ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

OLEH RUSLI RAMLI H14101122

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

RUSLI RAMLI. Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia (dibimbing oleh ARIEF DARYANTO). Proses industrialisasi di Indonesia telah yang dimulai dari sejak pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditandai dengan semakin menurunnya kontribusi sektor primer (pertanian) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sementara sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan kontribusinya terhadap PDB terus mengalami peningkatan. Salah satu sektor industri pengolahan yang berkembang pesat adalah sektor industri kertas. Hal yang menyebabkan industri ini terus berkembang pesat di Indonesia antara lain adalah kemudahan mendapatkan baku dan tenaga kerja yang murah. Pada akhir tahun 2000 kapasitas terpasang industri kertas nasional telah mencapai sekitar 9,1 juta ton per tahun, produksi sebesar 6,8 juta ton, ekspor sebesar 2,8 juta ton, dan konsumsinya yang telah mencapai 4,2 juta ton. Data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa industri kertas sangat potensial untuk terus dikembangkan khususnya untuk meningkatkan penerimaan devisa negara. Selain perkembangannya yang pesat tersebut, industri kertas juga mempunyai pengaruh dan hubungan timbal balik terhadap industri atau sektor lainnya karena komoditi kertas yang dihasilkan oleh industri ini dapat sebagai input sektor industri lain dan sebaliknya industri kertas juga membutuhkan input dari sektor lain tersebut. Berdasarkan kondisi di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana peran sektor industri kertas bagi perekonomian Indonesia Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari BPS Pusat Jakarta dan instansi terkait lainnya. Analisis yang digunakan yaitu Analisis Input-Output (I-O) dari Tabel I-O Indonesia Tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen klasifikasi 175 sektor melalui program Microsoft Excel 2003. Pendekatan model I-O yang digunakan dalam penelitian ini adalah model sisi permintaan (demand-side model), hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. Berdasarkan analisis deskriptif dari Tabel I-O Indonesia tahun 2000 transaksi domestik atas dasar harga produsen yang diagregasi menjadi 22 sektor, industri kertas memiliki peran yang tidak begitu besar terhadap struktur perekonomian Indonesia seperti struktur permintaan, nilai tambah bruto, struktur ketenagakerjaan, ekspor-impor dan pembentukan output sektoral. Hal ini dapat dilihat dari kecilnya nilai industri kertas pada masing-masing struktur tersebut bila dibandingkan dengan sektor perekonomian lainnya. Dilihat dari sisi permintaan antara dan permintaan akhir, industri kertas memiliki permintaan akhir (Rp 10.800.775 juta) yang lebih besar daripada permintaan antaranya (Rp 13.970.847 juta) yang menandakan bahwa output industri kertas lebih banyak digunakan untuk konsumsi langsung (masyarakat, pemerintah, dan ekspor) daripada sebagai input untuk sektor lainnya.

Dilihat dari rasio upah gaji terhadap surplus usaha (0,43) dalam struktur nilai tambah bruto, dapat identifikasi bahwa pada industri kertas terjadi ketimpangan distribusi pendapatan antara pihak perusahaan dengan tenaga kerjanya. Kemudian dari struktur ketenagakerjaan dapat diketahui bahwa industri ini mampu menyerap tenaga kerja sebesar 118.454 jiwa. Berdasarkan analisis struktur ekspor-impor dapat diketahui bahwa industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta sedangkan dari pembentukan output sektoral industri kertas menyumbang sebesar Rp 24.771.662 juta atau sekitar 0,92 persen dari total output sektoral perekonomian. Dari hasil analisis keterkaitan per sektornya (keterkaitan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia), industri ini memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya. Pada keterkaitan ke depan industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0,3183) dan industri percetakan (0,2448), sedangkan pada keterkaitan ke belakangnya, industri kertas memiliki keterkaitan kuat terhadap industri pulp (0,0944) yang merupakan sektor penghasil input bahan bakunya. Berdasarkan hasil analisis koefisien penyebaran dapat diketahui bahwa industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan dari hasil analisis kepekaan penyebaran industri kertas merupakan industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong sektor hilirnya. Pada analisis elastisitas input-output dapat diketahui bahwa industri kertas cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya dalam hal output dengan nilai elastisitas output sebesar 1,0023. Sementara dari hasil elastisitas pendapatannya (0,0522) industri ini kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal pendapatan dan jika dilihat dari hasil elastisitas tenaga kerjanya (0,6093), perubahan permintaan akhir sektor lain kurang berpengaruh terhadap perubahan tenaga kerja dalam sektor industri kertas tersebut. Berdasarkan ranking elastisitas, industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output, pendapatan, maupun tenaga kerjanya, sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Bersama dengan sektor kunci lainnya, industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut

ANALISIS INPUT-OUTPUT PERANAN INDUSTRI KERTAS DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA Oleh RUSLI RAMLI H14101I22 Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 .

Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Rina Oktaviani. MS NIP. Ir. Dr.Ec. Dosen Pembimbing. Ketua Departemen Ilmu Ekonomi.INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh. Institut Pertanian Bogor. Menyetujui. 131 846 872 Tanggal Kelulusan: . M. NIP. Ir. Dr. Arief Daryanto. 131 644 945 Mengetahui. Nama Mahasiswa Nomor Registrasi Pokok Program Studi Judul Skripsi : Rusli Ramli : H14101122 : Ilmu Ekonomi : Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia dapat diterima sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi.

Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 .PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN. Bogor.

dan HMI Komisariat FEM. dari pasangan Apun Sanusi dan Yoyoh. Jenjang pendidikan penulis dilalui dengan lancar. Propinsi Jawa Barat. Pada tahun 2001 penulis melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi untuk meraih gelar sarjana. Penulis masuk IPB melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan diterima sebagai mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen. penulis aktif di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus seperti BEM-H. Selama menjadi mahasiswa. penulis menamatkan Sekolah Dasar pada SDN Ciwaringin 1.RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rusli Ramli lahir pada tanggal 20 Juli 1983 di Karawang. Formasi. kemudian melanjutkan ke SLTPN 1 Telagasari dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis diterima di SMUN 1 Karawang dan lulus pada tahun 2001. . Penulis merupakan anak pertama dari satu bersaudara.

Judul ini dipilih penulis karena merupakan topik yang menarik dalam perkembangan industri nasional dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Penulis mengharapkan adanya hasil positif sebagai masukan dalam pembangunan industri kertas nasional selanjutnya. Arief Daryanto. Institut Pertanian Bogor. Judul skripsi ini adalah “Analisis Input-Output Peranan Industri Kertas dalam Perekonomian Indonesia“. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. M. skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi. Semoga karya ini dapat bermanfaat. Juni 2006 Rusli Ramli H14101122 . Fakultas Ekonomi dan Manajemen. terutama kepada Bapak Dr. Bogor. Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada seluruh pihak lainnya yang telah membantu terlaksananya penelitian ini baik dari instansi maupun perorangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Selain itu.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.1r. bagi penulis khususnya dan kalangan pendidikan umumnya. yang telah memberi masukan. saran serta bimbingan dalam pembuatan skripsi ini.Ec.

......... Kerangka Pemikiran Konseptual ....................... 1.......DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........................... Kerangka Pemikiran Teoritis ....................................................................... TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ...................................... 2.................................................2...................................................... V...... x xi xii 1 1 4 5 5 6 7 7 8 11 13 16 16 19 22 25 25 25 26 27 29 31 33 33 34 ............................................................................................................................................. Analisis Keterkaitan ...................................1....4............... 2.............................................6.....................5. Manfaat Penelitian ... Analisis Dampak Penyebaran ...................................................... 3.........................1..............................................2......2......... 1......... I..2..... 2.... Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas .... Struktur Tabel Input-Output............2.......................................4............................................................. GAMBARAN UMUM INDUSTRI .................................. 2. Penelitian-Penelitian Terdahulu ................ DAFTAR LAMPIRAN....... DAFTAR GAMBAR .............. 3....... Metode Analisis .............. 2. 3..................................................................1.............2...................... Definisi dan Sejarah Kertas.......................... METODE PENELITIAN......... Konsep Pembangunan Industri Kertas ............3...... Koefisien Input.....2...................... 3.............5.............................1...... 4...........................................2.... 2..........................3...................... 2..........3........... 4........................................ Jenis dan Sumber Data . Model Input-Output ......1..............1.......................... Ruang Lingkup........................ Latar Belakang ......... Perumusan Masalah .............. Elastisitas Input-Output.... 1....................................................... II.....................................................2.................... Profil Industri Kertas............................................... 3.5... 1..... 2............................................ Tujuan Penelitian ... PENDAHULUAN .....................................................................3...................... 1.... Perkembangan Industri Kertas .................. 3......5...2.. III.......

........... Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia ...........................2................2......................2............. 5......... 5....... 5....4...................... LAMPIRAN........4.3........6. 5.......4. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian . 5...................................................... Struktur Nilai Tambah Bruto ..1.....3.......1...................... DAFTAR PUSTAKA .............1................. Keterkaitan ke Belakang Industri kertas ..2.. 5.................... Elastisitas Tenaga Kerja..................................3... Elastisitas Output ...................4.................................. 5.. 6...... Struktur Ketenagakerjaan......1....... 5........................... VI.....2.. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................4............... Saran........2................1. 5... 36 37 47 47 47 49 51 53 55 56 56 58 59 61 62 63 65 67 67 68 70 71 73 75 75 76 78 80 ........ 5................... Struktur Permintaan Industri Kertas ...........3....... Elastisitas Input-Output.................................. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia........... Analisis Keterkaitan .......2............................................... HASIL DAN PEMBAHASAN............ Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia..................... 5.................................... 5.1..3............5... Kesimpulan .. Koefisien Penyebaran................................................. 5...........4........... 4...4................................................... Analisis Koefisien dan Kepekaan Penyebaran.... 6.......................3.......... Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia ...... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas ..........................1..................1.............. 5. 5..........1.................1....5.... V.............................. Elastisitas Pendapatan .................................... Struktur Ekspor dan Impor................2...3....................... 5....2........... 5.....................................................................2.................... Implikasi Kebijakan ............ 5............................................................................. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ................................ Kepekaan Penyebaran ....... 5....2.......... 5....2.. Struktur Output Sektoral ................

..... Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 ................ 4.. Boards PT..1.. 5.......................... Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 ..4................6......... Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004 ....... Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Indonesia Tahun 2000 . 4..2... Boards PT.........................3.... 2................. Impor....................................... 3 13 14 19 34 35 38 40 42 43 46 48 50 51 52 ..... 2.................................................................... Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000..2.................. Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 ...............1....... Boards PT.......2... 5............DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1...................................... 5.. Kapasitas Produksi...........3.... Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 .......... Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran....................... 2.................... Ekspor dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003........................ Jumlah Tenaga kerja..........3. Boards PT................2.... 2 1............ Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Keterkaitan .....................................................1... Struktur Tabel Input-Output..... 4....... 5......................... 4..1............ 4.................. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2004 ........... 4............. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha...... 4............ Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 ............................ ............. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia 1993-2002..............4...... Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas 2003....5......................7..

....................................9.......... Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia ................................. Elastisitas Input-Output Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 ................. 54 56 57 60 61 64 66 69 71 ........7........................ Struktur Pembentukan Output Sektoral Terhadap Perekonomian Indonesia ..........................................12.............. 5......6. Koefisien Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia........................ Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 ......... 5.8................. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia......... 5.................... Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia ................... 5....5... 5.5..................... 5......13..... 5....... Sektor Kunci Perekonomian Menurut Ranking Elastisititas Input-Output Indonesia Tahun 2000 ................................11........................... Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia ........... 5...............10.........

.................................... Bagan Alur Pendekatan Studi ..DAFTAR GAMBAR Nomor 1................... Halaman 24 .

....... Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor...... Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Klasifikasi 22 Sektor .. 4................. ......... 2.............. Halaman 81 82 86 88 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 ...................................DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1............. 3... Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor ..

Kemudian pada tahun 1967 industri pengolahan telah menyumbang 51. sementara kontribusi sektor sekunder dan tersier cenderung meningkat. dan pendayagunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi (Jhingan. produktifitas buruh.8 persen terhadap PDB sedangkan sektor pertanian mempunyai kontribusi terhadap PDB sebesar 8. 2002). dimana terjadi penurunan kontribusi sektor pertanian (sektor primer) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pola pertumbuhan ekonomi secara sektoral di Indonesia agaknya sejalan dengan kecenderungan proses transformasi struktural yang terjadi di berbagai negara di dunia. Perubahan struktur semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak.I.1).9 persen). Pada tahun-tahun berikutnya dapat dilihat bahwa sektor industri pengolahan terus mengalami kenaikan dalam hal kontribusinya terhadap PDB sedangkan sektor pertanian sebaliknya terus mengalami penurunan kontribusi terhadap PDB. sikap sosial. Perubahan struktural mengandung arti peralihan dari masyarakat pertanian tradisional menjadi ekonomi industri modern. dan motivasi yang secara radikal. Latar Belakang Proses industrialisasi di Indonesia yang dimulai sejak Pelita I telah mengakibatkan transformasi struktural di Indonesia. PENDAHULUAN 1.4 persen dari PDB (Tabel 1. Pada tahun 1960. stok modal. sektor pertanian merupakan sektor penyumbang terbesar terhadap PDB (53. sementara sektor industri khususnya industri pengolahan baru menyumbang 8.1.4 persen. yang mencakup peralihan lembaga. Hal tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa sektor industri .

4 5. 1960 53.6 18.5 3.5 0.3 3.0 6.0 3.9 10.6 10.84 25.64 15.6 15.5 16.2 pengolahan telah menggeser peranan sektor pertanian dalam pembangunan nasional berkaitan dengan peralihan struktur perekonomian masyarakat Indonesia dari orientasi pada sektor primer (pertanian) kepada orientasi sektor industri.4 0.5 1.2 6.9 14.8 6. Tabel 1.1 3.4 5.6 13.9 3.7 1.57 2003 16.7 8. 2003.1 12.6 0.9 7. hotel dan restoran Pengangkutan dan komunikasi Keuangan.1 0.3 1.1 5.7 6.9 1989 20.9 1983 22.7 24.52 5. Dari sisi kontribusi terhadap penerimaan negara.3 4.3 3.9 21.2 3.3 2.7 12.49 7.8 20.7 0.8 3.0 16.4 1973 40. sektor industri pulp dan kertas telah menyumbang 90 persen dari total penerimaan ekspor kehutanan.4 Industri pulp dan kertas adalah industri yang berkembang dengan tingkat pertumbuhan 20 persen per tahun pada beberapa dekade terakhir.1.8 3.2 1967 51.9 16.7 2.0 3.5 0.6 3. Komposisi Sektoral PDB 1960-2003 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (persen) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan dan penggalian Industri Pengolahan Listrik dan air minum Bangunan/konstruksi Perdagangan.6 16. Pasar bagi hasil industri pulp dan kertas masih terbuka luas karena konsumsi kertas per kapita terus meningkat dari tahun ke tahun.6 15.4 0.5 1998 17.2 1.9 5.3 6.7 8.6 5.5 1993 17.8 1.3 9. sewa dan jasa perusahaan Jasa-jasa Sumber : BPS.3 6. Salah satu dari sektor industri pengolahan tersebut yang berkembang pesat sampai saat ini adalah industri pulp dan kertas.0 14. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai eksportir .57 9.9 5.

390 3.595.849. Ekspor.560 1999 9.487. baik kapasitas.821. Tabel 1.000 2003 Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas.951.130 143.420 4.970 3.490 1996 7.446.600 2. 2002).000 130.695 250. ialah bahwa produk kertas cenderung banyak yang ditujukan untuk pasar luar negeri.430 3.120.641. dan Konsumsi Industri Kertas Indonesia Tahun 1994-2003 (ton) Tahun Kapasitas Produksi Impor 171. industri ini merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Kapasitas.300 140.200.350 3.783.220 1.2.833.882.000 Ekspor 826.290 4. Sementara itu fokus khusus pada sektor industri kertas (diluar dari industri pulp). Hal itu ditambah apabila melihat dalam sekitar satu dekade terakhir ini.950.119.300. adalah bahwa produk kertas harganya banyak ditentukan dalam nilai dolar. pertama.065.000 1994 4.015.913. sehingga dalam masa krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia. ekspor maupun .240 2001 10.560 4.630 199.000 2000 9.116. Produksi.904. dan ketiga. yaitu komponen impor yang digunakan dalam proses produksi nilainya tidak lebih dari 30 persen.800 1995 5.000 Konsumsi 2. industri ini masih dapat diandalkan dalam membantu penerimaaan devisa negara (Rosadi dan Vidyatmoko.700 261.280 4.472.800.200 924.720.800 2.260 1998 9.168.837.840 249.054.970 2002 10.100 2.000 8.000 2.097.960 2.600 1997 7. 2003.800 212.198.080 6.600.110 197. 2002).500 3. Impor.479. Ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi pentingnya sumbangan industri ini.805.935 5.520 1.180 6.580 7.210 2.135 2.399.3 pemimpin dalam bidang kehutanan di dunia sejak 1987 (Karseno dan Mulyaningsih.945 5.530 5.000 3.212.425. jumlah produksi.345.730 2.282. alasan kedua.800.224.180 6.

Dalam hal bahan baku. Begitu juga dalam hal tenaga kerja. Namun pentingnya industri kertas ini tidak semata-mata hanya karena keunggulan komparatifnya saja tapi juga karena peranannya dalam hubungannya terhadap sektor-sektor lain dalam perekonomian Indonesia baik sektor industri maupun non-industri dan bagaimana sektor-sektor lain tersebut mempengaruhi industri kertas sehingga terjadinya hubungan timbal balik yang mengarah pada peningkatan pertumbuhan sektor-sektor dalam perekonomian secara keseluruhan. Peran industri kertas dalam hubungannya dengan sektor-sektor perekonomian tersebut dapat dilihat dari bagaimana struktur perekonomiannya bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dan keterkaitannya dengan sektor-sektor lainnya . angkatan kerja produktif di Indonesia mencapai puluhan juta orang. Berdasarkan kondisi inilah dirasakan penting untuk melakukan analisis lebih lanjut tentang peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia. misalnya. I. Indonesia termasuk negara penyedia bahan baku pulp terbesar karena mempunyai hutan terluas kedua di dunia. Sampai saat ini industri kertas Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara lain.2.2). sehingga bahan baku untuk pembuatan kertas tersedia banyak di Indonesia. Perumusan Masalah Pentingnya industri kertas yang besar tidak terlepas dari kondisi yang dimilikinya.4 konsumsi dalam industri kertas terus mengalami kenaikan setiap tahunnya (Tabel 1. Keunggulan yang lebih banyak mengandalkan sumber bahan baku yang berlimpah dengan harga yang relatif murah serta tenaga kerja dengan upah buruh yang relatif rendah.

nilai tambah. ketenagakerjaan. Menganalisis keterkaitan sektor industri pengolahan dengan sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia . Bagaimana keterkaitan sektor industri kertas dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia? 3. Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas. ekspor-impor dan output sektoral? 2. Berapa besar peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan.5 tersebut. ketenagakerjaan. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya? 4. ekspor-impor dan output sektoral 2. Bagaimana peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia? 1. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas maka tujuan penulisan skripsi ini adalah: 1.3. Menganalisis peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia dalam struktur permintaan. nilai tambah. beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. bagaimana kemampuan industri kertas dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya dan bagaimana peran industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia.

Menganalisis peran sektor industri kertas dalam sektor kunci perekonomian Indonesia 1. . industri barangbarang dari kertas yang tidak memproduksi kertasnya terlebih dahulu dan bukan pula industri percetakan atau penerbitan. Menganalisis peran sektor industri kertas dalam mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya 4. kertas lapis dan non lapis (coated and uncoated paper).4. Kertas yang dimaksud adalah jenis kertas seperti kertas tulis cetak (writingprinting paper). kertas rokok (cigarette paper) dan sebagainya. kertas tissue (tissue paper). Dengan kata lain industri kertas dalam penelitian ini bukan industri pulp. Manfaat Penelitian Penulis mengharapkan penelitian ini dapat berkontribusi secara positif terhadap perencanaan kebijakan pembangunan industri kertas nasional pada khususnya maupun industri lain pada umumnya oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya maupun bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan untuk melakukan penelitian tentang industri kertas Indonesia. Ruang Lingkup Industri kertas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah industri yang terdiri dari perusahaan-perusahaan yang mengolah bahan baku kertas menjadi produk kertas yang merupakan barang jadi yang dapat di langsung dikonsumsi ataupun barang setengah jadi yang akan digunakan sebagai input oleh industri lain.6 3. 1.4.

Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir kuno pada masa bangsa Fir’aun kemudian menyebar keseluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan ke seluruh Eropa. bambu. kayu. 2005). TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI 2. mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya sebagai kertas pembersih (tissue) yang dapat digunakan untuk hidangan maupun kebersihan. Sebelum ditemukan kertas. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti yang telah ditemukan pada naskah-naskah kuno nusantara beberapa abad yang lalu. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis. yang dihasilkan dengan kompresi serat. . meskipun pengunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. papier dalam bahasa Belanda. prasasti dari batu.II.1. Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Wikipedia. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah liat yang dibakar. Peradaban Mesir kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa (Wikipedia 2005). Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. Jerman. kulit atau tulang binatang. Adanya kertas merupakan revolusi baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam peradaban dunia. sutera. Definisi dan Sejarah Kertas Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. Hal ini dapat ditemui dari pennggalan peradaban bangsa Sumeria.

8 Tercatat dalam sejarah adalah peradaban Cina yang menyumbangkan kertas bagi dunia. Konsep Pembangunan Industri Kertas Ada beberapa pengertian industri secara definisi yang sekurang-kurangnya akan disampaikan dua definisi. Bintaro (1968) dalam Muchtar (1997) mengemukakan industri pengolahan ialah setiap usaha yang merupakan unit produksi yang membuat barang untuk kebutuhan masyarakat di suatu tempat tertentu. Pada akhirnya. atau dengan tangan sehingga menjadi barang jadi atau setengah . 2. kemudian meyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (Wikipedia.2. kimia. munculah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu meskipun pada awalnya cara pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia. 2005). Tsai Lun menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seluruh Cina pada tahun 101 Masehi. Menurut Puspitawati (2000) industri pengolahan merupakan suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang dasar secara mekanis. teknik pembuatan kertas tersebut jatuk ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab sehingga dizaman Abbasiyah.

Menurut Saragih dalam Sipayung dan Pambudy (2000). Kendati perkembangan sektor industri kertas mengalami kemajuan yang pesat salah satunya terlihat dari perkembangan produksi. Sumber pertumbuhan agribisnis pulp dan kertas terutama bersumber dari pemanfaatan sumber daya alam dan tenaga kerja tidak terampil (fase factordriven). akan tetapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya untuk memiliki keunggulan daya saing yang tinggi. ada 3 fase pembangunan industri pulp dan kertas agar memiliki keunggulan daya saing. kapasitas maupun ekspornya. Oleh karenanya. khususnya pada era ekolabelling dan otonomi daerah pada saat ini. pembangunan industri secara nyata harus menjadi penggerak utama peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan sekaligus dapat menjadi penyedia lapangan kerja yang sudah mulai tidak tertampung pada sektor pertanian (Muchtar. yakni struktur ekonomi dengan titik berat pada industri yang maju dan didukung oleh pertanian yang tangguh. Berdasar pada dua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa industri kertas merupakan suatu kegiatan atau usaha mengolah barang dasar atau bahan baku kertas agar memiliki nilai yang lebih baik untuk keperluan masyarakat di suatu tempat tertentu. Pada hakekatnya pembangunan industri ditujukan untuk menciptakan struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang. konsumsi. Karakteristik dari industri ini adalah sumber bahan baku kayu .9 jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. 1997). sebagai berikut : 1.

Selain itu keterkaitan kegiatan perusahaan masih dengan masyarakat juga masih sedikit.10 mengandalkan kayu hutan (forest based) misalnya Hak Penguasaan Hutan (HPH). nilai produk kertas dapat dipersepsikan masyarakat (perceive value) sebagai barang inferior. Efisiensi pengolahan makin meningkat melalui perbaikan teknologi yang terus menerus sehingga selain menurunkan biaya produksi juga . penyediaan bahan baku kayu tidak lagi bersumber dari penebangan kayu hutan alam. meskipun biaya produksi relatif rendah. Sehingga dampak penurunan mutu lingkungan akibat aktivitas industri tersebut biasanya cukup besar. 3. melainkan telah bergeser pada kayu hasil budidaya. Dengan demikian. 2. bila diboboti dengan atribut global value dan national/local value. Fase ketiga adalah industri pulp dan kertas yang digerakkan oleh inovasi (innovation-driven) yakni penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tenaga kerja terampil (knowledge based and skill labor based). Dengan demikian dampak penurunan mutu lingkungan akibat penebangan kayu hutan alam dapat diminimumkan atau lebih rendah dari fase pertama. sehingga telah terjadi pemutusan hubungan dengan hutan alam. Fase kedua adalah agribisnis (industri) pulp dan kertas yang digerakkan oleh modal (capital-driven) yakni modal dan tenaga kerja semi terampil (capital and smi-skill labor). Karakteristik industri pulp dan kertas pada fase ini adalah pertumbuhan output terutama bersumber dari kemajuan teknologi baik pada penyediaan bahan baku maupun dalam pengolahan. Industri pulp dan kertas pada fase ini dicirikan dengan pengembangan perkebunan kayu (timber plantation) sebagai sumber bahan baku. Artinya.

3. Full Integration Perusahaan melakukan full integration bila perusahaan tersebut memproduksi semua input yang dibutuhkannya atau ketika perusahaan tersebut . Oleh karena itu. Jenis integrasi ini dapat dibagi menjadi dua. Mentransformasi industri pulp dan kertas dari factor-driven kepada innovation-driven akan memberi manfaat ganda. Integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan dapat dilakukan dilakukan dengan dua cara. Perusahaan yang menerapkan strategi integrasi vertikal ke hulu (upstream) adalah perusahaan yang memperoduksi sendiri input yang dibutuhkannya. Sedangkan integrasi vertikal ke hilir (downstream) adalah perusahaan yang memutuskan untuk menyalurkan output yang dihasilkan kepada konsumen melalui perusahaan yang terintegrasi dengannya. 2. antara lain: 1. Integrasi Vertikal Pada Industri Kertas Hasibuan (1994) mendefinisikan integrasi vertikal adalah pengabungan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kelanjutan proses produksi. yakni meningkatkan daya saing dan meminimumkan dampak negatif kegiatan industri pulp dan kertas pada lingkungan hidup. kemampuan Riset and Development (R&D) menjadi tulang punggung dalam fase ini. yaitu integrasi ke hulu (upstream) dan integrasi ke hilir (downstream).11 mengurangai polutan ke lingkungan. Pada saat ini industri pulp dan kertas indonesia sebagian besar sedang bergeser dari factor-driven kepada capital-driven. Bahkan beberapa diantaranya sudah mulai memasuki innovation–driven.

Jenis integrasi vertikal perusahaan-perusahaan tersebut adalah full integration. 2.4. 2. PT. Menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya.12 menyalurkan semua output yang dihasilkan melalui anak perusahaan yang terintegrasi dengannya. Indah Kiat Pulp & Paper. mereka mempunyai pabrik pulp sendiri sebagai sumber bahan baku produksi kertasnya. Taper Integration Perusahaan melakukan taper integration bila perusahaan tersebut membeli input yang dibutuhkannya dari perusahaan lain selain input yang dihasilkan sendiri atau menyalurkan hasil produksinya melalui perusahaan terintegrasi dengannya dan juga perusahaan lain yang tidak terintegrasi Perusahaan-perusahaan seperti PT. Penelitian-Penelitian Terdahulu Penelitian tentang peran dan keterkaitan dengan menggunakan alat analisis Input-Output telah banyak dilakukan. yaitu: (1) penelitian terhadap keseluruhan sektor perekonomian. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia merupakan perusahaan-perusahaan besar dalam industri kertas yang terintegrasi vertikal dengan industri pulpnya. Lontar Papyrus dan PT. (2) penelitian terhadap sektor agroindustri dan non agroindustri . Penelitian yang sudah dilakukan selama ini antara lain meliputi.

Gambaran ini memberikan indikasi bahwa sektor/subsektor industri pengolahan secara langsung lebih mempunyai .58216 0.05931 0.1). 2005).75861 2. Pada dasarnya penelitian yang dilakukan memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan (linkages). Jepara**** Ind. (1) keterkaitan langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil di bandingkan keterkaitan ke belakangnya. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2. Pengolahan 3. Hasil Penelitian Terdahulu tentang Keterkaitan Penelitian Wilayah 1.6028 2. transportasi dan sebagainya (Setyawan.4432 1.62204 2001 0.13 (sektor industri pengolahan).6293 0.54759 1.2). Tabel 2.95855 Keterkaitan Ke Belakang Langsung & Langsung Tdk Langsung 0.48518 1988 0. ***Setiyaji (1995). Disamping mempelajari keterkaitan tersebut penelitian-penelitian tersebut juga mempelajari dampak penyebaran (Tabel 2.63396 Sumber: *Tjandrawan (1994) . ****Setyawan (2005). baik keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkages) dan ke depan (direct forward linkages) maupun keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang dan ke depan (Tabel 2.27222 Langsung & Tdk Langsung 1.29125 1.07819 1.34572 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4. **Sahara (1998) . Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 0.38949 Keterkaitan Ke Depan Langsung 0.76281 1.45022 1.59448 0.11877 0. (3) penelitian terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan.17604 0.00802 1.31431 2.64866 0.4267 1.1. Ada beberapa informasi yang ditunjukkan pada Tabel 2.1 yaitu. DKI Jakarta** Pertanian Ind.13908 2.81150 1.00619 0. dan (4) penelitian terhadap salah satu sektor perekonomian misalnya pariwisata.

****Setyawan (2005).20609 1.21765 1.1719 1. Jawa Barat*** Pertanian Agroindustri 4. Ada beberapa hal yang dapat diidentifikasi dalam penelitian-penelitian tersebut yaitu: (1) Koefisien penyebaran menunjukkan . Pengolahan Tahun InputOutput 1990 1993 1. Jepara**** Ind.9139 Sumber: *Tjandrawan (1994) . Selanjutnya pada Tabel 2.2908 1. Indonesia* Agroindustri Non Agroindustri 2.74816 1. DKI Jakarta** Pertanian Ind. Hasil Penelitian Terdahulu Tentang Dampak Penyebaran Penelitian Wilayah 1.1376 1. dan (2) Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor industri pengolahan lebih kecil dibandingkan dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakangnya. Pengolahan 3.2698 1.48422 Koefisien Penyebaran 1.38525 1988 0. **Sahara (1998) .3.33528 2001 1. ***Setiyaji (1995). Tabel 2.3 menyajikan informasi mengenai koefisien dan kepekaan penyebaran. Hal ini berarti sektor/sub sektor industri pengolahan secara langsung dan tidak langsung lebih kuat mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input untuk keperluan proses produksinya dibandingkan dengan kemampuannya untuk mendorong peningkatan produksi terhadap sektor yang membutuhkan input dari sektor ini.14 kemampuan untuk mendorong pertumbuhan sektor yang menyediakan input bagi keperluan proses produksi dibandingkan dengan kepekaannya dalam menciptakan kenaikan output apabila terjadi peningkatan satu-satuan permintaan akhir terhadap sektor industri.0570 Kepekaan Penyebaran 1.

15 kemampuan suatu sektor dalam perekonomian untuk mendorong sektor hilirnya sedangkan kepekaan penyebaran menunjukkan kemampuan suatu sektor untuk menarik sektor hulunya.5. Kerangka Pemikiran Teoritis 2. Secara umum keempat penelitian mengenai koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran tersebut mempunyai peranan penting dalam pembangunan wilayah. Studi literatur yang telah dilakukan menunjukkan bahwa analisis I-O telah banyak digunakan sebagai alat untuk penelitian. industri pengolahan DKI Jakarta mempunyai kemampuan untuk menarik industri hulunya dibandingkan dengan kabupaten Jepara. hal ini terbukti dari nilai koefisien dan kepekaan penyebaran yang mempunyai nilai lebih besar dari satu (kecuali pertanian di Jawa Barat).5. Peneliti juga melihat bahwa penelitian tentang industri kertas di Indonesia berdasarkan Analisis Input-Output belum pernah dilakukan. Model Input-Output Menurut BPS (2000) pengertian Tabel Input-Output (Tabel I-O) adalah suatu tabel yang yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa . dan (2) Kepekaan penyebaran industri pengolahan DKI Jakarta lebih besar dibandingkan kabupaten Jepara. 2.1. Besarnya kepekaan penyebaran industri pengolahan di DKI Jakarta tersebut menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan di wilayah tersebut bersifat ekspansif yaitu mampu melakukan perluasan pasar dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dibandingkan dengan Jepara dan apabila dilihat dari koefisien penyebaran.

Sejak dirilis oleh Leontief pada tahun 1930-an. 2000) Data yang disajikan dalam Tabel I-O merupakan informasi rinci tentang input dan output sektoral yang mampu menggambarkan keterkaitan antar sektor dalam kegiatan perekonomian. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam proses penyusunannya. Leontief mengemukakan bahwa Tabel I-O termasuk dalam model General Equilibrium. yaitu asumsi bahwa setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang atau jasa dengan susunan input tunggal . tidak hanya untuk mendeskripsikan struktur suatu perekonomian tetapi juga mencakup cara untuk memprediksi perubahan-perubahan struktur tersebut.16 yang terjadi antar sektor ekonomi dengan bentuk penyajian berupa matrik. baik yang berupa input antara maupun input primer. sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penciptaan input yang digunakan oleh setiap sektor dalam proses produksi. Sifat keseimbangan inilah yang merupakan salah satu kelebihan Tabel I-O yang dibandingkan dengan alat analisa lainnya dalam ilmu ekonomi perencanaan dan pembangunan (BPS. Adapun asumsi dasar penyusunan Tabel I-O adalah : 1. dan pada baris nilai tambah yang menunjukkan komposisi penciptaan nilai tambah sektoral. Tabel I-O bersifat statis dan terbuka. Keseragaman (homogenity). Tabel I-O telah berkembang menjadi salah satu metode paling luas diterima. Isian sepanjang baris Tabel I-O menunjukkan pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan antara dan permintaan akhir.

. 2. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding dengan perubahan kuantitas dan harga output. Untuk memperkirakan dampak permintaan akhir terhadap output. yaitu koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode analisa atau proyeksi. dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri. Kesebandingan (proportionality). artinya kenaikan dan penurunan output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang digunakan oleh sektor tersebut. nilai tambah impor. penerimaan pajak. Beberapa kegunaan Tabel I-O antara lain adalah : 1. yaitu asumsi bahwa hubungan antar input dan output pada setiap sektor produksi merupakan fungsi linear.17 (seragam) dan tidak ada substitusi otomatis terhadap input dan output sektor yang berbeda 2. Penjumlahan (additivity). Karena koefisien teknis dianggap konstan. 3. Tabel I-O masih merupakan alat analisis yang lengkap dan komprehensif. Berdasarkan asumsi tersebut maka Tabel I-O sebagai model kuantitatif memiliki keterbatasan. Namun demikian. yaitu asumsi bahwa total efek dan kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan penjumlahan dari efek pada masing-masing kegiatan. maka teknologi yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi pun dianggap konstan. Untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan substitusinya.

Struktur penyediaan barang dan jasa. 2. Struktur input antara yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar sektorsektor produksi. Struktur perekonomian suatu wilayah yang mencakup output dan nilai tambah masing-masing sektor. 2. Untuk analisis perubahan harga. maka disajikan format Tabel I-O pada Tabel 2. 4. Untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan perekonomian. baik berupa produksi dalam negeri maupun barang impor atau yang berasal dari luar wilayah tersebut. Untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah. dan ekspor. 5. Untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel I-O terdiri dari suatu kerangka matrik berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendiskripsikan suatu hubungan tertentu. .4 di bawah ini.2. 3.5.18 3. baik berupa permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi. 4. investasi. Sebagai metode kuantitatif Tabel I-O memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1. Struktur permintaan barang dan jasa. yaitu dengan melihat pengaruh secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output.

yaitu sebagian untuk memenuhi permintaan antara dan sebagian lainnya untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan n x1n x2n x3n . 2000. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menujukkan pemakaian input antara dan input primer oleh suatu sektor. Apabila Tabel 2. xn2 V2 X2 xnn Vn Xn Fn V1 X1 Sumber : Tabel I-O Indonesia. N Jumlah Input Primer Jumlah Input Antara produksi 1 x11 x21 x31 . BPS. Struktur Tabel Input-Output Alokasi Output Susunan Input 1 2 Input Sektor 3 .4 di atas dilihat secara baris (bagian horisontal) maka alokasi output secara keseluruhan dapat dituliskan dalam bentuk persamaan aljabar sebagai berikut: X11 + X12 + … X1n + F1 = X1 X21 + X22 + … X2n + F2 = X2 : : : : : Xn1 + Xn2 + … Xnn + Fn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : . Jumlah Output X1 X2 X3 . Xn … … … … . Isian sepanjang baris pada ilustrasi Tabel I-O tersebut memperlihatkan bagaimana output dari suatu sektor dialokasikan.19 Tabel 2.3. … … … Akhir F1 F2 F3 . .xn1 Permintaan Antara Sektor Produksi 2 x12 x22 x32 .

yaitu transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi. Berdasarkan ilustrasi Tabel Input-Output. Kuadran I (intermediate quadrant) Setiap sel pada kuadran I merupakan transaksi antara. maka angka pada kolom (sektor) itu menunjukkan berbagai input yang diperlukan dalam proses produksi pada sektor tersebut. 3. untuk semua i = 1.1) Apabila angka-angka dibaca menurut kolom. maka persamaan aljabar untuk input yang digunakan oleh masing-masing sektor dapat dituliskan sebagai berikut : X11 + X21 + … + Xn1 + V1 = X1 X12 + X22 + … + Xn2 + V2 = X2 : : : : : X1n + X2n + … + Xnn + Vn = Xn atau dalam bentuk persamaan umum dapat dituliskan sebagai : ∑ Xij + Vj = Xj .2) Dalam analisis I-O sistem persamaan di atas memiliki peran penting. Secara umum matrik dalam Tabel I-O dapat dibagi menjadi 4 kuadran. 2. untuk semua j = 1. 2. sebagai berikut : 1. dst (2. Dalam Analisa I-O kuadran ini memiliki peran yang sangat penting karena kuadran inilah yang . khususnya pada transaksi antara.20 ∑ Xij + Fi = Xi . yaitu sebagai dasar analisa ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah. dst Dimana : Xij = output sektor i yang digunakan sebagai input sektor j Fi = permintaan akhir terhadap sektor i Xi = jumlah output sektor i (2. 3.

sehingga dalam penyusunan Tabel I-O sering diabaikan. Jumlah keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang dihasilkan oleh wilayah tersebut. 4.21 menunjukkan keterkaitan antara sektor ekonomi dalam melakukan proses produksinya.6. Kuadran II (final demand quadrant) Menunjukan penjualan barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. pajak tak langsung. 2. Kuadran ini terdiri dari pendapatan rumah tangga (upah/gaji). pembentuk modal tetap. Kuadran III (primary input quadrant) Menunjukkan pembelian input yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-sektor dalam kuadran antara. Kuadran IV (primary input-final demand quadrant) Merupakan kuadran input primer permintaan akhir yang menunjukkan transaksi langsung antara kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui sistem produksi atau kuadran antara. perubahan stok dan ekspor. Permintaan akhir adalah output suaru sektor yang langsung digunakan oleh rumah tangga. pemerintah. 2. Informasi di Kuadran IV ini bukan merupakan tujuan pokok. surplus usaha dan penyusutan. Kerangka Pemikiran Konseptual Strategi pengembangan yang menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi menganggap bahwa kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan dengan cepat . 3.

sektor industri pengolahan lebih banyak dapat menyediakan lapangan kerja dan mempunyai aktifitas ekonomi yang lebih intensif untuk satuan unit usaha bila dibandingkan dengan unit usaha sektor lainnya. pada penelitian ini akan dilihat tentang peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian nasional. Peningkatan pendapatan ini sekaligus mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Setyawan. melalui suatu proses yang disebut sebagai penetesan ke bawah (trickle down effect) akan menyebabkan peningkatan pendapatan berbagai golongan masyarakat di negara (wilayah) bersangkutan. Sektor industri ini dijadikan unggulan untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian mengingat dalam kondisi sekarang ini.22 melalui peningkatan satu atau beberapa sektor ekonomi kunci. Kebijakan prioritas pembangunan sektor industri pengolahan khususnya industri kertas merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan perekonomian yang lebih baik untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu sektor ini juga dianggap sebagai sektor yang mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat pada tingkat yang layak dari sebelumnya. Dalam menganalisis peranan sektor industri kertas teradap perekonomian Indonesia ini digunakan analisis I-O dengan berbagai . kemudian. karena tentunya kebijakan yang ditetapkan tersebut mengharapkan hasil pada perkembangan ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya. Sehubungan dengan itu. Peningkatan output berbagai sektor ekonomi. Peningkatan output sektor kunci tersebut akan ikut meningkatkan output sektor-sektor lainnya melalui proses keterkaitan (linkages) dan dampak penyebaran antar sektor. 2005).

dan perannya dalam sektor kunci perekonomian seperti yang terlihat pada gambar 1. maka diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagi pemerintah Indonesia tentang perkembangan sektor yang menjadi prioritas ini dalam mengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengannya. kemampuan mendorong dan menarik sektor hulu-hilirnya. . Adapun alur konsep pemikiran dapat dilihat pada gambar 1. Pada akhirnya dapat dijadikan acuan pemerintah Indonesia sendiri dalam menentukan kebijakan pembangunan ekonomi Indonesia ke depan sehingga permasalahan pembangunan seperti kemiskinan dan pengengguran dapat diturunkan.23 keterbatasan analisis yang telah disebutkan pada bab sebelumnya. Dengan teridentifikasinya peranan sektor industri kertas melalui proses keterkaitan dengan sektor-sektor lain baik sebagai pengguna input maupun penghasil output.

Bagan Alur Pemikiran Konseptual .24 Perekonomian Indonesia Perubahan Struktur Perekonomian Industri Kertas Kemampuan mendorong dan menarik pertumbuhan sektor hulu dan hilirnya (Analisis Dampak Penyebaran) Keterkaitan dengan sektor lain dalam hubungannya sebagai pengguna input dan penghasil output (Analisis Keterkaitan) Sektor Kunci Perekonomian (Elastisitas Input-Output) Peran Industri Kertas Kebijakan Pembangunan Industri Keterangan : ( Ruang lingkup penelitian ) Analisis yang digunakan Gambar 1.

Pada analisisnya nanti dapat terlihat bahwa perekonomian dapat tumbuh apabila terdapat dorongan atau peningkatan pada permintaan akhir yang eksogen tersebut. Penggunaan tabel I-O Indonesia tahun 2000 tersebut dikarenakan tabel I-O tersebut merupakan tabel terbaru selama penelitian ini berlangsung. Pendekatan model I-O yang digunakan adalah model sisi permintaan (demand-side model).2. Pada analisis keterkaitan. Oleh karenanya. dampak penyebaran dan elastisitas ini alat yang digunakan adalah Microsoft Excel 2003. 3. Metode Analisis Untuk mengetahui peranan sektor industri kertas terhadap perekonomian Indonesia ini sebagai sektor penyedia input maupun sebagai sektor pemakai input. dampak penyebaran dan elastisitas input-output. Data yang digunakan antara lain berasal dari Tabel Input-Output (I-O) transaksi domestik atas dasar harga produsen tahun 2000 klasifikasi 175 sektor dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat yang kemudian diagregasi oleh penulis menjadi 22 sektor dan beberapa data sekunder lainnya dari instansi dan dinas terkait lainnya. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.III. hal ini dikarenakan faktor permintaan merupakan faktor eksogen yang mempengaruhi perekonomian. kemampuan untuk mendorong atau menarik sektor hulu dan hilirnya serta perannya dalam sektor kunci perekonomian dapat di kaji berdasarkam analisis keterkaitan. model analisis ini .

26 sering pula disebut dengan dengan model yang dikendalikan oleh sisi permintaan (demand-driven model).… ann X1 X2 : X3 X + F1 F2 : Fn F = X1 X2 : Xn X (3.3) (3.2) AX + F = X Atau F = X . Koefisien Input Pada Tabel I-O. a2n : A : a31 ……. a1n a21 ……. 3. Dengan demikian dapat disusun matriks sebagai berikut : a11 X1 + a12 X2 +………+ a1n Xn + F1 = X1 a21 X1 + a22 X2 +………+ a2n Xn + F2 = X2 : : : : : an1 X1 + an2 X2 +………+ ann Xn + Fn = Xn Atau persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi : a11 …….1) Xj Dimana : aij adalah koefisisen input.. Secara matematik dapat dituliskan : aij = Xij (3.1.AX . koefisien input atau koefisien teknologi merupakan perbandingan antara jumlah output sektor i yang digunakan dalam sektor j (Xij) dengan input total sektor j (Xj). Koefisien ini dapat diterjemahkan sebagai jumlah input dari sektor i yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output sektor j.2.

27 Jika terdapat perubahan pada permintaan akhir. Analisis Keterkaitan (linkages) Koefisien keterkaitan sangat berguna dalam penyusunan prioritas sektor perekonomian untuk mencapai tujuan pembangunan. ( I – A ) = Matriks Leontief.2. X = Output.5) Dimana : I = Matriks identitas berukuran nxn yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol pada selainnya. maka dapat dituliskan sebagai berikut : AX + F = X Atau F = X .AX X = ( I . Dalam analisis input-output matriks kebalikan Leontief memiliki peranan yang sangat penting sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian.A )-1F (3. maka akan ada perubahan pola pendapatan nasional.2. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara . Beberapa jenis koefisien keterkaitan yang sering digunakan dalam analisis ekonomi wilayah sektoral antara lain adalah keterkaitan langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. 3. F = Permintaan akhir. Jika ditulis dalam bentuk persamaan. ( I – A )-1 = Matriks kebalikan Leontief. 1.

Untuk mengetahui besarnya keterkaitan langsung ke depan. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total. n KBj = ∑ aij i=1 Dimana: KBj = Keterkaitan langsung ke belakang = Unsur matrik koefisien teknis aij 3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan mengukur akibat dari adanya suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total.7) (3.28 langsung per unit kenaikan permintaan total.6) (3.8) Dimana: KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i ij = unsur matrik kebalikan Leontief model terbuka . KDLTi = ∑ α ij j =1 n (3. dengan rumus sebagai berikut: n KDi = ∑ aij j=1 Dimana: KDi = Keterkaitan langsung ke depan = Unsur matrik koefisien teknis aij 2.

1. Analisis Dampak Penyebaran Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang di atas belumlah memadai dipakai sebagai landasan pemilihan sektor kunci.3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Analisa keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menyatakan akibat suatu sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor didalam suatu sistem perekonomian.2.10) Dimana: BLTLj = Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang = Unsur matrik kebalikan Leontief terbuka αij 3. Indikator-indikator tersebut tidak dapat diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. Oleh karena itu kedua indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. Koefisien Penyebaran (Coefficient of Dispersion) Koefisien penyebaran tersebut juga indeks daya penyebaran ke belakang. KBLTj = ∑α ij i =1 n (3. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan sektor dan . Analisis ini disebut dampak penyebaran yang terbagi dua yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran.29 4.

Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dam jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.30 jumlah seluruh koefisien matrik kebalikan Leontief.10) Dimana: Pdj = Koefisien penyebaran sektor j ij = Unsur matrik kebalikan Leontief 2. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: n∑ α ij Sdi = j =1 n n ∑∑ α i =1 j =1 n (3. Secara matematis dituliskan dalam bentuk rumus sebagai berikut: n∑ α ij n Pdj = ∑∑ α ij i =1 j =1 n i =1 n (3. Kepekaan Penyebaran (Sensitivity of Dispersion) Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan. Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.11) ij Dimana: = Kepekaan penyebaran sektor i Sdi ij = Unsur matrik kebalikan Leontief .

12) = ∑x j b ij yj = Elemen matriks Leontief = Permintaan akhir sektor j 2. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi.4. 1. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Pendekatan ini dianggap lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas.31 3. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎤ ⎡ ET xyj = ⎢∑ l i / x j )bij /(l j / x j )⎥ (y j / x) ⎦ ⎣ i Dimana: ET xyj = Elastisitas tenaga kerja (3. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: EO xyj = Dimana: EO xyj = Elastisitas output x ∑b i ij ( y j / x) (3.2.13) .

32 = Jumlah tenaga kerja li l i / x j = Koefisien tenaga kerja 3. Secara matematis analisis ini dapat dapat dinyatakan sebagai berikut: ⎡ ⎤ EP xyj = ⎢∑ hi / x j )bij /(h j / x j )⎥ ( y j / x) ⎣ i ⎦ (3.14) Dimana: EP xyj = Elastisitas Pendapatan hj = Upah dan gaji hi / x j = Koefisien pendapatan . Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

sektor industri ini membutuhkan investasi baru atau industri ini harus meningkatkan efisiensi agar dapat bersaing dengan industri asing. dan investasi luar negeri sebesar 4. . Menurut Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI). 12 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan 3 perusahaan negara. Profil Industri Kertas Saat ini. Ketiga produsen besar industri pulp dan kertas tersebut adalah.580 ton yang terdiri dari kapasitas terpasang perusahaan swasta-negara sebesar 337. GAMBARAN UMUM INDUSTRI 4.041.1). 14 perusahaan di Sumatera dan dua perusahan berlokasi di Kalimantan. Oleh karena itu.IV.666. Untuk memenuhi kebutuhan kertas tersebut. jumlah perusahaan di Indonesia yang memproduksi pulp dan kertas adalah tiga kelompok perusahaan besar.500 ton (Tabel 4.180 ton. minimal harus ada tambahan beberapa perusahaan lagi untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 65 perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).1. Indonesia mempunyai 77 perusahaan produsen kertas dan 10 diantaranya terintegrasi dengan pabrik pulp. sampai dengan tahun 2003. Industri kertas memiliki kapasitas total sebesar 10. 2005).900 ton. Sekitar 64 perusahaan berlokasi di pulau Jawa. Group Raja Garuda Mas dan Barito Pasifik. investasi dalam negeri swasta sebesar 5. Group Sinar Mas. dan dapat memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri yang terancam kekurangan pasokan dalam sepuluh tahun mendatang (Mansur.045. Jumlah perusahaan tersebut belum mampu mencukupi konsumsi domestik.

8 persen pada periode 19972001.1. 4.4 85.3 7. Pada periode yang sama ekspor kertas juga meningkat sekitar 19.6 9.045.1 persen per tahun.215.000 Kalimantan 2 564.725. Perkembangan Industri Kertas Industri kertas tumbuh dan berkembang lebih baik bila dibandingkan dengan kebanyakan industri lain di Indonesia.8 43.100 5.045.554.2 14. Industri-industri yang mengandalkan bahan baku impor tetap mengalami kemerosotan pertumbuhan. .287.100 2.100 Pulp % 3.100 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.580 2. tetapi industri kertas tetap melanjutkan perkembangannya dengan pertumbuhan sekitar 9.000 6.440 1.600 Total 80 6.517.34 Tabel 4.4 50.045.100 1.580 8. 2003.528.000 Kertas % 3.000 3.041.500 10.8 52.072.322.7 19.1 Perusahaan Negara Swasta Investasi Dalam Negeri Swasta Investasi Luar Negeri Total Integrated (Pulp dan Kertas) Non Integrated Pulp Kertas Total Jawa 64 340.5 100 25.2.491.287.500 Sumatera 14 5.2 46.3 100 80.287.580 100 5. hal ini terjadi didasarkan pada ketersediaan bahan baku dan upah tenaga kerja yang murah di dalam negeri. 2003). Profil Industri Pulp dan Kertas Indonesia Tahun 2003 Status/Lokasi Jumlah Perusahaan 3 65 12 80 10 3 67 80 Kapasitas Terpasang Pulp (Ton) 240.580 74.8 100 Kapasitas Terpasang Kertas (Ton) 337.382.000 6. Sementara konsumsi kertas juga meningkat 4.666.0 100 10.9 100 85.7 persen per tahun (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.180 4.140 10.900 5.

3 kg 1997 16. Pada tahun 2003 kapasitas produksi yang dimiliki industri kertas baru sekitar mencapai 10. para investor telah menunjukkan ketertarikan yang kecil pada sektor ini karena industri ini telah menjadi capital intensive dan birokrasi yang rumit pasca otonomi daerah. Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) mengkhawatirkan Indonesia akan mengalami kekurangan pasokan kertas.1 kg 1999 19.6 kg 2000 20. bila dalam 10 tahun mendatang kapasitas industri kertas tidak bertambah. namun jika kebutuhan kertas di dalam negeri naik hingga mencapai 50 Kg per kapita.1 kg 1994 13.0 kg 1995 14.2.0 kg Sumber: Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.0 kg 2003 25.8 kg 2001 23. Nilai konsumsi per kapita ini memang lebih kecil bila dibandingkan dengan negara lain contohnya Malaysia yang sudah mencapai ratusan kilogram per kapita. industri kertas harus mengimpor kertas senilai US$ 7 miliar/tahun.3 kg 2002 24.2). Untuk mengatasi kebutuhan konsumsi kertas yang terus .9 kg 1998 14. 2003.0 kg 1996 16. Konsumsi Kertas Per Kapita Penduduk Indonesia Tahun 1993-2003 Tahun Konsumsi Kertas / Kapita 1993 11.3 juta ton pertahun sedangkan konsumsi per kapitanya pada akhir 2003 telah mencapai 25 Kg (Tabel 4.35 Tabel 4. Masalahnya setiap tahun konsumsi kertas dalam negeri terus meningkat dengan angka rata-rata sekitar 6 persen per tahun. Disamping kinerja yang menggembirakan dalam industri kertas ini.

tujuh diantaranya adalah perusahaan kertas yang terintegrasi (tabel 4. . Kapasitas terpasang industri pulp yang terintegrasi dengan perusahaan kertas mencapai 66.3.32 persen dari keseluruhan kapasitas terpasang industri kertas. 4.36 meningkat maka harus ada investasi baru atau industri yang ada harus meningkatkan efisiensi. Dengan kecenderungan ini hampir seluruh output industri pulp disalurkan pada industri kertas didalam negeri sedangkan ekspor hanya merupakan pasar kedua. masih menjadi kelemahan bagi sebagian besar produsen kertas Indonesia. Integrasi vertikal ini dianggap penting karena integrasi vertikal oleh perusahaan kertas akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam industri kertas tersebut karena dapat mengamankan pasokan bahan baku dan meminimumkan biaya transaksi dalam rangka untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan terhadap produk kertasnya (Karseno dan Mulyaningsih.08 persen dari total kapasitas terpasang seluruh industri pulp.1). Integrasi Vertikal dan Pasar Industri Kertas Indonesia Di Indonesia industri kertas mempunyai karakteristik sebagai industri skala besar. Industri kertas yaitu khususnya perusahaan-perusahaan besar dalam industri ini mempunyai kecenderungan untuk berintegrasi dengan perusahaan penyedia bahan baku yaitu industri pulp. Sedangkan kapasitas terpasang industri kertas pada perusahaan pulp dan kertas yang terintegrasi mencapai 21. Dari 77 perusahaan kertas pada tahun 2003. 2002) Dilihat dari pangsa produksi dan ekspor penguasaan jaringan pasar luar negeri.

Pasar bebas tersebut akan memaksa para produsen pulp dan kertas Indonesia untuk mampu bersaing memperebutkan pasar Asia Pasifik yang terbuka. Pertama. PT. Begitu juga dengan Tanoto dan Tanjung Enim Lestari (TEL) yang mengibarkan bendera APRIL (Asia Pacific Resources International Holding Ltd. Profil Beberapa Perusahaan Kertas Indonesia Sampai dengan tahun 2003 dalam industri kertas terdapat tiga perusahaan yang memiliki proporsi kapasitas pabrik terhadap kapasitas total industri yang melebihi 10 persen. Pentingnya jaringan pemasaran lebih dipicu terutama menjelang diberlakukan pasar bebas di kawasan Asia Tenggara (AFTA) tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik (APEC) tahun 2010. Selain itu pasar dalam negeri juga perlu dikaji karena merupakan basis untuk memperkuat daya saing secara nasional (Rosadi dan Vidyatmoko. terutama pasar Asia. 4. Kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pasar pulp terbesar di dunia. 2002). Kedua kelompok ini memilih Singapura sebagai kantor pusat perusahaan mereka. dan India. Kelompok Sinar Mas memasuki pasar Asia dengan mendirikan kelompok perusahaan melalui bendera APP (Asia Pulp and Paper) di negara Singapura.37 Meskipun demikian beberapa (grup) perusahaan telah mencoba menembus pasar luar negeri. Malaysia. Indah Kiat Pulp & Paper Corp. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis mengenai kondisi pasar luar negeri terutama pasar Asia dan bagaimana strategi untuk memasuki dan mengembangkan pasar di kawasan tersebut.). Cina.4. dengan melakukan ekspansi ke negara-negara di kawasan ini. yang menguasai .

3.4 0.000 500. Kapasitas Terpasang Perusahaan Industri Kertas Tahun 2003 Nama Perusahaan PT. Fajar Surya Wisesa PT. dan perusahaan ketiga adalah PT. Suparma PT.5 6. Papyrus Sakti PT.000 Persentase (%) 20. Keempat perusahaan yang tergabung dalam group Sinar Mas ini memiliki karaktristik yang sama yaitu semuanya merupakan perusahaan kertas yang terintegrasi vertikal dengan pabrik kertasnya. Pura Barutama PT.000 2.5 1.9 1.4 0.500 93.4 4.2 persen.9 1. PT.5 persen dari total kapasitas industri. NAD.000 430.111. Ekamas Fortuna PT.6 28. PT. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT.465. . Aspex Kumbong PT. Surabaya Agung PT. Indah Kiat Pulp& Paper Corp PT.800 195.000 50. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia PT.2 1.5 0. Tanjungenim Lestari Pulp & Paper PT.000 1.4 0.8 1.8 4.000 150. Pindo Deli & Paper Mills sebesar 14. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry yang berlokasi di Langsa.000 85. Tiga perusahaan pemilik kapasitas terbesar tersebut dimiliki oleh group yang sama yaitu Sinar Mas Group.000 150. Tabel 4.000 486.800 450. Riau Andalan Kertas PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia dengan proporsi sebesar 10.7 4.044.000 700.8 14.38 20.4 10. Pakerin PT.4 4.000 350. kemudian disusul oleh PT.000 1.2 3. Gede Karang PT. Kertas Leces (Persero) PT. Pelita Cengkareng Paper Co.986.200 150.1 persen (Tabel 4.000 150. 2003.000 157.400 60.3). Surabaya Mekabox Ltd. Papertech Indonesia Lain-lain Kapasitas Terpasang (Ton) 2.1 1. Selain ketiga perusahaan itu group Sinar Mas masih mempunyai perusahaan kertas lainnya yaitu PT. Adiprima Suraprinta PT.9 Sumber : Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.

000 ton corrugated boxes per tahun.Y. 980. kertas budaya. Riau seluas 1.722 Ha .A.68 tanggal 7 Desember 1976 yang disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Keputusan No. 744. PT.78 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4. dan didaftarkan di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta No. masyarakat menguasai 38. Indah Kiat Pulp & Paper melakukan usahanya secara komersil dengan memproduksi pulp.4). Pada saat ini. Pada susunan pemegang saham. Dengan semakin meningkatnya permintaan atas produksi kertas.631. 525 Tanggal 14 Februari 1978 (Bank Niaga. kertas industri dan corrugated carton boxes (sejenis dus karton.5/50/2 tanggal 9 Februari 1978. dengan kertas bergelombang sebagai peredam benturan). pabrik pulp dan kertas budaya di Perawang. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk Perusahaan ini didirikan di Jakarta dengan Akta Notaris Ridwan Suselo No. terutama pabrik kertas budaya di Tangerang. yang menempati lahan seluas 28 Ha. perusahaan kertas ini mengantisipasinya dengan meningkatkan kapasitas produksinya sehingga saat ini menjadi 1.39 1) PT. perusahaan tersebut memiliki dan menguasai beberapa sarana dan prasarana yang digunakan untuk menjalankan berbagai kegiatan usahanya. 2005). PT.000 ton kertas industri per tahun dan 100. Indah Kiat Pulp & Paper dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direktur utamanya yaitu Teguh Ganda Widjaja.000 ton kertas budaya per tahun.000 ton pulp per tahun.

56% British Virgin Island Yuen Foong Yu H.. Dr. Hong : 0.9 Ha. : Lo Shang Shung : Hj. mess karyawan dan lain-lain.88% Virgin Island YFY Global Investment (BVI) Corp.40 dan pabrik kertas industri di Serang Jawa Barat seluas 308. Co.K.4. Fasilitas produksi perusahaan juga didukung dengan berbagai fasilitas dan prasana seperti jalan. Boards PT. Tabel 4. Phd. : 2. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. 2005.78% Sumber: Bank Niaga.05% Kong Masyarakat : 38. British : 5. Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris . Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi Presiden Direktur : Teguh Ganda Widjaja Wakil Presiden Direktur : Muktar Widjaja Wakil Presiden Direktur : Hendra Jaya Kosasih Wakil Presiden Direktur : Chen Wang Chi Wakil Presiden Direktur : Yudi Setiawan Lin Direktur : Suresh Kilam Direktur : Didi Harsa Direktur : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham PT Purinusa Ekapersada : 52. Ltd. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu.72% CHP International (BVI) Corp.

75 tanggal 31 Januari 1975. Akta Perubahan No. sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 2005). Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan perusahaan) dan kepemilikan saham terbesar perusahaan ini dikuasai oleh PT Purinusa Ekapersada sebesar 97. dengan Akta No.57 persen dari total saham yang dikeluarkan PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills tersebut (Tabel 4. Akta Perubahan No. Pindo Deli Pulp & Paper Mills PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills didirikan di Jakarta dalam rangka Undang-undang No. .6 tahun 1968 tentang PMDN. Total kapasitas produksi terpasang pabrik kertas milik perusahaan ini adalah sebesar 210. Karawang (Pindo 1).000 ton per tahun dan telah berproduksi sejak bulan Maret 1996 (Bank Niaga.59 tanggal 26 April 1975.000 ton per tahun. Selain itu perusahaan ini juga mempunyai fasilitas pabrik pembuatan bahan kimia calcium carbonate. salah satu bahan kimia yang digunakan dalam proses produksi kertas. dengan jumlah kapasitas produksi terpasang sebesar 652. Pindo Deli Pulp & Paper Mills ini memulai konstruksi pabrik kertasnya yang kedua (Pindo 2) yang berlokasi di Kuta Mekar. Akta Perubahan No. berlokasi di lokasi Pindo 1 dengan kapasitas produksi terpasang sebesar 48. Saat ini perusahaan kertas ini memiliki sebuah pabrik kertas yang berlokasi di Adiarsa.5).000 ton per tahun. Karawang dengan menambah tiga Paper Machine serta sebuah Corrugated Machine. Pada Oktober 1995.6 tanggal 4 Juli 1975 dan Akta Perubahan No.5 tanggal 3 April 1975. 2005).41 2) PT.12 tahun1970. PT.69 tanggal 25 Februari 1976 (Bank Niaga.

Kelompok Sinar Mas adalah salah satu dari kelompok industri terbesar di Indonesia dengan kurang lebih 200 perusahaannya yang bergerak di berbagai usaha yang besar . Perusahaan ini merupakan bagian kelompok usaha Sinar Mas.6). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards (dua dewan direksi) dan pada susunan pemegang saham.57% : 0. 2005. PT. Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Wakil Direktur Utama Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada PT Mega Kleenindo PT Unitama Sartindo Sumber: Bank Niaga.42 Tabel 4. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk PT. Boards PT. Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.6 Tahun 1968 juncto Undang-undang No.5.91% : 0. masyarakat menguasai 36.60 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan perusahaan ini (Tabel 4.61% 3) PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk didirikan dalam rangka Undangundang Negara Republik Indonesia No. Jhon Ferdinand Pandelaki : Yudi Setiawan Lin : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hajjah Ryani Soedirman : Arthur Tahya Dewan Direksi : Teguh Ganda Wijaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Suresh Kilam : Tsai Huan Chi : Huang Wen Hai : Tri Ramadi Susunan Pemegang Saham : 97. Pindo Deli Pulp & Paper Mills per 30 September 2004.12 Tahun 1970 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Akta No. 2005).9 tanggal 2 Oktober 1972 (Bank Niaga.

Tabel 4. Phd. bidang kimia. Lokasi pabrik dan pusat perusahaan yang terletak di Jawa Timur.10% : 36. perbankan dan jasa keuangan. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk per 30 September 2004 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Ir. Boards PT. 2005. hotel dan perumahan. minyak goreng. yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Perak merupakan hal yang sangat menguntungkan kelancaran pengapalan untuk ekspor. sedangkan sisanya merupakan tanah yang telah dibebaskan untuk kepentingan .60% Presiden Komisaris Wakil Presiden Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Independen Komisaris Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Wakil Presiden Direktur Direktur Direktur Direktur PT Purinusa Ekapersada Koperasi Masyarakat Sumber: Bank Niaga.43 termasuk industri kertas dan pulp. : Lo Shang Shung : Hj. Ryani Soedirman : Mas Achmad Daniri : Prof DR. Dari seluruh tanah yang dikuasai perusahaan 64 persen merupakan tanah dengan Hak Guna Bangunan. Gandi Sulistiyanto Soeherman : Show Chung Ho : Kuo Cheng Shyong : Raymond Liu. real estate. produksi bahan makanan.6. Teddy Pawitra : Kamardy Arief : Let Jend (Purn) Soetedjo Dewan Direksi : Teguh Ganda Widjaja : Muktar Widjaja : Hendra Jaya Kosasih : Chen Wang Chi : Yudi Setiawan Lin : Suresh Kilam : Didi Harsa : Agustian Rachmansjah Partawidjaja Susunan Pemegang Saham : 63.30% : 0.

Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan kesempatan kerja. dan sereal.44 perusahaan yang berasal dari petani di sekitarnya dengan status Hak Milik atau Girik. Perusahaan ini menyesuaikan pemakaian teknologi sedemikian rupa untuk tetap dapat menyediakan kesempatan kerja seluas-luasnya. meningkatkan pengawasan mutu disamping . Bidang usaha utama perusahaan ini adalah menghasilkan kertas tulis dan cetak bermutu tinggi. Namun demikian melihat kebutuhan penyediaan kesempatan kerja di Indonesia. PT. Selain kertas tulis dan cetak serta hasil-hasil produksi kertas. Perusahaan ini juga memproduksi pulp dari daur ulang kertas bekas dan soda kaustik sebagai bahan baku utama industri kertas. Saat ini PT. dan kertas HVS biasa untuk kebutuhan sekolah dan perkantoran. diantaranya dus (boxboard) yang dipergunakan untuk kemasan rokok. Pada tahun 1994. yang merupakan pengakuan bertaraf internasional terhadap sistem dalam proses produksi yang telah berhasil dilaksanakan oleh perusahaan. Belanda. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia telah menerima sertifikat ISO 9002 dari Det Norske Veritas Industry B. Hal ini jelas dapat terlihat pada bagian produksi barang-barang hasil produksi kertas dimana perusahaan ini telah memutuskan untuk tidak menambah mesin-mesin pembungkus otomatis. minyak wangi. kertas HVS mengkilap. Rotterdam. kertas tissue. perusahaan kertas ini juga memproduksi produk-produk kemasan.000 ton boxboard pertahun.V. Pabrik kertas merupakan suatu jenis industri dengan sifat padat modal. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia mempunyai kapasitas produksi sebanyak 30.

Pindo Deli Pulp & Paper Mills (80 persen). Arthadana Mulia Makmur yang memiliki 0. dengan produksi utama pulp jenis LBKP. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry bergerak dalam bidang usaha industri pulp dan kertas.75 persen). Pada tahun 1999 perusahaan ini telah melakukan modifikasi terhadap mesin-mesin dan fasilitas produksi di pabrik pulp Jambi.7). Aceh Timur dengan nama awal PT Sumber Indra Jaya Paper Manufacture Co.25 persen dari total keseluruhan saham yang diterbitkan (Tabel 4. dan PT. 2005). PT. Kepemilikan saham dikuasai oleh tiga perusahaan yaitu PT.Ltd. dalam rangka Undang-Undang No. modifikasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi mesin pembuatan pulp dan fasilitas pendukung lainnya. Saat ini perusahaan ini merupakan salah satu produsen pulp yang cukup besar di Indonesia dengan kapasitas produksi sebesar 545.500 ton kertas per tahun. pada kuartal keempat tahun 1998 perusahaan kertas ini memulai produksi komersial tissue dalam bentuk gulungan besar yang dijual kepada pihak lain untuk kemudian diubah menjadi berbagai jenis tissue siap pakai. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Perusahaan kertas ini didirikan di Langsa. Disamping pulp dan kertas. Lontar Papyrus Pulp .000 ton pulp per tahun dan 7. PT.45 4) PT..6 Tahun 1968 tentang PMDN dengan Akta No. Perusahaan kertas ini dijalankan dengan sistem kepemimpinan perusahaan double boards yang terdiri dari dewan komisaris dengan presiden komisarisnya yaitu Indra Widjaja dan dewan direksi dengan direkturnya adalah Teguh Ganda Widjaja. kertas budaya dan tissue. 44 tanggal 13 Februari 1974 (Bank Niaga. PT Satria Perkasa Agung (19. dengan kapasitas produksi 60.000 ton per tahun.

perseroan ini juga telah memperoleh sertifikat ISO 14001 pada tanggal 19 Agustus1997 yang dikeluarkan SGS Yarsley International Certification Services Limited dengan sertifikat No. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry per 30 Desember 2003 Dewan Komisaris : Indra Widjaja : Drs.7. NAD. Komisaris Utama Wakil Komisaris Utama Komisaris Komisaris Komisaris Dalam menjalankan usahanya.E10683 sebagai bukti bahwa perusahaan kertas ini telah memenuhi ketentuan standar lingkungan hidup yang dipersyaratkan (Bank Niaga. PT. . Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry telah memperoleh sertifikasi ISO 9002 sehubungan dengan telah sesuainya sistem kualitas manajemen (Quality management systems) dengan ketentuan yang dipersyaratkan dalam ISO 9002.75% PT Arthadana Mulia Makmur : 0.00% PT Satria Perkasa Agung : 19. Di samping itu.46 & Paper Industry saat memiliki sebuah pabrik yang memproduksi pulp dan tissue yang berlokasi di Sumatera yaitu di Tanjung Jabung. Tabel 4. 2005). 2005. John Ferdinand Pandelaki : Sukirta Mangku Djaja : Let Jend (Purn) Soetedjo : Hj.25% Sumber: Bank Niaga. Jambi dan sebuah pabrik kertas di Langsa. Boards PT. Ryani Soedirman Dewan Direksi Direktur Utama : Teguh Ganda Widjaja Wakil Direktur Utama : Hendra Jaya Kosasih Direktur : Muktar Widjaja Direktur : Suresh Kilam Direktur : Lin Shun Keng Direktur : Tri Ramadi Direktur : Arthur Tahya Susunan Pemegang Saham PT Pindo Deli Pulp & Paper Mills : 80.

977. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.626 juta atau 18.415 juta atau 13.048.03 persen dari total permintaan antara dan berada pada urutan ke-18 diantara sektor-sektor lainnya. Jumlah tersebut terdiri atas permintaan antara sebesar Rp 1. hal ini berarti bahwa output di Indonesia cenderung digunakan untuk memenuhi konsumsi langsung masyarakatnya.099.1.730 juta atau 11. Sedangkan untuk industri kertas mempunyai permintaan antara sebesar Rp 10. .073.870 juta. Struktur Permintaan Industri Kertas Total permintaan barang dan jasa domestik yang dihasilkan oleh Indonesia tahun 2000 mencapai Rp 2.1.V.767.701.460. Angka-angka tersebut di atas menunjukkan seberapa pentingnya peranan output yang dihasilkan oleh sektor-sektor di atas untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor perekonomian lainnya di Indonesia. Peranan Industri Kertas Dalam Perekonomian Indonesia 5.068. Berdasarkan Tabel 5.629 juta. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah permintaan akhir lebih besar dibandingkan jumlah permintaan antaranya.21 persen dari total permintaan antaranya. pada urutan kedua dan ketiga dengan nilai Rp 144.83 persen dan Rp 117. Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.1.71 persen dari total permintaan antara.800.1.775 juta atau sekitar 1.019 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 1. dilihat dari sisi permintaan antara tampak bahwa sektor perdagangan menghasilkan output tertinggi yang digunakan sebagai input oleh seluruh sektor perekonomian lainnya yaitu sebesar Rp 197.656.

92 0.045.568 21.153.887 201.529.076.37 5.36 9.176 197.276.730 90.10 196.944 0.036.849 80.850.870 7.278 151.847 3.228.847 juta atau 0.13 8.074 19.948.698.695.926 0.88 4.60 5.689.16 1.165 139.99 1.564.460.34 0.656.272.574 1.620 13.379 33.817.677.56 100 Sumber: Tabel I-O Indonesia.705 23.774.53 0.897.64 2.09 1.670 7.74 8.771.125.063 396.775 5.73 8.25 2.067 0.84 2.50 9.496.58 12.119.97 6.23 0.408 243.389.034 238.775.32 0.227.099.626 70.71 2.035 16.47 1.534.254 131.019 11.08 79. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Permintaan Antara Jumlah % (Juta Rp) 144.970.760.03 0.729. 2000 (diolah).442.169 161.056 67.599 5.113 94.87 6.03 0.695 227.416.14 117.048.629 4.713 1.287.849 24.498 19.83 15.16 4.595.37 0.068.84 18.901.485 39.87 2.848.800.741 10.11 1.29 12.13 0.627.27 3.036 155.44 1.724 5.028 0.99 1.128 23.257.620 8.38 0.42 5.621 208.726.67 5.53 1.47 0.325.099 57. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan lebih banyak menggunakan output industri kertas untuk konsumsi .605 94.05 9.21 8.476.426.1.970.637.48 0.98 100 Total permintaan Jumlah % (Juta Rp) 260.52 12.657 12.412.353.287 2.214.821.259 165.916 177.340.441.743. Dilihat dari permintaan akhir pada Tabel 5.073.014.356 105.685.30 1.33 0.415 13.748.649 36.961 1.43 14.329.700 3.64 3.034 41.88 1.586.151 329.51 1.065 15.672.19 4.020 7.372 88.805.48 Tabel 5.15 100 Permintaan Akhir Jumlah % (Juta Rp) 115.701.622 8.80 14. Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.242.424 8.89 2.613 64.50 0.108 13.018 0.1 sektor industri kertas menempati posisi ke-14 diantara sektor yang lain sebesar Rp 13.977.65 17.815.37 6.593 30.575 9. Nilai tersebut lebih besar dibanding permintaan antaranya.160 6.438.84 persen dari total permintaan akhir.767.881 13.34 2.84 0.844.215 35.885.739.

967 juta (Tabel 5. Rp 110.770 juta berasal dari upah dan gaji.732 milyar berasal dari pajak tak langsung netto. 5.762 juta.928 juta berasal dari penyusutan dan Rp 69. surplus usaha sebesar Rp 458.849 juta. penyusutan sebesar Rp 865. surplus usaha. penyusutan dan pajak tak langsung netto.331. Pada tahun yang sama sektor industri kertas menyumbang nilai tambah bruto sebesar Rp 7. Berdasarkan Tabel 5.952.327 juta yang terdiri atas upah dan gaji sebesar Rp 1. Jika diperbandingkan antara nilai upah dan gaji terhadap surplus usaha (U/G) maka akan diperoleh nilai rasio upah gaji dengan surplus usaha.2 dapat diketahui bahwa total nilai tambah bruto negara Indonesia adalah Rp 1. Rasio upah dan gaji dan surplus usaha termasuk kategori baik jika rasionya mendekati keseimbangan (mendekati 1) yang berarti bahwa proporsi penerimaan dalam bentuk upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi produsen berimbang.860.498 juta berasal dari surplus usaha.2). pemerintah dan ekspor) dibanding untuk keperluan produksi sebagai input bagi sektor lain. Dalam Tabel I-O Indonesia tahun 2000 nilai tambah meliputi penerimaan upah gaji. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto merupakan balas jasa terhadap faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan produksi. .843. Rp 755.048.350 juta dengan perincian Rp 400.958 juta dan pajak tak langsung netto sebesar Rp 487.895.49 langsung (masyarakat.1. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan antara besarnya upah dan gaji yang diterima produsen.278.079.2.

700.905 2.243 1.564.343.562.129 furniture Industri pulp 940.512 1.392 225.2.577.723.044.3.708 127.048.690 777.536.116 7.530 penggalian Industri makanan 30.901.670 4.886 2.327 3.714.542 933.928 Indirect Tax (Juta Rp) 1.477.576.354 komunikasi Keuangan dan 21.623. Kondisi ini menunjukan bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau .638 9.652 167.480.912 9.093.418 59.434 15.756 12.585.591 564.084.550.378 476.952.762 4.560 8.459 53.105 6.947 Industri semen dan 3.948 3.156 69.385 Total 400.625.963 8.333.692.732 Nilai tambah bruto (Juta Rp) 166.440.802 134.015.50 Tabel 5.770 755.958 83.701 Industri kertas 1.169.757 2.132.414.511 29.990 dan minuman Industri tekstil dan 16.705 7.073 3.919 1.877.127.504 1.237 6.147.774 11.052 20.524 487.088 105. Hal ini terlihat dari nilai rasio yang lebih kecil dari satu (0.567 26.756.702 926.758.233 65.119.623 84.588.278.245 Pertambangan dan 25. 2000 (diolah).072 64.718 147.759 10.607 6.372.331.443 301.946 Penyusutan (Juta Rp) 2.639 Industri barang dari 1.498 Sumber: Tabel I-O Indonesia.012.931.212.340 Perdagangan 61.590.164 13.670.358 1.282.396 325.142.968 115.569 11. Nilai Tambah Bruto Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Upah /gaji (Juta Rp) Surplus Usaha (Juta Rp) 121.511 770.034.079.182.778.655 2.028.898 138.554.860.010.567 5.803 4.143.542 Bangunan 37.933 2.382 4.350 Pertanian 40.949 45.616 5.114 pakaian Industri kayu dan 5.843.484.875 429.475.311 9.821 61.576 dari logam Industri lainnya 19.764 83.458.131 115. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada Tabel 5.212 3.725 Industri kimia 21.43).365. gas dan air 2.975 865.985 Hasil hutan lainnya 565.279.182 30.004.489.240 28.797.479 kertas Industri percetakan 1.864.232 97.704 6.781 8.177 21.107 14.703.902 6.103.946 110.278.228.063 4.063 barang non logam Industri logam 2.973.257 19.017.208.256.793.393.914 Kayu 2.952 4.895. diperoleh bahwa ternyata pada sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji.046 1.062.266.418 Pengangkutan dan 16.070 persewaan Jasa-jasa 85.393.195 112.326 5.352.451 Listrik.229.605.664.567.383.664.772.081 834.996.731.229.727 76.430 dasar Industri barang jadi 3.573.508.176 19.463.226.946.296.

26 0. Rasio Upah Gaji terhadap Surplus Usaha (U/G) 0.3.51 terjadi ketimpangan yang sangat besar yang disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar pada produsen (pemilik modal). Jumlah tenaga kerja yang terserap di setiap sektor ekonomi merupakan indikator kemampuan sektor tersebut dalam menciptakan kesempatan . Tabel 5.84 0.55 5.320.43 0.27 0.47 0.76 0.43 0.64 0.51 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.1.36 0.36 0.45 0.20 0. Rasio Upah Terhadap Surplus Usaha Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.74 0. 2000 (diolah).57 0.33 0.79 0.48 1.04 0.948 jiwa.35 0. Struktur Ketenagakerjaan Banyaknya tenaga kerja yang terserap pada tahun 2000 sebanyak 93.3.25 6.

519 166.655 Kayu 86.905 Industri kayu dan furniture 57.762 1.938 9.20 18.576.664 8.454 7.802 16.512 1.585.912 65.255 76.52 kerja bagi masyarakat di wilayah tersebut.183.012.15 137.914 2.477.98 10.46 14.233 Perdagangan Pengangkutan dan 4.328.07 18.279.708 30.705 Industri pulp 118.454 jiwa sedangkan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan kemampuan menyerap tenaga kerja sebesar 40.770 Upah/TK 0.20 18.504 1.75 7.700.459 16.06 0.320. Tabel 5.30 40.64 6.03 65.440.912 non logam 357.88 3.20 0. terlihat sektor industri kertas menyerap 118.296. 2000 (diolah).48 37.607 Industri barang dari kertas 100.131 Komunikasi 1.15 0.35 79.392 Bangunan 17.513 2.266.756 400.519 jiwa.759 Industri kimia Industri semen dan barang 648.12 24. Gambaran tentang jumlah tenaga kerja.418 3.232 Industri percetakan 705.4.212.245 25. produktifitas dan nilai upah sektoral dapat dilihat pada Tabel 5.895. Gas dan Air 4.567 21.052 Industri tekstil dan pakaian 2.034.65 41.017.592 112.13 4.062.53 30.063 21.15 0.212 2.27 Total Upah (Juta) 40.450.10 8.164 Pertanian 555.352.218 61.143.870.142.041.012.83 14.824 13.372.448.577.4.48 3.664.569.15 0.82 15.282.562 105.511 61.243 Jasa-jasa 93.084. Dalam hal produktifitas tenaga kerja industri kertas menduduki peringkat keempat .952.569 940.39 203. Berdasarkan Tabel 5.623 85.256.60 25.652 Hasil Hutan Lainnya Pertambangan dan 825.208.177 5.551 3.985 565.797.911 10.4.051 2.225 45.943 167.350 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.590.573.088 Keuangan dan Persewaan 11.843.803 19.638 Industri logam dasar Industri barang jadi dari 259.61 10.97 66.382 37.195 Penggalian Industri makanan dan 3.333.821 logam 1.328.034 115.56 59.475.948 1.670.921.161 9.508.963 Industri lainnya 225.74 8.877.942 6.616 3. Jumlah Tenaga kerja.84 13.42 0. Produktifitas dan Nilai Upah Sektoral Indonesia Tahun 2000 Sektor Jumlah TK Nilai tambah Produktivitas bruto (Juta/Tk) (Juta Rp) 4.99 4.06 0.567.32 8.949 minuman 2.65 26.03 37.169.03 0.004.931.327 Industri kertas 73.06 0.463.393.119.515 225.30 12.182 2.860.54 36.06 0.030 97.134 20.132.27 43.331.727 Listrik.480.692.

dengan melihat besarnya selisih antara total ekspor dan impor. Ditinjau dari sisi impor terhadap barang-barang dan jasa ternyata nilai impor secara keseluruhan sebesar 287.385 juta atau 2.95 persen dari total impor Indonesia (Tabel 5. industri pengolahan.854 juta atau 2.1. Dari Tabel 5.4.5). perdagangan serta sektor pengangkutan dan telekomunikasi mengalami selisih yang positif ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh sektor tersebut tidak lagi tergantung pada impor. Berdasarkan nilai total ekspor tersebut.623 juta. Nilai impor industri kertas sebesar Rp 8. 5. sedangkan nilai ekspor terbesar ditempati oleh sektor industri kimia atau 18.757 juta. terlihat bahwa sektor pertanian.65 juta nilai tambah dari sektor tersebut dalam tahun 2000.5.52 persen dari total ekspor Indonesia (Tabel 5.831.507.5). .53 sekitar 66. Nilai ekspor industri kertas yang masih kecil tersebut dapat menandakan bahwa sektor industri ini masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Struktur Ekspor dan Impor Ekspor Indonesia pada tahun 2000 sebesar Rp 520.125.930. Nilai impor tersebut dapat menunjukkan bahwa kebutuhan kertas dalam negeri masih lebih besar dari produksi kertas dalam negeri sehingga harus melakukan impor.65 yang berarti satu orang tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur mampu menghasilkan sekitar 66. nilai ekspor keseluruhan sektor industri kertas adalah Rp 13.84 persen dari total ekspor indonesia.

634.896.22 Pertanian 124.489.287 161.814 71.821.040 1.947 43.86 6. gas dan air 0 0.18 0.849 24.319 24.824.933 1.493.772.126 X-M (Juta Rp) 2.550 0.10 persewaan 8.38 0.285.603. 2000 (diolah).18 minuman Industri tekstil dan 73.842 2.13 100 Jumlah Input (Juta Rp) 224.722 -39.51 Jasa-jasa 569.110 0.050 4.739.880.337 5.622 8.84 Industri kimia Industri semen dan 6.554.403.093.854 1.322 32.815.089.900.507.959 30.29 kertas 3.177 6.694 2.899 7.214.667.864 9.796.063 396.78 13.99 6.340.478 -2.262 17.958.02 Kayu 394.75 1.444.268.96 Industri pulp 13.900.03 Perdagangan Pengangkutan dan 26.848 287.048.167.238.52 15.916 177.17 0.620 12.865 353.427 5.125.814 18.06 barang non logam 12.805.665 25.22 0.611.729. .490.00 Bangunan 57.242. Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2000 Ekspor Sektor Jumlah (Juta Rp) % Impor Jumlah (Juta Rp) 4.850.336 1. sektor listrik.943.859 7.855 26.531 541.099 57.930.771.942.326 1.451 131.864.58 0.979 2.775 10.028 2.566.473.061 4.018 49.29 17.413 0.151 332.088 -404.362.379 33.466 13.317.053 -21.97 pakaian Industri kayu dan 37.218 11.809 4.408 243.735.365 5.412.161.705 23.641 19.617 2.297 2.01 1.698.49 4.489 8.641 37.722 39.485.971.598.53 1.136.65 9.620 13.278 177.857.580.332 49.385 2. gas dan air.30 Industri kertas Industri barang dari 1.677.845 528.094.588.701.525.444.719. sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa.637.59 dari logam 58.944 196.617.602 19.305 6.399 -3.016 0.627.373 1.534.540.881 40.00 Listrik.326 2.07 Hasil hutan lainnya Pertambangan dan 77.757 % 1.61 Industri percetakan 107.529. sektor bangunan.27 Industri logam dasar Industri barang jadi 31.558.512 281.238.424 8.559.54 Sedangkan yang mengalami selisih negatif dialami oleh sektor kayu.95 0.353.033 8.695 227.162. Ini menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor tersebut masih tergantung pada impor.433 5.413 176.5.991.21 Industri lainnya 0 0.79 8.120 3.908 10.53 furniture 5.175 100 Total (domestik) Sumber: Tabel I-O Indonesia.567.56 penggalian Industri makanan dan 29. Tabel 5.225.96 2.67 komunikasi Keuangan dan 11.259.305.883.287 2.957.163 63.395.247 0.58 0.23 2.163.298 4.242.613 27.418 6.94 2.

55

Jika dilihat dari total selisih antara ekspor dan impor maka perekonomian Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 232.900.866 juta. Surplus perdagangan terbesar diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar Rp 71.489.864 juta, sedangkan industri kertas mengalami surplus perdagangan sebesar Rp 4.617.531 juta. Angka tersebut menunjukan bahwa secara umum dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang-barang yang dihasilkan oleh sektor industri kertas di Indonesia tidak lagi tergantung pada impor.

5.1.5. Struktur Output Sektoral Output merupakan nilai produksi (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh suatu sektor perekonomian. Berdasarkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2000 dapat diketahui besarnya output yang diciptakan oleh masing-masing sektor. Berdasarkan Tabel 5.6 terlihat bahwa output sektoral perekonomian Indonesia sebesar Rp 270.099.837 juta. Sektor yang paling besar menyumbang dalam pembentukan output domestik adalah sektor perdagangan yakni sebesar 14,67 persen dengan nilai output sebesar Rp 396.214.278 juta, kemudian disusul oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai sebesar Rp 329.325.254 juta dalam persentase sebesar 12,19 persen dari total output keseluruhan. Sementara industri kertas sendiri menyumbang sebesar Rp 24.771.622 dalam pembentukan output atau sebesar 0,92 persen dari seluruh total output sektoral perekonomian.

56

Tabel 5.6. Struktur Pembentukan Output Sektoral terhadap Perekonomian Indonesia Tahun 2000
Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Total (domestik) Output Jumlah (Juta) Persentase (%) 260,672,575 9.65 17,340,028 0.64 2,698,944 0.10 196,815,151 7.29 329,325,254 12.19 131,412,099 4.87 57,534,424 2.13 8,739,849 0.32 24,771,622 0.92 8,850,620 0.33 13,627,408 0.50 243,805,705 9.03 23,821,379 0.88 33,729,613 1.25 64,119,165 2.37 139,438,593 5.16 30,637,695 8.43 227,677,063 8.43 396,214,278 14.67 151,272,169 5.60 161,353,916 5.97 177,242,287 6.56 2,701,099,837 100

Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah). 5.2. Analisis Keterkaitan

5.2.1. Keterkaitan Langsung Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Keterkaitan langsung beberapa sektor perekonomian Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.7. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sektor perdagangan mempunyai nilai keterkaitan langsung kedepan yang paling besar yaitu sebesar 1,4070. Selanjutnya urutan kedua terbesar ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai keterkaitan langsung ke depan sebesar 1,3580 kemudian secara berturut-turut diikuti oleh sektor industri kimia dan minyak dan

57

sektor pengangkutan dan komunikasi dengan nilai 0,7964 dan 0,7020 pada posisi ketiga dan keempat. Untuk keterkaitan langsung ke belakang sektor listrik, gas dan air merupakan sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang paling tinggi dengan nilai 0,3103. hal ini dikarenakan sektor listrik, gas dan air merupakan salah satu sektor yang paling vital dalam kehidupan manusia dan tanpa sektor tersebut sektor yang lain tidak akan dapat berjalan, kemudian urutan kedua dan ketiga di tempati oleh industri makanan dan minuman dan sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 0,3319 dan 0,1790.

Tabel. 5.7. Nilai Keterkaitan Berbagai Sektor Perekonomian di Indonesia
Langsung

Sektor
Depan Belakang

Langsung dan Tidak Langsung Depan Belakang

Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa
Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

0,5495 0,2619 0,0236 1,3580 0,3319 0,2764 0,1790 0,1877 0,5997 0.0485 0,0431 0,7964 0,0900 0,3072 0,1737 0,1631 0,3103 0,1919 1,4070 0,7027 0,6438 0,0980

0,2391 0,1794 0,1393 0,1188 0,6039 0,4673 0,5687 0,3957 0,3378 0,5356 0,4078 0,4217 0,4842 0,5635 0,4161 0,3675 0,6530 0,4884 0,3821 0,3945 0,2400 0,3390

1,9552 1,3283 1,0291 3,1272 1,6422 1,3855 1,2191 1,2750 1,6529 1,0734 1,0653 2,1857 1,1150 1,2955 1,2689 1,3310 1,4368 1,3066 3,2051 2,0874 2,1306 1,1575

1,3950 1,2751 1,2287 1,1567 1,9484 1,7956 1,8775 1,6059 1,5409 1,8431 1,6424 1,5577 1,6858 1,7978 1,5005 1,6501 1,8552 1,7539 1,6138 1,6346 1,3643 1,5500

Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sebesar satu juta. Keterkaitan Langsung Perekonomian Indonesia dan Tidak Langsung Sektor-Sektor Pada Tabel 5. Selanjutnya berturut-turut untuk posisi ketiga dan keempat ditempati oleh sektor listik.1272. sektor industri makanan dan minuman memiliki nilai keterkaitan tertinggi diantara sektor-sektor lainnya yaitu sebesar 1.8775.5997 juta rupiah.3378 juta rupiah.8431. maka output industri kertas secara langsung akan meningkat sebesar 0.8552 dan 1.9484. Sedangkan untuk keterkaitan langsung ke belakang industri kertas memiliki nilai sebesar 0.3378 yang berada pada posisi ke-17 diantara sektor-sektor yang lain.1857. Selanjutnya di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh sektor perdagangan dan sektor industri kimia dengan nilai masing-masing sebesar 3. Nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir satu juta.2051 dan 2.5997.7 dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan tertinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai sebesar 3. 5. dalam nilai keterkaitan langsung ke depan menempati urutan keeenam dengan nilai 0. maka sektor industri kertas akan meningkatkan permintaan inputnya secara langsung sebesar 0. gas dan air dan sektor industri barang-barang dari kertas dengan nilai keterkaitan sebesar 1.2. Urutan kedua tertinggi ditempati oleh sektor industri kayu dan furniture dengan nilai keterkaitan sebesar 1.58 Untuk industri kertas. . Untuk nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang.2.

59

Berdasarkan hasil analisis (Tabel 5.7), industri kertas memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung kedepan sebesar 1,6529 yang berada pada peringkat ketujuh diantara sektor-sektor yang berada dalam perekonomian Indonesia. Nilai keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa setiap satu juta output yang dihasilkan industri kertas secara langsung maupun tidak langsung akan dialokasikan kepada sektor-sektor lain dan kepada industri kertas itu sendiri sebesar 1,6529 juta rupiah. Sedangkan untuk keterkaitan langsung dan tidak langsung kebelakang, industri kertas memiliki nilai keterkaitan sebesar 1,5409 yang berada pada peringkat ke-16 diantara sektor-sektor lainnya. Nilai keterkaitan sebesar 1,5409 berarti apabila terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta pada industri kertas maka permintaan input dari sektor-sektor lainnya maupun dari industri kertas itu sendiri secara langsung dan tidak langsung akan menigkat sebesar 1,5409 juta rupiah.

5.2.3. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan sektor antara yang berada diantara sektor-sektor yang lain, industri ini tidak dapat dipisahkan dari industri atau sektor-sektor hulunya yang menyediakan input bagi keperluan proses produksinya, sebaliknya industri ini juga berfungsi sebagai penghasil output yang digunakan sebagai input bagi industri lainnya (hilir). Sektor-sektor hilir yang terkait dengan industri kertas antara lain industri barang-barang dari kertas, industri percetakan (penerbitan), dan sektor jasa-jasa.

60

Tabel 5.8. Keterkaitan ke Depan Industri Kertas terhadap Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Sektor
Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik, gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia, 2000 (diolah).

Koefisien 0.0005 0.0008 0.0025 0.0000 0.0022 0.0013 0.0004 0.0057 0.0015 0.3183 0.2448 0.0003 0.0047 0.0001 0.0006 0.0010 0.0007 0.0002 0.0020 0.0009 0.0012 0.0128

Peringkat 17 14 6 22 7 10 18 4 9 1 2 19 5 21 16 12 15 20 8 13 11 3

Dari hasil analisis keterkaitan ke depan industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian Indonesia (Tabel 5.8) dapat dilihat bahwa industri barang dari kertas menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,3183. Selanjutnya disusul oleh industri percetakan dengan nilai keterkaitan sebesar 0,2248 pada urutan kedua. Industri barang dari kertas dan industri percetakan menempati peringkat teratas karena kedua industri ini menggunakan bahan baku utama yang dihasilkan dari industri kertas.

61

5.2.4. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Sektor-sektor Perekonomian Indonesia Industri kertas merupakan industri yang terus berkembang pesat di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan konsumsinya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Perkembangan industri ini juga ditandai dengan peningkatan kapasitas produksi perusahaan-perusahaan industri kertas dalam satu dekade terakhir ini. Salah satu indikator penyebab perkembangan dan pertumbuhan yang cukup tinggi itu adalah kedekatan industri kertas dengan bahan baku industrinya dalam hal kemudahan memperolehnya. Kedekatan inilah yang menandai bahwa keterkaitan ke belakang industri kertas dengan sektor-sektor penyedia inputnya (hulu) cukup besar. Dari hasil analisis keterkaitan ke belakang industri kertas terhadap berbagai sektor perekonomian indonesia (Tabel 5.9) dapat dilihat bahwa industri pulp menduduki peringkat pertama dengan nilai sebesar 0,0944. Industri pulp menduduki peringkat pertama karena pulp merupakan bahan baku utama yang digunakan oleh industri kertas. Selanjutnya disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi pada urutan kedua. Masuknya sektor pengangkutan dan komunikasi dalam peringkat yang cukup tinggi bila di bandingkan dengan sektor-sektor lain dalam perekonomian dikarenakan pentingnya faktor pengangkutan dan

komunikasi dalam memperlancar rantai distribusi bahan baku dari tempat bahan baku ke perusahaan tempat proses produksi dilaksanakan

0000 0.9. Keterkaitan ke Belakang Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.0731 0.0181 0.0050 Peringkat 11 7 17 12 9 20 15 1 14 10 16 4 21 22 13 19 6 18 3 2 5 8 5.0944 0. Analisis koefisien penyebaran dianggap penting karena menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu unit permintaan akhir untuk semua sektor di dalam suatu sisitem perekonomian.0007 0.0015 0.0199 0. Sedangkan analisis kepekaan penyebaran berguna untuk .62 Tabel 5.0045 0. Analisis Koefisien Penyebaran dan Kepekaan Penyebaran Untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor lainnya baik melalui mekanisme transaksi pasar input dan pasar output dapat dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.0017 0.0005 0.0004 0.0023 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.0006 0.0621 0. 2000 (diolah). Koefisien 0.0071 0.0001 0.0031 0.0037 0.0012 0.0401 0.0010 0.3.

Pada Tabel 5. Dengan kata lain merupakan efek yang ditimbulkan oleh suatu sektor karena adanya peningkatan output suatu sektor yang bersangkutan terhadap output sektor-sektor lainnya yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. . Nilai koefisien yang lebih besar dari suatu sektor menunjukkan kemampuan sektor tersebut dalam menarik perkembangan sektor hulunya. 5.3. Koefisien Penyebaran Koefisien penyebaran menunjukan efek relatif yang ditimbulkan oleh keterkaitan ke belakang secara langsung dan tidak langsung antara satu sektor dengan semua sektor yang ada. gas dan air.1. Koefisien penyebaran ini diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke belakang yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor. hal ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor tersebut memiliki kemampuan yang kuat untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya.63 memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul oleh suatu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian. listrik. Koefisien penyebaran sering disebut sebagai daya penyebaran ke belakang.10 dapat dilihat beberapa sektor yang mempunyai indeks koefisien penyebaran yang tinggi antara lain sektor industri makanan dan minuman. Berdasarkan nilai indeks koefisien penyebaran yang lebih dari satu. industri kayu dan furniture. industri barang dari kertas juga industri tekstil dan pakaian.

10..0939 1. Hal mengindikasikan bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kurang kuat dalam menarik perkembangan sektor hulunya.1710 1. Salah satu penyebab terjadi hal tersebut adalah adanya integrasi vertikal dalam industri kertas sendiri.0066 1.0195 0.1495 1. sektor ini mempunyai indeks koefisien penyebaran sebesar 0.1199 1.0292 1.9715 1.0244 0. Koefisien Penyebaran 0. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki kapasitas produksi yang besar pula ternyata juga memiliki pabrik pulp sebagai sumber bahan bakunya.64 Tabel 5. Koefisien Penyebaran Industri Kertas Terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. khususnya yaitu dengan sektor hulu yang paling besar keterkaitannya dengan industri kertas yaitu industri pulp.9359 1. Hal ini mengakibatkan kemampuan industri kertas secara keseluruhan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya .7664 0.9611 1.1213 0.0514 1.0016 0.1571 1.7953 0. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia. 2000 (diolah).8509 0.7215 1.9611.9668 Untuk industri kertas.8701 0.2152 1.

. sehingga sektor pertambangan dan penggalian mempunyai kemempuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor-sektor hilirnya terutama dalam hal penyedian kebutuhan bahan bakar untuk proses produksi. Nilai indeks kepekaan penyebaran lebih dari satu mengindikasikan suatu sektor memiliki kemampuan yang kuat untuk mendorong sektor hilirnya. Namun jika di tinjau dari sisi efisiensi. Hal ini di karenakan sektor pertambangan dan penggalian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian.65 terutama pulp menjadi semakin berkurang. Kepekaan Penyebaran Kepekaan penyebaran merupakan efek relatif yang disebabkan oleh perubahan output suatu sektor ekonomi yang akan menimbulkan perubahan output sektor ekonomi lainnya yang menggunakan output sektor tersebut sebagai input baik langsung maupun tidak langsung. Barang tambang seperti minyak bumi dengan produk hasil olahannya yaitu bahan bakar minyak (BBM) merupakan pilar utama proses produksi output sektor-sektor industri dalam perekonomian.9504.2.11 dapat dilihat bahwa sektor pertambangan dan penggalian memiliki indeks kepekaan penyebaran yang paling tinggi yaitu sebesar 1. Pada Tabel 5.3. menurut Karseno dan Mulyaningsih (2002) integrasi vertikal pada industri kertas justru akan lebih meningkatkan efisiensi produksi perusahaan dalam industri 5. Kepekaan penyebaran ini sering disebut indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan yang dikalikan dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua sektor.

2195 0. sektor industri ini mempunyai indeks kepekaan penyebaran sebesar 1.7603 0. 2000 (diolah).9990 1.7952 1.6644 1.8641).7219 Sedangkan untuk industri kertas. dan industri kayu dan furniture (0. Kepekaan Penyebaran Industri Kertas terhadap Berbagai Sektor Perekonomian Di Indonesia Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.6954 0.9504 1.0309 0.3019 1. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel I-O Indonesia.8285 0.8641 0. Kepekaan Penyebaran 1. industri tekstil dan pakaian (0.6419 1. industri kertas lebih unggul dalam kemampuannya dalam menstimulir perkembangan sektor-sektor hilirnya dan termasuk ke dalam delapan besar sektor yang mempunyai indeks kepekaan penyebaran kuat dalam perekonomian.8961 0.6695 0.8302 0.7914 0.8080 0. Dengan nilai indeks yang lebih besar dari satu.3288 0.11.66 Tabel 5. Bila di bandingkan dengan beberapa sektor lainnya yang tergolong sektor manufaktur seperti industri makanan dan minuman (1.7603).309. hal ini berarti bahwa industri kertas mempunyai kemampuan yang kuat untuk mendorong perkembangan sektor hilirnya. .0242).8149 1.0242 0.3632 0.

Pada perekonomian Indonesia.1.1253 persen. Urutan kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas output sebesar 1.1253.4.4. Hal ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri makanan dan minuman sebesar 1. pendapatan dan tenaga kerja. Nilai elastisitas output yang tinggi dari . 5. Menurut Mattas dan Shresta (1991) dalam Imansyah (2000) pendekatan ini lebih baik daripada analisis keterkaitan dan analisis multiplier karena memperhitungkan share suatu sektor dalam output. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan output sektor perdagangan sebesar 1.12). Pendekatan elastisitas input-output dibagi kedalam tiga kategori yaitu elastisitas output.2610 (Tabel 5. elastisitas output tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.2610 persen. Pendekatan ini mempermudah policy makers untuk berkonsentrasi tidak hanya pada nilai-nilai keterkaitan dan multiplier tertinggi tetapi juga pada share suatu sektor ekonomi. Elastisitas Output Elastisitas Output adalah perubahan persentase dalam total output suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.67 Semuanya itu menandakan bahwa sektor industri kertas layak untuk terus dikembangkan dan mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Elastisitas Input-Output Elastisitas input-output menyediakan pandangan baru untuk penentuan sektor prioritas. 5.

Dengan nilai elastisitas output yang lebih besar dari satu. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan sektor perdagangan sebesar 1. Pada tabel 5.1650.0023 persen.68 kedua sektor tersebut mencerminkan bahwa outputnya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir.0023. Nilai elastisitas output yang tinggi bila dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya dalam perekonomian pada sektor perdagangan dan sektor pertambangan dan penggalian .1650 persen. 5.2. Urutan kedua ditempati oleh sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai elastisitas pendapatan sebesar 1.4. Elastisitas Pendapatan Elastisitas pendapatan adalah perubahan persentase dalam pendapatan suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan total output sektor industri pertambangan dan penggalian sebesar 1.12 dapat dilihat bahwa elastisitas pendapatan tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.0759 persen. sektor ini memiliki elastisitas output sebesar 1. Untuk industri kertas. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 1.0759. industri kertas dapat disebut cukup responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.

2772 (12) 1.3319 (10) 0.1650 ( 1 ) 0. sektor ini memiliki elastisitas pendapatan sebesar 0.0768 ( 1 ) 0. gas dan air 0.6438 ( 7 ) 0. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan pendapatan dalam industri kertas sebesar 0. Elastisitas Input-Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2000 Sektor Elastisitas Pendapatan 0. Keterangan: ( ) merupakan peringkat Tenaga Kerja 0. Sementara pada industri kertas.6449 ( 5 ) 0.9831 ( 6 ) Industri semen dan barang non logam 0. Tabel 5.0047 (21) Industri barang jadi dari logam 0.6084 (10) Industri kimia 0.2610 ( 1 ) Pengangkutan dan komunikasi 1.0759 ( 2 ) 1.3072 (11) 0.0431 (22) 0.0441 ( 2 ) 0.3921 (15) Kayu 0.2764 (13) 0.9020 ( 7 ) Bangunan 0.1253 ( 2 ) Industri tekstil dan pakaian 0.3284 ( 9 ) 0.0139 (20) Industri lainnya 0. Dengan nilai elastisitas pendapatan yang kurang dari satu.0980 (19) .1790 (16) 0.12.6005 ( 6 ) 0.1737 (17) 0.0023 ( 5 ) Industri barang dari kertas 0.5022 persen.0994 (19) 0.0548 (19) Listrik.5495 ( 9 ) 0.7027 ( 6 ) 0.0955 (18) Hasil hutan lainnya 0.7100 ( 9 ) Industri percetakan 0.1631 (18) 0.5179 (12) Sumber: Tabel I-O Indonesia.8697 ( 8 ) Industri kertas 1. industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.7964 ( 5 ) 0.5241 (11) Industri kayu dan furniture 0.0009 ( 3 ) 0.1659 (18) 0.3103 (11) 0. 2000 (diolah).8877 ( 4 ) 0.9779 ( 3 ) 1.0901 (20) 0.1253 (17) Perdagangan 1.4050 (13) Pertambangan dan penggalian 1.2778 (13) 0.1008 ( 3 ) Industri makanan dan minuman 1.2240 (14) 0.2591 (16) Industri pulp 0.1790 (17) 0.4772 ( 8 ) 1.5022.5022 ( 7 ) 0.0443 (21) 0.0274 ( 4 ) Keuangan dan persewaan 0.6903 ( 4 ) 0.3072 (12) 0.0040 (22) Jasa-jasa 0.2619 (14) 0.2133 (15) Output Pertanian 0.4048 (14) Industri logam dasar 0.69 menunjukkan bahwa pendapatan pada kedua sektor tersebut mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya.3127 (10) 0.0900 (20) 0.6093 ( 8 ) 0.0485 (21) 0.1919 (15) 1.0247 (22) 0.1877 (16) 0.

3.0441. .0441 persen.12). Nilai elastisitas tenaga kerja yang tinggi dari kedua sektor tersebut mengindikasikan bahwa jumlah tenaga kerjanya mempunyai respon yang besar terhadap perubahan permintaan akhir sektor lainnya atau lebih sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada sektor lainnya dalam hal permintaan akhir. hal ini terjadi dikarenakan industri kertas selain merupakan industri padat modal juga merupakan industri yang cukup banyak menyerap tenaga kerja. Namun demikian nilai elastisitas tenaga kerjanya masih bernilai positif. Dengan nilai elastisitas yang kurang dari satu. Nilai ini berarti setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan tenaga kerja sektor perdagangan sebesar 1. sektor ini memiliki elastisitas tenaga kerja sebesar 0. Peringkat kedua ditempati oleh sektor industri makanan dan minuman dengan nilai elastisitas tenaga kerja sebesar 1.0768 persen. tenaga kerja industri kertas dapat disebut kurang responsif terhadap perubahan permintaan akhir pada sektor lain.6093.4. Diantara sektor lainnya dalam perekonomian elastisitas tenaga kerja tertinggi ditempati oleh sektor perdagangan dengan nilai elastisitas sebesar 1.6093 persen.0768 (Tabel 5. yang berarti bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen akan meningkatkan total output industri kertas sebesar 0. Nilai ini bermakna bahwa setiap kenaikan permintaan akhir sektor lain sebesar 1 persen maka akan meningkatkan tenaga kerja sektor industri makanan dan minuman sebesar 1.70 5. Pada industri kertas. Elastisitas Tenaga Kerja Elastisitas tenaga kerja adalah perubahan persentase tenaga kerja suatu sektor akibat adanya perubahan persentase pada permintaan akhir sektor lainnya.

(8) industri kimia.13). yaitu: (1) perdagangan. dan tenaga kerjanya untuk lebih berperan . pendapatan. Industri kertas termasuk dalam sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam). gas dan air. dan (10) hasil hutan lainnya.5. bersama dengan sembilan sektor kunci lainnya. merupakan sektor unggulan dalam meningkatkan output.71 5. Pada penentuan sektor kunci berdasarkan elastisitas input-output. dapat diketahui sepuluh sektor kunci perekonomian. (9) listrik. sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan. Hal ini berarti kesepuluh sektor tersebut menjadi prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena setiap sektor tersebut secara simultan mempunyai respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor-sektor lainnya. dampak penyebaran atau elastisitas input-output. (2) industri makanan dan minuman. Sektor-Sektor Kunci dalam Perekonomian Indonesia Penentuan suatu sektor menjadi sektor kunci dalam perekonomian Indonesia dapat didasarkan pada kategori-kategori analisis input-output seperti analisis keterkaitan. pendapatan maupun tenaga kerjanya (ranking elastisitas). (6) industri kertas. sepuluh peringkat tertinggi dari hasil perankingan tersebut merupakan sektor-sektor kunci dalam perekonomian. (5) industri pulp. hal ini menunjukkan bahwa industri ini. sektor yang menjadi kunci dalam perekonomian ditentukan berdasarkan ranking atau peringkat dari keseluruhan sektor dalam perekonomian baik dilihat dari elastisitas output. (7) pertanian. (3) pertambangan dan penggalian. (4) pengangkutan dan komunikasi. Dari hasil analisis sektor kunci perekonomian Indonesia tahun 2000 berdasarkan ranking elastisitas (Tabel 5.

5 14 20 20 16 8.5 17.5 11 1 4 17. Sektor Kunci Perekonomian menurut Ranking Elastisitas InputOutput Indonesia Tahun 2000 Elastisitas Input-Output (peringkat) Tenaga Output Pendapatan Kerja 15 5 9 18 9 14 13 12 10 3 2 11 16 8 5 9 10 6 14 21 20 19 7 17 1 4 22 12 2 3 17 16 6 7 21 22 20 11 18 14 10 13 8 1 4 19 15 3 2 13 16 4 8 21 22 5 20 12 17 18 11 15 1 6 7 19 Total Peringkat 29 41 35 8 7 41 48 18 20 51 54 31 45 51 51 47 31 40 3 14 48 46 Ranking Elastisitas 7 12. 2000 (diolah) . Tabel 5.5 5 6 20 22 8.5 15 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik.72 dalam perekonomian Indonesia dan pemerintah sebagai policy makers harus lebih biak lagi dalam menjalankan fungsinya berkaitan dengan penetapan kebijakan terhadap industri ini karena perannya dalam meningkatkan perekonomian tersebut.5 10 3 2 12. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Sumber: Tabel Input-Output Indonesia.13.

Untuk mengurangi kesenjangan pendapatan ini diperlukan campur tangan pemerintah yang lebih adil sebagai regulator ketenagakerjaan baik melalui penetapan kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan tenaga kerja maupun sebagai mediator antara perusahaan dan tenaga kerjanya dalam penenganan berbagai masalah ketenagakerjaan terutama dalam persoalan upah. kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam Peraturan . Hal ini menandakan bahwa dalam industri kertas sangat potensial untuk dibentuk dan dikembangkannya klaster industri kertas. hal ini berarti bahwa distribusi pendapatan antara pemilik modal (perusahaan) dan pekerja tidak merata atau terjadi ketimpangan yang besar yang dapat disebabkan oleh adanya eksploitasi tenaga kerja oleh pemilik modal terhadap tenaga kerja dengan share yang lebih besar terhadap perusahaan (pemilik modal). Pada sub-bab sebelummya.6. Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha pada struktur nilai tambah bruto dapat diketahui bahwa sektor industri kertas mempunyai nilai surplus usaha lebih besar dibandingkan upah dan gaji. Implikasi Kebijakan Dari hasil penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai implikasi kebijakan. antara lain yaitu: 1. berdasarkan analisis keterkaitan industri kertas tahun 2000 terhadap berbagai sektor perekonomian (keterkaitan per sektor) dapat diketahui bahwa industri kertas memiliki nilai keterkaitan yang tinggi baik ke depan maupun ke belakang terhadap sektor hulu dan hilirnya dan juga dengan sektor pendukungnya.73 5. 2.

tetapi juga mengingat dalam setiap sektor terdapat juga pelaku ekonomi yang tergolong Industri Kecil dan Menengah (IKM). padahal dari tahun 2000 berdasarkan penelitian ini pentingnya kebijakan klaster sudah dapat diidentifikasi. Dalam peraturan tersebut dijabarkan mengenai rencana pemerintah untuk membangun daya saing industri manufaktur nasional lima tahun kedepan dengan fokus pengembangan industri melalui penguatan dan penumbuhan klaster-klaster industri inti yang termasuk industri kertas didalamnya. menawarkan jasa dan produk-produk untuk mendukung klaster industrinya. sementara klaster industri memberikan kesempatan pada IKM untuk membuat keterkaitan pasokan antara perusahaan besar dan menengah (Deprin. maka klaster tersebut akan menarik IKM untuk memenuhi Permintaan barang dan jasa.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Oleh karena itu IKM memerankan peranan secara integral dan konstruktif dalam suatu klaster industri. Dengan adanya klaster ini maka bukan saja dapat saling menumbuh kembangkan industri terkait dan industri pendukung dalam klaster tersebut. Pada saat yang sama jaringan yang terpadu dari IKM terkait akan terus berkembang.74 Presiden No. Namun demikian dapat dinilai adanya keterlambatan pemerintah karena baru tahun 2005 mengeluarkan kebijakan pengembangan klaster industri tersebut. 2005). .

327 juta dan jika dilihat dari struktur ketenagakerjaan.895.VI.125. Pada struktur ekspor dan impor. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis peranan industri kertas terhadap perekonomian Indonesia.775 juta dan permintaan akhir sebesar Rp 13. KESIMPULAN DAN SARAN 5. industri kertas memiliki keterkaitan yang paling tinggi terhadap industri pulp (0.622 juta.0731) yang merupakan salah satu sektor pendukung industri kertas. 1. industri kertas berkontribusi terhadap permintaan antara sebesar Rp 10.507. Pada keterkaitan ke depan industri kertas mempunyai keterkaitan yang paling tinggi terhadap sektor industri barang dari kertas (0. industri ini mampu meyerap tenaga kerja sebesar 118.847 juta.0944) yang merupakan sektor penghasil bahan baku industri kertas dan pada sektor pengangkutan dan komunikasi (0. industri ini berkontribusi sebesar Rp 24.970.771.1.854 juta dan jika dilihat dari struktur output sektoral.800. kemudian kontribusinya dalam struktur nilai tambah bruto adalah sebesar Rp 7. Industri kertas memiliki keterkaitan yang tinggi terhadap sektor hulu dan hilirnya (keterkaitan industri kertas terhadap sektor-sektor perekonomian).385 juta dan mengimpor sebesar Rp 8.3183) dan pada peringkat kedua yaitu terhadap industri percetakan (0. Pada struktur permintaaan. maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut. 2.454 jiwa. industri kertas melakukan ekspor sebesar Rp 13. .2448) sementara pada keterkaitan ke belakangnya.

industri ini merupakan sektor industri yang memiliki kemampuan yang kuat dalam mendorong pertumbuhan sektor hilirnya seperti industri barang dari kertas dan industri percetakan karena memiliki indeks kepekaan lebih dari satu (1. sehingga sektor ini mempunyai kemampuan yang cukup besar dalam berkontribusi untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan.9611).0309). Industri kertas kurang memiliki kemampuan untuk menarik pertumbuhan sektor hulunya karena jika dilihat dari hasil analisis koefisien penyebaran. industri kertas merupakan sektor prioritas yang harus dikembangkan oleh pemerintah sebagai policy makers karena kontribusinya terhadap perekonomian tersebut. pendapatan. Namun di sisi lain. .76 3. terutama pulp. Industri kertas termasuk dalam salah satu dari sepuluh sektor kunci perekonomian Indonesia (peringkat keenam) berdasarkan ranking elastisitas. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor industri ini memiliki respon yang tinggi terhadap perubahan permintaan akhir sektor lain dalam hal peningkatan output. sektor industri ini memiliki indeks koefisien penyebaran yang kurang dari satu (0. Salah satu penyebab lemahnya industri ini dalam menarik pertumbuhan sektor hulunya adalah adanya integrasi vertikal yang dilakukan oleh perusahaan-perusahan besar dalam industri ini dengan sektor penghasil bahan bakunya. Bersama dengan sektor kunci lainnya. 4. maupun tenaga kerjanya.

2. Saran Berdasarkan hasil analisis. 2. 1. Pada industri kertas harus dibangun klaster industri yang kuat secara berkelanjutan sehingga industri kertas dan sektor yang terkait di dalam klaster tersebut seperti industri pulp. dapat disampaikan saran berikut ini. industri barang dari kertas dan industri percetakan juga dapat saling menunjang untuk meningkatkan perkembangannya dan peranannya terhadap perekonomian Indonesia. Untuk meningkatkan efisiensi industri kertas tanpa mengurangi kemampuan industri tersebut menarik pertumbuhan sektor hulunya antara lain adalah dengan mempercepat transformasi pembangunan industri kertas menuju fase innovation driven melalui peningkatan teknologi produksi dan pelatihan tenaga kerja terampil yang intensif sehingga dapat meningkatkan outputnya dan disisi lain sektor hulu tetap dapat memasok input bagi industri kertas tersebut. . pemberian fasilitas karyawan yang lebih baik serta jaminan sosial untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antara perusahaan dan tenaga kerjanya pada industri kertas. 3.77 6. Pemerintah harus campur tangan yang lebih intensif melalui penetapan Upah Minimum Regional (UMR) yang benar-benar sesuai dengan standar kehidupan di Indonesia.

http://www. E. M. http://www. 2000. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Muchtar.L. “Industri Kertas Butuh Investasi Baru” [Harian Terbit Online]. Prentice Hall. 2002.asp?id=NNA [30 September 2005]. http://www. Jakarta. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. ”Kebijakan Pembangunan Industri Nasional” [Deprin Online]. Bogor. “An Application of the FES Approach to A Small Region in Indonesia: Banjarmasin Input-Output Model 1”. 1993. M.com [18 Februari 2005]. 2003. New Jersey. 2005.id/ publikasi. ”Profil Perusahaan” [Bank Niaga Online]. 2. R. Fakultas Pertanian. Input-Output Analysis: Foundation And Extensions. Analisis Peranan Sektor Pertanian dan Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Propinsi Kalimantan Timur (Berdasarkan Analisis Input-Output) [Skripsi]. bankniaga. 2000. B. No.go. H. APKI. dan Mulyaningsih. Direktori Industri Pulp dan Kertas Indonesia 2003. 2000. Tabel Input-Output Indonesia 2000. . Ekonomi Industri : Persaingan. Raja Grafindo Persada. USA. 2005. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta. BPS. Hal. Niaga. Imansyah. 1985. dan Blair. Vol. LP3ES. BPS. 1997. M. [30 September 2005] Hasibuan.com/content/content.deprin. Bogor. 17. Macerata. Dampak Keterkaitan Sektor Industri Terhadap Perekonomian Wilayah Kabupaten Sidoarjo [Tesis].D. Italy. E. “Integrasi Vertikal dan Efisiensi Industri: Industri Kertas Tahun 1979-1997 Dengan Pendekatan Error Correction Model”. Paper for 13th International Conference on Input-Output Techniques.harianterbit. Institut Pertanian Bogor. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Karseno. Miller. 2002. 2005. Jhingan. T. 136-149. P. Puspitawati. Deprin. Monopoli dan Regulasi. Mansur. N. Jakarta. Jakarta. R. A.DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia.

Prosiding Seminar. Analisis Peran Sektor Industri Pengolahan dan Dampaknya terhadap Pembangunan Ekonomi Di Kota Cilegon [Skripsi]. T. Y. dan Pambudy. Institut Pertanian Bogor. 1998. Institut Pertanian Bogor. No.org /wiki/ Kertas [17 September 2005]. Sipayung. 2000.wikipedia. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen. Bogor. dan Vidyatmoko. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia. Bogor. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. A. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. ”Kertas” [Wikipedia Online]. “Analisis Pasar Pulp dan Kertas Indonesia”. 2005. Bogor. Fakultas Pertanian. http:// www. Tjandrawan. Analisis Peranan Sektor Industri Pengolahan terhadap Perekonomian Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta [Skripsi]. Sahara. R. . Bogor. I. 2005. Departemen Ilmu Ekonomi. 4. Setiyaji. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. “Prospek dan Tantangan Pengembangan Agribisnis Pulp dan Kertas dalam Era Ekolabeling dan Otonomi Daerah”. Fakultas Pertanian. Analisis Peranan dan Keterkaitan Sektor Pertanian dan Industri di Jawa Barat [Skripsi]. Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Nasional [Skripsi]. Bogor. Ruhmaniyati. A. D.79 Rosadi. 2004. 1994. Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Setyawan. 2002. Departemen Ilmu Ekonomi. Vol. Institut Pertanian Bogor. 5. Hal. Analisis peranan Sektor Industri Pengolahan Dan Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Jepara [Skripsi]. Bogor. Wikipedia. H. 1995. Fakultas Ekonomi Manajemen. S. 194203.

LAMPIRAN .

Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2000 Kode I-O 22 Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 1000 Sektor Pertanian Kayu Hasil hutan lainnya Pertambangan dan penggalian Industri makanan dan minuman Industri tekstil dan pakaian Industri kayu dan furniture Industri pulp Industri kertas Industri barang dari kertas Industri percetakan Industri kimia Industri semen dan barang non logam Industri logam dasar Industri barang jadi dari logam Industri lainnya Listrik. gas dan air Bangunan Perdagangan Pengangkutan dan komunikasi Keuangan dan persewaan Jasa-jasa Jumlah permintaan antara Jumlah input antara Impor Upah dan gaji Surplus usaha Penyusutan Pajak tak langsung Subsidi Nilai tambah bruto Jumlah input Pengeluaran konsumsi rumah tangga Pengeluaran konsumsi pemerintah Pembentukan modal tetap bruto Perubahan stok Ekspor barang dagangan Ekspor jasa Jumlah permintaan akhir Jumlah permintaan Impor barang dagangan Pajak penjualan Bea masuk Impor jasa Jumlah impor Margin perdagangan besar Margin perdagangan eceran Biaya pengangkutan Jumlah margin perdagangan dan biaya pengangkutan Jumlah output Jumlah penyediaan Jumlah Tenaga Kerja Kode I-O 175 Sektor 001-028.81 Lampiran 1. 031-034 029 030 035-048 049-073 074-083 084-089 090 091 092 093 094-109 110-114 115-118 119-122 123-141 142-143 144-148 149-152 153-159 160-164 165-175 180 190 200 201 202 203 204 205 209 210 301 302 303 304 305 306 309 310 401 402 403 404 409 501 502 503 509 600 700 - .

82 .

933 112.585.796 55.638.073 8.250 478.358 933.335.561 1.484.515 25.513 4 19.901.258 4.212.563 6.530.160 823.252 43.408 100.626 3.917 375.302 43.442 120.785.Lampiran 2.467 1.083 7.232 13.824.297 479.670 6.277 246.991.620 73.048 32.171 1.739.799 5.755 162.333 29.858 40.051 9 77.867 6.525.679.484.206 15.195 196.524 2.884 378.429 0 64.333 287.850 337.643 8.592 916.320 1.414.590 5.615 23.849 57.405.570 3.735.034 1.837 15.453 11.864.524 1.014.828 61.824 40.427.370 110 84 1.782.405 6.371 1.305.089 47. Tabel Input-Output Indonesia 2000 Klasifikasi 22 Sektor (dalam Juta Rupiah) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 1 16.705 8.069 6.777 7.210 51.949 332.241 75.646.772.346 38.941 1.450.860.296.491 11.826 927 3.963.228 69.440.192 10.441 967 8.151 825.774 147.666 65.208.227 72.489 940.212 3.110.443 429.433 565.701 301.385 20.560 28.182.098 7.514 33.155 7.553 13.870 210.506 493.656 2.899 1.600 181.660.328.530 8.010.330 296.454 10 0 3.725 138.590 44.176 167.359.698.441 610.606 1.441 8.167.749 24.886 2.854 1.958 683.750 0 13.043 1.489 59.452 5.493.607 8.240 13.430 55.857 1.875 45.052 131.577.407.936 36.772.693 181 11.343.567 19.418 1.718 3.732 1.634 1.130 77.718.393 13.644 45.064 55.688.327 24.890 49.404 151.764 20.426 874 728.238.040 2.557.451 3.094.955 23.809 448.895.037.365.213 64.566.913 151.028 555.040 29.282.797.670 7.817.576.322 2.867 4.395.417 121.507.877 3.989 146.319 504 17.855 76.343 332.292.026 84.560 5.391 448.177 21.739.817 378 627.394 141.605.903 7.588 6.663.012.396 166.979 5.114 5.911 Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).352 975.590.427 3.235.459 53.617 382.613 111.627.905 2.990 8.063 1.427 2.536.958 487.540.063 4.256.418 59.890 1.705 705.845 40.281.778.908 14.354 5.851 37.591 10.486 100.293 2.912 23.785.526 0 737.809 1.534.775 19.004.056 33 4.930 129.145.652 2.550 754.800 17.952.321 5.755 17.792 116.030 13 20.478 63.437.542 1.217.537.183 19.858 26.577 159.379 648.569 34 8.919 4.143.010 7.306.443 4.362 161.853 110.947 11.513 798 315.569 11.839 4.093.099 2.898 115.049 112.069 338.114 8.229.459 553.228) 97.567.871 2.426 102.558.308 853.813.262 40.881 2.355 8.824 90.811.117 594.908 141.991.534.543 5.364 2.001 2.982.895 2.509.099 1.725 1.073.541 16.574 1.655 17.592 6 2.664.072 325.134 8 203.780 41.371 22.738 25.664.588.554.985 9.805.824 3 2.894 6.539 4.325 3.119.838 1.815.839 1.116 490.850.946.508.043 4.311 2.368.519 2 628.762 4.579 55.040 1.460 175.771.957 7.241 1.183 17.800 53.943 5 101.135 200.553 108 5.568 1.164 224.975 83.399 1.597 18.639 865.968 7.218 1.441 370.628 123.458.479.504 1.229 1.628 22 85.059 106.550.876 348 994.618 174.714.338 627.623.700.720 2.486 5.459 131.781 6.083 224.453.244 1.944 86.798 105.996.821.323 82.692.292 5.479 83.648.086 5.245 1.349 206.895.731.926 10.327.606.225 7 45.942 12 8.973 1.946 64.551 11 0 271 122 11.387.190 18.080 264.931 59.602 25.947 1.694 21.046 926.442 3.811.512 1.902 2.703 4.091 20.129 2.560 21.938 6.024 5.003 363.622 118.412.494 1.758.306 815.770 35.290.424 2.462 55.062.575.170 904 57.939 5.103.403 32.914 121.298 16.411.834 1.849 23.203 19.337.237 4.017.036 8.097 590.480.708 127.333 4.702 (250.340.918.473 2.867 3.554.190 41.319 30.777.905 57.169.711.625.596 643.973 369.759 243.667 3. .187 416.492 528.539 77 186.

995 65.892 1.843.093.167.705 859.604.458.226.310 6.713.570.034 22 2.266.916 1.511 9.948 (3.515 20 299.292 3.264.576 834.441.861 35.685.243 177.250) 8.326 9.035 16.919 398.360 3.542 4.900.671.499 1.916.006.498 19.106.401 110.385 6.791 866.630 1.397 114.175.715 373.012.938 15 7 6.810 2.565.081 564.973 6.649 36.951 232.028.564.875 3.063 4.063 111.704 3.444.333.677.189 19.260.568 21.649.253.860 2.063 8.116 770.130 9.802 134.594 50.244.412.113 3.019 287.271.732 (3.074 19.399 3.780 1.948 .108 19.830.525 1.228.107.729.156 105.817 215.437 791.292 6.110.722 2.169.870.228.448.161.287 11.016.723 41.088 161.428 117.559 27.233 396.979 350.281 60.676 1.117.668 341.084 3.761 137 85 121.713 2.525 1.278 17.361 758.588.844.246 2.385 1.390.798 5.741.713 197.045.575.580.803 4.430 1.169 4.930.079.744.305 20.738 824.667.945 37.821 27.502 4.142 10.670 19.921.870.131 151.529.340 6.597 5.105 476.598.065 15.383.186.372 88.729.179 17.746 32.770 755.912 21 34.872 278.781 337.206.078 1.477.177 2.623 84.034.476.161 16 620.977.463.125.797 15.509 2.056 3.279.206 438.420.460.577 8.959 1.354 19.275.584 3.643 1.844 882.036.134 11.332 12.638 33.775.703.041.695 225.574 1.870 126.202 4.529.505 723.923 16.393.848 85.547.698 49.544 967.731.652.261 6.553 13.990 18.641 37.963 62.354 37.278.180 14.451.331 1.767.272.372.642 36.800.902.445 412.562 180 144.730 90.011.Lampiran 2.038 13.079.147.158 5.741 10.226.197 4.344.221.107 3.887 124.393.748.756 12.089.128 23.859 16.805 2.192.360.775 5.176 197.382 1.817.723.678 19.727 9.138.876.411.194.139 2.331.875 1.966 18.946 777.257 15.044.248 966.823.613 357.864.014.708 59.463.498 110.215 35.567 26.100.664 18 4.652 411.415 15.338 4.247.616 5.413 259.858 495.242.963 176.214.931.182 30.287.332 3.179 26.915 13.812 173.126 93.610 7.113 94.635 64.915 1.997 34.825 1.503 7.429 11.106 4.127.980 42.097 1.353.076.002.724.465 5.649 157.398 13.573.153.070 6.238.852 121.218 17 4 14.891 123.700.928 69.100) 65.000 213.626 70.866 1.213 16.666 2.808 158.564.678 7.229.578) 1.690 115.726.073 (30.005.392 227.569.085 15.203.172 0 141.877.559 322.048.727 27.472 105.593 2.350 130.368.405 6.563 510.757 225.842 123.382 4.111 382 16 1.117 1.944 3.451 7.237 2. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 14 9.200.778 1.388 38.407.601 21.344 3.032 448.760 1.926 117.562.228 1.352.310.320.218 21.950 527.664 156.952 5.966.480.060.048.609 151.793.657 12.786 3.637.242.434 76.071.649.489.136.525 11.757 400.600 441.579 4.223 22.084 15.383.661 524.350 2.672 6.278.084.455.749 609.567 26.073.442.995.595 1.663 1.255 19 10.155 1.739.332 3.843 149.511 29.142.132.727 100.705.973.349 8.767.418 14.183.015.999 6.802.948.297 19.378 61.139 10.876.670.164.377.983 3.742.727 30.028.697 6.076.196 11.860.713.383 143.896.015 1.961 1.475.127 19.030 39.327 19.019 14.981 156.700 3.756.020 7.855 61.

268.491 474.617 8.416.480 6.707.605 94.136 48.278 151.552 309 115.771.818 108.658.426.099.881 13.821.257.658.119.389.670 7.056 67.600 272.111.143.695 227.786.743 3.550 13.665 303 189.067 1.071 1.Lampiran 2.916 177.695.241.211.642 67.831.485 39.373 55.620 13.281 292.857.561.495 11.200 520.424 8.814 6.210 29.387.161.437 68.466 29.774.621 133.571 11.108 13.782.620 8.701.798.697 937.842 31.849 24.151 329.287 2.438 304 1.724 5. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 301 107.622 8.416 2.187.316.447 401 314.949.965.227.365 57.267.321 835.276.831.167.068.254 131.623 306 1.162.525.420.901.805.813.614 794.927.214.96 42.575 17.282 301 14.036 155.739.294.582 2.385 1.488.480 15.160 1.883.623 48.454 856.935 1.028 2.063 396.125.036.088.871 18.808.885.209 234.586.393 208.785 158.790.412.457.242.016 394.848.627.637.243.850.865.045 25.269 4.188 2.496.480 402 15.581 64.028.942.034 41.305 5.559 199.573 20.534.673 (68.158 1.783 520.553.729.887 9.815.957.988.076 2.086 112.471 38.193.970.042 41.933 748.013.326 12.337 73.099 57.766 15.730 209.272.620 37.595.513 2.897.473.048.294 8.110 107.169 161.435 4.408 243.353.656.775.887 201.114 310 260.284 314.028.698.534.689.202.568 646.552 1.454 .001.935 88.125.044 403 8.315 90.225.247 77.933 124.592 110.760.621 208.389.779.713 1.165 139.503.733 15.847 3.837 441.851.466.379 33.162.114.643 115.849 80.613 64.398 613.965.944 196.865.837 32.677.689.356 105.044 8.329.438.413 3.743.238 77.239 8.696 668.485.497 302 88.637.777.672.259 165.943.008.400.479.634.433 37.018 79.241.599 5.593 30.539.340.374 51.514 305 6.747 942.327 1.413 14.629 152.325.034 238.483.705 23.033) 5.

637. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 190 200 201 202 203 204 205 209 210 1000 404 103.815.325.837 700 260.593 30.698.821.119.821.534.151 329.698.534.151 329.287 2.412.469 - - - - 2.575 17.853.287 2.340.695 227.424 8.284 - .028 2.272.672.805.613 64.627.805.099.099 57.729.944 196.214.214.438.278 151.705 23.242.424 8.593 30.853.169 161.028 2.916 177.944 196.447 103.620 13.169 161.701.701.705 23.353.379 33.438.063 396.099.063 396.677.837 3.353.701.695 227.849 24.254 131.837 441.254 131.Lampiran 2.408 243.729.119.988.613 64.340.165 139.850.099 57.099.143.278 151.622 8.242.677.620 13.622 8.771.672.637.165 139.849 24.272.627.408 243.815.088.575 17.412.916 177.325.739.771.379 33.469 501 502 503 509 600 260.739.850.

0000 0.0000 0.0734 0.0008 0.0424 0.0000 0.0008 0.0021 0.0000 0.0000 0.1335 0.0243 0.0000 0.0004 0.0013 0.0436 0.0014 0.0005 0. Matriks Koefisien Teknis Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 0.0000 0.0002 0.0090 0.0000 0.0013 0.0250 0.0000 0.0000 0.2448 0.0001 0.0239 0.0001 0.0025 0.0008 0.0009 0.0002 0.0026 0.0000 0.0168 0.0003 0.0087 0.0002 0.0026 0.0022 0.0005 0.0213 0.0000 0.0047 0.2130 0.0001 0.0000 0.0005 0.0000 0.0003 0.0050 0.0355 0.0000 0.0000 0.0142 0.0025 0.0005 0.0001 0.0000 0.0094 0.0097 0.0730 0.1780 0.3378 10 0.0000 0.0477 0.0000 0.0006 0.0000 0.0155 0.0027 0.0000 0.0000 0.0005 0.0003 0.0000 0.0083 0.0073 0.0000 0.0073 0.0836 0.0035 0.0000 0.0001 0.0000 0.3183 0.0022 0.0023 0.0782 0.0011 0.0350 0.0000 0.0002 0.0005 0.2391 2 0.0401 0.0280 0.0001 0.0000 0.0317 0.0031 0.0036 0.1794 3 0.0045 0.0000 0.0000 0.0010 0.0199 0.0181 0.2497 0.0002 0.0017 0.0000 0.0171 0.0000 0.0001 0.0002 0.0000 0.0002 0.0002 0.5356 11 0.0000 0.0015 0.0000 0.0061 0.0009 0.0001 0.0003 0.0000 0.0073 0.0718 0.0000 0.0119 0.0022 0.0224 0.0000 0.0428 0. .0002 0.0016 0.0006 0.0009 0.0220 0.0050 0.0001 0.0042 0.1354 0.0009 0.0066 0.0012 0.0362 0.0000 0.0037 0.0053 0.0008 0.0003 0.3957 9 0.0211 0.0000 0.0028 0.0153 0.0446 0.4217 13 0.0000 0.0000 0.0000 0.4673 7 0.0057 0.0621 0.0025 0.0002 0.0016 0.0944 0.0000 0.0008 0.0217 0.0001 0.0004 0.0007 0.0001 0.4078 12 0.0555 0.0171 0.0013 0.0007 0.0105 0.0000 0.0001 0.0000 0.0000 0.0000 0.0023 0.0000 0.0352 0.0001 0.2445 0.0083 0.0020 0.0000 0.0001 0.0000 0.0599 0.0519 0.0073 0.0021 0.0000 0.0000 0.0003 0.0040 0.0023 0.0000 0.0182 0.0000 0.0201 0.0086 0.0041 0.0004 0.0010 0.0802 0.0003 0.0000 0.0015 0.0003 0.0001 0.0044 0.0731 0.0000 0.0047 0.0071 0.0000 0.0008 0.0000 0.0934 0.0535 0.0010 0.0000 0.0000 0.0385 0.0233 0.0319 0.1393 4 0.0016 0.0310 0.5687 8 0.0238 0.0056 0.0000 0.0001 0.0646 0.0096 0.0000 0.3052 0.0010 0.0078 0.0022 0.0000 0.0001 0.0000 0.0289 0.0006 0.0000 0.0116 0.1188 5 0.0006 0.0000 0.0800 0.0011 0.0015 0.0002 0.0011 0.0001 0.0119 0.0506 0.0107 0.0001 0.0002 0.0000 0.0007 0.0000 0.0001 0.0002 0.0059 0.0002 0.0433 0.0001 0.0007 0.0002 0.4842 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).0464 0.0004 0.1094 0.Lampiran 3.6039 6 0.1247 0.0002 0.0059 0.0000 0.0003 0.0003 0.

0032 0.6530 18 0.2790 0.0495 0.0295 0.0023 0.0128 0.0000 0.0364 0.0000 0.2400 22 0.0465 0.0004 0.0047 0.7027 0.3580 0.0000 0.0001 0.0817 0.7964 0.0027 0.0009 0.0791 0.0000 0.0071 0.0373 0.0000 0.3821 20 0.0000 0.0002 0.0013 0.0272 0.0007 0.0360 0.0007 0.0033 0.0180 0.0002 0.0007 0.0038 0.0431 0.0001 0.1790 0.0004 0.0258 0.0000 0.1082 0.0053 0.0230 0.7433 .0016 0.0003 0.0980 8.0244 0.0221 0.0400 0.0002 0.0226 0.0532 0.3390 Total 0.0200 0.0009 0.0007 0.0020 0.0010 0.0889 0.0001 0.0147 0.0003 0.0000 0.0001 0.0037 0.0005 0.0000 0.0000 0.0007 0.0511 0.3072 0.0000 0.4161 16 0.0315 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Total 14 0.0046 0.0939 0.0572 0.0007 0.0000 0.0000 0.0000 0.0020 0.0002 0.1631 0.0100 0.0002 0.0002 0.0000 0.3103 0.0000 0.0008 0.0010 0.0150 0.1097 0.0007 0.0099 0.0047 0.0001 0.0022 0.0000 0.0009 0.0369 0.0000 0.0074 0.0000 0.0158 0.0039 0.0105 0.0277 0.0371 0.4633 0.0867 0.0081 0.0003 0.0108 0.5635 15 0.3945 21 0.0058 0.6438 0.0000 0.0049 0.0226 0.0001 0.0023 0.0000 0.0000 0.0024 0.0078 0.0626 0.0002 0.0502 0.5495 0.0187 0.1006 0.0179 0.0014 0.0000 0.0010 0.0044 0.1020 0.0085 0.0035 0.0000 0.0900 0.0000 0.0030 0.0001 0.0000 0.0331 0.0604 0.4884 19 0.0319 0.0131 0.1877 0.0352 0.0276 0.0001 0.0008 0.0000 0.0008 0.0000 0.0223 0.0001 0.0020 0.0000 0.0508 0.0180 0.0620 0.0000 0.0001 0.1737 0.0001 0.0003 0.0019 0.0369 0.0000 0.0474 0.0012 0.0010 0.0589 0.0771 0.0485 0.Lampiran 3.3675 17 0.2619 0.0000 0.0261 0.0011 0.0008 0.0000 0.0348 0.0000 0.4070 0.1919 1.0172 0.0000 0.0000 0.0275 0.0000 0.0001 0.0163 0.0220 0.0236 1.2764 0.0000 0.0055 0.0091 0.0006 0.0804 0.0130 0.1548 0.0317 0.0278 0.0001 0.0000 0.5997 0.0336 0.0048 0.0025 0.0000 0.0001 0.0001 0.3319 0.0000 0.

0494 0.0004 0.0275 0.0004 0.0775 0.0153 0.0008 0.0052 0.0006 0.0046 1.0093 0.0440 0.0022 0.1567 5 0.0097 0.0112 0.0137 1.0004 0.0037 1.0584 0.0166 0.0011 0.0106 0.0058 0.0005 0.0004 0.0021 0.0014 0.0055 0.0749 0.0357 0.0003 0.0014 0.0221 0.0053 0.0030 0.0065 0.1178 0.0021 0.0112 0.0155 0.0394 0.0007 0.0230 0.1133 0.0123 0.6424 12 0.0005 0.0003 0.0013 0.0770 0.0042 0.0043 1.0452 0.0005 0.1920 0.0031 0.0006 0.0025 0.3950 2 0.0681 0.0007 0.2872 0.0180 0.0049 0.0137 0.0036 0.0002 0.1548 0.0072 1.3235 1.0062 0.0014 0.0054 0.0032 0.0012 0.0001 0.0036 0.0172 0.0090 0.6059 9 0.0003 0.0033 1.0076 0.0134 0.0397 0.0007 0.0058 0.0008 0.0965 0.0004 0.0782 0.0304 0.0012 0.0452 0.0291 0.0077 0.0013 1.0034 1.0130 0.0122 1.0011 0.0163 0.0015 0.0001 0.0481 0.0072 0.0133 0.0981 0.1045 1.0001 0.0001 0.2287 4 0.0050 0.0052 0.4000 0.9484 6 0.0014 0.2751 3 0.0287 0.0446 1.0032 0.2088 0.0007 0.0013 0.0013 0.0009 0.0054 0.0294 0.0648 0.1031 1.0030 1.0017 0.0337 0.0014 1.0166 0.0826 0.0474 0.0009 0.0441 0.0007 0.0063 0.0024 1.0193 0.0006 1.0004 0.0094 1.0002 0.0052 0.0508 0.0017 0.0082 0.0148 0.0121 0.0109 0.0260 0.5409 10 0.0008 0.0378 0.0061 0.0024 0.0220 0.0474 0.3337 0.0767 0.0005 0.0394 0.0386 0.0007 0.2921 0.0005 0.0483 0.0636 0.0030 0.0017 0.0055 0.0303 1.0345 0.0011 0.0007 0.1140 0.0074 0.0196 0.0024 0.0105 0.0034 0.0192 0.0017 0.0012 0.0001 0.0009 0.0036 0.0463 0.0014 0. Matriks Kebalikan Leontief Klasifikasi 22 Sektor SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 1 1.0118 0.0016 0.0542 0.0240 0.0002 0. .0012 0.0000 0.0051 0.0011 0.0164 0.0138 0.0042 0.0080 1.0002 0.0059 0.0010 0.0042 0.0382 0.0013 0.0006 0.0009 0.0043 0.0012 0.0260 0.0155 0.0016 0.0010 0.0097 0.0001 0.0009 0.0467 0.6858 Total Sumber: Tabel I-O Indonesia 2000 (diolah).1683 0.0000 1.0021 1.0002 0.0050 0.0099 0.0046 0.0011 0.0005 0.8775 8 0.0026 0.0080 0.5577 13 0.0626 0.2025 0.0002 0.0008 0.1048 0.8431 11 0.0221 0.0938 0.0026 0.0943 0.0327 0.2508 0.0000 0.0015 0.0067 0.0001 0.0008 0.0100 0.0133 0.0001 0.0116 0.0009 0.7956 7 0.0035 0.1038 0.0001 0.0109 0.0034 0.0134 0.0005 0.0602 0.0019 0.0044 0.0163 0.0028 0.1068 0.0006 0.0010 0.0021 1.Lampiran 4.0000 0.0322 0.0013 0.0359 0.0018 0.1036 0.0086 0.0052 0.0076 0.0009 0.0008 0.0059 0.0078 0.0044 0.0079 1.0261 0.0009 1.0991 0.0170 0.0008 0.0108 0.

0816 0.0874 2.0003 0.2750 1.0338 1.0247 0.0171 0.0488 0.0734 1.0001 0.3283 1.0012 0.0007 1.0020 0.0348 0.0010 0.0041 0.0246 0.0653 2.6422 1.0537 0.1331 0.0498 0.2051 2.0219 0.0198 0.0054 0.0715 0.1306 1.0298 0.0020 0.0048 0.0772 0.0068 0.3732 0.1589 0.0044 0.0855 0.0487 0.0058 0.0078 1.0084 0.0058 0.0010 0.0216 0.0013 0.0042 1.0007 0.0004 0.0028 0.0558 0.6138 20 0.0014 0.0001 0.0009 0.0008 0.0343 0.0755 0.6501 17 0.0018 0.0274 0.0267 0.0102 1.0724 0.0040 0.0105 0.0025 0.0000 0.0004 0.0017 0.0000 0.1272 1.0000 0.0599 0.0170 0.0481 0.0137 0.0062 0.0056 0.5500 Total 1.0018 0.0166 1.5005 16 0.0054 0.0006 0.0856 1.1095 0.0284 0.0116 0.0182 0.0012 0.0139 0. (Lanjutan) SEKTOR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 14 0.0008 0.0104 0.0020 0.0090 0.4368 1.0105 0.0041 0.2689 1.1049 0.0032 0.2733 Total .0045 0.0502 0.0095 0.0404 0.0057 0.0001 0.0802 0.6529 1.0828 0.0015 0.0607 0.1247 0.0018 0.0274 0.0171 0.0025 1.7978 15 0.0003 0.0059 0.1575 35.0026 0.0395 0.0028 0.0016 0.0173 0.0038 0.0134 1.0212 0.1284 0.9552 1.0002 0.0082 0.0018 0.0120 0.0003 0.0999 0.0468 0.0007 0.0063 0.0004 0.1116 0.0007 0.1857 1.0166 0.1395 0.1062 0.0008 0.1550 1.0067 0.0025 0.0041 0.0718 0.0515 1.0454 0.0119 1.0013 0.0022 0.0254 0.0208 1.0638 0.0532 0.0009 0.3855 1.6346 21 0.3643 22 0.0018 0.0056 0.7539 19 0.0261 1.0661 0.0013 0.0291 3.0068 0.0005 0.5581 0.8552 18 0.0237 0.0038 0.0001 0.3310 1.1194 0.0183 0.0235 0.0010 0.0098 0.0038 1.0449 0.0011 0.0053 0.0082 0.0517 0.0051 0.0016 0.0031 1.0026 0.0450 0.0024 0.0002 0.0239 0.0010 0.0063 0.0039 0.0024 0.0522 0.0184 1.0115 0.0018 0.0444 0.0071 1.0544 0.Lampiran 4.0420 0.1150 1.0516 0.0009 0.2191 1.0050 0.0073 0.0441 0.2955 1.0001 0.3066 3.0001 0.0377 0.0008 0.0088 0.0013 0.0416 0.