A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Pendidikan Nasional.

Jenderal

Pendidikan Tinggi, Departemen

Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Woolfolk. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. landasan sosial-budaya. (1996).Pd.——–. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Vol 24 No. Uman Suherman. dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. religius dan yuridis-formal. . Stoner. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. M. Sebagai sebuah layanan profesional. (1987). khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien). Management. M. (2005). Bandung : PT. London : Prentice-Hall International Inc. Boston : Allyn & Bacon. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. James A. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Remaja Rosda Karya. Educational Psychology. Landasan Bimbingan dan Konseling. 1995. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. landasan psikologis. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. Kata kunci : bimbingan dan konseling. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan.dan Juntika N. 3 July’96. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. landasan filosofis. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. (2) landasan psikologis. (3) landasan sosial-budaya. Anita E. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. A.Pd. 4 .

Secara teoritik. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling. dalam Prayitno. landasan sosial-budaya. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. landasan psikologis. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. etis maupun estetis. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis. 5 .Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. Thompson & Rudolph. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Patterson. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling.tentang landasan bimbingan dan konseling. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. Ibarat sebuah bangunan. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. Demikian pula. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1. Selanjutnya. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan. yaitu landasan filosofis. dengan layanan bimbingan dan konseling.(Victor Frankl.. Dengan kata lain. Alblaster & Lukes. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. B. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. Oleh karena itu.– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. para penulis Barat . khususnya bagi para konselor. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.

Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. 2. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. seperti rekreasi. Manusia pada hakikatnya positif. Demikian pula dengan lingkungan. dan (e) kepribadian. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. (c) perkembangan individu. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . embisil atau ideot). manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. (d) belajar. normal atau bahkan sangat kurang (debil. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. warna kulit. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. seperti struktur otot. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. kecerdasan. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. bakat. Misalnya dalam kecerdasan. ada yang sangat tinggi (jenius). memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. seperti : rasa lapar. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. (b) pembawaan dan lingkungan. Manusia memiliki dimensi fisik. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. a. yang mencakup aspek psiko-fisik. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. b. menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. golongan darah.

seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Manusia belajar untuk hidup. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. frustrasi dan konflik. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. dan (3) Teori Belajar Gestalt. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme.memadai. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. afektif maupun psikomotor/keterampilan. bahasa dan kognitif/kecerdasan. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. moral dan sosial. Allport (Calvin S. ketegangan emosional. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. baik dalam aspek kognitif. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Hall dan Gardner Lindzey. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. 7 .dan menjadi tersia-siakan. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. d. Tanpa belajar. e. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif.. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. Berangkat dari studi yang dilakukannya. c. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

cuci tangan. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. sedih. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. maka 8 . yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. hormon. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Sejak lahirnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Sikap. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Hull. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Seperti mudah tidaknya tersinggung. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Selain itu. atau putus asa. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. Begitu pula. teori Personologi dari Murray. 3. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. Horney dan Sullivan. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Teori Medan dari Kurt Lewin. tampang. atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Fromm. Seperti mau menerima resiko secara wajar. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. yaitu disposisi reaktif seorang. Teori Psikologi Individual dari Allport. Sementara itu. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. Temperamen. psikologi perkembangan. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Sosiabilitas. Teori Sosial Psikologis dari Adler. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. yang mencakup : • • • • • • Karakter. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. negatif atau ambivalen. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. Responsibilitas (tanggung jawab). Watson. yaitu bidang psikologi umum. Stabilitas emosi. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.

Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. ilmu ekonomi. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. (c) stereotipe. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. ilmu hukum dan agama. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. yaitu : (a) perbedaan bahasa. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. seperti : psikologi. Moh. seperti: pengamatan. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. dan (e) kecemasan. sosiologi. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. evaluasi. statistik. 4. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. Sejalan dengan perkembangan teknologi. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. (b) komunikasi non-verbal. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. Menurut Gausel (Prayitno. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. prosedur tes. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. filsafat. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. (d) kecenderungan menilai. pemikiran. ilmu pendidikan. manajemen. 2003). Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. antroplogi. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. analisis dokumen. biologi. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. dan bahkan mungkin bertolak belakang. wawancara. yaitu kesamaan di atas keragaman.

Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. dalam bentuk “cyber counseling”. Moh. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Ditegaskan pula oleh Moh. C. (b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. Peraturan Pemerintah. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Dikemukakan pula. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.pendidikan. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. landasan religius dan landasan yuridis-formal. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. 10 . maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. Sebagai ilmuwan. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. Undang – Undang. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini.

Bandung : Refika Gerungan 1964. Surya. Bandung : PT ErescoH. 2003. Jakarta : PT Raja Grafindo. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. (b) pembawaan dan lingkungan.1992. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Psikologi Sosial. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah). SMA dan SMK Muhibbin Syah. Theory Into Practice. Hurlock. 2003. 1997. Jakarta. 2003. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Learning & Instruction. 1980. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj.. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Elizabeth B. Bandung : P. (c) landasan sosial-budaya. Nana Syaodih Sukmadinata. meliputi : (a) motif dan motivasi. dan (d) kepribadian. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. E. Psikologi Pendidikan. (b) landasan psikologis. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. 11 . Margaret E. Remaja Rosdakarya. Developmental Phsychology. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Koswara). di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling.IKIP Bandung . New York : McMillan Publishing. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Supratiknya). Majalengka : Sanggar BK SMP. Calvin S. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.T. (d) belajar. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. PT Golden Terayon Press. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh. (c) perkembangan individu. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. 2004. 2003.———-2006. Gerlald Corey. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi.M.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah. Psikologi Belajar. Arifin. landasan religius dan landasan yuridis-formal. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Bandung PPB . 2005. 2005.

Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. serta 12 . Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. Teori-Teori Psikologi Sosial. tempat kerja. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. belajar (akademik). Teori dan Praktek. Jakarta : Depdiknas .——–2003. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. kekuatan. pergaulan dengan teman sebaya. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. dan tugas-tugas perkem-bangannya. kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. 2003.Prayitno. Jakarta : Rajawali. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. maupun lingkungan kerja. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Konseling Individual. keluarga. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. dan karir. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. 2004. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut.———-. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan.. 1984. Syamsu Yusuf LN. 1. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. masyarakat. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. Sekolah/Madrasah. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : Rineka Cipta . Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah).2005. Willis. 2004. 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. Psikologi Kepribadian. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. dkk. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. maupun masyarakat pada umumnya. 2004. baik dalam kehidupan pribadi. dkk.

seperti kebiasaan membaca buku. atau silaturahim dengan sesama manusia. prospek kerja. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. menghormati atau menghargai orang lain. Oleh karena itu. 3. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. tanpa merasa rendah diri. mencatat pelajaran. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. persaudaraan. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. seperti keterampilan membaca buku. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. 13 . Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship).• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. asal bermakna bagi dirinya. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. dan sesuai dengan norma agama. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. mengggunakan kamus. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. Mengenal keterampilan. Dapat membentuk pola-pola karir. seperti membuat jadwal belajar. yaitu kecenderungan arah karir. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. Memiliki rasa tanggung jawab. baik fisik maupun psikis. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. 2. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. mengerjakan tugas-tugas. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. disiplin dalam belajar. minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. kemampuan dan minat. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. kemampuan. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. dan kesejahteraan kerja.

D. (2002). Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (1986). Donna A. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Herr Edwin L. Engels. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. J. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (Ed. Gibson R. Cambridge. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Cobia. Houston : Shell Com. http://aace. (2003). Departemen Pendidikan Nasional. New Jersey. Columbia: The Educational Resources Information Center.• dalam bidang pekerjaan apa dia mampu. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Browers.ncat. ASCA (American School Counselor Association). Havighurts. New York : MacMillan Publishing Company. (2006). Debra C. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. (2001). (1956). (Eds). (2006). (1992). dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.H. Belomont. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. DAFTAR RUJUKAN AACE.I. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia.Nancy. R. CA: Brooks/Cole.W dan J. Development Taks and Education. New York: David Mckay. (1995). Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas. G. Comm. Adolescence. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2007). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Hurlock. A. The Art of Integrative Counseling. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (2003).J. Alizabeth B. VA: AACD. (2003). Depdiknas. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. & Hatch. Ellis. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. 14 . Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. (2003). Guidance and Counseling in the Schools. Balitbang Diknas. Patricia A. Self-Efficacy in Changing Soceties. Depsiknas. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. California : Myfield Publishing Company. (1953). Handbook of School Counseling. Bandung: ABKIN Bandura. Depdiknas. (2005).edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. D. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. UK: Cambridge University Press. 2006). Merrill Prentice Hall Corey. (1990). & Mitchel M. & Henderson. Alexandria. Dameron. The National Model for School Counseling Programs. Child Development. Draft. T.L. Judy L. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1979). Depdiknas. (2005).). Introduction to Counseling and Guidance.

2006. Human Development. dkk. Remaja Rosda Karya. Michigan School Counselor Association. (1976). yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2. Terry. (1995).Ltd. Bandung : PT. London : Prentice-Hall International Inc. Bandung : Remaja Rosda Karya. LIPI. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Stoner. (1996). 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. (2005). (2005). James J. (1987). 3 July’96. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Woolfolk. (2003). Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. dan norma agama). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Syamsu Yusuf L. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya 15 . ——–.N. Boston : Allyn & Bacon.dan Juntika N. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. James A. Management. & Kottman.Menteri Pendidikan Nasional. Fungsi Preventif. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. 2006. M. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Pusat Kurikulum. Madison : Brown & Benchmark. Pikunas. (2003). Uman Suherman. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. Anita E. Fungsi Pemahaman. Balitbang Depdiknas. ——–. Educational Psychology. Sunaryo Kartadinata. Muro. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. Vol 24 No. Berdasarkan pemahaman ini. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. pekerjaan. 1995. 2004. Lustin. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Jakarta : Balitbang Depdiknas. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program.Pd. Landasan Bimbingan dan Konseling.

untuk mencegahnya. dan bimbingan kelompok. merokok. jurusan atau program studi. informasi. Fungsi Penyembuhan. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. 10. baik menyangkut aspek pribadi. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. berperasaan dan bertindak (berkehendak). home room. 7. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. tutorial. Fungsi Pengembangan. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. drop out. diantaranya : bahayanya minuman keras. 8. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Fungsi Perbaikan. 6. 5. belajar. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. bakat. Fungsi Penyesuaian. Prinsip-prinsip itu adalah: 16 . Fungsi Penyaluran. minat. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. penyalahgunaan obatobatan. 9. sosial. Melalui fungsi ini. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. supaya tidak dialami oleh konseli. memilih metode dan proses pembelajaran. Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. dan karyawisata. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). serasi. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. kemampuan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. 3. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi. dan remedial teaching. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. konselor. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. dan pergaulan bebas (free sex). yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. dan kebutuhan konseli. Fungsi Adaptasi. maupun karir. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. Dalam melaksanakan fungsi ini. 4. Fungsi Pemeliharaan. Fungsi Fasilitasi.

Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). lembaga-lembaga pemerintah/swasta. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. 4. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. 2. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Asas Kerahasiaan. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. tetapi juga di lingkungan keluarga. Bimbingan menekankan hal yang positif. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. 3. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain.1. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. baik pria maupun wanita. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. maupun dewasa. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. remaja. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri 17 . Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. dan pekerjaan. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. baik anakanak. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. 2. Asas kesukarelaan. Asas keterbukaan. dan peluang untuk berkembang. 6. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. 1. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. sosial. dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. memberikan dorongan. pendidikan. yaitu meliputi aspek pribadi. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Mereka bekerja sebagai teamwork. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. menyesuaikan diri. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. perusahaan/industri. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. dan masyarakat pada umumnya. 5. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. 3.

yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. atau ahli lain . dan terpadu. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Asas kegiatan. 11. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. Asas kemandirian. ilmu pengetahuan. 10. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Asas Kekinian. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Asas Alih Tangan Kasus. Agar konseli dapat terbuka. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. hukum dan peraturan. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. 9. DAFTAR RUJUKAN AACE. Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. tidak monoton.ncat.edu 18 . guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional. 8. Asas Kedinamisan. guruguru lain. saling menunjang. Asas Keterpaduan. harmonis. http://aace. 7. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Lebih jauh.konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Dalam hal ini. 4. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. dan kebiasaan yang berlaku. mampu mengambil keputusan. adat istiadat. 5. 6. yaitu nilai dan norma agama. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. Asas Keharmonisan. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. Asas Keahlian. menghayati. (2003).

Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Houston : Shell Com. (2003). Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (1953). Adolescence. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Departemen Pendidikan Nasional. Depsiknas. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Dameron. (2006). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. & Hatch. Balitbang Diknas. Jakarta: Puskur Balitbang. (1986). Draft. Donna A. Introduction to Counseling and Guidance. (2005). Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. CA: Brooks/Cole. 19 .). Herr Edwin L. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Depdiknas. Browers. R. G. VA: AACD. J. Depdiknas. The National Model for School Counseling Programs. T. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (1990). (2003). ASCA (American School Counselor Association). Alizabeth B. 2006). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Nancy. Depdiknas.D. Debra C. (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (Ed. (2003). Alexandria. Guidance and Counseling in the Schools. Judy L. (2001). Comm. New York: David Mckay.J. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Development Taks and Education. D. 2006. (2002). Merrill Prentice Hall Corey. (2006). Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (1992). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Patricia A. Belomont. New Jersey. Michigan School Counselor Association. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Engels. Havighurts. Bandung: ABKIN Bandura. (2007). Self-Efficacy in Changing Soceties.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (1995). Cambridge. Handbook of School Counseling. (1979). The Art of Integrative Counseling. & Mitchel M. Ellis. California : Myfield Publishing Company. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Child Development.L. Menteri Pendidikan Nasional.H. A. New York : MacMillan Publishing Company. (1956). Columbia: The Educational Resources Information Center. Depdiknas. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Cobia. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.I. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. UK: Cambridge University Press. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hurlock. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2005). (2005).W dan J. Gibson R. (Eds). 2006. & Henderson.

Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Madison : Brown & Benchmark. Pengembangan kehidupan sosial. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami.N. & Kottman. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. LIPI. Sunaryo Kartadinata. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Management. Pengembangan kemampuan belajar. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Human Development. (2003). Bandung : CV Bani Qureys. Uman Suherman. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. serta memilih dan mengambil keputusan karir. 20 . (1995). (1976). 2004. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Balitbang Depdiknas. Vol 24 No. (2005). Remaja Rosda Karya. 3 July’96. ——–. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. (2005). Stoner.Muro. Bandung : PT. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon. Pengembangan karir. Jakarta : Balitbang Depdiknas.Pd. Terry. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. Landasan Bimbingan dan Konseling. bakat dan minat.dan Juntika N. James A. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. dkk. Woolfolk. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. Pusat Kurikulum. James J. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. (1987). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Pikunas. M. 1995. anggota keluarga. ——–. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Lustin. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. (2003). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Syamsu Yusuf L. menilai. Anita E. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. London : Prentice-Hall International Inc.Ltd. (1996).

layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. kelompok belajar. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. magang. Layanan Konseling Perorangan. jurusan/program studi. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. kegiatan ko/ekstra kurikuler. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. diantaranya: Layanan Orientasi. pendidikan lanjutan). Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Penempatan dan Penyaluran. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. dalam bidang pribadi. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. • • • • Layanan Konten. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. Layanan Bimbingan Kelompok. pergaulan. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. sosial. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. Layanan Informasi. program latihan. minat dan segenap potensi lainnya. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. serta untuk 21 . layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. karier. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial.

perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung. sistematik. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok. komprehensif. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Konsultasi. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. Mediasi. 22 . yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. baik tes maupun non tes. Alih Tangan Kasus. yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan.• • • pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. keterangan. dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. kemudahan. mencakup : • • • • • Aplikasi Instrumentasi Data. terpadu dan sifatnya tertutup. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka. Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. Himpunan Data. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. Kunjungan Rumah. layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. Konferensi Kasus. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. pemahaman. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. dokter serta ahli lainnya.

para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career). diantaranya : (1) keadaan ekonomi. maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh. Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut. terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi. 1987). Namun sejak tahun 1951.Pd. termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan. dan (4) perkembangan ilmu (scientific). Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul. Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar. akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan. (3) kondisi ideologis. (2) keadaan sosial. 1981 dalam Bahrul Falah. konsep diri. 23 . seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan.Konsep Bimbingan Karier Diterbitkan Februari 7. Sedangkan pada model karier. dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. seperti urbanisasi. Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel. Helmotz dan Wundt. M. khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner. sikap. yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900).

bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill). Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas.Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting. dalam perspektif pendidikan nasional. dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah. bidang bimbingan karier diarahkan untuk : 24 . dalam bentuk cyber counseling. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya. pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984. bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi. Selanjutnya. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat. Sementara itu. pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an. berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini. bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994. Dalam perkembangannya. Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA.

1987. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. Jakarta : BP3K. 2. 4.1. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. 5. M.Pd. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. 1983. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung. bermasyarakat. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. (Muslihudin. Namun. sosial. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Bandung : LPMP Jawa Barat. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. dkk. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. Diantaranya. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. 3. Hattari. mereka mempertanyakan. 6. sosial. berbangsa dan bernegara. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. dkk. perusahaan. Ke Arah Pengertian Developmental. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . belajar ataupun kariernya. belajar maupun kariernya. Bimbingan dan Konseling (Makalah). baik yang berhubungan kehidupan pribadi. 2004.

berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. karier. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. baik melalui media cetak atau eleltronik. pasar kerja. Dalam hal ini. ciri-ciri pekerjaan. seperti kecerdasan. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. minat. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. materi informasi yang bersifat personal. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. seperti bakat. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. bakat. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. seperti kondisi sosio-kultural. cita-cita. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. Untuk itulah. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. dan sebagainya. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. ciri-ciri 26 . jenis pekerjaan. Materi Informasi. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. persyaratan. tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Karena. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Untuk itulah. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. Namun. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. baik tentang bakat. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Di samping itu. jenis dan prospek pekerjaan.

berdasarkan hasil pengalamannya. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. Dalam hal ini. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. dalam rangka menambah wawasan. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.kepribadian. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. Selain itu. keterangan. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. atau klipping yang berhubungan dengan karier. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Misalkan.Jakarta : IPBI 27 . atau minat pekerjaannya. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. Selain itu. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. artikel. Dari hasil kunjungan. Untuk itu. dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. Sebagaimana telah disinggung di atas. (1995).

Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya. yaitu sama-sama menginginkan 28 . yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. Begitu pula. Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. W. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Dalam hal ini. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. pelayanan responsif. seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling).Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. (1991). perencanaan individual. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata.S. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. (1997). 2. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen).

Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. 7. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. 5. baik untuk kepentingan pencegahan. 3. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Misalkan. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. Kendati demikian. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. penguatan mental/psikis. Masalahnya. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. 29 . melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. khususnya dalam rangka pelayanan responsif.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. serta teknis medis lainnya. mendiagnosis. pengubahan lingkungan. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. modifikasi perilaku. 6. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”.

Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja . Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”. orang tua. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain.siswa. penunjuk jalan. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu. 9. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja.dan lingkungan. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. Begitu pula sebaliknya. pembangun kekuatan. Di sekolah misalnya. sekolah dan masyarakat sekitarnya. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan.dan piha-pihak lain. Namun demikian. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. pemberi informasi. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa.guru. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. Konselor adalah kawan pengiring. 10. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib.sosial.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. Pekerjaan yang 30 . seringkali masalah seseorang dianggap sepele. seperti “praktik pribadi”.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. disiplin dan keamanan di sekolah. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8.Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas.

Pada dasarnya. pihak lain pun. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. tujuan yang ingin dicapai. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien.Oleh sebab itu. Jawaban ”benar”. Bahkan sering kali terjadi. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. menghambat. 12. maka hasilnya akan kurang mantap. ada dan digunakannya instrumen (tes. terutama klien. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. 14. dan asas-asas tertentu). Sedangkan jawaban ”tidak”. Konselor harus aktif. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.inventori. 11. bersikap “jemput bola”. atau bahkan tidak berjalan sama sekali.Sementara itu.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Di sekolah. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi.harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. Dengan kata lain. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. 13.Lebih jauh. dalam hal ini konselor. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. tujuan. dan sarana yang tersedia. metode.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 . jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. tersendat-sendat.angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. jenis dan sifat masalah. guru pembimbing memang harus aktif. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.

begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat.15. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. Misalkan. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 .2003.. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul.

bertempat di Cikole Lembang Bandung. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. 33 . Ketika membuka kegiatan pelatihan. Hal yang cukup mengagetkan penulis. Dr. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. yaitu : 1. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. selaku ketua PB. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. memiliki mental yang sehat.ABKIN. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. M. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas.Pd.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21. memperoleh keterampilan hidup. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling.Selama mengikuti pelatihan. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu.(lihat 1. standar kompetensi konselor. Layanan Dasar. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Prof. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. Sunaryo. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. yang disajikan secara sistematis. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling.

hubungan masyarakat dan staf. A. dan penelitian dan pengembangan. 4.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. memelihara.Pd.Pd. Layanan Perencanaan Individual. M. Layanan dukungan sistem. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. baik menyangkut aspek pribadi. M. Selain itu. Perbedaannya. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional.Pd. sosial. Syamsu Yusuf L. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. staf ahli.N. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. belajar. konsultasi dengan guru lain. maupun karier. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual. M. mau pun Kurikulum 1994. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Agus Taufiq.Pd. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. konseling kelompok..) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. atau mengelola pengembangan dirinya. dan masyarakat yang lebih luas. 3. Dr. konseling individual. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. referal dan bimbingan teman sebaya. baik dalam Kurikulum 1975. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. dan Dr. Layanan Responsif. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 .) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. penasihatan individual atau kelompok. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. Uman Suherman. merencanakan.2. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. M. Uman Suherman. Kurikulum 1984. manajemen program. Untuk lebih jelasnya.

catatan anekdot. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Laporan bulanan 5. audio. Laporan hasil evaluasi program. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. media cetak : liflet. proses. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. kotak masalah. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. konsultasi. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. 2. Dalam hal ini. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. buku saku) 7. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. (d) strategi pelayanan. (c) pemilihan instrumen/media. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . audio visual. bibliokonseling. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. berbentuk : 1. konseling kelompok. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. bimbingan kelompok.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. bimbingan klasikal. kunjungan rumah. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Kendati demikian. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Daftar konseli 3. Laporan semesteran/tahunan 6. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi.

yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai. PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Mei 31. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun. 3. Maintain good relationship. dan atau (4) personality. 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. 2008 Sebagai sebuah layanan profesional. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. (D) Prognosis. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik.B. (C) Diagnosis. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. Developing a desire for counseling. B. (2) struktural – fungsional. tes bakat. Melakukan analisis sosiometris. Call them approach. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. seperti tes inteligensi. (E) Treatment. 5. PROSEDUR. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. 36 . yakni : 1. (B) Identifikasi masalah. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. 2. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. 4. (3) behavioral. menciptakan hubungan yang baik. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. yaitu: (A) Identifikasi kasus. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler.

lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. E. kepribadian. baik yang bersifat direktif. F. kecerdasan. bakat. yaitu : (1) faktor internal. (6) pendidikan dan pelajaran. (9) keadaan dan hubungan keluarga. ( hubungan muda-mudi. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik.kasus yang dihadapi. C. melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya.Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik. dan (2) faktor eksternal. Namun. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik. berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. (4) ekonomi dan keuangan. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu: 37 . dan (10) waktu senggang.H. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. emosi. nilai dan moral. (3) hubungan sosial. maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung). bisa dilihat dari segi input. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. (5) karier dan pekerjaan. proses. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. seperti : lingkungan rumah. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. (7) agama. non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). D. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor. Prayitno dkk. W. Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. (2) diri pribadi. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus . Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. ataupun out put belajarnya.

2. diantaranya apabila: 10. Kriteria keberhasilan tampak segera. 2004. Psikologi Pendidikan. 8. dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif.1. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). 4. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. 2. Sumber: Abin Syamsuddin Makmun. 38 . mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. dkk. 2004. 12. produktif. dan 3. diantaranya apabila: 1. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. 2003. 9. 3. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang. Depdiknas. 7. Jakarta : Depdiknas. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. 11. 5. Sementara itu. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan.

diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Oleh karena itu. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. (2) tahap inti (tahap kerja). yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. 39 . yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). terutama asas kerahasiaan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. Membuat penaksiran dan perjajagan. Menegosiasikan kontrak. M. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. B.Pd. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan). dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. dan kegiatan. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. Secara umum. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. kesukarelaan. (2) Kontrak tugas. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. A. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. berisi : (1) Kontrak waktu. keterbukaan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya.

DYP Sugiharto. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. Dalam bentuk tayangan slide.tugas profesionalnya. dan trait and factor. sehat dan dinamis. Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien. gestalt. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . M. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. (1) menurunnya kecemasan klien. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. baik oleh pihak konselor maupun klien. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien. yaitu . Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Dr. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. rational emotive therapy (RET). C.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). psikoanaliss. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif.

Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. (c) peniruan. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. 41 . Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. 2008 A. 3. 2. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. B. (b) pembiasaan operan. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. 4.

yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling.D. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. 5. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. (b) apakah tujuan itu realistik. 4. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. tingkah laku penyesuaian. Technique implementation. Konselor aktif : 1. mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. atau melakukan referal. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. Evaluation termination. pola hubungan interpersonal. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. kekuatan dan kelemahannya. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. 42 . (c) kemungkinan manfaatnya. 3. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Assesment. Goal setting. 2. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Feedback.

M. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. Pendekatan-Pendekatan Konseling. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. atau contoh nyata langsung).Pd. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. model fisik. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Sumber : Dr. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. kesulitan menyatakan tidak. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar.• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. DYP Sugiharto. (Makalah) 43 . tape recorder. dapat menggunakan model audio.

dan tingkah lakunya 44 . persepsi. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. tidak berdaya. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. ingin dimaklumi. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Dalam pendekatan ini. perasaan. membela diri. Under dog adalah keadaan defensif. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. kemarahan. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. mengancam. otak. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. 2008 A. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. dan pemikirannya. emosi. rasa berdosa. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. (3) aktor bukan reaktor. Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. sakit hati. lemah. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. B. menuntut. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. kebencian. pasif. maka mereka mengalami kecemasan. jantung. Meskipun tidak bisa diungkapkan. pera-saan. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). kecemasan. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. kedudukan. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. dan sebagainya. rasa diabaikan. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang.

ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. serta mendapatkan insight secara penuh. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. D. C. Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. 45 . Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal. memahami kenyataan atau realitas. interpretasi maupun memberi nasihat.

konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. perasaan-perasaannya. konselor mengembangkan pertemuan konseling. Dalam hal ini. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Fase kedua. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. dalam situasi di sini dan saat ini. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. Melalui fase ini. atau gila. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. Fase ketiga. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. perasaan. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. dirinya tidak berdaya. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Fase keempat. Teknik Konseling 46 . dan tingkah lakunya. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. bodoh. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor.

Dalam kaitan itu. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Misalnya : “Saya merasa jenuh. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. Orientasi Eksperiensial.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. Orientasi Sekarang dan Di Sini. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. tetapi memfokuskan keadaan sekarang.

Meskipun tampaknya mekanis. Pendekatan-Pendekatan Konseling.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Sumber : Dr. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan.Pd.Sering terjadi. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. M. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. (Makalah) 48 . “Saya malas. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. DYP Sugiharto.

dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. atau sikap orang lain. sangat personal. Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. dan kerana itu menjadi prosuktif. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. emosional. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. Keyakinan seseorang ada dua macam. kelulusan bagi siswa. 2008 A. kekhawatiran. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB. Belief (B) yaitu keyakinan. dan kompeten. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. interpretasi. masuk akal. bijaksana. B. kejadian. bahagia. dan keran itu tidak produktif. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. dan Emotional consequence (C). (c) orang tua atau masyarakat 49 . Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Belief (B).Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. antara kenyatan dan imajinasi. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. tidak masuk akal. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Perceraian suatu keluarga. yaitu Antecedent event (A).Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. tingkah laku. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. pandangan. nilai. atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. yang dapat diterima menurut akal sehat.

meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . C. Ketiga. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. bencana yang dahsyat. rasa marah. rasa berdosa. ( penerimaan diri. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. dan (10) menerima kenyataan. Kedua. dan dihukum. (2) minat sosial. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. disalahkan. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. (g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (6) menerima ketidakpastian.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. (5) fleksibel. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. D. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. cara berpikir. rasa bersalah. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. merasa was-was. persepsi. merusak. jahat. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. mengerikan. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. (4) toleransi terhadap pihak lain. (3) pengarahan diri. (9) berani mengambil risiko. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. rasa cemas.

E. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. 4. Aktif-direktif. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. Emotif-ekspreriensial. 2. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. afektif. Behavioristik. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. 3. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. Kognitif-eksperiensial. mendorong. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.

Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. M. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. latihan. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. Pendekatan-Pendekatan Konseling. mengobservasi. membiasakan diri. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan normanorma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Dengan memberikan reward ataupun punishment. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. atau meniru model-model sosial. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. (Makalah) 52 . klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. DYP Sugiharto. Dengan tugas rumah yang diberikan. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Sumber : Dr.Pd.

terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Menutup wawancara konseling E. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Konsep Dasar 1. 2. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. Manusia secara esensial bersifat biologis. Hakikat manusia. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. untuk ditata. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. Deskripsi Proses Konseling 1. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. dan super ego C. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. D. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. 53 . artinya konselor berusaha tak dikenal klien. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. 2008 A. yaitu id. ego. terutama usia 2-5 tahun. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. konflik dan simbolisme. dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. disikusikan. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur.

baik dalam asosiasi bebas. Analisis resistensi. Manusia tidak pernah statis. objektif. seksualitas. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. 2008 A. Menurut Freud. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. B. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Interpretasi. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. Klien diminta mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. Konselor menetapkan. resitensi dan transferensi. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression.• • • • sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Analisis mimpi. mimpi. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Hal ini disebut juga katarsis. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. resistensi. Konsep Dasar: 1. 3. 54 . analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Transferensi adalah mengalihkan. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. resistensi berati penolakan. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. 2. Dalam hal ini. anonim. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. kebencian. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Memandang manusia sebagai individu yang unik. pengalamannya tertekan. dan transferensi klien. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. Dengan perkataan lain. asosiasi bebas. Manusia merupakan seseorang yang ada.

Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. 5. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Willis. 4. 2007. D. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). keyakinan serta pandangan-pandangan individu. (4) mewujudkan dirinya. E. (3) mengarahkan diri. Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. (2) respect (rasa hormat). Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. (3) understanding (pemahaman). Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. 3. Bandung: Alfabeta 55 . yang unik.C. Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. Teori dan Praktek. (4) reassurance (menentramkan hati). Memperbaiki dan mengubah sikap. 4. 3. Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Rogers. (2) mengambil keputusan yang tepat. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Sumber: Sayekti. Konseling Individual. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). 2. Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. (5) encouragement (memberi dorongan). Saya adalah saya 2. Deskripsi Proses Konseling 1. Tujuan Konseling 1. 1997. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. persepsi cara berfikir. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin.

2. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1.Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. dianalisis dan ditafsirkan. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. 5. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Menurutnya. 2. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . 3. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. yang hadir di seluruh kehidupannya. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. 3. 2008 A. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. sebagai pengalaman yang berharga. diperbaiki. 4. Tanggung jawab 56 . Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal.

dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. C. Tujuan Terapi 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. D. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. 3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. 4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 4. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 5. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 6. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya

57

7. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. 8. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Sumber: Sayekti. 1997. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Willis. 2007. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Teknik Umum Konseling (1)
Diterbitkan Januari 15, 2008

Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum, diantaranya : A. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Meningkatkan harga diri klien. 2. Menciptakan suasana yang aman 3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang baik :
• • • • •

Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

Contoh perilaku attending yang tidak baik :
• • • • •

Kepala : kaku Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot. Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling. Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

B. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan

58

dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat dua macam empati, yaitu : 1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” Saya mengerti keinginan Anda”. 2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. C. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu : 1. Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ….” 2. Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu : 1. Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….” 2. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. 3. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor. 59

bagaimana.” F. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh. dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. (3) memberi arah wawancara konseling. Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. dapatkah. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. adakah. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Oleh karenanya. lalu…. ya…. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. lebih baik gunakan kata tanya apakah. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). terus…. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 .. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien.

M. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga. (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan.” Sumber : Sofyan S. Membantu orang tua memang harus. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Willis. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. (3) meningkatkan kualitas diskusi. Bandung : Alfabeta H. Saya tak dapat lagi menahan diri. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. 2004.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. bukan pandangan subyektif konselor. PT Golden Terayon Press. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. kedua. Karena tantangan masa depan makin banyak. Jakarta. Teori dan Praktek. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. J. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori.” K. Jakarta : PPPG 61 . namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”.Konseling Individual. 2003. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Terutama hidup di kota besar seperti Anda. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. Akhirnya terjadi pertengkaran sengit. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Sugiharto. Arifin. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara.(2005. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. kita sudah sampai pada dua hal: pertama.I.

Fokus pada diri klien. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. dan sebagainya. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. Fokus pada topik. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Contoh : ” Roni. (2) meningkatkan potensi klien. 4. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. 2008 A.” C. diantaranya : 1. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Oleh karena itu. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . 2. Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Fokus pada orang lain. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. Contoh : ” Tanti. ide awal dengan ide berikutnya. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. atau kontradiksi dalam dirinya. senyum dengan kepedihan. Fokus mengenai budaya. konflik. Contoh dialog : 62 . telah membuat kamu menderita. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati.

Klien : ” Saya baik-baik saja”.(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. D. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.” E. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.” F. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik, komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………..” (diam) Klien :” Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu.. Konselor :”…………..” (diam) G. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Contoh: ” Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali”. G. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. 63

Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab, dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.” H. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.upi.com di internet”. I. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh : ” Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG

Teknik Khusus Konseling
Diterbitkan Januari 15, 2008

Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling, yaitu : 64

1. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. 2. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 3. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. 4. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 5. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.

65

Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 8. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. 6. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Sering terjadi. 7. Misalnya : “Saya merasa jenuh. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. 9. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya.Melalui dialog yang kontradiktif ini. “Saya malas. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya.

Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta Sugiharto. Jakarta : PPPG 67 . 13. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru.M. Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. Jakarta. Arifin. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Willis. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. Sofyan S. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. mendorong. membiasakan diri. 10.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. PT Golden Terayon Press. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. Home work assigments.(2005. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Dengan tugas rumah yang diberikan.Konseling Individual. Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. 2004. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor. Sumber : H. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. 12. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. 2003. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. 11.

Dasar saya anak desa. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. mengontrol dunia.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. dan sombong. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder. orang lain. terus bertahan. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. terisolik. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. susah tak ada/punya teman yang peduli. kurang bersahabat. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Makin lama perasaan ditolak.

Allah mengasihi saya. pemberian nasehat secara tepat. Itu berarti salah saya. karena saya berharga dihadiratNya. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. tak seperti orang/teman-teman lainnya. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. Ide-ide ini diajarkan. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya.dibiarkan terus berlangsung. Ia menjadi minder. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. peduli. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. mengobservasi dan evaluasi diri. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). bermain peran. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. semua teman memperhatikan / mendukung. teliti. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. puas dan bangga. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. hanya 10% saja yang membeci saya. bahkan adakalanya saya benci. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. sugestif. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. 50% netral. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Cara konselor ialah 69 . kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. memaki-maki diri saya sendiri. Tekniknya jelas. dan seterusnya. sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. Sehubungan dengan kasus. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. Saya pantas menderita karena semuanya itu. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. karena saya tak berharga. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. pemalu. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri.

progdi BK PPB. 2. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Satya Wacana Semarang. 1991.. IKIP Padang Rosjidan. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru. 1998. Kesegaran hasil yang dicapai. 1998. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. 3. 4. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. (5) menerima kenyataan bahwa. Jakarta Surya. IKIP Semarang Pres.. SUMBER Aryatmi. Kota Kembang. Yogyakarta. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Prayitno. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. 70 .. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli. FIP. 1988. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. 1991/1995. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. menantang. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. Pengantar Teori-teori Konseling. M. mendebat.dengan pendekatan yang tegas. Konseling Pancawashita. (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. S. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. Corey G. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. jika kita mengharap untuk berubah. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. Kesimpulannya.

Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Pasca RSKO. dan Partisipasi Sosial. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. terutama remaja. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. dan Asia. 1977). 1977). Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Kunjungan. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Vietnam. 1977. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Pendidikan dan Pelatihan. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. dan Amerika Selatan. 1977). Mesir. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Bagaimana di Eropa. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. Cina. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. Opium banyak pula ditemukan di Cina. Turki. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Thailand). rematik. Konseling Kelompok. *) Sofyan S. malaria.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. dan untuk bahan analgesik (Kisker. tidak menyalahkan pihak luar. obat lemah badan. Australia. keluarga. Kata Kunci: Konseling Terpadu. 22-5-2001). Konseling Keluarga. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Pemulihan. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. Pendahuluan 1. dan analgesik (Martin. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Martin. Konseling Agama. pecandu narkoba. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. dan segitiga emas (Kamboja. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. terutama di Amerika Serikat dan Afrika.

(d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal. kolusi. Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. Masalahnya. dan film-film. Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. 1995). dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara.800 miliar. 1979). (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah.bulan. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. (c) mencintai keluarga. dan bahkan mengkonsumsi narkoba. 1979). sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. konsumtif. namun terbentur pada lemahnya hukum. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. 1989). Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu.200. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. sehingga narkoba mudah beredar. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. Minneapolis. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. VCD. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). Ciri pergaulan AMK adalah bebas. 1978). Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. 1993). melalui metode Konseling Terpadu. maka AMK pun menirunya. yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri. 1.200.000. Hal ini berarti. suatu angka yang fantastis. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Sedangkan. Sebagai perbandingan. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. 2001). khususnya generasi muda. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. Willis. 72 . faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. Ulwan. Minnesota.000 = Rp.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya. 25-52001). namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. Artinya. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya.Willis. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. 1. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S.

2. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. spiritual. para siswa.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. Jika konselor tidak menguasai soal agama.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. guru-guru BK di sekolah. taat ibadah. sosial. and back to destructive drinking”. back home.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. Hal ini disebabkan oleh sikap empati. and than put the patient back on the street. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba. dan fisik. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. kehilangan pekerjaan. bermoral. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. (3) menerima realita hidup dengan jujur. Selanjutnya. memahami. Willis 1995).2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. or back on the job. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. tokoh-tokoh masyarakat. terbuka. dan berbuat baik terhadap sesama. 2. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. 1980). ibu-ibu pengajian. Sebagai seorang dokter medis. intelektual. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. institute nutrition and vitamin therapy. anggota DPR. Mann memuji pendekatan Panti St. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. terapi nutrisi/vitamin. prescribe mood-controlling medications. sarjana. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. dan sebagainya. dan asli (genuine) dari konselor. hangat. 2. akan tumbuh 73 . dsb). dijauhi orang-orang yang dicintai. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Melalui interpersonal relation. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. 1977). menerima cobaan hidup dengan tawakal.

marah. Selanjutnya. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. Kemudian. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. pacar. keluarga. suami. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. Selanjutnya. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. suami/istri. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya. 2. percaya diri. 5. 3. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. 1982).. merusak diri. serta penyesalan terhadap masa lalu. keluarga. Di samping itu. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. Demikian juga. 74 .3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. saudara. dan sebagainya. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. dan keluarga dekat lainnya. ibu. mencemarkan nama keluarga. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. 2. orang tua.kepercayaan diri klien (Yalom. dan masyarakat. dan masyarakat. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. kritikan-kritikan. 1985). Di samping itu. saudara. sedangkan pesertanya adalah klien. Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. 4. istri. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Selanjutnya. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. pesan. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya.

Barbara F. Willis. 2008 Dalam proses konseling. bimbingan kelompok. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. baik perilaku verbal maupun non verbal. dan konseling keluarga.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Sumber : http://depdiknas. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang.go. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 . seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling. Okun (Sofyan S. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2.id. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan.

2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. Secara visual. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu. dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. 2004. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Kendati demikian. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. Willis. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Konseling Individual: Teori dan Praktek. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya. Sebagai lembaga pendidikan.Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun.

keinginan untuk melanjutkan sekolah. Dalam hal ini. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. serta hal-hal positif lainnya. malas. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Oleh karena itu. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. Sofyan S. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Dalam hal ini. mencuri kelas ringan. Sebagai ilustrasi. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. berkelahi dengan teman sekolah. Perlu digarisbawahi. Lebih jauh. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. 77 .Dengan melihat gambar di atas. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. seperti: membolos. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. bertengkar. minum minuman keras tahap awal. berpacaran. Masalah (kasus) ringan. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah.

Dapat pula mengadakan konferensi kasus. Secara visual. C. minum minuman keras tahap pertengahan. dengan perbuatan menyimpang. pelaku kriminalitas.2. ahli/profesional. 3. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). mencuri kelas sedang. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. percobaan bunuh diri. seperti: gangguan emosional berat. melakukan gangguan sosial dan asusila. kecanduan alkohol dan narkotika. dokter. Masalah (kasus) sedang. berpacaran. Masalah (kasus) berat. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. seperti: gangguan emosional. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. guru dan sebagainya. kesulitan belajar. berkelahi antar sekolah. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . siswa hamil. polisi. karena gangguan di keluarga. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. polisi. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater.

personal. akademik. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. 3. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. (e) toleran terhadap permsalahan konseli.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. individualitas. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. dan (f) ersikap demokratis B. bermoral. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. karier. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. proses dan program bimbingan dan konseling. non formal. (b) melakukan 79 . individual. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. kebebasan memilih. (c) memfasilitasi perkembangan. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. dan informal. 2008 A. dan berpotensi. dan sosial konseli. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. 2. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. dasar dan menengah. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. jenjang. dan khusus. kejuruan. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. 1. keagamaan. C. (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. sosial. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. 4. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. 3. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2.

dan profesi. tujuan. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. dalam bentuk naskah akademik. yang di dalamnya 80 . tujuan. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. Oleh karena itu. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. tenaga administrasi) 5. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. Sumber : ABKIN. 6. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar.dan profesi. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. wali kelas. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. tujuan. 4. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (b) mengkomunikasikan dasar. 2008 Dalam Permendiknas No. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. pimpinan sekolah/madrasah. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. 2007. orang tua. Namun. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain.

hemat. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. (7) Pengembangan diri. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (4) Kematangan intelektual. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (9) Wawasan dan kesiapan karier. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (6) Kesadaran gender. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (2) Landasan perilaku etis. (3) Kematangan emosi.

2008 Dalam Permendiknas No. (4) Kematangan intelektual. (3) Kematangan emosi. (7) Pengembangan diri. (9) Wawasan dan kesiapan karier. dalam bentuk naskah akademik. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . Oleh karena itu. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling.2007. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT).Jakarta.dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Namun. kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (6) Kesadaran gender. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (2) Landasan perilaku etis. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.

hari. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. ulet hidup hemat. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara. sehari-hari. dan persyaratan pekerjaan.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. ulet kewirausahaan hemat. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma. 2008 Dalam Permendiknas No. 83 .Jakarta. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas.2007.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan.

kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . (4) Kematangan intelektual. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius.Namun. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Oleh karena itu. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (7) Pengembangan diri. (2) Landasan perilaku etis. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (3) Kematangan emosi. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. (6) Kesadaran gender. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. dalam bentuk naskah akademik.

3 4 5 6 7 8 9 10 11 keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang Kematangan emosi menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 .Jakarta. pendidikan. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih Kematangan hubungan dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan dengan teman sebaya pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk Kesiapan diri untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif menikah dan berkeluarga berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas Kematangan intelektual dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Kesadaran tanggung Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam jawab sosial interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara Kesadaran gender kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri Pengembangan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. Perilaku kewirausahaan hemat.ulet.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. sungguh-sungguh dan (kemandirian perilaku sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar ekonomis) sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. dan perencanaan karir dengan Wawasan dan kesiapan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan karier pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.2007. sengguhulet.ulet sungguhhemat.

Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang Landasan perilaku etis sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang Kematangan emosi menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas.2007. sungguh-sungguh dan (kemandirian perilaku sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar ekonomis) sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. dan perencanaan karir dengan Wawasan dan kesiapan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan karier pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. pendidikan. Perilaku kewirausahaan hemat.ulet. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih Kematangan hubungan dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan dengan teman sebaya pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk Kesiapan diri untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif menikah dan berkeluarga berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Simber: Depdiknas.Jakarta.ulet sungguhhemat. 86 . peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas Kematangan intelektual dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Kesadaran tanggung Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam jawab sosial interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara Kesadaran gender kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri Pengembangan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat. sengguhulet.

Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. sasaran pelayanan (4) . Dilihat dari jenisnya. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. 4. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. Program Mingguan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. Program Tahunan. 87 . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan. yaitu: 1. dan (5) volume/beban tugas konselor. 2008 A. Program Semesteran. Program Bulanan. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. 3. 2. (3) format kegiatan. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program.D.

tempat. (2) pelaksanaan. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin.Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. B. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. waktu. Program Harian. serta alat bantu yang digunakan. dan pihak-pihak yang terkait. yaitu : (1) perencanaan. insidental dan keteladanan. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. B. jenis kegiatan. (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. kegiatan instrumentasi. penempatan dan penyaluran. dan (e) waktu dan tempat. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. penguasaan konten. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung. dan (3)penilaian 1. substansi. bulanan serta mingguan. dan (2) kegiatan non tatap muka.5.

konseling kelompok. C. 3. Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. bimbingan kelompok. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. dan mediasi. kegiatan konferensi kasus.dalam kelas. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. kunjungan rumah. 89 . serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. dan alih tangan kasus. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). Penilaian segera (LAISEG). pemanfaatan kepustakaan. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. perorangan.. dan (2) penilaian proses. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. 2. himpunan data. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). menyelenggarakan layanan orientasi. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1.

mengandung arti bahwa bentuk. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. bakat. 2. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. 1. responsif. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. 3. atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. belajar. Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. rancangan. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). 90 . guru. dan pengembangan karir konseli. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. Namun. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal.

Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Cobia. Debra C. Balitbang Diknas. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK.D. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (2003).). VA: AACD. (2001). Belomont. Engels. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi).Gambar 1. G. (2003). Dameron. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Cambridge. (2003). The Art of Integrative Counseling. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. (1995). Alexandria. CA: Brooks/Cole. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. (Ed. A. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Depsiknas. & Henderson. UK: Cambridge University Press. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Merrill Prentice Hall Corey. Bandung: ABKIN Bandura. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. (2007). (Eds). DAFTAR RUJUKAN AACE.ncat.W dan J. Donna A. Handbook of School Counseling. Self-Efficacy in Changing Soceties. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). BSNP dan PUSBANGKURANDIK. New Jersey. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. (2005). D. http://aace. 91 . Draft.

(1986). ——–. 2006). James J. Guidance and Counseling in the Schools. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Michigan School Counselor Association. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Columbia: The Educational Resources Information Center. New York : MacMillan Publishing Company. Balitbang Depdiknas. Judy L. (1995). Stoner.Browers. Herr Edwin L. Depdiknas.J. London : Prentice-Hall International Inc. 2006. T.Nancy. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Depdiknas. Havighurts. Landasan Bimbingan dan Konseling. ASCA (American School Counselor Association). Bandung : CV Bani Qureys. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (2005).H. (2003). (2006). Lustin. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (2005). (1979). New York: David Mckay. The National Model for School Counseling Programs. LIPI. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. dkk. (1953). Pikunas. Human Development. Bandung : Remaja Rosda Karya. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Alizabeth B. Management. Terry. (2002). Patricia A. & Hatch. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Gibson R. (2003). 2004. Development Taks and Education. (1992).N. Menteri Pendidikan Nasional. (2005). Sunaryo Kartadinata. California : Myfield Publishing Company. Pusat Kurikulum. Madison : Brown & Benchmark. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program.L. Introduction to Counseling and Guidance. (1976). Jakarta: Puskur Balitbang.dan Juntika N. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Depdiknas. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Bandung : PT. Adolescence. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Depdiknas. Muro. Syamsu Yusuf L. (1987). Child Development. (1990). Remaja Rosda Karya. Ellis. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. ——–. Houston : Shell Com. & Kottman. Comm. R. James A. J. (2005). New York : McGraw Hill Book Company Inc. & Mitchel M. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (1956). Hurlock.Ltd. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah.I. 2006. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional.

1995. M.Pd. Dalam hal ini.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. Woolfolk. Boston : Allyn & Bacon. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. Vol 24 No. Oleh karena itu. Educational Psychology. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).Pd. tulisan ini. M. 3 July’96. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah. 2008 Oleh : Drs. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. Anita E. Oleh karena itu. (1996). (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. Akhmad Sudrajat. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Uman Suherman. Sesungguhnya. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini.

seperti : malas. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. petunjuk teknis dan sebagainya. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Akibatnya. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. konselor dituntut bekerja secara profesional. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. baik secara langsung maupun tidak langsung.1. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. petunjuk pelaksanaan. Bagaimanapun. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. Dengan kata lain. Maka. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. melalui berbagai bentuk aturan. Secara tidak langsung. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dari sini. ketentuan. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi.

tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. Sekalipun ada. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. dengan bercermin dari kekurangan. Kemudian. Bahkan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. 2. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. Berbekal kesabaran dan ketekunan. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara.dalam internet. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Walaupun demikian perlu dicatat. dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. Sementara. untuk menguasai teknikteknik konseling. seperti : seminar. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan. Misalkan. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. Sehingga pada gilirannya. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. penataran dan pelatihan. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. Sedangkan secara langsung. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini.

baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Dengan adanya akuntabilitas ini. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. terutama masyarakat dan orang tua siswa. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). konselor 96 . seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Oleh karena itu. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Bagaimanapun masyarakat. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat.mewakili pihak pemerintah. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Tentu saja. Jadi wajar sekali. Dan pada gilirannya. Artinya. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. Namun pada kenyataannya. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. khususnya kepada bimbingan dan konseling. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Dalam hal ini.

konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Dengan kata lain. yang berhubungan dengan data siswa. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. Karena. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. 97 . informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Bahkan bila perlu. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. khususnya dalam forum Komite Sekolah.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. Dr. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. dewan sekolah atau siapa pun. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Untuk itulah. seperti kepala sekolah. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. Oleh sebab itu. kapan saja diperlukan. informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). Dengan sendirinya. Tentu saja. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya. Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Hal yang perlu dicermati. Prayitno. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. Demikianlah. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. Atau secara kreatif. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas.

Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. dan (3) evaluasi hasil. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Sementara itu. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil.(1994).Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17.. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU).S. 1. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. (2001). Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. W. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. Counselors Role in a Changing 98 . Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Prof. (1995). Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. (1997). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor. Makalah .(1995). (1991). (2) evaluasi program. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Dr.

Willis. 2004.wisconsin. 2008 99 .Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. Teori dan Praktek. Konseling Individual. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. guru. pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa).gov/sspw/counsl1. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www.html Sofyan S. klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Bandung : Alfabeta.dpi.

yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . 2. audio. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. (d) strategi pelayanan. konsultasi. kunjungan rumah. bibliokonseling. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 . (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. kotak masalah. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. proses. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. buku saku) 7. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . Laporan semesteran/tahunan 6. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. media cetak : liflet.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. catatan anekdot. bimbingan kelompok.Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Laporan hasil evaluasi program. bimbingan klasikal. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. (c) pemilihan instrumen/media. Dalam hal ini. Laporan bulanan 5. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Daftar konseli 3. Kendati demikian. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. berbentuk : 1. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. audio visual. konseling kelompok.

2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. Wilayah Gerak 2. Sementara itu. Sebaliknya. karier. Demikian pula. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. Tujuan Umum 3. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru.Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 . keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. sosial. Selengkapnya. dan masalahmasalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. konselor. dan masalah-masalahnya belajar.

Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan. Jakarta F. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. belajar dan karier. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. alternatif juga dari dia (siswa-red). solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. Menurut dia. M. OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17.. Prof. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. Terutama.” ujarnya. Dr.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa.” ungkapnya. Sofyan S. H. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah. 2007. Jl. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). tapi siswa tetap yang harus memikirkan. Padahal. sosial. Willis. Menurut dia. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri.Pd. Selain terlalu sering memberikan nasihat. peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Belitung. bukan yang 102 . Yang baik. katanya. “Alternatif bisa diusulkan guru.

Menurut Sofyan. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Sunaryo Kartadinata. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7.memiliki masalah saja. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan. 6 September 2006. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya.com/cetak/2006/042006/07/0702. hal. Karenanya. menggunakan penyikapan yang empatik. siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. Sumber : http://www. Supaya konseling cukup efektif. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. layanan etis normatif. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Saat melakukan konseling. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. dan bukan layanan bebas nilai. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. (4) 103 . pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera.melalui pendidikan. Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. ia mengungkapkan. Berkaitan dengan peran sekolah. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”.pikiran-rakyat. Karenanya. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. Dr. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai.

Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. Pada jenjang SMP dan SMA. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional.. terutama guru pendidikan khusus. nilai. melalui direct behavioral consultation. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor.mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. dan karier. akademik. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. misalnya melalui asesmen psikologis. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. (5) yang dilandasi sikap. Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). dan kecenderungan pribadi yang mendukung.. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. Selain itu. 104 . pribadi-sosial. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. Menurutnya. serta berguna untuk manusia lain. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. Dalam hal ini. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok. Misalnya. sejahtera.

Sumber : Sunayo Kartadinata. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”.konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. BSNP. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). M. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. seni dan sebagainya Atas semua itu. Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I.– yang juga 105 . yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. Empat tahun kemudian. sekitar 32 tahun yang lalu. Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal. Setelah keluar dari ruangan BP. Ditjen PMPTK. 6 September 2006. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya.Pd. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi.Pikiran Rakyat. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. pada saat akan mengakhiri studi di SMA. hal. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. seperti dalam olah raga. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB).

yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Akhirnya. Jawaban singkatnya. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. Pada awal menjadi Guru BP. jika penulis kelak menjadi guru BP. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. Selanjutnya. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. menggantikan sebutan Guru BP. penulis hanya memilih satu jurusan saja. Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya.singkatnya pertanyaan itu. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Beliau memberikan analisis panjang lebar. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya). ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK.kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA.. tempat kelahiran penulis. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada 106 . Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan. Sebaliknya. Hanya selang satu tahun setelah lulus. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan.. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing.

di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut.20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu 107 . semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya). ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut.Begitu juga. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi. meski secara formal istilah ini belum digunakan. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. Pada tahun 2003. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi.jurang “degradasi”. sampai dengan sekarang. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja.SMA pada saat itu. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. M. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. sedangkan guru pembimbing terpaksa harus gigit jari. Hanya sangat disesalkan. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual.Pd. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling.

khususnya di kalangan siswa. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan.. Kesan lama. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. Dalam tataran teoritis. Meminjam bahasa ekonomi. Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. Sehingga. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. dengan memperhitungkan segi kuantitas. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . baik secara personal maupun lembaga. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. yaitu : 1. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. Oleh karena itu. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. Di sisi lain. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. 2. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. kualitas dan distribusinya. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . Sayangnya. konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling 108 . teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. Contoh kasus. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai.mata pelajaran di sekolah.profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. Menurut pandangan penulis. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri.

kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. M. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro). ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling. Jika ke depannya. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Jika tidak. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. Dalam dokumen KTSP. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. *)) Akhmad Sudrajat. Contoh kasus terbaru. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. Begitu juga. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya dilaksanakan.Pd. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. 109 . dengan menghadirkan pembicara Dr. Uman Suherman. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan.Pd. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. dalam kebijakan sertifikasi guru. Jadi. M. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling.

Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. 3. oleh siswa. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. baik dalam bidang akademik. 4. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. 110 . mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. 2. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. kepala sekolah. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya. sosio-personal.Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Misalnya. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. 1. tidak jelas kerjanya. guru mata pelajaran. Pada saat sedang mengikuti rapat. maupun bidang karier. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words).

Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. Untuk itu. Rachmat Setiawan. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. baik laporan harian. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi.M. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. H. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat.6. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. bulanan. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. Bapak Drs. In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. Tentunya saya berharap. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). M. atau tahunan. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab.Pd. Dalam jadwal resmi. maka atas seijin panitia setempat. dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM. 111 .

Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). Untuk kepentingan analisis data. setelah dilakukan input data terlebih dahulu. Nilai dan Moral (ANM). Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. pengembangan maupun kuratif. dkk. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. (3) Hubungan Sosial (HSO). seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Sayangnya. karena kesempatan 112 . Melalui analisis data berbasis komputer ini. baik yang bersifat preventif. dan (10) Waktu Senggang (WSG). (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (2) Diri Pribadi (DPI). termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. Tentunya. ( Hubungan Muda Mudi (HMM). mudah dan akurat. (7) Agama. Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD).DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik G.

(b) berfikir sterotip dan klise. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. 3. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. Berdasarkan hasil pengukuran ini.yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. (d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (c) peduli akan aturan eksternal. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. (b) bergantung pada lingkungan. Perlindungan Diri. (d) bertindak dengan motif dangkal. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. Anda dapat men-download materi tersebut. Impulsif. 2. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. Kendati demikian. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. (g) takut tidak diterima 113 . Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (c) beorientasi hari ini. (f) kurang introspeksi. Konformistik. dkk. Dengan alat ITP. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo.

Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (9) wawasan dan persiapan karir. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (5) kesadaran tanggung jawab.4. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. (e) peduli akan self fulfillment. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. (e) memikirkan cara hidup. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. (d orientasi pemecahan masalah. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. Individualistik. seperti keadilan sosial. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (7) penerimaan diri dan pengembangannya.Yang diskor 40 soal. (d) peduli akan hubungan mutualistik. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. Yang diskor 66 soal. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan Seksama. (3) kematangan emosional. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sadar Diri. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. 6.. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. (4) kematangan intelektual. 114 . yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. (g) mengenal kompleksitas diri. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. 7. (2) landasaan perilaku etis. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. dan perspektif diri. motif. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. kelompok. 5. (c) mampu melihat keragaman emosi. (c) peduli akan paham abstrak. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan. Yang diskor 40 soal. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. ( kemandirian perilaku ekonomi. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. Otonomi. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita.

ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik. cepat dan menyenangkan. dan penggabungan kelompok. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. distribusi frekuensi nilai. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT.Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Namun. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta.Analisis per individu.5 115 . terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. yang terdiri atas: profil kelompok. yang terdiri atas: profil individual. Manual Guide ATP Versi 3. penghitungan skor konsistensi.Analisis kelompok. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. delapan butir tertinggi dan terendah. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. Multi window. Dengan ATP. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Sumber : Sunaryo. untuk jumlah siswa yang besar. Impor data dari file Microsoft Excel. Manajemen data. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. Semakin tinggi skor konsistensi. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Proses penyekoran. cara ini akan memakan waktu. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. grafik distribusi frekuensi konsistensi. Hasil duplikasi diletakkan di bagian akhir angket. dkk . Yang diskor 66 soal.

116 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful