STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

SPEKTROFOTOMETRI INFRA MERAH (IR) II
1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu: Menjelaskan teori mengenai spektrofotometri infra merah. Mengoperasikan peralatan spektrofotometri infra merah dengan baik dan benar. Menganalisi suatu senyawa kimia dengan menggunakan peralatan Spektrofotometri Infra Merah.

2. ALAT YANG DIGUNAKAN
Seperangkat alat Spektrofotometri Infra Merah

3. GAMBAR ALAT (TERLAMPIR) 4. BAHAN YANG DIGUNAKAN
KBr Asam Benzoate

5. DASAR TEORI
Radiasi eletromagnetik ialah energi yang dipancarkan menembus ruang dalam bentuk gelombang-gelombang. Yang termasuk radiasi elektromagnetik antara lain: gelombang radio, sinar infra merah, sinar tampak, sinar ultra violet dan sinar X. Setiap jenis radiasi elektromagnetik dicirikan oleh panjang gelombangnya (wavelenght), yaitu jarak antara suatu puncak panjang gelombang dengan puncak berikutnya. Panjang gelombang infra merah adalah 10-4 sampai 10-2 cm. Radiasi elektromagnetik dapat dicirikan juga oleh frekuensinya, yang didefinisikan banyaknya getaran per detik. Biasanya, spektrum infra merah dialurkan dengan % T sebagai koordinat, dan sering dengan bilangan gelombang (u, cm-1) sebagai absis. Hal ini disebabkan energi sinar (E) berbanding lurus, baik frekuensi (u) maupun dengan bilangan panjang gelombang (u).

1

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

E=hu=hc / = hcu
Frekuensi sinar (v) dapat dikaitkan dengan frekuensi getaran molekul. Intiinti atom yang berikatan oleh ikatan kovalen mengalami getaran(vibrasi) atau osilasi, yang serupa dengan dua bola yang terikat oleh suatu pegas. Bila molekul menyerap radiasi infra merah, energi yang diserap menyebabkan kenaikan dalam amplitudo getarangetaran atom-atom yang terikat. Jadi, molekul berada dalam keadaa vibrasi tereksitasi (excited n vibrational state) energi yang diserap ini akan dilepaskan dalam bentuk panas bila molekul itu kembali ke keadaan dasar. Panjang gelombang absorbsi oleh suatu jenis ikatan tertentu, bergantung pada macam getaran dari ikatan ersebut. Oleh karena itu, t type ikatan yang berlainan (C-H, C-C, O-H) dan sebagainya menyerap radiasi infra merah pada panjang gelombang yang berlainan. Suatu ikatan dalam sebuah molekul dapat menjalin berbagai macam osilasi. Hal ini menyebabkan suatu ikatan tertentu dapat menyerap energi lebih besar dari satu panjang gelombang. Misalnya suatu ikatan O-H menyerap energi radiasi em pada kira -kira 3300 cm-1 energi pada panjang ini akan menyebabkan kenaikan vibrasi ulur (stretch vibration) ikatan pada panjang gelombang inikenaikan vibrasi tekukan (bending vibration). Jenis vibrasi yang berbeda-beda ini desebut cara fundamental vibrasi (fundamental mode of viration). Banyaknya energi yang diserap juga beraneka ragam dari suatu ikatan ke ikatan yang lain. Hal ini disebabkan oleh perubahan momen ikatan pada saat diserap. Ikatan non polar seperti C-H dan C-C menyebabkan absorbsi lemah. Ikatan polar seperti C=O menunjukkan absobsi yang kuat.

2

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

Rangkaian alat spektrofotometri infra merah Instrument yang digunakan untu mengukur absorbsi radiasi infra merah pada k berbagai gelombang disebut spektrometer infra merah, dengan skema seperti gambar berikut ini:

1
Keterangan:
1. Sumber radiasi 2. Sampel kompartemen 3. Monokromator 4. Detector 5. Amplier atau penguat 6. Rekorder

2

3

4

5

6

Pada gambar diatas terlihat sumber sinar memancarkan siar infra merah pada lebih dari satu panjang gelombang. Sinar sumber ini di pecah oleh system cermin menjadi dua berkas sinar, yaitu berkas rujukan (reference) dan berkas cuplikan (sampel). Setelah masing-masing cuplikan melewati sel rujukan (pelarut murni, jika pelarut itu digunakan dalam cuplikan tidak mengandung pelarut) dan sel cuplikan, kedua berkas ini digabungkan kembali dalam pemenggal (chopper, suatu cermin) menjad satu berkas i yang berasal dari kedua berkas itu, yang berselang -seling. Berkas berselang-seling itu difraksi oleh suatu kisi, sehingga berkas itu terpecah menurut panjang gelombangnya. Detektor mengukur beda intensitas antara kedua macam berkas itu pada tiap-tiap panujang gelombag dan meneruskan informasi inike rekorder (perekam), akhirnya menghasilkan spektrum infra merah.

3

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

Pita-pita infra merah dalam sebuah spektrum dapat dikelompokkan menurut intensitasnya: kuat (strong, s); sedang (medium); dan lemah (weak). Suatu pita lemah yang bertumpang tindih dengan suatu pita kuat disebut bahu (sholder, sh). Istilah -istilah ini relative dan bersifat kuantitatif.

Peta korelasi Peta korelasi adalah semacam daftar secara singkat memberikan julatjulat frekuensi serapan infra merah yang kemungkinan suatu gugus fungsi akan menyerap. Berdasarkan peta korelasi ini dapat dilakukan perkiraan jenis -jenis gugus fungsi, atau ada tidaknya gugus fungsi tertentu dalam suatu molekul bila spektrum molekul ini diketahui. Langkah diatas hanya untuk tahap pertama saja mengindentifikasi suatu molekul. Untuk tahap selanjutnya, dibutuhkan data -data yang diperoleh dari peralatan lain, misalnya NMR, spektrofotometer massa, dan spektroskopi UV.

Sumber Sinar Infra Merah Pada umumnya, sumber sinar infra merah yang biasa dipakai adalah berupa zat padat inert yang dipanaskan dengan listrik sehingga mencapai suhu antara 15002000oK. Akibat pemanasan ini akan dipancarkan sinar infra merah yang continue.

Jenis-jenis Sumber Infra Merah 1. Nerst Glower Terbuat dari campuran oksida unsur lantanida. 2. Globar Berbentuk batang yang terbuat dari silikom karbida. 3. Kawan Ni-Cr yang dipijarkan Sumber radiasi untuk instrument ini berbentuk gulungan kawan Ni yang -Cr dipanaskan dan diletakkan pada tiang keramik Gulungan kawat tersebut . dipanaskan sampai kira-kira mencapai 1000oC, menghasilkan suatu spektrum kontinyu dari energy elektromagnetic mencakup daerah dari 4000-2000 cm-1 bilangan gelombang. Energy yang diradiasi oleh sumbe sinar akan dibagi menjadi dua bentuk kaca sferik M1 dan M2.

4

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

Penyiapan Cuplikan untuk Spektrofotometer Infra Merah Spektrofotometer infra merah dapat digunakan untuk menganalisis cuplikan yang berupa cairan, zat padat, maupun gas. Cara penyiapan cuplikan dalam bentuk sel tempat cuplikan harus terbuat daribahan tembus sinar infra merah (tidak boleh menyerapnya). Bahan demikian itu antara lain ialah NaCl dan Kbr Cuplikan yang . berbentuk cairan dapat berupa larutan suatu senyawa atau berupa senyawa murni yang cair (pure and neat liquid).

1. Cuplikan Berupa Larutan Disini diperlukan pelarut yang mempunyai daya yang melarut cukup tinggi terhadap senyawa yang akan dianalisis, tetapi tak ikut melakukan penyerapan didaerah infra merah yang dianalisi. Selain itu, tidak boleh terjadi reaksi antara pelarut dengan senyawa cuplikan. Pelarut-pelarut yang biasa digunakan adalah: a. Carbon Disulfide (CS2) Untuk daerah spektrum 1330-625 per cm. b. Carbon Tertachloride (CCl4) Untuk daerah spektrum 4000-1330 per cm. c. Pelarut-pelarut polar Misalnya kloroform, dioksan, dimetil formamida.

2. Cuplikan Berupa Cairan Murni (neat liquid) Cuplikan murni dipakai bila jumlah cuplikam sedikit sekali atau bila tidak ditemukan pelarut yang memadai. Dalam hal ini, biasanya setetes cairan itu diapit dan ditekan diantara dua lempeng hablur NaCl, sehingga merupakan lapisan yang tebalnya 0,01 mm atau kurang. Sel infra Merah Untuk Cuplikan Yang Berupa Larutan Atau Cairan Sel untuk larutan dan cairan terdiri dari dua lempeng yang terbuat dari bahan tembus infra merah, misalnya hablur NaCl. Diantara kedua lempeng itu ditempatkan specer, sehingga ada jarak diantara kedua lempeng itu. Biasanya, jarak itu antara 0,1 1 mm. Karena bahan pembuat sel infra merah harus kebanyakan bersifat higroskopik, maka selsel infra 5

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

merah harus disimpan dalam desikator dan pengerjaannya dilakukan dalam ruangan yang udaranya kering (gunakan alatdehumidifier).

3. Cuplikan Padat Zat padat yang tidak dapat dilarutkan dalam pelarut yang tembus infra merah, dapat dicampurkan dengan medium cairan yang tembus IR, sehingga membentuk suatu campuran yang terdiri dari dua fase yang disebut mull. Cairan yang kerap digunakan adalah nujol dan flouruble. Selain itu, sampel padatan dapat pula dicampur dengan senyawa garam anorganik tembus infra merah, misalnya KBr. Campuran itu selanjutnya dibentuk pelet pipih tembus IR dengan bantuan suatu alat perekam.

4. Cuplikan Gas Sampel gas ditiempatkan dalam sebuah bejana ge atau plastik las yang kedua ujungnya ditutup oleh lempengan NaCl atau KBr. Pengisian gas kedalam bejana itu dilakukan setelah bejana itu divakumkan terlebih dahulu.

Cara menganalisis Spektrum IR Dalam usah untuk menganalisis sp. IR suatu senyawa yang tak diketahui, sebagai pemula harus mengutamakan penentuan ada atau tidaknya gugus-gugus fungsional utama. Puncak-puncak spektra dari ikatan C=O, O-H, N-H, C-O, C=C, C C dan C N adalah puncak-puncak yang menonjol dan memberikan informasi kemungkinan struktur a pabila ikatan-ikatan tersebut ada didalam senyawa yang diidentifikasi.

Sebagai pemula, dianjurkan untuk tidak menganalisa secara detail terhadap penyerapan ikatan C-H didekat daerah 3000 cm-1 (3,33µ) karena hampir seluruh senyawa mempunyai serapan C-H.

6

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

Berikut ini 7 (tujuh) langkah-langkah umum sebagai pemula untuk memerikasa pita pita serapan tersebut. 1. Apakah terdapat Gugus Karbonil? Gugus C=O terdapat pada daerah 1820 -1660 cm-1 (5,6-6,1µ), puncak ini biasanya yang terkuat dengan lebar madium dalam spektrum. Serapan tersebut sangat karateristik.

2. Bila gugus C=O ada, ujilah daftar berikut, bila tidak ada langsung pada nomor 3. Asam : Apakah ada OH (asam karboksilat)? Serapan melebar didekat 3400 -2400 cm-1 (biasanya tumpang tindih dengan C-H yang muncul pada daerah 3000 cm-1.
Tumpang tindihnya gugus O-H dengan gugus C-H ini mengakibatkan sulitnya membedakan antara karboksilat alifatik dan karboksilat aromatik (lihat keterangan langkah 4) .

Amida

: Apakah ada N-H?
-1 Serapan medium didekat 3500 cm (2,85µ) kadang-kadang puncak

rangkap dengan ukuran yang sama.

Ester

: Apakah ada C-O? Serapan kuat didekat 1300-1000 cm-1 (7,7-10µ).

-1 Anhidrida : Mempunyai dua serapan C=O didekat 1810 dan 1760 cm (5,5 dan

5,7µ).

Aldehida

: Apakah ada CH aldehida?
-1 Serapan lemah didekat 1850 dan 2750 cm (3,5 dan 3,65µ) yaitu

disebelah kanan serapan CH.

Keton

: Apabila kelima kemungkinan diatas tidak ada, maka spektra tersebut adalah senyawa keton.

7

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

3. Jika tidak terdapat gugus C=O perikasa gugus-gugus fungsional berikut: Alkohol/Fenol : Adakah gugus O-H? Gugus O-H merupakan puncak dengan serapan kuat dan lebar (tetappi lebih sempit dari serapan O-H karboksilat) pada daerah 3600-3300 cm-1 (2,8-3,0µ). Pastikan gugus O-H ini dengan melihat puncak gugus alkohol (C-O) didekat 1300-1000 cm-1 (7,710µ).

Amina

: Ujilah untu N-H
-1 Merupakan puncak dengan serapan medium didekat 3500 cm

(2,85µ).

Ester

: Ujilah serapan C-O (serapan O-H tidak ada) didekat 1300-1000 cm-1 (7,7-10µ).

4. Ikatan rangkap dua dan cincin aromatik.
-1 C=C memiliki serapan lemah didekat 1650 cm (6,1µ). Serapan medium tinggi kuat

pada daerah 1650-1450 cm-1 (6,7µ) sering menunjukkan adanya cincin aromatic. Buktikanlah kemungkinan diatas dengan memperhatikan serapan didaerah CH. Aromatik dan Vinil CH terdapat disebelah kiri 3000 cm-1 (3,3µ), sedangkan CH alifatik terjadi disebelah kanan daerah tersebut.

8

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

5. Ikatan rangkap tiga
-1 C N memiliki serapan medium dan tajam didekat 2250 cm (4,5µ). -1 C C memiliki serapan lemah tapi tajam didekat 2150 cm (4,65µ).

Ujilah C-H asetilenik didekat 3300 cm-1.

6. Gugus Nitro Dua serapan kuat pada 1600-1500 cm-1 (6,25-66,7µ) dan 1390-1300 cm-1 (7,2-7,7µ)

7. Hidrokarbon Bila keenam serapan di atas tidak ada.
-1 Serapan utama untuk CH didekat 3000 cm (3,3µ), spektrumnya sangat sederhana

hanya terdapat serapan lain-lain didekat 1450 cm-1 (6,9µ) dan 1375 cm-1 (7,27µ).

6. PROSEDUR KERJA
1. Menghidupkan alat spektrofotometer Infra Merah, memanaskan alat ± 20 menit sebelum memulai percobaan. Membiarkan alat melakukan self test hingga alat isap
-1 digunakan (penunjukkan 4000 cm ) pada layar wavenumber.

2. Memasang pena pada saat. 3. Menekan angka 0,5 pada chart expansion untuk mengatur lebar kertas grafik pada alat. 4. Menekan angka 3 pada scan time untuk mengatur waktu scan. 5. Menekan tombol wavenumber 1x diikuti dengan penekanan mengatur angka gelombang. 6. Menekan tombol chat 1x diikuti penekanan atau untuk mengatur kertas grafik. atau untuk

7. Meletakkan film polystyrene pada jendela alat dibagian didepan. 8. Menekan scan untuk memulai menindai. 9. Menganalisis spektra yang didapat terhadap gambar spektra pada film polystyrene, terutama pada angka sel 1600 cm-1.

9

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

Catatan: 1. Pada alat spektrofotometer IR terdapat wavenumber yang berfungsi untuk mengatur bilangan gelombang yang diinginkan. 2. Untuk mengatur bilangan gelombang, dilakukan hal hal berikut: a. Menekan tombol wavenumber, tombol akan menyala dan tampilan. Menekan tombol parameter adjust atau untuk mendapatkan bilangan gelombang yang diinginkan (arah untuk bilangan golombang yang lebih kecil) b. Setelah semua percobaan selesai dilakukan, semua alat dikembalikan dan bahan -bahan yang digunakan dikembalikan kembali ketempat semula.

7. KESELAMATAN KERJA
Instrument IR harus bebas debu. Jangan sekalikali menyentuk atau memegang permukaan optik. Instrument tidak boleh mengandung uap embun dan uap korosif.

8. DATA PENGAMATAN
Sampel Puncak A Nujol B C A Nujol + Asam Benzoate B C D E A B KBr + Asam Benzoate C D E F Wavenumber (cm-1) 2810-2990 ± 1450 ± 720 ± 1650 ± 2910 ± 1650 ± 1450 ± 1010 ± 1690 ± 2500-3090 1650 ± 1450 1300 ± 710 Kemungkinan C-H CH2 Monosubstituted Benzene C=O O-H C=O Aromatic C-O C=O O-H C=C Aromatic C-O Monosubstituted Benzene

10

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

KBr + Asam Benzoate

11

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

Nujol + Asam Benzoate

12

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

9. ANALISA PERCOBAAN
Pada percobaan kali ini, menggunakan sampel padat yang berupa asam benzoate yang dicampurkan dengan KBr dalam bentuk pelet serta asam benzoate yang dicampurkan dengan minyak nujol. Sebelum dianalisis sampel padatan asam benzoate digerus dan dicampurkan den gan KBr yang telah dipanaskan agar menghilang kadar airnya. Setelah itu campuran ini di press dengan menggunakan press hidrolik agar didapat lempengan tipis yang dapat ditembus oleh sinar infra merah. Begitu juga dengan asam benzoate yang dicampurkan denga nujol yang makan membentuk mull atau pasta n dengan menggunakan cakram NaCl. Pada sampel campuran asam benzoate dengan KBr, dibuat pellet, dalam hal ini campuran ini dipress dengan tekanan antara 8 ton, kerugian menggunakan metode ini -20 adalah sifat dari KBr yang hidroskopis hingga sukar untuk memperoleh pellet yang bebas sempurna terhadap kontaminan uap air. Pada sampel ini didapat puncak serapan dari sampel yang disinari infra merah sebanyak 6 puncak, puncak A, B, C, D, E, dan F. Mempunyai rentang wavenumber ± 1690, ± 2500-3090, 1650, ± 1450, 1300, dan ± 710. Kemudian sampel berikutnya yaitu campuran nujol dengan asam benzoate, yang mana telah diketahui nujol merupakan campuran senyawa hidrokarbon jenuh rantai
-1 panjang. Nujol hanya memberikan empat serap pada daerah 5000 hingga 650 cm . an

Dalam menggunakan metode nujol ini memiliki kelemahan yaitu bila senyawa hidrokarbon alifatik akan mempunyai serapan yang sama karena diakibatkan oleh nujol itu sendiri. Sampel ini menghasilkan puncak serapan sebanyak 5puncak, diantaranya puncak A ± 1650 C=O, puncak B ± 2910 O-H, puncak C ± 1650 C=O, puncak D ± 1450 Aromatic, dan puncak E ± 1010 C-O. Dan sampel terakhir yaitu hanya nujol saja. Sampel ini digunakan sebagai media pembantu sampel (untuk sampel padatan) pada alat spektrofotometer IR, yang pada saat percobaan didapat 3 puncak, diantaranya puncak A 2810 -2990 C-H, puncak B ± 1450 CH2, dan puncak C ± 720 Monosubstituted Benzene.

13

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

10. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Sampel Nujol kemungkinan termasuk gugus hidrokarbon . 2. Sampel asam benzoate + nujol kemungkinan termasuk dalam asam karboksilat . 3. Sampel KBr + asam benzoate kemungkinan termasuk salam asam karboksilat.

11. PERTANYAAN
1. Apakah perbedaan Sp. IR dengan Sp. UV/Vis? Bila dibedakan, Sp. IR kebanyakan digunakan untuk menganalisis senyawa organik, sedangkan Sp. UV/Vis digunakan untuk senyawa anorganik.

2. Senyawa kimia apakah yang dapat dianalisa dengan alat sp. IR? Senyawa kimia yang dapat dianalisa dengan alat Sp. IR adalah senyawa yang memiliki ikatan polar dan non polar, mengandung gugus fungsi tertentu yang dapat dideteksi sp. IR, misalnya senyawa polimer ald ehid, benzene, dsb yang mempunyai gugus CH.

3. Mengapa alat Sp. IR jarang digunakan untuk analisa kuantitatif? Karena alat ini tidak memberikan informasi mengenai kadar suatu senyawa yang dianalisis, melainkan hanya memberikan informasi gugus apa yang terdapat dalam suatu senyawa. Selain itu, Sp. IR hanya dapat menganalisis senyawa tertentu yang termasuk IR dan tidak bereaksi dengan senyawa campuran.

4. Bila cuplikan berbentuk padatan, langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan agar dapat dianalisis oelh sp. IR? Langkah-langkahnya: 1. Mengambil x gram cuplikan yang telah digerus halus. 2. Mencampurkan cuplikan dengan± x gram serbuk KBr. 3. Mengeringkan campuran yang telah dihomogenkan dalam oven selama 1 jam, kemudian didinginkan dalam desikator.

14

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

4. Menekan campuran ini dengana alat penekan hidrofolik (Kbr pellet die) dengan tekanan 10000-15000 psi sehingga membentuk suatu lempeng tipis dan bulat yang tembus sinar IR. 5. Memasang lempeng KBr ini dalam sel, ditempatkan dalam jalan berkas sinar untuk membuat spektrum IR-nya.

15

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

GAMBAR ALAT

16

STATE POLYTECHNIC OF SRIWIJAYA

Chemical Engineering Department
Kimia Analitik Instrument ( Spektrofotometer Infra Merah II )

DAFTAR PUSTAKA

______, Rusdianasari, dkk. Penuntun Praktikum Kimia Analitik Instrument. Spektrofotometer Infra Merah. Politeknik Negeri Sriwijaya. 2011.

17