Etiologi Ulkus diabetik Ada 4 sebab yang menyebabkan ulkus pada kaki diabetik : 1. Infeksi 2. Iskemik 3.

Tekanan abnormal 4. Kontaminasi Kuman – kuman pada infeksi : 1. Staphylococcus aureus  bersifat koagulase positif dan non motil  tidak membentuk spora  koloninyaberwarna kuning, abu-abu  menghasilkan katalase dan koagulase 2. streptococcus pyogenes 

termasuk dalam antigen group A bersifat hemolitik β  menghasilkan 2 hemolisin yaitu streptolisis O yang tidak aktif bila erdapat oksigen dan streptolisis S yang menimbulkan darah hemolitik 3. pseudomonas aeruginosa

     

dapat bergerak dan berbentuk btang gram negatif bersifat aerob obligat memproduksi enzim ekstraseluler mempunyai pili yang menonjol dari permukaan sel memproduksi oksotoksin A yang menyebabkan nekrosis jaringan

Pada umumnya kaki diabetika disebabkan oleh faktor neuropati (82%) sisanya adalah akibat neuroiskemia dan murni akibat iskemia. Kerusakan serabut autonom yang terjadi akibat denervasi simpatik menimbulkan kulit kering (anhidrosis) dan terbentuknya fisura kulit dan edema kaki. terutama adalah trauma akut maupun kronis (akibat tekanan sepatu. deformitas (hammer toes. kaki diabetika dapat dibagi menjadi 3 katagori. Kerusakan serabut sensoris yang terjadi akibat rusaknya serabut mielin mengakibatkan penurunan sensasi nyeri sehingga memudahkan terjadinya ulkus kaki. dan sebagainya) merupakan faktor yang memulai terjadinya ulkus. Faktor lingkungan. claw toes. iskemia neuroiskemia.4. sensoris dan autonom memudahkan terjadinya artropati Charcot. Neuropati perifer pada penyakit DM dapat menimbulkan kerusakan pada serabut motorik. kontraktur tendon Achilles) dan bersama dengan adanya neuropati memudahkan terbentuknya kalus. pes cavus. Gangguan vaskuler perifer baik akibat makrovaskular (aterosklerosis) maupun karena gangguan yang bersifat mikrovaskular menyebabkan terjadinya iskemia kaki. yaitu akibat perubahan patofisiologi. Kerusakan serabut motoris dapat menimbulkan kelemahan otot. Kerusakan serabut motorik. proteus mirabilis   menyebabkan bau ganggren karena menghasilkan amonia bersifat anaerob Patogenesis Ulkus Diabetik Penyebab terjadinya ulkus kaki diabetik bersifat multifaktorial. Keadaan tersebut di samping menjadi penyebab terjadinya ulkus juga mempersulit proses penyembuhan ulkus kaki. halgus valgus. benda tajam. Deformitas kaki sebagaimana terjadi pada neuroartropati Charcot terjadi sebagai akibat adanya neuropati motoris. . penyakit vaskuler perifer dan penurunan sistem imunitas yang berakibat terganggunya proses penyembuhan luka. deformitas anatomi dan faktor lingkungan. Untuk tujuan klinis praktis. sensoris dan autonom. Faktor penyebab tersebut dapat dikatagorikan menjadi 3 kelompok. Perubahan patofisiologi pada tingkat biomolekuler menyebabkan neuropati perifer. atrofi otot. yaitu • • • kaki diabetika neuropati. pes planus.

Perencanaan makanan pada penderita diabetes mellitus masih tetap merupakan pengobatan utama pada penatalaksanaan diabetes mellitus. diharapkan semua komplikasi yang akan terjadi dapat dicegah. yaitu dengan penggunaan obat atau pengelolaan farmakologis.Golongan Biguanid . Sarana pengendalian secara farmakologis pada penderita diabetes mellitus dapat berupa . dan infeksi kronis. Pemberian Insulin Tabel 3. tinggi serat. meskipun sudah sedemikian majunya riset dibidang pengobatan diabetes dengan ditemukannya berbagai jenis insulin dan obat oral yang mutakhir. Perencanaan makanan yang memenuhi standar untuk diabetes umumnya berdasarkan dua hal. PENATALAKSANAAN Pengobatan kelainan kaki diabetik terdiri dari pengendalian diabetes dan penanganan terhadap kelainan kaki. yaitu. salah satu. a). Baru kemudian kalau dengan langkah-langkah tersebut sasaran pengendalian diabetes yang ditentukan belum tercapai. Tinggi karbohidrat.Golongan Insulin Sensitizing b. atau b).6. Tinggi karbohidrat. Langkah awal penanganan pasien dengan kaki diabetik adalah dengan melakukan manajemen medis terhadap penyakit diabetes secara sistemik karena kebanyakan pasien dengan kaki diabetik juga menderita malnutrisi. Dalam mengelola diabetes mellitus langkah yang harus dilakukan adalah pengelolaan non farmakologis.Golongan Sulfonylurea .nya adalah terjadinya gangren diabetik.Golongan Inhibitor Alfa Glukosidase . berupa perencanaan makanan dan kegiatan jasmani. Pengendalian Diabetes. A. penyakit ginjal kronik. paling sedikit dihambat. a. Lama Kerja NAMA GENERIK Harian (mg) DOSIS (jam) Awal (mg) Frekuensi (Kali) . Jenis Obat Hipoglikemik Oral yang tersedia di Indonesia. dilanjut-kan dengan langkah berikutnya.II. tinggi asam lemak tidak jenuh berikatan tunggal. rendah lemak. Diabetes mellitus jika tidak dikelola dengan baik akan dapat menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi kronik diabetes. Jika kadar glukosa darah dapat selalu dikendalikan dengan baik. Pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) .

Acarbose 100-500 500-2000 2.Glikazid . .5 5 40 15 15 24-36 6-12 12-24 10-16 10-20 10-20 6-8 1 2-3 1-2 1-2 1-2 1-3 1-3 150-300 50 - 1-3 B. kuku dan kaki dan penggunaan alas kaki yang dapat melindungi. Pada penderita diabetes mellitus dengan gangguan penglihatan sebaiknya memilih kaos kaki yang putih karena diharapkan kaos kaki putih dapat memperlihatkan adanya luka dengan mudah. Kaidah pencegahan kaki diabetik.Glipizid . kuku dan kaki serta penggunaan alas kaki yang dapat melindungi dapat dilakukan saat penderita datang untuk kontrol.Klorpropamid . yaitu. Edukasi tentang pentingnya perawatan kulit. 3 Perawatan kuku yang dianjurkan pada penderita diabetes mellitus adalah kuku-kuku harus dipotong secara transversal untuk mengurangi risiko terjadinya kuku yang tumbuh kedalam dan menusuk jaringan sekitar.Glibenklamid .Setiap infeksi meskipun kecil merupakan masalah penting sehingga menuntut perhatian penuh . Sepatu atau sandal dengan bantalan yang lembut dapat mengurangi risiko terjadinya kerusakan jaringan akibat tekanan langsung yang dapat memberi beban pada telapak kaki. Pada penderita dengan risiko rendah diperbolehkan mengguna-kan sepatu.Glikuidon BIGUANID .Metformin Inhibitor α Glukosidase .5-20 5-20 80-240 30-120 250-3000 50 2.SULFONILUREA . Strategi pencegahan meliputi edukasi kepada pasien. Penanganan kelainan kaki 1) Strategi pencegahan Fokus utama penanganan kaki diabetik adalah pencegahan terhadap terjadinya luka.Penderita dan keluarganya harus sadar akan penyulit berat pada tungkai . perawatan kulit.Tolbutamid . hanya saja sepatu yang digunakan tidak sempit atau sesak.

batu atau pasir panas dan api .Sepatu harus cukup lebar dan pas . perawatan lokal luka dan pengurangan beban.Dianjurkan memakai kaus kaki setiap saat . Kalus ini terbentuk karena rangsangan dari luar pada ujung jari atau penekanan oleh ujung tulang. . biasanya tidak dapat hanya diatasi dengan pengguna-an alas kaki buatan umumnya memerlukan tindakan pemotongan tulang yang menonjol (exostectomy) atau dengan pembenahan deformitas.Kuku dipotong secara lurus .Berhenti merokok 2) Penanganan ulkus Di klinik dibedakan 2 bentuk ulkus diabetik pada kaki.Alas kaki tanpa pegangan.Kaki harus dilindungi dari kepanasan.Kaki harus dibersihkan secara teliti dan dikeringkan dengan handuk kering setiap kali mandi . pakai kaus kaki . yaitu. dapat dengan menggunakan cermin . Nekrosis terjadi dibawah kalus yang kemudian membentuk rongga berisi cairan serous dan bila pecah akan terjadi luka yang sering diikuti oleh infeksi sekunder. Penanganan ulkus diabetik dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan..Kaus kaki harus cocok dan dikenakan secara teliti tanpa lipatan . Ulkus pada kaki neuropati biasanya terjadi pada kalus yang tidak terawat dengan baik.Kaki harus dilindungi dari kedinginan.Sepatu harus diperiksa setiap hari . Sepatu atau sandal yang dibuat secara khusus dapat mengurangi tekanan yang terjadi. Bila pada kaki terdapat tulang yang menonjol atau adanya deformitas.Kaki harus diinspeksi setiap hari termasuk telapaknya. pita atau tali antara jari . yaitu kaki neuropati dan kaki neuroiskemik. b) Tingkat I : Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius. a) Tingkat 0 : Penanganan meliputi edukasi kepada pasien tentang alas kaki khusus dan pelengkap alas kaki yang dianjurkan.

antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur. imobilisasi yang lebih ketat. d) Tingkat III : Memerlukan debridemen jaringan yang sudah menjadi gangren. dan pemberian antibiotik parenteral yang sesuai dengan kultur. e) Tingkat IV : Pada tahap ini biasanya memerlukan tindakan amputasi sebagian atau amputasi seluruh kaki. amputasi sebagian. .c) Tingkat II : Memerlukan debridemen. perawatan lokal luka dan teknik pengurangan beban yang lebih berarti.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful