1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Olahraga mempunyai peran yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan modern sekarang ini manusia tidak bisa dipisahkan dari kegiatan olahraga, baik untuk meningkatkan prestasi maupun kebutuhan dalam menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat. Salah satu cabang olahraga yang digemari di kalangan masyarakat saat ini yaitu cabang olahraga sepaktakraw, karena olahraga ini dapat dilakukan oleh semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan olahraga dapat membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta mempunyai watak disiplin dan pada akhirnya akan terbentuk manusia yang berkualitas. Dalam usaha pembentukan generasi muda yang mampu menjadi tulang punggung penerus perjuangan bangsa, pembinaan melalui olahraga sudah lama dipandang sebagai sarana yang paling berdaya guna dan berhasil guna. Karena pembangunan manusia pada hakikatnya menuju manusia Indonesia seutuhnya yang sehat jasmani dan rohani. Kondisi manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohani ini baru dapat dicapai apabila manusia sadar dan mau melaksanakan gerakan hidup sehat melalui pendidikan jasmani dan olahraga. Oleh karena itu gerakan

1

2

memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat perlu semakin gencar dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Dengan adanya gerakan tersebut, maka diharapkan akan muncul bibit-bibit olahragawan yang bermutu yang kemudian dapat dibina lebih lanjut secara khusus agar dapat menjadi bintang-bintang olahraga yang dapat mengharumkan nama bangsa dan negara Indonesia. Sepaktakraw merupakan olahraga tradisional bangsa-bangsa di Asia Tenggara termasuk juga bangsa Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia yang terlebih dahulu memainkan sepaktakraw adalah Sulawesi Selatan (Makasar), Sumatera Barat (Minang Kabau), Riau, Kalimantan (Kandangan) dan Jawa Barat (Banten), semua merupakan daerah yang berada di pesisir pantai. Daerah-daerah inilah yang terlebih dahulu dan aktif memasalkan, mengembangkan, dan meningkatkan olahraga sepaktakraw, sehingga sangatlah wajar kalau daerah Sulawesi Selatan dan Riau selalu unggul dalam prestasi dan menjadi juara pada kejuaraan-kejuaraan nasional. Dewasa ini permainan sepaktakraw tidak lagi dimainkan dengan bola terbuat dari rotan melainkan sudah memakai bola yang terbuat dari fiber (Synthetic Fiber). Sepaktakraw yang merupakan asli Bangsa Indonesia sudah sewajarnya dapat dibanggakan karena olahraga ini kian populer dan menjadi salah satu cabang yang kerap dipertandingkan pada skala regional, nasional, maupun internasional yang pada gilirannya dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa.

3

Olahraga sepaktakraw telah banyak dikenal dan berkembang di seluruh Masyarakat Indonesia yang telah terbukti dengan adanya klub-klub sepaktakraw dari masing-masing propinsi di Indonesia seperti Sulawesi Selatan yang ikut serta dalam kejuaraan tingkat nasional. Dalam meningkatkan prestasi optimal pada berbagai kejuaraan atau pertandingan di tingkat regional, nasional, dan internasional perlu dilakukan peningkatan kualitas dan kuantitas pelatih, atlet, dan penataan organisasi yang baik. Khususnya pembinaan klub-klub atau pelajar yang merupakan aset paling esensial dan potensial untuk digarap, apalagi sepaktakraw merupakan cabang olahraga yang sedikit unik bila dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya. Keunikan sepaktakraw yang kita ketahui dominannya unsur senam dan gerakan akrobatik sebagai dasar keterampilan menuju kematangan prestasi dapat

digarisbawahi, bahwa tanpa pembinaan sejak usia dini akan sulit melahirkan atlet yang berprestasi optimal (PB. PERSETASI, 1998:16). Permainan sepaktakraw bukan lagi olahraga tradisional rekreatif yang hanya dimainkan sebagian Masyarakat Indonesia, tetapi sepaktakraw telah menjadi olahraga modern kompetitif yang dimainkan dan diakui keberadaannya oleh masyarakat dunia. Permainan ini menjadi kegemaran bangsa-bangsa di Asia Tenggara sebagai kegiatan pengisi waktu luang. Sejak abad ke-15 oleh Bangsa Indonesia olahraga ini disebut sepak raga, Di Thailand lebih dikenal dengan takraw, di Philipina dinamakan sipa, Di Birma disebut Ching long, Sri Lanka disebut raga, dan Negara Laos disebut kator. Dari mana asalnya permainan sepaktakraw itu belum dapat diketahui secara pasti

4

yang jelas pengenalan pertama permainan sepaktakraw di Indonesia adalah ketika tim sepaktakraw Malaysia dan Singapura berkunjung ke Jakarta pada tahun 1970 (Ratinus Darwis dan Dt. Penghulu Basa, 1992:2). Setiap cabang olahraga mempunyai karakteristik yang berbeda-beda termasuk dalam cabang olahraga sepaktakraw. Perbedaan ini tentunya akan memerlukan penanganan yang berbeda pula, yaitu penanganan yang disesuaikan dengan karakteristik olahraga yang dibina. Dengan kata lain bahwa pembinaan olahraga sepaktakraw dituntut untuk bisa melakukan cara melatih yang tepat agar tujuan dari latihan dapat berhasil dengan baik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi prestasi pemain sepaktakraw, diantaranya adalah unsur teknik. Teknik permainan tidak akan terjadi dengan sendirinya tanpa adanya latihan yang teratur. Adapun untuk bermain sepaktakraw dengan baik seorang pemain harus menguasai teknik dasar dan teknik khusus. Teknik dasar sepaktakraw antara lain adalah sepakan, main kepala, mendada, memaha, dan membahu. Kemampuan teknik dasar antara satu dengan lainnya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa menguasai kemampuan dasar atau teknik dasar bermain sepaktakraw, permainan sepaktakraw tidak dapat dimainkan dengan baik. Penguasaan teknik-teknik tersebut dapat dimainkan dengan baik jika dipelajari dan dilatih secara kontinu di bawah pengawasan pelatih yang berkualitas. Namun tidak berarti bahwa prestasi sepaktakraw hanya ditentukan oleh penguasaan teknik dasar

5

yang baik. Fakor-faktor lainnya juga banyak lagi yang menunjang peningkatan prestasi sepaktakraw. Untuk itu dilakukan pemanduan bakat dalam hal ini peranan guru olahraga di Sekolah lanjutan tingkat pertama sangat besar peranannya dalam memberikan pengarahan dan penjelasan mengenai olahraga sepaktakraw dan peranan guru pada khususnya sangat diperlukan mengingat sifat psikologis dan sosial yang ada pada anak sekolah lanjutan tingkat petama.

Olahraga sepaktakraw di SMP Negeri 1 Bissappu merupakan kegiatan ekstra kurikuler, (1) Tersedianya sarana lapangan sepaktakraw, (2) Jarak antara sarana lapangan sepaktakraw cukup dekat, merupakan pendukung meningkatnya minat anak/ siswa untuk mengikuti olahraga sepaktakraw tersebut, sedangkan yang menjadi hambatan adalah keadaan ekonomi orang tua yang termasuk golongan menengah ke bawah yang rata-rata berpekerjaan seorang petani. Perlu diteliti lebih jauh tentang minat siswa putra dalam olahraga sepaktakraw sehingga nantinya kesepakatan ini merupakan faktor yang bisa

dipertanggungjawabkan dan dengan penelitian tentang minat siswa putra dalam hubungan dengan pelaksanaan proses pembinaan dan pembibitan olahraga sepaktakraw akan membuka wawasan atau persoalan baru yang mungkin bisa dibuktikan.

6

Sebagai salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan, Bantaeng merupakan salah satu Kabupaten yang berpotensi dalam olahraga sepaktakraw namun Bantaeng sangat disayangkan dengan letak yang dipandang cukup strategis karena berada dalam wilayah yang memiliki tradisi permainan sepakraga. Kecamatan Bissappu sebagai salah satu Kecamatan di Kabupaten Bantaeng sampai saat ini belumlah memiliki prestasi yang baik, dan belum terlahir pemainpemain yang berkualitas didaerah ini. dan sedikit lembaga pembinaan pembibitan pemain sepaktakraw atau klub sepaktakraw yang ada di wilayah Kecamatan Bissappu dan kurangnya mengikuti kompetisi-kompetisi baik ditingkat Kabupaten maupun Provinsi. Sehingga perlu ada penelitian di Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng yang fokus pada usia dini. Pembinaan usia dini dimulai dari usia 6 tahun yang merupakan usia anak kecil sampai akan menuju remaja hingga dewasa. Kalau direalisasikan dibidang pendidikan maka anak usia 12-15 tahun berada di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama, mengingat kelengkapan fasilitas di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di Kecamatan Bissappu berbeda-beda baik dari segi lapangan maupun kelengkapan-kelengkapan lain serta wilayah yang sangat luas serta letak sekolah lanjutan tingkat pertama yang mudah terjangkau oleh transportasi tapi membutuhkan waktu yang lama karena dari sekolah satu dengan yang lain sangat berjauhan dan di daerah terpencil maka dengan itu peneliti mengambil sekolah lanjutan tingkat pertama SMP Negeri Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng sebagai obyek penelitian.

7

Berdasarkan alasan diatas peneliti akan mengadakan penelitian tentang analisis minat bermain sepaktakraw pada siswa SMP Negeri di Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah, sebagai berikut ”Apakah ada minat bermain sepaktakraw pada SMP Negeri Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng?”

B. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujan penelitian ini, sebagai berikut : ”Untuk mengetahui seberapa besar minat bermain sepaktakraw siswa SMP Negeri Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng”.

C. Manfaat Penelitian

8

Hasil dari penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang positif dalam upaya mengembangkan dan membina prestasi khususnya sepaktakraw. Sehingga hasil penelitian diharapkan mempunyai kegunaan, sebagai berikut :
1. Mendapat informasi tentang minat bermain sepaktakraw siswa SMP Negeri di

Kacamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.
2. Memberikan informasi pada Pembina dan Guru Olahraga, tentang minat

sebagai faktor yang penunjang kemampuan bermain sepaktakraw.
3. Sebagai bahan referensi untuk rekan-rekan Mahasiswa pada Fakultas Ilmu

Keolahragaan Universitas Negeri Makassar

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka merupakan dasar dan landasan untuk mencari teori yang digunakan dalam mencapai pemecahan masalah terhadap faktor-faktor yang menjadi problema dalam penelitian ini. Oleh sebab itu, pada bab ini akan diuaraikan beberapa teori atau pendapat para ahli yang berhubungan dengan penelitian. Dengan teori yang dikemukakan, diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang diungkapkan pada bab sebelumnya.

A. Minat 1. Teori-Teori Minat Minat merupakan salah satu unsur kepribadian yang memegang peranan penting dalam mengambil keputusan masa depan. Minat mengarahkan individu terhadap suatu obyek atas dasar rasa senang atau rasa tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang merupakan dasar suatu minat. Minat seseorang dapat diketahui dari pernyataan senang atau tidak senang terhadap suatu obyek tertentu. (Dewa Ketut Sukardi, 1994:83) Untuk memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan minat dan prosedur yang diperlukan maka sangatlah bermanfaat untuk mengetahui aspek-aspek individual. Aspek-aspek individual dapat digolongkan menjadi dua ranah yaitu kemampuan dan kepribadian. Pada umumnya tugas pengukuran ditujukan pada kedua

8

10

ranah diatur dan pada penekanannya pada lingkup yang lebih luas. Perbuatan atau tindakan yang disenangi, disukai atau tidak disukai oleh seseorang adalah pada lingkup kepribadian termasuk seperti faktor-faktor minat, temperamen dan sikap. Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari campuran-campuran perasaan, harapan, pendidikan, rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang menggerakan individu kepada suatu pilihan tertentu (Andi Mappier, 1982:62) Dari pendapat di atas dijelaskan bahwa minat merupakan perangkat mental yang menggerakan individu dalam memilih sesuatu. Selanjutnya Sumadi Suryobroto (1988:109) mendefinisikan minat sebagai kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada suatu objek atau menyenangi suatu obyek. Timbulnya minat terhadap suatu obyek ini ditandai dengan adanya rasa senang atau tetarik. Jadi boleh dikatakan orang yang berminat terhadap sesuatu maka seseorang tersebut akan merasa senang atau tertarik terhadap obyek yang diminati tersebut. Selain itu Sumadi Suryobroto (1983:7) juga menyatakan minat adalah pemusatan tenaga psikis yang tertuju pada suatu obyek serta banyak sedikitnya kekuatan yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Kemudian Agus Suyanto (1983:101) juga mendefinisikan minat sebagai suatu pemusatan perhatian yang tidak disengaja yang terlahir dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungan. Pemusatan perhatian menurut pendapat di atas merupakan tanda seseorang yang mempunyai minat terhadap sesuatu yang muncul dengan tidak sengaja yang menyertai sesuatu aktivitas tertentu.

11

Dari pendapat para ahli di atas dapat diasumsikan bahwa timbulnya minat seseorang itu disebabkan oleh beberapa faktor penting yaitu rasa tertarik atau rasa senang, faktor perhatian dan kebutuhan. Kaitannya dengan penelitian minat siswa terhadap permainan sepaktakraw, minat terhadap sesuatu tersebut tidak dapat diketahui atau diukur secara langsung harus digunakan faktor-faktor yang dapat digunakan untuk mengungkap minat seseorang terhadap sesuatu. Karena minat tidak dapat diukur secara langsung maka unsur-unsur atau faktor yang menyebabkan timbulnya minat di atas diangkat untuk mengungkap minat seseorang. Dalam faktor ini disusun pertanyaan yang berguna untuk mengungkap minat seseorang terhadap suatu kegiatan. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Minat pada hakekatnya merupakan sebab akibat dari pengalaman. Minat berkembang sebagai hasil daripada suatu kegiatan dan akan menjadi sebab akan dipakai lagi dalam kegiatan yang sama (Crow and Crow, 1973:22) Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut: 2.1. The factor inner urge: rangsangan yang datang dari lingkungan atau ruang lingkup yang sesuai dengan keinginan atau kebutuhan seseorang akan mudah menimbulkan minat. Misalnya kecenderungan terhadap belajar, dalam hal ini seseorang mempunyai hasrat ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan. 2.2. The factor of social motive: minat seseorang terhadap obyek atau sesuatu hal. Disamping itu juga dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri manusia dan oleh

12

motif sosial, misal seseorang berminat pada prestasi tinggi agar dapat status sosial yang tinggi pula. 2.3 Emosianal factor: faktor perasaan dan emosi ini mempunyai pengaruh terhadap obyek misalnya perjalanan sukses yang dipakai individu dalam suatu kegiatan tertentu dapat pula membangkitkan perasaan senang dan dapat menambah semangat atau kuatnya minat dalam kegiatan tersebut. Sebaliknya kegagalan yang dialami akan menyebabkan minat seseorang berkembang. Menurut Milton (1961:397) minat dibagi menjadi dua yaitu: (1) Minat

subyektif: perasaan yang menyatakan bahwa pengalaman-pengalaman tertentu yang bersifat menyenangkan. (2) Minat obyektif: reaksi yang merangsang kegiatan-

kegiatan dalam lingkungannya. Menurut Samsudin (1961: 8) minat jika dilihat dari segi timbulnya terdiri dari 2 macam yaitu: (1) Minat spontan: minat yang timbul dengan sendirinya secara langsung. (2) Minat yang disengaja: minat yang dimiliki karena dibangkitkan atau ditimbulkan. 3. Faktor-Faktor yang Menimbulkan Minat Minat timbul bila ada pehatian dengan kata lain minat merupakan sebab dan akibat dari perhatian. Seseorang yang mempunyai perhatian terhadap sesuatu yang dipelajari maka ia mempunyai sikap yang positif dan merasa senang terhadap hal tersebut, sebaliknya perasaan tidak senang akan menghambat. Minat timbul karena adanya faktor interen dan eksteren yang menentukan minat seseorang (H.C Wetherrington:1983:136)

13

3. Bentuk-bentuk Minat Menurut M. Buchori (1991:136) minat dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: 3.1. Minat Primitif Minat primitif disebut minat yang bersifat biologis, seperti kebutuhan makan, minum, bebas bergaul dan sebagainya. Jadi pada jenis minat ini meliputi kesadaran tentang kebutuhan yang langsung dapat memuaskan dorongan untuk

mempertahankan organisme. 3.2. Minat Kultural Minat kultural atau dapat disebut juga minat sosial yang berasal atau diperoleh dari proses belajar. Jadi minat kultural disini lebih tinggi nilainya dari pada minat primitif. 4. Macam- macam Minat Menurut Dewa Ketut Sukardi yang mengutip pendapat Carl Safran, mengemukakan bahwa ada tiga cara yang dapat digunakan untuk menentukan minat, yaitu: 4.1. Minat yang diekspresikan/ Expressed Interest Seseorang dapat mengungkapkan minat atau pilihannya dengan kata-kata tertentu. Misal: seseorang mungkin mengatakan bahwa dirinya tertarik dalam mengumpulkan mata uang logam, perangko dan lain-lain.

14

4.2 Minat yang diwujudkan/ Manifest Interest Seseorang dapat mengungkapkan minat bukan melalui kata-kata melainkan dengan tindakan atau perbuatan, yaitu ikut serta dan berperan aktif dalam suatu kegiatan. Misal: kegiatan olahraga, pramuka dan sebagainya yang menarik perhatian. 4.3. Minat yang diinventariskan/ Inventoral Interest Seseorang menilai minatnya agar dapat diukur dengan menjawab terhadap sejumlah pertanyaan tertentu atau urutan pilihannya untuk kelompok aktivitas tertentu. Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur minat seseorang disusun dengan menggunakan angket. 5. Unsur-unsur Minat Seseorang dikatakan berminat terhadap sesuatu bila individu itu memiliki beberapa unsur antara lain: 5.1. Perhatian Seseorang dikatakan berminat apabila individu disertai adanya perhatian, yaitu kreatifitas jiwa yang tinggi yang semata-mata tertuju pada suatu obyek. Jadi seseorang yang berminat terhadap sesuatu obyek yang pasti perhatiannya akan memusat terhadap sesuatu obyek tersebut. Dalam hal ini perhatian ditujukan pada obyek ekstrakurikuler olahraga sepaktakraw. 5.2. Kesenangan Perasaan senang terhadap sesuatu obyek baik orang atau benda akan

15

menimbulkan minat pada diri seseorang, orang merasa tertarik kemudian pada gilirannya timbul keinginan yang dikehendaki agar obyek tersebut menjadi miliknya. Dengan demikian maka individu yang bersangkutan berusaha untuk mempertahankan obyek tersebut. 5.3. Kemauan Kemauan yang dimaksud adalah dorongan yang terarah pada suatu tujuan yang dikehendaki oleh akal pikiran. Dorongan ini akan melahirkan timbulnya suatu perhatian terhadap suatu obyek. Sehingga dengan demikian akan muncul minat individu yang bersangkutan. 6. Ciri-ciri Minat Anak Dorongan-dorongan yang ada pada diri anak, menggambarkan perlunya perlakuan yang luas, sehingga ciri-ciri dan minat anak tergambar lebih terinci dan faktual, sesuai dengan usia dan kedewasaan mereka. Dengan demikian ciri-ciri dan minat anak akan menjadi pedoman penyelenggaraan program pendidikan jasmani yang arahnya dapat dikategorikan ke dalam domain hasil belajar, yaitu psikomotor, afektif, kognitif dan domain yang lain. Dengan digunakannya sebagai pedoman, maka pedoman dan pengembangan program akan sesuai dengan ketepatan masa belajar, urutan, kecepatan dan ragam kekuatan. Kemudian muncul dalam pikiran kita, bahwa remaja pada umumnya memiliki ragam yang luas tentang kedewasaan jasmani dan kedewasaan rohaniah, yang perlu juga untuk diperhatikan.

16

6.1 Psikomotor Psikomotor ini dimaksudkn untuk menggambarkan sasaran-sasaran yang berupa keterpaduan koordinasi antara system persarafan dan system perototan untuk menghasilkan gerakan yang dinilai. Adapun rincian dari ranah ini adalah kemampuan gerak perseptual yaitu kemampuan yang digunakan untuk mengenal,

menginterprestasi, dan merespon suatu stimulus (rangsangan) untuk melakukan suatu jenis tugas atau gerakan yang di dalamnya terdiri dari bagian-bagian keseimbangan, kenestesis, diskriminasi visual, diskriminasi auditif, dan koordinasi visual motor. Ketrampilan-ketrampilan gerak fundamental yaitu ketrampilan-ketrampilan

manipulatif yang meliputi tubuh sendiri atau sutu obyek, termasuk dalam bagian ini adalah ketrampilan manipulsi tubuh, ketrampilan manipulasi benda, ketrampilanketrampilan olahraga. 6.2 Afektif Ranah ini untuk menggambarkan sasaran yang berkenaan dengan

pengembangan sifat dan kepribadian anak didik untuk tetap langgeng dalam penyesuaian diri dengan masyarakat dan budaya lingkungannya. Rincian untuk ranah afektif ini adalah sebagai berikut: jika merespon secara sehat terhadap aktivitas jasmani yaitu pengembangan reaksi positif terhadap keberhasilan atau kegagalan dalam berkreatifitas, apresiasi terhadap pengalaman-pengalaman estetis yang didapat dari aktifitas pertalian dengan pengalaman-pengalaman itu, pengenalan terhadap potensi-potensi kegiatan sebagai jalan keluar ketegangan dan penggunaan waktu

17

senggang, kemampuan untuk bisa menikmati aktifitas olahraga, menjadi penonton yang baik yang menghargai penampilan yang luar biasa (indah/ baik) dalam olahraga. Perwujudan diri mecakup sasaran-sasaran yaitu menyadari akan tubuh sendiri apa yang bisa dilakukan pada saat yang tepat, pengetahuan tentang kemampuankemampuan apa yang dapat diterima orang lain sehubungan dengan kapasitas dan potensi-potensi orang itu, kemampuan untuk meningkatkan tingkat aspirasi yang berada dalam jangkauan dan motivasi untuk mencari tingkat ini. 6.3 Kognitif Ranah ini dimaksudkan untuk menggambarkan sasaran yang bersifat intelektual dalam pengembangan kemampuan-kemampuan mengingat, memproses dan mengambil keputusan secara jitu dan tepat. Ranah ini terdiri dari pengetahuan yaitu mencakup segala sesuatu yang dapat mengembangkan, memperluas dan memperdalam pengetahuan seperti aturan permaian, ketika bermain dan bertanding, istilah-istilah dalam keolahragaan, dan fungsi-fingsi tubuh. Kemampuan dan ketrampilan intelektual yang termasuk dalam sasaran ini adalah penggunaan strategi, kemampuan menilai dan menaksir hal-hal yang berhubungan dengan waktu, bentuk, ruang, kecepatan, dan arah dalam pengunaan obyek, pemecahan-pemecahan yang muncul dalam gerak, pemahaman tentang hubungan antara aktifitas olahraga dengan fungsi struktur tubuh, dan pengetahuan tentang dampak jangka panjang dari aktifitas olahraga. Dalam hal ini dianjurkan untuk tidak menggunakan pendekatan yang telah

18

terbiasa, yaitu pilihan kegiatan berdasarkan anjuran guru. Pendekatan yang demikian akan berdampak keterbatasan pandangan siswa atau kegiatan yang sekedar memenuhi kegiatan kebutuhan guru, bukan kebutuhan siswa. B. Permainan Sepaktakraw Permainan sepaktakraw dimainkan di lapangan yang berukuran 13,40 m kali 6,10 m yang dibagi dua oleh garis dan net (jaring) setinggi 1,55 m dengan lebar 72 cm, dan lubang jaring sekitar 4 – 5 cm. Bola yang dimainkan terbuat dari fiber yang dianyam dengan lingkaran antara 41 – 43 cm. Permainan sepaktakraw dilakukan oleh dua regu yang berhadapan di depan lapangan yang dipisahkan oleh net (jaring) yang terbentang membelah lapangan menjadi dua bagian. Setiap regu yang berhadapan terdiri atas 3 orang pemain yang bertugas sebagai tekong yang berdiri paling belakang, dua orang lainnya menjadi pemain depan yang berada di sebelah kiri dan kanan yang disebut apit kiri dan apit kanan. Permainan sepaktakraw berlangsung tanpa menggunakan tangan untuk memukul bola bahkan bola tidak boleh menyentuh lengan. Bola hanya boleh menyentuh atau dimainkan oleh kaki, pada dada, bahu, dan kepala. Permainan sepaktakraw diawali dengan sepak mula sebagai servis yang dilakukan oleh tekong. Sepak mula dilakukan tekong atas lambungan bola oleh pelambung yang diarahkan ke tekong. Pelambung adalah salah satu pemain depan, pada waktu dia melambungkan bola ke arah tekong, tekong harus berada di dalam lingkaran yang

19

telah disediakan. Begitu juga tekong, pada waktu melakukan sepak mula salah satu kakinya harus tetap berada di dalam lingkaran tempat tekong melakukan sepak mula. Tekong mengarahkan bola ke daerah lawan melalui atas net (jaring), di lain pihak lawan harus menerima bola itu dan mengembalikan ke daerah lawan. Dalam hal ini mereka diberi kesempatan Prawirasaputra, 2000:5). Dengan demikian perlulah bahwa seseorang pemain sepaktakraw itu banyak berlatih diri menggunakan kaki atau sepakan. Namun tidak berarti bahwa unsur lain atau kemampuan lain tidak perlu atau tidak penting yang dapat diabaikan, faktorfaktor lain pun banyak lagi yang menunjang peningkatan prestasi sepaktakraw. Untuk dapat bermain sepaktakraw dengan baik, maka pemain harus mempunyai kemampuan dengan baik. kemampuan yang baik adalah penguasaan teknik dasar bermain sepaktakraw yang baik. Menurut Ratinus Darwis (1992;15) kemampuan dasar bermain sepaktakraw adalah : Menyepak dengan menggunakan bagian-bagian kaki, memainkan bola dengan kepala (main kepala), memainkan bola dengan dada, memainkan bola dengan paha dan memainkan bola dengan bahu (membahu). Membahasakan pengertian tentang kemampuan bermain dalam sepaktakraw tidak mungkin secara utuh mengingat menampilkan suatu kemampuan pola gerak merupakan rangkaian yang sangat kompleks. menyentuh bola sebanyak tiga kali (Sudrajat

20

Sesuai dengan penjelasan yang dikemukakan tersebut, maka kemampuan bermain sepaktakraw adalah merupakan tingkat kemampuan untuk melakukan suatu teknik dasar permainan sepaktakraw secara efisien dan efektif. Sehingga proses kemampuan sangat membantu dalam bentuk permainan serta menjadi penunjang untuk mencapai prestasi yang maksimal. Berdasarkan hal tersebut, maka dalam permainan sepaktakraw terbagi beberapa teknik dasar yaitu ; sepak sila, servis dan smash. Dalam bermain sepaktakraw penerapan kemampuan teknik dasar sangat berperan untuk dapat bermain dengan baik, sehingga untuk dapat bermain sepaktakraw dengan baik harus menguasai teknik dasar dalam permainan sepaktakraw. Ismail Tola (1988;10-11) didalam bukunya mengungkapkan tentang teknikteknik dasar permainan sepaktakraw adalah sebagai berikut : Tehnik-tehnik dasar sepaktakraw : 1. Sepakan a. Sepak sila Untuk mengontrol dan menimbang bola Untuk membuat operan/umpan Untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan

b. Sepak kuda Untuk memainkan bola rendah/jauh smash (rejam) Untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan

21

c. Sepak cungkil ujung kaki) Untuk menyelamatkan bola yang jauh dan rendah

d. Telapak kaki Untuk menahan smash dan untuk mengsmash kepihak lawan

2. Mengkop
a.

Bagian dahi : untuk mengumpan/smash

b. Bagian kiri dan kanan : untuk smash c.

Bagian belakang : untuk menipu lawan

3. Menahan dengan dada
-

Untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan

4. Menahan dengan paha Untuk bertahan dan menyelamatkan bola

5. Menahan dengan bahu

-

Untuk keadaan darurat waktu lawan menyerang
- Untuk dapat bermain sepaktakraw dengan baik, maka tehnik-tehnik

tersebut harus dikuasai dan permahir. Tehnik-tehnik bermain sepaktakraw di atas merupakan komponen yang diperlukan untuk dapat bermain dengan terampil. Tiap-tiap permainan sepaktakraw

22

yang baik telah memiliki penguasaan tehnik-tehnik dasar secara sempurna sehingga dapat melakukan gerakan-gerakan secara efisien dan efektif. Berbagai dimensi telah member arti tentang keberadaan kemampuan bergerak seseorang, hal ini tentunya telah melahirkan asumsi bahwa usaha melakukan kemampuan gerak dan kondisi fisik sangat erat kaitannya dengan penampilan pola gerakan secara efisien dan efektif.

23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan bagian yang sangat penting dan syarat mutlak dari suatu penelitian. Berbobot atau tidaknya suatu penelitian tergantung pada pengambilan langkah-langkah dalam metodologi penelitian. Seperti yang

dikemukakan oleh (Sutrisno Hadi, 1986:1986:4) bahwa “metodologi penelitian sebagaimana yang dikenal sekarang, memberikan garis-garis yang cermat dan mengajukan syarat-syarat yang benar, maksudnya adalah untuk menjaga agar pengetahuan yang dicapai dari suatu penelitian dapat mempunyai harga ilmiah yang setinggi-tingginya”. Penggunaan metodologi penelitian harus dapat mengarah pada tujuan penelitian, tidak berbelit-belit dan mudah untuk dipahami agar hasil penelitian yang diperoleh sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penggunaan metode penelitian juga harus dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan aturan yang berlaku. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode survey dan pengumpulan informasi atau data menggunakan kuesioner. Survey bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang orang yang jumlahnya besar dengan cara questionnaire atau angket pada sejumlah kecil dari populasi. Deskriptif

21

24

yang dimaksudkan adalah untuk memberikan gambaran tentang minat bermain sepaktakraw pada siswa SMP Negeri Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. A. Variabel Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto (1992;54), mengatakan bahwa : “Variabel merupakan obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Sedangkan menurut Nana Sudjana (1988;48) bahwa : “Variabel secara sederhana dapat diartikan cirri individu, obyek, gejala dan peristiwa yang dapat diukur secara kuantitatif atau kualitatif”. Berdasarkan pengertian di atas maka variabel yang ada dalam skripsi ini hanya ada satu variabel yaitu variabel bebas. Variabel dalam penelitian ini adalah minat siswa SMP Negeri Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng terhadap olahraga sepaktakraw. Minat sebagai kecenderungan yang menetap dalam diri subyek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung di dalam bidang itu (Winkel, 1983:30). Lebih lanjut (Crow and Crow, 1973:153) menjelaskan minat merupakan suatu kekuatan pendorong (motifating force) yang menyebabkan seseorang memusatkan perhatian pada aktivitas tertentu atau obyek tertentu. Menurut Effendi (1985:122-123) minat adalah kecenderungan yang timbul apabila individu tertarik kepada sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya. Merangkum pendapat para ahli, minat adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk merasa

25

tertarik yang menjadi kekuatan atau pendorong yang menyebabkan seseorang memusatkan perhatian pada aktivitas tertentu. Jadi perhatian ini hanya semata-mata melukiskan keadaan obyek atau peristiwa (Sutrisno Hadi, 1990:3) Variable dalam penelitian ini merupakan variable tunggal yaitu minat siswa SMP Negeri Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng terhadap olahraga sepaktakraw. Sedang faktor yang akan diteliti dalam penelitian ini meliputi tertarik, perhatian, dan kebutuhan.

B. Definisi Operasional Variabel

Agar lebih terarah pelaksanaan latihan maupun pengumpulan data penelitian, maka perlu diberi batasan atau definisi operasional tiap variabel yang terlibat. 1. Minat adalah kecenderungan dalam individu untuk tertarik pada obyek atau menyenangi suatu obyek dan ditandai dengan adanya rasa senang atau tertarik. Adapun definisi masing-masing faktor adalah sebagai berikut: a. Tertarik Tertarik menurut kamus besar bahasa Indonesia (W.J.S Poerwadarminto, 1996:102) berarti merasa senang, terpikat hatinya atau menaruh minat karena perasaan seseorang akan diperkuat oleh sikap yang positif, jadi pada umumnya berlaku urutan psikologi sebagai berikut: perasaan senang- sikap positif-minat. Winkel adalah tertarik atau rasa senang adalah sikap yang positif terhadap belajar

26

atau kegiatan lain yang pasti berperan besar dalam menghubungkan ketiga hal itu, meskipun sukar untuk untuk menunjukan fungsi dari sikap itu secara pasti, ketertarikan anak yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi rasa senang dan keinginan.

27

b. Perhatian Perhatian menurut (Dakir, 1993:144) adalah keaktifan peningkatan kesadaran seluruh fungsi yang diarahkan dalam pemusatan kepada barang, sesuatu yang baik yang ada dalam diri individu maupun yang ada di luar individu. Kemudian (Sumadi Suryabrata, 1984 : 16) menyatakan perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek. Selanjutnya (Abu Ahmadi, 1993:145) berpendapat perhatian adalah keaktifan jiwa yang di arahkan kepada suatu obyek baik di dalam maupun di luar individu. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian merupakan aktifitas jiwa atau psikis yang tertuju pada suatu obyek baik yang ada pada diri individu maupun dari luar individu. Jadi perhatian dalam penelitian inin merupakan aktifitas psikis yang tertuju atau diarahkan kepada kegiatan olahraga sepaktakraw c. Kebutuhan Kebutuhan adalah keadaan atau sifat pribadi yang menyebabkan

meningkatnya attention atau perhatian (Sumadi Suryabrata, 1984:23) 2. Permainan Sepaktakraw

Permainan sepaktakraw dilakukan oleh dua regu yang berhadapan di depan lapangan yang dipisahkan oleh net (jaring) yang terbentang membelah lapangan menjadi dua bagian. Setiap regu yang berhadapan terdiri atas 3 orang pemain yang bertugas sebagai tekong yang berdiri paling belakang, dua orang lainnya menjadi

28

pemain depan yang berada di sebelah kiri dan kanan yang disebut apit kiri dan apit kanan.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi merupakan suatu kumpulan atau kelompok individu yangdapat diamati oleh anggota populasi itu sendiri atau bagi orang lain yang memilki perhatian terhadapnya. Populasi menurut Sugiyono (2000;57) mengemukakan bahwa : “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas serta karkteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan”. Setiap penelitian selalu menggunakan obyek untuk diteliti atau diistilahkan dengan populasi. Populasi suatu penelitian harus memilki karakteristik yang sama atau hampir sama. Olehnya itu yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa putra SMP Negeri Kecematan Bissappu Kabupaten Bantaeng.

2. Sampel Penelitian ilmiah tidak selamanya mutlak harus meneliti jumlah keseluruhan obyek yang ada (populasi), melainkan dapat pula mengambil sebagian dari populasi yang ada. Dengan kata lain bahwa yang dimaksudkan yaitu sampel. Sampel secara

29

sederhana diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data yang sebenarnya dalam suatu penelitian. Pengertian tentang sampel didasari oleh pandangan Suharsimi Arikunto (1996;117) bahwa : “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang teliti”. Alasan dari penggunaan sampel adalah keterbatasan waktu, tenaga dan banyaknya populasi. Berdasarkan pengertian tersebut, sampel yang diambil atau yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 49 orang dari siswa putra SMP Negeri Kecematan Bissappu Kabupaten Bantaeng dengan teknik random sampling secara acak terhadap obyek sampel.

D. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian, data merupakan faktor yang penting. Karena dengan adanya data analisis dapat dilakukan dan selanjutnya dapat ditarik suatu kesimpulan. Untuk memperoleh dan mengumpulkan data digunakan suatu cara atau alat yang tepat agar kesimpulan yang diambil tidak menyesatkan. Cara yang digunakan untuk mengumpulkan data tersebut metode pengumpulan data. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan teknik kuesioner atau angket. Kuesioner atau angket merupakan suatu daftar yang berisi pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh siswa yang ingin diselidiki, yang juga disebut responden. Dengan kuesioner ini dapat diperoleh fakta-fakta ataupun

30

opini (opinion). Pertanyaan dalam kuesioner tergantung pada maksud serta tujuan yang ingin dicapai. Maksud dan tujuan tersebut berpengaruh terhadap bentuk pertanyaan yang ada dalam kuesioner (Bimo Walgito, 2004: 75). Angket dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden, dapat dijawab oleh responden menurut kecepatannya masing-masing, dapat dibuat anonym sehingga responden bebas, jujur dan tidak malu-malu menjawab dan angket dapat dibuat terstandar sehingga bagi semua responden dapat diberi pertanyaan yang benarbenar sama. Angket yang digunakan adalah angket langsung tipe pilihan, artinya angket disampaikan langsung kepada orang yang dimintai informasi tentang dirinya sendiri dengan cara memilih salah satu jawaban yang tersedia. Beberapa asumsi dasar dalam kaitannya dengan teknik angket adalah sebagai berikut. Subjek adalah orang yang tahu tentang dirinya, subjek mempunyai kejujuran dalam menjawab, subjek mampu membaca dan menafsirkan pertanyaan yang sama seperti yang dimaksud peneliti. Dipilihnya angket tipe pilihan, karena angket tipe ini lebih menarik sehingga responden segera terdorong untuk mengisi angket tersebut, lebih mudah dalam memberikan jawaban dan waktu yang diperlukan untuk menjawab singkat jika dibandingkan dengan tipe lain. Agar pertanyaan-pertanyaan dalam instrumen penelitian lebih sistematis dan dapat mengenai sasaran yang akan dituju, maka sebagai langkah awal terlebih dahulu disusun kisi-kisi instrumen. Dari kisi-kisi instrumen penelitian tersebut dijabarkan ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang siap digunakan sebagai alat pengumpul data atau instrumen penelitian.

31

Metode angket atau kuesioner yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode angket langsung tertutup dengan menggunakan tiga pilihan yaitu Ya dan Tidak. Dalam angket yang dimaksud dilakukan rincian penilaian tabel sebagai berikut: Untuk : Ya diberi nilai 2 dan Tidak diberi nilai 1 Kuesioner langsung adalah jika sesuatu kuesioner daftar pertanyaan dikirim langsung kepada orang yang ingin dimintai pendapat, keyakinannya, atau diminta menceritakan tentang keadaannya sendiri (Sutrisno Hadi, 2000:158) Adapun alasan menggunakan angket langsung adalah sebagai berkut: 1). Bahwa subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri, 2). Bahwa apa yang dinyatakan benar dan dapat dipercaya, 3). Bahwa interprestasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti. Sedangkan alasan menggunakan item pilihan Ya dan Tidak adalah : 1). Untuk responden lebih mudah menjawabnya, 2). Menghemat waktu, menyelidiki fakta-fakta subyek maupun fakta-fakta obyektif. Untuk memperoleh data yang relevan dan akurat, maka diperlukan alat pengukur data yang dapat dipertanggungjawabkan, yaitu alat ukur atau instrumen penelitian yang valid dan reliabel, karena instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel (Suharsimi, 2006: 135), yang meliputi: a. Uji validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi, 2006: 136). Sebuah instrumen dikatakan 3). Baik untuk

32

valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya suatu validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud. Untuk memperoleh instrumen yang valid, peneliti harus bertindak hati-hati sejak awal penyusunannya. Sebelum merancang kisi-kisi, yaitu memecahkan variabel menjadi sub-sub variabel dan indikator baru merumuskan butir-butir pertanyaan. Sesuai dengan pendapat para ahli, maka penelitian ini sudah memiliki validitas logis. Dikatakan validitas logis karena validitas ini diperoleh dengan suatu usaha hati-hati melalui cara-cara yang benar menurut logika akan dicapai suatu tingkat validitas yang dikehendaki (Suharsimi, 2006: 136). Untuk mengetahui validitas ini digunakan uji Rank Spearman yang dihitung dengan menggunakan program komputer yaitu SPSS release 14. b. Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteruskan kepada subjek yang sama. Untuk mengetahui ketetapan ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil (Suharsimi, 2006: 85). Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena instrumen tersebut baik. Instrumen akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Secara garis besar ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal. Reliabilitas eksternal diperoleh dengan cara mengolah hasil pengetesan yang berbeda. Baik instrumen yang berbeda maupun yang sama.

33

Sedangkan reliabilitas internal diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali pengetesan.

34

E. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam penelitian. Sebab dengan adanya analisis data, maka hipotesis yang ditetapkan bisa diuji kebenarannya untuk selanjutnya dapat diambil suatu kesimpulan. Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi 3 langkah yaitu persiapan, tabulasi dan penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian (Suharsimi, 2006: 238). 1. Persiapan Kegiatan dalam langkah persiapan ini antara lain mengecek sejauh mana atau identitas, apa saja yang sangat diperlukan bagi pengolahan data lebih lanjut, mengecek kelengkapan data dan mengecek macam isian data. 0 2. Tabulasi 1 Sekumpulan data dan informasi yang diperoleh perlu disusun dalam satu

bentuk pengaturan yang logis dan ringkas, dalam bentuk tabulasi. Langkah pertama dalam tabulasi ini adalah membuat klasifikasi. Skema klasifikasi pada umumnya sudah disusun sebelum semua data terkumpul, yang kemudian disempurnakan lagi sesudah semua data masuk ke dalam klasifikasi ini dibuat menurut ciri-ciri dan kebutuhan dari data itu sendiri. Sesudah dibuat skema klasifikasi, kasus-kasus individual atau item-item dari data itu dipisah-pisahkan dan dihitung menurut macam-macam kategorinya (Kartono, 1990: 332). 3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian Mengingat data yang diperoleh berwujud frekuensi, maka analisis statistik

35

yang digunakan adalah “Chi Kuadrat”, dengan rumus yaitu: 2 = Σ (fo −fh)2 fh Keterangan: χ2 = Chi Kuadrat

χ

fo = frekuensi yang diperoleh sampel fh = frekuensi yang diperoleh dalam sampel sebagai pencerminan dan frekuensi yang diharapkan dalam populasi Σ = sigma (Sutrisno Hadi, 1987: 317)

36

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmadi. 1993. Psikologi Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta Agus Suyanto. 1992. Psikologi Umum. Aksara Baru: Jakarta Andi Mappier. 1982. Psikologi Remaja. Usaha Nasional: Surabaya Crow, Crow. 1973. An Out Line of General Psychology. Lithfe Field Adam and Co: New York Dakir. 1995. Psikologi Umum. Jakarta: Aksara Basa Danim, S. 1997. Metode Penelitian Untuk Ilmu-ilmu Perilaku. Jakarta: Bumi Aksara Darwis, Ratinus dan Basa, Dt. Penghulu. 1992. Olahraga Pilihan Sepaktakraw. Depdikbud Drjen Dikti. Jakata. Depdikbud. 1992. Garis-Garis Besar Program Pengajaran Yang Disempurnakan Untuk SLTP. Jakarta: Balai Pustaka Dewa Ketut Sukardi. 1994. Psikologi Remaja. Aksara Baru: Jakarta Gramedia Effendi. 1985. Pengantar Psikologi. Bandung: Pn Tarsip Ismail Tola 1988. Permainan Sepakraga dan Sepaktakraw. Penerbit. FPOK-IKIP Ujungpandang. Masri Singarimbun, & Sofyan Effendi. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES M. Buchori. 1991. Psikologi Umum. Pn Tarsip: Bandung Prawirasaputra S. 2000. Sepaktakraw Depdiknas. Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III. Jakarta. Sugiono, 2000. Statistik Untuk Penelitian, Tarsito Bandung. Sanafiah Faisal. 1981. Metode Penelitian Survey. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Sutrisno Hadi. 2000. Methodolgy Research, Book I. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM

37

Suharsimi, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian, Jakarta: Rhineka Cipta Sumadi W.S. Winkel. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT Gramedia

38

KISI-KISI UJI COBA ANGKET MINAT SISWA TERHADAP OLAHRAGA SEPAKTAKRAW PADA PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN

Variabel Indikator minat Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau 1. Ketertarikan aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukan bahwa siswa lebih menyukai 2. Perhatian sesuatu dan dapat pula melalui partisipasi dalam suatu aktivitas (Slameto,1995:180)

Nomor pertanyaan

Jumlah

1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12

10

13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20,

8

3. Aktivitas

21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 35

15

Jumlah

35

39

Lampiran 2 ANGKET PENELITIAN I. Identitas Responden Nama : ………………………………….. Kelas : ………………………………….. Alamat :………………………………. II. Petunjuk Pengisian Angket Berilah tanda silang (x) pada salah satu jawaban : Ya / Tidak pada kolom yang tersedia.

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Pernyataan Saya tertarik mengikuti pelajaran pendidikan jasmani Saya tidak tertarik mengikuti pelajaran pendidikan jasmani Saya tertarik mengikuti pelajaran pendidikan jasmani karena dapat meningkatkan kedisiplinan Saya kurang tertarik mengikuti pelajaran pendidikan jasmani karena membuat saya tidak disiplin Ketertarikan saya mengikuti olahraga,karena ada permainannya Saya tidak tertarik pendidikan jasmani, karena melelahkan. Saya tidak tertarik terhadap pelajaran jasmani, karena tidak dapat menambah kekuatan tubuh. Saya tertairk mengikuti pelajaran olah raga, karena dapat bermain dengan teman-teman Ketertarikan saya terhadap pelajaran pendidikan jasmani, karena dapat menguatkan otot-otot

Jawaban Ya Tidak

40

10

Saya kurang tertarik pelajaran pendidikan jasmani, karena menyebabkan bodoh

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Ketertarikan saya terhadap pelajaran pendidikan jasmani, karena mengandung unsur sosial. Saya selalu memperhatikan ketika guru olah raga memberikan contoh gerakan Ketika guru olah raga memberikan contoh gerakan, saya dan teman-teman bersendau gurau Jika guru olah raga tidak datang saya sangat kecewa, karena tidak berolah raga Jika guru olah raga tidak datang, saya dengan temanteman tetap berolah raga Saya mengikuti pendidikan jasmani, karena dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan gerak Saya tidak mengikuti pelajaran pendidikan jasmani, karena takut cedera Saya selalu memperhatikan materi pendidikan jasmani, karena mengandung unsur pendidikan mental. Saya tidak memperhatikan pendidikan jasmani, karena tidak mengandung unsur pengembangan mental Saya mengikuti pelajaran pendidikan jasmani, karena dapat meningkatkan kemampuan berfikir Saya mengikuti praktek olah raga dengan serius Saya mengikuti praktek olah raga dengan semaunya sendiri Gerakan olah raga yang diberikan oleh guru saya ulangi lagi supaya cepat bisa Setelah berolahraga saya lebih mengerti akan pentingnya kesehatan.

41

25 26

Sebelum berolah raga yang berat kita harus melakukan pemanasan Jika pemanasan tidak ditunggui oleh guru, maka saya tidak akan melakukan pemanasan dengan sungguhsungguh

27 28 29 30

t Saya merasa malu jika ditunjuk memimpin pemanasan oleh guru Saya selalu mengikuti olah raga supaya dapat menjadi wakil sekolah dalam lomba Setiap ada lomba sekolah saya tidak pernah ikut serta Agar tujuan pendidikan jasmani dapat terwujud saya selalu melakukan tugas gerak yang diberikan guru dengan sungguh-sungguh. Dengan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani, saya dapat menguasai pola-pola gerak dengan baik. Saya melakukan gerakan lari dengan sungguh-sungguh pada saat pelajaran olah raga Saya tidak melakukan gerakan lari dengan sungguhsungguh pada saat pelajaran olah raga Untuk menguasai gerak ketrampilan secara efektif, saya tidak mengulangi lagi dirumah Jika ada waktu luang dirumah saya akan berolah raga

31 32 33 34 35

42

43

ANALISIS MINAT BERMAIN SEPAKTAKRAW SISWA SMP NEGERI 1 BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan Unuversitas Negeri Makassar Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

OLEH: ABDUL JABBAR

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSASR 2010

44

HALAMAN PENGESAHAN JUDUL PENELITIAN : ANALISIS MINAT BERMAIN SEPAKTAKRAW SISWA SMP NEGERI KECAMATAN BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG : SURVEI : EDI SUDRAJAT : 073804039 : PGSD DIKJAS S1 : ILMU KEOLAHRAGAAN

JENIS PENELITIAN NAMA NIM PROGRAM STUDI FAKULTAS

Makassar, Penasehat Akademik

November 2010

Mahasiswa

Drs. Hasanuddin, M.Kes NIP. 19661004 198702 1 002

Abdul Jabbar NIM. 073804039

Mengetahui : Ketua Prodi PGSD Dikjas S1

Drs. Kasman, M.Kes NIP. 19550320 198702 1 001

45

DAFTAR ISI

Halaman Judul …………………………………………………………...... Halaman Pengesahan ……………………………………………………… Daftar Isi …………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ A. Latar Belakang Masalah..................................................................... B. Permasalahan .................................................................................... C. Tujuan Penelitian .............................................................................. D. Manfaat Penelitian ............................................................................ BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................ A. Minat ................................................................................................... 1. Teori-teor 7 2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat.................................. 9 3. Faktor-Faktor Yang Menimbulkan Minat.................................... 10 4. Bentuk-Bentuk Minat.................................................................. 11 5. Macam-Macam Minat ................................................................ 11

i ii iii

1 5 6 6

7

Minat …………….....................................................

46

6. Unsur-Unsur Minat ..................................................................... 12 7. Ciri-Ciri Minat Anak .................................................................. 13 B. Olahraga Sepaktakraw .................................................................. BAB III METODOLOGI PENELITIAN...................................................... A. Variabel Penelitian........................................................................ B. Defenesi Operasional …………………………………………. C. Populasi dan Sampel ..................................................................... D. Pengumpulan Data ....................................................................... E. Analisis Data .................................................................................. Daftar Pustaka ................................................................................................. 16 20 21 22 24 25 27 29

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful