You are on page 1of 52

LAPORAN PEMANTAPAN KEMAMPUAN PROFESIONAL (PKP)

PDGK 4501

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENGHITUNG


VOLUME PRISMA SEGI TIGA DAN TABUNG LINGKARAN
MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA
PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI PERMANA UTAMA,
KECAMATAN MADUKARA, KABUPATEN ASTINAPURA

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas


mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional
(PDGK 4501)

Penyusun:
Nama : CITRA RESMI
NIM : 817800529
Program Studi : S.1 – PGSD
Pokjar : INDRAPRAHASTA
Masa Registrasi : 2010.2

UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ JONGRING SALAKA
2010

1
ABSTRAK

CITRA RESMI – NIM. 817800529. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar


Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung
Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa
Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan
Madukara, Kabupaten Astinapura. Laporan PKP. S.1-PGSD.
Universitas Terbuka. 2010. UPBJJ – Jongring Salaka.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar


siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara,
Kabupaten Astinapura dalam menghitung volume prisma segi
tiga dan tabung lingkaran dengan menggunakan alat peraga
buatan sendiri berbentuk prisma segitiga dan tabung lingkaran
satuan melalui pembelajaran kontekstual fokus pemodelan.
Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Permana
Utama Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura dengan jumlah siswa
sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan.
Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten
Astinapura ini merupakan tempat tugas peneliti. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode tindakan (action research) dalam
bentuk penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan
dalam dua siklus tindakan dan masing-masing siklus terdiri atas
tahap-tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan,
dan refleksi.
Pada siklus I diperoleh fakta bahwa siswa masih canggung dalam
penggunaan alat peraga. Kegiatan diskusi kelompok selama ini
yang dilakukan siswa baru sebatas saling menyalin hasil
pekerjaan jika memperoleh tugas mengerjakan soal. Hasl
perolehan nilai rata-rata pada siklus I penelitian ini adalah 64,80
dengan nilai tertinggi sebesar 87,50 dan nilai terendah sebesar 50,00. Rata-rata
perolehan nilai ini masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimum yang
dipersyaratkan, yakni 65, sehingga diperlukan penelitian tindakan siklus II.
Pada penelitian tindakan siklus II dilakukan beberapa perbaikan yang meliputi
perubahan komposisi anggota kelompok, pengarahan atas materi pokok yang
lebih jelas, serta latihan-latihan soal pendahuluan. Hasil pembelajaran yang
diperoleh meliputi rata-rata nilai hasil pembelajaran siklus II adalah 81,25 dengan
nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 68,75. Di samping itu, tingkat ketuntasan
pembelajaran pada siklus II ini mencapai 100 % yang ternyata lebih tinggi dari
prasyarat ketuntasan klasikal sebesar 85 % Oleh karena itu, tidak diperlukan
perlakuan pembelajaran pada siklus berikutnya.

2
DAFTAR ISI

halaman

LEMBAR PERNYATAAN ........................................................................ ii

LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN ........................................... iii

FORMAT KESEDIAAN SEBAGAI TEMAN SEJAWAT DALAM


PENYELENGGARAAN PKP ……………………………………………. iv

SURAT PERNYATAAN TEMAN SEJAWAT …………………………... v

KATA PENGANTAR …………………………………………………….. vi

HALAMAN JUDUL PKP EKSAK .............................................................. viii

ABSTRAK .................................................................................................. ix

DAFTAR ISI .............................................................................................. x

BAB I PENDAHULUAN .............................................................. 1


A. Latar Belakang Masalah ................................................ 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................... 3
C. Analisis Masalah ........................................................... 3
D. Rumusan Masalah ......................................................... 4
E. Tujuan Penelitian .......................................................... 4
F. Manfaat Penrlitian ......................................................... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...... 6


A. Landasan Teoretis ............................................................. 6
1. Hakikat Belajar ......................................................... 6
2. Hasil Belajar .................................................................. 7
3. Prinsip-prinsip Mata Pelajaran Matematika .................... 11
4. Evaluasi Pelajaran Matematika ........................................ 13
5. Alat Peraga ....................................................................... 14

3
6. Materi Pokok Bahasan Menentukan Volume
Bangun Ruang ..... 19
B. Kerangka Berpikir ........................................................ 20
C. Hipotesis Tindakan ....................................................... 21

BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PEMBELAJARAN ......


A. Subjek Penelitian ...........................................................
22
1. Lokasi Pelaksanaan Penelitian ..........................................
22
2. Waktu Penelitian .....................................................
22
3. Karakteristik Siswa .................................................
22
B. Deskripsi Persiklus .......................................................
22
1. Siklus
23
I ...................................................................
23
2. Siklus
II .................................................................. 25
C. Sumber Data dan Cara Pengambikan Data .............................. 26
D. Tolok Ukur Keberhasilan ........................................................ 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................


A. Hasil
28
Penelitian .............................................................
28
1. Siklus I ...................................................................
28
2. Siklus II ..................................................................
31
B. Pembahasan ...........................................................
........ 35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ........................................... 40


A. Kesimpulan .................................................................... 40
B. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut .............................. 41

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 42

LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................... 44

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran Matematika di Sekolah Dasar merupakan


mata pelajar-an yang dianggap paling sulit oleh siswa
sehingga berakibat pada rendahnya hasil belajar mata
pelajaran tersebut. Padahal matematika merupakan mata
pelajaran yang wajib diberikan bagi siswa sejak Sekolah Dasar
hingga Sekolah Menengah Atas. Jumlah jam mata pelajaran
matematika cukup banyak dibandingkan dengan mata
pelajaran IPA dan IPS.

Kemampuan baca tulis dan berhitung bagi siswa SD


merupakan syarat naik ke kelas IV. Tes Kemampuan Dasar
(TKD) menjadi acuan dalam peningkatan mutu pendidikan
khususnya SD kelas III. Persyaratan tersebut dipandang satu
keharusan yang harus dikuasai siswa sebelum memasuki
kelas tinggi (kelas IV-VI).

Matematika merupakan mata pelajaran yang melatih


anak untuk berpikir rasional, logis, cermat, jujur dan
sistematis. Pola pikir yang demikian sebagai suatu yang perlu
dimiliki siswa sebagai bekal dalam kehidupan seharihari.

5
Penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari akan
dapat membantu manusia dalam memecahkan masalah-
masalah kehidupan dalam berbagai kebutuhan kehidupan.
Karena kondisi yang demikian pentingnya, maka matematika
diberikan sejak anak memasuki bangku sekolah sejak kelas I
sampai kelas XII (SMA). Namun demikian matematika masih
kurang diminati anak didik baik di tingkat SD, SMP maupun
SMA. Hal yang demikian perlu mendapatkan perhatian bagi
guru untuk memperbaiki metode serta pendekatan dalam
belajar mengajar sehingga anak didik merasa senang dan
termotivasi untuk belajar matematika.

Sebagaimana yang terjadi di kelas VI SD Negeri


Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura
di mana hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika
merupakan urutan yang terbawah dari semua mata pelajaran
yang diajarkan di kelas VI. Diketahui bahwa pada kompetensi
dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” dari
ulangan harian yang dilakukan selama dua kali, hasilnya baru
mencapai rata-rata kelas 5,6. Hal tersebut masih sangat perlu
diupayakan peningkatannya. Menurut hasil analisis ulangan
harian, diketahui bahwa pada

Tahun Pelajaran 2008/2009 hasil belajar siswa pada


pokok bahasan menentukan volume bangun ruang baru
mencapai rata-rata 56 dan pada tahun 2009/2010 baru
mencapai rata-rata kelas 59. Hal tersebut menunjukkan
bahwa ada kesulitan yang cukup berarti bagi siswa kelas VI
dalam memecah-kan dan menyelesaikan soal kompetensi
dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”, maka
perlu upaya peningkatan kemampuan melalui upaya-upaya
yang dapat dilakukan oleh guru.

6
Upaya peningkatan kemampuan siswa terhadap pokok
bahasan volume bangun ruang antara lain melalui
penggunaan alat peraga. Penggunaan alat peraga dalam
kegiatan pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan
kemampuan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep
matematika yang dipelajarinya dengan mudah. Konsep
matematika seperti bangun ruang akan mudah dimengerti
anak didik pada saat pembelajaran berlangsung. Sifat alat
peraga itu sendiri membantu memperjelas konsep-konsep
abstrak agar menjadi konkret.

Alat peraga akan merangsang minat siswa sekaligus


mempercepat proses pemahaman siswa ketika mendapati
hal-hal yang abstrak dan yang sulit dimengerti anak. Kebaikan
alat peraga bagi pembelajaran juga membuat anak lebih
bersemangat karena tidak merasakan kejenuhan.
Pembelajaran dengan alat peraga mudah dicerna anak didik
dibandingkan dengan pembelajaran yang bersifat verbalistik.

Alat peraga yang tepat untuk menerangkan ”menghitung


volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” di antaranya bentuk
prisma dan tabung lingkaran satuan. Alat peraga tersebut
menjadikan anak akan mampu memecahkan masalah melalui
pengamatan, penganalisisan dan pembuktian secara terpadu
sehingga konsep volume bangun ruang akan mudah
diselesaikan anak didik pada saat mempelajari konsep volume
bangun ruang.

B. Identifikasi Masalah

Permasalahan pembelajaran matematika yang dapat teridentifikasi di


SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten
Astinapura adalah sebagai berikut.

7
1. Matematika masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit.

2. Hasil belajar matematika pada semua tingkat kelas menempati


urutan terbawah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya.

3. Proses pembelajaran matematika belum dapat menarik perhatian


siswa sehingga motivasi belajar siswa belum terangsang.

4. Kelengkapan media pembelajaran yang ada di sekolah masih


sangat terbatas.

5. Kegiatan pembelajaran masih berlangsung secara konvensional.

C. Analisis Masalah

Sejalan dengan latar belakang masalah dan identifikasi


masalah tersebut di atas maka penulis bermaksud
mengadakan penelitian tindakan untuk mengkaji lebih
mendalam yang dirumuskan dalam judul “Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume Prisma Segi
Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga
pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan
Madukara, Kabupaten Astinapura”.

Adapun peneliti tertarik memilih judul tersebut dengan


pertimbangan sebagai berikut.

1. Peneliti sebagai guru kelas VI SD Negeri Permana


Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura
merasa perlu untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
kompetensi dasar tersebut yang nilai rata-ratanya baru
mencapai 5,6.
2. Sepengetahuan peneliti, judul tersebut belum
diangkat dan diteliti oleh peneliti terdahulu.
3. Peneliti bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar
matematika dengan mengupayakan pengadaan alat

8
peraga buatan peneliti bersama siswa serta
menggunakannya dengan tepat dan optimal.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah dan analisis masalah


di atas, disusun rumusan masalah sebagai berikut.

”Apakah penggunaan alat peraga prisma segi tiga dan


tabung lingkaran satuan dapat meningkatkan hasil belajar
menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran
pada siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan
Madukara, Kabupaten Astinapura?”

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan


peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana
Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura dalam
menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran
dengan menggunakan alat peraga buatan sendiri berbentuk
prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan melalui
pembelajaran kontekstual fokus pemodelan.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat


memberikan manfaat yang berarti bagi siswa, guru, dan
sekolah.

1. Bagi Siswa
a. Meningkatnya hasil belajar pada kompetensi dasar
menghitung volume prisma segi tiga dan tabung
lingkaran.
b. Meningkatnya motivasi belajar matematika.

9
c. Meningkatnya rasa percaya diri.

2. Bagi guru
a. Meningkatkan gairah dalam pelaksanaan proses
belajar mengajar.
b. Merupakan umpan balik keberhasilan siswa dalam
menguasai kompetensi dasar menghitung volume prisma
segi tiga dan tabung lingkaran.
c. Meningkatkan kualitas pembelajaran karena dengan
kegiatan PTK ini guru lebih terampil menggunakan alat
peraga.

3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan dan
kontribusi positif bagi sekolah sebagai upaya untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat dijadikan
model pembelajaran oleh guru sekolah dasar lain dalam
pembelajaran kompetensi dasar menghitung volume
prisma segi tiga dan tabung lingkaran.

10
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teoretis

1. Hakikat Belajar

Pengertian belajar dalam kehidupan sehari-hari


seringkali sering diartikan yang kurang tepat, biasanya orang
awam mengartikan belajar identik dengan membaca, belajar
identik dengan mengerjakan soal-soal. Pengertian belajar
seperti tersebut masih sempit. Menghafal tidak dinamakan
belajar.

Loster D. Crow and Crow menyatakan bahwa belajar


adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu
pengetahuan dan berbagai sikap (Kasijan, 1984:16). Sumadi
Suryabrata (1984:249) menyatakan bahwa kegiatan belajar
mencakup tiga hal yaitu: a) membawa perubahan, b) terjadi
karena didapatkan kecakapan baru, dan c) terjadi karena ada
upaya. Belajar pada dasarnya adalah berusaha mendapatkan
sesuatu kepandaian (Poerwadarminta,1988:108). Sedangkan
menurut istilah populer bahwa pengertian belajar adalah
proses perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai
bentuk pengalaman-peng-alaman atau praktik (David R,
1996:2). Menutrut Winkel bahwa belajar diarti-kan sebagai
suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman,
keterampilan dan sikap-sikap. Perubahan itu relatif konstan
dan berbekas (WS Winkel,198:36).

11
Dengan demikian belajar adalah perubahan-perubahan
yang relatif konstan dan berbekas menyangkut pengetahuan,
pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap.

2. Hasil Belajar

Hasil belajar pada dasarnya berkaitan pula dengan hasil


yang dicapai dalam belajar. Pengertian hasil belajar itu sendiri
dapat diketahui dari pendapat ahli pendidikan. Hasil belajar
berasal dari kata hasil dan belajar. Agar tidak menyimpang
dari pengertian sesungguhnya maka perlu dijelaskan secara
per kata terlebih dahulu. Belajar berasal dari kata “ajar”
mendapat awalan “bel-” yang kemudian menjadi kata jadian
“belajar” mengandung makna proses belajar.

Kata belajar menunjuk arti apa yang harus dilakukan


seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran, bukan
sekedar menghapal, bukan pula se-kedar mengingat
(Sardiman,1998:34). Belajar pada dasarnya merupakan suatu
proses yang ditandai dengan adanya perubahan
pengetahuan, pemahaman, dan sikapnya. Belajar adalah
proses yang aktif, yaitu mereaksi semua situasi yang berada
disekitar individu, yang mengarah pada suatu.

Belajar pada hakikatnya perubahan pada diri seseorang


sebagai subjek didik untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Karena belajar adalah suatu proses merubah
kondisi seseorang yang terwujud dalam tiga ranah, maka
bagaimana agar belajar benar-benar terjadi. Ada beberapa
teori belajar yang akan penulis paparkan dalam pembahasan

12
ini untuk melihat bagaimana hakikatnya belajar yang
sesungguhnya.

Hasil belajar dari gabungan kata hasil dan kata belajar.


Hasil belajar diartikan sebagai keberhasilan usaha yang dapat
dicapai (Winkel,1998:162). Hasil belajar merupakan
keberhasilan yang telah dirumuskan guru berupa kemampuan
akademik. Winarno Surachmad (1981:2) menyatakan bahwa
hasil belajar merupakan nilai hasil belajar yang menentukan
berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Hal tersebut berarti
hasil belajar merupakan hasil dari proses belajar. Dalam hasil
belajar meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor
(Sunaryo,1983:4).

Dari berbagai kajian definisi hasil belajar di atas maka


yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar
matematika yang berupa kemampuan akademis siswa dalam
mencapai standar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
sebelumnya dan harus dimiliki siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran. Belajar dipengaruhi pula oleh faktor-faktor baik
dari dalam maupun dari luar. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi hasil belajar antara lain dibagi menjadi dua
kategori yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal
yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut.

1) Kesehatan anak
2) Rasa aman
3) Kemampuan dan minat
4) Kebutuhan diri anak akan sesuatu yang akan
dipelajari (Rustiyah NK, 1995:123).

Faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar


adalah sebagai berikut.

13
1) Lingkungan belajar, iklim, dan teman belajar.
2) Motivasi dari luar (Rustiyah NK,1995:123).

Adapun faktor yang datang dari luar diri anak, yaitu dari
sekolah tempat anak belajar seperti guru, waktu, sarana dan
prasarana belajar, kurikulum, materi, dan suasana belajar.
Selain faktor-faktor yang mempe-ngaruhi hasil belajar, juga
siswa mengalami hambatan-hambatan dalam belajar baik itu
bersifat endogen maupun bersifat eksogen. Yang bersifat
endogen adalah faktor biologis dan faktor psikologis siswa.
Sedangkan faktor eksogen adalah seperti sikap orang tua,
suasana lingkungan, sosial ekonominya, dan sikap
budayanya. Untuk dapat meningkatkan belajar dengan baik
maka guru harus mengenal anak dengan baik pula karena
setiap anak tidak sama persis kesulitan dan permasalahan
yang dihadapinya. Dengan demikian guru harus mampu
meneliti setiap kekurangan-kekurangan dalam hasil belajar
siswa.

Hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini


adalah hasil akademis yaitu hasil yang dicapai siswa setelah
mengikuti proses belajar mengajar yang telah dirumuskan
guru baik berupa segi kognitif, afektif maupun dari segi
psikomotornya. Dalam proses belajar dan mengajar seorang
guru wajib menentukan tujuan pembelajaran baik tujuan
pembelajaran umum maupun khusus. Mengukur keberhasilan
belajar siswa atau hasil yang dicapai siswa harus mampu
mengevaluasi belajar siswa. Keberhasilan belajar siswa dapat
dilihat dari segi pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Untuk memudahkan guru dalam mengukur keberhasilan
belajar maka guru harus menentukan tujuan pembelajaran
khusus yang baik. Ada beberapa kriteria dalam pembuatan

14
TPK (Tujuan Pembelajaran Khusus) yang baik yaitu sebagai
berikut.

a) Mengandung satu jenis perbuatan.


b) Dinyatakan dalam kualitas dan kuantitas
penguasaan siswa.
c) Kondisi yang bagaimana yang diinginkan
guru (Surakhmad,1981:28).

Jadi hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil belajar


yang telah dicapai siswa setelah mengikuti kegiatan proses
belajar dan mengajar, baik yang menyangkut segi kognitif,
afektif maupun psikomotorik. Hasil yang dimaksudkan dalam
penelitian tindakan kelas ini, berupa hasil belajar yang berupa
hasil akademik siswa setelah mengikuti kegiatan belajar
mengajar dalam jangka waktu tertentu. Hasil akademik ini
berupa angka kuantitas yang dituliskan dalam buku raport.
Sedangkan dalam kaitannya dengan penelitian ini, hasil
belajar adalah peningkatan keberhasilan siswa dalam
mencapai tuju-an pembelajaran yang ditetapkan guru. Hasil
belajar yang dicapai siswa ber-kaitan erat dengan kesulitan
belajar dan keberhasilan belajar. Kesulitan belajar siswa
dalam mata pelajaran matematika dapat diketahui dari ciri-
cirinya. Kesulitan belajar yaitu di mana anak didik atau siswa
tidak mampu belajar sehingga hasil di bawah potensi
intelektualnya (Alan O Ross, 1974:103). Menurut Lerner
(1931:367) dalam buku pendidikan bagi anak berkesulitan
belajar, (Dr. Mulyono Abdurrahman, 1999:262) adalah
kekurang pahaman tentang simbol, nilai tempat, perhitungan
dan penggunaan proses yang keliru dan tulisan yang tidak
terbaca.

15
Menurut Mulyono Abdurrahman (1996:6) bahwa
kesulitan belajar adalah terjemahan dari learning disability.
Terjemahan tersebut diartikan sebagai ketidakmampuan
belajar. Menurut Kuffman dan Lloyd (1985:14) dikutip oleh
Mulyono Abdurrahman (1996:6) bahwa kesulitan belajar
adalah gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis
dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa
ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut memungkinkan
menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan,
berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja atau
berhitung. Learner berpendapat, ada beberapa karakteristik
anak berkesulitan belajar seperti berikut ini.

a. Adanya gangguan dalam hubungan keruangan.


b. Abnormalitas persepsi visual.
c. Assosiasi visual motorik.
d. Perverasi.
e. Kesulitan mengenal dan memahami simbol.
f. Gangguan penghayatan tubuh.
g. Kesulitan dalam bahasa dan membaca
h. Performance IQ jauh lebih rendah daripada sektor verbal IQ
(Abdurrahman, 1999:259).

Jadi kesulitan belajar matematika disebabkan


rendahnya kemampuan intelegensi, banyaknya terkait
dengan kesulitan memahami konsep visual dan adanya
gangguan assosiasi visual motorik.

Gejala adanya kesulitan belajar meliputi :

a. Hasil yang rendah di bawah rata-rata kelompok kelas.


b. Hasil yang dicapai dengan usaha tidak seimbang.
c. Lambat dalam melakukan tugas belajar.

16
d. Menunjukkan sikap kurang wajar seperti acuh tak acuh,
berpura-pura dusta dan lain-lain.
e. Menunjukkan tingkah laku yang berlainan (Supriyono,
1991:89).

Jenis kesulitan belajar menurut Erman Amti, (1992:67)


masalah belajar pada dasarnya digolongkan atas: (a) sangat
cepat dalam belajar, b) keterlambatan akademik, (c) lambat
belajar, (d) penempatan kelas, (e) kurang motivasi dalam
belajar, (f) sikap dan kebiasaan yang buruk dalam belajar dan
kehadiran di sekolah sering tidak masuk.

Dengan demikian bahwa anak yang perlu mendapat


bantuan dari guru dalam hal ini adalah layanan bimbingan
belajar, agar peserta didik dapat melaksanakan kegiatan
belajar secara baik dan terarah.

3. Prinsip-prinsip Mata Pelajaran Matematika

Mata pelajaran matematika berkaitan dengan


kemampuankemampuan siswa mengenai pemahaman
struktur dasar sistem bilangan daripada mempel-ajari
keterampilan dan fakta-fakta hafalan. Pelajaran matematika
sesuai dengan kurikulum SD tahun 2006 (Standar Isi yang
dikembangkan menjadi KTSP) menekankan mengapa dan
bagaimana matematika melalui penemuan dan eksplorasi.
Mata pelajaran matematika menerapkan prinsip-prinsip basic
skill movement yang mencerminkan beberapa kemampuan
dasar matematika bagi siswa SD yang meliputi hal sebagai
berikut.

a. Menyiapkan anak untuk belajar matematika


b. Maju dari konkret ke abstrak

17
c. Penyediaan kesempatan kepada anak untuk berlatih dan
mengulang
d. Generalisasi ke dalam situasi baru
e. Bertolak dari kekuatan dan kelemahan siswa
f. Perlunya membangun fondasi yang kuat tentang konsep
atau keterampilan matematika
g. Penyediaan program matematika yang seimbang.
(Mulyono, 1999:273).

Oleh karena itu ada beberapa pendekatan dalam


pengajaran mate-matika di SD, yaitu sebagai berikut.

a. Urutan belajar yang bersifat perkembangan


Dalam hal ini guru diharapkan memberikan pelajaran
matematika sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Tidak akan ada manfaatnya mengajarkan anak suatu
konsep atau keterampilan matematika sebelum mencapai
tahap perkembangan tersebut karena tidak akan berhasil.
b. Belajar Tuntas
Dalam pembelajaran matematika guru harus
menentukan sasaran atau tujuan pembelajaran khusus.
Sasaran tersebut harus dapat diukur dan diamati,
menguraikan langkah-langkah yang sudah dikuasai oleh
siswa dari soal mudah, sedang ke tingkat yang sukar, dan
mengurutkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan.
c. Strategi belajar
Strategi belajar matematika memusatkan bagaimana
siswa belajar agar dapat mengembangkan stratgi belajar
metakognitif yang mengarah-kan proses mereka dalam
belajar.
d. Pemecahan Masalah (Mulyono, 1999:255)

18
Strategi belajar matematika dengan pemecahan
masalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah kaitannya dengan soal-soal
matematika.

Keempat pendekatan dalam pembelajaran matematika


di SD tersebut, tentunya menuntut kemampuan guru dalam
melaksanakan pembelajaran, juga dituntut lebih aktif dan
cermat melakukan strategi pembelajaran agar siswa yang
mengalami kesulitan belajar tidak merasa ditinggalkan tetapi
terlayani dengan baik dengan cara kemampuannya sendiri
dan mampu mengikuti setahap demi setahap.

4. Evaluasi Pelajaran Matematika

Evaluasi pembelajaran matematika secara umum sama


dengan evaluasi mata pelajaran lainnya baik jenis evaluasi
maupun bentuk-bentuk soalnya. Evaluasi matematika di
Sekolah Dasar merupakan salah satu cara atau kegiatan
pembelajaran untuk mengetahui kemajuan belajar siswa dan
pen-capaian tujuan yang telah ditetapkan. Dalam evaluasi
pelajaran matematika keberhasilan siswa diukur dari proses
pengerjaan dan diukur dari kebenaran dalam jawaban yang
dihasilkan. Dengan demikian bagaimana proses pengerja-
annya dan bagaimana hasil jawabannya.

Dalam hal kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh guru


mata pelajaran matematika menurut Learner, dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut.

a. Memutuskan apa yang akan diukur.

19
b. Memilih atau mengembangkan suatu herarki keterampilan.
c. Memutuskan di mana memulai.
d. Memilih atau mengembangkan instrumen.
e. Melaksanakan tes.
f. Mengadministrasikan tes.
g. Mencatat kekeliruan dan gaya kinerja.
h. Menganalisis temuan dan meringkaskan hasil.
i. Memperkirakan alasan kekeliruan dan menentukan bidang
yang akan diperiksa.
j. Memeriksa.
k. Melengkapi catatan dan rumusan tujuan-tujuan
pembelajaran khusus
(Mulyono, 1999:266).
Ranah yang diungkapkan dalam evaluasi pembelajaran
matematika yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga
ranah tersebut dievaluasi dengan tes hasil belajar yang
menggunakan berbagai ragam bentuk soal tes sesuai dengan
materi yang akan diukur kemajuan dan keberhasilannya.

5. Alat Peraga
a. Pengertian Alat Peraga

Alat peraga disebut juga alat bantu pelajaran. Alat


peraga yang diguna-kan sebagai alat bantu dalam
pembelajaran, maka pembelajaran menjadi lebih berkualitas.
Menurut Heinrich (1996) menyatakan bahwa keseluruhan
sejarah, media dan teknologi telah mempengaruhi
pendidikan. Media merupakan jamak dari kata medium adalah
suatu saluruh untuk komunikasi. Diturunkan dari bahasa Latin
yang berarti “antara”. Istilah ini kepada sesuatu yang
membawa informasi ke penerima tercetak, komputer dan

20
instruktur. Yang demikian ini dipandang sebagai media ketika
mereka membawa pesan dengan suatu maksud
pembelajaran.

Beberapa media yang dikenal dalam pembelajaran


antara lain; (1) media non projektif antara lain fotografi,
diagram, sajian dan model-model, (2) media projektif antara
lain slide, filmstrif, transparansi, dan komputer proyektor, (3)
media dengar seperti radio kaset, (4) media gerak seperti
vidio dan film, (5) komputer, multimedia, (6) serta media yang
digunakan untuk belajar jarak jauh (UPI, 2001:200).

Alat peraga sebagai media pembelajaran dapat


menjadikan materi pelajaran yang disampaikan lebih konkret
sehingga mudah dicerna siswa. Alat peraga menambah
konkretnya materi pelajaran yang disampaikan guru sehingga
pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih bermakna bagi
kehidup-an siswa. Karena itulah guru matematika yang dalam
pembelajaran meng-gunakan alat peraga akan memperoleh
keuntungan sebagai berikut.

1. Siswa dan guru dalam kegiatan proses belajar


mengajar lebih termotivasi. Baik siswa maupun guru,
terutama siswa menjadi tumbuh minatnya terhadap
pelajaran yang sedang diajarkan.
2. Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk
konkret dan karena itu lebih dipahami dan
dimengerti, dan dapat ditanamkan pada
tingkattingkat yang lebih rendah.
3. Hubungan antara konsep abstrak matematika
dengan benda-benda di alam sekitar akan lebih
dapat dipahami.

21
Alat peraga dapat disebut pula alat bantu dalam
pembelajaran. Dalam praktik kegiatan pendidikan, alat peraga
sering pula disebut dengan media pembelajaran. Oleh karena
itu dalam hal ini peneliti tidak akan memper-soalkan
penggunaan istilah tersebut. Secara harfiah kata media
memiliki arti “perantara” atau “pengantar” atau peraga
(Depag RI,2004:11).

Ada empat pola guru dalam pembelajaran yaitu:


a. guru sebagai pengendali siswa;
b. guru mengggunakan alat peraga dalam
pembelajaran;
c. guru sebagai sumber bersama dengan sumber
lainnya dalam pembelajaran; dan
d. guru melakukan pembelajaran dari sumber bukan
manusia atau guru bermedia ( UPI, 2001:200).

Media dan alat peraga memiliki perbedaan yaitu


sebagaimana digambarkan dalam diagram berikut.

22
Skema 1: Model Pembelajaran yang dilakukan guru (Nana

Sujana,1991:13).

Model pembelajaran yang tampak pada skema di atas


menunjukkan keragaman bahwa ada guru yang menggunakan
media dan ada guru yang menggunakan alat peraga dalam
kegiatan pembelajaran. Ada empat pola guru dalam
pembelajaran yaitu sebagai berikut.

a. Guru sebagai pengendali siswa, disini tugas guru adalah


melakukan manajemen kelas dan mengukur kemajuan
balajar siswa secara bertahap dan berkelanjutan.
b. Guru mengggunakan alat peraga dalam pembelajaran.
Pembelajaran yang dilakukan guru sedapat mungkin
diupayakan menggunakan alat peraga, hal ini
dimaksudkan agar materi pelajaran yang disampaikan
dapat dimengerti dan mudah dicerna oleh siswa sehingga
tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat dicapai secara
optimal.
c. Guru sebagai sumber bersama dengan sumber lainnya
dalam pembelajaran artinya baik guru maupun media
pembelajaran yang lain dijadikan sumber belajar.
d. Guru melakukan pembelajaran dari sumber bukan manusia
(guru bermedia).

Meskipun ada perbedaan, pada prinsipnya media dan


alat peraga me-rupakan perantara dalam kegiatan
pembelajaran. Kaitannya dengan pembel-ajaran matematika
maka alat peraga yang dapat digunakan dalam pembelajar-an
sesuai dengan materi yang akan diberikan pada saat itu. Di
antaranya alat peraga dalam kegiatan pembelajaran

23
menentukan volume kubus bangun ruang adalah sebagai
berikut.

b. Alat Peraga Model Kubus, Prisma, dan Tabung


Satuan
1) Fungsi
• Alat peraga model kubus satuan memiliki fungsi
untuk menunjukkan volum/isi kubus atau balok.
• Alat peraga model prisma satuan memiliki fungsi
untuk menunjukkan volum/isi prisma.
• Alat peraga model tabung satuan memiliki fungsi
untuk menunjukkan volum/isi tabung atau selinder.
2) Bentuk Alat
Bentuk alat-alat peraga yang dibuat sendiri sebagai
berikut.

Model kubus satuan, prisma segitiga satuan, dan tabung


lingkaran satuan
1) Alat dan bahan
a. Alternatif bahan 1 : karton tebal/karton duplek,
lem, spidol, plastik jilid.
b. Alternatif bahan 2 : Styrofoam, spidol.
c. Perkakas : kuas, gunting,
cutter/pemotong
2) Cara pembuatan alat peraga.
Jika bahan yang dipergunakan karton tebal, karton
duplek, atau styrofoam maka cara membuat alat

24
peraga yaitu dengan membuat jaring-jaring kubus,
prisma segitiga, dan tabung lingkaran.. Untuk
menghubungkan sisi yang satu dengan yang lain
buatlah lidah pada jaring-jaringnya. Selanjutnya
bentuklah jaring-jaring kubus sebagaimana gambar
berikut.

Model jaring-jaring Kubus

Model jaring-jaring Prisma Segitiga

25
Model Jaring-jaring Tabung Lingkaran
3) Penggunaan Alat dalam Kegiatan Belajar Mengajar
1. KTSP Matematika SD Edisi Tahun 2006
Kelas VI/ Semester I
Standar Kompetensi : 3. Menghitung luas segi banyak
sederhana, luas lingkaran, dan
volume prisma segitiga.
Kompetensi Dasar : 3.3 Menghitung volume prisma
segitiga dan tabung lingkaran

2. Penggunaan Alat Menghitung Volume Kubus

a. Tunjukkan pada siswa bahwa 1 (satu)


buah kubus didefiniskan sebagai satu satuan
isi
b. Siswa diminta menyebutkan banyaknya
kubus satuan pada gambar berikut ini.

26
Siswa disuruh mengisi setiap kotak
transparan yang telah disiapkan dengan kubus
satuan, dan menghitung banyak-nya kubus satuan
yang dapat mengisi masing-masing kotak.

Untuk menghitung volume prisma segi tiga,


siswa ditugaskan untuk mengukur masing-masing
sisi rusuk prisma, tinggi segi tiga kemudian
menghitung luas segi tiga. Sedangkan dalam
menentukan volume tabung lingkaran, siswa
ditugaskan untuk mengukur jari-jari lingkaran
serta panjang rusuk, kemudian menghitung luas
lingkaran.

6. Materi Pokok Bahasan Menentukan Volume Bangun


Ruang

Dalam kegiatan penelitian ini, pokok bahsan yang


dijadikan penelitian yaitu menghitung volume prisma segi
tiga dan tabung lingkaran. Untuk sekedar mengingatkan
siswa, siswa diajak kembali untuk menemu-kan volume
kubus dengan uraian materi sebagai berikut.

a. Menentuan volume kubus

27
Penentuan volume kubus didasarkan pada rumus
volume kubus. Menentukan volume kubus rumusnya
adalah sebagai berikut. sisi x sisi x sisi= volume
Volume dinyatakan dengan satuan kubik (3)

b. Menentukan volume prisma

Penentuan volume prisma segitiga didasarkan pada


rumus volume prisma, yakni:

1
Volume prisma segitiga = luas alas × tinggi = ×a×b×t
2

c. Menentukan volume tabung

Penentuan volume tabung lingkaran didasarkan kepada


rumus selinder sebagai berikut.

Volume Tabung = π x r x r x t

= π x r2 x t

B. Kerangka Berpikir

Sebagaimana teori yang dikaji tersebut di atas, bahwa


alat peraga memiliki fungsi untuk mempermudah pemahaman
siswa terhadap materi pel-ajaran yang disampaikan. Alat
peraga berperan penting dalam meningkatkan keberhasilan
siswa karena melalui penggunaan alat peraga siswa dapat
mengamati, menaksir, dan meramalkan berbagai hal baik
melalui indera peng-lihat, peraba maupun pendengar.

Keterlibatan alat-alat indera menggairahkan siswa


dalam belajar sehingga akan mudah terangsang untuk
mencoba melakukan sesuatu hal yang diperlukan.

Penggunaan alat peraga prisma dan tabung buatan


sendiri dalam pembelajaran kompetensi dasar “menghitung

28
volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”, dapat meningkatkan
perhatian dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar dan
mengajar. Kemudahan yang akan diperoleh siswa melalui
penggunaan alat peraga tersebut yaitu siswa dapat
mengukur, mengamati, menaksir dan menangkap apa yang
seharusnya kemudian dapat menyelesaikan masalah yang
dihadapi yaitu Menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran
secara tepat.

Kecepatan dan ketepatan siswa dalam menyelesaikan


masalah tersebut memungkinkan lebih meningkat hasil
belajarnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan
penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran
satuan maka kemampuan siswa dalam menghitung volume prisma
segitiga dan tabung lingkaran akan meningkat. Sebaliknya jika
pembelajaran matematika kompetensi dasar “menghitung volume
prisma segitiga dan tabung lingkaran” dalam pembelajaran di kelas
tidak menggunakan alat peraga, maka hasil belajar siswa
kurang dapat diterima siswa yang pada akhirnya akan
mempengaruhi hasil belajar siswa.

Kebermaknaan dan kemudahan menyerap materi


pelajaran dapat dilakukan melalui latihan mengukur secara
langsung terhadap benda-benda baik benda langsung
maupun alat peraga sehingga siswa akan memiliki
kemampuan keterampilan dan pemahaman terhadap apa
yang dipelajarinya. Kemampuan inilah yang menjadikan hasil
belajar siswa akan mudah untuk ditingkatkan.

C. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “melalui


penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran

29
satuan maka hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana
Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura dalam
kompetensi dasar menghitung volume prisma segitiga dan tabung
lingkaran dapat ditingkatkan”.

BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN PEMBELAJARAN

A. Subjek Penelitian
1. Lokasi Pelaksanaan Penelitian

Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah siswa kelas VI SD


Negeri Permana Utama Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura
dengan jumlah siswa sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-
laki dan 5 siswa perempuan. Kelas VI SD Negeri Permana Utama,
Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura ini merupakan tempat tugas
peneliti.

2. Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan penelitian terdiri atas dua siklus dengan


masing-masing terdiri atas satu pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran
pada masing-masing siklus adalah sebagai berikut.

a. Siklus I
Siklus I dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 27 Juli 2010 pada jam
pelajaran ke-4 dan ke-5.
b. Siklus II

Siklus II dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 30 Juli 2010 jam ke-1
dan ke-2.

Penentuan pelaksanaan tindakan pada siklus I dan II tersebut didasarkan


pada jadwal pelajaran mata pelajaran matematika di kelas.

30
3. Karakteristik Siswa

Subjek penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah siswa kelas VI


SDN Permana Utama Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura yang
berjumlah siswa sebanyak 19 siswa yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan
5 siswa perempuan. Sebagaimana kebanyakan siswa di daerah, prestasi
belajar matematika para siswa kurang begitu menggembirakan sehingga
pada siswa yang berjumlah 19 orang tersebut tidak ada siswa yang
menonjol dalam prestasi belajar matematika. Sementara itu, terdapat 2
siswa yang rata-rata prestasi belajarnya di bawah rata-rata.

B. Deskripsi Per Siklus


1. Siklus I
Sesuai dengan perencanaan bahwa siklus I dilaksanakan pada hari
hari Selasa tanggal 27Agustus 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5.
Langkah kegiatan yang dilakukan pada siklus I adalah sebagai berikut.

a. Perencanaan

1) Dokumentasi kondisional meliputi data hasil ulangan materi


“menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”, dan
observasi terhadap pembelajaran matematika yang berlangsung.
2) Identifikasi masalah.
Identifikasi dan klarifikasi semua masalah yang dihadapi oleh
siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
3) Merancang rencana pembelajaran.

b. Pelaksanaan
1) Guru menyiapkan rencana pengajaran.
2) Guru memberikan soal-soal pada siswa.
3) Guru mengevaluasi tingkat daya serap siswa terhadap proses
pembelajaran.

31
4) Guru menjelaskan materi tentang kompetensi dasar
“menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”
dilanjutkan dengan memberikan contoh-contoh soalnya.
5) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk berperan aktif
dalam proses pembelajaran seperti bertanya, mengungkapkan pen-
dapat, diskusi dan lain sebaginya.
6) Guru memberikan soal-soal latihan setiap akhir pertemuan.
7) Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus 1.

c. Pengamatan

Kegiatan pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan data


aktivitas pembelajaran, baik data pembelajaran (guru) maupun data
pembelajaran siswa. Peneliti menyiapkan angket observasi yang
dilakukan dengan data pengukur.

d. Refleksi

Data dikumpulkan kemudian direfleksi oleh peneliti. Refleksi


dilakukan dengan cara mengukur baik cara kuantitatif maupun
kualitatif. Data yang diperoleh dikumpulkan kemudian disimpulkan
bagaimana hasil belajar siswa dan bagaimana hasil pembelajaran guru
yang teah dilakukan. Kemudian direfleksikan berupa hasil analisis
yang telah dikerjakan.

1) Apakah terjadi peningkatan kualitas belajar sebelum diterapkan


pembelajaran dengan alat peraga?
2) Apakah alat peraga yang digunakan dapat meningkatkan hasil
belajar dan pemahaman siswa konsep bangun ruang dalam
kompetensi dasar “menghitung volume prisma segitiga dan
tabung lingkaran”?
3) Berapakah jumlah siswa yang mengalami peningkatan hasil belajar
setelah dilakukan pembelajaran dengan alat peraga?

32
4) Sudahkah mencapai target yang diinginkan sesuai dengan yang
diharapkan guru?
5) Sudahkah guru menerapkan struktur pengajaran matematika yang
baik?
6) Sudahkah guru mengadakan pendekatan kepada siswa dengan baik
dan menggunakan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran
satuan?

2. Siklus II

Siklus II dilaksanakan sebanyak dua pertemuan yakni pada hari


Selasa tanggal 31 Agustus 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5 dan hari
Jumat tanggal 3 September 2010 jam ke-1 dan ke-2 dengan langkah-
langkah sebagai berikut.

a. Perencanaan

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1, maka diadakan perencanaan


sebagai berikut.
1) Identifikasi masalah
Masalah siklus 1 yang belum berhasil pada kompetensi dasar
“menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran”.
2) Rencana tindakan
Penerapan pembelajaran dengan meningkatkan efektivitas peng-
gunaan alat peraga harus lebih ditekankan lagi terutama agar lebih
mengoptimalkan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar
mengajar.

b. Pelaksanaan

1) Guru melakukan semua tindakan sebagaimana pada


siklus I.
2) Guru memberikan soal-soal latihan.

33
3) Menjelaskan materi lanjutan dengan alat peraga
yang lebih banyak dan variatif.
4) Mengadakan Tes akhir siklus II.

c. Pengamatan

Pelaksanaan atau tindakan siklus 2 sesuai dengan perencanaan yang


diprogramkan yaitu:
1) Atas dasar hasil siklus 1, maka permasalahan dapat
diidentifikasi dan dirumuskan.
2) Mengontrol siswa yang kurang aktif dengan cara
mengadakan pendekatan dan bimbingan khusus.
3) Guru menerangkan kembali materi yang kurang
dipahami siswa dengan contoh-contoh soalnya secara sistematis.
4) Merencanakan kembali pembelajaran dengan
menggunakan alat peraga dalam pembelajaran konsep bangun
ruang dalam kompetensi dasar “menghitung volume prisma
segitiga dan tabung lingkaran”.
5) Siswa diberi soal-soal latihan untuk dibahas
kembali.

6) Guru memberikan soal-soal tes pada akhir siklus 2.

d. Refleksi

Peneliti merefleksi semua tindakan pada siklus 1 dan siklus 2,


kemudian melakukan refleksi terhadap tindakan kelas yang telah
dilaksanakan. Refleksi terhadap keberhasilan siklus II menjadi dasar
pertimbangan untuk menentukan keberhasilan pembelajaran, apakah
penelitian perbaikan dilaksanakan ke siklus berikutnya ataukah cukup
sampai pada siklus II saja.

C. Sumber Data dan Cara Pengambilan Data

1. Sumber Data

34
Sumber data dalam penelitian ini meliputi siswa kelas VI SDN Jati-
manggung Kecamatan Madukara Kabupaten Astinapura dan guru peneliti
serta guru teman sejawat. Jumlah sumber data siswa sebanyak 19 orang
siswa dan 2 guru (teman sejawat dan kepala sekolah).

2. Jenis Data
Data yang didapatkan dalam PTK ini berupa data kuantitatif dan kualitatif,
yang terdiri dari:
a) Hasil belajar siswa.
b) Data situasi pembelajaran.
c) Data pelaksanaan pembelajaran oleh guru.

3. Cara Pengambilan Data


a) Data Hasil belajar diambil melalui tes setiap akhir siklus.
b) Data situasi kondisi KBM diambil melalui pengamatan kelas.
c) Data refleksi dan perubahan-perubahan yang terjadi di kelas
diambil melalui jurnal keberhasilan yang dibuat guru.
d) Data pelaksanaan pembelajaran diambil melalui observasi guru
peneliti oleh guru mitra.

D. Tolok Ukur Keberhasilan

Sebagaimana hasil belajar pada kompetensi dasar “menghitung


volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” pada siswa kelas VI SDN
Permana Utama tahun pelajaran 2009/2010 rata-rata kelas baru dicapai sebesar
59 dan pada tahun sebelumnya yaitu pada tahun pelajaran 2008/2009, rata-rata
kelas yang dicapai adalah 56.

Dengan demikian tolok ukur keberhasilan penelitian tindakan kelas ini


yang penulis tetapkan apabila siswa pada kompetensi dasar “menghitung
volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” yatu mencapai nilai rata-rata
kelas minimal 65.

35
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian perbaikan pembelajaran dalam bentuk penelitian tindakan


kelas dengan judul ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung Volume
Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat Peraga
pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara,
Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011” dilaksanakan
dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahap-tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian yang


dikemukakan pada Bab I, maka penelitian ini akan memfokuskan kepada
peningkatan hasil pembelajaran sebagai tujuan penelitian. Akan tetapi,
deskripsi proses pembelajaran pun akan disinggung jika data yang ditampilkan
memerlukan penjelasan yang rinci.

Data hasil penelitian yang diperoleh dari siklus I dan II penelitian


tindakan ini dapat disajikan dalam uraian berikut ini.

36
1. Siklus I

Siklus I pembelajaran kompetensi dasar ’menghitung volume


prisma segitiga dan tabung lingkaran’ melalui penggunaan alat peraga
bangun ruang pada siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan
Madukara, Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011
ini dilaksanakan dalam satu kali pertemuan pada hari Selasa tanggal 27
Juli 2010 pada jam pelajaran ke-4 dan ke-5. Pada pelaksanaan tindakan
pembelajaran siklus I ini dilakukan pula pengamatan atas proses pembel-
ajaran dan diperoleh beberapa data temuan sebagai berikut.

a. Proses Pembelajaran

1) Pada awal kegiatan diskusi kelompok, pada


umumnya siswa masih merasa canggung dengan situasi
pembelajaran. Apalagi siswa harus mempelajari sendiri materi
pembelajaran melalui LKS yang dibagikan. Kegiatan menemukan
sendiri (inkuiri) konsep materi ’volume prisma segitiga’ dan
’volume tabung lingkaran’ bagi siswa merupakan hal yang relatif
cukup sulit karena melibat-kan beberapa konsep prasyarat seperti
penguasaan cara menghitung luas segitiga, luas segi empat, dan
luas lingkaran.

2) Hal kedua yang merupakan kegiatan baru bagi para


siswa adalah mempresentasikan konsep yang ditemukannya dalam
presentasi kelas. Penguasaan komunikasi yang relatif masih kurang
menjadi hambatan siswa dalam mengungkapkan gagasannya.

3) Proses diskusi yang berjalan pada setiap kelompok


tampak tidak seimbang. Jalannya proses diskusi banyak didominasi
oleh siswa-siswa yang aktif dan biasa memperoleh prestasi baik.
Hal ini menjadi catatan peneliti bagi perbaikan siklus berikutnya.

37
4) Alokasi waktu yang tersedia untuk pembelajaran
ternyata tidak mencukupi sehingga diperlukan tambahan waktu
untuk pelaksana-an kuis atau tes akhir.

b. Hasil Pembelajaran

Data hasil pembelajaran yang diperoleh adalah dalam bentuk


akumulasi skor dan nilai perolehan siswa. Penilaian hasil pembelajaran
ini dilakukan segera setelah siswa melaksanakan kuis sehingga siswa
mengetahui secara langsung hasilnya serta hal apa saja yang
seharusnya mereka perbaiki.

Data empirik hasil penelitian siklus I ini dapat dilihat pada


tabel berikut.

Tabel 4.1
Data empiris hasil pembelajaran menghitung volume prisma dan tabung
kelas VI SDN Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten
Astinapura pada siklus I
L Jumlah Nilai
No NIS Nama Siswa Ketuntasan
/P Skor Perolehan
1 0506.01.001 Aris Munandar L 10 62,50 Belum Tuntas
2 0506.01.002 Abdul Sopyan L 10 62,50 Belum Tuntas
3 0506.01.003 Ari Sutiawan L 14 87,50 Tuntas
4 0506.01.004 Andri L 8 50,00 Belum Tuntas
5 0506.01.005 Cucu Nurmalia P 11 68,75 Tuntas
6 0506.01.006 Detia Fitriani P 11 68,75 Tuntas
7 0506.01.007 Jang Akbar Pamungkas L 9 56,25 Belum Tuntas
8 0506.01.008 Kasman L 9 56,25 Belum Tuntas
9 0506.01.009 Moh. Iqbal Ibduloh L 12 75,00 Tuntas
10 0506.01.011 Mufti Abdurahman L 9 56,25 Belum Tuntas
11 0506.01.012 Riskawati P 12 75,00 Tuntas
12 0506.01.013 Rudianto L 10 62,50 Belum Tuntas
13 0506.01.014 Syamsul Mukarom L 8 50,00 Belum Tuntas
14 0506.01.015 Sela Astiana P 14 87,50 Tuntas
15 0506.01.016 Ade Nursalam L 8 50,00 Belum Tuntas
16 0506.01.019 Yoga Wijaya L 11 68,75 Tuntas
17 0607.02.037 Saepul Ilham L 12 75,00 Tuntas

38
L Jumlah Nilai
No NIS Nama Siswa Ketuntasan
/P Skor Perolehan
18 0708.03.025 Sutisna L 8 50,00 Belum Tuntas
19 0708.03.030 Dewi Novitasari P 11 68,75 Tuntas
JUMLAH SKOR 197 1231,25 9
RATA-RATA SKOR 10,37 64,80
SKOR TERTINGGI 14 87,5
SKOR TERENDAH 8 50
SKOR IDEAL 16 100
KKM 65
% KETUNTASAN BELAJAR 47,37

Tabel di atas menunjukkan data perolehan hasil belajar siklus I


siswa kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan Madukara yang
memperoleh nilai rata-rata sebesar 64,80 dengan nilai tertinggi sebesar
87,50 dan nilai terendah sebesar 50,00. Jumlah siswa yang telah
mencapai ketuntasan (> 65) adalah 9 orang dari jumlah siswa 19 atau
sebesar 47,37 %. Sebagaimana diketahui bahwa batas taraf ketuntasan
pembelajaran di tingkat kelas harus mencapai sekurang-kurangnya 85
%.

Data grafik perolehan hasil pelajar dapat ditampilkan sebagai


berikut.

90 87,5
80
70 64,8
60
50
50
40
30
20
9 10
10
0
Nilai Rata- Nilai Nilai Jumlah Siswa
rata Tertinggi Terendah Siswa Belum
Tuntas Tuntas

39
Gambar 4.1 Grafik Perolehan Nilai Hasil Pembelajaran Siswa kelas VI
SDN Permana Utama Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura pada
Siklus I

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran


siklus I belum mencapai keberhasilan yang diharapkan sehingga perlu
diperbaiki dalam bentuk tindakan siklus berikutnya.

2. Siklus II

Siklus II tindakan pembelajaran ”Upaya Meningkatkan Hasil


Belajar Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran
melalui Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana
Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura” ini merupa-kan
siklus tindakan tahap kedua dan merupakan perbaikan dari pelaksana-an
siklus tindakan tahap pertama. Pada siklus II ini beberapa hal meng-alami
perbaikan dan penyesuaian sesuai dengan data temuan yang diperoleh
selama pembelajaran dan hasil pembelajaran siklus I.

a. Proses Pembelajaran

Pada pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan sejumlah perbaikan


dan penyesuaian bagi siswa agar siswa dapat menyerap pembelajaran
dengan baik.

1) Pembagian kelompok siswa diubah dengan cara


menyebar kembali siswa-siswa berkemampuan tinggi ke dalam 4
kelompok baru, demikian juga siswa-siswa yang memiliki
kemampuan menengah dan rendah. Jumlah kelompok belajar di
dalam kelas tetap tidak berubah, hanya anggotanya komposisinya.

2) Dampak pertama yang dapat dilihat dari perubahan


kelompok ini adalah jalannya proses diskusi menjadi lebih dinamis
dan hampir seluruh siswa terlibat dalam diskusi kelas. Di sisi lain,
peneliti dengan dibantu teman sejawat melakukan layanan

40
individual kepada siswa-siswa tertentu yang sulit memahami
konsep materi yang sedang dipelajari.

3) Alat peraga yang digunakan, yang terdiri atas alat peraga


bangun ruang prisma segitiga dan tabung lingkaran, diperbanyak
dengan menggunakan kertas manila karton dan dibagikan kepada
masing-masing kelompok. Dengan bantuan alat peraga yang
dipegang oleh setiap anggota dalam kelompok ini, ternyata siswa
lebih mudah memahami konsep materi pembelajaran jika
dibandingkan dengan kegiatan yang sama pada siklus I.

4) Meskipun proses pembelajaran secara keseluruhan sudah


berjalan lancar dan siswa tidak lagi canggung melaksanakan
kegiatan demi kegiatan, waktu yang tersedia ternyata masih belum
cukup juga. Kuis atau tes akhir pembelajaran terpaksa
dilaksanakan di luar jam pembelajaran selama 20 menit.

b. Hasil Pembelajaran

Siklus II penelitian ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar


Menghitung Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui
Penggunaan Alat Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana
Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura semester 1 tahun
pelajaran 2010-2011” merupakan tahap perbaikan tindakan. Perbaikan
ini dilakukan berdasarkan temuan dan masukan yang diperoleh selama
melaksanakan penelitian tindakan siklus I.

Hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.2
Data empirik hasil pembelajaran siswa kelas VI SDN Permana
Utama Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura pada Siklus II
L
Jumlah Nilai Ketuntas
No NIS Nama Siswa /
Skor Perolehan an
P
0506.01.00
12 75,00 Tuntas
1 1 Aris Munandar L
2 0506.01.00 Abdul Sopyan L 12 75,00 Tuntas

41
L Jumlah Nilai Ketuntas
No NIS Nama Siswa / Skor Perolehan an
2 P
0506.01.00
15 93,75 Tuntas
3 3 Ari Sutiawan L
0506.01.00
12 75,00 Tuntas
4 4 Andri L
0506.01.00
13 81,25 Tuntas
5 5 Cucu Nurmalia P
0506.01.00
16 100,00 Tuntas
6 6 Detia Fitriani P
0506.01.00
12 75,00 Tuntas
7 7 Jang Akbar Pamungkas L
0506.01.00
12 75,00 Tuntas
8 8 Kasman L
0506.01.00
12 75,00 Tuntas
9 9 Moh. Iqbal Ibduloh L
0506.01.01
12 75,00 Tuntas
10 1 Mufti Abdurahman L
0506.01.01
15 93,75 Tuntas
11 2 Riskawati P
0506.01.01
12 75,00 Tuntas
12 3 Rudianto L
0506.01.01
12 75,00 Tuntas
13 4 Syamsul Mukarom L
0506.01.01
15 93,75 Tuntas
14 5 Sela Astiana P
0506.01.01
14 87,50 Tuntas
15 6 Ade Nursalam L
0506.01.01
14 87,50 Tuntas
16 9 Yoga Wijaya L
0607.02.03
14 87,50 Tuntas
17 7 Saepul Ilham L
0708.03.02
11 68,75 Tuntas
18 5 Sutisna L
0708.03.03
12 75,00 Tuntas
19 0 Dewi Novitasari P
JUMLAH SKOR 247 1543,75 19
RATA-RATA SKOR 13,00 81,25
SKOR TERTINGGI 16 100
SKOR TERENDAH 11 68,75
SKOR IDEAL 16 100
KKM 65
% KETUNTASAN BELAJAR 100 %

Berdasarkan data tabel di atas diketahui bahwa rata-rata nilai


hasil pembelajaran siklus II adalah 81,25 dengan nilai tertinggi 100
dan nilai terendah 68,75. Jika nilai tersebut dikomparasikan dengan
kriteria ketuntasan minimum (65,00), maka proses pembelajaran

42
kompetensi dasar ”menghitung volume prisma segitiga dan tabung
lingkaran” telah dianggap tuntas. Di samping itu, jumlah siswa yang
mencapai ketuntasan pada siklus II ini sebanyak 19 orang dengan
tingkat ketuntasan pembelajaran mencapai 100 % yang ternyata lebih
tinggi dari prasyarat ketuntasan klasikal sebesar 85 %. Oleh karena itu,
tidak diperlukan perlakuan pembelajaran pada siklus berikutnya.

Data grafik perolehan hasil pelajar dapat ditampilkan sebagai


berikut.

100 100
90
81,25
80
68,75
70
60
50
40
30
19
20
10
0
0
Nilai Rata- Nilai Nilai Jumlah Siswa
rata Tertinggi Terendah Siswa Belum
Tuntas Tuntas

Gambar 4.2 Grafik Perolehan Nilai Hasil Pembelajaran Siswa kelas VI


SDN Permana Utama Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura pada
Siklus II

B. Pembahasan

Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian yang


sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang sudah
direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pen-
dekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Menurut
Eggen dan Kauchak dalam Wardhani(2005), model pembelajaran adalah
pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang

43
untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab
guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembel-
ajaran. Salah satu tujuan dari penggunaan model pembelajaran adalah untuk
meningkatkan kemampuan siswa selama belajar. Dengan pemilihan metode,
strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran, diharapkan adanya perubahan
dari mengingat (memorizing) atau menghapal (rote learning) ke arah berpikir
(thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke
pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke
kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksi-
nya pengetahuan siswa (Setiawan, 2005).

Pembelajaran kontekstual atau CTL (Contextual Teaching and


Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang berusaha mengaitkan
ilmu pengetahuan dengan dunia nyata di sekitar kita. Penggunaan alat peraga
pada konsep-konsep abstrak prisma segitiga dan tabung lingkaran pada
faktanya dapat memperjelas konsep pembelajaran sehingga siswa dapat
dengan mudah memahaminya. Alat peraga pada konteks CTL merupakan
model ideal yang menghubungkan konsep keilmuan matematika yang abstrak
dengan pemikiran siswa yang didominasi oleh kemampuan berpikir secara
visual.

Oleh karena itu, penggunaan alat peraga sebagai bentuk pemodelan


pembelajaran kontekstual dalam kompetensi dasar ’menghitung volume
prisma segitiga dan tabung lingkaran’ dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa yang berakibat meningkatnya kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal-soal penghitungan volume prisma segitiga dan tabung
lingkaran.

Apabila dikomparasikan hasil pembelajaran siklus I dan siklus II, akan


dapat dilihat terjadinya peningkatan hasil belajar baik secara klasikal maupun
secara individual sebagaimana terlihat pada tabel berikut.

Tabel 4.3

44
Data perbandingan hasil pembelajaran siswa kelas VI SDN Permana
Utama Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura pada Siklus I
dan Siklus II
L Besar
Nilai Nilai
No NIS Nama Siswa / Pening-
Siklus I Siklus II
P katan
0506.01.00
62,50 75,00
1 1 Aris Munandar L 12,5
0506.01.00
62,50 75,00
2 2 Abdul Sopyan L 12,5
0506.01.00
87,50 93,75
3 3 Ari Sutiawan L 6,25
0506.01.00
50,00 75,00
4 4 Andri L 25
0506.01.00
68,75 81,25
5 5 Cucu Nurmalia P 12,5
0506.01.00
68,75 100,00
6 6 Detia Fitriani P 31,25
0506.01.00
56,25 75,00
7 7 Jang Akbar Pamungkas L 18,75
0506.01.00
56,25 75,00
8 8 Kasman L 18,75
0506.01.00
75,00 75,00
9 9 Moh. Iqbal Ibduloh L 0
0506.01.01
56,25 75,00
10 1 Mufti Abdurahman L 18,75
0506.01.01
75,00 93,75
11 2 Riskawati P 18,75
0506.01.01
62,50 75,00
12 3 Rudianto L 12,5
0506.01.01
50,00 75,00
13 4 Syamsul Mukarom L 25
0506.01.01
87,50 93,75
14 5 Sela Astiana P 6,25
0506.01.01
50,00 87,50
15 6 Ade Nursalam L 37,5
0506.01.01
68,75 87,50
16 9 Yoga Wijaya L 18,75
0607.02.03
75,00 87,50
17 7 Saepul Ilham L 12,5
0708.03.02
50,00 68,75
18 5 Sutisna L 18,75
0708.03.03
68,75 75,00
19 0 Dewi Novitasari P 6,25
JUMLAH SKOR 1231,25 1543,75 312,5
RATA-RATA SKOR 64,80 81,25 16,45
SKOR TERTINGGI 87,5 100 12,5
SKOR TERENDAH 50 68,75 18,75
SKOR IDEAL 100 100
KKM 65 65
% KETUNTASAN BELAJAR 47,37 % 100 % 56,63

45
Dari tabel di atas dapat dilihat peningkatan selalu terjadi pada setiap
individu siswa. Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran
kontekstual dengan memfokuskan pada penggunaan alat peraga sebagai
pemodelan pada kompetensi dasar ’menghitung volume prisma segitiga dan
tabung lingkaran’ dapat berhasil. Hal ini disebabkan karena dalam
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual disertai dengan penggunaan
media mirip aslinya berupa alat peraga bangun ruang prisma segitiga dan
selinder yang terbuat dari bahan karton. Bagi guru media ini dapat memper-
mudah dalam penyampaian materi pembelajaran dan bagi siswa dapat
meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam menelaah materi. Secara
tidak langsung siswa akan aktif berpikir dan berupaya mencari jawaban yang
sesuai untuk setiap permasalahan yang muncul, sehingga sistem pembelajaran
yang terjadi dapat menimbulkan ketertarikan atau minat dan motivasi pada
siswa. Dan juga siswa akan menggunakan pengalaman-pengalaman yang ia
temui di lingkungan sebagai media yang dapat mengantarkan siswa agar lebih
mudah memahami suatu permasalahan yang dimaksud. Hal ini sejalan dengan
pendapat Heinich, Molenda dan Russel dalam Prayitno (1998) yang menyata-
kan bahwa media pengajaran dalam membelajarkan dapat mengkonkritkan
ide-ide atau gagasan yang bersifat konseptual, sehingga mengurangi kesalah-
pahaman siswa dalam mempelajari dan memberikan pengalaman-pengalaman
yang nyata yang merangsang aktifitas diri sendiri untuk belajar. Dengan
keaktifan siswa ini akan meningkatkan motivasi pada siswa untuk belajar,
yang pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa manfaat


media pengajaran adalah menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu
terutama melalui media benda asli, selain itu media juga dapat memberikan
pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di
kalangan siswa. Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa
dalam pengajaran yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang
dicapai. Media benda asli berupa kerangka bangun ruang dan alat peraga
lainnya dalam penelitian ini bertujuan untuk membantu siswa dalam

46
memahami sesuatu yang abstrak dan sukar untuk menambah minat,
memperbanyak materi dan merangsang terjadinya perubahan kognitif.

Selain itu di dalam pembelajaran kontekstual siswa dibagi-bagi men-


jadi beberapa kelompok untuk mempermudahkan dalam kegiatan pengamatan
dan diskusi. Dalam hal ini, menurut Fajar (2002) guru dalam pembelajaran
berfungsi sebagai fasilitator (pemberi kemudahan dalam belajar) sehingga
guru harus dapat mengubah pola tindakan peran siswa dalam pembelajaran
dari konsumen gagasan (seperti menyalin, mendengar, menghafal) menjadi
peran produsen gagasan (seperti bertanya, menjawab, meneliti, mengemuka-
kan pendapat).

Melalui pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual,


materi tumbuhan biji yang sulit dan mungkin membosankan akan dapat lebih
mudah diterima siswa, karena pembelajaran menjadi lebih menarik disebabkan
di dalam pembelajarannya menggunakan suatu media yang bersifat langsung
dalam bentuk objek nyata (Ibrahim dan Syaodirh, 2000). Cara yang ditempuh
oleh guru dalam proses pembelajaran adalah dengan membawa objek nyata
tersebut ke dalam kelas dan membawa siswa keluar kelas untuk mengamati
benda-benda nyata yang serupa dengan bangun prisma segitiga (bangunan
atap sekolah) dan tabung lingkaran (drum minyak tanah). Dengan kegiatan
tersebut maka dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengalami
sendiri situasi yang sesungguhnya dan juga di dalam pembelajarannya siswa
dibagi dalam beberapa kelompok untuk mempermudahkan di dalam
pengamatan dan diskusi.

Pendekatan kontekstual dalam penelitian ini mempunyai kelebihan


karena berlangsung secara ilmiah dalam bentuk siswa mengalami atau meng-
amati sendiri, tidak hanya transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pendekat-
an kontekstual di dalam proses pembelajarannya memanfaatkan berbagai
sumber pembelajaran, setting belajar yang tidak selalu di dalam kelas dan
dapat memanfaatkan media apa saja untuk belajar.

47
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat memperkuat
ingatan siswa pada materi yang telah diberikan guru di kelas yang pada
akhirnya dapat menumbuhkan motivasi belajar yang tinggi pada siswa dan
pada akhirnya akan berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian


pembelajaran berjudul ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Menghitung
Volume Prisma Segi Tiga dan Tabung Lingkaran melalui Penggunaan Alat
Peraga pada Siswa Kelas VI SD Negeri Permana Utama, Kecamatan
Madukara, Kabupaten Astinapura semester 1 tahun pelajaran 2010-2011”
telah berhasil. Dengan demikian, hipotesis penelitian “melalui
penggunaan alat peraga prisma segitiga dan tabung lingkaran
satuan maka hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana
Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura dalam
kompetensi dasar menghitung volume prisma segitiga dan tabung
lingkaran dapat ditingkatkan” dapat diterima.

48
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pada dasarnya, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan


peningkatan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri Permana
Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura dalam
menghitung volume prisma segi tiga dan tabung lingkaran
dengan menggunakan alat peraga buatan sendiri berbentuk
prisma segitiga dan tabung lingkaran satuan melalui
pembelajaran kontekstual fokus pemodelan. Maka, berdasarkan
hasil analisis dan pembahasan atas data hasil penelitian diperoleh fakta
sebagai berikut.

1. Terjadi peningkatan prestasi pembelajaran dari siklus I yang


memperoleh rata-rata nilai sebesar 64,80 menjadi 81,25 pada siklus II
yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16,45.

2. Proses pembelajaran pada siklus I yang berlangsung kaku dan


canggung telah berkembang jauh lebih baik pada siklus II dan siswa
menyatakan lebih senang.

Berdasarkan fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran


kontekstual dengan fokus pemodelan melalui penggunaan alat peraga bangun
ruang ternyata efektif meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI SD Negeri

49
Permana Utama, Kecamatan Madukara, Kabupaten Astinapura semester I
tahun pelajaran 2010-2011 pada kompetensi dasar ”menghitung volume
prisma segitiga dan tabung lingkaran”.

B. Saran untuk Tindakan Lebih Lanjut

Saran-saran yang dapat disampaikan pada akhir laporan ini adalah


sebagai berikut.

1. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang dapat


mengait-kan konsep ilmu dengan kenyataan yang terdapat di sekitar siswa.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika pada kompetensi dasar
”menghitung volume prisma segitiga dan tabung lingkaran” sebaiknya
menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan memfokuskan
pada penggunaan alat peraga sebagai bentuk pemodelan.

2. Penggunaan alat peraga (media pembelajaran) dalam matematika


memiliki nilai strategis bagi peningkatan motivasi dan pemahaman belajar
siswa. Oleh karena itu, pengadaan alat peraga atau media pembelajaran ini
seharusnya menjadi perhatian yang sungguh-sungguh dari guru pengajar
sehingga konsep-konsep abstrak dalam matematika dapat menjadi konkret.

3. Pendekatan pembelajaran kontekstual dapat pula dicoba untuk


diterapkan pada kompetensi dasar lainnya sesuai dengan kebutuhan siswa
dan kebutuhan pembelajaran.

50
DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Mulyono, Kesulitan Belajar Matematika, Jakarta: Gramedia

Dady Permana dan Triyati. 2008. Bersahabat dengan Matematika untuk Kelas VI
Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual


Teaching and Learning). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi


Dasar Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah
Ibtidaiyah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan

Erman Amti. 1992. Diagnostik Kesulitan Belajar Anak. Jakarta: Gramedia.

Hollands Roy. 1991. Kamus Matematika. Erlangga. Jakarta

Kasijan, 1984. Dasar-dasar Proses Pembelajaran.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Lisnawati Simanjutak, 1999. Metode Mengajar Matematika I. Jakarta: Rineka


Cipta

Poerwadarminta, 1988. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Rustiyah NK. 1995. Masalah-Masalah Keguruan. Jakarta: Bumi Aksara

51
Sardiman, 1998. Motivasi dan Interaksi Belajar. Jakarta: Rajawali Pres

Suyitno Amin,dkk.2001. Matematika Sekolah 1. FMIPA UNNES. Semarang

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action
Research). Jakarta: Depdikbud. Dirjen Dikti P2GSM

Tim MKPBM, 2001. Struktur Pengajaran Matematika, Semarang.

UPI. 2001. Common Text Book Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,


Bandung: Jurusan MIPA UPI

Winarno Surahmad, 1981. Metodologi Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Winkel. 1998. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia

Widodo Supriyono, 1991. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta

Y.D Sumanto, Heny Kusumawati, Nur Aksin. 2008. Gemar Matematika 5: untuk
kelas VI SD/MI. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional.

52