P. 1
Permen_No_13_2006

Permen_No_13_2006

|Views: 4|Likes:
Published by donie

More info:

Published by: donie on Jun 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/01/2011

pdf

text

original

Sections

  • Pasal 2
  • Pasal 3
  • Pasal 4
  • Pasal 5
  • Pasal 6
  • Pasal 7
  • Pasal 8
  • Pasal 9
  • Pasal 10
  • Pasal 11
  • Pasal 12
  • Pasal 13
  • Pasal 14
  • Pasal 15
  • Pasal 16
  • Pasal 17
  • Pasal 18
  • Pasal 19
  • Pasal 20
  • Pasal 21
  • Pasal 22
  • Pasal 23
  • Pasal 24
  • Pasal 25
  • Pasal 26
  • Pasal 27
  • Pasal 28
  • Pasal 29
  • Pasal 30
  • Pasal 31
  • Pasal 32
  • Pasal 33
  • Pasal 34
  • Pasal 35
  • Pasal 36
  • Pasal 37
  • Pasal 38
  • Pasal 39
  • Pasal 40
  • Pasal 41
  • Pasal 42
  • Pasal 43
  • Pasal 44
  • Pasal 45
  • Pasal 46
  • Pasal 47
  • Pasal 48
  • Pasal 49
  • Pasal 50
  • Pasal 51
  • Pasal 52
  • Pasal 53
  • Pasal 54
  • Pasal 55
  • Pasal 56
  • Pasal 57
  • Pasal 58
  • Pasal 59
  • Pasal 60
  • Pasal 61
  • Pasal 62
  • Pasal 63
  • Pasal 64
  • Pasal 65
  • Pasal 66
  • Pasal 67
  • Pasal 68
  • Pasal 69
  • Pasal 70
  • Pasal 71
  • Pasal 72
  • Pasal 73
  • Pasal 74
  • Pasal 75
  • Pasal 76
  • Pasal 77
  • Pasal 78
  • Pasal 79
  • Pasal 80
  • Pasal 81
  • Pasal 82
  • Pasal 83
  • Pasal 84
  • Pasal 85
  • Pasal 86
  • Pasal 87
  • Pasal 88
  • Pasal 89
  • Pasal 90
  • Pasal 91
  • Pasal 92
  • Pasal 93
  • Pasal 94
  • Pasal 95
  • Pasal 96
  • Pasal 97
  • Pasal 98
  • Pasal 99
  • Pasal 100
  • Pasal 101
  • Pasal 102
  • Pasal 103
  • Pasal 104
  • Pasal 105
  • Pasal 106
  • Pasal 107
  • Pasal 108
  • Pasal 109
  • Pasal 110
  • Pasal 111
  • Pasal 112
  • Pasal 113
  • Pasal 114
  • Pasal 115
  • Pasal 116
  • Pasal 117
  • Pasal 118
  • Pasal 119
  • Pasal 120
  • Pasal 121
  • Pasal 122
  • Pasal 123
  • Pasal 124
  • Pasal 125
  • Pasal 126
  • Pasal 127
  • Pasal 128
  • Pasal 129
  • Pasal 130
  • Pasal 131
  • Pasal 132
  • Pasal 133
  • Pasal 134
  • Pasal 135
  • Pasal 136
  • Pasal 137
  • Pasal 138
  • Pasal 139
  • Pasal 140
  • Pasal 141
  • Pasal 142
  • Pasal 143
  • Pasal 144
  • Pasal 145
  • Pasal 146
  • Pasal 147
  • Pasal 148
  • Pasal 149
  • Pasal 150
  • Pasal 151
  • Pasal 152
  • Pasal 153
  • Pasal 154
  • Pasal 155
  • Pasal 156
  • Pasal 157
  • Pasal 158
  • Pasal 159
  • Pasal 160
  • Pasal 161
  • Pasal 162
  • Pasal 163
  • Pasal 164
  • Pasal 165
  • Pasal 166
  • Pasal 167
  • Pasal 168
  • Pasal 169
  • Pasal 170
  • Pasal 171
  • Pasal 172
  • Pasal 173
  • Pasal 174
  • Pasal 175
  • Pasal 176
  • Pasal 177
  • Pasal 178
  • Pasal 179
  • Pasal 180
  • Pasal 181
  • Pasal 182
  • Pasal 183
  • Pasal 184
  • Pasal 185
  • Pasal 186
  • Pasal 187
  • Pasal 188
  • Pasal 189
  • Pasal 190
  • Pasal 191
  • Pasal 192
  • Pasal 193
  • Pasal 194
  • Pasal 195
  • Pasal 196
  • Pasal 197
  • Pasal 198
  • Pasal 199
  • Pasal 200
  • Pasal 201
  • Pasal 202
  • Pasal 203
  • Pasal 204
  • Pasal 205
  • Pasal 206
  • Pasal 207
  • Pasal 208
  • Pasal 209
  • Pasal 210
  • Pasal 211
  • Pasal 212
  • Pasal 213
  • Pasal 214
  • Pasal 215
  • Pasal 216
  • Pasal 217
  • Pasal 218
  • Pasal 220
  • Pasal 221
  • Pasal 222
  • Pasal 223
  • Pasal 224
  • Pasal 225
  • Pasal 226
  • Pasal 227
  • Pasal 228
  • Pasal 229
  • Pasal 230
  • Pasal 231
  • Pasal 232
  • Pasal 233
  • Pasal 234
  • Pasal 235
  • Pasal 236
  • Pasal 237
  • Pasal 238
  • Pasal 239
  • Pasal 240
  • Pasal 241
  • Pasal 242
  • Pasal 243
  • Pasal 244
  • Pasal 245
  • Pasal 246
  • Pasal 247
  • Pasal 248
  • Pasal 249
  • Pasal 250
  • Pasal 251
  • Pasal 252
  • Pasal 253
  • Pasal 254
  • Pasal 255
  • Pasal 256
  • Pasal 257
  • Pasal 258
  • Pasal 259
  • Pasal 260
  • Pasal 261
  • Pasal 262
  • Pasal 263
  • Pasal 264
  • Pasal 265
  • Pasal 266
  • Pasal 267
  • Pasal 268
  • Pasal 269
  • Pasal 270
  • Pasal 271
  • Pasal 272
  • Pasal 273
  • Pasal 274
  • Pasal 275
  • Pasal 276
  • Pasal 277
  • Pasal 278
  • Pasal 279
  • Pasal 280
  • Pasal 281
  • Pasal 282
  • Pasal 283
  • Pasal 284
  • Pasal 285
  • Pasal 286
  • Pasal 287
  • Pasal 288
  • Pasal 289
  • Pasal 290
  • Pasal 291
  • Pasal 292
  • Pasal 293
  • Pasal 294
  • Pasal 295
  • Pasal 296
  • Pasal 297
  • Pasal 298
  • Pasal 299
  • Pasal 300
  • Pasal 301
  • Pasal 302
  • Pasal 303
  • Pasal 304
  • Pasal 305
  • Pasal 306
  • Pasal 307
  • Pasal 308
  • Pasal 309
  • Pasal 310
  • Pasal 311
  • Pasal 312
  • Pasal 313
  • Pasal 314
  • Pasal 315
  • Pasal 316
  • Pasal 317
  • Pasal 318
  • Pasal 319
  • Pasal 320
  • Pasal 321
  • Pasal 322
  • Pasal 323
  • Pasal 324
  • Pasal 325
  • Pasal 326
  • Pasal 327
  • Pasal 328
  • Pasal 329
  • Pasal 330
  • Pasal 331
  • Pasal 332
  • Pasal 333
  • Pasal 334
  • Pasal 335
  • Pasal 336

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA, MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan Pasal 155 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, perlu ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Babas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389); Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400); Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4548); Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126,

3.

4.

5.

6.

7.

8.

1

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);

9.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran. Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540); Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502); Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503); Peraturan Pemerintah Nomor .54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574); Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575); Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576); Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4577); Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585); Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Laporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); Keputusan Presiden Nomor 109 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

2

Presiden Nomor 88 Tahun 2003; 20. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri;

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH. TENTANG PEDOMAN

BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Pengertian Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 3. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, dan/atau walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 4. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 5. Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asalusul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah, termasuk Qanun yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi) yang berlaku di Provinsi Papua.

6.

7.

3

Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. dan pengawasan keuangan daerah. dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka 21. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat SKPKD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPK-SKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD. adalah pejabat pemegang kewenangan 9. 20. 24. Kepala Daerah adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. 14. 16. membayarkan. Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima. Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BUD adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang selanjutnya disingkat PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. Pengguna Barang penggunaan barang milik daerah. 19.8. pertanggungjawaban. 10. Kuasa Bendahara Umum Daerah yang selanjutnya disingkat Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian tugas BUD. menyetorkan. 17. 18. pelaporan. 11. kepala daerah/wakil kepala daerah dan satuan kerja perangkat daerah. menatausahakan. 22. Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima. 13. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. penatausahaan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang selanjutnya disebut dengan. menatausahakan. kepala SKPKD yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. pelaksanaan. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. menyimpan. 23. menyimpan. 15. 12. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. Organisasi adalah unsur pemerintahan daerah yang terdiri dari DPRD. 4 . dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD.

Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. 27. 32. dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. 26. selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Kebijakan Umum APBD yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan. PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan. 30. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan 5 . Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. 37. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara yang selanjutnya disingkat PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD. Unit kerja adalah bagian dari SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Prakiraan Maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. 34. 29. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan. adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. 38. 28. 36. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. belanja. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. 35. 25. Prioritas dan Plafon Anggaran yang selanjutnya disingkat PPA adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD setelah disepakati dengan DPRD.pelaksanaan APBD pada SKPD. 31. dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. 33.

barang modal termasuk peralatan dan teknologi. balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. 42. 55. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah. 52. 6 . 51. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. 44. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 50. 54. 47. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 45. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SiLPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 48.rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. 43. 39. 49. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. 40. atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. melayani. 46. 41. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. 53. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakar. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan dibidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya balk yang berupa personil (sumber daya manusia). memberdayakan. dan mensejahterakan masyarakat. Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi. dana.

Surat Penyediaan Dana yang selanjutnya disingkat SPD adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. 66. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. 7 . Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah. deviden. 69. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPA-SKPD adalah dokumen yang memuat pendapatan. 68. royalti. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga. SPP Langsung yang selanjutnya disingkat SPP-LS adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan pembayaran Iangsung kepada pihak ketiga atas dasar perjanjian kontrak kerja atau surat perintah kerja Iainnya 65. 57. 60. SPP Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPPTU adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan tambahan uang persediaan guna melaksanakan kegiatan SKPD yang bersifat mendesak dan tidak dapat digunakan untuk pembayaran Iangsung dan uang persediaan. SPP Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-GU adalah dokumen yang diajukan oleh bendaharan pengeluaran untuk permintaan pengganti uang persediaan yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran Iangsung. 59. 64. Anggaran Kas adalah dokumen perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar untuk mengatur ketersediaan dana yang cukup guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. 63. SPP Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPP-UP adalah dokumen yang diajukan oleh bendahara pengeluaran untuk permintaan uang muka kerja yang bersifat pengisian kembali (revolving) yang tidak dapat dilakukan dengan pembayaran langsung. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran.daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali. atau berdasarkan sebab lainnya yang sah. 67. 61. 58. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. Surat Permintaan Pembayaran yang selanjutnya disingkat SPP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran. 62.56. manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. perjanjian. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga . Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat DPPA-SKPD adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan.

hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan Iainnya yang sah. c. peruntukan. dan waktu pembayaran tertentu yang dokumennya disiapkan oleh PPTK. e. d.dan pembayaran gaji dengan jumlah. karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. 76. serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang. piutang. surat berharga. Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-TU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. dan 71. 78. 73. 77. 70. penerimaan daerah. 72. 75. Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disingkat SP2D adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM. barang. Surat Perintah Membayar Langsung yang selanjutnya disingkat SPM-LS adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga. Bagian Kedua Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup keuangan daerah meliputi: a. Kerugian Daerah adalah kekurangan uang. penerima. 74. Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang digunakan/diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang. b. pengeluaran daerah. 8 . Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPMGU adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah. Surat Perintah Membayar Uang Persediaan yang selanjutnya disingkat SPM-UP adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan. dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum balk sengaja maupun !alai. surat berharga.

perubahan APBD. Pasal 3 Pengelolaan keuangan daerah yang diatur dalam peraturan menteri ini meliputi kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. Ekonomis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. Transparan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. Manfaat untuk masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. penetapan APBD. akuntansi keuangan daerah. pelaksanaan APBD. Secara tertib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan buktibukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. taat pada peraturan perundang-undangan. transparan. Taat pada peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. penyusunan dan penetapan APBD bagi daerah yang belum memiliki DPRD. efektif. (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) 9 . Kepatutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. Keadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah. dan manfaat untuk masyarakat. dan pengelolaan keuangan BLUD. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan. yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. penatausahaan keuangan daerah. kepatutan.f. ekonomis. Bagian Ketiga Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 4 (1) Keuangan daerah dikelola secara tertib. Efektif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan. Efisien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. azas umum dan struktur APBD. kerugian daerah. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. pengelolaan kas. penyusunan rancangan APBD. Bertanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. efisien.

Bagian Kedua Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 6 (1) Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf a berkaitan dengan peran clan fungsinya dalam membantu kepala daerah menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah. kepala SKPKD selaku PPKD. b. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. (3) Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. dan c. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. 10 . menguji. (4) Pelimpahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. (2) Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. b. g. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. dan yang menerima atau mengeluarkan uang. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD. d. dan h. c. f. (2) Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai kewenangan: a.BAB II KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 5 (1) Kepala daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan.

b. pengelolaan barang daerah; c. rancangan perubahan APBD; d.

penyusunan dan pelaksanaan kebijakan penyusunan rancangan APBD dan

penyusunan Raperda APBD, perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; e. tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan daerah; dan f. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. (3) Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekretaris daerah mempunyai tugas: a. memimpin TAPD; b. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD; c. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah; d. memberikan persetujuan pengesahan DPASKPD/DPPA-SKPD; dan e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. (4) Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) kepada kepala daerah.

Bagian Ketiga Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Pasal 7 (1) Kepala SKPKD selaku PPKD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf b mempunyai tugas: a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah; b. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD; c. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah; d. melaksanakan fungsi BUD; e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD; dan f. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. (2) PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD berwenang: a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD; b. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD; c. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD; d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah; e. melaksanakan pemungutan pajak daerah; f. menetapkan SPD; g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah;

11

h. daerah; i. j.

melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan menyajikan informasi keuangan daerah; dan melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

(3) PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD. (4) PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pasal 8 (1) (2) Penunjukan kuasa BUD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. Kuasa BUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mempunyai tugas: a. menyiapkan anggaran kas; b. menyiapkan SPD; c. menerbitkan SP2D; d. menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah; e. memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang ditunjuk; f. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD; g. menyimpan uang daerah; h. melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi daerah; i. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah; j. melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah; k. melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; dan I. melakukan penagihan piutang daerah.

(3) Kuasa BUD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada BUD. Pasal 9 PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya dilingkungan SKPKD untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut: a. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD; b. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD; c. melaksanakan pemungutan pajak daerah; d. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah; e. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; f. menyajikan informasi keuangan daerah; dan g. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah.

12

Bagian Keempat Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Pasal 10 Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf c mempunyai tugas: a. menyusun RKA-SKPD; b. menyusun DPA-SKPD; c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; h. menandatangani SPM; i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Bagian Kelima Pejabat Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang Pasal 11 (1) Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. Pelimpahan sebagian kewenangan sebagaimana tersebut pada ayat (1) berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. Pelimpahan sebagian kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD.

(2)

(3)

(4) Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/ pengguna barang.

13

melaksanakan akuntansi SKPD. kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD. d. Bagian Ketujuh Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD Pasal 13 (1) Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD. c. g. (4) PPTK yang ditunjuk oleh kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang. beban kerja. meneliti kelengkapan SPP-UP. menyiapkan SPM. f. SPP-TU dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. bendahara. b. (3) PPTK yang ditunjuk oleh pejabat pengguna anggaran/pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang. dan menyiapkan laporan keuangan SKPD. mengendalikan pelaksanaan kegiatan. b. melakukan verifikasi SPP. melakukan verifikasi harian atas penerimaan. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. lokasi. (2) Penunjukan pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. dan/atau PPTK. Bagian Kedelapan 14 .Bagian Keenam Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD Pasal 12 (1) Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK. e. menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. (6) Dokumen anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf c mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan c. a. (2) PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah. anggaran kegiatan. SPP-GU. (3) PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas: meneliti kelengkapan SPP-LS pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK. (5) PPTK mempunyai tugas mencakup: a.

Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran Pasal 14 (1) Kepala daerah atas usul PPKD menetapkan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pada SKPD. pengawasan. Fungsi pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Penyusunan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman kepada RKPD dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. dan stabilisasi. Pasal 16 (1) Fungsi otorisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. APBD mempunyai fungsi otorisasi. Bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh bendahara penerimaan pembantu dan/atau bendahara pengeluaran pembantu. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat fungsional. APBD. perubahan APBD. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan peraturan daerah. alokasi. perencanaan. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD. serta membuka rekening/giro pos atau menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan Iainnya atas nama pribadi. Fungsi perencanaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. (2) (3) (4) (5) (3) (4) (2) (3) 15 . BAB III AZAS UMUM DAN STRUKTUR APBD Bagian Pertama Azas Umum APBD Pasal 15 (1) (2) APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/penjualan. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran balk secara langsung maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan. distribusi.

16 . Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan. belanja daerah. Fungsi stabilisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran pemerintah daerah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian daerah. Pasal 17 (5) (6) (1) (2) Penerimaan daerah terdiri dari pendapatan daerah dan penerimaan pembiayaan daerah.(4) Fungsi alokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa anggaran daerah harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja/ mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya. Pasal 19 (3) Dalam menyusun APBD. Pasal 18 (3) (1) (2) Pengeluaran daerah terdiri dari belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah. Fungsi distribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) mengandung arti bahwa kebijakan anggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Pasal 20 (1) (2) Pendapatan. belanja dan pembiayaan daerah yang dianggarkan dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 21 APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Penerimaan pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. penganggaran pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang dialokasikan secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi. Seluruh pendapatan daerah. khususnya dalam pemberian pelayanan umum. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. dan pembiayaan daerah dianggarkan secara bruto dalam APBD. Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pengeluaran yang akan diterima kembali balk pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.

obyek dan rincian obyek pembiayaan. merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. dan c. kegiatan. pendapatan daerah. jenis. (2) Struktur APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan urusan pemerintahan tersebut sesuai dengan peraturan perundangundangan. obyek dan rincian obyek belanja. dana perimbangan. b. Klasifikasi APBD menurut urusan pemerintahan dan organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat disesuaikan dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. kelompok. pendapatan asli daerah. Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. Bagian Ketiga Pendapatan Daerah Pasal 25 Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a dikelompokan atas: a. jenis. Pasal 23 (1) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a meliputi semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah. yang menambah ekuitas dana. lain-lain pendapatan daerah yang sah.Bagian Kedua Struktur APBD Pasal 22 (1) Struktur APBD merupakan satu kesatuan terdiri dari: a. b. pembiayaan daerah. organisasi. jenis. kelompok. organisasi. Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf c dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. belanja daerah. dan c. (3) (2) (3) (2) (3) 17 . kelompok. organisasi. Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud Pasal 22 ayat (1) huruf c meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus. obyek dan rincian obyek pendapatan. Pasal 24 (1) Pendapatan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf a dirinci menurut urusan pemerintahan daerah. program. Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b meliputi semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana.

(4) Jenis dana alokasi khusus dirinci menurut objek pendapatan menurut kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah. fasilitas sosial dan fasilitas umum. retribusi daerah. dan c.Pasal 26 (1) Kelompok pendapatan asli daerah dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: a. dana alokasi khusus. retribusi daerah. d. potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. dan d. f. k. penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. pendapatan denda pajak. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. bagi hasil pajak. bagi hasil bukan pajak. (3) Jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a. h. dana alokasi umum. j. I. i. e. dana bagi hasil. dan n. m. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. c. pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan. pendapatan bunga. b. dan c. penerimaan komisi. pajak daerah. penerimaan atas tuntutan ganti kerugian daerah. (2) Jenis pajak daerah dan retribusi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b dirinci menurut obyek pendapatan sesuai dengan undangundang tentang pajak daerah dan retribusi daerah. pendapatan dari pengembalian. (2) Jenis dana bagi hasil dirinci menurut objek pendapatan yang mencakup: a. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup: a. b. g. pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan. b. (3) Jenis dana alokasi umum hanya terdiri atas objek pendapatan dana alokasi umum. (4) Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. c. Pasal 27 (1) Kelompok pendapatan dana perimbangan dibagi menurut jenis pendapatan yang terdiri atas: a. bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD. jasa giro. pendapatan hasil eksekusi atas jaminan. lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. 18 . bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/BUMN. pendapatan denda retribusi. b. disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah. dan b.

badan/lembaga/ organisasi swasta dalam negeri. dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah. pendidikan. dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah dianggarkan pada SKPKD. badan/lembaga internasional.Pasal 28 Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang mencakup: a. lain-lain pendapatan asli daerah yang sah yang ditransfer langsung ke kas daerah. kesehatan. dan e. urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. (2) (3) 19 . rupiah maupun barang dan/atau jasa. dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota. (2) Belanja penyelenggaraan urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. kelompok masyarakat/perorangan. komisi. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. hibah berasal dari pemerintah. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diwujudkan melalui prestasi kerja dalam pencapaian standar pelayanan minimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pendapatan dari penyelanggaraan pendidikan dan pelatihan. Pasal 29 Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a adalah penerimaan daerah yang berasal dari pemerintah negara asing. badan/lembaga asing. b. Bagian Keempat Belanja Daerah Pasal 31 (1) Belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf b dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan dan hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan yang dibawah penguasaan pengguna anggaran/pengguna barang dianggarkan pada SKPD. potongan. bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya. balk dalam bentuk devisa. dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat bencana slam. Retribusi daerah. Pasal 30 (1) Pajak daerah. pemerintah. d. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali. keuntungan selisih nilai tukar rupiah. pemerintah daerah lainnya. c. badan/lembaga dalam negeri atau perorangan. dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat.

pemberdayaan masyarakat dan desa. e. statistik. komunikasi dan informatika. kehutanan. c. energi dan sumber daya mineral. dan y. lingkungan hidup. (2) (3) Klasifikasi belanja menurut urusan pilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. pemberdayaan perempuan. b. arsip. e. perumahan rakyat. pertanian. pariwisata. t. o. i. penataan ruang. lingkungan hidup.Pasal 32 (1) Klasifikasi belanja menurut urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) terdiri dari belanja urusan wajib dan belanja urusan pilihan. ketertiban dan ketentraman. r. c. perhubungan. k. pendidikan. d. transmigrasi. perindustrian. perdagangan. p. pemuda dan olah raga. pekerjaan umum. kependudukan dan catatan sipil. Pasal 33 Klasifikasi belanja menurut fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. e. x. kepegawaian. v. m. perumahan dan fasilitas umum. w. b. pemerintahan umum. 20 . g. koperasi dan usaha kecil dan menengah. u. (4) Belanja menurut urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan dijabarkan dalam bentuk program dan kegiatan yang dikiasifikasikan menurut urusan wajib dan urusan pilihan. b. f. perencanaan pembangunan. Klasifikasi belanja menurut urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. pertanahan. j. I. n. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri. tenaga kerja. pelayanan umum. d. q. dan h. sosial. kelautan dan perikanan. keluarga berencana dan keluarga sejahtera. kebudayaan. kesehatan. f. g. s. ekonomi. penanaman modal. d. c. h.

bunga. d. bantuan sosial. (2) Kelompok belanja tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. (3) Kelompok belanja langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. g. Pasal 38 (1) Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf a merupakan belanja kompensasi. dalam bentuk gaji dan tunjangan. dan h. Pasal 36 (1) Belanja menurut kelompok belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) terdiri dari: a. e. belanja bagi basil. Pasal 35 Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. pendidikan. g. subsidi. Paragraf 1 Belanja Tidak Langsung Pasal 37 Kelompok belanja tidak langsung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf a dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. kesehatan. belanja tidak langsung. bantuan keuangan. serta penghasilan lainnya yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan b. b. belanja langsung. (2) Uang representasi dan tunjangan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta penghasilan dan penerimaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan 21 . belanja pegawai.f. h. c. belanja tidak terduga. pariwisata dan budaya. Pasal 34 Klasifikasi belanja menurut organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) disesuaikan dengan susunan organisasi pada masing-masing pemerintah daerah. f. dan perlindungan sosial. i. hibah.

Tambahan penghasilan berdasarkan kelangkaan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam mengemban tugas memiliki ketrampilan khusus dan langka. Pasal 39 (1) Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tambahan penghasilan berdasarkan beban kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dibebani pekerjaan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinilai melampaui beban kerja normal. Tambahan penghasilan berdasarkan kondisi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada pada lingkungan kerja yang memiliki resiko tinggi. Tambahan penghasilan berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya dinilai mempunyai prestasi kerja. Tambahan penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam rangka peningkatan kesejahteraan pegawai berdasarkan beban kerja atau tempat bertugas atau kondisi kerja atau kelangkaan profesi atau prestasi kerja. dan jangka panjang. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Perusahaan/lembaga penerima belanja subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus terlebih dahulu dilakukan audit sesuai dengan ketentuan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Perusahaan/lembaga tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah perusahaan/lembaga yang menghasilkan produk atau jasa pelayanan umum masyarakat. Pasal 41 (1) Belanja subsidi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf c digunakan untuk menganggarkan bantuan biaya produksi kepada perusahaan/lembaga tertentu agar harga jual produksi/jasa yang dihasilkan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak. penerima subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan (2) (3) (4) 22 . Kriteria peraturan kepala daerah. pemberian tambahan penghasilan ditetapkan dengan (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Pasal 40 Belanja bunga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf b digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. jangka menengah.dianggarkan dalam belanja pegawai. Tambahan penghasilan berdasarkan tempat bertugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan kepada pegawai negeri sipil yang dalam melaksanakan tugasnya berada di daerah memiliki tingkat kesulitan tinggi dan daerah terpencil.

Pasal 43 (1) Hibah kepada pemerintah bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah. serta hibah kepada pemerintah daerah Iainnya dan kepada perusahaan daerah. badan/lembaga/organisasi swasta dan/atau kelompok masyarakat/perorangan dikelola dengan mekanisme APBD sesuai dengan peraturan perundang-undangan.laporan pertanggungjawaban penggunaan dana subsidi kepada kepala daerah. Pasal 42 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf d digunakan untuk menganggarkan pemberian hibah dalam bentuk uang. (5) Belanja subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan sesuai dengan keperluan perusahaan/lembaga penerima subsidi dalam peraturan daerah tentang APBD yang peraturan pelaksanaannya lebih lanjut dituangkan dalam peraturan kepala daerah. Pemberian hibah dalam bentuk uang dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan wajib guna memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Pasal 45 (2) (3) (4) (5) (4) (2) 23 . Pemberian hibah dalam bentuk uang atau dalam bentuk barang atau jasa dapat diberikan kepada pemerintah daerah tertentu sepanjang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. barang dan/atau jasa kepada pemerintah atau pemerintah daerah lainnya. Belanja hibah kepada pemerintah dikelola sesuai dengan mekanisme APBN. Pasal 44 (1) Belanja hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 bersifat bantuan yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus dan harus digunakan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam naskah perjanjian hibah daerah. Hibah kepada pemerintah daerah Iainnya bertujuan untuk menunjang peningkatan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan layanan dasar umum. Hibah kepada badan/lembaga/organisasi swasta dan/atau kelompok masyarakat/ perorangan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. (2) (3) Hibah kepada perusahan daerah bertujuan untuk menunjang peningkatan pelayanan kepada masyarakat. dan kelompok masyarakat/ perorangan yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukannya. Pemberian hibah dalam bentuk jasa dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seluruh kebutuhan belanja urusan wajib guna memenuhi standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Pemberian hibah dalam bentuk barang dapat dilakukan apabila barang tersebut tidak mempunyai nilai ekonomis bagi pemerintah daerah yang bersangkutan tetapi bermanfaat bagi pemerintah atau pemerintah daerah lainnya dan/atau kelompok masyarakat/perorangan.

(1) Bantuan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf e digunakan untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan kepada pemerintah daerah Iainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah Iainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan. Bantuan keuangan yang bersifat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan dan pengelolaannya diarahkan/ditetapkan oleh pemerintah daerah pemberi bantuan. ketentraman dan ketertiban masyarakat di daerah. Pasal 46 Belanja bagi hasil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf f digunakan untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota kepada pemerintah desa atau pendapatan pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah Iainnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. bantuan dalam bentuk uang dapat dianggarkan apabila pemerintah daerah telah memenuhi seiuruh kebutuhan belanja urusan wajib guna terpenuhinya standar pelayanan minimum yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (3) Pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didukung dengan buktibukti yang (2) (3) (4) 24 . Pasal 48 (1) Belanja tidak terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf h merupakan belanja untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya. pemerintah desa. termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahuntahun sebelumnya yang telah ditutup. Bantuan keuangan yang bersifat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) peruntukan dan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah daerah/pemerintah desa penerima bantuan.Pasal 37 huruf g digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota. (4) Bantuan kepada partai politik diberikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dianggarkan dalam bantuan sosial. selektif dan memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya. Bantuan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan tidak secara terus menerus/tidak berulang setiap tahun anggaran. Pemberi bantuan bersifat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat mensyaratkan penyediaan dana pendamping dalam APBD atau anggaran pendapatan dan belanja desa penerima bantuan. (2) (3) Untuk memenuhi fungsi APBD sebagai instrumen keadilan dan pemerataan dalam upaya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat. Pasal 47 (1) Bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam. (2) Kegiatan yang bersifat tidak biasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yaitu untuk tanggap darurat dalam rangka pencegahan gangguan terhadap stabilitas penyelenggaraan pemerintahan demi terciptanya keamanan.

belanja bantuan sosial. b. Pasal 53 (1) Belanja modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf c digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan. Pasal 49 (1) Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf a dianggarkan pada belanja organisasi berkenaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. perjalanan dinas. Paragraf 2 Belanja Langsung Pasal 50 Kelompok belanja langsung dari suatu kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf b dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari: a. Pasal 52 (1) Belanja barang dan jasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf b digunakan untuk pengeluaran pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. sewa rumah/gedung/gudang/parkir. huruf e. huruf c. peralatan dan mesin. Nilai pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dianggarkan dalam belanja modal hanya sebesar harga beli/bangun aset. dan aset tetap lainnya. huruf f. dan huruf h hanya dapat dianggarkan pada belanja SKPKD. sewa sarana mobilitas. perawatan kendaraan bermotor. dan c. Belanja honorarium panitia pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan untuk memperoleh setiap aset yang dianggarkan pada belanja modal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggarkan pada belanja pegawai (2) (3) 25 . makanan dan minuman. jalan. irigasi dan jaringan. belanja pegawai. belanja subsidi. pakaian dinas dan atributnya. (2) Pembelian/pengadaan barang dan/atau pemakaian jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup belanja barang pakai habis. Pasal 51 Belanja pegawai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf a untuk pengeluaran honorarium/upah dalam melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah. gedung dan bangunan. belanja modal. cetak/penggandaan. belanja hibah. bahan/material. belanja barang dan jasa. belanja bantuan keuangan. sewa alat berat. (2) Belanja bunga.sah. pakaian khusus dan hari-hari tertentu. dan belanja tidak terduga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf b. premi asuransi. huruf d. belanja bagi hasil. perjalanan dinas pindah tugas dan pemulangan pegawai. pakaian kerja. seperti dalam bentuk tanah. huruf g. jasa kantor. sewa perlengkapan dan peralatan kantor.

penyertaan modal (investasi) daerah. penerimaan pinjaman. Dalam hal APBD diperkirakan surplus. Pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bagian Kelima Surplus/(Defisit) APBD Pasal 55 Selisih antara anggaran pendapatan daerah dengan mengakibatkan terjadinya surplus atau defisit APBD. pemberian pinjaman kepada pemerintah pusat/pemerintah daerah lain dan/atau pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial. Pasal 54 Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. pencairan dana cadangan.dan/atau belanja barang dan jasa. Pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diwujudkan dalam bentuk program dan kegiatan pelayanan dasar masyarakat yang dianggarkan pada SKPD yang secara fungsional terkait dengan tugasnya melaksanakan program dan kegiatan tersebut. Bagian Keenam Pembiayaan Daerah Pasal 59 anggaran belanja daerah (3) (2) (3) (1) (2) 26 . Pasal 58 Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi surplus/defisit APBD kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan setiap semester dalam tahun anggaran berkenaan. dapat dilakukan penundaan atas penyaluran dana perimbangan. ditetapkan pembiayaan untuk menutup defisit tersebut yang diantaranya dapat bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya. dan penerimaan kembali pemberian pinjaman atau penerimaan piutang. Dalam hal APBD diperkirakan defisit. serta belanja modal untuk melaksanakan program dan kegiatan pemerintahan daerah dianggarkan pada belanja SKPD berkenaan. Batas maksimal defisit APBD untuk setiap tahun anggaran berpedoman pada penetapan batas maksimal defisit APBD oleh Menteri Keuangan. Pasal 57 (1) Defisit anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 terjadi apabila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih kecil dari anggaran belanja daerah. Pasal 56 (1) (2) Surplus APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 terjadi apabila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih besar dari anggaran belanja daerah. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. diutamakan untuk pembayaran pokok utang. belanja barang dan jasa.

dan f. sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA). Peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup penetapan tujuan pembentukan dana cadangan. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. pencairan dana cadangan. c. pelampauan penerimaan pembiayaan.Pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) huruf c terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. kewajiban kepada fihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan. dan sisa dana kegiatan lanjutan. Pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan daerah. Paragraf 2 Dana Cadangan Pasal 63 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk dana cadangan guna mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran. sumber dana cadangan. pemberian pinjaman daerah. penghematan belanja. Pasal 61 (1) (2) defisit anggaran. peneemaan modal (investasi) pemerintah daerah. pembentukan dana cadangan. b. (2) Pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 mencakup: a. penerimaan kembali pemberian pinjaman. pelampauan penerimaan dana perimbangan. Jumlah pembiayaan neto harus dapat menutup (2) (3) 27 . d. pembayaran pokok utang. dan Pembiayaan neto merupakan selisih antara penerimaan pembiayaan dengan pengeluaran pembiayaan. Paragraf 1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya (SiLPA) Pasal 62 Sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya (SiLPA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf a mencakup pelampauan penerimaan PAD. besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus dianggarkan dan ditransfer ke rekening dana cadangan. dan d. program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana cadangan. Pasal 60 (1) Penerimaan pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 mencakup: a. b. c. e. penerimaan piutang daerah. penerimaan pinjaman daerah. pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Paragraf 3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Pasal 66 Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf c digunakan antara lain untuk menganggarkan hasil penjualan perusahaan milik daerah/BUMD dan penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Pasal 64 (1) Pencairan dana cadangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf b digunakan untuk menganggarkan pencairan dana cadangan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum daerah dalam tahun anggaran berkenaan. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditetapkan oleh kepala daerah bersamaan dengan penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD. Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan dalam portofolio dicantumkan sebagai penambah dana cadangan berkenaan dalam daftar dana cadangan pada lampiran rancangan peraturan daerah tentang APBD. Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bersumber dari penyisihan atas penerimaan daerah.tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan. kecuali diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan. atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah. Dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditempatkan pada rekening tersendiri. (4) Rancangan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibahas bersamaan dengan pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD. Pembentukan dana cadangan dianggarkan pada pengeluaran pembiayaan dalam tahun anggaran yang berkenaan. kecuali dari dana alokasi khusus. (5) (6) (7) (8) (9) (2) Paragraf 4 Penerimaan Pinjaman Daerah Pasal 67 28 . Jumlah yang dianggarkan tersebut pada ayat (1) yaitu sesuai dengan jumlah yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan berkenaan. pinjaman daerah dan penerimaan lain yang penggunaannya dibatasi untuk pengeluaran tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pasal 65 Penggunaan atas dana cadangan yang dicairkan dari rekekning dana cadangan ke rekening kas umum daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (1) dianggarkan dalam belanja langsung SKPD pengguna dana cadangan berkenaan.

Paragraf 7 Investasi Pemerintah Daerah Pasal 70 Investasi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf b digunakan untuk menganggarkan kekayaan pemerintah daerah yang diinvestasikan balk dalam jangka pendek maupun jangka panjang. misalnya pembelian surat berharga untuk menambah kepemilikan modal saham pada suatu badan usaha. seperti berupa penerimaan piutang daerah dari pendapatan daerah. pembelian surat utang negara (SUN). pemerintah daerah lain. Investasi jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup deposito berjangka waktu 3 (tiga) bulan sampai dengan 12 (duabelas) bulan yang dapat diperpanjang secara otomatis. lembaga keuangan bukan bank dan penerimaan piutang lainnya. Paragraf 5 Pemberian Pinjaman daerah dan Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Pasal 68 (1) Pemberian pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf d digunakan untuk menganggarkan pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya. sertifikat bank Indonesia (SBI) dan surat perbendaharaan negara (SPN). (2) Penerimaan kembali pemberian pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf e digunakan untuk menganggarkan posisi penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada pemerintah pusat dan/atau pemerintah daerah lainnya. Investasi jangka panjang merupakan investasi yang dimaksudkan untuk dimiliki lebih dari 12 (duabelas) bulan yang terdiri dari investasi permanen dan non permanen. surat berharga yang tidak dimaksudkan untuk dicairkan dalam memenuhi kebutuhan kas jangka pendek. lembaga keuangan bank. pemerintah. Pasal 71 (1) Investasi jangka pendek merupakan investasi yang dapat segera diperjualbelikan/dicairkan. surat berharga yang dibeli pemerintah daerah untuk tujuan menjaga hubungan balk dalam dan luar negeri. Investasi jangka panjang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) antara lain surat berharga yang dibeli pemerintah daerah dalam rangka mengendalikan suatu badan usaha. ditujukan dalam rangka manajemen kas dan beresiko rendah serta dimiliki selama kurang dari 12 (duabelas) bulan. Paragraf 6 Penerimaan Piutang Daerah Pasal 69 Penerimaan piutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf f digunakan untuk menganggarkan penerimaan yang bersumber dari pelunasan piutang fihak ketiga.Penerimaan pinjaman daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) huruf d digunakan untuk menganggarkan penerimaan pinjaman daerah termasuk penerimaan atas penerbitan obligasi daerah yang akan direalisasikan pada tahun anggaran berkenaan. (2) (3) (4) 29 .

dan jangka panjang. Pendapatan bunga atas deposito sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dianggarkan dalam kelompok pendapatan asli daerah pada jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. dana yang disisihkan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan/pemberdayaan masyarakat seperti bantuan modal kerja. Paragraf 8 Pembayaran Pokok Utang Pasal 74 (2) Pembayaran pokok utang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf c digunakan untuk menganggarkan pembayaran kewajiban atas pokok utang yang dihitung berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek. dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan. Divestasi pemerintah daerah yang dialihkan untuk diinvestasikan kembali dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan pada jenis penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. Pasal 72 (1) Investasi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (2) huruf b. penyertaan modal daerah pada BUMD dan/atau badan usaha lainnya dan investasi permanen lainnya yang dimiliki pemerintah daerah untuk menghasilkan pendapatan atau meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. jangka menengah. Pasal 73 (3) (4) (1) Investasi daerah jangka pendek dalam bentuk deposito pada bank umum dianggarkan dalam pengeluaran pembiayaan pada jenis penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah. Investasi pemerintah daerah dapat dianggarkan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal dengan berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri. Penerimaan hasil atas investasi pemerintah daerah dianggarkan dalam kelompok pendapatan asli daerah pada jenis hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. 30 . pemberian fasilitas pendanaan kepada usaha mikro dan menengah. seperti pembelian obligasi atau surat utang jangka panjang yang dimaksudkan untuk dimiliki sampai dengan tanggal jatuh tempo. pembentukan dana secara bergulir kepada kelompok masyarakat. Investasi non permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bertujuan untuk dimiliki secara tidak berkelanjutan atau ada niat untuk diperjualbelikan atau ditarik kembali. seperti kerjasama daerah dengan pihak ketiga dalam bentuk penggunausahaan/pemanfaatan aset daerah.(5) Investasi permanen sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bertujuan untuk dimiliki secara berkelanjutan tanpa ada niat untuk diperjualbelikan atau tidak ditarik kembali. (6) (7) (2) Divestasi pemerintah daerah dianggarkan dalam penerimaan pembiayaan pada jenis hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.

kode kelompok. kode jenis. (2) Kode akun pendapatan.IX peraturan menteri ini. kode kegiatan.IV peraturan menteri ini.II peraturan menteri ini. (9) Dalam rangka sinkronisasi program dan kegiatan pemerintah dengan pemerintah daerah. kode obyek dan kode rincian obyek. Setiap program. Pasal 76 Urutan susunan kode rekening APBD dimulai dari kode urusan pemerintahan daerah. kode akun belanja. (7) Kode dan daftar program dan kegiatan menurut urusan pemerintahan daerah tercantum dalam Lampiran A. (4) Kode rekening pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) untuk kabupaten/kota tercantum dalam Lampiran A.VIII peraturan menteri ini. kode program. kode organisasi.V peraturan menteri ini. dan kode akun pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (3) merupakan bagian susunan kode akun keuangan daerah yang tercantum dalam Lampiran A.I peraturan menteri ini. kode obyek. Kode pendapatan. dan kode rincian obyek. kode kegiatan. (6) Kode dan klasifikasi belanja daerah menurut fungsi untuk keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 tercantum dalam Lampiran A. daftar program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) secara berkala akan disempurnakan sesuai dengan perkembangan kebutuhan daerah. (5) Kode dan klasifikasi fungsi tercantum dalam Lampiran A. kegiatan. (3) Kode rekening pendapatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) untuk provinsi tercantum dalam Lampiran A. Pasal 77 (1) Kode dan klasifikasi urusan pemerintahan daerah dan organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. kode kelompok. kode jenis. Untuk tertib penganggaran kode sebagaimana dimaksud pada ayat (1).VI peraturan menteri ini. ayat (2) dan ayat (3) dihimpun menjadi satu kesatuan kode anggaran yang disebut kode rekening. kelompok. jenis. kode akun. obyek serta rincian obyek yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode program. (11) Untuk memenuhi kebutuhan objektif dan karakteristik daerah serta keselarasan penyusunan statistik keuangan negara.III peraturan menteri ini.VII peraturan menteri ini. kode belanja dan kode pembiayaan yang digunakan dalam penganggaran menggunakan kode akun pendapatan. kode akun belanja. (8) Kode rekening belanja daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. perubahan dan penambahan kode rekening (2) (3) (4) 31 . dan kode akun pembiayaan.Bagian Ketujuh Kode Rekening Penganggaran Pasal 75 (1) Setiap urusan pemerintahan daerah dan organisasi yang dicantumkan dalam APBD menggunakan kode urusan pemerintahan daerah dan kode organisasi. (10) Kode rekening pembiayaan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (3) tercantum dalam Lampiran A.

(4) Pasal 79 (1) Seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah balk dalam bentuk uang. Penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang penugasannya dilimpahkan kepada desa. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah.rincian objek belanja dapat diatur Iebih lanjut dengan peraturan kepala daerah setelah dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri. RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Pasal 80 Anggaran belanja daerah diprioritaskan untuk melaksanakan kewajiban pemerintahan daerah sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD harus memiliki dasar hukum penganggaran. didanai dari dan atas beban APBD provinsi. prioritas pembangunan dan kewajiban daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah di daerah didanai dari dan atas beban APBN. BAB IV PENYUSUNAN RANCANGAN APBD Bagian Pertama Azas Umum Pasal 78 (1) (2) (3) Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban APBD. pemerintah daerah menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari RP3MD dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah. rencana kerja yang terukur dan pendanaannya. Penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi yang penugasannya dilimpahkan kepada kabupaten/kota dan/atau desa. Kewajiban daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal yang (2) (2) (3) 32 . Bagian Kedua Rencana Kerja Pemerintahan Daerah Pasal 81 (1) Untuk menyusun APBD. didanai dari dan atas beban APBD kabupaten/kota. barang dan/atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan harus dianggarkan dalam APBD.

sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. 33 . teknis penyusunan APBD. paling lambat pada awal bulan Juni. b. Pasal 82 (1) (2) (3) (4) RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan.ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Bagian Ketiga Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Paragraf 1 Kebijakan Umum APBD Pasal 83 (1) (2) Kepala daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun. (1) (2) (3) Asumsi yang mendasari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yakni mempertimbangkan perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah. pelaksanaan. hal-hal khusus lainnya. Pedoman penyusunan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat antara lain: a. c. disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala daerah. Tata cara penyusunan RKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Rancangan KUA yang telah disusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penganggaran. Program-program sebagaimana dimaksud pada ayat diselaraskan dengan prioritas pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah. dan d. Pasal 84 (1) Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah daerah. alokasi belanja daerah. Pasal 85 (1) (2) Dalam menyusun rancangan KUA sebagaimana dimaksud Pasal 83 ayat (1). dan pengawasan. kepala daerah dibantu oleh TAPD yang dipimpin oleh sekretaris daerah. Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran berkenaan.

Rancangan PPAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan tahapan sebagai berikut: a.Pasal 86 (1) Rancangan KUA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 85 ayat (2) disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran bedalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya. b. masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD.XII peraturan menteri ini. Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Paragraf 2 Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Pasal 87 (1) (2) Berdasarkan KUA yang telah disepakati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (3). dan c.XI peraturan menteri ini. (4) Format nota kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. Rancangan PPAS yang telah dibahas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) selanjutnya disepakati menjadi PPA paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. Pasal 88 (1) KUA serta PPA yang telah disepakati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (3) dan Pasal 87 ayat (5). Pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. (2) (3) (3) (4) (5) (6) 34 . (2) Dalam hal kepala daerah berhalangan. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani nota kepakatan KUA dan PPA. menentukan urutan program untuk masing-masing urusan. menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program. (3) Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. Rancangan KUA yang telah dibahas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) selanjutnya disepakati menjadi KUA paling lambat minggu pertama bulan Juli tahun anggaran berjalan. Kepala daerah menyampaikan rancangan PPAS yang telah disusun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada DPRD untuk dibahas paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan. Format PPAS tercantum dalam Lampiran A. pemerintah daerah menyusun rancangan PPAS.X peraturan menteri ini. (4) Format KUA tercantum dalam Lampiran A. menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan. penandatanganan nota kepakatan KUA dan PPA dilakukan oleh penjabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang.

dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. kode rekening APBD. (2) Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup : a. dan e. c. untuk setiap b. Pasal 91 (1) Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) dilaksanakan dengan menyusun prakiraan maju. (2) RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. PPA yang dialokasikan program SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan. (3) Pendekatan penganggaran terpadu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) dilakukan dengan memadukan seluruh proses perencanaan dan penganggaran pendapatan. PPA. belanja. tranparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja. kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. analisis standar belanja dan standar satuan harga. efektifitas. (3) Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKASKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. (2) Prakiraan maju sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. Bagian Kelima Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Pasal 90 (1) Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 ayat (3). kepada PPKD. (4) Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud 35 . . hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi. format RKA-SKPD. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.Bagian Keempat Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Pasal 89 (1) Berdasarkan nota kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 ayat (1). batas waktu penyampaian RKA-SKPD d. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKASKPD sebagai acuan kepala SKPD dalam menyusun RKA-SKPD.

(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan menilai program dan kegiatan yang belum dapat dilaksanakan dan/atau belum diselesaikan tahun-tahun sebelumnya untuk dilaksanakan dan/atau diselesaikan pada tahun yang direncanakan atau 1 (satu) tahun berikutnya dari tahun yang direncanakan. Pasal 93 (1) Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada indikator kinerja. dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. Pasal 95 (1) Rencana pendapatan sebagaimana dimaksud (2) 36 . kebutuhan dananya harus dianggarkan pada tahun yang direncanakan. (3) Capaian kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang berwujud kualitas. kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. Pasal 92 (1) Untuk terlaksananya penyusunan RKA-SKPD berdasarkan pendekatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) dan terciptanya kesinambungan RKASKPD. (5) Standar satuan harga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku disuatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan daerah. serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian objek pendapatan. (3) Dalam hal suatu program dan kegiatan merupakan tahun terakhir untuk pencapaian prestasi kerja yang ditetapkan. (4) Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. capaian atau target kinerja. kuantitas. organisasi. prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. standar satuan harga. efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan.dalam Pasal 90 ayat (2) dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. analisis standar belanja. rencana belanja untuk masing-masing program dan kegiatan. (6) Standar pelayanan minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah. standar biaya. belanja. Pasal 94 (1) RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) memuat rencana pendapatan. (2) Indikator kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan kegiatan yang direncanakan. dan standar pelayanan minimal.

belanja bantuan sosial.dalam Pasal 94 ayat (1) memuat kelompok. efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan. belanja barang dan jasa. Organisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) memuat nama organisasi atau nama SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. obyek dan rincian obyek belanja. Belanja bunga. ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. 37 . belanja subsidi. kuantitas. peraturan pemerintah atau undangundang. dan belanja tidak terduga hanya dianggarkan dalam RKA-SKPD pada SKPKD. belanja bagi hasil. Program sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) memuat nama program yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun anggaran berkenaan. tolok ukur kinerja dan target kinerja. Target kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (7) merupakan hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. jenis. Prestasi kerja yang hendak dicapai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) terdiri dari indikator. obyek dan rincian obyek pembiayaan. yang dipungut/dikelola/ diterima oleh SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Urusan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (2) memuat bidang urusan pemerintahan daerah yang dikelola sesuai dengan tugas pokok dan fungsi organisasi. Rencana belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (1) memuat kelompok belanja tidak langsung dan belanja langsung yang masing-masing diuraikan menurut jenis. Tolok ukur kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (7) merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai dari keadaan semula dengan mempertimbangkan faktor kualitas. (2) Peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah peraturan daerah. Rencana pembiayaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 94 ayat (1) memuat kelompok penerimaan pembiayaan yang dapat digunakan untuk menutup defisit APBD dan pengeluaran pembiayaan yang digunakan untuk memanfaatkan surplus APBD yang masing-masing diuraikan menurut jenis. Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 92 ayat (2) memuat nama kegiatan yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun anggaran berkenaan. serta belanja modal dianggarkan dalam RKA-SKPD pada masing-masing SKPD. obyek dan rincian obyek pendapatan daerah. belanja bantuan keuangan. Pasal 96 (1) (2) Indikator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 ayat (7) meliputi masukan. belanja hibah. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (3) Pasal 97 (1) (2) Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai. keluaran dan hasil.

daftar piutang daerah. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. indikator kinerja. h. k. d. standar satuan harga.Pasal 98 Penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan daerah dianggarkan dalam RKASKPD pada SKPKD. j. Pasal 101 (1) RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh kepala SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. standar analisis belanja. (2) Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. pendapatan. belanja dan pembiayaan. dan dokumen perencanaan lainnya. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. Pasal 99 (1) (2) Bagan alir pengerjaan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah.XIII peraturan menteri ini. serta capaivn kinerja. Format RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. standar pelayanan minimal. Bagian Keenam Penyiapan Raperda APBD Pasal 100 (1) RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. organisasi. i. b. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. c. program dan kegiatan. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. ringkasan APBD. PPA. f. organisasi. g. (3) Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepala SKPD melakukan penyempurnaan.XIV peraturan menteri ini. serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD. (2) Rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. e. 38 . kelompok sasaran kegiatan.

b. daftar dana cadangan daerah. kelompok. harga satuan. lokasi kegiatan dan sumber pendanaan kegiatan. untuk belanja mencakup dasar hukum. (3) Format rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. penjabaran APBD menurut urusan pemerintahan daerah. dan daftar pinjaman daerah. organisasi. belanja dan pembiayaan. (3) (4) BAB V PENETAPAN APBD Bagian Pertama Penyampaian dan Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Pasal 104 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampirannya kepada DPRD paling lambat pada minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran sebelumnya dari tahun yang direncanakan untuk mendapatkan persetujuan bersama. program.XV peraturan menteri ini.l. satuan volume/tolok ukur. m. Pasal 103 (1) (2) Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah. sasaran. obyek. c. Penyebarluasan rancangan peraturan daerah tentang APBD dilaksanakan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah. kegiatan. untuk pendapatan mencakup dasar hukum. Pasal 102 (1) Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. jenis. untuk pembiayaan mencakup dasar hukum. b. rincian obyek pendapatan. ringkasan penjabaran APBD. Rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. 39 . target/volume yang direncanakan. (2) Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD wajib memuat penjelasan sebagai berikut: a.XVI peraturan menteri ini. sumber penerimaan pembiayaan dan tujuan pengeluaran pembiayaan. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan. (3) Format rancangan peraturan kepala daerah beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran A. tarif pungutan/harga.

Pasal 106 (1) Apabila DPRD sampai batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (2) tidak menetapkan persetujuan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. (3) Dalam hal DPRD memerlukan tambahan penjelasan terkait dengan pembahasan program dan kegiatan tertentu. Pasal 107 (1) Rencana pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. (4) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan nota keuangan. kepala daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.(2) Pengambilan keputusan bersama DPRD dan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. (6) Format susunan nota keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran A. dapat meminta RKA-SKPD berkenaan kepada kepala daerah. (3) Belanja yang bersifat mengikat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan belanja yang dibutuhkan secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dengan jumlah yang cukup untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran yang bersangkutan. seperti belanja pegawai. kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggitingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan. (2) Pengeluaran setinggi-tingginya untuk keperluan setiap bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diprioritaskan untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib.XVIII peraturan menteri ini. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah dan/atau selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani persetujuan bersama. (5) Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD berhalangan tetap. serta PPA yang telah disepakati bersama antara pemerintah daerah dan DPRD. (4) Belanja yang bersifat wajib adalah belanja untuk terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain pendidikan dan kesehatan dan/atau melaksanakan kewajiban kepada fihak ketiga. Pasal 105 (1) Penetapan agenda pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD untuk mendapatkan persetujuan bersama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 104 ayat (1) disesuaikan dengan tata tertib DPRD masing-masing daerah. (3) Atas dasar persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pembahasan rancangan peraturan daerah berpedoman pada KUA. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh (2) 40 . belanja barang dan jasa.XVII peraturan menteri ini. (4) Format persetujuan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran A.

program dan kegiatan. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. f. jenis. daftar piutang daerah. organisasi. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari : a. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. c. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. kegiatan. (3) Pengesahan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan keputusan gubernur bagi kabupaten/kota. b. Pasal 108 (1) Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (3) paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak DPRD tidak menetapkan keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. daftar dana cadangan daerah. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. h. hari kerja Menteri Dalam Negeri/gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1).XIX peraturan menteri ini. obyek. program. I. belanja dan pembiayaan. Pasal 109 Pelampuan batas tertinggi dari jumlah pengeluaran sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 106 ayat (1). rincian obyek pendapatan. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. ringkasan APBD. j. Bagian Kedua Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Pasal 110 (1) Rancangan peraturan daerah provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu 41 . daftar pinjaman daerah. d. (2) Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) . k. kelompok. dan m. hanya diperkenankan apabila ada kebijakan pemerintah untuk kenaikan gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil serta penyediaan dana pendamping atas program dan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah serta bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah yang ditetapkan dalam undang-undang. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. i. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. g. organisasi.pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. (4) (5) Format rancangan peraturan kepala daerah beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran A. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. e. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain.

KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD. (6) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubemur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. risalah sidang jalannya pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional. (3) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional. nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian pengantar nota keuangan pada sidang DPRD. (9) Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (8) ditetapkan dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. b. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat pemerintah daerah provinsi yang terkait. (7) Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. dan d. (4) Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. (8) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti sejauh mana APBD provinsi tidak bertentangan dengan kepentingan umum. c. keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti (2) (3) 42 . (2) Penyampaian rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan: a. gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan gubemur. Pasal 111 (1) Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. (5) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam keputusan Menteri Dalam Negeri dan disampaikan kepada gubernur paling lama 15 (lima betas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. gubemur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Penyampaian rancangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan dokumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (2) peraturan menteri ini. peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh provinsi bersangkutan. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD.

peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh kabupaten/kota bersangkutan. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD. bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dan pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud pada ayat (8) ditetapkan dengan peraturan gubernur. Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam keputusan gubernur dan disampaikan kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. dan bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. (2) Pencabutan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang APBD. (4) Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). gubernur dapat mengundang pejabat pemerintah daerah kabupaten/kota yang terkait. (3) Pelaksanaan pengeluaran atas pagu APBD tahun sebelumnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (8) dan Pasal 111 ayat (8) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Pasal 113 Evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (3) dan Pasal 111 ayat (3). Pasal 114 (1) Penyempurnaan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (7) dan Pasal 111 ayat (7) dilakukan kepala daerah bersama dengan panitia anggaran DPRD. bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. (5) (6) (7) (8) (9) 43 . kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri. gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.sejauh mana APBD kabupaten/kota tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Dalam hal gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Apabila gubernur menetapkan pernyataan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 112 (1) Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 110 ayat (8) dan Pasal 111 ayat (8).

(3) Keputusan pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dijadikan dasar penetapan peraturan daerah tentang APBD. (6) Keputusan pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri bagi APBD provinsi dan kepada gubernur bagi APBD kabupaten/kota paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah keputusan tersebut ditetapkan. Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. (5) Sidang paripurna berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) yakni setelah sidang paripurna pengambilan keputusan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani keputusan pimpinan DPRD. (4) Keputusan pimpinan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (3) bersifat final dan dilaporkan pada sidang paripurna berikutnya. (7) Dalam hal pimpinan DPRD berhalangan tetap. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. Pasal 115 Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Format penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran A. (2) (3) (4) (5) (6) 44 .XXI peraturan menteri ini.(2) Hasil penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Format penetapan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran A.ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah yang menetapkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Bagian Ketiga Penetapan Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Pasal 116 (1) Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. maka pejabat yang .XX peraturan menteri ini.

Pasal 98 dan Pasal 99. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. Pasal 96.(7) Lampiran A. Pasal 94. pembangunan daerah. (2) Pengesahan atas rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku ketentuan dalam Pasal 107 ayat (3). Pasal 118 Penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (3) berlaku ketentuan Pasal 90. kepala daerah menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS. Pasal 92. KUA dan rancangan PPA yang telah dikonsultasikan dijadikan pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 89 peraturan menteri ini. Pasal 95. Pasal 91. Rancangan KUA dan rancangan PPAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikonsultasikan kepada Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan kepada gubernur bagi kabupaten/kota. Pasal 93. serta pelayanan masyarakat. Pasal 121 Peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) dijadikan dasar penyusunan DPA-SKPD untuk pelaksanaan APBD. Jadwal penyusunan APBD tercantum dalam BAB VI PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBD BAGI DAERAH YANG BELUM MEMILIKI DPRD Pasal 117 (1) Untuk sinkronisasi dan keterpaduan sasaran program dan kegiatan dengan kebijakan pemerintah dibidang keuangan negara dan menjaga kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan. Pasal 120 (1) Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 119 ayat (2) paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak KUA dan PPA dikonsultasikan dengan Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. Format rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku ketentuan dalam Pasal 107 ayat (4) dan ayat (5). Pasal 119 (1) (2) RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. (2) (3) (3) 45 .XXII peraturan menteri ini. Pasal 97.

(2) Setiap SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan pemungutan dan/atau penerimaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (7) Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat dilakukan jika dalam keadaan darurat. tidak mewah. (5) Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan baths tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja. (9) Setiap SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut.BAB VII PELAKSANAAN APBD Bagian Pertama Azas Umum Pelaksanaan APBD Pasal 122 (1) Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dikelola dalam APBD. kegiatan. (3) Penerimaan SKPD dilarang digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran. efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (6) Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja jika untuk pengeluaran tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. dan rencana penarikan dana tiap-tiap SKPD serta pendapatan yang diperkirakan. program. (10) Pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. (8) Kriteria keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (4) Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja. Bagian Kedua Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD Paragraf 1 Penyiapan Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD Pasal 123 (1) PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang APBD ditetapkan. Rancangan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). efektif. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPASKPD kepada PPKD paling lama 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan (2) (3) 46 . merinci sasaran yang hendak dicapai. memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD.

DPA-SKPD yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada kepala SKPD. Anggaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar yang digunakan guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. Berdasarkan hasil verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). PPKD mengesahkan rancangan DPA-SKPD dengan persetujuan sekretaris daerah. Mekanisme pengelolaan anggaran kas pemerintah daerah ditetapkan dalam peraturan kepala daerah.sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 124 (1) TAPD melakukan verifikasi rancangan DPA-SKPD bersama-sama dengan kepala SKPD paling lama 15 (lima betas) hari kerja sejak ditetapkannya peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. satuan kerja pengawasan daerah. Pasal 126 (1) PPKD selaku BUD menyusun anggaran kas pemerintah daerah guna mengatur ketersediaan dana yang cukup untuk mendanai pengeluaran-pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana yang tercantum dalam DPA-SKPD yang telah disahkan.II peraturan menteri ini. Pembahasan rancangan anggaran kas SKPD dilaksanakan bersamaan dengan pembahasan DPA-SKPD.I peraturan menteri ini. (2) (3) (4) (3) (2) (3) (4) 47 . Format anggaran kas pemerintah daerah sebagaimana tercantum dalam Lampiran B. Paragraf 2 Anggaran Kas Pasal 125 (1) (2) Kepala SKPD berdasarkan rancangan DPA-SKPD menyusun rancangan anggaran kas SKPD. Rancangan anggaran kas SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan dengan rancangan DPA-SKPD. dan Badan Pemeriksa Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan. DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna anggaran/pengguna barang. (4) Format DPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran B.

(2) Untuk pengembalian kelebihan pendapatan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dibebankan pada belanja tidak terduga. jasa giro atau pendapatan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta pendapatan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. Bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendapat pengesahan oleh pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebenaran material yang timbul dari penggunaan bukti dimaksud. Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak termasuk untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib yang ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. tukarmenukar. asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk pendapatan bunga. Bagian Keempat Pelaksanaan Anggaran Belanja Daerah Pasal 132 (1) (2) Setiap pengeluaran belanja atas beban APBD harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. Pasal 128 (1) Setiap SKPD yang memungut pendapatan daerah wajib mengintensifkan pemungutan pendapatan yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya. Pasal 131 Semua pendapatan dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah dan dicatat sebagai pendapatan daerah. Setiap pendapatan harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah. balk secara langsung sebagai akibat dari penjualan. Pasal 129 Komisi. rabat. potongan atau pendapatan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang. (3) Pengembalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah. (2) SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan daerah. Pasal 130 (1) Pengembalian atas kelebihan pendapatan dilakukan dengan membebankan pada pendapatan yang bersangkutan untuk pengembalian pendapatan yang terjadi dalam tahun yang sama. (3) (4) 48 . hibah.Bagian Ketiga Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Daerah Pasal 127 (1) (2) Semua pendapatan daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah.

49 . Pasal 136 Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD. penanggulangan bencana alam dan/atau bencana sosial. bantuan sosial. Pasal 135 (2) (3) (4) Bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya. wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara pada bank yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. hibah. termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahuntahun sebelumnya yang telah ditutup ditetapkan dengan keputusan kepala daerah dan diberitahukan kepada DPRD paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak keputusan dimaksud ditetapkan. Pasal 45 ayat (1). Pengeluaran belanja untuk tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan kebutuhan yang diusulkan dari instansi/lembaga berkenaan setelah mempertimbangkan efisiensi dan efektifitas serta menghindari adanya tumpang tindih pendanaan terhadap kegiatan-kegiatan yang telah didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban subsidi. dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1). hibah. bantuan sosial. dan bantuan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Tata cara pemberian dan pertanggungjawaban belanja tidak terduga untuk tanggap darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. Pimpinan instansi/lembaga penerima dana tanggap darurat bertanggungjawab atas penggunaan dana tersebut dan wajib menyampaikan laporan realisasi penggunaan kepada atasan langsung dan kepala daerah. dan Pasal 47 ayat (1) dilaksanakan atas persetujuan kepala daerah. bantuan sosial. Pasal 42 ayat (1). dan bantuan keuangan bertanggung jawab atas penggunaan uang/barang dan/atau jasa yang diterimanya dan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaannya kepada kepala daerah. Penerima subsidi. Pasal 133 (1) Pemberian subsidi. hibah. kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh bendahara pengeluaran.(5) Belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (4) berlaku ketentuan dalam Pasal 106 ayat (3) dan ayat (4). Pasal 134 (2) (3) (1) Dasar pengeluaran anggaran belanja tidak terduga yang dianggarkan dalam APBD untuk mendanai tanggap darurat.

dan c. (4) DPAL-SKPD yang telah disahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dijadikan dasar pelaksanaan penyelesaian pekerjaan dan penyelesaian pembayaran. menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan lebih kecil daripada realisasi belanja. SP2D yang belum diuangkan. Kepala SKPD menyampaikan laporan akhir realisasi pelaksanaan kegiatan fisik dan non-fisik maupun keuangan kepada PPKD paling lambat pertengahan bulan Desember tahun anggaran berjalan. (3) Jumlah anggaran yang disahkan dalam DPAL-SKPD setelah terlebih dahulu dilakukan pengujian sebagai berikut: a. (2) Untuk mengesahkan kembali DPA-SKPD menjadi DPAL-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b.Bagian Kelima Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan Daerah Paragraf 1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tabun Sebelumnya Pasal 137 Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya merupakan penerimaan pembiayaan yang digunakan untuk: a.III peraturan menteri ini. sisa DPA-SKPD yang belum diterbitkan SPD dan/atau belum diterbitkan SP2D atas kegiatan yang bersangkutan. Pasal 138 (1) Beban belanja langsung pelaksanaan kegiatan lanjutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 huruf b didasarkan pada DPA-SKPD yang telah disahkan kembali oleh PPKD menjadi DPA Lanjutan SKPD (DPAL-SKPD) tahun anggaran berikutnya. c. sisa SPD yang belum diterbitkan SP2D. (5) Format dalam Lampiran B. DPAL-SKPD sebagaimana tercantum Paragraf 2 Dana Cadangan Pasal 139 (1) (2) Dana cadangan dibukukan dalam rekening tersendiri atas nama dana cadangan pemerintah daerah yang dikelola oleh BUD. b. Dana cadangan tidak dapat digunakan untuk membiayai program dan kegiatan lain diluar yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan. Program dan kegiatan yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan apabila dana cadangan telah mencukupi untuk melaksanakan program dan kegiatan. Untuk pelaksanaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dana cadangan dimaksud terlebih dahulu (3) (4) 50 . mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan atas beban belanja langsung. mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum diselesaikan.

(3) Portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penjualan. Paragraf 4 Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah Pasal 142 (1) (2) pihak lain. (2) Pengurangan. Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas persetujuan PPKD. Dalam hal program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) telah selesai dilaksanakan dan target kinerjanya telah tercapai. dan e. dana tersebut dapat ditempatkan dalam portofolio yang memberikan hasil tetap dengan risiko rendah. maka dana cadangan yang masih tersisa pada rekening dana cadangan. surat utang negara (SUN). (3) (4) Pendapatan daerah dan/atau aset daerah (barang milik daerah) tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah. Paragraf 3 Investasi Pasal 141 (1) Investasi awal dan penambahan investasi dicatat pada rekening penyertaan modal (investasi) daerah. dipindahbukukan ke rekening kas umum daerah. Pemerintah daerah tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman (6) (7) 51 . deposito. (5) Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling tinggi sejumlah pagu dana cadangan yang akan digunakan untuk mendanai pelaksanaan kegiatan dalam tahun anggaran berkenaan sesuai dengan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan. d. b. Pasal 140 (1) Dalam hal dana cadangan yang ditempatkan pada rekening dana cadangan belum digunakan sesuai dengan peruntukannya. (4) Penatausahaan pelaksanaan program dan kegiatan yang dibiayai dari dana cadangan diperlakukan sama dengan penatausahaan pelaksanaan program/ kegiatan Iainnya. Kegiatan yang dibiayai dari obligasi daerah beserta barang milik Penerimaan pinjaman daerah dan obligasi daerah dilakukan melalui rekening kas umum daerah. dan/atau pengalihan ivestasi dicatat pada rekening penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan (divestasi modal). c. surat perbendaharaan negara (SPN). sertifikat bank indonesia (SBI). surat berharga Iainnya yang dijamin pemerintah.dipindahbukukan ke rekening kas umum daerah. (2) Penerimaan hasil bunga/deviden rekening dana cadangan dan penempatan dalam portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menambah jumlah dana cadangan.

jumlah penerimaan pinjaman. Pasal 144 (1) Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri setiap akhir semester tahun anggaran berjalan. Apabila anggaran yang tersedia dalam APBD/perubahan APBD tidak mencukupi untuk pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).daerah yang melekat dalam kegiatan tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi daerah. Pembayaran denda pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja bunga. dan c. penjualan obligasi daerah melalui lelang dan/atau tanpa lelang. penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi daerah termasuk kebijakan pengendalian resiko. Pasal 146 (1) Pelampauan pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah sebelum perubahan APBD dilaporkan kepada DPRD -dalam pembahasan awal perubahan APBD. kepala daerah dapat melakukan pelampauan pembayaran mendahului perubahan atau setelah perubahan APBD. c. (2) (2) (2) 52 . perencanaan dan penetapan portofolio pinjaman daerah. pembayaran pinjaman (pokok dan bunga). penerbitan obligasi daerah. b. Pembayaran bunga pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening belanja bunga. d. Pasal 148 (1) Pengelolaan obligasi daerah ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Posisi kumulatif pinjaman dan kewajiban pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas: a. b. Pasal 147 (1) (2) (3) (4) Kepala SKPKD melaksanakan pembayaran bunga dan cicilan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang jatuh tempo. Pasal 143 Kepala SKPKD melakukan penatausahaan atas pinjaman daerah dan obligasi daerah. Pembayaran pokok pinjaman dan/atau obligasi daerah dicatat pada rekening cicilan pokok utang yang jatuh tempo. (2) Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mengatur mengenai: a. Pelampauan pembayaran bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah setelah perubahan APBD dilaporkan kepada DPRD dalam laporan realisasi anggaran. Pasal 145 (1) Pemerintah daerah wajib membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang telah jatuh tempo. sisa pinjaman.

kepala SKPKD menyiapkan bukti dan administrasi penagihan. (3) Penghapusan dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh: a. kepala daerah Rp. (2) Piutang daerah dapat dihapuskan dari pembukuan dengan penyelesaian secara mutlak atau bersyarat.5. Pasal 151 (1) Piutang daerah yang terjadi sebagai akibat hubungan keperdataan dapat diselesaikan dengan cara damai.5. kecuali piutang daerah yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan.000.00 (lima miliar rupiah). pembelian kembali obligasi daerah sebelum jatuh tempo. register surat penagihan piutang daerah. surat penagihan berulang piutang daerah. Pasal 150 (1) Piutang atau tagihan daerah yang tidak dapat diselesaikan seluruhnya pada saat jatuh tempo. Paragraf 5 Piutang Daerah Pasal 149 (1) dengan tepat waktu.000.e. (3) Penyusunan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri.00 (lima miliar rupiah) untuk piutang jumlah daerah sebagaimana dengan atas Setiap piutang daerah diselesaikan seluruhnya (2) sampai b. f. aktivitas lain dalam rangka pengembangan pasar perdana ke pasar sekunder obligasi daerah.IV peraturan menteri 53 . (2) PPK-SKPD melakukan penatausahaan penerimaan piutang atau tagihan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD.000.000. kepala daerah dengan persetujuan DPRD untuk jumlah Iebih dari Rp. Piutang daerah jenis tertentu seperti piutang pajak daerah dan piutang retribusi daerah merupakan prioritas untuk didahulukan penyelesaiannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. kecuali cara penyelesaiannya diatur tersendiri dalam peraturan perundang-undangan.000. dan register surat penagihan berulang piutang daerah tercantum dalam Lampiran B. SKPKD melaksanakan penagihan dan (2) Untuk melaksanakan penagihan piutang daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 152 (1) Kepala menatausahakan piutang daerah. dan g.000. (3) Format surat penagihan piutang daerah. pelunasan.

ini. b. antar kegiatan. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA. keadaan darurat.V peraturan menteri ini. Bukti pembayaran piutang SKPKD dari pihak ketiga harus dipisahkan dengan bukti penerimaan kas atas pendapatan pada tahun anggaran berjalan. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran Iebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan. alokasi belanja daerah. (3) Dalam rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disajikan secara lengkap penjelasan mengenai: a. Bagian Kedua Kebijakan Umum serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Perubahan APBD Pasal 155 (1) Perubahan APBD disebabkan perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf a dapat berupa terjadinya pelampauan atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah. dan antar jenis belanja. kecuali dalam keadaan luar biasa. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. dan e. perbedaan asumsi dengan KUA yang ditetapkan sebelumnya. sumber dan penggunaan pembiayaan yang semula ditetapkan dalam KUA. b. program dan kegiatan yang dapat diusulkan untuk ditampung dalam perubahan APBD dengan mempertimbangkan sisa waktu 54 . Jadwal pelaksanaan APBD tercantum dalam Lampiran Pasal 153 (1) (2) Kepala SKPKD setiap bulan melaporkan realisasi penerimaan piutang kepada kepala daerah. (2) Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. BAB VIII PERUBAHAN APBD Bagian Pertama Dasar Perubahan APBD Pasal 154 (1) Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi: a. c. d. (2) Kepala daerah memformulasikan hal-hal yang mengakibatkan terjadinya perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf a ke dalam rancangan kebijakan umum perubahan APBD serta PPAS perubahan APBD. (4) B. keadaan luar biasa.

c. PPA perubahan APBD. Pasal 157 (1) Berdasarkan nota kesepakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156 ayat (1). capaian target kinerja program dan kegiatan yang harus dikurangi dalam perubahan APBD apabila asumsi KUA tidak tercapai. capaian target kinerja program dan kegiatan yang harus ditingkatkan dalam perubahan APBD apabila melampaui asumsi KUA. transparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja. (7) Format rancangan kebijakan umum perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran C.pelaksanaan APBD tahun anggaran berjalan. masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD.III peraturan menteri ini. (2) Rancangan surat edaran kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. batas waktu penyampaian RKA-SKPD dan/atau DPA-SKPD yang telah diubah kepada PPKD.II peraturan menteri ini. e. agar dihindari adanya penganggaran kegiatan pembangunan fisik di dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD. format RKA-SKPD 55 . setelah dibahas selanjutnya disepakati menjadi kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD paling lambat minggu kedua bulan Agustus tahun anggaran berjalan. dan d. b. d. (2) Format nota kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan/atau kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah untuk dianggarkan dalam perubahan APBD sebagai acuan bagi kepala SKPD.I peraturan menteri ini. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi. (6) Dalam hal persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD diperkirakan pada akhir bulan September tahun anggaran berjalan. (8) Format rancangan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tercantum dalam Lampiran C. kode rekening APBD. sinkronisasi program dan kegiatan SKPD dengan program nasional dan antar program SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. PPA perubahan APBD yang dialokasikan untuk program baru dan/atau kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah pada setiap SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan. c. (5) Rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (4). dan dokumen sebagai lampiran meliputi kebijakan umum perubahan APBD. efektifitas. (4) Rancangan kebijakan umum perubahan APBD dan PPAS perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada DPRD paling lambat minggu pertama bulan Agustus dalam tahun anggaran berjalan. Pasal 156 (1) Kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD yang telah disepakati sebagaimana dimaksud dalam Pasal 155 ayat (5).

Pasal 94. Bagian Ketiga Pergeseran Anggaran Pasal 160 (1) Pergeseran anggaran antar unit organisasi. kelompok. Pasal 93. obyek. Pergeseran anggaran antar unit organisasi. Pasal 159 (1) Perubahan DPA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (1) dapat berupa peningkatan atau pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan dari yang telah ditetapkan semula. antar kegiatan. dan rincian obyek pendapatan. Dalam format DPPA-SKPD dijelaskan capaian target kinerja. Pasal 158 Tata cara penyusunan RKA-SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 157 ayat (1) berlaku ketentuan dalam Pasal 90. (3) Pedoman penyusunan RKA-SKPD dan/atau kriteria DPA-SKPD yang dapat diubah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).dan/atau DPPASKPD. diterbitkan oleh kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Agustus tahun anggaran berjalan. Pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja berkenaan dilakukan atas persetujuan sekretaris daerah. dan antar jenis belanja dapat dilakukan dengan cara merubah peraturan daerah tentang APBD. belanja serta pembiayaan baik sebelum dilakukan perubahan maupun setelah perubahan. Pasal 98. Pasal 92. standar analisa belanja dan standar harga. dan Pasal 99. Tata cara pergeseran sebagaimana dimaksud ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam peraturan kepala daerah. Peningkatan atau pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diformulasikan dalam format dokumen pelaksanaan perubahan anggaran SKPD (DPPA-SKPD).IV peraturan menteri ini. untuk selanjutnya dianggarkan dalam rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD. Pasal 91. Pasal 96. Pasal 97. jenis. dan antar jenis belanja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf b serta pergeseran antar obyek belanja dalam jenis belanja dan antar rincian obyek belanja diformulasikan dalam DPPASKPD. (2) (3) (4) Pergeseran antar rincian obyek belanja dalam obyek belanja berkenaan dapat dilakukan atas persetujuan PPKD. (2) (3) (4) (5) (6) (7) 56 . Anggaran yang mengalami perubahan baik berupa penambahan dan/atau pengurangan akibat pergeseran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). antar kegiatan. Pergeseran anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan dengan cara mengubah peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD sebagai dasar pelaksanaan. harus dijelaskan dalam kolom keterangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD. Format DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran C. Pasal 95.

(2) tahun sebelumnya Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun anggaran berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pas& 154 ayat (1) huruf c dapat berupa: a. mendanai kegiatan-kegiatan yang capaian target kinerjanya ditingkatkan dari yang telah ditetapkan semula dalam DPA-SKPD tahun anggaran berjalan yang dapat diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berjalan.Bagian Keempat Penggunaan Saldo Anggaran Lebih Tabun Sebelumnya Dalam Perubahan APBD Pasal 161 (1) Saldo anggaran lebih merupakan sisa lebih perhitungan tahun anggaran sebelumnya. (2) Dalam keadaan darurat. c. dan d. membayar bunga dan pokok utang dan/atau obligasi daerah yang melampaui anggaran yang tersedia mendahului perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 145 ayat (2). d. c. b. mendanai program dan kegiatan baru dengan kriteria harus diselesaikan sampai dengan batas akhir penyelesaian pembayaran dalam tahun anggaran berjalan. dan huruf f diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPA-SKPD. (4) Penggunaan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya untuk mendanai pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d diformulasikan terlebih dahulu dalam DPAL-SKPD. Bagian Kelima Pendanaan Keadaan Darurat Pasal 162 (1) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf d sekurangkurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: a. (3) Penggunaan saldo anggaran tahun sebelumnya untuk pendanaan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. mendanai kegiatan lanjutan sesuai dengan ketentuan Pasal 138. mendanai kenaikan gaji dan tunjangan PNS akibat adanya kebijakan pemerintah. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum 57 . melunasi seluruh kewajiban bunga dan pokok utang. e. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya. b. (5) Penggunaan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya untuk mendanai pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD. berada diluar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. dan f. huruf c. huruf b. tidak diharapkan terjadi secara berulang. memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat.

yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD.tersedia anggarannya. Bagian Keenam Pendanaan Keadaan Luar Biasa Pasal 163 (1) Keadaan Iuar biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 154 ayat (1) huruf e merupakan keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen). Pasal 164 (1) Dalam hal kejadian Iuar biasa yang menyebabkan estimasi penerimaan dalam APBD mengalami peningkatan Iebih dari 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 163 ayat (1). dapat dilakukan penambahan kegiatan baru dan/atau penjadwalan ulang/peningkatan capaian target kinerja program dan kegiatan dalam tahun anggaran berjalan. (9) Dalam hal keadaan darurat terjadi setelah ditetapkannya perubahan APBD. (4) Dalam hal belanja tidak terduga tidak mencukupi dapat dilakukan dengan cara: a. (8) Pendanaan keadaan darurat untuk kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD. keperluan mendesak lainnya yang apabila ditunda akan menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat. menggunakan dana dari hasil penjadwalan ulang capaian target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan. (6) Kriteria belanja untuk keperluan mendesak sebagaimana dimaksud pada ayat (5) mencakup: a. program dan kegiatan pelayanan dasar masyarakat yang anggarannya belum tersedia dalam tahun anggaran berjalan. dan/atau b. (5) Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) termasuk belanja untuk keperluan mendesak yang kriterianya ditetapkan dalam peraturan daerah tentang APBD. Persentase 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan selisih (gap) kenaikan atau penurunan antara pendapatan dan belanja dalam APBD. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. (10) Dasar pengeluaran untuk kegiatan-kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (9) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD untuk dijadikan dasar pengesahan DPA-SKPD oleh PPKD setelah memperoleh persetujuan sekretaris daerah. (7) Penjadwalan ulang capaian target kinerja program dan kegiatan lainnya dalam tahun anggaran berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPA-SKPD. Penambahan kegiatan baru sebagaimana (2) (2) 58 . dan b. memanfaatkan uang kas yang tersedia. dan pengeluaran tersebut disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. (11) Pelaksanaan pengeluaran untuk mendanai kegiatan dalam keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (5) terlebih dahulu ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. (3) Pendanaan keadaan darurat yang belum tersedia anggarannya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat menggunakan belanja tidak terduga.

(4) (2) (3) (2) (3) (2) RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan DPPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah dibahas TAPD.dimaksud pada ayat (1) diformulasikan terlebih dahulu dalam RKA-SKPD. Pasal 167 (1) RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan DPPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah disempurnakan oleh SKPD. standar satuan harga. (3) Penjadwalan ulang/peningkatan capaian target kinerja program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diformulasikan terlebih dahulu dalam DPPASKPD. serta capaian kinerja. Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD dan DPPA-SKPD yang memuat program dan kegiatan yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD terdapat ketidaksesuaian dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 165 (1) Dalam hal kejadian Iuar biasa yang menyebabkan estimasi penerimaan dalam APBD mengalami penurunan lebih dari 50% (lima puluh persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 163 ayat (1). Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dan DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD. Penjadwalan ulang/pengurangan capaian target sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diformulasikan ke dalam DPPA-SKPD. indikator kinerja. disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. standar analisis belanja. SKPD melakukan penyempurnaan. prakiraan maju yang direncanakan atau yang telah disetujui dan dokumen perencanaan Iainnya. DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan kedua APBD. RKA-SKPD dan DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan kedua APBD. maka dapat dilakukan penjadwalan ulang/pengurangan capaian target kinerja program dan kegiatan Iainnya dalam tahun anggaran berjalan. dan standar pelayanan minimal. 59 . Bagian Ketujuh Penyiapan Raperda Perubahan APBD Pasal 166 (1) RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan baru dan DPPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. dijadikan bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD oleh PPKD.

e. daftar perubahan jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. Pasal 169 (1) Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 168 terdiri dari rancangan peraturan daerah teritang perubahan APBD beserta lampirannya. 3) laporan arus kas yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. g. belanja dan pembahyaan.Bagian Kedelapan Penetapan Perubahan APBD Paragraf 1 Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD dan Rancangan Peraturan'Kepala Daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD Pasal 168 Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD yang disusun oleh PPKD memuat pendapatan. organisasi. pendapatan. rekapitulasi perubahan belanja menurut urusan pemerintahan daerah. c. (2) Lampiran rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Laporan keuangan pemerintah daerah yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah terdiri dari: 1) laporan realisasi anggaran yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. 2) neraca yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. h. belanja dan pembiayaan yang mengalami perubahan dan yang tidak mengalami perubahan.V peraturan menteri ini. dan i. rekapitulasi perubahan belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. 4) catatan atas laporan keuangan yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah 1 (satu) tahun terakhir sebelum tahun perubahan anggaran yang direncanakan. daftar pinjaman daerah. b. f. 60 . (3) Format rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. ringkasan perubahan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. program dan kegiatan. d. ringkasan perubahan APBD. rincian perubahan APBD menurut urusan pemerintahan daerah. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. organisasi.

Paragraf 2 Penyampaian. jenis. (3) Format rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. Pembahasan dan Penetapan Raperda Perubahan APBD Pasal 172 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD. (3) Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat memberikan infomiasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan perubahan APBD tahun anggaran yang direncanakan.VI peraturan menteri ini. beserta Iampirannya kepada DPRD paling lambat minggu kedua bulan September tahun anggaran berjalan untuk mendapatkan persetujuan bersama. DPRD menetapkan agenda pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Penyebarluasan rancangan tentang perubahan APBD dilaksanakan oleh sekretariat daerah. Pembahasan rancangan peraturan daerah berpedoman pada kebijakan umum perubahan APBD serta PPA perubahan APBD yang telah disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD. rincian obyek pendapatan.VII peraturan menteri ini. belanja dan pembiayaan. (2) Lampiran rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (2) Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebelum disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. Format susunan nota keuangan perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran C. program. kegiatan. (2) (3) (4) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan nota keuangan perubahan APBD. kelompok. Pengambilan keputusan DPRD untuk menyetujui rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Pasal 171 (1) Rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah. ringkasan penjabaran perubahan anggaran pendapatan daerah. dan b. penjabaran perubahan APBD menurut organisasi. obyek.Pasal 170 (1) Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 169 ayat (2) terdiri dari rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD beserta Iampirannya. Format persetujuan bersama rancangan peraturan daerah peraturan daerah (5) (6) (7) 61 . belanja daerah dan pembiayaan daerah.

Paragraf 3 Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Perubahan APBD Pasal 173 (1) Tata cara evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD provinsi dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD provinsi menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur berlaku ketentuan Pasal 110 ayat (1).XIX peraturan menteri ini.tentang perubahan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran C. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. Pasal 174 (2) (3) (4) (1) Tata cara evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD kabupaten/kota menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota berlaku ketentuan Pasal 111 ayat (1). Pembatalan peraturan daerah dan peraturan (2) (3) (4) 62 . Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta pernyataan berlakunya APBD tahun berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD. Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. dan ayat (4). Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sekaligus menyatakan tidak diperkenankan melakukan perubahan APBD dan tetap berlaku APBD tahun anggaran berjalan. dan bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dimaksud. dan ayat (4). sekaligus menyatakan tidak diperkenankan melakukan perubahan APBD dan tetap berlaku APBD tahun anggaran berjalan. ayat (3). bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Dalam hal Gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. ayat (3). (8) Jadwal perubahan APBD tercantum dalam Lampiran C.VIII peraturan menteri ini. ayat (2). ayat (2). gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.

memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD terhadap program dan kegiatan yang dianggarkan dalam perubahan APBD. Pasal 176 Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Dalam DPPA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terhadap rincian obyek pendapatan. dan disahkan oleh PPKD berdasarkan persetujuan sekretaris daerah. Pasal 177 Tata cara penyempurnaan hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173 ayat (2) dan Pasal 174 ayat (2) berlaku ketentuan dalam Pasal 113. Paragraf 4 Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD Pasal 178 (1) PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang perubahan APBD ditetapkan. belanja atau pembiayaan yang mengalami penambahan atau pengurangan atau pergeseran harus disertai dengan penjelasan latar belakang perbedaan jumlah anggaran baik sebelum dilakukan perubahan maupun setelah dilakukan perubahan. Pasal 175 (1) Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 173 ayat (4) dan Pasal 174 ayat (4). (4) DPPA-SKPD dapat dilaksanakan setelah dibahas TAPD. (2) Untuk mengelola kas daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB IX PENGELOLAAN KAS Bagian Pertama Pengelolaan Penerimaan dan Pengeluaran Kas Pasal 179 (1) BUD bertanggung jawab terhadap pengelolaan penerimaan dan pengeluaran kas daerah. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. (2) (2) DPA-SKPD yang mengalami perubahan dalam tahun berjalan seluruhnya harus disalin kembali ke dalam Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPPA-SKPD). Pencabutan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang perubahan APBD.bupati/walikota serta pernyataan berlakunya APBD tahun berjalan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan dengan keputusan gubernur. BUD membuka 63 .

e. BUD dapat membuka rekening penerimaan dan rekening pengeluaran pada bank yang ditetapkan oleh kepala daerah. belanja. (5) Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sebagai pengeluaran perhitungan fihak ketiga. e. penerimaan uang jaminan. c. dan g. Penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti: potongan Taspen. penyetoran Taspen. penyetoran PPN. d. (3) Pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) seperti: a. c. (2) Jumlah dana yang disediakan pada rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan rencana pengeluaran yang telah ditetapkan dalam APBD. Pasal 182 (1) Rekening pengeluaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180 diisi dengan dana yang bersumber dari rekening kas umum daerah. g. penerimaan titipan uang muka. f. f. potongan PPh. (2) a. (2) Saldo rekening penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) setiap akhir hari kerja wajib disetorkan seluruhnya ke rekening kas umum daerah. (3) Penunjukan bank yang sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan keputusan kepala daerah dan diberitahukan kepada DPRD. pengeluaran lainnya yang sejenis. (4) Penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diperlakukan sebagai penerimaan perhitungan fihak ketiga. Bagian Kedua Pengelolaan Kas Non Anggaran Pasal 183 (1) Pengelolaan kas non anggaran mencerminkan penerimaan dan pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan. dan pembiayaan pemerintah daerah. potongan Askes. penyetoran Askes. d. dan penerimaan lainnya yang sejenis. pengembalian uang jaminan. Pasal 180 Untuk mendekatkan pelayanan pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran kas kepada SKPD atau masyarakat. b. b.rekening kas umum daerah pada bank yang sehat. pengembalian titipan uang muka. Pasal 181 (1) Rekening penerimaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 180 digunakan untuk menampung penerimaan daerah setiap hari. penyetoran PPh. (6) Informasi penerimaan kas dan pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) 64 . potongan PPN.

bendahara penerimaan/pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/barang/kekayaan daerah wajib menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SP2D. belanja subsidi. e.dan ayat (3) disajikan dalam laporan arus kas aktivitas non anggaran. Bagian Kedua Pelaksanaan Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 185 (1) Untuk pelaksanaan APBD. BAB X PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Azas Umum Penatausahaan Keuangan Daerah Pasal 184 (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu SKPD. bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. (2) Penetapan pejabat yang ditunjuk sebagai kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. (8) Tata cara pengelolaan kas non anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan kepala daerah. belanja bagi basil. didelegasikan oleh kepala daerah kepada kepala SKPD. belanja tidak terduga. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran atas pelaksanaan APBD bertanggung jawab terhadap kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. pejabat lainnya dalam rangka pelaksanaan APBD. c. g. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPM. pejabat yang diberi wewenang menandatangani SPD. pejabat yang diberi wewenang mengesahkan SPJ. dan h. (4) Pejabat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mencakup: (2) 65 . (7) Penyajian informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga. f. belanja hibah. dan pengeluaran pembiayaan pada SKPKD. d. belanja bantuan sosial. belanja bantuan keuangan. kepala daerah menetapkan: a. (3) Penetapan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h.

(2) Penatausahaan atas penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan: a. buku pembantu per rincian objek penerimaan. pembuat dokumen pengeluaran uang atau pengurusan gaji. c. b. badan. dilakukan-dengan cara: a. Pasal 186 (1) Untuk mendukung kelancaran tugas perbendaharaan.c diterbitkan dan disahkan oleh PPKD. buku kas umum. e. b. (3) Benda berharga seperti karcis retribusi sebagai tanda bukti pembayaran oleh pihak ketiga kepada bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf . b. disetor melalui bank lain. disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga. pejabat yang diberi wewenang menandatangani bukti penerimaan kas dan bukti penerimaan lainnya yang sah. lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh pihak ketiga. dan c. dan pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran. PPTK yang diberi wewenang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. Pasal 189 (1) Bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Pasal 188 Dalam hal daerah yang karena kondisi geografisnya sulit dijangkau dengan komunikasi dan transportasi sehingga melebihi batas waktu penyetoran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 187 ayat (2) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran dapat dibantu oleh pembantu bendahara.a. PPK-SKPD yang diberi wewenang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. dan 66 . (2) Pembantu bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan fungsi sebagai kasir atau pembuat dokumen penerimaan (3) Pembantu bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) melaksanakan fungsi sebagai kasir. (5) Penetapan pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (4) dilaksanakan sebelum dimulainya tahun anggaran berkenaan. d. pejabat yang diberi wewenang menandatangani surat bukti pemungutan pendapatan daerah. Bagian Ketiga Penatausahaan Penerimaan Pasal 187 (1) Penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. (2) Penerimaan daerah yang disetor ke rekening kas umum daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). disetor melalui bendahara penerimaan oleh pihak ketiga.

buku rekapitulasi penerimaan harian. b. Pasal 190 (1) Dalam hal obyek pendapatan daerah tersebar atas pertimbangan kondisi geografis wajib pajak dan/atau wajib retribusi tidak mungkin membayar kewajibannya langsung pada badan. (7) PPKD selaku BUD melakukan verifikasi. evaluasi dan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dilakukan dalam rangka rekonsiliasi penerimaan. (5) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. dapat ditunjuk bendahara penerimaan pembantu. buku rekapitulasi penerimaan harian. buku kas umum. evaluasi dan analisis sebagaimana dimaksud pada ayat (8) diatur dalam peraturan kepala daerah. (9) Mekanisme dan tatacara verifikasi.II peraturan menteri ini. (2) Bendahara penerimaan pembantu wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. surat ketetapan retribusi. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah).I peraturan menteri (11) Format surat ketetapan pajak daerah. buku pembantu per rincian objek penerimaan. (10) Format buku kas umum. (3) Penatausahaan atas penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan: 67 . surat tanda bukti pembayaran. dan surat tanda bukti pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tercantum dalam Lampiran D. (8) Verifikasi. surat tanda setoran.III peraturan menteri ini. c. buku pembantu per rincian objek penerimaan dan buku rekapitulasi penerimaan harian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. dan e. Surat tanda setoran (STS). (4) Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara administratif atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.c. b. (6) Laporan pertanggungjawaban penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dilampiri dengan: a. surat ketetapan retribusi (SKR). lembaga keuangan atau kantor pos yang bertugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi bendahara penerimaan. evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (5). bukti penerimaan lainnya yang sah. (12) Format laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) tercantum dalam Lampiran D. (3) Bendahara penerimaan dalam melakukan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menggunakan: a. c. d. dan d. bukti penerimaan lainnya yang sah.

buku kas penerimaan harian pembantu. dapat melebihi ketentuan batas waktu penyetoran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. b. bendahara penerimaan tersebut wajib memberikan surat kuasa kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan penyetoran dan tugas-tugas bendahara penerimaan atas tanggung jawab bendahara penerimaan yang bersangkutan dengan diketahui kepala SKPD.IV peraturan menteri ini. dan ayat (4) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. badan. lembaga keuangan atau kantor pos sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempertanggungjawabkan seluruh uang kas yang diterimanya kepada kepala daerah melalui BUD. lembaga keuangan atau kantor pos sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyetor seluruh uang yang diterimanya ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak uang kas tersebut diterima. (2) Bank. surat tanda bukti pembayaran. badan. Pasal 193 Pengisian dokumen penatausahaan penerimaan dapat menggunakan aplikasi komputer dan/atau alat elektronik lainnya. dan b. ayat (3). evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban penerimaan. b.a. (4) Bendahara penerimaan pembantu dalam melakukan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan: a. surat tanda setoran (STS). surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). (4) Bank. harus ditunjuk 68 . Pasal 194 Dalam hal bendahara penerimaan berhalangan. dan bukti penerimaan lainnya yang sah. buku kas umum. (6) Bendahara penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) melakukan verifikasi. surat ketetapan retribusi (SKR). (2) Bendahara penerimaan pembantu mempertanggungjawabkan bukti penerimaan dan bukti penyetoran dari seluruh uang kas yang diterimanya kepada bendahara penerimaan. Pasal 192 (1) Bendahara penerimaan pembantu wajib menyetor seluruh uang yang diterimanya ke rekening kas umum daerah paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak uang kas tersebut diterima. lembaga keuangan atau kantor pos yang bertugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi bendahara penerimaan. d. maka: a. badan. apabila melebihi 3 (tiga) hari sampai selama-lamanya 1 (satu) bulan. (7) Format buku kas penerimaan harian pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b tercantum dalam Lampiran D. (5) Bendahara penerimaan pembantu wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada bendahara penerimaan paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya. e. (5) Tata cara penyetoran dan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Atas pertimbangan kondisi geografis yang sulit dijangkau dengan komunikasi dan transportasi. Pasal 191 (1) Kepala daerah dapat menunjuk bank. apabila melebihi 1 (satu) bulan sampai selama-lamanya 3 _(tiga) bulan. c.

c. Pasal 197 (1) Pengeluaran kas atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. Paragraf 2 Permintaan Pembayaran Pasal 198 (1) Berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 197 ayat (1). SPP Ganti Uang (SPP-GU). c. SPP Tambahan Uang (SPP-TU).VI peraturan menteri ini. (2) Dokumen SPP-UP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Pasal 195 Ringkasan prosedur penatausahaan bendahara penerimaan tercantum dalam Lampiran D. surat pengantar SPP-UP. (2) SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a.pejabat bendahara penerimaan dan diadakan berita acara serah terima. (2) Format SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. apabila bendahara penerimaan sesudah 3 (tiga ) bulan belum juga dapat melaksanakan tugas. SPP Langsung (SPP-LS). SPP Uang Persediaan (SPP-UP). dan huruf c dilampiri dengan daftar rincian rencana penggunaan dana sampai dengan jenis belanja. PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan SPD. huruf b. bendahara pengeluaran mengajukan SPP kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. b.V peraturan menteri ini. (3) Pengajuan SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a. 69 . (2) SPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD. dan d. Bagian Keempat Penatausahaan Pengeluaran Paragraf 1 Penyediaan Dana Pasal 196 (1) Setelah penetapan anggaran kas. Pasal 199 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-UP dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka pengisian uang persediaan. maka dianggap yang bersangkutan telah mengundurkan diri atau berhenti dari jabatan sebagai bendahara penerimaan dan oleh karena itu segera diusulkan penggantinya.

f. c. (3) Batas jumlah pengajuan SPP-TU harus mendapat persetujuan dari PPKD dengan memperhatikan rincian kebutuhan dan waktu penggunaan ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. e. rincian SPP-GU. lampiran lain yang diperlukan. e. b. f. rincian SPP-TU. salinan SPD. Pasal 201 Ketentuan batas jumlah SPP-UP dan SPP-GU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 dan Pasal 200 ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. dan g. Dokumen SPP-GU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: surat pengantar SPP-GU. d. (2) a. e. 70 . surat pengesahan laporan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran atas penggunaan dana SPP-UP/GU/TU sebelumnya. f. c. surat pengantar SPP-TU. Pasal 202 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-TU dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka tambahan uang persediaan. b. (3) Format surat pengesahan laporan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d tercantum dalam Lampiran D. d. dan lampiran lain yang diperlukan. ringkasan SPP-TU. c. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang menyatakan bahwa uang yang diminta tidak dipergunakan untuk keperluan selain tambahan uang persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa BUD. surat keterangan yang memuat penjelasan keperluan pengisian tambahan uang persediaan. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang menyatakan bahwa uang yang diminta tidak dipergunakan untuk keperluan selain uang persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa BUD. ringkasan SPP-UP. draft surat pernyataan untuk ditandatangani oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran yang menyatakan bahwa uang yang diminta tidak dipergunakan untuk keperluan selain ganti uang persediaan saat pengajuan SP2D kepada kuasa BUD. Pasal 200 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-GU dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka ganti uang persediaan. d. dan g. ringkasan SPP-GU. lampiran lainnya. rincian SPP-UP.VII peraturan menteri ini. (2) Dokumen SPP-TU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. salinan SPD.b. salinan SPD.

dan d. dan Pasal 202 ayat (2) huruf e tercantum dalam Lampiran D. (5) Format surat keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f tercantum dalam Lampiran D. fotokopi akte kelahiran. SK CPNS. (4) Kelengkapan lampiran dokumen SPP-LS pembayaran gaji dan tunjangan sebagaimana 71 . g. p. n. kenaikan gaji berkala. SK jabatan. u. Pasal 204 (1) Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan dilakukan oleh bendahara pengeluaran guna memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. surat pindah. surat pernyataan melaksanakan tugas. daftar potongan sewa rumah dinas. gaji susulan. surat kematian. b. s.IX peraturan menteri ini. SK PNS. surat pernyataan masih menduduki jabatan. r. peraturan perundang-undangan mengenai penghasilan pimpinan dan anggota DPRD serta gaji dan tunjangan kepala daerah/wakil kepala daerah. SK kenaikan pangkat. h. ringkasan SPP-LS. uang duka wafat/tewas yang dilengkapi dengan daftar gaji induk/gaji susulan/ f. SSP PPh Pasal 21. kekurangan gaji/uang duka wafat/tewas. fotokopi surat nikah.(4) Dalam hal Jana tambahan uang tidak habis digunakan dalam 1 (satu) bulan.VIII peraturan menteri ini. m. (2) Dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. k. e. c. Pasal 200 ayat (2) huruf f. Pasal 200 ayat (1) dan Pasal 202 ayat (1) digunakan dalam rangka pelaksanaan pengeluaran SKPD yang harus dipertanggungjawabkan. (2) Format draft surat pernyataan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (2) huruf e. rincian SPP-LS. v. maka sisa tambahan uang disetor ke rekening kas umum daerah. dan w. surat pengantar SPP-LS. surat keterangan pemberhentian pembayaran (SKPP) gaji. f. surat keterangan masih sekolah/kuliah. c. SPP-GU dan SPP-TU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (1). pembayaran gaji induk. l. kekurangan gaji. i. o. gaji terusan. (3) Lampiran dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d mencakup: a. lampiran SPP-LS. q. j. Pasal 203 (1) Pengajuan dokumen SPP-UP. daftar keluarga (KP4). b. d. t. surat pernyataan pelantikan.

(4) Kelengkapan lampiran dokumen SPP-LS pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) digunakan sesuai dengan peruntukannya. e. l. untuk pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d mencakup: a. surat jaminan bank atau yang dipersamakan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan non bank. j. surat angkutan atau konosemen apabila pengadaan barang dilaksanakan di luar wilayah kerja. berita acara serah terima barang dan jasa. k. g. (2) Dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. dan d. potongan jamsostek (potongan sesuai dengan ketentuan yang berlaku/surat pemberitahuan jamsostek). surat perjanjian kerjasama/kontrak antara pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dengan pihak ketiga serta mencantumkan nomor rekening bank pihak ketiga. 72 . foto/buku/dokumentasi tingkat kemajuan/ penyelesaian pekerjaan. c. (5) Dalam hal kelengkapan dokumen yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak lengkap. rincian SPP-LS. dokumen lain yang dipersyaratkan untuk kontrak-kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari penerusan pirrjaman/hibah luar negeri. d. berita acara pembayaran. i. Pasal 205 (1) PPTK menyiapkan dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. c. bendahara pengeluaran mengembalikan dokumen SPP-LS pengadaan barang dan jasa kepada PPTK untuk dilengkapi. m. h. lampiran SPP-LS. berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh pihak ketiga/rekanan serta unsur panitia pemeriksaan barang berikut lampiran daftar barang yang diperiksa.dimaksud pada ayat (3) digunakan sesuai dengan peruntukannya. kwitansi bermeterai. nota/faktur yang ditandatangani pihak ketiga dan PPTK sertai disetujui oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. (6) Bendahara pengeluaran mengajukan SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pengguna anggaran setelah ditandatangani oleh PPTK guna memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. ringkasan SPP-LS. (3) Lampiran dokumen SPP-LS. b. berita acara penyelesaian pekerjaan. salinan surat rekomendasi dari SKPD teknis terkait. khusus untuk pekerjaan konsultan yang perhitungan harganya menggunakan biaya personil (billing rate). berita acara prestasi kemajuan pekerjaan dilampiri dengan bukti kehadiran dari tenaga konsultan sesuai pentahapan waktu pekerjaan dan bukti penyewaan/pembelian alat penunjang serta bukti pengeluaran lainnya berdasarkan rincian dalam surat penawaran. dan p. surat pemberitahuan potongan denda keterlambatan pekerjaan dari PPTK apabila pekerjaan mengalami keterlambatan. SSP disertai faktur pajak (PPN dan PPh) yang telah ditandatangani wajib pajak dan wajib pungut. f. n. b. surat pengantar SPP-LS. salinan SPD. o.

(6) Format buku kas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sesuai dengan Lampiran D. buku simpanan/bank. Pasal 204 ayat (1). serta ayat (4) tercantum dalam Lampiran D. dan huruf f dapat dikerjakan oleh pembantu bendahara pengeluaran. (7) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b.Pasal 206 (1) Permintaan pembayaran untuk suatu kegiatan dapat terdiri dari SPP-LS dan/atau SPPUP/GU/TU. Pasal 210 (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran meneliti kelengkapan dokumen SPPUP. bantuan keuangan. dan SPP-LS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 199 ayat (1). subsidi. (2) SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pembayaran langsung kepada pihak ketiga berdasarkan kontrak dan/atau surat perintah kerja setelah diperhitungkan kewajiban pihak ketiga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (4) Dokumen yang digunakan oleh PPK-SKPD dalam menatausahakan penerbitan SPP mencakup register SPP-UP/GU/TU/LS.XII peraturan menteri ini. buku panjar. huruf c. Pasal 200 ayat (1). hibah. b. c. buku rekapitulasi pengeluaran per rincian obyek.XI peraturan menteri ini. dan SPP-LS yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. dan huruf f. 73 . (5) Kartu kendali kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. huruf d. e. Pasal 208 Permintaan pembayaran belanja bunga. (4) SPP-UP/GU/TU sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pembayaran pengeluaran lainnya yang bukan untuk pihak ketiga. huruf c. (3) Buku-buku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. huruf e. buku kas umum. buku pajak. Pasal 205 ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. SPP-TU. huruf d. d. (3) SPP-LS belanja barang dan jasa untuk kebutuhan SKPD yang bukan pembayaran langsung kepada pihak ketiga dikelola oleh bendahara pengeluaran. Pasal 202 ayat (1). bantuan sosial.X peraturan menteri ini. (2) Dalam rangka pengendalian penerbitan permintaan pembayaran untuk setiap kegiatan dibuatkan kartu kendali kegiatan. dan pembiayaan oleh bendahara pengeluaran SKPKD dilakukan dengan menerbitkan SPP-LS yang diajukan kepada PPKD melalui PPK-SKPKD. SPP-GU. SPP-GU. register SPP-UP/GU/TU/LS. belanja bagi hasil. SPP-TU. dan f. Pasal 209 (1) Dokumen yang digunakan oleh bendahara pengeluaran dalam menatausahakan pengeluaran permintaan pembayaran mencakup: a. Pasal 207 Format dokumen SPP-UP. huruf e.I peraturan menteri ini.

Pasal 212 (1) Penerbitan SPM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (1) paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya dokumen SPP. PPK-SKPD mengembalikan dokumen SPP-UP.XIV peraturan menteri ini. (2) Dalam hal dokumen SPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (2) dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan.XIII peraturan menteri ini. SPP-GU. Pasal 214 (1) Dokumen-dokumen yang digunakan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam menatausahakan pengeluaran perintah membayar mencakup: a. dan SPP-LS kepada bendahara pengeluaran untuk dilengkapi.(2) Penelitian kelengkapan dokumen SPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani SPM. Paragraf 3 Perintah Membayar Pasal 211 (1) Dalam hal dokumen SPP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 210 ayat (2) dinyatakan lengkap dan sah. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menolak menerbitkan SPM. (3) Dalam hal pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran berhalangan. dan b. register surat penolakan penerbitan SPM.XV peraturan menteri ini. (3) Dalam hal kelengkapan dokumen yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak lengkap. Paragraf 4 74 . Pasal 215 Setelah tahun anggaran berakhir. (2) Penolakan penerbitan SPM sebagaimana dimaksud dalam Pasal 211 ayat (2) paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPP. (2) Penatausahaan pengeluaran perintah membayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. register SPM-UP/SPM-GU/SPM-TU/SPM-LS. (3) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. (4) Format surat penolakan penerbitan SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. (3) Format SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. SPP-TU. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menerbitkan SPM. Pasal 213 SPM yang telah diterbitkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 212 ayat (1) diajukan kepada kuasa BUD untuk penerbitan SP2D.

(3) Format surat penolakan penerbitan SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. (6) Dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan lengkap. kuasa BUD menerbitkan SP2D. (2) Kelengkapan dokumen SPM-UP untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. (9) Format SP2D sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam D.Pencairan Dana Pasal 216 (1) Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. (4) Kelengkapan dokumen SPM-TU untuk penerbitan SP2D adalah surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Pasal 218 (1) Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan kepada pengguna anggaran/kuasa penggguna anggaran. surat pernyataan tanggung jawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. c. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani SP2D.XVII peraturan menteri ini. bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap sesuai dengan kelengkapan persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. bukti atas penyetoran PPN/PPh. surat pernyataan tanggungjawab pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. dan b. surat pengesahan pertanggungjawaban bendahara pengeluaran periode sebelumnya. PasaI 219 75 . (3) Kelengkapan dokumen SPM-GU untuk penerbitan SP2D mencakup: a. ringkasan pengeluaran per rincian objek yang disertai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sah dan lengkap. b. (7) Dalam hal dokumen SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah dan/atau pengeluaran tersebut melampaui pagu anggaran. Pasal 217 (1) Penerbitan SP2D sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 ayat (6) paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM. (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS untuk penerbitan SP2D mencakup: a. (2) Penolakan penerbitan SP2D sebagaimana dimaksud dalam Pasal 217 ayat (7) paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM. (8) Dalam hal kuasa BUD berhalangan. dan d. kuasa BUD menolak menerbitkan SP2D. (2) Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan pembayaran langsung kepada pihak ketiga.XVI peraturan menteri ini.

dan d. Paragraf 5 Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Pasal 220 (1) Bendahara pengeluaran secara administratif wajib mempertanggungjawabkan penggunaan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambah uang persediaan kepada kepala SKPD melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. (3) Format dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran D. (6) Dalam hal laporan pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (4) telah sesuai. register penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SP)). buku kas penerimaan dan pengeluaran (2) Format dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran D. b. bukti atas penyetoran PPN/PPh ke kas negara.XIX peraturan menteri ini. surat penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SP)).XVIII peraturan menteri ini. pertanggungjawaban pengeluaran dana bulan Desember disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember. register SP2D. dan c. buku kas umum.(1) Dokumen yang digunakan kuasa BUD dalam menatausahakan SP2D mencakup: a. c. (9) Dokumen pendukung SPP-LS dapat dipersamakan dengan bukti pertanggungjawaban atas pengeluaran pembayaran beban langsung kepada pihak ketiga. c. (7) Ketentuan batas waktu penerbitan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban pengeluaran dan sanksi keterlambatan penyampaian laporan pertanggungjawaban ditetapkan dalam peraturan kepala daerah. dan e. register surat penolakan penerbitan SP2D. b. (4) Dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan uang persediaan. (5) Buku kas umum sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a ditutup setiap bulan dengan sepengetahuan dan persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. ringkasan pengeluaran per rincian obyek yang disertai dengan bukti-bukti pengeluaran yang sah atas pengeluaran dari setiap rincian obyek yang tercantum dalam ringkasan pengeluaran per rincian obyek dimaksud. (8) Untuk tertib laporan pertanggungjawaban pada akhir tahun anggaran. dokumen laporan pertanggungjawaban yang disampaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. register penutupan kas. (2) Dokumen yang digunakan dalam menatausahakan pertanggungjawaban pengeluaran mencakup: a. (10) Bendahara pengeluaran pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengeluaran kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. register penutupan kas. register penerimaan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ). register pengesahan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ). pengguna anggaran menerbitkdn surat pengesahan laporan pertanggungjawaban. d. b. (11) Penyampaian pertanggungjawaban bendahara pengeluaran secara fungsional 76 .

sebagaimana dimaksud pada ayat (10) dilaksanakan setelah diterbitkan surat pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. (12) Format laporan pertanggungjawaban pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (10) tercantum dalam Lampiran D.XX peraturan menteri ini. Pasal 221 Dalam melakukan verifikasi atas laporan pertanggungjawaban yang disampaikan, PPKSKPD berkewajiban: a. meneliti kelengkapan dokumen laporan pertanggungjawaban dan keabsahan bukti-bukti pengeluaran yang dilampirkan; b. menguji kebenaran perhitungan atas pengeluaran per rincian obyek yang tercantum dalam ringkasan per rincian obyek; c. menghitung pengenaan PPN/PPh atas beban pengeluaran per rincian obyek; dan d. menguji kebenaran sesuai dengan SPM dan SP2D yang diterbitkan periode sebelumnya. Pasal 222 (1) Bendahara pengeluaran pembantu dapat ditunjuk berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi, kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif Iainnya. (2) Bendahara pengeluaran pembantu wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh pengeluaran yang menjadi tanggung jawabnya. (3) Dokumen-dokumen yang digunakan oleh bendahara pengeluaran pembantu dalam menatausahakan pengeluaran mencakup: a. buku kas umum; b. buku pajak PPN/PPh; dan c. buku panjar. (4) Bendahara pengeluaran pembantu dalam melakukan penatausahaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) menggunakan bukti pengeluaran yang sah. (5) Bendahara pengeluaran pembantu wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengeluaran kepada bendahara pengeluaran paling fambat tanggal 5 bulan berikutnya. (6) Laporan pertanggungjawaban pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (5) mencakup: a. buku kas umum; b. buku pajak PPN/PPh; dan c. bukti pengeluaran yang sah. (7) Bendahara pengeluaran melakukan verifikasi, evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (6). Pasal 223 (1) Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melakukan pemeriksaan kas yang dikelola oleh bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran sekurangkurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan. Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran melakukan pemeriksaan kas yang dikelola oleh bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan. Pemeriksaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dituangkan dalam berita acara pemeriksaan kas.

(2)

(3)

77

(4)

Berita acara pemeriksaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disertai dengan register penutupan kas sesuai dengan Lampiran D.XXI peraturan menteri ini. Pasal 224

Bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, belanja tidak terduga, dan pembiayaan melakukan penatausahaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 225 Pengisian dokumen penatausahaan bendahara pengeluaran dapat menggunakan aplikasi komputer dan/atau alat elektronik lainnya. Pasal 226 Dalam hal bendahara pengeluaran berhalangan, maka: a. apabila melebihi 3 (tiga) hari sampai selama-lamanya 1 (satu) bulan, bendahara pengeluaran tersebut wajib memberikan surat kuasa kepada pejabat yang ditunjuk untuk melakukan pembayaran dan tugas-tugas bendahara pengeluaran atas tanggung jawab bendahara pengeluaran yang bersangkutan dengan diketahui kepala SKPD; b. apabila melebihi 1 (satu) bulan sampai selama-lamanya 3 (tiga) bulan, harus ditunjuk pejabat bendahara pengeluaran dan diadakan berita acara serah terima; c. apabila bendahara pengeluaran sesudah 3 (tiga ) bulan belum juga dapat melaksanakan tugas, maka dianggap yang bersangkutan telah mengundurkan diri atau berhenti dari jabatan sebagai bendahara pengeluaran dan oleh karena itu segera diusulkan penggantinya. Pasal 227 Ringkasan prosedur penatausahaan bendahara pengeluaran tercantum dalam Lampiran D.XXII peraturan menteri ini. Bagian Kelima Penatausahaan Pendanaan Tugas Pembantuan Pasal 228 (1) Gubernur melimpahkan kewenangan kepada bupati/walikota untuk menetapkan pejabat kuasa pengguna anggaran pada SKPD kabupaten/kota yang menandatangani SPM/menguji SPP, PPTK dan bendahara pengeluaran yang melaksanakan tugas pembantuan di kabupaten/kota. (2) Bupati/walikota melimpahkan kewenangan kepada kepala desa untuk menetapkan pejabat kuasa pengguna anggaran pada lingkungan pemerintah desa yang menandatangani SPM/menguji SPP, PPTK dan bendahara pengeluaran yang melaksanakan tugas pembantuan di pemerintah desa. (3) Administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan dana tugas pembantuan provinsi di kabupaten/kota dilakukan secara terpisah dari administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kabupaten/kota. (4) Administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan dana tugas pembantuan kabupaten/kota di pemerintah desa dilakukan secara terpisah dari

78

administrasi penatausahaan dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APB Desa. Pasal 229 (1) PPTK pada SKPD kabupaten/kota yang ditetapkan sebagai penanggungjawab tugas pembantuan provinsi menyiapkan dokumen SPP-LS untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran pada SKPD kabupaten/kota berkenaan dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. (2) Bendahara pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengajukan SPP-LS disertai dengan lampiran yang dipersyaratkan kepada kepala SKPD berkenaan setelah ditandatangani oleh PPTK tugas pembantuan. (3) Lampiran dokumen SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 205. (4) Kepala SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menerbitkan SPM-LS disertai dengan kelengkapan dokumen untuk disampaikan kepada kuasa BUD provinsi. (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 214. (6) Kuasa BUD provinsi meneliti kelengkapan dokumen SPM-LS tugas pembantuan yang diajukan oleh kepala SKPD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk menerbitkan SP2D. Pasal 230 (1) PPTK pada kantor pemerintah desa yang ditetapkan sebagai penanggungjawab tugas pembantuan provinsi dan kabupaten/kota menyiapkan dokumen SPP-LS untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran/bendahara desa pada kantor pemerintah desa berkenaan dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. (2) Bendahara pengeluaran/bendahara desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengajukan SPP-LS disertai dengan lampiran yang dipersyaratkan kepada kepala desa berkenaan setelah ditandatangani oleh PPTK tugas pembantuan. (3) Lampiran dokumen SPP-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 204. (4) Kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menerbitkan SPM-LS disertai dengan kelengkapan dokumen untuk disampaikan kepada kuasa BUD provinsi atau kabupaten/kota. (5) Kelengkapan dokumen SPM-LS sebagaimana dimaksud pada ayat (4) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 214. (6) Kuasa BUD provinsi atau kabupaten/kota meneliti kelengkapan dokumen SPM-LS tugas pembantuan yang diajukan oleh kepala desa sebagaimana dimaksud pada ayat (5) untuk menerbitkan SP2D. Pasal 231 (1) Pedoman penatausahaan pelaksanaan pendanaan tugas pembantuan provinsi di kabupaten/kota dan desa ditetapkan dalam peraturan gubernur. (2) Pedoman penatausahaan pelaksanaan pendanaan tugas kabupaten/kota di desa ditetapkan dalam peraturan bupati/walikota. pembantuan

BAB XI

79

Pasal 233 (1) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi: a. Pasal 234 (1) Sistem akuntansi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh PPKD. c. Pasal 235 (1) Kode rekening untuk menyusun neraca terdiri dari kode akun aset. (6) Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). prosedur akuntansi pengeluaran kas. prosedur akuntansi selain kas. neraca. (5) Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (3). entitas akuntansi menyelenggarakan sistem akuntansi (2) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan peraturan kepala daerah mengacu pada peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah. (2) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengendalian internal dan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan. (3) PPK-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan pelaksanaan sistem dan prosedur penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. c. b. (4) Proses sebagaimana dimaksud pada ayat (3) didokumentasikan dalam bentuk buku jurnal dan buku besar. entitas pelaporan menyusun laporan keuangan yang meliputi: a. dan apabila diperlukan ditambah dengan buku besar pembantu. neraca. laporan realisasi anggaran.AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Sistem Akuntansi Pasal 232 (1) Entitas pelaporan dan pemerintahan daerah. dan d. catatan atas laporan keuangan. catatan atas laporan keuangan. kode akun 80 . b. dan d. laporan arus kas. dan c. pencatatan. entitas akuntansi menyusun laporan keuangan yang meliputi: a. pengikhtisaran. b. (2) Sistem akuntansi SKPD dilaksanakan oleh PPK-SKPD. sampai dengan pelaporan keuangan dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. laporan realisasi anggaran. (3) Sistem akuntansi pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data. prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah. prosedur akuntansi penerimaan kas.

(3) Saldo akhir setiap periode dipindahkan menjadi saldo awal periode berikutnya.I peraturan menteri ini. pengukuran dan pelaporan setiap akun dalam laporan keuangan. Lampiran A.VIII. dan kode akun pembiayaan. (2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara kronologis sesuai dengan terjadinya transaksi dan/atau kejadian keuangan. dan Lampiran A. kewajiban. (3) Kode rekening sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disusun dengan memperhatikan kepentingan penyusunan laporan statistik keuangan daerah/negara.III. (2) Buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditutup dan diringkas pada setiap akhir periode sesuai dengan kebutuhan. definisi.VII. Pasal 237 (1) Transaksi atau kejadian keuangan yang telah dicatat dalam buku jurnal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 235 ayat (1) selanjutnya secara periodik diposting ke dalam buku besar sesuai dengan rekening berkenaan. Bagian Kedua Kebijakan Akuntansi Pasal 239 (1) Kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah tentang kebijakan akuntansi pemerintah daerah dengan berpedoman pada standar akuntansi pemerintahan.kewajiban. (4) Dalam pengakuan dan pengukuran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a juga 81 . Lampiran A. belanja. (2) Kebijakan akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar pengakuan. Lampiran A. pendapatan. (2) Kode rekening untuk menyusun laporan realisasi anggaran terdiri dari kode akun pendapatan. pengukuran dan pelaporan atas aset. (5) Kode rekening yang digunakan untuk menyusun laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran A. b. Pasal 238 (1) Buku besar dapat dilengkapi dengan buku besar pembantu sebagai alat uji silang dan kelengkapan informasi rekening tertentu. kode akun belanja.IX peraturan menteri ini. ekuitas. Pasal 236 (1) Semua transaksi dan/atau kejadian keuangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah dicatat pada buku jurnal berdasarkan bukti transaksi yang sah.II. (4) Kode rekening yang digunakan untuk menyusun neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran E.IV. Lampiran A. (3) Peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya memuat: a. prinsip-prinsip penyusunan dan penyajian pelaporan keuangan. dan pembiayaan serta laporan keuangan. (2) Buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berisi rincian akun yang telah dicatat dalam buku besar. dan kode akun ekuitas dana. pengakuan.

bukti transfer. (7) Contoh format kebijakan akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran E. (8) Ikhtisar kebijakan akuntansi yang diberlakukan pada setiap tahun anggaran dimuat dalam catatan atas laporan keuangan tahun anggaran berkenaan. belanja pengiriman. pajak. dan nilai wajar imbalan lainnya yang dibayarkan sebagai komponen harga perolehan aset tetap. STS.mencakup kebijakan mengenai harga perolehan dan kapitalisasi aset. Pasal 240 (1) Pemerintah daerah sebagai entitas pelaporan menyusun laporan keuangan pemerintah daerah. nota kredit bank. (6) Kebijakan kapitalisasi aset sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan pengakuan terhadap jumlah kas/setara kas dan nilai wajar imbalan lainnya yang dibayarkan sebagai penambah nilai aset tetap. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.II peraturan menteri ini. (2) Kepala SKPD sebagai entitas akuntansi menyusun laporan keuangan SKPD yang disampaikan kepada PPKD untuk digabung menjadi laporan keuangan pemerintah daerah. b. dan d. (5) Kebijakan harga perolehan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) merupakan pengakuan terhadap jumlah kas/setara kas yang dibayarkan terdiri dari belanja modal. belanja administrasi pembelian/pembangunan. bukti transaksi penerimaan kas lainnya. akuntansi penerimaan kas (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilengkapi dengan: a. c. Pasal 242 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 mencakup: a. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). 82 . (4) Kepala BLUD sebagai entitas pelaporan menyusun laporan keuangan BLUD yang disampaikan kepada kepala daerah dan diaudit oleh pemeriksa ekstern sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan/atau b. SKR. Bagian Ketiga Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPD Paragraf 1 Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPD Pasal 241 Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. surat tanda bukti pembayaran. pengikhtisaran. (3) Kepala BLUD sebagai entitas akuntansi menyusun laporan keuangan BLUD yang disampaikan kepada PPKD untuk digabung ke dalam laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau c.

(2) Format buku jurnal penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. buku jurnal penerimaan kas. Paragraf 2 Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPD Pasal 247 (1) Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. dan c. kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 Pasal 245 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 242 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal penerimaan kas dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal penerimaan kas berkenaan.Pasal 243 (1) Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 241 terdiri dari: a. dan b. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. buku besar.IV peraturan menteri ini. (2) Secara periodik jurnal atas transaksi penerimaan kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. sub prosedur akuntansi pengeluaran kas-uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan.III peraturan menteri ini. b. (3) Format buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran E.VI peraturan menteri ini. pengikhtisaran. Pasal 244 Prosedur akuntansi penerimaan dilaksanakan oleh PPK-SKPD. (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. Pasal 248 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas 83 . (4) Format buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c tercantum dalam Lampiran E.V peraturan menteri ini. sub prosedur akuntansi pengeluaran kas-langsung. Pasal 246 Ringkasan prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD tercantum dalam Lampiran E. (2) Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. buku besar pembantu.

IV dan Lampiran E. buku besar.VIII peraturan menteri ini. atau b. dan c. SP2D.V peraturan menteri ini. SPD. Pasal 252 Ringkasan prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPD tercantum dalam Lampiran E. dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal pengeluaran kas berkenaan. Pasal 251 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 248 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal pengeluaran kas. atau c. dan penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPD. pemeliharaan. bukti transaksi pengeluaran kas Iainnya. Pasal 250 Prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. Pasal 249 (1) Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) mencakup: a. dan/atau c. (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. (2) Pemeliharaan aset tetap yang bersifat rutin dan berkala tidak dikapitalisasi. (2) Format buku jurnal pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. dan/atau b. rehabilitasi. buku jurnal pengeluaran kas.VII peraturan menteri ini. nota debet bank. kuitansi pembayaran dan bukti tanda terima barang/jasa. SPM.sebagaimana dimaksud dalam Pasal 247 ayat (1) mencakup: a. (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan: a. Paragraf 3 Prosedur Akuntansi Aset pada SKPD Pasal 253 (1) Prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan. buku besar pembantu. (3) Format buku besar dan buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c sesuai dengan Lampiran E. (3) Rehabilitasi yang bersifat sedang dan berat dikapitalisasi apabila memenuhi salah satu 84 . b. perubahan klasifikasi. (2) Secara periodik jumal atas transaksi pengeluaran kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan.

buku jurnal umum. meningkatkan efisiensi dan/atau menambah masa manfaat. Pasal 254 (1) Setiap aset tetap kecuali tanah dan konstruksi dalam pengerjaan dilakukan penyusutan yang sistematis sesuai dengan masa manfaatnya. metode unit produksi. dan c. b. buku besar. b. Pasal 256 (1) Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) mencakup: a. Pasal 255 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) berupa bukti memorial dilampiri dengan: a. Pasal 257 Prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD serta pejabat pengurus dan penyimpan barang SKPD. (3) Metode garis lurus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a merupakan penyesuaian nilai aset tetap dengan membebankan penurunan kapasitas dan manfaat aset tetap yang sama setiap periode sepanjang umur ekonomis aset tetap berkenaan. dan c. 85 . b. metode saldo menurun ganda. buku besar pembantu. (2) Format buku jurnal umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. (4) Metode saldo menurun ganda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b merupakan penyesuaian nilai aset tetap dengan membebankan penurunan kapasitas dan manfaat aset tetap yang lebih besar pada periode awal pemanfaatan aset dibandingkan dengan periode akhir sepanjang umur ekonomis aset tetap berkenaan. berita acara penerimaan barang. dan c. berita acara serah terima barang. (4) Perubahan klasifikasi aset tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa perubahan aset tetap ke klasifikasi selain aset tetap atau sebaliknya. meningkatkan fungsi. (2) Metode penyusutan yang dapat digunakan antara lain: a. metode garis lurus. (5) Metode unit produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c merupakan penyesuaian nilai aset tetap dengan membebankan penurunan kapasitas dan manfaat aset tetap berdasarkan unit produksi yang dihasilkan dari aset tetap berkenaan.IV dan Lampiran E. (6) Penetapan umur ekonomis aset tetap dimuat dalam kebijakan akuntansi berpedoman pada peraturan perundang-undangan. menambah kapasitas. (5) Penyusutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset tetap. (3) Format buku besar dan buku besar pembantu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Lampiran E. berita acara penyelesaian pekerjaan.IX peraturan menteri ini.V peraturan menteri ini.kriteria menambah volume.

Pasal 258 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 255 membuat bukti memorial. (6) Pembelian secara kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan transaksi pembelian aset tetap yang pembayarannya dilakukan di masa yang akan datang. klasifikasi aset tetap. f. (7) Retur pembelian kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e merupakan pengembalian aset tetap yang telah dibeli secara kredit. penerimaan aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas. pengikhtisaran. (2) Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian aset tetap diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. e. tanggal transaksi dan/atau kejadian. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. nilai aset tetap. d. 86 . (4) Koreksi kesalahan pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan koreksi terhadap kesalahan dalam membuat jurnal dan telah diposting ke buku besar. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. b. pembelian secara kredit. penerimaan/pengeluaran hibah selain kas. dan g. kode rekening. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum. pemindahtanganan atas aset tetap/barang milik daerah tanpa konsekuensi kas. (9) Penerimaan aset tetap tanpa konsekuensi kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g merupakan perolehan aset tetap akibat adanya tukar menukar (ruitslaag) dengan pihak ketiga. (8) Pemindahtanganan atas aset tetap tanpa konsekuensi kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f merupakan pemindahtanganan aset tetap pada pihak ketiga karena suatu hal tanpa ada penggantian berupa kas. pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SPJ). c. (3) Pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran (pengesahan SP]) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan pengesahan atas pengeluaran/belanja melalui mekanisme uang persediaan/ganti uang persediaan/tambahan uang persediaan. retur pembelian kredit. Paragraf 4 Prosedur Akuntansi Selain Kas pada SKPD Pasal 259 (1) Prosedur akuntansi selain kas pada SKPD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. (2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai jenis/nama aset tetap. (5) Penerimaan/pengeluaran hibah selain kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah penerimaan/pengeluaran sumber ekonomi non kas yang merupakan pelaksanaan APBD yang mengandung konsekuensi ekonomi bagi pemerintah daerah. koreksi kesalahan pencatatan.

berita acara penilaian. (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. (2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal transaksi dan/atau kejadian. Paragraf 5 Laporan Keuangan pada SKPD Pasal 265 87 . surat keputusan penghapusan barang. kode rekening. g. surat keputusan mutasi barang (antar SKPD).X peraturan menteri ini. f. Pasal 261 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (1) mencakup: a. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum. Pasal 263 (1) PPK-SKPD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 membuat bukti memorial. pengeluaran (pengesahan SPJ). surat pengiriman barang. b. d. uraian transaksi dan/atau kejadian. dan c. pengesahan pertanggungjawaban. e. buku besar pembantu. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPD. berita acara penerimaan barang. Pasal 262 Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (1) dilaksanakan oleh PPK-SKPD. b. dan h. berita acara pemusnahan barang. Pasal 264 Ringkasan prosedur akuntansi selain kas pada SKPD tercantum dalam Lampiran E.Pasal 260 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 259 ayat (1) berupa bukti memorial yang dilampiri dengan: a. buku jurnal umum. berita acara serah terima barang. c. buku besar. dan jumlah rupiah.

dan e. bukti transaksi penerimaan kas lainnya.XIII peraturan menteri ini. b.XIV peraturan menteri ini.(1) SKPD menyusun dan melaporkan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD secara periodik yang meliputi: a. c. dan c. neraca SKPD. (3) Format laporan penerimaan kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d tercantum dalam Lampiran E. surat ketetapan pajak daerah (SKP-Daerah). d. nota kredit bank. dan c. Pasal 269 Prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD. catatan atas laporan keuangan SKPD. surat tanda setoran (STS). b. b. Pasal 267 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 mencakup: a. buku besar pembantu. dan c. bukti transfer. (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan: a. buku jurnal penerimaan kas. surat ketetapan retribusi (SKR). (3) Format laporan realisasi anggaran SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tercantum dalam Lampiran E. (4) Format neraca SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tercantum dalam Lampiran E. Bagian Keempat Akuntansi Keuangan Daerah pada SKPKD Paragraf 1 Prosedur Akuntansi Penerimaan Kas pada SKPKD Pasal 266 Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. b. 88 . buku besar. laporan penerimaan kas dari bendahara penerimaan. (2) Laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan. Pasal 268 Buku yang digunakan untuk mencatat prosedur akuntansi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 266 mencakup: a. pengikhtisaran. Surat perintah pemindahbukuan.XI peraturan menteri ini. (5) Format catatan atas laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c tercantum dalam Lampiran E.XII peraturan menteri ini. laporan realisasi anggaran SKPD. sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.

XV peraturan menteri ini. (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. surat perintah membayar (SPM). pengikhtisaran. (3) Format laporan pengeluaran kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c tercantum dalam Lampiran E.XVI peraturan menteri ini. surat perintah pencairan dana (SP2D). b. dan d. buku besar pembantu.Pasal 270 (1) Fungsi akuntansi berdasarkan bukti transaksi penerimaan kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 267 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal penerimaan kas dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal penerimaan kas berkenaan. Pasal 275 Prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 merupakan fungsi akuntansi SKPKD. laporan pengeluaran kas dari bendahara pengeluaran. Paragraf 2 Prosedur Akuntansi Pengeluaran Kas pada SKPKD Pasal 272 Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. b. dan c. Pasal 276 (1) Fungsi akuntansi SKPKD berdasarkan bukti transaksi pengeluaran kas 89 . sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. c. kuitansi pembayaran dan bukti tanda terima barang/jasa. (2) Secara periodik jurnal atas transaksi penerimaan kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. atau b. Pasal 274 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 mencakup: a. surat penyediaan dana (SPD). buku jumal pengeluaran kas. (2) Bukti transaksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan: a. Pasal 271 Ringkasan prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD tercantum dalam Lampiran E. Pasal 273 (1) Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi pengeluaran kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 272 mencakup: a. nota debet bank. buku besar.

penghapusan. buku jurnal umum. f. pemeliharaan. pemindahtanganan. berita acara penilaian. (2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat 90 . (3) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. surat keputusan mutasi barang (antar SKPKD). Pasal 277 Ringkasan prosedur akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD tercantum dalam Lampiran E. dan g. d.XVII peraturan menteri ini.sebagaimana dimaksud dalam Pasal 273 ayat (1) melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal pengeluaran kas dengan mencantumkan uraian rekening-lawan asal pengeluaran kas berkenaan. Pasal 280 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 mencakup: a. rehabilitasi. Pasal 279 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 berupa bukti memorial dilampiri dengan: a. (2) Secara periodik jurnal atas transaksi pengeluaran kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. perubahan klasifikasi. Paragraf 3 Prosedur Akuntansi Aset pada SKPKD Pasal 278 (1) Prosedur akuntansi aset pada SKPKD meliputi serangkaian proses pencatatan dan pelaporan akuntansi atas perolehan. (2) Prosedur akuntansi aset pada SKPKD digunakan sebagai alat pengendali dalam pengelolaan aset yang dikuasai/digunakan SKPD dan/atau SKPKD. b. berita acara serah terima barang. buku besar pembantu. berita acara pemusnahan barang. Pasal 282 (1) Fungsi akuntansi SKPKD berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 279 membuat bukti memorial. Pasal 281 Prosedur akuntansi aset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 278 dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD. dan c. e. dan penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPKD yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. berita acara penerimaan barang. berita acara penyelesaian pekerjaan. b. c. surat keputusan penghapusan barang. buku besar.

Pasal 285 Buku yang digunakan untuk mencatat transaksi dan/atau kejadian dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 ayat (1) mencakup: a. buku jurnal umum. 91 . sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan semua transaksi atau kejadian selain kas yang dapat dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer. (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian aset tetap diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. surat keputusan mutasi barang (antar SKPKD). e. berita acara pemusnahan barang. surat keputusan penghapusan barang. f. Paragraf 4 Prosedur Akuntansi Selain Kas pada SKPKD Pasal 283 (1) Prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD meliputi serangkaian proses mulai dari pencatatan. b. Pasal 284 Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 ayat (1) berupa bukti memorial dilampiri dengan: a. c. berita acara penyelesaian pekerjaan. pengikhtisaran. penyesuaian terhadap akun tertentu dalam rangka menyusun laporan keuangan pada akhir tahun. berita acara penilaian. berita acara penerimaan barang. tanggal transaksi dan/atau kejadian. b. reklasifikasi akibat koreksi yang ditemukan dikemudian hari. Pasal 287 (1) Fungsi akuntansi berdasarkan bukti transaksi dan/atau kejadian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 284 membuat bukti memorial. dan g. reklasifikasi belanja modal menjadi aset tetap. b.informasi mengenai jenis/nama aset tetap. buku besar pembantu. nilai aset tetap. c. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum. dan d. (2) Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup mencakup: a. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. koreksi kesalahan pembukuan. klasifikasi aset tetap. Pasal 286 Prosedur akuntansi selain kas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 283 ayat (1) dilaksanakan oleh fungsi akuntansi pada SKPKD. dan c. buku besar. berita acara serah terima barang. d. kode rekening.

(2) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat informasi mengenai tanggal transaksi dan/atau kejadian. uraian transaksi dan/atau kejadian. (4) Secara periodik jurnal atas transaksi dan/atau kejadian selain kas diposting ke dalam buku besar rekening berkenaan. Paragraf 5 Laporan Keuangan pada SKPKD Pasal 289 (1) Kepala SKPKD menyusun dan melaporkan laporan arus kas secara periodik kepada kepala daerah. (5) Format laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD 92 . dan jumlah rupiah.XIX peraturan menteri ini. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai dengan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. (3) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). BAB XII PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD Bagian Pertama Laporan Realisasi Semester Pertama Anggaran Pendapatan dan Belanja Pasal 290 (1) Kepala SKPD menyusun laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. disiapkan oleh PPK-SKPD dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD serta prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. kode rekening.XVIII peraturan menteri ini. (4) Pejabat pengguna anggaran menyampaikan laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD serta prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan realisasi semester pertama APBD paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. (3) Format laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran E. (5) Setiap akhir periode semua buku besar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditutup sebagai dasar penyusunan laporan keuangan SKPKD. (2) Laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan. Pasal 288 Ringkasan prosedur akuntansi selain kas pada SKPKD tercantum dalam Lampiran E. (3) Bukti memorial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat ke dalam buku jurnal umum.

XX peraturan menteri ini. Pasal 292 Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 291 disampaikan kepada kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Juli tahun anggaran berkenaan untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. catatan atas laporan keuangan. (5) Format surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran E. b. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh pejabat pengguna anggaran sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang berada di SKPD yang menjadi tanggung jawabnya.XXII peraturan menteri ini. (2) Format laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran E.XXI peraturan menteri ini. (4) Laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan surat pernyataan kepala SKPD bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan standar akuntansi pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 293 (1) Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 292 disampaikan kepada DPRD paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berkenaan. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. dan c. Bagian Kedua Laporan Tahunan Pasal 294 (1) PPK-SKPD menyiapkan laporan keuangan SKPD tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada kepala SKPD untuk ditetapkan sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD. Pasal 295 (1) Laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 294 ayat (1) disampaikan kepada kepala daerah melalui PPKD paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. neraca. laporan realisasi anggaran. 93 .dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran E. (3) Laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri dari: a. Pasal 291 PPKD menyusun laporan realisasi semester pertama APBD dengan cara menggabungkan seluruh laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 290 ayat (4) paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah.

(10) Format neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b tercantum dalam Lampiran E. laporan arus kas. (9) Format laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a tercantum dalam Lampiran E. (2) Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.XXIV peraturan menteri ini. catatan atas laporan keuangan. neraca. Pasal 297 (1) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 296 ayat (2) disampaikan oleh kepala daerah kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dilakukan pemeriksaan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.XXIII peraturan menteri ini. (4) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disusun dan disajikan sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang standar akuntansi pemerintahan. (12) Format catatan atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d tercantum dalam Lampiran E. b. laporan realisasi anggaran. c.XXV peraturan menteri ini. 94 . (6) Laporan ikhtisar realisasi kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disusun dari ringkasan laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah dan laporan kinerja interim di Iingkungan pemerintah daerah.XIX peraturan menteri ini.Pasal 296 (1) PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah dengan cara menggabungkan laporan-laporan keuangan SKPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 295 ayat (3) paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran berkenaan. sesuai dengan peraturan perundangundangan.XXVI peraturan menteri ini. (3) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. (13) Format surat pernyataan kepala daerah bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai sebagaimana dimaksud pada ayat (6) tercantum dalam Lampiran E. (11) Format laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c sesuai dengan Lampiran E. (8) Laporan keuangan pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan surat pernyataan kepala daerah yang menyatakan pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. (2) Kepala daerah memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK. dan d. (7) Penyusunan laporan kinerja interim sebagaimana dimaksud pada ayat (6) berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri yang mengatur mengenai laporan kinerja interim di lingkungan pemerintah daerah. (5) Laporan keuangan pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilampiri dengan laporan ikhtisar realisasi kinerja dan laporan keuangan BUMD/perusahaan daerah.

(2) Rancangan peraturan kepala daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilengkapi dengan lampiran terdiri dari: a. penjabaran laporan realisasi anggaran.XXIII peraturan menteri ini. (3) Format rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran pertanggungjawaban (2) 95 .XXIV peraturan menteri ini.XIX peraturan menteri ini.XXVII peraturan menteri ini. (5) Format laporan arus kas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. neraca. serta dilampiri dengan laporan kinerja yang telah diperiksa BPK dan ikhtisar laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah. Pasal 299 (1) Apabila sampai batas waktu 2 (dua) bulan setelah penyampaian laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 297 ayat (1). Pasal 300 (1) Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 299 ayat (1) dirinci dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. catatan atas laporan keuangan. catatan atas laporan keuangan. ringkasan laporan realisasi anggaran. laporan arus kas. kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD. (4) Format neraca sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. (3) Format laporan realisasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. laporan arus kas. dan laporan kinerja yang isinya sama dengan yang disampaikan kepada BPK. (2) Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran. (7) Format dan isi laporan kinerja berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang laporan keuangan dan kinerja interim di lingkungan pemerintah daerah. dan b. Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri dengan laporan realisasi anggaran. (6) Format catatan atas laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai dengan Lampiran E. (8) Format dan ikhtisar laporan keuangan BUMD/perusahaan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.XXV peraturan menteri ini. BPK belum menyampaikan hasil pemeriksaan.Bagian Ketiga Penetapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Pasal 298 (1) Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. neraca. (9) Format rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran E.

(2) Persetujuan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD oleh DPRD paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak rancangan peraturan daerah diterima. Pasal 302 (1) Laporan keuangan pemerintah daerah wajib dipublikasikan. (3) Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan' APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. (2) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.pelaksanaan APBD beserta lampiran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran E. Menteri Dalam 96 . gubernur menetapkan rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan gubernur menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur.XXIX peraturan menteri ini. Pasal 301 (1) Agenda pembahasan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 299 ayat (1) ditentukan oleh DPRD. Bagian Keempat Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Pasal 303 (1) Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi.XXVIII peraturan menteri ini. (2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah laporan keuangan yang telah diaudit oleh BPK dan telah diundangkan dalam lembaran daerah. (4) Jadwal pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tercantum dalam Lampiran E. (2) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. gubernur bersama DPRD wajib melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Pasal 304 (1) Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Pasal 306 (1) Dalam hal gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APED dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. bupati/walikota bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 307 Gubernur menyampaikan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) (3) BAB XIII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Bagian Pertama Pembinaan dan Pengawasan 97 . Gubernur membatalkan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dimaksud sesuai dengan peraturan perundangundangan. Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan daerah kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh bupati/walikota dan DPRD. Pasal 305 (1) Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. dan bupati/walikota tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota.

konsultasi. pimpinan dan anggota DPRD. dan konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. pelaksanaan. baik secara menyeluruh kepada seluruh daerah maupun kepada daerah tertentu sesuai dengan kebutuhan. perangkat daerah. supervisi. penatausahaan dan akuntansi keuangan daerah. Pasal 311 (1) DPRD melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan daerah tentang APBD. efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program dan kegiatan serta dipatuhinya peraturan perundangundangan. (3) Pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: 98 . panatausahaan dan akuntansi keuangan daerah. serta kelembagaan pengelolaan keuangan daerah. Pasal 310 Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 309 ayat (1) untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh gubernur selaku wakil pemerintah. kepala daerah mengatur dan menyelenggarakan sistem pengendalian intern di lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya. (4) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara berkala bagi kepala daerah atau wakil kepala daerah. dan pegawai negeri sipil daerah serta kepada bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan pemeriksaan tetapi pengawasan yang lebih mengarah untuk menjamin pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang APBD. (3) Pemberian bimbingan. Pasal 309 (1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 308 meliputi pemberian pedoman. (2) Pemberian pedoman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan dan penyusunan APBD. Bagian Kedua Pengendalian Intern Pasal 313 (1) Dalam rangka meningkatkan kinerja transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. pendidikan dan pelatihan. supervisi. (2) Pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan proses yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai mengenai pencapaian tujuan pemerintah daerah yang tercermin dari keandalan laporan keuangan. serta pertanggungjawaban keuangan daerah yang dilaksanakan secara berkala dan/atau sewaktu-waktu.Pasal 308 Pemerintah melakukan pembinaan dan pengawasan pengelolaan keuangan daerah kepada pemerintah daerah yang dikoordinasikan oleh Menteri Dalam Negeri. bimbingan. Pasal 312 Pengawasan pengelolaan keuangan daerah berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan. pertanggungjawaban keuangan daerah. pelaksanaan. pemantauan dan evaluasi.

BAB XIV KERUGIAN DAERAH Pasal 315 (1) Setiap kerugian daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. d. wajib mengganti kerugian tersebut. c. (2) Bendahara. b. terciptanya lingkungan pengendalian yang sehat.a. yang berasal dari bendahara. kepada bendahara. atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti kerugian daerah berada dalam pengampuan. atau pejabat lain yang bersangkutan. e. terselenggaranya aktivitas pengendalian. Bagian Ketiga Pemeriksaan astern Pasal 314 Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah dilakukan oleh BPK sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 99 . pegawai negeri sipil bukan bendahara. terselenggaranya penilaian risiko. atau pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau melalaikan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud. (3) Kepala SKPD dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi. penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris. pegawai negeri sipil bukan bendahara. pegawai negeri sipil bukan bendahara. (3) Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian daerah. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan keuangan daerah. Pasal 317 (1) Dalam hal bendahara. Pasal 316 (1) Kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau kepala SKPD kepada kepala daerah dan diberitahukan kepada BPK paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu diketahui. pegawai negeri sipil bukan bendahara. terbatas pada kekayaan yang dikelola atau diperolehnya. kepala daerah segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara kepada yang bersangkutan. melarikan diri. (2) Segera setelah kerugian daerah tersebut diketahui. dan terselenggaranya kegiatan pemantauan pengendalian. setelah mengetahui bahwa dalam SKPD yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. atau meninggal dunia. terselenggaranya sistem informasi dan komunikasi. (4) Penyelenggaraan pengendalian intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan.

atau pejabat lain untuk membayar ganti rugi. sepanjang tidak diatur dalam peraturan perundangundangan tersendiri. (2) Apabila dalam pemeriksaan kerugian daerah ditemukan unsure pidana. dan pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian daerah dapat dikenai sanksi administratif dan/atau sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pegawai negeri sipil bukan bendahara. menjadi kedaluwarsa jika dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut atau dalam waktu 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. atau pejabat lain yang digunakan dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan. pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberi tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya kerugian daerah. atau sejak bendahara. atau pejabat lain yang bersangkutan. (2) Ketentuan penyelesaian kerugian daerah dalam peraturan menteri ini berlaku pula untuk pengelola perusahaan daerah dan badan-badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan keuangan daerah. pegawai negeri sipil bukan bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. Pasal 318 (1) Ketentuan penyelesaian kerugian daerah sebagaimana diatur dalam peraturan menteri ini berlaku pula untuk uang dan/atau barang bukan milik daerah. BAB XV 100 . (2) Putusan pidana atas kerugian daerah terhadap bendahara. pegawai negeri sipil bukan bendahara. yang berada dalam penguasaan bendahara. pegawai negeri sipil bukan bendahara dan pejabat lain tidak membebaskan yang bersangkutan dari tuntutan ganti rugi. pegawai negeri sipil bukan bendahara. BPK menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 319 (1) Bendahara. Pasal 322 Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap pegawai negeri sipil bukan bendahara ditetapkan oleh kepala daerah. Pasal 321 (1) Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK. Pasal 320 Kewajiban bendahara.(2) Tanggung jawab pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris untuk membayar ganti kerugian daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi hapus apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan kepada bendahara. Pasal 323 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara tuntutan ganti kerugian daerah diatur dengan peraturan daerah dengan berpedoman pada peraturan perundang-undangan. atau pejabat lain yang bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal dunia.

dan b. Pasal 328 Seluruh pendapatan BLUD dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja BLUD yang bersangkutan. (3) Pembinaan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemberian pedoman. (2) Pembinaan keuangan BLUD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pemberian pedoman. Pasal 327 BLUD dapat memperoleh hibah atau sumbangan dari masyarakat atau badan lain. penyedia jasa penelitian dan pengujian. penyelenggara jasa penyiaran publik. mengelola dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat. supervisi. bimbingan. (2) Kekayaan BLUD merupakan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan serta dikelola dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk menyelenggarakan kegiatan BLUD yang bersangkutan Pasal 326 (1) Pembinaan keuangan BLUD dilakukan oleh PPKD dan pembinaan teknis dilakukan oleh kepala SKPD yang bertanggung jawab atas urusan pemerintahan yang bersangkutan. (2) Instansi yang menyediakan barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. supervisi pendidikan dan pelatihan dibidang pengelolaan keuangan BLUD. Pasal 325 (1) BLUD dibentuk untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasal 329 Pedoman teknis mengenai pengelolaan keuangan BLUD diatur lebih lanjut oleh Menteri Dalam Negeri setelah memperoleh pertimbangan Menteri Keuangan. penyelenggara pendidikan. menyediakan barang dan/atau jasa untuk layanan umum.PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM DAERAH Pasal 324 (1) Pemerintah daerah dapat membentuk BLUD untuk : a. antara lain rumah sakit daerah. antara lain instansi yang melaksanakan pengelolaan dana seperti dana bergulir usaha kecil menengah. tabungan perumahan. bimbingan. 101 . (3) Dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/atau pelayanan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. serta instansi layanan umum lainnya. dan instansi pengelola dana lainnya. penerbit lisensi dan dokumen. pendidikan dan pelatihan dibidang penyelenggaraan program dan kegiatan BLUD.

penatausahaan dan akuntansi. dan bendahara pengeluaran berhalangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 216 ayat (8). Pasal 332 Dengan ditetapkannya peraturan menteri ini: a. Pasal 333 Pada saat peraturan menteri ini ditetapkan. Pasal 90 ayat (2). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 ayat (1) dan Pasal 116 ayat (1) tentang penyusunan rancangan PPAS dan penetapan APBD setelah dievaluasi mulai dilaksanakan untuk penyusunan dan pelaksanaan APBD tahun anggaran 2007. (2) Berdasarkan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kuasa BUD. c. pelaporan. dokumen perencanaan daerah lainnya dapat digunakan sebagai pedoman penyusunan RKPD. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) tentang penyusunan RKASKPD dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009. e. bendahara penerimaan. bagi pemerintah daerah yang belum menetapkan RPJMD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (1). dan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan standar akuntansi pemerintahan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun anggaran 2006. d. Pasal 194. pengawasan dan pertanggungjawaban keuangan daerah (4) Peraturan kepala daerah tentang sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pelaksanaan. penyusunan RKA-SKPD dengan menggunakan pendekatan berdasarkan prestasi kerja. (3) Sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencakup tata cara penyusunan. BAB XVII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 331 Pada saat peraturan menteri ini ditetapkan. semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan daerah sepanjang belum diganti dan tidak bertentangan dengan peraturan menteri ini dinyatakan tetap berlaku. dan Pasal 226. tentang bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. Peraturan daerah tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah ditetapkan paling lambat 2 tahun sejak ditetapkan peraturan menteri ini. kepala daerah menetapkan peraturan kepala daerah tentang sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah. juga memuat tata cara penunjukan pejabat yang diberi wewenang BUD. Pasal 211 ayat (3). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 233 ayat (2) tentang sistem akuntansi pemerintahan daerah yang mengacu pada standar akuntansi pemerintahan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun anggaran 2007.BAB XVI PENGATURAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Pasal 330 (1) Ketentuan tentang pokok-pokok pengelolaan keuangan daerah diatur dengan peraturan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. b. dan Pasal 296 ayat (4). pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. 102 . Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1).

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 15 Mei 2006 MENTERI DALAM NEGERI. menyempurnakan lampiran-lampiran sesuai dengan ketentuan perundangundangan. serta petunjuk pelaksanaannya. MOH. SE. melaksanakan sosialisasi. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. serta memberikan asistensi untuk kelancaran penerapan peraturan menteri ini. Pasal 336 Peraturan menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. supervisi dan bimbingan teknis.BAB XVIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 334 (1) Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah Departemen Dalam Negeri melakukan fasilitasi pelaksanaan peraturan menteri ini. pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan belanja daerah. 103 . pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan anggaran pendapatan dan belanja daerah. (2) Fasilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup mengkoordinasikan. ttd H. MA'RUF. Pasal 335 Dengan ditetapkannya peraturan menteri ini. Keputusan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang pedoman pengurusan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->