P. 1
4108141 Bimbingan Dan Konseling

4108141 Bimbingan Dan Konseling

5.0

|Views: 4,216|Likes:
Published by Novia Kusumaningrum

More info:

Published by: Novia Kusumaningrum on May 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/15/2013

pdf

text

original

Sections

  • Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
  • Landasan Bimbingan dan Konseling
  • Tujuan Bimbingan dan Konseling
  • Fungsi, Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling
  • Bidang Bimbingan dan Konseling
  • Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Konsep Bimbingan Karier
  • Informasi Karier
  • 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Bimbingan dan Konseling di Sekolah
  • Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling
  • Rubrik Sertifikasi Guru BK
  • Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling
  • Proses Layanan Konseling Individual
  • Pendekatan dan Teknik Konseling
  • Pendekatan Konseling Behavioral
  • Pendekatan Konseling Gestalt
  • Pendekatan Konseling Rasional Emotif
  • Pendekatan Konseling Psikoanalisis
  • Konseling Humanistik
  • Terapi Realitas
  • Teknik Umum Konseling (1)
  • Teknik Umum Konseling (2)
  • Teknik Khusus Konseling
  • Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling
  • Konseling Pecandu Narkoba
  • Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif
  • Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah
  • Kompetensi Konselor/Guru BK
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP
  • Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA
  • Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi
  • Program Bimbingan dan Konseling
  • Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling
  • BK dan MPMBS
  • Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif
  • Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling
  • Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor
  • Guru BK tak Perlu Beri Solusi
  • Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai
  • Penulis dan Bimbingan & Konseling
  • Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi
  • Seminar BK di Universitas Kuningan
  • Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling
  • In House Trainning di SMA N 1 Garawangi
  • Alat Ungkap Masalah
  • Inventori Tugas Perkembangan

A.

KONSEP BIMBINGAN DAN KONSELING

Hakikat dan Urgensi Bimbingan dan Konseling
Diterbitkan Maret 12, 2008

Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah, bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundangundangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual). Konseli sebagai seorang individu yang sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi (on becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, konseli memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya. Disamping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses perkembangan konseli tidak selalu berlangsung secara mulus, atau bebas dari masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilainilai yang dianut. Perkembangan konseli tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis maupun sosial. Sifat yang melekat pada lingkungan adalah perubahan. Perubahan yang terjadi dalam lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup (life style) warga masyarakat. Apabila perubahan yang terjadi itu sulit diprediksi, atau di luar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan kesenjangan perkembangan perilaku konseli, seperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi atau penyimpangan perilaku. Perubahan lingkungan yang diduga mempengaruhi gaya hidup, dan kesenjangan perkembangan tersebut, di antaranya: pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat, pertumbuhan kota-kota, kesenjangan tingkat sosial ekonomi masyarakat, revolusi teknologi informasi, pergeseran fungsi atau struktur keluarga, dan perubahan struktur masyarakat dari agraris ke industri. Iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti : maraknya tayangan pornografi di televisi dan VCD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidak harmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup konseli (terutama pada usia remaja) yang cenderung menyimpang dari kaidahkaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib Sekolah/Madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu Narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti: ganja, narkotika, ectasy, putau, dan sabusabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex). Penampilan perilaku remaja seperti di atas sangat tidak diharapkan, karena tidak sesuai dengan sosok pribadi manusia Indonesia yang dicita-citakan, seperti tercantum dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003), yaitu: (1) beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) berakhlak mulia, (3) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (4) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (5) memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri, serta (6) memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan tersebut mempunyai implikasi imperatif (yang mengharuskan) bagi semua tingkat satuan pendidikan untuk senantiasa memantapkan proses pendidikannya secara bermutu ke arah pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti disebutkan, adalah mengembangkan potensi konseli dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini

1

merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan konseli beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan konseli yang pintar dan terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian. Pada saat ini telah terjadi perubahan paradigma pendekatan bimbingan dan konseling, yaitu dari pendekatan yang berorientasi tradisional, remedial, klinis, dan terpusat pada konselor, kepada pendekatan yang berorientasi perkembangan dan preventif. Pendekatan bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling), atau bimbingan dan konseling komprehensif (Comprehensive Guidance and Counseling). Pelayanan bimbingan dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian (periksa lampiran 1). Dalam pelaksanaannya, pendekatan ini menekankan kolaborasi antara konselor dengan para personal Sekolah/ Madrasah lainnya (pimpinan Sekolah/Madrasah, guru-guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak ter-kait lainnya (seperti instansi pemerintah/swasta dan para ahli : psikolog dan dokter). Pendekatan ini terintegrasi dengan proses pendidikan di Sekolah/Madrasah secara keseluruhan dalam upaya membantu para konseli agar dapat mengem-bangkan atau mewujudkan potensi dirinya secara penuh, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi, sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. http://aace.ncat.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia. Bandung: ABKIN Bandura, A. (Ed.). (1995). Self-Efficacy in Changing Soceties. Cambridge, UK: Cambridge University Press. BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Balitbang Diknas. (2006). Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Draft. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK, Depsiknas. Cobia, Debra C. & Henderson, Donna A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey, Merrill Prentice Hall Corey, G. (2001). The Art of Integrative Counseling. Belomont, CA: Brooks/Cole. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2003). Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan

2

Pendidikan Tinggi, Direktorat Pendidikan Nasional.

Jenderal

Pendidikan Tinggi, Departemen

Engels, D.W dan J.D. Dameron, (Eds). (2005). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Alexandria, VA: AACD. Browers, Judy L. & Hatch, Patricia A. (2002). The National Model for School Counseling Programs. ASCA (American School Counselor Association). Comm, J.Nancy. (1992). Adolescence. California : Myfield Publishing Company. Depdiknas. (2003). Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Puskur Balitbang. Depdiknas, (2005), Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Depdiknas, 2006), Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, Depdiknas, (2006), Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL, Ellis, T.I. (1990). The Missouri Comprehensive Guidance Model. Columbia: The Educational Resources Information Center. Gibson R.L. & Mitchel M.H. (1986). Introduction to Counseling and Guidance. New York : MacMillan Publishing Company. Havighurts, R.J. (1953). Development Taks and Education. New York: David Mckay. Herr Edwin L. (1979). Guidance and Counseling in the Schools. Houston : Shell Com. Hurlock, Alizabeth B. (1956). Child Development. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Michigan School Counselor Association. (2005). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Muro, James J. & Kottman, Terry. (1995). Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Madison : Brown & Benchmark. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pikunas, Lustin. (1976). Human Development. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha,Ltd. Pusat Kurikulum, Balitbang Depdiknas. (2003). Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Sunaryo Kartadinata, dkk. (2003). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI, LIPI. Syamsu Yusuf L.N. (2005). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Bandung : CV Bani Qureys. ——–. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Remaja Rosda Karya.

3

Landasan Bimbingan dan Konseling. (1996). 1995. M. landasan psikologis. Boston : Allyn & Bacon. Abstrak : Agar dapat berdiri tegak sebagai sebuah layanan profesional yang dapat diandalkan dan memberikan manfaat bagi kehidupan. dengan mencakup: (1) landasan filosofis. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. namun harus berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh. (2) landasan psikologis. dapat semakin lebih mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat besar bagi kehidupan.Pd. Landasan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 25. baik dalam tataran teoritik maupun praktek. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Anita E.dan Juntika N. M. Untuk terhidar dari berbagai penyimpangan dalam praktek layanan bimbingan dan konseling. yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pendahuluan Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia. landasan filosofis.——–. 3 July’96. James A. Remaja Rosda Karya. Sebagai sebuah layanan profesional. kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Vol 24 No. selain berpijak pada keempat landasan tersebut juga perlu berlandaskan pada aspek pedagogis. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. A. Bandung : PT. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. Management. setiap konselor mutlak perlu memahami dan menguasai landasan-landasan tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Kata kunci : bimbingan dan konseling. Stoner. Dengan adanya pijakan yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling. maka layanan bimbingan dan konseling perlu dibangun di atas landasan yang kokoh. landasan sosial-budaya. Uman Suherman. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. religius dan yuridis-formal. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. (2005). Educational Psychology. London : Prentice-Hall International Inc. 4 . . dan (4) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) landasan sosial-budaya.Pd. Woolfolk. (1987). khususnya bagi para penerima jasa layanan (klien).

di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut : 1.tentang landasan bimbingan dan konseling. untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. khususnya pihak para penerima jasa layanan (klien) maka pemahaman dan penguasaan tentang landasan bimbingan dan konseling khususnya oleh para konselor tampaknya tidak bisa ditawartawar lagi dan menjadi mutlak adanya.sangat mungkin memiliki keterkaitan erat dengan tingkat pemahaman dan penguasaan konselor. dalam upaya memberikan pemahaman tentang landasan bimbingan dan konseling.. khususnya bagi para konselor. Dengan kata lain. B. apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien).– seperti adanya anggapan bimbingan dan konseling sebagai “polisi sekolah”. Alblaster & Lukes.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut. dalam Prayitno. yaitu landasan filosofis. atau berbagai persepsi lainnya yang keliru tentang layanan bimbingan dan konseling. 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut : • Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya. maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Thompson & Rudolph. tidak dibangun di atas landasan yang seharusnya. Oleh karena itu. secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling.. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh. landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum. Secara teoritik. Landasan Filosofis Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis.Agar aktivitas dalam layanan bimbingan dan konseling tidak terjebak dalam berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merugikan semua pihak. landasan sosial-budaya. Berbagai kesalahkaprahan dan kasus malpraktek yang terjadi dalam layanan bimbingan dan konseling selama ini. Landasan Bimbingan dan Konseling Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan. Selanjutnya. landasan psikologis. berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber. Dari berbagai aliran filsafat yang ada. dan landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi. mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. penyelenggaraan bimbingan dan konseling dilakukan secara asal-asalan.(Victor Frankl. seperti landasan dalam pengembangan kurikulum. dengan layanan bimbingan dan konseling. tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada. para penulis Barat . etis maupun estetis. Demikian pula. 5 . Ibarat sebuah bangunan. Patterson. melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang beberapa landasan yang menjadi pijakan dalam setiap gerak langkah bimbingan dan konseling. Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling.

menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. bakat. Landasan Psikologis Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). embisil atau ideot). ada yang sangat tinggi (jenius). Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu. (b) pembawaan dan lingkungan. normal atau bahkan sangat kurang (debil.• • • • • • • • Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya. Manusia pada hakikatnya positif. Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan. psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam.– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–. dan (e) kepribadian. kecerdasan. 2. (d) belajar. seperti : rasa lapar. manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu. golongan darah. Demikian pula dengan lingkungan. ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang 6 . Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya. Pembawaan dan Lingkungan Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan. Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri. bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar. Manusia memiliki dimensi fisik. Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri. beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi. Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Motif dan Motivasi Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir. atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Misalnya dalam kecerdasan. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. b. (c) perkembangan individu. Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. warna kulit. seperti rekreasi. a. Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidaktidaknya mengontrol keburukan. memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun. seperti struktur otot. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling. yang mencakup aspek psiko-fisik.

afektif maupun psikomotor/keterampilan. konselor harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya sekaligus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Hall dan Gardner Lindzey.dan menjadi tersia-siakan. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme. diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu. Perkembangan Individu Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya. ketegangan emosional. e. Kepribadian Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif. baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya. frustrasi dan konflik. moral dan sosial. c. (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif. baik dalam aspek kognitif. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar. Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan. (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier. dan ( Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa. serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan. (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual. bahasa dan kognitif/kecerdasan. Manusia belajar untuk hidup. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri. dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan. serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. dan (3) Teori Belajar Gestalt. (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi. sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik. 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan.memadai. Berangkat dari studi yang dilakukannya. Belajar Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi.. Tanpa belajar. akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. d. Dalam menjalankan tugas-tugasnya. (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial. Allport (Calvin S. 7 . diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme. (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial.

Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien. Teori Stimulus-Respons dari Throndike. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. Responsibilitas (tanggung jawab). psikologi perkembangan. Sejak lahirnya. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosial-budaya dimana ia hidup. atau putus asa. ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya.Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. maka 8 . atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi. Sikap. negatif atau ambivalen. Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. psikologi belajar atau psikologi pendidikan dan psikologi kepribadian. tampang. Watson. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak “dijembatani”. Seperti mau menerima resiko secara wajar. yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku. Seperti mudah tidaknya tersinggung. hormon. seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Hull. misalnya konstitusi dan kondisi fisik. konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya. Teori The Self dari Carl Rogers dan sebagainya. Teori Psikologi Individual dari Allport. diantaranya : Teori Psikoanalisa dari Sigmund Freud. Teori Medan dari Kurt Lewin. konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Begitu pula. yang mencakup : • • • • • • Karakter. atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan. yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. yaitu disposisi reaktif seorang. teori Personologi dari Murray. Stabilitas emosi. Horney dan Sullivan. setidaknya terdapat empat bidang psikologi yang harus dikuasai dengan baik. 3. sambutan terhadap objek yang bersifat positif. terdapat beberapa teori kepribadian yang sudah banyak dikenal. kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Fromm. Teori Analitik dari Carl Gustav Jung. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien. sedih. Landasan Sosial-Budaya Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian. yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. yaitu bidang psikologi umum. Oleh karena itu. agar konselor benar-benar dapat menguasai landasan psikologis. Sosiabilitas. cuci tangan. Untuk menjelaskan tentang kepribadian individu. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Teori Sosial Psikologis dari Adler. Temperamen. segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh. Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Sementara itu. konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Selain itu.

biologi. buku teks dan tulisan-tulisan ilmiah lainnya.tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbeda-beda. antroplogi. prosedur tes. dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. baik dalam pengembangan teori maupun prakteknya. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. yaitu : (a) perbedaan bahasa. Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. 2003). bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Pengembangan teori dan pendekatan bimbingan dan konseling selain dihasilkan melalui pemikiran kritis para ahli. Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia. inventory atau analisis laboratoris yang dituangkan dalam bentuk laporan penelitian. Pengetahuan tentang bimbingan dan konseling disusun secara logis dan sistematis dengan menggunakan berbagai metode. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Layanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang memiliki dasardasar keilmuan. baik yang menyangkut teori maupun prakteknya. Pederson dalam Prayitno (2003) mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya. (c) stereotipe. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural. juga dihasilkan melalui berbagai bentuk penelitian. layanan bimbingan dan konseling telah menekankan pentingnya logika. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. pemikiran. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika. maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi. pertimbangan dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel dalam Prayitno. yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa. statistik. Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihakpihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis. evaluasi. 4. Menurut Gausel (Prayitno. seperti: pengamatan. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling. ilmu hukum dan agama. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat. manajemen. dan bahkan mungkin bertolak belakang. sosiologi. 2003) bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling 9 . filsafat. Beberapa konsep dari disiplin ilmu tersebut telah diadopsi untuk kepentingan pengembangan bimbingan dan konseling. ilmu ekonomi. Sejak awal dicetuskannya gerakan bimbingan. analisis dokumen. yaitu kesamaan di atas keragaman. Moh. Sejalan dengan perkembangan teknologi. wawancara. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien. (b) komunikasi non-verbal. dan (e) kecemasan. ilmu pendidikan. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock. Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat “multireferensial”. seperti : psikologi. Beberapa disiplin ilmu lain telah memberikan sumbangan bagi perkembangan teori dan praktek bimbingan dan konseling. (d) kecenderungan menilai.

(b) sikap yang mendorong perkembangan dari perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai dengan kaidahkaidah agama. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau religi.pendidikan. Dikemukakan pula. baik berdasarkan hasil pemikiran kritisnya maupun melalui berbagai bentuk kegiatan penelitian. bimbingan dan konseling harus dibangun di atas landasan yang kokoh. konselor harus mampu mengembangkan pengetahuan dan teori tentang bimbingan dan konseling. Sebagai ilmuwan. yaitu: (a) pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan. dan (c) pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling. yaitu : (a) manusia sebagai makhluk Tuhan. maka peran konselor didalamnya mencakup pula sebagai ilmuwan sebagaimana dikemukakan oleh McDaniel (Prayitno. 2003) bahwa konselor adalah seorang ilmuwan. Surya (2006) bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. dalam bentuk “cyber counseling”. Keputusan Menteri serta berbagai aturan dan pedoman lainnya yang mengatur tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling di Indonesia. Moh. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Sebagai sebuah layanan profesional. Dengan adanya landasan ilmiah dan teknologi ini. landasan religius dan landasan yuridis-formal. (b) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling. Landasan religius dalam layanan bimbingan dan konseling ditekankan pada tiga hal pokok. Surya (2006) mengemukakan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Ditegaskan pula oleh Moh. Undang – Undang. yang bersumber dari Undang-Undang Dasar. Peraturan Pemerintah. Prayitno (2003) memperluas landasan bimbingan dan konseling dengan menambahkan landasan paedagogis. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Berkenaan dengan layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Landasan bimbingan dan konseling yang kokoh merupakan tumpuan untuk terciptanya layanan bimbingan dan konseling yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Landasan paedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling ditinjau dari tiga segi. Landasan yuridis-formal berkenaan dengan berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan konseling. C. 10 . Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual. dan (c) upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi) serta kemasyarakatan yang sesuai dengan dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah.

Surya. New York : McMillan Publishing. 2003. (b) pembawaan dan lingkungan. 2005. yang perlu dipertimbangakan dalam layanan bimbingan dan konseling. (c) landasan sosial-budaya. Learning & Instruction. SMA dan SMK Muhibbin Syah. kiranya perlu memperhatikan pula landasan pedagodis. Landasan sosial budaya berkenaan dengan aspek sosial-budaya sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Psikologi Pendidikan. Landasan psikologis berhubungan dengan pemahaman tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan bimbingan dan konseling. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. (d) belajar. termasuk di dalamnya mempertimbangkan tentang keragaman budaya. Sumber Bacaan : Abin Syamsuddin Makmun. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. Bandung : Refika Gerungan 1964. 2004. 2005. Landasan ilmu pengetahuan dan teknologi berkaitan dengan layanan bimbingan dan konseling sebagai kegiatan ilimiah.———-2006. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Psikologi Belajar. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius Depdiknas. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. yang harus senantiasa mengikuti laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat. dikaitkan dengan proses layanan bimbingan dan konseling. Theory Into Practice. Elizabeth B.. Hall & Gardner Lidzey (editor A. Developmental Phsychology. 11 . Gerlald Corey. 2003. 1980.M. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Arifin. di samping berlandaskan pada keempat aspek tersebut di atas. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Gendler. Hurlock. Layanan bimbingan dan konseling dalam konteks Indonesia. Jakarta. Bandung : PT ErescoH. Landasan filosofis terutama berkenaan dengan upaya memahami hakikat manusia. Bandung : P. PT Golden Terayon Press. meliputi : (a) motif dan motivasi. Remaja Rosdakarya. New Yuork : McGraw-Hill Book Company Moh.1992. Calvin S.Landasan bimbingan dan konseling meliputi : (a) landasan filosofis. landasan religius dan landasan yuridis-formal. dan (d) kepribadian. 1997. Psikologi Sosial. Jakarta : PT Raja Grafindo. Nana Syaodih Sukmadinata. dan (d) landasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Koswara). 2003. 2003. (c) perkembangan individu.T. Bandung PPB . Majalengka : Sanggar BK SMP. (b) landasan psikologis. Margaret E. Supratiknya).IKIP Bandung . E. Profesionalisme Konselor dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (makalah).

kepentingan lembaga tempat bekerja dan masyarakat. 2003.Prayitno. dan (7) mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal. 2004..2005. belajar (akademik). 1. Syamsu Yusuf LN. (2) mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya. Bandung : PT Rosda Karya Remaja. Willis. dkk. baik dalam kehidupan pribadi. (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). maupun masyarakat pada umumnya. kekuatan. keluarga. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling.———-. Depdiknas : Jakarta Sarlito Wirawan. Teori-Teori Psikologi Sosial. Teori dan Praktek. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan (musibah). 1984. masyarakat. Tujuan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain. Bandung : Alfabeta Sumadi Suryabrata. Jakarta : Depdiknas . (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin. (4) mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi. (4) memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri (5) menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya. maupun lingkungan kerja. penyesuaian dengan lingkungan pendidikan. Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu konseli agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya yang meliputi aspek pribadi-sosial. Psikologi Kepribadian.Konseling Individual. mereka harus mendapatkan kesempatan untuk: (1) mengenal dan memahami potensi. serta 12 . dan karir. (6) menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya. dan tugas-tugas perkem-bangannya. Jakarta : Rajawali. Jakarta : Raja Grafindo Sofyan S. lingkungan masyarakat serta lingkungan kerjanya. dkk. 2004. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.——–2003. 2004. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Sekolah/Madrasah. Jakarta : Rineka Cipta . 2008 Tujuan pelayanan bimbingan ialah agar konseli dapat: (1) merencanakan kegiatan penyelesaian studi. dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial konseli adalah: • • • Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. tempat kerja. (3) mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan tersebut. perkembangan karir serta kehidupan-nya di masa yang akan datang. pergaulan dengan teman sebaya.

seperti membuat jadwal belajar. dengan cara mengenali ciri-ciri pekerjaan. mengerjakan tugas-tugas. kemampuan. kemampuan dan minat. prospek kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun. dan kondisi kehidupan sosial ekonomi. tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. 13 . minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.• • • • • • • dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut. mencatat pelajaran. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif. dan sesuai dengan norma agama. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian. Apabila seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru. mengggunakan kamus. seperti kebiasaan membaca buku. yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat. dan kesejahteraan kerja. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. dan berusaha memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan wawasan yang lebih luas. 3. dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang diprogramkan. Memiliki rasa tanggung jawab. baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan. yaitu kecenderungan arah karir. dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. atau silaturahim dengan sesama manusia. seperti keterampilan membaca buku. mempunyai perhatian terhadap semua pelajaran. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan. 2. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat yang dimiliki. asal bermakna bagi dirinya. Dapat membentuk pola-pola karir. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi karir. disiplin dalam belajar. maka dia senantiasa harus mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir keguruan tersebut. dan memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar yang dialaminya. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan. Oleh karena itu. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. menghormati atau menghargai orang lain. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat. lingkungan sosiopsikologis pekerjaan. baik fisik maupun psikis. Mengenal keterampilan. yang diwujudkan dalam bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir adalah : • • • • • • • • Memiliki pemahaman diri (kemampuan. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship). tanpa merasa rendah diri. kemampuan (persyaratan) yang dituntut. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek akademik (belajar) adalah : • • • • • • Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif. memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu. maka setiap orang perlu memahami kemampuan dan minatnya. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain. persaudaraan. yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat Bersikap respek terhadap orang lain.

Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (1953). Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. 14 .Nancy. Donna A. Depsiknas. Depdiknas. (Eds). The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (1979). J. Introduction to Counseling and Guidance. (1992). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. D. Adolescence. New York : McGraw Hill Book Company Inc. (2005). Bandung: ABKIN Bandura. Herr Edwin L. Guidance and Counseling in the Schools. Alizabeth B. New York : MacMillan Publishing Company. UK: Cambridge University Press. California : Myfield Publishing Company. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. R. (Ed. (1986). New Jersey. The National Model for School Counseling Programs. Judy L. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (2003). Balitbang Diknas. & Henderson. Hurlock. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Columbia: The Educational Resources Information Center. The Art of Integrative Counseling. (2005). Depdiknas. (2006). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. (1995). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Patricia A. G.W dan J. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Comm. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. (2003).H. (2003).I. (1990). Browers.).D. Draft. Handbook of School Counseling. Dameron. Debra C.L. Havighurts.J. Depdiknas. Merrill Prentice Hall Corey. T. (2006). DAFTAR RUJUKAN AACE. (2003). Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir. Child Development. & Mitchel M. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Cobia. Development Taks and Education. A. Alexandria. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Ellis. Engels. Belomont. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional. (2002). (1956). Cambridge. (2005). CA: Brooks/Cole. New York: David Mckay. Houston : Shell Com. (2007). ASCA (American School Counselor Association).• dalam bidang pekerjaan apa dia mampu.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Depdiknas. 2006). http://aace. dan apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut. Gibson R. Self-Efficacy in Changing Soceties. The Missouri Comprehensive Guidance Model. & Hatch.ncat. (2001). Jakarta: Puskur Balitbang. VA: AACD. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor.

Sunaryo Kartadinata. Berdasarkan pemahaman ini. 2004. (1996). Madison : Brown & Benchmark. James J. konseli diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal. & Kottman. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Landasan Bimbingan dan Konseling. dan norma agama). Anita E. 2. (2005). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. 2006.Pd. Bandung : Remaja Rosda Karya.Menteri Pendidikan Nasional. Woolfolk. The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Management.dan Juntika N. (1987). M. Bandung : CV Bani Qureys. 2008 Fungsi Bimbingan dan Konseling adalah : 1. Lustin. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Fungsi Pemahaman. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU Fungsi. ——–. (1976). LIPI. Stoner. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Michigan School Counselor Association. Jakarta : Balitbang Depdiknas. 1995. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Educational Psychology. Boston : Allyn & Bacon. yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya 15 . (1995). (2005). (2003). James A. Pusat Kurikulum. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. pekerjaan. (2003). (2005). Muro. Vol 24 No. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). ——–. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling.N. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Pikunas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Uman Suherman. Balitbang Depdiknas. dkk. Syamsu Yusuf L. 2006. Bandung : PT. 3 July’96. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. London : Prentice-Hall International Inc. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Human Development. yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan. Prinsip dan Asas Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. Remaja Rosda Karya.Ltd. Fungsi Preventif. Terry.

3. 4. 9. baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah. drop out. diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming). 7. Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai konseli. 8. Fungsi Adaptasi. berperasaan dan bertindak (berkehendak). 10. penyalahgunaan obatobatan. selaras dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli. supaya tidak dialami oleh konseli. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya. jurusan atau program studi. sosial. informasi. dan karyawisata. baik menyangkut aspek pribadi. yang memfasilitasi perkembangan konseli. rasional dan memiliki perasaan yang tepat sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tindakan atau kehendak yang produktif dan normatif. rekreatif dan fakultatif (pilihan) sesuai dengan minat konseli Terdapat beberapa prinsip dasar yang dipandang sebagai fundasi atau landasan bagi pelayanan bimbingan. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler. 5. dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. memilih metode dan proses pembelajaran. baik di Sekolah/Madrasah maupun di luar Sekolah/Madrasah. merokok. Dalam melaksanakan fungsi ini. serasi. Fungsi Pengembangan. 6. dan pergaulan bebas (free sex). Prinsip-prinsip ini berasal dari konsep-konsep filosofis tentang kemanusiaan yang menjadi dasar bagi pemberian pelayanan bantuan atau bimbingan. konselor. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para konseli dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan. Melalui fungsi ini. kepala Sekolah/Madrasah dan staf. yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah pelayanan orientasi.untuk mencegahnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. home room. yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan. Fungsi ini memfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang akan menyebabkan penurunan produktivitas diri. Fungsi Fasilitasi. yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif. Fungsi Perbaikan. kemampuan. memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Fungsi Penyesuaian. dan kebutuhan konseli. Fungsi Pemeliharaan. belajar. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah. pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan konseli secara tepat. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. bakat. yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berfikir. tutorial. konselor memberikan bimbingan kepada konseli tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. dan remedial teaching. dan bimbingan kelompok. Konselor melakukan intervensi (memberikan perlakuan) terhadap konseli supaya memiliki pola berfikir yang sehat. maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan konseli. konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan. dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan. Fungsi Penyaluran. Fungsi Penyembuhan. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi. minat. Pelaksanaan fungsi ini diwujudkan melalui program-program yang menarik. maupun karir. Prinsip-prinsip itu adalah: 16 . diantaranya : bahayanya minuman keras.

remaja. dan peluang untuk berkembang. 2. 2. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan tersebut. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki adanya kesukaan dan kerelaan konseli (konseli) mengikuti/menjalani pelayanan/kegiatan yang diperlu-kan baginya. tetapi juga tugas guru-guru dan kepala Sekolah/Madrasah sesuai dengan tugas dan peran masing-masing. Bimbingan dan konseling Berlangsung dalam Berbagai Setting (Adegan) Kehidupan. maupun dewasa. Tujuan utama bimbingan adalah mengembangkan kemampuan konseli untuk memecahkan masalahnya dan mengambil keputusan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut dirahasiakanya segenap data dan keterangan tentang konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan. Asas keterbukaan.1. Asas Kerahasiaan. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua konseli atau konseli. Dalam hal ini pendekatan yang digunakan dalam bimbingan lebih bersifat preventif dan pengembangan dari pada penyembuhan (kuratif). Asas kesukarelaan. tetapi kemampuan yang harus dikembangkan. baik pria maupun wanita. 4. dan melalui bimbingan konseli dibantu untuk memaksimalkan perkembangan keunikannya tersebut. tetapi juga di lingkungan keluarga. bimbingan sebenarnya merupakan proses bantuan yang menekankan kekuatan dan kesuksesan. Bimbingan menekankan hal yang positif. 3. menyesuaikan diri. 1. 3. Bidang pelayanan bimbingan pun bersifat multi aspek. karena bimbingan dipandang sebagai satu cara yang menekan aspirasi. baik anakanak. sosial. Keterlaksanaan dan keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling sangat ditentukan oleh diwujudkannya asas-asas berikut. Mereka bekerja sebagai teamwork. Setiap konseli bersifat unik (berbeda satu sama lainnya). dan menyempurnakan tujuan melalui pengambilan keputusan yang tepat. Kemampuan untuk membuat pilihan secara tepat bukan kemampuan bawaan. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban mengembangkan keterbukaan konseli (konseli). dan bimbingan memfasilitasi konseli untuk memper-timbangkan. memberikan dorongan. dan pekerjaan. Dalam kenyataan masih ada konseli yang memiliki persepsi yang negatif terhadap bimbingan. yaitu meliputi aspek pribadi. dan masyarakat pada umumnya. 5. dan lebih diutamakan teknik kelompok dari pada perseorangan (individual). lembaga-lembaga pemerintah/swasta. Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri 17 . Sangat berbeda dengan pandangan tersebut. Bimbingan bukan hanya tugas atau tanggung jawab konselor. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan bersifat terbuka dan tidak berpura-pura. Kehidupan konseli diarahkan oleh tujuannya. yang itu semua sangat penting baginya dalam mengambil keputusan. 6. Bimbingan mempunyai peranan untuk memberikan informasi dan nasihat kepada konseli. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. pendidikan. karena bimbingan merupakan cara untuk membangun pandangan yang positif terhadap diri sendiri. yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan itu sehingga kerahasiaanya benar-benar terjamin. baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua konseli. meskipun pelayanan bimbingannya menggunakan teknik kelompok. Pemberian pelayanan bimbingan tidak hanya berlangsung di Sekolah/Madrasah. Bimbingan diarahkan untuk membantu konseli agar dapat melakukan pilihan dan mengambil keputusan. perusahaan/industri. baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna bagi pengembangan dirinya. Pengambilan Keputusan Merupakan Hal yang Esensial dalam Bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling Merupakan Usaha Bersama. Prinsip ini juga berarti bahwa yang menjadi fokus sasaran bantuan adalah konseli.

http://aace. Untuk ini kerja sama antara guru pembimbing dan pihakpihak yang berperan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus dikembangkan. Asas Alih Tangan Kasus. dan mengamalkan nilai dan norma tersebut. Guru pembimbing dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua. yaitu nilai dan norma agama. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar konseli (konseli) yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif di dalam penyelenggaraan pelayanan/kegiatan bimbingan. Asas Kekinian. Lebih jauh. mampu mengambil keputusan. dan terpadu. dan kebiasaan yang berlaku. atau ahli lain . 8. baik yang dilakukan oleh guru pembimbing maupun pihak lain. 10. hukum dan peraturan. Pelayanan yang berkenaan dengan “masa depan atau kondisi masa lampau pun” dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan apa yang diperbuat sekarang. 5.edu 18 . saling menunjang. 4. dan terus berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu. tidak monoton. 6. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menunjuk pada tujuan umum bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling. Keprofesionalan guru pembimbing harus terwujud baik dalam penyelenggaraan jenis-jenis pelayanan dan kegiatan dan konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling. Agar konseli dapat terbuka. Asas kemandirian. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar segenap pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai dan norma yang ada. Asas Kedinamisan. Asas kegiatan. ilmu pengetahuan. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan konseli (konseli) mengalihtangankan permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat meningkatkan kemampuan konseli (konseli) memahami. dan demikian pula guru pembimbing dapat mengalihtangankan kasus kepada guru mata pelajaran/praktik dan lain-lain. Guru pembimbing hendaknya mampu mengarahkan segenap pelayanan bimbingan dan konseling yang diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian konseli. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan terhadap sasaran pelayanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu bergerak maju. guruguru lain. para pelaksana pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendaklah tenaga yang benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar objek sasaran pelayanan bimbingan dan konseling ialah permasalahan konseli (konseli) dalam kondisinya sekarang. menghayati. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. 9. harmonis. Asas Keterpaduan. 7. Asas Keharmonisan. 11. Asas Keahlian.ncat. (2003). Koordinasi segenap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. adat istiadat. Dalam hal ini.konseli yang menjadi sasaran pelayanan/kegiatan. guru pembimbing terlebih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpura-pura. yakni: konseli (konseli) sebagai sasaran pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi konseli-konseli yang mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan menerima diri sendiri dan lingkungannya. Dalam hal ini guru pembimbing perlu mendorong konseli untuk aktif dalam setiap pelayanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diperuntukan baginya. Bukanlah pelayanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat dipertanggungjawabkan apabila isi dan pelaksanaannya tidak berdasarkan nilai dan norma yang dimaksudkan itu. DAFTAR RUJUKAN AACE. yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.

The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. Herr Edwin L. Self-Efficacy in Changing Soceties. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. 2006. 19 . The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. (1956). Donna A. Belomont. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (1990). Comm. Browers. California : Myfield Publishing Company. Columbia: The Educational Resources Information Center. & Henderson.L. (2002). Balitbang Diknas. T. The National Model for School Counseling Programs.Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Michigan School Counselor Association. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). ASCA (American School Counselor Association). UK: Cambridge University Press. Judy L. Havighurts. Jakarta: Puskur Balitbang. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. R. New Jersey. Engels. (1992). BSNP dan PUSBANGKURANDIK.D. 2006). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. (Ed. (2003). Cobia.). (2007). New York : McGraw Hill Book Company Inc. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. The Art of Integrative Counseling. New York: David Mckay. (1953). Hurlock. Depdiknas. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Gibson R.W dan J. Child Development. Introduction to Counseling and Guidance. G. Houston : Shell Com. (2003).J. Departemen Pendidikan Nasional. (2006). (2006). Menteri Pendidikan Nasional. Draft. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. (2001). Adolescence. Guidance and Counseling in the Schools. Merrill Prentice Hall Corey. J. Alizabeth B. & Mitchel M. (2005).H. Depsiknas. (2005).Nancy. (2003). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. VA: AACD. Handbook of School Counseling. (1995). The Missouri Comprehensive Guidance Model. (2005). Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Ellis. Bandung: ABKIN Bandura. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Development Taks and Education. Debra C. Patricia A. (1979). CA: Brooks/Cole. (1986). (2005). Depdiknas. D. Alexandria. Depdiknas. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. A.I. 2006. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. New York : MacMillan Publishing Company. Dameron. Depdiknas. & Hatch. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. (Eds). Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. Cambridge.

M. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. dan warga lingkungan sosial yang lebih luas. Bandung : Remaja Rosda Karya. Bandung : PT. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai informasi. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial yang sehat dan efektif dengan teman sebaya. Anita E. Management. Jakarta : Balitbang Depdiknas. (1976).Muro. Lustin. serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik. Educational Psychology. Pikunas. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). menilai. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. LIPI. Bandung : CV Bani Qureys. (1996). Madison : Brown & Benchmark. Human Development.dan Juntika N. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Bidang Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. ——–. Woolfolk. (2003). (2005). pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami. 3 July’96. Boston : Allyn & Bacon. James A.N. Pusat Kurikulum. Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. 2008 • • • • Pengembangan kehidupan pribadi. 1995. dan mengembangkan potensi dan kecakapan. 20 . Pengembangan kehidupan sosial. ——–. (2005). dkk. & Kottman.Ltd. Pengembangan karir. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. yaitu bidang pelayanan yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan belajar dalam rangka mengikuti pendidikan sekolah/madrasah dan belajar secara mandiri. Sunaryo Kartadinata. 2004. Stoner. Uman Suherman. London : Prentice-Hall International Inc. Syamsu Yusuf L.Pd. serta memilih dan mengambil keputusan karir. Balitbang Depdiknas. Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. Vol 24 No. Pengembangan kemampuan belajar. bakat dan minat. Landasan Bimbingan dan Konseling. (1995). James J. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (2003). anggota keluarga. Terry. Remaja Rosda Karya. (1987). “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist.

dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. dalam bidang pribadi. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas. kegiatan ko/ekstra kurikuler. program latihan. serta untuk 21 . dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial.Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru. magang. untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. diantaranya: Layanan Orientasi. serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. pendidikan lanjutan). Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan. terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari. layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. minat dan segenap potensi lainnya. terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa. layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial. belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan. yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. • • • • Layanan Konten. Layanan Penempatan dan Penyaluran. dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat. Layanan Bimbingan Kelompok. sosial. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi. layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. 2008 Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman. karier. sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. pergaulan. Layanan Konseling Perorangan. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai. Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu. layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar. Layanan Informasi. kelompok belajar. jurusan/program studi.

Pertemuan konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten. yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan. 22 . merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan. seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor. Kunjungan Rumah. dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik. Konferensi Kasus. baik tes maupun non tes. merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan keterangan. Himpunan Data. mencakup : • • • • • Aplikasi Instrumentasi Data. Kerja sama dengan orang tua sangat diperlukan. dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Konsultasi. yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antarmereka. dokter serta ahli lainnya. kemudahan.• • • pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya. kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien. Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas. layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. merupakan kegiatan untuk memperoleh data. yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen. dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan. keterangan. Tujuan konferensi kasus adalah untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak yang terkait dan memiliki pengaruh kuat terhadap klien dalam rangka pengentasan permasalahan klien. perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung. Mediasi. Alih Tangan Kasus. dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien. sistematik. pemahaman. dengan tujuan untuk memperoleh keterangan dan membangun komitmen dari pihak orang tua/keluarga untuk mengentaskan permasalahan klien. terpadu dan sifatnya tertutup. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan Layanan Konseling Kelompok. komprehensif. merupakan kegiatan untuk untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten. merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

diantaranya : (1) keadaan ekonomi. sikap. rencana-rencana pribadi dan semacamnya mulai turut dipertimbangkan. Pada model okupasional lebih menekankan pada kesesuaian antara bakat dengan tuntutan dan persyaratan pekerjaan. akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan. (2) keadaan sosial. Isitilah vocational guidance pertama kali dipopulerkan oleh Frank Pearson pada tahun 1908 ketika ia berhasil membentuk suatu lembaga yang bertujuan untuk membantu anakanak muda dalam memperoleh pekerjaan. maka muncullah gerakan bimbingan jabatan (vocational guidance) yang tersebar ke seluruh negara (Crites. 1981 dalam Bahrul Falah. dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. M. Helmotz dan Wundt. 2008 oleh : Akhmad Sudrajat. Pada awalnya penggunaan istilah vocational guidance lebih merujuk pada usaha membantu individu dalam memilih dan mempersiapkan suatu pekerjaan. dan (4) perkembangan ilmu (scientific). Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul. 23 . (3) kondisi ideologis. psikometrik yang dikembangkan oleh Cattel. Sedangkan pada model karier. tidak hanya sekedar memberikan penekanan tentang pilihan pekerjaan. seperti adanya kegelisahan untuk membentuk kembali dan menyebarkan pemikiran tentang kemampuan seseorang dalam rangka meningkatkan kemampuan diri dan statusnya. Kedua model ini memliki perbedaan yang cukup mendasar. Binnet dan yang lainnya Atas desakan kondisi tersebut. Namun sejak tahun 1951. seperti urbanisasi. yang dilatari oleh berbagai kondisi obyektif pada waktu itu (1850-1900). 1987). khususnya dalam bidang ilmu psiko-fisik dan psikologi eksperimantal yang dipelopori oleh Freechner. terutama dalam landasan individu untuk memilih jabatan. namun mencoba pula menghubungkannya dengan konsep perkembangan dan tujuan-tujuan yang lebih jauh sehingga nilai-nilai pribadi. Konsep bimbingan jabatan lahir bersamaan dengan konsep bimbingan di Amerika Serikat pada awal abad keduapuluh. termasuk didalamnya berupaya mempersiapkan kemampuan yang diperlukan untuk memasuki suatu pekerjaan.Pd. konsep diri.Konsep Bimbingan Karier Diterbitkan Februari 7. para ahli mengadakan perubahan pendekatan dari model okupasional (occupational) ke model karier (career).

Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi. sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini. dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah. bidang bimbingan karier diarahkan untuk : 24 . yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994. Sementara itu. pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya. bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994. dalam perspektif pendidikan nasional. maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting. Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA. khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill). pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an. Selanjutnya. berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang. Dalam perkembangannya. bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat.Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. dalam bentuk cyber counseling. bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi. Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya.

yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA. Bimbingan dan Konseling (Makalah).. perusahaan. pekerjaan apa yang paling cocok untuk saya kelak setelah menamatkan pendidikan ? 25 . Namun. belajar ataupun kariernya. baik yang berhubungan kehidupan pribadi. 2008 Oleh : AKHMAD SUDRAJAT. Bimbingan Karier dengan Pendekatan Muslihudin. Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi. 2004) Sumber : Bahrul Falah. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). M. 2004. 1983. Jakarta : BP3K. Bandung : LPMP Jawa Barat. baik yang berhubungan dengan diri pribadi. Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan. mereka mempertanyakan. berbangsa dan bernegara. sosial. Salah satunya adalah kesulitan dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan rencana-rencana karier yang akan dipilihnya kelak. bermasyarakat. (Muslihudin. Seorang siswa dalam kehidupannya akan dihadapkan dengan sejumlah alternatif. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan. 2.Pd. sosial. 3.1. Ke Arah Pengertian Developmental. dari sejumlah jenis pekerjaan yang ada. industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. adakalanya siswa mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dalam menentukan alternatif mana yang seyogyanya dipilih. Mereka dihadapkan dengan sejumlah pilihan dan permasalahan tentang rencana kariernya. Informasi Karier Diterbitkan Februari 4. dkk. pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi. 1987. 5. 4. khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan. Hattari. dkk. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi. Diantaranya. 6. belajar maupun kariernya. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya. Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung.

Hanya perlu dipertimbangkan jika memang sekolah sudah dapat menyelenggarakan pemeriksaan psikologis/tes psikologis. Materi Informasi. minat. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya. dalam upaya pemberian layanan informasi seyogyanya dibutuhkan sikap arif dan selektif dari konselor dalam memilih berbagai materi informasi. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan. yang tentunya tidak semua siswa dapat memaknainya sendiri. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat. baik melalui media cetak atau eleltronik.Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan. maka penyampaian materi hasil-hasil pemeriksaan psikologis harus benar-benar dilaksanakan secara cermat dan di bawah pengawasan konselor. cita-cita. karena begitu banyak dan beragamnya jenis informasi yang dapat diakses. Dalam era informasi dewasa ini sesungguhnya kemudahan untuk memperoleh informasi sangat terbuka. maka dengan mudah dan dalam waktu relatif singkat kita dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jenis informasi melalui internet. jenis pekerjaan. Data-data personal ini memang perlu dipahami dan dimaknai oleh siswa. Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa. Dalam memberikan layanan informasi karier setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan yaitu tentang : (1) materi informasi dan (2) teknik layanan informasi. persyaratan. Dalam hal ini. berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. pasar kerja. karier. bakat. seperti kecerdasan. biasanya data hasil pemeriksaan psikologis dideskripsikan dalam bahasa/terminologis tertentu. Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa. Untuk itulah. Di samping itu. Namun. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya. sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. baik tentang bakat. ciri-ciri pekerjaan. sehingga tidak mustahil dapat menimbulkan kekacauan informasi. dan sebagainya. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier. Untuk itulah. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA. yang sekiranya benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi siswa. materi informasi yang bersifat personal. jenis dan prospek pekerjaan. Terutama setelah adanya kemajuan yang menakjubkan dalam bidang teknologi komputer multi media. serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik. seperti kondisi sosio-kultural. ciri-ciri 26 . Karena. ciri-ciri kepribadian atau minat pekerjaan perlu dikuasai oleh siswa. karena dengan adanya pemahaman tentang diri sendiri. dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi. seperti bakat. sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak. diantaranya: • • • • • • Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier.

dapat dilakukan dengan cara siswa diajak langsung untuk berkunjung dan melakukan pengamatan ke perusahaan tertentu. agar siswa dapat belajar secara langsung menjelajah dan menggali berbagai informasi karier yang tersedia dalam internet. Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. juga dapat menunjukkannya kepada siswa. yakni dengan menyediakan papan informasi untuk menempelkan berbagai bentuk tulisan yang mengandung nilai informasi. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri. maka dalam hal ini tidak salahnya konselor untuk belajar menguasai teknologi internet untuk menjelajah situs-situs yang menyediakan informasi yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. maka di samping konselor dapat memperoleh berbagai tambahan informasi untuk dirinya. atau minat pekerjaannya. siswa akan dapat lebih akurat lagi dalam mengambil keputusan kariernya. artikel. Selain itu. konselor dituntut secara kreatif untuk dapat mengoleksi berbagai tulisan. dapat dilakukan pula melalui media “papan bimbingan”. Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. tentu saja dibutuhkan sosiabilitas yang tinggi dari konselor untuk dapat menjalin hubungan secara luas dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi siswa dalam proses penggalian informasi. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. dalam rangka menambah wawasan. misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Jakarta : P2LPTK Depdikbud (1995). Misalkan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Dengan mengenal situs-situs yang berkenaan dengan dunia pekerjaan/karier. juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. keterangan.Jakarta : IPBI 27 . layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa. (1995). Untuk itu. Sumber bacaan : Prayitno dan Erman Anti. Selain itu. Sebagaimana telah disinggung di atas. atau klipping yang berhubungan dengan karier. untuk memahami tentang kondisi nyata kehidupan di suatu perusahaan. sesuai dengan karakterisitik diri yang dimikinya. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian. berdasarkan hasil pengalamannya.kepribadian. sekaligus dapat membangun dan mengembangkan sikap-sikap positif dan konstruktif terhadap pekerjaan. menggali dan mengolah serta menarik kesimpulan dari informasi yang diperolehnya. Dari hasil kunjungan. dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber. Penggunaan teknik layanan informasi seyogyanya lebih mengedepankan aktivitas dan partisipasi siswa dalam menentukan kebutuhan. bahwa sumber informasi saat ini dapat dengan mudah diakses melalui teknologi komputer multi media. siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan. yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata. yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan keputusan kariernya. Jika mengacu pada teori kontruktivisme yang saat ini sedang dikembangkan. Teknik Layanan Informasi Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa. Dalam hal ini.

Jakarta : Gramedia 15 Kekeliruan Pemahaman tentang Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 11. (1991). seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum bimbingan dan konseling). yaitu sama-sama menginginkan 28 . Perbedaan terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. tetapi juga banyak ditemukan di kalangan orang-orang yang terlibat langsung dengan bimbingan dan konseling. Walaupun guru dalam melaksanakan pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswanya.S. dan beberapa kegiatan khas Bimbingan dan Konseling lainnya. (1997). Prayitno (2003) telah mengidentifikasi 15 kekeliruan pemahaman orang dalam melihat bimbingan dan konseling. Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling. baik dalam tataran konsep maupun praktiknya yang tentunya sangat mengganggu terhadap pencitraan dan laju pengembangan profesi ini. namun kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui pelayanan pengajaran semata. Dalam hal ini. W. Bimbingan dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisah dari pendidikan. pelayanan responsif. Dalam hal-hal tertentu memang terdapat persamaan antara pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. perencanaan individual. 2008 Perjalanan bimbingan dan konseling menuju sebuah profesi yang handal hingga saat ini tampaknya masih harus dilalui secara tertatih-tatih. Kelimabelas kekeliruan pemahaman itu adalah : 1.Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . Materi Sajian Penataran Guru Pembimbing SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. dimana masing-masing memiliki karakteristik tugas dan fungsi yang khas dan berbeda (1). Begitu pula. Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dan tujuan yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan pengajaran dan/atau manajemen). Bimbingan dan Konseling disamakan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan. Kekeliruan pemahaman ini tidak hanya terjadi di kalangan orang-orang yang berada di luar Bimbingan dan Konseling. Mereka sama sekali tidak melihat arti penting bimbingan dan konseling di sekolah. yaitu mengantarkan para siswa untuk memperoleh perkembangan diri yang optimal. karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Menyamakan pekerjaan Bimbingan dan Konseling dengan pekerjaan dokter dan psikiater. Sementara ada juga yang berpendapat pelayanan bimbingan dan konseling harus benarbenar terpisah dari pendidikan dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secara nyata dibedakan dari praktik pendidikan sehari-hari. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. 2.

melakukan prognosis atau pun penyembuhannya. Masalahnya. sementara bimbingan dan konseling memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi. Bimbingan dan Konseling dibatasi hanya untuk siswa tertentu saja. Pekerjaan bimbingan dan konseling dilakukan berdasarkan program yang sistematis dan terencana. Misalkan. pekerjaan bimbingan dan konseling tidaklah persis sama dengan pekerjaan dokter atau psikiater. Jika seseorang mengalami keabnormalan yang akut tentunya menjadi wewenang psikiater atau dokter untuk penyembuhannya. 29 . khususnya dalam rangka pelayanan responsif. serta teknis medis lainnya. Sasaran Bimbingan dan Konseling adalah hanya orang-orang normal yang mengalami masalah. modifikasi perilaku. Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. yang di dalamnya mengggambarkan sejumlah pekerjaan bimbingan dan konseling yang bersifat proaktif dan antisipatif. tidak sedikit petugas bimbingan dan konseling yang tergesa-gesa dan kurang hati-hati dalam mengambil kesimpulan untuk menyatakan seseorang tidak normal.konseli/pasien terbebas dari penderitaan yang dialaminya. tetapi hal ini bukan berarti bimbingan dan konseling dikerjakan secara spontan dan hanya bersifat reaktif atas masalah-masalah yang muncul pada saat itu. Bimbingan dan Konseling dibatasi pada hanya menangani masalah-masalah yang bersifat insidental. Setiap siswa berhak dan mendapat kesempatan pelayanan yang sama. menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas. Kendati demikian. bukan menggali sesuatu yang lebih dalam dibalik tidak masuk kelasnya. Bimbingan dan Konseling tidak hanya diperuntukkan bagi siswa yang bermasalah atau siswa yang memiliki kelebihan tertentu saja. upaya-upaya perbaikan dengan teknik-teknik khas bimbingan dan konseling. 3. Memang tidak dipungkiri pekerjaan bimbingan dan konseling salah satunya bertitik tolak dari masalah yang dirasakan siswa. 6. 5. Bimbingan dan Konseling menangani masalah yang ringan. baik dalam mengungkap masalah konseli/pasien. pengembangan maupun penyembuhan (pengentasan) 4. melalui berbagai bentuk pelayanan bimbingan dan konseling yang tersedia. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Pelayanan bantuan pun langsung dihentikan dan dialihtangankan (referal). melalui berbagai teknik yang telah teruji sesuai dengan masing-masing bidang pelayanannya. Bimbingan dan Konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang/tidak normal”. mendiagnosis. penguatan mental/psikis. pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas. Melalui bantuan psikologis yang diberikan konselor diharapkan orang tersebut dapat terbebaskan dari masalah yang menghinggapinya. 7. Dokter dan psikiater bekerja dengan orang sakit sedangkan konselor bekerja dengan orang yang normal (sehat) namun sedang mengalami masalah. Pelayanan Bimbingan dan Konseling berpusat pada keluhan pertama (gejala) saja. baik untuk kepentingan pencegahan.Cara penyembuhan yang dilakukan dokter atau psikiater bersifat reseptual dan pemberian obat. namun bimbingan dan konseling harus dapat melayani seluruh siswa (Guidance and Counseling for All). pengubahan lingkungan.

Sebagai tenaga profesional konselor atau guru pembimbing harus mampu bekerja sendiri. konselor atau guru pembimbing tidak boleh terlalu mengharapkan bantuan ahli atau petugas lain. melainkan proses yang sarat dengan unsur-unsur budaya. Bimbingan dan Konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat. bahkan diberi wewenang bagi siswa yang bersalah. seperti “praktik pribadi”. Konselor perlu bekerja sama dengan orang-orang yang diharapkan dapat membantu penanggulangan masalah yang sedang dihadapi oleh klien. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri atau harus bekerja sama dengan ahli atau petugas lain Pelayanan bimbingan dan konseling bukanlah proses yang terisolasi. sekolah dan masyarakat sekitarnya. tanpa tergantung pada ahli atau petugas lain. disiplin dan keamanan di sekolah. Guru pembimbing harus pandai menjalin hubungan kerja sama yang saling mengerti dan saling menunjang demi terbantunya siswa yang mengalami masalah itu.siswa.Ukuran berat-ringannya suatu masalah memang menjadi relatif.Dalam hal ini peranan guru mata pelajaran. seringkali masalah seseorang dianggap sepele. tempat mencurahkan kepentingan apa-apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa.Masalah itu sering kali saling terkait dengan orang tua. 10. Pekerjaan yang 30 . Di sekolah misalnya. Namun demikian. Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin menyendiri. Oleh sebab itu penanggulangannya tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru pembimbing saja .Tidak jarang konselor diserahi tugas mengusut perkelahian ataupun pencurian.dan lingkungan. Pemberian nasihat hanyalah merupakan sebagian kecil dari upaya-upaya bimbingan dan konseling. terkait pula dengan berbagai unsur lingkungan rumah. Begitu pula sebaliknya. Pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. orang tua. Dengan kekuatan inti bimbingan dan konseling pada pendekatan interpersonal. Masih banyak anggapan bahwa bimbingan dan konseling adalah “polisi sekolah” yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib. Guru mata pelajaran merupakan mitra bagi guru pembimbing. namun setelah diselami lebih dalam ternyata masalah itu sangat kompleks dan berat. konselor justru harus bertindak dan berperan sebagai sahabat kepercayaan siswa. Jika segenap kemampuan konselor sudah dikerahkan namun belum juga menunjukan perbaikan maka konselor seyogyanya mengalihtangankan masalah (referal) kepada pihak yang lebih kompeten 8. Bimbingan dan konseling bukan hanya bantuan yang berupa pemberian nasihat. pemberi informasi. masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa tidak berdiri sendiri.sosial. dan pembina perilaku-perilaku positif yang dikehendaki sehingga siapa pun yang berhubungan dengan bimbingan konseling akan memperoleh suasana sejuk dan memberi harapan. khususnya dalam menangani masalah-masalah belajar. pembangun kekuatan.dan piha-pihak lain. Di samping itu guru pembimbing harus pula memanfaatkan berbagai sumber daya yang ada dan dapat diadakan untuk kepentingan pemecahan masalah siswa. Dalam menangani masalah siswa guru pembimbing harus harus berani melaksanakan pelayanan. artinya pelayanan itu dilaksanakan sendiri tanpa menunggu bantuan orang lain atau tanpa campur tangan ahli lain. Terlepas berat-ringannya yang paling penting bagi konselor adalah berusaha untuk mengatasinya secara cermat dan tuntas. dan pihak-pihak lain sering kali sangat menentukan. penunjuk jalan. Petugas Bimbingan dan Konseling di sekolah diperankan sebagai “polisi sekolah”.guru. suatu masalah dianggap berat namun setelah dipelajari lebih jauh ternyata hanya masalah ringan saja. Konselor adalah kawan pengiring. 9.

angket dan dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. metode. di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling. tujuan. Pada dasarnya. dan sarana yang tersedia. atau bahkan tidak berjalan sama sekali. Dengan kata lain. 12. guru pembimbing memang harus aktif.Oleh sebab itu. atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda. 11. bersikap “jemput bola”. menghambat. 13. kemampuan petugas bimbingan dan konseling. tersendat-sendat. Memusatkan usaha Bimbingan dan Konseling hanya pada penggunaan instrumentasi Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. pihak lain pun. dalam hal ini konselor. maka hasilnya akan kurang mantap. dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. sedangkan pihak lain harus pasif Sesuai dengan asas kegiatan. Bahkan sering kali terjadi. terutama klien. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Jawaban ”benar”. Menyama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya. sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu. Di sekolah. tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya. ada dan digunakannya instrumen (tes. Konselor harus aktif. personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. jika bimbingan dan konseling dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran belaka. jenis dan sifat masalah. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula “tidak”. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. jika bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosopi. pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri.inventori. Sedangkan jawaban ”tidak”.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien. dan asas-asas tertentu). konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi. apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Sementara itu.profesional justru salah satu cirinya pekerjaan mandiri yang tidak melibatkan campur tangan orang lain atau ahli. tujuan yang ingin dicapai. untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. 14.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah.Lebih jauh. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan 31 .harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.

Silahkan klik saja tautan di bawah ini: 1. Pengadministrasian Bimbingan dan Konseling di Sekolah 32 . Tunggu punya tunggu ternyata kebijakan baru itu tidak segera muncul juga. Bimbingan dan Konseling di Sekolah 2. Wawasan dan Landasan BK (Buku II). yang merujuk pada Pola 17+ sebagai panduan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. begitu masuk ke mulut akan terasa pedasnya. siswa yang mengkonsultasikan tentang cita-citanya untuk menjadi seorang dokter. atau bahkan beberapa tahun kemuadian. Namun harapan itu sering kali tidak terkabul. Disadari bahwa semua orang menghendaki agar masalah yang dihadapi klien dapat diatasi sesegera mungkin dan hasilnya pun dapat segera dilihat. dan saya memperoleh informasi tentang rencana perubahan kebijakan baru layanan Bimbingan dan Konseling yang disebut-sebut sebagai layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. mungkin manfaat dari hasil konsultasi akan dirasakannya justru pada saat setelah dia menjadi seorang dokter. akhirnya saya memutuskan untuk men-delete postingan saya tersebut.15.2003. lebih-lebih kalau yang dimaksud dengan “cepat” itu adalah dalam hitungan detik atau jam.. Setelah saya mengikuti pelatihan Bimbingan dan Konseling di Bandung yang diselenggarakan oleh ABKIN. Hasil bimbingan dan konseling tidaklah seperti makan sambal. Hasil bimbingan dan konseling mungkin saja baru dirasakan beberapa hari kemudian. Depdiknas : Jakarta Bimbingan dan Konseling di Sekolah Diterbitkan April 20. 2008 Beberapa bulan yang lalu saya pernah menulis tentang layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Adaptasi dan disarikan dari : Prayitno. Menganggap hasil pekerjaan Bimbingan dan Konseling harus segera terlihat. Dari pada menunggu kebijakan yang tidak pasti akhirnya saya posting ulang tulisan tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta contoh pengadmintrasiannya. Misalkan. dengan harapan akan segera muncul kebijakan baru tersebut.

Sunaryo.ABKIN. memiliki mental yang sehat. memperoleh keterampilan hidup. melalui kegiatan pelatihan ini sebagian besar terjawab sudah. bahwa ke depannya Bimbingan dan Konseling di Indonesia tidak lagi bersandar pada Konsep Pola 17 yang selama ini digunakan dalam praktik bimbingan dan konseling di sekolah. bertempat di Cikole Lembang Bandung. dan hal-hal lainnya tentang praktik Bimbingan dan Konseling. Ketika membuka kegiatan pelatihan. yang dapat dilakukan melalui strategi layanan klasikal dan strategi layanan kelompok. yang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan belum terakomodir dengan baik. yaitu : 1. Hanya mungkin ada beberapa persoalan teknis yang belum bisa terjawab dan perlu ada tindaklanjut tertentu. yang didalamnya terdiri dari empat komponen utama program bimbingan dan konseling. penulis pernah menyampaikan keprihatinan atas ketidakpastian dalam penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling selama ini. yang sekarang sedang dikaji oleh pihak yang kompeten untuk dijadikan sebagai kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. dalam sambutannya mengatakan bahwa dalam satu tahun terakhir ini. dalam rangka membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik agar memperoleh perkembangan yang normal. yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. yang disajikan secara sistematis. Hasil kerja keras ABKIN dalam satu tahun terakhir ini telah menghasilkan draft Naskah Akademik berupa “Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal“. Hal yang cukup mengagetkan penulis. 33 . 2008 Selama empat hari (11-14 Desember 2007) penulis mengikuti pelatihan ‘Keterampilan Manajemen Bimbingan dan Konseling“. M. penulis menerima berbagai materi dan penjelasan dari para nara sumber seputar penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang tampaknya akan menjadi cikal bakal untuk lahirnya kebijakan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Prof. Dalam tulisan sebelumnya di situs ini.Selama mengikuti pelatihan. Standar Kompetensi Lulusan atau sekarang dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK).Pd. ABKIN telah bekerja secara intensif untuk mencari formulasi terbaik tentang bagaimana seharusnya penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di sekolah.(lihat 1. yakni layanan bantuan kepada peserta didik melalui kegiatankegiatan kelas atau di luar kelas. Dr. seperti : ketidakjelasan dalam sertifikasi guru bimbingan dan konseling. 2 3) Beberapa pertanyaan yang berkecamuk dalam benak penulis dan mungkin juga para guru Bimbingan dan Konseling di lapangan tentang bagaimana seharusnya Bimbingan dan Konseling di sekolah. tetapi justru akan lebih mengembangkan model bimbingan dan konseling yang komprehensif dan berorientasi pada perkembangan. Layanan Dasar. standar kompetensi konselor. selaku ketua PB.Rekonseptualisasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 21.

guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran.Pd. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. berdasarkan pemahaman akan kekuatan dan kelemahannya. staf ahli.Pd. Tujuan layanan ini adalah agar peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk merumuskan tujuan. dalam tautan-tautan di bawah ini disajikan sebagian materi yang disampaikan oleh para nara sumber dalam bentuk tayangan slide dan pdf file : Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. yaitu layanan bantuan bagi peserta yang memiliki kebutuhan atau masalah yang memerlukan bantuan dengan segera”. Untuk lebih jelasnya. Layanan Responsif. dan penelitian dan pengembangan. 4.) Draft Standar Kompetensi Konselor (dari: ABKIN) Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Bimbingan dan Konseling Arah dan Perspektif Baru Bimbingan dan Konseling (dari: Prof. Syamsu Yusuf L. referal dan bimbingan teman sebaya.) Supervisi Bimbingan dan Konseling (dari: Drs. Layanan dukungan sistem. memelihara. baik dalam Kurikulum 1975. Agus Taufiq. dan Dr.. dan masyarakat yang lebih luas. M. yang dapat dilakukan melalui strategi penilaian individual.) Program Bimbingan dan Konseling (dari: Dr. dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukannya. yaitu kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan. sosial. atau mengelola pengembangan dirinya. dapat melakukan kegiatan atau aktivitas berdasarkan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan. maupun karier. Juntika Nurihsan) Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6. merencanakan. 3. hubungan masyarakat dan staf. Kurikulum 1984. Jika kita perhatikan komponen-komponen program di atas. mau pun Kurikulum 1994. M.N. Selain itu. konseling individual. untuk komponen layanan dasar di Amerika cenderung menggunakan istilah guidance curriculum. yaitu bantuan kepada peserta didik agar mampu membuat dan melaksanakan perencanaan masa depannya. konsultasi dengan guru lain. tampaknya ada upaya dari ABKIN untuk mengelaborasi konsep bimbingan dan konseling sebelumnya. A. keempat komponen program bimbingan dan konseling di atas tampaknya menggunakan rujukan model penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang saat ini sedang dikembangkan di Amerika Serikat. konseling kelompok. M. sedangkan guru mata pelajaran lebih 34 . manajemen program.2. 2008 Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. baik menyangkut aspek pribadi. Layanan Perencanaan Individual. Tujuan layanan ini adalah membantu peserta didik agar dapat mengatasi masalah yang dialaminya yang dapat dilakukan melalui strategi layanan konsultasi. belajar. Uman Suherman. dan meningkatkan program bimbingan dan konseling di sekolah secara menyeluruh melalui pengembangan profesional. Uman Suherman.Pd.Pd. M. Perbedaannya. penasihatan individual atau kelompok. Dr.

guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 35 . Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. catatan anekdot. Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut.mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. bimbingan kelompok. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. kotak masalah. buku saku) 7. media cetak : liflet. bibliokonseling. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. konseling kelompok. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. audio. (d) strategi pelayanan. bimbingan klasikal. Laporan bulanan 5. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4. 2. Daftar konseli 3. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. kunjungan rumah. Laporan semesteran/tahunan 6. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. audio visual. Dalam hal ini. Kendati demikian. proses. berbentuk : 1. (c) pemilihan instrumen/media. Laporan hasil evaluasi program. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. konsultasi. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan.

PROSES DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING Prosedur Umum Layanan Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Mei 31. namun harus dilakukan secara tertib berdasarkan prosedur tertentu. (E) Treatment.B. (D) Prognosis. (B) Identifikasi masalah. yaitu: (A) Identifikasi kasus. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. seperti tes inteligensi. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi peserta didik. dan atau (4) personality. (F) Evaluasi dan Tindak Lanjut A. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi peserta didik. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. Identifikasi Masalah Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. Melakukan analisis terhadap hasil belajar peserta didik. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran peserta didik akan masalah yang dihadapinya. 3. yang secara umum terdiri dari enam tahapan sebagai. Call them approach. dengan cara ini dapat ditemukan peserta didik yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial. permasalahan peserta didik dapat berkenaan dengan aspek : (1) substansial – material. (3) behavioral. menciptakan hubungan yang baik. 36 . B. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. 4. 2. 2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi peserta didik yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan dan konseling. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan peserta didik yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. Identifikasi kasus Identifikasi kasus merupakan langkah awal untuk menemukan peserta didik yang diduga memerlukan layanan bimbingan dan konseling. 5. (C) Diagnosis. Developing a desire for counseling. tes bakat. (2) struktural – fungsional. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru pembimbing dengan peserta didik. yakni : 1. Maintain good relationship. PROSEDUR. melakukan wawancara dengan memanggil semua peserta didik secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan peserta didik yang benar-benar membutuhkan layanan konseling. Robinson (Abin Syamsuddin Makmun. 2008 Sebagai sebuah layanan profesional. Melakukan analisis sosiometris. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. layanan bimbingan dan konseling tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

maka pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri (intervensi langsung). seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. faktor yang besumber dari dalam diri peserta didik itu sendiri. C. (3) hubungan sosial. E. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah peserta didik. Namun. bakat. melalui berbagai pendekatan layanan yang tersedia. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor penyebab kegagalan belajar peserta didik. dan (2) faktor eksternal. Treatment Langkah ini merupakan upaya untuk melaksanakan perbaikan atau penyembuhan atas masalah yang dihadapi klien. seputar aspek : (1) jasmani dan kesehatan. Instrumen ini sangat membantu untuk menemukan kasus dan mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi peserta didik. proses.kasus yang dihadapi. dengan melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi siswa untuk diminta bekerja sama guna membantu menangani kasus . F. (6) pendidikan dan pelajaran. evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya tetap dilakukan untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi peserta didik. D.Untuk mengidentifikasi kasus dan masalah peserta didik. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. nilai dan moral. (7) agama. Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru pembimbing atau konselor. W. berdasarkan pada keputusan yang diambil dalam langkah prognosis. kepribadian. kecerdasan. dan (10) waktu senggang. Evaluasi dan Follow Up Cara manapun yang ditempuh. non direktif maupun eklektik yang mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut. (2) diri pribadi. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. Burton membagi ke dalam dua faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar peserta didik. ( hubungan muda-mudi. Depdiknas (2003) telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan dan konseling yaitu: 37 . Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah peserta didik. jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing/konselor sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten (referal atau alih tangan kasus). Prognosis Langkah ini dilakukan untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami peserta didik masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. ataupun out put belajarnya. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan dan konseling. (9) keadaan dan hubungan keluarga. baik yang bersifat direktif. seperti : lingkungan rumah. yaitu : (1) faktor internal. bisa dilihat dari segi input. (5) karier dan pekerjaan.H. Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). emosi. (4) ekonomi dan keuangan. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. Prayitno dkk.

Peserta didik (klien) telah menunjukkan sifat-sifat yang kreatif dan konstruktif. Depdiknas. 2. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti Prayitno. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2004) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan. 8. Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh peserta didik sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya. Sementara itu. 2004. 2. dkk. Jakarta : Depdiknas. dan kontributif secara akomodatif sehingga ia diterima dan mampu menjadi anggota kelompok yang efektif. sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya. Sumber: Abin Syamsuddin Makmun. Sedangkan kriteria keberhasilan jangka panjang. 2003. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupannya yang dihasilkan oleh tindakan dan usaha-usahanya. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling. Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan. mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional. Kriteria keberhasilan tampak segera. 4. Peserta didik (klien) telah menurun penentangan terhadap lingkungannya 6. Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh peserta didik berkaitan dengan masalah yang dibahas. Peserta didik (klien) telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha – usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya. 12. Peserta didik (klien) telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi. Psikologi Pendidikan. 3. 2004. Peserta didik (klien) telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release). diantaranya apabila: 10. Peserta didik (klien) telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi. 7. Peserta didik (klien) telah mampu menghindari secara preventif kemungkinan-kemungkinan faktor yang dapat membawanya ke dalam kesulitan. 5. diantaranya apabila: 1. Peserta didik (klien) telah melai menunjukkan sikap keterbukaannya serta mau memahami dan menerima kenyataan lingkungannya secara obyektif. Peserta didik (klien) mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan.1. dan 3. 9. produktif. 38 . Peserta didik (klien) telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance). yang terbagi ke dalam kriteria yaitu kriteria keberhasilan yang tampak segera dan kriteria jangka panjang. 11. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.

Pada tahap ini terdapat beberapa hal yang harus dilakukan. memang strategi layanan bimbingan dan konseling harus terlebih dahulu mengedepankan layanan – layanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. namun tetap saja layanan yang bersifat pengentasan pun masih diperlukan. Kunci keberhasilan membangun hubungan terletak pada terpenuhinya asas-asas bimbingan dan konseling. Secara umum. A. (2) tahap inti (tahap kerja). B. tampaknya untuk layanan konseling perorangan perlu mendapat perhatian lebih. proses konseling terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) tahap awal (tahap mendefinisikan masalah). Inti (Tahap Kerja) Setelah tahap Awal dilaksanakan dengan baik. Menegosiasikan kontrak. diantaranya : • • • • Membangun hubungan konseling yang melibatkan klien (rapport). Oleh karena itu. Konselor berusaha menjajagi atau menaksir kemungkinan masalah dan merancang bantuan yang mungkin dilakukan. (2) Kontrak tugas. Karena layanan yang satu ini boleh dikatakan merupakan ciri khas dari layanan bimbingan dan konseling. Membuat penaksiran dan perjajagan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. Membangun perjanjian antara konselor dengan klien. Jika hubungan konseling sudah terjalin dengan baik dan klien telah melibatkan diri. dan kegiatan. kesukarelaan. Penjelajahan masalah dimaksudkan agar klien mempunyai perspektif dan alternatif baru terhadap masalah yang sedang dialaminya. Pada tahap ini beberapa hal yang perlu dilakukan. Dari beberapa jenis layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik. guru maupun konselor seyogyanya dapat menguasai proses dan berbagai teknik konseling. yaitu terbinanya peran dan tanggung jawab bersama antara konselor dan konseling dalam seluruh rangkaian kegiatan konseling. berisi : (1) Kontrak waktu. yaitu berbagi tugas antara konselor dan klien. yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus Dalam prakteknya. Tahap Awal Tahap ini terjadi dimulai sejak klien menemui konselor hingga berjalan sampai konselor dan klien menemukan masalah klien. keterbukaan. proses konseling selanjutnya adalah memasuki tahap inti atau tahap kerja.Proses Layanan Konseling Individual Diterbitkan Januari 26.Pd. sehingga bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka pengentasan masalahnya dapat berjalan secara efektif dan efisien. yaitu berapa lama waktu pertemuan yang diinginkan oleh klien dan konselor tidak berkebaratan. diantaranya : • Menjelajahi dan mengeksplorasi masalah klien lebih dalam. yaitu dengan membangkitkan semua potensi klien. dan menentukan berbagai alternatif yang sesuai bagi antisipasi masalah. dan (3) Kontrak kerjasama dalam proses konseling. M. terutama asas kerahasiaan. Memperjelas dan mendefinisikan masalah. 39 . maka konselor harus dapat membantu memperjelas masalah klien. dan (3) tahap akhir (tahap perubahan dan tindakan).

yaitu : • • • • Konselor bersama klien membuat kesimpulan mengenai hasil proses konseling. Menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling sebelumnya. Pendekatan dan Teknik Konseling Klik Disini ! 40 . DYP Sugiharto. sehat dan dinamis. Kesepakatan yang telah dibangun pada saat kontrak tetap dijaga. dan trait and factor. Hal ini bisa terjadi jika : • • • Klien merasa senang terlibat dalam pembicaraan atau waancara konseling. C. (2) perubahan perilaku klien ke arah yang lebih positif. Dr. bersama-sama klien meninjau kembali permasalahan yang dihadapi klien.Tanpa didukung oleh penguasaan penguasaan teknik-teknik konseling yang memadai. diantaranya : pendekatan dan teknik konseling behaviorisme. Pendekatan dan Teknik Konseling Diterbitkan Januari 12. seorang konselor perlu memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menggunakan berbagai pendekatan dan teknik dalam konseling. yaitu . Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).Anda ingin memahami lebih jauh tentang materi ini dengan cara meng-klik tautan di bawah ini dan tentunya komentar Anda sangat dinantikan.tugas profesionalnya. Dalam bentuk tayangan slide.• • Konselor melakukan reassessment (penilaian kembali). psikoanaliss. Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya Pada tahap akhir ditandai beberapa hal. Konselor berupaya kreatif mengembangkan teknik-teknik konseling yang bervariasi dan dapat menunjukkan pribadi yang jujur. M. dan (4) adanya rencana hidup masa yang akan datang dengan program yang jelas. (1) menurunnya kecemasan klien.Pd mengupas tentang berbagai pendekatan dan teknik konseling. serta menampakkan kebutuhan untuk mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya. niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa (klien) tidak akan berjalan efektif. gestalt. Menjaga agar hubungan konseling tetap terpelihara. rational emotive therapy (RET). baik oleh pihak konselor maupun klien. 2008 Pekerjaan konseling pada dasarnya merupakan pekerjaan profesional dan dalam melaksanakan tugas . (3) pemahaman baru dari klien tentang masalah yang dihadapinya. Akhir (Tahap Tindakan) Pada tahap akhir ini terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Proses konseling agar berjalan sesuai kontrak. ikhlas dan benar – benar peduli terhadap klien.

(b) pembiasaan operan.Pendekatan Konseling Behavioral Diterbitkan Januari 23. (b) konselor mampu dan bersedia membantu mencapai tujuan tersebut. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentu dari cara belajar atau lingkungan yang salah. (c) peniruan. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar C. Manusia bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya. 2. dan (d) penilaian yang obyektif terhadap tujuan konseling. Tujuan Konseling Mengahapus/menghilangkan tingkah laku maldaptif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah 1. Tingkah laku maladaptif terjadi juga karena kesalapahaman dalam menanggapi lingkungan dengan tepat. sehingga ia dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasi kondisi-kondisi pembentukan tingkah laku. yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. 4. Karakteristik konseling behavioral adalah : (a) berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat. Konsep Dasar Manusia adalah mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan melalui hukumhukum belajar : (a) pembiasaan klasik. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh banyak dan macamnya penguatan yang diterima dalam situasi hidupnya. Manusia bukanlah hasil dari dorongan tidak sadar melainkan merupakan hasil belajar. Tingkah laku tertentu pada individu dipengaruhi oleh kepuasan dan ketidak puasan yang diperolehnya. Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini menghasilkan pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. 3. Tujuan yang sifatnya umum harus dijabarkan ke dalam perilaku yang spesifik : (a) diinginkan oleh klien. (c) klien dapat mencapai tujuan tersebut. B. (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien. 41 . 2008 A. (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan konseling. (d) dirumuskan secara spesifik Konselor dan klien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling.

mempertimbangkan kembali tujuan yang akan dicapai. yaitu memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meingkatkan proses konseling. yaitu langkah untuk merumuskan tujuan konseling. dan (d)k emungkinan kerugiannya. Assesment diperlukan untuk mengidentifikasi motode atau teknik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah. kekuatan dan kelemahannya. 2. Feedback. Konselor memegang sebagian besar tanggung jawab atas kegiatan konseling. Teknik konseling behavioral didasarkan pada penghapusan respon yang telah dipelajari (yang membentuk tingkah laku bermasalah) terhadap perangsang. Merumuskan masalah yang dialami klien dan menetapkan apakah konselor dapat membantu pemecahannya atu tidak 2. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari langkah assessment konselor dan klien menyusun dan merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam konseling. pola hubungan interpersonal. Perumusan tujuan konseling dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : (a) Konselor dan klien mendifinisikan masalah yang dihadapi klien. khususnya tentang teknik-teknik yang digunakan dalam konseling 3. Assesment. Deskripsi langkah-langkah konseling : 1. (c) Konselor dan klien mendiskusikan tujuan yang telah ditetapkan klien : (a) apakah merupakan tujuan yang benar-benar dimiliki dan diinginkan klien. Technique implementation. dengan demikian respon-respon yang baru (sebagai tujuan konseling) akan dapat dibentuk. 42 . Konselor aktif : 1. Agar klien terdorong untuk merubah tingkah lakunya penguatan tersebut hendaknya mempunyai daya yang cukup kuat dan dilaksanakan secara sistematis dan nyata-nyata ditampilkan melalui tingkah laku klien. 5.D. Goal setting. Evaluation termination. Deskripsi Proses Konseling Proses konseling adalah proses belajar. tingkah laku penyesuaian. Konselor mengontrol proses konseling dan bertanggung jawab atas hasil-hasilnya. yaitu melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling. dan area masalahnya) Konselor mendorong klien untuk mengemukakan keadaan yang benar-benar dialaminya pada waktu itu. Prinsip Kerja Teknik Konseling Behavioral • • Memodifikasi tingkah laku melalui pemberian penguatan. 3. yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling. langkah awal yang bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan klien (untuk mengungkapkan kesuksesan dan kegagalannya. konselor membantu terjadinya proses belajar tersebut. atau melakukan referal. (b) apakah tujuan itu realistik. Mengurangi frekuensi berlangsungnya tingkah laku yang tidak diinginkan. (e) Konselor dan klien membuat keputusan apakahmelanjutkan konseling dengan menetapkan teknik yang akan dilaksanakan. (b) Klien mengkhususkan perubahan positif yang dikehendaki sebagai hasil konseling. (c) kemungkinan manfaatnya. 4.

Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya tingkah laku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk. model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis tingkah laku yang hendak dicontoh. Jadi desensitisasi sistematis hakikatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang tingkah laku model. atau contoh nyata langsung). dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. dapat menggunakan model audio. Sumber : Dr. Mengkondisikan pengubahan tingkah laku melalui pemberian contoh atau model (film. tape recorder. model fisik. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Merencanakan prosedur pemberian penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan dengan sistem kontrak. Tingkah laku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor.Pd. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. Pembentukan Tingkah laku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien. DYP Sugiharto. M. Esensi teknik ini adalah menghilangkan tingkah laku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang akan dihilangkan. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. kesulitan menyatakan tidak. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung. Penguatannya dapat berbentuk ganjaran yang berbentuk materi maupun keuntungan sosial. Teknik-teknik Konseling Behavioral Latihan Asertif Teknik ini dugunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara tingkah laku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. (Makalah) 43 .• • • Memberikan penguatan terhadap suatu respon yang akan mengakibatkan terhambatnya kemunculan tingkah laku yang tidak diinginkan. mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya.

Meskipun tidak bisa diungkapkan. (5) dapat memilih secara sadar dan bertanggung jawab. Jadi hakikat manusia menurut pendekatan konseling ini adalah : (1) tidak dapat dipahami. kemarahan. sakit hati. Dalam pendekatan gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai (unfinished business). Dalam pendekatan ini. (6) mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Individu bermasalah kaena terjadi pertentangan antara kekuatan “top dog” dan keberadaan “under dog”. Under dog adalah keadaan defensif. (2) merupakan bagian dari lingkungannya dan hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan lingkungannya itu. dan pemikirannya. dan sebagainya. persepsi. kecemasan dipandang sebagai “kesenjangan antara saat sekarang dan kemudian”. (3) aktor bukan reaktor. (4) berpotensi untuk menyadari sepenuhnya sensasi. perasaan. ingin dimaklumi. dan tingkah lakunya Setiap individu memiliki kemampuan untuk menerima tanggung jawab pribadi.Pendekatan Konseling Gestalt Diterbitkan Januari 23. memiliki dorongan untuk mengembangkan kesadaran yang akan mengarahkan menuju terbentuknya integritas atau keutuhan pribadi. Terjadi pertentangan antara keberadaan sosial dan biologis Ketidakmampuan individu mengintegrasikan pikiran. kecemasan. perasaan-perasaan itu diasosiasikan dengan ingataningatan dan fantasi-fantasi tertentu. kedudukan. dan tingkah lakunya 44 . lemah. pera-saan. rasa berdosa. kecuali dalam keseluruhan konteksnya. perasaan-perasaan itu tetap tinggal pada latar belakang dan di bawa pada kehidupan sekarang dengan cara-cara yang menghambat hubungan yang efektif dengan dirinya sendiri dan orang lain. menuntut. tidak berdaya. Karena tidak terungkapkan di dalam kesadaran. jantung. Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran. melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut. otak. Jika individu menyimpang dari saat sekarang dan menjadi terlalu terpaku pada masa depan. pasif. Perkembangan yang terganggu adalah tidak terjadi keseimbangan antara apa-apa yang harus (self-image) dan apa-apa yang diinginkan (self). Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati. rasa diabaikan. maka mereka mengalami kecemasan. Top dog adalah kekuatan yang mengharuskan. Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkapkan itu. Masa lalu telah pergi dan masa depan belum dijalani. pendekatan ini memandang bahwa tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. oleh karena itu yang menentukan kehidupan manusia adalah masa sekarang. mengancam. emosi. B. Konsep Dasar Pendekatan konseling ini berpandangan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. membela diri. kebencian. Dalam hubungannya dengan perjalanan kehidupan manusia. yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkapkan seperti dendam. 2008 A.

Konselor hendaknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang abstrak. dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya. Oleh karena itu tugas konselor adalah mendorong klien untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada dirinya serta mau mencoba menghadapinya. Deskripsi Proses Konseling Fokus utama konseling gestalt adalah terletak pada bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. Tujuan Konseling Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri.Mengalami gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi Spektrum tingkah laku bermasalah pada individu meliputi : Kepribadian kaku (rigid) Tidak mau bebas-bertanggung jawab. Dalam hal ini perlu diarahkan agar klien mau belajar menggunakan perasaannya secara penuh. melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. D. serta mendapatkan insight secara penuh. semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik. ia akan menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Secara lebih spesifik tujuan konseling Gestalt adalah sebagai berikut. memahami kenyataan atau realitas. interpretasi maupun memberi nasihat. ingin tetap tergantung Menolak berhubungan dengan lingkungan Memeliharan unfinished bussiness Menolak kebutuhan diri sendiri Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” . 45 . Untuk itu klien bisa diajak untuk memilih dua alternatif. Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) Meningkatkan kesadaran individual agar klien dapat beringkah laku menurut prinsipprinsip Gestalt. Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi. keinginankeinginannya untuk melakukan diagnosis. Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh. C. Melalui konseling konselor membantu klien agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.

Deskripsi fase-fase proses konseling : Fase pertama. maka tugas konselor adalah membuat perasaan klien untuk bangkit dan mau menghadapi ketersesatannya sehingga potensinya dapat berkembang lebih optimal. pikiran-pikirannya dan tingkah lakunya. konselor berusaha menemukan celah-celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang. agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. Fase keempat. Ada dua hal yang dilakukan konselor dalam fase ini. setelah klien memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang pikiran. Makin tinggi kesadaran klien terhadap ketidakpuasannya semakin besar motivasi untuk mencapai perubahan dirinya. Pada fase ini klien menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi. konselor mendorong klien untuk mengatakan perasaan-perasaannya pada saat ini. Membangkitkan dan mengembangkan otonomi klien dan menekankan kepada klien bahwa klien boleh menolak saran-saran konselor asal dapat mengemukakan alasanalasannya secara bertanggung jawab. Dalam situasi ini klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor. klien diberi kesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu. Pada saat klien mengalami gejala kesesatan dan klien menyatakan kekalahannya terhadap lingkungan dengan cara mengungkapkan kelemahannya. konselor mengantarkan klien memasuki fase akhir konseling. dari sini dapat diidentifikasi apa yang harus dilakukan klien. fungsi konselor adalah membantu klien untuk melakukan transisi dari ketergantungannya terhadap faktor luar menjadi percaya akan kekuatannya sendiri. bodoh. konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. dan tingkah lakunya. dan siap untuk mengembangan potensi dirinya. Klien telah memiliki kepercayaan pada potensinya. karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan. Usaha ini dilakukan dengan menemukan dan membuka ketersesatan atau kebuntuan klien. Melalui fase ini. yaitu : Membangkitkan motivasi klien. Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda. sehingga makin tinggi pula keinginannya untuk bekerja sama dengan konselor. Fase kedua.Konselor sejak awal konseling sudah mengarahkan tujuan agar klien menjadi matang dan mampu menyingkirkan hambatan-hambatn yang menyebabkan klien tidak dapat berdiri sendiri. dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya. Dalam hal ini. Kadang-kadang klien diperbolahkan memproyeksikan dirinya kepada konselor. atau gila. menyadari keadaan dirinya pada saat sekarang. sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya. perasaan-perasaannya. konselor mengembangkan pertemuan konseling. Fase ketiga. dalam situasi di sini dan saat ini. dirinya tidak berdaya. perasaan. Teknik Konseling 46 .

Orientasi Sekarang dan Di Sini. Dalam kaitan ini pula konselor tidak pernah bertanya “mengapa”. (c) klien menyadari bahwa ada hal-hal positif dan/atau negative pada diri atau tingkah lakunya Teknik-teknik Konseling Gestalt Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan. konselor menekankan bahwa konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien. Hal ini bukan berarti bahwa masa lalu tidak penting. sehingga dengan demikian klien mengintegrasikan kembali dirinya: (a) klien mempergunakan kata ganti personal klien mengubah kalimat pertanyaan menjadi pernyataan. yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Dalam kaitan itu. (d) kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah Melalui dialog yang kontradiktif ini. konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya. dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar. teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh. Orientasi Eksperiensial. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. Misalnya : “Saya merasa jenuh. (b)klien mengambil peran dan tanggung jawab. tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” 47 . (b) kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. (c) kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh” kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. misalnya : (a) kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. konselor meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Prinsip Kerja Teknik Konseling Gestal Penekanan Tanggung Jawab Klien.Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling.

perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. (Makalah) 48 . dan saya bertanggung jawab ketidaktahuan itu”. Tetap dengan Perasaan Teknik dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya.“Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. DYP Sugiharto. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu.Pd. M. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan hal-hal yang diproyeksikan kepada orang lain. Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu.Sering terjadi. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu”. Sumber : Dr. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingklah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Bermain Proyeksi Proyeksi artinya memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. Pendekatan-Pendekatan Konseling. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. “Saya malas. Meskipun tampaknya mekanis. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan tingkah laku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya.

Ciri-ciri berpikir irasional : (a) tidak dapat dibuktikan.Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis. kelulusan bagi siswa. (c) menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efektif Sebab-sebab individu tidak mampu berpikir secara rasional : (a) individu tidak berpikir jelas tentangg saat ini dan yang akan dating. dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah. 2008 A.Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional. kejadian. dan keran itu tidak produktif. B. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. interpretasi. atau sikap orang lain. Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.Pendekatan Konseling Rasional Emotif Diterbitkan Januari 23.Berpikir irasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. pandangan. yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat. Asumsi Tingkah Laku Bermasalah Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. dan kompeten. antara kenyatan dan imajinasi. yaitu Antecedent event (A). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC. masuk akal. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Keyakinan seseorang ada dua macam. tingkah laku. Belief (B). (c) orang tua atau masyarakat 49 . Perceraian suatu keluarga. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta. serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional. sangat personal. kekhawatiran. Konsep Dasar Manusia padasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. yang dapat diterima menurut akal sehat. (b) menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan. nilai.Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi. emosional. bahagia. tidak masuk akal. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif. dan irasional. bijaksana. dan Emotional consequence (C). Belief (B) yaitu keyakinan. prasangka) yang sebenarnya tidak perlu. Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsepkonsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. dan kerana itu menjadi prosuktif. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh prasangka. (b) individu tergantung pada perencanaan dan pemikiran orang lain. dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.

(g) untuk mencapai derajat yang tinggi dalam hidupnya dan untuk merasakan sesuatu yang menyenangkan memerlukan kekuatan supranatural. (3) pengarahan diri. C. Indikator keyakinan irasional : (a) manusia hidup dalam masyarakat adalah untuk diterima dan dicintai oleh orang lain dari segala sesuatu yang dikerjakan. disalahkan. Ketiga. insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga. (d) lebih mudah untuk menjauhi kesulitan-kesulitan hidup tertentu dari pada berusaha untuk mengahadapi dan menanganinya. dan (10) menerima kenyataan. (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya. Kedua. dan dihukum. rasa bersalah. mengerikan. keyakinan serta pandanganpandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi pandangan yang rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri. (4) toleransi terhadap pihak lain. dan kejam sehingga mereka patut dicurigai. rasa berdosa. persepsi. (5) fleksibel. (f) pengalaman masa lalu memberikan pengaruh sangat kuat terhadap kehidupan individu dan menentukan perasaan dan tingkah laku individu pada saat sekarang. Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut. Tugas konselor menunjukkan bahwa 50 . (e) penderitaan emosional dari seseorang muncul dari tekanan eksternal dan bahwa individu hanya mempunyai kemampuan sedikit sekali untuk menghilangkan penderitaan emosional tersebut. dan (h) nilai diri sebagai manusia dan penerimaan orang lain terhadap diri tergantung dari kebaikan penampilan individu dan tingkat penerimaan oleh orang lain terhadap individu. (b) banyak orang dalam kehidupan masyarakat yang tidak baik. merasa was-was. jahat.memiliki kecenderungan berpikir irasional yang diajarkan kepada individu melalui berbagai media. rasa marah. ( penerimaan diri. Tiga tingkatan insight yang perlu dicapai klien dalam konseling dengan pendekatan rasional-emotif : Pertama insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. (6) menerima ketidakpastian. meningkatkan sel-actualizationnya seoptimal mungkin melalui tingkah laku kognitif dan afektif yang positif. (c) kehidupan manusia senantiasa dihadapkan kepada berbagai malapetaka. D. menakutkan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. rasa cemas. bencana yang dahsyat. yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional. insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. cara berpikir. (9) berani mengambil risiko. Klien yang telah memiliki keyakinan rasional tjd peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri. merusak. Deskripsi Proses Konseling Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batasbatas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Tujuan Konseling Memperbaiki dan merubah sikap. (2) minat sosial.

Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. E. (c) mendorong klien menggunakan kemampuan rasional dari pada emosinya. sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut. Aktif-direktif. artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya. kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri dengan gigih dan berulang-ulang menekankan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. dengan cara banyak memberikan cerita dan penjelasan. artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien. Teknik-teknik Behavioristik Reinforcement 51 . 4. afektif. (b) menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berpikir klien. Emotif-ekspreriensial. artinta bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional. Behavioristik. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif : 1. artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional. 2. 3. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. khususnya pada tahap awal mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. Latihanlatihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. Operasionalisasi tugas konselor : (a) lebih edukatif-direktif kepada klien. Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Assertive adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. mendorong. Kognitif-eksperiensial. (d) menggunakan pendekatan didaktif dan filosofis menggunakan humor dan “menekan” sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.• • masalahnya disebabkan oleh persepsi yang terganggu dan pikiran-pikiran yang tidak rasional usaha untuk mengatasi masalah adalah harus kembali kepada sebab-sebab permulaan. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif. dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Teknik Konseling Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif.

mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain. Sumber : Dr. Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a) mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya. M. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.Pd. dan (d) meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah lakutingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri. DYP Sugiharto. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan normanorma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru). Dengan tugas rumah yang diberikan. membiasakan diri. latihan. atau meniru model-model sosial. Teknik-teknik Kognitif Home work assigments.Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Social modeling Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. (Makalah) 52 . Pendekatan-Pendekatan Konseling. mengobservasi. (c) mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri. Latihan assertive Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Dengan memberikan reward ataupun punishment. eknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan. maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.

dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. 2. bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur. Freud berpendapat bahwa manusia berdasar pada sifat-sifat: • • • • • • Anti rasionalisme Mendasari tindakannya dengan motivasi yang tak sadar. disikusikan. sebagai lawan lawan dari Thanatos Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Libido atau eros mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan. Fungsi konselor • • Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim. terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif. untuk ditata. Teknik Konseling • Asosiasi bebas. terutama usia 2-5 tahun. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. ego. Langkah-langkah yang ditempuh : • • • • • • • Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Deskripsi Proses Konseling 1. Manusia secara esensial bersifat biologis. sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan tadi. yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang. artinya konselor berusaha tak dikenal klien. konflik dan simbolisme. 2008 A. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Tujuan Konseling • • Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan halhal yang tak disadari menjadi sadar kembali. dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak. Konsep Dasar 1. D. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Menutup wawancara konseling E. sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud. dan super ego C.Pendekatan Konseling Psikoanalisis Diterbitkan Juli 8. 53 . Hakikat manusia. yaitu id. dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.

yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien. pengalamannya tertekan. anonim. 3. 2. klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Transferensi adalah mengalihkan. kebencian. 2008 A. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Manusia merupakan seseorang yang ada. ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda. dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan. resistensi berati penolakan. bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut. Memandang manusia sebagai individu yang unik. B. Interpretasi. baik dalam asosiasi bebas. Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. resitensi dan transferensi. mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Konsep Dasar: 1. mimpi. Setiap orang menciptakan tujuannnya sendiri dengan segala kreatifitasnya. Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia kerjakan dan yang tidak dia kerjakan. Dalam hal ini. Manusia tidak pernah statis. resistensi. klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya. 54 .• • • • sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Konselor menetapkan. Analisis mimpi. Dengan perkataan lain. Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi. Konselor menggunakan sifat-sifat netral. Konseling Humanistik Diterbitkan Juli 14. Menurut Freud. objektif. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. sadar dan waspada akan keberadaannya sendiri. menyempurnakan esensi dan fakta eksistensinya. dan transferensi klien. analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh bentuk self expression. Asumsi Perilaku Bermasalah Gangguan jiwa disebabkan karena individu yang bersangkutan tidak dapat mengembangkan potensinya. seksualitas. Klien diminta mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi. asosiasi bebas. Hal ini disebut juga katarsis. Analisis resistensi. oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri menuju aktualisasi diri 4.

Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan konseling. meliputi: (1) acceptance (penerimaan). 3. keyakinan serta pandangan-pandangan individu. Sumber: Sayekti. Saya adalah saya 2. Rogers. (4) mewujudkan dirinya. D. Konseling Individual. dan (6) reflection (memantulkan pernyataan dan perasaan). (5) limited questioning (pertanyaan terbatas. Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problem dan apa yang diinginkannya. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Teori dan Praktek. (3) mengarahkan diri. sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya beserta lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor. Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa memberikan sanggahan. (3) understanding (pemahaman). 1997. (5) encouragement (memberi dorongan). Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa adanya. Teknik-Teknik Konseling Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling. 2007. 4. 4. Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi dirinya. Adanya hubungan yang akrab antara konselor dan konseli. Deskripsi Proses Konseling 1. (4) reassurance (menentramkan hati). Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan konseli dapat (1) memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik. (2) mengambil keputusan yang tepat. (2) respect (rasa hormat). Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses aktualisasi dirinya. Berbagai Pendekatan dalam Konseling.C. yang unik. 3. Tujuan Konseling 1. E. Memperbaiki dan mengubah sikap. Bandung: Alfabeta 55 . 2. persepsi cara berfikir. Willis. yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self actualization seoptimal mungkin. 5.

Terapi Realitas Diterbitkan Juli 14. Adalah William Glasser sebagai tokoh yang mengembangkan bentuk terapi ini. 2. relatif sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli. Perilaku masa lampau tidak bisa diubah tetapi diterima apa adanya. Karennya dia dapat menjadi seorang individu yang sukses. 2008 A. Tanggung jawab 56 . tetapi yang ada adalah perilaku tidak bertanggungjawab tetapi masih dalam taraf mental yang sehat. dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan. sehingga yang paling dipentingkan adalah bagaimana konseli dapat memperoleh kesuksesan pada masa yang akan datang. Tidak menegaskan transfer dalam rangka usaha mencari kesuksesan. 5. Ciri-Ciri Terapi Realitas 1. Berorientasi pada keadaan yang akan datang dengan fokus pada perilaku yang sekarang yang mungkin diubah. sebagai pengalaman yang berharga. Konselor dalam memberikan pertolongan mencarikan alternatif-alternatif yang dapat diwujudkan dalam perilaku nyata dari berbagai problema yang dihadapi oleh konseli . 3. sehingga menyebabkan dia memiliki keunikan dalam kepribadiannnya. Setiap potensi harus diusahakan untuk berkembang dan terapi realitas berusaha membangun anggapan bahwa tiap orang akhirnya menentukan nasibnya sendiri B. yang hadir di seluruh kehidupannya. Setiap orang memiliki kemampuan potensial untuk tumbuh dan berkembang sesuai pola-pola tertentu menjadi kemampuan aktual. 4. 2. dianalisis dan ditafsirkan. diperbaiki. Menekankan aspek kesadaran dari konseli yang harus dinyatakan dalam perilaku tentang apa yang harus dikerjakan dan diinginkan oleh konseli . Menolak adanya konsep sakit mental pada setiap individu. Menurutnya. maka dalam memberikan bantuan tidak perlu melacak sejauh mungkin pada masa lalunya. Terapi Realitas berprinsip seseorang dapat dengan penuh optimis menerima bantuan dari terapist untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dan mampu menghadapi kenyataan tanpa merugikan siapapun. yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah daam rangka mengembangkan dan membina kepribadian/kesehatan mental konseli secara sukses. Terapi Realitas lebih menekankan masa kini. Konsep Dasar Terapi Realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis. Bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang tunggal. 3. bahwa tentang hakikat manusia adalah: 1. Berfokus pada perilaku nyata guna mencapai tujuan yang akan datang penuh optimisme.

dan perilaku nyata yang harus diwujudkan konseli adalah sesuatu yang bernilai dan bermakna dan disadarinya. 6. Menghapuskan adanya hukuman yang diberikan kepada individu yang mengalami kegagalan., tetapi yang ada sebagai ganti hukuman adalah menanamkan disiplin yang disadari maknanya dan dapat diwujudkan dalam perilaku nyata. 7. Menekankan konsep tanggung jawab agar konseli dapat berguna bagi dirinya dan bagi orang lain melalui perwujudan perilaku nyata. C. Tujuan Terapi 1. Menolong individu agar mampu mengurus diri sendiri, supaya dapat menentukan dan melaksanakan perilaku dalam bentuk nyata. 2. Mendorong konseli agar berani bertanggung jawab serta memikul segala resiko yang ada, sesuai dengan kemampuan dan keinginannya dalam perkembangan dan pertumbuhannya. 3. Mengembangkan rencana-rencana nyata dan realistik dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 4. Perilaku yang sukses dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses, yang dicapai dengan menanamkan nilai-nilai adanya keinginan individu untuk mengubahnya sendiri. 5. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggung jawab atas kesadaran sendiri. D. Proses Konseling (Terapi) Konselor berperan sebagai: 1. Motivator, yang mendorong konseli untuk: (a) menerima dan memperoleh keadaan nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan yang ingin dicapainya; dan (b) merangsang klien untuk mampu mengambil keputusan sendiri, sehingga klien tidak menjadi individu yang hidup selalu dalam ketergantungan yang dapat menyulitkandirinya sendiri. 2. Penyalur tanggung jawab, sehingga: (a) keputusan terakhir berada di tangan konseli; (b) konseli sadar bertanggung jawab dan objektif serta realistik dalam menilai perilakunya sendiri. 3. Moralist; yang memegang peranan untuk menetukan kedudukan nilai dari tingkah laku yang dinyatakan kliennya. Konselor akan memberi pujian apabila konseli bertanggung jawab atas perilakunya, sebaliknya akan memberi celaan bila tidak dapat bertanggung jawab terhadap perilakunya. 4. Guru; yang berusaha mendidik konseli agar memperoleh berbagai pengalaman dalam mencapai harapannya. 5. Pengikat janji (contractor); artinya peranan konselor punya batas-batas kewenangan, baik berupa limit waktu, ruang lingkup kehidupan konseli yang dapat dijajagi maupun akibat yang ditimbulkannya. Teknik-Teknik dalam Konseling 1. Menggunakan role playing dengan konseli 2. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dan relaks 3. Tidak menjanjikan kepada konseli maaf apapun, karena terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan perilaku tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 4. Menolong konseli untuk merumuskan perilaku tertentu yang akan dilakukannya. 5. Membuat model-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 6. Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya

57

7. Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejekan yang pantas untuk mengkonfrontasikan konseli dengan perilakunya yang tak pantas. 8. Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Sumber: Sayekti. 1997. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: Menara Mass Offset Sofyan S. Willis. 2007. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung: Alfabeta.

Teknik Umum Konseling (1)
Diterbitkan Januari 15, 2008

Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disampaikan beberapa jenis teknik umum, diantaranya : A. Perilaku Attending Perilaku attending disebut juga perilaku menghampiri klien yang mencakup komponen kontak mata, bahasa tubuh, dan bahasa lisan. Perilaku attending yang baik dapat : 1. Meningkatkan harga diri klien. 2. Menciptakan suasana yang aman 3. Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas. Contoh perilaku attending yang baik :
• • • • •

Kepala : melakukan anggukan jika setuju Ekspresi wajah : tenang, ceria, senyum Posisi tubuh : agak condong ke arah klien, jarak antara konselor dengan klien agak dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan. Tangan : variasi gerakan tangan/lengan spontan berubah-ubah, menggunakan tangan sebagai isyarat, menggunakan tangan untuk menekankan ucapan. Mendengarkan : aktif penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam (menanti saat kesempatan bereaksi), perhatian terarah pada lawan bicara.

Contoh perilaku attending yang tidak baik :
• • • • •

Kepala : kaku Muka : kaku, ekspresi melamun, mengalihkan pandangan, tidak melihat saat klien sedang bicara, mata melotot. Posisi tubuh : tegak kaku, bersandar, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling. Memutuskan pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam untuk memberi kesempatan klien berfikir dan berbicara. Perhatian : terpecah, mudah buyar oleh gangguan luar.

B. Empati Empati ialah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati dilakukan sejalan

58

dengan perilaku attending, tanpa perilaku attending mustahil terbentuk empati. Terdapat dua macam empati, yaitu : 1. Empati primer, yaitu bentuk empati yang hanya berusaha memahami perasaan, pikiran dan keinginan klien, dengan tujuan agar klien dapat terlibat dan terbuka.Contoh ungkapan empati primer :” Saya dapat merasakan bagaimana perasaan Anda”. ” Saya dapat memahami pikiran Anda”.” Saya mengerti keinginan Anda”. 2. Empati tingkat tinggi, yaitu empati apabila kepahaman konselor terhadap perasaan, pikiran keinginan serta pengalaman klien lebih mendalam dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut. Keikutan konselor tersebut membuat klien tersentuh dan terbuka untuk mengemukakan isi hati yang terdalam, berupa perasaan, pikiran, pengalaman termasuk penderitaannya. Contoh ungkapan empati tingkat tinggi : Saya dapat merasakan apa yang Anda rasakan, dan saya ikut terluka dengan pengalaman Anda itu”. C. Refleksi Refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbalnya. Terdapat tiga jenis refleksi, yaitu : 1. Refleksi perasaan, yaitu keterampilan atau teknik untuk dapat memantulkan perasaan klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan adalah ….” 2. Refleksi pikiran, yaitu teknik untuk memantulkan ide, pikiran, dan pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien.Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan…” 3. Refleksi pengalaman, yaitu teknik untuk memantulkan pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal klien. Contoh : ” Tampaknya yang Anda katakan suatu…” D. Eksplorasi Eksplorasi adalah teknik untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien. Hal ini penting dilakukan karena banyak klien menyimpan rahasia batin, menutup diri, atau tidak mampu mengemukakan pendapatnya. Dengan teknik ini memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan dan terancam. Seperti halnya pada teknik refleksi, terdapat tiga jenis dalam teknik eksplorasi, yaitu : 1. Eksplorasi perasaan, yaitu teknik untuk dapat menggali perasaan klien yang tersimpan. Contoh :” Bisakah Anda menjelaskan apa perasaan bingung yang dimaksudkan ….” 2. Eksplorasi pikiran, yaitu teknik untuk menggali ide, pikiran, dan pendapat klien. Contoh : ” Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih lanjut ide Anda tentang sekolah sambil bekerja”. 3. Eksplorasi pengalaman, yaitu keterampilan atau teknik untuk menggali pengalaman-pengalaman klien. Contoh :” Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pengaruhnya terhadap pendidikan Anda” E. Menangkap Pesan (Paraphrasing) Menangkap Pesan (Paraphrasing) adalah teknik untuk menyatakan kembali esensi atau initi ungkapan klien dengan teliti mendengarkan pesan utama klien, mengungkapkan kalimat yang mudah dan sederhana, biasanya ditandai dengan kalimat awal : adakah atau nampaknya, dan mengamati respons klien terhadap konselor. 59

Pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien. Konselor: ”Biasanya Anda menempati peringkat berapa ? ”. dan (3) menghentikan pembicaraan klien yang melantur atau menyimpang jauh.Tujuan paraphrasing adalah : (1) untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor bersama dia dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien.” F. Contoh : ” Apakah Anda merasa ada sesuatu yang ingin kita bicarakan ? ” G. lebih baik gunakan kata tanya apakah. yang harus dijawab dengan kata Ya atau Tidak atau dengan kata-kata singkat. Pertanyaan Tertutup (Closed Question) Dalam konseling tidak selamanya harus menggunakan pertanyaan terbuka. Dorongan ini diberikan pada saat klien akan mengurangi atau menghentikan pembicaraannya dan pada saat klien kurang memusatkan pikirannya pada pembicaraan atau pada saat konselor ragu atas pembicaraan klien. Misalnya dengan menggunakan ungkapan : oh…. terus…. akan tetapi saya tidak mengambilnya. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menggunakan kata tanya mengapa atau apa sebabnya. (2) mengendapkan apa yang dikemukakan klien dalam bentuk ringkasan . dalam hal-hal tertentu dapat pula digunakan pertanyaan tertutup. dan (4) pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien. pengalaman dan pemikirannya dapat digunakan teknik pertanyaan terbuka (opened question). dapatkah.. Contoh dialog : Klien : ” Saya putus asa… dan saya nyaris… ” (klien menghentikan pembicaraan) Konselor: ” ya…” Klien : ” nekad bunuh diri” Konselor: ” lalu…” 60 . adakah. bagaimana. Contoh dialog : Klien : ”Saya berusaha meningkatkan prestasi dengan mengikuti belajar kelompok yang selama ini belum pernah saya lakukan”. Tujuan pertanyaan tertutup untuk : (1) mengumpulkan informasi. ya…. Saya tidak tahu mengapa demikian ? ” Konselor : ” Tampaknya Anda masih ragu. Contoh dialog : Klien : ” Itu suatu pekerjaan yang baik. Dorongan minimal (Minimal Encouragement) Dorongan minimal adalah teknik untuk memberikan suatu dorongan langsung yang singkat terhadap apa yang telah dikemukakan klien. Klien : ” Empat ” Konselor: ” Sekarang berapa ? ” Klien : ” Sebelas ” H. (2) menjernihkan atau memperjelas sesuatu.dan… Tujuan dorongan minimal agar klien terus berbicara dan dapat mengarah agar pembicaraan mencapai tujuan. Oleh karenanya. (3) memberi arah wawancara konseling. lalu…. Pertanyaan Terbuka (Opened Question) Pertanyaan terbuka yaitu teknik untuk memancing siswa agar mau berbicara mengungkapkan perasaan. jika dia tidak tahu alasan atau sebab-sebabnya.

Akhirnya terjadi pertengkaran sengit.I. Willis. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. J. Arifin. Tujuan menyimpulkan sementara adalah untuk : (1) memberikan kesempatan kepada klien untuk mengambil kilas balik dari hal-hal yang telah dibicarakan. Saya tak dapat lagi menahan diri.” K. Misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor atau menghayalkan sesuatu. karena adik-adik saya banyak dan amat membutuhkan biaya. yaitu : sikap orang tua Anda yang menginginkan Anda segera menyelesaikan studi. Contoh : ” Setelah kita berdiskusi beberapa waktu alangkah baiknya jika simpulkan dulu agar semakin jelas hasil pembicaraan kita.” Sumber : Sofyan S. namun masih ada hambatan yang akan hadapi. Terutama hidup di kota besar seperti Anda.” Konselor : ” Bisakah Anda mencobakan di depan saya. namun mungkin disayangkan jika orang seperti Anda yang tergolong akan meninggalkan SMA”. Jakarta. (3) meningkatkan kualitas diskusi. PT Golden Terayon Press. Contoh dialog : Klien : ” Saya pikir dengan berhenti sekolah dan memusatkan perhatian membantu orang tua merupakan bakti saya pada keluarga.M. kedua. Mengarahkan (Directing) Yaitu teknik untuk mengajak dan mengarahkan klien melakukan sesuatu. perasaan dan pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. 2004. tekad Anda untuk bekerja sambil kuliah makin jelas. Membantu orang tua memang harus.Konseling Individual. bukan pandangan subyektif konselor. dan waktu bekerja yang penuh sebagaimana tuntutan dari perusahaan yang akan Anda masuki. (4) mempertajam fokus pada wawancara konseling. Karena tantangan masa depan makin banyak. kita sudah sampai pada dua hal: pertama. 2003. bagaimana sikap dan kata-kata ayah Anda jika memarahi Anda. Jakarta : PPPG 61 . (2) menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap. Interpretasi Yaitu teknik untuk mengulas pemikiran. maka dibutuhkan manusia Indonesia yang berkualitas. Klien : ” Ayah saya sering marah-marah tanpa sebab. Dari materi materi pembicaraan yang kita diskusikan. dengan tujuan untuk memberikan rujukan pandangan agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut. Sugiharto.(2005. Teori dan Praktek.” Konselor : ” Pendidikan tingkat SMA pada masa sekarang adalah mutlak bagi semua warga negara. Menyimpulkan Sementara (Summarizing) Yaitu teknik untuk menyimpulkan sementara pembicaraan sehingga arah pembicaraan semakin jelas. Bandung : Alfabeta H.

2. Penggunaan teknik ini hendaknya dilakukan secara hati-hati. Anda tidak yakin apa yang akan Anda lakukan ”. Mengenai pacaran apakah termasuk dalam kerangka kepedulian Anda juga ?” B. Memimpin (leading) Yaitu teknik untuk mengarahkan pembicaraan dalam wawancara konseling sehingga tujuan konseling . Contoh dialog : Klien :” Saya mungkin berfikir juga tentang masalah hubungan dengan pacar. Fokus Yaitu teknik untuk membantu klien memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan. konflik. 4. Wanita tak boleh menjadi obyek laki-laki. Fokus pada topik. yaitu dengan : (1) memberi komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara dan waktu yang tepat. diantaranya : 1. Fokus mengenai budaya. Mungkin Anda tinggal merinci kepedulian itu. Misalnya dengan mengatakan : ” Apakah tidak sebaiknya jika pokok pembicaraan kita berkisar dulu soal hubungan Anda dengan orang tua yang kurang harmonis ”. (2) meningkatkan potensi klien. dan sebagainya. (2) tidak menilai apalagi menyalahkan. Contoh : ” Pengguguran kandungan ? Kamu memikirkan aborsi ? Pikirkanlah masak-masak dengan berbagai pertimbangan”. Fokus pada orang lain.” C. Contoh: ” Mungkin budaya menyerah dan mengalah pada laki-laki harus diatas sendiri oleh kaum wanita.Teknik Umum Konseling (2) Diterbitkan Januari 15. 2008 A. Ada beberapa yang dapat dilakukan. Contoh dialog : 62 . Fokus pada diri klien. atau kontradiksi dalam dirinya. Tujuannya adalah : (1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur. (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi. konselor seyogyanya dapat membantu klien agar dia dapat menentukan apa yang fokus masalah. senyum dengan kepedihan. Pada umumnya dalam wawancara konseling. Tapi bagaimana ya?” Konselor : ” Sampai ini kepedulian Anda tertuju kuliah kuliah sambil bekerja. Konfrontasi Yaitu teknik yang menantang klien untuk melihat adanya inkonsistensi antara perkataan dengan perbuatan atau bahasa badan. Contoh : ” Roni. Terangkanlah tentang dia dan apa yang telah dilakukannya ?” 3. Oleh karena itu. Contoh : ” Tanti. (3) dilakukan dengan perilaku attending dan empati. klien akan mengungkapkan sejumlah permasalahan yang sedang dihadapinya. ide awal dengan ide berikutnya. telah membuat kamu menderita.

Klien : ” Saya baik-baik saja”.(suara rendah, wajah murung, posisi tubuh gelisah).” Konselor :” Anda mengatakan baik-baik saja, tapi kelihatannya ada yang tidak beres”. ”Saya melihat ada perbedaan antara ucapan dengan kenyataan diri ”. D. Menjernihkan (Clarifying) Yaitu teknik untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas dan agak meragukan. Tujuannya adalah : (1) mengundang klien untuk menyatakan pesannya dengan jelas, ungkapan kata-kata yang tegas, dan dengan alasan-alasan yang logis, (2) agar klien menjelaskan, mengulang dan mengilustrasikan perasaannya. Contoh dialog : Klien : ” Perubahan yang terjadi di keluarga saya membuat saya bingung. Saya tidak mengerti siapa yang menjadi pemimpin di rumah itu.” Konselor : ”Bisakah Anda menjelaskan persoalan pokoknya ? Misalnya peran ayah, ibu, atau saudara-saudara Anda.” E. Memudahkan (facilitating) Yaitu teknik untuk membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas. Contoh : ” Saya yakin Anda akan berbicara apa adanya, karena saya akan mendengarkan dengan sebaik-baiknya.” F. Diam Teknik diam dilakukan dengan cara attending, paling lama 5 – 10 detik, komunikasi yang terjadi dalam bentuk perilaku non verbal. Tujuannya adalah (1) menanti klien sedang berfikir; (2) sevagai protes jika klien ngomong berbelit-belit; (3) menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien babas bicara. Contoh dialog : Klien :”Saya tidak senang dengan perilaku guru itu” Konselor :”…………..” (diam) Klien :” Saya..harus bagaimana.., Saya.. tidak tahu.. Konselor :”…………..” (diam) G. Mengambil Inisiatif Teknik ini dilakukan manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam, dan kurang parisipatif. Konselor mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi. Teknik ini bertujuan : (1) mengambil inisiatif jika klien kurang semangat; (2) jika klien lambat berfikir untuk mengambil keputusan; (3) jika klien kehilangan arah pembicaraan. Contoh: ” Baiklah, saya pikir Anda mempunyai satu keputusan namun masih belum keluar. Coba Anda renungkan kembali”. G. Memberi Nasehat Pemberian nasehat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya apakah pantas untuk memberi nasehat atau tidak. Sebab dalam memberi nasehat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni kemandirian klien harus tetap tercapai. 63

Contoh respons konselor terhadap permintaan klien : ” Apakah hal seperti ini pantas saya untuk memberi nasehat Anda ? Sebab, dalam hal seperti ini saya yakin Anda lebih mengetahuinya dari pada saya.” H. Pemberian informasi Sama halnya dengan nasehat, jika konselor tidak memiliki informasi sebaiknya dengan jujur katakan bahwa dia mengetahui hal itu. Kalau pun konselor mengetahuinya, sebaiknya tetap diupayakan agar klien mengusahakannya. Contoh : ” Mengenai berapa biaya masuk ke Universitas Pendidikan Indonesia, saya sarankan Anda bisa langsung bertanya ke pihak UPI atau Anda berkunjung ke situs www.upi.com di internet”. I. Merencanakan Teknik ini digunakan menjelang akhir sesi konseling untuk membantu agar klien dapat membuat rencana tindakan (action), perbuatan yang produktif untuk kemajuan klien. Contoh : ” Nah, apakah tidak lebih baik jika Anda mulai menyusun rencana yang baik berpedoman hasil pembicaraan kita sejak tadi ” J. Menyimpulkan Teknik ini digunakan untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang menyangkut : (1) bagaimana keadaan perasaan klien saat ini, terutama mengenai kecemasan; (2) memantapkan rencana klien; (3) pemahaman baru klien; dan (4) pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikutnya, jika dipandang masih perlu dilakukan konseling lanjutan.
Sofyan S. Willis. 2004.Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press. Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG

Teknik Khusus Konseling
Diterbitkan Januari 15, 2008

Dalam konseling, di samping menggunakan teknik-teknik umum, dalam hal-hal tertentu dapat menggunakan teknik-teknik khusus. Teknik-teknik khusus ini dikembangkan dari berbagai pendekatan konseling, seperti pendekatan Behaviorisme, Rational Emotive Theraphy, Gestalt dan sebagainya Di bawah disampaikan beberapa teknik – teknik khusus konseling, yaitu : 64

1. Latihan Asertif Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini. 2. Desensitisasi Sistematis Desensitisasi sistematis merupakan teknik konseling behavioral yang memfokukskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks. Esensi teknik ini adalah menghilangkan perilaku yang diperkuat secara negatif dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Jadi desensitisasi sistematis hakekatnya merupakan teknik relaksi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya merupakan kecemasan, dan ia menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. 3. Pengkondisian Aversi Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk. Teknik ini dimaksudkan untuk meningkatkan kepekaan klien agar mengamati respon pada stimulus yang disenanginya dengan kebalikan stimulus tersebut. Stimulus yang tidak menyenangkan yang disajikan tersebut diberikan secara bersamaan dengan munculnya perilaku yang tidak dikehendaki kemunculannya. Pengkondisian ini diharapkan terbentuk asosiasi antara perilaku yang tidak dikehendaki dengan stimulus yang tidak menyenangkan. 4. Pembentukan Perilaku Model Teknik ini dapat digunakan untuk membentuk Perilaku baru pada klien, dan memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Dalam hal ini konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup atau lainnya yang teramati dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran sosial. 5. Permainan Dialog Teknik ini dilakukan dengan cara klien dikondisikan untuk mendialogan dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu kecenderungan top dog dan kecenderungan under dog, misalnya : Kecenderungan orang tua lawan kecenderungan anak. Kecenderungan bertanggung jawab lawan kecenderungan masa bodoh. Kecenderungan “anak baik” lawan kecenderungan “anak bodoh”. Kecenderungan otonom lawan kecenderungan tergantung. Kecenderungan kuat atau tegar lawan kecenderungan lemah.

65

8. Misalnya : konselor memberi kesempatan kepada klien untuk memainkan peran “ekshibisionis” bagi klien pemalu yang berlebihan. “Saya malas. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian klien menambahkan dalam pernyataan itu dengan kalimat : “…dan saya bertanggung jawab atas hal itu”. Bermain Proyeksi Proyeksi yaitu memantulkan kepada orang lain perasaan-perasaan yang dirinya sendiri tidak mau melihat atau menerimanya. 7. Penerapan permainan dialog ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan teknik “kursi kosong”. dan saya bertanggung jawab atas kejenuhan itu” “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan sekarang. Dalam teknik ini konselor meminta klien untuk memainkan peran yang berkebalikan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya. Bertahan dengan Perasaan Teknik ini dapat digunakan untuk klien yang menunjukkan perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan atau ia sangat ingin menghindarinya. dan saya bertanggung jawab atas kemalasan itu” Meskipun tampaknya mekanis. Untuk membuka dan membuat jalan menuju perkembangan kesadaran perasaan yang lebih baru tidak cukup hanya mengkonfrontasi dan menghadapi perasaan-perasaan yang 66 . Konselor mendorong klien untuk tetap bertahan dengan perasaan yang ingin dihindarinya itu. Kebanyakan klien ingin melarikan diri dari stimulus yang menakutkan dan menghindari perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan. 9. perasaan-perasaan yang dipantulkan kepada orang lain merupakan atribut yang dimilikinya. menurut pandangan Gestalt pada akhirnya klien akan mengarahkan dirinya pada suatu posisi di mana ia berani mengambil resiko. Latihan Saya Bertanggung Jawab Merupakan teknik yang dimaksudkan untuk membantu klien agar mengakui dan menerima perasaan-perasaannya dari pada memproyeksikan perasaannya itu kepada orang lain. Teknik Pembalikan Gejala-gejala dan perilaku tertentu sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasarinya. tetapi menurut Gestalt akan membantu meningkatkan kesadaraan klien akan perasaan-perasaan yang mungkin selama ini diingkarinya. Misalnya : “Saya merasa jenuh. 6.Melalui dialog yang kontradiktif ini. Dalam teknik bermain proyeksi konselor meminta kepada klien untuk mencobakan atau melakukan halhal yang diproyeksikan kepada orang lain. Mengingkari perasaan-perasaan sendiri dengan cara memantulkannya kepada orang lain. dan saya bertanggung jawab atas ketidaktahuan itu”. Sering terjadi. Dalam hal ini konselor tetap mendorong klien untuk bertahan dengan ketakutan atau kesakitan perasaan yang dialaminya sekarang dan mendorong klien untuk menyelam lebih dalam ke dalam tingkah laku dan perasaan yang ingin dihindarinya itu.

Bermain peran Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu. kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri. Teori dan Praktek. Willis. Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab. Jakarta : PPPG 67 . Dengan tugas rumah yang diberikan. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta.ingin dihindarinya tetapi membutuhkan keberanian dan pengalaman untuk bertahan dalam kesakitan perasaan yang ingin dihindarinya itu. 2003.(2005. dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku yang diinginkan. 12. Sumber : H.M. dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola perilaku yang diharapkan. 11. Home work assigments. Pelaksanaan home work assigment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor.Konseling Individual. Arifin. Imitasi Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan perilakunya sendiri yang negatif. 2004. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Adaptive Teknik yang digunakan untuk melatih. membiasakan diri. Sofyan S. pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor. Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih. klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis. PT Golden Terayon Press. 13. mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. 10. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien. mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru. Bandung : Alfabeta Sugiharto. mendorong.

Artikel: DESKRIPSI KASUS Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat rasional ataupun tidak rasional. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois. Akibatnya berpikir kekanak-kanakan (sebagai hal yang manunusiawi) seluruh kehidupannya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat. Nama & E-mail: Slameto Saya Dosen di UKSW salatiga Tanggal: 8 Mei 2002 Judul Artikel: Memahami dan Menolong Siswa Yang Kurang PD Topik: Studi Kasus Untuk Bimbingan Konseling. dan dunia apabila tidak segera memperoleh apa yang diinginkannya. memainkan peranan Tuhan apa saja yang dimui harus terjadi. 2008 Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah. mengontrol dunia. tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung. MEMAHAMI LIA DALAM PERSPEKTIF RASIONAL EMOTIF Menurut pandangan rasional emotif. Sejak diterima di SMU favorit di satu fihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima. Dasar saya anak desa. Makin lama perasaan ditolak. menumbuhkan perasaan tidak nyaman (seperti kecemasan) yang sebenarnya tak perlu. kurang bersahabat. terisolik. Apa yang dipikirkan dan atau apa yang dirasakan atas sesuatu kejadian diwujudkan dalam tindakan/perilaku rasional atau irasional. selain itu manusia juga mempunyai kecenderungan untuk melebihlebihkan pentingnya penerimaan orang lain yang justru menyebabkan emosinya tidak sewajarnya seringkali menyalahkan dirinya sendiri dengan cara-cara pembawaannya itu dan cara-cara merusak diri yang diperolehnya. manusia terlahir dengan kecenderungan yang luar biasa kuatnya berkeinginan dan mendesak agar supaya segala sesuatu terjadi demi yang terbaik bagi kehidupannya dan sama sekali menyalahkan diri sendiri. pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja. sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak. dan sombong. orang lain. pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga. tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah. anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri.Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Januari 31. dan jika tidak dapat melakukannya dianggap goblok dan tak berguna. dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan. susah tak ada/punya teman yang peduli. orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota. Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. terus bertahan. Berpikir dan merasa itu sangat dekat dan dengan satu sama lainnya : pikiran dapat menjadi perasaan dan sebaliknya. akhirnya hanya kesulitan yang luar biasa besar mampu mencapai dan memelihara tingkah laku yang realistis dan dewasa. tak terlalu jelek/memalukan namun 68 . sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga. Bagaimana tindakan/perilaku itu sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain dan dorongan-doronan yang kuat untuk mempertahankan diri dan memuaskan diri sekalipun irasional. tetapi di lain fihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Ciri-ciri irasional seseorang tak dapat dibuktikan kebenarannya. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder.

tak seperti orang/teman-teman lainnya. memaki-maki diri saya sendiri. 50% netral. makin melihat/menyadari pikiran dan kata-kata yang terus menerus ditujukan kepada diri sendiri. dan pelepasan beban agar Lia melepaskan pikiran dan perasaannya yang tidak rasional dan menggantinya dengan yang rasional sebagai kelanjutan teknik kognitif di atas. Lia sebetulnya terlahir dengan potensi unggul. dan menghalangi seseorang kembai ke kejadian awal dan mengubahnya. Ia telah berhasil membangun konsep dirinya secara tidak realistis berdasarkan anggapan yang salah terhadap (dan dari) teman-teman lingkungannya. ia menjadi bermasalah karena perilakunya dikendalikan oleh pikiran/perasaan irasional. Sehubungan dengan kasus. dan seterusnya. Saya pantas menderita karena semuanya itu. Konseling emotif-evolatif untuk mengubah sistem nilai Lia dengan menggunakan teknik penyadaran antara yang benar dan salah seperti pemberian contoh. Ia menjadi minder. Cara konselor ialah 69 . sugesti dan asertive training dengan simulasi diri menerapkan konsep diri yang benar dan sikap/ketergantungan pada orang lain yang benar/rasional dilanjutkan sebagai PR melatih. kalau ada yang tidak senang terhadap saya itu berarti malapetaka bagi saya. Contoh : mulai dari seseorang berharga bukan dari kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung. pemberian nasehat secara tepat. TUJUAN DAN TEKNIK KONSELING Jika pemikiran Lia yang tidak logis / realistis (tentang konsep dirinya dan pandangannya terhadap teman-temannya) itu diperangi maka dia akan mengubahnya. tetapi pada kasih Allah dan perwujudanNya. Allah mengasihi saya. teliti. sosial modeling dan relaksasi/meditasi. Konseling behavioritas digunakan untuk mengubah perilaku yang negatif dengan merobah akar-akar keyakinan Lia yang irasional/tak logis kontrak reinforcemen. konfrontasi langsung dengan peta pikir rasional-irasoonal. karena saya berharga dihadiratNya. Ide-ide ini diajarkan. PENUTUP Teori ini dalam menolong menggunakan pendekatan direct menggunakan nasehat yang ditandai oleh menyerang masalah dengan intektual dan meyakinkan (koselor). puas dan bangga. Bentuk-bentuk pikiran/perasaan irasional tersebut misalnya : semua orang dilingkungan saya harus menyenangi saya. sugestif. bermain peran. peduli. mengobservasi dan evaluasi diri. ia telah menempatkan harga diri pada konsep/kepercayaan yang salah yaitu jika kaya. hanya 10% saja yang membeci saya. Dengan demikian tujuan konseling adalah memerangi pemikiran irasional Lia yang melatar-belakangi ketakutan / kecematannya yaitu konsep dirinya yang salah beserta sikapnya terhadap teman lain. mengajak berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif. Itu berarti salah saya. pemalu. sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 40 orang teman satu kelas misalnya ada + 40% yang baik. Bahkan akhirnya menimbulkan perasaan tak berdaya pada diri yang bersangkutan. sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. yang membawa kehancuran kepada diri sendiri. penakut dan akhirnya ragu-ragu keberhasilan/prestasinya kelak yang sebetulnya tidak perlu terjadi. tetapi kadang-kadang acuh-tak acuh. Dalam konseling konselor lebih bernuansa otoritatif : memanggil Lia. dan lain-lain dan itu semua tidak ada/didapatkan sejak di SMU. Adalah tidak mungkin menuntut semua / setiap orang setiap saat baik pada saya. dan dilatihkan dengan pendekatan ilmiah. semua teman memperhatikan / mendukung. bahkan adakalanya saya benci. sampai pada akhirnya menyalahkan dirinya sendiri dengan hujatan dan penderitaaan serta mengisolir dirinya sendiri. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang. Konselor lebih bergaya mengajar : memberi nasehat. terapi dengan menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk PR serta bibliografi terapi. karena saya tak berharga.dibiarkan terus berlangsung. Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa Lia harus membongkar pola pikir irasional tentang konsep harga diri yang salah. Tekniknya jelas.

Kota Kembang.. Kedalaman dan tanah lama serta dapat dipakai konseli untuk mengkonseling dirinya sendiri kalah. FIP. 1991. Tetapi tilikan dan kesadaran tidak cukup. dan dengan cara demikian ia membawa klien ke kesadaran dan tilikan baru..dengan pendekatan yang tegas. 1998. IKIP Semarang Pres. kita lebih baik harus menangani cara-cara tingkah laku dan emosi untuk tindak balasan kepada kepercayaan-kepercayaan kita dan perasaan-perasan yang salah fungsi dan tindakan-tindakan yang mengikuti. (4) mempersepsi dengan jelas kepercayaan-kepercayaan ini. mendebat. jika kita mengharap untuk berubah. Perspektif BK dan Penerapannya di Berbagai Institusi. 1998. Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi (terjemahan Mulyarto). 1991/1995. 2. Depdikbud Dirjen PT Proyek P2LPTK. Satya Wacana Semarang. 4. Yogyakarta. Ekonomis dari segi waktu baik bagi konselor maupun konseli. Dasar-Dasar Konseling Pendidikan. (5) menerima kenyataan bahwa. SUMBER Aryatmi. Ia harus dilatih untuk berpikir dan berkata kepada diri sendiri hal-hal yang lebih positive dan realistik. Konseling Pancawashita. Terapis mengajar klien untuk berpikir betul dan bertindak efektif. penstrukturan kembali filosofis untuk merubah kepribadian yang salah berfungsi menyangkut langkah-langkah sebagai berikut : (1) mengakui sepenuhnya bahwa kita sebagian besar bertanggungjawab penciptaan masalah-masalah kita sendiri. menantang. progdi BK PPB. 1988. S. Teknik yang dipakai bersifat eklektif dengan pertimbangan : 1. Prayitno. Konselor selanjutnya menolong dia untuk memikir kembali. (3) menyadari bahwa problem-problem dan emosi kita berasal dari kepercayaan-kepercayaan tidak rasional . 70 . (2) menerima pengertian bahwa kita mempunyai kemampuan untuk merubah gangguangangguan secara berarti. Kesimpulannya. Pengantar Teori-teori Konseling. IKIP Padang Rosjidan. menyebutkan kembali kalimat-kalimat yang merugikan itu. dan (6) mempraktekkan metode-metode RET untuk menghilangkan atau merubah konsekuensi-konsekuensi yang terganggu pada sisa waktu hidup kita ini. Corey G. Kesegaran hasil yang dicapai. memintakan perhatian kepada pikiran-pikiran yang menjadi sebab gangguan itu dan bagaimana pikiran dan kalimat itu beroperasi hingga membawa akibat yang merugikan. M. Jakarta Surya. 3.. Efektifitas teknis-teknis yang dipakai cocok untuk bermacam ragam konseli.

terutama di Amerika Serikat dan Afrika. Pasca RSKO. dan akhirnya tumbuh sifat kepemimpinan terhadap diri. dan analgesik (Martin. Turki. Pada tahun 1973 atau 2500 tahun kemudian ditemukan antara lain di India. Willis adalah Dosen Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan FIP-UPI Bandung 1. dan segitiga emas (Kamboja. dan masyarakat dengan moral-religius yang baik. Kedua benua ini lebih banyak mengkonsumsi marijuana. Mesir. Willis*) Abstrak : Pemulihan pecandu narkoba pasca pengobatan di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dapat ditangani dengan Konseling Terpadu yang terdiri dari Konseling Individual. Saat ini narkoba telah meluas ke seluruh dunia dan dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Cina. membuktikan bahwa dengan menjalani konseling selama 3 bulan (April-Juni 2001). Konseling Keluarga. dan Asia. mendapat penghargaan dari lingkungan sehingga tumbuh motivasi untuk hidup baik. Suku-suku primitif seperti Aztec dan suku-suku di banyak negara Amerika Selatan (Latin) menggunakan ramuan-ramuan hallucinogenic seperti marijuana dan sejenisnya untuk upacara-upacara ritual kepercayaannya mendekati roh-roh. Salah satu ramuan itu adalah disebut liberator of sin atau delight giver (pemberi kesenangan) yang ditujukan untuk kesenangan. Vietnam. 2008 Konseling Terpadu Pemulihan Pecandu Narkoba Oleh: Sofyan S. malaria.Konseling Pecandu Narkoba Diterbitkan Januari 25. Semua itu bertujuan agar klien terbebas dari dorongan kecanduan akibat mengkonsumsi narkoba. digunakan oleh masyarakat sebagai pemberi kesenangan (fly) dan juga sebagai anti sakit (analgesik). Martin. Konseling Agama. terutama remaja. *) Sofyan S.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan narkoba berawal sejak tahun 2737 SM ketika Kaisar Cina bernama Shen Nung menulis naskah farmasi yang bernama Pen Tsao atau “Ramuan Hebat” (Great Herbal). dan untuk bahan analgesik (Kisker. Kunjungan. dan Partisipasi Sosial. Bagaimana di Eropa. dan Amerika Selatan. 1977. 1977). Australia. Pendidikan dan Pelatihan. Thailand). rematik. Pemulihan pecandu narkoba dengan menggunakan Konseling Terpadu itu memungkinkan hasil-hasil sebagai berikut. Media tersebut juga mengutip pernyataan Ketua Umum Granat (Gerakan Anti Narkotika) Henry Yosodinigrat bahwa omzet narkoba di Indonesia saat ini berjumlah 24 triliun rupiah per 71 . Diperkirakan terdapat 200 juta pemakai marijuana hingga tahun 1977 (Kisker. Konseling Kelompok. Diperkirakan saat ini di Indonesia sudah ada empat juta pengguna narkoba (Republika. Kata Kunci: Konseling Terpadu. 1977). Opium banyak pula ditemukan di Cina. termasuk di Indonesia? Saat ini seluruh dunia sudah terkena wabah narkoba yang meracuni generasi muda. tidak menyalahkan pihak luar. Pemulihan. mengambil tanggung jawab atas perbuatan sendiri dengan sadar atas resikonya. dan angka tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali pada abad ke 21. keluarga. obat lemah badan. pecandu narkoba. Studi kasus aplikasi Konseling Terpadu terhadap seorang klien pasca RSKO. 1977). merasa sebagai anggota masyarakat yang beragama. Pendahuluan 1. klien telah menjadi anggota masyarakat dan bekerja normal pada toko suku cadang mobil di Jakarta. sejenis obat (drug) yang saat ini amat populer yaitu marijuana yang berasal dari tanaman linneaeus canabis sativa. Pada tahun 800 SM di India ditemukan ramuan sejenis opium yang disebut the heavenly guide. Tumbuh pada diri klien perasaan percaya diri. 22-5-2001).

800 miliar. Meluasnya narkoba di Indonesia terutama di kalangan generasi muda karena didukung oleh faktor budaya global. Pada tahun 1967 panti rehabilitasi itu hanya memiliki 16 tempat tidur. VCD. Akibat KKN hukum di negeri ini tidak berfungsi. Angka tersebut diperoleh dari jika setiap hari seorang pengguna memakai narkoba seharga Rp. Model pemulihan yang ada saat ini sangat berorientasi medis dan psikologis. dan bahkan mengkonsumsi narkoba.000 = Rp.bulan.Willis. (2) lemahnya hukum terhadap pengedar dan pengguna narkoba. faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri adalah: (1) gangguan psikososial keluarga (Sofyan S. sering pengedar narkoba hanya dihukum ringan saja. (b) menjauhi teman-teman lama yang masih kecanduan. Maraknya narkoba berkaitan pula dengan budaya korupsi. Sedangkan. Masalahnya. Di negara itu sejak tahun 60-an telah ada beberapa panti rehabilitasi. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengungkapkan secara jelas dan sistematik mengenai penanganan kasus narkoba yang dialami seorang klien bernama FR. pada diri klien belum terbentuk pertahanan diri untuk melawan godaan dari kelompok lamanya. seperti di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. dan (e) mendekatkan diri kepada Tuhan. 2001). satu hari omzetnya mencapai 4 juta x Rp. dan film-film. Penetrasi budaya Barat ke Indonesia mudah sekali diamati melalui pergaulan anak-anak muda kota (AMK). Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC). Dengan metode Konseling Terpadu diharapkan klien akan berubah perilakunya yaitu: (a) munculnya sikap anti narkoba. ternyata kurang membawa hasil yang memuaskan. (d) kembali bekerja sebagai layaknya orang-orang normal.200. Hal ini berarti. dan (4) ketakstabilan emosi (Duke and Norwicki. Budaya global dikuasai oleh budaya Barat (baca Amerika Serikat) yang mengembangkan pengaruhnya melalui layar TV. Ulwan. serta yang terpenting (4) lemahnya pendidikan agama para siswa sekolah (Sofyan S. pada tahap awal pecandu dibawa ke Rumah Sakit Ketergantungan Obat atau RSKO (Mann. (3) lemahnya sistem sekolah termasuk bimbingan dan konseling (BK). khususnya generasi muda. di Malaysia jika kedapatan pengedar atau pecandu membawa dadah 5 gr ke atas maka orang tersebut akan dihukum mati (Republika. Minnesota. (2) rasa ingin tahu (curiousity) (Hurlock. Indikator lain adalah tumbuh kemampuan dengan rasa tanggung jawab untuk mengkampanyekan bahaya narkoba kepada masyarakat. Faktor penentu dalam diri adalah: (1) minat. Panti rehabilitasi yang terkemuka adalah St.200. 1979). konsumtif. 1. maka AMK pun menirunya. melalui metode Konseling Terpadu. Berkembangnya jumlah pecandu narkoba ditentukan oleh dua faktor. Willis. (3) lemahnya rasa ketuhanan (Abu Hanifah. Minneapolis.000.2 Tujuan Studi Kasus Penanganan kasus pecandu narkoba yang di Indonesia dilakukan dengan hanya pendekatan medis dan/atau spiritual. namun 9 tahun kemudian panti tersebut telah memiliki 112 tempat tidur. 1. kolusi. suatu angka yang fantastis. Ciri utama budaya tersebut amat mudah ditiru dan diadopsi oleh generasi muda karena sesuai dengan kebutuhan dan selera muda. bahkan minuman beralkohol di atas 40 persen (minol 40 persen) banyak diberi kemudahan oleh pemerintah. Artinya. telah terjadi peningkatan pecandu secara berarti setiap tahun. sehingga narkoba mudah beredar. Mengenai hal itu Mann (1979) berkomentar sebagai berikut. karena setelah penanganan tersebut klien hidup di masyarakat dan kembali kecanduan. 72 . Pertahanan diri bisa berbentuk melalui kesadaran klien terhadap bahaya narkoba bagi dirinya dan generasi muda lainnya.3 Kajian Literatur Upaya pemulihan (recovery) pecandu narkoba secara medis dan psikologis di negara kita pada umumnya berpedoman pada cara-cara yang dilakukan Amerika Serikat. 1979). namun terbentur pada lemahnya hukum. 25-52001). Beberapa bukti lemahnya hukum terhadap narkoba adalah sangat ringan hukuman bagi pengedar dan pecandu. (c) mencintai keluarga. dan haus akan segala macam mode yang datang dari AS (Abdullah N. 1995). Sebagai perbandingan. 1978). Berbagai upaya untuk mengatasi berkembangnya pecandu narkoba telah dilakukan. yaitu perpaduan berbagai pendekatan konseling. 1993). Ciri pergaulan AMK adalah bebas. Jika pakaian para artis di TV buka-bukaan. dan nepotisme (KKN) dari para pejabat negara. 1989). yaitu faktor dalam dan di luar diri sendiri.

back home. dan memungkinkan sekolah adik-adiknya terganggu. bersedia mengatakan segala isi hati dan rahasia pribadi berkaitan dengan kecanduannya. Prosedur Konseling Individual adalah sebagai berikut: (a) konselor menciptakan hubungan konseling yang menumbuhkan kepercayaan klien terhadap konselor. 1977). akan tumbuh 73 . sosial. tokoh-tokoh masyarakat. mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.“There are still many places in our society where the typical approach to the disease of chemical dependency is to admit the individual patient into a hospital for detoxification. ibu-ibu pengajian. 2. 1980). terbuka. dan fisik. institute nutrition and vitamin therapy. prescribe mood-controlling medications. (2) menumbuhkan kesadaran untuk mengambil tanggung jawab atas perbuatannya yang destruktif yang dilakukan selama ini dengan menerima segala akibatnya (seperti: keluar dari sekolah/kuliah. dsb). KI bertujuan menanamkan kepercayaan diri klien atas dasar kesadaran diri untuk: (1) tidak menyalahkan orang lain atas kecerobohan dan kesalahannya mengkonsumsi narkoba.Metode Penanganan Kasus Konseling Terpadu (KT) adalah upaya memberikan bantuan kepada klien kecanduan narkoba dengan menggunakan beragam pendekatan konseling dan memberdayakan klien terhadap lingkungan sosial agar klien segera menjadi anggota masyarakat yang normal. 2. (4) membuat rencana-rencana hidup secara rasional dan sistematik untuk keluar dari cengkraman setan narkoba dan menjadi manusia yang baik. kehilangan pekerjaan. dan dapat menghidupi diri dan keluarga. Pada gilirannya klien akan bicara jujur membuka rahasia batinnya (disclosure) yang selama ini tidak pernah dikemukakan kepada orang lain termasuk keluarga (Ivey & Downing. Mann memuji pendekatan Panti St. dan berbuat baik terhadap sesama. memahami. guru-guru BK di sekolah. hangat. Dari penjelasan di atas ada dua hal penting yang harus mendapat penekanan untuk upaya recovery klien. Jika seorang konselor menguasai pendidikan agama. terapi nutrisi/vitamin. para siswa. Mary’s Hospital and Rehabilitation Center (SHRC) karena disana pasien tidak hanya disembuhkan melalui pendekatan pengobatan. bermoral. menerima cobaan hidup dengan tawakal. klien siap untuk melaksanakan program tersebut. intelektual. and back to destructive drinking”. akan lebih baik KI diiringi dengan ajaran-ajaran agama seperti penyerahan diri kepada Allah. dan asli (genuine) dari konselor. Jika konselor tidak menguasai soal agama. Ragam pendekatan konseling yang diterapkan pada KT adalah sebagai berikut. Willis 1995). (c) konselor membantu klien untuk memahami dan mentaati rencana atau program yang telah disusun konselor. serta memiliki kemampuan-kemampuan teknik konseling yang baik (Sofyan S. Sebagai seorang dokter medis. (b) konselor membantu klien agar dia mampu memahami diri dan masalahnya. dan memberi obat pengendalian emosi pasien. Mann menyangsikan keampuhan RSKO bagi pemulihan total (total recovery) pasien dengan layanan detoksifikasi. dan sebagainya. Kemudian ia bersedia bersama konselor untuk menemukan jalan keluar atas kekacauan dirinya sehingga membuat keluarga klien menderita karena merasa malu. sarjana. and than put the patient back on the street. spiritual. konselor harus memasukkan seorang ahli agama kedalam tim konselor. or back on the job.1 Konseling Individual (KI) Penerapan KI adalah upaya membantu klien oleh konselor secara individual dengan mengutamakan hubungan konseling antara konselor dengan klien yang bernuansa emosional. sehingga klien menjadi jujur dan terbuka. dijauhi orang-orang yang dicintai. 2. Melalui interpersonal relation. anggota DPR. akan tetapi juga pendekatan rehabilitasi psikologis. Hal ini disebabkan oleh sikap empati.2 Bimbingan Kelompok (BKL) Bimbingan kelompok bertujuan memberi kesempatan klien untuk berpartisipasi dalam memberi ceramah dan diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat seperti mahasiswa. (3) menerima realita hidup dengan jujur. sehingga besar kepercayaan klien terhadap konselor. Selanjutnya. Syarat utama KT adalah klien telah selesai dengan program detoxification dari RSKO. dan (5) menumbuhkan keinginan dan kepercayaan diri untuk melaksanakan rencana hidup tersebut (Dyere & Vriend. taat ibadah.

dan biaya keluar jadi besar untuk pemulihan. dan sebagainya.3 Konseling Keluarga (KK) Untuk membantu secepatnya pemulihan (recovery) klien narkoba. diminta juga tanggapan mereka terhadap keadaan klien saat ini. Menyiapkan mental klien narkoba untuk menghadapi anggota keluarga. konselor mengemukakan kepada keluarga tentang program pemulihan klien secara keseluruhan. saudara. Fasilitator konseling keluarga adalah konselor. 74 . amat diperlukan dukungan keluarga seperti ayah. Prosedur BKL yang menjadikan klien sebagai figur sentral meliputi: (a) Mempersiapkan mental klien untuk berani tampil menyampaikan kisah kasusnya. Pelajaran dari ceramah dan diskusi yang dilakukan klien secara terus menerus akan mendewasakan klien sehingga menjadi kuat kepribadian untuk menjadi anggota masyarakat. kritikan-kritikan. suami. 1985). Selanjutnya. dan tidak segan-segan mengeritik dan memberi masukan. Konselor meminta tanggapan keluarga tentang program tersebut. tanggapan klien terhadap program yang telah disusun konselor. Kemudian. percaya diri. Demikian juga.kepercayaan diri klien (Yalom. serta penyesalan terhadap masa lalu. Dengan berdiskusi dengan beragam kelompok. suami/istri. orang tua. Untuk mencapai keberhasilan KK maka prosedur yang harus ditempuh adalah sebagai berikut: 1. dan masyarakat. dan keluarga dekat lainnya. dan bosan dengan kelakuan klien yang mereka anggap amat keterlaluan. Dampaknya adalah tumbuh rasa aman. sebaliknya anggota keluarga mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pemulihan klien. Selanjutnya. Memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan terpendam. 2. Selanjutnya. 4. (c) Mempersiapkan peserta agar mempunyai minat untuk berdiskusi dengan klien pecandu narkoba. mencemarkan nama keluarga. (b) Mempersiapkan materi yang akan disampaikan klien kepada peserta diskusi yaitu penjelasan tentang identitas diri dan kisah panjang tentang proses kecanduan sejak awal hingga saat ini beserta upaya-upaya penyembuhan yang telah dilaluinya.. Mempersiapkan mental klien berarti dia harus berani menerima kritikan-kritikan anggota keluarga dan siap untuk berubah kepada kebaikan sesuai harapan keluarga. istri. dan selanjutnya berdiskusi dengan peserta. (d) Mempersiapkan daftar hadir peserta dan kamera photo. merusak diri. Tanggapan-tanggapan dari kedua pihak terhadap program yang disusun konselor amat penting supaya semua pihak terutama klien sungguh-sungguh didalam menjalani program pemulihan dirinya. Maksudnya supaya keluarga klien menaruh kepercayaan terhadap semua upaya konselor bersama klien. dan masyarakat. 5. Alasannya karena ada sebagian anggota keluarga yang jengkel. saudara. 1982). Nuansa emosional yang akrab harus mampu diciptakan oleh konselor agar terjadi keterbukaan klien terhadap keluarga. dan juga tanggapan terhadap keluarganya. dan perasaan-perasaan negatif lainnya terhadap klien. 3. keluarga. diharapkan klien akan makin meningkat kepercayaan diri untuk hidup normal dan juga tumbuh sikap kepemimpinan diri. konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menyampaikan isi hatinya berupa kata-kata pengakuan jujur atas kesalahan-kesalahannya. Semuanya bertujuan untuk menurunkan stres keluarga sebagai akibat kelakuan klien sebagai anggota keluarga yang dicintai (Horne & Ohlsen. ibu. keluarga. klien mengemukakan harapan hidup masa depan dan diberi kesempatan untuk berbuat baik terhadap diri. Jumlah peserta yang ideal paling banyak 10 orang. pacar. ada kesempatan untuk memberi saran-saran. dan rasa tanggung jawab klien terhadap diri dan keluarga. pesan. 2. Di samping itu. sedangkan pesertanya adalah klien. keinginan-keinginan terhadap klien agar dia berubah. keluarga akan mendorong penyembuhan klien dengan tulus dan kasih sayang. Di samping itu. sehingga setelah melakukan konseling klien menjadi orang yang berguna. marah.

seorang konselor dituntut untuk dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Willis. 2004) telah mengidentifikasi beberapa perilaku verbal non verbal konselor yang efektif dan tidak efektif sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini: 1. 2008 Dalam proses konseling. bimbingan kelompok. sedang) pelan Memelihara kontak mata yang baik Duduk menjauh dari klien 75 .go.Secara berturut-turut telah dikemukakan program konseling yang memadukan kegiatan konseling individual. Sumber : http://depdiknas. Editorial Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Edisi 36. dan konseling keluarga. serta program partisipasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat. Perilaku Verbal: Efektif Menggunakan kata-kata yang dapat dipahami klien Memberikan refleksi dan penjelasan terhadap pernyataan klien Penafsiran yang baik/sesuai Membuat kesimpulan-kesimpulan Merespon pesan utama klien Memberi dorongan minimal Memanggil klien dengan nama panggilan atau “Anda” Memberi informasi sesuai keadaan Menjawab pertanyaan tentang diri konselor Menggunakan humor secara tepat tentang pernyataan klien Penafsiran yang sesuai dengan situasi Tidak efektif Memberi nasihat Terus menerus menggali dan bertanya terutama bertanya “mengapa” Bersifat menentramkan klien Menyalahkan klien Menilai klien Membujuk klien Menceramahi Mendesak klien Terlalu banyak berbicara mengenai diri sendiri Menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti Penafsiran yang berlebihan Sikap merendahkan klien Sering menuntut/meminta klien Menyimpang dari topik Sok intelektual Analisis yang berlebihan Selalu mengarahkan klien 2. diberikan pula program pendidikan dan pelatihan. Barbara F. Perilaku Konselor yang Efektif dan Tidak Efektif Diterbitkan Juli 10. Perilaku Non Verbal: Efektif Tidak efektif Nada suara disesuaikan dengan Berbicara terlalu cepat atau terlalu klien (tenang. baik perilaku verbal maupun non verbal. Okun (Sofyan S.id. Masih dalam konteks bimbingan dan konseling.

Sesekali menganggukkan kepala Wajah yang bersemangat Kadang-kadang memberi isyarat tangan Jarak dengan klin relatif dekat Ucapan tidak terlalu cepa/lambat Duduk agak condong ke arah klien Sentuhan (touch) disesuaikan dengan usia klien dan budaya lokal Air muka ramah dan senyum Senyum menyeringai /senyum sinis Menggerakan dahi Cemberut Marapatkan mulut Menggoyang-goyangkan jari Menguap Gerak-gerak isyarat yang mengacaukan Menutup mata atau mengantuk Nada suara tidak menyenangkan Membuang pandangan Sumber: Sofyan S. Konseling Individual: Teori dan Praktek. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan pemberian sanksi untuk menghasilkan efek jera. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah. Oleh karena itu. yang merentang dari kategori ringan sampai dengan berat. Penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun. Willis. Sebagai lembaga pendidikan. sehingga setahap demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya. 2008 Di sekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang yang bermasalah. aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Bandung: Alfabeta Penanganan Siswa Bermasalah di Sekolah Diterbitkan Juli 8. 2004. tetapi lebih mengandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya di antara konselor dan siswa yang bermasalah. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah. justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya. Secara visual. serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyesuaian diri yang lebih baik. Kendati demikian. disinilah pendekatan yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan dan Konseling. kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini: 76 . dengan menunjukkan berbagai gejala penyimpangan perilaku. harus diingat sekolah bukan “lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. penanganan siswa bermasalah melalui Bimbingan dan Konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu: (1) pendekatan disiplin dan (2) pendekatan bimbingan dan konseling. Penanganan siswa bernasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (tata tertib) yang berlaku di sekolah beserta sanksinya.

Oleh karena itu. dalam hal ini bukan berarti Guru BK/Konselor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya. sebagaimana dalam bagan berikut : 1. Masalah (kasus) ringan. Dalam hal ini. sementara tata tertib sekolah secara tegas menyatakan untuk kasus demikian. kesulitan belajar pada bidang tertentu. Jika tanpa intervensi Bimbingan dan Konseling. berpacaran. seperti: membolos. berkelahi dengan teman sekolah. diharapkan siswa yang bersangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya. serta hal-hal positif lainnya. dan tugas Guru BK/Konselor hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Lebih jauh. misalkan di suatu sekolah ditemukan kasus seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas. Persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah. meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan. malas. keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya. Sofyan S. perlu diingat bahwa tidak semua masalah siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor). misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi. keinginan untuk melanjutkan sekolah. mencuri kelas ringan. kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi. meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuannya pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyesuaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Sebagai ilustrasi. meski ujung-ujungnya siswa yang bersangkutan tetap harus dikeluarkan dari sekolah. Kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/guru pembimbing) dan mengadakan kunjungan rumah. mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tua (istilah lain dari dikeluarkan). Dalam hal ini. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin. bertengkar. Tetapi dengan intervensi Bimbingan dan Konseling di dalamnya. Perlu digarisbawahi. pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih menjadi perhatian. siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. kita dapat memahami bahwa di antara kedua pendekatan penanganan siswa bermasalah tersebut. maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. 77 .Dengan melihat gambar di atas. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah berserta mekanisme dan petugas yang menanganinya. minum minuman keras tahap awal.

2. tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/konselor di sekolah tetapi dapat melibatkan pula berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyesuaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal. dengan berkonsultasi dengan kepala sekolah. melakukan gangguan sosial dan asusila. minum minuman keras tahap pertengahan. siswa hamil. Kasus berat dilakukan referal (alihtangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater. seperti: gangguan emosional. Secara visual. STANDAR KOMPETENSI BIMBINGAN DAN KONSELING 78 . penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan Bimbingan dan Konseling dapat dilihat dalam bagan berikut ini: Dengan melihat penjelasan di atas. berpacaran. Dapat pula mengadakan konferensi kasus. guru dan sebagainya. Kasus sedang dibimbing oleh guru BK (konselor). dokter. ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan konferensi kasus. 3. berkelahi antar sekolah. kesulitan belajar. pelaku kriminalitas. Masalah (kasus) sedang. ahli/profesional. C. polisi. karena gangguan di keluarga. percobaan bunuh diri. Masalah (kasus) berat. mencuri kelas sedang. perkelahian dengan senjata tajam atau senjata api. seperti: gangguan emosional berat. dengan perbuatan menyimpang. polisi. kecanduan alkohol dan narkotika.

(d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya. dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani 1. 3. (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling. dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur. keagamaan. dan khusus. individual. (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling. akademik. jenjang. dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual. sosial. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli. dan sosial konseli. kebebasan memilih. (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling. (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling. (b) menyusun program bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan. kejuruan. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil. 1. bermoral. personal.Kompetensi Konselor/Guru BK Diterbitkan Februari 17. (c) memfasilitasi perkembangan. dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. (e) toleran terhadap permsalahan konseli. C. dan berpotensi. dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini. dasar dan menengah. (b) melakukan 79 . (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling. dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. karier. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian. non formal. (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya. dan informal. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling. (c) mengimplementasikan prinsipprinsip pendidikan dan proses pembelajaran. individualitas. (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal pendidikan dan bimbingan dan konseling. (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya. 2. (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja. 3. 4. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan 1. proses dan program bimbingan dan konseling. (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya. 2008 A. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling. dan (f) ersikap demokratis B. (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan 2.

dalam bentuk naskah akademik. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. yang di dalamnya 80 . Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. 6. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar. (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait. orang tua. 2007. tujuan. Naskah Akademik Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal dan Non Formal Tulisan yang sama dalam bentuk file Pdf : Draft Standar Kompetensi Konselor Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SD Diterbitkan Juni 13. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspekaspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain. 4. (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling. komite sekolah/madrasah di tempat bekerja. organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru. tenaga administrasi) 5. 2008 Dalam Permendiknas No. dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru. wali kelas.dan profesi. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan.dan profesi. tujuan. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik. (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain. pimpinan sekolah/madrasah. dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja.penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling. (b) mengkomunikasikan dasar. Oleh karena itu. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). Namun. dan (c) aktif dalam organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri. tujuan. Sumber : ABKIN.

hemat. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (7) Pengembangan diri. ulet sungguhPerilaku kewirausahaan ulet sungguh-sungguh dan sungguh dan konpetitif (kemandirian perilaku konpetitif dalam dalam kehidupan sehariekonomis) kehidupan sehari-hari di hari di lingkungan lingkungan dekatnya dekatnya Menghargai ragam Mengenal ragam Wawasan dan kesiapan pekerjaan dan aktivitas pekerjaan dan aktivitas karier sebagai hal yang saling orang dalam kehidupan bergantung Kematangan hubungan Mengenal norma-norma Menghargai norma-norma 81 . (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) Landasan perilaku etis. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Dasar STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH DASAR No 1 2 3 4 Pengenalan Mengenal bentuk-bentuk Landasan hidup religius dan tata cara ibadah sehari-hari Mengenal patokan baikLandasan perilaku etis buruk atau benar salah dalam berperilaku Mengenal perasaan diri Kematangan emosi sendiri dan orang lain Mengenal konsep-konsep Kematangan intelektual dasar ilmu pengetahuan dan perilaku belajar Mengenal hak dan Kesadaran tanggung kewajiban diri dan orang jawab sosial lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Tertarik pada kegiatan ibadah sehari Menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Memahami perasaan diri sendiri dan orang lain Menyenangi berbagai aktifitas perilaku belajar Tindakan Melakukan bentuk-bentuk ibadah sehari-hari Mengikuti aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari Mengekspresikan perasaan secara wajar Melibatkan diri dalam berbagai aktifitas perilaku belajar Berinteraksi dengan orang lain dalam suasana persahabatan Berperilaku sesuai dengan peran sebagai laki-laki atau perempuan Menampilkan perilaku sesuai dengan keberadaan diri dalam lingkungannya Menampilkan perilaku hemat. (3) Kematangan emosi. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius.mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). (4) Kematangan intelektual. (9) Wawasan dan kesiapan karier. (6) Kesadaran gender. ulet sungguhsungguh dan konpetitif dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya Mengekspresikan ragam pekerjaan dan aktivitas orang dalam lingkungan kehidupan Menjalin persahabatan 5 6 7 8 9 10 Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam lingkungan kehidupan sehari-hari Menerima atau Mengenal diri sebagai Kesadaran gender menghargai diri sebagai laki-laki atau perempuan laki-laki atau perempuan Mengenal keadaan diri Menerima keadaan diri Pengembangan diri dalam lingkungan sebagai bagian dari dekatnya lingkungan Memahami perilaku Mengenal perilaku hemat. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial.

(3) Kematangan emosi. Namun. (9) Wawasan dan kesiapan karier. 23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. dalam bentuk naskah akademik. yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi.Jakarta.2007. (6) Kesadaran gender. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT PERTAMA No Aspek Perkembangan Tataran/Internalisasi Tujuan Pengenalan Akomodasi Tindakan 82 . 2008 Dalam Permendiknas No. (2) Landasan perilaku etis. (8 ) Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK).dengan teman sebaya yang dijunjung tinggi dalam berinteraksi dengan dalam menjalin teman sebaya persahabatan dengan teman sebaya dengan teman sebaya atas dasar norma yang dijunjung tinggi bersama Sumber : Depdiknas. melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (4) Kematangan intelektual. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Oleh karena itu. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). yaitu:(1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). (7) Pengembangan diri. Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTP Diterbitkan Juni 13. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan.

23/2006 telah dirumuskan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dicapai peserta didik.Jakarta. 2008 Dalam Permendiknas No. ulet kewirausahaan hemat.jenis hari Meyakini keunikan diri sebagai aset Mengenal Menerima Pengembangan yang harus 7 kemampuan dan keadaan diri diri dikembangkan keinginan diri secara positif secara harmonis dalam kehidupan Menyadari Mengenal nilai-nilai Membiasakan diri Perilaku manfaat perilaku perilaku hemat. ulet sungguh-sungguh sungguh-sungguh 8 (kemandirian sungguh-sungguh dan konpetitif dalam dan konpetitif dalam perilaku dan konpetitif kehidupan seharikehidupan sehariekonomis) dalam kehidupan hari. sehari-hari. Wawasan dan pendidikan dan dan aktivitas yangpendidikan dan 9 kesiapan karier aktivitas dalam menuntut aktifitas yang dengan kemampuan pemenuhan mengandung diri kemampuan relevansi dengn tertentu kemampuan diri Mempelajari norma.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal.2007. hari.Menyadari Bekerja sama norma pergaulan keragaman latar Kematangan dengan teman dengan teman belakang teman 10 hubungan dengan sebaya yang sebaya yang sebaya yang teman sebaya beragam latar beragam latar mendasari belakangnya belakangnya pergaulan Landasan hidup religius Mengenal arti dan tujuan ibadah Sumber : Depdiknas.Menyadari keputusan Kematangan cara pengambilan adanya resiko berdasarkan 4 intelektual keputusan dan dari pengambilan pertimbangan resiko pemecahan masalah keputusan yang mungkin terjadi. Mempelajari caraMenghargai nilaicara memperoleh Berinteraksi dengan nilai persahabatan Kesadaran hak dan memenuhi orang lain atas dasar dan 5 tanggung jawab kewajiban dalam nilai-nilai keharmonisan sosial lingkungan persahabatan dan dalam kehidupan kehidupan seharikeharmonisan hidup. ulet hidup hemat. Menyadari Mengidentifikasi Mengekspresikan keragaman nilai ragam alternatif ragam pekerjaan. sehari-hari hari Menghargai peranan diri dan Berinteraksi dengan Mengenal peranorang lain sebagailain jenis secara peran sosial sebagai 6 Kesadaran gender laki-laki atau kolaboratif dalam laki-laki atau perempuan dalam memerankan peran perempuan kehidupan sehari. dan persyaratan pekerjaan. 83 . melalui proses pembelajaran berbagai mata pelajaran. Standar Kompetensi Bimbingan dan Konseling di SLTA Diterbitkan Juni 13.Melakukan berbagai Berminat kegiatan ibadah 1 mempelajari arti dengan kemauan dan tujuan ibadah sendiri Memahami Mengenal alasan keragaman Bertindak atas Landasan perilaku perlunya mentaati aturan/patokan pertimbangan diri 2 etis aturan/norma dalam berperilaku terhadap norma berperilaku dalam konteks yang berlaku budaya Memahami Mengenal cara-cara keragaman Mengekspresikan Kematangan mengekspresikan ekspresi perasaan perasaan atas dasar 3 emosi perasaan secara diri dan perasaan pertimbangan wajar orasaan orang kontekstual lain Mengambil Mempelajari cara.

dalam bentuk naskah akademik. yaitu: (1) pengenalan/penyadaran (memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). yang di dalamnya mencakup sepuluh aspek perkembangan individu (SD dan SLTP) dan sebelas aspek perkembangan individu (SLTA dan PT). sungguh sangat disesalkan dalam Permendiknas tersebut sama sekali tidak memuat Standar Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling. (3) Kematangan emosi. Oleh karena itu. (2) Landasan perilaku etis. mulai tingkat SD sampai dengan Perguruan Tinggi. (5) Kesadaran tanggung jawab sosial. ( Perilaku kewirausahaan (kemandirian perilaku ekonomis).Namun. (9) Wawasan dan kesiapan karier. Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas STANDAR KOMPETENSI KEMANDIRIAN (SKK) PESERTA DIDIK PADA SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS No Aspek Perkembangan Pengenalan 1 2 Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Landasan perilaku etis Mengenal keragaman Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar 84 . Aspek perkembangan dan beserta dimensinya tampaknya sudah disusun sedemikian rupa dengan mengikuti dan diselaraskan dengan prinsip-prinsip. (10) Kematangan hubungan dengan teman sebaya. dan (11) Kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (hanya untuk SLTA dan PT). (7) Pengembangan diri. Kesebelas aspek perkembangan tersebut adalah: (1) Landasan hidup religius. Dalam konteks pembelajaran Standar Kompetensi ini disebut Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengambil inisiatif untuk merumuskan Standar Kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik. untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan Depdiknas dalam menentukan kebijakan Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. (6) Kesadaran gender. Masingmasing aspek perkembangan memiliki tiga dimensi tujuan. (2) akomodasi (memperoleh pemaknaan dan internalisasi atas aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai) dan (3) tindakan (perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari dari aspek dan tugas perkembangan [standar kompetensi] yang harus dikuasai). kaidah-kaidah dan tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai individu. sementara dalam konteks Bimbingan dan Konseling Standar Kompetensi ini dikenal dengan istilah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK). (4) Kematangan intelektual.

sungguh-sungguh dan (kemandirian perilaku sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar ekonomis) sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. dan perencanaan karir dengan Wawasan dan kesiapan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan karier pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan.2007. Standar Kompetensi BK di Perguruan Tinggi Diterbitkan Juni 13.ulet.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas Kematangan intelektual dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Kesadaran tanggung Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam jawab sosial interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara Kesadaran gender kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri Pengembangan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.ulet sungguhhemat. 2008 Meski penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling tidak terkait langsung dengan Permendiknas No.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. pendidikan. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih Kematangan hubungan dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan dengan teman sebaya pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk Kesiapan diri untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif menikah dan berkeluarga berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga sumber norma yang berlaku di masyaraakat sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan Sumber : Depdiknas. sengguhulet.Jakarta.3 4 5 6 7 8 9 10 11 keputusan yang mempertimbangkan aspekaspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang Kematangan emosi menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Namun Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) telah menyiapkan pula rumusan Standar Kompetensi Kompetensi yang harus dicapai peserta didik melalui pelayanan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Berikut ini rumusan Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik pada Perguruan Tinggi 85 . peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. Perilaku kewirausahaan hemat.

sungguh-sungguh dan (kemandirian perilaku sungguh dan kompetitif sungguh dan kompetitif kompetitif atas dasar ekonomis) sebagai aset untuk dalam keragaman kesadaran sendiri mencapai hidup mandiri kehidupan Mempelajari kemampuan diri. peluang dan ragam Mengembangkan alternatif Internalisasi nilai-niolai pekerjaan. sengguhulet.2007.terbuka dan tidak dengan orang lain diri sendiri dan orang lain menimbulkan konflik Mempelajari cara-cara Menyadari akan keragaman Mengambil keputusan dan pengambilan keputusan alternatif keputusan dan pemecahan masalah atas Kematangan intelektual dan pemecahan masalah konsekuensi yang dasar informasi/data secara secara objektif dihadapinya obyektif Menyadari nilai-nilai persahabatan dan Kesadaran tanggung Mempelajari keragaman Berinteraksi dengan orang keharmonisan dalam jawab sosial interaksi sosial lain atas dasar kesamaan konteks keragaman interaksi sosial Menghargai keragaman Mempelajari perilaku peraan laki-laki atau Berkolaborasi secara Kesadaran gender kolaborasi antar jenis perempuan sebagai aset harmonis dengan lain jenis dalam ragam kehidupan kolaborasi dan dalam keragaman peran keharmonisan hidup Mempelajari keunikan diri Menerima keunikan diri Menampilkan keunikan diri Pengembangan diri dalam konteks kehidupan dengan segala kelebihan secara harmonis dalam sosial dan kekurangannya keragaman Mempelajari strategi dan Menerima nilai-nilai hidup peluang untuk berperilaku Menampilkan hidup hemat.ulet.No Aspek Perkembangan Pengenalan Mempelajari hal ihwal Landasan hidup religius ibadah Tataran/Internalisasi Tujuan Akomodasi Mengembangkan pemikiran tentang kehidupan beragama Menghargai Keragaman sumber norma sebagai rujukan pengambilan keputusan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tindakan Melaksanakan ibadah atas keyakinan sendiri disertai sikap toleransi Berperilaku atas dasar Mengenal keragaman keputusan yang Landasan perilaku etis sumber norma yang mempertimbangkan aspekberlaku di masyaraakat aspek etis Mengekspresikan perasaan Mempelajari cara-cara Bersikap toleran terhadap dalam cara-cara yang Kematangan emosi menghindari konflik ragam ekspresi perasaan bebas. pendidikan. dan perencanaan karir dengan Wawasan dan kesiapan yang melandasi aktifitas yang terfokus mempertimbangkan karier pertimbangan pemilihan pada pengembangan kemampuan. 86 .Jakarta. peluang dan alternatif karir alternatif karir yang lebih ragam karir terarah Mempelajari cara-cara Menghargai nilai-nilai Mempererat jalinan membina dan kerjasama kerjasama dan toleransi persahabatan yang lebih Kematangan hubungan dan toleransi dalam sebagai dasar untuk akrab dengan dengan teman sebaya pergaulan dengan teman menjalin persahabatan memperhatikan norma yang sebaya dengan teman sebaya berlaku Mengharagai norma-norma Mengekspresikan Mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga keinginannya untuk Kesiapan diri untuk pernikahan dan sebagai landasan bagi mempelajari lebih intensif menikah dan berkeluarga berkeluarga terciptanya kehidupan tentang norma pernikahan masyarakat yang harmonis dan berkeluarga Simber: Depdiknas.Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Perilaku kewirausahaan hemat.ulet sungguhhemat.

Program Mingguan. serta mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah/ madrasah. 4. Dilihat dari jenisnya. Program Bulanan. program Bimbingan dan Konseling terdiri 5 (lima) jenis program. (2) jenis layanan dan kegiatan pendukung. 87 . yaitu: 1. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran. Program Semesteran. dan (5) volume/beban tugas konselor. dengan substansi program pelayanan mencakup: (1) empat bidang. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di sekolah/madrasah. Program Tahunan. Program Bimbingan dan Konseling Program pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah disusun berdasarkan kebutuhan peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi.D. sasaran pelayanan (4) . 2008 A. 2. Program pelayanan Bimbingan dan Konseling pada masing-masing satuan sekolah/madrasah dikelola dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas. dan mensinkronisasikan program pelayanan Bimbingan dan Konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler. MANAJEMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Program Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Juli 8. 3. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan. (3) format kegiatan. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.

Program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang direncanakan dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG dilaksanakan sesuai dengan sasaran. bulanan serta mingguan. tempat.(d pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat. yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. jenis kegiatan. dan pihak-pihak yang terkait. serta alat bantu yang digunakan. waktu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan Konseling. B. Manajemen Bimbingan dan Konseling Secara keseluruhan manajemen Bimbingan dan Konseling mencakup tiga kegiatan utama. Satu kali kegiatan layanan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling berbobot ekuivalen 2 (dua) jam pembelajaran. (b) substansi layanan/kegiatan pendukung. dan (3)penilaian 1. dan (e) waktu dan tempat. Program Harian. Pelaksanaan Kegiatan Bersama pendidik dan personil sekolah/madrasah lainnya. serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di 88 . (c) jenis layanan/kegiatan pendukung. dan (2) kegiatan non tatap muka. insidental dan keteladanan. yaitu : (1) perencanaan.5. penguasaan konten. Pelaksanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di dalam jam pembelajaran sekolah/madrasah dapat berbentuk: (1) kegiatan tatap muka secara klasikal. yang diatur oleh konselor dengan persetujuan pimpinan sekolah/madrasah. penempatan dan penyaluran. substansi. kegiatan instrumentasi. Pelaksanaan Kegiatan Pelayanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan di dalam dan di luar jam pelajaran. Volume keseluruhan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam satu minggu minimal ekuivalen dengan beban tugas wajib konselor di sekolah/ madrasah. Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan informasi. konselor berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan pengembangan diri yang bersifat rutin. B. Rencana kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mingguan meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masingmasing kelas peserta didik yang menjadi tanggung jawab konselor. (2) pelaksanaan. Perencanaan Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran. Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk SATLAN dan SATKUNG yang masing-masing memuat:: (a) sasaran layanan/kegiatan pendukung.

serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas. Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di luar jam pembelajaran sekolah/madrasah maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling. yaitu penilaian pada akhir setiap jenis layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. untuk mengetahui efektifitas dan efesiensi pelaksanaan kegiatan. menyelenggarakan layanan orientasi. Sedangkan kegiatan non tatap muka dengan peserta didik untuk menyelenggarakan layanan konsultasi. bimbingan kelompok. perorangan. diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah. Kegiatan dengan pelayanan peserta Bimbingan untuk dan Konseling di luar jam pembelajaran konseling sekolah/madrasah dapat berbentuk kegiatan tatap muka maupun non tatap muka didik. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau beberapa layanan dan kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dampak layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling terhadap peserta didik. kegiatan konferensi kasus. Penilaian hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan melalui: 1. yaitu penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung Bimbingan dan Konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. Setiap kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicatat dalam laporan pelaksanaan program (LAPELPROG). dan alih tangan kasus.dalam kelas. Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal. 2. Penilaian Kegiatan Penilaian kegiatan bimbingan dan konseling terdiri dua jenis yaitu: (1) penilaian hasil. Penilaian jangka pendek (LAIJAPEN). Sedangkan penilaian proses dilakukan melalui analisis terhadap keterlibatan unsurunsur sebagaimana tercantum di dalam SATLAN dan SATKUNG. Satu kali kegiatan layanan/pendukung Bimbingan dan Konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas. kunjungan rumah. 3. himpunan data. Penilaian jangka panjang (LAIJAPANG). Hasil penilaian kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dicantumkan dalam LAPELPROG Hasil kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling secara keseluruhan dalam satu semester untuk setiap peserta didik dilaporkan secara kualitatif. dan (2) penilaian proses. Penilaian segera (LAISEG). pemanfaatan kepustakaan. konseling kelompok. C.. dan mediasi. 89 .

Sebagian dari pengembangan diri dilaksanakan melalui pelayanan bimbingan dan konseling.Posisi Pengembangan Diri dalam Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 14. 1. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor. 2008 Pengembangan diri sebagaimana dimaksud dalam KTSP merupakan wilayah komplementer antara guru dan konselor. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan. Penjelasan tentang pengembangan diri yang tertulis dalam struktur kurikulum dijelaskan bahwa : Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. 2. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial. Pengembangan diri bukan sebagai mata pelajaran. Kedua hal di atas menunjukkan bahwa pengembangan diri bukan substitusi atau pengganti pelayanan bimbingan dan konseling. bakat. Inipun berarti bahwa pelayanan pengem-bangan diri tidak semata-mata tugas konselor. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. dan minat setiap konseli sesuai dengan kondisi Sekolah/Madrasah. rancangan. dan metode pengembangan diri tidak dilaksanakan sebagai sebuah adegan mengajar seperti layaknya pembelajaran bidang studi. manakala masuk ke dalam pelayanan pengembangan minat dan bakat tak dapat dihindari akan terkait dengan substansi bidang studi dan/atau bahan ajar yang relevan dengan bakat dan minat konseli dan disitu adegan pembelajaran akan terjadi. 90 . atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Namun. mengandung arti bahwa bentuk. guru. Ini berarti bahwa pelayanan pengembangan diri tidak semata-mata tugas konselor. Dengan demikian pengembangan diri hanya merupakan sebgian dari aktivitas pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan. melainkan di dalamnya mengandung sebagian saja dari pelayanan (dasar. perencanaan individual) bimbingan dan konseling yang harus diperankan oleh konselor (periksa gambar 2). Pelayanan pengembangan diri yang terkandung dalam KTSP merupakan bagian dari kurikulum. Telaahan di atas menegaskan bahwa bimbingan dan konseling tetap sebagai bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan (khususnya jalur pendidikan formal). belajar. Jika dilakukan telaahan anatomis terhadap posisi bimbingan dan konseling pada jalur pendidikan formal dapat terlukiskan sebagai berikut (lihat gambar 1). dan pengembangan karir konseli. dan tidak semata-mata sebagai wilayah bimbingan dan konseling. Dari penjelasan yang disebutkan itu ada beberapa hal yang perlu memperoleh penegasan dan reposisi terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. sehingga dapat menghindari kerancuan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor. Pelayanan pengembangan diri dalam bentuk ekstra kurikuler mengandung arti bahwa di dalamnya akan terjadi diversifikasi program berbasis minat dan bakat yang memerlukan pelayanan pembina khusus sesuai dengan keahliannya. responsif. 3.

BSNP dan PUSBANGKURANDIK. VA: AACD. Dengan demikian pengembangan diri tidak menggantikan fungsi bimbingan dan konseling melainkan sebagai wilayah komplementer dimana guru dan konselor memberikan kontribusi dalam pengembangan diri konseli. (2003).). Engels. Panduan Pengembangan Diri: Pedoman untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. CA: Brooks/Cole. Bandung: ABKIN Bandura. (2005). Departemen Pendidikan Nasional. (2007). D. Self-Efficacy in Changing Soceties. & Henderson. (2001).Gambar 1. UK: Cambridge University Press. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Alexandria. (1995). http://aace. (Eds). (Ed.edu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Cambridge. Cobia. DAFTAR RUJUKAN AACE.W dan J. A. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. Posisi Bimbingan dan Konseling dan Kurikulum (KTSP) dalam Jalur Pendidikan Formal Dapat ditegaskan di sini bahwa KTSP adalah salah satu subsistem pendidikan formal yang harus bersinergi dengan komponen/subsitem lain yaitu manajemen dan bimbingan dan konseling dalam upaya memfasilitasi konseli mencapai perkembangan optimum yang diwujudkan dalam ukuran pencapaian standar kompetensi. G.ncat. Standar Kompetensi Konselor Indonesia. 91 . Merrill Prentice Hall Corey. Depsiknas. The Art of Integrative Counseling. Jakarta: BSNP dan PUSBANGKURANDIK. Competencies in Assessment and Evaluation for School Counselor. Donna A.D. Dasar Standardisasi Profesionalisasi Konselor. Debra C. Penataan Pendidikan Profesional Konselor. Naskah Akademik ABKIN (dalam proses finalisasi). Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kepen-didikan dan Ketenagaan Pendidikan Tinggi. (2005). (2003). Dameron. (2003). New Jersey. Balitbang Diknas. Handbook of School Counseling. Belomont. The Professional Counselor Competencies: Performance Guidelines and Assessment. Draft. (2006).

Terry. ——–. Introduction to Counseling and Guidance. Guidance and Counseling in The Elementary and Middle Schools. Permendiknas no 22 tahun 2006 tentang Standar Isi. James J. T. Houston : Shell Com. & Kottman. Lustin. (2003). Remaja Rosda Karya. Jakarta: Puskur Balitbang. Ellis. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. (1992). The National Model for School Counseling Programs. (1953). ASCA (American School Counselor Association). (2002). Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha. The Missouri Comprehensive Guidance Model. (1995). James A. (1987).Nancy. (1986). Judy L. & Mitchel M. Alizabeth B. Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Patricia A. Pelayanan Bimbingan dan Konseling. (2005). (2005).Ltd. Havighurts. Permendiknas no 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL. (2003). Menteri Pendidikan Nasional. Guidance and Counseling in the Schools. Ketetapan Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia Nomor 01/Peng/PB-ABKIN/2007 bahwa Tenaga Profesional yang melaksanakan pelayanan professional Bimbingan dan Konseling disebut Konselor dan minimal berkualifikasi S1 Bimbingan dan Konseling. Balitbang Depdiknas. Madison : Brown & Benchmark. 2006. Human Development. Child Development. New York : MacMillan Publishing Company. dkk. Adolescence. 2006). Bandung : Remaja Rosda Karya. London : Prentice-Hall International Inc. (2003).I.N. Columbia: The Educational Resources Information Center. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. ——–.dan Juntika N. Peraturan Menteri Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Depdiknas.H. Michigan School Counselor Association. Herr Edwin L. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Menteri Pendidikan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 2004. Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Peserta didik dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasahdrasah (Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII). Bandung : CV Bani Qureys. New York: David Mckay. (1956). (1976). LIPI. New York : McGraw Hill Book Company Inc. Development Taks and Education. Syamsu Yusuf L. (1979). Depdiknas. Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 92 . Jakarta : Kementrian Riset dan Teknologi RI. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan.J. Management.Browers. Gibson R. Hurlock. (2005). 2006. California : Myfield Publishing Company. J. Bandung : PT. Sunaryo Kartadinata. Landasan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Balitbang Depdiknas. Pusat Kurikulum. Depdiknas. Muro. (2005). Pikunas. (1990). The Michigan Comprehensive Guidance and Counseling Program. (2006).L. Permen RI nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Menteri Nomor 22 tentang Standar Isi. R. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah/Madrasah. Depdiknas. Comm. & Hatch. Stoner.

diantaranya akan dikemukakan tentang : (1) Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor. sehingga tidak mungkin untuk dapat dipaparkan secara menyeluruh melalui tulisan ini.Undang-Undang Nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen Wagner William G. Educational Psychology. dalam tulisan ini hanya akan dibicarakan hal-hal yang berkenaan dengan penyelenggaraan layanan bimbingan konseling di sekolah. Boston : Allyn & Bacon. Akhmad Sudrajat. M. Dalam hal ini. (1996). Sesungguhnya. “Optimal Development in Adolescence : What Is It and How Can It be Encouraged”? The Counseling Psychologist. Vol 24 No. tentunya konselor seyogyanya dapat memahami dan menangkap implikasinya bagi penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Pola manajemen baru ini dikenal dengan istilah Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau disingkat MPMBS. BK dan MPMBS Diterbitkan Februari 10. *)) Materi di atas merupakan salah satu bagian dari makalah yang disajikan oleh Dr. Woolfolk. Oleh karena itu. (2) Akuntabilitas Kinerja Konselor. 3 July’96. dan (3) Konselor Sebagai Agen Informasi 93 . 1995. Salah satu issue penting tentang pendidikan saat ini berkenaan berkenaan dengan penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional telah menggulirkan kebijakan pola manajemen pendidikan baru yang di dalamnya memuat kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengatur dan mengendalikan sekolah.Pd. pada acara seminar sehari Bimbingan dan Konseling yang diselenggarakan oleh Universitas Kuningan bekerja sama dengan ABKIN Cabang Kabupaten Kuningan pada tanggal 11 Maret 2008 bertempat di Aula Student Center UNIKU. 2008 Oleh : Drs. baik dilihat dari segi konsep maupun implementasinya. Anita E. akan dipaparkan secara ringkas dan sederhana tentang Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan Implikasinya terhadap Layanan Bimbingan dan Konseling Bahwa berangkat dari realita rendahnya kualitas pendidikan yang hampir terjadi di setiap jenjang dan satuan pendidikan. Uman Suherman. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ini memiliki ruang lingkup bahasan yang amat luas. M. tulisan ini. dengan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah. Oleh karena itu.Pd.

melalui berbagai bentuk aturan. Konselor seyogyanya tidak merasa cepat berpuas diri dengan kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang saat ini dimilikinya. sehingga pada akhirnya konselor menjadi kurang terbiasa dengan budaya kreatif dan inovatif. yang mengedepankan pendekatan desentralistik-profesional. dalam era informasi sekarang ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bimbingan konseling dari waktu ke waktu berkembang secara sangat pesat. bisa saja dilakukan melalui berbagai bacaan atau buku yang berhubungan dengan dunia bimbingan dan konseling. petunjuk teknis dan sebagainya. Pemberdayaan dan Profesionalisme Konselor Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya perubahan manajemen dari pendekatan sentralistik-birokratik menuju desentralistikprofesional. muncullah berbagai sikap yang kurang menguntungkan. memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Sehingga seorang konselor dituntut untuk terus dapat mengantisipasi arah perkembangan yang terjadi. tentu saja konselor seyogyanya dapat berusaha mengembangkan secara terus menerus kapasitas pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Proses kreatif dan inovatif justru menjadi lebih utama. Secara tidak langsung. petunjuk pelaksanaan. Akibatnya. Dengan kata lain. ruang gerak konselor menjadi terbatasi. Aturan dan ketentuan yang kaku dan ketat telah menggiring dan memposisikan konselor pada iklim kerja yang tidak lagi didasari oleh sikap profesinal. maka ruang gerak konselor menjadi leluasa. Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam pendekatan sentralistik-birokratik. agar tidak menjadi terpuruk secara profesional. Maka. masa bodoh dan tidak peduli terhadap prestasi kerja. atau bahkan bila perlu dilakukan dengan cara melalui penjelajahan situs-situs 94 . ketentuan. konselor dalam melaksanakan tugasnya sudah ditentukan dan dipolakan sedemikian rupa oleh pusat. Dengan hadirnya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Bagaimanapun. namun justru harus senantiasa berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya. Konselor didorong untuk memiliki keberanian dan membiasakan diri untuk menemukan cara-cara baru yang lebih efektif dan efisien dalam melaksanakan berbagai kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling. namun justru lebih banyak sekedar menjalankan kewajiban rutin semata. yang justru merupakan prasyarat untuk menjadi seorang profesional. konselor dituntut bekerja secara profesional. Upaya peningkatan kapasitas pengetahuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. seperti : malas. baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari sini. timbul pertanyaan hal-hal apa yang perlu disiapkan untuk menuju ke arah profesionalisme itu ? Dalam hal ini.1.

salah satu cara yang dipandang cukup efektif adalah dengan berusaha secara terus menerus dan seringkali mempraktekkan berbagai teknik yang ada. Sedangkan untuk meningkatkan keterampilan berbagai teknik bimbingan. Kemudian. akuntabilitas kerja konselor memang tidak jelas. Walaupun demikian perlu dicatat. tidak ada salahnya pula untuk mencoba terjun menekuni dunia akademis dalam bimbingan dan konseling. Sekalipun ada. usaha ini niscaya pada akhirnya akan dapat mengantarkan sampai pada taraf yang dikehendaki. Sehingga pada gilirannya. membandingkannya dengan keharusan-keharusan berdasarkan teori yang ada. yang memang banyak menyediakan berbagai informasi terkini. sejalan dengan tuntutan profesionalisme. diikuti dengan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan. Misalkan. 2. dan sebaiknya disertai pula dengan pencatatan terhadap apa-apa yang telah dilakukan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan refleksi sekaligus sebagai bukti fisik dari usaha ilmiah. barangkali tidak ada salahnya untuk berusaha menempuh pendidikan lanjutan pada jenjang yang lebih tinggi. bahwa keleluasaan dalam menjalankan tugas ini tidak diartikan segala sesuatunya menjadi serba boleh. akan lebih baik jika timbul kemauan untuk berusaha menuntut ilmu melalui jenjang pendidikan formal. termasuk yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling. bagi kawan-kawan konselor yang kebetulan bukan berlatar belakang pendidikan bimbingan.kekurangan pada praktek konseling sebelumnya. dalam melaksanakan berbagai tugas bimbingan. Sementara. Berbekal kesabaran dan ketekunan. dengan bercermin dari kekurangan. Akuntabilitas Kerja Konselor Pada masa sebelum diberlakukan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). untuk menguasai teknikteknik konseling. Hal ini secara terus menerus dilakukan dari satu praktek konseling ke praktek konseling berikutnya. atau mengikuti kegiatan MGP seperti sekarang ini. Bagi konselor yang berlatar belakang pendidikan program studi bimbingan. Kita maklumi bahwa saat ini latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh konselor masih beragam. dan setiap setelah selesai mempraktekkan. baik dilihat dari program studi/jurusan maupun jenjangnya. penataran dan pelatihan. bisa dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam berbagai aktivitas forum keilmuan. Memasuki tahap praktek konseling berikutnya tentunya sudah disertai usaha perbaikan. hal-hal yang menyangkut prinsip dan etika profesi bimbingan tetap harus dijaga dan dipelihara. barangkali hanya sebatas di hadapan kepala sekolah ataupun pengawas sebagai petugas yang 95 . dalam rangka memantapkan diri sebagai konselor. Bahkan. tentunya konselor harus mempraktekkan sendiri secara langsung. Sedangkan secara langsung. sehingga akan bisa diketahui kelemahan dan keunggulan dari praktek yang telah dilakukan. seperti : seminar. konselor benar-benar telah ditopang oleh fundasi keilmuan yang mantap dan memadai.dalam internet.

konselor 96 . kalau saja mereka menuntut pertanggungjawaban kepada sekolah dan kepada konselor khususnya atas hasil-hasil kerja yang telah dilakukan. kecuali dengan menunjukkan bukti-bukti nyata atas segala hasil kerja kita. baik dalam akademik maupun non-akademik 3. Tentu saja. Tak ada cara lain untuk mengantisipasinya. Artinya. berapa besar dana yang harus dikeluarkan tidak lagi menjadi persoalan besar. tidak hanya dihadapan kepala sekolah ataupun pengawas. Akuntabilitas semacam ini tentunya tidak memberikan kontribusi bagi peningkatan kinerja dan produktivitas konselor. seringkali kepala sekolah atau pengawas mengambil sikap permisif atas hasil kerja yang ditunjukkan konselor. Bagaimanapun masyarakat. yang penting prestasi anak benar-benar dapat terwujudkan dengan baik. namun mencakup seluruh pemegang saham (stake holder) dalam bidang pendidikan. jumlah dana yang dikeluarkan oleh orangtua/masyarakat seyogyanya dapat sebanding dengan hasil yang dicapai. khususnya orang tua siswa telah rela berkorban mengeluarkan sejumlah dana untuk kepentingan pendidikan anaknya. Dengan adanya akuntabilitas ini. tidak akan ada keraguan lagi dari masyarakat untuk memberikan dukungan penuh terhadap sekolah. Oleh karena itu. bersamaan itu pula akan tumbuh kepercayaan terhadap sekolah. demi keberhasilan dan kemajuan peserta didik. Dalam hal ini. kita tidak menghendaki hal-hal seperti itu. padahal hasil kerja yang ditunjukkan sama sekali tidak bermutu. Manakala kita telah berhasil membuktikan hasil-hasil kerja yang menggembirakan dan memberi kepuasan kepada masyarakat. dalam bentuk kemajuan dan keberhasilan pendidikan anaknya di sekolah. khususnya kepada bimbingan dan konseling. jelas konselor dituntut untuk lebih meningkatkan mutu kinerja dan tingkat produktivitas dalam memberikan layanan bantuan terhadap para siswa. Namun pada kenyataannya. Konselor Sebagai Agen Informasi Penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) ditandai dengan adanya kewenangan sekolah dalam mengambil keputusan. terutama masyarakat dan orang tua siswa. Jadi wajar sekali. maka masyarakat akan jauh lebih terbuka dan leluasa untuk menyampaikan berbagai ketidakpuasan atas hasil-hasil kerja yang telah dicapai oleh konselor. Memasuki alam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Dan pada gilirannya. dengan sendirinya akuntabilitas konselor semakin luas. Apalagi dengan kehadiran Komite Sekolah yang dianggap sebagai lembaga yang mewakili kepentingan masyarakat. khususnya kepada bimbingan dan konseling untuk terus melaksanakan kiprahnya. Jika hal ini tidak terpenuhi maka konselor harus bersiap-siap untuk menerima berbagai complain dari masyarakat yang mungkin tidak mengenakkan.mewakili pihak pemerintah.

khususnya dalam forum Komite Sekolah. Dengan kata lain. konselor sedapat mungkin harus menjadi bagian utama dari team work tersebut. karena pemahaman dan persepsi anggota Komite Sekolah tentang bimbingan dan konseling akan sangat beragam bahkan mungkin sangat kurang. koordinasi dan sinergis kerja dengan berbagai komponen pendidikan lainnya. yang berhubungan dengan data siswa. Hal yang perlu dicermati. Atau secara kreatif. uraian sederhana yang dapat saya sampaikan dan semoga bermanfaat adanya. konselor harus dapat memilah dan memilih jenis informasi apa saja yang boleh dan tidak tidak boleh untuk disampaikan. Oleh sebab itu. kapan saja diperlukan. akan tetapi sangat mengutamakan pada team work yang cerdas dan kompak. konselor hendaknya dapat menyampaikan pandangan-pandangannya secara tegas. yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan bimbingan ini konselor hendaknya memperhatikan pengembangan kerja sama. seperti Program DataSis dan Program Alat Ungkap Masalah (AUM) yang dikembangkan Prof. dalam hal ini konselor dituntut untuk memahami dan menguasai teknologi komputer. Dalam mengkomunikasikan informasi-informasi tentang siswa. konselor dianggap sebagai orang yang memiliki informasi atau data tentang siswa yang lebih lengkap dan memadai. Walau pun mungkin akan didapatkan berbagai benturan sosial di dalamnya.seyogyanya dapat berusaha melibatkan diri dalam berbagai proses pengambilan keputusan. karena saat ini telah dikembangkan berbagai software. seperti kepala sekolah. Untuk itulah. bagaimanapun konselor bisa dianggap sebagai “orang yang paling banyak tahu” tentang keadaan siswanya secara personal. yang berpihak pada kepentingan siswa itu sendiri. Informasi atau data tentang siswa ini ini sangat berguna dan dapat dijadikan dasar untuk berbagai pengambilan keputusan sekolah yang berkenaan dengan siswa. bahwa dalam mengkomunikasikan informasi tentang siswa kepada pihak-pihak terkait. Karena dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). informasi harus diadministrasikan sedemikian rupa dan siap saji (ready for use). konselor dapat menciptakan berbagai software tentang bimbingan dan konseling sesuai dengan kebutuhan kerja. keberhasilan pendidikan di sekolah tidak lagi didasarkan pada individual yang cerdas. 97 . Satu hal lagi bahwa dalam penerapan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Demikianlah. Bahkan bila perlu. Prayitno. Karena. yang sekiranya dapat membantu mempermudah pengadministrasian dan penyajian data. Dengan sendirinya. khususnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu layanan konseling di sekolah. dewan sekolah atau siapa pun. pengadminstrasian informasi ini dilakukan secara computerize. Dr. informasi-informasi yang berkenaan dengan “ prinsip kerahasiaan klien “ harus tetap dijaga sebaik mungkin. Tentu saja.

Buku 1 Konsep dan Pelaksanaan. Makalah .Sumber bacaan : Dedi Suriyadi. Dr.(1995). Victoria Merrill dari University of Phoenix Washington mengetengahkan tentang perubahan peran konselor terkait dengan keberagaman masyarakat atau multikultural. Jakarta : IPBI Tim Instruktur Bimbingan dan Konseling Kanwil Propinsi Jawa Barat . dan (3) evaluasi hasil. Departemen Pendidikan Nasional. Prof. Konselor harus memiliki pengetahuan tentang perbedaan kultural yang individu (konseli) yang dilayaninya. Kurikulum Sekolah Menengah Umum (SMU). Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Prayitno dan Erman Anti. W. Jakarta : P2LPTK Depdikbud Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. 2008 Bagaimana mengevaluasi program Bimbingan dan Konseling Komprehensif? Norman C. 1. (1995). (2001). (1997). (1991). Tulisan disajikan dalam Bahasa Inggris. Counselors Role in a Changing 98 . Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV. Departemen Pendidikan Nasional (2001) Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Materi Sajian Penataran Konselor SMU Propinsi Jawa Barat Tahun 1997. (2) evaluasi program.S. yang penulis peroleh dari hasil searching di internet. Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut silahkan klik tautan di bawah ini. Ketiga jenis evaluasi tersebut adalah : (1) evaluasi personil. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda Jawa Barat : Bandung. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama : Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.. Dekdikbud Kanwil Propinsi Jawa Barat : Bandung Winkel. Sementara itu. Gysbers and Patricia Henderson dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation: Program + Personnel = Results” mengetengahkan tentang tiga jenis evaluasi kaitannya dengan penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Komprehensif.(1994). Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Gramedia Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Komprehensif Diterbitkan Februari 17. Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Comprehensive Guidance and Counseling Program Evaluation 2. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor.

pekerjaan sasaran dan hasil Memfokuskan pada tujuan dan yang Memfokuskan pada pencapaian dianggap baik (accomplisment) Bekerja untuk memelihara sistem yang Responsif dan beradaptasi dengan ada perubahan Membicarakan tentang bagaimana Membicarakan tentang efektivitas kerja bekerja keras Proses Konseling Bersifat klinis Bersifat pedagogis Melihat kelemahan klien Melihat potensi klien (siswa) Berorientasi pemecahan masalah klien Berorientasi pengembangan potensi positif (siswa) klien (siswa) Konselor serius Menggembirakan klien (siswa) Dialog menekan perasaan klien dan Dialog konselor menyentuh klien (siswa). klien (siswa) sering tertutup klien (siswa) terbuka Klien sebagai obyek Klien (siswa) sebagai subyek Konselor dominan dan bertindak Konselor hanya membantu dan memberi sebagai problem solver alternatif-alternatif Sumber : Gary L. Bandung : Alfabeta. Willis.Pergeseran Pola Manajemen dan Proses Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Februari 27. Spear (tt) Comprehensive School Counseling on line http://www. Konseling Individual. 2008 99 .gov/sspw/counsl1. 2008 Pola Lama Pola Baru Manajemen Bimbingan dan Konseling Menitikberatkan pada siswa yang Melayani seluruh siswa (guidance for all) beresiko/bermasalah Dilaksanakan karena adanya Dilaksanakan berdasarkan kurikulum krisis/masalah Pendekatan panggilan (on call) Terjadwal (kalender) Disampaikan dan dilaksanakan hanya Kolaboratif antara konselor. orang oleh konselor tua dan masyarakat Dimiliki hanya oleh staf konseling Didukung dan dimiliki oleh seluruh (konselor) komunitas Mengukur jumlah usaha yang Mengukur dampak yang dikaitkan dengan dilakukan tujuan Berurusan dengan proses melaksanakan Berurusan dengan pencapain tujuan. Teori dan Praktek. Rubrik Sertifikasi Guru BK Diterbitkan Februari 6.dpi. guru. 2004.html Sofyan S.wisconsin.

berbentuk : 1. Anda bisa meng-klik dalam tautan di bawah ini. maka guru bimbingan dan konseling (konselor) mutlak harus mampu merencanakan kegiatan pelayanan secara tertulis . Aktivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling : • • • Pemahaman : (antara lain : sosiometri. Agenda kerja guru bimbingan dan konseling (konselor) 2. Laporan hasil evaluasi program. catatan anekdot. Implikasi dari adanya ketentuan penilaian di atas. guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) memiliki karakteristik yang berbeda dengan guru pengampu mata pelajaran. perencanaan layanan dengan gaya goal in mind tampaknya menjadi tidak relevan lagi. guru bimbingan dan konseling dituntut untuk melakukan kegiatan pencatatan atas segala aktivitas yang dilakukannya dan melaporkannya kepada pihak yang kompeten. Laporan bulanan 5. referal) Pelayanan tidak langsung : (antara lain : papan bimbingan. Laporan semesteran/tahunan 6. khususnya kepada kepala sekolah selaku atasan langsung. yang membedakan antara guru pengampu mata pelajaran dengan guru bimbingan dan konseling terletak pada komponen perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Daftar konseli 3. yang didalamnya mengandung aspek-aspek yang menjadi bahan penilaian serta dapat mendokumentasikan secara baik dan tertib. Guru Bimbingan dan Konseling lebih mengedepankan dan menitikberatkan pada pendekatan interpersonal serta sarat dengan nilai. Rubrik Penilaian Portofolio Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) 100 .Dalam menjalankan tugas dan fungsinya. bibliokonseling. kunjungan rumah. buku saku) 7. Mengumpulkan Program Semesteran dan Program Tahunan. (d) strategi pelayanan. Mengumpulkan 5 buah Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) yang berbeda. sedangkan guru mata pelajaran lebih mengutamakan pada pendekatan instruksional dan terikat dengan bahan ajar dari mata pelajaran yang diampunya. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) program semesteran Bimbingan dan konseling dan (b) program tahunan Bimbingan dan konseling Sedangkan bukti fisik penilaian dalam pelaksanaan pelayanan berbentuk Laporan Pelaksanaan Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling (PPBK) . konferensi kasus) Pelayanan langsung : (antara lain : konseling individual. (b) pemilihan dan pengorganisasian materi pelayanan. kotak masalah. konsultasi. dengan aspekaspek penilaian meliputi : 1. Data kebutuhan dan permasalahan konseli 4.Terkait dengan penilaian portopolio dalam rangka sertifikasi. bimbingan klasikal. audio visual. proses. Kendati demikian. media cetak : liflet. 2. Bukti fisik penilaian dalam merencanakan kegiatan bimbingan dan konseling. dan(e) rencana evaluasi dan tindak lanjut. konseling kelompok. keduanya tetap memiliki tujuan yang sama yaitu terwujudnya perkembangan pribadi peserta didik secara optimal. Untuk mengetahui lebih jauh tentang aspek-aspek yang dinilai dari guru Bimbingan dan Konseling (konselor) dalam rangka sertifikasi. (c) pemilihan instrumen/media. dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (a) perumusan tujuan pelayanan. bimbingan kelompok. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan. Dalam hal ini. produk bimbingan dan konseling serta tindak lanjutnya. audio.

Target Intervensi Individual Kelompok Klasikal 5. Hal ini berarti dalam pengembangan dan proses pembelajaran fungsi-fungsi bimbingan dan konseling perlu mendapat perhatian guru. Wilayah Gerak 2. Ekspektasi Kinerja Ukuran Keberhasilan Lebih bersifat kualitatif yang unsur-unsurnya saling terkait Pemanfaatan Instructional Pengenalan diri dan Effects & Nurturant Effects lingkungan oleh konseli 101 .Keunikan dan Keterkaitan Pelayanan Guru dan Konselor Diterbitkan Februari 3. karier. Demikian pula. Tujuan Umum 3. dan masalah-masalahnya belajar. Konteks Tugas Guru Konselor Khususnya Sistem Khususnya Sistem Pendidikan Formal Pendidikan Formal Pencapaian Tujuan Pencapaian Tujuan Pendidikan Nasional Pendidikan Nasional Pembelajaran yang Pelayanan yang mendidik melalui mata memandirikan dengan pelajaran dengan skenario skenario konseli-konselor guru-murid Pengembangan kemampuan Pengembangan potensi diri penguasaan bidang studi bidang pribadi. dan masalahmasalahnya Alih tangan (referal) Alih tangan (referal) Minim Pilihan Strategis Utama Pencapaian Standar Kompetensi Lulusan Lebih Bersifat Kuantitaif Pendekatan Umum Utama Pilihan Strategis Minim Kemandirian dalam kehidupan Fokus Kegiatan Hubungan Kerja 4. Dalam hubungan fungsional kemitraan antara konselor dengan guru. antara lain dapat dilakukan melalui kegiatan rujukan (referal) Masalah-masalah perkembangan peserta didik yang dihadapi guru pada saat pembelajaran dirujuk kepada konselor untuk penanganannya. Masalah kesulitan belajar peserta didik sesungguhnya akan lebih banyak bersumber dari proses pembelajaran itu sendiri. keunikan dan keterkaitan pelayanan pembelajaran oleh guru dan pelayanan bimbingan dan konseling oleh konselor dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Dimensi 1. 2008 Tugas-tugas pendidik untuk mengembangkan peserta didik secara utuh dan optimal sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksnakan oleh guru. Sementara itu. dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra kerja. masing-masing pihak tetap memiliki wilayah pelayanan khusus dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian kompetensi peserta didik. Selengkapnya. konselor. fungsi-fungsi pembelajaran bidang studi perlu mendapat perhatian konselor. masalahmasalah peserta didik yang ditangani konselor terkait dengan proses pembelajaran bidang studi dirujuk kepada guru untuk menindaklanjutinya. Sebaliknya. sosial.

OPINI TENTANG BIMBINGAN DAN KONSELING Guru BK tak Perlu Beri Solusi Diterbitkan Februari 17. ada beberapa hambatan lain yang membuat guru BK tidak berfungsi dengan baik di sekolah. Menurut dia. citra yang telanjur melekat pada guru BK sebagai polisi sekolah.. belajar dan karier. sosial. “Tidak ada yang dipecahkan pembimbing. Sofyan S. Selain terlalu sering memberikan nasihat. Prof. katanya. Guru BK tidak perlu memberikan solusi atas masalah para siswa tapi menjadi pendengar yang baik dan memberikan arahan-arahan.Pd. Siswa harus memecahkannya sendiri atas bantuan guru. solusi yang diberikan guru malah belum tentu menjadi yang terbaik untuk para siswa. Jakarta F. Terutama. Staf pengajar pada program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Pendidikan Indonesia itu mengatakan.Perencanaan tindak intervensi Pelaksanaan tindak intervensi melalui pembelajaran yang dalam rangka pengentasan mendidik masalah pribadi. 2007. Belitung. kantor BK di sekolah bahkan telah dianggap sebagai tempat pesakitan.” ungkapnya. mengatakan hal itu kepada ”PR” di sela-sela lokakarya “Konselor Sekolah” di SMAN 5 Bandung. Skenario tindakan merupakan hasil transaksi yang merupakan keputusan konseli Kebutuhan belajar Kebutuhan pengembangan ditetapkan terlebih dahulu diri ditetapkan dalam proses untuk ditawarkan kepada transaksional oleh konseli. H. Willis. Menurut dia. alternatif juga dari dia (siswa-red). Dr. bukan yang 102 . tapi siswa tetap yang harus memikirkan. guru BK bisa saja memberikan usulan tapi tidak dalam bentuk nasihat. M. 2008 Guru bimbingan dan konseling (BK) harus mampu membantu siswa memecahkan masalahnya sendiri.” ujarnya. “Alternatif bisa diusulkan guru. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Naskah Akdemik). peserta didik difasilitasi oleh konselor Penyesuaian proses Penyesuaian proses berdasarkan respons berdasarkan respons ideosinkretik peserta didik ideosinkretik konseli dalam yang lebih terstruktur transaksi makna yang lebih lentur dan terbuka Sumber : Dirjen PMPTK. Padahal. Jl. guru BK harus memberikan konseling kepada seluruh siswa. Yang baik.

pikiran-rakyat. semua guru — terutama guru BK — harus melakukan pendekatan secara bijak dan personal kepada siswa. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. menulis sebuah artikel yang dimuat dalam harian Pikiran Rakyat. Karenanya. Berkaitan dengan peran sekolah. layanan etis normatif. konseling harus berlangsung secara berkesinambungan. Menurut Sofyan. (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan.com/cetak/2006/042006/07/0702. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai. dan bukan layanan bebas nilai. hubungan konseling harus dijaga supaya selalu baik sehingga siswa bisa percaya pada guru BK secara personal. menghormati keragaman serta mengedepankan kemaslahatan pengguna layanannya. Isi tulisan kiranya dapat disarikan sebagai berikut : Bahwa tugas seorang konselor adalah menyelenggarakan layanan kemanusiaan pada kawasan layanan yang bertujuan memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidupnya melalui pengembilan keputusan tentang pendidikan. serta untuk menjadi warga masyarakat yang peduli kemaslahatan umum. (4) 103 . siswa sering berbicara banyak hal sehingga guru tidak cepat menangkap pokok masalahnya. menggunakan penyikapan yang empatik. melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. hal. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai. (2) menguasai landasan dan kerangka teoritik bimbingan dan konseling. dan selalu menyadari batas kemampuan dan kewenangan yang dimilikinya sebagai seorang profesional. dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya. Sumber : http://www. Ketua Umum Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN).memiliki masalah saja. 6 September 2006. Hambatan lain adalah banyaknya guru BK yang tidak mampu mengelompokkan masalah yang diungkapkan siswa. 20 dengan judul tulisan “Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Dengan karakteristik keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerjanya. Dr. Guru pun harus mampu mengajar sambil membimbing para siswa. Supaya konseling cukup efektif. ia mengungkapkan.melalui pendidikan. Karenanya. seorang konselor dipersyaratkan memiliki kompetensi : (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani. Saat melakukan konseling. dilakukan dengan selalu mencermati kemungkinan dampak jangka panjang dari tindakan layanannya itu terhadap pengguna layanan. satu guru BK sebanding dengan 150 siswa. pilihan dan pemeliharaan karier untuk mewujudkan kehidupan yang produktif dan sejahtera. Seorang konselor sebagai pengampu layanan bimbingan dan konseling selalu digerakkan oleh motif altruistik. 2008 Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Prof. namun seorang konselot tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani). Sunaryo Kartadinata. jumlah guru BK di setiap sekolah harus memadai.htm Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai Diterbitkan Februari 7. Makna melalui pendidikan mengandung penekanan keharusan sinergi antara guru dan konselor.

Selain itu. 104 . Konselor akan berperan membantu peserta didik untuk memahami bakat dan minat yang ada pada dirinya. Berkenann dengan komponen Pengembangan Diri dalam KTSP. Jika acuan guru bidang studi adalah pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL). dikemukakan pula tentang layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus dan anak berbakat. layanan Bimbingan dan Konseling untuk semakin mengokohkan pilihan dan pengembangan karier sejalan dengan bidang vokasi yang menjadi pilihannya. Tidak mungkin seorang konselor mengajarkan subtansi yang yang terkait dengan pengembangan bakat dan minat peserta didik. Pada jenjang TK dan SD layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh Roving Counselor (Konselor Kunjung) untuk membantu guru menyusun Program BK yang terpadu dengan proses pembelajaran dan mengatasi perilaku yang mengganggu. misalnya melalui asesmen psikologis. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak bisa digantikan dengan komponen pengembangan diri. Dalam hal ini. terutama guru pendidikan khusus. (5) yang dilandasi sikap. baik melalui kegiatan intra maupun ekstra kurikuler. bahwa Pengembangan Diri dalam KTSP merupakan wilayah kerja semua pendidik di sekolah dan bukan hanya wilayah kerja konselor. baik dengan rekam jejak pendidikan mahasiswa maupun kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai pribadi yang produktif. dan karier. pribadi-sosial. acuan konselor adalah Standar Kompetensi Kemandirian (SKK) yang basisnya adalah tugas-tugas perkembangan yang harus dikuasai peserta didik dalam perkembangan moral. baik terkait dengan pendidikan maupun karier. Pada jenjang SMP dan SMA. pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya sama dengan pelayanan umum lainnya. dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Selebihnya adalah tugas guru untuk membantu peserta didik mengembangkan bakatnya. pengembangan bakat dan minat peserta didik lebih banyak merupakan tugas guru bidang studi karena akan menyangkut substansi yang terkait dengan bakat anak. melainkan tetap sebagai sebuah layanan utuh yang berorientasi kepada upaya memfasilitasi kemandirian peserta didik. nilai.. layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus layanan Bimbingan dan Konseling lebih ditekankan pada upaya pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities). melalui direct behavioral consultation.mengembangkan profesionalitas profesi secara berkelanjutan. Sedangkan layanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berbakat. Bimbingan Karier (soft skill) dan Bimbingan Vokasional (hard skill) harus dikembangkan secara sinergis. sejahtera. Pengembangan program layanan Bimbingan dan Konseling merentang mulai dari tingkat TK sampai dengan Perguruan Tinggi. Misalnya. akademik. SKK ini sesungguhnya yang harus dirumuskan oleh konselor dan setiap satuan pendidikan sebagai dasar pengembangan program layanan bimbingan dan konseling. Sunaryo mengingatkan untuk tidak menyeret layanan bimbingan dan konseling ke arah pembelajaran seperti bidang studi. Menurutnya. serta berguna untuk manusia lain. dan memilih alternatif pengembangan yang paling mungkin bagi dirinya. berkolaborasi dengan guru bidang vokasional. merupakan intervensi tidak langsung yang lebih terfokus upaya mengembangkan lingkungan perkembangan yang akan melibatkan banyak pihak. Pada jenjang SMP dan SMA layanan bimbingan dan konseling dapat dilakukan olehkonselor untuk memfasilitasi peserta didik dalam mengaktualisasikan potensi peserta didik secara optimal dan salah satunya adalah kemandirian dalam mengambil keputusan perencanaan pendidikan dan karier.. Pada jenjang Perguruan Tinggi layanan Bimbingan dan Konseling dimaksudkan untuk semakin memantapkan karier yang sebisa mungkin yang paling cocok.

yang tidak hanya dalam pengertian intelektual saja tetapi juga keberbakatan lainnya. 20 Penulis dan Bimbingan & Konseling Diterbitkan Februari 4.Pikiran Rakyat. BSNP. M. di sana tertera ada satu jurusan yang bernama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Ketika membaca buku panduan pengisian formulir. seni dan sebagainya Atas semua itu. walaupun pada saat itu penulis merupakan “orang yang bermasalah”. kemudian penulis bertanya sambil bercerita tentang guru BP yang pernah penulis alami di SMA kepada kakak penulis yang mengantar penulis. karena takut dan malu jika harus berurusan lagi dengan Guru BP. karena kebetulan Guru BP-nya merupakan sosok yang sangat berwibawa dan ditakuti oleh para siswa. penulis sempat mengalami kesulitan untuk menentukan jurusan apa yang hendak ditempuh. yang mengakibatkan penulis “terpaksa” harus berurusan dengan guru BP (panggilan untuk konselor pada waktu itu). Setelah menamatkan pendidikan di SMA dan gagal menempuh ujian masuk perguruan tinggi yang tergabung Proyek Perintis I. Pertama kali mengenal konseling tatkala penulis masih duduk di bangku SMP.– yang juga 105 . Dijen Dikdasmen sedang merumuskan standar kompetensi konselor. saat ini Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) dengan dukungan Ditjen Dikti. Pada saat harus mengisi formulir pendaftaran. Kesan manis dan simpatik yang ditampilkannya membuat penulis sering melakukan kontak dengan guru BP tersebut bahkan dia pun banyak bercerita tentang apa itu BP dan bagaimana untuk menjadi guru BP. seperti dalam olah raga. sekitar 32 tahun yang lalu.Pd. hal. Ditjen PMPTK. Pada saat diwawancarai atau mungkin diinterogasi. penulis mengambil alternatif lain untuk mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi melalui Proyek Perintis IV. rasa takut sempat menyelimuti diri penulis. lagi-lagi penulis terpaksa harus berurusan dengan Guru BP. pada waktu itu penulis merasakan betul gejolak keremajaan. Namun jauh berbeda dengan apa yang dialami ketika masih di SMP. Setelah keluar dari ruangan BP. pendidikan profesional konselor dan penyelenggaraan layanan Bimbingan dan Konseling dalam jalur pendidikan formal termasuk di dalamnya pengembangan Standar Kompetensi Kelulusan (SKK) sebagai rambu-rambu bagi konselor. dalam hati saya berjanji tidak akan berusaha untuk melanggar peraturan sekolah lagi. sosok guru BP yang penulis hadapi merupakan sosok yang lembut dan penuh perhatian. 6 September 2006. pada saat akan mengakhiri studi di SMA.konselor berperan dalam asesmen keberbakatan dan memilih alternatif pengembangan keberbakatan. 2008 Oleh : Akhmad Sudrajat. salah satu perguruan tinggi yang bergabung di dalamnya adalah IKIP Bandung (sekarang berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia). Sebagai siswa yang sedang memasuki masa remaja awal.“Layanan Bimbingan dan Konseling Sarat Nilai”. Sumber : Sunayo Kartadinata. Empat tahun kemudian.

Sehingga dalam mengimplementasikan layanan Bimbingan dan Koseling tidak harus difokuskan untuk selalu “mengejar-ngejar kasus” semata. Pada awal menjadi Guru BP. namun ada juga yang menyebutnya Guru BK. penulis pun lulus testing dan diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan PPB-FIP IKIP Bandung. rasa sedih dan duka muncul ketika penulis gagal memberikan bantuan kepada siswa yang terpaksa harus tidak naik kelas atau dikeluarkan gara-gara melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Kurikulum BP yang sedang dikembangkan adalah Kurikulum 1984.. sehingga akhirnya penulis pun memutuskan untuk menempuh pendidikan pada jurusan yang sama dengan Guru BP penulis pada saat di SMA. apakah jurusan PPB itu akan menghasilkan guru seperti guru BP yang pernah saya hadapi ketika di SMA. penulis langsung mengisi formulir pendaftaran dengan mencantumkan jurusan PPB sebagai satu-satunya yang penulis pilih. Hanya selang satu tahun setelah lulus. Beliau memberikan analisis panjang lebar.. (kalau tidak salah guru BP tersebut bernama Bapak Sa’i Dayari. Rupanya pertemuan dan komunikasi yang menyenangkan dengan guru BP pada saat di SMA telah mempengaruhi keyakinan dan pola pikir penulis. Rasa suka dan bahagia muncul tatkala penulis berhasil membantu para siswa untuk bisa menjalani kehidupannya lebih baik. penulis menggeluti perkuliahan tentang bimbingan dan penyuluhan dan pada satu kesempatan mengikuti perkuliahan. ya seperti itulah ! Maka tidak panjang lebar lagi. Dalam mengimplementasikan Kurikulum 1994. penulis bertanya kepada salah seorang dosen tentang realita bimbingan dan penyuluhan pada saat itu. Perdebatan dan adu argumentasi dengan rekan-rekan kerja seringkali terjadi tatkala dalam rapat kenaikan kelas atau pelulusan harus mengambil keputusan untuk menentukan nasib siswa yang berada pada 106 . yang tampaknya masih berorientasi pada konseling terapeutik (kuratif). Jawaban singkatnya. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan nama Bimbingan dan Penyuluhan menjadi Bimbingan dan Konseling. Lima tahun kemudian penulis pindah tugas ke salah satu SMA Negeri di Kabupaten Kuningan. Sehingga dalam mengimplementasikan layanan BP pun masih banyak diwarnai oleh pendekatan yang bersifat terapeutik (kuratif). Terlebih jika ada orang tua yang sengaja datang ke sekolah hanya untuk sekedar menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bimbingan yang telah dilakukan terhadap putera-puterinya. yang diakhiri dengan amanat beliau bahwa tugas penulislah (dan juga mahasiswa yang lainnya) untuk meluruskan semua itu. Semasa bertugas menjadi guru BP di sana. penulis hanya memilih satu jurusan saja. jika penulis kelak menjadi guru BP. sempat terjadi perubahan kurikulum yaitu Kurikulum 1994. penulis lulus testing diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Bekasi dan bertugas sebagai Guru BP. Di lapangan ternyata banyak yang keliru dalam menafsirkannya seolah-olah Bimbingan Karier merupakan bidang yang terpisah dari Bimbingan dan Penyuluhan.kebetulan sebagai mahasiswa pada salah satu jurusan di IKIP Bandung. Walaupun diberikan kesempatan untuk memilih dua pilihan. mudah-mudahan beliau sempat membaca tulisan ini dan penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas segala bimbingannya).singkatnya pertanyaan itu. pertanyaannya seputar citra dan persepsi bimbingan dan penyuluhan yang dianggap sebagai lembaga yang “mengerikan” dan mungkin sangat dibenci oleh siswa. Suka dan duka menyertai perjalanan penulis selama menjadi Guru BP/Guru Pembimbing. menggantikan sebutan Guru BP. Pada Kurikulum 1994 ini telah meletakkan dasar untuk mengembangkan konseling dengan paradigma pencegahan dan pengembangan. Bersamaan itu pula mulai diperkenalkan sebutan Guru Pembimbing (sebutan resmi untuk petugas bimbingan dan konseling). Sebaliknya. Pada akhirnya penulis pun lulus sebagai Sarjana Pendidikan dengan keahlian dalam bidang Bimbingan dan Penyuluhan. Akhirnya. tempat kelahiran penulis. sehingga orang sering menyebutnya sebagai BP/BK. Pada kurikulum 1984 ada upaya untuk menekankan Bimbingan Karier sebagai substansi Bimbingan dan Penyuluhan. dikembangkan konsep Pola 17 sebagai kerangka kerja Bimbingan dan Konseling. Selanjutnya.

2008 oleh : Akhmad Sudrajat. Sehingga penulis dan juga rekan-rekan konselor di lapangan seperti kehilangan pegangan dan arah untuk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi. kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling. penulis semenjak tahun 2003 diberi kepercayaan untuk menjadi Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Kuningan untuk mengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan (Perkembangan Peserta Didik) – yang di dalamnya memberi kajian akademik tentang bimbingan dan konseling– Selama menjalani profesi kepengawasan. ternyata suara tentang bimbingan dan konseling semakin sayupsayup dan nyaris tak terdengar.jurang “degradasi”.Pd. sedangkan guru pembimbing terpaksa harus gigit jari. dengan harapan dapat dijadikan sebagai media komunikasi secara virtual. semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (dalam Kurikulum 84 dan sebelumnya).20 tahun 2003 mulai diperkenalkan isitilah konselor untuk sebutan resmi petugas bimbingan dan konseling. Akhir-akhir ini ada sebagaian para ahli meluncurkan sebutan Profesi Konseling. sehingga profesi konseling tetap bisa memberikan manfaat bagi kehidupan dan kemajuan pendidikan kita. di tengah-tengah gelegar reformasi pendidikan dan pembelajaran tersebut. khususnya dengan seluruh rekan-rekan konselor dimana pun berada dan juga masyarakat lainnya. sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. M. Selama perjalanannya telah mengalami beberapa kali pergantian nama. dengan hadirnya Undang-Undang Sisdiknas No. didalamnya terkandung berbagai usaha perubahan untuk memantapkan bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi. rasa nelangsa dan prihatin muncul ketika guru-guru mata pelajaran menerima tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. sampai akhirnya pada tahun 2002 penulis beralih tugas menjadi pengawas sekolah dengan basis bimbingan dan konseling. Hanya sangat disesalkan. tapi itulah resiko jabatan yang harus dijalani.SMA pada saat itu. Perjalanan Jauh Bimbingan dan Konseling sebagai Profesi Diterbitkan Februari 6. Walaupun pada akhirnya penulis bersama dengan rekan-rekan guru pembimbing lainnya berhasil meyakinkan sekolah bahwa guru pembimbing pun berhak atas tunjangan Kelebihan Jam Mengajar. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut. akhirnya sampailah pada satu pemikiran untuk membuat situs ini. Sambil menjalankan tugas-tugas kepengawasan.Perjalanan selama lima belas tahun menjadi guru pembimbing telah memberikan pengalaman dan kebanggaan tersendiri bagi penulis. untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Upaya advokasi yang dilakukan memang seringkali menimbulkan kontraversi dengan rekan-rekan kerja. meski secara formal istilah ini belum digunakan. bersamaan dengan munculnya kebutuhan akan penjurusan di. yang kemudian pada tahun 2006 direvisi dengan hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Untuk menyiasati keadaan dan berbagai persoalan yang menghinggapi profesi konseling saat ini. Pada tahun 2003. Kehadiran layanan bimbingan dan konseling dalam sistem pendidikan di Indonesia dijalani melalui proses yang cukup panjang. Kendati demikian harus diakui bahwa untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai suatu 107 . sampai dengan sekarang. terjadi lompatan besar dalam upaya mereformasi pendidikan nasional. Tahun 2004 muncul Kurikulum Berbasis Kompetensi.Begitu juga.

Perkembangan teori bimbingan dan konseling terutama dihasilkan oleh perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi bimbingan dan konseling. ke depannya perlu dipikirkan bagaimana Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dapat bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan pencetak tenaga konselor untuk dapat memproduksi lulusannya. dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya dan bahkan relatif mendahului teori-teori yang dikembangkan dalam pembelajaran untuk mata pelajaran . setidaknya terdapat dua faktor dominan yang diduga menghambat terhadap laju perkembangan profesi konseling di Indonesia . termasuk di dalamnya kebutuhan tenaga konselor di daerahnya. dimana kewenangan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil diserahkan kepada daerah. kelangkaan ini diduga disebabkan oleh ketidakseimbangan antara demand dan supply. Kebijakan Pemerintah yang kurang berpihak terhadap profesi konseling 108 . konseling sebagai “polisi sekolah“pun hingga kini masih melekat kuat pada sebagaian masyarakat. teori-teori bimbingan dan konseling hingga saat ini boleh dikatakan sudah berkembang cukup mantap. baik secara personal maupun lembaga. Kelangkaan Tenaga Konselor Tenaga konselor yang berlatar bimbingan dan konseling memang masih belum memenuhi kebutuhan di lapangan. Menurut pandangan penulis.profesi yang dapat memberikan manfaat banyak. tetapi memang tidak ada orangya ! Boleh jadi ini merupakan dampak langsung dari otonomi daerah. Manfaat bimbingan dan konseling sepertinya masih belum dirasakan oleh masyarakat. teori-teori bimbingan dan konseling yang dihasilkan melalui penelitian oleh para praktisi di sekolah-sekolah tampaknya belum berkembang sepenuhnya sehingga kurang memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi bimbingan dan konseling. yaitu : 1. karena penyelenggaraannya dan pengelolaannya tidak jelas.. Selama ini masih banyak sekolah yang menyelenggarakan Bimbingan dan Konseling tanpa didukung oleh tenaga konselor profesional dalam jumlah yang memadai. teori-teori itu pun sepertinya tersimpan rapih dalam gudang perguruan tinggi yang sulit diakses oleh para konselor di lapangan. kualitas dan distribusinya. Kesan lama.mata pelajaran di sekolah. yang tentunya hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja bimbingan dan konseling itu sendiri. Sayangnya. Dalam tataran teoritis. sehingga kelangkaan tenaga konselor dapat segera diatasi. Kendala terbesar yang dihadapi untuk mewujudkan bimbingan dan konseling sebagai profesi yang handal dan bisa sejajar dengan profesi-profesi lain yang sudah mapan justru terjadi dalam tataran praktis. tenaga konseling terpaksa banyak direkrut dari nonkonseling. Di sisi lain. Demikian pula dalam distribusinya relatif tidak merata. khususnya di kalangan siswa. Tingkat produktivitas dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan penghasil tenaga konselor tampaknya relatif masih terbatas jumlahnya dan belum mampu memenuhi kebutuhan pasar. dengan memperhitungkan segi kuantitas. di beberapa daerah ketika melakukan rekrutment untuk tenaga konselor dalam testing Calon Pegawai Negeri Sipil ternyata tidak terisi. yang mungkin hanya dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang bimbingan dan konseling yang minimal atau bahkan sama sekali tanpa dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang konseling. Meminjam bahasa ekonomi. Oleh karena itu. bukan dikarenakan tidak ada peminatnya. baik yang bersumber dari penelitian maupun hasil pemikiran kritis para ahli. dan tidak semua daerah mampu menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan. hingga saat ini tampaknya masih perlu kerja keras dari semua pihak yang terlibat dengan profesi konseling. Contoh kasus. 2. Sehingga.

dengan menghadirkan pembicara Dr. dalam kebijakan sertifikasi guru. termasuk pada tataran operasional yang dilaksanakan oleh para konselor di sekolah. M. mengusung tema ” Arah Baru Kebijakan Bimbingan dan Konseling di Indonesia“. pakar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. tetapi keputusan yang terbaik demi kemajuan profesi bimbingan dan konseling tetap harus segeradiambil. karena format penilaian yang disediakan tidak sepenuhnya cocok untuk digunakan dalam penilaian perencanaan dan pelaksanaan bimbingan dan konseling. *)) Akhmad Sudrajat. Tentunya masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan di lapangan. baik yang bersifat konseptual-fundamental maupun teknis operasionalnya. Jika ke depannya. Jika tidak. Ketidakjelasan semakin dirasakan justru pada saat kita sedang berupaya mereformasi pendidikan kita. Pengawas Satuan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan dan Dosen pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-UNIKU. Jadi. bimbingan dan konseling masih tetap akan dipertahankan sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. sehingga profesi konseling bisa tumbuh dan berkembang menjadi sebuah profesi yang dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan kemajuan negeri ini. Walaupun dalam hal ini mungkin akan terjadi tawar-menawar yang cukup alot di dalamnya. 2008 Jika tidak ada aral melintang pada hari Selasa. kalau ada pertanyaan mengapa Bimbingan dan Konseling di sekolah kurang optimal. ketika digulirkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). banyak konselor dan pengawas satuan pendidikan yang kebingungan untuk memahami tentang penilaian perencanaan dan pelaksanaan konseling. maka profesi bimbingan dan konseling tetap saja dalam posisi termarjinalkan. Ketidakjelasan kebijakan tentang profesi bimbingan dan konseling pada tataran pusat ini akhirnya mengimbas pula pada kebijakan pada tataran di bawahnya (messo dan mikro).Pd. kita hanya menemukan secuil informasi yang membingungkan tentang bimbingan dan konseling yaitu berkaitan dengan kegiatan Pengembangan Diri.Pd. Contoh kasus terbaru. Dalam dokumen KTSP. yang salah-satunya adalah ketidakjelasan dalam kebijakan pemerintah terhadap profesi bimbingan dan konseling. Uman Suherman. M. Seminar BK di Universitas Kuningan Diterbitkan Maret 8. 11 Maret 2008 Universitas Kuningan (UNIKU) bekerja sama dengan Pengurus Asosiasi Bimbingan dan Konseling (ABKIN) Cabang Kabupaten Kuningan hendak menyelenggarakan Seminar Sehari Bimbingan dan Konseling. kiranya perlu ada komitmen dan good will dari pemerintah untuk secepatnya menata profesi konseling.Banyak terjadi kejanggalan dan ketidakjelasan kebijakan dari pemerintah pusat tentang profesi bimbingan dan konseling. salah satunya dengan berupaya melibatkan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) selaku wadah yang menaungi para konselor dan para pakar konseling untuk duduk bersama merumuskan bagaimana sebaiknya kebijakan konseling untuk hari ini dan ke depannya. maka kita bisa melihat sumber permasalahannya. Begitu juga. hingga saat ini sama sekali belum memberikan kejelasan tentang bagaimana bimbingan dan konseling seharusnya dilaksanakan. 109 . niscaya pada gilirannya akan memberikan dampak bagi perkembangan konseling ke depannya. ! Dengan teratasinya kelangkaan tenaga konselor dan keberhasilan upaya pemerintah dalam menata profesi bimbingan dan konseling.

sosio-personal.Tujuan seminar ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada para guru BK/Konselor di Kabupaten Kuningan tentang “Arah dan Perspektif Bimbingan dan Konseling di Indonesia” yang saat ini sedang digodok oleh ABKIN dan pihak yang berwenang lainnya untuk menjadi kebijakan resmi penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Misalnya. Dukung pembicaraan Anda dengan data-data. maupun bidang karier. Bertindak layaknya seorang ”politisi” yang aktif melakukan berbagai lobby dan berkomunikasi dengan seluruh mitra kerja yang ada sehingga kepentingan bimbingan dan konseling dapat terwakili dalam setiap keputusan atau kebijakan di sekolah. Tips Advokasi Bimbingan dan Konseling Diterbitkan Maret 6. para pemegang kebijakan lainnya atau masyarakat. 1. guru mata pelajaran. baik dalam bidang akademik. 2. gunakan chart atau grafik untuk menggambarkan hasil-hasil siswa tersebut. tidak jelas kerjanya. Tidak sedikit mereka yang beranggapan bahwa konselor atau guru BK di sekolah hanya makan gaji buta. Di bawah ini beberapa tips untuk melakukan advokasi sekaligus untuk meyakinkan berbagai pihak yang berkepentingan dengan bimbingan dan konseling di sekolah. Untuk lebih meyakinkan bisa saja Anda memanfaatkan siswa untuk berbicara dalam forum mewakili kepentingan Bimbingan dan Konseling atau konselor. oleh siswa. mari kita hadiri acara langka ini untuk kepentingan penambahan wawasan kita. Pada saat sedang mengikuti rapat. oleh karena itu konselor dituntut dapat menunjukkan pengembalian investasi tersebut dalam bentuk hasil-hasil siswa tersebut 5. Ungkapan-ungkapan miring semacam itu bisa ditepis jika saja konselor atau guru BK yang bersangkutan dapat menunjukkan kinerjanya sekaligus mampu melakukan advokasi di hadapan mitra-mitra kerjanya di sekolah. Program bimbingan dan konseling pada dasarnya merupakan investasi siswa di sekolah tersebut. Peserta tidak dipungut biaya sepeser pun alias gratis dan disediakan Seminar Kit oleh panitia Kepada pihak-pihak yang telah menerima undangan. 2008 Pekerjaan bimbingan dan konseling kerapkali dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang justru memiliki kepentingan dengan bimbingan dan konseling itu sendiri. 3. Seminar ini juga merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat dan kepedulian Universitas Kuningan terhadap profesi Bimbingan dan Konseling. karena data akan lebih berbunyi keras dari pada kata-kata (data speak louder than words). kepala sekolah. 4. 110 . Yang dimaksud dengan hasil – hasil siswa adalah berbagai kemajuan yang dicapai siswa melalui intervensi bimbingan dan konseling. atau hanya dianggap sebagai pekerjaan embel-embel saja. Anda minta waktu untuk berbicara dan pembicaraan Anda difokuskan pada hasil-hasil siswa bukan memaparkan apa yang telah dilakukan konselor. dengan menceritakan kisah sukses (success story) mereka atas bantuan layanan bimbingan dan konseling yang telah diterimanya.

Bapak Drs. Penyajian semakin berkembang dan interaktif tatkala dibuka kesempatan tanya jawab. namun karena enthusias dan partisipasi peserta yang tinggi. Tentunya saya berharap. Dalam jadwal resmi. dan relevansi penggunaan reinforcement negatif (hukuman) dalam rangka pendisiplinan siswa di sekolah.M. dengan harapan para peserta dapat memahami: (1) konsep dasar layanan konseling di sekolah. maka atas seijin panitia setempat. (2) peran guru dalam layanan konseling di sekolah. Beberapa peserta ada yang masih merasa penasaran dan ingin memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dengan materi tentang optimalisasi peran guru dalam layanan Konseling. Tema pelatihan kali ini adalah “ Upaya terrealisasinya Aplikasi Manajemen Pembelajaran bagi Pencapaian Mutu Pendidikan” dan pada kesempatan ini saya diminta untuk menyampaikan materi tentang Layanan Konseling di Sekolah. 111 . Untuk itu. Rachmat Setiawan. Berdasarkan informasi dari Kepala Sekolah setempat.Pd. maka sudah sepatutnya jika saya menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggitinginya atas komitmen dan kepedulian SMA Negeri 1 Garawangi untuk memajukan peran dan fungsi Konseling di sekolah. atau tahunan. baik laporan harian.6. In House Trainning di SMA N 1 Garawangi Diterbitkan Juli 21. saya diundang untuk menjadi pemateri dalam acara In House Trainning yang diselenggarakan SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan. Sebagai Pengawas Sekolah bidang Bimbingan dan Konseling maupun sebagai pribadi. bahwa kegiatan pelatihan semacam ini memang telah menjadi agenda rutin setiap akan memasuki tahun pelajaran baru dan diikuti oleh seluruh unsur guru dan staf tata laksana. Ciptakan akuntabilitas kerja melalui laporan hasil bimbingan dan konseling. sebetulnya saya hanya disediakan waktu 75 menit. M. H. semoga saja apa yang telah disampaikan dalam pelatihan ini dapat dipahami dan diimplementasikan dengan baik di SMA Negeri 1 Garawangi guna kepentingan efektivitas pendidikan di SMA Negeri 1 Garawangi. bulanan. penyajian materi diperpanjang hingga hampir 120 menit. Materi yang disajikan merupakan kombinasi antara perspektif kebijakan dan keilmuan (teoritis). saya memilih topik pembicaraan: “Layanan Konseling: Konsep dan Pratik”. 2008 Hari Sabtu lalu (18-07-2008). dan (3) aplikasi konsep konseling dalam PBM.

mudah dan akurat. Aplikasi Program yang sebagus ini belum bisa dibagikan secara gratis kepada para guru bimbingan dan konseling (konselor) dan jika Anda ingin menggunakannya. Sayangnya. (7) Agama. Alat Ungkap Masalah ini didesain untuk mengungkap 10 bidang masalah yang mungkin dihadapi konseli. (3) Hubungan Sosial (HSO). pengembangan maupun kuratif. Nilai dan Moral (ANM). Anda harus memesannya kepada penyedia alat tersebut (vendor). seorang konselor selanjutnya dapat menentukan program layanan bimbingan dan konseling. (9) Keadaan dan Hubungan dalam Keluarga (KHK). (4) Ekonomi dan Keuangan (EKD). INSTRUMEN BIMBINGAN DAN KONSELING Alat Ungkap Masalah Diterbitkan Januari 12. (5) Karier dan Pekerjaan (KDP). setelah dilakukan input data terlebih dahulu. sehingga pada gilirannya diharapkan upaya pemberian layanan dapat berjalan lebih efektifTentunya banyak cara untuk memahami masalah-masalah yang dihadapi oleh konseli dan salah satunya dapat dilakukan melalui penggunaan Alat Ungkap Masalah atau biasa disebut AUM. kita dapat mengakses informasi tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli secara individual maupun secara kelompok dengan cepat. baik yang bersifat preventif. (2) Diri Pribadi (DPI). Alat Ungkap Masalah adalah sebuah instrumen standar yang dikembangkan oleh Prayitno. 2008 Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru bimbingan dan konseling (konselor) adalah memahami konseli secara mendalam. Kesepuluh bidang masalah tersebut mencakup: (1) Jasmani dan Kesehatan (JDK). Untuk kepentingan analisis data. (6) Pendidikan dan Pelajaran (PDP). karena kesempatan 112 . Alat ini dilindungi password yang menurut hemat penulis cenderung “over protection”. Tentunya. telah disediakan software Aplikasi Program Alat Ungkap Masalah dalam bentuk data base. Jumlah keseluruhan item sebanyak 225. yang dapat digunakan dalam rangka memahami dan memperkirakan (bukan memastikan) masalah-masalah yang dihadapi konseli. dkk. termasuk didalamnya adalah memahami kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi konseli. dan (10) Waktu Senggang (WSG). Melalui analisis data berbasis komputer ini. Melalui pemahaman yang adekuat tentang masalah-masalah yang dihadapi konseli. ( Hubungan Muda Mudi (HMM).DI bawah ini tautan materi yang disampaikan pada kegiatan IHT di SMA Negeri 1 Garawangi Kabupaten Kuningan Konseling di Sekolah: Konsep dan Praktik G.

(d) melihat kehidupan sebagai “zero-sum game”. Impulsif. Konformistik. Untuk mengidentifikasi masalah perkembangan. dkk. (f) kurang introspeksi. (c) peduli akan aturan eksternal. ITP mengukur tujuh tingkat perkembangan dan sebelas aspek perkembangan individu. (e) menyamakan diri dalam ekspresi emosi. dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap penampilan diri. efektivitas dan efisiensi layanan bimbingan dan konseling di sekolah. dengan menggunakan kerangka pemikiran dari Loevenger. selanjutnya software ini tidak bisa digunakan lagi atau Anda harus menghubungi penyedia yang bersangkutan. di beberapa sekolah telah berhasil memanfaatkan teknologi yang satu ini guna menunjang kelancaran. (d) bertindak dengan motif dangkal.yang diberikan untuk menginstall ke komputer Anda hanya tiga kali. Tautan di bawah ini berisi tentang contoh Lembar Jawaban dan Daftar Masalah dari Alat Ungkap Masalah (AUM) untuk Siswa SMA. dan jangan lupa berikan komentar Anda ! Alat Ungkap Masalah Siswa SMA Klik Disini ! Inventori Tugas Perkembangan Diterbitkan Februari 4. 3. 2. Anda dapat men-download materi tersebut. Perkembangan tersebut berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat perkembangan peserta didik adalah ITP (Inventori Tugas Perkembangan) yang dikembangkan oleh Sunaryo. Gangguan pada salah satu tahap dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan secara keseluruhan. (b) berfikir sterotip dan klise. Kecuali kalau Anda orang yang memang sangat paham tentang seluk beluk Aplikasi Program Komputer mungkin Anda bisa membongkar password dan pembatasan aplikasi tersebut. (f) perbedaan kelompok didasarkan ciri-ciri eksternal. utuh dan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (b) mengikuti aturan secara oportunistik dan hedonistik. (g) takut tidak diterima 113 . dengan ciri-ciri : (a) peduli terhadap kontrol dan keuntungan yang dapat diperoleh dari berhubungan dengan orang lain. diperlukan pengukuran kuantitatif tentang tingkat-perkembangan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi. dengan ciri-ciri : (a) identitas diri terpisah dari orang lain. Guru Bimbingan dan Konseling (Konselor) dapat memahami tingkat perkembangan individu maupun kelompok. mengidentifikasi masalah yang menghambat perkembangan dan membantu peserta didik yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya. (c) beorientasi hari ini. dan (d) individu tidak menempatkan diri sebagai penyebab perilaku. Kendati demikian. merentang dari mulai usia tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Usia Perguruan Tinggi. 2008 Manusia sepanjang hidupnya selalu mengalami perkembangan. dapat disusun program bimbingan yang memungkinkan peserta didik dapat berkembang secara wajar. Ketujuh tingkat perkembangan individu tersebut adalah : 1. (c) berfikir tidak logis dan stereotip. Berdasarkan hasil pengukuran ini. dan (e) cenderung menyalahkan dan mencela orang lain. (b) bergantung pada lingkungan. Perlindungan Diri. Dengan alat ITP.

(f) ada keberanian untuk menyelesaikan konflik internal. Sadar Diri. dengan ciri-ciri : (a) memiliki pandangan hidup sebagai suatu keseluruhan. (h) peduli akan perkembangan dan masalah-masalah sosial. (e) memikirkan cara hidup. dengan ciri-ciri: (a) mampu berfikir alternatif. (d) mengenal eksistensi perbedaan individual. (h) tidak sensitif terhadap keindividualan. 7. (4) kematangan intelektual. Sedangkan sebelas aspek perkembangan individu yang diungkap melalui ITP mencakup : (1) landasan hidup religius. motif. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (e) peduli akan self fulfillment. (b) kesadaran akan konflik emosional antara kemandirian dengan ketergantungan. 114 . ( kemandirian perilaku ekonomi. (7) penerimaan diri dan pengembangannya.. Tingkat perkembangan siswa dapat dilihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek. (d) peduli akan hubungan mutualistik. (6) peran sosial sebagai pria atau wanita. Yang diskor 40 soal. dengan ciri-ciri : (a) peningkatan kesadaran invidualitas. (b) Mampu melihat diri sebagai pembuat pilihan dan pelaku tindakan. Yang diskor 66 soal. (10) kematangan hubungan dengan teman sebaya. (5) kesadaran tanggung jawab. dan (f) penyesuaian terhadap situasi dan peranan Seksama. Tingkat SLTP (ITP SLTP): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. Individualistik. Tingkat SLTA (ITP SLTA): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (d orientasi pemecahan masalah. (3) kematangan emosional. (c) mampu melihat keragaman emosi. (h) sadar akan adanya saling ketergantungan dengan orang lain. (f) cenderung melihat peristiwa dalam konteks sosial. yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. yang 10 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. (c) peduli akan paham abstrak. dan (i) mampu mengekspresikan perasaan dengan penuh keyakinan dan keceriaan. seperti keadilan sosial. (e) mampu bersikap toleran terhadap pertentangan dalam kehidupan. (f) membedakan kehidupan internal dan kehidupan luar dirinya. Tingkat sekolah dasar (ITP SD): Jumlah soal 50 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. (d) mampu mengintegrasikan nilai-nilai yang bertentangan. (2) landasaan perilaku etis. (c) menjadi lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain. kelompok. (e) memiliki tujuan jangka panjang. (c) peduli untuk mengambil manfaat dari kesempatan yang ada. dan (g) berfikir lebih kompleks dan atas dasar analisis. (g) respek terhadap kemandirian orang lain. (g) mengenal kompleksitas diri. (9) wawasan dan persiapan karir. sebab aspek yang ke-11 belum sesuai. (b) melihat harapan dan berbagai kemungkinan dalam situasi. ITP untuk SD dan SLTP hanya mengukur 10 aspek. dan perspektif diri. dan (11) persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga. Setiap soal (kumpulan butir pernyataan) terdiri atas empat butir pernyataan yang mengukur satu sub aspek. Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa (lihat tabel berikut). Otonomi. dengan ciri-ciri : (a) bertindak atas dasar nilai internal. dan (i) merasa berdosa jika melanggar aturan.4. 6. 5. ITP berbentuk angket yang terdiri atas kumpulan pernyataan yang harus dipilih oleh siswa. (b) bersikap realistis dan obyektif terhadap diri sendiri maupun orang lain.Yang diskor 40 soal.

ATP menyediakan berbagai fasilitas untuk memudahkan Anda dalam melakukan analisis terhadap perkembangan peserta didik.5 115 . grafik distribusi frekuensi konsistensi. Analisis Tugas Perkembangan Analisis Tugas Perkembangan adalah perangkat lunak yang khusus dibuat untuk membantu anda mengolah ITP. delapan butir tertinggi dan terendah. cepat dan menyenangkan.Analisis kelompok. Manajemen data. Pada komputer pentium 400 hanya dibutuhkan waktu satu detik untuk mengolah data 100 orang peserta. Kemampuan-kemampuan tersebut antara lain: Pengolahan data mentah secara cepat. distribusi frekuensi nilai. Jawaban siswa dinyatakan konsisten bila jawaban untuk kedua soal itu sama. Impor data dari file Microsoft Excel. terdiri atas pengelompokan siswa berdasarkan kriteria tertentu. yang terdiri atas: profil kelompok. menimbulkan banyak kesalahan dan sangat membosankan. delapan butir tertinggi dan terendah untuk individu tersebut. Setiap soal duplikasi mewakili satu aspek perkembangan. untuk jumlah siswa yang besar. Yang diskor 66 soal. beberapa window bisa dibuka sekaligus untuk membandingkan hasil pengolahan. semakin tinggi pula tingkat keseriusan siswa menjawab angket. Manual Guide ATP Versi 3.Analisis per individu. cara ini akan memakan waktu. sedang pada ITP SLTA dan ITP PT. Expor hasil pengolahan data ke Microsoft Excel®. dan analisis hasil penyekoran dapat dilakukan secara manual. terdapat 11 butir soal yang diduplikasi.Tingkat Perguruan Tinggi (ITP PT): Jumlah soal 77 masing-masing terdiri atas 4 butir pernyataan. penghitungan skor konsistensi. terdapat 10 butir soal yang diduplikasi. grafik distribusi frekuensi untuk setiap aspek. dan penggabungan kelompok. identifikasi perkembangan siswa dapat dilakukan dengan mudah. dkk . yang 11 soal digunakan untuk menghitung konsistensi jawaban siswa. Visualisasi hasil pengolahan skor dalam bentuk grafik akan memudahkan dan mempercepat Anda dalam analisis. Multi window. Semakin tinggi skor konsistensi. Dengan ATP. Sumber : Sunaryo. Bagaimana cara mengukur konsistensi (keajegan) jawaban siswa? Pada ITP SD dan ITP SLTP. Namun. Hasil duplikasi diletakkan di bagian akhir angket. Proses penyekoran. yang terdiri atas: profil individual.

116 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->