P. 1
skripsi keperawatan

skripsi keperawatan

|Views: 5,034|Likes:

More info:

Published by: Mustafa Ibrahim Yawarmansyah on Jun 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2014

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG Tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua manusia untuk dapat berfungsi secara optimal baik yang sehat maupun yang sakit (A. Alimul Aziz, 2008). Secara statistik, dilaporkan bahwa sebagian besar orang dewasa yang sehat tidur selama 7,5 jam setiap hari. Kuantitas dan kualitas tidur beragam di antara orang-orang dari semua kelompok usia (A. Alimul Aziz, 2008). Namun, yang menjadi masalah dalam tidur adalah kualitas, bukan kuantitasnya dimana, enam jam tidur nyenyak lebih baik daripada delapan jam tidur dengan bantuan obatobatan atau tidur tidak tenang (Rosemary Nicol, 1991). Tidur dengan kuantitas lima atau enam jam, namun terbangun dengan segar keesokan harinya itu berarti kualitasnya tercapai. Dalam keadaan sakit apabila mengalami kurang tidur dapat memperpanjang waktu pemulihan sakit (Hudak & Gallo, 1997). Selain itu, tidur dipercaya mengkontribusi pemulihan fisiologis dan psikologis (Oswald, 1984; Anch dkk, 1988). Evaluasi terhadap masalah kebutuhan tidur dan istirahat dapat dinilai salah satunya dari hilangnya tanda klinis gangguan tidur dan penyimpangan pada pasien, seperti timbulnya perasaan segar, tidak gelisah, lesu, dan apatis, hilangnya kehitaman di daerah sekitar

1

2

mata, memulai menghilangnya kelopak mata yang bengkak, tidak adanya konjungtiva merah, mata perih, pasien sudah dapat berkonsentrasi penuh, serta tidak ditemukan gangguan proses berpikir, bicara, dan lain-lain (Aziz Alimul hidayat, 2008). Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius (Nurmiati Amir, 2007). Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cenderung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Menurut data Internasional Of Sleep Disorder, prevalensi penyebab-penyebab gangguan tidur yaitu sindroma kaki gelisah (5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65%) (Dr. Iskandar Japardi, 2002). Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada pasien rawat inap di ruang Mawar RSUP NTB pada 7 Januari 2010, di dapatkan hasil bahwa 2 dari 3 pasien DM mengalami gangguan kualitas tidur. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa, keluasan perubahan tidur bergantung pada status fisiologis, psikologis, dan lingkungan fisik klien (Fundamental Keperawatan Vol. 2, 2005). Dari data tanggal 1 Februari 2010 didapatkan total jumlah pasien DM yang rawat inap di ruang Mawar RSUP NTB 3 bulan terakhir yaitu 22 pasien. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur. Faktor fisik meliputi rasa nyeri, sedangkan faktor psikologis meliputi depresi, kecemasan, ketakutan dan tekanan jiwa. Klien yang sakit

3

seringkali membutuhkan lebih banyak tidur dan istirahat dibandingkan dengan klien yang sehat. Klien dengan hospitalisasi seringkali sulit beristirahat karena ketidakpastiaan tentang status kesehatan/penyakit fisik dan prosedur diagnostik yang mereka jalani (Priharjo, 1996). Masalah gangguan tidur pada pasien DM muncul selain karena kecemasan akan hal yang berkaitan dengan penyakitnya, namun juga dikarenakan adanya nocturnal urine. Pada klien dengan DM, tidur menjadi sangat penting karena kekurangan tidur akan mempengaruhi aktivitas pankreas dalam mengahasilkan insulin. Dalam hal ini tidur menjadi sangat penting untuk mengembalikan fungsi pankreas, atau minimal untuk mempertahankan fungsi insulin klien saat itu. Akademi pengobatan tidur Amerika (American Academy of Sleep Medicine /AASM) melaporkan bertambahnya bukti berkaitan dengan kurangnya tidur dan gangguan tidur dapat berkembang bahkan memperburuk diabetes. Pada klien dengan hospitalisasi, aktivitas cenderung terganggu dikarenakan terapi, dan kondisi fisik dari klien itu sendiri yang tidak memungkinkan untuk melakukan latihan fisik. Aktivitas yang teratur dan latihan dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan toleransi glukosa. Olahraga akan meningkatkan sensitivitas insulin dan akan membantu insulin untuk memindahkan glukosa ke otot (Brian J. Sharkey, 2003). Salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap tidur klien, terutama pengaruh yang positif adalah latihan fisik. Istilah latihan

digunakan dalam arti, pengulangan gerakan-gerakan secara sistematik dan

4

teratur dengan tujuan meningkatkan kemampuan fisik seseorang (Walter Noder., M. D., 1983:11). Melakukan gerakan badan secara teratur akan membuat otot-otot tubuh menjadi kuat, jantung dan sirkulasi darah bekerja dengan baik, dan menghilangkan ketegangan. Kontraksi dan relaksasi otot berirama mengurangi ketegangan dan menyiapkan tubuh untuk beristirahat (Hoch dan Reynolds, 1986). Olahraga secara teratur sangat baik untuk melancarkan peredaran darah. Selain itu, biasanya kantuk lebih mudah datang saat tubuh lelah. Latihan 2 jam atau lebih sebelum waktu tidur membuat tubuh mendingin dan mempertahankan suatu keadaan kelelahan yang meningkatkan relaksasi (Fundamental Keperawatn Vol. 2, 2005). Relaksasi memberi respon melawan mass discharge (pelepasan impuls secara massal). Pada respon stres dari sistem saraf simpatis, perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan corticotropin Releasing Factor (CRF). Selanjutnya,, CRF (Cortocotropin Realeasing Factor) merangsang kelenjar pituitari untuk meningkatkan produksi Iproopioidmelanocortin (POMC), sehingga produksi enkephalin oleh medula adrenal meningkat. Kelenjar pituitari juga menghasilkan

β

endorphin

sebagai

neurotransmitter yang mempengaruhi suasana hati menjadi rileks (Mellysa, 2004). Dari apa yang diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa menjaga kebutuhan istirahat tidur serta pemilihan jenis aktivitas menjadi penting pada klien yang sedang menjalani hospitalisasi, dengan keterbatasan dari

5

klien sendiri dalam melakukan aktivitas terutama latihan fisik. Latihan rentang gerak ROM (Rage of Motion) dipilih menjadi aktifitas yang akan digunakan karena menyesuaikan dengan kemampuan klien untuk melakukan rentang gerak. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Eni Kusyati (2006), bahwa ”ROM (Rage of Motion) merupakan gerakan isotonic (terjadi kontraaksi dan pergerakan otot) yang dilakukan klien dengan menggerakkan masing-masing persendiannya sesuai dengan rentang gerak yang normal”, sedang diatas telah diuraikan bahwa Kontraksi dan relaksasi otot berirama mengurangi ketegangan dan menyiapkan tubuh untuk beristirahat (Hoch dan Reynolds, 1986). Sebuah penelitian terdahulu oleh ahli dari Monash University di Melbrourne dan University of Auckland membuktikan bahwa aktivitas fisik (dengan obyek penelitian anak) tidak hanya sebagai sarana kebugaran, kesehatan kardiovaskular, dan mengontrol berat, namun juga untuk tidur (Healt Today Indonesia, 2009). Berdasarkan hal diatas, penulis ingin meneliti tentang “Pengaruh Pemberian Aktivitas ROM (Rage of Motion) Terhadap Perubahan Kualitas Tidur Klien Diabetes Melitus di Ruang Kenanga dan Mawar RSUP NTB“ guna mengetahui seberapa jauh pengaruh pemberian aktivitas, khususnya ROM (Rage of Motion) ini dalam memenuhi kebutuhan tidur khususnya kualitas tidur klien Diabetes Melitus dan hal ini merupakan kompetensi perawat untuk melakukan tindakan keperawatan.

6

1.2

RUMUSAN MASALAH Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui apakah ada pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pasien Diabetes Mellitus di ruang Mawar RSUP NTB?

1.3

TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui apakah ada pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pasien Diabetes Melitus di Ruang Mawar RSUP NTB. 1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi kualitas tidur pada pasien DM sebelum dan sesudah dilakukan pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion). 2. Menganalisa pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pada pasien DM.

1.4

MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Teoritis
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu baru dalam pemberian asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan tidur.

7

1.4.2 Praktis
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan bahan pertimbangan untuk alternnatif pemberian asuhan keperawatan pasien dengan gangguan tidur. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar, acuan atau informasi untuk penelitian selanjutnya. 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tindakan mandiri bagi pasien dengan gangguan tidur. Memberikan masukan pada masyarakat tentang pentingnya memenuhi kebutuhan tidur dan latihan fisik untuk mencapai kualitas tidur yang diharapkan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1

KONSEP TIDUR 2.1.1 Definisi Tidur Tidur adalah suatu keadaan relative tanpa sadar yang penuh ketenangan tanpa kegiatan yang merupakan urutan siklus yang berulang-ulang dan masing-masing menyatakan fase kegiatan otak dan badaniah yang berbeda (Tarwoto,Wartonah, 2004). Tidur diefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau dengan rangsang lainnya (Athur C. Guyton, 1997). 2.1.2 Fisiologi Tidur Pengaturan tidur dikarenakan adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh system pengaktifan retikularis yang merupakan system yang mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan system kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu, reticular activating system (RAS) dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri dan

8

9

perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri ternasuk rangsangan emosi dan prooses pikir. Dalam keadaan sadar, neuron dalam RAS akan melepasakan katekolamin seperti norepineprin. Demikian juga pada saat tidur, kemungkinan disebabkan adanya pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan batang otakk tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima dipusat otak dan sistem

limbik. dengan demikian, sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR (A. Aziz Alimul, 2008). 2.1.3 Kualitas tidur

Makna dasar tidur adalah suatu keadaan dimana otak dan tubuh diberi kesempatan untuk beristirahat. Definisi tidur sebenarnya yang diterima umum adalah kualitas dan kuantitas tidur yang diperlukan untuk menjaga kesigapan selama bangun tidur (Yolanda Amrita, 2009). Banyak ilmuwan mengatakan rata-rata tidur yang disyaratkan adalah tujuh sampai dengan delapan jam. Namun yang menjadi masalah adalah kualitas tidur, bukan kuantitasnya. Enam jam tidur nyenyak dan terbangun dengan segar jauh lebih baik bagi daripada delapan jam tidur dengan bantuan obat-obatan atau tidur tidak tenang (Nicol Rosemary, 1991) . Kualitas tidur menunjukkan

10

adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh jumlah istirahat yang sesuai dengan kebutuhannya (A. Aziz Alimul, 2008). Sebagian orang secara genetic tergolong aktif dipagi hari dan lainnya di malam hari. Ada yang tidurnya pendek dan ada pula yang tidurnya panjang. Sebagian orang membutuhkan tidur lebih banyak dari rata-rata orang, dan sebagiannya lagi untuk kembali merasa segar dan bertenaga membutuhkan tidur kurang dari ratarata. Dalam tidur bukan hanya sekedar dilihat dari lamanya seseorang tidur, tetapi kualitasnnya. Kendati tidur lama, belum tentu orang tersebut merasa cukup tidur. Ketika seseorang terbangun dari tidurnya dan merasa bugar, hal itu menandakan ia mendapatkan tidur yang berkualitas. 2.1.4 Klasifikasi Tidur Terdapat berbagai tahap dalam tidur, dari tidur yang sangat ringan sampai tidur yang sangat dalam; para peneliti tidur juga membagi tidur dalam dua tipe yang secara keseluruhan berbeda, yang memiliki

kualitas yang berbeda pula, yaitu: 1. NREM (Non Rapid Eye Movement) Tahap tidur ini dapat juga disebut sebagai tidur gelombang lambat. Dinamakan tidur gelombang lambat karena pada tahap ini gelombang otaknya sangat lambat, yang dapat dihubungkan dengan penurunan tonus, penurunan darah perifer dan fungsifungsi vegeatif tubuh lainnya. Selain itu, tekanan darah, frekwensi

11

pernapasan, dan kecepatan metabolisme basal akan berkurang 1030 %. Ciri-ciri tidur non-REM yaitu betul-betul istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekwensi napas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang, dan metabolisme menurun. Perubahan selama proses tidur gelombang lambat adalah melalui elektroenchephalografi dengan memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap tidur, yaitu: pertama, kewaspadaan penuh dengan gelombang betha yang berfrekwensi tinggi dan bervoltase rendah; kedua, istirahat tenang yang diperlihatkan pada gelombang alpha; ketiga, tidur ringan karena terjadi perlambatan gelombang alpha sejenis tetha atau delta yang bervoltase rendah; dan ke empat, tidur nyenyak karena gelombang lambat dengan gelombang delta bervoltase tinggi dengan kecepatan 1-2/detik.

Tahapan tidur jenis gelombang lambat: a. Tahap I

Tahap satu merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung selama 5 menit.

12

b. Tahap II Tahap II merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit. c. Tahap III

Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi napas dan proses tubuh lainnya lambat, disebabkan oleh adanya dominasi system saraf parasimpatis dan sulit untuk bangun. d. Tahap IV

Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan pernapasan turun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, gerakan bola mata cepat, sekresi lambung menurun, serta tonus otot menurun.

2. REM (Rapid Eye Movement) Disebut juga sebagai tidur paradoks yang dapat

berlangsung pada tidur malam selama 5-20 menit, dan rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi selama 80-100 menit, akan tetapi apabila kondisi oang sangat lelah, maka awal tidur

13

sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada. Ciri dari tidur jenis ini adalah: a. Biasanya disertai dengan mimpi aktif. b. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak gelombang lambat. c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktifasi retikularis. d. Frekwensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur. e. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratur. f. Mata cepat menutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan metabolisme meningkat. g. Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi.

14

Bangun NREM I NREM II NREM III NREM IV NREM II NREM III REM NREM II

Gambar 2.1 Siklus tidur, sumber A. Aziz Alimul (2008) 2.1.5 Fungsi dan Tujuan Tidur (A. Alimul Hidayat, 2006) Fungsi dan tujuan tidur secara jelas tidak diketahui, akan tetapi diyakini bahwa tidur dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, kesehatan, mengurangi stres pada paru,

kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lain. Energi disimpan selama tidur, sehingga dapat diarahkan kembali pada fungsi seluler yang penting. Secara umum terdapat dua efek fisiologis dari tidu, yaitur: 1. Efek pada sistem saraf, yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan diantara berbagai susunan saraf. 2. Efek pada struktur tubuh, dengan memulihkan kesegaran dan fungsi dalam organ tubuh, karena selama tidur terjadi penurunan.

15

2.1.6 2006)

Tanda Klinis Gangguan Tidur (A. Aziz Alimul Hidayat,

1. Hilangnya perasaan segar 2. Gelisah 3. Lesu 4. Apatis 5. Kehitaman daerah sekitar mata 6. Kelopak mata bengkak 7. Konjungtiva mata merah 8. Mata perih 9. Tidak dapat berkonsentrasi penuh 10. Gangguan bicara dan proses pikir.

2.1.7

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tidur Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhnya (A. Aziz Alimul Hidayat, 2006). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya adalah: 1. Penyakit Sakit dapat mempengaruhi kebutuhan tidur seseorang. Banyak penyakit yang memperbesar kebutuhan tidur, misalnya penyakit yang disebabkan oleh infeksi (infeksi limfa) akan

16

memerlukan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasi keletihan. Banyak juga keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak biasa tidur. 2. Latihan dan Kelelahan Keletihan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan. Hal tersebut terlihat pada seseorang yang telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya diperpendek. 3. Stres Psikologis Kondisi psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Hal tersebut terlihat ketika seseorang yang memiliki masalah psikologi mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur. 4. Obat Obat dapat juga mempengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang dapat mempengaruhi proses tidur adalah jenis golongan obat diuretic yang menyebabkan seseorang insomnia, anti depresan dapat menekan REM (Rapid Eye Movement), kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat berefek pada timbulnya

17

insomnia, dan golongan narkotik dapat menekan REM (Rapid Eye Movement) sehingga mudah mengantuk. 5. Nutrisi Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat

mempercepat trejadinya proses tidur, karena adanya tryptophan yang merupakan asam amino dari protein yang dicerna. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga mempengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur. 6. Lingkungan Keadaan lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat terjadinya proses tidur. 7. Motivasi Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, yang dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu adanya keinginan untuk menahan tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.

2.1.8

Masalah Kebutuhan Tidur (A. Aziz Alimul, 2008) 1. Insomnia Merupakan suatu keadaan ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas, dengan keadaan tidur yang sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagai menjadi tiga jenis, yaitu initial insomnia yang merupakan

18

ketidakmampuan untuk jatuh tidur atau mengawali tidur, intermiten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur karena selalu terbangun pada malam hari, dan terminal insomnia yang merupakan ketidakmampuan untuk tidur kembali setelah terbangun pada malam hari. Proses gangguan tidur ini

kemungkinan besar disebabkan oleh adanya rasa khawatir, tekanan jiwa, ataupun stress. 2. Hipersomnia Merupakan gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan, pada umumnya lebih dari sembilan jam pada malam hari, disebabkan oleh kemungkinan adanya masalah psikologis, depresi, kecemasan, gangguan susunan saraf pusat, ginjal, hati dan gangguan metabolisme. 3. Parasomnia Merupakan kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur, seperti somnambulisme (berjalan-jalan saat tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak, yaitu pada tahap III dan IV dari tidur REM (Rapid Eye Movement). Somnambulisme ini dapat menyebabkan cedera. 4. Enuresa Merupakan buang air kecil yang tidak disengaja pada waktu tidur, atau biasa juga disebut dengan istilah mengompol. Enuresa dibagi dalam dua jenis, yaitu anuresa nocturnal yang merupakan

19

mengompol di waktu tidur, dan enuresa diurnal yang merupakan mengompol pada saat bangun tidur. Enuresa nocturnal umumnya merupakan ganggguan pada tidur NREM (Non-Rapid Eye Movement). 5. Apnea tidur dan mendengkur Mendengkur umumnya tidak termasuk dalam gangguan tidur, tetapi mendengkur disertai dengan keadaan apnea dapat menjadi masalah. Mendengkur sendiri disebabkan adanya

rintangan dalam pengaliran udara di hidung atau mulut pada waktu tidur, biasanya disebabkan oleh tonsilitis, atau mengendurnya otot dibelakang multu. Terjadinya apnea dapat mengacaukan jalannya pernapasan sehingga dapat mengakibatkan henti nafas. Bila kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur. 6. Narcolepsi Merupakan keadaan tidak dapat mengendalikan diri untuk tidur, misalnya tertidur dalam keadaan berdiri, mengemudikan kendaraan, atau di saat sedang membicarakan sesuatu. Hal ini merupakan suatu gangguan neurologis. 7. Mengigau Mengigau dikategorikan dalam gangguan tidur bila terlalu sering dan diluar kebiasaan. Dari hasil pengamatan, ditemukan

20

bahwa hampir semua orang pernah mengigau dan terjadi sebelum tidur REM (Rapid Eye Movement). 8. Gangguan pola tidur secara umum Gangguan pola tidur secara umum merupakan suatu keadaan di mana individu megalami atau mempunyai resiko perubahan dalam jumlah dan kualitas pola istirahat yang menyebabkan ketidaknyamanan atau mengganggu gaya hidup yang diinginkan (Carpenito, LJ, 1995). Gangguan ini telihat pada pasien dengan kondisi yang memperlihatkan rasa lelah, mudah

terangsang dan gelisah, lesu dan apatis, kehitaman di daearah sekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian tepecah-pecah, sakit kepala, dan sering menguat atau mengantuk. Penyebab gangguann tidur ini antara lain kerusakan transport oksigen, gangguan metabolisme, kerusakan eliminasi, pengaruh obat, immobilitas, nyeri pada kaki, takut operasi, faktor lingkungan yang mengganggu, dan lain-lain.

2.2 Konsep ROM (Rage Of Motion) 2.2.1 Definisi Latihan aktif ROM (Rage of Motion) merupakan gerakan isotonik (terjadi kontraksi dan pergerakan otot) yang dilakukan klien dengan menggerakkan masing-masing persendiannya sesuai dengan rentang gerak yang normal. Selain itu, latihan pasif ROM

21

(Rage of Motion) adalah latihan pergerakan perawat atau petugas lain yang menggerakkan persendian klien sesuai dengan rentang geraknya (Eni Kusyati, 2006:236).

2.2.2 1.

Tujuan Meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas dan

kekuatan otot. 2. 3. 4. Mempertahankan fungsi jantung dan pernafasan. Mencegah kontraktur Menjaga fleksibilitas dari masing-masing persendian.

2.2.3 1.

Jenis-jenis ROM (Rage Of Motion) ROM (Rage Of Motion) Aktif ROM (Rage Of Motion) aktif merupakan latihan rentang

gerak yang dilakukan dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendiri secara aktif. Perawat hanya memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif) 2. ROM (Rage Of Motion) Pasif Perawat melakukan gerakan persendian klien sesuai dengan rentang gerak yang normal (klien pasif). ROM (Rage Of Motion) Pasif diberikan pada seluruh persendian tubuh atau

22

hanya pada ekstremitas yang terganggu dan klien tidak mampu melaksanakannya secara mandiri.

2.2.4 1. 2. 3. 4.

Indikasi Pemberian Stroke atau penurunan tingkat kesadaran Kelemahan otot Fase rehabilitasi fisik Klien dengan tirah baring lama

2.2.5 1. 2. 3.

Kontra Indikasi Trombus/emboli pada pembuluh darah Kelainan sendi atau tulang Klien fase imobilisasi karena kasus penyakit (jantung)

2.2.6 1. 2. 3.

Perhatian Khusus Tanggap terhadap respon ketidak nyamanan klien Ulangi gerakan sebanyak 3 kali Monitor keadaan umum klien dan tanda-tanda vital

sebelum dan setelah latihan

2.2.7 1.

Prosedur Pelaksanaan Prosedur umum: a. Cuci tangan untuk mencegah transfer organisme.

23

b.

Jaga privasi klien dengan menutup pintu atau

memasang sketsel. c. Beri penjelasan kepada klien mengenai apa yang

akan anda kerjaan dan minta klien untuk dapat bekerjasama. d. Atur ketinggian tempat tidur yang sesuai agar

memudahkan perawat dalam bekerja, terhindar dari masalah penjajaran tubuh dan pergunakan selalu prinsip-prinsip mekanika tubuh. e. Posisikan klien dengan posisi supinasi dekat dengan

perawat dan buka bagian tubuh yang akan digerakkan. f. Rapatkan kedua kaki dan letakkan kedua lengan

pada masing-masing sisi tubuh. g. Kembalikan pada posisi awal setelah masing-

masing gerakan. Ulangi masing-masing gerakan 3 kali. h. Selama latihan pergerakan, kaji kemampuan untuk

menoleransi gerakkan dan rentang gerak (ROM/Rage Of Motion) dari masing-masing persendian yang bersangkutan. i. Setelah latihan pergerakan, kaji denyut nadi dan

ketahanan tubuh terhadap latihan. j. Catat dan laporkan setiap masalah yang tidak

diharapkan atau perubahan pada gerakan klien, misalnya adanya kekakuan dan kontrantur.

24

2.

Prosedur Khusus a. Gerakan bahu 1) Mulai masing-nasing gerakan dari lengan di sisi klien. Pegang lengan di bawah siku dengan tangan kiri perawat dan pegang pergelangan tangan klien dengan tangan kanan klien. 2) Fleksi dan ekstensikan bahu. Gerakkan lengan keatas menuju kepala tempat tidur. kembalikan keposisi sebelumnya.

Gambar 2.2 : Fleksi dan ekstensi pada Kusyati, 2006. Keterampilan dan

bahu (Eny prosedur

laboratorium Dasar) 3) Abduksikan bahu. Gerakkan lengan menjauhi tubuh dan menuju kepala klien sampai tangan diatas kepala.

25

4) Adduksikan bahu. Gerakkan lengan klien ke atas tubuhnya s ampai tangan yang bersangkutan menyentuh tangan pada sisi di sebelahnya. 5) Rotasikan bahu internal dan eksternal. Letakkan lengan di samping tubuh klien sejajar dengna bahu, lalu siku membentuk sudut 900 dengan kasur. gerakkan lengan ke atas dan kebawah. b. Gerakan siku 1) Fleksi dan ekstensikan siku Bengkokkan siku hingga jai-jari tangan menyentuh dagu, lalu luruskan kembali ketempat semula.

Gambar 2.3 : Gerakkan fleksi dan ekstensi siku (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur

laboratorium Dasar) 2) Pronasi dan supinasikan siku Genggam tangan klien seperti orang yang sedang berjabat tangan, putar telapak tangan klien kebawah dan

26

ke atas, pastikan hanya terjadi pergerakan siku, bukan bahu. c. Gerakan pergelangan tangan 1) Fleksikan pergelangan tangan, genggam telapak dengan satu tangan, tanggan yang lainnya menyangga lengan kedepan. bawah. bengkokkan pergelangan tangan

Gambar 2.4: Gerakkan fleksi pada pergelangan tangan. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar) 2) Ekstensi pergelangan tangan dari posisi fleksi, tegakkan kembali pergelangan tangan ke posisi semula.

27

Gambar 2.5 : Gerakan ekstensi pada pergelangan tangan. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan

prosedur laboratorium Dasar) 3) Fleksi radial dengan membengkokkan pergelangan tangan secara lateral menuju ibu jari.

Gambar 2.6 : Gerakan abduksi pergelangan tangan. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar) 4) Fleksi ulnar/ulnar deviation (adduksi) Bengkokkan pergelangan tangan secara lateral kea rah jai kelima.

28

Gambar 2.7 : Gerakan adduksi pergelangan tangan. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar) d. Gerakan jari-jari tangan 1) Fleksi Bengkokkan jari-jai tangan dan ibu jari kearah telapak tangan (tangan menggenggam).

Gambar 2.8 : Gerakan fleksi jari-jari tangan. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur

laboratorium Dasar) 2) Ekstensi Dari posisi fleksi, kembalikan keposisi semula (buka genggaman tangan). 3) Hiperektensi Bengkokkan mungkin. 4) Abduksi jari-jari tangan kebelakang sejauh

29

Buka dan pisahkan jari-jari tangan.

Gambar 2.9 : Gerakan abduksi jai-jari tangan. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur

laboratorium Dasar) 5) Adduksi Dari posisi abduksi, kembalikan keposisi semula. 6) Sisi Sentuhkan masing-masing jari tangan dengan ibu jari.

Gambar 2.10 : Gerakan oposisi. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar)

30

e. Gerakan pinggul dan lutut Untuk melakukan gerakan ini, letakkan satu tangan dibawah lutut klie, dan tangan yang lainnya dibawah mata kaki klien. 1) Fleksi dan ekstensi lutut dan pinggul Angkat kaki dan bengkokkan lutut, gerakan lutut ke atas menuju dada sejauh mungkin lalu kembalikan lutut kebawah, tegakkan lutut dan rendahkan kaki sampai pada kasur.

Gambar 2.11 : Gerakan kaki, A. Fleksi; B. Ekstensi. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar) 2) Abduksi dan adduksi kaki Gerakan kaki kesamping menjauhi klien dan

kembalikan melintas di atas kaki yang lainnya.

31

Gambar 2.12 : Gerakan kaki, A. Abduksi; B. Adduksi. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar) 3) Rotasi panggul interna dan eksternal Putar kaki ke dalam, kemudian keluar.

Gambar 2.13 : Gerakan rotasi kaki. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar)

f.

Gerakan telapak kaki dan pergelangan kaki 1) Dorsofleksi telapak kaki Letakkan satu tangan di bawah tumit lalu tekan kaki klien dengan lengan anda utuk menggeakkannya ke arah kaki.

32

Gambar 2.14 : Gerakan dorsofleksi. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar)

2) Fleksi plantar telapak kaki Letakkan satu tangan pada punggung dan tangan yang lainnya pada tumit dan dorong kaki lainnya menjauh dari.

Gambar 2.1: Gerakan plantar fleksi telapak kaki. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur

laboratorium Dasar).

3) Fleksi dan ekstensi jari-jari kaki Letakkan satu tangan pada punggung kaki klien, letakkan tangan yang lainnya pada pergelangan kaki.

33

Bengkokkan jari-jari ke bawah lalu kembalikan lagi pada posisi semula.

Gambar 2.16: Gerakan jari-jari kaki, A. Fleksi, B. Ekstensi Eny Kusyati, 2006. (Eny Kusyati, 2006. Keterampilan dan prosedur laboratorium Dasar) 4) Inversi dan eversi Letakkan satu tangan dibawah tumit dan tangan lainnya diatas punggung kaki. Putar telapak kaki kedalam dan keluar.

g.

Gerakkan leher.

Ambil bantal dari dari kepala klien 1) Fleksi dan ekstensi leher Letakkan satu tangan dibawah kepala klien, dan tangan yang lainnya diatas dagu klien. gerakkan kepala ke depan sampai menyentuh dada, kemudian kembalikan ke posisi semula tanapa disanggah oleh bantal.

34

2) Fleksi lateral leher Letakkan kedua tangan pada pipi klien lalu gerakkan kepala klien kearah kanan dan kiri. 3) Gerakkan hiperektensi Bantu klien merubah posisi pronasi disisi tempat tidur, dekat dengan perawat. 4) Hiperektensi leher Letakkan satu tangan diatas dahi, tangan yang lainnya pada kepala bagian bekang, lalu gerakkan kepala kebagian belakang. 5) Hiperektensi bahu Letakkan satu tangan diatas bahu klien dan tangan yang lainnya dibawah siku klien lalu tarik lengan atas keatas dan kebelakang. 6) Hiperektensi pinggul Letakkan satu tanagan diatas pinggul, dan tangan yang lainnya menyangga kaki bagian bawah. kemuadian

gerakkan kaki kebelakang dari persendian pinggul.

2.3 Konsep Diabetes Melitus 2.3.1 Definisi

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, dengan tanda – tanda hiperglikemia dan

35

glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan proteins ( Askandar, 2000 ).

2.3.2 1.

Tanda & Gejala Gejala a. b. c. d. e. f. g. h. i. Polifahia Poliuria BB menurun Sering merasa lelah dan mengantuk Mudah timbul bisul dan lama sembuhnya. Gatal-gatal terutama pada bagian luar alat kelamin. Nyeri otot Penglihatan kabur Kesemutan dan baal.

2.

Tanda a. b. c. mg/dl Tes urine reduksi dan sedimen positif. Kadar gula darah puasa > 120 mg/dl Glukosa darah 2 jam post puasa lebih dari 200

36

2.3.3

Patofisiologi

Diabetes militus disebabkan oleh penurunan kecepatan insulin oleh sel-sel β pulau langerhans. Sebagian besar gambaran

patologik dari DM dapat di hubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut: 1. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang

mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl. 2. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan

lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah. 3. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yang parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa.

Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien

37

akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.

38

Hiperglikemia yang lama

akan menyebabkan arterosklerosis,

penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.

2.3.4

Hubungan Diabetes Mellitus Dengan Tidur Akademi Pengobatan Tidur Amerika (American Academy of

Sleep Medicine /AASM) melaporkan bertambahnya bukti berkaitan dengan kurangnya tidur dan gangguan tidur dapat berkembang bahkan memperburuk diabetes.

39

Dr Lawrence Epstein, Direktur Medis Pusat Kesehatan Tidur, seorang instruktur pengobatan di Fakultas Kedokteran Harvard, seorang mantan presiden AASM dan anggota dewan direktur AASM, mengatakan ”Beberapa studi besar menunjukkan bahwa orang yang tidak tidur dengan cukup memiliki risiko yang lebih besar terkena diabetes”. Hal ini dikarenakan, kurangnya tidur memiliki efek yang signifikan terhadap sistem endokrin, yang bertanggungjawab untuk pelepasan dan penghambatan beberapa substansi termasuk insulin. Kurangnya tidur juga mempengaruhi aktivitas kelenjar pituitary yaitu pengendali kelenjar endokrin di seluruh tubuh. Mekanismenya terjadi melalui 2 jalan, yaitu sistem saraf otonom dan kelenjar pituitary. Sistem saraf otonom disusun oleh sistem aktivasi atau pengeluaran yang disebut sistem saraf simpatis dan penghambat sistem disebut sistem parasimpatis (Sriwerdati, 2009).

2.3.5 1.

Klasifikasi Diabetes tipe 1

Diabetes tipe I ditandai dengan sekresi insulin oleh pankreas tidak ada dan sering terjadi pada orang muda. Secara normal, insulin bekerja untuk menurunkan kadar glukosa darah dengan membolehkan glukosa masuk kedalam sel untuk di

metabolisme. Caranya dengan mengikat dirinya secara kuat

40

pada tempat reseptor pada membran sel. Efek utama metabolik insulin adalah di otot dan jaringan adiposa. Pada orang

diabetes, kekurangan atau ketiadaan insulin menimbulkan kelaparan pada jaringan ini dan ini menjelaskan mengapa pasien menjadi lelah dan berat badan menurun. 2. Diabetes tipe II Pada diabetes ini, terjadi kelainan reseptor insulin pada sel, sehingga terjadi resistensi insulin yang disertai dengan penurunan reaksi intrasel. 3. Diabetes Gestasional Jadi, ada wanita yang tidak mengalami atau menderita diabetes militus sebelum kehamilannya. Hiperglikemia dikarenakan sekresi hormon-hormon plasenta. 2.3.6 1. Komplikasi Komplikasi metabolik akut. a. Nafsu makan menurun, haus, banyak minum dan

banyak kencing sebagai gejala adanya hiperglikemia. b. 2. Ketoasidosis diabetik.

Komplikasi metabolik kronik a. Kelainan sirkulasi: hipertensi, IMA, isufisiensi

koroner. b. c. Kelainan mata: retinopati diabetika, katarak dll. Kelainan saraf: neuropati diabetikum

41

d. e.

Kelainan pernafasan : TBC Kelainan ginjal: Urolitiasis, pyelonefritis,

glomerulonekrosis. f. Kelainan kulit: gangren, ulkus kaki (distribusi

tekanan abnormalpada neuropati diabetikum). g. 2.3.7 1. Asidosis

Penatalaksanaan Diit diabetes Melitus

Diit diberikan sesuai dengan kondisi klien, dimana jumlah kalori dihitung dengan: a. Berat badan ideal = (TB cm – 100) kg-10 % pada

waktu istirahat, dan diperlukan 25 kal/kg BB ideal b. Aktivitas: kerja ringan ditambah 10-20%, kerja

sedang ditambah 30%, kerja berat ditambah dengan 50%, dan kerja berat sekali misalnya buruh kasar ditambah 75%. c. Stres (infeksi, operasi): ditambah dengan 20-30%,

karbohidrat diberikan sesuai dengan menu orang Indonesia rata-rata sehingga bisa lebih murah yaitu: 60-70% dari kalori lebih baik diberikan karbohidrat berupa tepung daripada bentuk gula, karena gula terlalu cepat diserap sehingga dapat menyebabkan perubahan cepat dalam sistem di tubuh, sedangkan tepung dicerna dulu baru diserap perlahan-lahan.

42

d.

Protein harus cukup yaitu sedikitnya 1 gr/kgBB

untuk orang dewasa dan 2-3 gr/kgBB untuk anak-anak. Lemak sebaiknya dikurangi terutama yang banyak mengandung lemak jenuh dan kolesterol, yang baik adalah lemak jenuh yang terkandung dalam jenis makanan seperti: lemak hewan, kuning telur, coklat, kream, sedangkan yang banyak mengandung lemak tidak jenuh: minyak jagung, minyak kapas dan minyak bunga matahari.

Kebutuhan kalori/hari untuk menuju berat badan normal : a. Berat Badan Kurang ( BBR < 90 % ) kebutuhan

kalori sehari : 40 – 60 kalori / kg BB. b. Berat Badan Normal ( BBR 90 – 100 % ) kebutuhan

kalori sehari : 30 kalori / kg BB. c. Berat Badan Lebih ( BBR > 110 % ) kebutuhan

kalori sehari : 20 kalori / kg BB. d. Gemuk = obesitas ( BBR > 120 % ) kebutuhan

kalori sehari : 15 kalori / kg BB. 2. Latihan fisik atau olahraga Sudah lama diketahui bahwa olah raga dapat

menimbulkan penurunan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh karena peningkatan penggunaan glukosa dalam pembuluh darah perifer, hal ini berlaku pada orang normal maupun pada

43

penderita diabetes militus ringan. Tetapi jika kadar glukosa darah tinggi yaitu 32 mg% atau lebih dan apabila ada ketosis, olahraga sebaliknya akan menyebabkan keadaan menjadi semakin parah, gula darah dan ketonemia akan semakin meninggi. 3. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Penyuluhan kesehatan pada pasien Diabetes Militus dapat dilakukan dengan beberapa cara atau melalui beberapa media misalnya: TV, kaset video, diskusi kelompok, poster, leaflet dan lain sebagainya. Penyuluhan kesehatan ini sangat penting agar regulasi Diabetes Militus mudah tercapai, dan komplikasi Diabetes Militus dapat dicegah peningkatan jumlah dan frekwensinya. Adapun beberapa hal yang perlu dijelaskan pada penderita Diabetes Militus adalah: a. b. c. Apakah penyakit Diabetes Militus itu ? Cara diit yang benar Latihan ringan, sedang, teratur, setiap hari tidak

boleh latihan berat yang berat seperti berenang dan lain-lain d. Menjaga kebersihan bagian bawah (daerah

berbahaya pada tungkai, ujung kaki) e. Tidak boleh menahan kencing (karena retensi urine

dapat memudahkan infeksi saluran kemih)

44

f. 4.

Komplikasi-komplikasi yang dapat timbul

Obat Hipoglikemik/Anti Diabetes (OAD dan Insulin)

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1

Kerangka Konseptual
Pasien DM

Faktor yang mempengaruhi tidur: • Penyakit fisik • Latihan dan kelelahan. • Stress psikologis • Obat • Nutrisi Produksi insulin oleh pankreas

Hipotalamus (CRF)

Pemberian aktivitas dan kelelahan (ROM)

Pituitary (POMC)

β endorphin

Medula Adrenal Enkephalin

Pemenuhan Kebutuhan Tidur (kualitas)

Keterangan: : Diteliti : Tidak diteliti : Ada hubungan Gambar 3.1 Kerangka Konseptual Pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage Of Motion) Terhadap Perubahan Kualitas Tidur Pasien DM di Ruang Mawar RSUP NTB dengan menggunakan Konsep Psikoneuroimunologi (Norma Risnasari, 2005). . 45

46

Tidur merupakan kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh semua manusia untuk dapat berfungsi secara optimal baik yang sehat maupun yang sakit. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas tidur. Faktor fisik meliputi rasa nyeri, sedangkan faktor psikologis meliputi depresi, kecemasan, ketakutan dan tekanan jiwa. Klien dengan hospitalisasi seringkali sulit beristirahat karena ketidakpastiaan tentang status

kesehatan/penyakit fisik dan prosedur diagnostik yang mereka jalani (Priharjo, 1996). Klien yang sakit seringkali membutuhkan lebih banyak tidur dan istirahat dibandingkan dengan klien yang sehat. Dalam keadaan sakit apabila mengalami kurang tidur dapat memperpanjang waktu pemulihan sakit (Hudak & Gallo, 1997). Pada pasien DM, tidur mempunyai efek yang sangat erat teradap aktifitas pangkreas dalam menghasilkan insulin. Salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap tidur klien, terutama pengaruh yang positif adalah latihan fisik dan kelelahan. ROM (Rage of Motion) merupakan gerakan isotonic (terjadi kontraksi dan pergerakan otot) yang dilakukan klien dengan menggerakkan masingmasing persendiannya sesuai dengan rentang gerak yang normal (Eni Kusyati, 2006). Kontraksi dan relaksasi otot berirama mengurangi ketegangan dan menyiapkan tubuh untuk beristirahat (Hoch dan Reynolds, 1986). Hal ini dikarenakan keadaan lelah akan meningkatkan relaksasi

(Fundamental Keperawatan Vol. 2, 2005). Relaksasi memberi respon melawan mass discharge (pelepasan impuls secara massal). Pada respon stres dari sistem saraf simpatis, perasaan rileks akan diteruskan ke

47

hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Factor (CRF). Selanjutnya CRF (Corticotropin Releasing Factor) merangsang kelenjar pituitary untuk meningkatkan produksi Proopioidmelanocortin (POMC) sehingga produksi enkephalin oleh medulla adrenal meningkat. Kelenjar pituitari juga menghasilkan β endorphin sebagai neurotransmiter yang

mempengaruhi suasana hati menjadi rileks (Mellysa, 2004).

3.2

Hipotesis Penelitian HI : Ada pengaruh pemberian ROM (Rage Of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pasien DM. H0: Tidak ada pengaruh pemberian ROM (Rage Of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pasien DM.

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1

Desain Penelitian Rancangan yang dipergunakan pada penelitian ini adalah PreEksperiment Design dengan tidak melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental. Dalam rancangan ini, dipilih jenis rancangan preeksperiment dengan The One Group Pretest-Posttest Design. Desain The One Group Pretest-Posttest Design merupakan sebuah desain, dimana satu kelompok subjek pertama-tama dilakukan pengukuran, lalu dikenakan perlakuan untuk jangka waktu tertentu, kemudian dilakukan pengukuran untuk kedua kalinya (Sumadi Suryabrata, 2003). Berikut skema dari desain penelitian ini: T1 Keterangan T1 = Pretest X = Intervensi/treatment T2 = Postest/Observasi (sesudah dilakukan teknik ROM) X T2

48

49

4.2

Kerangka Kerja

Populasi: Pasien DM

Incidental Sampling
Sampel: Klien DM yang memenuhi kriteria inkulsi.

Observasi awal kualitas tidur pasien DM

Pemberian aktivitas ROM (Rage Of Motion )

Observasi akhir kualitas tidur pasien DM

Analisis data: Uji Wilcoxon

Penyajian hasil

Kesimpulan dan desiminasi hasil

Gambar 4.1 : Kerangka Operasional Penelitian Pengaruh Pemberian Aktivitas ROM (Rage Of Motion) Terhadap Perubahan Kualitas Tidur Pasien Diabetes Melitus di Ruang Mawar RSUP NTB.

50

4.3 Populasi, Sampel, Sampling 4.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian adalah subjek (misalnya

manusia;klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008). Populasi dari penelitian ini adalah semua penderita DM di ruang Mawar RSUP NTB yang memenuhi kriteria inkulsi. 4.3.2 Sampel Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari suatu populasi (Dr. Muhamad Zainudin. Apt, 2000). 1) Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek

penelitian dari suatu populasi target dan terjangkau yang akan diteliti. (Nursalam, 2003). Yaitu: a) NTB. b) c) d) tidur. e) f) 2) Mampu berkomunikasi. Bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi adalah menghilangkan atau mengeluarkan Pasien DM yang mengalami gangguan tidur. TTV dalam batas normal Tidak mengkonsumsi susu, kopi, atau teh sebelum Penderita DM yang dirawat diruang Mawar, RSUP

subyek yang tidak memenuhi kriteria inklusi dari studi. (Nursalam, 2003), yaitu:

51

a) b) c) d) e) 4.3.3

Pasien yang tidak menderita diabetes melitus. Pasien DM yang tidak mengalami gangguan tidur. Tidak mendapatkan injeksi insulin Tidak mampu berkomunikasi dengan baik Tidak bersedia menjadi responden Besar sampel

Besar sampel adalah banyaknya anggota yang akan dijadikan sampel (Notoatmojo, 1993). Sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi. Besar sampel diambil dengan menggunakan proporsi tunggal dengan rumus sebagai berikut: N n= 1 + N (d2)

Keterangan: n = Jumlah sampel.

N = Populasi. d = Tingkat signifikan

Jadi, dari hasil perhitungan didapatkan besar sampel, yaitu: 20. Jumlah ini hanya dijadikan estimasi. Dimana,jika responden telah mencapai 20, walau waktu yang ditetapkan belum berakhir, maka penelitian dapat diakhiri.

52

4.3.4

Sampling Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari

populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2008). Penelitian ini menggunakan Incidental sampling. Tehnik sampling Incidental sampling merupakan tehnik penentuan sampel, dimana tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk di tugaskan menjadi anggota sampel (Sutrisno Hadi, MA., 2004 ).

4.4 Identifikasi Variabel 4.4.1 Variabel Independen Variabel independen adalah suatu stimulus aktivitas yang

dimanipulasi oleh peneliti untuk menciptakan suatu dampak pada dependen variabel. Dalam ilmu keperawatan, variabel bebas biasanya merupakan stimulus atau intervensi keperawatan yang diberikan

kepada klien untuk mempengaruhi tingkah laku. (Nursalam & Pariani, 2001). Yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini adalah aktivitas ROM (Rage Of Motion). 4.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen adalah variabel respon atau output. Variabel ini akan muncul sebagai akibat dari manipulasi suatu variabel-variabel

53

independen (Nursalam, 2008). Yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas tidur. 4.5 Definisi Operasional Variabel 4.5.1 ROM (Rage of Motion) Pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) merupakan suatu keadaan dimana obyek diberikan sebuah tindakan yang teratur dengan melibatkan pergerakan sendi pada daerah yang memiliki kemampuan gerak yang tidak terganggu. Aktivitas ROM (Rage of Motion) ini terdiri dari gerakan bahu, gerakan siku, gerakan pergelangan tangan, gerakan jari-jari tangan, gerakan pinggul dan lutut, gerakan telapak kaki dan pergelangan kaki, serta gerakan leher. Pemberian aktivias ROM (Rage of Motion) dilakukan 1 kali dan dilakukan oleh peneliti sendiri. 4.5.2 Kualitas Tidur Kualitas tidur merupakan suatu keadaan dimana seseorang yang terbangun dari tidurnya dengan perasaan segar dan tidak mengalami tanda-tanda gangguan tidur, walaupun secara jumlah jam tidurnya tidak sesuai dengan kebutuhan. Pengukuran kualitas tidur dilakukan dengan menilai kuisioner yang telah disediakan dengan 10 pertanyaan.

4.6 Pengumpulan Dan Analisis Data 4.6.1 Instrumen

54

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuesioner dengan pertanyaan tertutup jenis Dichotomy question. Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan yang menggambarkan kualitas tidur seseorang. Jawaban ”Ya” diberi skor 2 dan untuk jawaban ”Tidak” diberi skor 1. Dari hasil kuesioner ini akan menghasilkan dua kemungkinan yaitu kualitas tidur baik dan kualitas tidur tidak baik. Kualitas tidur dikatakan baik jika hasil penilaian didapatkan hasil 10-15 dan kualitas tidur dikatakan tidak baik jika nilainya 16-20. Kuesioner dibuat sesuai dengan kriteria pengkajian gangguan kualitas tidur, dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti sehingga memungkinkan responden untuk dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan. 4.6.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian 1) Lokasi

Penelitian dilaksanakan di Ruang Mawar RSUP NTB. 2) Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2010 sampai dengan Mei 2010. 4.6.3 Prosedur Peneliti akan memperkenalkan identitas (diri dan institusi), maksud dan tujuan, kemudian meminta persetujuan dari pasien. Setelah mendapat persetujuan dari pasien, peneliti melakukan

55

observasi awal apakah pasien tersebut mengalami gangguan kualitas tidur atau tidak, dengan menggunakan instrumen yang telah ditentukan. Jika pasien tersebut mengalami gangguan kualitas tidur, maka pasien tersebut secara langsung akan menjadi sampel penelitian. Setelah menentukan sampel, kemudian akan dilanjutkan dengan pemberian intervensi aktivitas ROM (Rage Of Motion) diantara waktu 60-90 menit setelah makan malam dan maksimal 1 jam sebelum tidur malam. Responden kemudian akan kembali diberikan kuesioner dengan jumlah dan jenis pertanyaan yang sama seperti saat observasi awal untuk mengetahui perubahan kualitas tidurnya pada keesokan harinya. Pada saat pengisian kuisioner, pasien yang menjadi sampel akan didampingi oleh peneliti. 4.6.4 Analisis Data Berdasarkan pada kuesioner yang telah diisi responden dan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, selanjutnya dilakukan tabulasi data dan analisa data dengan menggunakan uji statistik ”Wilcoxon”. Tahap-tahap analisa data antara lain: 1) Editing yaitu melihat apakah data

sudah terisi lengkap atau tidak lengkap.

56

2)

Coding

yaitu

mengklarifikasi

jawaban dari responden menurut macamnya dengan memberi kode pada masing-masing jawaban menurut item pada kuesioner. 3) Analisa statistic. Hasil jawaban atas pertanyaan kuesioner diskoring dan kemudian dilihat adakah pengaruh pemberian ROM (Rage of Motion) sebagai variable independen terhadap kualitas tidur pasien DM sebagai variable dependen. Derajat kemaknaan ditentukan p ≤ 0,05 yang artinya, jika hasil perhitungan p ≤ 0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima yaitu ada pengaruh aktivitas ROM (Rage of Motion)

terhadap perubahan kualitas tidur pasien DM. Analisa ini menggunakan system komputerisasi (SPSS). 4.7 Etik Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan subyek penelitian pada pasien DM yang dirawat di ruangan Kenanga dan ruang Mawar. Untuk itu perlu di ajukan permohonan ijin penelitian pada pihak RSUP NTB dengan tujuan ruang Mawar. Setelah itu peneliti menemui subyek yang akan dijadikan responden untuk menekankan masalah etik yang meliputi : 4.7.1 Consent) Lembar persetujuan akan diberikan kepada setiap pasien DM yang menjadi subyek penelitian dan memberikan penjelasan tentang Lembar persetujuan menjadi responden (Informed

57

maksud dan tujuan dari penelitian untuk mengadakan penelitian yang akan dilakukan. Selain itu akan dijelaskan manfaat jika pasien DM bersedia menjadi subyek penelitian. Jika pasien DM bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan sebagai tanda bersedia,

demikian juga dengan peneliti. Apabila responden tidak bersedia menjadi responden maka peneliti akan tetap menghormati hak-hak responden. 4.7.2 Tanpa nama (Anonimity) Nama subyek tidak dicantumkan pada lembar pengumpulan data, dan untuk mengetahui keikutsertaannya peneliti hanya

menggunakan kode dalam bentuk nomor pada masing-masing lembar pengumpulan data. 4.7.3 Kerahasiaan (Confidentiality) Kerahasiaan informasi yang telah didapat oleh peneliti dari responden akan dijamin kerahasiaannya. Hanya pada kelompok tertentu saja yang akan peneliti sajikan utamanya dilaporkan pada hasil riset.

4.8 Keterbatasan Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian (Burns & Grove,1991). Dalam penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi peneliti adalah:

58

1.

Sampel yang digunakan terbatas pada pasien DM yang

rawat inap di ruang Mawar RSUP NTB. 2. Instrumen pengumpulan data dirancang sendiri oleh

peneliti, oleh karena itu validitas dan reliabilitasnya masih perlu di uji coba. 3. pertimbangan Feasibility yaitu dalam melakukan penelitian adanya mengenai keterbatasan waktu, dana, keahlian dan

pertimbangan lainnya.

4.9 Kelemahan 1. Karena faktor yang mempengaruhi gangguan tidur pada

penderita yang banyak diataranya: a. penggunaan obat-obat seperti obat-obat untuk

menurunkan gula darah baik ral maupun suntik. b. c. Penggunaan obat-obat anti agresi trombosit. Penggunaan obat-bat untuk neuropaty.

Yang kesemuannya akan mempengaruhi tidur, maka ada kemungkinan terjadi bias oleh karena kami tidak melakukan kontrol terhadap faktorfaktor perancu/pengganggu dikarenakan beberapa keterbatasan yang peneliti miliki.

59

2.

Pemberian ROM (Rage of Motion) hanya 1 kali dengan

3 kali pengulangan tiap itemnya oleh keterbatasan yang peneliti miliki.

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

RSUP NTB merupakan rumah sakit tipe B dan merupakan rumah sakit pendidikan di Wilayah NTB ini, yang terletak di Pusat Kota Mataram Jalan Pejanggik Nomor 16 Mataram. Sebagai rumah sakit Tipe B pendidikan, Rumah Sakit Umum Provinsi NTB telah menjadi rumah sakit rujukan bagi rumah sakit-rumah sakit Kota/Kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. 1. Rawat Inap

Jumlah bed 268 terbagi Kelas super VIP, VIIP A, VIP B, Kelas I, Kelas II, Kelas III, Ruang rawat intensif (ICU, ICCU, NICU, dan PICU), ruang bersalin dan ruang isolasi. 2. Ruang bedah sentral meliputi: bedah umum, Obgyn,

bedah mata, bedah THT, Bedah gigi dan mulut, bedah urologi dan bedah tulang. 3. Pelayanan penunjang medis dan non mdis a. penunjang medis meliputi: laboratorium, radologi, elektromedis, hemodialisa, rehabilitasi medis, pelayanan farmasi, bank darah, da pemulasapan jenazah.

60

61

b. Pelayanan penunjang non medis meliputi; gizi, loundri/linen, sentral sterilisasi, kesehatan lingkungan, pemeliharaan sarana dan prasarana. 4. Pelayanan lain-lain

Pelayana lain-lain meliputi: pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan sesuai dengan prosedur dan jenis penyakit yang diberikan sesuai dengan prosedur dan jenis penyakit yang diderita oleh pasien, pelayanan rujukan, penelitian dan pengembangan, pelayanan

administrasi umuum dan keuangan, pelayanan pendidikan dan pelatihan, pelayanan penelitian dan klinik VCT dan deteksidi dini kanker. 5. 2010 Tabel 5.1 : Tabel indikator Pelayanan RSUD Mataram Tahun 2010 NO 1 2 3 4 5 6 6. INDIKATOR BOR (Nilai ideal 60-80%) ALS(Nilai ideal 6-9 hari) BTO (Nilai ideal 40-50 hari) TOI (Nilai idel 3-5 hari) NDR (Nilai ideal<25/1000 penderita keluar) GDR(nilai ideal < 45/1000 penderita keluar) Lokasi penelitian JUMLAH 78,7 4,4 66,9 1,2 30,2 61,2 Tabel indikator Pelayanan RSUD Mataram Tahun

Lokasi pada penelitian ini bertempat di ruang Mawar RSUP NTB. Di ruang mawar sendiri, terdapat 6 ruang rawat inap dengan tipe kelas III. Ruang mawar merupakan ruang perawatan interna untuk kasuskasus penyakit dalam.

62

5.1.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari total pasien rawat inap ruang Mawar yang menjadi responden didominasi oleh perempuan. Dari 6 orang responden, 5 diantaranya berjenis kelamin perempuan.
17%

laki-laki perempuan
83%

Gambar 5.1 : Distribusi jumlah responden berdasarkan jenis kelamin di ruang Mawar RSUP NTB.

5.1.3 1.

Gambaran Khusus Penelitian Pre-test

Dari hasil pre test sebelum diberikan perlakuan aktivitas ROM (Rage of Motion) kualitas tidur pasien diabetes melitus pada 6 responden berada pada kualitas tidur tidak baik. 2. Post-test Setelah diberikan ROM (Rage of Motion) dan dilakukan post test, didapatkan hasil bahwa kualitas tidur pada 6 responden berubah menjadi kualitas tidur baik dengan nilai P 0,014 < taraf signifikan 0,05.

5.2 Pembahasan

63

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa dari 6 responden yang sesuai dengan kriteria inkulsi yang diberikan perlakuan, ke-6 responden mengalami kualitas tidur yang baik setelah diberikan aktivitas ROM (Rage of Motion). Hal ini disimpulkan dari hasil penghitungan uji statistic Wilcoxon, didapatkan nilai P 0,014 < signifikan 0,05, sehingga H1 yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pasien Diabetes Mellitus dapat diterima, dimana perubahan ini berarah pada pengaruh positif dimana terjadi perubahan kualitas tidur yang tidak baik menjadi kualitas tidur baik. Sebuah penelitian terdahulu oleh ahli dari Monash University di Melbrourne dan University of Auckland membuktikan bahwa aktivitas fisik (dengan obyek penelitian anak) tidak hanya sebagai sarana kebugaran, kesehatan kardiovaskular, dan mengontrol berat, namun juga untuk tidur (Health Today Indonesia, 2009). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa kotraksi dan relaksasi otot berirama mengurangi ketegangan dan menyiapkan tubuh untuk beristirahat (Hoch dan Reynolds, 1986). Hal ini dikarenakan keadaan lelah akan meningkatkan relaksasi (Fundamental Keperawatan Vol. 2, 2005). Selain itu disebutkan bahwa, salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap tidur klien, terutama pengaruh yang positif adalah latihan fisik, namun pada klien dengan hospitalisasi aktivitas cenderung terganggu dikarenakan terapi dan kondisi fisik dari klien itu sendiri yang tidak memungkinkan untuk melakukan latihan fisik. Padahal, selain berefek pada kualitas tidur, aktivitas dan latihan

64

fisik juga mempunyai efek lain yaitu untuk meningkatkan sensitivitas insulin (Brian J. Sharkey, 2003). ROM (Rage of Motion) yang merupakan gerakan isotonic (terjadi kontraksi dan pergerakan otot) dalam penelitian ini dibuktikan mempunyai efek yang positif untuk meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan Diabetes Melitus. Pada responden yang mengalami gangguan kualitas tidur sebelumnya dan setelah diberikan ROM (Rage of Motion) akan mendapatkan kondisi yang rileks sehingga memberi respon melawan mass discharge (pelepasan impuls secara massal). Pada respon stres dari sistem saraf simpatis, perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan Corticotropin Releasing Factor (CRF). Selanjutnya CRF (Corticotropin Releasing Factor) merangsang kelenjar pituitary untuk meningkatkan produksi Proopioidmelanocortin (POMC) sehingga produksi enkephalin oleh medulla adrenal meningkat. Kelenjar pituitari juga menghasilkan β endorphin sebagai neurotransmiter yang mempengaruhi suasana hati menjadi rileks. Ketika terjadi kondisi yang rileks, maka akan mendukung konduktifitas untuk beristirahat dan mencapai kualitas tidur yang baik. Hal inilah yang memungkinkan tercapainya kualitas tidur yang lebih baik setelah diberikan ROM (Rage of Motion) pada gangguan kualitas tidur, khususnya pada pasien Diabetes Mellitus pada penelitian ini..

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan didukung oleh pembahasan pada bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Setelah diberikan aktivitas ROM (Rage of Motion), kualitas tidur

yang pada awalnya tidak baik menjadi baik, sesuai dengan kriteria yang telah ditelah ditetapkan. 2. Berdasarkan Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji

Wilcoxon diperoleh bahwa nilai P 0,014 < taraf signifikan 0,05. Hal ini berarti H1 diterima yang menunjukkan bahwa aktivitas ROM (Rage of Motion) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan kualitas tidur. 3. Ada pengaruh pemberian ROM (Rage Of Motion) terhadap

perubahan kualitas tidur pasien DM. 6.2 Saran 6.2.1 RSUP NTB Diharapkan pelayanan pemberian asuhan keperawatan akan semakin baik khususnya pada masalah gangguan pemenuhan kebutuhan tidur,

65

66

sehingga

dapat

memperpendek

masa

hospitalisasi,

mengingat

pentingnya tidur terhadap kondisi kesehatan klien.

6.2.2 Ruang mawar Ruang mawar sebagai salah satu ruang rawat inap masalah interna dengan tipe kelas III, diharapkan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai langkah baru untuk menangani pasien Diabetes Melitus, sehingga prose penyembuhan pasien dapat diharapkan semakin cepat. 6.2.3 Bagi institusi pendidikan Penelitian ini dapat digunakan sebagai penyempurna kurikulum dan penambahan literatur dalam pendidikan keperawatan medical bedah. 6.2.4 Ilmu keperawatan

Penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur bagi perawat mengenai solusi yang dapat dipergunakan untuk mencapai kualitas tidur pada pasien rawat inap, khususnya pasien dengan Diabetes Melitus. 6.2.5 Bagi peneliti lain

Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) terhadap kualitas tidur, yang dapat digunakan sebagai pembanding penelitian sebelumnya.

67

DAFTAR PUSTAKA Alimul Aziz A. (2008). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. Alimul Aziz A. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Edisi 2. Salemba Medika. Jakarta. Amir Nurmiati. (2007). Gangguan Tidur pada Lanjut Usia: Diagnosis dan Penatalaksanaan. Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Amirta Yolanda. (2009). Tidur Bermutu Rahasia Hidup Berkualitas. Keluarga Dokter. Purwokerto Utara. Asmadi. (2008). Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Salemba Medika. Jakarta. Carpenito Lynda Juall. (2000). Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. EGC: Jakarta Corwin Elizabeth J. (2000). Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Guyton, Athur C. & Hall, Jhon E. (1997). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Guyton & Hall. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hadi Sutrisno. (2004). Metodologi Research. Penerbit Andi. Yogyakarta. Healt Today Indonesia. (2009). Rahasia Tidur Lelap Si Kecil: Perbanyak Aktivitas Fisik, Edisi September. PT. Karimata Prima Komunita. Jakarta Utara. Hudak CM & Gallo BM. (1997). Keperawatan Kritis. EGC: Jakarta Japardi Iskandar. (2002). Gangguan Tidur. Fakultas Kedokteran Bagian Bedah universitas sumatera utara. (online). http://library.usu.ac.id/download/fk/

68

bedah-iskandar%20japardi12.pdf. Tanggal 10 November 2009. Jam 15.28. Kusyati, Eni, dkk. (2006). Keterampilan Keperawatan Dasar. Jakarta: EGC dan Prosedur Laboratorium

Lukman Hakim. (2008). Jam Tidur dan Kualitasnya. http://bachtiarhs.multiply.co m/journal/item/2. Tanggal 8 Desember 2009. Jam 15.37. Mansjoer Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke Tiga Jilid Pertama. Media Aesculapius: Jakarta Martha, D.. (1995). Panduan Relaksasi dan Reduksi Stres. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Melissa .(2004). The Relaxation Response. Http://stress.about.com/cs/relaxation. htm Tanggal 12 November 2009. Jam 11.00. Nancy Wongvipat M.P.H. (2006). Bangun Dari Tidur Yang Menyehatkan (unduh versi PDF). Sumber: Wake Up to the Healing Properties of Sleep, Positive Living, AIDS Project Los Angeles (online). http://spiritia.or.id/cst/dok/tidur1.pdf. Tanggal 10 november 2009. Jam 15.28. Noder, Walter M. D.. (1983). Kesegaran Jasmani Setelah Usia 40. PT. Grafidian Jaya. Jakarta. Notoatmojo, S. (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan, Edisi 2. Rieneka Cipta: Jakarta Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metoodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta. Nursalam & Pariani S. (2001). Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. UD Sagung Seto: Jakarta Patricia A. Potter & Anne Grivin, Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Vol. 2, Ed. 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta Priharjo Robert. (1996). Perawatan Nyeri: Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas Istirahat Pasien. EGC: Jakarta Risnasari Norma. (2005). Skripsi: Pengaruh Teknik Relaksasi Benson Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Tidur Pada Lansia Di Panti Unit Pelayanan

69

Sosial Tresna Werdha Tulungagung. Tidak Diterbitkan. Program studi s1 ilmu keperawatan Fakultas kedokteran universitas Airlangga. Rosemary Nicol. (1991). Psikologi Populer: Tidur Nyenyak Tanpa Obat. ARCAN: Jakarta Sharkey, Brian J. (2003). Kebugaran & Kesehatan. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Smith Tony. (2002). Seri Kesehatan Bimbingan: Dokter Pada Stres Gejala. Dian Rakyat. Jakarta. Sriwerdati. (2009). Jurnal Kesehatan RSS: Kualitas Tidur Pengaruhi Resiko DM. www.medicalnewstoday.com. Suddarth & Brunner. (2001). Buku ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta Sudoyo Aru W, dkk. (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Tjokroprawiro, Askandar, dkk. (2007). Ilmu Penyakit Dalam. Airlangga University Press: Surabaya Wartonah Tarwoto. (2006). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta Wong Moses. (2005). Tidur Tanpa Obat. Bumi Aksara: Jakarta Zainudin, Muhamad. (2002). Metodologi Penelitian. Surabaya

70

Lampiran 1 KUISIONER GANGGUAN KUALITAS TIDUR Petunjuk: Berilah tanda chack () pada kotak yang telah disediakan sesuai dengan jawaban anda. No. Responden :………. Tanggal Pengisian :………. 1. Ketika anda bangun dari tidur apakah anda tidak merasa segar kembali? ( ) Ya ( ) Tidak 2. Apakah anda tidak merasa lelah? ( ) Ya ( ) Tidak 3. Apakah anda tetap merasa mengantuk walau baru terbangun dari tidur? ( ) Ya ( ) Tidak 4. Apakah anda merasa mengantuk berlebihan berlebihan? ( ) Ya ( ) Tidak 5. Apakah anda mengalami sakit kepala ketika bangun? ( ) Ya ( ) Tidak 6. Apakah anda merasa sensitif atau mudah marah? ( ) Ya

71

( ) Tidak 7. Apakah anda merasa kesulitan berkonsentrasi selama terjaga? ( ) Ya ( ) Tidak 8. Apakah anda bangun tidur terlalu pagi atau tidak seperti biasanya? ( ) Ya ( ) Tidak 9. Apakah setelah anda terbangun anda merasa tidak dapat tidur kembali? ( ) Ya ( ) Tidak 10. Apakah mata anda merah dan terasa perih? ( ) Ya ( ) Tidak

72

Lampiran 2 LEMBAR PERMINTAAN MENJADI RESPONDEN PADA PENELITIAN Assalamu’alaikum Wr. Wb Nama saya Syafitri, mahasiswi Program Studi S1 Ilmu Keperawatan STIKES YARSI Mataram. Saya akan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Aktivitas ROM (Rage Of Motion) terhadap perubahan kualitas tidur pada pasien Diabetes Melitus ”. Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan serta peran perawat di masyarakat. Untuk itu saya mohon partisipasi saudara/i untuk mengisi kuesioner atau daftar pertanyaan yang telah saya persiapkan dengan sejujur – jujurnya. Semua data yang dikumpulkan akan dirahasiakan dan tanpa nama. Data hanya disajikan untuk penelitian dan pengembangan ilmu keperawatan dan tidak digunakan untuk maksud – maksud yang lain. Sebagai bukti kesediaan menjadi responden dalam penelitian ini, saya mohon kesediaan saudara untuk menandatangani lembar persetujuan yang telah disediakan. Atas pertisipasi saudara dalam mengisi kuesioner ini sangat saya hargai dan saya ucapkan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Mataram, Hormat saya SYAFITRI 2010

73

Lampiran 3 SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN PADA PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bersedia untuk berpartisipasi pada penelitian ”pengaruh pemberian aktivitas ROM (Rage of Motion) Terhadap perubahan kualitas tidur pasien Diabetes Melitus di ruang mawar RSUP NTB” yang dilakukan oleh Syafitri mahasiswi program study S1 Ilmu keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan YARSI Mataram. Atas dasar pemikiran bahwa pelitian ini dilakukan untuk pengembangan ilmu keperawatan, maka saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Tanda tangan dibawah ini menunjukkan bahwa saya telah diberi

penjelasan dan menyatakan bersedia menjadi responden.

Mataram, Responden

2010

Tanda Tangan

74

Lampiran 4 UJI VALIDITAS DAN REABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN 1. Uji validitas instrumen gangguan kualitas tidur dengan korelasi product Moment a. Validitas pertanyaan nomer 1 = 0,974 b. Validitas pertanyaan nomer 2 = 0,974 c. Validitas pertanyaan nomer 3 = 0,976 d. Validitas pertanyaan nomer 4 = 0,976 e. Validitas pertanyaan nomer 5 = 0,976 f. Validitas pertanyaan nomer 6 = 0.976 g. Validitas pertanyaan nomer 7 = 0,974 h. Validitas pertanyaan nomer 8 = 0,974 i. Validitas pertanyaan nomer 9 = 0,974 j. Validitas pertanyaan nomer 10= 0,974 Nilai r tabel product Moment taraf signifikan 5 % dengan N=10 adalah 0,632, jadi semua item pertanyaan (15 item) 100% dinyatakan valif (r hitung > 0,632).

75

2. Uji reabilitas instrumen kualitas tidur dengan rumus alfha Hasil hitung alpha dengan r 0,977. Setelah dikonsulkan, nilai r product moment dengan taraf signifikan 5% dangan N=10 adalah 0,632, maka dapat disimpulkan instrumen penelitian ini dinyatakan Realibel (r hitung > 0,632).

76

Lampiran 5 GAMBARAN KARAKTERISTIK RESPONDEN NO 1 2 3 4 5 6 RM 183505 184409 184142 107902 185208 868580 259 259 260 261 259 260 Ruangan Jenis kelamin perempuan Perempuan Perempuan Laki-laki Perempuan Perempuan

77

Lampiran 6 TABULASI DATA PENELITIAN

No 1 1 2 3 4 5 6 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2

Kualitas Tidur Pre-Test 4 2 2 2 2 2 2 5 1 2 2 2 1 1 6 2 2 2 2 2 2 7 2 1 1 1 2 1 8 1 2 2 2 2 1 9 2 2 2 2 2 2 10 1 1 1 1 1 1

Jumlah 17 18 18 18 18 16

Kategori Kualitas Tidur Tidak Baik Tidak Baik Tidak Baik Tidak Baik Tidak Baik Tidak Baik

No 1 1 2 3 4 5 6 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 3 1 1 1 1 1 1

Kualitas Tidur Post-Test 4 1 1 1 1 1 2 5 1 1 1 1 1 1 6 2 1 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 8 1 1 1 1 1 1 9 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 1 1

Jumlah 11 10 11 10 11 11

Kategori Kualitas Tidur Baik Baik Baik Baik Baik Baik

78

Lampiran 7 HASIL ANALISA DATA
Case Processing Summary Cases Valid N Pre Test*Post Tes 6 Percent 100.0% N 0 Missing Percent .0% N 6 Total Percent 100.0%

Pre Test*Post Test Crosstabulation Post Test Baik [1] Pre Test Tidak Baik [0] count % within Pre Test % Within Post Test % of Total Total Count % within Pre Test 6 100.0% 100.0% 100.0% 6 100.0% Total 6 100.0% 100.0% 100.0% 6 100.0%

Test Statisticsb Post TestPre Test Z Asymp. Sig. (2-tailed) -2.449a .014

79

Lampiran 8 JADWAL KEGIATAN

Lampiran 9

80

RINCIAN BIAYA KEBUTUHAN DANA PENYUSUNAN SKRIPSI A. PROPOSAL 1. Peralatan dan bahan a. Alat tulis b. Print konsulan dan proposal d. Penjilidan proposal 7 rangkap @ Rp. 4.000 e. Pengadaan 1 buku Alimul Azis (METLIT) f. Foto copy buku sumber/ bibliografi g. Internet 10 kali @ Rp. 3.500 2. Komunikasi konsultasi 2 dosen pembimbing @ 25.000 3. Transportasi konsultasi 15 kali @ Rp. 4000 4. Uji validitas dan reabilitas kuesioner 5. Penunjukan dosen pembimbing 2 orang @ Rp. 100.000 Rp. 30.000 Rp. 200.000 Rp. 28.000 Rp. 68.000 Rp. 150.000 Rp. 35.000 Rp. 50.000 Rp. 60.000 Rp. 100.000 Rp. 200.000

c. Foto copy proposal & revisian (80 hal) @ Rp. 10.000 Rp. 70.000

B. SKRIPSI 1. Alat dan bahan a. Pengadaan handscoon 20 @ Rp. 2000 b. Pengadaan masker 10 @ Rp. 2000 c. Uji statistik d. Print skripsi (±120 lembar ) @ Rp. 300 e. Print warna 10 lembar @ Rp. 500 f. Foto copy skripsi 5 rangkap @15.000 g. Jilid skripsi 5 rangkap @ Rp. 15.000 2. Ijin penelitian 3. Transportasi selama penelitian a. Konsultasi 10 kali @ Rp. 4.000 Rp. 40.000 Rp. 40.000 Rp. 20.000 Rp. 300.000 Rp. 36.000 Rp. 5.000 Rp. 75.000 Rp. 90.000 Rp. 100.000

81

b. Penelitian 4. terduga Total biaya Terbilang: Dua juta dua belas ribu lima ratus rupiah

Rp. 120.000 Biaya tak Rp. 200.000 Rp. 2.012.500

82

Lampiran 10 SURAT IJIN PENELITIAN

83

Lampiran 11 SURAT KETERANGAN TELAH MELAKUKAN PENELITIAN

84

Lampiran 12 DOKUMENTASI

85

Lampiran 13 YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM JL Lingkar Selatan, Telp. (0370) 6604393 Fax. (0370) 627263 LEMBAR KONSULTASI Nama Nim Pembimbing I Judul : : : : Syafitri 055 STYC 06 Ns. Sopian Halid S.Kep, M.Kes Pengaruh Pemberian Aktivitas ROM (Rage Of Motion) Terhadap Perubahan Kualitas Tidur Pasien Diabetes Melitus di Ruang Mawar RSUP NTB. Materi Bimbingan Saran-Saran Paraf

No.

Hari/tgl

86

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM JL Lingkar Selatan, Telp. (0370) 6604393 Fax. (0370) 627263 LEMBAR KONSULTASI Nama Nim Pembimbing II Judul : : : : Syafitri 055 STYC 06 Ns. Aries Abiyoga. S. Kep. Pengaruh Pemberian Aktivitas ROM (Rage Of Motion) Terhadap Perubahan Kualitas Tidur Pasien Diabetes Melitus di Ruang Mawar RSUP NTB. Materi Bimbingan Saran-Saran Paraf

No.

Hari/tgl

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->