You are on page 1of 108

The Ot Danum From Tumbang Miri

Until Tumbang Rungan


(Based on Tatum)

Their Histories And Legends


The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based on Tatum) Their Histories And Legends

© 2010 WWF-Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah

Katalog dalam Terbitan

The Ot Danum From Tumbang Miri Until Tumbang Rungan (Based on Tatum) Their Histories And Legends

ISBN 978-979-1461-07-8

Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menterjemahkan sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa ijin tertulis dari Penerbit.
Penulis : Abdul Fattah Nahan, During Dihit Rampai
Ilustrasi : Dreiyano I. Lindan
Translasi : Liza Fertina Sumirat
Sampul Muka : Hury A S
Desain : Ahda Graphics

Penerbit : WWF-Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah


The Ot Danum From Tumbang Miri
Until Tumbang Rungan
(Based on Tatum)

Their Histories And Legends

ABDUL FATTAH NAHAN and


DURING DIHIT RAMPAI,

With Illustration By
DREIYANO I. LINDAN,

Translation in English By
LIZA FERTINA SUMIRAT
Kata Pengantar
Dalam buku ini kami mencoba mengangkat ceritera Bungai dan Tambun yang merupakan tokoh legenda suku Dayak Ot
Danum yang diperkirakan tertua di wilayah pulau Kalimantan (Borneo).
Di antara tokoh-tokoh suku tersebut diketahui dari mulut ke mulut, beberapa nama yang dianggap mitos (manusia setengah
dewa) dan sudah melegenda di tengah-tengah masyarakat suku Dayak sebab bekasnya dapat dilihat. Namun areal atau situs-situs
pemukiman mereka sudah banyak yang hancur dimakan usia, tetapi lokasinya masih dianggap sakral dan merupakan tempat
larangan dan sampai sekarang tetap lestari.
Pada kesempatan ini pula kami mengharapkan bagi suku Dayak yang merupakan semua turunan Bungai dan Tambun, baik
yang bermukim di hulu sungai Kahayan, Kapuas, Barito, Katingan maupun di daerah lain yang sekarang termasuk cakupan wilayah
Heart of Borneo (HOB), bila dulu Bungai dan Tambun dengan gagah berani mempertahankan komunitasnya dari serangan
lawan, bagi kita sekarang adalah mempertahankan lingkungannya dari kerusakan karena hal tersebut merupakan ancaman bagi
kelangsungan hidup suku Dayak di masa mendatang.
Melalui pengantar ini, kami menyampaikan penghargaan yang mendalam dan ucapan terima kasih atas tersusunnya ceritera
4 Bungai dan Tambun ini kepada Bapak Gubernur Kalimantan Tengah, AGUSTIN TERAS NARANG SH yang telah memberikan
sambutannya.
Tidak lupa kami sampaikan penghargaan kepada WWF Indonesia yang dengan sukarela mendukung mendanai penyusunan
ceritera hingga penerbitannya dan semua pihak yang tidak dapat kami bisa sebutkan satu persatu dalam membantu dan dukungan
serta partisipasinya.
Semoga apa yang kita perbuat dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia yang hidup di bumi ini.

PENULIS/ILLUSTRATOR
DURING DIHIT RAMPAI
ABDUL FATTAH NAHAN
DREIYANO I. LINDAN
Sambutan Gubernur Kalimantan Tengah
Saya menyambut dengan gembira keberadaan buku yang sangat istimewa ini. Isinya mengisahkan beberapa mitos dan legenda
suku Dayak Ot Danum yang sangat bersejarah. Istimewa lantaran tidak hanya dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah Dayak
Ngaju (lingua francanya suku Dayak seluruh Kalimantan Tengah), melainkan pula dalam bahasa Inggeris.
Kebanyakan kisahnya dalam buku ini berkaitan dengan tempat-tempat yang hingga kini masih ada dan masih seperti sediakala.
Saya berharap buku yang memaparkan potensi kabupaten Gunung Mas ini, memberikan kesadaran terhadap pelestarian
budaya dan lingkungan hidup serta meningkatkan kemajuan pariwisata.
Saya ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada WWF Indonesia, para penulis, penterjemah, illustrator dan semua
yang terlibat dalam terbitnya buku ini.

Gubernur Kalimantan Tengah,

5
AGUSTIN TERAS NARANG, SH
Kutak Tampara
Kata Pendahuluan | Preface

Uras kesah huang buku tuh ie te Semua kisah dalam buku ini adalah This is the story about the Dayak
kesah manahiu suku Dayak Ot Danum cerita tentang suku Dayak Ot Danum Ot Danum tribe which lived in the
je melai intu bentuk pulau Kalimantan yang mendiami tengah pulau Kalimantan central area of Kalimantan island (now
(provinsi Kalimantan Tengah wayah (provinsi Kalimantan Tengah sekarang), the Central Kalimantan Province),
tuh), tarutama wilayah kabupaten terutama wilayah kabupaten Gunung specifically in the Gunung Mas district.
Gunung Mas. Eka je wayah tuh inyewut Mas. Kawasan yang sekarang dianggap The areas that are considered part of
kilau atei Borneo ie te kare kabupaten sebagai Heart of Borneo (HOB) adalah Heart of Borneo (HoB) today are
Gunung Mas, Katingan, Murung Raya, kabupaten-kabupaten Gunung Mas, the following districts: Gunung Mas,
Barito Utara tuntang Lamandau. Katingan, Murung Raya, Barito Utara Katingan, Murung Raya, Northern
Kesah huang buku tuh sabujure dan Lamandau. Barito, and Lamandau.
narai je inutur huang Tatum je tikas Cerita dalam buku ini merupakan The story in this book reveals
ilalus huang upacara-upacara tradisional; penuturan secara lisan dalam Tatum the literal expression in Tatum,
6 hayak beken bara te taluh je ingesah awi yang hanya dilaksanakan pada upacara- only exhibited in certain traditional
uluh lewu. upacara tradisional tertentu; disamping ceremony, as well as from what the
Sadang Tatum ie te kesah tamparan apa yang telah diceritakan penduduk villagers had told us.
tuntang panamuei nini datu uluh kampung setempat. Tatum is the origin story of the
Dayak je panyulaka maname wilayah Sedangkan Tatum adalah kisah asal Dayak tribe ancestors’ journey when they
Kalimantan Tengah wayah tuh, inyampai usul dan pengembaraan nenek moyang first entered the Central Kalimantan
huang kutak Sangen atawa Sangiang suku Dayak yang pertama kalinya area today, expressed melancholically in
kilau kakare sair atawa gurindam je imbit memasuki wilayah Kalimantan Tengah Sangen or Sangiang language in verses
hayak tangis tatum. sekarang, dituturkan dalam bahasa and rhymes.
Karen mitos tuntang legenda tuh Sangen atau Sangiang berupa pantun- The myth and legend is well known
jari kesah rakyat je ingasene tutu awi pantun atau bahasa berirama yang among the followers community as the
masyarakat pandukunge ie te manahiu dibawakan dengan meratap. story of the beginning of existence in the
tamparan kalunen intu petak danum Semua mitos dan legenda ini telah Central Kalimantan area, as well as the
Kalimantan Tengah tuh hayak je menjadi cerita rakyat yang sangat two central figures, Bungai and Tambun
tarutama manahiu due biti tokoh dikenal masyarakat pendukungnya yakni that are considered super natural humans
utamaa Bungai tuntang Tambun je mengenai asal usul manusia di bumi and their ancestors.
ingatawan kilau kalunen je mamut Kalimantan Tengah ini serta utamanya Abdul Fattah Nahan, retired
menteng tuntang nini datu ewen. tentang dua orang tokoh sentralnya employee from the Central Kalimantan
Abdul Fattah Nahan, pansiunan Bungai dan Tambun yang dianggap Province, Educational and Cultural
pagawai Dinas Pendidikan dan sebagai manusia super natural dan nenek Office, is also the chairperson of the
Kabudayaan Provinsi Kalimantan moyang mereka. local cultural workshop CENKAISCT
Tengah je kea Ketua Sanggar Budaya Abdul Fattah Nahan, pensiunan (Central Kalimantan Information for
CENKAISCT (Central Kali-mantan : pegawai Dinas Pendi-dikan dan science, Cultural and Tourism) has
Information for Science, Cultural and Kebudayaan Provinsi Kalimantan collected and rearranged the story more
Tourism) jadi mancuba mamumpung Tengah yang juga Ketua Sanggar Budaya fluently.
tuntang manyurate haluli mahapan CENKAISCT (Central Kali-mantan During Dihit Rampai is an active
kutak je murah ingatawan. : Information for Science, Cultural and civilian employee from Dayak Ngaju
During Dihit Rampai, ije biti Tourism) telah mencoba mengumpulkan tribe who now serves in Gunung Mas
pagawai je magun aktif bara uluh Dayak dan menuliskannya kembali dengan district. He has always been concerned
Ngaju je batugas intu kabupaten Gunung bahasa yang lebih luwes. in environmental conservancy. Both
Mas tuntang puji hayak magun paduli During Dihit Rampai, seorang rewrite the transcript into Dayak Ngaju
taharep ihwal pelestarian lingkungan pegawai negeri aktif dari suku Dayak language.
hidup. Ewen due haruyung manyalin Ngaju yang bertugas di kabupaten Dreiyano I. Lindan is an active
uras kesah te kan huang kutak Dayak Gunung Mas dan pernah serta selalu civilian employee from the Dayak
Ngaju. peduli terhadap masalah pelestarian Ma’anyan tribe who is also the cartoonist
Dreiyano I. Lindan, ije biti pagawai lingkungan hidup. Keduanya secara at the local newspaper Dayak Pos, also
bara uluh Dayak Ma’anyan je kea bersama-sama menyalin semua cerita ke played part into illustrating the story
marangkap gawi kilau karikatur koran dalam bahasa Dayak Ngaju. beautifully.
Dayak Pos umba kea baperan huang
kilau mambelum kesah-kesah huang
Dreiyano I. Lindan, seorang pegawai In addition, Liza Fertina Sumirat 7
negeri berdarah suku Dayak Ma’anyan who has helped translating the transcript
buku tuh mahapan illustrasi-illustrasii je yang juga merangkap kerja sebagai into English in hope that someday the
sukup bahalap. karikatur koran Dayak Pos turut pula book will be known worldwide.
Dia kalapean kea ie te gawi bara Liza berperan dalam menghidupkan cerita- Without the help from Didiek
Fertina Sumirat je hayak kapehe mawii cerita dalam buku ini dengan illustrasi- Surjanto of WWF Indonesia Central
manyalii kan huang kutak Inggeris, illustrasinya yang cukup menawan. Kalimantan representative, this action
hingga dia je mastahil buku tuh cagar Tidak lupa pula adalah peranan dari also will not be possible. Hope this will
ingatawan uluh luar nagari. Liza Fertina Sumirat yang dengan susah be beneficial as an act for conserving
Amun jatun panduhup bara payah menterjemahkannya ke dalam the environment and managing the
tamparaa awi Didiek Surjanto je bagawi bahasa Inggeris, sehingga tidak mustahil resources.
huang WWF Indonesia Perwakilan buku ini bakal mendunia.
Kalimantan Tengah, tantu gawi tuh dia Tanpa bantuan sejak awalnya dari
baka jadi. Semoga gawi tuh hai gunaa Didiek Surjanto yang bekerja pada WWF
huang itah malestarikan lingkungan Indonesia Perwakilan Kalimantan
hidup tuntang mangalola sumber daya Tengah, pasti kegiatan ini tidak akan
alam. terlaksana. Semoga upaya ini besar
manfaatnya dalam kita melestarikan
lingkungan hidup dan mengelola sumber
daya alam.
1 Lambung Intu Rangan Marau
Lambung di Rangan Marau | Lambung at Rangan Marau

Uras uluh Dayak mimbing ije Seluruh orang Dayak berkeyakinan Every Dayak believes that their
kayakinan ie te tatu hiang ewen dumah bahwa nenek moyang mereka berasal dari ancestor came from the sky brought
bara langit je impamuhun kan batang langit yang diturunkan ke dunia dengan down to Earth using a golden pot (which
danum kalunen mahapan palangka wadah emas (sekaligus merupakan was the heavenly transportation) in four
bulau intu epat eka. kendaraan angkasa) di empat tempat. separate locations.
Awi kanahuang Ranying Hatalla Atas kehendak Ranying Hatalla By the will of Ranying Hatalla
Langit (Hatalla) hayak palangka bulau Langit (Tuhan) dengan wadah emas itu Langit (God), using the golden pot
8 te impamuhun ih ije hatue (sabujure diturunkanlah seorang lelaki (sebenarnya was a man (who was actually a god or
Sangiang atawa dewa) bagare Antang Sang Hyang atau dewa) bernama Antang Sang Hyang), named Antang Bajela
Bajela Bulau (manumun Tatum) atau Bajela Bulau (menurut Tatum) atau Bulau, (according to Tatum) or Tunggul
Tunggul Garing Janjahunan Laut Tunggul Garing Janjahunan Laut Garing Janjahunan Laut (according to
(manumun Mahanteran, huang upacara (menurut Mahanteran, dalam upacara Mahanteran, in the ceremony for the
pampatei Tiwah) intu Tantan Puruk kematian Tiwah) di Puncak Bukit deceased Tiwah) on top of the Pamatuan
Pamatuan, ije pamatang helat hulu Pamatuan, suatu dataran tinggi antara hill, somewhere between the river of
batang danum Kahayan tuntang hulu hulu sungai Kahayan dan sungai Barito. Kahayan and Barito.
batang danum Barito. Dengan kesaktiannya Antang Bajela With his power, Antang Bajela
Hapan kasaktii Antang Bajela Bulau Bulau menciptakan dua orang lelaki Bulau created two men named Lambung
mawi due hatue je inggaree Lambung yang dinamainya Lambung dan Lanting and Lanting (in Mahanteran they are
tuntang Lanting (huang Mahanteran (dalam Mahanteran mereka itu adalah Maharaja Bunu and Maharaja Sangen).
ewen te Maharaja Bunu tuntang Maharaja Bunu dan Maharaja Sangen). While on top of a black granite (as
Maharaja Sangen). Sedangkan di atas batu granit hitam the black fur of a tangkasiang bird) in
Sadang intu Datah Tangkasiang (seperti warna hitam bulu burung the upstream of Rakaui river which
Rakaui Malahui (metuh tuh tame tangkasiang) di hulu sungai Rakaui yang ends in Malahui river (now part of West
wilayah Kalimantan Barat), Ranying bermuara di sungai Malahui (sekarang Kalimantan), God created two bird
Hatalla Langit mampamuhun due termasuk daerah Kalimantan Barat), eggs (a hornbill and an eagle) which on
kabawak tanteluh burung (tingang Tuhan menurunkan dua butir telur their arrival to Earth was transformed
tuntang antang) je hayak sampai petak burung (enggang dan elang) yang ketika into a man and three women. The man
balalu basaluh jari ije biti hatue tuntang sampai di tanah menjelma menjadi
9

Gbr. 1. Lambung di depan betangnya memandang jauh ke depan,


sebenarnya ia sayang tinggalkan tempat ini.
telu biti bawi. Je hatue bagare Litih seorang lelaki dan tiga orang perempuan. named Litih or Tiung Layang, who
atawa Tiung Layang, kajaria jari Jata Yang lelaki bernama Litih atau Tiung then became Jata (the under water ruler,
(melai tuntang bakuasa intu penda Layang, kemudian menjadi Jata the god of the under world), while the
danum), sadang katelu bawi te genep (mendiami dan menguasai dunia dalam three women were named Kamulung
bitin ewen bagare Kamulung Tenek air, dewa alam bawah), sedang ketiga Tenek Bulau, Kameluh Putak Bulau, and
Bulau, Kameluh Putak Bulau tuntang perempuan itu masing-masing bernama Lentar Katingei Bulau.
Lentar Katingei Bulau. Kamulung Tenek Bulau, Kameluh Putak Kameluh Putak Bulau died, and her
Kameluh Putak Bulau matei Bulau dan Lentar Katingei Bulau. body was set adrift to the sea until it
tuntang hantuu bahantung kan tasik hai Kameluh Putak Bulau meninggal reached the island of Mako. However,
kajaria sampah intu pulau Mako. Awi dunia, dan mayatnya hanyut ke laut her brother Jata, brought her back to life
paharii Jata, ie impabelum tinai limbah hingga terdampar di pulau Mako. Namun after giving her the water of life.
impamihup akaa Danum Kaharingan oleh saudaranya Jata, ia dihidupkan God also sent the golden pot into the
Belum. kembali sesudah diminumkan untuknya cave of Mangan, on top of the Keminting
Limbah te Ranying Hatalla Langit air kehidupan. hill, and there he was Karangkang (in
mampamuhun hindai palangka Setelah itu Tuhan menurunkan lagi Mahanteran, Maharaja Sangiang), while
bulau intu Liang Mangan Tantan wadah emas di Gua Mangan Puncak on top of the Kambang Tanah Siang hill,
Puruk Kaminting tuntang lembut Bukit Keminting dan terciptalah God created a woman named Sikan.
ih Karangkang (huang Mahanteran Karangkang (dalam Mahanteran : When Lanting and Karangkang met
: Maharaja Sangiang). Sadang intu Maharaja Sangiang). Sedangkan di
10 Tantan Puruk Kambang Pulau Siang, Puncak Bukit Kambang Tanah Siang,
in their journey, they both decided to
go towards Datah Tangkasiang Rakaui
Ranying Hatalla Langit mampamuhun Tuhan menurunkan seorang perempuan Malahui and met the two women who
ije biti uluh bawi je araa Sikan. yang namanya Sikan. lived there.
Sana Lanting tuntang Karangkang Begitu Lanting dan Karangkang Lanting got married to Lentar
hasupa intu huang panamuei ewen te, bertemu di dalam pengembaraan mereka, Katingei Bulau, while Karangkang made
ewen due palus hapakat hayak mananjung mereka berdua lalu sepakat bersama- Kamulung Tenek Bulau to be his wife.
mangguang Datah Tangkasiang Rakaui sama berjalan ke Datah Tangkasiang
Lambung who was later catching up
Malahui tuntang hasupa dengan due biti Rakaui Malahui dan berjumpa dengan
on Lanting did not get a wife, and so he
uluh bawi je melai hete. kedua perempuan yang tinggal di sana.
traveled the river of Rakaui, down to
Kajaria Lanting hinje dengan Lentar Akhirnya Lanting kawin dengan the river of Malahui, until the Kapuas
Katingei Bulau, sadang Karangkang Lentar Katingei Bulau, sedangkan Buhang River.
manduan Kamulung Tenek Bulau akan Karangkang menjadikan Kamulung
In Kapuas Buhang he met a lovely
kabalii. Tenek Bulau sebagai isterinya.
woman who claimed that she was bawin
Lambung je rahian manuntut Lambung yang kemudian menyusul kangkamiak (a phantom, spirit) and
Lanting dia dinun jodoh, balalu ie Lanting tidak mendapat pasangan, refused to married Lambung. She then
manamuei bara sungei Rakaui tuntang hingga ia mengembara dari sungai suggested Lambung to go to the island
masuh sungei Malahui sampai kan Rakaui dan menghiliri sungai Malahui of Mako in search of a woman who is
batang danum Kapuas Buhang. destined for him.
Intu tumbang batang danum Kapuas sampai ke sungai Kapuas Buhang. Lambung followed the direction
Buhang ie hasupa ije biti bawi bahalap Di muara sungai Kapuas Buhang and there he met Kameluh Putak Bulau
je mansanan arepe bawin kangkamiak ia bertemu seorang wanita cantik yang and took her as his wife. They had five
tuntang dia maku ingawin Lambung, menyatakan dirinya adalah bawin children named Sempung (Bungai’s
ie haream manyuhu mangat Lambung kangkamiak (hantu beranak, kuntilanak) father), Serupoi (Tambun’s father), Nyai
haguet kan pulau Mako, manyupa ije dan menolak untuk dikawini Lambung, Entan, Nyai Rambu, and Kumpang.
bawi je puna jadi jodoh ayu. ia malah menyarankan agar Lambung After several decades, Lambung felt
Lambung manumun auh te tuntang pergi ke pulau Mako, menemui seorang that he missed his brothers in Borneo,
kajaria hasupa Kameluh Putak Bulau wanita yang memang sudah jodohnya. which he had left many years ago. He
hayak mandua akan kabalii. Ewen dinun Lambung mengikuti petunjuk itu dan then took his family to go back with
anak lime biti ie te Sempung (amai akhirnya bertemu Kameluh Putak Bulau him, apart from Sempung who still had
Bungai), Serupoi (amai Tambun), Nyai serta mengambilnya sebagai isterinya. his learning in the China.
Etan, Nyai Rambu, dan Kumpang. Mereka mendapat anak lima orang yakni Lambung went back using his old
Papire puluh nyelu limbah te Sempung (ayah Bungai), Serupoi (ayah path, but then he chose to stay in Rangan
Lambung taharu dengan kawan paharii Tambun), Nyai Etan, Nyai Rambu, dan Marau, a highland with fertile soil in the
intu Borneo je jadi tahi lihii. Ie balalu Kumpang. upstream Joloi River that ends between
mimbit uras kulawargaa buli, suali Beberapa puluh tahun kemudian the rivers of Barito and Kahayan.
Sempung je nahaja balihi helu awi tege Lambung rindu pada saudara- It is from the Lambung’s family that
je handak inuntute huang lewu Cina te. saudaranya di Borneo yang sudah lama the descendants will then be known 11
Manyalurui awan pangguete bihin ditinggal-kannya. Ia lalu mengajak for their habitation living in between
Lambung buli, tapi akan leka manetep seluruh keluarganya kembali pulang, the great rivers of Barito, Kahayan,
ie mintih Rangan Marau, ije lungkuh kecuali Sempung yang dengan sengaja Kapuas, and Katingan, from which thus
je petake subur intu huang pahuluan tinggal dahulu sebab ada yang ingin called the Ot Danum tribe (Ot means
helat sungei Joloi je bamuara intu batang dipelajarinya di negeri Cina itu. upstream, Danum means water or river)
danum Barito tuntang batang danum Melewati jalur kepergiannya semula
Kahayan. Lambung kembali, namun untuk tempat
Babuhan Lambung tuh je utuse menetap ia memilih Rangan Marau,
kareh rahian andau basewut awi leka suatu dataran tinggi yang tanahnya subur
melai intu pahuluan sungei-sungei je di perhuluan antara sungai Joloi yang
hai ie te batang danum Barito, Kahayan, bermuara di sungai Barito dan sungai
Kapuas tuntang Katingan, je inyewut Kahayan.
suku Ot Danum (Ot rimaa hulu, Danum Keluarga Lambung inilah yang
rimaa air atawa sungai). keturunannya nanti di kemudian hari
terkenal karena habitatnya yang berada
di perhuluan sungai-sungai besar yakni
sungai Barito, Kahayan, Kapuas dan
Katingan, yang disebut suku Ot Danum
(Ot berarti hulu, Danum berarti air,
sungai).
2. Pandumah Sempung
Kedatangan sempung | Sempung’s Arrival

Bara kesah je helu mansanan Dari cerita sebelumnya menyatakan Previously, it was mentioned that
Sempung katutu anak tambakas bara Sempung sebenarnya adalah anak tertua Sempung is the oldest son of Lambung
Lambung dengan kabalii Kameluh dari Lambung dan isterinya Kameluh and his wife, Kameluh Putak Bulau.
Putak Bulau. Metuh Lambung buli kan Putak Bulau. Ketika Lambung kembali When Lambung went back to Borneo,
Borneo, Sempung mangkeme angate ke Borneo, Sempung merasa terpanggil Sempung felt that it was his calling to
tatehau akan manggau pangatahuan. untuk menuntut ilmu. acquiring knowledge.
Ie haguet kan lewu Cina, balajar Ia pergi ke negeri Cina, untuk belajar He went to the Chinese motherland
12 kakare pangatahuan intu hete. Bara seni berbagai macam ilmu di sana. Dari seni and studied numbers of discipline. From
mambela diri, pangatahuan baperang, bela diri, ilmu berperang, masalah mesiu, self-defense, the art of war, gun powder
tahiu sandawa, malan, bakabun, pertanian, perkebunan, pertukangan, knowledge, agriculture, carpentry,
batukang, parbintangan, palayaran, perbintangan, pelayaran, perniagaan astronomy, navigation, business trading,
badagang sampai kilen ampi manampa sampai bagaimana cara membuat until how to make a pot, mine gold, etc.
balanga, mandulang amas tuntang je tempayan, menambang emas dan sebagai- Until he felt his knowledge is sufficient,
beken-beken. Limbah jadi sukup kamea nya. Sesudah cukup rasanya semua he then decided to go back to see his
taluh te, ie balalu buli mangguang itu, ia pun lalu pulang mendapatkan family again.
tundah kulaa. keluarganya. Perhaps because he spent years in
Hirah awi sukup katahie melai intu Mungkin karena cukup lama berada China, and he was white, accompanied
kanih hayak pupuse baputi impahayak di sana serta kulit berwarna putih disertai with some of his friends who are native
papire biti kakawale puna uluh Cina, beberapa orang temannya yang memang Chinese, people would presume that he
ie balalu indawa uluh Cina. Tuh kesah orang Cina, ia lalu dikira orang Cina. was also Chinese. Here is some other
beken manahiu eweh Sempung ? Berikut versi lain mengenai siapakah version about who is Sempung actually.
Catatan bakas bara Tiongkok Sempung ? An old Chinese manuscript
mansanan ihwal pandumah ije Manuskrip kuno Tiongkok menyebut- mentioned about the arrival of a group
kalompok ulun bara daerah provinsi kan tentang mendaratnya sekelompok of Chinese from the Yunan Province
Yunan (RRC) intu saran laut hila utara suku dari daerah provinsi Yunan (RRC) (China) on the northern beach of
pulau Borneo, intu sakitar 700 nyelu di pantai utara pulau Borneo, pada sekitar Borneo around 700 BC, under the
limbah Masehi penda pimpinan Sam 700 tahun sesudah Masehi dibawah commander Sam Hau Fung. They went
Hau Fung. Ije sungei intu daerah Sabah pimpinan Sam Hau Fung. Sebuah sungai through a river in Sabah area until the
13

Gbr. 2. Kedatangan Sempung di Rangan Marau disambut sanak


saudaranya dengan penuh kehangatan.
iname ewen sampai kan huluu, sungei te di daerah Sabah mereka masuki sampai upstream which they named the river
balalu inggare ewen sungei Miri. ke hulunya, sungai itu lalu dinamakan Miri.
Limbah papire katika katahie melai mereka sungai Miri. After some time, Sam Hau Fung felt
intu hete Sam Hau Fung mangkeme Sesudah beberapa lama menetap di uncomfortable in that area. The forest
dia mangat. Puna himbaa tutu bajikut tempat itu Sam Hau Fung merasa tidak was very thick and they only had meat
tuntang panginan ewen tatarusan tikas kerasan. Memang hutannya sangat lebat for meal from hunting.
daging bewei bara pandinun mengan. dan makanan mereka melulu hanya He wanted to find a fertile land to
Ie handak manggau pamatang je daging dari hasil berburu. plant crops. Through the jungle between
subur eka malan manana. Mahalau Ia ingin mencari suatu dataran yang Sabah and Sarawak (eastern Malaysia),
padang himba daerah Sabah tuntang subur tempat bercocok tanam. Menerobos he was held back by a mountainous
Sarawak (Malaysia Timur), ie tantarang hutan rimba belantara daerah Sabah dan area now we call the Muller-Schwanner
akan pulau puruk je wayah tuh ingasene Serawak (Malaysia Timur), ia terbentur mountains.
itah dengan sewutan pegunungan pada gugusan pegunungan yang sekarang The heroic journey ended up in the
Muller-Schwanner. kita kenal dengan sebutan pegunungan valley of Kaminting hill, somewhere in
Parjalanan je tamam te kajaria Muller-Schwanner. the upstream of Joloi River, which ends
sampai intu ije lembah intu pain puruk Perjalanan yang heroik itu berakhir in the rivers of Barito and Kahayan,
Kaminting, ije daerah intu hulu helat pada suatu lembah di kaki bukit which called Rangan Marau.
sungei Joloi je bamuara kan batang Kaminting, suatu daerah di hulu According to Tatum (the ode of
14 danum Barito tuntang batang danum antara sungai Joloi yang bermuara di Dayak), Sempung or Sam Hau Fung had
Kahayan je bagare Rangan Marau. sungai Barito dan sungai Kahayan yang met his father Lambung. Here Sam Hau
Manumun Tatum (babad Tanah bernama Rangan Marau. Fung settled and married a local young
Dayak), Sempung atawa Sam Hau Fung Menurut Tatum (babad Tanah woman named Nyai Endas, daughter of
jadi hasupa dengan bapaa Lambung. Dayak), Sempung atau Sam Hau Karangkang, one of the elders of The Ot
Intu hetuh Sam Hau Fung balalu Fung telah bertemu dengan bapaknya Danum tribe in Rangan Marau, which
manetep tuntang kawin dengan ije biti Lambung. Di tempat ini Sam Hau Fung was also one of his father’s good friend.
lalu menetap dan kawin dengan seorang
bawi intu hete bagare Nyai Endas anak If Sam Hau Fung was a true Chinese,
gadis di situ bernama Nyai Endas anak
bara Karangkang, ije biti tambakas suku dari Karangkang, salah seorang tetuha then he blended in just fine. The young
Dayak Ot Danum intu Rangan Marau suku Dayak Ot Danum di Rangan Marau people of Dayak welcome everyone to
tuh je puna kawal bapaa Lambung. ini yang memang sahabat bapaknya their community, and Sam Hau Fung
Amun Sam Hau Fung puna tutu Lambung. accepted as family. Because of the local
ije biti uluh Cina, maka tarjadi ije Seandainya Sam Hau Fung benar dialect, Sam Hau Fung then became
pembauran je bajalan dengan kahalape. seorang etnis Cina, maka terjadilah suatu Sempung.
Kawan tabela bawi hatue uluh Dayak pembauran yang berjalan dengan harmo-
ulih manarima eweh bewei dia nis. Pemuda pemudi suku Dayak dapat
manampayah parbedaa. Sam Hau Fung menerima siapa saja tanpa memandang
inarima kilau tundah jalahan, araa kana perbedaannya. Sam Hau Fung diterima
verbastering haranan dialek setempat sebagai keluarga, namanya mengalami
verbastering (proses pelafalan) akibat
manjadi Sempung.
dialek setempat menjadi Sempung.
3. Asang bara rangan pulang
Asang dari rangan pulang | Asang From Rangan Pulang

Hung sinde andau papire biti uluh Pada suatu hari beberapa orang lelaki One day, a number of men under the
hatue intu penda pimpinan Lambung dibawah pimpinan Lambung dari dusun leadership of Lambung from Rangan
bara dukuh Rangan Marau te haguet Rangan Marau itu pergi berburu ke Marau village went hunting into the
mengan kan huang himba. dalam hutan. forest.
Huang pangguet te, ewen hasupa Dalam perjalanan itu, mereka On their journey, they met another
dengan kawan pamengan je beken, je bertemu dengan rombongan pemburu group of hunters that looked like they
gitan ampii baasal bara daerah batang lainnya, yang terlihat nampaknya are from the Mahakam River area
danum Mahakam (Kalimantan Timur). berasal dari daerah sungai Mahakam (eastern Kalimantan). They are very 15
Ewen tutu tabela, jikau gitan bara bauu (Kalimantan Timur). Mereka sangat young; it was obvious from their faces
tuntang abas balinga tutu. muda, jelas terlihat dari wajahnya serta and very agile.
Hasupa dengan ewen tuh ampii sangat gesit sekali. However, they were not being
ewen dia mamparahan langkasa je Bertemu dengan mereka ini friendly; they even tried to kill some of
bajenta, tambalik haream ewen bara kelihatannya tidak menunjukkan sikap Lambung’s men.
Mahakam tuh ampi mancuba handak ramah, namun sebaliknya malah mereka A hostile battle was unavoidable.
mampatei anak buah Lambung. dari Mahakam ini nampaknya mencoba Thanks to their swiftness, Lambung’s
Amuk kalahi dia ulih hakan tuntang untuk membunuh anak buah Lambung. men were able to counteract the
awi kaabas Lambung hayak uluh ayuu, Perkelahian sengit tidak dapat opponent’s group. The killed everyone in
genep biti kawan pamengan te uras dihindari dan berkat ketangkasan the group, except one man.
matei. Baya ije tabela inalua belum. Lambung serta anak buahnya, seluruh Lambung said, “Young man, go
Lambung hamauh : “Tabela, buli ih rombongan pemburu itu semua terbunuh. back to your village in Mahakam,
ikau kan lewum intu Mahakam kanih Hanya seorang pemuda dibiarkan hidup. and let them know that your friends
tuntang nyarita tahiu kakawalam je Lambung berkata : “Anak muda, were murdered because of their cruel
lepah matei awi tiruke kabuat je papa. pulanglah kau ke desamu di Mahakam intention. Remember not to let this
Bingat ! Ela sampai taulang hindai tiruk sana dan ceritakan bahwa teman- happen again to us, the people of Rangan
kilau tuh taharep ikei uluh lewu Rangan temanmu habis terbunuh akibat niatnya Marau village. We fear no one. We seek
Marau. Ikei dia mikeh taharep eweh sendiri yang keji. Ingat ! Jangan sampai no enemy, yet we found one, we do not
bewei. Musuh dia inggau, amun hasupa terulang lagi niat seperti ini terhadap retreat”. Lambung then told the boy to
go back to his village.
isen mulang”. Limbah te Lambung kami orang dusun Rangan Marau. Several years after the bloody
manyuhu tabela te buli akan lewuu. Kami tidak takut terhadap siapapun. incidents, there are news that the people
Papire nyelu limbah kajadian Musuh tidak dicari-cari, kalau bersua from the Mahakam River was actually
badaha te, tahining kabar je uluh bara pantang mundur”. Kemudian Lambung from Rangan Pulang were going to
batang danum Mahakam te je katutu menyuruh anak muda itu pulang ke mengayau, (a person’s act, or worse to cut
lewu Rangan Pulang, handak haguet kampungnya. off one’s head) in the intention to have
mangayau (gawi ije biti atawa baare Beberapa tahun kemudian setelah revenge to Rangan Marau.
16 je kajam, manetek takuluk musuhe) kejadian berdarah itu, terdengar berita
mambaleh bunu kan Rangan Marau. bahwa orang-orang dari sungai Mahakam
itu sebenarnya desa Rangan Pulang, akan
pergi mengayau (perbuatan seseorang
atau lebih yang kejam, memotong kepala
musuhnya) untuk membalas dendam ke
Rangan Marau.
17

Gbr. 3. Lambung meloncat menerjang kawanan asang yang


menyerang desanya Rangan Marau.
4. Utus lambung halisang
Pindahnya keturunan lambung
Lambung’s Decendants Migration

Tahininge kabar tahiu rancana Terdengarnya berita mengenai After hearing news that the people
penyerangan uluh bara batang danum rencana penyerangan orang-orang dari of Mahakam River would attack Rangan
Mahakam taharep uluh lewu Rangan sungai Mahakam terhadap penduduk Marau villagers, Sempung soon gathered
Marau, Sempung balalu gulung desa Rangan Marau, maka Sempung everyone in the village and discussed the
mamumpung uras uluh lewuu te basara segera mengumpulkan seluruh warga situation. From the group discussion,
maatur kapakat manaharepe. Huang desanya itu berembuk mengatur they decided that they all should move
basara te kambulat pakat ewen te, uka kesepakatan menghadapinya. Dalam out in search for a better and safer
18 halisang ih manggau eka je bahalap musyawarah tersebut bulat mufakat location.
tuntang aman. mereka itu, agar pindah saja mencari At that time, there were only 13
Metuh te dukuh Rangan Marau tempat yang baik dan aman. families with populations at about 300
terdiri bara 13 kulawarga bewei kakare Saat itu dusun Rangan Marau terdiri people. Among those families, there was
300 biti, bara jete ije kapala kulawarga dari 13 keluarga saja berjumlah 300 a woman who acted as the head of the
uluh bawi. Tapi je katutu ewen te uras jiwa, diantaranya seorang kepala keluarga family. However, it was clear that they
anak manantu Lambung, je wayah tuh adalah wanita. Tapi yang jelas mereka are Lambung’s children and in-laws who
jadi bakas tuntang haban baka haban. semua adalah anak menantu Lambung, were already old and in poor health.
Sempung maniruk, amun ewen tetep yang kini sudah tua dan sakit-sakitan. Sempung thought that if they stayed
tege hete dia mustahil uras kareh lepah Sempung berpendapat, jika mereka there, it is most probably that they are all
matei. Huang kalisang kareh ewen te tetap berada di sana tidak mustahil going to be murdered. In their journey,
hapisah, genep kapala kulawarga kilau semuanya nanti akan lumat. Dalam they would spread out, and every head
pamimpin kalompok. Je tuh hapan perpindahan nanti mereka akan of the family would become the leader of
mahaga uka ras (suku bangsa) tuh dia berpencar, setiap kepala keluarga the group. The objective was to prevent
uras lepah munat. merupakan pemimpin kelompoknya. Ini the whole race (tribe) from vanishing.
Ewen manatap akan haguet, tapi uras guna menghindari agar ras (suku bangsa) They were preparing to take off; even
baniat tuntang bajanji ie te aluh kareh ini tidak seluruhnya musnah. though that they would be apart from
hapisah magun tetep kambulat huang Mereka bersiap untuk pergi, namun one another, they all decided that they
kapakat. Leka je intih genep kapala semuanya bertekad dan berjanji yakni would always stick as one. The future
kulawarga akan kalompok ayu kareh walaupun nantinya akan berpisah tetapi home of every head of the family would
dia jadi panghalang akan ewen saling tetap satu dalam kesepakatan. Kediaman not be a barrier for them to stay in touch
bahubungan tuntang saling haduhup. yang dipilih setiap kepala keluarga untuk and helping one another.
19

Gbr. 4. Sempung mengajak para kepala keluarga berunding untuk


merencanakan kepindahan ke tempat yang aman.
Akan malalus hubungan genep kelompoknya nanti bukan penghalang To communicate to one group and
kapala kulawarga atawa kalompok tuh untuk mereka saling berhubungan dan another they established totok bakaka
lah maka inampa kea totok bakaka saling membantu. (sign language). If a group sent out lunju
(bahasa isyarat). Amun ije kalompok Untuk melaksanakan komunikasi di (a spear), it means help us, the whole
mampait lunju rima gulung duhup ikei antara kepala keluarga atau kelompok group is in need of help. If they sent
uras suku huang bahaya. Mampait ewah inilah maka disusun pulalah totok bakaka ewah (underwear), it means that one of
(salawar huang) je putinge imapui rimaa (bahasa isyarat). Jika suatu kelompok the elders in the family had passed away.
tege uluh bakas kula warga je malihi. mengirimkan lunju (tombak) berarti Just as the incident happened a few
Kilau intu Kalimantan Barat bihin bantulah kami segera seluruh suku dalam years ago in the West Kalimantan, when
hung papire nyelu je mahalau metuh bahaya. Mengirim ewah (celana dalam) a dispute between the Dayak and the
tarjadi konflik etnis antara suku Dayak yang ujungnya dibakar berarti ada tetuha Madura took place, it was the sending of
dengan suku Madura, ingatawan tege keluarga kita meninggal dunia. red bowl hat means asking for help, for
20 pampait mangkuk bahandang, je the situation has grown in grave danger.
Seperti di Kalimantan Barat dahulu
rimaa balaku duhup awi kaadaan tutu pada beberapa tahun yang lalu ketika
babahaya. terjadi konflik etnis antara suku Dayak
dengan suku Madura, dikenal adanya
pengiriman mangkok merah, yang
artinya minta bantuan karena situasi
sangat berbahaya.
5. Manajah antang
Memanggil burung elang | Calling The Eagle

Suku Dayak Ot Danum kilau suku Suku Dayak Ot Danum seperti suku The Ot Danum tribe is like the
Indian huang Amerika. Ewen parcaya Indian di Amerika. Mereka percaya Indians of America. They believed that
dewa-dewaa tuntang karen laluhure dewa-dewanya dan para leluhurnya their gods and ancestors would always
tatap tukep ewen huang pambelume tetap mendampingi mereka dalam guide them in their life on Earth.
intu batang danum kalunen. Ampin kehidupannya di dunia. Bentuk kedekatan The faith occurred in the form of the
katukep kau tau kilau tamee karen liau je tersebut dapat berupa masuknya roh-roh possession, one’s spirit flow into another
bahalap te, kan huang biti mahluk belum suci tersebut, ke dalam tubuh mahluk being’s body, for example, a bird.
je beken, kilau burung. hidup lainnya, seperti burung. Because the language between man 21
Awi kutak burung tuntang kalunen Karena bahasa burung dan manusia and birds did not match, man tried to
dia rasuk, maka kalunen mancuba tidak cocok, maka manusia mencoba guess the meaning the message the bird
manahiu mariman peteh burung kau untuk menafsirkan pesan burung tadi brought from the way it flew, or the
bara kare gerek tarawanga, hiau auhe dari gerakan terbangnya, bunyi suaranya sound it made, or with other means
atawa hapan panduhup taluh beken je atau dengan bantuan sarana lain yang available.
inyadia. disediakan. Thus, they asked for help or
Haranan te ewen balaku duhup Sebab itu mereka memohon bantuan direction from antang (the eagle) by
atawa patunjuk bara antang dengan atau petunjuk dari antang (burung elang) performing the ceremony of manajah
mampendeng upacara manajah antang dengan melaksanakan upacara manajah antang (manajah means foreseeing).
(manajah rimaa manenung). Sahelu antang (manajah artinya meramal). Prior to that, they would build three
bara te ewen mantejek telu kabatang Sebelumnya mereka mendirikan tiga direction poles (called patinju), from
jihi patunjuk arah (inyewut patinju) je batang tiang petunjuk arah (disebut which on top of the pole, they would set
intu tapakan hunjuu inenga eka akan patinju) yang di ujung atasnya diberi a place for the eagle to land, and decorate
antang tingkep kareh hayak hiasaa kilau tempat untuk burung elang hinggap it with a simple plain fabric, colored
ije katetek benang polos biasaa bawarna nantinya serta hiasannya berupa sepotong yellow, black, or green.
bahenda, babilem atawa bahijau. kain polos biasanya berwarna kuning, Patinju and the color of the fabric
Patinju tuntang warna benang hitam atau hijau. would lead to which direction they
te mamparahan arah kakueh kareh Patinju dan warna kain itu should go. The three poles point out to
ewen handak batulak. Katelu patinju menunjukkan arah ke mana nantinya a single direction, which was the rivers of
je impendeng manunjuk ije arah ie te mereka akan pergi. Ketiga patinju yang Kahayan, Samba, and Katingan.
batang danum Kahayan, sungei Samba didirikan menetapkan satu arah yakni It turned out, on the arrival of the
tuntang batang danum Katingan. sungai Kahayan, sungai Samba dan eagle, it landed on the patinju with
Tarnyata limbah antang te dumah, sungai Katingan. yellow fabric pointing towards the river
je iningkepe ie te patinju hayak hiasaa Ternyata setelah burung elang of Kahayan.
benang bahenda je mamparahan arah datang, yang dihinggapi-nya adalah From the ceremony of manajah
batang danum Kahayan. patinju dengan hiasannya kain kuning antang they decided that they all should
Limbah katetep arah halisang ewen yang menunjukkan arah sungai Kahayan. pack and go towards the direction
22 te dinun bara gawi manajah antang te, Sesudah ketetapan arah kepindahan pointed out by the eagle.
balalu uluh dukuh Rangan Marau te mereka diperoleh dari hasil manajah They brought all their belongings
basasimpun ih. antang itu, lalu penduduk dusun Rangan with them, and ones that they could not
Uras panatau je ulih inggatang imbit Marau pun berkemaslah. afford to carry, like their houses, burned
tuntang je dia ulih ihir kilau huma melai Semua harta benda yang dapat down to ashes.
inusul ewen. diangkut dibawa dan yang tidak dapat
diseret seperti rumah kediaman dibakar
mereka.
23

Gbr. 5. Mencari petunjuk daerah pemukiman baru yang ingin dituju


mereka manajah antang (memanggil burung elang).
6. Manampa lanting batalatap
Membuat rakit beratap | Making A Roofed Raft

Hung sinde andau je manumun Pada suatu hari yang menurut On a day they considered a good day,
tiruk ewen bahalap, babuhan Rangan pendapat mereka baik, penduduk Rangan the people of Rangan Marau set out on
Marau te haguet malihi dukuhe. Ewen Marau itu pergi meninggalkan dusunnya. a journey to leave their old village. They
mananjung pai mahalau padang himba je Mereka berjalan kaki menempuh walked through a thick forest, up and
paham bajikut, mandai tuntang muhun hutan rimba yang lebat, mendaki dan down the mountains, crossing the rivers
puruk, mahalau luau tuntang dimpah menuruni gunung, melintasi lembah dan and valleys, to the southwest direction,
sungei, manuju kan hila liwa pambelep menyeberangi sungai, menuju ke arah which was the Kahayan River.
24 ie te batang danum Kahayan. barat daya yaitu sungai Kahayan. All adult men and women were
Genep biti tarutama hatue tuntang Semua orang terutama lelaki carrying heavy burdens on their
bawi je jadi bakas mumah mimbit je dan perempuan dewasa mengangkat shoulders, which was their belongings
palar kabehate, ie te panatau tuntang membawa beban yang cukup berat, yakni and rations for their journey.
sangu ewen huang parjalanaa. harta benda dan perbekalan mereka After spending days going through
Limbah bapuluh andau mahalau dalam perjalanannya. the jungle, they finally reached the river
padang himba je paham bajikut, sampai Setelah berpuluh hari melintasi of Miri, which ends in the Kahayan River.
kea ewen intu sungei Miri, je manumbang hutan lebat, sampailah mereka di sungai They named the place Marangai, which
kan batang danum Kahayan. Leka te Miri, yang bermuara ke sungai Kahayan. means spacious, where the Harowu
inggare ewen Marangai rima salawah, Tempat itu dinamakan mereka Marangai village now takes place. While the river
letak leka te tukep lewu Harowu wayah artinya lega, letak tempat itu dekat desa Sempung named Miri because of the
tuh. Sadang sungei Miri inenga arae Harowu sekarang. Sedangkan sungai wide river and the scenery reminded him
awi Sempung sabab kalumbah sungei Miri dinamakan oleh Sempung karena of the one, he went through in Sabah
tuntang pamandangaa sama kilau je puji lebar sungai dan panoramanya sama area previously.
ihalau awii intu daerah Sabah bihin. seperti yang pernah dilewatinya di daerah They worked hard for several days,
Intu leka tuh katahin papire andau Sabah dahulu. cutting down trees and making rafts out
ewen balalu karas bagawi. Maneweng Di tempat ini selama beberapa hari of the wood, from which the diameter of
upun kayu tuntang manampa papire mereka lalu bekerja keras. Menebang the tree was more than a hug wide. The
kabawak lanting bara upun kayu je pohon kayu dan membuat beberapa rakit wood pieces tied down by using rattan.
ineweng endau, je singkange labih bara dari batang pohon yang ditebang tadi,
ije pamaluk. Tetek kayu te imeteng yang diameternya lebih dari sepemeluk.
25

Gbr. 6. Di Marangai, anak sungai Miri, mereka bekerja membuat


lanting batalatap (rakit berpondok) sebagai transportasi.
dengan uei kilau pangganti talin peteng. Potongan pohon kayu itu dipertautkan To make the raft run smoothly, they
Mangat lancar jalanan lanting te, dengan rotan sebagai tali pengikat. used a long bamboo cane to push the raft
ihapan humbang je panjang je inepe kan Agar lancar jalannya rakit itu, by striking the base of the river, and let
huang danum atawa kan saran tiwing digunakan bambu yang panjang yang the river stream drifting the raft.
sungei, lanting impahantung ih umba ditusukkan ke dalam air atau ke tebing Each raft was 6 meters long and 3
dehes danum sungei. sungai, rakit dihanyutkan saja mengikuti meters wide. Above the rafts, they built
Genep lanting kapanjanga jahawen derasnya arus sungai. a small simple hut to protect them from
depe tuntang kalumbaha telu depe. Setiap rakit panjangnya 6 depa dan the sun and the rain, which they called
Hunjun genep lanting inampa puduk lebarnya 3 depa. Di atas setiap rakit talatap, thus the raft called lanting
sederhana uka babaya kanjungen bara dibangun pondok sederhana untuk talatap (a roofed raft).
lasut andau atawa ujan, je inyewut sekedar berteduh dari terik matahari
26 talatap, je kau mawi lanting te kabuat dan hujan, yang disebut talatap, sehingga
inyewut kea lanting batalatap. rakit itu sendiri disebut juga lanting
batalatap (rakit beratap).
7. Manuk Jagau Patenung
Ayam Jantan Peramal| The Rooster Prophesier

Limbah uras kapala kulawarga Setelah semua kepala keluarga Having finished all their rafts,
mampajadi lanting ayu-ayue, maka menyelesaikan rakit masing-masing, everyone and their belonging went
uras anggota kaluargaa hayak panatau maka semua anggota keluarganya serta aboard the rafts.
tuntang bahatan ewen masing-masing harta benda dan perbekalan mereka The journey through the water
mandai kan hunjuu. masing-masing naik ke atasnya. going down the Miri River began. Rafts
Parjalanan mahalau danum Perjalanan lewat air dengan were set one by one in order. Young and
hayak masuh sungei Miri inampara. menghiliri sungai Miri dimulai. Rakit agile men from each group assigned to
Lanting impahantung mije-mije hayak dihanyutkan satu persatu dengan teratur. navigate the rafts and keep them away 27
taatur. Uluh hatue je tabela tuntang abas Kaum lelaki yang muda dan tangkas dari from striking the riverside.
bara genep kalompok kulawarga je tege setiap kelompok keluarga yang berada For relaxation, some take turns
hunjun genep lanting batugas mahaga pada masing-masing rakit bertugas beating traditional percussion such as
ampin pahantung lanting te, mangat dia menjaga arah larutnya rakit itu, agar gong, kenong, and gendang.
tatepe kan saran tiwing sungei. tidak tertumbuk ke tepi sungai.
To give direction which location
Akan mampanihau angat kaheka, Untuk menghilangkan rasa lelah, would fit them best, Sempung had his
haganti bara genep lanting mampahiau bergantian dari setiap rakit membunyikan rooster as their guidance, which he had
musik tradisional kilau pantu garantung, tetabuhan tradisional berupa pemukulan found in the previous journey.
kangkanung tuntang gandang. gong, kenong dan gendang.
Some of the rooster gambler called
Akan manenga patunjuk mangat Buat memberikan petunjuk agar it the Iron Steering Rooster, because it
dinun leka melai je bahalap intu batang mendapat tempat tinggal yang baik had a very long, dark colored feather in
danum Kahayan kareh, Sempung di sungai Kahayan nanti, Sempung the tail. This Sempung’s rooster was all
mahapan ije kungan manuk jagau je mempergunakan seekor ayam jantan white, and thus named Atung Sempung.
dinuu metuh ie manamuei bihin. yang diperolehnya sewaktu ia merantau
dahulu.
Belah kawan panyawung manuk Sebagian para penyabung ayam The rooster originated from the
manyewute manuk kamudi wasi awi menamainya ayam kemudi besi sebab di heaven, known for giving his master
intu ikuhe tege ije kalambar bulue je ekornya terdapat sehelai bulunya yang good signs. The Lambung’s group used
lalau panjang tuntang bawarna babilem. sangat panjang dan berwarna hitam. his call (cock-a-doodle-doo) as a sign
Manuk ayun Sempung te uras buluu Ayam milik Sempung itu semua bulunya for each family or group for resting or
bawarna baputi tuntang inggaree Atung berwarna putih dan dinamakannya settling down. Thus, kind of activity is
Sempung. Atung Sempung. called the Foreseeing of the Departure
Sabujura manuk jagau je te asale bara Sebenarnya ayam jantan tersebut and Future Home by the Ot Danum
kiyangan je ingatawan kilau panenga berasal dari kayangan yang dikenal tribe.
dahiang je bahalap akan tempuu. Tanduu sebagai pemberi tanda yang baik bagi
te kareh je ihapan kilau dahiang akan pemiliknya. Kokoknyalah nanti yang
ije kalompok kulawarga mangat tende digunakan sebagai pertanda bagi satu
28 tuntang manetep intu ije leka. Gawin kelompok keluarga untuk singgah dan
kilau tuh intu huang hila masyarakat menetap pada suatu tempat. Pekerjaan
suku Dayak Ot Danum inyewut dengan seperti ini di kalangan masyarakat
mandahiang pangguet tuntang leka suku Dayak Ot Danum disebut dengan
melai. meramal kepergian dan tempat
kediaman.
29

Gbr. 7. Ayam jantan milik Sempung yang bernama Atung Sempung


berperan menentukan tempat pemukiman.
8. Lewu Akan Kajai
Pemukiman Bagi Kajai | Home For Kajai

Katahin telu andau telu alem masuh Selama tiga hari tiga malam After spending three days and three
sungei Miri te kajaria ewen sampai intu menghiliri sungai Miri itu akhirnya nights going down the Miri River, they
tumbange. Hemben te kea manuk jagau mereka sampai di muaranya. Serta merta finally reached the downstream. There
Atung Sempung manandu. ayam jantan Atung Sempung berkokok. the rooster Atung Sempung made his
Sempung manyuhu uras lanting te Sempung memerintahkan semua calling.
tende tuntang batambat, ewen balalu rakit itu berhenti dan bertambat, mereka Sempung ordered all the rafts to stop
pumpung basara. Kajaria inetep bahwa lalu berkumpul berunding. Akhirnya and dock. They all gathered and had a
30 babuhan Kajai je balihi tuntang melai ditetapkan bahwa keluarga Kajai yang discussion. They decided that the Kajai
intu hete. tinggal dan bermukim di situ. family is the one who should stay and
Limbah Kajai tuntang genep Setelah Kajai dan seluruh settled down there.
babuhaa jadi manantu leka betang ewen, keluarganya menetapkan lokasi betang Kajai and his whole family then set
Sempung tuntang genep babuhaa je mereka, Sempung dan seluruh keluarga where their long house (betang) would
beken balalu manarus jalanaa je wayah lainnya lalu meneruskan perjalanannya be, then Sempung and the rest of the
tuh masuh batang danum Kahayan. yang sekarang menghiliri sungai group continued their journey going
Genep biti intu lanting mangkariak Kahayan. down the Kahayan River.
hanjak, badua tuntang malahap metuh Seluruh awak rakit bersorak gembira, All the crew was happy, praying, and
ewen malihi babuhan Kajai intu eka te. berdoa dan malahap (berteriak bersama cheering (malahap) for leaving the Kajai
Awi leka te intu tumbang sungei menyatakan perasaan senang) ketika family in that location.
Miri, maka inggare ih lewu Tumbang mereka meninggalkan keluarga Kajai di Because it located in the downstream
Miri. Wayah tuh eka te manjadi ibukota tempat itu. of Miri River, then it was called Tumbang
kecamatan Kahayan Hulu Utara tame Karena tempat itu berada di muara Miri village. Today, the area is the
wilayah kabupaten Gunung Mas. sungai Miri, maka dinamakanlah desa capital subdistrict of Kahayan Northern
Tumbang Miri. Sekarang tempat itu Upstream, part of Gunung Mas district.
merupakan ibukota kecamatan Kahayan
Hulu Utara termasuk wilayah kabupaten
Gunung Mas.
31

Gbr. 8. Keluarga Kajai di muara sungai Miri diperintahkan Sempung menetap,


inilah asal desa Tumbang Miri.
9. Lewu Akan Piak
Pemukiman Untuk Piak | Home For Piak

Limbah Kajai mendarat, jalanan Sesudah Kajai naik, perjalanan After Kajai settled down, they
inerus tinai. Tapuk lenge tuntang dilanjutkan kembali. Tepuk tangan continued their journey. Cheering
lahap lolou tahining sampai ka hunjun dan sorak kegembiraan berkumandang and applause continued to echo
mampahayak kahantung kakare lanting sampai ke atas mengiringi hanyutnya
rakit-rakit yang banyak itu. Kepergian complementing the rafts departure.
te. Pangguet ewen te malihi kuntep Their leaving left a lot of hope for the
mereka itu meninggalkan penuh harapan
kaharap akan babuhan Kajai mangat bagi keluarga Kajai agar berdiam di Kajai so they would live long and prosper
melai intu leka je jadi inetep akan ewen tempat yang ditetapkan bagi mereka in the new home. The Kajai prayed for
te huang salamat sejahtera. Tuntang je dalam keadaan selamat sejahtera. Dan
32 ilihi kea manduakan mangat je hindai yang ditinggalkan juga mendoakan agar
the ones who did not have their homes
dinun eka gulung supa. yang belum mendapat tempat segera yet, so they would be able to find it as
Arus sungei je badehes manjuju menemukannya. soon as possible.
kakare lanting te masuh batang Arus sungai yang deras mendorong The strong stream pushed the rafts
danum Kahayan. Haluli tinai pantun rakit-rakit itu menghiliri sungai Kahayan. down the Kahayan River. Again the
kare gandang, garantung tuntang Kembali suara tetabuhan segala gendang, sounds of gendang, gong, and kenong
kangkanung rami tarahining. gong dan kenong ramai terdengar.
accompanied their journey.
Di suatu tempat bernama Liang
Intu ije eka bagare Liang Narui Narui atau Batu Tamarang Kandang, In a place called Liang Narui or
atawa Batu Tamarang Kandang, manuk ayam jantan Atung Sempung berkokok Tamarang Kandang Stone, Sempung’s
jagau Atung Sempung manandu tinai lagi memberitahukan bahwa tempat itu rooster made his calling again, notifying
mansanan je eka te bahalap. Uras lanting baik. Semua rakit berhenti dan bertambat that it was a good location. All the rafts
tende tuntang batambat hete. Sempung di tempat itu. Sempung memilih siapa
mintih eweh je cagar melai intu hete. yang bakal tinggal di tempat itu. stopped and docked. Sempung chose
Mengikuti perintah Sempung, Piak would stay and lived there.
Tumun parentah Sempung, Piak
tuntang babuha mandai. Limbah kau dan keluarganya mendarat. Kemudian Following Sempung’s order, the Piak
Sempung mamarentah kakare lanting te Sempung memerintahkan semua went down. Then Sempung ordered
masuh tinai manerus jalanaa. rakit itu menghilir lagi meneruskan them to continue their journey.
perjalanannya.
Sayang metuh tuh lewun Piak te jadi Sayangnya sekarang desa Piak ini Unfortunately, Piak village is no
jatun tinai, kilau te kea dengan kalekaa. sudah tidak ada lagi, demikian pula longer existed, including the remains of
Tumun kuan uluh eka te terletak dengan bekas-bekasnya. Menurut kata it. It is said that it was located between
helat lewu Sungei Riang tuntang lewu orang tempat itu terletak di antara Sungai Riang Village and Tumbang
Tumbang Habaun metuh tuh. desa Sungai Riang dan desa Tumbang Habaun village today.
Habaun dewasa ini.
33

Gbr. 9. Atas perintah Sempung, keluarga Piak menempati Liang Narui


(Batu Tamarang Kandang) yang kini jadi kaleka.
10. Lewu Akan Atang
Pemukiman Untuk Atang | Home For Atang

Pahayak masuh batang danum Sambil menghiliri sungai Kahayan, Going downriver of the Kahayan
Kahayan, gandang, garantung, gendang, gong, kenong dan sebagainya River, the sounds of gendang, gong and
kangkanung tuntang je beken dia umbe- terus menerus dibunyikan sebagai kenong were continued to echo as a
umbet imantu kilau mamparahan pelampiasan kegembiraan karena symbol for joyful and gratitude that they
kahanjak awi cagar lapas bara jangkauan bakal lepas dari jangkauan kekejaman would had left the reach of the dangerous
kekejaman kawan kayau asang tuntang gerombolan kayau asang dan telah threat of the Kayau Asang people, and
jadi dinun papire eka je sukup aman. menemukan beberapa tempat yang cukup they had found several secure places.
34 Urase manumun kilau kakare patunjuk aman. Semuanya mengikuti petunjuk Everyone was following the guidance the
je inenga antang metuh malalus upacara yang diberikan elang sewaktu melakukan eagle had given in the Manajah Antang
manajah antang intu Rangan Marau upacara manajah antang di Rangan ceremony in Rangan Marau a few days
papire andau mahalau. Marau beberapa hari yang lalu. earlier.
Dua andau limbah kau Atung Dua hari kemudian Atung Two days later Sempung’s rooster
Sempung manandu tinai tuntang leka Sempung berkokok lagi dan tempat ini made another calling, and they named
tuh inggare ewen Tumbang Habaun mereka namakan Tumbang Habaun the place Tumbang Habaun Rangan
Rangan Bintang, wayah tuh tame Rangan Bintang, sekarang termasuk Bintang, which is now part of Tewah
wilayah kacamatan Tewah kabupaten wilayah kecamatan Tewah kabupaten sub district in Gunung Mas district.
Gunung Mas. Intu hetuh Sempung Gunung Mas. Di tempat ini Sempung Sempung ordered Atang and his family
mamarentah uka Atang hayak babuhaa memerintahkan agar Atang serta to land and build a new village.
mandai palus mampendeng lewuu je keluarganya naik serta membangun Atang docked his raft and all of his
taheta. desanya yang baru. family brought down their belongings
Atang manalin lanting ayuu tuntang Atang menambatkan rakitnya dan with him to build a new life in this area.
kea kare babuhaa hayak panataue melai juga seluruh keluarga- nya berikut harta The remaining rafts set out and they were
intu hetuh manampara pambelum bendanya tinggal di tempat ini memulai all going together with prayer for each
taheta. Kakare lanting je beken kehidupan baru. Semua rakit lainnya other, accompanied with the echoing
balalu pahantung arepe tinai pahayak kemudian menghanyut lagi diiringi percussions in the air.
hatalinjam dua bara je ilihi tuntang je saling doa antara yang ditinggalkan dan
malihi, marak kea pantu garantung je yang meninggalkan, sementara tabuhan
pahalau karami. gong yang membahana.
35

Gbr. 10. Keluarga Atang menepi untuk menetap di desa yang hingga kini bernama
Tumbang Habaun.
11. Lewu Akan Isuh
Pemukiman Bagi Isuh | Home For Isuh

Hiau pantu garantung tahining Bunyi tabuhan gong terdengar The sounds of the percussions
mampahayak kahantung karen lanting mengiringi hanyutnya semua lanting represent the true feelings they had
te, mansanan kahanjak atei ewen te itu, memperlihatkan kegembiraan hati because they are happy to lead a new
manaharep pambelum je tentram intu mereka menghadapi kehidupan yang life in the new neighborhood. Their
leka je taheta. Utus ewen cagar belum tenteram di tempat yang baru. Keturunan next descendants will life prosperous
bua-buah jari tatu hiang ulun je badehen mereka hidup baik-baik menjadi nenek and became the ancestors of a strong
intu wilayah tuh. Ewen parcaya, je ewen moyang orang yang kuat di daerah ini.
generation in this area. They believed
jadi kejau bara kamunat awi amuk Mereka yakin, bahwa mereka telah
36 kawan kayau asang bara wilayah batang jauh dari ancaman kemusnahan akibat that they are far from the threat of the
danum Mahakam katahin tuh. serangan kayau asang dari daerah sungai kayau asang assault of the Mahakam
Batisa sapuluh lanting hindai je Mahakam selama ini. River area previously.
bahantung te. Jandau limbah kau manuk Tinggal sepuluh rakit lagi yang Ten more rafts left. The next day, the
jagau pandahiang ewen te manandu berhanyut itu. Sehari kemudian ayam prophesier rooster made another calling.
tinai. Uras lanting balalu tende, sapuluh jago peramal mereka itu berkokok lagi. They stopped, and then the ten heads
biti kapala kulawarga mandai kan Semua rakit lalu berhenti, sepuluh orang of the family went offshore. Sempung
hunjun tabing. Sempung mendeng kepala keluarga naik ke darat. Sempung stood there for a while, he then came by
manyuni hanjulu, balalu mananjung berdiri termenung sebentar, untuk to Isuh to hug him and said, “According
manukep Isuh hayak mamangkute kemudian berjalan mendekati Isuh seraya to the vision I had, you’re the one who
tuntang ie hamauh : “Manumun memeluknya dan ia berkata : “Menurut
has to stay here.”
patunjuk je dinungku, ikau je melai petunjuk yang kuperoleh, kaulah yang
hetuh”. tinggal di sini”. Then Sempung went back to his raft.
Limbah te Sempung muhun kan Kemudian Sempung turun ke The rest followed him to hug and kissed
lantinge. Uras rombongan te balalu rakitnya. Seluruh rombongan itu Isuh and his whole family, while saying
mamangkut tuntang manyium Isuh kemudian memeluk dan menciumi Isuh goodbye to one another.
sakulawarga tuntang babuhaa hayak sekeluarga serta seluruh warganya seraya The residence for Isuh is now called
habaleh hamauh salamat melai tuntang saling berbalas mengucapkan selamat Batu Nyiwuh Village, part of Tewah
salamat jalan. tinggal dan selamat jalan. subdistrict, in Gunung Mas district.
Leka melai akan Isuh te wayah Pemukiman bagi Isuh itu sekarang
tuh inggare lewu Batu Nyiwuh, tame dinamakan desa Batu Nyiwuh, termasuk
kacamatan Tewah kabupaten Gunung kecamatan Tewah kabupaten Gunung
Mas. Mas.
37

Gbr. 11. Keluarga Isuh nantinya mendapat perintah Sempung menempati tempat
yakni Batu Nyiwuh sekarang.
12. Lewu Akan Etak
Pemukiman Bagi Etak | Home For Etak

Bara leka melai Isuh, Sempung Dari tempat tinggal Isuh, Sempung From Isuh residence, Sempung
tuntang uras kulawargaa masuh tinai. dan seluruh keluarganya menghilir lagi. and the rest of the family went further
Limbah mahalau papire katanjung, Setelah melewati beberapa tanjung, ayam downstream. After passing a few
manuk jagaue manandu tinai. Ewen uras jantannya berkokok kembali. Mereka peninsulas, the rooster called out again.
tende tuntang Sempung manyuhu Etak semua berhenti dan Sempung menyuruh They all stopped and Sempung told Etak
hayak uras babuhaa melai intu hete. Etak serta segenap keluarganya mendiami and his whole family to live in that area.
Limbah Etak mandai, Sempung tempat itu. After Etak landed, Sempung ordered
38 mamarentah uras lanting te manerus Setelah Etak mendarat, Sempung the others to continue their journey
jalanaa tinai manggau leka taheta akan memerintahkan semua rakit itu finding a new home for every head of
genep biti kapala kulawarga. Hayak meneruskan perjalanannya kembali the family. While going downstream,
bahantung te taluh je mahiau imantu untuk mencari tempat baru bagi setiap the sounds of the percussion continue to
tinai. orang kepala keluarga. Sambil berhanyut accompany them.
Etak tuntang kulawargaa hayak itu sesuatu yang berbunyipun dipalu lagi. Etak and his family made a new
babuhaa manampa lewu taheta intu Etak dan keluarganya serta village there. It is the Tewah Village
leka lanting ayuu batalian. Je te lah lewu kerabatnya membuat desa baru di tempat today, the capital subdistrict of Tewah in
Tewah wayah tuh, ibukota kacamatan rakitnya bertambat. Itulah desa Tewah Gunung Mas district.
Tewah kabupaten Gunung Mas. sekarang, ibukota kecamatan Tewah
kabupaten Gunung Mas.
39

Gbr. 12. Sempung memerintahkan keluarga Etak berhenti dan membuat desa
yang sekarang kita kenal dengan Tewah.
13. Lewu Akan Sempung
Pemukiman Bagi Sempung | Home For Sempung

Intu tumbang sungei Pajangei, Di muara sungai Pajangei, ayam In the downstream crossing the
manuk jagau Atung Sempung manandu jantan Atung Sempung berkokok tujuh Pajangei River, the rooster Atung
hangkauju kali. Uras lanting tende kali. Semua rakit berhenti dan tempat Sempung called seven times. All the
tuntang leka te awi ewen inggare itu mereka namakan Tumbang Pajangei. rafts stopped and they named the place
Tumbang Pajangei. Sempung tuntang Sempung dan isterinya Nyai Endas Tumbang Pajangei. Sempung and his
sawaa Nyai Endas dinun dahiang bara mendapat petunjuk dari mimpi yang wife Nyai Endas had a vision from the
nupi je sama, intu hetuh lah ewen sama, di sinilah mereka dan segenap same dream that is the place where they
40 tuntang uras kulawargaa musti melai. kerabatnya harus menetap. have to settle down.
Metuh te Bungai, Tambun tuntang Saat itu Bungai, Tambun dan Ringkai By that time, Bungai, Tambun,
Ringkai lagi kurik, tikas Rambang je masih kecil, hanya Rambang yang sudah and Ringkai were still little children.
jadi bujang. Lambung empu Sempung remaja. Lambung mertua Sempung pada Only Rambang, who was already grew
metuh te jadi bakas tutu tapi magun waktu itu sudah uzur tetapi masih sehat. teenager. Lambung, Sempung’s father
barigas. Anak kandung Sempung Anak kandung Sempung dan Nyai Endas in law was already old, but still in a good
tuntang Nyai Endas ie te Bungai, sadang adalah Bungai, sedangkan Tambun, health. Sempung and Nyai Endas real
Tambun, Ringkai tuntang Rambang te Ringkai dan Rambang itu adalah children were Bungai, while Tambun,
aken ewen. keponakan mereka. Ringkai, and Rambang were their
Uras kawan kaluarga hai Sempung Seluruh keluarga besar Sempung dan nephews.
tuntang Nyai Endas kilau te kea kakare Nyai Endas serta budak-budak mereka The whole family of Sempung and
jipen ewen melai intu Tumbang Pajangei tinggal di Tumbang Pajangei itu. Mereka Nyai Endas and their slaves lived in
te. Ewen tuh nah je jadi tamparan kesah inilah yang menjadi asal mula cerita Tumbang Pajangei. They are the origin
Tatum bara suku Dayak Ot Danum. Tatum dari suku Dayak Ot Danum. of Tatum, the story of the Ot Danum
Sempung manyuhu babuhaa Sempung menyuruh warganya tribe.
manerus jalanaa uka ewen je hindai melanjutkan perjalanan bagi mereka Sempung told the rest of the group
dinun leka. Atung Sempung hinjama kea yang belum mendapatkan tempat. Atung to continue their journey in searh of a
karen tatabuhaa tau imbit sampai kueh Sempung dipinjamkannya juga peralatan new place to live. He also let the others
kea leka ewen te lepah atawa jadi uras tetabuhannya dapat dibawa sampai di to borrow Atung Sempung, including
lepah mandai kan hunjun. mana juga tempat mereka itu berakhir the percussions until the last group had
atau telah habis naik ke darat. found their new home.
41

Gbr. 13. Ketika ayamnya berkokok tujuh kali, Sempung menyatakan inilah tempatnya;
kini desa Tumbang Pajangei.
14. Lewu Akan Nyohungan
Pemukiman Bagi Nyohungan
Home For Nyohungan

Kakare lanting te palus bahantung Rakit-rakit itu terus hanyut dan The rafts continued to set adrift,
tuntang limbah mahalau papire taluk setelah melewati beberapa teluk dan and after passing several peninsulas and
tuntang tanjung, te manuk jagau tanjung, ajam jantan Atung Sempung gulfs, the rooster Atung Sempung made
Atung Sempung manandu tinai. Ewen berkokok lagi. Mereka semua lalu berhenti another calling, then they all stopped.
samandiai balalu tende hung eka te. di tempat itu. Sesudah memperoleh After having discussion, they agreed
Limbah dinun kabulat pander, te kata sepakat, maka Nyohungan serta that t was Nyohungan and his family
Nyohungan tuntang anak jariaa inukas keluarganya ditetapkan untuk bermukim who had to stay in that area. They had to
42 uka mangkalewu hung eka te. Pumpung di tempat itu. Musyawarah mencari have the discussion, because previously
manggau kabulat pander musti ilalus kata sepakat ini mesti dilakukan karena they had Sempung who decided for
tagal bahut Sempung je manukase akan dahulu Sempung yang menetapkan untuk them.
ewen. mereka.
Because there are pebbles (rangan)
Haranan intu saran batang danum te Karena di saran (tepi) sungai itu ada on the the riverside (saran), they named
are rangan, balalu eka te inggare Saran rangan (kerikil), maka tempat itu lalu the place Saran Rangan. Now it has
Rangan. Wayah tuh aran eka te hubah dinamakan Saran Rangan. Sekarang changed into Sare Rangan, part of Tewah
manjadi Sare Rangan, je atun hung nama itu berubah menjadi Sare Rangan, subdistrict, in Gunung Mas district.
kacamatan Tewah kabupaten Gunung letaknya termasuk kecamatan Tewah
Mas. kabupaten Gunung Mas.

43

Gbr. 14. Keluarga Nyohungan mendiami tempat yang ada kerikilnya di tepi sungai
hingga dinamainya Sare Rangan.
15. Lewu Akan Sarunukan
Pemukiman Bagi Sarunukan | Home For Sarunukan

batisa jahawen kabawak lanting Tinggal enam buah rakit lagi yang Six more rafts left drifted down the
hindai je magun bahantung masuh masih berhanyut menghiliri sungai Kahayan River. The quiet surrounding
batang danum Kahayan te. Ampin Kahayan itu. Suasana perairan sungai became joyful because the sounds of the
kaadaan batang danum je benyem tunis yang sunyi senyap itu dihidupkan mereka percussions and the cheers of the crowd
te imbelum ewen dengan mampahiau dengan membunyikan pukulan gong yang going down the stream continued.
pantu garantung je inyelat auh malahap, diseling dengan suara malahap (sorak In the early morning, the rooster
mahi-mahi metuh mahalau kakare gembira bersama-sama), apalagi ketika called. All stopped and discuss about
44 kiham je kurik. melewati beberapa riam kecil. who should stay in the area.
Hanjewu andaue manuk jagau ewen Pagi harinya ayam jantan mereka They agreed that Sarunukan and his
te manandu. Samandiai tende tuntang itu berkokok. Semua-nya berhenti dan family are the one to stay. They named
karen kapala kulawarga hapumpung auh para kepala keluarga bermusyawarah the place Tumbang Manyangan, part
manahiu eweh je cagar inukas melai intu membicarakan tentang siapa yang bakal of Kurun subdistrict in Gunung Mas
eka te. ditunjuk tinggal di tempat itu. district today.
Kaja ria dinun kabulat pander, Akhirnya diperoleh kata sepakat,
Sarunukan hayak kare babuhaa tuntang Sarunukan serta seluruh kerabatnya
kakare jipee je melai. Awi Sarunukan eka dan budak-budaknya yang tinggal.
ewen te inggaree Tumbang Manyangan, Oleh Sarunukan tempat mereka itu
wayah tuh hung kacamatan Kurun dinamakannya Tumbang Manyangan,
kabupaten Gunung Mas. sekarang termasuk kecamatan Kurun
kabupaten Gunung Mas.
45

Gbr. 15. Giliran keluarga Sarunukan menetap di tempat ini yang hingga sekarang
dinamai Tumbang Manyangan.
16. Lewu Akan Anju
Pemukiman Bagi Anju | Home For Anju

Kakare lanting te masuh tinai, Rakit-rakit itu menghilir kembali, The rafts continued downstream, still
wayah tuh batisa lime kapala kulawarga kini tinggal lima kepala keluarga yang five rafts left. The next day the roosted
je hindai dinun ekaa. Jandau limbah te belum mendapatkan tempatnya. Sehari called again, then they all stopped. They
manuk jagau Atung Sempung manandu. kemudian ayam jantan Atung Sempung named the place Robohu Tutung Pitu
Uras lanting tende tuntang eka te berkokok. Semua rakit berhenti dan that now located near the downstream
tempat itu mereka namakan Robohu of Kuala Kurun city today. They named
inggare ewen Robohu Tutung Pitu, je
Tutung Pitu, yang letaknya dekat riam
lekaa tukep kiham intu ngaju kota Kuala it so because it has seven continuous
di udik kota Kuala Kurun sekarang.
46 Kurun wayah tuh. Inggare kilau kau awi Dinamakan sedemikian karena terdapat peninsulas in a row.
tege teluk je tuntung manuntung tege teluk yang sambung-menyambung tujuh Without further discussion, a
uju kakare. banyaknya. traditional medicine man named Anju
Dia mahalau perundingan tinai Tanpa perundingan lagi basir asked for him and his family to live in
basir Anju balaku ie tuntang babuhaa (dukun tradisional) Anju meminta ia that area. He was a leading medicine
je melai intu hete. Ie ije biti tabib je dan kerabatnya yang tinggal di tempat man in his time, for even he can heal a
tamam metuh te, sampai uluh matei je itu. Ia seorang tabib yang handal masa rotten dead man and brought him back
jadi manampara bahewau maram amun itu, hingga orang mati yang sudah mulai to life.
ingua, tantu keleh tuntang belum tinai. membusukpun kalau ditanganinya, pasti
sembuh dan hidup kembali. However, the cost to do so was very
Tapi laluhaa maubat te hai tutu. expensive. To open just his oil bottle
Tetapi biayanya mengobati itu sangat
Akan maukei butul unduse bewei he asked for lalang pantu (a kind of
mahal. Untuk membuka botol minyaknya
imbayar hapan ije kabawak lalang pantu saja dibayar dengan sebuah lalang pantu canister), while to pay him he asked for
(aran balanai), sadang akan maubat ie te (nama sejenis tempayan), sedang upah halamaung (another kind of canister), in
ije kabawak halamaung (aran balanai). mengobati adalah sebuah halamaung which today would be about a million
Amun itung manumun nilai rupiah (nama sejenis tempayan). Kalau dihitung rupiahs (approximately 100 dollars).
kahaii tukep ije juta. menurut nilai rupiah besarnya hampir The place is now the city of Kuala
Eka te wayah tuh manjadi kota satu juta. Kurun, the capital of Kurun subdistrict
Kuala Kurun, ibukota kacamatan Kurun Tempat itu sekarang menjadi kota and at the same time, as the capital of
baterus kea manjadi ibukota kabupaten Kuala Kurun, ibukota kecamatan Kurun Gunung Mas district.
Gunung sekaligus juga menjadi ibukota kabupaten
Gunung Mas.

47

Gbr. 16. Keluarga basir (dukun tradisional) Anju memilih tempat


yang sekarang menjadi kota Kuala Kurun.
17. Lewu Akan Rating
Pemukiman Bagi Rating | Home For Rating

Magun batisa epat kabawak lanting Masih bersisa empat buah rakit lagi There were four rafts left, and the
tinai tuntang limbah basir Anju hayak dan setelah basir Anju serta keluarganya last four families were eager to find
babuhaa mandai kan ambu tiwing, epat naik ke darat, empat keluarga yang themselves new homes.
kula warga je tege huang kakare lanting ada dalam rakit-rakit tadi segera Not far, later in the afternoon, the
endau maancap mampahantung kakare menghanyutkan rakit-rakit mereka untuk rooster Atung Sempung called out.
lanting ewen mangat gulung sundau eka cepat menemukan tempat mereka yang All rafts stopped and spent a night
ewen je sanunuh. pantas. there. They named it Tampang Dirung
48 Dia kejau, magun huang andau te Tidak jauh, masih pada hari itu Tingan, which now is just Tampang. The
kea tukep sanja manuk jagau Atung juga menjelang senja ayam jago Atung village joined Kuala Kurun city (in the
Sempung manandu. Uras lanting tende Sempung berkokok. Semua rakit berhenti downstream), which now part of Kurun
tuntang bamalem intu hete. Leka te dan bermalam di tempat itu. Tempat subdistrict in Gunung Mas district.
inggare ewen Tampang Dirung Tingang, itu mereka namakan Tampang Dirung Rating asked for him and his family
wayah tuh hubah manjadi Tampang Tingang, sekarang berubah menjadi to stay there. His had his wish granted.
bewei tuntang lewu tuh hatuntung Tampang saja dan desa itu bersambung There were also two granddaughters
manjadi ije dengan kota Kuala Kurun menjadi satu dengan kota Kuala Kurun of Rating, they were famous for their
(hila ngawaa). Lewu Tampang tame (sebelah hilirnya). Desa Tampang absolute beauty named Karing and
wilayah kacamatan Kurun kabupaten termasuk wilayah Kecamatan Kurun Burou.
Gunung Mas. kabupaten Gunung Mas.
Rating balaku ie sabababuhan je Rating meminta ia sekeluarga yang
cagar melai hete. Palakuu inyatuju ewen akan menetap di situ. Permintaannya
awang beken. Rating kea mambelum disetujui mereka yang lainnya. Rating
umba denga due biti esuu bawi je puna juga menghidupi ikut dengannya dua
tapalalau kahalape bagare Karing orang cucu perempuan-nya yang memang
tuntang Burou. terlalu sangat cantiknya bernama Karing
dan Burou.
49

Gbr. 17. Keluarga Rating meminta untuk mendiami tempat yang hingga
sekarang dinamakan Tampang.
18. Lewu Akan Mina Biran
Pemukiman Untuk Mina Biran
Home For Mina Biran

Jewu andau limbah kulawarga Esok hari sesudah keluarga Rating The next after Rating and his family
Rating melai intu Tampang, tuh batisa tinggal di Tampang, kini tersisa tiga stayed in Tampng, the last three rafts
telu kabawak lanting bewei je magun buah rakit saja yang masih berhanyut. still continue their journey. The day after
bahantung. Mampahayak ambun Mengiringi embun pagi yang masih turun tomorrow following the early dews, the
hanjewu je magun muhun jandau limbah sehari kemudian, ayam jantan mereka itu rooster called. They dcked the rafts and
te, manuk jagau ewen te manandu tinai. berkokok lagi. Rakit lalu bertambat di named the place Tarawan.
Lanting balalu batambat intu hete, eka situ, tempat itu lalu dinamakan mereka Mina Biran was a widow, along with
50 te lalu inggare ewen Tarawan. Tarawan. the rest of the family who were mostly
Mina Biran kabujuran ije biti bawi Mina Biran kebetulan seorang women, asked for them to stay in the
balu, hayak karen kula wargaa tapaare perempuan janda, serta anggota area. The reasons were that it was located
bawi, balaku ewen ih je melai intu keluarganya kebanyakan perempuan, near the riverside so the trees were not
eka tuh. Awi kuaa intu saran batang meminta merekalah yang menetap di too big, it would be easier for them to
danum, akan manampa eka melai upun tempat ini. Alasannya karena di tepi cut down trees and build them a new
kayuu dia pahalau hai, hingga ewen sungai, untuk membuat tempat tinggal home. Even at that time, the women of
mangat manewenge. Metuh huran uluh pepohonannya tidak terlalu besar, hingga Dayak were able to make their own axe
bawi huang suku Dayak mahi tau kea mereka mudah menebangnya. Dahulu (baliung) to cut trees down.
mahapan baliung akan maneweng. kala kaum wanita di kalangan suku The place no longer exists. It was
Eka te metuh tuh jadi bakarak Dayak pun pandai juga memakai baliung presumed that they had moved to a new
tuntang hai kamungkinan ewen halisang (sejenis kapak) untuk menebang. village in Pahawan village today.
hayak mamangun eka taheta intu lewu Tempat itu sekarang sudah tidak
Pahawan wayah tuh. ada lagi dan besar kemungkinan mereka
pindah serta membangun pemukiman
baru di desa Pahawan sekarang.
51

Gbr. 18. Sebagai kepala keluarga Mina Biran (janda) memimpin pemukiman
di Tarawan (kini kaleka).
19. Lewu Akan Tumbung
Pemukiman Untuk Tumbung | Home For Tumbung

Limbah Mina Biran mandai kan Sesudah Mina Biran naik ke darat After Mina Biran went offshore, the
hunjun impahayak genep biti babuhaa, disertai seluruh kerabatnya, dua buah last two rafts continued their journey.
due kabawak lanting je batisa te manarus rakit yang tersisa itu meneruskan They waved their hands to one another
jalanaa. Ewen je melai tuntang je miar perjalanannya. Mereka yang tinggal saying goodbyes.
saling habaleh malambai lengee. dan yang meneruskan perjalanan saling At noon, the rooster Atung
Huang andau te kea mahalau melambaikan tangan. Sempung made another calling. The last
bentuk andau, manuk jagau Atung Pada hari itu juga lepas tengah hari, two families discussed the situation and
52 Sempung manandu. Due kulawarga hai ayam jantan Atung Sempung berkokok. they finally agreed that Tumbung and
te barunding, tuntang kajaria Tumbung Dua keluarga besar itu berunding, dan his family should stay in the area.
hayak babuhaa inukas melai intu hete. akhirnya Tumbung serta kerabatnya Because of the geography of the
Sarurui tumun kaadaan alam eka diputuskan tinggal di tempat itu. area, there was a straight part of the river
te je intu tutuk rantau pahayak tege Sesuai dengan keadaan geografisnya (rantau) and there was a deposit of sand
kea hete nampara gusung, eka te awi tempat itu yang berada di hulu rantau near by (gosong), they then named the
ewen balalu inggare Tutuk Gusung (bagian sungai yang lurus) serta ada place Tutuk Gosong Tangkahen Tintu
Tangkahen Tintu Tutuk Rantau. pula di situ mulainya gosong (tumpukan Tutuk Rantau.
Umbet katatahie kajaria kilau pasir sungai), tempat itu oleh mereka lalu As the time passed, the name of the
mamandak panyewut lalu hubah dinamakan Tutuk Gusung Tangkahen place is now called Tangkahen for short,
manjadi Tangkahen bewei, wayah Tintu Tutuk Rantau. which is now part of Banama Tingan
tuh tame wilayah kacamatan Banama Lama kelamaan akhirnya seperti subdistrict in Pulang Pisau district.
Tingang kabupaten Pulang Pisau. memperpendek sebutan lalu berubah
menjadi Tangkahen saja; sekarang
termasuk wilayah kecamatan Banama
Tingang kabupaten Pulang Pisau.
53

Gbr. 19. Keluarga besar Tumbung mendarat membuat desa baru


yang dinamakannya Tangkahen hingga kini.
20. Lewu Akan Rakou
Pemukiman Bagi Rakou | Home For Rakou

Rangka-rangkah hanjewu andau Perlahan-lahan keesokan harinya The next day, the last raft continued
rahian lanting je palepahan bahantung rakit yang terakhir berhanyut menghiliri their journey going down the Kahayan
masuh batang danum Kahayan. Sinde sungai Kahayan. Kali ini sudah beberapa River. Only this time the rooster had not
tuh jadi papire andau ewen bahantung hari mereka berhanyut belum juga made any calling even after several days.
hindai kea mahining tandun jagaue. mendengar kokok ayam jagonya. After five days, the rooster Atung
Kajaria limbah kalime andau manuk Akhirnya sesudah lima hari ayam jago Sempung finally made his calling
jagau ewen Antung Sempung manandu mereka Atung Sempung berkokok pada somewhere in a triangular area. The right
54 intu ije eka je bapaka due. Hila gantau suatu tempat yang bercabang dua. Sebelah side is where the Rungan River crossed,
masuh te eka manumbang sungei kanan milir itu tempat bermuaranya and so they named the place Tumbang
Rungan, hingga eka te balalu inggare sungai Rungan, hingga tempat itu lalu Rungan.
ewen Tumbang Rungan (hila sambil mereka namakan Tumbang Rungan Rakou, the head of the last family
masuh). (sebelah kiri milir). chose the land in the left side, a short
Rakou, kapala kulawarga je Rakou, kepala keluarga yang terakhir rantau less than a kilometer long.
palepahan te lalu mintih petak hila itu lalu memilih tanah di sebelah kiri The village is now part of Pahandut
sambil masuh te, ije rantau je pandak dia milir itu, sebuah rantau yang pendek subdistrict in Palangka Raya city. Most
sampai ije kilumeter kapanjange. tidak sampai satu kilometer panjangnya. of the population lives from rubber tree
Lewu jete wayah tuh tatame wilayah Desa itu sekarang termasuk wilayah plantation and fishing.
kacamatan Pahandut Kota Palangka kecamatan Pahandut Kota Palangka
Raya. Uluh lewuu tapa are belum bara Raya. Penduduknya kebanyakan hidup
bakabun gita tuntang malauk. dari berkebun karet dan menangkap
ikan.
55

Gbr. 20. Utus Lambung terakhir mendapat tempat adalah keluarga Rakou,
itulah desa Tumbang Rungan sekarang.
21. Epat Hatue Menteng
Empat Lelaki Perkasa |Four Strong Men

Metuh huran lewu Tumbang Zaman dahulu desa Tumbang Long, long time ago, the Pajangei
Pajangei rami tutu awi are kalunee. Pajangei sangat ramai karena banyak village was very crowded because it
Kaliling lewu imagar hapan batang penduduknya. Keliling desa dipagar has many people in it. The village was
tabalien je imbul mendeng je inyewut dengan batang kayu ulin yang surrounded by strong ironwood log
kuta, kilau benteng akan mahakan ditanamkan tegak yang disebut kuta, setup straight, called kuta, like a fortress
serangan musuh. Lewu te inyewut kilau seperti benteng untuk bertahan terhadap to defend the village from enemy’s
kau awi lekaa intu tumbang sungei serangan musuh. Desa itu dinamakan attack. They named the village after the
56 Pajangei, je bamuara kan batang danum sedemikian sebab letaknya di muara location in the downstream of Pajangei
Kahayan. sungai Pajangei, anak sungai Kahayan. River, the sub-river of Kahayan.
Sempung, rujin lewu Tumbang Sempung, pasak desa Tumbang Sempung, the head of the village
Pajangei tuh tege uju kabalii. Bara kabalii Pajangei ini ada tujuh orang isterinya. had seven wives. From his seventh wife,
je kauju ie te Nyai Endas (anak bara Dari isterinya yang ketujuh yakni Nyai Nyai Endas (daughter of Karangkang
Karangkang tuntang Kamulung Tenek Endas (puteri dari Karangkang dan and Kamulung Tenek Bulau), his second
Bulau), anak kaduee je melai umba ie Kamulung Tenek Bulau), anak keduanya son who lived with him in Tumbang
intu Tumbang Pajangei ie te Bungai. yang tinggal bersamanya di Tumbang Pajangei was Bungai. While Tambun,
Sadang Tambun bapaa ie te Serupoi Pajangei adalah Bungai. Sedangkan his father was Serupoi (Sempung’s little
(andi Sempung) tuntang induu Bungkai Tambun ayahnya adalah Serupoi (adik brother) and his mother was Bungkai
(andi Nyai Endas). Sempung) dan ibunya Bungkai (adik (Nyai Endas’ sister).
Ringkai ie te anak Kumpang, Nyai Endas). Ringkai was Kumpang’s son,
andi Sempung kea. Amun Rambang, Ringkai adalah anak Kumpang, another Sempung’s little brother, while
bapaa ie te Mantai (kaka Nyai Endas). adik Sempung juga. Adapun Rambang, Rambang, his father was Mantai (Nyai
Bara ewen epat ie te Bungai, Tambun, ayahnya adalah Mantai (kakak Nyai Endas’ big brother). From the four of
Rambang tuntang Ringkai, te Rambang Endas). Dari mereka berempat yakni them, which was Bungai, Tambun,
je tambakase hayak ie kea kilau panahiu Bungai, Tambun, Rambang dan Rambang, and Ringkai, it was Rambang
tuntang pamutus karen taluh je cagar Ringkai, maka Rambanglah yang tertua who is the oldest, the mind and the
induan. serta ia pula pemikir dan pemutus segala decision maker of every course of action
kebijakan yang diambil. taken.
57

Gbr. 21. Empat pemuda bersaudara sepupu dari Tumbang Pajangei yakni Rambang, Bungai,
Tambun dan Ringkai (dari kiri).
Tau inyewut Sempung ulih malekak Boleh dikata Sempung dapat berlepas In another word, Sempung can
lenge akan ewen epat tabela tuh huang tangan kepada keempat pemuda perkasa solely rely on these four young men in
mamangun tuntang mahaga lewu ini dalam membangun dan menjaga developing and managing the Tumbang
Tumbang Pajangei. Beken bara te kaepat desa Tumbang Pajangei. Selain dari Pajangei village. Besides these four
tabela tuh hayak kawan pahari jitatu keempat pemuda ini serta saudara- young men, there were also their cousins,
hanjenan je beken, jari kea manduhup saudara sepupunya yang lain, telah and other relatives along with their
uras babuhan ewen helu hayak karen pula membantu segenap kerabat mereka descendants who lived along the River of
58 utuse je tege intu hapus batang danum dahulu serta keturunannya yang berada Kahayan.
Kahayan. di sepanjang sungai Kahayan.
22. Epat Bawin Kameluh
Empat Dara Jelita | Four Beautiful Girls

Beken bara kaepat hatue menteng Selain dari keempat pemuda perkasa Aside from the famous four young
lewu Tumbang Pajangei je puna basewut desa Tumbang Pajangei yang memang men of the Tumbang Pajangei village,
te, maka kilau tandinga tege epat terkenal itu, maka sebagai tandingannya there were also four beautiful young
bawin kameluh je jadi tunangan ewen ada empat orang dara jelita yang women, which was also their fiancés.
ie te Karing, Burou, Lamiang tuntang merupakan tunangan mereka yakni They are Karing, Burou, Lamiang, and
Timpung. Kaepat bawin kameluh te Karing, Burou, Lamiang dan Timpung. Timpung. The four young women were
hampahari sapupu ih tuntang hampahari Keempat dara manis tersebut bersaudara cousins to one another and they are
sapupu kea dengan ewen Bungai, sepupu dan bersaudara sepupu pula cousins to Bungai, Tambun, Rambang, 59
Tambun, Rambang tuntang Ringkai. dengan mereka Bungai, Tambun, and Ringkai.
Kahalap epat bawi te puna jatun Rambang dan Ringkai. The beauties of the four young
tumuu tuntang awi te harajur jadi pander Kecantikan empat gadis itu memang women were impossible to beat, and
uluh are. Genep bitin ewen jadi mahalau tidak ada yang menyamainya dan selalu people talk about them all the time.
masa karung lawang bawi kuwu. Pandak menjadi bahan pembicaraan orang Every one of the four women was
kesah kaepat bawin kameluh te jatun banyak. Setiap orang mereka itu telah educated and had lived in quarantine. In
kacacat, umur kea dia hawas kejau menjalani masa dididik dalam pingitan. short, they were flawless. They were also
babeda. Pendek cerita keempat dara jelita itu tiada at about the same age.
Induu Karing ie te Menyah (andi cela, usianya juga tidak jauh berbeda. Karing’s mother was Menyah (Nyai
Nyai Endas) tuntang Karing inunang Ibunya Karing adalah Menyah (adik Endas’ little sister) and Karing was
dengan Bungai. Sadang Burou, induu ie Nyai Endas) dan Karing ditunangkan engaged to Bungai. In the mean time,
te Renden (andi Nyai Endas) tuntang dengan Bungai. Sedangkan Burou, Burou, her mother was Renden (Nyai
Burou jari inunang dengan Tambun. ibunya adalah Renden (adik Nyai Endas’ little sister) and Burou was
Tege je Timpung je baindu Dahiang Endas) dan Burou telah dipertunangkan engaged to Tambun. Timpung, daughter
(andi Nyai Endas) jari tunangan Ringkai dengan Tambun. Adapun Timpung yang of Dahiang (Nyai Endas’ sister), was
tuntang Lamiang je bapaa Antang (anak beribukan Dahiang (adik Nyai Endas) engaged to Ringkai, and Lamiang
Tihang esun Lanting) ie te tunangan merupakan tunangan dari Ringkai dan whose father was Antang (Tihang’s son,
Rambang. Lamiang yang bapaknya Antang (anak Lanting’s grandson) was engaged to
Tihang cucu Lanting) adalah tunangan Rambang.
Rambang.
60

Gbr. 22. Empat gadis bersaudara sepupu dari Tumbang Pajangei


yakni Lamiang, Karing, Burou dan Timpung (dari kiri).
23. Mambelep Batu Bulan
Menggelapkan Batu Bulan | To Dim The Moon Stone

Intu bentuk lewu Tumbang Pajangei Di tengah-tengah desa Tumbang In the middle of Tumbang Pajangei
tege ije kabawak batu hai je inggare Batu Pajangei ada sebuah batu besar yang village, there was a big stone named
Bulan. Amun andau hamalem batu je dinamakan Batu Bulan. Bila malam Batu Bulan (moonstone). At night, the
tuh mampalua cahayaa hingga uras ije hari batu ini memancarkan cahayanya stone shine brightly, like a thousand watt
kalewu tuntang darah hete tarang kilau sehingga seluruh desa dan sekitarnya electricity. It was because of that light,
listrik ribuan watt. Awi cahaya tarang te terang benderang bagaikan listrik ribuan the enemies had trouble getting close to
bahali musuh handak manukep tuntang watt. Karena cahaya terang itu sulit attacking the village.
manyarang lewu. musuh untuk mendekati dan menyerang However, the moonstone today, 61
Tapi Batu Bulan je lekaa intu desa. which is located in the downstream of
tumbang sungei Pajangei hila sambil Tetapi Batu Bulan yang terletak di Pajangei River (in deeper area on the left,
tame (dia kejau bara saran batang danum muara sungai Pajangei sebelah kiri masuk not far from Kahayan riverside) does not
Kahayan), wayah tuh dia bacahaya (tidak jauh dari tepi sungai Kahayan), shine brightly as when the Tumbang
kilau metuh basewute lewu Tumbang sekarang tidak bercahaya seperti saat Pajangei village was famous. There were
Pajangei. Are versi kesah je mawi kabelep terkenalnya desa Tumbang Pajangei. a number of versions of why the stone
cahaya te. Banyak versi cerita penyebab padamnya has lost its brightness.
Belahe manyewut awi Sempung cahaya itu. Some said it was because Sempung
dia maku mahamen katawan uluh Sebagian mengatakan sebab Sempung did not want to bear the shame to the
ije kalewu, taharep gawi anak akee je tidak mau malu ketahuan warga community for having his sons and
mangakap kawan bawi bujang ije kalewu desanya, terhadap perbuatan anak serta nephews’ wrongdoing \dating the girls
te. keponakannya yang mengencani gadis- in the village.
Je beken mansanan awi gawi Bungai gadis sedesa itu. Some other said that it was because
tuntang Tambun je dia maku uluh beken Lainnya mengatakan akibat ulah of Bungai and Tambun did not wish for
mite ewen batapa hunjun batu te. Ewen Bungai dan Tambun yang tidak ingin anyone to see them meditate on top of
manilape mahapan gita lepu (gita kilau orang lain melihat mereka bertapa di the stone that they would cover it with
upun hanau). atas batu itu. Mereka melapisinya dengan latex from lepu (a kind of sugar date
Sabujura gawi tuh awi Rambang je getah lepu (getah pohon sejenis aren). palm).
benye-benyem mangapute. Rambang Sebenarnya pekerjaan ini
puna are pangalamaa tuntang dilakukan Rambang yang diam-
pangatawaa, barakat bara tamuei ayu je diam menggelapkannya. Rambang This chore was actually done by
kanih kante. Ie jadi katawan basa cahaya memang banyak pengalamannya dan Rambang who was secretly darkened it.
radiasi Batu Bulan te cagar mampatei pengetahuannya, hasil dari perantauan- Rambang was more experienced and had
uras uluh lewu Tumbang Pajangei nya ke mana-mana. Ia telah mengetahui more knowledge than the others had in
rangka-rangkah. bahwa cahaya radiasi Batu Bulan the village. He knew that the radiating
Tau hirah Batu Bulan kilau ije itu bakal membahayakan jiwa semua light from the moonstone would slowly
sumber uranium je itah katawan wayah penduduk desa Tumbang Pajangei jeopardize the life of everyone in the
tuh babahaya tutu amun buah. Te hirah perlahan-lahan. village.
kea jetuh je manampa lilape uras uluh Mungkin Batu Bulan merupakan The moonstone was probably the
lewu Tumbang Pajangei kajaria. sebuah sumber uranium yang kita source of uranium, which we now know
Hingga wayah tuh eka tuh magun ketahui sekarang sangat berbahaya jika could become hazardous should it be
terkontaminasi. Mungkin pula inilah contaminated. Perhaps this was also
62 kilau huran jatun ati je bahanyi
penyebab gaibnya seluruh penduduk desa the reason why the whole population
mangaraene.
Tumbang Pajangei akhirnya. of Pajangei village was disappearing
Sampai sekarang lokasi ini tetap eventually.
seperti dulu tidak ada yang berani The location is still as it were and no
merusaknya. one dare not to spoil it.
63

Gbr. 23. Rambang yang banyak pengetahuan dan


pengalamannya menutup Batu Bulan takut radiasi.
24. Rancana Mambaleh Kayau
Rencana Membalas Kayau
The Plan To Pay Back Kayau

Sinde katika Rambang huang Suatu ketika Rambang dalam One time, when Rambang was on
tamueie hasundau dengan babuhan pengembaraannya bertemu dengan his journey, he met the Kalangkang who
Kalangkang je bihin dia umba Lambung keluarga Kalangkang yang dahulu did not join Lambung to move further
halisang kan hila selatan (batang danum tidak ikut Lambung pindah ke arah south towards Kahayan River. He also
selatan (sungai Kahayan). Ia juga pergi left Rangan Marau, only he left towards
Kahayan). Ie kea haguet malihi Rangan meninggalkan Rangan Marau tetapi
Marau baya kan hila utara haream. Rami north. Then they switch each other’s
malah ke arah utara. Ramailah mereka
ih ewen bakesah manahiu tamuei kawan berceritera tentang perjalanan keluarga story about the journey of their families
babuhaa te je kanih kante manggau mereka itu yang bertebaran mencari in search for a safer place to live. This
64 eka melai taheta je aman. Je tuh nah tempat tinggal baru yang aman. Inilah finally grew a sense of vengeance inside
kajaria mampalembut angat huang akhirnya menumbuhkan perasaan di hati Rambang’s heart towards the Rangan
atei Rambang handak mambaleh kan Rambang untuk membalas dendam ke Pulang.
Rangan Pulang. Rangan Pulang. Soon after his arrival on Tumbang
Limbah buli kan Tumbang Pajangei Sepulangnya ke Tumbang Pajangei Pajangei, he pulled together every young
ie mamumpung kawan tabela je tege, ia mengumpulkan para pemuda yang man in the village. There were thirty
ada, tiga puluh orang banyaknya of them, including Bungai, Tambun,
teluh puluh biti kakaree tatame ewen termasuk mereka berempat Bungai,
baepat Bungai, Tambun, Ringkai Ringkai and Rambang himself. He
Tambun, Ringkai dan dirinya sendiri.
tuntang arepe. Auhe ewen je dumah Dikatakannya mereka yang hadir sudah told the young people that all of them
jadi sukup kabakase tuntang jadi sampai cukup dewasa dan sampai masanya had grown into an adult and the time
katika kilau mahalau karen syarat ije biti menunaikan syarat sebagai pemuda yang had come to fulfill their ancestor’s
tabela je jadi adat huran, pangkahelu ie sudah menjadi tradisi leluhur, terlebih prerequisite to become a fully-grown
te tulak mangayau (manetek takuluk) dahulu pergi mengayau (memotong man. To go mengayau (to cut off one’s
tuntang amun bahasil harun manampa kepala) dan kalau berhasil barulah head) and if they succeed they can get
kabalii. berumah tangga. married.
Mahining taluh kuan Rambang ewen Mendengar apa yang dikatakan The crowd agreed and they all felt
Rambang mereka semua setuju, karena their adrenaline-charged. Lambung and
uras satuju, awi uras mangkeme tagarak semua merasa tergugah hatinya. Lambung
ateie. Lambung tuntang Sempung tikas Sempung could only give their approval
dan Sempung hanya menyetujui saja
manyatuju bewei awi ewen jadi uzur karena mereka sudah uzur dan tua. for they have grown old. However, it was
tuntang bakas. Aluh kilau te pumpung Walau demikian pertemuan itu meminta suggested that an investigation should
kau balaku mangat tege pangamatan agar ada penyelidikan dahulu tentang previously take place to identify the
helu taharep kakuatan musuh hayak kekuatan lawan serta jalan ke tempat enemy’s strength and the shortest route
jalaa kan eka je inintu te je murah ihalau. yang dituju yang mudah ditempuh. to get to the target.
65

Gbr. 24. Rambang menggugah perasaan para pemuda Tumbang Pajangei untuk membalas mengayau
ke Rangan Pulang.
25. Rambang Jadi Balian
Rambang Jadi Dukun
Rambang, The Medicine Man

Limbah lewu Tumbang Pajangei Sesudah desa Tumbang Pajangei After the construction of Tumbang
imbangun, sulaka pambelum Sempung dibangun, mulanya kehidupan Sempung Pajangei village was done, Sempung and
tuntang genep babuhaa balangsung dan seluruh kerabatnya berlangsung his family’s life were calm at first. They
dengan tentram. Babuhan Sempung dengan tenang. Keluarga Sempung were rich and he was the head of the
basewut tatau tuntang ie kea rujin lewu terkenal kaya raya dan ia pula pasak desa village. However, the family’s happiness
te. Tapi kamangat pambelum kulawarga tersebut. Namun kebahagiaan keluarga was distracted by the illness that befell
tuh dinun taluh je manderuh kilau ini mengalami gangguan melalui his son Bungai, and his nephew Tambun.
66 mahalau peres je buah anake Bungai penyakit yang diderita anaknya Bungai It appeared to be eczema all over their
hayak akee Tambun, kilau baha je serta keponakannya Tambun, seperti bisul body.
banana intu hapus bitin ewen. yang bernanah di sekujur tubuh mereka. There was a lot of medicine man
Are jadi kawan balian mancuba Banyak sudah para dukun tradisional who had tried to heal them but none
katauu tapi hindai ije je ulih bahasil. mencoba kebolehannya namun belum succeeds. They even had asked signs
Kare balian te jadi kea balaku patunjuk satupun yang berhasil. Emua balian from the Sangiang (gods), but the pray
bara Sangiang, tapi dia dinuu. sudah pula meminta petunjuk dari was still unanswered.
Dumah ih je Rambang bara tanjung Sangiang (dewata), namun tidak Hen Rambang came home from
tamueie manalih mamaa Sempung. Ie diperolehnya. his journey to find his uncle Sempung.
mansanan keleh kadue andi sapupuu te Datanglah Rambang dari He suggested that both his cousins
mandui hulit hinje hadangan baputi. perantauannya mendapatkan pamannya were to bathe in mud with a white bull.
Sempung sangit tutu mahininge, awi ie Sempung. Ia menyarankan agar kedua Sempung was furious to have heard this,
maniruk taluh kuan Rambang je mia- adik sepupunya itu mandi berkubang he thought what Rambang had said was
mias te kilau mahina kaluargaa. Hemben bersama kerbau putih. Sempung sangat weird and it was insulting his family. He
te kea Rambang usire. marah mendengarnya, sebab ia mengang- soon threw Rambang out of his house.
Kahaban je mawi Bungai tuntang gap apa yang dikatakan Rambang The illness that Bungai and Tambun
Tambun sasar paham. Uluh are tuntang yang aneh-aneh itu seperti menghina had had got worse. The public and even
tunangan ewen due mangejau arepe keluarganya. Serta merta Rambang their fiancés were moving away afraid
mikeh buah kea. diusir-nya. that it might be contagious.
67

Gbr. 25. Terpaksa Bungai dan Tambun berkubang bersama kerbau putih
demi penyembuhan sakitnya yang aneh.
Angat atei putus asa mawi Bungai Penyakit yang diderita Bungai dan Bungai and Tambun felt desperate
tuntang Tambun selang. Ewen due Tambun semakin parah. Masyarakat dan with their condition. Finally, they
benye-benyem balua huma tuntang tunangan keduanya pun menjauhkan sneaked out at night to bathe in the
sewu arepe kan kubangan hadangan diri takut ketularan. mud with the white bull in the village.
baputi je tege intu lewu te. Ampie Rasa putus asa membuat Bungai dan Miraculously, their skin disease was
tutu tamam, baha ewen due mangeang Tambun nekad. Mereka berdua diam- totally healed. They both yelled and
tuntang limbah kau takuyak jatun ati diam keluar rumah dan menceburkan cheered.
awaa sama sinde. Ewen due mangkuriak diri ke kubangan kerbau putih yang Sempung ordered that Rambang be
kahanjakan. terdapat di desa itu. Ternyata sungguh found; he then apologized to his nephew
Sempung manyuhu uluh manggau ajaib, borok keduanya mengering dan gentlemanly. Then they all celebrate it.
Rambang, ie balaku maaf dengan akee te kemudian terkelupas tidak berbekas sama
secara kesatria. Ewen balalu mawi pesta sekali. Keduanya berteriak kegirangan.
68 sukur.. Sempung memerintahkan orang
mencari Rambang, ia meminta maaf
pada keponakannya itu secara kesatria.
Mereka lalu membuat pesta sukur.
26. Rambang Haguet Manyelek
Rambang Pergi Menyelidik
Rambang Went To Investigate

Akan mampamangat tamuei kawan Untuk memudahkan pengembaraan To make the journey easier for
paharii kareh, Rambang kabuate dia saudara-saudaranya nanti, Rambang his brothers later, Rambang went out
maku indengan haguet manyelek. seorang diri tanpa mau ditemani pergi himself to investigate. First, he went
Sulaka ie murik batang danum Kahayan, menyelidik. Mula-mula ia memudiki down the Kahayan River, and then the
limbah te sungei Miri tuntang balalu sungai Kahayan, kemudian sungai Miri Miri River, then he climb the Muller-
jakat pagunungan Muller-Schwanner dan lalu mendaki pegunungan Muller- Schwanner mountains trough sua duhi
mahalau sua Duhi, inyewut kilau kau Schwanner lewat sua Duhi (sua artinya (sua means short cut, duhi means thorn),
hirah awi jalaa are duhi. jalan pintas, sedang duhi artinya duri), perhaps it was named so because there 69
Intu hunjun puruk Uhing Doung disebut demikian mungkin karena were lots of thorns on the way.
je basila due, Rambang tapaksa bapikir jalannya banyak duri. On top of the two splitting Uhing
tutu. Inangkajuk dia ulih, muhun dia Di puncak bukit Uhing Doung yang Doung Hill, Rambang had to think
tau kea awi handalem tutu tuntang cagat terbelah dua, Rambang terpaksa berfikir hard. He could not jump over it nor
tiwinge. keras. Diloncati tidak dapat, dituruni climbed down because it was very deep
Rambang balalu maneweng ije tidak mungkin pula sebab sangat dalam and steep.
kabatang upun tabalien je balalu dan curam. Rambang then cut down an
impalihange bahalang intu hunjun silan Rambang lalu menebang sebatang ironwood and then he put it down
puruk te. Hila hunjun upun tabalien te kayu ulin yang lalu direbahkannya horizontally over the splitting cliff.
imparata isut, edan tuntang rantinge melintang di atas belahan bukit itu. Sisi He flattened the top side, cut off the
inganan. Gawi je tikas mahapan mandau atas batang kayu itu diratakan seadanya, branches and twigs, all done by using
te jadi kuman waktu telu andau katahie. dahan dan rantingnya dipotong. only a mandau (a traditional Dayak
Limbah dimpah tuntang muhun Pekerjaan yang hanya menggunakan weapon, a kind of big knife) for three
bara hunjun puruk kan hila pambelum mandau (senjata tradisional suku Dayak, days.
gitan ih batang danum Mahakam je sejenis parang) itu telah memakan waktu After crossing over and went down
lumbah, panjang tuntang kulur-keler tiga hari lamanya. hill toward the east, he could see the
kilau handipe hayak kihame je tamam. Setelah menyeberang dan turun wide, long, and snake-like Mahakam
Asep banipis gitan mandai kahunjun dari atas bukit ke arah timur terlihatlah River. From the distance, he saw a thin
bara kejau, je te lewu Rangan Pulang je sungai Mahakam yang lebar, panjang smoke coming up from a village that was
cagar inyarang. dan berliku-liku bagaikan ular dengan the target, Rangan Pulang village.
Limbah munduk mananture riamnya yang dahsyat. Asap tipis terlihat After sitting for a while, Rambang
hanjulu, Rambang mananjung buli naik di kejauhan, itulah desa Rangan went home to Tumbang Pajangei. His
kan Tumbang Pajangei. Gawie akan Pulang yang akan diserang. effort to smoothen his brothers’ journey
mampamangat tanjung kawan paharii Sehabis duduk termenung sebentar, would succeed. The small bridge he built
kareh sukup bahasil. Dampahan je Rambang berjalan pulang ke Tumbang on top of the Uhing Doung Hill still
inampa intu hunjun puruk Uhing Pajangei. Usahanya untuk memudahkan exists now, and people named it after
Doung te hingga wayah tuh magun jalan saudara-saudaranya nanti cukup his name, dampahan (bridge) Rambang.
tege tuntang inggare uluh dampahan berhasil. Titian yang dibangunnya di Nevertheless, for those who did not have
Rambang. Tapi akan ewen je manida, puncak bukit Uhing Doung itu hingga the faith or bad manners could not see
papa ateie, dia baka ulih mite dampahan kini masih ada dan dinamakan orang the bridge, unless they were lucky or the
te suali ie kaduluran tuntang tege utuse, dampahan (titian) Rambang. Tetapi decendants, because it could go magical.
awi dampahan te tau lilap. bagi mereka yang tidak yakin, jahat
70 pekertinya, tidak dapat melihat titian
itu kecuali ia mempunyai keberuntungan
dan ada silsilahnya (keturunan), sebab
titian itu bisa gaib.
71

Gbr. 26. Rambang pergi menyelidik kekuatan musuh dan membuat titian pada tempat-
tempat yang curam.
27. Mambaleh Gawin Kandang
Motong Anak Towong
Membalas Perbuatan Kandang Motong Anak Towong
Paying Back Kandang Motong Anak Towong

Pambuli Rambang bara gawi Kembalinya Rambang dari All the young people of Tumbang
manyelek te puna jadi inantani uras penyelidikannya itu memang sudah Pajangei Village had awaited Rambang’s
kawan tabela lewu Tumbang Pajangei, ditunggu semua pemuda desa Tumbang return from his journey. They have
ewen jadi manatap arepe. Ewen Pajangei, mereka telah mempersiapkan
mampendeng sahur tuntang balaku diri. Mereka mendirikan hajat (bernazar) prepared themselves, they vowed and
taharep Sangiang uka panulak pangguet dan meminta kepada dewa-dewa agar asked the gods should their leaving
ewen harajur iawat tuntang buli dengan keberang-katan mereka selalu dilindungi be protected and their returning be
keberhasilan. dan kembali dengan keber-hasilan. succeeded.
72 Sahelu bara haguet kawan tabela te Sebelum berangkat para pemuda itu Before leaving, the young men got a
jadi impahata penyang akan baperang telah dibekali azimat untuk berperang
awi Sempung. Rambang je katawan jalaa oleh Sempung. Rambang yang tahu talisman for war by Sempung. Rambang
batindak kilau pamimpin ewen, hemben jalannya bertindak sebagai pemimpin who knew the way acted as their leader,
te kea ie puna je tambakas ewen huang mereka, lagi pula ia memang yang tertua and he was the oldest among them.
umur. mereka dalam usia. In short, what Rambang had done
Pandak auh narai je jadi iawi Pendek kata apa yang telah dilakukan previously has proven to make thier
Rambang saheluu bara te jadi magah Rambang sebelumnya sudah mengantar
ewen urase dengan lancar kan saran mereka semua dengan lancar ke tepi journey easier to the riverside of the
batang danum Mahakam. Hamalem sungai Mahakam. Malam hari mereka Mahakam River. At night, they swam
andau ewen hanangui dimpah kan lewu berenang menyeberang ke desa Rangan across the river to the Rangan Pulang
Rangan Pulang. Pulang. Village.
Tukep sawah andau ewen manyarang Menjelang subuh mereka menyerang At dawn they attacked abruptly, the
bakajut, uras uluh lewu lepah imunu. dengan mendadak, seluruh penduduknya
Bungai manetek takuluk Kandang habis dibunuh. Bungai memotong kepala whole villager was murdered. Bungai cut
Motong Anak Towong rujin lewu Kandang Motong Anak Towong pasak off the head of Kandang Motong Anak
Rangan Pulang akan imbit buli, kilau desa Rangan Pulang untuk dibawa Towong, the head of the village, to be
te kea je beken genep bitii sama mimbit pulang, demikian pula yang lainnya carried home. So were the others, each
buli ije kabawak takuluk kilau tanda setiap orang masing-masing membawa man cut off and carried home a single
kamanangan. pulang satu buah kepala sebagai pertanda
head as the sign of their victory.
Parabut tuntang panatau je barega kemenangan.
inggatang tuntang inamean kan huang Barang-barang dan harta benda They also brought home things and
papire kabawak arut akan imbit kan yang berharga diangkut dan dimuat ke valuable treasures in several boats, and
Tumbang Pajangei, ewen balalu masuh dalam beberapa perahu untuk dibawa then they went down the Mahakam
batang danum Mahakam. ke Tumbang Pajangei, mereka lalu River.
menghiliri sungai Mahakam.
73

Gbr. 27. Dibawah pimpinan Rambang seluruh penduduk desa Rangan Pulang dibunuh
sebagai pembalasan dendam.
28. Manahur Silih Taharep Kandang Tumbang
Kutai Bulan
Membayar Hutang Pada Kandang Tumbang
Kutai Bulan
Paying Debt To Kandang Tumbang Kutai Bulan
Katahin huang parjalanan masuh Selama dalam perjalanan menghilir On their way going down the
manyarurui batang danum Mahakam te menyusuri sungai Mahakam itu mereka Mahakam River, they celebrated their
ewen bapesta hayak kahanjake. Buhen berpesta dengan gembira. Mengapa victory because none of them was
dia; awi dia ije biti bara kawan tabela te tidak; karena tidak seorangpun dari injured, everyone were unharmed.
je bahimang, ewen urase salamat. pemuda-pemuda itu yang cedera, mereka After a few days, they arrived at the
Limbah papire andau, te ewen semuanya selamat. residence of Kandang Tumbang Kutai
sampai intu eka melai Kandang Setelah beberapa hari, tibalah mereka Bulan. Rambang signaled the rest to
74 Tumbang Kutai Bulan, Rambang di tempat tinggal Kandang Tumbang stop by. Before getting out the boat, he
manenga isyarat mangat tende hanjulu Kutai Bulan, Rambang memberi told the others that he owed gold three
intu hete. Sahelu mandai Rambang isyarat untuk singgah sebentar di situ. boats to Kandang Tumbang Kutai Bulan
bakesah bahwa ie tahutang amas telu Sebelum naik Rambang bercerita bahwa according to the tradition’s judgment
perahu taharep Kandang Tumbang ia berhutang emas tiga perahu pada for misbehaving his brother. This had
Kutai Bulan manumun kaputusan Kandang Tumbang Kutai Bulan menurut happened in Rambang’s journey a few
Hakim Adat ewen te awi tadawa tege keputusan Hakim Adat mereka karena years earlier.
kasala dengan andii. Ihwal tuh tarjadi dituduh berbuat salah pada adiknya. Bungai was upset to hear about this.
huang tamueie papire nyelu je mahalau. Hal itu terjadi dalam pengembaraannya He said it was a crazy decision and it
Bungai sangit mahininge, je te beberapa tahun yang lalu. should be settled with mandau. He went
kaputusan je mameh kuaa, keleh Bungai marah mendengarnya, itu off the boat unexpectedly, followed by
imbayar hapan mandau. Hemben te kea keputusan yang gila katanya, lebih baik Tambung, Ringkai, and Rambang. The
ie manangkajuk kan ngambu impahayak dibayar dengan mandau. Serta merta ia four of them was enough; the others
awi Tambun, Ringkai tuntang Rambang. meloncat ke darat diikuti oleh Tambun, waited and guarded the boats.
Sukup ewen baepat ih manaharepe, je Ringkai dan Rambang. Cukup mereka
beken basiap tuntang mahaga arut ih. berempat saja menghadapinya, yang lain
bersiaga dan menjaga perahu saja.
75

Gbr. 28. Bungai menggasak Kandang Tumbang Kutai Bulan yang menuntut
bayar utang Rambang gila-gilaan.
Kandang Tumbang Kutai Bulan ije Kandang Tumbang Kutai Bulan Kandang Tumbang Kutai Bulan and
kababuhan huang lamin (betang) ayuu sekeluarga dalam rumah panjang his family were murdered in his long
lepah imunu, silih Rambang dia usah miliknya habis dibunuh, utang Rambang house. Rambang has no obligation to
imbayar hindai tuntang kea panatau tidak usah dibayar lagi dan malah pay his debt anymore; instead, several
Kandang Tumbang Kutai Bulan haream harta Kandang Tumbang Kutai Bulan boats of Tumbang Kandang Kutai
papire arut imbit ewen. beberapa perahu dibawa mereka. Bulan’s belonging were carried home
Balua batang danum Mahakam, Keluar sungai Mahakam, layar with them.
layar ingkepan tuntang ewen balayar dikembangkan dan mereka berlayar ke Getting off the Mahakam River, they
kan hila pambelep manyarurui pantai arah barat menyusur pantai kemudian sailed west, cruised near the shore and
balalu tame batang danum Kahayan. masuk sungai Kahayan. Semua keluarga got into Kahayan River. All their relatives
Uras babuhan ewen nampara bara je mereka mulai dari yang tinggal di desa starting from the ones in downstream of
melai intu lewu Tumbang Rungan hila Tumbang Rungan sebelah hilir hingga Tumbang Rungan and Tumbang Miri in
76 ngawa hingga intu lewu Tumbang Miri di desa Tumbang Miri sebelah hulu the upstream were invited to Tumbang
hila ngaju irawei manalih lewu Tumbang diundang ke desa Tumbang Pajangei Pajangei to welcome the thirty young
Pajangei hagan manambang pandumah untuk menyambut kedatangan tiga puluh men.
katelu puluh biti tabela tuh. pemuda ini. Lead by Sempung, they carried out
Imimpin awi Sempung ilalus upacara Dipimpin oleh Sempung dilakukan the ceremony of Tahusung Taharang
Tahusung Taharang (manambang upacara Tahusung Taharang (welcoming the heroes) for the thirty
pahlawan) taharep katelu puluh biti (penyambutan pahlawan) terhadap young men. The treasures they got was
tabela te. Panatau je dinun ihapan ketiga puluh orang pemuda tersebut. used to performed Tiwah, the ceremony
akan malalus upacara Tiwah taharep Harta yang diperoleh dipergunakan for the deceased, for their ancestors held
tatu hiang ewen, je palaksanaa katahi untuk melaksanakan upacara Tiwah for 40 days and 40 nights, with hundred
40 andau 40 alem hayak dengan metu (penyempurnaan pemakaman) terhadap of cows or bulls and pigs as the sacrificial
korban baratus kungan sapi atawa para leluhur mereka, yang pelaksa- animals.
hadangan tuntang bawui. naannya selama 40 hari 40 malam serta
dengan hewan korban ratusan ekor sapi
atau kerbau dan babi.
29. Manduhup Lamiang
Membantu Lamiang | Helping Lamiang

Tasewut ih Antang (anak Lanting) Tersebutlah Antang (anak Once upon a time, Antang
haguet bara Tumbang Pajangei Lanting) pergi dari Tumbang Pajangei (Lanting’s son) went from Tumbang
manamuei tuntang madam kan mengembara dan berusaha ke Manuhing Pajangei on his journey trying to enter
Manuhing Tintun Datah Tambun Tintun Datah Tambun (sekarang Manuhing Tintun Datah Tambun (now
(wayah tuh tame wilayah kacamatan termasuk wilayah kecamatan Manuhing part of Manuhing subdistrict, Gunung
Manuhing kabupaten Gunung Mas). kabupaten Gunung Mas). Di sana Mas district). There he met his destiny
Intu hete ie manyundau jodoh tuntang ia menemukan jodohnya dan kawin and married a girl named Benang. They
kawin dengan ije biti bawi bagare dengan seorang gadis bernama Benang. lived happily rich and had a girl named 77
Benang. Ewen belum sanang tatau hayak Mereka hidup berbahagia berharta serta Lamiang.
dinun ije biti anak bawi je inenga araa mendapat seorang puteri yang diberi Antang was finally pointed as
Lamiang. nama Lamiang. the head of the village. However, the
Kajaria Antang inggatang uluh lewu Akhirnya Antang diangkat penduduk happiness was torn because Benang was
te jadi pambakal ewen. Tapi kajaria desa itu menjadi kepala desa mereka. ill and died. Soon, Antang himself died
kasanang te nihau limbah Benang malihi Tetapi akhirnya kebahagiaan itu pupus because he could not afford to bear the
awi kahabaa je dia ulih inatamba, je setelah Benang meninggal akibat sakitnya sorrow.
balalu injake awi Antang kabuat awi yang tak terobati, yang lalu disusul oleh Because Lamiang was already a
kapehen ateie. Antang sendiri karena kesedihan hatinya. teenager, many people came to the village
Awi Lamiang jadi bujang, are ih Karena Lamiang sudah remaja, to propose her. Because of her beauty,
uluh dumah kan lewuu te handak misek banyaklah orang datang ke desanya ships came from everywhere, from
ie. Haranan kahalape, baratus arut bara itu untuk melamarnya. Akibat many countries, and many backgrounds.
kanih kante dumah, kawan uluh utus kecantikannya, ratusan perahu dari Lamiang was not thinking about getting
gantung tuntang kawan sadagar tatau mana-mana berdatangan, orang-orang married yet, she wanted to perform the
bara bamacam suku. Lamiang hindai berbangsa dan pedagang-pedagang kaya Tiwah first for her deceased parents.
ati maniruk je handak kawin, beken dari berbagai suku. Lamiang belum ada Nevertheless, everyone who came to
bara baniat handak malalus helu upacara memikirkan ingin kawin, melainkan propose her insisted on getting married.
Tiwah kadue uluh bakase bewei. hanya berniat untuk melaksanakan Lamiang was confused and she did not
Tapi ewen je dumah uras mamaksa, dahulu upacara Tiwah kedua orang have the courage to get out the house,
arepe ih je masti inarima. Lamiang tuanya saja. while she almost ran out of food stock.
kabingungan dia bahanyi balua huma, Tetapi mereka yang datang semua Sangkurun (Lamiang’s uncle) heard the
sabujure taluh panginaa jari tukep lepah. memaksa, dirinyalah yang harus news, and then he told Sempung about
Habar tuh sampai akan Sangkurun diterima. Lamiang kebingungan tak this who soon gathered his family.
(mama Lamiang) je balalu mansanan berani keluar rumah, padahal bahan In short, Bungai, Tambun, Rambang,
taluh tuh akan Sempung, je balalu makanannya sudah hampir habis. Kabar and Ringkai came to Manuhing Tintun
mamumpung kulaa. ini sampai pada Sangkurun (paman Datah Tambun. At the time, people
Pandak kesah, Bungai, Tambun, Lamiang) yang lalu memberitahukan would shot their cannons to scare
Rambang tuntang Ringkai bagulung keadaan ini pada Sempung, yang segera Lamiang.
haguet kan Manuhing Tintun Datah mengumpulkan keluarganya.
Hearing the cannons, Bungai went
Tambun. Metuh te belahe bara ewen Pendek cerita, Bungai, Tambun, wild. He took one of the cannon and
je dumah te manembak lelaa hagan Rambang dan Ringkai segera pergi ke used it as a bat to hit every foreigner who
mampikeh Lamiang. Manuhing Tintun Datah Tambun. Saat
78 itu sebagian dari mereka yang datang
came to their land. He killed the ones
Mahining hiau lela te Bungai balalu who resisted, and he let the ones who
mahamuk, lela induaa tuntang inampaa itu menembakkan meriamnya untuk escaped to live.
kilau gada (pamantu) akan mawi uras menakut-nakuti Lamiang.
After performing the Tiwah for
pandumah te. Je bahanyi malawaa uras Mendengar suara meriam itu Bungai her parents and taking care of their
matei awii, sadang je hadari inaluaa lalu mengamuk, meriam diambilnya belongings, Lamiang then joined her
salamat. dan dibuatnya seperti gada (pentungan) cousins to go back to Tumbang Pajangei
Limbah malalus upacara Tiwah untuk menghantam semua pendatang village.
kadue uluh bakase hayak manatap karen itu. Yang berani melawannya semua
panataue, te awi kaepat pahari sapupue mati dibuatnya, sedangkan yang lari
Lamiang imbit ewen buli kan Tumbang dibiarkannya selamat.
Pajangei. Setelah melaksanakan upacara Tiwah
kedua orang tuanya serta mengurus
harta bendanya, maka oleh keempatnya
saudara sepupunya Lamiang dibawa
mereka pulang ke Tumbang Pajangei.
79

Gbr. 29. Bungai mengamuk memukul dengan meriam bagai


pentungan, yang direbutnya dari para pelamar Lamiang.
30. Bungai Majar Pasukaa
Bungai Melatih Pasukannya
Bungai Trained His Army

Anak Sempung bara kabalii je bakas Anak Sempung dari isterinya Sempung’s daughter from his first
Nyai Nunyang, rujin lewu Tanjung yang pertama Nyai Nunyang, pasak wife Nyai Nunyang, the head of the
Pamatang Sawang ie te Nyai Undang, desa Tanjung Pamatang Sawang yakni village Tanjung Pamatang Sawang, who
mawi masalah awi kahalape. Are je Nyai Undang, membuat masalah is Nyai Undang, made a problem because
dumah misek, sadang ie jadi batunangan karena kecantikannya. Banyak yang of her beauty. Many came to propose
dengan paharii sapupu Sangalang (anak datang melamar, sedangkan ia sudah her, while she was already engaged to her
Lintung esun Karangkang). bertunangan dengan saudara sepupunya other cousin Sangalang (Lintung’s son,
80 Nawang, andi rajan Solok-Mindanao Sangalang (anak Lintung cucu grandson of Karangkang).
(Filippina), dumah misek. Ie batindak Karangkang). Nawang, brother of the King
selang aluh jadi inampik hayak kajenta Nawang, adik raja Solok-Mindanao Solok-Mindanao (Phillipines) came to
bua-buah. Lalau kasangite awi jadi dia (Filippina), datang meminang. Ia propose. He acted foolishly even though
bahalap langkasa, Nyai Undang balalu bertindak nekad walau sudah ditolak she already refused kindly. Because she
mancucuk Nawang mahapan duhung dengan ramah baik-baik. Saking was angry for being mistreated, Nyai
(sanjata tradisional uluh Dayak tampa marahnya karena perbuatannya sudah Undang then stabbed Nawang with her
kilau isin lunju) pusakaa. tidak senonoh, Nyai Undang lalu duhung (Dayak traditional spearhead).
Habar pampatei Nawang imbit menusuk Nawang dengan duhung Nawang’s death soon heard by his
riwut buli kan lewuu. Kakaa raja Sawang (senjata tradisional suku Dayak berbentuk brother Sawang, and he intended to
handak mambaleh bunu pampatei andii mata tombak) pusakanya. avenge the death of his brother. He
te. Due puluh lime kabawak pencalang Berita kematian Nawang dibawa prepared twenty-five pencalang (a kind
(kilau parahu layar) hayak hanya kuyan angin pulang ke negerinya. Kakaknya raja of sailboat) with eight thousand troops
biti pasukaa balalu inatap. Sawang berniat membalas dendam atas on it.
Awi kajadian tuh mawi Nyai kematian adiknya itu. Dua puluh lima Nyai Nunyang fell sick and died
Nunyang jadi haban hingga ie malihi. buah pencalang (sejenis perahu layar) because of this incident. Nyai Undang
Tapaksa Nyai Undang mangganti dengan delapan ribu orang pasukannya then had to take over the leadership of
arwah induu mamimpin lewu Tanjung lalu disiapkan. her country Tanjung Pamatang Sawang.
Pamatang Sawang.
81

Gbr. 30. Bungai dan Tambun melatih pasukan untuk membantu


perlawanan saudaranya Nyai Undang di Kuta Bataguh.
Maniruk akibat taluh awii hayak Akibat peristiwa ini membuat Nyai Realizing the condition, Nyai
bagulung Nyai Undang balalu mampait Nunyang jatuh sakit hingga ia meninggal Undang soon sent out lunju bunu
totok bakaka kilau lunju bunu taharep dunia. Terpaksa Nyai Undang meng- (killing spear) as totok bakaka (signaled
uras babuhaa hapuas batang danum ganti almarhum ibunya memimpin message) to her whole family along the
Kapuas tuntang batang danum Kahayan; negeri Tanjung Pamatang Sawang. rivers of Kapuas and Kahayan, asking for
balaku duhup awi lewuu tuntang uras Menyadari akibat perbuatannya help because an enemy will attack her
suku cagar inyarang uluh. dengan segera pula Nyai Undang lalu village and the tribe.
Rambang tuntang Ringkai gulung mengirimkan totok bakaka (pesan dengan Rambang and Ringkai soon went
haguet kan Tanjung Pamatang Sawang. bahasa isyarat) berupa lunju bunu to Tanjung Pamatang Sawang. Together
Hayak dengan Rendan bara hulu batang (tombak pembunuh) kepada seluruh with Rendan from upstream Kapuas
danum Kapuas je mimbit tetek upun keluarganya sepanjang sungai Kapuas River who brought ironwood log with
kayu tabalien, ewen balalu manampa dan sungai Kahayan; meminta bantuan him, they then build a fortress; so
82 kuta; hingga Tanjung Pamatang Sawang karena desanya dan seluruh suku bakal Tanjung Pamatang Sawang also then
inyewut kea Kuta Bataguh (benteng je diserang musuh. known as Kuta Bataguh (toughened
impadehen). Rambang dan Ringkai segera pergi fortress).
Sadang Bungai tuntang Tambun ke Tanjung Pamatang Sawang. Bersama- While Bungai and Tambung stayed
pandehan te tetep intu Tumbang sama dengan Rendan dari hulu sungai in Tumbang Pajangei, teaching art of
Pajangei, majar bakalahi ije pasukan je Kapuas yang membawa potongan batang combat (in war) to a group of their
uluu bara kawan tabela babuhan ewen kayu ulin, mereka lalu menbuat benteng; family’s young men, from the ones in
helu te, je melai hapus batang danum sehingga Tanjung Pamatang Sawang Tumbang Miri village in the Kahayan
Kahayan intu lewu Tumbang Miri intu disebut juga Kuta Bataguh (benteng yang River upstream to Tumbang Rungan
ngajuu hingga lewu Tumbang Rungan diperkuat). village in the downstream.
intu ngawaa. Sedangkan Bungai dan Tambun
sementara itu tetap di Tumbang Pajangei,
mengajar berkelahi (berperang) suatu
pasukan yang orangnya terdiri dari para
pemuda keluarga mereka dahulu itu,
yang berdiam sepanjang sungai Kahayan
di desa Tumbang Miri di hulunya sampai
desa Tumbang Rungan di hilirnya.
31. Batu Tungku
Batu Tungku | Batu Tungku

Kejau intu likut lewu Tumbang Jauh di belakang desa Tumbang Far beyond the village of Tumbang
Pajangei, intu ije puruk, intu hete Bungai Pajangei, pada sebuah bukit, di sanalah Pajangei, on a hill, there Bungai and
tuntang Tambun majar perang kawan Bungai dan Tambun melatih berperang Tambun trained the young men of their
tabela babuhan ewen. Kawan tabela te para pemuda keluarga mereka. Para families. The young men are no other
dia beken bara paharii jitatu, hanjenan pemuda itu tidak lain dari saudara- than their first, second, and even third
tuntang hararue haream hayak kakare saudaranya sepupu sekali, sepupu dua cousins, and their nephews who came
aken ewen kabuat je dumah bara ngaju dan malah sepupu tiga serta kemenakan from the upstream and downstream
tuntang bara ngawa (lewu Tumbang mereka sendiri yang datang dari hulu dan (Tumbang Miri until Tumbang Rungan). 83
Miri hingga lewu Tumbang Rungan). dari hilir (desa Tumbang Miri sampai Surrounding that area was a thick
Darah leka te magun kilau padang desa Tumbang Rungan). forest. On top of the hill was a flat and
himba je sabat tutu. Intu hunjun puruk Sekitar tempat itu masih merupakan wide area used as a place for discussion
eka je rata tuntang lumbah inampa kilau hutan belukar yang sangat lebat. Di and arranging the war strategy. While
eka pumpung hapakat tuntang maatur atas bukit pada tempat yang rata dan under it was caves with rooms used as
tehnik berperang. Sadang intu pendaa lebar dibuat sebagai tempat berkumpul bedrooms.
tege liang hayak papire puluh rumbak je bermufakat rapat dan mengatur taktik Cooking food for two hundred
inampa kilau karung eka batiruh. berperang. Sedangkan di bawahnya people was done in shifts. Rice was
Akan panginan ewen te je kakare terdapat gua dengan beberapa puluh cooked in a big pot on a burner consisted
due ratus biti, mawi panginan ilalus cara ruang yang dibuat sebagai kamar tempat of three big stones. That’s the one people
hagilir. Barapi ilalus huang ije rinjing tidur. call Batu Tungku, today still on top of
hai intu ije tungku je inampa bara telu Untuk konsumsi mereka itu yang the hill.
kabawak batu hai, je te lah je inyewut banyaknya dua ratus orang, memasak
uluh Batu Tungku, sampai tuh masih makanan dilakukan secara bergiliran.
tege hunjun puruk te. Memasak nasi dilakukan dalam sebuah
kuali besar pada sebuah tungku yang
dibuat dari tiga buah batu besar, itulah

yang disebut orang Batu Tungku, sampai
sekarang masih ada di atas bukit itu.
84

Gbr. 31. Memasak makanan dalam rangka pelatihan pasukan itu di atas tiga buah batu
yang disebut Batu Tungku.
32. Markas Puruk Rumbak Haramaung
Markas Bukit Gua Harimau
Tiger Cave Hill Headquarter

Limbah ije bulan katahie dinun Setelah sebulan lamanya mendapat After a month of training, they all
latihan, ewen balalu haguet kan latihan, mereka lalu pergi ke Tanjung went to Tanjung Pamatang Sawang,
Tanjung Pamatang Sawang manyusul Pamatang Sawang menyusul Rambang catching up on Rambang and Ringkai
Rambang ewen due Ringkai je jadi tahi berdua Ringkai yang sudah lama berada who were already there. Bungai did all
intu hete. Uras gawi tuh ilalus Bungai di sana. Semua kegiatan ini dilakukan of this to help his sister Nyai Undang
akan manduhup kakaa Nyai Undang Bungai untuk membantu kakaknya to counter the attack from the Solok
manaharep serangan bara karajaan Nyai Undang menghadapi serangan dari Kingdom.
Solok. kerajaan Solok. Before departing, they asked the gods 85
Sahelu haguet ewen balaku patunjuk Sebelum berangkat mereka meminta for direction by performing Manajah
dengan Sangiang hayak malalus upacara petunjuk kepada dewa-dewa dengan Anang (Calling the Eagle). From the
manajah antang. Bara patunjuk je dinun menyelenggarakan upacara manajah direction they had, from the landing of
tumun tingkepe antang huang patinju antang (memanggil burung elang). the eagle on top of the pole (patinju) set
je inyadia yakin ih ewen je kamanangan Dari petunjuk yang diperoleh menurut for him, they were convinced that they
cagar dinun. hinggapnya burung elang pada patinju would win.
Rambang dumah manduan pasukan (kayu tempat hinggap) yang disediakan Rambang came to see Bungai’s
Bungai te. Jalan tame kan rumbak intu yakinlah mereka bahwa kemenangan troop. The entrance of the cave under
penda puruk te atep awii hapan ije akan dicapai. the hill was covered with a big rock. He
kabawak batu hai. Mahaga rumbak te Rambang datang menjemput asked one of his loyal slaves to guard it.
inyuhuu ije jipee je satia. Manumun pasukan Bungai itu. Jalan masuk ke According to the stories of the elders, the
kesah uluh baka-bakas helu, jipee te gua di bawah bukit itu ditutup olehnya slave guarded the cave all his life so that
malalus tugas te hapus kabelume hingga dengan sebongkah batu besar. Menjaga he went mystical and becoming a tiger.
lilap tuntang hubah jadi ije kungan gua itu disuruhnya seorang jipen (budak) That is why the hill is called Bukit Gua
haramaung. Je te lah mawii maka puruk nya yang setia. Menurut ceritera orang Harimau (Tiger Cave Hill).
te kajaria balalu inggare Puruk Rumbak tua-tua dulu, jipennya itu melaksanakan
Haramaung. tugas tersebut sepanjang hidupnya hingga
bergaib dan menjelma menjadi seekor
harimau. Itulah sebabnya maka bukit

tersebut akhirnya lalu dinamakan Bukit
Gua Harimau.
86

Gbr. 32. Rambang menjemput pasukan yang dilatih Bungai meninggalkan


Puruk Rumbak Haramaung ke Kuta Bataguh.
33. Perang Intu Bataguh
Perang Di Bataguh | War At Bataguh

Genep biti bara kulawarga utus Setiap orang dari keluarga keturunan Every one of Lambung’s, Lanting’s,
Lambung, Lanting tuntang Karangkang Lambung, Lanting dan Karangkang and Karangkang’s descendants gathered
je imumpung jadi kilau ije pasukan yang dikumpulkan jadi seperti sebuah becoming atroop lead by Bungai who
penda pimpinan Bungai jadi tege intu merupakan sebuah pasukan dibawah was already in Kuta Bataguh. They could
Kuta Bataguh. Papire andau limbah pimpinan Bungai sudah berada di Kuta see the top of the sails (pencalang) of
kau gitan ih pancalang-pancalang rajan Bataguh. Beberapa hari kemudian King Solok’s troops after several days.
Sawang manukep Kuta Bataguh. terlihatlah pencalang-pencalang raja Outside the fortress, Panglima
Bara luar kuta, Panglima Latang, Sawang mendekati Kuta Bataguh. Latang, the commander representing 87
wakil rajan Sawang mansanan je Dari luar benteng, Panglima King Sawang said that their arrival
pandumah ewen kante akan mahukum Latang, wakil raja Sawang mengatakan there was to punish the people of Kuta
uluh lewu Kuta Bataguh, manyarah bahwa kedatangan mereka ke situ untuk Bataguh, to surrender unconditionally.
dia basyarat. Rambang, sacara damai menghukum penduduk Kuta Bataguh, Rambang peacefully asked for a dialogue
mimbit barunding hayak helu bara menyerah tanpa syarat. Rambang, secara and he wanted to explain the cause.
te handak mansanan bukuu; tapi dia damai mengajak untuk berunding serta However, they refused and returned to
inarima tuntang ewen balalu haluli kan terlebih dahulu ingin menjelaskan duduk their ships.
pancalanga. perkaranya; namun ditolak dan mereka
Numbers of pencalang docked and
lalu kembali ke pencalangnya.
Papire puluh pancalang manukep thousands of people jumped off it with
kan saran tuntang manangkajuk ih Puluhan pencalang mendekat ke spear, sword and copper shield as their
papire kuyan ulun basanjata lunju, tepi dan berlompatan- lah ribuan orang weapon, then climbed the fortress’ wall.
parang dengan talawang tambaga; bersenjatakan tombak, pedang dengan Nevertheless, when they reached the
balalu mandai dinding kuta. Tapi metuh perisai tembaga; lalu menaiki dinding top, they were welcomed by the slicing
sampai intu hunjun ewen inambang awi benteng. Tetapi sampai di atas mereka mandau like grass being cut. Some fell
tejepan mandau, je kilau manejep uru disambut oleh tebasan mandau, yang without screaming for being shot by
halalang bewei. Tege kea je manjatu dia bagai menebas ilalang saja. Ada pula poisoned darts.
sampet mangkuriak tinai buah damek yang jatuh tanpa sempat berteriak lagi
Hundreds of men lift a round wood
baipu. terkena anak sumpitan beracun.
as wide as a drum to hit the fortress’ door,
Baratus-ratus biti ulun manggatang Beratus-ratus orang memikul sepotong but they could not destroy it because it
ije katetek kayu bulat kahain drum kayu bulat sebesar drum menumbuk was made by ironwood 16 inches thick.
manepe lawang kuta halantung hiaue, pintu benteng berdentung bunyi-nya, Meanwhile, from the top of the
tapi dia ulih ewen parusak awi lawang namun tidak dapat mereka hancurkan fortress they also threw rocks as big as
kuta te inampa bara tabalien due karena pintu benteng itu dibuat dari kayu a coconut with the showering poisoned
sambuti kakapale. ulin dua jengkal tebalnya. darts. It was almost the end of the day,
Pandehan te bara hunjun lawang Sementara itu dari atas pintu benteng when they retreated to their ships. At
kuta impajatu batu-batu kahain bua dijatuhkan batu-batu sebesar buah kelapa exactly that time, Rambang and his
enyuh impahayak dengan ujan damek disertai dengan hujan anak sumpitan men opened up the door and attacked,
baipu. Tukep sanja, ewen undur haluli beracun. Menjelang senja, mereka just like water flowing from a dam. They
kan pancalanga. Metuh te kea lawang mundur kembali ke pencalangnya. Saat also went up the enemy’s ships and
kuta ukei Rambang tuntang ewen balalu itu juga pintu benteng dibuka Rambang submerged them.
mahamuk kilau danum bara tabengan je dan mereka lalu mengamuk bagai air Nyai Undang and his fiancé
bungkar. Dia tikas te, ewen kea balalu dari bendungan yang bobol. Tidak hanya Sangalang also fought and deliberately
mandai kakare pancalang te tuntang itu, merekapun lalu menaiki pencalang- looking for the King Sawang. With her
mampaletenge. pencalang itu dan menenggelamkannya. hair let down, she finally met the king.
Nyai Undang hatukep dengan Nyai Undang berdampingan dengan She was able to kill him and fulfill her
tunangaa Sangalang umba beperang tunangannya Sangalang turut berperang oath to wash her hair in the king’s blood,
tuntang ewen due puna ihat manggau dan mereka berdua memang sengaja the one she considered he mother’s
raja Sawang bewei. Hayak balaue mencari raja Sawang saja. Dengan murderer. We can only imagine how the
taurai kajaria Nyai Undang hasupa kea rambut terurai akhirnya Nyai Undang war had happened, because five hundred
88 dengan raja Sawang, ie ulih mampatei bertemu juga dengan raja Sawang; people can finally defeat more than eight
raja te tuntang manahur sapaa handak ia dapat membunuh raja itu dan thousand people.
bakaramas hapan daha raja Sawang membayar sumpahnya ingin berkeramas Tanjung Pamatang Sawang or Kuta
je anggape tagal te induu nihau. Ulih dengan darah raja Sawang yang Bataguh is now located between handil
iniruk kilen ampi kalahi te, awi tikas dianggapnya penyebab kematian ibunya. Alai and Bataguh, in Pulau Kupang
mahapa kakuatan kakare lime ratus biti Dapat dibayangkan betapa keadaan village, Selat subdistrict, Kapuas district.
ulih mampakalah ulun hanya ribu biti pertempuran itu, karena hanya dengan
labih. kekuatan sekitar lima ratus orang dapat
Tanjung Pamatang Sawang atawa mengalahkan delapan ribu orang lebih.
Kuta Bataguh lekaa wayah tuh helat Tanjung Pamatang Sawang atau
handel Alai tuntang handel Bataguh Kuta Bataguh letaknya sekarang antara
intu lewu Pulau Kupang kacamatan handil Alai dan handil Bataguh di
Selat kabupaten Kapuas. desa Pulau Kupang kecamatan Selat
kabupaten Kapuas.
89

Gbr. 33. Pasukan suku Dayak mengamuk menenggelamkan dan


membakar pencalang-pencalang milik raja Sawang.
34. Pangawin Lime Pasangan
Perkawinan Lima Pasangan
The Wedding Of Five Couples

Limbah kalahi te terai hayak hantu Setelah perang itu usai serta mayat After the war has finished and both
kadue balah pihak ingubur bua-buah, kedua belah pihak dikuburkan baik-baik, dead bodies had been buried well, they
ilalus upacara mamalas petak danum dilaksanakan upacara membersihkan performed the ceremony cleansing
manyadingen lewu, tujua mangat petak tanah air mendinginkan negeri, the earth and cooling the country, the
haluli sadingen tuntang taluh imbul maksudnya agar bumi kembali sejuk dan ceremony was carried out to make the
kabun ladang manenga hasil tinai awi tetumbuhan kebun ladang memberikan earth calm again and the vegetation
jadi tatusuh daha balasut awi perang te. hasil lagi sebab telah tertumpah darah should grow back after being shattered
90 Pahayak te ilalus kea upacara manyaki panas akibat perang itu. in the battle.
kawan pangkalima (mampatekang atei Sekaligus dilaksanakan pula upacara They also performed the ceremony
kawan pangkalima) tuntang uras ewen je meneguhkan hati para pemimpin of strengthening the heart of the war
jadi beperang, tujua balaku ampun akan pertempuran dan seluruh mereka yang leaders and all of those who fought. The
Ranying Hatalla Langit taharep gawi telah berperang, tujuannya meminta objective was to ask for mercy from God
mampatei ulun huang perang te. ampun kepada Tuhan terhadap because of their act of killing humankind
Limbah kadue upacara te jadi ilalus, perbuatan membunuh manusia dalam in the battle.
Rambang balalu mausul buhen dia ilalus perang itu. After performing those ceremonies,
ih pangawin Sangalang tuntang Nyai Sesudah kedua upacara itu Rambang suggested that they should
Undang, tapalujur uras babuhan magun dilaksanakan, Rambang lalu also marry Sangalang and Nyai Undang
hapumpung hayak mangat jatun ati mengusulkan mengapa tidak while the whole family was still there,
hindai pisek uluh je mawi kaderuh. dilangsungkan saja perkawinan so there would be no more wedding
Paniruk Rambang inyatuju uluh are Sangalang dan Nyai Undang; mumpung proposal towards Nyai Undang that
tuntang haream dia baka ije pasangan semua keluarga masih berkumpul serta should make any trouble in the future.
bewei tapi epat pasangan hindai ie te agar tidak ada lagi lamaran orang yang People agreed to his suggestion.
Bungai dengan Karing, Tambun dengan membuat permasalahan. Furthermore, not only did they carried
Burou, Ringkai dengan Timpung hayak out the wedding for one couple, but
Rambang kabuat dengan Lamiang. also four more couples, which was
Bungai with Karing, Tambun with
Burou, Ringkai with Timpung, and also
Rambang with Lamiang.
91

Gbr. 34. Sesudah pertempuran usai Nyai Undang lalu dikawinkan,


demikian pula keempat pemuda saudaranya.
Uras babuhan Lambung (Maharaja Pendapat Rambang disetujui orang The whole family of Lambung
Bunu), Lanting (Maharaja Sangen) banyak dan malah bukan hanya satu (Maharaja Bunu), Lanting (Maharaja
tuntang Karangkang (Maharaja pasangan saja melainkan empat pasangan Sangen), and Karangkang (Maharaja
Sangiang) hapumpung kan Kuta lagi yakni Bungai dengan Karing, Sangiang) gathered in Kuta Bataguh to
Bataguh, akan malalus gawi pangawin Tambun dengan Burou, Ringkai dengan celebrate the wedding of the five couples
lime pasangan te, katahie epat puluh Timpung serta Rambang sendiri dengan for fourty days and fourty nights.
andau epat puluh alem. Lamiang.
92 Seluruh keluarga Lambung
(Maharaja Bunu), Lanting (Maharaja
Sangen) dan Karangkang (Maharaja
Sangiang) berkumpul ke Kuta Bataguh,
untuk menyelenggarakan perkawinan
lima pasangan itu, selama empat puluh
hari empat puluh malam.
35. Maingkes Panatau
Menyimpan Harta | Protecting The Treasures

Panatau babuhan Sempung tarutama Kekayaan keluarga Sempung Sempung’s family richness,
je ayun Bungai ewen due Tambun sasar terutama yang dimiliki Bungai mereka particularly Bungai and Tambun, added
baare hayak lepah peperangan intu Kuta berdua Tambun semakin bertambah up with the ending of war in Kuta
Bataguh. dengan berakhirnya peperangan di Kuta Bataguh.
Sahelu te panatau bara Kandang Bataguh. Previously it was the treasures
Motong Anak Towong, Kandang Sebelumnya adalah harta dari from Kandang Motong Anak Towong
Tumbang Kutai Bulan tuntang kawan Kandang Motong Anak Towong, and Kandang Tumbang Kutai Bulan,
uluh dagang je dumah manyarang lewu Kandang Tumbang Kutai Bulan dan and then the treasures from the 93
Manuhing Tintun Datah Tambun (uluh para saudagar yang datang menyerang businesspersons who came to attack
je misek Lamiang). desa Manuhing Tintun Datah Tambun Manuhing Tintun Datah Tambun
Bungai tuntang Tambun mangkeme, (orang-orang yang melamar Lamiang). village (people who proposed Lamiang).
narai je tempun ewen bara pantis ebes Bungai dan Tambun merasa, apa yang Bungai and Tambun felt that what
kabuat ie te pandinu baladang, mengan, dimiliki mereka dari cucur keringatnya they had from their own work, which
malauk tuntang mandulang amas cara sendiri yakni hasil berladang, berburu, was agriculture, hunting, fishing, and
huran jadi tutu bahasil akan pambelum menangkap ikan dan mendulang emas gold mining traditionally had fed their
ewen katahin tuh, awi kaadaan jadi secara tradisional sudah sangat berhasil life well, because the situation was
aman. bagi kehidupan mereka selama ini, sebab secured.
Awi te ewen badue tuntang kea keadaan sudah aman. That is why they and the other
kakare kulawarga je beken balalu Sebab itu mereka berdua dan juga family agreed to keep all their treasures
hapakat maingkes kare panatau ewen seluruh keluarga lainnya lalu sepakat some place safe. They chose Gua Bukit
bara dinun rampasan te intu ije eka. Te untuk menyimpan semua harta mereka Harimau. Rambang opened it up and
taintih ih rumbak intu Puruk Rumbak dari hasil rampasan itu pada suatu they put all their treasures inside the
Haramaung, tuntang Rambang kea tempat. Maka terpilihlah gua di Bukit cave, and then they covered it up firmly.
balalu maukeie, akan ewen manamean Gua Harimau, dan Rambang pun
panatau te. Limbah jadi eka te balalu lalu membu-kanya, untuk mereka
atepe tinai hayak kahalite. memasukkan harta itu. Setelah sudah
tempat itu lalu ditutupnya kembali
dengan rapat.
Puji tahining habar tege papire Pernah terpetik kabar ada beberapa There was news that some people had
biti uluh mancuba maname rumbak te orang mencoba untuk memasuki gua tried to open up the cave with advanced
mahapan upacara tradisional je sukup itu dengan menggunakan upacara traditional ceremonies that no one had
gantung tuntang dia puji inggawi uluh. tradisional yang cukup canggih dan tidak ever seen before. They were able to get
Ewen ulih tame tuntang mite uras taluh pernah dilakukan orang lain sebelumnya. inside and saw all the treasures made of
je tege intu hete je urase inampa bara Mereka dapat masuk dan melihat semua gold.
amas. barang yang ada di sana yang kesemuanya Because they wanted to take the
Awi handak manduan taluh je tege dibuat dari emas. treasures, the wall of the cave moved to
hete, dinding rumbak hagerek rangka- Karena ingin mengambil barang closing in. they threw the treasures and
rangkah handak haluli halit; taluh je yang ada di sana, dinding gua bergerak did not make it to take them all. They
induan sampet injakah balang induan. perlahan ingin kembali bertaut; barang finally got out with their clothes stripped
Kajaria urase ulih balua hayak taluh yang diambil sempat dilemparkan tidak down with the cave closing in and the
94 hapa intu bitii lepah barabit, rumbak jadi diambil. Akhirnya semua dapat door was disappearing. Moreover, there
halit haluli kilau dia balawang tuntang keluar dengan pakaian ditubuhnya was news that all of them went crazy
kajaria ewen te urase jadi dia sanunuh. habis robek, gua merapat kembali seakan because of it.
Sadang eka je te hingga wayah tuh tidak berpintu dan akhirrnya mereka itu The location still exists today and no
magun tege tuntang jatun ati je bahanyi semuanya jadi gila. one dare not to disturb it.
manderuhe. Sedangkan lokasi tersebut sampai
sekarang masih ada dan tidak ada yang
berani mengusiknya.
95

Gbr. 35. Bungai dan Tambun serta kemudian seluruh


keluarga sepakat menyimpan harta rampasan mereka.
36. Bungai Tambun Bagaib
Bungai Tambun Menghilang
Bungai Tambun Went Missing

Metuh Ringkai malihi, maka Ketika Ringkai meninggal dunia, When Ringkai died, then his wife
sabujure kabalii Timpung amun balua maka seharusnya isterinya Timpung jika Timpung should dressed all white
huma masti bapakaian benang saraba keluar rumah harus berpakaian serba according to the tradition at the time.
baputi, tumun hadat je hapan metuh putih, sesuai adat yang berlaku waktu One day, it was raining and Timpung
te. Sinde katika andau ujan tuntang itu. Suatu saat hari hujan dan Timpung went out to take all her laundry wearing
Timpung balua manduan taluh ekeii keluar mengambil jemurannya dengan red clothes.
hayak pakaian je leket intu bitii warnaa pakaian melekat di tubuhnya warna Bungai saw the widow; he pointed
96 bahandang. merah. the poisoned dart to her. He said to
Balu te gitan awi Bungai je balalu Janda itu terlihat oleh Bungai yang himself, if only Timpung was not his
manduan sipete tuntang manintu kan lalu mengambil sumpitannya dan cousin, sister in law, the widow of
bitin Timpung. Ie hamauh huang ateie mengarahkannya ke tubuh Timpung. Ia his cousin, while blowing the empty
jakaa Timpung beken pahari jitatu, berkata dalam hati bahwa seandainya poisoned dart.
sindahe, balun pahari jitatu, masti Timpung bukan sepupunya, iparnya, Who would know, Timpung fell
nyipete hayak ie mahimun sipet buang janda sepupunya, tentulah disumpitnya down and died instantly, with the dart in
te. seraya ia menghembuskan sumpitan the lower part of her right breast. Bungai
Narai je terjadi ? Timpung manjatu kosong itu. was puzzled, because the poisoned dart
balihang balalu malihi hemben te kea, Apa yang terjadi ? Timpung jatuh was actually empty. Bungai concurred
damek tinjek intu hila penda tusuu. rebah langsung meninggal saat itu juga, that he was guilty, and he was willing to
Hengan tutu Bungai taharep gawii te anak sumpitan menancap di sebelah accept the punishment.
awi puna katutu sipet te buang. Bungai bawah buah dadanya. Heran benar Etak, Timpung’s brother asked for an
mangaku sala, ie basadia manarima Bungai atas perbuatannya itu sebab eye for an eye, a life for a life. He brought
balehaa. memang sebenarnya sumpitan itu kosong. Bungai to Hurung Untung, where Etak
Etak, kaka Timpung balaku hutang Bungai mengaku bersalah, ia pasrah completed the ceremony Tiwah for his
tahaseng imbayar hapan tahaseng, utang menerima hukumannya. sister Timpung.
daha imbayar hapan daha. Bungai imbite
kan Hurung Untung, eka Etak malalus
Tiwah andii Timpung.
97

Gbr. 36. Keluarga Rambang dan seluruh warga Tumbang Pajangei bergaib
di Pasah-pasahan Kuta Haur Baduhi.
Ije biti bara tambakas lewu Tumbang Etak, kakak Timpung meminta utang One of the elders in Tumbang
Pajangei je bagare Behing mite kaadaan nafas dibayar dengan nafas, utang darah Pajangei saw it happened. He said if they
te mansanan amun tau ewen te ela dibayar dengan darah. Bungai dibawanya fought among families then there would
hakalawan sama arepe, awi dia baka ati ke Hurung Untung, tempat Etak be no ending.
kajariaa. Jadi telu bulan Tiwah te ilalus, melaksanakan Tiwah (penyempurnaan The Tiwah ceremony had been held
tapi Bungai je dia malawan dia kea ulih pemakaman) adiknya Timpung. for three months, and still he could not
imunu. Awi amun ie hagerek te uluh Salah seorang tetuha desa Tumbang kill Bungai, even though he did not
beken je malihi, hengga Etak tapaksa Pajangei bernama Behing melihat resist. If he moved, someone else died.
harajur baurusan helu hagan manahur keadaan itu mengatakan bahwa jika Then, Etak had to pay the casualties for
sahiring akan genep biti uluh je balaku mereka itu bermusuhan sesama keluarga, the family of the dead person.
ganti pampatei babuhaa. tidak ada kesudahannya. Tambun spent a year in the upstream
Tambun jadi tukep ije nyelu melai Sudah tiga bulan Tiwah itu of Pajangei River. He was hunting the
intu huluu sungei Pajangei. Ie mengan berlangsung, namun Bungai yang tidak starry beak, gold feathered, diamond
tingang bakatak bintang badandang melawan tidak juga dapat dibunuh. eyed hornbill on a big fig tree. He sat
amas baramata intan lamunjan kambang Karena jika ia bergerak maka orang lain on the branch, forgot to eat and drink,
karangan intu ije kabatang upun lunuk yang meninggal, sehingga Etak terpaksa a kind of fern grew over his head, and
hai. Ie munduk intu ije edan upun lunuk selalu harus berurusan dahulu untuk his body was strangled by the root of the
te, dia mingat kuman dia mingat mihup membayar denda bagi setiap orang yang tree.
hingga takuluke inumbu pahakung menuntut kematian warganya.
98 tuntang bitie ililit bajakah upun lunuk
Everytime Tambun pointed the
Tambun sudah hampir setahun dart at the hornbill; he heard the sound
te.
berada di hulunya sungai Pajangei. of percussion and the joyous cheer in
Genep Tambun manintu tingang Ia berburu burung enggang berparuh the distance (sign of agreement among
handak manyipete tarahining pantu bintang berbulu emas bermata intan people), making the bird to fly away. This
gandang tuntang garantung hayak pada sebuah pohon beringin raksasa. too, happened for three months.
surak malahap uluh are, mawi tingang Ia duduk pada dahan pohon beringin Tambun was upset and he stopped.
tarawang hadari. Kaadaan kilau tuh itu, lupa makan lupa minum sehingga He went home in a rush. Wooden trees
berlangsung jadi telu bulan tuh kea. kepalanya ditumbuhi sejenis pakis dan fell down by him, that people would
Tambun jadi rise angate tuntang tubuhnya dibelit akar pohon beringin itu. thought it was done by the king of genie
malayan, ie buli kan lewu hayak bagulung. Setiap Tambun membidik enggang had went mad, they all ran for safety.
Upun kayu balihang inantaranga, uluh untuk menyumpitnya terdengar He asked a slave in Tumbang
badawa rajan jin dumah mahamuk, ewen pukulan gendang dan gong serta sorakan Pajangei what had happened. The slave
hadari panting pana. malahap (suara loo...loo...loo bersama- told him about Etak who perform
Sampai intu Tumbang Pajangei ie sama tanda kesepakatan) orang banyak, Tiwah for Timpung who died from
misek taharep ije jipen, narai taluh je membuat enggang terbang pergi. Hal ini Bungai’s poisoned dart. Because he felt
tarjadi ? Jipen te mangesah tahiu Etak je berlangsung sudah tiga bulan ini pula. guilty, Bungai was concured to be killed.
malalus Tiwah paharii Timpung je buah
sipet Bungai. Awi mangkeme basala
Bungai manyarah arepe imunu.
Tambun lalu haguet kan Hurung Tambun menjadi kesal dan berhenti, Tambun then went to Hurung
Untung, sana sampai intu kanih balalu ia pulang ke desa dengan tergesa-gesa. Untung, he cut down Bungai’s tied and
manetek peteng Bungai tuntang limbah Pohon kayu bertumbangan diterpanya, they both went mad killing everyone in
kau ewen due mahamuk mampatei eweh orang mengira raja jin datang mengamuk, the area, only Etak who was able to get
bewei je tege intu eka te. Tikas Etak mereka berlarian pontang-panting. away to Tewah village.
kabuat je sampet hadari kan lewu Tewah. Sampai di Tumbang Pajangei ia The massive amount of blood
Daha je lalau kakaree awi pampatei bertanya pada seorang budak, apa yang flew down to Kahayan River, until the
te mahasur kan batang danum Kahayan, terjadi ? Budak itu menceriterakan pebbles in Hurung Untung turned red
hingga rangan intu Hurung Untung te tentang Etak yang menyelenggarakan like blood, and the place then named
bawarna bahandang kilau inyapu hapan Tiwah saudaranya Timpung yang terkena Rangan Daha (bloody pebbles).
daha hayak eka te balalu inggare Rangan sumpit Bungai. Karena merasa bersalah Bungai and Tambun then went
Daha. Bungai mandah untuk dibunuh. home to their mothers and wives. After
Bungai tuntang Tambun limbah kau Tambun lalu pergi ke Hurung several days, the family moved out to the
buli kan Tumbang Pajangei manalih Untung, sesampainya di sana lalu Kapuas River upstream and disappeared.
induu tuntang kabalii. Papire andau memotong ikatan Bungai dan kemudian Not because they were afraid Etak
limbah kau kadue kulawarga tuh halisang keduanya mengamuk membunuhi siapa would want a pay back, but they thought
kan ngaju batang danum Kapuas, balalu saja yang ada di tempat itu. Hanya Etak if Etak attacked, then there would be no
bagaib. sendiri yang sempat lari ke desa Tewah. end that the descendants of Lambung,
Sabujure dia je mikeh taharep Darah yang luar biasa banyaknya Lanting, and Karangkang would be 99
pambaleh Etak, tapi ewen due maniruk akibat pembantaian itu mengalir ke killing one-another.
mikeh Etak manyarang, lepah kareh utus sungai Kahayan, hingga kerikil di Rambang who came home from his
Lambung, Lanting tuntang Karangkang Hurung Untung itu berwarna merah journey then went hunting to Pajangei
hapunu sama arepe. seperti dicat dengan darah serta tempat River upstream. In his hunting, he shot
Rambang je dumah bara manamuei itu lalu dinamakan Rangan Daha a squirrel with a beautiful fur, but when
balalu mengan kan ngaju sungei Pajangei. (Kerikil Darah). he tried to collect it, the squirrel jumped
Huang tanjung mengan te ie manyipet Bungai dan Tambun kemudian come back to life. Rambang then would
ije kungan mengkas je bahalap buluu, pulang ke Tumbang Pajangei menemui have to chase the squirrel.
tapi metuh handak induan mengkas ibunya dan isterinya. Beberapa hari The squirrel went down a small
te manangkajuk belum haluli. Tapaksa kemudian kedua keluarga ini pindah ke lake with white water in it, and then
Rambang mangguang mengkas te. hulu sungai Kapuas, lalu menghilang. disappeared. Rambang stirred the lake
Limbah kau mengkas te sewu kan Sebenarnya bukannya takut pada with his spear. However, when he lifted
huang talaga kurik je baputi danume, pembalasan Etak, tetapi keduanya up the spear, the spearhead went missing,
tuntang balalu dia gitan tinai. Rambang berpikir kalau Etak menyerang, habislah although when he tried to touch it, the
mangurah talaga te mahapan sipete. nanti keturunan Lambung, Lanting dan spearhead still exist.
Tuntang metuh ie manggatang sipete, Karangkang saling bunuh sesamanya. Rambang remembered that his
isin lunju intu lawii dia gitan. Tapi amun uncle Sempung once told him about the
imasute, isin lunju te magun tege. Houses with Thorned Bamboo Fence,
the one that Sempung magically make
invincible so that no one could see it.
Harun Rambang mingate, eka tuh Rambang yang datang dari Coming home from this place,
je inggare mamaa Sempung Pasah- mengembara lalu berburu ke hulu sungai Rambang asked his uncle Behing and
pasahan Kuta Haur Baduhi, je impalilap Pajangei. Dalam perburuannya itu ia all the people of Tumbang Pajangei and
Sempung hingga dia ulih uluh mitee. menyumpit seekor tupai berbulu indah, their belonging to move to this place.
Limbah buli bara eka tuh Rambang tetapi ketika akan diambil tupai itu He also thought of the same reason
balalu mimbit mamaa Behing tuntang meloncat hidup lagi. Terpaksa Rambang with Bungai and Tambun towards Etak.
uras uluh lewu Tumbang Pajangei mengejar tupai itu. Then all the people went mythical in this
hayak panataue halisang kan eka tuh. Kemudian tupai itu terjun ke dalam place.
Ie kea sama tiruke kilau Bungai tuntang danau kecil yang putih airnya, dan lalu
Tambun huang manaharep Etak. Urase tidak kelihatan lagi. Rambang mengaduk
uluh are te balalu lilap intu hetuh. danau itu dengan sumpitannya. Dan
ketika ia mengangkat sumpitannya, mata
100 tombak di ujungnya tidak kelihatan.
Tetapi ketika dirabanya, mata tombak itu
masih ada.
Baru Rambang teringat, tempat
inilah yang dinamakan pamannya
Sempung Rumah-rumahan Berpagar
Bambu Berduri, yang digaibkan Sempung
hingga tidak dapat orang melihatnya.
Sepulangnya dari tempat ini
Rambang lalu mengajak pamannya
Behing dan seluruh penduduk desa
Tumbang Pajangei serta harta bendanya
pindah ke tempat ini. Ia juga berpikiran
sama dengan Bungai dan Tambun dalam
meng-hadapi Etak. Semuanya orang
banyak itu lalu bergaib di sini.
37. Upacara Intu Batu Bulan
Ritual Di Batu Bulan | Rituals At The Moonstone

Aluh ewen Bungai tuntang Tambun, Walaupun Bungai dan Tambun, atau Even though Bungai and Tambun
atawa uras utus Lambung, Lanting semua keturunan Lambung, Lanting dan had disappeared, or all the descendants
tuntang Karangkang jadi palilap arepe Karangkang sudah menggaibkan dirinya of Lambung, Lanting, and Karangkang
tapi akan uluh lewu Tumbang Pajangei tetapi bagi penduduk desa Tumbang went invincible, but to the people of
je mangaku utuse dia katawa je kapire, Pajangei yang mengaku keturunannya Tumbang Pajangei who admitted they
parcaya sinde je intu helang katika je entah yang keberapa, meyakini sekali are the descendants firmly believed that
batantu genep nyeluu Bungai tuntang bahwa pada kurun waktu tertentu setiap at a certain time every year Bungai and
Tambun pasti dumah manjenguk lewuu tahunnya Bungai dan Tambun pasti Tambun would come and visit their 101
Tumbang Pajangei. datang menengok desanya Tumbang village Tumbang Pajangei.
Katika te ulih batantu ie te intu Pajangei. It is every Fourth of July. People
genep bulan kauju tanggal epat. Akan Waktu itu dapat dipastikan ialah would serve their gifts for both of them
kadue tokoh mitos tuh inyadia taluh pada setiap bulan Juli tanggal 4 (empat). on top of the granite in the downstream
tenga je iampar hunjun batu granit intu Untuk kedua tokoh mitos ini disediakan of Pajangei River, on the moonstone,
tumbang sungei Pajangei ie te intu Batu sesajian yang diletakkan di atas batu which has been darkened by Rambang.
Bulan, je bihin ingaput Rambang. granit di muara sungai Pajangei yakni For those who had super natural
Akan uluh are je tege katau tahiu di Batu Bulan, yang dahulu digelapkan abilities, can communicate with both
urusan gaib ulih bahubungan taharep Rambang. of the mythical figures, or can see them
kadue tokoh mitos tuh, atawa paling Bagi orang-orang yang mempunyai vividly.
dia ulih mite ampii mahapan mate kilau kebolehan supra natural dapat The spirits of the warriors, the elders,
biasa. berkomunikasi dengan kedua tokoh mitos and the young people of Tumbang
Karen arwah atawa uluh gaib bara ini, atau paling tidak dapat melihat Pajangei are still loyal protecting their
kawan pangkalima, kawan bakas lewu wujudnya secara kasat mata. descendants, and their help can be
tuntang kawan tabela Tumbang Pajangei Roh-roh atau mahluk gaib dari obtained through certain rituals.
hayak batukei magun mahaga utuse, para jagoan, para tetuha desa dan para
tuntang panduhupe ulih dinun mahalau pemuda Tumbang Pajangei dengan setia
upacara-upacara batantu. masih melindungi keturunannya, dan
bantuannya dapat diperoleh lewat ritual-
ritual tertentu.
102

Gbr. 37. Setiap 4 Juli keturunan Lambung, Lanting dan Karangkang percaya Bungai dan Tambun
datang ke Batu Bulan.
38. Tumbang Pajangei Metuh Tuh
Tumbang Pajangei Kini | Tumbang Pajangei Today

Metuh tuh lewu Tumbang Pajangei Saat ini desa Tumbang Pajangei Today, Tumbang Pajangei village
tame kacamatan Tewah kabupaten termasuk kecamatan Tewah kabupaten is part of Tewah subdistrict in Gunung
Gunung Mas. Dia lalau gitan kilen ampi Gunung Mas. Tidak nampak betapa Mas district. There is no sign of their
katamam lewu tuh, kilau bihin ingesah kejayaan desa ini, sebagaimana dahulu glory as once told in the Tatum. Seeing
huang Tatum. Hayak mahalau mite diceriterakan dalam Tatum. Sepintas
melihat kesunyiannya, tidaklah disangka the silence, people would not presume
ampin kabenyeme, dia itah mangira that it was the residence of the two
bahwa di tempat ini dahulu pernah hidup
bahuwa intu eka tuh bihin puji belum dua orang pemuda yang menjadi mitos young men, who became the myth of the
due biti tabela je manjadi mitos uluh
Dayak intu provinsi Kalimantan Tengah.
suku Dayak di provinsi Kalimantan Dayak in Central Kalimantan province. 103
Tengah. Many years ago, before the time
Bapuluh nyelu je mahalau katika Puluhan tahun yang lalu saat belum of efficiency, the Central Kalimantan
hindai atun penye-derhanaan, provinsi ada efisiensi, provinsi Kalimantan province had their Regional Military
Kalimantan Tengah puji memiliki Tengah pernah memiliki Komando
Daerah Militer (Kodam) sendiri. Command (Kodam), now joining South
Komando Daerah Militer (Kodam)
Sekarang bersama dengan provinsi Kalimantan and East Kalimantan in
kabuat. Wayah tuh hayak dengan
provinsi Kalimantan Selatan tuntang Kalimantan Selatan dan provinsi Kodam VI/Tanjungpura that based in
provinsi Kalimantan Timur hinje Kalimantan Timur bergabung dalam Samarinda.
Kodam VI/Tanjungpura yang berkedu- As the proud heroes of Dayak myth,
huang Kodam VI/Tanjungpura je dukan di Samarinda.
bakadudukan intu Samarinda. the old Central Kalimantan Kodam was
Sebagai pahlawan mitos kebanggaan named Kodam XI/Tambun Bungai. It
Kilau pahlawan mitos eka kabangga suku Dayak, maka Kodam Kalteng
uluh Dayak, te Kodam Kalteng bihin dahulu dinamai Kodam XI/Tambun was because in the forming of Kodam
inenga araa Kodam XI/Tambun Bungai. Hal ini sebab dalam usaha XI/Tambun Bungai, a high military
Bungai. Ihwal tuh awi huang usaha pembentukan Kodam XI/Tambun commander in the army whose initial
pembentukan Kodam XI/Tambun Bungai, turut berpartisipasi aktif seorang was also TB also participated, which was
Bungai, umba manduhup hayak kaabase petinggi militer TNI-AD yang memiliki TB Simatupang.
ije biti petinggi militer TNI-AD je initial namanya jika disingkat TB juga
yakni TB Simatupang. There is a minor difference in the
tempun initial araa amun inyingkat TB story written which uses Bungai’s name
kea ie te TB Simatupang. Ada perbedaan sedikit dalam
penulisan kisah ini, yang menuliskan first, becoming Bungai Tambun (because
Tege beda isut huang panyurat nama Bungai terlebih dahulu, jadi it was written from the past). Then the
kesah tuh, je manyurat aran Bungai heroic story of Bungai and Tambun only
pangkahelu, jadi Bungai Tambun Bungai Tambun (ini disebabkan ditulis reveals a small part of the truth that has
(je tuh awi inyurat secara arkeologi). secara ilmu purbakala). Maka penulis been misplaced for more than fifty years.
Maka panyurat kesah mitos Bungai kisah kepahlawanan Bungai Tambun ini
hanya mengungkapkan sedikit perihal Nevertheless, let the mistake
Tambun tuh tikas mansanan isut ihwal continue because experts said it sounds
je sabujura, bara kaadaan je salah hayak yang sebenarnya, dari keadaan yang
keliru serta sudah berlangsung lebih dari better, it would consume lots of money
jadi barlangsung labih bara lima puluh
lima puluh tahun. were it to be changed. About the
nyelu.
Tapi biarlah yang keliru itu violence (killing, head cutting, slavery
Tapi nauh ih je sala te tetep, awi berlangsung, karena menurut para expert and seizing the treasures of one another),
manumun kawan ahlii mangat hining, enak didengar, nanti kalau dirubah the author did not feel ashamed for it
kareh amun hubah kuman ungkus, ela makan biaya, jangan sampai kita latah, was his ancestors who had done it.
sampai itah latah, tuntang manyalahi dan menyalahi prinsip keagamaan.
prinsip religi. Tahiu karen kesah Mengenai semua cerita kekerasan (saling As for the Tumbang Pajangei village,
104 kekerasan (habunu, hapatei, hakayau, bunuh, saling mematikan, saling potong to appreciate the two mythical figures
hajipen tuntang haduan panatau), kepala, saling memperbudak dan saling of Central Kalimantan, the government
panyurat kesah tuh dia mahamen awi merampas), penulis kisah ini tidak had managed, for two years in a row,
nini datuu je manggawii kea. malu sebab nenek moyangnya yang to give funding for building Bungai
melakukannya juga. Tambun statue, a tradition hall, and
Tahiu lewu Tumbang Pajangei, akan Mengenai desa Tumbang Pajangei,
marega kadue tokoh mitos Kalimantan the facility around the objects, such as
untuk menghargai kedua tokoh mitos footpath and docks enabling the tourist
Tengah tuh Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah ini Pemerintah
Provinsi Kalimantan Tengah katahin Daerah Provinsi Kalimantan Tengah to visit. The author happened to be the
due nyelu hatuntung manyadia duwit selama dua tahun berturut-turut treasurer for the project.
akan mamangun hampatung Bungai- menyediakan dana untuk pembangunan However, the most importantly, the
Tambun, Balai Hadat, fasilitas hakaliling patung Bungai Tambun, Balai Adat, story lives on in the society of Gunung
obyek kilau jalan satapak hayak fasilitas lingkungan obyek seperti jalan Mas district, it is obvious from how the
tungkaran mandai akan kawan turis; setapak serta dermaga pendarat bagi
wisatawan; dan kebetulan juga penulis sites in the story still treated specially
tuntang tapalujur kea panyurat kesah and remain as they were.
cerita ini adalah Bendaharawan
tuh adalah Bendaharawan Proyeke.
Proyeknya.
Tapi je labih panting kesah Namun yang lebih penting cerita
tuh magun belum intu masyarakat ini tetap hidup di kalangan masyarakat
kabupaten Gunung Mas, je tuh ulih kabupaten Gunung Mas, hal ini dapat
gitan intu kakare eka kajadian huang dilihat pada beberapa tempat kejadian
kesah tuh je kaadaa tetep alamiah hayak dalam kisah ini kondisinya tetap alamiah
harajur iawat. serta selalu dipelihara.
105

Gbr. 38. Keadaan desa Tumbang Pajangei dewasa ini,


kesibukan di dermaga penuh ketenangan.
Tentang Heart of Borneo
Heart of Borneo adalah sebuah inisiatif pemerintah tiga negara Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia yang didukung oleh banyak
pihak, dirancang sebagai program pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi yang bertujuan mempertahankan keberlanjutan manfaat salah
satu hutan terbaik yang masih tersisa di Borneo bagi kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang. Cakupan wilayah kerja Heart of Borneo
membentang pada rangkaian dataran tinggi Borneo yang terhubung secara langsung dengan dataran rendah di bawahnya.
Di Indonesia kawasan Heart of Borneo mencakup 3 provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Ada
10 kabupaten yang termasuk dalam kawasan Jantung Kalimantan yaitu Kab. Sintang, Melawi, dan Kapuas Hulu di Kalimantan Barat; Kab.
Katingan, Gunung Mas, Barito Utara dan Murung Raya di Kalimantan Tengah; Kab. Malinau, Nunukan dan Kutai Barat di Kalimantan

Timur.
Lima Kelompok Kerja (Pokja) telah dibentuk yaitu Pokja Nasional (lintas sektor), Pokja Kehutanan (di Departemen Kehutanan) dan 3
Pokja Provinsi (di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur). Kelompok Kerja ini bertanggung jawab memfasilitasi
penyusunan Rencana Aksi Nasional yang merupakan mandat dari Deklarasi HoB. Rencana aksi ini bersinergi dengan Rencana Aksi Strategis
tiga negara dan rencana aksi masing-masing provinsi serta aspirasi daerah.

Tentang WWF
WWF adalah organisasi konservasi global yang mandiri dan didirikan pada tahun 1961 di Swiss, dengan hampir 5 juta supporter dan
memiliki jaringan yang aktif di lebih dari 100 negara dan di Indonesia bergiat di lebih dari 25 wilayah kerja lapangan dan 17 provinsi. Misi
WWF-Indonesia adalah menyelamatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak ekologis aktivitas manusia melalui: Mempromosikan
etika konservasi yang kuat, kesadartahuan dan upaya-upaya konservasi di kalangan masyarakat Indonesia; Memfasilitasi upaya multi-pihak
untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan proses-proses ekologis pada skala ekoregion; Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan
penegakan hukum yang mendukung konservasi, dan; Menggalakkan konservasi untuk kesejahteraan manusia, melalui pemanfaatan sumberdaya
alam secara berkelanjutan. Selebihnya tentang WWF-Indonesia, silakan kunjungi website utama organisasi ini di http://www.panda.org/; situs
lokal di http://www.wwf.or.id/ dan situs keanggotaan WWF-Indonesia di http://www.supporterwwf.org/.
WWF-Indonesia dan Heart of Borneo: http://www.wwf.or.id/HeartofBorneo atau http://www.wwf.or.id/JantungKalimantan