P. 1
02_pergeseran Pola Relasi Gender

02_pergeseran Pola Relasi Gender

|Views: 8|Likes:
Published by dewanayu

More info:

Published by: dewanayu on May 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2011

pdf

text

original

PERGESERAN POLA RELASI GENDER KELUARGA MIGRAN DI INDONESIA1 Oleh : Togi2 Abstrak

Realitas sosial kepergian Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari tengah keluarga sebagai migran ke luar negeri membawa berbagai dampak positif dan negatif, baik bagi TKW secara individu maupun bagi keluarganya. Sebelum menjadi TKW, sebagaimana masyarakat pada umumnya, pola relasi gender lokal dengan semangat patriarkhinya sangat dominan di tengah keluarga. Secara psikologis, dilihat dari tipologi pola relasi gender cenderung maskulin dan feminin. Dengan konsep relasi gender ini, terjadi pembagian kerja yang sangat sexist. Fokus pekerjaan suami pada sektor publik, sementara istri pada sektor domestik karena suami meyakini nilai–nilai pemingitan. Suami berperan sebagai pencari nafkah utama, sementara isteri mengurus anak dan rumah tangga. Dalam hal ini pihak isteri tidak independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat sangat kelihatan. Walaupun begitu kondisi keluarga relatif harmonis. Pasca kepulangan sebagai TKW, TKW membawa nilai–nilai baru yang diserap melalui proses akulturasi budaya di negara perantauannya yang didukung dengan posisi ekonomi isteri yang meningkat. Langsung atau tidak langsung kondisi ini menaikkan posisi tawarnya di tengah keluarganya. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi terjadinya pergeseran pola relasi gender lokal di tengah keluarganya, yang secara psikologis mengarah pada konsep androgini. Dengan konsep relasi gender ini, pembagian kerja yang semula sangat sexist mulai kabur. Artinya jenis pekerjaan tidak selalu dikaitkan dengan jenis kelamin. Pekerjaan suami mulai terlibat pada sektor domestik, sementara isteri mulai terbuka pada sektor publik karena suami mulai permisif pada nilainilai pemingitan. Suami sebagai pencari nafkah utama mulai melibatkan pihak isteri, sementara isteri yang mengurus anak dan rumah tangga mulai dibantu suami sehingga menjadi tanggung jawab bersama. Dalam hal ini pihak isteri mulai independent dalam membuat keputusan sehingga posisinya sebagai sub ordinat makin kabur dan mengarah pada posisi isteri sebagai mitra. Namun demikian kondisi keluarga potensial mengalami konflik dan yang bersifat manifest, sehingga relatif kurang harmonis. Sehubungan dengan hal tersebut kepada pihak–pihak terkait direkomendasikan untuk memberikan pelatihan bagi calon TKI dengan materi pelatihan penguatan fungsi dan tanggung jawab sosial keluarga yang mengarusutamakan pola relasi gender. Selain itu, diperlukan bimbingan dan konseling keluarga bagi keluarga mantan TKW sebagai upaya mengantisipasi dampak sosial negatif dari pergeseran pola relasi gender dalam kehidupan keluarga.

Kata kunci : Pergeseran Pola Relasi Gender, Tenaga Kerja Wanita, Keluarga Migran

1 2

Diangkat dari hasil penelitian tentang ……… Peneliti Pertama pada Pusat Penelitian Pengembangan Kesejahteraan Sosial di Departemen Sosial RI

Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas. Namun. Justru sebaliknya dapat memunculkan masalah baru dalam konteks keluarga yang senantiasa tetap dituntut menjalankan segala fungsinya. Hal senada dipertegas oleh Goode (. sehingga TKW diberikan predikat sebagai pahlawan devisa bagi negara. karena prestasi ini hanya dinilai berdasarkan indikator ekonomi. Bahkan secara politis adalah “ibu” dari sang masa depan bangsa.) pertemuan antara TKW dengan majikan di negara tujuan sekaligus mempertemukan dan memfasilitasi kontak budaya dua pihak yang mengadakan transaksi jasa.. baik yang positif maupun negatif. yang secara ideal harus dikendalikan oleh suami-isteri. sehingga terkesan meninabobokan masyarakat terhadap persoalan yang sesungguhnya dan cenderung menutupi kelemahan pihak tertentu sebagai penyelenggara program ini.Pendahuluan (perlu pendahuluan dan metode penelitian) Realitas TKW Sebagai Persoalan Sosial Budaya Sebagai sebuah realita sosal kehadiran TKW banyak mendapat pujian sehubungan dengan prestasinya dalam bidang ekonomi dengan sumbangan devisa yang besar. pujian dan predikat pahlawan ini dapat dikatakan semu. “Mengeksport” TKW ke luar negeri bukan saja mengirim individu TKW secara fisik tetapi sekaligus mempertemukan dua atau lebih budaya yang berbeda dari berbagai aspek... bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuran-ukuran yang dikontruksikan oleh kelompok pengusaha. Penegasan ini cukup beralasan karena hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu didominasi motif pendekatan bisnis yang didefenisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. Akibatnya prinsip hitung-hitungan ekonomi selalu menjadi ukuran.) bahwa dengan bekerjanya sang isteri ternyata meningkatkan pertentangan dalam perkawinan. . Fenomena ini lebih sensitif lagi karena melibatkan perempuan yang berstatus isteri dari seorang suami dan sekaligus ibu dari sejumlah anak. selain peluang yang dapat dimanfaatkan secara ekonomi maupun sosial budaya. Mengacu pada model transmisi budaya dari Cavali dan Sproza (…. Pernyataan ini semakin relevan bagi TKW karena harus berpisah dengan keluarganya. Dalam prakteknya. Hal ini potensial memunculkan persoalan budaya dalam bentuk akulturasi dan enkulturasi dengan segala konsekuensi lintas budaya. Hal yang harus menjadi catatan pertama adalah kepergian seseorang ibu ke luar negeri tidak serta merta menyelesaikan masalah.

bukan saja pada tingkat mikro. Tetapi hal itu lebih ditujukkan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan dan aliran modal yang justru mendukung globalisasi itu sendiri. tetapi tidak untuk isu kemanusiaan yang melekat pada proses migrasi itu sendiri.Secara bersamaan. Pada tataran global. Secara makro. perubahan kontemporer dalam hidup kaum perempuan ini. bahkan ideologi masyarakat. ada peningkatan dalam “jumlah bidang pekerjaan” yang semula didominasi oleh laki-laki secara berangsur dimasuki bahkan didominasi oleh perempuan. Akibatnya muncul berbagai efek sampingan yang justru tidak diharapkan. Sementara pada sisi lain. Dalam konteks ini. Perilaku penyesuaian diri dalam menerima arus informasi modernisasi dalam transmisi budaya menuntut kearifan tersendiri. Pada tingkat mikro pemerintah memang melakukan intervensi. pola relasi gender menunjukkan kecenderungan laki-laki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan ke bidang domestik. proses globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja migran yang murah. TKW dan Rekonstruksi Gender Sebagai bagian dari budaya. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. beban menjadi perempuan di era modern menjadi lebih berat. dan bukan menjadi “komoditas dagang” yang mendapat perlakuan sesuai selera pasar. Kecenderungan ini menimbulkan ketimpangan kekuasaan antara kedua jenis kelamin. Pada tataran inilah aspek sosial budaya dari program ekspor tenaga kerja ke luar negeri menjadi hal yang urgen untuk menjadikan TKW sebagai duta bangsa yang menbawa nama harum bangsa. walau angka statistiknya belum dapat disebut secara pasti. Pemaknaan keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi ini ditentukan oleh sistem nilai adat istiadat . akan tetapi juga pada tingkat makro. mengindikasikan peningkatan secara kuantitatif. sebenarnya sudah dimulai pada saat modernisme menjadi bagian dari gaya hidup. dimana jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah semakin banyak. Pada satu sisi. karena berbagai muatan nilai harus di akomodasi. persoalan semacam ini seharusnya menjadi fokus perhatian dalam perumusan kebijakan. termasuk dalam hal pergeseran pola relasi gender di kalangan buruh migran. Bagi TKW yang harus pergi ke luar negeri. Sadar atau tidak. trend kehidupan mengikuti arus perubahan sosial membawa transformasi masyarakat yang melibatkan pergeseran nilai-nilai tradisional ke arah modernisasi. Persepsi yang salah akan menimbulkan culture shock berupa respon negatif dan disorientasi yang dialami orang-orang yang hidup dalam suatu lingkungan budaya baru. walaupun cecara kualitatif hal itu terjadi pada pekerjaan kasar sebagaimana yang dialami oleh TKW. Pengaruh akar sosial budaya tradisional dalam mengasosiasikan perempuan sebagai kelompok orang yang memiliki ciri tertentu telah memberikan warna dalam keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi. meningkatnya keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi dapat dilihat dari dua sisi.

dan pihak yang menerima perintah adalah perempuan. Kecenderungan tersebut terrefleksikan dalam konteks yang lebih luas. Penjelasan tentang hal ini dikemukakan secara langsung oleh TKW bahwa secara perlahan namun pasti mereka memasuki kehidupan keluarga majikannya sesuai dengan arahan dan petunjuk majikannya. Bagi kaum perempuan. Terlihat bahwa perempuan ternyata banyak dilibatkan disektor-sektor yang sudah terpola pada pekerjaan yang bersifat “menerima perintah”. Dalam hal ini kelompok laki-laki diharapkan akan menjadi maskulin dan perempuan diharapkan menjadi feminin. Selain itu. Relasi gender menjadi perilaku spesifik yang diharapkan dan dijadikan standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Konstruksi gender ini menempatkan laki-laki pada ujung yang satu dan perempuan pada ujung yang yang lain di sebuah garis vertikal. perempuan sebagai pihak yang menerima perintah. Lebih jauh hal ini terbawa dalam kehidupan berkeluarga pasca TKW. pola relasi gender ini meupakan tingkah laku yang cocok untuk tiap-tiap jenis kelamin. sadar atau tidak. dan memuji cara kerja anggota keluarganya yang tidak sexist. Proses sosialisasi perempuan mengarah pada terjadinya identifikasi pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanannya. dimana penyimpangan subjek dari ketentuan ini akan mendapatkan sanksi sosial (penilaian negatif) masyarakat. Ini membuktikan bahwa posisi isteri pasca TKW dapat memberikan ruang yang cukup untuk melakukan pembongkaran terhadap pola relasi gender lokal. di dalam struktur kekuasaan berada di posisi yang lemah dan terlihat jelas dengan adanya hubungan–hubungan personal yang mempengaruhi ukuranukuran kedudukan dan kesempatan. pergeseran nilai ini justru semakin berpeluang terjadi. Pengakuan ini menunjukkan bahwa TKW mengidolakan pola relasi gender majikannya. Dengan kata lain. TKW bersama majikannya telah melakukan rekonstruksi gender terhadap pola relasi gender lokal yang dibawa TKW walaupun hal itu berjalan tanpa diantisipasi oleh penyelenggara program. Fenomena pergeseran ini terjadi pada 5 wilayah penelitian. Ini berarti bahwa paling tidak pada tingkat kognitif dan efektif ada perubahan pola relasi gender dalam diri TKW secara konsepsional. Tanpa disadari TKW sering membanding-bandingkan kehidupan keluarganya dengan majikannya. Secara umum pergeseran pola relasi gender dapat digambarkan dalam tabel berikut : . khususnya budaya majikan di luar negeri. Artinya secara tidak langsung. Konstruksi gender lokal yang dibawa dari daerah atau negara asal akan “diuji dan dievaluasi” melalui interaksi budaya di daerah tujuan perantauan dalam bentuk akulturasi budaya. walaupun dalam konteks dan kualitas yang berbeda-beda. Secara langsung konstruksi ini menegaskan posisi sub ordinat perempuan dan superioritas laki-laki.yang memberikan peluang sekaligus pembatasan berupa etika. khususnya kaum isteri yang kebetulan menjadi TKW. dimana pihak yang memerintah adalah laki-laki. Penjelasan tersebut menunjukkan betapa hegemoni patriarkhi melingkupi pola relasi gender lokal. Dalam konteks ini pembagian kerja menjadi sexist dan dibedakan dalam suatu dikotomi dari waktu ke waktu. tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

dengan “memperlakukan manusia sebagai komoditas”. betapa globalisasi telah membawa keuntungan atas fenomena “perdagangan tanpa batas” dengan mendapatkan pekerja yang murah. bagi kaum kapitalis menjadi TKW adalah menjadi “produsen” sekaligus menjadi “konsumen” dengan ukuranukuran yang dikonstruksikan oleh kelompok pengusaha. TKW berpeluang melakukan pembongkaran pola relasi gender lokal dengan segala hegemoni patriarkhinya. dengan .Tabel 1. Dari prespektif global dan makro. Sehubungan dengan hal tersebut perlu dilakukan semacam “redefenisi” terhadap keberadaan program TKW dari sisi pendekatan kebijakan sosial. Lebih khusus lagi. TKW terkait fungsi dan tanggung jawab sosial istri terhadap suami dan atau anak. Secara tidak langsung buruh migran dieksploitasi di dalam negeri sekaligus di negara tujuan. dalam perspektif gender. Sementara dalam prespektif negara. Adapun bagi keluarga. TKW menyangkut persoalan devisa. khususnya yang mempunyai status isteri. Dalam prakteknya. Perubahan Pola Relasi Gender Keluarga Migran Pasca Migrasi Sebagai TKW No Keadaan sebelum menjadi TKW 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pencari nafkah utama adalah suami Suami meyakini nilai-nilai pemingitan terhadap isteri Isteri fokus terhadap sektor domestik Isteri tidak independent dalam membuat keputusan Suami tidak terlibat dalam sektor domestik Pembagian kerja sexist dikotomis Posisi isteri sebagai sub ordinasi sangat kelihatan Pola relasi gender lebih diominasi maskulin dan feminin Pengasuhan anak tanggung jawab utama isteri Keluarga relatife harmonis Keadaan setelah menjadi TKW Pencari nafkah utama adalah suami dan isteri Suami mulai permisif ketika isteri masuk sektor publik Suami mulai terbuka pada sektor publik Isteri mulai independent dalam membuat keputusan Sebagian suami tejun ke sektor domestik Pembagian kerja mulai kabur. tidak sexist dan tidak dikotomois Posisi isteri sebagai mitra mulai kelihatan Pola relasi gender mengarah pada androgini Pengasuhan anak mengarah pada tanggung jawab bersama Ada konflik yang bersifat potensial dan manifest Kesimpulan dan Saran Kehadiran TKW sebagai migran ternyata harus mengakomodasi berbagai nilai.

dengan mengakomodasi berbagai nilai dalam prespektif kemanusiaan. Kepada Direktorat Pemberdayaan Keluarga Departemen Sosial. Daftar Pustaka . serta menejemen keluarga.mencoba menerjemahkan berbagai nilai ke dalam konsep dan indikator kebijakan. sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan masalah yang muncul sehubungan kepergian istri menjadi TKW. Dinas Tenaga Kerja bersama LSM terkait diharapkan segera merumuskan kurikulum pelatihan bagi keluarga calon TKW menyangkut materi pola relasi gender dan persoalan sosial budaya lainnya. Sementara pasca migrasi sebagai TKW perlu diadakan konseling keluarga sebagai upaya meningkatkan ketahanan social keluarga dan masyarakat. Penegasan ini kiranya cukup beralasan mengingat hingga saat ini program pengiriman TKW ke luar negeri terlalu di dominasi “motif pendekatan bisnis” yang didefenisikan secara bebas sesuai dengan selera kepentingan kelompok kapitalis. Dinas Sosial. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Departemen Tenaga Kerja. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri harus dipandang sebagai persoalan sosial budaya dalam arti luas secara strategis. yang harus memanfaatkan peluang tidak saja secara ekonomi tapi juga secara sosial budaya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->