BAB I Pendahuluan

Komunikasi amat esensial untuk pertumbuhan kepribadian

manusia. Ahli-ahli ilmu sosial telah berkali-kali mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan kepribadian (David, 1940; Wasserman, 1924). Komunikasi sangat erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman kesadaran manusia. Tidak mengherankan bahwa komunikasi selalu menarik perhatian peneliti dari para ahli psikologi. Dilihat dari sejarah perkembangannya komunikasi memang dibesarkan oleh para peneliti psikologi. Tiga diantara empat orang Bapak Ilmu Komunikasi yang disebut Wilbur Schramm adalah sarjana psikologi. Kurt Lewin adalah ahli psikologi dinamika kelompok. Paul Lazarsfeld, pendiri ilmu komunikasi lainnya, adalah seorang psikolog yang banyak dipengaruhi Sigmund Freud bapak psikoanalisis. Carl I. Hovland adalah seorang yang dididik dalam psikologi dan selama hidupnya memilih karir psikologi, yang definisi komunikasinya banyak dihafal mahasiswa komunikasi di Indonesia. Walaupun demikian, komunikasi bukan subdisiplin dari psikologi. Sebagai ilmu, komunikasi menembus banyak disiplin ilmu. Dance (1967) mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagai usaha menimbulkan respon melalui lambanglambang verbal, ketika lambing-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli. Raymond S. Ross mendefinisikan komunikasi sebagai, proses transaksional yang meliputi pemisahan dan pemilihan bersama lambing secara kognitif, sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya sendiri atau respon yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber.

1

Komunikasi mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda di antara tempat, sistem atau organisme. Kata komunikasi sendiri dipergunakan sebagai proses, sebagai pesan, sebagai pengaruh atau secara khusus sebagai pesan pasien dalam psikoterapi. Jadi komunikasi adalah penyampaian energi dari alat-alat indera ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, ada proses yang saling berpengaruh di antara berbagai sistem dalam diri organisme dan diantara organisme. Komunikasi antara dokter dan pasien merupakan salah satu kunci untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dalam dunia kedokteran.

2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kamus psikologi, Dictionary of Behavioral Science, menyebutkan enam pengertian komunikasi, antara lain: 1. Penyampaian perubahan energi dari satu tempat ke tempat yang lain seperti dalam sistem saraf atau penyampaian gelombanggelombang suara. 2. Penyampaian organisme. 3. Pesan yang disampaikan. 4. Teori komunikasi: proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan. 5. Menurut K. Lewin: pengaruh satu wilayah persona pada wilayah persona yang lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah lain. 6. Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi. atau penerimaan signal atau pesan oleh

Komunikasi adalah peristiwa sosial, peristiwa yang terjadi ketika manusia berinteraksi dengan manusia yang lain. Mencoba
3

menganalisa peristiwa sosial secara psikologis membawa kita kepada psikologi sosial dan apabila ditanyakan di mana letak psikologi komunikasi, cenderung meletakkannya sebagai bagian dari psikologi sosial. Oleh karena itu, pendekatan psikologi sosial adalah juga pendekatan psikologi komunikasi. Apabila kognitif antar individu (aspek saling berinteraksi dan dan saling proses

mempengaruhi, maka terjadilah proses belajar yang meliputi aspek dan afektif berpikir merasa), penyampaian dan penerimaan lambing-lambang komunikasi, dan mekanisme penyesuaian diri seperti sosialisasi, permainan peranan, identifikasi, proyeksi, agresi. Kepribadian terbentuk sepanjang hidup kita. Selama itu pula komunikasi menjadi penting untuk pertumbuhan pribadi kita. Melalui komunikasi kita menemukan diri kita, mengembangkan konsep diri dan menetapkan hubungan kita dengan dunia sekitar kita. Hubungan kita dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup kita. Apabila orang lain tidak memahami gagasan anda, bila pesan anda menjengkelkan mereka, bila anda tidak berhasil mengatasi masalah pelik karena orang lain menentang pendapat anda dan tidak mau membantu anda , bila anda selalu gagal untuk mendorong orang lain bertindak, anda adalah gagal dalam komunikasi, komunikasi anda tidak efektif. Menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (1974), tanda-tanda komunikasi yang efektif paling tidak menimbulkan lima hal: pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik dan tindakan. Pengertian artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud komunikator. Kegagalan menerima isi pesan dengan cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication).

4

Tidak

semua

komunikasi

ditujukan

untuk

menyampaikan

informasi dan membentuk pengertian. Kesenangan yang dimaksud disini adalah komunikasi ini dilakukan untuk mengupayakan agar orang lain merasa apa yang disebut analisis transaksional sebagai saya oke – kamu oke. Komunikasi ini lazim disebut komunikasi fatis, dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan. Komunikasi ini yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab dan menyenangkan. Contohnya: ketika kita mengucapkan “Selamat pagi, apa kabar?”. Paling sering kita melakukan komunikasi untuk mempengaruhi orang lain, contohnya: guru ingin mengajak muridnya lebih mencintai ilmu pengetahuan, pemasang iklan ingin merangsang selera konsumen dan mendesaknya untuk membeli. Semua ini adalah komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikate. Persuasi didefinisikan sebagai proses mempengaruhi pendapat, sikap dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendak sendiri. Komunikasi juga ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri, kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow (1980) menyebutnya kebutuhan akan cinta atau belongingness. William Schutz (1966) memerinci kebutuhan sosial ini ke dalam tiga hal, antara lain inclusion, control, affection. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control) dan cinta serta kasih saying (affection). Secara singkat, kita ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan, dan kita
5

ingin mencintai dan dicintai. Kebutuhan sosial ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif. Apabila orang gagal menumbuhkan hubungan interpersonal menurut Vance Packard (1974), ia akan menjadi agresif, senang berkhayal, sakit fisik dan mental, dan menderita “flight syndrome” (ingin melarikan diri dari lingkungannya). Apabila kegagalan untuk menimbulkan pengertian disebut kegagalan komunikasi primer, gangguan hubungan manusiawi yang timbul dari salah pengertian adalah kegagalan komunikasi sekunder (secondary breakdown). Diatas telah membicarakan persuasi sebagai komunikasi untuk mempengaruhi sikap. Persuasi juga ditujukan untuk melakukan tindakan yang dikehendaki. Komunikasi untuk menimbulkan pengertian memang sukar, tetapi lebih sukar lagi mempengaruhi sikap seseorang. Jauh lebih sukar lagi untuk mendorong orang bertindak, tetapi efektivitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan komunikate. Oleh karena itu, untuk menimbulkan tindakan kita harus berhasil terlebih dahulu untuk menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif dari seluruh proses komunikasi. Contoh: pemasang iklan sukses apabila orang membeli barang yang ditawarkan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Komunikasi yang tidak memadai pada dunia kedokteran Komunikasi terhadap pasien merupakan salah satu bagian integral pada aktifitas klinisi setiap hari. Ini merupakan salah satu

6

komponen kunci yang penting . Klinisi memegang peranan yang sangat penting dan tidak bisa didelegasikan kepada dokter lainnya. Miskomunikasi antara dokter dan pasien telah lama dikenal. Komunikasi yang buruk akan mengakibatkan pembuatan resep , kunjungan ke dokter, tes laborat yang tidak baik dan kadangkala meningkatnya morbiditas dan mortalits. Kualitas komunikasi juga merupakan penentu utama dan sering membuat komplain pasien terhadap pelayananan kesehatan. Studi tentang mal praktek meliputi 70 % kasus yang melibatkan masalah komunikasi (Beckman et al,1994). Kualitas pelayanan medis mempunyai hubungan yang tidak bermakna dengan masalah hukum.

3.2 Pengaruh Komunikasi yang baik Komunikasi yang buruk akan mengakibatkan hasil yang buruk terhadap pasien. Bukti empiris menunjukkan bahwa komunikasi yang baik akan memperbaiki beberapa hasil dalam bidang bidang kesehatan dan juga mengakibatkan hubungan yang baik antara dokter dan pasien. Komunikasi yang baik juga secara langsung memperbaiki parameter parameter fisik seperti profile tekanan darah yang baik, kontrol nyeri, mengurangi symptom dan memperbaiki keseluruhan kesehatan dan status fungsi organ organ tubuh. Keuntungan psikologi meliputi berkurangnya kecemasan dan kesehatan emosional yang lebih baik. ( stewart, 1995) Komunikasi yang baik juga memacu penggalian data yang lebih baik. Kualitas dan kuantitas data yang baik akan memperbaiki keakuratan diagnose. Keuntungan sosial dan komunikasi yang baik akan meningkatkan kepuasan pasien dan kepuasan dokter , mengurangi proses proses dipengadilan dan komplain terhadap klinisi. Untuk seseorang yang sedang dalam belajar tentang ilmu komunikasi, pengaruh yang menguntungkan tentang pembelajaran komunikasi yang baik ini akan menguntungkan mereka dalam seni berkomunikasi di kemudian hari.

3.3 Mengajarkan komunikasi dengan cara yang konvensional

7

Sayangnya, masih ada sedikit modul struktur instruksional dan sessi tentang keterampilan pembelajaran dalam dunia kedokteran. Kebanyakan siswa kedokteran dan dokter belajar dari hal yang didapat dari lingkungan yang informal dan tidak terstruktur. Serringkali aktifitas yang mereka lakukan bukanlah bertujun secara membahas tentang masalah komunikasi tetapi hanya menjadikan masalah komunikasi merupakan sesuatu yang bersifat melengkapi atau hanya suatu tambahan saja. Salah satu modalitas dari pengajaran keterampilan berkomunikasi adalah pengamatan tentang hal yang benar dan salah , tidak satupun yang berasal dari patokan pengajaran yang diharapkan. Kegagalan dari modalitas diatas bersumber dari berbagai factor. Pertama tama, pengajaran keterampilan berkomunikasi sebaiknya merupakan aktifitas pendidikan yang tersturktur yang harus didukung oleh strategi berbagai macam aktifitas struktur multi modalitas ( Kurtz 1998). Pengamatan atau pelajaran dari kegagalan kegagalan yang diakibatkan oleh komunikasi yang salah haruslah hanya bagian dari strategi ini. Yang kedua, komponen pengetahuan dari keterampilan berkomunikasi yang didapatkan dari keterampilan merupakan suatu hal yang kurang bermakna, tetapi semua patokan harus berasal dari keterampilan yang terstruktur. Ketiga, meskipun sesuatu hal yang didapat dari preceptor dan pelajar memberikan pembelajaran tenang role model, suatu study telah menunjukkan bahwa pembelajaran dengan jenis ini adalah proses yang lambat dan tidak efisien. Lebih jauh lagi, terdapat hal yang berbahaya yaitu tentang kemungkinan adanya tingkah laku dari si pemodel yang salah. Terakhir, model observasi yang pasif mengakibatkan tidak adanya kesempatan bagi pembelajar untuk mempraktekkan keterampilan yang dipelajari dan menerima umpan balik dari preceptor. Kebutuhan adanya modul formal yang terstruktur dengan baik dan formal pada keterampilan kemampuan berkomunikasi sekarang telah dikenal dengan baik dan dengan kuat telah dicanangkan oleh Asosiasi kampus medis, liaison komite pada pendidikan medis, dan general medical council united kingdom.

3.4 Komunikasi adalah keterampilan yang bisa dipelajari
8

Peningkatan realisasi pada pembelajaran dan pengajaran komunikasi adalah suatu keterampilan yang bisa diajarkan dan dipelajari. Hal ini menunjukkkan adanya suatu perubahan paradigma yang dulu merupakan pola pikir utama bahwa komunikator, representator adalah tingkah laku seseorang yang menetap. Komunikasi yang baik adalah suatu kualitas yang tidak terpisahkan dari seseorang dan oleh karena itu komunikator yang baik adalah dilahirkan bukan hasil dari pelatihan. Pengajaran tentang komunikasi haruslah tidak berdasar pada pengalaman oleh karena pengalaman merupakan guru yang buruk pada pembelajaran kemampuan berkomunikasi.` Tanpa adanya panduan dan refleksi, pengalaman nampaknya merupakan penguat dari pembelajaran komunikasi degan tidak melihat apakah ia baik atau buruk.

3.5 Strategi komunikasi

pendidikan

keterampilan

pengajaran

Pembelajaran dan pengajaran dari keterampilan komunikasi yang sukses melibatkan impelementasi yang terus menerus dari bebrapa strategi pendidikan ( Kurtz,1999). Beberapa intervensi edukasi nampaknya lebih mungkin bisa menjadi sukses bila berpedoman pada kurikulum utama daripada modul yang kaku dan cenderung terisolasi. Komponen pengetahuan pada pengajaran ketrampilan berkomunikasi memberikan pembelajar dengan teori esensial dan rangka kerja konseptual komunikasi. Ini akan membantu pembelajar mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan komunikasi yang buruk dan menunjukkan beberapa keuntungan keterampilan berkomunikasi yang memadai. Pengetahuan atau komponen kognitif patut mendapatkan perhatian yang lebih. Terdapat beberapa cara yang praktis untuk membangun ilmu yang dibutuhkan seperti adanya beberapa strategi instruksional sederhana, seperti tentang cara belajar mengajar dan perlengkapan materi bahan bacaan. Demonstrasi keterampilan berkomunikasi adalah hal yang penting sebagai panduan tingkah laku sikap komunikasi yang benar
9

terhadap pembelajar. Pembelajar juga mendapatkan keuntungan dengan mengamati dari hal yang diharapkan. Disamping itu pembelajar seharusnya bisa menunjukkan komunikasi konduktif yang baik, contoh contoh bahasa verbal yang direkomendasikan yang bisa dipergunakan dalam komunikasi, dan bahasa tubuh yang diharapkan. Contoh dari strategi instruksional adalah dari video tape dengan pasien yang sebenarnya atau suatu model studi. Simulasi dan latihan dari keterampilan spesifik pada lingkungan yang diharapkan adalah suatu hal yang diinginkan. Adalah hal yang tidak realistis bila mengharapkan pembelajar akan mendapatkan kemampuan yang benar dalam berkomunikasi segera setelah mereka melakukan observasi. Oleh karena itu, pembelajar harus mempraktekkannya dan mengulanginya dalam suatu situasi yang aman ( situasi pembelajaran) baik dalam role play atau yang berhubungan dengan simulasi terhadap pasien. Penaksiran diri dan refleksi merupakan komponen yang kuat dalam keterampilan berkomunikasi. Refleksi adalah suatu proses aktif dan perlu dilakukan dengan hati hati dimana pembelajar mengkritik dan mengidentifikasi terhadap kesalahan yang dibuat dalam berkomunikasi dan melakukan pengukuran pengukuran tentang hal mana yang perlu diperbaiki di masa mendatang. Pengajaran keterampilan berkomunikasi relatif sulit dan sering memberikan hal hal yang sensitive terhadap preceptor . Refleksi dan sugesti diri akan meminimalkan ‘rasa malu’ pembelajar dan meningkatkan perubahan untuk untuk menjadi sukses. Adanya role model pendukung mampu memberikan keterampilan komunikasi yang diharapkan diluar sessi pembelajaran. Sekolah medis dan rumah sakit bertindak sebagai ‘komunitas moral’ dan memberikan pengaruh yang signifikan pada pembelajar ( Sulmasy,2000). Budaya dan nilai moral yang melibatkan ciri hubungan dokter pasien yang ditransfer ke pelajar. Penaksiran merupakan kompoen yang penting dari pembelajaran dan keterampilan komunikasi yang kemungkinan memacu pentingnya kurikulum komunikasi diantara kurikulum medis kedokteran. dan Penaksiran tentang keterampilan berkomunikasi adalah sulit suatu seperangkat alat yang memadai masih belum
10

dipergunakan secara keterampilan ini.

luas

dalam

menunjukan

pendidikan

Keterampilan pengajaran dan pelatihan dari keterampilan berkomunikasi membutuhkan rencana pengembangan komprehensif fakultas untuk mendidik dan melatih mahasiswa tentang keterampilan komunikasi yang efektif.

Sebagai kesimpulan kita belajar bahwa:

Komunikasi yang baik antara pasien dan dokter akan memperbaiki hasil akhir yang diharapkan dan memberikan banyak keuntungan pada dokter. Komunikasi adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan bisa diajarkan. Pengamatan berdasarkan pengalaman adalah cara yang tidak efektif untuk mengajarkan keterampilan komunikasi Intervensi edukasi yang sukses membutuhkan strategi dengan banyak cabang yang melibatkan pembangunan karakter, demonstrasi, umpan balik, penaksiran diri, pengulangan pelatihan pada lingkungan pelatihan dan simulasi lingkungan.

11

BAB IV PENUTUP

Komunikasi ada dimana-mana, dirumah, ketika anggota keluarga berkumpul dan berbincang; di kampus, ketika mahasiswa saling bercengkrama mendiskusikan hasil ujian; di klinik, saat dokter berdiskusi dengan pasiennya; di kantor, ketika kepala seksi membagi tugas, dan lain sebagainya. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita gunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Dengan komunikasi kita membentuk saling pengertian menumbuhkan persahabatan, memlihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan melestarikan peradaban. Tetapi dengan komunikasi, kita juga dapat menyuburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanamkan kebencian, merintangi kemajuan, dan menghambat pemikiran. Begitu penting, begitu meluas, dan begitu akrab komunikasi dengan diri kita. Manusia bukan dibentuk dari lingkungannya tetapi oleh caranya menerjemahkan pesan-pesan lingkungan yang diterimanya. Wajah ramah seorang dokter akan menimbulkan kehangatan dan rasa nyaman bila diartikan oleh pasiennya sebagai rasa peduli. Hubungan komunikasi dengan orang lain menentukan kualitas hidup seseorang. Bila orang lain tidak memahami gagasan lawan
12

bicara nya, bila pesan dari seseorang menjengkelkan orang lain, dan apabila seseorang tidak berhasil mengatasi masalah pelik karena orang lain tidak mengerti maksudnya, bila semakin berkomunikasi, semakin jauh jarak dengan orang lain, dan bila selalu gagal mendorong orang lain bertindak, berarti komunikasi yang dilakukan gagal dan tidak efektif. Komunikasi yang efektif menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (1974 : 9-13) adalah komunikasi yang paling tidak menimbulkan 5 hal, yaitu : pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. Pengertian artinya, penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator. Menurut cerita, seorang pimpinan pasukan VOC bermaksud menghormati seorang pangeran Madura.Untuk itu, dipegangnya tangan sang permaisuri dan diciumnya. Sang pangeran marah. Ia mencabut kerisnya, menusuk Belanda itu dan terjadilah bertahun-tahun perang VOC dengan penduduk Madura. Kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication) merupakan kegagalan menerima isi oesan dengan cermat. Komunikasi ditujukan untuk membentuk dan menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow (1980 : 80-92) menyebutnya “kebutuhan akan cinta” atau “belongingness”. William Scuhtz (1966) merinci kebutuhan sosial ini kedalam tiga hal, yaitu inclusion, control, dan affection. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), dan cinta serta kasih sayang (affection). Indikator efektifitas komunikasi adalah timbulnya tindakan nyata. Karena untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil lebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.
13

DAFTAR PUSTAKA

1. Beckman HB, Makakis KM, Suchman AL, Frankel RM et al. The

doctor-Patient Relationship and Malpractice; Lessons from Plaintiff Depositions. Archives of Internal Medicine. 1994. 154:2365-7
2. Entman SS, Glass CA, Hickson GB, Githen PB, Whetten-

Goldstein K, and Sloan F. The Relationship between Malpractice Claims History and Subsequent Obstetric Care. JAMA. 1994. 272 (20): 1588-91
3. Kurtz S, Silverman J, and Draper J. Teaching and Learning

Communication Skills in Medicine. 1998. Radcliffe Medical Press. Oxon. UK
4. Kurtz S,Laidlaw T, Makoul G, and Schnabl G. Medical Education

Initiatieves in Communication Skill. Cancer Prevention and Control. 1999. 3(1): 37-45. Accessed through internet; Dalhousie Medical School. Web address :

14

www.medicine.dal.ca/medcomm/strategis/article.htm; accessed August 02
5. Makoul G, Arnston P, and Scofield T. Health Promotion in

Primary Care; Physician Patient Communication and Decision About Prescription Medications. Social Science Medicine. 1995. 41:1241-54
6. Levinson

W. Physician-Patient Communication A Key to Malpractice Prevention. JAMA. 1994. 272:1619-20 Community. Annals of Internal Medicine. 1994.120: 609-14

7. Reynold PP. Reaffirming Profesionalism Through the Education

8. Stewart MA.Effective Physician-Patient Communication and

Health Outcome: A Review.Canadian Medical association Journal. 1995. 152(9): 1423-33
9. Stewart M, Brown JB, Weston WW, Mc Whinney IR, Mc William

CL, and Freeman TR. Patient-Centered Medicine Transforming the Clinical Method. 1995. Sage Publications. Thousands Oak. CA. USA
10. Strafield B, Wray C, Hess K et al. The Influence of Patient

Practioners Agreement on the Outcome of Care. American Journal of Public Health. 1981.71 : 127-31
11. Sulmasy DP. Should Medical School be Schools for Virtue?

Journal of General Internal Medicine. 2000.15:514-6

15

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful