A. Definisi Asites Asites berasal dari bahasa yunani yang artinya kantong atau tas.

Asites adalah menumpuknya cairan patoligis dalam rongga abdominal. Laki-laki dewasa yang sehat tidak mempunyai atau terdapat sedikit cairan intraperitoneal, tetapi pada wanita terdapat sebanyak 20 ml tergantung pada siklus menstruasi. Jurnal ini hanya membahas asites yang berhubungan dengan sirosis. Penumpukan cairan asites menggambarkan kadar natrium total dalam tubuh dan pengeluaran air. Tetapi awal terjadinya ketidak seimbangan belum jelas. Terdapat 3 teori mengenai terbentuknya asites; 1. Teori pengisian; mengatakan bahwa penyebab utama ketidaknormalan jumlah cairan antara jaringan vaskuler adalah HT portal dan penurunan sirkulasi aliran darah. Hal ini mengaktifkan renin plasma, aldosteron, dan saraf simpatis sehingga menyebabkan retensi natrium dan air. 2. Teori overflow; mengatakan bahwa penyebab utama ketidaknormalan adalah retensi natrium dan air di ginjal akibat kurangnya volume darah. Teori ini terbentuk berdasarkan observasi pada pasien sirosis yang terdapat hipervolemia intervaskuler. 3. Teori yang terakhir hipotesa mengenai vasodilatasi arteri perifer mencakup ke dua teori diatas. Teori ini mengatakan bahwa hipertensi portal mengakibatkan vasodilatasi yang akan menyebabkan penurunan voleme darah arteri. Berdasarkan perjalanan penyakit akan terjadi peningkatan neurohumoral yang akan mengakibatkan retensi natrium dan cairan plasma keluar. Hal ini mengakibatkan peningkatan cairan pada cavum peritoneal. Berdasarkan teori vasodilatasi, teori underfilling berlaku pada sirosis tahap lanjut. Walupun perkembangan hipertensi portal dan retensi natrium masih belum jelas, hipertensi portal tampaknya meningkatkan kadar NO. NO akan mengakibatka vasodilatasi perifer splanknikusdan vasodilatasi perifer. Pasien dengan asites mempunyai aktivitas enzim arteri nitrit oksidase lebih besar dari pada pasien tanpa asites. Terdapat beberapa faktor yang mendukung penumpukan cairan pada cavum abdomen. Faktor pertama adalah peningkatan kadar epinefrin dan norepinefrin, hipoalbumin, penurunan tekanan onkotik plasma akan mengakibatkan keluarnya cairan plasma ke rongga peritoneal, oleh karena itu asites jarang terjadi pada pasien sirosis kecuali jika terdapat hipertensi poertal dan hipoalbumin. MORTALISTAS / MORBIDITAS Pasien sirosis dengan asites memiliki prognosis bertahan hidup selama 3 tahunsebesar 50%. Asites masif prognosisnya buruk, dengan tingkat bertahan hidup selama 1 tahun kurang dari 50%. SEX Pria dewasa normal tidak atau mempunyai sedikit cairan intraperitoneal, tetapi wanita dewasa normal terdapat sekitar 20 ml cairan intraperitoneal tergantung siklus menstruasi. RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT Penyebab paling sering asites adalah penyakit hati.Pasien menyatakan bahwa peningkatan cairan abdomen terjadi dalam waktu singkat. • Pasien dengan asites harus dinyatakan terdapatnya faktor resiko penyakit hati, meliputi ; - Hepatitis virus kronik / iterus - Penggunaan alkohol dalam jangka waktu lama - Penggunaan obat-obatan i.v - Sex bebas - Kelainan sexual

kanker lambung. Pancreatic ascites dapat terlihat pada orang-orang dengan pancreatitis atau peradangan pankreas kronis. kanker paru-paru.Bepergian kedaerah endemik hepatitis • Pasien dengan sirosis alkoholik yang kadang – kadang berhenti mengkonsumsi alkohol mungkin mendapatkan asites sesui siklus pemakaian alkohol tersebut. Contoh-contoh dari ini dapat adalah massa (atau tumor) yang menekan pada pembuluh-pembuluh portal dari rongga perut bagian dalam atau pembentukan bekuan (gumpalan) darah dalam pembuluh portal yang menghalangi aliran normal dan menongkatkan tekanan dalam pembuluh (contoh. tekanan yang meningkat dalam sistim portal dapat disebabkan oleh rintangan internal atau eksternal dari pembuluh portal. hiperkolesteronemia dan DM tipe 2. Etiologi Penyabab yang paling umum dari ascites adalah penyakit hati yang telah lanjut atau cirrhosis. atau kanker indung telur. sementara asites akibat sirosis biasanya tidak nyeri. Faktr-faktor lain yang mugkin berkontribusi pada ascites adalah penahanan garam dan air. Pada kasus-kasus yang jarang. Asites yang berhubungan dengan keganasan umumnya menimbulkan rasa nyeri. sekarang dinyatakan sebagai penyebab steato hepatitis non alkoholik yang dapat mengakibatkan sirosis. lymphoma. seperti. kanker payudara. kanker usus besar. Beberapa penyebab-penyebab lain dari ascites berhubungan dengan gradien tekanan yang meningkat adalah gagal jantung kongestif dan gagal ginjal yang telah lanjut yang disebabkan oleh penahanan cairan keseluruhan dalam tubuh. • Pasien dengan riwayat keganasan terutama kanker gastrointestinal memilki resiko terjadinya asites maligna.. Ada juga pembentukan ascites sebagai akibat dari kanker-kanker. Volume darah yang bersirkulasi mungkin dirasakan rendah oleh sensor-sensor dalam ginjalginjal karena pembentukan dari ascites mungkin menghabiskan beberapa volume dari darah. kebanyakan teoriteori menyarankan portal hypertension (tekanan yang meningkat adalam aliran darah hati) sebagai penyumbang utama. • Asites yang terdapat pada pasien dengan riwayat diabetes atau sindrom nefrotik dapat disebut asites nefrotik. kanker pankreas. rongga perut (ruang tekanan rendah). Tipe-tipe ascites ini secara khas adalah manifestasi-manifestasi dari kanker-kanker yang telah lanjut dari organ-organ dalam rongga perut. B. yang disebut malignant ascites. Penyebab yang paling umum dari pankreatitis kronis adalah penyalahgunaan . Asas dasarnya adalah serupa pada pembentukan dari edema ditempat lain di tubuh yang disebabkan oleh ketidakseimbangan tekanan antara sirkulasi dalam (sistim tekanan tinggi) dan luar. Kenaikan dalam tekanan darah portal dan pengurangan dalam albumin (protein yang diangkut dalam darah) mungkin bertangung jawab dalam pembentukan gradien tekanan dan berakibat pada ascites perut. • Obesitas.Tatoo . Budd-Chiari syndrome). Ini memberi sinyal pada ginjal-ginjal untuk menyerap kembali lebih banyak garam dan air untuk mengkompensasi volume yang hilang. Kira-kira 80% dari kasus-kasus ascites diperkirakan disebabkan oleh cirrhosis. Pasien dengan riwayat sirosis yang lama dan stabil dan terdapat asites mempunyai kemungkinan terkena karsinoma hepatoseluler. dalam kasus ini. Meskipun mekanisme yang tepat dari perkembangan tidak dimengerti sepenuhnya. berakibat pada portal hypertension tanpa cirrhosis.Transfusi darah .

C. . endotelin dll). Hipertensi porta tersebut akan meningkatkan tekanan transudasi terutama di daerah sinusoid dan kapiler usus. Pancreatic ascites dapat juga disebabkan oleh pankreatitis akut serta trauma pada pankreas. Budd-Chiari) umumnya adalah lebih besar dari 1. Ini disebut Serum Ascites Albumin Gradient atau SAAG. transudative atau exudative. atrofi otot. Hipertensi porta ini dibarengi dengan vasodilatasi splanchnic bed (pembuluh darah splanknik) akibat adanya vasodilator endogen (seperti NO. vasodilator endogen juga akan mempengaruhi sirkulasi arterial sistemik sehingga terjadi vasodilatasi perifer dan penurunan volume efektif darah (underfilling relatif) arteri. Tanda Dan Gejala Secara klinis asites ditandai dengan perut buncit. Selain menyebabkan vasodilatasi splanchnic bed.alkohol yang berkepanjangan. Pada saat tidur pembesaran perut membentuk perut kodok. Ds D. diketemukan pekak beralih pada pemeriksaan. a. Sistim yang lebih berguna telah dikembangkan berdasarkan pada jumlah dari albumin dalam cairan ascitic dibanding pada serum albumin (albumin diukur dalam darah). Klasifikasi ini didasarkan pada jumlah dari protein yang ditemukan dalam cairan. Semuanya itu akan meningkatkan reabsorbsi/penarikan garam (Na) dari ginjal dan diikuti dengan reabsorpsi air (H20) sehingga menyebabkan semakin banyak cairan yang terkumpul di rongga tubuh. Ascites yang disebabkan oleh sebab-sebab lain (malignant. Tipe-Tipe Dari Ascites Secara tradisi. maka akan menyebabkan peningkatan aliran darah yang justru akan membuat hipertensi porta menjadi semakin menetap. Patofisiologi Sirosis (pembentukan jaringan parut) di hati akan menyebabkan vasokonstriksi dan fibrotisasi sinusoid. gagal jantung congestif. gizi kurang. ascites dibagi kedalam dua tipe-tipe. Transudat akan terkumpul di rongga peritoneum dan selanjutnya menyebabkan asites. Dengan adanya vasodilatasi splanchnic bed tersebut. Akibatnya terjadi peningkatan resistensi sistem porta yang berujung kepada hipertensi porta. Sebagai respons terhadap perubahan ini. b.1. calcitone gene related peptide. tubuh akan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik dan sumbu sistem reninangiotensin-aldosteron serta arginin vasopressin. Ascites yang berhubungan dengan hipertensi portal (cirrhosis. pancreatitis) adalah lebih rendah dari 1.1.

keganasan/karsinoma peritoneal dll. • Pada papasi hati sulit teraba jika terdapat asites dalam jumlah yang banyak. Puddlesign menunjukan terdapat sebanyak 120 ml cairan. Indikasi : kebanyakan cairan asites transparan dan kuning minimal 10000 sel darah merah / microliter memeberikan warna cairan asites warna pink dan jaringan terdapat 20000 sel darah merah / microliter diperkirakan . pewarnaan gram. E. jarang ditemukan tetapi umumnya menggambarkan adanya Ca peritoneal juga berasal dari keganasan pada gaster. penyebab asites antara lain infeksi (peritonitis bakterial/TBC/fungal. peritonitis terkait HIV dll). palmar eritem. maka penyebab asites adalah hipertensi porta dan hipoalbuminemia. total protein. spindernevi. Pemeriksaan Penunjang PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik difokuskan pada tanda-tanda hipertensi dan penyakit hati kronik. • Nodul patologis supraclavicula sebelah kiri (virchow nodul) menunjukan adanya keganasan pada daerah abdominal bagian atas. tapi umumnya hati membesar. • Peningkatan cairan v. Nodul kenyal pada daerah umbilikus yang disebut sister mary joseph nodul. Ketika jumlah cairan pertoneal sebanyak 500 ml asites dapat ditunjukan dengan pemeriksaan shiftingdulness +. dan sitologi untuk jenis asites yang tidak diketahui penyebabnya.Penyakit yang mendasari asites Asites dapat terjadi pada peritoneum yang normal atau peritoneum yang mengalami kelainan patologis. Gambara gelombang cairan biasanya tidak akurat. Sedangkan pada peritoneum yang mengalami kelainan patologis.jugularis menunjukan penyebab utamanya dari jantung. atau keganasan hati primer. PEMERIKSAAN LAB • Cairan peritoneal harus diperiksa untuk dihitung jumlah sel. • Pasien dengan penyakit jantung atau SN menunjukan anasarka. pada albumin. pankreas. kultur. Jika peritoneum normal (tidak ada kelainan). • Pemeriksaan fisik yang ditemukan pada penyakit hati meliputi ikterik.

SAAG • SAAG adalah pemeriksaan terbaik untuk mengklasifikasikan asites dengan hipertensi portal (SAAG>1. ketajaman gambar intraabdomen berkurang. Jumlah hitung sel : Cairan asites yang normal mengandung < 500 leukosit/microliter dan < 250 leukosit PMN / microliter. batas PSOAS kabur.5 g/dl. Cairan yang non traumatik berwarna kemerahan dan tidak membentuk bekuan karena cairan tersebut lisis. Peningkatan SAAG dan jumlah protein yang meningkat pada kebanyakan kasusasites dikarenakan kongesti hati. • Tanda-tanda beberapa tanda asites nonspesifik seperti gambar abdomen buram. penonjolan panggul. tepi lateral hati diganti oleh dinding thorax abdomen (Hellmer sign).1 gr/dl) • Pengukuran nilai albumin berhubungan langsung dengan tekanan portal. Jumlah netrofil > 250 sel / microliter menunjukan adanya hepatitis bakterial. Pada peritonitis TB dan peritoneal Carsinomatosis terhadap predominan limfosit. akan tetapi ketepatan hanya 56% untuk mendeteksi penyebab eksudat.Kultur atau pewarnaan gram • Sensitifitas kultur darah kira-kira 92 % dalam mendeteksi pertumbuhan bakteri pada cairan asites. Jumlah neutrofil > 50000 sel/microliter memberikan gambar purulent dan menunjukan infeksi. Pada pasien-pasien dengan asites maligna mempunyai nilai SAAG yang rendah dan kadar protein tinggi. dan terkumpulnya gas di usus halus. Peningkatan kepadatan pada foto tegak.1 g/dl) dan non portal HT (SAAG<1. Inflamasi yang alaindapat menyebabkan peningkatan sel darah putih. Kira-kira diperlukan 10000 bakteri/ml agar dapat terlihat pada pewarnaan gram. Pewarnaan gram sensitifitasnya hanya 10% dalam memberikan gambaran bakteri pada peritonitis bakterial spontan. • Tanda-tanda berikut lebih spesifik dan dapat dipercaya. Spesimen harus diperoleh secara berkelanjutan. • Caira kemerahan yang berasal dari traumatik pungsi berupa darah dan cairan akan membentuk bekuan. . • Protein total • Dulu cairan asites dikategorikan eksudat jika jumlah protein > 0. • Kadar protein total merupakan informasi tambahan pada pemeriksaan SAAG. PEMERIKSAAN PENUNJANG Foto thorax dan abdomen • Kenaikan diafragma dengan atau tanpa efusi pleura simphatetik (hepatic hydrothorax) terlihat pada asites masif. Sitologi • Pemeriksaan sitologi sensitifitasnya hanya 58-75 % dalam mendeteksi asites maligna. Pada 80% pasien asites. terpisahnya gambar lengkung usus halus. . Kadar albumin yang meningkat dan rendah menjelaskan sifat asites transudat/eksudat. • Ketepatan hasil SAAG + 97% dalam mengklasifikasikan asites. Pada peritonitis bakteri spontan nilai konsentrasi rata-rata bakteri 1 organisme/ml.berwarna emrah seperti darah. Jika terdapat lebih dari 500 ml cairan asites harus dilakukan pemeriksaan BNO. Hal ini mungkin berhubungan dengan traumatik pungsi atau keganasan.

Asites yang sederhana terlihat sepertigambar yang homogen. Jumlah cairan minimal akan terkumpul pada kantung morison dan mengelilingi hsti membentuk gsmbar karakteristik polisiklik. Gambar tersebut meliputi echoes internal kasar (darah). dan penebalan batas antara cairan dan organ yang berdekatan. hepatik. Pada pelvic penumpukan cairan pada kantung rektovesika dan dapat meluap ke fossa paravesika. Penebalan kantung empedu secara umum akibat sirosis dan HT portal. Pergeseran sekum dan kolon ascenden kearah tengah dan pergeseran. Akan terlihat jelas batas organ. PEMERIKSAAN LAIN • Laparoskopi dilakukan jika terdapat asites maligna. Sedikit cairan asites terdapat pada ruang periheoatik kanan. Pemeriksaan ini penting untuk mendiagnosa adanya mesothelioma maligna. USG Real-time sonografi adalah pemeriksaan cairan asites yang paling mudah dan spesifik. dan terbentuk sudut pada perbatasan antara cairan dan organ-organ tersebut. . echoes internal halus (chyle). Volume sebesar 5-10 ml dapat dapat terlihat. atau adanya keganasan. pseudomyxoma. Penebalan kantung empedu berhubungan dengan asites jinak pada 82 % kasus. inflamasi. Adanya cairan memberikan gambaran kepadatan yang simetris pada kedua sisi kantung vesika urinaria yang di sebut ”dog’s ear” atau ”mickey mouse” appearance. ruang subhepatik posterior (kantung morison). • Pada asites maligna lengkung usus tidak dapat mengapung secara bebas. Bebarapa gambar pada CT-Scan menunjukkan adanya neoplasia. yang menunjukkan adanya asites maligna. sementara pada pasien dengan asites benign cairan terutama terdapat pada ruang yang lebih besar dan tidak pada bursa omental yang lebih kecil. • Pada pasien dengan asites maligna kumpulan cairan terdapat pada ruang yang lebih besar dan lebih kecil. Parasentesis terapetik dilakukan untuk asites masif atau sulit disembuhkan. dan pergeseran garis lemak properitoneal kelateral terlihat pada 90% dengan asites yang signifikan. distribusi cairan terlokalisir atau atipik. tetapi cairan akan berada diantara organ-organ tersebut. • CT-Scan • Asites terlihat jelas dengan pemeriksaan CT-Scan. tetapi tertambat pada dinding posterior abdomen. melekat pada hati atau oargan lainnya atau lengkung usus tersebut dikelilingi oleh cairan yang terlokalisir. splenik. atau pankreas. • Parasentesis abdomen Parasentesis abdomen adalah pemeriksaan yang paling cepat dan efektif untuk mendiagnosa penyebab asites. mudah berpindah. ovarium. • Gambar sonographic tertentu menunjukan adanya asites yang terinfeksi. Cairan asites tidak akan menggeser organ. adrenal. atau lesi kelenjar limfe berhubungan dengan adanya massa yang berasal dari usus. • Kebanyakan pasien (95%) dengan keganasan peritonotis mempunyai ketebalan dinding empedu kurang dari 3mm. Pengeluaran 5 liter cairan merupakan parasentesis dalam jumlah besar.Obliterasi sudut hepatik terlihat pada 80% orang sehat. peritonei). Parasentesis total. anechoic di dalam rongga peritoneal yang akan menyebabkan terjadinya peningkatan akustik. septal multiple (peritonitis tuberkulosa. ”lollipop” atau arcuate appearance di karenakan cairan tersebut tersusn secara vertikal pada sisi mesenterium. gumpalan lengkung usus. dan kantung douglas.

terutama pada asites yang resisten terhadap pengobatan. • Derajat 3+ asites jelas tetapi belum masif. PERWATAN LEBIH LANJUT PASIEN RAWAT JALAN .Jugularis kanan ke V. • Derajat 2+ dapat mudah terlihat tetapi dengan volume relatif sedikit.atau pengeluaran semua cairan asites (di atas 20 liter) dapat di lakukan secara aman. FGR. akan tetapi sulit dilakukan pada pasien rawat jalan. dan menilai kepatuhan diet. PERAWATAN LEBIH LANJUT PASIEN RAWAT INAP • Pantau keadaan asites jika pemakaian Na < 10 mmol/hr. • Derajat 4+ asites masif. respon terhadap diuretik . • Pengukuran Na urin 24 jam berguna pada pasien dengan asites yang berhubungan dengan HT portal sehingga dinilai kadar Na. PEMBEDAHAN Peritoneovenous shunt merupakan tindakan alternatif pada pasien asites yang resisten terhadap pemberian obat-obatan. KONSULTASI Konsultasi dengan spesialis gastrointestinal dan atau hepatolog diperlukan untuk pasien dengan asites. Belum ditemukan bukti yang menunjukkan bahwa pemasangan shunt ini dapat meningkatkan kemampuan untuk bertahan hidup. F. oleh karena itu pembatasan cairan Na sebesar 2000 mg/hr (88 mmol/hr). ini merupakan terapi standar pada pasien asites berulang. Penatalaksanaan PENGOBATAN Pembatasan pemberian Na (20-30 mEq/hr) dan diuretik merupakan terapi standar untuk asites dan efektif pada 95% pasien. • Transjugular intrahepatik portacaval shunt (TIPS) Metode ini dilakukan dengan cara memasang paracarval shunt dari sisi kesisi melalui radiologis dibawah anestesi lokal. volume urin. Metode ini dilakukan dengan cara memasukkan jarum panjang dari V. c) TIPS adalah metode radiologis yang dapat menurunkan tekanan portal dan merupakan tindakan yang paling efektif pada pasien asites yang resisten terhadappemberian diuretik. Penggunaan megalymphatik shunt yang berfungsi untuk mengembalikan cairan asites ke vena. aliran darah ginjal. b) Parasentesis terapetik harus dipersiapkan pada pasien yang menunjukkan adanya asites masif. a) Pembatasan cairan dilakukan jika terdapat hiponatremi. Pembatasan cairan tidak diperlukan kecuali jika kadar Na dibawah 120 mmol/l. metode ini sudah tidak terpakai. dan penurunan aktivitas renin plasma dan konsentrasi aldosteron plasma. Dengan adanya prosedur TIPS. .Hepatik. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa pemberian albumin 5 g/l pada parasentesis diatas 5 liter dapat menurukan komplikasi parasentesis seperti gangguan keseimbangan elektrolit dan peningkatan serum kreatinin akibat pertukaran cairan intravaskuler. • Untuk pasien asites derajat 3 dan 4 parasentesis terapi dilakukan secara intermiten. Efek positif pemasangan shunt ini meliputi peningkatan CO. DIET Pembatasn Na 500 mg/hr (22 mmol/hr) dapat dilakukan dengan mudah jika pasien di rawat di RS. Metode ini sering digunakan untuk asites yang berulang. DERAJAT Secara Semikuantitatif • Derajat 1+ terdeteksi hanya pada pemeriksaan yang secara seksama. eksresi Na.

OBAT-OBATAN PADA PASIEN RAWAT INAP/JALAN  Diuretik mulai diberikan pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap Na.  Kaji adanya hipoksia kronik:clubbing finger.sesak nafas.bunyi jantung tambahan.  Pengkajian psikososial:usia anak.  Secara umum pemberian diuretik harus dapat mengurangi 300-500 g/hr pada pasien tanpa udem dan 800-1000 g/hr pada pasien dengan udem. Jika respon tidak terlihat selama 4-5 hr dosis dinaikkan sampai 400 mg/hr di tambah furosemid 160 mg/hr.4.pola pertambahan berat badan.hepatomegali. Metode untuk menilai keberhasilan terapi diuretik dilakukan dengan cara memantau berat badan dan kadar Na urin.koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stres.tugas perkembangan anak.  Kaji pola makan. DIAGNOSA KEPERAWATAN  Penurunan curah jantung berhubungan dengan malformasi jantung.  Apabila asites mulai menghilang pemberian diuretik harus di atur untuk menjaga pasien bebas asites. .  Kaji adanya hyperemia pada ujung jari. 3.nafas cepat.  Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplei oksigen ke sel. (Asuhan keperawatan pada pasien dengan asites) 3. Penambahan loop diuretik diperluka pada beberapa kasus dimana terjadi peningkatan natriuretik.1.koping yang digunakan. PENGKAJIAN  Riwayat keperawatan :respon terhadap efek (sianosis. Agen pertama dimulai dengan pemberian spironolakton100 mg/hr.  Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal.aktivitas terbatas)  Kaji tanda-tanda adanya gagal jantung.kebiasaan anak.retraksi.respon keluarga terhadap penyakit anak.  Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.edera tungkai.

dan hepatomegali) • Kolaborasi pemberian digoxin sesuai order. Mempertahankan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan yang sesuai • Sediakan diit yang seimbang. kativitas bermain. clubbing) • Monitor tanda-tanda CHF (gelisah. Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru: • Monitor kualitas dan irama pernafasan • Atur posisi anak dengan posisi fowler • Hindari anak dari orang yang terinfeksi • Berikan istirahat yang cukup • Berikan nutrisi yang optimal • Berikan oksigen jika ada indikasi 3. • Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin • Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan / kecemasan pada anak 4. dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas. oliguria. warna dan kehangatan kulit • Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral. • Libatkan keluarga agar tetap memberikan stimulasi selama dirawat 5. 3. nmenggambar. nadi perifer.  Resiko infeksi berhubngan dengan menurunnya status kesehatan. dan lain-lain sesuai kondisi dan usia anak. mudah lelah. nonton TV. 2. Mempertahankan curah jantung yang adekuat : • Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung. INTERVENSI DAN RASIONAL 1. tachypnea. oleh karena itu cairan tidak dibatasi. Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi • Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi . • Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload • Berikan diuretik sesuai indikasi. takikardi. tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat • Monitor tinggi badan dan berat badan. game. kondisi dan kemampuan anak. sesak. Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat : • Ijinkan anak untuk sering beristirahat.  Perubahan peran orang tua berhubungan dengan hospitalisasi anak.5. Memberikan support untuk tumbuh kembang • Kaji tingkat tumbuh kembang anak • Berikan stimulasi tumbuh kembang. periorbital edema. membran mukosa. 6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori. dokumentasikan dalam bentuk grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak • Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama • Catat intake dan output secara benar • Berikan makanan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan • Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus.kekawatiran terhadap penyakit anak. dan hindarkan gangguan pada saat tidur • Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan • Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia. puzzle.

rasa bersalah. Ascites adalah akumulasi dari cairan(biasanya cairan serous yang adalah cairan kuning pucat dan bening) dalam rongga perut (peritoneal). mendiskusikan rencana pengobatan. Faktor sistemik  Secara klinis asites ditandai dengan perut buncit.• Berikan istirahat yang adekuat • Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal 7. diketemukan pekak beralih pada pemeriksaan. Ds  . dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan. HASIL YANG DIHARAPKAN : a) Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung b) Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru c) Anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat d) Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat dan tinggi badan e) Anaka akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan f) Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi g) Orang tua akan mengekspresikan perasaannya akibat memiliki anak dengan kelainan jantung. gizi kurang. siapa yang akan dihubungi jika membutuhkan pertolongan. dan memiliki peranan penting dalam keberhasilan pengobatan • Ekplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan. yaitu: a. atrofi otot.  Mekanisme terjadinya asites Pembentukan asites pada sirosis hati ditentukan oleh 2 faktor. berduka. yaitu :  Teknik pemberian obat  Teknik pemberian makanan  Tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal yang mencemaskan tanda-tanda komplikasi. PERENCANAAN PEMULANGAN • Kontrol sesuai waktu yang ditentukan • Jelaskan kebutuhan aktiviotas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan usia dan kondisi penyakit • Mengajarkan ketrampilan yang diperlukan di rumah. mendiskudikan rencana pengobatan. Pada saat tidur pembesaran perut membentuk perut kodok.  Penyabab yang paling umum dari ascites adalah penyakit hati yang telah lanjut atau cirrhosis. Faktor lokal b.Rongga perut berlokasi dibawah rongga dada. Memberikan support pada orang tua • Ajarkan keluarga / orang tua untuk mengekspresikan perasaannya karena memiliki anak dengan kelainan jantung. dan perasaan tidak mampu • Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan informasi yang jelas • Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit • Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota keluarga lain dalama perawatan anak.

Diuretik. . parasentesis diikuti dengan infus albumin. Parasentesis.Tindakan operatif dan Pengobatan lain..60 meq/ hari). Penatalaksanaan meliputi:Istirahat dan diet rendah garam (40.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful