu sebagai ‘sponsor resmi’ mereka. semakin terbukti pula diagnosa sang suster soal ASI macet tadi. Jurus yang terakhir adalah pemberian bingkisan susu formula satu kaleng untuk bunda saat akan pulang. Bayangkan. . ataupun hanya selembar brosur sekalipun. Biasanya dimulai dengan bujukan “Hanya 20% kok bu.Tidak kurang dari 6 Milyar US Dollar! Dengan nilai yang begitu besar. Para pelaku kesehatan mulai dari dokter. Justru saat saat pertama inilah yang crucial. jadilah Yasmin sebagai satu satunya bayi yang Full ASI diantara selusinan bayi lain yang berdekatan lahirnya. Dan fakta yang kedua adalah. ujung tombak marketing mereka bukanlah para salesman atau account exec. termasuk didalamnya pemberian hadiah susu. setelah bayi mengenal formula. dan menuliskan dengan jelas di tiap sudut. Jurus marketing berikutnya dilancarkan di ruang menyusui tidak lama kemudian. Luar Biasa! Jadi jangan heran kalau di rumah sakit yang lebih kecil atau di klinik-klinik bersalin. jika si ibu menyerah atas bujukan suster dan membolehkan bayinya diberi susu formula tentu semakin jarang pula keinginan bayi menyusu. Berani taruhan. tentu saja mereka dipersenjatai dengan budget marketing yang luar biasa besar pula. selebihnya tetap ASI. Sadar atas ketidaktahuan bunda. ASI akan semakin cepat keluar seiring dengan seringnya bayi menyusui. mengganti popoknya dan seterusnya. Supaya tidak ketahuan atasannya. sudah banyak bidan/suster yang sampai mereka bawa terbang ke Eropa gratis untuk meninjau pabrik susu sekaligus jalan-jalan. Ini semua terjadi di sebuah RS besar yang telah mendapat kategori Baby-Friendly Hospital dari WHO. satu bulan kemudian persentase susu formula-Asi menjadi terbalik 80%-20%. peraturan dilarang memasarkan segala jenis susu formula di lingkungan RS. susu formula tidak boleh dianggap sebagai just another processed food dengan usual marketing strategy untuk meraih keuntungan sebesar besarnya. Pekerjaan marketing pun langsung berlanjut pada malam pertama. Padahal suster itu pasti tahu bayi yang baru lahir punya persediaan asi yang cukup sampai 48 jam setelah dilahirkan. yang digaji bulanan. dan dengan senang hati memberikan data telepon/alamat pasien mereka agar bisa terus di follow up. melainkan bidan dan suster di rumah-rumah sakit bersalin! Tidak hanya komisi. susu pun dibungkus kertas koran. Ini jurus yang sangat lazim dipakai. dan menyalahkan ASI bunda yang sedikit. Apakah mereka berhenti sampai di situ. Dengan teganya yasmin yang masih berumur beberapa jam ditawarkan ditinggal di kamar bunda dan meminta bunda yang masih sakit dan lemas dan belum diajarkan menyusui untuk menjaga yasmin. Intinya adalah karena risiko yang besar pada bayi. biar ibu bisa istirahat kalau malam”. semakin lama pula ASI lancar keluar. Di Indonesia. dan dot botol yang tidak perlu disedot. bidan. hoho tentu tidak. anda pulang di oleh-olehi susu formula dalam botol yang siap minum! WHO telah mengeluarkan kode etik pemasaran susu formula sejak tahun 1983.

Pada akhirnya percayalah. segala jerih payah breast feeding tidak akan terasa ketika kita sadar bahwa dengan menyusui kita sedang memberikan hadiah terindah untuk anak tercinta. dan dukungan yang tiada henti dari keluarga terdekat. atau pada ibu yang harus menjalani terapi radiasi dalam jangka waktu yang panjang. ketegaran dan ketabahan seorang ibu. Jangan pula meremehkan ramuan tradisional seperti daun katuk untuk memicu ASI (kalau malas mencari. For more info please check www. apalagi sanksi bagi yang melanggar.babymilkaction.Di Indonesia peraturan itu telah diadaptasi lewat KepMenKes sejak tahun 1998. di apotik sudah ada dalam bentuk kapsul suplemen). namun tanpa ada implementasi apapun bentuknya di lapangan. Bagaimanapun susu formula masih dibutuhkan dalam kasus-kasus khusus.ibfan. Menyusui memang membutuhkan komitmen. Seperti misalnya untuk ibu yang memiliki HIV dan ingin mengeliminasi segara resiko bayinya tertular.org .org www.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful