P. 1
Kepmenkes No 772_Menkes_SK_VI_2002 Lampiran Peraturan Internal RS (Hospital by Laws)

Kepmenkes No 772_Menkes_SK_VI_2002 Lampiran Peraturan Internal RS (Hospital by Laws)

|Views: 4,047|Likes:
Published by Cahya Utama
lampiran yang merupakan pelengkap dari aturan utama. berisi tentang berbagai hal yang mendukung dan memperjelas aturan utama yang lebih bersifat pokok2 saja
lampiran yang merupakan pelengkap dari aturan utama. berisi tentang berbagai hal yang mendukung dan memperjelas aturan utama yang lebih bersifat pokok2 saja

More info:

Published by: Cahya Utama on Jun 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2013

pdf

text

original

L

'

I

·\

Lampiran Keputusan Menteri Kesehatan

: 772/MENKES/SK/VI/2002 TANGGAL : 21 J UN I 2002
Tentang PEDOMAN PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (HOSPITAL BY LAWS)

Nemer

BAB. I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG

Oi masa lalu rumah sakit sering dianggap sebagai lembaga soslal yang kebal hukum berdasarkan "doctrin of charitable Immunny'; sebab menghukum rumah sakit untuk membayar ganti rugi sama artinya dengan mengurangi asetnya, yang pada gllirannya akan mengurangi kemampuannya untuk menolong masyarakat banyak. Namun dengan terjadinya perubahan paradigma perumahsakitan di dunia, dimana rumah sakit merupakan institusi yang padat modal, padat teknologi dan padat tenaga sehingga penqelolazn rumah sakit tidak bisa sernata-mata sebagai unit sosial, Maka sejak saat itu rumah sakit mulai dijadikan sebagai subyek hukum dan sebagai target gugatan atas perilakunya yang dlnllal merugikan. Perubahan paradigrna tersebut juga terjadi di Indonesia pada awal tahun 19'90~an, dimana rumah sakit tidak sebagai unit sasial semata-rnata tetapi menjadi unit sosloekonomi. Rumah sakit tetap mempunyai tanggung jawab soslal tetapi dalam pengelolaan keuangannya menerapkan prinsip-prlnslp ekonomi. Perubahan paradigma tersebut diikuti dengan perubahan peraturan penyelenggaraail rumah sakit swasta. Rumah sakit swasta yang sebelumnya hanya boleh didirikan oleh badan hukum yayasan atau badan sosial lainnya, sejak tahun 1990 perseroan terbatas (pn baik penanaman modal dalam negeri rnaupun penanaman modal asing dapat mendirikan rumah sakit. Oi sisi lain rumah sakit pernerlntah baik milik Departemen Kesehatan maupun pemerintah daerah secara bertahap berubah menjadi unit swadana. Perubahan-perubahan tersebut semakin terlihat di era otonomi saat ini, dim ana 13 rumah sakit milik Oepartemen Kesehatan telah menjadi perusahaan jawatan dan rumah sakit umum daerah menjadi berbentuk badan. . Seperti halnya di luar negeri, perubahan paradigma tersebut juga membuat rumah sakit di Indonesia dapat sebagai subyek hukum. Oi lain pihak, perubahan rumah sakit darl unit sosial menjadi unit sosio-ekonomi berdampak semakln kompleksnya rumah sakit dan potensial menimbulkan konflik apabila hubungan antara pemilik, pengelala dan staf medis tidak diatur dengan baik. 01eh karena itu rurnah sakit perlu mempunyal peraturan internal yang mengatur hubungan ke tiga unsur tersebut yang disebut peraturan internal rumah sakit. Dalam menlngkatkan kesadaran hukum, serta kepekaan

1

terhadap tuntutan secara hukutn yang serlng terjadi akhlr-akhlr Ini .rnaka peraturan internal rumah saklt tersebut menjadi acuan yang sangat penting bagl rumah sakit. Mengingat beium semua rumah saklt mengetahu! apa dan bagalmana peraturan internal rumah sakit itu dan bagaimana cara penyusunannya maka Departemen Kesehatan merasa perlu untuk mengeluarkan buku pedoman peraturan Interna! rumah sakit yang berisi pengertian peraturan Internal rumah sakit, materl atau lsi peraturan internal rumah sakit dan langkah·langkah penyusunan peraturan Internal rumah sakit. Adanya buku pedornan lnl, diharapkan rumah sakit dapat menyusun peraturan internal rumah saklt-nva masing·masing.

1.2.

TUJUAN SAKIT.

DISUSUNNYA

PEDOMAN PERATURAN INTERNAL

RUMAH

Tujuan umum : Memberikan informasi dan acuan bagi rumah sakit dalam menyusun peraturan internal rumah sakit-nya. • Tujuan khusus : 1.2.1. Agar rumah sakit dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan peraturan internal rumah sakit. 1.2.2. Agar rumah sakit dapat mengetahui pada peraturan internal rumah sakit. 1.2.3. Agar rumah sakit masing-masing. dapat menyusun materi dan substansi yang harus ada

peraturan

internal

rumah

sakit-nva

1.2.4, Dapat scbagai aeuan Departemen Kesehatan dalam melakukan pembinaan
rumah

seklt,

1.2,5. Memaeu profesionalisme penyelenggaraan rumah sakit.

2

BAB II KONSEP DASAR DAN PRINSIP

2.1. PENGERTIAN
/

Hospital bylaws berasal dari dua buah kata yaitu Hospital (rumah sakit) dan bylaws (peraturan setempat atau internal). Kata bylaws itu sendirl sering ditulis dengan berbagai macam cara, antara lain byelaw, by-law ' atau bye-law. Berdasarkan hal tersebut rnaka dalam buku pedoman ini Hospital bylaws diterjemahkan menjadi PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT, Mengingat bahwa terminologi peraturan internal rumah sakit bukan berasal dari Indonesia dan sullt dlcarl padanan katanya maka perlu dirujuk referensi yang "authoritative" dalam bidang hukum dan bidang perumah sakitan. Pembuatan definlsi peraturan internal rumah sakit haruslah ekstra hati-hati karena menyangkut sebuah produk hukum yang spesifik. Untuk itu perlu diperhatikan pengertian peraturan internal rumah sakit dari sumber yang terkait langsung dengan perumahsakitan seperti Accreditation Manual for Hospitals. Dari surnber tersebut dapat diidentifikasi hakekat sebuah peraturan Internal rumah sakit, subyek hukum yang berperan, dan karateristik lainnya. Subyek hukum sekaligus pemeran utama dalam peraturan internal rumah sakit menurut JCAHO (joint Commission on Accreditation of Healthcare Organization) adalah "governing body'; Selanjutnya pengertian "governing body"menurut Black's adalah :

Governing body of institution, organization or territory means that body which has ultimate power to determine its policies and control Its activities. (Black's)
Karakteristik suatu "governing body" adalah perneqanq kekuasan tertinggi (ultimate power) dalam suatu orqanlsasl. Pemegang kekuasan tertinggi di dalam rumah sakit adalah pemilik atau yang mewakili. Oleh karena itu pengertian ''governing body" di Indonesia dapat diartikan sebagai pemilik atau yang mewakili. Mengingat pemilik atau yang mewakili merupakan pemeran utama dalam peraturan internal rumah sakit rnaka yang berwenang menetapkan peraturan internal rumah sakit adalah pemilik atau yang mewakili, karena itu peraturan internal sebuah rumah sakit rnerupakan produk hukum dari suatu organ yang lebih tinggl darlpada direktur rumah sakit, dan konsekuensl logisnya adalah peraturan internal tersebut tidak memuat hal-hal yang bersifat teknls manajerial seperti halnya "standard operating procedure (SOP)" suatu "technical tasK' tertentu atau "job descriptiori' seseorang.

3

Peraturan internal rurnah sakit lebih merupakan Anggaran Rurnah Tangga sebuah rumah saklt, dan secara yurldls hal ini tidak dapat dicarnpur dengan aturan yang seharusnya cltetapkan oleh eksekutif (Direktur rumah saklt) dalam satu produk hukum. Kekeliruan utama dalam memahami peraturan internal" rumah sakit pada umumnya adalah menganggap peraturan internal rumah sakit sebagai:

1. Seperangkat SOP rumah sakit " 2. Seperangkat peraturan direksi untuk menyelenggarakan rumah sakit 3. Kebljakan tertulis rumah saklt 4. Job description tenaga kesehatan dan petugas rumah sakit
Kekeliruan pemahaman tersebut, berakibat rumah sakit menganggap sudah rnempunyai peraturan internal rumah sakit karena untuk memenuhi akreditasi rumah sakit, rurnah sakit telah menyusun berbagai kebijakan dan prosedur. Padahal yang dlrnaksud dengan peraturan internal rumah sakit bukan kebljakan teknis operaslonal tersebut tetapi lebih mengatur pemilik atau yang mewakili, direktur rumah sakit dan staf medis. llga unsur tersebut yaitu pemilik atau yang mewakili, direktur rumah sakit dan staf medis merupakan "triad" atau "tiga tungku sejerangan", sehingga perlu ada pengaturan yang jelas agar fungsi blsnls dan fungsi lptek dapat berjalan selaras, yang " pada akhirnya dapat tercapainya efisiensi, efektivitas dan kualitas pelayanan. Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat ditarik kesimpulan peraturan internal rumah sakit etau hospital bylaws sebagai berikut : • Peraturan internal rumahsakit adalah suatu produk hukum anggaran rumah tangga rumah sakit yang ditetapkan oleh pemilik yang mewakili. Peraturan internal rumah sakit bukan merupakan kumpulan administratif ataupun kllnls sebuah rumah saklt, oleh karena ltu uraian tug as, surat keputusan direktur dan Jain sebagainya bukan rumah sakit tetaplleblh rnerupakan kebijakan teknis operasional. Peraturan internal rumah saklt mengatur : organisasi pemilik atau yang mewaki11 peran, tugas dan kewenanqan pemilik atau yang mewakili peran, tugas dan kewenangan Direktur rumah sakit organisasi staf medis peran, tug as dan kewenangan staf medis pengertian

yang merupakan rumah sakit atau peraturan teknls SOP atau protap, peraturan internal

2.2. FUNGsI PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT
Mengacu kepada pengertian peraturan peraturan internal rumah sakit adalah : 2.2.1. 2.2.2. internal rumah sakit diatas maka fungsi

Sebaqal acuan bagi pemilik rumah sakit dalarn melakukan pengawasan rumah sakitnya. Sebagai acuan bag I direktur rumah sakit dalam mengelola rumah saklt dan menyusun kebijakan yang bersifat teknis operasional.

4

2.2.3. 2.2.4. 2.2.5. 2.2.6.

Sarana untuk menjamin efektifitas, efisiensi dan mutu. Sarana perllndungan hukum bagi semua pihak yang berkaitan dengan rumah sakit. Sebagal acuan bagi penyelesaian konflik di rumah sakit antara pernlllk, direktur rumah sakit dan staf medis. Untuk memenuhl persyaratan akreditasi rumah sakit.

2.3. TUJUAN DAN MANFAAT
2.3.1

PERATURAN

INTERNAL RUMAH SAKIT.

Tujuan peraturan Internal rumah sakit.

• Urnurn :
Di milikinya suatu tatanan peraturan dasar yang mengatur pemilik rumah sakit atau yang mewakili, direktur rumah sakit dan tenagG medis sehingga penyelenggaraan rumah sakit dapat efektif, efisien dan berkualitas. ; • Khusus : a. Oimllikinya pedoman oleh rumah sakit. dalam hubunqannya dengan pemil1k atau yang mewakili, direktur rumah saklt dan staf medis -. b. Dimiliklnya pedoman dalam pembuatan kebijakan teknis operaslonal rumah sakit. c. Dimiliknya pedomen dalam pengaturan staf rnedis. 2.3.2 Manfaat peraturan Internal rumah sakit a. Untuk rumah sakit RS rnemilikl aeuan hukum dalam bentuk anggaran rurriah tangga. RS memiliki kepastian hukum dalam pembagian kewenangan dan tanggun jawab bail<. eksternal maupun internal yang dapat menjadl alat/sarana perllndungan hukum bagi RS atas tuntutan/gugatan. Menunjang persyaratan akreditasi RS, Memilikl alat/sarana untuk meningkatkan mutu pelayanan RS. RS memiliki kejelasan arah dan tujuan dalarn melaksanakan kegiatannya, b. Untuk pengelola rumah saklt. Memiliki acuan tentang batas kewenangan, hak, kewajiban dan tanggung jawab yang jelas sehingga memudahkan dalam menyelesaikan masalah yang timbul serta dapat menjaga hubungan serasi dan selaras. Mempunyai pedoman resmi untuk menyusun kebijakan teknis operasional. Untuk pemerintah Mengetahui arah dan tujuan rumah sakit terse but dldlrlkan. Acuan dalam menyelesaikan konflik di rumah sakit.

c.

5

,

..

."

d. Untuk pernlllk Mengetahui tugas dan kewajibannya. Acuan dalarn menyelesaikan konflik internal. Acuan dalarn rnenllai kinerja direktur rumah saklt.

e. Untuk masyarakat
Mengetahui vlsl, rnlsl dan tujuan rumah sakit Mengetahui hak dan kewajiban pasien.

2.4. KERANGKA HUKUM YANG MENGATUR KEHIDUPAN

RUMAH SAKIT

Peraturan-peraturan atas dasar mana penyelenggaraan rurnah saklt berpljak adalah : • Landasan korporasi AD Perseroan Terbatas (pn. - AD Yavasan. . - PP Perusahaan Jawatan (Perjan). . Peraturan lain yang terkait dengan bentuk badan hukum pernlllk rumah seklt, • Peraturan perundanqan tentang kesehatan dan perumahsakltan Undang-undangtentang Kesehatan dan Undang·undang lain yang terkait. ' Peraturan dan perundang-undangan yang mengatur rumah sakit. • Kebijakan kesehatan pemerintah setempat - Kebijakan perijinan. , Kebijakan pelaporan, dll. • Peraturan internal rumah sakit • Kebijakan teknis operaslonal rumah sakit SOP (Standar Operating Procedure) Job descrlption,dll • Aturan hukum urnurn KUHP Undang~undang tentang Ungkungan Undang-undang tentang Tenaga Kerja Undang-undang tentang Perlindungan Konsurnen Berdasarkan hal tersebut dlatas maka posisi peraturan Internal rurnah saklt adalah dibawah dari anggaran dasar badan hukum pemillk rurnah sakit dan diatas dari aturan pelaksanaan rumah saklt,

AnJRAN PElAKSANAAN

(SOP, JOB DISC, dll)

6

2.5. CIRI DAN SUBSTANSI PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT a. Peraturan internal rumah saklt adalah "tailor made', in! berarti peraturan internal rumah sakit dart satu rumah sakit berbeda dengan rumah sakit lalnnya. Hal lnl disebabkan karena faktor-faktor internal RS~seperti rnlsalnva: sejarah, pendirlan, kepemilikan, sltuasl dan kondisinya berlalnan dl setiap rumah sakit. Peraturan internal rumah sakit pada intinya mengatur hal-hal yang merupakan konstitusi rumah sakit atau peraturan-peraturan dasar rumah sakit. Peraturan internal rumah sakit pada prinsipnya adalah peraturan yang ditetapkan oleh pemilk atau yang mewakili. Peraturan internal rumah sakit mengatur hubungan pemilik atau yang rnewakll, direktur rumah sakit dan staf rnedis. Uraian di dalarn peraturan Internal rumah sakit harus tegas, [elas dan terperinci. Karena rumusannya sudah jelas, maka peraturan internal rumah sakit tidak dapat ditafsirkan lagl secara individual, sehlnqqa tertutup kemungkinan untuk mengadakan penafslran yang berbeda. Peraturan internal rumah sakit harus diterima, yang mempunyal otoritas dan ditaati oleh pihak-plhak yang terkait. Agar tetap up-to-date, maka peraturan internal rumah sakit harus di evaluasi secara berkala.

b.

c. d. e.

f.

g. h.

2.6. TINGKAT DAN JENIS PERATURAN

DI DALAM RUMAH SAKIT.

Di dalam rumah sakit ada 2 (dua) kelompok peraturan yaitu : peraturan dasar yang merupakan anggarn rumah tangga rumah saklt yang disebut peraturan internal rumah sakit dan kebijakan teknis operasional. Untuk lebih jelasnya kedua Kelompok peraturan tersebut kami uralkan sebagai berikut : 2.6.1. Peraturan internal rumah sakit • Mempunyai jenjang tertinggi karena merupakan anggaran dasarj anggaran rumah tangga suatu rumah sakit. • Disusun dan ditetapkan oleh pemilik rurnah saklt atau yang mewakili. • Pada umumnya mengatur tentang vlsi, mlsl, tujuan orqanisasl rumah sakit dan hubungan pernlllk, direktur rumah sakit dan staff medis. Kebijakan teknis operasional • Acuan untuk menyusun adalah peraturan internal rumah sakit. • Disusun dan ditetapkan oleh Direktur rumah sakit • Pada umumnya terdlri darlkebijakan dan prosedur di bfdang adrnlnlstrasl, medis, penunjang medis dan keperawatan. • Kebijakan teknis ada yang berupa surat keputusan, sebagai contoh surat keputusan pengangkatan, penempatan atau pemberhentlan pegawai. Pembuatan surat keputusan terse but tentunya berdasarkan pelimpahan kewenangan yang tercantum di dalam peraturan internal rumah sakit.

2.6.2.

7

·

.

PengeJornpokkan di atas tentunya hanya sekedar untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apasebenarnya yang dinamakan peraturan internal rumah saklt dan apa yang dinamakan oenqan kebijakan teknis operastonal, Dengan demikian dapat dipakai sebaqai pedoman dalam pembuatan, pengadaan atau penyempurnaan sistematik peraturan internal rumah sakit yang sudah ada di masing-masing rumah sakit. Sebagaimana sudah dikatakan di etas, bahwa peraturan Internal rumah saklt adalah "tettoc-msde'; Jodi sangat tergantung kepada situas! dan kondisi dan keadaan rumah sakitnya.

2.7. PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT HUBUNGAN DENGAN KODE ETIK RUMAH SAKIT. Antara Peraturan Internal Rumah Sakit dan Kode Etik Rumah Sakit ada sebaglan saling menutupi (Overlapping), sehingga dalarn hal-hal tertentu kadangkala agak sukar untuk membedakannnya. Namun ada clrl yang khas dar! peraturan Internal rumah saklt bahwaselain harus tertulis perumusannya dapat !angsung dipakal (ready for use) sebagai ketentuan serta berfungsi sebagai tolok-ukur. Sebaliknya kode etik rumah saklt perumusannya masih bersifat umum dan tidak langsung siap pakai (not ready for use). Dengan demikian maka dalam penerapan Kode Etik Rumah Sakit masih memerlukan penafsiran lagi. Untuk jelasnya dibawah ini akan diuraikan perbedaan antara etik dan peraturan internal rumah sakit. eIRI Sifat Tolok Ukur Dibuat oleh Sanks! dar! Berlaku ETIK Seharusnya Hati nurani (conscience) Kelompok sendiri (self-trnposed
reculatlon)

PERATURAN INTERNAL RS Waiib ditaati Ketentuan tertulis Pemilik atau yang rnewaklll - Pemilikfyang mewakili - Pemerintah dan dapat dipakai Intern buktl/ peraturan sebagai hukurn Atasan/peradilan

Organisasi Intern

Atasan yang berwenanq

Atasan/instansi MKEK

2.8;

PERATURAN INTERNAL AKREotTASI RS.

RUMAH

SAKIT

HUBUNGAN

DENGAN

Diatas telah disebutkan bahwa salah satu fungsl peraturan Internal rumah saklt adalah merupakan syarat keberhasilan dalam akreditasi, karena dl dalam akredltasl rumah sakit ada pararneter-parerneter yang harus dipenuhi oleh rumah saklt yang terkait dengan ada tidaknya peraturan internal rumah sakit, sebaga! contoh : rumah sakit harus mempunyai visi dan tujuan yang harus ditetapkan oleh pemilik rurnah saklt, organisasi rurnah sakit yang harus ditetapkan pemilik, ada pelimpahan kewenangan darl pemilik ke direktur rumah sakit dan lain-lain. Walaupun belum merupakan suatu peraturan Internal rumah sakit yang utuh tetapi dapat dijadikan modal dalam menyusun 8

peraturan internal rumah sakit bahwa ada hal-hal yang mendasar yang harus diatur oleh pemilik rumah sakit atau yang mewakli. . Keterkaitan yang jelas antara peraturan internal rumah sakit dan akreditasl terlihat jelas pada instrumen akreditasi versl 2002, dimana pada lnstrurnen akreditasl versl 2002 ada parameter yang menyebutkan bahwa rumah sakit wajib memlliki peraturan Internal rumah sakit atau hospital by laws.

9

",
,

'

BAB III. MATERI PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT

"tailor made" dan peraturan internal rumah sakit adalah merupakan peraturan yang
mengatur pernlllk rumah saklt atau yang mewakili, direktur rumah saklt dan staf rnedls, Mengacu kedua hal terse but rnaka dapat dlslmpulkan bahwa walaupun peraturan internal rumah sakit bersifat "teltor mede'; namun tetap dlperlukan acuan hal-hal apa saja yang perlu diatur dl dalam peraturan internal rumah sakit yang terkalt dengan pemilik rumah sakit atau yang mewakili, direktur rumah sakit dan staf rnedls, sedangkan isl meslnq-rnaslnq aturan tersebut merupakan kespesifikan maslng-masing rumah saklt. Oleh karena Itu mated peraturan internal rumah sakit yang tereantum pada Bab III Inl henya merupakan aeuan hal-hal pokok apa saja yang harus diatur dl rumah saklt yang terkait dengan pemlllk atau yang rnewakill, direktur rumah saklt dan staf medis. Pada Bab II juga disebutkan bahwa ke tiga unsur diatas yaitu pemilik etau yang mewakili, direktur rumah sakit dan staf medis disebut sebagai "triad" -atau "tiga tungku sejerangan" . Mengacu kepada "triad" atau \\tiga tungku sejerangan" tersebut maka ada 2 (dua) set peraturan internal rumah sakit, valtu : 1. Peraturan internal yang rnenqatur hubungan pemilik atau yang mewakili dengan Direktur RS (Penqelola RS) yang disebut peraturan intern a! K.orporate (Corporate bylaws). " 2. Peraturan internal yang mengatur staf medis yang disebut peraturan internal staf rnadls (Medical Staff Bylaws). Dengan demikian hubungan antara rumah sakit dengan staf administratif, staf oerawat dan karyawan I.ainnya tidak dlatur di dalam peraturan internal rumah saklt tetapi diatur di delarn peraturan kepegawaian rumah saklt, Hal tersebut, terkalt dengan sltuasi dan kondisi dari mana peraturanintemal rumah saklt berasal. Staf medls dimana . peraturan internal rumah sakit berasal pada umumnya "bukan" merupakan pegawal rumah sakit oleh karena itu tldak terikat dengan peraturan kepegawaian rumah sakit, rnisalnva [urnlah jam kerja per minggu. Dalam ketentuan kepegawaian, jumlah jam kerja peqawal tidak boleh lebih dar! 40 jam per mlnggu, tetapl menglngat kasus kegawatdaruratan perlu ditangani segera maka seoranq dokter mempunyai kewajlban setiap waktu bersedia datang ke rumah sakit untuk menanganl kasus kegawatdaruratan, dan tidak dlkaitkan dengan jumlah jam kerja. Staf medis tersebut terikat dengan aturan profesi, oleh karen a itu staf medis perlu membuat aturan sendlri yang dituangkan di dalam peraturan internal rumah sakit. Aturan mengenai staf medis tersebut disebut peraturan internal staf medis (Medical Staff Bylaws). Mengingat staf medls dl Indonesia, khususnva di rurnah sakit swasta hampir mirip di negara lain, yaitu merupakan tenaga profesi mandiri (dokter visiting praktek, dexter visiting tidak praktek, dokter organik/dokt.er tetap), maka perlu ada peraturan internal staf rnedls tersebut, Pada rumah sakit pemerintah, walaupun hampir semua tenaga. dokter merupakan dokter tetap namun karena banyak tenaga dokter rumah saklt pemerintah tersebut juga bekerja di rumah saklt lain yan"g kadang-kadang pada jam kerja oleh karena ada kasus

DaJam 8ab II sudah dljelaskan bahwa peraturan internal rumah saklt adalah

10

emergency maka peraturan Internal staf medis perlu disusun sehingga ada kejelasan peran dan tugas masing-maslng, Peraturan internal staf medis tersebut bisa merupakan peraturan internal yang berdlrl sendiri tetapi juga bisa merupakan salah satu ketentuan di dalam peraturan internal korporate, Hal tersebut tergantung dengan jumlah dan jenis staf medis di suatu rumah sakit. Semakin banyak jumlah dan jenis staf medis di rumah sakit maka perlu peraturan yang kornplek oleh karena ltu peraturan mengenai staf medis menjadl peraturan internal yang berdiri sendiri. Tetapl apablla rumah sakit tersebut hanya keelI dan hanya beberapa dokter saja sehingga tidak diperlukan peraturan yang kompleks maka peraturan internal staf medis bisa dlsatukan dengan peraturan internal korporate. Berdasarkan hal terse but dlatas, untuk memudahkan bagi rumah sakit yang akan menyusun peraturan internal staf medis terpisah dengan peraturan internal korporate maka buku pedoman lni akan menguraikan materi peraturan internal korporate dan peraturan internal staf medis secara terpisah. Adapun materi dari kedua peraturan internal tersebut sebagai berikut : 3.1. PERATURAN INTERNAL KORPORATE (PERATURAN INTERNAL

IN STITUSI)
Mengingat lstllah korporate pada urnurnnva digunakan untuk badan hukum swasta maka untuk rurnah sakit pemerintah bisa digunakan Istilah institusi sehingga peraturan internal koporate disebut juga peraturan internal lnstltusl, Sebelum menyusun peraturan internal korporate ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan yaitu : 3.1.1. Bentuk Bentuk pemilik badan utama badan rumah a. badan hukum pemilik rumah sakit. baden hukurn pemilik rumah sakit akan mempengaruhi organisasi atau yang mewakill, Oleh karena itu peraturan yang mengatur bentuk hukum dan akte badan hukum dari pemilik rumah sakit menjadi aeuan dalam menyusun peraturan internal korporate. Untuk mengetahui bentuk hukum pemilik rumah sakit maka perlu mengetahui rnacarn kepemilikan sakit di Indonesia:

Rumah sakit milik pemerintah • Departemen Kesehatan • Departemen Kesehatan dan Departemen hukumnya adalah Perusahaan Jawatan) • Pemerintah Daerah Propinsi • Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota • Departemen Hankam dan POLRI • Badan Usaha Milik Negara • Departemen lain. Rumah sakit milik swasta • Yayasan • Perseroan Terbatas (FT) • Badan Hukum lalnnya.

Keuangan

(bentuk

badan

b.

11

Perbedaan kepemilikan tersebut diatas, akan mempengaruhi organisasi badan hokum pemillk, slapa yang dlrnaksud yang rnewakill serta peran dan tugasnya

3.1.2.. Bentuk format peraturan Internal korporate.

Peraturan internal korporate adalah 1\ tenor made", maka bentuk format peraturan internal korporate dlserahkan ke masing-masing rumah sakit, dengan alternatlfalternatif sebagai berlkut : a. Merupakan surat keputusan dari pemilik atau yang mewakli dim ana materl yang diatur dikelompokkan menjadJ bab dan pasel-pasal. b. Merupakan buku yang kemudian dilamplr! dengan surat keputusan darl pemillk atau yang mewakill untuk pemberlakuan buku tersebut. hal tersebut,

Berdasarkan

peraturan internal

materi yang korporate adalah :

perlu

diatur

(dlcantumkan)

pada

L

Nama, Tujuan, Filosofi a. Nama adalah nama badan hukum pemilik rumah sakit. b. Tujuan adalah tujuan rumah sakit didirikan. c. Filosofi adalah filosofi organisasl rumah sakit, merupakan organisasi laba atau

nlrlaba
2. Pengaturan tentang Governing body Pada Bab II sudah dijelaskan yang dimaksud dengan governing body adalah pemiiik atau yang mewaklll. Pada peraturan internal korporate ini diharapkan ada kejelasan pengaturan rnengenal pemilik atau yang mewakili tersebut yaitu antara lain tnengenai : • kornooslsl atau keanggotaan • kewenangan dan tanggung jawab • peran terhadap staf medis • pengaturan rapat Pada umumnya tanggung jawab pemilik atau yang mewakili adalah : • Menetapkan tujuan rumah sakit. • MengClwasi mutu pelayanan rumah sakit. • Mengawasi keterjangkauan pelavanan. • Meningkatkan peran masyarakat • Melakukan integrasi dan koordinasi. Agar dapat menyusun peraturan mengenai komposisi atau keanggotaan, kewenangan dan tanggung jawab yang lebih rind serta pengaturan rapat maka rumah sakit harus mengetahul mana yang disebut pemt1lk atau yang mewakllf dl dalam badan hukum rumah saklt tersebut. Oleh karena itu bentuk badan hukurn perlu diketahul. Berdasarkan kepemilikan rumah saklt, bentuk badan hukum rumah sakit dapat dikelompokkan menjad! 5 (lima) kelompok sebagal berikut :

12

a.

Bentuk badan hukum perusahaan jawatan Aeuan dari bentuk badan hukum perusahaan jawatan adalah peraturan pemerintah nomer 6 tahun 2000 tentang perusahaan jawatan yang kemudian ditlndaklanjuti dengan peraturan pemerintah tentang pembentukan perusahaan jawatan pad a masing-masing rumah sakit perjan. Sebenarnya peraturan pemerintah tentang pembentukan perusahaan jawatan pada maslnq-rnaslnq rumah sakit terse but sudah bisa dlsebut peraturan internal korporate karena sudah mengatur mengenai pengorganisasian pemilik atau yang mewakili, tugas, wewenang pemiHk atau yang mewakiH dan tugas direktur rurnah saklt, namun pengaturan tersebut bel urn lengkap, selain hal terse but pengaturan internal staf medis juga belum ada. Berdasarkan hal tersebut maka Rurnah Sakit Perjan masih perlu menyusun peraturan internal rumah sakit. Dalam menyusun .peraturan Internal korporate di rumah sakit perjan, Identlfikasi yang dimaksud governing body perlu dilakukan dengan heti-hatl oleh karena apabila peraturan pemerlntah nomor 6 tahun 2000 tersebut dikaji seeara mendalam maka dfreksl rurnah sakit juga memiliki peran sebagai governing body. Sedal1gkan Dewan Pengawas malahan bukan merupakan governIng body tetapl hanya mempunyai fungsl pengawasan. Oleh karena, direksl rumah saklt perjan juga memiliki peran sebagai governing body maka penetapan peraturan internal rumah saklt pad a rumah sakit perjan dapat dilakukan oleh direksI karena dianggap mewakili pemilik tetapi juga bisa oleh pemilik. Hal tersebut memang tidak lazlm seperti halnya badan hukum lainnya. Oleh karena itu peraturan internal korporate pada rumah sakit perjan akan lebih kompleks dibanding dengan rurnah saktt laln, Dalam membuat pengaturan governing body aeuan adalah PP No. 6 tahun 2000 tentang Perusahaan Jawatan (Perjan), sehingga kornposlsi, keanggotaan, wewenang 'dan tang9un9 jawab serta pengaturan dapat mengikuti peraturan Perjan tersebut.
l

b. Yayasan.
Acuan dari bentuk badan hukum yayasan adaiah undang-undang nomer nomor 16 tahun 2001 tentang yayasan dan akte yayasan dart maslng-maslng rumah sakit. Pada rumah sakit yayasan yang dimaksud yang mewakili pemilik adalah pengurus yayasan. Oleh karena itu kornposlsl dan keanggotaan agar mengacu sesuai peraturan yayasan tersebut dlatas, sedangkan tanggung jawab selain mengaeu kepada undang-uandang yayasan juga mengacu tanggung jawab pemilik atau yang mewakill seperti terse but dlatas. Demiklan pula penpaurran rapat, seperti halnya rumah sakit perjan maka yang perlu diatur adalah macam rapat, kapan rapat diselenggarakan, slapa yang boieh mengajukan diadakan rapat khusus, bagaimana yang dJsebut rapat telah memenuhi quorum. c. Perseroan Terbatas (PT). Aeuan dari bentuk badan hukum perseroan terbatas (PT) adalah undangundang nomor 1 tahun 1995 tentang perseroan terbatas dan akte perseroan terbatas dari masing-masing rumah sakit. Pada rumah saklt perseroan terbatas yang dimaksud pemilik atau yang mewakUi adalah organisasl yang satu level diatas direktur rumal1 sakit yang lebih dikenaf dengan sebutan "board of

13

director'~ Komposisi dan keanggotaan serta tugas dan tanggung jawab mengacu pada peraturan persercan terbatas tersebut diatas. Demikian pula pengaturan rapat r seperti halnya rumah saktt perjan maka yang perfu diatur adalah rnacarn rapat, kapan rapat diselenggarakan, siapa yang boleh mengajukan diadakan rapat khusus, bagaimana yang disebut rapat telah memenuhi quorum.
d. Badan hukurn lainnya. Yang dimaksud badan hukum lain adalah badan hukum yang belum ada undang-undangnya, misalnya perkumpulan, perhimpunan dan lain sebagafnya, oleh karena masih ada rurnah sakit yang dimiliki oleh badan hukum tersebut. Mengingat belum ada peraturan yang jelas yang dianggap bisa disebut sebagai yang mewakili pemilik maka badan hukum tersebut harus menetapkan yang dianggap mewakili pemllik. Mengingat badan hukum tersebut pada umumnya merupakan badan hukurn yang bersifat sosial maka acuan mengenai kornposlsl dan keanggotaan, tugas dan wewenang dapat mengacu kepada yayasan atau peraturan lain yang dianggap sesuai.

e. Pemerintah ~ Menging~t belum ada peraturan yang baku yang menetapkan badan hukum pemilik atau yang mewakili pada rumah sakit pemerintah maka pemllik rumah sakit pemerintah perlu menetapkan yang dianggap mewakfli pemllik dan mengatur bagaimana komposisi, keanggotaan, tugas, tanggungjawab, pengaturan rapat dan lain sebagainya. Pengaturan tersebut yang dituangkan di dalam peraturan internal korporate j institusi. 4. Pengorganisasian Pengorganisasian pemilik atau yang mewakili yang diatur pada peraturan internal rumah sakit inl antara lain meUputi ; • Sebutan ketua, wakil ketua (bila ada), sekretarls dan tugas masing-masing. • Jumlah anggota • Persyaratan menjadi anggota • Tata cara pemilihan, pengangkatan dan pemberhentian • lama tugasjmasa kerja Namun perlu diingat dalam menyusun pengorganisasian pemilik atau yang mewakili tersebut perlu mengacu bentuk badan hukum pemilik rumah sakft, balk yang menyangkut sebutan ketua, wakil ketua, sekreatris, jumlah anqqota dan lain sebagainya. 5. Mekanisme pengawasan Diatas sudah disebutkan bahwa salah satu tanggung jawab dari pemillk atau yang mewakili adalah melakukan pengawasan terhadap kegiatan rumah sakit. Oleh karena itu pemilik atau yang mewakili perlu mempunyai mekanisme pengawasan dan komlte atau tim untuk melakukan pengawasan .. Pembentukan komlte tentunya tergantung kebutuhan rumah sakit dan bentuk badan hukum pemllik rumah sakit. 01eh karena semakin banyak dan besar komlte tentunya berdampak terhadap beban biaya yang harus ditanggung oleh rumah sakit. Walaupun pernbentukan komlte

14

tergantung kebutuhan, namun ada empat komite dasar yang dlsarankan dimillkl oleh governing body yaitu : • Komite yang melakukan review pelayanan pasien (patient care review committee) • Komite yang melakukan pengawasan keuangan dan' anggaran (finance and budget committe) • Komite yang melakukan pengawasan bangunan dan pekerjaan (House and works committe) • Komite yang memberikan saran terhadap penetapan staf medis (Medical appoinment advisory cornrnltte.) Mengingat di rumah sakit juga ada komite-komite rnaka untuk efislensl pernlllk rumah sakit atau yang mewaktli dapat mengoptimalkan komite-komite yang sudah ada di dalam rumah sakit dan agar dibuat mekanisme hubungan kerja antara pemll!k rumah sakit atau yang mewakili dengan komite-komite yang ada di dahrn rumah sakit. Sebagai contoh ada pertemuan berkala antara komite dengan pemilik rumah sakit atau yang mewakili. Hal tersebut karena keempat fungsi komite tersebut telah ada di rumah sakit , sebagaimana tersebut dibawah ini : • Komite yang melakukan review pelayanan pasien (patient care review committee), fungsi komite ini telah dilakukan oleh komlte mutu pelayanan rumah sakit. • Komite yang melakukan pengawasan keuangan dan anggaran (finance and budget committe), fungsi kcmite ini telah dilakukan oleh satuan pengawasan intern (SPI) • Komite yang rnelakukan pengawasan bangunan dan pekerjaan (House and works committe), fungsi kornite ini dapat dllakukan oleh pimpinan proyek pembangunan • Komite yang memberikan saran terhadap penetapan staf medis (Medical appoinment advisory committe.), fungsi komite ini telah dilakukan oleh komite medik atau panltia kredensial. Komite-komite tersebut diatas ada yang dibawah komite medik tetapi ada yang langsung dlbawah Direktur RS. Apabila komite - komite tersebut juga akan dimanfaatkan oleh pemillk atau yang mewakili maka prosedur kerja harus dlbuat jelas sehingga tidak terjadi konflik antara direktur dengan komite-komite tersebut, karena secara hierarki korntte-kornite tersebut bertanggung jawab kepada direktur. Alternatif yang bisa dilakukan adalah pada waktu rapat membahas hasi1 keglatan komite dapat mengundang pemilik atau yang mewakili. Hal tersebut tentunya sangat tergantung situasi dan kondisi masing-masing rumah sakit. 6. Direktur rumah sakit. Pengaturan yang terkait dengan direktur rumah sakit antara lain meliputi : • Sebutan pimpinan tertinggi di rumah sakit, dimana masing-masing rumah sakit berbeda. Ada yang rnenvebut direktur utama, direktur, kepala rumah sakit,dl1 • Jumlah dlreksi • Persyaratan menjadi dlreksl • Tugas dan wewenang • Tata cara pengangkatan dan pemberhentian

15

• • •

Lama tugas atau masa kerja Hubungan dengan pemilik rumah sakit atau yang rnewaklll Hubungan dengan staf medis

7. Mekanisme review dan revlsl Perlu dlsusun aturan bagaimana melakukan review dan revlsi peraturan internal korporate dan siapa yang berwenang melakukannya. 8. Peraturan rumah sakit Perlu ditekankan pada peraturan internal korporate operasional rumah sakit tidak boleh bertentangan korporate. ",

ini bahwa kebijakan teknls dengan peraturan internal

3.2. PERATURAN INTERNAL STAF MEOIS

I

MEDICAL STAFF BYLAWS

Peraturan internal staf medik adalah peraturan internal rumah sakit yang mengatur staf medis. Yang dimaksud staf medik disini adalah dokter dan dokter gigi. Sepertl telah disebutkan diatas, bagi rumah saklt yang keell, dimana jumlah staf medis hanya sedlklt maka peraturan internal staf medis bisa dijadikan satu dengan peraturan Internal korporate dan merupakan salah satu pasal pada peraturan internal rumah saklt. • a. "Tujuan disusunnya peraturan internal staf medis adalah :

Agar ada keljasama yang baik antara staf medis, pemilik atau yang mewakili dan pimpinan administratif rurnah sakit. b. Agar terjadi adaptasi kepentingan dokter dan kepentingan rumah sakit. c. Agar staf medis bertanggungjawab atas mutu pelayanan medik rumah sakit. • a. b. c. d. e. Fungsi: Menggambarkan struktur organisasi staf medis Prosedur dan persyaratan penerimaan dokter Mekanlsme peer-review, re-appoinment, privileges,dll Prosedur pengajuan permohonan Dasar kegiatan standar pelayanan profesi dan kode etik.

Rumah sakit diharapkan dapat menyusun peraturan denqan materi muatan minimal sebagai berikut :

internal staf medis

1. Nama organisasi : staf medis rumah sakit ......... (sebutkan nama rumah sakit) 2. Tujuan orgaroisasi staf medis : Tujuan pengorganisasian staf medis antara lain adalah : a. Agar semua pasien menerima pelayanan medik yang terbaik

16

.

(

b. Agar masalah medlco-adrnlnlstratlt diselesaikan bersama dengan pihak manajemen c. Mengupayakan dan mempertahankan self government d. Melaksanc:lkan kegiatan pendidikan dan mempertahankan standar pendidikan 3. Keanggotaan a. Kualifikasi dan persayaratan menjadi anggota staf medls. Rumah saklt agar mengatur kuallfikasi dan persyaratan menjadl anggota staf medis yaltu antara lain: lulusan fakultas kedokteran atau fakultas kedokteran glgl, mempunyal Ijin praktek dan lain sebagainya. Agar diatur pula bagaim ana kalau lulusan dart luar negeri, bagaimana untuk dokter warga negara aslng yang ingin bekerja di rumah sakit tersebut dan bagaimana kalau hanya untuk mengikuti training (pada umumnya dl rumah saklt pendidikan). b. Etik. Agar dlatur etlk yang harus dltaatl dan mekanisme penanganan etlk kedokteran dan kedokteran gigi. c. Tanggung jawab staf me dis terhadap pelayanan klinls (medis) dan mutu pelayanan. d. svarat-svaret penqanqkatan, pengangkatan kembali. e. Mekanisme pengangkatan. f. Mekanisme pengangkatan kembali. g. Mekanisme pemberhentian. h. Emergency dan hak lstimewa sementara. i. Grievance procedure yaitu prosedur untuk menangani keluhan dari staf medis. j. lntra-servlce dispute, agar diatur apabila terjadi persellslhan antara staf medis dengan profesi lain, dengan pasien dan dengan direksi. 4. Kategori staf medis Agar dibuatkan definisi operasionat apa yang dimaksud dengan dan wewenang serta tanggung jawab: Dokter tetap/dokter organik Dokter tarnu (dokter visiting praktek dan dokter visiting tidak praktek) Dokter konsultan Star pengajar (bag! RS pendldikan) Star tenaga kesehatan profeslonal lain (allied health proffesional staff) Resident dll. 5. Pelayanan medik dan Direktur medik Yang diatur disini adalah : • Jenls pelayanan medik yang diberikan rumah sakit. • Mekanisme pengangkatan dlrektur medik (apakah pemllik rurnah saklt perlu rnelakukan konsultasi dengan komite medik untuk pengangkatan direktur medlk) • Tugas serta tanggungjawabnya. • Peran residen dan peran pengampu (bagi rumah sakit pendidikan). • Upaya peningkakan mutu pelayanan : clinical rIsk manajemen, dlnlcal governance, evidence based medlctne, audit medis, monitoring dan evaluasl mutu pelayanan, mekanisme pengawasan profesi, dll.

17

'.

6.

Komite medik. Yang perlu diatur dl komite medlk adalah : • Keanggotaan: siapa saja yang bisa menjadi anggota komite medik • Tugas dan tanggungjawab komite medik • Pengorganisaslan • Rapat . • Pembentukan sub komlte-sub komite Pengaturan yang menyangkut jasa medis. Pegaturan mengenai rapat. Mekanisme review dan revisit agar dltetapkan siapa yang berwenang review dan revisit bagaimana caranya dan kapan dilakukan. Peraturan dan perundangan pelayanan medls, rnelakukan

7. 8. 9.

10.

yang terkait dengan kewajiban staf medis terhadap

18

BAB. IV LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (HOSPITAL BYLAWS)
Langkah-Iangkah penyusunan peraturan Internal rumah sakit Inl, dlharapkan dapat sebagal aeuan bagi rumah saklt dalam menyusun peraturan Internal rumah saklt-nya masing-masing. Namun sebelum mulal penyusunan, ada hal-hal yang pentlng yang harus diperhatikan oleh rumah saklt yaltu: • Peraturan Internal rumah saklt adalah "tailor mede" . Oleh karena Itu, pada waktu menyusun peraturan Internat rumah sakit jangan atau hindarl memfoto eopy peraturan Internal rumah saklt dart rumah saklt lain. Peraturan Internal dar! rumah sakit laln hanya sebagal aeuan atau wacana saja tidak boleh dl fotoeopy oleh karena peraturan internal rumah sakit dari rumah sakit satu dengan lalnnya tidak sama. Laksanakan legal audit. Yang paling baik sebelum menyusun peraturan internal rumah sakit adalah melakukan legal audit sehlngga dapat dlketahul semua peraturan dan perundangan sebagal casar penyelenggaraan rumah sakit. Legal audit Inl bukan hanya sekedar melakukan lrwentarlsasl peraturan yang sudah ada dan yang belum dimllikl tetapl , juga mengkaji dan menelaah semua peraturan dan perundangan tersebut apakah sudah kadaluwarsa, apakah ada dupllkasi apakah saling bertentangan dan laln-laln, Peraturan Internal untuk dilaksanakan bukan merupakan ideologi Peraturan Internal rumah saklt disusun bukan hanya sekedar dokumon tersebut harus ada, tetapl harus dilaksanakan karena merupakan konstitusl rumah sakit. Dalam menyelesaikan permasalahan/konflik intern rurnah sakit maka peraturan Internal rumah sakit merupakan acuan untuk menyelesaikannya. Hindari pengulangan kallmat dari peraturan perundangan Jangan berlebihan yang diatur dan juga jangan kurang Yang perlu diperhatlkan adalah peraturan lnternalrurnah sakit hanya mengatur tlga tungku sejerangan yaitu pemllik, direktur dan staf medis oleh karena Itu jangan terJatu berleblhan dalam mengatur. Peraturan yang lebih rlncl tidak diatur di dalam peraturan Internal rumah sakIt tetapl dldalam kebijakan operasional rumah saklt, :

• •

Langkah-Iangkah penyusunan sebagai berlkut 4.1.

Pembentukan TIm Penyusun TIm penyusun peraturan internal rumah sakit ini terdiri dari pemilik atau yang mewakili, direktur rumah sakit dan kornlte medik.

19

, "

'

4.2,

Pertemuan tim penyusun Tujuan pertemuan tim penyusun ini adalah : a. Mengetahui dan memahami buku pedoman peraturan internal rumah sakit yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan sehingga ada persamaan pengertian dan persepsl tentang peraturan internal rumah sakit, hal-hal apa saja yang perlu diatur dan bagaimana mengaturnya. b. Terbentuknya kornltrnen tim penyusun. c. Agar tersusun rencana kerja dan prosedur kerja. d. Penyusunan kerangka konsep peraturan internal rumah sakit. Melakukan legal audit. ' Legal audit sebelum menyusun peraturan sebaiknya dilakukan. Dalam melakukan legal audit blsa meminta bantuan dari luar (konsultan) namun blsa dilakukan oleh rumah sakit sendiri terutama bagi rurnah saklt yang telah mempunyai bagian hukum dalam struktur orqanlsaslnya. Penyusunan draft peraturan internal rurnah sakit. Draftperaturan internal rumah sakit disusun dengan mengacu badan hukum kepemilikan rumah sakit, peraturan dan perundangan tentang kesehatan dan perumahsakitan serta hasil dari legal audit .. Pembahasan draft" Dalam melakukan pembahasan agar melibatkan pihak-pihak terkait. Penyempurnaan draft peraturan internal rurnah sakit. Finalisasi peraturan internal rumah sakit. Finalisasi dilakukan dengan penetapan pernllik atau yang mewakili.

4.3,

4.4.

4.5.

4.6. 4.7.

peraturan

internal

rumah

sakit

dart

4.8.

Soslallsasl peraturan internal rumah sakit. soslaltsas! lnl dilakukan kepada stake holder el<sternal)

dan

costumer

(internal

dan

4.9.

Monitoring dan e:valuasl Monitoring dan evaluasl pelaksanaan peraturan internal rumah saklt dllakukan sesual dengan mekanlsme pengawasan yang diatur pada peraturan Internal rumah sakit,

20

,,'

'~

BAB.VI
PENUTUP

Pedoman peraturan internal rumah sakit ini disusun dengan harapan dapat sebagal aeuan bagl semua rumah sakit dalam menyusun peraturan internal rumah sakit-nya masing-masing dan diharapkan rumah sakit dapat segera menyusunnya. Hal tersebut karena selain rumah sakit rawan terjadtnya konfllk, juga karena meningkatnya kesadaran hukum di masyarakat telah menlngkatkan pula tuntutan masyarakat terhadap petayanan rumah saklt. Dengan adanya hospital bylaws dlharapkan dapat sebagal acuan dalam menyelesalkan konf1lk dan tutuntan akan pelayanan rumah sakit. Pemlilk rumah saklt yang telah menyusun peraturan internal rumah saklt, peraturan internal tenaga medls diharapkan dapat terus menindaklanjutl dengan menyusun kebijakan teknis operaslonal. Agar peraturan internal rumah sakit dapat tetap berkala perlu dllakukan.

"up to date" maka peninjauan secara

***ymgs**~

21

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->