Laporan Praktikum MK.

Metabolisme Zat Gizi

Tanggal Mulai : 05 Mei 2011 Tanggal Selesai : 10 Mei 2011

ANALISIS METABOLISME VITAMIN C Vitamin C dalam Plasma, Serum, dan urine

Oleh : Kelompok 5 : Yudhi Andrianto Irani Rachmawati Sartika Fitriana T.P. Stacey Athalia G Arizki Witaradianingtias Fery Irawan I14104004 I14104012 I14104019 I14104025 I14104032 I14104039

Asisten : Eva Fitrina Asia Mufliha Penanggung Jawab Praktikum : Ir. Titi Riani, M. Biomed

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang Vitamin didefinisikan sebagai zat organik yang diperlukan dalam jumlah relative kecil namun sangat penting untuk pertumbuhan normal serta pemeliharaan kesehatan, dan harus selalu tersedia dalam makanan karena tidak dapat disintesa oleh tubuh. Vitamin berperan sebagai bagian dari enzim dan koenzim untuk mengatur proses metabolisme karbohidrat, lemak, protein dalam tubuh. Selain itu vitamin yang berperan sebagai anti oksidan, banyak berperan dalam mempertahankan berfungsinya berbagai jaringan tubuh. Senyawa antioksidan diantaranya adalah asam fenolik, flavonoid, betakaroten, vitamin E, vitamin C, asam urat, bilirubin, dan albumin (Gheldof et al 2002). Vitamin C adalah salah satu jenis vitamin yang larut dalam air dan memiliki peranan penting dalam menangkal berbagai penyakit. Vitamin ini juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C merupakan vitamin yang berperan sebagai anti oksidan dan merupakan vitamin yang mudah rusak. Vitamin C ini dapat berbentuk sebagai asam Laskorbat dan asam L-dehidrooaskorbat. Vitamin C disintesis secara alami baik dalam tanaman maupun hewan dan mudah larut secara sintesis dari gula. Vitamin C dapat diserap cepat dari alat pencernaan dan masuk kedalam saluran darah dan ditransport keseluruh jaringan tubuh. Vitamin C ditahan didalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit dan kelebihannya akan dibuang melalui urin. Selain itu jenis vitamin ini berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukkan sel-sel baru, dimana vitamin C yang membantu dalam proses penyembuhan luka dengan berperan dalam pembentukan dan pertautan sel-sel dari protein kolagen. Selain itu vitamin C membantu pembuatan senyawasenyawa kimia, seperti hormon yang dibutuhkan dalam tubuh. Kebutuhan vitamin C memang berbeda-beda bagi setiap orang, tergantung pada kebiasaan hidup masing-masing. Tujuan Tujuan dari praktikum ini antara lain mengetahui dan menganalisis metabolisme Vitamin C dalam plasma, serum, dan urine.

METODOLOGI
Waktu dan Tempat Kegiatan pengamatan dan pengambilan data dari hasil analisis vitamin C dilakukan pada tanggal 21 April 2011 dan 28 April 2011 di Laboratorium Biokimia Lantai 1 Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan selama praktikum, yaitu tabung reaksi, refrigerator, sentrifuge, dan pipet mikro. Jenis bahan dan pereaksi yang digunakan adalah urin sebanyak 0.2 ml, TCA 6% 0.75 ml, H2SO4 300 µl dan pereaksi warna 50 µl. Prosedur Percobaan Analisa Vitamin C Proses analisis vitamin C dilakukan terhadap urin responden yang telah mengkonsumsi suplemen vitamin C. Berikut cara kerja analisis status seng dengan metode kecap smith :
Larutan urin diimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 0.2 ml ditambah TCA 6% sebanyak 0.75ml kemudian di vortek Larutan dipusingkan/sentrifuge selama 30 menit pada 3000 rpm

Larutan urin diambil 200 µl dan ditambah 50 µl perekasi warna kemudian tabung reaksi ditutup alumunium foil Larutan diinkubasi dalam waterbath selama 3 jam pada suhu 37ᴼC Setelah 3 jam, larutan dipindahkan ke dalam icebath (refrigerator) selama 30 menit Larutan ditambah 300 µl H2SO4 65%, dikocok dan di diamkan 45 menit Larutan dibaca spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm

Gambar 1 Analisis Metabolisme Vitamin C dengan Metode Kecap Smith.

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Vitamin C Vitamin C adalah vitamin yang larut dalam air, yang berarti bahwa tubuh tidak menyimpannya. Vitamin C diperoleh dari makanan.Tubuh membutuhkan vitamin C untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan di seluruh bagian tubuh. Ini membantu tubuh membuat kolagen, suatu protein penting yang digunakan untuk membuat kulit, tulang rawan, tendon, ligamen, dan pembuluh darah. Vitamin C sangat penting untuk penyembuhan luka, dan untuk memperbaiki dan memelihara tulang dan gigi (Sudarmaji,Slamet 1989). Vitamin C atau asam askorbat merupakan suatu nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin C disintesis secara alami baik dalam tanaman maupun hewan, dan mudah dibuat secara sintesis dari gula dengan biaya yang sangat rendah (Winarno 1984). Vitamin C adalah vitamin yang paling tidak stabil dari semua vitamin dan mudah rusak selama pemrosesan dan penyimpanan. Vitamin C lebih mudah rusak dalam pemasakan dibanding vitamin-vitamin lain dan mudah sekali teroksidasi terlebih bila terdapat katalisator Fe, Cu, enzim asorbic acid oksidase, sinar dan temperatur yang sangat tinggi (Gaman 1992). Vitamin C mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6. Vitamin ini memiliki bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192 °C, bersifat larut dalam air sedikit larut dalam aseton atau alkohol yang mempunyai berat molekul rendah. Vitamin C sukar larut dalam kloroform, eter dan benzen, dengan logam membentuk garam. Sifat asam ditentukan oleh ionisasienol group pada atom C no 3 pada pH rendah vitamin C lebih stabil dari pada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi, lebih apabila terdapat katalisator Fe, Cu ,enzim askorbat oksidase, sinar, dan temperatur tinggi. Larutan encer Vitamin C pada pH kurang dari 7.5 masih stabil apabila tidak ada katalisator seperti di atas. Oksidasi vitamin C akan terbentuk asam dehidro askorbat (Sudarmaji,Slamet 1989). Vitamin C dapat berbentuk sebagai asam L-askorbat dan asam Ldehidroaskorbat, keduanya mempunyai keaktifansebagai vitamin C. Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversible menjadi asam Ldihidroaskorbat. Asam L-dihidroaskorbat secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L- diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan vitamin (Winarno 1984).

Fungsi Vitamin C Vitamin C mempunyai banyak fungsi. Vitamin C berperan membantu enzim spesifik dalam melakukan fungsinya. Vitamin C juga bekerja sebagai antioksidan. Perusahaan kadang–kadang menambahkan vitamin C pada produk makanannya untuk menjaga kandungan bahan tertentu. Vitamin C juga penting untuk membentuk kolagen, serat, struktur protein. Kolagen dibutuhkan untuk pembentukan tulang dan gigi dan juga untuk membentuk jaringan bekas luka. Vitamin C juga meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi dan membantu tubuh menyerap zat besi (Almatsier 2004). Selain itu vitamin C berfungsi aktif dalam sel organisme hidup. Dimana enzim propil hidroksilase tetap stabil, apabila kandungan vitamin C cukup dalam sel. Vitamin C juga mencegah lesi pada kulit dan mencegah dinding pembuluh darah mudah pecah. Seperti pada penyakit gusi/bibir berdarah. Vitamin C berfungsi untuk menjaga struktur kolagen yang menghubungkan semua jaringan serabut, kulit, urat, tulang rawan, dan jaringan lain di tubuh manusia. Vitamin C juga berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi dan mempertajam kesadaran. Sebagai antioksidan Vitamin C mampu menetralkan radikal bebas di seluruh tubuh. Berdasarkan pengaruh pencahar, vitamin C dapat meningkatkan pembuangan feses atau kotoran. Vitamin C mampu menangkal nitrit penyebab kanker (Ophart 2003). Sumber Vitamin C Beberapa sumber yang sangat baik dari vitamin C adalah jeruk, paprika hijau, semangka, pepaya, jeruk, melon, kiwi, mangga, brokoli, tomat, kubis Brussel, kembang kol, kubis, dan jus jeruk atau jus diperkaya dengan vitamin C. Bahan baku yang dimasak sebagai sayuran hijau (turnip hijau, bayam), paprika merah dan hijau, tomat kaleng dan segar, kentang, labu musim dingin, raspberry, blueberry, cranberry, dan nanas juga merupakan sumber yang kaya vitamin C. Vitamin C sensitif terhadap cahaya, udara, dan panas, sehingga akan mendapatkan vitamin C jika makan buah-buahan dan sayuran mentah atau dimasak sebentar (Ophart 2003). Metabolisme Vitamin C Metabolisme vitamin C terdiri dari oksidasi, ekskresi dan regenerasi. Hasil oksidasi vitamin C yang pertama adalah radikal bebas askorbil yang biasa berubah secara reversibel menjadi bentuk vitamin C kembali atau akan

mengalami oksidasi ireversibel menjadi dehydro-L-ascorbid acid. Vitamin C dapat juga mengalami oksidasi setelah bereaksi dengan vitamin E atau radikal urat. Vitamin C dapat dengan mudah melepaskan elektron karena oksidasi monovalen reversibel menjadi radikal askorbil, sehingga dapat berperan dalam system redoks biokimia. Peranan vitamin C sebagai antioksidan karena kemampuan bereaksi dengan radikal bebas : SOR, anion superoksida dan radikal hidroksil. Vitamin C bersifat hidrofilik lebih berperan menjadi proteksi sel di dalam sitosol dengan cara menurunkan semistabil radikal kromanoksil dan meregenerasi vitamin E (Carr 1999). Efisiensi antioksidan vitamin C sangat besar pada konsentrasi vitamin yang rendah, pada kondisi tersebut reaksi yang predominan adalah reaksi pemutus. Pada konsentrasi tinggi, vitamin C menghambat secara signifikan reaksi rantai yang berlanjut antara asam askorbil dan molekul oksigen. Fungsi metabolik vitamin C sebagai kofaktor enzim (hydroxilating enzymes), agen protektif (hydroxylases pada biosintesis collagen), dan sebagai radikal yang bereaksi dengan metal ion (Carr 1999). Vitamin C dapat diabsorpsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi si antara 20 dan 120 mg sehari. Konsumsi tinggi sampai 12 mg (sebagai pil) hanya diabsorpsi sebangak 16%. Vitamjn C kemudian dibawa ke semua jaringan. Konsentrasi tertinggi adalah di dalam jaringan adrenal, pituitari dan retina (Almatsier 2004). Kelebihan dan Defisiensi Vitamin C Vitamin C dosis tinggi (500-10.000 miligram) telah dianjurkan untuk mencegah common cold, skizofrenia, kanker, hiperkolesterolemia dan aterosklerosis. Tetapi hal ini belum mendapatkan dukungan ilmiah yang cukup. Dosis yang melebihi 1000 miligram/hari menyebabkan diare, batu ginjal pada orang-orang yang peka, perubahan siklus menstruasi. Beberapa orang yang menghentikan asupan Vitamin C dosis tinggi secara tiba-tiba dapat kembali mengalami scurvy (Ophart 2003). Gejala awal kekurangan vitamin C adalah pendarahan disekitar gigi dan merusak pembuluh darah di bawah kulit, menghasilkan pinpoint haemorrhage. Kekurangan banyak vitamin C berakibat pada sistem syaraf dan ketegangan otot. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan otot seperti juga rasa nyeri,

gangguan syaraf dan depresi. Gejala selanjutnya adalah anemia, sering terkena infeksi, kulit kasar dan kegagalan dalam menyembuhkan luka. Ketika seseorang mengkonsumsi sejumlah besar vitamin C dalam bentuk suplemen dalam jangka panjang, tubuh menyesuaikannya dengan menghancurkan dan mengeluarkan kelebihan vitamin C dari pada biasanya. Jika konsumsi kemudian secara tiba-tiba dikurangi, tubuh tidak akan menghentikan proses ini, sehingga menyebabkan penyakit kudisan (Gaman 1992). Defisiensi vitamin C terjadi jika asupan kurang atau terganggu absorbsinya terutama pada bayi. Peranan vitamin C meningkatkan GSH serta menurunkan kadar MDA sel eritrosit sehingga proses hemolisis dapat dikurangi atau dicegah (Suryohudoyo 2000). Perbedaan hasil pemeriksaan kultur sel endotel aorta manusia yang diberikan vitamin C dan tanpa pemberian vitamin C. Kerusakan oksidatif lebih besar didapatkan pada sampel tanpa pemberian vitamin C. Pada penelitian tersebut digunakan parameter oksidatif : kadar vitamin C intraseluler, GSH, rasio GSH/GSSG, dan rasio NADPH/NADP. Scurvy esensial terjadi pada sel endotel aorta pada manusia yang diterapi vitamin C (Smith 2002) Defisiensi akut vitamin C bisa menimbulkan penyakit scurvy. Manifestasi Scurvy yang klasik berhubungan dengan gangguan sintesis kolagen yang diperlihatkan dalam bentuk perdarahan subkutan serta perdarahan lain, kelemahan otot, gusi membengkak dan lunak, serta tanggalnya gigi. Pada anak sindrom defisiensi vitamin C disebut Moller-Barlow disease didapatkan pada bayi tanpa ASI, biasanya pada umur 6 bulan dengan ciri-ciri pelebaran batas kartilago tulang khususnya tulang rusuk, penekanan kartilago epifiseal ekstremitas, nyeri sendi, anemi dan sering panas (Carr 1999). Faktor yang Mempengaruhi Penyeraparan Vitamin C Vitamin C dari makanan diserap usus dan masuk ke dalam peredaran darah terutama melalui usus kecil dalam beberapa jam setelah makan. Kadar vitamin C dalam darah hanya sebentar naik karena zat ini segera diambil jaringan dan setiap ada kelebihan segera dikeluarkan melalui ginjal (Suhardjo dan Kusharto, 1989). Vitamin C juga dapat terserap sangat cepat dari alat pencernaan masuk ke dalam saluran darah dan dibagikan ke dalam jaringan tubuh. Kelenjar andrenalin mengandung vitamin C yang sangat tinggi. Pada umumnya tubuh menahan vitamin C sangat sedikit. Pada kondisi normal pemberian vitamin C

secara berlebihan akan meningkatkan sekresi vitamin C melalui urin, tetapi jika kondisi tubuh buruk sebagian besar vitamin C akan ditahan jaringan tubuh (Winarno, 1984). Asam askrobat dalam tubuh di serap dengan mekanisme transport aktif. Tingkat penyerapan vitamin C pada usus menurun ketika asupan asam askrobat meningkat. Intake vitamin C antara 1 sampai 1,5 gram 50% dapat dicerna, tetapi pada konsumsi lebih dari 12 gram hanya 16% dari vitamin yang diserap. Sebaliknya, asupan kurang dari 20 mg, memiliki tingkat penyerapan 98%. Penyerapan vitamin C lebih baik ketika beberapa individu mengkonsumsi vitamin C,dalam jumlah kurang dari satu gram, diambil sepanjang hari bukan dari satu dosis yang tinggi. 80% - 95% dari vitamin C dalam tubuh didapatkan dalam makanan diserap Selanjutnya, bioavailabilitas pada vitamin C dalam bentuk sintetik dan alami berbeda (Jacob 1999). Penyerapan vitamin C dapat terganggu oleh sejumlah faktor. Vitamin C dosis besar tunggal yang terlarut pada enzim pencernaan dapat mengarah pada kelebihan Asam amino dalam lumen usus, yang menyebabkan banyak masalah gastrointestinal. Pektin dan seng juga menghambat penyerapan asam askrobat, tetapi mekanisme ini tidak dipahami dengan baik. Demikian juga konsentrasi besi yang tinggi dalam saluran pencernaan dapat menyebabkan kerusakan oksidatif dan pada penyerapan vitamin C (Jacob 1999). Angka Kecukupan Gizi Vitamin C Angka kecukupan gizi sehari vitamin C untuk Indonesia menurut Widya Karya Pangan dan Gizi (1998) dapat dilihat pada Tabel 1. Peningkatan konsumsi vitamin C dibutuhkan dalam keadaan stress psikologik atau fisik, seperti pada luka, panas tinggi, atau suhu lingkungan tinggi dan pada perokok. Apabila dimakan dalam jumlah melebihi kecukupan dalam jumlah sedang, sisa vitamin C akan dikeluarkan dari tubuh tanpa perubahan. Pada tingkat lebih tinggi (500 mg atau lebih) akan dimetabolisme menjadi asam oksalat. Jika dalam jumlah banyak asam oksalat di dalam ginjal dapat diubah menjadi batu ginjal. Jadi menggunakan vitamin C dosis tinggi secara rutin tidak dianjurkan (Almatsier 2004).

Tabel 1 Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan
Golongan Umur 0-6 bln 7-12 bln 1-3 thn 4-6 thn 7-9 thn Pria: 10-12 thn 13-15 thn 16-19 thn 20-45 thn 46-59 thn >60 thn AKG (mg) 30 35 40 45 45 50 60 60 60 60 60 Golongan Umur Wanita: 10-12 thn 13-15 thn 16-19 thn 20-45 thn 46-59 thn >60 thn Hamil: Menyusui: 0-6 bln 7-12 bln AKG (mg) 50 60 60 60 60 60 + 10 + 25 + 10

Sumber: Almatsier 2004 Metode Analisis Vitamin C Vitamin C dapat ditentukan dengan titrasi secara langsung menggunakan larutan dye.Tapi untuk bahan pangan yang akan diukur kandungan Vitamin Cnya harus dilarutkan dengan asam kuat terlebih dahulu. Penggunaan asam yang dimaksud untuk mengurangi oksidasi Vitamin C oleh enzim-enzim oksidasi dan pengaruh glutation yang terdapat dalam jaringan tanaman. Titrasi dilakukan dengan segera setelah perlakuan selesai (Andarwulan dan Koswara 1992). Penentuan vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodin. Hal ini berdasarkan bahwa vitamin C dapat bereaksi dengan iodin. Indikator yang dipakai adalah amilum. Akhir titrasi ditandai dengan terjadinya warna biru dari iod-amilum. Perhitungan kadar vitamin C dengan standarisasi larutan iodin yaitu tiap 1 ml 0.01 N iodin ekivalen dengan 0,88 mg asam askorbat. Vitamin C dengan iod akan membentuk ikatan dengan atom C nomor 2 dan 3 sehingga ikatan rangkap hilang (Sudarmaji, Slamet, 1989). Fungsi Pereaksi Terdapat beberapa pereaksi yang digunakan dalam percobaan anatara lain TCA dan pereaksi warna. Fungsi TCA adalah untuk menghentikan jalannya reaksi hidrolisis dengan cara mendenaturasi enzim karena sifat TCA adalah asam. Reagen ini menghentikan reaksi enzimatis karena sifatnya yang asam sehingga enzim menjadi inaktif dan kehilangan fungsi katalitiknya (Poedjiadi 1994). Fungsi asam sulfat (H2SO4) adalah memberi suasana asam agar Hg tidak mengendap, menghidrolisis protein agar terdapat tyrosin. Asam sulfat

memiliki banyak kegunaan lain, termasuk dalam kebanyakan reaksi kimia. Kegunaan utama termasuk pemrosesan biji mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak (Poedjiadi 1994). Fungsi larutan pereaksi warna ialah pereaksi untuk memperlihatkan jumlah vitamin C yang terdapat dalam sampel menjadi senyawa berwarna kuning karena pereaksi yang berlebih. Maka dapat dibaca dengan spektrofotometer. Fungsi duplo ialah untuk meningkatkan ketepatan percobaan (Poedjiadi 1994). Larutan 2,4 dinitriphenil hidrozin dalam suasana netral atau basis akan berwarna biru sedang dalam suasana asam akan berwarna merah muda. Apabila 2,4 dinitriphenil hidrozin direduksi oleh asam askorbat maka akan menjadi tidak berwarna, dan bila semua asam askorbat sudah mereduksi 2,4 dinitriphenil hidrozin maka akan kelebihan larutan 2,4 dinitriphenil hidrozin sedikit saja mudah akan terlihat terjadinya perwarnaan. Untuk perhitungan maka perlu dilakukan standarisasi larutan 2,4 dinitriphenil hidrozin dengan vitamin C standar (Sudarmaji, Slamet, 1989).

HASIL PEMBAHASAN
Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk keperedaran darah melalui vena porta. Rata-rata absorpsi adalah 90% untuk konsumsi diantara 20 dan 120 mg sehari.Tubuh dapat menyimpan hingga 1500 mg vitamin C, bila konsumsi mencapai 100 mg sehari (Almatsier 2006). Analisis metabolisme vitamin C dimulai dengan mengambil sampel urin sebanyak 0,2 ml urin yang dimasukkan kedalam dua tabung reaksi yang masingmasingya diberikan urin dengan jumlah yang sama (sampel duplo), kemudian diberikan penambahan 0,75 ml TCA (Trichloroacetat) 6% dan dicampurkan dengan menggunakan vortex (alat pemusing). Sampel disentrifuge selama 15 menit untuk memisahkan protein yang terdapat di dalam urin. Prosedur yang dilakukan dalam sentrifuge berguna untuk memisahkan protein yangterdapat dalam urin dengan memberikan TCA (trichloroacetat).. Fungsi TCA adalah untuk menghentikan jalannya reaksi hidrolisis dengan cara mendenaturasi enzim karena sifat TCA adalah asam. Reagen ini menghentikan reaksi enzimatis karena sifatnya yang asam sehingga enzim menjadi inaktif dan kehilangan fungsi katalitiknya dan terjadinya pengendapan protein. Setelah 15 menit sampel urin diambil sebanyak 200 µl dan ditambahkan 50 µl pereaksi warna. Penambahan tersebut mengakibatkan urin akan bereaksi dengan CuSO4 0,6%, thiourea 5% dan 2,4 dinitrophenilhidrazin 2% dalam H2SO4 9 N (2,2%) yang akan menghasilkan warna sehingga dapat dibaca dalam spektofotometer. Seluruh tabung reaksi ditutup menggunakan aluminium foil, inkubasi di dalam waterbath selama 3 jam kemudian dipindahkan kedalam ice bath selama 45 menit. Sampel ditambahakan 300 µl H2SO4 65% dan didiamkan selama 30 menit. Penambahan H2SO4 yang berfungsi sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan sehingga filtrat yang terbentuk lebih netral, dan proses filtrasi lebih cepat. Kemudian dibaca serapannya pada spektofotometer dengan panjang gelombang λ = 520 nm. Prinsip percobaan analisis metabolisme vitamin C adalah protein dalam plasma, serum atau urine dibebaskan terlebih dahulu dengan penambahan asam metafosfat. Asam askorbat dalam lapisan jernih ditunjukkan dengan penambahan larutan cat diklorofenol indofenol. Vitamin C akan mereduksi warna zat yang ditambahkan. Koreksi dilakukan untuk beberapa senyawa yang mengandung absorbansi yaitu dengan jalan mengukur absorbansi larutan seteah

diberi vitamin C berlebihan. Gangguan tersebut di dalam serum dan plasma tidak diperhitungkan, sebab gangguan tersebut dapat dihilangkan. Hasil yang diperoleh dalam urin kira-kira 15% lebih tinggi apabila gangguan-gangguan yang ada dihilangkan. Berdasarkan praktikum diperoleh standar vitamin C yang dapat dilihat pada Gambar 2 dibawah ini.

Gambar 2 Standar Larutan Vitamin C Berdasarkan Gambar 2 diperoleh bahwa persamaan garis lurus standar adalah y=0,016x – 0,125 dimana pada sumbu y adalah nilai absorbansi dan sumbu x adalah nilai konsentrasi vitamin C. Sampel vitamin C yang digunakan adalah you C-1000 dengan konsentrasi sebesar 48,56 µg/ml, vitacimin dengan konsentrasi 37,35 µg/ml, jeruk dengan konsentrasi 38 µg/ml, redoxon dengan konsentrasi 53,62 µg/ml, xon-c dengan konsentrasi 38,25 µg/ml, dan vitalong C dengan konsentrasi sebesar 54,5 µg/ml. Berdasarkan nilai konsentrasi tersebut diperoleh bahwa konsentrasi vitamin C tertinggi adalah vitalone C dan konsentrasi vitamin terendah adalah buah jeruk. Asam askrobat dalam tubuh di serap dengan mekanisme transport aktif. Tingkat penyerapan vitamin C pada usus menurun ketika asupan asam askrobat meningkat. Intake vitamin C antara 1 sampai 1,5 gram 50% dapat dicerna, tetapi pada konsumsi lebih dari 12 gram hanya 16% dari vitamin yang diserap. Sebaliknya, asupan kurang dari 20 mg, memiliki tingkat penyerapan 98%. Berdasarkan praktikum analisis metabolisme vitamin C diperoleh persentase penyerapan vitamin C yang dapat dilihat pada Gambar 2 dibawah ini.

Keterangan: 1 = You C-1000 2 = Vitacimin 3 = Buah Jeruk 4 = Redoxon 5 = Xon-C 6 = Vita Long-C

Gambar 3 Presentase Penyerapan Vitamin C Berdasarkan Gambar 3 diperoleh bahwa penyerapan sampel vitamin C dalam tubuh berbeda-beda. Persentase vitamin C yang terserap dalam tubuh adalah sebagai berikut pada sampel you C-1000 sebesar 92,73%, pada sampel vitacimin sebesar 88,86%, pada sampel buah jeruk sebesar 52,26%, pada sampel redoxon adalah sebesar 91,98%, pada sampel xon-C adalah sebesar 88,56%, dan pada sampel vitalong C adalah sebesar 83,69%. Berdasarkan hasil yang diperoleh persentase penyerapan vitamin C yang paling tinggi adalah sampel you C-1000 yaitu sebesar 92,73% dan yang terendah adalah buah jeruk sebesar 52,26%. Manusia menyerap vitamin C pada bagian atas usus. Vitamin C diatas 100 mg yang diserap oleh usus tidak akan mengakibatkan peningkatan kadar asam askorbat dalam tubuh. Tingkat ketersediaan vitamin C dalam tubuh akan menurun apabila kelebihan tersebut diambil oleh sekelompok jaringan yang menyimpannya atau dikeluarkan. Konsentrasi vitamin C yang tersimpan dalam kelenjar adrenal, namun organ tubuh hati akan menyimpan vitamin C dalam jumlah besar.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan Vitamin C mudah diabsorbsi secara aktif dan mungkin pula secara difusi pada bagian atas usus halus lalu masuk keperedaran darah melalui vena porta. Metabolisme vitamin C terdiri dari oksidasi, ekskresi dan regenerasi. Hasil oksidasi vitamin C yang pertama adalah radikal bebas askorbil yang biasa berubah secara reversibel menjadi bentuk vitamin C kembali atau akan mengalami oksidasi ireversibel menjadi dehydro-L-ascorbid acid. Vitamin C dapat juga mengalami oksidasi setelah bereaksi dengan vitamin E atau radikal urat. Vitamin C dapat ditentukan dengan titrasi secara langsung menggunakan larutan dye.Tapi untuk bahan pangan yang akan diukur kandungan Vitamin Cnya harus dilarutkan dengan asam kuat terlebih dahulu. Penggunaan asam yang dimaksud untuk mengurangi oksidasi Vitamin C oleh enzim-enzim oksidasi dan pengaruh glutation yang terdapat dalam jaringan tanaman. Penentuan vitamin C dapat dikerjakan dengan titrasi iodin. Hal ini berdasarkan bahwa vitamin C dapat bereaksi dengan iodin. Indikator yang dipakai adalah amilum. Akhir titrasi ditandai dengan terjadinya warna biru dari iod-amilum. Saran Vitamin C mudah rusak oleh sinar matahari (sinar Uv) oleh karena itu pada percobaan ini, urin yang di tampung tidak boleh langsung terkena sinar matahari, atau sebaiknya ditutup dengan menggunakan kantong plastik hitam. Sebaiknya urin yang mengandung vitamin C disimpan dalam refrigerator untuk menghindari kerusakan akibat pemanasan. Pada percobaan ini sebaiknya pemusingan dan inkubasi pada suhu 37 ᴼC dilakukan secara hati-hati agar tidak ada vitamin C yang rusak.

DAFTAR PUSTAKA
Baliwati, Y.F dan Ali, K. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta:EGC Girindra,A.1993. Biokimia 1. Jakarta:Gramedia Harjadi.1986. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta:Gramedia Hawab,HM. 2005. Pengantar Biokimia Edisi Revisi. Bayumedia:Medan Lehninger A.1982. Dasar-dasar Biokimia. Maggy Thenawidjaya, penerjemah. Jakarta:Erlangga.Terjemahan dari : Basic of Biochemistry Lide R.2004. CRC Handbook of Chemistryy and Physics. London:CRC Press Mulyono,HAM. 2005. Kamus Kimia. Jakarta:Bumi Aksara Winarno F.G.1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

LAMPIRAN

Gambar 4 Larutan divorteks

Gambar 5 Larutan duplo

Gambar 6 Larutan dilapisi alumunium foil

Gambar 7 Pemusingan/sentrifuge

Gambar 8. Larutan diicebath

Tabel 2 Absorbansi Sampel Aneka Sumber Vitamin C No 1 2 3 4 5 6 Sampel You C-1000 Vitacimin 340 g Jeruk Redoxon Xon-C Vita Long C Vitamin C (mg) 1000 500 119 1000 500 500 Absorbansi 1 0,610 0,467 0,550 0,691 0,474 0,758 Absorbansi 2 0,690 0,470 0,411 0,770 0,496 0,733 Rata-Rata 0,650 0,469 0,481 0,731 0,485 0,745

Tabel 3 Larutan Standar VitaminC Konsentrasi Standar Absorbansi 10,00 0,04 15,00 0,09 20,00 0,22 25,00 0,27 50,00 0,68 60,00 0,83 Tabel 4 Konsentrasi Vitamin C No 1 2 3 4 5 6 Sampel You C1000 mg Vitacimin 500 mg 340 g Jeruk - 119 mg Redoxon 1000 mg Xon-C 500 mg Vita Long C - 500 mg Rata-Rata Absorbansi 0,650 0,469 0,481 0,731 0,485 0,745 Vitamin Presentase Asumsi Presentase Konsentrasi C Vitamin C Penyerapan Penyerapan Vitamin C Terbuang Terbuang Vitamin C Vitamin C Urin (µg/ml) (mg) (%) (mg) (%) 48,44 37,13 37,88 53,50 38,13 54,38 72,66 55,69 56,81 80,25 57,19 81,56 7,27 11,14 47,74 8,03 11,44 16,31 927,34 444,31 62,19 919,75 442,81 418,44 92,73 88,86 52,26 91,98 88,56 83,69

Contoh Perhitungan: 1. Konsentrasi Vitamin C Persamaan garis lurus standar y=0,016x – 0,127 (y = absorbansi dan x = konsentrasi) Konsentrasi Vitamin C→ x=(y+0,127)/0,016

Konsentrasi (You C-1000) = (0,650 + 0,127)/0,016 = 48,56 µg/ml 2. Vitamin C Terbuang Diasumsikan urin 24 jam = 1200 ml -1600 ml (1500 ml) Kadar Vitamin C terbuang = 1500 ml x konsentrasi Vitamin C sampel Kadar Vitamin C terbuang (You C-1000) = 1500 ml x 48,56 µg/ml = 72660 µg = 72,66 mg 3. Presentase Vitamin C Terbuang (%) Vitamin C terbuang = (vitamin C terbuang / kadar vitamin C dikonsumsi) * 100% (%) You C-1000 = (72,66 / 1000)*100% = 7,27 % 4. Penyerapan Vitamin C Penyerapan Vitamin C = Kadar Vitamin C yang dikonsumsi – Vitamin C yang terbuang Penyerapan You C-1000 = 1000 mg – 72,66 mg = 927,34 mg 5. Presentase Penyerapan Vitamin C (%) Penyerapan Vitamin C = (vitamin C diserap / kadar vitamin C dikonsumsi) * 100% (%) You C – 1000 = (927,34 / 1000)*100% = 92,73 %