ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

Ec. Dr. Ir. Ir. M. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . Dosen Pembimbing. 131 644 945 Mengetahui. Arief Daryanto. NIP. Dr.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. MS NIP. Institut Pertanian Bogor. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Rina Oktaviani. Menyetujui.

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .

Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. Propinsi Jawa Barat. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. Selama menjadi mahasiswa.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. . Formasi. dan HMI Komisariat FEM. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh.

Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Institut Pertanian Bogor. terutama kepada Bapak Dr. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.1r. Arief Daryanto. Selain itu. yang telah memberi masukan. Semoga karya ini dapat bermanfaat.Ec. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. M. Bogor.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

...4.... 1.. 3...................5. Kerangka Pemikiran Teoritis ....................... 4..........2............................................................................................................................... Perumusan Masalah ........ Definisi dan Sejarah Kertas............... Struktur Tabel Input-Output................................................................................................................. V.........................................1.... 2.......................... III............. 4.......2............2........ METODE PENELITIAN.............3.1...............................................1................................ 2........................................... 2........... Konsep Pembangunan Industri Kertas ............................................ Ruang Lingkup. 2...................................................2.... I.........3... 1.. Penelitian-Penelitian Terdahulu ................ PENDAHULUAN . 2..................2....... 2..... DAFTAR GAMBAR ................................... 1. 1. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ................... Latar Belakang .........................................................................6..... Jenis dan Sumber Data ................ GAMBARAN UMUM INDUSTRI . 2...................................................... Metode Analisis ............ TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ..........2.... 3...................2....... Elastisitas Input-Output............. II...............................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL....4.. Kerangka Pemikiran Konseptual .....................................1.......................... 2................2...2................................................................................... 3......... Tujuan Penelitian ................................1......3............... 3........... Analisis Dampak Penyebaran ....5...... Koefisien Input................................ Profil Industri Kertas.......... 1...... DAFTAR LAMPIRAN........................................ Perkembangan Industri Kertas ........2....................................... Analisis Keterkaitan ............. x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 .........1...................3......................5................................................ Model Input-Output ........................... 3.....5........... 3.............................................................................................. Manfaat Penelitian ..................................................................

........................................... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran..........................2.............................. 5...... 6..................................... 4................................ Koefisien Penyebaran......... 5....3..............................1..4............1. Struktur Ketenagakerjaan..1......... Keterkaitan ke Belakang Industri kertas .........2...................... 5......3.....2............6.......................................2..........................................5..4................2............ Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia..... Kepekaan Penyebaran ....1...................................2............ 5................................................................................................................................................4. Struktur Permintaan Industri Kertas ............................... Elastisitas Output ...............................1........... HASIL DAN PEMBAHASAN........................ 5..............1. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia ...............1.. 5................................... Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia...................................................2................................. Struktur Output Sektoral ...................... 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 .. 5..........4................. 5...... 5.. 5................ Kesimpulan ....4..................3.. 5...3......................................... 5.. Saran......4......... Elastisitas Pendapatan .......... KESIMPULAN DAN SARAN ......3................. 5. 5............. Struktur Nilai Tambah Bruto ...........2.................... Struktur Ekspor dan Impor.3.............2........ Implikasi Kebijakan ....... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia ........3......... DAFTAR PUSTAKA ..1.... 5.............1.... 5......... 6.................... Analisis Keterkaitan ...2.......................................... 5............ Keterkaitan ke Depan Industri Kertas . V....... VI.....................1........ 5.....4.5.............. Elastisitas Tenaga Kerja.2.......... LAMPIRAN.. Elastisitas Input-Output.................. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung .............................. 5........2................. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian .. 5..

........ Struktur Tabel Input-Output....... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 ....................... Impor................ 2 1.............................. 4......... 2............... 4... 2.. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran.........1...1............................. Jumlah Tenaga kerja... 4. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 . Boards PT..........1.. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha.......... Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 ............7................... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000........... 5................................. Boards PT.................2.................... Boards PT......... Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 ...2.... 4.............................. 5....... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 .2.................................................... 4............. ................... 5....... Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002........ Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 ..........................3.......... Kapasitas Produksi................................... 5...........4................................ Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan .......... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003....... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 .......... Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003..DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1..5... 2........3................ Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ........................... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 ......3........2.................................. Boards PT......................... 4.......1........4...6. 4.........

....... 5.........................................10...............5....................... Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.................. 5.. 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ............... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia .12.......... Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 ..... Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 .......... 5..........11........ Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia ...............6............ Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ......................... 5.. 5........5...........................7..............9... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia... 5....................................................8........... Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ...................................13............ 5.. 5.......................... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia ...................

DAFTAR GAMBAR Nomor 1.............. Halaman 24 ......................................... Bagan Alur Pendekatan Studi ...

......... 2....... 4............. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor.... 3.DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1................................................ Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 .............. . Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor ....... Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor ....

Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern. PENDAHULUAN 1. sikap sosial. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. dan motivasi yang secara radikal. sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. 2002). Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak.1. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53.4 persen. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri .I.9 persen).1).4 persen dari PDB (Tabel 1. yang mencakup peralihan lembaga. stok modal. Pada tahun 1960. produktifitas buruh.

Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.4 0.52 5.7 6.84 25.5 1.3 1.0 3.7 2. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.3 3.3 3.2 1967 51.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.1 12.0 16.3 9.6 13.6 18.8 3.0 14.5 3.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.4 1973 40.2 1.49 7.1 0.1 5.9 3.3 2. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.6 15.3 4.8 3.64 15.3 6.3 6.5 0.7 8.9 1989 20.7 1.8 20.9 10.6 0.1.9 5.2 3.7 24.9 7.4 5.9 16.6 15.5 16.8 6.8 1.7 12. Tabel 1.57 9.6 10.0 6.9 14.57 2003 16. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.4 5. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.1 3.9 5.4 0.7 0. 2003.2 6.5 1998 17. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir . hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.6 16. 1960 53.9 21.5 0.7 8. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.0 3.6 3.9 1983 22.6 5.5 1993 17.

399.080 6.119.580 7.100 2.000 130.116.350 3.000 1994 4.224.821.000 Ekspor 826.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih. dan ketiga.700 261.168. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.730 2.420 4. 2002). industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko. alasan kedua.430 3.200 924.210 2. Tabel 1.130 143.110 197.720.695 250.220 1. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini. ekspor maupun .595.135 2.904.600 1997 7.800.970 2002 10.180 6.833.783.200.000 2000 9.2.951.945 5. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.015. Produksi. Impor. pertama.560 1999 9.837. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.970 3.097. 2003.600. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.530 5.913.500 3.950.560 4.479.805.487.198.120.280 4.054. 2002).212. Ekspor. Kapasitas.300 140.345.960 2. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).000 3.800 212.065.935 5.490 1996 7.000 2.630 199.290 4.425.600 2.800 2.180 6.390 3.800 1995 5. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171.641.000 8.849.882. baik kapasitas.300. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar.240 2001 10.472.840 249.800.000 Konsumsi 2.282.260 1998 9.520 1.446. jumlah produksi.

Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. misalnya. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang.4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1.2). I. sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya . Dalam hal bahan baku. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan. Begitu juga dalam hal tenaga kerja.2.

Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4.5 tersebut. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. ekspor-impor dan output sektoral? 2. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. ketenagakerjaan. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1.3. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. nilai tambah. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. ekspor-impor dan output sektoral 2. ketenagakerjaan. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . nilai tambah.

1.4. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper).6 3. kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya.4. industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan. Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain. Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). kertas tissue (tissue paper). . Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1.

Sebelum ditemukan kertas. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). prasasti dari batu. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. 2005). Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. kayu. kulit atau tulang binatang.1. sutera. Jerman. papier dalam bahasa Belanda. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. bambu. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. . Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. yang dihasilkan dengan kompresi serat. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.II.

Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah. 2.2. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. kimia. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. Pada akhirnya. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi. 2005). kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia.8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya.

sebagai berikut : 1. Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. Oleh karenanya. Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. konsumsi. pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu.9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. kapasitas maupun ekspornya. yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. 1997). Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu . Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven).

Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. meskipun biaya produksi relatif rendah. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. 3. Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). 2. Artinya. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Dengan demikian. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar.

Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. 2. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini.11 mengurangai polutan ke lingkungan. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. antara lain: 1. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup.3. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Oleh karena itu.

2. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. 2. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya.4. Indah Kiat Pulp & Paper. Lontar Papyrus dan PT. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . PT.

Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1. Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2.05931 0. Tabel 2.1).63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Jepara**** Ind.48518 1988 0.81150 1.38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.4267 1.13 (sektor industri pengolahan).2).59448 0.58216 0.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0.31431 2.11877 0.45022 1. transportasi dan sebagainya (Setyawan. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.54759 1. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai .76281 1.62204 2001 0.29125 1.13908 2.6293 0.34572 1.17604 0.75861 2. 2005). Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages).00802 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.64866 0. DKI Jakarta** Pertanian Ind.1 yaitu.07819 1. ***Setiyaji (1995).4432 1. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan.27222 Langsung & Tdk Langsung 1. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.00619 0.6028 2.1. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata. **Sahara (1998) . Pengolahan 3. ****Setyawan (2005).

9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Selanjutnya pada Tabel 2. Jepara**** Ind.2698 1. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. **Sahara (1998) . Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.48422 Koefisien Penyebaran 1. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan .38525 1988 0. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya.1719 1.21765 1. Pengolahan 3. Tabel 2. ****Setyawan (2005). Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1.0570 Kepekaan Penyebaran 1.33528 2001 1.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran.3.20609 1.2908 1.74816 1.1376 1.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri. DKI Jakarta** Pertanian Ind. ***Setiyaji (1995).

Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. 2. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah.5.5. Kerangka Pemikiran Teoritis 2.15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat).1. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara.

dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. Keseragaman (homogenity).16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. baik yang berupa input antara maupun input primer. Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS.

2. dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Namun demikian. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya. . yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. 3. nilai tambah impor. Kesebandingan (proportionality). Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. Penjumlahan (additivity). yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. penerimaan pajak. Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. Karena koefisien teknis dianggap konstan.

Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. Untuk analisis perubahan harga. 4.2.18 3. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. investasi. 4. 2. 5.5. Struktur penyediaan barang dan jasa. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. 3. Struktur permintaan barang dan jasa. 2. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. dan ekspor. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1.4 di bawah ini. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. .

… … … Akhir F1 F2 F3 . Xn … … … … . Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 .3. xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. 2000.4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : .xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 . yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. BPS. . Apabila Tabel 2. Jumlah Output X1 X2 X3 .19 Tabel 2. Permintaan n x1n x2n x3n .

Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran. yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. untuk semua j = 1. sebagai berikut : 1. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang . 2. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. dst (2. untuk semua i = 1.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom.20 ∑ Xij + Fi = Xi . Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. khususnya pada transaksi antara. 3. 3. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj . maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. 2.

Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat .6. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. 3. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji).21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. pembentuk modal tetap. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. pajak tak langsung. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. surplus usaha dan penyusutan. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. pemerintah. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. 2. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. 4. perubahan stok dan ekspor. 2.

Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. Sehubungan dengan itu. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . 2005).22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. kemudian.

23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. .

24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1. Bagan Alur Pemikiran Konseptual .

III. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Oleh karenanya.1. Pada analisis keterkaitan. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan. Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. 3.2. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. model analisis ini . METODE PENELITIAN 3. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model). Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj).1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input. Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j. Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3.AX .… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3.1. 3.3) (3.2) AX + F = X Atau F = X . Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 …….2.26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model). Koefisien Input Pada Tabel I-O. a1n a21 ……. a2n : A : a31 …….

5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. 3. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan.AX X = ( I . Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X .A )-1F (3. F = Permintaan akhir. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.2. Jika ditulis dalam bentuk persamaan.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir.2. ( I – A ) = Matriks Leontief. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . X = Output. 1. Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian.

n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka . Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.7) (3. KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan.6) (3.28 langsung per unit kenaikan permintaan total.

Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci.29 4. Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. 1. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang.3.2. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan .10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3.

Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief .30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2.

Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3.31 3.4. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3.12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2.2. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. 1. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.13) . Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.

32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan . Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

900 ton. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar.041.045.IV. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan. Oleh karena itu.1).666. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik. sampai dengan tahun 2003.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337.1. investasi dalam negeri swasta sebesar 5. dan investasi luar negeri sebesar 4. . 2005).180 ton. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik.500 ton (Tabel 4. Profil Industri Kertas Saat ini. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur. Group Sinar Mas. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah.

517.8 persen pada periode 19972001.045.215.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.580 74.045.600 Total 80 6. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.2.7 19.072.3 7.34 Tabel 4.1.180 4.2 46.287.322. . hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.491.6 9.382.528.287.580 2.8 43.100 1.5 100 25.554. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.500 10.000 3.1 persen per tahun. 4.500 Sumatera 14 5.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.100 5. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.4 50.287.100 Pulp % 3. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.2 14.440 1.000 Kalimantan 2 564.041.000 6.900 5.666.4 85.100 2.045.0 100 10.000 6.725.140 10.580 100 5. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.8 52.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.000 Kertas % 3.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.3 100 80.9 100 85. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.580 8. 2003). 2003.

Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun.2). Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10.35 Tabel 4.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4.3 kg 2002 24. 2003. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.2.0 kg 2003 25. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.0 kg 1996 16. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun.8 kg 2001 23.9 kg 1998 14.1 kg 1999 19. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus . bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita.0 kg 1995 14.1 kg 1994 13.3 kg 1997 16. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.6 kg 2000 20. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah.

08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. .32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia.1).3. Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri. 4. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih.

dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. 2002).4. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. dan India. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Malaysia.).37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Cina. 4. Pertama. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. yang menguasai . Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. PT. terutama pasar Asia. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura.

Suparma PT.4 0.2 1.465. Papyrus Sakti PT.2 persen.2 3.000 500. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.000 Persentase (%) 20. Gede Karang PT. Aspex Kumbong PT.4 0. PT.000 150.5 1. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT.500 93.800 450.000 85.000 430.1 persen (Tabel 4.044. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.400 60.000 150.986. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT. Pura Barutama PT.5 0. Fajar Surya Wisesa PT.6 28. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10.9 1. NAD.000 1. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT.4 0.3).38 20.000 350.000 2. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.4 4. Ekamas Fortuna PT. Adiprima Suraprinta PT. PT. Kertas Leces (Persero) PT. Pakerin PT. dan perusahaan ketiga adalah PT.000 1. .200 150.000 486.3. Surabaya Agung PT.9 1.000 150.000 157.5 persen dari total kapasitas industri.8 14. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT. Riau Andalan Kertas PT. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT.7 4. Pelita Cengkareng Paper Co.1 1. 2003. Tabel 4.000 700.4 4.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.800 195. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya. kemudian disusul oleh PT.4 10. Surabaya Mekabox Ltd. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT.111.8 1.5 6. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa.8 4.000 50.

000 ton kertas industri per tahun dan 100. Riau seluas 1. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp. masyarakat menguasai 38.39 1) PT.4). 980. yang menempati lahan seluas 28 Ha. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No.Y. 744.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978. PT. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). terutama pabrik kertas budaya di Tangerang.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.722 Ha . 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. kertas budaya. Pada susunan pemegang saham. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1.A.000 ton kertas budaya per tahun. PT. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. Pada saat ini.631.000 ton corrugated boxes per tahun. 2005).000 ton pulp per tahun. Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja.

British : 5.4. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. Dr.9 Ha.72% CHP International (BVI) Corp. Tabel 4. Boards PT. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52.78% Sumber: Bank Niaga. Co.05% Kong Masyarakat : 38. Hong : 0. Ltd..88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris . Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan. 2005. : Lo Shang Shung : Hj. mess karyawan dan lain-lain. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. Phd. : 2.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H.K.

Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate.000 ton per tahun.000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48.59 tanggal 26 April 1975. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No. Pada Oktober 1995.000 ton per tahun. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. 2005).57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. 2005). Akta Perubahan No. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas. Akta Perubahan No.5).6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No. Karawang (Pindo 1).5 tanggal 3 April 1975.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97. Akta Perubahan No. dengan Akta No.6 tahun 1968 tentang PMDN.75 tanggal 31 Januari 1975. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. .12 tahun1970.41 2) PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar. PT. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652.

Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004. 2005). Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham. Boards PT.5.57% : 0. 2005. PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No.6).42 Tabel 4. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas.61% 3) PT.91% : 0.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar . Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No. masyarakat menguasai 36. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.

30% : 0. perbankan dan jasa keuangan. Phd. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. : Lo Shang Shung : Hj. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan . Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur.6. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. real estate.43 termasuk industri kertas dan pulp. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Boards PT. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan. minyak goreng.10% : 36. bidang kimia. hotel dan perumahan. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. 2005. produksi bahan makanan. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. Tabel 4.

perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. meningkatkan pengawasan mutu disamping . diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. minyak wangi. Pada tahun 1994. kertas HVS mengkilap. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. Rotterdam.V. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. kertas tissue. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal.000 ton boxboard pertahun. PT. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. Belanda. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. Saat ini PT. dan sereal. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik.

PT Satria Perkasa Agung (19. kertas budaya dan tissue. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. dengan kapasitas produksi 60. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa.000 ton per tahun. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. Lontar Papyrus Pulp . Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen).45 4) PT.Ltd. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. 2005)..000 ton pulp per tahun dan 7.75 persen). Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. dengan produksi utama pulp jenis LBKP.7). Disamping pulp dan kertas. dan PT. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. PT.6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. PT.500 ton kertas per tahun. dalam rangka Undang-Undang No.

Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.25% Sumber: Bank Niaga. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002. Tabel 4.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0. Boards PT.7. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80.00% PT Satria Perkasa Agung : 19. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya. 2005. PT.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. Di samping itu. NAD.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. 2005). . perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa.

775 juta atau sekitar 1. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.629 juta. .626 juta atau 18.V. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya.415 juta atau 13.800.1.068.730 juta atau 11.977.460. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1.767. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5.71 persen dari total permintaan antara.048. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.701.870 juta.1.073.83 persen dan Rp 117.1.656. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.099.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144.21 persen dari total permintaan antaranya. Berdasarkan Tabel 5. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.1.

165 139.534.30 1.379 33.84 persen dari total permintaan akhir.774.73 8.424 8.574 1.16 1.74 8.53 0.257.48 Tabel 5.16 4.108 13.84 18.847 3.242.44 1.84 2.34 2.50 9.045.89 2.356 105.53 1.33 0.254 131.014.970.287.775 5.622 8.970.065 15.881 13.27 3.65 17.885.564.073.035 16.84 0.50 0.227.672.389.67 5.153.113 94.353.649 36.036 155.620 8.87 2.485 39.698.726.88 4.19 4.887 201.151 329.496.372 88.14 117.498 19.48 0.415 13.71 2.063 396.119.408 243.13 8.32 0.99 1.076.771.730 90.586.821.36 9.438.767.88 1.685.599 5. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.23 0.627.695 227.92 0.056 67.018 0.272.844.64 3.460.37 6.637.38 0.800.739.848.897.29 12.620 13. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.926 0.034 238.713 1.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.37 0.47 1.03 0.97 6.340.21 8.412.442.775.689.074 19.695.128 23.03 0.176 197.916 177.901.05 9.52 12.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.099 57.416.977.278 151.25 2.325.60 5.020 7.048.705 23.169 161.215 35.748.849 80.259 165.870 7.08 79.83 15.58 12.1.10 196.670 7.575 9.805.621 208.329.228. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .529.47 0.441.80 14.068.028 0.847 juta atau 0.287 2.629 4.099.87 6.657 12.214.37 5.019 11.656.677.99 1. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.948.741 10.125.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.276.34 0. 2000 (diolah).15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.42 5.613 64.593 30.034 41.850.11 1.743.605 94.13 0.815.43 14.626 70.961 1.036.724 5.701.595.426.700 3.729.944 0.09 1.760.568 21.160 6.64 2.067 0.849 24.476.817. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.51 1.

Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1.762 juta.895.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen.49 langsung (masyarakat.278.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto. surplus usaha.770 juta berasal dari upah dan gaji. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7. surplus usaha sebesar Rp 458. penyusutan dan pajak tak langsung netto.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1. Berdasarkan Tabel 5.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69.350 juta dengan perincian Rp 400.843.860. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang.331.048.079. penyusutan sebesar Rp 865. Rp 755. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.1.952. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi.967 juta (Tabel 5.498 juta berasal dari surplus usaha.849 juta. 5.2). . pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain.2. Rp 110.

605.963 8.062.164 13.723.378 476.843.333.567 26.947 Industri semen dan 3.107 14.511 29.296.877.143.886 2. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.233 65.208.195 112.084.352.048.331.860.396 325.901.664.489.588.708 127.063 barang non logam Industri logam 2.821 61.772.418 59.952.585.664.573.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.508.764 83.577.931.079.692.996.725 Industri kimia 21.034.530 penggalian Industri makanan 30.443 301.701 Industri kertas 1.670.778.131 115.756.372.458.670 4.012.256. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.350 Pertanian 40.279.576.759 10.182 30.382 4.226.257 19.463.266.902 6.212.43).567.103.702 926.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.919 1.081 834.228.774 11.073 3.385 Total 400.590.700.504 1.245 Pertambangan dan 25.704 6.623.912 9.770 755.343.762 4.576 dari logam Industri lainnya 19.232 97.017.705 7.895.569 11.616 5. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.393.240 28.114 pakaian Industri kayu dan 5.550.010.958 83.176 19.542 933.952 4.3.393.052 20.044.119.480.129 furniture Industri pulp 940.182.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.451 Listrik.278.028.914 Kayu 2.479 kertas Industri percetakan 1.554.50 Tabel 5.237 6.434 15.757 2.015.946 110. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.326 5.542 Bangunan 37.105 6.567 5. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .147.797.623 84. gas dan air 2.758.864.477.985 Hasil hutan lainnya 565.933 2.2.638 9.560 8.004.070 persewaan Jasa-jasa 85.781 8.063 4.459 53.484.731.243 1.690 777.946.639 Industri barang dari 1.430 dasar Industri barang jadi 3.212 3.975 865.655 2.591 564.414.905 2.973.072 64.875 429.803 4.169.278.703.046 1.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.365.948 3.327 3.127.756 12.968 115.383.625.475.229.524 487.358 1.714.132.418 Pengangkutan dan 16.536.340 Perdagangan 61.652 167.093.156 69.949 45.354 komunikasi Keuangan dan 21.718 147.142.564.802 134.088 105.311 9.727 76.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.562.898 138.177 21.392 225.229.116 7.512 1.440.511 770. 2000 (diolah).793.607 6.282.

Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.43 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.57 0.76 0.36 0. Tabel 5.51 0.320.3.20 0.3.64 0.04 0.74 0.47 0.79 0. 2000 (diolah). Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.1.43 0.48 1.55 5.27 0.45 0.84 0.33 0.948 jiwa.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).25 6.35 0. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan .26 0.36 0.

084.012.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.519 jiwa. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.623 85.616 3.664 8.134 20.282.515 225.877. Berdasarkan Tabel 5.83 14.802 16.448.212.15 0.48 3.03 37.143.843.03 65.576.504 1.64 6.20 18.169.762 1.418 3.551 3.279.797.06 0.4.034 115.803 19.670.914 2.65 26.692.97 66.88 3. Gas dan Air 4.931.20 18.42 0.938 9.30 12.004.392 Bangunan 17.511 61.4.320.225 45.327 Industri kertas 73.177 5.440.963 Industri lainnya 225.463.256.82 15.331.10 8.60 25.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.450. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .27 43.84 13.98 10.519 166.328.35 79.905 Industri kayu dan furniture 57.821 logam 1. 2000 (diolah).569 940. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.372.56 59.15 0.567 21.212 2.03 0.911 10.30 40.942 6.13 4.985 565.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.61 10.15 137.573.48 37.15 0.700.870.208.4.06 0.459 16.475.255 76.664.062.54 36.041.480.328.824 13.569.27 Total Upah (Juta) 40.39 203. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.590.585.017.161 9.508.12 24.655 Kayu 86.562 105.132.142.512 1.012.943 167.948 1.296.912 65.454 7.952.577.20 0.393.32 8.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.034.770 Upah/TK 0.708 30. Tabel 5.088 Keuangan dan Persewaan 11.333.051 2.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.352.266.921.592 112.06 0.727 Listrik.65 41.477.46 14.756 400. terlihat sektor industri kertas menyerap 118.705 Industri pulp 118.74 8.245 25.119.75 7.382 37.182 2.513 2.164 Pertanian 555.063 21.243 Jasa-jasa 93.99 4.860.07 18.912 non logam 357.607 Industri barang dari kertas 100.53 30.895.06 0.052 Industri tekstil dan pakaian 2.195 Penggalian Industri makanan dan 3.030 97.218 61.183. Jumlah Tenaga kerja.232 Industri percetakan 705.949 minuman 2.131 Komunikasi 1.567.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.

Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor.757 juta.84 persen dari total ekspor indonesia. . industri pengolahan.831.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000.507. 5.5).854 juta atau 2.4.1.385 juta atau 2. terlihat bahwa sektor pertanian. Dari Tabel 5. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18.125. nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.5. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut.53 sekitar 66. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.930. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66.5).623 juta.

617 2.49 4.016 0.512 281.677.18 minuman Industri tekstil dan 73.566.79 8.408 243.433 5.489.507.848 287.845 528.617.598.627.238.61 Industri percetakan 107.362. 2000 (diolah).641 37.602 19.65 9.262 17.373 1.413 0.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.053 -21.177 6.957.559.855 26. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.859 7.51 Jasa-jasa 569.326 2.337 5.399 -3. .048.413 176.620 12.588.613 27.365 5.340.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.540.29 kertas 3.698.865 353.322 32.10 persewaan 8.611.094.326 1.78 13.900.493.958.424 8.842 2.94 2.529.53 1.864.259.305 6.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.899 7.943.58 0.444.22 0.018 49. Tabel 5.86 6.95 0.58 0.722 -39. gas dan air 0 0.854 1.126 X-M (Juta Rp) 2.02 Kayu 394.944 196. sektor listrik.285.099 57.17 0. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.815.947 43.242.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.883.218 11.242.665 25.385 2.412.695 227.125.093.75 1.287 2.490.525.23 2.06 barang non logam 12.238.18 0.473.701.96 2.136.705 23.478 -2.063 396.061 4.857.22 Pertanian 124.268.97 pakaian Industri kayu dan 37.110 0.395.814 18.278 177.880.991.772.809 4.933 1.719.916 177.297 2.56 penggalian Industri makanan dan 29.403.247 0.050 4. gas dan air.979 2.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.821.336 1.739.942.163 63.580.298 4.485.287 161.52 15.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.489 8.53 furniture 5.908 10.028 2.554.531 541.959 30.30 Industri kertas Industri barang dari 1.603.38 0.040 1.317.805.466 13.161.01 1.824.722 39.120 3.29 17.637.900.694 2.305.089.971.59 dari logam 58.667.151 332.163.729.84 Industri kimia Industri semen dan 6.735.634.319 24.162.771.558.550 0. sektor bangunan.21 Industri lainnya 0 0.67 komunikasi Keuangan dan 11.850.620 13.930.796.534.214.088 -404.332 49.427 5.225.418 6.849 24.96 Industri pulp 13.5.99 6.567.864 9.814 71.775 10.622 8.353.167.881 40.00 Listrik.444.033 8.641 19.757 % 1.00 Bangunan 57.451 131.896.379 33.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

5997. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.58 Untuk industri kertas.8431. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3. 5.2. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0. .1272. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5.5997 juta rupiah.1857. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1.2051 dan 2.8552 dan 1.8775. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.9484.3378 juta rupiah.2.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

0199 0.0015 0.0045 0.0010 0.0017 0.0005 0. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.3.0031 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0012 0.0621 0. Koefisien 0.0006 0.0401 0. 2000 (diolah). gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0001 0.0004 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0731 0.9.0000 0.0181 0.0023 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0007 0.62 Tabel 5.0037 0.0944 0.0071 0.

hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian. Pada Tabel 5. gas dan air. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. industri kayu dan furniture.1. . 5. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang.3.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. listrik. Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman.

1495 1. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya. Koefisien Penyebaran 0.7215 1.0244 0..1571 1.2152 1.1199 1. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.0195 0. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.9359 1.1213 0. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.7953 0.64 Tabel 5.0066 1.0939 1.9611 1.1710 1. 2000 (diolah).0514 1.9611.10. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .7664 0.0016 0.8701 0.9715 1.9668 Untuk industri kertas. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.8509 0.0292 1.

sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi.2.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang.9504.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung.3. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor. Pada Tabel 5. . menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian.

9990 1.2195 0.7952 1. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.8080 0.3288 0.6644 1. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya.7603).309. industri tekstil dan pakaian (0.7603 0. 2000 (diolah).0242 0.8641 0.11. dan industri kayu dan furniture (0. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1.7914 0.8641).66 Tabel 5. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu. Kepekaan Penyebaran 1.9504 1. .6695 0.8149 1.0242). gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0309 0.3632 0.8302 0.7219 Sedangkan untuk industri kertas. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.8285 0.8961 0.6954 0.3019 1. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.6419 1.

Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi.1253. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.4. 5. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Nilai elastisitas output yang tinggi dari . Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output.1253 persen.2610 (Tabel 5.12). Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1. 5. Pada perekonomian Indonesia.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.1.2610 persen. pendapatan dan tenaga kerja.4. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output.

0759. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1.0023 persen.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.0759 persen. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1. Untuk industri kertas.2. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1.1650. Pada tabel 5. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. 5.0023. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu.1650 persen.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.4.

6903 ( 4 ) 0.1631 (18) 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.1737 (17) 0.7027 ( 6 ) 0.8877 ( 4 ) 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0. Tabel 5.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.1650 ( 1 ) 0.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0.0759 ( 2 ) 1.0901 (20) 0.0994 (19) 0.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.3072 (11) 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.0768 ( 1 ) 0.2778 (13) 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.3072 (12) 0.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.0485 (21) 0.5022 persen.3284 ( 9 ) 0.5495 ( 9 ) 0. Sementara pada industri kertas.0040 (22) Jasa-jasa 0.1253 (17) Perdagangan 1.1919 (15) 1.0431 (22) 0.0548 (19) Listrik.0441 ( 2 ) 0.3921 (15) Kayu 0.2240 (14) 0.7964 ( 5 ) 0.9779 ( 3 ) 1.6449 ( 5 ) 0.5022 ( 7 ) 0.2619 (14) 0.2772 (12) 1.0009 ( 3 ) 0.6438 ( 7 ) 0.3103 (11) 0.0247 (22) 0.1790 (16) 0.6005 ( 6 ) 0.0139 (20) Industri lainnya 0.2764 (13) 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1. gas dan air 0. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.1790 (17) 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.1659 (18) 0.3319 (10) 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1.2591 (16) Industri pulp 0.0980 (19) .9020 ( 7 ) Bangunan 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.4772 ( 8 ) 1.1877 (16) 0.6084 (10) Industri kimia 0.0443 (21) 0.12.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.2133 (15) Output Pertanian 0.0900 (20) 0.6093 ( 8 ) 0.3127 (10) 0.5022.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0. 2000 (diolah).

Pada industri kertas.0441 persen. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0.0768 persen. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.0441.4. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1.12).0768 (Tabel 5. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif.6093. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.3.6093 persen. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain. .70 5.

pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). gas dan air. yaitu: (1) perdagangan. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. (2) industri makanan dan minuman. pendapatan. (3) pertambangan dan penggalian.5. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. (6) industri kertas. (8) industri kimia. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. (9) listrik. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. dan (10) hasil hutan lainnya.71 5. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. (7) pertanian. dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. (4) pengangkutan dan komunikasi. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. (5) industri pulp. dampak penyebaran atau elastisitas input-output.13).

72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.13.5 14 20 20 16 8. Tabel 5.5 11 1 4 17. 2000 (diolah) . Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12.5 10 3 2 12.5 5 6 20 22 8.5 17.

6.73 5. Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. 2. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. antara lain yaitu: 1. Pada sub-bab sebelummya. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal). berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah.

2005). menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. . Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM).74 Presiden No. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang.

industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.622 juta. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13. kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian).385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. KESIMPULAN DAN SARAN 5. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118. Pada struktur permintaaan.125.507.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas. 1. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24.847 juta. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. .970.VI. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13.771.800. 2.454 jiwa. Pada struktur ekspor dan impor.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0.895.1.

sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. pendapatan. industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. terutama pulp. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. Namun di sisi lain.0309). industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. maupun tenaga kerjanya. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output.76 3. Bersama dengan sektor kunci lainnya.9611). 4. .

industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia. dapat disampaikan saran berikut ini. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. 2. 1. Saran Berdasarkan hasil analisis. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut.77 6. . Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp.2. 3.

M. Jakarta. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. Italy. 2000. M. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. 17. . http://www.D. Monopoli dan Regulasi. Macerata. P. Raja Grafindo Persada. Karseno. dan Mulyaningsih. LP3ES. New Jersey. 2005. R. H. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. APKI. No. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. BPS. A. Ekonomi Industri : Persaingan. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. Niaga.go. M.com/content/content. bankniaga. Mansur. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. Muchtar. 2000. R.id/ publikasi. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques. Miller. Vol. Puspitawati. Jakarta. E.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. Bogor.asp?id=NNA [30 September 2005]. T.com [18 Februari 2005]. Institut Pertanian Bogor. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. B. 1985. Deprin. Prentice Hall. Fakultas Pertanian. Imansyah. Hal.L. 2005. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 2000. Bogor. dan Blair. Jakarta. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. http://www. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. 2.harianterbit. N. 136-149. E. BPS. 1997. USA. 2002. 1993. Jakarta. [30 September 2005] Hasibuan.deprin. http://www. 2005. Tabel Input-Output Indonesia 2000. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. 2003. Jhingan. 2002.

Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Setyawan. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi].org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. Vol. 2002. Bogor. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Prosiding Seminar. Institut Pertanian Bogor. . Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. 2005. http:// www. Fakultas Pertanian. dan Vidyatmoko. R. I. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Bogor. Fakultas Ekonomi Manajemen. ”Kertas” [Wikipedia Online]. No. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. 4. Bogor. H. Institut Pertanian Bogor. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Sahara. Sipayung. 2005. Bogor. D.79 Rosadi. 2000. A. Departemen Ilmu Ekonomi. 1995. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. T. 2004. 5. Institut Pertanian Bogor. Wikipedia. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen.wikipedia. 1994. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. 194203. Bogor. Institut Pertanian Bogor. dan Pambudy. A. Y. Ruhmaniyati. Setiyaji. Departemen Ilmu Ekonomi. Hal. S. 1998. Tjandrawan.

LAMPIRAN .

gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. 031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - .81 Lampiran 1.

82 .

702 (250.666 65.918.441 8.557.867 3.492 528.241 75.850.151 825.811.618 174.815.537.479.217.030 13 20.613 111.458.955 23.507.845 40.296.854 1.826 927 3.850 337.764 20.130 77.114 8.333 287.939 5.809 448.718.086 5.405 6.504 1.941 1.034 1.646.957 7.567 19.569 11.407.114 5.514 33.890 49.979 5.725 1.627.010.099 1.913 151.942 12 8.460 175.454 10 0 3.010 7.884 378.479 83.919 4.617 382.385 20.213 64.867 6.849 57.478 63.134 8 203.426 102.590 5.043 4.778.427 2.049 112.319 504 17.792 116.335.930 129.322 2.895.337.Lampiran 2.089 47.534.424 2.772.797.418 59.493.258 4.308 853.663.225 7 45.405.771.628 123.777 7.811.321 5.241 1.183 19.606.443 4.758.664.143.755 17.905 57.914 121.679.305.333 29.237 4.282.195 196.670 6.996.414.539 77 186.525.519 2 628.293 2. .785.256.099 2.946 64.051 9 77.834 1.190 41.297 479.325 3.052 131.628 22 85.817.515 25.809 1.227 72.735.320 1.579 55.694 21.857 1.554.607 8.306 815.430 55.349 206.894 6.975 83.298 16.542 1.656 2.700.600 181.063 1.933 112.688.513 4 19.731.359.306.292.947 1.958 487.705 705.899 1.333 4.615 23.864.796 55.903 7.441 610.368.774 147.396 166.063 4.780 41.442 3.855 76.648.540.561 1.917 375.001 2.567.183 17.800 53.592 6 2.577.491 11.145.870 210.427.718 3.319 30.588 6.210 51.554.429 0 64.441 967 8.938 6.512 1.394 141.708 127.302 43.103.212.164 224.534.877 3.072 325.467 1.858 40.664.705 8.393 13.643 8.824.620 73.064 55.459 53.235.622 118.480.362 161.908 14.048 32. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.626 3.596 643.800 17.486 100.838 1.890 1.232 13.290.805.513 798 315.208.777.206 15.323 82.451 3.560 5.417 121.550 754.250 478.895.775 19.926 10.229 1.991.901.858 26.824 40.412.097 590.670 7.602 25.817 378 627.821.949 332.043 1.040 29.720 2.849 23.667 3.655 17.403 32.340.486 5.229.169.346 38.898 115.338 627.524 2.117 594.098 7.908 141.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).963.354 5.553 108 5.991.069 338.311 2.543 5.867 4.343 332.352 975.560 28.931 59.155 7.187 416.506 493.574 1.652 2.240 13.091 20.036 8.936 36.782.080 264.170 904 57.839 4.437.509.623.912 23.083 224.524 1.634 1.442 120.530.568 1.129 2.110.577 159.277 246.732 1.167.292 5.560 21.371 1.370 110 84 1.024 5.238.785.853 110.489 59.738 25.839 1.701 301.585.590 44.526 0 737.399 1.755 162.395.190 18.605.462 55.539 4.947 11.530 8.592 916.281.508.725 138.824 90.985 9.881 2.551 11 0 271 122 11.781 6.177 21.886 2.770 35.116 490.094.798 105.453 11.698.606 1.739.575.418 1.040 2.003 363.905 2.772.365.426 874 728.443 429.973 1.952.644 45.046 926.440.244 1.990 8.484.714.028 555.711.171 1.871 2.569 34 8.182.073 8.591 10.968 7.536.558.379 648.056 33 4.160 823.364 2.135 200.218 1.453.566.330 296.404 151.944 86.069 6.093.358 933.550.459 131.411.692.946.693 181 11.958 683.203 19.450.837 15.427 3.989 146.824 3 2.895 2.408 100.119.083 7.228) 97.570 3.355 8.660.860.433 565.638.452 5.371 22.327 24.212 3.588.739.902 2.473 2.750 0 13.017.489 940.012.703 4.040 1.597 18.851 37.553 13.387.062.876 348 994.813.759 243.828 61.459 553.982.799 5.391 448.245 1.004.014.875 45.176 167.494 1.441 370.327.192 10.343.026 84.073.590.484.762 4.749 24.541 16.943 5 101.252 43.328.625.037.973 369.262 40.576.639 865.228 69.563 6.059 106.

463.570.852 121.564.354 19.567 26.990 18.870 126.352.672 6.938 15 7 6.515 20 299.338 4.393.161 16 620.803 4.196 11.032 448.805 2.995 65.088 161.248 966.139 10.388 38.800.875 3.Lampiran 2.664 18 4.842 123.502 4.030 39.437 791.915 13.875 1.243 177.775 5.398 13.158 5.012.331.961 1.076.113 94.206 438.382 1.247.609 151.048.511 29.287.870.275.643 1.292 6.626 70.228.667.767.372.130 9.393.044.864.601 21.281 60.995.902.390.155 1.385 1.344 3.664 156.215 35.218 17 4 14.525 1.525 11.019 14.134 11.065 15.264.226.676 1.731.073.623 84.177 2.110.070 6.015 1.915 1.019 287.891 123.979 350.948.666 2.332 12.214.562.544 967.525 1.959 1.084 3.142.397 114.821 27.278.951 232.678 19.297 19.353.723.966 18.931.657 12.238.011.921.489.203.074 19.741.420.767.200.567 26.472 105.056 3.604.588.229.278 17.565.441.963 62.034 22 2.349 8.246 2.167.817.434 76.559 322.746 32.028.948 .344.542 4.700.320.382 4.117 1.034.678 7.928 69.250) 8.729.578) 1.179 17.361 758.477.843 149.278.564.126 93.713.305 20.670 19.739.153.360.642 36.000 213.775.756.048.973.600 441.448.637.727 30.983 3.350 130.108 19.529.887 124.778 1.802 134.781 337.127.372 88.810 2.015.411.106.169 4.116 770.014.876.952 5.705 859.926 117.568 21.455.738 824.559 27.117.218 21.105 476.310.392 227.085 15.458.876.079.727 9.685.498 19.460.848 85.383 143.081 564.465 5.383.649 157.705.791 866.107.916.260.228.255 19 10.950 527.383.729.668 341.180 14.279.610 7. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.176 197.761 137 85 121.756 12.553 13.266.084.228 1.698 49.097 1.005.480.186.661 524.724.244.808 158.798 5.271.547.730 90.272.825 1.476.946 777.742.128 23.093.076.748.598.350 2.405 6.164.966.378 61.463.505 723.063 111.147.576 834.125.503 7.107 3.511 9.757 400.726.020 7.331 1.368.327 19.695 225.649 36.757 225.649.354 37.078 1.475.749 609.429 11.944 3.407.892 1.670.860 2.704 3.253.671.442.444.412.041.594 50.715 373.579 4.194.202 4.221.002.498 110.242.310 6.999 6.677.823.844 882.708 59.703.192.741 10.261 6.649.063 4.870.499 1.172 0 141.131 151.797 15.079.690 115.142 10.855 61.415 15.770 755.872 278.071.861 35.866 1.206.948 (3.028.830.326 9.340 6.997 34.912 21 34.812 173.562 180 144.575.713.175.332 3.595 1.980 42.182 30.923 16.451 7.930.127 19.616 5.713 2.713 197.652.569.641 37.169.780 1.697 6.292 3.451.100.333.197 4.723 41.016.744.179 26.332 3.223 22.859 16.287 11.132.385 6.045.844.613 357.786 3.574 1.877.981 156.509 2.060.945 37.580.063 8.226.257 15.727 100.638 33.100) 65.896.597 5.213 16.399 3.413 259.360 3.189 19.793.006.919 398.428 117.233 396.900.401 110.817 215.963 176.242.183.073 (30.635 64.377.573.035 16.663 1.113 3.089.860.630 1.111 382 16 1.237 2.843.136.802.727 27.084 15.430 1.858 495.593 2.138.161.038 13.584 3.977.036.445 412.973 6.732 (3.156 105.577 8.563 510.722 2.139 2.916 1.529.652 411.418 14.106 4.700 3.760 1.

783 520.620 13.766 15.592 110.018 79.119.605 94.782.595.881 13.483.480 402 15.187.637.658.831.586.786.420.622 8.479.837 32.048.044 8.916 177.282 301 14.162.774.927.294.629 152.847 3. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.316.848.553.821.211.496.614 794.Lampiran 2.387.713 1.707.209 234.438.949.045 25.241.831.398 613.471 38.071 1.643 115.485 39.214.525.808.935 88.743 3.353.276.573 20.497 302 88.305 5.623 306 1.970.269 4.076 2.327 1.143.356 105.561.771.514 305 6.724 5.695 227.238 77.042 41.241.743.599 5.627.942.438 304 1.193.287 2.943.028 2.110 107.697 937.426.849 24.620 8.125.272.034 41.454 856.243.600 272.036.473.534.036 155.200 520.188 2.965.539.696 668.552 1.056 67.088.167.582 2.850.099.621 133.385 1.935 1.267.698.034 238.851.620 37.813.435 4.162.865.202.239 8.747 942.340.689.242.944 196.408 243.568 646.416.480 6.227.865.365 57.933 748.136 48.457.315 90.466 29.634.067 1.871 18.849 80.617 8.491 474.665 303 189.379 33.329.901.412.887 9.613 64.374 51.642 67.326 12.775.247 77.016 394.400.96 42.158 1.393 208.897.739.837 441.559 199.225.575 17.254 131.818 108.325.114 310 260.086 112.259 165.321 835.777.677.165 139.670 7.437 68.028.760.294 8.857.933 124.883.278 151.503.689.571 11.733 15.480 15.695.621 208.151 329.790.413 3.099 57.552 309 115.160 1.413 14.044 403 8.001.033) 5.373 55.389.815.637.125.550 13.842 31.169 161.534.416 2.108 13.257.114.028.885.068.337 73.658.284 314.513 2.623 48.593 30.013.988.965.705 23.454 .111.656.161.466.063 396.268.805.701.495 11.672.485.210 29.785 158.798.424 8.008.730 209.779.581 64.433 37.673 (68.814 6.887 201.447 401 314.488.957.389.729.281 292.

739.575 17.534.340.739.613 64.242.944 196.698.099 57.119.805.438.805.701.849 24.622 8.593 30.837 3.695 227.988.677.447 103.254 131.143.254 131.575 17. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.272.627.815.837 441.278 151.063 396.424 8.151 329.771.408 243.916 177.325.242.272.729.469 - - - - 2.837 700 260.677.850.672.849 24.637.627.705 23.729.165 139.379 33.169 161.379 33.353.099 57.214.438.821.637.698.620 13.287 2.063 396.408 243.412.469 501 502 503 509 600 260.853.705 23.672.028 2.821.287 2.028 2.701.169 161.620 13.214.701.284 - .088.622 8.916 177.165 139.593 30.353.278 151.534.099.412.815.Lampiran 2.850.695 227.099.944 196.340.771.099.325.151 329.853.119.424 8.613 64.

0001 0.0000 0.0028 0.0213 0.0073 0.0050 0.0003 0.0007 0.0002 0.1393 4 0.0003 0.0042 0.0211 0.0116 0.0800 0.0181 0.0385 0.0401 0.0000 0.0020 0.0621 0.0021 0.0022 0.0025 0.2391 2 0.0000 0.0934 0.0059 0.0027 0.0171 0.0802 0.0066 0.0000 0.0424 0.0000 0.0005 0.0001 0.5687 8 0.0010 0.0352 0.0000 0.0000 0.0464 0.0009 0.0142 0.0015 0.0002 0.4078 12 0.3378 10 0.0035 0.0044 0.0012 0.0000 0.0006 0.4673 7 0.0000 0.0090 0.0001 0.0153 0.0000 0.0000 0.0008 0.0319 0.0000 0.0073 0.0000 0.0022 0.0003 0.0280 0.0519 0.0000 0.0014 0.0002 0.0000 0.0731 0.0015 0.0005 0.0000 0.0003 0.0003 0.0000 0.0005 0. .2497 0.0782 0.0000 0.0250 0.0201 0.0119 0.0087 0.0000 0.0002 0.0040 0.3183 0.0477 0.1780 0.0009 0.0000 0.0000 0.0000 0.0009 0.0224 0.5356 11 0.0073 0.0171 0.0011 0.Lampiran 3.0003 0.2448 0.0000 0.0047 0.0050 0.0000 0.0083 0.0718 0.0000 0.0000 0.0238 0.0001 0.0047 0.0061 0.0021 0.0000 0.0078 0.0155 0.0083 0.0000 0.1188 5 0.0017 0.0001 0.0013 0.0002 0.0734 0.4217 13 0.0002 0.0000 0.0004 0.0022 0.0168 0.0003 0.0000 0.0000 0.0002 0.0000 0.0002 0.0000 0.0362 0.0000 0.0001 0.0015 0.0002 0.0000 0.0057 0.0000 0.0428 0.0001 0.0000 0.0023 0.0001 0.0000 0.0310 0.0535 0.0000 0.0001 0.0026 0.0003 0.0001 0.0086 0.0000 0.0350 0.0317 0.0004 0.0646 0.0000 0.0000 0.3957 9 0.0004 0.0506 0.0001 0.0031 0.0433 0.0026 0.0016 0.0000 0.0000 0.0008 0.0119 0.0094 0.0000 0.0000 0.0000 0.0239 0.0289 0.0022 0.0000 0.0000 0.0008 0.0010 0.0002 0.0008 0.0002 0.0002 0.0002 0.0000 0.0097 0.0001 0.0000 0.0025 0.0000 0.0016 0.0013 0.0000 0.0599 0.0233 0.0003 0.0944 0.6039 6 0.1247 0.0007 0.0000 0.0008 0.0011 0.0730 0.0000 0.0000 0.0000 0.0007 0.1094 0.0005 0.0009 0.0041 0.0000 0.0010 0.0037 0.3052 0.0000 0.0001 0.0071 0.0006 0.0001 0.0056 0.0013 0.0005 0.0025 0.0001 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0008 0.0220 0.0053 0.0355 0.0023 0.0000 0.2445 0.0199 0.0000 0.0002 0.0016 0.0836 0.0007 0.0105 0.0045 0.2130 0.0000 0.0002 0.0059 0.0005 0.0000 0.0217 0.1794 3 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).1354 0.0010 0.0036 0.0004 0.0006 0.0000 0.0006 0.1335 0.0001 0.0073 0.0001 0.0107 0.0555 0.0000 0.0000 0.0243 0.0000 0.0001 0.0001 0.0002 0.0182 0.0000 0.0000 0.0011 0.0001 0.0446 0.0096 0.0436 0.0001 0.0023 0.0003 0.0000 0.

0939 0.0369 0.0317 0.1737 0.0221 0.0000 0.0000 0.0008 0.0001 0.0020 0.0010 0.3580 0.0047 0.0495 0.0007 0.0000 0.0336 0.0147 0.0007 0.0003 0.0010 0.0276 0.0105 0.0002 0.0000 0.0900 0.0004 0.3319 0.0009 0.0099 0.0172 0.0013 0.4070 0.0000 0.0047 0.0039 0.2790 0.0000 0.6530 18 0.0001 0.0002 0.1877 0.0000 0.0000 0.0180 0.0867 0.1548 0.0272 0.0001 0.0044 0.0236 1.0000 0.0002 0.3675 17 0.7433 .0277 0.0000 0.0261 0.0128 0.0023 0.0000 0.0532 0.0187 0.0071 0.0817 0.2764 0.1082 0.0000 0.0024 0.0620 0.0371 0.2619 0.0007 0.0000 0.0001 0.0000 0.0001 0.0003 0.0001 0.5635 15 0.0315 0.0000 0.0001 0.0008 0.0131 0.0589 0.0008 0.2400 22 0.0000 0.0091 0.0000 0.0278 0.0000 0.0364 0.0000 0.0000 0.0108 0.0010 0.3821 20 0.4161 16 0.0360 0.3103 0.0001 0.0000 0.1919 1.0626 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0001 0.0037 0.0074 0.0000 0.0025 0.0369 0.1631 0.0000 0.0604 0.0000 0.0058 0.0485 0.0007 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.7964 0.Lampiran 3.0014 0.0001 0.0016 0.0000 0.5997 0.4884 19 0.0295 0.0400 0.0000 0.0020 0.0004 0.0055 0.0226 0.0002 0.0001 0.0002 0.0010 0.0002 0.0474 0.6438 0.0980 8.0502 0.1097 0.0465 0.0022 0.0002 0.0081 0.0000 0.3072 0.0258 0.0011 0.0431 0.0226 0.0001 0.0007 0.0006 0.0049 0.0005 0.0000 0.0003 0.0319 0.0001 0.7027 0.0038 0.0053 0.0804 0.1020 0.0508 0.0035 0.0078 0.0019 0.0030 0.0046 0.0000 0.0572 0.0001 0.0150 0.0023 0.0020 0.0200 0.0158 0.0100 0.0000 0.0889 0.0032 0.0000 0.0001 0.0352 0.0012 0.0027 0.0000 0.0033 0.0179 0.0085 0.0220 0.0348 0.0000 0.0008 0.0180 0.3390 Total 0.0223 0.0000 0.0009 0.0511 0.0003 0.0000 0.0009 0.0007 0.0230 0.3945 21 0.0007 0.0771 0.1006 0.0331 0.0373 0.0791 0.1790 0.0244 0.0163 0.0130 0.0000 0.4633 0.0275 0.0048 0.5495 0.0000 0.

6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0261 0.0052 0.0011 0.0013 0.0058 0.0452 0.0021 0.0001 0.0007 0.0394 0.0221 0.0015 0.0494 0.0044 0.0012 0.0005 0.0005 0.0036 0.0017 0.2872 0.0090 0.0014 0.0001 0.0053 0.0033 1.0054 0.0004 0.0446 1.0260 0.0014 0.0058 0.0044 0.0012 0.0010 0.0094 1.0034 1.0031 0.0006 0.0134 0.0193 0.0055 0.0018 0.0093 0.0133 0.2508 0.0006 0.0626 0.0067 0.0007 0.1133 0.0003 0.0011 0.0002 0.2287 4 0.0001 0.0007 0.0055 0.0021 1.1048 0.0065 0.1548 0.0012 0.0006 0.0106 0.0109 0.0172 0.0105 0.0337 0.0052 0.0180 0.0004 0.0014 0.0681 0.0059 0.0010 0.0166 0.0037 1.0076 0.0196 0.0036 0.0013 0.0049 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0474 0.Lampiran 4.0014 1.0006 1.0397 0.0082 0.0002 0.0046 0.0123 0.0287 0.0052 0.0017 0.0008 0.0051 0.0016 0.0086 0.0137 1.0001 0.0137 0.0943 0.0636 0.0118 0.1140 0.0050 0.1036 0.0133 0.6424 12 0.0112 0.0052 0.0002 0.0006 0.0005 0.0109 0.0291 0.0112 0.0022 0.0080 0.4000 0.0003 0.3235 1.0007 0.1920 0.3950 2 0.0000 1.0021 0.0008 0.0166 0.0108 0.0013 1.0386 0.0011 0.0008 0.0770 0.0025 0.0013 0.0004 0.0467 0.8775 8 0.2025 0.0061 0.0230 0.0032 0.0009 0.7956 7 0.0303 1.0164 0.0078 0.0002 0.0009 0.0019 0.2751 3 0.0097 0.0016 0.0394 0.0220 0.0009 0.0163 0.0260 0.0345 0.5409 10 0.0034 0.0275 0.0240 0.5577 13 0.0008 0.0080 1.0452 0.0003 0.6059 9 0.0749 0.0153 0.0775 0.0008 0.2088 0.0542 0.0013 0.0097 0.0170 0.0782 0.0054 0.0322 0.0001 0.0013 0.0042 0.0010 0.0474 0.0079 1.0382 0.0012 0.0077 0.0043 1.0030 1.0014 0.0014 0.0001 0.0024 0.0072 1.0042 0.8431 11 0.0000 0.0005 0.0378 0.0001 0.0072 0.0163 0.0441 0.0508 0.1031 1.0017 0.0463 0.0046 1.0130 0.0026 0.0024 1.3337 0.0648 0.1683 0.0294 0.0481 0.0024 0.0001 0.0007 0.0001 0.0148 0.0005 0.0602 0.0009 1.0440 0.0030 0.0359 0.0007 0.0002 0.0011 0.0099 0.0767 0.0134 0.0043 0.0005 0.0122 1.0026 0.0008 0.0981 0.1038 0.2921 0.0050 0.0327 0.9484 6 0.0032 0.0000 0.0155 0.0017 0.0009 0.0009 0.0059 0.1567 5 0.0035 0.0192 0.1178 0.0009 0.0304 0.0483 0.0009 0.0004 0.0155 0.0004 0.0063 0.0357 0.0991 0.1068 0.0007 0.0012 0.0116 0.0021 1.0938 0.0008 0.0028 0.0221 0.0011 0. .0005 0.0826 0.0062 0.0042 0.0074 0.0000 0.0015 0.0965 0.0584 0.0030 0.0002 0.0034 0.1045 1.0004 0.0076 0.0036 0.0138 0.0121 0.0100 0.

0498 0.5005 16 0.0007 0.2689 1.6529 1.0007 1.5500 Total 1.0134 1.0119 1.0020 0.0056 0.0532 0.0011 0.0170 0.0855 0.0105 0.2191 1.0007 0.0219 0.1857 1.6346 21 0.0102 1.0015 0.0449 0.0018 0.0115 0.0018 0.0010 0.0003 0.0056 0.0058 0.0020 0.0166 1.0007 0.0653 2.0095 0.0254 0.0173 0.0001 0.0537 0.0067 0.0198 0.8552 18 0.5581 0.0000 0.0291 3.0088 0.0004 0.0718 0.0105 0.1284 0.0025 1.0028 0.0068 0.0008 0.0772 0.0053 0.0001 0.0874 2.0802 0.0104 0.0274 0.0002 0.0488 0.1306 1.0404 0.1331 0.2955 1.0003 0.0013 0.7978 15 0.0016 0.0038 0.0261 1.0050 0.0018 0.0139 0.0057 0.0208 1.1395 0.0063 0.0444 0.0084 0.0024 0.0558 0.0009 0.0999 0.6501 17 0.0039 0.0090 0.1272 1.0137 0.1095 0.0041 0.0724 0.0082 0.0059 0.0054 0.0041 0.1247 0.0038 0.3855 1.0516 0.0005 0.0661 0.Lampiran 4.0013 0.0003 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0010 0.0001 0.0481 0.0116 0.0004 0.1116 0.0073 0.0024 0.0041 0.0182 0.0063 0.0082 0.0184 1.0183 0.3310 1.0025 0.0045 0.0098 0.0031 1.0515 1.0517 0.0267 0.0014 0.0599 0.0013 0.0816 0.0338 1.0008 0.0062 0.0377 0.0522 0.0058 0.0171 0.4368 1.0348 0.0734 1.0416 0.0054 0.6138 20 0.0010 0.0216 0.0487 0.0071 1.0026 0.0013 0.0068 0.0018 0.0298 0.0020 0.0247 0.1550 1.0009 0.3066 3.1150 1.0028 0.2750 1.0284 0.0022 0.0044 0.0008 0.0120 0.0856 1.0544 0.0237 0.2733 Total .7539 19 0.1062 0.0048 0.0012 0.0166 0.0012 0.1575 35.0018 0.0607 0.0002 0.0042 1.0006 0.0009 0.0638 0.0000 0.0441 0.0239 0.0454 0.0343 0.0038 1.0395 0.0004 0.1194 0.0078 1.0828 0.0026 0.0450 0.0017 0.0010 0.0001 0.0212 0.0468 0.0032 0.0051 0.0001 0.0274 0.9552 1.6422 1.0420 0.0040 0.0755 0.3732 0.1589 0.1049 0.0025 0.0018 0.0001 0.0000 0.2051 2.0246 0.3283 1.0235 0.0171 0.0016 0.0008 0.0715 0.3643 22 0.0502 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful