You are on page 1of 3

Rosihan Anwar Mahaguru Para Jurnalis “Saya tak akan berhenti menulis sampai saya mati,” Rosihan berkata

pada suatu hari. Kata-kata itu benar-benar dibuktikannya dengan konsisten. Meski telah berusia senja, tulisannya tak pernah berhenti menghiasi berbagai media massa. Dengan gaya penulisan yang khas, ia tetap tajam dan rasional. Beberapa bulan sebelum wafat, Rosihan meluncurkan sebuah buku berjudul Sejarah Kecil (Petite History) Indonesia IV. Bersama dengan tarikan nafas terakhirnya, ia juga sedang menyelesaikan sebuah memoar cinta berjudul Belahan Jiwa, Memoar Rosihan Anwar dengan Siti Zuraida sebagai kenangan manis dengan sang istri, Siti Zuraida, yang wafat setahun sebelumnya. Rosihan muda memulai karir kewartawanannya sebagai wartawan surat kabar Asia Raya pada tahun 1943. Pada tahun 1945, lelaki kelahiran Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam, Solok itu melanjutkan karir kewartawanannya sebagai redaktur pelaksana Surat Kabar Merdeka (1945-1946), pemimpin redaksi Majalah Siasat (1947), seterusnya pemimpin redaksi Harian Pedoman (1948-1961 dan 1968-1974). Setelah peristiwa Malari 1974, Pedoman dilarang terbit. Rosihan sempat menjadi wartawan tanpa surat kabar dengan menjadi wartawan freelance di dalam dan luar negeri, di antaranya kolumnis Asiaweek (Hong Kong), koresponden The Straits Times (Singapura), the New Straits Times (Malaysia). Selain menggeluti dunia kewartawanan, Rosihan juga menjajal kemampuan aktingnya dengan bermain di beberapa film seperti “Darah dan Do'a”, “Lagi-lagi Kritis”, dan “Tjoet Nja' Dien”. Meski dikenal sebagai wartawan, pencapaiannya di bidang perfilman ini juga tidak bisa dianggap remeh. Berkali-kali ia menjadi juri FFI, menjadi anggota Dewan Film Nasional, sampai menjadi wakil ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N). Dari berbagai aktifitasnya, Rosihan lebih dikenal sebagai wartawan lima zaman. Ia telah melalui harihari sebagai wartawan sejak zaman kolonial, zaman kemerdekaan, zaman orde lama, zaman orde baru, dan zaman reformasi. Jejak langkah yang tidak singkat itu memberinya kesempatan menjadi saksi berbagai peristiwa penting di negeri ini. Rosihan adalah wartawan yang meliput langsung Peristiwa 10 November di Surabaya, Perundingan Linggarjati, Perundingan KMB, hingga pembebasan Irian Barat. Bahkan pada saat KMB ia menjadi reporter untuk dua media sekaligus sehingga harus menulis satu peristiwa dalam dua tulisan dengan angle yang berbeda. Anugerah usia yang panjang terus membuatnya berkesempatan berkali-kali menjadi saksi perubahan di negeri ini sampai dengan gejolak

cita-cita ini tak pernah terwujud karena pada tahun 1941. Rosihan tak pernah bercita-cita jadi wartawan. Dari sinilah karir kewartawanan Rosihan bermula. Kegagalan melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi ternyata tidak mematahkan semangat Rosihan. Semula ia berencana menjadi jaksa. Ia pindah ke Jakarta. Anwar Maharadjo Soetan adalah Asisten Demang di Kubang Nan Dua. Ayahnya. Di AMS. Namun pertemuannya dengan Dr. Namun Rosihan ternyata lebih memilih masuk AMS di Yogyakarta. Abu Hanifah dari CBZ (sekarang RSCM) telah mengubah haluan hidupnya. Rosihan menjadi dosen di beberapa Perguruan Tinggi seperti Universitas Indonesia dan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). “Tidak ada suratan di tangan saya bahwa saya akan mengikuti jejak ayah dan menjadi pegawai pamong praja. Tak berlebihan kiranya jika dirinya menjadi anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) meskipun Rosihan tidak berlatarbelakang ilmu sejarah. Anwar pindah menjadi Asisten Demang di Dangung-dangung. Dengan latar belakang keluarga yang cukup berada ini. Rosihan mengambil jurusan Sastra Klasik Barat karena ia bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden. Rosihan berkesempatan mengenyam pendidikan di masa kolonial. sang ayah tampaknya menginginkan Rosihan bersekolah di MOSVIA Bandung untuk mengikuti jejaknya menjadi pamongpraja Belanda. Setelah itu. Namun dia terima saran Abu Hanifah dan sejak Maret 1943 mulai bekerja sebagai wartawan. Lelaki bernama asli Rozehan ini sebenarnya cukup beruntung. UIN Syarif Hidayatullah menganugerahinya gelar Doktor Honoris Causa di bidang Jurnalistik dan Komunikasi. tokoh Parindra dan anggota Volksraad di zaman Belanda yang jadi pemimpin umum suratkabar Asia Raya. Bukunya Petite History semakin memperteguh perannya dalam masyarakat sejarahwan di Indonesia. Rosihan memasuki HIS dan dilanjutkan MULO di Padang. Belanda. ternyata Rosihan juga mampu menggapai apa yang dicapai oleh mereka yang bisa menyelesaikan kuliah. Rosihan di akhir hayatnya menemukan dirinya sebagai referensi hidup sejarah perkembangan Bangsa Indonesia. menawari Rosihan jadi wartawan. ia telah mengikuti pendidikan singkat jaksa dari Pemerintah Jepang. setelah bicara dengan Sukardjo Wirjopranoto. Abu Hanifah memberikannya pendidikan politik. Bahkan pada tahun 2006. Dia pula yang. Untukitu. pecahlah perang antara Belanda dan Jepang. . Setelah dari sana. Setaman AMS tahun 1942.pasca reformasi.” katanya. Meskipun Rosihan tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Sayang.

” Ungkapnya. Dunia pers di Indonesia merasa kehilangan. Mahaguru Para Jurnalis. teguh pada pendirian dan integritas yang kukuh tak tergoyahkan. Tokoh pers Parni Hadi menyebutnya sebagai guru para wartawan di Indonesia. Rosihan mengajarkannya dengan gaya bahasa dan bicara bicara blak-blakan bahkan cenderung sinis. Warisannya adalah ajaran tentang bagaimana sosok wartawan seharusnya. Selamat jalan. “Saya kira tidak ada satupun wartawan di Indonesia yang terkenal sekarang yang tidak pernah diajar oleh beliau. Dahlan Iskan meneruskan. Rosihan berpulang menghadap sang khalik.Dalam aktifitas menulisnya yang tak pernah berhenti. tempaan pendidikan sekolah Belandanya membuat Rosihan bersedia mengakui kekurangan atau kekeliruannya secara terbuka.. akhirnya pagi 14 April 2011. Rosihan telah pergi. . Sesosok wartawan yang kritis. Tapi di sisi lain.