No. 29 Vol.2 Thn.

XV April 2008

ISSN: 0854-8471

APLIKASI METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM MENENTUKAN KRITERIA PENILAIAN SUPPLIER
Eri Wirdianto1, Elpira Unbersa2 Laboratorium Perencanaan dan Optimasi Sistem Industri (POSI), Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, 2) Asisten Lab. POSI, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Andalas
1)

ABSTRAK Supplier merupakan mitra bisnis yang memegang peranan sangat penting dalam menjamin ketersediaan barang pasokan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Performansi supplier akan mempengaruhi performansi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menilai supplier secara cermat dan kontinu. Penilaian supplier seharusnya didasarkan pada kriteria yang dapat menambah nilai saat ini (current value) dan nilai pada masa yang akan datang (future value). Selama ini, PT. X melakukan penilaian terhadap supplier hanya terfokus pada kriteria yang bersifat current value dan model penilaian tersebut tidak diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi supplier. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kriteria yang dapat digunakan PT. X dalam menilai supplier, yang dapat menambah current dan future values serta menghitung bobot setiap kriteria tersebut sesuai dengan klasifikasi supplier. Perhitungan bobot kriteria menerapkan metode Analytical Hierarchy Process, sedangkan pengklasifikasian supplier didasarkan pada tingkat kepentingan barang yang dipasok dan tingkat kesulitan mendapatkan barang tersebut. Dari hasil penelitian diperoleh 6 kriteria penilaian supplier yang dapat digunakan PT. X , yaitu kondisi perusahaan, kelengkapan dokumen, harga, pengiriman, kualitas, dan pelayanan. Pada Critical Strategic Suppliers, kriteria kualitas memiliki bobot yang tertinggi yaitu sebesar 0,331. Sedangkan pada Leverage, Non Critical, dan Bottleneck Suppliers, kriteria yang memiliki bobot tertinggi berturut-turut adalah kualitas (0,310), harga (0,362), dan pengiriman (0,350). Kata Kunci: Supplier Assessment, Supply Chain Management, Current Value, Future Value, Analytical Hierarchy Process Penilaian supplier membutuhkan berbagai kriteria yang dapat menggambarkan performansi supplier secara keseluruhan. Kriteria tersebut terdiri dari kriteria yang dapat menambah value saat ini (current value) dan kriteria yang dapat menambah value pada masa yang akan datang (future value). Selama ini PT. X melakukan penilaian supplier hanya terfokus pada kriteria yang menambah current value dan penilaian tersebut belum diklasifikasikan sesuai dengan jenis supplier. Sehingga performansi supplier pada PT. X masih rendah, akibatnya efisiensi biaya yang diharapkan dari pembelian barang tidak diperoleh. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk mengembangkan kriteria yang digunakan PT. X dalam menilai supplier dengan menerapkan metode Analytical Hierarchy Process dan mengklasifikasikan model penilaian supplier yang didasarkan pada tingkat kepentingan barang dan tingkat kesulitan mendapatkan barang tersebut. 2. TINJAUAN PUSTAKA

1.

PENDAHULUAN

Menghadapi era pasar bebas, setiap perusahaan harus siap untuk bersaing secara global. Persaingan merupakan suatu tantangan bagi perusahaan untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi keinginan pelanggan, mengembangkan produk tepat waktu, mengeluarkan biaya yang rendah dalam bidang persediaan dan penyerahan produk, mengelola industri secara cermat dan fleksibel merupakan perusahaan yang memiliki daya saing tinggi dan dapat menguasai pasar [Watanabe, 2001, hlm 8]. Menyikapi hal tersebut, maka berkembanglah suatu konsep Supply Chain Management (SCM). Salah satu kunci sukses dalam SCM adalah ketepatan memilih mitra bisnis [Mulki dan Raihan, 2005, hlm 77]. Supplier merupakan salah satu mitra bisnis yang memegang peranan sangat penting dalam menjamin ketersediaan barang pasokan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Sebuah perusahaan yang sehat dan efisien tidak akan banyak berarti apabila suppliersuppliernya tidak mampu menghasilkan bahan baku yang berkualitas atau tidak mampu memenuhi pengiriman tepat waktu. Oleh karena itu perusahaan perlu menilai supplier secara cermat dan kontinu.

2.1. Supply Chain Management Supply chain adalah jaringan perusahaanperusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk

TeknikA

6

ISSN: 0854-8471 Tingkat kepentingan strategis item yang dibeli bagi perusahaan/supply chain. supplier yang memasok item yang tingkat kepentingannya tinggi bagi perusahaan namun item-item tersebut relatif mudah diperoleh karena mungkin spesifikasinya standar dan banyak supplier yang bisa memasok diklasifikasikan sebagai Leverage suppliers. Semakin tinggi tingkat kesulitannya. pemilihan kebijaksanaan. proses pemilihan ini melibatkan evaluasi awal. TeknikA 7 . Kegiatan memilih supplier bisa memakan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit apabila supplier yang dimaksud adalah supplier kunci. pabrik. Ada dua faktor yang digunakan dalam merancang hubungan dengan supplier [Pujawan. Banyak perusahaan yang melakukan kesahan fatal dalam memilih supplier. Pasar monopoli 3. toko atau ritel.4. serta perusahaanperusahaan pendukung seperti perusahaan jasa logistik. penyusunan prioritas. kunjungan lapangan dan sebagainya. Saaty dari Wharton School of Business pada tahun 1970. Penilaian Supplier Melakukan penilaian dan memilih supplier merupakan salah satu tugas manajemen pengadaan. 2. namun barang dan jasa tersebut tidak mudah diperoleh diklasifikasikan sebagai bottleneck suppliers. Hubungan yang proporsional yang dimaksud disini adalah hubungan yang secara tepat mencerminkan kepentingan strategis setiap supplier. Setiap perusahaan mempunyai kriteria yang berbeda dalam menilai supplier. metode ataupun pendekatan yang tepat yang dikenal dengan istilah Supply Chain Management (SCM). pemilihan supplier ini perlu ditangani sebaik mungkin sehingga kerugian yang ditimbulkan akibat kesalahan supplier dapat dihindari. AHP merupakan suatu metode yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan suatu masalah masalah kompleks seperti permasalahan: perencanaan. tergantung dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Substitusi dimungkinkan 3. Semakin strategis posisi suatu item dalam perusahaan. 2. Sebaliknya. Spesifikasi standar 4. Portfolio Hubungan Supplier Salah satu yang menjadi tugas penting bagian pengadaan adalah menciptakan hubungan yang proporsional dengan supplier. Supplier baru sulit masuk Tingkat Kesulitan Non Critical suppliers 1. 29 Vol.2. Tingkat kesulitan mengelola pembelian item. Item-item cukup standar 3. mengundang mereka untuk berpresentasi. hlm 5]. Metode AHP ini pertama kali dikemukan oleh Dr. Salah satu metode yang digunakan untuk memilih supplier adalah Analytical Hierarchy Process (AHP). XV April 2008 menciptakan dan mengantar suatu produk ke tangan pemakai akhir [Pujawan. peramalan kebutuhan. Analytical Hierarchy Process Pemilihan supllier merupakan aktivitas yang kompleks. Seringkali pemilihan supplier membutuhkan berbagai kriteria lain yang dianggap penting oleh perusahaan. Proses ini akan memakan waktu dan biaya yang cukup besar.2 Thn. Perusahaanperusahaan tersebut adalah supplier. Substitusi sulit Gambar-1 Commodity portfolio matrix [Pujawan. Ketidaktersediaannya bisa mengakibatkan masalah yang serius bagi kelangsungan perusahaan. Dengan menggunakan dua faktor tersebut.No. mengurangi waktu. Kelompok supplier yang memasok item-item yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi perusahaan dan nilai transaksinya juga relatif rendah. Ketersediaan cukup 2. Ketersediaan cukup 2. Untuk mengelola supply chain. meningkatkan segala hasil dari seluruh supply chain (bukan hanya satu perusahaan). penentuan kebutuhan. hlm 158] 2. makin perlu untuk menciptakan hubungan yang dekat dan berorientasi jangka panjang dengan supplier dari item tersebut. Hasil penilaian ini digunakan sebagai masukan bagi supplier untuk meningkatkan kinerja mereka. Perusahaan yang telah terpilih menjadi supplier harus selalu dipantau perfomansinya melalui penilaian yang berkala. Oleh karena itu. dibutuhkan suatu alat. Sebagian besar perusahaan menilai supplier hanya terfokus pada harga barang. Nilainya relatif rendah Rendah Rendah Tingkat Kepentingan Tinggi Leverage suppliers 1. Tinggi Bottleneck suppliers 1. 2005. Penting/strategis 2. hlm 157]: 1. Untuk supplier kunci yang berpotensi menjalin hubungan jangka panjang. critical strategic suppliers merupakan kelompok supplier yang memasok barang atau jasa yang sangat strategis bagi perusahaan.3. memusatkan kegiatan perencanaan dan distribusi. 2. Sulit mencari substitusi 2. Thomas L. kualitas barang dan ketepatan waktu pengiriman yang diberikan tanpa melihat pengaruh ke total biaya. penentuan alternatif. Tujuan utama dari SCM adalah: penyerahan atau pengiriman produk secara tepat waktu demi memuaskan konsumen. mengurangi biaya. alokasi sumber. Supply Chain Management menjadi satu solusi terbaik untuk memperbaiki tingkat produktivitas antara perusahaan-perusahaan yang berbeda. dihasilkan empat klasifikasi supplier seperti yang ditunjukkan oleh Gambar-1 Supplier yang tingkat kepentingannya rendah dan relatif mudah untuk ditangani diklasifikasikan sebagai non critical suppliers. Sebaliknya. oleh karena itu diperlukan suatu metode yang tepat untuk penyelesaiannya. distributor. Substitusi dimungkinkan 4. Nilainya relatif tinggi Critical strategic suppliers 1. 2005. semakin banyak diperlukan investasi dari manajemen. 2005.

an3 .. Membuat hirarki.. Bobot yang dicari dinyatakan dalam vektor W = (W1. yaitu: [Marimin. hlm 77] 1. Proses ini akan menghasilkan bobot atau kontribusi kriteria terhadap pencapaian tujuan. 2. Nilai a ditentukan oleh aturan: a. Tawar-menawar 9. maka aij = aji = 1... ... α ≠ 0.. Mendefinisikan permasalahan dan menentukan tujuan... TeknikA 8 .. 1980.. ... Hal yang khusus. pada keadaan sebenarnya akan terjadi ketidakkonsistenan dalam preferensi seseorang. sehingga input yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ini adalah intuisi manusia...... Prioritas ditentukan oleh kriteria yang mempunyai bobot paling tinggi.. Perbandingan dilakukan hingga diperoleh judgment seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah.. Perbandingan dilakukan berdasarkan “judgment” dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.. Jika aij = α.. dan pemecahan konflik [Saaty. c.. Penilaian dan Konsensus 10.( xn ) Dimana: GM x1 xn n = Geometric Mean = Penilaian orang ke-1 = Penilaian orang ke-n = Jumlah penilai 3. Jika Ai mempunyai tingkat kepentingan relatif yang sama dengan Aj. Nilai Wn menyatakan bobot relatif kriteria An terhadap keseluruhan set kriteria pada sub sistem tersebut.. . maka aji = 1/α. Masalah disusun dalam suatu hirarki yang diawali dengan tujuan umum. Penyusunan Hirarki 5. Kesatuan 2. Melakukan perbandingan berpasangan. Dimana nilai perbadingan Ai terhadap elemen Aj adalah aij. 4. ann ISSN: 0854-8471 Nilai perbadingan ini ditentukan oleh skala kuantitatif yang dikemukakan oleh Saaty. Pengukuran 6. Pengulangan Proses Langkah-langkah dan prosedur dalam menyelesaikan persoalan dengan menggunakan metode AHP adalah sebagai berikut: 1. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan AHP dalam memecahkan suatu persoalan yang kompleks. Tabel-1 Matrik perbadingan berpasangan C A1 A2 .. METODOLOGI PENELITIAN Tahapan dalam penelitian ini tergambar secara skematis pada Gambar-2. Matriks perbandingan dapat dilihat pada Tabel-1.. kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah. an1 A2 a12 a22 . XV April 2008 perencanaan performance. optimasi.. Namun intuisi ini harus datang dari orang-orang yang memahami dengan benar masalah yang ingin dipecahkan (orang yang expert).. dilanjutkan dengan subtujuan-subtujuan.. . Menentukan tingkat konsistensi.... b. untuk semua i. Bobot penilaian untuk penilaian berkelompok dinyatakan dengan menemukan rata-rata geometrik (Geometric Mean) dari penilaian yang diberikan oleh seluruh anggota kelompok. 3. hlm 5]. Wn). 29 Vol. Sintesis 8. An A1 a11 a21 . Saling Ketergantungan 4. an2 A3 a13 a23 . 5.…. dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.2 Thn... Pada dasarnya AHP dapat digunakan untuk mengolah data dari satu responden ahli. 2004. Suatu masalah dikatakan kompleks jika struktur permasalahan tersebut tidak jelas dan tidak tersedianya data dan informasi statistik yang akurat. Skala ini dimulai dari 1 hingga 9. An a1n a2n . aii = 1. Matriks ini menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masingmasing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya.. Kompleksitas 3.No. Namun demikian dalam aplikasinya penilaian kriteria alternatif dilakukan oleh beberapa ahli multidisipliner (kelompok). Menentukan prioritas... Nilai geometrik ini dirumuskan dengan: GM = n ( x1 )( x2 ).. W2... Penyusunan prioritas dilakukan untuk tiap elemen masalah pada tingkat hirarki... Konsistensi 7.....

2000. Verifikasi tahap I. PENGUMPULAN DATA ISSN: 0854-8471 DAN PENGOLAHAN 4. b. 2003. Kriteriakriteria tersebut menjadi dasar bagi Peneliti untuk mengembangkan kriteria-kriteria baru yang dinilai lebih baik. Queensland Government. X dan beberapa kriteria lain hasil studi literatur (Lihat Pujawan. 29 Vol. berarti kriteria tersebut agak penting c) Nilai 3. hasil verifikasi tahap II belum tentu dapat digunakan semuanya karena diskusi dilakukan secara terpisah dengan masing-masing pihak sehingga memungkinkan adanya perbedaan pendapat antara satu pihak dengan pihak yang lain. Tam dan Tummala. 2005. X . dihitung rata-ratanya dari beberapa Responden. X dan hasil studi literatur di atas. berarti kriteria tersebut tidak penting b) Nilai 2.No. Identifikasi ini didasarkan pada kriteria yang dimiliki oleh PT. Supriyanto dan Masruchah. c. dilakukan dengan mendiskusikan kriteria hasil verifikasi tahap I dengan pihak yang berkepentingan yang memahami dan berkaitan dengan proses pengadaan barang.1. Tujuan dilakukan diskusi ini adalah untuk menentukan kriteria mana yang bisa digunakan pada PT. berarti kriteria tersebut sangat penting Hasil penilaian tersebut. hlm 441. 2005. 2000. 2003. X . Chopra and Meindl. Mulki dan Raihan. TeknikA 9 . Sutarman dan Katon. langkah ini merupakan tahap awal penentuan kriteria untuk mengidentifikasikan seluruh kriteria yang mungkin digunakan pada PT. 4. Kriteria yang mempunyai nilai rata-rata <2. 2000.X Kriteria Penilaian Supplier Gambar-2 Skema metodologi penelitian Untuk menentukan kriteria yang sesuai dalam menilai supplier pada PT. Ketentuan yang digunakan dalam kuesioner ini mengacu pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Tam dan Tummala (2000). Verifikasi tahap II. maka penentuan kriteria ini harus dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Amelia dan Paung.3 merupakan kriteria yang tepat digunakan. hlm 80). X .2 Thn. hlm 147. Wibisono dan Aditya. Kuesioner tahap I. 2007. hlm 85. yaitu: a) Nilai 1. Mengumpulkan Kriteria-kriteria Penilaian Supplier Pengumpulan kriteria penilaian supplier diperoleh dari kriteria yang digunakan oleh PT. 2003. Oleh karena itu.2. hal 14. XV April 2008 4. rekapitulasi hasil diskusi ini perlu dinyatakan kembali ke masing-masing pihak untuk melakukan penilaian secara numerik dengan membuat kuesioner tahap I.3 merupakan kriteria yang tidak tepat digunakan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah: a. Menentukan PT. sedangkan kriteria yang mempunyai nilai rata-rata ≥2.

3. Mengklasifikasikan Supplier Klasifikasi supplier bertujuan untuk menentukan kriteria penilaian pada setiap kelompok supplier. dan dilanjutkan dengan sub kriteria. Tabel-2 Kriteria penilaian supplier yang dapat digunakan pada PT. Menentukan Bobot Kriteria Supplier Untuk menentukan kriteria yang paling mempengaruhi kinerja masing-masing kelompok supplier di atas. Supplier yang memasok barang pada bagian I disebut sebagai critical strategic suppliers. Bobot setiap kriteria ditentukan oleh hasil perbadingan berpasangan setiap kriteria yang diperoleh melalui kuesioner Tahap II.2 Thn. Nilai dari tingkat kepentingan dan tingkat kesulitan diplot dalam scatter diagram. 29 Vol. Supplier yang memasok barang pada bagian III disebut sebagai non critical suppliers. Setiap kriteria tersebut mempunyai beberapa sub kriteria. Kuesioner tersebut diolah menggunakan bantuan software Expert Choice. dapat dilihat dari bobot masingmasingnya. Harga barang yang tinggi menunjukkan bahwa barang tersebut sangat berpengaruh bagi perusahaan jika tidak dilakukan pengendalian yang tepat.0 1 0 No.4. Sedangkan tingginya jumlah pemakaian menunjukkan bahwa barang tersebut banyak dibutuhkan oleh perusahaan.4. dan penggabungan pendapat respoden. 2. diperoleh 4 kelompok supplier yaitu: 1. Hirarki ini terlihat pada Gambar-4. 4. Langkah pengolahan data ini dimulai dari menyusun hirarki. kriteria tersebut terdapat pada Tabel-2. melakukan perbandingan berpasangan. menentukan prioritas. 4. Menyusun Hirarki Susunan hirarki dimulai dengan goal/sasaran. Supplier yang memasok barang pada bagian IV disebut sebagai bottleneck suppliers. Supplier yang memasok barang dengan tingkat kesulitan dan tingkat kepentingan yang tinggi merupakan kelompok supplier yang sangat perlu dilakukan penilaian dan pengawasan yang baik. 4. air dan udara yang menghawatirkan Pengepakan barang dapat menjamin keselamatan petugas yang menanganinya Dapat membuktikan keaslian barang Pelayanan Memberikan jaminan/garansi terhadap barang Dapat memberikan bantuan dalam keadaan darurat Dapat menangani keluhan dari pembeli dengan baik ISSN: 0854-8471 Gambar-3 Klasifikasi supplier suku cadang Berdasarkan Gambar-3 di atas. X Singkatan KP KPI 1a KPI 1b KD KPI 2a KPI 2b KPI 2c HG KPI 3a KPI 3b KPI 3c PR KPI 4a KPI 4b KPI 4c KPI 4d KL KPI 5a KPI 5b KPI 5c KPI 5d KPI 5e PL KPI 6a KPI 6b KPI 6c Kriteria Kondisi Perusahaan Lokasi supplier berdekatan dengan PT. Supplier yang memasok barang pada bagian II disebut sebagai leverage suppliers. sesuai dengan yang telah dijanjikan Tidak pernah meminta perpanjangan waktu pengiriman Spesifikasi barang yang dikirim sesuai dengan order pembelian Jumlah barang yang dikirim sesuai dengan order pembelian Kualitas Kualitas barang yang dipasok baik Barang yang dipasok tidak menimbulkan ceceran atau tumpahan bagi masyarakat sekitarnya Barang yang dipasok tidak menimbulkan polusi tanah. lalu kriteria level pertama. X. X Mempunyai image yang baik dalam dunia industri Kelengkapan dokumen Mengajukan penawaran dengan keterangan tertulis Tersedianya dokumen petunjuk untuk pemasokan barang yang dikategorikan berbahaya Menyerahkan seluruh dokumen persyaratan menjadi supplier tepat waktu Harga Harga yang ditawarkan sesuai dengan anggaran pembelian Harga selalu tetap dalam masa validity Memberi diskon untuk pembelian barang dalam jumlah besar Pengiriman Barang dikirim tepat waktu. Tingkat kepentingan dilihat berdasarkan nilai barang yang diperoleh melalui hasil perkalian harga dengan jumlah pemakaian barang tersebut. 4. 3.1. XV April 2008 Sehingga diperoleh beberapa kriteria yang dapat digunakan pada PT. Tingkat kesulitan ditentukan oleh lead time pemasokan barang. hasil pengelompokan seluruh item suku cadang ditunjukkan oleh Gambar-3. Karena barang yang dipasok oleh setiap supplier mempunyai pengaruh yang berbeda bagi perusahaan dan mempunyai kesulitan yang berbeda pula bagi supplier untuk mendapatkannya. TeknikA 10 . Dimana sumbu y menunjukkan tingkat kesulitan sedangkan sumbu x menunjukkan tingkat kepentingan. Goal/sasaran dalam penelitian ini adalah menentukan kriteria penilaian supplier dengan 6 jumlah kriteria.

4. bobot diisi pada bagian kanan apabila kriteria tersebut mempunyai derajat kepentingan yang lebih tinggi dari kriteria sebelah kiri. Level pertama membandingkan antara satu kriteria dengan kriteria lainnya. Tabel-3 Tabulasi hasil pengisian kuesioner untuk critical strategic suppliers pada level I No. 4. Prioritas ditentukan oleh kriteria yang mempunyai bobot paling tinggi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kriteria Kondisi Perusahaan Kondisi Perusahaan Kondisi Perusahaan Kondisi Perusahaan Kondisi Perusahaan Kelengkapan Dokumen Kelengkapan Dokumen Kelengkapan Dokumen Kelengkapan Dokumen Harga Harga Harga Pengiriman Pengiriman Kualitas Derajat Kepentingan Derajat Kepentingan 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 X X X X X X X X X X X X X X X Kriteria Kelengkapan Dokumen Harga Pengiriman Kualitas Pelayanan Harga Pengiriman Kualitas Pelayanan Pengiriman Kualitas Pelayanan Kualitas Pelayanan Pelayanan Gambar-4 Struktur hirarki kriteria penilaian supplier 4. Setiap kriteria tersebut dibandingkan dengan kriteria lain.97. Menentukan Prioritas Penyusunan prioritas dilakukan untuk tiap elemen masalah pada tingkat hirarki. Angka ini digunakan jika merasa ragu dengan penilaian angka ganjil diantaranya. Berdasarkan gambar tersebut. Hasil dikatakan konsisten apabila mempunyai nilai inconsistency ratio kecil dari 0. Kepala Bidang Pengadaan Suku Cadang. Kuesioner disajikan dalam tabel yang berisikan kriteria-kriteria yang digunakan untuk menilai supplier. Pengolahan kuesioner dari Expert Choice akan menghasilkan bobot setiap kriteria dengan inconsistency ratio yang berbeda. responden menyatakan bahwa kriteria kondisi perusahaan sama pentingnya dengan harga dan begitu seterusnya.06 dan kelengkapan dokumen TeknikA 11 . Bobot tertinggi setelah kualitas dan pengiriman secara berurutan adalah kriteria harga dengan bobot sebesar 0. Sedangkan pada poin nomor 2. Revisi dilakukan hingga diperoleh tingkat konsistensi bernilai kecil dari 0.1. Bobot yang digunakan dalam penilaian ini adalah: 1. sedangkan level Berdasarkan Tabel-3 tersebut dapat diketahui bahwa pada poin nomor 1. Kuesioner ini terdiri atas 4 kelompok yaitu kelompok critical strategic suppliers. 4. Setelah dilakukan revisi. artinya lebih penting dari pada 7.4. artinya sama pentingnya dengan 3. pelayanan dengan bobot 0. Sebaliknya. XV April 2008 ISSN: 0854-8471 kedua membandingkan antara masing-masing sub kriteria.artinya mutlak lebih penting dari pada 2. Proses ini akan menghasilkan bobot atau kontribusi kriteria terhadap pencapaian tujuan. Inconsistency ratio merupakan parameter yang digunakan untuk memeriksa apakah perbandingan berpasangan dalam kuesioner telah dilakukan dengan konsisten atau tidak.1. non critical suppliers.2 Thn.342. bottleneck suppliers.2. Kepala Bidang Pengadaan Barang Umum. leverage suppliers. maka dihasilkan bobot setiap kriteria disajikan secara numerik dan grafis. Kepala Bidang Pengadaan OPS (Operating Supply). Gambar-5 menunjukkan grafik hasil pembobotan Kriteria (Level I) untuk Critical Strategic Suppliers dari responden I. Kriteria tersebut berada pada kolom tabel sebelah kiri dan kriteria pembandingnya berada pada kolom tabel sebelah kanan. Bobot diisi pada bagian kiri apabila kriteria tersebut mempunyai derajat kepentingan yang lebih tinggi dari kriteria sebelah kanan.131.No. responden menyatakan kriteria kondisi perusahaan agak lebih penting dari kriteria kelengkapan dokumen. artinya jauh lebih penting dari pada 9. 29 Vol. artinya agak lebih penting dari pada 5. kondisi perusahaan dengan bobot 0.1 maka kuesioner harus direvisi kembali. Bobot setiap kriteria dan sub kriteria ditentukan dengan cara menginputkan kembali hasil penilaian berpasangan dari kuesioner ke dalam tabel kuesioner yang ada di Expert Choice. atau 8 merupakan angka-angka genap diantara angka ganjil yang berurutan. Tabel-3 menunjukkan hasil pengisian kuesioner oleh salah seorang responden tentang kriteria yang digunakan dalam menilai Critical Strategic Suppliers. yaitu Kepala Biro Pengadaan Barang. Jika diperoleh nilai inconsistency ratio besar dari 0. Setiap kelompok tersebut terdiri atas 2 level. Melakukan Perbadingan Berpasangan Setiap Kriteria Penilaian Supplier Perbandingan berpasangan setiap kriteria dilakukan dengan memberikan kuesioner tahap II ke pihak berkepentingan yang memahami dan berkaitan dengan proses pengadaan barang. diketahui bahwa menurut responden I kriteria yang mempunyai bobot penilaian paling tinggi pada Critical Strategic Suppliers adalah kualitas dan pengiriman yaitu sebesar 0.3. 6.

. Amelia dan P Parung. Int tegrasi Perfor rmansi Layanan.007 0.072 0. ESIMPULAN DAN SARAN N KE 5.064 0.331 KL 0..310 0. and Meindl. . . Sed sar dangkan pada Non Critical Suppl liers kriteria ha arga memiliki bobot terbesar yaitu 0.099 0. R.310. Gramedia. Gram Indrajit. Jak karta. Marimin.193 0.114 0.056 0.034 KPI 1a KPI 1b b 0.288 PR 0.1 ya aitu sebesar 0.017 3. Pe erformansi Ta angible Assets dan s Potensi Int tangible Asse ets sebagai Alat Evaluasi dan Seleksi Reka n anan dalam S Supply Chain.050 0. P..195 KPI 3a KPI 3b b 0. .057 0. J.073 KPI 5e e 0. .047 0.028 KD 0.067 0. Grasindo. 2007 tice 7.. DAF FTAR KEPUS STAKAAN 1.022 0. Pada Leverag Suppliers. V V.019 0.011 0.056 KPI 5d d 0. k . . Ti ng ingkat kepentingan d ditentukan ole nilai pema eh akaian barang.056 0. Chopra. 5. Jakarta. ng media. .050 0. T Third Edition.013 0.073 0.223 0.010 0. Bottleneck Sup ppliers. Pearson Prent Hall. U Upper Saddle R River. Tabel-4 Rekapitulasi global weight kriteria 4 i t penilaian sup pplier Kriteria a/ Bobot Critical Leverage Non C Critical Sub Supp ppliers a Kriteria trategic Supplier Suppliers KP 0. dan Djokop pranoto. .038 0.068 0.031 KPI 3c c 0. Kualitas f. Gaspers.187 PL 0. Planning and Operations.039 0. d dikembangkan sebanyak 6 k kriteria yang sesuai untuk digunak kan dalam m menilai sebut adalah: supplier PT.072 0. . . .040 0.083 KPI 4d d 0.037 0. Leverage Supp pliers. M Ja akarta.362 a 0.028 a 0.107 a 0.012 0. Pelayanan n Pengelompoka supplier P an PT.046 0. Global weight dar masing-masi responden ini ri ing ratakan dengan menggunakan geometric me n n ean dirata-r (GM).06.008 0. K Konsep Manajemen S Supply Chain: Strategi Meng gelola Rantai Pasok Bagi Peru kan usahaan Mode di ern Indonesia.141 a 0.104 HG 0. . Ke esimpulan Dari hasil penel litian ini dip peroleh bebera apa kesimpu ulan: 1.055 0. .077 0.036 0.031 0.037 0.350. Semin Sistem Prod nar duksi VI. hasilnya dapat dilihat pada Ta h abel-4. . sedan ngkan tingkat kesulitan diten k ntukan oleh lamanya lead time pengadaan ba a arang.049 0.066 0. Bobot ya ang mendap sebenar rnya sering disebut dengan gl lobal weight. . . Hasil pembob botan untuk ma asing-masing s sub d kriterianya unt tuk kriteria ini dikalikan dengan bobot k patkan bobot y yang sebenarn nya. Kriteria ters a.104 0. Pengirima e. ge kriteria yang mempun nyai bobot pa aling tinggi a adalah kualitas sebes 0.165 0.006 0.025 0. Seb ap baiknya juga d dilakukan pene elitian tenta bagaimana standar nilai untuk setiap k ang a kriteria terse ebut. . 5.028. 29 Vol.032 0. 2001.043 0.014 KPI 4c c 0. Kelengkap dokumen apan c.060 0.009 KPI 2a KPI 2b b 0. 2003 3. .102 KPI 5a KPI 5b b 0. 3.011 KPI 2c c 0.082 0. H Hasil perhitung ini dapat d gan digunakan kare ena mempu unyai nilai inco onsistency ratio yang kecil d o dari 0. Berdasarkan h hasil pembobot kriteria pen tan nilaian supplier yang telah dilakuka diketahui b an.089 0.1.362 dan pada Bottl u n leneck Suppliers krit teria pengirim man memiliki bobot paling tinggi y yaitu sebesar 0.028 0. Saran Penelitian ini h P hanya menentu ukan bobot pen nilaian setia kriteria. mempu unyai bobot yang terendah yaitu sebesar y h 0.147 0.110 0.030 0.039 0. .072 KPI 6a KPI 6b b 0. S.087 0. 200 2. Harga an d. . . 2. Kriteria 04.010 0.049 0. .009 0.108 0. Kondisi p perusahaan b. .023 KPI 4a KPI 4b b 0.040 0. an ISSN 0854-847 N: 71 future value.2. Hal ini berarti bah 0 i hwa penilaia konsisten.071 0. 2002. Te eknik dan Aplikasi Pengam mbilan Keputusan Majemuk.052 0.004 0. X . X didas sarkan pada tingkat kepentingan b barang dan ti ingkat kesulitan men ndapatkan baran tersebut.021 0.303 0.169 0.E. ..022 Bottlenec ck Supplier rs 0. Berdasarkan studi literatu dan f ur si dengan pihak manaj jemen hasil diskus perusahaan. ar-5 Grafik ha pembobota untuk critica asil an al Gamba strategic suppliers pada level I elah menentu ukan bobot kriteria.049 KPI 5c c 0. Pengelompoka ini mengha an asilkan 4 klasi ifikasi supplier yait Critical S tu Strategic Supp pliers. Non Cr ritical Supplier dan rs.088 0.311 a 0.043 a 0. Manajeme en Bisnis Total: Production P Planning and Inventory Co ontrol Berdasarkan Pendekatan Sistem Terinte egrasi MRP II dan JIT Menuju Manufakturin 21.No.055 0. .008 0. ma aka Sete dilanjut tkan dengan p pembobotan sub kriteria d s dari masing-masing kriter tersebut de ria engan melakuk kan ang sama sepe pembobot kriteria pa erti tan ada cara ya level I. X dala h am me enilai supplier hanya terfok pada krite kus eria yan ng menambah current value tan npa me emperhatikan kriteria yang d k dapat menamb bah 4.331. bahwa pada Critica Strategic Suppliers k al kriteria kualitas memi iliki bobot yang paling tinggi yaitu g i sebesar 0. R.227 0. . .021 0.009 0.091 0.021 0.067 0.350 0.2 Thn XV April 2008 9 n. 5.007 0. Kri iteria yang di igunakan oleh PT. Supply Chain Management: Strategy.

BIODATA ISSN: 0854-8471 7. 10. Watanabe. Supply Chain Management. 2000. 2005. Wibisono. S.C. Fakultas Teknik – Universitas Andalas. W. Pada tahun 2001 menyelesaikan studi Program Magister bidang Manufacturing System Engineering and Management di University of Bradford. I. Sutarman dan Katon. Mulki dan Raihan. UID. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. R. 8. 17.. The International Journal of Management Science. 2005. dkk. Fakultas Teknik – Universitas Andalas. dan Aditya. An Aplication of the AHP in Vendor Selection of the Telecommunications System. Surabaya. Jurusan Teknik Industri. Eri Wirdianto adalah dosen pada Jurusan Teknik Industri. 2003. Omega 29 171-182.M. Aplikasi Analytic Hierarchy Process dalam Pemilihan Supplier pada Supply Chain Mangement. 2006. A. Jakarta. 15.. Supply Chain Mangement: Teknik Terbaru dalam Mengelola Aliran Material / Produk dan Informasi dalam Memenangkan Persaingan. Jakarta. Jakarta: Majalah Usahawan No. T.. Desember 2003.L. Departemen of Public Works. Volume V. TeknikA 13 . INFOMATEK. Gramedia.. 1980. 29 Vol. Produktivitas dan Efisiensi dengan Supply Chain Management. Resource Allocation. 11.2 Thn. XV April 2008 6. N. Saat ini dipercaya untuk menjadi Kepala Laboratorium Perencanaan dan Optimasi Sistem Industri. McGraww-Hill.. M...Y. 16. Nomor 4. 13. I. Fakultas Teknik – Universitas Andalas. Guna Widya. Queensland Government. Australian. Teori Pengambilan Keputusan. Elfira Unbersa adalah asisten pada Laboratorium Perencanaan dan Optimasi Sistem Industri. Masuk sebagai mahasiswa Program Sarjana di Jurusan Teknik Industri – Universitas Andalas pada tahun 2003 dan menyelesaikan studi pada tahun 2007. Penerapan Sistem Database pada Proses Evaluasi Vendor. 9.A. 1996. Manajemen Purchasing: Strategi Pengadaan dan Pengelolaan untuk Perusahaan Manufacturing. Pujawan. Y. 12. Zabidi. Supriyanto dan Masruchah. Tam. Y. Volume 5. United States of America. Lulus Program Sarjana di Jurusan Teknik Industri – Universitas Sumatera Utara pada Tahun 1998. Jurnal Teknologi Industri No 2. Mulyono. R. Jakarta. UK. The Analytic Hierarchy Process: Planning.I. 14.02 TH XXX Februari 2001. 2000.. and Tummala. 2000. PPM.. Saaty. Said.02 TH XXX Februari 2001. Perencanaan Kebutuhan dan Pengadaan Material Pesawat Telepon Tipe PTE 991 N-3. Jakarta: Majalah Usahawan No. Priority Setting. Jurusan Teknik Industri. Queensland Purchasing: Managing and Monitoring Suppliers Performance.No.V. Seminar Sistem Produksi VI. Supply Chain Mangement Konsep dan Teknologi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful