TAUHID DAN SAINS

(Agama dan Ilmu pengetahuan dalam Perspektif Islam)

Makalah Didiskusikan Pada Mata Kuliah Tauhid Amali Terbatas Kelas A Program Studi Aqidah Akhlak Program Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang Dosen Pengampu : Dr. H Yusuf Suyono, M.Ag Disusun Oleh : AINI MAHMUDAH ( NIM 095112008)

PROGRAM PASCA SARJANA IAIN WALISONGO

SEMARANG 2010 TAUHID DAN SAINS (Agama dan Ilmu pengetahuan dalam Perspektif Islam) Oleh: Aini Mahmudah A. PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi saat ini sedemikian pesat dan amat mengagumkan, sehingga orang yang tidak memiliki keimanan ada yang memprediksikan bahwa pada saatnya nanti manusia sama sekali tidak memerlukan agama, tak ada lagi tanggungjawab yang muncul sebagai konsekuensi dari keimanan. Apalagi di zaman modern ini dimana dengan pengetahuannya manusia mampu menundukkan alam dan mengambil keuntungan yang sebanyak-banyaknya dari alam tersebut. Bahkan ada yang mengatakan pada saatnya nanti manusia mampu membuat dirinya sendiri. Banyak alasan yang mereka kemukakan untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya manusia cukup hidup dengan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan mereka beranggapan bahwa manusia akan sanggup mengatur sendiri kehidupannya dan menata urusannya, tanpa intervensi iman dan risalah Tuhan. Persepsi semacam ini sempat berpengaruh luas di dunia Barat, bahkan sempat pula sampai kepada kita sebagai umat islam yang beriman. Secara logika, sesungguhnya anggapan-anggapan semacam ini tidak memiliki landasan yang kuat, dan meleset dari kenyataan yang ada dan sangat bertentangan dengan keyakinan umat Islam yang beranggapan bahwa ada keterkaitan yang erat antara iman dan ilmu pengetahuan. Menurut Islam, inti agama adalah penerimaan doktrin dan pengamalan nyata tauhid dalam semua domain kehidupan dan pemikiran manusia. Ini berarti bahwa penciptaan sains oleh seorang Muslim mestilah berkaitan secara signifikan dengan doktrin tauhid.

2

Melalui pembuktian adanya kesaling-berkaitan seluruh bagian dari alam semesta yang diketahui. Iblis tidak mau tunduk kepada adam karena ia berasal dari api yang dinamis sementara Adam berasal dari tanah yang pasif. Penciptaan manusia yang berilmu pengetahuan telah menimbulkan keguncangan dalam alam ”kosmik” malaikat (QS.Dalam mempraktekkan dan mengamalkannya. kaum Muslim menghubungkan sains dengan tauhid dengan cara memberikan ekspresi atau ungkapan bermakna dalam teori maupun praktek kepada dua konsekuensi paling fundamental dari tauhid. kalau dibiarkan liar dia akan merusak dan menghancurkan. mereka semakin bertambah yakin kepada kebenaran tujuan sains tersebut. Para saintis-filosof muslim menjadikan dua konsekuensi tersebut sebagai fondasi maupun tujuan sains. Iblis telah lupa bahwa kepasifan Adam berbeda dengan kemampuan lahiriyahnya dengan adanya ilmu yang terintegrasi pada dirinya. Akan tetapi keberadaan iblis juga dipahami sebagai sebuah potensi. khususnya kesatuan dunia alam dan prinsip kesatuan pengetahuan dan sains. PEMBAHASAN 1. Ketika mereka berhasil membuka cakrawala sains dengan menciptakan pengetahuan baru. yakni prinsip kesatuan kosmis. 2008: 30). dijauhi dan dimusuhi saja. sehingga semuanya tunduk kecuali Iblis. Sebagaimana sifat api. B. merekapun semakin yakin bahwa kesatuan kosmis membuktikan dengan jelas keesaan Allah (Bakar. Adam sebagai simbolisasi manusia memiliki kelebihan dibanding makhluk yang lain yaitu berilmu. Tugas manusia adalah menundukkan dan mengendalikan Iblis. dan tugas manusia adalah mengelola potensi tersebut. Keberadaan Iblis sebagai ”pelaku kejahatan” dan musuh manusia hendaknya tidak hanya sekedar dipahami sebagai sesuatu yang harus diwaspadai. Sedangkan jika dikelola dan 3 . Ilmu pengetahuan sebagai fenomena kemanusiaan Ilmu pengetahuan merupakan ciri yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain.al-Baqarah 3034).

Pertanyaan-pertanyaan tentang makna hidup.dikendalikan dengan baik ia akan berguna dan bermanfaat. Ketiga. manusia merupakan makhluk yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah dilakukan dan dicapainya. manusia tidak siap hidup di ”alam pertama” yang berarti alam asli yakni alam yang belum terolah dan belum tersentuh teknologi.(Zubair. untuk menyingkapkan tabir yang menutup realitas. sebab tidak ada teknologi tanpa melibatkan potensi api. Ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia yang tersruktur dan tersistematis yang menggunakan seluruh potensi kemanusiaan dengan metode tertentu dan obyek tertentu. Manusia merupakan satu-satunya makhluk yang memiliki 4 . data dan gejala merupakan sumber yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Kedua. Perkembangan ilmu merupakan salah satu ciri akal manusia dalam kebudayaannya. Hasrat untuk mencari mata rantai serta benang merah kesatuan dalam keaneka ragaman fakta. Api bisa bermakna batiniah yaitu hawa nafsu dalam jiwa manusia atau api dalam arti lahiriah. Ilmu yang pada mulanya timbul dari usaha manusia dalam kebudayaannya untuk memahami alam yang kemudian diterapkan untuk memenuhi keingintahuan manusia. 2002:2) Ilmu selain menjadi pertanda kehadiran manusia juga menjadi keharusan bagi manusia dalam mengarungi kehidupannya. manusia merupakan makhluk yang memiliki kebutuhan akan jawaban atas pertanyaaan tentang ”makna” sebagai sesuatu yang bersifat immateri dan batiniah. Supaya martabatnya sebagai makhluk yang mulia tetap terjaga dan dapat menjalankan perannya sebagai khalifah Allah di bumi secara optimal ada tiga alasan mengapa manusia harus berilmu yaitu: Pertama. tujuan hidup. Menurut Sa’id Hawwa (2005:78) Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan fenomena yang paling menakjubkan diantara fenomena-fenomena yang ada. dan kehidupan sesudah mati merupakan contoh bahwa manusia butuh jawaban yang tepat agar hidupnya tidak kehilangan orientasi (Zubair. 2002:2).

menafsirkan. karena kebenaran Allah adalah muthlak. Ilmu dalam prespektif Islam berdasarkan intelek (hati nurani/akal subyektif) yang mengarahkan rasio (akal obyektif) kepada pembentukan ilmu yang berdasarkan pada kesadaran dan keimanan kepada Allah. Bahkan dengan ilmunya ia dapat menggambarkan sebuah jalan bagi kehidupan. Oleh sebab itu ilmu memiliki arti yang penting bagi seorang muslim. Oleh sebab itu kebenarannyapun harus diuji terus-menerus. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu berarti pengetahuan tentang suatu bidang tertentu yang disusun secara sistematis dan menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang pengetahuan itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kebenaran ilmu-ilmu sosial adalah relatif.kecenderungan terhadap pengetahuan dengan tabiatnya yang selalu haus mencari tahu segala sesuatu. Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam Sebelum membahas ilmu pengetahuan dalam perspektif Islam ada baiknya penulis membahas mengenai definisi ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge). Manusia mampu berpikir sekalipun sesuatu yang tadinya belum diketahuinya. pengetahuan bukanlah tindakan ataupun pemikiran yang abstrak tapi merupakan bagian yang mendasari kemajuan dan pandangan hidupnya. 2. membangun peradaban atau menghancurkannya. Sementara ilmu kealaman 5 . karena pada diri manusia berlaku sunnatullah yang sering dilanggar oleh manusia itu sendiri. 2005: 423). Sejak dulu banyak pemikir Muslim berusaha mengungkapkan konsep ilmu. Adapun pengetahuan (knowledge) adalah Bagi seorang muslim. membandingkan. Dan usaha yang paling nyata tampak dalam upaya mereka mendefinikan ilmu yang tiada habisnya-habisnya dengan kepercayaan bahwa ilmu merupakan perwujudan dalam ”memahami tanda-tanda kekuasaan Tuhan”. Ia menganalisis. menyusun. menerima atau menolak dan berimajinasi.

pengetahuan intuitif/imajinatif dan pengetahuan wahyu (Zainuddin. 2006: 76). seni dan agama adalah bagian dari pengetahuan (ilmu dibedakan dari pengetahuan). oleh karena itu ilmu-ilmu alam mengalami kemajuan lebih pesat daripada ilmu sosial (Saefuddin. Karena ilmu. yaitu pengakuan adanya kebenaran dari Tuhan. kemajuan ilmu pengetahuan karena dianggap tidak mendukung pertumbuhan ilmu dan cara 6 . akhirat surga dan neraka) merupakan kebenaran agama yang tidak perlu bukti secara empiris. Perjuangan tersebut akhirnya berhasil yang ditandai dengan bangkitnya dunia keilmuan di Barat yang dikenal dengan renaissace (abad 15) dan aufklarung (abad 18). Malaikat. Dengan demikian Islam tidak hanya berkubang pada rasionalisme dan empirisme saja tetapi juga mengakui intuisi dan wahyu.sepenuhnya mematuhi sunnatullah tersebut. duniawi dan tidak bersifat keagamaan. Konsep ini terkait erat dengan latar belakang sejarah keilmuan di Barat yang diawali dengan adanya pengadilan inquisi yang dilakukan oleh gereja tehadap para ilmuwan yang pendapatnya bertentangan dengan gereja. Sejak saat itulah menurut penulis para ilmuwan Barat tidak lagi percaya kepada agama yang dianggap membelenggu berpikir ilmiah. Dalam konsep Islam ilmu disamping memiliki paradigma deduktif –induktif juga mengakui paradigma transedental. Di sinilah bedanya konsep epistimologi barat yang antroposentris sekuler dengan konsep Islam yang teosentris (Zainuddin. Untuk melawan gereja para ilmuwan kemudian berjuang menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya (das sein). Menurut mereka. 1991: 36). sains dan berbagai cabangnya harus bersifat sekuler. pengetahuan rasio. Jika dalam Islam ilmu selalu terkait erat dengan ajaran agama. Oleh karena itu ilmu dalam perspektif Islam tidak hanya berseumber dari pengetahuan inderawi saja tapi juga pengetahuan naluri. kiamat. Pengakuan adanya hal-hal yang metafisik (adanya Allah. dalam konsep Barat ilmu berdiri sendiri terpisah dari seni dan agama. tetapi persoalan-persoalan metafisik tersebut benar adanya (realistis). 2006: 61).

yaitu menjauhkan diri dari belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" 2. Yusuf 76 dan QS. fanatisme dan seterusnya. Sebagaiman firman Allah QS. Dalam hal ini al-Qur’an banyak menyebut peran hawa nafsu dalam menyesatkan manusia. Kemanfaatan. karena bagaimanapun kemampuan intelektual manusia terbatas. Pengertian ilmu dalam Islam lebih luas cakupannya yaitu semua ilmu yang berguna baik pengetahuan empiris maupun non empiris. Obyektif. sikap arogansi intelektual. subyektifitas.Konsep ilmu dalam perspektif Islam memang berbeda dengan pemahaman Barat. yang kamu Kerendahan hati. ”Perumpamaan ilmu yang tidak bermanfaat adalah ibarat harta yang tidak diinfakkan untuk kepentingan di jalan Allah” (H. wujud material maupun wujud spiritual (ruhani). artinya ilmu tidak diarahkan kepada kemauan hawa nafsu. Ahmad dan Darimi) 7 . Islam menekankan adanya ilmu yang bermanfaat baik bagi indifidu maupun bagi masyarakat umum. yaitu ilmu yang berguna baik dari aspek empiris maupun non empiris dalam aspek aqidah dan akhlak. Al-Kahfi 68           ”Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu.R. Diantaranya QS. Al-Isra 85        ”Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui”             ”Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" 3. Ilmu dalam prespektif Islam memiliki empat karakteristik yaitu: 1. Menurut zaitun sebagaimana dikutip oleh Zainuddin (2006: 90). Sebagaimana sabda Nabi saw.

aspek metafisika yang dibawa oleh wahyu yang mengungkapkan apa yang disebut realitas agung (haqaiq al-kubra) yang menjawab pertanyaan abadi: dari mana. ekonomi dan sebagainya. ende d activity) Keajekan. 4) dapat menyelesaikan persoalan ummat. Kedua. Al-Qardhawy yang juga dikutip oleh Zainuddin (2006: 53) menyatakan bahwa ilmu dalam Islam sangat luas cakupannya dan tidak terbatas pada ilmu menurut pandangan barat modern yang eksperimental saja tetapi ia meliputi: Pertama. dimana saja dan kapan saja tanpa mengenal batas waktu (open Senada dengan apa yang dituturkan oleh Zaitun. 3) dapat memberikan pedoman bagi sesama. politik. Ukuran kemanfaatannya terletak pada sejauhmana ilmu tersebut dapat mendekatkan dirinya kepada kebenaran Allah dan tidak merusak kehidupan manusia itu sendiri. Secara terperinci ilmu pengetahuan yang bermanfaat adalah apabila: 1) mendekatkan kepada kebenaran Allah. Kebenaran ilmu pengetahuan menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya. Asghar Ali (1993: 35) menjelaskan bahwa ilmu dan hikmah sebagai kata kunci yang disebut dalam alQur’an. Dengan menjawab pertanyaan tersebut manusia tahu landasan berpijaknya dan mengerti akan Tuhannya. ilmu dan hikmah tersebut harus dipahami secara tepat untuk menjembatani Islam dengan dunia modern dengan menekankan 8 . sosiologi. psikologi. atau ilmu yang dibangun berdasarkan observasi dan eksperimen. yaitu dengan uji coba laboratorium. Oleh sebab itu menurutnya. aspek material yang bertebaran di jagat raya. artinya ilmu itu harus dicari secara terus menerus.4. Ketiga. kemana dan bagaimana. Di dalam konsep Islam manusia dituntut untuk mencari ilmu yang bermanfaat. aspek humaniora dan studi-studi yang berkaitan dengannya yang meliputi pembahasan mengenai manusia dan hubungannya dengan dimensi ruang dan waktu. Dan ilmu inilah yang berkembang di Barat. Berkaitan dengan kedudukan dan fungsi ilmu. 2) dapat membantu manusia merealisasikan tujuan-tujuannya.

iman sangat essensial. iman pada kemungkinan-kemungkinan perbaikan adalah iman terhadap masa depan yang menjadi inspirasi umat manusia. Dalam hierarki pengetahuan ini. Ilmu dalam terminologi al-Qur’an berarti pengetahuan agama. asal ia dipahami dengan tepat. kemudian ditata melalui fikir dan dari keduanya melahirkan ilmu. Ghayb menurut Asghar. Terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang berdasarkan kepada iman. sementara hikmah mengacu pada penerapan ilmu pengetahuan demi kebaikan manusia bukan demi kemandegan. bukan tujuan akhir yang diinginkan. menyatakan potensi-potensi dari kemungkinan-kemungkinan untuk perbaikan manusia yang tersembunyi dari pandangan manusia. Iman bahwa Allah melalui wakil-Nya (manusia khalifah fi al-ardh) merupakan pencipta kemungkinan-kemungkinan tersebut (Asghar. aql menempati tingkat yang paling rendah sedangkan hikmah menempati peringkat yang paling tinggi. Jadi. Dan ilmu lewat penghayatan yang mendalam dan konsepsi intuitif melahirkan hikmah. kemunduran apalagi kerusakan. Ilmu dan hikmah harus bersama-sama mewujudkan tujuan rububiyah (Ali. Konsep al-Qur’an mengenai iman bil ghayb adalah sangat mengagumkan. Dalam sistem Islam. Hikmah menuntut agar tehnologi nuklir digunakan untuk kemajuan umat manusia bukan untuk merusak. Iman bil Ghayb merupakan iman terhadap kemungkinan-kemungkinan masa depan yang tidak terkira banyaknya.kepada penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan sebagai jalan menuju kemajuan. Dengan demikian lantas muncul hubungan yang linier yaitu: aql-fikr-’ilm-hikmah. pengetahuan ilmiah dan pengetahuan yang lainnya. Alasannya jelas: aql hanya merupakan instrumen untuk memperoleh pengetahuan. 1993: 42). dan hanya Allah yang mencipta kemungkinan-kemungkinan tersebut yang ’Alim al Ghayb (maha mengetahui segala yang ghaib). Menurut Asghar hasil penyerapan indera diproses oleh akal. karena ilmu tanpa iman bukan saja tidak produktif tetapi juga dapat menghancurkan dan membahayakan. 1993: 37) 9 .

biasanya disebabkan apa yang sebenarnya bukan ilmu dianggap sebagai ilmu dan apa yang bukan agama dianggap sebagai agama (Pasya. mampu menangkap kemahakuasaan Allah melalui penelitian ilmiah dan perenungan akan fenomenafenomena alam yang dilihat dan didengarnya.Hubungan ilmu dan agama adalah hubungan simbiotik. Dengan aktifitas berfikir yang menghasilkan pengetahuan yang dipadu dengan dzikir yaitu mengingat kemahakuasaan Allah atas penciptaan alam semesta maka akan dapat memperkokoh keyakinan atas ketauhidan dan kemahakuasaan Allah (QS. Al-Mujadalah 11). Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual tetapi bagi semua jenis pengetahuan. Ali Imron 191) Islam menghendaki akidah yang dilandasi ilmu pengetahuan yang benar bukan atas dasar taqlid dan perkiraan. Dengan demikian keyakinannya akan semakin kuat dan keimanannya makin bertambah sampai pada batas ketika akal dan jiwanya merasakan ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Akidah Islam tidak takut ilmu itu akan mendatangkan hasil yang bertentangan dengan fakta dan dasar-dasar agama yang baku karena kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran yang lain. 3. Agama menjadi pembimbing dan pengendali ilmu agar terarah sedangkan ilmu menjadi salah satu jalan menuju keimanan. karena agama menyeru kepada pencarian ilmu dan memberikan posisi mulia bagi para ilmuwan (QS. Gagasan Al-Qur’an sebagai Sumber Sains dan Pengetahuan 10 . Akidah tauhid dalam ajaran Islam menjamin kemanusiaan manusia dan melepaskan belenggu pada daya kreasi dan pemahamannya agar manusia layak memikul amanat sebagai khalifah Allah di muka bumi. 2004: 6). Spiritual Al-Qur’an merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam. Jika terjadi kontradiksi secara lahir antara kebenaran ilmu dan kebenaran agama. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual.

Menurut pandangan al-Qur’an pengetahuan manusia tentang benda-benda maupun hal-hal ruhaniah menjadi mungkin karena Allah memberinya kemampuan yang dibutuhkan untuk mengetahui. At-Thariq 5 dan QS. Tetapi ia memberikan pengetahuan tentang prinsip-prinsip sains. Al-Qur’an bukanlah kitab sains. 2008: 149) Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan melalui berbagai cara dan jalan. Ayat-ayat yang menggambarkan elemen-elemen pokok obyek atau menyuruh manusia untuk menyingkapkannya. yang selalu dikaitkan dengan pengetahuan metafisik dan spiritual. Perintah itu telah dipahami dengan pengertian bahwa pencarian pengetahuan ilmiah harus didasarkan pada pondasi pengetahuan tentang realitas Tuhan. Panggilan al-Qur’an untuk ”membaca dengan nama Tuhanmu” telah ditaati secara setia oleh setiap generasi Muslim. Banyak filosof dan ilmuwan yang meyakini bahwa dalam berfikir dan mengetahui akal manusia mendapat pencerahan dari akal ilahi. Yang belakangan ini pada gilirannya diturunkan dari prinsip keesaan Tuhan yang diterapkan pada wilayah pengetahuan manusia (Bakar.(Syihab.      Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? 11 .keterpaduan ini merupakan konsekuensi dari gagasan keterpaduan semua jenis pengetahuan. : 64) Dr Mahdi Ghulsyani yang dinukil oleh Zubair (2002: 120-123) membagi ayat-ayat dalam al-Qur’an yang berisi agar manusia dengan pengetahuannya memikirkan alam semesta sebagai jalan untuk mengenal Allah menjadi 8 bagian yaitu: 1. Al-Insan 2. Misalnya: QS. Tetapi semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari Tuhan yang Maha Mengetahui.

Lukman 10. QS. Misalnya QS. Al-Waqi’ah 75Ayat-ayat yang menyuruh manusia mempelajari gejala-gejala alam. Al-Ankabut 20 keberadaan manusia dengan alam semesta. 4. Ayat-ayat yang menyuruh manusia menyingkap Ayat-ayat yang menjelaskan keharmonisan bagaimana alam semesta ini berwujud. dan QS. 76.2. Ayat-ayat yang dengan merujuk beberapa gejala alam menjelaskan kemungkinan terjadinya hari kebangkitan. Al-Anbiya 16. Yaasin 81 dan QS. QS. QS. Al-Hijr 19. Al-Furqan 2. 8.QS. Baqarah 164. dan QS. Misalnya: QS. QS.Misalnya QS. Al- 12 . An-Nahl 5 dan QS. Ayat-ayat yang menunjukkkan bahwa Allah bersumpah atas berbagai obyek alam. Az_zumar 5 dan QS. 7. QS. Ath-Thariq 1-3. Al-Mu’minuun 12-14. QS. QS. QS. Al-Hadid 25. Al-Anbiya 30. Ar-Rum 19. QS. QS. 5.al-Baqarah 29. Huud 7. An-Naml 88. Misalnya: QS. Az-Zumar 21. 6. Ar-Rum 48 dan QS. Al-Ghasyiyah 17-20 3. Al-Hajj 5. Ayat-ayat yang mencakup masalah cara penciptaan obyek-obyek material dan menyuruh manusia menyingkap asalusulnya. Misalnya: QS. Ayat-ayat yang menekankan kelangsungan dan keteraturan penciptaan Allah Al-Mulk 3-4. Ayat-ayat diatas semuanya menggambarkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam raya ini telah dimudahkan untuk dimanfaatkan manusia. Dengan demikian tanpa ragu dapat dikatakan bahwa al-qur’an membenarkan bahkan mewajibkan usaha-usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi selama ia membawa manfaat bagi manusia. As-Syams 1-6. Dan manusia diperintah untuk memikirkannya dengan tujuan melalui tafakkur manusia dapat menghasilkan sains dan tehnologi yang berguna dan bermanfaat bagi manusia. Misalnya: QS.

Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa kesatuan kosmis merupakan bukti yang jelas akan keesaan Tuhan. Bagaimana ajaran tauhid memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan dan kemajuan sains. Hal fundamental yang kemudian menarik ditelaah sebagai konsekuensi logis dari ajaran tauhid ialah perkembangan sains. Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah harus menerima realitas obyektif kesatuan alam semesta. materi atau wujud apa pun dalam realitas hidup manusia. Bahwa dengan 13 . Memiliki kesadaran akan keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah satu dalam Esensi-Nya. Tauhid merupakan formulasi kepercayaan atau keyakinan tentang Tuhan yang tunggal pada berbagai aspek dan dimensinya. uniqueness dan transcendence. sifat-Nya dan perbuatan-Nya. sesuatu yang benar-benar doktrinal dalam ajaran Islam ialah Tuhan dalam kategori oneness. Dengan berpijak pada perspektif tauhid. Maka.4. misalnya. karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan keesaan Tuhan itu. “tauhid” berarti keesaan Tuhan. Tauhid sebagai Sumber dan Semangat Ilmiah Dalam pengertiannya yang sederhana. semuanya kembali pada hakikat tauhid itu sendiri. Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius. timbul pengakuan bahwa Allah Maha Pencipta segalanya (Anwari. 1999: 83). dinamika perkembangan Islam selama kurun waktu tersebut benar-benar diwarnai oleh besarnya perhatian terhadap sains. Tauhid memiliki kesamaan makna dengan monoteisme (Rahman. Dengan demikian. 2009) Osman Bakar (2008: 68) menyatakan bahwa kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. sebagaimana pernah terjadi dalam sejarah Islam selama kurun waktu abad ke-7 hingga abad ke-13. Allah Maha Besar (Allahu Akbar). Tuhan merupakan eksistensi yang berbeda dengan segala bentuk eksistensi yang dapat dikenal atau dapat diimajinasikan manusia. Nama-Nya. Dengan tauhid. merupakan konsepsi tentang Tuhan yang indefinite atau yang tak terbatas kebesarannya serta tak dapat ditandingi oleh kedahsyatan benda.

semua bentuk dan jenis kekuasaan apa pun di muka bumi haruslah dinegasikan. Al Qur’an kemudian berperan sebagai sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam (Baiquni. 1991: 74). Pengetahuan tentang hubungan antara Tuhan dan dunia. Sains dalam formulasi tauhid. pengetahuan manusia tentang benda-benda maupun hal-hal ruhaniah menjadi mungkin karena 14 . Hanya Allah. 1991: 74). Al Qur’an berfungsi sebagai basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual. Gagasan keterpaduan ini bahkan merupakan konsekuensi dari gagasan keterpaduan semua jenis pengetahuan (Bakar. merupakan basis paling fundamental dari kesatuan antara sains dan pengetahuan spiritual (Bakar. Menurut pandangan Al Qur’an. Tuhan yang memiliki kekuasaan mutlak. Al Qur’an sebagai kalam Allah merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual (Purwanto. Kalimah La ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah) memang merupakan pernyataan tauhid yang singkat. Tetapi semua pengetahuan pada akhirnya berasal dari Tuhan yang Maha mengetahui. Berilmu pengetahuan menurut Islam sama maknanya dengan: (1) Menyatakan ketertundukan pada tauhid. terbentuk pandangan dunia (Weltanschauung) manusia yang menempatkan segenap hal ihwal di luar Tuhan Yang Maha Esa sebagai sesuatu yang serba nisbi dan tak abadi. namun maknanya mendalam dan memiliki dampak sosial-politik yang sangat dinamis dan progresif (Siroj. Bahwa Tuhan adalah pengetahuan tentang alam semesta sebagai salah satu efek tindak kreatif Ilahi (Bakar. Melalui kalimah tauhid ini. tetapi bagi semua jenis pengetahuan. Itulah mengapa. 1995: 9-62).1991:74). antara Pencipta dan ciptaan.tauhid. 2006: 59). atau antara prinsip Ilahi dengan manifestasi kosmik. dan (2) elaborasi pemahaman secara saintifik terhadap dimensi-dimensi kosmik alam semesta. selain-Nya bersifat nisbi (Siroj. termaktub ke dalam narasi kalimat sebagai berikut: “Manusia memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan melalui berbagai cara dan jalan. 2006: 59-60). Tauhid sebagai landasan pijak pengembangan sains dapat dilacak geneologinya pada terbentuknya konsepsi tentang Tuhan dalam pengertian yang spesifik. 2008: 188-194).

mengetuk serta masuk ke dalam wilayah Ketuhanan yang di dalamnya terdapat khazanah keilmuan yang tiada batas. filsafat dan berbagai hal yang terkait dengan semua itu sesunguhnya berada di wilayah Ketuhanan. Siapa pun manusia. Tetapi manakala tidak mendapatkan restu dari Tuhan. Berkenaan dengan ilmu pengetahuan yang berada di wilayah Ketuhanan. bahwa ilmu pengetahuan. Istilah ini digunakan untuk mengingatkan bahaya desakralisasi yang sedemikian jauh menghantam dan memporak-porandakan ilmu pengetahuan. Upaya seksama memelihara tauhid. Maka. Manusia takkan mampu menguasai semua itu jika dan bilamana tak ada kehendak untuk masuk ke dalam wilayah Ketuhanan. sains tetap bersemayam di dalam wilayah Ketuhanan. dengan sendirinya merupakan kehendak untuk menjaga agar manusia terus-menerus berilmu pengetahuan. Sains lalu dimengerti sebagai hasil dari setiap upaya manusia yang tak ada hubungannya dengan Tuhan. Persis sebagaimana termaktub dalam ajaran tauhid. yaitu sejak sekitar permulaan abad ke-17. hanya Tuhan yang merupakan sumber lahirnya ilmu pengetahuan.Tuhan telah memberinya fakultas-fakultas yang dibutuhkan untuk mengetahui. 1991:74) Sains dalam formulasi tauhid yang sedemikian rupa itu menegaskan satu hal. maka upaya memahami ilmu pengetahuan dan sains bakal melalui jalan berliku yang rumit. Banyak filosof dan ilmuwan Muslim berkeyakinan bahwa dalam tindakan berpikir dan mengetahui. Padahal. memang memiliki kebebasan untuk mempelajari disiplin ilmu pengetahuan apa pun serta mengembangkan sains apa pun. akal manusia mendapatkan pencerahan dari akal Ilahi” (Bakar. Desakralisasi dapat disimak ke dalam perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan. Dan hanya dengan tauhid manusia mampu menyentuh. Desakralisasi ilmu pengetahuan merupakan gejala ketika sains ditahbiskan tidak lagi berasal dari Tuhan. sampai kapanpun. hanyalah persoalan waktu jika kemudian sains berubah fungsi untuk sekadar menjadi 15 . Nasr (1997) menggunakan istilah yang tepat: scientia sacra.

Sebagai penutup dalam pembahasan ini. 1997: 357). Semangat ilmiah tidak bertentangan dengan kesadaran religius. Konsekuensi penting dari pengukuhan kebenaran sentral ini adalah harus menerima realitas obyektif kesatuan alam semesta. Ketika dengan ilmu pengetahuan manusia kehilangan dimensi Ketuhanan. yang mengingatkan lenyapnya pengertian tentang kesucian pada suatu tingkat di mana manusia mendasarkan eksistensinya pada ilmu pengetahuan (Nasr. C. Sebab. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa kesatuan kosmis merupakan bukti yang jelas akan keesaan Tuhan. maka dengan sendirinya sangatlah mudah bagi manusia untuk menjadikan sains sebagai alat pemukul demi mengalahkan orang lain dalam pergumulan memperebutkan materi dan kekuasaan politik.1997:357). KESIMPULAN 16 . Tauhid sebagai sumber kelahiran sains lalu memiliki makna yang dalam untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran akibat kemajuan sains itu sendiri. Sains lalu menjadi bagian tak terpisahkan dari teknikalitas manusia untuk menipu manusia lain. Scientia sacra membawa manusia pada kebebasan dari semua kunkungan (Nasr.instrumen perluasan antropologisme manusia. Tentang hal tersebut Nasr menulis: “Kini manusia modern telah kehilangan sense of wonder. Osman Bakar (2008: 68) menyatakan bahwa kesadaran beragama orang Islam pada dasarnya adalah kesadaran akan keesaan Tuhan. Yang Suci itu tidak lain adalah Tak Terbatas dan Abadi. semua kungkungan dihasilkan dari kelalaian yang mewarnai realitas akhir dan tak dapat direduksi menjadi keadaan kosong sama sekali dari kebenaran (Nasr. Nama-Nya. 1997: 3).1997:2). sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Memiliki kesadaran akan keesaan Tuhan berarti meneguhkan kebenaran bahwa Tuhan adalah satu dalam Esensi-Nya. Jalan manusia untuk menggapai ilmu pengetahuan dimulai dari adanya pengakuan adanya yang absolut (Nasr. karena ia merupakan bagian yang terpadu dengan keesaan Tuhan itu. Sementara.

Agar 17 . PENUTUP Dengan berbagai paparan diatas jelaslah bagi kita bahwa tugas intelektual kita semua adalah mengembangkan ilmu pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia kepada pemahaman bahwa ilmu pengetahuan hanyalah salah satu upaya manusia menemukan kebenaran hakiki dan mendekatkan diri kepada Allah.1. Kesadaran religius terhadap tauhid merupakan sumber dari semangat ilmiah dalam seluruh wilayah pengetahuan. 2. Ilmu Pengetahuan merupakan fenomena kemanusiaan sebagai anugerah Allah yang melekat pada dirinya semenjak dia diciptakan. Al-Qur’an merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas Islam. Dalam konsep Islam ilmu menjadi jalan menuju keimanan. 3. Ia merupakan basis bukan hanya bagi agama dan pengetahuan spiritual tetapi bagi semua jenis pengetahuan. 4. pembebas dari kebodohan dan untuk memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. iman dan amal harus dilaksanakan secara simultan dan menjadi kepribadian Muslim. Dan berlandaskan pada keyakinan yang kuat akan ketauhidan Allah menjadi pemacu semangat untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu. D. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan Muslim tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual 5. Dalam perspektif Islam ilmu memiliki kedudukan sebagai bagian dari agama dan berfungsi sebagai petunjuk kepada kebenaran. Berkat ilmunya manusia menduduki derajat yang lebih tinggi dibanding makhluk lainnya dan dengan ilmunya pula manusia dapat menjalankan perannya sebagai khalifah Allah di Bumi. Ilmu yang membuahkan keimanan selanjutnya melahirkan sifat khusyu’ dan tawadhu’ kepada Allah. Oleh sebab itu ilmu.

Umi Rohil Jepara. saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Oleh karena itu. penulis yakin bahwa makalah ini masih penuh dengan kekurangan. Demikianlah uraian penulis mengenai Tauhid dan Sains. Dan semoga karya kecil ini dapat bermanfaat. 18 Mei 2010 18 . Dengan penuh kerendahan hati sebagai akibat dari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Amiin.kita semua menjadi hamba Allah yang mengabdi kepadanya dengan beramal ilmiyah dan berilmu amaliyah.

al. Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Al Qur’an yang Terlupakan. Yokyakarta: LKIS Anwari. 1993. Jakarta: Gema Insani Press Nasr. Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan. Pengetahuan dan Kesucian. 2005. Islam dan Pembebasan. 2008. Bandung: Mizan 19 . dari judul asli Knowledge and the Cecred. Terjamahan Suharsono et. Nurcholish. 1995. http://warungpojokfilsafat. Sa’id. Bandung: Pustaka Hidayah. Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang IPTEK. Terjamahan Yuliani Liputo dari judul asli Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamiv Science ----------------. Dr Ahmad Fuad. Islam. Tauhid dan Kemajuan Sains. Majid. 1991. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: Gema Insani Pers Madjid. Hawwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala.blogspot. Ashghar Engineering. 2004. Tauhid dan Sains: Esensi-esensi tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam. 1997. Agus. Osman. Tauhid dan Sains: Perspektif Islam tentang agama dan Sains. dan Kemodernan. Abdul Hayyi al-Kattani. Abdul dkk.com Bakar. terj. Kemanusiaan. 2009. (1997). Jakarta: Pustaka Hidayah. Dimensi Sains Al-Qur’an Menggali Ilmu Pengetahuan dari Al-Qur’an. Cetakan ke-3. Seyyed Hossein. Pasya. terjemahan.DAFTAR PUSTAKA Ali. Purwanto. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina. 2008. Solo: Tiga Serangkai.

Said Aqil. Membumikan Alqur’an. Humanisme: Antara Islam dan Mahzab Barat. Major Themes of the Qur’an. ‘Ali. Ahmad Charris. 20 . Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi. Jakarta: Pustaka Hidayah. Jakarta: Lintas Pustaka Zubair.Rahman. Bandung: Mizan. (1999). 1992 . (2006). Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia. Syari’ati. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust. Siroj. (1992). Bandung: Mizan Zainuddin. 2002. Bukan Aspirasi. Fazlur. Yokyakarta: LESFI (Lembaga Studi Filsafat Islam) . Al-Islam wa Madaris Al-Gharb Syihab. Terjamahan Afif Muhammad dari judul asli Al-Insan. Quraish. Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful