1. PENDAHULUAN 1.1.

Deskripsi Singkat Mata pelajaran ini membahas dan mengurai pelaksanaan anggaran yang merupakan salah satu tahap dari siklus anggaran, yaitu setelah tahap penyusunan dan penetapan anggaran sampai dengan tahap pertanggungjawaban anggaran. Kegiatan pelaksanaan anggaran yang berjaitan dengan kegiatan pengelolaan keuangan negara yang dilakukan oleh para pejabat instansi kementrian Negara/lembaga selaku pengguna anggaran/kuasa anggaran maupun di intansi kementrian keuangan selaku bendahara umum negara/kuasa bendahara umum Negara, menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 1.2. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti mata pelajaran ini diharapkan peserta Diklat akan mampu dan atau dapat memahami implementasi ketentuan-ketentuan di bidang keuangan Negara yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran yang menjadi sebagian tugas pokok unit organisasi kementrian Negara/lembaga berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 1.3. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mempelajari modul ini, peserta diklat diharapkan akan dapat :

a. Menjelaskan pengertian pelaksanaan anggaran, ruang lingkup, dasar hukum
dan tahapan pelaksanaan anggaran sebagai bagian dari Siklus APBN;

b. Menjelaskan struktur dan format APBN, klasifikasi dalam penganggaran
terpadu;

c. Menjelaskan daftar isian pelaksanaan anggaran dan pengelompokkan jenisjenis belanja;

d. Menjelaskan pelaksanaan anggaran yang berkaitan dengan pelaksanaan
anggaran pendapatan;

e. Menjelaskan pelaksanaan anggaran yang berkaitan dengan pelaksanaan
belanja PHLN Negara, meliputi ketentuan-ketentuan belanja negara, syarat administrasi, prosedur pencairan dana APBN dan prosedur pencairan dana

1

1.4. Petunjuk Cara Belajar Agar peserta diklat dapat mengikuti dan memahami mata pelajaran ini dengan baik serta dapat mencapai hasil belajar yang maksimal, perlu diperhatikan petunjukpetunjuk di bawah ini : 1. Pelajari peraturan prundang-undangan yang berlaku sebagai acuan pelaksanaan anggaran; 2. Pelajari rangkuman dan selesaikan latihan-latihan yang ada pada pokok bahasan dari modul ini; 3. Diskusikan dan bahas dalam kelompok-kelompok belajar bersama-sama untuk memperoleh pemahaman terhadap makna substansi yang tersirat dari peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan anggaran atau pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja Negara. Pelajari dan pahami hubungan antara peraturan yang bersifat umum dengan peraturan yang bersifat pelaksanaan atau petunjuk teknis.

2

2. KEGIATAN BELAJAR (KB) 1 : PELAKSANAAN ANGGARAN

2.1. Gambaran Umum Pelaksanaan APBN Pelaksanaan anggaran merupakan bagian dari Siklus anggaran yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pertanggungjawaban. Siklus anggaran dimulai dari tahap penyusunan dan penetapan APBN. Pemerintah pusat menyampaikan pokok-pokok kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro tahun anggaran berikutnya (misal tahun anggaran 2008) kepada DPR selambat-lambatnya pertengahan bulan Mei tahun berjalan (misal tahun 2007). Kemudian pemerintah pusat dan DPR membahas kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal yang diajukan oleh pemerintah pusat dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN tahun anggran berikutnya. Berdasarkan kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal, pemerintah pusat bersama DPR membahas kebijaksanaan umum dan prioritas anggaran untuk dijadikan acuan bagi setiap kementerian negara/lembaga dalam penyusunan usulan anggaran. Dalam rangka penyusunan rancangan APBN, menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang menyusun rencana kerja dan anggaran Kemeterian Negara/Lembaga (RKA-KL) tahun berikutnya. RKA-KL disusun berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai, disertai dengan perkiraan belanja untuk tahun berikutnya setelah tahun anggaran yang sedang disusun. RKA-KL tersebut disampaikan kepada DPR untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN. Hasil pembahasan RKA-KL disampaikan kepada Menteri Keuangan sebagai bahan penyusunan rancangan undang-undang tentang APBN tahun berikutnya. Pemerintah pusat mengajukan rancangan undang-undang tentang APBN, disertai dengan nota keuangan dan dokumen–dokumen pendukungnya kepada DPR pada Bulan Agustus tahun sebelumnya. Pembahasan rancangan undang-undang tentang APBN dilakukan sesuai dengan undang-undang yang mengatur susunan dan kedudukan DPR. Dalam Pembahasan ini DPR dapat mengajukan undang-undang tentang APBN. Pengambilan keputusan oleh DPR mengenai rancangan undang-undang tentang APBN dilakukan selambat-lambatnya dua bulan sebelum tahun anggaran yang usul yang mengakibatkan perubahan jumlah penerimaan dan pengeluaran dalam rancangan

3

Setelah APBN ditetapkan dengan undang-undang. berdasarkan alokasi anggaran yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden tentang rincian APBN. Menteri/pimpinan dokumen pelaksanaan anggaran untuk kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. Direktur Jenderal Wilayah Perbendaharaan terkait. Kemudian Menteri Keuangan memberitahukan kepada lembaga menteri/pimpinan menyusun lembaga agar menyampaikan dokumen pelaksanaan anggaran untuk masing-masing kementerian negara/lembaga. Apabila DPR tidak menyetujui rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan pemerintah pusat. Pengajukan dana dengan menerbitkan surat perintah membayar oleh masingmasing penanggungjawab kegiatan kepada Bendahara Umum Negara atau Kuasa Bendahara Umum Negara.bersangkutan dilaksanakan. rincian pelaksanaannya dituangkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden tentang rincian APBN. dan rencana penarikan dana tiap-tiap satuan kerja. BPK. Direktur Jenderal Perbendaharaan. sub fungsi. dan Surat Perintah Pencairan Dana. Kuasa Bendahara Umum Negara (KPPN) terkait. Kepala disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga. dan rincian kegiatan anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut. kemudian disampaikan kepada DPR selambat-lambatnya pada akhir Juli 4 . dan Kuasa Pengguna Anggaran.maka pemerintah pusat dapat melakukan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBN tahun anggaran sebelumnya. Dalam dokumen pelaksanaan anggaran diuraikan sasaran yang hendak dicapai.Pada Dokumen pelaksanaan anggaran juga dilampirkan rencana kerja dan anggaran badan layanan umum dalam lingkungan oleh Menteri Kantor kementerian Keuangan Ditjen negara/lembaga. Dalam Pelaksanaan APBN tahun anggaran berjalan. dan jenis belanja. Dokumen-dokumen penting dalam pelaksanaan APBN adalah Surat Keputusan Otorisasi/Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran. pemerintah pusat menyusun laporan realisasi semester pertama APBN dan prognosis untuk enam bulan berikutnya. APBN yang disetujui oleh DPR terinci sampai dengan unit organisasi. fungsi. program. Terhadap dokumen anggaran yang telah disahkan Anggaran. yang kemudian melaksanakan fungsi pembebanan kepada masing-masing bagian anggaran serta fungsi pembayaran kepada yang berhak melalui jalur penyaluran dana yang ditetapkan dengan mekanisme giralisasi. Gubernur. serta pendapatan yang diperkirakan. fungsi. Surat Permintaan Pembayaran. Surat Perintah Membayar. program. kegiatan.

Mengenai penyesuaian APBN dengan perkembangan dan atau perubahan keadaan dibahas bersama DPR dengan pemerintah pusat dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBN tahun anggaran yang besangkutan. Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan untuk pembiayaan anggaran yang berjalan. Perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal. c. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBN dan atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. Perkembangan ekonomi makro yang tidak sesuai dengan asumsi yang digunakan dalam APBN. Mengenai hasil pemeriksaan Inspektur Jenderal departemen/pimpinan unit pengawasan pada lembaga tersebut disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga yang bersangkutan. 5 . untuk dibahas bersama antara DPR dan Pemerintah pusat. dalam keadaan darurat pemerintah pusat dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. Berdasarkan perubahan-perubahan tersebut. untuk mendapatkan persetujuan DPR sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Pada tahap ini pengawasan terhadap pelaksanaan APBN dilakukan oleh atasan kepala kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga menyelenggarakan pengawasan terhadap pelaksanaan APBN yang dilakukan kepala kantor/satuan kerja dalam lingkungannya. Tahap pengawasan pelaksanaan APBN ini memang tidak diungkap secara nyata dalam UU 17/2003. pemerintah pusat mengajukan rancangan undang-undang tentang perubahan APBN tahun anggaran yang bersangkutan. Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. Inspektur Jenderal departemen/pimpinan unit pengawasan lembaga wajib menindaklanjuti pengaduan masyarakat mengenai pelaksanaan APBN. dan antar jenis belanja. Inspektur Jenderal departemen/pimpinan unit pengawasan pada lembaga melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBN yang dilakukan kantor/satuan kerja dalam lingkungan departemen/lembaga bersangkutan sesuai ketentuan yang berlaku. Atasan langsung bendahara melakukan pemeriksaaan kas bendahara sekurang-kurangnya tiga bulan sekali.tahun anggaran yang bersangkutan. b. d. Demikian juga. namun dalam Keputusan Presiden nomor 42/2002 jo Keppres 72/2004 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN terdapat di Bab IX yang mengatur pengawasan pelaksanaan APBN. apablia terjadi : a. antar kegiatan.

Menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang menyusun pertanggungjawaban pelaksanaan APBN di lingkungan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. Presiden menyampaikan laporan keuangan pemerintah pusat kepada BPK paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. neraca. Laporan semester I dan prognosa semester II tersebut dibahas dalam rapat kerja antara panitia anggaran dan Menteri Keuangan sebagai wakil pemerintah. Kemudian Menteri Keuangan menyusun rekapitulasi laporan keuangan seluruh instansi kementerian negara. dan catatan atas leporan keuangan yang dilampiri laporan keuangan badan layanan umum pada kementerian negara/lembaga masing-masing. Selain itu. Laporan tersebut harus pula mencantumkan prognosa untuk semester kedua dengan maksud agar DPR dapat mengantisipasi kemungkinan ada tidaknya APBN perubahan untuk tahun anggaran bersangkutan. Menteri Keuangan selaku bendahara umum negara menyusun laporan arus kas. Pengawasan secara langsung dilakukan melalui mekanisme monitoring berupa penyampaian laporan semester I kepada DPR selambat-lambatnya satu bulan setelah berakhirnya semester I tahun anggaran yang bersangkutan atau sekitar Bulan Juli. 6 . terdapat pula pengawasan yang dilakukan oleh DPR atau legislatif baik secara langsung mupun tidak langsung. Audit atas laporan keuangan pemerintah harus diselesaikan selambat-lambatnya dua bulan setelah laporan keuangan tersebut diterima oleh BPK dari pemerintah. Pengawasan tidak langsung dilakukan melalui penyampaian hasil pemeriksaan BPK atas pelaksanaan APBN kepada DPR. Semua laporan keuangan tersebut disusun oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal sebagai wujud laporan keuangan pemerintah pusat disampaikan kepada Presiden dalam memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. dan Menteri Keuangan sebagai wakil pemerintah pusat dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan menyusun ikhtisar laporan keuangan perusahaan negara. Pada tahap pertanggungjawaban. berupa laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran. Pemeriksaan yanag dilakukan BPK menyangkut tanggung jawab pemerintah dalam melaksanakan APBN.Selain pengawasan yang dilakukan oleh pihak eksekutif. Laporan keuangan kementerian negara/lembaga oleh menteri/pimpinan lembaga disampaikan kepada Menteri Keuangan selambat-lambatnya dua bulan setelah tahun anggaran berakhir.

Neraca. Mengenai bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 72 tahun 2004. 2. Selanjutnya dalam pelaksanaannya diikuti dengan berbagai peraturan. (3) Badan Layanan Umum.2. Peraturan/Keputusan Menteri Keuangan maupun Peraturan/Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan. yaitu Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. (6) Keputusan Presiden Nomor 80 tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.Presiden menyampaikan rancangan undang-undang tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBN kepad DPR berupa laporan keuangan yang telah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. dan Catatan atas Laporan Keuangan. sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 2004. Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan. (5) Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2005 tentang Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Laporan Arus Kas. selambat-lambatnya enam bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan dimaksud setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi APBN. Landasan Hukum Pelaksanaan Anggaran Dengan berlakunya ketentuan peraturan Undang-Undang di bidang keuangan negara. maka pengelolaan keuangan di Indonesia mengacu pada ketiga undang-undang tersebut di atas. yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya. (2) (4) 7 . baik berupa Peraturan Pemerintah. UndangUndang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. yang antara lain terdiri dari : (1) Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah.

Fungsi pengawasan disini terbatas pada aspek rechmategheid dan wetmatigheid dan hanya dilakukan pada saat terjadinya penerimaaan dan pengeluaran. sehingga berbeda dengan fungsi pre-audit yang dilakukan oleh kementerian teknis atau post-audit yang dilakukan oleh aparat pengawasan fungsional.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN.05/2007 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan. Penelaahan. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) dan pejabat lainnya yang ditunjuk sebagai BUN bukanlah sekedar kasir yang hanya berwenang melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara tanpa berhak menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK. serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran. Kewenangan administratif meliputi melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara. Di lain pihak. Hal yang sangat mendasar dalam pelaksanaan anggaran dengan diberlakukannya Undang-Undang Bidang Keuangan Negara di atas adalah adanya pemisahan kewenangan administratif (ordonatur) yang berada pada Menteri/pimpinan lembaga dan kewenangan perbendaharaa (comptable) yang berada pada Menteri Keuangan.(7) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK. Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang keuangan pada hakikatnya adalah Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Republik Indonesia. pengawas keuangan dan manajer keuangan. sementara setiap menteri/pimpinan lembaga pada hakikatnya adalah Chief Operasional 8 . Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK. melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementerian negara/lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut. yaitu berfungsi sekaligus sebagai kasir. Pengesahan dan Pelaksanaan DIPA Tahun 2008. Menteri Keuangan selaku BUN adalah pengelola keuangan dalam arti seutuhnya.06/2005 tentang Bagan Perkiraan Standar. (8) (9) (10) Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER66/PB/2005 Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran atas Beban APBN.

(6) (7) (8) (9) (10) menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian dan perintah pembayaran. mengawasi pelaksanaan anggaran. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran pejabat yang bertugas melakukan pejabat yang bertugas melakukan 9 . Sesuai dengan prinsip tersebut Kementerian Keuangan berwenang dan bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan kewajiban negara secara nasional. Konsekuensi pembagian tugas antara Menteri Keuangan dan para menteri lainnya tercermin dalam pelaksanaan anggaran tersebut di atas. Menteri Keuangan selaku BUN berwenang : (1) anggaran negara. Sedangkan sesuai pasal 7 Undang-Undang No. 1 tahun 2004. menggunakan barang milik negara. dan menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. sementara kementerian negara/lembaga berwenang dan bertanggungjawab atas penyelenggaraan pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan fungsi masing-masing. melakukan pengendalian pelaksanaan anggaran. menetapkan pengelolaan utang dan piutang. menetapkan pengelolaan barang milik negara. Kemudian pembagian kewenangan antara menteri/pimpinan lembaga dinyatakan dalam pasal 4 Undang-Undang No.Officer untuk suatu bidang tertentu pemerintahan. Menteri/pimpinan (1) (2) (3) (4) (5) anggaran belanja. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran/Pengguna Barang. (2) (3) (4) negara. menetapkan pemungutan penerimaan negara. menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan pejabat yang bertugas melakukan lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang kementerian/lembaga yang dipimpinnya berwenang : menyusun dokumen pelaksanaan anggaran.

menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan menyajikan informasi keuangan negara. (11) (12) (13) (14) (15) negara. menentukan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam rangka pembayaran pajak. menyimpan uang negara. melakukan pinjaman dan memberikan jaminan atas nama memberikan pinjaman atas nama pemerintah. melakukan penagihan piutang negara. melakukan pembayaran berdasarkan permintaaan Pejabat Pengguna Anggaran atas beban rekening kas umum negara. (16) (17) (18) menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya dalam rangka pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran anggaran negara. menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik negara. uang negara dan (19) 10 .(5) (6) (7) (8) (9) (10) pemerintah. melakukan pengelolaan utang dan piutang negara. mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintah. menempatkan mengelola/menatausahakan investasi. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran negara. menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara.

dan Pertanggungjawaban APBN setipa tahun anggaran melalui serangkaian tahapan kegiatan yang saling berkaitan. diberlakukannya peraturan perundang-undangan di Bidang Keuangan Negara adalah adanya pemisahan kewenangan administratif (ordonatur) dan kewenangan perbendaharaa (comptable). Latihan 1 1. 3. 2. Sebutkan Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum pelaksanaan anggaran atau APBN ! Uraiakan secara singkat proses pelaksanaan anggaran pada perencanaan yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat ! Sebutkan Umum Negara ! 4. Pelaskanaan APBN.3. Rangkuman Mengingat begitu pentingnya APBN sebagai rencana kerja penyelenggara negara. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kewenangan administratif dan kewenangan perbendaharaa (comptable) ! 2. maka proses penyusunan dan penetapan APBN. Rangkaian tahapan kegiatan tersebut biasa disebut 11 . Uraikan tahap pengawasan dan tahap pertanggungjawaban pada siklus pelaksanaan anggaran ! Hal yang sangat mendasar dalam pelaksanaan anggaran dengan wewenang Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dan wewenang Menteri Keuangan selaku Bendara tahap 5.4.2.

maka pengelolaan keuangan di Indonesia mengacu pada ketiga undang-undang tersebut.siklus anggaran APBN. Selanjutnya dalam pelaksanaannya diikuti dengan berbagai peraturan. Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dan. yang meliputi tahap penyusunan & penetapan APBN. APBN setiap tahun ditetapkan dengan Undang-Undang dan disetujui oleh DPR. Peraturan/Keputusan Menteri Keuangan maupun Peraturan/Keputusan Direktur Jenderal Perbendaharaan. baik berupa Peraturan Pemerintah. UndangUndang Nomor 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. Hal yang sangat mendasar dalam pelaksanaan anggaran dengan diberlakukannya Undang-Undang Bidang Keuangan Negara di atas adalah adanya pemisahan kewenangan administratif (ordonatur) yang berada pada Menteri/pimpinan lembaga dan kewenangan perbendaharaa (comptable) yang berada pada Menteri Keuangan. Pelaskanaan APBN. yaitu Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 12 . dan Pertanggungjawaban APBN. Dengan berlakunya ketentuan peraturan Undang-Undang di bidang keuangan negara.

13 .

sehingga dokumen pelaksanaan anggaran tersebut disebut daftar isian pelaksanaan anggaran atau disingkat DIPA. KEGIATAN BELAJAR (KB) 2 : DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN 3.3. Apabila dalam batas waktu yang ditentukan (akhir tahun anggaran) Kuasa Pengguna Anggaran satker belum menyampaikan konsep DIPA. Sedangkan Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan selaku BUN menelaah kesesuaian konsep DIPA dengan rincian APBN yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden dan kemudian mengesahkan DIPA daerah.1. maka Menteri/Pimpinan Lembaga bertanggung jawab atas penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran Kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. maka Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB tetap menerbitkan Surat Pengesahan DIPA yang dilampiri konsep DIPA (sementara) yang dibuat oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB berdasarkan surat rincian alokasi anggaran (SRAA) dan rencana kerja anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) atau peraturan presiden tentang rincian APBN. Wujud dokumen pelaksanaan anggaran yang berlaku mulai tahun anggaran 2005 berupa daftar isian yang memuat uraian sasaran yang hendak dicapai. program dan rincian kegiatan. Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara menelaah kesesuaian konsep DIPA dengan rincian APBN yang ditetapkan dalam peraturan presiden dan kemudian mengesahkan DIPA pusat. Pengertian Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Pada Undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara di pasal 4 ayat 2 huruf a disebutkan bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya berwenang menyusun dokumen pelaksanaan anggaran. Oleh karena itu. Dalam hal DIPA (sementara) ini dapat dipakai sebagai 14 . Kewenangan Menteri/Pimpinan Lembaga tersebut dilimpahkan kepada kepala satuan kerja (satker) pusat/unit pelaksana teknis/satker khusus/satker non vertikal tertentu/satker sementara. Konsep DIPA yang telah selesai disusun oleh Kuasa Pengguna Anggaran satker disampaikan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA pusat dan kepada Kepala Kanwil DJPB untuk DIPA daerah. dalam pelaksanaan anggaran atau APBN. DIPA tersebut disusun atas dasar peraturan presiden tentang rincian APBN. fungsi. rencana penarikan dana tiap-tiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan oleh kementerian negara/lembaga.

apabila terdiri dari : (1) Surat pengesahan DIPA (SP DIPA). Halaman IB memuat informasi umum tentang rincian fungsi. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran dalam Pelaksanaan APBN dipasal 1 angka 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang dibuat oleh Menteri/Pimpinan Lembaga serta disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendahaan atas nama Menteri Keuangan dan berfungsi sebagai dasar untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran negara dan pencairan dana atas beban APBN serta dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah. (2) DIPA halaman I (Umum). dan lauk pauk/bahan makanan.dasar penerbitan surat perintah membayar dengan ketentuan bahwa dana yang dapat dicairkan dibatasi untuk pembayaran gaji pegawai. Dengan demikian. dapatlah dikatakan bahwa dalam DIPA terdapat dua dokumen yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sedangkan dana untuk jenis pengeluaran lainnya harus diblokir. program dan sasarannya serta indikator keluaran untuk masing-masing kegiatan. Rincian halaman II untuk masing-masing DIPA adalah sebagai berikut : 15 .05/2007 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan. suatu dokumen pelaksanaan anggaran dapat disebut DIPA (lengkap). Halaman IA memuat informasi yang bersifat umum dari setiap satuan kerja. Pengesahan dan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun Anggaran 2006. berisi informasi setiap satuan kerja. daya dan jasa. pengeluaran keperluan sehari-hari perkantoran. yaitu dokumen pelaksanaan anggaran yang disusun kementerian negara/lembaga bersangkutan dan dokumen surat pengesahan DIPA yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama menteri keuangan selaku bendahara umum negara.hal yang disahkan dari DIPA dan ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil DJPB atas nama Menteri Keuangan. Menurut lampiran II Peraturan Menteri Keuangan nomor 80/PMK. Dari Pengertian tersebut. Penelaahan. terdiri dari halaman IA dan halaman IB. maupun dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 134/PMK. berisi informasi mengenai hal . (3) DIPA halaman II. uraian kegiatan / sub kegiatan beserta volume keluaran yang hendak dicapai serta alokasi dana pada masing-masing belanja yang dicerminkan dalam mata anggaran keluaran.

meliputi belanja bunga utang dalam negeri. rencana penarikan pengeluaran per bulan adalah seperdua belas dari pagu gaji satu tahun. DIPA pembiayaan. Untuk belanja barang dan modal. (5) DIPA halaman IV.a. Badan Pertanahan Nasional. Kejaksaan Agung.hal sebagai berikut : a. DIPA perimbangan keuangan negara. meliputi belanja pegawai. DIPA subsidi dan transfer berisi belanja subsidi.2. meliputi belanja daerah dana alokasi umum. e. belanja daerah dana bagi hasil. belanja daerah dana penyesuaian. Khusus untuk Departemen Agama. meliputi pembiayaan dalam negeri. Kepolisian Indonesia. pembiayaan luar negeri. DIPA pembayaran bunga utang dan hibah. belanja daerah dana alokasi khusus. belanja bantuan sosial dan belanja lain-lain. (4) DIPA halaman III. agar memperhatikan kebutuhan berdasarkan rencana penarikan/pembayaran dalam rangka pelaksanaan kegiatan yang meliputi rencana penarikan uang persediaan dan rencana penarikan langsung untuk setiap bulan. satuan kerja perlu memperhatikan hal . belanja barang. Departemen Keuangan. 16 . Penerusan pinjaman dan belanja hibah. Departemen Hukum dan Hak Asasi manusia. Jenis-Jenis Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Konsep DIPA disusun untuk masing-masing Satuan Kerja dan pada prinsipnya satu DIPA untuk satu satker. berisi informasi tentang rencana penarikan dana dan penerimaan negara bukan pajak yang menjadi tanggungjawab setiap satuan kerja. d. c. berisi catatan-catatan yaitu hal-hal yang perlu menjadi perhatian oleh pelaksana kegiatan. belanja modal. dan belanja daerah dana otonomi khusus. satu DIPA dapat meliputi beberapa satker pada masing-masing provinsi/Kantor Wilayah. 3. penerusan pinjaman dan penyertaan modal pemerintah. Untuk belanja pegawai. DIPA kementerian negara/lembaga. dan Badan Pusat Statistik. Dalam hal pencantuman angka rencana penarikan pengeluaran pada halaman III DIPA berdasarkan rencana kerja. b. belanja bunga utang luar negeri. Departemen Pertanhanan dan Keamanan. b.

yang dikategorikan menjadi : 1) DIPA Satker Pusat/Kantor Pusat DIPA Satker Pusat/kantor Pusat adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga. dan Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT). Sedangkan Satuan Kerja Kantor Pusat adalah satuan kerja dalam lingkup Kantor Pusat suatu kementerian negara /lembaga. Satuan Kerja Pusat dapat terdiri dari satuan kerja–satuan kerja yang dibentuk oleh kementerian nagara/ lembaga secara fungsional dan bukan merupakan instansi vertikal . yang 17 . 3) DIPA Dana Dekonsentrasi DIPA Dana dekonsentrasi adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga dalam rangka pelaksanaan dana dekonsentrasi. serta pelaksanaannya dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi yang ditunjuk oleh Gubernur. Konsep DIPA Satker Vertikal/Kantor Daerah disusun dan ditetapkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Satuan Kerja Vertikal ditunjuk dan ditetapkan oleh Menteri/ Ketua Lembaga. yang pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor/Instansi Vertikal Kementerian Negara/Lembaga di daerah. Konsep DIPA Satker Pusat/kantor Pusat disusun dan ditetapkan oleh Satuan Kerja masingmasing kementerian negara/lembaga. yang pelaksanaannya dilakukan oleh satuan kerja yang merupakan satuan kerja pusat atau satuan kerja Kantor Pusat suatu kementrian negara/lembaga. a. 2) DIPA Satker Vertikal/ Kantor Daerah DIPA Satker Vertikal/Kantor Daerah adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga.Berdasarkan pembagian anggaran dalam APBN. DIPA Kementerian Negara/Lembaga DIPA Satker Pusat/kantor Pusat adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran dari Bagian Anggaran Kementerian Negara/Lembaga. termasuk di dalamnya untuk DIPA Badan Layanan Umum (BLU). jenis DIPA dapat dikelompokkan atas DIPA Kemeterian Negara/Lembaga dan DIPA Pembiayaan dan Perhitungan (DIPA APP).

18 . serta pelaksanaannya dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi/Kabupaten/Kota yang ditunjuk oleh Gubernur/ Bupati/Walikota. Dalam Pelaksanaannya Menteri Keuangan menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran untuk menyusun dan menetapkan konsep DIPA. 4) DIPA Tugas Pembantuan DIPA Tugas Pembantuan adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan. BAPP merupakan Bagian Anggaran yang dikelola oleh menteri Keuangan dan penggunaan anggaran tersebut bersifat khusus serta tidak termasuk dalam anggaran kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah. BAPP meliputi : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) Cicilan Bunga Utang (BA 061) Subsidi dan Transfer (BA 062) Belanja Lain-Lain (BA 069) Dana Perimbangan (BA 070) Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (BA 071) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negari (BA 096) Pembayaran Cicilan Pokok Utang Dalam Negeri (BA 097) Penerusan Pinjaman sebagai Pinjaman (BA 098) Penyertaan Modal Negara (BA 099) Penerusan Pinjaman sebagai Hibah (BA 101) Penerusan Hibah sebagai Hibah (BA 102) DIPA APP dapat terdiri dari : 1) DIPA Belanja Pemerintah Pusat. Konsep DIPA Dana Dekonsentrasi disusun dan ditetapkan oleh Kepala Satker Pusat yang ditunjuk oleh Menteri/Ketua Lembaga. dari b. DIPA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (DIPA APP) DIPA APP adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (BAPP).Konsep DIPA Dana Dekonsentrasi disusun dan ditetapkan oleh Kepala SKPD yang ditunjuk oleh Gubernur berdasarkan pendelegasian wewenang Menteri/Ketua Lembaga.

Bagian Anggaran Belanja Lain-Lain (BA 069).q. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Dalam Negeri (BA 097) iii. Konsep DIPA Dana Perimbangan disusun dan ditetapkan oleh Kuasa Pengguna Anggaran yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Menteri Keuangan 3) DIPA Pembiayaan DIPA Pembiayaan adalah DIPA yang memuat rencana kerja dan anggaran BAPP sebagai berikut : i. dan Bagian Anggaran Penerusan Pinjaman sebagai Hibah (BA 101). Sifat dan keperluan penerbitan DIPA Khusus ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan dengan kriteria penanganan kejadian luar biasa yang mempunyai tingkat urgensi sangat tinggi dan bersifat mendesak. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negari (BA 096) ii. Bagian Anggaran Subsidi dan Transfer (BA 062). Direktur Jenderal Perbendaharaan. Penerusan Hibah sebagai Hibah (BA 102) 4) DIPA Khusus DIPA Khusus adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran yang berasal dari BAPP dimana karena sifat dan keperluannya sehingga Konsep DIPA dan Surat Pengesahan DIPA disatukan dalam satu lembar DIPA yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan c. b) kegiatan yang bersifat politis dalam rangka menjaga kredibilitas Pemerintah 19 . Penyertaan Modal Negara (BA 099) v. pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah daerah Provinsi/Kabupaten/Kota. seperti : a) penanganan yang bersifat darurat. 2) DIPA Belanja Daerah DIPA Belanja Daerah adalah DIPA yang memuat rencana kerja dan anggaran Bagian Anggaran Bagian Anggaran Dana Perimbangan (BA 070) dan Bagian Anggaran Bagian Anggaran Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (BA 071). Pelaksanaan anggaran dilakukan oleh satuan kerja kementerian negara/lembaga atau satuan kerja yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan. Penerusan Pinjaman sebagai Pinjaman (BA 098) iv.DIPA Belanja Pemerintah Pusat adalah DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran Bagian Anggaran Cicilan Bunga Utang (BA 061).

satuan kerja perangkat daerah. Pertahanan dan Keamanan. Satuan kerja adalah bagian dari suatu unit organisasi pada kementerian negara/lembaga yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program. Unit organisasi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah klasifikasi anggaran yang dialokasikan untuk masing-masing kementerian negara/ lembaga atau bagian anggaran yang dibagi menurut organisasi tingkat eselon/ satuan kerja. Satuan kerja yang pimpinannya ditetapkan sebagai kuasa pengguna anggaran dapat dikelompokkan menjadi satuan kerja pusat.3. Khusus untuk Departemen Agama. satuan kerja khusus. fungsi. satuan kerja non vertikal tertentu.3. sub kegiatan. program. Kepala satuan kerja baik organisasi tingkat eselon I maupun tingkat eselon II. sehingga kementerian negara/lembaga selaku pengguna anggaran dan satuan kerja selaku kuasa pengguna anggaran bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kegiatan pendukung program sesuai dengan bagian anggarannya masing-masing. Fungsi yang digunakan dalam anggaran belanja negara adalah klasifikasi anggaran berdasarkan fungsi pemerintahan untuk masing-masing kementerian 20 . Keuangan. DIPA yang disusun oleh kementerian negara/lembaga harus berpedoman pada peraturan presiden tentang rincian APBN yang merupakan alokasi dana pada masingmasing satuan kerja dalam mencapai sasaran kegiatan yang telah ditetapkan. dan sesuai dengan peraturan presiden tentang rincian APBN. eselon III atau eselon IV yang berdiri sendiri sebagai kuasa pengguna anggaran yang dibantu dengan pejabat pengelola keuangan. Kementerian negara/lembaga dalam menyusun konsep DIPA harus mengacu kepada APBN yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. satuan kerja/unit pelaksana teknis. Penyusunan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Penyusunan DIPA adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh kantor/ satuan kerja kementerian negara/lembaga dalam mempersiapkan konsep DIPA yang akan dimintakan pengesahannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA kantor pusat atau Kepala Kanwil DJPB untuk DIPA daerah. dan atau satuan kerja sementara (bukan UPT). DIPAnya disusun untuk masing-masing propinsi/kantor wilayah atau yang setara. kegiatan. Kepolisian dan Badan Pertanahan Nasional. maka struktur penganggaran dalam DIPA harus terinci sampai dengan unit organisasi. jenis belanja dan lokasi. Kejaksaan Agung.

agama. Kesebelas fungsi utama tersebut dirinci ke dalam 79 sub fungsi. Sebagai contoh. atau kombinasi dari beberapa atau semua jenis sumberdaya tersebut sebagai masukan (input) dalam bentuk barang/jasa. Mengenai indikator hasil adalah segala sesuatu yang akan dicapai dari suatu program pada jangka menengah sesuai dengan tujuan dan sasaran program. dana. ekonomi. Sedangkan kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau beberapa satuan kerja sebagai bagian dari pencapaian saasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik berupa personil (sumber daya manusia). budaya. kegiatan pendidikan dan pelatihan aparatur negara dengan sub kegiatan penyelenggaraan diklat penjenjangan dengan keluaran antara lain jumlah peserta didik. sub kegiatan yang satu dipisahkan dengan sub kegiatan lainnya berdasarkan perbedaan keluaran. Adanya sub kegiatan adalah sebagai konsekuensi adanya perbedaan jenis dan satuan keluaran antar sub kegiatan dalam kegiatan tersebut. pendidikan dan perlindungan sosial. Program adalah penjabaran kebijaksanaan kementerian negara/lembaga dalam bentuk upaya yang berisi satu atau beberapa kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil terukur sesuai dengan misi kementerian negara/lembaga. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. perumahan dan fasilitas umum. Pengertian keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilak oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijaksanaan. pertahanan.negara/lembaga. Sub kegiatan adalah bagian dari kegiatan yang menunjang usaha pencapaian sasaran dan tujuan kegiatan tersebut. sub kegiatan pengembangan kurikulum diklat dengan keluaran antara lain jumlah modul. ketertiban dan keamanan. pariwisata. Penggunaan fungsi dan sub fungsi dalam DIPA disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing kementerian negara/lembaga. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan kementerian negara/lembaga yang dirinci ke dalam 11 fungsi utama. kesehatan. sub kegiatan penyelenggaraan diklat fungsional dengan keluaran antara lain junmlah lulusan. yaitu pelayanan umum. Pengertian hasil (outcome) adalah sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Sedangkan indikator keluaran adalah sesuatu yang akan dicapai secara langsung dari pelaksanaan suatu kegiatan. Dengan demikian. yang terdiri dari : biaya harga yaitu jumlah biaya yang 21 . lingkungan hidup.

Sebagai konsekuensi pengalokasian dana ke daerah 22 . maka indikator keluarannya sebagai berikut : Sub Kegiatan Penyusunan rencana teknis Pengembangan sistem Informasi Survey kependudukan Pengembangan usaha tani Pembangunan rumah trans. Kegiatan pada Indikator Keluaran Jumlah rencan teknis Tambahan jumlah sistem Informasi Jumlah hasil survey Tambahan jumlah UKM Jumlah rumah disusun dengan Satuan Paket Paket Paket UKM buah mengacu Sasaran 350 7 520 389 10. kegiatan. perluasan. (2) Untuk kegiatan-kegiatan fisik seperti pembangunan.dibutuhkan untuk menghasilkan suatu tingkat keluaran tertentu. integrasi. rencana kerja pemerintah. kualitas yaitu mutu barang dan atau jasa yang dihasilkan berdasarkan kepuasan penerima manfaat dan ketepatan waktu. perawatan atau pemeliharaan sarana fisik/gedung dan atau pengadaan barang/jasa yang kegiatannya secara nyata berada di daerah propinsi/kabupaten/kota agar dialokasikan ke daerah yang bersangkutan dengan cara mengintegrasikan kegiatan dimaksud kedalam kegiatan di daerah yang sejenis pada program yang sama menjadi kegiatan atau unsur kegiatan. Instansi pusat pada dasarnya melakukan kegiatan yang bersifat pembinaan. indikator hasil dan keluaran pada kementerian tenaga kerja dan transmigrasi untuk program transmigrasi. kuantitas yaitu jumlah unit barang atau jasa yang akan dihasilkan. melalui kegiatan pemindahan penduduk dan pengembangan masyarakat transmigrasi. Untuk kegiatan-kegiatan non fisik yang karena sifat dan permasalahannya memerlukan keterpaduan sistem pada tingkat nasional dapat dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai kegiatan pusat. dengan hasil tercapainya mobilitas penduduk sebesar 5 % sampai tahun 2009. rencana strategis kementerian negara/lembaga dan program prioritas pendukung kementerian negara/ lembaga. sinkronisasi pada setiap tahapan manajemen atau melakukan kegiatan rintisan dalam rangka pengembangan sistem tertentu dengan lingkup nasional. Apabila tidak ada kegiatan yang sejenis yang menampungnya dapat diciptakan kegiatan baru yang berdiri sendiri. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan rumusan kegiatan. koordinasi.000 kepada rencana prinsipnya pembangunan jangka menengah nasional. Contoh keterkaitan rumusan program. antara lain : (1) Penentuan suatu kegiatan didasarkan atas program dalam satu lingkungan unit eselon I.

propinsi/kabupaten/kota, maka pengadaan barang/jasa tersebut tidak diperkenankan dilaksanakan oleh unit eselon I di pusat.

(3)

Kegiatan operasional yang merupakan kegiatan lanjutan, pada waktu menyusun anggaran yang direncanakan perlu dicantumkan prakiraan maju untuk tahun berikutnya. Kegiatan lanjutan adalah kegiatan terusan dari kegiatan tahun sebelumnya yang jangka waktu penyelesaiannya lebih dari satu tahun anggaran, termasuk kegiatan - kegiatan yang merupakan bagian dari suatu rencana induk (master plan) dan kegiatan - kegiatan yang penyelesaiannya memerlukan waktu lebih dari satu tahun (multi years). Pencantuman pinjaman/hibah luar negeri (PHLN) dalam DIPA harus

memperhatikan ketentuan-ketentuan yang diatur dalam loan agreement berkenaan, karena kesalahan dalam pencantuman dana PHLN dapat berakibat terjadinya kesalahan pembayaran. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pencantuman PHLN dalam DIPA, yaitu :

(1)

Status loan. Dana PHLN harus memilki status loan yang jelas, dalam arti naskah perjanjian pinjaman/hibah luar negeri (NPHLN) berkenaan sudah ditandatangani dan dinyatakan efektif serta telah diberi kode registrasi PHLN..

(2)

Jenis cara pembayaran. Pencantuman cara penarikan pinjaman luar negeri (PLN) seperti Rekening Khusus (RK), Pembayaran Langsung (PL), Pembukaan Letter of Credit (L/C) dan Penarikan Langsung Hibah berpedoman pada SKB Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor :185/ KMK.03/1995 - Kep.031/KET/5/1995 yang telah diubah dengan SKB Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 459/KMK.03/1999 - Kep.264/KET/09/1999 serta ketentuan lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

(3)

Alokasi dana. Hal - hal yang perlu diperhatikan untuk mengalokasikan dana PHLN dalam DIPA, yaitu : a. Jenis kegiatan/pekerjaan yang akan dibiayai harus terdapat dalam uraian kategori dalam PHLN;

23

b.

Dana PHLN untuk setiap kategori pengeluaran masih cukup tersedia. Hal

ini penting untuk menghindarkan terjadinya overdrawn atau kelebihan penarikan suatu kategori;

c.
NPPHLN;

Porsi dana PHLN sesuai kategori yang telah ditetapkan dalam Khusus PHLN yang penarikannya melalui tatacara L/C, perlu diperhatikan

d.

nilai kontrak pekerjaan secara keseluruhan. Hal ini berkaitan dengan pembukaan rekening L/C di Bank Indonesia oleh KPPN Jakarta VI dan KPPN Khusus Banda Aceh. e. Dalam hal NPPHLN mensyaratkan adanya dana pendamping (porsi dan non porsi), maka kementerian/lembaga wajib menyediakan dana pendamping dalam RKA-KL

(4)

Standar biaya. Pembiayaan kegiatan/subkegiatan yang bersumber dari PHLN mengacu kepada Standar Biaya Umum (SBU), Standar Biaya Khusus (SBK) dan Billing rate. Dalam hal belum tersedia standar biaya, maka dapat digunakan Rincian anggaran Biaya.

(5)

Kartu Pengawasan Alokasi Pagu PHLN Kartu pengawasan tersebut memuat antara lain : a. b. c. d. e. f. g. h. i. KL; j. sisa yang belum dialokasikan. nama, tanggal, nomor NPPHLN; nama pemberi pinjaman; executing agency/implementing agency; nomor register PHLN; tanggal efektif PHLN; closing date; besaran pinjaman yang tercantum dalam NPPHLN; kategori dan porsi PHLN; tata cara dan rencana penarikan yang dituangkan dalam RKA-

(6)

Memahami NPPHLN. Untuk menghindarkan terjadinya kegiatan-kegiatan yang ineligible, maka isi dari loan agreement (NPPHLN) dan staff appraisal report (SAP) harus dipahami, terutama mengenai : porsi beban loan untuk masing-masing kegiatan/kategori,

24

kegiatan-kegiatan yang dapat dibiayai loan, closing date, lokasi sasaran/cakupan kegiatan, ketentuan loan lainnya jika ada (cara pembayarannya, dan sebagainya). Dalam menyusun DIPA, pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kegiatan dan perhitungan biayanya yang dalam penyusunannya berpedoman pada peraturan Harga satuan yang terdapat dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/PMK.02/2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 80/PMK.05/2007 tentang : Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan dan Pelaksanaan DIPA Tahun Anggaran 2008, sebagai berikut: (1) Belanja pegawai. Belanja Pegawai adalah kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah (pejabat negara, PNS dan Pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS) yang bertugas di dalam maupun luar negeri sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal. Belanja Pegawai terdiri dari : a. Belanja Pegawai Mengikat adalah belanja pegawai yang dibutuhkan secar terus menerus dalam satu tahun dan harus dialokasikan oleh kementerian negara/lembaga dengan jumlah yang cukup pada tahun yang bersangkutan 1) Gaji Perhitungan gaji dan tunjangan didasarkan atas realisasi pembayaran gaji bulan April 2007 pada masing-masing kantor/satuan kerja. Dihitung selama 13 bulan dengan perhitungan : realisasi bulan April 2007 X 13 bulan, kemudian ditambah accres 2,5 % untuk menampung kenaikan pangkat, gaji berkala dan tambahan tunjangan keluarga. Untuk Pengisian selisih formasi dan bezzeting (F-B) setiap pegawai dianggap mempunyai satu isteri, satu anak, masa kerja nol tahun dihitung selama enam bulan dengan indeks gaji sebagai berikut : Golongan I sebesar Rp. 741.000,- per bulan; Golongan II sebesar Rp. 813.000,- per bulan; Golongan III / IV sebesar Rp. 1.166.000,- per bulan.

25

• • Honorarium ujian dinas. dengan perhitungan maksimal 100 % dari dana uang lembur tahun anggaran 2007. SE-07/A/2001 perihal Pelaksanaan Pembayaran Penghasilan Dokter dan Bidan PTT Selama Masa Bakti dan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Kesehatan dan Menteri Keuangan N0.03/ 2000 tanggal 11 Oktober 2000 tentang Pelaksanaan Penggajian Dokter dan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap Selama Masa Bakti. Honorarium kelebihan jam mengajar guru tetap dan guru tidak 26 . Penyediaan dana untuk uang lembur tahun anggaran 2008 berdasarkan tarif yang ditetapkan Menteri Keuangan. Honorarium mengajar disediakan antara lain untuk tenaga pengajar luar biasa di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional atau di luar Depdiknas yang tarifnya telah mendapat persetujuan Menteri Keuangan. 1537/Menkes-Kessos/SKB/X/2000 dan No. 410/KMK.Perhitungan tersebut di atas kemudian ditambah dengan perhitungan tunjangan umum dan tambahannya sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Jumlah dana (F-B) tersebut ditempatkan pada masing-masing unit organisasi kementerian negara/lembaga jika telah ada formasi per unit organisasi atau pada Sekretariat Jenderal dalam hal belum ada formasi per unit organisasi. Tunjangan beras Jumlah pegawai X 3 jiwa X 10 kg X harga beras yang berlaku X 6 bulan. 2) Gaji Dokter PTT dan Bidan PTT Untuk Kementerian Kesehatan agar diperhitungkan gaji dokter dan bidan PTT dengan berpedoman pada Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran tanggal 5 Januari 2001 No. 3) • • tetap. 4) Uang lembur. Perhitungan untuk Gaji dan Tunjangan dibuat berdasarkan masing-masing mata anggaran yang dibulatkan dalam ribuan rupiah. Honorarium Honorarium mengajar guru tidak tetap.

d. Belanja Pegawai Tidak Mengikat.lain.lain adalah : mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan. Belanja Pegawai Tidak Mengikat adalah belanja pegawai yang diberikan dalam rangka mendukung pembentukan modal dan atau kegiatan yang bersifat temporer. b. Tunjangan lainnya yang besarannya telah Lain . Uang Lauk Pauk TNI/Polri Uang Makan PNS Pengeluaran untuk uang makan PNS per hari kerja per PNS dan dihitung maksimal 22 hari setiap bulan. masing . dengan adanya uang makan ini maka pemberian uang makan tersebut dihentikan. Pelaksanaannya memerlukan pembentukan panitia/tim/kelompok Uang Lauk Pauk bagi anggota TNI/Polri dihitung perhari per anggota. Bagi PNS yang sebelumnya sudah menerima uang makan yang tidak berdasarkan keputusan Menteri Keuangan. • Mempunyai keluaran (output) jelas dan terukur.masing mata anggaran dan dibulatkan dalam ribuan rupiah. Besarnya uang lauk pauk Perhitungan untuk gaji dan tunjangan dibuat berdasarkan bagi anggota TNI/Polri dihitung sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b. c. 9) 10) Khusus belanja pegawai TNI/Polri. Honorarium yang bersumber dari PNBP. Belanja pegawai untuk dharma siswa/mahasiswa Yang termasuk dalam belanja pegawai lain . 7) 8) • • Belanja pegawai untuk tunjangan ikatan dinas (TID). Tunjangan selisih penghasilan (BPPT). e. 27 . 6) a. asing. Anggaran untuk belanja pegawai tidak mengikat dapat disediakan untuk kegiatan sepanjang : • kerja.5) Vakasi Vakasi adalah penyediaan dana untuk imbalan bagi penguji atau pemeriksa kertas/jawaban ujian.

Pengalokasian anggaran untuk belanja barang mengacu pada standar biaya yang telah ditetapkan. (2) Belanja Barang. 28 . • Honorarium yang disediakan untuk anggota Tim Penyusunan Standar Biaya Khusus Kementerian/Lembaga yang anggotanya terdiri dari unsur kementerian/lembaga. Belanja Barang dapat dibedakan menjadi Belanja Barang dan Jasa. Belanja Pemeliharaan. • • • Sifatnya koordinatif dengan mengikutsertakan satker/organisasi Sifatnya temporer sehingga pelaksanaannya perlu diprioritaskan atau di luar jam kerja. Departemen Keuangan. Sedangkan pengalokasian anggaran untuk kegiatan yang belum ditetapkan standar biayanya dilakukan atas dasar Rincian Anggaran Belanja (RAB) yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang. Merupakan perangkapan fungsi atau tugas tertentu kepada PNS disamping tugas pokoknya sehari-hari. Honorarium ini disediakan dalam rangka mencapai keluaran berupa standar biaya kegiatan tertentu. dan Belanja Perjalanan Dinas. Bukan operasional yang dapat diselesaikan secara internal satker. • Honorarium yang disediakan untuk anggota Tim Penyusunan Draft Peraturan Perundang-undanganyang mengikutsertakan satker/instansi lain yang terkait.• lain. Honorarium ini diberikan dalam rangka mencapai keluaran berupa peraturan. Contoh Belanja Pegawai Tidak Mengikat : • Honorarium yang disediakan untuk PNS yang ditunjuk sebagai pengelola keuangan dalam rangka pelaksanaan fungsi kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. Honorarium ini diberikan karena perangkapan jabatan/penugasan dan tanggungjawab. dengan memperhatikan harga pasar yang berlaku dan ddapat dipertanggunjawabkan sesuai jenis serta spesifikasi yang diperlukan. dan Badan Pusat Statistik. Belanja barang yaitu pengeluaran atas pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan.

jalan lingkungan kantor. pengadaan inventaris kantor yang nilainya tidak memenuhi syarat nilai kapitalisasi (nilai satuan barang kurang dari Rp 300. yang indeks satuan harga didasarkan atas indeks yang ditetapkan oleh Departemen Pertahanan dan Polri meliputi : uang makan non organik. pengadaan/penggantian inventaris kantor. Belanja Barang Mengikat adalah belanja barang yang dibutuhkan secara terus menerus selama 1 (satu) tahun dan dialokasikan oleh kementerian/lembaga dengan jumlah yang cukup pada tahun yang bersangkutan. uang makan khusus Departemen Pertahanan (TNI) dan Polri.-) Belanja Pemeliharaan adalah pengeluaran yang dimaksudkan untuk mempertahankan aset tetap atau aset tetap lainnya yang sudah ada ke dalam kondisi normal . uang makan operasi dan uang makan pendidikan. pengadaan barang yang habis pakai seperti alat tulis kantor. kendaraan bermotor dinas dan lain-lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan. 29 .Belanja Barang dan Jasa merupakan pengeluaran yang antara lain dilakukan untuk membiayai keperluan kantor sehari-hari. langganan daya dan jasa. antara lain : • • • • keperluan sehari-hari perkantoran. Belanja Pemeliharaan meliputi antara lain pemeliharaan gedung dan bangunan kantor. lain-lain pengeluaran untuk membiayai pekerjaan yang bersifat non fisik dan secara langsung menunjang tugas pokok dan fungsi kementerian/lembaga. taman. rumah dinas. Belanja Barang Mengikat. pengadaan/penggantian inventaris kantor yang nilainya dibawah kapitalisasi. Pengeluaran-pengeluaran yang temasuk dalam hal ini adalah belanja operasional. terdiri atas : 1). Belanja Barang Mengikat. Belanja Barang terdiri dari : a. fungsi dan jabatan. Belanja barang.000. Belanja Pejalanan Dinas merupakan pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai perjalanan dinas dalam rangka pelaksanaan tugas. pengadaan bahan makanan.

Belanja jasa. 2). b. Pengeluaran-pengeluaran yang temasuk dalam hal ini adalah belanja untuk langganan daya dan jasa (listrik. 4). sewa.000. Belanja Perjalanan.000. (3) Belanja Modal. mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. Belanja Modal adalah pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembentukan modal yang sifatnya menambah aset kementerian negara/lembaga dengan kewajiban untuk menyediakan biaya pemeliharaan. akan menambah aset pemerintah. 3).-. Belanja Modal merupakan pengeluaran anggaran untuk memperoleh aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu perode akuntansi. gas dan air). Ciri-ciri/karakteristik Aset Lainnya adalah tidak berwujud. Irigasi dan Jaringan adalah sebesar Rp 10.per unit). nilainya relatif material (di atas Rp 300. 30 .000. Dengan demikian. Sedangkan batasan minimal kapitalisasi untuk Gedung dan Bangunan dan Jalan. jasa profesi dan jasa lainnya). Belanja Barang Tidak Mengikat adalah belanja barang yang dibutuhkan secara insidentil (tidak terus menerus) yang meliputi barang non operasional. telepon. Perjalanan dinas tetap adalah perjalanan yang dilakukan oleh PNS secara terus menerus dalam rangka melaksanakan tugas tertentu. kendaraan bermotor dan lain-lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan termasuk perbaikan peralatan dan sarana gedung (sesuai standar biaya umum). Pengeluaran . Pengeluaran-pengeluaran untuk pemeliharaan gedung kantor.pengeluaran untuk perjalanan dinas tetap. rumah dinas/jabatan. Kepada PNS tersebut diberikan biaya perjalanan dinas tetap dengan tarif tertentu yang dibayarkan secara bulanan. belanja pemeliharaan serta belanja perjalanan dinas dalam rangka pelaksanaan suatu kegiatan/tugas pokok fungsi satuan kerja. belanja jasa (jasa konsultan.. Belanja Barang Tidak Mengikat. Belanja Pemeliharaan.• belanja barang lainnya yang secara langsung menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kementerian/lembaga. Aset tetap mempunyai ciri-ciri/karakteristik sebagai berikut : berwujud.

Berdasarkan hal di atas. belanja untuk kelengkapan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar (sepanjang beranda di dalam komplek) gedung dan 31 . Pengeluaran tersebut melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap. pengosongan. dan peningkatan kapasitas peralatan dan mesin berat yang dimaksudkan untuk memperpanjang masa manfaat maupun meningkatkan efisiensinya. 2) belanja modal peralatan dan mesin. pengawasan dan pengelolaan pembentukan modal untuk pembangunan gedung dan banguan negara yang perhitungannya mengikuti Standar Pembangunan Gedung Negara. Aset lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah. perolehan hak dan kewajiban atas tanah pada saat pembebasan/pembayaran ganti rugi tanah. 3) Pengeluaran belanja modal gedung dan bangunan. Pengeluaran untuk pengadaan/pembelian/pembebasan penyelesaian. termasuk biaya untuk penambahan. penggantian. hunian dan pelayanan. untuk perencanaan. perataan. pematangan tanah. Belanja modal terdiri dari : 1) belanja modal tanah. mempunyai masa manfaat lebih dari dari 1 (satu) tahun. pengadaan/pembangunan berbagai gedung dan bangunan yang berfungsi untuk perkantoran. termasuk di dalamnya pengadaan berbagai kebutuhan pembangunan gedung dan bangunan. Pengeluaran untuk pengadaan alat-alat dan mesin-mesin yang dipergunakan dalam kegiatan pembentukan modal/aset tetap.akan menambah aset pemerintah. ii. pembangunan. Termasuk kelompok belanja modal ini adalah : i. pembuatan sertifikat tanah serta pengeluaran-pengeluaran lain yang bersifat adminstratif sehubungan dengan pembentukan modal. Perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan untuk dijual. dikategorikan Belanja Modal apabila memenuhi kreteria : • • • • Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya. nilainya tidak material. balik nama dan sewa tanah.

Dalam kreteria ini termasuk biaya yang berhubungan dengan perencanaan. 32 . pengawasan. Pengeluaran yang diperlukan dalam kegiatan pembentukan modal untuk pengadaan pembangunan belanja fisik lainnya yang tidak dapat diklasifikasikan dalam perkiraan kriteria belanja modal tanah. gorong-gorong lingkungan. peningkatan/ penambahan. jembatan dam. Sedangkan penilaian atas pekerjaan yang belum ditetapkan dalam standar biaya dilakukan atas dasar Rincian Anggaran Biaya (RAB) yang disusun oleh pejabat yang berwenang. pengadaan/pembelian barang-barang kesenian (art pieces). peralatan dan mesin. pertamanan. biaya-biaya untuk kegiatan rehabilitasi. telepon. dengan memperhatikan harga pasar yang berlaku dan jenis serta spesifikasi yang diperlukan. ternak peliharaan. renovasi dan restorasi gedung dan bangunan yang diharapkan dapat memperpanjang masa manfaat dari aktiva maupun meningkatkan efisiensinya. jaringan pengairan (termasuk jaringan air bersih). barang-barang purbakala dan barang-barang untuk museum. dan pengelolaan pembangunan prasarana dan sarana tersebut di atas. pembuatan serta perawatan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai jaringan atau merupakan bagian dari jaringan. Perhitungan dan penilaian belanja modal dilakukan berdasarkan standar biaya sepanjang telah ditetapkan. penggantian. jaringan instalasi/distribusi listrik dan jaringan telekomunikasi serta jaringan lain yang berfungsi sebagai prasarana dan sarana fisik distribusi/instalasi. buku-buku dan jurnal ilmiah. Termasuk dalam belanja ini : kontrak sewa beli (leasehold). air. gedung dan bangunan. irigasi dan jaringan. pagar. 5) belanja modal fisik lainnya. iii. akan tetapi tidak termasuk instalasi yang terdapat di dalam gedung dan bangunan sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Belanja Modal Gedung dan Bangunan.bangunan tersebut. serta hewan ternak. lapangan parkir dll. pengeluaran yang diperlukan untuk pembangunan. Misalnya instalasi listrik. misalnya jalan. jalan komplek. irigasi dll). jaringan (jalan. 4) belanja modal jalan. embung.

belanja pegawai Gaji home staff maupun local staff pada perwakilan RI termasuk atase teknis supaya didasarkan pada payroll (daftar tunjangan penghidupan luar negeri) bulan Maret 2007. barang atau jasa yang diberikan kepada masyarakat. Yang termasuk kedalam bantuan sosial adalah : • bantuan konpensasi sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota masyarakat dan atau lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya untuk lembaga non pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan. Jenis belanja ini khusus digunakan dalam kegiatan dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (BAPP). Khusus untuk satker perwakilan Pemerintah Indonesia di luar negeri di atur sebagai berikut : a. (5) Subsidi Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi. menjual. Transfer dalam bentuk uang. baik utang dalam negeri maupun luar negeri yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman. Jenis belanja ini khusus digunakan dalam kegiatan dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (BAPP).(4) Bunga Bunga yaitu pembayaran yang dilakukan atas kewajiban penggunaan pokok utang (principal outstnading). atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Transfer dalam bentuk uang. mengekspor. • Bantuan kepada lembaga pendidikan dan peribadatan. Bantuan sosial yaitu transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. i. sebagai dampak dari adanya kenaikan harga BBM. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada perusahaan negara dan perusahaan swasta. 33 . barang atau jasa yang diberikan kepada lembaga pendidikan dan peribadatan. (6) Bantuan Sosial.

rata Tunjangan Pokok Luar Negeri (TPLN). rata-rata maksimum ada peraturan lain ketenagakerjaan negara setempat dimana perwakilan RI di luar negeri (termasuk atase teknis dan atase pertahanan) berada. ii. supaya Untuk Alokasi menghitung Tunjangan kurs digunakan home kurs staff yang didasarkan pada payroll terendah tahun anggaran 2007. maksimum 30 % Alokasi Tunjangan lain-lain local staff dihitung dari alokasi gaji luar negeri local staff. maka pengalokasian setempat. Apabila perhitungan lembur 28% dan Tunjangan asuransi kecelakaan 2%. Perwakilan maka perhitungan F-B nya menggunakan Angka Dasar Tunjangan Luar Negeri (ADTLN) X Angka Pokok Tunjangan Luar Negeri (APTLN) dengan asumsi 1 istri 2 anak. Untuk menghitung selisih F-B local staff. iii. Untuk menghitung selisih F-B (formasi . lain-lain dihitung maksimum 40 % dari alokasi gaji luar negeri/TPLN home staff dengan perhitungan Tunjangan Sewa Rumah 25% dan Tunjangan Restitusi Pengobatan 15%.ii. vi. Perjalanan dinas pada Perwakilan RI di LN termasuk Atase Teknis dan Atase Pertahanan maksimum terdiri dari :   Perjalanan dinas wilayah Perjalanan dinas multilateral mengikuti ketentuan ketenagakerjaan pada negara 34 . i. vii. ditetapkan APBN. dengan Alokasi anggaran social security local staff dihitung 7% dari alokasi gaji luar negeri local staff. iii. Alokasi anggaran biaya representasi untuk duta besar dihitung maksimum 20% dari tunjangan pokok x 12 bulan. v. b. supaya didasarkan pada angka rata . Sedangkan untuk home staff lainnya dihitung maksimum 10% dari gaji pokok x 12 bulan. Belanja barang Alokasi anggaran untuk sewa gedung didasarkan atas kontrak sewa gedung yang berlaku. iv.Bezzeting) Khusus apabila terjadi kekosongan Kepala home staff.

DJPb maupun Kanwil DJPb melakukan kegiatan penelaahan terhadap konsep DIPA tersebut.undang nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan disebutkan bahwa Menteri Keuangan selaku bendahara umum negara berwenang mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran. serta lokasi kegiatan/sub kegiatan) dari Direktur Jenderal Anggaran dengan konsep DIPA dari instansi kementerian negara/ lembaga/satuan kerja terkait. serta frekuensi perjalanan yang dilakukan. SRAA tersebut memuat kutipan peraturan presiden tentang rincian APBN sesuai dengan satuan kerja di daerah. sub fungsi. peraturan presiden tentang rincian APBN (menurut organisasi. program. Besarnya tarif uang harian perjalanan dinas luar negeri diatur oleh Menteri Keuangan.4. sub kegiatan. 35 . Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan mempercepat proses penerbitan SP DIPA di daerah. kegiatan. Sebelum mengesahkan konsep DIPA yang diterima dari kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga. 3. jenis belanja. Pengertian penelaahan adalah proses pencocokan SRAA. Penelaahan Konsep Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Pada pasal 7 ayat (2) huruf b Undang . Kewenangan tersebut dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan dengan menerbitkan surat pengesahan DIPA (SP DIPA). Proses penelaahan DIPA sampai dengan penetapan SP DIPA harus telah diselesaikan selambat-lambatnya pada tanggal 31 Desember sebelum tahun anggaran berjalan. dan dihitung menurut jumlah pejabat yang melakukan perjalanan dinas. fungsi.  Perjalanan dinas akreditasi Perjalanan dinas kurir Anggaran perjalanan dinas pada Perwakilan RI di LN disediakan hanya untuk jenis perjalanan dinas yang ada pada Perwakilan RI bersangkutan.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan menetapkan surat rincian alokasi anggaran (SRAA) atas dasar peraturan presiden tentang rincian APBN yang secara nyata kegiatannya berlokasi di daerah. Pada awal bulan Nopember. Menteri Keuangan c. maka kewenangan Direktur Jenderal Perbendaharaan tersebut didelegasikan kepada Kepala Kantor Wilayah DJPb.

Penelaahan konsep DIPA di kantor pusat pusat DJPb diatur sebagai berikut : (1) Khusus untuk DIPA satuan kerja kantor pusat kementerian negara/lembaga membuat konsep DIPA dan disampaikan ke DJPb c. maka DJPb dapat melakukan pengesahan DIPA berkenaan. Kanwil DJPb melakukan koordinasi dan menyampaikan kopi SRAA kepada satuan kerja dalam wilayah masing . Penetapan SRAA diatur sebagai berikut : (1) DJPb c. program. Pagu yang ditetapkan dalam peraturan presiden tentang rincian APBN bagi masing-masing unit organisasi. 36 .q.Tujuan penelaahan adalah untuk memperoleh kesesuaian DIPA yang akan ditetapkan dengan dokumen resmi yang menjadi dasar penyusunannya. Direktorat Pelaksanaan Anggaran. fungsi. Penelaahan konsep DIPA oleh Kanwil DJPb di daerah dilaksanakan sebagai berikut : 1) Setelah SRAA dan atau peraturan presiden tentang rincian APBN diterima dari Kantor Pusat DJPb. Direktorat Pelaksanaan Anggaran menerima peraturan presiden tentang rincian APBN dari Menteri Keuangan c. sedangkan tanggungjawab terhadap perhitungan biaya dan penggunaan dana yang tertuang dalam DIPA sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. (2) Apabila dalam DIPA telah sesuai dengan rincian peraturan presiden. 2) Pagu yang telah ditetapkan dalam SRAA untuk masing masing satuan kerja per kegiatan dan per jenis belanja merupakan batas tertinggi yang tidak boleh dilampaui. (2) SRAA ditetapkan berdasarkan lokasi kegiatan yang secara nyata ada di daerah. Apabila penelaahan konsep DIPA tersebut telah sesuai dengan SRAA dan rincian peraturan presiden selanjutnya ditetapkan SP DIPA yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA pusat dan Kepala Kanwil DJPb untuk DIPA yang telah ditelaah di daerah.q. Pengesahan ini berlaku sebagai dasar pencairan dana oleh KPPN. Direktorat Jenderal Anggaran pada akhir bulan Nopember dan setelah itu menerbitkan SRAA. kegiatan dan jenis belanja merupakan batas tertinggi yang tidak boleh dilampaui.masing. (3) Segera setelah SRAA ditetapkan. sub fungsi. kantor pusat DJPb mengirimkan SRAA dan atau peraturan presiden tentang rincian APBN tersebut ke Kantor Wilayah DJPb.q.

KPPN mencairkan dana PNBP didasarkan atas ketentuan perundang . Penilaian belanja pegawai ini agar dicantumkan secara khusus pada lembar catatan penelaahan DIPA dan selanjutnya dilaporkan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan sebagai bahan analisa mengenai ketersediaan belanja pegawai tahun anggaran 2008. kecuali satuan kerja Naskah perjanjian pinjaman/hibah luar negeri (NPHLN) belum efektif dan atau kegiatan PHLN yang belum tersedia dana 4) a) Catatan atas hasil penelaahan DIPA diatur sebagai berikut : Dalam hal sebagian atau seluruh kegiatan DIPA dibiayai dana yang berasal dari penerimaan negara bukan pajak (PNBP). dalam halaman IV Catatan DIPA agar dicantumkan catatan khusus : “Pencairan dana untuk membiayai kegiatan PNBP dapat dibayarkan setelah terlebih dahulu dilakukan penyetoran PNBP ke rekening kas negara yang dibuktikan dengan surat bukti setor.undangan yang berlaku”. b) Dalam penelaahan belanja pegawai dalam DIPA agar tetap memperhatikan dasar perhitungan gaji atas dasar gaji bulan April 2007 (untuk DIPA tahun 2008). Kepala Kanwil DJPb agar melaporkan temuan penelaahan tersebut kepada Direktur Jenderal 37 . maka di daerah DJPb terdapat dapat ketidaksesuaian atau permasalahan Kanwil melakukan pemblokiran dana kegiatan pada DIPA dalam hal : a) jenis belanja yang satuan kerja terkait b) sementara. c) pendampingnya. c) Apabila dalam penelaahan DIPA dijumpai alokasi pagu kegiatan pada jenis belanja tertentu yang tidak sesuai dengan klasifikasi belanja sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. belum mendapat persetujuan Menteri Negara PAN. Terdapat ketidaksesuaian kegiatan dan alokasi pagu tercantum pada konsep DIPA yang diajukan oleh dengan yang tercantum pada SRAA dan atau peraturan Keperluan biaya operasional satuan kerja baru yang presiden tentang rincian APBN satuan kerja yang bersangkutan.3) Apabila dalam penelaahan DIPA lainnya. DIPA tetap diproses dengan dengan catatan diadakan pemblokiran atau tanda bintang(*) sampai adanya penetapan lebih lanjut dari Direktur Jenderal Perbendaharaan.

38 . dan lauk pauk/bahan makanan. Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan menyusun Konsep DIPA Sementara dan mengesahkan DIPA Sementara berdasarkan e) Apabila konsep DIPA sudah diterima dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran setelah DIPA Sementara diterbitkan. daya dan jasa. 6) Petunjuk operasional kegiatan (POK). 3. dicairkan pembayaran gaji pegawai. Revisi terhadap POK sepanjang tidak mengubah DIPA dilakukan oleh kepala satuan kerja. pengadaan alat berat yang seharusnya dicantumkan pada belanja modal. setiap satuan kerja dapat menerbitkan petunjuk operasional kegiatan (POK) sebagai pedoman pelaksanaan lebih lanjut dari DIPA. setelah DIPA disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan/Kepala Kanwil DJPb. Sedangkan dana untuk jenis pengeluaran lainnya harus diblokir. c) d) DIPA Dana Sementara yang dapat tidak perlu ditandatangani dibatasi untuk Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran. b) SRAA.5. maka diterbitkan DIPA Sementara dengan tata cara sebagai berikut : a) Kantor Pusat Ditjen Perbendaharaan menyusun Konsep DIPA Sementara dan mengesahkan DIPA Sementara berdasarkan Peraturan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat. Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan yang tertuang dalam DIPA. maka pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat mengusulkan pengesahan revisi DIPA kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk DIPA pusat dan kepada Kepala Kanwil DJPb untuk DIPA daerah. Dalam hal kementerian negara/lembaga/satuan kerja terlambat menyampaikan konsep DIPA.Perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut. pengeluaran keperluan sehari-hari perkantoran. tetapi pada SRAA maupun pada peraturan presiden tentang rincian APBN dicantumkan pada belanja barang. 5) Keterlambatan penyampaian konsep DIPA. Sebagai contoh : adanya pembangunan gedung kantor. maka dilakukan penelaahan dan pengesahan revisi pertama DIPA bersangkutan. Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Dalam hal pelaksanaan DIPA satuan kerja/unit organisasi eselon I memerlukan revisi.

5) Perubahan anggaran antarprovinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organisasi di tingkat pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah. (2) Revisi DIPA disahkan oteh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Merupakan Revisi DIPA yang dilaksanakan berdasarkan Revisi Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) yang ditetapkan dengan perubahan SAPSK yang meliputi: 1)  Pergeseran anggaran belanja: antarunit organisasi dalam satu bagian anggaran. provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka turgas pernbantuan. atau dalam satu provinsi untuk kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka dekonsentrasi. 6) Pencairan blokir/tanda bintang (") yang dicantumkan oleh Direktur Jenderal Anggaran. sebagai akibat dari luncuran dan percepatan penarikan PHLN.02/2008 tanggal 31 Maret 2008 tentang Tata Cara Perubahan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dan Perubahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2008 sebagai berikut : (1) Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dapat melakukan Revisi DIPA dan mengajukan pengesahan Revisi DIPA kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan/ Kepaia Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. dan 39 .Kewenangan revisi DIPA diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 46/PMK. (3) Revisi DIPA dilaksanakan : a. Berdasarkan dengan perubahan Satuan Anggaran Per Satuan Kerja (SAPSK). dan/atau 2) 3) 4) negara bukan pajak (PNBP). antarkegiatan dalam satu program sepanjang pergeseran antarjenis belanja dalam satu kegiatan Perubahan anggaran belanja yang bersumber dari penerimaan Perubahan pagu pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) Perubahan anggaran sepanjang masih dalam satu   tersebut merupakan hasil optimalisasi.

termasuk menambah subkegiatan baru dalam satu kegiatan. program. Penggunaan anggaran belanja yang bersumber dari PNBP di atas pagu APBN untuk perguruan tinggi non Badan Hukum Milik Negara (PT Revisi Rincian ABPP yang ditetapkan tanpa perubahan SAPSK dilaksanakan dengan tetap tidak mengakibatkan: 1) Pengurangan terhadap : memenuhi kegiatan operasional. b.  alokasi belanja rnengikat (kegiatan 0001 dan 0002) kecuali dalam rangka 40 . apabila persyaratan telah dipenuhi. 4) Perubahan alokasi dana antarsubkegiatah. Merupakan Revisi DIPA yang dilaksanakan berdasarkan Revisi Rincian ABPP yang ditetapkan tanpa perubahan SAPSK yang meliputi: 1) 2) Perubahan/ralat karena kesalahan administrasi. 7) non BHMN). Perubahan anggaran antarprovinsi/kabupaten/kota untuk 3) kegiatan operasional yang dilaksanakan oleh unit organibasi di tingkat. 5) Perubahan volume keluaran pada subkegiatan sepanjang volume keluaran kegiatan telah dicapai tanpa sasaran program dan mengubah alokasi dana pada kegiatan. Perubahan kantor bayar (KPPN). satu jenis belanja dan satu satker sepanjang sasaran program dan/atau volume keluaran kegiatan/subkegiatan telah dicapai dan tidak mengurangi alokasi dana belanja mengikat.. Berdasarkan Revisi Rincian ABPP yang ditetapkan tanpa perubahan SAPSK.7) Perubahan pagu pinjaman dan hibah luar negeri (PHLN) sebagai akibat perubahan kurs sepanjang perubahan tersebut terjadi setelah kontrak ditandatangani. 6) Pencairan dana yang diblokir/bertanda bintang (-) sepanjang dicantumkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan. jenis belanja dan satker. pusat maupun oleh instansi vertikalnya di daerah sepanjang digunakan untuk kode akun (MAK) yang sama. satu program.

dan  alokasi dana pada rincian Kelornpok Pengeluaran/Subkegiatan/ Kegiatan yang telah dikontrakkan. tidak mengurangi belanja gaji dan tunjangan ilainnya yang tidak rnengurangi/merelokasi belanja mengikat.  alokasi dana untuk pembayaran berbagai tunggakan. pembangunan gedung kantor. b.  Rupiah Murni Pendamping PHLN. Revisi yang dilaksanakan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran Satuan Kerja dilakukan dengan mengubah Petunjuk Operasional Kegiatan dan dokumen RKAKL berkenaan.Yang dimaksud dengan kegiatan operasional merupakan kegiatan yang didanai dari belanja pegawai mengikat dan belanja barang mengikat dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Anggaran Satuan Kerja dengan ketentuan : melekat pada gaji. c. 2) Penggunaan dana hasil optimalisasi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.  alokasi dana kegiatan. 1) DIPA satker pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta).dan/atau direalisasikan dananya sehingga menjadi minus. (4) Pengesahan Revisi DIPA diatur sebagai berikut : a. dan selanjutnya menyampaikan arsip data komputer (ADK) perubahan RKAKL dimaksud kepada Direktur Pelaksanaan Anggaran/Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat untuk dilakukan pemutakhiran data DIPA sedangkan tembusan disampaikan kepada KPPN bersangkutan. dan pembayaran honor-honor. Revisi DIPA untuk DIPA satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta. 41 . Revisi DIPA untuk disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.05/2007 antara lain pengadaan kendaraan operasional. yang bersifat multiyears. 1) 2) 3) 4) Revisi dapat dilaksanakan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna tidak mengakibatkan perubahan DIPA. dan masih dalam kelompok pengeluaran yang sama.

5) Direktur Jenderal Perbendaharaan c.q. dan 42 . Gubernur Propinsi. Ditjen Perbendaharaan. disahkan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan disampaikan kepada satker yang bersangkutan dan KPPN terkait beserta ADK dan tembusan kepada: 1) Menteri/Ketua Lembaga. Dalam pengesahan revisi tidak diperbolehkan mengurangi pagu dana Kelompok Pengeluaran/Subkegiatan/Kegiatan pada DIPA yang telah dikontrakkan dan/atau direalisasikan pencairan dananya. Batas waktu pengesahan Revisi DIPA paling lama S (lima) hari kerja setelah usulan pengesahan revisi serta data pendukung diterima secara 5) sebagai berikut: Penyampaian Revisi DIPA yang telah disahkan diatur a. Direktur Pelaksanaan Anggaran Ditjen Perbendaharan beserta ADK. dan 6) Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan terkait beserta ADK. Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan. 3) Gubernur Propinsi. r 3) 4) 5) Direktur Jenderal Anggaran. d. disahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan. Revisi DIPA untuk DIPA satker Pusat yang berlokasi di DKI Jakarta. Direktur Jenderal Perbendahaaraan: a. 4) Direktur Jenderal Anggaran. 2) Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. c. dan 4) DIPA Tugas Pembantuan Baik untuk DIPA yang awalnya disahkan di pusat ataupun di daerah.2) DIPA satker vertikal. satker vertikal. tugas pembantuan dan dekonsentrasi disampaikan kepada satker yang bersangkutan dan KPPN terkait beserta ADK dan tembusan kepada : 1) 2) Menteri/Ketua Lembaga. Revisi DIPA untuk satker pusat yang berlokasi di daerah (diluar DKI Jakarta). b. lengkap. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. 3) DIPA Dekonsentrasi.

Direktur Jenderal Anggaran untuk selanjutnya dimintakan persetujuan DPR-Rl. Direktorat Jenderal Anggaran. dan Satuan Kerja melakukan pemutakhiran data anggaran berdasarkan revisi DIPA yang telah disahkan.b. Aplikasi DIPA Setelah menyusun RKA-KL dan pagu sudah ditetapkan. Jelaskan pengertian daftar isian pelaksanaan anggaran sehubungan dengan pembagian kewenangan antara pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dengan bendahara umum negara. 8) Ketentuan mengenai tata cara Revisi DIPA untuk satker BLU diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan tersendiri. sedangkan untuk satker PT Non BHMN pengajuan dan penetapan Revisi Rincian ABPP adalah tanggal 31 Desember 2008. dan mengapa dokumen pelaksanaan anggaran yang disusun oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna itu masih harus disahkan oleh bendahara umum negara. maka tiap satker menyusun DIPA satker.6. 7) Batas akhir pengajuan Revisi Rincian ABPP untuk APBN maupun APBN-P adalah tanggal 31 Cktober 2008. 6) Revisi Rincian ABPP yang memerlukan persetujuan DPRRl diajukan kepada Menteri Keuangan c. Latihan 1. Petunjuk aplikasi RKA-KL/DIPA ini bisa dipelajari pada lampiran modul ini. 43 .q. Direktur Pelaksanaan Anggaran setiap bulan beserta seluruh ADK baik yang dilaporkan revisinya maupun yang tidak direvisi.7. 3. 3. Dalam rangka memperoleh data yang akurat. Penyusunan DIPA ini sama menggunakan Aplikasi RKA-KL dengan masuk ke penyusunan DIPA.q. Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Ditjen Perbendaharaan Revisi DIPA yang disahkan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan wajib dilaporkan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan c.

2. Rangkuman Dalam pelaksanaan anggaran. 6. 3. Jelaskan dan berikan contoh bahwa dalam penyusunan daftar isian pelaksanaan anggaran pada kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga terdapat keterkaitan perumusan program. 8. 3. 4. Jelaskan pengertian dan tujuan penelaahan konsep DIPA oleh Ditjen Perbendaharaan maupun oleh Kantor Wilayah Ditjen PBN. indikator hasil dan keluarnya. dan 44 . Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna anggaran mempunyai kewenangan dan bertanggunjawab atas penyusunan kegiatan dan perhitungan biaya yang tertuang dalam dokumen pelaksanaan anggaran. mengapa dalam penyusunan DIPA untuk belanja pegawai dan belanja barang harus memperhatikan unsur-unsur yang terikat dan tidak terikat dengan tugas pokok dan fungsi kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga. Kewenangan dan tanggungjawab tersebut dilimpahkan kepada kepala satker pusat/unit pelaksana teknis/satker khusus/satker non vertikal tertentu/satker sementara. Jelaskan persyaratan pengesahan terhadap revisi DIPA yang diajukan oleh satuan kerja kementerian negara/lembaga itu sebelum dapat langsung diputuskan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan maupun oleh Kepala Kanwil Ditjen PBN harus terlebih dahulu mendapat persetujuan prinsip dari Direktur Jenderal Anggaran. 7. Jelaskan. hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam mencantumkan pinjaman/hibah luar negeri pada penyusunan DIPA.8. agar tidak terjadi kesalahan pembayaran. 5. jelaskan. Jelaskan persyaratan pengesahan terhadap revisi DIPA yang diajukan oleh satuan kerja kementerian negara/lembaga itu dapat langsung diputuskan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan maupun oleh Kepala Kanwil Ditjen PBN. kegiatan. Jelaskan. Sebutkan informasi apa saja yang termuat dalam daftar isian pelaksanaan anggaran dan siapakah yang berhak menandatangani daftar dimaksud.

Dirjen PBN dan Kanwil Ditjen PBn mengadakan penelaahan terhadap konsep DIPA. 4. Mengenai pengesahan revisi DIPA ini ada yang langsung diputuskan oleh Direktur Jendaral Perbendaharaan atau kepada Kepala Kanwil Ditjen PBN. namun ada yang harus terlebih dahulu mendapat persetujuan prinsip dari Direktur Jenderal Anggaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku.dikuasakan kepada gubernur untuk menunjuk satker perangkat daerah selaku kuasa pengguna anggaran. fungsi. dan rincian kegiatan. Definisi Pendapatan Negara Menurut pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 di disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendapatan negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. KEGIATAN BELAJAR (KB) 3 : MEKANISME PENDAPATAN NEGARA 4. Apabila telah selesai kemudian Direktur Jendaral Perbendaharaan atau kepada Kepala Kanwil Ditjen PBN menerbitkan SP DIPA. SP DIPA dan konsep DIPA tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan disebut DIPA. Dari pengertian tersebut berarti bahwa 45 . program.1. Sebelum melakukan pengesahan Konsep DIPA tersebut. apakah telah sesuai dengan peraturan presiden tentang rincian APBN dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Apabila dalam pelaksanaan DIPA terdapat hal-hal yang mengharuskan adanya perubahan isi yang tercantum dalam DIPA. Konsep DIPA diajukan kepada Direktur Jendaral Perbendaharaan atau kepada Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk memperoleh pengesahan. Satker kementerian negara/lembaga tersebut menyusun dokumen pelaksanaan anggaran mengacu kepada rencana kerja dan anggaran (RKA-KL) dan peraturan presiden tentang rincian APBN. rencana penarikan dana setiap bulan dalam satu tahun serta pendapatan yang diperkirakan. maka satker kementerian negara/lembaga dapat mengajukan revisi DIPA kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan atau Kepala Kanwil Ditjen PBN untuk memperoleh pengesahannya. Hasil penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran tersebut disebut konsep DIPA yang memuat uraian sasaran yang akan dicapai.

yang menambah ekuitas dana dalam periode satu tahun anggaran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah pusat. Wujud pendapatan negara (government revenue) berupa uang (cash) sebagai penerimaan negara. yang menurut pasal 1 angka 9 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 diberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan penerimaan negara adalah uang yang masuk ke kas negara. Dari berbagai sumber tersebut. penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan barang dan jasa yang dimiliki dan dihasilkan oleh pemerintah. Oleh karena itu.pemerintah pusat mempunyai berbagai hak. Dikatakan masuk ke kas negara mengandung makna tercatat dalam akuntansi/pembukuan kas negara atau kas umum negara. mencetak uang dan sebagainya. pajakpajak merupakan sumber utama sedangkan pinjaman merupakan pembiayaan alternatif yang baru diambil bilamana anggaran negara tidak sanggup ditutupi dari pajak dan sumber lainnya. Dengan demikian pendapatan negara adalah semua penerimaan kas negara/kas umum negara (uang pemerintah pusat) dari berbagai sumber yang sah. Menurut Suparmoko (1997) bahwa penerimaan pemerintah dalam arti yang seluas-luasnya meliputi penerimaan pajak. yang salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran negara yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. yakni mencapai keadilan. sedangkan sumber dari percetakan uang biasanya baru dilakukan manakala negara sangat terdesak. setiap pemungutan pendapatan/penerimaan negara oleh pemerintah pusat maupun daerah selayaknya tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan dari masyarakat. Adil dalam perundang-undangan diantaranya mengenakan pemungutan secara umum dan 46 . pendapatan/penerimaan negara mempunyai dua fungsi yaitu fungsi anggaran (budgetair) dalam arti bahwa pendapatan/ penerimaan negara sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya dan fungsi mengatur (reguler) dalam arti bahwa pendapatan/penerimaan negara sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. maka setiap pungutan pendapatan/penerimaan negara harus memenuhi syarat sebagai berikut : (1) Pemungutan pendapatan/penerimaan negara berdasarkan keadilan yaitu sesuai dengan tujuan hukum. Dalam sistem APBN. pinjaman pemerintah.

Menurut Keputusan Presiden nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden nomor 72 tahun 2004 di pasal 2 ayat (1) huruf a disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendapatan negara yaitu semua penerimaan yang berasal dari penerimaan perpajakan. (2) (3) perekonomian. (5) pemungutan pendapatan/penerimaan negara harus efisien yaitu sesuai fungsi budgetair. (6) Sistem pemungutan pendapatan/penerimaan negara harus sederhana yaitu akan memudahkan dan mendorong masyarakat (perorangan atau badan) dalam memenuhi kewajiban tersebut. pendapatan/penerimaan negara harus pemungutan pendapatan/penerimaan negara tidak menggangu pemungutan pendapatan/penerimaan negara tidak boleh menggangu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan.merata serta pelaksanaan pemungutan pendapatan/penerimaan negara tidak membeda-bedakan. Menurut Undang . Penerimaan Negara terdiri dari 47 . biaya pemungutan pendapatan/penerimaan negara harus dapat ditekan lebih rendah dari hasil pemungutannya.06/2006 tanggal 19 Oktober 2006 tentang Modul Penerimaan Negara. Jenis-Jenis Penerimaan Negara Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK. 4.Undang nomor 18 tahun 2006 tentang APBN tahun 2007 di pasal 1 angka 1 disebutkan bahwa yang dimaksud pendapatan negara dan hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan. sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri selama tahun anggaran yang bersangkutan. penerimaan negara bukan pajak.2. (4) Pemungutan berdasarkan undang-undang. penerimaan negara bukan pajak. serta penerimaan hibah dari dalam negeri dan luar negeri. Pada ayat (2) pasal yang sama disebutkan bahwa semua penerimaan dan pengeluaran negara dilakukan melalui rekening kas negara pada bank sentral dan atau lembaga keuangan lainnya yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.

badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah dan badan-badan lain yang melakukan pembayaran atas beban APBN/APBD/anggaran BUMN/BUMD. dan badan-badan lain sebagai wajib pungut pajak. Sehubungan dengan intensifikasi penerimaan pajak negara. (1) Penerimaan Perpajakan. 48 . Penerimaan Hibah. Oleh karena itu. pemerintah daerah.Penerimaan Perpajakan. maka setiap instansi pemerintah. pajak bumi dan bangunan. Yang dimaksud pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan. Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. dan Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga. pemerintah daerah. instansi pemerintah. setiap bendahara. Penerimaan Pengembalian Belanja. cukai dan pajak lainnya. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). bagian pemerintah atas laba BUMN. Orang atau badan yang melakukan pemungutan pajak atau penerimaan uang negara wajib menyetorkan seluruh penerimaan dalam batas waktu satu hari kerja setelah penerimaannya ke rekening kas negara. antara lain sumber daya alam. Penerimaan Pembiayaan. BUMN/BUMD. serta penerimaan negara bukan pajak lainnya. Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri dari penerimaan pajak dalam negeri dan pajak perdagangan internasional. (2) Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). penerimaan uang negara yang berasal dari pungutan pajak-pajak negara wajib disetorkan oleh wajib pajak dan atau wajib pungut pajak ke rekening kas negara pada bank pemerintah atau lembaga lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. ditetapkan sebagai wajib pungut pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pajak pertambahan nilai barang/jasa dan pajak penjualan atas barang mewah. wajib menyetorkan seluruh penerimaan pajak yang dipungutnya dalam jangka waktu selambat-lambatnya satu hari kerja setelah uang pajak diterimanya. Pada prinsipnya. bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Sedangkan pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk dan pajak/pungutan ekspor.

pemerintah. Jadi seluruh penerimaan PNBP yang disetor ke kas negara berarti telah dibukukan pada setiap saat dalam satu tahun anggaran 49 . f. penerimaan hasil penyewaan barang milik negara. Penerimaan yang bersumbet dari pengelolaan dana pemerintah. Penerimaan funsional tersebut terdapat pada sebagian besar kementerian negara/lembaga. b. penerimaan umum tersebut masih ada lagi PNBP yang bersifat fungsional yaitu penerimaan yang berasal dari hasil hasil pungutan kementerian negara/lembaga atas jasa yang diberikan sehubungan dengan tugas pokok dan fungsinya dalam melaksanakan fungsi pelayanan kepada masyarakat. hasil penyimpanan uang negara pada bank pemerintah atas jasa giro. tergantung kepada jasa pelayanan yang diberikan oleh masing-masing kementerian negara/lembaga. namun macam dan ragamnya berbeda antara satu kementerian negara/lembaga dengan kementerian negara/lembaga lainnya. Hal ini berarti bahwa pendapatan negara yang berasal dari PNBP dikemukakan oleh pemerintah kepada DPR dalam rangka pembahasan dan penyususn rancangan undang-undang APBN. d. antara lain seperti penerimaan hasil penjualan barang inventaris kantor yang tidak digunakan lagi. Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak pemerintah. Penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Dalam pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 tahun 1997 tentang PNBP disebutkan bahwa seluruh PNBP dikelola dalam sistem APBN. e. meliputi jenis .undang tersendiri. Penerimaan dari hasil-hasil kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan pemerintah. Penerimaan lainnya yang diatur dalam undang .Setiap anggaran kementerian negara/lembaga pada dasarnya mempunyai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang bersifat umum tidak berasal dari pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. c.jenis penerimaan sebagai berikut : a. Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak disebutkan bahwa kelompok PNBP. penerimaan kembali uang persekot gaji/tunjangan. serupa dengan perpajakan. Selain itu. seluruh penerimaan PNBP wajib langsung secepatnya ke kas negara. pengenaan denda administrasi. g.

maka Menteri Keuangan dapat menunjuk instansi pemerintah untuk tujuan dimaksud. yaitu rencana PNBP sekurang . Ketentuan tentang tatacara penyampaian laporan realisasi PNBP diatur dalam pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK. (3) Penerimaan Hibah. Instansi pemerintah yang ditunjuk tersebut wajib menyampaikan kepada Menteri Keuangan secara tertulis dan berkala. Penerimaan hibah dapat berupa uang. devisa atau surat berharga. pelatihan dan jasa lainnya. prosedur pengadaan barang/jasa memakai local competitive bidding atau international competitive bidding.kurangnya satu kali dalam satu tahun anggaran dan laporan realisasi PNBP sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran. Penarikan hibah luar negeri antara yang satu dengan hibah luar negeri lainnya tidak sama. Pada prinsipnya. tata cara penarikan 50 .06/2006 yang menyebutkan bahwa Satuan kerja selaku Kuasa Pengguna Anggaran wajib menyampaikan pertanggungjawaban penerimaan negara dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran yang dihasilkan melalui Sistem Akunatnsi Instansi.serta dipertanggungjawabkan oleh pemerintah kepada DPR dalam laporan keuangan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN. karena setiap penarikan sangat tergantung dari naskah perjanjian hibah luar negeri yang ditandatangani oleh pemerintah pusat dan negara/badan pemberi hibah. Penerimaan hibah dalam bentuk uang dapat berupa rupiah. Sumbangan mengandung arti bahwa hibah tidak perlu dibayar kembali kepada pemberi hibah. barang maupun jasa termasuk tenaga ahli atau pelatihan. Namun. Penerimaan hibah dalam bentuk barang dapat berupa barang bergerak seperti perlatan dan mesin dan barang tidak bergerak seperti gedung dan bangunan. pendidikan. Dalam naskah perjanjian hibah luar negeri biasanya diatur antara lain mengenai jumlah hibah yang diberikan. Penerimaan Hibah adalah semua penerimaan negara yang berasal dari sumbangan swasta dalam negeri serta sumbangan lembaga swasta dan pemerintah luar negeri yang menjadi hak pemerintah. apabila undang-undang belum menunjuk instansi pemerintah untuk menagih dan atau memungut PNBP terhutang. seluruh jenis dan penyetoran PNBP diatur dengan undangundang. Penerimaan hibah dalam bentuk jasa dapat berupa bantuan teknis.

 pengembalian belanja sewa. dll.  pengembalian belanja modal peralatan dan mesin. Penerimaan pengembalian belanja barang. Penerimaan Pengembalian Belanja adalah seluruh penerimaan negara yang berasal dari pengembalian belanja tahun anggaran berjalan. dll 51 .  pengembalian belanja honorarium. Penerimaan pengembalian belanja ini dapat terjadi karena kelebihan pembayaran atas belanja dalam yang dibebankan kepada negara yang atas diakibatkan kelebihan kesalahan/kelalaian bendahara pengeluaran dalam melakukan pembayaran maupun melakukan pembebanan MAK sehingga pembayaran tersebut harus disetor ke kas negara. tanggal efektif hibah. (4) Penerimaan Pengembalian Belanja.  pengembalian lembur dll.  pengembalian belanja tunjangan anak. seperti :  pengembalian belanja perjalanan dinas.  pengembalian belanja barang inventaris. misalnya :  pengembalian belanja modal tanah.  pengembalian belanja tunjangan beras. b. c. Penerimaan pengembalian belanja dapat berupa : a. batas waktu closing date dan lainnya.  pengembalian belanja pemeliharaan gedung dan bangunan.  pengembalian belanja modal jalan/jembatan. seperti :  pengembalian belanja gaji pokok PNS. Penerimaan pengembalian belanja modal.  pengembalian belanja modal gedung.hibah dan persyaratannya. Penerimaan pengembalian belanja pegawai.

Penerimaan Hasil Privatisasi.d. Penerimaan Setoran/Potongan PFK 10% Gaji PNS Pusat/Daerah. Penerimaan Hasil Penjualan Aset Program Restrukturisasi.  pengembalian belanja pensiun tahun yang lalu. dll. Contoh penerimaan pembiayaan antara lain :  Penerimaan Pinjaman/Kredit Jangka Pendek dan Uang Muka dari Sektor Perbankan. Kota. Penerimaan Setoran/Potongan PFK 10% Gaji Polri/TNI dan PNS Penerimaan Setoran/Potongan PFK 2% Pembayaran Gaji Terusan PNS Penerimaan Setoran/Potongan PFK Bulog PNS Pusat/Daerah.     (6) Penerimaan Sisa Anggaran Lebih (SAL). antara lain berasal dari penerimaan pinjaman dan hasil devestasi. Pusat/Daerah.  pengembalian belanja lainnya tahun yang lalu (RM). d. (5) Penerimaan Pembiayaan. contoh : a. Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga adalah semua penerimaan negara yang berasal dari potongan penghasilan pegawai negeri sipil serta setoran subsidi dan iuran pemerintah daerah dalam rangka penyelengaraan asuransi kesehatan. c. Penerimaan Surat Utang Negara/Obligasi dalam/luar negeri. Penerimaan Setoran PFK 2 % Iuran Asuransi Kesehatan Propinsi/Kab/ Polri/TNI. Penerimaan Pembiayaan adalah semua penerimaan negara yang digunakan untuk menutup defisit anggaran negara dalam APBN. 52 . e. misalnya :  pengembalian belanja pegawai Pusat tahun yang lalu. b. Penerimaan pengembalian belanja tahun yang lalu.

dan penerimaan bukan pajak. 4. DIPA tersebut atau dokumen pelaksanaan anggaran lainnya yang dipersamakan dengan DIPA merupakan dokumen sumber untuk mencatat estimasi pendapatan. 53 . Dalam melaksanakan tugasnya. 1 tahun 2004 jabatan Bendahara Penerimaan ini tidak boleh dirangkap oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa BUN. Dalam hal penerimaan negara diterima pada hari libur dan/atau di daerah tersebut tidak terdapat Bank Persepsi/Devisa Persepsi/Pos Persepsi. Bendahara Penerima dapat dibantu oleh sekretariat/anggota yang jumlahnya maksimum 5 orang dan sesuai pasal 10 ayat 4 Undang-Undang No. menyimpan. Tugas kebendaharaan tersebut meliputi kegiatan menerima. menyetor. Penerimaan Setoran Potongan PFK Tabungan Wajib Perumahan PNS Pusat/Daerah. menatausahakan dan mempertanggungjawabkan penerimaan negara bukan pajak yang berada dalam pengelolaannya. Yang dimaksud dengan Bank Persepsi adalah bank umum yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk penerima setoran penerimaan negara bukan dalam rangka impor. Bank Devisa Persepsi adalah bank umum yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk menerima setoran penerimaan negara dalam rangka ekspor dan impor. maka Bendahara Penerima menyetor penerimaan tersebut selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya. yang meliputi penerimaan pajak. Menteri/pimpinan lembaga setiap awal tahun anggaran mengangkat Bendahara Penerima. Penatausahaan Pendapatan/Penerimaan Negara Dalam rangka anggaran pendapatan melaksanakan tugas kebendaharaan dalam pelaksanaan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga. cukai dalam negeri. Bendahara Penerima wajib menyetor penerimaan negara setiap akhir kerja ke kas negara dan wajib mengirim Rekening Koran bulan/Laporan Realisasi Penerimaan ke KPPN. Sesuai pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99 tahun 2006 dinyatakan bahwa kementerian negara/lembaga mencantumkan seluruh estimasi pendapatan ke dalam DIPA satuan kerja kementerian negara/lembaga yang bersangkutan.3. Untuk melaksanakan tugas tersebut Menteri/pimpinan lembaga dapat membuka Rekening Penerimaan pada Bank Umum/Kantor Pos setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri Keuangan selaku BUN.f.

pembuatan hujan buatan. uji mutu dan pemantauan lingkungan. e. antara lain meliputi kegiatan Pelayana kesehatan. Khusus untuk PNBP dikenal adanya pengecualian dalam pengelolaannya. jasa analisis. antara lain meliputi kegiatan pelayanan rumah sakit Pendidikan dan pelatihan. Dalam pasal 8 Undang-Undang Nomor 20 tahun 1997 tentang PNBP disebutkan bahwa sebagian dana dari suatu jenis PNBP dapat digunakan untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan dengan jenis PNBP tersebut oleh instansi yang bersangkutan. Suatu instansi yang mempunyai PNBP fungsional dapat menggunakan sebagian PNBP tersebut untuk membiayai operasional Satker tersebut setelah mendapat izin dari Menteri Keuangan.Sedangkan Pos Persepsi adalah kantor pos yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan untuk menerima setoran penerimaan negara. antara lain meliputi kegiatan usaha Sistem pemungutan PNBP mempunyai ciri dan corak tersendiri dan dapat dibagi pelestarian sumber daya kehutanan dan perikanan. Penelitian dan pengembangan teknologi. Pelayanan yang melibatkan kemampuan intelektual tertentu. dan balai pengobatan. Kegiatan tertentu yang dapat dibiayai dari PNBP. f. yaitu ditetapkan oleh instansi pemerintah atau dihitung sendiri oleh wajib bayar. d. pengawasan terhadap pelaksanaan ketentuan hukum. Dana dari pengalokasian hanya dapat digunakan oleh instansi atau unit yang menghasilkan PNBP bersangkutan. meliputi kegiatan : a. uji pencemaran radiasi pada makanan. serta pemberian hak atas kekayaan intelektual. antara lain kegiatan pemberian jasa konsultasi. Dana yang dapat dialokasikan adalah dana dari jenis PNBP yang berkaitan dengan kegiatan tertentu tersebut. b. Ketentuan tersebut dimaksudkan untuk memberikan kepastian alokasi pembiayaan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan jenis PNBP. Penggunaan PNBP dilakukan secara selektif dan PNBPnya telah disetorkan ke kas negara serta pengalokasian dana telah tertuang di dalam DIPA. antara lain kegiatan dalam rangka pembinaan dan penelitian dan pengembangan di bidang pertanian dan pertambangan. antara lain meliputi kegiatan perguruan tinggi Penegakan hukum. dalam dua kelompok sehubungan dengan penentuan jumlah PNBP yang terhutang. Untuk jenis PNBP yang menjadi terhutang sebelum wajib bayar menerima manfaat atas 54 . c. Pelestarian sumber daya alam. dan balai latihan keja.

dapat mengadakan kerjasama operasional dengan pihak lain dan dapat menggunakan surplus untuk tahun berikutnya. dapat mengadakan perjanjian utang piutang. Penatausahaan PNBP pada saat ini memasuki babak baru. dan/atau c. pelayanan kepada masyarakat. Dalam PP tersebut dinyatakan bahwa BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.kegiatan pemerintah. sedangkan bila defisit dapat dimintakan dari APBN. seperti pemanfaatan sumber daya alam. maka penentuan jumlah PNBP yang terhutang dapat dipercayakan kepada wajib bayar yang bersangkutan untuk menghitung sendiri dalam rangka membayar dan melaporkan sendiri (self assessment). Penyedia barang dan/atau jasa layanan umum. Remunerasi sesuai tanggung jawab dan profesionalitas. Pengaturan lebih lanjut mengenai BLU terdapat pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum. pelayanan pendidikan. seperti pemberian hak paten. Namun. Ada 3 (tiga) rumpun instansi pemerintah yang dapat melaksanakan PK BLU. pegawai dapat dari PNS atau non PNS. yaitu dengan dikenal nya instansi pemerintah yang mengelola PNBP dengan cara Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) sesuai dengan pasal 68 dan 69 Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004. Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau Dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. perekonomian masyarakat atau layanan umum. satker yang menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU (PK BLU) diberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat dalam mengelola sumber daya serta keuangannya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. 55 . Satker yang menerapkan PK BLU dapat menggunakan langsung pendapatannya tanpa harus disetor terlebih ke Kas Negara. maka penentuan jumlah PNBP yang terhutang dalam hal ini ditetapkan oleh instansi pemerintah. yaitu yang menyelenggarakan layanan umum yang berhubungan dengan: a. b. dalam hal wajib bayar menjadi terhutang setelah menerima manfaat.

pencatatan. Masa berlaku NRP sampai dengan jangka waktu yang ditetapkan. Dengan konsep PK BLU ini diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang terkait dengan pengelolaan PNBP dan dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. nama pejabat Bank/Pos. Sedangkan terhadap penerimaan negara yang sesuai ketentuan harus disetor ke rekening kas negara.go. 2) Menyerahkan formulir bukti setoran kepada petugas Bank/Pos dengan menyertakan uang setoran sebesar nilai yang tersebut dalam formulir yang bersangkutan. yaitu dapat dilakukan setiap saat melalui Bank/Pos yang terhubung dengan MPN.djpbn. tanggal. pengumpulan data. MPN adalah modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan. Pembayaran melalui loket/teller Bank/Pos 1) Mengisi formulir bukti setoran dengan data yang lengkap. Pembayaran melalui electronic banking (e-banking) 1) Melakukan pendaftaran pada sistem registrasi pembayaran via internet di www. penyetoran. tata cara penyetoran penerimaan negara yang dapat dilakukan Wajib Pajak/Wajib Bayar/Wajib Setor/Bendahara Penerimaan sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-78/PB/2006 tentang Penatausahaan Penerimaan Negara. hal ini mengisyaratkan bahwa konsep PK BLU merupakan suatu terobosan baru yang diminati oleh Kementerian Negara/Lembaga. sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara dan Setor/ merupakan bagian dari Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara. pengikhtisaran. dan jelas dalam rangkap 4 (empat). benar.id. 2) Mengisi data setoran dengan lengkap dan benar untuk mendapatkan Nomor Register Pembayaran (NRP). yang telah diberi NTPN dan NTB/NTP serta dibubuhi tanda tangan/ paraf.Saat ini implementasi Pengelolaan Keuangan BLU di Kementerian Negara/ Lembaga sudah demikian pesat. cap Bank/Pos. Tata cara pembayaran/penyetoran dilakukan sebagai berikut : Bendahara Penerimaan diakui sebagai pelunasan kewajiban sesuai dengan tanggal a. b. dan waktu/jam setor sebagai bukti setor. 56 . 4) Menyampaikan bukti setoran kepada unit terkait. 3) Menerima kembali formulir bukti setoran lembar ke-1 dan lembar ke-3.depkeu. Pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak/Wajib Bayar/Wajib pembayaran.

Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-78/PB/2006. NTPN adalah nomor yang tertera pada bukti penerimaan negara yang diterbitkan melalui MPN. Seluruh dokumen sumber penerimaan negara dinyatakan sah setelah mendapat Nomor transaksi Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Bank (NTB)/Nomor Transaksi Pos (NTP)/Nomor Penerimaan Potongan (NPP). (2) Surat Setoran Pajak Bumi dan Bangunan (SSPBB) adalah surat setoran atas pembayaran atau penyetoran PBB dari tempat pembayaran ke Bank Persepsi PBB. 4) Melakukan pembayaran dengan menggunakan NRP. 6) mencetak BPN melalui sistem registrasi pembayaran atau di Bank dengan menunjukkan NTPN/NTB. NTP adalah nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang diterbitkan oleh Kantor Pos. pendaftaran dilakukan oleh instansi terkait dan NRP tercantum pada surat tagihan dimaksud. Dokumen sumber tersebut antara lain: (1) Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat setoran atas pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang. 5) Menerima NTPN sebagai bukti pengesahan setelah pembayaran dilakukan.3) Untuk tagihan yang ditetapkan instansi pemerintah. Dalam hal terjadi gangguan jaringan komunikasi antara Kantor Pusat Bank/Pos dengan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan lebih dari 1 (satu) hari. maka Bank/Pos wajib menerima setoran penerimaan negara dan Mengadministrasikan penerimaan negara secara off-line dan memberikan NTB/NTP pada dokumen sumber. 7) menyampaikan BPN kepada unit terkait. 57 . NPP adalah nomor bukti transaksi penerimaan negara yang berasal dari potongan SPM yang diterbitkan oleh KPPN. NTB adalah nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang diterbitkan oleh Bank. Dokumen yang harus ditatausahakan oleh Bendahara Penerima penatausahaan pendapatan negara pada kantor/satuan kerja di pada lingkungan kementerian/lembaga adalah dokumen sumber penerimaan. KPPN mengesahkan data penerimaan yang berasal dari potongan SPM yang sudah diterbitkan SP2D untuk mendapatkan NTPN paling lambat setiap akhir hari kerja. yang dimaksud dengan dokumen sumber penerimaan yang selanjutnya disebut dokumen sumber adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencatatan penerimaan negara.

Seksi Bendahara Umum/Seksi Persepsi 1) Menerima Laporan Harian Penerimaan (LHP) yang terdiri dari Laporan Penerimaan dan Pelimpahan. (8) Surat Tanda Bukti Setor (STBS) adalah surat setoran atas pembayaran pungutan ekspor. jasa pekerjaan. dan/atau denda administrasi atas transaksi pungutan ekspor. Arsip Data Komputer (ADK). Cukai. Rekapitulasi Nota Kredit. cukai minuman mengandung etil alkohol. cukai. Daftar Nominatif Penerimaan(DNP).(3) Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) adalah surat setoran atas pembayaran atau penyetoran BPHTB dari tempat pembayaran ke Bank Persepsi BPHTB. (9) Bukti Penerimaan Negara (BPN) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Bank/Pos atas transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB/ NTP dan dokumen yang diterbitkan oleh KPPN atas transaksi penerimaan negara yang berasal dari potongan SPM dengan teraan NTPN dan NPP. cukai etil alkohol. bunga. PPN Impor. penerimaan cukai lainnya. penerimaan pabean lainnya. serta PPnBM Impor. jasa pekerjaan. 2. 2) Untuk LHP yang tidak dilengkapi NTPN harus disertakan surat keterangan penyebab terjadi gangguan komunikasi yang menyebabkan 58 . dan PPh Pasal 22 Impor. (7) Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSPB) adalah surat setoran atas penerimaan pengembalian belanja tahun anggaran berjalan. (5) Surat Setoran Cukai atas Barang Kena Cukai dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri (SSCP) adalah surat setoran atas penerimaan negara atas Barang Kena Cukai Buatan Dalam Negeri berupa cukai hasil tembakau. denda administrasi penerimaan cukai lainnya. dan Pajak dalam Rangka Impor (SSPCP) adalah surat setoran atas penerimaan negara dalam rangka impor berupa bea masuk. dan Dokumen Sumber dari Bank/Pos. bea masuk berasal dari SPM Hibah. denda administrasi. (4) Surat Setoran Pabean. 4. 3.dan 5 di atas. kekurangan pungutan ekspor. dan PPN Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri. Selanjutnya KPPN menatausahaan penerimaan negara sebagai berikut: a. (6) Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) adalah surat setoran atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) selain yang dimaksud pada angka 1.

dan potongan SPM yang telah mendapatkan NTPN/NTB. NTPN/NTP. dan NTPN/NPP. membukukan penerimaan negara yang bersumber dari Bank. KPPN harus mengembalikan LHP tersebut untuk segera dilakukan perbaikan. 4) Untuk keperluan penyusunan LKP. Seksi Bank/Giro Pos/Seksi Bendahara Umum 1) Melakukan upload data potongan SPM yang sudah diterbitkan SP2D melalui sistem pengesahan potongan SPM untuk mendapatkan NTPN. 10) Menyampaikan DNP dan surat setoran dan/atau BPN lembar ke-2 Seksi Bank/Giro Pos/Seksi Bendahara Umum. jenis setoran. 2) Menerbitkan BPN untuk transaksi penerimaan negara yang berasal dari potongan SPM dengan mencantumkan NTPN dan NPP sebagai bukti pengesahan penerimaan negara dan menggabungkan dengan surat setoran masing-masing. 5) Apabila terjadi perbedaan antara DNP dengan ADK. 3) Membuat DNP atas penerimaan negara yang berasal dari potonganSPM. 8) Mencocokkan data hasil download dengan ADK dari Bank/Pos menggunakan sistem aplikasi rekonsiliasi data transaksi penerimaan. 7) Melakukan download data transaksi harian penerimaan dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan mulai pukul 15. 3) Melakukan loading ADK yang diterima ke dalam sistem rekonsiliasi data transaksi penerimaan. 6) Mencocokkan data yang tercantum dalam Rekapitulasi Nota Kredit dengan data yang tercantum dalam setiap DNP dimaksud dan membubuhkan paraf pada Rekapitulasi Nota Kredit dimaksud.00 waktu setempat. maupun Mata Anggaran Penerimaan (MAP) dan membubuhkan paraf pada setiap halaman dan tanda tangan pada lembar terakhir DNP. Pos. 59 . 9) Mengirimkan hasil rekonsiliasi data ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan.00 sampai pukul 16. LHP tersebut dipakai hanya sebagai monitoring penerimaan dan bukan dipakai sebagai dasar pembukuan. 4) Meneliti dokumen sumber berikut DNP baik mengenai jumlah uang. b.NTPN tidak dapat diperoleh.

4. pendapatan/penerimaan negara mempunyai dua fungsi yaitu fungsi anggaran (budgetair) dalam arti bahwa pendapatan/ penerimaan negara sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya dan fungsi mengatur (reguler) dalam arti bahwa pendapatan/penerimaan negara sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Seksi Verifikasi dan Akuntansi Memposting penerimaan negara berdasarkan dokumen sumber penerimaan yang telah mendapatkan NTPN/NTB.5) Melakukan perbaikan apabila ditemukan kesalahan elemen data dalam potongan SPM setelah mendapatkan NTPN melalui prosedur reversal.06/2006 tanggal 19 Oktober 2006 tentang Modul Penerimaan Negara. Latihan 1. Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK. Penerimaan Negara 60 . 4. Rangkuman Menurut pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 di disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendapatan negara adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. c. serta bagaimana penatausahaan penerimaan negara yang dilakukan oleh KPPN dan Kegiatan apa saja yang dapat dibiayai dengan PNBP? Bagaimana 1/2004 dan PP 23/2005? Uraikan pengelolaan PNBP sehubungan dengan UU Bagaimana tata cara pembayaran/penyetoran penerimaan negara dengan sistem MPN (Modul Penerimaan Negara)? 4. beserta contoh ! Apa tugas bendahara sehubungan dengan penerimaan negara. Bendahara ? 4. dengan Jelas ! 5.5. yang salah satu hak pemerintah pusat adalah menggali sumber-sumber penerimaan bagi negara untuk membiayai berbagai belanja/pengeluaran Dalam sistem APBN. NTPN/NTP. dan NTPN/NPP. Dari pengertian tersebut berarti bahwa pemerintah pusat mempunyai berbagai hak. 2003 Uraikan definisi pendapatan/penerimaan negara menurut UU 17 dan Suparmoko ! Sebutkan pula fungsi dan syarat pendapatan/penerimaan negara! Uraikan jenis-jenis penerimaan negara. 3. tahun 2.

Penerimaan Pengembalian Belanja. menyimpan. yaitu dengan dikenal nya instansi pemerintah yang mengelola PNBP dengan cara Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU) Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004. sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara dan merupakan bagian dari Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara. menatausahakan mempertanggungjawabkan penerimaan negara bukan pajak yang berada dalam pengelolaannya. yaitu dapat dilakukan setiap saat melalui Bank/Pos yang terhubung dengan MPN. dan Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga. Pembayaran yang dilakukan oleh Wajib Pajak/Wajib Bayar/Wajib Setor/ Bendahara Penerimaan diakui sebagai pelunasan kewajiban sesuai dengan tanggal pembayaran. menyetor. pencatatan. MPN adalah modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan.terdiri dari Penerimaan Perpajakan. Penerimaan Pembiayaan. Bendahara Penerima wajib menyetor penerimaan negara setiap akhir kerja ke kas negara dan wajib mengirim Rekening Koran bulan/Laporan Realisasi Penerimaan ke KPPN Penatausahaan PNBP pada saat ini memasuki babak baru. Tugas kebendaharaan tersebut meliputi menerima. kegiatan Menteri/pimpinan lembaga setiap awal tahun anggaran dan mengangkat Bendahara Penerima. pengikhtisaran. Sesuai Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER78/PB/2006 tentang Penatausahaan Penerimaan Negara. Tata cara pembayaran/penyetoran dilakukan sebagai berikut : a. penyetoran. Penerimaan Hibah. Pembayaran melalui electronic banking (e-banking) 61 . Pembayaran melalui loket/teller Bank/Pos b. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). BLU adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Dalam rangka melaksanakan tugas kebendaharaan dalam pelaksanaan anggaran pendapatan pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga. pengumpulan data.

dan belanja pemerintah pusat menurut jenis belanja. dana alokasi umum. belanja pemerintah pusat menurut fungsi.1. dan belanja lain-lain. Dana perimbangan adalah semua pengeluaran Negara yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. pembayaran bunga utang. Belanja untuk daerah adalah semua pengeluaran untuk membiayai dana perimbangan serta dana otonomi khusus dan penyesuaian. Seksi Bank/Giro Pos/Seksi Bendahara Umum c. Belanja pemerinah pusat dikelompokkan atas belanja pemerintah pusat menurut organisasi/bagian anggaran. subsidi. dan dana alokasi khusus. Belanja pemerintah pusat menurut fungsi adalah semua pengeluaran Negara yang digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum. Seksi Bendahara Umum/Seksi Persepsi b. fungsi ketertiban dan keamanan. dan fungsi perlindungan sosial. fungsi pendidikkan. fungsi pertahanan. KEGIATAN BELAJAR (KB) 4 : KETENTUAN BELANJA NEGARA 5. sesuai dengan programprogram yang akan dijalankan. fungsi kesehatan. fungsi perunmahan dan fasilitas umum. fungsi ekonomi. fungsi lingkungan hidup. 5. Belanja pemerintah menurut jenis belanja adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk mebiayai belanja pegawai.Selanjutnya KPPN menatausahaan penerimaan negara sesuai peraturan yang berlaku. bantuan sosial. belanja hibah. belanja barang. bealnja modal. Seksi Verifikasi dan Akuntansi. yang terdiri atas dana bagi hasil. fungsi agama. Belanja Negara Anggaran belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. fungs pariwisata dan budaya. 62 . Penatausahaan pada KPPN dilakukan oleh Seksi a. Belanja pemerintah pusat menurut organisasi adalah semua pengeluaran negara yang dialokasikan kepada kementrian negara/lembaga.

1. Pengecualian diberikan untuk pembelian atau pengadaan barang/jasa keperluan kantor/satuan kerja kementerian negar/lembaga yang nilainya kecil-kecil sampai dengan Rp 10 juta dapat dibayar melalui uang persediaan yang dkelola Bendahara Pengeluaran.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan APBN di pasal 2 ayat (4) dinyatakan bahwa dalam rangka pelaksanaan APBN. Semua pengeluaran negara atas beban rekening kas Negara/kas umum negara harus melalui transfer dana atau pemindahbukuan dana antar rekening bank. Dengan demikian. termasuk membayar tagihan pihak ketiga yang dilakukan oleh kantor/satuan kerja kementrian Negara/lembaga. Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPKN) melaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara secara giral.2. Yang dimaksud dengan penerimaan Negara secara giral adalah proses penerimaan Negara dari sumber-sumber penerimaan ke dalam rekening kas umum Negara (KUN) yang dilakukan dengan memindahbukukan dana tersebut antar rekening bank (pasal angka 2). Selanjutnya di pasal yang sama ayat (2) dinyatakan bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga dapat mendelegasikan kewenangan kepada Kuasa Pengguna Anggaran untuk menunjuk : a.2.Dalam Peraturan Menteri Keuanga Nomor 134/PMK. Pejabat yang terkait dengan pengeluaran 5. 63 . Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna anggaran menunjuk pejabat kuasa pengguna anggaran untuk satuan kerja/satuan kerja sementara di lingkungan instansi pengguna angggaran bersangkutan dengan surat keputusan. 5. penyaluran dana APBN kepada yang berhak dilakukan transfer dana atau pemindahbukuan dana langsung dari rekening kas negara/kas umum negara ke rekening yang berhak pada bank. Kuasa Pengguna Anggaran Menurut Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan nomor Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan APBN di pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa pada setiap awal tahun anggaran. sedangkan yang dimaksud dengan pengeluaran Negara secara giral adalah proses pembiayaan suatu kegiatan dengan sumber dana dari APBN yang dilakukan dengan memindahbukukan dana antar rekening bank (pasal 1 angka 3). Pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang pengeluaran anggaran belanja/penanggungjawab kegiatan/ mengakibatkan pembuat komitmen.

pemisahan fungsi karena jumlah pegawai yang sangat terbatas (pembuat komitmen.5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 2.5 miliar s/d 5 miliar Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan 200.000 550.000 300.000 400. Di dalam Standar Biaya Umum yang dikeluarkan Menteri Keuangan untuk tahun 2008. e. Dalam a. pejabat penguji SPP/penerbit SPM dan Dalam hal pejabat/pegawai pada satuan kerja tidak memungkinkan Bendahara pengeluaran tidak boleh saling merangkap. setiap pejabat Kuasa Pengguna Anggaran setiap dapat menerima honorarium sesuai ketentuan sebagai berikut : a. Pejabat pembuat komitmen. Berdasarkan DIPA yang telah disahkan oleh Dirjen Perbendaharaan untuk DIPA kementrian/lembaga di pusat dan oleh Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk DIPA di daerah.b. Tembusan penetapan/Surat keputusan para pejabat tersebut. g. Nilai Pagu Dana s/d Rp 50 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 juta s/d 100 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 juta s/d 250 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 250 juta s/d 500 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 juta s/d 1 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 miliar s/d 2. sebagai berikut: Pejabat PA/Kuasa PA tidak boleh merangkap pejabat Bendahara c. dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. pejabat penerbit SPM dan Bendahara pengeluaran kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Kepala Desa yang ditunjuk sebagai pelaksana tugas pembantuan. maka pejabat Kuasa PA dapat merangkap sebagai pejabat pembuat komitmen dan pejabat penguji SPP/penerbit SPM. penguji SPP/penerbit SPM dan Bendahara Pengeluaran). pejabat pembuat komitmen. menunjuk para pejabat tersebut harus diperhatikan larangan perangkapan jabatan. f. b. maka negara dan menandatangani SPM. menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sesuai rencana kerja dan anggaran yang telah ditetapkan dalam DIPA. Menteri/Pimpinan Lembaga selaku PA mendelegasikan kewenangan menunjuk pejabat kuasa PA.000 500. c.000 450.000 64 . c.000 350. Dalam Pejabat yang diberi kewenangan untuk menguji tagihan kepada Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan hal satuan kerja sementara adalah dinas-dinas daerah. Pengeluaran. disampaikan kepada Kepala KPPN selaku kuasa BUN. d. b.

600. g.000 Orang/bulan 1.2.000 Orang/bulan 1.000 Orang/bulan 300.000 5.5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 2.000.5 miliar s/d 5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 5 miliar s/d 10 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp10 miliar s/d 50 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 miliar s/d 100 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 miliar s/d 500 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 milliar s/d 1 triliun Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 triliun Orang/bulan 170. m. dan (3) memerintahkan pembayaran tagihan-tagihan atas beban APBN/APBD.2.200. Pejabat Penguji Tagihan dan Penandatangan SPM a. (2) membebankan pada mata anggaran yang telah disediakan. Pejabat Pembuat Komitmen Pejabat Pembuat Komitmen adalah Pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja/ penanggungjawab kegiatan/pembuat komitmen. Di dalam Standar Biaya Umum yang dikeluarkan Menteri Keuangan untuk tahun 2008.000 Orang/bulan 225. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berwenang: (1) pihak penagih.3.000 Orang/bulan 450. Nilai Pagu Dana diatas Rp 5 miliar s/d 10 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp10 miliar s/d 50 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 miliar s/d 100 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 miliar s/d 500 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 milliar s/d 1 triliun Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 triliun Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan 650. j. e.2.050.000 Orang/bulan 350. nomor rekening dan nama bank) 65 . Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/ perusahaan.000 Orang/bulan 500. Untuk melaksanakan ketentuan tersebut. l. h. menguji kebenaran material surat-surat bukti mengenai hak a. k.000 1. i.000 1. k. c. Nilai Pagu Dana s/d Rp 50 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 juta s/d 100 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 juta s/d 250 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 250 juta s/d 500 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 juta s/d 1 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 miliar s/d 2. b.000 Orang/bulan 700. m.000 800.000 Orang/bulan 850.000 Orang/bulan 600. b. i. l.000 1.800. Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berhak untuk : (1) menguji.000 Orang/bulan 400.500. alamat.000 5.000 1. d.h.000 Orang/bulan 1. j.300. f. setiap Pejabat Pembuat Komitmen setiap dapat menerima honorarium sesuai ketentuan sebagai berikut: a.

000 Orang/bulan 1. h. l. menatausahakan.000 Orang/bulan 500. c. setiap Pejabat Penguji Tagihan dan Penandatangan SPM setiap bulan menerima honorarium sesuai ketentuan sebagai berikut: a.000 Orang/bulan 350.000 Orang/bulan 700.5 miliar s/d 5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 5 miliar s/d 10 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp10 miliar s/d 50 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 miliar s/d 100 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 miliar s/d 500 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 milliar s/d 1 triliun Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 triliun Orang/bulan 150. m.000 Orang/bulan 1. Bendahara Pengeluaran adalah orang yang ditunjuk untuk menerima. (2) barang/jasa. 2. dan mempertanggung-jawabkan uang untuk keperluan belanja negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah. e.000 Orang/bulan 750.000 Orang/bulan 270. g.000 Orang/bulan 400.050. Nilai Pagu Dana s/d Rp 50 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 juta s/d 100 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 juta s/d 250 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 250 juta s/d 500 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 juta s/d 1 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 miliar s/d 2. (3) (4) meneliti tersedianya dana yang bersangkutan. k. membebankan pengeluaran sesuai dengan mata anggaran memerintahkan pembayaran atas beban APBN.5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 2. c.000 5.2.000 Orang/bulan 300. f.b.000 Orang/bulan 425.000 Orang/bulan 225. sesuai dengan indikator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak.4. membayarkan. Bendahara Pengeluaran 1. Bendahara Pengeluaran diangkat oleh menteri/pimpinan lembaga Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam 66 . menyimpan. Memeriksa pencapaian tujuan dan atau sasaran kegiatan d. meneliti kebenaran dokumen yang menjadi persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan ikatan/perjanjian pengadaan pengeluaran yang bersangkutan. d. b. (5) Di dalam Standar Biaya Umum yang dikeluarkan Menteri Keuangan untuk tahun 2008.000 Orang/bulan 900. Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan atau kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak).350. Jadwal waktu pembayaran. j. i.

Jabatan Bendahara Pengeluaran tidak boleh dirangkap oleh Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Bendahara Umum Negara. h.000 400. setiap Bendahara Pengeluaran setiap bulan dapat menerima honorarium sesuai ketentuan sebagai berikut: a. Bendahara Pengeluaran dilarang melakukan kegiatan perdagangan.000 350. c. Bendahara Pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran apabila persyaratan tidak dipenuhi. 3.000 250. 4. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran.000 210.000 320. Nilai Pagu Dana s/d Rp 50 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 juta s/d 100 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 juta s/d 250 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 250 juta s/d 500 juta Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 juta s/d 1 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 miliar s/d 2. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah kepada Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh Bendahara Pengeluaran. 5. 9. f. 10. Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional.000 475.5 miliar s/d 5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 5 miliar s/d 10 miliar Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan Orang/bulan 140. e. Bendahara Pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya setelah : a. g. Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. Pembayaran atas beban APBN/APBD tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima. b. Di dalam Standar Biaya Umum yang dikeluarkan Menteri Keuangan untuk tahun 2008. 7.000 280.rangka pelaksanaan anggaran belanja pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah. d. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. 8.000 67 . pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut 6. b.5 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 2. c.

l.050.1. karena itu harus menerapkan asas-asas: a.2. c. Nilai Pagu Dana diatas Rp10 miliar s/d 50 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 50 miliar s/d 100 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 100 miliar s/d 500 miliar Nilai Pagu Dana diatas Rp 500 milliar s/d 1 triliun Nilai Pagu Dana diatas Rp 1 triliun Orang/bulan 600. f. j.000 Orang/bulan 700. c.000 Catatan: a. Prinsip-prinsip Belanja Negara 5.000 Orang/bulan 1. b. 5. d.000 Orang/bulan 1.3. jumlah staf minimal 5 maksimal 6 (enam) orang termasuk Pembuat Daftar Gaji (PDG). Jumlah maksimum honorarium seluruh Pejabat/Pegawai Pengelola Keuangan setahun tidak boleh melampaui 10% dari pagu.3. Asas-asas umum pengelolaan keuangan negara : Ditujukan mendukung terwujudnya good governance dalam penyelengggaraan Negara.300. a s/d d asas tahunan (berkala) asas universalitas asas kesatuan asas spesialitas asas yang sudah lama diterapkan. g. Pada KPA yang merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).i. b.3. 5. akuntabilitas berorientasi pada hasil profesionalitas proporsionalitas keterbukaan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. Pada KPA yang dibantu oleh satu atau beberapa PPK jumlah staf pengelola keuangan maksimum 3 orang (termasuk PDG) pada KPA dan masing-masing 2 orang pada setiap PPK. h. i. Prinsip pembayaran atas beban APBN Pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan atas prinsip-prinsip sebagai berikut : 68 . sedangkan asas yang baru sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah yang baik meliputi : e. m. k.000 Orang/bulan 850.

Pesta untuk berbagai peristiwa dan pekan olahraga pada departemen/ lembaga / pemerintah daerah. Pemberian ucapan selamat. Pimpinan dan atau pejabat departemen/lembaga tidak diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara. belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan berdasarkan atas hak dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran. tidak mewah. 5. hari raya dan hari ulang tahun departemen/ lembaga/pemerintah daerah. yaitu : Pertama : harus bisa dibuktikan keabsahan yang berhak. Sebagai konsekuensi dari ketentuan poin d. serta fungsi setiap departemen/lembaga/ pemerintah daerah. di atas. : harus sesuai dengan tujuan alokasi dana yang tercantum pada DIPA. Kedua Ketiga : harus sudah tersedia dananya dalam DIPA. mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri. program/kegiatan. karangan bunga. hadiah/tanda mata. terarah dan terkendali sesuai dengan rencana. b. e. Pimpinan dan atau pejabat departemen/lembaga tidak diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara. dan sesuai dengan kebutuhan teknis yang disyaratkan. jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara. Larangan pembebanan pada Belanja Negara Atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan melakukan pengeluaran untuk keperluan : (1) (2) (3) Perayaan atau peringatan hari besar. Jumlah dana yang dimuat dalam anggaran belanja negara merupakan batas tertinggi untuk tiap-tiap pengeluaran. maka pembayaran baru dapat dilaksanakan bila barang yang dipesan atau pekerjaan yang diperjanjikan sudah diterima atau selesai dikerjakan. 69 .a. d.4. c. efisien. Dengan kata lain agar dapat dikeluarkan uang dari kas negara harus dapat memenuhi 3 (tiga) unsur. dan sebagainya untuk berbagai peristiwa. hemat. efektif.

(4) (5) Pengeluaran lain-lain untuk kegiatan/keperluan yang sejenis serupa dengan yang tersebut di atas. Penyelenggaraan rapat. dibatasi pada hal-hal yang sangat penting dan dilakukan sesederhana mungkin. lokakarya. seminar. 70 . peresmian kantor/proyek dan sejenisnya. rapat dinas. pertemuan.

Menteri/Pimpinan Lembaga selaku pengguna anggaran menunjuk pejabat kuasa pengguna anggaran untuk satuan kerja/satuan kerja sementara di lingkungan instansi pengguna angggaran bersangkutan dengan surat keputusan. Belanja pemerintah pusat dikelompokkan atas belanja pemerintah pusat menurut organisasi/bagian anggaran. Belanja untuk daerah adalah semua pengeluaran untuk membiayai dana perimbangan serta dana otonomi khusus dan penyesuaian. Setiap awal tahun anggaran. Bedakan pula antara penguji tagihan dan pejabat pembuat SPM? 5.. fungsi. Bagaimanakan seorang pemegang uang muka harus bertanggungjawab terhadap uang yang dikelolanya? 5. penyaluran dana APBN kepada yang berhak dilakukan transfer dana atau pemindahbukuan dana langsung dari rekening kas negara/kas umum negara ke rekening yang berhak pada bank. dan jenis belanja Semua pengeluaran negara atas beban rekening kas Negara/kas umum negara harus melalui transfer dana atau pemindahbukuan dana antar rekening bank.5. Pengecualian diberikan untuk pembelian atau pengadaan barang/jasa keperluan kantor/satuan kerja kementerian negara/lembaga yang nilainya kecil-kecil sampai dengan Rp 10 juta dapat dibayar melalui uang persediaan yang dkelola Bendahara Pengeluaran. Dengan demikian. 4. 71 .5 Latihan 1. termasuk membayar tagihan pihak ketiga yang dilakukan oleh kantor/satuan kerja kementrian Negara/lembaga.6 Rangkuman Anggaran belanja negara adalah semua pengeluaran negara yang digunakan untuk membiayai belanja pemerintah pusat dan belanja untuk daerah. Jelaskan pengertian belanja Negara? Belanja-belanja apa saja yang tidak bisa dibebankan pada APBN? Prinsip-prinsip apa saja yang harus diperhatikan di dalam pelaksanaan Bedakan karakteristik antara Kuasa Pengguna Anggaran & Pejabat belanja negara? Pembuat Komitmen. 2. 3. Selanjutnya Menteri/Pimpinan Lembaga dapat mendelegasikan kewenangan kepada Kuasa Pengguna Anggaran untuk menunjuk : (1) Pejabat yang diberi kewenangan untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggarn belanja/penanggungjawab kegiatan/ pembuat komitmen.

yaitu : Pertama : harus bisa dibuktikan keabsahan yang berhak. pelaksanaan anggaran belanja negara didasarkan atas prinsip-prinsip pembayaran atas beban APBN serta tidak melanggar larangan pembebanan belanja negara sesuai aturan yang berlaku serta berpedoman bahwa uang dari kas negara harus dapat memenuhi 3 (tiga) unsur. 72 . keterbukaan. : harus sesuai dengan tujuan alokasi dana yang tercantum pada DIPA. profesionalitas. asas spesialitas. asas kesatuan. : harus sudah tersedia dananya dalam DIPA. proporsionalitas. antara lain : asas universalitas. (3) Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja. akuntabilitas berorientasi pada hasil. Asas-asas umum pengelolaan keuangan negara. dan pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri.(2) Pejabat yang diberi kewenangan untuk menguji tagihan kepada negara dan menandatangani SPM. oleh karena itu. Kedua Ketiga . Setiap uang yang keluar dari kas Negara harus dapat dipertanggungjawabkan.

Apabila diantara PUM telah merealisasikan penggunaan UPnya sekurangkurangnya 75% Kuasa PA/pejabat yang ditunjuk dapat mengajukan SPM-GUP bagi PUM berkenaan tanpa menunggu realisasi PUM lain yan belum mencapai 75%. Strategi perencanaan pengeluaran menjadi hal yang harus diperhatikan mengingat hanya ada dua model pencairan dana. Uang Persediaan dan Tambahan Uang Persediaan 1. dan setiap Satker diharapkan mengoptimalkan pengeluaran-pengeluaran yang akan dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan uang persediaan dan LS. Uang Persediaan & LS Kepada setiap satuan kerja dapat diberikan Uang Persediaan. Pengeluaran-pengeluaran sejak awal harus disusun dan direncanakan akan menggunakan uang persediaan atau LS mengingat kedua model pencairan ini mempunyai aturan-aturan tertentu yang bisa menjadi penentu kelancaran atau malah sebaliknya ketika kita tidak memahami mekanisme pencairan kedua model ini. Mengenai prosedur uang persediaan diatur sebagai berikut: 6. Untuk mengelola uang persediaan bagi satuan kerja di lingkungan kementrian Negara/lembaga. apabila diperlukan kepala satuan kerja dapat menunjuk pemegang uang muka. Melalui 2 model ini diharapkan pencairan dana menjadi lebih lancar. PA/kuasa PA menerbitkan SPM-UP berdasarkan DIPA atas permintaan Bendahara pengeluaran yang dibebankan pada MAK transito kode kegiatan untuk 73 . Dalam pelaksanaan tugasnya pemegang uang muka bertanggungjawab kepada bendahara pengeluaran.2.1.6. 6.1. sebelum diberlakukannya ketentuan dan atau dilakukannya pengangkatan pjabat fungsional Bendahara.2. Bendahara pengeluaran dapat membagi uang persediaan kepada beberapa PUM. Untuk membantu pengelolaan uang persediaan pada kantor/satuann kerja di lingkungan kementrian/lembaga. yaitu melalui model uang persediaan dan model langsung (LS) melalui KPPN. KEGIATAN BELAJAR (KB) 5 : MODEL PENCAIRAN & SYARAT ADMINISTRASI PEMBEBANAN ANGGARAN 6. Menteri/Pimpinan lembaga pengeluaran pada kementrian/lembaga atau satuan kerja yang dipimpinnya. Model Pencairan Dana Model pencairan dana bagi sebuah satker ada 2 jenis.

maksimal Rp 50 juta untuk pagu sampai dengan Rp 900 juta. maksimal Rp 100 juta untuk pagu datas Rp 900 juta sampai dengan Rp 2. dan PNBP 0000.825113. Uang persediaan dapat diberikan dalam batas-batas sebagai berikut : a. 3.4 miliar. (3) 1/24 (satu per dua puluh empat) dari pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP. dan 5811. dalam pengajuan SPM-UP diwajibkan melampirkan daftar rincian yang menyatakan jumlah uang yang dikelola oleh masing-masing PUM.0000. 5. 74 . 2.0000. Berdasarkan SPM-UP. UP dapat diberikan setinggi-tingginya : (1) 1/12 (satu per dua belas) dari pagu DIPA menurut klasifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP. 6. pinjaman luar negeri 9999.825112. Bendahara Pengeluaran melakukan pengisisan kembali Uang Persediaan setelah Uang Persediaan digunakan (revolving) sepanjang masih tersedia pagu dana dalam DIPA. b. Uang persediaan dapat diberikan untuk pengeluaran-pengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja 5211. Sisa uang persediaan yang ada di Bendahara Pengeluaran pada akhir tahun anggaran harus disetorkan kembali ke rekening kas Negara selambat-lambatnya tanggal 31 Desember tahun anggaran berkenaan. (2) 1/18 (satu per delapan belas) dari pagu DIPA menurut kualifikasi belanja yang diijinkan untuk diberikan UP. 5221. oleh KPPN dibukukan sebagai pengembalian uang persediaan sesuai mata anggaran yang ditetapkan.400 juta atau Rp 2. Diluar ketentuan butir a. 7. Setoran sisa uang persediaan dimaksud. 5241.rupiah murni 0000. maksimal Rp 200 juta untuk pagu diatas RP 2. 4. dapat diberikan pengecualian untuk DIPA pusat oleh Dirjen Perbendaharaan dan untuk DIPA pusat yang kegiatannya berlokasi di daerah serta DIPA yang ditetapkan oleh kepala Kanwil DJPBN oleh Kepala Kanwil DJPBN setempat c. Bagi Bendahara Pengeluaran yang dibantu oleh beberapa PUM.9999. KPPN menerbitkan SP2D untuk rekening Bendahara Pengeluaran yangditunjuk dalam SPM-UP. 5212. 5231.825111. Penggunaan Uang Persediaan menjadi tanggungjawab Bendahara pengeluaran.4 miliar.

0000. Pemberian TUP diatur sebagai berikut: (1) Kepala KPPN dapat memberikan TUP sampai dengan jumlah RP 200 juta untuk klarifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP bagi instansi dalam wilayah pembayaran KPPN bersangkutan. Syarat untuk mengajukan Tambahan UP : a. b. harus disetor ke Rekening kas Negara. (2) Permintaan TUP diatas Rp 200 juta untk klarifikasi belanja yang diperbolehkan diberi UP harus mendapat dispensasi dari Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan. b. e.825111. Pengecualian terhadap butir diputuskan TUP oleh Kepala Kanwil Ditjen wajib Perbendaharaan atas usul Kepala KPPN. Surat Pernyataan bahwa kegiatan yang dibiayai tersebut tidak dapat dilaksanakan/dibayar melalui penerbitan SPM-LS.d.0000. 8. Rekening Koran yang menunjukkan saldo terakhir. 10. Untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak/tidak dapat tidak ditunda. Digunakan paling lama satu bulan sejak tanggal SP2D diterbitkan. g. Pengisian kembali UP sebagaimana dimaksud butir c dapat diberikan apabila UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima. dan PNBP 0000. Rincian Rencana Penggunaan Dana untuk kebutuhan mendesak dan riil serta rincian sisa dana MAK yang dimintakan TUP. 9. f. c. Dalam mengajukan permintaan bendahara pengeluaran menyampaikan : a.825112. Apabila ketentuan pada butir c tidak dipenuhi kepada satker yang bersangkutan tidak dapat lagi diberikan TUP sepanjang sisa tahun anggaran berkenaan. Perubahan besaran UP diluar sebagaimana dimaksud butir c ditetapkan oleh Dirjen Perbendaharaan. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP.9999. d. e. sedangkan satker/SKS ybs memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia. Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%.825113. c. pinjaman luar negeri 9999. 75 . SPM-UP/Tambahan UP diterbitkan dengan menggunakan kode kegiatan untuk rupiah murni 0000. Apabila tidak habis digunakan dalam satu bulan sisa dana yang ada pada bendahara.

Pembayaran dengan menggunakan model LS biasa dilakukan untuk : (1) Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). Surat 76 .2. Pembayaran yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan tidak boleh melebihi Rp 10 juta kecuali untuk pembayaran honor. Penggantian UP. dan fotokopi Surat Setoran Pajak (SSP) yang dilegalisir oleh Kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. lembur dan honor/vakasi a. Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam anggunan. KGB. SSP PPH final atas pelepasan hak. Kuitansi. SK naik pangkat. 8. 7. dilampiri SPTB.2. Surat pelepasan hak adat (bila diperlukan). 5. untuk transaksi yang menurut ketentuan harus dipungut PPN dan PPh. 2. 4. Fotokopi bukti kepemilikan tanah. 3. Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT. Jika menggunakan LS persyaratan yang harus Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut: 1. Surat Pernyataan Masih Menduduki Jabatan. kecauli tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS. 9. (2) LS untuk pembayaran gaji. diajukan ke KPPN dengan SPM-GUP dengan SPM-GUP. 6. Model pembayaran dengan LS Pembayaran dengan menggunakan model LS artinya pembayaran melalui transfer dari rekening kas Negara ke rekening bank penerima setelah memenuhi persyaratan yg diharuskan. Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. SPPT PBB tahun transaksi. 6. Surat Pernyataan Pelantikan. SK jabatan. Pembayaran Gaji Induk/susulan gaji/kekurangan gaji/gaji terusan/uang duka wafat dilengkapi dengan Daftar Gaji Induk/susulan gaji/ ekutrangan gaji/gaji terusan/uang duka wafat. Surat persetujuan harga. 12. SK CPNS. maka dapat dilakukan melalui UP/TUP.11.

Surat Kematian. Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan 77 . daftar kerja lembur dan SSP PPh pasal 21. Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM. kopi Surat Nikah. 4) dan 5) dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap 5 dan disampaikan kepada : a). daftar hadir kerja. kopi Akte Kelahiran. 5) Berita acara pembayaran. b). b. Surat Pindah. Surat Keterangan Masih Sekolah/Kuliah. surat perintah kerja lembur. Pembayaran Pengadaan barang dan jasa : 1) Kontrak/SPK yang mencantmkan nomor rekening rekanan. Masig-masing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak. c). 2) Surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan. Surat Keterangan Penghentian Pembayaran.j 8) 9) pinjaman/hibah luar negeri. Daftar potongan Sewa Rumah Dinas. 3) Berita acara penyelesaian pekerjaan. 6) Kuitansi yang disetujui oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk. Kelengkapan tersebut harus sesuai peruntukannya. SSP PPh pasal 21. Jaminan bank atau yang dipersamakan yang Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk dikeluarkan Bank atau lembaga keuangan non bank. daftar pembayaran perhitungan honor/vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA/Pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran ybs dan SSP PPh pasal 21. Daftar Keluarga (KP4). Pembayaran Honor/vakasi dilengkapi dengan SK tentang pemberian honor vakasi.Pernyataan Pelaksanaan Tugas. c. 4) Berita acara serah terima pekerjaan. (3) LS non Belanja Pegawai : a. kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari 10) Ringkasan kontrak untuk rupiah murni dan untuk PHLN Berita Acara pada butir 3). 7) Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani WP. Pembayaran lembur dilengkapi dengan Daftar Pembayaran Perhitungan Lembur yang sudah ditandatangani oleh Kuasa PA/Pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran Satker/SKS ybs.

b. 1) 2)

Pembayaran Biaya Langganan Daya dan Jasa (Listrik, Telepon dan Air) : Bukti tagihan daya dan jasa; No. rekening pihak ketiga (PLN, Telkom,

PDAM,dll). Dalam hal pembayaran langganan daya dan jasa belum dapat dilakukan secara langsung, satker/SKS ybs dapat melakukan pembayaran dengan UP. Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan.

c. Pembayaran Belanja Pejalanan Dinas
Pembayaran biaya perjalanan dinas harus dilengkapi dengan daftar nominatif pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas, yang berisi antara lain: informasi mengenai data pejabat (Nama, pangkat/Golongan), tujuan, tanggal keberangkatan, lama perjalanan dinas, dan biaya yang diperlukan untuk masingmasing pejabat. Daftar normatif tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas, dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN. Pembayaran dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran Satker/SKS ybs kepada para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas. 6.3. Persyaratan administratif untuk dapat membebani anggaran belanja Kebenaran pengisian dokumen tanda bukti pengeluaran meliputi: (1) Kuitansi a. b. Nama wajib bayar yang tertulis dalam kuitansi harus atas nama jabatan. Nama yang berhak menerima yang tertulis dalam kuitansi adalah nama orang yang menerima pembayaran sehubungan dengan Contoh : Sudah terima dari Pejabat Pembuat Komitmen………… dan jabatan

pelaksanaan kegiatan/pekerjaan dan ditandatangani oleh yang bersangkutan. Untuk Badan Hukum (perusahaan) diberikan pula stempel perusahaan. Apabila yang menerima adalah kuasa penerima, maka harus didukung dengan Surat Kuasa dari orang yang berhak kepada yang dikuasakan di atas kertas bermaterai Rp.6.000,-

78

c. d. e. f.

Tanda tangan lunas oleh penyimpan uang/kasir dan tanda tangan setuju Uraian pembayaran memuat uraian mengenai obyek kegiatan/ pekerjaan Jumlah yang dibayarkan harus sama antara yang tertulis dengan angka Tahun anggaran dan pasal/mata anggaran keluaran yang tertulis dalam

dibayar oleh Pemegang Kas. yang dilaksanakan. dan huruf. kuitansi adalah tahun anggaran berjalan dan pasal/mata anggaran sesuai dengan pembebanan anggaran.

g.

Bea materai tempel

Rp.6.000,-untuk SPK/Kontrak. Untuk kuitansi

dengan nilai Rp.250.000,- s/d Rp.1.000.000 dikenakan Rp.3.000,- Bila bernilai nominal di atas Rp.1.000.000,-dikenakan Rp.6.000.000 h. NPWP pihak rekanan harus dicantumkan dalam kuitansi pembayaran Dalam redaksi penulisan pada kuitansi tidak dibenarkan adanya coretan/

i.

hapusan/tindisan khususnya penulisan jumlah uang dengan angka dan jumlah uang dengan huruf.

(2)

Surat Perintah Kerja (SPK) Sekurang-kurangnya harus memuat ketentuan: a. Pejabat yang memerintahkan mempunyai kewenangan. b. SPK ditandatangani oleh yang memberi perintah dan pihak yang menerima perintah. c. Pokok/bidang, ruang lingkup dan spesifikasi teknis pekerjaan yang disepakati oleh kedua belah pihak. d. Harga yang pasti serta syarat pembayaran. e. Jangka waktu penyelesaian pekerjaan f. Sanksi dalam hal yang menerima perintah tidak memenuhi kewajibannya g. Diberi materai tempel Rp.6.000.-

(3)

Surat perjanjian/Kontrak Sekurang-kurangnya mememuat ketentuan seperti pada SPK ditambah dengan: a. Jaminan teknis hasil pekerjaan yang diserahkan. b. Penyelesaian perselisihan c. Hak dan kewajiban para pihak bersangkutan yang terikat dalam perjanjian yang

79

d. Penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri secara tegas dan terinci dalam lampiran kontrak. e. Rumusan mengenai penyesuaian harga kontrak (price adjusment). f. Ketentuan mengenai pemberian uang muka.

(4)

Berita Acara Penyerahan Barang/Pekerjaan. Sekurang-kurangnya memuat hal-hal

a. Nama, jabatan dan alamat kedua belah pihak. b. Prestasi fisik pekerjaan yang akan diserahkan. c. Hari dan tanggal pembuatan berita acara. d. Dasar pembuatan berita acara penyerahan pekerjaan.
e. Pernyataan besarnya pembayaran yang berhak diterima oleh rekanan.

f. Nama dan tanda tangan kedua belah pihak. (5) a. b. c. d.
e. Berita Acara Pembayaran, sekurang-kurangnya memuat : Nama, jabatan dan alamat kedua belah pihak. Hari dan tanggal pembuatan berita acara. Dasar pembuatan berita acara penyerahan pekerjaan. Harga kontrak. Perhitungan pembayaran meliputi:

- Jumlah yang telah dibayarkan sampai dengan angsuran yang lalu
- Jumlah angsuran dalam berita acara - Perhitungan Uang muka dan potongan lainnya

- Jumlah yang berhak diterima dengan berita acara pembayaran ini.
6.4. Pajak untuk Bendaharawan Bendaharawan pemerintah termasuk bendaharawan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga Negara lainnya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri yang membayar gaji, upah, tunjangan, honorarium, dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan wajib melakukan pemungutan pajak penghasilan dan PPN. 6.4.1. Pajak Penghasilan Pasal 21 (1) Objek PPh Pasal 21

80

Pemerintah Daerah. tunjangan cuti. d. hadiah atau penghargaan dengan nama dan pesangon. honorarium. uang lembur. tunjangan iuran pensiun. dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak teratur (tidak tetap) dan biasanya dibayarkan sekali dalam setahun. tantiem. lembaga-lembaga Negara lainnya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri yang membayar upah. gratifikasi. uang tunggu. tunjangan pajak. uang ganti rugi. tunjangan tahun baru. upah satuan. e. f. premi tahunan. tunjangan anak. penghasilan yang diterima atau diperoleh secara teratur berupa gaji. honorarium (termasuk honorarium anggota dewan komisaris. jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri. tunjangan kemahalan. BUMN/BUMD maka tarif yang dikenakan hanya sebesar 5% dari jenis Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama dan bentuk apapun yang diberikan oleh bukan (yang dikecualikan sebagai) Wajib 81 . tunjangan khusus. bonus. tunjangan jabatan. Uang tebusan pensiun. uang sokongan. atau anggota dewan pengawas). tunjangan transport. premi bulanan. uang Honorarium uang saku. tunjangan istri. c. tunjangan hari tua. upah. bentuk apapun komisi.Secara umum objek dari Pajak Penghasilan adalah penghasilan. instansi atau lembaga pemerintah. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan. tunjangan. (2) Tarif PPh pasal 21 Untuk semua pembayaran oleh Bendaharawan pemerintah baik Pemerintah Pusat. Hadiah. tunjangan hari raya. premi asuransi yang dibayar pemberi kerja. sedangkan obek PPh Pasal 21 secara spesifik antara lain adalah : a. uang tabungan hari tua. uang pensiun bulanan. dan upah borongan. upah mingguan. beasiswa. penhasilan yang diterima oleh mereka. atau kegiatan wajib melakukan pemungutan pajak Jika bukan PNS/ pegawai penghasilan pasal 21 dengan tarif 15% final jika yang menerima adalah PNS/pegawai BUMN/BUMD golongan III ke atas. beasiswa. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara tidak teratur berupa jasa produksi. dan pembayaran jenis lainnya. dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan. Upah harian. Pajak. b. jasa. tunjangan pendidikan anak. dan penghasilan teratur lainnya dengan nama apa pun.

Pasal 22 ayat (1) dan ayat (2) memberikan kewenangan kepada Menteri Keuangan untuk menunjuk pemungut pajak PPh Pasal 22. dimaksudkan untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengumpulan dana melalui system pembayaran pajak dan untuk tujuan kesderhanaan. Selanjutnya dalam rangka memperbesar jumlah kredit Pajak Penghasilan yang sekaligus dapat memperingan pembayaran pajak sekaligus pada saat penerimaan atau perolehan penghasilan. a. pungutan pajak ini dapat merupakan tamabahan jumlah (pajak) oleh pembayar. Namun. termasuk bendaharawan pada Pemerintah Pusat.2. Pemerintah Daerah. atau kegiatan 82 . Pajak Penghasilan Pasal 22 (1) Menteri Keuangan dapat menetapkan bendaharawan pemerintah untuk memungut pajak sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. besarnya jumlah pungutan didasarkan atas perkiraan penghasilan yang akan diperoleh dari adanya aktivitas tersebut diata. dan tata cara pelaporan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri Keuangan. tata cara penyetoran.6. 2) usaha di bidang lain. Pemungutan Pajak atas Potensi Penghasilan Berbeda dengan Pasal 21 yang dipotong dari penghasilan yang diperoleh atau diterima Wajib Pajak yang memberikan jasa kekaryaan. Karena sifatnya masih potensi penghasilan. PPh Pasal 22 dipungut dari potensi penghasilan yang terdapat dalam transaksi impor atau kegiatan dibidang lain. baik badan pemerintah maupun swasta bekenaan dengan kegiatan di bidang impor. (2) Ketentuan mengenai dasar pemungutan. dan pengenaan pajak yang Badan-badan tertentu. kemudahan. dan badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari Wajib pajak yang melakukan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. Pemungutan pajak berdasarkan ketentuan ini. Mereka adalah : 1) Bendaharawan pemerintah. Potongan pajak umumnya mengurangi jumlah yang diterima.4. instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga Negara lainnya berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang. sifat dan besarnya pungutan.

dan pelaporan yang sederhana sehingga mudah dilaksanakan dan murah biaya pelaksanaannya. Sebelum tahun 1984. karena dianggap lebih berkarakter Pajak Peredaran daripada Pajak Penghasilan. Contoh Peghitungan PPh Pasal 22 sebagai berikut : a.000 = Rp 1.b. (3) tidak mengganggu kelancaran lalu lintas barang. yakni pajak yang pengenaannya didasarkan atas impor barang yang masuk kedalam daerah pabean. sehingga terdapat 2 (dua) jenis PPh pasal 22. System MPO diberlakukan berdasar Undang-undang Nomor 8 tahun 1968. penyetoran.-. Dari pembelian tersebut. demi pengawasan agar tidak disalahgunakan. yakni pajak yang pengenaannya berhubungan dengan pembayaran instansi pemerintah yang dilaksanakan oleh bendaharawan.tepat waktu. PPh Pasal 22 impor. (2) pemungutan pajak secara efektif dan efisien. Pelaksanaan ketentuan ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan beberapa pertimbangan antara lain : (1) penunjukkan pemungut pajak secara selektif.000. (4) prosedur pemungutan.500. PPh Pasal 22 Bendaharawan Departemen Keuangan RI membeli 20 unit personal computer dari PT Anugerah Computer dengan total harga jual Rp 100. dalam pembaruan pajak tahun 1983 sistem MPO dihapus. sistem pungutan ini dikenal dengan system menghitung. Dalam hubungan ini Menteri Keuangan menetapkan besarnya pungutan yang dapat bersifat final. yaitu : PPh Pasal 22 Bendaharawan.000.000.000.5% x 100. PPh Pasal 22 Impor pasal 22 Bendaharawan 1) Menggunakan Angka Pengenal Importir (API) 83 . memotong dan menyetor pajak orang (MPO). Pertalian Pungutan PPh Pasal 22 merupakan pajak yang pengenaannya dihubungkan dengan pembayaran oleh Pemerintah serta dalam rangka impor. pada saat pembayaran dilakukan maka bendaharawan Departemen Keuangan harus memotong PPh sebesar = 1. b.

Pengecualian dari Pemungutan Sebagaimana lazimnya dalam sistem perpajakan tidak semua fenomena yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif langsung dipungut pajak.000.000.-.000 = Rp 12.000.000 = Rp 75.000. barang untuk keperluan museuam. ekonomi dan politis terdapat beberapa transaksi yang dikecualikan dari pungutan pajak.000 = Rp 7. untuk melindungi kepentingan sosial.5% x Rp 1.000 c. i. yang amal.000. Dari hasil lelang tersebut PT Alam Raya dikenakan PPh Pasal 22 Impor sebesar = 7. dan Impor barang dan/penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan tidak terutang PPh. atau kebudayaan.500. 3) 4) 5) buku ilmu pengetahuan.5% x Rp 500. Demikian juga dalam pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22. social. terdiri dari : 1) barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia yang dinyatakan sebagai bukan subjek PPh berdasarkan keputusan.000. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum.5% x 100.000. tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum.000. Beberapa kegiatan tersebut adalah seperti di bawah ini. Impor barang yang dibebaskan dari bea masuk. Dari impor tersebut PT. Makmur Abadi dikenakan PPh Pasal 22 Impor sebesar = 7.000. dari impor tersebut PT Gunung Merapi dikenakan PPh Pasal 22 Impor sebesar Rp 2.-.000.000 3) PT Alam Raya memperoleh sebuah mesin pemintal dari hasil lelang atas dengan harga jual lelang sebesar Rp 100.500.000. kebun binatang.PT Gunung Merapi mengimpor (memiliki API) sebuah mesin dengan nilai impor (cost insurance freight (CIF)) sebesar Rp 500. 84 .000.000 2) Tidak menggunakan API PT Makmur Abadi (tidak memiliki API) menimpor sebuah mesin dengan nilai impor (cost insurance freight/CIF) sebesar Rp 1. ii. 2) barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang bertugas di Indonesia yang dinyatakan sebagai bukan subjek PPh berdasrkan keputusan Menteri Kehakiman.

air minum/PDAM. dan benda-benda pos..6) 7) 8) barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan barang untuk keperluan khusus kaum tuna netra dan persenjataan. jumlah yang dipecah-pecah) yang meliputi jumlah kurang dari Rp 1. Barang pribadi penumpang.000.4 Pajak Pertambahan Nilai 85 . termasuk ilmu pengetahuan. listrik.000. 6. penyandang cacat lainnya. dengan tarif sesuai ketentuan untuk transaksi di atas Rp 1. suku cadangyang diperuntukan bagi keperluan pertahanan dan keamanan Negara.4. 16) Pemabayaran untuk pembelian bahan bakar minyak. gas. 9) 10) 11) jenasah.000. Peti atau kemasan lain yang berisi jenasah. barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan Barang contoh yang tidak untuk diperdagangkan.3 Pajak Penghasilan pasal 23 Setiap Bendaharawan wajib memungut PPh pasal 23 untuk jasa-jasa sebagaimana diatur dalam UU perpajakan.-(satu juta rupiah). awak sarana pengangkut. atau abu barang bagi keperluan pertahanan dan kemanan Negara. 14) 15) Dalam hal impor sementara jika pada waktu impornya Pembayaran atas penyerahan barang (bukan merupakan nyata-nyata dimaksudkan untuk diekspor kembali.000. amunisi dan perlengkapan militer.4. Jika suatu transaksi yang dibayarkan bendaharawan sudah dikenakan PPh pasal 22 maka tidak dikenakan PPh pasal 23 dan juga sebaliknya.(satu juta rupiah). pelintas batas. 12) 13) Barang pindahan. dan barang kiriman sampai batas nilai pabean dan/atau jumlah tertentu. kecuali barang/jasa yang dikecualikan dari pajak. 6.

Besarnya UP yang dapat diberikan Tergantung dari jumlah belanja yang dapat dimintakan UP.000 s. Pengeluaran-pengeluaran jenis belanja apa saja yang harus dipungut PPh 21. Sebutkan syarat-syarat suatu pengeluaran untuk belanja Negara bisa digunakan dengan menggunakan uang persediaan 3. 6.000 dikenakan bea materai Rp 6000 6.000 dan jika di atas Rp 1.5. 5212. dan 23 oleh bendaharawan pengeluaran? Jelaskan! 7. kecuali barang/jasa yang dikecualikan dari pajak. bagaimanakan pengeluaran untuk pembelian tanah dilakukan? Begitu juga untuk pengeluaran Belanja Pegawai 4. Kapan PPN harus dipungut oleh bendaharawan pengeluaran? 8.000.5 Bea materai Untuk transaksi Rp 250. Rp 1. Apa perbedaan uang persediaan dan pembayaran dengan LS? 2.000 dikenakan bea materai Rp 3000 dan di atas Rp 1. 22. Kepada setiap satuan kerja dapat diberikan Uang Persediaan. dan 5811.000.(satu juta rupiah). Bagaiamana kewajiban bendaharawan pengeluaran terkait dengan peraturan perpajakan? 6. 5231. 5241..000. Bendahara Pengeluaran melakukan pengisisan kembali Uang Persediaan setelah Uang Persediaan digunakan (revolving) sepanjang masih tersedia 86 . 5221. Uang persediaan dapat diberikan untuk pengeluaranpengeluaran belanja barang pada klasifikasi belanja 5211.4. yaitu melalui model uang persediaan dan model langsung (LS) melalui KPPN.6.Untuk semua penyerahan barang/jasa kepada instansi pemerintah dipungut PPN sebesar 10% dari Harga Dasar Pengenaan Pajak untuk transaksi diatas Rp 1. Bolehkah pengeluaran untuk non Belanja Pegawai digunakan model pembayaran dengan uang persediaan? Jelaskan! 5. Latihan 6 1.000. Adakah perbedaan perlakuan perpajakan khususnya menyangkut PPh 21 terkait dengan honorarium yang diterima PNS bergolongan I dan II dengan gol III dan IV ? Jelaskan! 6.000.d. Rangkuman Model pencairan dana bagi sebuah satker ada 2 jenis.

Syarat untuk mengajukan Tambahan UP : 1. tanggal SP2D diterbitkan. dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan. upah. Pembayaran dengan menggunakan model LS artinya pembayaran melalui transfer dari rekening kas Negara ke rekening bank penerima setelah memenuhi persyaratan yg diharuskan. yaitu :Pembayaran Pengadaan barang dan jasa. satker/SKS dimaksud dapat mengajukan TUP. Digunakan paling lama satu bulan sejak Apabila tidak habis digunakan dalam satu Untuk memenuhi kebutuhan yang sangat 3.pagu dana dalam DIPA. dan Berita Acara Pembayaran Bendaharawan pemerintah termasuk bendaharawan Pemerintah Pusat. lembaga-lembaga Negara lainnya dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di luar negeri yang membayar gaji. jasa. dan Pembayaran Belanja Pejalanan Dinas Kebenaran pengisian dokumen tanda bukti pengeluaran meliputi kuitansi. mendesak/tidak dapat tidak ditunda. Surat Perintah Kerja (SPK). lembur dan honor/vakasi LS non Belanja Pegawai. Pengisian kembali UP dapat diberikan apabila UP telah dipergunakan sekurang-kurangnya 75% dari dana UP yang diterima. honorarium. Surat perjanjian/Kontrak. sedangkan satker/SKS ybs memerlukan pendanaan melebihi sisa dana yang tersedia. Telepon dan Air). Berita Acara Penyerahan Barang/Pekerjaan. atau kegiatan wajib melakukan pemungutan pajak penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. bulan sisa dana yang ada pada bendahara. Besarnya pajak yang dipungut oleh bendahara sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku 87 . Pembayaran dengan menggunakan model LS biasa dilakukan untuk Pengadaan Tanah b) c) LS untuk pembayaran gaji. harus disetor ke Rekening kas Negara. 2. tunjangan. Pemerintah Daerah. Pembayaran Biaya Langganan Daya dan Jasa (Listrik. instansi atau lembaga pemerintah. Dalam hal penggunaan UP belum mencapai 75%.

b. b. 2. Rincian rencana penggunaan dana Tambahan UP dari kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk. c. Rekening Koran Terakhir 3.7. SPP-GUP (Penggantian Uang Persediaan) a. SPTB. Kuitansi/tanda bukti pembayaran. 88 . 2) Apabila terdapat sisa dana TUP. SPP-UP (Uang Persediaan) Surat pernyataan dari kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk. harus disetorkan ke rekening Kas Negara. 3) Tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. diatur sebagai berikut: 1. Surat pernyataan dari kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk bahwa: 1) Dana tambahan UP tersebut akan digunakan dalam waktu 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal diterbitkannya SP2D.1. SPP-TUP (Tambahan Uang Persediaan) a. Prosedur Pengajuan Surat Permintaan Pembayaran Persyaratan yang harus dipenuhi sebagai kelengkapan dalam pengajuan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) untuk dapat diterbitkan SPM. menyatakan bahwa UP tersbut untuk menbiayai pengeluaran-pengeluaran yang menurut ketentuan harus dengan LS. KEGIATAN BELAJAR (KB) 6 : PROSEDUR PENCAIRAN DANA 7.

dapat dilakukan melalui UP/TUP. Apabila tidak mungkin dilaksanakan melalui mekanisme LS. SPP untuk Pengadaan Tanah Pembayaran pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan melalui mekanisme pembayaran langsung (LS). h. lembur dan honor/vakasi 89 . 4. a. b. SSP PPH final atas pelepasan hak. SPP-LS untuk pembayaran gaji. Pengadaan tanah yang pembayarannya dilaksanakan melalui UP/TUP harus terlebih dahulu mendapat ijin dispensasi dari kantor pusat Ditjen PBN/Kanwil Ditjen PBN sedangkan besaran uangnya harus mendapat dispensasi UP/TUP sesuai ketentuan yang berlaku. c. Pelepasan/penyerahan hak atas tanah/akta jual beli di hadapan PPAT. Fotokopi bukti kepemilikan tanah. g. e. Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah dilegalisir oleh kuasa Pengguna Anggaran atau pejabat yang ditunjuk. b. i. Persetujuan Panitia Pengadaan Tanah untuk tanah yang luasnya lebih dari satu hektar di kabupaten/kota. Surat pelepasan hak adapt (bila diperlukan). f. Surat persetujuan harga. Pernyataan dari penjual bahwa tanah tersebut tidak dalam sengketa dan tidak sedang dalam anggunan. Pengaturan mekanisme pembayaran adalah sebagai berikut: (1) SPP-LS (Pembayaran Langsung) a. Pengadaan tanah yang luasnya kurang dari satu hektar dilengkapi (2) UP/TUP persyaratan daftar nominative pemilik tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA.c. Kuitansi. Pengadaan tanah yang luasnya lebih dari satu hektar dilakukan dengan bantuan panitia pengadaan tanah di kabupaten/kota setempat dan dilengkapi dengan daftar nominative pemilih tanah dan beasaran harga tanah yang ditandatangani oleh kuasa PA dan diketahui oleh Panitia Pengadaan Tanah (PPT). SPPT PBB tahun transaksi. 5. c. d.

Surat Keterangan Penghentian Pembayaran. 5) Berita acara pembayaran. surat perintah kerja lembur. (b) Pembayaran lembur dilengkapi dengan Daftar Pembayaran Perhitungan Lembur yang sudah ditandatangani oleh Kuasa PA/Pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran Satker/SKS ybs. SSP PPh pasal 21. 6) Kuitansi yang disetujui oleh kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk. Daftar potongan Sewa Rumah Dinas. kopi Surat Nikah. 6. Daftar Keluarga 9KP$). 3) Berita acara penyelesaian pekerjaan. 7) Faktur pajak beserta SSP yang telah ditandatangani Wajib Pajak. SK naik pangkat. Kelengkapan tersebut harus sesuai peruntukannya. 4) Berita acara serah terima pekerjaan. kopi Akte Kelahiran. 9) Dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. daftar kerja lembur dan SSP PPh pasal 21. Surat Pernyataan Pelaksanaan Tugas. 8) Jaminan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan Bank atau Lembaga Keuangan non bank. Surat Kematian. Surat Pindah. SPP-LS non Belanja Pegawai : (a) jasa : 1) Kontrak/SPK yang mencantmkan nomor rekening rekanan. SK CPNS. Surat Keterangan Masih Sekolah/Kuliah. Surat Pernyataan Pelantikan. (c) Pembayaran Honor/vakasi dilengkapi dengan SK tentang pemberian honor vakasi.(a) Pembayaran Gaji Induk/susulan gaji/kekurangan gaji/gaji terusan/uang duka wafat dilengkapi dengan Daftar Gaji Induk/susulan gaji/ ekutrangan gaji/gaji terusan/uang duka wafat. SK jabatan. 10) Ringkasan kontrak untuk rupiah murni dan untuk PHLN 90 . KGB. daftar hadir kerja. Surat Pernyataan Masih Menduduki Jabatan. daftar pembayaran perhitungan honor/vakasi yang ditandatangani oleh kuasa PA/Pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran ybs dan SSP PPh pasal 21. Pembayaran Pengadaan barang dan 2) Surat pernyataan kuasa PA mengenai penetapan rekanan.

(c) Pembayaran Belanja Pejalanan Dinas data pejabat harus dilengkapi dengan daftar nominative pejabat yang akan melakukan perjalnan dinas. Tunggakan langganan daya dan jasa tahun anggaran sebelumnya dapat dibayarkan oleh satker/SKS setelah mendapat dispensasi/persetujuan terlebih dahulu dari Kanwil Ditjen PBN sepanjang dananya tersedia dalam DIPA berkenaan. 3. 91 . Apabila UP tidak mencukupi dapat mengajukan TUP debesar kebutuhan riil satu bulan dengan memperhatikan maksimum pencairan (MP). Telkom.Berita Acara pada butir 3). UP dapat diberikan kepada Satker pengguna sebesar 20% dari pagu dana PNBP pada DIPA maksimal sebesar Rp 500 juta. lama perjalanan dinas.dll). 4) dan 5) dibuat sekurang-kurangnya dalam rangkap 5 dan disampaikan kepada : Asli dan satu tembusan untuk penerbit SPM. 4. Telepon dan Air) : 1). pangkat/Golongan). Daftar normative tersebut harus ditandatangani oleh pejabat yang berwenang memerintahkan perjalanan dinas. dan biaya yang diperlukan untuk masing-masing pejabat. Pembayaran dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran Satker/SKS ybs kepda para pejabat yang akan melakukan perjalanan dinas. Bukti tagihan daya dan jasa. tanggal keberangkatan. Pembayaran Biaya Langganan Daya dan 2). UP/TUP untk PNBP diajukan terpisah dari UP/TUP lainnya. 2. satker/SKS ybs dapat melakukan pembayaran dengan UP. yang berisi antara lain: informasi mengenai (Nama. dengan melampirkan Daftar Realisasi Pendapatan dan Penggunaan Dana DIPA (PNBP) tahun anggaran sebelumnya. dan disahkan oleh pejabat yang berwenang di KPPN. Dalam hal pembayaran langganan daya dan jasa belum dapat dilakukan secara langsung. MP = Maksimum Pencairan Dana. (b) Jasa (Listrik. No. rekening pihak ketiga (PLN. Satu tembusan untuk pejabat pelaksana pemeriksaan pekerjaan. Dana yang berasal dari PNBP dapat dicairkan maksimum sesuai formula sebagai berikut : MP = (PPP x JS) = JPS. Masig-masing satu tembusan untuk para pihak yang membuat kontrak. tujuan. PDAM. SPP untuk PNBP 1. 7.

pencairan dana harus melampirkan bukti setoran (SSBP) yang telah dikonfirmasi olah KPPN. JS = Jumlah setoran. 9. Khusus perguruan tinggi negeri selaku pengguna PNBP (non BHMN). Sisa dana PNBP dari satker pengguna diluar butir I. 17. pencairan dana diatur secara khusus dengan surat edaran Dirjen PBN tanpa melampirkan SSBP. 92 . Satker pengguna harus melampirkan Daftar perhitungan Jumlah MP. Untuk satker pengguna yang menyetorkan pada masing-masing unit (tidak terpusat). Sisa UP/TUP dana PNBP sampai akhir tahun anggaran yang tidak disetorkan ke rekening kas Negara. 6. 13. yang disetorkan ke rekening kas Negara pada akhir tahun anggaran merupakan bagian realisasi penerimaan PNBP tahun anggaran berikutnya dan dapat dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan setelah diterimanya DIPA. Untuk keseragaman dalam pembukuan system akuntansi. Besaran PPP untuk masing-masing satker pengguna diatur berdasarkan surat keputusan Menteri Keuangan yang berlaku. 15. sisa dana PNBP yang disetorkan pada akhir tahun anggaran ke rekening kas negara dapat dicairkan kembali maksimal sebesar jumlah yang sama pada awal tahun anggaran berikutnya mendahului diterimanya DIPA dan merupakan bagian dari target PNBP yang tercantum dalam DIPA tahun anggaran berikutnya. 8. 14. PPP = Proporsi Pagu Pengeluran terhadap Pendapatan. 11.5. Untuk satker pengguna yang setorannya dilakukan secara terpusat. 10. Dalam pengajuan SPM-TUP/GUP/LS PNBP ke KPPN. diterbitkan. 16. akan diperhitungkan pada saat pengajuan pencairan dana UP tahun anggaran berikutnya. maka penyetoran PNBP agar menggunakan formulir SSBP. JPS = Jumlah pencairan dana sebelumnya sampai dengan SPM terakhir yang 12. Pertanggungjawaban penggunaan dana UP/TUP PNBP oleh kuasa PA. Besarnya pencairan dana PNBP secara keseluruhan tidak boleh melampaui pagu PNBP satker ybs dalam DIPA. 7. dilakukan dengan mengajukan SPM setempat cukup dengan melampirkan SPTB.

v. Memeriksa pencapaian tujuan dan atau sasaran kegiatan sesuai dengan indicator kinerja yang tercantum dalam DIPA berkenaan dan atau spesifikasi teknis yang sudah ditetapkan dalam kontrak. pejabat penerbit SPM menerbitkan SPM dengan mekanisme. iii. maka pejabat penguji SPP dan Penandatanganan SPM menerbitkan SPM-UP/SPM-TUP/SPMGUP/SPM-LS dalam rangkap tiga : a. alamat. Lembar ketiga sebagai pertinggal pada satker ybs. iv. Memeriksa secara rinci dokumen pendukung SPP sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. SPM Lembar kesatu dan kedua disampaikan kepada KPPN. Segera setelah menerima SPP. Selanjutnya petugas penerima SPP menyampaikan SPP dimaksud kepada pejabat penerbit SPM. 2. Memeiksa kesesuaian rencana kerja dan atau kelayakan hasil kerja yang dicapai dengan indikator keluaran. mencatatnya dalam buku pengawasan penerimaan SPP dan membayar/menandatangani tanda terima SPP berkenaan. b. ii. mengisi chek list kelengkapan berkas SPP. no. Pejabat penerbit SPM melakukan pengujian atas SPP sebagai berikut: i.7. Penerimaan dan pengujian SPP Petugas penerima SPP memeriksa kelengkapan berkas SPP. Setelah dilakukan pengujian terhadap SPP-UP/SSP-GUP/SPP-LS.2 Mekanisme Penerbitan SPM. rekening dan nama bank) kelayakannya dengan prestasi kerja yang dicapai sesuai spesifikasi teknis yang tercantum dalam kontrak). 3) Jadwal waktu pembayaran. 93 . sebagai berikut 1. Memeriksa kebenaran atas hak tagih yang menyangkut antara lain : 1) 2) Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran (nama orang/ Nilai tagihan yang harus dibayar (kesesuaian dan atau perusahaan. Jasa Perbendaharaan adalah SPM-LS untuk pembayaran jasa SPM Jasa Perbendaharaan/SPM PFK Bulog : perbendaharaan kepada PT Pos Indonesia (Persero). Memeriksa ketersediaan pagu anggaran dalam DIPA untuk memperoleh kyakinan bahwa tagihan tidak melampaui batas pagu anggaran.

sub kegiatan 94 . SPM IB. SPM pengembalian diterbitkan oleh KPPN c. Untuk pengembalian sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b SPM yang diterbitkan harus dilampiri surat keterangan dari KPPN yang menyatakan bahwa penerimaan Negara yang akan dikembalikan kepada yang berhak telah dibukukan oleh KPPN. SPM dimaksud huruf a dan b diterbitkan oleh Sub Bagian Umum KPPN setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan oleh Saksi Bank/Giro Pos/Seksi Bendahara Umum terhadap kebenaran dan kelengkapan tagihan yang diajukan oleh PT Pos Indonesia (Persero)/Bulog. 3. SPM pengembalian diterbitkan oleh satker ybs. SPM BPHTB dan lain-lain) diatur tersendiri. Pengembalian PNBP yang terlanjur disetor ke rekening kas Negara diatur sbb: Bagi instansi kementrian/lembaga atau satker yang mempunyai DIPA. SPM KBC. sub fungsi. kegiatan dan Uraian pengeluaran yang tidak berakibat jumlah uang pada SPM. Kesalahan Pembebanan pada MAK. 2. Bagi instansi/badan/pihak ketiga yang tidak mempunyai DIPA. Kesalahan pencantuman kode fungsi. Pengembalian pengeluaran anggaran yang telah disetor ke rekening kas Negara dilakukan dengan SPM pengembalian yang diterbitkan olah satker ybs disertai surat keterangan pembukuan ole KPPN dan dilampiri Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSPB).SPM PFK Bulog adalah SPM pembayaran perhitungan potongan dana bulog yang telah dilakukan oleh KPPN.q. Sub bagian Umum sesuai ketentuan berlaku. SPM pengembalian (SPM KP. Khusus untuk pengembalian sebagaimana dimaksud pda huruf a SPM dimaksud harus dilampiri pula Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM) dari kuasa PA. SPM KPBB. a. Perbaikan hanya dapat dilakukan terhadap kesalahan administrasi sebagai berikut : 1. SPM yang telah diterbitkan SP2Dnya oleh KPPN dan telah dicairkan (telah dilakukan perdebetan rekening kas Negara) tidak dapat dibatalkan.

Selanjutnya SPM perbaikan dimaksud dilampiri dengan SKTJM disampaikan kepada Kepala KPPN. Pengguna Anggaran/Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk menyampaikan SPM beserta dokumen pendukung dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) berupa soft copy (disket) melalui loket Penerimaan SPM pada KPPN atau melalui Kantor Pos. 2.4. Untuk menerbitkan SPM ini masing-masing Satker mengoperasikan aplikasi SPM untuk membuatnya. Daftar Gaji/Gaji Susulan/Kekurangan Gaji/Lembur/honor yang ditanda-tangani oleh Kuasa PA atau pejabat yang ditunjuk dan Bendahara Pengeluaran. ii. 7. Petunjuk tatacara mengoperasikan aplikasi SPM ini bisa dipelajari pada lampiran 2 modul ini. Mengenai penerbitan SP2D oleh KPPN diatur sebagai berikut: 1. SPM GAji Induk harus diterima KPPN paling lambat tanggal 15 sebelum bulan pembayaran. 3. SPM yang diajukan ke KPPN digunakan sebagai dasar penerbitan SP2D. mencatat dalam Daftar Pengawasan Penyelesaian SPM dan meneruskan check list serta kelengkapan SPM ke Seksi Perbendaharaan untuk diproses lebih lanjut. Surat-surat Keputusan Kepegawaian dalam hal terjadi perubahan pada daftar gaji.4 Prosedur Penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana Penyampaian SPM kepada KPPN dilakukan sebagai berikut: 1. SPM yang dimaksud dilampiri bukti pengeluaran sebagai berikut : (a) Untuk keperluan pembayaran langsung (LS) belanja pegawai: i.3 Aplikasi SPM Saat ini semua satker bertanggung jawab untuk menerbitkan SPM. mengisi check list kelengkapan berkas SPM. kecuali bagi satker yang masih menerbitkan SPM secara manual tidak perlu ADK. 95 . Perbaikan SPM sebagaimana dimaksud pada huruf a dilakukan oleh kuasa PA/penerbit SPM. 2. 7. Petugas KPPN pada loket penerimaan SPM memeriksa kelengkapan SPM.

(1) Surat Pernyataan dari Kuasa Pengguna Anggaran atau Dana Tambahan UP tersebut akan digunakan untuk keperluan mendesak dan akan habis digunakan dalam waktu satu bulan terhitung sejak tanggal diterbitkan SP2D. meliputi : 1. Surat Keputusan Pemberian honor/vakasi dan SPK lembur. menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK. Surat Setoran Pajak (SPP). Untuk keperluan pembayaran GUP. 96 . ii. SPTB. menguji ketersediaan dana pada kegiata/sub kegiatan/MAK dan DIPa yang ditunjuk dalam SPM tersebut. iv. iii. Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). Untuk keperluan pembayaran TUP: Rincian rencana penggunaan dana.iii. Surat Keputusan. c. b. (c) i. SPTB dan Faktur Pajak dan SSP (surat setoran pajak). Surat dispensasi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan untuk TUP diatas Rp 200 juta. (b) i. harus disetorkan ke Rekening Kas Negara. Untuk keperluan pembayaran langsung (LS) non belanja pegawai: Resume Kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Perjalanan Dinas. iii. Tidak untuk membiayai pengeluaran yang seharusnya dibayarkan secara langsung. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM. Pengujian SPM dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersiat substansif dan formal. ii. Menurut Peraturan Dirjen Perbendaharaan nomor Per-66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaksanaan Pembayaran Atas Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di pasal 10 disebutkan bahwa bukti asli lampiran SPP merupakan arsip yang disimpan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran. Pengujian substansif dilakukan untuk: a. Daftar Nominatif Perjalanan Dinas). pejabat yang ditunjuk yang menyatakan bahwa: (2) (3) (4) Apabila terdapat sisa dana TUP.

Pengembalian SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) butir b diatur sebagai berikut: SPM Belanja Pegawai Non Gaji Induk dikembalikan paling lambat tiga hari kerja setelah SPM diterima. memeriksa kebenaran dalam penulisan. b. memeriksa cara penulisan/pengisisan jumlah uang dalam angka dan huruf. SP2D diterbitkan dalam rangkap 3 (tiga) dan dibubuhi stempel timbul seksi bank/giro pos atau seksi bendum yang disampaikan kepada: a. apabila tidak memenuhi syarat untuk diterbitkan SP2D. Pengujian formal dilakukan untuk : a. Sedangkan pengembalian SPM kepada penerbit SPM. termasuk tidak boleh tedapat cacat dalm penulisan. SP2D ditandatangani oleh Seksi Perbendaharaan dan seksi bank/giro pos atau 97 . menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggung jawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran. c. Pengesahan Surat Perintah Membayar Penggantian UP (SPM-GUP) nihil atas TUP dilaksanakan KPPN dengan membubuhkan Cap pada SPM GU Nihil “telah dibukukan pada tanggal………oleh KPPN” dan ditandatangani oleh Kepala Seksi Perbendaharaan. e. SP2D UP/TUP/GUP dan LS paling lambat satu hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan specimen tandatangan. SP2D Non Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja setelah diterima SPM secara lengkap. Mengenai penerbitan SP2D diatur sebagai berikut : 1. Penerbitan SP2D oleh KPPN dilakukan dengan cara : seksi Bendum b. SPM/TUP/GUP dan LS dikembalikan paling lambat satu hari kerja setelah SPM diterima. Keputusan hasil pengujian ditindak lanjuti dengan penerbitan SP2D bilamana SPM yang diajukan memenuhi syarat yang ditentukan.d. menguji faktur pajak beserta SSP-nya. 2. Penerbitan SP2D wajib diselesaikan oleh KPPN dalam batas waktu sebagai berikut: a. 2. c. SP2D Gaji Induk diterbitkan paling lambat lima hari kerja sebelum awal bulan pembayaran gaji. b.

Laporan Keuangan yang disampaikan harus dilampirkan bukti Register Penyampaian Laporan Keuangan ke UAKPA ke KPPN selambat- Pengiriman laporan keuangan ke UAPPA-W/UAPPA-E1 bulan sebelumnya. petugas kurir KPPN ke BI/Bank Operasional/Sentral Giro. Sesuai pasal 2 Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER02/PB/2006 tentang Penetapan Sanksi oleh KPPN Atas Keterlambatan Penyampaian Laporan Keuangan Sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 59/PMK.06/2005 Tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat tanggal 10 Pebruari 2006. sama.. 7. Operasional/ Sentral Giro dikembalikan kepada KPPN melalui petugas kurir yang 4. 3. 3) Lembar 3 : Sebagai Pertinggal di KPPN (Seksi Verifikasi dan Akuntansi). Ditandatangani oleh Kepala Seksi Bank/Giro Pos atau Seksi Bendum dan Lembar kesatu dan lembar kedua dilampiri asli SP2D dikirimkan melalui Daftar penguji lembar kedua setelah ditandatangani oleh BI/Bank diketahui oleh kepala KPPN serta dibubuhi stempel timbul kepala KPPN. dilengkapi lembar ke-1 SPM dan dokumen pendukungnya. dan catatan atas laporan keuangan.5 Pelaporan Realisasi Anggaran Untuk keperluan penyusunan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN diperlukan antara lain data realisasi APBN. 2) Lembar 2 : Kepada penerbit SPM dengan dilampirkan SPM yang telah dibubuhi Cap ‘Telah diterbitkan Sp2D tanggal…………Nomor………. 2. Kepala Kantor/satker selaku Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (UAKPA) wajib membuat Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca serta Arsip Data Komputer (ADK) yang dikelolanya kepada menteri/pimpinan Lembaga secara berjenjang melalui Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran tingkat Wilayah (UAPPAW) dan kepala KPPN setempat. neraca. 3. Daftar Penguji (format sebagimana lampiran 13) dibuat dalam rangkap 3 (tiga) sebagai pengantar Sp2D dengan ketentuan: 1. Daftar penguji lembar ketiga sebagai pertinggal di KPPN. arus kas.”. lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah bulan bersangkutan berakhir sebagai bahan 98 . diatur sebagai berikut : 1. 2.1) Lembar 1 : Kepada Bank Opersional.

7. dengan Pusat. KPPN memberikan sanksi berupa penundaan penerbitan SP2D atas SPM yang diajukan oleh satuan kerja. Keuangan bulan Januari 2006 dan transaksi SPM bulan Februari 2006 sesuai 59/PMK. Kemudian KPPN memproses lebih lanjut Laporan Keuangan dari satuan kerja tersebut dan menyampaikan hasilnya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan setempat sesuai ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER66/PB/2006 tentang Pedoman Rekonsiliasi dan Analisa. 6. Dalam hal Kuasa Pengguna Anggaran belum menyampaikan laporan keuangan. Pengenaan sanksi dimaksud dikecualikan terhadap SPM Belanja Pelaksanaan sanksi dimaksud tidak membebaskan Kuasa Pengguna Penerapan sanksi muali dilaksanakan terhadap penyampain Laporan perlakuan sanksi dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor Pegawai. Kuasa Pengguna Anggaran tidak menyampaikan laporan keuangan bulanan. dan SPM Pengembalian. 9. SPM-LS. dan Penyusunan Laporan 99 . Seksi Verifikasi dan Akuntansi menyusun konsep Surat Peringatan Penyampaian Laporan Keuangan (SP2LK) yang ditetapkan oleh Kepala KPPN dan dikirimkan ke Kuasa Pengguna Anggaran yang bersangkutan. 5. 8.06/2005 Tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah 11. Anggaran dari kewajiban menyampaikan laporan keuangan kepada KPPN.rekonsiliasi data dan pengawasan atas ketaatan terhadap ketentuan perundangundangan yang berlaku. Seksi Verifikasi dan Akuntansi menyusun konsep Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi (SP2S) untuk ditetapkan oleh Kepala KPPN dan dikirimkan kepada satuan kerja yang belum menyampaikan laporan keuangan. Apabila satuan kerja telah menyampaikan laporan keuangan. Dalam hal pengenaan sanksi. Seksi Verifikasi dan Akuntansi menyusun konsep Surat Pemberitahuan Pencabutan Pengenaan Sanksi (SP3S) untuk ditetapkan oleh Kepala KPPN dan dikirimkan kepada satuan kerja yang sudah menyampaikan laporan keuangan. Jika sampai dengan 5 (lima) hari kerja sejak terbitnya Surat Peringatan. 4. KPPN selaku Kuasa Bendahara Umum Negara berkewajiban memberikan sanksi kepada Kuasa Pengguna Anggaran dalam hal Kuasa Pengguna Anggaran terlambat/lalai menyampaikan Laporan Keuangan. maka KPPN cq. 10.

c. lembar pertama dan ketiga dikembalikan kepada satker besangkutan. Untuk mengawasi kredit pagu DIPA baik belanja pegawai maupun non belanja pegawai. disetor diberi catatan: ‘saldo terakhir sebesar ………………. SKPP pegawai diterbitkan oleh kepala satker dalam rangkap 6 9enam) dan disampaikan kepada KPPN untuk disahkan oleh kepala seksi perbendaharaan dan 100 . selanjutnya lembar pertama diteruskan kepada pegawai yang bersangkutan dan lembar ketiga diteruskan kepada satker yang baru. KPPN wajib membuat Kartu Pengawasan kontrak untuk kontrak yang pembayarannya dilakukan dengan termin atau sertifikat bulanan. 7.6 Lain-Lain Hal-hal lain diatur sebagai berikut: 1. Kartu pengawasan terdiri dari Kartu Induk Pengawasan Kredit (Lampiran 14-1). 2. b. 5. tanpa memperhatikan pagu dana yang tersedia pada MAK berkenaan. Kartu pengawasan dibuat per satuan kerja/kegiatansub kegiatan/jenis Pada setiap akhir tahun anggaran KArtu Pengawasan ditutup dengan sebesar………” serta ditandatangani oleh Kepala Seksi belanja. KPPN wajib membuat Kartu Pengawasn Kredit dengan ketentuan: a. lembar kedua dikirimkan oleh KPPN asal kepada KPPN/kantor lembar keempat untuk asip KPPN asal. Kartu Pengawasan Per Kelompok Jenis Belanja (Lampiran c. pembayar berikutnya. b. Pembayaran Uang Duka Wafat/Tewas (UDW/T) dibebankan pada MAK uang duka wafat/tewas. SKPP pegawai pindah diterbitkan olejh kepala satker dalam rangkap (empat) dan disampaikan kepada KPPN untuk disahkan oleh Kepala Seksi Perbendaharaan dan dibuatkan surat pengantar yang ditandatanagni oleh Kepala KPPN dengan penjelasan: a. dana UP/TUP yang belum Perbendaharaan dan diketahui Kepala KPPN.Keuangan Tingkat Kuasa BUN KPPN dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan tanggal 23 Nopember 2006. 3. 14-3). 4.

Pada setiap awal tahun anggaran Kuasa PA menunjuk PDG yang bertugas membuat dan menatausahakan daftar gaji dan daftar lembur satker yang bersangkutan. luar negeri dilaksanakan sesuai peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan yang berlaku dalam pelaksanaan pinjaman dan/atau hibah luar 7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pejabat pengguna anggaran dan apa pula wewenangnya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku!sebutkan larangan perangkapan jabatan dalam pelaksanaan APBN! 101 . Bendahara Pengeluaran wajib membuat pembukuan seluruh transaksi keuangan yang dilaksanakan pada satker.dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Kepala KPPN dengan penjelasan: a. lembar keempat dkirimkan kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan (Persero)/PT.ASABRI P(Persero). 9. pensiun. 6. Untuk pembayaran kegiatan yang dananya berasal dari pinjaman dan/atau hibah negeri. yang mewilayahi P. e. KPPN melakukan pekerjaan penyelesaian akhir laporan realisasi anggaran. Taspen (Persero)/PT. ASABRI (Persero) yang membayar Lembar kelima sebagai arsip Bendahara Pengeluaran. lembar pertama dan lembar kedua dikirim kepada PT. Latihan 7 1. Taspen lembar ketiga diserahkan kepada pegawai yang bersangkutan. 7. d. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pembayaran dana APBN secara giral? Bagaimana peneraannya terhadap penerimaan Negara maupun pengeluaran Negara yang melalui rekening kas Negara dan apakah ada pengecualiannya? 2. Pada tutup tahun anggaran tanggal 31 Desember atau hari kerja terakhir apabila tanggal 31 Desember hari libur pada setiap akhir tahun anggaran. c.6. arus kas dan neraca. Lembar keenam untuk arsip KPPN. 8. b.

Rekening kas Negara/bendahara umum Negara ditatausahakan oleh KPPN dan Sub Direktorat administrasi Benadahara Umum Negara. yaitu penerimaan perpajakan. Jelaskan. PNBP dan penerimaan Hibah. yang pertama merupakan belanja pemerintah pusat dan yang kedua merupakan belanja untuk daerah. Jelaskan. bagaimana prisedur pengajuan surat permintaan pembayaran langsung dan penerbitan surat perintah membayar langsung apda kantor/satuan kerja kementerian lembaga! 4. bagaimana prosedur penerbitan surat perintah pencairan dana oleh KPPN dan tindak lanjut dari hasil pengujian oleh Seksi Perbendaharaan KPPN! 6. Penerimaan Negara yang diakui sebagai anggaran pendapatan Negara adalah penerimaanpenerimaan Negara yang dilakukan secara giral dan tercatat/dibukukan dalam rekening kas Negara/rekening kas umum Negara.3. Jelaskan apa yang diamksud dengan pengujian SPM yang dilaksanakan oleh KPPN mencakup pengujian yang bersifat substantif dan format! 7.7 Rangkuman Anggaran pendapatan Negara menurut undang-undang APBN terbagi menjadi tiga kelompok. Jelaskan hal-hal yang behubungan dengan pelaporan realisasi anggaran pada KPPN! 7. bagaimana prosedur pengajuan surat permintaan pembayaran dari bendahara pengeluaran dan penerbitan surat perintah membayarnya pada kantor/satuan kerja kementerian Negara/lembaga! 5. Jelaskan. 102 . Anggaran belanja Negara menrut undang-undang APBN terbagi menjadi dua kelompok. Mengenai penyaluran dana bealanja pemerintah pusat maupun belanja untuk daerah pada prinsipnya dilakukan secara giral.

dengan membuka L/C pada Bank Koresponden dalam rangka melakukan pembayaran pada penjualan/perusahaan eksportir di luar negeri. Berdasarkan surat permintaan SKP dari satker. Satker mengajukan SPM kepada KPPN Khusus Jakarta VI disertai dokumen pendukung yang diperlukan. L/C dengan Pembayaran Langsung 1. KEGIATAN BELAJAR (KB) 7: PROSEDUR PENARIKAN/PENYALURAN PHLN Penyaluran Pinjaman Hibah Luar Negeri dilakukan oleh KPPN Khusus Jakarta VI dan KPPN Khusus Banda Aceh. 8. 4.2. 3. dengan prosedur sebagai berikut : 8. Pembukaan Letter of Credit (L/C) Prosedur ini adalah untuk pengadaan barang impor yang tidak tersedia di dalam negeri.1. Sumber dana dari APBN Produk SP2D Porsi GoI Mekanisme 1. Rupiah Murni Porsi Goverment of Indonesia (GOI) Produk pembayaran ini dilakukan sebagai pendamping porsi PHLN. KPPN Khusus menerbitkan SP2D Porsi GoI dan dikirim ke Bank Indonesia (BI)/Bank Operasional (BO). 103 . KPPN Khusus memeriksa kelengkapan. Produk - Surat Kuasa Membayar atas beban Rekening Khusus (SKM RK L/C) Surat Kuasa Pembebanan (SKP) Mekanisme a. baik dalam bentuk Rupiah atau Valas tergantung kontrak. KPPN Khusus menerbitkan SKP kepada Bank Indonesia sebagai dasar pembukaan L/C. BI/BO melakukan pembayaran ke rekening pihak ketiga. kebenaran dan keabsahan dokumen sebelum diterbitkan SP2D Rupiah Murni. 2.8.

5. Berdasarkan Nota Disposisi dan Nota Debet BI. BI melakukan pembayaran kepada penjual/eksportir di luar negeri sebesar yang diminta. 3. Berdasarkan surat permintaan SKM RK-L/C dari satker. Pembayaran Langsung Penarikan pinjaman berdasarkan Aplikasi Penarikan Dana (APD) kepada Pemberi Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PPHLN) dengan permintaan untuk membayar secara langsung kepada rekening rekanan Produk - Withdrawal Application (WA) untuk Pembayaran Langsung Mekanisme 104 . BI melakukan pembayaran kepada penjual/eksportir di luar negeri sebesar yang diminta dibebankan pada rekening khusus pinjaman. KPPN Khusus menerbitkan SP3 dan disampaikan kepada satker dalam rangka SAI sebagai bahan pembukuan realisasi PHLN dalam APBN. Dengan membuka L/C pada Bank Koresponden. BI membuat Nota Disposisi L/C dan Nota Debet dan mengirimkan ke DJPBN (KPPN Khusus). L/C melalui Rekening Khusus 1.2. KPPK Khusus menerbitkan Surat Kuasa Membayar (SKM) RK-L/C kepada BI sebagai dasar pembukaan L/C. 3. b. KPPN Khusus menerbitkan SP3 dan disampaikan kepada satker dalam rangka SAI sebagai bahan pembukuan realisasi PHLN dalam APBN. 4. PPHLN melakukan pembayaran pada Bank Koresponden dan juga mengirimkan Debet Advice (DA) pada BI. BI mengirimkan Nota Disposisi L/C kepada Direktorat Jenderal Perbendaharaan (KPPN Khusus Jakarta VI).3. 8. 4. Dengan membuka L/C pada Bank Koresponden. 2. Berdasarkan Nota Disposisi dan Nota Debet BI.

1. Berdasarkan NoD. 8. PPHLN mengirimkan Debet Advice (DA)?Notice of Disbursement (NoD) ke KPPN Khusus. 3. Satker mengajukan APD ke KPPN Khusus Jakarta VI dilengkapi dokumen yang diperlukan. 8. KPPN Khusus menerbitkan SP3 dan disampaikan kepada satker dalam rangka SAI sebagai bahan pembukuan realisasi PHLN dalam APBN. KPPN Khusus memeriksa kelengkapan. 2. 2. Pembiayaan Pendahuluan Aplikasi Penarikan Dana (APD) Loan yang digunakan untuk pembayaran kembali biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN. Rekening Khusus 105 . 3.5. KPPN Khusus menerbitkan Surat Perintah Pembukuan/Pengesahan (SP3) dan disampaikan kepada satker dalam rangka SAI sebagai bahan pembukuan realisasi PHLN dalam APBN. kebenaran dan keabsahan dokumen APD dan atas dasar APD. Berdasarkan NoD. Dengan APD ini PPHLN mengganti kembali dana yang telah digunakan pada rekening BUMN yang bersangkutan. 4. 4. KPPN khusus menerbitkanWA.4. PPHLN melakukan pembayaran kepada rekening rekanan dan menyampaikan Debet Advice/Notice of Disbursement (NoD) kepada KPPN Khusus. selanjutnya PPHLN melakukan pembayaran kembali ke rekening BUMN. Produk Withdrawal Application (WA) untuk Reimbursement Mekanisme 1. KPPN Khusus menerbitkan WA Reimbursement ke PPHLN disertai dokumen pendukung yang dipersyaratkan PPHLN. Satker mengajukan APD reimbursement ke KPPN Khusus Jakarta VI atas pembiayaan pendahuluan yang telah dilaksanakan.

KPPN Khusus menerbitkan SP2D-RK dan dikirim ke BI. kebenaran dan keabsahan dokumen tersebut sebelum menerbitkan SP2D-RK. Pembayaran Langsung 106 . Surat Kuasa Pembebanan (SKP). 3. KPPN Khusus Jakarta VI menerbitkan SP2D (biasanya uang muka 15 %).SP2D RK Mekanisme 1. Letter of Credit (L/C) Berdasarkan SPM dari satker. Produk SP2D Porsi Rupiah. Withdrawal Application (WA). Satker mengajukan SPM-RK kepada KPPN Khusus Jakarta VI disertai dokumen pendukung. BI melakukan pembayaran kepada rekening pihak ketiga. Kredit Ekspor Suatu pinjaman dari Lembaga Keuangan/Perbankan suatu Negara yang tujuannya untuk mendorong kegiatan ekspor negara donor sekaligus membantu negara peminjam. 2.Salah satu cara penarikan Pinjaman/Hibah Luar Negeri dengan membuka Rekening Khusus di BI atau Bank Pemerintah lainnya yang ditunjuk Menteri Keuangan.6. 8. Surat Kuasa Membayar Rekening Khusus (SKM RK L/C). Untuk porsi PHLN (sisanya) mekanisme pembayaran sama dengan prosedur L/C. Mekanisme 1. 4. KPPN Khusus memeriksa kelengkapan. Produk . 2.

maka data pendukung/lampiran yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1.d. 5. Resume kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Pejalanan Dinas. Pembayaran Langsung 1. Copy Garansi Bank yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang untuk Uang Muka (khusus Pembayaran Langsung). Copy Persetujuan Kontrak Final dari Pemberi PHLN (No Objection Letter/NOL) sepanjang dipersyaratkan. Dokumen no. 6 dibuat rangkap 3 Rekening Khusus/Rupiah Murni : 107 . Berita Acara Serah Terima Pekerjaan. 2. 4. Pembuat Komitmen (PK). 2. Invoice/kuitansi untuk pengadaan barang dan jasa konsultan. 8. Request for Payment sesuai bentuk standar dari Pemberi PHLN. Berita Acara Kemajuan Pekerjaan/Sertifikat Bulanan (MC) untuk Cuvil Works. Faktur PPN dan SSP PPh. Pencairan PHLN yang pertama. 5. Penanda tangan SPM dan Bendahara Pengeluaran untuk tahun anggaran berjalan. Form aplikasi penarikan dana (APD) dari PA/KPA. SK Penunjukan Pejabat Pengguna Anggaran (PA)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). KPPN Khusus Jakarta VI menerbitkan SP2D (biasanya uang muka 15 %). 6. Invoice/kuitansi. 3. 7. Specimen tanda tangan para pejabat seperti tersebut pada angka 3. 1 s. Kontrak asli dengan tanda tangan basah (khusus Pembayaran Langsung). 4. Berita Acara Pembayaran.Berdasarkan SPM dari satker. 3. Untuk porsi PHLN (sisanya) mekanisme pembayaran sama dengan prosedur Pembayaran Langsung. 6.

1 s. 3 dibuat 3 rangkap 108 . Kontrak asli dengan tanda tangan basah. 2. 1 s. Faktur PPN dan SSP PPh. 4. Dokumen no. 5. Surat Permintaan Penarikan (SPP) Surat Kuasa Pembebanan (SKP) atau Surat Kuasa Membayar beban Rekening Khusus untuk Letter of Credit (SKM RK-L/C). 6. 3.d. kecuali no. 4. Copy persetujuan kontrak final dari pemberi pinjaman/hibah (No Objection Letter/NOL) sepanjang dipersyaratkan. Rekap Pengeluaran Per Kategori NPLN (untuk GU). Berita Acara Pembayaran (khusus Rekening Khusus untuk keperluan replenishment) untuk pembayaran LS. Dokumen No. 2. Surat Perintah Membayar (SPM) yang dilengkapi dengan Arsip Data Komputer (ADK) kecuali untuk satker yang masih menerbitkan SPM secara manual. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Belanja (SPTB).1. 3. Daftar Rincian Permintaan Pembayaran Lembar B (untuk GU). Letter of Credit 1. 6 dibuat rangkap 3.d.

dengan prosedur sebagai berikut : (1) Rupiah Murni Porsi Goverment of Indonesia (GOI) (2) Pembukaan Letter of Credit (L/C) (3) Pembayaran Langsung (4) Pembiayaan pendahuluan (5) Rekening Khusus (6) Kredit Ekspor 109 . Apakah perbedaan antara pembayaran pendahuluan dengan pembayaran langsung ? Jelaskan ! 4. Pada Pencairan PHLN yang pertama.8. Rangkuman Penyaluran Pinjaman Hibah Luar Negeri dilakukan oleh KPPN Khusus Jakarta VI dan KPPN Khusus Banda Aceh. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kredit ekspor? Produk apa yang dihasilkan serta bagaimana mekanismenya ? 8. Latihan 1.7. Apa yang dimaksud dengan pembukaan letter of credit (LC). bagaimana mekanisme dan dokumen apa yang diperlukan ? 3. Bagaimana mekanisme pencairan/penyaluran PHLN melalui KPPN Jakarta VI dengan Rupiah murni Porsi Goverment of Indonesia (GOI) dan Pembayaran Langsung ? 2.8. data pendukung/lampiran apa yang diperlukan dalam proses tersebut ? 5.

Pencairan PHLN yang pertama. Copy Persetujuan Kontrak Final dari Pemberi PHLN (No Objection Letter/NOL) sepanjang dipersyaratkan. Pembuat Komitmen (PK). 4. 6. 3. 5. Penanda tangan SPM dan Bendahara Pengeluaran untuk tahun anggaran berjalan. 2. 110 . Specimen tanda tangan para pejabat seperti tersebut pada angka 3. Resume kontrak/SPK atau Daftar Nominatif Pejalanan Dinas. maka data pendukung/lampiran yang diperlukan adalah sebagai berikut : 1. Kontrak asli dengan tanda tangan basah (khusus Pembayaran Langsung). Copy Garansi Bank yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang untuk Uang Muka (khusus Pembayaran Langsung). SK Penunjukan Pejabat Pengguna Anggaran (PA)/Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

DAFTAR PUSTAKA Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.02/2007 tentang Standar Biaya tahun 2008 111 .Lembaga dan Penyusunan. Penelaahan. Undang-Undang No.18 Tahun 2006 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2007 Peraturan Pemerintah RI Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran PNBP. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU).05/2007 tentang Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.06/2005 tanggal 27 Desember 2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan APBN. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK. Bagan Perkiraan Modul Penerimaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara jo. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 81/PMK. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Pengesahan dan Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun Anggaran 2008. Peraturan Menteri Keuangan nomor 134/PMK. Peraturan Pemerintah RI Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah RI Nomor 73 Tahun 1999 tentang Tata Cara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu.06/2005 tentang Standar. Peraturan Pemerintah RI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Keputusan Presiden Nomor 72 Tahun 2004.06/2006 tentang Negara.

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan No.78/PB/2006 tentang Penatausahaan Penerimaan Negara melalui Modul Penerimaan Negara. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan No. 112 .66/PB/2005 tentang Mekanisme Pelaskanaan Pelaksanaan Pembayaran atas Beban APBN.

Lampiran 1 Petunjuk Aplikasi RKA-KL untuk membuat DIPA 113 .

Lampiran 2 Petunjuk Aplikasi SPM 114 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful