BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Pleura adalah suatu lapisan ganda jaringan tipis yang terdiri dari : sel-sel mesoteliat, jaringan ikat, pembuluh-pembuluh darah kapiler, dan pembuluh-pembuluh getah bening. Seluruh jaringan tersebut memisahkan paru-paru dari dinding dada dan mediastinum. Efusi pleura sering dijumpai. Dalam keadaan normal pleura parietalis menghasilkan cairan yang direabsorpsi oleh pleura viseralis. Kelebihan produksi cairan (misalnya akibat inflamasi) atau gangguan reabsorpsi menyebabkan akumulasi cairan. Gejala sesak napas timbul pada efusi dengan jumlah yang agak banyak. Pleura mempunyai bentuk anatomi yang kompleks serta risiko kelainan patologi yang besar. Hal ini terlihat pada rongga pleura yang sewaktu-waktu dapat terkena keadaan patologis yang serius seperti efusi karena infeksi, neoplasma, hemotoraks, kilotoraks, empiema dan adanya udara karena pneumotoraks. Sedangkan tindakan peniadaan terhadap rongga pleura ini tidaklah memberikan akibat yang serius. Contoh keadaan ini dapat dilihat pada binatang gajah (mammalia), yang tidak mempunyai rongga pleura, sedangkan rongga yang potensial antara paru-paru dan dinding dada tugasnya digantikan oleh selapis jaringan yang elastis dan avaskular. 1.2 Tujuan 1. Mahasiswa prodi DIII Keperawatan dapat mengetahui definisi, etiologi, patofisiologi, 2. Mahasiswa WOC, prodi manifestasi, klinik, pemeriksaan penunjang, Asuhan komplikasi dari efusi pleura. DIII Keperawatan dapat mengetahui keperawatan pada klien dengan efusi pleura

1

BAB II PEMBAHASAN 2.1 DEFINISI Efusi pleura adalah pengumpulan cairan abnormal dalam rongga pleura rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada.

Ada beberapa jenis cairan yang bias berkumpul di dalam rongga pleura antara lain darah, nanh, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi. 1. Hemotoraks Hemotoraks adalah keadaan dimana terdapat darah dalam rongga pleura dan biasanya terjadi akibat trauma/cidera di dada penyebab lainnya adalah : pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura misal darah yang berasal dari pembuluh darah interkostalis/pembuluh pulmoner. Kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura. Gangguan pembekuan darah.

2

Obstruksi Karena limfoma malignum. Infeksi pada cedera di dada. Yang berasal dari efek operasi daerah torakolumbal. 3. Empiema bias merupakan komplikasi dari : Pneumonia. bias terjadi jika pneumonia atau abses paru dan menyebar ke dalam rongga pleura. metastasis karsinima ke mediastinum. histoplasmosis). 2. Pembedahan dada. Abses di perut. 3 . operasi leher. operasi kardiovaskular yang membutuhkan mobilisasi arkus aorta. Empiema Empiema adalah suatu keadaan dimana terdapat nanah di dalam rongga pleura.Darah di dalam rongga pleura tidak membuka secara sempurna. reseksi esophagus 1/3 tengah dan atas. Pecahnya kerongkongan. granuloma mediastinum (tuberkulosis. Kilotoraks Kilotoraks adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan kil/getah bening pada rongga pleura. Trauma Yang berasal dari luar seperti penetrasi pada leher dan dada. sehingga biasanya mudah dikeluarkan melalui sebuah jarum atau selang. atau pukulan pada dada (dengan/tanpa fratur). Adapun sebab-sebab terjadinya kilotoraks antara lain : Kongental Sejak lahir tidak terbentuk (atresia) duktus torasikus. tapi terdapat fistula antara duktus torasikus rongga pleura.

Penarikan oleh jaringan fibrin dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan pergeseran mendiastinum kea rah sisi fibrotoraks dan terjadinya hiperinflasi paru kontralateral dan seterusnya mengurangi fungsi respirasinya. Disamping itu terdapat juga penyakit trombosis vena subklavia dan nodul-nodul tiroid yang menekan duktus torasikus dan menyebabkan kilotoraks. Fibrotoraks Fibrotoraks adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan fibrin di dalam rongga pleura yang kemudian menjadi jaringan non elastis dan membuat kedua lapisan pleura jadi melengket satu sama lain. Tapi kadang-kadang peel ini melengket dengan kuat pada pleura dan jaringan paru dibawahnya dan hanya dapat dilepaskan dengan operasi/sayatan pembebasan pleura yang dikenal sebagai dekortikasi. 4. Peel ini berwarna agak kemerahan (jingga) dan dapat dilepaskan dari permukaan paru. Fibrotoraks dapat menyebabkan mengecilnya pengembangan paru dan berkurangnya fungsi ventilasi paru sampai tidak berfungsi sama sekali. tapi ini salah karena pleura yang menebal. tapi sekarang agak jarang karena fibrotoraks dapat dicegah dengan pengaliran keluar dengan segera cairan empiema. hemotoraks dan efusi yang kronis. tapi ini salah karena pleura tidak dapat menebal melainkan ia ditutupi suatu lapisan jaringan padat yang disebut peel. empiema atau pleuritis tuberkulosa yang lama. 4 . Pada anak dengan fibrotoraks dapat terjadi scoliosis dan malah bertahun-tahun kemudian dapat menimbulkan gagal pernafasan (respiratory distress). Dulunya dekortikasi ini banyak dikerjakan untuk memperbaiki fungsi paru.Penyakit-penyakit ini memberi efek obstruksi dan juga perforasi terhadap duktus torasikus secara kombinasi. Lapisan fibrin yang abnormal sering disebut juga sebagai pleura yang menebal. Hal ini disebabkan tidak sempurnanya pengaliran hemotoraks.

Kardiovaskuler Gagal kongestif Gagal kongestif (payah jantung) merupakan salah satu penyebab efusi pleura. pneumonia Di Indonesia 80% karena TBC adapun penyebab lain efusi pleura yang lain antara lain : 1. akan meningkatkan permeabilitas pleura terhadap air dan protein. Pembentukan cairan yang berlebihan karena adanya radang. Patogenesisnya adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada sehingga terjadi peningkatan iltrasi pada pleura parietal. Disamping itu peningkatan tekanan kapiler pulmonai akan menurunkan kapasitas reabsorbsi pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongga pleura dan paru-paru meningkat.2 ETIOLOGI Dalam keadaan normal. 2. Adanya masa tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya timbul hipoproteinemia. 5 . Terdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura pada neoplasma yakni : 2. Misalnya : Tuberculose. Misalnya : pada decompensasi eordis. cairan pleura dibentuk dalam jumlah kecil untuk melumasi permukaan pleura (pleura adalah selaput tipis yang melapisi rongga dada dan membungkus paru-paru).2. Efusi pleura terjadi karena : 1. Hambatan reasorbsi cairan dari rongga pleura karena adanya bendungan. Dengan menumpuknya sel-sel tumor. Neoplasma Neoplasma primer ataupun sekunder (metastasis) dapat menyerang pleura dan umumnya menyebabkan efusi pleura. penyakit ginjal dan syndrome vena karva superior. tumor mediatinum.

efusi pleura dan asitesnya pun segera menghilang. 3. - Perikarditis Sirosis hepatis Efusi pleura dapat terjadi pada penderita dengan sirosis hati. Efusi terjadi pada salah satu paru maupun bilateral. Kebanyakan efusi pleura timbulnya bersamaan dengan asites. Keadaan ini dapat disertai infark paru atau pun tanpa infark. - Dialisis Peritoneal Efusi pleura dapat terjadi selama dan sesudah dilakukannya dialisis peritoneal. karena terdapat hubungan fungsional antara rongga pleura dan rongga abdomen melalui saluran getah bening atau celah jaringan otot diafragma. sehingga terjadi iskemia maupun kerusakan parenkim paru dan memberikan peradangan dengan afusi yang berdarah (warna merah). Adanya massa di rongga pelvia disertai asites dan eksudat cairan pleura sering ditafsirkan sebagai neoplasma dan metastasisnya. Kebanyakan efusi menempati pleura kanan (70%) dan efusi bisa juga terjadi bilateral. Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma. Patogenesis terjadinya efusi pleura ini masih belum diketahui betul. Emboli menyebabkan menurunnya aliran darah arteri pulmonalis. Hal ini terbukti 6 . - Sindrow Meig Tahun 1937 Meig dan Cass menemukan penyakit tumor pada ovarium (jinak atau ganas) disertai asites dan efusi pleura. Penyakit abdomen. Bila tumor ovarium tersebut dibuang.- Emboli pulmonal Efusi pleura dapat terjadi pada sisiparu yang terkena emboli pulmonal. Secara khas terdapat kesamaan antara cairan asites dengan cairan pleura.

Rickettsia dan Mikoplasma. E. Jamur (fungi) Pleuritis karena fungi amat jarang. Histoplasmosis. Aspergillus. Bentuk tropozoitnya dating dari perenkim hati menembus diafragma terus ke parenkim paru dan rongga pleura. Chlamydia. Kriptokokus. Coxsackie group. Klebsiela. Peptostreptokokus. Virus dan Mikoplasma Efusi pleura karena virus atau mikoplasma agak jarang. dan jarang yang melalui penetrasi diafragma. 4. Parasit Parasit yang dapat menginfestsi kedalam rongga pleura hanyalah ameba. Jenis fungsi penyebab pleuritis adalah : Aktinomikosis. Biasanya terjadi karena penjalaran infeksi fungsi dari jaringan paru. dinding dada atau esofagus. Infeksi Bakteri (bakteri piogenik) permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. Hemofilus spp. Pseudomonas spp.dengan samanya komposisi antara cairan pleura dengan cairan dialisat. Bila terjadi jumlahnya pun tidak banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Koksidioidomikosis. Fusobaktereium. Streptokokus mileri. koli. Efusi 7 . Bilastomikosis. Jenis-jenis virusnya adalah : ECHO virus. Bakteri yang sering ditemukan adalah :  Aerob : Streptokokus pneumonia.  Anaerob : Bakteroides spp. Stafilokokus aureus.

Lain-lain  Lupus erimatosus sistemik Dari etiologi di atas bisa terjadi yang berbeda : 1. yang sering kali disebabkan oleh penyakit paru-paru. PATOFISIOLOGI & WOC Pada orang normal. cairan di rongga pleura sebanyak 10-20 cc. Efusi pleura Transudativa. 5. Akumulasi cairan dapat terjadi : 1. reaksi obat. Keadaan ini dapat dipertahankan karena adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatik pleura parietalis sebesar 9 cm H2O dan tekanan koloid osmotik pleura viseralis sebesar 10 cm H2O. Efusi pleura eksudativa terjadi akibat peradangan pada pleura. neoplasma) 8 . 2.  Tekanan koloid osmotik menurun dalam darah Missal : Hypoalbuminemia Terjadi Peningkatan Permeabilitas kapiler (peradangan. Kanker.3. Cairan ini jumlahnya tetap karena adanya keseimbangan antara produksi cairan oleh pleura parietalis dan absorbsi oleh pleura viseralis.pleura karena parasit ini terjadi karena peradangan yang ditimbulkannya. Jenis efusi transudativa yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung kongestif. 2. tuberculosis dan infeksi paru lainnya. asbetosis dan sarkoidosis merupakan beberapa contoh penyakit yang bias menyebabkan efusi pleura eksudativa. biasanya disebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paru-paru.    Artritis rematoid Sindrom nefrotik Uremia 2.

Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. 2. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan transudasi cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura 5. gagal jantung kiri dan sindroma vena kava superior.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal jantung kanan. Meningkatnya kadar protein dalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak cairan masuk ke dalam rongga pleura 4. baik karena obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis 3. Meningkatnya tekanan intravaskuler dari pleura meningkatkan pembentukan cairan pleura melalui pengaruh terhadap hukum Starling. Saluran limfe bermuara pada vena untuk sistemik. jantung kiri)  Tekanan hydrostatic di pembuluh darah ke jantung (kegagalan Tekanan negative intra pleura (atelektasis) Akumulasi cairan pleura dapat terjadi bila: 1. Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis. Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan menghambat pengosongan cairan limfe 9 .

neoplasma. cedera. infeksi. cairan dari rongga Efusi Pleura Akumulasi cairan yang berlebihan di rongga pleura Pe menurun ekspansi paru Nyeri Proses Peradangan pada rongga pleura Pengeluaran endrogen dan pirogen Febris Demam Ketidak efektifan pola nafas Pe ↓ suplai O2 Gangguan rasa nyaman (hipertermi) Resiko tinggi Infeksi Fungsi Pleura (torakosentesis) Aspirasi Cairan pleura melalui jarum Sesak Napas Gangguan Pertukaran gas Kelemahan Intoleransi Aktifitas 10 .WOC TBC 80% Proses Peradangan Pembentukan Cairan yang berlebihan Kardiovaskular. penyakit abdomen. dll Adanya bendungan cairan dalam rongga preula Hambatan Rearbsobsi.

Pertama. tekanan jaringan negatif elastis tekanan hidrostatis pembuluh darah ke jantung / v.pulmonalis ( kegagalan jantung kiri ). sejumlah cairan abnormal dapat terakumulasi di rongga pleura. i n t r a p l e u r a (atelektasis ). Tekanan hidrostatik pleura parientalis 9 cm H2O2.Ada tiga faktor yang negatif paru yang normal ini.D a s a r I l m u P e n y a k i t D a l a m . Tetapi. Selain itu.2002).Pada orang normal. Abdul Mukty. Keadaan ini dapat dipertahankankarena adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatis pleura parientalis sebesar 9 cm H 2O dan tekanan koloid osmotic pleura viceralis. sehinggatetap ada kekuatan kontinyu yang cenderung memisahkannya.1 ml/kgBB/hariSecara garis besar akumulasi cairan pleura disebabkan karena dua hal yaitu:1. Tekanan osmotik pleura viceralis 10 cm H2O3. misalnya reaksi radang yang meningkatkan permeabilitasv a s k u l e r . kontinu yang cenderung paru memberikan mempertahankan tekanan menarik paru-paru menjauh dari rangka thoraks. Cairanpleura tersebut terakumulasi ketika pembentukan cairan pleura lebih dari padaabsorbsi cairan pleura.n e o p l a s m a ) . permukaan pleura viseralis danpleura parietalis yang saling menempel itu tidak dapat dipisahkan. Produksi cairan 0.M e n u r u t H o o d A l s a g a f f d a l a m b u k u n y a D a s a r . cairan di rongga pleura sebanyak 10-20 cc. Faktor utama kedua dalam mempertahankan tekanan negatif i n t r a p l e u r a menurut Sylvia Anderson Price dalam bukunya Patofisiologi 11 . Pembentukan cairan pleura berlebihHal ini dapat terjadi karena peningkatan: permeabilitas di kapiler (keradangan. hipoprotonemia dapat m e n y e b a b k a n e f u s i p l e u r a k a r e n a rendahnya tekanan osmotic di kapiler darah ( Hood Alsagaff dan H. Kekuatan inidikenal sebagai kekuatan negatif dari ruang pleura. keadaan normal pada cavum pleura dipertahankan oleh:1. Namun dalam keadaantertentu. Cairan di ronggap l e u r a j u m l a h n y a t e t a p k a r e n a a d a k e s e i m b a n g a n a n t a r a p r o d u k s i o l e h p l e u r a parientalis dan absorbsi oleh pleura viceralis.

misalnya pada hipoalbuminemi.Pada orang sehat pleura terletak pada posisi yang sangat dekat satu samalain dan hanya dipisahkan oleh cairan serous yang sangat sedikit.peningkatan tekanan vena sentral tempat masuknya saluran limfe dan tekananosmotic koloid yang menurun dalam darah.gangguan kontraksi saluran limfe. C a i r a n d a l a m k e a d a a n normal akan bergerak dari kapiler di dalam pleura parietalis ke ruang pleuradan kemudian di serap kembali melalui pleura viseralis. m e n g a t u r d a n m e m p e r t a h a n k a n t e k a n a n n e g a t i f i n t r a pleura normal. infiltrasi pada kelenjar getah bening.adalah kekuatano s m o t i c y a n g t e r d a p a t d i s e l u r u h m e m b r a n p l e u r a . bergesekan yangberfungsi denganmudah untuk selama diantara melicinkan bernafas. Penurunan kemampuan absorbsi sistem limfatik Hal ini disebabkan karena beberapa hal antara lain: obstruksi stomata. Sejumlah kecil protein secara normal memasuki ruang pleuratetapi akan dikeluarkan oleh sistem limfatik dalam pleura parietalis.Faktor ketiga yang mendukung tekanan negatif intrapleura adalah kekuatanpompa limfatik. yang abnormal dapat terkumpul jika tekanan vena karenadekompensasi cordis atau tekanan vena cava 12 . pergerakan cairan bergantung pada selisih perbedaan antara tekananh i d r o s t a t i k d a r a h yang cenderung mendorong cairan keluar dan tekananonkotik dari protein plasma yang cenderung menahan cairan agar tetap d i dalam. transudat dan dari membuat keduanya serous dan Sedikitnya cairan menyebabkankeseimbangan Jumlah cairan meningkat kapiler pleura reabsorbsi olehvena dan jaringan limfatik di selaput visceral dan parietal.Sistem limfatik punya kemampuan absorbsi sampai dengan 20 kali jumlahcairan yang terbentuk. Selisih perbedaan absorbsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebihbesar daripada selisih perbedaan pembentukan cairan parietalis dan permukaanp l e u r a v i s e r a l i s l e b i h b e s a r d a r i p a d a p l u r a p a r i e t a l i s s e h i n g g a p a d a r u a n g pleura dalam keadaan normal hanya terdapat beberapa milliliter cairan. Pergerakan cairanpleura dianggap mengikuti hukum Starling tentang pertukaran trans kapiler yaitu. Ketigaf a k t o r i n i k e m u d i a n .2.

Efusi yang disebabkan oleh inflamasi pleura selalusekunder terhadap proses inflamasi yang melibatkan paru. Cairan eksudat ini sesuaidengan yang sudah di jelaskan sebelumnya. ginjal. atauhati. tapi bisa juga t e r j a d i secara spontan saat subpleural rupture atau sobeknya adhesi pleural (SylviaAnderson Price dan Lorraine.oleh tumor intrathorax. kebanyakan ditemukan pada pasien yang menderitaoedemumum sekunder terhadap penyakit yang melibatkan jantung. kondisi ini merujuk padahemothorax. Eksudat pleura lebih pekat. pucat. lebih gelap sel dan konsistensinya pleura kental tanpa karena meningkatkanyakandungan PMN. Pada tahap awal. 2005: 739 2. Pada tahap awal.S e l a i n efusi itu. dimana pada umumnya limfatik akan mendominasi. ada serabut pleurayang kering tapi ada sedikit peningkatan cairan pleura. Bila efusicepat permulaanya.Efusi peradangan menghasilkan cairan serous yang jernih. dan agak menggumpal.berwarna jerami.esophagus atau ruang subdiafragmatik.4. cairan ini merupakan transudat. selalu ada peningkatan cairan pleura. dan s e r i n g disebut serous atau serofibrinous. Biasanya hal ini disebabkan oleh kecelakaan penetrasi traumatik d a r i d i n d i n g dada dan menyobek arteri intercostalis. tidak terlalu jernih. dan tidak menggumpal. cairan pleuray a n g berupa eksudat ini bening. Bila cairan di ruang pleura terdiri dari darah. memiliki banyak fibrinogen.biasanya terjadi pada penyakit yang dapat mengurangi tekanan osmotic darahatau retensi Na. atau dengan neoplasma. Pada tahap selanjutnya akan menjadi kurangjernih. a t a u k a r e n a a d a n y a percampuran dengan drainase limfatik.selama lesiberkembang. seperti p n e u m o n i a a t a u T B C . hypoprotonemia dapat menyebabkan p l e u r a k a r e n a rendahnya tekanan osmotic di jenis ini biasanya terjadi karena kapailer darah. banyak leukosit terbentuk. Cairan p l e u r a rusaknya dinding kapiler melaluiproses suatu penyakit. MANIFESTASI KLINIS 13 .. mediastinum.

Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penuntun waktu melakukan aspirasi cairan dalam rongga pleura. Foto dada juga dapat menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat jantung yang membesar. adanya lesi tulang yang destruktif pada keganasan. Demikian juga dengan pemeriksaan CT Scan dada. Gejala lain timbul nerdasarkan penyakit dasarnya seperti : • • • • • • • • Bising jantung (pada payah jantung) Lemas disertai berat badan yang menurun (pada neoplasma) Batuk yang kadang-kadang berdarah pada perokok (karsinoma) Tumor di organ lain (metastasis) Demam subfebril (pada tuberculosis) Demam menggigil (pada empiema) Asites (pada sirosis hepatitis) Asites dengan tumor di pelvis (pada sindrom Meig) 2.5. USG Dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan. Jumlahnya sedikit dalam rongga pleusa. dan adanya densitas parenkim yang lebih keras pada pneumonia atau abses paru. Rontgen dada Roentgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis ofusi pleura yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk memperkuatdiagnosa efusi pleura antara lain : 1. 14 . adanya masa tumor. 2.Gejala yang paling sering ditemukan adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam).

Pelaksanaan torakosentesis sebaiknya dilakukan pada penderita dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan toraks. Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis. pada bagian bawah paru di sela iga IX garis aksilaris posterior dengan memakai jarum Abbocath nomor 14 atau 16. CT Scan Dada CT scan dada dapat menunjukkan adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya sehingga sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. tapi diperkirakan karena adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal. 5. Adalah lebih baik mengerjakan aspirasi berulang-ulang daripada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleural shock (hipotensi) atau edema paru.3. 4. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya pneumonia. Torakosentesis adalah pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sel iga ke dalam rongga dada di bawah pengaruh pembiasan lokal dalam dan berguna sebagai sarana untuk diuagnostik maupun terapeutik. Hanya saja pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal. Biopsi Pleura Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya maka dilakukan biopsi dimana contoh lapisan pleura 15 . Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul. Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlalu cepat. abses paru atau tumor. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000 – 1500 cc pada setiap kali aspirasi.

ini menunjukkan adanya empiema. dapat dilakukan beberapa biopsi ulangan.5 < 200 < 0. Bila ternaya hasil biopsi pertama tidak memuaskan. Analisa cairan pleura Untuk diagnostic cairan pleura.Kadar protein dalam efusi Kadar protein dalam serum . dilakukan pemeriksaan : a. keganasan. hemotoraks. infark paru.6 > 1.5 > 200 > 0.6 < 1. Biokimia Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. < 0. Bila merah tengguli.Rivalta Transudat < 3. Pemeriksaan histologi satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat menunjukkan 50 -75% diagnosis kasuskasus pleuritis tuberkulosa dan tumor pleura. artitis reumatoid dan neoplasma 16 .016 negatif Eksudat > 3.Kadar LDH dalam efusi (I. Pada sekitar 20% penderita. Bila kuning kehijauan dan agak purulen. samping pemeriksaan tersebut di atas. . penyebaran infeksi atau tumor pada dinding dada. Komplikasi biopsi antara lain pneumotoraks.Kadar protein dalam efusi (g/dl) . ini dapat terjadi pada trauma. Biasanya merendah pada penyakitpenyakit infeksi.Berat jenis cairan efusi . > 0. adanya kebocoran aneurisma aorta.sebelah luar untuk dianalisa. ini menunjukkan adanya abses karena ameba b. Warna Cairan Biasanya cairan pleura berwama agak kekuning-kuningan (serousxantho-ctrorne Bila agak kemerah-merahan. penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh.U) .Kadar LDH dalam efusi Kadar LDH dalam Serum .016 positif Di. secara biokimia diperiksakan juga pada cairan pleura : kadar pH dan glukosa. 6.

hitung sel darah merah. Sel limfosit : menunjukkan adanya infeksi kronik seperti pleuritis tuberkulosa atau limfoma malignum Sel mesotel : bila jumlahnya meningkat. Kleibsiella.E : pada lupus eritematosus sistemik d.- kadar amilase. Pseudomonas. Bakteriologi Biasanya cairan pleura steril. Jenis kuman yang sering ditemukan dalam cairan pleura adalah : Pneumokok. sel jaringan Protein total Rasio protein cairan pleura terhadap seum > 0. c. E. coli. tapi kadang-kadang dapat mengandung mikroorganisme. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan metastasis adenokarsinoma. Sel neutrofil : menunjukkan adanya infeksi akut. Pemeriksaan Laboratorium terhadap cairan pleura dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Pemeriksaan Laboratorium Terhadap Cairan Pleura Hitung sel total Hitung diferensial. ini menunjukkan adanya infark paru. apalagi bila cairannya purulen. (menunjukkan empiema).5 17 . terutama bila ditemukan sel-sel patologis atau dominasi sel-sel tertentu. Entero-bacter. kultur cairan terhadap kuman tahan asam hanys dapat menunjukkan yang positif sampai 20%. Pada pleuritis tuberkulosa. Efusi yang purulen dapat mengandung kuman-kuman yang aerob ataupun anaerob. Sitologi Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk diagnostik penyakit pleura. Sel mesotel maligna : pada mesotelioma Sel-sel besar dengan banyak inti : pada arthritis rheumatoid Sel L. Biasanya juga ditemukan banyak sel eritrosit.

mempunyai korelasi yang tinggi dengan diagnosis lupus aritematosus sistemik 7. Bronkoskopi Bila terdapat organisme.menunjukkan suatu eksudat Laktat dahidrogenase Pewarnaan Gram dan tahan asam Biakan Biakan kuman aerob dan anerob. biakan jamur dan mikobakteria harus ditanam pada lempeng Glukosa Glukosa yang rendah (< 20 mg/dL) bila gula darah normal menunjukkan infeksi atau penyakit reumatoid Amylase pH Meningkat pada pankreatitis. Keadaan dengan pH < 7. dapat membantu membedakan hemotoraks dari torasentesis traumatik Komplemen Preparat sel LE Dapat rendah pada lupus eritematosus sistemik Bila positif. robekan esofagus Efusi parapneumonik dengan pH > 7. menunjukkan empiema 18 .2 dapat diharapkan untuk sembuh tanpa drainase kecuali bila berlokusi.0 menunjukkan infeksi yang memerlukan drainase atau adanya robekan esophagus. Sitologi Hematokrit Dapat mengidentifikasineoplasma Pada cairan efusi yang banyak darahnya.

Dengan memakai bronkoskop yang lentur dilakukan beberapa biopsy. Caranya yaitu dengan dilakukan insisi pada dinding dada (dengan resiko kecil terjadinya pneumotoraks). maka dimasukkan sebuah selang melalui dinding dada. Torakoskopi (Fiber-optic pleuroscopy) Torakoskopi biasnya digunakan pada kasus dengan neoplasma atau tuberculosis pleura. Cairan dikeluarkan dengan memakai penghisap dan udara dimasukkan supaya bias melihat kedua pleura. 2. Jika jumlah cairan yang harus dikeluarkan lebih banyak. maka periu diiakukan tindakan drainase (pengeluaran cairan yang terkumpul).Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul. Torakosentesis biasanya dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Scanning Isotop Scanning isotop biasanya digunakan pada kasus-kasus dengan emboli paru. PENATALAKSANAAN MEDIS Jika jumlah cairannya sedikit. 9.5 liter. Penanganan Akut dan Penanganan Kronis Pada Efusi Pleura 19 . sehingga menyebabkan penekanan maupun sesak nafas. abses paru dan lain-lain 8. Bronkoskopi biasanya digunakan pada kasuskasus neoplasma. dimana sebuah jarum (atau seJang) dimasukkan ke dalam rongga pleura. Jika jumlah cairannya banyak. korpus alineum dalam paru. mungkin hanya perlu dilakukan pengobatan terhadap penyebabnya.6. Cairan bisa dialirkan melalui prosedur torakosentesis. tetapi pada prosedur ini juga bisa dikeluarkan cairan sebanyak 1.

Efusi yang berlokulasi dan empiema membutuhkan drainase. A. Efusi berulang yang luas misalnya yang menyertai neoplasma dapat membutuhkan drainase berulang kali dengan torasentesis atau torakotomi pipa. efusi yang menyertai asites. Efuai pleura simtomatik membutuhkan drainase cairan dengan torasentesis atau torakotomi pipa. Bila jumlah yang lebih banyak ingin dikeluarkan. Empiema Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah. Torakotomi pipa biasanya sudah memadai. B. suatu efusi eksudatif yang terinfeksi. harus ada selang waktu 1 jam di antara tiap tindakan drainase. Bila efusi terbentuk kembali setelah 2 atau 3 kali dilakukan drainase. Empiema. Adapun penanganan pada : 1.Penanganan akutefusi pleura. atau mekloretamin. Penanganan kronis efusi pleura A.2. efusi parapneumonik dengan pH > 7. Penanganan yang pasti terdiri atas pengenalan dan terapi penyakit primer secara cepat. tetapi kadang-kadang diperlukan drainase bedah. 50 mg dalam 50 mL garam faal. 20 .5 L cairan boleh dibuang sekaligus untuk mencegah edema paru-paru akibai reekspansi. harus dicoba skleroterapi dengan bahan kimia misalnya tetrasiklin. Tak lebih dari 1-1. B. Efusl yang mengalir bebas (misalnya. Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa. 10 mg dalam 50 mL air steril. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluardari pleura (dekortikasi). C. maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. memerlukan drainase lewat torakotomi pipa tertutup kalau efusi berlokulasi atau kalau pH caiian pleura kurang dari 7.2) biasanya sembuh setelah penyakit yang mendasari diobati dan tidak membutuhkan terapi khusus.

Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening. Hemotoraks Jika darah memasuki rongga pleurahempotoraks biasanya dikeluarkan melalui sebuah selang. Infeksi. Kilotoraks Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening. Pengumpulan cairan dalam ruang pleura dapat rrangakibatkan infeksi (empiema primer).8. 2. Antibiotika awal dipilih B. Jika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang. menyebabkan sedikit demam.1. karena selama jangka waktu ini lapisan pleura masih belum terorganisasi dengan baik (fibrotik) sehingga pengangkatannya lebih mudah. Dekortikasi paling baik dilakukan dalam 6 minggu setelah diagnosis empiema ditegakkan.2. Empiema primer dan sekunder harus didrainase dan diterapi dengan antibiotika untuk mencegah reaksi fibrotik. Pleura yang fibrotik juga dapat menjadi sumber infeksi kronis.8. Dekortikasi-reseksi pleura lewat pembedahan-mungkin diperlukan untuk membasmi infeksi dan mengembalikan fungsi paru-paru.7. maka perlu dilakukan tindakan pembedahan 3. Pengkajian Keperawatan 21 . 2. ASUHAN KEPERAWATAN 2. Pilihan antibiotika dapat diubah setelah hasil biakan diketahui. KOMPLIKASI EFUSI PLEURA A. Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase). Fibrosis pada sebagian paru-paru gambaran klinik. dan efus pleura dapat menjadi terinfeksi setelah tindakan torasentesis {empiema sekunader). dapat mengurangi ventilasi dengan membatasi pengembangan paru.

Palpasi toraks dapat memperlihatkan sisi toraks yang Perkusi pada daerah efusi memperlihatkan bunyi pekak. BAB III PENUTUP 3.1. Atelektasis pada batas efusi dapat menimbulkan egofoni (perubahan « I » ke « E »). - Pemeriksaan Fisik 1. Auskultasi mengungkapkan berkurang atau hilangnya mengalami efusi terlambat berekspansi Fremitus taktil tak ada. bunyi nafas pada daerah efusi. Kesimpulan Efusi pleura adalah pengumpulan cairan secara abnormal dalam rongga Pleura (rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada).- Riwayat Efusi pleura harus dicurigai pada pasien yang mengeluh nyeri dada atau dispnea. Hemotoraks (terdapat darah dalam rongga pleura) Empiema (terdapat nanah dalam rongga pleura) Kilotoraks (terdapat getah bening dalam rongga pleura) Fibrotoraks (terdapat getah bening dalam rongga pleura) Fibrotoraks (terdapat fibrin dalam rongga pleura) 22 . harus dicari kemungkinan penyebab utamanya lewat anamnesis. Ada beberapa jenis cairan yang bisa terkumpul didalam rongga pleura antara lain darah. 2. 3. Bila efusi pleura telah dipastikan melalui pemeriksaan fisik dan radiografi toraks. nanah dan cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi.

Pengantar Ilmu Paru Surabaya : Airlangga University Press. Ilmu Penyakit dalam edisi jakarta : Balai Penerbit FKUI Amin. dll. Jay H. www.2001. uremia.Adapun etiologi dari efusi pleura adalah sebagai berikut : Neoplasma. infeksi. Muhammad.medicastore.2001. kardiovaskuler. penyakit abdomen.1990.com 23 . sindrom nefrotik.1989. Dan manifestasi klinisnya tyaitu biasanya sering terjadi: sesak Nyeri dada Bisisng jantung Demam menggigil Batuk yang kadang2 berdarah dll. Disamping itu pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan 1) Rontgen Dada 2) USG Dada 3) CT Scan Dada 4) Scanninbg Isotop 5) Brankoskopi 6) Torakoskopi DAFTAR PUSTAKA Soeparman dkk. Keperawatan Medikal Bedah.Panduan Klinik Ilmu Penyakit dalam Jakarta : EGC Swearingen. Jakarta :EGC. Stein.