BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Secara umum Status Asmatikus adalah penyakit asma yang berat disebabkan oleh peningkatan respon dari trachea dan bronkus terhadap bermacam ±macam stimuli yang ditandai dengan penyempitan bronkus atau bronkhiolus dan sekresi yang berlebih ± lebihan dari kelenjar ± kelenjar di mukosa bronchus. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor yang

mempengaruhi, baik dari faktor ekstrinsik dan instrinsik. Di dalam Faktor Ekstrinsik memperlihatkan Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara ( antigen ± inhalasi ), seperti debu rumah, serbuk ± serbuk dan bulu binatang, sedangkan pada faktor instrinsik nya memperlihatkan bahwa asma timbul akibat infeksi baik itu virus, bakteri dan jamur, cuaca iritan, bahan kimia, emosional, dan aktifitas yang berlebihan. Penyakit asma ini berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari, yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian. Asma diklasifikasikan sebagai penyakit, intermiten reversibel, obstruktif dari paru-paru. Ini adalah berkembang masalah kesehatan di Amerika Serikat, dengan sekitar 20 juta orang terkena dampak. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah anak dengan asma telah meningkat nyata, dan tidak terkemuka serius penyakit kronis pada anak-anak. Sayangnya, sekitar 75% anak dengan asma terus memiliki masalah kronis di masa dewasa. Jumlah kematian setiap tahunnya dari asm telah meningkat a lebih dari 100% sejak tahun 1979 di Amerika Serikat. Asma adalah penyakit saluran udara yang ditandai oleh peradangan saluran napas dan hyperreactivity (Meningkat tanggap terhadap berbagai

1

pemicu). Hyper-reaktivitas mengarah ke saluran napas karena onset akut kejang otot pada otot polos dari tracheobronchial obstruksi pohon, sehingga mengarah ke lumen menyempit. Selain kejang otot, terdapat pembengkakan mukosa, yang menyebabkan edema. Terakhir, kelenjar lendir peningkatan jumlah, hipertrofi, dan mengeluarkan lendir tebal. Pada asma, kapasitas total paru (TLC), kapasitas residu fungsional (FRC), dan sisa volume (RV) meningkat, tetapi tanda penyumbatan saluran napas adalah pengurangan rasio paksa expiratory volume dalam 1 detik (FEV1) dan FEV1 dengan kapasitas vital paksa (FVC). Sebuah alergen (antigen) diperkenalkan untuk tubuh, dan kepekaan seperti antibodi imunoglobulin E (IgE) terbentuk. IgE antibodi mengikat untuk sel mast jaringan dan basofil di mukosa bronkiolus, jaringan paru-paru, dan nasofaring. Antigen-antibodi reaksi melepaskan zat mediator primer seperti histamin dan zat bereaksi lambat dari anaphylaxis (SRS-A) dan lainlain. Ini menyebabkan mediator kontraksi kelancaran otot dan edema jaringan. Selain itu, sel goblet mengeluarkan lendir tebal ke saluran udara yang menyebabkan obstruksi. Asma intrinsik hasil dari semua penyebab lain kecuali alergi, seperti infeksi (Khususnya virus), menghirup iritasi, dan penyebab lainnya atau etiologi. The parasimpatis sistem saraf menjadi terangsang, yang meningkatkan nada bronchomotor, mengakibatkan

bronkokonstriksi. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Setelah mempelajari makalah ini mahasiswa Keperawatan A6.1 Universitas Respati yogyakarta dapat mengetahui tentang penyakit asma tikus dan asuhan keperawatan terhadap klien dengan penyakit asmatikus. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa dapat mengetahui definisi penyakit asmatikus

2

b. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi penyakit asmatikus c. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala penyakit asmatikus d. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi penyakit asmatikus e. Mahasiswa dapat mengetahui pathway penyakit asmatikus f. Mahasiswa dapat mengetahui Penatalaksanaan dan asuhan

keperawatan penyakit asmatikus.

3

(Polaski : 1996). obat-obatan tertentu seperti aspirin. terhadap usaha menanggulangi sumbatan saluran 4 . Asthma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten. harus ditanggulangi secara tepat dan diutamakan pernapasan. Keadaan tersebut harus dicegah dengan memperhatikan faktor-faktor yang merangsang timbulnya serangan (debu. Status asmatikus merupakan kedaruratan yang dapat berakibat kematian. berlangsung dalam beberapa jam sampai beberapa hari. stress emosi. b. Definisi Asthma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme ( kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas ). reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001). oleh karena itu : a. (Joyce M. Asmatikus adalah Suatu serangan asma yang berat. yang tidak memberikan perbaikan pada pengobatan yang lazim. Asthma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. serbuk. dan lain-lain). Black : 1996). makanan tertentu.BAB II TINJAUAN TEORI A. Apabila terjadi serangan. infeksi saluran napas.

suhu udara. minyak wangi.Status asmatikus adalah suatu keadaan darurat medic berupa serangan asam berat kemudian bertambah berat yang refrakter bila serangan 1 ± 2 jam pemberian obat untuk serangan asma akut seperti adrenalin subkutan. Manifestasi Klinik 1. angin dan kelembaban dihubungkan dengan percepatan.Virus yang menyebabkan ialah para influenza virus. . atau antagonis tidak ada perbaikan atau malah memburuk. 2. Iritan bahan kimia.Jamur. Dyspnea dengan lama ekspirasi.otot asesori pernapasan 5 . . 3. cemas dan tegang. penggunaan otot. B. Emosional : takut. misalnya pertusis dan streptokokkus. 4. seperti debu rumah. polutan udara. misalnya berlari. 5. 6. Wheezing 2. aminofilin intravena.Bakteri. serbuk ± serbuk dan bulu binatang. Cuaca : Perubahan tekanan udara. Aktifitas yang berlebihan. asap rokok. Faktor Ekstrinsik Asma yang timbul karena reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh adanya IgE yang bereaksi terhadap antigen yang terdapat di udara (antigen±inhalasi). C. respiratory syncytial virus (RSV). misalnya aspergillus. Etiologi 1. Faktor Intrinsik a) Infeksi : .

Pathofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Sianosis 7. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya.3. Kecemasan. bermain. labil dan penurunan tingkat kesadarn 9.faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor . bahkan bicara D. 2003) Pada asma. zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient). Diaphoresis 6. Tidak toleran terhadap aktifitas : makan. Pernapasan cuping hidung 4. (Tanjung. diantaranya histamin. diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi 6 . Nyeri abdomen karena terlibatnya otot abdomen dalam pernapasan 8. 2003) Pada asma. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat. berjalan. Batuk kering ( tidak produktif) karena secret kental dan lumen jalan napas sempit 5. (Tanjung.

Pathway Telampir. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest. Pemeriksaan Penunjang A. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini menyebabkan dispnea. infeksi) b) Kontraksi otot polos c) Edema mukusa d) Hipersekresi e) Penyempitan saluran pernapasan (obstruksi) f) Hipoventilasi g) distribusi ventilasi tak merata dengan sirkulasi darah paru h) Gangguan difusi gas di alveoli i) Hipoxemia j) Hiperkarpia E. emosi/stress.daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. 2003) a) Pencetus serangan (alergen. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat. F. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati : 7 . tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. obat-obatan. (Tanjung. maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian.

Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. 2. 4. 3. Spiral curshmann. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum. yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: 1.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Bila disertai dengan bronkitis. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15. 3.a. Pemeriksaan Radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. 8 . atau asidosis. hiperkapnia. serta diafragma yang menurun. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia. b. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: a. Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari Kristal eosinopil. B. Pemeriksaan darah 1. 2. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. 4. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. dan pneumoperikardium. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru. Scanning paru 9 . c. Bila terjadi pneumonia mediastinum. C. dan disesuaikan dengan gambaran yang terja di pada empisema paru yaitu : a. yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch block). yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. Tanda-tanda hopoksemia. Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. maka gambaran c. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. Bila terdapat komplikasi. Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung. d. (COPD). Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. D. maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru. perubahan aksis jantung.b. b. SVES. pneumotoraks. yakni terdapatnya sinus tachycardia. e. E. Bila terdapat komplikasi empisema radiolusen akan semakin bertambah.

Emfisema e. Gagal napas. F. Diagnosis status asmatikus. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Pneumothoraks Ventil d. Penatalaksanaan Medis Prinsip-prinsip penatalaksanaan status asmatikus adalah : 1. Komplikasi Komplikasi yang ditimbulkan oleh status asmatikus adalah a. Hipoksemia c. H. G. Faktor penting yang harus diperhatikan : Saatnya serangan Obat-obatan yang telah diberikan (macam obatnya dan dosisnya). Atelaktasis b. 10 . Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi.Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma.

Tidur dalam posisi duduk tinggi. Pemberian obat bronchodilator. Aktivitas 1. melebarkan hidung. 2. 4. 2. Adanya penurunan kemampuan/peningkatan kebutuhan bantuan melakukan 3. 3. Kaji riwayat reaksi alergi atau sensitifitas terhadap zat/ faktor lingkungan. Oksigen dosis 2-4 liter/ menit I. Ketidakmampuan melakukan aktivitas karena sulit bernapas. Dipsnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan. misalnya: meninggikan bahu. Napas memburuk ketika Klien berbaring terlentang ditempat tidur. Pengkajian keperawatan Hal-hal yang perlu dikaji pada Klien asma adalah sebagai berikut: a. Adanya bunyi napas mengi. 6. 3. 3. Setelah serangan mereda : Cari faktor penyebab modifikasi pengobatan penunjang selanjutnya. Kaji riwayat pekerjaan Klien. 4. C.2. Penilaian terhadap perbaikan serangan 4. Pernapasan 1. Riwayat kesehatan yang lalu: 1. Pertimbangan terhadap pemberian kortikosteroid 5. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Aktivitas sehari-hari. Kaji riwayat pribadi atau keluarga tentang penyakit paru sebelumnya. b. 11 . 2. Menggunakan obat bantu pernapasan.

Susah bicara atau bicara terbata-bata. 2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi. dan ancaman gagal napas. Adanya peningkatan tekanan darah. Sirkulasi 1. Ketakutan 3. bronkhospasme. 3. Ketidakmampuan untuk makan karena distress pernapasan. e. serta sekresi mucus yang kental. Penurunan berat badan karena anoreksia. Integritas ego 1. Asupan nutrisi 1. d. g. 4. Ansietas 2. h. 2. Diagnosa Keperawatan 1. 2. 3. 3. Warna kulit atau membran mukosa normal/ abu-abu/ sianosis. Adanya batuk berulang. 12 . Kemerahan atau berkeringat. Adanya ketergantungan pada orang lain.5. Keterbatasan mobilitas fisik. Hubungan sosial 1. Seksualitas 1. edema mukosa dan dinding bronkus. Resiko tinggi ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan. Gelisah f. Peka rangsangan 4. Penurunan libido J. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap. hipoksemia. Adanya peningkatan frekuensi jantung. 2.

Kriteria evaluasi : a. Dapat mendemonstrasikan batuk efektif. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan. d. Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas. edema mukosa dan dinding bronkus. keletihan. 6. Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi c. dan jumlah sputum Rasional : Karakteristik sputum dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum. bronkhospasme. Kaji warna. 13 . 5. Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing (-). Cemas yang berhubugan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernapas).4. Rencana Intervensi : a. Rencana Intervensi 1. Gangguan pemenuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan. kekentalan. serta sekresi mucus yang kental. Tujuan dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan napas kembali efektif. 7. b. Ketidakefektifan bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan bronkhokontriksi. K.

g. dan fibrasi dada. 14 . Rasional : Pemberian bronkodilator via ihalasi akan langsung menuju area bronkus yang mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi. Bantu klien latihan napas dalam Rasional : Ventilasi maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan secret ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan e. Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural drainase. Ajarkan cara batuk efektif Rasional : Batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan keluarnya secret yang melekat di jalan napas.25mg. Kolaborasi pemberian obat Bronkodilator golongan B2. Atur posisi semifowler Rasional : Meningkatkan ekspansi dada c. fenoterol HBr 0. Rasional : Fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan secret.75mg. perkusi. d.1% Solution.b. 1) Nebulizer (via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0. orciprenaline sulfur 0. f. Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500ml/hari kecuali tidak diindikasikan Rasional : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifkan pembersihan jalan napas.

Agen ekspektoran akan memudahkan secret lepas dari perlengketan jalan napas. Kortikosteroid.2) Intravena dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg. Rasional : Kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronchus. Rasional : Pemberian secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat optimal. h. i. 15 . Agen mukolitik dan ekspektorant Agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk memudahkan pembersihan.

Biodata : 16 . tampak adanya pernapasan cuping hidung. Hasil pemeriksaan radiologi paru Nn. dan dokter saat itu mengatakan bahwa dia sakit asma. dengan keluhan sesak napas .00 wib : 27 April 2011 1. saat dilakukan pemeriksaan.Agama Islam. Skala nyeri klien adalah 5 . didapati hiperinflasi pada parunya.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Pada saat pengkajian klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi wheezing.B . batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen. B Menggunakan otot bantu pernapasan. ia pernah dirawat di rumah sakit dengan sakit yang sama. KASUS Nn. wajah klien tampak pucat. aktivitas sehari hari klien di bantu oleh keluarganya.dan nama walinya adalah Tn. RR : 29 x/mnt . Masuk kerumah sakit pada tanggal 27 april 2011 klien masuk melalui poliklinik penyakit dalam . Rumah Sakit Respati : 08. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80. Klien mengatakan 3 tahun yang lalu pernah. dan sangat rentan kena asma pada udara malam. Klien juga mengatakan lemah. B mengeluh sesak pada saat ia bernapas.B tampak lelah.nn. Pengkajian Nama Perawat Tanggal Pengkajian Ruang Perawatan Jam Pengkajian Tanggal Masuk ` : Perawat Dila : 28 April 2011 : Dahlia. Eko. Nadi : 113x/mnt. dan nmengatakan adanya alergi pada debu.lemas dan hanya bias berbaring saja karena susah bernapas jika beraktifitas. klien tampak lemah dan letih.B 18 thn . Nn. Nn.

B : Islam : SMA :- Status Pernikahan : Belum Menikah Alamat Diagnosa Medis : Jogjakarta : Status Asmatikus Penanggung Jawab Nama Agama Pendidikan Pekerjaan Status Pernikahan Alamat Hubungan dengan klien : Tn. Keluhan utama : Klien mengeluh sesak napas. Riwayat Kesehatan : a.Klien Nama Agama Pendidikan Pekerjaan : Nn. 3. Riwayat Penyakit Sekarang : 17 . Eko : Islam : Sarjana Ekonomi : Admin di sebuah perusahaan swasta : Menikah : Jogjakarta : Orang tua 2.

Saat dilakukan pengkajian nyeri didapatkan : P : saat terkena debu dan udara malam Q : nyeri yang dirasakan klien terus menerus R : pada dada S : skala nyeri 5 T : sekitar 15 menit d) Nutrisi Klien masuk rumah sakit dengan BB 50 kg. elektrolit dan asam Klien mengatakan dalam sehari minum Klien minum 6 gelas blimbing. kecuali pada saat penyakitnya kambuh. Minum 6 gelas sehari = 6 x 200 = 1200 ml 18 . seperti membaca buku. dalam 1 gelas ukurannya 200 cc. Sejak masuk rumah sakit. e) Cairan. dan menonton TV. 4. Tingkat kemandirian skala 1 yaitu sebagian aktivitas klien dibantu oleh keluarga. sebelum masuk rumah sakit nafsu makan klien baik. b. klien mengatakan nafsu makannya kurang. b) Tidur dan istirahat Untuk istirahat klien mengatakan tidak pernah mengalami masalah. Basic Promoting physiology of Health a) Aktivitas dan latihan Klien sangat lemah sehingga untuk aktivitas yang berat dibantu keluarga dan aktivitas yang dikerjakan Klien hanya sebatas ringan saja. c) Kenyamanan dan nyeri Klien mengatakan nyeri yang dirasakannya mengganggu.Klien masuk rumah sakit dengan keluhan sesak napas pada saat ia bernapas karena klien terlihat lelah dan lemas saat bernapas. Riwayat Penyakit Dahulu : Klien menderita penyakit asma sejak 3 tahun yang lalu.

persepsi dan kognitif Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori. Kllien juga tidak menggunakan alat bantu penglihatan dan alat bantu untuk berjalan. Penciuman klien masih normal. klien berbicara tidak jelas.Infus 500 cc/6 jam = 4 x 500 cc = 2000 Air metabolisme 5/kg BB/hari=5x69=345ml Intake=1200+2000+345=3545ml Urin = 5 x 300= 1200 ml/hari IWL =14/kg/hari=15 x 69= 1035ml IWL = IWL+200 (suhu sekarang . gerak Klien aktif . Pemeriksaan TTV 19 .28 f) Oksigenasi Pada saat masuk rumah sakit klien mengalami sesak nafas dan dyspnea / sakit saat bernafas. i) Sensori. Keadaan umum Klien tampak lemah dan wajah tampak pucat.370 C) = 1035 + 200(38 . g) Eliminasi fekal/bowel Klien BAB normal dalam sehari 1X. Pemeriksaan Fisik a. 5.ehingga tingkat kesadaran klien apatis. RR klien tanpak cepat dan dangkal. klien mengatakan jarang sekali menderita diare. Pada saat dipanggil klien menoleh. Pendengaran klien masih normal dan tidak mengalami gangguan. h) Eliminasi urin Klien BAK dengan mudah dan tidak merasa sakit saat BAK ataupun ada keluhan lain saat BAK.37) = 1235 Output=1500+100+1235=2835 BC =Intake-Output =4545-2835 = + 1710ml pH =7.

Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. muka klien tampak pucat.dan tidak ada septum deviasi. berkeringat. konjunctiva anemis. tidak ada hematom. c. tidak ada pembesaran kelenjar tyhroid. leher klien simetris tidak ada penyimpangan. Hidung klien simetris. tidak ada stomatitis. Pada pemeriksaan bibir klien didapatkan bibir klien kering. muka tampak pucat.7 0C. .Inspeksi : bentuk kepala klien mesochepal dan tidak terdapat lesi. Pemeriksaan kepala . tidak ada kaku kuduk. Pemeriksaan leher . Pemeriksaan dada dibagi jadi 2 : a) Pulmonal /paru Inpeksi : bentuk tulang dada simetris. Palpasi : pada saat dilakukan palpasi volal fremitus dapat terasa getaran yang berat . tidak ada rambut ro ntok. tetapi saat bernapas klien terlihat pengembangan dada yang tidak simetris. telinga klien sedikit kotor. hidung simetris . nadi : 110x/menit. b) Coroner / jantung Auskultasi = Terdapat suara bunyi jantung yaitu S1 dan S2 yang berarti tidak ada gannguan pada jantung. e. terdapat sekret pada mata. suhu : 37. tidak ada lesi pada muka klien. saat dilakukan pengukuran JVP didapatkan nilai 2 cm. Pada telinga klien bentuknya simetris.didapatkan hasil : TD : 100/70 mmHg. tidak ada lesi juga tidak ada epistaksis. RR : 27x/menit. tidak ada polip. tidak ada septum deviasi. b. rambut klien bersih tidak rontok. Sklera klien berwarna putih bersih. d. Pemeriksaan abdomen 20 . Auskultasi : saat dilakukan auskultasi terdapat suara whweezing pada pernapasan klien. tidak terjadi kesusahan dalam menelan. Perkusi : suara perkusi yang dapat dihasilkan dari paru-paru klien terdapat pekak yang menunjukkan banyak sekret.

Palpasi : saat dilakukan palpasi terdapat terdapat nyeri tekan. B. klien terdapat edema dan kekuatannya ototnya melemah. 4. menentukan batas hepar. g. f. Pengkajian ekstremitas. DO : klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar Etiologi Problem Spasme jalan napas Bersihan jalan napas tidak efektif 21 . 3. batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen. Data Fokus DS : klien mengatakan sesak pada saat ia bernapas. Pada Genetalia klien warnanya sama dengan warna kulit. Auskultasi : karakter bunyi peristaltiknya normal. 2. Pada palpasi tidak terdapat nyeri. Inspeksi : bentuk abdomen klien simetris. karena adanya pengaruh otot pada abdomen. adanya alergi pada debu.1. Perkusi : Kajian jenis & lokasi bunyi tympani (normal pd usus) hypertimpani (kembung). frekuensi peristaltic ususnya didapatkan nilai 12x/menit masih dalam rentang normal. Diagnosa Keperawatan a) Analisa Data No 1.tidak terdapat lesi pada vulva. tidak asites ataupun kemerahan.

Ds: Klien mengatakan sesak pada saat bernafas. Penurun energi/kelelahan. Do: Klien tampak lemah. Hasil pemeriksaan Radiologi menunjukan terjadi Hiperinflasi pada parunya. Menggunakan otot bantu pernapasan.nyeri pada dada dan abdomen. Nadi : 113x/mnt 2.letih. Pola nafas tidak efektif. 22 .bunyi wheezing. dan wajah tampak pucat. tampak adanya pernapasan cuping hidung Pada TTV klien menunjukkan : TD RR : 120/80. : 29x/menit. RR : 29 x/mnt . Nadi : 113x/menit. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80.

dan hanya bisa berbaring saja karena susah bernapas saat beraktivitas. Wajah Klien tampak pucat. DO : Terlihat TTV klien : TD: 120/80. dan nadi 113 x/menit. dan nyeri pada dada dan abdomen. 2. Ds: Klien mengatakan sesak saat bernapas . Kelemahan Intoleransi Aktivitas lemas. Klien mengatakan juga lemah. batuk kering dan nyeri pada dada dan abdomen. RR : 29 x/mnt . Bersihan jalan napas tidak efektif berhungan dengan Spasme jalan napas yang ditandai dengan klien mengatakan sesak pada saat ia bernapas. Pola napas tidak efektif berhungan dengan penurunan energi atau kelelahan ditandai dengan Klien mengatakan sesak 23 . adanya alergi pada debu dan klien tampak susah bernapas dan ketika ekspirasi terdengar bunyi wheezing.3. batuk kering. Nadi : 113x/mnt. Dari hasil pemeriksaan fisik klien didapatkan TD : 120/80. b) Diagnosa Prioritas 1. Aktivitas Sehari klien dibantu oleh kelurga. RR : 29 x/menit.

RR : 29 x/menit. Intoleransi aktivitas berhungan dengan kelemahan yang dintai dengan Klien mengatakan sesak saat bernapas . Menggunakan otot bantu pernapasan. 24 . tampak adanya pernapasan cuping hidung . Wajah Klien yang tampak pucat dan : 120/80. lemas. Klien juga mengatakan lemah.aktivitas Sehari klien dibantu oleh kelurga. dan hanya bisa berbaring saja karena susah bernapas saat beraktivitas dan Terlihat TTV klien TD: 120/80. dan nyeri pada dada dan abdomen. dan wajah tampak pucat. Klien tampak lemah. batuk kering. 3.nyeri pada dada dan abdomen. RR aktivitas.Hasil pemeriksaan Radiologi menunjukan terjadi Hiperinflasi pada parunya dan Pada TTV klien menunjukkan TD : 29x/menit dan Nadi : 113x/menit. dan nadi 113 x/menit.pada saat bernafas.letih.

Kolaborasi dengan dokter pemberian Rasionalisasi 1. TD. CM Tanggal masuk RS Diagnosa : 12455 : 28 april 2011 : Status Asmatikus No 1 Diagnosa Bersihan jalan nafas tidak efektif b. Lakukan pemeriksaan auskultasi. 2. Untuk merelaksasikan otot halus dan menurunkan spasme jalan nafas. 1.i.1. 3. dan suhu. 3. diharapkan jalan nafas klien menjadi efektik dengan kriteria hasil : b. TTV klien dalam rentang normal yaitu : 25 . Klien merasa nyaman ditandai dengan keluhan sesak 3.B : 18 tahun :Dahlia.d spasme jalan napas.1.1.B. mengi. 2. TTD Dila nafas dan nyeri dada serta abdomen yang diarasakan klien berkurang.a.c) Rencana Tindakan Keperawatan Nama Umur Ruang : Nn. Untuk mengetahui perubahan keadaan klien meliputi nadi. Tujuan dan Kriteria Hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pada Nn. Klien tidak mengeluh sakit saat batuk. Intervensi Kaji TTV. Untuk mengetahui adanya bunyi tambahan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator. 2. RR. 4. Rumah Sakit Respati No.

Sesak napas klien mulai berkurang. Untuk membunuh kuman yang terdapat pada sputum (staphilococcus). Bunyi nafas bronkhovesikuler pada daerah bronkus.B. 2. Tidak lagi menggunakan otot bantu pernapasan. TTV dalam batas normal yaitu TD : 110/70-120/80mmHg. 5. 5. 5. selama 2x24 jam. Beritahu klien 1. 3. 2 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energi atau kelelahan. nadi : 60- obat antibiotik yaitu lamoxilin. Kolaborasi dengan ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator mekanis. Untuk merencanakn terapi oksigen yg akan Dila untuk banyak istirahat. 4. 4.RR : 16 ± 24x/menit Nadi : 60 ± 100x/menit. Ajarkan untuk nafas dalam. 2. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen ( 24 liter/menit ). Dengan kriteria hasil: 1. 1. 4. Agar kebutuhan oksigen klien klien terpenuhi . Agar dapat mengatur pernapasan klien. 4. Kaji TTV klien. 3. 3. 4. Mengidentifikasi keadaan umum klien. 26 . 2. Diharapkan pola nafas dapat kembali normal. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada Nn. Untuk memulihakan kondisi kelelahan klien. dan produksi mukosa. Bunyi nafas vesikuler di semua lapang paru. Tidak ada lagi pernapasan cuping hidung. RR : 16-24x/menit.

Dengan membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akan dapat mengurangi aktivitas klien. Libatkan keluarga dalam memenuhi kebutuhan seharihari.100x/menit. b selama 3 x 24 jam Klien mampu melakukan aktivitas. Dila 3. 3.d kelemahan. Klien mampu memenuhi kebetuhan sehari-hari dibantu keluarga dan perawat seminimal mungkin. 27 . Dengan mengobservasi keaadaan umum Klien. Dekatkan alat. 3 Intoleransi aktivitas b.5-37. Observasi KU klien. Keadaan umum baik. diberikan pada klien. suhu : 36.alat yang dibutuhkan klien. Klien dapat melakukan ROM pasif 1. 2. dengan kriteria hasil : 1. 2. Kolaborasi dengan ahli gizi. 1.. 3. 2. Dengan mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan Klien dapat melatih Klien untuk tidak bergantung dengan orang lain. 4.50C . Setelah dilakukan tindakan kepada Nn.

Untuk memenuhi kebutuhan klien. 28 .4.

Bunyi pernapasan wheezing.B : 18 tahun : Dahlia.00 S : Klien mengeluh masih terasa sedikit sesak saat bernapas. CM Tanggal masuk RS Sakit Diagnosa : 12455 : 28 april 2011 : Status Asmatikus 29 . Melakukan pemeriksaan auskultasi O : RR : 27x/menit 28/04/2011 Jam 13. Mengkaji KU. S : Klien bersedia diukur TTV nya.00 1.Rumah Respati HariPertama Dx Tanggal Wakt u 1 28/4/2011 07. Dila Implementasi Evaluasi TTD No. O : RR : 27x/menit.d) Catatan Perkembangan Nama Umur Ruang : Nn. 2.

P : Intevensi 1. 28/04/2011 1.dan 4 Dilanjutkan. 11:30 2. Mengkaji TTV klien.07:00 S : Klien bersedia dilakukan pemeriksaan bunyi napas O : Terdengar suara napas wheezing yang semakin berkurang. S : Klien mengatakan masih 28/04/2011 Dila 30 . A : Tujuan belum tercapai. 3. Berkolaborasi dengan dokter pemberian obat antibiotic amoxiline 500mg.2. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai dengan indikasi bronkodilator 11:00 4.3. (sanbutamol). Bunyi napas wheezing.

3. Memberitahu klien untuk banyak istirahat S : Klien mau mendengarkan 07:30 saran perawat. O : Klien tampak dengan sungguh ± sungguh melakukan saran perawat. 2. P: Lanjutkan intervensi No: 1. A: Tujuan belum tercapai. O : Di dapati TTV klien RR : 27 x/mnt . Jam 13.dan 5 . 2.00 S: Klien mengatakan belum merasa nyaman dalam bernafas. tampak pernapasan cuping hidung. 4.07:00 susah untuk bernapas. 31 . Klien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. O: Klien masih tampak sesak napas.

mengkolaborasi dengan ahli terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan ventilator mekanis. mengajarkan klien untuk nafas dalam 11:30 S: Klien memperhatikan dengan baik pengajaran perawat. 3.3. 12.00 S : Klien mengatakan belum dapat Dila 32 . O: Klien dapat melakukan dengan benar tapi masih susah untuk bernapas.00 5. Mendekatkan alat-alat yang 28/04/2011 Jam 13. Mengobservasi Keadaan Umum O : Keadaan umum lemah.00 1. 11:00 Mengkolaborasi dengan dokter untuk pemberian oksigen ( 2-4 liter/menit ) 4. 28/04/2011 07. 2.

S : Klien mengatakan bahwa 11:00 klien merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehariharinya. P : Intervensi 1. O : Keadaan umum lemah Klien menunjukkan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara mandiri. O : Kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi.3. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari melakukan aktivitas sendiri.Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik. 4. O : Klien terlihat kesulitan mengambil alat-alat yang dibutuhkan. Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.dan 4 dilanjutkan. 3.2. 33 . A : Tujuan belum tercapai.dibutuhkan klien. 07:30 S : Klien mengatakan tidak bisa mengambil alat-alat yang dibutuhkan.

30 5. 11:30 O : Keluarga klien mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien karena keluarga belum terbiasa. 12.klien. 34 . Mengkolaborasi dengan ahli gisi dengan dalam pemberian nutrisi.

dan 3 dilanjutkan. Memberikan obat sanbutamol. O : RR : 27 x/menit Bunyi napas bronkovesikuler A : Tujuan belum tercapai.00 S : klien mengatakan sesak napas mulai berkurang. Memberikan obat antibiotic amoxiline 500mg. Implementasi Mengkaji KU: S: O : RR : 27 x/menit.2.00 Waktu 1. P : Intevensi 1. 35 . Evaluasi 29/04/2011 Jam 13.Hari kedua Dx 1 Tanggal 29/04/2011 07. TTD Dila Suara napas bronkovesikuler 07:30 11:00 2. 3.

07:30 Memberitahu klien untuk banyak istirahat.4. pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. 36 .2. Dila O: klien dalam bernafas tampak masih menggunakan hidung otot bantu pernafasan dan pernapasan cuping 2. Mengkaji KU klien. S : Klien mengatakan rasa sesak nafasnya sudah tidak begitu terasa.00 1.00 S: klien mengatakan masih berat dalam bernafas. 29/04/2011 Jam 13.3.dan 5 dilanjutkan. tampak pernapasan cuping hidung. perawat.2 29/04/2011 07. O : Di dapati RR klien : 27 x/mnt . A: Tujuan belum tercapai S : Klien mau mendengarkan saran P: Intervensi 1.

S: Klien memperhatikan dengan baik pengajaran perawat O: Klien dapat melakukan dengan benar tapi masih susah untuk bernapas 11:30 12:30 5. Memantau keadekuatan ventilator mekanis. 37 .O: klien tampak dengan sungguh ± sungguh melakukan saran perawat 3. 4. S:O : klien tampak nyaman. 11:00 Memantau aliran pemberian oksigen yang sudah dipasang. Mengajarkan klien untuk nafas dalam.

4 dan 5 dilanjutkan.00 S : Klien mengatakan masih lemah.3.00 1. Mengobservasi Keadaan Umum O : Keadaan Umum Baik.3 29/04/2011 07. 07:30 Mendekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien. 29/04/2011 Jam 13. O : Aktivitas klien tampak masih dibantu oleh keluarganya. 11:00 Membantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 3. O : Klien terlihat mampu mengambil alat-alat yang dibutuhkan. Dila 2. S : Klien mengatakan dapat mengambil alat-alat yang dibutuhkan. A : Tujuan belum tercapai. S : Klien mengatakan bahwa klien merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari- P : Intervensi 1.2. 38 .

11:30 Melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien. 39 . O : Keluarga klien sangat antusias dalam membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien. 5. 4. O : Kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi. Monitor intake nutrisi. 12:30 O : Intake nutrisi klien terpenuhi dengan baik.harinya.