16

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Nikah Secara Umum
1. Pengertian Nikah
Menurut bahasa, nikah berarti penggabungan dan pencampuran.
Sedangkan menurut istilah syari‟at, nikah berarti akad antara pihak laki-
laki dan wali perempuan yang karenanya hubungan badan menjadi halal.
Jadi, hubungan badan itu tidak boleh dilakukan hanya dengan izin
semata.
15

Jika ditinjau dari segi adanya kepastian hukum dan pemakaian
perkataan “nikah” didalam al-qur‟an dan hadist-hadist, maka “nikah”
dengan arti perjanjian perikatan, lebih tepat dan banyak dipakai daripada
“nikah” dengan arti “setubuh”.
16

Persoalan pernikahan adalah persoalan manusia yang banyak
seginya, mencakup seluruh segi kehidupan manusia, mudah menimbulkan
emosi dan perselisihan. Karena itu adanya kepastian hukum bahwa
terjadinya suatu perkawinan sangat diperlukan. Dalam hal ini telah
terjadinya suatu akad (perjanjian) pernikahan mudah diketahui dan mudah
diadakan alat-alat buktinya, sedang telah terjadinya suatu persetubuhan
sulit mengetahuinya dan sukar membuktikannya.

15
Syaikh Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2001, hlm 3
16
Kamal Muchtar, Asas-Asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta: PT Bulan Bintang, 1974,
hlm 2
17

Di pihak yang lain, Abu Hanifah berpendapat nikah itu berarti
hubungan badan dalam arti yang sebenarnya, dan berarti akad dalam arti
majazi. Hal itu didasarkan pada sabda Rosulullah saw:
“Saling menikahlah kalian, sehingga kalian akan melahirkan banyak
keturunan”.

Dalil yang menjadi landasan pendapat pertama adalah ayat al-
qur‟an, bahwa kata nikah itu tidak diartikan kecuali akad, sebagaimana
yang ditegaskan az-zamakhsyari dalam kitabnya, pada awal surat An-
Nuur. Namun hal itu bertolak belakang dengan firman Allah dalam Surat
Al-Baqarah ayat 230:
_¦· !±1lL *· ´_>´  . .-. _.> ~>.. l>.¸ :´¸¯.s _¦· !±1lL
*· ~!´.`> !..¯.l. _| !->¦´¸.. _| !.L _¦ !.,1`. :..`> ´<¦ il.´.
:..`> ´<¦ !..¯,´.`. .¯.1l _..l-. '¯¸
Yang Artinya:
“ Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak kedua), maka
perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami
yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak
ada dosa bagi keduanya, (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin
kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-
hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum
yang (mau) mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah:230)
17



Kemudian arti perkataan nikah pada ayat diatas diterangkan kembali oleh
Hadist :
“ Dari Aisyah r.a, ia berkata :” Seorang laki-laki telah mentalak istrinya
tiga kali, kemudian seorang laki-laki yang lain telah mengawini bekas

17
Yayasan Penyelenggara penterjemah Al-Qur‟an, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: CV
Penerbit Diponegoro, 2008, hlm 36
18

isteri itu dan mentalaknya sebelum ia mencampuri bekas isterinya itu.
Maka bekas suami pertama bermaksud mengawini bekas isterinya
kembali. Maka ditanyakanlah yang demikian itu kepada Rosulullah saw,
maka beliau bersabda: “ Tidak (boleh kawin), sehingga suami yang lain
(suami kedua) merasakan madunya (bersetubuh) menurut yang telah
dirasakan oleh (suami) yang pertama”. (HR Riwayat Bukahari dan
Muslim).

Dan mengenai masalah nikah ini, banyak ayat al-qur‟an dan juga
hadist yang mengutarakannya. Dan kaum muslimin secara keseluruhan
telah sepakat bahwa nikah itu merupakan suatu hal yang disyari‟atkan.
Dalam hal ini perkawinan menurut yang disyari‟atkan agama Islam
mempunyai beberapa segi, diantaranya ialah:
a. Segi Ibadat
Perkawinan menurut agama Islam mempunyai unsur-unsur
ibadah. Melaksanakan perkawinan berarti melaksanakan sebagian dari
ibadah dan berarti pula telah menyempurnakan sebagian dari agama.
Rosulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang telah dianugerahi Allah isteri yang shalihah, maka
sesungguhnya ia telah mengusahakan sebagian agamanya. Maka
bertakwalah kepada Allah pada bagian yang lain”. (HR. Ath-Thabrani
dan Al-Hakim dan dinyatakan Shaheh Sahadnya).

Rosulullah saw memerintahkan agar orang-orang yang telah
mempunyai kesanggupan untuk kawin melaksanakannya, karena kawin
itu akan memelihara diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh
Allah.
Rosulullah saw bersabda:
“Hai sekalian pemuda, barangsiapa yang telah sanggup diantara kamu
melaksanakan kehidupan suami istri, hendaklah ia kawin. Maka
sesungguhnya kawin itu menghalangi pandangan mata (kepada yang
19

terlarang memandangnya) dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa
yang tidak sanggup, wajib berpuasa. Maka sesungguhnya puasa adalah
perisai baginya”. (HR. Bukhari dan Muslim).


b. Segi Hukum
Perkawinan menurut yang disyari‟atkan agama Islam,
merupakan suatu perjanjian yang kuat, sebagaimana Firman Allah
Surat An-Nisa‟ ayat 21:
..´´. «...>!. .·´. _.·¦ ¯.÷.-. _|| -. _.>¦´.
.÷.. !1.:.. !L.ls '¸
Yang Artinya:
“Bagaimana kamu akan mengambil harta yang telah kamu berikan
kepada bekas isterimu, padahal sebagian kamu telah bercampur
(bergaul) dengan yang lain sebagai suami istri. Dan mereka (isteri-
isteri) telah mengambil dari kamu janji yang kuat”. ( QS. An-
Nisa’:21)
18



Sebagai perjanjian, perkawinan mempunyai beberapa sifat:
1) Perkawinan tidak dapat dilangsungkan tanpa persetujuan dari
pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu.
2) Akibat perkawinan, masing-masing pihak yang berkepentingan
dengan perkawinan itu terikat oleh hak-hak dan kewajiban-
kewajiban, ditentukan persyaratan berpoligami bagi suami-suami
yang hendak melakukannya.

18
Ibid, hlm 88
20

3) Ketentuan-ketentuan dalam persetujuan itu dapat dirubah sesuai
dengan persetujuan masing-masing pihak asalkan tidak melanggar
batas-batas yang ditentukan oleh agama.
c. Segi Sosial
Hukum Islam memberikan kedudukan sosial yang tinggi
kepada wanita (isteri) setelah dilakukan perkawinan, ialah dengan
adanya persyaratan bagi seorang suami untuk kawin lagi dengan
isterinya yang lain, tidak boleh seorang suami mempunyai istri lebih
dari empat, adanya ketentuan hak dan kewajiban suami isteri dan isteri
dalam rumah tangga dan sebagainya.
Perkawinan bertujuan membentuk keluarga yang diliputi rasa
saling cinta mencintai dan rasa kasih sayang antara sesama anggota
keluarga. Karena itu Rosulullah saw melarang kerahiban, hidup
menyendiri dengan tidak kawin-kawin, yang menyebabkan hilangnya
keturunan keluarga dan melenyapkan umat.

2. Dasar Hukum Nikah
a. Dalil Al-Qur‟an
Nikah adalah salah satu yang diperintahkan oleh Allah dan
Rasul-Nya. Nikah mempunyai manfaat untuk kehidupan beragama
didunia.
19
Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra‟du ayat 37:


19
Abdul „Aziz bin Fathih as-Sayyid Nada, Ensiklopedia Etika Islam, Jakarta: Maaghrifah
Pustaka, 2005, hlm 497
21

Yang artinya:
il.´´. «..l,.¦ !.>`> !¯,.¸s _.l´. ·-..¦ .>´.¦´.>¦ !..-. ì´.l>
´. .l-l¦ !. il ´. ´<¦ . ¯_|´. N´. ¦´. ¯¯
Yang Artinya:
“Dan demikianlah, kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai
peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab dan seandainya kamu
mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu.
Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu
terhadap (siksa) Allah”. ( QS. Ar-Ra’du:37 )
20


Perkawinan itu telah menjadi sunnah para Rosul sejak dahulu
kala dan hendaklah diikuti pula oleh generasi-generasi yang akan
datang kemudian. Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra‟du Ayat 38:
.1l´. !´.l.¯¸¦ *.'¸ . il¯.· !´.l->´. ¯.> l´>´.¸¦ «`.¯¸:´. !.´. _l´
_..,l _¦ ´_.!. «.!:. N| _:¦. ´<¦ _>l _>¦ '.!.é ¯¯
Yang Artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu
(Muhammad), dan Kami karuniakan istri dan keturunan bagi mereka.
Rasul tidak akan mendatangkan satu ayatpun kecuali seizin Allah. Dan
setiap masa ada Kitab sebagai petunjuk. ( QS. Ar-Ra’du:38 )
21


Allah menganjurkan agar kaum muslimin saling membantu
dalam perkawinan, berusaha mencarikan jodoh-jodoh dari saudara-
saudaranya yang belum mempunyai jodoh, karena perkawinan itu
adalah jalan untuk menghindari kefakiran dan kemiskinan. Allah
berfirman dalam Surat An-Nur ayat 32:

20
H. Zaini Dahlan, Qur’an Karim dan Terjemahan, Yogyakarta: UII Press, 1999, hlm 447
21
Ibid, hlm 448
22

¦.>>.¦´. _...N¦ `.>.. _.>l.¯.l¦´. . ¯´:!.s ¯.÷,!.|´. _|
¦...>. ´.¦,1· `.±.-`. ´<¦ . .· ´<¦´. ×.´. '.,l. ¯'
Yang Artinya:
“Nikahilah olehmu orang-orang yang tidak mempunyai jodoh
diantara kamu, begitu pula hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba
perempuan yang shalihah. Jika kamu adalah orang-orang fakir,
niscaya Allah akan mengayakan kamu”. (QS. An-Nur:32 )
22


Allah berjanji kepada manusia untuk menjadikan bagi mereka
isteri-isteri dari jenis kamu sendiri. Allah berfirman dalam Surat An-
Nahl ayat 72:
´<¦´. _-> .>l . ¯>.±.¦ l´>´.¸¦ _->´. .>l . .÷>´.¸¦
_... :.±>´. .>·¸´¸´. ´. ·..¯.Ll¦ _L..l!.· ¦ _.`..¡`. ·.-..´.
´<¦ ¯.> _.`,±>. ¯'

Yang artinya:
“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan
menjadikan bagi kamu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-
cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah
mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”
(QS. An-Nahl:72)
23



b. Dalil Al-Hadist

Agama Islam sangat menganjurkan perkawinan. Anjuran ini
dinyatakan dalam bermacam-macam ungkapan yang terdapat dalam
Al-Qur‟an dan hadist. Karena perkawinan akan menimbulkan rasa

22
Kamal Muchtar, Op. Cit, hlm 9
23
Mohammad Noor, Ulfah Munawar dkk, Al-Qur’an Al- Karim dan Terjemahannya, Semarang:
PT. Karya Toha Putra, 1996, hlm 219
23

saling cinta mencintai antara suami dan isteri, saling mengasihi antara
orang tua dan anaknya dan anggota keluarganya yang lain.
Rosulullah saw mengatakan bahwa sebaik-baik mata benda
kehidupan dunia ialah isteri yang shalihah.
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash, bahwasanya Rosulullah saw
bersabda: “Dunia itu ialah mata benda kehidupan, dan sebaik-baik
mata benda kehidupan dunia itu ialah isteri yang shalihah”. (HR
Muslim)

Rasulullah mencela para sahabat yang telah berjanji akan puasa
tiap hari, tidak akan tidur dimalam hari agar dapat melakukan ibadah
dan tidak akan kawin. Rasulullah bersabda:
“Apakah kamu sekalian yang mengatakan begini, begini,
begini?..adapun aku demi Allah sesungguhnya aku benar orang yang
paling takut diantara kamu adalah kepada Allah, orang yang paling
takwa diantara kamu kepada-Nya, tetapi aku puasa, dan berbuka, aku
sembahyang, bangun dimalam hari, dan aku mengawini wanita. Maka
barangsiapa yang benci kepada sunnahku, bukanlah ia termasuk (umat)
ku”. (HR. Bukhari)
24


Perkawinan membentuk keluarga, keluarga-keluarga akan
membentuk umat. Baik buruknya suatu umat erat hubungannya dengan
keadaan keluarga yang membentuk umat itu. Rasulullah saw akan
merasa bangga dihari kiamat apabila jumlah umatnya adalah yang
paling banyak dibanding dengan jumlah umat para rasul yang lain.
Sesuai dengan hadist:
“Dari Anas bin Malik r.a berkata: “Adalah Rasulullah saw menyuruh
kawin dan melarang hidup sendiri (tidak kawin) dengan larangannya
yang sangat, dan beliau bersabda: “Kawinilah olehmu wanita-wanita
yang pencinta lagi beranak, maka sesungguhnyaaku akan bermegah-

24
Imam Az-Zabidi, Ringkasan Hadist Shahih Al-Bukhari, Jakarta: Pustaka Amani, 2002, hlm 904
24

megah dengan banyaknya kamu itu terhadap nabi-nabi yang lain dihari
kiamat”. (HR Ahmad)


3. Syarat Nikah

Syarat Nikah adalah:
a. Kesanggupan dari calon-calon mempelai untuk melaksanakan
pernikahan. Laki-laki dan wanita ada yang sanggup melaksanakan
perkawinan dan ada yang tidak sanggup melaksanakannya. Meskipun
kesanggupan itu pada asasnya bukanlah merupakan syarat mutlak
untuk melaksanakan perkawinan, tetapi ada dan tidak ada kesanggupan
itu menentukan apakah perkawinan itu dapat atau tidak dapat
mencapai tujuannya. Kesanggupan merupakan imbangan dari hak.
Seorang sanggup untuk kawin berarti ia adalah orang yang sanggup
melaksanakan hak-hak isteri atau suaminya. Sebaliknya orang yang
tidak sanggup untuk kawin adalah orang yang tidak sanggup
melaksanakan hak-hak isteri atau suaminya.
b. Calon mempelai bukanlah orang-orang yang terlarang melaksanakan
pernikahan. Larangan pernikahan ini ada yang untuk selama-lamanya
dan ada yang dalam waktu-waktu tertentu saja, sesuai dengan keadaan
orang-orang yang akan kawin.
c. Calon mempelai adalah orang-orang yang sejodoh, sehingga ada
keharmonisan dan perkawinan dapat mencapai tujuannya. Maksudnya
keserasian antara calom suami dan isteri, sehingga pihak-pihak yang
berkepentingan tidak keberatan terhadap kelangsungan perkawinan itu.
25

Pada asasnya tidak ada perbedaan diantara manusia, semua
manusia adalah sama, sama-sama diciptakan Allah sebagai makhluk-
Nya yang mempunyai bentuk paling baik, berdasarkan firman Allah
dalam Surat At-Tiin ayat 4:
.1l !´.1l> ´..·N¦ _· .>¦ ...1. '

Yang Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin:4)
25


4. Rukun Nikah
Dalam nikah ada rukun yang harus dipenuhi didalamnya, adapun
rukun nikah tersebut adalah sebagai berikut:
a. Ucapan Akad
Ucapan akad terdiri atas “ijab” dan “qabul”. Ijab ialah
pernyataan pihak calon isteri bahwa ia bersedia dinikahkan dengan
calon suaminya. Qabul ialah pernyataan atau jawaban pihak calon
suami bahwa ia menerima kesediaan calon isterinya untuk menjadi
isterinya.
Beberapa Ulama berpendapat bahwa nikah itu dianggap syah
bila menggunakan lafazh, zawwajtu (aku jodohkan) , ankahtu (aku

25
H. Zaini Dahlan, Op. Cit hlml 1115
26

kawinkan), dan tidak syah bila menggunakan selain lafazh tersebut,
akan tetapi juga dengan syarat harus menyebutkan mas kawin.
26

Dalam hal ini “ijab” dan “qabul” antara wali dan calon
mempelai harus jelas, beruntun dan tidak berselang waktu, juga yang
berhak mengucapkan “qabul” adalah calon mempelai pria secara
pribadi.
27

b. Calon Suami dan Istri
Sebagaimana dalam memilih isteri, Islam membimbing agar
memilih wanita yang memiliki kriteria sifat-sifat tertentu dan
menganjurkan bagi yang ingin menikahinya agar sifat-sifat inilah yang
menjadi pusat perhatiannya. Demikian juga dalam memilih suami,
Islam menganjurkan yang beragama dan berakhlak yang baik. Islam
juga mrnganjurkan kepada keluarga wanita agar mengutamakan
pemuda yang melamar putrinya yang memiliki sifat tersebut.
Rosulullah bersabda:
“Jika datang kepada kamu orang yang engkau ridhai agama dan
akhlaknya maka kawinilah ia. Jika tidak kamu kerjakan, yang terjadi
adalah fitnah dibumi dan kerusakan besar”.

Calon suami hendaknya memilih wanita yang ahli agama dan
berakhlak mulia. Jangan sampai calon suami bermaksud memilih
wanita hanya dari segi kecantikan, kecuali disertai berakhlak dan
beragama. Hendaknya calon suami tidak menikahi wanita dengan

26
Mohammad Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis dari Undang-undang
Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002, hlm 45
27
Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Surabaya: Pustaka Tinta Mas, 1997, hlm 85
27

tujuan harta dan status jabatan sosialnya semata. Boleh juga
menikahinya dengan mengutamakan harta dan jabatannya, tetapi juga
disertai dengan agama dan akhlak.
Rosulullah saw pernah bersabda mengenai pentingnya memilih
seorang wanita yang akan dinikahi dari aspek agamanya. Rasulullah
saw bersabda:
“Dari Abu Hurairah r.a Rosulullah saw bersabda: “Wanita dikawini
karena empat hal: karena harta bendanya, karena status sosialnya,
karena keindahan wajahnya, dan karena ketaatannya kepada agama.
Pilihlah wanita yang taat kepada agama, maka kamu akan
berbahagia”
28


c. Wali Dalam Nikah
Wali dalam nikah merupakan salah satu rukun yang harus
dipenuhi untuk menjadikan pernikahan itu syah, sebab walilah yang
akan melakukan ijab dalam upacara pernikahan. Dan karena wali ini
merupakan pihak yang sangat menentukan untuk terjadinya
pernikahan, maka diperlukan wali yang memenuhi persyaratan, yaitu:
1) Mukallaf (baliq dan berakal), yaitu orang yang dibebani hukum
dan dapat mempertanggung jawabkan perbuatan hukumnya.
2) Muslim
3) Cerdas (Adil)
29




28
Zainudin Hamidy, Fachruddin Hs, dkk, Terjemahan Hadist Shahih Bukhari Jilid IV, Jakarta:
Fa. Wijaya Jakarta, 1992, hlm 10
29
Kamal Muchtar, Op. Cit, hlm 90-93
28

d. Saksi Dalam Nikah
Dalam melaksanakan pernikahan menghadirkan saksi adalah
salah satu rukun yang harus dipenuhi. Karena dengan adanya saksi
dapat dijadikan sebagai alat bukti yang dapat menghilangkan keragu-
raguan. Beberapa syarat saksi yang harus dipenuhi dalam pernikahan
yaitu:
1) Saksi hendaklah orang yang mukallaf, orang yang dapat
mempertanggung jawabkan persaksiannya.
2) Jumlah saksi minimal dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki
dan dua orang perempuan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat
Al-Baqarah ayat 282:
¦..,:.`.¦´. _·...: . ¯.÷ll>¯¸ _¦· ¯.l !..>. _.l`>´¸ _`>,·
_!.¦´¸¯.¦´. ´.. _¯..¯,. ´. .¦..:l¦ _¦ _.. !.±.>| ,é..·
!.±.>| _,>N¦
Yang Artinya:
“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang
lelaki diantaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh)
seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang
kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi
mengingatkannya”. (QS. Al-Baqarah:282)
30


5. Batas Waktu Pernikahan
Dalam nikah tidak ada batasan waktu dalam pelaksanaannya.
Dalam nikah hendaknya selamanya, tidak boleh dibatasi waktunya dengan

30
Dr. Abdul Aziz Muhammad Azzam, Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Op. Cit, hlm 107
29

pembatasan tertentu, baik dalam waktu yang panjang atau lama maupun
waktu yang pendek atau sebentar. Pembatasan waktu dalam pernikahan
dengan pembatasan waktu tertentu akan membatasi pemanfaatan seksual,
dan ini bukan tujuan asal dari pernikahan. Tujuan pernikahan yang asal
adalah ketenangan, cinta, kasih sayang, memelihara keturunan,
meningkatkan derajat manusia, gotong royong dalam kehidupan dan
kebersamaan dalam keadaan senang dan sedih.

6. Perceraian dan Akibat Hukumnya
Perceraian dalam istilah ahli fiqih disebut “talak” atau “furqah”.
Talak berarti “membuka ikatan”, “membatalkan perjanjian”. Furqah
berarti “bercerai”, lawan dari “berkumpul”. Kemudian kedua perkataan ini
dijadikan istilah oleh ahli-ahli fiqih yang berarti perceraian antara suami
isteri.
31

Perkataan “talak” dan “furqah” dalam istilah fiqih mempunyai arti
yang umum dan arti yang khusus. Arti yang umum, ialah segala macam
bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami, yang telah ditetapkan oleh
hakim dan perceraian yang jatuh dengan sendirinya seperti perceraian
yang disebabkan meninggalnya salah seorang dari suami atau isteri. Arti
khusus ialah perceraian yang dijatuhkan oleh suami saja.
Bila hal tersebut diatas terjadi maka akan berimplikasi pada hal-hal
berikut:

31
Kamal Muchtar, Op. Cit, hlm 156
30

a. Dalam Hal Tanggung Jawab Terhadap Anak
Jika pasangan suami isteri bercerai yang dari hubungan mereka
menghasilkan anak yang masih kecil, maka isterilah yang paling
berhak memelihara dan merawat anak itu hingga anak tersebut dewasa,
karena ibulah yang biasanya telaten dan sabar.
Selama waktu itu, hendaklah si anak tinggal bersama ibunya
selama ibunya belum menikah dengan laki-laki lain. Meskipun anak
itu tinggal bersama ibunya, tetapi nafkahnya menjadi kewajiban
ayahnya.
32

Hal itu didasarkan pada hadist yang diriwayatkan dari Abdullah
bin Amr r.a, dimana ada seorang wanita yang mengadukan
permasalahannya kepada Rosulullah saw, “Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ini adalah anakku, perutkulah yang telah
mengandungnya, belaiankulah yang telah melindunginya dan air
susuku pula yang telah menjadi minumannya. Tetapi saat ini bapaknya
memisahkan ia dariku”.
Maka beliau berkata:
“Kamulah yang lebih berhak atas anak itu, selagi kamu belum menikah
dengan laki-laki lain”. (HR. Ahmad Abu Dawud, Baihaqi dan Hakim).
Jika si anak tersebut sudah dewasa dan mampu menjaga dirinya
sendiri, maka perlu adanya pihak berwajib untuk melakukan
penyelidikan, siapakah diantara keduanya (ibu dan bapak) yang lebih
berhak dan lebih pandai untuk memelihara anak tersebut. Pada saat itu
si anak diserahkan kepada pihak yang lebih cakap untuk merawat dan
memeliharanya. Tetapi kalau keduanya sama, maka anak itu harus
disuruh memilih siapa diantara keduanya yang lebih ia sukai. Yang
demikian itu sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah
r.a, bahwa Rosulullah saw telah menyuruh seorang anak untuk
memilih antara ikut bapaknya atau ibunya”.

Dalam kitab Syarh as-Sunnah disebutkan “Jika seorang suami
menceraikan isterinya, sedangkan diantara mereka terdapat anak yang
masih dibawah tujuh tahun, maka ibunya lebih berhak memeliharanya

32
Syaikh Hasan Ayyub, Op. Cit, hlm 391
31

jika ia menghendaki dan bapaknya tetap berkewajiban memberi nafkah
kepadanya. Dan jika ia (isterinya) tidak berkeinginan memelihara
anaknya, maka bapaknya berkewajiban membayar wanita lain untuk
mengasuhnya. Dan jika isterinya itu seorang yang tidak dapat
dipercaya atau kafir, sedangkan bapaknya muslim, maka tidak ada hak
bagi isterinya untuk memelihara anaknya”.

b. Dalam Hal Harta Kekayaan
Didalam Islam tidak mengenal pencampuran harta kekayaan
antara suami dan isteri karena pernikahan. Harta kekayaan isteri tetap
menjadi milik isteri dan dikuasai penuh olehnya, demikian juga harta
kekayaan suami tetap menjadi milik suami dan dikuasai penuh
olehnya. Jika selama perkawinan diperoleh harta, maka harta itu
adalah harta syirkah, yaitu harta bersama yang menjadi milik bersama
dari suami isteri. Karena itu dalam Islam ada harta suami isteri yang
terpisah (tidak bercampur) dan harta kekayaan tidak terpisah (yang
bercampur).
Dalam hal harta kekayaan yang terpisah, masing-masing dari
suami dan isteri berhak dan berwenang atas harta dan kekayaan
masing-masing. Suami tidak berhak atas harta isterinya, karena
kekuasaan isteri terhadap hartanya tetap ada dan tidak berkurang sebab
perkawinan. Karena itu suami tidak boleh mempergunakan harta isteri
untuk membelanjai rumah tangga kecuali dengan izinnya. Bahkan
harta isteri yang dipergunakan untuk membelanjai rumah tangga,
menjadi hutang atas suami dan suami wajib membayar kepada
isterinya, kecuali jika isteri mau membebaskannya. Sebaliknya isteri
32

dapat mempergunakan harta suaminya dengan izin hakim, seandainya
tidak membelanjainya.
Dalam harta kekayaan yang terpisah (harta syirkah) merupakan
harta tambahan karena usaha bersama suami isteri selama perkawinan,
menjadi milik bersama dari suami isteri untuk kepentingan bersama.
Karena itu apabila ikatan perkawinan putus baik meninggalnya salah
satu pihak atau oleh perceraian, maka harta dibagi antara suami isteri.
33


B. Nikah Mut’ah
1. Pengertian Nikah Mut’ah
Kata nikah secara harfiah artinya ikatan. Adapun menurut istilah
syara‟, nikah berarti akad yang menghalalkan kedua belah pihak (suami
isteri) menikmati pihak satunya.
34
Mut‟ah sendiri secara bahasa adalah
bersenang-senang atau segala sesuatu yang bermanfaat. Sedang menurut
para ulama mut‟ah adalah akad perkawinan yang dilaksanakan untuk
waktu tertentu dengan mahar yang ditetapkan, baik untuk waktu yang
panjang maupun pendek, akad ini berakhir dengan berakhirnya waktu
tanpa jatuh talak.
Bila kata “nikah” dinisbahkan pada “mut‟ah” maka nikah mut‟ah
adalah perkawinan untuk menghalalkan pergaulan suami isteri sampai

33
H.M Djamil Latif, Aneka Hukum Perceraian Di Idonesia, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1981, hlm
82-83
34
Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Ensiklopedia Muslim, Minbajul Muslim, Jakarta: Darul Falah, 2001,
hlm 574
33

batas waktu tertentu dengan mahar tertentu pula. Dan jika waktu itu telah
habis maka kedua pihak (suami isteri) harus berpisah.
Beberapa pendapat tentang pengertian nikah mut‟ah:
a. Menurut Muhammad al-Hamid berkata:
“Nikah mut‟ah ialah seorang pria mengawini seorang wanita dengan
sesuatu dari harta, dengan batas waktu yang ditentukan, nikah berakhir
dengan berakhirnya waktu tanpa talak, tidak dibebankan nafkah,
tempat tinggal dan tidak pula saling mewarisi, jika salah satu diantara
keduanya ada yang meninggal sebelum berakhirnya perkawinan”.
b. Menurut Abd al-Rahman al-Jaziri berkata:
“Adapun hakikat nikah mut‟ah, yakni diikatnya akad perkawinan
dengan waktu tetentu, seperti seorang laki-laki berkata kepada seorang
wanita: “Saya kawinkan diriku denganmu selama sebulan” atau “Saya
mengawinkan kamu dengan dirinya selama setahun” atau akad yang
sama dengan itu, baik dihadiri oleh saksi dan wali secara langsung atau
tidak ”.

2. Dasar Hukum Nikah Mut’ah
Nikah mut‟ah pernah diperbolehkan oleh Rosulullah saw sebelum
sempurnanya syari‟at Islam, yakni ketika dalam berpergian dan
peperangan. Disamping itu masyarakat Islam masih dalam masa transisi
dari periode jahiliyah menuju era pencerahan Islam.
34

Pada masa Rasulullah saw umat Islam sering mengadakan
perjalanan jauh dan menghadapi peperangan, maka hal demikian
merupakan penderitaan yang karena maut senantiasa mengintai,
merekapun dipisahkan dari anak dan isteri-isteri mereka. Diantara
sebagian mereka imannya masih lemah, dan mereka itulah dikhawatirkan
akan berbuat zina karena merajalelanya perzinahan. Sebagian mereka tidak
mampu menahan syahwat, oleh karena itu mereka terdorong untuk
melakukan pengebirian.
Kebolehan atau rukhsah melakukan mut‟ah adalah ketika seorang
berada dalam kondisi terpaksa atau dharurat, yakni dalam masa
peperangan dan perjalanan jauh yang memungkinkan tidak kembali dalam
jangka waktu yang singkat, mereka tidak membawa isteri-isteri mereka
dan adanya kekhawatiran berbuat zina.
Namun kemudian ditetapkan secara pasti bahwa Rasulullah saw
melarang pernikahan mut‟ah dan menasakh (menghapus) kebolehannya.
Larangan kemudian ini melalui periwayatan yang mencapai tingkat
mutawatir. Beliau melarang nikah mut‟ah ini terjadi sampai enam kali
dalam enam peristiwa untuk memperkuat penghapusan tersebut.
35

Oleh karena itu, mayoritas umat dari kalangan fuqaha berpendapat
batal dan tidak sahnya nikah mut‟ah. Tidak ada yang berbeda pendapat
tersebut kecuali Syiah Imamiyah yang masih memperbolehkannya.

35
Abdul Aziz Muhammad Azzam, Dr. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Op. Cit, hlm 81
35

Beberapa dalil yang diambil dari Al-Qur‟an, Sunnah dan ijma‟ para ulama,
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Dalil Al-Qur‟an
Firman Allah swt dalam Surat Al-Mu‟minun ayat 5-6:
_·¦´. ¯.> ¯.±>.`,±l _.´L±.> ' N| ´_ls ¯.±>´.¸¦ .¦ !. ·>l.
¯.·.....¦ ¯.·..¦· ¸¯.s _...l. '
Yang Artinya:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap
isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka
sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. (QS. Al-
Mu’minun:5-6)
36


Ayat tersebut hanya memperbolehkan mempergauli wanita
pada dua jalur, yaitu jalur beristeri wanita dan jalur pemilikan budak
dan melarang selain dua jalur tersebut.
Nikah mut‟ah keluar dari dua jalur yang diperbolehkan tersebut
karena dalam nikah mut‟ah status wanita bukan isteri menurut
konsesus ulama sehingga Syiah sendiri tidak mengatur hak-hak wanita
andaikan sebagai isteri seperti nafkah dan harta warisan. Demikian
juga dalam pernikahan syar‟i menimbulkan hubungan nasab, dalam
nikah mut‟ah tidak ditetapkan nasab. Dalam nikah syar‟i terjadi adanya
iddah setelah adanya perpisahan nikah (furqah), dalam nikah mut‟ah
tidak wajib iddah setelah berpisah.


36
Mohammad Noor, Ulfah Munawar dkk, Op. Cit, hlm 273
36

b. Dalil Sunnah
1) Hadist Bukhari dan Muslim:
“Hadist Abdullah bin Mas‟ud ra dia berkata: Kami berperang
bersama Rasulullah saw sedangkan kami tidak membawa isteri
kemudian kami bertanya pada Rasulullah saw: apakah kami boleh
mengebiri ya Rasul? Nabi saw melarang kami mengebiri dan
memberi keringanan menikahi perempuan sampai batas waktu
tertentu (mut‟ah) dan Abdullah bin Mas‟ud membaca ayat yang
artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu
mengharamkan yang baik-baik yang dihalalkan Allah kepadamu
dan janganlah kamu melampui batas karena sesungguhnya Allah
SWT tidak menyukai orang-orang yang melampui batas.

2) Hadist yang diriwayatkan oleh Ar-Rabi‟ bin Sabrah Al-Juhani dari
ayahnya berkata: “Pagi-pagi aku datang kepada Rosulullah saw,
ketika itu beliau berada antara pojokan ka‟bah dan maqam Ibrahim
dengan menyandarkan punggunya atas ka‟bah kemudian bersabda:
“Wahai para manusia! Sesungguhnya aku pernah perintahkan
engkau melakukan nikah mut‟ah pada wanita-wanita ini. Ingatlah
sesungguhnya Allah telah mengharamkannya atas kamu sampai
pada hari kiamat. Barang siapa yang disisinya ada diantara mereka,
lepaskanlah mereka dan jangan engkau ambil dari apa yang engkau
telah berikan kepada mereka”.

3) Dalam satu periwayatan Umar, ia berkata:
“Rasulullah saw mengizinkan kami mut‟ah selama tiga hari
kemudian mengharamkannya. Demi Allah aku tidak tahu
seseorang yang melakukan mut‟ah sedangkan ia muhshan kecuali
aku rajam dengan batu”.
c. Ijma‟ ulama
Ijma‟ ulama menyatakan bahwa nikah mut‟ah bukan untuk
pernikahan, tetapi hanya bersenang-senang.

37

d. Dalil Syi‟ah Imamiyah tentang bolehnya Mut‟ah
Kaum Syi‟ah Imamiyah memperbolehkan nikah mut‟ah dengan
beberapa dalil sebagai berikut:
1) Firman Allah swt dalam Surat An-Nisa‟ Ayat 24
!.· ..-...`.¦ «. ´·... ´>..!:· >´¸.`>¦
Yang Artinya:
“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara
mereka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna)”.
(QS. An-Nisa’:24)

Ayat diatas menjelaskan tentang halalnya nikah mut‟ah dengan
kewajiban memberi materi kepada wanita sebagai imbalan
bersenang-senang. Imbalan itu disebut upah, bersenang-senang
denganya tidak disebut pernikahan dan upah itu bukan mahar.
37

Diantara yang memperkuat ayat diatas adalah bahwa Ubay bin
Ka‟ab dan Ibnu Abbas membacanya:
“Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara
mereka sampai kepada waktu yang ditentukan, berikanlah kepada
mereka maharnya (dengan sempurna)”.
Tidak ada seorangpun diantara sahabat yang ingkar kepada mereka,
ini berarti ijma‟ atas keabsahannya.
2) Nikah mut‟ah diperbolehkan pada awal Islam dan tidak didapatkan
dalil yang menasakhkannya. Pendapat penasakhannya adalah
periwayatan bahwa Umar berkata diatas mimbar: “Ada dua mut‟ah

37
Muhammad Faisal Hamdani M.Ag, Nikah Mut’ah Analisis Perbandingan Hukum Antara Sunni
Dan Syi’ah, Tangerang: Gaya Media Pratama, 2008, hlm 99
38

yang telah disyari‟atkan pada masa Nabi saw dan aku
melarangnya, yaitu mut‟ah haji (haji tamattu‟) dan mut‟ah nikah”.

3. Syarat Nikah Mut’ah
Meski berbeda dengan nikah, nikah mut‟ah memiliki syarat-syarat,
seperti adanya dua orang saksi, adanya mahar, adanya akad dan mahar,
adanya ikatan perkawinan yang dibatasi oleh waktu tertentu, tidak ada
kewarisan, tidak ada tanggung jawab nafkah dan tempat tinggal bagi suami,
demikian pula bagi si isteri tidak dibebankan sebagaimana isteri dalam
nikah permanen.
38


4. Rukun Nikah Mut’ah
a. Ucapan Akad
Ucapan akad dalam nikah mut‟ah sama dengan ucapan ijab
dan qabul. Lafazh ijab yang sering digunakan dalam nikah mut‟ah ada
tiga macam dan ini telah baku.
39
Artinya, tidak boleh menggunakan
kata-kata selain dari kata-kata ini. Kata ijab yang dimaksud adalah
sebagai berikut. Matta’tu (aku mut‟ahkan) atau ankahtu (aku
nikahkan) atau zawwajtu (aku kawinkan).
Adapun untuk kalimat qabul tidak ada ketentuan yang
mendasar, artinya kalimat qabul ini boleh menggunakan kalimat apa

38
Abustami Ilyas, Nikah Mut’ah Dalam Islam, Jakarta:Restu Ilahi, 2004, hlm 55
39
Amir Muhammad al-Quzwaini, Nikah Mut’ah Antara Halah dan Haram, Jakarta: Yayasan as-
Sajjad, 1995, hlm 9
39

saja yang mengandung maksud kerelaan terhadap kalimat ijab yang
diucapkan kepadanya, seperti qabiltu al-mut’ah (aku terima mut‟ah)
atau qabiltu at-tazwij (aku terima kawin) atau qabiltu an-nikah (aku
terima nikah). Dan pernikahan mut‟ah itu tetap syah hukumnya,
sekalipun tidak mengucapkan kalimat ijab dengan sempurna seperti,
qabiltu (aku terima) atau radhitu (aku ridha).
40

b. Calon Suami dan Isteri
Lazimnya pada pernikahan permanen, dalam nikah mut‟ah juga
terdapat calon suami dan isteri. Karena pernikahan tidak mungkin
dilangsungkan tanpa adanya mempelai baik laki-laki maupun
perempuan, baik dalam nikah permanen maupun nikah mut‟ah. Dalam
hal ini calon suami dan isteri adalah orang yang tidak terhalang oleh
ketentuan syara‟ untuk melangsungkan akad pernikahan, baik itu
karena hubungan nasab maupun karena sesusuan, sedang menjadi isteri
orang lain, sedang menjalani masa iddah atau tidak beragama Islam.
41

c. Wali Dalam Nikah Mut‟ah
Dalam nikah mut‟ah tidak mensyaratkan secara mutlak adanya
wali dalam pelaksanaan pernikahan.
d. Saksi Dalam Nikah Mut‟ah
Dalam nikah mut‟ah kehadiran saksi tidak mutlak adanya.


40
Ibid, hlm 11
41
Teuku Edy Faisal Rusydi, Pengesahan Kawin Kontrak Pandangan Sunni dan Syi’ah,
Yogyakarta: Pilar Media, 2007, hlm54
40

5. Batas Waktu Nikah Mut’ah
Dalam nikah mut‟ah ada batasan waktu dan harus dinyatakan secara
tegas dalam akad. Pernikahan tersebut akan berakhir sesuai dengan batasan
waktu yang telah ditetapkan tanpa talak, tanpa kewajiban memberi nafkah
maupun tempat tinggal dan tanpa adanya saling waris-mewarisi, jika salah
satu diantaranya telah meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mut‟ah
itu.
42


6. Lewat waktu Nikah Mut’ah dan Akibat Hukumnya
Setelah lewat waktu nikah mut‟ah tidak ada kewajiban pada pihak
laki-laki untuk menyediakan makanan dan rumah bagi si perempuan.
Pasangan tersebut tidak dapat saling waris-mewarisi satu sama lain, tetapi
menurut sebagian mereka kewarisan dapat dibuat persetujuannya dalam
perjanjian tersebut.
43

Akibat Hukum dari nikah mut’ah:
Dengan dilangsungkannya perkawinan antara seorang laki-laki
dengan seorang perempuan maka akan mengakibatkan adanya suatu akibat-
akibat yang akan ditimbulkan. Baik itu mengakibatkan hubungan batin
serta menimbulkan hak dan kewajiban diantara masing-masing baik
seorang suami maupun seorang isteri secara timbal balik. Begitu juga
dilangsungkannya suatu perkawinan maka akan menimbulkan juga

42
Al-„Alamah Muhammad Al-Hamid, Pandangan Ahlu Sunnah Tentang Nikah Mut’ah, Surabaya;
Yayasan Perguruan Islam; al-Ustadz Umar Baraga, 1995, hlm 1
43
Muhammad Museihuddin, Mut’ah, Surabaya: Bina Ilmu, 1982, hlm 14
41

hubungan antara orang tua dengan seorang anak atau keturunannya dan
terhadap harta benda dalam perkawinan.
Apabila dihubungkan dengan suatu perkawinan yang sifatnya
hanya sementara atau bisa dikatakan dengan nikah mut‟ah maka akibat
yang akan ditimbulkan dari pernikahan mut‟ah tersebut tidaklah sama
dengan akibat perkawinan yang syah menurut agama dan undang-undang.
Tujuan dari nikah mut‟ah didasari untuk menyalurkan nafsu seksual secara
halal untuk jangka sementara waktu dan menghindari diri dari perzinahan
biasanya dilakukan dalam keadaan dharurat atau peperangan. Akibat yang
ditimbulkan dari pelaksanaan nikah mut‟ah antara lain:
a. Dalam hal tanggung jawab terhadap anak, didalam nikah permanen
seorang ayah bertanggungjawab atas nafkah dan pendidikan anak,
meskipun telah terjadi perceraian. Jika anak masih kecil maka isterilah
yang paling berhak memelihara dan merawat anak itu hingga dewasa.
Tetapi dalam nikah mut‟ah sang suami tidak selalu berstatus ayah,
tergantung pada perjanjian ketika akad dilangsungkan, apakah anak itu
ikut bapaknya atau ibunya, begitu pula dengan masalah pendidikan dan
tanggungjawabnya. Anak dari hasil nikah mut‟ah tersebut dinasabkan
pada sang ayah.
b. Dalam hal harta warisan, didalam nikah permanen jika suami atau
isteri meninggal maka disyaratkan suami atau isteri saling mewarisi.
Berbeda dengan nikah mut‟ah dimana suami isteri tidak saling
mewarisi meskipun anaknya dapat mewarisi harta warisan ayah dan
ibunya.

17

Di pihak yang lain, Abu Hanifah berpendapat nikah itu berarti hubungan badan dalam arti yang sebenarnya, dan berarti akad dalam arti majazi. Hal itu didasarkan pada sabda Rosulullah saw: “Saling menikahlah kalian, sehingga kalian akan melahirkan banyak keturunan”. Dalil yang menjadi landasan pendapat pertama adalah ayat alqur‟an, bahwa kata nikah itu tidak diartikan kecuali akad, sebagaimana yang ditegaskan az-zamakhsyari dalam kitabnya, pada awal surat AnNuur. Namun hal itu bertolak belakang dengan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 230:

                                
Yang Artinya: “ Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya, (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukumhukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah:230)17

Kemudian arti perkataan nikah pada ayat diatas diterangkan kembali oleh Hadist : “ Dari Aisyah r.a, ia berkata :” Seorang laki-laki telah mentalak istrinya tiga kali, kemudian seorang laki-laki yang lain telah mengawini bekas
17

Yayasan Penyelenggara penterjemah Al-Qur‟an, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2008, hlm 36

(HR. karena kawin itu akan memelihara diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah. Rosulullah saw memerintahkan agar orang-orang yang telah mempunyai kesanggupan untuk kawin melaksanakannya. Maka ditanyakanlah yang demikian itu kepada Rosulullah saw. maka sesungguhnya ia telah mengusahakan sebagian agamanya. Maka bekas suami pertama bermaksud mengawini bekas isterinya kembali. barangsiapa yang telah sanggup diantara kamu melaksanakan kehidupan suami istri. Maka sesungguhnya kawin itu menghalangi pandangan mata (kepada yang . Ath-Thabrani dan Al-Hakim dan dinyatakan Shaheh Sahadnya). sehingga suami yang lain (suami kedua) merasakan madunya (bersetubuh) menurut yang telah dirasakan oleh (suami) yang pertama”. (HR Riwayat Bukahari dan Muslim). Segi Ibadat Perkawinan menurut agama Islam mempunyai unsur-unsur ibadah. Dalam hal ini perkawinan menurut yang disyari‟atkan agama Islam mempunyai beberapa segi. Melaksanakan perkawinan berarti melaksanakan sebagian dari ibadah dan berarti pula telah menyempurnakan sebagian dari agama. banyak ayat al-qur‟an dan juga hadist yang mengutarakannya. maka beliau bersabda: “ Tidak (boleh kawin). hendaklah ia kawin.18 isteri itu dan mentalaknya sebelum ia mencampuri bekas isterinya itu. Dan kaum muslimin secara keseluruhan telah sepakat bahwa nikah itu merupakan suatu hal yang disyari‟atkan. Rosulullah saw bersabda: “Hai sekalian pemuda. Dan mengenai masalah nikah ini. diantaranya ialah: a. Maka bertakwalah kepada Allah pada bagian yang lain”. Rosulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang telah dianugerahi Allah isteri yang shalihah.

ditentukan persyaratan berpoligami bagi suami-suami yang hendak melakukannya. 2) Akibat perkawinan. merupakan suatu perjanjian yang kuat. Segi Hukum Perkawinan menurut yang disyari‟atkan agama Islam. padahal sebagian kamu telah bercampur (bergaul) dengan yang lain sebagai suami istri. hlm 88 . Dan mereka (isteriisteri) telah mengambil dari kamu janji yang kuat”.19 terlarang memandangnya) dan memelihara kemaluan. wajib berpuasa. (HR. Dan barangsiapa yang tidak sanggup. AnNisa’:21)18 Sebagai perjanjian. perkawinan mempunyai beberapa sifat: 1) Perkawinan tidak dapat dilangsungkan tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu. ( QS. masing-masing pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu terikat oleh hak-hak dan kewajibankewajiban. sebagaimana Firman Allah Surat An-Nisa‟ ayat 21:             Yang Artinya: “Bagaimana kamu akan mengambil harta yang telah kamu berikan kepada bekas isterimu. Maka sesungguhnya puasa adalah perisai baginya”. b. Bukhari dan Muslim). 18 Ibid.

adanya ketentuan hak dan kewajiban suami isteri dan isteri dalam rumah tangga dan sebagainya. Nikah mempunyai manfaat untuk kehidupan beragama didunia. ialah dengan adanya persyaratan bagi seorang suami untuk kawin lagi dengan isterinya yang lain.20 3) Ketentuan-ketentuan dalam persetujuan itu dapat dirubah sesuai dengan persetujuan masing-masing pihak asalkan tidak melanggar batas-batas yang ditentukan oleh agama. Segi Sosial Hukum Islam memberikan kedudukan sosial yang tinggi kepada wanita (isteri) setelah dilakukan perkawinan. 2. hidup menyendiri dengan tidak kawin-kawin. c. yang menyebabkan hilangnya keturunan keluarga dan melenyapkan umat. Perkawinan bertujuan membentuk keluarga yang diliputi rasa saling cinta mencintai dan rasa kasih sayang antara sesama anggota keluarga. 2005. Ensiklopedia Etika Islam. Karena itu Rosulullah saw melarang kerahiban. Jakarta: Maaghrifah Pustaka. hlm 497 .19 Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra‟du ayat 37: 19 Abdul „Aziz bin Fathih as-Sayyid Nada. tidak boleh seorang suami mempunyai istri lebih dari empat. Dalil Al-Qur‟an Nikah adalah salah satu yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dasar Hukum Nikah a.

hlm 448 21 . Dan setiap masa ada Kitab sebagai petunjuk. Qur’an Karim dan Terjemahan. Yogyakarta: UII Press. kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu.21 Yang artinya:                      Yang Artinya: “Dan demikianlah. Allah berfirman dalam Surat An-Nur ayat 32: 20 H. Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”. Ar-Ra’du:37 )20 Perkawinan itu telah menjadi sunnah para Rosul sejak dahulu kala dan hendaklah diikuti pula oleh generasi-generasi yang akan datang kemudian. karena perkawinan itu adalah jalan untuk menghindari kefakiran dan kemiskinan. Zaini Dahlan. Rasul tidak akan mendatangkan satu ayatpun kecuali seizin Allah. hlm 447 Ibid. ( QS. Ar-Ra’du:38 )21 Allah menganjurkan agar kaum muslimin saling membantu dalam perkawinan. dan Kami karuniakan istri dan keturunan bagi mereka. ( QS. Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra‟du Ayat 38:                         Yang Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad). 1999. berusaha mencarikan jodoh-jodoh dari saudarasaudaranya yang belum mempunyai jodoh.

Karim dan Terjemahannya. niscaya Allah akan mengayakan kamu”. dan memberimu rezki dari yang baik-baik. An-Nur:32 )22 Allah berjanji kepada manusia untuk menjadikan bagi mereka isteri-isteri dari jenis kamu sendiri. An-Nahl:72)23 b. Anjuran ini dinyatakan dalam bermacam-macam ungkapan yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan hadist. begitu pula hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan yang shalihah. 1996. Op. Allah berfirman dalam Surat AnNahl ayat 72:                        Yang artinya: “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagi kamu isteri-isteri kamu itu. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS.22                     Yang Artinya: “Nikahilah olehmu orang-orang yang tidak mempunyai jodoh diantara kamu. Cit. Semarang: PT. (QS. Jika kamu adalah orang-orang fakir. Dalil Al-Hadist Agama Islam sangat menganjurkan perkawinan. hlm 9 23 Mohammad Noor. Karya Toha Putra. hlm 219 . Karena perkawinan akan menimbulkan rasa 22 Kamal Muchtar. anak-anak dan cucucucu. Ulfah Munawar dkk. Al-Qur’an Al.

bahwasanya Rosulullah saw bersabda: “Dunia itu ialah mata benda kehidupan. bukanlah ia termasuk (umat) ku”. dan beliau bersabda: “Kawinilah olehmu wanita-wanita yang pencinta lagi beranak. begini?.23 saling cinta mencintai antara suami dan isteri. tidak akan tidur dimalam hari agar dapat melakukan ibadah dan tidak akan kawin. Bukhari)24 Perkawinan membentuk keluarga.a berkata: “Adalah Rasulullah saw menyuruh kawin dan melarang hidup sendiri (tidak kawin) dengan larangannya yang sangat.. dan aku mengawini wanita. bangun dimalam hari. dan sebaik-baik mata benda kehidupan dunia itu ialah isteri yang shalihah”. saling mengasihi antara orang tua dan anaknya dan anggota keluarganya yang lain. maka sesungguhnyaaku akan bermegah24 Imam Az-Zabidi. “Dari Abdullah bin Amr bin Ash. Sesuai dengan hadist: “Dari Anas bin Malik r. (HR Muslim) Rasulullah mencela para sahabat yang telah berjanji akan puasa tiap hari. orang yang paling takwa diantara kamu kepada-Nya. begini. 2002. Rasulullah saw akan merasa bangga dihari kiamat apabila jumlah umatnya adalah yang paling banyak dibanding dengan jumlah umat para rasul yang lain. hlm 904 . Baik buruknya suatu umat erat hubungannya dengan keadaan keluarga yang membentuk umat itu. Jakarta: Pustaka Amani. tetapi aku puasa. (HR. Rosulullah saw mengatakan bahwa sebaik-baik mata benda kehidupan dunia ialah isteri yang shalihah. keluarga-keluarga akan membentuk umat. dan berbuka. Rasulullah bersabda: “Apakah kamu sekalian yang mengatakan begini. Ringkasan Hadist Shahih Al-Bukhari. aku sembahyang.adapun aku demi Allah sesungguhnya aku benar orang yang paling takut diantara kamu adalah kepada Allah. Maka barangsiapa yang benci kepada sunnahku.

Kesanggupan merupakan imbangan dari hak. tetapi ada dan tidak ada kesanggupan itu menentukan apakah perkawinan itu dapat atau tidak dapat mencapai tujuannya. . c. sesuai dengan keadaan orang-orang yang akan kawin. b. Seorang sanggup untuk kawin berarti ia adalah orang yang sanggup melaksanakan hak-hak isteri atau suaminya. Calon mempelai bukanlah orang-orang yang terlarang melaksanakan pernikahan. Kesanggupan dari calon-calon mempelai untuk melaksanakan pernikahan. Laki-laki dan wanita ada yang sanggup melaksanakan perkawinan dan ada yang tidak sanggup melaksanakannya. Calon mempelai adalah orang-orang yang sejodoh. Meskipun kesanggupan itu pada asasnya bukanlah merupakan syarat mutlak untuk melaksanakan perkawinan. Syarat Nikah Syarat Nikah adalah: a. Maksudnya keserasian antara calom suami dan isteri.24 megah dengan banyaknya kamu itu terhadap nabi-nabi yang lain dihari kiamat”. Larangan pernikahan ini ada yang untuk selama-lamanya dan ada yang dalam waktu-waktu tertentu saja. (HR Ahmad) 3. sehingga ada keharmonisan dan perkawinan dapat mencapai tujuannya. Sebaliknya orang yang tidak sanggup untuk kawin adalah orang yang tidak sanggup melaksanakan hak-hak isteri atau suaminya. sehingga pihak-pihak yang berkepentingan tidak keberatan terhadap kelangsungan perkawinan itu.

Rukun Nikah Dalam nikah ada rukun yang harus dipenuhi didalamnya. Qabul ialah pernyataan atau jawaban pihak calon suami bahwa ia menerima kesediaan calon isterinya untuk menjadi isterinya. (QS. ankahtu (aku 25 H. sama-sama diciptakan Allah sebagai makhlukNya yang mempunyai bentuk paling baik. Cit hlml 1115 .25 Pada asasnya tidak ada perbedaan diantara manusia. adapun rukun nikah tersebut adalah sebagai berikut: a. Zaini Dahlan. Ijab ialah pernyataan pihak calon isteri bahwa ia bersedia dinikahkan dengan calon suaminya. Ucapan Akad Ucapan akad terdiri atas “ijab” dan “qabul”. semua manusia adalah sama. At-Tiin:4) 25 4. Beberapa Ulama berpendapat bahwa nikah itu dianggap syah bila menggunakan lafazh. zawwajtu (aku jodohkan) . Op. berdasarkan firman Allah dalam Surat At-Tiin ayat 4:        Yang Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.

Jakarta: PT. Calon Suami dan Istri Sebagaimana dalam memilih isteri. 2002. Bumi Aksara. juga yang berhak mengucapkan “qabul” adalah calon mempelai pria secara pribadi. 1997. akan tetapi juga dengan syarat harus menyebutkan mas kawin. hlm 85 . Rosulullah bersabda: “Jika datang kepada kamu orang yang engkau ridhai agama dan akhlaknya maka kawinilah ia.26 kawinkan). Islam menganjurkan yang beragama dan berakhlak yang baik. hlm 45 27 Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia. dan tidak syah bila menggunakan selain lafazh tersebut. Surabaya: Pustaka Tinta Mas. Jika tidak kamu kerjakan. Calon suami hendaknya memilih wanita yang ahli agama dan berakhlak mulia. Hendaknya calon suami tidak menikahi wanita dengan 26 Mohammad Idris Ramulyo. Islam juga mrnganjurkan kepada keluarga wanita agar mengutamakan pemuda yang melamar putrinya yang memiliki sifat tersebut.27 b. yang terjadi adalah fitnah dibumi dan kerusakan besar”. Jangan sampai calon suami bermaksud memilih wanita hanya dari segi kecantikan. Islam membimbing agar memilih wanita yang memiliki kriteria sifat-sifat tertentu dan menganjurkan bagi yang ingin menikahinya agar sifat-sifat inilah yang menjadi pusat perhatiannya. kecuali disertai berakhlak dan beragama. Demikian juga dalam memilih suami. Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. beruntun dan tidak berselang waktu.26 Dalam hal ini “ijab” dan “qabul” antara wali dan calon mempelai harus jelas.

Fachruddin Hs. karena keindahan wajahnya. karena status sosialnya. dkk.a Rosulullah saw bersabda: “Wanita dikawini karena empat hal: karena harta bendanya. Rosulullah saw pernah bersabda mengenai pentingnya memilih seorang wanita yang akan dinikahi dari aspek agamanya. Wijaya Jakarta. Rasulullah saw bersabda: “Dari Abu Hurairah r. dan karena ketaatannya kepada agama. Dan karena wali ini merupakan pihak yang sangat menentukan untuk terjadinya pernikahan. 1992. hlm 10 29 Kamal Muchtar. Op. yaitu orang yang dibebani hukum dan dapat mempertanggung jawabkan perbuatan hukumnya. Jakarta: Fa. Wali Dalam Nikah Wali dalam nikah merupakan salah satu rukun yang harus dipenuhi untuk menjadikan pernikahan itu syah. sebab walilah yang akan melakukan ijab dalam upacara pernikahan. maka kamu akan berbahagia”28 c. 2) Muslim 3) Cerdas (Adil)29 28 Zainudin Hamidy. tetapi juga disertai dengan agama dan akhlak. Cit. yaitu: 1) Mukallaf (baliq dan berakal).27 tujuan harta dan status jabatan sosialnya semata. maka diperlukan wali yang memenuhi persyaratan. hlm 90-93 . Terjemahan Hadist Shahih Bukhari Jilid IV. Pilihlah wanita yang taat kepada agama. Boleh juga menikahinya dengan mengutamakan harta dan jabatannya.

Dr. 2) Jumlah saksi minimal dua orang laki-laki atau satu orang laki-laki dan dua orang perempuan. tidak boleh dibatasi waktunya dengan 30 Dr. Cit. Batas Waktu Pernikahan Dalam nikah tidak ada batasan waktu dalam pelaksanaannya. Jika tidak ada dua orang lelaki. Abdul Aziz Muhammad Azzam. maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai. Karena dengan adanya saksi dapat dijadikan sebagai alat bukti yang dapat menghilangkan keraguraguan. Op. orang yang dapat mempertanggung jawabkan persaksiannya. Saksi Dalam Nikah Dalam melaksanakan pernikahan menghadirkan saksi adalah salah satu rukun yang harus dipenuhi. hlm 107 . (QS. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 282:                       Yang Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki diantaramu. Al-Baqarah:282)30 5.28 d. supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya”. Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. Dalam nikah hendaknya selamanya. Beberapa syarat saksi yang harus dipenuhi dalam pernikahan yaitu: 1) Saksi hendaklah orang yang mukallaf.

kasih sayang. Pembatasan waktu dalam pernikahan dengan pembatasan waktu tertentu akan membatasi pemanfaatan seksual. gotong royong dalam kehidupan dan kebersamaan dalam keadaan senang dan sedih. dan ini bukan tujuan asal dari pernikahan. baik dalam waktu yang panjang atau lama maupun waktu yang pendek atau sebentar. hlm 156 . Op. Cit. cinta. lawan dari “berkumpul”. Bila hal tersebut diatas terjadi maka akan berimplikasi pada hal-hal berikut: 31 Kamal Muchtar. Kemudian kedua perkataan ini dijadikan istilah oleh ahli-ahli fiqih yang berarti perceraian antara suami isteri.31 Perkataan “talak” dan “furqah” dalam istilah fiqih mempunyai arti yang umum dan arti yang khusus. yang telah ditetapkan oleh hakim dan perceraian yang jatuh dengan sendirinya seperti perceraian yang disebabkan meninggalnya salah seorang dari suami atau isteri. Arti khusus ialah perceraian yang dijatuhkan oleh suami saja. Tujuan pernikahan yang asal adalah ketenangan. Perceraian dan Akibat Hukumnya Perceraian dalam istilah ahli fiqih disebut “talak” atau “furqah”.29 pembatasan tertentu. Talak berarti “membuka ikatan”. meningkatkan derajat manusia. “membatalkan perjanjian”. 6. Arti yang umum. Furqah berarti “bercerai”. ialah segala macam bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami. memelihara keturunan.

selagi kamu belum menikah dengan laki-laki lain”. perutkulah yang telah mengandungnya. karena ibulah yang biasanya telaten dan sabar.a. “Wahai Rasulullah. sedangkan diantara mereka terdapat anak yang masih dibawah tujuh tahun. Ahmad Abu Dawud. Baihaqi dan Hakim). (HR. belaiankulah yang telah melindunginya dan air susuku pula yang telah menjadi minumannya. Tetapi kalau keduanya sama. Selama waktu itu. hlm 391 . hendaklah si anak tinggal bersama ibunya selama ibunya belum menikah dengan laki-laki lain. Pada saat itu si anak diserahkan kepada pihak yang lebih cakap untuk merawat dan memeliharanya. maka ibunya lebih berhak memeliharanya 32 Syaikh Hasan Ayyub.a. sesungguhnya ini adalah anakku. tetapi nafkahnya menjadi kewajiban ayahnya.32 Hal itu didasarkan pada hadist yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr r. Cit. Yang demikian itu sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r. Meskipun anak itu tinggal bersama ibunya. maka anak itu harus disuruh memilih siapa diantara keduanya yang lebih ia sukai. maka isterilah yang paling berhak memelihara dan merawat anak itu hingga anak tersebut dewasa. Tetapi saat ini bapaknya memisahkan ia dariku”. Dalam Hal Tanggung Jawab Terhadap Anak Jika pasangan suami isteri bercerai yang dari hubungan mereka menghasilkan anak yang masih kecil. Op. siapakah diantara keduanya (ibu dan bapak) yang lebih berhak dan lebih pandai untuk memelihara anak tersebut. Maka beliau berkata: “Kamulah yang lebih berhak atas anak itu. dimana ada seorang wanita yang mengadukan permasalahannya kepada Rosulullah saw. Jika si anak tersebut sudah dewasa dan mampu menjaga dirinya sendiri. bahwa Rosulullah saw telah menyuruh seorang anak untuk memilih antara ikut bapaknya atau ibunya”. Dalam kitab Syarh as-Sunnah disebutkan “Jika seorang suami menceraikan isterinya.30 a. maka perlu adanya pihak berwajib untuk melakukan penyelidikan.

Suami tidak berhak atas harta isterinya.31 jika ia menghendaki dan bapaknya tetap berkewajiban memberi nafkah kepadanya. b. demikian juga harta kekayaan suami tetap menjadi milik suami dan dikuasai penuh olehnya. maka tidak ada hak bagi isterinya untuk memelihara anaknya”. yaitu harta bersama yang menjadi milik bersama dari suami isteri. Dalam hal harta kekayaan yang terpisah. Karena itu dalam Islam ada harta suami isteri yang terpisah (tidak bercampur) dan harta kekayaan tidak terpisah (yang bercampur). Dalam Hal Harta Kekayaan Didalam Islam tidak mengenal pencampuran harta kekayaan antara suami dan isteri karena pernikahan. Bahkan harta isteri yang dipergunakan untuk membelanjai rumah tangga. Dan jika isterinya itu seorang yang tidak dapat dipercaya atau kafir. maka bapaknya berkewajiban membayar wanita lain untuk mengasuhnya. Karena itu suami tidak boleh mempergunakan harta isteri untuk membelanjai rumah tangga kecuali dengan izinnya. menjadi hutang atas suami dan suami wajib membayar kepada isterinya. karena kekuasaan isteri terhadap hartanya tetap ada dan tidak berkurang sebab perkawinan. Jika selama perkawinan diperoleh harta. Harta kekayaan isteri tetap menjadi milik isteri dan dikuasai penuh olehnya. maka harta itu adalah harta syirkah. Dan jika ia (isterinya) tidak berkeinginan memelihara anaknya. kecuali jika isteri mau membebaskannya. masing-masing dari suami dan isteri berhak dan berwenang atas harta dan kekayaan masing-masing. sedangkan bapaknya muslim. Sebaliknya isteri .

Sedang menurut para ulama mut‟ah adalah akad perkawinan yang dilaksanakan untuk waktu tertentu dengan mahar yang ditetapkan. Nikah Mut’ah 1.32 dapat mempergunakan harta suaminya dengan izin hakim.34 Mut‟ah sendiri secara bahasa adalah bersenang-senang atau segala sesuatu yang bermanfaat. maka harta dibagi antara suami isteri. 1981. Jakarta: Darul Falah.M Djamil Latif. Bila kata “nikah” dinisbahkan pada “mut‟ah” maka nikah mut‟ah adalah perkawinan untuk menghalalkan pergaulan suami isteri sampai 33 H. baik untuk waktu yang panjang maupun pendek. hlm 82-83 34 Abu Bakar Jabir al-Jazairi. menjadi milik bersama dari suami isteri untuk kepentingan bersama. Pengertian Nikah Mut’ah Kata nikah secara harfiah artinya ikatan.33 B. nikah berarti akad yang menghalalkan kedua belah pihak (suami isteri) menikmati pihak satunya. Jakarta: Ghalia Indonesia. akad ini berakhir dengan berakhirnya waktu tanpa jatuh talak. Minbajul Muslim. 2001. Ensiklopedia Muslim. Adapun menurut istilah syara‟. hlm 574 . seandainya tidak membelanjainya. Aneka Hukum Perceraian Di Idonesia. Dalam harta kekayaan yang terpisah (harta syirkah) merupakan harta tambahan karena usaha bersama suami isteri selama perkawinan. Karena itu apabila ikatan perkawinan putus baik meninggalnya salah satu pihak atau oleh perceraian.

tidak dibebankan nafkah. dengan batas waktu yang ditentukan. Dasar Hukum Nikah Mut’ah Nikah mut‟ah pernah diperbolehkan oleh Rosulullah saw sebelum sempurnanya syari‟at Islam. nikah berakhir dengan berakhirnya waktu tanpa talak. baik dihadiri oleh saksi dan wali secara langsung atau tidak ”.33 batas waktu tertentu dengan mahar tertentu pula. Dan jika waktu itu telah habis maka kedua pihak (suami isteri) harus berpisah. yakni diikatnya akad perkawinan dengan waktu tetentu. Menurut Abd al-Rahman al-Jaziri berkata: “Adapun hakikat nikah mut‟ah. tempat tinggal dan tidak pula saling mewarisi. Beberapa pendapat tentang pengertian nikah mut‟ah: a. b. jika salah satu diantara keduanya ada yang meninggal sebelum berakhirnya perkawinan”. Menurut Muhammad al-Hamid berkata: “Nikah mut‟ah ialah seorang pria mengawini seorang wanita dengan sesuatu dari harta. yakni ketika dalam berpergian dan peperangan. . seperti seorang laki-laki berkata kepada seorang wanita: “Saya kawinkan diriku denganmu selama sebulan” atau “Saya mengawinkan kamu dengan dirinya selama setahun” atau akad yang sama dengan itu. Disamping itu masyarakat Islam masih dalam masa transisi dari periode jahiliyah menuju era pencerahan Islam. 2.

merekapun dipisahkan dari anak dan isteri-isteri mereka. Beliau melarang nikah mut‟ah ini terjadi sampai enam kali dalam enam peristiwa untuk memperkuat penghapusan tersebut.34 Pada masa Rasulullah saw umat Islam sering mengadakan perjalanan jauh dan menghadapi peperangan. hlm 81 . Abdul Wahhab Sayyed Hawwas. 35 Abdul Aziz Muhammad Azzam. Diantara sebagian mereka imannya masih lemah. oleh karena itu mereka terdorong untuk melakukan pengebirian. Namun kemudian ditetapkan secara pasti bahwa Rasulullah saw melarang pernikahan mut‟ah dan menasakh (menghapus) kebolehannya. Dr. yakni dalam masa peperangan dan perjalanan jauh yang memungkinkan tidak kembali dalam jangka waktu yang singkat. Op. mayoritas umat dari kalangan fuqaha berpendapat batal dan tidak sahnya nikah mut‟ah. Kebolehan atau rukhsah melakukan mut‟ah adalah ketika seorang berada dalam kondisi terpaksa atau dharurat. mereka tidak membawa isteri-isteri mereka dan adanya kekhawatiran berbuat zina.35 Oleh karena itu. maka hal demikian merupakan penderitaan yang karena maut senantiasa mengintai. dan mereka itulah dikhawatirkan akan berbuat zina karena merajalelanya perzinahan. Cit. Tidak ada yang berbeda pendapat tersebut kecuali Syiah Imamiyah yang masih memperbolehkannya. Sebagian mereka tidak mampu menahan syahwat. Larangan kemudian ini melalui periwayatan yang mencapai tingkat mutawatir.

dalam nikah mut‟ah tidak ditetapkan nasab. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. yaitu jalur beristeri wanita dan jalur pemilikan budak dan melarang selain dua jalur tersebut. maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”. AlMu’minun:5-6)36 Ayat tersebut hanya memperbolehkan mempergauli wanita pada dua jalur. Dalil Al-Qur‟an Firman Allah swt dalam Surat Al-Mu‟minun ayat 5-6:                 Yang Artinya: “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Dalam nikah syar‟i terjadi adanya iddah setelah adanya perpisahan nikah (furqah). dalam nikah mut‟ah tidak wajib iddah setelah berpisah. Nikah mut‟ah keluar dari dua jalur yang diperbolehkan tersebut karena dalam nikah mut‟ah status wanita bukan isteri menurut konsesus ulama sehingga Syiah sendiri tidak mengatur hak-hak wanita andaikan sebagai isteri seperti nafkah dan harta warisan. hlm 273 . Op. diantaranya adalah sebagai berikut: a. Cit. Ulfah Munawar dkk. Sunnah dan ijma‟ para ulama. (QS. 36 Mohammad Noor.35 Beberapa dalil yang diambil dari Al-Qur‟an. Demikian juga dalam pernikahan syar‟i menimbulkan hubungan nasab.

ketika itu beliau berada antara pojokan ka‟bah dan maqam Ibrahim dengan menyandarkan punggunya atas ka‟bah kemudian bersabda: “Wahai para manusia! Sesungguhnya aku pernah perintahkan engkau melakukan nikah mut‟ah pada wanita-wanita ini.36 b. 3) Dalam satu periwayatan Umar. Ingatlah sesungguhnya Allah telah mengharamkannya atas kamu sampai pada hari kiamat. Dalil Sunnah 1) Hadist Bukhari dan Muslim: “Hadist Abdullah bin Mas‟ud ra dia berkata: Kami berperang bersama Rasulullah saw sedangkan kami tidak membawa isteri kemudian kami bertanya pada Rasulullah saw: apakah kami boleh mengebiri ya Rasul? Nabi saw melarang kami mengebiri dan memberi keringanan menikahi perempuan sampai batas waktu tertentu (mut‟ah) dan Abdullah bin Mas‟ud membaca ayat yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik yang dihalalkan Allah kepadamu dan janganlah kamu melampui batas karena sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampui batas. . c. Barang siapa yang disisinya ada diantara mereka. lepaskanlah mereka dan jangan engkau ambil dari apa yang engkau telah berikan kepada mereka”. Ijma‟ ulama Ijma‟ ulama menyatakan bahwa nikah mut‟ah bukan untuk pernikahan. ia berkata: “Rasulullah saw mengizinkan kami mut‟ah selama tiga hari kemudian mengharamkannya. Demi Allah aku tidak tahu seseorang yang melakukan mut‟ah sedangkan ia muhshan kecuali aku rajam dengan batu”. 2) Hadist yang diriwayatkan oleh Ar-Rabi‟ bin Sabrah Al-Juhani dari ayahnya berkata: “Pagi-pagi aku datang kepada Rosulullah saw. tetapi hanya bersenang-senang.

An-Nisa’:24) Ayat diatas menjelaskan tentang halalnya nikah mut‟ah dengan kewajiban memberi materi kepada wanita sebagai imbalan bersenang-senang. 2008.Ag. Tangerang: Gaya Media Pratama. berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna)”. Nikah Mut’ah Analisis Perbandingan Hukum Antara Sunni Dan Syi’ah. ini berarti ijma‟ atas keabsahannya. (QS.37 Diantara yang memperkuat ayat diatas adalah bahwa Ubay bin Ka‟ab dan Ibnu Abbas membacanya: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Tidak ada seorangpun diantara sahabat yang ingkar kepada mereka.37 d. Dalil Syi‟ah Imamiyah tentang bolehnya Mut‟ah Kaum Syi‟ah Imamiyah memperbolehkan nikah mut‟ah dengan beberapa dalil sebagai berikut: 1) Firman Allah swt dalam Surat An-Nisa‟ Ayat 24        Yang Artinya: “Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna)”. Imbalan itu disebut upah. 2) Nikah mut‟ah diperbolehkan pada awal Islam dan tidak didapatkan dalil yang menasakhkannya. bersenang-senang denganya tidak disebut pernikahan dan upah itu bukan mahar. hlm 99 . Pendapat penasakhannya adalah periwayatan bahwa Umar berkata diatas mimbar: “Ada dua mut‟ah 37 Muhammad Faisal Hamdani M.

1995. tidak ada tanggung jawab nafkah dan tempat tinggal bagi suami. hlm 55 Amir Muhammad al-Quzwaini. yaitu mut‟ah haji (haji tamattu‟) dan mut‟ah nikah”. demikian pula bagi si isteri tidak dibebankan sebagaimana isteri dalam nikah permanen.38 yang telah disyari‟atkan pada masa Nabi saw dan aku melarangnya. Adapun untuk kalimat qabul tidak ada ketentuan yang mendasar. 2004. Nikah Mut’ah Antara Halah dan Haram. adanya akad dan mahar. hlm 9 . adanya ikatan perkawinan yang dibatasi oleh waktu tertentu. adanya mahar. Jakarta:Restu Ilahi. seperti adanya dua orang saksi. Matta’tu (aku mut‟ahkan) atau ankahtu (aku nikahkan) atau zawwajtu (aku kawinkan). 3.39 Artinya.38 4. artinya kalimat qabul ini boleh menggunakan kalimat apa 38 39 Abustami Ilyas. Ucapan Akad Ucapan akad dalam nikah mut‟ah sama dengan ucapan ijab dan qabul. nikah mut‟ah memiliki syarat-syarat. Syarat Nikah Mut’ah Meski berbeda dengan nikah. tidak boleh menggunakan kata-kata selain dari kata-kata ini. Jakarta: Yayasan asSajjad. Kata ijab yang dimaksud adalah sebagai berikut. Lafazh ijab yang sering digunakan dalam nikah mut‟ah ada tiga macam dan ini telah baku. Nikah Mut’ah Dalam Islam. Rukun Nikah Mut’ah a. tidak ada kewarisan.

qabiltu (aku terima) atau radhitu (aku ridha). sedang menjadi isteri orang lain. Calon Suami dan Isteri Lazimnya pada pernikahan permanen. sedang menjalani masa iddah atau tidak beragama Islam. dalam nikah mut‟ah juga terdapat calon suami dan isteri. Yogyakarta: Pilar Media. Karena pernikahan tidak mungkin dilangsungkan tanpa adanya mempelai baik laki-laki maupun perempuan. Wali Dalam Nikah Mut‟ah Dalam nikah mut‟ah tidak mensyaratkan secara mutlak adanya wali dalam pelaksanaan pernikahan. d. Pengesahan Kawin Kontrak Pandangan Sunni dan Syi’ah.39 saja yang mengandung maksud kerelaan terhadap kalimat ijab yang diucapkan kepadanya. 40 41 Ibid. hlm 11 Teuku Edy Faisal Rusydi. baik itu karena hubungan nasab maupun karena sesusuan. 2007. Dan pernikahan mut‟ah itu tetap syah hukumnya. sekalipun tidak mengucapkan kalimat ijab dengan sempurna seperti. hlm54 . Dalam hal ini calon suami dan isteri adalah orang yang tidak terhalang oleh ketentuan syara‟ untuk melangsungkan akad pernikahan.40 b. seperti qabiltu al-mut’ah (aku terima mut‟ah) atau qabiltu at-tazwij (aku terima kawin) atau qabiltu an-nikah (aku terima nikah). Saksi Dalam Nikah Mut‟ah Dalam nikah mut‟ah kehadiran saksi tidak mutlak adanya. baik dalam nikah permanen maupun nikah mut‟ah.41 c.

Surabaya. Lewat waktu Nikah Mut’ah dan Akibat Hukumnya Setelah lewat waktu nikah mut‟ah tidak ada kewajiban pada pihak laki-laki untuk menyediakan makanan dan rumah bagi si perempuan. jika salah satu diantaranya telah meninggal sebelum berakhirnya masa nikah mut‟ah itu. hlm 1 43 Muhammad Museihuddin.42 6. Baik itu mengakibatkan hubungan batin serta menimbulkan hak dan kewajiban diantara masing-masing baik seorang suami maupun seorang isteri secara timbal balik. hlm 14 . tanpa kewajiban memberi nafkah maupun tempat tinggal dan tanpa adanya saling waris-mewarisi. Pasangan tersebut tidak dapat saling waris-mewarisi satu sama lain. Pandangan Ahlu Sunnah Tentang Nikah Mut’ah. Batas Waktu Nikah Mut’ah Dalam nikah mut‟ah ada batasan waktu dan harus dinyatakan secara tegas dalam akad. Mut’ah.40 5. Begitu juga dilangsungkannya suatu perkawinan maka akan menimbulkan juga 42 Al-„Alamah Muhammad Al-Hamid. Pernikahan tersebut akan berakhir sesuai dengan batasan waktu yang telah ditetapkan tanpa talak. Yayasan Perguruan Islam. 1995. Surabaya: Bina Ilmu. 1982. al-Ustadz Umar Baraga. tetapi menurut sebagian mereka kewarisan dapat dibuat persetujuannya dalam perjanjian tersebut.43 Akibat Hukum dari nikah mut’ah: Dengan dilangsungkannya perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan maka akan mengakibatkan adanya suatu akibatakibat yang akan ditimbulkan.

didalam nikah permanen jika suami atau isteri meninggal maka disyaratkan suami atau isteri saling mewarisi. Akibat yang ditimbulkan dari pelaksanaan nikah mut‟ah antara lain: a. didalam nikah permanen seorang ayah bertanggungjawab atas nafkah dan pendidikan anak. Apabila dihubungkan dengan suatu perkawinan yang sifatnya hanya sementara atau bisa dikatakan dengan nikah mut‟ah maka akibat yang akan ditimbulkan dari pernikahan mut‟ah tersebut tidaklah sama dengan akibat perkawinan yang syah menurut agama dan undang-undang. Anak dari hasil nikah mut‟ah tersebut dinasabkan pada sang ayah. begitu pula dengan masalah pendidikan dan tanggungjawabnya.41 hubungan antara orang tua dengan seorang anak atau keturunannya dan terhadap harta benda dalam perkawinan. Jika anak masih kecil maka isterilah yang paling berhak memelihara dan merawat anak itu hingga dewasa. b. Dalam hal tanggung jawab terhadap anak. tergantung pada perjanjian ketika akad dilangsungkan. Dalam hal harta warisan. Tujuan dari nikah mut‟ah didasari untuk menyalurkan nafsu seksual secara halal untuk jangka sementara waktu dan menghindari diri dari perzinahan biasanya dilakukan dalam keadaan dharurat atau peperangan. apakah anak itu ikut bapaknya atau ibunya. meskipun telah terjadi perceraian. . Tetapi dalam nikah mut‟ah sang suami tidak selalu berstatus ayah. Berbeda dengan nikah mut‟ah dimana suami isteri tidak saling mewarisi meskipun anaknya dapat mewarisi harta warisan ayah dan ibunya.