ISBN 987-979-035-013-7 CP 13-14-32-01-034

Penulis: LT Bangsawan Penyunting: Andira Desain Isi: Tim Pustaka Latifah Desain Sampul: Tim Pustaka Latifah Edisi: 2006 Diterbitkan oleh CV CITRA PRAYA Komplek Cibolerang Indah Blok E No. 52 Bandung

Hak cipta yang dilindungi undang-undang ada pada pengarang. Dilarang keras mengutip, menjiplak, dan memfotokopi sebagian atau seluruh isi buku ini serta memperjualbelikannya tanpa mendapat izin tertulis dari CV Citra Praya.

iii

PRAKATA
Puji dan syukur kehadirat Allah Swt. penulis panjatkan atas segala kenikmatan, perlindungan, semangat, kesehatan yang takkan pernah tergantikan oleh apapun di dunia ini. Dengan rahmat-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan buku ini yang berjudul Perkembangan Peserta Didik. Buku ini bermaksud menyoroti perkembangan anak didik pada ketiga periode yaang telah dibagi menjadi 3 periode oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu (a) waktu pertama (1–7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak (kinder periode); (b) waktu kedua (7 – 14 tahun), yaitu masa pertumbuhan jiwa dan pikiran (intellectueele periode); dan (c) masa ketiga (14– 21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti atau social periode. 1 Nilai-nilai dalam keluarga serta nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat menjadi landasan bagi anak didik dalam menempuh pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat tersebut dengan berbagai pengaruh yang menimbulkan perbedaan-perbedaan. Selain itu, akan diuraikan juga bagaimana guru memanfaatkannya menjadi energi positif untuk terus memupuk dan membina anak didiknya agar menjadi pribadi yang berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat, dan negara di kemudian hari.
1. Ibid, halaman 28 – 29.

iv
BAB III BELAJAR DAN PERUBAHAN PADA SISWA DIDIK .... 35 A. APA ITU BELAJAR? ........................................................ 37 B. BAGAIMANA PROSES OTAK SAAT BELAJAR? ........ 38 C. BELAJAR ITU BERLANGSUNG SEPANJANG HAYAT .............................................................................. 40 D. BELAJAR ITU BERSIFAT HOLISTIK ............................ 41 E. BAGAIMANA SIKAP TERBENTUK? ............................ 43 F. BELAJAR DAN PERUBAHAN SIKAP........................... 46 G. PERUBAHAN SIKAP MENUJU PERUBAHAN PERILAKU............................................... 47 BAB IV PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK .............................. 49 A. PERLUKAH PEMBELAJARAN SEKOLAH?................. 50 B. PEMBELAJARAN KETERAMPILAN DI SEKOLAH ................................................................... 51 C. PEMBELAJARAN MENUJU PERUBAHAN PERILAKU ....................................................................... 56 D. PEMBELAJARAN DARI LINGKUNGAN ..................... 66 DAFTAR PUSTAKA ............................................................. 69 GLOSARIUM ....................................................................... 71 INDEKS .................................................................................. 72

v

DAFTAR ISI
Prakata .................................................................................... iv Daftar Isi .................................................................................. ii BAB I PEMAHAMAN TERHADAP MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL .............................................................. 1 A. MEMAHAMI PERILAKU MANUSIA .............................. 4 1. Perbedaan perilaku karena perbedaan kemampuan ....... 4 2. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda ..... 6 3. Berpikir tentang masa depan dan membuat pilihan ....... 7 4. Pemahaman atas lingkungan berdasarkan Pengalaman masa lalu dan kebutuhan ........................... 8 5. Seseorang memiliki reaksi senang atau tidak Senang .... 9 B. BEBERAPA HAMPIRAN UNTUK MEMAHAMI PERILAKU ....................................................................... 10 1. Hampiran kognitif (cognitive approach) ..................... 10 2. Hampiran penguatan (reinforcement aproach) ............ 14 3. Hampiran psikoanalitis (psychoanalitical approach) .. 16 BAB II PENDIDIKAN DALAM KELUARGA ............................... 21 A. APA ITU KELUARGA? .................................................... 24 B. KELUARGA SEBAGAI PENUNTUN NILAI-NILAI DAN TRADISI ................................................................. 25

vi
Melalui buku ini diharapkan dapat bermanfaat, bernilai guna, serta dapat menjadi pembuka jalan pemikiran individu untuk selalu mengembangkan kemampuan berpikirnya ditengah-tengah permasahan kehidupan yang datang silih berganti. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepaddda semua pihak yang telah membantu, sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini. Penulis menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, penulis berharap pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang bermanfaat dalam meningkatkan kualitas terhadap buku ini. Bandung, Juni 2006 Penulis

BAB I PEMAHAMAN TERHADAP MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL

2
Karena proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang melibatkan berbagai unsur, yaitu guru, siswa, orangtua, sekolah dan masyarakat, itu artinya proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang melibatkan antarindividu manusia yang ada di dalamnya, khususnya guru dan peserta didik. Zaman dahulu, orang percaya dengan suatu teori yang disebut tabula rasa , yaitu teori yang mengandung keyakinan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan kosong seperti kertas putih. Tabula rasa artinya papan tulis dari lilin yang pada zaman dulu dipakai untuk surat-menyurat. Teori ini meyakini bahwa pendidikan dan lingkunganlah yang kemudian mengisi jiwa kosong manusia tersebut sehingga beraneka warna. Pendidikan oleh teori ini dianggap sebagai satu-satunya pembentuk kepribadian dan kemampuan manusia. Teori tersebut kemudian dibantah oleh teori-teori lain dengan alasan: apabila tidak ada faktor bawaan dari lahir, sudah pasti melalui pendidikan semua manusia adalah orang-orang yang pandai dan baik, asalkan mendapat pendidikan dan pengaruh yang baik. Teori negatif yang merupakan kebalikan dari teori tabula rasa ini meyakini bahwa, bagaimana pun baiknya suatu pendidikan yang diberikan pada manusia, pendidikan tidak akan dapat sepenuhnya menjadi jaminan menjadikan manusia itu pandai dan baik apabila watak dasar manusia tersebut memang tidak baik. Pada zaman sekarang, kedua teori di atas tidak lagi diakui kebenarannya. Banyak teori yang sekarang menekankan bahwa apa yang dibawa manusia sejak lahir saling pengaruh-memengaruhi
Perkembangan Peserta Didik

3
dengan pengajaran yang ia peroleh di masa sekolah. Teori ini disebut teori konvergensi, di mana karakteristik bawaan individu saling memengaruhi dengan apa yang ia peroleh dari luar atau lingkungannya. Manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan ini ada disebabkan manusia adalah sebagai suatu fungsi dari interaksi antara person atau individu dengan lingkungannya. Individu membawa serta ke dalam tatanan masyarakat di lingkungannya, suatu kemampuan, kepercayaan diri, pengharapan kebutuhan dan pengalaman-pengalaman di masa lalunya. Semua ini merupakan karakteristik individu. Ungkapan pengertian di atas dapat dirumuskan dengan formula sebagai berikut:1 P = F (I, L) Keterangan: P adalah perilaku F adalah fungsi I adalah individu L adalah lingkungan Ungkapan tersebut dapat dibaca sebagai berikut. Perilaku individu adalah suatu fungsi dari interaksi antara seorang individu dengan lingkungannya. Ini artinya bahwa seseorang individu dengan lingkungannya menentukan perilaku keduanya secara langsung, atau saling memengaruhi.

1.

Drs. Miftah Thoha, MPA., Perilaku Organiaasasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya, CV Rajawali, Jakarta, hal. 34.

Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

4
A. MEMAHAMI PERILAKU MANUSIA Ilmu perilaku telah banyak mengembangkan cara-cara untuk memahami sifat-sifat manusia. Konsep tentang manusia itu sendiri telah banyak pula dikembangkan oleh para peneliti. Walaupun konsep-konsep tersebut terdapat perbedaan satu sama lain, namun usaha pengembangan pemahaman mengenai sifat manusia pada umumnya telah banyak dilakukan. Salah satu cara untuk memahami sifat-sifat manusia ini ialah dengan menganalisa kembali prinsipprinsip dasar yang merupakan salah satu bagian dari padanya. Prinsip-prinsip dasar tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.2 1. Perbedaan perilaku karena perbedaan kemampuan. Prinsip dasar kemampuan ini sangat penting diketahui dalam memahami mengapa seseorang berbuat dan berperilaku berbeda dengan orang lain. Perbedaan kemampuan ini ada yang menganggap disebabkan oleh kemampuan manusia yang ditakdirkan tidak sama. Ada pula yang beranggapan bukan karena disebabkan sejak lahir, melainkan karena perbedaan cara menyerap informasi dari suatu gejala. Ada lagi yang beranggapan bahwa perbedaan kemampuan itu disebabkan kombinasi dari keduanya. Oleh karena itu, kecerdasan merupakan salah satu perwujudan dari kemampuan seseorang. Ada pula yang beranggapan bahwa kecerdasan seseorang itu juga berasal dari pembawaan sejak lahir, dan ada pula yang beranggapan bahwa kecerdasan berasal dari
2. Ibid, hal.36.

Perkembangan Peserta Didik

5
pendidikan serta pengalaman. Meskipun demikian, ada pula yang membenarkan bahwa kecerdasan (IQ) seseorang itu dipengaruhi oleh tingkat keterbatasan karena adanya pembatasan-pembatasan psikologis (Physiological Limitations). Ag. Soejono dalam bukunya Aliran Baru dalam Pendidikan, menggolong-golongkan kecerdasan anak sebagai berikut. a. Anak dengan kecerdasan baik, yaitu mereka yang memiliki IQ (Intelligentie Quotient) antara 110–130. b. Anak dengan kecerdasan biasa, yaitu yang IQ-nya antara 90 dan 110 c. Anak dengan kecerdasan kurang, yaitu yang IQ-nya antara 70 dan 90, serta d. Anak dengan kecerdasan amat kurang, yaitu IQ nya kurang dari 70. Lepas dari setuju atau tidak setuju dari perbedaan-perbedaan tersebut, ternyata kemampuan seseorang dapat membedakan perilakunya. Oleh karena perbedaan kemampuan ini, dapat kiranya dipergunakan untuk memprediksi pelaksanaan dan hasil belajar seorang siswa di dalam kelas. Kalau kita berhasil memahami sifatsifat dari sudut ini, kita akan memahami pula mengapa seorang siswa berperilaku berbeda dengan yang lain di dalam melaksanakan kegiatan belajar individu atau kelompok di dalam kelas.

Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

6
2. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda-beda Ahli-ahli perilaku umumnya membicarakan bahwa manusia berperilaku karena didorong oleh serangkaian kebutuhan. Dengan kebutuhan tersebut, muncul beberapa pernyataan di dalam diri seseorang (internal state) yang menyebabkan seseorang itu berbuat untuk mencapai suatu objek atau hasil. Kebutuhan seseorang berbeda dengan kebutuhan orang lain. Terkadang, seseorang yang sudah berhasil memenuhi kebutuhan yang satu, misalnya kebutuhan mencari sandang, pangan, serta papan, kebutuhannya akan berlanjut dan berubah atau berkembang. Ia akan mengganti kebutuhannya dengan kebutuhan yang lain. Misalnya, dengan kebutuhan akan pengakuan atas dirinya atau peningkatan harga diri. Kebutuhan yang mendorong seorang individu, mungkin merupakan hal yang potensial, tetapi mungkin juga tidak. Semua itu berpengaruh terhadap perilakunya di kemudian hari. Pemahaman kebutuhan yang berbeda-beda dari tiap individu ini amat bermanfaat untuk memahami perilaku siswa di dalam kelas pada proses pembelajaran secara individu maupun kelompok. Ini juga membantu kita untuk memahami mengapa suatu hasil dari evaluasi belajar dianggap penting bagi seseorang dan tidak bagi siswa lainnya.

Perkembangan Peserta Didik

7
3. Berpikir tentang masa depan dan membuat pillihan Kebutuhan-kebutuhan manusia dapat dipenuhi lewat perilakunya masing-masing. Dalam banyak hal, seringkali seseorang dihadapkan dengan sejumlah kebutuhan potensial harus dipenuhinya lewat perilaku yang dipilihnya. Misalnya, seorang siswa memerlukan nilai tinggi pada saat ujian akhir di sekolah, tetapi di saat yang sama juga membutuhkan pengakuan teman-temannya dalam pergaulan sehari-hari, di sini ia dihadapkan pada pilihan untuk menentukan mana yang lebih prioritas belajar atau teman , dan akhirnya perilakunyalah yang menentukan hasil capaian di sekolah dan lingkungannya (teman-temannya). Cara untuk menjelaskan bagaimana seseorang membuat pilihan di antara sejumlah besar rangkaian pilihan perilaku yang terbuka baginya, adalah dengan mempergunakan penjelasan teori expectancy. Teori ini berdasarkan atas proposisi yang sederhana yakni bahwa seseorang memilih berperilaku sedemikian karena ia yakin dapat mengarahkan untuk mendapatkan sesuatu hasil tertentu (misalnya, mendapat pujian atau nilai yang baik). Jadi, usaha-usaha yang dilakukan seseorang adalah berdasarkan harapan (expectancy) bahwa ia akan memperoleh sesuatu dari pelaksanaan usahanya itu. Ia percaya bahwa tingginya pencapaian hasil yang ia peroleh akan bergantung pada usaha dan pelaksanaan usahanya.

Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

8
4. Pemahaman atas lingkungan berdasarkan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya. Model expectancy, seperti halnya dengan banyak hampiran yang dipergunakan untuk memahami perilaku manusia, menduga bahwa orang berperilaku itu menurut persepsinya terhadap dunia ini. Ini menunjukkan bahwa persepsi mengarahkan kepada suatu kepercayaan tentang pelaksanaan atau usaha yang dilakukan. Memahami lingkungan adalah suatu proses yang aktif, di mana seseorang mencoba membuat lingkungannya itu mempunyai arti bagi dirinya. Proses yang aktif ini melibatkan seorang individu mengakui secara selektif aspek-aspek yang berbeda dari lingkungan, menilai apa yang dilihatnya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu, dan mengevaluasi apa yang dialaminya itu dalam kaitannya dengan kebutuhan dan nilainilainya. Oleh karena kebutuhan-kebutuhan dan pengalaman seseorang itu seringkali berbeda sifatnya, persepsinya terhadap lingkungan juga akan berbeda. Contohnya, siswa-siswa didik yang ada dalam sebuah kelas yang seringkali mempunyai perbedaan dalam berpengharapan (expectancy) mengenai suatu jenis pelajaran, sehingga hasil yang diperoleh dari pelajaran yang sama akan berbeda-beda. Sebagai tambahan keterangan dari hal-hal istimewa ini, proses belajar di masa yang lampau dari seorang siswa didik akan memainkan peranan penting dalam menentukan apa yang ia ketahui di kemudian hari. Walaupun suatu peristiwa atau objek
Perkembangan Peserta Didik

9
diketahui atau diperhatikan oleh seorang individu, bukan jaminan bahwa peristiwa atau objek tadi dapat dipahami secara akurat. Objek atau peristiwa sering kali ditafsirkan agar sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilainya. Sifat yang spesifik dari penyalah-tafsiran (distortion) terhadap suatu objek atau peristiwa tertentu ini, adalah sulit untuk diramalkan. Banyak faktor-faktor idiosinkrasi yang ikut terlibat, baik pada sifat suatu objek atau peristiwa, maupun pada hal-hal yang bersifat psikologis dan emosional dari seorang manusia. 5. Seseorang memiliki reaksi senang atau tidak senang (affective) Manusia jarang yang dapat bertindak netral mengenai sesuatu hal yang mereka ketahui atau alami. Mereka cenderung mengevaluasi sesuatu yang mereka alami dengan cara senang (like) atau tidak senang (dislike). Selanjutnya, evaluasinya itu merupakan salah satu faktor yang teramat sulit di dalam memengaruhi perilakunya mengenai sesuatu di masa yang akan datang. Contohnya, seorang siswa yang di rumah orangtuanya tidak pernah memberikan penjelasan mengenai pentingnya mempelajari bahasa asing selain bahasa Indonesia atau daerah, ketika menemui pelajaran bahasa asing di sekolah akan merasa dislike dengan pelajaran itu. Perasaan like dan dislike ini akan menjadikan seseorang berbuat yang berbeda dengan orang lain di dalam rangka menanggapi sesuatu hal. Perasaan-perasaan senang dan tidak senang itu biasanya diikuti dengan usaha untuk membanding-bandingkan dengan apa yang sudah ia alami sebelumnya. Perbandingan-perbandingan ini
Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

10
terkadang kurang informasi atau kurang bahan masukan (input) sehingga menimbulkan salah persepsi (misperception). Kesalahan dalam persepsi ini menjadi bahan penting bagi proses belajarmengajar agar bahan pelajaran yang diberikan kepada para siswanya tidak menimbulkan misperception yang akibatnya memunculkan kesalahan dalam bersikap dan bertindak dari para siswa didiknya. Contohnya, seorang ustadz yang mengajarkan paham mengenai Islam yang keliru sehingga memunculkan muslim-muslim yang berwatak keras terhadap kepercayaan orang lain. B. BEBERAPA HAMPIRAN UNTUK MEMAHAMI PERILAKU Ada beberapa hampiran yang dikembangkan oleh para ahli ilmu perilaku untuk memahami perilaku manusia yang berinteraksi dengan lingkungannya. Hampiran (approach) pemahaman perilaku itu pada umumnya dapat dikelompokkan atas tiga hampiran, yaitu hampiran kognitif, hampiran penguatan (reinforcement approach), dan hampiran psikoanalitis. 1. Hampiran kognitif (cognitive aproach) Teori kognitif percaya bahwa perilaku seseorang itu disebabkan adanya suatu rangsangan (stimulus), yaitu suatu objek fisik yang memengaruhi seseorang dalam banyak cara. Menurut teori ini, semua perilaku itu tersusun secara teratur. Individu mengatur pengalamannya ke dalam aktivitas untuk mengetahui (cognition) yang kemudian menyusunnya ke dalam susunan kognitifnya (cognitive structure). Susunan ini menentukan jawab (respons) individu terhadap sesuatu.
Perkembangan Peserta Didik

11
Cognition menurut Neisser adalah aktivitas untuk mengetahui, misalnya kegiatan untuk mencapai yang dikehendaki, pengaturannya dan penggunaan pengetahuan. Dari alasan inilah maka pengetahuan mengenai cognition ini merupakan bagian dari psikologi, dan teori-teori mengenai cognition ini merupakan teori psikologi.3 Kognisi adalah dasar dari unit teori kognitif. Ia merupakan representasi internal yang terjadi antara suatu stimulus dengan suatu jawaban (respons), dan yang bisa menyebabkan terjadinya jawaban. Hubungan ini dapat digambarkan sebagai berikut. Stimulus Cognition Response

Seseorang mengetahui adanya suatu stimulus, kemudian memprosesnya ke dalam kognisi. Pada akhirnya, kognisi ini menghasilkan dan menyebabkan munculnya jawaban atas stimulus tadi. Sebagai contoh, suatu hari seorang siswa harus mengikuti ujian akhir. Karena tidak siap, ia kemudian mencontek. Tiba-tiba seorang pengawas yang berdiri di belakangnya mendehem. Ia yang menyangka si pengawas menegurnya, langsung berkeringat. Interpretasinya mengenai perilakunya yang salah menyebabkan keringat dingin keluar bercucuran. Contoh tersebut menguraikan adanya elemen-elemen dari kognitif, berupa stimulus, kognisi dan respons.
3. Ulric Neisser, Cognition and Reality: Principles and Implications of Cognitive Psychology, San Francisco, WH. Freeman dan Co., 1976, hal.1

Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

12
Menurut teori kognitif, aktivitas mengetahui dan memahami sesuatu (cognition) itu tidaklah berdiri sendiri-sendiri. Aktivitas ini selalu dihubungkan dan disempurnakan dengan kognisi yang lain. Proses penjalinan dan tata hubungan di antara kognisi-kognisi ini membangun suatu struktur dan sistem. Struktur dan sistem ini dinamakan struktur kognitif. Contohnya, Kemarin, Sinta duduk dekat saya di kelas dan buku Sosiologi saya hilang . Kedua kognisi itu jika digabungkan akan membentuk sistem kognisi bahwa Sinta pencuri. Asosiasi ini disebabkan karena adanya pengalaman terdahulu yaitu, apabila kehadiran Sinta selalu diikuti dengan hilangnya benda-benda tertentu. Sistem kognitif mempunyai beberapa fungsi, yaitu: (1) memberikan pengertian pada kognitif baru, (2) menghasilkan emosi, (3) membentuk sikap, dan (4) memberikan motivasi terhadap konsekuensi perilaku. Menurut teori kognitif, pengertian terjadi jika suatu kognitif dihubungkan dengan sistem kognitif yang telah ada. Contohnya, seorang murid ketika belajar matematika di dalam kelas dengan seorang guru baru, dengan segera ia akan menghubungkan pelajaran matematika itu dengan yang telah ia pelajari dari gurunya terdahulu. Jika pengalaman tidak bisa dihubungkan dengan sistem kognitifnya (pelajaran dari guru baru tersebut) maka dapat dikatakan tidak memberi arti (meaningless). Interaksi antara kognisi dan sistem kognitif tidak hanya memberi pengertian pada kognisi saja, tetapi dapat memberikan

Perkembangan Peserta Didik

13
konsekuensi-konsekuensi berupa sikap atau perasaan, misalnya senang atau tidak senang, cinta atau benci, hormat atau tidak hormat, dan sebagainya. Dalam contoh di atas, jika cara mengajar guru baru itu menyenangkan, penilaian siswa tadi terhadap guru barunya mungkin adalah senang atau bagus. Inilah yang dinamakan konsekuensi emosi. Sistem kognitif memerlukan komponen-komponen yang mengandung afektif (emosi). Bersatunya sistem kognitif dan komponen afektif menghasilkan tendensi perilaku untuk mencapai suatu objek. Jadi, sikap seseorang itu mempunyai kognitif (pengetahuan), afektif (emosi) dan tindakan (tendensi perilaku). Sikap seorang siswa terhadap pelajaran bahasa Inggris. Misalnya, terdiri atas komponen-komponen kognitif berikut: a. bahasa Inggris penting untuk masa depan; b. siswa itu mungkin tahu bahwa orang yang bisa berbahasa Inggris lebih mudah untuk diterima bekerja; c. siswa merasa pergaulannya lebih luas bila ia bisa berbahasa asing; d. dan sebagainya. Komponen-komponen kognitif ini semuanya juga termasuk komponen afektif (misalnya, siswa itu hampir secara keseluruhan menyukai pelajaran bahasa Inggris) dan tendensi bertindak (misalnya, siswa tersebut menambah jam belajar bahasa Inggris selain di sekolah juga di tempat kursus). Ternyata, teori kognitif harus pula didukung oleh motivasi dari perilaku seseorang. Hal tersebut dikarenakan perilaku itu hanya
Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

14
terdiri atas tindakan-tindakan yang terbuka saja melainkan juga termasuk faktor-faktor internal, seperti berpikir, emosi, persepsi, dan kebutuhan. 2. Hampiran penguatan (reinforcement approach) Istilah reinforcement (penguatan) secara konsepsional sangat erat hubungannya dengan proses psikologi lainnya yang dikenal dengan motivasi. Ada kecenderungan para ahli untuk menyamakan antara reinforcement dengan motivasi. Motivasi sebagai suatu dasar dari proses psikologi adalah sangat luas dan kompleks dibandingkan dengan reinforcement ini. Kebutuhan (need) yang merupakan pusat perhatian dari motivasi berlandaskan pada kognitif dan kebutuhan merupakan pernyataan di dalam diri setiap orang yang sulit diamati atau dilihat. Sementara itu, reinforcement adanya di lingkungan. Reinforcer berasal dari luar (external), yaitu berupa peristiwa-peristiwa yang ada di lingkungan yang kemudian diikuti dengan adanya respons. Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi dari suatu perilaku adalah berasal dari dalam (internal) dan reinforcement asalnya dari luar. Dengan demikian, perspektif motivasi dan reinforcement memang sangat berbeda. Konsepsi penguatan menjelaskan bahwa stimulus adalah sesuatu yang terjadi untuk merubah perilaku seseorang. Suatu stimulus dapat berupa benda fisik ataupun berupa materi. Ia dapat diukur dan diamati. Semua stimulus dapat dijumpai di dalam lingkungan manusia. Adapun respons adalah setiap perubahan dalam perilaku individu. Suatu respons terjadi karena stimulus dan
Perkembangan Peserta Didik

15
suatu stimulus selalu menghasilkan respon. Perubahan perilaku individu bisa positif, yaitu jika perubahan yang disebabkan stimulus itu membawa kesenangan dan bisa juga negatif jika perubahan yang disebabkan stimulus itu menimbulkan kesengsaraan. Selain stimulus dan respons, satu lagi unsur yang ada dalam konsepsi penguatan ini adalah adanya penguat (reinforcer). Penguat adalah suatu respons yang menghasilkan adanya peningkatan hubungan (association) antara stimulus dan respon. Penguat akan meningkatkan probabilitas bahwa stimulus akan menghasilkan respons-respons lagi yang sama, respons-respons tersebut akan diulang. Terdapat dua jenis penguat, yaitu penguat positif dan penguat negatif. Penguat positif adalah suatu hasil dari suatu respons yang dapat menguatkan asosiasi antara stimulus dan respons. Karena adanya hubungan yang kuat antara respons dan stimulus ini, maka penguat positif akan terjadi berulang-ulang. Contoh: Seorang guru yang selalu akan menaikkan siswanya bila ada uang suap . Maka kelak, bila akan naik kelas lagi, siswa tersebut akan memberikan penguat positif berupa uang suap kepada guru tersebut agar naik kelas. Penguat negatif adalah suatu hasil yang dapat merubah kekuatan perhubungan antara suatu stimulus dan respon yang dihasilkannya. Contoh: Guru yang tadinya senang disuap untuk menaikkan kelas siswanya, tiba-tiba kepergok oleh kepala sekolah dan mendapatkan sanksi. Maka sanksi adalah penguat negatif yang dapat menghentikan perilaku guru yang sedang disuap tadi.
Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

16
3. Hampiran psikoanalitis (psychoanalitical approach) Hampiran psikoanalitis menekankan bahwa perilaku manusia itu dikuasai oleh kepribadiannya (personality). Pelopor dari konsep psikoanalitis adalah Sigmund Freud. Dia memiliki pandangan bahwa konflik selalu ada dalam tubuh manusia yang terpatri dalam perjuangan antara segi baik dan buruk, segi malaikat dan setan, yang selalu berjuang saling mengalahkan. Menurut Freud, susunan personality seseorang itu dapat dijelaskan dengan kerangka ketidaksadaran. Ia percaya ada tiga hal yang saling berhubungan dan yang sering kali berlawanan yaitu: id, ego dan superego. Apa itu id ? Pada dasarnya id adalah subsistem dari kepribadian. Id sering kali dilukiskan sebagai kawah mendidih yang berisi pengharapan dan keinginan-keinginan yang memerlukan pemuasan/pemenuhan secepatnya. Dalam rangka mencari pemuasan dari keinginankeinginan itu, id tidak terbelenggu oleh faktor-faktor pembatas seperti etik, moral, alasan atau logika. Tidak heran bila terdapat dua hal yang sering kali bertentangan terjadi bersama-sama dalam satu id. Contohnya: keinginan guru untuk memajukan siswanya sesuai dengan kemampuan mereka, namun di saat yang sama ia juga ingin mensejahterakan keluarganya sendiri. Id secara tetap merupakan suatu upaya untuk mendapatkan penghargaan, pemuasan dan kesenangan. Id terwujud melalui libido (mengarah pada keinginan seksual dan kesenangan, kehangatan, makanan dan kenyamanan) dan agresi (keinginan berperang, berkelahi, berkuasa, dan semua tindakan yang bersifat merusak).
Perkembangan Peserta Didik

17
Pada individu yang matang, dewasa dan berkembang karena pendidikan, ia belajar untuk mengendalikan id-nya. Untuk itulah agama mengajarkan pada manusia agar beriman pada Tuhannya. Meskipun demikian, id tetap memberikan dorongan-dorongan yang kuat untuk pemenuhan dan pemuasan terhadap individuindividu manusia. Apa itu ego? Apabila id yang sudah diulas sebelumnya merupakan sumber dari ketidaksadaran manusia, maka ego menunjukkan sebaliknya. Ego adalah sumber rasa sadar. Ego mewakili logika dan yang dihubungkan dengan prinsip-prinsip realitas. Ego merupakan subsistem yang dapat mengendalikan dua subsistem lain dari kepribadian manusia yaitu id dan superego yaitu dengan cara berinteraksi dengan dunia luar atau lingkungan luar (external environment). Ego bertindak sebagai perantara id, yaitu yang mengembangkan kepentingan id dengan dunia luar agar dapat mencapai pemuasan keinginan. Tujuannya adalah untuk melindungi kehidupan dengan cara menafsirkan dan menggali apa yang terjadi di lingkungan luar, sehingga ego menjadi sadar tentang apa yang terjadi di dunia dan apa yang dialaminya. Ego dapat menimbang dan belajar dari lingkungan luarnya. Dalam hal ini, ego mempertimbangkan keinginan-keinginan yang muncul dari id terlebih dulu sebelum menjawab ya atau tidak . Jika jawabannya ya, ego akan mendorong id untuk mencari alat agar keinginan id tercapai. Tetapi jika jawabannya tidak, ego akan mengarahkan id ke cara yang lebih
Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

18
aman atau ke daerah yang menurut realita lebih dapat tercapai. Namun, seringkali id dan ego berkonflik dengan sangat keras, sehingga individu merasakan kebingungan yang teramat sangat. Agar ego dapat mengataasi situasi konflik itu, maka ego mendapat bantuan dari superego. Apa itu superego? Superego adalah kekuatan moral dari kepribadian. Ia merupakan sumber norma atau standar kebenaran yang secara tidak sadar dapat menilai semua aktivitas ego. Superego itu sendiri berkembang dari saling interaksinya ego dengan lingkungan atau masyarakat. Superego ini dikembangkan lewat penyerapan nilainilai kultural dan moral dalam masyarakat. Sebenarnya, dalam perkembangan siswa didik, orangtualah yang paling penting dalam pengembangan superego anak-anaknya. Jadi, teori dari Sigmund Freud sebenarnya ditandai dengan konflik dari subsistem personality (kepribadian) ini. Pendekatan dari Freud menjelaskan bahwa perilaku manusia itu didasarkan pada emosional. Jika ego tidak mampu mengendalikan id, maka seseorang itu menjadi agresif dan dapat merusak masyarakat. Tetapi jika id terlalu dikontrol oleh ego, maka seseorang itu sulit menyesuaikan diri (maladjusted). Dan jika superego yang terlalu kuat, maka hasilnya orang tersebut menjadi cepat tersinggung dan merasa bersalah. Dengan demikian, sistem kepribadian harus berimbang disesuaikan dengan keadaan lingkungan, logika dan realitasnya.

Perkembangan Peserta Didik

19

Pemahaman terhadap Manusia sebagai Makhluk Sosial

20

Perkembangan Peserta Didik

BAB II PENDIDIKAN DALAM KELUARGA

22
Tak dapat disangkal lagi bahwa seluruh pendapat para ahli sosiologi selalu mengungkapkan manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial berarti manusia tidak dapat hidup sendiri atau menyendiri. Manusia akan selalu mencari manusia lainnya untuk berinteraksi dan mengembangkan diri. Seorang psikolog bernama Branca bahkan mengatakan bahwa, Man is a social animal. As a raze man, cannot survive in isolation. As an individual, his normal state is in association with other human beings. From his first day of life and through his long infancy and childhood, he is almost continuously attended by and in the presence of other human beings. Even when he becomes an adult, the greatest parts of his activities are in respon to the activities of other people . Jadi sejak masa kelahirannya, manusia selalu dihadiri oleh manusia lainnya, bahkan ketika ia dewasa sekalipun, seluruh aktivitasnya tidak akan mungkin lepas dari aktivitas orang-orang lain di sekelilingnya. Begitulah manusia, yang tidak mungkin bisa hidup (survive) dengan cara dikucilkan. Alasan mengapa manusia tidak dapat hidup sendiri dikemukakan oleh Prof. DR. P.J. Bouwman yaitu, bahwa manusia memiliki hasrat-hasrat yang harus dipenuhi dalam dirinya seperti: • hasrat sosial; • rasa harga diri; • hasrat untuk patuh; • hasrat meniru; • hasrat bergaul; • hasrat tolong-menolong dan simpati;
Perkembangan Peserta Didik

23
• hasrat berjuang, dan • hasrat memberitahukan dan menerima kesan-kesan. Seluruh hasrat di atas merupakan hasrat bermasyarakat, yaitu bahwa manusia secara individu mengadakan kontrak sosial tertulis maupun tak tertulis untuk hidup bersama dalam suatu kelompok pergaulan hidup. Thomas Hobbes dalam bukunya Leviathan menggambarkan teorinya sebagai berikut. Berpegang kepada keadaan alam, maka manusia merupakan homo homimi lupus (manusia yang satu bersikap serigala kepada manusia yang lainnya) yang sangat membahayakan kehidupan manusia, sehingga demi keutuhan (menghindari kemusnahan) diadakanlah kontrak atau perjanjian sosial antarindividu untuk hidup bersama di bawah suatu pemerintahan yang cukup kuat untuk mengekang setiap orang untuk kepentingan mereka bersama.4 Demikianlah, untuk mempertahankan hidupnya manusia kemudian berkelompok, terkotak-kotak dalam kesamaan kepentingan dan pemenuhan kebutuhan. Proses pertumbuhan tiap individu manusia dari masa anak-anak hingga dewasa sampai ia dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan kelompok dikenal dengan istilah sosialisasi dan enkulturasi. Proses sosialisasi adalah pertumbuhan dalam kehidupan tiap-tiap individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individuindividu yang hidup dalam masyarakat di sekitarnya. Sementara
4. Dr. A. Lysen, “Individu dan Masyarakat”, diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Sumur Bandung, Bandung, 1964, hal.52.

Pendidikan dalam Keluarga

24
itu, proses enkulturasi adalah pertumbuhan dalam kehidupan bersama dengan masyarakat di sekitarnya. Individu mempelajari dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat, norma-norma, aturanaturan, pendirian-pendirian dan anggapan-anggapan yang sudah ada dalam lingkungan sosial dan kebudayaan di mana si individu itu berada. Kita dapat menjumpai proses-proses tersebut dalam tiap kelompok. Pada umumnya, dimulai dari kelompok terkecil di masyarakat, yaitu keluarga. Kemudian menuju kelompok yang lebih besar melalui beberapa tahapan. Misalnya, seorang anak memulai hidupnya dengan berhubungan dan mempelajari kelompok keluarganya sendiri, mulai dari ayah, ibu, dan saudarasaudaranya. Kemudian, ia mempelajari pembantu-pembantu yang ada di rumahnya. Setelah itu, ia akan keluar, ke tetanggatetangga, sekolah, dan kemudian meluas dan melebar ketika ia sudah beranjak dewasa dan bekerja. A. APA ITU KELUARGA? Sebagaimana telah disebutkan di awal, keluarga merupakan kelompok masyarakat yang terkecil, yang masing-masing individu di dalamnya mempunyai ikatan darah dan pertalian batin yang sangat erat. Dan meskipun tidak tertulis, tiap anggota individu di dalam keluarga memiliki tanggung jawab yang jelas. Sebuah keluarga biasanya terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan anak-anak. Disadari ataupun tidak, masing-masing individu di dalam keluarga akan saling belajar satu sama lainnya; anak-anak akan belajar dan meniru dari ayah dan ibunya, ibu akan belajar
Perkembangan Peserta Didik

25
dari ayah dan sebaliknya, bahkan seorang ayah dan ibu pun akan mempelajari sesuatu dari anak-anaknya. Secara fisik, seorang ayah dan ibu akan menurunkan sifatsifat bawaan (heredity) kepada anak-anaknya, yang menyebabkan satu keluarga dan keluarga yang lainnya memiliki ciri fisik yang berbeda-beda; bahkan, satu individu dan individu lainnya dalam keluarga memiliki ciri fisik yang berbeda-beda. Sifat-sifat bawaan ini misalnya: rambut ikal atau lurus, hidung mancung atau tidak, bentuk tulang pipi dan mata, warna kulit, dan sebagainya. Semua sifat bawaan ini sudah tak dapat berubah. Oleh karena itulah, ciri fisik seringkali menjadi patokan bagi pihak kepolisian untuk mencari seseorang yang melanggar hukum. Pembawaan (Heredity); yakni segala potensi yang dimiliki individu sejak masa kehamilan. Ini berarti bahwa penurunan sifat berlangsung melalui sel benih dan bukan sel-sel lain. Dengan demikian tidak akan terjadi penularan sifat seseorang pada peristiwa transfusi darah, transplantasi dan sebagainya; dan bukan hasil dari kecakapan hasil belajar atau usaha lain. Misalnya: orangtua yang cerdas akan menurunkan anak-anak yang cerdas, kesamaan fisik, dan sebagainya. Jadi yang diturunkan orangtua pada anaknya adalah structural, permanent state (sifat-sifat struktural tetap) dan bukan tingkah laku dari hasil belajar atau pengalaman. B. KELUARGA SEBAGAI PENUNTUN NILAI-NILAI DAN TRADISI Menurut Ki Hadjar Dewantara, mendidik anak berarti mendidik rakyat. Kedaan dalam hidup dan penghidupan kita pada zaman
Pendidikan dalam Keluarga

26
sekarang adalah buah dari pendidikan yang kita terima dari orangtua pada waktu kita anak-anak. Sebaliknya anak-anak yang pada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warga negara kita. Ia juga mengatakan, pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya. Manusia merdeka yaitu manusia yang lahir dan batinnya tidak tergantung kepada orang lain, tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.5 Penanaman motivasi belajar dari masa balita sampai pendidikan dasar dan menengah terutama ada di pundak orangtua. Untuk keperluan pendidikan, maka umur anak-anak didik telah dibagi tiga periode oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu: (a) waktu pertama (1–7 tahun) dinamakan masa kanak-kanak (kinderperiode); (b) waktu kedua (7–14 tahun), yaitu masa pertumbuhan jiwa dan pikiran (intellectueele periode); dan (c) masa ketiga (14–21 tahun) dinamakan masa terbentuknya budi pekerti atau social periode. 6 Nilai-nilai dalam keluarga, dan nilainilai norma yang berlaku dalam masyarakat menjadi landasan bagi anak didik dalam menempuh pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat. Tiap periode pada anak didik, terdapat pengaruh yang muncul dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Seluruh pengaruh itu menimbulkan perbedaan perkembangan jiwa anak, perkembangan kemampuan berpikir, perkembangan bersosialisasi, dan motivasi. 1. Periode 1–7 tahun dalam keluarga
5. 6. Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan, Bagian pertama, Edisi dan Cetakan Pertama, Taman Siswa, Yogyakarta, 1962, hal.3. Ibid, halaman 28 – 29.

Perkembangan Peserta Didik

27
Pada periode ini, peranan proses imitasi tidak kecil artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan otak seorang anak dalam keluarga. Misalnya, bahasa yang digunakan untuk menyatakan perasaan atau keinginannya mula-mula ditiru dari ibunya. Bukan cuma itu, tingkah laku si ibu juga ditiru anak-anak pada masa usia 1–7 tahun ini, misalnya cara memberi hormat, cara menyatakan terima-kasih, cara mengungkapkan rasa senang, cara makan, cara berpakaian dan lain sebagainya. Pada kebanyakan anak-anak, banyak tingkah laku orangtua yang diambilnya tanpa pertimbangan terlebih dulu. Mereka akan menerima dan melakukannya tanpa kritik, apa lagi bila si anak sangat mengidolakan salah satu dari kedua orangtuanya itu. Mereka akan sangat tersugesti untuk mengikuti apa saja perilaku orangtuanya. Menurut Dr. W.A. Gerungan Dipl. Psych. dalam bukunya Psychologi Sosial , sugesti adalah proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah-laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Nilai-nilai kehidupan juga akan langsung diterima oleh anak-anak pada usia 1–7 tahun dari ke dua orangtuanya. Proses identifikasi berlangsung tanpa batas. Identifikasi berarti dorongan untuk identik atau sama dengan orang lain. Perkembangan jiwa dan kemampuan anak-anak usia 1–7 tahun memang sangat bergantung terutama pada seorang ibu. Perkembangan itu bisa mengarah pada sesuatu yang positif ataupun negatif. Perkembangan jiwa dan kemampuan anak yang positif adalah:
Pendidikan dalam Keluarga

28
a. Jujur Nilai jujur diperoleh anak dengan meniru perilaku seorang ibu. Seorang ibu yang selalu berkata jujur dan apa adanya pada seorang anak atau pada suami akan ditiru oleh anak-anaknya. Namun seorang ibu yang terlalu keras pada anak-anaknya, akan mendorong si anak tumbuh menjadi pendusta, karena dengan dusta ia akan merasa aman. Banyak juga kedustaan yang diperoleh anak-anak berasal dari cerita-cerita bohong yang didongengkan para orangtua. Seorang ibu yang sering mengumbar janji bohong kepada anak-anaknya juga menjadi contoh ketidakjujuran dan akan diimitasi oleh anak-anaknya. b. Berani Seorang ibu yang pemberani juga akan menanamkan nilai hidup berani pada anak-anaknya untuk menghadapi persoalan-persoalan dalam keluarga. Mahmud Mahdi Al-Istanbulli dalam bukunya Mendidik Anak Nakal , menyatakan bahwa umumnya ibu-ibu adalah penakut. Mereka takut pada tikus, kecoa, cerita-cerita hantu, atau kegelapan, maka anak-anaknya akan tumbuh seperti itu. c. Menghargai milik orang lain Sering kali kita melihat ada anak-anak usia 1-7 tahun yang mempunyai rasa selalu ingin memiliki barang orang lain. Perasaan ini muncul karena di rumah, si ibu atau ayahnya tidak pernah memberikan pengertian mengenai rasa menghormati milik orang lain. Atau yang lebih parah adalah perilaku ini muncul justru karena proses imitasi dari kedua orangtuanya. Karena itu, penanaman nilai-nilai positif mengenai hal ini sangatlah penting artinya, agar
Perkembangan Peserta Didik

29
anak tidak tumbuh menjadi pencuri-pencuri kecil yang kelak bila dewasa memunculkan koruptor-koruptor besar di negara ini. d. Rajin Anak yang kurang mendapat perhatian dari kedua orangtuanya bisa tumbuh menjadi anak yang malas, malas berbuat sesuatu karena kurangnya penghargaan atau kasih sayang. Sangat berbahaya bila kedua orangtua tidak memberikan dukungan yang besar terhadap pendidikan anak di tahap awal mereka memasuki dunia sekolah, karena anak menjadi malas untuk belajar. Perilaku rajin hanya dapat muncul dengan munculnya penghargaan dari keluarga. e. Disiplin Ketidakteraturan dan kekacauan di dalam rumah-tangga, akan mendorong seorang anak pada periode 1–7 tahun memiliki pribadi yang tidak disiplin. Seorang ibu yang malas bangun pagi untuk menyiapkan keperluan rumahtangganya atau seorang ayah yang tidak teratur jam kerjanya, akan menyebabkan anak bertumbuh menjadi anak-anak yang tidak mengenal keteraturan hidup. Nilai-nilai kedisiplinan dapat diterapkan dengan mengajarkan anak menepati waktu, misalnya waktu belajar, waktu makan, waktu bangun pagi, waktu main, dan sebagainya. Ini merupakan awal anak menghargai waktu dan berdisiplin menerapkannya dalam kehidupannya kelak. f. Sportif Masyarakat kita telah banyak yang kurang menghargai sportifitas, baik dari segi olahraga, sosial maupun kancah politik. Lihat saja, begitu klub sepakbolanya kalah, maka yang ada adalah amuk massa; begitu juga politiknya tidak terpilih dalam Pemilihan
Pendidikan dalam Keluarga

30
Umum atau Pilkada, maka sekali lagi amuk massa. Rupanya bangsa ini sudah demikian rapuh untuk menghargai sportifitas. Nilai-nilai sportif adalah rasa untuk menghargai keunggulan atau kemampuan orang lain, tanpa iridengki atau perasaan lain. Nilainilai sortif hanya muncul dari rasa percaya diri bahwa dengan usaha yang sama kerasnya atau belajar dan pelatihan yang sama giatnya, seseorang akan mampu mencapai prestasi yang sama dengan orang lain. Dasar-dasar dari nilai-nilai ini hanya diperoleh dari keluarga. Penanaman nilai sportifitas berasal dari penanaman rasa percaya diri dengan memunculkan penghargaan-penghargaan dan kasihsayang dalam keluarga. g. Toleransi Oleh karena periode 1–7 tahun merupakan masa peka, maka pengajaran dalam keluarga bagi anak-anaknya untuk ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain adalah penting. Pada masyarakat kita sekarang, toleransi terhadap sesama sudah semakin terkikis, sehingga kebijakan-kebijakan penguasa tidak dapat lagi berlandaskan pada apa yang dirasakan orang banyak. Untuk itulah, apa yang kita ajarkan pada anak-anak kita sekarang akan menjadi buah dari apa yang kita petik kelak. 2. Periode 7–14 tahun Periode ini bagi seorang anak adalah masa-masa mereka duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Dalam periode ini, seorang anak mulai belajar berinteraksi dengan lingkungan di luar lingkungan keluarga. Beberapa proses interaksi

Perkembangan Peserta Didik

31
seperti imitasi, sugesti, dan identifikasi pada diri si anak tetap berjalan dengan batasan-batasan nilai-nilai yang telah lebih dulu ditanamkan di dalam keluarganya. Pada periode ini anak melakukan adaptasi dengan lingkungan baru. Hal itu menyebabkan sensorimotorik (keterampilan motorik) dan kognitifnya (kemampuan berpikir) berkembang terus menerus. Yang disebut sensorimotorik adalah keterampilan berjalan, membuka botol, menulis, menggambar, melompat, dan sebagainya. Sedangkan kognitif adalah kemampuan berpikir atau pengembangan daya untuk menerima informasi dan pengetahuan baru di dalam sel-sel otak. Ada dua mekanisme adaptasi yang terkait dalam setiap tindakan, yaitu akomodasi dan asimilasi. Akomodasi adalah perubahan respon terhadap tuntutan lingkungan yang mencakup perkembangan baru dari hasil adaptasi yang sudah ada. Sedangkan asimilasi adalah perilaku memproses atau mentransfer setiap stimulus yang datang dari lingkungan. Keberhasilan seorang anak untuk mempelajari lingkungan baru memang sangat ditentukan oleh kemampuan kognitif, tetapi faktor non-kognitif (seperti motivasi, emosi) tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, peran orangtua dalam periode pertama anak memasuki dunia adaptasi dengan sekolah sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara faktor kognitif dan nonkognitif si anak tersebut. Meskipun sudah nmenjadi pengetahuan umum, bahwa anak dengan intelegensia (IQ) yang baik akan lebih mudah menerima materi pelajaran dan memperoleh prestasi tinggi di sekolah, namun
Pendidikan dalam Keluarga

32
EQ (Emotional Quotient) juga memengaruhi prestasi belajar seorang anak di sekolah. Secara umum dapat dikatakan bahwa EQ itu adalah suatu ukuran yang menunjukkan pada kualitas memahami perasaannya sendiri dan kemampuan untuk ikut menghayati perasaan orang lain (empati). Kemampuan membaca situasi sekitar melalui kesadaran diri (self awareness) sehingga ia mampu mengendalikan dirinya disertai kematangan (maturity) menentukan pilihan adalah gambaran dari beberapa keterampilan emosional yang dikandung oleh pengertian EQ ini. Pada periode 7–14 tahun inilah seorang anak akan mengalami beberapa hal dalam dirinya yaitu sebagai berikut. (a) Perkembangan kemampuan membedakan antara berbagai aspek penting dalam lingkungan (b) Koordinasi dari berbagai pengetahuan bersifat konkrit. (c) Pencapaian kemampuan berpikir sebab dan akibat. 3. Periode 14–21 tahun Setiap anak dilahirkan dengan bakat yang merupakan potensi kemampuan (inherent compponent of ability) yang berbeda-beda dan terwujud karena interaksi yang dinamis antara keunikan individu dan pengaruh lingkungan. Berbagai kemampuan yang teraktualisasikan beranjak dari berfungsinya otak si anak. Pada periode ini pertumbuhan kognitif, inteligensi emosional, bakat, dan pengalaman tentang nilai-nilai pada diri si anak akan menjadi lebih baik lagi bila orangtua dan sekolah memberikan seluruh kebutuhan yang diperlukan anak dalam proses ini.
Perkembangan Peserta Didik

33
Proses pendidikan anak usia 14 –21 tahun bukan hanya membentuk kecerdasan dan atau hanya membentuk keterampilan tertentu saja, akan tetapi juga membentuk dan mengembangkan sikap agar anak berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Namun demikian, dalam proses pendidikan di sekolah proses pembelajaran sikap kadang-kadang terabaikan. Itulah sebabnya campur tangan orangtua dalam periode ini masih sangat menentukan bagi perkembangan jiwa si anak. Beberapa hal penting yang terjadi pada diri anak usia 14–21 tahun adalah sebagai berikut. a. Kematangan dari dalam (maturity) oleh karena hasil dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. b. Mulai ada pengarahan diri secara internal dan pengaturan diri sendiri (internal self direction and regulation). c. Mulai menunjukkan tekanan intrinsik yang aktif dan eksploratif dalam mengelola pengalamannya agar bermakna bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. d. Mulai dapat menentukan pilihan-pilihan dan mengorganisir cara untuk menapai pilihan-pilihan tersebut.

Pendidikan dalam Keluarga

BAB III BELAJAR DAN PERUBAHAN PADA SISWA DIDIK

36
Tujuan merupakan komponen yang sangat penting dalam sistem pembelajaran, sebab seluruh aktivitas guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah kemampuan (kompetensi) atau keterampilan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa setelah mereka melakukan proses pembelajaran tertentu. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Dick and Carey yaitu: The instructional goal is statement that describes what it is that student will be able to do after they have completed instruction . Dalam kurikulum berorientasi pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran itu juga biasa diistilahkan dengan indikator hasil belajar. Artinya, apa hasil yang diperoleh siswa setelah mereka mengikuti proses pembelajaran. Dewasa ini, berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi infofrmasi, setiap orang bisa memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Artinya, saat ini setiap orang dapat belajar dari berbagai sumber belajar. Guru bukan lagi satusatunya sumber belajar (learning resource) dari siswa didiknya, karena siswa didik dapat memperoleh ilmu pengetahuan dari membaca koran, buku, internet, dan berbagai fasilitas komunikasiinformasi lainnya. Guru bukan satu-satunya learning resource, tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran (manager of instruction). Keberhasilan suatu proses pengajaran biasanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah.
Perkembangan Peserta Didik

37
Sedangkan mata pelajaran itu sendiri ialah pengalaman-pengalaman manusia masa lalu yang disusun secara sistematis dan logis kemudian diuraikan dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya isi buku itu harus dikuasai oleh siswa. Dan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam memahami isi pelajaran, biasanya digunakan tes secara periodik terhadap siswa yang bersangkutan. Pandangan lain menyebutkan bahwa mengajar sebagai proses mengatur lingkungan dengan harapan agar siswa belajar. Dalam konsep ini yang terpenting adalah belajarnya siswa. Untuk apa menyampaikan materi pelajaran kalau siswa tidak berubah tingkah lakunya? Untuk apa siswa menguasai materi pelajaran sebanyakbanyaknya kalau ternyata materi yang dikuasainnya itu tidak berdampak terhadap perubahan perilaku dan kemampuan siswa. Dengan demikian, yang penting dalam mengajar adalah proses mengubah perilaku. Dalam kontek ini mengajar tidak ditentukan oleh lamanya serta banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari dampak proses pembelajaran itu sendiri. Misalnya: guru hanya beberapa menit saja di muka kelas, namun dari waktu yang sangat singkat itu membuat siswa sibuk melakukan proses belajar. A. APA ITU BELAJAR? Kalau bahasan di atas tadi adalah konsepsi mengenai pengajaran (memberikan pelajaran), lalu apa sebenarnya belajar itu? Belajar adalah proses berpikir. Belajar berpikir menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dalam pembelajaran berpikir, proses pendidikan di sekolah tidak hanya menekankan kepada
Belajar dan Perubahan pada Siswa Didik

38
akumulasi pengetahuan materi pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (self regulated). Asumsi yang mendasari pembelajaran berpikir adalah bahwa pengetahuan itu tidak datang dari luar, akan tetapi dibentuk oleh individu itu sendiri dalam struktur kognitif (lihat bagian 1 buku ini) yang dimilikinya. Atas dasar itulah maka, mengajar itu bukanlah memindahkan pengetahuan guru pada siswa, tetapi suatu aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya. Menurut Bettencourt (1985) mengajar berarti mengajak siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. B. BAGAIMANA PROSES OTAK SAAT BELAJAR? Belajar adalah proses pemanfaatan otak secara maksimal. Menurut beberapa ahli, otak manuasia terdiri dari dua bagian, yaitu otak kanan dan otak kiri. Masing-masing belahan otak memiliki spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu. Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linier dan rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolis. Cara kerja otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif,dan holistik. Cara berpikirnya sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal seperti perasaan dan emosi,
Perkembangan Peserta Didik

39
kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreativitas dan visualisasi. Kedua belahan otak perlu dikembangkan secara optimal dan seimbang. Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otak kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berpikir logis dan rasional akan membuat anak dalam posisi kering dan hampa . Oleh karena itu, belajar berpikir logis dan rasional perlu didukung oleh pergerakan otak kanan, misalnya dengan memasukkan unsurunsur yang bisa memengaruhi emosi, yaitu unsur estetika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Pendapat lain tentang otak adalah Teori Otak Triune. Triune artinya Three in One (Dave Meier, 2002: 83). Menurut teori ini, otak manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu otak reptil, sistem limbik dan neokortek. Otak yang paling sederhana dari ketiga bagian itu adalah otak reptil. Tugas utamanya adalah mempertahankan diri. Otak ini menguasai fungsi otomatis seperti degupan jantung dan sistem peredaran darah. Dari otak inilah manusia sering berprilaku secara naluriah, yang cenderung mengikuti contoh dan rutinitas secara membuta. Otak reptil diyakini sebagai sisi hewani manusia yang berfungsi mengejar kekuasaan. Ia akan berbuat apa saja demi mencapai tujuan yang diinginkannya termasuk untuk mempertahankan diri. Sistem limbik merupakan otak bagian tengah yang memainkan peran besar dalam hubungan manusia dan dalam emosi. Fungsi
Belajar dan Perubahan pada Siswa Didik

40
otak ini bersifat sosial dan emosional. Di otak ini juga terkandung sarana untuk mengingat dalam jangka panjang. Sedangkan neokortek merupakan fungsi otak yang paling tinggi tingkatannya. Otak ini memiliki fungsi tingkat tinggi, misalnya mengembangkan kemampuan berbahasa, berpikir abstrak, memecahkan masalah, merencanakan ke depan, dan berkreasi. Otak inilah yang membuat seorang manusia berbeda dengan makhluk lain ciptaan Tuhan. Proses belajar seharusnya mampu mengembangkan setiap bagian otak. Jika proses pembelajaran mampu mencapai neokortek, maka sudah barang tentu otak reptil dan sistem limbik akan terkembangkan. Sebaliknya, pembelajaran yang hanya menyentuh otak limbik apalagi otak reptil saja, belum tentu dapat mengembangkan neokortek. Dengan demikian, pembelajaran yang benar adalah yang dapat mengembangkan fungsi neokortek, yaitu melalui pengembangan berbahasa, memecahkan masalah dan membangun kreasi. C. BELAJAR ITU BERLANGSUNG SEPANJANG HAYAT Manusia sepanjang hidupnya akan selalu dihadang oleh masalah-masalah baru dalam mencapai tujuan hidupnya. Dalam menghadapi masalah-masalah itu, berdasarkan kemampuan dan pengalaman yang telah ada, manusia selalu berusaha menetapkan pilihan-pilihan pemecahan masalah. Cara untuk menjelaskan bagaimana seseorang membuat pilihan di antara sejumlah besar rangkaian pilihan perilaku yang terbuka baginya, adalah dengan mempergunakan penjelasan expectancy. Ini berdasarkan atas
Perkembangan Peserta Didik

41
proposisi yang sederhana yakni bahwa seseorang memillih bertindak sedemikian karena ia yakin dapat mengarahkan untuk mendapatkan sesuatu hasil tertentu (misalnya mendapat pujian atau nilai yang baik). Jadi usaha-usaha yang dilakukan seseorang adalah berdasarkan harapan (expectancy) bahwa ia akan memperoleh sesuatu dari pelaksanaan usahanya itu. Ia percaya bahwa tingginya pencapaian hasil yang ia peroleh akan bergantung pada usaha dan pelaksanaan usahanya. Ketika rintangan atau masalah itu sudah dilaluinya, maka manusia akan dihadapkan pada rintangan atau masalah baru yang mungkin saja lebih berat. Demikianlah terus-menerus sampai akhir hayatnya. Jika sekolah berperan sebagai wahana untuk memberi latihan bagaimana cara belajar, maka melalui kemampuan bagaimana cara belajar, siswa akan mampu belajar untuk memecahkan masalah setiap kali rintangan menghadangnya dalam pencapaian tujuan. Karena inilah, maka belajar merupakan suatu proses yang terus-menerus, yang tidak pernah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Belajar akan berlangsung sepanjang hayat manusia itu sendiri. D. BELAJAR ITU BERSIFAT HOLISTIK Belajar itu bukan hanya untuk pembentukan pola pikir (belajar berpikir) tetapi lebih dari itu ia bersifat menyeluruh yang menjadikan seorang manusia, manusia seutuhnya . Artinya, belajar itu seharusnya bersifat holistik yaitu mengandung: learning to do, learning to be, dan learning to live together.

Belajar dan Perubahan pada Siswa Didik

42
Learning to do mengandung pengertian bahwa belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan tujuan akumulasi pengetahuan, tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan global. Kompetensi akan dimiliki manakala anak diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, learning to do juga berarti proses belajar yang berorientasi pada pengalaman (learning by experiences). Learning to be mengandung pengertian bahwa belajar adalah membentuk manusia yang menjadi dirinya sendiri . Dengan kata lain, belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan kepribadian yang memiliki tanggungjawab sebagai manusia. Dalam pengertian ini juga terkandung makna kesadaran diri sebagai makhluk yang memiliki tanggungjawab sebagai khalifah serta menyadari akan segala kekurangan dan kelemahannya. Learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama. Hal ini sangat diperlukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat global di mana manuasia baik secara individual maupun secara kelompok tak mungkin bisa hidup sendiri atau mengasingkan diri bersama kelompoknya. Dalam konteks ini termasuk juga pembentukan masyarakat demokratis yang memahami dan menyadari akan adanya setiap perbedaan pandangan antara individu.

Perkembangan Peserta Didik

43
E. BAGAIMANA SIKAP TERBENTUK? Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Rumusan tujuan pendidikan di atas sarat dengan pembentukan sikap. Artinya, pembelajaran bukan hanya pembentukan kognitif semata namun juga pembentukan afektif yang sarat nilai-nilai hingga dapat memunculkan sikap yang baik dan luhur. Sikap (afektif) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki seseorang. Sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki. Oleh karena itu, pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai. Menurut DR. Wina Sanjaya, MPd., nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang sifatnya tersembunyi, tidak berada di dunia yang empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan sebagainya, sehingga standar itu yang akan mewarnai perilaku seseorang.7 Dengan demikian, pendidikan nilai bertujuan menanamkan nilainilai atau pandangan yang dianggap masyarakat baik dan tidak
7. DR. Wina Sanjaya, MPd., Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Prenada Medya Group, Jakarta, Cetakan ke 2, 2006, halaman 272.

Belajar dan Perubahan pada Siswa Didik

44
bertentangan dengan norma-norma yang berlaku yang pada akhirnya siswa didik akan bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dauglas Graham (Gulo, 2002) melihat adanya empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu sebagai berikut. 1. Normativist, biasanya kepatuhan pada norma-norma hukum. 2. Integralist, yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan rasional. 3. Fenomenalist, yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi. 4. Hedonist, yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri. Dari keempat faktor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang diharapkan adalah kepatuhan yang bersifat normativist, sebab kepatuhan semacam itu adalah kepatuhan yang didasari kesadaran akan nilai, tanpa memedulikan apakah perilaku itu menguntungkan untuk dirinya sendiri atau tidak. Selanjutnya dari sumber yang sama dijelaskan, dari empat faktor ini terdapat lima tipe kepatuhan sebagai berikut. 1. Otoritarian, yaitu suatu kepatuhan tanpa reserve atau kepatuhan yang ikut-ikutan. 2. Comformist, yakni kepatuhan yang memiliki tiga bentuk yaitu (1) conformist directed, yaitu penyesuaian diri terhadap masyarakat atau orang lain; (2) conformist
Perkembangan Peserta Didik

45
hedonist yakni kepatuhan yang berorientasi pada untung rugi; dan (3) conformist integral adalah kepatuhan yang menyesuaikan kepentingan diri sendiri dengan kepentingan masyarakat. 3. Compulsive konsisten. 4. Hedonik psikopatik, yaitu kepatuhan pada kekayaan tanpa memperhitungkan kepentingan orang lain. 5. Supramoralist, yaitu kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral. Nilai bagi seseorang tidaklah statis, tetapi selalu berubah. Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan nilai yang dianggapnya baik atau tidak baik. Dengan demikian, belajar sikap berarti memperoleh kecenderungan untuk menerima (sikap positif) atau menolak (sikap negatif) sesuatu objek. Pernyataan senang atau tidak senang seseorang terhadap suatu objek sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman (aspek kognitif) terhadap objek tersebut. Oleh karena itu, tingkat penalaran (kognitif) terhadap suatu objek dan kemampuan untuk bertindak (psikomotorik) terhadap objek tersebut turut menentukan sikap seseorang terhadap objek yang bersangkutan. Apakah sikap bisa dibentuk? Dalam proses pembelajaran di sekolah, baik disadari maupun tidak disadari, guru dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan. Misalnya, siswa yang setiap kali mendapat perlakuan
Belajar dan Perubahan pada Siswa Didik

deviant,

yaitu

kepatuhan

yang

tidak

46
tidak menyenangkan dari gurunya di kelas, perlahan-lahan mucullah perasaan benci dalam diri siswa tersebut; dan anak itu akan mengalihkan sikap negatifnya itu bukan hanya kepada guru pengajarnya itu sendiri tetapi dapat juga kepada mata pelajaran yang diasuh si guru tersebut. Sikap dapat juga dibentuk melalui proses modelling, yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses mencontoh. Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginan untuk melakukan peniruan (imitasi). Hal yang ia tiru adalah perilaku-perilaku dari orang-orang yang menjadi idolanya. Proses mencontoh ini di sekolah dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan dengan menjawab pertanyaan mengapa kita harus selalu berpakaian bersih, mengapa kita harus telaten terhadap tanaman yang kita tanam, dan sebagainya. F. BELAJAR DAN PERUBAHAN SIKAP Dengan penjelasan di atas, maka sikap yang muncul dari seorang individu bukanlah merupakan hasil dari pembawaan manusia sejak lahir, melainkan terbentuk melalui proses belajar baik lewat sekolah, keluarga maupun masyarakat di lingkungannya. Sikap dapat berubah sebagai hasil interaksi antara seseorang dengan orang lain. Sikap dapat dipelajari dari lingkungan dan dapat dipelajari oleh lingkungan. Karena sikap adalah bentukan dari suatu proses belajar, maka proses mempelajari nilai-nilai yang benar dalam keluarga merupakan pagar yang paling efektif untuk pembentukan sikap
Perkembangan Peserta Didik

47
yang baik menurut standar masyarakat dan norma yang ada. Keluarga sebenarnya sangat dominan dalam membentuk sikap awal seorang siswa sebelum ia terjun di masyarakat. Namun sikap bersangkutan dengan dimensi waktu, yang artinya sikap hanya cocok untuk situasi dalam waktu tertentu, yang belum tentu sesuai untuk waktu yang lainnya. Karena itu sikap dapat berubah menurut situasi. Siswa didik dalam proses pembelajaran awalnya selalu membawa sikap tertentu ke dalam kelas atau lingkungan sekolahnya. Pada masa belajar, sikap tersebut dapat berubah sesuai dengan nilai-nilai baru yang ia peroleh ketika masa belajar. G. PERUBAHAN SIKAP MENUJU PERUBAHAN PERILAKU Perubahan sikap seseorang oleh karena berubahnya nilai-nilai yang ada pada diri seseorang mengarah pada perubahan pada perilaku. Perilaku merupakan cerminan dari nilai dan sikap yang telah ada di dalam diri manusia. Sikap tidak dapat dilihat, tetapi perilaku dapat dilihat dengan kasat mata. Perbedaan perilaku ini didasarkan pada adanya perbedaan kebutuhan dan kemampuan. Menurut Drs. Miftah Thoha, MPA, manusia selalu mempunyai kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan adalah beberapa pernyataan di dalam diri seseorang (internal state) yang menyebabkan seseorang itu berbuat untuk mencapainya

Belajar dan Perubahan pada Siswa Didik

48
sebagai suatu objek atau hasil. Para ahli sosiologi seringkali membagi-bagi kebutuhan berdasarkan jenisnya, yaitu: 1. Kebutuhan primer, merupakan kebutuhan mendasar manusia, seperti makan, minum, sandang dan papan, juga kebutuhan penyaluran biologis terhadap lawan jenis. 2. Kebutuhan sekunder, yakni seluruh kebutuhan yang tak dapat dilihat kasat mata untuk pemenuhannya, misalnya: kebutuhan akan diakui keberadaannya oleh lingkungan sekitar (existency), kebutuhan akan rasa dihormati, nama baik, harga diri, dan lain sebagainya. Pemenuhan atas kebutuhan mendorong manusia untuk menentukan pilihan-pilihan mengenai cara atau sarana yang ditempuh. Misalnya: seorang siswa ingin lulus agar memperoleh peningkatan harga diri baik di depan teman-temannya maupun keluarganya, maka ia akan memilih apakah ia berusaha dengan belajar lebih giat ataukah dengan jalan pintas yakni mencontek. Perilaku siswa ditentukan oleh pilihan akan usaha pemenuhan kebutuhan tersebut serta tentu saja didasari oleh nilai-nilai yang telah dianut sebelumnya.

Perkembangan Peserta Didik

BAB IV PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

50
Belajar merupakan kebutuhan hidup manusia yang self generating, yaitu mengupayakan dirinya sendiri agar dapat menuju tujuan tertentu dengan peningkatan diri. Belajar dilakukan menusia baik secara sadar maupun tidak sadar. Hal ini bukan saja disebabkan karena ikhtiar untuk melangsungkan hidup bersumber dari diri si manusia itu sendiri, melainkan juga karena sebagai makhluk sosial ia harus mampu mempertahankan hidupnya. Jadi ada dua macam dorongan yang membuat manusia terus belajar sepanjang hidupnya, yaitu agar mampu mencapai kemandirian dan sekaligus mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Sebagaimana telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya, bahwa manusia sejak lahir, secara sadar atau tidak, telah melakukan belajar. Karena manusia sejak lahir telah membawa kemampuan genetisnya masing-masing (inteligensi) yang bersumber dari otak. Apabila struktur otak telah ditentukan secara biologis, maka berfungsinya otak manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya. Jadi, apabila lingkungan berpengaruh positif bagi dirinya, kemungkinan besar potensi tersebut berkembang mencapai realisasi optimal. Dengan tujuan memperoleh pembelajaran yang lebih terstruktur dan sistematis demi perkembangan otak anak-anaknya itulah kemudian para orangtua memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah formal maupun informal. Pendidikan di lingkungan sekolah diharapkan mampu membuat kemampuan otak secara biologis tadi berkembang lebih optimal plus perkembangan keseimbangan jiwa anak dapat tercapai.
Perkembangan Peserta Didik

51
A. PERLUKAH PEMBELAJARAN DI SEKOLAH? Pertama-tama yang harus diingat adalah, bahwa pendidikan atau pembelajaran sekolah itu hanyalah tuntunan di dalam proses kehidupan para siswa didik. Ini artinya, bahwa hidup dan tumbuh kembang para siswa didik terletak diluar kemampuan atau kehendak para pendidik mereka. Para siswa didik sebagai makhluk hidup, sebagai manusia, dan sebagai benda hidup, tentu memiliki kodrat nya sendiri. Tugas para pendidik hanyalah menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan-kekuatan positif dalam diri anak didik, agar dapat memperbaiki perilakunya tetapi tidak dapat merubah garis hidup siswa didik itu di kemudian hari. Meskipun pendidikan sekolah hanya berupa tuntunan saja, namun sudah tentu tuntunan tadi seharusnya dapat meningkatkan kecerdasan yang lebih tinggi dan luas. Seluruh kemampuan inteligensi otak maupun emosi (IQ maupun EQ) akan terasah di dalam pendidikan sekolah. Menurut Convergentie Theory , watak manusia dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah yang dinamakan bagian intelligibel , yakni yang berhubungan dengan kecerdasan intelektual yang dapat berubah menurut pengaruh proses pendidikan atau keadaan lingkungan. Sedangkan yang bagian yang kedua adalah yang dinamakan bagian biologis yakni yang berhubungan dengan dasar hidup atau bawaan manusia yang tidak dapat berubah sepanjang hidupnya.Yang disebut dengan bagian intelligible atau yang dapat berubah dengan pendidikan, misalnya kebodohan, kurangnya wawasan berpikir, kurangnya kecepatan
Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

52
berpikir, dan sebagainya. Sedangkan bagian biologis menyangkut: rasa takut, rasa malu, kurang percaya diri, dan sebagainya, yang menjadi bawaan manusia atau disebut watak atau kepribadian. Seringkali seorang anak yang kurang percaya diri, setelah mendapat pendidikan lalu menjadi hilang rasa kurang percaya dirinya itu atau menjadi lebih percaya diri. Padahal rasa tidak percaya diri itu sebenarnya masih ada, hanya saja tertutupi dengan pengetahuannya sehingga ia dapat menimbang-nimbang, termotivasi dan menguatkan kemauannya agar nampak lebih percaya diri. Pada proses pembelajaran, La Costa (1985) mengklasiifikasikan 1. Teaching of thinking, yaitu proses pembelajaran yang diarahkan untuk pembentukan keterampilan mental tertentu, seperti misalnya keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif. 2. Teaching for thinking, adalah proses pembelajaran yang diarahkan pada usaha menciptakan lingkungan belajar yang dapat mendorong terhadap perkembangan kognitif. Jenis pembelajaran ini lebih menitik beratkan kepada proses menciptakan suasana atau lingkungan tertentu. Contohnya, menciptakan suasana keterbukaan yang demokratis, menciptakan iklim menyenangkan sehingga siswa dapat berkembang secara optimal. mengajar berpikir menjadi 3 yaitu:

Perkembangan Peserta Didik

53
3. Teaching about thinking adalah pembelajaran yang diarahkan pada upaya untuk membantu agar siswa lebih sadar terhadap proses berpikirnya. Sedangkan belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan learning is the process by which an activity originates or changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training . Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Seperti kita ketahui semua, bahwa prestasi belajar siswa didik bukan hanya dipengaruhi oleh kemampuan intelektual yang bersifat kognitif semata, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor nonkognitif seperti emosi, motivasi, kepribadian serta berbagai pengaruh lingkungan. Meskipun sekolah hanya bertugas menuntun siswa didiknya, namun kata menuntun tersebut harus diartikan bahwa sekolah bertugas membimbing dan membentuk perkembangan anak. Perkembangan tersebut adalah seluruh faktor yang telah disebutkan di atas. Keseimbangan antara faktor-faktor inteligensi intelektual dan inteligensi emosional diperlukan antara lain untuk berkonsentrasi terhadap materi pelajaran yang dihadapi, mengatasi stres atau

Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

54
kecemasan dalam menghadapi persoalan tertentu. Namun kenyataannya, menyeimbangkan faktor-faktor ini sangatlah sulit tercapai. Untuk mencapai prestasi yang tinggi, siswa didik perlu memiliki motivasi yang kuat, sehingga kemampuan inteligensi nya dapat digunakan secara optimal. Dalam ilmu Psikologi, memang telah dikenal apa yang disebut motif internal dan motif eksternal. Motif internal adalah, motif yang datang dari dalam diri individu itu sendiri, sedangkan motif eksternal adalah motif yang datang dari luar diri individu atau dari lingkungannya. Apapun bentuk motifnya, siswa yang datang ke sekolah untuk menerima pendidikan wajib diperkuat motivasinya oleh para guru agar motif tadi tidak berkurang atau bahkan hilang di tengah pendidikan yang sedang dijalani siswa didik. Motif internal pada anak hanya muncul apabila ia tahu persis bahwa ia memerlukan sesuatu. Contohnya, seorang anak merasa senang mendengarkan musik, maka ia termotivasi untuk membeli beberapa kaset group musik kesayangannya. Sedangkan motif eksternal muncul oleh karena pengaruh lingkungan. Misalnya, seorang anak yang semula tidak menyukai musik menjadi senang musik karena mengikuti tren yang ada di lingkungannya (anakanak lain). Motif ini akan lebih cepat hilang daripada motif yang datang dari dalam diri si anak. Demikian pula halnya dengan proses pembelajaran. Suatu proses pembelajaran akan dikatakan berhasil bila ia mampu menumbuhkan motif internal dalam diri anak didiknya, sehingga
Perkembangan Peserta Didik

55
si anak akan terus mencari dan menggali mata pelajaran yang diajarkan tanpa perlu disuruh oleh guru atau pengajarnya. Motif ini akan bertahan lama dan sulit luntur, kecuali guru tidak lagi dapat menguatkan motif internal anak tersebut melalui proses belajar yang menyenangkan. Dalam proses menuntun dan membimbing siswa-siswanya, sekolah akan melakukan beberapa cara yang dianggap ampuh dalam memperkuat motivasi yaitu: 1. Menumbuhkan kompetisi / persaingan (competition) Kompetisi sebenarnya memperbandingkan kemampuan dalam mencapai sesuatu prestasi diri. Kemudian competition with other akan lebih mendorong individu untuk bersaing dengan orang lain, sehingga memperkuat kemampuannya dalam mencapai prestasi. 2. Menciptakan pace making Tujuan dari sesuatu perbuatan bermotif seringkali terasa jauh. Untuk mencapai tujuan yang jauh itu, individu biasanya akan merasa malas atau jenuh. Untuk itu perlu dibuat tujuan-tujuan yang lebih dekat atau pendek. 3. Menetapkan tujuan yang jelas Makin jelas tujuan dirumuskan, semakin besar motif individu untuk mencapai tujuan itu 4. Memperkuat minat siswa didiknya Motif akan semakin besar apabila individu yang sedang menjalani belajar mempunyai minat yang besar terhadap apa yang dipelajarinya.
Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

56
e. Memberi kesempatan untuk meraih sukses Penciptaan banyaknya peluang berprestasi atau keberhasilan di dalam kelas akan memperbesar motivasi siswa untuk maju bersama siswa-siswa lainnya. C. PEMBELAJARAN KETERAMPILAN DI SEKOLAH Apakah keterampilan itu? Keterampilan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu yanng ditujukan untuk mengatasi persoalan yang muncul. Misalnya, jika mau minum dari botol, diperlukan keterampilan untuk membuka botol itu dulu, lalu menuangkan airnya ke dalam gelas. Pembelajaran keterampilan di sekolah mencakup pembelajaran untuk meningkatkan seluruh pancaindra siswa didik sehingga dapat digunakan maksimal; menggabungkan fungsi pancaindra tersebut dengan kemampuan kognitif, emosi dan motivasi. Proses pendidikan di sekolah juga setahap demi setahap mengarah pada pembelajaran pancaindra ini bagi para anak didiknya. Dulu Montessori dan Frobel juga memberlakukan hal yang sama pada para siswa didiknya. Bedanya, Montessori memberikan latihan pancaindra yang bersifat pelajaran, anak diberi kemerdekaan dengan luas, tetapi ia tidak mementingkan permainan di kelas, sedangkan Frobel memberikan pelajaran pancaindra dengan mengutamakan permainan anak-anak, kegembiraan anakanak, sehingga peralatan mainan anak digunakan sepenuhnya meskipun anak masih diperintah. Kita bangsa Indonesia sebenarnya sudah memiliki berbagai jenis mainan anak yang mengarah pada pendidikan pancaindra
Perkembangan Peserta Didik

57
atau keterampilan anak seperti: melatih agar anak lebih cekatan (permainan bekelen, petak umpet, unclang), melatih berhitung (permainan dakon, kelereng, dsb). Pembelajaran keterampilan di sekolah diberikan bertahap dan dibeda-bedakan berdasarkan usia. Untuk prasekolah dasar, pembelajaran keterampilan biasanya meliputi menggambar, mewarnai, membentuk sesuatu dengan lilin atau logo, menggunting, melipat, dan sebagainya. Seluruh kegiatan dilakukan dengan tujuan • Melatih daya motorik anak didik agar lebih baik, misalnya cara berjalan, melompat, menulis, dan lain sebagainya. • Merangsang anak untuk menggunakan seluruh kreativitas mereka melalui pancaindranya (mata, jari-jari tangan, penciuman, dan peraba). • Memperkuat pengetahuan yang telah diperoleh untuk menggunakan ke lima indranya dalam menghadapi persoalan-persoalan melalui pengamatan. • Mempertajam cara menghadapi masalah melalui kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang telah diajarkan sehingga mampu menentukan pilihan-pilihan yang tepat dan bertindak dengan efektif. 1. Keterampilan untuk periode 1–7 tahun Pada periode masa balita hingga awal mengenal sekolah, peran keluarga sangat dominan dalam melatihkan keterampilanketerampilan dasar manusiawi, seperti cara berjalan, makan,
Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

58
minum, mandi, berpakaian, dan sebagainya. Masa bermain kanakkanak juga cenderung mengarah pada segi keterampilan fisik yang menyangkut ketangkasan dan kecepatan. Pembelajaran di awal sekolah juga mengarah pada penguatan daya motorik si anak didik yang sudah mendapat pengaruh dari rumah. Sekolah akan menuntun siswa didik menuju berkembangnya daya pengamatan untuk mengenali, membedakan, mendiskripsikan serta mengklasifikasikan objek-objek yang ada di sekeliling mereka. Tahap berikutnya adalah melatih konsep yang paling esensial dalam memulai pengembangan kognitif anak didik. Kecerdasan manusia ditentukan oleh struktur otak. Cerebrum, otak besar dibagi ke dalam dua belahan otak kiri dan kanan yang disambungkan dengan serabut-serabut halus yang disebut corpus callosum. Belahan otak kiri berfungsi untuk merespon terhadap hal yang sifatnya linier, logis, dan teratur. Sedangkan belahan otak kanan untuk mengembangkan imajinasi dan krestivitas. Belahan otak kanan inilah yang perlu digalakkan dalam pengembangan kreativitas anak didik. Sayangnya, sekolah-sekolah di Indonesia pada umumnya kurang memperhatikan fungsi belahan otak kanan ini.8 Pengajaran yang menekankan segi hafalan semata dan persepsi kognitif saja tanpa peduli terhadap experiental learning (belajar berdasarkan pengalaman langsung) akan kurang memberikan peluang pada kedua belahan otak untuk tumbuh secara harmonis, karena akan menjadikan otak belahan kiri lebih berkembang daripada otak belahan kanan.
8. Prof. Dr. Conny R. Semiawan, Belajar dan Pembelajaran Pra Sekolah dan Sekolah Dasar, Cetakan ke 2, PT Indeks, Jakarta, hal. 14.

Perkembangan Peserta Didik

59
2. Keterampilan untuk Periode 7–14 tahun Banyak pertanyaan akan muncul dari anak-anak usia 7–14 tahun mengenai berbagai hal dalam pergaulan hidup dan sosialisasi dengan masyarakat sekitarnya. Anak-anak periode ini mulai berusaha menghubung-hubungkan seluruh pengetahuan dan nilainilai yang ia peroleh dari rumah dan dari masa prasekolah dengan realita konkrit yang ia hadapi dari lingkungannya. Keterampilan yang mereka perlukan juga mulai beralih. Dari keluarga, mereka membutuhkan pengetahuan dan keterampilan mengenai bagaimana bersosialisasi dengan lingkungannya secara baik dan benar; sedangkan dari sekolah peserta didik berusaha menggali sebanyak mungkin keterampilan yang bersifat operasional untuk menunjang kehidupannya di luar sekolah dan di luar keluarganya. Misalnya, bagaimana menghitung uang dan pecahan, bagaimana menulis surat yang baik, bagaimana mengarang puisi, bagaimana berbahasa dengan baik dan benar, bagaimana mengetahui berbagai fenomena alam, apa yang terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia, apa yang terjadi sekarang, dan sebagainya. Usia 7–14 tahun disebut masa operasi konkrit oleh Piaget, yaitu peserta didik telah menyesuaikan diri dengan realita konkrit dan haus pengetahuan. Sayangnya, sekolah justru sering kali menjejali siswa dengan banyak hafalan yang kurang bermakna dan sangat merugikan anak. Akibatnya, masa ini disebut sebagai masa penurunan kreativitas (creativity drop).

Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

60
Pembebanan otak dengan pengetahuan hafalan, latihan ulangan, drill yang berlebihan, tidak sepenuhnya akan menunjukkan penanjakan perkembangan kognitif, bahkan akan menjadikan perkembangan kognitif mengarah pada hasil berpikir yang konvergen.9 Pada kenyataannya memang, pembelajaran di SD merupakan penjejalan pengetahuan untuk dihapalkan, sehingga bukan merupakan latihan keterampilan mental yang seharusnya dibentuk pada anak periode ini, akibatnya pengetahuan tersebut tidak menetap (retained) seumur hidup dan juga peserta didik tidak terlatih atau kurang berkembang keterampilannya. Di sekolah, terutama sekolah dasar, sebaiknya tidak terlalu memaksa ke benak peserta didik untuk memperoleh fakta-fakta yang tidak saling terkait. Anak sebaiknya belajar konsep dengan proses yang bermakna. Contohnya, seorang guru bila mengajarkan sains secara acak, tidak saling mengkait, akan menyebabkan peserta didik seperti membangun rumah tanpa desain yang benar. Akibatnya, peserta didik akan mudah lupa akan pelajaran sains yang tak bermakna itu. Pembelajaran semacam ini tidak dapat menembus kejadian hidup sehari-hari peserta didik sehingga mudah dilupakan. 3. Keterampilan untuk periode 14–21 tahun Periode ini merupakan masa transisi dari rasa ketergantungan akan pengetahuan kepada orangtua dan sekolah menuju masa kemandirian untuk menggali pengetahuannya sendiri dari
9. Ibid, hal. 129.

Perkembangan Peserta Didik

61
berbagai sumber. Kalau periode 1–14 tahun, guru dan orangtua merupakan sumber informasi yang dominan, maka periode 14–21 tahun adalah masa memperoleh informasi dari sumber-sumber di luar guru dan orangtua. Keterampilan yang diperoleh di sekolah menjadi kurang dominasinya. Kini dengan semakin berkembangnya media komunikasi, sebagai efek dari perkembangan teknologi, informasi dapat diakses dan diperoleh anak-anak dengan sangat mudah. Media komunikasi itu misalnya televisi, internet, majalah, surat kabar, radio, dan berbagai media massa lainnya yang menggerus kita dengan informasi global. Dari berbagai media komunikasi itulah anak-anak memperoleh gambaran kehidupan yang lain, selain yang telah ia peroleh. Nilainilai budaya asing seakan-akan menjadi santapan sehari-hari. Kalau dulu pengetahuan dari sekolah adalah dominan, pada periode usia 14 – 21 tahun informasi dari sekolah adalah bersifat tambahan atau penunjang saja untuk memperkuat referensi pengetahuan yang ia peroleh dari luar sekolah. Dampak positif sekaligus negatif dari pendidikan yang diperoleh dari luar sekolah ini tentu saja muncul pada diri peserta didik. Dampak positifnya adalah media elektronik maupun cetak tersebut dapat memotivasi peserta didik untuk lebih giat belajar keterampilan berbahasa asing. Sebagaimana diketahui fungsi bahasa adalah selain sebagai alat untuk menyatakan diri (fungsi ekspresi), juga untuk menangkap pikiran dan perasaan orang lain. Dalam kaitan ini, Mc Carthy (Jersild, 1976) menemukan
Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

62
adanya hubungan yang paralel antara perkembangan bahasa dan perkembangan motorik seseorang. Secara timbal-balik perkembangan bahasa juga akan memengaruhi kehidupan intelektual anak dan kehidupan intelektual yang tersulut oleh minat akan menambah perbendaharaan kata dan bahasa si anak. Untuk jelasnya, periode 14–21 tahun merupakan masa anak belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Keterampilan diperoleh baik secara sadar, melalui pendidikan di dalam atau pun luar sekolah, maupun tidak sadar melalui berbagai eksplorasi atau penjelajahan di lingkungannya. D. PEMBELAJARAN MENUJU PERUBAHAN PERILAKU Perubahan perilaku yang bagaimana yang dihasilkan dari suatu proses pembelajaran? Keberhasilan suatu proses pengajaran biasanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran yang disampaikan guru. Materi pelajaran itu sendiri adalah pengetahuan yang bersumber dari mata pelajaran yang diberikan di sekolah. Sedangkan mata pelajaran itu sendiri ialah pengalaman-pengalaman manusia masa lalu yang disusun secara sistematis dan logis kemudian diuraikan dalam buku-buku pelajaran dan selanjutnya isi buku itu harus dikuasai oleh siswa. Untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam memahami isi pelajaran, biasanya digunakan tes secara periodik terhadap siswa yang bersangkutan. Pandangan lain menyebutkan bahwa mengajar sebagai proses mengatur lingkungan dengan harapan agar siswa belajar. Dalam
Perkembangan Peserta Didik

63
konsep ini yang terpenting adalah belajarnya siswa. Untuk apa menyampaikan materi pelajaran kalau siswa tidak berubah tingkah lakunya? Untuk apa siswa menguasai materi pelajaran sebanyakbanyaknya kalau ternyata materi yang dikuasainya itu tidak berdampak terhadap perubahan perilaku dan kemampuan siswa. Dengan demikian, yang penting dalam mengajar adalah proses mengubah perilaku. Belajar dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Hilgard mengungkapkan learning is the process by which an activity originates or changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factors not attributable to training . Bagi Hilgard, belajar itu adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan, baik latihan di dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. J. Locke Montessori menegaskan dalam teorinya bahwa, pangkal, tujuan dan pedoman dalam proses belajar mengajar ialah diri siswa didik. Segala usaha harus ditimbulkan dari dalam diri si anak. Montessori berpendapat, pendidikan hanyalah pertolongan yang diberikan sekolah kepada anak pada waktu perkembangannya. Jadi yang terpenting dalam pendidikan bukanlah guru atau si pendidik, tetapi anak didik. Perkembangan jiwa anak didik, memang bukan selalu disebabkan interaksi dengan guru dan lingkungan di mana ia berada. Perkembangan jiwa anak, khususnya yang menyangkut masalah belajar, sangat bergantung pada sikap dan perilaku
Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

64
orangtua dalam memberikan respon mereka ketika anak melalui proses pendidikannya. Menurut Profesor ET. Ruseffendi, SPd., MSc, PHD., ada beberapa sikap dan tindakan orangtua yang dapat merugikan dan menghambat belajar anak yaitu: a. Acuh tak acuh terhadap persekolahan anak b. Tidak memberikan pujian/teguran kepada anaknya yang berhasil maupun tidak berhasil. c. Tidak menasehati anaknya untuk tidak putus asa bila anaknya mundur (kurang berhasil) dalam belajar. d. Tidak kelihatan ada usaha kecintaan untuk memenuhi keperluan material anaknya sekolah. e. Tidak membiasakan anaknya untuk belajar disiplin dan bertanggungjawab. f. Tidak memberikan gambaran tentang kehidupan di kemudian hari seandainya anaknya berhasil belajar dan seandainya tidak. Namun, hingga kini tidak ada alat ukur yang tepat yang dapat digunakan untuk mengetahui sampai sejauh manakah harapan perubahan perilaku anak didik yang disebabkan oleh suatu pendidikan dasar untuk periode 7–21 tahun. Dengan demikian, sekolah menuntun peserta didik agar tumbuh perilaku positif di masyarakat, namun kelak lingkungan yang akan mengarahkan peserta didik untuk memilih berperilaku positif atau negatif. Ketika memberikan pembelajaran kognitif dan afektif, IQ, dan EQ peserta didik terus berkembang. Tetapi jangan lupa, bahwa tiap individu peserta didik telah membawa
Perkembangan Peserta Didik

65
watak bawaannya masing-masing sejak ia lahir yang sulit untuk berubah. Menurut Freud susunan personalitas atau kepribadian individu dapat dijelaskan dengan kerangka ketidaksadaran. Freud percaya ada 3 hal yang saling berhubungan dan yang sering kali berlawanan (konflik), yaitu: id, ego dan superego.10 Id seringkali dilukiskan sebagai kawah mendidih yang berisi pengharapan dan keinginan-keinginan yang memerlukan pemuasan secepatnya. Di dalam rangka mencari kepuasan-kepuasan itu id tidak terbelenggu oleh faktor-faktor pembatas seperti etik, moral, alasan atau logika. Oleh karena itu, tidaklah heran bila terdapat dua hal yang seringkali bertentangan dalam id untuk terjadi bersamasama. Contohnya, keinginan seorang siswa untuk lulus dengan nilai sebaik-baiknya dan keinginannya untuk selalu meninggalkan kelas secepatnya demi mencari kepuasan bermain di luar bersama teman-temannya. Ego menunjukkan sebaliknya, ia adalah sumber rasa sadar. Ego mewakili logika dan yang dihubungkan dengan prinsipprinsip realitas. Ego berfungsi ganda, yaitu ia mengendalikan id dan Superego dengan cara berinteraksi dengan dunia luar atau lingkungan luar, dengan demikian ia dapat mengendalikan id karena kesadaran akan kondisi di luar diri individu dan banyaknya kepentingan-kepentingan yang harus dilayani. Superego sebenarnya adalah kekuatan-kekuatan moral dari kepribadian. Ia adalah sumber norma atau standar yang tidak sadar
10. Ibid. halaman 67 - 70

Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

66
yang menilai semua aktivitas ego dengan dunia luar. Ia merupakan pembatas-pembatas untuk mengatakan benar atau salah dalam diri manusia. Superego membantu seseorang untuk menolong ego melawan dorongan-dorongan dari id. Drs. Nana Syaodih Sukmadinata dan Drs. Moh. Surya membagi perkembangan individu ke dalam 3 faktor besar yaitu: bawaan (heredity), lingkungan (environment) dan kematangan (maturity).11 Bagi peserta didik yang telah cukup bekal nilai-nilai dari orangtuanya pada usia 1 – 7 tahun, terjadi keseimbangan pada tiga faktor tersebut, sehingga susunan personalitasnya (id, ego dan superego) nya juga seimbang. Keseimbangan perkembangan jiwa dan susunan personalitas semakin besar dengan tuntunan motivasi yang kuat dari sekolah dalam proses belajar peserta didik. Ki Hadjar Dewantara menyatakan, pertama-tama yang harus diingat adalah, bahwa pendidikan atau pembelajaran sekolah itu hanyalah tuntunan di dalam proses kehidupan para siswa didik. Ini artinya, hidup dan tumbuh kembang para siswa didik terletak diluar kemampuan atau kehendak para pendidik mereka. Para siswa didik sebagai makhluk hidup, sebagai manusia, dan sebagai benda hidup, tentu memiliki kodratnya sendiri. E. PEMBELAJARAN DARI LINGKUNGAN Dalam pergaulannya, apa lagi bagi anak-anak berusia 7 s.d. 21 tahun, yaitu anak-anak yang sudah mulai bergaul dengan lingkungan di luar keluarga dan sekolah, perilaku seseorang (termasuk perilaku
11. Drs. Nana Syaodih Sukmadinata dan Drs. Moh. Surya, “Pengantar Psikologi”, jilid 1, Publikasi Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan, FIP, IKIP – Bandung, Cetakan ke 7, 1978, halaman 48.

Perkembangan Peserta Didik

67
belajar: malas atau rajin belajar) tidaklah berdiri sendiri, melainkan merupakan dampak dari interaksi anak dengan lingkungannya. Teori ini dikemukakan oleh Brofenbrenner.12 Adapun lingkungan yang dimaksud Brofenbrenner ini sangat berlapir-lapis yaitu: 1. Lingkaran pertama adalah yang paling dekat dengan pribadi anak, yaitu lingkaran sistem mikro yang terdiri dari keluarga, sekolah, guru, tempat penitipan anak, teman bermain, tetangga, rumah, tempat bermain, dan sebagainya yang sehari-hari ditemui oleh anak. 2. Lingkaran kedua adalah interaksi antar faktor-faktor dalam sistem mikro (hubungan orangtua–guru, orangtua –teman, guru–teman, dan sebagainya) yang dinamakan sistem meso. 3. Di luar sistem mikro dan meso, ada lingkaran ketiga yang disebut sistem exo, yaitu lingkaran lebih luar lagi, yang tidak langsung menyentuh pribadi anak, akan tetapi masih besar pengaruhnya seperti: keluarga besar, polisi, POMG, dokter, koran, televisi, dan sebagainya. 4. Akhirnya, lingkaran yang paling luar adalah sistem makro, yang terdiri dari ideologi negara, pemerintah, tradisi, agama, hukum, adat, budaya, dan sebagainya. Berlapis-lapisnya lingkaran yang memengaruhi perkembangan anak, atau dalam hal ini siswa didik, memengaruhi pula pola belajar siswa didik, pola perilaku dan pergaulan siswa. Bukan hanya guru, tetapi orangtuapun sering kali terkejut karena anak12. Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, Faktor-faktor Makro yang Menyebabkan Anak Malas Belajar, sebuah Artikel dalam Pendidikan Network, 3 Juni 2003.

Pembelajaran di Sekolah dan Perkembangan Peserta Didik

68
anak mereka tidak lagi mau mendengar perkataan orangtuanya. Anak makin sering membantah bahkan melawan. Ini karena si anak banyak melihat contoh-contoh di luar yang berbeda dengan apa yang ia dengar dari guru atau orangtuanya. Usia 7–11 tahun, mungkin anak atau siswa masih bisa mendengarkan apa yang guru atau orangtua katakan, tetapi pada masa pancaroba 11–21 tahun kebiasaan mendengar ini makin menipis karena pengaruhpengaruh lain dari luar yang semakin menebal. Menghadapi era pancaroba yang serba tidak jelas dari diri anak didik, adalah mendidik anak berdasarkan tradisi lama dan tanpa alternatif. Artinya, semua yang diajarkan oleh orangtua atau guru mutlak harus diikuti, orangtua dan guru penuh kekuasaan dan harus dituruti, sehingga benar atau salah harus selalu dipatuhi. Jika harus selalu menghadapi secara terus-menerus alam otoriter ini, maka anak yang memang sedang pada masa bingung (pancaroba) akan menjadi semakin bingung dan hilang rasa percaya dirinya. Atau justru akan berkembang menjadi pemberontak atau pelanggar hukum. Karena itu, bagi siswa didi usia 11–21 tahun, pendidikan harusnya berorientasi pada pengembangan kemampuan anak untuk membuat penilaian dan keputusan (judgement) sendiri secara tepat dan cepat. Dengan kata lain, anak harus dididik untuk menilai sendiri mana yang benar/salah, baik/tidak baik, indah/ jelek, dan atas dasar itulah mereka dapat memutuskan sendiri mana yang terbaik bagi mereka sendiri.

Perkembangan Peserta Didik

69

Glosarium
Afektif: berkenaan dengan (seperti takut, cinta), mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan (tentang gaya bahasa atau makna). Kemampuan: kesanggupan, kecakapan, kekuatan. Kognisi: kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dsb) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri. Kognitif: kemampuan berpikir atau pengembangan daya untuk menerima informasi dan pengetahuan baru di dalam sel-sel otak. Konsekuensi: akibat dari suatu perbuatan, pendirian, dsb. Pemahaman: memahamkan. Perilaku: tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Psikoanalisis: cara untuk mendapatkan secara terperinci pengalaman emosional yang dapat menjadi sumber atau sebab gangguan jiwa dan represinya. Respons: tanggapan, reaksi, atau jawaban. Struktur: perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif. Tabularasa: teori yang menyatakan bahwa setiap individu dilahirkan dengan jiwa yang putih bersih dan suci (yang akan menjadikan anak itu baik atau buruk adalah lingkungannya) proses, cara, perbuatan memahami, atau

70

Indeks
A afektif 13, 43, 64, 70 E ego 16, 17, 18, 65, 66, 70 EQ (Emotional Quotient) 32, 70 expectancy 7, 8, 40, 41, 70 H hampiran kognitif 10, 70 hampiran penguatan 10, 70 hampiran psikoanalitis 10, 70 hasrat 22, 23, 70 holistik 38, 41, 70 I id 16, 17, 18, 65, 66, 70 IQ (Intelligence Quotient) 70 K kognisi 11, 12, 70 kognitif iii, 10, 11, 12, 13, 14, 31, 32, 38, 43, 45, 52, 53, 56, 58, 60, 64, 70 L learning resource 36, 70 learning to be 41, 70 learning to do 41, 42, 70 learning to live together 41, 70 N neokortek 39, 40, 70 P psikoanalisis 70 R reinforcement iii, 10, 14, 70 respons 10, 11, 14, 15, 70 S sikap 12, 13, 33, 43, 45, 46, 47, 63, 64, 70 sistem limbik 39, 40, 70 stimulus 10, 11, 14, 15, 31, 70 superego 16, 17, 18, 65, 66, 70 T tabula rasa 2, 70

Perkembangan Peserta Didik

71

Daftar Pustaka
Al-Istanbulli, Mahmud Mahdi. 1982. Mendidik Anak Nakal. Bandung: Penerbit Pustaka. Effendi, Onong Uchyana, Drs. M. A. 1982. Psikologi Manajemen. Bandung: Alumni. Dewantara, Ki Hadjar. 1962. Pendidikan, Bagian Pertama. Yogyakarta: Taman Siswa. Miles, Matthew B. 1964. Innovation in Education: Some Generalizations, dalam Innovation in Education. New York: Teachers College, Columbia, New York. Muchlis, Ahmad,. Life Skills untuk Semua Siswa. Artikel dalam Pikiran Rakyat On Line. 8 Mei. 2008. Nasution, S. 1982. Teknologi Pendidikan. Bandung: Jemmars. R. Semiawan, Conny, Prof. DR. 2008. Belajar dan Pembelajaran Prasekolah dan Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Indeks. Rifai, Tb. Bachtiar dan S. Sudarmadi. 1972. Sekolah Pembangunan sebagai Pelaksana Pembaharuan Pendidikan, dalam Prima no.3

72
Robianti, Febi. Sebuah Penjara Bernama Sekolah, Pendidikan Network. 18 September. 2005. Sanjaya, Wina, DR., MPd. 2007. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group. Sarwono, Sarlito Wirawan, Prof. Faktor-Faktor Makro yang Menyebabkan Anak Malas Belajar, Pendidikan Network, 3 Juni 2003. Soedjono, D. SH. 1976. Pengantar Sosiologi. Bandung: Alumni. Thoha, Mifthah, Drs. MPA. 1983. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: CV Rajawali. Trimo, Soejono, MLS. 1986. Pengembangan Pendidikan. Bandung: CV Remadja Rosda Karya.

Perkembangan Peserta Didik

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful