P. 1
renungankeluarga

renungankeluarga

|Views: 6,738|Likes:
Published by purnawan_kristanto
Renungan Kelluarga
Renungan Kelluarga

More info:

Published by: purnawan_kristanto on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2013

pdf

text

original

Sections

Renungan untuk Keluarga yang Diberkati

Tiap Rumah Tangga

Berbahagia

PURNAWAN KRISTANTO

BERBAHAGIA TIAP RUMAH TANGGA Renungan Untuk Keluarga yang Diberkati Oleh Purnawan Kristanto

Ayat-ayat Alkitab dalam buku ini dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru (TB) dan Alkitab Kabar Baik (BIS) 1985 terbitan Lembaga Alkitab Indonesia.

Alamat Pengarang: Jl. Pemuda, Gg. Widosari no. 4, Klaten, Jawa Tengah 57411 Telepon (0272) 327 776 Fax (0272) 321 529 HP 0812-273-1237 Email: Purnawank@gmail.com Blog: http://purnawan-kristanto.blogspot.com Situs: http://www.geocities.com/purnawankristanto/

Kehidupan Suami-Isteri
Senantiasa Mengasihi Perjuangan Cinta Relasi Setara Bertepuk Sebelah Tangan Kristus Kecil Isteri adalah Karunia Lebih dari Permata Suci, Murni Dan Tulus Rahasia Persuasi Tidak Nyambung Komunikasi Efektif Gangguan Komunikasi Bahasa Diam Nada yang Indah Teknik Sandwich Kata-kata Menyakitkan Tongkat Argumen Mengatasi Pertengkaran Alternatif Mengelola Konflik Ungkapan Semanis Madu Sepuluh Daftar Kesalahan Mulutmu, Harimaumu Perbedaan Persepsi Power of Tongue Gara-gara Gayung Daya Pengampunan 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

d

daftar isi

Berjauhan Kotak Pandora Mertua vs Menantu Rahasia Bahagia Kepercayaan Mitos Kehamilan

29 30 31 32 33 34

Mendidik Anak
Warisan Iman Mencari Kambing Hitam Pertanyaan Bagus Kasih Meskipun Kasih Seorang Ibu Anak: Antara Ada dan Tiada Kekerasan Anak Logika Kasih Terlalu Cepat Dewasa Mengejar Anak Panah (1) Mengejar Anak Panah (2) Mengejar Anak Panah (3) Tak Terbeli Didikan dan Nasihat Kecerdasan Rohani Ucapan=Perbuatan Multi Tasking Membujuk dengan Kapak Tomas, si Peragu? Susahnya Minta Maaf Teknologi: Fobia atau Maniak? Pembalasan Kristiani 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57

Hangus Karena Cinta Pengorbanan Ibu Memuji dengan Tulus

58 59 60

Pertumbuhan Rohani
Mencari Kerajaan Allah Tidak Ada Rencana Cadangan 7 Up + 7 Perkara Tamak=Penyembah Berhala Mencukupkan Diri Jaga Gengsi Miskin tapi Bergaya Harta yang tak Ternilai Hormatilah Selagi Ada Mau Marah? Silakan Marah, Boleh Saja Asal…. Doa Tak Dijawab Menolak Godaan Kedamaian Sejati Membedakan yang Palsu “Aku Menangis karena Aku Hidup” Caci Maki Dibalas Berkat Hidup yang Otentik Awal dari Hikmat Dosis yang Tepat Di Puncak Gunung Pertanyaan, tanpa Jawaban Menikmati Hidup Keseimbangan Hidup Latihan Bersyukur 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86

Pelajaran Merendahkandiri Kerendahan Hati Kasih Induk Bebek Mukjizat di Depan Mata Siapa Takut! Harga Sesungguhnya Mengeraskan Hati Sungai Keraguan Empat Perempuan Asing Ketaatan Yusuf Rahmat Hana Hadiah yang Tak Terkatakan Hidup Prima di Usia Senja Pahit Dulu, Manis Kemudian Hati yang Waspada Pelabuhan Kesukaan Tak Terduga Siap Siaga Manfaat Tidur Bintang Penuntun Uluran Tangan Kekuatan dari Allah

87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108

Kehidupan Sosial
Panggilan untuk Bertindak Rumah yang Melayani Kebebasan Finansial Rahasia Berbahagia Taat Hukum Disiplin dan Disciple 110 111 112 113 114 115

Bebas, tapi Terbatas Model Kepemimpinan Posisi Pelayan Prasangka Jalan Mundur Perang Pemikiran Setia pada Tugas Penggelembungan Belajar dari bunda Teresa Modal Kerelaan Totalitas Panggilan Bahaya Merokok Sahabat di Kala Duka Lawan jadi Kawan Menegur VS Mengecam Kesempatan Kedua Bermegah atas Kelemahan Hidup ini tidak Adil Red Alert Ketekunan adalah Kebahagiaan

116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135

p

pengantar

Di dalam Alkitab bahasa Indonesia, kata "blessed" diterjemahkan ke dalam dua kata. Kadang diartikan "diberkati", tapi kadang juga diartikan "berbahagia." Dalam Mazmur 128:1 dikatakan “Berbahagialah (blessed) setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!” Kebahagiaan seperti ini dilukiskan sebagai berkat yang meliputi: • Sang suami akan memakan hasil kerjanya sendiri. Tidak ada tuan tanah, pemungut pajak, penagih utang atau musuh yang merampas apa yang dia dapatkan. Sebagai kepala keluarga, dia memiliki isteri yang menyerupai pohon anggur. Carang-carangnya sering diikatkan pada dinding di belakang rumah. Di tempat itu, pohon anggur bertumbuh subur karena terlindung dari angin dan mendapat cukup air. Anak-anaknya menyerupai tunas pohon zaitun yang mudah berkembang dan memberikan minyak pada waktunya.

Rezeki yang cukup dan keluarga yang harmonis ini bukan jasa seseorang, melainkan berkat Tuhan yang diberikan kepada orang yang mengaku petunjuk-Nya. Kepala keluarga yang taat dan mengikuti jalan hidup yang ditetapkan Allah, maka keluarganya akan diberkati. Berkat ini akan disampaikan melalui ibadah di Sion (ay. 5-6). Namun berkat itu tidak berhenti di keluarga saja. Berkat itu juga akan meluas, baik secara tempat (di Yerusalem), maupun meluas secara waktu (sampai zaman anak cucunya). Maka kebahagiaan ini akan menjalar sampai ke seluruh bangsa. *** Apakah Anda ingin keluarga Anda diberkati dan berbahagia? Pemazmur telah memberitahukan cara mendapatkannya. Bawalah keluarga Anda untuk "takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya"

Tulisan-tulisan dalam buku ini akan menghantarkan keluarga Anda untuk merenungkan perintah-perintah Tuhan. Ada 130 renungan yang terbagi ke dalam empat tema yaitu: Kehidupan Suami Isteri, Mendidik Anak, Pertumbuhan Rohani, dan Kehidupan Sosial. Naskah buku ini merupakan penyempurnaan dari tulisan-tulisan saya yang pernah dimuat di renungan bulanan "Blessing", terbitan Maranatha Krista Media. Saya mengucapkan terimakasih kepada Sugianto Tan, Soetji Anik W, Hanny Layantara dan Agnes Maria Layantara yang telah menampung tulisan-tulisan saya. Saya juga mengapresiasi dukungan dari rekan-rekan sesama penulis, yaitu Xavier Quentin Pranata, Arie Saptaji dan Eva Yunita. Selamat bersaat teduh bersama keluarga! Purnawan Kristanto

Kehidupan Suami-Isteri

Senantiasa Mengasihi

Kita sudah sering melihat lukisan Leonardo da Vinci berjudul “Perjamuan Terakhir”. Dalam lukisan itu, Yesus dan 12 murid-Nya duduk dalam satu meja panjang. Namun William Barclay punya pendapat lain. Dalam tradisi Yahudi, perjamuan makan dilakukan sambil rebahan. Satu meja hanya ditempati maksimal 3 orang saja. Dengan teori ini, setidaknya ada lima meja dalam ruang atas itu. Tuan rumah biasanya semeja dengan orang terhormat atau sahabat dekatnya. Pertanyaannya, siapa yang duduk semeja dengan Yesus? Barclay lalu membuat rekonstruksi imajinatif berdasarkan Alkitab. Menurut Alkitab, yang duduk di sebelah kanan Yesus adalah “murid yang dikasihiNya”(Yoh.13:23). Lalu siapa yang di sebelah kirinya? Yudas! Lho kok bisa?!! Penjelasannya ada di ayat 27. Dalam ayat ini, Yesus bisa berbicara langsung kepada Yudas saja, sedangkan murid-murid yang lain tidak mendengarnya. Ini luarbiasa. Yesus saat itu sudah tahu bahwa “waktunya” untuk menderita sudah datang. Ia juga sudah tahu siapa yang akan menjadi pengkhianatNya. Meski begitu, “Ia senantiasa mengasihi muridmurid-Nya.” Senantiasa berarti “terus-menerus, tidak ada henti-hentinya.” Inilah kasih tanpa syarat. Kasih seperti ini patut dikembangkan dalam keluarga Kristen. Kita tak henti-hentinya mengasihi di antara anggota keluarga.

Nats
“Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” Yohanes 13:1b

To the Point
"Kita harus senantiasa mengasihi, karena dunia ini digerakkan oleh cinta"

3

Perjuangan Cinta

Nats
Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: "Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu.” Kejadian 29:18

Cinta buta bukan cuma milik anak muda. Seorang nenek (70 th) di Jepang membanjiri seorang kakek dengan (79 th) dengan 206 pucuk surat cinta. Dia juga memaksa masuk ke rumah si kakek sebanyak tujuh kali. Semua itu dia lakukan agar si kakek menerima cintanya. Alih-alih mendapat cinta, nenek nekat ini malah diseret ke pengadilan. Hakim memerintahkan si nenek agar tidak mengganggu si kakek lagi. Usai keputusan ini, si nenek malah menuntut ganti rugi si kakek sekitar Rp. 93 juta. Alasannya ia sudah keluar uang untuk membuat SIM dan beli bensin untuk berkunjung ke rumah si kakek. Dia juga mengirim surat yang berisi ancaman pada si kakek. Karena surat ancaman ini, maka jaksa menuntut hukuman 10 bulan penjara kepadanya (Kompas, 15/02/2007). Meski tidak sepakat dengan cara nekatnya, paling tidak kita dapat belajar dari keuletan sang nenek untuk mendapatkan cinta. Jika kita mencintai seseorang, maka kita harus bersedia melakukan sesuatu yang ‘lebih’. Demi cintanya pada Rahel, Yakub bersedia bekerja dan menunggu selama tujuh tahun lagi. Meski pernah ditipu oleh Laban, mertuanya, tapi Yakub tidak patah semangat. Bayangkan, dia harus bersabar selama empat belas tahun! Dalam acara reality show TV, ditunjukkan usaha seseorang yang menyatakan cintanya pada pujaan hatinya. Dia melakukan usaha ekstra untuk menunjukkan keseriusannya. Cinta itu layak diperjuangkan.Tapi bukan dengan cara yang membabi buta.

To the Point
"Cinta yang sejati dilandasi dorongan untuk memberi diri, bukan untuk memiliki"

4

Relasi Setara

Orang Farisi mengajukan pertanyaan kepada Yesus: “Apakah seorang suami boleh menceraikan isterinya?” Pertanyaan ini dalam rangka menjebak Yesus. Dalam adat Yahudi, kepentingan kaum lakilaki mendapatkan tempat utama. Setelah ayah dari gadis menerima mas kawin dari calon suami, maka mempelai wanita menjadi hak milik suaminya. Keberadaan isteri dianggap sebagai “barang” yang sudah dibeli dengan lunas. Itu sebabnya, jika isteri berzinah dengan pria lain, maka isteri itu dianggap telah berdosa karena melanggar hak kepemilikan suaminya. Sedangkan pria yang diajaknya berzina itu dianggap bersalah kepada suami dari isteri itu. Dia tidak dianggap bersalah terhadap isterinya sendiri (meskipun sudah berselingkuh). Dalam adat Yahudi, wanita hanya dianggap sebagai “alat” penerus marga laki-laki. Jika seorang istri tidak dapat memberikan anak, maka suami berhak menceraikan istrinya. Bahkan tanpa harus menyebutkan alasannya. Yesus berhadapan dengan masyarakat yang didominasi kepentingan kaum laki-laki. Kedudukan istimewa ini dirumuskan dalam hukum-hukum Taurat. Meski begitu, Yesus berani tampil beda. Dia menggeser perdebatan soal legal-formalistik ini dan menggantinya dengan substansi kehendak Allah ketika menciptakan laki-laki dan perempuan. Kehendak Allah itu ada di dalam relasi setara antara laki-laki dan perempuan. Relasi yang baik adalah yang berdasarkan kasih. Dalam memahami makna perkawinan ini, tidak hanya istri saja yang harus setia dengan suaminya, tetapi suaminya juga harus setia! Hanya atas dasar demikian mereka berdua dapat menjalin relasi yang benar.

“…Laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya. . . Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Markus 10:7-9

Nats

To the Point
"Tidak akan ada relasi yang indah jika salah satu pihak diperlakukan lebih rendah" 5

Bertepuk Sebelah Tangan

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkalikali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Lukas 13:34

Nats

Cinta bertepuk sebelah tangan, siapa yang mau? Semua orang ingin cinta kita mendapat tanggapan yang positif. Kalau tidak, dunia ini akan runtuh. Hal ini seperti yang terjadi di Medan. Seorang polisi kasmaran pada seorang gadis. Hanya beberapa hari setelah berkenalan, sang polisi memutuskan untuk melamar gadis pujaan hatinya. Tapi apa hendak dikata, sang gadis menampik cintanya. Si polisi tidak bisa menerima penolakan ini. Akhirnya dia bertekad, “Kalau aku tidak bisa menikahi gadis ini, maka tak seorang pun yang boleh menikahinya.” Dia mengambil pistolnya dan menembak gadis malang ini. Setelah itu, polisi ini menembak dirinya sendiri. Yesus sangat mengasihi bangsa Yahudi. Seperti induk ayam yang rindu mengumpulkan anakanaknya di bawah sayapnya, demikianlah Allah ingin sekali mengasihi dan melindungi Israel. Tetapi bangsa Israel menolak cinta-Nya. Mereka justru menginginkan kematian Yesus. Dalam bukunya, Mere Christianity (Kekristenan Bersahaja), C.S. Lewis menulis saran bijak, "Jangan menghabiskan waktu Anda untuk memikirkan apakah Anda ‘mengisihi’ sesama Anda dengan sungguh-sungguh atau tidak. Begitu Anda mengasihi maka Anda akan segera menemukan salah satu rahasia besar ini. Meskipun awalnya Anda berpurapura mengasihi orang lain, namun akhirnya Anda akan benar-benar mengasihinya. Jika Anda menyakiti orang yang Anda benci, Anda akan semakin membencinya. Sebaliknya, jika Anda berbuat baik kepadanya, maka perasaan kebencian Anda itu lamakelamaan akan berkurang.”

To the Point
"Mengasihi itu tidak menuntut balas. Meski tak berbalas, ia tak menyerah"

6

Kristus Kecil

Dalam audisi American Idol, ada sebuah peristwa yang mengharukan. Tersebutlah pria berusia 62 tahun, Herman Pore, yang mengikuti kontes pencariaan bakat itu. Padahal umurnya sudah lebih dari syarat yang ditentukan. “Apa yang membuat Anda ikut audisi ini?” tanya Simon Cowel, sang yuri. “Saya sudah menikah lebih dari 20 tahun. Isteri saya menderita kanker ganas,”tutur Herman,”belakangan ini, dia mendorong saya ikut kontes ini. Supaya boleh tampil, kami mengumpulkan tanda-tangan dukungan sebanyakbanyaknya.” “Ketika mencari dukungan, isteri saya melakukannya dengan bersemangat. Gairah hidupnya muncul kembali, “lanjut Herman,”melihat itu, maka saya memutuskan ikut kontes ini. Apapun itu, asalkan dapat membuatnya bersemangat dan meringankan rasa sakitnya, saya rela melakukannya.” Dua hari sebelum audisi, isteri Herman Pore meninggal dunia. Meski masih berkabung, Herman tetap datang. Di depan tiga yuri, Herman menyanyikan lagu You Are Belong To Me. Lagu ini dipersembahkan pada mendiang isterinya. Semua yuri menitikkan air mata. Meski tidak mendapatkan tiket emas ke Hollywood, tapi Herman tetap merasa puas. “Sayalah pemenangnya” katanya di depan kamera televisi. Seorang suami Kristen adalah “Kristus kecil” di dalam keluarga. Kristus sangat mengasihi keluargaNya (gereja). Demikian hendaknya, suami juga sangat mengasihi keluarganya. Begitu besar kasih itu, sehingga dia rela berkorban. Ini tidak semudah seperti dikatakan. Seberapa besar Anda telah berkorban?

Nats
“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya.” Efesus 5:25

To the Point
"Salah satu ciri cinta adalah kerelaan untuk berkorban"

7

Isteri adalah Karunia

Nats
“Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang, tetapi isteri yang berakal budi adalah karunia TUHAN.” Amsal 19:14

Thomas Wheeler adalah direktur utama Massachusetts Mutual Life Insurance Company. Suatu kali, ketika sedang mengendarai mobil bersama isterinya, dia mulai kehabisan bensin. Mereka mampir di sebuah stasiun pengisian bensin. Dia minta petugas untuk mengisi bensin, lalu pamitan untuk pergi ke kamar mandi. Ketika kembali, dia memperhatikan isterinya sedang bercakap-cakap dengan petugas itu. Dari cara mereka berbicara, sepertinya mereka sudah saling mengenal sebelumnya. “Apakah kau kenal petugas tadi?” tanya Thomas Wheeler ketika mereka sudah melanjutkan perjalanan lagi. Isterinya mengangguk. Dia bercerita bahwa pria itu adalah teman SMA-nya. Bahkan mereka pernah berpacaran selama setahun. "Untunglah aku yang melamarmu," kata Wheeler sambil tersenyum,” jika kamu menjadi isterinya, maka sekarang ini kamu menjadi isteri petugas pengisi bensin.” "Eh, jangan salah," jawab isterinya, "jika aku menikahi pria itu, mungkin pria itu sekarang menjadi direktur utama, dan kamu menjadi petugas pengisi bensin.” Thomas tersenyum kecut.

To the Point
"Pasangan hidup dapat menjadi faktor pendorong atau penghambat kesuksesan. Anda termasuk yang mana?"

Ada pepatah, “Di balik orang besar, terdapat isteri yang besar.” Artinya, seseorang yang mencapai kesuksesan itu tidak diraih sendirian saja. Dia mendapat bantuan yang besar dari pasangan hidupnya. Pemazmur berkata, rumah dan harta bukan jaminan kita pasti mendapatkan pasangan hidup yang berakal budi. Itu adalah karunia Tuhan. Itu sebabnya, ketika Anda merasa sukses, jangan bertepuk dada dulu. Siapa tahu, itu adalah karena pasangan Anda.

8

Lebih dari Permata

Seorang perempuan Spanyol empat kali purapura menculik anak laki-lakinya untuk mendapatkan uang tebusan. Dengan cara itu, ia menangguk uang tebusan dari ayah anaknya itu sebanyak Rp. 11 miliar lebih. Menurut harian El Mundo, polisi Sevilla telah menahan perempuan itu dan lima anggota komplotannya, termasuk anak laki-lakinya yang berusia 15 tahun yang selalu bertugas menelepon ayahnya dan merengek agar ia membayar uang tebusan. Karena sayang anak, si ayah sempat tiga kali membayar uang tebusan. Tanpa sadar ia telah ditipu mantan isterinya. Kejahatan terungkap setelah ia curiga dan menyewa detektif swasta saat akan dijadikan korban lagi untuk keempat kalinya. Keberadaan seorang isteri sangat mempengaruhi suaminya. Beberapa kepala negara yang berhasil memimpin negaranya, ternyata didukung oleh isteri yang baik. Sayangnya, di balik diktator kejam di dunia ini ternyata ada isteri yang bertabiat buruk. Raja Salomo berkata, pria yang mendapat isteri maka ia mendapat sesuatu yang baik. “Istri adalah karunia dari Tuhan” (Ams.18:22, BIS). Itu artinya, kehadiran seorang isteri dapat membawa berkat bagi suaminya. Isteri yang demikian sukar ditemukan; ia lebih berharga daripada intan berlian (Ams.31:10, BIS). Mari kita periksa diri. Jika Anda seorang isteri, periksalah apakah kehadiran Anda telah menjadi berkat bagi suami Anda, ataukah justru menjadi “penyakit yang menggerogoti” suami Anda? Jika Anda seorang suami atau anak, periksalah sudahkah Anda mensyukuri kehadiran isteri/ibu Anda? Ingat, isteri/ibu seperti ini sukar ditemukan.

Nats
“Istri yang baik adalah kebanggaan dan kebahagiaan suaminya, istri yang membuat suaminya malu adalah bagaikan penyakit tulang yang menggerogoti.” Amsal 12:4

To the Point
"Siapa bilang peran isteri itu remeh. Ia dapat mengubah nasib bangsa ini"

9

Suci, Murni Dan Tulus

Nats
“Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas.” 1 Timotius 1:5

Pada tahun 1950-an, D James Kennedy adalah seorang pemabuk dan hidupnya tidak karuan. Ketika mulai berkencan, pacarnya bertanya, “Kamu pergi ke gereja apa?”. James menjawab, “Saya tidak pergi ke gereja. Toh, pergi ke gereja tidak membuat kita menjadi orang baik.” Lalu dengan sedikit sombong, dia berkata lagi, “Aku dapat menjadi orang Kristen yang baik, tanpa pergi ke gereja.” Teman wanitanya menukas dengan tegas, “Tidak bisa seperti itu.” Selama seminggu, pertanyaan pacarnya itu sangat mengganggu pikiranya. Suatu hari ketika terbangun dalam keadaan mabuk, James mendengar khotbah di radio. “Jika Anda mati hari ini, jika ditanya Tuhan, ‘apa saja yang kau lakukan di dunia?’, apa jawaban Anda?” kata Dr. Donald Barnhouse. Pertanyaan itu begitu menempelak James. Sejak saat itu, dia rajin pergi ke gereja bersama pacarnya. Mereka berpacaran selama tiga tahun sebelum akhirnya menikah. Selanjutnya, selama 45 tahun, Dr. Kennedy mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Sebuah nasihat dapat menyelamatkan hidup orang lain. Paulus menasihati Timotius supaya menasihati jemaat Efesus yang mengajarkan ajaran lain, dongeng dan silsilah. Namun dalam memberi nasihat hendaknya dilandasi oleh kasih, yang berasal dari “hati yang suci, hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas.” Pacar James Kennedy berhasil “menyelamatkan” hidup calon suaminya itu dengan nasihat yang suci, murni dan tulus. Dengan cara yang sama, kita pun dapat membantu orang lain.

To the Point
"Memberi nasihat itu berbeda dengan mengecam. Ia tidak merendahkan martabat orang lain" 10

Rahasia Persuasi

Pada bulan Agustus 1993, Sophia White (31 th) menerobos masuk R.S. USC Medical Center di Los Angeles sambil membawa pistol. Wanita ini mencari seorang perawat bernama Elizabeth Staten, karena telah merebut suaminya. Sophia menembakkan pistolnya sebanyak enam kali. Satu peluru mengenai pinggang Elizabeth dan satu lagi menerjang perutnya. Perawat yang terluka ini segera berlari ke ruang UGD, tapi Sophia ikut mengejarnya. Di ruang UGD, perawat lain yang bernama Joan Black malah menghampiri Sophia yang sedang kalap itu. Joan merangkul Sophia. “Saya tahu Anda merasa sakit hati,” kata Joan,”saya dapat membantu Anda untuk mengobati rasa sakit itu.” Berkat sentuhan lembut itu, Sophia bersedia menyerahkan senjatanya. Ketika ditanya Associated Press, mengapa dia berani menghampiri Sophia, Joan menjawab, "Saat itu, saya melihat ada orang yang sedang menderita sakit, dan saya harus menolong orang itu.” Joan Black tidak memandang Sophia sebagai pelaku kriminal, tetapi sebagai seorang yang membutuhkan bantuan. Seperti yang dikatakan Paulus, ketika menghadapi orang yang melawan, kita sebaiknya menyapanya dengan sabar dan lemah lembut. Sebab “dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang” (Am.25:15). Kesabaran artinya kemampuan untuk mengekang amarah atau menenangkan pikiran. Sedangkan lemah lembut berkaitan dengan pemilihan kata-kata yang menyejukkan hati. Itulah rahasia keberhasilan persuasi atau membujuk orang lain.

Nats
“Seorang hamba Tuhan …harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.” 2 Timotius 2:2425

To the Point
"Sabar dan lemah lembut itu seperti tetesan air yang mampu menggerus batu cadas" 11

Tidak Nyambung

"Hendaklah kalian selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan membantu satu sama lain. Berusahalah sungguh-sungguh untuk hidup dengan damai supaya kesatuan yang diciptakan oleh Roh Allah tetap terpelihara." Efesus 4:2-3 (BIS)

Nats

Seorang jurnalis, David Halberstam menceritakan pengalaman lucu temannya: Temannya ini ingin mengunjungi Jepang. Karena sebagian besar sopir taksi di Jepang tidak bisa berbahasa Inggris, dia dinasihati supaya selalu membawa tulisan nama hotel yang diiinapi, dalam huruf Jepang. Begitu sampai di hotel, dia segera mengantongi beberapa buah kotak korek api yang ada tulisan nama dan alamat hotel dalam huruf Jepang. Dia lalu pergi berjalan-jalan. Puas mencuci mata, dia lalu memanggil taksi dan menunjukkan kotak korek api pada sopir taksi. Sopir taksi mengangguk tanda mengerti. Setelah beberapa saat, sopir taksi memberi isyarat bahwa mereka sudah sampai tujuan. Akan tetapi mereka tidak berhenti di depan hotel, tetapi di depan sebuah pabrik korek api! Bagaimana rasanya jika maksud kita dipahami secara berbeda oleh orang lain? Kejengkelan. Ibu saya sering mengalami hal ini terhadap ayah saya. Pada saat ibu menerangkan sesuatu, ayah terlihat manggut-manggut. Namun kenyataannya, seringkali ayah memahami secara berbeda dengan yang dimaksud oleh ibu saya. Meski hal ini sering terjadi, namun perkawinan mereka tetap bertahan lebih dari 35 tahun.

To the Point
"Sampaikanlah maksud Anda dengan lemah lembut. Jelaskanlah dengan penuh kesabaran. Terimalah dengan rendah hati" 12

Apa rahasianya? Rahasianya ada pada kesabaran. Ibu saya tidak cepat merasa putus asa jika maksud yang disampaikannya dipahami secara keliru oleh suaminya. Kemudian dengan lemah lembut ia menjelaskan maksud yang sebenarnya. Sementara itu, pihak yang keliru dalam memahami juga memiliki kerendahan hati dalam mengakui kesalahannya. Dengan cara inilah hidup yang damai dapat terpelihara.

Komunikasi Efektif

Tahukah Anda bahwa sekitar 80 persen bagian dari tubuh manusia terdiri dari air? Betul! Anda dan saya punya kesamaan sekitar 80 persen. Kesamaan lainnya, kita sama-sama sebagai praktisi komunikasi. Sejak kita lahir hingga dipanggil Tuhan, setiap orang pasti melakukan kegiatan komunikasi. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan lakukan adalah bentuk dari kegiatan komunikasi. Yang membedakannya,ada sebagian orang yang mampu berkomunikasi secara efektif, dan sebagian yang lain, tidak. Ada banyak orang yang kelihatannya mendengar ketika orang lain berbicara kepadanya, tapi sesungguhnya dia tidak menyimak omongan orang itu. Dia lebih asyik dengan pikirannya sendiri. Atau mungkin, dia sedang menyiapkan kata-kata yang akan diucapkan, begitu lawan bicaranya berhenti berbicara. Di dalam keluarga, ada beberapa orangtua yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif dengan anaknya. Penyebabnya, karena mereka hanya mau memberi nasihat, perintah dan larangan pada anakanaknya, tapi tidak bersedia mendengar suara anakanak mereka. Maka jangan heran kalau anak-anak juga meniru perilaku orangtua. Mereka juga tidak mau mendengarkan omongan orang tua. Seni berkomunikasi adalah ketrampilan yang penting dalam keluarga. Namanya juga “seni”, artinya tidak ada rumus baku yang menjamin kesuksesan dalam berkomunikasi. Namun sebagai sebuah “ketrampilan”, seni berkomunikasi ini dapat dipelajari. Cara yang paling mudah adalah dengan mempraktikannya. Dengarkan pembicaraan orang lain dengan tulus dan serius. Tatap matanya dalam kasih Tuhan.

Nats
Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: “Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.” Matius 13:14

To the Point
"Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara" 13

Gangguan Komunikasi

Nats
“Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” Amsal 21:23

Seorang Ibu baru saja melahirkan bayi kembar empat. Dia segera meraih handphone-nya dan membagikan kabar gembira ini kepada redaksi suratkabar di kotanya. Namun karena dia berada di dalam gedung rumah sakit, maka sinyal di sana sangat lemah. Sambungan telepon itu buruk dan terputus-putus. "Saya ingin mengabarkan bahwa saya telah melahirkan kembar empat," kata ibu itu bersemangat. "Apakah Ibu bisa mengulanginya lagi?" tanya redaksi. "Tidak bisa, Pak. Punya anak kembar empat saja sudah cukup banyak," jawab sang ibu kesal. Dalam kisah ini ada kesalahan penerimaan pesan. Redaksi sebenarnya meminta ibu itu supaya mengulangi beritanya karena dia tidak bisa mendengar dengan jelas. Namun sang ibu mengira redaksi menanyakan apakah dia mau melahirkan kembar empat lagi! Di dalam ilmu komunikasi, hal ini disebut ada gangguan (noise). Gangguan bisa berasal dari luar. (suara gaduh, udara panas, bau menyengat, sinar yang menyilaukan) atau dari (perasaan takut, cemas, sedih, benci). Jika gangguan ini menimpali kegiatan komunikasi Anda, maka pesan yang diterima oleh lawan bicara Anda sangat mungkin berbeda dengan yang Anda maksudkan. Salomo menasihati supaya kita berpikir bijak lebih dulu sebelum berkata sesuatu. Salah satunya adalah mempertimbangkan apakah ada noise yang mungkin akan mengganggu komunikasi Anda.

To the Point
"Kita tidak bisa menghindari gangguan komunikasi. Yang bisa kita lakukan adalah mengkomunikasikan maksud kita sejelas mungkin" 14

Bahasa Diam

Ada dua cara dasar dalam berkomunikasi, yaitu: komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Dalam komunikasi verbal, kita menyampaikan pesan menggunakan kata-kata (bahasa). Sedangkan di dalam komunikasi non-verbal, kita mengirimkan pesan menggunakan tanda-tanda, simbol, sikap tubuh (gesture), ekspresi wajah, nada bicara dan tekanan kalimat. Menurut penelitian Albert Mehrabian, profesor psikologi di UCLA, komunikasi non-verbal justru lebih ampuh dalam menyampaikan pesan (bahasa tubuh 55%, suara 38% dan kata-kata hanya 7%). Ketika Yesus hendak mengajarkan tentang kerendahan-hati untuk melayani, Dia langsung membasuh kaki murid-murid-Nya. Perbuatan nonverbal-Nya ini menimbulkan dampak yang lebih besar dibandingkan jika diajarkan dengan kata-kata saja. Bahasa non-verbal Anda dapat memperkuat bahasa verbal (kata-kata) yang Anda ucapkan. Contohnya, Anda hanya berkata singkat “bagus!” kepada anak Anda. Tapi Anda mengatakannya sambil memeluk anak Anda. Pujian Anda sudah tersampaikan secara efektif. Sayangnya, bahasa non-verbal juga dapat memperlemah bahasa verbal Anda. Contohnya, Anda berkata: “Mama bangga kamu mendapat nilai sepuluh!” Namun Anda mengatakan ini dengan suara yang dingin dan mata tetap menatap layar televisi. Anak akan menganggap pernyataan Anda tidak sungguh-sungguh. Penguasaan terhadap bahasa non-verbal ini dapat membantu Anda dalam menjalin komunikasi yang hangat di antara anggota keluarga.

Nats
“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu.“ Yohanes 13:4-5

To the Point
"Kuasai dan kenali bahasa tubuh Anda. Pakailah itu untuk menunjukkan kasih Kristus" 15

Nada yang Indah

Nats
“Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Filipi 2:2

Acara infotainment TV menayangkan seorang suami selebritis yang memberi hadiah kejutan kepada isterinya, yang juga selebritis. Diam-diam dia membelikan sebuah rumah untuk isterinya. Dalam program itu, isterinya tampak terharu. Menyaksikan acara itu, saya bertanya kepada isteri saya. "Menurutmu, kejutan seperti itu baik atau tidak?" tanya saya. "Baik saja," jawab isteri saya,"itu bisa menjadi satu cara untuk memelihara kemesraan dalam rumahtangga." Tapi saya tidak sepakat. Memberikan kejutan memang baik, tapi dalam hal-hal tertentu tidak tepat untuk dilakukan khususnya ketika memutuskan sesuatu yang besar. Menurut saya, membeli rumah adalah sebuah keputusan yang besar. Karena itu perlu dibicarakan antara suami dan isteri. Paulus menasihati jemaat Filipi, "Hiduplah sehati dengan kasih yang sama, dengan pikiran yang sama dan tujuan yang sama" (BIS). Hal itu dapat terjadi jika ada komunikasi yang baik. Ada banyak keretakan rumah tangga yang berpangkal dari kebuntuan komunikasi. Misalnya, saya jengkel pada kebiasaan isteri saya yang sering membiarkan air kran mengalir meski bak mandi sudah penuh. Tapi isteri saya juga sebal pada saya karena sering lupa menutup kembali pintu lemari. Hal seperti ini perlu dikomunikasikan. Jangan dipendam. Dalam kitab versi Authorized Version, kata "satu jiwa" ditulis dengan kata "one accord". Di dalam musik, akord adalah dua nada berbeda, yang jika dimainkan bersama-sama menghasilkan harmoni yang indah. Suami dan isteri adalah dua individu yang berbeda, tapi dapat menghasilkan suara yang memuliakan Tuhan.

"Menikah itu bukan untuk menghilangkan perbedaan, melainkan menyelaraskan perbedaan-perbedaan sehingga menjadi harmoni" 16

To the Point

Teknik Sandwich

Anda tentu mengenal roti sandwich. Cara membuatnya cukup mudah: Ambil selembar roti tawar. Letakkan sayur, irisan daging, telur rebus, saos dan mayoiness di atasnya. Kemudian tutup dengan selembar roti tawar lagi. Jadilah roti sandwich. Dalam sebuah konferensi konseling yang saya ikuti, ibu Anne Parapak mengenalkan teknik sandwich untuk mengkritik seseorang, terutama pasangan kita. Dengan teknik ini kita dapat melontarkan kritik tanpa menyakiti hati orang tersebut. Bahkan kemungkinan besar omongan kita akan dia dengarkan! Caranya? Ikuti pola roti sandwich. Mula-mula berikan pujian pada pasangan Anda. Kemudian sampaikan kritikan Anda, setelah itu tutup dengan pujian lagi. Contohnya: “Kamu punya perhatian besar terhadap anak kita [pujian]. Namun, jangan terlalu banyak mengaturnya. Biarkan dia belajar mandiri [kritikan]. Biarlah anak kita meneladani kemandirianmu [pujian].” Teknik ini mengajarkan kita untuk tidak melihat sisi kelemahan dari orang yang akan kita kritik, tapi juga melihat kelebihannya. Dengan begitu, kritikan kita bisa lebih objektif. Sementara bagi yang dikritik, dua pujian yang melapisinya dapat mengurangi “efek serang” kritikan itu. Setiap orang punya naluri untuk bertahan diri (self defense mechanism). Jika dia “diserang” dengan kuat, maka semakin kuat dia akan membentengi diri. Raja Salomo berkata,“Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.” (ay. 4) Maksudnya, kata-kata yang baik yang kita ucapkan dapat menambah semangat. Namun, katakata yang menyakitkan dapat melemahkan semangat.

Nats
“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” Amsal 15:1

To the Point
"Saran yang baik, haruslah disampaikan dengan cara yang baik pula, supaya hasilnya lebih baik"

17

Kata-kata Menyakitkan

Nats
“Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati.” Amsal 15:4

Kisah ini terjadi setelah gempa mengguncang Jogja dan Jateng. Untuk membersihkan puing-puing bangunan yang runtuh dibutuhkan banyak peralatan pertukangan seperti linggis, sekop, cangkul, songkro (kereta dorong beroda satu), dan tambang. Posko kami menerima bantuan peralatan ini. Tapi karena jumlahnya yang sangat terbatas, maka kami hanya bisa meminjamkan. Dengan demikian, alat ini dapat digunakan bergantian. Suatu kali ada relawan posko kemanusiaan dari gereja lain datang ke posko kami. Mereka minta bantuan alat pertukangan. Kami katakan, bahwa alat ini hanya dapat dipinjamkan, tapi tidak bisa diberikan. Rupanya mereka tidak dapat mengerti kebijakan ini. “Anda ‘kan mendapat alat ini bantuan dari pihak lain. Mengapa Anda tidak bersedia membagikannya kepada kami?” kata mereka dengan sengit, “Lalu dimana kasih Agape kalian?” Tak berapa lama, ada suami-isteri Kristen datang. Mereka minta linggis. Jawaban kami tetap sama, alat ini hanya dipinjamkan. Mereka kelihatan kecewa, lalu melirik salah satu teman kami. “Wah, perut pak Jono ini semakin gendut saja,” kata sang isteri sinis,”kayaknya kebanyakan makan linggis, nih.” Ucapan-ucapan dari dua pihak ini sangat menohok perasaan kami, karena justru diucapkan oleh orang sesama Kristen. Sekarang ini ada semakin banyak orang Kristen yang mengalami kepahitan justru karena kelakuan dan kata-kata saudara seimannya. Padahal, di antara orang percaya seharusnya saling membangun. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ef.4:29)

To the Point
"Seperti anak panah yang lepas dari busurnya, kata-kata yang terucap tak dapat ditarik kembali" 18

Tongkat Argumen

Ada dua anak laki-laki suku Indian Iroquois bertengkar. Tidak ada satu anak pun yang mau mengalah. Naka sang ibu datang dan memberikan tongkat: “Ini adalah Tongkat Argumen istimewa. Tegakkan ketiga tongkat ini di hutan, sandarkan ujung tongkat yang satu dengan yang lain sehingga ketiganya bisa berdiri.” “Tunggulah satu bulan,” lanjut ibu.”Jika tongkat jatuh ke utara, maka anak yang menegakkan tongkat sebelah utara yang benar. Jika ketiganya jatuh ke selatan, maka anak yang menegakkan tongkat sebelah selatan yang benar.” Kedua anak menuruti perintah itu. Sebulan kemudian, mereka pergi ke hutan untuk mengetahui siapa yang pendapatnya benar. Namun, ketiga tongkat itu telah jatuh saling bertumpuk karena mulai membusuk. Pemenangnya tidak ada. Dan kedua anak itu sudah tidak ingat lagi apa yang mereka pertengkarkan saat itu [Cerita-cerita Perdamaian, Kanisius]. Sebuah perbedaan pendapat bisa menjadi pertengkaran yang hebat ketika melibatkan harga diri dan emosi. Ketika ini terjadi, substansi yang dipertengkarkan sudah menjadi tidak relevan lagi karena masing-masing orang bernafsu untuk mengalahkan yang lain. Jika “api” pertengkaran itu sudah sedemikian besar, maka harus diambil tindakan untuk mengendalikannya. Isteri saya pernah ditanya,”Apakah Anda pernah bertengkar dengan suami?” Isteri saya bingung menjawabnya. Kenyataannya, kami memang pernah bertengkar, tapi hal itu tidak membesar karena kami tidak menjadi emosional.

Nats
“Seperti arang dan kayu membuat api tetap menyala; begitulah orang yang suka bertengkar membakar suasana.” Amsal 26:21

To the Point
Ada pepatah, “kalah jadi abu, menang jadi arang.” Pertengkaran yang emosional hanya akan berakhir sia-sia. 19

Mengatasi Pertengkaran

Nats
“Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” Filipi 4:2-3

Keadaan gereja mula-mula tidak selalu berjalan mulus. Di jemaat Filipi pernah terjadi perselisihan pendapat. Ada dua perempuan, yaitu Euodia dan Sintikhe, yang dinasihati Paulus supaya sehati dan sepikir dalam Tuhan. Dari kedua ayat ini kita dapat mempelajari prinsip-prinsip dalam menyelesaikan konflik. Pertama, Paulus tidak berusaha menyembunyikan atau menyangkal adanya perselisihan. Dengan mengakuinya secara terbuka, maka persoalan dapat segera diketahui dan diselesaikan. Namun, jika perselisihan ini berusaha ditutup-tutupi, maka akan timbul rumor dan perpecahan. Ketika perselisihan itu akhirnya muncul di permukaan, maka kondisinya sudah sangat akut. Kedua, meski berbeda pendapat, Paulus tetap mengakui bahwa kedua perempuan itu masih samasama sebagai orang yang “nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” Paulus tetap mengakui mereka sebagai rekan sepelayanan. Paulus memberi contoh untuk menganggap orang yang berselisih dengannya bukan sebagai musuh, melainkan sebagai saudara. Ketiga, Paulus meminta bantuan orang lain, yaitu Sunsugos. Jika perselisihan tidak dapat diselesaikan di antara dua pihak, maka alangkah baiknya minta bantuan pihak ketiga sebagai penengah. Sebagai orang netral yang tidak terlibat dalam konflik biasanya seorang penengah dapat memberikan saran dari sudut pandang yang berbeda. Konflik itu bukan sesuatu yang buruk. Setiap manusia itu unik dan punya kehendak bebas. Konflik pasti terjadi sepanjang kita masing hidup. Karena itu, kelolalah konflik dengan tepat

To the Point
Konflik dapat membantu kita menciptakan dunia ini lebih baik. Caranya, berkonflik di dalam kasih. 20

Alternatif Mengelola Konflik

Seorang pemuda bertanya kepada pasangan Nats kakek-nenek tentang rahasia keawetan pernikahan mereka. “Kami sudah sepakat jika kelihatannya akan “Hindarilah soal-soal bertengkar hebat, maka saya akan mengambil topi dan yang dicari-cari, pergi berjalan-jalan,” jawab sang kakek. yang bodoh dan tidak layak. Engkau “Setelah itu bagaimana?” sergah pemuda itu, tak tahu bahwa soal-soal sabar mendengar kelanjutan cerita. itu menimbulkan “Setelah beberapa lama, saya akan pulang dan pertengkaran” (2 Timotius 2:23) melempar topi melalui pintu rumah,” lanjut sang kakek,”jika isteri saya melempar keluar topi saya, maka mengambil topi itu dan pergi berjalan-jalan lagi.” Ada tiga alternatif dalam mengelola konflik rumah-tangga. Pertama, mengalah. Jika salah satu pihak mengalah, maka konflik akan berakhir. Ini dapat diterapkan jika pokok pertengkaran adalah soal yang “dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak” (2 Tim. 2:23). Jika ditanggapi serius dapat “menimbulkan pertengkaran.” Kedua, mempertahankan prinsip, jika pokok persoalan menyangkut prinsip fundamental. Namun dalam mempertahankannya tidak boleh menggunakan kekerasan, baik secara fisik atau psikis. Ketiga, dengan kerjasama. Masing-masing pihak bekerja sama untuk mencari solusi yang tepat. Kerjasama dapat terjadi jika ada dialog. Berbeda dengan diskusi yang hanya menggunakan akal sehat, dalam dialog boleh melibatkan perasaan. Model manakah yang paling baik? Semua model baik. Ada saatnya kita perlu menerapkan prinsip don’t sweat the small thing (“cuekin saja masalah sepele”), dan memilih alternatif pertama. Tapi ada kalanya kita harus menuntaskan masalah dengan alternatif ketiga.

To the Point
Konflik itu bukan kutukan, itu tergantung pada cara Anda menyikapinya.

21

Ungkapan Semanis Madu

Nats
“Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita.” (Kidung Agung 1:15-16)

Seorang pegawai pemerintah yang masih muda dipindah ke kota propinsi lain. “Bekerja di propinsi lain tidak mudah. Kamu harus berhati-hati,” pesan atasannya. “Terimakasih atas nasihat Bapak,” kata anak muda itu,”tapi jangan khawatir. Saya sudah menyiapkan seratus ungkapan semanis madu. Kalau nanti saya bertemu dengan pejabat di sana, saya akan menggunakannya. Dia pasti senang.” “Bagaimana kamu dapat melakukan itu?” tanya atasannya tak senang,”Kamu adalah pria sejati. Seharusnya kamu tidak menggunakan sanjungan.” “Bapak benar. Tapi, sayangnya, banyak orang senang disanjung,”jawab pegawai muda,”hanya sedikit orang seperti Bapak, yang tidak menyukai sanjungan.” “Mungkin kamu benar,” jawab atasannya sambil tersenyum. Setelah sang atasan pergi, pegawai muda ini berbisik pada rekan kerjanya, “Aku sudah menggunakan satu sanjungan. Sekarang aku tinggal punya sembilan puluh sembilan sanjungan yang tersisa.”

To the Point
Sanjungan melebihi keabadian intan, tapi tidak dibutuhkan biaya besar. Yaitu hanya hati yang tulus. 22

Setiap orang pasti senang dipuji, meski kadangkadang dia berpura-pura menolak pujian. Pujian atau sanjungan bermanfaat untuk membentuk nilai harga diri (self esteem). Orang yang dipuji akan merasa bahwa keberadaannya diakui dan mempunyai arti bagi orang lain. Kita perlu belajar dari kitab Kidung Agung, yang penuh sanjungan di antara mempelai. Sudahkah Anda menyanjung pasangan Anda?

Sepuluh Daftar Kesalahan

Seorang isteri berkata kepada suaminya, “Aku telah mencatat 10 Daftar Kesalahan yang telah kau lakukan. Namun aku memutuskan untuk mengampuninya setiap kali kamu melakukannya.” “Apa saja isi Daftar Kesalahan itu?” tanya sang suami penasaran. “Rahasia, dong!” jawab isterinya sambil tersenyum. Sejak saat itu, setiap kali suami melakukan kesalahan, isterinya berkata, “Ini memang salah satu dari 10 Daftar Kesalahan itu. Nggak apa-apa. Aku sudah memutuskan untuk mengampuninya.” Akibat dari hal ini, sang suami mulai menunjukkan perubahan. Dia lebih berhati-hati supaya tidak melakukan kesalahan yang termasuk dalam daftar itu. Dia merasa malu jika berkali-kali melakukan kesalahan dan harus terus-menerus diampuni. Dalam sebuah arisan, sang isteri membagikan kiat ini kepada teman-temannya. “Kalau boleh tahu, apa saja sih isi daftar kesalahan yang sudah Anda buat?” tanya temannya. Sang isteri berkata, sambil berbisik, “Saya ceritakan tapi ini rahasia ya! Sebenarnya saya tidak pernah membuat 10 Daftar Kesalahan itu.” Kuasa pengampunan itu sungguh dahsyat. Ia mampu mengubah kehidupan seseorang. Baik yang diampuni, maupun yang mengampuni. Kebiasaan mengampuni ini perlu diajarkan dalam keluarga, sebab justru di dalam keluarga akar kepahitan paling sering muncul. Karena berhubungan dan berinteraksi secara intensif setiap hari, maka sangat besar kemungkinan di antara anggota keluarga terjadi konflik. Untuk ada baiknya kita membiasakan meminta dan memberi ampun di dalam keluarga.

Nats
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:32

To the Point
"Pengampunan bukan berarti melupakan perbuatan orang lain, melainkan keputusan untuk tidak terikat dendam terhadap orang itu" 23

Mulutmu, Harimaumu

Nats
“Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker.” 2 Timotius 2:17

Gara-gara jarinya terluka gores kawat kandang tikus, Jeffrey Banks (24 thn) akhirnya meninggal dunia. Dokter yang merawatnya menyebutkan Banks diduga keras meninggal dunia, akibat infeksi yang berlarut-larut. Jari tangan yang tergores itu, rupanya tidak segera diobati. Kawat kandang tikus dari toko hewan Banks, rupanya terkontaminasi ludah tikus yang lama kelamaan menyebarkan bakteri yang merusak salah satu pembuluh darah jantungnya, serta merusakkan katup jantung. Menurut dokter itu, bakteri dari ludah tikus itu, mengalir mengikuti aliran darah hingga mempengaruhi dan merusak jantung pasiennya. Selanjutnya ditegaskan lagi, mulut binatang itu sesungguhnya “kebun bakteri” penyebab infeksi maut. Ada yang lebih berbahaya daripada mulut tikus, yaitu mulut manusia. Paulus menasihati Timotius supaya menghindari omongan yang kosong dan yang tak suci (ay.16). Perkataan seperti itu ibarat penyakit kanker. Pada stadium awal ia hanya kecil dan seperti tak berbahaya. Tapi jika diabaikan, maka penyakit ini akan menjalar kemana-mana seperti penyakit kanker. Hingga akhirnya, ketika sudah mencapai stadium akhir, sudah terlambat untuk mengobatinya.

To the Point
Ada pepatah: “Mulutmu adalah harimaumu”. Jinakkanlah sebelum menerkammu 24

Dengan lidah, kita dapat memuji, tapi juga dapat mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (Yak.3:9). Meski demikian, kita tidak boleh mengucapkan berkat, sekaligus kutuk. Sebab dari mata air yang satu tidak dapat mengeluarkan air tawar, sekaligus memancarkan air pahit. Ucapan yang tidak baik itu seperti mulut tikus yang penuh bakteri. Ia dapat melukai dan membunuh orang lain.

Perbedaan Persepsi

Mbah Sri mengenang masa mudanya. Suatu hari majikannya menyuruhnya mengupas nanas. “Kupas sampai hitam-hitamnya hilang!” perintah majikannya. Karena berasal dari daerah terpencil, seumur-umur Sri muda belum pernah melihat buah nanas. Dia tidak tahu cara mengupas nanas yang benar. Sri pun mengupas kulit nanas itu. Tapi hitamhitamnya, yaitu mata nanasnya, ternyata belum hilang juga. Maka Sri mengupasnya lebih dalam lagi dan lagi, sehingga yang tersisa hanya sepotong hati nanas. Setelah itu Sri menyerahkannya pada sang majikan. Melihat hasil kerjaan Sri, sang majikan malah menjadi marah. Dia mengambil kulit-kulit nanas dan mengusap-usapkan dengan gemas di kepala Sri. Akibatnya kulit kepala dan wajah Sri menjadi merahmerah dan gatal-gatal. Insiden ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika ada kesamaan persepsi di antara keduanya. Masing-masing pihak sudah merasa benar dengan persepsinya masing-masing. Imam Eli melihat Hana yang sedang berdoa sambil berkomat-kamit. Melihat hal ini, imam Eli langsung mengambil kesimpulan bahwa wanita ini sedang mabuk. Dia tidak berusaha lebih dulu mencari tahu, mengapa dia berbuat seperti itu. Kesimpulan yang salah akan mengakibatkan sikap yang salah. Sikap yang salah berujung pada tindakan yang salah. Semua itu berawal dari persepsi yang salah. Banyak konflik dalam keluarga yang disebabkan oleh perbedaan persepsi. Cara menghindarinya adalah dengan banyak berkomunikasi dan saling memahami.

Nats
“…dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk” 1 Samuel 1:13

To the Point
"Berhati-hatilah sebelum menyimpulkan sesuatu. Kumpulkan informasi sebanyakbanyaknya" 25

Power of Tongue

Nats
“Kata-kata yang baik menambah semangat, kata-kata yang menyakitkan melemahkan hasrat.” Amsal 15:4

Kata-kata pujian punya kekuatan yang dahsyat. Ketika di SMP, guru bahasa Inggris saya punya kebiasaan menuliskan kata-kata “Excellence”, “Very Good” dan “Good” pada lembaran hasil tes para siswanya yang bernilai bagus. Setiap kali mendapat pujian ini, saya merasakan kebanggaan karena tahu bahwa tidak semua siswa mendapat pujian ini. Saya semakin bersemangat menguasai pelajaran ini. Nilainilai tes bahasa Inggris saya selalu bagus. Ketika SMA, keadaannya berbalik 180 derajat. Guru bahasa Inggris saya punya kebiasaan melecehkan siswa-siswa yang penguasaan bahasa Inggrisnya sangat lemah. Dia melontarkan kata-kata yang benar-benar membuat siswa itu sangat terhina. Mungkin maksudnya untuk melecut semangat siswa itu supaya lebih giat belajar, tapi kenyataannya para siswa justru sangat membenci pelajaran bahasa Inggris ini. Setiap kali memasuki jam pelajaran ini, atmosfer ketakutan melingkupi kelas kami. Langkahlangkah kaki sang guru terdengar seperti derap kaki algojo yang siap menguliti kami. Penulis Jepang (The Miracles of Water) mengungkapkan fakta bahwa kata-kata memiliki pengaruh terhadap air. Pada air yang terpapar kata-kata pujian, ketika dibekukan air itu ternyata membentuk kristal yang indah. Namun pada air yang terpapar kata-kata makian, gagal terbentuk kristal yang sempurna. Hampir 80 % dari tubuh kita terdiri dari air. Dengan mengacu penelitian ini, maka benarlah yang dikatakan oleh Salomo:“Kata-kata yang baik menambah semangat, kata-kata yang menyakitkan melemahkan hasrat.”

To the Point
"Lidah itu lebih tajam dari pedang bermata dua"

26

Gara-gara Gayung

Teman saya bercerita tentang perselisihan kecil di rumah tangganya. Kebiasaannya setelah selesai urusan di kamar mandi adalah mengisi gayung dengan air, dan meletakkan di pinggir bak mandi. Sementara itu isterinya selalu jengkel setiap kali melihat hal ini. Sang isteri berusaha memendam kejengkelan ini, tapi lama-kelamaan dia memutuskan untuk mengungkapkan hal ini. “Saya tidak suka jika kamu meninggalkan gayung berisi air di pinggir bak mandi,” kata sang isteri. “Lho, kenapa?” tanya teman saya heran. Rupanya sang isteri, yang berprofesi dokter, menganggap bahwa air dalam gayung itu bekas dipakai suaminya untuk mencuci tangan. Karena sudah kotor, maka airnya seharusnya dibuang. Padahal sang suami punya maksud lain. Gaung itu sengaja diisi air supaya tidak mudah jatuh. Kemarahan dapat menimbulkan pertengkaran. Hal ini tidak sehat jika sering terjadi di dalam keluarga. Bagaimana cara meredakan kemarahan? Berikut tips dari H. Norman Wright: 1. Kenalilah sebabnya. Kemarahan Anda hanya gejala saja. Ada sebab lain yang tidak yang perlu Anda usut. 2. Tinjaulah alasan kemarahan Anda. Apakah Anda marah karena perbuatan orang lain yang sengaja melukai atau menyerang Anda? Bagaimana Anda tahu kalau itu disengaja? 3. Carilah tahu manfaat kemarahan itu bagi Anda. Apakah kemarahan Anda membantu Anda mencapai tujuan Anda. 4. Terapkan Nehemia 5:6,7. Cara “berpikir masak-masak” adalah dengan membuat daftar keuntungan dan kerugian jika mengekspresikan amarah. Pertimbangkan akibat jangka pendek dan jangka panjangnya.

Nats
“Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.” (Amsal 15:18)

To the Point
"Amarah itu seperti api: bermanfaat jika terkendali, tapi merusak jika tak terkendali" 27

Daya Pengampunan

Nats
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” 1 Yohanes 1:9

Seorang perempuan Bulgaria dibebaskan dari penjara karena menderita penyakit yang mematikan. Perempuan (57 thn) ini divonis 15 tahun penjara karena membunuh anak laki-lakinya. Sekitar setahun kemudian pengadilan memerintahkan pembebasannya karena umur perempuan itu diperkirakan tak bakal panjang. Dia diserang penyakit kanker stadium akhir. Akan tetapi setibanya di rumah, dia malah membunuh suaminya dengan pisau. Dalam perikop hari ini, Yesus hendak menyampaikan pesan tentang pengampunan. Dalam perumpamaan ini, sang raja menjadi murka saat mendapati ada hambanya yang tidak mau membebaskan hutang sesamanya padanya. Padahal hamba itu telah lebih dulu mendapat pembebasan hutang dari raja. Mengampuni bukan sebuah saran, melainkan perintah Tuhan. Tidak mau mengampuni justru akan merugikan diri sendiri. Dalam batin kita akan selalu tersimpan sebuah kepahitan yang merusak. Tubuh kita juga ikut terpengaruh: kita terjangkit sakit kepala; pencernaan terkena sembelit, maag dan diare; jantung berdegub kencang dll. Itu sebabanyaAllah mewajibkan kita untuk mengampuni. Jika kita tidak mau mengampuni, maka sama seperti hamba itu, kita akan mendapat murka Allah. Kita mampu mengampuni karena Tuhan telah mengampuni kita. Kita tidak akan kesulitan dalam mengampuni karena Tuhan telah memberi contoh yang indah tentang pengampunan dan memberi kekuatan untuk mengampuni. Mengizinkan pengampunan Tuhan meresap ke dalam hidup kita dan memperbarui kita merupakan langkah pertama menjadi orang yang penuh pengampunan.

To the Point
"Mengampuni itu seperti mengeluarkan racun dalam tubuh kita. Kita terhindar dari bahaya" 28

Berjauhan

Kisah ini benar terjadi. Sebut saja Dimas. Sejak masih muda, dia sangat aktif dalam kegiatan gereja. Isterinya juga seorang aktivis gereja. Di dalam masyarakat, Dimas dikenal sangat aktif dalam kegiatan sosial. Dia punya kepedulian yang sangat tinggi. Ada banyak orang yang sudah dibantunya. Sayangnya, kehidupan rumah tangga Dimas kurang harmonis. Pernikahan yang telah mereka jalani selama puluhan tahun justru berada di ambang perpecahan. Selama beberapa bulan, mereka hidup terpisah di dua kota yang berbeda. Hingga suatu ketika terdengar kabar mengejutkan. Dimas meninggal, ketika sedang bersama wanita lain di kamar sebuah hotel. Ada pernyataan menarik dalam surat yang ditulis Paulus. Dia memberi izin kepada pasangan suamiisteri untuk saling menjauh, tapi ada syaratnya: (1) sama-sama disepakati; dan (2) sifatnya hanya untuk sementara. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan pada kedua pihak untuk berdoa tanpa gangguan. Harapannya, sesudah itu akan terjadi rekonsiliasi. Jika “pisah ranjang” dilakukan tanpa syarat dan tujuan ini, maka bahayanya adalah masing-masing pihak tidak dapat menahan gejolak nafsu jahat. Paulus menulis: “Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri; yang berkuasa atas tubuhnya adalah suaminya. Begitu juga suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri; yang berkuasa atas tubuhnya adalah istrinya” (1 Kor.7:4). Dengan memegang prinsip ini, maka perselingkuhan dapat dihindarkan. Ketika mendapat godaan maka seorang suami akan berpikir, “tubuhku ini adalah milik isteriku. Aku tidak berhak untuk menyalahgunakannya.” Demikian juga halnya bagi seorang isteri.

Nats
“Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” 1 Korintus 7:5

To the Point
"Kedekatan Anda dengan pasangan Anda akan memperlebar jarak Anda dengan dosa seksual" 29

Kotak Pandora

Nats
“Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.” Ibrani 6:19

Pernah dengar istilah “Kotak Pandora”? Inilah cerita aslinya. Pandora adalah perempuan yang punya rasa penasaran yang besar. Suatu hari dia menikah dengan Epimeteus. Sebagai kado pernikahan, Merkurius memberi sebuah kotak yang dapat membuat mereka hidup bahagia. Tapi mereka dilarang membuka kotak itu. Meski dilarang, Pandora justru penasaran pada isi kotak itu. Dia membuka sedikit penutup kotak itu untuk mengintip isinya, Tiba keluarlah sekawanan serangga yang menyengat mereka. Sengatan itu mengandung racun kecemburuan, kebencian, ketakutan dan kekejaman. Akibatnya, pasangan itu menjadi sering bertengkar. Epimeteus menjadi pemarah dan Pandora sering menangis. Suatu hari, mereka mendengar suara lirih dari dalam kotak:”Keluarkan aku. Biarkan aku memulihkan luka-luka kalian.” Dengan takut-takut, mereka membuka kotak itu dan keluarlah kupukupu cantik. Kupu-kupu menyentuh pasangan itu dan terjadilah keajaiban. Luka-luka batin mereka disembuhkan. Mereka hidup bahagia kembali. Dalam mitologi Yunani, kupu-kupu ini bernama “Pengharapan.” Pengharapan memberikan kita alasan untuk tetap bertahan di tengah badai pencobaan. Pengharapan itu seperti jangkar yang tertancap kuatkuat di dasar samudera. Sedahsyat apa pun badai itu mengombang-ambingkan, kita tidak akan terseret dan tersesat. Jika keluarga Anda sedang diserang “sekawanan serangga beracun”, segeralah sentuh “kupu-kupu pengharapan” itu. Dia akan memberikan kekuatan untuk mempertahankan keutuhan keluarga Anda.

To the Point
"Dunia ini dapat berputar karena masih ada pengharapan"

30

Mertua vs Menantu

Saya mengenal sepasang suami-isteri yang masih numpang tinggal seatap dengan ibunya. Uniknya, pendapatan sang suami ini selalu diberikan sepenuhnya pada ibunya ini, bukan kepada isterinya. Di dalam keluarga ini, terasa ada nuansa persaingan antara sang ibu dengan menantu perempuannya. Hingga suatu ketika terjadi pertengkaran hebat antara kedua wanita ini. Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua (Kel. 20:12; Ul. 5:16). Perintah ini sangat jelas dan disertai dengan sanksi yang tegas: kematian!( Mat 15:4). Namun dalam soal pernikahan, seorang laki-laki harus “meninggalkan” ayahnya dan ibunya untuk bersatu dengan isterinya. Maksud “meninggalkan” ini punya makna yang luas. Namun intinya, adalah kemandirian anak dari orangtua. Ketika dua orang memasuki lembaga pernikahan, maka mereka membentuk entitas sosial terkecil, yaitu keluarga. Kelompok kecil ini memiliki wilayah otoritas sendiri. Mereka berhak mengatur kehidupan rumah tangganya sendiri, tanpa intervensi pihak lain. Sekalipun ada desakan dari orangtua sendiri, tapi mereka punya hak untuk menolaknya jika itu tidak sesuai dengan rumah tangganya. Dalam hal ini, sang anak tidak dianggap berdosa terhadap orangtuanya. Meski setiap keluarga punya wilayah otoritas, tapi sebaiknya kita tidak “memagari” batas-batas ini dengan kawat berduri. Itulah seninya berkeluarga. Ada kalanya kita menerima saran yang baik dari pihak lain. Tapi ada saatnya kita harus berani berkata “tidak” dengan tegas, tanpa harus mengorbankan hubungan baik.

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kejadian 2:24

Nats

To the Point
"Ingat prioritas ini: pertama, pasangan hidup dan anakanak Anda, barulah kemudian orangtua Anda" 31

Rahasia Bahagia

Nats
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5:18

Ada seorang pria yang sedang berdoa. Tuhan berkata padanya: “Aku akan mengabulkan tiga permohonanmu. Tapi setelah itu jangan minta lagi.” “Tuhan aku ingin Engkau mengambil istriku. Aku tidak bisa hidup lagi bersamanya,” katanya. “Baik, “ jawab Tuhan, “terjadilah seperti yang kau minta.” Maka matilah isterinya. Pada saat upacara penguburan, tiba-tiba pria ini berubah pikiran. “Tuhan, dulu istriku ini adalah wanita yang baik. Selama dia hidup, aku tidak pernah menghargainya. Tuhan hidupkan dia lagi.” "Permohonanmu yang kedua sudah terkabul.” Tinggal satu permohonan. Minta apa lagi ya? Dia bingung, lalu minta pertimbangan teman-temannya. “Minta uang saja. Dengan uang, kamu dapat memiliki apa saja.” “Buat apa punya uang kalau kamu tidak sehat? Minta kesehatan saja.” “Apa gunanya kesehatan jika suatu saat nanti kamu akan mati? Minta keabadian saja.” “Apa gunanya keabadian jika kamu tidak seorang pun untuk dicintai? Mintalah cinta.”

To the Point
"Kebahagiaan itu tidak berasal dari luar, tapi bersumber dari dalam"

Pria ini malah tambah bingung. “Apa permohonan ketigamu?” tanya Tuhan Pria ini tertawa kecut, “Tuhan saya tidak tahu apa yang harus kuminta! Dapatkah Engkau katakan apa yang harus kuminta?” Tuhan tertawa keras mendengar hal itu, “Mintalah untuk menjadi bahagia tanpa peduli seperti apa pun keadaanmu. Itulah rahasianya.”

32

Kepercayaan

Pada zaman ini, “kepercayaan” (trust) terasa begitu murah. Kita bisa melihat contohnya dalam tayangan infotainment di media massa. Ada beberapa artis lain yang “digosipin” hal tertentu. Mereka membantahnya, tapi kemudian terbukti bahwa kabar itu bukan isapan jempol. Yang menarik, artis-artis tersebut tidak terlihat malu atau menyesal meskipun kebohongan mereka terbongkar. Dalam dunia hiburan, popularitas memang menjadi dambaan di kalangan selebritas. Dengan liputan media, mereka berharap dapat bertahan di dalam persaingan panggung hiburan yang sangat ketat ini. Tapi apakah hal itu boleh dicapai dengan mengabaikan norma-norma sosial? Di dalam kehidupan sosial, orang yang berbohong berarti telah mencederai kepercayaan masyarakat terhadap dirinya. Orang lain menjadi ragu, tidak percaya, bahkan skeptis terhadap ucapannya. Dibutuhkan waktu yang lama dan banyak pembuktian sebelum dia mendapat kembali kepercayaan dari masyarakat. Kepercayaan adalah “mata uang” yang laku di mana pun kita berada. Dalam dunia usaha, relasi bisnis hanya mau menjalin kerjasama dengan orang yang dapat dipercaya. Kita bersedia naik bis kota karena percaya pada sang sopir. Kita mau dipimpin oleh seseorang karena percaya kepadanya. Kepercayaan adalah barang yang mahal karena dapat mempengaruhi keadaan orang lain. Ia sangat susah didapatkan kembali, jika kita telah mengkhianati kepercayaan itu. Tapi, kepercayaan sesungguhnya mudah dipelihara asalkan kita selalu berkata dan berbuat dengan jujur.

Nats
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Matius 5:37

To the Point
"Sekali dicederai, kepercayaan sulit didapatkan kembali"

33

Mitos Kehamilan

Nats
“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” Mazmur 139:13

Ada banyak mitos yang berkenaan dengan orang hamil. Ketika isteri saya hamil, kami tidak percaya pada mitos-mitos yang berdasarkan takhayul. Contohnya, kami pernah ditegur seorang nenek karena saya memancing, padahal isteri saya sedang hamil. Menurutnya, anak saya bisa lahir dengan bibir sumbing. Suatu ketika, kami akan melayani di sebuah panti yang mengasuh anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka ini mengalami kelambatan perkembangan mental dan intelektualitas. Malam sebelum berangkat, salah seorang anggota jemaat menelepon kami. “Apakah Anda tetap akan melayani di sana?” tanya dia. “Memangnya kenapa?” tanya isteri saya. “Anda ‘kan sedang hamil. Sementara yang Anda layani punya hal-hal khusus. Kalau nanti memengaruhi pembentukan janin Anda, bagaimana?” katanya. Deg! Untuk sesaat naluri keibuannya muncul. Isteri saya tampaknya terpengaruh oleh perkataan itu. Saya lalu menguatkannya. Dengan mengutip Mazmur 139:13, saya katakan bahwa Allah sendiri yang “menenun” kita. “Masa’ sih pekerjaan Allah dapat diintervensi oleh takhayul-takhayul seperti itu,” hibur saya. Isteri saya dapat mengerti penjelasan saya. Puji Tuhan, anak kami lahir normal dan cantik. Kita telah diberi iman dan hikmat. Dengan hikmat, kita dapat mengupayakan untuk memeriksa kandungan ke dokter dan menyantap makanan bergizi. Kami sering menanyakan kebenaran mitos itu pada dokter kandungan. Sebagian besar hanya isapan jempol saja. Lalu, dengan iman, kita meyakini bahwa Allah sedang “menenun” sebuah mahakarya (masterpiece), yaitu seorang manusia.

To the Point
"Manusia adalah buatan tangan manusia. Siapa yang mencederainya, berarti telah mencederai Penciptanya" 34

Mendidik Anak

Warisan Iman

"Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anakanakmu... " Ulangan 6:6-7

Nats

Ketika anak-anak sudah berkumpul di sekitar tempat tidurnya, ia memegang tangan Jackson, anaknya, lalu berkata, "Ibu berharap kamu menjadi manusia yang berguna. Suatu saat nanti kamu akan disebut 'Rumah'. Jika saat itu sudah tiba, dunia ini akan menjadi lebih baik berkat dirimu." Ibu itu berhenti sejenak untuk mengambil napas. "Rahasia hidup yang benar adalah tetap dekat pada Tuhan. Kamu harus rajin berdoa. Berdoa ketika akan tidur. Berdoa ketika bangun tidur. Berdoa sepanjang hari. Dan memiliki iman. Kamu harus percaya pada Dia yang menciptakan kamu." Beberapa saat kemudian, Ibu itu menghadap Bapa di Sorga. Pesan terakhir ibunya itu sangat membekas di hati Stonewall Jackson, seorang Jenderal pada tentara Konfederasi, Amerika. Ibu Jackson telah mengemban tugas sebagai orangtua dengan baik. Dia telah mengajarkan anaknya supaya takut akan Tuhan. Bahkan hingga detik-detik terakhir hidupnya. Tuhan sudah menetapkan bahwa pendidikan tentang kerohanian anak, pertama-tama haruslah di dalam keluarga. Orangtua diperintahkan supaya mengajarkan perintah Tuhan ini ketika berada ‘di rumah’, ‘dalam perjalanan’, ‘berbaring’ dan ‘bangun’. Ini artinya bahwa orangtua harus mengajarkan firman Tuhan hal ini pada setiap kesempatan. Orangtua juga harus mengikatkannya sebagai tanda pada tangan, menjadi lambang di dahi, menuliskannya pada tiang pintu rumah dan pintu gerbang. Dalam bahasa populer, orangtua harus kreatif dengan menggunakan berbagai metode. Dengan cara yang demikian, maka anak merasa fun dan asyik ketika mempelajari perintah Tuhan.

To the Point
"Warisan terbaik yang tak akan pernah habis adalah karakter yang baik dan sikap takut akan Tuhan" 36

Mencari Kambing Hitam

Di kampung saya, jika anak kecil terjerembab, maka mereka akan buru-buru menyalahkan sesuatu supaya anaknya berhenti menangis. Biasanya mereka menyalahkan "katak imajiner" atau memukul benda yang menjadi penyebab kecelakaan itu. Cara ini memang cukup efektif untuk mengalihkan perhatian anak dari rasa sakit dan tangisnya segera reda. Dalam Alkitab, upaya mencari kambing hitam sudah muncul sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Manusia menjadi malu karena telanjang dan menyembunyikan diri. Allah bertanya siapa yang memberitahu bahwa mereka telanjang. Allah juga bertanya apakah mereka makan buah terlarang itu. Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Adam malah menyalahkan Allah dan Hawa. Hawa lalu melemparkan kesalahan pada ular. Sejak saat itu, manusia selalu berkilah mencari pembenaran atas perbuatan dosanya. Jarang sekali ada tersangka yang mengakui kesalahannya. Mereka berkelit dan berdalih macam-macam, meskipun alat bukti terjejer di depan matanya. Apabila sejak kecil seorang anak sudah diajari untuk mencari kambing hitam, maka hal ini akan merasuk ke dalam karakternya ketika dewasa. Ketika berbuat kesalahan, alih-alih mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri, dia malah berusaha menyalahkan pihak lain. Orangtua pun perlu memberi teladan dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf jika berbuat salah. Yang terpenting setelah itu adalah kesediaan untuk memperbaiki diri, supaya tidak mengulangi kesalahan itu.

Nats
"Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."” Kejadian 3:12

To the Point
"Berbuat kesalahan adalah hal yang manusiawi. Tetapi berani mengakui kesalahan, lalu memperbaiki diri adalah hal yang sorgawi"

37

Pertanyaan Bagus

“Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan.” Matius 22:15

Nats

Isidor Isaac Rabi, adalah seorang pemenang hadiah Nobel di bidang Fisika dan salah satu penemu bom atom. Suatu kali, ada orang yang bertanya, bagaimana dia bisa menjadi ilmuwan. Isidor menjawab bahwa ketika masih kecil, ibunya selalu mengajak mengobrol sepulang dari sekolah. Ibunya tidak begitu mempedulikan apa yang sudah dipelajari anaknya pada hari itu. Dia lebih peduli pada perilaku anaknya dalam bersekolah. Ibunya selalu bertanya,”Apakah kamu mengajukan pertanyaan yang baik hari ini?” "Mengajukan pertanyaan yang baik, adalah yang membuat saya menjadi ilmuwan," jelas Isidor. Supaya dapat mengajukan pertanyaan yang baik, kita harus memiliki motif yang baik pula. Anda bertanya karena memang ingin tahu kebenaran. Namun tidak demikian dengan orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan, tapi mereka sudah tahu jawabannya. Mereka merasa sudah mengetahui kebenaran. Mereka hanya ingin menyerang reputasi Yesus. Kebiasaan bertanya adalah sebuah hal yang baik. Sayangnya, banyak orangtua yang tidak suka jika anaknya banyak bertanya. “Anak kecil tidak usah banyak tanya. Nanti kalau besar juga tahu sendiri,” demikian biasanya jawab orangtua. Belajar dari sikap Tuhan Yesus, kita tahu bahwa Yesus melayani setiap pertanyaan dengan sabar. Entah itu dengan motif tulus atau akal bulus. Yesus memakai pertanyaan itu sebagai kesempatan untuk mengajar hal-hal yang baik. Biasakan anggota keluarga Anda untuk mengajukan pertanyaan yang baik. Maka mereka akan mendapatkan pengetahuan yang baik pula.

To the Point
"Pertanyaan yang baik adalah setengah jalan dari kebenaran"

38

Kasih Meskipun

Para orangtua mungkin pernah membuat janji seperti ini: “Papa akan membelikan sepeda baru, asalkan kamu juara pertama.” Atau “Mama akan mengajak kamu berlibur ke Bali, asalkan kamu mau ikut les piano.” Perhatikan selalu ada kata: “asalkan”. Sebagai orangtua, sebaiknya kita berusaha menghindari “kasih yang bersyarat” ini karena tidak mencerminkan kasih Allah. Dalam kehidupan kita, Allah mengasihi kita apa adanya. Inilah “kasih meskipun.” Allah tetap mengasihi kita meskipun kita masih bergelimang dosa. Allah mengasihi kita meskipun kita tidak punya prestasi apa-apa. Sebagai orang yang telah dikasihi Allah, semestinya kita juga menunjukkan kasih seperti itu kepada anak-anak. Contohnya, ketika kita memberikan hadiah, sebaiknya tidak dikaitkan dengan syarat-syarat. Kita memberikan hadiah kepada anak-anak semata-mata karena kita mengasihi mereka. Titik. Tidak ada embel-embel prasyarat apa. Tapi bagaimana jika kita ingin mendorong supaya anak berprestasi? Ada dua alternatif: Pertama: Berikan kata-kata pujian pada saat yang tepat. Contoh: “Bagus! Kamu telah membuat Ayah bangga.” Hadiah bisa saja habis atau rusak, tapi kata-kata pujian akan tetap melekat di batin mereka seumur hidup. Kedua:menunjukkan hasil akhir yang akan dicapai. Meminjam istilah Stephen Covey, begin with the end. Ajak anak Anda membayangkan hasil yang akan didapat jika dia mulai melakukan itu. Contohnya, jika anak Anda bercita-cita jadi penerbang, maka dia harus menguasai Matematika.

Nats
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Efesus 2:8

To the Point
Mulai sekarang gantilah “Kasih Asalkan” dengan “Kasih Meskipun”.

39

Kasih Seorang Ibu

Nats
“Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.” Matius 15:28

Ada seorang perempuan Kanaan yang anak perempuannya sedang sakit. Dia minta kesembuhan dari Yesus, tapi harus menghadapi hambatan yang berlapis-lapis. Lapisan pertama, dia berkebangsaan Kanaan, yang dianggap kafir oleh orang Yahudi. Padahal Yesus dan murid-murid-Nya adalah orang Yahudi. Lapisan kedua, anaknya kerasukan setan. Saat itu, masyarakat menganggap kerasukan setan disebabkan oleh dosa yang dilakukan orangtuanya. Karena itu, keluarganya harus disingkirkan oleh masyarakat. Lapisan ketiga, dalam budaya patriakhi. Perempuan dianggap tabu jika tampil di muka umum. Dia berseru meminta pertolongan Yesus. Alih-alih mengabulkan permohonan itu, Yesus menolaknya dengan perumpamaan yang mengandung penghinaan (Mat.15:26). Namun, perempuan ini tidak surut. Dari perempuan Kanaan ini kita mendapat pelajaran tentang iman dan kasih. Karena sangat mengasihi anaknya, dia berani menerobos sekatsekat dan menyeberangi tapal-tapal batas. Kasihnya yang besar itu membuatnya beriman kepada Yesus. Seperti ditulis Paulus, kasih perempuan Kanaan pada putrinya telah memampukannya untuk menutupi segala sesuatu, termasuk hinaan dan cercaan, untuk percaya segala sesuatu dan mengharapkan segala sesuatu dalam Yesus, dan sabar menanggung segala sesuatu agar bisa memperoleh penyembuhan serta kebebasan bagi anak perempuannya (1 Kor.13:7).

To the Point
"Iman dan Kasih adalah dua satu sisi dari satu mata uang. Keduanya tak terpisahkan" 40

Anak: Antara Ada dan Tiada

“Cadangan itu apa sih?” Terdengar suara anak kecil di seberang bilik di warung internet. Tampaknya anak kecil itu bertanya kepada orangtuanya. Saya tertarik untuk menyimak percakapan itu. Saya tunggu-tunggu, ternyata orangtuanya tidak menjawab pertanyaan itu. Tanpaknya mereka sedang asyik menelusuri dan membicarakan daftar nama yang tertera di dalam sebuah situs. Nama yang mereka cari tampaknya ada di dalam cadangan. Sang anak mendengar pembicaraan itu. Dia tidak tahu arti kata “cadangan”. Namun saat bertanya, dia diabaikan oleh orangtuanya. Kemudian anak itu mengulangi pertanyaannya, tetapi tetap saja dicuekin. Saya perhatikan, anak itu sudah bertanya lebih dari 5 kali, tanpa ada satu jawaban memuaskan dari orangtua. Keberadaan anak itu seolah-olah tidak nyata di samping mereka. Mendengar pembicaran itu, saya merasa gemas sekaligus prihatin. Keberadaan anak di antara orang dewasa seringkali dianggap sebagai “pengganggu”. “Ah, anak kecil tahu apa!” Demikian alasan orang dewasa yang malas meladeni pertanyaan anak. Saat anak-anak ingin menjamah Yesus, para murid segera “beraksi” melindungi Guru mereka. Dalam pandangan masyarakat Yahudi, anak-anak dianggap tidak produktif dan banyak menuntut perhatian. Kelompok anak-anak dan wanita dianggap sebagai kelompok “pinggiran” yang tidak perlu diperhitungkan. Itu sebabnya, mereka meremehkan anak-anak. Akan tetapi Yesus, memarahi keangkuhan orang dewasa ini. Anak-anak pun berhak mendapatkan pengajaran. Baik itu dari sisi kerohanian maupun pengetahuan lainnya. Jangan abaikan keberadaan anak-anak di sekitar kita.

Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orangorang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.” Markus 10:14

Nats

"Anak bukan milik orangtua. Anak adalah gereja di masa depan yang dititipkan Allah kepada orangtua. Rawatlah titipan Tuhan dengan baik" 41

To the Point

Kekerasan Anak

Nats
“Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Kolose 3:18-25

Ismi didapati tetangganya sedang dikurung di kamar mandi oleh orangtua asuhnya. Tidak itu saja. Selain kekerasan secara fisik, Ismi juga mendapat kekerasan secara mental. Inilah salah satu potret kekerasan yang terjadi pada anak. Ada bermacam-macam kekerasan terhadap anak. Selain kekerasan fisik, ada juga kekerasan mental, kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, kekerasan secara hukum dll. Mengapa terjadi kekerasan terhadap anak? Karena orangtua menganggap anak sebagai milik mereka. Sebagai pemilik, maka mareka bebas melakukan apa saja terhadap "benda-benda miliknya" itu. Maka anak sering menjadi objek kekerasan dari orangtua. Pandangan seperti ini dikritik secara halus oleh Kahlil Gibran. Di dalam The Prophet (1923) ‘On Children’, dia menulis puisi yang terjemahan bebasnya sebagai berikut: Anak-anakmu, bukanlah milikmu, mereka adalah anak-anak kehidupan. Mereka lahir melalui kamu, tapi tidak berasal dari kamu. Mereka bersama-sama kamu, tapi bukan milikmu. Kamu bisa memberi kasih pada mereka, tapi bukan kehendakmu, Karena mereka punya kehendak sendiri. Kamu bisa mengurung tubuhnya, tapi tidak untuk jiwanya. Mari kita memeriksa diri. Apakah ada kekerasan terhadap anak di dalam keluarga kita? Apakah kita sering memaksakan kehendak pada anakanak? Melontarkan kata-kata kasar? Merendahkan martabatnya? Apakah kita mengistimewakan anak yang satu, tapi mengabaikan anak yang lain?

To the Point
"Kekerasan itu seperti virus. Dia menular dan berkembang semakin banyak dan semakin kuat. Serum penangkal virus ini bermerek: KASIH" 42

Logika Kasih

Dina, teman saya, kerap pulang kampung padahal jaraknya cukup jauh. Jika naik pesawat, harus menempuh waktu dua jam. Ketika saya tanya apakah dia tidak keseringan pulang, Dina malah bercerita. Dina dan kakaknya harus berpisah dengan orangtua karena kuliah di kota lain. Setiap bulan, mereka mendapat kiriman uang. Namun uniknya, jika ada salah satu anaknya pulang kampung, maka anak itu justru akan mendapat “bonus” dari orangtua. Misalnya dibelikan baju atau sepatu baru. Padahal menurut logika, jika anaknya pulang, maka orangtua harus mengeluarkan biaya ekstra untuk ongkos transportasinya. Maka logis saja bila jatah bulanan anak itu dikenai “potongan”. Namun logika kasih berbeda dengan logika matematis ini. Orangtua mana yang tidak punya hasrat untuk sering berkumpul dengan anakanaknya? Orangtua mana yang tidak senang jika melihat anak-anaknya pulang? Dalam perumpamaan ini, sepeninggal anak bungsunya, sang bapa sering melongok keluar rumah. Dia berharap dapat melihat anak bungsunya berjalan pulang. Ketika hal itu akhirnya terwujud, dia segera berlari menyongsong anaknya itu. Dia tidak peduli meskipun anak bungsunya ini telah menuntut dan menghabiskan harta warisan darinya. Siapa yang tidak senang mengetahui bahwa Allah memiliki hati Bapa seperti ini? Dia sering “melongok keluar” untuk mengetahui apakah ada anak-Nya yang tengah berjalan pulang. Hebatnya lagi, Allah tidak menyambut kita dengan penthung, tapi dengan pesta penyambutan.

Nats
“Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Lukas 15:20

To the Point
"Seperti bapa menantikan anaknya, Allah menantikan kita pulang. Pulang dengan penuh penyesalan dan pertobatan" 43

Terlalu Cepat Dewasa

“Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!” Mazmur 144:12

Nats

Dua bocah Australia, umur sepuluh dan enam tahun, sepakat membuat kejutan bagi kakek mereka dengan mengunjunginya menggunakan mobil yang dikemudikan sendiri. Mereka “mencuri” mobil milik nenek mereka dan meluncur di jalan bebas hambatan di daerah pedesaan New South Wales, Australia. Saat dihentikan polisi, mereka sudah menyetir sejauh kira-kira 100 km. “Tampaknya mereka mengemudi secara normal, bahkan lebih baik dari sebagian pengemudi mobil di jalan itu,” kata sersan Mat Clifford yang menghentikan mereka. Polisi hanya memberi peringatan pada sang kakak dan menyerahkan kepada pihak keluarga hukuman apa yang akan dijatuhkan. Jika kita renungkan, sang kakak berani menyopiri mobil pasti karena sudah punya ketrampilan mengemudi. Lalu darimana dia mendapatkan ketrampilan itu? Kemungkinan besar, orangtuanya telah terlalu dini mengajarinya menyetir mobil. Ada gejala anak-anak sekarang terlalu cepat dewasa. Dalam usia dini, mereka telah dikondisikan oleh orangtua untuk mengenal kehidupan dewasa. Misalnya, mereka sudah diajari untuk mencari uang. Lihat saja berapa banyak anak yang menjadi bintang sinetron dan presenter cilik. Bagi anak-anak yang kurang mampu, mereka dipaksa menjadi pengamen, pengemis atau anak pekerja. Kaum muda adalah harapan masa depan bangsa (Mzm. 127:3-4). Anak laki-laki adalah jaminan keamanan (Mzm. 127:5), sedangkan akan perempuan menjadi batu penjuru yang menopang bangunan bangsa (bnd. Kid. 5:15). Anak-anak punya hak untuk bermain dan bertumbuh-kembang. Biarkan mereka menikmati masa kanak-kanak yang indah.

To the Point
"Yesus saja butuh 30 tahun untuk menyiapkan diri. Biarkan anak bertumbuh alami" 44

Mengejar Anak Panah (1)

Ketika seorang artis tewas karena “OD” (overdosis) atau kelebihan penggunaan obat terlarang, media heboh memberitakannya. Namun yang luput dari liputan media, pada hari yang sama ada 39 orang yang juga mati karena jeratan narkoba. Menurut Badan Narkotika Nasional, pengguna narkoba terbanyak justru pelajar, bukan artis. Jumlahnya mencengangkan dan terus bertambah setiap tahun. Tahun 2006, BNN mencatat 15.101 siswa; SLTP mencapai 4.012 orang dan SLTA 11.089 orang (Kompas, 15/12/06). Jika kita memakai paradigma gunung es, maka jumlah sebenarnya pasti lebih dari itu karena masih banyak pengguna narkoba yang tidak tercatat. Meski anak kami belum genap berusia setahun, tapi kami merasa harus sudah mulai mewaspadai hal ini sejak dini. Pemazmur mengibaratkan anakanak itu seperti anak panah. Begitu dilepaskan, ia akan melesat sangat cepat. Para orangtua hampir tak sanggup untuk mengejarnya. Kehidupan anak muda adalah kehidupan yang sangat dinamis. Ibarat “burung rajawali”, anak muda memiliki enerji yang berlebih dan ingin menjelajahi berbagai hal (Mzm.103:5). Mereka juga mulai membangun ego pribadi, sehingga menolak jika terlalu banyak dicampuri oleh orangtua. Setiap orangtua yang baik pasti was-was melihat maraknya penggunaan narkoba. Hasil riset di Amerika, kasus penggunaan narkoba pada pelajar kelas III SMP justru meningkat, padahal ketika kelas I mereka sudah diberi penyuluhan tentang bahaya narkoba. Maka benteng pertama untuk pencegahan narkoba adalah keluarga.

Nats
“Seperti anakanak panah di tangan pahlawan, demikianlah anakanak pada masa muda.” Mazmur 127:4

"Anak itu seperti anak panah. Ia memang harus dilepaskan. Tapi pemegang busurnya adalah orangtua. Arahkan pada sasaran yang tepat" 45

To the Point

Mengejar Anak Panah (2)

Nats
“Seperti anakanak panah di tangan pahlawan, demikianlah anakanak pada masa muda.” Mazmur 127:4

Kejadiannya bukan di film atau kisah rekaan. Truk-truk dan mobil berkecepatan tinggi di jalan raya bebas hambatan antar negara bagian, Interstate 465, Indiana, harus mengerem mendadak dan banting stir untuk menghindari seorang bocah lakilaki berusia tiga tahun yang asyik bermain tanpa alas kaki di jalan raya dan masih memakai popok. Sedikitnya setengah lusin kendaraan traktor besar dan mobil lainnya pindah jalur lalu lintas untuk menghindari Damon Dyer yang sedang berlarian di jalan tol itu. Polisi yang mencari “jejak” orangtua Damon menemukan ibunya, Nancy Dyer, sedang tertidur lelap di sebuah apartemen yang kotor, sementara anaknya yang lain yang berusia 2 tahun sedang memakan spageti yang tercecer di lantai. “Oh, dia berkeliaran lagi ya?” kata Nancy ketika mengetahui anaknya ditemukan polisi. Atas kelalaiannya, Nancy langsung ditahan atas tuduhan mengabaikan anak. (Kompas, 2/1/07) Pemazmur mengibaratkan anak-anak seperti anak panah di tangan pahlawan. Begitu dilepaskan, ia melesat dengan cepat. Ini bermakna dua hal: pertama, masa anak-anak berlalu dengan sangat cepat. Pada masa yang singkat ini, anak-anak mengalami masa pertumbuhan yang sangat pesat. Jika kita tidak peduli, maka kita telah menyianyiakan masa keemasan (golden time) anak Anda. Kedua, anak memiliki energi yang besar. Dia punya keinginan yang besar untuk menjelajahi “dunia” ini. Ini hal yang baik. Sayangnya, tidak semua tempat di dunia ini aman untuk anak-anak. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak lengah dalam memantau aktivitas anak-anak kita.

To the Point
"Biarkan anak-anak menjelajahi dunia, tapi pastikan dia berada di wilayah yang aman" 46

Mengejar Anak Panah (3)

Catatan Komnas Perlindungan Anak terjadi peningkatan kasus kekerasan terhadap anak. Bahkan pada tahun 2006, mereka mencatat 72.000 kasus kekerasan. Angka tersebut belum termasuk kekerasan dalam bentuk lain, seperti penelantaran dan penculikan. Angka ini juga belum mencakup bentukbentuk pelanggaran hak anak seperti pedagangan anak, anak yang hidup di jalanan, anak bunuh diri, hingga anak putus sekolah dan buta huruf. Berdasarkan pengaduan ke Komnas, pemicu kekerasan terhadap anak, antara lain adalah kekerasan dalam rumah tangga, disfungsi keluarga, kesulitan ekonomi dan pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga, kata Seto Mulyadi, ketua Komnas Perlindungan Anak. (Kompas, 3/1/07) Kira-kira seabad lalu, penyair Lebanon, Kahlil Gibran menulis demikian: Anakmu, bukanlah anakmu. Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya. Mereka datang melalui engkau, tapi bukan dari engkau. Dan walau mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan kepunyaanmu . . . . Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh. Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah. Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap. Para orangtua perlu merenung kata-kata penuh makna ini!

Nats
“Seperti anakanak panah di tangan pahlawan, demikianlah anakanak pada masa muda.” Mazmur 127:4

To the Point
Setiap anak punya hak sebagai anak. Para orangtua wajib mengetahui dan menghormatinya. 47

Tak Terbeli

Nats
“Orang yang masih minum susu, berarti ia masih bayi; ia belum punya pengalaman tentang apa yang benar dan apa yang salah. Makanan yang keras adalah untuk orang dewasa yang karena pengalaman, sudah dapat membedabedakan mana yang baik dan mana yang jahat.” Ibrani 5:13-14

Sebuah iklan kartu kredit memiliki slogan yang bagus, “There are some things you can't buy.” Tidak semua hal dapat kita beli dengan uang. Anda tidak dapat memintanya dari orang lain, Anda tidak meminjamnya, bahkan Anda tidak bisa mencurinya. Apa itu? Yaitu pengalaman hidup. Pengalaman adalah proses yang kita jalani selama kita hidup. Anda tidak dapat mengklaim pengalaman orang lain, sebagai milik Anda. Pengelola bunggee jumping biasanya memberikan sertifikat kepada orang yang terjun dengan ikatan di kaki itu. Anda bisa saja membeli sertifikat itu, tapi tidak dapat memiliki pengalaman sensasi terjun bertali itu. Pengalaman adalah pelajaran yang paling baik. Seperti yang dikatakan oleh Paulus, berkat pengalaman kita dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Hal tersebut tidak bisa hanya diajarkan saja, karena biasanya segera dilupakan. Tapi jika kita mengalaminya sendiri, maka kita benarbenar meyakininya. Dalam pendidikan, dikenal metode “experiental learning”. Di sini, pembelajar diajak dan dibimbing untuk mengalami langsung sebuah pelajaran yang baru. Metode ini ternyata lebih efektif. Pembelajar bisa mengingat lebih banyak pelajaran.

To the Point
Anda tidak dapat memindahkan pengalaman hidup Anda pada anakanak Anda. Biarkan mereka merasakan pengalamannya sendiri.

Setiap orangtua pasti berusaha melindungi anak-anaknya dari ancaman bahaya. Meski begitu, tindakan perlindungan yang berlebihan juga kurang bijak. Sebab dengan begitu, anak-anak tidak punya kesempatan untuk memperkaya pengalaman hidup. Sepanjang itu tidak membahayakan fisik, mental dan kerohanian doronglah anggota keluarga Anda untuk memperkaya pengalaman dalam hidup mereka.

48

Didikan dan Nasihat

Dalam bahasa Yunani, kata untuk 'didiklah' adalah ektrepho. Kata ini hanya ditemukan dua kali dalam Alkitab. Selain pada Efesus 6:4, kata ini juga ditemukan dalam Efesus 5:29: “ Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.” Ektrepho berasal dari kata trepho yang berarti “menyediakan makanan.” Kata ini digunakan Yesus ketika menunjukkan pemeliharaan Bapa yang memberi makan burung-burung di udara. Dengan demikian, maksud ayat ini adalah supaya para orangtua menyediakan makanan yang diperlukan anak-anak untuk bertumbuh besar. Tidak hanya makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani. Sedangkan kata “nasihat” berasal dari kata nouthesia, yang merupakan bentukan dari nous+tithami. Nous=”pikiran”; Tithami= “mengumpulkan.” Secara harfiah, kata ini bisa diterjemahkan sebagai “mengumpulkan pikiran”. Kata ini juga diterjemahkan "memperingatkan". Dengan demikian kata “nasihat” mengandung maksud bahwa para orangtua bertanggungjawab untuk mengumpulkan kebenaran firman Tuhan ke dalam pikiran dan hati anak-anak mereka. Penelitian di Universitas North Carolina menunjukkan bahwa anak-anak yang dididik dalam keluarga yang saleh, ternyata kecil kemungkinannya terlibat di dalam penyalahgunaan obat dan alkohol Mereka juga tidak terlibat di dalam perbuatan kriminal dan tidak mudah menjadi stress. Hal ini sudah lama dikatakan Salomo: "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Am.22:6).

“Dan kamu, bapabapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anakanakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6:4

Nats

To the Point
"Benteng pertahanan paling tangguh untuk serangan pengaruh buruk dari lingkungan adalah dengan pengajaran firman Tuhan" 49

Kecerdasan Rohani

Nats
“Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Ayub 1:1

Teman saya, yang memberikan les privat, bercerita ada salah satu anak didiknya yang malas belajar. “Kalau kamu tidak belajar, bagaimana kamu bisa mengerjakan soal ujian nanti?” kata teman saya. “Tenang saja, Bu. Nilai ujian saya pasti baik,” jawab anak itu seenaknya. Benar juga, ketika hasil ujian diumumkan, nilai yang dicapai anak itu sangat mengagumkan. Usut punya usut, ternyata anak ini sudah mendapat bocoran soal sebelum ujian. Ada cerita lain yang serupa. Adik saya, yang guru SD, mengawasi ujian nasional. Sebelum ujian dimulai, kepala sekolah di situ mengambil selembar soal, kemudian mengerjakannya. Selanjutnya dia memberikan kunci jawaban kepada para pengawas ujian untuk diberikan pada para murid. Adik saya menolak melakukan itu karena bertentangan dengan hati nuraninya. Kecurangan-kecurangan telah menjadi kelaziman di setiap akhir tahun ajaran. Ini sungguh memprihatinkan. Demi gengsi sekolah, para pendidik pun mengajari anak-anak untuk tidak jujur. Bahkan orangtua pun juga merestui ini terjadi. Ada orangtua yang membeli bocoran soal ujian atau menyewa joki dengan supaya anaknya mendapat nilai bagus. Harapannya, bisa masuk sekolah favorit. Ayat nats kita menceritakan bahwa Ayub begitu dikasihi Allah bukan karena dia cerdas, melainkan karena ia “saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Kecerdasan harus disertai dengan integritas. Samuel Jackson mengatakan “integritas tanpa kecerdasan itu lemah dan sia-sia, dan kecerdasan tanpa integritas itu berbahaya dan mengerikan.”

To the Point
Allah mengasihi orang yang jujur, taat dan menjauhi kejahatan.

50

Ucapan=Perbuatan

Seorang aktor terkenal bernama Charles Coburn pernah bercerita begini: ketika masih kanak-kanak, saya jatuh cinta pada teater dan karena waktu itu belum ada bisokop, saya berkeliling menonton semua pertunjukan hidup yang saya jumpai. Tapi ayah saya memberi nasihat, "Nak, satu hal yang tidak pernah boleh engkau lakukan ialah tidak boleh pergi ke pertunjukan tertutup yang mempertontonkan wanita-wanita telanjang." Tentu saja saya bertanya mengapa. Dan kata ayah saya, "Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat." Ayah mengulanginya sekali lagi, ""Karena engkau akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh engkau lihat." Jawaban itu justru membuat saya penasaran. Saya malah semakin ingin tahu. Pada kesempatan berikutnya, ketika saya mendapat cukup banyak uang, saya langsung pergi ke pertunjukan tertutup itu. Ayahku ternyata benar. Saya melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh saya lihat, yaitu Ayahku sendiri! Sebagai pelayan Tuhan, Paulus sesungguhnya berhak mendapat sokongan dari jemaat. Tapi ia tidak menggunakan hak itu. Dia mencukupi kebutuhan hidupnya dengan membuat tenda. Ia melakukan ini karena ingin memberi teladan bahwa untuk mendapat makan, orang itu harus bekerja. Prinsip memberi teladan ini sangat efektif dalam mendidik anak. Saya tidak merokok karena ayah saya tidak merokok. Sebuah keteladanan dapat menggantikan sejuta kata-kata nasihat.

Nats
“Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti.” 2 Tesalonika 3:9

To the Point
Rumus untuk keteladanan adalah ucapan=perbuatan.

51

Multi Tasking

Nats
“Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.” Matius 12:25

Teknologi komputer semakin canggih. Ketika komputer masih sederhana, ia hanya mampu menjalankan satu program dalam satu waktu. Sekarang, komputer mampu mengerjakan lebih dari satu program dalam waktu bersamaan. Ini disebut kemampuan multi tasking. Sementara kita sedang mengetik, komputer dapat juga memutar lagu-lagu untuk menemani pekerjaan kita. Pada saat yang sama, komputer juga dapat memeriksa email. Ternyata fungsi multi tasking ini sudah menjalar ke kehidupan manusia. Saat ini banyak orang yang melakukan berbagai aktivitas secara bersamaan: menelepon sambil menyetir, membaca koran sambil sarapan, mengerjakan PR sambil mendengarkan radio. Fenomena ini menyebabkan kita mengalami gangguan continuous partial attention(CPA). Orang yang mendapat gangguan CPA mengalami kesulitan memberi perhatian penuh terhadap suatu urusan karena konsentrasi terbagi-bagi untuk berbagai aktivitas. Fungsi multi tasking ini sering dianggap sebagai gaya hidup modern. Manusia disamakan dengan komputer. Padahal sesungguhnya komputer tidak mengerjakan lebih dari satu tugas secara bersamaan. Ia memproses perintah-perintah satu demi satu, dengan sangat cepat sehingga terkesan mengerjakan banyak tugas sekaligus. Anak-anak rentan terhadap gangguan ini. “Anakanak yang mengirim SMS ketika membuat PR, main game online, dan nonton TV, saya ramal tidak akan berprestasi dalam jangka panjang,” kata Jordan Grafman (National Institute of Neurogical Disorders and Stroke, AS). Hindari wabah multi tasking!

Lebih baik mengerjakan tugas satu demi satu, tapi dengan berkonsentrasi penuh, daripada mengerjakan semuanya sekaligus. 52

To the Point

Membujuk dengan Kapak

Ada pepatah:”Kalau tidak bisa membujuk anakanak dengan kata-kata, “bujuklah” dengan kapak.” Mungkin itu yang ada dalam pikiran seorang ibu di Berlin. Ibu asal Denmark ini telah bersusah payah membujuk anak remajanya yang mengunci diri di dalam mobil agar keluar. Bahkan dia telah meminta bantuan polisi untuk ikut membujuk. Namun, semua itu tidak bisa meluluhkan hati anaknya. Wajar saja jika ibu itu merasa geram dan habis kesabarannya. Si ibu bergegas meminjam kapak seorang polisi dan menghancurkan jendela mobil untuk memaksa anaknya keluar. “Ini bukan cara yang biasa digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti ini,” kata polisi mengomentari peristiwa ini (Kompas, 14/4/07). Raja Salomo menyarankan hal yang sama. Ada saatnya para orangtua harus bersikap tegas pada anak-anak mereka. Hal ini perlu dilakukan, sebab jika tidak maka anak tersebut justru akan mendapat celaka. Tidak hanya manusia, Tuhan pun kadangkala juga menghajar manusia dengan keras (Mzm.118:18). Dia melakukannya, karena Dia begitu mengasihi anak-Nya (Ibr.12:6). Sebagai orangtua, kita punya hak, bahkan wajib untuk menghajar anak-anak kita. Tentu saja ada syaratnya. Pertama-tama kita harus lebih dulu memberikan nasihat baik-baik. Nasihat itu diberikan dengan “hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas” (1 Tim.1:5). Jika kata-kata tidak mempan, maka tindakan fisik dapat dilakukan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan keseriusan sikap kita dan menimbulkan efek jera. Bukan untuk menyakitinya.

Nats
“Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.” Amsal 23:14

To the Point
Lebih baik menghajar dengan kasih, daripada membiarkan anak terjun ke dunia maut 53

Tomas, si Peragu?

Nats
“Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"” Yohanes 20:28

Jika saya menyebut nama Yudas Iskariot, kata apa yang segera terlintas di kepala Anda? Apakah kata yang terlintas adalah “pengkhianat”? Bagaimana jika saya menyebut Yakobus dan Yohanes? Apakah terlintas kata “anak guruh”? Bagaimana jika saya menyebut nama Tomas? Apakah dengan spontan Anda berkata dalam hati “si Peragu”? Ketiga injil Sinoptik, hanya menyebut Tomas secara sepintas-lalu (Mat.10:3; Mrk.3:18;Luk.6:15). Akan tetapi dalam injil Yohanes, ia digambarkan sebagai pribadi yang unik. Ketika Yesus berjalan menuju Yerusalem, para murid khawatir bahwa hal itu akan mendatangkan kematian bagi mereka. Namun tanpa disangka-sangka Tomas berkata, "Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia" (Yoh.11:16 ). Ini sebuah pernyataan yang berasal dari orang yang penuh keyakinan. Tapi mengapa kita hanya mengingatnya sebagai Tomas si Peragu? Memang dalam injil Yohanes diceritakan bahwa Tomas tidak akan percaya akan kebangkitan Yesus kalau tidak mendapat bukti secara langsung. Namun ketika ia akhirnya bertemu langsung dengan Yesus yang hidup, Tomaslah yang memberikan pengakuan paling mendalam kepada Yesus. Tomas berkata"Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh.20:28). Kata-kata yang tegas ini tidak mungkin berasal dari mulut orang yang ragu-ragu. Kita mudah sekali memberi label: “si Pemarah”, “Pembohong Besar”, “si Gendut Pemalas” pada anggota keluarga. Biasanya, label itu hanya didasarkan pada satu sisi yang menonjol dari seseorang, sehingga kita gagal memahaminya sebagai manusia yang kompleks dan utuh.

To the Point
Hati-hati dalam menilai seseorang. Dalamnya laut dapat kita duga, dalam hati manusia siapa tahu. 54

Susahnya Minta Maaf

Saya menyaksikan peristiwa ini: ada tiga polisi yang keluar dari sebuah studio foto. Dua polisi naik sepeda motor dengan berboncengan. Sedangkan satu polisi lagi, segera menyusul dengan sepeda motor trail. Karena tergesa-gesa, kendaraannya nyelonong hingga ke jalur kanan. Padahal dari arah depan, ada sepeda motor lain yang dinaiki dua pemuda berboncengan. Kedua sepeda motor ini nyaris bertabrakan. Polisi bersepeda motor trail ini jelas salah. Anehnya, bukannya minta maaf, dia malah melotot pada kedua pemuda. Kedua polisi yang berboncengan ikut berhenti dan menghampiri kedua pemuda itu. Mereka segera meminta STNK dan SIM pemuda itu. Begitu diberikan, salah satu polisi berkata singkat, 'Ayo ikut ke kantor polisi'. Ketiga polisi langsung pergi, meninggalkan kedua pemuda yang masih masih bingung dan syok. Betapa susahnya minta maaf! Apalagi meminta maaf pada orang yang tingkatannya "lebih rendah", misalnya bawahan, pengikut, murid, karyawan dll. Ada kekhawatiran bahwa dengan meminta maaf akan menurunkan wibawa dan gengsinya. Dalam keluarga pun demikian. Orangtua enggan mengakui kesalahan pada anak-anak. Kakak selalu merasa benar sendiri terhadap adiknya. Kita adalah manusia biasa. Suatu saat kita pasti pernah berbuat salah. Betapa indahnya, jika kita mau mengakuinya. Ada seorang bintang film yang terjerat narkotika. Dengan rendah hati dia mengakui perbuatan itu, seraya meminta maaf pada isteri anakanaknya. Pengakuan itu ternyata tidak mengikis kekaguman anaknya kepada dirinya. "Sejak dulu sampai sekarang, idola saya adalah ayah saya," kata anak itu usai menjenguk ayahnya.

"Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian." Amsal 29:23

Nats

To the Point
Minta maaf tidak akan menurunkan martabat seseorang, tapi justru menunjukkan kebesaran jiwanya. 55

Teknologi: Fobia atau Maniak?

“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” 1 Korintus 6:12

Nats

Jangan buru-buru senang jika anak balita Anda sudah bisa berinternet. Jack Neal, bocah Inggris berusia tiga tahun, membuat kaget ibunya karena membeli mobil lewat internet. Jack kecil, yang memang senang mobil, membeli Nissan Figaro seharga sekitar 140 juta rupiah di situs lelang eBay. “Saya baru selesai memakai komputer dan saya mengira sudah mematikannya,” kata Rachel, ibu Jack. Jack tiba-tiba melompat ke kursi, menemukan situs eBay dan membeli mobil itu. Ia rupanya menggunakan pilihan ‘beli sekarang’ (buy it now) untuk melakukan transaksi. Keluarga Neal baru menyadarinya setelah menerima surat pemberitahuan dari pemilik mobil. Teknologi seperti pedang bermata dua: bisa merugikan atau menguntungkan. Kehadiran teknologi membuat hidup kita menjadi lebih mudah, efesien dan nyaman. Contohnya, untuk bertransaksi di bank, kita dapat melakukannya cukup dengan handphone. Sayangnya, banyak keluarga yang berbelanja barang-barang teknologi terbaru, hanya karena motif gengsi, bukan karena kebutuhan. Jika dimanfaatkan dengan tepat, teknologi sangat membantu kehidupan kita. Dengan fasilitas komputer dan jaringan telepon, kini saya dapat bekerja di rumah. Hal ini memberi banyak waktu kebersamaan saya dengan anak kami. Kita tidak perlu technophobia. Bagaimanapun juga teknologi dapat meningkatkan kualitas hidup kita. Meski begitu, kita harus berhati-hati supaya tidak technomaniac, sampai harus jatuh-bangun mengejar perkembangan teknologi terbaru.

To the Point
Kemajuan teknologi adalah untuk menyejahterakan umat manusia, bukan malah memperbudak mereka. 56

Pembalasan Kristiani

Dalam pergolakan politik di tahun 1965, sebuah keluarga kehilangan kepala keluarga. Sang isteri yang ditinggalkan suaminya, harus berjuang menghidupi enam anaknya dengan menyandang stigma buruk dari masyarakat. Anak-anaknya pun sering mendapat ejekan dari teman-teman sebayanya. Meski begitu, sang Ibu tetap berusaha tegar. Setiap kali anak-anak mengadu kepadanya, karena diejek temannya, sang ibu berkata, “Kamu tidak perlu membalas. Jadikanlah dirimu lebih baik dari mereka sehingga suatu saat nanti mereka akan membutuhkanmu.” Untuk memberi kekuatan pada keluarga, Ibu ini setiap hari menuliskan satu ayat dari kitab suci di papan tulis, sehingga semua anggota keluarga bisa membacanya. Dengan kerja keras, keluarga ini berhasil merintis sebuah toko fashion di beberapa kota kecil. Ketika gempa bumi terjadi di wilayah DIY dan Jawa Tengah, keluarga ini sangat aktif membantu korban bencana. Ada satu truk penuh bahan makanan yang dibagibagikan kepada warga yang waktu dulu mungkin pernah mengejek keluarga ini. Salah satu anak dari keluarga ini juga giat mencarikan bantuan bagi pembangunan gedung sekolah yang rusak diguncang gempa. Keluarga ini telah menuruti nasihat rasul Paulus. Mereka memutuskan untuk tidak membalas dendam terhadap perlakuan buruk masyarakat sekitarnya. Mereka justru membalasnya dengan kasih. Dengan cara ini, orang-orang yang dahulu membenci, kini berubah menjadi perasaan hormat dan kekaguman. Inilah “pembalasan” ala orang Kristen.

Nats
“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” Roma 12:20

To the Point
Pembalasan dendam hanya melahirkan dendam lainnya. Pembalasan kasih akan memupuskan dendam. 57

Hangus Karena Cinta

Nats
Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.” (Yohanes 2:17)

Teman saya bercerita, waktu remaja dibebaskan untuk pergi kemana saja asalkan memberitahu orangtua. Suatu hari, dia pergi sampai malam. Ketika pulang ke rumah, dia disambut oleh amarah ayahnya. Beberapa hari kemudian, teman saya bertanya pada ayahnya. “Mengapa ayah waktu itu marah?” tanya teman saya. “Bukankah saya boleh pergi kemana saja asal memberitahu Ayah lebih dulu?” “Iya, tapi kamu tidak bilang kapan pulangnya,”jawab sang ayah,”tahu nggak, semalaman jantung ayah deg-degan karena menghawatirkanmu. Kalau kamu bilang akan pulang pukul sekian, ayah jadi tahu kapan harus mulai khawatir jika kamu belum pulang.” “Setelah dewasa saya baru menyadari,” lanjut teman saya, “bahwa sikap marah itu kadang-kadang bisa mengandung perasaan cinta.” Dalam perikop ayat renungan, Bait Allah digambarkan telah menjadi lahan bisnis bagi Imam Besar dan keluarganya. Mereka memperoleh hak istimewa memonopoli perdagangan hewan korban di Bait Allah. Tentu saja dengan harga yang lebih mahal daripada harga di pasaran. Yesus harus mengambil tindakan keras untuk membersihkan bait Allah, walau hal itu “menghanguskan-Nya.” Kadang-kadang tindakan tegas diperlukan demi kebaikan orang yang kita kasihi. Kita harus tega melakukannya. Kirana, anak saya, belum bisa merangkak ketika teman sebayanya sudah bisa. Dia harus menjalani terapi okupasi yang membuatnya menangis sekencang-kencangnya. Kami sebenarnya merasa kasihan, tapi dia harus mengalami itu, demi kebaikannya.

To the Point
Tindakan tegas harus dilakukan jika itu untuk kebaikan keluarga kita

58

Pengorbanan Ibu

Xiong Li adalah seorang artis. Pada Desember 2006, dalam sebuah perjalanan ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan bagian wajahnya terbakar. Namun, ia menolak mengkonsumsi antibiotik untuk mencegah infeksi karena saat itu ia sedang mengandung anaknya. Ia tahu jika meminum obat antibiotik, maka bayi dikandungnya berisiko lahir cacat. Sekarang dia sudah melahirkan bayi yang sehat (Kompas, 2/11/07). Pengorbanan seorang ibu yang sungguh besar. Dalam Alkitab, kita juga menjumpai pengorbanan besar seorang ibu, yaitu Maria. Ketika Yusuf, Maria dan Yesus pergi ke Bait Allah, mereka bertemu dengan Simeon. Orang yang benar dan saleh ini memberkati keluarga Yesus. Simeon bernubuat bahwa Yesus akan menjadi sosok yang kontroversial dan menyebabkan perpecahan di kalangan bangsa Israel. Khusus terhadap Maria, ia berkata bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu.” Para penafsir mengartikan pedang ini sebagai penderitaan pribadi yang akan dialami Maria. Sebagai seorang ibu, dia akan melihat Anaknya akan dimusuhi oleh pemuka agama dan pejabat pemerintah. Bahkan ia akan melihat penderitaan dan kematian Anaknya di kayu salib. Maria juga akan menderita karena menyaksikkan perpecahan bangsa Israel. Hati seorang ibu mana yang tidak akan hancur jika menyaksikkan semua ini? Yang lebih berat lagi, Maria sudah diberitahu hal ini sejak awal. Namun Maria memilih taat dan bersedia “berkorban” demi rencana keselamatan bagi umat manusia.

Nats
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan —dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Lukas 2:34-35)

To the Point
Jasa seorang ibu sering dilupakan. Bintang penghargaannya adalah ketika menyaksikan anakanaknya takut pada Tuhan.

59

Memuji dengan Tulus

Nats
“Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah” (Yakobus 3:9)

Edward Steichen, tidak akan menjadi fotografer tingkat dunia apabila dia cepat menyerah pada saat melihat hasil jepretannya yang pertama. Pada usia 16 tahun, Steichen muda membeli sebuah kamera dan memotret sebanyak 50 kali. Sayangnya, hanya satu yang menghasilkan foto yang bagus, yaitu potret kakak perempuannya di dekat piano. Selebihnya, hasilnya tidak karuan. Ayahnya menilai hasil fotonya sangat jelek. Tapi ibunya meyakinkan Steichen bahwa walaupun hanya satu, namun hasilnya lumayan bagus, sehingga bisa menebus 49 kesalahan pemotretan lainnya. Dorongan semangat dari ibunya ini memberi semangat pada remaja ini untuk menekuni hobinya. Ternyata pujian ibunya tidak sia-sia. Di sukses menjadi fotografer dunia. Setiap orang membutuhkan konfirmasi atau peneguhan dari orang lain. Kata-kata pujian memberikan keyakinan pada seseorang bahwa ia memang memiliki potensi tersebut. Dalam diri orang yang dipuji tersebut kemudian tumbuh keyakinan diri (self esteem) untuk mengembangkan talentatalentanya. Memuji orang lain itu sebenarnya pekerjaan yang mudah. Yang dibutuhkan adalah kejelian dalam melihat potensi orang tersebut, kemudian memuji kelebihannya dengan tulus. Memuji tidak hanya dengan kata-kata, tapi dapat juga dilakukan dengan perbuatan. Misalnya dengan membingkai lukisan anak, dan memajangnya dengan bangga di ruang tamu. Lakukanlah tindakan kecil ini. Hasilnya bisa menjadi luarbiasa.

To the Point
Sata kata pujian yang diucapkan dengan tulus, dapat mendorong seseorang untuk mengeluarkan potensi maksimalnya. 60

Pertumbuhan Rohani

Mencari Kerajaan Allah

Nats
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33

Agus Permadi, sehari-harinya adalah seorang botanis. Ketika terjadi bencana alam di kabupaten kami, bapak dua anak ini segera memutuskan menjadi relawan kemanusiaan. Dia bekerja secara total dari pagi hingga malam, dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai petani bunga. Selama aktif di posko bencana, Agus tidak sempat menjual bunga sehingga tidak punya uang untuk biaya hidup keluarganya. Karenanya, Agus Permadi terpaksa harus menggandaikan cincin kawinnya. Allah itu memang Mahapemurah. Ketika praktisi botani ini telah menyelesaikan tugas kemanusiaannya dan kembali menekuni bisnisnya kembali, Tuhan memberkati usahanya. “Omzet saya meningkat tiga kali lipat,” akunya dengan wajah bersyukur. “Padahal ketika saya memutuskan terlibat dalam tugas kemanusiaan, saya tidak punya pamrih sedikit pun supaya mendapat berkat seperti ini,” lanjutnya dengan mata berbinar-binar. Allah menghendaki kita lebih dulu mencari kerajaan Allah. Itu bukan berarti kita harus bersikap “asketis” (menolak semua hal yang berbau keduniawian). Kita harus menetapkan prioritas, yaitu kehendak Allah di atas segalanya. Jika ini dilakukan maka semua hal lain akan ditambahkan kepada kita.

To the Point
"Prioritas utama adalah mencari kerajaan Allah, maka yang lain akan mengikuti" 62

Dalam praktiknya, harus diakui hal ini sulit dilakukan. Contohnya, dalam kehidupan rumah tangga kita harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hampir tidak ada waktu lain, selain bekerja. Pada situasi seperti ini, kita harus berhenti sejenak dan bertanya: Inikah yang dikehendaki Tuhan atas keluargaku? Jika tidak, maka Anda harus mencari kerajaan Allah dulu.

Tidak Ada Rencana Cadangan

Erasmus, seorang tokoh zaman Renaisans, bercerita: Setelah kenaikan-Nya ke sorga, Yesus disambut oleh para malaikat. Mereka berkerumun di sekitar Yesus untuk mendengar cerita Yesus tentang pengajaran-Nya, mukjizat-Nya, penderitaan-Nya dan kebangkitan-Nya. Ketika Yesus selesai bercerita, malaikat Mikael bertanya kepada Yesus, “Terus bagaimana kelanjutan pekerjaan Tuhan di dunia?” "Aku sudah memberi tugas kepada 11 murid dan pengikut-Ku lainnya. Mereka yang akan menyebarkan ajaran-Ku,menunjukkan kasih-Ku, dan membangun gereja-Ku,” jawab Yesus. "Tapi, bagaimana jika mereka gagal?" sahut Mikael, "apakah Tuhan punya rencana cadangan?” “Aku tidak punya rencana lain,” jawab Yesus. Mungkin ini hanya cerita rekaan saja, tapi ada satu kebenaran di dalamnya. Yesus hanya mengandalkan manusia untuk meneruskan misi penyelamatan-Nya di dunia ini. Dia tidak menggunakan kekuatan malaikat. Dia mempercayakannya kepada saya dan Anda. Tidak ada rencana cadangan. Kabar baiknya, kita tidak sendirian. Untuk tugas super besar ini, Yesus mengirimkan Penolong, yaitu Roh Kudus. Dia akan mendampingi dan memberikan kuasa untuk menyelesaikan misi ini. Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat melakukan apa yang sudah dilakukan oleh Yesus, bahkan kita dapat melakukan yang lebih besar lagi!(Yoh.14:12). Obor Injil itu ada di tangan kita. Bersediakah Anda menyelesaikan misi ini?

Nats
“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selamalamanya.” Yohanes 14:16

To the Point
"Allah mempercayai Anda sebagai rekan kerja-Nya di dunia. Buktikan bahwa Anda layak dipercaya"

63

7 Up + 7 Perkara

Nats
“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya” Amsal 6:16

Antara tahun 1970-1980, ada produk minuman ringan bermerek “7 Up” (Seven Up). Sehabis menenggak minuman ini, kita akan merasa segar kembali. Dengan mengadopsi merek ini rev. Walter Schoedel membuat rumus “7 Up” yang dapat menyegarkan hidup kita. 1. WAKE UP—Bangun pagi dan memulai hari ini bersama dengan Tuhan. Hari ini adalah milik Tuhan. 2. DRESS-UP—Berdandan yang patut. Tidak hanya mendandani badan, tetapi juga jiwa. Kenakan senyum dan keramahan. Ini akan memperindah penampilan Anda. 3. SHUT-UP—Jagalah mulut Anda. Jangan bergosip. Ucapkan kata-kata yang baik dan belajarlah untuk mendengar. 4. STAND-UP—Berdirilah teguh dalam meyakini iman Anda. Lawanlah si jahat dan lakukan hal yang baik. 5. LOOK-UP—Berpalinglah kepada Allah. Dialah satu-satunya penolong Anda. 6. REACH-UP—Luangkan waktu untuk bersekutu dengan Allah: menyembah, bersyukur, meminta sesuatu dan mengaku dosa. 7. LIFT-UP—Jadilah saluran berkat bagi orangorang yang membutuhkan. Sementara itu, penulis Amsal menyebutkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi Tuhan. Dia menggunakan 5 anggota tubuh sebagai kiasan: (1) mata sombong; (2) lidah dusta; (3) tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah; (4) hati yang membuat rencana-rencana yang jahat; (5) kaki yang segera lari menuju kejahatan. Dua perkara lainnya adalah: (6) seorang saksi dusta; dan (7) orang yang menimbulkan pertengkaran (Ams. 6:1719). Semoga rumus ini membantu Anda.

To the Point
"Terapkanlah 7 rumus kesuksesan dan hindari 7 perbuatan dosa"

64

Tamak=Penyembah Berhala

Pada suatu hari, Allah memberi 10 buah apel kepada manusia purba. Lalu Tuhan menawarkan sebuah gua yang nyaman kepadanya, tapi harus ditukar dengan tiga apel kepada Allah. Manusia purba itu setuju. Setelah itu, Allah menawarkan baju kepadanya, tapi harus ditukar tiga apel lagi. Manusia purba setuju. Kemudian Allah menawarkan lagi persediaan pangan untuk ditukar dengan tiga apel lagi. Lagi-lagi manusia purba setuju. Tersisa satu apel. Allah menghendaki apel itu dipersembahkan kepada-Nya, sehingga Allah dapat menumbuhkan pohon apel yang menghasilkan lebih banyak buah apel. Manusia purba memandangi buah apel terakhirnya. Dia berpikir, “Allah pasti mampu menumbuhkan pohon apel tanpa harus memakai biji buah apel ini.” Maka dia menyantap habis buah apel itu. Keserakahan itu sama jahatnya dengan penyembahan kepada berhala. Allah sangat murka kepada orang yang serakah. Mengapa Allah sangat marah? Karena cinta terhadap uang itu dapat mengalahkan kasih kita kepada Allah; • Karena menyumbat kita untuk menjadi berkat bagi orang lain, seperti yang dikehendaki Allah. • Karena menghalangi kita untuk mendukung gereja dan pelayanan lainnya. Supaya tidak terjebak dalam ketamakan, maka kita yang harus mengatur pola pikir kita terhadap uang. Caranya: Arahkan pikiran Anda pada hal-hal yang di surga (ay.2). •

Nats
“Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).” Kolose 3:5-6

To the Point
"Keserakahan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini adalah tabiat mau menang sendiri sekalipun itu merugikan orang lain"

65

Mencukupkan Diri

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Ibrani 13:5

Nats

Teman saya ini adalah seorang praktisi tanaman hias. Menurutnya, bisnis di bidang tanaman hias tidak bisa hanya mengandalkan hitungan matematis saja. Diperlukan insting yang kuat, terutama ketika bertransaksi. Satu pot bunga gelombang cinta yang dibelinya dengan harga 2,5 juta, dalam waktu kurang dari dua minggu bisa berharga 7 juta. Saya bertanya, “Apakah Anda pernah menjual bunga kepada seseorang, tapi kemudian ketika dijual kembali harganya menjadi berlipat kali?” Teman saya menjawab, “Pernah. Beberapa kali.” “Apakah Anda kemudian merasa menyesal karena memberi harga terlalu rendah?” tanya saya. “Tidak, karena ketika menjual bunga itu sebenarnya saya sudah mendapat untung” jawabnya,”jika orang yang membelinya kemudian menjual kembali dengan harga berlipat kali, itu memang sudah menjadi rezekinya.” Teman saya ini sudah belajar mencukupkan diri dengan berkat Tuhan yang diterimanya. Menurut International Standard Bible Encyclopedia, mencukupkan diri adalah bebas dari khawatir karena puas dengan apa yang sudah dimiliki. Menurut Paulus, ibadah kita akan mendatangkan keuntungan yang besar jika kita memiliki rasa puas dengan apa yang kita miliki (1 Tim.6:6). Apa berarti kita tidak boleh mengejar karir dan ambisi? Boleh saja, sepanjang kita tidak jatuh ke dalam pencobaan, jerat dan berbagai-bagai nafsu yang hampa. Semua ini dapat mencelakakan dan menenggelamkan kita dalam keruntuhan dan kebinasaan, sebab “akar segala kejahatan ialah cinta uang.”

"Penyebab utama kerusakan lingkungan dan peperangan adalah keserakahan. Keserakahan adalah lawan dari mencukupkan diri" 66

To the Point

Jaga Gengsi

Kalau tidak punya uang, jangan memaksa diri untuk menggelar pesta perkawinan. Nasihat ini perlu ditujukan kepada sepasang pengantin di Vienna, Italia. Pasangan ini menggelar makan-makan di sebuah restoran bersama 30 tamu. Setelah itu, sang pengantin dan tamu-tamu ngeloyor begitu saja tanpa membayar. Polisi lalu menangkap pasangan ini. Ketika ditanya alasannya, dengan enteng pasangan ini mengatakan, mereka tidak mau membayar karena makanan di restoran itu tidak enak dan suasananya tidak cocok. Anehnya, mereka dan para tamu menyantap habis berpiring-piring makanan (Kompas, 10/5/07). Mengapa mereka nekad melakukan perbuatan konyol itu? Saya menduga untuk menjaga gengsi. Merasa malu jika tidak ada pesta pernikahan yang layak, maka mereka memaksakan diri untuk menyelanggarakannya. Akibatnya, mereka justru mempermalukan diri mereka sendiri. Kita kadangkala kurang pas dalam menjaga gengsi. Kita memandang harga diri dan martabat sebatas pada tampilan luar saja: Rumah megah, pesta mewah, mobil terbaru, perhiasan mentereng, tas merek terkenal dll. Kita merasa malu jika tidak memiliki barang seperti milik orang lain. Kita merasa jatuh gengsi jika tidak dapat mengikuti tren mutakhir. Ada teman saya terjerat utang setelah menikah karena menyelenggarakan pesta dengan biaya ekstra. Mengikuti teladan Paulus, sebaiknya kita lebih banyak menaruh perhatian pada hal-hal yang “tidak kelihatan”, yaitu yang bersifat rohani.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” 2 Korintus 4:18

Nats

To the Point
"Apa yang kelihatan di dunia ini hanya tahan sementara, tapi yang tidak kelihatan itu kekal selamanya" 67

Miskin tapi Bergaya

Nats
“Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.” Pengkhotbah 1:8

Saat menyertai kunjungan Presiden ke luar negeri, wartawan Indonesia mendapat sindiran dari koleganya di sana. Diceritakan bahwa wartawan Indonesia memakai jas yang lengkap, sementara wartawan di negara yang dikunjungi hanya memakai baju biasa yang rapi. “Katanya negeri kalian sedang dilanda krisis, tapi mengapa memakai baju yang mahal-mahal?” tanya wartawan dari negara yang lebih kaya. Sementara itu, pada rubrik ekonomi diberitakan bahwa produsen handphone merek terkenal sedang mengincar pasar Indonesia. Setiap kali mengeluarkan seri terbaru, mereka lebih dulu meluncurkan di Indonesia. Baru kemudian menyusul di negaranegara tetangga yang lebih “kaya.” Ada kesamaan dari kedua cerita ini, yaitu kita senang bergaya. Contohnya, jika hanya untuk menelepon dan mengirim SMS, kita sudah bisa menggunakan HP seharga Rp. 500 ribu. Meski begitu, lihatlah, banyak orang yang mengejar HP yang dilengkapi dengan fasilitas layar berwarna, dering polyphonic, kamera, bluetooth, infrared, 3G dll. Saya yakin, bahwa semua feature yang mahal itu sebenarnya tidak banyak digunakan. Itu karena kita lebih mementingkan penampilan daripada fungsi.

"Tuhan mencukupi kebutuhan kita, agar kita mendekat kepadaNya. Jika ketamakan menguasai kita, maka Tuhan bisa saja mengambil kembali anugerah-Nya" 68

To the Point

Salomo menyatakan ketamakan tidak pernah terpuaskan. Kalau kita tidak berhati-hati, kita bisa terjebak di dalamnya. Kita melakukan apa saja untuk memuaskan nafsu ketamakan itu. Itu seperti minum air laut, yang malah membuat kita semakin haus. Cara menghindari perangkap ini adalah mensyukuri dan menikmati apa yang sudah dicukupi oleh Tuhan kepada kita.

Harta yang tak Ternilai

Seorang Petapa punya mangkok emas untuk meminta sedekah. Dia bertemu dengan seorang Pengembara. Ketika Pengembara melihat mangkok emas itu, ia langsung memintanya. Tak disangka, Petapa memberikan mangkok emas itu kepadanya. Sang Pengembara berlalu dengan kegembiraan yang meluap-luap. Tapi beberapa hari kemudian, Pengembara itu menemui Petapa kembali untuk mengembalikan mangkok emas. “Mengapa Anda mengembalikan mangkok emas ini?” tanya Petapa. “Saya ingin minta sesuatu yang lebih berharga dari mangkok emas ini,” jawab Pengembara. “Apa itu?” “Saya minta diajari supaya bisa memiliki kerelaan hati, seperti ketika Anda memberikan mangkok emas ini.” *** Dalam sebuah seminar, seorang pendeta bertanya, “Siapa yang ingin mendapat karuniarohani-memberi?” Audiens tampak ragu-ragu. Pendeta lalu bertanya lagi,”Siapa yang ingin diberkati berupa harta yang melimpah?” Semua mengangkat tangan. Pendeta itu tersenyum, lalu bekata. “Kalau Tuhan menganugerahkan karunia-rohani-memberi pada seseorang, tentu Dia juga akan memberinya berkat supaya dapat dibagi-bagikan pada orang lain.” Kalau kita memberikan sesuatu dengan sukarela, maka pemberian itu akan memberi berkat pada si penerima dan si pemberi juga. Belajarlah memberi dengan sukarela.

Nats
“Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.” 2 Korintus 8:12

To the Point
Kita dapat memberikan sesuatu tanpa mengasihi, tapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi. 69

Hormatilah Selagi Ada

Nats
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Ulangan 5:16

Suatu hari, tetangga saya bertanya,”Seberapa sering Anda mengunjungi orangtua?” “Paling tidak sebulan sekali,” jawab saya. Kemudian tetangga itu malah bercerita soal lain. “Ketika muda, saya sering berlama-lama di kuburan,” paparnya. Saya belum paham arah pembicaraannya. “Maksud saya begini, desa saya memiliki kebiasaan yang unik. Ketika orang-orang yang kita hormati sudah meninggal, kita malah lebih sering mengunjunginya dibandingkan ketika masih hidup,” kata bapak yang berusia lebih dari setengah abad itu. Saya mulai bisa menangkap maksudnya. “Makanya, mumpung kedua orangtua Anda masih hidup, sebaiknya Anda sering-sering mengunjungi mereka.” Saran yang bijaksana, sebab kita kadangkala baru menyadari arti kehadiran anggota keluarga ketika dia sudah tidak ada lagi berada bersama kita. Dalam “Sepuluh Perintah Tuhan”, perintah menghormati orangtua ada di urutan kelima. Itu artinya, Tuhan menganggap perintah ini lebih penting daripada larangan membunuh, berzinah, mencuri, dst. Allah menganggap orang yang tidak menghormati orang tua lebih jahat daripada pembunuh, pezinah atau pencuri.

To the Point
"Apa pun keadaan orangtua Anda, Anda tidak mungkin ada di dunia ini tanpa jasa mereka. Hormatilah orangtua!" 70

Seorang anggota milis menulis, ada kecenderungan orang-orang muda Batak mulai mengabaikan orangtua ketika mereka sukses di perantauan. Ketika orangtua mereka telah tiada, mereka menangis sekencang-kencangnya dan menghias makam orangtua semegah-megahnya. Ini tidak salah, tapi jauh lebih baik jika mereka menunjukkan tanda bakti ini justru ketika orangtua masih hidup.

Mau Marah? Silakan

Pernahkah Yesus marah? Pernah. Dia pernah menjungkir-balikkan meja-meja pedagang yang melakukan bisnis di lingkungan bait Allah. Di rumah Yairus, Yesus mengusir orang-orang yang dibayar untuk menangis dan meratap (Mrk.5:38-40). Dalam bacaan ini, Yesus marah pada kedegilan hati orangorang Farisi. Mereka bersiap menyalahkan Yesus karena menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat. Kita pasti pernah marah. Saya pernah marah ketika melihat pengendara yang ugal-ugalan dan nyaris mencelakai saya. Saya pernah marah ketika pelayan rumah makan terlambat menyajikan minuman. Apakah marah jenis ini yang juga ditunjukkan oleh Yesus? Ada dua jenis kemarahan: kemarahan karena pelampiasan emosi yang meluap dan kemarahan dengan alasan yang benar. Kemarahan saya termasuk dalam golongan pertama. Sedangkan kemarahan Yesus adalah untuk menegakkan kebenaran. Tujuannya untuk memuliakan Allah. Yesus marah dengan alasan yang tepat. Bolehkah orang Kristen marah? Boleh, asal dengan alasan yang tepat. Kita patut bersikap tegas dan marah apabila melihat ketidak-adilan di depan mata kita: orang tak berdaya yang ditindas, kesenjangan sosial yang melebar, perilaku penguasa yang sewenang-wenang, hukum dipermainkan dll. Nah, setiap kali Anda merasa marah, hendaknya Anda bertanya dalam hati: apakah kemarahanku ini dapat memuliakan Allah? Jika ya, maka silakan marah!

Nats
Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Markus 3:4-5

To the Point
"Marah itu tidak berdosa, asalkan bertujuan untuk menegakkan kebenaran dan memuliakan Allah" 71

Marah, Boleh Saja Asal….

Nats
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” Efesus 4:26

Suatu kali, perut saya terasa lapar sekali. Saya mengajak isteri saya untuk mencari makan, tapi dia terlihat enggan. Saya merasa kesal melihat sikapnya itu. Meskipun akhirnya pergi juga, tapi sakit maag saya terlanjur kambuh. Dari siang sampai sore, hati saya menjadi uringuringan. Saat berangkat pelayanan untuk ibadah sore, perasaan dongkol itu masih terselip di hati. Ketika isteri saya sedang berkhotbah, saya menemukan ayat Ef. 4:26. Dalam ayat ini, Paulus tidak melarang kita menjadi marah, asalkan memenuhi syaratnya, yaitu tidak berbuat dosa. Eh benar juga! Setelah saya renung-renungkan, selama diselubungi kemarahan, saya cenderung membenarkan diri dan mencaricari kesalahan pasangan saya. Saya cenderung menyalahkan dia sebagai penyebab kambuhnya maag saya. Syarat lainnya yang ditetapkan Paulus adalah berhenti marah sebelum malam tiba. Nasihat ini sungguh baik. Apabila kita terus memendam kemarahan maka pada malam harinya niscaya kita tidak bisa tidur nyenyak. Hati kita merasa gelisah karena semalaman kita merancangkan perbuatan jahat yang akan kita balaskan pada orang yang menyakiti kita.

"Menyimpan kemarahan itu seperti memasukkan bara api dalam sekam. Di permukaan tidak kelihatan, tapi di dalam panas membara" 72

To the Point

Para Psikolog mengatakan marah itu sehat asalkan dilakukan secara terkendali. Lebih sehat lagi jika kita segera memadamkan bara amarah itu. Memang mulanya agak kikuk saat mengajak berbaikan kembali. Namun semakin lama ditunda, kekikukan itu semakin besar. Jika hari ini Anda marah pada seseorang, turutilah nasihat Paulus ini. Saya sudah menurutinya. Percayalah, nasihat itu benar.

Doa Tak Dijawab

Sebagaimana hubungan bapak-anak, kita dapat meminta sesuatu kepada Bapa dalam doa. Tapi mengapa Allah tidak menjawab doa kita? Ada beberapa kemungkinan penyebabnya: 1. Salah alamat. Yesus mengecam perilaku pemimpin orang Yahudi yang suka berdoa di rumah ibadat dan tikungan jalan raya. Tujuannya supaya dipandang orang lain sebagai orang yang saleh. Doa seperti ini jelas salah alamat (ay. 5-6). 2. Bertele-tele. Kita berdoa dengan kata-kata yang kosong. Kita tidak menghayati setiap kata yang kita ucapkan (ay.7-8). Dengan kata-kata yang sederhana pun, Allah sudah mendengarkan doa kita (Mzm. 94:9). 3. Tidak meyakini kuasa doa. Meski sudah meminta pada Allah di dalam doa, tapi kita kurang mengimani bahwa Allah akan menjawab doanya (Yak.1:5-6) 4. Kita tidak minta. Kita tidak menyatakan permintaan secara jelas dan tegas. Meskipun Allah mengetahui kebutuhan kita, tapi Dia menghendaki anak-anaknya memintanya di dalam doa (Yak.4:2) 5. Karena ada motivasi yang tidak benar. Permintaan itu bukan untuk memuliakan Tuhan, melainkan untuk menuruti keinginan daging(Yak.4:3). 6. Tidak mendahulukan Allah (Mat.6:33). 7. Kehidupan rumah-tangga kita belum beres (1 Ptr.3:7). 8.Karena masih ada dosa (Yes.59:1-2). Mari periksa diri kita. Adakah hal itu terjadi dalam diri kita? Mari perbaiki diri, dan nantikan jawaban doa.

Nats
“Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” Matius 6:8

To the Point
Doa adalah hak istimewa orang Kristen. Kita dapat mengakses langsung ke dalam istana Bapa. 73

Menolak Godaan

Nats
“Kalau seseorang tergoda oleh cobaan yang semacam itu, janganlah ia berkata, "Godaan ini datangnya dari Allah," sebab Allah tidak dapat tergoda oleh kejahatan, dan tidak juga menggoda seorang pun.” Yakobus 1:13 (BIS)

Seorang pencuri yang membobol sebuah rumah di kota Tiel, Belanda, tak tahan untuk memainkan piano yang ia temukan setelah ia berhasil masuk ke ruang keluarga rumah itu. Sialnya, bunyi dentingan piano yang dimainkan penjahat berumur 20 tahun itu justru membangunkan tuan rumah, yang kemudian langsung menelepon polisi. Sebuah tindakan konyol, bukan? Pencuri ini tidak dapat menahan godaan untuk tidak memainkan piano. Dia pasti menyadari bahwa suara piano dapat membangunkan pemilik rumah. Tapi godaan itu terlalu besar untuk ditolak. Pikirnya, “Ah, saya akan memainkan lirih saja. Mereka pasti tidak mendengar.” Godaan dosa memiliki dimensi serupa. Saat sedang berjalan, kita jarang tersandung oleh batu besar. Dalam perjalanan kehidupan, kerikil-kerikil dosa ini yang lebih perlu diwaspadai. Ketika digoda oleh “dosa kecil”, kita cenderung membuat alasan untuk membenarkan perbuatan kita:”Aku ‘kan hanya mengambil sedikit. Tidak akan ada yang dirugikan.” Di zaman modern ini ada kecenderungan sikap permissiveness, yaitu membolehkan beberapa perbuatan yang pada zaman dulu dilarang dilakukan. Misalnya, hubungan seks sebelum menikah sudah menjadi kelaziman di dunia Barat. Bahkan kalau ada pemuda/pemudi yang masih perjaka/perawan akan diolok-olok sebagai orang ‘kuper’ (kurang pergaulan). Ada pepatah Jawa:‘kriwikan, dadi grojogan’ (lobang kecil dalam tanggul air dapat menjebol tanggul itu). Pelanggaran-pelanggaran kecil akan menjerat kita untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar. Hati-hatilah dengan godaan semacam ini.

To the Point
Kita bisa, karena terbiasa. Jangan beri peluang pada pelanggaran kecil menjadi pintu masuk dosa. 74

Kedamaian Sejati

Konon burung Onta memiliki kebiasaan yang unik. Setiap kali merasa mendapat bahaya, dia segera menyembunyikan kepalanya. Lucunya, dia tidak menghiraukan anggota badan lainnya yang masih kelihatan. Asal kepalanya sudah terlindungi, dia sudah merasa damai. Ada berbagai macam rasa damai. Ada orang yang rasa damainya dipengaruhi oleh faktor di luar dirinya. Mereka merasakan kedamaian ketika berada pada situasi yang tenang dan aman. Akan tetapi rasa damai seperti ini mudah sekali hilang seiring dengan perubahan kondisi di luar. Kedamaian lainnya berada di dalam diri kita. Kita merasakan ketenangan dan kedamaian di dalam batin. Kita merasakan sukacita ketika bersantai dengan keluarga. Suasana keluarga yang rukun, tanpa pertengkaran ini dimungkinkan terjadi jika ada kedamaian di dalam batin kita. Masih ada satu jenis kedamaian lagi, yaitu kedamaian dari Tuhan. Kita sering melupakan bahwa Tuhan adalah sumber keselamatan kita. Saat menuliskan ayat di atas, Pemazmur sedang berada dalam kesesakan. Ruang geraknya dibatasi oleh orang-orang yang membencinya. Tetapi seruannya dijawab dan Tuhan memberikan kelegaan. Orang yang mengandalkan keselamatannya pada pembesar dan orang lain sering mendapat kekecewaan. Namun orang yang berlindung kepada Tuhan, akan mendapatkan kedamaian yang sempurna. Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan (Yer. 17:5-7). Inilah kekuatan orang yang percaya.

“TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Mazmur 118:6

Nats

To the Point
"Kedamaian dari Tuhan bersifat kekal. Tidak ada yang bisa menghilangkannya"

75

Membedakan yang Palsu

“ Pada waktu itu jika orang berkata kepada kamu: Lihat, Mesias ada di sini, atau: Lihat, Mesias ada di sana, jangan kamu percaya.” Markus 13:21

Nats

Bagaimana membedakan uang asli dan palsu? Menurut iklan layanan masyarakat ada 3D: dilihat, diraba, diterawang. Dengan cara ini, kita dapat mengenali mana uang yang asli dan mana yang palsu. Tapi bagaimana dengan mesias atau nabi palsu? Ini bukan sesuatu yang mudah. Dalam bahasa Ibrani, Mesias berarti: “Yang diurapi oleh Tuhan”. Dalam bahasa Yunani, Mesias disebut sebagai “Kristus”. Itu sebabnya, Yesus disebut sebagai Kristus dan Mesias karena Dia-lah yang dipilih Allah menjadi Penyelamat dan Tuhan. Akan tetapi Yesus memperingatkan pengikutnya, bahwa di akhir zaman ini akan akan muncul mesias-mesias palsu atau nabi-nabi palsu. Mereka ini bekerja dalam nama Tuhan tapi menyesatkan anggota– anggota tubuh Kristus. Bagaimana cara mengenalinya? Yesus memberitahukan melalui perumpamaan:“Setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duriduri tidak memetik buah anggur” (Luk.6:44). Lihat dari buah perbuatan orang itu, apakah ada: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal.5:22-23) ?

To the Point
"Waspada itu beda dengan ketakutan. Waspada adalah tindakan aktif untuk melindungi diri" 76

Seorang mbok bakul mendadak terduduk lemas saat tahu bahwa uang seratus ribunya ternyata palsu. Kerja kerasnya selama beberapa hari mendadak lenyap dalam sekejap. Hanya karena tertipu uang palsu seseorang bisa sangat terpukul, bayangkan kalau ia baru sadar bahwa selama ini telah mengikuti nabi atau mesias palsu. Seluruh perjalanan hidupnya menjadi sia-sia. Seperti kata bang Napi: “Waspada, waspada, waspadalah!”

“Aku Menangis karena Aku Hidup”

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa tertawa ternyata mempunyai banyak manfaat. Dr. Lee Berk, seorang imunolog dari Loma Linda University mengatakan bahwa tertawa bisa mengurangi peredaran 2 hormon tubuh: efinefrin dan kortisol (hormon-hormon penghambat proses penyembuhan penyakit). Juga dalam salah satu risetnya, Dr. Rosemary Cogan dari Texas Tech University menemukan bukti bahwa rasa nyeri atau sakit akan berkurang setelah orang tertawa lepas. Tidak hanya itu saja, kekebalan tubuh pun bisa meningkat. Lalu bagaimana dengan menangis? Apakah menangis punya efek negatif pada tubuh? Ternyata tidak! Dalam buku Why Men Don’t Have A Clue diterangkan bahwa menangis pun punya manfaat: 1. Mencuci Air mata. Air mata mengandung enzim bernama Iysozyme yang bisa membunuh bakteri dan menjaga mata dari infeksi. 2. Mengurangi stres. Air mata mengandung protein yang bisa membersihkan racun dari tubuh. Selain itu, air mata juga mengandung endorphin yang bisa mengurangi stres dan rasa sakit. Itu sebabnya kita merasa lega setelah menangis. 3. Sinyal emosional. Menangis menjadi tanda kalau kita membutuhkan dukungan emosional. Air mata membuat tubuh menghasilkan hormon oxytocin yang membuat orang ingin dipeluk atau disentuh. Menangis adalah hal yang manusiawi. Pada waktu kita lahir, kita pasti langsung menangis. Kalau tidak, maka bidan atau dokter melakukan berbagai cara supaya kita menangis. Itu tanda bahwa bayi itu hidup. Ya, menangis adalah pertanda kalau kita hidup.

Nats
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” Roma 12:15

To the Point
Tangisan adalah anugerah Tuhan. Ada tangisan pertobatan, tangisan perkabungan dan tangisan sukacita. Semua itu ada manfaatnya. 77

Caci Maki Dibalas Berkat

Nats
“Mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik, mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik.” Mazmur 38:20

Tidak sedikit binatang peliharaan yang tahu bagaimana membalas budi pemiliknya. Timmy, sang kucing betina, melompat ke atas ranjang pemiliknya yang sedang tertidur lelap dan langsung mencakar wajahnya. Pria itu pun terbangun dan melihat sebuah selimut terbakar. Ia kemudian membangunkan seluruh anggota keluarganya untuk menyelamatkan diri. (Kompas, 2/1/07) Sayangnya, masih ada manusia yang kalah dengan binatang dalam hal membalas kebaikan orang lain. Ketika gempa hebat mengguncang pulau Jawa, 2006, sebuah gereja kecil ikut rata dengan tanah. Demikian pula keadaan bangunan di sekitarnya. Hampir 70 % bangunan di sana roboh atau rusak berat. Dalam hitungan jam, gereja itu segera memberikan pertolongan darurat. Gereja sengaja tidak segera membangun kembali gedungnya, karena memprioritaskan untuk ikut membantu membuatkan tempat berteduh yang layak bagi korban gempa di sekitar gereja. Tapi apa yang terjadi ketika gereja bersiap membangun gedung gerejanya? Izin gereja diganjal oleh segelintir warga. Akibatnya, sampai renungan ini ditulis, jemaat itu masih harus beribadah di bawah tenda darurat.

To the Point
Hukum “mata ganti mata” hanya akan membuat kedua pihak menjadi buta.

Jika menghadapi situasi ini, apa yang harus kita lakukan? Rasul Petrus menyarankan: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (1 Ptr.3:9). Inilah indahnya kekristenan, caci maki dibalas dengan berkat.

78

Hidup yang Otentik

Istilah “munafik” dalam bahasa Yunani, "hupokrites", yang berarti “seorang aktor yang sedang memerankan sebuah karakter.” Dalam pertunjukan drama di Yunani, aktor-aktornya memakai topeng untuk menutupi wajahnya. Topeng-topeng ini diwarnai sesuai dengan karakter dari tokoh yang diperankan. Kata “munafik” juga terdapat dalam Alkitab. Yesus menyatakan bahwa seseorang berlaku munafik untuk menciptakan kesan baik di mata “penonton” (Mat 6:1-16). Seorang munafik mengabaikan hati nuraninya untuk mengasihi Alah dan sesama, dan dia menutupinya dengan menjalankan hukum-hukum agama secara ketat(Mat. 15:1-21). Dan seorang munafik juga menggunakan jargon-jargon rohani untuk menyembunyikan motivasi egoisnya (Mat. 22:13-33). Terhadap orang-orang munafik di segala abad, Yesus memberi peringatan tentang akibat yang akan ditanggungnya (baca Mat.23:13, 15, 16, 23, 25, 27, 29). Salah satu syair lagu ciptaan Ian Antono berbunyi demikian, “Dunia ini panggung sandiwara.” Memang, dalam kehidupan sosial, kita pasti memiliki peranperan yang harus dimainkan. Contohnya, saya memiliki peran sebagai suami, ayah, anggota gereja, pekerja sosial dll. Persoalan muncul ketika kita menjalankan peran lain, yang seharusnya tidak perlu kita perankan. Misal, kita berpura-pura jadi orang kaya, padahal sesungguhnya tidak. Hidup sebagai orang munafik itu sangat melelahkan, karena kita harus meyakinkan orang lain terhadap peran kita. Lebih enak, jika kita berperan sebagaimana adanya kita.

Nats
“Hai orangorang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."” (Matius 15:7-9)

To the Point
"Stop jadi orang lain. Mulailah hidup secara otentik"

79

Awal dari Hikmat

“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” Mazmur 111:10

Nats

Dalam dunia persilatan, seorang guru tidak akan mengajarkan seluruh ilmunya kepada muridmuridnya. Dia selalu menyimpan satu jurus pamungkas yang paling ampuh. Tujuannya adalah untuk berjaga-jaga: jika sewaktu-waktu sang murid berniat jahat menghabisinya, maka dia masih bisa mengalahkan murid yang durhaka itu. Jika prinsip ini diterapkan oleh semua guru, maka lamakelamaan tidak ada lagi ilmu persilatan yang dapat diajarkan. Berbeda halnya dengan hikmat. Kita selalu boleh menyerap hikmat sebanyak-banyaknya dari Allah. Semakin sering Anda bergaul dengan Allah dan menggali firman-Nya, maka Anda akan semakin banyak mendapatkan hikmat illahi. Meski demikian, proses ini tidak hanya berhenti di sini saja. Hikmat yang didapat tersebut mesti ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Charles Spurgeon menulis, "Kesalehan secara praktis adalah ujian dari kebijaksanaan/hikmat. Orang-orang mungkin saja mengetahui banyak hal dan sangat ortodoks, mereka mungkin saja dapat berbicara secara fasih dan sangat cerdas; tetapi bukti terbaik dari kecerdasan mereka seharusnya ditemukan dalam kesediaan untuk melakukan kehendak Tuhan.” Itu sebabnya, penulis Mazmur mengatakan: “a good understanding have all they that do his commandments” [KJV]. Terjemahan bebasnya, “sebuah pengertian yang baik dimiliki oleh mereka yang melakukan perintah-Nya.” Dengan demikian urut-urutannya adalah sebagai berikut: takut pada Tuhan�melakukan perintah-Nya�hikmat.

To the Point
"Kualitas kerohanian Anda terlihat dari perbuatan dan perkataan Anda"

80

Dosis yang Tepat

Pada usia 6-8 bulan, berat badan Kirana, anak kami, tidak mengalami kenaikan berarti. Kami memeriksakannya ke dokter. Salah satu metode pemeriksannya adalah dengan merekam detak jantungnya. Tapi karena Kirana berontak, maka dia terpaksa harus diberi obat penenang.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaanpencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Dokter menanyakan berat badan Kirana, lalu Sebab Allah setia menghitung dosis obat penenang yang tepat. dan karena itu Tujuannya supaya obat itu tidak terlalu sedikit Ia tidak akan sehingga efek obatnya tidak terasa; tapi juga tidak membiarkan kamu kebanyakan sehingga dia dapat mengantuk sepanjang dicobai melampaui hari. kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Salah satu prinsip pengobatan modern adalah Ia akan memberikan memberikan takaran obat yang sesuai dengan kepadamu jalan kebutuhan pasien. Kebutuhan setiap pasien berbeda. ke luar, sehingga Orang yang gemuk biasanya membutuhkan takaran kamu dapat obat yang lebih banyak daripada orang kurus. menanggungnya.” 1 Korintus 10:13 Prinsip ini menggambarkan tentang pencobaan. Besarnya pencobaan telah disesuaikan dengan kekuatan orang yang akan menanggungnya. Ilmuwan besar, Sir Isaac Newton (1642-1727) punya pendapat menarik tentang hal ini: “Pencobaan adalah obat yang diresepkan oleh dokter kita yang baik hati dan bijaksana, sesuai dengan kebutuhan kita; dan Dia mengukur takaran obat dengan tepat. Percayalah kepada kemampuan-Nya dan berterimakasih atas To the Point resepnya.” Minum obat sungguh tidak enak, tapi bermanfaat bagi tubuh kita. Pencobaan itu juga tidak enak, tapi itu demi kebaikan kita. Hebatnya, kadar pencobaan itu telah disesuaikan dengan kekuatan kita. "Di balik setiap pencobaan, Allah selalu menyediakan jalan keluar"

Nats

81

Di Puncak Gunung

Nats
“Naiklah ke puncak gunung Pisga dan layangkanlah pandangmu ke barat, ke utara, ke selatan dan ke timur dan lihatlah baikbaik, sebab sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi.” (Ulangan 3:27)

Martin Luther King adalah seorang pegiat yang berjuang untuk persamaan hak-hak asasi kaum kulit hitam di Amerika. Pada 3April, 1968, dia menyampaikan khotbah di sebuah gereja di Memphis, Tennessee. "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita telah mengalami masa-masa sulit. Tapi bagi saya itu tidak menjadi masalah. Saya sekarang sudah berada di puncak gunung,” kata Martin Luther King. “Seperti orang lain, saya ingin panjang umur. Tapi saya tidak peduli pada saat ini. Saya hanya ingin melakukan kehendak Tuhan. Dia telah mengizinkan saya berada di puncak gunung. Dan ketika saya melihat sekeliling, saya menyaksikan tanah terjanji itu.” “Saya mungkin tidak akan berada di sana bersama kalian. Tapi malam ini saya ingin kalian tahu bahwa kita akan sampai di tanah perjanjian itu. Dan saya merasa bahagia malam ini. Saya tidak khawatir tentang apapun. Saya tidak takut kepada siapa pun. Mata saya telah melihat kemuliaan Tuhan," kata Martin Luther King. Itu adalah khotbahnya yang terakhir, karena setelah itu dia dibunuh oleh orang yang menentang perjuangannya.

To the Point
"Tidak ada yang siasia dalam pekerjaan pelayanan"

Martin Luther King mirip dengan Musa. Dia mendapat panggilan Allah untuk membebaskan bangsa kulit hitam dari “perbudakan”. Dia telah melihat “tanah perjanjian” itu, tapi dia merasa bahagia karena telah taat dan melaksanakan perintah Tuhan.

82

Pertanyaan, tanpa Jawaban

Seorang laki-laki menuduh sebuah acara kuis televisi di Jerman telah menipunya. Alasannya, tarif telepon yang harus dia bayar lebih mahal dari perkiraannya. Dia mengira tarifnya hanya 50 sen euro (sekitar Rp. 6.343). Ternyata dia harus membayar 90 euro (sekitar Rp. 11.417) untuk pertanyaan, “berapa banyak susu yang dihasilkan 10 ekor sapi jantan dalam 10 menit, jika 5 sapi jantan memproduksi 5 liter susu dalam lima menit.” Laki-laki itu tambah berang ketika pengelola kuis mengatakan tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Dia langsung pergi ke kantor polisi pukul 3 pagi untuk mendaftarkan tuntutannya. Sebelum melapor, seharusnya laki-laki itu tidak lupa bahwa sapi jantan itu tidak memproduksi susu! Di Indonesia juga sedang banyak diselenggarakan kuis. Pertanyaan yang diajukan sengaja dibuat mudah supaya kita bisa menjawab kuis melalui SMS. Dengan begitu, banyak orang bisa ikut kuis ini. Tarif SMS kuis ini lebih mahal daripada SMS biasa. Karenanya, semakin banyak orang menjawab kuis ini, maka semakin banyak uang yang diraup oleh penyelenggara kuis. Apakah kita tidak boleh menjawab kuis semacam ini? Boleh saja. Tapi ingat, fungsi kuis adalah untuk menguji pengetahuan seseorang. Maka ketika Anda akan mengikuti kuis, ujilah motivasi Anda: apakah karena ingin menguji pengetahuan atau mencoba keberuntungan Anda? Setiap orang pasti senang jika mendapat hadiah. Tapi peluangnya sangat kecil. Maka daripada berharap yang tak kunjung datang, baiknya kita menikmati hasil pekerjaan sendiri saja. Ini jauh lebih membahagiakan.

Nats
“Katakanlah berbahagia orang benar! Sebab mereka akan memakan hasil pekerjaannya.” (Yesaya 3:10)

To the Point
Hasil keringat sendiri lebih nikmat daripada pemberian orang lain.

83

Menikmati Hidup

“Biarpun ia hidup dua kali seribu tahun, kalau ia tidak menikmati kesenangan: bukankah segala sesuatu menuju satu tempat?” Pengkhotbah 6:6

Nats

Seorang laki-laki Inggris, John Brandrick (62) menuntut dokter yang menyatakan dirinya akan meninggal dalam satu tahu karena mengidap kanker pankreas. Namun setelah dua tahun, Brandrick ternyata tidak juga meninggal. Padahal setelah dokter menjatuhkan “vonis mati”, Brandrick memutuskan untuk menikmati hidup sambil menanti kematiannya. Dia memilih berhenti kerja, menjual atau mendermakan hampir semua harta bendanya. Ia berhenti membayar biaya rumah dan menghabiskan uangnya untuk makan-makan dan berlibur. Ketika kematiannya tak kunjung tiba, dia baru menyadari telah jatuh miskin. “Saya sangat senang mendapat kesempatan kedua untuk hidup…tapi bagaimana jika Anda tidak punya uang setelah semua ini?” katanya kepada televisi Sky yang dikutip Reuters. Apa pun yang terjadi, mestinya John Brandrick tidak perlu menyesali keputusan yang sudah diambilnya: berderma dan menikmati hidup. Saat ini, terutama di kota-kota besar, ada banyak pekerja yang bekerja ekstra keras. Mereka berangkat kerja sejak pagi masih gelap dan baru pulang setelah hari sudah gelap. Meskipun begitu, mereka tidak sempat menikmati hasil dari kerjanya. Seluruh tenaga, pikiran dan waktunya tersita untuk pekerjaan. Mereka juga enggan berderma. Bagi mereka, uang dan harta yang dikumpulkan dengan bekerja keras tidak untuk dibagi-bagikan kepada orang lain. “Enak saja, saya yang membanting tulang, tapi orang lain yang menikmatinya,” batin mereka. Pengkhotbah merasa kasihan pada orang-orang seperti ini. Hidup mereka adalah kesia-siaan.

To the Point
"Bekerja keras itu perbuatan mulia, tapi jangan sampai diperbudak oleh pekerjaan" 84

Keseimbangan Hidup

Michael Straw (25 th) dan Iana Straw (23 th) adalah suami isteri yang sangat kecanduan internet dan permainan video. Akibatnya kedua anaknya, laki-laki (22 bulan) dan perempuan (11 bulan) tidak terurus dan kekurangan gizi. Karena tergila-gila pada permainan “Dungeons & Dragons”, pasangan ini mengabaikan putri mereka yang terkena infeksi mulut dan rambutnya rusak karena terkena urine kuning. Putra mereka juga mengalami infeksi alat vital dehidrasi parah, serta sempat susah berjalan karena mengalami pelemahan otot. Setiap orang boleh, bahkan dianjurkan, memiliki hobi dan bersantai. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan tubuh, jiwa dan roh. Setelah bekerja keras dan berjerih lelah, kita berhak menikmati hasil pekerjaan kita. Sayangnya, ada beberapa orang yang berlebihan dalam menekuni hobinya. Ada seorang guru yang senang memancing. Dia sudah datang ke kolam pemancingan ketika matahari belum kelihatan dan baru pulang setelah matahari tidak kelihatan. Akibatnya, dia tidak dapat mengajar dengan optimal karena kecapekan. Ada lagi orang yang berhobi memelihara burung. Dia rajin mengikutkan burung peliharannya pada lomba-lomba di berbagai kota. Kebanyakan lomba ini diselenggarakan pada hari Minggu. Akibatnya, tugas-tugas pelayanan di gerejanya terganggu. Harus ada keseimbangan antara kerja serius dan aktivitas santai. Kata kuncinya adalah “keseimbangan”. Periksa kehidupan Anda: Apakah hidup Anda terlalu serius atau malah terlalu santai.

“Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.” Pengkhotbah 3:13

Nats

To the Point
"Tuhan pun beristirahat setelah menciptakan alam semesta. Masa’ sih Anda tidak butuh istirahat?" 85

Latihan Bersyukur

Nats
“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan namaNya.” Ibrani 13:15

Ada seorang pria yang datang pada seorang guru yang bijak. “Guru, bantulah aku. Rumahku seperti neraka. Kami tinggal dalam rumah yang sempit. Isteriku, anak-anakku, menantu-menantuku, cucucucuku, dan aku sendiri. Tidak ada cukup ruang lagi untuk kami semua.” “Belilah seekor sapi dan masukkan dalam rumahmu!” saran guru. Esoknya pria itu datang dengan muka letih. “Aduh guru, semakin parah!” “Beli seekor kambing dan masukkan dalam rumahmu,” perintah guru. Esoknya, dia datang lagi. “Rasanya aku sudah gila!! Rumahku tidak karuan.” “Beli sepuluh ekor ayam, dan masukkan ke dalam rumah,” perintah guru. Seolah dia tak peduli pada penderitaan pria itu. Esoknya, dia datang lagi dengan penampilan yang sangat kusut. “Ampuuun guru!!!” jeritnya, “aku sudah tidak tahan lagi. Rumahku sudah menjadi neraka beneran.” “Sekarang jual semua binatang peliharaanmu,” perintah guru. Esoknya, dia datang dengan muka berseri-seri. “Terimakasih guru. Rumahku terasa lega. Sekarang terasa sangat lega dan bersih. Seperti di sorga rasanya.” Kadangkala kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Antoni de Mello mengajarkan cara sederhana untuk bersyukur: Pikirkan kejadian hari kemarin, satu demi satu dari pagi sampai sore. Untuk setiap kejadiannya katakan “Terimakasih. Aku sungguh beruntung dapat mengalaminya.”

To the Point
"Jangan terlalu sering menengok ke luar. Seringseringlah lihat dan syukuri apa yang sudah ada di dalam" 86

Pelajaran Merendahkandiri

Ibu Inge (nama samaran) adalah pengikut Kristus yang taat. Usianya di atas 50 tahun dan sudah setahun menjanda. Suatu hari, dia menarik uang di bank. Di tempat parkir, tiba-tiba ada 3 orang yang menyapanya dengan sangat ramah, walau bu Inge sendiri merasa tidak kenal. “Sedang apa, Bu,” tanya salah seorang pria dengan hangat. “Ambil uang,” jawab bu Inge. “Ambil berapa?” Bu Inge menyebutkan nilai nominal tertentu. “Ah, masih kurang. Ayo ambil lagi!” kata penyapa itu sambil menggamit lengan bu Inge dan mengajaknya kembali masuk bank. Anehnya, bu Inge menurut saja. Dia kembali ke kasir dan mengambil seluruh tabungannya. Setelah itu, bu Inge ‘dibimbing’ masuk ke sebuah mobil. Di dalam mobil, mereka membujuk supaya bu Inge menitipkan segepok uang kepada mereka. Ini demi keamanan, kata mereka. Mereka juga meminta perhiasan dan HP milik bu Inge. Beberapa saat setelah diturunkan di pinggir jalan, bu Inge baru sadar bahwa telah ditipu habis-habisan. Dia segera melapor ke polisi. “Tuhan, apa maksud-Mu atas semua ini?”tanya bu Inge dalam doa. Lalu suara hatinya berkata,”Kamu ambil uang itu untuk apa, sih?” Dia ingat sehari sebelumnya, tersinggung pada ucapan seseorang yang berkaitan dengan uang. Untuk menjaga harga dirinya, maka dia akan ‘menyumpal’ mulut orang itu dengan uang. “Tuhan rupanya sedang mengajarkan tentang merendahkan diri kepadaku,”kata bu Inge kepada saya. “Memang benar, ucapan ini: yen pingin andhap asor, kowe kudu nganti ndlosor [Merendahkan diri itu harus sampai mencium tanah].”

“Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Lukas 18:14)

Nats

To the Point
"Yesus sudah memberi teladan dalam merendahkan diri. Sebagai hamba, Dia taat sampai mati"

87

Kerendahan Hati

Nats
“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Matius 23:11

Duke of Norfolk dikenal sebagai bangsawan yang sederhana, rendah hati dan lemah lembut. Suatu hari, dia sedang berada di stasiun kereta api ketika seorang gadis kecil Irlandia turun dari kereta sambil memikul tas besar yang sangat berat. Gadis desa ini hanya punya uang satu shiling. Dia menawarkan uangnya kepada kuli angkut di stasiun untuk membawakan tasnya ke sebuah kastil. Si kuli menolak karena bayarannya terlalu murah. Melihat hal itu, sang Duke menawarkan diri memikulkan tas gadis kecil itu. Ketika sampai di kastil, sang Duke menerima upahnya dengan sukacita. Hari berikutnya, tiba saatnya bagi gadis itu untuk bertemu dengan majikannya. Barulah dia sadar bahwa pria yang dianggapnya sebagai kuli angkut, tidak lain adalah majikannya sendiri. (Saat Chung Tzu Kehilangan Isteri) Ketika Yesus datang ke dunia, ajaran-ajaran-Nya telah membalik logika dunia tentang kepemimpinan. Pada zaman Yesus, seorang pemimpin berhak atas pelayanan dari orang-orang yang dipimpinnya. Yesus mengubah anggapan ini. Dia mengajarkan bahwa seorang pemimpin justru harus melayani anak buahnya.

To the Point
"Seorang pemimpin yang adalah pemimpin yang rendah hati"

Kerendahan hati merupakan ciri utama dalam kepemimpinan kristiani. Yesus sudah memberikan teladan. Sesungguhnya Ia sama dengan Allah, tetapi Ia tidak merasa bahwa keadaan-Nya yang ilahi itu harus dipertahankan-Nya. Sebaliknya, Ia melepaskan semuanya lalu menjadi sama seperti seorang hamba. Ia menjadi seperti manusia, dan nampak hidup seperti manusia. (Fil.2:6-7) Anda mau menjadi pemimpin? Belajarlah melayani lebih dulu!

88

Kasih Induk Bebek

Kantor berita Reuters menceritakan anak-anak bebek yang terperosok dalam selokan air yang berjeruji di Vancouver, Kanada. Induk bebek ini segera minta bantuan polisi yang sedang berjalan kaki. Dia mencakar-cakar kaki petugas hukum itu. Polisi menduganya sebagai bebek liar yang mengamuk dan membiarkan saja. Tapi setiap kali akan pergi, induk bebek ini menahannya lagi. Hingga akhirnya, polisi itu memberi perhatian pada induk bebek. Ketika Polisi mendekati induk bebek, dia melihat enam anak bebek yang terperangkap di dalam selokan. Dia lalu memanggil truk derek untuk mengangkat jeruji besi yang menutup selokan itu. Menggunakan saringan sayur, dia mengangkat semua anak bebek sehingga bisa berkumpul kembali dengan induknya. Kasih setia Allah itu begitu luas. Kasihnya setinggi langit; sampai ke awan dan sebesar gunung Allah, yakni gunung tertinggi. Kasih setia Allah sedalam samudera yang batas-batasnya tak dikenal. Itu sebabnya, pemazmur mengaku dengan kagum, “Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah!“ Setiap orang yang berlindung kepada-Nya akan aman (Mzm. 17:8). Sebagaimana peserta ibadah di bait Allah akan dikenyangkan oleh daging lemak korban dibakar, demikian orang yang mencari Tuhan akan diterima dan dikenyangkan di rumah-Nya. Menurut nubuat Yoel (3:18) mata air akan mengalir di rumah Tuhan. Orang yang datang kepada Tuhan akan dapat minum dari sungai itu dan bersenang-senang seperti di Taman Eden.

Nats
“Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu.” (Mazmur 36:7)

To the Point
"Kasih setia Allah sangat luas, tak terkelilingi; sangat dalam, tak terselami; sangat tinggi, tak teratasi" 89

Mukjizat di Depan Mata

Nats
“Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya."” (Yohanes 4:48)

Salah satu anak anggota jemaat kami terserang penyakit demam berdarah. Jumlah trombosit dalam darahnya terus menurus dengan drastis. Pertama kali masuk rumah sakit, jumlah trombositnya hanya 50 ribu. Padahal angka minimalnya adalah 150 ribu. Dia harus banyak minum jus buah jambu merah yang dipercaya dapat meningkatkan kadar trombosit. Akan tetapi belum terlihat perubahan yang berarti. Mengetahui hal ini, orangtua pasien mengirim SMS ke banyak anggota jemaat untuk meminta dukungan doa. Tengah malam itu, kami bersama-sama berdoa. Beberapa jemaat yang bergolongan darah B dikontak untuk bersiap-siap, jika sewaktu-waktu diminta mendonorkan darahnya. Sehari kemudian kadar tombositnya semakin melorot ke angka 25 ribu, 19 ribu, bahkan sampai hanya 12 ribu. Pada situasi ini, orangtua pasien sempat panik dan cemas. Mereka sudah bersungguh-sungguh meminta mukjizat dari Tuhan, tapi kadar trombosit anaknya malah terus menurun. Hingga suatu saat mereka menerima SMS ini: “Ambang batas minimal untuk kadar trombosit adalah 150 ribu. Anak Anda masih dapat bertahan dengan angka 12 ribu, bukankah itu sebuah mukjizat?” Mereka mendapat penguatan dari SMS ini.

Tuhan itu maha kreatif dan punya banyak cara untuk menyatakan kuasa-Nya. Diperlukan kepekaan rohani untuk mengetahuinya. 90

To the Point

Setelah ditransfusi, kadar trombosit pasien ini mulai naik dan sekarang sudah sembuh. Dalam acara persekutuan, orangtua pasien bersaksi: “Ketika kita minta mukjizat, kita sering memintanya harus sesuai dengan kehendak kita. Ketika mukjizat itu datang dalam bentuk yang tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita sering menganggapnya bukan sebagai mukjizat.”

Siapa Takut!

Sekitar pukul 7 malam, telepon di rumah kami berdering. Lewat telepon itu, seorang ibu meminta kami datang ke rumahnya. Suaminya sakit keras dan minta dukungan doa. Kami segera bersepeda motor ke sana. Sesampai di sana, kami melihat pak Yohanes yang sedang terbaring lemah. Napasnya tersengal-sengal. Isterinya sebenarnya ingin membawanya ke rumah sakit, tapi pak Yohanes menolak. Setelah kami bujuk-bujuk, akhirnya dia mau juga dibawa ke rumah sakit. Di ruang UGD RS, dia segera mendapat pertolongan pertama. Setelah itu, kami diberi kesempatan untuk berdoa bersama. Usai berdoa, kami pamitan. "Bapak tidak usah takut," pesan isteri saya untuk menguatkannya. "Oh, saya tidak takut, kok," kata pak Yohanes tegar, "Saya 'kan punya Tuhan Yesus." Dua jam kemudian, kami mendapat telepon bahwa pak Yohanes sudah dipanggil Tuhan. Sebagai umat tebusan Tuhan, selayaknya kita juga memiliki keberanian seperti pak Yohanes ini. Tidak seperti dalam sinetron-sinetron yang menyeramkan, kematian orang Kristen berakhir dengan indah. Tidak ada malaikat maut menyeramkan. Kita bertemu dengan Yesus dan mendengar kata-kata yang menenangkan hati: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Janji penghiburan ini terasa sangat bermakna karena diucapkan Yesus di tengah-tengah angin ribut dan gelombang yang besar. Menjadi pengikut Yesus tidak membuat kita bebas dari badai kehidupan. Meski begitu, di balik gemuruh badai itu, kita mendengar suara lembut Penguasa alam semesta ini.

Nats
Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Matius 14:27

To the Point
Tidak usah takut. Tuhanlah yang akan menyambut kita

91

Harga Sesungguhnya

Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24)

Nats

Seorang misionaris mahsyur, Hudson Taylor, menulis "Di zaman Kekristenan yang serba santai ini, bukankah perlu kita mengingatkan diri kita bahwa sesungguhnya ada harga yang harus dibayar untuk menjadi manusia yang dapat dipakai oleh Allah?” (Hudson Taylor's Spiritual Secret) Mengapa orang beribadah? Ada bermacammacam motivasi. Ada orang yang mendekatkan diri pada Tuhan supaya mendapatkan keuntungan:bebas dari penyakit, bisnisnya lancar, kariernya menanjak, omsetnya meningkat. Ada juga orang yang beribadah karena ketakutan: takut neraka, takut azab, takut dikutuk, takut kena celaka, takut bangkrut dll. Sesungguhnya Yesus sudah mewanti-wanti bahwa ada harga yang harus dibayar untuk menjadi muridNya. Kita harus melakukan 3 hal, yaitu: menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Dalam bahasa asli: “menyangkal” adalah “aparneoma”, yang artinya, “melupakan diri sendiri, menghilangkan pandangan dan kepentingan dirinya.” Hal ini tidak mudah dilakukan. Bayangkan, untuk menyangkali diri saja kita sudah sangat kesulitan, lalu kita masih harus memikul salib dan mengikut Yesus. Mungkinkah itu dilakukan? Sangat mungkin! Rahasianya adalah dengan mau belajar pada Yesus. Dia berjanji: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku” (Mat.11:29). Yesus sudah membuktikan bahwa Dia berhasil melakukan hal itu. Itu sebabnya Allah Bapa memberikan kemuliaan kepada-Nya. Hal yang sama dijanjikan pada orang-orang yang telah melakukan perintah ini. Dengan pertolongan Allah Anda pasti mampu menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus.

To the Point
"Setiap pengikut Kristus harus membayar harga, yaitu: penyangkalan diri, pikul salib dan ikut Kristus" 92

Mengeraskan Hati

“Suatu hari, ketika duduk di pinggir sungai, saya mengambil sebongkah batu dari dasar sungai dan memecahnya. Ternyata bagian dalam batu itu tetap kering meskipun ia sudah terendam air selama berabad-abad. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang Barat. Selama berabad-abad mereka telah dilingkupi oleh kekristenan; mereka terendam di dalam air manfaat kekristenan. Meski begitu, air tersebut ternyata tidak merembes ke dalam hati mereka; mereka tidak menyukai kekristenan. Persoalannya tidak terletak di dalam kekristenan, tapi di dalam hati manusia yang telah dikeraskan oleh materialisme dan intelektualisme.” Pendapat ini ditulis oleh misionaris dari India, Sadhu Sundar Singh, lebih dari 70 tahun yang lalu. Pengamatannya semakin tampak jelas sampai saat ini. Gereja-gereja di dunia Barat banyak yang ditinggalkan oleh jemaatnya. Seorang wanita Indonesia yang bersuamikan orang Norwegia menuliskan kesulitannya untuk beribadah di gereja sana. Mungkinkah hal ini penggenapan dari nubuatan Tuhan? “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu” (Mat.19:30). Bangsabangsa di Asia dan Afrika berhutang budi pada misionaris bangsa Eropa. Berkat keberanian dan kerelaan mereka menempuh bahaya, kita boleh mendengar kabar baik. Saat ini, kondisinya justru berbalik. Kekristenan di Asia dan Afrika sedang bergairah, sementara di Eropa mengalami kelesuan. Situasi ini mungkin terjadi juga dalam keluarga. Kerohanian orangtua justru ‘kalah’ dari kerohanian anak-anak. Jangan sampai ini terjadi.

“Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.” (Amsal 28:14)

Nats

To the Point
Satu-satunya cara agar api rohani tetap menyala adalah dengan senantiasa menyerap dari bahan bakar sorgawi 93

Sungai Keraguan

“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena … kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan.” (Roma 5:3-5)

Nats

Tahun 1913, mantan presiden Amerika Theodore Rosevelt memimpin ekspedisi ke Brasil. Dia diberitahu ada sebuah sungai tidak dikenal yang disebut Rio da Duvida atau Sungai Keraguan. Karena penasaran, bersama penjelajah terkenal Brasil, Candido Rondom dan tim, dia menjelajahi sungai Amazon yang masih liar. Perjalanan itu menjadi perjuangan hidup dan mati. Kekurangan air dan makanan, derasnya aliran sungai, malaria dan serangan suku Indian menandai perjalanan sepanjang 1.609 km selama 5 bulan. Perjalanan ini benar-benar luar biasa sehingga pada awalnya banyak orang yang menolak percaya. Namun akhirnya Roosevelt dan Rondom dipuji untuk perjuangan mereka. Kini sungai itu dinamai Rio (sungai) Roosevelt (GeoWeek). Ayat nats renungan ini diawali dengan dua kata yang paradoksal yaitu “bermegah” dan “kesengsaran”. Orang yang mengalami kesengsaraan biasanya merasa bersedih. Namun Paulus justru menganjurkan supaya kita bermegah yaitu rasa bangga karena mendapat kehormatan. Salah satu elemen dari Seven Habits for Highly Efective People (S. Covey) adalah begin with the end. Saat mengawali sesuatu, kita harus membayangkan bagaimana hasil akhirnya nanti. Paulus mengajak kita melihat jauh ke depan, yaitu bagian akhir dari semua itu. Urut-urutannya adalah kesengsaraan � ketekunan � tahan uji � pengharapan. Pengharapan adalah keinginan kita yang akan terjadi di masa depan. Pengharapan itu berupa kehormatan yang akan kita dapatkan jika kita bertekun dan sanggup bertahan dalam penderitaan.

To the Point
Sudah tahukah Anda tentang bagaimana akhir dari perjalanan Anda? Layakkah untuk ditekuni? 94

Empat Perempuan Asing

Apa sebab Matius memulai Injilnya dengan silsilah? Matius ingin memperlihatkan bahwa Yesus memenuhi dua syarat untuk menjadi Mesias yang dijanjikan selama berabad-abad. Dalam Perjanjian Lama, dinubuatkan bahwa Mesias akan muncul dari keturunan Abraham dan keturunan Daud. Berdasarkan silsilah ini, Yesus memenuhi syarat sebagai Mesias. Yang menarik, di dalam silsilah itu Matius menempatkan empat nama perempuan. Orang Yahudi menghormati empat “ibu bangsa Israel”, yaitu Sara, Ribka, Rahel dan Lea. Namun dalam silsilah ini, Matius menggantikan empat perempuan masyur ini dengan empat perempuan bangsa asing. Masingmasing adalah Tamar (Kej. 38), yang perempuan Kanaani; Rahab seorang perempuan Kanaani yang berasal dari Yerikho (Yos.2); Rut yang berasal dari Moab; dan Batsyeba, walaupun berasal dari Israel, tapi telah menjadi “bangsa asing” sebab menikah dengan Uria, “orang Het itu.” Matius menyebut nama-nama perempuan asing untuk memperlihatkan bahwa Tuhan menerima bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam rencana keselamatan. Dengan kata lain Matius menunjukkan bahwa Injil adalah “universal”. Itu sebabnya, kita perlu bersyukur karena Allah mau menyelamatkan seluruh umat manusia. Allah mengasihi seluruh umat manusia, di segala peradaban dan kebudayaan. Karena itu, sebagai ungkapan syukur, kita dapat menggunakan kebudayaan kita sendiri untuk memuliakan Allah. Tidak harus menggunakan adat dan budaya Yahudi, maupun bangsa lain.

“Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar…“Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria” (Matius 1: 3,5,6).

Nats

To the Point
Penyelamat memang muncul dari garis keturunan bangsa Yahudi, tapi keselamatan itu untuk semua bangsa. 95

Ketaatan Yusuf

Nats
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,” (Matius 1:24)

Di dalam masyarakat Yahudi, ada tiga tahapan pernikahan. Pertama, perjodohan, yang biasanya terjadi ketika pasangan itu masih anak-anak. Kedua, pertunangan, berupa kesepakatan formal di antara kedua keluarga mempelai. Pada tahapan ini, perjodohan itu bisa dihentikan bila sang gadis menolak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Tapi jika sama-sama sepakat, maka perjanjian yang dibuat itu bersifat mengikat. Ketiga, pernikahan. Masa pertunangan ini adalah satu tahun, dan mereka sudah dinyatakan sebagai suami isteri meskipun belum hidup bersama. Maria dan Yusuf berada pada tahap ini. Yusuf adalah orang yang “tulus hati” atau orang yang selalu “menaati hukum agama” (versi BIS). Menurut hukum agama bila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan—jika ia berhubungan seks dengan seorang laki-laki, maka ia harus dilempari batu hingga mati (Ul.22:23). Dengan mengandung bayi Yesus, Maria menghadapi ancaman hukuman mati. Tapi ada cara lain untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan diam-diam menceraikannya (Ul.24:1-2). Yusuf bermaksud menempuh cara yang kedua ini.

To the Point
Taat pada hukum agama itu hal baik, tapi jangan sampai menghalangi kita untuk taat pada Allah. 96

Ketika disapa oleh Allah, Yusuf berubah pikiran. Dia memilih taat pada rencana dan perintah Allah. Ini bukan tanpa risiko, sebab tidak mustahil Yusuf mendengar pergunjingan omongan orang lain: “Maria itu wanita nakal”, “Mereka berhubungan seks sebelum waktunya”, “Mereka telah berdosa” . Taat pada Tuhan itu bukan perkara mudah, tapi ujungnya adalah kemuliaan.

Rahmat Hana

Nama Hana berarti “rahmat” atau “kemurahan hati”. Namun realitas kehidupan Hana berlawanan dengan arti namanya. Hana tidak memiliki anak dan kini hidup menjanda setelah tujuh tahun menikah. Kedua hal tersebut dipandang sebagai sebuah kemalangan oleh masyarakat pada zaman itu. Hana tinggal di Kenisah selama bertahuntahun. Siang malam ia beribadah kepada Tuhan dengan berpuasa dan berdoa. Seorang penafsir Alkitab berkeyakinan bahwa Hana termasuk dalam rombongan janda lansia yang mengemban fungsi keagamaan khusus. Paulus menggambarkan bahwa fungsi mereka adalah “berdoa siang malam” (1 Tim. 5:5). Ada syarat-syarat lain supaya bisa masuk dalam “tim doa” ini: 1. Sekurang-kurangnya berumur 60 tahun dan hanya satu kali bersuami (1 Tim. 5:9); 2. Terpuji karena perbuatannya dan pendidikan anak-anaknya (1 Tim 5:10a); 3. Ramah, rendah hati, membantu orang menderita dan mengamalkan perbuatan baik lainnya (ay. 10b). Di sinilah letak keberlimpahan rahmat Tuhan yang diterima Hana. Ketekunan doa dan kebijaksanaan telah menempa kepekaan rohani Hana dalam memindai kedatangan Mesias di dalam diri kanak-kanak Yesus. Dari Hana kita belajar tentang ketekunan dan ketabahan. Di mata sesamanya, Hana mengalami kemalangan. Tapi hal itu tidak menumbuhkan akar kepahitan dalam diri Hana. Dia malah semakin giat dalam pelayanan doa dan amal. Hingga akhirnya Allah merahmatinya dengan luarbiasa.

Nats
“Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.” (Lukas 2:38)

To the Point
Allah kita itu maha rahmani. Ia menyayangi umat yang telah giat untuk melayani-Nya

97

Hadiah yang Tak Terkatakan

Nats
Syukur kepada Allah karena karunia-Nya [gift] yang tak terkatakan itu!” (2 Korintus 9:15)

Ada sebuah legenda tentang raja Persia yang baik hati dan bijaksana. Dia sangat mengasihi rakyatnya dan ingin tahu apa yang dirasakan oleh mereka. Karena itu, sang raja ini sering menyamar sebagai orang biasa. Suatu hari dia menyamar gelandangan dan masuk ke sebuah gubuk sederhana. Pemilik rumah menyambut dengan ramah dan mengajak “gelandangan” ini makan malam. Sambil makan, mereka mengobrol dalam suasana yang akrab. Ketika malam sudah larut, “gelandangan” ini mohon pamit. Keesokan harinya, sang raja berkunjung ke gubuk itu dengan pakaian kebesarannya. “Akulah gelandangan yang kamu ajak makan malam tadi malam,” kata sang raja membuka identitasnya. Dia mengira, setelah tahu siapa dirinya, pemilik gubuk itu akan meminta hadiah darinya. Ternyata tidak! Dengan takzim, pemilik gubuk itu berkata, “Baginda meninggalkan istana dan kemuliaannya untuk mengunjungi hamba di gubuk sederhana ini. Baginda mau menyantap makanan seadanya dan menemani saya mengobrol. Baginda telah membuat hati saya bergembira. Bagi orang lain, Baginda memberikan hadiah berupa harta dan uang; tapi bagi hamba, Baginda telah memberikan diri Baginda. Ini adalah hadiah terindah bagi hamba.” Yesus Kristus telah meninggalkan kemuliaan, dan memberikan diri-Nya bagi kita. Inilah yang disebut the unspeakable gift (“hadiah yang tak terkatakan”)!

To the Point
Pemberian Allah yang terbesar bukan kekayaan atau kehormatan, melainkan kesediaan bersahabat dengan kita. 98

Hidup Prima di Usia Senja

Seorang wartawan mewawancarai seorang kakek di panti jompo milik pemerintah. “Kek,” tanya wartawan muda,” bagaimana perasaan kakek seandainya kakek mendapat hadiah undian seratus juta rupiah?” “Tidak ada bedanya, anak muda,” jawab sang kakek kalem,”saya tetap berusia 95 tahun, bukan?” Dalam suratnya kepada Titus, Paulus menulis tentang tuntutan hidup etis yang baik bagi orang yang tua. Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, dalam bahasa aslinya: “Siuman, tidak mabuk”. Dengan kata lain, tidak tergoda oleh hawa nafsu. Paulus meminta supaya para bapak yang sudah tua untuk hidup terhormat—yaitu sikap yang agung dan bijaksana—berhikmat, dapat menasihati orang lain. Sifat-sifat ini sebenarnya juga dijunjung tinggi oleh orang-orang yang bukan Kristen. Namun yang membedakannya bahwa laki-laki tua Kristen melakukannya secara sehat di dalam iman, sehat di dalam kasih dan sehat dalam ketekunan. Ketiga hal ini (“iman, kasih dan ketekunan”) hampir sama dengan tiga kata terkenal lainnya: iman, pengharapan dan kasih (1 Kor. 13:13). Ketekunan merupakan salah satu segi yang penting dari pengharapan. Orang yang sudah berusia lanjut biasanya sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya. Hidupnya sederhana karena tidak punya keinginan yang macam-macam. Pikirannya sudah matang dan dewasa. Imannya juga sudah mantap, dan sekarang tinggal menantikan janji Tuhan, yaitu hidup kekal.

Nats
“Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” (Titus 2:2)

To the Point
Ada benarnya pepatah “Tua-tua keladi, makin tua makin jadi.” Semakin bertambah usia, seharusnya kita semakin matang. 99

Pahit Dulu, Manis Kemudian

Nats
“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” (Ibrani 12:1)

Seorang anak laki-laki Kristen Sudan, lutut dan kakinya dipakukan ke papan dan dibiarkan mati. Akan tetapi dia berhasil diselamatkan. Meski mengalami perlakuan yang mengenaskan, anak lakilaki ini telah mengampuni pelakunya karena Yesus juga dipaku dan mengampuni pelakunya. Seorang perempuan misionaris Kolombia diculik dan diberitahu bahwa umurnya tinggal dua jam lagi. Perempuan ini berkata kepada penculiknya, jika hidupnya tinggal dua jam lagi, maka dia akan menghabiskannya dengan menceritakan tentang Yesus kepada mereka (The Voice of Martyrs). Ibrani 12:1-2 merupakan klimaks dari daftar panjang dari contoh model iman dari Perjanjian Lama. Penulis kitab Ibrani melanjutkan tulisannya menggunakan tiga kiasan. Pertama, perlombaan atletik (ay. 1, 12-13). Pergumulan orang Kristen melawan dosa dan penderitaan diibaratkan seperti perlombaan lari. Atlet yang lemah dan letih mudah sekali digoda untuk keluar dari perlombaan. Kedua, bapak yang mendidik anak-anaknya (ay. 5-11). Kali ini penderitaan manusia ditafsirkan sebagai bukti bahwa Allah mendidik anak-anak yang dikasihi-Nya, supaya bertumbuh dewasa. Sama seperti Yesus, anak-anak Tuhan juga harus belajar dari penderitaan mereka. Ketiga, akar yang pahit (ay.15). “Akar pahit” ini mengacu Ul. 29:18 tentang larangan beribadah pada berhala. Lalu diikuti dengan cerita tentang Esau. Esau menjadi contoh tentang orang yang merelakan keselamatan (menjual hak kesulungan) dan sesudahnya tidak mampu menyesal. Contoh ini memberi peringatan kepada kita supaya tidak meninggalkan keselamatan demi apapun juga.

To the Point
Apapun yang tampak menggiurkan di dunia ini, tak ada apa-apa dibandingkan kemulian sorgawi.

100

Hati yang Waspada

Pukul 17:11,HP saya berbunyi. Saya mengangkatnya. “Halo, nama saya Drs. Wawan Setiawan dari ….[menyebutkan perusahaan telepon],” kata si penelepon,”selamat nomor Bapak telah memenangkan undian.” ”Apakah Bapak punya buku tabungan?” tanya si penelepon. “Tunggu dulu,” saya menyela,”bagaimana saya bisa memastikan bahwa ini bukan penipuan?” “Kalau Bapak tidak percaya, silakan lihat TV nanti malam,” jawab si penelepon,”apakah Bapak punya tabungan? Di bank apa?” “Saya tidak bisa memberitahuannya” jawab saya. “Bagaimana kalau kartu ATM?” “Saya sudah bilang tidak bisa mengatakannya” “Kalau begitu, bagaimana kalau Bapak mengambil sendiri hadiahnya di kantor kami?” “Rumah saja jauh dari Jakarta,” jawab saya. "Tut, tut, tut", tiba-tiba sambungan telepon diputus. Sejak awal saya sudah menduga bahwa ini adalah penipuan. Perkembangan ilmu dan teknologi ternyata juga dimanfaatkan para pelaku kriminal untuk melakukan kejahatan. Itu sebabnya, kita perlu waspada dan menjaga keluarga kita dari tindak kejahatan. Jangan sembarang memberikan informasi pribadi kepada orang asing. Misalnya nomor rekening, nomor pin, nomor HP, alamat rumah, tanggal lahir, nama anak-anak dll. Semua itu dapat dijadikan bahan untuk menjahati kita.

Nats
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.” (1 Tesalonika 5:2122)

To the Point
Berlakulah cerdik. Jangan curigai semua orang, tapi jangan mudah percaya pada semua orang. 101

Pelabuhan Kesukaan

Nats
“Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntunNya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.” (Mazmur 107:30)

Eric Barker adalah misionaris Inggris yang melayani di Portugal. Ketika pecah Perang Dunia II, keadaan menjadi gawat. Barker memulangkan istri dan anaknya yang berusia delapan tahun ke Inggris. Dia juga mengungsikan adik perempuannya dan tiga anaknya. Sedangkan Barker memutuskan untuk tetap tinggal di Portugal. Hari Minggu berikutnya, sebelum berkhotbah dia memberi pengumuman, “Saya baru saja menerima kabar bahwa semua keluarga saya sudah sampai di rumah dengan selamat!” Setelah itu, dia melanjutkan khotbah seperti biasanya. Beberapa hari kemudian, jemaat baru tahu makna sebenarnya dari kata-kata Barker itu. Sebuah kapal selam musuh telah menembakkan terpedo ke kapal penumpang yang mengangkut keluarga Barker. Kapal itu tenggelam bersama dengan penumpangnya. Sebagai orang Kristen, Barker punya keyakinan bahwa semua keluarganya telah sampai di “rumah” yang abadi dengan selamat. Barker tahu pasti bahwa keluarganya bersukacita, sebab badai telah reda, dan mereka dituntun Tuhan ke pelabuhan kesukaan mereka. Saya sering mendampingi isteri saya dalam melayani kebaktian pemakaman. Meskipun orangorang ditinggalkan itu merasa sedih, tapi merasakan bahwa ada pengharapan kuat suatu saat akan bertemu lagi di pelabuhan kesukaan itu.

To the Point
Tuhan tidak menjanjikan pelayaran yang tenang, tapi menjanjikan pelabuhan yang penuh kesukaan. 102

Tak Terduga

Suatu hari pak Bambang mengantarkan Riris, anaknya, untuk peragaan busana di sebuah kota. Ketika Riris sedang beraksi, tiba-tiba kakinya terperosok dalam lubang di panggung. Sebagai peragawati profesional, Riris bisa segera menguasai diri. Namun, tak urung otot kaki kirinya terkilir. Usai show, mereka bergegas pergi ke stasiun KA karena esoknya harus pentas di kota lain. Sambil menunggu kedatangan kereta, pak Bambang bertanya pada seorang ibu yang duduk di samping, “Bu, apakah di sekitar stasiun ini ada tukang urut? Kaki anak saya terkilir dan harus dipijit.” “Kebetulan saya ini tukang pijit, pak” jawab ibu paruh baya itu. “Kalau boleh, saya akan memijit kaki anak bapak.” Pak Bambang mengangguk mengiyakan dan ibu itu lalu membuka tas bawaannya. Ternyata di dalamnya ada berbagai minyak gosok dan alat pijit lainnya. Ia kemudian memijit kaki Riris dengan cekatan. Ketika kereta yang dinanti datang, sang ibu itu juga menyelesaikan pijitannya. Riris merasakan rasa sakitnya sudah berkurang banyak. “Tuhan itu, kalau berkarya kadang di luar dugaan kita,” kata pak Bambang,”Siapa yang menyangka kalau Dia mengirimkan tukang pijit tepat di sebelah tempat duduk saya.” Kita tidak mungkin membatasi kreativitas Allah dalam melakukan karya-Nya. Dia mampu melakukan apa saja, bahkan di luar jangkauan pikiran kita. Kita hampir tidak bisa menebak apa yang dilakukan Allah terhadap sesuatu atau seseorang, apalagi mengatur Allah untuk berbuat ini dan itu. Maka satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah mengakui kedaulatan Allah.

Nats
“Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya.” (Ayub 5:9)

To the Point
Allah bekerja semau Dia sendiri. Kita tidak dapat mengatur-atur Allah

103

Siap Siaga

Nats
“Karena itu berjagajagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Matius 24:42)

Saya punya pengalaman lucu tentang razia polisi. Suatu hari, saya bersama isteri saya memutuskan untuk mencari makan siang di luar rumah dengan naik sepeda motor. Saya memutuskan tidak membawa surat-surat kendaraan. Toh, cuma dekat situ, demikian pikir saya. Tapi di luar dugaan ternyata ada razia polisi di depan. Saya sudah tidak mungkin berputar kembali. Satu-satunya cara adalah masuk ke sebuah warung makan. Ternyata satu-satunya menu di warung itu adalah rica-rica menthok (sejenis angsa). Maka kami terpaksa memesan menu tersebut, walau dagingnya sangat alot dan rasanya super pedas. Cukup lama kami berada di dalam warung itu, tapi razia belum juga selesai. Untunglah di samping warung ada gang kecil. Maka kami memutuskan lewat jalan itu. Setelah menyusuri perkampungan yang berliku-liku dan banyak “polisi tidur”, akhirnya, kami “selamat” sampai di rumah. Peristiwa konyol ini terjadi karena saya terlalu meremehkan keadaan. Saya sengaja tidak mengantongi surat-surat kendaraan, karena menduga tidak mungkin akan ada razia polisi. Peristiwa ini memberikan pelajaran kesiapsiagaan. Sebagaimana pengendara yang harus selalu menyiapkan surat-surat kendaraan, demikian juga setiap orang Kristen harus selalu menyiap-siagakan kerohanian kita. Sebab Yesus akan datang lagi ke dunia pada saat yang tidak terduga. Yesus akan datang kembali ke dunia, itu sudah pasti. Tapi kapan Dia akan datang? Tak ada yang tahu. Itu sebabnya kita harus selalu siap-siaga.

To the Point
Perhatikan jarum jam Anda. Wadpadalah, Yesus akan datang di antara 12 angka itu.

104

Manfaat Tidur

Setelah seharian mengajar dan melayani, Yesus pun mengajak murid-murid-Nya untuk menyeberangi danau Galilea. Markus 4:35 menceritakan saat Yesus dan murid-murid naik perahu, hari sudah menjelang malam. Tak berapa lama, Yesus pun tertidur. Perhatikan ayat ini: meskipun memiliki kuasa yang dashyat, tetapi sebagai manusia, Yesus juga mengalami keletihan dan mengantuk. Dia butuh istirahat. Dia harus tidur! Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Allah membuat manusia tidur nyenyak. Ini artinya tidur adalah bagian dari rancangan asli Allah ketika menciptakan manusia. Sayangnya, kita sering meremehkan tidur. Dalam benak kita, tidur sering dianggap sebagai kegiatan yang tidak produktif. Sesungguhnya, tidur punya manfaat untuk melepas kepenatan, mengumpulkan enerji baru dan meregenerasi sel-sel tubuh. Selain mengistirahatkan tubuh, tidur juga mengistirahatkan otak, meningkatkan stabilitas emosi agar bisa konsentrasi, produktif dan beraktivitas sosial. Gangguan tidur dapat mengurangi daya tahan tubuh dan berpeluang munculnya berbagai penyakit. Gangguan tidur meliputi kesulitan mulai tidur, sering terjaga, kurang tidur (kurang 5 jam) dll. Penyebabnya karena gaya hidup yang tidak sehat seperti mengkonsumsi alkohol, rokok, kopi, pola kerja dan begadang. Obat penurun panas dan asma juga memperlambat waktu tidur. Jika Anda merasa kurang tidur atau tidur tidak teratur, sebaiknya Anda mengubah gaya hidup Anda. Jika ini belum berhasil, cobalah untuk memeriksakan diri ke dokter.

Nats
Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.” (Matius 8:24)

To the Point
Allah menciptakan tidur sebagai bagian dari master plan-Nya terhadap manusia. 105

Bintang Penuntun

Nats
“Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.” (Matius 2:9)

Selain terlibat dalam pelayanan, saya juga aktif dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Visi kami adalah mendorong terjadinya keadilan di dalam masyarakat. Namun meskipun sudah bekerja selama puluhan tahun, kami belum melihat adanya perubahan berarti dalam masyarakat. Ada suatu masa dimana kami menjadi bimbang,”Apakah yang kami kerjakan ini ada gunanya? Apakah kami sudah berbuat benar? Apakah jerih payah kami selama ini hanya sia-sia saja?” Masing-masing kemudian mengadakan refleksi. Sebagaimana orang-orang Majus yang dituntun menuju bayi Yesus, demikian juga setiap orang membutuhkan “bintang penuntun.” Kita semua membutuhkan visi atau impian ideal yang ingin kita capai dalam kehidupan kita. Dengan melihat “bintang penuntun” ini, meskipun sejauh memandang hanya terhampar padang pasir, tapi kita yakin bahwa di ujung sana ada sebuah kota yang permai. Kita tidak merasa cemas karena ada “bintang penuntun.” Tanpa “bintang penuntun” ini maka kita akan cepat menyerah. Ada sekelompok orang yang mendirikan lembaga pelayanan baru. Mereka ini adalah orang-orang yang pintar dan berpengalaman. Namun lembaga ini tidak bertahan lama. Mengapa? Karena motivasi mendirikan lembaga baru ini adalah rasa sakit hati terhadap lembaga lama yang telah mendepak mereka. Mereka tidak punya “bintang penuntun”. Tengoklah ke “langit rohani” Anda. Apakah Anda masih melihat “bintang penuntun” Anda?

To the Point
Visi hidup menjadikan hidup kita punya arah. Kita tetap tegar meski menghadapi padang belukar 106

Uluran Tangan

Suatu kali, kami sekeluarga pergi ke luar kota dan menginap di sebuah hotel. Semarang. Di dalam kamar hotel, Kirana (20 bulan)—anak kami— berlari-lari di sela-sela perabotan. Dia juga naik turun ranjang dan kursi. Tapi di sinilah awal malapetaka. Saat ingin turun dari ranjang, dia kehilangan keseimbangan sehingga wajahnya terbentur palang kayu ranjang. Akibatnya bibirnya terluka dan berdarah. Setengah jam kemudian, dia sudah bermainmain lagi. Kali ini dia naik kursi. Sekali lagi dia kehilangan keseimbangan lagi. Akibatnya wajahnya terantuk kursi dan gigi seri-nya patah sedikit. Merenungkan peristiwa ini, saya menyadari bahwa anak saya sedang dalam masa pembentukan kepercayaan diri. Maunya, dia melakukan semua hal sendiri, tanpa bantuan orang lain. Orang lain yang berusaha membantunya, selalu ditolaknya. Demikian juga, ketika naik ke atas kursi atau ranjang, dia emoh dipegangi orang dewasa. Tapi jika merasa tidak mampu menghadapinya sendiri, maka barulah dia minta bantuan orang dewasa. Bukankah situasi serupa juga terjadi dalam hubungan Bapa dengan anak-anak-Nya? Kadang manusia merasa mampu melakukan semua hal dengan kekuatannya sendiri. Dia menolak bantuan dari Bapa. Yang menarik, Bapa tidak memaksakan pertolongan-Nya. Dengan setia, Allah selalu mengawasi perilaku anak-anak-Nya. Ketika mereka akhirnya berteriak “Tolong Tuhan!”, dengan lembut Allah segera mengulurkan tangan-Nya.

Nats
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10)

To the Point
Allah selalu siap menolong kita. Masalahnya, kita sering tidak butuh pertolongan Tuhan. 107

Kekuatan dari Allah

Nats
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” --Filipi 4:13

Sebut saja namanya bu Murni. Sebagai konselor, dia pernah mengalami pergumulan yang berat. Suatu hari, dia dimintai tolong seorang perempuan yang diculik dan disekap selama berbulan-bulan. Ketika dibebaskan, perempuan ini dalam keadaan linglung dan hamil. Diduga karena diperkosa. Selama mendampingi perempuan ini, bu Murni mengalami pergumulan yang luar biasa. Bagaimana tidak, perempuan ini menginginkan bayi yang dikandungannya itu digugurkan. Hal ini jelas bertentangan iman kristiani yang diyakini bu Murni. Hingga akhirnya bu Murni hanya bisa menangis tersedu-sedu di depan altar gereja. Di sana ia menumpahkan seluruh isi hatinya di hadapan Allah. Cukup lama dia berada gereja itu, hingga seluruh pintu gereja ditutup dan hanya disisakan satu pintu untuknya. Ketika tangisannya mulai reda, bu Murni mendengar suara batinnya berkata,”Jika kamu dipanggil Allah, masa’ sih Allah tidak memberikan kekuatan dan sarana kepadamu untuk melaksanakan panggilan itu.” Suara itu kembali menguatkan bu Murni untuk menjalankan tugas pelayanannya. Kalau Anda merasa lemah dan tak berdaya dalam menjalankan panggilam Tuhan, jangan merasa khawatir. Hampir semua rasul dan nabi mengalami hal yang sama. Tapi mereka mampu menjalankan tugas panggilan karena mengandalkan kekuatan dari Allah.

To the Point
Kita dapat melakukan perkara yang besar karena mendapatkan kekuatan besar dari Allah yang besar. 108

Kehidupan Sosial

Panggilan untuk Bertindak

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?” 1 Yohanes 3:17

Nats

Dalam buku Holy Sweat, Tim Hansel menulis cerita ini. Seorang pengkhotbah memulai khotbahnya:"Ada tiga poin penting dalam khotbah saya.” Jemaat tidak terlalu antusias menanggapinya. Mereka sudah sering mendengar seperti ini. "Poin pertama, saat ini ada dua milyar orang yang kelaparan di dunia ini,” lanjut sang pengkhotbah. Jemaat menanggapinya dengan dingin. Mereka juga sudah sering mendengar hal ini. "Poin kedua, kebanyakan dari kalian memilih menutup mata dan cuek terhadap persoalan ini,” kata pengkhotbah dengan suara keras. Seketika itu juga jemaat mulai gelisah dan saling berbisik. "Poin ketiga, yang membuat saya prihatin adalah kalian lebih menaruh perhatian pada ucapan saya tentang ‘menutup mata dan cuek’, daripada tentang kelaparan di dunia ini,” kata pengkhotbah, kemudian turun dari mimbarnya. Itulah sifat manusia. Jika sebuah peristiwa tidak berkaitan dengan dirinya, maka dia cenderung tidak peduli. Namun jika hal itu bersinggungan dengan kepentingannya, barulah ia menaruh perhatian. Apalagi jika hal itu menyinggung harga dirinya.

To the Point
Dalam mengasihi tidak ada pertimbangan untung-rugi

Ini bukan ciri orang yang dikasihi Allah. Menurut rasul Yohanes, orang Kristen yang benar mestinya mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, melainkan juga dengan perbuatan dan dalam kebenaran ( ay.18). Hal senada dikatakan penulis amsal, “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,"sedangkan yang diminta ada padamu” (3:28).

110

Rumah yang Melayani

Dalam kitab Lukas dan Kisah Rasul, penulisnya memberi perhatian yang khusus pada rumah. Banyak peristiwa penting yang terjadi di dalam rumah. Rumah Zakaria menjadi tempat perlindungan bagi Maria dari cemoohan masyarakat karena hamil tanpa laki-laki. Rumah pemungut cukai menjadi tempat perjamuan bagi Yesus. Ada sukacita dalam pesta ini. (Luk.5:27-39) Rumah Yairus, menjadi tempat kesembuhan bagi seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan anak perempuan Yairus (Luk.8:40-56) Rumah Bapa dalam perumpamaan anak yang hilang menjadi tempat untuk pulang dan diterima dengan sukacita (Luk.15:11-32) Rumah Zakheus menjadi awal dari keadilan. Zakheus memutuskan untuk membagikan harta yang dirampasnya dari orang miskin (Luk.19:1-10). Rumah Simon, seorang penyamak kulit memberikan tumpangan kepada Petrus di Yope. (Kis.9:36-43). Di rumah ini Petrus mendapat penglihatan. Rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus menjadi tempat orang percaya berkumpul dan berdoa. Setelah dibebaskan oleh malaikat, Petrus pergi ke rumah ini (Kis.12:1-17) Rumah Priskila dan Akwila menjadi tempat untuk menjelaskan Jalan Allah kepada Apolos (Kis.18:26). Di rumah kontrakannya, Paulus mendapat kebebasan memberitakan Injil. Banyak orang yang mengunjungi rumahnya. Bagaimana dengan rumah Anda? Bukalah pintu rumah Anda untuk melayani Tuhan.

Nats
“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya. Dengan terus terang dan tanpa rintangan apaapa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.” Kisah 28:30-31

To the Point
Bukalah pintu rumah Anda. Biarkan orang lain singgah dan merasakan kehangatannya 111

Kebebasan Finansial

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."” Ibrani 13:5

Nats

Tidak ada yang menyangka Alice Harris memiliki uang sangat banyak. Maklum perempuan berusia 97 tahun itu hanyalah seorang pemilik toko kecil yang menjual bahan makanan di sebuah pedesaan di negara bagian New York. Karena itu, banyak tetangganya kaget ketika tahu bahwa Alice telah mewariskan uang 1 juta dollar atau hampir Rp. 9 miliar pada sebuah sekolah sebelum dia meninggal. “Tidak seorang pun tahu bahwa dia punya uang sebanyak itu,”kata Becky Mosher yang membeli toko kecil itu dari Alice. Alice yang tidak punya anak ini dikenal sebagai orang yang hemat. “Dia tidak banyak menghabiskan uang dan tidak pernah pergi kemanamana,” ujar Mosher. Apa persamaan dan perbedaan antara hemat dan pelit? Keduanya sama-sama berusaha mengurangi pengeluaran uang sedikit mungkin. Bedanya, orang yang pelit adalah orang yang dikuasai oleh hartanya. Sedangkan orang hemat adalah orang yang mampu menguasai dan mengelola harta dengan bijak. Saat ini ada istilah “kebebasan finansial”, yang artinya sebuah keadaan dimana seseorang telah mandiri dari sisi keuangan. Dengan kemandirian ini, kebutuhan hidup seseorang dapat tercukupi. Namun di balik keadaan ini, tersembunyi ancaman serius. Orang itu dapat diperbudak oleh uang. Alice memberi kita teladan bagaimana dia bebas dari jeratan uang. Meski hartanya berlimpah, tapi dia menggunakannya seperlunya saja. Itu bukan karena dia pelit, melainkan karena punya tujuan lebih besar yaitu untuk memberkati orang lain.

To the Point
Jika Tuhan menghendaki Anda menjadi berkat bagi orang lain, maka Dia akan lebih dulu memberkati Anda. 112

Rahasia Berbahagia

Ada dua anak, Jojo (5 th) dan Nana (7 th), -bukan nama asli-, yang sering main ke rumah kami. Ketika waktunya makan siang isteri saya bertanya, “Sudah makan, belum?” Keduanya hanya diam, tapi dari bahasa tubuh mereka, kelihatannya mereka lapar. Jadi isteri saya mengambilkan makan untuk mereka dan mereka pun menyantapnya dengan lahap. Ternyata mereka belum makan dari kemarin sore. Mama mereka tidak punya uang untuk membeli makanan. Apakah orangtua mereka tidak punya uang sama sekali? Sebenarnya, ayah mereka bekerja tapi uang itu habis dipakai untuk membeli minuman keras. Isteri saya lalu berjanji akan mengantar makanan untuk makan malam. Kami lalu melakukan pelayanan sampai larut. Karena sudah malam, maka putuskan untuk batal mengantarkan makan malam. Keesokan pagi-pagi benar Jojo dan Nana sudah mengetuk pagar rumah kami. “Tadi malam kami tunggu-tunggu kok tidak jadi mengantarkan nasi dan telur dadar ke rumah kami?!” kata mereka dengan wajah kecewa. Mendengar itu mata isteri saya berkaca-kaca karena terharu. Saya menuliskan kisah kami ini bukan untuk menonjolkan kebaikan kami. Saya berharap sepotong kisah ini memberi inspirasi bagi Anda jika ingin berbahagia. Yesus mengatakan, jika Anda ingin merasa bahagia maka berbuat baiklah kepada orangorang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Maka Anda akan berbahagia.

“Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orangorang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Lukas 14:13-14

Nats

To the Point
"Detil kehidupan kita akan dilupakan banyak orang, tapi semangat dan kasih sayang kita akan selalu dikenang oleh orang-orang yang pernah merasakannya" 113

Taat Hukum

“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13:4

Nats

Pak Djoko, jika naik sepeda motor, enggan mengenakan helm standard. Dia lebih senang memakai helm cidhuk (yang hanya ditempelkan di atas kepala, seperti topi). Suatu malam, dia bertamu ke rumah temannya. Ketika hendak pamitan pulang, tuan rumah menyodorkan helm standard miliknya. "Kamu tidak boleh mati terlalu cepat karena kecelakaan. Nih, pakai ini," kata temannya dengan bercanda. Sore berikutnya, dia melayani di sebuah pos jemaat yang jaraknya sekitar 5 km. Lain dari biasanya, pak Djoko memutuskan untuk memakai helm standard itu. Usai melewati palang kereta api, pak Djoko ingin menyalip truk. Ketika sejajar dengan truk itu, tiba-tiba sepeda motornya terpelanting. Dia terlempar dari kendaraan, tubuhnya menghantam aspal kemudian tercebur ke dalam selokan. Sementara itu, sepeda motornya juga bergulingguling selama beberapa kali dan masuk selokan juga. Pertolongan Tuhan sungguh nyata. Sepeda motor itu tidak menimpa tubuh pak Djoko. Berkat helm standard yang dikenakannya, kepala pak Djoko terlindung benturan dengan aspal. Setelah diperiksa, pelipis kiri helm itu mengalami keretakan. Pak Djoko sendiri tidak mengalami luka-luka yang berarti. "Seandainya saya tidak memakai helm standard, saya tidak tahu apakah saya masih bisa berdiri di sini atau tidak" desis pak Djoko dengan suara bergetar. "Aturan dibuat untuk dilanggar." Pepatah ini tidak sepenuhnya tepat. Peraturan dan hukum dibuat untuk ketertiban dan kebaikan kita. Alangkah indahnya jika orang Kristen menjadi teladan di dalam ketaatan terhadap hukum.

To the Point
"Setiap kali telah berbuat salah, maka hati menjadi gundah, perbuatan serba salah dan raut wajah tak indah" 114

Disiplin dan Disciple

Ben Carpenter adalah pemuda 21 tahun yang cacat fisik sehingga harus menggunakan kursi roda. Suatu sore, ketika menyeberang di sebuah perempatan di Michigan, AS, secara tidak sengaja pegangan kursi rodanya tersangkut bumper depan truk semitrailer. Sopir truk tidak menyadari hal ini dan tetap menjalankan kendaraannya. Akibatnya Carpenter terdorong dengan kecepatan 80 km/jam. Untungnya ada pengendara lain yang melihat kejadian ini dan menelepon polisi. Polisi segera menghentikan truk ini. Sisi baik dari peristiwa ini adalah Carpenter tidak tergilas truk dan tidak mengalami luka-luka. Kursi rodanya pun tidak mengalami kerusakan parah. Hanya sebagian bannya saja yang mengalami aus. Carpenter bisa selamat karena dia disiplin dalam menggunakan sabuk pengaman ketika duduk di kursinya. Disiplin hampir mirip dengan kata disciple (murid). Apa persamaan di antara keduanya? Samasama patuh. Sama seperti murid patuh pada gurunya, orang yang berdisiplin adalah orang yang patuh pada peraturan. Harus diakui tingkat kepatuhan kita pada hukum masih rendah. Seperti iklan rokok: “Taat hanya kalau ada yang lihat.” Memakai sabuk pengaman jika ada polisi. Membayar pajak jika sudah ditagih. Hukum dibuat untuk menegakkan keadilan. Kepada Timotius, Paulus menasehati supaya ia mengejar keadilan. Karena hal itu merupakan ciriciri anak terang. “Karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran” (Ef.5:9).

Nats
“Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” 1 Timotius 6:11

To the Point
Sepanjang hukum itu demi keadilan, maka sebagai murid (disciple) kita wajib displin. 115

Bebas, tapi Terbatas

Nats
"Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.” 1 Korintus 10:23

Saya adalah penggemar sayur dan buah. Masakan kegemaran saya adalah terancam, urap, lotek, pecel, gado-gado dan semacamnya. Namun belakangan ini saya harus berpantang beberapa jenis masakan ini. Ada dua alasan: saya alergi kacang tanah dan mulai kelebihan asam urat. Padahal yang namanya pecel, gado-gado dan lotek pasti menggunakan sambal kacang. Sementara itu, sayurannya banyak menyajikan bayam dan kol, yang memicu produksi asam urat. Dengan kesadaran sendiri, saya membatasi makanan yang dapat membuat alergi dan kelebihan asam urat. Saya bebas menentukan apakah akan menyantap makanan tertentu, atau tidak. Dan saya siap bertanggungjawab atas pilihan saya. Hal ini jugat melukisan kehidupan orang Kristen. Dalam ajaran Kristen, tidak banyak dibuat hukumhukum agama yang mewajibkan atau melarang pemeluknya. Kita tidak mengenal makanan yang halal atau tidak halal, karena yang menyelamatkan manusia bukan makanan atau minuman melainkan anugerah Allah. Meski bebas makan apa saja, namun orang Kristen tidak akan menggunakan kemerdekaannya itu dengan sembarangan. Jika dirasa perilakunya tersebut menjadi batu sandungan bagi orang lain, maka dengan kesadaran sendiri dia membatasi makanan itu. Kemerdekaan ini tidak hanya berlaku dalam makanan, tetapi juga dalam semua sisi kehidupan kita. Kita bebas melakukan apa saja, meski begitu kita harus selalu mempertimbangkan apakan perbuatan itu memuliakan Allah atau tidak.

To the Point
"Manusia merdeka punya kebebasan menentukan hidupnya dan sanggup bertanggungjawab atas pilihannya" 116

Model Kepemimpinan

Pada masa Revolusi Amerika, ada seseorang berpakaian sipil naik kuda melewati sekelompok tentara yang sedang memperbaiki benteng pertahanan. Komandan tentara berteriak-teriak memberi perintah, tapi tidak mau ikut membantu. Si penunggang kuda lalu bertanya pada sang Komandan mengapa dia tidak mau ikut turun tangan. Dengan keangkuhan dia menjawab, “Saya komandan di sini!” Si penunggang kuda meminta maaf. Ia lalu membantu prajurit-prajurit yang mulai kelelahan. Usai perbaikan, penunggang kuda pamitan. “Komandan, jika lain kali Anda kekurangan tenaga lagi, lapor saja pada atasan Anda. Saya siap membantu lagi.” Penunggang kuda yang bernama George Washington itu di kemudian hari menjadi presiden Amerika. Yesus mengajarkan bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi pelayan. Hal ini berbeda sekali dengan perilaku para pemimpin saat itu. Mereka ingin menjadi tuan (kyrios: Yunani) atas rakyat dengan menuntut penghormatan, bahkan pemujaaan, dari rakyatnya. Yesus menyindir diktatordiktator yang ditakuti, tetapi menyebut dirinya sebagai pelindung (eu-érgetés), yaitu yang menjamin makanan dan kebutuhan sehari-hari rakyatnya. Di Palestina, orang yang paling muda, biasanya ditempatkan terakhir dalam urutan hierarki. Sedangkan arti pelayan ialah orang yang melayani di meja makan, memenuhi kebutuhan orang lain. Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk bersikap rendah hati dan bersedia melayani orang lain dengan kerelaan. Inilah sikap pemimpin yang sejati.

“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” Lukas 22:26

Nats

To the Point
Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang rendah hati.

117

Posisi Pelayan

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang ….telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Filipi 2:5-7

Nats

Pembantu rumah tangga pangeran Charles biasa menyiapkan telur rebus tujuh butir baginya. Hal itu dilakukan supaya pewaris tahta kerajaan Inggris ini bisa memilih telur rebus yang pas dengan keinginannya. Seperti diberitakan oleh radio BBC, pangeran Charles gemar menyantap telur rebus sehabis berburu. Tapi konon ia orang yang cerewet soal lamanya telur itu direbus. Kalau Pangeran merasa telur nomor lima terlalu lembek, ia bisa mencoba membuka telur nomor enam atau tujuh. Jika Anda menjadi pelayan pangeran Charles, apa yang Anda lakukan? Apakah Anda berani mengomelomel pada sang pangeran? Tentu saja tidak. Pelayan tidak berhak memarahi majikannya, meskipun perilaku majikannya sudah sangat menyebalkan. Hal seperti ini sering terjadi dalam pelayanan Kristen. Meski kita sudah bekerja secara optimal, tetapi selalu saja ada orang yang mengkritik kekurangan pelayanan kita. Contohnya, ada suatu persekutuan yang diakhiri dengan acara makan malam. Lalu ada jemaat yang nyeletuk, “Uang gereja kok dihabiskan untuk makan-makan.” Namun ketika acara lain tidak menyediakan makan malam, ada orang yang berkomentar, “Pengurusnya terlalu pelit.”

To the Point
"Memutuskan untuk melayani berarti siap dikritik jika salah, dan tidak dipuji meski berbuat benar" 118

Mendapat sambutan negatif seperti ini bisa membuat kita berang atau patah semangat. Kita yang merasa sudah mengorbankan banyak hal, alih-alih mendapat pujian, malah mendapat kecaman. Namun baiklah kita menghayati kembali kata “pelayanan”. Saat kita berketetapan masuk dunia pelayanan, kita harus sadar bahwa kita memposisikan diri sebagai “pelayan.”

Prasangka

Binatu alias pencuci baju biasa menemukan macam-macam barang yang lazim tertinggal di saku pakaian pelanggannya. Akan tetapi yang ditemukan karyawan perusahaan laundry di Amerika ini membuat merinding. Dia menemukan secarik kertas berisi pesan seram:”Kamu telah melakukan pembunuhan, tetapi tak seorang pun yang tahu. Yang bisa kamu lakukan adalah bunuh diri. Kemudian, baru semua bisa menyaksikan apa yang telak kau lakukan.” Tulisan itu diakhiri dengan tanda tangan, “Isterimu Alice.” Mengira kata-kata itu berkaitan dengan rencana pembunuhan atau bunuh diri, karyawan itu langsung melapor polisi. Usut punya usut, ternyata kertas itu adalah catatan dialog seorang aktor. Dia sedang menghafal untuk pementasan di panggung teater. Setiap orang pasti akan membuat prasangka ketika menghadapi situasi tertentu. Prasangka ini ditentukan oleh pengalaman, pengetahuan dan kerangka berpikirnya. Contohnya, jika melihat orang berwajah seram, kita segera menyangka orang itu preman. Dengan membuat prasangka, kita dapat segera mengambil tindakan yang tepat. Ketika melihat orang yang berwajah pucat dan berkeringat banyak, maka kita dapat segera menolong orang itu. Kita telah berprasangka bahwa orang ini sedang sakit. Sayangnya, prasangka juga dapat merugikan. Terutama jika kita terlalu cepat berprasangka buruk pada orang lain. Cara paling jitu untuk menghindari hal ini adalah memandang orang lain dalam kasih sambil menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang orang itu.

Nats
“Karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk.”

"Setiap hari kita membuat prasangka. Pandanglah setiap orang sebagai ciptaan Allah yang harus dikasihi" 119

To the Point

Jalan Mundur

Nats
“Orang yang menyimpang dari jalan akal budi akan berhenti di tempat arwah-arwah berkumpul.” Amsal 21:16

Seorang laki-laki Australia ditangkap polisi karena mengemudi mobil secara ugal-ugalan. Yang dia lakukan sebenarnya sederhana, yakni mengemudi mundur. Persoalannya menjadi serius karena ia menyetir mundur di jalan raya sampai sejauh 500 km! Ketika polisi menyetopnya, pria 23 tahun ini mengaku perseneling maju mobilnya rusak sehingga dia hanya bisa mengemudi mundur. Ia mengakui mencapai kecepatan hingga 50 km/jam, tapi juga harus sering mengerem karena arah mobilnya kerap melenceng. Pria ini memang punya banyak akal. Kalau tidak bisa berjalan maju, maka jalan mundur pun bolehlah. Yang penting bisa menghantar sampai tujuan. Kira-kira demikian pikirnya. Meski begitu, dia tidak memikirkan akibat dari perbuatannya itu. Cara mengemudinya yang terbalik itu dapat membahayakan pengendara mobil lainnya. Raja Salomo menegaskan, orang yang tidak memakai akal budi akan mendapat celaka. Allah mengaruniakan akal atau pikiran kepada manusia untuk tujuan yang baik. Sayangnya, banyak manusia yang memanfaatkan akal untuk mengakali orang lain. Supaya makanan awet, maka produsen menambahkan zat pengawet mayat, formalin. Untuk mengemat biaya, maka pengusaha angkutan mengabaikan faktor keselamatan. Tidak mau susah-susah membuka lahan, maka orang memilih membakar hutan. Sebelum melakukan sesuatu, pikirkan lebih dulu akibat dari tindakan kita itu: Apakah perbuatan itu merugikan orang lain? Merusak lingkungan? Memuliakan Allah?

To the Point
Tukang kayu selalu mengukur dua kali, sebelum memotong. Pikirkan masakmasak, sebelum bertindak. 120

Perang Pemikiran

Nawal el Saadawi adalah perempuan penulis dari Mesir. Tulisan-tulisannya banyak menggugat ketidak-adilan. Beberapa kali dia dijebloskan ke dalam bui, tapi semua itu tidak dapat memenjarakan pikiran dan jiwanya. Kepada Kompas, dia berujar bahwa “Perang paling mematikan dan paling berbahaya adalah perang di dalam pemikiran.” Tujuan dari “perang” ini adalah untuk melancarkan kontrol dan menjinakkan akal sehat. Dengan begitu, orang-orang yang telah “dijinakkan” menjadi patuh, mereka menerima nasib sebagai takdir dan berhenti bertanya. Meskipun perang ini ditujukan kepada semua orang, tapi kebanyakan yang menjadi korban adalah kaum perempuan dan anakanak. Dari dulu Paulus sudah menegaskan bahwa perjuangan kita bukanlah peperangan secara fisik. Musuh utama kita adalah kebodohan. “Manusia merugikan diri sendiri oleh kebodohannya, kemudian menyalahkan TUHAN atas hal itu” (Ams.19:3 BIS). Salah satu medan peperangan pemikiran yang paling sengit adalah melalui media televisi. Dengan kekuatan penetrasinya yang dahsyat, siaran TV dapat menerobos sampai ke ruang keluarga, bahkan ke dalam kamar tidur kita. Ada banyak isi siaran TV yang justru melanggengkan kebodohan bersama. Misalnya, lewat iklan, pikiran dipengaruhi dan diyakinkan bahwa “kebahagian hidup” hanya dapat dicapai lewat belanja, belanja dan belanja. Melalui film dan sinetron yang penuh adegan kekerasan, anak-anak diajari bahwa segala persoalan dapat diselesaikan dengan kekerasan. Ayo kita perangi kebodohan!

“Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintahpemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulupenghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Efesus 6:12

Nats

To the Point
"Kebodohan dapat menyebabkan kejahatan dan kemiskinan. Asah hikmat Anda supaya hidup nikmat" 121

Setia pada Tugas

Nats
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkaraperkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkaraperkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar" Lukas 16:10

“Kalau engkau Tak mampu menjadi Beringin yang tegak di puncak bukit jadilah saja belukar tetapi belukar terbaik yang tumbuh di tepi danau. Kalau engkau masih tak sanggup menjadi belukar jadilah saja rumput tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya jadilah saja jalan setapak tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Tidak semua orang akan menjadi kapten tentu harus ada awak kapalnya Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu Jadilah saja dirimu sendiri sebaik-baiknya dari nilai dirimu sendiri.” Setiap orang memiliki tanggungjawab masingmasing. Jika kita setia terhadap tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita, maka Allah akan memberikan tanggungjawab yang lebih besar lagi. " Iwan Abdurahman

To the Point
"Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Bagaimana dengan hidupmu? Sudahkah bertanggungjawab?" 122

Dalam puisi di atas, ukuran keberhasilan tidak ditentukan dari besarnya peran yang kita miliki, tetapi berdasarkan kesetiaan kita terhadap tanggungjawab itu. Seorang penjaga lintasan kereta api yang setia membuka dan menutup palang pintu sesuai jadwalnya lebih terhormat daripada masinis kereta yang tertidur saat menjalankan kereta. Lakukan tugasmu dengan setia.

Penggelembungan

Sebuah kota berencana membangun waduk besar. Pemerintah kota lalu membuka tender. Kontraktor pertama menawarkan anggaran Rp. 6 Milyar. “Berikan perincian anggaran itu,” pinta dewan penilai. Kontraktor pertama menjawab, “Rp. 2 milyar untuk bahan bangunan, Rp. 2 milyar untuk tenaga kerja dan Rp. 2 milyar untuk keuntungan kami.” Dewan penilai lalu mengundang kontraktor kedua. Mereka mengajukan angka lebih rendah, yaitu Rp. 3 milyar. “Berikan perincian anggaran itu,” pinta dewan penilai. “Rp. 1 milyar untuk bahan bangunan, Rp. 1 milyar untuk tenaga kerja dan Rp. 1 milyar untuk keuntungan kami,” jawab mereka Kontraktor ketiga diundang. Dia mengajukan angka Rp. 9 milyar. “Mengapa Anda menawarkan angka yang lebih besar?” tanya dewan penilai heran, “tolong berikan perinciannya!” Kontraktor ketiga menutup pintu ruang pertemuan, lalu berkata dengan setengah berbisik, “Rp. 3 milyar untuk Anda, Rp. 3 milyar untuk saya dan Rp. 3 milyar kita berikan pada kontraktor kedua. Biarlah mereka yang mengerjakan proyek ini.” Dalam bahasa lugas, korupsi adalah mencuri. Bedanya, pencurian konvensional hanya merugikan satu-dua orang, tapi korupsi merugikan banyak orang. Contohnya, mestinya ada banyak anak-anak yang bisa sekolah gratis, tapi mereka harus gigit jari karena uangnya dikorupsi. Perintah Tuhan: Jangan korupsi!

Nats
“Jangan mencuri.” Keluaran 20:15

To the Point
Korupsi dapat dihilangkan dengan memulai hidup jujur di dalam keluarga.

123

Belajar dari bunda Teresa

Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius19:21)

Nats

Seorang biarawati Fransiskan Australia merasa senang ketika mendapat tugas mendampingi bunda Teresa selama perkunjungannya ke New South Wales. Inilah kesempatan emas baginya untuk belajar langsung dari tokoh ternama itu. Sayangnya, karena jadwal yang sangat padat, ia hampir tidak mendapat kesempatan untuk ngobrol dengan bunda Teresa. Maka berakhirlah perlawatan bunda Teresa di Australia. Selanjutnya dia akan terbang ke Papua Nugini. Sebelum berpisah, biarawati ini bertanya pada bunda Teresa: “Jika saya membayar sendiri tiket ke Papua Nugini, bolehkah saya duduk di sebelah Anda supaya saya bisa ngobrol dan belajar banyak dari Anda?” "Apakah Anda punya uang untuk membayar tiket ke Papua Nugini?” tanya bunda Teresa. Biarawati itu mengangguk cepat-cepat. "Kalau begitu, bagikanlah uang itu ke orangorang miskin,” jawab bunda Teresa,”dengan begitu, Anda akan mendapat pelajaran lebih banyak daripada yang bisa saya berikan.” Dalam bacaan hari ini, ada anak muda kaya yang merasa sudah memenuhi seluruh perintah Tuhan tapi masih merasa ada yang kurang. Ketika disuruh Yesus membagikan hartanya pada orang miskin, ia berlalu dengan sedih. Dalam pandangan Yahudi, orang yang kaya merupakan ciri orang yang diberkati Tuhan. Tapi Yesus mengikis anggapan ini. Orang kaya justru lebih sulit masuk Sorga, karena mereka lebih mencintai harta mereka daripada mengasihi Allah. Kaya itu tidak berdosa. Tapi jika kita lebih mengutamakan harta daripada Allah, itu yang membuat Allah murka.

To the Point
Harta adalah berkat dari Tuhan, tapi juga dapat menghalangi Anda masuk sorga.

124

Modal Kerelaan

Pada tanggal 27 Mei 2006, wilayah DIY dan Jateng digoncang gempa hebat. Selain korban manusia, ada banyak rumah dan bangunan fasilitas umum yang ambruk. Melihat kondisi ini, gereja kami turut memberi bantuan. Apakah gereja kami besar? Tidak juga. Kekuatan keuangan gereja juga tidak seberapa. Namun kekuatan kami terletak pada jumlah relawan yang berduyun-duyun datang ke posko bencana gereja. Sejak pukul 7 pagi sampai 10 malam, para relawan hilir mudik keluar-masuk gereja. Rupanya kerelaan ini menarik minat sebuah LSM “kecil” dari luar negeri, yang didukung gerejagereja “kecil” di Kanada. Mereka memutuskan untuk menyalurkan sumbangan melalui gereja kami. Jika dihitung dalam mata uang dollar, jumlah sumbangan mereka terbilang kecil. Tapi jika dirupiahkan, jumlahnya cukup berarti. Bersama-sama dengan para penyintas [orang yang selamat dari bencana], kami memakai bantuan keuangan tersebut untuk membangun kembali rumah mereka. Kami mengumpulkan sisa-sisa bangunan yang masih dipakai lagi seperti kayu, genting, kusen, daun pintu, dan bata. Hingga saat ini sudah lebih dari 2.500 rumah yang dibangun kembali. Jika setiap rumah dihuni 4 orang, maka ada 10.000 orang yang telah tertolong. Ketika merefleksikan kembali, kami melihat tangan Tuhan ikut campur tangan dalam pekerjaan kemanusiaan ini. Bagaimana mungkin gereja yang jumlah anggotanya kurang 1.500 orang dapat membantu 2.500 rumah? Kata kuncinya adalah “kerelaan”

Nats
“Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus” (2 Korintus 8:4)

To the Point
Yesus merelakan diriNya untuk menolong kita. Semestinya kita pun menuruti teladan-Nya.

125

Totalitas Panggilan

Nats
Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagibagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Lukas 18:22)

Pak Andreas punya hobi yang sangat digemarinya, yaitu memancing di laut. Berbagai pantai dan laut sudah dirambahnya. Kadang bersama teman-temannya, ia rela berjalan berjam-jam untuk mencari pantai yang masih “perawan”. Dia juga sering menyewa perahu nelayan untuk membawanya ke tempat yang banyak ikannya. Demi memuaskan hobinya ini, maka dia membeli kapal sendiri untuk memancing di laut. Namun bersamaan dengan datangnya kapal, datang pula panggilan pelayanan di gerejanya. Pak Andreas tahu, jika menerima panggilan pelayanan ini, maka dia tidak punya kesempatan untuk memancing lagi. Untuk beberapa saat dia bergumul dengan panggilan ini, tapi akhirnya dia memutuskan untuk menerima panggilan itu. Dan benar, kesibukkan dalam pekerjaan dan pelayanan tidak memungkinkannya memancing lagi. Supaya tidak mangkrak, maka perahu yang hanya sekali dipakai itu diberikan kepada perawat perahu itu. Dalam ayat yang kita renungankan menceritakan seorang pemimpin yang menaati semua hukum Taurat. Ia bertanya pada Yesus cara mendapat hidup kekal. Yesus mengajukan sebuah syarat yang langsung menohok ego orang itu, yaitu harta-bendanya. Syarat yang radikal ini rupanya terlalu berat baginya. Baginya, harta di dunia ini jauh lebih berharga daripada kehidupan kekal. Bagaimana dengan kita? Apakah kilau kemewahan di dunia ini masih menyilaukan mata kita sehingga kita tidak dapat melihat pada kekekalan?

To the Point
Temukan jerat-jerat yang mengikat kaki kita, yang membuat kita tak leluasa melangkah mengikut Yesus 126

Bahaya Merokok

Sewaktu SMA, saya memiliki teman sekelas yang bandel. Suatu kali dalam mata pelajaran olahraga, dia dipergoki guru olahraga sedang merokok. “Hey, kalau di sekolah kamu tidak merokok!” bentak guru olahraga. “Itu berarti kalau di luar sekolah, saya boleh merokok dong” sahut teman saya. “Kalau kamu di luar sekolah, itu sudah bukan urusan pihak sekolah lagi,” jawab sang guru olahraga. Teman saya itu lalu pergi ke pintu gerbang sekolah. Dia kemudian merokok di sebelah luar pagar sambil tersenyum penuh kemenangan. Sang guru hanya diam dengan hati yang gondok. Saat ini kita tidak bisa menganggap enteng masalah merokok ini. Global Youth Tobacco SurveyIndonesia menyebutkan 24,5 persen remaja laki-laki Indonesia adalah perokok (Kompas, 9/11/2007). Itu artinya, satu dari empat remaja laki-laki adalah perokok. Situasi ini sungguh memprihatinkan karena merokok merupakan pangkal dari semua penyakit. Ongkos yang dihabiskan untuk biaya kesehatan akibat penyakit yang ditimbulkan oleh rokok jauh lebih besar daripada penerimaan pajak dari cukai rokok. “Merokok atau tidak adalah hak saya. Ini tubuh saya sendiri. Saya yang berhak menentukannya,” kata seorang perokok. Saya berpendapat lain, itu bukan hak tapi tindakan bunuh diri dengan pelanpelan. Awalnya memang terasa nikmat, tapi akhirnya menjadi laknat. Ini adalah kuk perhambaan modern, bukan hak. Si perokok tidak akan mudah melepaskan diri dari ketergantungan rokok.

Nats
“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” (Galatia 5:1)

To the Point
Kita sudah merdeka, jangan mau diperbudak lagi

127

Sahabat di Kala Duka

Nats
“Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.” (Ayub 2:13)

Ketika sahabat-sahabat Ayub mendengar penderitaan yang dialaminya, mereka mengunjungi Ayub. Mereka datang untuk “mengucapkan belasungkawa kepadanya dan menghibur dia” (ay. 2:11). Ungkapan belasungkawa bagi Ayub ini ditunjukkan sesuai dengan adat Timur Dekat. Mereka tidak hanya menangis dengan suara nyaring, tapi juga mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala. Mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam sambil diam. Tidak ada yang berkata sepatah kata pun (Ayub 2:13). Ikatan persahabatan mereka telah ditunjukkan di dalam perbuatan ini. Kadangkala memang lebih baik untuk diam dalam mendampingi seseorang yang sedang mengalami penderitaan daripada berusaha berkatakata untuk menghiburnya. Dengan kehadiran temantemannya, Ayub tidak merasa kesepian lagi. Ada sahabat-sahabat yang mendampinginya. “Akhirnya,” Ayub mungkin berkata pada dirinya sendiri,”aku punya sahabat untuk berbagi penderitaanku dan memberikan penghiburan kepadaku.” Akan tetapi pada bagian berikutnya kita akan tahu ketika mereka akhirnya membuka mulut, perkabungan itu berubah menjadi debat yang sengit dan berkepanjangan. Hubungan persahabatan mereka mengalami gangguan. Kehadiran kita dalam mendampingi orang yang sedang berduka itu sudah mewakili jutaan katakata penghiburan. Itu sudah banyak meringankan penderitaan mereka.

To the Point
Kehadiran Anda menandakan bahwa Anda ingin turut merasakan kedukaan yang sedang dialami seseorang 128

Lawan jadi Kawan

Kisah ini terjadi di Amerika pada zaman perang revolusi. Peter Miller adalah pendeta di Ephrata, Pennsylvania, yang menjalin persahabatan dengan George Washington. Di Ephrata ini ada seorang warga yang melakukan apa saja untuk menentang dan menghina Peter Miller. Namanya Michael Wittman. Suatu hari, Michael Wittman ditangkap karena dituduh bertindak subversif dan dijatuhi hukuman mati. Mengetahui hal ini, Peter Miller berjalan kaki sejauh 112 kilometer ke Philadelphia untuk menyelamatkan nyawa “penentangnya” ini. “Tidak, Peter,” kata jenderal Washington,“aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menyelamatkan nyawa temanmu itu.” “Temanku? Siapa bilang dia temanku!” sahut pendeta tua itu. “Dia adalah musuh bebuyutanku.” “Apa?” kata Washington dengan kaget. “Kamu berjalan kaki sepanjang 112 kilometer hanya untuk menyelamatkan nyawa musuhmu?” Seketika itu juga pendirian Washington berubah. Dia memberikan pengampunan kepada Michael Wittman dari hukuman mati. Peter Miller lalu mengajak Michael Wittman pulang ke Ephrata—bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai teman. Kejahatan yang dibalas dengan kejahatan hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan yang tak berpangkal dan berujung. Dendam di satu pihak hanya akan menimbulkan dendam di pihak lain. Karena itu harus ada upaya untuk memotong lingkaran kekerasan. Satu-satunya cara adalah pengampunan dan kasih. Setiap orang Kristen mampu melakukan ini karena kita punya Roh Kudus.

Nats
“Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.” (1 Tesalonika 5:15)

To the Point
Kasih dapat mengubah lawan menjadi kawan

129

Menegur VS Mengecam

Nats
“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” --Kolose 3:16

Seorang wanita mendatangi D.L. Moody dan mengatakan tidak suka dengan metode penginjilan yang dilakukan Moody. “Saya sebenarnya juga tidak terlalu menyukai metode saya,” jawab Moody,”Mungkin metode Anda lebih baik. Lalu apa metode Anda?” Wanita itu menjawab bahwa tidak punya. “Kalau begitu, metode saya masih lebih baik daripada metode Anda,” tukas Moody. Ada perbedaan antara menegur dengan mengecam. Menegur dilandasi niat baik untuk memperbaiki sesuatu yang belum pas. Sedangkan mengecam didorong oleh sebuah niat jahat untuk “menjatuhkan” orang lain. Perbedaan di antaranya keduanya sangat tipis dan susah untuk membedakannya karena bersumber dari dalam hati. Dalam dunia pelayanan, ada banyak “komentator” yang sangat teliti dalam mengamati dan mengomentari para aktivis pelayanan. Seorang Bapak selama puluhan tahun mengelola keuangan gereja sehingga gereja itu bisa mandiri secara finansial. Dia mengumpulkan uang tabungan dari jemaat. Uang yang terkumpul ini diinvestasikan dengan beberapa cara. Dengan cara ini, gereja mendapatkan dana yang cukup untuk membiayai ibadah dan pelayanan. Perbuatan yang mulia, bukan? Pada kenyataannya, alih-alih mendapat pujian, sang bapak ini justru lebih banyak mendapat kecaman dari jemaat. Yang dikecam biasanya hanya hal-hal yang remeh. Meski begitu, bapak ini menerima dengan sabar. “Kalau kita memutuskan terjun ke dunia pelayanan, maka bersiaplah untuk menerima lebih banyak kecaman daripada pujian,” ujarnya.

To the Point
Mengritiki memang mudah. Persoalannya, mampu Anda melakukannya lebih baik daripada orang itu? 130

Kesempatan Kedua

Prestasinya cukup spektakuler. Hanya dalam satu tahun, dia langsung menyabet peringkat dua di perusahannya sebagai wiraniaga yang paling banyak menjual polis asuransi. Wahyu (nama samaran, 45 thn) adalah mantan narapidana selama 5 tahun karena mengedarkan narkotika. Dia pernah menghuni L.P. Nusakambangan. Selepas dari penjara, dia tidak tahu harus bekerja apa. Sebagai mantan narapidana, dia terlanjur mendapat stigma buruk dari masyarakat. Namun tidak semua orang curiga kepada Wahyu. Ada salah satu anggota jemaat gereja yang memberi kesempatan kepadanya. Karena punya relasinya yang kuat, pak Jeremia bisa memasukkan Wahyu ke sebuah perusahaan asuransi. pak Jeremia juga memberikan bimbingan dan motivasi kepadanya. Ternyata kepercayaan dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Wahyu. Setelah sukses sebagai agen pemasar top di perusahaannya, Wahyu termasuk dalam 10 besar agen asuransi versi AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia). Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah ini? 1. Jangan menilai orang semata-mata dari masa lalunya. Setiap orang bisa berubah. 2. Berikan kesempatan kedua pada orang lain untuk memperbaiki diri. 3. Jika kita pernah berbuat kesalahan, bangkitlah kembali untuk memperbaikinya. 4. Pegang teguh kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepada kita. Sebab di situlah terletak pintu menuju kesuksesan.

Nats
“Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.” (Amsal 16:6)

To the Point
Allah saja memberi kesempatan kedua kepada kita. Mengapa kita tidak juga memberikan hal yang sama pada orang lain? 131

Bermegah atas Kelemahan

Nats
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

Mahema, adalah wanita yang menarik, bersemangat dan fasih berbicara. Manohar, suaminya, adalah seorang ilmuwan, penulis, seniman dan penemu di India. Setelah menikah mereka pindah ke Amerika dan mempunyai anak perempuan bernama Suja. Kareba menyadari punya talenta, mereka memutuskan untuk membagikan berkat itu di India. Mereka menyebutnya “Seni Memberi”. Sayangnya, mereka mengalami kecelakaan hebat. Akibatnya, Mahema lumpuh dari bahu sampai ke bawah. Sejak saat itu, Mahema butuh bantuan orang lain. Lalu bagaimana dengan ide “Seni Memberi” mereka? Bukankah dengan kondisi sekarang Mahema seharusnya yang “menerima”, dan bukan “memberi”? Namun tidak bagi Mahema. Dia lalu menggali kekuatan di dalam dirinya. Mahema mulai mengajar kursus bahasa Inggris di rumahnya, mengarang seri buku anak-anak dan bergabung ke lembaga amal. Dia juga menjalani fisioterapi sehingga bisa menulis menggunakan bahunya. Rasa sakit itu masih terasa dan ingatan kecelakaan itu masih melekat, tapi Mahema tidak mau larut dalam kesedihan. “Saya tahu kalau saya masih bisa melayani orang lain,” kata Mahema, tersenyum. Meski giat bekerja melayani Tuhan, rasul Paulus tidak luput dari kelemahan. Sudah tiga kali dia berdoa supaya Tuhan mencabut duri dalam dagingnya. Tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Meski begitu Paulus tidak kecewa dan patah semangat. Dia segera membalik paradigma pikirnya tentang penderitaan. Dia mulai menikmati penderitaan itu.

To the Point
Di dalam kelemahan kita, kuasa Allah dapat bekerja lebih leluasa.

132

Hidup ini tidak Adil

Mahema mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh dan tergantung sepenuhnya pada bantuan Manohar Devadoss, suaminya. Selama tigapuluh tahun lebih, Manohar setia mengangkat isterinya dari dan ke kursi roda. Namun yang luarbiasa, Manohar melakukan itu di dalam keterbatasan penglihatan. Setelah kecelakaan, mata Manohar mengalami gejala retinitis pigmentosa. Sebuah gangguan kesehatan degeneratif yang belum ada obatnya. Dia menjadi butawarna, pandangan matanya menciut seperti sedang mengintip dari lobang kecil. Meski begitu, sebagai seniman dia masih menghasilkan lukisan. Bagaimana cara dia melukis? Dia memakai obat tetes mata untuk membesarkan kornea mata, memasang lampu yang sangat terang dan menggunakan kaca pembesar khusus. Setiap tahun mereka bersama-sama membuat kartu ucapan spesial. Manohar yang melukis dan Mahema membuat tulisan singkat untuk menerangkan makna lukisan tersebut. Kartu-kartu ini dijual dan hasilnya disumbangkan untuk badan amal. Dalam bacaan kita, Paulus mengalami pergumulan yang sangat berat. Jika boleh memilih, dia sebenarnya ingin mati. Tapi karena masih hidup, maka dia memakai kesempatan itu untuk menghasilkan sesuatu yang bermakna. Hidup ini memang tidak adil. Tapi karena semua orang mengalami hal yang sama, maka hal itu membuat hidup ini menjadi adil. Keputusan ada di tangan kita masing-masing: apakah meratapi ketidakadilan atau menjalani hidup sehingga bermakna bagi kemanusiaan.

Nats
“Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (Filipi 1:22)

To the Point
Buah apa yang sudah Anda hasilkan? Apakah buah yang manis, asam atau pahit?

133

Red Alert

Nats
“Berdua lebih baik dari pada seorang diri….karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkhotbah 4:9-10)

Lo Renhung adalah seorang teknisi komputer di Taipei. Suatu kali ketika chatting internet, ia membaca sebuah pesan singkat, “Saya butuh teman ngobrol.” Lo Renhung lalu memberikan nomor teleponnya. Tak berapa lama seorang wanita menelepon, “Saya tidak bisa tidur. Saya sedang sedih dan kesepian.” Mereka mengobrol selama dua jam dan menjalin pertemanan. Wanita yang bernama Yu-ting ini ternyata mengalami depresi. Pasalnya, saat ia berusia 15 tahun, papanya berselingkuh. Dia sendiri pernah dua kali gagal berpacaran. Suatu hari dia memesan kamar hotel dan memasukkan pemanggang barbeque ke kamar. Dia menelan 20 pil tidur dan menyalakan pemanggang supaya racun asap segera membunuhnya. Setelah itu, menelepon Lo Renhung untuk pamitan. Lo Renhung menjadi panik. Jarak antara tempat dia tinggal dengan hotel itu adalah 300 km. Maka dia memasang pesan dengan subjek “Red Alert” di internet:”Seorang gadis di kota Kaohsiung berusaha bunuh diri….orang-orang yang ada di wilayah Kaohsiung dimohon untuk menemukan dia. Jika bisa ditemukan kurang dari dua jam, mungkin dia masih diselamatkan.”

To the Point
Sejak lahir hingga mati, kita membutuhkan orang lain. Jangan hidup egois! 134

Pesan itu dibaca Chen Wei Chuan yang tinggal di Kaohsiung. Dia menduga Yu-ting memesan hotel Yi-da. Ia segera menelepon manajer hotel itu. Dugaannya benar. Yu-ting ditemukan terkulai lemas di sana, tapi masih diselamatkan(Reader’s Digest). Manusia adalah makhluk sosial. Manusia membutuhkan orang lain. Itu sebabnya Pengkhotbah menekankan pentingnya memiliki teman. Apakah Anda punya teman?

Ketekunan adalah Kebahagiaan

Luther Tare adalah orang Dayak yang bermukim di timur laut Kalimantan. Setelah lulus dari sekolah kehutanan, ia bekerja sebagai sopir traktor di sebuah proyek konstruksi di Malaysia yang merusak hutan. Selama 10 tahun ia bergumul menyaksikan kerusakan hutan yang semakin parah. Tahun 1992, ia memutuskan keluar dari pekerjaannya. Dia menikah dan membeli sebidang tanah menggunakan uang tabungannya. Namun ia tidak menetap di tanah itu karena ia melihat hutan seluas 300 ha yang dirusak. Ia memutuskan untuk melindungi hutan itu dan menamainya Hutan Mitra Alam. “Kamu tidak akan berhasil,” kata penduduk desa, meremehkannya. Luther memang mengalami banyak kesulitan dalam upaya melindungi hutan itu. Selama puluhan tahun, ia juga harus menampik tawaran uang yang sangat menggiurkan dari para pengusaha. Kegigihannya ini akhirnya diakui oleh pemerintah. Sekarang Hutan Mitra Alam diakui sebagai contoh pengelolaan hutan yang lestari (Reader’s Digest). Luther telah memberi teladan kepada kita tentang ketekunan. Meski warga di sukunya menganggap usahanya itu konyol dan sia-sia, tapi Luther tidak patah semangat. Rasul Yakobus menyebut orang yang bertekun adalah orang yang berbahagia. Saat ini kita dipanggil untuk tetap tekun dan sabar dalam menaati perintah Tuhan. Percayalah, ketekunan ini akan membuahkan hasil yang baik, yaitu kebahagiaan.

Nats
“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan” (Yakobus 5:10-11)

To the Point
Orang yang bertekun menanggung segala sesuatu dengan tabah, dan menanti janji Tuhan dengan sabar. 135

Tentang Penulis
Purnawan Kristanto, adalah seorang praktisi komunikasi. Misi dalam hidupnya adalah "to communicate good news with good ways." Untuk mengemban misinya ini, Wawan--demikian nama panggilannya-- menulis serial buku tentang permainan, humor rohani dan renungan. Selain itu, Wawan juga sering membawakan firman Tuhan dan permainan di berbagai acara persekutuan dan Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Klaten. Ia juga menjadi pembicara di bidang jurnalistik dan perlindungan konsumen. Pria kelahiran Wonosari, 2 Mei 1971 ini pernah menjadi Redaktur majalah rohani populer “BAHANA” dan Renungan Malam. Saat ini menjadi penulis untuk renungan "Blessing" dan kontributor video situs www.beoscope.com. Dia juga pernah mengelola majalah “Ombudsman Swasta”, menulis artikel dan cerpen di berbagai media massa seperti Sinar Harapan, Surya, Berita Sore, Sinar Indonesia Baru, BAHANA, EVA, Kedaulatan Rakyat, Bernas dll. Suami dari pdt. Pelangi Kurnia Putri ini juga menjadi moderator milis Komunitas “Penjunan” (Penulis dan Jurnalis Nasrani). Email: Purnawank@gmail.com. Informasi lebih lengkap dapat diakses di blog pribadinya: http://purnawan-kristanto.blogspot. com.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->