P. 1
bab4 dan5

bab4 dan5

|Views: 98|Likes:
Published by Ismail Andi Baso

More info:

Published by: Ismail Andi Baso on Jun 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

55

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Industri mebel kayu Sinar Harapan merupakan indusrti rumahan yang memproduksi furniture-furniture seperti lemari, meja, kursi, kitchen set, rak, kusen dan lain-lain. Industri rumahan ini terletak di wilayah Karang Paci Kecamatan Sungai Kunjang. Industri mebel kayu Sinar Harapan dimiliki oleh keluarga Haji Hasan dan telah berdiri sejak tahun 1992 dengan jumlah karyawan awal sebanyak 4 orang. Seiring berjalannya waktu, usaha meubel melakukan ekspansi barang produksi hingga ke luar kota seperti Tenggarong dan Bontang sampai mampu memberdayakan warga sekitar untuk menjadi pekerja sehingga jumlah pekerja berjumlah 32 orang. Pada dasarnya, pembuatan mebel dari kayu melalui lima proses utama, yaitu proses penggergajian kayu, penyiapan bahan baku, proses penyiapan komponen, proses perakitan dan pembentukkan (bending) dan proses akhir (finishing). Kelima proses pembuatan meubel tersebut sangat berhubungan dengan antropometri tubuh dalam sikap saat bekerja sehingga sikap kerja tubuh yang salah dalam bekerja dapat menimbukan kelelahan kerja. Misalnya sikap kerja berdiri ketika menyerut kayu dengan ketam mekanik yang membutuhkan penekanan. Sikap kerja tubuh berdiri dengan menggunakan penekanan harus sesuai tinggi siku pekerja ke meja kerja sesuai dengan kaidah antropometri.

56

Kebisingan sangat tinggi ditemukan pada beberapa alat produksi seperti mesin gergaji dan mesin serut kayu. Menurut wawancara dan observasi yang dilakukan, pekerja tidak menggunakan APD (Alat pelindung Diri) berupa ear plug atau ear muff padahal pekerja merasa bahwa kebisingan yang ditimbulkan alat produksi berpengaruh terhadap konsentrasi mereka dalam bekerja. Warga sekitar juga sebenarnya merasa terganggu dengan bising tersebut, namun mereka sudah terbiasa dengan suara tersebut. Dilihat dari kondisi perlatan atau mesin-mesin produksi dapat dikatakan kurang baik karena kondisi mesin sudah berumur lebih dari 5 tahun. Kondisi industri mebel terletak di pinggir jalan di dalam gang. Tempat bekerja didirikan di bangunan yang terbuat dari kayu dan sangat terbuka sehingga sirkulasi udara cukup baik dan sinar matahari dapat langsung masuk ke dalam ruangan karena tidak ada pohon-pohon di sekitar tempat kerja sehingga tidak dapat manahan sinar matahari yang masuk ke tempat kerja. Hal ini akan dirasa sangat baik apabila pagi hari karena pekerja dapat menerima matahari yang sehat secara langsung namun akan berpengaruh secara signifikan terhadap tubuh pada siang hari karena panas matahari. Hal ini didukung dengan atap bangunan yang terbuat dari bahan seng dan tidak mempunyai plafon. Keadaan tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kondisi suhu tubuh pekerja sehingga dapat mempengaruhi kelelahan pekerja karena evaporasi keringat yang keluar karena panas matahari.

57

2.

Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi jenis

kelamin responden, kelompok umur responden dan lama bekerja atau masa kerja responden. a. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin pekerja mebel Sinar Harapan ditunjukkan pada tabel di bawah ini : Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pekerja Mebel Sinar Harapan Tahun 2011
No. 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Frekuensi 26 6 32 Presentase (%) 81,25 18,75 100

Sumber : Data primer Berdasarkan dari tabel distribusi di atas diketahui bahwa dari 32 sampel responden dengan proporsi jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 responden atau dengan persentase 81,25%

sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 6 responden atau 18,75%.

b. Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur Karakteristik responden berdasarkan umur pekerja mebel Sinar Harapan ditunjukkan pada tabel di bawah ini :

58

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Pekerja Mebel Sinar Harapan Samarinda Tahun 2011
No. 1 2 3 4 Kelompok Umur (Tahun) 25-30 31-36 37-42 43-48 Jumlah Frekuensi 10 9 10 3 32 Presentase (%) 31,25 28,1 31,25 9,4 100

Sumber : Data primer Berdasarkan dari tabel distribusi di atas diketahui bahwa dari 32 sampel responden dengan proporsi terbanyak adalah pada umur 25-30 tahun dan 37-42 tahun, yaitu sebanyak 10 orang pekerja atau sebanyak 31,25% dari total sampel dan proporsi umur terkecil adalah 43-48 tahun yaitu sebanyak 3 orang pekerja dengan persentase 9,4% dari total sampel responden yang diteliti.

c. Karakteristik Responden Berdasarkan Masa Kerja Masa kerja atau lamanya waktu kerja dari responden atau pekerja mebel Sinar Harapan Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja Pekerja Mebel Sinar Harapan Samarinda Tahun 2011
No. 1 2 3 4 5 Masa Kerja Responden (Tahun) 1-3 4-6 7-9 10-12 13-16 Jumlah Frekuensi 5 10 7 7 3 32 Presentase (%) 15,6 31,3 21,9 21,9 9,4 100

Sumber : Data primer

59

Berdasarkan dari tabel distribusi di atas, dapat diketahui bahwa masa kerja responden terlama adalah masa kerja 4-6 tahun dengan frekuensi sebanyak 10 orang pekerja dan dengan persentase 31,3%. Masa kerja dengan frekuensi terendah yaitu pada 13-16 tahun dengan frekuensi sebanyak 3 orang pekerja.

3. Analisis Univariat Analisis univariat merupakan analisis yang dilakukan untuk memperoleh gambaran dari tiap-tiap variabel yang digunakan dalam penelitian dan data yang dianalisis merupakan data yang berasal dari hasil dan distribusi setiap variabel. Analisis univariat dalam penelitian ini adalah kebisingan, iklim kerja, sikap kerja dan kelelahan kerja. a. Kebisingan Kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia. Berdasarkan hasil pengukuran intensitas kebisingan dengan satuan dBA di Mebel Sinar Harapan dengan menggunakan alat Sound Level meter di dapatkan hasil sebagai berikut :

60

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Kebisingan Dengan Menggunakan Sound Level Meter di Mebel Sinar Harapan Karang Paci Tahun 2011
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lokasi Pemotongan kayu Pemotongan kayu Pemotongan kayu Produksi Produksi Produksi Pengamplasan Pengamplasan Pengamplasan Sumber Gergaji mesin Gergaji mesin Gergaji mesin Ketam mekanik Ketam mekanik Ketam mekanik Ketam mekanik Ketam mekanik Ketam mekanik TK Terpajan Pekerja Pekerja Pekerja Pekerja Pekerja Pekerja Pekerja Pekerja Pekerja Nilai Kebisingan (dBA) 98 97 99 92 90 89 82 84 83 NAB (85 dBA) >85 dBA >85 dBA >85 dBA >85 dBA >85 dBA >85 dBA <85 dBA <85 dBA <85 dBA Keterangan Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal Tidak Normal Normal Normal Normal

Sumber : Data primer (pengukuran) Pada tabel 4.4 dapat dilihat bahwa intensitas kebisingan yang di ukur dengan menggunakan alat Sound Level Meter dengan satuan dBA pada mebel kayu Sinar Harapan terpapar kebisingan di beberapa titik pengukuran. Pada lokasi atau bagian pemotongan kayu dan produksi nilai intensitas bising lebih dari 85 dB A atau melebihi NAB yang ditetapkan pemerintah menurut Kep.Menaker No. 51 tahun 1999 tentang NAB faktor fisik kebisingan di tempat kerja sedangkan pada bagian

pengamplasan, intensitas kebisingan < 85 dBA atau tidak melebihi NAB yang di tetapkan oleh pemerintah sesuai surat Kep.Menaker No. 51 tahun 1999 tentang NAB faktor kebisingan ditempat kerja.

61

b. Iklim Kerja Iklim kerja merupakan kombinasi dari suhu udara,

kelembaban udara, kecepatan gerakan udara dan suhu radiasi lingkungan. Berdasarkan hasil pengukuran iklim kerja menggunakan alat Questemp 32o dengan parameter Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) di Mebel Sinar Harapan pada 3 titik pengukuran dengan menggunakan alat pengukur ISBB didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Iklim Kerja dengan menggunakan Indeks Suhu Basah dan Bola di Mebel Sinar Harapan Karang Paci Tahun 2011

No

Lokasi

Waktu pengu kuran

DB (oC)

WB (oC)

GB (oC)

WB GT (oC)

Kec. Angin (m/s)

RH (%)

Ket.

1. 2. 3.

Bagian Pemotongan Kayu Bagian Produksi Bagian Pengamplasan

11.10 11.40 12.25

32,7 34,1 32,8

26,9 28,2 27

36,5 39,9 34,4

28 32,2 31,1

0,91 0,57 0,92

86 62 72

< NAB > NAB > NAB

Sumber : Data primer (pengukuran) Tabel di atas menunjukkan hasil pengukuran iklim kerja dengan parameter Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) pada Mebel Sinar Harapan mengalami keadaan tidak normal atau di atas Nilai Ambang Batas (NAB) yang telah ditentukan oleh Kep.Menaker No.51 Tahun 1999 tentang iklim kerja ISBB yaitu dengan 75% waktu kerja dan 25% istirahat dan beban kerja

62

sedang sebesar 28oC. Titik pengukuran dengan hasil ISBB tertinggi pada bagian Produksi adalah 32,2
o

C

dengan.

Kelembaban 62% dan kecepatan angin sebesar 0,57 dominan utara. Sedangkan titik pengukuran dengan hasil terendah dan di bawah NAB atau dalam keadaan normal adalah pada titik pengukuran pada bagian pemotongan kayu yaitu 28 oC dengan kelembaban yang sama yaitu 68% dan kecepatan angin 0,19 dominan utara. b. Sikap Kerja Berikut adalah hasil observasi sikap kerja pekerja saat bekerja dengan kriteria sikap duduk, sikap berdiri dan sikap mengangkat :

Tabel 4.6 Hasil Observasi Sikap Kerja Saat Bekerja Pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Tahun 2011
Hasil Observasi Ergonomis Tidak Ergonomis Persentase Persentase Frekuensi Frekuensi (%) (%) 0 0 11 34,3 2 6,25 10 31,25 0 0 9 28,12 2 6,25 30 93,75

No 1 2 3

Sikap Kerja Duduk Berdiri Mengangkat Total

Jumlah 11 12 9 32

Sumber : Data primer Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sikap kerja saat duduk dan mengangkat pada semua pekerja bekerja dengan tidak sesuai kaidah antropometris dengan jumlah frekuensi pekerja dengan sikap kerja duduk 11 orang tidak ergonomis

63

dengan persentase 34,3% dari jumlah seluruh pekerja. Sedangkan sikap kerja pada posisi mengangkat sebanyak 9 orang pekerja dengan frekuensi 9 orang. Adapun yang memenuhi kaidah antropometris sebanyak 2 orang dari 12 orang yang bekerja pada sikap kerja berdiri dengan

menggunakan penekanan.

c. Kelelahan Kerja Kelelahan adalah aneka keadaan yang disertai penurunan efisiensi dan ketahanan dalam bekerja, yang dapat disebabkan oleh kelelahan yang sumber utamanya adalah mata (kelelahan visual), kelelahan fisik umum, kelelahan syaraf, kelelahan oleh lingkungan yang monoton, kelelahan oleh lingkungan kronis terus-menerus sebagai faktor secara menetap (Suma’mur, 1999). Berdasarkan hasil pengukuran kelelahan kerja dengan menggunakan alat pengukur kelelahan yaitu Reaction Timer yaitu diukur pada saat setelah 4 jam bekerja didapatkan distribusi hasil pengukuran sebagai berikut :

Tabel 4.7 Distribusi Hasil Pengukuran Kelelahan Kerja Pada Pekerja Mebel Sinar Harapan Tahun 2011
No 1 2 Kelelahan Kerja Sedang Ringan Total Frekuensi 24 8 32 Persentase (%) 75 25 100

Sumber : Data primer

64

Berdasarkan dari tabel 4.7 di atas diketahui bahwa 75% dengan frekuensi 24 responden merupakan ketegori KKS (Kelelahan Kerja Sedang). Sedangkan dalam kategori KKR (Kelelahan Kerja Ringan) sebanyak 8 responden dan

persentase sebesar 25%.

4. Analisis Bivariat Analisis bivariat ini digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Dalam hal ini adalah mencari hubungan antara kebisingan, iklim kerja dan sikap tubuh saat bekerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. a. Hubungan Kebisingan Terhadap Kelelahan Kerja Bunyi merupakan suatu gelombang berupa getaran dari molekul-molekul zat yang saling beradu satu dengan yang lain secara terkoordinasi sehingga menimbulkan gelombang dan meneruskan energi serta sebagian dipantulkan kembali. Kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia (Salim, 2002). Berikut adalah analisisis hubungan antara kebisingan yang terjadi di Mebel Sinar Harapan dengan tingkat kelelahan kerja pekerja Mebel Sinar Harapan.

65

Tabel 4.8 Hubungan Kebisingan Terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda Tahun 2011
Kelelahan Kerja No 1 2 Kebisingan Tidak Normal Normal Total Sedang n 22 2 2 % 91,7 8,3 100 Ringan n 5 3 30 % 62,5 37,5 100 Total P Value N 27 5 32 % 84,4 15,6 100 0,035

Sumber : Data primer terolah Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan Pekerja yang terpapar kebisingan tidak normal (di atas NAB = >85 dBA) dengan Kelelahan Kerja Sedang (KKS) adalah sebanyak 22 responden yang diteliti dengan persentase 91,7% sedangkan pekerja yang terpapar kebisingan normal atau di bawah NAB adalah adalah sebanyak 2 responden dengan persentse 8,3% pada pekerja yang mengalami Kelelahan Kerja Sedang (KKS) . Dari hasil uji chi square dengan α = 0,05 diperoleh nilai p = 0,035 < α, maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara keadaan kebisingan dengan Kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci.

b. Hubungan Iklim Kerja Terhadap Kelelahan Kerja Iklim kerja adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan udara dan suhu radiasi. Kombinasi dari keempat faktor ini dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh yang disebut tekanan panas (Ramdan, 2007).

66

Analisis hubungan antara iklim kerja ISBB dengan kelelahan kerja pada tenaga kerja bongkar muat di Koperasi TKBM Samudera Pelabuhan Samarinda. Tabel 4.9 Hubungan Iklim Kerja Terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda Tahun 2011
Kelelahan Kerja No 1 2 Iklim Kerja Tidak Normal Normal Total Total Sedang n % 17 73,9 7 29,2 24 100 Ringan n % 6 75 2 25 8 100 P Value N 23 9 32 % 71,9 28,1 100 1,000

Sumber : Data primer terolah Berdasarkan tabel 4.9 menunjukkan pekerja yang terpapar dengan iklim ISBB tidak normal (di atas NAB) dengan Kelelahan Kerja Sedang (KKS) adalah sebanyak 17 responden yang diteliti dengan persentase 73,9% sedangkan pekerja yang terpapar iklim kerja ISBB normal atau di bawah NAB adalah adalah sebanyak 7 responden dengan persentse 29,2% pada pekerja yang

mengalami Kelelahan Kerja Sedang (KKS) . Dari hasil uji chi square dengan α = 0,05 diperoleh nilai p = 1,000 > α, maka dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara keadaan kebisingan dengan Kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci.

67

c. Hubungan Sikap Kerja Fisik Terhadap Kelelahan Kerja Untuk memenuhi sikap tubuh dalam bekerja yang

ergonomis, perlu adanya sarana kerja seperti tempat duduk dan meja kerja, mesin-mesin yang ukurannya sesuai dengan ukuran antropometri orang Indonesia pada umumnya (Nurmianto, 2003). Sikap tubuh dalam bekerja yang dikatakan secara ergonomik adalah yang memeberikan rasa nyaman, aman, sehat dan selamat dalam bekerja. Hasil analisis hubungan antara sikap tubuh saat bekerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda adalah sebagai berikut :

Tabel 4.10 Hubungan Sikap Kerja Terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Mebel Sinar Harapan Sungai Kunjang Samarinda Tahun 2011
Kelelahan Kerja No 1 2 Sikap Tubuh Saat Bekerja Tidak Ergonomis Ergonomis Total Sedang n 22 2 24 % 91,7 8,3 100 Ringan n 8 0 8 % 100 0 100 N 30 2 32 Total P Value % 93,8 6,2 100 0,017

Sumber : Data primer terolah Berdasarkan tabel 4.10 menunjukkan pekerja yang bekerja dengan sikap kerja yang tidak ergonomis atau tidak sesuai dengan kaidah antropometris pada sikap duduk, sikap berdiri dan sikap mengangkat terhadap Kelelahan Kerja Sedang (KKS) adalah sebanyak 22 responden yang diteliti dengan persentase

68

91,7% sedangkan pekerja yang bekerja secara ergonomis adalah sebanyak 2 responden dengan persentse 8,3% pada pekerja yang mengalami Kelelahan Kerja Sedang (KKS) . Hasil dari uji chi square dengan α = 0,05 diperoleh bahwa nilai p = 0,017 < α, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda.

B. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan serta analisis data yang telah dilakukan maka pembahasan dari hasil yang telah didapatkan adalah sebagai berikut : 1. Kebisingan Terhadap Kelelahan Kerja Pekerja Mebel Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia. Bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh sumber suara yang bergetar. Getaran sumber suara ini mengganggu keseimbangan molekul-molekul udara disekitarnya sehingga molekul-molekul udara ikut bergetar (Sasongko, 2000).

69

Menurut Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja No Kep. 51/MEN/1999 tentang NAB Faktor Fisik Di Tempat Kerja, NAB kebisingan yang diperkenankan di Indonesia adalah 85 dB (Suma’mur, 1996). Penelitian kebisingan dalam penelitian ini adalah lingkungan fisik dengan sumber bising yang berasal dari alat-alat produksi pada mebel Sinar Harapan. Alat-alat produksi yang dimaksud seperti ketam mekanik dan gergaji mekanik. Kebisingan yang ditimbukan oleh alat-alat produksi tersebut dapat mengganggu pekerja sehingga pekerja mengalami gangguan konsentrasi dan menyebabkan stres atau kelelahan umum. Menurut Nurmianto (2003) kelelahan umum merupakan konsep dimana beberapa kondisi bergabung ke dalam sejumlah kelelahan lain yang sama rumitnya dalam mendefinisikan secara tepat – stress, kebosanan, depresi dan lain-lain. Berdasarkan hasil uji analisis chi square pada tabel 4.8 dapat dilihat nilai p = 0,035 (lebih kecil dari α = 0,05) yang artinya hipotesis penelitian diterima atau ada hubungan antara kebisingan terhadap kelelahan kerja pada pekerja mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. Adanya hubungan antara kebisingan terhadap kelelahan kerja dapat dilihat dari hasil pengukuran kebisingan terhadap sumber bising di lingkungan kerja Mebel Sinar Harapan.

70

Pengukuran kebisingan ditentukan di 9 titik pengukuran dan didapatkan hasil pengukuran di atas nilai ambang batas

berdasarkan Kep.Menaker Tahun 1999 No.51 tentang kebisingan sebanyak 6 titik pengukuran. Berdasarkan tabel 4.4, hasil pengukuran pada 3 bagian pengamplasan menunjukkan hasil yang normal atau Di bawah NAB. Hasil terendah adalah 82 dBA dan terttinggi adalah 84 dBA dimana keduanya masih di bawah NAB yang ditentukan pemerintah mengenai keibisingan. Hasil analisis data menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kebisingan dan kelelahan kerja, dapat dipengaruhi karena beberapa faktor, salah satunya adalah keadaan sumber bising atau alat-alat produksi yang tidak terawat dan berusia lebih dari 5 tahun. Mesin mekanis akan aus dalam kurun waktu beberapa tahun jika digunakan terus menerus tanpa perawatan. Keadaan tersebut akan mempengaruhi suara yang dihasilkan oleh mesin mekanis. Faktor lain penyebab kelelahan pekerja adalah kondisi pekerja yang tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) sehingga keterpaparan bising oleh pekerja tidak dapat

diminimalisir. Keadaan tersebut akan mempengaruhi konsentrasi pekerja atau psikologi pekerja. Menurut Sugeng Budiono, dkk (2003) faktor psikologi mempunyai peran besar dalam

mempengaruhi kelelahan. Karena penyakit dan kelelahan itu dapat timbul dari konflik mental yang terjadi di lingkungan pekerjaan, akhirnya dapat mempengaruhi kondisi fisik pekerja.

71

Berdasarkan

tabel

4.4

mengenai

hasil

pengukuran

kebisingan di Mebel Sinar Harapan maka dapat dilihat bahwa intensitas kebisingan yang diterima pekerja berdasarkan lokasi biasa pekerja saat bekerja. Pada bagian pengamplasan terdapat 9 orang yang terbiasa bekerja di bagian tersebut , tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kebisingan yang terjadi di lingkungan kerja. Hal ini dikarenakan oleh jarak antara sumber bising ke bagian pengamplasan berjarak sekitar 6 meter dan dihalangi oleh tumpukan hasil produksi yang akan didistribusikan. Hasil analisis data, 2 orang pekerja mengalami KKS (Kelelahan Kerja Sedang) dengan keadaan kebisingan yang normal. Hal ini dipengaruhi karena faktor usia atau masa kerja responden. Responden yang menagalami KKS adalah responden yang berusia 37-48 tahun. Menurut Emil Salim (2002), umur dapat mempengaruhi kelelahan pekerja. Semakin tua umur seseorang semakin besar tingkat kelelahan. Fungsi faal tubuh yang dapat berubah karena faktor usia mempengaruhi ketahanan tubuh dan kapasitas kerja seseorang. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tri Yuni Ulfa Hanifa (Universitas Negeri Semarang) mengenai Pengaruh Kebisingan Terhadap Kelelahan Pada Tenaga Kerja Industri Pengolahan Kayu Brumbung Perhutani Semarang Tahun 2005, didapatkan hasil ada hubungan yang signifikan antara kebisingan terhadap kelelahan kerja dengan p=0,003 (p<0,05). Hal tersebut

72

dapat dikarenakan oleh nilai intensitas kebisingan yang tinggi yaitu 87-105 dBA. Dalam suatu kegiatan industri, paparan dan resiko bahaya yang ada di tempat kerja tidak selalu dapat dihindari (Budiono, 2003). Oleh karena itu diperlukan lingkungan kerja yang nyaman agar tenaga kerja terhindar dari kelelahan kerja. Keadaan nyaman kerja dalam hal pencegahan kebisingan dapat berupa perawatan alat-alat produksi dan pengisolasian alat-alat produksi agar suara bising tidak mengganggu pekerja.

2. Iklim Kerja Terhadap Kelelahan Kerja Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat dari pekerjaannya (Ramdan, 2007). Dalam penelitian ini, penelitian mengukur iklim panas sesuai dengan keadaan iklim Indonesia yaitu tropis. Peneliti mengukur keadaan lingkungan iklim kerja panas dan dihubungkan dengan kondisi tubuh pekerja yang terpapar panas sesuai dengan beban kerja yang diterima oleh pekerja mebel. Menurut Suma’mur (1996), panas sebenarnya merupakan energi kinetik gerak molekul yang secara terus menerus dihasilkan dalam tubuh sebagai hasil samping metabolisme dan panas tubuh yang dikeluarkan ke lingkungan sekitar. Agar tetap seimbang antara pengeluaran dan pembentukan panas maka tubuh mengadakan usaha pertukaran

73

panas dari tubuh kelingkungan sekitar melalui kulit dengan cara konduksi, konveksi, radiasi dan evaporasi. Hasil chi square berdasar analisis yang telah disajikan pada hasil tabel 4.8 dengan p = 1,000 (lebih besar dari α = 0,05) yang aritinya bahwa hipotesis penelitian ditolak yaitu tidak ada hubungan antara iklim kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Sungai Kunjang Samarinda. Pengukuran iklim kerja ISBB yang dilakukan pada lokasi kerja mebel adalah 2 titik dari 3 titik pengukuran di atas NAB atau lebih dari atau samadengan 28oC dan 1 titik di bawah NAB atau kurang dari 28oC. Standarisasi penentuan nilai ambang batas berdasarkan Kep.Menaker Tahun 1999 No.51 Tentang Iklim Kerja ISBB. Berdasarkan tabel 4.5, dari 1 titik pengukuran dengan hasil normal adalah pada lokasi atau bagian pemotongan kayu berjumlah 9 responden atau dengan persentase 28,1. Sedangkan 23 responden terpapar iklim kerja di atas NAB yaitu yang bekerja pada 2 titik di bagian produksi dan pengamplasan. Dalam keadaan iklim kerja normal, 2 responden mengalami keadaan ringan dalam hal kelelahan kerja (22,2%) dan 7 responden dengan kelelahan kerja sedang (77,8%). Sedangkan pada iklim kerja di atas NAB atau tidak normal sebanyak 17 responden mengalami kelelahan kerja sedang dengan persentase 73,9%.

74

Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara iklim kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja mebel dapat dikarenakan oleh beberapa hal yaitu keadaan lingkungan dan aklimatisasi dari pekerja itu sendiri. Menurut Suma’mur (1996), orang-orang Indonesia pada umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis yang suhunya sekitar 29-30OC dengan kelembaban sekitar 85 – 95 %. Aklimatisasi terhadap panas berarti suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang selama seminggu pertama berada di tempat panas, sehingga setelah itu ia mampu bekerja tanpa pengaruh tekanan panas. Berdasarkan teori di atas menunjukkan bahwa ada

hubungan antara aklimatisasi dan masa kerja dari responden yang mengakibatkan tidak ada hubungan positif antara iklim kerja dan kelelahan kerja pada pekera mebel. Dari data primer yang diperoleh menunjukkan masa kerja responden yang paling lama adalah 13-16 tahun dengan distribusi masa kerja yang paling banyak adalah masa kerja 4-6 tahun sebanyak 31,3%. Masa kerja yang lama mempengaruhi keadaan tubuh responden terhadap tekanan panas, sehingga mengakibatkan responden mampu bertahan terhadap paparan tekanan panas. Keadaan lingkungan sekitar juga mempengaruhi terhadap hasil analisis ini. Kelembaban udara sekitar 86% dikarenakan lokasi yang dekat yang lembab mempengaruhi tubuh serta kecepatan angin 0,91 m/s untuk dapat beraklimatisasi

manusia

75

terhadap tekanan panas. Hal ini juga didukung oleh teori (Suma’mur, 1996) yang menjelaskan bahwa tubuh manusia akan mudah beraklimatisasi selain karena lamanya waktu terpapar juga karena keadaan lingkungan sekitar yaitu dengan batas kelembaban 85-90%. Hasil analisis pengukuran iklim kerja menunjukkan 9 responden (28,1%) berada pada bagian kerja dengan keadaan iklim kerja ISBB normal atau dibawah NAB yang ditentukan oleh pemerintah dengan masa kerja 75% kerja dan beban kerja ringan yaitu 28oC. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa responden dengan iklim kerja normal berada di tempat yang teduh dan tidak terpapar langsung oleh sinar matahari. Hasil pengukuran kelembaban pada bagian pemotongan kayu adalah 86% dimana kelembaban tersebut sudah cukup untuk aklimatisasi tubuh manusia terutama orang Indonesia. Pada bagian pemotongan kayu, lokasi berada di paling dalam dari rumah produksi mebel. lokasi tersebut tidak terkena sinar matahari secara langsung karena terletak di bagian belakang yang tertutup rumah tetangga dan pohon-pohon yang ada di belakang rumah. Menurut gurumuda, pada saat siang hari pohonpohon melakukan proses fotosintesis, dimana zat klorofil dari daun di pohon tersebut akan membantu proses pengubahan

Karbondioksida (CO2) menjadi Oksigen (O2). Dalam proses fotosintesis tersebut juga pohon menghasilkan uap air yang

76

mengakibatkan

udara

terasa

lebih

segar.

Hal

tersebut

mempengaruhi kecepatan aliran udara di sekitar lingkungan pelabuhan yang mencapai 0,91 m/s. Kecepatan aliran udara 0,91 m/s dapat membantu proses aklimatisasi dari tubuh seseorang agar dapat bertahan dalam paparan panas. Terdapat 2 lokasi penelitian yang terpapar iklim kerja ISBB di atas NAB atau tidak normal yaitu bagian produksi dan

pengamplasan. Pada bagian produksi nilai ISBB adalah sebesar 32,2oC dan bagian pengamplasan sebesar 31,1oC. Nilai

pengukuran di atas NAB yang ditentukan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan yang memang terkena panas matahari secara

langsung. Bagian produksi terdapat di tengah rumah mebel dan bagian pengamplasan terletak di bagian luar mebel. Kondisi lingkungan di bagian depan mebel memang tidak ada penahan seperti pohon atau bangunan yang menghalangi matahari masuk ke rumah mebel sehingga panas matahari mempengaruhi hasil

pengukuran iklim kerja ISBB. Hal lain yang mempengaruhi adalah atap rumah mebel yang terbuat dari seng, sehingga panas radiasi matahari yang diserap oleh seng mempengaruhi tubuh pekerja. Keadaan tersebut dipengaruhi juga oleh sirkulasi udara yang masuk ke dalam tempat kerja dikarenakan tempat kerja yang tida memiliki dinding sehingga angin dapat mudah masuk ke tempat kerja. Angin atau sirkulasi udara yang masuk ke tempat kerja juga mempengaruhi aklimatisasi pekerja dalam menyesuaikan panas

77

ruangan sehingga dapat meminimalisir kelelahan kerja karena paparan panas lingkungan yang tinggi. Penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Atik Muftia (Universitas Negeri Semarang) yang berjudul Hubungan Antara Faktor Fisik dengan Kelelahan Kerja Karyawan Produksi Bagian Selektor di PT. Sinar Sosro Ungaran Semarang dimana salah satu faktor fisiknya adalah iklim kerja uga menunjukkan hasil tidak ada hubungan antara iklim kerja terhadap kelelahan kerja pada karyawan. Hasil analisis data p = 0,569 > α, yang artinya tidak berhubungan antara iklim kerja terhadap kelelahan kerja. Hal tersebut juga dikarenakan aklimatisasi karyawan produksi bagian selektor di PT. Sinar Sosro Ungaran Semarang. Jika dibandingkan dengan hasil penelitian Ika Pulung (FKM Unair) yang meneliti tentang perbedaan efek fisiologis pada pengerajin manik desa Plumpogambang sebelum dan sesudah bekerja di lingkungan kerja panas menunjukkan adanya hubungan perbedaan iklim kerja ISBB terhadap kelelahan kerja. Menurut Evelyn (2002), denyut jantung dapat berubah karena meningkatnya Cardiac Output (curahan jantung) yang diperlukan otot yang sedang bekerja dan karena penambahan strain pada aliran darah karena terpapar panas. Pada saat bekerja terjadi peningkatan metabolisme sel –sel otot sehingga aliran darah meningkat untuk memindahkan zat –zat makanan dari darah yang dibutuhkan jaringan otot. Semakin tinggi aktivitas maka semakin

78

meningkat

metabolisme

otot

sehingga

curah

jantung

akan

meningkat untuk mensuplai kebutuhan zat makanan melalui peningkatan aliran darah. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan frekwensi denyut jantung yang akan meningkatkan denyut nadi pada akhirnya. Selain itu iklim kerja yang panas juga meningkatkan kinerja jantung untuk untuk mengalirkan darah ke kulit untuk meningkatkan penguapan keringat dalam rangka mempertahankan suhu tubuh. Berdasarkan teori tersebut memperkuat penelitian Ika Palung bahwa ada perbedaan hasil pengukuran kelelahan kerja karena paparan panas sebelum dan sesudah bekerja.

3. Sikap Tubuh Saat Bekerja Terhadap Kelelahan Kerja Ilmu yang berhubungan langsung dengan sikap tebuh saat bekerja adalah ergonomi dan antropometri. Antropometri

merupakan suatu pengukuran yang sistematis terhadap tubuh manusia, terutama seluk beluk dimensional ukuran dan bentuk tubuh manusia. Antropometri yang merupakan ukuran tubuh digunakan untuk merancang atau menciptakan suatu sarana kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh pengguna sarana kerja tersebut (Budiono, 2003). Sedangkan Ergonomi merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi, sebagai penerapan dari ilmu-ilmu biologis tentang manusia bersama-sama dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari

79

manusia terhadap pekerjaannya, yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan produktivitas kerja (Ramdan, 2007). Untuk memenuhi sikap tubuh dalam bekerja yang ergonomis, perlu adanya sarana kerja seperti tempat duduk dan meja kerja, mesin-mesin yang ukurannya sesuai dengan ukuran antropometri orang Indonesia pada umumnya (Nurmianto, 2003). Hasil analisis chi square pada tabel 4.10 nilai p = 0,017 (lebih kecil dari α = 0,05) yang artinya bahwa hipotesis penelitian diterima yaitu ada hubungan antara sikap kerja tubuh saat bekerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. Penilaian sikap kerja dilakukan peneliti melalui observasi langsung pada pekerja. Pada penentuan sikap kerja dimana ada tiga parameter sikap kerja yaitu sikap kerja mengangkat, berdiri dan duduk. Setiap parameter ditentukan berdasarkan responden yang biasa melakukan pekerjaan dengan salah sikap kerja tersebut. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti membagi responden berdasarkan sikap kerja yang biasa diakukan oleh responden. Pada sekap kerja duduk 11 responden (34,38%), sikap berdiri 12 responden (37,5%) dan sikap kerja mengangkat sebanyak 9 responden (28,12%). Berdasarkan hasil observasi sikap kerja, yang melakukan sikap kerja tidak ergonomis sebanyak 30 responden (93,%). Hasil tersebut berdasarkan observasi pekerja yang melakukan pekerjaan

80

tidak sesuai dengan kaidah antropometri yang ditentukan oleh peneliti. Observasi yang dilakukan terdapat 2 responden yang melakukan sikap kerja ergonomis yaitu sikap kerja berdiri dengan menggunakan penekanan. Hubungan sikap kerja terhadap kelelahan kerja, terdapat sebanyak 22 responden (73,3%) mengalami Kelelahan Kerja Sedang (KKS) dengan sikap kerja tidak ergonomis. Responden yang mengalami Kelelahan Kerja Ringan (KKR) sebanyak 8 responden atau dengan persentase 26,7%. Berdasarkan observasi sikap kerja yang dilakukan peneliti dimana observasi juga dilakukan dengan menggunakan meteran untuk mengukur keakuratan tinggi media dengan bagian tubuh pekerja yang disesuaikan dengan kaidah antropometri. Responden yang bekerja dengan terbiasa sikap kerja berdiri, 2 responden menunjukkan sikap kerja berdiri yang benar. Diskripsi kerja responden adalah mengetam atau menyerut kayu dengan ketan mesin. Sikap kerja seperti ini adalah sikap kerja bediri dengan menggunakan penekanan. Responden berdiri tegak, pandangan lurus ke objek, tinggi landasan 30 cm di atas tinggi siu berdiri dan menurut wawancara dengan responden, responden bekerja selama 45 menit dan istirahat 10 menit lalu melanjutkan pekerjaannya kembali. Responden yang bekerja dengan sikap kerja tidak

ergonomis melakukan pekerjaan dengan tidak sesuai kategori

81

sikap kerja yang peneliti tentukan. Respoden yang bekerja dengan sikap duduk, 11 responden atau seluruh responden yang terbiasa dengan sikap duduk menunjukkan hasil observasi sikap kerja tidak ergonomis. Semua responden yang diteliti duduk terlalu

membungkuk dan tidak dengan posisi tegak. Pada responden yang bekerja dengan sikap kerja berdiri 10 responden dari 12 responden yang bekerja dengan posisi berdiri menunjukkan sikap kerja tidak ergonomis. Hal ini dikarenakan berdasar hasil observasi reponden tidak berdiri dengan posisi tegak dan terus bekerja dengan posisi berdiri lebih dari 60 menit. Sedangkan responden dengan sikap kerja mengangkat juga seluruhnya atau 9 responden bekerja dengan hasil observasi sikap kerja tidak ergonomis. Berdasarkan hasil observasi sikap kerja mengangkat oleh pekerja mebel Sinar Harapan, pekerja bekerja dengan posisi kerja berdiri lalu membungkuk ketika hendak mengangkat tidak dengan posisi berjongkok dan meneggakkan punggung. Menurut Nurmianto (2003), berat beban maksimum yang boleh diangkat secara manual (tanpa alat) adalah 50 kilogram, dan pekerja tidak diijinkan mengangkat beban secara berulang lebih dari 25 kilogram selama lebih dari 4 jam sehari. Namun pada keadaan lapangan atau deskripsi pekerjaan pekerja dengan sikap kerja mengangkat melakukan aktifitas fisik dengan beban kerja 25 kg dan berulang selama lebih dari 5 jam sehari.

82

Sikap tubuh dalam bekerja adalah sikap yang ergonomi sehingga dicapai efisiensi kerja dan produktivitas yang optimal dengan memberikan rasa nyaman dalam bekerja. Apabila sikap tubuh salah dalam melakukan pekerjaan maka akan

mempengaruhi kelelahan kerja (Suma’mur, 1999). Berdasarkan teori di atas maka dapat ditarik garis antara teori dan hasil obeservasi serta uji analisis chi square yang menunjukkan ada hubungan antara sikap tubuh saat bekerja dengan kelelahan kerja.

83

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Ada hubungan antara kebisingan terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. Hal ini didukung oleh hasil uji chi square yang diperoleh p = 0,035 (p < 0,05) . 2. Tidak ada hubungan antara iklim kerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. Hal ini didukung oleh hasil uji chi square yang diperoleh p = 1,000 (p > 0,05). 3. Ada hubungan antara sekap tubuh saat bekerja terhadap kelelahan kerja pada pekerja Mebel Sinar Harapan Karang Paci Samarinda. Hal ini didukung oleh hasil uji chi square yang diperoleh p = 0,017 (p < 0,05).

B. Saran 1. Perawatan ataupun penggantian alat-alat produksi yang

menimbulkan suara bising sehingga intensitas desibel pada suara mesin dapat diminimalisir serta penggunaan ear plug pada pekerja yang terpapar kebisingan.

84

2.

Disediakan air minum di lokasi kerja agar ketika pekerja

terpapar panas dan mengeluarkan keringat dengan meminum air putih dapat mengganti cairan tubuh yang hilang. 3. Pekerja diajarkan cara sikap tubuh yang benar saat bekerja

sesuai dengan sikap kerja yang sering dilakukan oleh pekerja tersebut dan membiasakan istirahat ketika terlalu lama bekerja dengan posisi kerja yang sama.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->