Konsep Partisipasi Masyarakat

Ada dua persepsi partisipasi di Indonesia yang berbeda antara persepsi yang diartikan masyarakat dengan yang dipersepsikan pemerintah. Di Indonesia kata ini menjadi begitu sering digunakan siapapun sebagai strategi pembangunan dalam hampir setiap kesempatan, sehingga makna sebenarnya mulai terasa kabur. Para aparat pemerintah mengartikan partisipasi sebagai kemauan rakyat untuk mendukung suatu program yang direncanakan dari atas, bukan dari rakyat sendiri. Definisi tersebut pada dasarnya diartikan dengan istilah mobilisasi, sedangkan pengertian partisipasi menurut persepsi masyarakat mengandung suatu

pengakuan, kreatifitas dan inisiatif dari rakyat sebagai modal dasar proses pelaksanaan pembangunan, dengan demikian masyarakat menciptakan

pembangunan bukan melulu mendukung pembangunan. Menurut Sustrino (1995:222) ada dua pengertian partisipasi yakni : Pertama, partisipasi adalah dukungan masayrakat terhadap rencana/proyek pembangunan yang dirancang dan tujuannya ditentukan perencana : kedua, partisipasi masyarakat dalam pembangunan, merupakan kerjasama yang erat antara perencana dan rakyat dalam merencanakan, melaksanakan, melestarikan dan mengembangkan hasil pembangunan yang telah dicapai. Menurut Uphoff, kohen, dan Goldsmith (1979:4), pengertian partisipasi merupakan istilah deskriptif yang menunjukkan ketertibatan beberapa orang dengan jumlah signifikan dalam berbagai situasi atau tindakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa merupakan salah satu persyaratan utama untuk keberhasilan proses pembangunan di pedesaan, namun adanya hambatan-hambatan yang dihadapi di lapangan dalam usaha

melaksanakan proses pembangunan yang partisipatif karena pihak perencana dan pelaksana pembangunan (dalam hal ini pemerintah) belum memahami makna sebenarnya dari konsep partisipasi. Definisi partisipasi yang berlaku di lingkungan aparat perencana dan pelaksana pembangunan adalah kemauan rakyat untuk mendukung secara mutlak program-program pemerintah yang dirancang dan tujuannya ditentukan oleh pemerintah. Proyek-proyek pembangunan pedesaan yang berasal dari pemerintah diistilahkan sebagai proyek pembangunan yang dibutuhkan masyarakat, sedangkan proyek pembangunan yang diusulkan masayrakat dianggap sebagai keinginan, karena itu proyek ini menjadi prioritas yang rendah dari pemerintah. Definisi inilah yang berlaku secara universal tentang partisipasi. Oleh karena itu para perencana dan pelaksana pembangunan dalam hal ini pemerintah harus memahami secara benar konsep-konsep untuk mendukung lahirnya partisipasi masyarakat dari bawah. Agar mencapai hasil-hasil pembangunan yang dapat berkelanjutan, banyak kalangan sepakat suatu partisipasi perlu dilakukan. Menurut pretty dan guijt (dalam mikkelson, 2001)menjelaskan implikasi praktis dari pendekatan ini : “Pendekatan pembangunan partisipasi harus dimulai dengan orang-orang yang paling mengetahui tentang system kehidupan mereka sendiri. Pendekatan ini harus menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka,

dan memberikan sarana yang perlu bagi mereka supaya dapat mengembangkan diri. ini memerlukan perombakan dalam seluruh praktik dan penilaian, di samping bantuan pembangunan”. Berdasarkan pendapat tersebut menjelaskan munculnya paradigm

pembangunan partisipatori mengindikasikan adanya dua perspektif, antra lain : 1. Pelibatan masyarakat setempat dalam pemilihan, perencanaan,

perencanan dan pelaksana program atau proyek yang akan mewarnai hidup mereka, sehingga dengan demikian dapatlah dijamin bahwa persepsi setempat, pola sikap dan pola berpikir serta nilai-nilai dan pengetahuannya ikut dipertimangkan secara penuh 2. Membuat umpan balik (feed back) yang hakekatnya merupakan

bagian tidak terlepaskan dari kegiatan pembangunan Konsep partisipasi itu sendiri telahlama menjadi bahan kajian. kata “Partisipasi” dan “partisipatoris” merupakan dua kata yang sangat sering digunakan dalam pembangunan. keduanya memiliki banyak makna yang berbeda. Ada beberapa pengertian partisipasi menurut Mikkelson (2001), antara lain sebagai berikut : “(a) partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masayrakat ke pada proyek tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan. (b) partisipasi adalah pemekaan (membuat peka) pihak masyarakat untuk menanggapi proyek-proyek

pembangunan. (c) partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu. (d) partisipasi adalah

pemantapan dialog antara masayarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaa persiapan, pelaksanaan, monitoring proyek, agar supaya memperoleh informasi mengenai konteks local, dan dampak-dampak social. (e) Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukan sendiri. (f) Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungan mereka”. Partisipasi “yang asli” datang dari inisiatif masyarakat sendiri, merupakan tujuan dalam proses demokrasi. Namun sedikit saja masyarakat yang mau memakai pendekatan sukarela untuk menggiatkan anggota-anggotanya agar aktif dalam kegiatan pembangunan. Kemudian menurut uphoff et al. (1979 : 6-7) dan 3 (tiga) dimensi

partisipasi, antara lain (1) jenis partisipasi apa yang dipertimbangkan; (2) siapa yang berpartisipasi di dalamnya, dan (3) bagaimana partisipasi terjadi. Untuk jenis partisipasi ada 4 (empat) yakni (1) partisipasi dalam pengambilan keputusan, (2) partisipasi dan pelaksanaan, (3) partisipasi dalam memanfaatkan hasil, dan (4) partisipasi dalam penilaian. keempatnya telah mencangkup rangkaian berbagai aktivitas pengembangan pedesaan yang terintegrasi secara potensial. Siapa yang berpartisipasi dalam pembangunan, dalam hal ini ada 4 (empat) tipe umum partisipan, yang karakteristiknya membutuhkan perhatian khusus, yang sasarannya dapat dibedakan menjadi empat yakni (1) penduduk local (termasuk dalam kategori besar dan heterogen, (2) pemimpin local/daerah, termasuk para pemimpin informal, para ketua perkumpulan, (3) Aparat pemerintah, dan (4)

orang di luar (warga luar). khusus untuk penduduk local, penting untuk digolongkan penduduk menurut (a) usia, (b) jenis kelamin, (c) status keluarga, (d) pendidikan, (e) pekerjaan, (f) penghasilan, dan (Tempat tinggal). karakteristikkarakteristik ini mungkin tidak sama-sama relevan untuk semua proyek, dan bebagai karakteristik tambahan mungkin dibutuhkan dalam suatu lingkungan tertentu, meskipun suatu kombinasi dari berbagai karakteristik ini akan berguna untuk mengetahui dengan pasti siap saja yang berpartisipasi dalam berabgai tahap kegiatan (uphoff et al, 1979 : 6-7). Partisipasi dalam pembangunan akan berguna untuk mengetahui, (a) apakah inisiatif untuk berpartisipasi sebagian besar datang dari pemerintah atau masyarakat local, atau (b)apakah dorongan untuk berpartisipasi bersifat sukarela atau terpaksa. akan relevan untuk menganalisa dan membandingkan dari waktu ke waktu (c) struktur, dan (d) jalur-jalur partisipasi, misalnya apakah partisipasi terjadi berdasar individu atau kolektif, dengan organisasi formal atau informal, atau apakah partisipasi terjadi secara langsung atau melibatkan representasi tiak langsung, dan selanjutnya pertimbnagan yang harus dilakukan, antara lain : (e0 durasi, dan (f) ruang lingkup partisipasim apakah partisipasi berlangsung sekali atau untuk selamanya (once and for all). Dan (g) pemberdayaan, yakni seberapa efektif keterlibatan seorang dalam pengambilan keputusan membawahnya menuju kea rah hasil-hasil yang diinginkan. Pendekatan partisipasi pengembangan pedesaaan memerlukan sesuatu kombinasi antara: (1) desentralisasi administrative, yang membawa berbagai institusi dan aparat pemerintah lebih dekat kearah sector pedesaan dan

mengorientasikannya

lebih

kembali

kepada

kebutuhan

masyarakat;

(2)

pembangunan atau kerja melalui organiassi atau lembaga local yang ada, dimana organisasi ini dapat berperan atas nama masyarakat desa;(3) menempatkan para pemimpin local dalam suatu posisi sentral guna ini para pemimpin local tersebut benar-benar mewakili kepentingan semua masyarakat (Uphoff et al, 1979). Dari pendekatan partisipasi tersebut memperlihatkan bahwa system institusi dan system peran semacam ini dalam sector pedesaan menciptakan keterkaitan yang lebih seimbang dan saling bergantung antara pemerintah dan masyarakat desa, dalam system ini tidak berdasarkan strucktural top down yang sama dengan pendekatan sebelumnya. Kemudian menurut Uphoff (1979:27-30) ada empat prinsip umum partisipasi pengembangan pedesaan antara lain: Pertama, partisipasi tidak boleh dipandang sebagai sebuah program atau sector yang terpisah bagi pengembangan pedesaan, namun malah sebagai sebuah pendekatan yang mungkin harus disatukan dalam semua aktifitas. Kedua, partisifasi pengembangan pedesaan harus menekankan pada organisasi local, yang lebih dapat mendengarkan masukan dari masyarakat desa serta memungkinkan adanya keterlibatan mayarakat desa yang lenih banyak dalam berbagai program pengembangan pedesaan. Ketiga, pembagian asset harus diperhatikan dalam membangkitkan partisipasi, karena semakin tidak merata pembagian maka akan semakin sulit untuk membangkitkan partisipasi secara luas baik dalam pengambilan keputusan maupun adlam keuntungan.

Keempat, penekanan yang harus di lakukan untuk membangkitkan partisipasi pengembangan pedesaan bukan pada otonomi local saja, tetpa hubungan pusat regional dengan masyarakat-masyarakat local dengan syaratsyarat yang disetujui oleh semua pihak dan saling menguntungkan. Dri keempat prinsip partisipasi tersebut menunjukkan, partisipasi

masyarakat desa jangan ipandang sebagai sebuah program yang terpisah dari pengembangan pedesaan, menekankan pada organiasi local, pembeagian asset harus merata, dan hubungan pusat regional dengan masyarakat local harus disetujui semua pihak dan saling menguntungkan. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat desa dalam pelaksanaan pembangunan ada tahap-tahap yang harus dilakukan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan. Tahap-tahap tersebut dapat dilihat paa gambar sebagai berikut :

Gambar 1 Tahap-tahap pengambilan keputusan dan pelaksanaan Sumber 9UPhorff, 1986) 1. Tahap internasional

2. Tahap nasional 3. Tahap regional (propinsi) 4. Tahap Daerah 5. Tahap sub distrik (kabupaten dan kota)

6. Tahap local (sekumpulan masyarakat yang bekerjasama) 7. Tahap masyarakat (unit social, ekonomi) 8. Tahap-tahap kelompok 9. Tahap rumah tangga 10. Tahap Individu D. Faktor yang mempengaruhi solidaritas dan partisipasi Kajian terhadap partisipasi sebagai perilaku individu dalam kehidupan

social dalam masyarakat tidak dapat dilepaskan dari berbagai factor yang ikut berpengaruh dalam interaksi social. Interaksi social dalam maayrakat terkait dengan berbagai aspek kehidupan, baik antara hubungan dengan manusia maupun lingkungan di mana manusia tersebut bertempat tinggal. Cirri-ciri social ekonomi ini juga terkait pada karakteristik individu dan katakretirsik sosioal yang berpengaruh dengan individu menujukkan perbedaanperbedaan penting antara pengguna yang lebih awal dan pengguna yang lebih akhir dalam status ossial ekonomi dan perilaku komunikasi. Karakteristik adalah cirri-ciri khusus, mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakannya (Balai Pustaka, 1997). Karakteristik individu dan karakteristik social merupakan cirri-ciri khusus yang memiliki seseorang. Kemudian menurut rogers dan shoemaker (1971) cirri-ciri osial ekonomi pada individu umumnya ditanai dengan tingkat usia, pendidikan, tingkat penghasilan, tempat tinggal, dan

prestasi kerja, dan perilaku komunikasi, kemudian Gibson (2000) menjelaskan tentang factor kependudukan dan social ekonomi dalam hubungannya dengan tindakan individu. Pengetahuan, sikap dan keterampilan seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan pendidikan karena pendidikan adalah upaya yang dilakukan dengan sadar untuk merubah perilaku manusia. Pendidikan secara eksternal diarahkan paa proses di mana individu belajar untuk menerapkan pengethauan kognitig, afektif, dan pdikomotorik dalam lingkungannya (la Belle, 1976 : 18). Sedangkan perubahan perilaku tersebut dapat dilakukan apabila seseorang telah memiliki pengetahuan sikap, keterampilan sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Dengan demikian dapat dikatakan pengetahuan, sikap dan keterampilan erat hubungannya dengan pendidikan. Seang pendidikan erat hubungannya dengan tingkat partisipasi seseorang dalam proses pembangunan. Hal ini disebabkan pendidikan seseorang dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Para pakar

pembangunan menyatakan, tingkat partiispasi ini erat hubungan dengan tingkat pendidikan (mubyarto dan kartodiharjo, 1998: soeproyo, 1977, Rujat, 1998, Muhadir, 1983: la, belle, 1976). Sekain itu pendidikan juga mempunyai pengaruh terhadap skala tradisional prestise kemayarakatan dan terutama terhadap kewibawahaan orang tua. Terlepas dari bentuk pendidikan yang diberikan dan sebagaimana lumrahnya pendidikan itu bertentangan sekali dengan konsep-konsep tradisionl. Kenyataan adanya pendidikan telah mendobrak strruktur masyarakat pertnaian menyesuaikan telah mendobrak struktur masayrakat pertanian. Walaupun sekolah-sekolah mencoba

sekuat tenaga untuk menyesuaikan penidikannyadengan masyarakat, akan tetapi orang-orang yang umumnya mendapat pendidikan cenderung mencari pekerjaan di kota-kota, dimana mereka dapat mencapai prestise yang lebih tinggi. Sehingga, pendidikan telah meniptakan suatu kelas baru kaum cendekiawan atau setengah cendikiawan yang menduduki suatu posisi khusus dalam masayrakat. Hal ini membuat orang menjadi individualtas. Pekerjaan dapat memepngaruhi tingkat partisipasinya dalam pembangunan. Pola pikir pada masyarakat umum, semakin sibuk seseorang semakin tidak mempunyai waktu berpartisipai adlam pembangunan. Jenis pekerjaan yang dipergunakan sebagai tolak ukur dari kesibukan adalah satuan waktu yang digunakan melakukan kegiatan kerja. Hal ini mengacu pada konsep kerja sebagaimana dikemukakan prasodjo (1993:57), pekerjaan yang imaksud adalah pekerjaan yang dapt menghasilkan pendapatan, baik dari bekerja penuh maspun bekerja tidak penuh. Bekerja penuh adalah pekerjan yang dilakukan tujuan memperoleh pendapatan atau keuntungan yang lamanya bekerja paling sedikit satu jam transaksi dalam seminggu. Bekerja tidak penuh adalah pekerjaan yang dilakukan kurang dan 35 jam seminggu. Konep kerja tersebut dapat digunakan untuk menganalisa tingkat kesibukan individu. Pendapata keluarga merupakan factor yang sangat menentukan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Memiliki pendapatan yang stinggi. Berarti mereka dapat memenui kebutuhan hidup keluarga dan sisanya dapat ditabung. Kebiasaan masarakat pedesaan, apabila kebutuhan hidup sehari-hari tercukupi, mereka manabung dalam bentuk benda bergerak, seperti tenrk atau barang tiadk

bergerak, misalnya tanah. Semakin tinggi pendapatan suatu keluara semakin tingi status social dan bertambah hubungan sosialnya sehingga mempunyai pengaruh yang tinggi dalam masyarakat. Proses menghargaai orang tua dalam budaya Indoneia melahirkan budaya paternalistik. Sifat paternalistic ditunukkan dengan dihormatinya orang tua tidak hanya alam kehidupan keluarga tetapi juga dalam bidan gpemerintahan, hokum, politik, dan social, budaya menghormati orang tua pada dasarnya mempunyai nilai yang baik dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tetapi, kadangkala ada sifat menghormati orang tua yang berlebihan dan secara tidak lansung menghambat kemajuan generasi yang ada di bawahnya. Sebagian anggota msayarakt desa melarang anaknya memakan makanan tertentu yang menurut mitos masyarakat setempat harus imakan ayah atau keua orangtua lainnya. Pimpinan yang lebih muda merasa segan mengatur atau memerintah bawahannya yang umurnya lebih tua. Lamanya tinggal atau menetap berdasarkan hitungan tahun pada masayrakat des transisi akan berpengaruh pada solidaritas social seseorang. Asumsi awal semakin alam seseorang tinggal menetap pada masyarakat desa transisi, semakin meningkatkan solidaritas sosialnya, sebaliknya semakin baru seseorang bertempat tinggail menetap pada masyarakat desa transisi, semakin menurutn tingkat soliaritasnya. Menurut Ibrahim (2003:47) masyarakat iNodnesia pribadi memiliki solidaritas yang kuat di daerah tinggalnya. Munculnya perasaan-perasaan akrab ini tidak karena tempat tinggalnya sama, tetapi bias juga tempat lahirnya sama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.