1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP). Manajemen adalah proses dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (Gillers,1989). Swanburg (2000) mendefinisikan mendefenisikan sebagai ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efisien,efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Pelayanan keperawatan adalah pelayanan yang dilakukan oleh banyak orang sehingga perlu menerapkan menejemen yaitu dalam bentuk manajemen keperwatan. Manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawtan untuk memberikan asuhan pengobatan dan bantuan terhadap para pasien (Gillers,1989). Model praktek keperwatan masyarakat pendekata menajemen (manajement approach) sebagai pilar praktek professional yang pertama oleh kerena itu proses manajeman harus dilaksanakan dengan disiplin untuk menjamin pelayanan yang diberikan kepada pasien atau keluarga merupakan praktek yang professional. Pemberian asuhan keperawatan dengan metode model praktik keperawatan professional (MPKP), secara profesional diharapkan dapat meningkatkan kepuasan klien dan kepuasan perawat yang tinggi secara kuantitatif dan secara kualitatif, staf keperawatan lebih memberi perhatian terhadap pekerjaannya. Penciptaan iklim motivasi dalam MPKP, merupakan hal yang positif yang dapat di ambil dan memberikan kinerja yang baik pula untuk perawat. Karena dalam menciptakan iklim motivasi ini seluruh perawat dapat dilibatkan dalam

2

berbagai kegiatan seperti, pengambilan keputusan,menciptakan/mengontol suasana kerja yang kondusif. Saat ini, praktik pelayanan keperawatan di banyak rumah sakit di Indonesia belum mencerminkan model praktik keperawatan professional (MPKP). Berdasarkan analisis tentang struktur dan proses pemberian asuhan keperawatan yang ada di rumah sakit, sulit untuk menerapkan proses seperti yang dilakukan di luar negeri yang juga menggunakan metode MPKP disebabkan oleh jumlah tenaga tidak berdasarkan derajat ketergantungan pasien, kurang mampu melakukan tindakan terapi keperawatan tetapi lebih pada tindakan kolaborasi, kurang mampu mengintroduksi hal-hal baru dan cenderung bekerja secara rutin, kurang mampu menunjukkan kemampuan kepemimpinan dan tidak ada otonomi dalam mengambil keputusan untuk asuhan keperawatan klien. Dengan pengembangan MPKP, diharapkan nilai profesional dapat diaplikasikan secara nyata, sehingga meningkatkan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan. Sehingga penciptaan iklim motivasi dalam keperawatan juga dapat terlaksana dengan baik. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan yang professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan menjadi bagian terdepan dari pelayanan kesehatan yang menentukan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit. Keberadaan keperawatan dalam memberikan ASKEP dalam situasi yang komplek selain 24 jam secara berkesinambungan melibatkan klien, keluarga maupun profesi atau tenaga kesehatan yang lain. Pendekatan manajemen di MPKP Diruang MPKP pendekatan manajemen, manajeman ditetapkan dalam bentuk proses manajemen yang terdiri di tahapan proses: 1. Perencanaan (planning) modul 1A 2. Pengorganisasian (organizing) modul 1B
3. Pengarahan (directing) modul 1C

4. Pengendalian (controling) modul 1D

3

Kerangka

konsep

dasar

manajemen

dalam

keperawatan

adalah

manajemen partisipatif yang berlandaskan kepada paradigma keperawatan yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan. Dengan demikian focus keperawatan adalah respon manusia dalam menghadapi masalah kesehatan baik actual maupun potensial, sehingga lingkup garapan perawat adalah penyimpangan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Proses manajemen satu unit pelayanan kesehatan mencangkup manajemen asuhan dan manajemen pelayanan. Dimana kedua manajemen tersebut saling terkait dan saling terintegrasi. Rumah sakit jiwa prof. Dr. Soeroyo Magelang adalah salah satu rumah sakit tipe A yang merupakan rumah sakit jiwa rujukan nasional yang menerima pasien dari berbagai daerah disekitarnya baik yang berasal dari pulau jawa sendiri maupun yang berasal dari berbagai daerah lainnya di Indonesia. Untuk itu perlu menampilkan metode pemberian ASKEP yang tepat sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas. Sejak tahun 2002 secara bertahap telah dibentuk 4 ruang yang menerapkan metode asuhan keperawatan baru yang disebut Model Praktek Keperawatan Profesional (MPKP) dengan tujuan untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan di RS Jiwa Prof. Dr. Soeroyo Magelang. Hasil observasi wawancara yang dilakukan kelompok praktik preklinik keperawatan tanggal 21-24 Maret 2011 di bangsal P9 Wisma Gatutkaca RSJ Soeroyo Magelangm, yaitu bangsal pasien gangguan jiwa khusus pria didapatkan beberapa masalah diantaranya metode asuhan keperawatan yang belum optimal. B. Tujuan a. Tujuan Umum Setelah melakukan praktik manajemen keperawatan selama 3 hari dinas, calon praktisi keperawatan mampu melaksanakan proses manajemen keperawatan yang ada di bangsal P9 Wisma Gatutkaca RSJ Soeroyo Magelang dan Setelah mempelajari modul ini diharapkan pembaca mampu: 1. 2. Menerapkan perencanaan MPKP Menerapkan pengorganisasian di MPKP

4

3. 4.

Menerapkan proses pengarahan di MPKP Menerapakan pengendalian di MPKP Setelah melaksanakan praktik selama 3 hari dinas, calon praktisi keperawatan

b. Tujuan Khusus mampu mencapai kompetensi pada siklus manajemen keperawatan meliputi :
1. Melakukan pengkajian situasi di bangsal wanita W9 sebagai dasar untuk

menyusun rencana strategi dan operasional. 2. Untuk menentukan alternatif pemecahan masalah di ruangan. 3. Memenuhi salah satu tugas untuk preklinik keperawatan manajemen S1 Keperawatan STIKES TMS Bengkulu. C. Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan preklinik manajemen keperawatan jiwa ini dilaksanakan pada : Hari/tanggal Tempat Waktu D. Praktikan Praktek Preklinik ini dilakukan pada gelombang kedua, angkatan ‘07 Mahasiswa keperawatan STIKES TMS Bengkulu tahun anggaran 2010/2011, dengan anggota kelompok adalah sebagai berikut : 1. Reka Nopriana 2. Meri Hastuti Alta : Jumat/25 Maret-Senin/27 Maret 2011 : RSJ Soeroyo Magelang : Mulai pukul 07.00-14.00 WIB

5

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. KONSEP MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) Kegiatan usaha kerja sama dengan kerja sama dengan cara membagikan, mengelompokan pekerjaan yang harus dilakukan, menerapkan dan menjalin hubungan kerja antar bagian dan menjalani hubungan antar staf dan batasan. 1. 3 hal dalam pengorganisasian 1) Pola sruktur yang berarti proses hubungan interaksi yang berhubungan secara efektif 2) Penataan tiap kegiatan yang merupakan kerangka kerja dalam organisasi 3) Sruktur kerja organisasi termasuk kelompok kerja kegiatan yang sama, pola hubungan antar kegiatan yang tepat dan pembinaan cara komunikasi yang efektif antar perawat.
2.

Prinsip-prinsip dalam pengoraganisasian 1) Pembagian kerja Prinsip dasar untuk mencapai efisiensi yaitu pekerjaan dibagi-bagi sehingga setiap orang memiliki tugas tertentu. Hal yang perlu diperhatikan : • Jumlah tugas yang dibebankan seseorang tebatas dan sesuai dengan kemampuannya • Tiap bangsal/bagian memiliki perincian aktivitas yang jelas dan tertulis • Tiap staf memiliki perincian tugas yang jelas • Variasi tugas bagi seseorang diusahakan sejenis atau jelas atau erat hubungannya • Mencegah terjadinya pengotakan antar staf/kegiatan • Penggolongan tugas berdasarkan kegiatan mendesak, kesulitan atau waktu 2) Pendelegasian tugas Yaitu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab kepada staf untuk bertindak dalam batas-batas tertentu.

