P. 1
Permen_No_13_2006

Permen_No_13_2006

|Views: 4|Likes:
Published by donie

More info:

Published by: donie on Jun 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2011

pdf

text

original

Sections

  • Pasal 2
  • Pasal 3
  • Pasal 4
  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 8
  • Pasal 9
  • Pasal 10
  • Pasal 11
  • Pasal 12
  • Pasal 13
  • Pasal 14
  • Pasal 15
  • Pasal 16
  • Pasal 17
  • Pasal 18
  • Pasal 19
  • Pasal 20
  • Pasal 21
  • Pasal 22
  • Pasal 23
  • Pasal 24
  • Pasal 25
  • Pasal 26
  • Pasal 27
  • Pasal 28
  • Pasal 29
  • Pasal 30
  • Pasal 31
  • Pasal 32
  • Pasal 33
  • Pasal 34
  • Pasal 35
  • Pasal 36
  • Pasal 37
  • Pasal 38
  • Pasal 39
  • Pasal 40
  • Pasal 41
  • Pasal 42
  • Pasal 43
  • Pasal 44
  • Pasal 45
  • Pasal 46
  • Pasal 47
  • Pasal 48
  • Pasal 49
  • Pasal 50
  • Pasal 51
  • Pasal 52
  • Pasal 53
  • Pasal 54
  • Pasal 55
  • Pasal 56
  • Pasal 57
  • Pasal 58
  • Pasal 59
  • Pasal 60
  • Pasal 61
  • Pasal 62
  • Pasal 63
  • Pasal 64
  • Pasal 65
  • Pasal 66
  • Pasal 67
  • Pasal 68
  • Pasal 69
  • Pasal 70
  • Pasal 71
  • Pasal 72
  • Pasal 73
  • Pasal 74
  • Pasal 75
  • Pasal 76
  • Pasal 77
  • Pasal 78
  • Pasal 79
  • Pasal 80
  • Pasal 81
  • Pasal 82
  • Pasal 83
  • Pasal 84
  • Pasal 85
  • Pasal 86
  • Pasal 87
  • Pasal 88
  • Pasal 89
  • Pasal 90
  • Pasal 91
  • Pasal 92
  • Pasal 93
  • Pasal 94
  • Pasal 95
  • Pasal 96
  • Pasal 97
  • Pasal 98
  • Pasal 99
  • Pasal 100
  • Pasal 101
  • Pasal 102
  • Pasal 103
  • Pasal 104
  • Pasal 105
  • Pasal 106
  • Pasal 107
  • Pasal 108
  • Pasal 109
  • Pasal 110
  • Pasal 111
  • Pasal 112
  • Pasal 113
  • Pasal 114
  • Pasal 115
  • Pasal 116
  • Pasal 117
  • Pasal 118
  • Pasal 119
  • Pasal 120
  • Pasal 121
  • Pasal 122
  • Pasal 123
  • Pasal 124
  • Pasal 125
  • Pasal 126
  • Pasal 127
  • Pasal 128
  • Pasal 129
  • Pasal 130
  • Pasal 131
  • Pasal 132
  • Pasal 133
  • Pasal 134
  • Pasal 135
  • Pasal 136
  • Pasal 137
  • Pasal 138
  • Pasal 139
  • Pasal 140
  • Pasal 141
  • Pasal 142
  • Pasal 143
  • Pasal 144
  • Pasal 145
  • Pasal 146
  • Pasal 147
  • Pasal 148
  • Pasal 149
  • Pasal 150
  • Pasal 151
  • Pasal 152
  • Pasal 153
  • Pasal 154
  • Pasal 155
  • Pasal 156
  • Pasal 157
  • Pasal 158
  • Pasal 159
  • Pasal 160
  • Pasal 161
  • Pasal 162
  • Pasal 163
  • Pasal 164
  • Pasal 165
  • Pasal 166
  • Pasal 167
  • Pasal 168
  • Pasal 169
  • Pasal 170
  • Pasal 171
  • Pasal 172
  • Pasal 173
  • Pasal 174
  • Pasal 175
  • Pasal 176
  • Pasal 177
  • Pasal 178
  • Pasal 179
  • Pasal 180
  • Pasal 181
  • Pasal 182
  • Pasal 183
  • Pasal 184
  • Pasal 185
  • Pasal 186
  • Pasal 187
  • Pasal 188
  • Pasal 189
  • Pasal 190
  • Pasal 191
  • Pasal 192
  • Pasal 193
  • Pasal 194
  • Pasal 195
  • Pasal 196
  • Pasal 197
  • Pasal 198
  • Pasal 199
  • Pasal 200
  • Pasal 201
  • Pasal 202
  • Pasal 203
  • Pasal 204
  • Pasal 205
  • Pasal 206
  • Pasal 207
  • Pasal 208
  • Pasal 209
  • Pasal 210
  • Pasal 211
  • Pasal 212
  • Pasal 213
  • Pasal 214
  • Pasal 215
  • Pasal 216
  • Pasal 217
  • Pasal 218
  • Pasal 220
  • Pasal 221
  • Pasal 222
  • Pasal 223
  • Pasal 224
  • Pasal 225
  • Pasal 226
  • Pasal 227
  • Pasal 228
  • Pasal 229
  • Pasal 230
  • Pasal 231
  • Pasal 232
  • Pasal 233
  • Pasal 234
  • Pasal 235
  • Pasal 236
  • Pasal 237
  • Pasal 238
  • Pasal 239
  • Pasal 240
  • Pasal 241
  • Pasal 242
  • Pasal 243
  • Pasal 244
  • Pasal 245
  • Pasal 246
  • Pasal 247
  • Pasal 248
  • Pasal 249
  • Pasal 250
  • Pasal 251
  • Pasal 252
  • Pasal 253
  • Pasal 254
  • Pasal 255
  • Pasal 256
  • Pasal 257
  • Pasal 258
  • Pasal 259
  • Pasal 260
  • Pasal 261
  • Pasal 262
  • Pasal 263
  • Pasal 264
  • Pasal 265
  • Pasal 266
  • Pasal 267
  • Pasal 268
  • Pasal 269
  • Pasal 270
  • Pasal 271
  • Pasal 272
  • Pasal 273
  • Pasal 274
  • Pasal 275
  • Pasal 276
  • Pasal 277
  • Pasal 278
  • Pasal 279
  • Pasal 280
  • Pasal 281
  • Pasal 282
  • Pasal 283
  • Pasal 284
  • Pasal 285
  • Pasal 286
  • Pasal 287
  • Pasal 288
  • Pasal 289
  • Pasal 290
  • Pasal 291
  • Pasal 292
  • Pasal 293
  • Pasal 294
  • Pasal 295
  • Pasal 296
  • Pasal 297
  • Pasal 298
  • Pasal 299
  • Pasal 300
  • Pasal 301
  • Pasal 302
  • Pasal 303
  • Pasal 304
  • Pasal 305
  • Pasal 306
  • Pasal 307
  • Pasal 308
  • Pasal 309
  • Pasal 310
  • Pasal 311
  • Pasal 312
  • Pasal 313
  • Pasal 314
  • Pasal 315
  • Pasal 316
  • Pasal 317
  • Pasal 318
  • Pasal 319
  • Pasal 320
  • Pasal 321
  • Pasal 322
  • Pasal 323
  • Pasal 324
  • Pasal 325
  • Pasal 326
  • Pasal 327
  • Pasal 328
  • Pasal 329
  • Pasal 330
  • Pasal 331
  • Pasal 332
  • Pasal 333
  • Pasal 334
  • Pasal 335
  • Pasal 336

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA, MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan Pasal 155 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Babas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4548); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

1

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

9.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran. Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540); Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502); Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503); Peraturan Pemerintah Nomor .54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576); Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577); Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

2

Presiden Nomor 88 Tahun 2003; 20. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri;

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. TENTANG PEDOMAN

BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, dan/atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 4. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 5. Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asalusul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah, termasuk Qanun yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) yang berlaku di Provinsi Papua.

6.

7.

3

adalah pejabat pemegang kewenangan 9. Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. 10. 17. 18. Kepala Daerah adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. 11. penatausahaan. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. membayarkan. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. menatausahakan. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. 14. 4 . Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan. menatausahakan. Organisasi adalah unsur pemerintahan daerah yang terdiri dari DPRD. Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat SKPKD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.8. Pengguna Barang penggunaan barang milik daerah. menyimpan. 19. selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. kepala SKPKD yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. kepala daerah/wakil kepala daerah dan satuan kerja perangkat daerah. pertanggungjawaban. 20. Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima. 13. 24. menyimpan. 23. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka 21. 16. 15. 22. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. menyetorkan. Kuasa Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD. pelaksanaan. pelaporan. 12. dan pengawasan keuangan daerah. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD.

Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. 35. 28. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD. 34. 27. dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. 31. Unit kerja adalah bagian dari SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. 37. belanja. 29. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 26. PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan. 33. 32. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan. 30. selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. 38. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan 5 . adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Kebijakan Umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan. dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. Prakiraan Maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. Prioritas dan Plafon Anggaran yang selanjutnya disingkat PPA adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD setelah disepakati dengan DPRD. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. 36. 25.pelaksanaan APBD pada SKPD.

Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 48. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. dana. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan dibidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. 41. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakar. 51. 6 . 46. Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi. 52. 40. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. 55. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SiLPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 47. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah.rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. 43. balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 42. 50. dan mensejahterakan masyarakat. 53. atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 54. 39. melayani. 44. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. 49. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. memberdayakan. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya balk yang berupa personil (sumber daya manusia). Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. 45.

63. perjanjian. 64. 69. 67. Anggaran Kas adalah dokumen perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar untuk mengatur ketersediaan dana yang cukup guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. atau berdasarkan sebab lainnya yang sah. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran Iangsung kepada pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja Iainnya 65. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. 62. 58. 60. Surat Penyediaan Dana yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. SPP Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-GU adalah dokumen yang diajukan oleh bendaharan pengeluaran untuk permintaan pengganti uang persediaan yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran Iangsung. 59. 7 . manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. 57. SPP Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-UP adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan uang muka kerja yang bersifat pengisian kembali (revolving) yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga . Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran. 68. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah. SPP Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPPTU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan tambahan uang persediaan guna melaksanakan kegiatan SKPD yang bersifat mendesak dan tidak dapat digunakan untuk pembayaran Iangsung dan uang persediaan.daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali. deviden. 66. 61.56. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPPA-SKPD adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. royalti.

77. penerima. Bagian Kedua Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup keuangan daerah meliputi: a. Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-TU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. 73. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga. dan waktu pembayaran tertentu yang dokumennya disiapkan oleh PPTK. Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPMGU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. e. 8 . 74. Kerugian Daerah adalah kekurangan uang. barang.dan pembayaran gaji dengan jumlah. c. 75. peruntukan. b. karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan Iainnya yang sah. surat berharga. dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum balk sengaja maupun !alai. Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. 70. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang. 76. dan 71. Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga. 72. penerimaan daerah. serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-UP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan. pengeluaran daerah. piutang. d. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman. termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah. Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM. surat berharga. 78.

dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan.f. penetapan APBD. efisien. kerugian daerah. azas umum dan struktur APBD. Keadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. dan manfaat untuk masyarakat. perubahan APBD. efektif. Efektif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan. Pasal 3 Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam peraturan menteri ini meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. dan pengelolaan keuangan BLUD. Manfaat untuk masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Taat pada peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. penyusunan dan penetapan APBD bagi daerah yang belum memiliki DPRD. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah. kepatutan. Ekonomis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. transparan. akuntansi keuangan daerah. pelaksanaan APBD. Secara tertib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan buktibukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. penatausahaan keuangan daerah. taat pada peraturan perundang-undangan. Bertanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Transparan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. penyusunan rancangan APBD. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 9 . Kepatutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. pengelolaan kas. Efisien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. ekonomis. yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Bagian Ketiga Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 (1) Keuangan daerah dikelola secara tertib.

penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah. g. (3) Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. dan h. (2) Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kewenangan: a. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. dan c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. kepala SKPKD selaku PPKD. Bagian Kedua Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 6 (1) Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf a berkaitan dengan peran clan fungsinya dalam membantu kepala daerah menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah. c. (2) Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran. d. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. b. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD.BAB II KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 5 (1) Kepala daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. 10 . menguji. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. f. (4) Pelimpahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. dan yang menerima atau mengeluarkan uang. b. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. e.

b. pengelolaan barang daerah; c. rancangan perubahan APBD; d.

penyusunan dan pelaksanaan kebijakan penyusunan rancangan APBD dan

penyusunan Raperda APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; e. tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan daerah; dan f. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. (3) Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekretaris daerah mempunyai tugas: a. memimpin TAPD; b. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD; c. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah; d. memberikan persetujuan pengesahan DPASKPD/DPPA-SKPD; dan e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. (4) Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala daerah.

Bagian Ketiga Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Pasal 7 (1) Kepala SKPKD selaku PPKD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf b mempunyai tugas: a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah; b. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD; c. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah; d. melaksanakan fungsi BUD; e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; dan f. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. (2) PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD berwenang: a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD; b. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD; c. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD; d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah; e. melaksanakan pemungutan pajak daerah; f. menetapkan SPD; g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah;

11

h. daerah; i. j.

melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan menyajikan informasi keuangan daerah; dan melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

(3) PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD. (4) PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pasal 8 (1) (2) Penunjukan kuasa BUD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai tugas: a. menyiapkan anggaran kas; b. menyiapkan SPD; c. menerbitkan SP2D; d. menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah; e. memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang ditunjuk; f. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD; g. menyimpan uang daerah; h. melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi daerah; i. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah; j. melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah; k. melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; dan I. melakukan penagihan piutang daerah.

(3) Kuasa BUD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada BUD. Pasal 9 PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya dilingkungan SKPKD untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut: a. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD; b. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD; c. melaksanakan pemungutan pajak daerah; d. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah; e. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; f. menyajikan informasi keuangan daerah; dan g. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

12

Bagian Keempat Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Pasal 10 Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf c mempunyai tugas: a. menyusun RKA-SKPD; b. menyusun DPA-SKPD; c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; h. menandatangani SPM; i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Bagian Kelima Pejabat Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang Pasal 11 (1) Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. Pelimpahan sebagian kewenangan sebagaimana tersebut pada ayat (1) berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. Pelimpahan sebagian kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD.

(2)

(3)

(4) Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/ pengguna barang.

13

mengendalikan pelaksanaan kegiatan. menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. d. f. dan c. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan. c. bendahara. (5) PPTK mempunyai tugas mencakup: a. (3) PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK. (3) PPTK yang ditunjuk oleh pejabat pengguna anggaran/pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. (4) PPTK yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. (2) Penunjukan pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya.Bagian Keenam Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD Pasal 12 (1) Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK. e. kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD. dan menyiapkan laporan keuangan SKPD. menyiapkan SPM. Bagian Kedelapan 14 . melakukan verifikasi SPP. dan/atau PPTK. anggaran kegiatan. Bagian Ketujuh Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD Pasal 13 (1) Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD. b. melaksanakan akuntansi SKPD. (2) PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah. beban kerja. b. g. melakukan verifikasi harian atas penerimaan. a. (6) Dokumen anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. lokasi. SPP-GU. meneliti kelengkapan SPP-UP.

serta membuka rekening/giro pos atau menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan Iainnya atas nama pribadi. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (2) (3) 15 .Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran Pasal 14 (1) Kepala daerah atas usul PPKD menetapkan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pada SKPD. BAB III AZAS UMUM DAN STRUKTUR APBD Bagian Pertama Azas Umum APBD Pasal 15 (1) (2) APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. dan stabilisasi. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/penjualan. Bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh bendahara penerimaan pembantu dan/atau bendahara pengeluaran pembantu. Fungsi perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. pengawasan. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat fungsional. Pasal 16 (1) Fungsi otorisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. APBD mempunyai fungsi otorisasi. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran balk secara langsung maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan. APBD. perubahan APBD. perencanaan. alokasi. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah. Penyusunan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman kepada RKPD dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. distribusi. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD.

Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan. belanja daerah. belanja dan pembiayaan daerah yang dianggarkan dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan. khususnya dalam pemberian pelayanan umum. Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengeluaran yang akan diterima kembali balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Penerimaan pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. dan pembiayaan daerah dianggarkan secara bruto dalam APBD. Fungsi distribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Pasal 19 (3) Dalam menyusun APBD. Seluruh pendapatan daerah. Pasal 18 (3) (1) (2) Pengeluaran daerah terdiri dari belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah. Fungsi stabilisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran pemerintah daerah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah. Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi. Pasal 20 (1) (2) Pendapatan. Pasal 17 (5) (6) (1) (2) Penerimaan daerah terdiri dari pendapatan daerah dan penerimaan pembiayaan daerah. 16 . penganggaran pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup.(4) Fungsi alokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja/ mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. Pasal 21 APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.

lain-lain pendapatan daerah yang sah. jenis. jenis. yang menambah ekuitas dana. belanja daerah. Pasal 23 (1) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah. dana perimbangan. (3) (2) (3) (2) (3) 17 . kelompok. dan c. b. (2) Struktur APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan c. obyek dan rincian obyek pendapatan. Klasifikasi APBD menurut urusan pemerintahan dan organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. organisasi. pendapatan asli daerah. obyek dan rincian obyek pembiayaan. jenis. Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud Pasal 22 ayat (1) huruf c meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf c dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. kelompok. kegiatan. Bagian Ketiga Pendapatan Daerah Pasal 25 Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a dikelompokan atas: a. pembiayaan daerah. b.Bagian Kedua Struktur APBD Pasal 22 (1) Struktur APBD merupakan satu kesatuan terdiri dari: a. Pasal 24 (1) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. kelompok. program. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. organisasi. obyek dan rincian obyek belanja. organisasi. pendapatan daerah. Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana.

(4) Jenis dana alokasi khusus dirinci menurut objek pendapatan menurut kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah. penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. fasilitas sosial dan fasilitas umum. d. dan b. m. b. retribusi daerah. (2) Jenis pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dirinci menurut obyek pendapatan sesuai dengan undangundang tentang pajak daerah dan retribusi daerah. b. bagi hasil bukan pajak. dana alokasi khusus. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN.Pasal 26 (1) Kelompok pendapatan asli daerah dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: a. c. pendapatan hasil eksekusi atas jaminan. j. penerimaan komisi. penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah. pendapatan denda pajak. Pasal 27 (1) Kelompok pendapatan dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: a. b. jasa giro. pendapatan denda retribusi. pendapatan bunga. bagi hasil pajak. dana alokasi umum. (2) Jenis dana bagi hasil dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup: a. disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah. 18 . dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a. pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. (3) Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a. pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. I. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. e. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. h. k. (4) Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. dan c. dan n. dana bagi hasil. potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. g. i. retribusi daerah. b. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. pendapatan dari pengembalian. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD. c. (3) Jenis dana alokasi umum hanya terdiri atas objek pendapatan dana alokasi umum. lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. f. dan d. pajak daerah. pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan. dan c.

d. hibah berasal dari pemerintah. dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah. lain-lain pendapatan asli daerah yang sah yang ditransfer langsung ke kas daerah. potongan. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan dan hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan yang dibawah penguasaan pengguna anggaran/pengguna barang dianggarkan pada SKPD. keuntungan selisih nilai tukar rupiah. b. pendidikan. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diwujudkan melalui prestasi kerja dalam pencapaian standar pelayanan minimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Pasal 28 Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup: a. balk dalam bentuk devisa. Retribusi daerah. kelompok masyarakat/perorangan. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah dianggarkan pada SKPKD. dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat bencana slam. rupiah maupun barang dan/atau jasa. dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota. Bagian Keempat Belanja Daerah Pasal 31 (1) Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib. dan e. pemerintah. c. badan/lembaga asing. Pasal 29 Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a adalah penerimaan daerah yang berasal dari pemerintah negara asing. urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. pemerintah daerah lainnya. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. kesehatan. pendapatan dari penyelanggaraan pendidikan dan pelatihan. Pasal 30 (1) Pajak daerah. badan/lembaga/ organisasi swasta dalam negeri. bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya. badan/lembaga dalam negeri atau perorangan. (2) Belanja penyelenggaraan urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. komisi. (2) (3) 19 . fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. badan/lembaga internasional. dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat.

kependudukan dan catatan sipil. kebudayaan. e. sosial. perindustrian. Pasal 33 Klasifikasi belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. (2) (3) Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. pemberdayaan masyarakat dan desa. f. d. tenaga kerja. 20 . g. ketertiban dan ketentraman. pekerjaan umum. i. ekonomi. c. u. perhubungan. e. pelayanan umum. arsip. c. penataan ruang. pertanahan. d. Klasifikasi belanja menurut urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. w. v. pariwisata. q. kelautan dan perikanan. m. kesehatan. pendidikan. s. c. b. b. dan h. penanaman modal. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. e. kehutanan. koperasi dan usaha kecil dan menengah. h. n. perencanaan pembangunan. kepegawaian. perdagangan. r. perumahan dan fasilitas umum. p. o. x. pertanian. dan y. (4) Belanja menurut urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan yang dikiasifikasikan menurut urusan wajib dan urusan pilihan. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. perumahan rakyat. komunikasi dan informatika. transmigrasi. statistik. t. g. f. pemberdayaan perempuan. d. I. k. lingkungan hidup. lingkungan hidup. b.Pasal 32 (1) Klasifikasi belanja menurut urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) terdiri dari belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan. j. pemuda dan olah raga. pemerintahan umum. energi dan sumber daya mineral.

belanja tidak langsung. Pasal 36 (1) Belanja menurut kelompok belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) terdiri dari: a. (2) Kelompok belanja tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Paragraf 1 Belanja Tidak Langsung Pasal 37 Kelompok belanja tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. belanja bagi basil. subsidi. pariwisata dan budaya. Pasal 35 Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. belanja pegawai. belanja tidak terduga. (2) Uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan 21 . dan perlindungan sosial. Pasal 34 Klasifikasi belanja menurut organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) disesuaikan dengan susunan organisasi pada masing-masing pemerintah daerah. bantuan keuangan. g. dalam bentuk gaji dan tunjangan. d. i. g. f. bunga.f. belanja langsung. h. (3) Kelompok belanja langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. b. hibah. bantuan sosial. dan h. kesehatan. c. pendidikan. Pasal 38 (1) Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf a merupakan belanja kompensasi. e. dan b. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Kriteria peraturan kepala daerah. Tambahan penghasilan berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya dinilai mempunyai prestasi kerja.dianggarkan dalam belanja pegawai. Perusahaan/lembaga tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perusahaan/lembaga yang menghasilkan produk atau jasa pelayanan umum masyarakat. Tambahan penghasilan berdasarkan kondisi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada pada lingkungan kerja yang memiliki resiko tinggi. Tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada di daerah memiliki tingkat kesulitan tinggi dan daerah terpencil. Perusahaan/lembaga penerima belanja subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus terlebih dahulu dilakukan audit sesuai dengan ketentuan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Pasal 39 (1) Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. pemberian tambahan penghasilan ditetapkan dengan (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pasal 40 Belanja bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf b digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. Tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam rangka peningkatan kesejahteraan pegawai berdasarkan beban kerja atau tempat bertugas atau kondisi kerja atau kelangkaan profesi atau prestasi kerja. Tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dibebani pekerjaan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinilai melampaui beban kerja normal. penerima subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan (2) (3) (4) 22 . dan jangka panjang. jangka menengah. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Tambahan penghasilan berdasarkan kelangkaan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam mengemban tugas memiliki ketrampilan khusus dan langka. Pasal 41 (1) Belanja subsidi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf c digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

badan/lembaga/organisasi swasta dan/atau kelompok masyarakat/perorangan dikelola dengan mekanisme APBD sesuai dengan peraturan perundang-undangan.laporan pertanggungjawaban penggunaan dana subsidi kepada kepala daerah. Pemberian hibah dalam bentuk uang atau dalam bentuk barang atau jasa dapat diberikan kepada pemerintah daerah tertentu sepanjang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (2) (3) Hibah kepada perusahan daerah bertujuan untuk menunjang peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pemberian hibah dalam bentuk jasa dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan wajib guna memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. serta hibah kepada pemerintah daerah Iainnya dan kepada perusahaan daerah. Pemberian hibah dalam bentuk uang dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan wajib guna memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Pasal 44 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 bersifat bantuan yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus dan harus digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam naskah perjanjian hibah daerah. (5) Belanja subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan sesuai dengan keperluan perusahaan/lembaga penerima subsidi dalam peraturan daerah tentang APBD yang peraturan pelaksanaannya lebih lanjut dituangkan dalam peraturan kepala daerah. barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya. Belanja hibah kepada pemerintah dikelola sesuai dengan mekanisme APBN. Hibah kepada pemerintah daerah Iainnya bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan layanan dasar umum. Pasal 43 (1) Hibah kepada pemerintah bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah. Pasal 42 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf d digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. Pemberian hibah dalam bentuk barang dapat dilakukan apabila barang tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis bagi pemerintah daerah yang bersangkutan tetapi bermanfaat bagi pemerintah atau pemerintah daerah lainnya dan/atau kelompok masyarakat/perorangan. dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. Pasal 45 (2) (3) (4) (5) (4) (2) 23 . Hibah kepada badan/lembaga/organisasi swasta dan/atau kelompok masyarakat/ perorangan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam penyelenggaraan pembangunan daerah.

(2) (3) Untuk memenuhi fungsi APBD sebagai instrumen keadilan dan pemerataan dalam upaya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Pemberi bantuan bersifat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mensyaratkan penyediaan dana pendamping dalam APBD atau anggaran pendapatan dan belanja desa penerima bantuan. (4) Bantuan kepada partai politik diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam bantuan sosial. ketentraman dan ketertiban masyarakat di daerah. Pasal 47 (1) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam. pemerintah desa.Pasal 37 huruf g digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota.(1) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tidak secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran. bantuan dalam bentuk uang dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seiuruh kebutuhan belanja urusan wajib guna terpenuhinya standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahuntahun sebelumnya yang telah ditutup. Pasal 48 (1) Belanja tidak terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf h merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya. Bantuan keuangan yang bersifat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan dan pengelolaannya diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi bantuan. dan kepada pemerintah daerah Iainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah Iainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan. Bantuan keuangan yang bersifat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan dan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah/pemerintah desa penerima bantuan. selektif dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya. Pasal 46 Belanja bagi hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf f digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah Iainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. (2) Kegiatan yang bersifat tidak biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu untuk tanggap darurat dalam rangka pencegahan gangguan terhadap stabilitas penyelenggaraan pemerintahan demi terciptanya keamanan. (3) Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didukung dengan buktibukti yang (2) (3) (4) 24 .

huruf e. (2) Belanja bunga. sewa sarana mobilitas.sah. perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai. pakaian dinas dan atributnya. belanja bantuan keuangan. huruf d. huruf c. (2) Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup belanja barang pakai habis. dan aset tetap lainnya. Paragraf 2 Belanja Langsung Pasal 50 Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. pakaian kerja. peralatan dan mesin. dan c. belanja hibah. pakaian khusus dan hari-hari tertentu. bahan/material. Belanja honorarium panitia pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset yang dianggarkan pada belanja modal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggarkan pada belanja pegawai (2) (3) 25 . belanja barang dan jasa. dan huruf h hanya dapat dianggarkan pada belanja SKPKD. gedung dan bangunan. belanja subsidi. sewa rumah/gedung/gudang/parkir. belanja bagi hasil. premi asuransi. Pasal 51 Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. cetak/penggandaan. makanan dan minuman. sewa alat berat. irigasi dan jaringan. perjalanan dinas. Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dianggarkan dalam belanja modal hanya sebesar harga beli/bangun aset. b. sewa perlengkapan dan peralatan kantor. Pasal 52 (1) Belanja barang dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf b digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. belanja pegawai. seperti dalam bentuk tanah. perawatan kendaraan bermotor. Pasal 53 (1) Belanja modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan. jalan. huruf f. Pasal 49 (1) Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf a dianggarkan pada belanja organisasi berkenaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. belanja modal. huruf g. jasa kantor. belanja bantuan sosial. dan belanja tidak terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf b.

hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.dan/atau belanja barang dan jasa. dan penerimaan kembali pemberian pinjaman atau penerimaan piutang. Pasal 58 Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berkenaan. serta belanja modal untuk melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah dianggarkan pada belanja SKPD berkenaan. Batas maksimal defisit APBD untuk setiap tahun anggaran berpedoman pada penetapan batas maksimal defisit APBD oleh Menteri Keuangan. Pasal 56 (1) (2) Surplus APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 terjadi apabila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih besar dari anggaran belanja daerah. penyertaan modal (investasi) daerah. Pasal 54 Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. Dalam hal APBD diperkirakan defisit. Bagian Kelima Surplus/(Defisit) APBD Pasal 55 Selisih antara anggaran pendapatan daerah dengan mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit APBD. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). belanja barang dan jasa. Pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diwujudkan dalam bentuk program dan kegiatan pelayanan dasar masyarakat yang dianggarkan pada SKPD yang secara fungsional terkait dengan tugasnya melaksanakan program dan kegiatan tersebut. dapat dilakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. Bagian Keenam Pembiayaan Daerah Pasal 59 anggaran belanja daerah (3) (2) (3) (1) (2) 26 . ditetapkan pembiayaan untuk menutup defisit tersebut yang diantaranya dapat bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya. pencairan dana cadangan. penerimaan pinjaman. Pasal 57 (1) Defisit anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 terjadi apabila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih kecil dari anggaran belanja daerah. Dalam hal APBD diperkirakan surplus. pemberian pinjaman kepada pemerintah pusat/pemerintah daerah lain dan/atau pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial. diutamakan untuk pembayaran pokok utang.

dan d. kewajiban kepada fihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan. pencairan dana cadangan. dan Pembiayaan neto merupakan selisih antara penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran pembiayaan. Paragraf 2 Dana Cadangan Pasal 63 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran. b. penerimaan pinjaman daerah. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA). Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan daerah. c. sumber dana cadangan. besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan dan ditransfer ke rekening dana cadangan. dan f. Jumlah pembiayaan neto harus dapat menutup (2) (3) 27 . d. (2) Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 mencakup: a. penerimaan piutang daerah. pembayaran pokok utang. dan sisa dana kegiatan lanjutan. peneemaan modal (investasi) pemerintah daerah. pelampauan penerimaan dana perimbangan.Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf c terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. penerimaan kembali pemberian pinjaman. penghematan belanja. pelampauan penerimaan pembiayaan. pembentukan dana cadangan. Peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup penetapan tujuan pembentukan dana cadangan. pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah. e. Pasal 61 (1) (2) defisit anggaran. Pasal 60 (1) Penerimaan pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 mencakup: a. b. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. Paragraf 1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) Pasal 62 Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf a mencakup pelampauan penerimaan PAD. c. program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan. pemberian pinjaman daerah.

Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bersumber dari penyisihan atas penerimaan daerah. Paragraf 3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Pasal 66 Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf c digunakan antara lain untuk menganggarkan hasil penjualan perusahaan milik daerah/BUMD dan penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga. atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah. Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada rekening tersendiri. Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan dalam portofolio dicantumkan sebagai penambah dana cadangan berkenaan dalam daftar dana cadangan pada lampiran rancangan peraturan daerah tentang APBD.tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan. kecuali dari dana alokasi khusus. pinjaman daerah dan penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan. (4) Rancangan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibahas bersamaan dengan pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD. (5) (6) (7) (8) (9) (2) Paragraf 4 Penerimaan Pinjaman Daerah Pasal 67 28 . Pasal 64 (1) Pencairan dana cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf b digunakan untuk menganggarkan pencairan dana cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum daerah dalam tahun anggaran berkenaan. Jumlah yang dianggarkan tersebut pada ayat (1) yaitu sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan berkenaan. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh kepala daerah bersamaan dengan penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD. Pasal 65 Penggunaan atas dana cadangan yang dicairkan dari rekekning dana cadangan ke rekening kas umum daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1) dianggarkan dalam belanja langsung SKPD pengguna dana cadangan berkenaan. Pembentukan dana cadangan dianggarkan pada pengeluaran pembiayaan dalam tahun anggaran yang berkenaan. kecuali diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan.

misalnya pembelian surat berharga untuk menambah kepemilikan modal saham pada suatu badan usaha. pembelian surat utang negara (SUN). lembaga keuangan bank. surat berharga yang dibeli pemerintah daerah untuk tujuan menjaga hubungan balk dalam dan luar negeri. Paragraf 7 Investasi Pemerintah Daerah Pasal 70 Investasi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf b digunakan untuk menganggarkan kekayaan pemerintah daerah yang diinvestasikan balk dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Investasi jangka panjang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) antara lain surat berharga yang dibeli pemerintah daerah dalam rangka mengendalikan suatu badan usaha. ditujukan dalam rangka manajemen kas dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari 12 (duabelas) bulan. seperti berupa penerimaan piutang daerah dari pendapatan daerah. pemerintah. surat berharga yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam memenuhi kebutuhan kas jangka pendek. (2) (3) (4) 29 . Investasi jangka panjang merupakan investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (duabelas) bulan yang terdiri dari investasi permanen dan non permanen. Paragraf 5 Pemberian Pinjaman daerah dan Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Pasal 68 (1) Pemberian pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf d digunakan untuk menganggarkan pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya. Paragraf 6 Penerimaan Piutang Daerah Pasal 69 Penerimaan piutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf f digunakan untuk menganggarkan penerimaan yang bersumber dari pelunasan piutang fihak ketiga. lembaga keuangan bukan bank dan penerimaan piutang lainnya. Investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup deposito berjangka waktu 3 (tiga) bulan sampai dengan 12 (duabelas) bulan yang dapat diperpanjang secara otomatis. (2) Penerimaan kembali pemberian pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf e digunakan untuk menganggarkan posisi penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya.Penerimaan pinjaman daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf d digunakan untuk menganggarkan penerimaan pinjaman daerah termasuk penerimaan atas penerbitan obligasi daerah yang akan direalisasikan pada tahun anggaran berkenaan. pemerintah daerah lain. sertifikat bank Indonesia (SBI) dan surat perbendaharaan negara (SPN). Pasal 71 (1) Investasi jangka pendek merupakan investasi yang dapat segera diperjualbelikan/dicairkan.

seperti pembelian obligasi atau surat utang jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan tanggal jatuh tempo. dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan. Investasi non permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bertujuan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk diperjualbelikan atau ditarik kembali. pembentukan dana secara bergulir kepada kelompok masyarakat. Paragraf 8 Pembayaran Pokok Utang Pasal 74 (2) Pembayaran pokok utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf c digunakan untuk menganggarkan pembayaran kewajiban atas pokok utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. Pasal 73 (3) (4) (1) Investasi daerah jangka pendek dalam bentuk deposito pada bank umum dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan pada jenis penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. dana yang disisihkan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan/pemberdayaan masyarakat seperti bantuan modal kerja. seperti kerjasama daerah dengan pihak ketiga dalam bentuk penggunausahaan/pemanfaatan aset daerah.(5) Investasi permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bertujuan untuk dimiliki secara berkelanjutan tanpa ada niat untuk diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali. Pendapatan bunga atas deposito sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan dalam kelompok pendapatan asli daerah pada jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Penerimaan hasil atas investasi pemerintah daerah dianggarkan dalam kelompok pendapatan asli daerah pada jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pasal 72 (1) Investasi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf b. (6) (7) (2) Divestasi pemerintah daerah dianggarkan dalam penerimaan pembiayaan pada jenis hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. penyertaan modal daerah pada BUMD dan/atau badan usaha lainnya dan investasi permanen lainnya yang dimiliki pemerintah daerah untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Divestasi pemerintah daerah yang dialihkan untuk diinvestasikan kembali dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan pada jenis penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. Investasi pemerintah daerah dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri. jangka menengah. dan jangka panjang. pemberian fasilitas pendanaan kepada usaha mikro dan menengah. 30 .

dan kode akun pembiayaan. (10) Kode rekening pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) tercantum dalam Lampiran A. kode organisasi. kode obyek dan kode rincian obyek. kode kelompok. obyek serta rincian obyek yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode program. kode program. kode akun belanja. kode jenis. daftar program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) secara berkala akan disempurnakan sesuai dengan perkembangan kebutuhan daerah. (9) Dalam rangka sinkronisasi program dan kegiatan pemerintah dengan pemerintah daerah. Setiap program. Untuk tertib penganggaran kode sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Kode akun pendapatan. kode akun belanja.VII peraturan menteri ini. (5) Kode dan klasifikasi fungsi tercantum dalam Lampiran A. kode jenis. (11) Untuk memenuhi kebutuhan objektif dan karakteristik daerah serta keselarasan penyusunan statistik keuangan negara.II peraturan menteri ini. kegiatan. Kode pendapatan. Pasal 77 (1) Kode dan klasifikasi urusan pemerintahan daerah dan organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. dan kode rincian obyek.V peraturan menteri ini. kode obyek. (7) Kode dan daftar program dan kegiatan menurut urusan pemerintahan daerah tercantum dalam Lampiran A. kode belanja dan kode pembiayaan yang digunakan dalam penganggaran menggunakan kode akun pendapatan. perubahan dan penambahan kode rekening (2) (3) (4) 31 . (3) Kode rekening pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) untuk provinsi tercantum dalam Lampiran A. kode kegiatan. Pasal 76 Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan daerah. kode akun. (6) Kode dan klasifikasi belanja daerah menurut fungsi untuk keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 tercantum dalam Lampiran A.Bagian Ketujuh Kode Rekening Penganggaran Pasal 75 (1) Setiap urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode urusan pemerintahan daerah dan kode organisasi.I peraturan menteri ini.IX peraturan menteri ini.III peraturan menteri ini. kode kelompok. (8) Kode rekening belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. kode kegiatan.IV peraturan menteri ini.VIII peraturan menteri ini. kelompok. dan kode akun pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (3) merupakan bagian susunan kode akun keuangan daerah yang tercantum dalam Lampiran A. ayat (2) dan ayat (3) dihimpun menjadi satu kesatuan kode anggaran yang disebut kode rekening.VI peraturan menteri ini. jenis. (4) Kode rekening pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) untuk kabupaten/kota tercantum dalam Lampiran A.

pemerintah daerah menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari RP3MD dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah. didanai dari dan atas beban APBD provinsi. pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.rincian objek belanja dapat diatur Iebih lanjut dengan peraturan kepala daerah setelah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri. Pasal 80 Anggaran belanja daerah diprioritaskan untuk melaksanakan kewajiban pemerintahan daerah sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi yang penugasannya dilimpahkan kepada kabupaten/kota dan/atau desa. Penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD harus memiliki dasar hukum penganggaran. didanai dari dan atas beban APBD kabupaten/kota. (4) Pasal 79 (1) Seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah balk dalam bentuk uang. barang dan/atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan harus dianggarkan dalam APBD. RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Bagian Kedua Rencana Kerja Pemerintahan Daerah Pasal 81 (1) Untuk menyusun APBD. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban APBN. rencana kerja yang terukur dan pendanaannya. Penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang penugasannya dilimpahkan kepada desa. Kewajiban daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal yang (2) (2) (3) 32 . prioritas pembangunan dan kewajiban daerah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah. BAB IV PENYUSUNAN RANCANGAN APBD Bagian Pertama Azas Umum Pasal 78 (1) (2) (3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban APBD.

paling lambat pada awal bulan Juni. pelaksanaan. Pasal 82 (1) (2) (3) (4) RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. teknis penyusunan APBD. Pasal 84 (1) Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah. dan pengawasan. Bagian Ketiga Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Paragraf 1 Kebijakan Umum APBD Pasal 83 (1) (2) Kepala daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun. hal-hal khusus lainnya. Rancangan KUA yang telah disusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pedoman penyusunan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat antara lain: a. Pasal 85 (1) (2) Dalam menyusun rancangan KUA sebagaimana dimaksud Pasal 83 ayat (1). dan d. b. kepala daerah dibantu oleh TAPD yang dipimpin oleh sekretaris daerah. penganggaran. Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran berkenaan. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah daerah. Tata cara penyusunan RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala daerah. sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. 33 . (1) (2) (3) Asumsi yang mendasari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yakni mempertimbangkan perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah. Program-program sebagaimana dimaksud pada ayat diselaraskan dengan prioritas pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah.ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. alokasi belanja daerah. RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.

(4) Format nota kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani nota kepakatan KUA dan PPA. Pasal 88 (1) KUA serta PPA yang telah disepakati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (3) dan Pasal 87 ayat (5). Format PPAS tercantum dalam Lampiran A. masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD. Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. (2) Dalam hal kepala daerah berhalangan. dan c. Rancangan KUA yang telah dibahas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) selanjutnya disepakati menjadi KUA paling lambat minggu pertama bulan Juli tahun anggaran berjalan. Kepala daerah menyampaikan rancangan PPAS yang telah disusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada DPRD untuk dibahas paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan.Pasal 86 (1) Rancangan KUA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran bedalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya. (3) Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan. penandatanganan nota kepakatan KUA dan PPA dilakukan oleh penjabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang. b. menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program.XI peraturan menteri ini.X peraturan menteri ini. Rancangan PPAS yang telah dibahas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) selanjutnya disepakati menjadi PPA paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. menentukan urutan program untuk masing-masing urusan. Rancangan PPAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD.XII peraturan menteri ini. (2) (3) (3) (4) (5) (6) 34 . Paragraf 2 Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Pasal 87 (1) (2) Berdasarkan KUA yang telah disepakati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (3). pemerintah daerah menyusun rancangan PPAS. (4) Format KUA tercantum dalam Lampiran A.

dan e. c. (4) Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud 35 . Pasal 91 (1) Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) dilaksanakan dengan menyusun prakiraan maju. . Bagian Kelima Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Pasal 90 (1) Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (3). (2) RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. batas waktu penyampaian RKA-SKPD d. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. kepada PPKD. untuk setiap b. (3) Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKASKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. efektifitas. format RKA-SKPD. dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. (2) Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup : a. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKASKPD sebagai acuan kepala SKPD dalam menyusun RKA-SKPD. (3) Pendekatan penganggaran terpadu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) dilakukan dengan memadukan seluruh proses perencanaan dan penganggaran pendapatan. belanja. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi. kode rekening APBD. analisis standar belanja dan standar satuan harga. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA.Bagian Keempat Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Pasal 89 (1) Berdasarkan nota kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1). kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. PPA. (2) Prakiraan maju sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. tranparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja. PPA yang dialokasikan program SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan.

kebutuhan dananya harus dianggarkan pada tahun yang direncanakan. (3) Capaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang berwujud kualitas. Pasal 95 (1) Rencana pendapatan sebagaimana dimaksud (2) 36 . RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan daerah. efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan. dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. standar biaya. kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. Pasal 94 (1) RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) memuat rencana pendapatan. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan menilai program dan kegiatan yang belum dapat dilaksanakan dan/atau belum diselesaikan tahun-tahun sebelumnya untuk dilaksanakan dan/atau diselesaikan pada tahun yang direncanakan atau 1 (satu) tahun berikutnya dari tahun yang direncanakan. kuantitas. (2) Indikator kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan kegiatan yang direncanakan. serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian objek pendapatan. dan standar pelayanan minimal. (3) Dalam hal suatu program dan kegiatan merupakan tahun terakhir untuk pencapaian prestasi kerja yang ditetapkan. (6) Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah. capaian atau target kinerja. (5) Standar satuan harga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku disuatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. belanja. analisis standar belanja. organisasi. (4) Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. Pasal 92 (1) Untuk terlaksananya penyusunan RKA-SKPD berdasarkan pendekatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) dan terciptanya kesinambungan RKASKPD. prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. Pasal 93 (1) Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada indikator kinerja.dalam Pasal 90 ayat (2) dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. standar satuan harga. rencana belanja untuk masing-masing program dan kegiatan.

yang dipungut/dikelola/ diterima oleh SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. belanja bagi hasil. Target kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (7) merupakan hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Urusan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) memuat bidang urusan pemerintahan daerah yang dikelola sesuai dengan tugas pokok dan fungsi organisasi. belanja hibah. Prestasi kerja yang hendak dicapai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) terdiri dari indikator. belanja subsidi. tolok ukur kinerja dan target kinerja. 37 . Pasal 96 (1) (2) Indikator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (7) meliputi masukan. Rencana belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (1) memuat kelompok belanja tidak langsung dan belanja langsung yang masing-masing diuraikan menurut jenis. Organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) memuat nama organisasi atau nama SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah peraturan daerah. Rencana pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (1) memuat kelompok penerimaan pembiayaan yang dapat digunakan untuk menutup defisit APBD dan pengeluaran pembiayaan yang digunakan untuk memanfaatkan surplus APBD yang masing-masing diuraikan menurut jenis.dalam Pasal 94 ayat (1) memuat kelompok. Tolok ukur kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (7) merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai dari keadaan semula dengan mempertimbangkan faktor kualitas. belanja bantuan keuangan. Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) memuat nama program yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun anggaran berkenaan. serta belanja modal dianggarkan dalam RKA-SKPD pada masing-masing SKPD. dan belanja tidak terduga hanya dianggarkan dalam RKA-SKPD pada SKPKD. Belanja bunga. keluaran dan hasil. obyek dan rincian obyek pembiayaan. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (2) memuat nama kegiatan yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun anggaran berkenaan. obyek dan rincian obyek belanja. obyek dan rincian obyek pendapatan daerah. belanja bantuan sosial. belanja barang dan jasa. kuantitas. efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan. peraturan pemerintah atau undangundang. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (3) Pasal 97 (1) (2) Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. jenis.

belanja dan pembiayaan.Pasal 98 Penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan daerah dianggarkan dalam RKASKPD pada SKPKD. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. kelompok sasaran kegiatan. b.XIV peraturan menteri ini. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. PPA. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. e. organisasi. ringkasan APBD. program dan kegiatan. Format RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. standar analisis belanja. k. serta capaivn kinerja. standar pelayanan minimal. daftar piutang daerah. c. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. 38 . f. (2) Rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. (3) Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepala SKPD melakukan penyempurnaan. (2) Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA. pendapatan. dan dokumen perencanaan lainnya. Pasal 101 (1) RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh kepala SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. i. organisasi. standar satuan harga. Bagian Keenam Penyiapan Raperda APBD Pasal 100 (1) RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. g. j. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. indikator kinerja. Pasal 99 (1) (2) Bagan alir pengerjaan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. d. h. serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD. prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini.XIII peraturan menteri ini.

daftar dana cadangan daerah. belanja dan pembiayaan. Rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. (3) (4) BAB V PENETAPAN APBD Bagian Pertama Penyampaian dan Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Pasal 104 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampirannya kepada DPRD paling lambat pada minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran sebelumnya dari tahun yang direncanakan untuk mendapatkan persetujuan bersama.XV peraturan menteri ini. (3) Format rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. untuk belanja mencakup dasar hukum.XVI peraturan menteri ini. (3) Format rancangan peraturan kepala daerah beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. penjabaran APBD menurut urusan pemerintahan daerah. tarif pungutan/harga. untuk pendapatan mencakup dasar hukum. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan. 39 . m. harga satuan. sumber penerimaan pembiayaan dan tujuan pengeluaran pembiayaan. b. Penyebarluasan rancangan peraturan daerah tentang APBD dilaksanakan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah. rincian obyek pendapatan. obyek. (2) Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD wajib memuat penjelasan sebagai berikut: a. sasaran. kelompok. b. kegiatan. jenis. satuan volume/tolok ukur. program. Pasal 103 (1) (2) Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah. untuk pembiayaan mencakup dasar hukum. c.l. target/volume yang direncanakan. organisasi. Pasal 102 (1) Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. dan daftar pinjaman daerah. lokasi kegiatan dan sumber pendanaan kegiatan. ringkasan penjabaran APBD.

(3) Belanja yang bersifat mengikat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan belanja yang dibutuhkan secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dengan jumlah yang cukup untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran yang bersangkutan. (3) Dalam hal DPRD memerlukan tambahan penjelasan terkait dengan pembahasan program dan kegiatan tertentu. kepala daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. (4) Format persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. (5) Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD berhalangan tetap. Pasal 107 (1) Rencana pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.XVIII peraturan menteri ini. (4) Belanja yang bersifat wajib adalah belanja untuk terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain pendidikan dan kesehatan dan/atau melaksanakan kewajiban kepada fihak ketiga. seperti belanja pegawai. (4) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan nota keuangan. kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggitingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan.XVII peraturan menteri ini. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah dan/atau selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani persetujuan bersama. belanja barang dan jasa. (3) Atas dasar persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2).(2) Pengambilan keputusan bersama DPRD dan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. (2) Pembahasan rancangan peraturan daerah berpedoman pada KUA. (6) Format susunan nota keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran A. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh (2) 40 . serta PPA yang telah disepakati bersama antara pemerintah daerah dan DPRD. dapat meminta RKA-SKPD berkenaan kepada kepala daerah. (2) Pengeluaran setinggi-tingginya untuk keperluan setiap bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. Pasal 106 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (2) tidak menetapkan persetujuan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Pasal 105 (1) Penetapan agenda pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD untuk mendapatkan persetujuan bersama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (1) disesuaikan dengan tata tertib DPRD masing-masing daerah.

Pasal 108 (1) Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (3) paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak DPRD tidak menetapkan keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. hanya diperkenankan apabila ada kebijakan pemerintah untuk kenaikan gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil serta penyediaan dana pendamping atas program dan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah serta bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah yang ditetapkan dalam undang-undang. e. (2) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) . daftar penyertaan modal (investasi) daerah. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari : a. f. daftar pinjaman daerah. belanja dan pembiayaan. program dan kegiatan. j. organisasi.pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. (4) (5) Format rancangan peraturan kepala daerah beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran A. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. Pasal 109 Pelampuan batas tertinggi dari jumlah pengeluaran sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 106 ayat (1). kegiatan. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. (3) Pengesahan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan keputusan gubernur bagi kabupaten/kota. k.XIX peraturan menteri ini. obyek. h. rincian obyek pendapatan. daftar dana cadangan daerah. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. dan m. b. ringkasan APBD. daftar piutang daerah. Bagian Kedua Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Pasal 110 (1) Rancangan peraturan daerah provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu 41 . I. i. hari kerja Menteri Dalam Negeri/gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jenis. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. kelompok. program. organisasi. g. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. c. d.

nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian pengantar nota keuangan pada sidang DPRD. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. (7) Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD.kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. Pasal 111 (1) Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. (4) Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan d. peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh provinsi bersangkutan. gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan gubemur. (9) Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (8) ditetapkan dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti sejauh mana APBD provinsi tidak bertentangan dengan kepentingan umum. (6) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubemur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. risalah sidang jalannya pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat pemerintah daerah provinsi yang terkait. Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional. (5) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam keputusan Menteri Dalam Negeri dan disampaikan kepada gubernur paling lama 15 (lima betas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD. Penyampaian rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2) peraturan menteri ini. (2) Penyampaian rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan: a. (8) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. gubemur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. b. c. keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti (2) (3) 42 .

Pasal 113 Evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (3) dan Pasal 111 ayat (3). Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD. (4) Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. gubernur dapat mengundang pejabat pemerintah daerah kabupaten/kota yang terkait. peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh kabupaten/kota bersangkutan. Pasal 112 (1) Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (8) dan Pasal 111 ayat (8). bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. Apabila gubernur menetapkan pernyataan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) Pencabutan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang APBD. berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri. Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam keputusan gubernur dan disampaikan kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.sejauh mana APBD kabupaten/kota tidak bertentangan dengan kepentingan umum. (3) Pelaksanaan pengeluaran atas pagu APBD tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (8) dan Pasal 111 ayat (8) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dan pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (8) ditetapkan dengan peraturan gubernur. bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. dan bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. Dalam hal gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) (6) (7) (8) (9) 43 . gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Pasal 114 (1) Penyempurnaan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (7) dan Pasal 111 ayat (7) dilakukan kepala daerah bersama dengan panitia anggaran DPRD.

maka pejabat yang . Format penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran A.(2) Hasil penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani keputusan pimpinan DPRD.XXI peraturan menteri ini. Format penetapan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. (3) Keputusan pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijadikan dasar penetapan peraturan daerah tentang APBD. Bagian Ketiga Penetapan Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Pasal 116 (1) Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. (6) Keputusan pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri bagi APBD provinsi dan kepada gubernur bagi APBD kabupaten/kota paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah keputusan tersebut ditetapkan. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. (2) (3) (4) (5) (6) 44 .ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah yang menetapkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. (4) Keputusan pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan dilaporkan pada sidang paripurna berikutnya. Pasal 115 Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. (5) Sidang paripurna berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yakni setelah sidang paripurna pengambilan keputusan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD.XX peraturan menteri ini. (7) Dalam hal pimpinan DPRD berhalangan tetap.

Pasal 93. Pasal 121 Peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) dijadikan dasar penyusunan DPA-SKPD untuk pelaksanaan APBD. Pasal 118 Penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (3) berlaku ketentuan Pasal 90. Pasal 96. Pasal 97. Pasal 98 dan Pasal 99. (2) (3) (3) 45 . Pasal 91.(7) Lampiran A. Pasal 95. Format rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku ketentuan dalam Pasal 107 ayat (4) dan ayat (5). pembangunan daerah. KUA dan rancangan PPA yang telah dikonsultasikan dijadikan pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 peraturan menteri ini. serta pelayanan masyarakat.XXII peraturan menteri ini. Rancangan KUA dan rancangan PPAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikonsultasikan kepada Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan kepada gubernur bagi kabupaten/kota. kepala daerah menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS. Pasal 119 (1) (2) RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. (2) Pengesahan atas rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan dalam Pasal 107 ayat (3). Pasal 92. Pasal 94. Jadwal penyusunan APBD tercantum dalam BAB VI PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBD BAGI DAERAH YANG BELUM MEMILIKI DPRD Pasal 117 (1) Untuk sinkronisasi dan keterpaduan sasaran program dan kegiatan dengan kebijakan pemerintah dibidang keuangan negara dan menjaga kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan. Pasal 120 (1) Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak KUA dan PPA dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota.

anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut. Bagian Kedua Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD Paragraf 1 Penyiapan Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD Pasal 123 (1) PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang APBD ditetapkan. (8) Kriteria keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (2) Setiap SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan pemungutan dan/atau penerimaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran.BAB VII PELAKSANAAN APBD Bagian Pertama Azas Umum Pelaksanaan APBD Pasal 122 (1) Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dikelola dalam APBD. program. tidak mewah. (4) Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja. (10) Pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat. (9) Setiap SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD. Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPASKPD kepada PPKD paling lama 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan (2) (3) 46 . (3) Penerimaan SKPD dilarang digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran. dan rencana penarikan dana tiap-tiap SKPD serta pendapatan yang diperkirakan. efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Rancangan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. (7) Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat dilakukan jika dalam keadaan darurat. efektif. (5) Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan baths tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja. kegiatan. (6) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. merinci sasaran yang hendak dicapai.

(2) (3) (4) (3) (2) (3) (4) 47 . dan Badan Pemeriksa Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan. DPA-SKPD yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada kepala SKPD. Paragraf 2 Anggaran Kas Pasal 125 (1) (2) Kepala SKPD berdasarkan rancangan DPA-SKPD menyusun rancangan anggaran kas SKPD.I peraturan menteri ini. Pasal 124 (1) TAPD melakukan verifikasi rancangan DPA-SKPD bersama-sama dengan kepala SKPD paling lama 15 (lima betas) hari kerja sejak ditetapkannya peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Berdasarkan hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Rancangan anggaran kas SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan dengan rancangan DPA-SKPD. PPKD mengesahkan rancangan DPA-SKPD dengan persetujuan sekretaris daerah. DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Pasal 126 (1) PPKD selaku BUD menyusun anggaran kas pemerintah daerah guna mengatur ketersediaan dana yang cukup untuk mendanai pengeluaran-pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana yang tercantum dalam DPA-SKPD yang telah disahkan. Format anggaran kas pemerintah daerah sebagaimana tercantum dalam Lampiran B.sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Anggaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar yang digunakan guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. Mekanisme pengelolaan anggaran kas pemerintah daerah ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Pembahasan rancangan anggaran kas SKPD dilaksanakan bersamaan dengan pembahasan DPA-SKPD. (4) Format DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran B.II peraturan menteri ini. satuan kerja pengawasan daerah.

Bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud. Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak termasuk untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib yang ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Pasal 128 (1) Setiap SKPD yang memungut pendapatan daerah wajib mengintensifkan pemungutan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. hibah. Pasal 129 Komisi. (2) Untuk pengembalian kelebihan pendapatan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dibebankan pada belanja tidak terduga. jasa giro atau pendapatan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta pendapatan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. (3) (4) 48 . Setiap pendapatan harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.Bagian Ketiga Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Daerah Pasal 127 (1) (2) Semua pendapatan daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah. asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk pendapatan bunga. rabat. Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. potongan atau pendapatan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang. Bagian Keempat Pelaksanaan Anggaran Belanja Daerah Pasal 132 (1) (2) Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. balk secara langsung sebagai akibat dari penjualan. (3) Pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. Pasal 131 Semua pendapatan dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah dan dicatat sebagai pendapatan daerah. Pasal 130 (1) Pengembalian atas kelebihan pendapatan dilakukan dengan membebankan pada pendapatan yang bersangkutan untuk pengembalian pendapatan yang terjadi dalam tahun yang sama. (2) SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan daerah. tukarmenukar.

Penerima subsidi. Pimpinan instansi/lembaga penerima dana tanggap darurat bertanggungjawab atas penggunaan dana tersebut dan wajib menyampaikan laporan realisasi penggunaan kepada atasan langsung dan kepala daerah. bantuan sosial. Pasal 136 Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD. dan Pasal 47 ayat (1) dilaksanakan atas persetujuan kepala daerah.(5) Belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berlaku ketentuan dalam Pasal 106 ayat (3) dan ayat (4). Pengeluaran belanja untuk tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan kebutuhan yang diusulkan dari instansi/lembaga berkenaan setelah mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas serta menghindari adanya tumpang tindih pendanaan terhadap kegiatan-kegiatan yang telah didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Pasal 135 (2) (3) (4) Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya. Pasal 133 (1) Pemberian subsidi. 49 . Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban subsidi. bantuan sosial. Pasal 134 (2) (3) (1) Dasar pengeluaran anggaran belanja tidak terduga yang dianggarkan dalam APBD untuk mendanai tanggap darurat. hibah. termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahuntahun sebelumnya yang telah ditutup ditetapkan dengan keputusan kepala daerah dan diberitahukan kepada DPRD paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak keputusan dimaksud ditetapkan. Pasal 45 ayat (1). Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban belanja tidak terduga untuk tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara pada bank yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh bendahara pengeluaran. Pasal 42 ayat (1). dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada kepala daerah. bantuan sosial. dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. hibah. hibah. dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1). penanggulangan bencana alam dan/atau bencana sosial.

Program dan kegiatan yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan apabila dana cadangan telah mencukupi untuk melaksanakan program dan kegiatan. sisa DPA-SKPD yang belum diterbitkan SPD dan/atau belum diterbitkan SP2D atas kegiatan yang bersangkutan. menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil daripada realisasi belanja. (3) Jumlah anggaran yang disahkan dalam DPAL-SKPD setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian sebagai berikut: a. SP2D yang belum diuangkan. mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan. dan c. Untuk pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dana cadangan dimaksud terlebih dahulu (3) (4) 50 . Dana cadangan tidak dapat digunakan untuk membiayai program dan kegiatan lain diluar yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan. (4) DPAL-SKPD yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dijadikan dasar pelaksanaan penyelesaian pekerjaan dan penyelesaian pembayaran. Pasal 138 (1) Beban belanja langsung pelaksanaan kegiatan lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 huruf b didasarkan pada DPA-SKPD yang telah disahkan kembali oleh PPKD menjadi DPA Lanjutan SKPD (DPAL-SKPD) tahun anggaran berikutnya. b. DPAL-SKPD sebagaimana tercantum Paragraf 2 Dana Cadangan Pasal 139 (1) (2) Dana cadangan dibukukan dalam rekening tersendiri atas nama dana cadangan pemerintah daerah yang dikelola oleh BUD. b. Kepala SKPD menyampaikan laporan akhir realisasi pelaksanaan kegiatan fisik dan non-fisik maupun keuangan kepada PPKD paling lambat pertengahan bulan Desember tahun anggaran berjalan. (2) Untuk mengesahkan kembali DPA-SKPD menjadi DPAL-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung.Bagian Kelima Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan Daerah Paragraf 1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tabun Sebelumnya Pasal 137 Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya merupakan penerimaan pembiayaan yang digunakan untuk: a.III peraturan menteri ini. (5) Format dalam Lampiran B. sisa SPD yang belum diterbitkan SP2D. c.

Kegiatan yang dibiayai dari obligasi daerah beserta barang milik Penerimaan pinjaman daerah dan obligasi daerah dilakukan melalui rekening kas umum daerah. (2) Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan dalam portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menambah jumlah dana cadangan. b. sertifikat bank indonesia (SBI). penjualan. surat berharga Iainnya yang dijamin pemerintah. surat utang negara (SUN). Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas persetujuan PPKD. (5) Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling tinggi sejumlah pagu dana cadangan yang akan digunakan untuk mendanai pelaksanaan kegiatan dalam tahun anggaran berkenaan sesuai dengan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan. Pemerintah daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman (6) (7) 51 . dana tersebut dapat ditempatkan dalam portofolio yang memberikan hasil tetap dengan risiko rendah. (3) (4) Pendapatan daerah dan/atau aset daerah (barang milik daerah) tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah. dipindahbukukan ke rekening kas umum daerah. (3) Portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Dalam hal program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah selesai dilaksanakan dan target kinerjanya telah tercapai.dipindahbukukan ke rekening kas umum daerah. (2) Pengurangan. maka dana cadangan yang masih tersisa pada rekening dana cadangan. deposito. d. Pasal 140 (1) Dalam hal dana cadangan yang ditempatkan pada rekening dana cadangan belum digunakan sesuai dengan peruntukannya. Paragraf 4 Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah Pasal 142 (1) (2) pihak lain. (4) Penatausahaan pelaksanaan program dan kegiatan yang dibiayai dari dana cadangan diperlakukan sama dengan penatausahaan pelaksanaan program/ kegiatan Iainnya. surat perbendaharaan negara (SPN). dan e. dan/atau pengalihan ivestasi dicatat pada rekening penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan (divestasi modal). c. Paragraf 3 Investasi Pasal 141 (1) Investasi awal dan penambahan investasi dicatat pada rekening penyertaan modal (investasi) daerah.

penerbitan obligasi daerah. dan c. Apabila anggaran yang tersedia dalam APBD/perubahan APBD tidak mencukupi untuk pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 144 (1) Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri setiap akhir semester tahun anggaran berjalan. perencanaan dan penetapan portofolio pinjaman daerah. jumlah penerimaan pinjaman. Pelampauan pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah setelah perubahan APBD dilaporkan kepada DPRD dalam laporan realisasi anggaran. Pasal 148 (1) Pengelolaan obligasi daerah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. sisa pinjaman. kepala daerah dapat melakukan pelampauan pembayaran mendahului perubahan atau setelah perubahan APBD. Pembayaran bunga pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja bunga. b. Pasal 147 (1) (2) (3) (4) Kepala SKPKD melaksanakan pembayaran bunga dan cicilan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang jatuh tempo. Pasal 143 Kepala SKPKD melakukan penatausahaan atas pinjaman daerah dan obligasi daerah. Pembayaran denda pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja bunga. Posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. Pasal 146 (1) Pelampauan pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah sebelum perubahan APBD dilaporkan kepada DPRD -dalam pembahasan awal perubahan APBD. (2) (2) (2) 52 . penjualan obligasi daerah melalui lelang dan/atau tanpa lelang. pembayaran pinjaman (pokok dan bunga). c. (2) Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur mengenai: a. d. b. penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk kebijakan pengendalian resiko. Pasal 145 (1) Pemerintah daerah wajib membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang telah jatuh tempo. Pembayaran pokok pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening cicilan pokok utang yang jatuh tempo.daerah yang melekat dalam kegiatan tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi daerah.

IV peraturan menteri 53 .000. pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo. Piutang daerah jenis tertentu seperti piutang pajak daerah dan piutang retribusi daerah merupakan prioritas untuk didahulukan penyelesaiannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.000. register surat penagihan piutang daerah. (3) Penyusunan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri. dan g. SKPKD melaksanakan penagihan dan (2) Untuk melaksanakan penagihan piutang daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan register surat penagihan berulang piutang daerah tercantum dalam Lampiran B. pelunasan.5. (2) PPK-SKPD melakukan penatausahaan penerimaan piutang atau tagihan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD.000. kepala daerah dengan persetujuan DPRD untuk jumlah Iebih dari Rp.00 (lima miliar rupiah) untuk piutang jumlah daerah sebagaimana dengan atas Setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya (2) sampai b. Paragraf 5 Piutang Daerah Pasal 149 (1) dengan tepat waktu. kepala SKPKD menyiapkan bukti dan administrasi penagihan. (3) Penghapusan dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh: a. Pasal 152 (1) Kepala menatausahakan piutang daerah.5.000. aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar perdana ke pasar sekunder obligasi daerah. Pasal 151 (1) Piutang daerah yang terjadi sebagai akibat hubungan keperdataan dapat diselesaikan dengan cara damai. (2) Piutang daerah dapat dihapuskan dari pembukuan dengan penyelesaian secara mutlak atau bersyarat. (3) Format surat penagihan piutang daerah. surat penagihan berulang piutang daerah.e.00 (lima miliar rupiah). Pasal 150 (1) Piutang atau tagihan daerah yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya pada saat jatuh tempo.000. kecuali piutang daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan. diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.000. f. kecuali cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan. kepala daerah Rp.

(2) Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. Bagian Kedua Kebijakan Umum serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Perubahan APBD Pasal 155 (1) Perubahan APBD disebabkan perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf a dapat berupa terjadinya pelampauan atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah. alokasi belanja daerah. BAB VIII PERUBAHAN APBD Bagian Pertama Dasar Perubahan APBD Pasal 154 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. c. dan e. d.ini. Jadwal pelaksanaan APBD tercantum dalam Lampiran Pasal 153 (1) (2) Kepala SKPKD setiap bulan melaporkan realisasi penerimaan piutang kepada kepala daerah. Bukti pembayaran piutang SKPKD dari pihak ketiga harus dipisahkan dengan bukti penerimaan kas atas pendapatan pada tahun anggaran berjalan. kecuali dalam keadaan luar biasa. b. (4) B.V peraturan menteri ini. (3) Dalam rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disajikan secara lengkap penjelasan mengenai: a. sumber dan penggunaan pembiayaan yang semula ditetapkan dalam KUA. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran Iebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan. perbedaan asumsi dengan KUA yang ditetapkan sebelumnya. b. program dan kegiatan yang dapat diusulkan untuk ditampung dalam perubahan APBD dengan mempertimbangkan sisa waktu 54 . (2) Kepala daerah memformulasikan hal-hal yang mengakibatkan terjadinya perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf a ke dalam rancangan kebijakan umum perubahan APBD serta PPAS perubahan APBD. dan antar jenis belanja. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA. antar kegiatan. keadaan darurat. keadaan luar biasa.

batas waktu penyampaian RKA-SKPD dan/atau DPA-SKPD yang telah diubah kepada PPKD. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi. (2) Format nota kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan/atau kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah untuk dianggarkan dalam perubahan APBD sebagai acuan bagi kepala SKPD. (5) Rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (4). masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD. PPA perubahan APBD yang dialokasikan untuk program baru dan/atau kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah pada setiap SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan. (2) Rancangan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. b. (7) Format rancangan kebijakan umum perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran C. setelah dibahas selanjutnya disepakati menjadi kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD paling lambat minggu kedua bulan Agustus tahun anggaran berjalan.III peraturan menteri ini. dan d.pelaksanaan APBD tahun anggaran berjalan. capaian target kinerja program dan kegiatan yang harus dikurangi dalam perubahan APBD apabila asumsi KUA tidak tercapai. format RKA-SKPD 55 . sinkronisasi program dan kegiatan SKPD dengan program nasional dan antar program SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan.II peraturan menteri ini. dan dokumen sebagai lampiran meliputi kebijakan umum perubahan APBD. Pasal 156 (1) Kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD yang telah disepakati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (5). PPA perubahan APBD. e. kode rekening APBD. c. Pasal 157 (1) Berdasarkan nota kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (1). capaian target kinerja program dan kegiatan yang harus ditingkatkan dalam perubahan APBD apabila melampaui asumsi KUA. (4) Rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada DPRD paling lambat minggu pertama bulan Agustus dalam tahun anggaran berjalan. d. transparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja.I peraturan menteri ini. efektifitas. c. agar dihindari adanya penganggaran kegiatan pembangunan fisik di dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD. (8) Format rancangan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran C. (6) Dalam hal persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD diperkirakan pada akhir bulan September tahun anggaran berjalan.

Pasal 96. harus dijelaskan dalam kolom keterangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD. obyek. kelompok. antar kegiatan. Dalam format DPPA-SKPD dijelaskan capaian target kinerja. Peningkatan atau pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diformulasikan dalam format dokumen pelaksanaan perubahan anggaran SKPD (DPPA-SKPD). dan antar jenis belanja dapat dilakukan dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD. Pasal 98. Pasal 94. Pasal 159 (1) Perubahan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (1) dapat berupa peningkatan atau pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan dari yang telah ditetapkan semula. Pasal 95. (3) Pedoman penyusunan RKA-SKPD dan/atau kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diterbitkan oleh kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Agustus tahun anggaran berjalan. Pergeseran anggaran antar unit organisasi. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 56 . Pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan sekretaris daerah. Pasal 158 Tata cara penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (1) berlaku ketentuan dalam Pasal 90. standar analisa belanja dan standar harga. Pasal 91. Pasal 93.dan/atau DPPASKPD. belanja serta pembiayaan baik sebelum dilakukan perubahan maupun setelah perubahan. Tata cara pergeseran sebagaimana dimaksud ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan kepala daerah.IV peraturan menteri ini. jenis. dan antar jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf b serta pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja diformulasikan dalam DPPASKPD. (2) (3) (4) Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan dapat dilakukan atas persetujuan PPKD. Bagian Ketiga Pergeseran Anggaran Pasal 160 (1) Pergeseran anggaran antar unit organisasi. Format DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran C. untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD. dan rincian obyek pendapatan. Pasal 97. Pasal 92. Anggaran yang mengalami perubahan baik berupa penambahan dan/atau pengurangan akibat pergeseran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antar kegiatan. dan Pasal 99. Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dengan cara mengubah peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagai dasar pelaksanaan.

mendanai program dan kegiatan baru dengan kriteria harus diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berjalan. c. c. dan f. mendanai kegiatan-kegiatan yang capaian target kinerjanya ditingkatkan dari yang telah ditetapkan semula dalam DPA-SKPD tahun anggaran berjalan yang dapat diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berjalan. memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat. (4) Penggunaan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya untuk mendanai pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d diformulasikan terlebih dahulu dalam DPAL-SKPD. tidak diharapkan terjadi secara berulang. d. dan huruf f diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPA-SKPD. mendanai kegiatan lanjutan sesuai dengan ketentuan Pasal 138. (3) Penggunaan saldo anggaran tahun sebelumnya untuk pendanaan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum 57 . huruf c. b. mendanai kenaikan gaji dan tunjangan PNS akibat adanya kebijakan pemerintah. membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang melampaui anggaran yang tersedia mendahului perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 ayat (2). bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya.Bagian Keempat Penggunaan Saldo Anggaran Lebih Tabun Sebelumnya Dalam Perubahan APBD Pasal 161 (1) Saldo anggaran lebih merupakan sisa lebih perhitungan tahun anggaran sebelumnya. (2) tahun sebelumnya Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun anggaran berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pas& 154 ayat (1) huruf c dapat berupa: a. b. huruf b. melunasi seluruh kewajiban bunga dan pokok utang. berada diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. e. Bagian Kelima Pendanaan Keadaan Darurat Pasal 162 (1) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf d sekurangkurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: a. (2) Dalam keadaan darurat. dan d. (5) Penggunaan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya untuk mendanai pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD.

menggunakan dana dari hasil penjadwalan ulang capaian target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan. Penambahan kegiatan baru sebagaimana (2) (2) 58 . (7) Penjadwalan ulang capaian target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPA-SKPD. (8) Pendanaan keadaan darurat untuk kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD. memanfaatkan uang kas yang tersedia. (6) Kriteria belanja untuk keperluan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (5) mencakup: a. Persentase 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan selisih (gap) kenaikan atau penurunan antara pendapatan dan belanja dalam APBD. (10) Dasar pengeluaran untuk kegiatan-kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD untuk dijadikan dasar pengesahan DPA-SKPD oleh PPKD setelah memperoleh persetujuan sekretaris daerah. Bagian Keenam Pendanaan Keadaan Luar Biasa Pasal 163 (1) Keadaan Iuar biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf e merupakan keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen). (4) Dalam hal belanja tidak terduga tidak mencukupi dapat dilakukan dengan cara: a. dan b. dapat dilakukan penambahan kegiatan baru dan/atau penjadwalan ulang/peningkatan capaian target kinerja program dan kegiatan dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 164 (1) Dalam hal kejadian Iuar biasa yang menyebabkan estimasi penerimaan dalam APBD mengalami peningkatan Iebih dari 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 163 ayat (1). keperluan mendesak lainnya yang apabila ditunda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat.tersedia anggarannya. (3) Pendanaan keadaan darurat yang belum tersedia anggarannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menggunakan belanja tidak terduga. (9) Dalam hal keadaan darurat terjadi setelah ditetapkannya perubahan APBD. dan/atau b. (11) Pelaksanaan pengeluaran untuk mendanai kegiatan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5) terlebih dahulu ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. (5) Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk belanja untuk keperluan mendesak yang kriterianya ditetapkan dalam peraturan daerah tentang APBD. program dan kegiatan pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum tersedia dalam tahun anggaran berjalan. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. dan pengeluaran tersebut disampaikan dalam laporan realisasi anggaran.

dijadikan bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD oleh PPKD. standar analisis belanja. standar satuan harga. Pasal 165 (1) Dalam hal kejadian Iuar biasa yang menyebabkan estimasi penerimaan dalam APBD mengalami penurunan lebih dari 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 163 ayat (1). Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dan DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD. (4) (2) (3) (2) (3) (2) RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan DPPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah dibahas TAPD. maka dapat dilakukan penjadwalan ulang/pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan Iainnya dalam tahun anggaran berjalan. Penjadwalan ulang/pengurangan capaian target sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diformulasikan ke dalam DPPA-SKPD. indikator kinerja. 59 . (3) Penjadwalan ulang/peningkatan capaian target kinerja program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPASKPD.dimaksud pada ayat (1) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD. serta capaian kinerja. Pasal 167 (1) RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan DPPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah disempurnakan oleh SKPD. SKPD melakukan penyempurnaan. RKA-SKPD dan DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan kedua APBD. Bagian Ketujuh Penyiapan Raperda Perubahan APBD Pasal 166 (1) RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan DPPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. dan standar pelayanan minimal. prakiraan maju yang direncanakan atau yang telah disetujui dan dokumen perencanaan Iainnya. disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD dan DPPA-SKPD yang memuat program dan kegiatan yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD terdapat ketidaksesuaian dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan kedua APBD.

belanja dan pembiayaan yang mengalami perubahan dan yang tidak mengalami perubahan. rekapitulasi perubahan belanja menurut urusan pemerintahan daerah. daftar perubahan jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. Laporan keuangan pemerintah daerah yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah terdiri dari: 1) laporan realisasi anggaran yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. ringkasan perubahan APBD. pendapatan. rekapitulasi perubahan belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. organisasi. d. f. organisasi. (3) Format rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. 2) neraca yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. 3) laporan arus kas yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. c. h. b. 60 . daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. (2) Lampiran rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a.Bagian Kedelapan Penetapan Perubahan APBD Paragraf 1 Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD dan Rancangan Peraturan'Kepala Daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD Pasal 168 Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD yang disusun oleh PPKD memuat pendapatan. dan i. e. 4) catatan atas laporan keuangan yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. program dan kegiatan. ringkasan perubahan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. belanja dan pembahyaan.V peraturan menteri ini. rincian perubahan APBD menurut urusan pemerintahan daerah. daftar pinjaman daerah. Pasal 169 (1) Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 168 terdiri dari rancangan peraturan daerah teritang perubahan APBD beserta lampirannya. g.

dan b. belanja daerah dan pembiayaan daerah. DPRD menetapkan agenda pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kelompok.VI peraturan menteri ini. (2) Lampiran rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (2) Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebelum disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. jenis. Format persetujuan bersama rancangan peraturan daerah peraturan daerah (5) (6) (7) 61 . rincian obyek pendapatan. Pembahasan rancangan peraturan daerah berpedoman pada kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD yang telah disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD. obyek. (3) Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat memberikan infomiasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan perubahan APBD tahun anggaran yang direncanakan. kegiatan. Pengambilan keputusan DPRD untuk menyetujui rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. penjabaran perubahan APBD menurut organisasi. Format susunan nota keuangan perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran C. (4) Penyebarluasan rancangan tentang perubahan APBD dilaksanakan oleh sekretariat daerah. ringkasan penjabaran perubahan anggaran pendapatan daerah. program. beserta Iampirannya kepada DPRD paling lambat minggu kedua bulan September tahun anggaran berjalan untuk mendapatkan persetujuan bersama. Pasal 171 (1) Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah. (2) (3) (4) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan nota keuangan perubahan APBD. Paragraf 2 Penyampaian. belanja dan pembiayaan.VII peraturan menteri ini. (3) Format rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. Pembahasan dan Penetapan Raperda Perubahan APBD Pasal 172 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD.Pasal 170 (1) Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (2) terdiri dari rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD beserta Iampirannya.

ayat (3). Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. sekaligus menyatakan tidak diperkenankan melakukan perubahan APBD dan tetap berlaku APBD tahun anggaran berjalan. dan ayat (4). Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD.XIX peraturan menteri ini. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Paragraf 3 Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD Pasal 173 (1) Tata cara evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD provinsi dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD provinsi menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur berlaku ketentuan Pasal 110 ayat (1). ayat (2). Pasal 174 (2) (3) (4) (1) Tata cara evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD kabupaten/kota menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota berlaku ketentuan Pasal 111 ayat (1). ayat (3).tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. (8) Jadwal perubahan APBD tercantum dalam Lampiran C. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta pernyataan berlakunya APBD tahun berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri. dan bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dimaksud. bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan (2) (3) (4) 62 . Dalam hal Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.VIII peraturan menteri ini. Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sekaligus menyatakan tidak diperkenankan melakukan perubahan APBD dan tetap berlaku APBD tahun anggaran berjalan. dan ayat (4). ayat (2).

Pasal 175 (1) Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173 ayat (4) dan Pasal 174 ayat (4). dan disahkan oleh PPKD berdasarkan persetujuan sekretaris daerah. (2) (2) DPA-SKPD yang mengalami perubahan dalam tahun berjalan seluruhnya harus disalin kembali ke dalam Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPPA-SKPD). kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. (4) DPPA-SKPD dapat dilaksanakan setelah dibahas TAPD. (2) Untuk mengelola kas daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 176 Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Paragraf 4 Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD Pasal 178 (1) PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang perubahan APBD ditetapkan.bupati/walikota serta pernyataan berlakunya APBD tahun berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan keputusan gubernur. (3) Dalam DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhadap rincian obyek pendapatan. Pasal 177 Tata cara penyempurnaan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173 ayat (2) dan Pasal 174 ayat (2) berlaku ketentuan dalam Pasal 113. BAB IX PENGELOLAAN KAS Bagian Pertama Pengelolaan Penerimaan dan Pengeluaran Kas Pasal 179 (1) BUD bertanggung jawab terhadap pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas daerah. Pencabutan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang perubahan APBD. memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD terhadap program dan kegiatan yang dianggarkan dalam perubahan APBD. BUD membuka 63 . belanja atau pembiayaan yang mengalami penambahan atau pengurangan atau pergeseran harus disertai dengan penjelasan latar belakang perbedaan jumlah anggaran baik sebelum dilakukan perubahan maupun setelah dilakukan perubahan.

e. dan penerimaan lainnya yang sejenis. (5) Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sebagai pengeluaran perhitungan fihak ketiga. c. (4) Penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperlakukan sebagai penerimaan perhitungan fihak ketiga. penyetoran Askes. (2) a. (2) Jumlah dana yang disediakan pada rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan rencana pengeluaran yang telah ditetapkan dalam APBD. dan pembiayaan pemerintah daerah. penerimaan uang jaminan. pengeluaran lainnya yang sejenis. (3) Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti: a. Penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti: potongan Taspen. potongan Askes. Pasal 180 Untuk mendekatkan pelayanan pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran kas kepada SKPD atau masyarakat. f. (3) Penunjukan bank yang sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah dan diberitahukan kepada DPRD. d. d. f. b. Pasal 182 (1) Rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180 diisi dengan dana yang bersumber dari rekening kas umum daerah. Bagian Kedua Pengelolaan Kas Non Anggaran Pasal 183 (1) Pengelolaan kas non anggaran mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan. (2) Saldo rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke rekening kas umum daerah. (6) Informasi penerimaan kas dan pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) 64 . potongan PPN. pengembalian uang jaminan. Pasal 181 (1) Rekening penerimaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180 digunakan untuk menampung penerimaan daerah setiap hari. b. BUD dapat membuka rekening penerimaan dan rekening pengeluaran pada bank yang ditetapkan oleh kepala daerah. belanja. dan g. pengembalian titipan uang muka. potongan PPh. g. e. penyetoran PPN. penerimaan titipan uang muka.rekening kas umum daerah pada bank yang sehat. c. penyetoran Taspen. penyetoran PPh.

(7) Penyajian informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran atas pelaksanaan APBD bertanggung jawab terhadap kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. belanja tidak terduga. didelegasikan oleh kepala daerah kepada kepala SKPD. e.dan ayat (3) disajikan dalam laporan arus kas aktivitas non anggaran. kepala daerah menetapkan: a. belanja bagi basil. belanja bantuan keuangan. b. BAB X PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Azas Umum Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 184 (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Bagian Kedua Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 185 (1) Untuk pelaksanaan APBD. bendahara penerimaan/pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/barang/kekayaan daerah wajib menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu SKPD. bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. g. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SP2D. belanja subsidi. d. dan h. pejabat lainnya dalam rangka pelaksanaan APBD. c. (8) Tata cara pengelolaan kas non anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan kepala daerah. dan pengeluaran pembiayaan pada SKPKD. (4) Pejabat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mencakup: (2) 65 . (2) Penetapan pejabat yang ditunjuk sebagai kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. f. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPD. bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPM. pejabat yang diberi wewenang mengesahkan SPJ. (3) Penetapan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h. belanja bantuan sosial. belanja hibah.

d. (5) Penetapan pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) dilaksanakan sebelum dimulainya tahun anggaran berkenaan. PPTK yang diberi wewenang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. b. b.c diterbitkan dan disahkan oleh PPKD. Pasal 186 (1) Untuk mendukung kelancaran tugas perbendaharaan. pejabat yang diberi wewenang menandatangani bukti penerimaan kas dan bukti penerimaan lainnya yang sah. Bagian Ketiga Penatausahaan Penerimaan Pasal 187 (1) Penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga. bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dapat dibantu oleh pembantu bendahara. dan pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran. pembuat dokumen pengeluaran uang atau pengurusan gaji. pejabat yang diberi wewenang menandatangani surat bukti pemungutan pendapatan daerah. disetor melalui bendahara penerimaan oleh pihak ketiga. disetor melalui bank lain. e. lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh pihak ketiga.a. (2) Penatausahaan atas penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan: a. (2) Penerimaan daerah yang disetor ke rekening kas umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c. badan. (3) Benda berharga seperti karcis retribusi sebagai tanda bukti pembayaran oleh pihak ketiga kepada bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf . b. c. Pasal 189 (1) Bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Pasal 188 Dalam hal daerah yang karena kondisi geografisnya sulit dijangkau dengan komunikasi dan transportasi sehingga melebihi batas waktu penyetoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 187 ayat (2) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. dan 66 . buku kas umum. buku pembantu per rincian objek penerimaan. PPK-SKPD yang diberi wewenang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. (2) Pembantu bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan fungsi sebagai kasir atau pembuat dokumen penerimaan (3) Pembantu bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan fungsi sebagai kasir. dilakukan-dengan cara: a.

surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). bukti penerimaan lainnya yang sah. buku pembantu per rincian objek penerimaan dan buku rekapitulasi penerimaan harian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. (4) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara administratif atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. lembaga keuangan atau kantor pos yang bertugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi bendahara penerimaan. surat ketetapan retribusi (SKR). evaluasi dan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (8) diatur dalam peraturan kepala daerah. (6) Laporan pertanggungjawaban penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dilampiri dengan: a. Pasal 190 (1) Dalam hal obyek pendapatan daerah tersebar atas pertimbangan kondisi geografis wajib pajak dan/atau wajib retribusi tidak mungkin membayar kewajibannya langsung pada badan. (10) Format buku kas umum. dan surat tanda bukti pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran D. Surat tanda setoran (STS). surat tanda setoran.I peraturan menteri (11) Format surat ketetapan pajak daerah. buku rekapitulasi penerimaan harian. (3) Penatausahaan atas penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan: 67 .c. (5) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. buku rekapitulasi penerimaan harian. (9) Mekanisme dan tatacara verifikasi. b. buku kas umum. surat tanda bukti pembayaran.II peraturan menteri ini. (7) PPKD selaku BUD melakukan verifikasi. (2) Bendahara penerimaan pembantu wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. buku pembantu per rincian objek penerimaan. (3) Bendahara penerimaan dalam melakukan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan: a. c. surat ketetapan retribusi. b. (12) Format laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tercantum dalam Lampiran D.III peraturan menteri ini. evaluasi dan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dilakukan dalam rangka rekonsiliasi penerimaan. bukti penerimaan lainnya yang sah. dan d. evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (5). dapat ditunjuk bendahara penerimaan pembantu. dan e. d. c. (8) Verifikasi.

harus ditunjuk 68 . badan. surat ketetapan retribusi (SKR). bendahara penerimaan tersebut wajib memberikan surat kuasa kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan penyetoran dan tugas-tugas bendahara penerimaan atas tanggung jawab bendahara penerimaan yang bersangkutan dengan diketahui kepala SKPD. lembaga keuangan atau kantor pos sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyetor seluruh uang yang diterimanya ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak uang kas tersebut diterima. (5) Tata cara penyetoran dan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Bendahara penerimaan pembantu dalam melakukan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan: a. e. (2) Bank. Pasal 191 (1) Kepala daerah dapat menunjuk bank. Pasal 192 (1) Bendahara penerimaan pembantu wajib menyetor seluruh uang yang diterimanya ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak uang kas tersebut diterima.a. apabila melebihi 1 (satu) bulan sampai selama-lamanya 3 _(tiga) bulan. dapat melebihi ketentuan batas waktu penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. c. d. buku kas umum. apabila melebihi 3 (tiga) hari sampai selama-lamanya 1 (satu) bulan. badan. Pasal 193 Pengisian dokumen penatausahaan penerimaan dapat menggunakan aplikasi komputer dan/atau alat elektronik lainnya. lembaga keuangan atau kantor pos yang bertugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi bendahara penerimaan. (7) Format buku kas penerimaan harian pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b tercantum dalam Lampiran D. b. dan b. Pasal 194 Dalam hal bendahara penerimaan berhalangan. (6) Bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) melakukan verifikasi. dan bukti penerimaan lainnya yang sah.IV peraturan menteri ini. surat tanda setoran (STS). evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban penerimaan. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). dan ayat (4) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. surat tanda bukti pembayaran. maka: a. (5) Bendahara penerimaan pembantu wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada bendahara penerimaan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya. lembaga keuangan atau kantor pos sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertanggungjawabkan seluruh uang kas yang diterimanya kepada kepala daerah melalui BUD. badan. ayat (3). buku kas penerimaan harian pembantu. (3) Atas pertimbangan kondisi geografis yang sulit dijangkau dengan komunikasi dan transportasi. b. (2) Bendahara penerimaan pembantu mempertanggungjawabkan bukti penerimaan dan bukti penyetoran dari seluruh uang kas yang diterimanya kepada bendahara penerimaan. (4) Bank.

Paragraf 2 Permintaan Pembayaran Pasal 198 (1) Berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (1). SPP Ganti Uang (SPP-GU). maka dianggap yang bersangkutan telah mengundurkan diri atau berhenti dari jabatan sebagai bendahara penerimaan dan oleh karena itu segera diusulkan penggantinya. (2) Dokumen SPP-UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a.VI peraturan menteri ini. surat pengantar SPP-UP.pejabat bendahara penerimaan dan diadakan berita acara serah terima. dan d. c. Pasal 195 Ringkasan prosedur penatausahaan bendahara penerimaan tercantum dalam Lampiran D.V peraturan menteri ini. (2) SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (2) SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD. huruf b. apabila bendahara penerimaan sesudah 3 (tiga ) bulan belum juga dapat melaksanakan tugas. dan huruf c dilampiri dengan daftar rincian rencana penggunaan dana sampai dengan jenis belanja. PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan SPD. SPP Tambahan Uang (SPP-TU). (3) Pengajuan SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. SPP Langsung (SPP-LS). 69 . SPP Uang Persediaan (SPP-UP). Pasal 197 (1) Pengeluaran kas atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. Pasal 199 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-UP dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka pengisian uang persediaan. Bagian Keempat Penatausahaan Pengeluaran Paragraf 1 Penyediaan Dana Pasal 196 (1) Setelah penetapan anggaran kas. (2) Format SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. b. c. bendahara pengeluaran mengajukan SPP kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD.

dan g. rincian SPP-UP. e. f. surat pengantar SPP-TU. e.VII peraturan menteri ini. ringkasan SPP-TU. (2) Dokumen SPP-TU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. ringkasan SPP-GU. ringkasan SPP-UP. b. Dokumen SPP-GU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: surat pengantar SPP-GU. 70 . surat pengesahan laporan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran atas penggunaan dana SPP-UP/GU/TU sebelumnya.b. dan lampiran lain yang diperlukan. f. f. Pasal 201 Ketentuan batas jumlah SPP-UP dan SPP-GU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 dan Pasal 200 ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. salinan SPD. d. Pasal 202 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-TU dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka tambahan uang persediaan. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang menyatakan bahwa uang yang diminta tidak dipergunakan untuk keperluan selain uang persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa BUD. lampiran lainnya. rincian SPP-TU. (3) Format surat pengesahan laporan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d tercantum dalam Lampiran D. surat keterangan yang memuat penjelasan keperluan pengisian tambahan uang persediaan. Pasal 200 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-GU dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka ganti uang persediaan. c. b. d. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang menyatakan bahwa uang yang diminta tidak dipergunakan untuk keperluan selain tambahan uang persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa BUD. e. dan g. rincian SPP-GU. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang menyatakan bahwa uang yang diminta tidak dipergunakan untuk keperluan selain ganti uang persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa BUD. salinan SPD. (2) a. c. c. d. salinan SPD. (3) Batas jumlah pengajuan SPP-TU harus mendapat persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. lampiran lain yang diperlukan.

pembayaran gaji induk. Pasal 200 ayat (1) dan Pasal 202 ayat (1) digunakan dalam rangka pelaksanaan pengeluaran SKPD yang harus dipertanggungjawabkan. h. dan d. peraturan perundang-undangan mengenai penghasilan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah/wakil kepala daerah. SK CPNS. k. d. (3) Lampiran dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d mencakup: a. Pasal 204 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dilakukan oleh bendahara pengeluaran guna memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. SSP PPh Pasal 21.VIII peraturan menteri ini. daftar keluarga (KP4). b. lampiran SPP-LS. uang duka wafat/tewas yang dilengkapi dengan daftar gaji induk/gaji susulan/ f. surat pernyataan masih menduduki jabatan. f. n. surat pernyataan pelantikan. SK jabatan. dan Pasal 202 ayat (2) huruf e tercantum dalam Lampiran D. s. l. (2) Dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. dan w. kekurangan gaji/uang duka wafat/tewas. fotokopi surat nikah. Pasal 200 ayat (2) huruf f. SK kenaikan pangkat. e. (2) Format draft surat pernyataan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (2) huruf e. fotokopi akte kelahiran. i. b. g. c. gaji terusan. (4) Kelengkapan lampiran dokumen SPP-LS pembayaran gaji dan tunjangan sebagaimana 71 . c. ringkasan SPP-LS. p. daftar potongan sewa rumah dinas. t. surat pengantar SPP-LS. v. SPP-GU dan SPP-TU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (1). m. rincian SPP-LS. surat pindah. r. j. kekurangan gaji. surat keterangan pemberhentian pembayaran (SKPP) gaji. gaji susulan.(4) Dalam hal Jana tambahan uang tidak habis digunakan dalam 1 (satu) bulan. SK PNS. kenaikan gaji berkala. (5) Format surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f tercantum dalam Lampiran D. Pasal 203 (1) Pengajuan dokumen SPP-UP. surat pernyataan melaksanakan tugas. o. surat keterangan masih sekolah/kuliah.IX peraturan menteri ini. surat kematian. q. u. maka sisa tambahan uang disetor ke rekening kas umum daerah.

b. e. dan d. SSP disertai faktur pajak (PPN dan PPh) yang telah ditandatangani wajib pajak dan wajib pungut. (2) Dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. b. berita acara serah terima barang dan jasa. berita acara pembayaran. k. h. berita acara prestasi kemajuan pekerjaan dilampiri dengan bukti kehadiran dari tenaga konsultan sesuai pentahapan waktu pekerjaan dan bukti penyewaan/pembelian alat penunjang serta bukti pengeluaran lainnya berdasarkan rincian dalam surat penawaran. untuk pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d mencakup: a. nota/faktur yang ditandatangani pihak ketiga dan PPTK sertai disetujui oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. berita acara penyelesaian pekerjaan. c. f. surat pengantar SPP-LS. j. 72 . c.dimaksud pada ayat (3) digunakan sesuai dengan peruntukannya. rincian SPP-LS. n. g. ringkasan SPP-LS. foto/buku/dokumentasi tingkat kemajuan/ penyelesaian pekerjaan. berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh pihak ketiga/rekanan serta unsur panitia pemeriksaan barang berikut lampiran daftar barang yang diperiksa. surat perjanjian kerjasama/kontrak antara pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dengan pihak ketiga serta mencantumkan nomor rekening bank pihak ketiga. (6) Bendahara pengeluaran mengajukan SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pengguna anggaran setelah ditandatangani oleh PPTK guna memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. (3) Lampiran dokumen SPP-LS. (4) Kelengkapan lampiran dokumen SPP-LS pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sesuai dengan peruntukannya. surat jaminan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank. l. khusus untuk pekerjaan konsultan yang perhitungan harganya menggunakan biaya personil (billing rate). o. surat angkutan atau konosemen apabila pengadaan barang dilaksanakan di luar wilayah kerja. Pasal 205 (1) PPTK menyiapkan dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. dan p. salinan SPD. lampiran SPP-LS. (5) Dalam hal kelengkapan dokumen yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak lengkap. dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari penerusan pirrjaman/hibah luar negeri. m. surat pemberitahuan potongan denda keterlambatan pekerjaan dari PPTK apabila pekerjaan mengalami keterlambatan. potongan jamsostek (potongan sesuai dengan ketentuan yang berlaku/surat pemberitahuan jamsostek). salinan surat rekomendasi dari SKPD teknis terkait. bendahara pengeluaran mengembalikan dokumen SPP-LS pengadaan barang dan jasa kepada PPTK untuk dilengkapi. kwitansi bermeterai. d. i.

dan pembiayaan oleh bendahara pengeluaran SKPKD dilakukan dengan menerbitkan SPP-LS yang diajukan kepada PPKD melalui PPK-SKPKD. Pasal 210 (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran meneliti kelengkapan dokumen SPPUP. dan f. huruf e. dan SPP-LS yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. hibah. b.I peraturan menteri ini. (5) Kartu kendali kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D.Pasal 206 (1) Permintaan pembayaran untuk suatu kegiatan dapat terdiri dari SPP-LS dan/atau SPPUP/GU/TU. Pasal 208 Permintaan pembayaran belanja bunga. belanja bagi hasil. SPP-TU. (2) Dalam rangka pengendalian penerbitan permintaan pembayaran untuk setiap kegiatan dibuatkan kartu kendali kegiatan. (4) Dokumen yang digunakan oleh PPK-SKPD dalam menatausahakan penerbitan SPP mencakup register SPP-UP/GU/TU/LS. (6) Format buku kas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sesuai dengan Lampiran D. subsidi. dan huruf f. Pasal 207 Format dokumen SPP-UP. (3) SPP-LS belanja barang dan jasa untuk kebutuhan SKPD yang bukan pembayaran langsung kepada pihak ketiga dikelola oleh bendahara pengeluaran. 73 . (4) SPP-UP/GU/TU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pembayaran pengeluaran lainnya yang bukan untuk pihak ketiga. dan huruf f dapat dikerjakan oleh pembantu bendahara pengeluaran. (3) Buku-buku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. serta ayat (4) tercantum dalam Lampiran D. huruf d.XI peraturan menteri ini. huruf c. Pasal 205 ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. SPP-TU. buku pajak. SPP-GU. (2) SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pembayaran langsung kepada pihak ketiga berdasarkan kontrak dan/atau surat perintah kerja setelah diperhitungkan kewajiban pihak ketiga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan SPP-LS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (1). buku simpanan/bank. e. Pasal 200 ayat (1). SPP-GU. buku panjar. Pasal 202 ayat (1). huruf d. buku kas umum. d. register SPP-UP/GU/TU/LS. c. bantuan sosial. (7) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b.XII peraturan menteri ini. huruf e.X peraturan menteri ini. Pasal 209 (1) Dokumen yang digunakan oleh bendahara pengeluaran dalam menatausahakan pengeluaran permintaan pembayaran mencakup: a. buku rekapitulasi pengeluaran per rincian obyek. Pasal 204 ayat (1). huruf c. bantuan keuangan.

(2) Penatausahaan pengeluaran perintah membayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD.(2) Penelitian kelengkapan dokumen SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. Pasal 212 (1) Penerbitan SPM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (1) paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya dokumen SPP. PPK-SKPD mengembalikan dokumen SPP-UP. Pasal 214 (1) Dokumen-dokumen yang digunakan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam menatausahakan pengeluaran perintah membayar mencakup: a. register surat penolakan penerbitan SPM. (3) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D.XV peraturan menteri ini. (3) Format SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. (3) Dalam hal pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran berhalangan. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menerbitkan SPM. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan. Pasal 213 SPM yang telah diterbitkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 212 ayat (1) diajukan kepada kuasa BUD untuk penerbitan SP2D.XIII peraturan menteri ini. dan b. (2) Dalam hal dokumen SPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (2) dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah. (3) Dalam hal kelengkapan dokumen yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lengkap. register SPM-UP/SPM-GU/SPM-TU/SPM-LS. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menolak menerbitkan SPM. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani SPM. Paragraf 3 Perintah Membayar Pasal 211 (1) Dalam hal dokumen SPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (2) dinyatakan lengkap dan sah. SPP-TU. dan SPP-LS kepada bendahara pengeluaran untuk dilengkapi. (2) Penolakan penerbitan SPM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (2) paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPP.XIV peraturan menteri ini. SPP-GU. Pasal 215 Setelah tahun anggaran berakhir. (4) Format surat penolakan penerbitan SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. Paragraf 4 74 .

c. dan d. (3) Kelengkapan dokumen SPM-GU untuk penerbitan SP2D mencakup: a. (9) Format SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam D. surat pengesahan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran periode sebelumnya. surat pernyataan tanggungjawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. dan b.XVII peraturan menteri ini. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani SP2D. (7) Dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah dan/atau pengeluaran tersebut melampaui pagu anggaran. (2) Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan pembayaran langsung kepada pihak ketiga. (4) Kelengkapan dokumen SPM-TU untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. kuasa BUD menolak menerbitkan SP2D. b. (6) Dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan lengkap.XVI peraturan menteri ini. Pasal 218 (1) Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan kepada pengguna anggaran/kuasa penggguna anggaran. (8) Dalam hal kuasa BUD berhalangan. PasaI 219 75 . (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS untuk penerbitan SP2D mencakup: a. kuasa BUD menerbitkan SP2D. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap sesuai dengan kelengkapan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pasal 217 (1) Penerbitan SP2D sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 ayat (6) paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM.Pencairan Dana Pasal 216 (1) Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. bukti atas penyetoran PPN/PPh. (2) Kelengkapan dokumen SPM-UP untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. (3) Format surat penolakan penerbitan SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. (2) Penolakan penerbitan SP2D sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 ayat (7) paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM. ringkasan pengeluaran per rincian objek yang disertai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap.

(3) Format dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D.XIX peraturan menteri ini. register penerimaan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ). bukti atas penyetoran PPN/PPh ke kas negara. Paragraf 5 Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Pasal 220 (1) Bendahara pengeluaran secara administratif wajib mempertanggungjawabkan penggunaan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambah uang persediaan kepada kepala SKPD melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.(1) Dokumen yang digunakan kuasa BUD dalam menatausahakan SP2D mencakup: a. (10) Bendahara pengeluaran pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengeluaran kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. c. b. d. (4) Dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan uang persediaan. b. (7) Ketentuan batas waktu penerbitan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban pengeluaran dan sanksi keterlambatan penyampaian laporan pertanggungjawaban ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. register surat penolakan penerbitan SP2D. dan d. register penutupan kas. dan c.XVIII peraturan menteri ini. surat penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SP)). (5) Buku kas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a ditutup setiap bulan dengan sepengetahuan dan persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. ringkasan pengeluaran per rincian obyek yang disertai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sah atas pengeluaran dari setiap rincian obyek yang tercantum dalam ringkasan pengeluaran per rincian obyek dimaksud. register SP2D. (9) Dokumen pendukung SPP-LS dapat dipersamakan dengan bukti pertanggungjawaban atas pengeluaran pembayaran beban langsung kepada pihak ketiga. (11) Penyampaian pertanggungjawaban bendahara pengeluaran secara fungsional 76 . (2) Dokumen yang digunakan dalam menatausahakan pertanggungjawaban pengeluaran mencakup: a. c. buku kas umum. buku kas penerimaan dan pengeluaran (2) Format dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. (8) Untuk tertib laporan pertanggungjawaban pada akhir tahun anggaran. dokumen laporan pertanggungjawaban yang disampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. b. register pengesahan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ). (6) Dalam hal laporan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) telah sesuai. pengguna anggaran menerbitkdn surat pengesahan laporan pertanggungjawaban. dan e. pertanggungjawaban pengeluaran dana bulan Desember disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember. register penutupan kas. register penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SP)).

sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dilaksanakan setelah diterbitkan surat pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. (12) Format laporan pertanggungjawaban pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (10) tercantum dalam Lampiran D.XX peraturan menteri ini. Pasal 221 Dalam melakukan verifikasi atas laporan pertanggungjawaban yang disampaikan, PPKSKPD berkewajiban: a. meneliti kelengkapan dokumen laporan pertanggungjawaban dan keabsahan bukti-bukti pengeluaran yang dilampirkan; b. menguji kebenaran perhitungan atas pengeluaran per rincian obyek yang tercantum dalam ringkasan per rincian obyek; c. menghitung pengenaan PPN/PPh atas beban pengeluaran per rincian obyek; dan d. menguji kebenaran sesuai dengan SPM dan SP2D yang diterbitkan periode sebelumnya. Pasal 222 (1) Bendahara pengeluaran pembantu dapat ditunjuk berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif Iainnya. (2) Bendahara pengeluaran pembantu wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh pengeluaran yang menjadi tanggung jawabnya. (3) Dokumen-dokumen yang digunakan oleh bendahara pengeluaran pembantu dalam menatausahakan pengeluaran mencakup: a. buku kas umum; b. buku pajak PPN/PPh; dan c. buku panjar. (4) Bendahara pengeluaran pembantu dalam melakukan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan bukti pengeluaran yang sah. (5) Bendahara pengeluaran pembantu wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengeluaran kepada bendahara pengeluaran paling fambat tanggal 5 bulan berikutnya. (6) Laporan pertanggungjawaban pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) mencakup: a. buku kas umum; b. buku pajak PPN/PPh; dan c. bukti pengeluaran yang sah. (7) Bendahara pengeluaran melakukan verifikasi, evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (6). Pasal 223 (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melakukan pemeriksaan kas yang dikelola oleh bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran sekurangkurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran melakukan pemeriksaan kas yang dikelola oleh bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan. Pemeriksaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam berita acara pemeriksaan kas.

(2)

(3)

77

(4)

Berita acara pemeriksaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disertai dengan register penutupan kas sesuai dengan Lampiran D.XXI peraturan menteri ini. Pasal 224

Bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, belanja tidak terduga, dan pembiayaan melakukan penatausahaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 225 Pengisian dokumen penatausahaan bendahara pengeluaran dapat menggunakan aplikasi komputer dan/atau alat elektronik lainnya. Pasal 226 Dalam hal bendahara pengeluaran berhalangan, maka: a. apabila melebihi 3 (tiga) hari sampai selama-lamanya 1 (satu) bulan, bendahara pengeluaran tersebut wajib memberikan surat kuasa kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan pembayaran dan tugas-tugas bendahara pengeluaran atas tanggung jawab bendahara pengeluaran yang bersangkutan dengan diketahui kepala SKPD; b. apabila melebihi 1 (satu) bulan sampai selama-lamanya 3 (tiga) bulan, harus ditunjuk pejabat bendahara pengeluaran dan diadakan berita acara serah terima; c. apabila bendahara pengeluaran sesudah 3 (tiga ) bulan belum juga dapat melaksanakan tugas, maka dianggap yang bersangkutan telah mengundurkan diri atau berhenti dari jabatan sebagai bendahara pengeluaran dan oleh karena itu segera diusulkan penggantinya. Pasal 227 Ringkasan prosedur penatausahaan bendahara pengeluaran tercantum dalam Lampiran D.XXII peraturan menteri ini. Bagian Kelima Penatausahaan Pendanaan Tugas Pembantuan Pasal 228 (1) Gubernur melimpahkan kewenangan kepada bupati/walikota untuk menetapkan pejabat kuasa pengguna anggaran pada SKPD kabupaten/kota yang menandatangani SPM/menguji SPP, PPTK dan bendahara pengeluaran yang melaksanakan tugas pembantuan di kabupaten/kota. (2) Bupati/walikota melimpahkan kewenangan kepada kepala desa untuk menetapkan pejabat kuasa pengguna anggaran pada lingkungan pemerintah desa yang menandatangani SPM/menguji SPP, PPTK dan bendahara pengeluaran yang melaksanakan tugas pembantuan di pemerintah desa. (3) Administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan dana tugas pembantuan provinsi di kabupaten/kota dilakukan secara terpisah dari administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kabupaten/kota. (4) Administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan dana tugas pembantuan kabupaten/kota di pemerintah desa dilakukan secara terpisah dari

78

administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APB Desa. Pasal 229 (1) PPTK pada SKPD kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai penanggungjawab tugas pembantuan provinsi menyiapkan dokumen SPP-LS untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran pada SKPD kabupaten/kota berkenaan dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. (2) Bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengajukan SPP-LS disertai dengan lampiran yang dipersyaratkan kepada kepala SKPD berkenaan setelah ditandatangani oleh PPTK tugas pembantuan. (3) Lampiran dokumen SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 205. (4) Kepala SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menerbitkan SPM-LS disertai dengan kelengkapan dokumen untuk disampaikan kepada kuasa BUD provinsi. (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 214. (6) Kuasa BUD provinsi meneliti kelengkapan dokumen SPM-LS tugas pembantuan yang diajukan oleh kepala SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk menerbitkan SP2D. Pasal 230 (1) PPTK pada kantor pemerintah desa yang ditetapkan sebagai penanggungjawab tugas pembantuan provinsi dan kabupaten/kota menyiapkan dokumen SPP-LS untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran/bendahara desa pada kantor pemerintah desa berkenaan dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. (2) Bendahara pengeluaran/bendahara desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengajukan SPP-LS disertai dengan lampiran yang dipersyaratkan kepada kepala desa berkenaan setelah ditandatangani oleh PPTK tugas pembantuan. (3) Lampiran dokumen SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 204. (4) Kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menerbitkan SPM-LS disertai dengan kelengkapan dokumen untuk disampaikan kepada kuasa BUD provinsi atau kabupaten/kota. (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 214. (6) Kuasa BUD provinsi atau kabupaten/kota meneliti kelengkapan dokumen SPM-LS tugas pembantuan yang diajukan oleh kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk menerbitkan SP2D. Pasal 231 (1) Pedoman penatausahaan pelaksanaan pendanaan tugas pembantuan provinsi di kabupaten/kota dan desa ditetapkan dalam peraturan gubernur. (2) Pedoman penatausahaan pelaksanaan pendanaan tugas kabupaten/kota di desa ditetapkan dalam peraturan bupati/walikota. pembantuan

BAB XI

79

catatan atas laporan keuangan. dan apabila diperlukan ditambah dengan buku besar pembantu.AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Sistem Akuntansi Pasal 232 (1) Entitas pelaporan dan pemerintahan daerah. laporan realisasi anggaran. entitas pelaporan menyusun laporan keuangan yang meliputi: a. (3) PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan pelaksanaan sistem dan prosedur penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. kode akun 80 . prosedur akuntansi pengeluaran kas. (4) Proses sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didokumentasikan dalam bentuk buku jurnal dan buku besar. (2) Sistem akuntansi SKPD dilaksanakan oleh PPK-SKPD. neraca. pengikhtisaran. c. c. b. prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah. laporan arus kas. b. pencatatan. entitas akuntansi menyusun laporan keuangan yang meliputi: a. dan d. catatan atas laporan keuangan. (6) Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. dan d. laporan realisasi anggaran. prosedur akuntansi selain kas. (5) Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 234 (1) Sistem akuntansi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh PPKD. sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. dan c. neraca. entitas akuntansi menyelenggarakan sistem akuntansi (2) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah mengacu pada peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah. (3) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data. Pasal 235 (1) Kode rekening untuk menyusun neraca terdiri dari kode akun aset. (2) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengendalian internal dan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan. Pasal 233 (1) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi: a. prosedur akuntansi penerimaan kas.

pengukuran dan pelaporan setiap akun dalam laporan keuangan. Lampiran A. (4) Dalam pengakuan dan pengukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a juga 81 .I peraturan menteri ini. pendapatan.VII. (2) Buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi rincian akun yang telah dicatat dalam buku besar. pengukuran dan pelaporan atas aset. (2) Buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditutup dan diringkas pada setiap akhir periode sesuai dengan kebutuhan. Bagian Kedua Kebijakan Akuntansi Pasal 239 (1) Kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah tentang kebijakan akuntansi pemerintah daerah dengan berpedoman pada standar akuntansi pemerintahan. (2) Kebijakan akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar pengakuan. dan Lampiran A. Lampiran A.IV. b.IX peraturan menteri ini. (3) Kode rekening sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disusun dengan memperhatikan kepentingan penyusunan laporan statistik keuangan daerah/negara. Pasal 236 (1) Semua transaksi dan/atau kejadian keuangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah dicatat pada buku jurnal berdasarkan bukti transaksi yang sah. dan pembiayaan serta laporan keuangan. (4) Kode rekening yang digunakan untuk menyusun neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran E. kewajiban. (5) Kode rekening yang digunakan untuk menyusun laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran A. Lampiran A. dan kode akun pembiayaan.III. (3) Saldo akhir setiap periode dipindahkan menjadi saldo awal periode berikutnya. Lampiran A.kewajiban. (2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara kronologis sesuai dengan terjadinya transaksi dan/atau kejadian keuangan. definisi.VIII. Pasal 237 (1) Transaksi atau kejadian keuangan yang telah dicatat dalam buku jurnal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 235 ayat (1) selanjutnya secara periodik diposting ke dalam buku besar sesuai dengan rekening berkenaan. (3) Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya memuat: a. Pasal 238 (1) Buku besar dapat dilengkapi dengan buku besar pembantu sebagai alat uji silang dan kelengkapan informasi rekening tertentu. belanja. pengakuan. kode akun belanja. dan kode akun ekuitas dana. (2) Kode rekening untuk menyusun laporan realisasi anggaran terdiri dari kode akun pendapatan. ekuitas.II. prinsip-prinsip penyusunan dan penyajian pelaporan keuangan.

c. (6) Kebijakan kapitalisasi aset sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan pengakuan terhadap jumlah kas/setara kas dan nilai wajar imbalan lainnya yang dibayarkan sebagai penambah nilai aset tetap. 82 . dan/atau c.II peraturan menteri ini. akuntansi penerimaan kas (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilengkapi dengan: a. (2) Kepala SKPD sebagai entitas akuntansi menyusun laporan keuangan SKPD yang disampaikan kepada PPKD untuk digabung menjadi laporan keuangan pemerintah daerah. Bagian Ketiga Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD Paragraf 1 Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD Pasal 241 Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. (3) Kepala BLUD sebagai entitas akuntansi menyusun laporan keuangan BLUD yang disampaikan kepada PPKD untuk digabung ke dalam laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bukti transaksi penerimaan kas lainnya. bukti transfer. Pasal 242 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 mencakup: a. b. dan/atau b. Pasal 240 (1) Pemerintah daerah sebagai entitas pelaporan menyusun laporan keuangan pemerintah daerah. pajak. dan d. (5) Kebijakan harga perolehan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan pengakuan terhadap jumlah kas/setara kas yang dibayarkan terdiri dari belanja modal. belanja administrasi pembelian/pembangunan. belanja pengiriman. STS. (7) Contoh format kebijakan akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran E. dan nilai wajar imbalan lainnya yang dibayarkan sebagai komponen harga perolehan aset tetap.mencakup kebijakan mengenai harga perolehan dan kapitalisasi aset. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). pengikhtisaran. nota kredit bank. (8) Ikhtisar kebijakan akuntansi yang diberlakukan pada setiap tahun anggaran dimuat dalam catatan atas laporan keuangan tahun anggaran berkenaan. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. (4) Kepala BLUD sebagai entitas pelaporan menyusun laporan keuangan BLUD yang disampaikan kepada kepala daerah dan diaudit oleh pemeriksa ekstern sesuai dengan peraturan perundang-undangan. SKR. surat tanda bukti pembayaran.

buku besar pembantu.III peraturan menteri ini.VI peraturan menteri ini. dan c. Pasal 248 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas 83 . (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. Pasal 246 Ringkasan prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD tercantum dalam Lampiran E. pengikhtisaran. b.Pasal 243 (1) Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 terdiri dari: a. kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 Pasal 245 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal penerimaan kas dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal penerimaan kas berkenaan. buku jurnal penerimaan kas. (4) Format buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c tercantum dalam Lampiran E. (3) Format buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran E. (2) Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. (2) Secara periodik jurnal atas transaksi penerimaan kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan.IV peraturan menteri ini.V peraturan menteri ini. sub prosedur akuntansi pengeluaran kas-uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan. buku besar. dan b. Paragraf 2 Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPD Pasal 247 (1) Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. sub prosedur akuntansi pengeluaran kas-langsung. Pasal 244 Prosedur akuntansi penerimaan dilaksanakan oleh PPK-SKPD. (2) Format buku jurnal penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E.

VII peraturan menteri ini. nota debet bank. SP2D. kuitansi pembayaran dan bukti tanda terima barang/jasa. dan/atau c. (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan: a. (3) Rehabilitasi yang bersifat sedang dan berat dikapitalisasi apabila memenuhi salah satu 84 . buku jurnal pengeluaran kas. buku besar pembantu. Paragraf 3 Prosedur Akuntansi Aset pada SKPD Pasal 253 (1) Prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan. Pasal 251 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 248 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal pengeluaran kas. dan penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPD. rehabilitasi. (2) Format buku jurnal pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. SPD. (3) Format buku besar dan buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c sesuai dengan Lampiran E. dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal pengeluaran kas berkenaan. atau b.sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) mencakup: a. Pasal 249 (1) Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) mencakup: a. SPM. buku besar. Pasal 250 Prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. Pasal 252 Ringkasan prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD tercantum dalam Lampiran E. perubahan klasifikasi. (2) Secara periodik jumal atas transaksi pengeluaran kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. dan/atau b. pemeliharaan. dan c.VIII peraturan menteri ini.IV dan Lampiran E. atau c. (2) Pemeliharaan aset tetap yang bersifat rutin dan berkala tidak dikapitalisasi. bukti transaksi pengeluaran kas Iainnya. b.V peraturan menteri ini.

85 . (2) Metode penyusutan yang dapat digunakan antara lain: a. b.IX peraturan menteri ini.V peraturan menteri ini. menambah kapasitas. buku jurnal umum. berita acara penyelesaian pekerjaan. b. (5) Penyusutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap. (4) Perubahan klasifikasi aset tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa perubahan aset tetap ke klasifikasi selain aset tetap atau sebaliknya. berita acara penerimaan barang. (2) Format buku jurnal umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. Pasal 256 (1) Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) mencakup: a. (3) Format buku besar dan buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Lampiran E. meningkatkan efisiensi dan/atau menambah masa manfaat. (5) Metode unit produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c merupakan penyesuaian nilai aset tetap dengan membebankan penurunan kapasitas dan manfaat aset tetap berdasarkan unit produksi yang dihasilkan dari aset tetap berkenaan. Pasal 257 Prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD serta pejabat pengurus dan penyimpan barang SKPD. metode unit produksi.IV dan Lampiran E. (6) Penetapan umur ekonomis aset tetap dimuat dalam kebijakan akuntansi berpedoman pada peraturan perundang-undangan.kriteria menambah volume. (4) Metode saldo menurun ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b merupakan penyesuaian nilai aset tetap dengan membebankan penurunan kapasitas dan manfaat aset tetap yang lebih besar pada periode awal pemanfaatan aset dibandingkan dengan periode akhir sepanjang umur ekonomis aset tetap berkenaan. dan c. metode saldo menurun ganda. Pasal 255 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) berupa bukti memorial dilampiri dengan: a. Pasal 254 (1) Setiap aset tetap kecuali tanah dan konstruksi dalam pengerjaan dilakukan penyusutan yang sistematis sesuai dengan masa manfaatnya. metode garis lurus. dan c. (3) Metode garis lurus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a merupakan penyesuaian nilai aset tetap dengan membebankan penurunan kapasitas dan manfaat aset tetap yang sama setiap periode sepanjang umur ekonomis aset tetap berkenaan. buku besar. b. berita acara serah terima barang. dan c. meningkatkan fungsi. buku besar pembantu.

pengikhtisaran. b. (2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai jenis/nama aset tetap. d. retur pembelian kredit. tanggal transaksi dan/atau kejadian. klasifikasi aset tetap. (6) Pembelian secara kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan transaksi pembelian aset tetap yang pembayarannya dilakukan di masa yang akan datang. pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ). (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. penerimaan aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas. penerimaan/pengeluaran hibah selain kas. koreksi kesalahan pencatatan. (9) Penerimaan aset tetap tanpa konsekuensi kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g merupakan perolehan aset tetap akibat adanya tukar menukar (ruitslaag) dengan pihak ketiga. pembelian secara kredit. c. nilai aset tetap.Pasal 258 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255 membuat bukti memorial. (7) Retur pembelian kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan pengembalian aset tetap yang telah dibeli secara kredit. (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian aset tetap diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. (3) Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SP]) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan pengesahan atas pengeluaran/belanja melalui mekanisme uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan. dan g. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. pemindahtanganan atas aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas. (5) Penerimaan/pengeluaran hibah selain kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah penerimaan/pengeluaran sumber ekonomi non kas yang merupakan pelaksanaan APBD yang mengandung konsekuensi ekonomi bagi pemerintah daerah. 86 . kode rekening. Paragraf 4 Prosedur Akuntansi Selain Kas pada SKPD Pasal 259 (1) Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. f. e. (8) Pemindahtanganan atas aset tetap tanpa konsekuensi kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f merupakan pemindahtanganan aset tetap pada pihak ketiga karena suatu hal tanpa ada penggantian berupa kas. (2) Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. (4) Koreksi kesalahan pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah diposting ke buku besar. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum.

(4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. d. berita acara penilaian. dan jumlah rupiah.X peraturan menteri ini. c. b. buku besar pembantu. dan c. e. surat keputusan mutasi barang (antar SKPD). pengesahan pertanggungjawaban.Pasal 260 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (1) berupa bukti memorial yang dilampiri dengan: a. Pasal 264 Ringkasan prosedur akuntansi selain kas pada SKPD tercantum dalam Lampiran E. berita acara serah terima barang. surat pengiriman barang. dan h. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. Pasal 262 Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. buku jurnal umum. kode rekening. buku besar. b. uraian transaksi dan/atau kejadian. g. Pasal 263 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 membuat bukti memorial. surat keputusan penghapusan barang. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum. berita acara penerimaan barang. Pasal 261 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (1) mencakup: a. (2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal transaksi dan/atau kejadian. berita acara pemusnahan barang. Paragraf 5 Laporan Keuangan pada SKPD Pasal 265 87 . pengeluaran (pengesahan SPJ). f.

(3) Format laporan realisasi anggaran SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. Bagian Keempat Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPKD Paragraf 1 Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPKD Pasal 266 Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. dan c.XIII peraturan menteri ini. b. dan e. b. c. buku besar pembantu. Pasal 267 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 mencakup: a. surat ketetapan retribusi (SKR). dan c. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). bukti transfer. d. b. neraca SKPD. Pasal 269 Prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD. buku besar.XI peraturan menteri ini. dan c. surat tanda setoran (STS). (5) Format catatan atas laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c tercantum dalam Lampiran E. bukti transaksi penerimaan kas lainnya. 88 . Pasal 268 Buku yang digunakan untuk mencatat prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 mencakup: a. catatan atas laporan keuangan SKPD.XIV peraturan menteri ini. nota kredit bank. (3) Format laporan penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d tercantum dalam Lampiran E. Surat perintah pemindahbukuan. buku jurnal penerimaan kas. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. pengikhtisaran. laporan penerimaan kas dari bendahara penerimaan. (4) Format neraca SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran E. (2) Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan. b. laporan realisasi anggaran SKPD.XII peraturan menteri ini.(1) SKPD menyusun dan melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD secara periodik yang meliputi: a. (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan: a.

laporan pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran. (3) Format laporan pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c tercantum dalam Lampiran E. buku besar. b. b.XV peraturan menteri ini. Pasal 271 Ringkasan prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD tercantum dalam Lampiran E. pengikhtisaran. Pasal 275 Prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 merupakan fungsi akuntansi SKPKD.Pasal 270 (1) Fungsi akuntansi berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 267 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal penerimaan kas dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal penerimaan kas berkenaan. (2) Secara periodik jurnal atas transaksi penerimaan kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. dan d. buku jumal pengeluaran kas. Pasal 274 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 mencakup: a. dan c. surat penyediaan dana (SPD). c. nota debet bank. kuitansi pembayaran dan bukti tanda terima barang/jasa. surat perintah pencairan dana (SP2D). buku besar pembantu. Pasal 273 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 mencakup: a.XVI peraturan menteri ini. Paragraf 2 Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPKD Pasal 272 Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. Pasal 276 (1) Fungsi akuntansi SKPKD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas 89 . (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan: a. atau b. surat perintah membayar (SPM). sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

Pasal 279 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 berupa bukti memorial dilampiri dengan: a. dan penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPKD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. berita acara serah terima barang. penghapusan. Pasal 282 (1) Fungsi akuntansi SKPKD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 279 membuat bukti memorial. pemeliharaan. (2) Prosedur akuntansi aset pada SKPKD digunakan sebagai alat pengendali dalam pengelolaan aset yang dikuasai/digunakan SKPD dan/atau SKPKD. Pasal 280 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 mencakup: a. Paragraf 3 Prosedur Akuntansi Aset pada SKPKD Pasal 278 (1) Prosedur akuntansi aset pada SKPKD meliputi serangkaian proses pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan. berita acara penilaian. buku besar.XVII peraturan menteri ini. (2) Secara periodik jurnal atas transaksi pengeluaran kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. berita acara penerimaan barang. berita acara penyelesaian pekerjaan. c. d. (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. e. surat keputusan penghapusan barang. b. berita acara pemusnahan barang. buku besar pembantu. pemindahtanganan. perubahan klasifikasi. buku jurnal umum. dan g. (2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat 90 . rehabilitasi. f. Pasal 281 Prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD. surat keputusan mutasi barang (antar SKPKD).sebagaimana dimaksud dalam Pasal 273 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal pengeluaran kas dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal pengeluaran kas berkenaan. Pasal 277 Ringkasan prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD tercantum dalam Lampiran E. dan c. b.

Pasal 287 (1) Fungsi akuntansi berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 284 membuat bukti memorial. Pasal 286 Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 ayat (1) dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD. pengikhtisaran. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. Paragraf 4 Prosedur Akuntansi Selain Kas pada SKPKD Pasal 283 (1) Prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. 91 . tanggal transaksi dan/atau kejadian. surat keputusan mutasi barang (antar SKPKD). (2) Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup mencakup: a. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. klasifikasi aset tetap. berita acara pemusnahan barang. kode rekening. buku besar. reklasifikasi akibat koreksi yang ditemukan dikemudian hari. dan d. b. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum. f. b. Pasal 285 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 ayat (1) mencakup: a. berita acara serah terima barang. berita acara penerimaan barang. nilai aset tetap. dan g. buku jurnal umum. buku besar pembantu. e. berita acara penyelesaian pekerjaan. penyesuaian terhadap akun tertentu dalam rangka menyusun laporan keuangan pada akhir tahun. (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian aset tetap diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. surat keputusan penghapusan barang. reklasifikasi belanja modal menjadi aset tetap. Pasal 284 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 ayat (1) berupa bukti memorial dilampiri dengan: a. b.informasi mengenai jenis/nama aset tetap. c. dan c. c. d. koreksi kesalahan pembukuan. berita acara penilaian.

disiapkan oleh PPK-SKPD dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD serta prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. BAB XII PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD Bagian Pertama Laporan Realisasi Semester Pertama Anggaran Pendapatan dan Belanja Pasal 290 (1) Kepala SKPD menyusun laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. dan jumlah rupiah. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Pasal 288 Ringkasan prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD tercantum dalam Lampiran E. Paragraf 5 Laporan Keuangan pada SKPKD Pasal 289 (1) Kepala SKPKD menyusun dan melaporkan laporan arus kas secara periodik kepada kepala daerah.XVIII peraturan menteri ini.XIX peraturan menteri ini. (3) Format laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran E. (3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. kode rekening. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. (4) Pejabat pengguna anggaran menyampaikan laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD serta prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan realisasi semester pertama APBD paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir.(2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal transaksi dan/atau kejadian. (2) Laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan. (5) Format laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD 92 . uraian transaksi dan/atau kejadian.

laporan realisasi anggaran. Pasal 291 PPKD menyusun laporan realisasi semester pertama APBD dengan cara menggabungkan seluruh laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 290 ayat (4) paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah.dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran E. neraca. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. Bagian Kedua Laporan Tahunan Pasal 294 (1) PPK-SKPD menyiapkan laporan keuangan SKPD tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada kepala SKPD untuk ditetapkan sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD. Pasal 292 Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291 disampaikan kepada kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Juli tahun anggaran berkenaan untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya.XX peraturan menteri ini. (2) Format laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran E. Pasal 293 (1) Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 292 disampaikan kepada DPRD paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berkenaan. Pasal 295 (1) Laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 294 ayat (1) disampaikan kepada kepala daerah melalui PPKD paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.XXII peraturan menteri ini. (5) Format surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran E.XXI peraturan menteri ini. dan c. catatan atas laporan keuangan. b. (3) Laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari: a. (4) Laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan surat pernyataan kepala SKPD bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan standar akuntansi pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 93 . (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pejabat pengguna anggaran sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang berada di SKPD yang menjadi tanggung jawabnya.

b. (9) Format laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a tercantum dalam Lampiran E. (11) Format laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c sesuai dengan Lampiran E. (13) Format surat pernyataan kepala daerah bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tercantum dalam Lampiran E. (4) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan. (2) Kepala daerah memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (5) Laporan keuangan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri dengan laporan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan BUMD/perusahaan daerah. (6) Laporan ikhtisar realisasi kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disusun dari ringkasan laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dan laporan kinerja interim di Iingkungan pemerintah daerah. Pasal 297 (1) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 296 ayat (2) disampaikan oleh kepala daerah kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dilakukan pemeriksaan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. dan d. c. laporan realisasi anggaran.XXVI peraturan menteri ini. laporan arus kas.XXIII peraturan menteri ini. (2) Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.Pasal 296 (1) PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah dengan cara menggabungkan laporan-laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 295 ayat (3) paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran berkenaan. (7) Penyusunan laporan kinerja interim sebagaimana dimaksud pada ayat (6) berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri yang mengatur mengenai laporan kinerja interim di lingkungan pemerintah daerah. sesuai dengan peraturan perundangundangan. (12) Format catatan atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d tercantum dalam Lampiran E.XXV peraturan menteri ini. neraca.XXIV peraturan menteri ini. (10) Format neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b tercantum dalam Lampiran E. (8) Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan surat pernyataan kepala daerah yang menyatakan pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. 94 . catatan atas laporan keuangan.XIX peraturan menteri ini.

catatan atas laporan keuangan. (2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan lampiran terdiri dari: a. (7) Format dan isi laporan kinerja berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang laporan keuangan dan kinerja interim di lingkungan pemerintah daerah.Bagian Ketiga Penetapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Pasal 298 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. (2) Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran. kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD. Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan laporan realisasi anggaran. (3) Format laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. neraca. (3) Format rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran pertanggungjawaban (2) 95 . dan laporan kinerja yang isinya sama dengan yang disampaikan kepada BPK.XIX peraturan menteri ini.XXIV peraturan menteri ini. serta dilampiri dengan laporan kinerja yang telah diperiksa BPK dan ikhtisar laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah. (9) Format rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran E. dan b. (5) Format laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E.XXIII peraturan menteri ini.XXV peraturan menteri ini. Pasal 299 (1) Apabila sampai batas waktu 2 (dua) bulan setelah penyampaian laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 297 ayat (1). laporan arus kas. (6) Format catatan atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. penjabaran laporan realisasi anggaran. neraca.XXVII peraturan menteri ini. catatan atas laporan keuangan. laporan arus kas. Pasal 300 (1) Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 299 ayat (1) dirinci dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. (8) Format dan ikhtisar laporan keuangan BUMD/perusahaan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ringkasan laporan realisasi anggaran. (4) Format neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. BPK belum menyampaikan hasil pemeriksaan.

(4) Jadwal pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tercantum dalam Lampiran E.XXVIII peraturan menteri ini. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.XXIX peraturan menteri ini. Bagian Keempat Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Pasal 303 (1) Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. (2) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. Pasal 301 (1) Agenda pembahasan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 299 ayat (1) ditentukan oleh DPRD. gubernur bersama DPRD wajib melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan' APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur.pelaksanaan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran E. Pasal 302 (1) Laporan keuangan pemerintah daerah wajib dipublikasikan. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. Menteri Dalam 96 . (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah laporan keuangan yang telah diaudit oleh BPK dan telah diundangkan dalam lembaran daerah. gubernur menetapkan rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan gubernur menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. Pasal 304 (1) Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) Persetujuan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD oleh DPRD paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak rancangan peraturan daerah diterima.

dan bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. (2) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD. Pasal 305 (1) Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan daerah kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) (3) BAB XIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pembinaan dan Pengawasan 97 . bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Pasal 306 (1) Dalam hal gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APED dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dimaksud sesuai dengan peraturan perundangundangan. bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota.Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 307 Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada Menteri Dalam Negeri.

(4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. perangkat daerah. serta kelembagaan pengelolaan keuangan daerah. Pasal 309 (1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 308 meliputi pemberian pedoman. Pasal 311 (1) DPRD melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah tentang APBD. konsultasi. Bagian Kedua Pengendalian Intern Pasal 313 (1) Dalam rangka meningkatkan kinerja transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. (3) Pemberian bimbingan. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan pemeriksaan tetapi pengawasan yang lebih mengarah untuk menjamin pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang APBD. kepala daerah mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya. penatausahaan dan akuntansi keuangan daerah. dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. pimpinan dan anggota DPRD. (2) Pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan proses yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai mengenai pencapaian tujuan pemerintah daerah yang tercermin dari keandalan laporan keuangan. pemantauan dan evaluasi. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan serta dipatuhinya peraturan perundangundangan. bimbingan. Pasal 312 Pengawasan pengelolaan keuangan daerah berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. dan pegawai negeri sipil daerah serta kepada bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. panatausahaan dan akuntansi keuangan daerah. (3) Pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: 98 . Pasal 310 Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 309 ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh gubernur selaku wakil pemerintah. supervisi. pendidikan dan pelatihan. supervisi.Pasal 308 Pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah kepada pemerintah daerah yang dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. serta pertanggungjawaban keuangan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu. (2) Pemberian pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. pertanggungjawaban keuangan daerah. pelaksanaan. pelaksanaan.

pegawai negeri sipil bukan bendahara. wajib mengganti kerugian tersebut. yang berasal dari bendahara. c. (4) Penyelenggaraan pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. pegawai negeri sipil bukan bendahara. terselenggaranya aktivitas pengendalian. Bagian Ketiga Pemeriksaan astern Pasal 314 Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah dilakukan oleh BPK sesuai dengan peraturan perundang-undangan. melarikan diri. (2) Segera setelah kerugian daerah tersebut diketahui. Pasal 316 (1) Kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala SKPD kepada kepala daerah dan diberitahukan kepada BPK paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu diketahui. BAB XIV KERUGIAN DAERAH Pasal 315 (1) Setiap kerugian daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. pegawai negeri sipil bukan bendahara. terselenggaranya penilaian risiko. (2) Bendahara. penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris. atau meninggal dunia. terbatas pada kekayaan yang dikelola atau diperolehnya. terselenggaranya sistem informasi dan komunikasi. (3) Kepala SKPD dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi.a. atau pejabat lain yang bersangkutan. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud. e. pegawai negeri sipil bukan bendahara. atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti kerugian daerah berada dalam pengampuan. kepala daerah segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara kepada yang bersangkutan. Pasal 317 (1) Dalam hal bendahara. 99 . d. setelah mengetahui bahwa dalam SKPD yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. dan terselenggaranya kegiatan pemantauan pengendalian. b. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah. kepada bendahara. terciptanya lingkungan pengendalian yang sehat. (3) Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian daerah.

atau pejabat lain yang bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal dunia. pegawai negeri sipil bukan bendahara. atau pejabat lain untuk membayar ganti rugi. pegawai negeri sipil bukan bendahara dan pejabat lain tidak membebaskan yang bersangkutan dari tuntutan ganti rugi. pegawai negeri sipil bukan bendahara. atau pejabat lain yang digunakan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan. dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian daerah dapat dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 321 (1) Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK. Pasal 318 (1) Ketentuan penyelesaian kerugian daerah sebagaimana diatur dalam peraturan menteri ini berlaku pula untuk uang dan/atau barang bukan milik daerah. menjadi kedaluwarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut atau dalam waktu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. atau pejabat lain yang bersangkutan. BPK menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 320 Kewajiban bendahara. (2) Putusan pidana atas kerugian daerah terhadap bendahara. pegawai negeri sipil bukan bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. (2) Ketentuan penyelesaian kerugian daerah dalam peraturan menteri ini berlaku pula untuk pengelola perusahaan daerah dan badan-badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan daerah. yang berada dalam penguasaan bendahara. pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberi tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya kerugian daerah. sepanjang tidak diatur dalam peraturan perundangundangan tersendiri. pegawai negeri sipil bukan bendahara. atau sejak bendahara. BAB XV 100 . Pasal 319 (1) Bendahara. (2) Apabila dalam pemeriksaan kerugian daerah ditemukan unsure pidana. Pasal 323 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara tuntutan ganti kerugian daerah diatur dengan peraturan daerah dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Pasal 322 Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap pegawai negeri sipil bukan bendahara ditetapkan oleh kepala daerah.(2) Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk membayar ganti kerugian daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hapus apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan kepada bendahara.

(2) Pembinaan keuangan BLUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemberian pedoman. mengelola dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. dan instansi pengelola dana lainnya. Pasal 329 Pedoman teknis mengenai pengelolaan keuangan BLUD diatur lebih lanjut oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Menteri Keuangan. serta instansi layanan umum lainnya. supervisi pendidikan dan pelatihan dibidang pengelolaan keuangan BLUD.PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH Pasal 324 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk BLUD untuk : a. menyediakan barang dan/atau jasa untuk layanan umum. supervisi. (2) Instansi yang menyediakan barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. tabungan perumahan. antara lain rumah sakit daerah. (3) Dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Pasal 327 BLUD dapat memperoleh hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain. Pasal 325 (1) BLUD dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. penyelenggara pendidikan. 101 . dan b. antara lain instansi yang melaksanakan pengelolaan dana seperti dana bergulir usaha kecil menengah. Pasal 328 Seluruh pendapatan BLUD dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja BLUD yang bersangkutan. (3) Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemberian pedoman. pendidikan dan pelatihan dibidang penyelenggaraan program dan kegiatan BLUD. penyedia jasa penelitian dan pengujian. bimbingan. penerbit lisensi dan dokumen. bimbingan. (2) Kekayaan BLUD merupakan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan BLUD yang bersangkutan Pasal 326 (1) Pembinaan keuangan BLUD dilakukan oleh PPKD dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala SKPD yang bertanggung jawab atas urusan pemerintahan yang bersangkutan. penyelenggara jasa penyiaran publik.

pelaksanaan. bagi pemerintah daerah yang belum menetapkan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1). kuasa BUD. pelaporan. Pasal 90 ayat (2). (2) Berdasarkan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah tentang sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah. dokumen perencanaan daerah lainnya dapat digunakan sebagai pedoman penyusunan RKPD. penyusunan RKA-SKPD dengan menggunakan pendekatan berdasarkan prestasi kerja. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1). d. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) dan Pasal 116 ayat (1) tentang penyusunan rancangan PPAS dan penetapan APBD setelah dievaluasi mulai dilaksanakan untuk penyusunan dan pelaksanaan APBD tahun anggaran 2007. Pasal 194. 102 .BAB XVI PENGATURAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Pasal 330 (1) Ketentuan tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah diatur dengan peraturan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan bendahara pengeluaran berhalangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (8). e. (3) Sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup tata cara penyusunan. penatausahaan dan akuntansi. b. BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 331 Pada saat peraturan menteri ini ditetapkan. tentang bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. Pasal 332 Dengan ditetapkannya peraturan menteri ini: a. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah (4) Peraturan kepala daerah tentang sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan Pasal 296 ayat (4). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) tentang penyusunan RKASKPD dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pasal 333 Pada saat peraturan menteri ini ditetapkan. dan Pasal 226. c. dan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan standar akuntansi pemerintahan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun anggaran 2006. Pasal 211 ayat (3). juga memuat tata cara penunjukan pejabat yang diberi wewenang BUD. semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah sepanjang belum diganti dan tidak bertentangan dengan peraturan menteri ini dinyatakan tetap berlaku. Peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah ditetapkan paling lambat 2 tahun sejak ditetapkan peraturan menteri ini. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 233 ayat (2) tentang sistem akuntansi pemerintahan daerah yang mengacu pada standar akuntansi pemerintahan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun anggaran 2007. bendahara penerimaan.

menyempurnakan lampiran-lampiran sesuai dengan ketentuan perundangundangan. Pasal 335 Dengan ditetapkannya peraturan menteri ini. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 15 Mei 2006 MENTERI DALAM NEGERI. Keputusan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang pedoman pengurusan. MA'RUF. (2) Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup mengkoordinasikan. pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah. serta memberikan asistensi untuk kelancaran penerapan peraturan menteri ini. 103 . SE. pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan belanja daerah. serta petunjuk pelaksanaannya.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 334 (1) Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah Departemen Dalam Negeri melakukan fasilitasi pelaksanaan peraturan menteri ini. MOH. Pasal 336 Peraturan menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. ttd H. supervisi dan bimbingan teknis. melaksanakan sosialisasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->