ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

131 644 945 Mengetahui. MS NIP. NIP. Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Dr. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Menyetujui. Arief Daryanto. Ir. Dr. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: .Ec. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi. M. Ir. Dosen Pembimbing. Rina Oktaviani. Institut Pertanian Bogor.

Bogor.PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .

Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. Selama menjadi mahasiswa. Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. dan HMI Komisariat FEM. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. . Propinsi Jawa Barat. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. Formasi.

terutama kepada Bapak Dr. Semoga karya ini dapat bermanfaat. Arief Daryanto. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Institut Pertanian Bogor. Bogor.1r. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. M. yang telah memberi masukan. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.Ec. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Selain itu. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini. Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

..... 2............. PENDAHULUAN .............2.... 2........................................................................ 2.................................................................................. Model Input-Output ...... 2.........4.......................................2...... TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ..................2... 1.................................... I.............................1......3................................................ 3...2.................................... V................................ 2..................................................................... Penelitian-Penelitian Terdahulu .......................... 1.. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas ...2... Ruang Lingkup....................... 2.... Kerangka Pemikiran Teoritis ....3......................... Perkembangan Industri Kertas ............................................................................ III............................ x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 .......... 4.................................................................................5............................ 1.................. Jenis dan Sumber Data .....2..................................................................................... Analisis Keterkaitan .................................................. Struktur Tabel Input-Output..........4................ Konsep Pembangunan Industri Kertas ........................ Kerangka Pemikiran Konseptual ............................. 3..........................1............................. METODE PENELITIAN......... 1...1................................................................. Analisis Dampak Penyebaran . Latar Belakang ..........................5........ 2..................... 4...................................2.................5.............................. Elastisitas Input-Output.3........ Koefisien Input........... 3...1....................................... 3..............1......2...........6.......................... Manfaat Penelitian .. 3.............. Definisi dan Sejarah Kertas.................................................................3.........1..................................2..2...............5... II... DAFTAR LAMPIRAN.................... 1....... Profil Industri Kertas.. Tujuan Penelitian ............ 3........ Metode Analisis .....................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL.............. GAMBARAN UMUM INDUSTRI ........ DAFTAR GAMBAR ..... 2................... Perumusan Masalah .................

............................... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas .....................................2.................... Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia.......4........... Elastisitas Pendapatan ... Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung .................2.. 6.......... Struktur Permintaan Industri Kertas . LAMPIRAN................. 4............. 5...................... 5........... Saran.......... V...........4.......... Elastisitas Tenaga Kerja......................................3....2. Struktur Nilai Tambah Bruto .......2............. Struktur Ekspor dan Impor...................................................................1..............3.................................... VI. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian ..... 5.2.....1.......4......3.........2......................... 5...4...5............. 5............................................ KESIMPULAN DAN SARAN ........2................................ Implikasi Kebijakan ...........................1....4.................................................2..................................................... HASIL DAN PEMBAHASAN...... Struktur Ketenagakerjaan....... 5........ 5.... 5................................................ Struktur Output Sektoral .1...1. 5......................3......1..2........................... 5................ Keterkaitan ke Belakang Industri kertas . 5......... Koefisien Penyebaran..................1............... 5..................... Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia .......2.. 5.... Kepekaan Penyebaran ... Elastisitas Input-Output................................................1......................4.. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia...................................3.........1.......................................................6............................................1................ Elastisitas Output ..... 5........................ Analisis Keterkaitan .. 5. DAFTAR PUSTAKA ............. Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran................... 5...............5.................2..................... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia . 6................... 5..........2..... 5..... 5........................................ 5.....4.........3.... 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 ..3......... Kesimpulan .

4............ Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ..........3....2. 4..... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000.......7...............3....................... 2............... Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 .......4............... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan ... Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 .............................................................................................. 5............. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran................ 2 1....4.... Jumlah Tenaga kerja............. 5............................... Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 ............ Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003..................... Struktur Tabel Input-Output.. 4........... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003....................... Boards PT....................................2.......DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1.1.......... 2.....6...1.................... ............. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 .............. 5.............. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002...... Boards PT...................... Boards PT.. 2..... 4..................... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 ..........1..2.........................................1.......... Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 .......................... 5.................3................2...... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 ...............5... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 ............. Kapasitas Produksi........ Impor...... 4...... Boards PT......... Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha.... 4..... 4.........

.............. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia .........13............ Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ...............................5.......................10....8.....12...................... Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia..... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia ........ 5................................ 5......... 5.......... Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 .................................. 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ........................6.. 5..... 5...................................11...........5......... Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 ........................... 5....... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia ...... Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ..7....... Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia.................. 5...... 5.....................9.................................

........DAFTAR GAMBAR Nomor 1............ Halaman 24 ..... Bagan Alur Pendekatan Studi .................................

....DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1............ ...... 4........ Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 ............ Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor ..... Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor ................... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor...................... 2............... 3.....

Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. yang mencakup peralihan lembaga. Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern. sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. produktifitas buruh.1). 2002). Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri .I. Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB.9 persen). sikap sosial. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan.4 persen. PENDAHULUAN 1. stok modal.4 persen dari PDB (Tabel 1.1. Pada tahun 1960. dan motivasi yang secara radikal. Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia.

5 0.9 3.57 2003 16.4 5.5 16.9 7. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.1 3.7 2. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.6 5.3 1.7 8.5 1998 17.0 3.8 6.3 3.1.64 15.52 5.3 2. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.9 16.49 7.7 12.5 0.1 0.2 1.8 1. 1960 53.6 0.2 6.9 21. 2003.7 1. Tabel 1.8 3.0 16.3 3.4 0.8 20.4 1973 40. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.6 10.6 18.6 3.9 5.6 13.9 14. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.6 15.6 16.3 6.5 1.9 5. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.9 1989 20.0 6.7 6.7 0.1 12.6 15.9 10.1 5.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.4 0.7 24.9 1983 22.0 14.4 5.2 3.8 3.2 1967 51.84 25.3 9.7 8.5 1993 17.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.57 9.0 3.3 4. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .5 3.3 6.

390 3.800 1995 5.600 1997 7. Ekspor. 2002). Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp).015.260 1998 9.560 4.700 261.212.472.500 3.180 6.119.904.580 7.833. Produksi.805.479.000 1994 4.821.130 143.800.200.800 212.000 2.000 8.800.446.490 1996 7.840 249. alasan kedua.345.224.116. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171. jumlah produksi. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia.2.065. dan ketiga.100 2.300 140.960 2.000 3. Tabel 1.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.180 6.000 2000 9. ekspor maupun . ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.210 2.080 6.720.730 2. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia.950.487.630 199. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.951.054.970 3.240 2001 10.913. Impor.097.935 5.135 2. 2002).220 1. baik kapasitas. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.000 130.600 2.399.837.520 1.945 5. Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.595. 2003. Kapasitas.560 1999 9.882.600.800 2.430 3.168.198.282.300.641.290 4. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar.350 3.530 5. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.695 250.000 Konsumsi 2.000 Ekspor 826.970 2002 10.200 924.420 4.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih.280 4. pertama.120.783.110 197.849.425.

Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain. sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. misalnya. Begitu juga dalam hal tenaga kerja.2.2). Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan. angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya . Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1. Dalam hal bahan baku. Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya. I.

Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. nilai tambah. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1. ketenagakerjaan.3. ketenagakerjaan. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. ekspor-impor dan output sektoral? 2. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. nilai tambah. ekspor-impor dan output sektoral 2. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1.5 tersebut.

Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1. 1. . kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp.4.6 3. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4.4. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper). Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain. Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan. kertas tissue (tissue paper).

sutera. kayu. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. kulit atau tulang binatang. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. Sebelum ditemukan kertas. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal.II. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar.1. bambu. 2005). Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. Jerman. prasasti dari batu. . yang dihasilkan dengan kompresi serat. papier dalam bahasa Belanda. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2.

2. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi. Pada akhirnya. 2005). kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah.8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah .2. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. kimia. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis.

Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. Oleh karenanya. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu . Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. sebagai berikut : 1. Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. kapasitas maupun ekspornya.9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. konsumsi. yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. 1997). Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi.

3. Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. Artinya. nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. 2.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan. penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar. Dengan demikian. Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. meskipun biaya produksi relatif rendah. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku.

Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. antara lain: 1. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream). Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven. Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. Oleh karena itu. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . 2.3. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua.11 mengurangai polutan ke lingkungan.

Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Indah Kiat Pulp & Paper. Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. 2. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. Lontar Papyrus dan PT. 2. PT. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi.4. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT.

(1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya. ***Setiyaji (1995).05931 0. Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata.1.4267 1. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.58216 0.48518 1988 0. 2005).4432 1. ****Setyawan (2005).1).00802 1.6028 2.13908 2.45022 1. Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai . **Sahara (1998) . Tabel 2.31431 2. DKI Jakarta** Pertanian Ind.38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) .6293 0. baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.59448 0.62204 2001 0.00619 0.13 (sektor industri pengolahan).95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0.64866 0. Jepara**** Ind.34572 1.75861 2. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.2).76281 1. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages).81150 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.17604 0.11877 0.1 yaitu. transportasi dan sebagainya (Setyawan.27222 Langsung & Tdk Langsung 1.54759 1. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1.29125 1. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan. Pengolahan 3.07819 1.

Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Tabel 2. Selanjutnya pada Tabel 2. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1. **Sahara (1998) .74816 1. DKI Jakarta** Pertanian Ind.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri.1376 1.2698 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4.2908 1.1719 1. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini.38525 1988 0. Pengolahan 3. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya. ***Setiyaji (1995).33528 2001 1.21765 1.0570 Kepekaan Penyebaran 1.48422 Koefisien Penyebaran 1. Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1.20609 1.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan . Jepara**** Ind.3. ****Setyawan (2005).

Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan.5. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat).15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya. 2.1. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara. Kerangka Pemikiran Teoritis 2.5. dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah.

sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya.16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Keseragaman (homogenity). Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir. tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. baik yang berupa input antara maupun input primer. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian.

Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. penerimaan pajak. Penjumlahan (additivity). 3. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. nilai tambah impor. dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. Kesebandingan (proportionality). 2. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. Namun demikian. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. . Karena koefisien teknis dianggap konstan. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya.

Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. Struktur penyediaan barang dan jasa. 5.2. Untuk analisis perubahan harga. 4. investasi.5. 2. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. 4.4 di bawah ini. 3.18 3. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap. 2. Struktur permintaan barang dan jasa. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. . Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output. dan ekspor.

xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 . Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan. N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 . BPS. xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. Jumlah Output X1 X2 X3 . yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. Xn … … … … . 2000. Apabila Tabel 2.4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : .19 Tabel 2. … … … Akhir F1 F2 F3 . Permintaan n x1n x2n x3n .3. . Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 . Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor.

maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj . dst (2. 3. sebagai berikut : 1. 3. yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. 2. khususnya pada transaksi antara. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. untuk semua j = 1. 2. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang .1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah.2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting.20 ∑ Xij + Fi = Xi . untuk semua i = 1. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara.

6. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). 3. pembentuk modal tetap. perubahan stok dan ekspor. 2.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya. sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. 2. pajak tak langsung. surplus usaha dan penyusutan. 4. Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. pemerintah. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat .

Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. Sehubungan dengan itu.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. kemudian. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. 2005).

kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya.23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. . Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan. dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya.

24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1. Bagan Alur Pemikiran Konseptual .

model analisis ini . Pada analisis keterkaitan. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. 3.1. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model). kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan.2.III. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. Oleh karenanya. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. METODE PENELITIAN 3. Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung.

1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input.… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3. a1n a21 ……. 3.AX .2) AX + F = X Atau F = X .2.. koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj). Koefisien Input Pada Tabel I-O.1. Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3.26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model).3) (3. Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 ……. a2n : A : a31 ……. Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j.

AX X = ( I . ( I – A ) = Matriks Leontief. 1. Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.2. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X .5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . F = Permintaan akhir. ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. X = Output.A )-1F (3. 3. Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang.2.27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir.

8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka .6) (3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.28 langsung per unit kenaikan permintaan total. KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total. Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan.7) (3.

Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang.3. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci.29 4.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . KBLTj = ∑α ij i =1 n (3.2. 1. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor.

30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief . Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3. Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3.

2.4. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output.31 3. 1. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.13) .12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2.

Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan .

Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur. sampai dengan tahun 2003.1). Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp.IV. Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). .041. sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. Profil Industri Kertas Saat ini. 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan.666. Oleh karena itu. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10. dan investasi luar negeri sebesar 4.500 ton (Tabel 4.1. 2005).900 ton. investasi dalam negeri swasta sebesar 5. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa.180 ton. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar. Group Sinar Mas.045. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4. Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara.

100 Pulp % 3.000 Kertas % 3.140 10.1.4 85. 2003).180 4. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.3 7.382.287.2.554. 4. . Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.000 6.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.34 Tabel 4.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.500 Sumatera 14 5.2 14.666.580 8.045. 2003.491.580 100 5.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.322.000 Kalimantan 2 564.580 74.7 19.100 1. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.100 2. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri.041.5 100 25. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.440 1.000 3.8 52.045.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.4 50.8 43.6 9.1 persen per tahun.600 Total 80 6.100 5.528.287.500 10.2 46.287.900 5.072.725.9 100 85.000 6.517.580 2.045.3 100 80. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan.0 100 10.8 persen pada periode 19972001.215.

Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10.9 kg 1998 14.1 kg 1999 19.8 kg 2001 23. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita.6 kg 2000 20. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.2).0 kg 1995 14. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4.2. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. 2003. Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus .1 kg 1994 13.3 kg 2002 24.0 kg 2003 25.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.0 kg 1996 16. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.3 kg 1997 16.35 Tabel 4.

3. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih.1).08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp. Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66. 4. tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. .36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi.

Pertama. Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. Malaysia.4. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura.). 2002). dan India. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. 4.37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. terutama pasar Asia. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut. PT. Cina. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. yang menguasai . Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka.

Gede Karang PT. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT.3. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2. Adiprima Suraprinta PT.000 486. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14.000 430.4 10. PT.7 4.5 6. Surabaya Agung PT.200 150.044.000 50. Pakerin PT.000 150. Fajar Surya Wisesa PT.6 28. 2003. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT.4 4.800 195.000 Persentase (%) 20.8 1.500 93.38 20. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10. Pelita Cengkareng Paper Co.400 60.9 1.2 1. Riau Andalan Kertas PT.000 85.986. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa. Ekamas Fortuna PT. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT.1 1.800 450. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT.000 150.2 3.8 4.1 persen (Tabel 4.9 1. kemudian disusul oleh PT. Tabel 4.111.5 persen dari total kapasitas industri.000 500.4 0.4 0. NAD.8 14.3). PT. Suparma PT. Kertas Leces (Persero) PT. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.000 350. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya.5 0.000 150.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. dan perusahaan ketiga adalah PT. . Papyrus Sakti PT. Surabaya Mekabox Ltd.465. Pura Barutama PT.5 1.000 2.000 1.000 700. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT.2 persen.4 4.000 157. Aspex Kumbong PT.000 1.4 0.

000 ton kertas budaya per tahun. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton.631. Riau seluas 1. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No. kertas budaya.A. PT.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978.000 ton pulp per tahun. pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang. 2005). 980. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. Pada susunan pemegang saham. Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya.39 1) PT.000 ton corrugated boxes per tahun.000 ton kertas industri per tahun dan 100.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas. masyarakat menguasai 38.Y. 744. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp. Pada saat ini. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang.4). PT.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No.722 Ha . yang menempati lahan seluas 28 Ha. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No.

.9 Ha. British : 5. Boards PT. : 2. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52.4.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. Co.78% Sumber: Bank Niaga. Phd. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan. Hong : 0. : Lo Shang Shung : Hj. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris . 2005. Tabel 4.K. mess karyawan dan lain-lain. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. Ltd.72% CHP International (BVI) Corp.56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H. Dr. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp.05% Kong Masyarakat : 38.

sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652.75 tanggal 31 Januari 1975. Pada Oktober 1995.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No.5). berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. dengan Akta No.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210.12 tahun1970. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No.000 ton per tahun.59 tanggal 26 April 1975. .6 tahun 1968 tentang PMDN.000 ton per tahun. Akta Perubahan No. Karawang (Pindo 1).41 2) PT. Akta Perubahan No. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97. 2005). PT. Akta Perubahan No.000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga. 2005).69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar.5 tanggal 3 April 1975. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas.

Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.5. 2005.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No.9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga. 2005). Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar .57% : 0. masyarakat menguasai 36. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.91% : 0. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No. Boards PT. Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.6). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham. PT. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT.61% 3) PT.42 Tabel 4.

perbankan dan jasa keuangan. produksi bahan makanan. Tabel 4. hotel dan perumahan. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan .43 termasuk industri kertas dan pulp.10% : 36. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63. Phd. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. 2005. Boards PT.30% : 0. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. : Lo Shang Shung : Hj. minyak goreng. bidang kimia. real estate.6. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan.

PT. Rotterdam. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. kertas HVS mengkilap. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. meningkatkan pengawasan mutu disamping . Pada tahun 1994. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. dan sereal. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. kertas tissue. Belanda. minyak wangi. perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30. Saat ini PT.000 ton boxboard pertahun.V. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan.

Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. dengan kapasitas produksi 60. kertas budaya dan tissue. dengan produksi utama pulp jenis LBKP. Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi.500 ton kertas per tahun. Lontar Papyrus Pulp . Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545. Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co. PT. dan PT.6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No.Ltd. Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. PT. 2005). Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa.000 ton per tahun. Disamping pulp dan kertas..7).75 persen). PT Satria Perkasa Agung (19. dalam rangka Undang-Undang No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen).45 4) PT. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya.000 ton pulp per tahun dan 7.

Di samping itu. perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. NAD. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002.25% Sumber: Bank Niaga. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.7. PT. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa. Tabel 4.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0.00% PT Satria Perkasa Agung : 19. Boards PT. 2005. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj. 2005).E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. .

019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.71 persen dari total permintaan antara. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.068.730 juta atau 11. Berdasarkan Tabel 5.073.048.629 juta. . pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5.21 persen dari total permintaan antaranya.V.415 juta atau 13.83 persen dan Rp 117. HASIL DAN PEMBAHASAN 5. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10.460.870 juta.701.626 juta atau 18.1. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.099.767. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia.656. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.800.977.1.775 juta atau sekitar 1.1.1.

169 161.724 5.87 2.52 12.099 57.848.340.018 0.37 5.50 9.84 persen dari total permintaan akhir.73 8.063 396.113 94.593 30.287. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .534.774.34 2.48 0.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.847 3.99 1.743.019 11.595.99 1.476.42 5.05 9.821.073.034 238.586.37 0.119.977.035 16.47 1.65 17.849 80.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.36 9.11 1.34 0.356 105.844.53 1.028 0.730 90.849 24.657 12.498 19.626 70.379 33.03 0.416.272.014.800.897.605 94. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.575 9.325. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.067 0.25 2.33 0.176 197.329.726.21 8.887 201.695 227.045.442.1.529.10 196.620 13.153.568 21.700 3.901.67 5.771.729.670 7.599 5.214.068.14 117.705 23.89 2.034 41.850.97 6.84 2.847 juta atau 0.056 67.276.58 12.870 7.048.287 2.412.44 1.108 13.441.92 0.036.43 14.30 1.242.09 1.353.13 8.389.16 1.677.685.84 18.408 243.701.27 3.948.620 8.88 4.278 151.926 0.125.881 13.970. 2000 (diolah).165 139.805.760.83 15.485 39.944 0.065 15.50 0.020 7.47 0.16 4.29 12.637.767.19 4.426.08 79.739.215 35.227.23 0.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.672.775.970.885.415 13.38 0.622 8.257. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.87 6.627.372 88.160 6.13 0.817.151 329.916 177.460.564.713 1.074 19.775 5.32 0.496.099.748.036 155.961 1.74 8.629 4.228. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.128 23.60 5.621 208.03 0.689.71 2.64 3.656.88 1.741 10.438.613 64.51 1.64 2.649 36.695.37 6.254 131.815.84 0.076.48 Tabel 5.698.574 1.259 165.80 14.424 8.53 0.

49 langsung (masyarakat.967 juta (Tabel 5.331.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1.498 juta berasal dari surplus usaha. surplus usaha.895.952.762 juta.849 juta.079.048.843.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto.278. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. surplus usaha sebesar Rp 458.1. penyusutan sebesar Rp 865. pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain. Berdasarkan Tabel 5.770 juta berasal dari upah dan gaji. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji. Rp 110.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487. 5.860. Rp 755.2). Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7. .350 juta dengan perincian Rp 400. penyusutan dan pajak tak langsung netto.2.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69.

372.700.758.393.902 6.088 105.072 64.901.708 127.119.358 1.968 115.567 5.512 1.567.576 dari logam Industri lainnya 19.772.240 28.028.243 1.623.803 4.331.567 26.793.326 5.43).948 3.652 167.770 755.282.105 6.459 53.212 3.670 4.860.759 10.327 3.434 15.103.484.266.414.975 865. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.718 147.985 Hasil hutan lainnya 565.458.949 45.605.256.477.182 30.886 2.664.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.278.762 4.393.638 9. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.524 487.081 834.212.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.296.333.070 persewaan Jasa-jasa 85.588.702 926.010.912 9.550.392 225.843.714.508.931. 2000 (diolah).731.692.576.3.821 61.079.127.164 13. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.237 6.311 9.757 2.440.963 8.511 29.229.131 115.562.479 kertas Industri percetakan 1.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.052 20.898 138.625.723.919 1.015.554.623 84.778.530 penggalian Industri makanan 30.756.182.132.542 Bangunan 37.114 pakaian Industri kayu dan 5.914 Kayu 2.350 Pertanian 40.418 Pengangkutan dan 16.764 83.116 7.044.877.480. gas dan air 2.046 1.245 Pertambangan dan 25.228.340 Perdagangan 61.177 21.017.905 2.147. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .129 furniture Industri pulp 940.864.475.952 4.585.569 11.365.591 564.430 dasar Industri barang jadi 3.2.639 Industri barang dari 1.947 Industri semen dan 3.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.232 97.034.875 429.701 Industri kertas 1.176 19.226.664.195 112.418 59.062.383.973.690 777.802 134.012.781 8.489.382 4.073 3.504 1.143.655 2.952.996.354 komunikasi Keuangan dan 21.208.396 325.564.142.933 2.343.063 barang non logam Industri logam 2.048.616 5.352.063 4.607 6.536.577.378 476.004.704 6.895.385 Total 400.958 83.573.946 110.774 11.670.542 933.946.084.797.756 12.727 76.443 301.703.156 69.560 8.50 Tabel 5.511 770.093. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.705 7.463.590.257 19.229.725 Industri kimia 21.233 65.278.279.169.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.451 Listrik.107 14.

79 0.47 0.20 0.43 0.36 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.948 jiwa.1.84 0.43 0. Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93.320.35 0.27 0.33 0.25 6.45 0. Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan . Tabel 5.51 0.48 1.74 0.55 5.26 0. 2000 (diolah). gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.3. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.36 0.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal).04 0.76 0.64 0.57 0.3.

296.590.017.393.519 166.870.062.352.266. 2000 (diolah).382 37.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.27 43.328.515 225.182 2.177 5.333.161 9.134 20.82 15.03 37.46 14.65 41.912 65.803 19.508.35 79. Jumlah Tenaga kerja.61 10.131 Komunikasi 1.450.232 Industri percetakan 705.004.052 Industri tekstil dan pakaian 2.15 0.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.06 0.245 25.225 45.843.477.895.142.949 minuman 2.60 25.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.75 7.256.15 0.463.051 2.327 Industri kertas 73.07 18.942 6.282.664.519 jiwa.802 16.440.513 2.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.905 Industri kayu dan furniture 57.567 21.27 Total Upah (Juta) 40.911 10.921.670.664 8. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.13 4. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.99 4.931.56 59.03 0.54 36.562 105.15 137.320.212.655 Kayu 86.06 0.30 40.012.20 18.623 85.119.372.963 Industri lainnya 225.39 203.912 non logam 357.97 66.756 400.279.475.592 112.448.30 12.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.20 0.10 8.607 Industri barang dari kertas 100.692.143.551 3.504 1.459 16.569 940.877.328.4.938 9.821 logam 1.64 6.331.84 13.770 Upah/TK 0.576.512 1.616 3.034.480.4.088 Keuangan dan Persewaan 11.511 61.708 30.567. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .98 10. Tabel 5.42 0.53 30.914 2.705 Industri pulp 118.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.952.48 37.208.454 7.65 26.88 3.824 13.585.418 3.169.985 565.32 8. Berdasarkan Tabel 5.012.573.48 3.132.06 0. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.03 65.255 76.030 97.943 167.063 21.860.20 18.164 Pertanian 555.4.15 0.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.212 2.084. Gas dan Air 4.034 115.12 24.797.948 1.243 Jasa-jasa 93.577.183.195 Penggalian Industri makanan dan 3.74 8.392 Bangunan 17.727 Listrik. terlihat sektor industri kertas menyerap 118.06 0.700.569.218 61.762 1.83 14.041.

5. 5.125.84 persen dari total ekspor indonesia.385 juta atau 2. nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8. . industri pengolahan.757 juta.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor.623 juta.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18.53 sekitar 66. perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5.4. Dari Tabel 5. dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor. terlihat bahwa sektor pertanian.854 juta atau 2.930.5).95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut.5).831. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.507.1. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.

99 6.444.75 1. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.238.613 27.29 17.857.18 0.093.18 minuman Industri tekstil dan 73.466 13.319 24.772.06 barang non logam 12.695 227.979 2.947 43.326 1.667.881 40.86 6.061 4.418 6.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.30 Industri kertas Industri barang dari 1.864.214.51 Jasa-jasa 569.531 541.94 2.53 furniture 5.088 -404.896.10 persewaan 8.722 39.094.413 0.120 3.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.29 kertas 3.908 10.493.340.641 19.053 -21.930.850.089.722 -39.52 15.242.611.285.899 7.620 13.177 6.218 11.933 1.900.739.529.050 4.136.099 57.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.163 63.489 8.507.842 2.403.305.775 10.665 25.242.287 2.322 32.58 0.433 5.617.489.883.96 Industri pulp 13.424 8.59 dari logam 58.880.603.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.53 1.957.317.22 Pertanian 124.485.637.23 2.21 Industri lainnya 0 0.38 0. gas dan air 0 0.96 2.641 37.971.063 396. sektor bangunan.617 2.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.620 12.559.598.855 26.65 9.259.588.225.110 0.705 23.337 5.033 8.451 131.814 18.84 Industri kimia Industri semen dan 6.262 17.162.125.02 Kayu 394.161.580. Tabel 5.729.373 1.49 4.326 2.677.444.916 177.365 5.854 1.602 19.016 0.865 353.735.815.554.959 30.287 161.163.040 1.478 -2. 2000 (diolah).22 0.512 281.336 1. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.550 0.824.627.719.56 penggalian Industri makanan dan 29.805.00 Bangunan 57.297 2.353. .701.5.95 0.018 49.558.698.567.490.534.694 2.17 0.278 177.126 X-M (Juta Rp) 2.67 komunikasi Keuangan dan 11.809 4.427 5.958.298 4.859 7.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.379 33.048.00 Listrik.305 6.821. gas dan air.943.634.991.385 2.849 24. sektor listrik.151 332.771.408 243.412.864 9.944 196.167.78 13.942.238.61 Industri percetakan 107.028 2.362.900.796.97 pakaian Industri kayu dan 37.757 % 1.540.268.848 287.399 -3.395.58 0.01 1.814 71.845 528.525. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.413 176.566.332 49.622 8.79 8.473.247 0.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.58 Untuk industri kertas. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1.8775. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3.5997. . 5.1272. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik. Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.1857.3378 juta rupiah.5997 juta rupiah. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1.2. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0.8431. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5.9484.2051 dan 2.2.8552 dan 1.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0071 0.0401 0.0000 0.0004 0.0005 0.0199 0. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.3.0621 0.0023 0.0006 0.0944 0.0015 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .0001 0. Koefisien 0. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.0181 0. 2000 (diolah).0031 0.0037 0.0017 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0731 0.0010 0.0012 0.0007 0.9.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.62 Tabel 5.0045 0.

Pada Tabel 5. gas dan air. listrik. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. industri kayu dan furniture. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang. Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. 5.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya.3. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada. .1.

2000 (diolah).7664 0.9668 Untuk industri kertas.0244 0. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya.0016 0.0939 1.9611 1.8509 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri.1571 1. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .2152 1.9715 1.9359 1.1213 0. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya.0195 0.7215 1.0292 1.0066 1.1495 1.8701 0. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.1199 1.10.7953 0. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.1710 1.64 Tabel 5. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp..9611.0514 1. Koefisien Penyebaran 0.

Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. .2.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang.3. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. Pada Tabel 5.9504. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi.

0309 0. 2000 (diolah).8302 0. Kepekaan Penyebaran 1.8641 0.0242 0.8641).6419 1. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya. industri tekstil dan pakaian (0.3632 0. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.11.7219 Sedangkan untuk industri kertas.8285 0. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1. .309.8149 1. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.7603).66 Tabel 5.6954 0.0242). sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. dan industri kayu dan furniture (0.7603 0.6644 1.6695 0.7914 0.7952 1.2195 0.8080 0.9504 1.9990 1. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.3288 0.8961 0.3019 1.

elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.1.4. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output. Pada perekonomian Indonesia.12).1253. 5.1253 persen. 5.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.4. pendapatan dan tenaga kerja. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1.2610 persen.2610 (Tabel 5. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. Nilai elastisitas output yang tinggi dari .

0023.0759. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1. 5.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.2. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1.1650 persen. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian . Untuk industri kertas. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1.0023 persen.4.1650. Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu. Pada tabel 5.0759 persen.

0139 (20) Industri lainnya 0.0980 (19) .1659 (18) 0.2240 (14) 0.5022 persen.5495 ( 9 ) 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.1737 (17) 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.3103 (11) 0.2772 (12) 1.2764 (13) 0. Sementara pada industri kertas.6005 ( 6 ) 0.7964 ( 5 ) 0.3072 (12) 0.1790 (17) 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0.8697 ( 8 ) Industri kertas 1.2778 (13) 0.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.1919 (15) 1.0994 (19) 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.1877 (16) 0. gas dan air 0.3072 (11) 0.6093 ( 8 ) 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.0441 ( 2 ) 0. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.5022 ( 7 ) 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0. Tabel 5.6903 ( 4 ) 0. 2000 (diolah).6438 ( 7 ) 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.1253 (17) Perdagangan 1.0040 (22) Jasa-jasa 0.8877 ( 4 ) 0.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.1631 (18) 0.0548 (19) Listrik.0443 (21) 0.0431 (22) 0.2619 (14) 0.7027 ( 6 ) 0.1790 (16) 0.5022.3921 (15) Kayu 0.2133 (15) Output Pertanian 0.3127 (10) 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.0759 ( 2 ) 1. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0.0485 (21) 0.6084 (10) Industri kimia 0.12.6449 ( 5 ) 0.0901 (20) 0.3319 (10) 0.0768 ( 1 ) 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.0247 (22) 0. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0.4772 ( 8 ) 1.0900 (20) 0.1650 ( 1 ) 0.9020 ( 7 ) Bangunan 0.9779 ( 3 ) 1.0009 ( 3 ) 0.3284 ( 9 ) 0.2591 (16) Industri pulp 0.

Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu.0768 (Tabel 5.0441. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.0768 persen.0441 persen. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.6093. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja.4. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.3. . Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1.70 5. Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.12). Pada industri kertas.6093 persen.

Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). (3) pertambangan dan penggalian.5. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. gas dan air. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. (5) industri pulp. dan (10) hasil hutan lainnya. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. (6) industri kertas. (2) industri makanan dan minuman. yaitu: (1) perdagangan. pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas).13). dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. (8) industri kimia.71 5. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . pendapatan. (4) pengangkutan dan komunikasi. (7) pertanian. (9) listrik.

5 11 1 4 17.5 10 3 2 12.5 5 6 20 22 8. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. Tabel 5.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 14 20 20 16 8. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12.13. 2000 (diolah) .5 17.

kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. Pada sub-bab sebelummya. berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya. antara lain yaitu: 1. 2. Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas. Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal).73 5. Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan.6.

2005). Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut.74 Presiden No. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang. tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM).7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. . maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya.

industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118.507.622 juta.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0.970.125. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian). kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7.VI.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas.385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0.895.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral. Pada struktur ekspor dan impor.454 jiwa. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13. Pada struktur permintaaan.771. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13.327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10.847 juta. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut.2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya. 1.1. . Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0. 2.800.

maupun tenaga kerjanya. Bersama dengan sektor kunci lainnya. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.76 3. Namun di sisi lain. 4.9611).0309). Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. pendapatan. industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. . terutama pulp. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output.

Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp. 2. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia.2. 3. dapat disampaikan saran berikut ini. 1.77 6. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut. pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia. Saran Berdasarkan hasil analisis. .

“Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. Deprin. R. LP3ES. [30 September 2005] Hasibuan.id/ publikasi. 2. M. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis]. Mansur. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia. 2000. http://www. 2005. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. Vol.deprin. 136-149. Jakarta. BPS. 2003.go. http://www. USA. 2002.L. Raja Grafindo Persada. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian.harianterbit. Jakarta. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online].com [18 Februari 2005]. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. Jakarta. . 2000. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jhingan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. http://www. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques. R. E. N. Puspitawati. Macerata. 1985. E. Miller. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. 2005. Bogor. Hal. Niaga. Prentice Hall. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. 2000. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. dan Mulyaningsih. Karseno. Jakarta. Fakultas Pertanian. A. Imansyah. 2002. Monopoli dan Regulasi.com/content/content.asp?id=NNA [30 September 2005]. Institut Pertanian Bogor. Ekonomi Industri : Persaingan. Tabel Input-Output Indonesia 2000. Muchtar. T. Bogor. M. New Jersey. 1997. 17.D. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. M. Italy. BPS. B. APKI. bankniaga. H. 1993. No. 2005. P. dan Blair.

Institut Pertanian Bogor. Vol. 4. Fakultas Ekonomi Manajemen. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. D.wikipedia. 2000. 1995. No. 2005. Institut Pertanian Bogor. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. Bogor. Sahara. Bogor. dan Pambudy. T. Departemen Ilmu Ekonomi. H. Setiyaji. 1998. S. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. Departemen Ilmu Ekonomi. A. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Wikipedia. Hal. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. Prosiding Seminar. 5. Setyawan. ”Kertas” [Wikipedia Online]. 194203. 2004. Bogor. Sipayung. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. 1994. 2005. Bogor. 2002. Ruhmaniyati. Tjandrawan. Fakultas Pertanian. Y. I. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Bogor. Institut Pertanian Bogor.79 Rosadi. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. R. Institut Pertanian Bogor. dan Vidyatmoko. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. . Fakultas Pertanian.org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. http:// www. Bogor. A.

LAMPIRAN .

gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028.81 Lampiran 1. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. 031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - .

82 .

919 4.411.560 5.037.237 4.623.012.452 5.876 348 994.091 20.615 23.484.894 6.845 40.056 33 4.714.213 64.979 5.051 9 77.514 33.040 2.867 6.809 448.Lampiran 2.508.826 927 3.486 100.493.252 43.905 57.553 108 5.473 2.613 111.918.652 2.026 84.912 23.206 15.080 264.693 181 11.558.145.775 19.551 11 0 271 122 11.957 7.692.568 1.592 916.010.346 38. .195 196.227 72.506 493.489 940.306 815.427 3.459 53.395.903 7.238.129 2.319 504 17.507.430 55.512 1.530.305.228 69.245 1.160 823.534.664.024 5.083 7.543 5.805.627.958 487.590 5.119.526 0 737.854 1.952.235.679.899 1.114 5.718 3.592 6 2.319 30.043 4.262 40.343.333 29.591 10.103.700.701 301.554.824 40.941 1.059 106.130 77.040 29.094.553 13.982.778.479.895.579 55.408 100.705 8.429 0 64.462 55.151 825.785.839 4.208.792 116.567.985 9.550.639 865.391 448.524 1.320 1.930 129.720 2.849 23.241 1.003 363.352 975.824 3 2.298 16.777 7.441 610.442 120.036 8.277 246.542 1.809 1.772.817.667 3.656 2.828 61.946 64.576.328.143.750 0 13.333 287.117 594.451 3.539 4.798 105.229.563 6.046 926.169.525.212.628 22 85.385 20.901.321 5.628 123.454 10 0 3.405 6.858 26.644 45.459 131.617 382.799 5.513 4 19.427 2.311 2.646.519 2 628.725 138.069 6.877 3.569 11.867 4.155 7.732 1.418 1.114 8.886 2.182.290.902 2.577 159.203 19.947 1.570 3.368.588.049 112.890 1.441 8.225 7 45.663.349 206.811.738 25.875 45.437.539 77 186.073.536.749 24.293 2.034 1.917 375.771.958 683.337.327 24.577.399 1.913 151.890 49.851 37.567 19.515 25.597 18.212 3.229 1.643 8.426 102.800 53.494 1.450.167.440.097 590.099 1.480.354 5.365.323 82.258 4.606 1.240 13.441 370.914 121.618 174.190 41.364 2.560 28.694 21.777.489 59.017.183 19.858 40.850.853 110.895 2.860.895.739.302 43.063 1.492 528.849 57.171 1.292 5.708 127.048 32.418 59.484.762 4.338 627.968 7.931 59.607 8.772.944 86.486 5.815.327.228) 97.335.991.281.947 11.780 41.387.942 12 8.943 5 101.393 13.996.596 643.638.218 1.083 224.655 17.250 478.297 479.602 25.467 1.600 181.817 378 627.973 369.870 210.605.540.004.834 1.513 798 315. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.821.524 2.282.333 4.569 34 8.731.588 6.670 6.550 754.796 55.509.190 18.824.001 2.292.560 21.933 112.069 338.975 83.404 151.424 2.905 2.394 141.370 110 84 1.557.355 8.110.135 200.561 1.478 63.170 904 57.855 76.014.797.884 378.256.989 146.052 131.936 36.064 55.881 2.116 490.460 175.534.414.296.192 10.405.939 5.459 553.864.718.664.850 337.164 224.343 332.322 2.898 115.908 14.453.702 (250.575.990 8.040 1.711.703 4.824 90.973 1.187 416.308 853.093.358 933.176 167.086 5.362 161.371 22.867 3.785.949 332.963.634 1.622 118.443 4.838 1.479 83.442 3.063 4.530 8.089 47.098 7.210 51.504 1.412.554.698.857 1.774 147.417 121.325 3.755 162.340.758.099 2.541 16.626 3.453 11.177 21.244 1.620 73.666 65.306.403 32.938 6.379 648.427.839 1.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).625.072 325.028 555.359.371 1.433 565.705 705.441 967 8.566.134 8 203.946.781 6.735.574 1.755 17.407.590.800 17.811.241 75.030 13 20.955 23.330 296.926 10.232 13.764 20.739.537.585.813.073 8.590 44.183 17.396 166.660.010 7.908 141.648.443 429.606.043 1.725 1.426 874 728.770 35.491 11.759 243.871 2.458.062.688.837 15.217.782.670 7.991.

635 64.292 3.226.966 18.995 65.035 16.593 2.700 3.203.667.415 15.281 60.584 3.912 21 34.142.401 110.261 6.489.248 966.005.945 37.812 173.332 3.731.350 2.562 180 144.630 1.505 723.677.372 88.084.708 59.014.275.786 3.451 7.860 2.354 37.652.138.089.928 69.377.649 157.407.393.741.858 495.139 2.451.117 1.036.161.946 777.413 259.643 1.562.525 1.793.775.183.664 18 4.382 1.730 90.638 33.670 19.963 176.038 13.056 3.437 791.250) 8.169.983 3.990 18.338 4.876.383.081 564.093.704 3.002.916.642 36.610 7.825 1.310 6.428 117.167.332 3.727 9.189 19.649.179 26.475.515 20 299.931.981 156.877.525 11.048.697 6.690 115.678 7.930.128 23.866 1.511 29.088 161.966.297 19.214.Lampiran 2.206 438.073 (30.032 448.726.502 4.226.723 41.206.950 527.600 441.944 3.791 866.977.378 61.664 156.859 16.076.292 6.722 2.113 3.398 13.238.000 213.626 70.729.891 123.800.458.798 5.442.326 9.074 19.565.672 6.542 4.713 2.063 4.012.412.698 49.393.860.172 0 141.887 124.107.703.727 100.657 12.892 1.875 3.744.076.757 400.770 755.742.257 15.182 30.065 15.213 16.559 322.060.155 1.713 197.778 1.741 10.463.916 1.034.567 26.980 42.749 609.340 6.327 19.547.767.465 5.244.588.563 510.573.233 396.161 16 620.637.597 5.011.864.569.215 35.810 2.498 110.870.979 350.130 9.019 287.353.441.666 2.139 10.147.196 11.948 (3.780 1.079.246 2.598.134 11.559 27.553 13.724.797 15.705 859.661 524.729.802 134.685.264.131 151.243 177.678 19.237 2.194.385 6.108 19.073.228.388 38.278.332 12.613 357.760 1.352.405 6.756.106.577 8.668 341.229.420.430 1.097 1.775 5.823.071.951 232.848 85.218 17 4 14.480.498 19.713.861 35.649.287 11.186.855 61.570.350 130.997 34.844 882.048.255 19 10.852 121.808 158.567 26.179 17.070 6.915 13.803 4.732 (3.242.649 36.460.221.564.331.578) 1.223 22.127. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.383.463.107 3.278 17.727 30.576 834.429 11.218 21.445 412.713.349 8.875 1.595 1.331 1.397 114.411.266.127 19.817.870 126.455.169 4.575.156 105.100.700.926 117.641 37.392 227.006.623 84.739.028.923 16.900.952 5.344 3.383 143.125.995.616 5.670.110.078 1.202 4.781 337.106 4.253.959 1.663 1.079.142 10.287.390.305 20.477.176 197.034 22 2.126 93.580.948 .579 4.260.399 3.015.418 14.117.761 137 85 121.738 824.727 27.197 4.842 123.333.805 2.180 14.609 151.844.247.594 50.870.153.354 19.963 62.015 1.361 758.961 1.476.652 411.723.671.921.525 1.676 1.164.902.948.705.529.360.044.601 21.444.228.019 14.228 1.085 15.132.503 7.448.242.278.756 12.310.045.116 770.544 967.695 225.382 4.973 6.084 15.344.830.177 2.938 15 7 6.872 278.802.113 94.084 3.192.999 6.041.360 3.509 2.271.030 39.472 105.111 382 16 1.715 373.896.529.843.604.063 8.385 1.158 5.915 1.499 1.320.574 1.175.136.919 398.063 111.817 215.748.368.272.568 21.020 7.434 76.767.757 225.821 27.746 32.973.511 9.876.028.372.279.200.016.564.100) 65.843 149.105 476.

086 112.321 835.503.276.497 302 88.599 5.775.881 13.438.849 80.316.582 2.269 4.241.466 29.067 1.483.034 41.586.871 18.167.514 305 6.842 31.365 57.028.883.387.284 314.739.491 474.552 1.949.048.831.593 30.151 329.513 2.239 8.211.837 441.798.200 520.885.161.815.433 37.447 401 314.559 199.831.782.088.099.695 227.340.837 32.241.933 124.707.160 1.595.267.848.438 304 1.970.656.281 292.672.851.771.036 155.305 5.044 403 8.466.136 48.110 107.416 2.437 68.665 303 189.568 646.400.356 105.165 139.539.743.327 1.393 208.018 79.187.125.774.779.099 57.623 48.329.988.424 8.188 2.621 133.268.643 115.550 13.485 39.013.552 309 115.287 2.729.553.353.034 238.413 3.658.696 668.927.016 394.733 15.125.783 520.454 856.412.760.622 8.658.242.805.965.689.935 88.389.111.965.420.901.169 161.713 1.777.158 1.045 25.028 2.473.847 3.887 9.857.325.766 15.637.254 131.808.634.071 1.114.818 108.426.813.496.629 152.701.605 94.247 77.620 8.294.162.724 5.571 11.063 396.942.480 15.627.193.373 55.698.677.119.916 177.471 38.259 165.162.068.730 209.865.689.416.480 402 15.108 13.337 73.581 64.028.790.670 7. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.326 12.785 158.278 151.887 201.943.573 20.143.272.620 13.Lampiran 2.044 8.592 110.865.485.897.814 6.495 11.374 51.534.480 6.385 1.96 42.617 8.673 (68.209 234.042 41.747 942.935 1.214.786.056 67.210 29.575 17.623 306 1.413 14.743 3.637.850.389.695.614 794.282 301 14.957.933 748.705 23.642 67.534.454 .621 208.227.944 196.008.488.225.435 4.620 37.408 243.561.243.379 33.315 90.457.525.600 272.033) 5.479.114 310 260.257.202.849 24.238 77.076 2.821.001.398 613.294 8.036.613 64.697 937.

099 57.672.088.849 24.169 161.028 2.853.287 2.119.353.593 30.575 17.739.438.Lampiran 2.169 161.099 57. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.677.593 30.340.469 501 502 503 509 600 260.028 2.850.620 13.701.340.622 8.408 243.165 139.729.379 33.771.063 396.325.701.695 227.272.254 131.151 329.272.575 17.821.287 2.805.613 64.739.438.701.916 177.278 151.242.242.705 23.469 - - - - 2.849 24.620 13.325.534.853.705 23.771.165 139.613 64.677.353.379 33.412.214.278 151.850.143.099.284 - .637.099.622 8.805.815.099.698.695 227.254 131.637.837 700 260.729.837 441.698.151 329.534.447 103.916 177.988.412.821.944 196.837 3.672.627.815.063 396.408 243.424 8.424 8.119.627.214.944 196.

0025 0.0012 0.0000 0.0003 0.0013 0.0001 0.0004 0.0802 0.0000 0.1794 3 0.0385 0.0000 0.0000 0.0555 0.0073 0.0003 0.0000 0.0000 0.0199 0.0428 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0401 0.0044 0.5687 8 0.0362 0.0023 0.0436 0.0010 0.0027 0.0002 0.0009 0.0006 0.0001 0.0003 0.0002 0.0003 0.0171 0.0000 0.0013 0.0008 0.0022 0.0001 0.1094 0.0000 0.0599 0.0000 0.0211 0.0201 0.0007 0.0000 0.0001 0.0003 0.0071 0.0001 0.0000 0.0355 0.3183 0.0155 0.0000 0.0041 0.0097 0.0000 0.0002 0.0119 0.0000 0.0002 0.0022 0.0007 0.0006 0.0836 0.0023 0.0023 0.0000 0.0181 0.0094 0.0000 0.0026 0.0310 0.0083 0.0078 0.0001 0.0000 0.0224 0.0107 0.0000 0.0000 0.0007 0.0010 0.0289 0.0026 0.0059 0.3052 0.0119 0.5356 11 0.0000 0.0000 0.0000 0.0015 0.1780 0.0008 0.0025 0.0000 0.0009 0.0535 0.0003 0.0000 0.0734 0.0028 0.0001 0.0001 0.0000 0.0433 0.0013 0.0005 0.0040 0.0000 0.0220 0.0047 0.0000 0.0073 0.0009 0.0005 0.0035 0.0153 0.0171 0.0000 0.0000 0.0782 0.4078 12 0.0000 0.0002 0.0047 0.0016 0.0003 0.0000 0.0000 0.0006 0.0004 0.1247 0.0001 0.2445 0.0105 0.0042 0.1188 5 0.0000 0.0116 0.0021 0.1393 4 0.0073 0.3957 9 0.0000 0.0008 0.0014 0.0022 0.0001 0.0731 0.0000 0.0001 0. .0001 0.0000 0.0424 0.6039 6 0.0350 0.0050 0.0317 0.0000 0.0021 0.0182 0.3378 10 0.0000 0.0000 0.0002 0.0002 0.0001 0.2391 2 0.0000 0.0005 0.0000 0.0446 0.0001 0.0000 0.0017 0.4673 7 0.1354 0.0031 0.0002 0.0087 0.0020 0.0002 0.0464 0.0000 0.0000 0.0056 0.0000 0.0000 0.0057 0.0239 0.0005 0.0000 0.0015 0.0008 0.0001 0.0007 0.0011 0.0001 0.0000 0.0008 0.0000 0.0003 0.0944 0.0233 0.0280 0.0217 0.0090 0.0000 0.0000 0.0096 0.0000 0.0016 0.2130 0.0011 0.0001 0.0000 0.1335 0.0000 0.0250 0.0142 0.0008 0.0011 0.0002 0.0934 0.0000 0.0000 0.0000 0.0002 0.0036 0.0016 0.0066 0.0000 0.0477 0.0003 0.0015 0.0800 0.0352 0.0002 0.0005 0.0009 0.0621 0.2448 0.0002 0.0000 0.0000 0.0005 0.0319 0.0002 0.0025 0.0238 0.0004 0.0000 0.0006 0.0001 0.0086 0.0000 0.0059 0.0061 0.0000 0.0718 0.0001 0.0037 0.0001 0.0010 0.0083 0.0168 0.0519 0.0000 0.4217 13 0.0000 0.0002 0.0010 0.0213 0.0053 0.0000 0.0045 0.0000 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0506 0.0646 0.0004 0.0001 0.0022 0.0000 0.0003 0.2497 0.0002 0.0000 0.Lampiran 3.0000 0.0073 0.0243 0.0050 0.0730 0.

0000 0.0001 0.6530 18 0.0008 0.0006 0.0230 0.0000 0.3580 0.0001 0.0200 0.7433 .0005 0.0001 0.5495 0.0001 0.2764 0.0019 0.7027 0.0007 0.0108 0.0003 0.0626 0.0315 0.6438 0.0000 0.0000 0.0791 0.3675 17 0.0000 0.3945 21 0.0003 0.0078 0.0071 0.0011 0.0008 0.0295 0.0001 0.0037 0.0431 0.0033 0.3072 0.0000 0.0278 0.0048 0.0007 0.1548 0.0002 0.0000 0.0572 0.0007 0.0001 0.7964 0.0336 0.0000 0.0277 0.0000 0.0261 0.0008 0.5997 0.0147 0.1737 0.0000 0.0058 0.0220 0.0000 0.3103 0.0000 0.0000 0.1790 0.0022 0.0000 0.1919 1.0044 0.0900 0.0804 0.0364 0.0352 0.0180 0.0027 0.0226 0.0023 0.0000 0.0030 0.0002 0.0150 0.2790 0.1020 0.0002 0.0053 0.0000 0.0272 0.0373 0.0348 0.3821 20 0.0000 0.0980 8.0000 0.0369 0.0001 0.0085 0.0000 0.0508 0.0007 0.0187 0.0000 0.0179 0.0009 0.1082 0.0000 0.0620 0.4070 0.0007 0.0000 0.0004 0.1097 0.0009 0.0091 0.0055 0.0000 0.0014 0.0010 0.0002 0.0000 0.0000 0.0007 0.0023 0.0000 0.0131 0.0276 0.0371 0.0012 0.0081 0.0889 0.0000 0.0226 0.0001 0.0047 0.0020 0.0010 0.0604 0.0000 0.1631 0.0016 0.0009 0.0008 0.0001 0.0172 0.0046 0.0360 0.0000 0.0474 0.4161 16 0.1877 0.0000 0.0495 0.0002 0.0331 0.0024 0.0000 0.0001 0.0817 0.0001 0.0000 0.0001 0.0465 0.0000 0.0939 0.1006 0.0001 0.0000 0.0035 0.Lampiran 3.0502 0.0000 0.0223 0.0010 0.2619 0.0010 0.0074 0.0099 0.0867 0.0221 0.0000 0.0007 0.0038 0.0001 0.5635 15 0.0002 0.0771 0.0511 0.0258 0.0236 1.0128 0.0532 0.0004 0.0032 0.0003 0.0000 0.0000 0.2400 22 0.0100 0.0049 0.0130 0.0047 0.0105 0.0001 0.0003 0.0002 0.0275 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0000 0.0319 0.0485 0.4633 0.0025 0.0020 0.4884 19 0.0000 0.0013 0.0020 0.0163 0.0180 0.0039 0.0400 0.0369 0.0244 0.0000 0.0158 0.0589 0.3319 0.3390 Total 0.0317 0.

0153 0.8775 8 0.0602 0.0021 1.1038 0.0648 0.0012 0.0133 0.0011 0.0002 0.0006 0.0116 0.0463 0.0291 0.0303 1.0052 0.0009 0.0112 0.0000 0.0012 0.0017 0.0007 0.0000 0.0826 0.0474 0.0001 0.0076 0.0006 0.2287 4 0.0009 0.0013 1.1548 0.0013 0.0011 0.0059 0.0072 0.0172 0.0446 1.0626 0.0012 0.0163 0.0010 0.0118 0.0010 0.0008 0.0082 0.0009 0.0005 0.0050 0.0965 0.1045 1.0000 1.0065 0.0008 0.0035 0.0002 0.0108 0.0016 0.0015 0.0287 0.0943 0.0180 0.0441 0.0042 0.0005 0.0097 0.0109 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0452 0.0026 0.0584 0.0024 0.0275 0.0036 0.0130 0.0007 0.0043 0.0036 0.0134 0.0386 0.5577 13 0.0397 0.0770 0.0006 1.0009 0.0767 0.0007 0.0440 0.0014 0.0004 0.0001 0.0009 1.0013 0.0137 1.0031 0.0018 0.0483 0.0021 1.0059 0.0080 0.0074 0.2751 3 0.0076 0.0009 0.0106 0.0061 0.2872 0.0749 0.0014 0.0032 0.0004 0.0004 0.0004 0.0053 0.0002 0.0086 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0112 0.0017 0.0134 0.1036 0.0005 0.0192 0.0017 0.0004 0.0007 0.0030 0.0006 0.7956 7 0.0008 0.0006 0.0013 0.0037 1.0775 0.0002 0.0001 0.0003 0.0015 0.0357 0.0166 0.0170 0.0260 0.8431 11 0.0304 0.0148 0.0123 0.0394 0.0345 0.0036 0.0009 0.0011 0.0042 0.0981 0.0013 0.0079 1.0049 0.0221 0.0008 0.0077 0.0220 0.9484 6 0.1683 0.0001 0.0013 0.0032 0.0030 1.1133 0.0058 0.0080 1.0010 0.0378 0.0052 0.0166 0.0230 0.0034 1.0012 0.0261 0. .0007 0.0155 0.0062 0.0327 0.0122 1.0022 0.0054 0.0100 0.6424 12 0.3950 2 0.0099 0.0001 0.1178 0.0072 1.1920 0.0007 0.0337 0.0025 0.0011 0.2921 0.0052 0.0093 0.0019 0.0052 0.Lampiran 4.0294 0.0007 0.0991 0.0042 0.6059 9 0.0044 0.0024 0.0055 0.0024 1.2025 0.0014 1.0005 0.0063 0.0044 0.0004 0.3235 1.0014 0.0055 0.0155 0.0001 0.1567 5 0.0050 0.0196 0.1048 0.0046 1.0164 0.0003 0.0394 0.0014 0.0026 0.0054 0.0002 0.0163 0.0008 0.0005 0.0681 0.0636 0.0033 1.0017 0.0474 0.2508 0.0043 1.0542 0.0138 0.0938 0.0003 0.0109 0.0016 0.0078 0.5409 10 0.0021 0.0322 0.0452 0.0001 0.0137 0.0008 0.1140 0.0014 0.0221 0.0782 0.3337 0.4000 0.0467 0.0012 0.0028 0.0046 0.0030 0.0058 0.0097 0.0105 0.0508 0.0011 0.0005 0.0260 0.0002 0.0021 0.1031 1.2088 0.0094 1.0240 0.0001 0.0034 0.0051 0.0133 0.0193 0.0382 0.0000 0.0005 0.0001 0.0359 0.0034 0.0090 0.0009 0.0008 0.0067 0.0481 0.0494 0.0121 0.1068 0.

0441 0.0025 0.0715 0.1150 1.0016 0.5005 16 0.0537 0.0001 0.0219 0.0012 0.0208 1.0041 0.0020 0.0515 1.0048 0.5581 0.0026 0.0247 0.3066 3.0040 0.0454 0.3732 0.0724 0.0053 0.0734 1.0816 0.1589 0.0008 0.0041 0.0487 0.0010 0.0025 1.Lampiran 4.0059 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.1331 0.0444 0.0338 1.0013 0.6346 21 0.0001 0.0755 0.0517 0.1095 0.0062 0.0054 0.1049 0.0183 0.0011 0.0024 0.9552 1.0139 0.0067 0.0772 0.0502 0.0182 0.0105 0.6138 20 0.0348 0.0498 0.0078 1.0999 0.2733 Total .0084 0.0298 0.0856 1.0212 0.0170 0.3643 22 0.0544 0.0274 0.0050 0.0088 0.0377 0.0018 0.0009 0.0599 0.3283 1.7539 19 0.0028 0.0038 0.1194 0.0051 0.0032 0.0246 0.0044 0.3855 1.0001 0.6529 1.0450 0.0420 0.0004 0.0042 1.0558 0.0063 0.0001 0.0056 0.0038 0.0058 0.0007 1.0015 0.0009 0.0003 0.0102 1.0416 0.2689 1.0166 1.0039 0.4368 1.0638 0.3310 1.0068 0.0105 0.0082 0.0468 0.0522 0.0026 0.1306 1.0284 0.0010 0.0184 1.2191 1.0010 0.0004 0.7978 15 0.0000 0.0018 0.0045 0.0488 0.0058 0.0002 0.1575 35.0082 0.0239 0.0014 0.0057 0.0020 0.0000 0.0020 0.0171 0.0098 0.1062 0.0018 0.0054 0.0031 1.0002 0.0134 1.5500 Total 1.0018 0.0090 0.0001 0.0018 0.0291 3.0008 0.0006 0.1247 0.0008 0.0013 0.0073 0.0009 0.0173 0.2051 2.0056 0.0802 0.0516 0.0024 0.0012 0.0003 0.0013 0.0171 0.1857 1.0022 0.2750 1.0095 0.0116 0.6501 17 0.0653 2.0532 0.0001 0.0481 0.0718 0.0025 0.0016 0.0661 0.0018 0.2955 1.0041 0.0261 1.1272 1.0119 1.0216 0.0005 0.0063 0.1116 0.0166 0.0028 0.6422 1.0104 0.0343 0.0017 0.0038 1.0449 0.0254 0.1395 0.0010 0.8552 18 0.0874 2.0404 0.0235 0.0274 0.1284 0.0237 0.0007 0.0003 0.0120 0.0828 0.0115 0.1550 1.0198 0.0004 0.0395 0.0008 0.0013 0.0007 0.0068 0.0267 0.0855 0.0007 0.0000 0.0607 0.0137 0.0071 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful