Asal-usul berkembangnya Cabang-Cabang Thariqat

Dikutip dan diteruskan dari mail list suaraSUARA dengan sedikit editing dan seizin Mas Yos Wiyoso Hadi, penulis buku Catatan Harian Membuka Hati.

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Wa a'laykum salam wr.wb.,

Sahabat-Sahabat seperjuangan SuaraHati suaraSUARA , yang saya banggakan dan sayangi semua,

Sebenarnya di grup ini ada banyak pakar agama mulai KH dari NU, Muhammadiyah, Ustadz-Ustadz, Prof-Prof. Dr. di bidang agama, hingga 2 (dua) Mantan Menteri Agama RI zaman Pak Harto juga berkenan bergabung di mail list ini yang mungkin jawaban-jawaban beliau akan lebih bijak dan tepat. Tapi karena ditanyakan kepada saya, maka sebatas pengetahuan dan keyakinan pribadi, 'insya Allah segala amal ibadah kita meskipun kita bukan anggota atau pelaku tarekat tertentu tetap diterima Allah Swt. Ukuran diterima amal ibadah kita bukan ditentukan oleh keikutsertaan kita dalam suatu tarekat atau tidak, tapi dari tingkat Keilmuan dan Keikhlasan kita dalam beramal ibadah. Dan andai pun ilmu kita masih kurang dan belum ikhlas betul saat beramal ibadah, selama amal ibadah itu diniatkan untuk kebaikan 'insya Allah tetap diterima di sisi Allah. Rahmat Pengertian dan Kasih Allah melampaui dan mendahului segala Hukuman-Nya. Dan yang paling utama apakah diterima atau tidaknya amal-ibadah, melebihi alasan apapun, adalah tergantung dari niat kita.

Banyak syaikh-syaikh thariqat telah mendefinisikan makna thariqat, tapi kalau bagi saya pribadi, dalam konteks praktis kekinian maka Thariqat BUKAN SYARAT untuk diterima atau tidaknya amal-ibadah melainkan Sarana agar seseorang dapat menikmati dan menerima manfaat dan keberkahan secara optimal dari hasil maupun selama menjalani seluruh proses amal-ibadahnya. Semakin berilmu dan ikhlas seseorang dalam berthariqat maka semakin banyak manfaat dan keberkahan yang ia terima dan nikmati selama dan sesudah dari akibat menjalani amal-ibadahnya itu.

Thariqatnya Nabi saw., atau Metode/Cara Melakukan amal-ibadahnya Nabi Muhammad saw. semasa hidup beliau bersifat 'Ihsan ('Ihsaniyyah). Yaitu beramal ibadah seolah-olah melihat bahwa Allah melihat kita dan kalaupun kita tak dapat melihat yakinilah bahwa Allah pasti melihat kita. Nah, thariqat 'ihsaniyyah (baca: bersifat 'Ihsan) Nabi saw. ini yang berusaha terus dielaborasi dan dikembangkan oleh para Sahabat, Tabi'in dan GenerasiGenerasi sesudahnya agar lebih sesuai dengan kondisi umat pada zamannya dan karakteristik masyarakat bangsanya masing-masing. Sehingga lahirlah berbagai aliran thariqat yang tujuan awalnya sesungguhnya adalah agar orang-orang dapat beramal-ibadah secara 'ihsan seperti keihsanan Baginda Nabi saw. dalam beramal-ibadah dan melakukan aktivitas sehari-hari. Berkembangnya banyak aliran thariqat adalah suatu hal yang sangat alami sebagaimana pula munculnya madzhab-madzhab, dan berkembangnya terus ilmu Fiqih dan metode dakwah sesuai kondisi umat pada zamannya dan karakteristik masyarakat bangsanya masing-masing. Lalu thariqat mana yang paling mendekati secara syar'i, hakikat dan ma'rifatullah dengan thariqat 'ihsaniyyah (baca: Jalan Beramal Ibadah secara 'Ihsan) Nabi Muhammad saw.? Itu mesti para pembaca telaah, pertimbangkan dan putuskan sendiri, saya hanya memberikan daftar "alternatif" 41 thariqat dan link sekadarnya yang terkait agar semoga bagi pembaca yang tertarik menyelami dunia thariqat tidak menyelami dalam perspektif yang sempit, satu arah, ataupun taklid buta tapi HOLISTIK. Bagi yang sudah mantap dengan pilihan thariqatnya yang sekarang ya alhamdulillah, anggap saja list 41 thariqat itu sebagai memperkaya khazanah horizon sejarah perkembangan thariqat sedunia.

Saya pribadi sebagaimana sudah saya tegaskan bukan anggota organisasi thariqat manapun, tapi tak dipungkiri bahwa guru-guru saya ada yang berasal dari 41 tarekat tersebut. Ibaratnya guru agama saya sewaktu di Jerman dulu beragama Kristen dan sangat baik, taat, tegas-disiplin sekali beliau, tapi karena guru agama saya beragama Kristen tidak lantas berarti agama saya juga Kristen khan? Banyak tokoh-tokoh besar muslim sangat berpengaruh dalam sejarah dunia memiliki atau minimal belajar kepada para guru-guru tarekat, seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Al-Ghazali, dan pahlawan legendaris Umar Mukhtar, sang Singa Padang Pasir pun memiliki guru tarekat yaitu Syaikh Muhammad al-Sanusi qs., pendiri gerakan tarekat Muhammadiyyah Sanusiyyah itu. Tak hanya di Libya, tapi banyak negaranegara dan wilayah di Maghribi, Afrika Utara, Timur Tengah, Euroasia,

India, hingga Asia Tengah bisa terbebas dari kolonialisme dan imperialisme berkat gerakan-gerakan tarekat semacam tarekat Muhammadiyyah Sanusiyyah di Libya itu. Demikian pula islam yang masuk dan berhasil diterima oleh penduduk nusantara pada masa awal-awal perkembangan dakwah islam di tanah jawa, sumatera, kalimantan, sulawesi dan sekitarnya adalah islam yang dibawa oleh guru-guru tarekat yang berasal dari India, Yaman, ulama-ulama Asia Tengah, negeri Campa, Cina, maupun ekspedisi ulama-ulama tarekat Maghribi (Afrika Utara) atas biaya kesultanan 'Utsmaniyah turki. Maka tak mengherankan jika wajah Islam nusantara yang terbentuk adalah Islam multikultural. Demikian pula orang-orang barat dari Eropa, Amerika hingga Australia banyak sekali yang tertarik atau minimal menjadi simpati tidak takut terhadap islam setelah mengenal islam dari sumber-sumber atau guru-guru thariqat.

Kembali kepada awal tulisan, Thariqat BUKAN SYARAT untuk diterima atau tidaknya amal-ibadah melainkan bertujuan agar orang-orang dapat beramal-ibadah secara 'ihsan ('ihsaniyyah) seperti keihsanan Baginda Nabi saw dalam beramal-ibadah dan melakukan aktivitas sehari-hari dan sekaligus Sarana agar dapat menikmati dan menerima manfaat dan keberkahan secara optimal dari hasil dan selama menjalani seluruh proses amal-ibadahnya. Atau dalam ungkapan para mursyid dari tarekatnya Syaikh Abul Hasan asy-Syadzily qs. berkata: "Syari'ah memperkokoh dan menambah nikmat dari ber-Islam, Aqidah memperkokoh dan menambah nikmat dari ber-Iman, sedangkan Thariqat memperkokoh dan menambah nikmat dari ber-'Ihsan sebagaimana Islam, Iman dan 'Ihsan-nya Baginda Nabi Muhammad saw." Dan selebihnya Allah Yang Paling Maha Mengetahui.

" Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah

kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya) ?" Apabila orang-orang yang percaya kepada ayat-ayat Kami itu (terlepas apapun madzhab, thariqat atau non-thariqat, ataupun agama mereka) datang kepadamu, maka katakanlah: "Salamun a'laykum. Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya Kasih Sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Paling Maha Pengampun lagi Paling Maha Penyayang. Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Qur'an (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa." ( QS. Al-An'aam, ayat ke-52 sd ke-55 )

amiin

--- Pada Jum, 13/5/11, Achmad Poernomo menulis: Assww Mas Yos, terima kasih atas beberapa postingan ttg thariqat. Saya punya pertanyaan sederhana: Kalau seseorang sudah menjalankan semua perintah agama, dan menjauhi larangan agama, semuanya karena Allah namun ia tdk menjalankan praktik2 thariqot, jangankan yg muktabaroh, yang ghairu muktabaroh pun tidak, apakah amalannya diterima Allah? Apakah Rasul menjalankan praktik2 thariqot? Wassalam A poernomo djarnawi

From: Yos Wiyoso Hadi

BismillahirRahmaanirRahiim

Dear All,

Ada beberapa ulama thariqat, yang hemat saya, juga perlu diketahui sekilas riwayat dan karya-karyanya karena turut andil dalam meletakkan dasar-dasar prinsip thariqat untuk perkembangan thariqat-thariqat sesudahnya, yaitu beliau-beliau adalah :

1. Bisyr al-Hafi (767 di Merv, meninggal 840 di Bagdad) adalah guru tarekatnya Imam Ahmad Hanbali ra, pendiri madzhab Hanbali http://pengamalwahidiyah.org/aham4.htm http://en.wikipedia.org/wiki/Bishr_al_Hafi 2. Al-Qasim bin 'Utsman al-Ju'i (wafat 862) http://anwarwajidi.blogspot.com/2010/11/lapar-sumberkebijaksanaan.html 3. Al-Hakim at-Tirmidzi (w. 820-960, Afghanistan) yang pertamakali mengelaborasi konsep kewalian para awliya http://pangedulan.blogspot.com/2010/12/wali-allah-menurut-hakim-attirmidzi.html http://independentphilosophy.net/Al-Hakim_al-Tirmidhi.html http://www.ibnarabisociety.org/articles/hakimtirmidhi.html 4. Abu Isma'il 'Abdullah al-Harawi al-Anshari (wafat 1103 di Herat, Afghanistan), yang menulis tentang masalah Kasyf orang-orang saleh dan awliya http://sunnah.org/tasawwuf/scholar13.htm

5. Abu Sulayman Ibn Athiyya al-Darani (hidup semasa al-Harawi), yang mengajarkan tentang pentingnya menjaga waktu (Waqt) agar selalu dalam penjagaan atau kesadaran spiritual ilahiah http://www.masud.co.uk/ISLAM/misc/Kashf_al-Mahjub_xi.htm 6. Sidi Abul Hajjaj al-Uqsuri (w. 642H/1264) yang berdakwah di kota Luxor (Uqsur), ex-ibukota Mesir kuno (1550-1069 SM) http://allangkati.blogspot.com/2010/04/syeikh-abu-hajjaj-al-aqsuri.html 7. Sultan al-'ulama' 'Izz al-Din 'Abdul Salam al-Sulami (w. 660/1282) http://www.sunnah.org/history/Scholars/al-Izz.htm

Dari 7 orang di atas ada lima yang bukan hanya mengajarkan teori thariqat tapi juga mendakwahkan metode thariqatnya dalam amalan-amalan sehingga diamalkan juga oleh masyarakat dan pengikutnya, yaitu : 1. Al-Qasim bin 'Utsman al-Ju'i 2. Abu Isma'il 'Abdullah al-Harawi al-Anshari 3. Abu Sulayman Athiyya al-Darani 4. Sidi Abul Hajjaj al-Uqsuri 5. Sultan 'al-ulama' 'Izz al-Din Abdul Salam al-Sulami

Sehingga metode thariqat khas beliau-beliau dapat disebut: 1. Ju'iyyah (Ju'i artinya: Yang lapar/berpuasa agar dapat menerima pemahaman spiritual ilahiah) 2. Kasyafiyyah ( Kasyf artinya: penyingkapan penglihatan batin) 3. Waqtiyyah (Waqt artinya: waktu, maknanya menjaga waktu (Waqt) agar selalu dalam penjagaan atau kesadaran spiritual ilahiah)

4. Uqsuriyyah (Uqsur artinya: negeri raja-raja, tarekat yang diamalkan di negeri raja-raja mesir) 5. 'Izzuddiniyyah ('Izzudin artinya: Kemuliaan Agama, tarekat yang menyebarkan kemuliaan agama)

Dan selanjutnya memperbaiki daftar 41 Thariqah versi saya, wh, sebelumnya, dengan memasukkan 5 Thariqat tersebut di atas mengeluarkan 5 thariqat yang berkembang belakangan dan yang sebenarnya masih merupakan perkembangan ataupun cabang dari thariqat sebelumnya yang sudah ada, yaitu tarekat: 1. Aydarusiyyah (abad ke-16) 2. Ghawtsiyyah (abad ke-16) 3. Dajaniyyah (abad ke-16) 4. 'Urabiyyah (abad ke-16) 5. Haddadiyyah (abad ke-18)

Sehingga kesemua 41 thariqat beserta nama perintisnya yang diurut berdasarkan masa hidup perintisnya, versi wh terbaru adalah sbb :

BismillahirRahmaanirRahiim

41 Thariqat Berpengaruh Besar (versi 'sementara' wiyoso hadi)

1. Musyari'iyyah, Sufyan ats-Tsauri (wafat 778) Falsafati/Non-Organisasi

http://www.sunnipath.com/library/Articles/AR00000259.aspx 2. Ju'iyyah, Al-Qasim bin 'Utsman al-Ju'i (wafat 862) http://anwarwajidi.blogspot.com/2010/11/lapar-sumberkebijaksanaan.html 3. Kharraziyyah, Abu Sa'id al-Kharraz (wafat 899 di Kairo) falsafati/N.O. http://www.famousquotes.com/show/1011308/ 4. Junaydiyyah, Junayd al-Baghdadi (wafat 910) falsafati/N.O. http://en.wikipedia.org/wiki/Junayd_Baghdadi 5. Khafifiyyah, Ibn al-Khafif (wafat 982) falsafati/Non-Organisasi http://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_Khafif 6. Malamatiyyah, ditulis akan keberadaannya pertamakali oleh Abu 'Abd ar-Rahman as-Sulami (wafat 1021) http://en.wikipedia.org/wiki/Malamatiyya 7. Qalandariyyah, Yusuf al-Andalusi (wafat 1071 di Andalusia, Spanyol) http://en.wikipedia.org/wiki/Qalandariyya 8. Qusyayriyyah, Abul Qasim al-Qusyayri (wafat 1074) falsafati/N.O. http://risalahqusyairiyah.wordpress.com/ 9. Kasyafiyyah, 'Abdullah al-Harawi (wafat 1103 di Herat, Afghanistan) http://sunnah.org/tasawwuf/scholar13.htm 10. Waqtiyyah, Abu Sulaiman al-Darani (hidup semasa al-Harawi) http://www.masud.co.uk/ISLAM/misc/Kashf_al-Mahjub_xi.htm 11. Chisytiyyah, Maudud Chisyti (wafat 1139 di Chisyt, Afganistan)

http://en.wikipedia.org/wiki/Chishti_Order

12.

Qadiriyyah, 'Abdul Qadir al-Jailani (wafat 1166) http://en.wikipedia.org/wiki/Qadiriyya

13.

Yasawiyyah, Ahmad al-Yasawi (wafat 1167 di Turkistan ) http://en.wikipedia.org/wiki/Khoja_Akhmet_Yassawi

14.

Suhrawardiyyah, Abu al-Najib Suhrawardi (wafat 1168 di Iraq) http://en.wikipedia.org/wiki/Suhrawardiyya

15.

Rifa'iyyah, Ahmad al-Rifa'i (wafat 1182) basis: Turki, Mesir http://en.wikipedia.org/wiki/Rifa'i

16.

Suhayliyyah, Abul Qasim al-Suhayli (1114-1185, Maghribi) http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Suhayli

17.

Madyaniyyah, Abu Madyan (wafat 1197 di Maghribi, Maroko) http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Madyan

18.

Taifa Sanhajiyyah, Muhammad Amghar (wafat sebelum 1199) http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Abdallah_Mohammed_Amghar

19.

Sabtiyyah, Ahmad Abul 'Abbas al-Khazraji as-Sabti (1029- 1204) http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_al-Abbas_as-Sabti

20.

Kubrawiyyah, Najm al-Din Kubra (wafat 1221) Asia Tengah, Iran http://en.wikipedia.org/wiki/Kubrawiya

21. Ba 'Alawiyyah, Muhammad bin 'Ali Ba'Alawi al-Husaini (wafat 1232) Hadhramawt, Yaman http://en.wikipedia.org/wiki/Ba_'Alawi_tariqa

22.

Syadziliyyah, Abul-Hasan al-Syadzili (wafat 1258 di Mesir) http://en.wikipedia.org/wiki/Shadhiliyah

23.

Uqsuriyyah, Sidi Abul Hajjaj al-Uqsuri (wafat 642H/1264)

http://allangkati.blogspot.com/2010/04/syeikh-abu-hajjaj-alaqsuri.html 24. Mawlawiyyah, Jalaluddin Rumi (wafat 1273 di Konya, Turki) http://en.wikipedia.org/wiki/Jalal_ad-Din_Muhammad_Balkhi 25. Badawiyyah, Ahmad al-Badawi (1199-1276 di Mesir) http://en.wikipedia.org/wiki/Badawiyya 26. 'Izzuddiniyyah, Sultanul-ulama 'Izzuddin al-Sulami (w. 1282) http://www.sunnah.org/history/Scholars/al-Izz.htm 27. Burhaniyyah, Sayyidi Ibrahim al-Disuqi (sekitar abad ke-13) http://en.wikipedia.org/wiki/Burhaniyya 28. Nurriyyah, Nur al-Din Isfara'ini (wafat 1317 di Iran) http://www.islamicencyclopedia.org/Al-Isfaraini.ashx 29. Rukniyyah, Ala'al-Dawla Simanani (wafat 1336, berkembang di Asia Tengah) http://www.poetry-chaikhana.com/S/SimnaniAlaal/WhatWas.htm 30. Wafa'iyyah, Muhammad Wafa' (wafat 1358 di Mesir, berkembang di Syiria) http://www.mideastweb.org/sufi_jerusalem.htm 31. Hamadaniyyah, 'Ali Hamadani (wafat 1384 diTajikistan) http://en.wikipedia.org/wiki/Mir_Sayyid_Ali_Hamadani

32.

Naqsybandiyyah, Baha'al-Din (wafat 1389 di Uzbekistan) http://en.wikipedia.org/wiki/Naqshbandi

33.

Khalwatiyyah, 'Umar al-Khalwati (wafat 1397 di Khurasan) http://en.wikipedia.org/wiki/Khalwati_order

34.

Isyqiyyah, Abu Yazid al-Isyqi (wafat sebelum 1399) Turki, Iran http://karomah.webnode.com/news/thariqah-syattariyah/

35.

Syattariyyah, 'Abdullah Syattari (wafat 1406 di India) http://en.wikipedia.org/wiki/Shattari

36.

Ni'matullahi, Nur al-Din Ni'mat Allah (wafat 1431 di Iran) http://en.wikipedia.org/wiki/Ni'matullāhī

37.

Madariyyah, Badi al-Din Syah Madar (wafat 1437 di India) http://en.wikipedia.org/wiki/Madariyya

38.

Jazuliyyah, Muhammad al-Jazuli (wafat 1465 di Marokko) http://en.wikipedia.org/wiki/Muhammad_al-Jazuli

39.

Zarruqiyyah, Ahmad al-Zarruq (wafat 1494 di Libya) http://en.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Zarruq

40. 41.

Bakriyyah, Abu Bakr al-Wafa'i (wafat 1496 di Aleppo) Khawatiriyyah, 'Ali ibn Maymun al-Idrisi (wafat 1511) Afrika Utara http://riyada.hadithuna.com/safiyy-al-din-al-qushashi/

wa-allawi istaqaamuu 'alaa ththariiqati la-asqaynaahum maa-an ghadaqaa linaftinahum fiihi waman yu'ridh 'an dzikri rabbihi yasluk-hu 'adzaaban sha'adaa

"Jika mereka itu berjalan di atas jalan yang tepat (bertarekat), niscaya kami akan curahkan kepada mereka air (kehidupan) yang segar (sangat bermanfaat bagi kehidupannya)." ( QS. Al-Jiin, ayat ke-16 )

amiin

--- Pada Rab, 11/5/11, Yos W. Hadi menulis:

BismillahirRahmaanirRahiim

Amin alhamdulillah Mas Iman, 'insya Allah sesama pejalan, mari selalu saling membantu dan mendoakan. Sekedar tambahan sedikit, di samping daftar 41 tarekat induk versi Syaikh Muhammad ibn 'Ali as-Sanusi qs. yang berlaku umum, ada lagi versi wiyoso hadi (yang bukan syaikh, hehehe). Dalam versi wh, pada prinsipnya sama, namun tidak memasukan 6 thariqat yang ada dalam daftarnya Syaikh Muhammad ibn 'Ali as-Sanusi qs. yaitu: 1. Muhammadiyyah-Sanusiyyah 2. 'Uwaysiyyah 3. Shiddiqiyyah 4. Hallajiyyah 5. Hatimiyyah 6. Jahriyyah (Naqsybandiyyah yang dibawa oleh Guru Ma Ming Xin ke China dengan versinya yang menuai konflik)

karena menurut pengamatan saya akan tumpang tindih atau sudah terwakili oleh 3 thariqat lainnya yang juga sudah dimasukkan oleh Syaikh Muhammad ibn 'Ali as-Sanusi qs. dalam list-nya yaitu, tarekat : 1. Syadzilliyyah (point 1) 2. Malamatiyyah (point 2); 3. Naqsybandiyyah (point 3 & 6 )

Sedangkan tarekat Hallajiyyah dan Hatimiyyah pada hakekatnya bukan suatu organisasi tarekat melainkan, hemat saya, merupakan sistem filosofi ruhaniah Al-Hallaj qs. (Hallajiyyah) dan sistem filosofi ruhaniah Ibn al'Arabi qs. (Hatimiyyah). Sebagai ganti, 6 tarekat lain yang dimasukkan dalam list versi wh adalah, tarekat:

1. Sanhajiyyah, perintis: Muhammad Amghar (wafat sebelum 1199) 2. Sabtiyyah, perintis: Ahmad al-Khazraji as-Sabti (1029- 1204) 3. Ba 'Alawiyyah, perintis: Muhammad Ali Ba'Alawi al-Husaini (wafat 1232) 4. Ni'matullahi, perintis: Nur al-Din Ni'mat Allah (wafat 1431) 5. Dajaniyyah, perintis: Syihabuddin Ahmad al-Dajani ( abad ke-16) 6. Haddadiyyah, perintis: 'Abdullah al-Alawi al-Haddad (wafat 1720)

Sebagaimana pula daftar 41 tarekat induk versi Syaikh Muhammad ibn 'Ali as-Sanusi qs. dalam versi wh, juga masih memuat nama 5 (lima) tarekat yang sebenarnya bukan suatu bentuk organisasi thariqat melainkan lebih sebagai sebuah sistem falsafah nilai-nilai dasar thariqat, yaitu : 1. Musyari'iyyah, Sufyan ats-Tsauri (wafat 778) Falsafati/Non-Organisasi

2. Kharraziyyah, Abu Sa'id al-Kharraz (wafat 899 di Kairo) falsafati/NO 3. Junaydiyyah, Junayd al-Baghdadi (wafat 910) falsafati/NO 4. Khafifiyyah, Ibn al-Khafif (wafat 982) falsafati/Non-Organisasi 5. Qusyayriyyah, Abul Qasim al-Qusyayri (wafat 1074) falsafati/NO

Dan sebagaimana pula daftar 41 tarekat induk versi Syaikh Muhammad ibn 'Ali as-Sanusi qs. dalam versi wh, juga memuat nama 8 (delapan) tarekat yang sebenarnya bukan induk organisasi thariqat melainkan pecahan atau cabang dari suatu induk organisasi thariqat yang ada sebelumnya yaitu : 1. Burhaniyyah/Dasuqiyyah, perintis: Ibrahim al-Disuqi (+/- abad ke-13) 2. Hamadaniyyah, perintis: 'Ali Hamadani (wafat 1384 diTajikistan) 3. Syattariyyah oleh 'Abdullah Syattari (wafat 1406 di India) 4. Jazuliyyah, Muhammad al-Jazuli (wafat 1465 di Marokko) 5. Zarruqiyyah, Ahmad al-Zarruq (wafat 1494 di Libya) 6. Aydarusiyyah, Abu Bakr al-Aydarus (wafat 1509 di Yaman) 7. Ghawtsiyyah, Muhammad Ghawts (wafat 1563 di India Utara) 8. Dajaniyyah, Syihabuddin Ahmad al-Dajani (wafat abad ke-16)

" Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Paling Mahaluas (rahmat-Nya) lagi Paling Maha Mengetahui." ( QS. Al-Baqarah, ayat ke-115 )

amiin

--- Pada Ming, 8/5/11, Iman Prasojo menulis: Alhamdulillah,Terima kasih atas pencerahannya. Metode jalan menuju Allah beragam warna, tetapi tujuan akhirnya sama. Metode yang beragam, ibarat racikan ramuan obat untuk menyembuhkan penyakit. Penyakit tiap orang berbeda-beda sesuai kondisi karakter ketahanan kemampuan penerimaan diri masingmasing terhadap reaksi obat tersebut. Diantara para pesakit berusaha membuat meracik obat sendiri tanpa keilmuan yang cukup, yang ilmunya cukup pun ada yang meracik tanpa licence yang sah, yang sudah punya licence pun bisa keracunan karena over dosis, akibatnya penyakit semakin parah. Sosok seorang Dokter sebagai tempat konsultasi dan refrensi tetap dibutuhkan walaupun pasiennya juga seorang Dokter. Dokter pun butuh perawatan Dokter lainnya, apalagi yang bukan Dokter. Sebagai pasien saya bersyukur menemukan Dokter Yos di milis SuaraHati-SuaraSuara sebagai tempat konsultasi refrensi dan memberikan obat penawar bagi yang over dosis atau keracunan obat. Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah beri NIKMAT kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat. Wassalam, Iman Prasojo From: Yos W. Hadi

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Wa a'laykum salam wr.wb.,

Mas Prasojo yang baik,

Ketika saya menyebut tirakat yang saya maksud ialah istilah seperti yang dikenal dalam istilah Jawa sebagai "Laku" yaitu usaha untuk membersihkan Jiwa, Hati dan Batin melalui mengendalikan ke-5 indera kita dari hal-hal yang tidak diridhoi-Nya atau melalui Zikr. Atau sinonim dengan istilah Tazkiyyatun Nafsi, yang secara bahasa berarti membersihkan / mensucikan, atau menumbuhkan / mengembangkan. Sedangkan secara maknawi agama, Tazkiyatun Nafs berarti mensucikan hati dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Sarana Tazkiyatun Nafs (bagi pemula) bisa melalui ibadah pokok (5 rukun islam) dan berbagai amal baik. Sedangkan hasilnya adalah akhlak yang baik kepada Allah dan pada manusia, serta terpeliharanya anggota badan, senantiasa dalam batas-batas syari'at Allah Swt.

Sedangkan ketika saya menyebut tarikat yang saya maksud adalah Thariqat yaitu Jalan Menuju Tuhan dengan jalan tirakat (alias Tazkiyatun Nafs). Dengan kata lain, tirakat (Tazkiyatun Nafs) pada dasarnya adalah sarana dalam tarikat ( Thariqat). Dalam dunia Islam, thariqat ada yang diorganisasikan atau dilembagakan. 41 thariqat induk yang diorganisasikan atau dilembagakan menurut Syaikh Muhammad ibn 'Ali as-Sanusi qs. dan umumnya disepakati oleh para pakar dan pelaku thariqat sedunia adalah :

1. Muhammadiyyah 2. Shiddiqiyyah 3. Uwaysiyyah 4. Junaydiyyah 5. Hallajiyyah 6. Qadiriyyah 7. Madyaniyyah 8. Rifa'iyyah 9. 'Urabiyyah 10. Hatimiyyah 11. Suhrawardiyyah 12. Badawiyyah 13. Syadziliyyah 14. Wafa'iyyah 15. Zarruqiyyah 16. Jazuliyyah

17. Bakriyyah 18. Malamatiyyah 19. Khalwatiyyah 20. Kubrawiyyah 21. Hamadaniyyah 22. Rukniyyah 23. Nuriyyah 24. Yasawiyyah 25. Syattariyyah 26. Ghawthiyyah 27. 'Ishqiyyah 28. Mawlawiyyah 29. Jahriyyah 30. Burhaniyyah 31. Hafifiyyah 32. Khawatiriyyah 33. 'Aydarusiyyah 34. Musyari'iyyah 35. Qusyayriyyah 36. Kharraziyyah 37. Chisytiyyah 38. Madariyyah 39. Qalandariyyah 40. Suhayliyyah 41. Naqsybandiyyah

Nah, secara kelembagaan/organisasi, saya, wiyoso hadi, bukan pengikut/anggota dari salahsatu dari 41 thariqat induk diatas, dan juga bukan pengikut dari 240 lebih thariqat cabang-cabang yang lahir atau berkembang dari 41 thariqat induk diatas. Walau demikian, alhamdulillah saya hobi tirakat (baca: Tazkiyyatun Nafs). Dan di puncak-puncak tirakat, alhamdulillah Allah Swt menghubungkan saya secara batiniah/telepati spiritual (minal qalbi ilal qalbi sabila ) dengan para Guru-Guru kasyaf, yang beberapa di antaranya sudah saya temui secara fisik, face to face, setelah sebelumnya dipertemukan oleh Allah Swt melalui visi-visi batin atau mimpi. Nah, Guru-Guru yang dipertemukan oleh Allah ta'ala kepada saya itu ada yang berasal dari 41 thariqat diatas dan ada pula seperti saya ini yang secara kelembagaan/organisasi bukan pengikut/ anggota thariqat manapun namun

gemar laku Tirakat (atau bahasa qur'an-nya Tazkiyatun Nafs). Guru-Guru ini ada yang berasal dari Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali dan Ja'fari.

Terhubung dengan para Guru suci dari beragam madzhab dan lintas thariqat maupun terhubung dengan Guru-Guru non-thariqat bukan suatu yang istimewa, siapa saja bisa! sepanjang seseorang telah menemukan realitas Diri-Nya yang Sejati dalam dirinya dan seluruh alam semesta. Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri qs. pernah mengungkapkan : " Mereka yang menemukan Realitas (Haqiqat) baru sedikit. Dengan kekuatan penyingkapan Realitas itu, mereka dapat terhubung (terkoneksi) dengan semua Wali Allah (dari semua thariqat maupun non-thariqat) yang ada di dunia ini " . Bagi yang ingin lebih tahu mengenai Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri qs, sketsa wajahnya dapat dilihat di link ini :

http://www.sufi-braunschweig.de/36-.--Abu-Ahmad-as_Sughuri-.htm

Dari arah yang berbeda, bukan penerima bimbingan kepada pembimbing, tapi dari pembimbing yang dicari (murad) yang terbimbing (mahdi) kepada penerima/ pencari bimbingan (murid), ungkapan Abu Ahmad as-Sughuri qs. di atas dan perihal PROSES TIRAKAT itu sendiri pernah disampaikan secara implisit dalam bahasa Catatan Harian Membuka Hati sbb :

A'uudhu bi Llahi minash-shaitaanir rajeem bismi Llaahi 'r-Rahmaani 'r-Raheem

Whether you are Hind, Buddhist, Jews, Christian, Sikh or Moslem Whether you are Black, Yellow, Red, Brown or White There is a hidden Truth within you

Open it Thru remembrance of Him, your Creator Who gives you life, then gives you death Who gives you light, then gives you wisdom Who gives you love, then gives you peace

Remember Him with all your conscious Remember Him, the One, your Creator Any time you feel, think, hear, listen Any time you see, watch, speak, whisper Any time you talk, do, help and serve Any time when you are awake

Open it Then you will reach the inner self of people Open their hearts and touch their souls Regardless their distance Regardless their faith.

(terjemahan bebasnya)

Apakah engkau Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Sikh atau Muslim

Apakah engkau hitam, kuning, merah, coklat atau putih Ada Kebenaran tersembunyi dalam dirimu

Bukalah itu Melalui dzikr (mengingat) Dia, Penciptamu Yang memberi engkau Kehidupan, kemudian memberi engkau kematian Yang memberi engkau Cahaya, kemudian memberi engkau hikmah Yang memberi engkau Cinta, kemudian memberi engkau kedamaian

Ingatlah Dia dengan sepenuh kesadaranmu Ingatlah Dia, Yang Esa, Penciptamu Tiap kali engkau merasa, berpikir, mendengar, menyimak Tiap kali engkau melihat, memperhatikan, berbicara, berbisik Tiap kali engkau berbincang, bekerja, menolong dan melayani Setiap kali saat engkau terjaga

Bukalah itu Maka engkau akan meraih relung batin orang-orang Membuka hati mereka dan menyentuh jiwa mereka Terlepas jarak mereka Terlepas keyakinan mereka. ( Wiyoso Hadi, Jakarta, 200... )

" Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa (baca: tirakat) itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." ( QS. Asy-Syams, ayat ke-9 sd. ke-10)

amiin

*Dikutip dari uraian-uraian dan jawaban Mas Yos Wiyoso Hadi, Pegawai Negeri di Kementerian Keuangan Republik Indonesia; Pendiri bersama Komunitas SUARA, dan Penggiat GIMSHS ( Gerakan Integritas Moral Budaya SuaraHati suaraSUARA )
[ Diteruskan dari Bapak C. Jayanadi ] PH PRO Indonesia

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful