PENDAHULUAN Gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang rancu yang ditandai dengan adanya gejala kombinasi antara

gejala skizofrenia dan gejala gangguan afektif. Studi populasi umum tidak ada yang menunjukkan insidens dari penyakit skizoafektif ini, melainkan komorbid antara skizofrenia dan gangguan afektif. Berdasarkan national comorbidity study, didapatkan bahwa, 66 orang yang di diagnosa skizofrenia, 81% pernah didiagnosa gangguan afektif yang terdiri dari 59% depresi dan 22% gangguan bipolar. Dengan kata lain, depresi adalah komorbid tertinggi dari skizofrenia. GANGGUAN SKIZOAFEKTIF Gangguan skizoafektif memiliki ciri baik skiofrenia dan gangguan afektif (sekarang disebut gangguan mood). Kriteria diagnosis untuk gangguan skizoafektif telah berubah dengan berjalannya waktu, sebagian besar karena perubahan dalam kriteria diagnostic untuk skizofenia dan gangguan mood. Terlepas dari sifat diagnosis yang dapat berubah, diagnosis ini tetap merupakan diagnosis yang terbaik bagi pasien yang sindrom klinisnya akan terdistorsi jika hanya dianggap skizofrenia atau hanya suatu gangguan mood. SEJARAH Di tahun 1913 George H. Kirby dan pada tahun 1921 August Hoch keduanya menggambarkan pasien dengan ciri campuran skizofrenia dan gangguan afektif (mood). Karena pasiennya tidak mengalami perjalanan demensia prekoks yang memburuk, Kirby dan Hoch mengklasifikasikan mereka di dalam kelompok psikosis manic-depresif Emil Kraepelin. Di tahun 1933 Jacob Kasanin memperkenalkan istilah “gangguan skizoafektif” untuk suatu gangguan dengan gejala skizofrenik dan gejala gangguan mood yang bermakna. Pasien dengan gangguan ini juga ditandai oleh onset gejala yang tiba-tiba, seringkali pada masa remajanya. Pasien cenderung memiliki tingkat fungsi premorbid yang baik, dan seringkali suatu stressor yang spesifik mendahului onset gejala. Riwayat keluarga pasien sering kali terdapat suatu gangguan mood. Kasanin percaya bahwa pasien memiliki suatu jenis skizofrenia. Dari 1933 sampai kira-kira tahun 1970, pasien yang gejalanya mirip dengan gejala pasien-pasien Kasanin secara bervariasi diklarifikasi menderita gangguan skizoafektif, skizofrenia atipikal, skizofrenia dalam remisi, dan psikosis sikloid – istilah-istilah yang menekankan suatu hubungan dengan skizofrenia. EPIDEMIOLOGI Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen, kemungkinan dalam rentang 0,5 sampai 0,8 persen. Namun, angka tersebut adalah angka perkiraan, karena di dalam praktik klinis diagnosis gangguan skizoafektif sering kali digunakan jika klinisi tidak yakin akan diagnosis.

adanya ciri psikotik yang tidak sesuai dengan mood pada suatu gangguan mood kemungkinan merupakan indikator dari prognosis yang buruk. beberapa evolusi dalam kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif mencerminkan perubahan yang telah terjadi di dalam kriteria diagnostik untuk kedua kondisi lain. tetapi empat model konseptual telah diajukan. dan gangguan depresif. Banyak peneliti dan klinisi telah berspekulasi tentang ciri psikotik yang tidak sesuai dengan mood (mood-incongruent). walaupun datadatanya adalah terbatas. . (3) Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe psikosis ketiga yang berbeda. DIAGNOSIS Karena konsep gangguan skizoafektif melibatkan konsep diagnostik baik skizofrenia maupun gangguan mood. Perjalanan penyakit dapat bervariasi dari satu eksaserbasi dan remisi sampai satu perjalanan jangka panjang yang memburuk. (2) Gangguan skizoafektif mungkin merupakan ekspresi bersama-sama dari skizofrenia dan gangguan mood. Hubungan tersebut kemungkinan berlaku untuk gangguan skizoafektif. yang lainnya menderita suatu gangguan mood dengan gejala skizofrenik yang menonjol. Dugaan saat ini bahwa penyebab gangguan skizoafektif mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia. isi psikotik (yaitu. Penggabungan Data Pasien dengan gangguan skizoafektif adalah suatu kelompok yang heterogen: beberapa menderita skizofrenia dengan gejala afektif yang menonjol. GAMBARAN KLINIS Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala skizofrenia. Laki-laki dengan gangguan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata. tipe yang tidak berhubungan dengan skizofrenia maupun suatu gangguan mood. (1) Gangguan skizoafektif mungkin merupakan suatu tipe skizofrenia atau suatu tipe gangguan mood. Sebagian besar penelitian telah menganggap pasien dengan gangguan skizoafektif sebagai suatu kelompok heterogen. Gejala skizofrenik dan gangguan mood dapat ditemukan bersama-sama atau dalam cara yang bergantian. Penyebab gangguan skizoafektif adalah tidak diketahui. Pada umumnya. Oleh karena itu teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan. (4) Kemungkinan terbesar adalah bahwa gangguan skizoafektif adalah kelompok gangguan yang heterogen yang meliputi semua tiga kemungkinan pertama. halusinasi atau waham) adalah tidak konsisten dengan mood yang lebih kuat. khususnya wanita yang menikah. usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. episode manik. ETIOLOGI Sulit untuk menentukan penyebab penyakit yang telah berubah begitu banyak dari waktu ke waktu.Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita. dan suatu kelompok ketiga yang memiliki sindrom klinis yang berbeda.

Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode mood ditemukan untuk sebagian bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit. pasien diklasifikasikan menderita tipe depresif. Sebutkan tipe: Tipe bipolar: jika gangguan termasuk suatu episode manik atau campuran (atau suatu manik suatu episode campuran dan episode depresif berat) Tipe depresif: jika gangguan hanya termasuk episode depresif berat. sebagai konsekuensi dari ini. D. atau suatu episode campuran dengan gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia. Hak cipta American Psychiatric Association. DSM-IV juga membantu klinisi untuk menentukan apakah pasien menderita gangguan skizoafektif. dalam satu episode penyakit yang sama. Ed. pasien harus memiliki waham atau halusinasi selama sekurangnya dua minggu tanpa adanya gejala gangguan mood yang menonjol. Tabel 2. kriteria dituliskan untuk membantu klinisi menghindari mendiagnosis suatu gangguan mood dengan ciri psikotik sebagai suatu gangguan skizoafektif. C. Seorang pasien diklasifikasikan menderita tipe bipolar jika episode yang ada adalah dari tipe manik atau suatu episode campuran dan episode depresif berat. dan bilamana. episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau . Kondisi-kondisi lain dengan gejalagejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian penyakit skizofrenik yang sudah ada. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. Catatan: Episode depresif berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi. Gejala gangguan mood juga harus diteukan untuk sebagian besar periode psikotik aktif dan residual. atau di mana gejala-gejala itu berada bersama-sama atau secara bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain. pada suatu waktu. Tabel 1. episode manik. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana. atau gangguan skizoafektif. Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-IV) Kriteria Diagnostik Untuk Gangguan Skizoafektif A.Kriteria diagnostik utama untuk gangguan skizoafektif (Tabel 1) adalah bahwa pasien telah memenuhi kriteria diagnostik untuk episode depresif berat atau episode manik yang bersama-sama dengan ditemukannya kriteria diagnostik untuk fase aktif dari skizofrenia. Terdapat baik episode depresif berat. terdapat waham atau halusinasi selama sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol. tipe depresif. Selain itu. Washington. Selama periode penyakit yang sama. atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain. Waham atau halusinasi yang tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan sendirinya menyokong diagnosis gangguan skizoafektif. Di samping itu. obat yang disalahgunakan. Pada PPDGJ-III. gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. diklasifikasikan dalam kategori yang sesuai dalam F20-F29. Pada intinya. 1994. B. tipe bipolar. Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III • Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously). 4. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya. Tabel dari DSM-IV. suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum.

diberi kode diagnosis F20. dan juga perjalanan gangguan itu sendiri. dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. khususnya gejala defisit atau gejala negatif. onset yang perlahan-lahan. penyalahguna amfetamin dan phencyclidine (PCP). onset yang awal. Lawan dari masing-masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. Insidensi bunuh diri di antara pasien dengan gangguan skizoafektif diperkirakan sekurangnya 10 persen. pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan gangguan mood. Dengan demikian. dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. klinisi boleh menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut telah terkendali. Hasil penelitian tersebut ditunjukkan di Tabel 2 dan Tabel 3. memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien dengan gangguan bipolar. Adanya atau tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan perjalanan penyakit. Di dalam praktik klinis. dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang bersama-sama. • Bila seorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik. Generalitas tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan. beberapa data menyatakan bahwa perilaku bunuh diri mungkin lebih sering pada wanita dengan gangguan skizoafektif daripada laki-laki dengan gangguan tersebut. .4 (Depresi Pasca-skizofrenia) Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoafektif berulang. tipe bipolar. menonjolnya gejala pskotik. tidak ada faktor pencetus.2). • Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyaki yang berbeda. perjalanan yang tidak mengalami remisi. baik berjenis manik (F25. Walaupun tampaknya tidak terdapat perbedaan yang berhubungan dengan jenis kelamin pada hasil akhir gangguan skizoafektif. Pasien yang diobati dengan steroid. mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan gangguan bipolar I dan bahwa pasien dengan t premorbid yang buruk. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS Sebagai suatu kelompok.1) atau campuran dari keduanya (F25. Pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau depresif (F30-F33) DIAGNOSIS BANDING Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan skizoafektif. Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok.depresif. Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif. psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. pasien dengan gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien dengan gangguan depresif.0) maupun depresif (F25.

Dan sebaliknya semakin persisten gejala2 gangguan afektifnya. dalam episode yang sama. pengembangan skill sosial dan berfokus pada rehabilitasi kognitif. episode manik. medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. depresif atau campuran keduanya. Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. digunakan kombinasi anti psikotik dengan anti depresan bila memenuhi kriteria diagnostik gangguan skizoafektif tipe depresif. medikasi. Jika protokol thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan gejala atas dasar berkelanjutan. KESIMPULAN Gangguan skizoafektif merupakan suatu gangguan jiwa yang gejala skizofrenia dan gejala afektif terjadi bersamaan dan sama-sama menonjol.TERAPI Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah sakit. khususnya wanita yang menikah. carbamazepine (Tegretol). harus diberikan percobaan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka diputuskan tidak responsif terhadap terapi antidepresan. Terapi dilakukan dengan melibatkan keluarga. atau dalam beberapa hari sesudah yang lain . harus mendapatkan percobaan lithium. tipe depresif. Prognosis bisa diperkirakan dengan melihat seberapa jauh menonjolnya gejala skizofrenianya . tipe bipolar. Pasien dengan gangguan skizoafektif. . Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan para wanita. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala2 definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan. usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki seperti juga pada skizofrenia. atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif. Semakin menonjol dan persisten gejala skizofrenianya maka pronosis nya buruk. Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang. Teori etiologi mengenai gangguan skizoafektif mencakup kausa genetik dan lingkungan. dan intervensi psikososial. baik yang tipe manik . Sedangkan apabila gangguan skizoafektif tipe manik terapi kombinasi yang diberikan adalah antara anti psokotik dengan mood stabilizer. Pasien dengan gangguan skizoafektif. Tanda dan gejala klinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala skizofrenia. dan gangguan depresif. atau gejala gangguan afektifnya. valproate (Depakene). prognosis diperkirakan akan lebih baik. Pada farmakoterapi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful