P. 1
Reumatoid Arthritis Kmb Refisi

Reumatoid Arthritis Kmb Refisi

|Views: 943|Likes:
Published by ryuliana_2

More info:

Published by: ryuliana_2 on Jun 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang tidak diketahui penyebabnya, dikarakteristikan oleh kerusakan dan proliferasi membran sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis, dan deformitas. (Doenges, E Marilynn, 2000 : hal 859). Reumatoid artritis termasuk penyakit autoimun yang menyerang persendian tulang. Sendi yang terjangkit biasanya sendi kecil seperti tangan dan kaki secara simetris (kiri dan kanan) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan kemudian sendi mengalami kerusakan. Kerusakan sendi sudah mulai terjadi pada 6 bulan pertama terserang penyakit ini, dan cacat bisa terjadi setelah 2-3 tahun bila penyakit tidak diobati. Untuk memperdalam pemahaman mengenai reumatoid oleh karena itu penulis membuat makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Rheumatoid Arthritis”. B. Rumusan Masalah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Bagaimana anatomi dan fisiologi sistem saraf musculoskeletal? Apa yang dimaksud dengan Rheumatoid arthritis (RA)? Apakah etiologi dari Rheumatoid arthritis (RA)? Apa saja manifestasi klinis dari Rheumatoid arthritis (RA)? Bagaimana patofisiologi Rheumatoid arthritis (RA)? Bagaimana penatalaksanaan medis dari Rheumatoid arthritis (RA)? Bagaimana asuhan keperawatan untuk pasien dengan Rheumatoid arthritis (RA)? Bagaimana analisa kasus untuk Rheumatoid arthritis (RA)? Bagaimana WOC atas kasus yang diberikan?

9. C. Tujuan

Untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai Rheumatoid arthritis (RA) dengan mengidentifikasikan definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, serta bagaimana rencana asuhan keperawatan yang dapat diaplikasikan oleh perawat.

1

BAB II PEMBAHASAN A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL 1. Tulang Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk alat gerak pasif, proteksi alat-alat didalam tubuh, pembentuk tubuh, metabolisme kalsium dan mineral, dan organ hemopoetik (setiyohadi, 2006). Tulang matur terdiri dari 30% materi organic (hidup) dan 70% deposit garam. Materi oranik disebut matriks, dan terdiri atas lebih dari 90% serabut kolagen dan kurang dari 10% proteoglikan (protein plus polisakarida). Deposit garam terutama adalah kalsium dan fosfat, dengan sedikit natrium, kalium karbonat, dan ion magnesium. Garam menutupi matriks dan berikatan dengan serabut kolagen melalui proteoglikan. Matriks organik menyebabkan tulang memiliki kekuatan tensil (resistensi terhadap tarikan yang meregangkan). Garam tulang menyebabkan tulang memiliki kekuatan kompresi (kemampuan menahan kompresi) (Corwin, 2009). Sama dengan jaringan penyambung lainnya, tulang terdiri dari komponen selular, zat dasar, dan komonen fibrosa. Fibroblast dan fibrosit diperlukan untuk produksi kolagen. Komponen selular terdiri atas osteoblast, osteoklas, dan osteosit. Osteoblas merupakan lapisan terluar dari tulang, yang terbentuk dari sel osteoprogenitor. Osteosid merupakan sel tulang yang matur. Osteoklas memungkinkan untuk resopsi tulang. Zat dasar, merupakan sejenis zat berbentuk jeli yang terdiri dari cairan ekstraseluler dan proteoglikan, kondroitin sulfat, dan asam hialuronik yang membantu mengatur deposisi dari garam kalsium (Copstead & banasik, 2005). a. Pembentukan tulang Pembentukan tulang berlangsung secara terus menerus dan dapat berupa pemanjangan dan penebalan tulang. Kecepatan pembentukan tulang ditentukan oleh stimulasi hormonal, faktor makanan, dan banyaknya stress yang dibebankan pada tulang, dan terjadi akibat aktivitas sel pembentuk tulang, osteoblas. Osteoblas dijumpai pada permukaan luar dan bagian dalam tulang. Osteoblas berespon terhadap berbagai sinyal kimia untuk menghasilkan matriks
2

Sebagian osteoblas tetap menjadi bagian osteoid. terjadi bersamaan dengan tumbuhnya tulang dan juga berlangsung seumur hidup. 3 . proses ini memungkinkan tulang tua yang melemah diganti dengan tulang baru yang lebih kuat. Ketika tulang terbentuk. c. matriks organic disebut osteoid. Ketika pertama kali dibentuk. yang disebut diafis. Osteoklas adalah sel pagosit besar multinukleus yang berasal dari monosit yang terdapat di tulang. osteosit di matriks membentuk tonjolan kesetiap tulang yang lain sehingga membentuk sistem kanal mikroskopik (kanalikuli) di tulang. aktivitas osteoblas dan aktivitas osteoklas biasanya seimbang sehingga jumlah total massa tulang konstan. Pada anak dan remaja. Osteoblas mulai mengisi daerah yang kosong tersebut dengan tulang yang baru. Penguraian tulang Penguraian tulang (resorpsi). Remodeling Merupakan keseimbangan antara aktivitas osteoblas dan osteoklas yang menyebaban tulang terus-menerus diperbaharui atau mengalami remodeling. Pada usia pertengahan aktivitas osteoklas melebihi aktivitas osteoblas dan densitas tulang mulai berkurang. Pada masa dewasa. dan disebut osteosit atau sel tulang sejati. garam kalsium mulai mengendap pada osteoid dan tulang mulai mengeras. Dalam beberapa hari. dan atau tidak beraturan. dan memfagosit tulang sedikit demi sedikit. Dominasi aktivitas osteoklas dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh sehingga mudah patah. aktivitas osteoblas melebihi aktivitas osteoklas sehingga menyebabkan penebalan dan pemanjangan skelet. Tulang panjang terdiri atas batang tebal panjang. b. pendek. Diantara epifisis dan metafisis terdapat daerah kartilago yang tumbuh. Setelah selesai di suatu daerah. pipih. dan dua ujung yang disebut epifisis. Resorpsi tulang terjadi akibat aktivitas sel yang disebut osteoklas. Osteoklas juga mensekresi berbagai sitokin yang lebih lanjut menstimulasi resorpsi.organik. Osteoklas mensekresi berbagai asam dan enzim yang mencerna tulang dan memudahkan fagositosisnya. Osteoklas biasanya hanya terdapat pada satu bagian kecil tulang pada satu waktu. Tulang diklasifikasikan sebagai tulang panjang. Disebelah proksimal dari setiap epifisis terdapat metafisis. osteoklas menghilang dan osteoblas muncul.

baik yang memungkinkan tulang-tulang tersebut dapat bergerak satu sama lain. diartrosis dibagi dalam beberapa sendi. Pubika pada orang dewasa. tulang-tulang yang saling berhubungan dilapisi rawan sendi. Rawan sendi merupakan jaringan avaskular dan juga tidak 4 . bursa sendi dan ikat sendi (ligamentum).yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. humeroulnaris. yaitu sinartrosis. Tulang panjang dapat ditemukan di ekstremitas. Ampiartrosis merupakan sendi yang memungkinkan tulang-tulang yang saling berhubungan dapat bergerak secara terbatas. sendi pelana (karpometakarpal). maupun tidak dapat bergerak satu sama lain (sumariyono & wijaya. Tulang panjang tumbuh dengan cara mengakumulasi kartilago di lempeng epifisis. sendi telur (radiokarpea). talokruralis). sendi ini tersusun atas bonggol sendi (kapsul artikulare). Kartilago digantikan oleh osteoblas. 2009) Sendi adalah semua persambungan tulang. misalnya sendi sarkoiliaka dan sendi korpus vertebra. Sendi Sendi adalah daerah tempat dua tulang menyatu (Corwin. sendi dibagi 3. sendi peluru (glenohumeral) dan sendi buah pala (coxae). antara gigi dan rahang. Secara anatomic. Sinartrosis adalah sendi yang tidak memungkinkan tulang-tulang yang berhubungan dapat bergerak satu sama lain. dan tulang berhenti tumbuh. Pada akhir usia remaja. 2005). 2. dan amfiartrosis. lempeng epifisis berhenti berfusi. dan rahang. dll. atau jaringan tulang rawan misalnya antara kedua os. yaitu: sendi engsel (interfalang. Tulang tidak beraturan mencakup vertebra. seperti pada tulang tengkorak. kartilago habis. Pada sendi synovial (diartrosis). Tulang pipih ditemukan ditengkorak dan selubung iga. dan tulang memanjang. Diantara tulang yang saling berhubungan tersebut terdapat jaringan yang dapat berupa jaringan ikat. Diartrosis adalah sambungan antara dua tulang atau lebih yang memungkinkan tulang-tulang tersebut bergerak satu sama lain. Berdasarkan bentuknya. sedang kan tulang pendek dijumpai dipergelangan kaki dan tangan. antara radius dengan ulna. tulang wajah. diartrosis. Diatrosis disebut juga sendi synovial. Diantara tulang-tulang bersendi tersebut terdapat rongga yang disebut kavum artikulare.

Rawan sendi dibentuk oleh sel rawan sendi (kondrisit) dan matriks rawan sendi. proteoglikan. Matriks rawan sendi terutama terdiri dari air. Bersama-sama dengan asam hialuronat. proteoglikan membentuk agregat yang dapat menghisap air dari sekitarnya sehingga mengembang sedemikian rupa dan membentuk bantalan yang baik sesuai dengan 5 . berfungsi sebagai bantalan terhadap beban yang jatuh kedalam sendi.memiliki jaringan saraf. Kondrosit berfungsi menyintesis dan memelihara matriks rawan sehingga fungsi bantalan rawan sendi tetap terjaga dengan baik. kondroitin-6-sulfat dan kondroitin-4-sulfat. dan kolagen. Glikosominoglikan yang menyusun proteoglikan terdiri dari keratin sulfat. Proteoglikan merupakan molekul yang kompleks yang tersusun atas inti protein dan molekul glikosominoglikan.

Table 1. Jaringan pembuluh darah ini berperan dalam transfer konstituen darah ke dalam rongga sendi dan pembentukan cairan sendi. Sendi dilapisi oleh suatu jaringan avaskular yang disebut membrane synovial. Beban yang intermiten pada rawan sendi sangat baik bagi fungsi difusi nutrien untuk rawan sendi. Sel sinoviosit terdiri dari 2 tipe sel. kekuningan dan viscous. Sel sinoviosit tipe A berfungsi melepaskan debris-debris sel dan material khusus lainnya ke dalam rongga sendi. Membrane synovial tersusun atas 1-3 lapis sel-sel synovial (sinoviosit) yang menutupi jaringan subsinovial dibawahnya.fungsi rawan sendi. berlipat-lipat sehingga dapat menyesuaikan diri pada setiap gerakan sendi dan perubahan tekanan intra-artikular. Sel sinoviosit B berperan menyintesis dan mensekresikan hialuronat yang merupakan zat aditif dalam cairan sendi yang berperan dalam mekanisme lubrikasi. Walaupun banyak pembuluh darah dan limfe didalam jaringan subsinovial. Rawan sendi merupakan jaringan yang avaskuler. tetapi tidak melapisi permukaan rawan sendi. tanpa dibatasi oleh membrane basalis. yaitu sinoviosit tipe A yang mempunyai banyak persamaan dengan makrofag dan sinoviosit tipe B yang mmepunyai banyak persamaan dengan fibroblast. Membrane ini licin dan lunak. oleh karena itu makanan didapatkan dengan jalan difusi. Membran synovial melapisi permukaan dalam kapsul sendi. tetapi tidak satupun yang mencapai lapisan sinoviosit. karakteristik cairan sendi 6 . Cairan sendi yang normal bersifat jernih. hanya beberapa ml volumenya dalam sendi yang normal.

165 ).(Kapita Selekta Kedokteran. 2001). 7 . B.Sifat dan cairan Normal <3. hal 1086 mikroorganisme Tranlusen-opak Opak Mudah putus Mudah putus 2000-100. Artritis Reumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. progesif. ml) Viskositas Warna Kejernihan Transparan Bekuan Musim Tak mudah putus Leukosit/mm3 200 Sel PMN (%) <25 Kultur MO Negatif Sumber: buku ajar ilmu penyakit dalam. 2001 : 1248).5 Tinggi Kekuningan Transparan Tak mudah putus 200-2000 <25 Negatif fakultas kedokteran Group II (inflamasi) >3.5 Rendah Kuning Group III (septic) >3.5 Bervariasi Tergantung sendi Volume (lutut. Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non.bakterial yang bersifat sistemik. 2001 : hal 536). Rheumatoid arthritis merupakan suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. 2009).000 >50 >75 Negatif Positif universitas kedokteran Indonesia. hal.5 Sangat tinggi Tidak berwarna Group I (non inflamasi) >3. (Arif Mansjour.000 >500. DEFINISI RHEUMATOID ARTHRITIS Arthritis rheumatoid (RA) adalah suatu penyakit inflamasi kronis yang menyebabkan degenerasi jaringan penyambung (Corwin. Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. ( Rasjad Chairuddin.

2001). PATOFISIOLOGI Arthritis rheumatoid (AR) adalah penyakit autoimun yang terjadi pada individu rentan setelah respon imun terhadap antigen pemicu yang tidak diketahui. Autoimmun 4. yaitu: 1. 2. lingkungan. atau virus yang menginfeksi sendi atau mirip 8 . faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita. D.C. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetik.Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus. Endokrin 3. mikoplasma dan virus (Lemone & Burke. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II. ETIOLOGI Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri. mikoplasma. Faktor genetik serta pemicu lingkungan Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. hormonal dan faktor sistem reproduksi. Metabolik 5. Agen pemicunya adalah bakteri.

bengkak. Kartilago menjadi nekrosis. Kompleks imun yang tersimpan didalam membrane synovial atau lapisan superficial kartilago. dan menebalkan membrane synovial (Black & Hawks. Proses ini secara lambat akan merusak tulang dan menimbulkan nyeri hebat deformitas (Corwin. Panus dapat menyebar keseluruh sendi sehingga menyebabkan inflamasi dan pembentukan jaringan parut lebih lanjut. Walaupn respon ini berhasil menghancurkan mikroorganisme. Antibody RF berkembang dan melawan IgG untuk membentuk kompleks imun. Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi. Hipertropi synovial menyebabkan aliran darah tersumbat dan lebih lanjut manstimulasi nekrosis sel dan respon inflamasi. Antibody yang ditujukan ke komponen tubuh sendiri ini disebut faktor rheumatoid (Rheumatoid factor/ RF). Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Makrofag dan limfosit menghasilkan sebuah proses pathogenesis dari respon imun untuk antigen yang tidak spesifik. dan limfosit. individu yang mengalami AR mulai membentuk antibody lain. adalah pagositik yang terdiri atas polimorphonuklear (PMN) leukosit. asam arasidonik) yang menyebabkan hyperemia. karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis).sendi secara antigenik. Biasanya respon antibody awal terhadap mikroorganisme diperantarai oleh IgG. terhadap antibody IgG awal. Kerusakan kartilago dan tulang 9 . RF menetap di kapsul sendi sehingga menyebabkan inflamasi kronis kerusakan jaringan (Corwin. IgG sebagai antibody alami tidak cukup kemudian tubuh membentuk antibody (RF) yang melawan antibody itu sendiri (IgG) dan akibatnya terjadi transformasi IgG menjadi antigen atau protein luar yang harus dimusnahkan. Pannus menutupi kartilago dan kemudian masuk ke tulang sub chondria. monosit. Pagositik menonaktifkan kompleks imun dan menstimulasi produksi enzim additional (radikal oksigen. 2009). 2009). Kedua reaksi ini menyebabkan inflamasi. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada nutrisi kartilago artikuer. edema. biasanya oleh IgM atau IgG. ). Sinovium yang menebal menjadi ditutup oleh jaringan granular inflamasi yang disebut panus. Bentuk kompleks imun antigen-antibodi ini menyebabkan pengaktifan sistem complement dan pembebasan enzim lisosom dari leukosit.

10 .menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis setempat.

mikoplasma. CD4 + molekul intraokulin II G.Agen pemicu: bakteri. Aktivasi CD4+ Interkulin 1 Ikatan APC dan CD4 + membentuk kompleks antigen trimokuler F. Plorifersi CD4 + Aktivasi mediator kimia Interupsi pada sistem saraf Gangguan rasa nyaman: nyeri Makrofag dan limfosit B terangsang untuk mengaktifkan respon pagositiknya & menghasilkan antibodi Antibody terbentuk & berikatan dgn antigen Terbentuk kompleks imun Kompleks imun berdifusi pada membrane sinovia Pengendapan kompleks imun di membran sinovial Aktivasi sistem komplemen dan pelepasan komplemen C5a Pembentukan pannus 11 pannus menumpuk dikartilago . virus Antigen melekat pada CD4+ Pembentukan antigen oleh mikroorganisme E.

nutrisi dikartilago Kartilago rusak Kekakuan pada sendi Degranulasi sel mast dan pembentukan radikal oksigen Depolimerasi hyaluronate p↓ viskositas cairan sinovial Proses inflamasi Hyperemia. edema.Permebilitas vaskuler m↑ Polimononuklear (PMN) tertarik PMN memfagosit kompleks imun Menghambat proses difusi. dan membran synovial menebal Kerusakan jaringan kolagen dan proteoglikan kartilago Bengkak pada sendi. perubahan kulit (kulit memerah) 12 .

bentuknya oval atau bulat dan padat. Stadium sinovitis Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang ditandai adanya hiperemi. rahang dan bahu. kekakuan berlangsung tidak lebih dari 30 menit dan dapat berlanjut sampai berjam-jam dalam sehari. deformitas boutonniere dan leher angsa. 13 . Sendi yang lebih besar mungkin juga terserang yang disertai penurunan kemampuan fleksi ataupun ekstensi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan osteoartritis yang biasanya tidak berlangsung lama. anemia. nyeri pada saat istirahat maupun saat bergerak. deviasi jari-jari. kaki. Deformitas  pergeseran ulnar.MANIFESTASI KLINIS Tanda dan gejala setempat Sakit persendian disertai kaku terutama pada pagi hari (morning stiffness) dan gerakan terbatas. pergelangan tangan. maka pada RA terdapat tiga stadium yaitu: a. anoreksia Bila ditinjau dari stadium. lemah Poli artritis simetris sendi perifer  Semua sendi bisa terserang. Sendi mungkin mengalami ankilosis disertai kehilangan kemampuan bergerak yang total c. Paling sering mengenai sendi kecil tangan. Kronik  Ciri khas rematoid arthritis Tanda dan gejala sistemik dari RA merupakan lemah. berat badan turun. Artritis erosif  sifat radiologis penyakit ini. d. meskipun sendi yang lebih besar seringkali terkena juga a. edema karena kongesti. demam tachikardi. Peradangan sendi yang kronik menyebabkan erosi pada pinggir tulang dan ini dapat dilihat pada penyinaran sinar X b. lutut. dan kekakuan. bengkak. pergelangan tangan. subluksasi sendi metakarpofalangea. panggul. panas merah. siku. Lambat laun membengkak. Rematoid nodul  merupakan massa subkutan yang terjadi pada 1/3 pasien dewasa. kasus ini sering menyerang bagian siku (bursa olekranon) atau sepanjang permukaan ekstensor lengan bawah.

Definisi Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan sekitarnya. . Sekurang-kurangnya Keterlibatan sendi yang sama. Stadium deformitas Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali. Selain tanda dan gejala tersebut diatasterjadi pula perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan-neck. Artritis simetris. sekurangnya selama satu jam sebelum perbaikan maksimal. 7. Perubahan pada sendi diawali adanya sinovitis. Terdapat titer abnormal faktor rheumatoid serum yang diperiksa dengan cara yang memberikan hasil positif. berlanjut pada pembentukan pannus. Faktor rheumatoid serum positif. 3. 6. Kriteria arthritis rheumatoid No. Artiritis pada persendian tangan. Perubahan gambaran radiologis. dan terakhir ankilosis tulang Table 2. c. Nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan ekstensor atau daerah juksa artikular. Stadium destruksi Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya kontraksi tendon. Nodul rheumatoid. 4. Gambaran radiologis yang khas bagi arthritis rheumatoid pada pemeriksaan 14 terjadi pembengkakan satu persendian tangan. Kriteria Kaku pagi hari. Artritis pada tiga daerah persendian atau Pembengkakan jaringan lunak atau lebih lebih. 5.b. ankilosis fibrosa. efusi (bukan pertumbuhan tulang) pada sekurang-kurangnya tiga sendi secara bersamaan. 1. deformitas dan ganggguan fungsi secara menetap. 2.

b) Umur. Sumber: buku ajar ilmu penyakit dalam. nyeri yang paling berat terjadi dipagi hari. PEMERIKSAAN 1. merupakan rasa reperti diikat. misalnya penyakit rheumatoid arthritis lebih banyak ditemukan pada usia lanjut. tanyakan faktor yang memperberat penyakit dan hasil pengobatan untuk mengurangi keluhan penyakit. c) Jenis kelamin. dan sedikit lebih berat dimalam hari. dan perubahan posisi struktur ekstremitas (dislokasi atau sublukasi). h) Gejala siskemik. disabilitas terjadi apabila suatu jaringan. pasien merasa sukar untuk menggerakkan sendinya. f) Bengkak sendi dan deformitas.sinar-X harus menunjukkan adanya erosi atau dekalsifikasi tulang yang berlokasi pada sendi atau daerah yang berdekatan dengan sendi. membaik disiang hari. tetapi frekuensi penyakit terdapat pada kelompok umur tertentu. penyakit sendi inflamator baik yang disertai maupun tidak disertai keterlibatan multisystem akan menyebabkan peningkatan reaktan fase akut seperti peninggian LED atau CRP. Pasien sebaiknya diminta untuk menjelaskan lokasi nyeri serta penyebarannya. penyakit reumatik dapat menyerang semua umur. penyakit rheumatoid arthritis lebih banyak diderita oleh wanita daripada pria. organ atau sistem tidak dapat berfungsi secara adekuat. diperlukan riwayat penyakit yang deskriptif dan kronologis. e) Kaku sendi. nyeri merupakan keluhan utama pada pasie dengan reumatik. g) Disabilitas dan handicap. 2005 H. Pada pasien RA. Handicap adalah apabila disabilitas menyebabkan aktivitas sehari-hari terganggu. perubahan bentuk. Keadaan ini biasanya akibat desakan cairan yang berada disekitar jaringan yang mengalami inflamasi. dengan perbandingan 3:1 d) Nyeri sendi. pasien sering mengalami bengkak sendi. perubahan warna. Selain itu akan disertai dengan gejala 15 . Anamnesis a) Riwayat penyakit. termasuk aktivitas sosial.

atau tulang. penurunan berat badan. i) Gangguan tidur dan depresi. struktur yang diserang. disebut gaya berjalan antalgik. obat antiinflamasi nonsteroid. kelelahan. biasanya dalam posisi pleksi. Pada orang tua disertai dengan gangguan mental. Kadang-kadang pasien mengeluh hal yang tidak spesifik. lesu dan mudah terangsang. b) Sikap/fostur badan. . pasien akan berusaha mengurangi tekanan artikular pada sendi yang sakit dengan mengatur posisi sendi tersebut senyaman mungkin. biasanya diikuti oleh gerakan lengan yang asimetris. menandakan adanya proses inflamasi di Bengkak sendi. sementara tungkai yang nyeri akan lebih lama diletakkan dilantai. gangguan tidur dapat disebabkan oleh adanya nyeri kronik. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik pada sistem musculoskeletal meliputi: • • • Inspeksi pada saat diam Inspeksi pada saat gerak Palpasi a) Gaya berjalan yang abnormal pada pasien RA yaitu pasien akan segera mengangkat tungkai yang nyeri atau deformitas. Nyeri raba Pergerakan. 2. kemerahan disertai deskuamasi pada kulit di sekitar sendi Kenaikan suhu sekitar sendi. merupakan bunyi berderak yang dapat diraba sepanjang gerakan Atropi dan penurunan kekuatan otot Ketidakstabilan 16 menunjukkan adanya inflamasi pada sendi. bisa disebabkan oleh cairan. daerah sendi tersebut pada semua arah.siskemik seperti panas. akan lebih terlihat pada saat bergerak Perubahan kulit. seperti merasa tidak enak badan. jaringan lunak. terbentuknya fase reaktan. sinovitis akan menyebabkan berkurangnya luas gerak sendi Krepitus. c) d) e) f) g) h) i) j) k) Deformitas.

Lesi kulit dapat bermanifestasi sebagai purpura teraba atau ulserasi kulit. peradangan.l) m) n) o) p) yaitu: Gangguan fungsi. seperti dengan keterlibatan ginjal. Miokarditis. merupakan komplikasi sekunder akibat efek obat-obatan. fibrosis interstisial. dan penyakit lainnya. dan cacat konduksi kadang-kadang diamati. sering ditemukan pada berbagai atropi. 1) Kulit: nodul subkutan (nodul rheumatoid) terjadi pada banyak pasien dengan RA yang nilai RF nya normal. dan efusi perikardial tanpa gejala yang umum. Umumnya akibat pengaruh. thimble pitting onycholysis atau Pemeriksaan sendi satu persatu. adanya jari tabuh. olekranon. Serangan jantung . dan gejala perikarditis konstriktif jarang. 3) Paru: RA mempengaruhi paru-paru dalam beberapa bentuk. vaskulitis koroner. termasuk karena obat-obat (misalnya. dan neutropenia). termasuk efusi pleura . amyloidosis ). nodul (Caplan sindrom). sindrom Sjögren dengan kelainan tubulus ginjal). umumnya ditemukan pada Perubahan kuku. Hati sering terkena pada pasien dengan sindrom Felty (yaitu splenomegali. disfungsi miokard. dan penyakit yang terkait (misalnya. adanya bunyi krepitus dan bunyi lainnya. seperti bangkit dari kursi atau kekuatan menggenggam permukaan ekstensor (punggung tangan. tumit belakang. Faktor risiko non tradisional tampaknya memainkan peran penting. sering lebih dari titik-titik tekanan (misalnya. 17 . siku. meliputi pemeriksaan rentang pergerakan Rheumatoid arthritis mempengaruhi berbagai organ dan sistem lainnya. dan obliterans bronchiolitis-pengorganisasian pneumonia. penyakit katup. obat anti- inflammatory peradangan (misalnya. gangguan fungsi sendi dinilai dengan observasi pada Nodul. 5) Ginjal: Ginjal biasanya tidak terpengaruh oleh RA langsung. 4) GI: keterlibatan usus. pasien dengan RA. sacrum) serpihan darah sendi. 2) Jantung: morbiditas dan mortalitas kardiovaskular yang meningkat pada penggunaan normal.

seperti pada saraf median di carpal. 2) 3) e. kadar glukosa cairan pleura. 7) Hematologi: Sebagian besar pasien aktif memiliki penyakit anemia kronis. 9) Okular: keratoconjunctivitis sicca adalah umum pada orang dengan RA dan sering manifestasi awal dari sindrom Sjögren sekunder. 18 . 8) Neurologis: biasanya saraf jeratan. atau infark digital. antibodi antinuclear). trombositosis. 3.000-50. leucopenia. dan scleritis nodular yang dapat menyebabkan scleromalacia. multipleks mononeuritis. perikardial. dan eosinofilia. selain itu. dan sinovial pada pasien dengan RA sering rendah dibandingkan dengan kadar glukosa serum. Karena cacat transportasi.000 / uL. Parameter imunologi meliputi autoantibodies (misalnya RF. Lesi dapat hadir sebagai purpura gamblang. meskipun yang terakhir ini jarang terjadi. dan myelopathy leher rahim dapat menyebabkan konsekuensi serius neurologis. borok kulit. Analisis cairan sinovial 1) Inflamasi cairan sinovial (WBC count> 2000/μL) hadir dengan jumlah WBC umumnya dari 5. Pemeriksaan laboratorium a. seperti LED dan CRP. Mata mungkin juga episkleritis . anti-PKC. uveitis. Biasanya. lesi vasculitik. Parameter hematologi termasuk jumlah CBC dan analisis cairan sinovial. Leukopenia ditemukan pada pasien dengan sindrom Felty. trombositopenia. termasuk anemia normokromik-normositik. anti-RA33. dominasi neutrofil (60-80%) yang diamati dalam cairan sinovial (kontras dengan dominasi sel mononuklear di sinovium). b.6) Vascular: lesi vasculitik dapat terjadi di organ mana saja namun yang paling sering ditemukan di kulit. c. berhubungan dengan aktivitas penyakit. nilai CRP dari waktu ke waktu berkorelasi dengan kemajuan radiografi. Jumlah sel darah lengkap (anemia. leukositosis. d. Tanda peradangan.

Ultrasonografi: ini memungkinkan pengakuan efusi pada sendi yang tidak mudah diakses (misalnya. anti-PKC): Penelitian terbaru dari antibodi anti-PKC menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas sama atau lebih baik daripada RF. Selain itu. sendi bahu pada pasien obesitas) dan kista. 19 . Artroskopi diagnostik (histologi). kulit. g. namun hasil tes antibodi terhadap antigen subset paling nuklir negatif. anti-PKC antibodi. Pemeriksaan lainnya berupa pemeriksaan HLA-DR4 yang diagnosis awal RA 6. ginjal) dapat dipertimbangkan jika vaskulitis atau amyloidosis disarankan. dan biopsi (misalnya. lemak. seperti halnya RF. tetapi kurang dari 40% pasien dengan RA dini. rektum. 5. 4. Kehadiran kedua-anti antibodi PKC dan RF sangat spesifik untuk RA. RF ditemukan pada sekitar 60- 80% pasien dengan RA selama penyakit mereka. Radiografi: mungkin terjadi erosi ada pada kaki. e. dengan peningkatan frekuensi hasil positif di awal RA. Antibodi yang lebih baru (misalnya. pengenalan awal erosi berdasarkan citra MRI telah cukup divalidasi. Bersama aspirasi sinovial. Pemeriksaan Penunjang a. Rheumatoid factor Rheumatoid Faktor. menunjukkan prognosis yang buruk. b. bahkan tanpa adanya rasa sakit dan tidak adanya erosi di tangan. c. syaraf. Densitometri: Temuan berguna untuk membantu mendiagnosa perubahan dalam kepadatan mineral tulang yang mengindikasikan osteoporosis. d. Scanning tulang: dapat membantu membedakan inflamasi yang disebabkan peradangan atau hal lain pada pasien yang mengalami pembengkakan. sendi pinggul. h. Antibodi Antinuclear: Ini adalah hadir di sekitar 40% pasien dengan RA. anti-RA33.f. MRI: modalitas ini digunakan terutama pada pasien dengan kelainan tulang belakang leher.

Mengurangi nyeri.I. memungkinkan pasien Terapi 1: Farmakologis (Lihat table) Terapi 2 : Pendekatan Multidisiplin Ahi Bedah :Stabilisas i &pengga ntian Radiolo menjalani hidup normal yang Fisioterapi Terapi simtomatis local dan Saran Olahraga Terapi Okupasi: Pemindaian. perlindungan dan Bantuan serta adaptasi Perawatan : Pendidikan Dukungan Psikologi: Penilaian & dukungan Follow up dan nilai ulang secara teratur Gagal merespon Mulai atau ubah DMARD Stabil Beberapa mengganggu sendi Terapi fisik. mempertahan kan (mempertahankan fungsi). Menekan proses inflamasi 2. injeksi steroid intraokular 20 . PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan RA Penilaian Awal Klinis Pemeriksaan Laboratorium Mulai terapi Tujuan Terapi : 1.

KOMPLIKASI Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs. sendi.J. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot. 1. o Berikan support yang sesuai. Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas . bengkok. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kekakuan pada sendi INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh. Hal ini dapat membantu meningkatkan upaya menerima dirinya. DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid. Kondisi ini dapat membantu untuk menyadari keadaan diri. sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. sendi. bengkok. DIAGNOSA KEPERAWATAN Berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh pasien dengan artritis ditambah dengan adanya data dari pemeriksaan diagnostik. o Dorong klien untuk mandiri. o Memodifikasi lingkungan sesuai dengan kondisi klien 21 . Kemandirian membantu meningkatkan harga diri. rasa nyeri. Tujuan : klien memahami perubahan-perubahan tubuhnya akibat proses penyakit Recana/tindakan Keperawatan o Dorong klien untuk mengungkapkan rasa takut dan cemasnya mengahdapi proses penyakit. deformitas. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. Gangguan aktifitas sehari-hari berhubungan dengan terbatasnya gerakan. deformitas. maka diagnosa keperawatan yang sering muncul yaitu: Gangguan body image berhubungan dengan perubahan penampilan tubuh. Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid. K. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.

hindari fleksi leher. dan menghambat impuls-impuls nyeri serta merangsang pengeluaran endorfin. Karena gerakan-gerakan yang kasar akan semakin menimbulkan nyeri o Gunakan terapi panas misal kompres hangat pada area/bagian tubuh yang sakit. o o dislokasi dan stres pada sendi-sendi tubuh yang sakit. o Bila direncanakan klien dapat menggunakan splint. Hal ini dapat membantu menurunkan stress muskuloskeletal. Bantu dan ajari klien untuk menghindari gerakan eksternal rotasi pada ekstremitas. relaksai otot-otot. 22 . Tujuan : Kebutuhan rasa nyaman klien terpenuhi atau klien terhindar dari rasa nyeri Recana/tindakan Keperawatan o Istirahatkan klien sesuai kondisi (bed rest). o Pertahankan posisi fisiologis dengan benar atai body alignment yang baik. mengurangi tegangan otot. o Lakukan peawatan kulit dan masase perlahan. Hal ini membantu meningkatkan aliran darah relaksasi otot. o Memberikan obata-obatab sesuai terapi dokter misal. mengurangi kekakuan. menggunakan pegangan dikamar mandi. antipiretik. analgetik. Kemungkinan juga dapat membvantu pengeluaran endorfin yaitu sejenis morfin yang diproduksi oleh tubuh. hindarkan lantai yang licin. anti inflamasi. Panas dapat meningkatkan sirkulasi. Hal ini Hindari gerakan yang cepat dan tiba-tiba karena dapat menimbulkan Lakukan perawatan dengan hati-hati khususnya pada anggota-anggota dapat mencegah deformitas lebih lanjut. tetapi letakkan bantal diatara lutut. Hindarkan menggunakan bantal dibawah lutut.Nyeri berhubungan dengan perubahan patologis oleh artritis rhematoid. Risiko cedera berhubungan dengan hilangnya kekuatan otot dan sendi Tujuan : Klien terhindar dari cedera Recana/tindakan Keperawatan o Gunakan sepatu yang menyokong. dan meningkatkan relaksasi karena kelelahan dapat mendorong terjadinya nyeri. atau brace.

Tujuan : Klien akan mandiri sesuai kemampuan dalam memenuhi aktifitas seharihari Recana/tindakan Keperawatan o o Ajarkan aktifitas sehari-hari agar klien mulai terkondisi untuk melakukan Bantu klien untuk makan. hematemesis. mencegah deformitas. o o o o Rencanakan program latihan setiap hari (dapat bekerja sama dengan Lakukan observasi untuk setiap kali latihan Berikan istirahat secara periode Berikan lingkungan yang aman misal. proses penyakit dan keterbatasan-keterbatasannya. Untuk meningkatkan mobilitas dan kekuatan otot. dan hindarkan peningkatan berat badan 23 dianjurkan. Recana/tindakan Keperawatan o o Tekankan kembali tentang pentingnya latihan atau aktivitas yang Diskusi tentang diit. memperthankan fungsi semaksimal mungkin o Monitor atau observasi efek penggunaan obat-obatan misal ada perdarahan pada lambung. Gangguan aktifitas sehari-hari (defisit self care) berhubungan dengan terbatasnya gerakan. 1.o Lakukan latihan ROM (bila memungkinkan). tongkat yang ujungnya sejenis karet sehingga tidak licin Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi. menggunakan pegangan saat dokter dan fisioterapi) dikamar mandi. Untuk memelihara fungsi sendi dan kekuatan otot meningkatkan elasitias serabutserabut otot. . berpakaian. Tujuan : Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan dirumah. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan sendi Tujuan o : Mobilitas persendian klien dapat meningkat Recana/tindakan Keperawatan Bantu klien untuk melakukan ROM aktif maupun pasif. diperlukan. dan kebutuhan lain selam memang aktivitas sesuai dengan kemampuanyya dan bertahap.

Riwayat Psikososial 24 . dan pembengkakan. Pemeriksaan Fisik 1) Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing sisi (bilateral). kapan klien harus periksa ulang samping dan tanda keracunan obat. tonus yang berkurang Ukur kekuatan otot 5) Kaji tingkat nyeri. derajat dan mulainya 6) Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari c. atau pada tungkai. Ny. 3) Lakukan pengukuran passive range of mation pada sendi-sendi sinovial • • • • • Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi) Catat bila ada krepitasi Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan 4) Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara bilateral Catat bia ada atrofi. L. 2.G 60 tahun mengeluh persendian terasa kaku terutama dipagi hari dan pergelangan tangan mengalami pembengkakan yang tampak sama pada kedua tangan. Pengkajian a. Kasus Berikan jadwal obat-obatan yang ada. 2) Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien mengetahui 3) dan merasakan adanya perubahan pada sendi. G juga merasa mudah lelah dan demam yang tidak terlalu tinggi. anam dosis. Riwayat Keperawatan 1) Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan. lembut tidaknya kulit.o o o 1. tujuan/efek. ukuran. b. amati warna 2) kulit. efek Jelaskan bahwa klien harus menghindari terjadinya konstipasi Jelaskan. STUDI KASUS Ny.

G merasa mudah lelah Demam tidak terlalu tinggi Kerusakan integritas kulit tampak Intoleransi aktivitas Gangguan termoregulasi: hipertermi 4. Perawat dapat melakukan pengkajian terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image dan harga diri klien. Tingkat aktivitas / dilakukan gangguan inflamasi / rasa sakit pada sendi 2. jadwal aktivitas untuk latihan tergantung dari perkembangan ↑resolusi inflamasi 2. dan rasional Diagnosa keperawatan Tujuan hasil 1.Pasien dengan RA mungkin merasakan adanya kecemasan yang cukup tinggi apalagi pad pasien yang mengalami deformitas pada sendi-sendi area ia merasakan adanya kelemahan-kelemahan pada dirinya dan merasakan kegiatan sehari-hari menjadi berubah. WOC 5. Diagnosa. Analisa data Data Objektif Data Subjektif Masalah Keperawatan Ny. 3. G mengeluh persendian Gangguan mobolitas fisik terasa kaku terutama dipagi hari Pergelangan mengalami yang kedua tangan Data tambahan: S: 38 C o tangan pembengkakan sama pada Ny. istrahat dianjurkan eksaserbasi seluruh fase sisitemik selama akut dan penyakit dari / proses intervensi dalam 2x24 mobilitas fisik dapat kriteria hasil: pasien mempertahankan posisi fungsi dengan tidak ada komplikasi akan memberikan istirahat menerus yang dan periode terus tidur untuk mencegah kelehan. dan criteria intervensi 1. evalusi tingkat Rasional 1. mempertahankan 25 malam hari yang tidak . intervensi. pertahankan istirahat tirah baring / duduk jika diperlukan.Gangguan mobilitas Tujuan: fisik sendi bd kekakuan Setelah jam teratasi.

sirkulasi. atau teknik dan bantuan pasien dengan jumlah personil yang demonstrasikan bantu pemindahan penggunaan mobilitas 5. mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering 26 dapat . mempermudah kemandirian pasien 5. seperai teratur dan ubah ganti sesuai atau dalan 1. kaji kulit setiap hari.Diagnosa keperawatan Tujuan dan criteria intervensi terganggu 3. menghilangkan hasil (kontraktur. dengan juga dan jika 3. berjalan demikian resistif tekanan pada jaringan dan perawatan meningkatkan diri dan sirkulasi. secara posisi. kekuatan otot.kerusakan integritas kulit BD edema pada sendi Tujuan: Setelah dilakukan 1. berdiri. dekubitus). mempertahankan atau meningkatkan fungsi sendi. menentukan pada status garis dapat dan intervensi dasar dimana perubahan dibandingkan melakukan yang tepat. 2. bantu rentang gerak aktif atau pasif. ubah posisi dengan cukup. 2. memaksimalkan fungsi mempertahankan mobilitas sendi. dan stamina umum. latihan isometrik memungkinkan 4. turgor. 4. Kriteria: Menunjukan tingkah kulit dalam jam. dorong mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi. Rasional kekuatan. pertahankan instruksikan higiene kulit 3. dan sensasi 2. intervensi 2x24 kerusakan integritas dapat teratasi. meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian yang sakit.

3. Gangguan termoregulasi: hipertermi proses imflamasi Tujuan: Dalam BD gangguan termoregulasi teratasi. dorong menggunakan dapat dalam pasien 1. itoleransi aktivitas Tujuan: BD hilangnya Setelah jam kulit atau meningkatkan meningkan aliran darah kejaringan meningkatkan kesembuhan. konsul tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan masa otot 3. dan catat secara 1. hindari kontak dengan infeksi 4.Diagnosa keperawatan Tujuan dan criteria intervensi kebutuhan Rasional menjadi barier infeksi. berguna dalam membuat aktivitas individu yang sesuai dengan 2. meningkatkan gerak sendi 2. monitoring kemampuan klien. 1. memperbaiki meningkatkan 27 suhu teratur tubuh dasar deteksi dini dan evaluasi asupan 2. motivasi asupan cairan 3. untuk dapat berperan rentang gerak isometrik mulai dengan tungkai yang tidak sakit dengan ahli terapi fisik atau okupasi kekuatan atau fungsi 3. memberikan intervensi 2. Kriteria hasil: Suhu tubuh pasien dalam batas normal dapat 1x24 jam 1. mengurangi stres tekanan. jaga pasien agar tetap cairan akibat pebris dan . instruksikan pasien dapat sesuai aktif 2. meningkatkan untuk pasien latihan aliran latihan darah ke otot dan tulang. dilakukan 1. dan proses pada titik hasil laku/teknik untuk mencegah kerusakan kesembuhan. kontraksi otot isometrik tampa atau menekuk sendi menggerakkan kekuatan otot intervensi dalam 2x24 beraktivitas kemampuan Kriteria hasil: Pasian meningkatkan organ yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.

3. Secara klinis ditandai dengan nyeri. meminimalkan peningkatan metabolik 4. KESIMPULAN Penyakit reumatik adalah kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut.5-37. 28 . mengurangi metabolik laju resiko infeksi.Diagnosa keperawatan Tujuan dan criteria intervensi ⁰C) beristirahat Rasional kenyamanan pasien. hasil (36.2 suhu tubuh serta laju BAB III PENUTUP A.

dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban. B. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. 2. pembesaran sendi. 29 . SARAN Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang. Artritis rematoid adalah merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.deformitas. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah. diantaranya : 1. perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis. Dalam melakukan asuhan keperawatan. Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis. Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan. 3. pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->