Bab.

I Pendahuluan

Dalam kurun waktu puluhan tahun sejak Metchnikoff dan Erhlich mengemukakan teori imunologi sehingga mendapatkan hadiah Nobel 1908, banyak kemajuan yang telah dicapai baik pada imunologi seluler maupun humoral. Sampai tahun 1975 walaupun imunologi khususnya imuno kimia telah cukup maju, antibodi yang digunakan untuk mengikat atau mengenali suatu antigen masih dibuat dengan cara yang konvensional yaitu mengimunisasi hewan percobaan, mengambil darahnya dan mengisolasi antibodi dan serum sehingga menghasilkan antibodi polikional. Dalam antibodi poliktonal jumlah antibodi yang spesifik sangat sedikit, sangat heterogen karena dapat mengikat bermacam-macam epitop dan antigen yang diimunisasikan. Juga pembuatannya, dan awal pemurnian antigen sampai menghilangkan antibodi yang tidak diinginkan sangat memakan waktu dan su1it. Pada tahun 1975, Kohler dan Milstein dalam percobaan mereka yang terkenal menunjukkan bahwa limfosit yang menghasilkan antibode dapat dilebur dengan sel mieloma atau malignan. Perbanyakan secara cepat terjadi pada sel mieloma dan hibrid sel mieloma (hibridoma). Peleburan itu dapat mengekspresikan limfosit penghasil antibody yang spesifik maupun sifat mieloma yang memperbanyak sel secara berkelanjutan, maka timbullah antibody monoclonal. Teknologi antibodi monoklonal yaitu teknologi menggunakan sel-sel sistem imunitas yang membuat protein yang disebut antibodi. Sistem kekebalan kita tersusun dari sejumlah tipe sel yang bekerja sama untuk melokalisir dan menghancurkan substansi yang dapat memasuki tubuh kita. Tipe tipe sel mempunyai tugas khusus. Beberapa dari sel tersebut dapat membedakan dari sel tubuh sendiri (self) dan sel-sel asing (non self). Salah satu dari sel tersebut adalah sel limfosit B yang mampu menanggapi masuknya substansi asing denngan spesivitas yang luar biasa. Pembuatan antibody monoclonal dilakukan dengan bantuan kelinci, atau tikus. Langkah pertama adalah menginjeksikan antigen ke tubuh kelinci atau tikus percobaan, kemudian limpanya dipisahkan. Selanjutnya akan terjadi peleburan sel limpa dengan sel mieloma. Sekitar 1% dari sel limpa adalah sel plasma yang menghasilkan antibody, sedang 10% dari hibridoma akhir terdiri dari sel yang menghasilkan antibody. Namun, setiap sel hibridoma hanya dapat menghasilkan satu antibody. Dalam hal ini, teknik seleksi dapat dikembangkan untuk mengidentifikasi sel tersebut, kemudian dilakukan pengembangan atau pengklonan berikutnya. Klon yang diperoleh dari hibridoma antibody monoclonal dapat disimpan beku kemudian dapat diinjeksikan kedalam tubuh hewan atau dibiakkan dalam suatu kultur dimana klon menghasilkan anti bodi dalam
1

jumlah besar. Kegunaan antibody monoclonal cukup beragam. Para ilmuwan berharap agar dapat menggunakan antibody monoclonal dalam pengobatan kanker. Beberapa jenis sel kanker membuat antigen yang berbeda dengan yang dibuat sel-sel sehat. Jika antibody monoclonal yang hanya menyerang protein abnormal dapat dibuat, dan harus memungkinkan menyerang sel-sel kanker dengan obat-obatan tanpa mempengaruhi sel-sel yang sehat. Kegunaan antibody monoclonal yang lain adalah sebagai berikut : untuk mendeteksi kandungan hormone korionik gonadotropin dalam urin wanita hamil, mengikat racun dan menonaktifkannya. Contohnya racun tetanus dan kelebihan obat digoxin dapat dinonaktifkan dengan antibody ini, mencegah penolakan jaringan terhadap hasil transplantasi jaringan lain.

2

Bab. II Antibodi Monoklonal

2.1 Pengertian Antibodi Monoklonal Teknologi antibodi monoklonal yaitu teknologi menggunakan sel-sel sistem imunitas yang membuat protein yang disebut antibodi. Sistem kekebalan kita tersusun dari sejumlah tipe sel yang bekerja sama untuk melokalisir dan menghancurkan substansi yang dapat memasuki tubuh kita. Tipa tipe sel mempunyai tugas khusus. Beberapa dari sel tersebut dapat membedakan dari sel tubuh sendiri (self) dan sel-sel asing (non self). Salah satu dari sel tersebut adalah sel limfosit B yang mampu menanggapi masuknya substansi asing denngan spesivitas yang luar biasa. Antibody monoklonal adalah antibody yang melawan protein di daerah dan atau sel kanker. Antibodi monoklonal dibuat di laboratorium khusus untuk melawan antigen tertentu. Karena tiap jenis kanker mengeluarkan antigen yang berbeda, maka berbeda pula antibodi yang digunakan. Antibodi monoklonal juga dapat mempengaruhi cell growth factors, karenanya dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel-sel tumor. Jika dipadu dengan radioisotop, obat kemoterapi, atau imunotoksin, setelah menemukan antigen yang dicari antibodi monoklonal langsung membunuh sel pembuatnya (kanker). Beberapa jenis antibodi monoklonal yang banyak dipergunakan antara lain rituximab (untuk non-Hodgkins lymphoma), trastuzumab (untuk kanker payudara), alemtuzumab (leukemia limfositik kronis), bevacizumab (kanker usus besar), cetuximab (kanker usus besar), gemtuzumab ozogamicin (leukemia myelogenik akut), ibritumomab tiuxetan (non Hodgkins lymphoma). Antibodi monoklonal untuk berbagai jenis kanker lainnya sedang dalam tahap uji klinis. Trastuzumab (Herceptin), yang digunakan pada kanker payudara yang telah menyebar adalah salah satu contoh antibody yang melawan protein HER-2, protein yang bertanggung jawab atas pertumbuhan sel kanker payudara pada 15% - 25% kasus. Penambahan Trastuzumab pada kemoterapi terbukti menurunkan tumbuh kembalinya kanker dan mengurangi angka kematian pada perempuan penderita kanker payudara yang memiliki protein tersebut. Tips: pengobatan ini masih tergolong pengobatan yang baru dalam dunia kanker, oleh karena itu bertanyalah dengan sejelas-jelasnya kepada dokter yang merawat tentang segala kemungkinan dari terapi ini, terutama dari sisi efek samping yang ditimbulkan.

3

2.2 Cara Memproduksi Antibodi Monoklonal (Hibridoma)

1. Imunisasi Mencit - Antigen berupa protein atau polisakarida yang berasal dari bakteri atau virus, disuntikkan secara subkutan pada beberapa tempat atau secara intra peritoneal. - Setelah 23 minggu disusul suntikan antigen secara intravena, mencit yang tanggap kebal terbaik dipilih. - Pada hari ke-12 hari suntikan terakhir antibodi yang terbentuk pada mencit diperiksa dan diukur titer antibodinya. - Mencit dimatikan dan limfanya diambil secara aseptis. - Kemudian dibuat suspensi sel limfa untuk memisahkan sel B yang mengandung antibodi. Cara imunisasi lain yang sering digunakan adalah imunisasi sekali suntik intralimfa (single-shot intrasplenic immunization). Imunisasi cara ini dianggap lebih baik, karena eliminasi antigen oleh tubuh dapat dicegah. 2. Fusi limfa kebal dan sel mieloma Pada kondisi biakan jaringan biasa, sel limfa yang membuat antibodi akan cepat mati, sedangkan sel mieloma dapat dibiakkan terus-menerus. Fusi sel dapat menciptakan sel hibrid
4

yang terdiri dari gabungan sel limfa yang dapat membuat antibodi dan sel mieloma yang dapat dibiakkan secara terus menerus dalam jumlah yang tidak terbatas secara in vitro. - Fusi sel diawali dengan fusi membran plasma sehingga menghasilkan sel besar dengan dua atau lebih inti sel, yang berasal dari kedua induk sel yang berbeda jenis yang disebut heterokarion. - Pada waktu tumbuh dan membelah diri terbentuk satu inti yang mengandung kromosom kedua induk yang disebut sel hibrid 3. Eliminasi sel induk yang tidak berfusi Frekuensi terjadinya hibrid sel limfa-sel mieloma biasanya rendah, karena itu penting untuk mematikan sel yang tidak fusi yang jumlahnyaa lebih banyak agar sel hibrid mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan cara membiakkan sel hibrid dalam media selektif yang mengandung hyloxanthine, aminopterin, dan thymidine (HAT). 4. Isolasi dan pemilihan klon hibridoma - Sel hibrid dikembangbiakkan sedemikian rupa, sehingga tiap sel hibrid aka membentuk koloni homogen yang disebut hibridoma. - Tiap koloni kemudian dibiakkan terpisah satu sama lain. - Hibridoma yang tumbuh diharapkan mensekresi antibodi ke dalam medium, sehingga antibodi yang terbentuk bisa diisolasi. Pemilihan klon hibridoma dilakukan dua kali, pertama adalah dilakukan untuk memperoleh hibridoma yang dapat menghasilkan antibodi, dan yang kedua adalah memilih sel hibridoma penghasil antibodi monoklonal yang potensial menghasilkan antibodi monoklonal yang tinggi dan stabil Ketika di tikus terbentuk antibody yang beraneka ragam (antibody multiklonal) dengan maksud tubuh tikus emang harus dilindungi dari berbagai organisme patogen /antigen asing misal (antigen HCG) ,maka tikus diharapkan bebas dari berbagai gangguan penyakit akibat bervariasinya patogen/antigen tersebut. Perlu diketahui lympocyt tikus yang membuat antibody tentu sangat variatif , tidak hanya sel B yang ampuh melawan antigen tetapi juga dibuat antibody yang lain , yang kita kenal dengan sebutan multiklonal. selain dengan melakukan daya adaptif terus menerus terhadap anrtigen baru yang masuk tubuhnya ini dilakukan untuk menahan tekanan penyakit dari luar yang begitu beragam dan selalu penyakit / antigen asing tersebut meng "up-grade" menjadi lebih canggih . apapun bentuk up grade an penyakit sebenarnya tubuh tikus itu siap melawannya dan selalu OK.
5

Namun kwantitas antibody yang beraneka ragam itu dipastikan kurang produksinya sehingga tidak bisa mengibangi patogennya. maka dari dasar sederhana itulah kemudian dicipta antibody specifik , meskipun jumlahnya sedikit tapi sangat ampuh, bisa diproduksi besar besaran dengan teknik hibridoma secara invitro /invivo berupa antibody monoklonal. Caranya Diambil Limpocyt pabrik antibody yang memproduksi beraneka ragam antibody itu, Dipisahkan berbagai jenis antibody (multiklonal)dengan specifik tujuan yang berbeda digabungkan, Antibody specifik itu ke sel kanker(myolema) yang begitu cepat membelahnya (unlimited akses) pada suatu media , sel mieloma semacam sel tumor yang dibiakkan dan dimutasikan itu jika dipertemukan dengan sel B (biasanya disebut sel B-mieloma)/ sel hibridoma, jika sel hibridoma ini terbentuk dan sukses ternyata sel hibridoma bisa membelah pula dalam skala yang unlimited., sehingga memungkinkan pemroduksian dalam skala besar nantinya. Akhirnya bisa diperoleh antibody monoklonal yang specifik itu untuk membantu penyebuhan penyakit misalnya kanker . 2.3 Cara Kerja Antibodi Monoklonal Uji klinis terapi dengan antibodi monoklonal kini mengalami kemajuan pada hampir semua jenis kanker. FDA sejauh ini (hingga akhir Desember 2005) telah menyetujui beberapa terapi untuk kanker tertentu (Lihat tabel) Nama Dagang Rituxan Herceptin

Nama MAb

Digunakan pada kanker

Disetujui

Rituximab Trastuzumab Gemtuzumab ozogamicin*

Non-Hodgkin lymphoma Breast cancer

1997 1998

Mylotarg

Acute myelogenous leukemia 2000 (AML) Chronic lymphocytic leukemia 2001 (CLL) Non-Hodgkin lymphoma Non-Hodgkin lymphoma 2002 2003

Alemtuzumab

Campath

Ibritumomab tiuxetan* Tositumomab*

Zevalin Bexxar

6

Cetuximab

Erbitux

Colorectal Head & neck cancers Colorectal cancer

cancer 2004 2006 2004

Bevacizumab

Avastin

*conjugated monoclonal antibodies Sumber : American Cancer Society

Dua tipe antibodi monoklonal yang digunakan untuk terapi kanker, adalah : 1. Naked monoclonal antibodies Naked monoclonal antibodies atau antibodi monoklonal murni adalah antibodi yang penggunaanya tanpa dikombinasikan dengan obat lain atau material radioaktif. Antibodi murni mengikatkan diri mereka pada antigen spesifik milik sel-sel kanker dengan berbagai cara. Misalnya, memberi tanda pada sel kanker agar bisa dikenali dan dirusak oleh sistem imun tubuh. Cara lain dengan mengikatkan diri pada antigen tertentu yang disebut reseptor, tempat di mana molekul-molekul yang berfungsi menstimulasi pertumbuhan sel kanker juga akan mengikatkan diri. Dengan menghambat molekul-molekul pertumbuhan untuk tidak mengikatkan diri, maka antibodi monoklonal ini sama saja mencegah sel kanker untuk tumbuh dengan cepat. Trastuzumab (Herceptin), yang merupakan MAb murni dan digunakan untuk kanker payudara stadium lanjut, adalah contoh antibodi monoklonal yang bekerja dengan cara ini. Beberapa MAbs murni yang sudah disetujui FDA antara lain : Rituximab (Rituxan): Rituximab digunakan untuk terapi sel B pada non-Hodgkin lymphoma. Agen ini merupakan antibodi monoklonal dengan sasaran antigen CD20, yang ditemukan pada sel B. Trastuzumab (Herceptin): Trastuzumab adalah antibodi yang menyerang protein HER2. Protein ini terlihat dalam jumlah besar pada sel-sel beberapa kasus kanker payudara. Agen ini disetujui untuk pengobatan tahap lanjut kanker payudara. Alemtuzumab (Campath): Alemtuzumab merupakan antibodi yang menyerang antigen CD52, yang terlihat pada sel B maupun sel T. Agen ini digunakan untuk terapi B cell lymphocytic leukemia (B-CLL) kronik yang sudah mendapat kemoterapi. Cetuximab (Erbitux): Cetuximab, antibodi dengan sasaran protein EGFR (epidermal growth factor receptors). EFGR nampak dalam jumlah besar pada beberapa sel
7

kanker. Agen ini digunakan berbarengan dengan obat kemoterapi irinotecan untuk kanker kolorektal stadium lanjut. Selain itu juga digunakan untuk terapi kanker leher dan kepala yang tidak bisa diselesaikan dengan bedah. Bevacizumab (Avastin): Bevacizumab bekerja melawan protein VEGF (Vascular Endhotelial Growth Factor) yang normalnya membantu tumor membangun jaringan pembuluh darah baru (proses angiogenesis) sebagai satu cara mendapatkan oksigen dan nutrisi. Terapi anti-angiogenesis ini digunakan bersama-sama dengan kemoterapi untuk terapi kanker kolorektal metastatik. Kemajuan pengobatan dengan antibodi melalui serangakain uji klinis sungguh suatu langkah yang berani. Antibodi ini bisa membantu pasien kanker yang tidak mengalami kemajuan dengan terapi standar. Berbagai uji klinis menunjukkan obat ini efektif, dan kemungkinan bisa digunakan sebagai terapi standart (awal) atau sebagai terapi tambahan pada kemoterapi. Tidak seperti kemoterapi dan radioterapi, yang bekerja secara kurang spesifik, tujuan pengobatan antibodi monoklonal adalah untuk menghancurkan sel-sel limfoma non Hodgkin secara khusus dan tidak mengganggu jenis-jenis sel lainnya. Semua sel memiliki penanda protein pada permukaannya, yang dikenal sebagai antigen. Antibodi monoklonal dirancang di laboratorium untuk secara spesifik mengenali penanda protein tertentu di permukaan sel kanker. Antibodi monoklonal kemudian berikatan dengan protein ini. Hal ini memicu sel untuk menghancurkan diri sendiri atau memberi tanda pada siinduk kekebalan tubuh untuk menyerang dan membunuh sel kanker. Sebagai contoh, rituximab, antibodi monoklonal yang dipakai dalam pengobatan limfoma non Hodgkin, mengenali penanda protein CD20. CD20 ditemukan di permukaan Sel B abnormal yang ditemukan pada jenis-jenis limfoma non Hodgkin yang paling umum. Proses kerja : 1. Saat rituximab berikatan dengan CD20 di permukaan suatu sel-B, sel mungkin dihancurkan langsung, tetapi pertahanan alami tubuh juga disiagakan. 2. Rituximab secara efektif menyerang sel limfoma agar dapat dihancurkan siinduk kekebalan tubuh dan membunuh sel-sel kanker. 3. CD20 juga ditemukan di permukaan sel-B normal, salah satu jenis sel darah putih yang beredar di tubuh. 4. Ini berarti mungkin sel-B normal ini juga dihancurkan saat rituximab digunakan. Akan tetapi, sel induk dalam sumsum tulang yang berkembang menjadi sel-B tidak memiliki CD20 pada permukaannya. 5. Oleh karena itu sel induk tidak dihancurkan oleh rituximab dan dapat terus menyediakan sel-B sehat untuk tubuh. Meskipun jumlah sel-B normal yang matang berkurang untuk sementara karena pengobatan, mereka akan kembali ke kadar semula setelah pengobatan.

8

2.4 Dosis dan Pemberian Antibodi Dosis dan pemberian bervariasi untuk setiap antibodi yang diberikan. Sebagai contoh, rituximab, antibodi monoklonal yang umum digunakan dalam pengobatan NHL diberikan intravena, melalui jarum yang masuk ke dalam pembuluh darah , biasanya di lengan. Rituximab diberikan sebagai µtetesan¶ yang berarti obat dimasukkan dulu ke dalam kantong infus, kemudian cairan menetes perlahan ke dalam pembuluh darah dengan mengandalkan kekuatan gravitasi. Jika antibodi monoklonal digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi, rituximab biasanya diberikan sesaat sebelum kemoterapi pada awal setiap siklus pengobatan. Sebelum tetesan infus diberikan, obat lain untuk mencegah beberapa efek samping antibodi monoklonal diberikan ± contohnya parasetamol untuk mengurangi demam dan antihistamin untuk mengurangi kemungkinan reaksi alergi. Meski demikian, efek samping antibodi monoklonal umumnya ringan dan sementara serta dapat diatasi dengan mudah. Jika terjadi efek samping saat obat diberikan, tetesan infus dapat diperlambat atau bahkan dihentikan hingga efek samping berakhir. Untuk pengobatan pertama, pasien menginap di rumah sakit atau sementara tinggal di sana sebelum pulang ke rumah. Pengobatan lanjutan biasanya lebih cepat dan efek sampingnya lebih sedikit. Kebanyakan orang dapat mendapat pengobatan lanjutan ini sebagai rawat-jalan dan pulang ke rumah pada hari itu juga. 2.5 Efek Samping Antibodi Monoklonal Seperti semua obat, antibodi monoklonal dapat menyebabkan efek samping. Contohnya untuk rituximab, efek samping umumnya ringan dan bersifat sementara, hanya berlangsung selama pengobatan atau beberapa jam setelahnya. Efek samping terjadi paling sering selama masa pengobatan mingguan pertama, dan biasanya berkurang dengan dosis selanjutnya. Hal ini disebabkan lebih banyak sel limfoma selama pengobatan pertama yang harus diserang oleh antibodi monoklonal dan dihancurkan oleh si induk kekebalan tubuh. Efek samping yang paling umum adalah demam, menggigil dan gejala mirip flu lainnya, seperti nyeri otot, nyeri kepala dan rasa letih. Umumnya cepat berakhir setelah masa pengobatan berakhir. Kadang-kadang, pasien merasakan flushing mendadak dan merasa panas di wajah. Hal ini biasanya berlangsung amat singkat. Beberapa pasien mengalami mual (mual) atau muntah. Obat anti muntah (anti-muntah) umumnya sangat efektif dalam mencegah maupun meringankan gejala-gejala ini sehingga lebih dapat ditoleransi. Kadang-kadang, pasien merasakan nyeri pada bagian tubuh yang merupakan lokasi limfoma. Nyeri biasanya ringan dan dapat diatasi dengan obat anti-nyeri biasa. Rituximab dapat menyebabkan reaksi alergi. Gejalanya dapat berupa: Gatal atau mendadak muncul warna kemerahan, Batuk, mengi atau sesak napas, Lidah bengkak atau rasa bengkak di tenggorokan, Edema, atau pembengkakan karena kelebihan cairan dalam jaringan
9

tubuh. Reaksi alergi berat terhadap rituximab jarang ditemukan dan pasien diamati selama masa pengobatan akan munculnya gejala-gejala ini. Pasien harus melaporkan gejala yang dialaminya begitu muncul. Seringkali, yang perlu dilakukan hanyalah memperlambat atau menghentikan sementara tetesan intravena sampai reaksi alergi berakhir. Pasien umumnya diberikan antihistamin sebelum mulai pengobatan untuk membantu mencegah atau mengurangi masalah ini. Antibody Monoclonal drug adalah sebuah obat inovasi baru dalam usaha manusia melawan kanker. Meskipun efektifitas dan sepesifisitas obat ini terhadap kanker tertentu telah teruji dan membuahkan hasil, namun cara penggunaan obat ini agar memberikan hasil yang terbaik sampai saat ini belumlah diketahui secara pasti. Bagaimana Monoclonal Antibody Bekerja Menghajar Sel Kanker? 1. Membuat Sel Kanker Lebih dikenali Oleh Sistem Immun. Sistem immun akan aktif jika terdapat musuh (antigen) dalam tubuh, wes enaknya sistem immun ini adalah tentaranya tubuh ;) . Sekali sistem immun mengenali adanya musuh tubuh, maka ia akan memanggil teman-temannya untuk melawan musuh ini. Tapi tidak selamanya sistem immun bisa mengenali sel kanker sebagai musuh, lha obat-obatan golongan antibody monoclonal seperti Rituximab bekerja agar sistem immun lebih kenal dengan sel kanker sehingga sistem pertahanan tubuh bisa bekerja lebih efektif dalam rangka menghajar sel kanker. Obat kankerAntibody Monoclonal di sekitar Sel kanker. 2. Menghambat Faktor-Faktor Pertumbuhan Sel Kanker. Jika sebuah zat kimia yang disebut sebagai Growth Factor menempel pada sel kanker, maka pertumbuhan sel kanker yang ditempeli akan meningkat drastis, kalo pertumbuhan sel kankernya tambah banyak kan secara otomatis kankernya semakin menggila. Didasarkan fakta inilah, obat-obatan Antibody Monoclonal seperti Cetuximab bekerja menghambat ikatan antara growth factor dengan reseptor pada sel :D . 3. Menghantarkan Radiasi ke Sel Kanker. Kombinasi obat antibody monoclonal dengan partikel radioaktif, kita bisa menghantarkan radiasi langsung tepat sasaran pada sel kanker. Hal ini digunakan untuk memastikan radiasi tersebut tidak merusak sel yang yang sehat. Dengan adanya obat yang penggunaannya masih dalam pengwasan FDA ini, maka efektifitas radioterapi pada pasien kanker bisa lebih ditingkatkan. 2.6 Conjugated Monoclonal Antibodies Conjugated monoclonal antibodies adalah antibodi yang dikombinasikan dengan berbagai jenis obat, toksin, dan materi-materi radioaktif. Obat ini hanya berperan sebagai ³kendaraan´ yang akan mengantarkan substansi-substansi obat, racun, dan materi radioaktif, menuju langsung ke sasaran yakni sel-sel kanker. Antibodi monoklonal jenis ini akan berkeliling ke seluruh bagian tubuh sampai ia berhasil menemukan sel kanker yang cocok dengan antigen yang ia bawa. Agen ini kemudian akan menghantarkan racun di tempat paling krusial, namun hebatnya, ia bisa meminimalkan dosis pada sel normal untuk menghindari kerusakan di seluruh bagian tubuh.
10

Sayangnya, antibodi gabungan ini secara umum masih menimbulkan efek samping lebih banyak dibandingkan antibodi monoklonal yang murni. Efek yang ditimbulkan tergantung pada tipe substansi yang ikut serta atau menempel padanya. Conjugated MAbs kadang dikenal juga sebagai "tagged," "labeled," atau "loaded" antibodies. Perbedaannya sebagai berikut: y y MAbs yang dikombinasikan dengan obat-obat kemoterapi disebut chemolabeled. Saat ini agen ini hanya tersedia di Amerika Serikat, itupun hanya dalam rangka uji klinis. MAbs yang dikombinasikan dengan partikel radioaktif disebut radiolabeled, dan tipe terapi ini sering juga disebut radioimmunotherapy (RIT). Pada 2002, FDA menyetujui radiolabeled pertama yang boleh digunakan untuk terapi kanker (tak hanya untuk uji klinis) yakni Ibritumomab tiuxetan (Zevalin). Obat ini digunakan untuk terapi kanker B lymphocytes. Kini obat ini juga digunakan untuk terapi B cell non-Hodgkin lymphoma yang tidak mempan dengan terapi standar.

Radiolabeled kedua yang disetujui FDA adalah tositumomab (Bexxar), pada 2003. Obat ini digunakan untuk tipe tertentu non-Hodgkin lymphoma yang juga tidak menunjukkan respon dengan rituximab (Rituxan) atau kemoterapi. Di samping untuk kanker, antibodi radiolabeled juga digunakan bersamaan dengan kamera khusus untuk mendeteksi penyebaran sel kanker dalam tubuh. Penggunaannya sudah disetujui FDA yakni OncoScint (untuk deteksi kanker kolorektal dan kanker ovarium) serta ProstaScint (deteksi kanker prostat). MAbs yang melekat dengan racun disebut immunotoxins. Imunotoksin dibuat dengan menempelkan racun-racun (berasal dari tanaman maupun bakteri) ke antibodi monoklonal. Berbagai racun dibuat untuk ditempelkan pada antibosi monoklonal seperti diphtherial toxin (DT), pseudomonal exotoxin (PE40), atau yang dibuat dari tanaman yakni ricin A atau saporin. Studi awal menunjukkan imunotoksin cukup menjanjikan untuk menyusutkan sebagian kecil kanker, khususnya limfoma. Namun masalah besar masih menunggu dipecahkan sebelum bentuk baru terapi kanker ini bisa digunakan secara luas. Satu-satunya imunotoksin yang mendapat persetujuan FDA untuk terapi kanker adalah gemtuzumab ozogamicin (Mylotarg). Obat ini mengandung racun calicheamicin. Racun ini melekat pada antibodi yang langsung menuju sasaran antigen CD33, yang nampak pada sebagian besar sel leukemia. Saat ini Gemtuzumab digunakan untuk terapi myelogenous leukemia (AML) akut yang sudah menjalani kemoterapi atau tidak memenhui syarat untuk kemoterapi. Imunotoksin lain yakni BL22, juga cukup menjanjikan melalui studi awal untuk terapi hairy cell leukemia, bahkan pada pasien yang tidak menunjukkan respon sama sekali dengan kemoterapi. Pada uji klinis awal, lebih dari dua pertiga pasien menunjukkan respon komplit terhadap pengobatan yang berlangsung 2 tahun. Uji klinis imunotoksin juga tengah berlangsung untuk jenis leukemia tertentu, limfoma, kanker otak, dan kanker lainnya.

11

2.7 Kombinasi Growth Factors/Toksin Ilmuwan juga melakukan eksperimen dengan racun yang ada kaitannya dengan substansi serupa hormon, yang sering disebut growth factors. Banyak sel-sel kanker memiliki reseptor growth factor dalam jumlah besar di permukaan sel yang akan menstimulasi sel untuk reproduksi dan tumbuh dengan cepat. Peneliti lantas mengupayakan kombinasi gen sehingga growth factor bisa menempel pada toksin. Saat kombinasi growth factors/toksin mencapai reseptor growth factor pada permukaan sel kanker, dia akan menyalurkan muatan racun ke dalam sel kanker dan membunuhnya. Konsep di belakang obat gabungan growth factors/toksin ini mirip dengan imunotoksin. Namun karena kombinasi growth factors/toksin ini tidak mengandung antibodi, obat ini tidak bisa diklasifikasikan sebagai imunotoksin. Satu-satunya growth factors/toksin yang disetujui FDA sejauh ini adalah denileukin difitox (Ontax). Obat ini mengandung sitokin yang dikenal sebagai interleukin-2 (IL-2), yang dilekatkan ke toksin dari kuman dipteri. Denileukin diftitox digunakan untuk terapi jenis limfoma kulit (cutaneous T cell lymphoma) yang relatif jarang ditemukan. 2.8 Chimeric, Langkah Maju Terapi Antibodi Monoklonal Hingga kini, keefektifan terapi MAb masih terbatas mengingat fakta bahwa antibodi diproduksi oleh sel-sel hibridoma mencit. Di awal terapi, antibodi ini seringkali bekerja baik. Namun pada beberapa kasus, sistem imun mulai mengenali antibodi mencit ini sebagai ³benda asing´ setelah pemberian beberapa kali, dan mulai merusaknya saat ³musuh´ ini masuk ke dalam tubuh. Karena alasan ini, ilmuwan mengkombinasikan antibodi mencit yang bertanggungjawab untuk mengenali antigen timor spesifik dengan bagian gen antibodi manusia. Produk gabungan antara gen antibodi manusia dan mencit ini disebut ³chimeric´ atau "humanized" monoclonal antibody. Agen ini lebih mirip antibodi manusia normal, sehingga ada kesempatan lebih baik tidak akan dirusak oleh sistem imun pasien. Artinya, terapi antibodi masih efektif meski digunakan lebih dari satu kali. Terapi yang lebih baru menggunakan fragmen antibodi juga masih menyisakan satu lubang penyelesaian. ³Potongan´ yang lebih kecil kemungkinan lebih efektif, karena bisa mencapai tumor dengan lebih baik. 2.9 Anti-angiogenesis Anti-angiogenesis adalah proses penghentian pembentukan pembuluh darah baru. Pada jaringan normal, pembuluh darah baru terbentuk selama pertumbuhan dan perbaikan jaringan (misalnya ketika proses penyembuhan luka), dan selama perkembangan janin di masa kehamilan. Pembuluh darah membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan yang diperlukan untuk pertumbuhan
12

dan bertahan hidup. Demikian juga pada kanker. Tumor membutuhkan pembuluh darah untuk tumbuh dan bertahan hidup. Melalui proses yang kompleks, sel-sel endotel (yang membentuk pembuluh darah) bisa membelah diri dan tumbuh membentuk pembuluh darah baru. Proses ini disebut angiogenesis. Proses ini terjadi baik pada jaringan sehat maupun pada jaringan kanker. Ada substansi-subtansi yang menstimulasi maupun menghentikan proses angiogenesis. Sejak 1971, Judah Folkman, ahli bedah dari Massachusetts, telah meneliti substansi-substansi ini. Teorinya adalah, jika perkembangan pembuluh darah baru bisa dihentikan, maka tumor bisa berhenti tumbuh atau menyebar. Bahkan kanker akan mati. Sejak saat itu, ilmuwan mempelajari produksi substansi baik alami maupun tiruannya yang disebut agen anti-angiogenesis atau penghambat angiogenesis. Pada studi binatang, penghambat angiogenesis berhasil menghentikan pembentukan pembuluh darah baru, menyebabkan sel kanker menyusut dan mati. Beberapa agen anti-angiogenesis yang sudah dikenal seperti dilansir American Association For Cancer Research, antara lain: Bevacizumab Seperti dipaparkan di atas, bevacizumab adalah antibodi monoklonal dengan target sasaran protein vascular endothelial growth factor (VEGF). Mei 2003, dari hasil penelitian fase III menunjukkan bahwa bevacizumab secara bermakna bisa meningkatkan harapan hidup hingga hampir 5 bulan pada pasien kanker kolorektal stadium lanjut. Agen ini dikombinasikan dengan kemoterapi berbasis IFL (irinotecan, 5-fluorouracil, dan leucovorin). Selain itu, risiko kematian dapat dikurangi lebih dari sepertiga (34%) pada kelompok pasien penerima kombinasi bevacizumab dan IFL dibandingkan pasien yang hanya menerima kemoterapi. Bevacizumab disetujui FDA sebagai terapi kombinasi dengan kemoterapi berbasis 5FU sebagai terapi lini pertama pasien kanker kolorektal matastatik, pada Februari 2004. Di Eropa, bevacizumab mendapat persetujuan sebagai terapi kombinasi dengan 5FU/folinic acid atau 5FU/folinic acid/irinotecan intravena untuk terapi lini pertama pasien kanker kolorektal atau rektum metastatik, pada Januari 2005. Thalidomide Efek angiogenesis thalidomide pertama kali dibuktikan pada tahun 50-an, ketika perempuan hamil yang mengonsumsi obat ini mengalami phicomelia, atau deformitas kaki akibat penghambatan pembentukan pembuluh darah. Studi terkait kemudain menyatakan obat ini memang memiliki efek anti-angiogenesis. Meskipun mekanisme persisnya belum diketahui, para ahli menjelaskan efek ini didapat dengan menghambat aksi faktor penting angiogenesis seperti basic fibroblast growth factor dan vascular endothelial growth factor (VEGF).

13

Setelah ditarik dari pasar di Eropa pada 1962, thalidomide kini disetujui di Amerika Serikat untuk terapi lepromatous leprosy, dan juga efektif untuk terapi penyakit-penyakit neoplastik seperti multiple myeloma dan berbagai kondisi non-neoplastik. -IFN -IFN, merupakan sitokin yang memiliki properti anti-angiogenesis yang sangat berperan dalam aktivitas penyakit seperti hemangioma, melanoma, renal cell carcinoma, dan Kaposi¶s sarcoma. Beberapa laporan mengindikasikan, kombinasi -IFN dengan agen lain seperti thalidomide atau cis-retinoic acid akan menghadirkan efek anti-angiogenesis yang lebih kuat. Studi ECOG telah mengevaluasi peran -IFN yang digunakan secara kombinasi dengan cisretinoic acid untuk karsinoma pada leher dan kepala, atau dikombinasikan dengan thalidomide untuk karsinoma sel ginjal. Bukti terbaru menunjukkan manfaat -IFN pada risiko tinggi melanoma malignan yang operable. Dan studi ECOG terbaru tengah mengevaluasi peran -IFN pada pasien dengan risiko sedang penyakit ini. MMP Inhibitors Matrix metalloproteinases (MMPs) termasuk keluarga zinc-dependent endopeptidases yang bertanggungjawab menurunkan dan merombak dasar membran dan matriks ektraseluler. MMPs memegang peran penting dalam tahap perkembangan metastatik dan juga memfasilitasi neo-angiogenesis. Overekspresi dari MMPs oleh tumor atau stroma yang berkaitan dengan tumor berdampak pada prognosis yang memburuk pada beberpa jenis kanker termasuk kanker esofagus, kolon, dan pankreas. Sejumlah penghambat MMPs sudah dikembangkan, antara lain marimastat, yang mengikat atom zinc pada sebagian besar katalitik aktif MMPs. Beberapa laporan mengindikasikan tidak ada manfaat penghambat MMPs yang cukup signifikan meskipun dikombinasikan dengan kemoterapi atau diberikan setelah kemoterapi lini pertama dalam berbagai jenis kanker, seperti kanker paru sel kecil, kanker paru bukan sel kecil, kanker lambung, dan pankreas. Bahkan dua studi menunjukkan angka harapan hidup yang berkurang dengan salah satu MMPI (BAY12-9566) pada pasien kanker pankreas (dibandingkan dengan gemcitabine), dan pada pasien kanker paru sel kecil (dibandingkan placebo setelah pemberian kemoterapi). Hasil mengecewakan ini membuat MMPIs diobservasi lagi dalam uji klinis, khususnya mengenai pemahaman yang mungkin keliru dalam hal target agen ini. Tyrosine Kinase Inhibitors Kabanyakan sel, tremasuk sel kanker, memiliki resptor di permukaan mereka sebagai epidermal growth factor (EGF), yakni protein yang normalnya diproduksi oleh tubuh untuk pertumbuhan sel. Jika EGF berikatan dengan epidermal growth factor receptors (EGFRs), menyebabkan enzim tyrosine kinase menjadi aktif di dalam sel. Tyrosine kinase adalah enzim yang berada di dalam sel yang berfungsi mengikat fosfat dengan tirosin asam amino. Tyrosine
14

kinase memicu proses kimia yang menyebabkan sel ±termasuk sel kanker²tumbuh, berlipat ganda, dan menyebar. Penghambat tyrosin kinase (tyrosine kinase inhibitors) dikembangkan untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker. Dari berbagai studi yang sudah dilakukan menunjukkan penghambat ini menyebabkan kematian sel dengan cepat, karena mekanisme bertahan hidup ala kanker di-deaktivasi. Bagi tumor yang menggunakan tyrosin kinase untuk membelah diri, agen penghambat ini bisa menjadi terapi yang menjanjikan. Tipe leukemia tertentu, kanker payudara, kanker prostat, kanker ovarium, kanker kandung kemih, kanker hati, dan kanker paru merupakan jenis kanker yang sukses diterapi dengan penghambat tyrosin kinase. Sebelumnya, kesulitan utama dalam penerapan agen ini adalah bagaimana menyalurkan penghambat masuk ke dalam sel di mana enzim kinase berada. Namun masalah ini kini bisa dipecahkan dengan strategi inovatif. Penghambat tyrosin kinase bekerja dengan cara bersaing dengan ATP untuk mengikat kinase. Hal ini dimungkinkan karena struktur yang hampir mirip antara ATP dan agen penghambat. Enzim kinase menggunakan ATP sebagai sumber fosfat, namun jika agen penghambat mengikat enzim termasuk ATP, maka kinase tidak bisa memfosforilasi protein dan sinyal buat sel kanker akan berhenti. Mei 2003, FDA menyetujui gefitinib (Iressa) sebagai obat kanker paru. Gefitinib bekerja menghambat enzim tyrosine kinase. Gefitinib sudah digunakan sebagai agen tinggal untuk terapi non-small cell lung cancer (NSCLC) yang mengalami kemajuan atau kegagalan dengan dua tipe kemoterapi. Gefitinib mengikat EFGR dan menghambat pengikatan EGF serta aktivasi tyrosine kinase. Mekanisme ini untuk menghentikan sel kanker tumbuh dan membelah diri. Sebelumnya juga lebih dulu disetujui erlotinib (Tarceva) yang memiliki mekanisme sama dengan gefitinib, sebagai penghambat EFGR. (ana/berbagai sumber) "Ini adalah berkat sinergi yang sukses antara industri dan SIGN bahwa pengembangan dari dua antibodi terhadap penyakit yang terus meningkat telah dicapai Kombinasi Humalex-teknologi, keahlian SIGN dalam manusia imunologi, virologi dan biologi molekuler,. Dan Singapore lokasi sebagai hub untuk Asia membantu untuk mempercepat pemilihan, sequencing dan karakterisasi antibodi kandidat paling kuat. Saya senang untuk dicatat bahwa terobosan ini dicapai dalam waktu kurang dari satu tahun dari awal proyek ", kata Ketua Prof SIGN Philippe Kourilsky. "Platform baru yang digunakan oleh SIGN untuk generasi antibodi monoklonal manusia sepenuhnya sudah memberikan hasil yang sangat baik, dan kami berharap untuk menghasilkan sejumlah antibodi monoklonal baru manusia sepenuhnya yang dapat digunakan sebagai terapi," kata Direktur Ilmiah SIGN Prof Paola Castagnoli . "Penemuan ini antibodi monoklonal manusia sepenuhnya baru dengan kegiatan menetralkan yang kuat terhadap virus Chikungunya merupakan suatu kesaksian tambahan dari efisiensi dari
15

platform Humalex-. Datang tak lama setelah penandatanganan perjanjian komersial utama dengan sanofi Pasteur, divisi vaksin dari Sanofi Aventis, penemuan ini adalah validasi lebih lanjut dari kekuatan VIVALIS Humalex-antibodi platform penemuan Ini adalah tonggak pertama dalam kemitraan penelitian kami dengan SIGN dan. kami berharap untuk mendapatkan keuntungan dari masukan ilmiah yang sangat baik dari para ilmuwan SIGN dalam bidang imunologi di program kolaboratif masa depan ", komentar Franck Grimaud, CEO, dan Majid Mehtali, CSO, co-manajer VIVALIS.

16

Bab. III Kesimpulan

Teknologi antibodi monoklonal yaitu teknologi menggunakan sel-sel sistem imunitas yang membuat protein yang disebut antibodi. Sistem kekebalan kita tersusun dari sejumlah tipe sel yang bekerja sama untuk melokalisir dan menghancurkan substansi yang dapat memasuki tubuh kita. Tipa tipe sel mempunyai tugas khusus. Beberapa dari sel tersebut dapat membedakan dari sel tubuh sendiri (self) dan sel-sel asing (non self). Salah satu dari sel tersebut adalah sel limfosit B yang mampu menanggapi masuknya substansi asing denngan spesivitas yang luar biasa. Antibody monoklonal adalah antibody yang melawan protein di daerah dan atau sel kanker. Antibodi monoklonal dibuat di laboratorium khusus untuk melawan antigen tertentu. Karena tiap jenis kanker mengeluarkan antigen yang berbeda, maka berbeda pula antibodi yang digunakan.

17

Daftar Pustaka

y y y y y y y y

y y

Abbas AK, Lichtman AH (2003). Cellular and Molecular Antibodi Monoklonal (5th ed.), 563p. Philadelphia: Saunders. Peakman M, Vergani D (1997). Basic and Antibodi Monoklonal. New York: Churchill Livingstone. Paul WE (ed.) (1999). Fundamental Antibodi Monoklonal (4th ed.), 1589p. Philadelphia: Lippincott-Raven. Roitt I, Brostoff J, Male D (2001). Antibodi Monoklonal (6th ed.), 480p. St. Louis: Mosby. Anderson DM (2003) Dorland's Illustrated Medical Dictionary (30th ed.), Philadelphia: W.B. Saunders. Parham P (2005). The Antibodi Monoklonal. New York: Garland. Murphy K, Travers P, Walport M, with contributions by Ehrenstein M et al. (2008). Janeway's Antibodi Monoklonal (7th ed.), New York: Garland Science. DeFranco AL, Locksley RM, Robertson M (2007). Immunity : The Immune Response in Infectious and Inflammatory Disease. London; Sunderland, MA: New Science Press; Sinauer Associates. Frank MM. Complement and kinin. In Stites DP, Terr AI. Basic and clinical immunology; 7th edition . NorwaIk: Appleton & Lange, 1991; 161-74. Brown EJ, Joiner KA, Frank MM. Complement. In fundamental immunology. 3rd edition. New York: Raven Press, l985; 645-68

18