You are on page 1of 4

ALTERNATIF PENGENDALIAN HAMA SERANGGA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN LEBAK PENGENDALIAN ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN HAMA SAYURAN

DI LAHAN LEBAK
Muhammad Thamrin dan S. Asikin
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)

ABSTRAK Keliru dalam penggunaan insektisida sintetik dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan penggunanya. Penggunaan insektisida sintetik yang keliru dapat berdampak negatif terhadap lingkungan dan penggunanya. Di lahan lebak Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kalsel) banyak dibudidayakan tanaman sayuran seperti kacang panjang, bayam, terong, paria, gambas, lombok, sawi, petsai dan timun, namun banyak diserang oleh hama serangga antara lain lalat buah, ulat grayak, ulat jengkal, epilachna, kutu daun dan kumbang daun. Tanaman sayuran seperti kacang panjang, bayam, terong, paria, oyong, cabai, sawi, petai, dan mentimun banyak dibudidayakan di lahan lebak Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Kalsel). Tanaman tersebut banyak diserang oleh lalat buah, ulat grayak, ulat jengkal, Epilachna, kutudaun, dan kumbang daun. Untuk menanggulagi hama tersebut pada umumnya menggunakan insektisida sintetik, namun frekuensi dan dosisnya sangat tinggi. Insektisida sintetik umumnya digunakan untuk menanggulangi hama tersebut, namun frekuensi dan dosisnya sangat tinggi. Hal seperti ini harus dihindari atau setidaknya dikurangi dosis dan frekuensi penggunaannya. Penggunaan dosis dan frekuensi seperti ini seharusnya dihindari atau dikurangi. Salah satu cara mengurangi dosis dan frekuensi penggunaannya adalah mengkombinasikan insektisida sintetik dengan cara pengendalian lain terutama yang ramah lingkungan seperti melepaskan semut rangrang dan lalat tachinid, penggunaan methyl eugenol sebagai attraktan, pembungkusan buah, pengasapan dengan bahan tumbuhan, dan penggunaan insektisida nabati. Cara-cara pengendalian yang demikian ternyata dapat mengurangi tingkat kerusakan 10-15%. Salah satu cara mengurangi dosis dan frekuensi penggunaannya adalah mengombinasikan insektisida sintetik dengan cara pengendalian lain yang ramah lingkungan, seperti melepaskan semut rangrang dan lalat Tachinid, penggunaan Methyl eugenol sebagai atraktan, pembungkusan buah, pengasapan dengan bahan tumbuhan, dan penggunaan insektisida nabati. Cara-cara pengendalian yang demikian ternyata dapat mengurangi tingkat kerusakan 10% sampai 15%.
Kata Kunci : Pengendalian, Serangga sayuran, Ramah lingkungan, Lahan lebak

PENDAHULUAN Salah satu masalah dalam membudidayakan tanaman khususnya sayuran dan hortikultura baik di lahan tadah hujan/irigasi, lahan kering, lahan rawa pasang surut maupun rawa lebak adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yaitu serangan hama dan penyakit. Masalah dalam budidaya tanaman sayuran dan hortikultura di lahan tadah hujan atau irigasi, lahan kering, lahan rawa pasang surut, dan rawa lebak adalah serangan hama dan penyakit. Di lahan pasang surut ditemukan beberapa jenis hama potensial pada tanaman sayuran seperti hama perusak daun (ulat grayak, ulat jengkal, ulat pengorok daun serata hama perusak buah yaitu lalat buah). Beberapa jenis hama potensial pada tanaman sayuran ditemukan di lahan

dan disamping itu pula bahan kimia atau pestisida tersebut harganya cukup mahal. ulat jengkal. Tingkat kerusakan hama utama tersebut bervariasi antara 10%±25%. Alternatif pengendalian ramah lingkungan antara lain penggunaan bahan bioaktif (insektisida nabati. Kutudaun (Aphid sp. Penyakit yang sering merusak adalah penyakit busuk buah atau Antraknosa. dan lalat buah (Dacus sp. Akan tetapi apabila penggunaan bahan insektisida tersebut kurang bijaksana akan menimbulkan dampak negatif bagi flora maupun fauna serta lingkungan. Untuk penyakit yang sering merusakan adalah penyakit busuk buah yang disebabkan cendawan antraknose. Untuk penyakit yang sering merusakan adalah penyakit busuk buah yang disebabkan cendawan antraknose. lalat buah (Dacus cucurbitae). fauna. Pengendalian hama yang paling utama dilakukan petani adalah menggunakan pestisida. ulat pengorok daun) dan hama perusak buah (lalat buah). atraktan. ulat grayak (Spodoptera sp. Tanaman inangnya berasal dari famili Leguminoseae (Kalshoven 1981). ulat grayak (Spodoptera sp). ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites) dan lalat buah (Dacus sp). Penggunaan bahan insektisida yang kurang bijaksana akan menimbulkan dampak negatif bagi flora. repelen). tungau (Trips sp. penggerek pucuk (Crocidolomia binotlid) pada tanaman timun adalah kutu daun (Aphid gossypii). Kutudaun (Aphid gossypii). 2002/2003 telah terjadi ledakan hama (Diaphania indica). Jenis lalat (Agromyzidae: Diptera) yang menyerang dengan mengkorok daun dan bersifat folifag. lalat buah (Dacus sp). Pada MH. serta penggunaan perangkap berperekat. musuh alami (parasitoid dan predator serta patogen). ulat buah (Diaphania indica). Penelitian ini bertujuan menginformasikan komponen pengendalian hama dan penyakit yang berwawasan lingkungan. melaporkan bahwa ditemukan beberapa jenis hama sayuran seperti pada tanaman sawi adalah ulat grayak (Spodoptera litura). Tingkat kerusakan dari hama utama tersebut cukup bervariasi antara 10. ulat plutela (Plutela xylostella). Thamrin et al. attraktan.). 1981). tungau (Trips sp.al (2002). pada tanaman paria ulat pemakan daging buah dilahan rawa pasang surut dengan tingkat kerusakan dapat mencapai 80-100%. Penelian ini bertujuan untuk menginformasikan komponen pengendalian hama dan penyakit yang berwawasan lingkungan. Lalat pengorok daun (Agromyzidae: Diptera) yang bersifat polifag dapat menyerang lebih dari 70 jenis tanaman di seluruh dunia. Pengendalian hama yang paling utama dilakukan petani adalah penggunaan pestisida. lalat buah (Dacus sp. dan penggerek pucuk (Crocidolomia binotalis) pada tanaman sawi.).pasang surut seperti. ulat plutela (Plutela xylostella).). Untuk menunjang konsep PHT tersebut dalam rangka pengurangan penggunaan bahan insektisida perlu dicari alternatif pengendalian yang bersifat ramah lingkungan antara lain penggunaan bahan bioaktif (insektisida nabati. (2002) melaporkan bahwa ditemukan beberapa jenis hama sayuran seperti ulat grayak (Spodoptera litura). dan ulat buah (Diaphania indica) ditemukan pada tanaman timun. Menurut Thamrin et. dan lingkungan di samping harganya yang cukup mahal. Pada MH. Pada tanaman paria adalah kutu daun (Aphid sp.) ditemukan pada tanaman paria.). kumbang daun (Aulocophora similes). Alternatif pengendalian tersebut diperlukan untuk mengurangi penggunaan bahan insektisida yang menunjang konsep PHT.). Tanaman inangnya termasuk famili Leguminoseae (Kalshoven. patogen). hama perusak daun (ulat grayak. repelan). kumbang daun (Aulocophora similes).). yang diketahui dapat menyerang lebih dari 70 jenis tanaman di seluruh dunia. ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites). lalat buah (Dacus cucurbitae). 2002/2003 terjadi ledakan hama Diaphania indica pada tanaman paria di lahan rawa pasang surut sehingga mencapai tingkat kerusakan 80%±100%. serta penggunaan perangkap berperekat. musuh alami (parasitoid.25%. predator. .

4 ekor selama seminggu.6 bc 1. memiliki sifat morfologik sebagai pemangsa.3 b 4. (1999). Hal ini disebabkan oleh warna kuning pada plastik lebih kontras dan mengkilap sehingga lalat lebih tertarik dibandingkan dengan jenis perangkap kuning lainnya. sedangkan jenis perangkap kuning lainnya lebih rendah.3 bc Sumber : Nurdin et al. yang diberi perlakuan semut rangrang dimana intensitas kerusakan relatif jauh lebih rendah dibandingkan tanpa perlakuan. penggunaan perangkap kuning untuk pengendalian hama lalat korok daun di Indonesia perlu dikaji. Tabel 1.3 bc 3. sehingga mengakibatkan lebih melekatnya lebih awet atau lebih lama. Semut rangrang (Oecophylla smaragdina F) merupakan predator. MT. Menurut Nurdin et al. Perangkap warna kuning berperekat ini dapat mengurangi penggunaan insektisida. Oleh karena itu. (1999) Pemanfaatan Predator Rangrang (Oecophylla smaragdina F) pada lalat buah Pemanfaatan Predator Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina F) pada Lalat Buah Semut rangrang (Oecophylla smaragdina F).6 bc Karton warna kotoran kerbau 0. 1997. Populasi lalat dewasa yang terperangkap oleh perangkap plastik kuning dalam seminggu sebanyak 23.6 bc 2.6 bc Karton manila kuning pucat 2. Dan disamping itu pula plastik kuning tersebut lebih tahan terhadap hujan dan cahaya matahari. Lalat korok daun yang terperangkap pada berbagai jenis perangkap kuning. (1999) melaporkan bahwa perangkap kuning dari bahan plastik yang diolesi pelumas lebih efektif dibandingkan dengan jenis lainnya untuk mengendalikan lalat pengorok daun pada tanaman kentang (Tabel 1). Alahan Panjang. keberadaan rangrang sebagai pemangsa juga tampak apabila rangrang bertemu dengan ulat pemakan daun. Plastik kuning tersebut juga lebih tahan terhadap hujan dan cahaya matahari sehingga pelumas lebih awet atau lebih tahan lama.4 a Karton manila kuning 1. Populasi lalat dewasa yang terperangkap dalam plastik kuning sebanyak 23. Intensitas kerusakan tanaman paria yang . Keberadaan semut rangrang sebagai predator terlihat apabila bertemu dengan ulat pemakan daun. Tanaman paria yang diberi semut rangrang intensitas kerusakan berkisar antara 1-2% (Gambar 1). Intensitas kerusakan akibat lalat buah pada paria yang diberi perlakuan semut rangrang relatif lebih rendah dibandingkan dengan tanpa perlakuan. melaporkan bahwa perangkap kuning dari bahan plastik yang diolesi dengan pelumas lebih efektif mengendalikan lalat korok daun pada tanaman kentang dibanding jenis lainnya (Tabel 1).3 c 0.4 ekor.4 a 23. Jenis perangkap kuning Populasi lalat (ekor) Plastik kuning 23.3 b Kertas sampul batang padi 3.Komponen Alternatif Pengendalian hama sayuran Perangkap Warna Kuning Berperekat Dengan cara ini penggunaan insektisida dapat dikurangi. Hasil pengamatan intensitas kerusakan akibat lalat buah pada paria.3 c Kertas garsing 4. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh warna kuning pada plastik lebih kontras dan mengkilap sehingga lalat lebih tertarik dibandingkan jenis perangkap kuning lainnya. sedangkan jenis perangkap kuning lainnya lebih rendah. Nurdin et al.

karena dimakan dan sebagian dibawa kedalam sarang sebagai makanan anak-anaknya.diberi semut rangrang berkisar antara 1%±2% (Gambar 1). terutama telur lalat buah yang diletakkan pada paria tersebut. Hal ini dikarenakan rangrang sangat aktif mencari mangsa terutama dari lalat buah berupa telur yang diletakkan pada paria tersebut. sehingga tidak terjadi peletakkan telur. Telur-telur tersebut tidak sempat menetas menjadi larva. sehingga dapat menghindari dari peletakkan telur oleh imago lalat buah. Disamping itu. . karena diambil semua untuk dimakan dan sebagian dibawa kedalam sarang sebagai makanan anak-anaknya. semut rangrang tersebut kalau menggigit kebiasaannya selalu mengeluarkan cairan yang berbau langu. Telur-telur tersebut tidak sempat menetas untuk menjadi larva. Semut rangrang apabila menggigit selalu mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap. Hal ini terjadi karena semut rangrang sangat aktif mencari mangsa. Pengamatan secara visual dimana imago lalat buah yang hinggap pada tanaman paria tersebut selalu dihadang oleh rangrang dan diserbu beramai-ramai. Pengamatan visual memperlihatkan imago lalat buah yang hinggap pada tanaman paria tersebut selalu diserang oleh koloni semut rangrang.