P. 1
skripsi pendidikan maematika

skripsi pendidikan maematika

|Views: 2,474|Likes:

More info:

Published by: Mustafa Ibrahim Yawarmansyah on Jun 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2013

pdf

text

original

Hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi

dalam diri individu. Perubahan itu merupakan hasil dari pengalaman

individu dalam belajar dan nantinya akan mempengaruhi pola pikir individu

dalam berbuat dan bertindak (Djamarah, 1994: 22). Sedangkan menurut

Sardiman (2007: 100) aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik

9

maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas tersebut harus selalu

berkaitan agar dapat membuahkan aktivitas belajar yang optimal.

Paul B. Diederich dalam Sardiman (2007: 101) membagi kegiatan

belajar yang berlandaskan aktivitas dalam 8 kelompok, yaitu:

a)Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya membaca,

memperhatikan demonstrasi , percobaaan, pekerjaan orang lain.

b)Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya,

memberi saran, mengelurkan pendapat, mengadakan wawancara,

diskusi, interupsi.

c)Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian,

percakapan, diskusi, musik, pidato.

d)Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan,

laporan, angket, menyalin.

e)Drawing ativities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta,

diagram.

f)Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan

percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun,

beternak.

g)Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat,

memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil

keputusan.

10

h)Emotioanal activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa

bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Menurut Hamalik (2001: 170-171), pengajaran yang efektif adalah

pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan

aktivitas sendiri. Anak belajar sambil bekerja, dengan bekerja mereka

memperoleh pengetahuan, pemahaman dan aspek-aspek tingkah laku

lainnya, serta mengembangkan keterampilan yang bermakna untuk hidup di

masyarakat.

Aktivitas masing-masing siswa dalam kegiatan belajar mengajar tentu

tidaklah sama. Hal ini banyak dipengaruhi kegiatan mengajar guru. Salah

satu ciri pengajaran yang berhasil dapat dilihat dari kadar aktivitas siswa

dalam belajar. Makin tinggi aktivitas belajar siswa, makin tinggi peluang

berhasilnya pengajaran. Ini berarti kegiatan guru mengajar harus

merangsang aktivitas belajar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah

suatu bentuk kegiatan yang dilakukan oleh siswa selama kegiatan belajar

berlangsung agar siswa memperoleh pengetahuan, pemahaman,

keteerampilan dan aspek tingkah laku lainnya serta mengembangkan

keterampilannya agar bermakna. Aktivitas belajar siswa merupakan salah

satu faktor yang menunjang berhasilnya pengajaran. Sehingga guru harus

dapat memilih model dan metode pembelajaran yang mempu merangsang

aktivitas belajar siswa.

11

4.Model Pembelajaran MMP (Missouri Mathematics Project)

Struktur pengajaran matematika (SPM) adalah kegiatan dalam proses

pembelajaran matematika, termasuk perincian waktunya. Komponen SPM

adalah sebagai berikut:

a)

Pendahuluan

b)

Pengembangan

c)

Penerapan

d)

penutup

Model di atas dapat dimodifikasi menjadi berbagai macam model

tergantung dari situasi yang memungkinkan siswa sungguh dapat belajar

lebih bermakna. Salah satu bentuk pengembangan dari SPM adalah model

pembelajaran Missouri Mathematics Product (MMP). Menurut Convey

dalam Krismanto (2003: 11), model pembelajaran MMP terdiri dari lima

langkah utama antara lain:

a.Pendahuluan (Review)

b.

Pengembangan

c.

Latihan terkontrol

d.Kerja mandiri (seatwork)

e.Penutup

Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran MMP dijabarkan

sebagai berikut:

12

a.

Pendahuluan/Review

Hal-hal yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1)Apersepsi yaitu mengingatkan dan memperbaiki bekal siswa mengenai

pelajaran terdahulu terutama yang berkaitan dengan pelajaran hari ini,

ini dapat dilakukan dengan pertanyaan-pertanyan tentang pengetahuan

yang menunjang pelajaran yang baru.

2)Motivasi yaitu usaha membangkitkan daya penggerak yang

mendorong siswa untuk melakukan kegiatan. Motivasi internal

diharapkan dikembangkan dalam proses belajar siswa.

3)Penjelasan tujuan pembelajaran dan sistimatika bahan. Disamping itu

pemahaman siswa akan tujuan manfaat bahan ajar akan lebih

meningkatkan motivasi belajar siswa.

b.

Pengembangan

Pada tahap ini guru menyajikan ide baru dan perluasan konsep

matematika terdahulu. Secara umum ada dua macam obyek yang

berkaitan dengan tujuan pembelajaran matematika yaitu obyek langsung

dan obyek tak langsung. Obyek langsung berkaitan dengan fakta,

konsep, prinsip, dan skill matematika. Obyek tidak langsung berkaitan

dengan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, alih belajar

(transfer of learning), menyelidiki, kreatif, bersifat kritis, teliti, dan

pengembangan sikap positif lainnya. Pada tahap ini tujuan mulai

dikembangkan sesuai dengan kekhasan obyek pelajaran tersebut, dan

13

obyek tidak langsungnya menuntut pula kekhasan strategi

pengajarannya.

Fakta disampaikan dengan penjelasan tentang arti dari fakta itu.

Siswa dikatakan telah mengenal suatu fakta, bila ia dapat menuliskan

dan menggunakannya dalam berbagai situasi. Konsep dapat disajikan

dengan memberikan contoh dan bukan contoh dari konsep itu, sehingga

sampai pada akhirnya siswa dapat mendefinisikan contoh itu,

mendifinisikan contoh lebih bermakn jika gambaran awal sudah ada di

benak siswa tentang ciri-ciri konsep tersebut. Siswa dikatakan telah

memahami suatu konsep jika ia dapat membedakan contoh dan bukan

contoh dari konsep itu.

Prinsip dapat diajarkan dengan berbagai metode dan pendekatan,

misalnya diajarkan dengan metode penemuan terbimbing atau tanya

jawab sehingga siswa sendiri yang menemukan prinsip itu. Penjelasan

dan diskusi interaktif antara guru dan siswa harus disajikan termasuk

demonstrasi dengan contoh kongkrit yang sifatnya piktorial atau

simbolik.

c.

Latihan terkontrol

Pada tahap ini siswa diminta merespon satu rangkaian soal sambil

guru mengamati dan membimbing siswa agar tidak terjadi miskonsepsi.

Latihan terkontrol ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk

bekerja dalam kelompok kerja yang kooperatif.

14

Sejalan dengan itu, Djamarah (2002: 99) menyatakan bahwa di

dalam diskusi kelompok proses belajar mengajar terjadi, dimana

interaksi dua individu atau lebih yang terlibat, saling tukar-menukar

pengalaman, informasi, memecahkan masalah dapat juga terjadi

semuanya aktif, tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. Menurut

Kelman (1971) dalam Krismanto (2001: 11) menyatakan bahwa di

dalam kelompok terjadi saling pengaruh secara sosial. Pertama,

pengaruh itu dapat diterima seseorang karena ia memang berharap untuk

menerimanya. Yang kedua, memang ia ingin mengadopsi tingkah laku

atau meniru tingkah laku atau keberhasilan orang lain. Ketiga, karena

pengaruh itu kongruen dengan sikap atau nilai yang dimiliki.

Slavin (1991) dalam Krismanto (2001: 11) menyatakan bahwa

dalam belajar kooperatif, siswa bekerja dalam dalam kelompok saling

membantu untuk menguasai bahan ajar. Jadi jika siswa malu bertanya

kepada guru maka siswa bisa bertanya dalam diskusi dengan temannya

hal-hal yang belum dimengerti.

d.Seatwork

Guru memberikan soal latihan dan memberikan kesempatan siswa

untuk mengerjakan latihan secara individual.

e.Penutup

Pada tahap ini guru mengarahkan siswa untuk membuat

rangkuman. Hal ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-

15

pertanyaan yang mengarahkan pada rangkuman. Sehubungan dengan

itu, Usman (1995: 92) menyatakan bahwa siswa perlu membuat

rangkuman agar siswa memperoleh gambaran yang jelas tentang makna

serta esensi pokok persoalan yang baru saja dipelajari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->