6

a) Keuntungan pendelegasian bagi staf • Mengembangkan rasa tanggung jawab • Meningkatkan pengetahuan dan rasa percaya diri • Lebih berkualitas • Lebih puas terhadap pekerjaan b) Keuntungan pemimpin
• Mempunyai waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal seperti perencanaan

dan evaluasi • Meningkatkan kedewasaan dan rasa percaya diri • Memberikan pengaruh dan power baik interen maupun eksteren, dapat mencapai pelayanan dan saran keperawatan melalui usaha lain Hal yang mempengaruhi pendelegasian : • Sifat kegiatan; untuk kegiatan rutin, delegasi wewenang dapat diberikan lebih besar kepada staf • Kemampuan staf; tugas yang didelegasikan jangan terlalu ringan atau terlalu berat • Hasil yang diharapkan; agar pemimpin jangan mendelegasikan tugas yang utuh daripada mendelegasikan sebagian aspek dari suatu kegiatan. Pendelegasian Efektif : • Jangan membaurkan dengan pelemparan tugas, oleh karena itu jangan mendelegasikan tugas yang tidak mau melakukannya • Jangan takut salah • Jangan mendelegasikan tugas pada seseorang yang kurang memiliki keterampilan atau pengetahuan untuk sukses • Kembangkan tingkat keterampilan dan pengetahuan staf, sehingga mereka dapat melakukan tugas yag didelegasikan • Perlihatkan rasa percaya atas kemampuan staf untuk berhasil • Antisipasi kesalahan yang dapat terjadi dan ambil langkah pemecahan masalahnya

7

• Hindari kritik jika terjadi kesalahan • Berikan penjelasan yang jelas tentang tanggung jawab, wewenang, tanggung gugat dan dukungan yang tersedia • Berikan pengakuan dan penghargaan atas tugas yang telah terlaksana dengan baik Langkah Pendelegasian Efektif : • Tetapkan tugas yang akan didelegasikan • Pilihlah orang yang akan diberi delegasi • Berikan tugas yang akan didelegasikan dengan jelas • Uraikan hasil spesifik yang diharapkan dan kapan hasil tersebut diharapkan selesai • Jelaskan batas wewenang dan tanggung jawab yang dimiliki staf tersebut • Minta satf tersebut menyiapkan pokok tugasnya dan cek penerimaan staf tersebut atas tugas yang didelegasikan • Berikan dukungan • Evaluasi hasilnya 3) Koordinasi Yaitu keselarasan tindakan, usaha, sikap dan penyesuaian antar tenaga yang ada dibangsal. Keselarasan ini dapar terjalin antar perawat dengan ktua tim kesehatan lain maupun tenaga dari bagian lain. Manfaat koordinasi : • Menghindari perasaan lepas antar tugas yang ada di bangsal/bagian dan perasaan lebih penting dari yang lain • Menumbuhkan rasa saling membantu • Menimbulkan kesatuan tindakan dan sikap antar staf Cara koordinasi : Komunikasi terbuka, dialog, pertemuan/rapat, pencatatan dan pelaporan, pembakuan formulir yang berlaku.

8

4) Manajemen waktu • • • • Analisa waktu yang dipakai; menentukan kategori kegiatan yang ada Memeriksa kembali masing-masing posisi dari tiap aktivitas Menentukan prioritas pekerjaan menurut kegawatan dan perkembangan serta tujuan yang akan dicapai Mendelegasikan

3. Srtuktur organisasi

1. Terdiri dari struktur bentuk dan bagan 2. Tergantung pada besarnya organisasi dan tujuan yang ingin dicapai 3. Menggambarkan pola hubungan antar bagian atau staf atasan baik vertical maupun horizontal 4. Melihat posisi tiap bagian, wewenang dan tanggung jawab serta tanggung gugat 5. Disesuaikan dengan pengelompokan kegiatan atau sistem penugasan yang digunakan.
4. Pengelompokan kegiatan

1. Organisasi dengan serangkaian tugas yang harus diselesaikan untuk mencapai tujuan 2. Kegiatan dikumpulkan sesuai dengan spesifikasi 3. Pengorganisasian untuk memudahkan pembagian tugas pada perawat sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. 5. Metode Pemberian pelayanan kesehatan Metode pemberian asuhan keperawatan professional yang sudah ada dan akan terus dikembangkan dimasa depan dalam menghadapi trend pelayanan keperawatan yaitu :
I.

Metode funsional • Perawat melakukan tugas tertentu sesuai jadwal kgiatan yang ada

9

Perawat senior akan sibuk melakukan tugas manjerial sedangkan asuhan keperawatan pada pasien dilakukan ole perawat yunior atau yang belum punya pengalaman

Penanggung jawab askep dibebankan kepada perawat yang bertugas pada tindakan tertentu.

A. Kelebihan

• •

Manajemen klasik yang menekankan efisiensi, pemberian tugas yang jelas dan pengwasan yang baik Sangat baik untuk rumah sakit yang tenaga dengan perbandingan tenaga professional (pelaksana lanjutan atau penyedia) yang lebih sedikit di bandingkan dengan tenaga perawat pelaksana dan perawat pembantu (pemula).

B. Kekurangan

• • • II.

Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun perawat Pelayanan keperawatan dilakukan terpisah-pisah sehingga tidak dapat menerapkan proses keperawatan Perawat cendrung berorientasi pada tindakan yang berkaitan dengan keterampilan saja

Metode Alokasi Klien Keperawatan Total Yaitu pengorganisasian pelayanan/asuhan keperawatan untuk suatu atau

beberapa klien oleh satu orang perawat apad saat bertugas selama periode waktu tertentu atau sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien.
A. Kelebihan

• •

Fokus keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien Memberikan kesempatan untuk memberikan pelayanan keperawatan yang komperehensif

10

• •

Motivasi perawat untuk selalu bersama klien selama bertugas, non keperawatan dapat dilakukan oleh yang bukan perawat Mendulang penerapan proses keperawatan kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai

B. Kekurangan

• • •

Jumlah beban kerja tinggi terutama jika klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan Peserta didik sakit untuk melatih keterampilan dalam perawatan besar, misalnya: menyuntik dan mengukur suhu Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penanggung jawab klien bertugas.

III. Metode Tim Metode ini menggunakan tim yang tersiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap pasien. Perawt dibagi menjadi 2-3 yang terdiri dari tenaga professional teknikal pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu dengan jumlah 6-7 orang dalam satu tim. Konsep Metode Tim • • • • Ketua tim sebagai perawat professional harus mampu menggunakan berbagai teknik kepemimpinan Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana dan Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim Peran kepala ruangan penting dalam model ini model tim akan pelaksanaan pemberian pelayanan keperawatan terjamin

berhasil baik bila di dukung oleh KARU Tanggung Jwab Ketua tim • • • Membuat perencanaan Membuat koordinasi, supervise, dan evaluasi Mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai

tingkat kebutuhan pasien

11

Tanggung jawab anggota tim • • • • • Memberikan askep kepada pasien sesuai tanggung jawab secara Kerja sama antara anggota tim dan antr tim Memberikan laporan Mengembangkan kepemimpinan anggota Menyelenggarakan konferwnsif selama 15-20 menit setiap hari langsung

untuk pengembangan dan revisi rencana asuhan keperawatan A. Kelebihan • Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruhkan • Mendukung pelaksanaan proses keperawatan • Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah di atasi dan memberikan kepuasan kepada anggota tim. B. Kekurangan • Komunikasi antar tim bisa membutuhkan waktu di mana sulit melaksanakan di waktu sibuk IV. Metode Primer Metode penugasan dimana satu perawat bertanggung jawab penuh selama 24 jam terhadap askep pasien mulai pasien masuk sampai keluar rumah sakit, mendorong pratik mandiri perawat, ada kejelasan antara si pembuat rencana askep pelaksan. Metode primer ini ditandai dengan adanya keterkaitan kuat yang terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan, dan koordinasi askep selama pasien di rawat. Konsep dasar model askep ini adalah adanya tanggung jawab, tanggung gugat serta otonomi dari perawat serta melibatkan keterlibatan pasien dan keluarga. Tugas perawat primer • Menerima pasien dan mengkaji kebutuhan pasien secara komprehensif

12

• • • • • • • • • • •

Membuat tujuan dan rencana keperawatan Melaksanakan rencana yang telah di buat selama dinas Mengkominikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan yang Mengevaluasikan keberhasilan yang dicapai Menerima dan menyesuiakan rencana Menyiapkan penyulauhan pulang Melakukan rujukan kepada pekerja social, kontak dengan Membuat jadwal perjanjian klinik Mengadakan kunjungan rumah sakit Setiap perawat adalah perawat bed side Beban kasus 4-6 orang perawat atau dengan rasio perawat dan

telah di berikan dokter maupun perawat lain

lembaga social ,masyarakat

Ketenagaan Metode Primer

pasien sebesar 1-4 atau 1-5 disesuaikan dengan jumlah yang ada di ruangan dan jumlah perawat yang ada A. Kelebihan • • • • • Bersifat kontinuinitas dan komprehensif Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi Keuntungan antara lain terhadap pasien, perawat, dokter Keuntungan yang dirasakan adalah pasien merasa di Asuhan yang diberikan bermutu tinggi dan tercapaian

terhadap hasil dan memungkinkan pengembangan diri dan rumah sakir (Gallies, 1989) manusiawikan karena terpenuhi kebutuhan secara individu pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi informasi dan advokasi • Pertukaran informasi tentang kondisi pasien selalu diperbaharui dan kolprehensif kekurangan

13

Hanya dapat di lakukan oleh perawat yang memiliki

pengalaman pengetshuan yang memadai dengan criteria insertif, sel direction. Kemampuan pegambilan keputusan yang tepat menguasai V. Metode Modular Yaitu pengorganisasian pelayanan / asuahan keperawatan yang dilakukan oleh perawat professional dan non profesional (terampil) untuk kelompok klien dari mulai masuk rumah sakit sampai pilang di sebut tanggung jawab total atau keseluruhan. Untuk metode ini diperlukan perawat yang berpengetahuan, terampil dan memiliki kemampuan kepemiminan. Ideal 2-3 untuk 8-12 orang klien. A. Kelebihan dan kerigiam Sama dengan gabungan antara metode tim demgan metode perawatan primer. VI. Metode Pengelolaan Kasus Metode ini menggunakan pendekatan holistic dari filosofi keperawatan dimana setiap perawat di tugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien selama jam dinasnya. Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda-beda untuk setiap shif dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan di rawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Metode penggunaan penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat. Dalam hal ini umumnya dilaksanakan oleh perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi. Intensive care A. Kelebihan • Perawat lebih memahami kasus per kasus • Sistem evaluasi dari manajerial lebih mudah B. Kekurangan • Belum dapat di identifikasinya perawat penanggung jawab • Perlu tenaga yang cukup banyak dengan kemampuan dasar yng sama keperawatan clinik accountable serta mampu berkolaborasi dan berbagai di siplin

14

2.6 Pengelolaan Pemberian Pelayanan Kesehatan 2.6.1 Kepala Ruangan Pengertian Kepala ruangan adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi tanggung jawab dan wewenang dalam mengatur dan mengendalidakan kegiatan keperawatan di ruang rawat. Tanggung jawab kepala ruangan • Mengatur pembagian tugas pegawai • Mengatur dan mengendalikan kebersihan dan ketertiban ruangan • Mengatur dan mengendalikan ligostik / administrasi ruangan • Mengadakan diskusi dengan staf untuk memecahkan masalah • Mengikuti ronde tim medis • Mengadakan ronde keperawatan • Membimbing siswa / mahasiswa dalam proses keperawatan di ruangan rawat • Menilai kerja staf ruangan, membuat DP3 dan usulan kenaikan pangkat • Memberikan administrasi, membuat jadwal dinas dan surat menyurat • Memberikan orientasi pada pegawai baru, termasuk kepada residen, mahasiswa kedokteran dan mahasiswa keperawatan yang akan melakukan praktek di ruangan dan melakukan pembinaan tenaga keperawatan • Menciptakan dan memelihara kerja yang harmonis dengan klien, keluarga, dan tim kesehatan lain. Wewenang Seorang Karu • Meminta informasi dan pengarahan kepada atasan • Member petunjuk dan bimbingan pelaksanaan tugas kepada staf keperawatan • Mengawasi, mengendalikan dan menilai pendayagunaan tenaga keperawatan peralatan dan mutu asuhan keperawatan di ruangan rawat • Menanda tangani surat dan ketetapan yang menjadi keputusan ruangan

15

• Menghadiri rapat berkala dengan kepala instasi atau kepala RSuntuk kelancaran palaksanaan keperawatan Peran Kepala ruangan menurut burges (2988) dan Swanaburg (1990) 1. Peran Interpersonal Seorang kepala ruangan berperan sebagai symbol pimpinan organisasi dengan pekerja rutin organisasi. Seorang pemimpin bertanggung jawab memberikan motivasi dan mengaktifkan anggotanya 2. Peran Peran Informasional monitor, mencari dan menerima berbagai informasi untuk

menembangkan organisasi. Merupakan pusat informasi internal dan eksternal, peran deseminator, menginterpestasikan dan mentranformasikan informasi yang diperoleh dari luar maupun dari dalam organisasi. Peran pembicara : meneruskan informasi kepada orang lain tentang rencana organisasi dan lainlain. Peran decisional, yaitu mengambil keputusan untuk mengatasi masalah. Uraian Tugas Karu 1. Perencanaan • • • • Menunjukkan ketua tim dan bertugas diruangan masing-masing Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya Mengindentifikasi tingkat ketergantungan klien : gawat, transisi, Mengindetifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan

dan persiapan pulang bersama ketua tim aktivitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan / penjadwalan • • Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan Mebgikuti visite dokter, untuk mengetahui kondisi, patofisiologi,

tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien • Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan

16

 Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan  Membimbing diskusi untuk pemecahan masalah  Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah  Memberikan informasi kepada pasien / keluarga yang baru masuk • • • • Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latiahan diri Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan RS Ronde keperawatan, yaitu merupakan suatu metode yang

dilakukan dalam ruangan keperawatan oleh kepala ruangan, ketua tim, dan perawat pelaksana 2. Pengorganisasian • • • • • • • • katim • pasien • • • Mengatur penugasan jadwal pos dan prakarya Identifkasi masalah dan cara penanganan Pengarahan Memberikan wewnang tata usaha untuk mengurus administrasi Merumuskan metode penugasan yang digunakan Merumuskan tujuan metode penugasan Membuat rincian tugas katim dan anggota tim secara jelas Membuat rentang kendali, karu membawahi 2 katim dan katim Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan , membuat Mengatur dan mengendalikan situasi tempat pratek Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan Mendelegasikan tugas saat karu tidak berada di tempat, kepada

membawahi 23 PP proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dll

3. Pengarahan dan pengawasan

17

 Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada katim  Memnerikan pujian kepada anggota tim yang melaksankan tugas yang baik  Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan keterampilan dan sikap  Melibatkan bawahan sejak awal sampai akhir  Meninggalkan kolaborasi dengan anggota lain • Pengawasan  Melakukan komunikasi, mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan katim maupun pelaksanaan askep yang diberikan pasien  Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir katim, membaca dan memeriksa intervensi serta semua dokumentasi, mendengarkan laporan katim tentang pelaksanaan tugas 2.6.2 Ketua Tim Ketua tim aalah seorang perawat yang bertugas mengepalai sekelompok tenaga keperawatan dalam melaksanakan asuhan keperawatan di ruang rawat dan bertanggung jawab langsung kepada karu. Tanggung Jawab Ketua Tim • Mengkaji klien dan menerapkan tindakan keperawatan yang tepat. Pengkajian merupakan proses yang berlanjut dan berkesinambungan, tanpa melakukan surat terima tugas. • Mengkoordinasikan rencana perawat yang tepat waktu membimbing anggota tim untuk mencatat tindakan keperawatan yang telah dilakukan • Meyakinkan semua evaluasi berupa respon klien terhadap tindakan keperawatan • Menilai kemajuan semua klien dari hasil pengamatan langsung / laporan anggota tim Ketua tim harus memiliki kemampuan : • Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan semua kegiatan tim

18

• Menjadi kesulitan dalam asuhan keperawatan • Melakukan pengkajian dan menentukan kebutuhan pasien • Menyusun rencana keperawatan untuk semua pasien • Merevisi dan meyesuaikan rencana keperawatan sesuai kebutuhan pasien • Melaksanakan observasi baik terhadap perkembangan pasien maupun kerja dari anggota tim • Menjadi guru dan pengajar • Melaksanakan evaluasi secara baik dan objektif Uraian Tugas 1. Perencanaan • • • • Bersama karu mengadakan serah terima tugas pada setiap pergantian dinas Melakukan pembagian tugas pada anggota berdasrkan ketergantungan klien Menyusun rencana asuhan keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan kreteria evaluasi Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan askep meliputi :  Menyiapkan format pencatatan  Menyiapkan alat untuk pemantauan pasien  Menyiapkan peralatan obat • • • • • Mengikuti visite dokter Menilai hasl pengkajian kelompok da mendiskusikan permasalahan yang ada Menciptakan kerja sama yang harmonis antara tim dan antara anggota tim Memberikan pertolongan segera pada klien yang kedaruratan Membuat lapoaran klien

19

• • •

Melakukan ronde keperawatan bersama dengan karu Memberikan orientasi pada klien baru Merumuskan tujuan dari pengorganisasian tim keperawatan yaitu tercapainya proses askep sesuai dengan kondisi dan ebutuhan klien secara profesioanal melalui pembagian kerja yang tepat, pemanfaatan alat dan barang yang tersedia tanpa menyimpang dari prinsip tindakan

2. Pengorganisasian

• •

Melakukan pembagian tugas bersama karu sesuai perencanaan terhadap klien yang menjadi tanggung jawabnya Pembagian tugas / kerja berdasarkan tingkat ketergantungan klien dimna seorang perawat bertanggung jawab terhadap 2 – 3 orang klien dan saling bekerja sama dengan perawat lain serta tidak mengabaikan klien yang bukan menjadi tanggung jawabnya

• •

Mengatur waktu istirahat untuk anggota tim Mendelegasika pelaksanaan proses asuhan keperawatan kepada anggota kelompok dan pelimpahan wewenang yang meliputi wewenang mengambil keputusan, wewenang dalam menggunakan sumber daya seperti sama perawat, pasien termasuk anggota pasien

Membuat rincian tugas meliputi :  Melaksnakan asuhan keperawatan sesuai rencana  Mendokumentasikan tindakan dan hasil yang telah dilaksanakan  Membuat laporan keadaan klien dan asuhan keperawatan  Mengevaluasi hasil dan proses keperawatan yang telah diberikan  Melaksanakan kerja sama dengan anggota tim lainnya

20

3. Pengarahan • • • • Memberikan pengaraha tentang tugas stiap anggota tim dalam waktu melakukan askep Memberikan petunjuk kepada anggota tim alam melaksanakan askep Memberikan teguran, pengarahan pada anggota tim yang melakukan tugas / berbuat kesalahan Memberi pujian pada anggota tim yang melaksankan tugasnya tepat sesuai waktu, tepat berdasarkan prinsip tindakan, rasional sesuai dengan kebutuhan serta kondisi klien 4. Pengawasan • • Melakukan komunikasi langsung terhadap pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien Melakukan supervise  Secara langsung melihat / mengawasi proses keperawatan yang dilaksanakan oleh anggota  Secara tidak langsung melihat daftar perawat pelaksana, membaca dan memeriksa caper, membaca catatan perawat selama proses keperawatan, mendengarkan laporan secara lisna dari anggota tim tugas yang dilkaukan  Melakukan evaluasi • • Bersama karu mengevaluasi kegiatan dan laporan dari anggota tim Meningkatkan pengarahan • • Mengevaluasi penampilan kerja perawat pelaksana dan askep yang dilakukan oleh anggota tim Mengecek dokumentasi setelah tindakan perawat yang dilakukan kemampuan analisa (pengetahuan) dan kemampuan psikomotor serta sikap melalui diskusi dan

21

2.6.3

Perawat Pelaksana

Perawat pelaksan adalah seorang tenga keperawatan yang diberi wewenang untuk melaksnakan pelayanan asuhan keperawatan diruang rawat. 1. Tugas dan bertanggung jawab perawat pelaksana • • • • • • • • • • • • • Mengikuti serah terima klien dari dinas pagi, bersama perawat primer sore dan malam Mengikuti pre-comprence/post-comprence dengan perawat primer Melakukan pengkajian awal pada klien baru jika perawat primer tidak ada ditempatnya Melakukan implementasi kepada klien berdasarkan rencana askep yang telah dibuat oleh perawat primer Melakukan evaluasai terhadap tindakan yang telah dilakukan Melakukan pencatatan dan pelaoparan berdasarkan format dokumentasi kepaerawatan yang ada di ruangan Menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostic/laboratrium, pengobatan dan tindakan Memberikan penjelasan atas pertanyaan klien/keluarga dengan kalimat yang mudah dimengerti, bersikap sopan dan ramah tamah Berperan serta dalam melakukan penyuluhan kesehatan pada klien dan keluarga Memelihara kebersihan klien, ruangan dan lingkungan ruang rawat Menyimpan, memelihara dan menyiapkan perawata yang diperlukan sehingga siap pakai Melakukan dinas roatasi sesuai dengan jadwal yang sudah di buat oleh karu rawat Melaksanakan kebijakan yang ditentukan oleh kepala ruangan rawat. Uraian tugas perawat pelaksana

22

a. Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan dengan proses kasih sayang • • • • Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan masalah klien Melakasnakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan Mencatat atau melaporkan semua tindakan keperawatan dan respon klien pada cacatan keperawatan b. Melaksanakan program medis dengan penuh tanggung jawab • Pemberian obat • Pemeriksaan laboratorium • Persiapan klien yang akan di operasi

c. Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, social, dan spiritual dari klien • • • Memelihara kebersihan klien dan lingkungan Penderitaan klien dengan member rasa aman, nyaman dan ketenangan Pendekatan dan komunikasi terapeutik d. Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan keperawatan dan pengobtan/diagnosis e. Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan dirinya f. Memberikan pertolongan segera pada klien gawat/sakaratul maut g. Membantu kepala ruangan dalam penatalaksnaan ruangan/pulang secara administratif • Menyiapkan data klien baru meninggal/pulang misalnya : menyediakan surat izin pulang, surat keterngan istirahat sakit,

23

petunjuk diet, resep obat untuk di rumah jika diperlukan, kartu control, surat rujukan atau pemeriksaan ulang dll • • Sensus harian/formulir Rujukan harian/formulir

h. Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada di ruangan menurut fungsinya supaya siap pakai i. Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan keindahan ruangan j. Melakuka tugas pagi, sore, malam/hari libur secara bergantian sesuai harian tugas k. Memberikan penyuluhan kesehatan sesuai dengan penyakitnya (PKMRS) l. Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik secara lisan atau tulisan m. Melatih pasien untuk melaksanakn tindakan perawatan di rumahny, misalnya : perawat, dan melatih anggota gerak n. Melatih pasien menggunakan alat bantu yang dibutuhkan seperti rodstool, tongkat penyanggah, protesa. 2. Wewenang pelaksana a. Membina informasi dan petunjuk pada atasan b. Memberikan asuhan keperawatan pada pasien atau keluarga pasien sesuai kemapuan dan batas kewenangannya 3) Pengarahan (Directing) Pengarahan yaitu penerapan perencanaan dalam bentuk tindakan dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Istilah lain yang digunakan sebagai padanan pengarahan adlah pengorganisasian, pengaktifan. Apapun istilah yang digunakan pada akhirnya akan bermuara pada melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya ( Marquis dan Huuton, 1998).

24

Pengarahan (directing) adalah suatu proses menggerakkan orangorang agar mau bekerjasama dengan ikhlas dan bersemangat dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan perencanaan dan pengorganisasian yang telah disusun (Wijono,1997). Pengarahan juga berkaitan dengan manajemen sumberdaya manusia yaitu : motivator, manajemen konflik, pendelegasiaan, komunikasi dalam tim, dan memfasilitasi kolaborasi antar anggota tim. Salah saru proses pengarahan dalam keperawatan adlah serah terima tugas atau overran. 4) Pengendalian (Controlling) Proses akhir dari manajemen adalah pengendalian atau pengontrolan. Fayol (1998) mendefinisikan control sebagai pemeriksaan apakah segala sesuatunya terjadi sesuai dengan rencana yang telah disepakati, instruksi yang dikeluarkan, serta prinsip-prinsip yang ditentukan, yang bertujuan untuk menunjukkan kekurangan dan kesalahan agar diperbaiki dan tidak terjadi lagi. Pengendalian (controlling) berhubungan erat dengan perencanaan karena proses pngendalian mengacu pada tujuan dan perencanaan yang telah dibuat. Terutama pengendalian dalam pendokumentasian pencatatan asuhan keperawatan. Menurut Mockler (1984), pengendalian menajemen adalah usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan, untuk mendesain sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan prestasi yang sesungguhnya degan standar yang telah ditetapkan. Pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebanarnya sesuai yang direncanakan dan berfungsi untuk menjamin kualitas serta pengevaluasi penampilan, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian dan pengontrolan meliputi : a. Menetapkan standard an menetapkan metode pengukuran prestasi kerja b. Melakukan pengukuran prestasi kerja

25

c. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar d. Mengambil tindakan korektif Peralatan atau instrument dipilih untuk mengumpulkan bukti dan untuk menunjukkan standart yang telah dicapai. Audit merupakan pekerjaan yang telah dilakukan, kategori audit terdiri dari : a. Audit struktur b. Audit proses c. Audit hasil Pada model MPKP kegiatan pengendalian diterapkan dalam bentuk kegiatan pengukuran : a. Indicator muti umum :  Perhitungan lam hari perawatan (BOR)  Penghitungan rata-rata lama rawat (ALOS)  Penghitungan lama tempat tidur tidak terisi (TOI) Rata-rata hari tempat tidur tidak ditempat dari saat di isi ke saat terisi kembali. Indicator ini memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur kosong 1-3 hari saja. b. Indicator mutu rumah sakit : • • •

Penghitungan pasien dengan Decubitus Penghitungan pasien infeksi saluran kemih Penghitungan pasien infeksi luka operasi Penghitungan pasien infeksi luka infuse

c. Kondisi pasien : • • • • Audit dokumentasi asuhan keperawatan Survey masalah baru Kepuasan pasien dan keluarga Penilaian kemampuan pasien dan keluarga

26

d. Kondisi SDM : • Kepuasan tenaga kesehatan, perawat dan dokter Penilaian kinerka perawat

Survey Masalah Keperawatan Survey masalah keperawatan adalah survey maslah keperawatan dengan standart NANDA untuk klien baru opname yang dilakukan selama satu periode waktu tertentu (satu bulan). Audit Dokumentasi Asuhan Keerawatan Audit dokementasi asuhan keperawatan adalah kegiatan megevaluasi dokumen asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan oleh perawat pelaksana. Di MPKP audit dilakukan oleh kepala ruangan, pada setiap status klien yang telah pulang atau meninggal dan hasil audit di buat rekapan dalam satu bulan. B. TIMBANG TERIMA (OVERRAN) 1. Pengertian Timbang Terima Profesionalisme dalam pelayanan keperawatan dapat dicapai dengan mengoptimalkan peran dan fungsi perawat, terutama peran dan fungsi perawat. Hal ini dapat diwujudkan dengan baik melalui komnikasi yang efektif antar perawat, maupun dengan tim kesehatan liannya. Salah satu bentuk komunikasi yang harus di tingkatkan efektivitasnya adlah saat pergantian shift (timbang terima pasien). Timbang terima pasien (overan) merupakan teknik atau cara untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan pasien. Timbang terima pasien harus dilakukan seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan / belum dan perkembangan pasien saat itu. Informasi yang dismapaikan harus akurat sehingga kesinambungan asuhan keperawatan dapat berjalan dengan

27

sempurna. Timbangan terima dilakukan oleh perawat primer (penanggung jawab) dinas sore atau dinas malam secara tertulis an lisan. 2. Manfaat Timbang Terima a. Bagi Perawat • Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat • Menjalin hubungan kerja sama dan bertanggung jawab antar perawat • Pelaksnaan asuhan keperawatan yang berkesinambungan • Perawat dapat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna b. Bagi Pasien • Klien bisa menyampaikan masalah secara langsung bila ada yang belum terungkap c. Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Timbang Terima 1. Dilaksnakan tepat pada saat pergantian shift 2. Dipimpin oleh kepala ruangan atau pananggung jawab pasien 3. Diikuti oleh semua perawat yang telah dan yng akan dinas 4. Hal-hal yang harus dilaporkan harus sesuai dengan kondisi klien 5. Adanya unsure bimbingan dan pengarahan dari penanggung jawab C. RONDE KEPERAWATAN 1. Pengertian :
Ronde keperawatan merupakan suatu kegiatan dalam mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan di samping pasien membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan pada kasus tertentu yang dilakukan oleh perawat primer dan atau konsuler, kepala ruangan, perawat asociate yang melibatkan seluruh anggota tim. Adapun kegiatan ini mempunyai karakteristik meliputi klien dilibatkan secara langsung, klien merupakan fokus kegiatan, PA/PP dan konsuler melakukan diskusi, konsuler mengfasilitasi kreatifitas dan konsuler membantu mengembangkan kemampuan PA dan PP dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.

28

Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping klien dilibatkan untuk mermbahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus terntentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh anggota tim.
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga melibatkan seluruh anggota tim.

2. Karakteristik : a. Klien dilibatkan secara langsung b. Klien merupakan fokus kegiatan c. Perawat aosiaet, perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama d. Kosuler memfasilitasi kreatifitas e. Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet, perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah. 3. Tujuan : a. Menumbuhkan cara berfikir secara kritis b. Menumbuhkan pemikran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien c. Meningkatkan vadilitas data klien d. Menilai kemampuan justifikasi e. Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja f. Meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan. 1. Peran a. Perawat primer (ketua tim) dan perawat asosiet (anggota tim)

29

Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain : 1) Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien 2) Menjelaskan masalah keperawatan utama 3) Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan 4) Menjelaskan tindakan selanjtunya 5) Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil b. Peran perawat primer (ketua tim) lain dan atau konsuler 1) Memberikan justifikasi 2) Memberikan reinforcement 3) Menilai kebenaran dari suatu masalah, intervensi keperawatan serta tindakan yang rasional 4) Mengarahkan dan koreksi 5) Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari 2. Langkah-Langkah Langkah-langkah yang diperlukan dalam ronde keperawatan adalah sebagai berikut : a. Pesiapan 1) Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde 2) Pemberian informed consent kepada klien/keluarga b. Pelaksanaan Ronde 1) Penjelasan tentang klien oleh Perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan 2) Pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan

30

3) Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan 4) Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan c. Pasca Ronde Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menerapkan tindakan yang perlu dilakukan

31

Langkah – langkah Ronde Keperawatan

D. KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN KEPERAWATAN 1. Proses Komunikasi Tappen (1995) mengemukakan pendapat bahwa komunikasi adalah suatu pertukaran pikiran, perasaan, pendapat, dan pemberian nasehat yang terjadi antara dua orang atau lebih yang bekerja sama. Komunikasi juga merupakan suatu seni untuk dapat menyusun dan menghantar suatu seni

32

untuk dapat menyusun dan menghantarkan suatu pesan cara yang mudah sehingga orang lain dapat mengerti dan menerima maksud dan tujuan pemberan pesan. Pesan tersebut dapat berupa pesan verbal, tertulis, maupun non verbal. Proses ini juga melibatkan suatu lingkungan internal dan eksternal, di mana komunikasi dilaksanakan. Lingkungan internal meliputi: nilai-nilai, kepercayaan, temperamen, dan tingkay stress pengirim dan penerima pesan, sedangkan factor eksternal meliputi: keadadaan cuaca, suhu, faktor kekuasaan, dan waktu. Kedua belah pihak antara penerima dan pengirim pesan haris peka terhadap factor internal dan factor eksterna, seperti persepsi dari komunikasi yang ditentukan oleh lingkungan eksternal yang ada. 2. Prinsip Komunikasi Manajer Keperawatan Walaupun komunikasi dalam suatu organisasi adalah sangat komplek, manajer harus dapat melaksanakan komunikasi melalui beberapa tahap trsebut dibawah ini: a. Manajer harus mengerti struktur organisasi, termasuk pemahaman tentang siapa yang akan terkena dampak dari pengambilan keputusan yang telah dibuat. Jaringan komunikasi formal dan informal perlu dibangun antara manajer dan staf b. Komunikasi bukan hanya sebagai perantara, akan tetapi sebagi proses yang tak terpisahkan dalam kebijakan orgnisasi. Jika bagian lainnya akan terkena dampak akibat komunikasi, manajer harus berkonsultasi tentang isi komunikasi dan meminta umpan balik dari orang yang komperen sebelum melakukan suatu perubahan atau tindakan c. Komunikasi harus jelas, sederhana, dan tepat. Dalam buku Nursalam (2001) di tekankan bahwa prinsip komuniksi seorang perawat prosfesional adalah CARE : complete, Acurate: Rapid, dan Engelish yang artinya adlah sebagai berikut : Cirri khas perawat professional di masa depan dalam memberikan pelayanan keperawatan harus dapat berkomunikasi secara lengkap,

33

adekuat, dan cepat. Artinya setiap melakukan komunikasi ( lisan maupun ulis ) dengan teman sejawat dan tenaga kesehatan lainnya harus memenuhi ketiga unsur di atas dengan di dukung suatu fakta yang memadai. Profil perawat masa depan yang terpenting adalah mampu berbicara dan menulis bahasa asing, minimal bahaa inggris. Hal ini di maksudkan untuk mengantisipasi terjadinya persaingan /pasar bebas pada abad ke-21 ini. d. Manajer harus meminta umpan balik apakah komunikasi dapat di terima secara akurat. Salah satu cara untuk melakuknaya pada proses ini adalah meminta penerima pesan untuk mengulangi pesan atau instruksi yang di sampaikan. e. Menjadi pendengar yang baik adalah komponen yang penting bagi manajer. Hal yang perlu di lakukan adalah menerima semua informasi yang di sampaikan orang lain, dan menunjukan rasa menghargai dan ngin tahu terhadap pesan yang di sampaikan. 3. Model Komunikasi 1. Komunikasi tertulis Komunikasi tertulis adalah bagian terpenting dalam organisasi. Dalam mencapai setiap kebutuhan individu/staf, setiap organisasi telah mengembangkan metode penulisan dalam mengkomunikasikan pelaksanaan pengelolaan, miasalnya publikasi peerusahaan, surat-menyurat ke staf, pembayaran dan jurnal. Manajer harus terlibat dalam komunikasi tertulis, khususnya kepada stafnya. 2. Komunikasi Secara Langsung Manajer selalu mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan baik secara formal maupun informal. Mereka harus melakukan komunikasi secara verbal saat pertemuan formal, baik kepada individu dalam kelompok dan presentasi secara formal. Tujuan komuniksai verbal adalah “assertiveness”. Perilakun asertif adalah suatu cara komunikasi yang memberikan kesempatanj individun untuk

34

mengekspresikan perasaannya secara langsung, jujur, dan dengan cara yang sesuai tanpa menyinggung perasaan orang lain yang diajak berkomunikasi. Hal yang harus di hindari pada komunikasi secara asertif adalah pasif dan agresif, khususnya agresif yang tidak langsung. Komunikasi pasif terjadi jika individu tidak tertarik terhadap topik atau hanya engganm berkomunikasi, sedangkan komunikiasi agresif terjadi jika individu merasa superior terhadap topik yag dibicarakan. 3. Komunikasi non-verbal Komunikasi non verbal adalah komunikasi dengan menggunakan ekpresi wajah gerakan tubuh, dan sikap tubuh. Menurut Arnold dan boggs(1989), karena komunikasi nonverbal meliputi kompenen emosi terhadap pesan yang diterima atau disampaikan, maka komunikasi nonverbal lebih mangandung arti yang signifikan dibandingkan komunuikasi verbal. Tetapi akan menjadi sesuatu yang membahayakan jika komunikasi nonverbal disalahartikan tanpa adanya penjelasan secara verbal. Dibawah ini adalah kunci bagian komunikaso nonverbal yang dapat terjadi tanpa atau dengan komunikasi verbal : • • • • • • Lingkungan Pakaian Kontak mata Postur tubuh dan gesture Ekspresi wajah Suara; intonasi, volume, dan refleksi

4. Komunikasi Via Telepon Pada era milenium ini, manajer sangat tergantung melakukan komunikasi menggunakan telepon. Dengan kemudahan sarana komunikasi tersebut, memungkinkan manajer untuk merespon setiap perkembangan dan masalah dalam organisasi. Oleh karena itu, untuk menjaga citra organisasi, manajer,

35

dan semua staf harus belajar dan sopan serta menghargai setiap menjawab telepon. Jika orang lain harus menunggu untuk berbicara, maka waktu yang diperlukan harus singkat untuk menghindari kesan yang negatif.
Tahapan proses komunikasi kelompok yaitu : • • Sumber Komunikasi: Langkah-langkah antara satu sumber dan penerima yang Pengkodean (encoding): Mengubah satu pesan komunikasi menjadi bentuk menghasilkan pentransferan dan pemahaman makna. simbolik. Empat kondisi yang mempengaruhi pesan terkode, yaitu keterampilan, sikap, pengetahuan, dan sistem sosial budaya. • Pesan (Apa yang dikomunikasikan): Dipengaruhi oleh kode/kelompok symbol yang kita gunakan untuk mentransfer makna, isi dari pesan itu sendiri dan keputusan yang kita ambil dalam memilih dan menata baik kode maupun isi. • Saluran (channel): Medium lewat mana suatu pesan komunikasi berjalan. Medium dipilih oleh sumber, yang harus menentukan saluran mana yang formal dan informal. • Pendekodean: Penerjemah ulang pesan komunikasi seorang pengirim. Penerima merupakan sasaran arah pesan itu tapi sebelum pesan dapat di terima, simbol-simbol harus di terjemahkan kedalam suatu ragam yang dapat dipahami oleh si penerima. • • Penerima Umpan Balik: Tautan akhir dalam proses komunikasi, mengembalikan pesan

kedalam sistem guna memeriksa kesalah pahaman, umpan balik merupakan suatu penentu apakah pesan itu telah dipahami. (Stephen Robbins, Perilaku Organisasi, hal. 6-7) Kegiatan Perawat yang memerlukan komunikasi adalah : • Komunikasi saat timbang terima: Komunikasi yang jelas tentang kebutuhan klien terhadap apa yang sudah dilakukan intervensi dan yang belum, serta respon pasien yang terjadi. • Interview/Anamnese: Komunikasi dengan tujuan untuk memperoleh data tentang keadaan klien yang akan dipergunakan dalam mendukung masalah yang dihadapi pasien dan melaksanakan tindakan dengan akurat. Anamnese ini bisa dengan pasien, keuarga, dokter dan tim lainnya.

36

Prinsip yang perlu diterapkan oleh perawat dalam komunikasi ini  Hindari komunikasi yang terlalu formal atau tidak tepat. Ciptakan suasana yang hangat dan kekeluargaan  Hindari interupsi  Hindari respon dengan kata hanya ya dan tidak (perawat kurang tertarik degan topik yang dibicarakan)  Jangan memonopoli pembicaraan  Hindari hambatan personal (Jika perawat menunjukan rasa tidak senang pada klien, maka hasil yang didapat tidak optimal. • Komunikasi melalui komputer: Melalui komputer, informasi-informasi

terbaru dapat cepat didapatkan dengan menggunakan internet bila perawat mengalami kesulitan dalam menangani masalah klien. • Komunikasi tentang kerahasiaan: Pasien yang masuk menyerahkan rahasia dan rasa percaya kepada Institusi. Oleh karena itu perawat harus berusaha menjaga dengan baik. • Komunikasi melalui sentuhan: Metode ini merupakan metode dalam mendekatkan hubungan antara pasien dan perawat. Sentuhan yang diberikan oleh perawat juga dapat sebagai terapi pagi pasien, khususnya pasien dengan depresi, kecemasan dan kebingungan, dalam mengambil suatu keputusan. • Dokumentasi sebagai alat komunikasi: Ketrampilan dokumentasi yang efektif memungkinkan perawat untuk mengkomunikasikan kepada tenaga kesehatan lainnya dan menjelaskan apa yang sudah, sedang dan akan dikerjakan oleh perawat. • Komunikasi perawat dan tim kesehatan lainnya: Komunikasi yang baik akan

meningkatkan hubungan profesional antar perawat dan tim kesehatan lainnya : dokter, ahli gizi, fisioterapi, dll.(Doc Stoc, Komunikasi dalam Manajemen Keperawatan, 23-12-2009). Prinsip Komunikasi Manajer Keperawatan Walaupun komunikasi dalam suatu organisasi adalah sangat kompleks, manajer harus dapat melaksanakan komunikasi melalui beberapa tahap tersebut dibawah ini antara lain:

37

• yang telah dibuat. • • • • bagi manajer.

Manajer

harus

mengerti

struktur

organisasi,

termasuk

pemahaman tentang siapa yang akan terkena dampak dari pengambilan keputusan Komunikasi bukan hanya sebagai perantara akan tetapi sebagai Komunikasi harus jelas, sederhana dan tepat. Manajer harus meminta umpan balik apakah komunikasi dapat Menjadi pendengar yang baik adalah komponen yang penting

bagian proses yang tak terpisahkan dalam kebijaksanaan organisasi.

diterima secara akurat.

38

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A.HASIL 1. Profil/Gambaran Umum Ruang Keperawatan wisma Banowati W9 Rumah Sakit Prof. dr. Soeroyo Terletak di dibelakang ruang kep.P13,samping kiri ruangan W10 dan samping kanan jalan menuju rehabilitasi dan belakangnya W6.dan di ruangan wisma Banowati terdapat perawat berjumlah 11 orang, dimana diruangan ini perawat perempuan semua dengan tingkat pendidikan D3 perawat 9 orang, S1 keperawatan 2 orang, dan dirungan ini juga dibantu dengan tenaga kesehatan professional yang lain nya yaitu 1 psikiatri ,1 dokter umum dan 1 psikolog dan dengan status pekerjaan PNS 13 orang dan non PNS 2 orang. Dimana pasien yang terdapat di ruangan wisma banowati sebanyak 25 pasien,adapun gangguan jiwa yang terdapat di ruangan wisma banowati w9 adalah hallusinasai ,waham ,isolasi sosial, PK. Di ruang w9 Wisma Banowati juga terdapat ruang perawat, ruang pemeriksaan kesehatan, ruang pasien, ruang makan, kamar mandi pasien, kamar kecil pasien,dibelakang tempat cuci piring, serta ruangan yang dilengakapi dengan TV sekaligus ruangan makan, ruangan untuk penkes keluarga dan pasien agar dapat mendiskusi kasus klien, teras depan untuk ruangan berkunjung keluarga pasien.

39

2.Struktur Organisasi wisma banowati STRUKTUR ORGANISASI WISMA BANOWATI Ka. Instalansi Rawat Inap Jiwa

Ka. Instalansi Rawat Inap Wanita

Kepala wisma Sri Hartuti S.kep

Ketua tim Suryant Amki

Ketua tim II Hj. Siti uswatun H S.kep

Perawat pelaksana 1. Markamah 2. Sri susilowati,Amk 3. Sih winarni,Amk 4. Soehariyadiningsih,Am k 5. Indah susilowati, S.kep 6. Dian Citra S.kep Perawat pelaksana 1. Supriyati,Amk 2. Lastriyati, Amk 3. Suswati P, Amk 4. Wahyu chonifah, Amk

40

Magelang , 23 juni 2010 DIREKTUR UTAMA

Dr. Bella Patrianay Spk Nip : 19610226 198902 1 001 3.Metode MPKP yang digunakan Metode yang yang digunakan dalam ruangan Wisma Bamowati(W9) adalah metode tim dimana terdiri dari anggota yang berbeda dalam memberikan askep terhadap pasien ,dimana dalam 1 tim terdiri dari 6-7 orang,dan dari tim itu dibagi menjadi 2-3 yang terdiri dari tenaga professional dan teknikal pembantu dalam grup kecil yang saling membantu dan saling tukar pikiran dalam pemberian askep pada pasien. Daftar team parawatan bangsal WIX Team 1 = Surjanti Amk
1. Isngati

Pengelola Subrianti Amk Sri susilawati Amk Sih winarni Amk Soehariyadiningsih Amk Dian citra P S.kep Malia agustina Amk Surjanti Amk

2. Puji astute 3. Esa sri afiah 4. Sarilah 5. Nur utami 6. Marwati 7. Siti qoriah

41

8. Nurkhasanah 9. Siti fatinah 10. Satiti K 11. Sri dadi 12. Supriyatun 13. Sri suparyani

Sri susilawati Amk Sih winarni Amk Sih winarni Amk Soehariyadiningsih Amk Dian Citra P S.kep Maria agustina Amk

Team II= Hj. Siti Uswatun H S.kep 1. Darmi 2. Sri ningsih 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Fatonah Zulaidah Poniyem Tri wahyuni Supriyanti Istiyah Suprmi Sukirah Paryati Hululul wafizah

Pengelola Hj seuswatun S.kep Supriyanti Amk Lastriyanti Amk Suswati Amk Faridatul S.kep Wahyu K, Amk Hj.seuswatun S.kep Supriyati Amk Lastriyati, Amk Suswati, Amk Falidatul S.kep Wahyu K, Amk

4.tugas dan fungsi 1. Karu Tugas dan Fungsi Karu: a. Perencanaan • • dimana Karu yang menentukan/menunjuk ketua tim,mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien ,jumlah perawat yang dibutuhkan

42

• •

,merencanakan strategi pelaksana perawat dan mengikuti visit dokter,untuk mengetahui kondisi, patofisiologi dan tindakan medis yang dilaku dan mengkonsultasikan tindakan yang baru diberikan pada pasien .

b.Pengorganisasian • •

Dimana Karu yang merumuskan Metode penugasan yang digunakan tujuan metode penugasan ,membuat rincian tugas katim dan anggota tim secara jelas ,membuat rentang kendali,karu membawahi 2 katim dan setiap katim membawahi 5-6 PP Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan , membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dll.

c.Pengarahan dan Pengawasan • • Dimana karu Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada katim Memberikan pujian kepada anggota tim yang melaksankan tugas yang baik,Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan keterampilan dan sikap • • Melibatkan bawahan sejak awal sampai akhir,Meninggalkan kolaborasi dengan anggota lain , Melakukan komunikasi, mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan katim maupun pelaksanaan askep yang diberikan pasien • Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar hadir katim, membaca dan memeriksa intervensi serta semua

43

dokumentasi,

mendengarkan

laporan

katim

tentang

pelaksanaan tugas 2. Katim Perencanaan • • • Bersama karu mengadakan serah terima tugas pada setiap pergantian dinas Melakukan pembagian tugas pada anggota berdasarkan ketergantungan klien Menyusun rencana asuhan keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan kreteria evaluasi Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan askep meliputi :  Menyiapkan format pencatatan  Menyiapkan alat untuk pemantauan pasien  Menyiapkan peralatan obat • • • • • • • Mengikuti visite dokter Menilai hasil pengkajian kelompok dan mendiskusikan permasalahan yang ada Menciptakan kerja sama yang harmonis antara tim dan antara anggota tim Memberikan pertolongan segera pada klien yang kedaruratan Membuat lapoaran klien Melakukan ronde keperawatan bersama dengan karu Memberikan orientasi pada klien baru

Pengorganisasian • Merumuskan tujuan dari pengorganisasian tim keperawatan yaitu tercapainya proses askep sesuai dengan kondisi dan

44

kebutuhan klien secara profesioanal melalui pembagian kerja yang tepat, pemanfaatan alat dan barang yang tersedia tanpa menyimpang dari prinsip tindakan •

Melakukan pembagian tugas bersama karu sesuai perencanaan terhadap klien yang menjadi tanggung jawabnya Pembagian tugas / kerja berdasarkan tingkat ketergantungan klien dimana seorang perawat bertanggung jawab terhadap 2 – 3 orang klien dan saling bekerja sama dengan perawat lain serta tidak mengabaikan klien yang bukan menjadi tanggung jawabnya

• •

Mengatur waktu istirahat untuk anggota tim Mendelegasika pelaksanaan proses asuhan keperawatan kepada anggota kelompok dan pelimpahan wewenang yang meliputi wewenang mengambil keputusan, wewenang dalam menggunakan sumber daya seperti sama perawat, pasien termasuk anggota pasien

Membuat rincian tugas meliputi :  Melaksnakan asuhan keperawatan sesuai rencana  Mendokumentasikan tindakan dan hasil yang telah dilaksanakan  Membuat laporan keadaan klien dan asuhan keperawatan  Mengevaluasi hasil dan proses keperawatan yang telah diberikan  Melaksanakan kerja sama dengan anggota tim lainnya Pengarahan Memberikan pengaraha tentang tugas stiap anggota tim dalam waktu melakukan askep Memberikan petunjuk kepada anggota tim alam melaksanakan askep

45

Memberikan teguran, pengarahan pada anggota tim yang melakukan tugas / berbuat kesalahan Memberi pujian pada anggota tim yang melaksankan tugasnya tepat sesuai waktu, tepat berdasarkan prinsip tindakan, rasional sesuai dengan kebutuhan serta kondisi klien Pengawasan • Melakukan komunikasi langsung terhadap pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien

Melakukan supervise  Secara langsung melihat / mengawasi proses keperawatan yang dilaksanakan oleh anggota  Secara tidak langsung melihat daftar perawat pelaksana, membaca dan memeriksa caper, membaca catatan perawat selama proses keperawatan, mendengarkan laporan secara lisna dari anggota tim tugas yang dilkaukan • • • Melakukan evaluasi Bersama karu mengevaluasi kegiatan dan laporan dari anggota tim Meningkatkan pengarahan • • Mengevaluasi penampilan kerja perawat pelaksana dan askep yang dilakukan oleh anggota tim Mengecek dokumentasi setelah tindakan perawat yang dilakukan kemampuan analisa (pengetahuan) dan kemampuan psikomotor serta sikap melalui diskusi dan

3. PP(Perawat pelaksana)

46

1. Uraian tugas perawat pelaksanaMemberikan pelayanan keperawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan dengan proses kasih sayang Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan masalah klien • • • Melakasnakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana Mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah diberikan Mencatat atau melaporkan semua tindakan keperawatan dan respon klien pada cacatan keperawatanMelaksanakan program medis dengan penuh tanggung jawab • • • Pemberian obat Pemeriksaan laboratorium Persiapan klien yang akan di operasi 2 • • • Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, social, dan spiritual dari klien Memelihara kebersihan klien dan lingkungan Penderitaan klien dengan member rasa aman, nyaman dan ketenangan Pendekatan dan komunikasi terapeutik 3 4 5 6 Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan keperawatan dan pengobtan/diagnosis Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai dengan kemampuan dirinya Memberikan pertolongan segera pada klien gawat/sakaratul maut Membantu kepala ruangan dalam penatalaksnaan ruangan/pulang secara administrative • Menyiapkan data klien baru meninggal/pulang misalnya : menyediakan surat izin pulang, surat keterngan istirahat sakit, petunjuk diet, resep obat untuk di rumah jika diperlukan, kartu control, surat rujukan atau pemeriksaan ulang dll • Sensus harian/formulir

47

Rujukan harian/formulir 7 8 9 Menciptakan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan keindahan ruangan Melakuka tugas pagi, sore, malam/hari libur secara bergantian sesuai harian tugas Memberikan (PKMRS) 10 Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik secara lisan atau tulisan
11 Melatih pasien untuk melaksanakn tindakan perawatan di rumahnya,

penyuluhan

kesehatan

sesuai

dengan

penyakitnya

misalnya : merawat, dan melatih anggota gerak 12 Melatih pasien menggunakan alat bantu yang dibutuhkan seperti rodstool, tongkat penyanggah, protesa. 5.Pelaksanaan Timbang Overan Pelaksanaan timbangan overan dilakukan pada pada pertukaran shif baik itu pada shif malam-pagi yang dilaksana kan pada jam 07.00 , shif pagi –siang dilakukan pada jam 14.00 dan overan dilakukan pada shif siang-malam yang dilakukan pada jam 20.00 dan itu dilakukan rutin untuk hari-hari seterusnya. 6.Pelaksanaan Komunikasi Therapeutik
Model Komunikasi yang digunakan di rumah sakit jiwa Prpf.Dr. Soeroyo magelang antara lain sebagai berikut : • Komunikasi tertulis: Komunikasi tertulis adalah bagian yang penting dalam organisasi. Dalam mencapai setiap kebutuhan individu/staf, setiap organisasi telah mengembangkan metode penulisan dalam mengkomunikasikan pelaksanaan pengelolaan, misalnya publikasi perusahaan, surat menyurat ke staf, pembayaran, dan jurnal. • Komunikasi secara langsung: Manajer selalu mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan baik secara formal maupun informal.

48

• . •

Komunikasi non-verbal: Komunikasi nonverbal adalah komunikasi dengan

menggunakan ekspresi wajah gerakan tubuh, dan sikap tubuh atau “ body language” Komunikasi via telepon : Pada era milinium ini, manajer sangat tergantung sarana setiap tersebut, memungkinkan manajer untuk merespons

melakukan komunikasi menggunakan telpon. Dengan kemudahan komunikasi perkembangan dan masalah dalam organisasi.

B.PEMBAHASAN 1. Pembahasan
Adapun kegiatan yang dilaksanakan di ruang perawat Wisma Banowati Rumah Sakit Jiwa Prof.Dr.Soeroyo Magelang adalah : • 07.00 Overan dinas, pre conference, Membimbing makan dan memberi obat, Membimbing membersihkan ruangan. • • • • • • • • • • 08.00 Interaksi 09.00 TAK 10.00 Interaksi 11.00 Pendokumentasian 12.00 Post conference 12.30 Membimbing makan dan memberi obat Membimbing membersihkan ruangan 14.00 Operan 14.30 Mengobservasi kondisi klien 15.00 Interaksi 16.00 Bimbingan ADL dan bimbingan spiritual

49

• • • • • •

17.00 Bimbingan makan dan minum obat Bimbingan membersihkan ruangan 18.00 Membimbing sholat isya Pendokumentasian 20.30 Operan 22.00 Mengobservasi kondisi klien 05.00 Membimbing sholat shubuh Membimbing kebutuhan personal hygien

06.00 Menyiapkan alat makan Pendokumentasian

Metode MPKP yang digunakan di ruang Wisma banowati

adalah Metode

keperawatan yang menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap pasien. Perawat dibagi menjadi 2-3 yang terdiri dari tenaga professional teknikal pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu dengan jumlah 6-7 orang dalam satu tim.
Adapun rencana dalam sistem overran yaitu kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap. Shift yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal-hal apa yang disampaikannya. Perawat yang bertanggung jawab menyampaikan kepada penanggung jawab shift yang selanjutnya meliputi :Kondisi atau keadaan klien secara umum, Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan dan Rencana kerja untuk dinas yang menerima operan. Timbang terima ruang keperawatan Wisma Banowati ini dilaksanakan setiap penggantian shift/operan dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan. Penjelasan tentang klien oleh Perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan. Komunikasi terapheutik yang digunakan di Wisma Banowati adalah Komunikasi Tertulis yang dalam mengkomunikasikan pelaksanaan pengelolaan, misalnya publikasi perusahaan, surat menyurat ke staf, pembayaran, dan jurnal. Kepala Ruangan juga selalu

50

mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan baik secara formal maupun informal dan komunikasi non-verbal dengan menggunakan ekspresi wajah gerakan tubuh, dan sikap tubuh. Serta menggunakan komunikasi via telepon dimana kepala ruangan sangat tergantung melakukan komunikasi menggunakan telpon. Dengan kemudahan sarana komunikasi tersebut, memungkinkan kepala ruangan untuk merespons setiap perkembangan dan masalah dalam organisasi.

2. Analisis SWOT
SWOT adalah singkatan yg diambil dari huruf depan kata Strength, Weakness, Opportunity dan Threat, yg dalam bahasa Indonesia mudahnya diartikan sbg Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman. Metode analisa SWOT bisa dianggap sebagai metode analisa yg paling dasar, yg berguna utk melihat suatu topik atau permasalahan dari 4 sisi yg berbeda. Hasil analisa biasanya adalah arahan/rekomendasi utk mempertahankan kekuatan dan menambah keuntungan dari peluang yg ada, sambil mengurangi kekurangan dan menghindari ancaman.

ANALISA SWOT

S ( kekuatan ) 1 Pendidikan

W ( kelemahan ) CI

O

T ( hambatan ) 51 yang

Adanya ruang khususRasio untuk praktikan yangpeserta

(kesempatan) denganRumah sakitKurikulum didikjiwa prof. Dr.pendidikan merupakan rumah rujukan tertinggi rumah tertua Indonesia disajikanAdanya sakit di Pasien praktikan sakitmenumpuk ruangan

dilengkapi dengan buku-kadang-kadang tidakSoeroyo buku yang berhubunganmemadai dengan jiwa keperawatan

membuat distribusi di

diwaktu-

danwaktu tertentu

2. Nutrisi

Makanan datang padaMakanan setiap harinya

yang

waktu yang relatif samadengan ketentuan RS mahasiswa Pengawasan terhadap yang pasien masih makananruangan dikonsumsimembantu dari luarmengawasi kurang,pemenuhan dapat

mengkosumsi

keperawatan dimakanan dari luar

kecuali jika pasienkebutuhan 3. Istirahat tidur yang menanyakan nutrisi klien danAdanya peraturan danMasih adanyaAdanya tata jumlah tertib dan tentangkeluarga pasien yangmahasiswa waktuberkunjung jam-jam istirahat ruangan membantu pemenuhan kebutuhan istirahat 4. Personal hygiene Perawat keluarga tentang mengajarkanMasih dan tata pasienkesadaran carauntuk masih untuk hygiene klien yangkurang tidur pasien kurangnyaAdanya dan Masih kurangnya Kondisi penyakit

dan efek samping danmengakibatkan tidur seperti sesak napas dan batuk

padakeperawatan diobat keluarga dapatpasien sulit untuk

berkunjung

keluargapraktikan yangtingkat melakukanpraktek di ruangpengetahuan pasien tentang pentingnya personal hygiene kurangnya belajar ,hal ini

personal hygiene

personal higiene ,danperawatan keinginan praktikan melakukan personal terlihat dari kondisi

5. Keamanan danLingkungan

terjaminAdanya

Tidak

adanya

52

BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN Metode MPKP yang digunakan di ruang Wisma Banowati adalah Metode

keperawatan yang menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap pasien. Perawat dibagi menjadi 2-3 yang terdiri dari tenaga professional teknikal pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu dengan jumlah 6-7 orang dalam satu tim
Timbang terima ruang keperawatan Wisma Banowati ini dilaksanakan setiap penggantian shift/operan dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien, rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan. Penjelasan tentang klien oleh perawat dalam hal

53

ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan. Komunikasi terapheutik yang digunakan di Wisma Banowati adalah Komunikasi Tertulis yang dalam mengkomunikasikan pelaksanaan pengelolaan, misalnya publikasi perusahaan, surat menyurat ke staf, pembayaran, dan jurnal. Kepala Ruangan juga selalu mengadakan komunikasi verbal kepada atasan dan bawahan baik secara formal maupun informal dan komunikasi non-verbal dengan menggunakan ekspresi wajah gerakan tubuh, dan sikap tubuh. Serta menggunakan komunikasi via telepon dimana kepala ruangan sangat tergantung melakukan komunikasi menggunakan telpon. Dengan kemudahan sarana komunikasi tersebut, memungkinkan kepala ruangan untuk merespons setiap perkembangan dan masalah dalam organisasi B. SARAN Demi tercapainya suatu keberhasilan mencapai usaha yang maksimal untuk penyempurnaan Laporan Preklinik Manajemen Keperawatan, maka diharapkan agar Mahasiswa serta Dosen dapat berpartisipasi dan memberikan saran dari semua kalangan pendidikan untuk menuju hasil yang lebih baik sangat penulis harapkan sehingga penyempurnaan laporan ini dapat kita rasakan bersama manfaatnya. Amin !!!

DAFTAR PUSTAKA Swansburg. R.C. 2000 Pengantar Kepemimpinan dan manajemen keperawatan untuk perawat klinis. Terjemahan. Jakarta; EGC Nursalam, Mnurs (Honours). 2002. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik keperawatan ProfesionalI; Salemba Medika. Modul model keperawatan profesional jiwa (MPKP jiwa) oleh : Tim MPKP http//:w ww .iklimmo tivas id ala mpraktekk eperaw at an.com http//:ww w .perananiklim motiv as idala mM PK P.com http//:ww w .penerapanM P K P dalamikli mmot ivas i.com http://as-kep.blogspot.com/2009/04/pre-dan-post-conference.html http://blog-indonesia.com/blog-archive-12361-28.html

54