BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Dalam perkembangan sejarah Indonesia tidak lepas dari peristiwa Gerakan 30 September/PKI (G 30 S/PKI) yang menjadi sejarah besar dari bangsa ini. Peristiwa G 30 S/PKI sendiri masih merupakan perdebatan yang belum terselesaikan dimana banyak pihak-pihak yang mempertanyakan fakta-fakta yang terkait serta mengungkapkan fakta lain yang masih tersembunyi. Pada tanggal 30 September 1965 terjadi sebuah usaha kup yang dalam peristiwa itu terbunuh 6 Jendral dan 1 Perwira angkatan darat. Tidak hanya itu, kup yang gagal ini pun diikuti oleh pembunuhan massal diantara kaum komunis dan mereka yang dianggap komunis. Peristiwa tersebut telah merenggut nyawa kira-kira setengah juta penduduk Indonesia, sementara puluhan ribu lainya dipenjara tanpa diadili. Walaupun ada desakan dari para keluarga korban, namun sampai saat ini belum diadakan penyelidikan resmi mengenai peristiwa besar tersebut. Adanya penyelidikan resmi akan menyembuhkan luka-luka yang ditinggalkan dari kenangan pahit yang terjadi bertahun-tahun lalu itu. Maka dari itu, kami tertarik membahas kembali peristiwa ini untuk didiskusikan pada kasempatan kali ini, sehingga kami mohon partisipasinya dalam mensukseskan penyampaian makalah ini.

1

1.2

Kerangka Teori

Komunisme pertama

kali dicetuskan

oleh Karl Marx, dengan

menghilangkan hak pribadi dan hak mewarisi serta melibatkan rakyat dalam segala produksi secara sama rata1. Pandangan Karl Marx mengenai suatu negera menurut paham komunis adalah bahwa negara tidak berfungsi dan hanya memanfaatkan warga negaranya untuk mencapai tujuan negara. Menurutnya, negara harus ditiadakan dan masyarakat harus lebih besar dan agama merupakan candu dalam pemerintahan suatu negara. Gagasan Karl Marx dalam paham komunisme adalah : 1. Menekankan pentingnya peranan kaum buruh dalam menyelenggarakan

revolusi, 2. Kaum proletar akan bangkit sendiri satelah melakukan perlawanan

terhadap kaum kapitalis, 3. Kapitalisme pada puncak perkembanganya akan menemui ajalnya dan

diganti dengan komunisme2. Istilah komunisme juga sering dicampuradukkan dengan komunis internasional, yang mana komunis internasional merupakan perkembangan pemikairan dari Lenin yang sering disebut dengan “Marxisme-Leninisme”. Dalam perkembangannya, paham komunis Lenin sedikit ada perbedaan juga perkembangan namun tetap memiliki inti/dasar pemahaman yang sama.
1 2

Sumber : www.anarchopedia.com / diakses pada hari sabtu, 11 Desember 2010 (07:30) Sumber : Prof. Miriam Budiardjo, “Dasar-dasar Ilmu Politik”, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hal 146 /diakses pada hari kamis, 9 Desember 2010 (22:42)

2

Gagasan Lenin dalam paham komunisme adalah : 1. Melihat pentingnya peranan kaun petani dalam menyelenggarakan

revolusi. 2. Melihat peranan suatu partai politik yang militant yang terdiri atas

professional revolutionaries untuk memimpin kaum proletar dan merumuskan cara-cara merebut kekuasaan. 3. Melihat imperialism sebagai gejala yang memperpanjang hidup

kapitalisme.3 BAB II PEMBAHASAN

2.1 Perumusan Masalah Kekurangjelasan fakta mengenai peristiwa yang berbuntut pembantaian besar pada tahun 1965 yang dikenal dengan peristiwa G 30 S/PKI hingga saat ini masih merupakan teka-teki. Peristiwa ini disebut-sebut dipicu oleh paham komunis yang dianut oleh presiden Soekarno. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tentu saja berbasis komunis dituding sebagai pihak yang telah melakukan pembantaian keji yang terjadi pada tanggal 30 September 1965. Namun, ada lagi pendapat lain yang menyatakan bahwa PKI sebenarnya hanya sebagai kambing hitam, karena sesungguhnya pembantaian yang dilakukan merupakan perbuatan orang-orang diluar PKI dengan maksud menjatuhkan nama PKI dan presiden Soekarno yang merupakan pendiri partai sehingga dapat mempermudah penggulingan kekuasaan kepresidenan. Terkait dengan hal ini ada beberapa hal yang perlu mendapatkan penjelasan lebih rinci, seperti bagaimana sejarah berdirinya PKI? komunis seperti apakah yang dianut oleh Soekarno? dan bagaimana kronologi dari pembantaian yang terjadi? Serta keadaan Indonesia setelah terjadinya peristiwa tersebut?

3

Sumber : Opcit,hlm 146 / diakses pada hari Sabtu, 11 Desember 2010 (09:48)

3

2.2 Analisa Masalah Pada tahun 1914 didirikan Indische Sociaal-Demokratische Vereniging (Partai Buruh Sosial-Demokrat Hindia) yang anggotanya adalah orang-orang Belanda4. ISDV diharapkan dapat mengurusi kepentingan kaum buruh Hindia, tak hanya kepentingan kaum buruh Eropa. Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. ISDV bekerjasama dengan Sarekat Islam (SI) dan pada tanggal 23 Mei 1920 ISDV merubah dirinya dan lahirlah PKI5. Dalam kurun waktu puluhan tahun sejak sebelum pembentukan ISDV di pedesaan Hindia terus-menerus terjadi kerusuhan yang sangat menggelisahkan kekuasaan kolonial. Kemudian pecahlah suatu pemberontakan rakyat Indonesia yang dipimpin oleh PKI pada tahun 1926-1927 yang bertujuan untuk menggulingkan kaum imperialis Belanda dan mendirikan kekuasaan rakyat Indonesia6. Peristiwa ini menyebabkan kandasnya PKI. Namun, para pemimpin PKI terus berusaha mempertahankan dan membangun kembali organisasi PKI. Upaya ini berhasil walaupun untuk beberapa waktu PKI harus tumbuh sebagai organisasi yang illegal. Pemberontakan PKI tersebut membangunkan semangat kemerdekaan yang lebih tinggi pada rakyat Indonesia sehingga pada tahun 1928 muncul sebuah kangres pemuda yang didalam kongres ini menggema sebuah sumpah dari para pemuda, yaitu ‘Sumpah Pamuda”. Secara tidak langsung PKI juga telah mendorong Indonesia untuk merdeka karena PKI mengadakan kegiatan berupa aksi bawah tanah melawan fasisme Jepang. Setelah sekian lama bergerak dalam status yang illegal, pada tahun 26 April 1946 PKI dimunculkan kembali secara terbuka7.

4

Sumber : Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Sejarah pemalsuan PKI), Resist Book, Magelang, 2006, hlm 20 5 Sumber : Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Sejarah pemalsuan PKI), Resist Book, Magelang, 2006, hlm 20. 6 Opcit hlm 62. 7 Opcit hlm 114.

4

PKI merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Hanya dalam kurun waktu lima tahun dalam kepemimpinan Aidit anggotanya mencapai sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi penulis dan artis serta pergerakan sarjananya, sehingga PKI memiliki lebih dari 20 juta anggota dan pendukung8. Hal ini terbukti memiliki kesesuaian dengan gagasan Karl Marx yang menekankan pentingnya peranan kaum buruh dalam menyelenggarakan revolusi, serta sesuai juga dengan gagasan Lenin bahwa kaum tani juga memiliki andil yang penting dalam pergerakan revolusi. PKI telah tumbuh menjadi partai yang sangat kuat dan tinggi popularitasnya. Terbukti dengan peningkatan jumlah pemilih yang dilaksaknakan dengan jujur dan terbuka dalam dua kali pemilu (1955 dan 1957)9. Soekarno dalam misi revolusinya berusaha untuk berdiri diluar partai, namun juga berusaha merangkul semua partai untuk melawan agressor asing yang muncul sebagai antiSoekarno. Agressor asing tersebut seperti pemberontakan saparatis daerah, Amerika/CIA yang membantu pihak-pihak anti-Soekarno karena tidak menghendaki berlanjutnya kepemimpinan Soekarno dan terutama menghilangkan komunisme yang dianut olehnya. Menurut Amerika hal ini dapat mengancam kekuasaan negaranya. Menghadapi situasi yang mengancam kepemimpinanya wajar jika Soekarno mencari “teman” sebagai pendukunganya. “Teman” yang dirangkul oleh Soekarno adalah PKI yang tentu saja disambut dengan baik oleh PKI. Alasan mengapa PKI yang ditunjuk sebagai “teman” adalah karena ia memandang bahwa PKI merupakan partai massa yang besar, organisasinya teratur serta anggotanya disiplin dan konsekuen terhadap revolusi yang di jalankan oleh Soekarno. Mengenai perkembangan PKI yang semakin kuat dan pesat tentu saja menciptakan keresahan bagi partai lainya. Nasution (Angkatan Darat) dan Hatta berusaha melakukan likuidasi PKI secara fisik maupun organisasi. Usaha mereka membuahkan hasil, banyak pimpinan utama dan kader PKI di daerah terbunuh
8 9

Sumber : www.lintasberita.com / diakses pada hari Sabtu, 11 December 2010 (09:09) Sumber : Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Sejarah pemalsuan PKI), Resist Book, Magelang, 2006, hlm 278.

5

sehingga organisasi PKI lumpuh, walaupun tidak sampai hancur sama sekali. Namun demikian, bagaimana pun terncamnya PKI yang ditekan Nasution, PKI masih dapat menyandarkan diri dan mendapatkan perlindungan dari Soekarno yang masih memiliki pamor dan otoritas. Hal ini menyebabkan Nasution cs (Angkatan Darat) perlu berpikir dua kali dalam menindak PKI. Dari sini dapat terlihat hubungan antara Soekarno,Angkatan Darat, dan PKI serta kekuatan dibaliknya yang tak terdeteksi. Pada masa pemerintahan presiden Soekarno sistem yang diterapkan adalah ‘Demokrasi Terpimpin’. Ia mempropagandakan prinsip Nasionalis, Sosialis, Komunis (NASAKOM) yang dengan prinsip ini ia menganggap apabila kaum nasionalis, Islam, Kristen, dan komunis dapat ia lebur jadi satu bangsa, maka akan tercapai sebuah revolusi nasional untuk Indonesia10. Sebelumnya, telah beredar isu sakitnya presiden Soekarno yang semakin parah. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila presiden meninggal dunia. Namun menurut Subandrio (menteri luar negeri), dan Aidit (pimpinan partai PKI) tahu persis bahwa presiden hanya sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut. Meskipun begitu, isu penurunan kesehatan presiden Soekarno terus beredar semakin jauh. Kemudian muncul desas-desus adanya suatu Dewan Jendral yang dibentuk dengan tujuan mengambil kekuasaan presiden yang dipimpin oleh para Jendral Militer. Untuk mencegah terjadinya kudeta tehadap Soekarno, dibentuk pula suatu dewan yang terdiri atas para perwira yang juga masih dari kaum militer. Malam tanggal 30 September 1965 terjadi sebuah usaha kup dari para Dewan Perwira ini. Perlawanan yang dilakukan Dewan Perwira awalnya dipicu kerena kebencian mereka terhadap para jendral yang korupsi, dan memanfaatka momen tersebut sebagai alasan mencegah penggulingan kekuasaan Soekarno. Mereka melancarkan serangan kepada para jendral yang dianggap anggota dari Dewan Jendral. Telah di bentuk beberapa pasukan-pasukan khusus yang ditugaskan menangkap para jendral ini dalam keadaan hidup atau mati. Pasukan10

Sumber : Lambert J. Giembels, “Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung karno”(Pembantaian yang Ditutup-tutupi) diakases pada hari Sabtu, 11 December 2010 (10:10)

6

pasukan ini telah menyusun rencana yang dianggap matang dalam melancarkan aksinya. Pasukan-pasukan tersebut antara lain : 1. Pasukan Pasopati, bertugas menculik anggota utama Dewan Jendral dan dibawa

ke Lubang Buaya. Daftar nama siapa anggota yang akan diculik yaitu : Nasution, A. Yani, Suprapto, Harjono M.T., S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutojo Siswomihardjo, dan A. Soekendro. Namun pada saat-saat terakhir namanya dicoret karena sedang berada di luar negeri. 2. Pasukan Bimasakti, bertugas menguasai Jakarta dan menguasai tempat-tempat penting. Kota dibagi menjadi enam sector. Tampat penting yang menjadi sector pertama adalah Lapangan Merdeka dan sekitarnya, dimana terdapat Istana Presiden di Merdeka Utara, stasiun radio di Merdeka Barat, dan gedung Telekomunikasi di Merdeka Selatan. 3. Pasukan Pringgodani, bertugas mengamankan Lubang Buayadan apabila perlu

menjadi pasukan cadangan. Pasukan Pasopati setelah selesai tugasnya bergabung dengan Pringgodani11. Pasukan Pasopati yang bertugas menculik para jendral dikumpulkan di Lubang Buaya pada jam 02.00 dini hari dan mendapat briefing tentang tugasnya. Mereka dinstruksikan adanya komplotan Dewan Jendral yang dengan bantuan CIA ingin menggulingkan Soekarno. Oleh karena itu mereka ditugaskan untuk menyelamatkan presiden dan kekuasaanya. Seluruh operasi dipimpin oleh Lettu Dul Arief dari Divisi Cakrabirawa. Pasukan dibagi dalam tujuh unit yang tidak sama besar, dan setiap unit bertugas terhadap satu jendral. Unit yang ditempatkan terhadap Nasution dan Yani lebih besar karena memiliki penjagaan serta diperkirakan bahwa mereka akan melakukan perlawanan. Pada pukul 03.00 persiapan selesai dan pasukan segera menuju target ooperasi. Kronologi penculikan menunjukkan hasil yaitu, tiga orang Jendral: Yani, Panjaitan, dan Harjono karena melakukan perlawanan tewas ditembak ditempat. Tiga orang Jendral: Suprapto, Parman, dan Sutojo berhasil diculik hidup-hidup. Operasi terhadap Nasution gagal karena Nasution berhasil melarikan diri. Semenntara pasukan menculik Letnan Tendean ajudan Nasution yang dikira
11

Sumber : Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Sejarah pemalsuan PKI), Resist Book, Magelang, 2006, hlm 300.

7

adalah dirinya dikarenakan keadaan yang gelap saat itu. Dalam penculikan ini tewas anak bungsu dari Nasution, Ade Irma karena istrinya melakukan perlawanan. Semua yang termasuk dalam daftar anggota yang diculik dibawa ke Lubang Buaya baik hidup atau mati sesuai dengan perintah. Setelah sampai di Lubang Buaya, tangkapan yang masih hidup pun ditembak dan semua mayat dimasukkan ke dalam sumur mati dan ditimbun. Sementara itu di Lapangan Merdeka selain kesiagaan pasukan Bimasakti, terdapat dua Batalyon yang hadir dalam rangka mempersiapkan perayaan Hari Angkatan Perang, berdasarkan panggilan dari pangkostrad pada tanggal 21 September 1965. Selain itu datang pula memenuhi panggilan dari pangkosrad, Batalyon 328 Para/Siliwangi, Batalyon 2 kavaleri, dan kesatuan altileri dari Cimahi dengan perlengkapan tempur ‘siaga satu’. Merupakan sesuatu yang aneh dimana untuk merayakan HUT Angkatan Darat terdapat pasukan yang sigap dengan siaga satu. Dilain pihak, malam 30 September ketika para pasukan khusus direncanakan akan melakukan penculikan, kurang lebih pada pukul delapan malam Mayor Sujono mendapat perintah dari Brigjen Soepardjo untuk menjemput Aidit dan Mayjen Pranoto Reksosamudro, Asisten ketiga Pangad ( bagian personil) di rumah Syam. Namun, hanya Aidit yang dapat ditemukan. Atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Aidit di mobil, Sujono menjawab bahwa mereka akan menuju Halim. Kehadiran Aidit di pangkalan udara Halim pada malam terjadinya gerakan 30 September telah menimbulkan spekulasi bahwa PKI terlibat dalam usaha kup tersebut. Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, sebelumnya Soeharto telah mengetahui kejadian pada malam hari tersebut. Namun ketika ia sampai di markas Kostrad dan tiba ditempat sebbelum jam tujuh pagi, ternyata semua perwira yang bertugas di markas Kostrad tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada dini hari tersebut. Kemudian Soeharto mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat yang memang biasanya ia dipercayakan oleh Yani untuk menggantikan posisi tersebut jika Yani berhalangan melaksanakan tugas sebagai pangad, dan jika presiden memiliki soal dengan AD, harus melewati dia. Soeharto berusaha menggabungkan seluruh Angkatan Bersenjata dibawah pimpinanya. Hal ini ia 8

lakukan untuk mengetahui siapa yang “kawan” dan siapa yang “lawan”. Dengan kekuatan ini ia berusaha menguasai tempat-tempat vital seperti Istana Presiden, Lapangan Merdeka, stasiun radio dan gedung telekomunikasi. Di radio atas perintah Soeharto diberitakan peristiwa yang telah terjadi mengenai penculikan para jenderal, dan penculikan tersebut dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penggulingan kekuasaan pada presiden, diberitakan pula bahwa presiden Soekarno aman di bawah perlindungan Angkatan Bersenjata dan sekarang sedang berada di MBAD (yang sebenarnya presiden saat itu tidak sedang berada di markas AD maupun Istana Presiden). Namun selang beberapa jam kemudian telah disiarkan atas perintah dari Brigjen Sabur yang dilaksanakan setelah bertemu langsung dengan presiden bahwa “presiden hidup, sehat dan dalam keadaan aman, tetap memegang penuh pemerintahan dan pengawasan terhadap seluruh negara”. Bagi orang awam hal ini tentu membingungkan, “siapa” yang mengendalikan “siapa” dan siapakah yang saat itu sedang berkuasa. Tetapi bagi Angkatan Darat mereka dapat menagkap jelas apa yang sebenrnya sedang terjadi. Beberapa pengamat berpendapat bahwa Gerakan 30 September yang telah menindak keras pimpinan AD tidak mungkin terjadi tanpa persetujuan presiden. Pendapat tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa Soekarno memiliki kepentingan untuk melenyapkan Dewan Jendral yang diduga ingin menggulingkan presiden. Dalam melaksanakan kepentingan ini presiden tidak mungkin bertindak sendiri, karena itu ia memberikan persetujuan terhadap PKI dalam manindak Dewan Jendral. Hal ini diperkuat oleh kehadiran Aidit pada malam 30 September di Lapangan Halim tempat dimana gerakan terjadi. Tentu saja menurut pandangan ini PKI dan Soekarno merupakan pihak yang paling bertanggungjawab dalam peristiwa tersebut. Kemudian muncul pengamat yang berlainan pendapat dengan yang sebelumnya. Banyak orang ragu mengenai seberapa jauh keterlibatan PKI dalam gerakan. Bahwa, PKI dan Soekarno lebih merupakan korban daripada sebagai inisiatif kejadian. Kenyataan yang menyatakan Aidit hadir di Lapangan Halim yang merupakan lingkungan dari gerakan justru tidak mungkin melakukan aksiaksi tersebut karena sama saja “menyodorkan nyawa”, karena jika memang dia 9

yang memimpin gerakan tidak mungkin ia menampakkan dirinya di tempat yang fatal tersebut, sehingga melahirkan kecurigaan kedatangannya ke Halim atas keinginan sendiri atau karena dipaksa (disandera)? Kemuduan muncul penudingan terhadap “tokoh kunci, manipulator yang lihai” Syam kamaruzaman. Ia dituding sebagai agen dari angkatan darat didalam tubuh PKI. Tudingan ini juga tidak lepas dari adanya informasi bahwa sejak tahun 50an Syam menjadi informan KMK (Komando Militer Kota) Jakarta. Berdasarkan informasi yang demikian, muncul analisa bahwa melalui Syam dinas intel AD menyebarkan desas-desus tentang kup yang akan menggulingkan Soekarno dan menghancurkan PKI. Tujuan disebarkanya informasi tersebut adalah untuk memprovokasi PKI agar melakukan gerakan yang melawan AD. Dengan demikian, AD memiliki alasan yang kuat untuk memukul dan menghancurkan fisik PKI. Karena dalam situasi yang demikian, Soekarno dalam situasi lemah membantu PKI. Selama ini Syam dikenal sebagai aktivis dari PKI, dan dalam setiap proses pengadilan, dia selalu menyatakan diri sebagai komunis. Ia selalu mengatakan bertanggung jawab penuh atas semua yang telah ia lakukan, tetapi selalu baralaskan bahwa yang ia lakukan mendapat persetujuan penuh dari Aidit. Sedangkan untuk mensahkan pernyataan itu Aidit sudah tidak ada lagi, karena ditembak oleh tentara. Ditambah dengan setai pengadilan dan ketiika interogasi, ia selalu memberikan pernyataan yang memberatkan PKI, yang bertentangan dengan pernyataan-pernyataan dari aktivis PKI lainya. Jadi jelaslah bahwa sebenarnya Syam adalah “orang” siapa. Keadaan yang terjadi setelah peristiwa G30S tersebut menyebar, ditambah keterngan yang memberatkan PKI yang dilontarkan oleh Syam tersebut terjadi penumpasan besar-besaran terhadap PKI, kaum komunis dan mereka yang dinggap komunis hingga tahun 1966. Tidak hanya itu, penguasaan media massa dan stasiun radio oleh pihak tentara menyebabkan masyarakat berpikir PKI merupakan pihak yang paling bersalah, serta segala bentuk dari komunis harus ditumpas.

10

Pembantaian terjadi di hamper seluru provinsi di Indonesia, diantaranya di Aceh pada permulaan Oktober12.dalam waktu singkat, beberapa ribu kaum komunis dan yang dianggap komunis dibunuh, termasuk seluruh anggota keluarganya bahkan termasuk pembantunnya. Di Jawa Tengah, dua-tiga minggu setelah 1 Oktober, walikota dan bupati yang sebelumnya di calonkan oleh PKI di bantai habis13. Pada tanggal 13 Oktober, diadakan secara serempak di kota Blitar, Kediri, Trenggalek dan beberapa kota lain pembantaian oleh pemuda-pemuda Anshor14. Mereka menyerbu kantor PKI dan secara terang-terangan akan memmbunuh para pendukung PKI. Singkatnya, telah terjadi banyak pertumpahan darah di Indonesia setelah peristiwa G30S. Total korban yang terbunuh adalah sekitar 500.000 orang dan 300.000 di tahan tanpa diadili15.

12

Sumber : Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Sejarah pemalsuan PKI), Resist Book, Magelang, 2006, hlm 316 13 Sumber : Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Sejarah pemalsuan PKI), Resist Book, Magelang, 2006, hlm 316 14 Opcit hlm 318. 15 Opcit hlm 321.

11

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Banyak yang dapat diketahui dari kronologi dan penjelasan diatas. Adanya dua versi yang berbeda mengenai peristiwa tersebut dapat menambah sudut pandang kita terhadap sejarah. PKI yang juga pernah berjasa terhadap kemerdekaan Indonesia telah menjadi pihak yang disalah artikan posisinya sebagai dalan dari pembantaian 6 jendral AD dan I perwira. Pada masa rezim Soeharto PKI dikatakan telah menganiaya para jendral dengan memotong alat klamin mereka, mencungkil bola mata, da berbagai penganiayaan kejam lainya. Sementara telah diakui dari para dokter yang mengotopsi mayat para jendral tersebut bahwa tidak ada luka penganiayaan apapun yang terdeteksi, yang ada hanyalah luka yang berbentuk lubang kecil yang dinyatakan adalah luka dari tembakan peluru. Dokter tersebut mengakui bahwa mereka ditekan untuk memalsukan dokumen otopsi. Baru setelah jatuhnya rezim Soeharto mereka berani menyatakan kebenaran. Sayangnya, penyelidikan mengenai peristiwa ini masih belum tuntas dan tegas, sehingga luka yang ditorehkan kepada keluarga korban masih belum dapat disembuhkan. Penyelidikan secara resmi mungkin akan memmperbaiki keyakinan masyarakat yang selama ini salah menganggap PKI adalah organisasi yang antiagama dan pihak kejam dalam pemberontakan 30 September.

12

DAFTAR PUSTAKA

Imam Soedjono, “Yang Berlawanan” (Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI), Resist Book, Magelang, 2006. Lambert J. Giembels, “Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung karno”(Pembantaian yang Ditutup-tutupi), Miriam Budiardjo, “Dasar-dasar Ilmu Politik”, Gramedia, Jakarta, 2009. www.anachorpedia.com www.lintasberita.com

13

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful