PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA PUTRI TENTANG KEHAMILAN PADA REMAJA DI SMAN 3 MADIUN

Oleh : LALA ADHAYANA NIM. 2008024

AKADEMI KEBIDANAN BHAKTI HUSADA MULIA MADIUN 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek atau fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12-21 tahun bagi wanita dan 13-22 tahun bagi pria. Kehamilan remaja merupakan masalah yang sering terjadi pada remaja saat ini. (Sri Rumini dan Siti Sundari, 2004) Data Survei Demogrofi dan Kesehatan Indonesia tahun 2010 menunjukkan pada kelompok perempuan usia 15-19 tahun, sebanyak 9% pernah melahirkan bayi dengan 100 orang per 1.000 perempuan. Bandingkan dengan angka di Amerika yang hanya 62 orang per 1.000 perempuan. Oleh karena itu, mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25-30 % kematian wanita subur disebabkan oleh kehamilan, persalinan dan nifas. Tahun 1996 WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil, bersalin dan nifas (Sarwono Prawirohardjo, 2002). Tingginya angka kehamilan pada remaja di Indonesia saat ini dapat dibuktikan dari data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2006, kehamilan remaja di Indonesia menunjukkan hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 2,3 %; karena sama-sama mau sebanyak 8,5 % dan tidak terduga sebanyak 39%. Seks bebas sendiri mencapai 18,3 %. Pada tahun 2010, hamil di luar nikah karena

diperkosa sebanyak 3,2%; karena sama-sama mau sebanyak 12,9% dan tidak terduga sebanyak 45%. Seks bebas sendiri mencapai 22,6%. Di Surabaya, Jawa Timur pada tahun 2006 sekitar 26% mengalami hamil di luar nikah. Sedangkan pada tahun 2010, sekitar 37% mengalami hamil di luar nikah. Angka ini meningkat 11% dari tahun 2006. Dari data SDKI tahun 2007 menunjukkan dari 801 orang remaja yang telah melakukan hubungan seks pranikah, sebanyak 81 orang atau 11% berakhir dengan kehamilan yang tidak diharapkan. Diantara remaja yang hamil tersebut, sekitar 50 orang atau 57,5% mengakhiri kehamilaannya dengan melakukan aborsi. Dalam hal ini perempuan tetap menjadi npihak yang palibng dirugikan karena perempuanlah yang mempertaruhkan nyawanya. (Tukiran, Agus joko Pitoyo, dan pande Made Kutanegara, 2010) Selain itu, menurut data yang diperoleh dari Media Indonesia, rata-rata terdapat 17% kehamilan yang terjadi per tahun, merupakan kehamilan yang tidak diinginkan. Sebagian dari jumlah tersebut bermuara pada praktik aborsi. Grafik aborsi di Indonesia masuk kategori lumayan tinggi. Pada tahun dengan jumlah rata-rata per tahun mencapai 2,4 juta jiwa. Saat ini Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi yaitu 390/100.000 tertinggi di ASEAN menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Hanya sekitar 5% kematian ibu disebabkan penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis (Sarwono Prawirohardjo, 2002).

Dewasa ini masyarakat menghadapi kenyataan bahwa kehamilan pada remaja makin meningkat dan menjadi masalah terutama kehamilan di bawah usia 20 tahun. Kurangnya pengetahuan seks serta adanya istiadat yang merasa malu kawin tua (perawan tua) menyebabkan meningkatnya perkawinan dan kehamilan usia remaja. Beberapa faktor yang menyebabkan kehamilan pada remaja antara lain hubungan seks di masa subur, renggangnya hubungan antara remaja dengan orang tuanya, rendahnya interaksi di tengah-tengah keluarga, keluarga yang tertutup terhadap informasi seks dan seksualitas, menabukan masalah seks dan seksualitas, kesibukan orang tua. (Surbakti, 2009:135-139). Solusi yang diambil remaja saat mereka mengalami kehamilan di luar nikah antara lain : menggugurkan kandungannya, mengasuh sendiri anaknya, menitipkan anaknya ke panti asuhan, diadopsi oleh lingkungan keluarga, diadobsi oleh keluarga lain, anaknya dibunuh atau pun bisa dibuang. (Surbakti, 2009) Dampak dari kehamilan pada usia remaja antara lain abortus yang didukung dengan status ekonomi sebuah keluarga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan si bayi, keadaan emosionalnya, pasangan yang tidak bertanggung jawab. Ada juga kehamilan pada remaja beresiko terjadinya pre-eklampsia, anemia, bayi prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), kematian bayi, kanker pada alat kandungan perempuan, karena rentan pada usia 12-17 tahun perubahan sel dalam mulut rahim sedang aktif sekali, menderita disproporsi sefalo pelvik (karena tulang panggul belum tumbuh sempurna) dan PMS. Selain itu, Kehamilan usia remaja dapat menyebabkan perceraian karena kurang matangnya kedewasaan mereka dalam membina suatu rumah tangga. (Imron, 2006)

Dari sudut kesehatan obstetri hamil pada usia remaja memberi resiko komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan anak seperti : anemia, preeklampsia, eklampsia, abortus. Partus prematurus, kematian perinatal, perdarahan dan tindakan operatif obstetri lebih sering dibandingkan dengan kehamilan pada golongan usia 20 tahun keatas (Soetjiningsih, 2004). Berdasarkan hasil study pendahuluan yang dilakukan di SMAN 3 Madiun yang dilakukan terhadap 9 orang remaja putri kelas II, didapat 5 orang yang tidak tahu adanya dampak dari kehamilan remaja. Remaja khususnya remaja putri yang ada di SMAN 3 Madiun kelas II sedang mempelajari alat-alat reproduksi secara umum dan mereka belum pernah mendapat penyuluhan tentang kesehatan reproduksi khususnya tentang dampak kehamilan remaja. Berdasarkan fenomena diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengetahuan dan sikap remaja putri tentang dampak kehamilan remaja di SMAN 3 Madiun. Dari data dan masalah yang telah diuraikan diatas, solusi yang dapat mengurangi dan mencegah adanya kehamilan pada remaja adalah dilakukannya pendekatan antara orang tua dan anak remaja mereka khususnya remaja putri, menyarankan kepada orang tua agar tetap mengawasi putra-putri mereka tanpa membatasi aktivitas. Dengan demikian orang tua tetap bisa mengontrol dan mengetahui kegiatan yang dilakukan oleh putra-putri mereka di luar rumah. Selain itu kita juga perlu memberikan pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja putri tentang dampak dari kehamilan remaja, memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada orang tua mereka. (Imron, 2006)

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Adakah hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun ?”.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun. 1.3.2 Tujuan Khusus a. Menganalisa tingkat pengetahuan remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun. b. Menganalisa sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun. c. Menganalisa adakah hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu yang berkait dengan pengetahuan kesehatan reproduksi remaja putri terhadap kehamilan remaja di SMAN 3 Madiun.

1.4.2

Manfaat Praktis a. Bagi Institusi (Akbid Bhakti Husada Mulia Madiun) Sebagai bahan pertimbangan, masukan, dan informasi yang dipergunakan untuk menambah pengetahuan kesehatan reproduksi seluruh siswa khususnya dalam mencegah kehamilan remaja. b. Bagi Institusi Yang Diteliti (SMAN 3 Madiun)

Sebagai bahan pertimbangan, masukan, dan informasi yang dipergunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi seluruh siswa khususnya dalam mencegah kehamilan remaja. c. Bagi Peneliti Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam menerapkan ilmu kesehatan reproduksi dan meningkatkan kemampuan melakukan penelitian selanjutnya. Selain itu, peneliti dapat menganalisa pengetahuan dan sikap remaja putri terhadap dampak kehamilan remaja sehingga peneliti dapat mengaplikasikan hasil penelitian yang didapat secara lansung untuk mencegah terjadinya kehamilan pada remaja. d. Bagi Responden

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pemahaman remaja putri siswi kelas II SMAN 3 MADIUN tentang dampak kehamilan yang sering terjadi dikalangan remaja.

1.5 Keaslian Tulisan Masngudin HMS (2004), Hubungan Antara Keberfungsian Sosial Keluarga dengan Kenakalan Remaja Di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan Jakarta. Jenis penelitian adalah analitik dengan rancangan penelitian cross sectional secara bivariat antara beberapa variabel yang dianalisis secara statistik dengan menggunakan rumus product moment. Kemudian diperoleh hasil perhitungan r = - 0,6022 dengan taraf significansi 5%, dari sampel 30 adalah 0,36, berarti ada hubungan negative antara keberfungsian keluarga dengan kenakalan remaja di Pondok Pinang Pinggiran Kota Metropolitan Jakarta. Artinya semakin tinggi tingkat berfungsi sosial keluarga, akan semakin rendah tingkat kenakalan remajanya, demikian sebaliknya semakin rendah keberfungsian sosial keluarga maka akan semakin tinggi tingkat kenakalan remajanya. (http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/2004/Masngudin.htm)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Konsep Dasar Pengetahuan

2.1.1 Pengertian Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga), indera penciuman (hidung), indera perasa (lidah) dan indera peraba (tangan). Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (believe), takhayul (supersition) dan penerangan-penerangan yang keliru (miss information). (Soerjono, 2005)
2.1.2 Tingkat Pengetahuan di Dalam Domain Kognitif

Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu : a. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (re-call) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh badan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek/ materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang akan dipelajari. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagau kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil

penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahkan masalah (Problem Solving Cycle) di dalam pemecahan masalah dari kasus yang diberikan. d. Analisis (Analysis) Suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, misalnya dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan lain sebagainya.

e. Sintesis (Syntesis) Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungjan bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain sintesis itu adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evalution) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari suatu objek penelitian atau responden. 2.1.3 Cara Memperoleh Pengetahuan Pengetahuan seseorang biasanya diperoleh dari pengalaman yang berasal dari sumber, misalnya media massa, media cetak, media elektronik, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat, dan sebagainya. Menurut Notoatmodjo (2010) menyatakan bahwa banyak yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan, namun sepanjang sejarah cara mendapatkan pengetahuan dikelompokkan menjadi 2 antara lain : a) Cara tradisional Cara tradisional terdiri dari 4 cara, yaitu : 1. Trial and error

Cara ini dipakai sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada waktu itu bila seseorang menghadapi persoalan atau masalah, upaya yang dilakukan hanya dengan mencoba- coba saja.

Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain sampai berhasil. Oleh karena itu, cara ini disebut dengan metode Trial (mencoba) dan Error (gagal/salah) atau metode coba salah/coba-coba. Metode ini telah banyak jasanya, terutama dalam meletakkan dasar-dasar menemukan teori-teori dalam berbagai ilmu pengetahuan. Hal ini juga merupakan pencerminan dari upaya memperoleh pengetahuan, walaupun dalam taraf yang masih primitif. Di samping itu, pengalaman yang diperoleh melalui penggunakan metode ini banyak membantu perkembangan berpikir dalam kebudayaan manusia ke arah yang lebih sempurna. 2. Kekuasaan atau Otoritas

Dalam kehidupan manusia sehari-hari banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui perantara, apakah yang dilakukan itu baik/tidak. Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterma oleh sumbernya berbagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun non formal, ahli agama, pemegang pemerintah dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas/kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemimpin agama, maupun ahli pengetahuan.

3.

Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Adapun pepatah mengatakan “Pengalaman adalah guru terbaik”. Pepatah ini mengandung bahwa pengalaman ini merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran 4. Jalan Pikiran

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia, cara berpikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini manusia telah mampu menggunakan perasaannya dalam memperoleh pengetahuan. Manusia telah menjalankan jalan pikirannya, baik melalui induksi atau deduksi. Induksi dan deduksi pada dasarnya adalah cara melairkan pemikiran secara tidak langsung pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungan sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pertanyaan-pertanyaan khusus kepada yang umum dinamakan induksi, sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan umum kepada khusus.
b) Cara Ilmiah

Dalam memperoleh pengetahuan dewasa ini lebih sistematik, logis ilmiah. Cara ini disebut metode penelititan ilmiah atau lebih populer disebut metodologi penelitian (Research Methodology).

2.1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), Nursalam dan Siti Pariani (2001) faktorfaktor yang mempengaruhi pengetahuan, yaitu : (1) Umur Menurut Hurlock (1998) yang dikutip oleh Nursalam dan Siti Pariani (2001) semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari orang yang belum cukup tinggi dewasanya. Hal ini sebagai akibat dari kematangan dan pengalaman jiwa. (2) Tingkat Pendidikan Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti bahwa dalam pendidikan itu telah terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan ke arah yang dewasa, lebih baik dan lebih matang dalan individu, kelompok dan masyarakat. Makin tinggi pendidikan seseirang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai bagi yang dikenakan. (3) Pekerjaan Dengan adanya pekerjaan seseorang memerlukan banyak waktu dan tenaga, untuk itu informasi yang diperoleh sulit dicerna, sedangkan ibu yang tidak bekerja mempunyai banyak waktu luang, sehingga informasi yang diperoleh semakin banyak sehingga pengetahuan yang dimiliki lebih tinggi.

(4) Pengalaman dan Sumber Informasi Pengetahuan dapat dipengaruhi pengalaman sendiri atau dari pengalaman orang lain, sebagai contoh seorang anak memperoleh pengetahuan bahwa api itu panas adalah setelah memperoleh pengetahuan dimana tangan atau kakinya terkena api dan terasa panas.

2.2

Konsep Dasar Sikap

2.2.1 Pengertian Sikap Menurut Bimo Walgito (2002) yang dikutip oleh Sunaryo (2004) menyatakan sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya. Menurut Gerungan dalam Sunaryo (2004) menyatakan attitude diartikan dengan sikap terhadap objek tertentu, yang dapat merupakan sikap pandangan atau sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan objek tadi. Menurut Abu Ahmadi dalam Sunaryo (2004) menyatakan sikap adalah kesiapan merespons yang sifatnya positif atau negatif terhadap suatu objek atau situasi secara konsisten. Menurut Notoatmodjo (2003), Sikap (Attitude) merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Dari berbagai batasan tentang sikap dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu

tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Newcomb salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi meruopakan predisposisi tindakana atau perilaku. Ssedangkan menurut Berkowitz 1972 yang dikutip oleh Syaiffuddin Azwar (2005), sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat dilihat langsung, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. (Sunaryo, 2004) 2.2.2 Komponen Pokok Dalam bagian lain Allport, sebagaimana yang dijelaskan oleh Notoatmodjo yang dikutip oleh Sunaryo (2004), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu : a. Komponen Kognitif

Ialah kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek. b. Komponen Afektif

Ialah kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.

c.

Komponen Konatif

Ialah kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Suatu contoh misalnya, seorang ibu telah mendengar tentang dampak kehamilan remaja. Pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terjerumus dalam kehamilan remaja. Dalam berpikir ini komponen emosi akan memberitahu kepada anaknya untuk lebih berhati-hati dalam bergaul agar tidak terjerumus dalam kehamilan remaja. 2.2.3 Fungsi Sikap Menurut Attkinson, R.L, dkk., dalam Sunaryo (2004) menyatakan bahwa sikap memiliki 5 fungsi sebagai berikut : a. Fungsi Instrumental Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat, dan menggambarkan keadaan keinginan. Sebagaimana kita maklumi bahwa untuk mencapai suatu tujuan, diperlukan sarana yang disebut sikap. Apabila objek sikap dapat membantu individu mancapai tujuan, individu akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut atau sebaliknya. Disebut fungsi manfaat (utility), yaitu sejauh mana manfaat objek sikap dalam pencapaian tujuan. b. Fungsi Pertahanan Ego Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi diri dari kecemasan atau ancaman harga dirinya.

c.

Fungsi Nilai Ekspresi Sikap ini mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu. Sistem

nilai apa yang ada pada diri individu, dapat dilihat dari sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan terhadap nilai tertentu. d. Fungsi Pengetahuan Sikap ini membantu individu untuk memahami dunia, yang membawa keteraturan terhadap bermacam-macam informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap indovidu memiliki motif untuk ingin tahu, ingin mengerti, dan ingin banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan. e. Fungsi Penyesuaian Sosial Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat. Dalam ini, sikap yang diambil individu tersebut akan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. 2.2.4 Tingkatan Sikap Menurut Notoatmodjo dalam Sunaryo (2004) menyatakan sikap memiliki 4 tingkat, dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu : a. Menerima (Receiving) Subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek. b. Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya serta mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Lepas jawaban dan pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut.

c. Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu masalah. d. Bertanggungjawab (Responsible) Bertanggungjawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya merupakan tingkat sikap yang paling tinggi. Pengukuran sikap dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. 2.2.5 Pembentukan Sikap Menurut Syaifuddin Azwar (2005), beberapa faktor pembentukan sikap adalah : a. Pengalaman Pribadi Menurut Middlebrook (1974) yang dikutip oleh Saifuddin Azwar (2005) bahwa tidak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu objek psikologis cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap objek tersebut. Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.

b. Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin dikecewakan, atau seseorang yang berarti khusus bagi kita (significant others), akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Di antara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, isteri atau suami, dan lain- lain. Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang lain yang dianggap penting tersebut. c. Pengaruh Kebudayaan Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Seorang ahli psikologi yang terkenal, Burrhus Frederic Skinner sangat menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk pribadi seseorang. Kepribadian, kata tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement yang kita alami. Kita memiliki pola sikap dan perilaku tertentu dikarenakan kita mendapat reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan

perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain. (Hergenhahn, 1982 yang dikutip oleh Saifuddin Azwar, 2005) d. Pusat Informasi Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain. Mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarah opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugesti yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar efektif dalam

menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu. e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam f. Pengaruh Faktor Emosional Kadang-kadang suatu bentuk sikap nerupakan oernyataan hyang frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

2.2.6 Ciri-ciri Sikap Ciri-ciri sikap sebagaimana dikemukakan oleh para ahli seperti Gerungan (1996), Abu Ahmadi (1999), Sarlito Wirawan Sarwono (2000), dan Bimo Walgito (2001) dalam Sunaryo (2004) yaitu :
a. Sikap tidak dibawa sejak lahir, tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan

pengalaman dan latihan sepanjang perkembangan individu dalam hubungan dengan objek.
b. Sikap dapat berubah-ubah dalam situasi yang memenuhi syarat untuk itu

sehingga dapat dipelajari. c. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhubungan dengan objek sikap. d. Sikap dapat tertuju pada suatu objek ataupun dapat tertuju pada sekumpulan atau banyak objek. e. Sikap dapat berlangsung lama atau sementara. f. Sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi sehingga membedakan dengan pengetahuan.
2.2.7Cara pengukuran sikap

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap seseorang. Pernyataan sikap adalah serangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi atau mengatakan hal yang positif mengenai objek sikap yaitu kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favourable.

Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal yang negatif mengenai objek sikap yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap objek sikap. Pernyataan ini yang disebut dengan pernyataan yang unfavourable. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pernyataan favourable dan unfavourable dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak mendukung sama sekali objek sikap. (Syaiffudin Azwar, 2005). Sedangkan pengukuran sikap menurut Sunaryo (2004) dibedakan menjadi 2 cara yaitu : a. Secara Langsung Dengan cara ini, subjek secara langsung dimintai pendapat bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah atau hal yang dihadapkan kepadanya. Jenis – jenis pengukuran sikap secara langsung, yaitu :
1.

Langsung berstruktur Cara ini mengukur sikap dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dalam suatu alat yang telah ditentukan dan langsung diberikan kepada subjek yang diteliti.

2.

Langsung tidak berstruktur Cara ini merupakan pengukuran sikap yang sederhana dan tidak diperlukan persiapan yang cukup mendalam, misalnya mengukur sikap dengan wawancara bebas atau free interview, pengamatan langsung, atau survei.

b. Secara Tidak Langsung Cara pengukuran sikap dengan menggunakan tes umunya digunakan skala semantik-differensial yang terstandart. Cara pengukuran sikap yang banyak digunakan adalah skala yang dikembangkan oleh Charles E. Osgood.

2.3

Konsep Dasar Kehamilan

2.3.1 Pengertian Kehamilan

Menurut Syaiffudin (2002), Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. lama hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulun 7 hari) di hitung dari haid pertama haid terakhir (di mulai dari konsepsi) sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ke 7 sampai 9 bulan. Menurut Sarwono (2009), Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. Kehamilan merupakan suatu perubahan dalam rangka melanjutkan keturunan yang terjadi secara alami, menghasilkan janin yang tumbuh didalam rahim ibu. Menurut Mansjoer (2001), Kehamilan matur (cukup bulan) berlangsung kira-kira 40 minggu (280 hari) dab tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang berlangsung antara 28 minggu dan 36 minggu disebut kehamilan prematur, sedangkan bila lebih dari 43 minggu disebut kehamilan

postmatur. Menurut usia kehamilan dibagi menjadi : kehamilan trimester pertama 0-14 minggu, trimester kedua 14-28 minggu, trimester ketiga 28-42 minggu Menurut (Manuaba, 1998: 123-125) Lama kehamilan berlangsung sampai persalinan aterm sekitar 280 sampai 300 hari dengan perhitungan sebagai berikut: - Kehamilan sampai 28 minggu dengan berat janin 1000 g bila berakhir disebut keguguran. - Kehamilan 29 sampai 36 minggu bila terjadi persalinan disebut premature. - Kehamilan berumur 37 sampai 42 disebut aterm. - Kehamilan melebihi 42 minggu disebut kehamilan lewat waktu atau postdatism (serotinus). ( dikutip dari http://stikesonline.com/2011/03/definisikehamilan-normal/ yang diakses pada tanggal 11 April 2011 ) Menurut Guyton, Kehamilan adalah rangkaian peristiwa yang baru terjadi bila ovum dibuahi dan pembuahan ovum akhirnya berkembang sampai menjadi fetus yang aterm. Menurut Kushartanti (2004), Kehamilan adalah dikandungnya janin hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma. Menurut Prof. dr. Hanifa Wiknjosastro, SpOG, untuk tiap kehamilan harus ada spermatozoon, ovum, pembuahan ovum (konsepsi) dan nidasi hasil konsepsi. Umumnya nidasi terjadi di dinding depan da belakang uterus, dekat fundus uteri. Jika nidasi ini terjadi, barulah dapat disebut terjadi adanya kehamilan. Masa kehamilan dimulai dan konsepsi sampai lahirnya janin.

Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terahir (Sarwono Prawirohardjo, 2007). Kehamilan dimulai dari ovulasi sampai partus lamanya kira-kira 280 hari (40minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan post matur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan premature. Kehamilan post matur akan mempengaruhi viabilitas (kelangsungan hidup) bayi yang dilahirkan, karena bayi yang terlalu muda mempunyai prognosis buruk. Ditinjau dari tuanya kehamilan, kehamilan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu trimester pertama (antara 0-12 minggu), kehamilan trimester dua (antara 12-28 minggu), dan kehamilan trimester tiga (antara 28-40 minggu). Bila hasil konsepsi dikeluarkan dari kavum uteri pada kehamilan dibawah 20 minggu, disebut abortus (keguguran). Bila hal ini terjadi di bawah 36 minggu disebut partus prematurus (persalinan premature). Kelahiran dari 3840 minggu disebut partus aterm. (Hanifa Wiknjosastro, 2007 : 125) 2.3.2 Pengertian Kehamilan Resiko Tinggi Menurut Ubaydillah (2002), Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya. (Ubaydillah, 2000)

2.3.3 Dampak Kehamilan Resiko Tinggi pada Usia Muda

Dampak kehamilan resiko tinggi pada usia muda antara lain : a. Keguguran Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. Seperti karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan. b. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi

terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. Cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. Selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri. Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan.

c. Mudah terjadi infeksi Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas. d. Anemia kehamilan/kekurangan zat besi. Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis. e. Keracunan Kehamilan (Gestosis). Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian. f. Kematian ibu yang tinggi. Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun).

Adapun akibat resiko tinggi kehamilan usia dibawah 20 tahun antara lain:  Resiko bagi ibunya : a. Mengalami perdarahan Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal didalam rahim).kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir b. Kemungkinan keguguran/abortus Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi keguguran. hal ini disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja, baik dengan obat-obatan maupun memakai alat. c. Persalinan yang lama dan sulit Adalah persalinan yang disertai komplikasi ibu maupun janin.penyebab dari persalinan lama sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelaina kekuatan his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salah. d. Kematian ibu Kematian pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.

 Dari bayinya : a. Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan. Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). hal ini terjadi karena pada saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang. b. Berat badan lahir rendah (BBLR) Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram. kebanyakan hal ini dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. dapat juga dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil. c. Cacat bawaan Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan.hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kelainan genetik dan kromosom, infeksi, virus rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon. d. Kematian bayi.kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian perinatal.yang disebabkan berat badan kurang dari 2.500 gram, kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari), kelahiran kongenital serta lahir dengan asfiksia.(Manuaba,1998).

2.3.4 Ciri-ciri perkembangan fetus sebagai berikut :

Tua Kehamilan Ciri-ciri Perkembangan Fetus (minggu) Organogenesis - 8 minggu Kuping, hidung, jari-jari mulai dibentuk, kepala membungkuk ke dada. - 12 minggu Daun kuping lebih jelas, kelopak-kelopak mata masih melekat leher mulai dibentuk, alat genitalia eksterna terbentuk, belum berdiferensiasi Masa Fetal - 16 minggu Genetalia eksterna terbentuk dan dapat dikenali, kulit merah tipis sekali. - 20 minggu Kulit lebih tebal, opak dengan rambut halus (lanugo) Kelopak-kelopak mata terpisah, alis dan bulu mata ada, kulit - 24 minggu keriput. Masa Perinatal 28 minggu Berat 1000 gram (Sarwono Prawirohardjo, 2007) 2.3.5 Perubahan Anatomik dan Fisiologi Pada Wanita Hamil Pada masa kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita, khususnya pada alat genetalia eksterna, interna dan payudara (mammae). Dalam hal ini hormon somatomammotropin, estrogen, dan progresteron mempunyai peranan penting seperti telah dikemukakan. Menurut Sarwono (2007), perubahan yang terdapat pada wanita hamil menurut ialah sebagai berikut : a. Uterus Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh estrogen dan progresteron yang kadarnya meningkat. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita tersebut hamil fisiologik atau hamil ganda atau menderita penyakit seperti mola hidatidosa, dan sebagainya.

Menurut Hanifa (2007:91), Berat uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus ini menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm. Pada bulanbulan pertama kehamilan bentuk uerus seperti buah advokad, agak gepeng. Pada kahamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Pada kehamilan 36 minggu fundus uteri terletak kira-kira 1 jari di bawah procesus xipoideus. Pada triwulan terakhir istmus lebih nyata menjadi bagian corpus uteri dan berkembang menjadi besar. b. Serviks Uteri Pada kehamilan juga mengalami perubahan dikarenakan hormon estrogen. Jika korpus uteri mengandung lebih banyak jaringan otot, maka serviks lebih banyak mengandung jaringan ikat, hanya 10 % jaringan otot. Jaringan ikat pada serviks ini banyak mengandung kolagen. Akibat kadar esrtogen yang meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistenso serviks menjadi lebih lunak. Hormon estrogen, vagina dan vulva mengalami perubahan. Dan hipervaskularisasi itu juga mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah kebiru-biruan (livide). (Hanifa Wiknjosastro, 2007:95) c. Perubahan kulit Pada kulit terlihat adanya hyperpigmentatie, ialah athnya kelebihan pigmen pada tempat-tempat tertentu. Perubahan pada kulit ini tidak selalu sama pada setiap wanita hamil, ada yang sebagian saja dan ada pub yang semua pada tempat tersebut.

Menurut Hanifa (2007:126), Terjadi pada kehamilan 12 minggu ke atas pada pipi, hidung dan dahi kadang-kadang tampak deposit pigmen yang berlebihan (kloasma gravidarum). Areola mammae juga menjadi lebih hitam karena terjadi deposit pigmen yang berlebih. Daerah leher menjadi lebih hitam, demikian pula linea alba di garis tengah abdomen menjadi lebih hitam. Pigmentasi ini terjadi karena pengaruh hormon kortikosteroid plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. d. Sistem pencernaan Menurut Hanifa (2007:97), Tonos otot-otot saluran pencernaan menurun, sehingga motilitas seluruh saluran pencernaan juga berkurang. Makanan lebih lama berada di dalam lambung dan apa yang telah dicerna akan berada lebih lama dalam usus. Hal ini baik untuk reabsorbsi, akan tetapi menimbulkan obstipasi. e. Traktus urinarius Menurut Hanifa (2007:97), Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan lagi.

f. Metabolisme Pada wanita hamil basal metabolic rate (BMR) meninggi hingga 15-20% terutama pada trimester akhir. Keseimbangan asam alkali sedikit mengalami perubahan konsentrasi alkali. Wanita tidak hamil : 155 mEq/liter Wanita hamil Serum Na : 145-147 mEq/liter : turun dari142 mEq/liter menjadi 135-137 mEq/liter

Plasma bikarbonat : turun dari 25 ke 22 mEq/liter Protein diperlukan dalam kehamilan untuk perkembangan badan, alat kandungan, mammae dan untuk janin. Protein harus disimpan pula untuk kelak dapat dikeluarkan pada laktasi. Metabolisme lemak : kadar kolesterol meningkat sampai 350 mg atau lebih per 100 ml. Hormon somatomammotropin mempunyai peranan dalam pembentukan lemak dan mammae. Kalsium : janin membutuhkan 30-40 gr kalsium untuk pembentukan

tulang, terutama trimester akhir, dibutuhkan 1,5-2,5 gr kalsium sehari Fosfor Zat besi besi sehari. Berat badan wanita hamil naik kira-kira di antara 6,5-16,5 kg rata-rata 12,5 kg, kenaikan berat badan ini terjadi terutama kehamilan 20 minggu terakhir. (Wiknjosastro, 2007: 98-99) : dibutuhkan rata-rata 2 gr perhari : dibutuhkan tambahan zat besi sekitar 800 mg, atau 30-50 mg

g. Perubahan pada kelenjar Yang kelihatan ialah kelenjar tiroid yang menjadi besar, jadi leher wanita itu bentuknya seperti leher pria. Perubahan ini tidak terdapat pada setiap wanita hamil.
h. Sirkulasi darah

Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke placenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamae dan alat lain yang fungsinya berlebih dalam kehamilan. Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25% dengan puncak kehamilan 32 minggu,diikuti dengan cardiac output yang meningkat kira-kira 30%. Akibat hemodulasi yang mulai jelas timbul pada kehamilan 16 minggu, ibu yang mempunyai penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi kordis. (Wiknjosastro, 2007:96) i. Perubahan pada mammae (buah dada) Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon somatomammotropin, estrogen dan progesteron, akan tetapi belum bisa mengeluarkan air susu ibu. Estrogen menimbulkan hipertrofi sistem saluran, sedangkan progesteron menambah sel-sel asinus pada mammae. Sedangkan somatomammotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus pula dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga terjadi pembuatan kasein, laktalbumin, dan laktoglobulin. Di bawah pengaruh progesteron dan somatomammotropin, terbentuk lemak di sekitar kelompok-kelompok alveolus, sehingga mammae menjadi lebih besar. Papilla mammae akan membesar, lebih tegak dan

tampak lebih hitam, seperti seluruh areola mammae karena hiperpigmentasi. Glandula montgomery tampak lebih jelas menonjol di permukaan areola mammae. Pada kehamilan 12 minggu ke atas dari puting susu dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut kolostrum. (Wiknjosastro, 2007:95) j. Perubahan perut Perut akan kelihatan makin lama makin besar. Biasanya dari umur kehamilan 4 bulan membesarnya perut belum kelihatan. Setelah itu mulai kelihatan membesar, lebih-lebih setelah kehainilan umur 5 bulan kelihatan cepat sekali menjadi besar. k. Perubahan pada tungkai Perubahan pada tungkai ini adalah timbulnya varices pada sebelah atau kedua belah tungkai. Pada hamil tua sering oedema pada salah satu tungkai. Oedema ini disebabkan karena tekanan uterus yang membesar pada vena femoralis, sebelah kanan atau sebelah kiri. l. Sikap ibu pada waktu kehamilan agak tua. Sikapnya menjadi lordose yang disebabkan oleh adanya perubahan bentuk pada tulang belakang (vertebrae) dimana tulang belakang tersebut menyesuaikan diri dengan keseimbangan badan yang berhubungan dengan keadaan uterus yang membesar. m. Amenorea ( tidak terdapat haid) Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak terdapat haid lagi. Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat

ditentukan tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan akan terjadi. (Wiknjosastro, 2007:125) n. Epulish Epulish adalah suatu hipertropi papilla ginggivae. Sering terjadi pada triwulan pertama. (Wiknjosastro, 2007 : 126) o. Varises Menurut Hanifa (2007:126), sering dijumpai pada trimester terakhir. Terdapat pada daerah genetalis eksterna, fossa poplitea, kaki dan betis. Pada multigravida kadang varises ditemukan pada kehamilan yang terdahulu, timbul kembali pada trimester pertama. Kadang timbulnya varises merupakan gejala pertama kehamilan muda.
p. Tanda piscaceck

Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut. (Wiknjosastro, 2007:126) q. Suhu basal Bila suhu basal setelah ovulasi tetap tinggi antara 37,20C-37,80C adalah salah satu tanda akan adanya kehamilan. Gejala ini sering dipakai dalam pemeriksaan kemandulan. (Wiknjosastro, 2007:127) r. Ditemukan hormon HCG Ciri khas yang dipakai untuk menentukan adanya Human Chorionik Gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pagi hari. Dengan tes kehamilan tertentu air kencing pagi hari ini dapat membantu membuat diagnosis kehamilan sedini-dininya. (Wiknjosastro, 2007:127)

s. Perubahan-perubahan maternal Menurut Hanifa (2007), Penurunan bayi kedalam pelvic atau panggul ibu. Plasenta setebal hamper empat kali waktu usia kehamilan 18 minggu dan beratnya 0,5-0,6 kg. Ibu ingin sekali melahirkan bayi, mungkin memiliki energi final yang meluap. Sakit punggung dan sering kencingmeningkat. Braxon hicks meningkat karena serviks dan segmen bawah rahim disiapkan untuk persalinan. 2.3.6 Keluhan yang Sering Dirasakan Oleh Ibu hamil Menurut Kushartanti (2004), ketidak nyamanan fisik tersebut berupa keluhan-keluhan yang dirasakan oleh ibu hamil antara lain:  Mudah terengah-engah Keluhan ini terutama dirasakan apabila uterus telah membesar sehingga mendesak sekat rongga dada (diafragma) dan mengganggu ekspansi paru. Keadaan ini diperberat oleh meningkatnya kebutuhan oksigen pada ibu hamil.  Mudah lelah Keluhan ini dipicu oleh. meningkatnya kebutuhan aliran darah yang kurang dibanding dengan ketersediaan darah. Volume darah ibu hamil meningkat sampai 30-50%, dan frekuensi denyut jantung meningkat hingga 20%.  Mual dan muntah Keluhan ini disebabkan oleh adanya perubahan aktivitas hormon yang menurunkan peristaltik usus dan tertumpahnya asam lambung keujung atas

lambung. Penurunan peristaltik usus ini juga akan memperlambat proses pencernaan dan mengakibatkan sembelit. Enek umumnya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, kadang disertai emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness. Dalam batas tertentu keadaan ini masih fisiologik. Bila terlalu sering dapat menyebabkan gangguan kesehatan disebut hiperemesis gravidarum. (Wiknjosastro, 2007:125-126)  Nyeri punggung dan pinggang Keluhan ini disebabkan oleh adanya perubahan postur tubuh dimana bentuk tulang belakang cenderung melengkung kedepan (lordose). lengkungan ini disebabkan oleh membesarnya perut. Disamping itu, keluhan ini juga dipicu oleh adanya hormon relaksin yang mengendurkan persendian dipunggung bagian bawah dan panggul.  Nyeri panggul Keluhan ini disebabkan oleh semakin membesarnya uterus sehingga menekan panggul. Keadaan ini semakin diperberat dengan mengendurnya persendian dipanggul dan meregangnya otot-otot panggul.  Tidak bisa tidur Keluhan nii biasanya terjadi pada akhir kehamilan, karena pada saat itu terjadi penumpukan berbagai keluhan. Keluhan tersebut misalnya, susah bernafas dan nyeri punggung.

Mengidam (menginginkan makanan atau minutan tertentu) Mengidam sering terjadi pada bulan-bulan pertama, tapi akan

menghilang seiring bertambahnya usia kehamilan. (Wiknjosastro, 2007:126)  Sering kencing Terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pada trimester II umumnya keluhan ini hilang karena uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada trimester III akhir, gejala ini bisa timbul lagi karena janin mulai masuk ke ruang panggul dan menekan kembali kandung kencing. (Wiknjosastro, 2007 : 126)

2.4

Konsep Dasar Remaja

2.4.1 Pengertian Remaja Remaja adalah masa transisi (masa peralihan) dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, yaitu saat manusia tidak mau lagi diperlakukan oleh lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai anak-anak. (Abdul, 2006) Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12-24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi yang digunakan oleh departemen kesehatan adalah mereka yang berusia 10-19 tahun dan belum menikah. Sementara itu, menurut BKKBN (2000) batasan usia remaja adalah 10-21 tahun. Masa remaja merupakan suatu periode yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dan fisik, emosi, kognitif dan sosial yang menjembatani masa kanakkanak dan dewasa. Secara umum remaja dimulai dari usia 11-12 tahun dan berakhir pada usia sekitar 18-21 tahun. (Mernstein, 2002)

Remaja

atau

“adolence”

(inggris),

berasal

dari

bahasa

latin

“adolescere” yang berarti tumbuh ke arah kematangan. Kematangan yang dimaksudkan adalah bukan hanya kematangan fisik saja tetapi juga kematangan psikologis dan sosial (Hurlock, 2003) Remaja mengalami perubahan secara primer yakni menarche pada remaja putri, dan perubahan primer tersebut menghasilkan efek psikologis seperti adanya efek psikologis dari menarche. (Victoria, 2000) Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anakanak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. (dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja diakses pada tanggal 11 April 2011) Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12-21 tahun. (dikutip dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja diakses pada tanggal 11 April 2011) Dari bahasa inggris "teenager" yakni manusia usia 13-19 tahun. Dimana usia tersebut merupakan perkembangan untuk menjadi dewasa untuk itu peran orang tua disini betul betul berperan, karena kalau tidak diarahkan sesuai dengan kaidah agama dan nilai etika yang baik pasti cenderung terjerumus ke hal-hal yang negatif. Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena

tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. (dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja diakses pada tanggal 11 April 2011) Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: Masa peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosialemosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12-21 tahun. (dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja diakses pada tanggal 11 April 2011). Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Masa ini sering disebut dengan masa pubertas. Namun, demikian,

menurut beberapa ahli, selain istilah pubertas digunakan juga istilah adolesens dalam bahasa inggris adolescence) Istilah pubertas digunakan untuk menyatakan perubahan biologis baik bentuk maupun fisiologi yang terjadi dengan cepat dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, sedangan adolesens lebih ditekankan pada perubahan psikososial atau kematangan yang menhyertai masa pubertas (Soetjiningsih, 2004 dalam buku Kesehatan Remaja Problem dan Solusinya) 2.4.2 Perkembangan Remaja Menurut Merenstein, Gerald B (2002: 234) perkembangan remaja dibagi mejadi 3 fase perkembangan yaitu : a. Masa remaja awal (usia 10-13 tahun) Dicirikan oleh pertumbuhan yang tepat dan perkembangan karakteristik seks sekunder. Remaja muda sering terpaku pada perubahan fisik yang berlangsung pada tubuh mereka, karena perubahan fisik yang cepat, kesan tubuh, konsep pribadi, dan harga diri berfluktuasi secara dramatis. Ketika remaja muda mulai menjadi independent dan ikatan keluarga melanggar, kesetiaan bergeser dari orang tua kepada teman sebaya, yang menjadi lebih penting. b. Masa remaja menengah (usia 14-16 tahun) Pada saat ini remaja mulai menyesuaikan diri dan merasa lebih nyaman dengan tubuh mereka yang “baru”. Sifat yang khas pada saat ini adalah emosi yang kuat dan perubahan suasana hati yang cepat, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Secara kognitif, ketika remaja berubah dari berfikir kongkrit menjadi berfikir normal, terbentuklah kemampuan berfikir secara abstrak. Kadang pada masa ini juga teman sebaya

menentukan standar dalam hal identifikasi, perilaku aktifitas dan lain-lain untuk mendapatkan otonominya. Pada masa ini kemungkinan dapat menimbulkan masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Kondisi tertentu perilaku menyimpang. Kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang mengganggu. Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang akan menajdi pemicu timbulnya berbagai

penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan atau norma yang ada dimasyarakat yang biasanya disebutkan dengan kenakalan remaja. c. Masa remaja akhir (usia 17 tahun ke atas) Pada masa ini, remaja mulai kurang mementingkan diri sendiri dan mulai lebih mementingkan orang lain. Hubunghan sosial bergeser dari kelompok teman sebaya ke arah hubungan individual. Dan masa remaja akhir ini merupakan periode idealisme. Sedangkan menurut Soetjiningsih (2004), tahap perkembangan remaja sebagai berikut : a. Masa remaja awal (11-13 tahun) Merupakan tahap awal/permulaan, remaja sudah mulai tampak perubahan fisik yaitu fisik sudah mulai matang dan berkembang. b. Masa remaja pertengahan (14-16 tahun)

Pada masa ini remaja sudah mengalami pematangan disik secara penuh, dan gairah seksual sudah mencapai puncak sehingga mereka cenderung mempergunakan kesempatan untuk melakukan sentuhan fisik. c. Masa remaja lanjut (17-20 tahun) Pada masa remaja lanjut sudah mengalami perkembangan fisik secara penuh, sudah seperti orang dewasa. Mereka telah mempunyai perilaku seksual yang sudah jelas dan mereka sudah mulai mengembangkannya dalam bentuk pacaran. 2.4.3 Karakterisik Remaja Sepertinya halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelum dan sesudahnya. Adapun ciri-ciri remaja menurut Hurlock (2003:207) antara lain sebagai berikut : a. Masa remaja sebagai periode penting Kendatipun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting, namun kadar pentingnya berbeda-beda. Pada periode remaja, akibat langsung maupun akibat jangka panjang tetaplah penting, ada periode yang penting karena akibat fisik dan ada pula akibat psikologisnya. Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat yang baru pada masa remaja.

b. Masa remaja sebagai periode peralihan Peralihan tidak berarti terputus dengan atau berubah dari apa yang telah terjadi sebelumnya, melainkan lebih-lebih sebuah peralihan dari suatu tahap perkembangan ketahap berikutnya. Dalam setiap periode peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan oeran yang akan dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa. Status remaja yang tidak jelas ini menguntungkan karena status memberi waktu kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai, sifat, yang paling sesuai bagi dirinya . c. Masa remaja sebagai periode perubahan Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Ada 5 perubahan yang sama yang hampir bersifat universal, yaitu : Meninggikan emosi Perubahan emosi terjadi lebih cepat selama masa awal remaja, maka meningginys emosi lebih menonjol pada masa awal periode akhir-akhir remaja. - Perubahan tubuh Disini mulai tampak perbedaan antara pria dan wanita akibat perubahan fisik yang terjadi, misalnya pada wanita mengalami menarche, tumbuhnya payudara, mulai terlihatnya timbunan lemak di daerah pinggulnya, dan tumbuhnya bulu pubis, dan bulu di daerah ketiak.

- Minat dan perang yang diharapkan Bagi remaja muda masalah baru yang timbul tampaknya lebih banyak dan lebih sulit diselesaikan dibandingkan masalah yang dihadapi sebelumnya. Remaja akan tetap merasa ditimbuni masalah sampai ia sendiri menyelesaikan menurut kepuasannya. - Perubahan nilai-nilai Apa yang pada masa kanak-kanak dianggap penting sekarang setelah hampir dewasa dianggap tidak penting lagi. Sekarang mereka mengerti bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. - Sikap ambivalan terhadap setiap perubahan Mereka menginginkan dan menuntut kebebasan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan apa akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk mengatasi tanggung jawab tersebut. d. Masa remaja sebagai usia bermasalah Setiap periode mempunyai masalahnya sendiri-sendiri, namun masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun perempuan. Karena remaja tidak mampu untuk mengatasi sendiri masalahnya menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. e. Masa remaja sebagai masa mencari identitas Sepanjang usia kahir masa kanak-kanak, penyesuaian diri dengan standart kelompok adalah jauh lebih penting bagi anak daripada individualitas. Tetapi masa awal remaja ini, penyesuaian diri dengan kelompok nasih tetap

penting bagi anak laki0laki maupun perempuan. Salah satu cara untuk mencoba mengangkat diri sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status. Dengan cara ini, remaja menarik perhatian pada diri sendiri adar dipandang sebagai individu, dan oada saat inilah ia mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebayanya. f. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutkan Anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, yang tidak dapat dipercaya dan cenderung merusak, menyebabkan orang dewasa yang harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja. Menerima stereotif ini adalah adanya keyakinan bahwa orang dewasa mempunyai pandangan yang buruk tentang remaja, membuat peralihan ke masa dewasa menjadi sulit. Hal ini menimbulkan banyak pertentangan antara orang tua sehingga menjadi penghalang bagi anak meminta bantuan kepada orang tua untuk mengatasi masalahnya. g. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca, ia melihat diri sendiri dan orang lain sebagaimana yang ia inginkan dan bukan sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistik ini menjadi remaja menjadi marah dan kecewa. Tetapi dengan bertambahnya pengalaman pribadi dan pengalaman sosial dan meningkatkan kemampuan untuk berfikir rasional, remaja yang lebih besar memandang diri sendiri, keluarga, temanteman dan kehidupan pada umumnya secara lebih realistik.

h. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotif belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belumlah cukup. Oleh karena itu, remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa. 2.4.4 Rentang Waktu Usia Remaja Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu :
• • • •

Masa praremaja 10-12 tahun masa remaja awal 12-15 tahun masa remaja pertengahan 15-18 tahun masa remaja akhir 18-21tahun Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi

empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10-12 tahun, masa remaja awal 12-15 tahun, masa remaja pertengahan 15-18 tahun, dan masa remaja akhir 18-21 tahun (Deswita, 2006:192). Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis. (dikutip dari

http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja diakses pada tanggal 11 April 2011).

2.4.5 Perubahan Kejiwaan Pada Masa Remaja Menurut Widyastuti (2009), Perubahan-perubahan yang berkaitan dengan kejiwaan pada remaja adalah : a. Perubahan emosi tersebut berupa kondisi : - Sensitif atau peka misalnya menangis, cemas, frustasi dan sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan. - Mudah bereaksi bahkan agresif terhadap gangguan atau rangsangan dari luar yang mempengaruhi. - Ada kecenderungan tidak patuh pada orang tua, dan lebih senang pergi bersama dengan temannya daripada tinggal di rumah. b. Perkembangan intelegensia ini dapat menyebabkan diantaranya :
- Cenderung mengembangkan cara berfikir abstrak dan suka memberikan

kritik.
- Cenderung ingin mengetahui hal-hal baru, sehingga muncul perilaku

remaja ingin mencoba-coba. 2.4.6 Kenakalan Remaja Kenakalan remaja adalah perilaku yang melampaui batas toleransi orang lain dan lingkungannya. Tindakan ini dapat merupakan perbuatanyang melanggar hak azasi manusia, bahkan sampai melanggaran hukum. (Tim Penulis Poltekkes Depkes Jakarta I, 2010). Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada suatu bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam

masyarakatnya. Kartini Kartono (1988:93) mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”. Dalam Bakolak inpres no: 6/1977 buku pedoman 8, dikatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku/tindakan remaja yang bersifat anti sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. (dikutip dari

http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/2004/Masngudin.htm yang diakses pada tanggal 11 April 2011) Singgih D. Gumarso (1988:19), mengatakan dari segi hukum kenakalan remaja digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan norma-norma hukum yaitu : (1) kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diantar dalam undangundang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai pelanggaran hukum. (2) kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa. (dikutip dari

http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/2004/Masngudin.htm yang diakses pada tanggal 11 April 2011) Menurut bentuknya, Sunarwiyati S (1985) membagi kenakalan remaja kedalam tiga tingkatan ;

(a) kenakalan biasa, seperti suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit (b) kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin (3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Kategori di atas yang dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian. Tentang normal tidaknya perilaku kenakalan atau perilaku menyimpang, pernah dijelaskan dalam pemikiran Emile Durkheim dalam Soerjono Soekanto (2001), bahwa perilaku menyimpang atau jahat kalau dalam batas-batas tertentu dianggap sebagai fakta sosial yang normal dalam bukunya “ Rules of Sociological Method” dalam batas-batas tertentu kenakalan adalah normal karena tidak mungkin menghapusnya secara tuntas, dengan demikian perilaku dikatakan normal sejauh perilaku tersebut tidak menimbulkan keresahan dalam masyarakat, perilaku tersebut terjadi dalam batas-batas tertentu dan melihat pada sesuatu perbuatan yang tidak disengaja. Jadi kebalikan dari perilaku yang dianggap normal yaitu perilaku nakal/jahat yaitu perilaku yang disengaja meninggalkan keresahan pada masyarakat. (dikutip dari

http://www.depsos.go.id/Balatbang/Puslitbang%20UKS/2004/Masngudin.htm yang diakses pada tanggal 11 April 2011) 2.4.7 Hal-hal yang Dilakukan Remaja saat Mengalami Kehamilan Remaja Hal-hal yang dilakukan remaja saat mengalami kehamilan remaja antara lain :

a. b. c. d. e. f. g.

Menggugurkan Membunuh Membuang Merawatnya sendiri Diadopsi Oleh Lingkungan Keluarga Diadopsi Oleh Keluarga Lain Dititipkan ke Panti Asuhan

2.4.8 Remaja Sebagai Manusia Berpotensi “Remaja”. Kata itu menurut remaja sendiri adalah kelompok minoritas yang punya warna tersendiri, yang punya “dunia” tersendiri yang sukar dijamah oleh orang tua. Sekarang kelompok remaja adalah manusia yang mempunyai potensi. Remaja kelompok yang mempunyai vitalitas, semangat priorita, harapan penerus generasi. Generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional dengan memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme idealisme, kepribadian dan budi pekerti luhur. Untuk itu perlu diciptakan iklim yang sehat sehingga memungkinkan kreativitas generasi muda berkembang secara wajar dan bertanggung jawab. Segi pendekatannya melalui pendidikan formal, non formal, atau pun informal; di luar maupun di dalam sekolah. Sebagai contoh kecil usaha melibatkan generasi muda dalam pembangunan adalah pengikut–sertaan masa remaja dalam pendidikan politik yang kongkritnya nampak dilakukan dalam banyak kegiatan kampanye pemilu 1982.

(Dikutip dari http://www.refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=70 yang diakses pada tanggal 11 April 2011) 2.4.9 Usaha-usaha untuk mengerti dan memahami remaja Usaha-usaha untuk mengerti dan memahami remaja yaitu dengan mengetahui dan mengerti tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja, khususnya dalam mengantar remaja menuju kematangan psikis dan kematangan sosialnya. (Dikutip dari http://www.refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=70 yang diakses pada tanggal 11 April 2011) 2.4.10 Ikhtisar hal-hal yang perlu dimengerti dan dipahami Sebelum seseorang disebut remaja yaitu “ambang pintu masa remaja” yang sering dikenal dengan sebutan “pubertas” dengan aneka keunikannya. Ciricirinya penuh dengan “badai dan topan” , perasaan yang penuh gejolak dan peka terhadap rangsang-rangsang negatif. G. Stanley Hall, mengatakan bahwa masa ini disebut sebagai masa yang penuh dengan “strom and stress”. Kemudian ciri-ciri remaja akhir adalah suatu masa indah dalam kehidupannya. Young men and Young women ini menghiasi hdup mereka dengan kisah cinta yang tidak jarang menghanyutkan.

Pertumbuhan jasmani remaja awal sedmikian cepat’ terjadi ketidakseimbangan berbagai anggota badan, sehingga seringkali mereka nampak mengalami ketidakseimbangan badan dan ketidakseimbangan gerak. Selanjutnya

pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks dan perkmebangan perilaku seksual diketahui telah mengalami “sejarah” yang cukup panjang. (Dikutip dari

http://www.refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=70 yang diakses pada tanggal 11 April 2011). Elizabeth B Hurlock jika dibagi berdasarkan bentuk-bentuk dan polapola perilaku yang nampak khas bagi usia-usia, maka kematangan kehidupan terdiri atas 11 masa yaitu: • • • • • • • • • • • prenatal: saat konsepsi sampai lahir. masa neonatus: lahir sampai akhir minggu kedua setelah lahir. masa bayi: akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua. masa kanak-kanak awal: dua tahun sampai enam tahun masa anak-anak akhir: 6 tahun sampai dengan 10-11 tahun. masa pubertas/preadolescence: 10-12 tahun sampai dengan 13-14 tahun. masa remaja awal: 13-14 tahun sampai dengan 17 tahun. masa remaja akhir: 17 tahun sampai dengan 21 tahun. masa dewasa awal: 20 tahun sampai dengan 40 tahun. masa setengah baya: 40 tahun sampai dengan 60 tahun. masa tua: 60 tahun sampai dengan meninggal.

(Dikutip dari http://www.refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=70 yang diakses pada tanggal 11 April 2011) 2.4.11 Ciri-ciri penting periode pubertas Pubertas merupakan periode transisi dan tumpang tindih. Sebab pubertas berada dalam peralihan antara masa anak-anak danremaja, disebut kanan-kanak tidak tepat disebut dewasa juga tidak.

Ada beberapa ciri

yang bersangkutan dengan pertumbuhan dan

perkembangan biologis dan psikologis menurut Hurlock (2003), yaitu : a) Ciri-ciri primer Bagi wanita ditandai dengan haid pertama (menarche) yang disertai pelbagai perasaan tak enak bagi yang mengalaminya. Bagi pria ditandai oleh mimpi polusi (mimpi basah) atau dikenal dengan sebutan nocturnal emmisions. b) Ciri-ciri seks sekunder Bagi wanita pinggulnya membesar dan membulat, buah dada semakin nampak menonjol, tumbuhnya rambut di daerah alat kelamin, ketiak, lengan, dan kaki. Ada perubahan suara dar suara anak-anak menjadi lebih merdu (melodious), kelenjar keringat lebih aktif dan sering tumbuh jerawat, kulit menjadi lebih kasar dibanding kulit anak-anak. c) Ciri tersier Ialah ciri-ciri yang tampak pada perubahan tingkah laku. Perubahan itu erat juga sangkut pautnya de ngan perubahan psikis yaitu perubahan tingkah laku yang tampak seperti perubahan minat. Anak wanita mulai memperhatikan dirinya, karena perubahan tingkah laku inilah maka jiwanya selalu gelisah dan sering konflik dengan orang tua karena adanya perubahan sikap dan pandangan hidup. (Wilis, 2005) Bagi pria otot-otot tubuh, dada, lengan, paha dan kaki tumbuh kuat, tumbuhnya rambut di daerah alat kelamin, betis dan kadang-kadang dada;

terjadi perubahan suara yaitu nada pecah dan suara merendah hingga sampai akhir masa remaja, volume suara turun satu oktaf, aktifnya kelenjar-kelenjar keringat dan kelenjar-kelenjar ini menghasilkan keringat yang banyak walaupun remaja tersebut bergerak sedikit saja. Pada usia 11-12 tahun wnaita lebih cepat tumbuh dibanding pria sehingga secara tidak sadar si puber sering merasa iri hati terhadap si puber wanita. Inilah sebabnya sering ada puber pria yang menjauhi bahkan bermusuhan dengan puber wanita pada usia ini, istilahnya sex antagonisme. Akan tetapi dalam pertumbuhan tubuh kekar maka mulailah timbul saling tertarik antara 2 jenis kelamin ini. Hal yang demikian dipengaruhi oleh daya tarik seksuil atau “sex appeal”. Setelah melewati masa pubertasnya sip uber ini akan memasuki masa remaja awal yang ditandai dengan ketidakstabilan kedaan perasaan dan emosinya, dalam bekerja ia tiba – tiba bersemangat sekali namun bisa juga kelihatan lesu sekali, dalam hal sikap dan moralnya terutama menonjol menjelang akhir remaja awal (15-17 tahun). Ada dorongan-dorongan seks dan kecenderungan memenuhi dorongan itu sheingga kadng-kadang dinilai oleh masayarakat tidak sopan, dalam hal kemampuan mental dan kecerdasan mulai sempurna. Kesempurnaan mengambil kesimpulan dan informasi abstrak mulai pada usia 14 tahun. Akibatnya si remaja awal suka menolak hal-hal yang tidak masuk akal tetapi dengan alasan yang masuk akal remaja cenderung mengikuti pemikiran orang dewasa. Hal status remaja awal sangat sulit ditentukan bahkan membingungkan. Perlakuan yang

diberikan orang dewasa kepada remaja awal sering berganti-ganti. Ada keraguan orang dewasa untuk memberi tanggung jawab kepada remaja dengan dalih “merasa masih anak-anak” tetapi pada lain kesempatan si remaj awal sering mendapat teguran sebagai “orang yang sudah besar” jika remaja awal bertingkah laku yang kekanak -kanakan. Akibatnya si remaja awalpun mendapat sumber kebingungan dan menambah masalahnya. Setelah masa remaja awal berakhir si remaja awal ini akan menghadapi masa remaja akhir yang ditandai dengan stabilitas yang mulai meningkat, citra diri dan sikap pandangan yang lebih realistis, menghadapi masalahnya secara lebih matang dan perasaan yang lebih tenang. (Dikutip dari http://www.refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=70 yang diakses pada tanggal 11 April 2011)

2.5 Kerangka Teori Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku

Keyakinan akan akibat perilaku

Sikap terhadap perilaku

Niat untuk melakukan perilaku Keyakinan normatif akan akibat perilaku

PERILAKU

Norma Subjektif tentang perilaku

Penjelasan tentang kerangka pemikiran akan diuraikan sebagai berikut ini. Keyakinan akan akibat perilaku adalah komponen yang bersifat aspek pengetahuan tentang perilaku. Pengetahuan tidak selalu sesuai dengan fakta yang sebenaranya, hanya opini tentang sesuatu hal yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Sikap terbentuk tergantung pada segi positif atau negatif komponen pengetahuan. Keyakinan normatif akan akibat perilaku merupakan komponen pengetahuan, lebih menekankan pada pandangan orang yang berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Norma subjektif tentang perilaku berisikan keputusan yang dibuat setelah mempertimbangkan pandangan orang-orang yang mempengaruhi norma subjektif tentang perilaku. Ini sangat bergantung pada kebribadian individu. Niat untuk melakukan suatu perilaku ditentukan oleh interaksi antara kedua komponen yakni sikap terhadap perilaku dan norma subjektif tentang perilaku subjektif. Ketidakserasian antara dua komponen ini mungkin terjadi. Jika perilaku diartikan sebagai perilaku seks pranikah remaja, maka diakibatkan dari ;perilaku dari aspek pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Sistem pengetahuan kemudian membentuk sikap mereka terhadap perilaku seks pranikah. Sikap bergantung pada komponen pengetahuan positif atau negatif. Keyakinan normatif merupakan komponen pengetahuan dari sudut pandang orang lain seperti teman, keluarga dan masyarakat terhadap perilaku seks pranikah. Keyakinan normatif ini akan mempengaruhi keyakinan subjektif yang merupakan keputusan yang dibuat seseorang setelah mempertimbangkan keyakinan normatif yang berlaku di sekitarnya.

Terpengaruh tidaknya seseorang dengan lingkungannya tergantung pada kepribadian

masing-masing. Interaksi antara sikap seseorang terhadap perilaku seks pranikah dengan norma subjektif perilaku tersebut akan mendorong niat seseorang untuk melakukan perilaku seks pranikah. Bila niat tersebut diaktualisasikan, akan terjadi atau tidak perilaku seks pranikah. (Dikutip dari : Tukiran, Agus Joko Pitoyo, dan Pande Made Kutanegara, 2010)

2.6

Kerangka Konsepitual Penelitian yang

Faktor internal mempengaruhi pengetahuan : a. Umur b. Pendidikan c. pekerjaan Faktor eksternal mempengaruhi pengetahuan : a. Lingkungan b. Sosial Budaya c. Latar keluarga

yang PENGETAHUAN

belakang

SIKAP remaja dalam menghadapi kehamilan remaja

DAMPAK KEHAMILAN REMAJA

Keterangan : : diteliti : tidak diteliti

Perila ku seks remaj a REM AJA

2.7

Hipotesa Penelitian Hipotesis adalah jawaaban sementara dari suatu penelitian (Notoatmodjo, 2005).

Dengan memperhatikan permasalahan penelitian tersebut diatas secara khusus hipotesisnya dapat dirumusukan bahwa : H1 : ada hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun. H0 : tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian adalah metode atau cara yang akan digunakan dalam penelitian. Oleh sebab itu, dalam uraian tersebut tercermin langkah–langkah teknis dan operasional penelitian yang akan dilaksanakan (Notoatmojdo, 2010).

3.1

Desain Penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan analitik observasional, yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Notoatmodjo, 2005). Penelitian ini menggunakan analitik korelasi merupakan teknik analisis yang termasuk dalam salah satu teknik pengukuran asosiasi atau hubungan (meansures of association). Penelitian ini menghubungankan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun. 3.1.2 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan memaksimalkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validity suatu hasil. Rancangan penelitian sebagai petunjuk penelitian dalan perencanaan dan pelaksanaan untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan (Nursalam, 2008).

Rancangan penelitian dalam penelitian ini adalah study cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Artinya tiap subyek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subyek pada saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa semua obyek penelitian diamati pada waktu yang sama ( Notoatmodjo, 2010). Variable dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan remaja yang diukur satu kali, pada satu saat.

3.2

Kerangka Kerja Menurut Nursalam (2003), Kerangka kerja adalah tahapan dalam suatu penelitian yang menyajikan alur penelitian, terutama variabel yang akan digunakan. Kerangka kerja dalam penelitian ini dijelaskan dalam diagram sebagai berikut: Populasi : Semua Siswi Kelas II (78 orang) di SMA Negeri 3 Madiun

Menggunakan Sampel : Sebagian Siswi Kelas II yang bersedia menjadi responden dengan tehnik purposive sampling

Variabel Bebas Pengetahuan siswi tentang kehamilan pada remaja

Variabel Terikat Sikap siswi tentang kehamilan pada remaja

Penilaian Jawaban : Kuesioner : Pengetahuan siswi

Penilaian Jawaban : Kuesioner : Sikap siswi

Analisa data dengan rumus Chi Square

H0 diterima apabila Xhasil H0 ditolak apabila PENYAJIAN HASIL PENELITIAN PUBLIKASI Gambar 3.2 Kerangka Kerja Penelitian Hubungan Antara Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Tentang Kehamilan Remaja Di Sma Negeri 3 Madiun tahun 2011.

3.3

Identifikasi Variabel Identifikasi variabel adalah suatu ukuran yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok (orang, benda, situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok (Nursalam, 2003).

3.3.1

Variable Menurut Notoatmodjo (2010), Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep pengertian tertentu. Variabel penelitian dibagi menjadi dua yaitu antara lain :
1. Variabel Bebas (Independent)

Variabel independent adalah yang mempengaruhi (Notoatmodjo, 2010). Variabel bebas adalah variabel yang nilainya menentukan variable lain (Nursalam, 2008). Variabel bebas penelitian ini adalah pengetahuan remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun.
2. Variabel Terikat (Dependent)

Variabel independent adalah yang dipengaruhi (Notoatmodjo, 2010). Variabel tergantung adalah variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain (Nursalam, 2008). Variabel terikat penelitian ini adalah sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun.

3.4

Definisi Operational Menurut Notoatmodjo (2010), Definisi operasional adalah ukuan tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan.

Varibel Penelitian Variabel bebas penelitian ini adalah pengetahuan remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun

Definisi Operasional Merupakan hasil tahu pada siswi tentang kehamilan pada remaja yang didapatkan melalui indera penglihatan, pendengaran, rasa dan raba.

Parameter

Alat ukur

Skala Ordinal

Skoring Untuk jawaban : Benar : 1 Salah : 0 Kemudian Skore nilai : 76-100%= Baik 56-75%= Cukup < 56 %=Kurang

Variabel terikat penelitian ini adalah sikap remaja putri tentang tentang kehamilan pada remaja di SMA Negeri 3 Madiun

Merupakan reaksi atau respon seseorang yang dinyatakan dalam pernyataan setuju atau tidak setuju tentang kehamilan pada remaja

Tingkat Kuesioner pengetahuan siswi tentang : - Pengertian Kehamilan Dampak kehamilan pada remaja - Persiapan masa remaja Fisiologi kehamilan Sikap siswi Kuesioner tentang kehamilan pada remaja meliputi : - agama - sosial -

Ordinal

Untuk jawaban Sangat Setuju : 4 Setuju : 3 Tidak Setuju : 2 Sangat Tidak Setuju : 1 Kemudian Skore nilai : T≥MT:Positif T<MT:Negatif

Tabel 3.5 Definisi Operasional Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri Tentang Kehamilan Pada Remaja di SMA Negeri 3 Madiun.

3.5 3.5.1

Sampling Desain Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002). Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia,siswi) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswi kelas 2 di SMA Negeri 3 Madiun sebanyak 130 orang.

3.5.2

Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002). Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subyek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2008). Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian siswi kelas 2 di SMA Negeri 3 Madiun. Rumus : n = N Nd + 1
2

Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi d = Tingkat signifikasi (5 %) (Nursalam, 2003)

3.5.2.1 Kriteria Insklusi Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
a. Siswi SMA Negeri 3 Madiun yang bersedia dijadikan responden

b. Siswi SMA Negeri 3 Madiun yang dianggap sudah dikategorikan usia remaja 3.5.2.2 Kriteria Ekslusi Kritreia Eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah :
a. Siswi SMA Negeri 3 Madiun yang tidak hadir saat penelitian karena sakit,

ijin ataupun alfa dan yang sedang ada keperluan. b. Siswi SMA Negeri 3 Madiun yang tidak bersedia dijadikan responden. 3.3.2.3 Besar Sampel Menurut Nursalam (2006), Besar sampel adalah banyaknya anggota yang dijadikan sampel. Besar kecilnya sampel sangat dipengaruhi oleh desain dan ketersediaan subyek dari penelitian ini. Penyusunan besar sampel : - Jika besar populasi ≤ 1000, maka sampel bisa diambil 20-30%. - Jika besar sampel < 1000, maka :

n

= = = = =

N Nd + 1
2

78 78(0,05)2 + 1 78 78(0,0025) + 1 78 0,195 + 1 78 1,195

= 65, 27 = 65 responden Keterangan : n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi d = Tingkat signifikasi (5 %) 3.5.3 Tehnik Sampling Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. Teknik sampling merupakan cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar diperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subyek penelitian (Nursalam, 2008). Cara pengambilan sampel dari penelitian ini adalah Purporsive sampling yaitu pengambilan sampel secara purporsive didasarkan pada suatu (Nursalam, 2003)

pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Riduwan, 2006)

3.6 3.6.1

Pengumpulan Data dan Analisis Pengumpulan Data Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan karateristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2003).

3.6.1.1 Proses Pengumpulan Data Setelah mendapatkan data dari Puslitbang dan mendapatkan ijin dari Kepala SMA Negeri 3 Madiun, kemudian peneliti mengadakan pendekatan pada calon responden atau siswi kelas 2 dengan menyuruh para siswi tersebut untuk kumpul di sebuah aula. Peneliti memberikan informasi tetang tujuan penelitian, manfaat penelitian dan cara mengisi angket. Setelah itu memberikan selembar persetujuan menjadi responden kepada siswi. Kemudian peneliti membagikan kuesioner untuk diisim peneliti menunggu responden menyelesaikan pengisian kuesioner dan setelah selesai meminta responden untuk mengumpulkan kembali peneliti untuk kemudian dilakukan analisa data. 3.6.1.2 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yaitu alat pada waktu penelitian menggunakan sesuatu metode (Arikunto, 2002). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa angket atau kuesioner yaitu daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, dimana responden (dalam hal angket) dan interviewe (dalam hal wawancara) tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda-tanda tertentu (Notoatmodjo, 2010).

3.6.1.3 Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2011 dan bertempat di SMA Negeri 3 Madiun.

3.6.2

Analisis data

3.6.2.1 Pengolahan Data 1. Penyutingan (Editing) Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data (kuesioner) atau setelah data terkumpul (A. Aziz, 2007). 2. Pengkodean (Coding) Kegiatan pengkodean berupa pemberian kode ke dalam lembaran kuesioner, kemudian digunakan untuk pedoman dalam analisis data dan dan penulisan laporan (Notoatmodjo, 2002).

3.

Pemberian Skore (Skoring) Scoring adalah pemberian skore atau nilai terhadap bagian-bagian yang

perlu diskore. Untuk mengukur pengetahuan, jawaban yang benar dinilai 1 dan jawaban yang salah diberi nilai 0.
4.

Tabulasi (Tabulating) Tabulating merupakan pengorganisasian data sedemikian rupa agar

dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. (Notoatmodjo, 2002).

Menyusun data agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk disajikan dan dianalisis. Langkah yang terakhir dari penelitian ini adalah melakukan analisa data. Selanjutnya data dimasukkan ke computer dan dianalisis secara statistik. Dalam penelitian ini analisa yang akan digunakan adalah analisa univariate dan bivariate dengan uji statistik chi square. Penyajian data dalam tabel distribusi frekuensi. Rumus Uji Chi Square X2 = ∑ (fo – fh)2 Fn

Keterangan : x2 = Chi kuadrat fn = frekuensi yang diobservasi fh = frekuensi yang di harapkan

3.8.2

Rencana Analisis Data

3.8.2.1 Analisis Univariat Analisis univariabel ini digunakan untuk menganalisis tiap-tiap variabel hasil penelitian, penyajiannya dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel. Setelah data yang diperlukan terkumpul, melalui angket atau kuesioner maka (langkah selanjutnya analisa data yaitu dengan melakukan tabulasi atau pengalompokan suatu variabel yang diteliti dengan cara pemberian skor dan penelitian dimana jawaban yang benar di beri nilai 1, sedangkan yang salah diberi nilai 0. Kemudian dari hasil responden yang benar diberi skor, kemudian dibandingkan atau dibagi dengan skor tertinggi lalu dikalikan 100%. Selanjutnya dicari masing-masing prosentase dengan rumus: N=
Sp x 100% Sm

Keterangan : N Sp Sm = Nilai yang didapat = Skor yang didapat = Skor maksimal Setelah prosentase diketahui menurut Nursalam (2008) kemudian hasilnya dikelompokkan pada kriteria : 76 % - 100 % 56 % - 75 % < 56 % = Baik = Cukup = Kurang Untuk mengukur tingkat pengetahuan, bila responden menjawab pertanyaan dengan benar maka diberikan kode ”1” bila responden menjawab salah maka diberikan kode ”0”.

Dari keseluruhan jawaban responden dihitung jumlah total skore yang didapat kemudian dicari prosentasenya dengan rumus : P=

× 100%

Keterangan : P f N : Prosentase : Jumlah skor jawaban yang benar : Jumlah skor maksimal jika semua jawaban benar (Budiarto, 2002)

Variabel terikat adalah sikap remaja putri tentang dampak kehamilan remaja putri yaitu perilaku remaja dalam menghadapi kehamilan remaja. Rumus yang digunakan untuk mengetahui sikap dari responden positif / negative menggunakan rumus T skor yaitu :

 x − x T = 5 + 1 0 0  S 
Keterangan : x : Skor responden.

x : Skor maksimal.
S : Standar deviasi (simpangan baku). Untuk memudahkan penilaian maka hasil presentase untuk dukungan, peneliti menginterprestasikan jawaban menjadi 2 kategori yaitu: T ≥ MT : Positif T < MT : Negatif. (Azwar, 2003). 3.8.2.2 Analisis Bivariat Setelah data dari hasil penelitian terkumpul selanjutnya dilakukan analisa data dengan SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 17 For

windows, menggunakan Spearmen Rank. Untuk menilai ada tidaknya hubungan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : (a) Jika nilai ρ < 0,05 maka ada hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun. (b) Jika nilai ρ > 0,05 maka tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja putri tentang kehamilan pada remaja di SMAN 3 Madiun. (Alimul, 2007)

3.9

Etika Penelitian Masalah etika penelitian kebidanan merupakan masalah yang sangat pening dalam penelitian, mengingat penelitian kebidanan berhubungan langsung dengan manusia (Alimul, 2009). Adapun etika penelitian meliputi :

3.9.1Informed Consent ( informasi untuk responden )

Peneliti memberikan penjelasan tentang maksud, tujuan, manfaat, dan dampak dari tindakan, dan dijelaskan bahwa keikutsertaan di dalam penelitian ini sifatnya sukarela. Setelah pasien telah membaca lembar permohonan menjadi responden, kemudian peneliti menyerahkan lembar persetujuan menjadi responden, pasien memberikan tanda tangan di lembar persetujuan sebagai bukti bersedia menjadi responden.

3.9.2Anonimity (kerahasiaan)

Peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar observasi tapi hanya memberikan inisial dan kode sebagai nomer urut sebagai responden.

3.9.3Confidentiality (kerahasiaan informasi)

Merupakan masalah etika dengan manajemen kerahasiaan dari hasil penelitian baik informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset dan data yang sudah tidak dibutuhkan lagi maka seluruh data dimusnahkan.

Daftar pustaka Al-Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung : Pustaka Setia Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian “Suatu Pendekatan Praktik” edisi 8. Jakarta : Rineka Cipta. Azwar, Syaiffudin. 2005. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Edisi 2. Yogyakarta : pustaka pelajar. Budiarto, Eko. 2002. Biostatistik (Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat) . Jakarta: EGC BKKBN. 2000. Materi Pelatihan kesehatan reproduksi remaja bagi fasilitator. Badan koordinasi keluarga berencana nasional. Jakarta dari hhtp://ceria@bkkbn.go.id BKKBN. 2008. Modul pelatihan konseling kesehatan reproduksi remaja Djarwanto. 2003. Statistik Nonparametik. Yogyakarta : Penerbit BPFE Hurlock, E. B. Edisi Kelima. Psikologi perkembangan : Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga Kartono, kartini. 2006. Psikologi wanita 1. Bandung: mandar maju. Kushartanti. (2004). Senam hamil menyamankan kehamilan mempermudah

persalinan.Yogyakarta : Lintang Pustaka. Manuaba, IGB. 2002. Memahami kesehatan reproduksi remaja. Jakarta : arcan Manuaba, IGB. 2008. Gawat-darurat obstetri-ginekologi dan obstetri ginekologi sosial untuk profesi bidan. Jakarta : arcan Merenstein, et all. 2002. Buku Peganggan pediatri. Jakarta : widya medika Nazir, Moh. 2009. Metode penelitian. Bogor : Penerbit Ghalia Indonesia Notoatmodjo, soekidjo. 2003. Ilmu kesehatan masyarakat. Jakarta: rineka cipta

Notoatmodjo, soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan (Teori dan Aplikasi). Jakarta : rineka cipta.

Notoatmodjo, soekidjo. 2010. Metodelogi penelitian Kesehatan. Jakarta : rineka cipta. Nursalam, Siti Pariani. 2001. Metodologi riset Keperawatan. Jakarta: Info medika Nursalam. 2002. Konsep penerapan metodelogi penelitian keperawatan. Jakarta : EGC. Nursalam. 2008. Konsep dan penerapan metodelogi penelitian ilmu keperawatan Edisi 2. Jakarta: salemba medika. Pande Made Kutanegara, Tukiran, Agus joko Pitoyo. Oktober 2010. Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : pustaka pelajar Razak, Abdul. 2006. Remaja dan bahaya narkoba. Jakarta : prenada Rumini, Sri dan Siti Sundari. 2004. Perkembangan Anak dan Remaja. PT Rineka Cipta, Jakarta. Sarwono, prawiroharjo. 2009. Ilmu kandungan. Jakarta : yayasan bina pustaka Sarwono, Sarlito Wirawan. 2000. Penghantar Umum Psikologi. Jakarta : PT bulan Bintang Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu penghantar. Jakarta : P.T Raja grafindo persada Soetjiningsih. 2004. Tumbuh kembang remaja dan permasalahannya. Jakarta : CV agung seto Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan cetakan 1. Jakarta : EGC Sugiarti S dkk. 2001. Tingkat tumbuh kembang wanita pada masa remaja. Makalah tugas berstruktur depkes RI, akbid soetomo Surabaya. Keluarga

Sugiyono. 2007. Statistik untuk kesehatan. Bandung : alfabet Sudjana. 2006. Metode statistik. Bandung : Tarsito Tim penyusunan kamus pusat bahasa. 2003. Kamus besar bahasa indonesia. Jakarta : balai pustaka Tim Poktekkes Depkes Jakarta I. 2010. Problema dan Solusinya. Jakarta : BDP Walgito, Bimo. 2002. Penghantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi Widyastuti, yani dkk. 2009. Kesehatan reproduksi remaja. Yogjakarta : fitramaya Hanifa Wiknjosastro. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Prawiroharjo. 2007. Wilis, sofyan s. 2005. Remaja dan permasalahannya. Jakarta : alfabet. Varney, helen, Kriebs, M Jan, Gegor, L Carolyn. 2006. Buku ajar Asuhan kebidanan Edisi 4. Jakarta : EGC

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful