BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Mineral adalah suatu bahan atau unsur kimia, gabungan kimia atau suatu campuran dari gabungan-gabungan kimia anorganis, sebagai hasil dari proses-proses fisis dan kimia khusus secara alami. Mineral merupakan suatu bahan yang homogen dan mempunyai susunan atau rumus kimia tertentu. Bila kondisi memungkinkan, mendapat suatu struktur yang sesuai, di mana ditentukan bentuknya dari kristal dan sifat-sifat fisisnya. Kelimpahan relatif elemen dalam kerak bumi menentukan apa yang akan membentuk mineral dan apa yang akan mineral umum. Karena Oksigen dan Silicon adalah elemen yang paling melimpah, mineral silikat yang paling umum. Mineral optik merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang mineral yang terkandung pada batuan. Mineral optik membahas tentang mineral-mineral pada batuan dalam bentuk monomineral. Salah satu tujuan

mempelajari mineral optik ialah untuk untuk mengetahui cara menentukan sifat-sifat optik mineral, serta mengenal mineral secara mikroskopik. Mineral optik merupakan salah satu mata kuliah berjenjang. Mineral optik ini merupakan syarat untuk mengambil mata kuliah petrografi. Karena mineral optik adalah pengetahuan dasar dalam mata kuliah petrografi. Syarat-syarat sendiri untuk lulus dalam mata kuliah mineral optik adalah lulus dalam praktikum. Karena praktikum ini merupakan aplikasi dari apa yang didapatkan dari perkuliahan. Dalam praktikum, pengamatan yang dilakukan berupa pengamatan mineral melalui nikol sejajar, nikol silang dan pengamatan konoskop. pengamatan ini sangat

penting sebab dalam pengamatan ini akan diketahui sifat-sifat optik mineral dan dapat menentukan nama dari suatu mineral. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud diadakannya praktikum ini yaitu untuk mengaplikasikan materi tentang mineral silikat dari proses belajar mengajar atau dalam perkuliahan. Sedangkan tujuan dilakukannya praktikum ini yaitu diharapkan praktikan dapat: 1. Menentukan sifat-sifat optik mineral dalam pengamatan nikol sejajar, nikol silang dan pengamatan konoskop. 2. Menentukan nama mineral dari sifat-sifat optik yang diamati. 3. Dapat membedakan antara pengamatan nikol sejajar, nikol silang, dan pengamatan konoskop. 4. Dapat membedakan antara mineral tekosilikat dan sorosilikat.

1.3. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam Praktikum ini yaitu kertas F4, format praktikum, alat tulis menulis, lap kasar, lap halus, mikroskop polarisasi, dan sayatan mineral.

1.4. Prosedur Kerja

Langkah-langkah dalam melakukan praktikum ini dimulai dari pengaturan mikroskop agar setring. Cara menyentringkan mikroskop yaitu dengan memutar analisator sampai didapatkan gelap maksimum pada posisi nikol sejajar dan terang maksimum pada posisi nikol silang. Selanjutnya yaitu meletakkan preparat pada meja objek kemudian menjepitnya dengan specimen clip. Setelah itu mengatur meja objek menggunakan pengarah kasar dan halus sampai mineral tampak jelas

kenampakannya. Setelah posisi mineral berada pada medan pandang yang jelas, mineral ini diamati. Pengamatan pertama yaitu pengamatan pada nikol sejajar. Pada pengamatan nikol sejajar, perbesaran objektif yang digunakan yaitu perbesaran 5x dengan bukaan diafragma 0,1. Kemudian menentukan kedudukan mineral pada sumbu X dan Y. kedudukan mineral dapat dilihat pada skala absis (sumbu X) dan skala ordinat (sumbu Y). Menentukan ukuran mineral yang dapat ditentukan pada skala polarisator. Menentukan warna mineral yang tampak pada mikroskop. Menentukan pleokroisme dengan cara memutar meja objek 900 sambil mengamati peribahan warna yang terjadi. Jika hanya satu kali perubahan warna maka pleokroismenya minokroik, jika dua kali berarti dwikroik, dan jika tiga kali maka trikroik. Selanjutnya menentukan intensitas (daya serap mineral terhadap cahaya) apakah itu intensitasnya kuat, sedang atau lemah. Menentukan indeks bias. Indeks bias dapat ditentukan dengan dua metode yaitu dengan metode garis becke dan metode illuminasi miring. Pada metode garis becke, butir atau bubuk yang akan ditentukan harga indeks biasnya ditempatkan pada meja kaca objek yang bersih. Padanya diteteskan sedikit minyak immerse yang telah diketahui indeks biasnya. Preparat itu diletakkan pada meja mikroskop dan diafragmanya tertutup, maka akan tampak garis terang pada bidang batas atar butir kristal dan minyak immerse. Garis terang inilah yang desebut garis becke. Sedangkan metode yang sering digunakan yaitu metode illuminasi miring. Karena metode ini gampang digunakan, cukup dengan melewatkan kertas diatas illuminator kemudian melihat arahnya pada lensa okuler. Jika arah yang tampak pada mikroskop searah dengan kertas yang dilewatkan diatas illuminator maka indeks biasnya yaitu Nm>Ncb dan jika sebaliknya atau berlawanan arah maka Nm<Ncb. Menentukan belahan sesuai yang tampak pada mineral apakah itu 1 arah atau membentuk sudut (2 arah). Pecahan ditentukan berdasarkan kenampakn mineral seperti pecahan even, uneven dll. Bentuk mineral baik itu

euhedral, subhedral maupun anhedral. Penentuan relief berhubungan langsung dengan intensitas mineral seperti relief tinggi, sedang dan rendah. Menentukan inklusi atau mineral pengotor atau mineral asing dalam mineral. Biasanya berupa gelembung gas, cairan atau berupa mineral dimana iklusi berwarna gelap. Selanjutnya yaitu pengamatan nikol silang. Pada pengamatan nikol silang, analisator dimasukkan. Pengamatan yang dilakukan yaitu menentukan warna interferensi maksimum yang dapat dilihat dari warna terang maksimum. Bias rangkap ditentukan dengan menggunakan tabel Michel Levy berdasarkan dari warna interferensi maksimum. Menentukan kembaran yang tampak pada mineral seperti kembaran kalsbad, albit maupun kalsbad-albit. Sudut gelapan dapat ditentukan dengan cara memutar meja objek sampai terang maksimum. Kemudian diputar kekiri sampai gelap maksimum (selisihnya dicatat). Dikembalikan keposisi semula (terang maksimum) kemudian diputar kekanan sampai gelap maksimum (selisihnya dicatat). Setelah itu selisih tadi dijumlahkan kemudian dibagi 2. Itulan sudut gelapannya. Jenis gelapan yaitu sejajar jika sudut gelapannya 00 dan 900, simetris jika sudut gelapannya 450 dan miring jika sudut gelapannya selain 00, 450 dan 900. TRO (tanda rentang optik) ditentukan dengan keping gips kemudian mengamati perubahan warnanya dari warna interferensi maksimum baik itu kekanan atau kekiri. Jika kekanan maka addisi dan jika kekiri maka subtraksi. Dan jika perubahan warnanya drastis/cepat maka langht fast dan jika lambat maka langht slow. Selanjutnya yaitu pengamatan konoskop, perbesaran lensa objektif yang digunakan yaitu 100x dengan bukaan diafragma yaitu 0,9. Penentuan sumbu optik pada mineral yaitu berdasarkan pada system Kristal. Biaxial jika system kristalnya orthorombik, monoklin dan triklin. Uniaxial jika system kristalnya tetragonal, hexagonal dan trigonal. Tanda optik yaitu positif (+) dan negatif (-). Jika uniaxsial, kuadran 1 dan 3 addisi, kuadran 2 dan 4 subtraksi maka tanda optiknya positif (+)

dan jika kuadran 1 dan 3 subtraksi, kuadran 2 dan 4 addisi maka tanda optiknya negative (-). Jika biaxial, kuadran 1 dan 3 addisi, kuadran 2 dan 4 subtraksi maka sumbu optiknya negative (-) daja jika kuadran 1 dan 3 subtraksi, kuadran 2 dan 4 addisi maka sumbu optiknya positif(+). Pada gambar interferensi, isogir terbagi dua yaitu terpusat dan tidak terpusat. Gelang warna pada mineral ditentukan berdasarkan jumlah warna yang dapat diamati. Bias ganda lemah apabila jumlah warnanya ≤ 2 dan bias ganda kuat jika warnanya >2. Sudut 2V ditentukan berdasarkan kenampakan pada isogir. Langkah terakhir pada pengamatan ini ialah menyusun laporan praktikum.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mineral Silikat Mineral – mineral silikat mengandung tetrahedra (SiO4)4-. Mereka tersusun atas satu atom silika (Si) diikat oleh 4 atom oksigen (O) atom. Tetrahedra ini dapat diikat bersama – sama dengan beberapa macam cara membentuk 6 tipe mineral silikat yaitu: 1. Inosilikat 2. Nesosilikat 3. Tektosilikat 4. Sorosilikat 5. Phyllosilikat 6. Siklosilikat. Mineral utama (essential minerals) penyusun batuan atau kerak bumi terutama mineral golongan/ kelompok silikat. mineral pengiring (asesoris) yang seringkali dijumpai dalam batuan beku terdiri atas turmalin, zirkon, sfen (titanit), rutil, ilmenit, hematit, rutil, serta apatit. Terbentuk pada saat kristalisasi magma. Mineral-mineral sekunder mencirikan peleburan sebagian atau penggantian total mineral-mineral primer dan terbentuk pada temperatur rendah, bisa melalui pelapukan, sirkulasi air atau larutan, maupun proses metasomatisma. Golongan silikat merupakan mineral yang terpenting mengingat bahwa 25% dari mineral-mineral yang diketahui berupa silikat. Mereka ini membentuk 90% lithosfer. Satuan struktur dasar dari semua silikat ialah tetrareader dimana atom-Si dikelilingi oleh 4 atom-O. didalam tetrareader bola-bola-O dengan radius 1,32 AE (satuan Angstrom) terdapat ion-Si+, dengan radius 0,39 AE.

Silikat-silikat brupa kisi ion-ion (ionentralies), dimana anion-anionnya Si-O atau Si-Al-O sedangkan kation-kationnya ialah unsur-unsur elektro-positif. Telah lama diketahui bahwa perbandingan Si : O dalam silikat dapat mempunyai macam-macam nilai. Dalam silikat-silikat, maka tetrareader-tetrareader-SiO4 dapat berada dalam 4 cara yang berbeda-beda: a. Dalam gugus-gugusan. b. Dalam bentuk rantai. c. Dalam bentuk lapisan-lapisan. d. Dalam bentuk susunak kisi berdimensi tiga. 1. Sorosilicates (Double Pulau silikat) Jika salah satu sudut dibagi dengan oxygens tetrahedron lain, hal ini menimbulkan ke grup sorosilicate. Hal ini sering disebut sebagai kelompok pulau ganda karena ada dua terhubung tetrahedrons terisolasi dari semua tetrahedrons lain. Dalam kasus ini, dasar unit struktural Si2O7-6. Sebuah contoh yang baik adalah sorosilicate mineral hemimorphite Zn4Si2O7(OH).H2O. Beberapa sorosilicates adalah kombinasi single dan double pulau-pulau, seperti di epidote -

Ca2(Fe+3,Al)Al2(SiO4)(Si2O7)(OH).

Gambar 2.1. struktus sorosilikat

Sorosilicates adalah pulau ganda silikat. Hanya satu mineral penting kelompok, kelompok epidote, memiliki struktur ini.

a. Epidote, Clinozoisite, Zoisite Mineral yang penting dalam kelompok epidote adalah epidote, clinozoisite, dan zoisite. Karena sorosilicates didasarkan pada kelompok Si2O7 -6, rumus struktur dapat ditulis sebagai: Ca2 (Al, Fe +3) Al2O (SiO4) (Si2O7) (OH) Dengan demikian, kelompok epidote berisi tetrahedra ganda dan tunggal tetrahedron, dipisahkan oleh kelompok AlO6 octahedra dan Ca dalam sembilan sampai 10 kali lipat koordinasi dengan Oksigen atau OH. Rumus dapat ditulis kembali sebagai: Ca2 (Al, Fe +3) Al2Si3O12 (OH) Epidote adalah Fe-kaya variasi dan memiliki rumus umum di atas. Clinozoisite adalah varietas Fe-bebas dengan rumus kimia: Ca2Al3Si3O12 (OH) Baik clinozoisite dan epidote adalah monoclinic (2/m). Zoisite memiliki rumus kimia yang sama seperti clinozoisite, tetapi ortorombik. Epidote biasanya pistachio warna hijau dengan sempurna (001) belahan dada dan tidak sempurna (100) belahan dada. Itu optik negatif dengan 2V dari 64 - 90o. Biasanya menunjukkan Pleochroism dengan - untuk tak berwarna kuning pucat, b - kuning kehijauan, dan g - hijau kekuning-kuningan, dan menunjukkan lega tinggi relatif terhadap feldspars dan kuarsa. Birefringence itu cukup tinggi untuk menunjukkan urutan 3 gangguan warna. Biasanya menunjukkan anomali kepunahan biru. Clinozoisite menunjukkan bantuan serupa dan pembelahan untuk epidote, tetapi negative dengan optik 2V dari 14 sampai 90o, tidak menunjukkan Pleochroism, dan lebih rendah birefringence (1st to 2nd order gangguan warna). Zoisite mirip dengan clinozoisite, kecuali ia akan menampilkan kepunahan sejajar relatif terhadap wajah sejajar dengan sumbu kristalografi. Common Epidote adalah mineral dalam batuan metamorf derajat rendah, terutama bermetamorfosis batu vulkanik dan Fe-Al kaya meta shales. Baik Clinozoisite dan epidote terjadi sebagai produk perubahan plagioclase dan pembuluh darah di batu-batu granit.

Contoh mineral sorosilikat san sayatan tipis: 1. Epidote

Gambar 2.2. Epidote pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

2. Allanit

Gambar 2.3. Allanit pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

3. Piemontite

Gambar 2.4. Piemontite pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

2. Tectosilicates (Framework silikat) Jika semua sudut oxygens dibagi dengan tetrahedron SiO4 lain, maka struktur kerangka berkembang. Kelompok struktural dasar kemudian menjadi SiO2. Mineral kuarsa, kristobalit, dan tridimit semua didasarkan pada struktur ini. Jika beberapa ion Si+4 digantikan oleh Al+3 maka ini menghasilkan ketidakseimbangan biaya dan memungkinkan ion-ion lainnya yang bisa ditemukan dikoordinasikan dalam susunan

yang berbeda dalam struktur rangka. Dengan demikian, feldspar dan mineral feldspathoid juga didasarkan pada kerangka tectosilicate.

Gambar 2.5. Struktur tektosilikat

Conto mineral pada mineral tektosilikat dan sayatan tipis: 1. Kuarsa

Gambar 2.6. kuarsa pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

2. Leusit

Gambar 2.7.Leusit pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

3. Nepheline

Gambar 2.8. Nepheline pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

4. Cancrinite

Gambar 2.9. Cancrinite pada nikol sejajar (kiri) dan nikol silang (kanan)

2.2. Pengamatan Nikol Sejajar

Dalam pengamatan nikol sejajar, sifat-sifat optic pada mineral yang dapat diamati yaitu: 1. Ukuran mineral Ukuran mineral dapat dinyatakan secara absolut dalam mm atau cm dan sebagainya. Pengukuran lebar dan panjang atau diameter mineral dapat dilakukan dengan bantuan lensa okuler yang berskala. 2. Warna dan Pleokroisme Warna merupakan pencerminan dari kenampakan daya serap absorpsi panjang gelombang dari cahaya yang masuk pada mineral anisotropic. Warna terbagi dua yaitu Idiochromatic ( warna asli mineral) dan allochromatic ( warna adanya pigmen lain seperti inklusi Kristal-kristal halus. Pleokroisme yaitu gejala perubahan warna mineral pada ortoskop tanpa nikol atau nikol sejajar bila meja objek diputar hingga 90˚. Warna yang tampak pada mikroskop polarisasi adalah warna yang dihasilkan oleh oleh sifat cahaya yang bergetar searah dengan arah polarisator. Pada mineral yang bersifat isotropik hanya terdapat satu warna saja yang tidak berubah sama sekali walaupun meja objek diputar, sedangkan pada mineral yang bersifat anisotropik, dapat terjadi dua atau tiga warna yang berbeda tergantung pada arah sayatan mana yang diamati.

Seluruh mineral yang menampakkan lebih dari satu warna disebut pleokroik, yang dicirikan oleh dua warna disebut dikroik, dan tiga warna disebut trikroik. Dengan demikian mineral yang isotropik selalu tidak mempunyai pleokroisme, mineral anisotropik sumbu satu akan memiliki pleokroisme dikroik (apabila disayat tidak tegak lurus sumbu optik) dan tanpa pleokroisme (apabila disayat tegak lurus sumbu optik), dan mineral anisotropik sumbu dua akan bersifat trikroik, dwikroik, maupun tanpa pleokroisme, tergantung sudut sayatannya.

Gambar 2.10. Warna interferensi biotit sejajar sumbu C dan Pleokroismenya pada sudut putaran 90o

3. Ketembusan Cahaya Berdasar atas sifatnya terhadap cahaya, mineral dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu mineral yang tembus cahaya/transparent dan mineral tidak tembus cahaya /mineral opak/mineral kedap cahaya. Di bawah ortoskop semua mineral kedap cahaya tampak sebagai butiran yang gelap/hitam. Mineral jenis ini tidak dapat dideskripsikan dengan mikroskop polarisasi, dan dapat dipelajari lebih lanjut dengan mikroskop pantulan. Mineral tembus cahaya dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu mineral berwarna dan mineral tidak berwarna. 4. Indeks Bias dan Relief Relief adalah ekspresi dari cahaya yang keluar dari suatu media kemudian masuk ke dalam media yang lain yang mempunyai harga indeks bias yang berbeda,

sehingga cahaya tersebut mengalami pembiasan pada batas kontak kedua media tersebut. Semakin besar perbedaan harga indeks bias antara kedua media, maka semakin jelas bidang batas natara keduanya. Sebaliknya semakin kecil perbedaan harga indeks bias, maka kenampakan bidang batas antar mineral akan semakin kabur. Untuk mempermudah pengamatan relief di bawah ortoskop, maka sayatan mineral/batuan dilekatkan pada kaca dengan menggunakan media balsam kanada yang mempunyai relief nol (sebagai standar) dengan n = 1.537 5. Belahan Belahan dalam sayatan mineral bisa terlihat dalam bentuk garis-garis yang teratur sepanjang bidang belahannya, di mana kenampakannya bisa sangat baik, baik, buruk atau tidak ada. Dalam hal tertentu sebaiknya orientasi belahan inii ditentukan kedudukannya terhadap sumbu kristalnya. Belahan merupakan sifat fisikyang tetap pada satu jenis mineral yang menunjukkan sifat khas dari struktur atom di dalamnya. 6. Pecahan Pecahan atau fracture adalah kecenderungan dari suatu mineral untuk pecah dengan cara tertentu yang tidak dikontrol oleh struktur atom seperti halnya belahan. Jenis-jenis pecahan yang khas antara lain pecahan seperti gelas (subconchoidal fracture) pada kuarsa, pecahan memotong pada olivin, ortopiroksen dan nefelin. 7. Bentuk mineral Pengamatan bentuk mineral secara optic dilakukan dengan melihat bentuk mineral dalam bentuk dua dimensi. Pengamatan bentuk mineral dilakukan dengan melihat atau mengamati bidang batas/garis batas mineral tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kristal tumbuh secara bebas di dalam media cair atau gas, ataukah pertumbuhan tersebut terhalang oleh butir-butir mineral yang tumbuh di sekitarnya, hal ini akan memberikan kenampakan bidang batas yang relatif berbeda.

- Apabila kristal tersebut dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai bentuk euhedral. - Apabila kristal tersebut dibatasi oleh hanya sebagian bidang kristalnya sendiri maka kristal disebut mempunyai bentuk subhedral. - Apabila kristal tersebut tidak dibatasi oleh bidang kristalnya sendiri secara keseluruhan maka kristal disebut mempunyai bentuk anhedral. 8. Inklusi Pada kristal tertentu, selama proses kristalisasi sebagian material asing yang terkumpul pada permukaan bidang pertumbuhannya akan terperangkap dalam kristal, dan seterusnya menjadi bagian dari kristal tersebut. Material tersebut dapat berupa kristal yang lebih kecil dari mineral yang berbeda jenisnya, atau berupa kotoran/impurities pada magma, dapat juga berupa fluida baik cairan ataupun gas. Kungkungan dapat dikenali di bawah mikroskop tanpa nikol apabila terdapat perbedaan antara bahan inklusi dengan kristal yang mengungkungnya, misalnya pada ketembusannya, relief maupun perbedaan warna. Bidang batas antara inklusi dengan mineral yang mengungkungnya dapat bersifat seperti batas.

2.3. Penanamatan Nikol Silang

Dalam pengamatan nikol sejajar, sifat-sifat optic pada mineral yang dapat diamati yaitu: 1. Warna Interferensi Warna interferensi adalah sifat optik yang sangat penting, namun penjelasannya cukup rumit, sehingga kita harus memahami konsep dasarnya secara bertahap. Pada posisi sumbu sinar sembarang terhadap arah getar polarisator inilah, komponen sinar lambat dan cepat tidak diserap oleh analisator, sehingga dapat diteruskan hingga mata pengamat. Karena perbedaan kecepatan rambat sinar cepat dan lambat

inilah, maka terjadi yang disebut sebagai beda fase atau retardasi. Semakin besar selisih indeks bias, semakin besar beda fase/retardasinya. Warna interferensi dapat ditentukan dengan memutar meja objek yang terdapat sayatan mineral hingga diperoleh terang maksimal. Warna terang tersebut dicocokkan dengan tabel interferensi Michel – Levy Chart. 2. Gelapan dan kedudukan gelapan Pada pengamatan nikol silang, gelapan (keadaan di mana mineral gelap maksimal) dapat terjadi karena tidak ada cahaya yang diteruskan oleh analisator hingga mata pengamat. Pada zat anisotropik syarat terjadinya gelapan adalah kedudukan sumbu sinar berimpit dengan arah getar polarisator dan/atau analisator. Sumbu sinar = sinar cepat (x) dan sinar lambat (z). Sehingga dalam putaran 360o akan ada empat kedudukan gelapan. Sebaliknya kedudukan terang maksimal (warna interferensi maksimal) terjadi pada saat sumbu sinar membuat sudut 45 o terhadap arah getar PP dan AA. 1. Gelapan sejajar/paralel Kedudukan gelapan di mana sumbu panjang kristal (sumbu c) sejajar dengan arah getar PP dan/atau AA. Sehingga dapat dikatakan sumbu optik berimpit dengan sumbu kristalografi. 2. Gelapan miring Kedudukan gelapan di mana sumbu panjang kristal (sumbu c) menyudut terhadap arah getar PP dan/atau AA. Sehingga dapat dikatakan sumbu optik menyudut terhadap sumbu kristalografi 3. Gelapan bergelombang Terjadi pada mineral yang mengalami tegangan/distorsi sehingga orientasi sebagian kisi kristal mengalami perubahan berangsur, dan kedudukan gelapan masing2 bagian agak berbeda. 4. Gelapan bintik/mottled extinction

Umumnya terjadi pada mineral silikat berlapis (mika), hal ini terjadi karena perubahan orientasi kisi kristal secara lokal, sehingga tidak seluruh bagian kristal sumbu sinarnya berorientasi sama. 3. Tanda rentang optik Tanda rentang optik adalah istilah untuk menunjukkan hubungan antara sumbu kristalografi (terutama arah memanjangnya kristal) dengan sumbu sinar cepat (x) dan lambat (z). Tujuannya adalah menentukan sumbu sinar mana (x atau z) yang kedudukannya berimpit atau dekat (menyudut lancip) dengan sumbu panjang kristal. Dengan demikian, TRO hanya dimiliki oleh mineral yang memiliki belahan satu arah atau arah memanjangnya mineral (sumbu c). Jenis tanda rentang optik yaitu : - Length slow (+) = sumbu c berimpit /menyudut lancip dengan arah getar sinar lambat (sumbu z). Keadaan ini dinamakan Addisi yaitu penambahan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. - Length fast (-) = sumbu c berimpit/menyudut lancip dengan arah getar sinar cepat (sumbu x). Keadaan ini dinamakan Substraksi yaitu pengurangan orde warna interferensi pada saat kompensator digunakan. Penentuan tanda rentang optik dilakukan dengan pengamatan nikol bersilang dengan menggunakan kompensator (keping gips/baji kuarsa).

2.4. Pengamatan Konoskop

1. Sumbu Optik Cahaya terpolarisir yang melewati mineral anisotrop, akan dibiaskan menjadi dua sinar yang bergetar kesegala arah dengan kecepatan yang berbeda. Tetapi pada arah sayatan tertentu sinar akan dibiaskan kesegala arah dengan kecepatan sama. Garis yang tegak lurus dengan arah sayatan tersebut di.kenal sebagai Sumbu Optik. Pada mineral-mineral yang bersisitim kristal tetragonal, hexagonal dan trigonal terdapat dua sumbu indikatrik (sumbu arah getar sinar), yaitu sumbu dari sinar

ordiner (biasa) dan sinar ekstra ordiner (luar biasa). Pada mineral yang bersistim kristal tersebut, hanya ada satu kemungkinan arah sayatan, dimana sinar yang terbias bergetar ke segala arah dengan kecepatan sama. Oleh karena itu, mineral-mineral yang bersistin Kristal tetragonal, hexagonal dan trigonal mempunyai Sumbu Optik Satu (Uniaxial). Sedangkan pada mineral-mineral yang bersistim kristal orthorombik, nonoklin danbtriklin terdapat tiga macam sumbu indikatrik, yaitu sumbu indikatrik sinar X (paling cepat), sinar Y (intermediet) dan sinar Z (paling lambat). pada mineralmineral ini, ada dua kemungkinan arah sayatan, dimana sinar yang terbias bergetar ke segala arah dengan kecepatan sama. Oleh karena itu mineral-mineral yang bersistem kristal demikian mempunyai Sumbu Optik Dua (Biaxial). 2. Tanda Optik Kecepatan sinar ordiner dan ekstra ordiner pada kristal sumbu satu (uniaxial) adalah tidak sama. Pada mineral tertentu sinar ekstra ordiner lebih cepat dari sinar ordiner, tetapi pada mineral lain sinar ordiner bisa lebih cepat dari sinar ekstra ordiner. Untuk mempermudah pembahasan dari keragaman tersebut dibuat kesepakatan bahwa mineral uniaxial yang mempunyai sinar ekstra ordiner lebih cepat dari sinar ordiner diberi Tanda Optik Negatif. Sebaliknya untuk mineral uniaxial yang mempunyai sinar ordiner lebih cepat dari sinar ekstra ordiner diberi Tanda Optik Posltif. 3. Sudut Sumbu Optik (2V) Adalah sudut yang dibentuk oleh dua sumbu optik. oleh karena itu sudut sumbu optik hanya didapatkan pada mineral sumbu dua. pada sayatan tertentu, dengan memperhatikan gambar lnterferensinya, dapat dihitung besarnya sudut sumbu optik.

4. Gambar Interferensi Ada beberapa kenampakkan gambar interferensi pada kristal sumbu satu. Kenampakkannya ini sangat bergantung pada arah sayatan terhadap sumbu optik. (lihat gambar). a. Gambar Interferensi Terpusat · Terdapat pada sayatan yang dipotong tegak lurus sumbu optiknya (sayatan isotropik). · Memperlihatkan isogire dengan empat lengan, serta melatop persis di tengah. · Memperilhatkan gelang-gelang warna (isofase), banyaknya gelang-gelang ini sangat bergantung pada harga bias rangkap masing-masing mineral. Makin besar harga bias rangkapnya, makin banyak gelang-gelang warnanya. · Bila meja obyek diputar 360°, gambar interferensi tidak berubah sama sekali.

Gambar 2.11. Interferensi terpusat, mineral dengan bias rangkap kuat (kiri) dan bias rangkap lemah (kanan)

b. Gambar Interferensi Tak Terpusat · Terdapat pada sayatan Kristal yang dipotong miring terhadap sumbu optik. · Melatop dapat kelihatan dapat tidak (tetapi tidak ditengah-tengah).

·

Penentuan tanda optik sama dengan gambar interferensi terpusat, tetapi harus terlebih dahulu menentukan posisi setiap kwadrannya.

Gambar 2.12. Kenampakan gambar interferensi tak terpusat dan cara penentuan kuadrannya

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK Acara : Mineral Tekosilikat dan Sorosilikat Nama : Minfadliansah S.P STB : D611 09 001

Hari/Tgl : Rabu/30-03-2011 No. Urut No. Peraga P. Objektif P. Okuler P. Total Bilangan Skala : 01 : A3 :5x : 10 x : 50 x : 0,02

Kedudukan Mineral : A3 X,Y ( 47,3 , 25,3 ) Pada pengamatan nikol sejajar, ukuran dari mineral pada pengamatan ini adalah 1 mm yang peroleh dari hasil perkalian bilangan skala dengan ukuran mineral pada benang silang. Warna mineral yaitu transparan. Pada saat meja objek diputar 900, mineral mengalami perubahan warna (pleokroisme) yaitu sebanyak dua kali (dwikroik). Daya serap cahaya maksimum (intensitas) pada mineral ini kuat ditandai dengan warna mineral yang terang. Untuk menentukan indeks bias pada mineral ini digunakan metode illuminasi miring, dimana dilewatkan kertas diatas illuminator dan indeks bias mineral yang diperoleh yaitu > yang ditandai dengan arah kertas

yang dilewatkan diatas illuminator searah dengan yang terlihat pada lensa okuler. Belahan pada mineral ini yaitu belahan 1 arah. Jenis pecahan mineral ini yaitu uneven dengan bentuk euhedral-subhedral. Kenampaka bidang batas mineral (relief) yaitu tinggi dimana relief ini berhubungan langsung dengan intensitas mineral. Pada mineral ini tidak ditemuakan adanya mineral asing (inklusi).

A

Nikol Sejajar

P

Nikol Sejajar

Pada pengamayan nikol silang, analisator dimasukkan. Warna interferensi maksimum pada saat meja objek diputar yaitu warna hijau kehitaman dengan bias rangkap 0,02 orde 1. Bias rangkp didapatkan dari table Michel Levy. Mineral ini tidak memiliki kembaran. Sudut gelapan yang dihasilkan yaitu 400 yang didapatkan dari selisih antara terang maksimum dan gelap maksimum serta jenis gelapan miring. A A Nikol Silang

P

Nikol Silang

Tanda rentang optic (TRO) pada mineral ini yaitu addisi langht fast. TRO ditentukan dengan cara melihat warna terang maksimum mineral pada mikroskop kemudian mencocokkannya dalam tabel Michel Levy. A TRO

P

TRO

Pada pengamatan konoskop, perbesaran lensa objektif yang digunakan yaitu 100x dan perbesaran lensa okuler tetap pada perbesaran 10x serta bukaan diafragma yang digunakan yaitu 0,9. Sumbu optik pada mineral ini yaitu biaxial yang ditandai dengan sistem kristal mineral ini yaitu triklin. Tanda optiknya yaitu positif (+) yang didapat dari perbesaran lensa objektif 5x dengan bukaan diafragma 0,1. Pada gambar interferensi, isogirnya yaitu tidak terpusat yang didapat dari perbesan lensa objektif 100x. Gelang warna pada mineral ini yaitu bias ganda kuat karena jumlah warna yang dapat diamati ada tiga jenis warna yang didapat dari perbesaran lensa objektif 100x. Sudut 2V yaitu 400 yang didapat dari kenampakam isogir. Nama mineral yaitu Ortoklas. Konoskop

Isogir

Gelang Warna

Mineral ortoklas adalah mineral yang temasuk dalam feldspar group, dan mineral ini termasuk dalam mineral tektosilikat. Terbentuk pada suhu 4000 C atau lebih. Mineral ortoklas memiliki sistem kristal monoklin (Biaxial). Mineral epidote memiliki kekerasan 6 dan tergolong dalam mineral yang ringan. Mineral ortoklas banyak dalam berbagai tipe intrusi batuan beku seperti granit, syenit dan syenit nefelin. Dalam batuan sedimen seperti arkose dan konglomerat dan dalam batuan metamorf seperti gneis. Sering berasosiasi dengan kuarsa, plagioclase feldspars, mika, garnet, tourmaline and topaz.

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK Acara : Mineral Tekosilikat dan Sorosilikat Nama : Minfadliansah S.P STB : D611 09 001

Hari/Tgl : Rabu/30-03-2011 No. Urut No. Peraga P. Objektif P. Okuler P. Total Bilangan Skala : 02 : 19 :5x : 10 x : 50 x : 0,02

Kedudukan Mineral : A3 X,Y ( 47,3 , 25,3 ) Pada pengamatan nikol sejajar, ukuran dari mineral pada pengamatan ini adalah 7 mm yang peroleh dari hasil perkalian bilangan skala dengan ukuran mineral pada benang silang. Warna mineral yaitu transparan. Pada saat meja objek diputar 900, mineral mengalami perubahan warna (pleokroisme) yaitu sebanyak dua kali (dwikroik). Daya serap cahaya maksimum (intensitas) pada mineral ini kuat ditandai dengan warna mineral yang terang. Untuk menentukan indeks biasa pada mineral ini digunakan metode illuminasi miring dimana dilewatkan kertas diatas illuminator dan indeks bias mineral yang diperoleh yaitu > yang ditandai dengan arah kertas

yang dilewatkan diatas illuminator searah dengan yang terlihat pada lensa okuler. Belahan pada mineral ini yaitu belahan 1 arah. Jenis pecahan mineral ini yaitu uneven dengan bentuk euhedral-subhedral. Kenampaka bidang batas mineral (relief) yaitu tinggi. Pada mineral ini ditemuakan ditemikan adanya mineral asing (inklusi).

A

Nikol Sejajar

P

Nikol Sejajar

Pada pengamayan nikol silang, analisator dimasukkan. Warna interferensi maksimum pada saat meja objek diputar yaitu warna hijau keunguan dengan bias rangkap 0,036 orde 3. Mineral ini tidak memiliki kembaran. Sudut gelapan yang dihasilkan yaitu 370 yang didapatkan didapatkan dari selisih antara terang maksimum dan gelap maksimum dan jenis gelapan miring. A Nikol Silang

P

Nikol Silang

Tanda rentang optic (TRO) pada mineral ini yaitu addisi langht fast. TRO ditentukan dengan cara melihat warna yterang maksimum mineral pada mikroskop kemudian mencocokkannya dalam tabel Michel Levy. A TRO

P

TRO

Pada pengamatan konoskop, perbesaran lensa objektif yang digunakan yaitu 100x dan perbesaran lensa okuler tetap pada perbesaran 10x serta bukaan diafragma yang digunakan yaitu 0,9. Sumbu optik pada mineral ini yaitu biaxial yang ditandai dengan sistem kristal mineral ini yaitu monoklin. Tanda optiknya yaitu negatif (-) yang didapat dari perbesaran lensa objektif 20x dengan bukaan diafragma 0,25. Pada gambar interferensi, isogirnya yaitu tidak terpusatyang didapat dari perbesan lensa objektif 20x. Gelang warna pada mineral ini yaitu bias ganda lemah karena jumlah warna yang dapat diamati ada dua jenis warna yang didapat dari perbesarab lensa objektif 20x. Sudut 2V yaitu 300. Nama mineral yaitu Epidote. Konoskop

Isogir

Gelang Warna

Mineral epidote adalah mineral yang temasuk dalam epidote group, dan mineral ini termasuk dalam mineral sorosilikat. Mineral epidote memiliki sistem kristal monoklin (Biaxial). Mineral epidote memiliki kekerasan 6 – 7 dan tergolong dalam mineral yang berat. Mineral epidote biasanya ditemukan pada memamorfisme kontak dan regional hasil alterasi dari mineral feldspar, piroksen, amphibol dan biotit. Sering berasosiasi dengan kalsit, biotit, hornblende, actinolite, andradite garnet dan mineral klorit metamorfisme lainnya. Dalam keadaan tertentu epidote dapat mengganti mineral garnet, pyroxene dan amphibol. Mineral epidote biasanya digunakan sebagai batu hias dan koleksi dan sebagai bahan penelitian.

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Pada pengamatan nikol sejajar, sifat optik mineral sampel 1 adalah ukuran mineral yaitu 1 mm, warna mineral transparan, pleokroisme dwikroik, intensitas kuat, indeks bias Nm > Ncb, belahan 1 arah, pecahan uneven, bentuk mineral subhedral-anhedral, relief tinggi. Sifat optik mineral sampel 2 yaitu ukuran mineral yaitu 7mm, warna mineral trasnparan, intensitas kuat, indeks bias Nm > Ncb, belahan 1 arah, pecahan uneven, bentuk mineral euhedral-subhedral, relief tinggi, inklusi ada. 2. Pada pengamatan nikol silang, sifat optik mineral sampel 1 yaitu warna interferensi maksimum adalah hijau kehitaman dengan bias rangkap 0,02 Orde 1, sudut gelapan 400, jenis gelapan miring, tanda rentang optic addisi langth fast dan nama mineral yaitu Orthoklas. Sifat optik mineral sampel 2 yaitu warna interferensi maksimum adalah hitam keunguan dengan bias rangkap 0,036 orde 3, sudut gelapan 370, jenis gelapan miring, tanda rentang optic addisi length slow dan nama mineral yaitu Epidote. 3. Pada pengamatan konoskop, sifat optik mineral sampel 1 (Orthoklas) yaitu sumbu optik biaxial. Tanda optiknya positif (+). Isogir tidak terpusat.

Gelang warna yaitu bias ganda kuat. Sudut 2V yaitu 400. Sifat optik mineral sampel 2 (Epidote) yaitu Sumbu optik biaxial. Tanda optiknya negatif (-). Isogir tidak terpusat. Gelang warna bias ganda lemah. Sudut 2V yaitu 700.

4. Perbedaan antara pengamatan nikol sejajar, nikol silang dan pengamatan konoskop yaitu pada pengamatan nikol sejajar dan nikol silang menggunakan perbesaran lensa objektif 5X, bukaan diafragma 0,1 sedangkan dalam pengamatan konoskop perbesaran lensa objektif 100X, bukaan diafragma 0,9 serta menggunakan pinhole dan lesa amici betran. 5. Mineral tektosilikat (three dimensional network) dimana tetrareadertetrareader-SiO4 membentuk bangunan-bangunan yang berdimensi tigadan saling berhubungan yang satu dengan yang lain sedangkan mineral sorosilikat (double tetrahedral struktur) dimana gugus tetrareader-SiO4 dihubungkan oleh kation-kation yang satu dengan yang lainnya.

4.2. Saran

Sebaiknya alat-alat yang ada dilaboratirium seperti mikroskop diperbaiki yang rusak agar dalam melakukan praktikum dapat berjalan dengan lancardengan dan dilengkapi yang masih kurang.

DAFTAR PUSTAKA

Haryadi, Heru. 2009. Mineral. www.heruharyadi27.blogspot.com (22 Maret 2011, 20:15) Isbandi, Djoko. 2009. Mineralogi. Nur Cahaya. Lumbantoruan, Rio. 2010. Warna warni kehidupan. http://riolumbantoruan.blogspot.com (31 Maret 2011, 19:51) Mineral-Silikat. http://www.scribd.com (21 april 2011, 22:55) Ria Irfan, Ulva. 2010. Mineral Optik. Makassar. Setia Graha, Doddi. 1987. Batuan dan Mineral. NOVA. Bandung Steven, Tommy. 2010. Mineral optik. http://www.tommy-steven.blogspot.com (22 Merer 2011, 20:02)