1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Tahun-tahun terakhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 ditandai terutama oleh semakin intens-nya globalisasi. Dalam zaman atau era globalisasi ini kerjasama antar bangsa di dunia juga berkembang dengan pesat dan semakin meningkat. Perkembangan atau peningkatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di sektor komunikasi dan informasi. Globalisasi dan perkembangan hubungan antar bangsa itu telah meningkatkan akses, keterbukaan dan kemudahan untuk memperoleh informasi dan melakukan komunikasi. Edward Depari dalam bukunya Komunikasi dalam Organisasi, mendefinisikan komunikasi sebagai proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti, dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan (Widjaja, 2000 : 13). Sumber informasi sangat beragam, baik yang berbentuk media elektronik maupun media cetak. Karena teknologi informasi dan kapital (modal) di dominasi oleh negara industri maju (terutama Amerika Serikat), maka pengaruh dan arus informasi yang berasal dari Barat menjadi sangat dominan. Misalnya, Reuter, CNN, AFP, BBC merupakan sumber utama informasi. Teknologi informasi…(Ely, 1982) ”mencakup sistem-sistem komunikasi seperti satelit siaran langsung, kabel interaktif dua-arah, penyiaran bertenaga rendah (low-power broadcasting), komputer (termasuk personal-komputer dan komputer genggam yang baru), dan televisi (termasuk video disk dan video tape cassette)” (Nasution, halaman 5).

2 Masalahnya, sikap atau persepsi media Barat mengenai berbagai issu tidak jarang berbeda dengan sikap atau persepsi Pemerintah dan masyarakat Indonesia. Misalnya, mengenai masalah terorisme internasional (mengenai masalah perjuangan bangsa Palestina), sikap atau persepsi media Barat (khususnya Amerika Serikat) cenderung bias, atau tidak seimbang, dan seringkali mengkaitkannya dengan kelompok Islam. Dominasi media Barat tersebut dapat berpengaruh besar terhadap pembentukan opini atau sikap masyarakat. Bahkan, bisa mengakibatkan persepsi masyarakat yang keliru mengenai kebijakan Pemerintah Indonesia. “Tidak hanya itu, Deplu pun semakin harus bergeliat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Kemajuan itu membuat semua pihak bisa dalam sekejap akan terlimpah dengan berbagai informasi. Kondisi itu kadang justru membuat seseorang akan terjebak pada apa yang disebut sebagai paradox of plenty” (Kompas edisi 10 Maret, 2002 : 3). “Ada dua hal yang diperhatikan reporter. Hal pertama, tidak setiap “posisi atau pengalaman” dari sumber berita “akan dan mesti” tahu akan informasi yang dipertanyakan. Ini mungkin berhubungan dengan ketidaktahuan sumber berita. Atau, sumber berita yang kurang pandai berbicara dan menyampaikan keterangan. Sumber berita yang memang tidak mau membagi informasi. Dan terakhir, sumber lupa mengingat fakta-keterangan yang dibutuhkan reporter” (Kurnia, 1999 : 40). Sementara itu, pada saat yang sama, situasi dalam negeri telah mengalami perubahan yang mendasar, dari suatu situasi atau sistem yang otoriter menjadi sistem yang lebih terbuka dan demokratis. Sejalan dengan globalisasi dan perkembangan atau perubahan dalam negeri, di Indonesia juga semakin mudah memperoleh akses terhadap informasi dan perkembangan internasional. Menlu mencatat “perubahan mendasar pada tingkat nasional, dimulai sejak reformasi 1998, yang bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu

3 demokratisasi, penegakan hukum, termasuk pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), penegakan hak asasi manusia (HAM), dan upaya pemulihan ekonomi”. “Akibat langsung dari perubahan mendasar itu, aktor politik dan hubungan luar negeri semakin banyak. Selain itu, seiring dengan proses demokratisasi, terjadi pula pergeseran kekuasaan dari eksekutif dan legislatif. Kondisi itu dari satu sisi membuat DPR, masyarakat sipil, lembaga swadaya masyarakat (LSM), media massa, dan para pengamat politik yang makin aktif serta kritis terhadap masalah politik luar negeri”. “Salah satu konsekuensi dari perkembangan itu, keputusan atau kebijakan politik luar negeri, lalu tidak hanya menjadi monopoli “Pejambon, Merdeka Utara, dan Merdeka Barat”. Karena itu, proses pengambilan keputusan kadang justru menjadi semakin kompleks” (Kompas edisi 10 Maret, 2002 : 3). Dengan latar belakang itulah maka pimpinan Departemen Luar Negeri memandang perlu untuk membentuk atau menetapkan suatu unit organisasi atau pejabat tertentu di lingkungan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, yang diberi wewenang dan mampu untuk memberikan atau menyajikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat luas melalui pers, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. “Meningkatkan kualitas komunikasi di berbagai bidang melalui penguasaan dan penerapan teknologi informasi dan, komunkasi guna memperkuat daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global” (GBHN Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999, Bab IV Arah Kebijakan, 1999 : 29). Dalam keputusan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Nomor SK.053/OT/II/2002/01 Tahun 2002, tentang Organisasi Tata Kerja Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, di tetapkan bahwa “Departemen Luar Negeri Republik Indonesia merupakan unsur pelaksana Pemerintah di bidang pemerintahan luar negeri” (Pasal 1), yang “mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang

4 politik dan hubungan luar negeri” (Pasal 2). Fungsi dari Departemen Luar Negeri itu sendiri antara lain, “melaksanakan Politik Luar Negeri serta

menyelenggarakan Hubungan Luar Negeri” (Pasal 3). Dalam hal ini, hubungan luar negeri adalah “setiap kegiatan yang menyangkut aspek regional dan internasional yang dilakukan oleh Pemerintah di tingkat pusat dan tingkat daerah, atau lembaga-lembaganya, lembaga negara, badan usaha, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, atau warga negara Indonesia” (Pasal 1). Sedangkan yang dimaksud dengan politik luar negeri adalah “kebijakan, sikap, dan langkah yang diambil Pemerintah Republik Indonesia dalam melakuakan hubungan dengan negara lain, organisasi internasional, dan subjek hukum internasional lainnya dalam rangka menghadapi masalah internasional guna mencapai tujuan nasional” (Undang-undang No.37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri). Contoh dari politik luar negeri adalah sikap dan kebijakan Pemerintah Indonesia (yang dilaksanakan oleh Departemen Luar Negeri) mengenai masalah Palestina, yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas terhadap perjuangan bangsa Palestina. Contoh lainnya adalah kebijakan Pemerintah Indonesia yang menolak mengkaitkan terorisme dengan agama atau pengikut agama manapun, dan mendukung peran kepemimpinan PBB dalam upaya menanggulangi terorisme internasional. Di masa lalu, struktur organisasi Departemen Luar Negeri dibagi, antara lain, atas dasar fungsional, sehingga terdapat unit-unit yang ditugaskan khusus di bidang tertentu. Karena itu, terdapat pemisahan antara unit di bidang politik

5 (Direktorat Jenderal Politik dan jajarannya) dengan unit di bidang ekonomi (Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri atau HELN dan jajarannya). Berdasarkan struktur organisasi yang lama tersebut terdapat Direktorat Penerangan Luar Negeri, yang ditugaskan untuk memberikan penerangan (informasi) luar negeri. Dalam struktur lama tersebut tidak terdapat suatu unit khusus, atau pejabat khusus, yang diberi wewenang atau tugas menjadi ‘Juru Bicara’ Departemen Luar Negeri. Karena itu, tugas menjadi Juru Bicara atau Spokesman Departemen Luar Negeri seringkali harus dilakukan oleh Menteri Luar Negeri sendiri. Hal demikian sesungguhnya tidak lazim, karena disamping Menteri Luar Negeri adalah pemimpin departemen, juga mempunyai kesibukan yang sangat tinggi dan seringkali berada atau bertugas di luar negeri. Pada Departemen atau Kementerian Luar Negeri di negara lain, misalnya di State Department Amerika Serikat, terdapat pejabat khusus sebagai spokesman Departemen Luar Negeri, yang secara teratur memberikan penjelasan kepada pers atau masyarakat tentang berbagai issu penting atau tentang kebijakan Pemerintah dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Dengan adanya tuntutan kebutuhan yang meningkat, tuntutan efisiensi organisasi, dan kompleksitas masalah yang dihadapi, dirasakan keperluan adanya Juru Bicara Departemen Luar Negeri, yang mampu menjelaskan dengan baik, efektif dan akurat mengenai berbagai persoalan yang dihadapi, kepada masyarakat di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan adanya restrukturisasi yang diputuskan pada akhir tahun 2001 dan dilaksanakan pada

6 awal tahun 2002, Departemen Luar Negeri telah menunjuk pejabat khusus dengan tingkat kredibilitas yang tinggi untuk bertindak sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri, guna mewakili Menteri Luar Negeri memberikan informasi atau penjelasan mengenai berbagai masalah yang dihadapi atau kebijakan Departemen Luar Negeri kepada pers. Dari segi pengertian, ”Juru Bicara adalah orang yang kerjanya memberi keterangan resmi dan sebagainya kepada umum; pembicara yang mewakili suara kelompok atau lembaga; penyambung lidah” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 423). Di zaman demokrasi dan era reformasi, yang ditandai dengan meningkatnya tanggung jawab (akuntabilitas) Pemerintah dan meningkatnya keterbukaan (transparansi), Departemen Luar Negeri dituntut untuk dapat memberikan penjelasan, atau informasi kepada rakyat Indonesia (masyarakat atau publik) mengenai berbagai aspek penyelenggaraan hubungan luar negeri dan pelaksanaan politik luar negeri dengan sebaik-baiknya atau sejelas mungkin. Penjelasan atau informasi tersebut juga meliputi penjelasan tentang sikap atau kebijakan Pemerintah atau Departeman Luar Negeri tentang berbagai masalah atau issu dalam rangka politik dan hubungan luar negeri atau hubungan internasional. Sehubungan dengan itu, Departemen Luar Negeri menjadwalkan pertemuan regular dengan pers (Press Briefing), yang biasanya diadakan pada hari Jum’at (jam 14.00-15.00). Pertemuan ini merupakan suatu kegiatan

7 komunikasi kelompok, dimana Palapah dan Syamsudin mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai brikut: “Komunikasi kelompok adalah pernyataan manusia yang ditujukan kepada kelompok tertentu. Dengan kelompok adalah dimaksudkan suatu kumpulan manusia yang mempunyai antar hubungan sosial yang nyata dan yang memperlihatkan struktur yang nyata pula. Atau sebagai yang dikatakan oleh Loyd Sommerland : Communication to organized groups. Bentuk-bentuk komunikasi yang ditujukan kepada kelompok ini dapat diperinci antara lain: ceramah, briefing, indoktrinasi, coaching, dan sebagainya” (1983 : 12). Press Briefing tersebut menjadi sumber berita utama bagi media massa, yang selanjutnya menjadi berita yang layak untuk disampaikan kepada masyarakat Indonesia maupun pihak luar negeri. Pertemuan yang dikenal dengan Press Briefing ini tidak hanya diikuti oleh pers nasional saja, melainkan juga oleh pers internasional. Penyampaian informasi atau penjelasan melalui Press Briefing tersebut dilaksanakan oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri, dimana dalam kegiatan ini terdapat session tanya jawab antara pers dengan Juru Bicara. “Umpan balik antar pribadi, kecepatan interaksi kelompok, fase-fase kelompok, norma-norma kelompok, iklim atau suasana kelompok, konflik antar pribadi, serta distribusi kepemimpinan merupakan sebagian dari ciri-ciri kelompok yang dapat menjadi bagian dari teori komunikasi kelompok” (Goldberg dan Larson, 1985 : 64). “Meningkatkan pemanfaatan peran komunikasi melalui media massa modern dan media tradisional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; memperkukuh persatuan dan kesatuan; membentuk kepribadian bangsa, serta mengupayakan keamanan hak pengguna sarana dan prasarana informasi dan komunikasi” (GBHN Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999, Bab IV Arah Kebijakan, 1999:29-30).

8 Strentz lalu membagi dua sumber berita yang dicari reporter : “Sumber Berita Konvensional dan Nonkonvensional. Sumber berita konvensional ialah tempat-tempat dimana biasa wartawan mencari dan memperoleh berita. Tempat-tempat itu : kantor-kantor pemerintahan, humas atau sumber-sumber promosi, berbagai peristiwa yang bernilai berita, dan catatan publik. Sedang sumber berita nonkonvensional, biasanya ditemukan dari cara pengumpulan berita baru atau kurang sering dipergunakan, seperti teknik precision jurnalism, peliputan ke kelompok minoritas (AIDS, misalnya) dan terorisme (politik)” (Kurnia, 1999 : 41). Sehubungan dengan masalah yang sedang dihadapi Pemerintah Indonesia di dalam negeri, yang juga bersangkutan dengan hubungan luar negeri, maka tema Press Briefing yang diangkat difokuskan pada masalah ‘terorisme, yaitu mengenai pemboman di Bali pada 12 Oktober lalu’. Dengan demikian peran Juru Bicara Departemen Luar Negeri, dapat diartikan sebagai pihak yang mengirim pesan mengenai politik dan hubungan luar negeri, dalam hal ini mengenai terorisme, kepada pers yang hadir dalam kegiatan Press Briefing, yang merupakan sumber berita atau salah satu pelaku utama dalam proses komunikasi dan salah satu unsur yang penting dan berpengaruh besar terhadap pembentukan opini. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sesuatu yang baru dan memberi manfaat untuk menciptakan komunikasi yang lebih baik di Departemen Luar Negeri, terutama proses komunikasi antar Juru Bicara dengan pers dalam kegiatan Press Briefing, serta pelaksanaan fungsi Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing.

1.2 Perumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang dikemukakan, maka penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut, “Bagaimana Fungsi Juru

9 Bicara Departemen Luar Negeri RI Dalam Menghadapi Masalah Terorisme Pada Kegiatan Press Briefing”.

1.3 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka masalah yang diteliti dapat di identifikasikan sebagai berikut : 1. Bagaimana Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam memberikan informasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing? 2. Bagaimana Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam memberikan klarifikasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing? 3. Bagaimana Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pers mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing?

1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui dan menganalisis fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam memberikan informasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing. 2. Untuk mengetahui dan menganalisis fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam memberikan klarifikasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing.

10 3. Untuk mengetahui dan menganalisis fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pers mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing.

1.5 Pembatasan Masalah dan Pengertian Masalah 1.5.1 Pembatasan Masalah Untuk menghindari terjadinya kesimpangsiuran dan kesalah pengertian, juga agar ruang lingkup masalah yang dibahas menjadi jelas dan terarah, maka perlu diadakan pembatasan masalah sebagai berikut : 1. Masalah yang akan diteliti hanya terbatas pada fungsi Juru Bicara dalam menyampaikan informasi pada kegiatan Press Briefing, yaitu informasi yang berisikan hal-hal umum, jelas dan gamblang, penggunaan bahasa yang jelas, informasi yang berbentuk positif, seimbang, dan sesuai dengan keinginan komunikan. Dalam hal ini adalah mengenai masalah terorisme, pada kegiatan Press Briefing mingguan selama tiga bulan, yaitu bulan Oktober, November dan Desember. 2. Masalah yang akan diteliti hanya terbatas pada kepercayaan, penerimaan, dan pengertian pers yang hadir pada kegiatan Press Briefing bulan Oktober, November dan Desember terhadap klarifikasi suatu issu mengenai masalah terorisme, yang disampaikan atau diklarifikasi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI. 3. Masalah yang akan diteliti hanya terbatas pada fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri pada kegiatan Press Briefing bulan Oktober,

11 November, dan Desember, yaitu memberikan informasi, mengklarifikasi, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers mengenai masalah terorisme. 4. Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah pers yang terdaftar atau tercatat sebagai peliput dalam kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri, yang berlokasi di Jl. Pejambon no.6 Jakarta Pusat, yaitu sebanyak 62 media (cetak dan elektronik). Populasi yang dijadikan sampel oleh penulis adalah 30% dari populasi yang sebenarnya, yaitu sebanyak 19 orang.

1.5.2 Pengertian Istilah Untuk menghindari kesalahpahaman, maka diberikan beberapa

penjelasan terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini sehingga diharapkan dapat memberikan pengertian yang sama : 1. Fungsi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang sesuai dengan pekerjaannya. (Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, 1991 : 426) 2. Juru Bicara adalah seorang yang ditugaskan untuk menyampaikan penjelasan atau keterangan atau jawaban kepada pihak lain (dalam hal ini pers) dari orang atau pihak yang diwakilinya atau yang menugaskannya. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1996:126). Untuk kegiatan Press Briefing, Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI berfungsi sebagai pihak yang menyediakan informasi, dan

mengklasrifikasikan issu-issu, serta memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh pers, mengenai issu-issu terkini yang

12 sedang berkembang serta proyeksinya ke depan, maupun mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah Indonesia di bidang politik luar negeri. Press Briefing pada umumnya difokuskan kepada satu atau beberapa issu atau peristiwa tertentu, namun tetap terbuka kemungkinan dijawabnya pertanyaan atas issu atau peristiwa yang lain. Dalam hal ini, persiapan yang dilakukan biasanya menyangkut persiapan atas substansi issu atau peristiwa yang akan disampaikan, termasuk persiapan bahanbahan untuk issu atau peristiwa terkini, jika ditanyakan. (Wawancara dengan Direktorat Biro Administrasi Menteri, 7-9 Oktober 2002) 3. Dalam keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.053/OT/II/2002/01 Tahun 2002, tentang Organisasi Tata Kerja Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, ditetapkan bahwa : “Departemen Luar Negeri Republik Indonesia merupakan unsur pelaksana Pemerintah di bidang pemerintahan luar negeri” (pasal 1). “Departemen Luar Negeri RI mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang politik dan hubungan luar negeri” (pasal 2). “Departemen Luar Negeri RI menyelenggarakan fungsi antara lain : Pelaksanaan politik luar negeri serta penyelenggaraan hubungan luar negeri” (Pasal 3.a). 4. Press Briefing (Taklimat Pers) termasuk bentuk jumpa pers resmi yang diselenggarakan secara periodik tertentu, pada awal/akhir bulan atau

13 tahunan oleh pihak Humas atau pimpinan perusahaan, dan pejabat tinggi instansi bersangkutan. (Ruslan,1999 : 180) Press Briefing Departemen Luar Negeri RI merupakan kegiatan pertemuan antara pihak media massa atau pers dengan Departemen Luar Negeri RI yang dipimpin oleh Juru Bicara. Kegiatan Press Briefing ini diadakan empat kali dalam satu bulan, yaitu setiap hari Jum’at di ruang Palapa Departemen Luar Negeri. Dalam pelaksanaan pembinaan, Juru Bicara telah menyiapkan bahan yang perlu untuk disajikan pada semua wartawan yang hadir pada kegiatan Press Briefing tersebut. Kemudian dalam penyelenggaraan Pembinaan, dalam hal ini dengan memberikan kesempatan kepada para wartawan untuk berperan aktif, yakni melalui forum tanya-jawab dan diskusi, serta diberikan penjelasan berdasarkan data dan fakta yang bersangkutan. Sehingga dalam penyajiannya dan penyebaran informasi tidak terjadi kesalahan atau kekeliruan.

1.6 Alasan Pemilihan Masalah 1. Dari sisi Hubungan Masyarakat, Juru Bicara Departemen Luar Negeri pada hakekatnya merupakan peran Public Relations Officer (PRO), dalam rangka memberikan informasi dan penjelasan kepada masyarakat di dalam maupun di luar negeri, mengenai berbagai issu atau kebijakan Pemerintah Indonesia. 2. Departemen Luar Negeri RI merupakan unsur pelaksanaan pemerintah di bidang pemerintahan luar negeri yang dipimpin oleh Menteri yang berada

14 dibawah dan bertanggung jawab pada Presiden. Departemen Luar Negeri RI mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang politik dan hubungan luar negeri. Dengan teknologi informasi yang semakin canggih sekarang ini, maka arus informasi yang ada sangat berpengaruh di masyarakat. Dengan ini, Departemen Luar Negeri memandang perlu untuk menyampaikan atau menyajikan informasi atau masalah yang sedang dihadapi (dalam hal ini mengenai masalah terorisme) kepada masyarakat malalui media massa. Maka penelitian ini bertujuan untuk memaparkan situasi atau kegiatan Departemen Luar Negeri dalam menyampaikan informasi tersebut melalui Press Briefing yang dipimpin oleh Juru Bicara. 3. Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI sangatlah diperlukan karena Juru Bicara merupakan komunikator yang menyampaikan dan menjelaskan kebijakan Departemen Luar Negeri kepada pers melalui kegiatan Press Briefing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sejauh ini pers dapat memahami informasi yang disampaikan Juru Bicara melalui Press Briefing, dalam hal ini mengenai masalah terorisme. Apakah dengan adanya Juru Bicara dan Press Briefing penyampaian informasi kepada pers lebih dapat terorganisir, jelas, dipahami, dan pertanyaanpertanyaan pers mengenai Departemen Luar Negeri dan kebijakannya, dapat terjawab. 4. Juru Bicara baru diangkat sebagai suatu unit khusus atau pejabat khusus di Departemen Luar Negeri pada awal tahun 2002, maka penulis ingin

15 mengetahui fungsi Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing, yang juga baru diadakan awal tahun 2002, sebagai kegiatan mingguan antara pihak Departemen Luar Negeri dengan pers. Dengan diadakannya Press Briefing, diharapkan dapat mempermudah untuk mempublikasikan tentang Departemen Luar Negeri dan masalah yang dihadapinya yang menyangkut dengan Pemerintah Indonesia mengenai Poitik Luar Negeri dan Hubungan Luar Negeri.

1.7 Anggapan Dasar Anggapan Dasar merupakan landasan teori yang penulis jadikan dasar atau titik tolak dalam melakukan penelitian ini, mengingat fungsinya sangat penting dalam penelitian ini, penulis mengemukakan anggapan dasar sebagai berikut : 1. Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang ditujukan kepada kelompok tertentu. Yang dimaksud dengan kelompok ialah “suatu kumpulan manusia yang mempunyai hubungan sosial yang nyata dan memperlihatkan struktur yang nyata pula”. Bentuk komunikasi kelompok ialah : ceramah, briefing, penyuluhan, indoktrinasi, dan sebagainya (Widjaja dan Hawab, 1987 : 64). 2. Press Briefing (Taklimat Pers) termasuk bentuk jumpa pers resmi yang diselenggarakan secara periodik tertentu, pada awal/akhir bulan atau tahunan oleh pihak Humas atau pimpinan perusahaan, dan pejabat tinggi instansi bersangkutan.

16 Pertemuan ini, diadakan mirip dengan suatu diskusi atau berdialog, saling memberikan masukan atau infomasi cukup penting bagi kedua belah pihak. Disamping itu pihak pers/wartawan akan diberikan kesempatan untuk menggali seluas-luasnya mengenai suatu informasi, masalah yang sedang aktual dan faktual, kemudian diharapkan wartawan mempunyai pengetahuan lebih baik, misalnya tentang akan diterbitkan suatu peraturan, UU, atau kebijakan baru oleh pemerintah di massa mendatang. Jadi sebelum kebijakan itu diresmikan, maka wartawan bersangkutan secara teknis dibriefing (taklimat pers) terlebih dahulu pengetahuannya oleh pejabat yang berwewenang, diharapkan pada waktu

memberitakannya di media massa tidak terjadi salah mengutip, merelease atau menghindari terjadinya berita-berita yang tidak akurat, baik mengenai jumlah, angka, istilah-istilah teknis dan nama perusahaan atau menyebutkan identitas tokoh personal dan sebagainya (Ruslan, 1999 : 180). 3. Informasi : Adalah pesan yang disampaikan kepada seseorang atau sejumlah orang yang baginya merupakan hal yang baru diketahuinya. Kegiatan menyebarluaskan pesan disertai penjelasan, baik secara langsung maupun melalui media komunikasi, kepada khalayak yang baginya merupakan hal atau peristiwa ang baru (Effendy, 1989 : 177). Pesan yang disampaikan haruslah tepat dengan sasaran dan pesan tersebut harus memenuhi syarat-syarat :

17 Umum Berisikan hal-hal yang umum dipahami oleh audience/komunikan, bukan soal-soal yang cuma berarti atau dipahami oleh seorang atau kelompok tertentu. Jelas dan gamblang Pesan haruslah jelas dan gamblang, tidak samar-samar. Jika mengambil perumpamaan hendaklah perumpamaan yang senyata mungkin, untuk tidak ditafsirkan menyimpang dari yang kita maksudkan. Bahasa yang jelas Sejauh mungkin hindarilah menggunakan istilah-istilah yang tidak dipahami oleh audience. Gunakanlah bahasa yang jelas yang cocok dengan komunikan, daerah dan kondisi dimana berkomunikasi. Hatihati pula dengan istilah atau kata-kata yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing yang dapat ditafsirkan lain. Sejauh mungkin dipergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Positif Secara kodrati manusia selalu tidak ingin mendengar dan melihat halhal yang tidak menyenangkan dirinya. Oleh karena itu setiap pesan agar diusahakan diutarakan dalam bentuk positif. Cara

mengemukakan pesan itu diupayakan agar lebih mendapatkan simpati.

18 Seimbang Pesan yang disampaikan hendaknya wajar sebab bila tidak wajar maka cenderung ditolak atau tidak diterima oleh komunikan. Sebaliknya pesan itu dirumuskan secara seimbang selaras dan serasi. Penyesuaian dengan keinginan komunikan Orang-orang yang menjadi sasaran/komunikan dari komunikasi yang kita lancarkan selalu mempunyai keinginan-keinginan tertentu. Oleh sebab itu kita perlu mengetahui keadaan, waktu dan tempat dalam menyampaikan pesan itu. (Hawab dan Widjaja, 1987 : 62) 4. Klarifikasi adalah penjernihan, penjelasan dan pengembalian kepada apa yang sebenarnya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 507) 5. Menjawab: 1. Memberi jawaban (atas pertanyaan, kritik, dsb) ; menyahut(i); 2. Memenuhi; menanggapi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 405).

1.8 Operasional Variabel Dalam penelitian ini penulis menggunakan satu variable, yaitu “Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI Dalam Kegiatan Press Briefing”, dan untuk mengukur variable-variabel penelitian yang telah ditetepkan sebelumnya digunakan kriteria yang meliputi : Indikator I = Pemberian informasi mengenai masalah terorisme yang disampaikan Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI pada kegiatan Press Briefing

19 Alat Ukur = - Pesan berisikan hal-hal umum - Pesan yang jelas dan gamblang - Bahasa yang jelas - Pesan berbentuk positif - Pesan dirumuskan secara seimbang - Pesan sesuai dengan keinginan komunikan Indikator II = Pemberian klarifikasi mengenai masalah terorisme yang disampaikan Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI pada kegiatan Press Briefing Alat Ukur = - Pesan dapat menjernihkan - Pesan dapat memberikan penjelasan - Pesan dapat mengembalikan pada apa yang sebenarnya Indikator III = Pemberian jawaban yang disampaikan Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI terhadap pertanyaan pers mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing Alat Ukur = - Memberi jawaban - Memenuhi pertanyaan - Menanggapi pertanyaan

1.9 Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 1.9.1 Metode Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan “Metode Deskriptif Analitis”, menurut Issac and Michael dalam bukunya : “Hand Book in Research and

20 Evaluations”, yang dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Metode Penelitian Komunikasi”, yang mengemukakan bahwa : “Metode Deskriptif analitis bertujuan melukiskan secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat” (Isaac and Michael dalam Rakhmat, 2001 : 22). “Penelitian deskriptif ditujukan untuk : (1)mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada, (2)mengidentifikasikan masalah atau memeriksa kondisi dan praktekpraktek yang berlaku, (3)membuat perbandingan atau evaluasi, (4)menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang” (Rakhmat, 2001 : 25). Hal ini guna memperoleh suatu gambaran mengenai fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam kegiatan Press Briefing. Jalaluddin Rakhmat mengemukakan bahwa “Penelitian deskriptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa, penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi” (Rakhmat, 2001 : 24). “Ciri lain metode deskriptif ialah titik berat pada observasi dan suasana alamiah (naturalistis setting). Peneliti bertindak sebagai pengamat. Ia hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala, dan mencatatnya dalam buku observasinya. Denagn suasana alamiah dimaksudkan bahwa peneliti terjun langsung ke lapangan. Ia tidak berusaha untuk memanipulasikan vriabel. Karena kehadirannya mungkin mempengaruhi perilaku gejala (reactive measures), peneliti berusaha memperkecil pengaruh ini” (Rakhmat, 2001:25). 1.9.2 Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang dibutuhkan oleh penulis sehubungan dengan masalah yang akan diteliti, dikumpulkan dengan cara-cara berikut :

21 1. Angket, yaitu berupa daftar pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara tertulis dan dibagikan kepada responden yang menjadi sampel penelitian, guna memperoleh jawaban terhadap masalah yang diteliti. Responden dalam penelitian ini adalah seluruh pers yang hadir pada kegiatan Press Briefing, baik pers nasional maupun internasional. 2. Wawancara, yaitu merupakan salah satu bentuk pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada seorang informan atau seorang ahli yang berwewenang dalam suatu masalah. (Keraf, 1994:161) Penulis akan melakukan interview dengan Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa, pers yang hadir dalam kegiatan Press Briefing di Departemen Luar Negeri, dan para staff yang bersangkutan yang dianggap mengetahui dengan pasti hal-hal yang ada hubungannya dengan permasalahan. 3. Studi Kepustakaan, yaitu kegiatan pengumpulan data sekunder yang dibutuhkan dengan memanfaatkan buku-buku, surat kabar, dan sumber bacaan atau dokumen-dokumen lain yang ada kaitannya dengan masalah yang dibahas sehingga data-data yang tercantum dalam penulisan bersifat akurat dan dapat dipertanggung jawabkan. 4. Observasi didefinisikan oleh Karl Weick (dikutip dari Seltiz,

Wrightsman, dan Cook 1976:253) sebagai “pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme in situ, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris” (Rakhmat, 2001:83).

22 Untuk mengumpulkan data, penulis melakukan pengamatan langsung ke lokasi, yaitu Departemen Luar Negeri RI, yang berlokasi di Jl. Pejambon no.6, untuk menghadiri kegiatan Press Briefing. Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa “Observasi berguna untuk menjelaskan, memberikan dan merinci gejala yang terjadi” (2001 : 84).

1.10 Populasi dan Sampel 1.10.1 Populasi “Populasi adalah kumpulan objek penelitian. Objek penelitian bisa berupa orang, umpi, organisasi, kelompok, lembaga, buku, kata-kata, surat kabar, dan lain-lain” (Rakhmat, 2001 : 78). Populasi yang akan diteliti penulis adalah seluruh pers yang terdaftar atau tercatat sebagai peliput pada bulan Oktober hingga Desember dalam kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri, berlokasi di Jl. Pejambon no.6, Jakarta Pusat, yaitu sebanyak 62 responden (yang berasal dari media cetak dan elektronik lokal maupun asing).

1.10.2 Sampel “Sampel adalah bagian yang diamati dari kumpulan objek penelitian. Dengan adanya sampel ini, maka diharapkan populasi dapat menunjukkan dan menggambarkan karakteristik sifat populasi” (Rakhmat, 2001 : 78). Teknik sampling yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah simple random sampling. Populasi yang dijadikan sampel oleh penulis adalah

23 30% dari populasi yang sebenarnya (62 orang), yaitu sebanyak 19 orang, dengan cara mengundi, sehingga populasi yang ada mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan sample. Pengambilan sampel tersebut mengacu pada pendapat Kartono bahwa : “Tidak ada aturan yang ketat untuk secara mutlak menentukan berapa persen sampel tersebut harus diambil atau dipilih dari populasi” (Kartono, 1996 : 135). Hal ini juga dipertegas oleh pernyataan dari Wahyu M.S. yang mengatakan bahwa : “Mengenai basarnya sampel tidak ada ketentuan yang baku atau rumusan yang pasti, sebab keabsahan sampel terletak pada sifat dan karakteristiknya mendekati tidaknya populasi bukan pada besarnya” (Wahyu M.S., 1996 : 63).

1.11 Organisasi Karangan Permasalahan yang berkaitan dengan penelitian dibagi ke dalam lima bab yang sistematika penulisannya sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Bab ini berisi alasan-alasan mendasar pentingnya penelitian ini, yaitu mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, identifikasi masalah, alasan pemilihan masalah, tujuan penelitian, operasional variable, metode penelitian, teknik pengumpulan data, populasi dan sampel, serta organisasi karangan. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Penulisan dalam bab ini diuraikan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, yaitu dengan mengemukakan komunikasi kelompok, tinjauan

24 tentang Juru Bicara, dan tinjauan tentang Press Briefing, yang berdasarkan buku rujukan dan dapat dijadikakan landasan. BAB III : GAMBARAN OBJEK PENELITIAN Dalam bab ini penulis mengemukakan sekilas tentang tugas, fungsi, dan kewenangan, Departemen Luar Negeri, tugas dan fungsi Biro Administrasi Menteri, peranan dan fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI dalam kegiatan Press Briefing, dan tujuan, fungsi dan sasaran kegiatan Press Briefing. BAB IV : ANALISIS DATA Bab ini berisikan analisis deskriptif data responden dan analisis data hasil penelitian yang diperoleh dari pengisian angket dari responden terpilih yang disebarkan, guna mengetahui bagaimana fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam menghadapi masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing. BAB V : PENUTUP Bab ini berisikan rangkuman dan kesimpulan dari penelitian ini, serta saran-saran yang dapat diberikan sehubungan dengan penelitian yang telah dilaksanakan.

25

BAB II TINJAUAN PUSTAKA MENGENAI FUNGSI JURU BICARA DEPARTEMEN LUAR NEGERI PADA KEGIATAN PRESS BRIEFING

2.1 Pengertian Komunikasi Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dikehidupan manusia, karena manusia tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Sebagai mahluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan orang lain. Dengan komunikasilah manusia dapat berhubungan dengan sesama dan memenuhi kebutuhan guna mencapai tujuan hidupnya. Melalui simbol-simbol atau lambang-lambang yang berarti, manusia menyampaikan maksud, gagasan, ide, kepentingan kepada orang lain guna mencapai tujuan hidup tersebut. Tetapi, apakah arti dari komunikasi tersebut? Sebuah kata dapat mempunyai makna yang berbeda-beda atau lebih dari satu bila diartikan oleh manusia yang berbeda pula. Sama seperti kata komunikasi. Sebagian orang mengartikan komunikasi sebagai seorang pembicara yang menyampaikan pikirannya kepada audience di balik sebuah mimbar atau di atas sebuah panggung, diskusi antara pegawai dalam sebuah rapat, atau pertukaran pendapat atau pikiran antar dua orang. Banyak pula yang berpikiran bahwa komunikasi harus berkaitan dengan media massa – surat kabar, televisi, buku, radio, atau film. Untuk sebagian orang, komunikasi adalah sesuatu yang berhubungan dengan komputer, telepon, atau satelit.

26 Komunikasi jauh lebih luas dari hanya berbicara dan mendengar, dan membaca dan menulis. Komunikasi adalah dasar dari proses kehidupan. Perbedaan pengertian atau makna tersebut dapat membingungkan banyak orang. Orang awam atau orang yang tidak begitu mengerti atau mengenal ilmu komunikasi, dapat berpikiran apakah kata komunikasi tersebut mempunyai batas dari segi pengertian. Maka, ada beberapa pengertian dari para pakar, sebagai berikut : Komunikasi menurut Sir Gerald Barry, adalah berasal dari kata Latin ; Comunicare, artinya ‘to talk together, corfer, discourse and consult with another’. Perkataan ini menurut Barry ada hubungannya pula dengan perkataan Latin yang lain Communitas, yang artinya : not only community but also fellowship and justice in men’s dealings with one another. Katanya selanjutnya : Society is based on the possibility of men living and working together for common-ends in a word, on cooperation. (Palapah dan Syamsudin, 1983 : 2) Definisi komunikasi menurut Carl I. Hovland adalah sebagai berikut : Proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan perangsangperangsang (biasanya lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk merubah tingkah laku orang-orang lain (komunikate) atau dalam bahasa aslinya : “The process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal symbols) to modify the behavior of other individuals (communicates). (Effendy, 1981 : 12) Sedangkan menurut James A.F. Stoner komunikasi adalah sebagai berikut : “Komunikasi adalah proses di mana seorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan” (Widjaja, 2000 : 13). Hakekatnya komunikasi adalah “proses pernyataan antar manusia yang dinyatakan itu adalah pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa sebagai alat penyalurnya”. (Effendy,1993 : 28) (b).

27 Melihat pernyataan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan pernyataan pikiran atau perasaan melalui lambang-lambang yang berarti atau kata-kata untuk merubah tingkah laku orang lain, yaitu komunikate. Dengan demikian, tanpa komunikasi manusia tidak dapat mencapai tujuan hidupnya karena tidak dapat menyampaikan maksud, pikiran, kepentingan dan perasaannya kepada orang lain. Sedangkan, komunikasi antar manusia tidak dapat dihindari. “We can not not communicate”. Bahasa verbal dan nonverbal adalah suatu tindakan penyampaian informasi yang tidak ada hentinya, dan sebaliknya, kita secara terus menerus dan tanpa bisa dihindari menerima informasi mengenai orang lain, keadaan dan hal-hal di sekitar kita, juga mengenai diri sendiri.

2.2 Tinjauan tentang Hubungan Masyarakat Hubungan Masyarakat (Humas) merupakan suatu bentuk spesialisasi komunikasi yang bertujuan untuk saling mengerti dan bekerjasama antara semua pihak yang berkepentingan guna mencapai keuntungan dan keputusan bersama. Hanya dengan komunikasilah humas dapat mencapai tujuan tersebut. Hubungan Masyarakat mempunyai dua pengertian, yakni : “Hubungan Masyarakat sebagai “method of communication”, yaitu rangkaian atau system kegiatan (order or system of action), yakni kegiatan berkomunikasi secara khas, dan Hubungan Masyarakat sebagai “state of beign”, yaitu perwujudan kegiatan berkomunikasi tersebut melembaga” (Effendy, 1993 : 94) (a). Adapun definisi humas menurut kamus IPR, adalah : “Praktek humas atau Public Relations adalah keseluruhan upaya yang dilangsungkan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya” (Jefkins, 1996 : 8).

28 Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa humas adalah suatu rangkaian kegiatan yang diorganisasikan dimana semua itu berlangsung secara berkesinambungan dan teratur, dengan tujuan apa yang disampaikan dapat dimengerti oleh pihak-pihak yang turut berkepentingan. Perkembangan bidang dan ilmu kehumasan semakin tahun semakin baik. Pendekatan kehumasan telah memasuki bermacam-macam sector, mulai dari sector social, pendidikan, politik, pemerintahan, dan sebagainya. Sektor-sektor tersebut telah menggunakan humas sebagai bagian dari manajemen mereka. Penerapan dalam sektor tersebut, dapat dianalogikan dengan munculnya bermacam-macam humas. Dalam buku “Dasar-Dasar Humas” dibahas empat macam humas, dengan tidak bermaksud membatasi bidang humas, yakni: - Humas Pemerintahan - Humas Industri dan Bisnis - Humas Sosial - HUmas Organisasi Internasional (Kusumastuti, 2002 : 37).

2.2.1 Humas Pemerintahan “Humas Pemerintahan pada dasarnya tidak bersifat politis, dimana bagian humas tersebut dibentuk untuk mempublikasikan atau mempromosikan kebijakan-kebijakan mereka” (Kusumastuti, 2002 : 37). Dalam hal ini, Departemen Luar Negeri merupakan suatu unsur pelaksanaan pemerintahan dibidang pemerintahan luar negeri, di mana Juru Bicara memerankan peranan humas dalam mempublikasikan atau

mempromosikan kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri. Peranan tersebut

29 antara lain memberikan informasi secara teratur tentang kebijakan, rencanarencananya ke depan, serta hasil-hasil kerja institusi serta memberi pengertian kepada masyarakat tentang peraturan dan perundang-undangan dan segala sesuatunya yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Walter Lippman pernah mengatakan, “Public Relations is another name for political leadership, yaitu Public Relations adalah nama lain dari kepemimpinan politik” (Kusumastuti, 2002 : 38). Seiring dengan tuntutan transparansi dari masyarakat luas sebagai publik pemerintahan, manfaat humas dalam penyelenggaraan pemerintahan secara umum telah diterima sejak lama. Humas dalam pemerintahan dan politik tidak dapat dilepaskan dari opini publik. Hal tersebut dapat dilihat dari keputusan Menteri Luar Negeri dalam menunjuk suatu pejabat tertentu dengan kredibilitas tinggi yang mampu untuk memeberikan informasi mengenai kebijakan-kebijakan Pemerintah dan Departemen Luar Negeri, kegiatan-kegiatan dan rencanarencananya ke depan, juga posisi Pemerintah dan Departemen Luar Negeri dalam menghadapi suatu masalah, kepada masyarakat luas. Hal ini direalisasikan melalui kegiatan rutin Juru Bicara dengan pers, yaitu melalui Press Briefing. Tugas pemerintah sangat berat, sebab masyarakat yang dihadapi terdiri dari berbagai publik dengan kepentingan yang sangat kompleks pula. Hal ini memang tidak lepas dari “karakteristik” yang melekat dalam setiap kegiatan pemerintah, antara lain sebagai berikut: Program pemerintah ditujukan untuk masyarakat luas. Dengan berbagai latar belakang, karakter, ekonomi, pendidikan (intelejensi) yang beragam. Seringkali hasilnya abstrak, yang sulit dilihat dalam waktu dekat, bahkan dalam jangka panjang sekalipun, karena sifatnya yang integral dan berkesinambungan. Melibatkan generasi ke generasi. Bahkan program pemerintah cenderung dibayar dengan “harga sosial” yang tinggi. Program-program pemerintah seringkali tidak

30 dapat menghindari perlunya “pengorbanan” sosial (masyarakat). Di sinilah perlunya pendekatan khusus untuk melibatkan partisipasi dan emansipasi masyarakat. Program pemerintah selalu mendapat controlling/pengawasan dari berbagai kalangan, terutama pers, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sebagainya. Mereka sangat berperan dalam proses penyadaran masyarakat mengenai permasalahan-permasalahan mereka sebagai warga masyarakat. (Kusumastuti, 2002 : 38) Karakteristik itulah yang dapat dijadikan latar belakang mengapa humas pemerintahan perlu diterapkan dan dikembangluaskan secara profesional. Namun, tugas yang berat tersebut ternyata masih ditambah dengan hambatanhambatan penerapan humas yang ideal di pemerintahan. Undang-undang dan peraturan organisasi, seringkali menghambat fungsi humas. Masalah dana, tumpang tindihnya job description, penyalahgunaan para pejabat terhadap humas demi publisitas pribadi dan untuk melindungi “ketidakjujuran” dan programprogram yang tidak perlu merupakan hal-hal yang memperburuk citra humas pemerintahan. Ivy Lee berpendapat bahwa “semua jenis materi pers harus bebas dari nilai-nilai dan kepentingan sepihak”. Kiteria kejujuran dan kenetralan harus dipegang teguh oleh kalangan praktisi humas. Setiap pesan atau berita yang mereka sampaikan kepada masyarakat melalui pers haruslah sesuai dengan kenyataan yang sesuangguhnya. Baik atau buruknya humas diukur berdasarkan kejujuran dan sikap netralnya. Kepentingan masyarakat, harus senantiasa diutamakan. Kalau hal ini benar-benar diperhatiakan maka sambutan khalayak pembaca, pendengar dan pemirsa, dengan sendirinya akan positif sehingga perusahaan induk atau klien humas tadi pasti akan memperoleh suatu publisitas yang baik seperti yang diinginkannya, dan pada saat itulah kepentingankepentingannya sendiri akan dapat terpenuh” (Jefkins, 1996 : 99).

2.3 Tinjauan tentang Juru Bicara 2.3.1 Pengertian, Peranan dan Fungsi Juru Bicara

31 2.3.1.1 Pengertian Juru Bicara Dari segi pengertian, ”Juru Bicara adalah orang yang kerjanya memberi keterangan resmi dan sebagainya kepada umum; pembicara yang mewakili suara kelompok atau lembaga; penyambung lidah”. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 423). Dari hasil wawancara penulis dengan bagian Biro Administrasi Menteri, Juru Bicara atau spokesman berarti : “A person who speaks for another or for a group, atau seseorang yang berbicara atas nama orang lain atau perkumpulan” (Wawancara dengan bagian Biro Administrasi Menteri, 7-9 Oktober 2002). Dan Nimmo mengatakan bahwa Juru Bicara dalam kepentingan organisasi biasanya : “bukan profesional dalam komunikasi. Namun, ia cukup terlibat baik dalam politik maupun dalam komunikasi sehingga dapat disebut aktivis politik dan semiprofesional dalam komunikasi politik. Berbicara untuk kepentingan yang terorganisasi merupakan peran yang serupa dengan peran politikus yang menjadi wakil partisan, yakni mewakili tuntutan keanggotaan suatu organisasi dan tawar-menawar untuk pemeriksaan yang menguntungkan” (Nimmo dalam Rakhmat, 1999 : 36). Dari pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa Juru Bicara adalah pihak atau seeorang yang mewakili tuntutan keanggotaan suatu organisasi atau lembaga untuk berbicara atau menyampaikan pesan, antara lain kebijakankebijakan organisasi yang bersangkutan kepada pihak luar. Dalam hal ini, Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI merupakan wakil Departemen Luar Negeri RI yang bertugas untuk menyampaikan informasi mengenai kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri, juga mengklarifikasi issu-issu atau masalah yang sedang dihadapi, guna menjaga citra Departemen Luar Negeri, baik di dalam

32 maupun di luar Departemen dan juga menjaga citra Indonesia baik di mata bangsa Indonesia, maupun di mata dunia. Sedangkan Siagian berpendapat bahwa Juru Bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi merupakan salah satu fungsi kepemimpinan yang hakiki. Dalam bukunya “Teori dan Praktek Kepemimpinan” mengatakan bahwa Lima fungsi-fungsi kepemimpinan adalah sebagai berikut: 1. Pimpinan selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha pencapaian tujuan, 2. Wakil dan juru bicara organisasi dalam hubungan dengan pihak-pihak di luar organisasi, 3. Pimpinan selaku komunikator yang efektif, 4. Mediator yang andal, khususnya dalam hubungan ke dalam, terutama dalam menangani situasi konflik, 5. Pimpinan selaku integrator yang efektif, rasional, objektif dan netral. (Siagian, 1999 : 48).

2.3.1.2 Peranan Juru Bicara Kedudukan seseorang dalam organisasi adalah menempatkan seseorang dalam anggota kelompok organisasi apakah lebih tinggi, lebih rendah, atau sejajar maupun dalam hubungannya di luar organisasi. Salah satu alasan diangkatnya Juru Bicara adalah untuk mencapai tujuan Departemen Luar Negeri dalam rangka menyampaikan kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri dan menyediakan informasi mengenai issu-issu terkini yang sedang berkembang. Tetapi tujuan tersebut tidak akan berlangsung dengan baik bila Juru Bicara tidak memehami fungsi dan peranannya sendiri. Maka, sangatlah penting untuk mengetahui dan memahami fungsi, peranan, dan tanggung jawabnya sendiri.

33 Adapun peranan Juru Bicara (spokesman role) yang dikemukankan Effendy dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek” bahwa : “Peranannya sebagai Juru Bicara memiliki persamaan dengan peranannya sebagai penghubung, yakni dalam hal mengkomunikasikan informasi kepada khalayak luar. Perbedaannya ialah dalam hal caranya: jika dalam peranannya sebagai penghubung ia menyampaikan informasi secara antarpesona atau kontak pribadi dan tidak selalu resmi, maka dalam peranannya sebagai Juru Bicara tidak selamanya secara kontak pribadi, tetapi selalu resmi. Dalam peranannya sebagai Juru Bicara itu ia juga harus mengkomunikasikan informasi kepada orang-orang yang berpengaruh yang melakukan pengawasan terhadap organisasinya. Kepada khalayak di luar organisasi (external public) ia memberikan informasi dalam rangka mengembangkan organisasinya. Ia meyakinkan khalayak bahwa organisasi yang dipimpinnya telah melakukan tanggung jawab sosial sebagaimana mestinya. Ia meyakinkan pula para pejabat pemerintahan bahwa organisasinya berjalan sesuai dengan peraturan sebagaimana harusnya” (1998 : 119).

2.3.1.3 Fungsi Juru Bicara Banyak pendapat yang mengatakan bahwa dalam usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya, tidak ada organisasi atau lembaga, baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah, yang dapat bergerak dalam suasana terisolasir. Artinya, tidak ada organisasi yang akan mampu mencapai tujuannya tanpa memelihara hubungan yang baik dengan berbagai pihak di luar organisasi atau lembaga yang bersangkutan sendiri. Pada tingkat negara pun, pemeliharaan hubungan itu dewasa ini sudah diterima sebagai keharusan mutlak, baik pada yang menyangkut berbagai segi kepentingan, seperti kepentingan di bidang ekonomi, pertahanan dan keamanan, politik, dan bahkan kepentingan sosial budaya. ASEAN, OPEC, APEC, dan lain sebagainya adalah beberapa contoh dari kebutuhan memelihara hubungan tersebut.

34 Kebutuhan-kebutuhan tersebut timbul sebagai kenyataan bahwa sekarang ini tidak ada lagi negara yang akan mampu mencapai tujuannya tanpa berhubungan dengan berbagai negara lainnya. Prinsip yang sama berlaku bagi suatu instansi pemerintah, termasuk Departemen Luar Negeri dengan bertitik tolak dari kenyataan bahwa Departemen Luar Negeri mempunyai wewenang melaksanakan tugas-tugas pengaturan dan berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam hal ini Kepala Biro Administrasi Menteri lah yang bertindak sebagai wakil dan Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam berhubungan dengan pihak di luar Departemen. “Pemeliharaan hubungan itu bukan hanya dalam menyelenggarakan tugas-tugas pengaturan, akan tetapi juga dalam memberikan pelayanan. Bahkan pemeliharaan hubungan dengan pihak yang diatur dan yang dilayani pun perlu terpelihara dengan baik” (Siagian, 1999 : 52). Salah satu fungsi Juru Bicara adalah menyampaikan informasi-informasi mengenai kebijakan-kebijakan dan kegiatan organisasinya kepada publik, baik masyarakat maupun media massa. Dengan maksud pihak yang bersangkutan mempunyai pengetahuan, pengertian dan pemahaman mengenai organisasi tersebut, dengan harapan pemberian dukungan. Seperti yang dikatakan Siagian dalam bukunya “Teori dan Prektek Kepemimpinan”: “Kebijaksanaan dan kegiatan organisasi perlu dijelaskan kepada berbagai pihak dengan maksud agar berbagai pihak itu mempunyai pengertian yang tepat tentang kehidupan organisasi perusahaan yang bersangkutan. Pengertian yang tepat diharapkan bermuara pada pemahaman dan pemberian dukungan yang diperlukan, bertolak dari kepercayaan berbagai pihak tersebut terhadap kemampuan organisasi memenuhi berbagai kepentingan yang diwakili oleh pihak-pihak yang berkepentingan itu. Yang paling bertanggung jawab untuk berperan sebagai wakil dan juru bicara perusahaan adalah pimpinan perusahaan” (1999 : 53).

35 Juru Bicara Departemen Luar Negeri merupakan wakil Departemen Luar Negeri, yang ditunjuk langsung oleh Menteri Luar Negeri, yang bertugas untuk menyampaikan informasi mengenai kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri. Serta mengklarifikasi issu-issu atau masalah yang sedang dihadapi, guna menjaga citra Departemen Luar Negeri, baik di dalam maupun di luar Departemen dan juga menjaga citra Indonesia baik di mata bangsa Indonesia, maupun di mata dunia. Dalam hal ini, walaupun Kepala Biro Administrasi Menteri yang merangkap jabatan sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri merupakan pimpinan yang menduduki salah satu jabatan dalam Departemen, ia mempunyai pengetahuan yang memadai tentang berbagai kegiatan Departemen Luar Negeri sebagai pelaksanaan dari berbagai keputusan yang telah diambil baik oleh Menteri Luar Negeri maupun pejabat pimpinan Departemen Luar Negeri lainnya, karena selain ia mengikuti dan mengetahui seluruh kegiatan Menteri Luar Negeri juga mendampingi Menteri Luar Negeri bila bepergian atau menjalankan tugas ke luar negeri, serta mengetahui komunikasi yang masuk dan ke luar Departemen, terutama komunikasi yang ditujukan pada Menteri Luar Negeri. “Dengan adanya struktur yang disatukannya Juru Bicara dengan jabatan Kepala Biro Administrasi Menteri ini, maksudnya adalah supaya tidak ada kesenjangan, dan ada pemahaman yang lebih mendalam dengan apa yang menjadi perhatian dari Menteri Luar Negeri dan Departemen Luar Negeri. Karena secara struktural kegiatan Kepala Biro Administrasi Menteri dekat dengan kegiatan Menteri Luar Negeri. Dengan keadaan saya merangkap jabatan Juru Bicara dengan Kepala Biro Administrasi Menteri, maka akan memahami arus komunikasi yang masuk ke Departemen karena secara tulisan, komunikasi yang masuk yang ditujukan pada Menteri Luar Negeri harus saya baca dan filter. Dalam hal

36 yang tidak tertulis adalah, saya mengikuti semua kegiatan Menteri Luar Negeri, baik dalam menerima tamu atau pun mendampingi Menteri ke luar negeri. Dengan itu ungkapan-ungkapan dan pandangan-pandangan Menteri Luar Negeri dapat saya rekam dan ingat” (Wawancara dengan Juru Bicara Departemen Luar Negeri, 31 Desember 2002). Dalam “Report of the Task Force on Reorientation of UN Public Information Activities”, menyatakan bahwa fungsi Juru Bicara atau spokesman adalah bahwa: “Juru Bicara berfungsi untuk mengumpulkan informasi yang patut dijadikan berita dari Sekretariat Departemen dan kegiatan-kegiatannya di luar organisasi, lalu mengembangkannya menjadi dasar uraian materi atau penerangan singkat harian, secara aktif menyebarkan materi-materi tersebut kepada media massa (media berita), dan menanggapi pertanyaan pers yang menjadi perhatian masyarakat. Kegiatan Juru Bicara harus dekat dengan pimpinan Departemen atau Organisasi agar dapat mengembangkan pesan-pesan dan mengidentifikasikan berita-berita atau kejadian-kejadian yang menjadi ketertarikan media massa. Mempunyai akses (informasi atau pesan) langsung dari pimpinan organisasi adalah kunci utama untuk kredibilitas Juru Bicara dari para pers. Juru Bicara harus terus mengikuti dan mengetahui seluruh rencana pimpinan organisasi, juga mengikuti atau mendampingi pimpinan bila bepergian” (Report of the Task Force on Reorientation of UN Public Information Activities, Chapter III: A New Communication Structure, halaman 5). Dengan demikian, berarti Juru Bicara harus mengumpulkan informasi yang patut dijadikan berita, yang kemudian dikembangkan menjadi materi informasi yang menjadi ketertarikan pers dan masyarakat mengenai

organisasinya, lalu disampaikan kepada pers. Dalam mengumpulkan informasi tersebut, Juru Bicara harus mengikuti dan mengetahui seluruh kegiatan organisasinya dan mendampingi pimpinan organisasi bila bepergian agar mengetahui pimpinan pandangan-pandangan, kebijakan, dan pemikiran-pemikiran

organisasi, guna menyampaikannya kepada pers dan dapat

37 memberikan tanggapan terhadap apa yang menjadi ketertarikan pers dan masyarakat bila mereka bertanya. Siagian berpendapat bahwa “sebagai wakil dan Juru Bicara resmi organisasi, fungsi pimpinan tidak terbatas pada pemeliharaan hubungan baik saja, tetapi harus membuahkan perolehan dukungan yang diperlukan oleh organisasi dalam usaha pencapaian tujuan dan berbagai sasarannya”. Dilanjutkannya bahwa “salah satu konsekuensi logis dari fungsi demikian ialah bahwa seorang pimpinan mutlak perlu mengetahui bukan saja bagaimana merumuskan kebijaksanaan strategik, akan tetapi juga berbagai keputusan lain yang telah diambil oleh para pejabat pimpinan yang lebih rendah. Bahkan lebih dari itu. Dituntut pula pengetahuan yang memadai tentang berbagai kegiatan yang berlangsung dalam organisasi sebagai pelaksanaan dari berbagai keputusan yang telah diambil. Pengetahuan demikian akan memungkinkannya memberikan penjelasan yang diperlukan sedemikian rupa sehingga berbagai sasaran tercapai. Artinya, dengan demikian persepsi yang tepat dari berbagai pihak dapat ditumbuhkan, seluruh kebijaksanaan yang ditempuh serta latar belakangnya dapat dipahami, salah pengertian tercengah timbulnya atau bila telah timbul dapat dihilangkan, dukungan yang diperlukan dapat diperoleh” (Siagian, 1999 : 54). Dari penjelasan-penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan mempunyai tugas memberikan penjelasan mengenai kebijakan dan kegiatan organisasi, maka Juru Bicara berfungsi sebagai pihak yang menyampaikan informasi dan memberikan penjelasan terutama bila diajukan pertanyaan oleh pihak luar. Misalnya pada saat wawancara langsung dengan pihak media massa atau pada forum tanya jawab dalam kegiatan Press Briefing, mengenai kebijaksanaan dan kegiatan organisasi yang bersangkutan (dalam hal ini Departemen Luar Negeri), guna menumbuhkan persepsi yang tepat dan dapat dipahami dari berbagai pihak, terutama media massa. Karena media massa merupakan pihak yang memiliki peranan penting antara organisasi dengan publik, dimana media massa dapat membantu menyampaikan penjelasan mengenai kebijakan dan kegiatan organisasi tertentu kepada masyarakat luas

38 dengan berbagai kalangan guna mendapatkan dukungan yang diperoleh organisasi dalam usaha pencapaian tujuan-tujuan tertentu. Serta bila telah timbul salah pengertian mengenai kebijakan dan kegiatan organisasi tersebut atau adanya issu yang kurang tepat dengan masalah yang sebenarnya, dapat dihilangkan atau dikembalikan pada masalah yang sebenarnya, karena fungsi lain dari Juru Bicara adalah mengklarifikasi issu atau masalah tertentu yang bersangkutan dengan organisasinya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui Press Briefing yang diadakan Juru Bicara atau organisasi yang bersangkutan. Dengan ini dapat menciptakan citra organisasi atau lembaga yang positif.

2.3.2 Juru Bicara Dalam Menyampaikan Informasi Pemeliharaan hubungan baik ke luar maupun ke dalam organisasi tentunya dilakukan melalui proses komunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa timbulnya perselisihan, perbedaan paham dan konflik, terutama disebabkan oleh tidak adanya komunikasi yang efektif antara pihak-pihak yang berhubungan. Komunikasi yang efektif pun mempengaruhi keberhasilan pemutusan kebijakan dalam suatu organisasi. Dari pengertian komunikasi sebagaimana telah disampaikan di atas, tampak adanya sejumlah komponen atau unsur yang dicakup, yang merupakan persyaratan terjadinya komunikasi. Dalam “bahasa komunikasi” komponenkomponen tersebut adalah sebagai berikut : Komunikator Pesan : orang yang menyampaikan pesan; : pernyataan yang didukung oleh lambang;

39

-

Komunikan Media

: orang yang menerima pesan; : sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya; Efek : dampak sebagai pengaruh dari pesan (Effendy, 2000 : 6). Komunikasi tidak akan terjadi bila tidak adanya komunikator, karena

komunikator merupakan orang yang menyampaikan pesan melalui lambanglambang tertentu. Komunikator menurut Cangara adalah “pihak yang mengirim pesan kepada khalayak” (2002 : 89). Sedangkan menurut Effendy komunikator adalah “seseorang atau sekelompok orang yang menyampaikan pikirannya atau perasaannya kepada orang lain” (1993 : 14) (a). Karena itu komunikator biasa disebut sebagai pengirim, sumber, source, atau encoder. Sebagai pelaku utama dalam proses komunikasi dalam kegiatan Press Briefing, Juru Bicara memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam mengendalikan jalannya komunikasi tersebut. “Fungsi komunikator ialah pengutaraan pikiran dan perasaannya dalam bentuk pesan untuk membuat komunikan menjadi tahu atau berubah sikap, pendapat, atau perilakunya” (Effendy, 2000 : 16). Sedangkan fungsi komunikator menurut Widjaja adalah “menyediakan sumber informasi. Selanjutnya menyaring dan mengevaluasi informasi yang tersedia dan mengolah informasi ini ke dalam suatu bentuk yang sesuai bagi kelompok penerima informasi tersebut, sehingga kelompok penerima memahami informasi dimaksud” (2000 : 59). Oleh karena itu, dalam hal ini Juru Bicara harus terampil berkomunikasi, dan juga kaya ide serta penuh daya kreativitas. Tetapi, keefektifan komunikasi tidak saja ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi, melainkan juga oleh diri Juru Bicara dan komunikate. Komunikate, dalam hal ini pers yang dijadikan sasaran akan mengkaji siapa komunikator yang menyampaikan informasi itu.

40 Jika ternyata informasi yang disampaikannya tidak sesuai dengan diri komunikator - betapa pun tingginya teknik komunikasi yang dilakukan- hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Effendy dalam bukunya “Dinamika Komunikasi” menjelaskan sebagai berikut: A. Etos Komunikator Keefektifan komunikasi ditentukan oleh etos komunikator. Etos adalah nilai diri seorang yang merupakan paduan dari kognisi (cognition), afeksi (affection), dan konasi (conation). Kognisi adalah proses memahami (process of knowing) yang bersangkutan dengan pikiran; afeksi adalah perasaan yang ditimbulkan oleh perangsang dari luar; dan konasi adalah aspek psikologis yang berkaitan dengan upaya atau perjuangan. Effendy melanjutkan bahwa “Etos tidak timbul pada seseorang dengan begitu saja, tetapi ada faktor-faktor tertentu yang mendukungnya. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : a. Kesiapan (preparedness) Seorang komunikator yang tampil di mimbar harus menunjukkan kepada khalayak, bahwa ia muncul di depan forum dengan persiapan yang matang. Kesiapan ini akan nampak pada gaya komunikasinya yang meyakinkan. Tampak oleh komunikan penguasaan komunikator mengenai materi yang dibahas. b. Kesungguhan (seriousness) Seorang komunkator yang berbicara dan membahas suatu topik dengan menunjukkan kesungguhan, akan menimbulkan kepercayaan pihak komunikan kepadanya. c. Ketulusan (sincerity) Seorang komunikator harus membawakan kesan kepada khalayak, bahwa ia berhati tulus dalam niat dan perbuatannya. Ia harus hati-hati untuk menghindarkan kata-kata yang mengarah kepada kecurigaan terhadap ketidaktulusan komunikator. d. Kepercayaan (confidence)

41 Seorang komunikator harus senantiasa memancarkan kepastian. Ini harus selalu muncul dengan penguasaan diri dan situasi secara sempurna. Ia harus selamanya siap menghadapi segala situasi. e. Ketenangan (poise) Khalayak cenderung akan menaruh kepercayaan kepada komunikator yang tenang dalam penampilan dan tenang dalam mengutarakan kata-kata. Ketenangan ini perlu dipelihara dan selalu ditunjukkan pada setiap peristiwa komunikasi menghadapi khalayak. Ketenangan yang ditunjukkan seorang komunikator akan menimbulkan kesan pada komunikan bahwa komunikator merupakan orang yang sudah berpengalaman dalam menghadapi khalayak dan menguasai persoalan yang akan dibicarakan. Lebih-lebih apabila ketenangan itu diperlihatkan di saat komunikator menghadapi pertanyaan yang sulit atau mendapat serangan yang gencar dari komunikan, seolah-olah pernyataan atau serangan itu sudah biasa baginya. f. Keramahan (friendship) Keramahan komunikator akan menimbulkan rasa simpati komunikan kepadanya. Keramahan tidak berarti kelemahan, tetapi pengekspresian sikap etis. Lebihlebih jika komunikator muncul dalam forum yang mengandung perdebatan. Ada kalanya dalam suatu forum, timbul tanggapan salah seorang di antara yang hadir berupa kritikan pedas. Dalam situasi sepeti ini, sikap hormat komunikator dalam memberikan jawaban akan meluluhkan sikap emosional si pengeritik, dan akan menimbulkan rasa simpati kepada komunikator. g. Kesederhanaan (moderation) Kesederhanaan tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat fisik, tetapi juga dalam hal penggunaan bahasa sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaan dan dalam gaya mengkomunikasikannya. B. Sikap komunikator Sikap (attitude) adalah suatu kesiapan kegiatan (preparatory activity), suatu kecenderungan pada diri seseorang untuk melakukan suatu kegiatan menuju atau menjauhi nilai-nilai sosial. Dalam hubungannya dengan kegiatan komunikasi yang melibatkan manusia-manusia sebagai sasarannya, pada diri komunikator terdapat lima jenis sikap, yakni : a. Reseptif (receptive) Sikap reseptif berarti kesediaan untuk menerima gagasan dari orang lain, dari staf pimpinan, karyawan, teman, bahkan tetangga, mertua, dan isteri. Dengan

42 sikapnya yang reseptif, seorang komunikator berhati terbuka, tidak mentunakan (underestimate) orang lain.

b. Selektif (selective) Seperti halnya dengan faktor reseptif, faktor selektif pun penting bagi komunikator dalam peranannya selaku komunikan, sebagai persiapan untuk menjadi komunikator yang baik. Jadi, untuk menjadi komunikator yang baik, ia harus menjadi komunikan yang terampil. Tetapi dalam menerima pesan dari orang lain dalam bentuk gagasan atau informasi, ia harus selektif dalam rangka pembinaan profesinya untuk diabdikan kepada masyarakat. c. Dijestif (digestive) Yang dimaksud dengan dijestif di sini ialah kemampuan komunikator dalam mencernakan gagasan atau informasi dari orang lain sebagai bahan bagi pesan yang akan ia komunikasikan. Ia mampu memahami makna yang lebih luas dan lebih dalam dari tersurat, ia mampu melihat intinya yang hakiki saratya dapat melakukan prediksi akibat dari pengaruh gagasan atau informasi tadi. d. Asimilatif (assimilative) Asimilatif berarti kemampuan komunikator dalam mengorelasikan gagasan atau informasi yang ia terima dari orang lain secara sistematis dengan apa yang telah ia miliki dalam benaknya, yang merupakan hasil pendidikan dan pengalamannya. e. Transmisif (transmissive) Transmisif mengandung makna kemampuan komunikator dalam mentransmisikan konsep yang telah ia formulasikan secara kognitif, afektif, dan konatif kepada orang lain. Dengan lain perkataan, ia mampu memilih kata-kata yang fungsional, mampu menyusun kalimat secara logis, maupun memilih waktu yang tepat, sehingga komunikasi yang ia lancarkan menimbulkan dampak yang ia harapkan. (2000 : 16-21). Komunikator dalam menyampaikan apa yang pesan perlu melakukan Dalam

pertimbangan-pertimbangan,

harus

dilakukannya.

menyampaikan pesan. Komunikator, dalam hal ini Juru Bicara Departemen Luar Negeri, yang menyampaikan pesan dengan cara yang baik sangat penting dan bermanfaat, selain ia membawa nama Departemen, juga dapat mempengaruhi

43 citra Pemerintah, berhubung hampir semua yang disampaikan Juru Bicara mengenai keputusan dan kebijakan Departemen Luar Negeri yang ditetapkan berhubungan dengan Pemerintah. Sikap-sikap dan etos Juru Bicara perlu dikuasai. Seyogianya cara atau gaya yang merusak penyampaian pesan tidak dilakukan Juru Bicara.

2.4 Tinjauan tentang Kegiatan Press Briefing 2.4.1 Pengertian Press Briefing Dalam bukunya ‘Dasar-dasar Public Relations’, Neni Yulianita mengatakan bahwa: “Briefing (pengarahan) adalah memberikan penjelasan-penjelasan secara singkat atau pertemuan untuk memberikan penerangan secara singkat” (1999 : 95). “Press Briefing termasuk bentuk jumpa pers resmi yang diselenggarakan secara periodik tertentu, pada awal atau akhir bulan atau tahunan oleh pihak Humas atau pimpinan perusahaan, dan pejabat tinggi instansi bersangkutan. Pertemuan ini (Press Briefing), diadakan mirip dengan suatu diskusi atau berdialog, saling memberikan masukan atau informasi cukup penting bagi kedua belah pihak” (Ruslan, 1999 : 180). “Pakar Public Relations, Frank Jefkins, menyebutkan pula istilah Press Briefing, yang sebetulnya juga merupakan jumpa pers. Bedanya, Press Briefing dilakukan secara rutin sedangkan jumpa pers atau konferensi pers tidak dilakukan secara rutin” (Abdullah, 2001 : 87 - 88). Press Briefing atau Jumpa Pers merupakan suatu kegiatan hubungan pers, selain Press Release, Kunjungan Pers, Resepsi Pers, dan lain sebagainya. Kegiatan ini biasanya dilakukan menjelang, menghadapi ataupun setelah terjadi peristiwa atau kegiatan penting dan besar. Kelebihan Press Briefing terletak pada aspek diskusi atau tanya jawab. Dengan adanya forum diskusi atau tanya jawab

44 antara Juru Bicara dengan pers, memungkinkan pers makin kaya lagi dengan informasi yang didapat, selain bahan tertulis yang disediakan. Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan konferensi pers atau jumpa pers adalah sebagai berikut: 1. Jangan mengundang wartawan secara mendadak karena biasanya wartawan sudah memiliki jadwal kerja yang padat. Kecuali bila kita mengundangnya untuk kasus-kasus besar yang amat mendesak. 2. Hargailah waktu wartawan. Jangan menunda waktu yang telah dijadwalkan atau ditetapkan untuk jumpa pers, sehingga terjadi ngaretnya acara. 3. Jangan mengundurkan waktu hanya karena ada wartawan yang belum datang sebab bisa memunculkan kesan penganakemasan media tertentu. 4. Wartawan paling menyukai acara jumpa pers pagi hari dan kurang menyukai jumpa pers sore atau malam hari, karena sore atau malam hari tenaga wartawan sudah terkuras untuk bekerja dari pagi hingga sore hari. 5. Hindari pula acara jumpa pers pada hari libur. 6. Hindari acara jumpa pers yang jaraknya sangat jauh. Selenggarakanlah di lokasi yang strategis dan gampang dijangkau dari segala penjuru kota. 7. Jika ingin suasana yang santai, jumpa pers bisa pula di rumah makan atau tempat rileks lainnya sambil makan siang. 8. Hadirkanlah orang yang memiliki kredibilitas sehingga menambah bobot acara jumpa pers. 9. Jangan “mengusir” wartawan yang datang tidak diundang sejauh dia betul-betul membutuhkan informasi untuk berita. 10. Sediakan bahan-bahan atau data tertulis sebagai pelengkap tulisan atau berita yang akan ditulis wartawan. Apakah itu proposal, brosur, rilis, dan lain-lain. 11. Masukkan bahan-bahan tadi dalam map atau amplop besar. 12. Jika akan memberi cinderamata atau uang transportasi, masukkanlah ke dalam amplop besar atau map tadi. 13. Hindarilah jumpa pers satu arah. Berilah kesempatan wartawan untuk bertanya. 14. Jangan heran apabila dalam kesempatan ini wartawan akan bertanya pula tentang materi lain di luar materi yang dijumpaperskan. 15. Hindari jawaban “No Comment” dalam diskusi, sebab jawaban ini mengesankan pembenaran dari pernyataan wartawan. 16. Khusus dalam Press Briefing karena dilakukan secara regular dalam kegiatan besar, maka diperhatikan hal-hal berikut: a. Susunlah jadwal yang pasti. Siapa yang bakal tampil sebagai narasumber. Siapkan data akurat lainnya b. Konfirmasikan dahulu, apakah narasumber yang akan ditampilkan itu bersedia muncul dalam pertemuan dengan wartawan.

45 c. Siapkan bahan-bahan tertulis dalam press room yang disediakan. d. Buatlah jurnal harian yang akurat dan lengkap. Misalnya, raihan medali hari kesekian dalam pesta olah raga, angka perjualan paling aktual pada hari tersebut dalam pameran industri, atau informasi-informasi lainnya, baik yang serius maupun informasi ringan. e. Sediakanlah press room yang memadai yang dilengkapi dengan berbagai sarana komunikasi dan pengetikan (Abdullah, 2001 : 88). Maka, dalam melaksanakan dan untuk menjaga, juga meningkatkan keefektifan kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri, haruslah diperhatikan hal-hal penting di atas tersebut. Hal sekecil apa pun harus diperhatikan, guna menjaga hubungan baik dengan pers. Misalnya, meskipun Press Briefing Departemen Luar Negeri merupakan kegiatan rutin tiap minggu dengan waktu dan lokasi yang sama, yang biasanya diselenggarakan pada hari Jum’at, pihak Departemen Luar Negeri sebaiknya tetap memberikan atau menyebarkan undangan Press Briefing kepada pihak media massa guna memastikan adanya kegiatan tersebut dengan waktu dan tempat yang telah ditetapkan.

2.4.2 Press Briefing sebagai Komunikasi Eksternal “Komunikasi eksteral ialah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada instansi-instansi pemerintah seperti departemen, direktorat, jawatan, dan pada perusahaan-perusahaan besar, disebabkan oleh luasnya ruang lingkup, komunikasi lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat (public relations officer) dari pada oleh pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang dianggap sangat penting, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain, umpamanya perundingan (negotiation) yang menyangkut kebijakan organisasi. Yang lainnya dilakukan oleh kepala humas yang dalam kegiatan komunikasi eksternal merupakan tangan kanan pimpinan” (Effendy, 1998 : 128).

46 Sebenarnya, komunikasi eksternal dapat dilakukan oleh seluruh karyawan pada organisasi, dimulai dari tingkat tertinggi sampai dengan yang terendah. Bila dilihat secara struktural, seperti dikatakan oleh Effendy diatas, komunikasi eksternal pada Departemen Luar Negeri tidak dilakukan oleh pimpinan Departemen, dalam hal ini Menteri Luar Negeri, melainkan oleh Juru Bicara yang merangkap sebagai Kepala Biro Administrasi Menteri. Jadi, bila pihak luar atau publik luar memerlukan informasi baik mengenai Departemen Luar Negeri maupun hubungan dan politik luar negeri, pihak yang memberikan informasi tersebut adalah Juru Bicara Departemen Luar Negeri. Contoh dari kegiatan komunikasi eksternal untuk publik pers yang dilakukan oleh Juru Bicara adalah: Press Briefing, Press Interview, Press Reception, dan lain sebagainya. Menurut Neni Yulianita dalam bukunya “Dasar-Dasar Public Relations”: “Oleh seluruh unsur yang ada pada organisasi, dimulai dari tingkat pimpinan dalam konteks hubungan dengan publik luar, kegiatan komunikasi dapat dilakukan tertinggi sampai dengan karyawan operasional sampai merupakan representasi publik organisasi atau membawa nama organisasi pada saat mereka melakukan kegiatan komunikasi dengan publik luar” (2000 : 109). Jelas bahwa Press Briefing adalah kegiatan komunikasi eksternal, karena komunikasi tersebut merupakan kegiatan komunikasi dengan publik luar, yang dilakukan oleh pihak dalam, dalam hal ini adalah Departemen Luar Negeri yang diwakili oleh Juru Bicara, kepada pihak luar, yaitu publik pers.

2.4.3 Press Briefing sebagai Press Relations

47 Secara naluri, individu memerlukan individu lain dan sebaliknya. Dengan demikian individu satu dengan individu lain memerlukan hidup bermasyarakat. Hidup bermasyarakat adalah hidup berkelompok, berteman, berkeluarga dan hidup berbangsa. Syarat untuk terjalinnya hubungan ini semua sudah tentu harus ada hubungan saling pengertian serta adanya pertukaran informasi yang saling mengerti. Jalinan hubungan tersebut memungkinkan individu selalu mengadakan serba hubungan yang dinamis dan harmonis yang mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. Begitu pula dengan organisasi. Suatu organisasi tidak mungkin dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pihak lain, baik pihak luar maupun pihak dalam organisasi tersebut. Suatu komunikasi yang efektif sangat diperlukan guna tercapainya tujuan bersama. Salah satu komunikasi yang digunakan suatu organisasi adalah komunikasi kelompok. Pengertian dari komunikasi kelompok itu sendiri adalah “interviu tatap muka antara tiga individu atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui sebelumnya, seperti berbagai interviu pemeliharaan diri dan pemecahan masalah yang anggotanya dapat mengingat karakteristik peribadi anggota kelompok lainnya dengan baik” (Praktikto, 1987 : 55). Dengan adanya komunikasi, pasti akan terjadi atau terjalin suatu hubungan, tetapi dengan adanya hubungan tidak berarti akan terjadi komunikasi. Salah satu hubungan yang dibina dalam suatu organisasi adalah hubungan eksternal dengan media massa atau para pers.

48 Hubungan pers merupakan hubungan eksternal suatu organisasi atau perusahaan dengan media massa, guna menyampaikan suatu informasi dalam upaya menciptakan pengetahuan dan pemahaman. Menurut Frank Jefkins (1990), hubungan pers (press relations) adalah “upaya untuk mempublikasikan suatu pesan atau informasi yang maksimum untuk menciptakan pengetahuan dan pemahaman bagi khalayak yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan” (Abdullah, 2001 :4). Dalam praktik hubungan pers, dikenal beberapa bentuk kegiatan yang melibatkan pers. Berbagai kegiatan ini dimaksudkan selain untuk

menginformasikan aktivitas lembaga atau individu juga sebagai ajang peningkatan citra positif melalui media massa. Bentuk kegiatan hubungan pers yang dilakukan Departemen Luar Negeri RI antara lain adalah : Press Release, Jumpa Pers (press briefing, press conference), Kunjungan Pers, Resepsi pers, dan lain sebagainya. Press Briefing merupakan kegiatan rutin (setiap satu minggu sekali) yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri guna menjalin hubungan baik, harmonis, dan dinamis dengan pers. Dengan kata lain untuk memperkokoh kemitraan antara diplomat dan media massa. Press Briefing ini dilakukan pula untuk perbaikan pelayanan informasi dari pihak Departemen Luar Negeri kepada media massa. Press Briefing merupakan komunikasi kelompok karena komunikasinya di tujukan kepada kelompok tertentu, yaitu pers, yang mempunyai hubungan sosial yang nyata dan memperlihatkan struktur yang nyata pula. Komunikasi

49 tatap muka ini lebih cenderung dilakukan secara sengaja, dan umumnya para pesertanya lebih sadar akan peranan dan tanggung jawab mereka masing-masing. Ini dapat dilihat dari peranan anggota kelompok dari Press Briefing tersebut, dimana Juru Bicara, wakil dari Deparetemen Luar Negeri, merupakan komunikator yaitu pihak yang menyampaikan pesan atau informasi mengenai kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri, mengklarifikasi suatu masalah atau issu yang sedang dihadapi, juga menyampaikan kegiatan-kegiatan Departemen Luar Negeri, termasuk Menteri Luar Negeri dalam menjalin hubungan dan politik luar negeri. Kemudian pers berperan sebagai pihak yang mencari data, informasi yang disampaikan Juru Bicara, dan kemudian mengemasnya sedemikian rupa hingga menjadi sebuah berita dan layak disebarkan melalui medianya masing-masing, yang dinilai memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini khalayak. Tujuan pokok diadakannya hubungan pers adalah “menciptakan pengetahuan dan pemahaman” (Jefkins, 1996 : 99).

50

BAB III OBJEK PENELITIAN

3.1 Tinjauan Tentang Departemen Luar Negeri RI Departemen Luar Negeri RI merupakan pelaksana Pemerintah di bidang pemerintahan luar negeri yang dipimpin oleh Menteri yang berada di bawah dan bertanggungjawab pada Presiden. Pada akhir tahun 2001 Departemen Luar Negeri melakukan strukturisasi baru, yang dilaksanakan pada awal tahun 2002. Proses restrukturisasi tersebut dihasilkan dengan Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001. Pembenahan diri itu pada umumnya menyangkut restrukturisasi Departemen Luar Negeri dan Perwakilan RI, serta pembenahan profesi diplomat. Restrukturisasi dilakukan karena di satu sisi, tantangan yang ada sekarang berbeda dengan 50 tahun lalu. Struktur organisasi pusat yang sudah sejak tahun 1974 dinilai tidak memadai lagi, dan telah terjadi perubahaan besar dan mendasar pada tingkat nasional dan internasional. Dunia yang sekarang semakin mengglobal, batas antar negara semakin kabur, saling ketergantungan antar negara meningkat. Kondisi itu akan sangat mempengaruhi lingkungan

51 strategis tempat politik luar negeri disusun, diputuskan, dan dioperasionalkan. Karena itu kaitan antar masalah pun mejadi semakin besar. Dalam formasi sekarang, Departemen Luar Negeri diperkuat oleh 54 direktorat Eselon II dan 10 Eselon I. Departemen Luar Negeri terdiri dari Sekretariat Jenderal (Sekjen) dan Inspektorat Jenderal (Irjen). Persoalan difokuskan pada masalah bilateral, regional, dan multilateral.

3.1.1 Tugas, Fungsi, dan Kewenangan Departemen Luar Negeri RI 3.1.1.1 Tugas Departemen Luar Negeri Departemen Luar Negeri mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian tugas pemerintahan di bidang politik luar negeri dan hubungan luar negeri. Seperti meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri agar mampu melakukan diplomasi proaktif dalam segala bidang untuk membantu citra positif Indonesia di dunia internasional, memberikan perlindungan dan pembelaan terhadap warga negara dan kepentingan Indonesia, serta memanfaatkan setiap peluang positif bagi kepentingan internasional.

3.1.1.2 Fungsi Departemen Luar Negeri Dalam melaksanakan tugas, Departemen Luar Negeri RI

menyelenggarakan fungsi : Pelaksanaan politik luar negeri serta penyelenggaraan hubungan luar negeri;

52 Pembinaan, koordinasi, dan konsultasi dalam pelaksanaan politik luar negeri dan penyelenggaraan hubungan luar negeri; Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas serta pelayanan administrasi Departemen; Pelaksanaan penelitian dan pengembangan terapan serta pendidikan dan pelatihan tertentu dalam rangka mendukung kebijakan di bidang politik dan hubungan luar negeri; Pelaksanaan pengawasan fungsional.

3.1.1.3 Kewenangan Departemen Luar Negeri Dalam menyelenggarakan fungsi sebagaimana yang telah tercantum di atas, maka Departemen Luar Negeri mempunyai kewenangan : Penerapan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro; Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya; Penetapan persyaratan akreditasi lembaga pendidikan dan sertifikasi tenaga profesional / ahli serta persyaratan jabatan di bidangnya; Pengaturan penerapan perjanjian atau persetujuan internasional yang disahkan atas nama negara; Penetapan kebijakan sistem informasi nasional di bidangnya; Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu: pengaturan dan pelaksanaan hubungan sosial, politik, ekonomi,

53 budaya, dan penerangan luar negeri; serta pengaturan dan pelaksanaan protokol dan konsuler.

3.1.2 Struktur Organisasi Departemen Luar Negeri RI Dengan dilaksanakannya restrukturisasi, maka struktur organisasi Departemen Luar Negeri pun berubah. Departemen Luar Negeri yang sekarang terdiri dari Sekretariat Jenderal (Sekjen) dan Insepektorat Jenderal (Irjen). Berdasarkan Keputusan Menteri Luar Negeri RI Nomor SK.053/OT/II/2002/01 Tahun 2002, ditetapkan Susunan Organisasi Departemen Luar Negeri sebagai berikut : Menteri Luar Negeri RI, membawahi : Staf Ahli: Unit Pengendalian Krisis: Inspektorat Jenderal: Sekretariat Jenderal; Badan Pengkajian Pengembangan Kebijakan; Perwakilan RI.

Sekretariat Jenderal terdiri dari : Biro Administrasi Menteri; Biro Perencanaan dan Organisasi;

54 Biro Kepegawaian; Biro Keuangan; Biro Hukum; Biro Tata Usaha dan Perlengkapan; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai; Pusat Komunikasi. Dalam hal ini, Kepala Biro Administrasi Menteri sekaligus merangkap sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri. II. Sedangkan Inspektorat Jenderal dituangkan dalam empat wilayah, yaitu :

Inspektorat Wilayah I Inspektorat Wilayah II Inspektorat Wilayah III Inspektorat Wilayah IV Persoalan difokuskan pada masalah bilateral, regional, dan multilateral. Bidang bilateral terdiri dari : Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, yang diperkuat dengan lima direktorat, yaitu: Direktorat Asia Timur dan Pasifik; Direktorat Asia Selatan dan Tengah; Direktorat Afrika; Direktorat Timur Tengah; Direktorat Kerjasama Intra Kawasan. Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa, juga terdiri dari lima Direktorat, yaitu :

55 Direktorat Amerika Utara dan Tengah; Direktorat Amerika Selatan; Direktorat Eropa Barat; Direktorat Eropa Tengah dan Timur; Direktorat Kerjasama Intra Kawasan. Bidang regional terdiri dari: Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN, yang terdiri dari empat Direktorat : Direktorat Politik Keamanan ASEAN; Direktorat Kerjasama Ekonomi ASEAN; Direktorat Kerjasama Fungsional ASEAN; Direktorat Mitra Wicara dan Antar Kawasan. Bidang multilateral terdiri dari: Direktorat Jenderal Multilateral Politik, Sosial, dan Keamanan, terdiri dari empat Direktorat, yaitu: Direktorat Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata; Direktorat Politik Khusus; Direktorat HAM, Kemanusiaan, dan Sosial Budaya; Direktorat Organisasi Internasional Antar Pemerintah Non PBB dan Organisasi Internasional Non Pemerintah. Direktorat Jenderal Multilateral Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, yang juga terdiri dari empat Direktorat: Direktorat Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup PBB; Direktorat Perdagangan dan Perindustrian Multilateral;

56 Direktorat Komoditi dan Standarisasi; Direktorat Kerjasama Ekonomi, dan Pembangunan Non PBB. Lalu Direktorat Jenderal Informasi, Diplomasi Publik, Perjanjian

Internasional, terdiri dari lima Direktorat, yaitu : Direktorat Informasi dan Media; Direktorat Diplomasi Publik; Direktorat Keamanan Diplomatik; Direktorat Perjanjian Politik Keamanan dan Kewilayahan; Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya. Juga Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler, yang diperkuat oleh empat Direktorat, yaitu : Direktorat Protokol; Direktorat Konsuler; Direktorat Fasilitas Diplomatik; Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia.

Seluruh struktur itu diperkuat oleh Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan, yang terdiri dari : Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika; Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa; Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan pada Organisasi Internasional.

57 Perwakilan RI

Gambar 3.1

58

3.2 Tinjauan Tentang Biro Administrasi Menteri Biro administrasi Menteri merupakan salah satu struktur baru yang terbentuk setelah diadakannya restrukturisasi Departemen Luar Negeri pada akhir tahun 2001. Biro Administrasi Menteri merupakan salah satu struktur yang kegiatannya sangat dekat dengan kegiatan Pimpinan Departemen, yaitu Menteri Luar Negeri. Pengangkatan dan pelantikan Kepala Biro Administrasi Menteri sekaligus merangkap sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri, baru dilaksanakan secara resmi oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda pada hari Jum’at 1 Maret 2002. Biro Administrasi Menteri dapat dikatakan sebagai terminal komunikasi Departemen Luar Negeri, di mana segala atau seluruh kawat, facsimile, nota, dari seluruh perwakilan RI di luar negeri, seluruh direktorat yang berada di Jakarta, yang ditujukan pada Menteri Luar Negeri, ditangani oleh Biro Administrasi Menteri tersebut. Kepala Biro Administrasi Menteri mensortir mana yang patut untuk diberikan dan menjadi perhatian Menteri Luar Negeri dan mana yang tidak. Mana yang klasifikasinya UDK (untuk diketahui), yaitu hanya untuk dijadikan informasi saja, dan mana yang untuk didisposisikan oleh Menteri Luar Negeri. Maka sebagai Kepala Biro Administrasi Menteri, harus mengetahui arus komunikasi yang masuk dan keluar dari Departemen Luar Negeri. Mulai dari

59 bidang politik, keamanan, ekonomi, diplomasi publik, perjanjian politik dan internasional, sosial budaya, dan lain-lain. Pada intinya Kepala Biro Administrasi Menteri merupakan filter dari Menteri Luar Negeri, dimana ia harus menyeleksi hal-hal yang penting, yang patut menjadi perhatian, serta menyampaikan instruksi-instruksi Menteri kepada jajaran pimpinan Departemen Luar Negeri lainnya.

3.2.1 Tugas dan Fungsi Biro Administrasi Menteri 3.2.1.1 Tugas Biro Administrasi Menteri Biro Administrasi Menteri mempunyai tugas melaksanakan koordinasi penghimpunan dan penyajian naskah untuk disampaikan kepada Menteri, dan menyampaikan instruksi-instruksi Menteri kepada jajaran pimpinan Departemen Luar Negeri serta menyelenggarakan urusan rumah tangga Menteri dan urusan administrasi Staf Ahli Menteri.

3.2.1.2 Fungsi Biro Administrasi Menteri Dalam melaksanakan tugas sebagaimana telah tercantum, Biro

Administrasi Menteri menyelenggarakan fungsi : Koordinasi, penyiapan, dan penyusunan naskah yang berhubungan dengan soalsoal politik, ekonomi, sosial budaya, dan keamanan serta soal-soal hukum untuk disampaikan kepada Menteri; Koordinasi, perancangan, dan penghimpunan naskah Menteri yang disiapkan oleh unit kerja terkait serta penyajian naskah pidato terakhir kepada Menteri;

60 Penyampaian instruksi Menteri kepada jajaran Eselon Satu; Penyelenggaraan urusan administrasi rumah tangga Menteri dan Staf Ahli Menteri.

3.2.2 Struktur Organisasi Biro Administrasi Menteri Biro Administrasi Menteri terdiri dari: Bagian Penyajian Masalah Politik, Sosial, dan Keamanan, terdiri dari : Subbagian Asia Pasifik dan Afrika; Subbagian Amerika dan Eropa; Subbagian Organisasi Regional; Subbagian Organisasi Multilateral. Bagian Penyajian Masalah Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, terdiri dari : Subbagian Asia Pasifik dan Afrika; Subbagian Amerika dan Eropa; Subbagian Organisasi Regional; Subbagian Organisasi Multilateral. Bagian Informasi dan Media Massa, terdiri dari : Subbagian Penterjemah dan Penerjemahan; Subbagian Media Cetak; Subbagian Media Elektronik. Bagian Umum, terdiri dari : Subbagian Protokol; Subbagian Keamanan dan Rumah Tangga Menteri;

61 Subbagian Pelayanan Staf Ahli Menteri; Subbagian Tata Usaha Biro. Bagian Penyajian Masalah Politik, Sosial, dan Keamanan mempunyai tugas melaksanakan dan menyelenggarakan fungsi penghimpunan dan penyajian (naskah mengenai) soal-soal politik, sosial, dan keamanan serta soal-soal hukum dan budaya di wilayah Asia Pasifik dan Afrika, Amerika dan Eropa, organisasi regional, dan organisasi multilateral. Bagian Penyajian Masalah Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan mempunyai tugas melaksanakan dan menyelenggarakan fungsi penghimpunan dan penyajian naskah yang berhubungan dengan soal-soal ekonomi, keuangan, dan pembangunan di wilayah Asia Pasifik dan Afrika, Amerika dan Eropa, organisasi regional, dan organisasi multilateral. Bagian Informasi dan Media Massa mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan mengenai informasi dan media massa, serta

menyelenggarakan fungsi pelaksanaan penerjemahan, pelaksanaan pemberian informasi kepada media massa, serta pelaksanaan pemantauan berita cetak dan elektronik. Bagian Umum mempunyai tugas melaksanakan urusan protokol, keamanan dan rumah tangga Menteri, pelayanan Staf Ahli, serta urusan pelayanan administrasi Biro dan Staf Ahli. Adapun fungsi dari Bagian Umum adalah menyelenggarakan pelayanan keprotokolan Menteri, pengurusan

keamanan dan rumah tangga Menteri, Pelayanan administrasi staf Ahli Menteri dan pelayanan tata usaha Biro.

62 3.3 Tinjauan Tentang Juru Bicara Departemen Luar Negeri Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI adalah seseorang yang berbicara atas nama Menteri Luar Negeri atau Departemen Luar Negeri. Juru Bicara Departemen Luar Negeri telah ditunjuk oleh pimpinan Departemen (Menteri Luar Negeri) untuk berbicara kepada publik dan masyarakat luas, yaitu termasuk baik kepada masyarakat diplomatik maupun masyarakat pers. Issu mengenai Juru Bicara kembali diangkat ketika diadakan acara Foreign Policy Breakfast yang pertama, pada tanggal 16 Januari 2002 di Gedung Pancasila, Departemen Luar Negeri. Pada Foreign Policy Breakfast yang pertama ini, diundang para tokoh media massa. Beberapa masukan dari diskusi ini ditindaklanjuti, diantaranya penunjukkan seorang Juru Bicara Departemen Luar Negeri beserta perangkatnya, penyelenggaraan Press Briefing mingguan yang dilakukan secara rutin, serta perbaikan pelayanan informasi kepada media massa. Juru Bicara merupakan jabatan baru yang dikomplikasikan dengan Kepala Biro Administrasi Menteri, yang secara resmi dan struktural diangkat Departemen Luar Negeri pada awal tahun 2002 bersamaan dengan pengangkatan atau pelantikan sebagian dari pejabat Departemen Luar Negeri lainnya, setelah diadakannya restrukturisasi pada akhir tahun 2001. Sebelumnya, jabatan atau minimal sebutan ‘Juru Bicara’ setidaknya pernah dilekatkan kepada diplomat senior seperti mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas, Mantan Duta Besar Nana Sutresna dan Irawan Abidin, namun pengangkatan Juru Bicara secara resmi dan struktural baru dilakukan sekarang.

63 Memang sebelumnya tidak ada yang secara struktur disebut sebagai Juru Bicara. Dalam struktur Departemen Luar Negeri yang lama, yang ada adalah Direktur Penerangan. Yang membedakan diantara kedua tersebut adalah selain istilahnya lebih tegas sebagai spoksman, yaitu Juru Bicara, juga dalam struktuk Departemen Luar Negeri yang baru ini Juru Bicara dikombinasikan dengan tugas Kepala Biro Administrasi Menteri, yang mana Biro Administrasi Menteri ini juga merupakan struktur baru di Departemen Luar Negeri. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan agar salah satu kendala yang dihadapi Departemen Luar Negeri di masa lalu, yaitu bahwa Direktur Penerangan karena secara struktural jauh dari kegiatan Menteri jadi sukar untuk menterjemahkan dan menyampaikan pandangan-pandangan Departemen Luar Negeri dengan sebaik mungkin, karena kegiatan Direktorat Penerangan tidak bisa mengikuti pemikiran-pemikiran dan kegiatan-kegiatan Menteri Luar Negeri secara dekat. Jadi dengan adanya struktur yang disatukannya Juru Bicara dengan jabatan Kepala Biro Administrasi Menteri ini, maksudnya adalah supaya tidak ada kesenjangan, dan supaya adanya pemahaman yang lebih mendalam dengan apa yang menjadi perhatian dari Menteri Luar Negeri dan Departemen Luar Negeri. Sebelum menetapkan Juru Bicara, Departemen Luar Negeri melakukan perbandingan terlebih dahulu dengan Departemen Luar Negeri lainnya atau di negara lain, bagaimana mereka melakukannya dan pengalaman-pengalaman negara tersebut. Ideal yang bisa dilihat sehari-hari adalah seperti di State

64 Department Amerika Serikat, karena sudah sangat mapan, seperti fungsi Juru Bicaranya. Dengan melihat perbandingan itu, jelas masih sangat banyak yang harus dilakukan Departemen Luar Negeri. Tetapi paling tidak Departemen Luar Negeri sudah memulai pada perbaikan. Bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya, misalnya di ASEAN, yaitu Kementerian Luar Negeri Singapore dan Thailand, seandainya ada Juru Bicara tidak dipersonifikasikan. Jadi hanya kantornya yang ada, yaitu kantor penerangan (Penerangan Departemen Luar Negeri), tetapi tidak ada yang bertanggungjawab sebagai Juru Bicara. Setelah berjalan hampir satu tahun, Juru Bicara Departemen Luar Negeri kini menjadi pintu utama informasi terkini dari Indonesia. Marty Natalegawa, sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri kini, menjadi orang yang diburu wartawan tiap kali ada peristiwa tak mengenakkan yang dialami orang atau warga Indonesia di luar negeri, juga kejadian-kejadian di Indonesia yang menyangkut dengan hubungan dan politik luar negeri, termasuk terorisme, terutama mengenai peristiwa Bom Bali. Untuk Departemen Luar Negeri sendiri, dibentuknya lembaga Juru Bicara merupakan bagian dari upaya pembenahan diri, baik dari aspek struktural dan sikap. Mencoba agar psan-pesan dan langkah-langkah, juga kebijakankebijakan Departemen Luar Negeri di upayakan dapat dipahami masyarakat luas. Pesan tersebut bukan hanya informasi untuk ke luar ke masyarakat, baik masyarakat nasional maupun internasional, tapi juga masukan dan kritik dari

65 masyarakat. Dengan adanya jabatan Juru Bicara, jika ada kritik pasti akan diarahkan kepada yang bersangkutan.

3.3.1 Peranan dan Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri 3.3.1.1 Peranan Juru Bicara Departemen Luar Negeri Seorang Juru Bicara Departemen Luar Negeri harus secara baik memahami pada umumnya seluruh kegiatan dari Departemen Luar Negeri, baik yang secara tertulis maupun yang tidak tertulis. Secara tertulis misalnya, sebagai Kepala Biro Administrasi, menerima seluruh kawat, facsimile, nota, dan lain sebagainya yang ditujukan pada Menteri Luar Negeri dan menyeleksinya untuk diberikan kepada Menteri Luar Negeri. Dengan ini, secara tidak langsung Kepala Biro Administrasi Menteri merangkap sebagai Juru Bicara, mengetahui kegiatan dan masalah apa saja yang masuk ke dalam Departemen Luar Negeri, begitu pula yang keluar Departemen Luar Negeri, sehingga memahami arus komunikasi tersebut dan seluruh permasalahan yang menyangkut Departemen Luar Negeri. Hal di atas sangat mendukung peranan Juru Bicara, yaitu berbicara atas nama Menteri Luar Negeri atau Departemen Luar Negeri kepada pers, maupun masyarakat diplomatik mengenai informasi yang berkaitan dengan Departemen Luar Negeri, kegiatan-kegiatan Menteri Luar Negeri dan jajaran pejabat Departemen Luar Negeri dalam hubungannya dengan politik luar negeri dan hubungan luar negeri. Karena mau tidak mau Juru Bicara akan well informed,

66 atau lebih mempunyai pengetahuan mengenai masalah yang masuk dan keluar Departemen Luar Negeri. Untuk yang tidak tertulis, sebagai Kepala Biro Administrasi Menteri, harus mengikuti perkembangan atau semua kegiatan Menteri Luar Negeri, baik dalam menerima tamu, ataupun mendapingi Menteri Luar Negeri ke luar negeri. Dengan demikian, ungkapan-ungkapan atau pemikiran-pemikiran yang

disuarakan Menteri Luar Negeri dapat terekam dan coba untuk diingat sedapat mungkin oleh Juru Bicara, guna memberikan jawaban yang tidak terlalu jauh dengan pandangan Menteri Luar Negeri tersebut, bila ada pertanyaan dari pers atau pihak dari luar Departemen. Bila suatu permasalahan kebetulan ditanyakan pada Juru Bicara dahulu, sebelum kepada Menteri Luar Negeri karena tidak ada di tempat, maka Juru Bicara harus segera mengkoordinasikan dengan Menteri setelah menjawab pertanyaan tersebut, guna menghindari jawaban yang terlalu berseberangan. Dan bila jawaban yang diberikan Juru Bicara kurang tepat, maka dengan cara yang bijaksana Menteri Luar Negeri dapat dan atau harus melengkapinya, mengkoreksinya, atau meluruskan permasalahannya. Pada saat Juru Bicara ke luar negeri mendampingi Menteri Luar Negeri, masalah yang berkembang di Jakarta (Indonesia) akan disampaikan oleh karyawan Biro Administrasi Menteri lainnya melalui telepon yang selalu dibawa Juru Bicara, yang dapat di akses dari Jakarta, agar pengetahuan Juru Bicara tidak terlalu jauh dari perkembangan dan perhatian yang diminati di Jakarta.

67 Jadi, menjadi Juru Bicara harus tetap mengkoleksi informasi yang ada hubungannya dengan Pemerintah Indonesia dan hubungannya dengan politik dan hubungan luar negeri, kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri, juga pandangan-pandangan dan seluruh kegiatan Menteri Luar Negeri, baik bila ia sedang di dalam negeri maupun di luar negeri. Dengan kata lain Juru Bicara tidak boleh ketinggalan informasi sekecil apa pun. Pada intinya, Juru Bicara adalah pembicara tetap pada kegiatan Press Briefing. Bila Juru Bicara sedang bertugas ke luar negeri, Press Briefing pada umumnya tidak ada. Karena Juru Bicara berfungsi sebagai penyampai informasi atau pembicara tetap pada kegiatan Press Briefing. Kecuali sempat dua kali tidak dilakukan oleh Juru Bicara, yang salah satunya adalah dilakukan oleh Menteri Luar Negeri, yang pada saat itu mengangkat masalah mengenai money laundering. Tetapi selain itu tidak pernah diadakan Press Briefing bila bukan Juru Bicara yang menjadi pembicaranya.

3.3.1.2 Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri Juru Bicara Departemen Luar Negeri secara umum berfungsi sebagai penyedia informasi kepada publik dan pers, mengenai issu-issu terkini, dan kebijakan-kebijakan Pemerintah Indonesia di bidang politik luar negeri, serta sekaligus mengemban fungsi kehumasan Departemen. Informasi yang

disampaikan, berupa informasi serta kebijakan Pemerintah Indonesia di bidang politik luar negeri yang bersifat umum, faktual, dan tepat serta bukan diklasifikasi sebagai rahasia negara.

68 Press Briefing adalah kegiatan yang dilaksanakan Departemen Luar Negeri, dimana Juru Bicara berfungsi sebagai pembicara atas nama Departemen Luar Negeri. Selain pada kegiatan Press Briefing, Juru Bicara melayani atau menerima jika ada permintaan wawancara dari stasiun televisi, radio, atau yang lainnya. Juru Bicara pun mencoba untuk mengadakan pertemuan-pertemuan informal dengan datang ke kantor-kantor media massa untuk bersilaturahmi. Fungsi Juru Bicara dalam kegiatan yang rutin adalah pada kegiatan Press Briefing, yaitu berfungsi sebagai penyedia informasi atas nama Departemen Luar Negeri, kepada pers mengenai issu-issu terkini yang sedang berkembang serta proyeksinya ke depan, maupun mengenai kebijakan-kebijakan Pemerintah Indonesia di bidang politik luar negeri. Kegiatan Press Briefing hanya berlangsung 1 hingga 1½ jam, di mana Juru Bicara sedapat mungkin tidak terlalu kaku dan membuka kesempatan untuk adanya pertanyaan-pertanyaan dari pers. Pada kegiatan Press Briefing tersebut dibagikan ‘lembaran informasi’ kepada pers yang hadir guna melengkapi informasi pers untuk kemudian dijadikan berita. Selain menyampaikan hal-hal atau masalah khusus yang direncanakan dalam kegiatan Press Briefing mengenai kegiatan-kegiatan Departemen Luar Negeri, termasuk kegiatan Menteri Luar Negeri dalam hubungannya dengan politik dan hubungan luar negeri, serta masalah warga Indonesia yang berada di luar negeri, Juru Bicara juga berfungsi untuk mengklarifikasi masalah-masalah atau issu-issu yang sedang dihadapi Departemen Luar Negeri. Selain itu, Juru Bicara pun berfungsi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pers pada forum

69 tanya jawab, yang selalu dibuka setelah Juru Bicara menyampaikan hal-hal atau masalah-masalah khusus mengenai Departemen Luar Negeri pada kegiatan Press Briefing. Meski dari sisi Departemen Luar Negeri tidak ada hal atau masalah yang khusus yang harus disampaikan kepada pers dalam kegiatan Press Briefing, sejauh ini Juru Bicara tetap melangsungkan Press Briefing karena Juru Bicara ingin adanya interaksi antara pers dengan pihak Departemen Luar Negeri, terutama Juru Bicara. Walau Juru Bicara pada awalnya mempertimbangkan apakah tetap akan diadakan Press Briefing bila dari sisi Departemen Luar Negeri tidak ada hal khusus yang harus disampaikan secara terencana. Tetapi di sisi lain, jika Juru Bicara tidak mengadakan Press Briefing sama sekali, seandainya ada sesuatu yang ingin dipertanyakan pers dan tidak tersampaikan, ada kemungkinan Departemen Luar Negeri akan dianggap tidak transparan. Maka jika tidak ada hal khusus yang ingin disampaikan Departemen Luar Negeri, Juru Bicara akan langsung membuka forum tanya jawab. Karena Juru Bicara berfungsi untuk berbicara atas nama Departemen dan diberikan wewenang penuh untuk itu, maka Juru Bicara harus benar-benar sehati-hati mungkin dalam mengungkapkan pendapatnya atau pandangnnya. Untuk hanya berbicara adalah mudah, tapi jika untuk berbicara dengan pemahaman bahwa setiap kata dan istilah yang digunakan membawa implikasi yang bisa berarti, harus dilakukan dengan hati-hati. Dengan ini dapat menigkatkan keefektifan dalam dalam penyampaian pesan atau keefektifan dalam berkomunikasi, terutama pada kegiatan Press Briefing

70 Juru Bicara Departemen Luar Negeri cenderung mengungkapkan ke arah yang konserfatif, yang sehati-hati mungkin tapi juga di lain pihak selangsung mungkin dan setransparan mungkin. Bila berbicara dengan sesama diplomat, maka mudah untuk memahami istilah-istilah yang digunakan, signal-signal atau arti-arti tertentu. Tetapi bila menggunakan istilah-istilah yang khusus kepada media, mereka kadang kala belum bisa membedakannya. Jadi, yang menjadi kepentingan utama Juru Bicara adalah kehati-hatian. Jadi pada intinya, fungsi Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing adalah untuk menyampaikan informasi mengenai Departemen Luar Negeri, baik itu kebijakan-kebijakannya, pendapat atau pandangan-pandangannya, kegiatankegiatan baik yang berjangka pendek maupun yang berjangka panjang, atau posisi Departemen Luar Negeri dalam suatu masalah yang sedang dihadapi. Penyampaian informasi tersebut harus disampaikan secara tepat dan up to date, juga secara jelas menyampaikan peranan Departemen Luar Negeri dan kegiatankegiatannya. Pada khususnya, jika Departemen Luar Negeri sedang menjadi bahan berita utama di media massa, maka sangat penting bahwa media massa tersebut memberitakan kejadian atau gambaran yang tepat atas tujuan dan apa yang sedang dilakukan Departemen Luar Negeri atau memberitakan kejadian atau gambaran yang sebenarnya. Ini berarti Juru Bicara tidak hanya harus tanggap pada permintaan pers mengenai informasi yang menjadi ketertarikan mereka saja, tetapi juga mnyampaikan seluruh kegiatan Departemen Luar Negeri, mempromosikan Departemen Luar Negeri sehingga citranya meningkat atau

71 paling tidak mempertahankan citra Departemen Luar Negeri, memanfaatkan kegiatan Press Briefing untuk mengkoreksi atau mengklarifikasi misinformation atau informasi yang kurang tepat mengenai Departemen Luar Negeri, dan juga harus dapat mengarahkan bahwa kegiatan-kegiatan Departemen Luar Negeri didengarkan dan diakui oleh seluruh pihak, baik di dalam Departemen maupun di luar Departemen.

3.4 Tinjauan tentang Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri 3.4.1 Latar Belakang Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri Issu mengenai Press Briefing diangkat pada saat diadakan kegiatan Foreign Policy Breakfast yang pertama, pada bulan January di Gedung Pancasila, Departemen Luar Negeri. Pada acara ini, disepakati betapa pentingnya memperkokoh kemitraan antara diplomasi dan media massa, serta pelayanan informasi kepada media massa. Maka, dua hingga tiga bulan setelah kesepakatan pada kegiatan Foreign Policy Breakfast tersebut, diadakan kegiatan Press Briefing pertama. Salah satu alasan diadakannya Press Briefing adalah agar meningkatnya pelayanan informasi kepada media massa, guna menyampaikan posisi Departemn Luar Negeri dalam menghadapi suatu masalah, menyampaikan kebijakan-kebijakan Departemen Luar Negeri, mengklarifikasi suatu issu yang sedang dihadapi Departemen Luar Negeri, serta menyediakan wadah untuk para pers bertanya mengenai masalah atau peristiwa yang sedang menjadi perhatian pers dan masyarakat.

72 Press Briefing merupakan sebuah rangkuman secara lisan, singkat dan faktual mengenai isu-issu terkini yang diutarakan kepada pers. Press Briefing Departemen Luar Negeri adalah kegiatan rutin, setiap minggu yang khusus diatur Departemen Luar Negeri, dengan Juru Bicara sebagai pihak yang ditunjuk Departemen Luar Negeri, untuk berbicara atas nama Departemen Luar Negeri. Press Briefing berbeda dengan Press Conference, Press Briefing Departemen Luar Negeri berlangsung singkat antara 1 hingga 1 ½ jam, dan tidak bersifat wawancara khusus, serta bukan atas permintaan tertentu, karena Press Briefing merupakan kegiatan yang sudah direncanakan dan ditentukan waktunya oleh Departemen Luar Negeri, tidak seperti Press Conference, yang merupakan wawancara untuk para wartawan dan telah khusus diatur untuk memberi penerangan secara umum. Issu yang dibicarakan dalam kegiatan ini adalah seputar kebijakan Pemerintah Indonesia di bidang politik luar negeri, dan dilakukan secara rutin pada hari Jum’at, yang dapat dihadiri baik oleh kalangan pers dalam negeri maupun pers luar negeri. Pada umumnya Press Briefing difokuskan kepada satu atau beberapa issu atau peristiwa tertentu, namun tetap membuka kemungkinan dijawabnya pertanyaan atas issu atau peristiwa yang lain. Dalam hal ini, persiapan yang dilakukan biasanya menyangkut persiapan atas substansi issu atau peristiwa yang akan disampaikan, termasuk persiapan-persiapan bahanbahan untuk issu atau peristiwa terkini, jika ditanyakan. Biasanya satu hari sebelum Press Briefing dilaksanakan, pihak Departemen Luar Negeri, yaitu Direktorat Informasi dan Media selaku pihak

73 yang bekerjasama dengan Biro Administrasi Menteri dalam melaksanakan kegiatan Press Briefing, menyebarkan undangan pada media massa lewat facsimile. Istilahnya Direktorat Informasi dan Media adalah hadrware dari Press Briefing, dimana mereka membantu menyediakan fasilitasnya, persiapanpersiapan yang dibutuhkan dalam Press Briefing, misalnya tempat atau ruangan untuk diadakan kegiatan tersebut, serta pelaporan hasilnya yang kemudian dikirimkan ke perwakilan-perwakilan RI di luar negeri. Untuk persiapan materi Press Briefing, dilakukan oleh Biro Administrasi Menteri. Maka, dengan adanya Press Briefing diharapkan pelayanan informasi kepada pers, penyampaian informasi mengenai masalah atau hal-hal yang berkaitan dengan politik dan hubungan luar negeri, serta posisi Departemen Luar Negeri dalam menghadapi suatu masalah, dapat tersalurkan dengan lebih baik, mudah dan terencana. Ini dapat menandakan bahwa Departemen Luar Negeri berusaha untuk setransparan mungkin dalam mengungkapkan atau

menyampaikan apa yang telah dan akan dilakukan Departemen Luar Negeri dalam hubungannya dengan politik dan hubungan luar negeri. Tetapi Press Briefing ini diadakan bukan hanya untuk memenuhi atau melaksanakan strategi komunikasi medern atau tidak hanya dalam bidang teknologi informasi saja, dimana hal tersebut tetap merupakan prioritas utama bagi Departemen Luar Negeri, tetapi juga meningkatkan hubungan baik antara Departemen Luar Negeri dengan media massa (dalam hal ini press relations).

74 3.4.2 Tujuan, Fungsi, dan Sasaran Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri 3.4.2.1 Tujuan Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri Press Briefing Departemen Luar Negeri adalah kegiatan rutin, lisan, singkat, dan faktual yang diadakan Departemen Luar Negeri dengan mengundang para wartawan, baik wartawan lokal maupun wartawan asing, baik dari madia massa cetak maupun dari media massa elektronik. Masalah atau issu-issu yang disampaikan Juru Bicara dalam kegiatan ini adalah mengenai seputar kebijakan Pemerintah Indonesia, Departemen Luar Negeri di bidang politik dan hubungan luar negeri. Masalah-masalah dalam negeri dan luar negeri dapat diumpamakan sebagai dua sisi yang berbeda pada satu koin, karena mereka saling berhubungan dan mempunyai keterkaitan satu sama lain. Sehingga dalam hubungan internasional, diketahui bahwa masalah luar negeri tidak dapat terlepas dari masalah dalam negeri, juga sebaliknya, masalah dalam negeri tidak bisa terlepas dari masalah luar negeri. Dengan terjadinya perubahan-perubahan mendasar di dunia internasional dan di dalam negeri, perlu dibangun pemahaman baru dunia tentang Indonesia dan, sebaliknya perlu dibangun pemahaman baru Indonesia tentang dunia. Dalam hal ini, tujuan diadakannya Press Briefing adalah agar dapat dibangun pemahaman dunia tentang Indonesia dan pemahaman Indonesia tentang dunia yang lebih baik. Dengan diadakannya Press Briefing secara rutin, hasil yang diharapkan adalah bahwa informasi yang telah diberikan kepada wartawan nasional dan

75 wartawan internasional adalah informasi yang faktual dan tepat, sehingga pada gilirannya akan mengakibatkan penulisan atau peliputan yang faktual dan tepat pula. Press Briefing juga bertujuan agar adanya interaksi dan hubungan yang baik antar pihak Departemen Luar Negeri dengan pihak luar, dalam hal ini media massa, baik media massa asing maupun media massa lokal, selain memperbaiki pelayanan informasi kepada media massa dari pihak Departemen Luar Negeri. Tetapi di lain pihak Juru Bicara tidak mau menampilkan sosok yang memaksakan pandangan kepada media massa atau memberi kesan bahwa Juru Bicara atau pihak Departemen Luar Negeri serba tahu dan serba benar. Dimana pada akhirnya seolah-olah Juru Bicara hanya memaksakan pandangan Pemerintah, padahal hal tersebut tidak sejalan dengan misi Departemen Luar Negeri. Melainkan tujuan sebenarnya adalah memberikan pemahaman mengenai Indonesia yang seutuh dan selengkap mungkin. Jadi, Departemen Luar Negeri tidak berusaha memiliki monopoli atas kebenaran, melainkan menyampaikan pandangan Pemerintah mengenai masalah politik dan hubungan luar negeri kepada para wartawan, setelah sebelumnya mereka telah mendengar pandangan dari para pengamat, yang seharusnya pada akhirnya pers tersebut menarik kesimpulan sendiri atas pandangan-pandangan tersebut. Jadi, tujuan dari Press Briefing pada intinya ada dua. Yang pertama adalah yang bersifat keluar, yaitu meyebarkan atau menyampaikan informasi kepada media massa. Hal ini bertujuan guna memberi pemahaman yang lebih baik kepada media massa apa yang menjadi pandangan dan kebijakan Departemen Luar Negeri dan kebijakan Pemerintah. Tujuan yang kedua adalah

76 dari sudut perspektif Departemen Luar Negeri, yaitu untuk memperoleh informasi mengenai apa yang menjadi perhatian media massa, guna dijadikan introspeksi bagi Departemen Luar Negeri. Press Briefing ini pun bermanfaat untuk dijadikan rujukan oleh perwakilan RI di luar negeri bila ada wartawan yang bertanya mengenai posisi Indonesia tentang berbagai hal yang belum tentu diberikan di media massa, dimana perwakilan RI di luar negeri mendapakan rangkuman tersebut dari Direktorat Informasi dan Media mengenai hasil Press Briefing.

3.4.2.2 Fungsi Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri Press Briefing merupakan wadah pertemuan antara Departemen Luar Negeri dengan pers, dengan tujuan intinya adalah menyampaikan pandanganpandangan Departemen Luar Negeri dan Pemerintah Indonesia, juga kegiatankegiatan Departemen Luar Negeri yang bersifat long-term. Press Briefing berfungsi sebagai dorongan agar adanya hubungan baik antar Departemen Luar Negeri dengan pihak luar, yaitu media massa, yang juga menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri transparan dalam membuka fakta mengenai masalahmasalah yang sedang dihadapi mengenai politik dan hubungan luar negeri. Dengan adanya Press Briefing, maka salah satu dampak positifnya adalah bahwa masyarakat mengetahui pandangan-pandangan Departemen Luar Negeri dan kegiatan-kegiatan Departemen Luar Negeri dalam masalah memperbaiki hubungan dan politik luar negeri dan posisi Departemen Luar Negeri dalam

77 suatu masalah tertentu, juga usaha-usahanya membantu warga negara Indonesia yang berada di luar negeri dalam menghadapi masalahnya. Press Briefing juga berfungsi untuk para perwakilan Indonesia di luar negeri, dimana hasil dari Press Briefing tersebut dijadikan rujukan untuk mereka mengenai posisi-posisi Indonesia sebagai apa dalam masalah tertentu, selain untuk pers, untuk dijadikan liputan esok harinya. Seperti yang pernah terjadi, Juru Bicara tidak bisa mengadakan Press Briefing karena suatu hal. Dampak dari hal tersebut adalah Juru Bicara mendapatkan banyak telepon dan e-mail dari banyak perwakilan RI di luar negeri yang menanyakan kenapa tidak adanya Press Briefing. Jadi, Press Briefing tidak hanya bermanfaat untuk media massa, tapi bermanfaat juga untuk perwakilan RI di luar negeri guna mengetahui mengenai masalah tertentu dan posisi Indonesia dalam masalah tersebut. Hal tersebut sangat berguna terutama pada saat menghadapi masalah bom Bali beberapa bulan yang lalu. Tidak mungkin Juru Bicara tidak mengadakan Press Briefing, karena banyak sekali pers yang ingin mengetahui mengenai masalah tersebut, dimana posisi Indonesia, dan langkah-langkah apa saja yang sedang dilakukan Indonesia dalam menghadapi hal tersebut, juga bagaimana posisi Indonesia dalam politik dan hubungan luar negerinya, terutama dengan negara-negara yang warga negaranya banyak menjadi korban serta dampaknya pada warga Indonesia yang berada di luar negeri. Selain Departemen Luar Negeri sendiri mempunyai tugas menyampaikan beberapa masalah mengenai bom Bali kepada pers, baik pers nasional maupun pers internasional, yang kemudian dijadikan liputan untuk diketahui masyarakat luas. Bahkan setelah

78 terjadinya bom Bali, Departemen Luar Negeri langsung mengadakan Press Conference hari berikutnya, dimana Menteri Luar Negeri yang turun langsung menjadi pembicaranya, dan pada minggu yang sama telah diadakan beberapa Press Briefing tambahan (selain Press Briefing regular yang diadakan setiap hari Jum’at). Bila Juru Bicara ingin mengklarifikasi suatu masalah atau issu-issu tertentu mengenai Departemen Luar Negeri yang tidak sama atau kurang sesuai dengan kenyataannya, maka Juru Bicara dapat memanfaatkan Press Briefing untuk mengklarifikasi masalah tersebut. Karena seperti yang kita ketahui, bahasa diplomatik dapat berarti banyak, dan tidak menutup kemungkinan pers yang meliput salah mengartikan kata-kata tertentu karena kadang pers belum bisa membedakannya. Hal tersebut bisa menjadi fatal dampaknya bila tidak di tindak lanjuti, maka Juru Bicara harus mengklarifikasi masalah tersebut sesegera mungkin, guna menghindari dari kesalah pahaman yang lebih besar. Misalnya bila Juru Bicara mengatakan “Indonesia deplores pada suatu perkembangan”, yang kemudian diartikan sebagai “Indonesia mengecam…”, dimana sebenarnya ‘mengecam’ dalam bahasa Inggrisnya adalah condemn. Padahal dalam bahasa diplomasinya antara deplore dan condemn ada gradasinya, dimana deplore lebih rendah dari pada condemn. Kadang kala ada nuansa-nuansa tertentu yang Juru Bicara gunakan, tetapi pada pelaporannya diabaikan karena dianggap tidak

penting oleh pers, di mana pada akhirnya bisa timbul masalah karena Juru Bicara dianggap tidak hati-hati dan tidak menggambarkan posisi Departemen Luar Negeri atau posisi Pemerintah setepat mungkin. Jadi pada akhirnya, Juru Bicara

79 harus sehati-hati mungkin dalam berbicara, selain adanya Press Briefing yang berfungsi juga bagi Juru Bicara untuk mengklarifikasi bila ada suatu masalah.

3.4.2.3 Sasaran Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri Dalam kegiatan Press Briefing, Departemen Luar Negeri berusaha mengundang seluruh jenis media massa, baik media massa elektronik, yaitu radio, televisi, media massa cetak, yaitu majalah, surat kabar, juga perusahaan dot com, dan lain sebagainya. Departemen Luar Negeri selain mengundang media massa nasional, juga media massa internasional yang berada di Indonesia. Bahkan Juru Bicara mempersilahkan diplomat-diplomat asing untuk datang atau menghadiri Press Briefing bila mereka memerlukan suatu informasi mengenai Departemen Luar Negeri. Sehari sebelum kegiatan Press Briefing diadakan, yaitu pada hari Kamis siang, salah satu Direktorat Departemen Luar Negeri, yaitu Direktorat Informasi dan Media menyebarkan undangan Press Briefing pada pers, yang berisikan tempat dan waktu pelaksanaan Press Briefing. Tetapi pada kenyataannya, Press Briefing hanya diminati dan didatangi pada umumnya oleh wartawan nasional. Sementara wartawan asing hanya kadang-kadang saja datangnya, tidak rutin dan tidak sesering wartawan lokal. Wartawan asing biasanya hanya datang bila ada big event saja. Misalnya setelah terjadinya tragedi bom Bali, para wartawan asing sering dan banyak yang datang pada kegiatan Press Briefing untuk menanyakan hal-hal atau masalah yang bersangkutan dengan bom Bali dan pandangan-pandang, juga posisi Departemen

80 Luar Negeri dalam masalah tersebut. Press Briefing kurang dimanfaatkan oleh wartawan asing, dimana dalam mencari informasi yang mereka butuhkan, biasanya mereka lakukan melalui wawancara langsung dengan Juru Bicara melalui telepon. Juru Bicara sedang mencari jalan bagaimana untuk menjangkau wartawan asing untuk lebih terpanggil untuk datang pada kegiatan Press Briefing, dengan cara yang memang efektif tanpa menimbulkan kesan bahwa Departemen Luar Negeri diskriminatif. Bahwa seolah-olah ada suatu forum untuk wartawan asing dan ada suatu forum lainnya untuk wartawan lokal.

3.4.3 Waktu dan Tempat Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri 3.4.3.1 Waktu Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri Kegiatan Press Briefing biasanya dilaksanakan setiap minggu, pada hari Jum’at. Pada awalnya Press Briefing dilaksanakan pada siang hari, dan menghabiskan waktu kurang lebih 1 hingga 1 ½ jam, yaitu mulai pukul 14.00 hingga jam 15.30. Tetapi bulan-bulan terakhir pada tahun 2002, mulai bulan September, Press Briefing dilaksanakan di pagi hari, yaitu pada pukul 10.00 pagi hingga 11.30. hal demikian dilakukan karena pertama, dari sisi eksternal ada beberapa wartawan yang mempunyai deadline untuk menyelesaikan laporannya pada siang hari, dan itu tidak mungkin untuknya mengikuti Press Briefing dan menyelesaikannya atau mengumpulkannya di sore hari. Hal yang kedua adalah

81 dari sisi internal, yaitu penyelenggara Press Briefing, termasuk Juru Bicara, ingin menyelesaikan tugasnya lebih awal. Lalu, alasan Press Briefing diadakan pada hari Jum’at adalah ikhtisar dari satu minggu yang telah dijalani para pekerja kantor dan dipenuhi oleh tugas dan peristiwa yang bermacam-macam. Pada kenyataannya, waktu kegiatan Press Briefing agak terlambat dari yang telah dijadwalkan. Hal tersebut dikarenakan pertama adalah, adanya misunderstanding, bahwa Juru Bicara dan wartawan saling menunggu. Juru Bicara menunggu agar pers yang datang sudah banyak sebelum ia memulai Press Briefing tersebut. Karena Juru Bicara tidak menginginkan pers yang datang terlambat tidak mendapatkan informasi yang ingin mereka liput juga tidak sempat menanyakan hal-hal yang menjadi perhatian mereka. Tetapi di sisi lain, pers pun menunggu kehadiran Juru Bicara datang terlebih dahulu agar mereka tidak menyia-nyiakan waktu mereka, yang pada kenyataannya dapat digunakan untuk meliput masalah lain yang menjadi perhatian pers tersebut.

3.4.3.2 Tempat Kegiatan Press Briefing Departemen Luar Negeri Kegiatan Press Briefing merupakan kegiatan yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri dan juga diadakan di kantor Departemen Luar Negeri. Press Briefing tersebut pada awalnya dilaksanakan di Gedung Palapah lantai pertama atau lantai dasar, di mana pada ruangan tersebut berfasilitas air conditioner, kursi beserta mejanya untuk wartawan gunakan selama kegiatan Press Briefing tersebut berlangsung, juga microphone dan speaker sebagai alat bantu dalam berkomunikasi dengan Juru Bicara.

82 Tetapi sejak bulan Desember, ruangan yang digunakan untuk kegiatan Press Briefing berpindah tempat pada ruangan di lantai tiga, dengan gedung yang sama. Hal ini disebabkan ruangan di lantai tiga lebih memadai dan bersifat lebih mendekatkan Juru Bicara dengan pers, dimana tidak ada jarak antara posisi Juru Bicara dengan pers karena posisi meja dan kursi membentuk suatu persegi panjang yang menyatu, dengan difasilitaskan satu micriphone yang bersatu dengan speakernya pada setiap meja yang tersedia.

83

BAB IV ANALISIS DATA

Untuk mengetahui bagaimana fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam menghadapi masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing, penulis melakukan penelitian melalui observasi langsung ke lokasi penelitian, yaitu Departemen Luar Negeri yang berlokasi di Jl.Pejambon no.6, Jakarta Pusat. Penulis pun melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang berkepentingan dan menyebarkan angket (kuesioner) yang meliputi data responden serta data penelitian. Untuk mendapatkan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan, disamping menggunakan teknik pengumpulan data dari buku-buku serta referensi yang memiliki kaitan langsung dengan masalah yang diteliti. Pada bab ini, terdapat perolehan data hasil penelitian berikut pengolahannya atau analisisnya. Jawaban-jawaban yang ada pada kuesioner diberikan kode, lalu langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut sehingga memudahkan untuk dipahami. Penyebaran kuesioner dilaksanakan pada minggu ke dua dan minggu ke tiga pada bulan Desember 2002, kuesioner dibagikan pada sampel penelitian atau responden yang diperoleh berdasarkan teknik simple random sampling, banyaknya sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 19 orang responden yang merupakan pers, baik yang berasal dari media massa lokal maupun media massa asing yang datang pada kegiatan Press Briefing pada bulan Oktober

84 hingga Desember 2002, yang diadakan Departemen Luar Negeri di Ruang Palapah lantai 1 dan 3 Departemen Luar Negeri. Pertanyaan-pertanyaan yang ada pada kuesioner atau angket merupakan pertanyaan yang bersifat tertutup, yakni pertanyaan yang jawabannya sudah ditentukan terlebih dahulu sehingga responden tidak diberikan kesempatan untuk memberikan jawaban alternatif. Perolehan data dari hasil penyebaran angket ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai masalah yang diteliti. Adapun hasil tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

4.1 Analisis Data Responden Analisis Data Responden meliputi Jenis Agama, Jenis Media, Asal Media, Jenis Media Pemberitaan, Frekuensi Terbit Media, Frekuensi Mengikuti Kegiatan Press Briefing, serta Lamanya Bekerja. 4.1.1 Jenis Agama Tabel 1 menunjukkan jumlah jenis agama responden Islam, Katholik, Protestan, Budha, Hindu. Jumlah responden beragama Islam lebih banyak dari pada jumlah responden yang beragama Katolik, Protestan, Budha dan Hindu, yakni sebanyak 15 orang responden atau sebesar 79%, lalu responden yang beragama Protestan berjumlah 3 orang responden atau sebesar 16%, dan yang beragama Katolik hanya sebanyak 1 orang atau sebesar 5%. Sedangkan tidak ada responden yang beragama Budha, Hindu, dan lain-lain, jadi dalam penelitian ini mayoritas responden berasal dari agama Islam.

85 Tabel 1 Jenis Agama No 1 2 3 4 5 6 n: 19 Islam Katolik Protestan Budha Hindu Lain-lain Jumlah Pernyataan f 15 1 3 % 79 5 16 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Dalam Buku Pintar menunjukkan bahwa mayoritas “masyarakat Indonesia beragama Islam, yaitu sebesar 83,5%, yang kedua adalah yang beragama Protestan, yaitu sebesar 7,9%, sedangkan yang beragama Katolik yaitu sebesar 4,3%, yang beragama Hindu sebesar 3%, dan yang beragama Budha sebesar 1,3%” (2002 : 480). Dilihat dari data di atas tersebut, dapat dikatakan bahwasannya banyaknya resoponden yang beragama Islam adalah karena masyarakat Indonesia mayoritas beragama Islam. Artinya, perbandingan pers yang beragama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha selalu berada pada kisaran persentase di atas. Pada Departemen Luar Negeri tidak ada aturan secara legalitas formal mengenai persyaratan jenis agama pers yang datang pada kegiatan Press Briefing. 4.1.2 Jenis Media Tabel di bawah menunjukkan data jenis media responden bekerja. Dari 19 orang responden yang telah ditetapkan, jenis media massa surat kabar merupakan jenis media massa yang terbesar di mana responden bekerja yaitu

86 sebanyak 5 orang responden atau sebesar 26%, sedangkan lain-lain atau jenis media yang tidak tercantum pada angket adalah sebanyak 4 orang responden atau sebesar 21%, yang bekerja pada majalah sebanyak 3 orang responden atau sebesar 16%, begitu pula yang bekerja pada radio sebanyak 16%, responden yang bekerja pada televisi pun sebanyak 16%, dan yang berasal dari perusahaan dot com sebanyak1 orang responden atau sebesar 5%. Tabel 2 Jenis Media No 1 2 3 4 5 6 n: 19 Pernyataan Televisi Radio Perusahaan Dot Com Majalah Surat Kabar Lain-Lain Jumlah f 3 3 1 3 5 4 % 16 16 5 16 26 21

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Untuk melaksanakan kegiatan hubungan pers yang baik, dalam hal ini Press Briefing, Juru Bicara memerlukan pengetahuan yang memadai tentang pers. Hal tersebut diungkapkan oleh Frank Jeffkins yang dikutip oleh Aceng Abdullah, bahwa pokok-pokok penting yang harus diketahui itu adalah : Kebijaksanaan keredaksian; Frekuensi penerbitan; Tenggat terbit; Proses produksi; Daerah sirkulasi; Khalayak pembaca; Metode distribusi (2001 : 19). Berdasarkan hal-hal di atas dapat memudahkan atau membantu Juru Bicara dalam menyampaikan informasi secara efektif, karena setiap media massa

87 memiliki sikap yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan, sehingga antara media yang satu dengan yang lain pasti memiliki sikap yang berbeda. Juga dengan mengetahui asal media massa pers bekerja, maka Juru Bicara dapat menggambarkan ketepatan waktu diadakannya kegiatan Press Briefing, guna membantu pers dalam menghadapi deadline-nya. Sebab sebuah Press Briefing akan sia-sia bila tidak bisa di muat atau disiarkan karena terganjal oleh deadline pers tersebut, padahal informasi yang disampaikan merupakan berita yang cukup penting dan menarik. Dengan ini dapat pula mempengaruhi frekuensi pers yang mengikuti kegiatan tersebut karena waktunya kurang sesuai. Dapat dikatakan tidak mengherankan bahwa responden yang bekerja pada surat kabar lebih banyak dibanding dengan media massa lainnya, karena “sejak reformasi, telah terdapat 1.500 media cetak (data Juli 1999) di Indonesia dan sekitar 70% dari media cetak tersebut terbit di Jakarta” (Abdullah, 2001:10). Data tabel di atas pun dapat menunjukkan bahwa Juru Bicara telah bekerjasama dengan berbagai jenis media massa, dengan itu Juru Bicara telah berusaha untuk menyampaikan informasi yang telah disusun sebelumnya kepada seluruh jenis masyarakat yang luas melalui berbagai media massa yang hadir pada kegiatan Press Briefing. 4.1.3 Asal Media Berdasarkan tabel 3, sebagian besar responden bekerja pada media massa yang berasal dari dalam negeri yaitu berjumlah 14 orang responden atau sebesar 74%, dan responden yang berasal dari media massa luar negeri adalah sebanyak 5 orang responden atau sebesar 26%.

88 Penulis ingin mengetahui apakah banyak atau ada responden yang berasal dari media massa luar negeri, karena Departemen Luar Negeri tidak hanya mengundang media massa lokal saja akan tetapi juga media massa asing. Ini dikarenakan selain terdapat beberapa perwakilan media massa asing di Indonesia, juga karena Departemen Luar Negeri merupakan departemen yang bergelut pada bidang hubungan dan politik luar negeri. Tabel 3 Asal Media No 1 2 n: 19 Dalam Negeri Luar Negeri Jumlah Pernyataan f 14 5 % 74 26

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Dengan adanya data ini, maka penulis dapat mengetahui bahwa ada 5 orang responden atau sebesar 26% media responden berasal dari luar negeri. Lebih banyaknya media responden lokal yang hadir pada kegiatan Press Briefing dapat diakibatkan karena kurangnya melakukan pendekatan dalam mengundang media massa tersebut. Tetapi pada kenyataannya tidak ada satu media massa pun yang dianakemaskan sehingga pendekatan dalam mengundang media massa oleh Departemen Luar Negeri sama saja. “Salah satu hal-hal yang perlu dipahami narasumber dalam menjalani hubungan dengan pers bahwa wartawan tidak menyukai jika ada media tertentu yang dianakemaskan” (Abdullah, 2001 : 101). Pada wawancara penulis dengan Juru Bicara bulan Desember, Juru Bicara menyatakan bahwa pada awalnya tidak ada perbedaan asal media massa yang diundang karena semua media massa yang bersangkutan dengan politik dan

89 hubungan luar negeri dan beberapa jenis media massa lainnya diundang dengan cara, hari dan undangan yang sama. Tetapi pada kenyataannya media massa lokallah yang lebih berminat atau sering datang pada kegiatan Press Briefing. Sebenarnya Juru Bicara pun belum mengetahui penyebab dari masalah tersebut dan pada tahun ini Juru Bicara akan mulai melakukan pendekatan lagi dengan media massa, tanpa meninggalkan juga media massa lokalnya. “Kita tidak membedakan antara pers luar dan dalam. Tapi kenyataannya dalam pemanfaatannya, saya mensinyalir yang luar tidak datang sesering yang saya kira. Saya tidak tahu mengapa. Mereka biasanya berinteraksi dengan saya secara langsung, tapi tidak di forum Press Briefing. Bahkan di forum Press Briefing sudah saya sampaikan bahwa bukan saja wartawan asing, tetapi diplomat-diplomat asing di Jakarta juga saya persilahkan datang jika mau. Wartawan asing kadang-kadang datang kalau ada big event saja. Sementara mereka tidak merasa terpanggil untuk diatur dalam suatu skenario gitu. Jadi for this coming year, saya ingin mencoba bagaimana untuk menjangkau wartawan asing ini dengan cara yang memang efektif tanpa menimbulkan kesan kita diskriminatif. Yang menjadi kepedulian saya, saya tidak mau seolah ada forum buat wartawan asing dan satu forum buat wartawan lokal. Nanti ada yang mengira ada favoritism” (Wawancara dengan Juru Bicara, 31 Desember 2002).

4.1.4 Jenis Media Pemberitaan Tabel 4 menunjukkan jenis media pemberitaan asal responden bekerja, di mana 11 orang responden atau sebesar 58% menyatakan bekerja pada media berita umum, 4 orang responden atau sebesar 21% menyatakan lain-lain karena tidak terdaftar pada angket tersebut, sebanyak 2 orang responden atau sebesar 11% menyatakan berasal dari media berita ekonomi, sedangkan yang menyatakan berasal dari media berita hukum sebanyak 1 orang responden atau

90 sebesar 5%, begitu pula yang menyatakan berasal dari media massa politik sebanyak 1 orang responden atau sebesar 5%. Di satu sisi, media massa yang ada di Indonesia lebih banyak berjenis umum, yaitu tidak hanya menggeluti pada satu bidang saja melainkan lebih dari satu bidang. Tetapi di sisi lain, melihat data di atas dapat mendukung bahwa terjadinya tragedi bom Bali tidak hanya diminati oleh media berita politik atau hukum saja, tetapi juga oleh media berita lainnya, karena hal tersebut tidak hanya berpengaruh pada politik Indonesia dan hubungan luar negeri, akan tetapi juga membawa dampak pada bidang lainnya yaitu ekonomi, pariwisata, keamanan, sosial, dan sebagainya. Tabel 4 Jenis Media Pemberitaan No 1 2 3 4 5 n: 19 Pernyataan Media Berita Umum Media Berita Ekonomi Media Berita Hukum Media Berita Politik Lain-Lain Jumlah f 11 2 1 1 4 % 58 11 5 5 21

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Selain itu, secara naluri, masyarakat ingin mengetahui segala sesuatu yang baru atau yang dianggap baru atau asing baginya, dimana hal tersebut menarik perhatiannya. Dengan itu individu mencari tahu tidak terbatas dari individu lainnya, juga melalui media massa dan dengan cara-cara yang bermacam-macam ragam dan bentuknya. Seperti yang diungkapkan oleh H.A.W.Widjaja bahwa : “Hal yang baru tersebut di samping menarik perhatian

91 orang, juga mendorong orang untuk ingin lebih tahu lagi. Keinginan ini bukan saja yang ada sangkut pautnya dengan bidangnya, tetapi juga mereka yang merasakan akibat atau manfaat dari hal yang baru tersebut” (2000 : 8).

4.1.5 Frekuensi Terbit Media Tabel 5 menunjukkan frekuensi terbit media responden bekerja. Dapat dilihat bahwa 11 orang responden atau sebesar 59% menyatakan bahwa frekuensi terbitnya media mereka adalah harian, 5 orang responden atau sebesar 26% menyatakan lain-lain karena tidak tercantum frekuensi terbit medianya, sedangkan yang berfrekuensi dua mingguan sebanyak 2 orang responden atau sebesar 10%, dan 1 orang responden lagi atau sebesar 5 % menyatakan bahwa media massa mereka terbit secara mingguan. Tabel 5 Frekuensi Terbit Media No 1 2 3 4 5 n: 19 Harian Mingguan Dua Mingguan Bulanan Lain-Lain Jumlah Pernyataan f 11 1 2 5 % 59 5 10 26

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Tabel di atas berhubungan dengan jenis media responden bekerja pada tabel 2, yaitu menunjukkan frekuensi terbit suatu media massa. Dengan mengetahui frekuensi penerbitan suatu media massa, dapat membantu Juru Bicara sebagai pelaksana Press Briefing dalam menetapkan waktu diadakannya

92 Press Briefing guna memungkinkan hadirnya sebanyak mungkin pers agar informasi yang disampaikan pada kegiatan Press Briefing tersebut bisa memperoleh publikasi yang maksimal. Banyaknya pers yang datang pada kegiatan Press Briefing berasal dari media massa yang mempunyai frekuensi terbit harian karena 26% media massa responden berjenis surat kabar, radio 16% dan televisi 16%, di mana dari data mereka terdapat jawaban bahwa media massa mereka merupakan media massa dengan penerbitan harian. Selain itu mereka mempunyai deadline untuk mendapatkan berita yang dapat diterbitkan pada hari berikutnya bahkan disiarkan pada sore harinya. Maka dalam hal ini Juru Bicara cukup berhasil menetapkan waktu kegiatan Press Briefing karena dapat membantu pers untuk mendapatkan berita, dalam hal ini take and give, dan Juru Bicara telah dibantu oleh pers untuk mempublikasikan informasi atau berita yang diinginkannya. Di lain sisi, penulis ingin mengetahui dan memperjelas frekuensi penerbitan media massa sampel pada penelitian ini yang dijadikan responden. 4.1.6 Frekuensi Mengikuti Kegiatan Press Briefing Tabel 6 Frekuensi Mengikuti Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 n: 19 1 Kali 2 Kali 3 Kali 4 Kali Jumlah Pernyataan f 1 4 4 10 % 5 21 21 53

19 100 Sumber: Angket Penelitian

93 Tabel 6 menunjukkan frekuensi responden mengikuti kegiatan Press Briefing dalam satu bulan. Berdasarkan pada data tabel di atas, dari 19 responden, 10 orang responden atau sebesar 53% menyatakan bahwa mereka mengikuti kegiatan Press Briefing sebanyak 4 kali dalam satu bulan, yang menyatakan 3 kali mengikuti Press Briefing adalah sebanyak 4 orang responden atau sebesar 21%, begitu pula yang menyatakan mengikuti Press Briefing sebanyak 2 kali dalam satu bulan adalah sebanyak 4 orang responden atau sebesar 21%, dan responden yang menyatakan 1 kali mengikuti kegiatan Press Briefing dalam satu bulan hanya sebanyak 1 orang responden atau sebesar 5%. Hal ini menandakan bahwa Press Briefing dengan tema terorisme atau dalam membahas mengenai terorisme khususnya mengenai tragedi bom Bali pada tanggal 12 Oktober 2002, diminati dan menarik perhatian sebagian besar pers pada media massa di Indonesia. Hal tersebut dapat dikarenakan bahwa tragedi tersebut termasuk salah satu masalah yang besar yang dihadapi Indonesia yang sampai saat ini dikatakan bahwa tragedi tersebut berhubungan dengan jaringan teroris internasional Al Qaeda. Masalah ini pun berhubungan dengan citra Indonesia di mata dunia, dan masalah politik juga hubungan luar negeri, serta dapat memberikan dampak pada bidang lainnya terutama parawisata. Seperti yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm bahwa : “Timbulnya perhatian, yang berarti bahwa komunikan dalam benak atau tingkah lakunya mencari keterangan tentang pesan yang diterimanya atu karena menarik” (Sastropoetra, 1988 : 209).

94 Dalam kegiatan ini selain Juru Bicara menyampaikan informasi yang telah disusun dan direncanakan sebelumnya mengenai terorisme, pers pun diperbolehkan untuk mengajukan pertanyaan mengenai hal yang menarik perhatian mereka. Dengan ini pers dapat mengetahui apa sebenarnya inti permasalahan dari masalah yang mereka tanyakan. Selain itu, adanya forum tanya jawab juga dapat menarik perhatian pers untuk datang pada kegiatan yang dimaksud karena dengan itu pers mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi perhatian mereka.

4.1.7 Lama Bekerja Tabel 7 Lama Bekerja No 1 2 3 4 5 n: 19 Pernyataan Kurang Dari 1 Tahun 1-2 Tahun 2-3 Tahun 3-4 Tahun Lebih Dari 4 Tahun Jumlah f 8 6 2 3 % 42 32 10 16

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Tabel 7 di atas menunjukkan lamanya responden bekerja, yang menyatakan telah bekerja antara satu hingga dua tahun sebanyak 8 orang responden atau sebesar 42%, yang telah bekerja antara dua hingga tiga tahun sebanyak 6 orang responden atau sebesar 32%, sedangkan yang menyatakan telah bekerja lebih dari empat tahun sebanyak 3 orang responden atau sebesar

95 16%, dan sisanya menyatakan telah bekerja antara dua hingga tiga tahun yaitu sebanyak 2 orang responden atau sebesar 10%. Wartawan yang diterima Departemen Luar Negeri pada kegiatan Press Briefing tidak dilihat dari pengalaman kerja atau lamanya mereka bekerja pada media massa mereka. Selain itu dalam penempatan pencarian berita, bidang dan sumber informasi biasanya tergantung dari kebijakan redaksi atau pimpinan masing-masing media massa. Biasanya lamanya responden bekerja sebagai wartawan berpengaruh pada cara berfikir atau bertindak, semakin lamanya seseorang menekuni profesinya, maka orang tersebut dapat berpengalaman dan lamanya seseorang berprofesi dalam bidangnya akan mempengaruhi

kepercayaan pimpinan lembaga media di mana seseorang bekerja. Tetapi bukan berarti bahwa wartawan yang pengalaman kerjanya lebih sedikit tidak mampu membidangi pekerjaannya.

4.2 Analisis Data Penelitian Data penelitian meliputi penyampaian informasi yang berisikan hal-hal umum, kejelasan dan kegamblangan pesan, kejelasan bahasa, kepositifan informasi, keseimbangan informasi, dan kesesuaian informasi yang disampaikan Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing mengenai teoroisme, kemudian penyampaian klarifikasi dalam upaya penjernihan, penjelasan, pengembalian pesan pada apa yang sebenarnya mengenai terorisme yang disampaikan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing, dan pemberian jawaban, pemenuhan

96 jawaban, dan ketanggapan Juru Bicara terhadap pertanyaan pers mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing.

4.2.1 Pesan Berisikan Hal-hal Umum 4.2.1.1 Pengertian Terhadap Informasi Secara Umum Pada tabel 8 menunjukkan bahwa 13 orang responden atau sebanyak 68% mengerti atas informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing secara umum, 3 orang responden atau sebanyak 16% mengatakan bahwa mereka sangat mengerti atas informasi yang disampaikan Juru Bicara secara umum, dan 3 orang responden lainnya atau sebanyak 16% menyatakan cukup mengerti. Dalam hal ini, tidak ada satu pun responden yang menjawab kurang mengerti dan tidak mengerti. Tabel 8 Pengertian Terhadap Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing Secara Umum No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Dimengerti Dimengerti Cukup Dimengerti Kurang Dimengerti Tidak Dimengerti Jumlah Pernyataan f 3 13 3 % 16 68 16 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Pada tabel 8 menujukkan bahwa 13 orang responden atau sebanyak 68% mengerti atas informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing secara umum, 3 orang responden atau sebanyak 16% mengatakan bahwa mereka sangat mengerti atas informasi yang

97 disampaikan Juru Bicara secara umum, dan 3 orang responden lainnya atau sebanyak 16% menyatakan cukup mengerti. Dalam hal ini, tidak ada satu pun responden yang menjawab kurang mengerti dan tidak mengerti. Dalam penyampaian informasi, pemakaian kata merupakan unsur yang sangat penting karena mengarahkan pada pengartian yang mempengaruhi jalannya suatu komunikasi. Dalam penyampaian pesan-pesan atau informasi mengenai terorisme oleh Juru Bicara kepada pers jelas menggunakan kata-kata. Miskomunikasi dalam suatu komunikasi dapat terjadi akibat

penyampaian kata-kata yang rancu serta tidak akurat. Hal tersebut hanya akan membuat komunikasi tidak berjalan dengan semestinya. Apabila kesalahan tersebut dibiarkan terjadi maka, Juru Bicara akan dianggap tidak memiliki kredibilitas sebagai komunikator atau dalam hal ini menyampaikan beritanya. Dari data di atas dapat dilihat bahwa 68% mengatakan mengerti atas informasi yang disampaikan Juru Bicara, 16% mengatakan sangat mengerti, dan 16% lagi mengatakan cukup mengerti. Maka, dapat disimpulkan bahwa Juru Bicara telah berhasil dalam menyampaikan informasinya mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing karena sebagian besar dari responden menyatakan mengerti atas apa yang Juru Bicara sampaikan. Hal ini pun dapat dilihat dari tabel di atas bahwa tidak ada satu pun responden yang menyatakan kurang mengerti dan tidak mengerti atas apa yang disampaikan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing. Salah satu kerangka rujukan yang dapat digunakan untuk menilai bahwa suatu komunikasi dapat berjalan dengan baik (ada kesesuaian pemahaman)

98 adalah tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh pelaku komunikasi tersebut. Jadi, penilaian bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing adalah baik, disebabkan oleh pers yang menilai memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik. Dalam hal ini sebagai komunikate pada kegiatan Press Briefing, yang memungkinkan mereka untuk mengerti dengan mudah mengenai arti dari setiap pesan yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme. Hal tersebut juga disebabkan oleh keahlian Juru Bicara dalam memilih kata-kata dan berhati-hati dalam mengungkapkan suatu pandangan, kebijakan, dan informasi mengenai terorisme pada kegiatan tersebut. 4.2.1.2 Pemenuhan Keingintahuan Masyarakat Secara Umum Tabel 9 Pemenuhan Keingintahuan Masyarakat Terhadap Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing Secara Umum No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Memenuhi Memenuhi Cukup Memenuhi Kurang Memenuhi Tidak Memenuhi Jumlah Pernyataan f 6 12 1 % 32 63 5 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Pada tabel 9 menunjukkan pendapat pers mengenai pemenuhan keingintahuan masyarakat terhadap informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing secara umum. Responden yang menyatakan cukup memenuhi berjumlah 12 orang responden atau sebesar 63%,

99 yang menyatakan memenuhi berjumlah 6 orang responden atau sebanyak 32%, sedangkan yang menyatakan kurang memenuhi berjumlah 1 orang responden atau sebesar 5 %. Ketepatan pemakaian istilah memang sangat tergantung dari kecakapan atau kejelian komunikator, dalam arti hal ini harus ditunjang dengan wawasan komunikator akan bahasa serta keahlian dalam menerjemahkan makna kata ke dalam bahasa dan istilah yang jelas dan mudah dipahami. Karena tidak jarang terjadi adanya kata-kata yang merupakan istilah-istilah yang sulit dipahami oleh komunikate. Jika hal ini sering kali terjadi maka akan timbul kerancuan makna di mana persepsi komunikate akan berlawanan dengan apa yang dimaksud oleh komunikator. Dalam menggunakan istilah, komunikator dalam hal ini Juru Bicara harus memperhatikan tingkat intelektual komunikatenya. Ada kalanya komunikate dengan tingkat intelektual yang tinggi akan meremehkan istilah-istilah yang sudah terlalu umum. Sebaliknya, bagi komunikate yang tingkat intelektualnya rendah, cenderung akan melewatkan atau mengabaikan begitu saja berita-berita dan istilah-istilah yang dianggap rumit atau yang terlalu banyak menggunakan istilah yang tidak dimengerti. Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa Juru Bicara telah cukup berhasil dalam mengolah informasi, sehingga dapat memenuhi keingintahuan masyarakat terhadap informasi mengenai terorisme tersebut. “Seorang

komunikator dapat menyusun dan mengolahnya sebagai suatu bentuk yang

100 paling penting bagi komunikan, sehingga dapat dirasakan dalam pengambilan keputusan” (David, 1974 : 24). Sedangkan pesan yang mengena harus memenuhi syarat: Pesan harus direncanakan (dipersiapkan secara baik sesuai dengan kebutuhan). Pesan itu dapat menggunakan bahasa yang dapat diterima oleh kedua belah pihak, komunikator dan komunikan. Pesan itu harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima serta menimbulkan kepuasan. (Widjaja, 2000 : 101). Masih adanya pendapat bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing kurang memenuhi keingintahuan masyarakat adalah bahwa setiap orang mempunyai keinginan, maksud, tujuan dan kepentingan masing-masing yang berbeda. Maka tidak diherankan bahwa masih adanya resoponden yang menyatakan kurang memenuhi. Tetapi sebagian besar menyatakan bahwa informasi tersebut sudah cukup memenuhi, sehingga dapat disimpulkan bahwa Juru Bicara telah cukup berhasil dalam mengolah informasi yang dimaksud. Sedangkan Widjaja dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Pengantar Studi” berpendapat bahwa pesan yang ingin disampaikan sedapat mungkin disesuaikan dengan keinginan komunikate. Karena komunikate selalu mempunyai keinginankeinginan atau kepentingan-kepentingan tertentu. “Orang-orang yang menjadi sasaran atau komunikan dari komunikasi yang kita lancarkan selalu mempunyai keinginan-keinginan atau kepentingan-kepentingan tertentu. Dalam hal ini komunikator dapat menyesuaikan dengan keadaan, waktu dan tempat (ketupat)” (2000 : 34).

101 4.2.2 Kejelasan dan Keterbukaan Pesan 4.2.2.1 Kejelasan Informasi Tabel 10 di bawah menunjukkan kejelasan terhadap imformasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada keiatan Press Briefing. Sebanyak 10 orang responden atau sebesar 53% menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara jelas, 7 orang responden atau sebesar 37% menyatakan cukup jelas, sedangkan 2 orang responden atau sebesar 10% mengatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara tersebut sangat jelas, dan tidak ada yang menyatakan kurang jelas maupun tidak jelas. Tabel 10 Kejelasan Terhadap Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Jelas Jelas Cukup Jelas Kurang Jelas Tidak Jelas Jumlah Pernyataan f 2 10 7 % 10 53 37 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Kejelasan penyampaian informasi tidak hanya ditentukan oleh bahasa, kata-kata, dan istilah-istilah yang digunakan Juru Bicara pada kegiatan tersebut, akan tetapi juga ditentukan oleh alat-alat pembantu dalam melakukan komunikasi. Hal yang dimaksud adalah microphone, speaker, overhead projector, dan sebagainya. Hal tersebut penting guna memperjelas dalam penyampaian informasi yang telah direncanakan, sehingga Frank Jeffkins memasukkan hal-hal tersebut dalam aspek-aspek yang harus dipersiapkan dalam

102 pelaksanaan acara pers yang baik demi terciptanya hubungan pers yang baik pula, dalam hal ini kegiatan Press Briefing. “Persiapan waktu dan peralatan bicara dengan seksama, mulai dari VCR, perangkat TV, overhead projector, layar peraga, sampel, foto-foto, panelpanel, dan sebagainya” (Jeffkins, 1996 : 121). Dengan melihat tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa Juru Bicara telah berhasil dalam menyampaikan informasi pada kegiatan Press Briefing dengan jelas, yang dikarenakan telah berhati-hati dalam memilih kata-kata dan istilah-istilah dalam bahasa yang jelas sehingga dapat dimengerti pers, yang juga dibantu oleh alat komunikasi yang berupa speaker, microphone, dan sebagainya. Hal tersebut telah memberi nilai plus terhadap fungsi Juru Bicara, karena kejelasan informasi yang disampaikan dapat mengarahkan pada pengertian dan persepsi pers yang sama dengan Juru Bicara terhadap informasi yang dimaksud tersebut. 4.2.2.2 Kejelasan Lembaran Informasi Tabel 11 Kejelasan Terhadap Lembaran Informasi Yang Disebarkan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Jelas Jelas Cukup Jelas Kurang Jelas Tidak Jelas Jumlah Pernyataan f 5 9 4 1 % 26 48 21 5

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Berdasarkan tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa sebanyak 9 orang responden atau sebesar 48% menyatakan bahwa lembaran informasi yang

103 disebarkan Juru Bicara kepada pers mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing cukup jelas, sebanyak 5 orang responden atau sebesar 26% menyatakan jelas, sebanyak 4 orang responden atau sebesar 21% menyatakan kurang jelas, dan 1 orang responden lagi atau sebesar 5% berpendapat bahwa lembaran informasi yang disebarkan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing tidak jelas. Kondisi di atas menunjukkan bahwa lembaran informasi yang disebarkan pada kegiatan Press Briefing cukup jelas, akan tetapi masih ada responden yang menyatakan bahwa lembaran informasi tersebut kurang jelas, yaitu sebesar 21% dan 5% menyatakan tidak jelasnya lembaran informasi yang dimaksud. Ini dapat diakibatkan belum maksimalnya Juru Bicara dalam mengemas isi lembaran informasi yang dimaksud. Maka, Juru Bicara harus lebih meningkatkan isi dari lembaran informasi tersebut, baik dalam ketepatan kata-kata dan istilah-istilah yang digunakan, materi atau berita yang disampaikan, keaktualisasian berita tersebut, sifat informasi tersebut (objektif atau tidak, menarik atau tidak, dan sebaginya), juga frekuensi disebarkannya informasi tersebut. Penyediaan lembaran informasi pada kegiatan Press Briefing untuk diberikan pada pers merupakan pra kegiatan dari Press Briefing, guna menambahkan kelengkapan data yang akurat dari materi yang disampaikan pada kegiatan Press Briefing. “Pihak penyelenggara jumpa pers ini harus menyediakan bahan tertulis sehingga kalangan pers memiliki data yang akurat dari materi yang dijumpaperskan” (Abdullah, 2001:86). Sedangkan Winarko berpendapat bahwa : “Bahasa tulis dianggap lebih penting di bandingkan dengan bahasa lisan karena lebih sistematis, dapat dibaca oleh orang lain tanpa harus kehilangan maksud yang berarti” (Winarko, 2000 : 19). Selain itu menurut Gunadi YS, mengatakan bahwa:

104 “Salah satu fungsi dari media komunikasi adalah untuk mengefektifkan proses penyebaran pesan, mempermudah penyebaran informasi serta mempertegas dan memperjelas isi berita yang abstrak sifatnya” (Gunadi, 1998 : 49). Dengan ini jika lembaran informasi tersebut tidak jelas menurut pers, maka lembaran informasi tersebut tidak efektif karena tidak membantu mempermudah penyebaran informasi yang dilakukan Juru Bicara pada Press Briefing. Tetapi, dalam hal ini karena 48% responden menyatakan lembaran informasi tersebut cukup jelas, maka dapat dikatakan bahwa dengan adanya penyebaran informasi mengenai terorisme yang dilakukan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing cukup membantu dan mengefektifkan penyebaran pesan mengenai terorisme karena dapat mempertegas dan memperjelas isi berita tersebut. Untuk mengefektifkan dan meningkatkan kejelasan pesan maka Juru Bicara harus memperhatikan segala aspek persiapan serta pelaksanaannya. “Sediakanlah informasi pers yang memadai, namun jangan timbuni para tamu dengan aneka rupa materi yang kelewat banyak, apalagi yang tidak relevan. Meskipun terkesan sepele, tapi dalam kenyataannya penyediaan informasi atau bahan-bahan bagi pers ini seringkali kacau balau. Map berisikan informasi penting seringkali tercampur denga hal-hal yang tidak relevan seperti foto pembicara, jurnal internal, daftar harga, dan laporan penjualan. Apa yang mereka butuhkan adalah tulisan singkat danfoto-foto menarik yang bisa mereka kantungi dengan mudah” (Jeffkins, 1996 : 121). 4.2.2.3 Keterbukaan Informasi Tabel 12 memperlihatkan bahwa sebanyak 6 orang responden atau sebesar 32% berpendapat bahwa informasi mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing disampaikan secara terbuka, terdapat 6 orang responden atau

105 sebesar 32% juga menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara kurang terbuka, kemudian 5 orang responden lainnya atau sebesar 26% mengatakan terbuka, dan 2 orang responden lagi atau sebanyak 10% menyatakan sangat terbuka terhadap informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme. Tabel 12 Keterbukaan Terhadap Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Terbuka Terbuka Cukup Terbuka Kurang Terbuka Tertutup Jumlah Pertanyaan f 2 6 5 6 % 10 32 26 32 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Keterbukaan di sini mencakup keterbukaan, pembeberan informasi secara jujur dan apa adanya. Keterbukaan tersebut merupakan langkah strategis dan praktis yang dilakukan oleh Juru Bicara, dengan harapan seluruh pers yang merupakan audience pada kegiatan Press Briefing menjadi mengerti, mengetahui dan paham akan arah langkah, keputusan, tujuan, dan jelas atas informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme tersebut. Juru Bicara berupaya dan mencoba untuk menginformasikan apa adanya mengenai terorisme dan perkembangannya, agar tidak ada prasangka buruk dari pers terhadap Departemen Luar Negeri. Dengan keterbukaan ini pers jadi mengerti serta memahami akan segala hal dan perkembangan mengenai terorisme. Setidaknya, dengan kondisi yang serba terbuka ini seluruh pers

106 mengetahui akan niat baik Departemen Luar Negeri dalam upaya memberantas terorisme dan mendukung atas tindakan Pemerintah dalam rangka mencari atau menangkap teroris-teroris yang ada di Indonesia. Tetapi pada tabel di atas menunjukkan bahwa keterbukaan dan kurang terbukanya informasi yang disampaikan Juru Bicara berjumlah 6 orang responden masing-masing. Padahal keterbukaan pesan juga diperlukan karena pesan yang disampaikan bisa menyimpang dari yang dimaksud.

Ketidakterbukaan pesan bisa berasal dari pengetahuan pers yang sangat tinggi mengenai masalah yang diangkat Juru Biara, dimana pers mengetahuinya dari sumber lain, misalnya. Dan dengan ketidaksesuaian informasi yang diberikan Juru Bicara mengenai masalah tersebut, maka mengakibatkan informasi tersebut menjadi samar-samar, tidak jelas keasliannya dan membuat pers bingung. Hal tersebut juga dapat terjadi bila pers mengetahui masalah tersebut lebih banyak dari pada Juru Bicara sendiri, sehingga pada saat pers mengajukan pertanyaan, Juru Bicara belum mengetahui jawaban atau permasalahannya sehingga tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Atau dapat pula terjadi karena pers bertanya mengenai masalah atau hal yang seharusnya ditanyakan pada pihak lain, dengan kata lain pers bertanya pada pihak atau sumber yang salah. “Pesan harus jelas dan gamblang, tidak samar. Jika mengambil perumpamaan hendaklah perumpamaan yang senyata mungkin, untuk tidak ditafsirkan menyimpang dari yang kita maksudkan.” (Widjaja dan Hawab, 1987 : 62).

107 4.2.3 Kejelasan Bahasa 4.2.3.1 Kejelasan Bahasa Tabel 13 di bawah memperlihatkan bawha 9 orang responden atau sebesar 48% berpendapat bahwa bahasa yang digunakan Juru Bicara dalam menyampaikan informasi mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing jelas, 6 orang responden atau sebesar 32% menyatakan cukup jelas, sedangkan yang menjawab sangat jelas sebanyak 2 orang responden atau sebesar 10%, dan yang menjawab kurang jelas terhadap bahasa yang digunakan Juru Bicara dalam menyampaikan informasi mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing sama besar jumlahnya seperti yang menjawab sangat jelas yaitu sebanyak 2 orang responden atau sebesar 10%. Tabel 13 Kejelasan Terhadap Bahasa Yang Digunakan Juru Bicara Dalam Penyampaian Informasi Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Jelas Jelas Cukup Jelas Kurang Jelas Tidak Jelas Jumlah Pernyataan f 2 9 6 2 19 % 10 48 32 10 100

Sumber: Angket Penelitian

Kejelasan dan kesamaan persepsi antara komunikator dengan komunikate sangat mempengaruhi proses komunikasi dan tujuan yang ingin dicapai. Problem komunikasi menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam. Seringkali yang dialami dalam komunikasi lain dari yang diharapkan, lain pula yang kita peroleh.

108 Dalam hal ini 10% responden menyatakan kurang jelas disebabkan adanya hambatan-hambatan, antara lain adalah hambatan bahasa, yakni pesan yang disalahartikan sehingga tidak mencapai tujuan. “Pesan yang disalahartikan sehingga tidak mencapai apa yang diinginkan, jika bahasa yang digunakan tidak dipahami oleh komunikan, termasuk dalam hal ini penggunaan istilah-istilah yang mungkin dapat diartikan berbeda” (Widjaja, 2000 : 101-102). Maka dengan kata lain keefetifan komunikasi dipengaruhi oleh persamaan komunikator dan komunikate dalam mengartikan bahasa yang digunakan. Dalam hal ini Juru Bicara berhasil menyampaikan informasi mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing, melalui bahasa yang digunakan Juru Bicara dan tidak ada responden yang menyatakan tidak jelas atas penggunaan bahasa Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing. Pendapat lain dari Widjaja adalah bahwa : “Pengalaman membuktikan bahwa komunikator yang menyampaikan dengan cara dan gaya bahasa yang baik adalah sangat penting dan bermanfaat. Hal ini akan memperlancar proses komunikasi dan akan mencapai komunikasi yang harmonis” (2000 : 57). Selain itu Widjaja dan Hawab mengatakan bahwa: “Komunikator juga harus menguasai bahasa dengan baik. Bahasa ini adalah bahasa yang digunakan dan dapat dipahami oleh komunikan, terlebih lagi dapat pula menguasai istilah-istilah umum yang digunakan oleh lingkungan tersebut. Penguasaan bahasa akan sangat membantu menjelaskan pesan apa yang ingin kita sampaikan kepada audience itu, tanpa penguasaan bahasa secara baik dapat menimbulkan ketidak percayaan terhadap komunikator” (Widjaja dan Hawab, 1987 : 61). 4.2.3.2 Kejelasan Istilah-istilah Berdasarkan table 14 dapat dilihat bahwa sebanyak 10 orang responden atau sebesar 53% menyatakan bahwa istilah-istilah yang digunakan Juru Bicara dalam menyampaikan informasi mengenai terorisme dalam kegiatan Press

109 Briefing jelas, 8 orang responden atau sebanyak 42% menyatakan bahwa istilah yang digunakan cukup jelas, 1 orang responden atau sebesar 5% menyatakan sangat jelas, dan tidak ada responden yang menyatakan bahwa istilah-istilah yang digunakan Juru Bicara mengenai terorisme kurang jelas dan tidak jelas. Tabel 14 Kejelasan Terhadap Istilah-Istilah Yang Digunakan Juru Bicara Dalam Penyampaian Informasi Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Jelas Jelas Cukup Jelas Kurang Jelas Tidak Jelas Jumlah Pernyataan f 1 10 8 % 5 53 42 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Kondisi di atas menujukkan bahwa Juru Bicara telah memilih istilahistilah yang tepat dan jelas dalam menyampaikan informasi mengenai terorisme sehingga 53% dari responden menyatakan bahwa istilah-istilah yang digunakan Juru Bicara jelas. Ini dapat disimpulkan bahwa Juru Bicara berhasil dalam menyampaikan informasi mengenai terorisme melalui istilah-istilah yang dipilih dan digunakannya. Ini dilakukan karena Juru Bicara sangat berhati-hati dalam menggunakan dan memilih istilah-istilah tersebut, karena bila salah

menggunakannya dan komunikate salah mengartikannya dapat mengakibatkan dampak yang negatif karena masalah yang disampaikan berhubungan dengan politik dan hubungan luar negeri. “Tapi yang menjadi kepentingan utama saya itu kehati-hatian. Karena untuk bicara adalah mudah. Tapi kalau kita ingin bicara dengan

110 pemahaman bahwa setiap kata yang kita gunakan, setiap istilah yang kita gunakan itu membawa implikasi yang bisa berarti, harus dengan kehatihatian” (Wawancara dengan Juru Bicara Departemen Luar Negeri, 31 Oktober 2002). Seperti yang diungkapkan oleh Widjaja bahwa bila istilah-istilah yang digunakan komunikator diartikan berbeda dengan komunikate, maka

komunikator akan sulit bahkan tidak bisa mencapai apa yang diinginkannya atau tujuannya. “Pesan yang disalahartikan sehingga tidak mencapai apa yang diinginkan, jika bahasa yang digunakan tidak dipahami oleh komunikan, termasuk dalam hal ini penggunaan istilah-istilah yang mungkin dapat diartikan berbeda” (Widjaja, 2000 : 101-102). Selain itu Widjaja dan Hawab mengatakan bahwa : “Sejauh mungkin hindarilah menggunakan istilahistilah yang tidak dipahami oleh audience. Gunakanlah bahasa yang jelas yang cocok dengan komunikan, daerah dan kondisi dimana berkomunikasi. Hati-hati pula dengan istilah atau kata-kata yang berasal dari bahasa daerah atau bahasa asing yang dapat ditafsirkan lain. Sejauh mungkin dipergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar” (Widjaja dan Hawab, 1987 : 62).

4.2.4 Pesan Berbentuk Positif 4.2.4.1 Sifat Informasi Tabel 15 memperlihatkan sifat informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing. 8 orang responden atau sebesar 42% menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing bersifat positif, 6 orang responden atau sebanyak 32% menyatakan cukup positif terhadap informasi yang disampaikan Juru Bicara, 4 orang responden atau sebesar 21% berpendapat kurang positif dan 1 orang responden lagi atau sebesar 5% menyatakan sangat positif.

111 Informasi yang positif dalam hal ini adalah bentuk atau sifat dari informasi tersebut sehingga dengan mendengarkan atau mendapatkan informasi tersebut dapat menyenangkan komunikate, dalam hal ini pers. Contoh pesan positif yang berupa ungkapan atau pendapat terhadap kejadian pemboman di Bali yang disampaikan dalam Press Briefing mengenai terorisme dapat berupa pernyataan seperti, bahwa : “Departemen Luar Negeri mengutuk orang yang melakukan pemboman di Bali”. Dengan ini dapat dilihat bahwa Departemen Luar Negeri peduli akan tragedi tersebut dan tidak mendukung terjadinya hal tersebut. Hal demikian bisa mendapatkan simpati dan nilai plus dari pers. Tabel 15 Sifat Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Positif Positif Cukup Positif Kurang Positif Negatif Jumlah Pernyataan f 1 8 6 4 19 % 5 42 32 21 100

Sumber: Angket Penelitian

112 Dilihat dari tabel di atas masih ada 4 orang responden atau sebesar 21% mengatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara kurang positif. Hal ini dapat dikarenakan adanya informasi yang menyatakan banyaknya jumlah korban yang jatuh atas terjadinya peledakan bom di Bali tersebut, baik yang berwarga negara Indonesia maupun berwarga negara asing. Jadi, kekurang positifan informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme tidak mengherankan. Tetapi secara

keseluruhan, informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme bersifat atau berbentuk positif. “Secara kodrati manusia selalu tidak ingin mendengar dan melihat hal-hal yang tidak menyenangkan dirinya. Oleh karena itu setiap pesan agar diusahakan diutarakan dalam bentuk positif. Cara mengemukakan pesan itu diupayakan agar akan lebih mendapatkan simpati” (Widjaja dan Hawab, 1987:62). Tetapi apa pun bentuk atau sifatnya informasi tersebut, harus tetap disampaikan Juru Bicara pada pers karena pers dan masyarakat berhak mengetahui hal yang sebenarnya, kecuali yang bersifat rahasia negara. 4.2.4.2 Sifat Kebijakan Departemen Luar Negeri Tabel di bawah menunjukkan bahwa 9 orang responden atau sebesar 48% menyatakan bahwa kebijakan Departemen Luar Negeri dalam menanggapi masalah terorisme bersifat positif, 5 orang responden atau sebesar 26% menyatakan bahwa kebijakan tersebut cukup positif, begitu pula yang menyatakan kurang positif sebanyak 5 orang responden atau sebesar 26%. Terorisme sangat tidak disukai banyak orang, terutama oleh masyarakat Indonesia setelah terjadinya pemboman di Bali. Departemen Luar Negeri sebagai

113 departemen yang menangani masalah politik dan hubungan luar negeri, di harapkan mempunyai misi dan tindakan positif atau kebijakan-kebijakan dalam menghadapi masalah tersebut, berhubung pemboman tersebut dikaitkan dengan jaringan teroris internasional. Bila dilihat dari tabel di atas maka kebijakan Departemen Luar Negeri yang ditetapkan dapat dikatakan positif, meskipun masih ada beberapa responden yang menyatakan cukup positif dan kurang positif sebesar 5 orang responden. Tabel 16 Sifat Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Kebijakan Departemen Luar Negeri Dalam Menanggapi Masalah Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Positif Positif Cukup Positif Kurang Positif Negatif Jumlah Pernyataan f 9 5 5 % 48 26 26 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Pernyataan bahwa kebijakan tersebut positif karena Departemen Luar Negeri tidak menyukai kekerasan dan menginginkan secepat mungkin terungkapnya pelaku bom Bali tersebut, juga berusaha sebisa mungkin membantu pemerintah dalam menangani masalah tersebut, sesuai bidangnya. Sehingga Departemen Luar Negeri setanggap mungkin dan secepat mungkin mengeluarkan atau menetapkan kebijakan-kebijakan tertentu mengenai masalah yang dimaksud sebagai wujud bahwa Departemen Luar Negeri peduli, dan disampaikan melalui kegiatan Press Briefing pada pers. Salah satu contoh kecil

114 dari tindakan tersebut adalah mengirim Juru Bicara Departemen Luar Negeri sebagai wakil dari Departemen Luar Negeri ke Bali setelah kejadian pemboman tersebut. “Secara kodrati manusia selalu tidak ingin mendengar dan melihat hal-hal yang tidak menyenangkan dirinya. Oleh karena itu setiap pesan agar diusahakan diutarakan dalam bentuk positif. Cara mengemukakan pesan itu diupayakan agar akan lebih mendapatkan simpati” (Widjaja dan Hawab, 1987:62). 4.2.5 Keseimbangan Pesan 4.2.5.1 Kenetralan Informasi Tabel 17 Kenetralan Terhadap Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Netral Netral Cukup Netral Kurang Netral Memihak Jumlah Pernyataan f 1 6 11 1 19 % 5 32 58 5 100

Sumber: Angket Penelitian

Tabel 17 di atas menunjukkan bahwa sebanyak 11 orang responden atau sebesar 58% berpendapat bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing bersifat cukup netral, sedangkan responden yang berpendapat netral sebanyak 6 orang responden atau sebesar 32%, dan yang berpendapat bahwa informasi tersebut sangat netral sebanyak 1 orang responden atau sebesar 5 %, begitu pun yang berpendapat memihak adalah 1 orang responden atau sebesar 5%.

115 Keterbukaan dan penyampaian informasi yang akurat merupakan langkah yang praktis dan tepat dilakukan Juru Bicara untuk menyampaikan informasi mengenai terorisme yang berkualitas. Tetapi bila penyampaian informasi menggambarkan pertentangan yang terlalu mencolok dan berbeda dari dua kutub yang berbeda, maka informasi tersebut tidak akan disukai oleh komunikate atau pendengarnya. Juru Bicara seharusnya menjadi pihak dan atau berada pada pihak yang netral bila ia berbicara atas nama lembaga, karena ia membawa nama baik lembaga tersebut. Sebaiknya sikap memihaknya tidak dikeluarkan pada saat ia berbicara di depan pers, karena akan menurunkan kredibilitasnya sebagai Juru Bicara. “Pesan yang disampaikan hendaklah tidak ekstrem dan tidak terlalu menentang (mempertentangkan dua kutub yang berbeda) yaitu baik dan buruk, karena hal ini cenderung ditolak atau tidak diterima oleh komunikan. Sebab itu, jika kita berbicara seolah-olah kelompok satu paling benar, paling sempurna, dan paling bersih sedangkan kelompok lain sebaliknya, pesan ini berkecenderungan untuk tidak diterima oleh komunikan. Sebaliknya pesan itu dirumuskan seimbang, yaitu dengan mengemukakan kelemahan yang ada, disamping menonjolkan keberhasilan yang telah dicapai” (Widjaja, 2001:34). Pada kenyataannya, seperti yang bisa dilihat pada tabel di atas, Juru Bicara berbicara cukup netral dan netral pada saat menyampaikan informasi mengenai terorisme. Karena Juru Bicara dapat merumuskan informasi atau pesan yang akan disampaikan secara seimbang, sehingga ada responden yang menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara sangat netral. Tetapi pada tabel tersebut dapat juga dilihat bahwa ada 1 orang responden atau sebesar 5% yang menyatakan informasi yang dimaksud memihak. Hal tersebut dapat disebabkan karena Juru Bicara merupakan wakil dan pihak yang diberi

116 wewenang langsung untuk berbicara atas nama Departemen Luar Negeri, di mana ia pun harus berusaha mempertahankan, juga meningkatkan citra Departemen Luar Negeri yang positif. Di lain pihak, alasan lainnya adalah karena Juru Bicara pun masih merupakan manusia biasa meskipun ia mempunyai kredibilitas yang tinggi, di mana ia tidak bisa menjaga keseimbangan atau kenetralan sebuah pesan 100%. Karena ia pun bisa saja terlarut pada pembicaraannya sehingga tidak atau kurang dapat mengkontrol ucapanucapannya tersebut dalam menyampaikan informasi pada kegiatan Press Briefing. Ivy Ledbetter Lee, dalam bukunya yang berjudul “Declaration of Principles” terbitan tahun 1906 menyatakan bahwa : “semua jenis materi pers harus bebas dari nilai-nilai dan kepentingan sepihak. Kriteria kejujuran dan kenetralan itu juga harus dipegang teguh oleh kalangan praktisi humas. Setiap pesan atau berita yang mereka sampaikan kepada masayarakat mlalui pers haruslah sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Baik atau buruknya humas diukur berdasarkan kejujuran dan sikap netralnya” (Jeffkins, 1996 : 99). Dengan demikian, maka baik buruknya Juru Bicara pun diukur berdasarkan kejujuran dan sikap netralnya karena peranan Juru Bicara merupakan salah satu dari peranan humas. Oleh karena itu kriteria kejujuran dan kenetralan harus dipegang teguh oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri.

4.2.5.2 Sifat Informasi Pada tabel 18 menunjukkan objektivitas informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 8 orang responden atau sebanyak 42% mengatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing bersifat objektif, 8

117 orang responden atau sebesar 42% mengatakan cukup objektif, dan 3 orang responden lagi atau sebesar 16% mengatakan kurang objektif. Sedangkan tidak ada responden yang menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara yang dimaksud bersifat sangat objektif dan tidak objektif. Salah satu unsur dari kualitas berita atau informasi adalah objektivitas informasi atau berita tersebut. Objektivitas di sini berarti penyampaian informasi, dalam hal ini mengenai terorisme, harus bersih dari prasangka Juru Bicara dan informasi yang disampaikan apa adanya. Tabel 18 Sifat Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Objektif Objektif Cukup Objektif Kurang Objektif Tidak Objektif Jumlah Pernyataan f 8 8 3 % 42 42 16 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Untuk jawaban objektif dan cukup objektif yang diberikan responden merupakan nilai plus bagi Juru Bicara sebagai pihak dan wakil Departemen Luar Negeri dalam menyampaikan informasi pada kegiatan Press Briefing terutama mengenai terorisme. Karena keobjektivitasan dalam penyampaian informasi tersebut diakui pers, dimana dapat mempengaruhi khalayak medianya juga, dan ini perlu ditingkatkan lagi agar semakin baik tanggapan yang diberikan pers, juga menghilangkan tanggapan pers yang menyatakan kurang objektif. Meskipun

118 itu hanya 16% tetapi sangat berarti bagi penilaian mereka terhadap fungsi Juru Bicara dan kredibilitasnya. Seperti yang dikatakan di atas bahwa masih ada 16% atau sebanyak 3 orang responden yang menyatakan behwa informasi yang disampaikan Juru Bicara bersifat kurang objektif. Ini berarti bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara masih ada yang bersifat objektif, di mana hal ini menunjukkan masih adanya keberpihakan Juru Bicara terhadap objek pemberitaan atau informasi yang disampaikan di mata pers. Walaupun persentasenya kecil, hal ini tetap harus menjadi perhatian bagi Juru Bicara. Kenyataan ini bisa diterima karena objektvitas memang sulit untuk dilakukan. Walaupun satu kalimat, Juru Bicara bisa saja larut dalam penyampaian isi informasi tersebut sehingga sadar atau tidak, unsur objektivitas turut dalam penyampaian informasi tersebut. Oleh sebab itu dengan keadaan Juru Bicara yang selalu berhati-hati dalam berbicara dan meyampaikan informasi mengenai terorisme sudah baik, tetapi harus tetap ditingkatkan untuk mendapatkan hasil dan pandangan atau opini yang lebih baik juga, karena apapun yang ditulis atau disiarkan pers dalam media massanya merupakan hasil dari penilaiannya terhadap apa yang disampaikan Juru Bicara sebagai sumber beritanya. Dalam buku Media Massa III, beberapa ahli mengatakan: “Objektivitas sulit untuk diukur serta sulit pula untuk dilihat tolak ukur pencapaiannya. Walau bagaimanapun para jurnalis tidaklah benar-benar dapat dipisahkan dari pekerjaannya; disadari atau tidak, emosi dan pendapatnya cenderung untuk tergantung pada persepsinya terhadap fakta yang mereka lihat. Terlebih, tidak ada seorang pun jurnalis yang dapat melihat secara keseluruhan dari sebuah situasi, dan suatu kejadian akan tampak menjadi makin pelik ditengah pekerjaan yanng rumit. Jurnalis melihat hanya

119 sebagian kecil sebuah susunan fakta” (Heibert, Ungurait, Bohn, 1982 : 421). 4.2.6 Kesesuaian Pesan 4.2.6.1 Kesesuaian Informasi dengan Keinginan Komunikate Tabel 19 menunjukkan bahwa 10 orang responden atau sebesar 53% menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing cukup sesuai dengan keinginan komunikate, 5 orang responden atau sebesar 26% berpendapan bahwa informasi tersebut kurang sesuai dengan keinginan komunikate, 3 orang responden atau sebesar 16% menyatakan sesuai dengan keinginan komunikate, dan 1 orang responden lagi atau sebesar 5% menyatakan bahwa informasi tersebut sangat sesuai dengan keinginan komunikate, dan tidak ada seorang responden pun yang menjawab bahwa informasi yang dimaksud tidak sesuai dengan keinginan pers. Tabel 19 Kesesuaian Keinginan Komunikate Terhadap Informasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Sesuai Sesuai Cukup Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai Jumlah Pernyataan f 1 3 10 5 19 % 5 16 53 26 100

Sumber: Angket Penelitian

120 Dalam hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa Juru Bicara dalam mengelola informasi yang disampaikan pada kegiatan Press Briefing mengenai terorisme telah bertindak dengan cermat dalam memenuhi kebutuhan respondennya akan informasi tersebut. Sementara itu masalah kecermatan (accuracy) adalah salah satu faktor yang mendasar bagi keberhasilan suatu berita. Seperti teori yang dikemukakan oleh Paul De Maeseneer sebagai berikut : “kecermatan adalah hal yang fundamental bagi suatu pelayanan pemberitaan. Jika kita tidak dapat berlaku cermat, maka kita akan kehilangan audience dan kehilangan kredibilitas”. Sedangkan Widjaja dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Pengantar Studi” berpendapat bahwa pesan yang ingin disampaikan sedapat mungkin disesuaikan dengan keinginan komunikate, agar lebih mudah diterima oleh komunikate. Karena komunikate selalu mempunyai keinginan-keinginan atau kepentingankepentingan tertentu. “Orang–orang yang menjadi sasaran/komunikan dari komunikasi yang kita lancarkan selalu mempunyai keinginan-keinginan atau kepentingankepentingan tertentu. Dalam hal ini komunikator dapat menyesuaikan dengan keadaan, waktu, dan tempat (ketupat)” (2000 : 34).

4.2.6.2 Kepercayaan terhadap Sumber Informasi Tabel 20 Sumber Informasi Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing

121

No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Dipercaya Dipercaya Cukup Dipercaya Kurang Dipercaya Tidak Dipercaya Jumalah

Pernyataan

f 3 11 5 -

% 16 58 26 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Tabel 20 menunjukkan kepercayaan pers terhadap Juru Bicara sebagai sumber informasi atau narasumber Departemen Luar Negeri yang tepat mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing. Dari 19 responden ternyata sebayak 11 orang responden atau sebesar 58% menyatakan bahwa sumber informasi pada kegiatan Press Briefing merupakan sumber informasi yang dipercaya, 5 orang responden atau sebesar 26% menyatakan bahwa Juru Bicara merupakan pihak yang sangat dipercaya sebagai sumber informasi pada kegiatan Press Briefing, dan 3 orang responden lainnya atau sebesar 16% menyatakan cukup mempercayai Juru Bicara sebagai sumber informasi pada kegiatan Press Briefing. Dapat disimpulkan bahwa sumber informasi mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing, yaitu Juru Bicara merupakan pihak yang dipercaya oleh pers. Ini dikarenakan bahwa Menteri Luar Negeri sendiri yang telah menunjuk langsung Kepala Biro Administrasi Menteri sebagai Juru Bicara Deplu, dan ia diberi wewenang penuh sebagai pihak yang dipercaya Departemen Luar Negeri untuk berbicara atas nama Departemen Luar Negeri. Hal tersebut juga dapat dikarenakan Juru Bicara dapat meyakinkan pers bahwa apa yang ia sampaikan

122 dalam kegiatan Press Briefing merupakan informasi yang benar, tepat, dan bukan hasil rekayasa Juru Bicara. Ini dapat dilihat bahwa banyaknya pers yang mengadakan wawancara langsung, baik pers sendiri yang datang ke Departemen Luar Negeri, wawancara via telepon, Juru Bicara diundang untuk berdialog pada suatu stasiun televisi, ataupun Juru Bicara dan pers tersebut bertemu di suatu tempat untuk melakukan wawancara tersebut. “Tapi pada intinya Menteri Luar Negeri memberikan ini adalah: you are speaking on behalf of the Departement. Anda berbicara atas nama Departemen, yang diberikan wewenang penuh untuk itu” (Wawancara dengan Juru Bicara Departemen Luar Negeri, 31 Desember 2002). Pentingnya tingkat kepercayaan pada komunikator atau dalam hal ini adalah Juru Bicara sesuai dengan apa yang diungkapkan Golding P.Ettema dan Tann dalam “Prinsip-prinsip Selective Attention” sebagaimana yang dikutip oleh Liliweri yang menyatakan bahwa: “Tingkat kepercayaan seseorang akan menjadi saringan dalam menerima pesan-pesan mereka termasuk juga media massa” (Liliwery, 1992 : 24).

4.2.6.3 Ketepatan Waktu Informasi Tabel 21 Ketetapan Waktu Terhadap Informasi Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Pernyataan Sangat Tepat Waktu Tepat Waktu Cukup Tepat Waktu Kurang Tepat Waktu Tidak Tepat Waktu Jumlah f 1 6 10 2 % 5 32 53 10 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Tabel 21 menunjukkan ketepatan waktu terhadap informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme. Dapat dilihat bahwa 10 orang

123 responden atau sebesar 53% menyatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing merupakan informasi yang cukup tepat waktu, 6 orang responden atau sebesar 32% menyatakan bahwa informasi tersebut tepat waktu, 2 orang responden atau sebesar 10% mengatakan bahwa informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing merupakan informasi yang kurang tepat waktu, 1 orang responden lagi atau sebesar 5% menyatakan informasi tersebut sangat tepat waktu, dan tidak ada responden yang menyatakan informasi yang dimaksud tidak tepat waktu. Unsur aktualisasi atau ketepatan waktu informasi atau berita merupakan salah satu unsur penilaian terhadap kualitas suatu informasi atau berita. Rasa ingin tahu pers akan masalah yang baru terjadi atau menarik perhatian merupakan salah satu alasan mengapa pers sering datang pada kegiatan Press Briefing yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri, juga mengikuti perkembangan informasi lainnya mengenai terorisme, baik yang dilakukan melalui wawancara lewat telepon atau langsung berhadapan, dan sebagainya. Jawaban yang diberikan menunjukkan tingkat aktualisasi yang cukup tepat waktu, dilihat dari segi informasi yang selalu disampaikan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing mengenai terorisme dan perkembangan terbaru dari masalah tersebut. Ini terbukti dari sebesar 53% responden mengatakan cukup tepat waktu, 32% responden mengatakan tepat waktu, dan 5% dari keseluruhan responden menyatakan sangat tepat waktu. Meski masih ada beberapa yang menyatakan kurang tepat waktu yaitu sebesar 10%.

124 Juru Bicara selalu berusaha untuk menyampaikan informasi yang up to date karena selain informasi tersebut akan dikemas oleh pers menjadi berita yang kemudian disajikan kepada khalayak medianya, hasil dari kegiatan Press Briefing pun dikemas oleh Direktorat Informasi dan Media yang bekerjasama dengan Biro Administrasi Menteri dalam menyelenggarakan kegiatan Press Briefing, untuk diberikan atau disebarkan kepada perwakilan-perwakilan RI di negara lain. Hal tersebut biasanya dijadikan rujukan untuk mereka (perwakilan RI di negara lain), bila ada wartawan asing atau kedutaan asing yang bertanya. Aktualisasi atau ketepatan waktu informasi adalah relatif sifatnya. Beberapa ahli mengungkapkan hal yang sama mengenai relativitas aktualisasi berita, keaktualan merupakan kriteria terpenting dari sebuah berita. Keaktualan atau ketepatan waktu berita atau informasi yang disampaikan tergantung pada kebijakan komunikator yang bersangkutan, sehingga apa yang dianggap sudah tidak aktual lagi bagi pihak lain akan tetapi masih hangat dan masih layak untuk dijadikan berita bagi Juru Bicara, maka akan tetap disampaikan oleh Juru Bicara. Salah satu unsur suatu berita atau informasi dikatakan aktual menurut Charnley (1965 : 24) adalah “Bila berita tersebut memuat berita tentang peristiwa yang menarik perhatian. Menarik perhatian di sini dapat diartikan ditemukannya fakta yang baru terhadap suatu peristiwa yang sudah lalu atau pun memang penyampaian berita tentang peristiwa yang baru terjadi dan disampaikan semenarik mungkin”. Akan tetapi, hal tersebut besifat relatif. Menarik atau tidaknya suatu informasi atau berita itu tergantung dari rasa ingintahu pers terhadap informasi yang disampaikan Juru Bicara. Oleh karena itu, sebaiknya Juru Bicara menyampaikan suatu informasi yang paling aktual dalam kegiatan Press Briefing agar dapat menarik perhatian

125 pers sehingga informasi tersebut dapat dijadikan berita dan dikutip atau disiarkan pada media massanya. Masih adanya 2 orang responden yang menyatakan bahwa informasi yang dimaksud kurang efektif dapat dikarenakan pers tersebut telah mengetahui masalah atau informasi yang disampaikan Juru Bicara dari pihak atau sumber lain. Dimana sekarang seperti yang kita ketahui sangat mudah untuk mendapatkan informasi dengan didukung oleh kemajuan teknologi yang semakin canggih dan cepat dewasa ini.

4.2.7 Upaya Penjernihan Pesan 4.2.7.1 Penjernihan Klarifikasi Pada tabel 22, terdapat 9 orang responden yang berpendapat bahwa klarifikasi yang dilakukan Juru Bicara terhadap suatu issu atau masalah mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing cukup menjernihkan, 5 orang responden atau sebesar 26% berpendapat bahwa klarifikasi tersebut dapat menjernihkan, dan 5 orang responden lagi menyatakan bahwa klarifikasi tersebut kurang menjernihkan, sedangkan tidak ada responden yang menyatakan bahwa klarifikasi yang dimaksud sangat menjernihkan begitu pula tidak menjernihkan. Tabel 22 Penjernihan Klarifikasi Oleh Juru Bicara Terhadap Issu Atau Masalah Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing

126

No 1 2 3 4 5 n: 19

Pernyataan Sangat Menjernihkan Menjernihkan Cukup Menjernihkan Kurang Menjernihkan Tidak Menjernihkan Jumlah

f 5 9 5 -

% 26 47 26 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Dengan diadakannya suatu klarifikasi diharapkan dapat menjernihkan masalah tersebut sehingga dapat kembali pada arti dan masalah yang sebenarnya. Dalam hal ini klarifikasi yang dilakukan Juru Bicara cukup menjernihkan sehingga dapat dikatakan bahwa pers mengetahui masalah yang sebenarnya. Klarifikasi yang cukup menjernihkan tersebut dilakukan Juru Bicara dengan menyediakan referensi atau menyampaikan narasumbernya, dilakukan dengan hati-hati sehingga setelah adanya klarifikasi penafsiran yang menyimpang atau kurang tepat dapat mengarah ke penafsiran yang lebih tepat, serta menyampaikannya sesuai faktanya atau apa adanya. Dalam melakukan klarifikasi guna mengarah pada peningkatan kejernihan masalah yang lebih baik, maka Juru Bicara dapat memperhatikan beberapa hal yang merujuk pada syarat-syarat informasi, guna menghasilkan penafsiran yang sebenarnya terhadap masalah yang diklarifikasi. Ada pun syaratsyarat informasi tersebut adalah sebagai berikut: Benar dalam angka, jumlah, dan data Lengkap dan komplit Tersedia pada waktunya dan tidak ketinggalan segi aktual/faktual Terarah, sebagai referensi, narasumber dan Penyajian yang baik, dan tidak menimbulkan interpretasi atau penafsiran yang kurang tepat

127 (Ruslan, 1999 : 99). Bila melihat tabel di atas lagi, terdapat 5 orang responden yang menyatakan bahwa klarifikasi yang dilakukan Juru Bicara kurang menjernihkan. Ini dapat dikarenakan bahwa pers telah mendapatkan informasi mengenai masalah yang dimaksud dari beberapa pihak lain dengan versi yang berbedabeda, sehingga menimbulkan kesulitan bagi pers untuk menyimpulkannya. Maka, agar suatu klarifikasi dapat menjernihkan, Juru Bicara perlu

memperhatikan hal-hal di atas tadi, sehingga dapat lebih meyakinkan pers.

4.2.7.2 Kepercayaan terhadap Klarifikasi Kepercayaan pers terhadap klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing cukup tinggi. Hal ini terlihat dari data yang diperoleh pada tabel 23 di bawah yang menggambarkan bahwa sebanyak 10 orang responden atau sebesar 53% menyatakan klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing cukup dipercaya, dan yang menjawab bahwa klarifikasi tersebut dapat dipercaya sebanyak 8 orang responden atau sebesar 42%, sedangkan yang menjawab sangat percaya terhadap klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara sebanyak 1 orang responden atau sebesar 5%. Dalam hal ini tidak ada satu orang responden pun yang menyatakan bahwa klarifikasi yang dimaksud kurang dipercaya dan tidak dipercaya. Tabel 23 Kepercayaan Terhadap Klarifikasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing

128

No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Dipercaya Dipercaya Cukup Dipercaya Kurang Dipercaya Tidak Dipercaya Jumlah

Pernyataan

f 1 8 10 -

% 5 42 53 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Dari kenyataan yang dapat dianalisis tersebut di atas menunjukkan, bahwa pers yang hadir pada kegiatan Press Briefing mempercayai klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara terhadap issu atau masalah terorisme yang sedang dihadapinya karena tidak ada satupun responden yang menyatakan bahwa klarifikasi tersebut kurang dipercaya dan tidak dipercaya. Ini dapat disebabkan karena kemampuan Juru Bicara dalam menangani issu atau masalah tersebut sudah cukup baik, tetapi harus tetap ditingkatkan, karena ketidakpercayaan atau krisis kepercayaan dan kepercayaan seseorang, dalam hal ini pers, merupakan sifat alamiah dari pers sebagai seorang individu manusia. Maka, apabila Juru Bicara dapat meningkatkan kemampuannya dalam menangani suatu masalah, dalam hal ini kemampuannya dalam melakukan klarifikasi (baik dengan cara memilih istilah-istilah dan kata-kata yang digunakan maupun kehati-hatiannya dalam berbicara atau menyampaikan pesan atau klarifikasi tersebut), maka tingkat kepercayaan pers pun akan bertambah. Dengan kepercayaan yang ada maka Juru Bicara dapat melakukan komunikasi yang efektif, dalam hal ini bila pers mempercayai Juru Bicara sebagai komunikator maka usaha klarifikasi yang dilakukan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing mengenai suatu issu atau masalah terorisme akan

129 dipercayai oleh pers. Jadi keberhasilan komunikasi tersebut disebabkan salah satunya oleh kepercayaan pers pada Juru Bicara. “Salah satu faktor yang dapat menyebabkan komunikasi berhasil adalah kepercayaan komunikan terhadap komunikator. Kepercayaan ini banyak berkaitan dengan profesi atau keahlian yang dimiliki oleh komunikator” (Effendy, 2000 : 44). 4.2.8 Upaya Penjelasan Klarifikasi 4.2.8.1 Upaya Penjelasan Informasi Pada tabel 24 dapat dilihat bahwa responden yang menyatakan bahwa klarifikasi yang dilakukan Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing terhadap issu atau masalah terorisme dapat menjelaskan sebanyak 8 orang responden atau sebesar 42%, begitu pula yang menyatakan cukup menjelaskan yaitu sebanyak 8 orang responden atau sebesar 42%, dan 3 orang responden lagi menyatakan kurang menjelaskan, sedangkan tidak ada responden yang menyatakan sangat menjelaskan dan tidak menjelaskan. Tabel 24 Upaya Penjelasan Terhadap Klarifikasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Issu Atau Masalah Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Pernyataan Sangat Menjelaskan Menjelaskan Cukup Menjelaskan Kurang Menjelaskan Tidak Menjelaskan Jumlah F 8 8 3 % 42 42 16 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Hal demikian dapat terjadi salah satunya adalah karena komunikator biasanya kurang mempelajari materi atau masalah yang akan disampaikan pada

130 kegiatan tersebut. Ini dapat disebabkan karena komunikator tersebut merasa sudah cukup dalam menguasai masalah atau materi tersebut, sehingga komunikator tidak berusaha untuk lebih memahami dan menguasai materi dan semua yang berhubungan dari masalah yang ingin diklarifikasi. Namun pada kenyataannya tidak demikian karena Juru Bicara mempunyai pengetahuan yang tinggi mengenai masalah yang dimaksud karena Juru Bicara tanggap atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers dan dapat menjawabnya, kecuali pertanyaan yang bukan merupakan wewenangnya dalam menanggapinya, melainkan wewenang pemerintah misalnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian pada tabel 28, 29, 30, dan 31, yang menunjukkan kelangsungan, kesesuaian, pemenuhan dan tanggapan yang diberikan Juru Bicara atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers. Kejelasan klarifikasi sangat dibutuhkan guna menghindari salah pengertian dan agar dapat mengembalikan pada masalah dan arti yang sebenarnya. Dengan kejelasan klarifikasi dan penyampaian informasi akan mengurangi atau menghindari adanya upaya klarifikasi masalah berikutnya, terutama pada masalah yang sama.

4.2.8.2 Pengertian terhadap Klarifikasi

131 Dari tabel 25 dapat diambil kesimpulan bahwa klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai issu atau masalah terorisme dalam kegiatan Press Briefing dapat dimengerti, hal ini tergambar dari data hasil angket yang diperoleh bahwa sebanyak 10 orang responden atau sebesar 53% menjawab dimengerti, sebanyak 9 orang responden atau sebesar 47% menjawab cukup dimengerti, sedangkan yang menjawab sangat dimengerti, kurang dimengerti, dan tidak dimengerti, tidak ada seorang pun yang menyatakannya. Sering adanya atau terjadinya kesalahan dalam penafsiran pada suatu istilah dan pandangan. Adanya suatu klarifikasi menandakan telah terjadinya suatu kesalahan dalam penafsiran pada suatu masalah. Pengertian yang sama sangat dibutuhkan di sini, guna menghilangkan dan menghindari dari kesalahfahaman tersebut, dimana ada dampakdampak tertentu dari masalah tersebut. Tabel 25 Pengertian Terhadap Klarifikasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Issu Atau Masalah Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Dimengerti Dimengerti Cukup Dimengerti Kurang Dimengerti Tidak Dimengerti Jumlah Pertanyaan f 10 9 % 53 47 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

132 “Sering terjadi penafsiran yang keliru karena perbedaan arti suatu istilah. Cara mengatasinya diperlakukan pengetahuan bahasa bagi kelompok tertentu. Selain itu, hendaknya dipergunakan bahasa baku yang berlaku umum dan menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku” (Widjaja, 2000:70). Dengan diadakannya klarifikasi oleh Juru Bicara mengenai masalah yang bersangkutan dengan terorisme, diharapkan adanya persamaan

pengertian, pandangan, dan penafsiran terhadap pesan atau masalah yang disampaikan. Karena jika tidak, akan bertambahnya penafsiran yang lebih kompleks. Hasil tabel di atas yang menunjukkan bahwa 53% responden mengerti dan 47% cukup mengerti terhadap klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara, merujuk pada pendapat H.A.W. Widjaja bahwa : “Supaya yang kita sampaikan dapat dimengerti, sebagai komunikator kita harus menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengerti dan mengikuti apa yang kita maksudkan” (2000 : 66). Dengan itu, dapat dikatakan bahwa Juru Bicara berhasil dalam menjelaskan suatu masalah mengenai terorisme, dengan tujuan mengklarifikasi masalah tersebut dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga pers dapat mengerti dan mengikuti apa yang Juru Bicara maksud, juga telah menggunakan bahasa atau istilah-istilah yang dapat dimengerti oleh pers. Karena dari hasil tabel dapat dilihat bahwa tidak ada satu pun responden yang menyatakan kurang mengerti, apa lagi tidak mengerti terhadap klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara, akan tetapi sebagian besar atau sebesar 53% menyatakan bahwa mereka mengerti dan

133 47% lagi menyatakan bahwa mereka cukup mengerti atas klarifikasi yang dimaksud. 4.2.9 Pengembalian Pesan Pada Apa yang Sebenarnya 4.2.9.1 Pengembalian Pada Masalah yang Sebenarnya Pada tabel 26 menunjukkan apakah klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai issu atau masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing dapat mengembalikan pada masalah yang sebenarnya. Dari 19 responden yang menyatakan cukup dapat mengembalikan pada masalah yang sebenarnya adalah sebanyak 11 orang responden atau sebesar 58%, yang menyatakan dapat mengembalikan pada masalah yang sebenarnya sebanyak 4 orang responden atau sebesar 21%, begitu pula yang menyatakan kurang dapat mengembalikan pada masalah yang sebenarnya adalah sebanyak 21%. Hal di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata setelah pers yang hadir pada kegiatan Press Briefing mendengarkan klarifikasi mengenai suatu issu atau masalah terorisme, cukup dapat mengembalikan pada masalah yang sebenarnya. Dari yang salah atau kurang mengerti atau salah mengartikan persepsi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme, menjadi mengerti dengan mengartikan persepsi yang sama dengan yang dimaksud Juru Bicara. Seperti yang dikemukakan oleh Turner dan Converse “Sesungguhnya informasi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang menghapus atau mengurangi ketidakpastian” (Noesijirwan, 1985 : 254).

134 Tabel 26 Pengembalian Pada Masalah Yang Sebenarnya Terhadap Klarifikasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Issu Atau Masalah Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 Pernyataan Sangat Dapat Mengembalikan Pada Masalah Yang Sebenarnya Dapat Mengembalikan Pada Masalah Yang Sebenarnya Cukup Dapat Mengembalikan Pada Masalah Yang Sebenarnya Kurang Dapat Mengembalikan Pada Masalah Yang Sebenarnya Tidak Dapat Mengembalikan Pada Masalah Yang Sebenarnya Jumlah n: 19 Hal tersebut berhubungan dengan f 4 11 4 % 21 58 21 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian keefektifan komunikasi atau

keberhasilan suatu komunikasi, yaitu saat komunikate dapat mengartikan suatu masalah yang sama dengan komunikator. Seperti yang diungkapkan oleh Widjaja dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Pengantar Studi”, bahwa : “Komunikasi akan dapat berhasil apabila sekiranya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak, si pengirim dan si penerima informasi dapat memahaminya. Hal ini tidak berarti bahwa kedua belah pihak harus menyetujui sesuatu gagasan tersebut, tetapi yang penting adalah kedua belah pihak sama-sama memahami gagasan tersebut. Dalam keadaan seperti inilah baru dapat dikatakan komunikasi telah berhasil baik (komunikatif)” (2001:15).

4.2.9.2 Pengembalian Pada Arti yang Sebenarnya Tabel 27 Pengembalian Pada Arti Yang Sebenarnya Terhadap Klarifikasi Yang Disampaikan Juru Bicara Mengenai Issu Atau Masalah Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing

135

No 1 2 3 4 5

Pernyataan Sangat Dapat Mengembalikan Pada Arti Yang Sebenarnya Dapat Mengembalikan Pada Arti Yang Sebenarnya Cukup Dapat Mengembalikan Pada Arti Yang Sebenarnya Kurang Dapat Mengembalikan Pada Arti Yang Sebenarnya Tidak Dapat Mengembalikan Pada Arti Yang Sebenarnya Jumlah

F 1 7 8 3 -

% 5 37 42 16 -

n: 19

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Berdasarkan pada tabel 27, terdapat 8 orang responden atau sebanyak 42% mengatakan klarifikasi yang Juru Bicara sampaikan pada kegiatan Press Briefing mengenai terorisme cukup dapat mengembalikan pada arti yang sebenarnya, 7 orang responden atau sebesar 37% menyatakan bahwa klarifikasi tersebut dapat mengembalikan pada arti yang sebenarnya, 3 orang responden atau sebesar 16% mengatakan bahwa klarifikasi tersebut kurang dapat mengembalikan pada arti yang sebenarnya, dan 1 orang responden lagi menyatakan sangat dapat mengembalikan pada arti yang sebenarnya terhadap klarifikasi tersebut. Di sini tidak ada responden yang menyatakan bahwa klarifikasi yang dimaksud tidak dapat mengembalikan pada arti yang sebenarnya. Dalam menyampaikan suatu pesan, dalam hal ini klarifikasi hendaknya perlu diperhatikan unsur-unsur yang dapat menunjang tercapainya maksud dan tujuan pesan tersebut. Maksud dan tujuan tersebut adalah dalam hal ini

136 mengembalikan suatu masalah atau issu pada arti yang sebenarnya melalui klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing. Rachmadi dalam bukunya “Public Relations dalam Teori dan Praktek”, menyebutkan bahwa: “Unsur-unsur pesan meliputi: Gagasan dan isi pesan Organisasi atau susunan pesan Bahasa dan gaya Cara penyampaian baik itu secara lisan maupun tulisan (Rachmadi, 1994 : 66). Unsur-unsur di atas perlu diperhatikan dan dilakukan, dalam upaya menumbuhkan pengertian dan pemahaman serta arti yang sebenarnya atas pesan yang disampaikan pada pers. Apabila semua unsur di atas dapat dijalankan dengan baik, maka pesan yang disampaikan dapat diterima dan dimengerti dengan mudah oleh pers sesuai dengan maksud, tujuan, pemahaman dan pengertian kata-kata dan masalah yang sama dengan yang dimaksud oleh Juru Bicara. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ada 3 orang responden atau sebesar 16% yang mengatakan bahwa kalrifikasi yang dimaksud kurang dapat mengembalikan pada arti yang sebenarnya. Hal demikian dapat terjadi karena ada suatu jarak antara bahasa yang digunakan Juru Bicara sebagai diplomat dengan bahasa pers atau bahasa Indonesia biasa, dimana ada ukuran-ukuran tertentu dalam menggunakan kata atau istilah yang dimaksud. Karena ada beberapa bahasa diplomat yang sangat berbeda bila diterjemahkan dengan bahasa Indonesia yang sebenarnya. Maka hal demikian dapat terjadi oleh pers dimana ia salah mengartikan hal-hal atau masalah-masalah tertentu, karena salah menterjemahkannya. Jadi yang dapat menjadi perhatian Juru Bicara adalah

137 kehati-hatiannya dalam memilih kata-kata atau istilah-istilah yang akan digunakannya. Dengan kehati-hatiannya tersebut dan melihat hasil dari tabel di atas, Juru Bicara dapat dikatakan cukup dapat mengembalikan issu atau masalah mengenai terorisme pada arti yang sebenarnya.

4.2.10 Pemberian Jawaban 4.2.10.1 Kelangsungan Menjawab Pertanyaan Tabel 28 menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 14 orang responden atau sebesar 74% menyatakan bahwa Juru Bicara hampir selalu langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan pers yang diajukan pada kegiatan Press Briefing, 4 orang responden atau sebesar 21% menyatakan bahwa Juru Bicara selalu langsung memberikan jawaban, dan 1 orang responden atau sebesar 5% menyatakan bahwa Juru Bicara kadang-kadang langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan pers, sedangkan tidak ada responden yang menyatakan bahwa Juru Bicara hampir tidak pernah langsung dan tidak pernah langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan pers. Adanya 1 orang responden yang menyatakan bahwa Juru Bicara kadangkadang langsung memberikan jawaban, merupakan hal yang biasa selama itu tidak memakan waktu yang lama, karena Juru Bicara harus berpikir dengan kehati-hatiannya jawaban apa yang harus, pantas dan tepat diberikan atas pertanyaan tersebut, juga memilih kata-kata dan istilah tertentu yang dapat langsung dimengerti pers sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Juru Bicara.

138

Tabel 28 Juru Bicara Selalu Langsung Menjawab Pertanyaan Mengenai Terorisme Pada Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Pernyataan Selalu Langsung Menjawab Pertanyaan Hampir Selalu Langsung Menjawab Pertanyaan Kadang-Kadang Langsung Menjawab Pertanyaan Hampir Tidak Pernah Langsung Menjawab Pertanyaan Tidak Pernah Langsung Menjawab Pertanyaan Jumlah F 4 14 1 % 21 74 5 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Sedangkan banyaknya pers yang menyatakan bahwa Juru Bicara hampir selalu langsung memberikan jawaban dan beberapa responden yang menyatakan bahwa Juru Bicara selalu langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan pers adalah dikarenakan ketanggapan Juru Bicara yang tinggi terhadap pertanyaan pers, sehingga sebelum pers selesai bertanya Juru Bicara sudah mengetahui inti pertanyaan pers maka lebih mudah bagi Juru Bicara untuk langsung menjawab pertanyaan tersebut. Kelangsungan pemberian jawaban oleh Juru Bicara pun dapat menandakan bahwa Juru Bicara mempunyai pengetahuan yang cukup luas dan tinggi atas permasalahan tersebut, sehingga Juru Bicara dapat langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut.

4.2.11 Pemenuhan Jawaban terhadap Pertanyaan 4.2.11.1 Kesesuaian Menjawab Pertanyaan

139

Tabel 29 Kesesuaian Jawaban Yang Diberikan Juru Bicara Terhadap Pertanyaan Pers Mengenai Masalah Terorisme Pada Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Sesuai Sesuai Cukup Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai Jumlah Pernyataan F 10 8 1 % 53 42 5 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Pada tabel 29 dapat dilihat bahwa sebanyak 10 orang responden atau sebesar 53% berpendapat bahwa jawaban yang diberikan Juru Bicara sesuai terhadap pertanyaan yang diajukan pers mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing, sebanyak 8 orang responden atau sebesar 42% menyatakan cukup sesuai atas jawaban yang diberikan Juru Bicara terhadap pertanyaan pers, kemudian 1 orang responden lagi atau sebanyak 5% menyatakan kurang sesuai, dan tidak ada responden yang menyatakan sangat sesuai dan tidak sesuai. Kesesuaian jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pers akan mempengaruhi hasil berita yang kemudian disajikan media pada khalayaknya. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa Juru Bicara dapat memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan pers mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing. Dengan ini, supaya Juru Bicara dapat memberikan jawaban yang sesuai maka, ia harus menguasai materi atau masalah yang dimaksud guna menghindari timbulnya interpretasi yang salah tentang informasi yang diberikan Juru Bicara sebagai jawabannya. Selain itu, Juru Bicara pun tidak

140 boleh menganggap remeh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers sehingga Juru Bicara dapat menjawabnya secara serius dan tepat, karena dapat merepotkan Juru Bicara sendiri bila hal tersebut dimuat pada media massa, di mana setiap orang dapat melihat, membaca, dan mendengarnya. Jadi, keseriusan dan kesesuaian jawaban yang diberikan Juru Bicara sangat berpengaruh pada kredibilitas Juru Bicara juga citra Departemen Luar Negeri karena Juru Bicara membawa dan berbicara atas nama Departemen Luar Negeri, di mana ia telah diberi wewenang penuh oleh Menteri Luar Negeri untuk berbicara atas nama Departemen Luar Negeri. Hal tersebut mengacu pada pendapat Aceng Abdullah, bahwa salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan jumpa pers adalah : “Jangan menganggap remeh pertanyaan atau pernyataan wartawan saat jumpa pers sehingga kita pun ceplas-ceplos menjawab pertanyaan atau pernyataan mereka. Karena keceplas-ceplosan yang biasa kita utarakan dalam obrolan sehari-hari inilah, jika dimuat media massa bisa merepotkan” (Abdullah, 2001:88). Dalam hal ini, fungsi Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing selain menyampaikan informasi kepada pers, ialah memberikan jawaban yang tepat, sesuai, dapat dipercaya, serta memenuhi pertanyaan pers yang diajukan pada kegiatan tersebut. Maka bila apa yang ia berikan sebagai jawaban atas pertanyaan pers tidak sesuai, maka fungsi Juru Bicara pun tidak berjalan dengan baik dan efektif karena sudah tentu bahwa pers tersebut tidak akan merasa puas atas jawaban yang diberikan Juru Bicara tersebut sebab tidak mendapatkan jawaban yang benar atau sesuai dengan faktanya. 4.2.11.1 Pemenuhan Menjawab Pertanyaan

141

Tabel 30 Pemenuhan Jawaban Yang Diberikan Juru Bicara Terhadap Pertanyaan Pers Mengenai Masalah Terorisme Pada Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat memenuhi Memenuhi Cukup Memenuhi Kurang Memenuhi Tidak Memenuhi Jumlah Pernyataan F 6 12 1 % 32 63 5 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Berdasarkan tabel 30 di atas 12 orang responden atau sebanyak 63% menyatakan bahwa jawaban yang diberikan Juru Bicara cukup memenuhi terhadap pertanyaan yang diajukan pers mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing, hal ini terbukti sebanyak 12 orang responden atau sebesar 63% menjawab cukup memenuhi, dan 6 orang responden atau sebesar 32% menjawab memenuhi, sedangkan yang menjawab kurang memenuhi hanya sebanyak 1 orang responden atau sebesar 5%. Penguasaan terhadap materi atau masalah yang berhubungan dengan terorisme oleh Juru Bicara dapat menunjukkan apakah Juru Bicara dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers dengan baik, sesuai atau tepat, memenuhi seluruh pertanyaan, juga ketanggapannya terhadap pertanyaanpertanyaan tersebut. Jawaban yang tajam dan analisis biasanya merupakan jawaban yang diinginkan pers dari Juru Bicara sebagai narasumber. Karena untuk mencari orang yang memiliki kredibilitas sebetulnya tidak terlalu sulit,

142 terutama di kota-kota besar, khususnya yang memiliki perguruan tinggi, di mana tidak sulit untuk mencari seseorang yang bergelar, seperti doktor atau guru besar. Seperti yang dikatakan Aceng Abdullah bahwa : “Pejabat, pengusaha, serta profesi lainnya yang sesungguhnya memiliki kredibilitas tersendiri. Sayangnya, ketika mereka diwawancara, jawaban yang diberikan itu kelihatan kurang tajam serta tidak analitis, sehingga jawabannya mengambang tidak sesuai dengan keinginan wartawannya” (Abdullah, 2001 : 71). Jadi pemenuhan jawaban Juru Bicara atas pertanyaan yang diajukan pers pada kegiatan Press Briefing, dalam hal ini mencakup pemberian jawaban yang tajam dan analisis yang dalam terhadap suatu masalah, juga ketanggapannya pada pertanyaan pers akan mempengaruhi pers datang lagi pada kegiatan Press Briefing berikutnya untuk meliput dan menjadikannya sebagai narasumber. “Narasumber yang baik adalah narasumber yang mampu dengan tajam menganalisis fenomena atau kecenderungan yang diajukan oleh wartawan sebagai bahan wawancara. Mengapa fenomena itu muncul, bagaimana dampaknya bagi masyarakat dan bagaimana solusinya” (Abdullah, 2001 : 7). Dalam hal ini, Juru Bicara cukup mampu memenuhi pertanyaan yang diajukan pers dan mampu menjadi narasumber yang baik, dapat dilihat dari hasil pada tabel 6 yang menyatakan bahwa frekuensi pers yang datang pada kegiatan Press Briefing dalam satu bulan sebanyak 10 orang responden atau sebanyak 53% hadir sebanyak 4 kali dan 21% menyatakan 3 kali dan 2 kali menghadiri Press Briefing dalam satu bulan, kemudian hanya 1 responden atau sebesar 5% yang hadir hanya 1 kali dalam satu bulan. Maka dapat dikatakan bahwa Juru Bicara dapat menarik pers untuk datang lagi pada kegiatan Press Briefing berikutnya untuk menjadikannya sebagai narasumber lagi.

143 4.2.12 Ketanggapan terhadap Pertanyaan 4.2.12.1 Ketanggapan terhadap Pertanyaan Tabel 31 Ketanggapan Juru Bicara Terhadap Pertanyaan Pers Mengenai Terorisme Dalam Kegiatan Press Briefing No 1 2 3 4 5 n: 19 Sangat Tanggap Tanggap Cukup Tanggap Kurang Tanggap Tidak Tanggap Jumlah Pernyataan F 2 11 6 % 10 58 32 -

19 100 Sumber: Angket Penelitian

Dari tabel 31 dapat diambil kesimpulan bahwa Juru Bicara tanggap terhadap pertanyaan yang diajukan pers dalam kegiatan Press Briefing, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden, yaitu sebesar 58% atau sebanyak 11 orang responden berpendapat bahwa Juru Bicara tanggap terhadap pertanyaan pers mengenai terorisme, sedangkan yang berpendapat bahwa Juru Bicara cukup tanggap sebanyak 6 orang responden atau sebesar 32%, dan sisa 2 orang responden lagi atau sebesar 10% menyatakan bahwa Juru Bicara sangat tanggap terhadap pertanyaan pers. Banyaknya responden yang menyatakan bahwa Juru Bicara tanggap terhadap pertanyaan pers adalah bahwa Juru Bicara sadar betapa pentingnya menyampaikan informasi atau berita yang diminati atau yang menjadi perhatian pers, oleh karena itu Juru Bicara harus tanggap terhadap apa yang pers tanyakan. Ketanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan pers dan pemberian jawaban

144 yang tepat dan apa adanya akan membawa hasil yang baik karena pers akan merasa puas. Salah satu fungsi Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing adalah membuka forum tanya jawab atau menjawab pertanyaan yang diajukan pers. Bila Juru Bicara tidak tanggap akan pertanyaan tersebut, maka kegiatan Press Briefing tidak akan berjalan dengan lancar. Karena sudah tentu bahwa pers yang datang tidak hanya untuk mendengarkan informasi apa yang telah Juru Bicara susun sebelumnya, tetapi juga mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang pers ajukan. Adanya beberapa responden yang menyatakan bahwa Juru Bicara cukup tanggap terhadap pertanyaan pers bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi Juru Bicara tetap harus memperhatikan pernyataan tersebut, guna adanya perubahan ke tingkat yang lebih baik. Hal tersebut dapat diakibatkan karena terkadang, pada saat Juru Bicara membuka forum tanya jawab, pers langsung saling berlomba untuk bertanya agar mendapatkan jawaban terlebih dahulu, dengan itu suara satu dengan yang lainnya saling bertubrukan sehingga dapat membingungkan Juru Bicara. Tetapi pada akhirnya dapat dikendalikan atau diterbitkan oleh Juru Bicara. Adanya responden yang menyatakan bahwa Juru Bicara sangat tanggap terhadap pertanyaan pers, memberikan nilai positif pada Juru Bicara karena dengan ini menandakan bahwa pers tersebut puas atas ketanggapan Juru Bicara. Selain itu Juru Bicara yang efektif tidak lagi terletak pada kemampuannya untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, tetapi terletak pada kemampuannya untuk berfikir, dalam hal ini tanggap atas pertanyaan pers juga

145 memberikan jawaban secara lengkap, luas, dengan analisis yang dalam. Hal tersebut mengacu pada pendapat Sondang P.Siagian, bahwa : “Berbagai teori tentang kepemimpinan yang efektif dan pengalaman banyak orang menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan seseorang tidak lagi terletak pada kemampuannya untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat teknis operasional, melainkan pada kemampuannya untuk berpikir” (Siagian, 1999:86).

BAB V PENUTUP

146

Pada bab ini penulis menyusun suatu rangkuman berdasarkan uraianuraian terdahulu, kemudian mengambil suatu kesimpulan dari apa yang telah di dapat sebelumnya atau yang menjadi tujuan penelitian. Berdasarkan kesimpulan tersebut, penulis mengemukakan saran-saran konkret yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi pengembangan lembaga Juru Bicara pada kegiatan Press Briefing.

5.1 Rangkuman Globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan akses, keterbukaan dan kemudahan untuk memperoleh informasi dan melakukan komunikasi. Dalam era globalisasi dan pesatnya perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, kerjasama antar bangsa berkembang dengan pesat dan semakin meningkat, baik di bidang politik, ekonomi dan sosial, maupun di bidang sekuriti dan kebudayaan. Dengan melihat adanya perubahan yang cukup mendasar pada tingkat nasional, dimulai sejak reformasi 1998, sejalan dengan globalisasi, Indonesia juga semakin mudah untuk memperoleh akses terhadap berbagai informasi dan perkembangan internasional. Sehubungan dengan itu, pimpinan Departemen Luar Negeri memandang perlu untuk membentuk dan menetapkan suatu unit organisasi atau pejabat tertentu di lingkungan Departemen Luar Negeri, yang diberi wewenang dan mampu untuk memberikan dan menyajikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat luas.

147 Juru Bicara atau spokesman Departemen Luar Negeri tersebut, yang merangkap sebagai Kepala Biro Administrasi Menteri, pelantikannya baru dilakukan pada awal tahun 2002. Sebelumnya tidak ada jabatan Juru Bicara dalam struktur Departemen Luar Negeri yang lama. Juru Bicara menjadwalkan pertemuan regular dengan pers, yaitu Press Briefing, pada hari Jum’at. Press Briefing yang diadakan di Gedung Palapa Departemen Luar Negeri, semula diselenggarakan di siang hari, yaitu pada pukul 14.00 hingga pukul 15.30, dan sekarang diadakan pada pagi hari yaitu pukul 10.00 hingga 11.30. Keberadaan lembaga baru di Departemen Luar Negeri dan prektek berupa Press Briefing tersebut telah menggugah minta penulis untuk mengadakan penelitian dan membahas secara lebih mendalam mengenai “Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam kegiatan Press Briefing”. Dalam hal ini penulis menarik salah satu tema dalam kegiatan Press Briefing yang diteliti oleh penulis, yaitu terorisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendalami (1) bagaimana Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam memberikan informasi mengenai masalah terorisme, (2) bagaimana Juru Bicara Departemen Luar Negeri memberikan klarifikasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing, dan (3) bagaimana fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pers mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing. Penelitian ini dilaksanakan di kantor Departemen Luar Negeri RI yang berlokasi di Jl.Pejambon no.6, Jakarta Pusat.

148 Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pers yang datang pada kegiatan Press Briefing pada bulan Oktober hingga Desember 2002, yang berjumlah 62 orang. Penulis menetapkan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling, dimana sampel tersebut diambil sebesar 30% dari jumlah populasi yang ada yaitu sebanyak 19 orang responden. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah melalui observasi, wawancara, penyebaran angket serta menggunakan referensi dari buku-buku penunjang yang berkaitan langsung dengan masalah yang diteliti. Data-data yang diperoleh tersebut dikumpulkan, diklasifikasi dan kemudian di lakukan analisis melalui pendekatan deskriptif. Selanjutnya dilakukan operasionalisasi variabel dengan pokok penelitian berupa fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam menyampaikan informasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing, fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam memberikan klarifikasi mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing, dan fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan pers mengenai masalah terorisme pada kegiatan Press Briefing.

5.2 Kesimpulan Berdasarkan hasil dari penelitian ini, maka penulis memperoleh kesimpulan sebagai berikut : Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam menyampaikan informasi mengenai terorisme dalam kegiatan Press Briefing sudah berjalan dengan baik. Hal ini terlihat dari hasil data yang diperoleh yang menunjukkan bahwa

149 informasi yang disampaikan Juru Bicara mengenai terorisme secara umum telah cukup memenuhi keingintahuan masyarakat dan dapat dimengerti, baik berupa kejelasan dan keterbukaan informasi yang disampaikan (termasuk lembaran informasi yang disebarkan pada kegiatan tersebut), kejelasan bahasa dan istilahistilah yang digunakan maupun bentuk pesan yang positif dan seimbang (tidak memihak). Disamping itu, informasi atau pesan yang disampaikan oleh Juru Bicara menunjukkan sumber informasi yang dapat dipercaya, dan cukup up to date. Juru Bicara dalam berkomunikasi selalu berusaha bersikap hati-hati, baik dalam memilih kata-kata, bahasa, maupun dalam menggunakan istilah-istilah. Informasi yang disampaikan diupayakan memenuhi keingintahuan pers dan masyarakat. Pelaksanaan fungsi Juru Bicara Departemen Laur Negeri melalui kegiatan Press Briefing tersebut juga ditunjang oleh penguasaan bahasa asing (bahasa Inggris) dan bahasa Indonesia yang baik, penguasaan materi atau substansi informasi (tentang terorisme) yang lebih dari memadai dan penampilan sikap yang tegas atau percaya diri, sehingga memberikan kesan sumber yang dapat diandalkan (reliable sources). Upaya Juru Bicara dalam melakukan klarifikasi mengenai terorisme pada kegiatan Press Briefing sudah baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian antara lain, bahwa klarifikasi yang disampaikan Juru Bicara sudah cukup menjernihkan, dapat dipercaya, cukup jelas, dan dapat dimengerti oleh pers. Fungsi Juru Bicara dalam melakukan klarifikasi tersebut telah dapat mengembalikan atau menempatkan masalah atau issu yang berkaitan dengan terorisme pada tempatnya, atau proporsional. Hal tersebut berkaitan dengan

150 usaha Juru Bicara yang difokuskan pada pengembalian pada masalah dan arti yang sebenarnya, tanpa meninggalkan kejelasan pesan yang disampaikan sehingga dapat dimengerti dan dapat dipercaya oleh pers. Dalam hal, ini Juru Bicara berusaha untuk tidak menyalahkan pihak tertentu, misalnya media massa tertentu karena salah menafsirkan suatu berita yang telah disebarkan pada khalayak, tetapi tetap pada intinya yaitu mengembalikan pada arti dan masalah yang sebenarnya. Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan pers yang diajukan pada kegiatan Press Briefing sudah baik. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil data yang diperoleh yang menunjukkan bahwa Juru Bicara hampir selalu langsung memberikan jawaban terhadap pertanyaan pers, berusaha untuk tidak mengabaikan sedikitpun pertanyaan tertentu yang diajukan sehingga jawaban yang diberikan Juru Bicara sesuai dengan pertanyaan yang diajukan pers. Hal demikian tercapai karena Juru Bicara bersikap tanggap terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers pada kegiatan Press Briefing mengenai terorisme.

5.3 Saran-saran Berdasarkan kesimpulan yang telah di peroleh dari penelitian mengenai “Fungsi Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI pada kegiatan Press Briefing dalam menghadapi masalah Terorisme”, maka penulis memberikan saran-saran berupa :

151

5.3.1 Saran Pengembangan Ilmu : Sebaiknya dalam pengembangan ilmu komunikasi hubungan masyarakat menyajikan buku khusus tentang Juru Bicara, minimal buku saduran atau terjemahan dari buku-buku asing. Sehingga memudahkan bagi peneliti selanjutnya. Hingga saat ini buku yang khusus membahas mengenai Juru Bicara belum tersedia.

5.3.2 Saran Pengembangan Praktis : Bahwa penyampaian informasi pada kegiatan Press Briefing sebaiknya terus ditingkatkan dan dipertahankan, sehingga pers menjadi jelas, paham, yang pada akhirnya pers dan masyarakat akan bersikap dan berperilaku sesuai dengan harapan Juru Bicara, serta mendukung seluruh kebijakan dan kegiatan Departemen Luar Negeri yang disampaikan pada kegiatan tersebut. Selain itu Juru Bicara harus tetap berusaha menyampaikan informasi mengenai masalah atau hal yang menjadi perhatian pers dan masyarakat, guna keefektivan Press Briefing dimana hasil dari kegiatan tersebut dimuat oleh pers dan disajikan pada masyarakat, juga memancing ketertarikan pers sehingga hadir pada kegiatan Press Briefing selanjutnya. Juru Bicara pun disarankan untuk tetap meningkatkan kejelasan dan penyebaran lembaran informasi pada kegiatan Press Briefing, sehingga lembaran tersebut dapat dimanfaatkan pers guna mendukung dalam penulisan atau pengemasan berita yang kemudian disajikan kepada masyarakat. Keseimbangan, kegamblangan, dan kejelasan pesan yang

152 disampaikan, baik itu bahasa yang digunakan maupun istilah-istilahnya, harus tetap diperhatikan karena hal tersebut menentukan pengertian dan penafsiran pers terhadap apa yang disampaikan Juru Bicara dalam kegiatan Press Briefing, juga kepercayaan pers terhadap Juru Bicara sebagai sumber informasi. Selain cara penyampaian pesan yang dilakukan Juru Bicara, penulis menyarankan sebaiknya dalam kegiatan Press Briefing Juru Bicara menyampaikan informasi secara mendalam, apa adanya, dan lebih terperinci mengenai infomasi yang akan disampaikan, guna meningkatkan

kepercayaan pers terhadap Juru Bicara dan Departemen Luar Negeri bahwa Departemen Luar Negeri tidak berusaha untuk menutup-nutupi kejadian atau masalah sebenarnya kepada pers dan masyarakat. Untuk meningkatkan kepercayaan dan pengembalian pada masalah dan arti yang sebenarnya terhadap masalah yang diklarifikasi Juru Bicara, maka sebaiknya Juru Bicara menyertakan data pendukung guna meyakinkan pers mengenai keaslian atau kebenaran masalah tersebut. Hal demikian pun dapat meningkatkan kejernihan klarifikasi, guna menghindari adanya salah penafsiran yang lebih kompleks terhadap masalah yang hendak diklarifikasi. Dengan seringnya Juru Bicara melakukan klarifikasi terhadap suatu masalah, berarti sering pula terjadi kesalahpahaman atau salah penafsiran terhadap suatu masalah, yang dapat disebabkan karena kesalahan Juru Bicara dalam menyampaikan informasi, salah penafsiran oleh pers yang disebabkan oleh kekurang hati-hatian Juru Bicara dalam memilih kata-kata,

153 bahasa, dan istilah-istilah yang digunakannya, juga dapat dikarenakan adanya issu-issu yang tersebar di masyarakat mengenai suatu masalah yang berasal dari pihak yang kurang tepat. Maka Juru Bicara disarankan untuk menguasai materi-materi dengan luas dan segala yang berhubungan dengan informasi yang hendak disampaikannya guna menghindari adanya klarifikasi yang disebabkan oleh kesalahan Juru Bicara sendiri. Selain itu, Juru Bicara lebih baik selalu memperhatikan kehati-hatiannya dalam memilih bahasa dan istilah-istilah umum yang juga dapat dimengerti oleh pers pada kegiatan Press Briefing tersebut, terutama dalam melakukan klarifikasi mengenai terorisme. Salah satu tujuan diadakannya kegiatan Press Briefing adalah menyampaikan informasi yang menjadi perhatian Departemen Luar Negeri, termasuk kebijakan, kegiatan, pandangan dan peristiwa-peristiwa tertentu yang berhubungan dengan masalah politik dan hubungan luar negeri. Di sisi lain, diharapkan Juru Bicara dapat menyampaikan informasi mengenai masalah yang menjadi perhatian pers dan juga masyarakat. Dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pers, memberi kesempatan pada Juru Bicara untuk memenuhi keingintahuan pers tersebut. Dalam hal ini ketanggapan Juru Bicara terhadap pertanyaan pers harus tinggi guna dapat memenuhi seluruh pertanyaan dan sesuai dengan apa yang pers tanyakan, maka Juru Bicara sebaiknya meningkatkan terus perhatiannya dan ketanggapannya terhadap pertanyaan pers pada kegiatan Press Briefing, meskipun yang dilakukan Juru Bicara sudah baik.

154 Dengan mempunyai pengetahuan yang luas, diharapkan Juru Bicara dapat menganalisis dalam menanggapi pertanyaan pers, juga disarankan

menyampaikan keadaan yang sebenarnya, apa adanya, tanpa rekayasa sedikitpun guna kepuasan dan kepercayaan pers terhadap Juru Bicara dan apa yang disampaikannya. Karena pers dan masyarakat berhak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, kecuali bila hal tersebut merupakan rahasia negara karena Juru Bicara Departemen Luar Negeri tidak berhak untuk menyampaikan masalah tersebut. Penulis ingin menambahkan sedikit saran mengenai jalannya kegiatan Press Briefing. Sebaiknya, kegiatan Press Briefing dilaksanakan tepat waktu, yaitu sesuai dengan waktu yang dicantumkan pada undangan Press Briefing yang disebarkan satu hari sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut. Karena selain ketepatan waktu dapat menentukan pandangan pers terhadap Juru Bicara, juga mempengaruhi hubungan Juru Bicara dengan pers. Selain itu Juru Bicara dan pers pun mempunyai segudang kegiatan dan deadline yang sangat

menyibukkannya, maka sebaiknya ia melaksanakan Press Briefing tepat waktu guna keefektivan kegiatan tersebut dan kegiatan Juru Bicara dan pers lainnya. Mengenai penyebaran undangan Press Briefing, harus tetap dilaksanakan dan bila memungkinkan disebarkan paling tidak dua hari sebelum

dilaksanakannya kegiatan tersebut, agar media massa yang diundang dapat menyesuaikan jadwalnya dengan kegiatan penting lainnya. Meskipun Press Briefing Departemen Luar Negeri merupakan kegiatan regular yang diadakan di tempat dan pada waktu yang sama, tetapi Departemen Luar Negeri harus

155 tetap menghargai pers, apa lagi bila mereka mempunyai kesibukan yang sangat tinggi. Hal demikian juga menentukan keefektivan kegiatan Press Briefing, karena akan sia-sia bila tidak bisa di muat atau disiarkan karena terganjal oleh deadline pers tersebut, padahal informasi yang disampaikan merupakan berita yang cukup penting dan menarik. Dengan ini dapat pula mempengaruhi frekuensi pers yang mengikuti kegiatan tersebut karena waktunya kurang sesuai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful