P. 1
Makalah Alsin Pasca (Heat Trasfer Utk Alat Pengering

Makalah Alsin Pasca (Heat Trasfer Utk Alat Pengering

|Views: 723|Likes:
Published by Sony Andre

More info:

Published by: Sony Andre on Jun 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/20/2013

pdf

text

original

MAKALAH MATA KULIAH ALSIN PASCA PANEN

ANALISA PERPINDAHAN PANAS PADA MODEL ALAT PENGERING

OLEH :

- Sony Andre Pratikto - Albert - Nelli Susanti - Meiman - Reynold

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2011

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Indonesia sebagai Negara kepulauan terletak didaerah tropis yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Pada hasil pertanian di indonesia banyak dipengaruhi oleh cuaca dan kondisi alam yang sulit diprediksi oleh banyak pihak. Hal ini menyebabkan banyak produk petani mendapatkan hasil yang tidak bagus, yang akhirnya dapat menurunkan pendapatan para petani. Berbagai hasil pertanian hanya akan dapat bertahan lama bila dilakukan proses pengawetan. Salah satu proses pengawetan yang umum digunakan adalah dengan cara pengeringan. Sistim pengering dengan menggunakan energi matahari secara tradisional dengan cara penjemuran di alam terbuka dibawah sinar matahari dimana bahan yang akan dikeringkan diserakkan/dihamparkan dilantai semen atau diatas tikar telah lama digunakan. Dewasa ini sistim pengering tenaga matahari dengan menggunakan kolektor terus dikembangkan.Kelebihan alat ini adalah bahan yang dikeringkan ketika hujan dan malam tiba tidak perlu dipindahkan.Kekurangannya adalah tergantung cuaca, temperatur pengeringan tidak konstan dan sulit dikontrol. Peralatan pengeringan dengan energi pemanas listrik biasanya digunakan untuk pengeringan pakaian, kertas dan pada industri tertentu.Kelebihannya adalah praktis dan kekurangannya adalah mahal. Selain pengeringan dengan sistem tersebut diatas, pengeringan dapat dilakukan dengan bantuan alat pengering mekanis.penegringan secara mekanik meggunakan peralatan dan sumber energi dengan bantuan energi minyak, gas atau bahan bakar lainnya. Kelebihan alat ini dapat di operasikan tanpa hambatan iklim tetapi kekurangan dengan menggunakan energi bahan bakar yaitu objek pengeringan/pengasapan yang bersentuhan langsung dengan gas asap pembakaran sering terpolusi bau gas asap, karena bahan bakar yang tidak habis terbakar. Atas dasar permasalahan tersebut diatas, diperlukan pengkajian suatu model tepat guna yang akan digunakan untuk pengeringan hasil pertanian. Pengkajian lebih lanjut terhadap karakteristik distribusi temperatur dan pola aliran fluida pengering/pengasapan untuk mendapatkan sistem dan peralatan pengering/pengasapan dalam arti teknologi

. mudah dioperasikan dan dapat digunakan untuk berbagai macam pengeringan/pengasapan.relatif murah.2 Tujuan Tujuan makalah adalah untuk mengetahui karakteristik perpindahan panas dan pola aliran fluida pada ruang sistim pengering/pengasapan hasil pertanian dengan energi panas dari bahan bakar. 1. dengan diketahuinya karakteristik perpindahan panas akan diperoleh peralatan yang optimum Serta terciptanya suatu alat pengering/pengasapan untuk mengeringkan hasil-hasil pertanian.

Berdasarkan kemampuan kemudahannya menghantarkan kalor. dsb. zat dapat dibagi menjadi : konduktor yang mudah dalam menghantarkan kalor dan isolator yang lebih sulit dalam menghan tarkan kalor. y II. contoh : zat padat (logam) yang dipanaskan.1 Proses Perpindahan Panas Konveksi Alamiah dan Peralatan Pengering Prinsip dasar proses pengeringan adalah terjadinya pengurangan kadar air atau penguapan kadar air oleh udara karena perbedaan kandungan uap air antara udara sekeliling dan bahan yang dikeringkan. . Pada saat proses pengeringan. Konduksi 2. proses perpindahan massa uap air atau pengalihan kelembapan dari permukaan bahan kesekeliling udara. akan berlangsung beberapa proses yaitu: y Proses perpindahan massa. Konveksi 3. kain. Proses perpindahan panas. Contoh konduktor adalah aluminium.II. TINJAUAN PUSTAKA II. logam besi. Penguapan ini terjadi karena kandungan air diudara mempunyai kelembapan yang cukup rendah. akibat penambahan (perpindahan) energi panas terjadilah proses penguapan air dari dalam bahan ke permukaan bahan atau proses perubahan fasa cair menjadi fasa uap. Radiasi 1. kayu.2 Perpindahan Kalor Perpindahan kalor dapat dilakukan dengan 3 cara. yaitu : 1. sedangkan contoh isolator adalah plastik. dll. Konduksi KonduksiAdalah proses perpindahan kalor yang terjadi tanpa disertai dengan perpin dahan partikel-partikel dalam zat itu.

pengering rambut. yaitu konveksi alamiah dan konveksi paksa. dsb. air yang dipanaskan dalam panci. sedangkan pada konveksi paksa terjadinya pergerakan fluida karena ada paksaan dari luar. Pada konveksi alamiah pergerakan fluida terjadi karena perbedaan massa jenis. Contoh konveksi alamiah : nyala lilin akan menimbulkan konveksi udara disekitarnya.Besar kalor yang mengalir per satuan waktu pada proses konduksi ini tergantung pada: o o o Berbanding lurus dengan luas penampang batang Berbanding lurus dengan selisih suhu dengan kedua ujung batang. Konveksi Konveksi Adalah proses perpindahan kalor yang terjadi yang disertai dengan perpindahan pergerakan fluida itu sendiri. dsb. Contoh konveksi paksa : sistim pendingin mobil. terjadinya angin laut dan angin darat. Ada 2 jenis konveksi. . kipas angin. dan Berbanding terbalik dengan panjang batang Secara matematis pernyataan diatas dapat ditulis dengan : Q/t = banyaknya kalor yang melalui dinding batang selama selang waktu t ± J/s k = konduktivitas thermal ± W/mK A = luas penampang batang ± m2 d = panjang batang ± m T = perbedaan suhu kedua ujung batang ± K 2.

contoh : cahaya matahari. gelombang TV. gelombang radio. dsb.67 x 10 8 W/m2K4 A = luas permukaan benda ± m2 .Besar laju kalor ketika sebuah benda panas memindahkan kalor ke fluida di sekitarnya adalah berbanding lurus dengan luas permukaan benda yang bersentuhan dengan fluida dan perbedaan suhu antara benda dengan fluida. Berdasarkan hasil eksperimen besarnya laju kalor radiasi tergantung pada : luas permukaan benda dan suhu mutlak benda seperti dinyatakan dalam hukum StefanBoltzman berikut ini : Energi yang dipancarkan oleh suatu permukaan benda hitam dalam bentuk radiasi kalor tiap satuan waktu sebanding dengan luas permukaan benda (A) dan sebanding dengan pangkat empat suhu mutlak permukaan benda itu. Radiasi Radiasi Adalah perpindahan kalor dala m bentuk gelombang elektromagnetik.se cara matematis persamaan di atas dapat ditulis : Q/t = laju aliran kalor secara radiasi ± Watt (sigma) = tetapan Stefan -Boltzman = 5. Secara matematis persamaan tersebut dapat ditulis : Q/t = laju aliran kalor secara konveksi ± Watt H = koefisien konveksi ± W/m2K A = luas penampang permukaan benda ± m2 T = perbedaan suhu antara benda dengan fluida ± K 3.

Karena merupakan energi maka berlaku prinsip kekekalan energi yaitu bahwa semua bentuk energi adalah ekivalen (setara) dan ketika sej umlah energi hilang. Kekekalan energi pada pertukaran kalor pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Inggris Joseph Black dengan pernyataan : kalor yang dilepaskan o leh air panas (Qlepas) sama dengan kalor yang diterima air dingin (Q terima). dsb.Teori ini juga menyatakan bahwa benda yang suhunya tinggi mengandung lebih banyak kalor dari pada benda yang suhunya rendah. benda yang suhunya tinggi akan kehilangan sebagian kalor yang diberikan kepada benda bersuhu rendah. efek rumah kaca. Secara matematis pernyataan tersebut dapat ditulis dengan : . Akhirnya para ilmuwan mengetahui bahwa kalor sebenarnya merupakan ssalah satu bentuk energi.Teori ini diperkena lkan oleh Antoine Lavoiser. Azas Black Teori kalorik menyatakan bahwa setiap benda mengandung sejenis zat alir (kalorik) yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Ketika kedua benda disentuhkan. radiasi dimanfaatkan dalam : pendiangan rumah. panel surya.T = suhu permukaan benda ± K4 e = koefisien emisivitas benda Dalam kehidupan sehari -hari. proses selalu disertai dengan munculnya sejumlah energi yang sama dalam bentuk lainnya.

Thermometer Pada perancangan model alat pengering ini perlu digunakan bahan dasar untuk pembuatannya.1 Bagian-bagian model alat pengering Keterangan : 1. Cerobong 2. Ruang pengering 4. PEMBAHASAN Gambar 2. bahan pelat seng. bahan bakar dan bahan penyambungan. Saluran awal 8. bahan penyekat panas. Rak pengering 6. Adapun bahan-bahan yang diperlukan adalah .III. Ruang pembakaran 5. Jendela pengarah 7. Dinding 3.

Dimana plat seng digunakan dalam perancangan ini dengan ukuran 1580 x 870 mm.III.2 W/m ºC. (Tabel Konduktivitas thermal pada seng dapat dilihat pada lampiran). Dengan paduan ini dapat menghasilkan paduan coran berbentuk rumit.Juga pekerjaan yang rumit dan berdinding tipis dapat dengan baik dibuatnya. tetapi seng memberikan permukaan yang sangat bagus. ‡ Massa jenis seng : 7140 kg/m3 ‡ Titik Lebur seng : 419 C 0 Sifat ± sifat mekanisnya tidak begitu baik. yang umumnya dipakai untk penggunaan yang praktis dan perhiasan pada komponen mobil. tetapi titik cairnya juga rendah 419°C dan hampir tidak rusak diudara biasa. yaitu 112. Bahan ini pelat seng ini dipilih sebagai bahan dasar pembuatan karena merupakan alat penghantar panas yang baik dan harganya relatif lebih murah untuk menghemat dana. perkakas listrik untuk dapur.1 Bahan Pelat Seng (Zn) Pelat seng yang digunakan sebagai bahan alat model pengering ini adalah jenis pelat seng rata dengan tebal pelat 1 mm. Gambar 2.Kekuatannya rendah. pegangan untuk mesin-mesin kantor dan sebagainya. Seng adalah logam yang kedua setelah Cu yang diproduksi secara besar sebagai logam bukan besi. yang dipergunakan untuk pelapisan pada besi. Paduan 4%Al-1%Cu-Mg-Zn terutama dipergunakan untuk pengecoran cetak.Juga dipergunakan sebagai bahan pelat batere kering dan untuk keperluan percetakan. umur pakai dari matres ± matres tuang semprot sangat panjang. Lebih dari setengah dari produksi tuang .2 pelat Seng Pelat seng ini memiliki konduktifitas thermal yang cukup tinggi. dan dapat dikerjakan dengan kecepatan produksi yang tinggi.

2 Bahan Isolasi (Bahan Penyekat) Pada perancangan alat pengering digunakan triplek sebagai bahan penyekat panas.048 W/m o C) dan tidak terlalu berat untuk dipasangkan pada sisi-sisi dinding alat pengering. seng a merupakan paduan ringan. Bahan penyekat panas harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. III. ‡ Bahan isolasi (penyekat) panas. pengisap debu. tebal 3 mm. Dengan ukuran 540 mm x 870 mm. Koefisien panas harus rendah b. dan selubung baterai. ‡ Bahan isolasi (penyekat) listrik. karena bahan penyekat triplek memiliki konduktivitas yang cukup (0. tombol pintu dan sebagainya ). seng mudah dpakai. Contoh-contoh selanjutnya : siku ± siku bagian mesin cuci. aparatur foto. Sebagai bahan murni seng banyak dipakai dalam bentuk pelat. Daya tahan lembab (air) yang baik c.Bahan isolasi dibedakan menjadi beberapa bahan (penyekat) sebagai berikut. untuk talang atap. ‡ Bahan isolasi (penyekat) getaran. Suatu sifat lain dari seng ialah. mesin tik. penutup atap.semprot seng dipakai di industri mobil ( seperti pompa bensin.karena seng itu mudah untuk disolder atau dipatri. yang artinya yang tidak mengantar. dengan 4 % alumunium dan 1 % tembaga. Selanjutnya seng itu sebanyak 20 ± 30 % dipakai sebagai unsur paduan di dalam logam ± logam lain. Penyekat panas ini diletakkan di bagian samping kiri dan kanan alat pengering. panel instrumen. Bahan isolasi adalah bahan yang menyekat. termasuk dalam proses pembuatan Alat Pengering Kunyit dan lain ± lain. Alat penyekat ini digunakan agar panas yang dihasilkan dari pembakaran tidak terbuang. Daya tahan suhu yang tinggi d. ‡ Bahan isolasi (penyekat) suara. Untuk penerapan sebagai tutup atap. . bahwa ia merupakan bahan tuang yang baik sekali : terutam untuk penuangan. Massa jenis rendah.

Gambar 2.3 S = 0.3 Bahan Bakar Bahan bakar terbagi atas tiga jenis diantaranya. tebal 3 mm.3 . bahan bakar gas.4 Bahan penyekat panas Triplek pada sisi bagian belakang III.8 % H2= 6.6 N 2 = 1. bahan bakar pa dat. Pada proses pengeringan ini bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar batu bara jenis briket.0 O 2= 29. bahan bakar cair. Gambar 2.3 Bahan Penyekat Panas Triplek pada sisi kiri dan kanan Untuk bahan penyekat pada bagian belakang alat pengering dibutuhkan triplek dengan ukuran 500 mm x 870 mm. Dengan komposisi Carbon = 58.

1) Briket dibuat dari batu bara halus. Dalam benda padat perpindahan panas timbul karena gerakan antar atom pada temperatur yang tinggi. lalu ditempa dalam cetakan. . III. Dengankata lain. Analisis perubahannya dan perancangannya melibatkan konveksi dan konduksi. sehingga atom-atom tersebut dapat memindahkan panas.0 (Komposisi bahan briket ini dapat dilihat pada table 3. alat pemindah panas di industrui.Didalam cairan atau gas.5 Mekanisme Perpindahan Kalor Mekanisme Perpindahan Kalor dibagi menjadi tiga . pemanasan sampai 80 . butir halus itu berturut-turut diberi pengerjaan sebagai berikut: pengeringan. Alat pemindah panas tersebut adalah panas penukar (Heat Exchanger = HE). yaitu : ‡ Perpindahan Kalor Konduksi ‡ Perpindahan Kalor Konveksi ‡ Perpindahan Kalor Radiasi a. Briket ini sesuai pula dipakai untuk keperluan rumah tangga. terutama industri proses. panas dihantar oleh tumbukan antar molekul.Ash = 7.penukar panas dibedakan beberapa jenis yaitu : ‡ HE untuk memanasi ( contoh pemanas = heater) ‡ HE untuk mendinginkan ( contoh pendingin = cooler ) ‡ HE untuk menguapkan ( contoh penguap = evaporator. pencampuran dengan pek.90°C. Perpindahan Kalor Konduksi Adanya gradient temperatur akan terjadi perpindahan panas. ketel uap = boiler) ‡ HE untuk mengembunkan ( contoh pengembun = condensor) Di dalam HE selalu melibatkan dua fluida melalui batasan dibawah ini : y Fluida pendingin dan yang didinginkan ‡ Fluida pemanas dan yang dipanaskan III. kebanyakan hanya melibatkan peristiwa konduksi dan konveksi.4 Alat Perpindahan Kalor Pemindah panas yang khas adalah alat yang dapat memindahkan panas atau energi dari suatu fluida ke fluida yang lain melalui suatu permukaam yang padat.

Perpindahan panas konveksi dibedakan menjadi dua yaitu konveksi bebas dan konveksi paksa.Persamaan Dasar Konduksi : q = -k A dX/dT Keterangan : q = laju perpindahan panas k = konduktifitas termal A = luas penampang b.6 Konveksi Paksa Adapun persamaan dasar konveksi. Gambar 2. adalah : TW> T ’ q = h A (Tw ± T) ’ .5 Perpindahan Panas Konveksi Pada konveksi pelat akan mendingin lebih cepat Gambar 2. Perpindahan Kalor Konveksi Perpindahan panas terjadi secara konveksi dari pelat ke sekeliling atau sebaliknya.

sedang panas sensible adalah panas yang berkaitan dengan kenaikan atau penurunan temperatur tanpa perubahan fasa.Keterangan : q = laju perpindahan panas h = koefisien perpindahan panas konveksi A= luas permukaan Tw = temperatur dinding T’= temperatur sekeliling Prinsip Perpindahan kalor Secara Konveksi Panas yang dipindahkan pada peristiwa konveksi dapat berupa panas laten dan panas sensible. diperhitungkan sebagai panas. Konveksi & Radiasi Gambar 2.T2= temperatur permukaan Gabungan Konduksi. c. Konduksi. Dan Radiasi . Persamaan Dasar Radiasi : q = A (T14-T24) Keterangan : q = laju perpindahan panas A = luas permukaan = tetapan Stefan boltzman T1.waktu.7 Gabungan Konveksi. Panas laten adalah panas yang menyertai proses perubahan fasa. Perpindahan Kalor Radiasi Perpindahan panas oleh perjalanan foton yang tak terorganisasi. Setiap bendabenda terus-menerus memancarkan foton secara serampangan didalam arah. dan energi netto yang dipindahkan oleh foton tersebut.

akan berlangsung beberapa proses yaitu: .Proses perpindahan panas. akibat penambahan (perpindahan) energi panas terjadilah proses penguapan air dari dalam bahan ke permukaan bahan atau proses perubahan fasa cair menjadi fasa uap. Pada saat proses pengeringan. gerakan partikel fluida dalam aliran turbulen berbentuk zig-zag dan tidak teratur.perbedaan tekanan ini meneyebabkan terjadinya aliran uap air dari bahan keudara luar.Sebagai kebalikan dari gerakan laminar. .Udara panas didalam lemari pengering mempunyai densitas yang lebih kecil dari udara panas diruang pembakaran sehingga terjadi aliran udara. maka terjadi perpindahan panas konveksi alamiah didalam alat pengering. 6 Proses Perpindahan Panas Konveksi Alamiah dan Peralatan Pengering Prinsip dasar proses pengeringan adalah terjadinya pengurangan kadar air atau penguapan kadar air oleh udara karena perbedaan kandungan uap air antara udara sekeliling dan bahan yang dikeringkan. aliran dari garis aliran (streamline) bergerak dalam lapisan-lapisan.Proses perpindahan massa. maka perpindahan panas terjadi dengan .Makin panas udara yang dihembuskan mengelilingi bahan.Kedua jenis aliran ini memberikan pengaruh yang besar terhadap perpindahan panas konveksi. Penguapan ini terjadi karena kandungan air diudara mempunyai kelembapan yang cukup rendah. Energi panas yang berasal dari hasil pembakaran menyebabkan naiknya temperature ruang pembakaran. Bila suatu fluida mengalir secrara laminar sepanjang suatu permukaan yang mempunyai suhu berbeda dengan suhu fluida. Kedua proses tersebut diatas dilakukan dengan cara menurunkan Kelembapan relatif udara dengan mengalirkan udara panas disekeliling bahan sehingga tekanan uap air bahan lebih besar dari tekanan uap air di udara sekeliling bahan yang di keringkan. proses perpindahan massa uap air atau pengalihan kelembapan dari permukaan bahan kesekeliling udara.Dalam aliran laminar. Cara perpindahan panas konveksi erat kaitannya dengan gerakan atau aliran fluida.III.Partikel fluida tersebut tetap pada urutan yang teratur tanpa saling mendahului.Salah satu segi analisa yang paling penting adalah mengetahui apakah aliran fluida tersebut laminar atau turbulen. Untuk meningkatkan perbedaantekanan udara antara permukaan bahan dengan udara sekelilingnya dapat dilakukan dengan memanaskan udara yang dihembuskan ke bahan.Karena adanya perbedaan temperatur antara ruang pembakaran dengan lemari pengering. maka banyak pula uap air yang dapat di ttarik oleh udara panas pengering. dengan masing-masing partikel fluida mengikuti lintasan yang lancar serta malar (kontiniu).

Karena itu. Partikel-partikel iniberperan sebagai pembawa energy dan memindahkan energi dengan cara bercampur dengan partikel fluida tersebut. Setelah kiat melakukan neraca energi terhadap sistem aliran itu. kenaikan laju pencampuran (atau turbulensi) akan juga menaikkan laju perpindahan panas dengan cara konveksi Untuk menganalisa distribusi temperatur dan laju perpindahan panas pada peralatan pngeringan. yaitu angka Grashof Gr yang peranannya sama dengan peranan angka Reynolds dalam sistem konveksi paksa.A. diperlukan neraca energi disamping analisis dinamika fluida dan analisi lapisan batas yang terjadi. dan kita tentukan pengaruh aliran itu tehadap beda temperatur dalam fluida maka distribusi temperature dan laju perpindahan panas dari permukaan yang dipanaskan ke fluida yang ada diatasnya dapat diketahui. = 1/T. Sebaliknya dalam aliran turbulen mekanisme konduksi diubah dan dibantu oleh banyak sekali pusaran-pusaran (eddies) yang membawa gumpalan fluida melintasi garis aliran. Keseimbangan energi panas dapat dilihat dalam rumusan berikut: Qudout = mudCpdT = Qin = mairLHair Perpindahn panas konveksi dinyatakan dalam bentuk: Qkonveksi = hc. Pr . Gr = Dimana koefisien muai volume dinyatakan dalam bentuk fungsi: = = C (Gr Pr ) m untuk gas ideal.Dt Pada sistem konveksi bebas dikenal suatu variable tak berdimensi baru yang sangat penting dalam penyelesaian semua persoalan konveksi alami.konduksi molekulardalam fluida maupun bidang antara (interface) fluida dan permukaan. Koefisien perpindahan panas konveksi bebas rata-rata untuk berbagai situasi dapat dimana subscrip f menunjukkan bahwa semua sifat-sifat fisik harus di evaluasi pada suhu film. didefinisikan sebagai perbandingan antara gaya apung dengan gaya viskositas di dalam sistem aliran konveksi alami. T = Produk perkalian antara angka grashof dan angka prandtl disebut angka Rayleigh: Ra = Gr .

.T’)«««(JP.25 (Tw . hal 302) Dimana: c dan m = konstanta (lihat pada table 3.Holman: perpindahan panas.Archiie.(JP.III.8 Nilai kalor bahan bakar Nilai kalor atas (High Heating Value. HHV) merupakan nilai kalor yang diperoleh secara experimen menggunakan kalorimeter dimana hasil pembakaran bahan bakar didinginkan sampai suhu kamar sehingga sebagian uap air yang terbentuk dari pembakaran hidrogen mengembun dan melepaskan panas latennya.. Prinsip-prinsip Konversi energy. sehingga: NuL = C (GrL PrL) «««. hal 312) Dimana: Tw = suhu dinding rata-rata (K) T’ = suhu udara rata-rata (K) III..7 Konveksi Bebas pada Pelat Horizontal Untuk permukaan vertical angka nussel dan grashof diberi bentuk dengan L. Besarnya nilai kalor atas (HHV) bahan bakar dapat dihitung dengan rumus Dulong sebagai berikut: HHV = 33950 C + 144200 + 9400 S(kJ/kg) (Cup.Holman. perpindahan panas.2) GrL PrL= angka grasof dan prandil Sedangkan untuk menghitung Gr L PrLadalah: Gr L PrL = Dimana: G = grafitasi (m/s) = konstanta T = beda temperatur L = panjang permukaan (m) V = kecepatan aliran (m /s) Untuk dievaluasi dari Te 2 m Te = Tw ± 0. W. hal : 46) dimana: HHV = Nilai kalor atas (kJ/kg) C = Persentase karbon dalam bahan bakar .

hal : 46) dimana: LHV = Nilai kalor bawah (kJ/kg) M = Kandungan air dalam bahan bakar (moisture) Perbandingan energi yang dibutuhkan untuk mengkeringkan kunyit hingga kadar air 8% dengan energi yang dihasilkan oleh bahan bakar disebut effesiensi thermal bahan bakar. yang berarti bahwa setiap satu satuan bahan bakar 0. Dan dapat dihitung dengan rumus dibawah ini : Dimana : q = Energi yang dibutuhkan untuk mengeringkan kunyit (kJ) m = massa bahan bakar (kg) Sedangkan untuk menghitung massa bahan bakar adalah : 3 n = Banyak bahan bakar m = massa bahan bakar (kg) Energi yang dibutuhkan kunyit (kJ) .H2 = Persentase hidrogen dalam bahan bakar O2 = Persentase oksigen dalam bahan bakar S = Persentase sulfur dalam bahan bakar Nilai kalor bawah (Low Heating Value. Pada proses pembakaran sempurna air yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar adalah setengah dari jumlah mol hidrogennya. LHV) merupakan nilai kalor bahan bakar tanpa panas laten yang berasal dari pengembunan uap air.Archiie.15 bagian merupakan hidrogen. Prinsip-prinsip Konversi energy. Panas laten pengkondensasian uap air pada tekanan parsial 20 kN/m . Selain berasal dari pembakaran hidrogen. W. Umumnya kandungan hidrogen dalam bahan bakar berkisar 15 %. uap air yang terbentuk pada proses pembakaran dapat berasal dari kandungan air yang memang sudah ada dalam bahan bakar (moisture). . Sehingga besarnya nilai kalor bawah dapat dihitung dengan rumus berikut: LHV = HHV .2400 ( M + 9 H2 ) (kJ/kg) Cup.

Dimana : Hl = Kalor laten (2257 kJ/kg) mkb = Massa kunyit sebelum pengeringan (kg) mka = Massa kunyit sesudah pengeringan (kg) .

KOMENTAR : Pada jurnal ini menjelaskan tentang analisis bahan untuk alat pengering tipe rak.Namun pembahasan mengenai laju perpindahan panas kurang lengkap sehingga sedikit menyulitkan dalam pencarian literatur. mudah dioperasikan dan dapat digunakan untuk berbagai macam pengeringan/pengasapan. teknologi relatif murah. Pengkajian terhadap karakteristik distribusi temperatur pengering tersebut dengan diketahuinya karakteristik perpindahan panas maka akan diperoleh peralatan yang optimum. . Dengan adanya pengkajian suatu model tepat guna yang akan digunakan untuk pengeringan hasil pertanian.Untuk pengeringan dengan alat ini sangat baik karena bahan dan komponen yang mudah didapat dan relatif murah serta pengoperasian alat yang tidak sulit. PENUTUP KESIMPULAN Semakin tinggi suhu dan tekanan ruang pengering maka koefisien perpindahan panas konveksi dan koefisien laju pengeringan cenderung meningkat.IV.

Rachmawan. 1974. 2001.DAFTAR PUSTAKA Brooker. . Obin. Canadian Agricultural Engineering. Drying and Storage of Grains and Oilseeds. USA. 1973. Watson. E. Kreith. Amalendu. Departemen Pendidikan Nasional. Chakraverty. Principles or Heat Transfer. dan V. Enfield. Van Nostrand Reinhold. Pengeringan. 1992. Pendinginan. Donald B. Bhargava. dan Pengemasan Komoditas Pertanian. dan Carl W Hall. K.Harper and Row Publisher. Thin Layer Drying Studies on Wheat. New York. Postharvest Technology. 2001.Inc. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan. Jakarta.. F. Inc.Vol 16 (1).. Fred W Bakker-Arkema. New York. L. Science Publisher.

ºC ) Luas permukaan perpindahan panas konveksi ( m² ) Beda temperature antara fluida dan permukaan padat ( ºC ) Angka dari hasil penelitian Angka Reynold Bilangan hasil penelitian Bilangan hasil penelitian Angka Prantl Konduktivitas thermal ( W/m.ºC ) Beda temperatur udara masuk dan keluar alat pengering ( ºC ) Energi yang dibutuhkan untuk menguapkan kadar air di dalam bahan yang dikeringkan ( W ) Massa kadar air yang dikeringkan ( Kg/s ) Panas laten penguapan air ( J/kg.ºC ) Laju perpindahan panas konveksi ( W ) Koefisien perpindahan panas konveksi ( W/m².ºC ) Kecepatan udara ( m/s ) Perpindahan panas konveksi ( W ) Perpindahan panas rata-rata ( W ) Beda temperature = TTw ( ºC ) Koefisien Ekspansi thermal Volumetrik ( K ) Percepatan gravitasi ( m²/s ) Massa jenis ( Kg/m³ ) Viskositas ( Kg/s.m ) Panjang karakteristik ( m ) Angka Nusselt Viskositas kinematik ( m²/s ) Angka Reyleigh Angka Grashof Posisi local terhadap koordinat x Difusifitas thermal ( m²/s ) Angka Boussinesg Ketinggian Sudut koordinat ( rad ) Kadar air berdasarkan dry basis ( % ) Berat bahan sebelum pengeringan ( kg ) Berat bahan setelah pengeringan ( kg ) Kadar air bahan berdasarkan wet basis ( % ) .DAFTAR ISTILAH Satuan out udQ udm pC = dT = inair Q = airm = airLh = konveksiQ= hc = A= dT = C= Re = n= m= Pr = k= U= Q= sq = T= ß= g= = = L= Nu = v= Ra = Gr = x= = Bo = H= = dbMC = a= b= wbMC = = Energi panas yang keluar dari daru udara pengering ( W ) =Massa udara pengering yang di alirkan ke ruang pengering ( Kg/s ) Panas jenis udara ( J/kg.

Radiasi : Temperatur lingkungan. memancarkan gelombang panas Albert Menjawab : Konveksi :Perpindahan panas terjadi secara konveksi dari pelat ke sekeliling atau sebaliknya Konduksi :Dalam benda padat perpindahan panas timbul karena gerakan antar atom pada temperatur yang tinggi.PE T B B w B i iC li fi i ? i     l   t j i i t ii Bi t i it l i t t i i t i t: i ti i l i l t ili t ti i l i t t l it t l tt t i i t i j °C l l B i ti i B l Proses konduksi konveksi dan radiasi pada pengeringan tersebut . .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->