DORSUMSISI dalam PRAKTEK

Teknik dorsumsisi adalah teknik sirkumsisi dengan cara memotong preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler ke kiri dan ke kanan sejajar sulcus coronarius. Keuntungan • Kelebihan kulit mukosa bisa diatur • Resiko menyayat/memotong penis lebih kecil • Mudah mengatur panjang pendek pemotongan mukosa • Tidak melukai glans dan frenulum • Pendarahan bisa cepat diatasi • Baik untuk penderita fimosis/paraphimosis • Baik untuk pemula (teknik yang paling aman) Kerugian • Pendarahan relatif lebih banyak • Teknik sulit dan lebih rumit • Insisi sering tidak rata, tidak simetris • Waktu lebih lama Persiapan dan perlengkapan Perlengkapan sebelum mulai menerima pasien untuk dikhitan, terlebih dahulu kita harus melakukan persiapan. 1. Minor set/sirkum set terdiri dari: a. Gunting dengan ujung tajam dan tumpul b. c. d. e. Pinset anatomis Klem lurus 3 buah Klem bengkok (mosquito) 1 buah Needle holder 1 buah 2. Wadah stainless untuk minor set- semuanya ini dalam kondisi steril. 3. Jarum cutting ukuran kecil-sedang dan benang cat-gut-plain 4. Spuit 3 cc dan lidocain 2% atau Pehacain 5. Kassa steril yang cukup 6. Plester 7. Trifamycetin zalf atau sofratule bila ada 8. Duk steril bolong, handskun steril ukuran sesuai tangan

9. Meja untuk pasien berbaring beserta perlaknya dan kipas air, serta pencahayaan yang baik atau headlamp. 10. Adrenalin yang sudah dimasukkan dalam spuit untuk jaga-jaga saja 11. Alcohol 70% dan betadine 12. Tempat sampah

Setelah persiapan lengkap lidocain sudah masuk dalam spuit sebanyak 2,5cc, jarum sudah dipegang oleh needle holder serta benang catgut sudah terpasang (“klik” 2kali) di pantat jarum, barulah kita panggil pasien. Asepsis Desinfeksi lapangan operasi dengan Povidone iodine atau betadine secara melingkar sentrifugal di area genitalia. Pada beberapa kasus didapatkan reaksi alergi oleh povidone iodine. Setelah 3-5 menit bilas dengan alcohol 70% (perhatian: bila didapatkan laserasi atau reaksi hipersensitivitas berlebihan dianjurkan tidak menggunakan alcohol). Persempit lapangan operasi dengan doek steril berlubang. Anestesi Sirkumsisi pada umumnya menggunakan anastesi local, teknik anastesi yang dipakai biasanya blok, infiltrasi atau gabungan keduanya.

Bergantung pada kondisi atau kebiasaan dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing teknik yang akan dipakai. a. Anastesi Infiltrasi Daerah penyuntikan disesuaikan dengan lokasi persarafan.

Secara anatomis, cabang-cabang saraf yang mempersarafi penis berada pada sekitar jam 11 dan jam 1, cabang-cabangnya sekitar di jam 5, jam 7 serta daerah frenulum. Lokasi penyuntikan adalah sekitar ½ - 2/3 proksimal batang penis secara subkutis agak ke dalam sedikit agar obat masuk ke tunika albuginea. Jarum disuntikkan di daerah dorsum penis proksimal secara sub kutan, gerakkan ke kanan, aspirasi, tarik jarum sambil menginjeksikan cairan anastesi, jarum jangan sampai keluar kemudian arahkan jarum ke lateral kiri, ulangi seperti lateral kanan. Kemudian jarum diinjeksikan di daerah ventral dan lakukan infiltrasi seperti diatas sehingga pada akhirnya terbentuk Ring Block Massage penis, karena obat anastesi membutuhkan waktu untuk bekerja. Tunggu 3-5 menit kemudian dilakukan test dengan menjepit ujung preputium dengan klem. Apabila belum teranastesi penuh ditunggu sampai dengan anastesi bekerja kira-kira 3-5 menit berikutnya. Pada batas tertentu apabila dipandang perlu dapat dilakukan tambahan anastesi. b. Anatesi Blok

Bertujuan memblok semua impuls sensorik dari batang penis melalui pemblokiran nervus pudendus yang terletak di bawah fasia Buch dan ligamentum suspensorium dengan cara

memasukkan cairan anastesi dengan jarum tegak lurus sedikit di atas pangkal penis, di atas simfisis osis pubis sampai menembus fasia Buch. c. Obat anastesi Yang banyak digunakan adalah Lidokain HCL 2%, baik yang ditambah adrenalin (Pehacain) ataupun tidak. Untuk anastesi infiltrasi dapat diencerkan sampai 0.5% dengan aquabides, dimaksudkan untuk mengurangi resiko intoksikasi obat. Dapat pula lidokain dioplos dengan markain dengan perbandingan 50-70 : 30-50, untuk mendapatkan onset cepat dan durasi yang lama. Reaksi toksik dapat terjadi karena kesalahan penyuntikan sehingga obat masuk ke pembuluh darah atau karena dosis yang terlampau tinggi. Mengatasi perlengketan dan membersihkan smegma 1. Membebaskan perlengketan Perlengketan yang dimaksud disini adalah antara preputium dan gland penis, khususnya di daerah korona glandis. Hal ini diakibatkan adanya smegma yang menumpuk dan mengeras, akibat hygiene yang kurang baik atau karena kelainan phimosis.

Smegma yang terlanjur menumpuk dan mengeras sulit dibersihkan dengan tangan tanpa alat bantu. Namun hal itu tidak akan dapat dilakukan sebelum membebaskan perlengketan gland penis dan mukosa preputium. Ada beberapa cara untuk melakukan hal ini diantaranya: Teknik klem Caranya, tarik preputium ke proksimal kemudian klem dibuka sambil didorong ke arah perlengketan. Cara ini dilakukan berulang-ulang ke arah proksimal dan lateral dampai terlihat sulkus korona glandis dan pangkal mukosa preputium di sekeliling sulkus korona gland penis. Keuntungan teknik ini adalah dapat membebaskan perlengketan dengan cepat sedangkan kekurangannya adalah dapat menyebabkan lecet di daerah gland dan mukosa. Yang harus diperhatikan dalam teknik ini bahwa ujung klem harus benar-benar tumpul. Teknik kasa Caranya sama, preputium ditarik dengan tangan kiri ke arah proksimal sampai meregang sehingga terlihat perlengketan. Kemudian daerah perlengketan didorong dengan kasa dan didorong ke arah proksimal sehingga perlengketan terlepas sedikit demi sedikit.

Keuntungan teknik ini adalah minimnya resiko lecet atau trauma pada gland penis, namun kerugiannya adalah prosesnya memakan waktu relatif lama. Ciri perlengketan yang sudah lepas Yang harus diperhatikan dari beberapa teknik di atas adalah perlengketan sekeliling perbatasan mukosa dan gland penis harus benar-benar bebas/lepas seluruhnya. Ciri perlengketan sudah lepas adalah sudah terlihat batas mukosa-batang penis dan sulkus korona glandis secara utuh, terlihat sebagai sudut tumpul yang melingkar sepanjang lingkaran penis. 2. Membersihkan smegma

Smegma yaitu sekret dari kelenjar yang dapat mengeras, berupa butiran-butiran putih seperti kapur yang berkumpul antara mukosa dan gland penis, utamanya di daerah korona glandis. Membersihkannya dengan didorong kasa steril sedikit demi sedikit. Namun jika smegma sulit dilepaskan basahilah kasa dengan iodine povidon kemudian lakukan cara yang sama dengan diatas. Jika dengan cara ini smegma masih sulit terlepas, dapat diatasi dengan klem mosquito dengan cara menjepit gumpalan smegma satu persatu, kemudian bersihkan dengan kasa yang telah dicelup iodine povidon 10%.

Urutan/tahapan teknik 1. Tandai batas insisi dengan menjepit kulit preputium dengan klem/pinset

2. Preputium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal

3. Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit dengan kocher 4. Preputium diinsisi pada jam 12 diantara jepitan klem dengan menggunakan gunting ke arah sulcus coronarius, sisakan mukosa kulit secukupnya dari bagian distal sulcus pasang tali kendali

5. Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan 12’) Insisi melingkar ke kiri dan ke kanan dengan arah serong menuju frenulum di distal (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf V), buat tali kendali)

6. Buat tali kendali pada jam 3 dan 9

7. Gunting dan rapikan kelebihan mukosa

8. Rawat perdarahan yang terjadi

Hemostasis Perawatan perdarahan di lakukan dengan mencari sumber perdarahan dengan menghapus daerah luka dengan menggunakan kasa, bila di dapatkan sumber perdarahan segera di jepit dengan klem/pean arteri kecil. Tarik klem, ligasi dengan mengikat jaringan sumber perdarahan dengan catgut. Potong ikatan sependek mungkin. Cari seluruh sumber perdarahan lain dan lakukan hal yang serupa. Wound suture Jahitan frenulum Frenulum biasanya dijahit dengan matras horizontal atau boleh dengan matras 8 (cross). Setelah dijahit sisakan benang untuk digunakan sebagai kendali. Jahitan dorsal Jahitan pada dorsal penis menggunakan jahitan simpul. Sisakan benang untuk dibuat tali kendali. Jahitan bagian kulit mukosa yang lain

Dengan menggunakan kendali untuk mengarahkan posisi penis jahit sekeliling luka dengan jahitan simpul (jam 12). Jahitan simpul bisa dilakukan pada jam 3 dan 9 atau jam 2, 4, 8, dan 10. Tidak dianjurkan mengikatnya terlalu erat. Tidak dianjurkan menggunakan jahitan jelujur (continuous suture). Bila telah dijahit semua maka lihat apakah ada bagian yang renggang yang memerlukan jahitan. Wound care Setelah selesai dijahit olesi tepi luka dengan betadine, bila perlu beri dan olesi dengan salep antibiotic. Perawatan luka bisa dilakukan dengan metode tertutup atau terbuka. Metode terbuka (open care) Perawatan ini bisa dilakukan bila ada jaminan penderita mampu menjaga kebersihan luka. Setelah diolesi betadine dan salep antibiotika biarkan secara terbuka (dianjurkan urologi). Metode tertutup (close care) Setelah diberi betadine dan salep antibiotika, berikan sufratule secara melingkar. Tutup dengan kasa steril, ujung kain kasa dipilin sebagai tempat fiksasi supra pubic dengan menggunakan plester (balutan suspensorium) atau biarkan berbentuk cincin (balutan ring). Post operation care Medikamentosa Analgetika : Antalgin 500mg PO 3dd1, atau Asam Mefenamat 500mg PO 3dd1 Antibiotika : Amoksisilin 500mg PO 3dd1, atau Eritromisin 500mg PO 3dd1 Roboransia : Vitamin B Complex, Vitamin C Edukasi - Luka dalam 3 hari jangan kena air - Hati-hati dengan perdarahan post circumsisi, bila ada segera kontrol - Perbanyak istirahat - Bila selesai kecing hapus sisa air kencing dengan tissue atau kasa - Perbanyak dengan makan dan minum yang bergizi terutama yang banyak mengandung protein, tidak ada larangan makan - Setelah 3-5 hari post circumsisi buka perban di rumah segera kontrol

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful