LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN PENETAPAN KADAR C- ORGANIK

OLEH: NAMA NO.BP KELOMPOK REKAN KERJA : DESI RATNA KOMALA : 0910941014 : I (SATU) : 1. JULIANTO 2. ALDILLA AFIANI ALDA 3. RAHMI 4. WILDA UTAMI NURHUDA 5. ADRIAN ERMANDA 6. RAHMI PRATIWI ASISTEN: INDRIYANI ZULFA AJENG YANAROSANTI (0910941004) (0910942019) (0910942022) (0910942032) (0910942041) (0910942045)

HARI/TGL PRAKTIKUM : RABU/1 JUNI 2011

LABORATORIUM BUANGAN PADAT JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011 BAB I

1. Intensitas warna hijau yang terbentuk setara dengan kadar karbon dan dapat diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 561 nm. 1.2 Metoda Percobaan Metoda yang digunakan dalam praktikum ini adalah metoda spektrofotometri.1 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk menentukan kadar C organik dari suatu sampel sampah.PENDAHULUAN 1.3 Prinsip Percobaan Karbon sebagai senyawa organik akan mereduksi Cr6+ yang berwarna jingga menjadi Cr3+ yang berwarna hijau dalam suasana asam. BAB II TINJAUAN PUSTAKA .

Kandungan bahan organik pada masing-masing horizon merupakan petunjuk besarnya akumulasi bahan organik dalam keadaan lingkungan yang berbeda. Terhadap biologi tanah sebagai suplai energi untuk bahan organisme tanah. 5. 2010). Menambah keasaman / kebasaan tanah. . Terhadap fisika tanah bahan organik tanah membentuk struktur yang baik. biomassa mikroorganisme. Kandungan bahan organik ditentukan secara tidak langsung yaitu dengan mengalikan kadar C dengan suatu faktor yang umumnya sebagai berikut: kandungan bahan organik = C x 1. P. bahan organik tanah adalah semua senyawa organik yang terdapat dalam tanah. 3. 4. Komponen bahan organik yang penting adalah C dan N. Mempengaruhi cirri fisik tanah (mempengaruhi tekstur dan struktur). Bahan organik adalah bahan dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis yang bersumber dari sisa tanaman atau binatang yang terdapat dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk karena dipengaruhi faktor biologi. kimia dan fisika. Terhadap kimia tanah bahan organik sebagai sumber nutrisi tanah/sumber unsur hara dan terjadi kapasitas pertukaran kation yang tinggi. 3. Kandungan bahan organik merupakan salah satu indicator tingkat kesuburan tanah (Fandicka. Menurut Stevenson (1994). kelembapan dan temperatur tanah menjadi stabil. fraksi bahan organik ringan. Manfaat bahan organik (Fandicka. Meningkatkan daya menahan air sehingga drainase tidak berlebihan. Sumber unsur hara N. 4. Memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih remah. 5. Menambah kemampuan tanah untuk mengikat / menahan unsur hara. unsur mikro dan lain-lain. 2. Bila jumlah C organik dalam tanah dapat diketahui maka kandungan bahan organik tanah juga dapat dihitung.724. Pengaruh bahan organik tanah terhadap sifat tanah (Fandicka. bahan organik terlarut di dalam air. Menurunkan plastisitas. 2011). dan bahan organik yang stabil atau humus (Anonim A. Mempengaruhi warna tanah. termasuk serasah. S. 2011): 1. 2. 2011): 1. 6.

Dengan persediaan CO2 dalam udara sebesar 0. 2002). 2008). umunya bagian tanaman yang berwarna hijau dan terdapat di atas tanah. C organik tanah juga digunakan untuk menentukan dosis asam-asam organik dan apabila ditambahkan ke dalam tanah akan meningkatkan kandungan senyawa organik dalam tanah yang dicirikan dengan meningkatnya kadar C organik tanah (Darliana. Klorofil mampu manyerap energi cahaya (terutama sinar matahari) dan mengubahnya menjadi energi kimia. Di perkebunan teh Gambung. sumber utama CO2 di alam berasal dari dekomposisi bahan organik berupa sisa tanaman ataupun hewan dan dari respirasi invertebrata. Kadar CO2 dalam atmosfer relatif stabil.03% volume atau 0. Landegardh (1924) menyatakan bahwa (Mulyani.03%.28%. Di atas daun terdapat sekitar 0. bakteri serta fungi. sedangkan di tempat yang banyak tanamannya terdapat CO2 yang lebih besar dari 0.04-0.C organik penting untuk mikroorganisme tidak hanya sebagai unsur hara. 2. 2009). Energi tersebut digunakan untuk menghasilkan CO2 menjadi senyawa organik termasuk karbohidrat (Fauzi. Keperluan seluruh tanaman yang hidup diperkirakan sekitar 80 x 109 ton karbon pertahun. Di udara terbuka terdapat 0. Pada permukaan tanah terdapat sekitar 0. 1999): 1. C organik juga berhubungan dengan aktivitas enzim tanah. Kegiatan ini dilakukan oleh organ tanaman yang memiliki klorofil. 2008). tetapi juga sebagai pengkondisi sifat fisik tanah yang mempengaruhi karakteristik agregat dan air tanah. Tanaman mengambil unsur karbon berupa CO2 dari udara bebas (atmosfer). 3. . Satu meter di atas permukaan tanah terdapat sekitar 0. maka CO2 tersebut akan habis diserap tanaman dalam waktu beberapa dekade saja.07%. Kalau kehidupan tanaman terhenti. maka kehidupan tanaman akan terhenti.03% volume. maka kehidupan makhluk hidup lain termasuk manusia dan hewan mungkin juga terhenti (Fauzi. Berkat adanya daur yang menghasilkan CO2 maka kadar gas tersebut relatif stabil (Afandi. Seringkali ada hubungan langsung antara persentase C organik total dan karbon dari biomassa mikroba yang ditemukan dalam tanah pada zona iklim yang sama. Menurut Konova (1996).03% CO2. Tanpa adanya CO2 di udara.067%.053-0.57 mg/l udara. yakni 0.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengomposan salah satunya adalah rasio C/N. Jika C/N kompos yang diberikan ke dalam tanah terlalu tinggi mengakibatkan tanaman kekeurangan nitrogen (ISW. Pada tanah pasiran. Pemberian kompos dapat memperbaiki struktur tanah. Tetapi penggunaan kompos yang mutunya rendah dapat mengakibatkan kerusakan tanaman C/N yang terlalu tinggi atau karena ammonia yang dihasilkannya. Prinsip pembuatan kompos merupakan pencampuran bahan organik dengan mikroorganisme sebagai aktivator. 2009). Mikroorganisme tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber. Apabila rasio C/N terlalu tinggi. Kompos sangat berguna dalam memanfaatkan sampah organik (berasal dari benda hidup) menjadi material yang dapat menyuburkan tanah (pupuk kompos). Rasio ini digunakan untuk mengetahui apakah kompos sudah cukup ‘matang’ atau belum. mikroba akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat (Anonim C. .Pembuatan kompos (composting) dapat dijadikan jalan keluar dalam mengelola limbah. Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. aktivitas mikroorganisme di dalam tanah dan kesediaan unsur hara tanah. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Di dalam SNI rasio C/N kompos yang diijinkan adalah 10 – 20. Rasio C/N adalah salah satu parameter penting untuk mengetahui kualitas kompos. Kompos dapat meningkatkan kapasitas menahan air. sedangkan di dalam KepMenTan rasio C/N kompos yang diijinkan berkisar antara 20. 2007). 2010). Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. pemberian kompos dapat meningkatkan daya ikat partikel tanah sehingga strukturnya menjadi lemah. Mikroorganisme tersebut berfungsi dalam menjaga keseimbangan karbon (C) dan nitrogen (N) yang merupakan faktor penentu keberhasilan pembuatan kompos (Anonim B. Rasio C/N ini juga diatur di dalam SNI ataupun KepMenTan tentang kualitas kompos.

Oven. Labu ukur 100 ml.BAB III PROSEDUR PERCOBAAN 3. 4. 2.1 Alat dan Bahan 3. .1 Alat 1. 3. Neraca analitik. Desikator.1.

3. 12. Lalu diencerkan dengan aquades. Spektrofotometer. Kesokkan harinya diukur absorbansi larutan jernih menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 561 nm. 11. 3. 3. H2SO4 pekat 2. 6. 2. Pipet takar 5 ml. dibiarkan dingin dan diimpitkan. Ditimbang 1000 mg sampel sampah. setelah itu masukkan dalam desikator selama 15 menit.5 ml H2SO4 pekat. ditimbang dengan neraca analitik. Larutan standar 5000 ppm C. Cawan yang berisi sampel tersebut dipanaskan di dalam oven pada suhu 105 oC selama 1 jam. masukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Ditambahkan 5 ml Kalium Dikromat 1 N. Cawan kosong dipanaskan pada oven di suhu 105 oC selama 1 jam. dikocok lalu diamkan selama 30 menit. Bola hisap. Kalium Dikromat 1 N. 8. Ditambahkan 7.5. Gelas ukur 10 ml. Kuvet spektro.2.1 Menghitung Kadar Air 1.1. 4. 3. 4.2. lalu ditimbang. 3. lalu dikocok. 9. 7. Cawan penguap. Sampel sampah digerus hingga halus.1 Menghitung Kadar C-Organik 1. . 10. 2. 3.2 Bahan 1. setelah itu masukkan ke dalam desikator selama 15 menit. Spatula. Lumpang dan alu. Masukkan sampel yang sudah digerus tadi ke dalam cawan. lalu ditimbang.2 Cara Kerja 3.

3.1 Berat Cawan Praktikum Cawan kosong Cawan + sampel sebelum dipanaskan Cawan + sampel setelah dipanaskan Berat (gr) 55.3. 300. 1.489 63.3. Lakukan hal yang sama pada blangko. 100. dan 500 ppm dengan cara mengencerkan larutan induk 5000 ppm di dalam labu ukur 100 ml. Perhitungan 3.% kadar air) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.5.545 Tabel 4. Sebagai pembanding.1 Kadar Air (%) % Kadar Air = berat cawan isi (b) − berat cawan isi 105o C (x) × 100% berat cawan isi (b) − berat cawan kosong(a) 3.2 Kadar C-Organik (%) % Kadar C-Organik = ppm kurva x 0.1 x fk Dimana: Ppm kurva = kadar contoh yang didapat dari kurva hubungan antara kadar deret standar dengan pembacaan setelah dikoreksi blanko 100 fk = konversi ke % = faktor koreksi kadar air = 100 / (100 . 6. 200.1 Hasil Tabel 4. dibuat larutan standar dengan konsentrasi 0.388 61.2 Larutan Standar No 1 Konsentrasi (ppm) 0 Absorban 0 .

xi 0 100 yi 0 0.1.557 0. 2.200 0.200 xi.2 3 4 100 200 300 500 0. Larutan standar konsentrasi 300 ppm V1 ⋅ M1 V1  5000 ppm V1 = = 6 ml V2 ⋅ M2 = 100 ml ⋅ 300 ppm e.1 Pembuatan larutan standar a.yi 0 20 xi2 0 10000 .360 0. Larutan standar konsentrasi 100 ppm V1  M1 V1  5000 ppm V1 = = 2 ml V2 ⋅ M2 = 100 ml ⋅ 100 ppm c.582 Tabel 4.170 4.3 Larutan Sampel Konsentrasi x Absorban 0. Larutan standar konsentrasi 200 ppm V1 ⋅ M1 V1 ⋅ 5000 ppm V1 = = 4 ml V2 ⋅ M2 = 100 ml ⋅ 200 ppm d. Larutan standar konsentrasi 0 ppm V1 ⋅ M1 V1 ⋅ 5000 ppm V1 = V2 ⋅ M2 = 100 ml ⋅ 0 ppm = 0 ml (blangko) b. Larutan standar konsentrasi 500 ppm V1 ⋅ M1 V1  5000 ppm V1 = = 10 ml V2 ⋅ M2 = 100 ml ⋅ 500 ppm 4.2 Pembuatan kurva larutan standar No 1.1.

699390000-1100550.0012 .0777 + 0.0012x.582 ∑ yi= 1.1 2 40000 90000 250000 ∑ xi = 390000 Rumus Regresi Linear Kurva y = a + bx Keterangan: y = Nilai absorban x = Konsentrasi larutan (ppm) a = ΣyiΣxi2-ΣxiΣxiyinΣxi2-Σxi2 b = nΣxiyi-ΣxiΣyinΣxi2-Σxi2 Masukkan nilai x dan y ke dalam persamaan agar didapat nilai a dan b: a = 1. didapatkan persamaan y = 0.0777 + 0.170 = 0.0777 + 0.0923/0. 5.15390000-11002 a = 0.360 0.0777 b = 5 ( 550.1 291 ∑ xi.0012 Jadi.0012x = 0.0777 + 0.3.0012x = 0. maka dapat dihitung konsentrasi untuk sampel dengan absorbannya = 0.699 72 167. persamaan regresi linear kurvanya adalah: y = 0.1-11001.170-0.yi = 550.0012x 0.557 0.170.6995390000-11002 b = 0. 4.0012x Berikut grafik hubungan konsentrasi terhadap absorban yang telah dilakukan: Dari perhitungan rumus regresi linear dan kurva kalibrasi yang telah dibuat.0777 x = 0. yaitu: y 0. 200 300 500 ∑ xi = 1100 0.

63 = 12. Setelah pengenceran diperoleh nilai .9 ppm.489gr = 38.545gr × 100% 65. maka nilai konsentrasi tersebut dikalikan 10 sehingga konsentrasinya menjadi 769 ppm.53% 1.9 x 10 x = 769 ppm % Kadar air = Berat cawan isi awal (b) − Berat cawan isi akhir (c) × 100% Berat cawan isi awal (b) .55.38.388gr − 61.01 x 1.388gr .Berat cawan kosong(a) = 65. Pengenceran pada sampel dilakukan karena saat pengukuran dengan spektrofotometer nilai absorban sampel tidak terbaca secara pasti (error).x = 76.8 % Faktor koreksi = 100 100 − % Kadar air = 100 100 .8 = 1. Sampel ini diambil dari salah satu rumah praktikan yaitu di Pemondokan Cemara. Karena pada sampel dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali.1 Pembahasan Pada praktikum kali ini praktikan bersama rekan kerja melakukan praktikum mengenai penentuan kadar C organik dari sampel domestik dengan komposisi sampah yaitu sampah organik berupa sisa makanan (risoles). Setelah melakukan praktikum selama 2 hari didapatkan hasil perhitungan konsentrasi dari C organik pada sampel sebesar 76.63 Kadar C-Organik (%) = ppm kurva x 0.01 x fk = 769 ppm x 0.

maka nilai rasio C/N tidak dapat ditentukan. Berdasarkan tabel larutan standar nilai absorbansi sampel terletak pada konsentrasi 0 dan 100 ppm. Setelah nilai konsentrasi (ppm kurva) dan faktor koreksi diketahui.8-32%. Dalam tinjauan pustaka dijelaskan bahwa pengukuran kadar C organik bertujuan untuk mencari rasio C/N dalam pengomposan.absorbansinya sebesar 0. Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah ditetapkan bahwa persentase kadar C organik untuk pupuk organik adalah > 12 %. sehingga tidak dapat diketahui kualitas sampel untuk menghasilkan kompos yang baik. . Dari kedua peraturan tersebut dapat dikatakan bahwa kadar C organik pada sampel yang diuji masih berada di dalam range yang masih diperbolehkan untuk pengomposan. Berdasarkan SNI19-7030-2004 mengenai Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik.53%.170. Kemudian berdasarkan PerMenTan nomor 28 tahun 2009 tentang Pupuk Organik. maka diperoleh nilai kadar C organik pada sampel sebesar 12. persentase kadar C organik standar kualitas kompos yang diperbolehkan adalah antara 9. Namun karena dalam praktikum sampel hanya digunakan untuk mencari kadar C organik tanpa mencari kadar N.

1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dari bab sebelumnya. nilai kadar C organik pada sampel uji masih berada di dalam range yang masih diperbolehkan untuk pengomposan. Berhati – hatilah dalam menggunakan alat – alat praktikum. Bersihkan semua alat dengan aquades.2 Saran Adapun saran yang dapat praktikan berikan setelah melakukan praktikum Corganik adalah: 1. Memahami objek praktikumnya pada saat praktikum. . Mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan praktikum sebelum praktikum dimulai. Berdasarkan SNI 19-7030-2004 dan PerMenTan nomor 28 tahun 2009. 2.BAB V PENUTUP 5.53%. 3. sehingga nilai rasio C/N untuk pengomposan tidak dapat diketahui. agar tidak timbul reaksi-reaksi yang tidak diinginkan. 5. praktikan hanya menghitung nilai kadar C organik saja tanpa menghitung nilai N pada sampel. 5. Teliti dalam melakukan praktikum. Persentase kadar C organik pada sampel uji adalah 12. Dalam praktikum. dapat praktikan simpulkan sebagai berikut: 1. 2. 4.

Yogyakarta: Kanisus Anonim A.or. M. Tugas Akhir. Tanngal akses: 30 Mei 2011 Fauzi.blogspot. 1999. Pengaruh Jenis Bokashi Terhadap C Organik. http://journal-iptek. Ilmu Kesuburan Tanah.html. Ahmad. 2010. DAFTAR PUSTAKA Afandi. 2002. 2011. R. Pemanfaatan Sampah Organik Sebagai Bahan Dasar Kompos.html.6. Analisa Kadar Unsur Hara Karbon Organik dan Nitrogen di Dalam Tanah Perkebunan Kelapa Sawit Bengkalis Riau. Tanggal akses: 31 Mei 2011 Anonim C. Tanggal akses: 31 Mei 2011 Darliana.or. Pupuk dan Cara Pemupukkan. Jakarta: Rineka Cipta . C/N Rasio. http://fandicka. Tanggal akses: 31 Mei 2011 Anonim B.com/2011/03/28/penetapan-c-organik-dankebutuhan-kapur.id. Pemanfaatan Kompos Sampah Pasar Untuk Budidaya Sawit Organik. 2008. Medan ISW.org.blogspot. Tanggal akses: 31 Mei 2011 Mulyani. Sebaiknya alat-alat yang akan digunakan dicek terlebih dahulu apakah masih dalam kondisi yang baik untuk digunakan. Tanggal akses: 31 Mei 2011 Fandicka. 2010. Sampah Kota yang Mengandung Karbon Organik. http://wetrywriter.com/2009/07/cnrasio.blogspot. 2009.com/2007/04/pemanfaatan-sampah-organiksebagai. http://damandiri. http://p4tkipa. 2007. http://bitra.id. Penetapan C Organik dan Kebutuhan Kapur Dalam Tanah. 2009.html. USU.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful