1.

Resolusi Konflik Rekonsiliasi sebagai suatu bentuk resolusi konflik (conflict resolution) akhir-akhir ini menjadi sangat populer, terutama setelah kasus Afrika Selatan dengan komisi kebenaran dan rekonsiliasinya (truth and reconciliation commission), dianggap cukup berhasil. Rekonsiliasi dapat dianggap sebagai bagian atau satu cara untuk menuntaskan konflik, dalam hal ini rekonsilasi diperlukan agar persoalan-persoalan pasca konflik dapat dituntaskan. Rekonsiliasi upaya dapat juga disejajarkan konflik, yaitu

pengertiannya

dengan

transformasi

bagaimana mengubah konflik menjadi damai. Pada bagian ini akan dibahas teori-teori resolusi konflik, khususnya teori mengenai rekonsiliasi. Umumnya, para peneliti dan praktisi di bidang resolusi konflik menganggap peran masa lalu dalam perkembangan skenario konflik adalah sangat penting. Meskipun sejarah masa lalu banyak mempengaruhi terhadap persepsi topik dan ini pengalaman sedikit sekali

individu/kolektif

konflik,

dibahas dalam penelitian-penelitian mengenai konflik (Cairns &
41

Roe, 2003). Secara lebih spesifik misalnya, hanya sedikit informasi yang diperoleh tentang bagaimana ingatan kolektif (collective memory) berperan dalam mempermudah atau mempersulit tercapainya resolusi konflik. Teori-teori mengenai resolusi konflik umumnya mencakup rentang yang sangat luas dengan akar dan landasan disiplin ilmu yang bermacam-macam. Bab ini akan menyajikan

perspektif teori resolusi konflik, terutama dalam perspektif ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi, dan lebih spesifik

mengenai isu sejarah (history) dan ingatan (memory). 2. Teori Negosiasi Teori mengenai negosiasi sebagai cara menyelesaikan konflik umumnya mengambil setting dan konteks konflik dalam bisnis dan organisasi (Bazerman & Neale, 1992; Breslin & Rubin, 1995; Fisher & Ury, 1991; Fisher & Brown, 1988; Jandt, 1985; Lewicky, Saunders & Minton, 1999). Teori-teori yang dikembangkan dalam konteks ini biasanya memusatkan

perhatiannya pada tingkat individu, walaupun belakangan banyak teknik dan cara-cara negosiasi diaplikasikan juga untuk setting kelompok. Tujuan utama dari negosiasi secara umum adalah tercapainya kesepakatan yang bisa diterima pihak yang
42

bertikai. Pada umumnya penelitian-penelitian pada area ini banyak memusatkan perhatiannya pada pelbagai macam strategi dan teknik-teknik untuk mencapai kesepakatan. Dalam kelompok literatur mengenai hal ini, isu-isu seperti kekuasaan (power) (Boulding, 1999; Dawson, 1999; Fisher, 1995; Kritek, 1994), eskalasi dan de-eskalasi konflik (Bazerman & Neale, 1992; Kriesberg, 1995; Rubin, Pruit & Him, 1994) serta pemecahan masalah secara berkolaborasi (collaborative

problem solving) (Fisher & Ury, 1981; Gray, 1989; Jandt, 1985) banyak mendapat perhatian. Isu seputar masa lalu, ingatan dan faktor sejarah masa lampau (historical past) dalam skenario konflik biasanya kurang diperhatikan, kalau tidak dapat dikatakan diabaikan sama sekali. Meskipun kebanyakan perundingan (negosiasi) pada kasus-kasus konflik akhir-akhir ini, terutama, misalnya, antara Israel dan Palestina, Irlandia Utara, memperlihatkan isu sejarah masa lalu selalu menjadi ganjalan bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan (Tint, 2002). Fisher dan Ury (1981) misalnya, menulis tiga buku yang cukup berpengaruh dalam literatur mengenai negosiasi.

Getting to Yes (1981), Getting Together (1988) dan Getting
43

Past No (1991), yang pada intinya memposisikan konflik terjadi ketika keinginan, kepentingan dan kebutuhan kedua belah pihak berada pada posisi yang saling berlawanan satu sama lain. Polarisasi kepentingan ini sering membawa kedua kubu pada posisi zero-sum, kalah atau menang. Strategi negosiasi adalah bagaimana membawa kedua belah pihak kepada keputusan yang memberi kemungkinan untuk saling

menguntungkan, atau yang dikenal sebagai ‘solusi menangmenang’ (win-win solution). Dalam perkembangan selanjutnya, karya Fisher dan Ury sedikit membahas isu masa lalu tapi tidak dalam posisi yang beranggapan bahwa masa lalu itu perlu mendapat perhatian. Bagi Fisher dan Ury (1981) masa lalu adalah sesuatu yang harus diatasi atau ditinggalkan supaya tercapai hasil yang memuaskan. Hanya ada satu pilihan, masa lalu atau masa depan, seperti ungkapan mereka: The question “Why?” has two quite diffferent meanings. One Looks backward for cause and treats our behavior as determined by prior events. The other looks forward for a purpose and treats our behavior as subject to our free will….Either we have free will ot it is determined that we behave as if we do. In either case, we make choices. We can choose to look back or to look forward. You will satisfy your interest better if you talk about where you would like to go rather than about where you have come from. Instead of arguing with the other side about the past..talk about what you
44

want to have happen in the future. Instead of asking them to justify what they did yesterday, ask, who should do what tommorow? (Fisher & Ury, 1981: 53) Jelas sekali bahwa orientasinya adalah masa depan; melihat ke belakang berarti merintangi kemungkinan untuk maju ke masa depan. Faktor masa lalu adalah sesuatu yang bisa dan seharusnya diabaikan atau ditinggalkan di belakang. Di sisi lain, mungkin benar bahwa orientasi ke depan selalu lebih penting dibandingkan dengan melihat ke belakang. Dalam kenyataannya, seperti yang disarankan Fisher dan Ury (1981), soal-soal apa yang sudah pernah terjadi pada masa lalu tidak bisa dianggap nihil. Kalaupun tidak bisa didamaikan (reconciling the past), paling tidak masa lalu juga sesuatu yang harus dinegosiasikan (the negotiated past). Pengalaman

kelompok yang berkonflik dalam jangka waktu yang cukup panjang memperlihatkan betapa sulitnya pihak yang berkonflik untuk hanya melihat ke masa depan dan faktor masa lalu ‘hanya ditinggal di belakang’ (left behind), karena masih akan menjadi beban ingatan (memory burden) yang terus

menghantui masa depan. 3. Teori Psikologi Sosial
45

Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini, psikologi sosial memberikan sumbangan yang signifikan dalam kajian resolusi konflik, diawali dengan hasil karya Kurt Lewin (1948). Karyakarya Kurt Lewin dalam bidang konflik sosial, keadilan sosial, dan dengan ‘action research’-nya telah membuka jalan bagi psikolog sosial lainnya untuk memainkan peranan yang lebih banyak dalam bidang resolusi konflik, di antaranya Morton Deutsch. Karya-karya Deutsch (1973, 1985, 2000) mengenai teori konflik, kooperasi, kompetisi serta keadilan distributif,

mengambil premis utama bahwa konflik timbul akibat pola hubungan saling ketergantungan yang bersifat negatif antara pihak-pihak yang bertikai (negative interdependence between parties), dan masing-masing konflik akan mempunyai dimensi kooperatif dan kompetitif sekaligus. Menurut Deutsch, konflik dengan kadar kompetisi yang sangat tinggi cenderung untuk menjadi destruktif, sementara konflik dalam iklim kooperasi yang tinggi justru akan menjadi konstruktif. Menurut teori ini, tujuan utama dari resolusi konflik adalah mengubah dinamika konflik, dari yang kompetitif menjadi yang lebih kooperatif. Namun sekali lagi, soal isu masa lalu juga kurang mendapat
46

tempat dalam pembahasan Deutsch. Misalnya, tetap akan menjadi persoalan, apa yang akan terjadi dalam suatu skenario konflik bilamana memang terjadi kooperasi, tapi kedua

kelompok masih menyimpan sejarah pertikaian dan kompetisi yang kuat. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa kondisi kooperatif lebih mungkin dicapai jika tidak ada sejarah pertikaian pada masa lalu yang masih belum selesai. Walaupun tidak secara langsung berbicara mengenai

pentingnya sejarah dan masa lalu, Deutsch (1973) sebenarnya adalah psikolog sosial pertama yang mulai mengaitkan

hubungan antara ingatan (memory) dengan identitas kolektif (collective identity). Lebih lanjut Deutsch (1973:60)

mengatakan: ”the existence of an historical time perspective, with a sense of continuity relatedness, and awareness of shared memories of past events contributes to heightened consciousness of group identity”. Walaupun Deutsch mulai menganggap penting kaitan antara ingatan dan identitas serta implikasinya terhadap perkembangan dan evolusi resolusi konflik, namun ia tidak membahas soal ini lebih dalam. Kaitan antara ingatan dan identitas akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan mengenai ingatan.
47

Teori lain yang berakar dalam tradisi psikologi sosial, yang memberi-kan sumbangan signifikan dalam teori resolusi konflik adalah teori kebutuhan manusia (human needs theory). Terinspirasi dari teori Abraham Maslow mengenai hierarki kebutuhan (1954, 1968), beberapa peneliti menggarap isu ini lebih lanjut dan mengaitkannya secara langsung dengan resolusi konflik (Burton, 1984, 1990a, 1990b, 1991; Fisher, 1990; Mitchell, 1990; Galtung, 1980, 1990; Klineberg, 1980; Lederer, dkk, 1980). Proposisi utama teori ini adalah kebutuhan dasar manusia sebagai unsur mutlak dalam pemenuhan kesejahteraan manusia. Kelompok atau individu akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan ini. Konflik dan kekerasan akan timbul dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut, jika satu pihak merasa terhalangi atau terancam. Dalam hal ini, resolusi konflik pun harus dipahami dalam konteks pemenuhan kebutuhan dasar. John Burton (1984, 1990a, 1990b, 1991), adalah tokoh terkemuka dalam kelompok teori ini. Hasil-hasil karyanya banyak diadopsi oleh psikolog sosial yang bekerja di bidang tersebut. Burton membedakan istilah pertikaian (dispute)— yang pengertiannya merujuk kepada kesenjangan perebutan
48

material namun masih dalam taraf yang bisa dinegosiasikan— dengan konflik (conflict)—kondisi di mana kekurangan atau deprivasi dalam kebutuhan dasar manusia sudah berada dalam taraf yang tidak bisa lagi dinegosiasikan. Konflik identitas misalnya, menurut Burton berakar pada kebutuhan yang tidak bisa lagi dinegosiasikan, karena kebutuhan akan identitas ini bersifat mendasar. Dengan demikian, jika kita bisa mengaitkan identitas—walaupun Burton tidak secara eksplisit

melakukannya—dengan kesadaran tentang masa lalu, bisa dimengerti mengapa konflik identitas yang berakar yang kuat pada masa lalu terkadang sangat sulit untuk didamaikan. Dengan landasan ini Burton ingin mengatakan bahwa usaha untuk melakukan resolusi konflik pertama-tama harus mengupayakan terciptanya kondisi yang memungkinkan pihakpihak yang bertikai untuk cara saling yang memenuhi konstruktif, kebutuhansehingga

kebutuhannya

dengan

mengurangi kemungkinan timbulnya kekerasan dan konflik terbuka. Burton mengemukakan ‘provention1’ (1990,a) sebagai istilah untuk menghilangkan kondisi-kondisi yang berpotensi
1

Isitilah provention dikemukakan oleh John Burton (1990) sebagai pengganti atau padanan dengan kata prevention, yang menurut dia lebih berkonotasi pada pembatasan dan pencegahan semata, sementara kata provention diperkenalkan untuk lebih dari sekadar pencegahan tapi secara lebih jauh menghilangkan sumbersumber konflik, dan secara lebih proaktif dan positif mempromosikan kondisi-kondisi di mana kolaborasi dan hubungan mendapat prioritas utama. (The term prevention has the connotation of containment. The term provention has been introduced to signify taking steps to remove sources of conflict, and more positively to promote conditions in wich collaborative and valued relationships control behaviors).

49

menjadi

penyebab

dan

pencetus

konflik,

sembari

mempromosikan lingkungan yang positif untuk memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara

konstruktif, lebih lanjut jelasnya, “Once we introduce the notion of provention the total social environtment and sources of conflict become relevant. Conflict provention adresses problems of social relationships and all the conditions that affect them” (Burton, 1990a: 18). Dengan konsep provention tersebut, Burton mengatakan semua kondisi—“all konflik the conditions”—yang dihilangkan. memungkinkan terlalu jelas

timbulnya

harus

Tidak

bagaimana Burton memasukkan segala kondisi yang berakar pada masa lalu tersebut , bisa diatasi untuk mencapai kondisi yang kondusif pada masa sekarang. Sepertinya Burton

menganggap hal itu sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken as given). Jelas bahwa analisis tersebut sangat

mementingkan pemenuhan kebutuhan masa sekarang dan masa depan, serta membahas—kalau tidak bisa dikatakan tidak ada—sedikit sekali soal-soal tentang apa yang terjadi di masyarakat pada masa lalu. Burton, misalnya, tidak terlalu peduli dengan sejarah deprivasi atau sejarah marjinalisasi pada
50

masa lalu. Asal masa sekarang beres, soal-soal sejarah dan ingatan tidaklah terlalu penting. Burton bisa dipandang sebagai sarjana kelompok pertama dalam studi resolusi konflik, tetapi teori-teorinya telah

mengilhami banyak pakar lainnya yang menerapkannya pada bidang praktik. Satu pakar psikologi sosial yang paling

terkemuka adalah Herbert Kelman (1990a, 1990b, 1991, 1996, 1997a, 1997b, 1998, sebagai 1999, suatu 2001) yang dari mendefisikan pendekatan pada tingkat

pendekatannya kebutuhan

aplikasi

manusia

dalam

resolusi

konflik

international (an application of human needs perspective to international conflict resolution). Selama bertahun-tahun

Kelman melakukan serangkaian lokakarya untuk pemecahan masalah (problem-solving workhsop) dalam dan antar

kelompok-kelompok yang bertikai. Hasil kerja Kelman yang paling signifikan adalah sebagai mediator dalam usaha

perdamaian selama konflik antara Israel dan Palestina (1990b, 1997a, 1999, 2001). Teknik lokakarya pemecahan masalah yang dikembangkan oleh Kelman pada dasarnya mengandalkan pada proses mediasi nonformal oleh pihak ketiga dengan mempertemukan
51

orang-orang yang berpengaruh pada kelompok-kelompok yang bertikai. Selama proses lokakarya, tujuan utama dari kegiatan ini adalah diskusi untuk sampai pada kesepahamam timbal balik, mengubah persepsi dan sikap terhadap konflik, dan yang terakhir dan terutama adalah mengubah pola hubungan di antara pihak yang bertikai. Pihak ketiga dalam hal ini lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator ketimbang sebagai

intervensionis, dan pada umumnya berasal dari kalangan akademis, bukan dari kalangan politisi. Karena tujuan dari workshop ini tidak terutama pada tercapainya suatu keputusan atau kesepakatan, namun harapannya lebih kepada terjadinya perubahan dalam sikap dan hubungan di antara pihak yang bertikai, yang pada akhirnya akan membuka jalan ke arah penyelesaian konflik yang lebih konstruktif. Kelman juga menganggap penting soal kebutuhan, terutama lebih kepada soal kebutuhan kolektif, bukan pada kebutuhan individu dari partisipan. Tidak seperti Burton, Kelman sudah lebih jelas

mempertimbangkan sejarah masa lalu sebagai bagian yang harus diperhatikan dalam sesi-sesi workshopnya. Bagi Kelman, dinamika hubungan antara kondisi masa sekarang dengan
52

sejarah masa lalu harus diperhatikan supaya hasil workshop dapat dimantapkan. Kelman misalnya memperingatkan,

“Bahkan di antara individu dan kelompok yang tampaknya sudah terbangun rasa percaya dan kerjasama pun, tidak ada jaminan bahwa kondisi sekarang, tingkah laku, ucapan-ucapan sekarang tidak akan membangkitkan serta memicu luka lama.” Oleh karena itu, soal ini harus diperhatikan secara berhati-hati. Kelman menegaskan bahwa mengetahui sejarah viktimisasi (victimization) atau kekerasan yang pernah dialami satu pihak, penting bagi pencapaian hasil dalam lokakarya pemecahan masalah (1990b, 1996). Lebih lanjut dinyatakannya,

“Mengetahui dan menghargai serta empati dengan sejarah viktimisasi suatu bangsa akan memungkinkan masing-masing pihak untuk bisa melepaskan diri dari belenggu sejarah masa lalu, yang terus-menerus menjadi alasan bagi mereka untuk berkonflik.” Lebih lanjut Kelman mengatakan: Even.. Destructive elements cannot be made to disappear overnight in conflict that have pursued for many years – in some cases, for generation – and are marked by accumulated memories that are constantly being revived by new events and experiences. Conflict resolution doesn’t imply that past grievances and historical traumas have been forgotten and consistently harmonious relationship has been put in place. It simply implies that a process has been set into motion that addresses the central needs and fears of the societies and established continuing mechanisms to confront them.
53

(Kelman, 1997b: 197). Bagi Kelman, isu ingatan harus diberlakukan dengan sangat hati-hati, mengingat ingatan jika diperbandingkan dengan fakta sejarah lebih bersifat lentur dan mudah untuk direkonstruksi sesuai dengan tujuan politik: In most intense protracted conflict..Historical traumas serve as the points of reference for current events. There is no question that ambitious, often ruthless, nationalistic leaders manipulated memories in order to whip up public support for their projects. But the fact remains that these memories – and the associated sense of injustice, abandonment and vulnerability – are part of the people’s consciousness and available for manipulation. (Kelman, 1997b: 214). Kelihatannya semenjak Kelman, mulai meningkatkan

perhatian dari para peneliti untuk memberi perhatian yang lebih serius pada pada trauma suatu sejarah masyarakat. dan pengaruh masih

antargenerasinya

Namun

terdapat kesenjangan antara aspek penyembuhan (therapeutic aspects) pada orang-orang yang menderita akibat konflik yang berkepanjangan pada masa lalu dengan aspek ‘pemecahan masalah’ yang berada pada dimensi masa sekarang. Dalam kebanyakan literatur mengenai resolusi konflik, tampaknya hanya ada dua pilihan. Pertama, membongkar akar-akar kesedihan, trauma, kemarahan masa lalu dan mencari cara
54

untuk

katarsis,

serta

berharap

akan

berakhir

dengan

pemaafan. Pendekatan lain adalah dengan meninggalkan masa lalu dan memulai hidup sebagai komunitas baru.

Mengabungkan kedua pendekatan tersebut dalam menangani konflik-konflik yang mengakar lama tampaknya menjadi suatu hal yang sulit dilakukan; menuntaskan masa lalu, sekaligus menuntaskan kesepakatan dan pemecahan masalah pada masa sekarang (Lumsden & Wolfe, 1996). Beberapa tahun terakhir mulai timbul perhatian yang serius dari para pakar yang bergerak di bidang penelitian dan praktik resolusi konflik tentang pentingnya faktor ingatan dalam kaitannya dengan konflik etnik. Konsorsium psikolog dalam area Peace and Conflict Resolution yang diketuai Prof. Ed Cairns, seorang psikolog dari University of Ulster, Irlandia Utara dan Direktur INCORE (Initiative on Conflict Resolution and Ethnicity) telah mengadakan beberapa kali simposium dan seminar, dan telah berhasil mengangkat wacana tentang ingatan dan konflik etnik menjadi isu yang penting. Karyakarya Cairns (1997, 1998, 1999, 2003) dengan kasus Irlandia Utara cukup berhasil memperlihatkan hubungan yang erat antara ingatan dan konflik. Penelitiannya mengenai hubungan
55

antara ingatan dan identitas menjadi sangat penting dalam menjelaskan mengapa konflik terus berkepanjangan dan sukar untuk didamaikan—misalnya dengan pedekatan negosiasi— hanya karena soal faktor identitas yang terkait dengan cara suatu komunitas mengartikan dan menempatkan ingatan sebagai basis identitas. Studi Cairns (1997) juga

memperlihatkan kaitan yang erat antara faktor ingatan, dan kesehatan mental serta perpanjangan konflik. Pada tahun 1995, INCORE menjadi tuan rumah untuk pertemuan dan workshop mengenai ‘Memories and Ethnic Conflict’. Para psikolog yang bergerak dalam bidang

perdamaian dan konflik ini berkumpul untuk menelaah soal ini. Isu yang paling sering dibahas adalah mengenai ingatan dan identitas, transmisi ingatan kolektif antargenerasi. Pengaruh kedua hal tersebut pada usaha-usaha resolusi konflik dan rekonsiliasi. Patrick Devine-Wright (1996, 2003), yang meninjau literatur mengenai ingatan dan konflik etnik, menyatakan bahwa masih terlalu sedikit penelitian empirik mengenai topik ini, sehingga masih diperlukan banyak penelitian lanjutan untuk mengeksplorasi topik ini (Devine-Wright, 2003). 4. Rekonsiliasi
56

Dalam kebanyakan literatur mengenai rekonsiliasi, masa lalu justru dipandang sebagai komponen terpenting untuk sampai kepada pemaafan (forgiveness) terhadap kekekerasan dan kejahatan-kejahatan pada masa lalu. Walaupun dalam hal ini, pemaafan secara sosial (social forgiveness) dan pemaafan secara individual tidak selalu berjalan paralel (Montiel, 2002). Artinya, bisa saja seseorang memaafkan orang lain secara personal, tapi tidak dalam tataran kelompok atau apa yang disebut sebagai pemaafan sosial. Dalam hal pemaafan secara sosial ini, komponen masa lalu dalam bentuk ingatan kolektif— lebih dari sekadar ingatan individual—harus dipertimbangkan supaya proses rekonsiliasi bisa tercapai. Montville (1991, 1993) mengatakan bahwa tahap pertama workshop yang menandai rekonsiliasi tersebut. Healing and reconciliation in violent and ethnic and religious depend on a process of transactional contrition and forgiveness between aggressor and victims which is indispensable to the establishment of a new relationship based on mutual acceptance and reasonable trust. The process depends on joint analysis of the history of the conflict, recognition of injustice and historic wounds, and acceptance of moral responsibility where due. (Montville, 1993: 112). Montville (1993) mengemukan idenya lebih lanjut seperti berikut:
57

justru

adalah

membicarakan

sejarah

konflik

The purpose of the walk through history is to elicit specific grievances and wounds of the groups or nations in conflcit, which have not been acknowledged by the side responsible for inflicting them. Only the victims know for certain which historic events sustain the sense of victimhood and these become cummulatively the agenda for healing. Published histories and official government versions of violent events iniatiated by the aggressors very rarely convey the unvarnished truth. The almost universal tendency in not to discuss or to gloss or mythologize an event or military concquest as a justified defense if not heroic advance for the nation or perhaps civilization itself…The need for revising and cleaning up the published historical record of a conflict intergroup or international relationship has become widely accpeted as an essential part of a reconciliation process. (Montville, 1993: 115). Literatur lain mengenai rekonsiliasi berbicara mengenai cara mendorong proses pemaafan sosial sebagai suatu cara untuk melepaskan beban masa lalu. Momentum rekonsiliasi dipandang sebagai kesempatan bagus untuk memotong

lingkaran masa lalu dengan masa sekarang. Rekonsiliasi dan Resolusi Konflik Walaupun secara umum dipahami sebagai cara untuk mengakhiri konflik (resolusi konflik), rekonsiliasi sebagai istilah dan konsep tidak diartikan secara sama oleh para ilmuwan dan praktisi. Beberapa definisi, misalnya, mengartikan rekonsiliasi sebagai suatu peristiwa (event). Sebagian lagi menyatakan rekonsilasi sebagai proses dan hasil sekaligus. Beberapa
58

peneliti lainnya beranggapan rekonsiliasi lebih tepat dipandang sebagai pemulihan hubungan (misalnya: Kriesberg, 1988, TRC Report, 1996). Umumnya, rekonsiliasi dimaknai sebagai suatu usaha untuk menyelesaikan konflik pada masa lalu sekaligus memperbarui hubungan ke arah perdamaian dan hubungan yang lebih harmonis pada masa yang akan datang, seperti apa yang dikatakan oleh Melor & Bretherton (2003: 39), sebagai berikut: .. describe reconciliation as relating to our capacity to restore harmony to that which has been broken, severed and disrupted, implying not only that there is damage to be repaired, but also that there was at some previous stage an harmonious relationship…Our analysis of the reconciliation process presents it as having three stages: (1) coming to terms with the past; (2) taking responsibility in the present; and then (3) working together to make a better future. (cetak tebal: penulis). Pada bagian-bagian berikutnya, konsep rekonsiliasi akan dipaparkan secara lebih rinci menurut lima aspek. Pertama, rekonsiliasi berdasarkan model pendekatan teoretik, merujuk kepada salah satu model; rational choice atau game theory, human need theory, dan forgiveness model. Kedua, lingkup rekonsiliasi (spheres of reconciliation) merujuk pada pelbagai aspek hubungan (identitas, sikap, keyakinan dan perilaku). Ketiga, komponen rekonsiliasi, merujuk pada pelbagai
59

kebutuhan sosial dari pihak yang terlibat konflik (keadilan, kebenaran, penyembuhan dan rasa aman), dan. Keempat, tingkatan rekonsiliasi, yang merujuk pada tingkatan intervensi rekonsiliasi; apakah pada tingkat interpersonal, komunitas dan nasional. Terakhir, rekonsiliasi dari aspek pendekatan; apakah pendekatan dari bawah (bottom-up approach) ataukah dari atas (top-down approach). 5. Model Teoretik Rekonsiliasi a. Teori Pilihan Rasional (rational choice model) Model rekonsiliasi yang bertolak dari teori pilihan rasional ataupun teori permainan (game theory) berangkat dari asumsi maksimalisasi kegunaan, utility maximalization. Dasar teori ini adalah bahwa masyarakat ataupun aktor (atau individu yang bertindak atas nama kolektiva), adalah pelaku yang rasional, yang akan bertindak untuk mencapai hasil maksimal yang mungkin dari setiap interaksinya. Dalam konteks rekonsiliasi, terutama dalam konteks pertikaian internasional (international disputes), rekonsiliasi dapat dipahami sebagai tindakan atau keputusan terbaik yang menguntungkan semua pihak yang didapat dari suatu proses perundingan yang rasional.

60

Dalam pandangan teori ini, rekonsiliasi dapat dipandang sebagai pilihan aktor politik yang mengambil manfaat

maksimal buat keuntungan pribadi atas nama kepentingan publik. Asumsi pengambilan keputusan secara rasional

(rational decission making) adalah sebagai berikut: 1) aktor mempunyai tujuan tertentu; 2) tujuan tesebut merefleksikan kepentingan aktor; 3) individu mempunyai kecederungan yang konsisten dan stabil; 4) jika ada pelbagai macam pilihan, aktor akan memilih alternatif yang akan memberikan keuntungan maksimal; 5) aktor dengan kepentingan politik adalah pemain terpenting (Long & Brecke, 2003). Menurut model pilihan rasional ini, keputusan untuk perang atau rekonsiliasi sangat ditentukan oleh pola pertukaran (trade-off) dan perhitungan untung-rugi (estimation of costs and benefits) (Long & Brecke, 2003). Menurut model ini, pemulihan hubungan baik adalah konsekuensi dari tercapainya pilihan-pilihan rasional dalam suatu negosiasi untuk mencapai suatu penyelesaain konflik (conflict settlement negotiation). Karena model ini sangat mengandaikan pada asumsi

rasionalistik, segala sesuatu yang menyangkut kerugian harus bisa ditakar dan direkompensasi secara hitungan yang rasional.
61

Kritik terhadap pendekatan pilihan rasional ini adalah bahwa dalam soal pemulihan hubungan pascakonflik atau rekonsiliasi, pola pertukaran antara pihak-pihak yang bertikai tidak selamanya bisa diukur secara rasional. Misalnya, sangat sukar untuk menentukan berapa pertukaran yang layak untuk kematian, cacat, trauma dan kerugian-kerugian psikologis lainnya. Keseimbangan rasional juga tidak selalu terjadi atas pilihan pertukaran (trade-off) yang diambil, seperti yang diasumsikan teori ini. Kritik lain terhadap pendekatan teori pilihan rasional adalah pada pemahamannya yang sempit mengenai tindakan

manusia. Asumsi-asumsi psikologis di balik teori ini adalah bahwa manusia selalu bisa menggunakan alternatif pilihan rasional sebaik mungkin, berpijak pada logika deduktif. Dalam kenyataannya, bahkan secara kognitif, pengambilan keputusan lebih banyak mengandalkan pada cara-cara yang cepat

(heuristic). Persoalan lain adalah, teori ini mengabaikan faktor emosi dalam rekonsiliasi. Daya tarik teori pilihan rasional ini terletak pada kenyataan bahwa ia memungkinkan semua pihak untuk merundingkan aspek pemuasan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti yang
62

diisyaratkan oleh pendekatan teori kebutuhan (human need theory) (Burton,1990, Kelman, 1990). b. Teori Kebutuhan Manusia (human need theory). Model rekonsiliasi ini bertolak dari kenyataan bahwa konflik yang berkepanjangan telah menimbulkan kondisi deprivasi, atau paling tidak marginalisasi dalam pemenuhan kebutuhan manusia yang mendasar (Burton, 1990, Kelman, 1990). Oleh karenanya, rekonsiliasi menurut pandangan teori ini baru akan sukses jika momen rekonsiliasi bisa menjamin akan

tercapainya pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mendasar ini. Teori ini terinspirasi oleh teori Maslow mengenai dasar motivasi manusia. Proposisi utama yang disandang oleh teori ini adalah bagaimana-pun motivasi manusia yang paling hakiki adalah pemenuhan kebutuhan dasar dan kebutuhan eksistensi. Dalam hal ini dorongan pemenuhan kebutuhan bisa menjadi dasar motivasi untuk melakukan rekonsiliasi, jika dipersepsikan bahwa rekonsiliasi bisa menjamin terpenuhinya keinginan kelompok untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhannya. Posisi teori ini misalnya sejalan dengan teori sinyal (signal theory), yang berhipotesis momen rekonsiliasi adalah

semacam isyarat atau sinyal bahwa perbaikan hubungan akan
63

segera dimulai. Long & Brecke (2003: 18), mengatakan, “The best strategy for breaking a pattern of hostile interactions is by sending signals that provide a measure of commitment to the pursuit of improved relations. Reconciliation events or gestures are particularly effective forms of this type of signal...” Berkaitan dengan teori kebutuhan, sinyal ini harus menjadi isyarat bagi semua pihak bahwa rekonsiliasi akan menjamin tercapainya pemenuhan kebutuhan manusia. Mengenai kebutuhan ini, Burton (1990a, 1990b)

memberikan tiga label untuk soal ini, yaitu kebutuhan (needs), nilai-nilai (values) dan kepentingan (interests). Kebutuhan (needs) dimaksudkan oleh Burton merujuk kepada kebutuhan universal seperti yang dimaksudkan Maslow, yaitu kelompok kebutuhan biologis dan meta needs. Sementara itu nilai-nilai (values) dimaksudkan oleh Burton lebih kepada ide-ide (ideas), kebiasaan-kebiasaan (habits), adat (customs), dan

kepercayaan-kepercayaan (beliefs), yang menjadi ciri utama (identitas) suatu kebudayaan, etnik ataupun kelompok.

Berbeda dari kebutuhan yang bersifat universal, biologis, atau bahkan genetis, nilai-nilai lebih bersifat simbolik, terikat konteks sosial dan budaya. Kepentingan dimaksudkan oleh
64

Burton terkait dengan posisi, status dan peran seseorang atau kelompok dalam konteks pekerjaan, ekonomi dan politik. Kepentingan bisa dikatakan juga sebagai aspirasi seseorang atau kelompok. Kepentingan-kepentingan ini bisa terwujud dalam bentuk material ataupun dll. non material, seperti arti akan akan

kekuasaan, strategis

pengaruh,

Kepentingan konteks suatu

mempunyai karena politik

terutama

dalam

politik

mempengaruhi

bagaimana

keputusan

diambil. Bahkan, misalnya, arena politik bisa dapat dikatakan sebagai arena di mana kepentingan-kepentingan politik

ditandingkan dan dinegosiasikan. Salah satu ciri kepentingan—seperti yang diisyaratkan juga oleh teori pilihan rasional—ialah bahwa kepentingan sangat mudah untuk dipertukar-kan (trade-off) dan dinegosiasikan (negotiable), sedangkan kebutuhan lebih bersifat mutlak dan kadang-kadang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Begitu juga dengan nilai-nilai yang pada titik tertentu tidak bisa lagi dikompromikan. Kebutuhan yang lebih khusus misalnya, adalah dorongan yang inheren untuk keperluan kelangsungan hidup (survival) dan perkembangan, begitu juga identitas dan rasa hormat (recognition) (Burton, 1990a, 1990b).
65

Proses negosiasi dalam rangka rekonsiliasi menurut Burton (19901, 1990b) adalah menjaga keseimbangan pertukaran antara kebutuhan, nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan. Dalam model rekonsilasi yang lebih terintegrasi, isu mengenai hal ini tercakup dalam pengertian kompensasi dan

rekonstruksi. c. Model Pemaafan (Forgiveness Model) Model pemaafan bertitik tolak dari asumsi bahwa

rekonsiliasi adalah bagian dari proses pemaafan, atau proses transformasi emosi-emosi tertentu, misalnya marah, dendam, menjadi kedekatan, hubungan baik serta terciptanya etos berdamai. Dengan adanya proses transformasi ini terbukalah kemungkinan untuk memperbarui hubungan yang pernah buruk, dan ini hanya bisa tercapai melalui proses pemaafan (Long & Brecke, 2003). Model pemaafan ini jika dibandingkan dengan model-model sebelumnya, pada mempunyai beberapa untuk

keunggulan,

terutama

kemam-puannya

mempertimbangkan faktor emosi dan penalaran (reasoning) sekaligus. Dalam model ini, rekonsiliasi dipandang sebagai proses transformasi etos berkonflik (conflictive ethos) menjadi etos berdamai (peace ethos). Kelemahan model ini terletak
66

pada

diperlukannya

usaha

yang

sungguh-sungguh

untuk

melaksanakannya, dan terkadang proses pemaafan baru bisa terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama. Di luar itu harus ada misalnya usaha-usaha untuk mengungkapkan kebenaran, proses penyembuhan/ pemulihan dan pembenahan faktor struktural. Teori yang dikembangkan oleh seorang tokoh psikologi politik terkemuka, Daniel Bar-Tal (2002), sebenarnya bisa dikategorikan ke dalam kelompok model ini, walaupun ia tidak pernah secara eksplisit mengatakan-nya. Menurut Bar-Tal (2000), proses rekonsiliasi terutama harus menyen-tuh aspek psikologis menurut yang Bar-Tal terdalam (2000) pada harus masyarakat. Rekonsiliasi adanya

mensyaratkan

perubahan-perubahan psikolo-gis yang mendasar, yaitu proses transformasi beliefs dan sikap yang menyokong hubungan yang damai (peacefull relation) antara pihak-pihak yang bermusuhan. Yang dimaksud oleh Bar-Tal (2000), adalah harus terjadi perubahan etos dari etos berkonflik (conflictive ethos) menjadi etos damai (peace ethos). Perubahan etos ini hanya bisa terjadi jika adanya perubahan belief dalam masyarakat.

67

Proses perubahan etos ini menurut Bar-Tal (2000) bukanlah proses yang mudah karena disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya proses rekonsiliasi terkadang belum tentu menjamin adanya kesembuhan atau pemulihan di tingkat individual (individual healing), healing process terkadang hanya terjadi pada tingkat kolektif (collective healing), atau sebaliknya. Terkadang terjadi proses healing pada tingkat individual, namun tidak pada tingkat kolektif. Faktor lain adalah sulitnya perubahan pada tingkat struktural. Namun salah satu faktor yang menurut Bar-Tal paling penting adalah bagaimana mengubah keyakinan mengenai hakikat hubungan antar

kelompok (beliefs about adversary groups, beliefs about intergroup relation) yang dipenuhi oleh rasa permusuhan dan sudah tercetak dan tertanam dalam ingatan kolektif. Persoalan ini menurut Bar-Tal (2000) sangat terkait dengan penilaian tentang masa lalu. Lebih lanjut Bar-Tal (2000: 359)

mengatakan: “The new belief about the relation should also concern the past, the period of intractable conflict. The reconstruction of the past is an important part of reconciliation, because collective memory (cetak tebal, penulis) of the past underlies much of the animosity, hatred, and mistrust between the parties. The collective memory of each party views the past selectively in one-sided manner, focusing mostly on the
68

misdeeds of the other group and its responsibility for the conflict, and on the glorification and victimhood of the ingroup. Proses perubahan etos ini juga harus menyangkut

mengenai belief atau konsepsi dan harapan tentang tujuantujuan masyarakat pada masa datang (beliefs about societal goals), dan belief mengenai prospek perdamaian di masa mendatang (belief about peace). Dengan demikian, jelas bagi Bar-Tal proses pemaafan tidak terjadi begitu saja, tapi lewat proses transformasi kesadaran. Long dan Brecke (2003) menggambarkan proses model pemaafan ini ke dalam empat fase, seperti gambar di bawah ini:

Pengungkapan kebenaran

Redefinisi identitas sosial

Keadilan parsial

Kesediaan membangun hubungan baru

Rekonsiliasi yang berhasil

Gambar 3.1 Proses rekonsiliasi dengan model pemaafan (Sumber; Long & Brecke (2003: 31) Pada fase pertama, kelompok yang berkonflik harus mau dan rela menyadari apa yang telah terjadi pada masa lalu. Setiap kelompok yang bertikai di masa harus lalu. mau dan mampu proses
69

menyadari

kesalahan

Idealnya

pengungkapan

kebenaran

harus

terbuka

untuk

publik,

misalnya melalui investigasi resmi, laporan di media massa, dll. Memang harus disadari konsekuensi psikologik dari proses ini. Pelbagai macam reaksi bisa muncul dari proses ini; merasa malu, bersalah, dan perilaku agresif. Seperti yang diungkapkan oleh Fitzgibbons (1998), cara coping yang paling mungkin muncul, bisa dalam bentuk pengingkaran, agresivitas aktif (marah) atau pasif (dendam) atau bisa juga pemaafan. Pilihan untuk memaafkan mengharuskan semua pihak untuk

menyadari terlebih dulu (bukan mengikari) apa-apa yang telah terjadi, mengapa terjadi, siapa yang melakukan, mengapa ia melakukan, apa kesalahannya. Seperti yang dikatakan North (1998: 17), memaafkan bukan berarti melupakan, “The

forgiveness option requires recognition. Forgiveness does not remove the fact or event of wrongdoing having been

committed in order for the process of forgiveness to be made possible. One does not forget, one remembers and forgives.” Pada fase kedua, persis sama seperti yang dikatakan BarTal sebelumnya, rekonsiliasi menghendaki kesediaan kelompok mengubah sudut pandangnya mengenai posisi dan identitas kelompok sendiri, posisi dan identitas kelompok lainnya
70

(beliefs about adversary groups, beliefs about intergroup relation). Redefenisi atau reframing hubungan pascakonflik melibatkan sekaligus faktor kognitif dan emosi. Seperti yang dikatakan Long & Brecke (2003: 30), Reframing the other, seperating the wrongdoer from the wrong wich has been committed… Reframing does not do away with the wrong itself, nor does it deny the wrongdoer’s responsibility for it, but it allows us to regard the wrongdoer in a more complete, more detailed, more rounded way..The other party is recognized as separate from the injury he or she inflicted, and the humanity of that person is acknowledge by those who have suffered. Ketiga, kelompok-kelompok yang dirugikan sungguhpun berhak untuk mendapat keadilan yang setimpal dengan apa yang telah diperbuat ataupun oleh pihak perpetrator kepadanya untuk

sebelumnya,

mempunyai

kesempatan

membalas dendam, hendaknya bisa menyadari bahwa keadilan tidak akan bisa ditegakkan sepenuhnya. Menurut Long dan Brecke, apa yang bisa dicapai dalam soal keadilan ini, hanya sebatas pada yang disebut sebagai ‘partial justice’. Penegakan dan pencarian keadilan dalam pengertian setuntas-tuntasnya tidak akan pernah didapat, yang penting dalam hal ini adalah adanya perhatian pada pemenuhan ‘rasa keadilan’ saja. Keempat, proses rekonsiliasi harus diakhiri dengan

keinginan untuk membuat kontak lebih intens, jika perlu
71

disertai dengan pemaafan secara publik atau secara sosial (social forgiveness), menawarkan hubungan yang lebih bagus, paling tidak hidup berdampingan secara damai (coexistence), saling menghormati, dan saling toleran. Proses rekonsiliasi menurut model pemaafan ini pada umumnya terjadi menurut fase-fase di atas, walaupun tidak selalu berjalan berurutan secara satu arah (linear). Kadangkadang fase-fase tersebut berjalan secara berurutan,

terkadang justru berlangsung secara simultan dalam saat yang bersamaan. Proses dari keempat fase sebagai fungsi dari waktu dan intensitas dalam digambarkan dalam bagan berikut:

intensitas

72

waktu keterangan : pengungkapan kebenaran (truth telling) keadilan parsial (partial justice) kesediaan membangun hubungan baru (call for new relationship) redefinisi identities) Gambar 3.2 Sekuens Model Pemaafan (Sumber: Long & Brecke, 2003: 31) Lingkup Rekonsiliasi Rekonsiliasi pada intinya memperbaiki hubungan antara kelompok-kelompok yang terpecah karena konflik. Dalam tingkat komunitas dan nasional, rekonsiliasi bisa dianggap sebagai suatu gerakan untuk mencapai hubungan yang lebih kooperatif. gerakan Empat hal utama selayaknya menjadi inti dari Pertama, mengembalikan hakikat identitas (redefinition of

rekonsiliasi.

kemanusiaan semua kelompok, bahkan perpetrator sekalipun. Dengan kata lain, harus ada kesediaan untuk menata kembali identitas dan pendefinisian ulang hubungan antarkelompok. Dalam hal ini hak asasi dan kemanusiaan harus mendapat prioritas pertama. Kedua, rekonsiliasi harus dipahami sebagai penataan ulang tatanan moral baru, yang bertitik tolak dari adanya konsesus mengenai nilai-nilai yang menyokong
73

kerjasama. Ketiga, pentingnya perubahan sikap (attitudinal aspect) dan keyakinan (belief). Perubahan sikap dan belief adalah penting supaya seseorang bisa mengatasi (cope) rasa ketakutan, rasa marah, dan dendam yang membuat konflik berkepanjangan. Keempat, pola interaksi dengan kelompok musuh harus direorientasi ulang ke arah hubungan saling tergantung yang menguntungkan. Kelompok harus berani mengambil risiko untuk memulai kontak baru supaya mulai timbul rasa percaya satu sama lain (Merwe, 1999). Berdasarkan empat dimensi atau lingkup rekonsiliasi

seperti yang disebutkan di atas, empat dimensi hubungan dapat diidentifikasi sebagai: dimensi identitas, dimensi nilainilai yang mengarahkan interaksi, dimensi sikap-sikap, dan dimensi pola-pola interaksi. Dengan mempergunakan kerangka koseptual dari Dugan (1996), dimensi rekonsiliasi dapat digambarkan ke dalam model lingkaran konsentris sebagai berikut:

74

PERILAKU

SIKAP

NILAI IDENTITA S

Gambar 3.3. Dimensi Rekonsiliasi (Sumber; Merwe (1999: 41) Lingkaran terluar adalah dimensi tingkah laku atau dalam konteks rekonsiliasi adalah pola-pola interaksi. Pada dimensi ini diperlihatkan apakah pola interaksinya cenderung ke arah kooperatif, atau justru masih bernuansa konflik. Lingkaran kedua adalah aspek sikap, yang menyangkut keyakinan dan sikap terhadap bekas musuhnya; apakah masih negatif atau sudah bergeser menjadi positif. Lingkaran ketiga menyangkut sistem nilai yang mendasari dan menentukan sikap dan perilaku—menyangkut konsepsi tentang keadilan, prinsip-

prinsip dasar kemanusiaan, dsb. Perubahan dalam dimensi ini
75

diyakini

akan

dapat

mempengaruhi yang terpenting

sikap yaitu

dan

perilaku.

Komponen

keempat,

menyangkut

identitas (baik kelompok sendiri dan kelompok musuh). Jika kelompok-kelompok dapat mereposisi diri sendiri (kelompok sendiri) dan kelompok lain dalam konteks konflik dan yang lebih terpenting redefinisi diri pascarekonsiliasi. Pendefinisian identitas dengan cara ‘saya benar - dan yang itu penindas, musuh’ bisa bergesar kepada kesadaran bahwa semua

kelompok mungkin bisa bersalah. Kalau transformasi identitas dapat dilakukan, besar kemungkinan rekonsilasi pada dimensi lain akan tercapai pula. Secara detail, masing-masing dimensi akan dibahas di bawah ini. Rekonsiliasi dan Pola Interaksi Dimensi rekonsiliasi yang paling tampak adalah pada aspek perilaku, yaitu bagaimana pola interaksi antar kelompok selama, saat dan setelah proses rekonsiliasi. Pola interaksi yang dikehendaki adalah yang tidak lagi menunjukkan pola berkonflik (seperti eskalasi kekerasan, saling curiga), namun lebih ke arah pola interaksi yang kooperatif. Harus ada peningkatan kualitas komunikasi yang lebih baik, mulai adanya

76

pertukaran barang dan jasa antarkelompok misalnya, bisa menjadi indikator mulai tumbuhnya pola interaksi yang positif. Pola tingkah laku dan sikap akan saling terkait untuk satu kelompok dengan kelompok lainnya. Jarangnya interaksi

misalnya, akan memperkuat sikap berprasangka dan timbulnya stereotip. Rasa saling tidak percaya (mistrust) sangat

bergantung pada apakah pola interaksi masih terisolasi satu sama lain, dan tidak adanya komunikasi yang terbuka. Tingkah laku negatif yang ditampilkan oleh salah satu pihak akan memperkuat sikap negatif pada kelompok lainnya, dan sikap negatif ini akan memicu pola interaksi yang negatif. Sebaliknya pola interaksi yang positif akan meningkatkan rasa percaya kelompok untuk berinteraksi dan berani mengambil risiko yang lebih dari hubungan antar kelompok. Pola hubungan timbalbalik (reciprocal) yang positif pada akhirnya adalah modal utama untuk membangun rasa saling percaya (trust building) di kemudian hari. Rekonsiliasi dan Sikap Satu indikator dari kesuksesan rekonsiliasi diukur dari terjadinya perubahan sikap dari membenci, takut, tidak

77

percaya, keinginan untuk membalas dendam menuju sikap saling menghormati, percaya dan memaafkan (Merwe, 1999). Mitchell (1981), mengklasifikasikan sikap ini menjadi dua kategori besar: 1) berorientasi emosional, seperti perasaan marah, tidak percaya, dendam, memandang rendah (scorn), curiga; 2) proses-proses kognitif, seperti stereotip, belief. Proses perubahan sikap ini biasanya menjadi salah satu teknik intervensi dalam usaha membangun kedamaian (peace building). Teknik pelatihan seperti ‘cultural sensivity training’ biasanya memfokuskan perhatiannya pada aspek sikap

antarkelompok. Kraybill (1996) mengatakan lebih detail seperti berikut: Trust takes time and effort to build, and the only way to build it is through taking risk. In the beginning, trust may be low, so risk may that are taken are low too. But as trust grows, bigger risks are taken, leading to increased trust. Where people live in a state of shalom, risk and trust expand in an on-going cycle, and the relationship moves to an ever deepening plane. (Kraybill, 1996: 19) Rekonsiliasi dan nilai Rekonsiliasi pada hakekatnya adalah penataan ulang

tatanan moral baru, tatanan nilai atau semacam kontrak sosial yang baru. Brummer (1994) misalnya mengidentifikasi tiga
78

kemungkinan kemungkinan

jenis

nilai-nilai

dan

kaitannya Pertama,

dengan nilai-nilai

tercapainya

rekonsiliasi.

manipu-latif. Jika nilai ini yang dikedepankan, rekonsiliasi tidak akan bisa menda-tangkan hubungan yang harmonis, karena bertolak belakang dari nilai-nilai perdamaian. Kemungkinan kedua adalah muncul dalam bentuk nilai-nilai kontraktual, dalam hal ini rekonsiliasi tercapai dengan mendasarkan diri pada kontrak sosial, masing-masing pihak terikat pada hak dan kewajiban tumbuhnya masing-masing. nilai-nilai Kemungkinan ketiga adalah atau

persaudaraan,

persahabatan

dinamakan oleh Brummer (1994) sebagai fellowship. Dengan nilai ini pihak-pihak tidak hanya sekadar mendasarkan

hubungan pada sejenis kontrak sosial, tetapi lebih terutama pada penghargaan dan empati, juga pada kebutuhan dan kepentingan pihak lain, sama seperti ia menghargai kebutuhan dan kepentingan kelompok sendiri. ini Brummer penting (1994) untuk

berpendapat

nilai-nilai

fellowship

mengukuhkan identitas baru dalam proses rekonsiliasi. Memperbaiki hubungan dan menciptakan tatanan moral yang baru, kalau perlu harus dilakukan dengan mengintrodusir nilai-nilai baru, ketim-bang sekadar mengubah kerangka nilai79

nilai yang sudah ada. Bahkan kalau perlu tatanan sosial, politik dan kultural yang baru perlu diintrodusir menyertai penataan nilai-nilai baru. Seperti yang dikatakan oleh Zalaquett (1994: 910): Building or reconstructing a morally just order entails building political culture and setting in place values, institutions and policies that will guard against the Rekonsiliasi dan Identitas Pada dasarnya, perubahan dalam dimensi identitas dalam suatu hubungan adalah pendefinisian ulang batas-batas yang membedakan dan mencirikan suatu kelompok dengan

kelompok lainnya.

Membangun suatu identitas baru, ketika

pencirian dan pembedaan identitas tidak lagi dalam kategori ‘salah’ atau ‘benar’, ‘kita’ dan ‘musuh’ . Dalam hal ini misalnya citra (image) yang dikaitkan dengan posisi sejarah masa lampau identitas adalah penting Isu untuk pendefinisian ingatan misalnya ulang adalah suatu dalam

kelompok.

kaitannya dengan soal identitas ini pula. Bahkan, rekonsiliasi menurut Correa (1992) adalah ‘reconciling people with their history’, lebih lanjut menurut dia: Men and women not only to reconcile with each other, but also need to reconcile themselves as a people. They need to reconcile their own history as a nation. History is their mirror,
80

in order to reconcile themselves, they first need to recognize themselves in that mirror. Correa (1992: 493) Citra dan identitas diri sendiri dan orang lain (musuh) selama konflik biasanya terus-menerus rupa, sehingga didistorsi penting dan

disimplifikasi

sedemikian

kiranya

momen rekonsiliasi dimanfaatkan untuk meluruskan citra dan identitas ini. Masalah citra dan identitas ini perlu di reevaluasi dengan mengkonfrontasikannya dengan fakta-fakta masa lalu sehingga posisi masing-masing identitas kelompok menjadi jelas, tidak lagi terdistorsi. Dimensi-dimensi Rekonsiliasi Dari pembahasan di atas terlihatlah dimensi kunci dari rekonsiliasi yang perlu diperhatikan adalah menyangkut ruang lingkup (spheres) yang perlu diubah (identitas, nilai-nilai, sikap dan perilaku). Dua dimensi lainnya yang juga perlu

diperhatikan dan dibahas lebih detail adalah komponenkomponen substantif dari rekonsiliasi (keadilan, kebenaran, penyembuhan, dan rasa aman), dan pada tingkatan mana intervensi diperlukan (individual, kelompok/komunitas atau nasional).

81

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa dimensi ruang lingkup memperlihatkan tingkat kedalaman perubahan di mana rekonsiliasi dapat dilakukan. Apakah hanya pada perubahan sikap, nilai atau perilaku atau sudah sampai pada perubahan identitas. menyentuh transformasi Rekonsiliasi perubahan kesadaran yang sikap dan superfisial dan misalnya hanya

perilaku, antara

sementara kelompok-

identitas

kelompok belum tercapai. Dimensi kedua dalam rekonsiliasi adalah komponen atau unsur-unsur substantif yang perlu diperhatikan dalam proses rekonsiliasi. Unsur substantif ini berkaitan dengan model kebutuhan manusia (human needs theory). Artinya, unsurunsur kebutuhan berikut harus dijadikan agenda (addressed) dalam proses rekonsiliasi. Unsur-unsur itu menyangkut;

kebenaran (truth), keadilan (justice), penyembuhan/pemulihan (healing) dan rasa aman (security). Dimensi berikutnya menyangkut pada tingkat sosial tempat rekonsiliasi akan dilakukan; apakah pada tingkat individual, komunitas atau nasional. Isu penting seputar dimensi ini adalah pada perdebatan di seputar pertanyaan: pada tingkat manakah rekonsiliasi harus dilakukan? Apakah rekonsiliasi pada suatu
82

tingkatan tertentu mempengaruhi atau menjadi presenden untuk tingkat lainnya? Apakah terjadi kesejajaran (paralel) atau kontradiksi antara masing-masing tingkatan? Persoalan tingkat ini juga jadi sangat relevan jika dikaitkan dengan strategi dan ideologi rekonsiliasi, apakah dimulai dari bawah (bottom-up strategy) ataukah dari atas ke bawah (top-down strategy). Strategi rekonsiliasi dari atas ke bawah memulai proses rekonsiliasi dari tingkat nasional dengan target elite dan pemimpin politik terlebih dahulu, baru kemudian pada tingkat komunitas dan individual. Sementara strategi dari bawah memilih mulai rekonsiliasi dari tingkat komunitas dan

interpersonal terlebih dahulu baru kemudian meningkat pada level nasional. Secara diagram ketiga dimensi ini dapat digambarkan sebagai berikut:

PERILAKU

SIKAP

NILAI IDENTITAS

83

Gambar 3.4. Lingkup rekonsiliasi (Sumber; Merwe (1999: 41) Rekonsiliasi dapat juga digambarkan berdasarkan unsur atau kompo-nen substantifnya dengan diagram lingkaran sebagai berikut:

KEADILAN

PEMULIHAN

KEBENARAN

KEAMANAN

Gambar 3.5 Komponen rekonsiliasi (Sumber; Merwe (1999: 51) Dua gambar berikut dapat digabung menjadi model dua
Perilaku

dimensi sebagai berikut KEADILAN :
Sikap Nilai

PEMULIHAN

Identitas

KEBENARAN
84

KEAMANAN

Gambar 3.6 Lingkup dan komponen rekonsiliasi (Sumber; Merwe (1999: 51)

Dimensi ketiga dalam rekonsiliasi adalah dalam tingkat rekonsiliasi yang dapat digambarkan ke dalam diagram vertikal sebagai berikut:

NASIONAL

KOMUNITAS

ANTAR PERSONAL

Gambar 3.7. Tingkat rekonsiliasi (Sumber; Merwe (1999: 52)
85

Ketiga gambar diatas dapat dirangkum ke dalam model rekonsiliasi tiga dimensi sebagai berikut:

Nasional

Komunitas

Interpersonal

Gambar 3.8. Model rekonsiliasi tiga dimensi (Sumber; Merwe (1999: 53) Komponen Rekonsiliasi: Kebutuhan-kebutuhan Sosial Empat unsur penting sering disebut dalam banyak literatur menjadi komponen terpenting dalam rekonsiliasi, yaitu

kebenaran (truth), keadilan (justice), penyembuhan/pemulihan (healing), dan rasa aman dan (security). di Pada umumnya rekonsiliasi

kebanyakan

sarjana

praktisi

bidang

menyebutkan empat unsur tersebut secara umum, namun ada
86

beberapa sarjana yang mengemukakan dengan cara sedikit berbeda. Lederach (1994) melihat rekonsiliasi dalam tiga perspektif. Pertama, rekonsiliasi sebagai hubungan. Kedua, rekonsiliasi sebagai ‘pergulatan’ (encounter), dan ketiga,

rekonsiliasi sebagai suatu ‘ruang sosial’ (social space). Yang dimaksud oleh Lederach sebagai ‘ruang sosial’ adalah tempat di mana konsep-konsep yang lazim disebut sebagai konsep keadilan (justice), kedamaian (peace), pengampunan (mercy) dan kebenaran (truth) saling berinteraksi. Secara diagram, lingkaran konsep Lederach dapat digambarkan sebagai berikut: KEADILAN

PERDAMAIAN

REKONSILIASI

PENGAMPUNAN

KEBENARAN

Gambar 3.9. Komponen rekonsiliasi dari Lederach. Bagi Lederach, keadilan (justice) mencakup ide-ide

mengenai persamaan hak (equality); bagaimana hak-hak asasi diwujudkan dan dihormati, bagaimana restitusi dapat

dilakukan. Sementara itu aspek kebenaran (truth) mencakup
87

penghargaan, kejujuran, pengungkapan dan kejelasan (clarity). Pengampunan (mercy) merujuk kepada soal peneri-maan, rahmat (grace), belas kasihan (compassion), penyembuhan, dan pemulihan (healing). Dan kedamaian mencakup

pengertian; harmoni, kesatuan, kesejahteraan (well being), rasa aman (security), dan rasa hormat (respect). Bagi

Lederach, rekonsiliasi dalam hal ini lebih dilihat dari hasil akhir terpenuhinya unsur-unsur ini. Agak lain dari pendapat sebelumnya, Shriver (1985) mengembangkan suatu model rekonsiliasi yang lebih

menekankan pada aspek keadilan (justice), ingatan dan harapan untuk komunitas pada masa datang. Shriver (1985) mengatakan: No ‘new integration’ will ever possible between enemies in a struggle over social justice without mutual achievement of a new memory of the past, a new justice in the present, and a new hope for community in the still-to-be achived future. (Shriver, 1995: 217). Model Shriver dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:
Keadilan

Ingatan

Rekonsiliasi

Harapan terhadap masa depan komunitas

88

Gambar 3.10. Komponen rekonsiliasi menurut Shriver Seperti terlihat dari gambar di atas, agak berbeda dari yang terdahulu dalam memandang proses rekonsiliasi, Shriver sangat mementingkan faktor ingatan dalam modelnya. Bagi Shriver, proses rekonsiliasi ketiga hanya tercapai tersebut dengan secara

mengintegrasikan

komponen

menyeluruh. Rekonsiliasi adalah harapan baru untuk komunitas pada masa depan sekaligus penyelesaian persoalan-persoalan masa lampau. Baik model Shriver maupun Lederach, masing-masing komponennya hampir mirip dan saling melengkapi satu sama lain. Model terintegrasi yang dikembangkan oleh Merwe (1999) mencakupnya ke dalam satu model terintegrasi seperti yang bisa dilihat pada gambar 3.8. Dalam model tiga dimensi ini masing-masing tingkat kedalaman rekonsiliasi (identitas, nilainilai, sikap dan perilaku) akan terus bergerak ke lingkaran terdalam (identitas) jika masing-masing komponen rekonsilasi
89

(keadilan, kebenaran, pengampunan dan rasa aman) bisa terpenuhi selama proses rekonsiliasi berlangsung. Rekonsiliasi mungkin bisa dipandang sebagai penjumlah unsur-unsur yang mendukungnya, tapi tidak dalam pengertian masing-masing komponen saling lepas satu sama lainnya. Misalnya, keadilan lebih mungkin dirasakan kalau kebenaran diungkapkan.

Penyembuhan dan pemulihan akan mudah tercapai kalau ada keadilan dan kebenaran. Begitu juga dalam soal kedalaman intervensi, perubahan tingkah laku akan memudahkan

perubahan sikap. Transformasi kesadaran (identitas) lebih mudah tercapai kalau didahului oleh perubahan nilai-nilai, sikap dan perilaku. Dengan begitu dapat dikatakan, rekonsiliasi adalah suatu proses perubahan pada empat komponen penting yang

berkaitan dengan kebutuhan sosial pihak-pihak yang terkait. Pertama, pihak terkait harus merasakan adanya keadilan. Keadilan pascarekonsiliasi harus diupayakan untuk dipenuhi, sementara itu ketidakadilan harus dikoreksi. Kedua, diperlukan kesadaran bahwa kebenaran pada masa lalu harus diungkap dan dijelaskan secara terbuka. Ketiga, kerentanan kelompok untuk memulai lagi konflik karena tidak adanya rasa aman
90

harus dikurangi. Dalam hal ini, kelompok-kelompok perlu mendapatkan jaminan keamanan, bahwa eskalasi tidak akan terjadi lagi. Keempat, kelompok-kelompok penyembuhan terkait perlu

menyadari

bahwa

proses

dan

pemulihan

(healing) hanya bisa berlangsung kalau ada kemauan untuk menghargai viktimisasi perasaan, kelompok luka-luka, lainnya. trauma serta harga sejarah diri dan

Pemulihan

manajemen trauma diperlukan dalam rangka pemulihan ini. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, proses rekonsiliasi idealnya mencoba memenuhi semua komponen dan dimensi rekonsiliasi, walapun prioritas bisa saja berbeda-beda antara satu budaya, bangsa, dan komunitas tertentu. Maksudnya negara tertentu misalnya mungkin lebih memprioritaskan isu kebenaran dulu, negara dan kelompok lain misalnya

memprioritaskan keadilan terlebih dahulu. Model terintegrasi mengenai rekonsiliasi seperti yang terlihat dalam gambar 3.8 mengisyaratkan bahwa pemenuhan komponen yang menjadi kebutuhan sosial kelompok/komunitas perlu mendapat perhatian. Berikut pembahasan mengenai komponen tersebut secara lebih detail.

91

Rekonsiliasi dan Keadilan Betapapun beragamnya definisi dan pengertian ‘keadilan’ sebagai suatu istilah ilmiah, semua ahli sepakat bahwa pemenuhan rasa keadilan bersifat universal dan merupakan satu kebutuhan dasar manusia di muka bumi ini. Mungkin terdapat pelbagai macam variasi dan ekspresi mengenai keadilan, namun secara umum masyarakat bisa mengerti dan merasakan apakah keadilan sudah tercapai atau belum. Studi-studi dari ahli psikologi dan antropologi (Lerner, 1986; Nader & Sursock, 1986) menyimpulkan bahwa motif untuk keadilan mungkin sama mendasarnya dengan kebutuhan biologis lainnya. Kaitan mengenai motif untuk keadilan (justice motive) dengan rekonsiliasinya oleh Zehr, dikatakan sebagai berikut : The experience of justice is a basic human need. Without such an experience, healing and reconciliation are difficult or even impossible. Justice is a precondition for closure. A full sense of justice may, of course, be rare. However, even ‘approximate justice’ can help (Zehr, 1990: 188) Dalam konflik yang berat dan serius memang mustahil mendapatkan keadilan, justru ketidakadilan biasanya

merupakan salah sumber pecahnya konflik. Perlakuan tidak
92

adil dalam pelbagai macam bentuk, penindasan, pengusiran, pengucilan, diskriminasi dan sebagainya menimbulkan ‘luka’ yang mendalam buat kelompok lainnya. Karenanya proses rekonsiliasi ketidakadilan harus pada bisa masa mengkoreksi lalu lewat praktik-praktik strutural,

perbaikan

pemerataan kesempatan, penegakan hukum dan sebagainya. Perbaikan hubungan yang merupakan tujuan utama rekonsiliasi akan mustahil tercapai jika pelanggaran hukum dan praktik ketidak-adilan dibiarkan terus-menerus terjadi tanpa ada usaha yang serius untuk memperbaikinya. Kedua belah pihak secara bersama-sama harus mempunyai kesepa-haman tentang bagaimana keadilan pada masa

mendatang dapat diwujudkan. Keadilan menurut Merwe (1999) adalah proses interaktif yang menghendaki partisipasi aktif dari kedua belah pihak. Misalnya, soal retribusi, soal rekonstruksi masa lalu, soal pengampunan dan pemaafan, harus dirasakan adil oleh kedua belah pihak. Kedua belah pihak harus mempunyai kesepahaman bagaimana proses yang adil dalam menangani masalah-masalah ini. Dalam dukungan masa dan transisi mekanisme (misalnya instituisi pascakonflik) untuk ketika

mewujudkan
93

keadilan sering kali tidak dapat diterapkan, yang kemudian mengemuka justru persepsi satu dimensi mengenai keadilan (salah – benar). Hal ini malah akan bersifat kontra-produktif. Dalam hal ini banyak sarjana berpendapat bahwa konsep keadilan transisi (transitional justice) lebih layak untuk

dikedepankan. Rekonsiliasi, Kebenaran dan Ingatan Satu kata kunci untuk mencapai rekonsiliasi terletak pada cara bagaimana menyikapi soal kebenaran di masa lalu, yang pada akhirnya akan berkaitan dengan persolan sejarah dan ingatan. Maksudnya adalah bahwa rekonsiliasi memerlukan kesepakatan di antara kelompok-kelompok mengenai

bagaimana masa lalu harus dipandang. Dengan kata lain, harus ada kesepakatan antara kelompok-kelompok tentang aspek ‘kebenaran’ (truth) yang terjadi di masa lalu tersebut. Namun persoalannya tidaklah sesederhana itu, mengingat beberapa persoalan kemudian akan mengemuka. Pertama, karena biasanya antara pihak yang bertikai terdapat

perbedaan tentang versi kebenaran yang mereka pegang. Pertanyaannya; versi kebenaran siapakah yang harus

dipegang? Kalau terdapat perbedaan versi, bagaimana mereka
94

harus mencari titik tengah antara pelbagai macam versi tersebut? Kedua, bagaimanakah caranya kebenaran itu bisa diungkap? Mekanisme dan instrumen apakah yang dapat diandalkan untuk mengungkap kebenaran tersebut? Pada titik inilah kaitan antara masa lalu, kebenaran, aspek sejarah dan ingatan akan saling berkaitan satu sama lain. Kejadian-kejadian yang telah terjadi pada masa lalu akan selalu menjadi bagian dari ingatan orang-orang dan komunitas yang menyaksikannya, sebagian lagi akan menjadi fakta-fakta sejarah. Dengan begitu jelaslah, bahwa kebenaran tentang masa lalu sebagian akan sangat tergantung kepada faktor ingatan, sebagian lagi akan sangat tergantung kepada

‘kecanggihan’ sejarah sebagai mekanisme perekam kejadiankejadian faktual. Persoalannya akan menjadi rumit manakala sejarah juga tidak akan sepenuhnya bisa seratus persen objektif, sahih dan terandalkan dalam merekam fakta sejarah. Kebenaran kesahihan sejarah dan dalam ukuran obyektivitas, juga tingkat

keterandalannya

sering

diragukan.

Kekurangan ini biasanya ditutupi oleh faktor ingatan, yakni seberapa jauh masyarakat bisa menggunakan mekanisme ingatannya untuk mengatasi kekurangan dalam fakta sejarah
95

tersebut. Persoalanya justru kemudian menjadi lebih rumit lagi, mengingat ingatan sebagai suatu proses kognitif dan sebagai suatu proses konstruksi sosial justru sangat rentan terhadap distorsi dan pengelabuan. Dengan demikian, jika

mengandalkan kebenaran tentang masa lalu pada faktor ingatan, kemungkinkan timbulnya konflik ingatan dibandingkan dengan konflik sejarah lebih mungkin terjadi. Persoalan yang kemudian menjadi pelik adalah bagaimana caranya

merekonsiliasi sejarah sekaligus ingatan tentang masa lalu tersebut. Mengenai hal ini terdapat pelbagai macam solusi. Pertama, soal-soal mengenai aspek kebenaran di masa lalu yang menjadi pelik karena lemahnya faktor kebenaran sejarah dan tentu saja soal ingatan, akan dicoba diatasi dengan memakai wasit atau hakim (arbitrase atau pendekatan hukum) untuk menentukan mana yang paling benar. Dalam hal ini tentu saja mekanisme hukum akan menjadi andalannya. Beberapa orang misalnya menyakini bahwa pencarian aspek kebenaran melalui jalur hukum ini lebih memungkinkan terpenuhinya aspek keadilan bagi semua pihak. Namun sebagian yang lainnya justru memandang proses pencarian kebenaran lewat
96

pengadilan misalnya hanya akan menghasilkan ‘pihak yang menang’ dan ‘pihak yang kalah’, yang justru di kemudian hari berpo-tensi meninggalkan luka dan dendam baru, yang pada satu saat akan berpotensi menimbulkan konflik baru. Pendekatan kedua, mencoba menyelesaikan perbedaan mengenai masa lalu ini dengan makna mencoba baru, serta

memperbincangkannya,

mencari

merundingkan di antara pihak-pihak yang terkait. Apa yang diinginkan adalah bukan sekadar mencari kebenaran hukum atas masa lalu, namun yang lebih penting adalah adanya pemaknaan baru dan kesepakatan baru tentang apa yang telah terjadi di masa lalu. Pendekatan menggabungkan ketiga kedua adalah pendekatan dengan di atas. mencoba Ada proses

pengungkapan kebenaran dengan pendekatan hukum dan sekaligus usaha untuk merekonsiliasi dan menegosiasikan persoalan masa lalu tersebut. Pola ini adalah yang paing ideal untuk sebuah gerakan rekonsiliasi. Berdamai atau melakukan rekonsiliasi, yang intinya memaafkan kesalahan pihak lain, tidak berarti bahwa kesalahan di masa lalu dilupakan dan kebenaran tentang hal itu tidak diungkapkan. Semua pihak
97

perlu mendapat kejelasan tentang apa sebenarnya yang terjadi pada masa lalu. Kekaburan pengertian tentang kejadian pada masa lalu akan terus-menerus menimbulkan perasaan saling tidak percaya (mistrust), atau paling tidak akan menjadi beban ingatan (memory burden) mengenai kejadian tersebut. Hal ini di kemudian hari akan menjadi rintangan untuk mewujudkan rekonsiliasi. Becker (1990) mengaitkan isu kebenaran, keadilan dan transformasi sosial dalam rangka rekonsiliasi sebagai berikut: To advance the process of social reparation, it will be necessary to publicly establish the truth of the victims’ experience. Truth, in this case, means the end of denial and silence. It means facing pain, loss, and conflict that have been intentionally avoided in the belief that if things are not mentioned they cease to exist and that wounds not reopened will allow social peace. Establishing the truth is necessarily linked to demands for justice, but the process cannot and must not end there. Clarifying responsibilities for what happened is a necessary but not a sufficient condition for obtaining truth. At both the individual and collective levels, the capacity for being moved ethically and emotionally must be recovered. (Becker, 1990: 133) Negara yang punya pengalaman dalam mengungkap aspek kebenar-an, keadilan dan rekonsiliasi adalah Afrika Selatan. Deputy chairperson TRC commission, Alex Boraine,

mengungkapkan pengalaman Afrika Selatan sebagai berikut:

98

To seek truth is not necessity an act of revenge, nor does it need to deteriorate into a witch-hunt. To know the truth is to counter the deceit, the cover-ups, which characterize much of oppression in South Africa. In this sense, truth is the beginning of reconciliation. To perpetuate the living of a lie makes reconciliation impossible. (Boraine, 1994: x) Bagi Shriver isu kebenaran dan pemaafan adalah elemen terpenting dalam rekonsiliasi. Bagi dia rekonsiliasi tidak akan tercapai kalau dua hal ini tidak dibicarakan sungguh-sungguh oleh para pihak yang bertikai. Lebih lanjut ia mengatakan: Begins with a remembering and a moral judgment of wrong, injustice, and injury… Absent a preliminary agreement between two or more parties that there is something from the past to be forgiven, forgiveness stalls in the starting gate. (Shriver, 1995: 7) Jelaslah kelihatan, bahwa aspek kebenaran tidak dapat dilepaskan Mengingat dari dalam persoalan suatu mengingat masya-rakat adanya (remembrance). yang akan ingatan

direkonsiliasikan

memerlukan

pertautan

dengan masa lalu. Dalam pengertian ini, masyarakat tetap perlu mengingat kejadian-kejadian tersebut tanpa disertai dengan perasaan dendam, melainkan menerimanya dengan ikhlas sebagai bagian dari masa lalu. Kehilangan ingatan terhadap masa lalu adalah kehilangan jati diri masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat memerlukan kesamaan
99

pengetahuan mengenai ingatan kolektif tentang masa lalu, dan dengan begitu identitas yang sama dapat ditegakkan. Tidak ada lagi perpecahan yang disebabkan karena adanya

perbedaan dalam faktor ingatan kolektif. Where common memory is lacking, where men do not share in the same past there can be no real community, and where community is to be formed common memory must be created… The measure of our distance from each other in our nations and our groups can be taken by noting the divergence, the separateness and leack of sympathy in our social memories. Conversely the measure of our unity is the extent of our common memory. (Niebuhr, 1941: 9). A society cannot reconcile itself on the grounds of a divided memory. Since memory is identity, this would result in a divided identity. It would thus be important to reveal the truth and so build a moral order. (Zalaquett, 1994: 13). Sehubungan dengan persoalan ingatan ini, memang ada keengganan dan resistansi yang besar untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu. Mengingat begitu banyak kekerasan-kekerasan dan pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang telah terjadi di masa lalu, yang notabene banyak menginggalkan perasaan traumatik. Bagi para pelaku (perpetrator), jika pelanggaran ini diungkap maka akan berisiko kepada posisi politik mereka di saat sekarang, atau kemungkinan untuk mendapatkan hukuman jika terbukti
100

bersalah. Bagi para korban, pengungkapan ini juga tidak mudah karena akan berisiko pada pembangkitan kembali lukaluka lama yang sebenarnya ingin mereka lupakan. Namun menurut Jelin (1994), walaupun pahit hal ini selayaknya tetap harus diungkap. Karena, walau bagaimanapun, ingatan tidak akan pernah bisa diabaikan dan dilupakan begitu saja, bahkan demi dalih untuk ke masa depan sekalipun. [The] human rights movement is an ‘entrepreneur’ attempting to promote a certain kind of memory. Its adversaries belong to two political streams with alternative ideological projects: there are those who want to glorify the behavior of the military as heroes…, and there are those who seeks to heal society’s wounds and conflicts through forgetfulness and ‘reconciliation’, concentrating their efforts on the (economic and political) urgencies of the presents and trying to ‘look toward the future’…[The goal of the human rights movement] is a political and ideological task that stems from identifying remembrance with the construction of political culture and identity. (Jellin, 1994: 50) Lebih lanjut, Jellin mengatakan : Only when the incorporation of historical events becomes an active and dynamic process can it feed into the construction of a democratic culture and collective identity. In this sense, there is a double historical danger: oblivion and void fostered by politics and its complement, ritualized repetition of the traumatic and sinister story, of tragedy reappearing constantly without the chance for new subjectivities to emerge. (Jellin, 1994: 53) Terlepas dari pola mana yang akan ditempuh dalam penegakan keberaran, harus diingat bahwa pencarian
101

kebenaran

pada

masa

lalu

harus

menjamin

tercapainya

rekonsiliasi, bukan malah sebaliknya menimbulkan konflik baru. Proses rekonsiliasi seharusnya menjadi sarana yang tepat untuk merekonsiliasi ingatan terhadap masa lalu.

Rekonsiliasi dan Rasa Aman / Pemberdayaan Rekonsiliasi hubungan pada intinya ke adalah arah perubahan baru dalam yang

antarkelompok

hubungan

dilandasi oleh tingkat kepercayaan (trust) tertentu. Karena proses membangun saling percaya (trust building) ini adalah mutlak—dan selama dalam prosesnya masih akan terdapat risiko pola kekerasan bisa muncul kembali—makanya selama proses ini tingkat rasa aman (security) antarkelompok harus bisa dijamin. Harus ada jaminan bahwa eskalasi kekerasan, ataupun penyalahgunaan kekuasaan seperti yang pernah dilakukan pada masa lalu, tidak akan terulang lagi. Di tempat-tempat di mana konflik sering ditandai dengan pelanggaran berat hak asasi manusia serta eskalasi kekerasan, diperlukan perlindungan bagi kelompok-kelompok untuk tidak terkena eskalasi kekerasan. Kalau perlu, diciptakan semacam zona damai di mana kelompok bisa merasa aman.
102

Perlindungan rasa aman juga dibutuhkan kelompok dari kemung-kinan untuk terancam tidak hanya dalam pengertian fisik, tapi juga keterancaman secara verbal, oleh proses ‘labeling’ dan lain-lainnya. Rekonsiliasi dan Pemulihan Satu pertanyaan penting dalam proses rekonsiliasi adalah apakah pemulihan rekonsiliasi baik pada menghasilkan tingkat penyembuhan komunitas dan dan

individual,

nasional? Terkadang kita berhadapan dengan lingkaran setan rekonsiliasi-pemulihan. Rekonsiliasi diasumsikan memerlu-kan tingkat pemulihan tertentu untuk bisa terwujud; pulih dulu baru rekonsiliasi. Di lain pihak, kalau rekonsiliasi tercapai, maka pemulihan adalah hasil akhir dari proses rekonsiliasi tersebut. Terlepas dari sukarnya menarik batas dalam pengertian anteseden-konsekuen dari pemulihan atau penyembuhan dan rekonsiliasi, yang terpenting adalah proses rekonsiliasi harus secara bersungguh-sungguh mengupayakan tercapainya

proses penyembuhan (pemulihan) baik pada tingkat individual, komunitas dan masyarakat (Winslow, 1997, Merwe, 1999), seperti yang dikatakan Desmond Tutu sebagai chairperson TRC di Afrika Selatan:
103

Our nation needs healing. Victims and survivors need healing. Perpetrator are, in their own way, victims of apartheid system and they, too, need healing (Tutu, 2000: ). Sama dengan komponen rekonsiliasi lainnya,

penyembuhan atau pemulihan (healing) lebih tepat dipandang sebagai prasyarat dan sekaligus hasil akhir dari proses rekonsiliasi. Maksudnya, tingkat pemulihan tertentu dalam individu dan kelompok diperlukan supaya mereka bisa

melangkah ke proses rekonsiliasi dalam skala yang lebih besar. Sebaliknya kalau rekonsiliasi tercapai, proses penyembuhan atau pemulihan baik pada tingkat individu, kelompok ataupun bangsa bisa dipercepat, sebagaimana dikatakan Montvile (1989 & 1983). Islah Sebagai sebuah istilah, islah diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai ‘perdamaian atau

penyelesaian suatu pertikaian’. Menurut Mubarok (2001), istilah islah berasal dari kosa kata bahasa Arab yang berarti kurang lebih sama dengan rekonsiliasi. Lebih lanjut Mubarok (2001) mengatakan: In Arabic Language, reconciliation called as “ishlah” which is from the world of “Shalaha”. “Shalaha” defines as an opposite
104

meaning of damage, that is good, proper, suitable and peaceful reconciliation and compromise… Furthermore, the term of ishlah in the Quran means to improve ourselves toward other person, family, or even society. In the surah of as-Syura/42:40, Ishlah is recommended for people who are suffering from a despotic government. In this context, they are encouraged to forgive and to treat people who made despotic action nicely, though they are able to make revenge. (Mubarok, 2001: 65-66) Dari definisi tersebut, jelas bahwa istilah islah adalah pengertian umum yang mencakup rekonsiliasi, resolusi konflik dan perdamaian. Landasan utama dari islah adalah adanya kesediaan dari korban untuk tidak membalas dendam,

sungguhpun ia diperbolehkan untuk dan bisa melakukannya. Nilai keutamaan dari islah terletak pada kemampuan dan kemauan untuk memberikan maaf kepada pihak yang telah menyebabkan penderitaan (berbuat zalim) terhadap korban. Dalam perspektif Al Qur’an lebih lanjut dikatakan bahwa islah dianggap sebagai suatu bentuk penyelesaian konflik secara bijaksana.

105

Ingatan (Memory) Bagaimana manusia mengingat masa lalunya adalah salah satu pertanyaan utama yang menjadi perhatian banyak sarjana dan peneliti dari pelbagai macam disiplin ilmu, mulai dari biologi, psikologi, filsafat, antropologi hingga sosiologi. Jalan panjang dalam rangka menjawab pertanyaan di atas telah menghasilkan banyak temuan dan teori. Studi tentang

mengingat (remembering) dan tentang ingatan (memory) dalam perspektif ingatan individual (individual memory)— terutama dalam model kognitif atau yang sering juga disebut dengan model pengolahan informasi (human information processing)—pada umumnya mendominasi literatur-literatur psikologi mengenai ingatan. Disertasi ini tidak akan membahas ingatan dalam pengertian dan perspektif ini, namun difokuskan kepada ingatan dalam pengertian ‘shared memory’ atau yang lebih sering disebut sebagai ingatan kolektif (collective

memory). Pembaca yang ingin mempelajari literatur mengenai studi ingatan dalam perspektif individual dan kognitif bisa melihat pada Baddeley, 1983; Boles, 1988, Neisser, 1982, Neisser & Winograd, 1988; Parkin, 1987; Ross, 1991, Tulving & Craik, 2000.
106

Pembahasan berikut akan menguraikan lebih lanjut soal ingatan kolektif ini, dan terutama kaitannnya dengan konflik dan rekonsiliasi.

Ingatan Kolektif (Collective Memory) Who are the keeper of collective memories? In the final analysis, we all are. (Neal, 1998: 213) Kebanyakan riset dan teori dalam psikologi pada umumnya difokus-kan pada proses penyimpanan dan pemanggilan

kembali (recall) informasi yang sudah disimpan dalam diri individu. Proses-proses kognitif yang mendapat perhatian utama adalah seperti proses jejak ingatan (mnemonic),

penyimpanan dan pemanggilan (storage and retrieval), akurasi ingatan (accuracy of recollection). Dalam bidang psikologi, studi mengenai ingatan secara tradisional diserahkan pada psikolog eksperimental atau psikolog kognitif. Akhir-akhir ini, bidang psikologi sosial mulai menggeser pusat studinya kepada psikologi sosial yang lebih berorientasi pada analisis tingkat kelompok sosial (group level of analysis) ketimbang hanya sekadar invidual. Kesadaran ini misalnya mulai dilontarkan oleh Stephan & Stephan (1985) dalam bukunya The Two Social
107

Psychologies: An integrated Approach. Menurut Stephan & Stephan (1985), tingkah laku sosial manusia hanya bisa dijelaskan dengan lebih memuaskan jika penjelasan pada tingkat individu (individual level) berjalan paralel dengan penjelasan pada tingkat kelompok (group level of analysis). Konsep ingatan kolektif, collective memory—ingatan yang dipunyai oleh kelompok sosial—menjadi subjek penelitian dari banyak psikolog sosial akhir-akhir ini (Pennebaker, dkk, 1997), dan menjadi konstruk yang signifikan dalam kaitannya dengan konflik etnik (Cairns & Roe, 2003). Penelitian-penelitian

mengenai ingatan kolektif, tampaknya adalah salah satu respon terhadap buku Stephan & Stephan tadi. Akar pemikiran mengenai ingatan kolektif dapat ditelusuri pada Durkheim (1912) seorang pemikir sosiologi terkemuka. Konsep Durkheim mengenai ‘collective representations’

misalnya dimaksudkan sebagai bagaimana suatu masyarakat atau kelompok mengembangkan sistem kepercayaan mereka sendiri, dan pada akhirnya hidup dalam representasi itu serta kemudian menjadi ciri dan identitas mereka. Bartlett (1923, 1932) seorang psikolog sosial eksperimental dalam karya monumentalnya yang berjudul Remembering: A Study in
108

Experimental and Social Psychology, meletakkan batu pertama dalam studi ingatan ke arah ingatan kolektif. Penjelasan Bartlet (1932), tentang pentingnya representasi sosial dan proses rekonstruksi sosial dalam proses mengingat telah

memperlihatkan kelemahan pendekatan kognitif individual semata dalam menjelaskan bagaimana ingatan dibagi (shared). Salah satu temuan Bartlett adalah, bahwa konstruksi sosial dan budaya akan memberikan semacam ‘skema sosial’ yang membuat hasil recall dalam studi ingatan menjadi bias. Hasil eksperimentasi sosial Bartlett menyimpulkan bahwa ketika proses mengingat diletakkan dalam konteks sosial, proses rekonstruksi sosial lebih memungkinkan terjadi daripada hanya sekadar mekanisme kognitif, recalling. Ide tentang ingatan kolektif (collective memory) ini

kemudian menjadi sangat terkenal setelah dikembangkan oleh Maurice Halbwachs (1950/ 1980; 1982), seorang murid

Durkheim, yang banyak belajar dan mengajar psikologi sosial (Coser, 1992). Sejak Maurice Halbwach mempelopori konsep collective memory, sejumlah sarjana dan peneliti dari pelbagai latar belakang disiplin ilmu mulai mengeksplorasi konsep ini dengan pelbagai variasi perspektif teori dan metodologi,
109

misalnya: Connerton, 1989; Fentres & Wickham, 1992; Huton, 1993; Middleton & Edwards, 1990b; Neiser, 1982; Neisser & Winograd, 1988; Pennebaker & Banasik, 1997; Schwartz, 1982, Cairns & Roe, 2003, untuk menyebut beberapa di antaranya. Menurut Halbwachs dan pengikut-pengikutnya, ingatan adalah suatu konstruk yang tidak bisa dipisahkan dari domain sosial tempat orang tinggal. Posisi Halbwachs ini juga didukung oleh psikolog Rusia Lev Vygotsky (Wertsch,1985). Masingmasing mereka mempertanyakan anggapan bahwa ingatan hanya ada pada individu. Halbwachs (1922) berargumentasi bahwa pada hakikatnya hampir semua ingatan manusia dibentuk dan diorganisir dalam konteks kolektif. Hampir semua kejadian, pengalaman, dibentuk lewat interaksi individu

dengan orang lain. Karenanya masyarakat akan memberikan bingkai (framework) pada keyakinan-keyakinan, pengetahuan, tingkah laku dan proses-proses rekoleksinya. Asumsi Vygotsky hampir sama Halbwachs, dengan mengatakan bahwa ingatan orang dewasa sangat tergantung pada masyarakat atau komunitas. Mekanisme sosial yang mengarahkan ingatan adalah bahasa dan wacana (discourse). Bahasa dan wacana merupakan simbol utama yang akan mendefinisikan bingkai
110

ingatan manusia, yang dalam hal ini sangat terikat konteks sosial (Bakhursts, 1990). Halbwach lebih lanjut mengatakan bahwa kelompok sosial atau kelompok kultural menyediakan dasar-dasar bagi

pembentukan ingatan, dan yang akan menentukan apa yang akan diingat dan bagaimana manusia mengingatnya. Halbwach berbicara mengenai lokalisasi ingatan (localization of memory) dengan berargumen bahwa ingatan (memory) tersebut

‘berada’ di dalam kelompok-kelompok tersebut, dan secara bersamaan ada juga ‘di dalam’ individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. What makes recent memories hang together is not that they are contiguous in time: it is rather that they are part of a totality of thoughts common to a group, the group of people with whom we have a relationship at this moment, or with whom we have had a relation on the preceding day or days. To recall them it is hence sufficient that we place ourselves in the perspective of this group, that we adopt its interests and follow the slant of its reflections. Exactly the same process occurs when we attempt to localize older memories. We have to place them within a totality of memories common to other groups.. (Halbwach, 1992: 52). Salah satu premis utama dari teori Halbwach terletak pada argumen-tasinya bahwa proses wacana dan bahasa adalah elemen utama dalam ingatan. Seseorang dalam mengingat atau membuat kaitan dengan masa lalunya adalah dengan
111

cara membicarakannya dengan orang lain. Menurut Halbwach (1952), sebagai makhluk sosial, proses mengingat manusia sangat dipengaruhi oleh interaksi kita dengan orang lain, dan pengaruh dari interaksi inilah yang pada akhirnya

mempengaruhi proses internal kognitif seseorang. Premis ini misalnya ditegaskan lagi oleh Neal (1998) sebagai berikut: We usually think of memory as reflected in the retrieval of information that is stored in the brains of individuals. However, in the final analysis, memory is a collective phenomenon. The human brain is certainly central to what we associate with being human. After all, it is the complexity and sophistication of the human brain that sets us apart from all other animals. In the final analysis, however, the contents of the human brain are primarily social in character. It is through the use of language and other symbols, and through our interactions with others, that we construct the possibilities and the limits of the world around us. Images of ourselves and of our external environment are shaped by memories that are passed on by legions of men and women we have never known and shall never meet. (Neal, 1998 : 202) Neal (1998) berpendapat, bahwa hanya dengan cara mengkonsep-tualisasikan ingatan dengan cara seperti inilah kita punya cara untuk memulai dimensi baru dalam studi mengenai ingatan, dan yang akan menghubungkan kita dengan masa lalu. Dalam hal ini ingatan individual tidak lagi dipisahkan dengan konteks sosialnya. Apa yang diingat dan

112

bagaimana cara kita mengingat dalam suatu konteks sejarah, politik, sosial, dan budaya menjadi sangat penting. Ingatan kolektif (collective memory) sering disamarkan pengertiannya dengan ingatan sosial (social memory).

Beberapa ahli memang meng-anggap pengertiannya sama saja, di antaranya Swindler & Arditi (dalam Pennebaker, 1997). Sementara itu, Paez & Basabe (1997, dalam Pennebaker, 1997), membedakan konsep ini. Menurut mereka, “Collective memory ask how social groups remember, forget, or

reappropriate the knowledge of the social past” atau seperti yang dikatakan oleh Wegner sebagai ingatan kolektif adalah: Collective memory is the memory of the society”. Collective memory, on the other hand, can be considered as distributed process of memory or transactive memory. (Wegner ,1998, dalam Paez, Basabe & Gonzalez, 1997: 147) Sementara itu, ingatan sosial dianggap sebagai pengaruhpengaruh faktor-faktor sosial tertentu terhadap ingatan

invididu atau pengaruhnya terhadap ingatan-ingatan dalam masyarakat (social memory can be conceived of as the influence that certain social factors have on the individual memory or the memory in society). Terlihat disini ada
113

penajaman konsep. Pertama dibedakan antara ‘ingatan’ itu sendiri, apa yang dinama-kan sebagai ingatan yang dibagi (shared)oleh sebagian besar masyarakat atau ingatan kolektif (collective memory). Kedua, yaitu ingatan sosial (social

memory), atau bagaimana faktor-faktor sosial membingkai dan mempe-ngaruhi ingatan tadi. Pada kenyataannya dalam

pelbagai riset perbedaan yang tajam antara social memory dan collective memory tidaklah terlalu dipersoalkan. Dalam

memahami ingatan kolektif, kedua hal ini sukar dilepaskan satu sama lain. Dari pelbagai sumber, secara ringkas pengertian collective memory dapat diringkas sebagai berikut : Collective memories are widely shared images and knowledge of a past event that has not been personally experienced, is collectively created and shared, and has social functions. (Schuman & Scott, 1989) Collective memories: those socially and culturally influenced memories that are shared by individuals within different groups of society, and whose main characteristic include : a) These memories have a discursive nature and are based on communication. They are constructed, transmitted, and modified through talk. b). Collective rememberring is a dynamic process by which images of the past are influenced by discourses in the present and reinterpreted to the context in wich they are articulated and by reference to their future implications for a nations’s self-understanding and political priorities. c).Collective memories are contested: Groups battle for the acceptance of their different versions of the past and a
114

society’s memories are negotiated and defined within a context of debate, sometimes fierce and sustained. d). Memory is spatial. Nora (1989:9) notes that memory “takes root in the concrete, in spaces, gestures, images, and objects”. (Burke, 1989; Fentriss & Wickham, 1992; Halbwachs, 1980, 1982; Huyssen, 1995; Middleton & Edwards, 1990; Nora, 1989; 1996; Pennebaker, dkk, 1997; Sturken, 1997; Zelizer, 1995). Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik suatu pengertian dan defenisi yang mencakup keseluruhan pengertian tentang ingatan kolektif (collective memory) sebagai berikut: Ingatan kolektif adalah: ingatan, gambaran, pengetahuan tentang masa lalu yang dikenang secara bersama oleh individu-individu yang ada dalam kelompok. Ingatan tersebut sifatnya dibagi (shared), ditransmisikan, dan dilanggengkan bersama lewat proses diskursif (komunikasi, bahasa, tulisan, percakapan, dialog, diskusi, dll) atau juga lewat tindakan nyata (bodily practices) seperti: perayaan dan upacara (commemoration), pergerakan sosial (social movement). Dalam hal ini, antara ingatan individual dan ingatan kolektif saling melengkapi satu sama lain, dalam arti kata proses berbagi bersama secara sosial (social sharing) akan membingkaikan dan mengarahkan persepsi dan ingatan masing-masing individu tentang masa lalu, dan semacam narasi tentang hal itu akan timbul dalam kelompok. Isu dalam ingatan kolektif bukan sekadar apa yang diingat, tetapi malah mengapa itu yang diingat dan bagaimana mengingatnya.

115

Ingatan Kolektif dan Ingatan Individual. While the collective memory endures and draws strenght from its base in coherent body of people, it is individuals as group members who remember. (Halbwachs, 1950: 48) Walaupun maksud dan tujuan disertasi ini ingin

mengeksplorasi lebih lanjut isu ingatan kolektif, sejumlah riset tradisional mengenai ingatan dalam psikologi kiranya relevan juga untuk diuraikan, terutama yang berkaitan sangat erat dengan kolektif ingatan. Kiranya relevan untuk menguraikan dimensi dari ingatan individual yang dapat diterapkan dalam konteks sosial dan lebih jauh bagaimana hubungan timbal baliknya dengan ingatan kolektif. Seperti yang dikatakan Halbwachs (1950), setiap kelompok pastilah terdiri dari individu-individu yang menjadi anggotanya, namun seperti juga prinsip Psikologi Gestalt, keseluruhan tidak sama dengan penjumlahan bagianbagiannya. Ingatan kelompok tidak sama dengan penjumlahan ingatan terbentuk anggota-anggota bukan karena kelompok. penjumlahan Ingatan elemen kelompok ingatan

individual, namun ingatan kelompok timbul karena proses
116

pertukaran atau proses diskursif lewat proses social sharing yang terjadi antar anggota dalam kelompok. Dalam bahasa kelompok teori representasi sosial (Moscovici, 2000),

pengertian ingatan kolektif ini bisa kita analogkan sebagai representasi sosial kelompok atas masa lalu (social

representation of the past). Studi-studi ingatan dalam pengertian psikologi kognitif individual, memberikan istilah autobiographical memory

(Conway, dkk, 1992; Kotre, 1995; Neisser & Fivush, 1994; Ross, 1991; Rubin, 1986, 1996) untuk menunjuk bagaimana

sesorang mengingat aspek personal dari masa lalunya. Studistudi dalam bidang autobiographical seberapa memory jauh misalnya bisa

membahas

isu-isu

seperti:

individu

mengingat kehidupan masa lampaunya, bagaimana akurasi dari ingatannya, mengapa individu hanya mengingat hal tertentu dan melupakan hal tertentu lainnya. Kalau kita menempatkan posisi autobiograhical memory dalam konteks ingatan kolektif, hal itu akan menambah dan memperkaya dinamika dari ingatan hubungan kolektif. antara Hutton ingatan (1993) individu misalnya, dengan

menganggap

ingatan kelompok adalah penting, dalam pengertian ingatan
117

kolektif adalah sarana bagi ingatan individual untuk menempati signifikansi sosial: .. memory is only able to endure within sustaining social contexts. Individual images of the past are provisional. They are ‘remembered’ only when they are located within the conceptual structures that are defined by communities at large. Without the life-support system of group confirmation, individual memories wither away…even individual memories have their social dimension, for they are in fact composite images in which personal reminiscences are woven into an understanding of the past that is socially acquired. (Hutton, 1993 : 6) Memisahkan dan menganggap yang satu (antara ingatan kolektif dan ingatan individu) lebih penting dari yang lain akan membawa kita pada pemahaman parsial, dan akan kehilangan dinamika dalam memahami hakikat ingatan manusia (human memory). Ingatan kolektif misalnya muncul sebagai hasil interaksi dan proses diskursif dari anggota-anggota yang saling berkomunikasi satu sama lain. Kalaupun terjadi kontradiksi antara ingatan individual dan ingatan kolektif, proses ini tidak bisa dikatakan sebagai peniadaan satu sama lain. Wagner (1987) misalnya lebih setuju untuk menggunakan istilah sistem ingatan transaktif (transactive memory system) untuk merujuk pada proses timbal balik antara ingatan individual dan ingatan kolektif. Menurut Wagner (1997), fenomena ingatan kolektif tidaklah tepat jika diletakkan semata-mata dalam pengertian
118

tempat ber’da’nya (reside); apakah berada di dalam individu atau di dalam kelompok, namun di antara keduanya, bahkan mungkin dalam interaksi dan transaksi di antara dan di dalam kelompok mengatakan: This unique quality of transactive memory brings with it the realization that we are speaking of a constructed system, a mode of group operation that is build up over time by its individual constituents. Once in place, then the transactive memory system can have an impact on what the group as a whole can remember, and, as a result, on what individuals in the group remember and regard as correct even outside the group. In short, transactive memory derives from individuals to form a group information processing system that eventually may return to have a profound influence upon its individual participants. (Wagner, 1987: 191) Fenomena sistem ingatan transaktif ini misalnya bisa diterapkan untuk menjelaskan gejala ‘roupthink’ dari Janis (1983), yang mengatakan pikiran kelompok kerap kali tersebut (Wagner, 1997). Lebih lanjut ia

mengambil alih dan lebih berkuasa dari pikiran individual. Ia adalah kesadaran pikiran dan dan pikiran kesadaran kelompok yang mentranwhole

sendensi

anggotanya,

the

becomes greater than the sum of its parts. Proses-proses Ingatan

119

Teori-teori psikologi kongnitif atau pengolahan informasi (human information processing) biasanya memfokuskan

perhatiannya pada proses bagaimana individu menyimpan (store) dan memanggil kembali (recall) informasi (Baddeley, 1989; Siegel, 1999; Tulving & Craik, 2000; Wegner, 1987). Walaupun seperti dikatakan Bolles (1998), proses mengingat adalah seni berimajinasi, bahkan tidak ada ‘lokasi’ dalam otak yang jelas-jelas menunjukkan di mana soal masa lalu itu disimpan, “remembering is as act of imagination. There is no storehouse of information about the past anywhere in our brain” (Bolles, 1998: xi). Proses-proses ingatan dalam model psikologi kognitif

umumnya dibagi kedalam empat tahap:
-

Sensing and perception: yaitu cara bagaimana sampai ke manusia, dan bagaimana manusia

informasi

menyerap informasi tersebut.
-

Encoding: proses saat kita memilah-milah, memberi

arti dan memberikan kode tertentu terhadap pesan atau informasi
-

Storage: sistem dan cara penyimpanan informasi. Retrieval: proses yang memungkinkan kita

mengambil kembali informasi yang disimpan.
120

Tahapan dan proses ini kalau kita kaitkan dengan ingatan kolektif serta implikasinya terhadap resolusi konflik adalah: pada tahapan mana saja dalam proses ingatan tersebut yang rentan terhadap pemalsuan dan pengelabuan. Tahapan awal dalam proses ingatan, persepsi, misalnya adalah akar dari konflik. Kebanyakan premis utama dalam literatur mengenai resolusi konflik adalah bahwa persepsi yang berbeda-beda terhadap suatu hal adalah kerap kali menjadi penyebab utama dari konflik (Folger & Poole, 1984; Singer, 1998a, 1998b). Persepsi acapkali sangat subjektif, mudah berubah, bahkan acapkali keliru yang pada akhirnya akan makin mempertajam konflik. Walaupun demikian, bukan berarti pada tahapan-tahapan lainnya kemungkinan untuk timbul distorsi dan subjektifitas tidak tinggi. Dalam beberapa studi di antaranya; Bartlett (1932); Baddeley (1989); Conway (1996), Rubin, (1996), justru menunjukkan proses pemanggilan

kembali (retrieval) sepertinya adalah

tahapan yang paling

rentan terhadap bias. Ingatan pada kenyataannya tidaklah diberi kode, disimpan, dan dipanggil seperti bagaimana kita memahami dalam pengertian ‘mesin’ yang sempurna, namun dalam prosesnya hal-hal seperti subjektivitas, emosi, khayalan,
121

narasi akan mewarnai proses coding, storage dan retrieval (Rubin, 1996). Adanya kesalahan dalam proses recalling tidak hanya menyangkut soal akurasi, tapi terkadang juga bahkan orang bisa mengingat dan mengeluarkan lagi ingatan tentang

kejadian-kejadian yang tidak pernah dialaminya sama sekali. Gejala ini sering disebut sebagai: sindroma ingatan palsu, False Memory Syndrom (Loftus, 1979). Bias, subjektifitas dan kesalahan-kesalahan dalam proses ingatan ini ternyata tidak hanya murni gejala individual, tapi dijumpai juga pada ingatan kolektif. Hampir sama dengan gejala pada ingatan individual, fenomena bias pada ingatan kolektif juga ada pada tahap persepsi, encoding, storage, terutama pada tahap retrieval. Halbwachs misalnya

menegaskan bahwa: ”even at the moment of reproducing the past our imagination remains under the influence of the present social milieu” (Halbwach, 1992 : 49). Distorsi atas ingatan kolektif ini kadang-kadang memang disengaja untuk kepentingan politik tertentu. Dalam kaitannya dengan resolusi konflik dan rekonsiliasi, pengelabuan dan pendistorsian ingatan kolektif ini bisa merintangi jalan ke arah
122

rekonsiliasi.

Atau

bisa

juga

bisa

sebaliknya,

terjadinya

perubahan pemahaman kita atas masa lalu suatu kelompok yang negatif dan dalam kaitannya dengan identitas kelompok di masa sekarang akan mempermudah jalan ke arah pemaafan dan rekonsiliasi. Ingatan Kolektif dalam Perspektif Waktu The simple passage of time reshape memory. (Schudson, 1995 : 348) Satu pertanyaan penting dalam studi ingatan adalah: apakah ada korelasi antara lama berjalannya waktu dengan akurasi ingatan? Studi-studi klasik dalam bidang psikologi kognitif tentang ingatan, misalnya tentang kurva lupa dari Ebbinghaus (Baddeley, 1982) memang memperli-hatkan bahwa ingatan akan cenderung memburuk sejalan dengan

berjalannya waktu. Artinya ingatan kita tentang suatu hal dari waktu ke waktu cenderung akan berkurang, yang pada suatu titik lebih tepat dikatakan sebagai suatu bentuk lupa

(forgetting). Prinsip-prinsip dalam ingatan individual ini akan berlaku juga pada ingatan kolektif, namun tidak dalam pengertian yang linear seperti dalam perspektif ingatan individual.
123

Schudson

(1995)

mengatakan

bahwa

isu

mengenai

ketidakakuratan ingatan kolektif seiring dengan berjalannya waktu bisa jadi tidak terlalu relevan, dalam pengertian bahwa memang pada kenyataannya dengan berlalunya waktu ingatan kolektif pasti sedikit banyak akan berubah. Paling tidak dua aspek dari ingatan kolektif akan berubah sejalan dengan proses berjalannya waktu. Pertama, detail tertentu akan mulai berkurang dan mungkin hilang. Ingatan lama-kelamaan bisa menjadi lebih kabur (vague). Kedua, intensionalitas emosi dan perhatian mengenai hal tersebut akan terus berkurang.

Dengan demikian arti pentingnya ingatan tersebut baik bagi individu, kelompok ataupun bangsa akan menjadi berkurang. Dengan begitu lama-kelamaan suatu ingatan bisa menghilang (fade away). Namun sebegitu jauh tidak ada hukum yang pasti dalam jangka waktu berapa lama suatu ingatan kolektif akan tetap bertahan, dan dalam jangka waktu berapa lama suatu ingatan kolektif akan menghilang ditelan waktu. Beberapa variabel misalnya bisa dianggap sebagai variabel moderator terhadap pengaruh dari waktu terhadap ingatan kolektif. Pertama, akan sangat tergantung kepada seberapa penting suatu ingatan dalam kaitannya dengan suatu identitas,
124

terutama identitas politik. Semakin penting suatu ingatan untuk keberlangsungan identitas, semakin besar kemungkinan ingatan tersebut dilestarikan. Dalam hal ini kepentingan politik, kekuasaan, faktor kultural akan menentukan seberapa jauh ingatan kolektif tersebut akan terus ditransmisikan ke generasi berikutnya, termasuk juga seberapa jauh ingatan tersebut akan diubah, dimodifikasi, direkonstruksi ulang, dan atau diciptakan ingatan baru. Dengan tidak terelakkannya dimensi waktu dalam ingatan kolektif, dengan cara yang sama pula faktor waktu sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai suatu sarana untuk mendistorsi ingatan kolektif. Schudson (1995) misalnya menyebutkan bahwa strategi ‘distanciation’ (membiarkan untuk waktu yang lama, sehingga tercipta jarak waktu yang lama dengan peristiwa), adalah lazim dipakai misalnya dalam konteks politik ingatan. Misalnya, apa yang sebelumnya dikatakan sebagai strategi pendiaman ingatan (the silent memory). Strategi pendiaman ini biasanya dipadukan dengan kontrol represi negara untuk tidak mengingat suatu peristiwa. Strategi ‘distanciation’ yang tidak dipadukan dengan

kontrol represif, asal bersifat alamiah dan sukarela sebenarnya
125

tidak selamanya bersifat merugikan, bahkan seperti prinsip umum yang berlaku, time heals all the wounds. Sedikitnya ada dua keuntungan yang didapat dengan berlalunya waktu. Pertama, kemungkinan terjadinya perubahan sudut pandang (perspektif). Dengan berjalannya waktu, ada kesempatan untuk meman-dang persoalan pada masa lalu secara lain, tidak hanya dari perspektif yang selama ini mereka yakini. Kedua, soal peredaan kadar emosi. Dengan berjalannya waktu emosiemosi negatif yang menyertai ingatan kolektif dapat berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Transmisi Ingatan Kolektif The structure of memory is quite complex and sensitive to both external and internal factors as it constructs the past, the present and the future. (Siegel, 1999: 23-23) Satu pertanyaan penting adalah, jika ingatan kolektif tidak harus suatu ingatan yang dialami langsung oleh seseorang, lantas dari mana asal usul dan datangnya ingatan itu, dan bagaimana ia ditransmisikan. Penelitian dalam bidang ingatan kolektif memperlihatkan pelbagai macam cara masyarakat belajar tentang masa lalu mereka. Ada institusi-instusi yang akan bertindak sebagai penampung yang konsisten bagi
126

penciptaan dan pelanggengan ingatan-ingatan tersebut dalam suatu kelompok atau masyarakat. Dalam kebanyakan literatur, dapat ditelusuri tiga macam sumber ingatan kolektif, yaitu: keluarga dan kelompok (Fivush, 1991; Halbwachs, 1992; Hirst & Manier, 1996; Neisser, 1994), pendidikan (Apple & ChristianSmith, 1991; Firer, 1998; Fratczak, 1981) dan media (Farr, 1990; Neal, 1998; Nerone & Wartella, 1989; Wegner, 1987). Dalam kebanyakan penelitian, keluarga sering diidentifikasi sebagai institusi awal tempat seseorang mewariskan ingatan kolektifnya. Seperti yang dikatakan Halbwachs: It is true that all sort of ideas can call to mind recollections of our family. In fact, from the moment that family is the group within we pass the major part of our life, family thoughts become ingredients of most of our thoughts. (Halbwachs, 1992: 61) Pewarisan ingatan kolektif ini misalnya dapat ditelusuri dari cerita-cerita dan narasi-narasi dalam keluarga lewat transmisi oral (oral trans-mission). Lewat cara transmisi oral inilah ingatan kolektif ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya. Oleh karena itu tidak hanya ingatan personal atau dalam dimensi personal yang ditransmisikan, namun ingatan tentang peristiwa sosial, politik dan kultural juga ikut

ditransmisikan. Karenanya beberapa isu-isu kultural, politik,
127

sosial sangat mudah terselip-kan dalam cerita-cerita keluarga. Oleh karena itu, keluarga dan kelompok terdekat memang merupakan sumber ingatan politik dan ingatan kultural yang paling signifikan (Fivush, 1991). Pendidikan adalah sumber lainnya di mana ingatan kolektif ditanamkan dan ditransmisikan. Beberapa penelitian

memperlihatkan bahwa konstruksi sosial atas buku teks dan kurikulum sekolah mempunyai pengaruh yang besar dalam penciptaan dan pelanggengan ingatan kolektif (Apple &

Chistina-Smith, 1991; Lerner, Nagai, & Rothman, 1995). Dalam soal ini, misalnya pengaruh politik dalam bentuk kekuatan untuk mengontrol informasi menjadi faktor penentu yang signifikan, bahkan walaupun dalam bentuk kontrol yang tidak langsung sekalipun. Media massa juga mempunyai pengaruh yang besar dalam mentransmisikan ingatan-ingatan tertentu. Koran, radio,

televisi punya pengaruh dalam menentukan dan memilih hanya untuk menyiarkan peristiwa tertentu dan tidak peristiwa lainnya. Para pelaku media juga bisa memasukkan opini dan ideologi tertentu dalam pemberitaannya. Menurut Neal (1998), masyarakat tidak hanya merespon informasi yang disiarkan
128

oleh media tapi juga kepada interpretasi, makna dan opini yang dibawakan berita tersebut. Seperti halnya juga dalam area pendidikan, kontrol politik dalam hal ini sangat berkaitan dengan kontribusi media terhadap ingatan kolektif. Sebegitu jauh kita telah melihat pengaruh keluarga, pendidikan dan media dalam memahami bagaimana (why) dan di mana (where) ingatan kolektif ditanamkan. Namun faktor terpenting lainnya adalah pada saat kapan (when) ingatan kolektif menjadi sangat penting dan menonjol (salient). Memang pada kenyataannya ingatan kolektif bertumbuh dan berevolusi sepanjang masa dalam kehidupan individu dan masyarakat. Ada saat-saat tertentu dalam kesadaran kolektif kita yang mudah sekali menerima pengaruh. Riset-riset dalam bidang ingatan kolektif (Neal, 1998; Schuman & Scott, 1989) memperlihatkan bahwa orang-orang cenderung mengingat dan tidak mudah lupa pada kejadiankejadian yang terjadi ketika mereka berada pada usia remaja sampai dewasa awal, masa-masa yang disebut sebagai masa pembentukan identitas (the formating years). Fenomena ini dikenal sebagai ‘generational effects’ dalam studi ingatan kolektif. Selama periode ini, satu generasi dalam masa (cohort)
129

ini akan terkena pengaruh yang sama dan akan mengingat secara bersama-sama (collective remembering) semua

peristiwa budaya, politik, sosial yang ada di sekitar mereka. Ingatan dari satu generasi mungkin berbeda dengan ingatan di satu generasi lainnya, mungkin bisa jadi terjadi kesenjangan (gap), bia jadi terjadi konflik (conflicting memories), atau pelanggengan ingatan (perpetu-ating memories). Dalam hal ini kemungkinan mana yang akan terjadi akan sangat ditentukan oleh bagaimana pola transmisi ingatan kolektif itu. Kuatnya penanaman dan pewarisan ingatan kolektif oleh ketiga institusi tadi; keluarga, pendidikan dan media boleh jadi akan melanggengkan ingatan kolektif suatu komunitas. Sementara itu, sejarah menurut Pennebaker (1997) besar kemung-kinan akan bersumber dari ingatan kolektif orangorang pada masa itu yang punya kekuatan sosial dan politik untuk menuliskannya, seperti yang ia katakan: Members of a given cohort who have been affected by largescale events will be the very people who subsequently write the event’s history and influence the collective memories for succeding generations (Pennebaker, 1997: viii) Ingatan Kolektif sebagai Konstruksi Sosial

130

Memory is where social constructionism developmental psychology meet (Neisser, 1994 : 11)

and

Tidak diragukan lagi semenjak dari era Bartlett (1932) sampai pada teori dan penelitian mutakhir dalam era psikologi kognitif—terutama pada eranya Urich Neisser—satu premis dasar dari psikologi kognitif yang tidak terbantahkan adalah bahwa manusia akan secara selektif memproses Di dan

menginterpretasikan pelbagai universal: macam

dunia

sekeliling ada,

mereka.

antara asumsi oleh

teori

yang

terdapat akan

satu

proses-proses

kognitif dan

diarahkan dari

kepentingan-kepentingan

tujuan-tujuan

individu

(Robinson, 1996). Prinsip ini konsisten dengan pandangan teori konstruksi sosial (Berger & Luckman, 1966: Gergen, 1985) yang menyatakan bahwa realitas adalah subjektif, cair dan suatu entitas yang mempunyai tujuan sendiri sesuai dengan kepentingan dan ideologi yang merekonstuksinya. Prinsip dan perspektif konstruksi sosial sebagaimana ia berlaku pula pada bagaimana fenomena masa ingatan sekarang kolektif akan

menjelaskan

mempengaruhi

‘realitas’ masa lalu, dan bagaimana individu dan masyarakat secara selektif mengenang dan mengingat masa lalu berdasar131

kan kebutuhan, ideologi, dan tujuan-tujuan masa sekarang (Eber & Neal, 2001; Ross & McFarland, 1988; Schwartz, 1982; Shotter, 1990). Relevansi-nya pada disertasi ini adalah terletak pada prinsip bahwa ingatan kolektif bukanlah proses yang pasif, sebagai sekadar recalling, tapi sesuatu yang lebih aktif, suatu proses konstruksi sosial di mana kepentingan turut bermain. Berangkat dari pemahaman ingatan kolektif sebagai suatu bentuk konstruksi sosial dapatlah dimengerti bahwa ingatan

kolektif dalam praktik-nya tidaklah dapat dilepaskan dari kepentingan politik suatu kelompok, komunitas atau suatu bangsa. Dalam hal ini proposisi bahwa posisi masa sekarang adalah sebagaimana ia dipengaruhi oleh masa lalu, mungkin tidaklah sesederhana itu, tapi bahkan juga mungkin sebaliknya, hakikat dan realitas masa lalu akan ditentukan oleh

kepentingan, kebutuhan dan tujuan masa sekarang. Posisi ini misalnya ditegaskan oleh Melor & Bretherton (2003) dalam studi tentang ingatan kolektif antara kulit putih dan aborigin dalam konteks Australia: An examination of the literature on memory suggest that a chronological account, where past memories generate present stances it too simplistic to be useful basis for understanding reconciliation process. In reality, present stances influence
132

what is remembered and what is forgotten in both individuals and groups. Therefore, an alternative analysis of memory is required. (Melor & Bretherton, 2003: 39). Ingatan Kolektif sebagai Alat Kepentingan Memory dies unless it’s given a use. (Michaels, 1966: 193) Berangkat dari pemahaman bahwa ingatan kolektif lebih mudah dipahami dalam perspektif konstruksi sosial,

pertanyaan berikutnya adalah untuk kepentingan siapa ingatan kolektif dibuat, ditransmisikan dan dilanggengkan? Dalam perspektif invidual, ingatan akan menentukan siapa kita, “we are what we remember” ingatan (Cummins, kolektif 1995: adalah 59). alat Dalam untuk

perspektif

kolektif,

memperkokoh kohesivitas sosial, identitas, dan alat justifikasi kepentingan dan tujuan-tujuan tertentu, seperti yang dikatakan oleh Halbwach: Specifically, the function of socially shared images of the past (collective memory) is to allow the group to foster social cohession, to develop and defend social identification, and to justify current attitudes and needs. (Halbwachs dalam Paez, Basabe & Gonzalez, 1997: 147) Oleh karena itu ingatan kolektif sangat memungkinkan untuk dipolitisir, atau apa yang disebut sebagai politik ingatan
133

(the politics of memory). Karena itu besar kemungkinan bagi ingatan kolektif untuk dimodifikasi, direkayasa, dimanipulasi ataupun didistorsi supaya cocok dengan kebutuhan dan kepentingan politik saat sekarang ini (Baumeister & Hastings, 1997; Eber & Neal, 2001; Gaskel & Wright, 1997; LustigerThaler, 1996; Middleton & Edwards, 1990, Neale, 1998; Pennebaker, 1997). Karena masalahnya adalah lebih kepada konstruksi atau tafsir sosial atas masa lalu, ingatan kolektif memungkinkan kelompok-kelompok untuk membuat pelbagai macam tafsir atas ingatan kolektif. Bahkan, sangat memungkinkan antara satu kelompok dengan kelompok lain akan saling berkonflik dalam soal ingatan kolektif ini. Dengan begitu menjadi jelas bahwa ingatan kolektif bisa merupakan sumber konflik atau dijadikan alat legitimasi untuk memperpanjang konflik. Seperti yang dikatakan oleh Pennebaker (1997: vii): “powefull

collective memories – wether real or concocted – can be at the roots of war, prejudice, nationalism, and cultural identities”. Posisi sebaliknya juga bisa terjadi; kemauan politik dan kebutuhan sosial kelompok saat ini—katakanlah misalnya untuk resolusi konflik dan rekonsiliasi—mengharuskan
134

kelompok untuk membuat tafsir baru atas ingatan kolektif mereka. Satu tujuan khusus dari penanaman, pentransmisian dan pelestarian ingatan kolektif adalah dalam rangka memperkuat dan meneguhkan rasa nasionalisme atau identitas kultural tertentu (Balibar, 1995; Conway, 1997; Kelman, 2001;

Zerubavel, 1995). Ingatan kolektif ini kemudian akan diperkuat dengan perayaan-perayaan atau diromantisir dalam bentuk mitos. Mitos adalah contoh paling jelas dari bagaimana sejarah dan ingatan kolektif diarahkan untuk kepentingan politik, betapapun terkadang disadari bahwa mitos-mitos tersebut akan terasa ‘janggal’ ketika diselipkan dalam sejarah, bahkan tekadang 1982). Ingatan Kolektif sebagai Pemulihan Alat untuk Mencapai bersifat kontradiktif (LeGoff, 1992; Yerushalmi,

Penyembuhan/

Collective memory can be an effective tool for reconciliation and healing for individuals and local communities. (Chirwa, 1997: 482) Ingatan kolektif timbul, direkonstruksi, dipertahankan, dan diwariskan selalu dalam suatu konteks sosial dan politik tertentu. Ingatan kolektif dalam hal ini selalu dipahami sebagai
135

suatu hasil dari proses mengalami kejadian-kejadian yang mempunyai makna sosial yang cukup signifikan, misalnya kejadian politik traumatik. Pada umumnya lebih banyak

kejadian-kejadian traumatik kolektif yang kemudian menjadi ingatan kolektif masyarakat. Persoalan kemudian menjadi dilematis ketika peristiwa tersebut akan diingat, baik pada tingkat individu, kelompok dan terutama pada tingkat kolektif yang menyangkut: apakah kita akan melupakan peristiwa tersebut? Apakah tetap akan mengingat seperti ‘apa adanya’, secara objektif, lengkap dengan data dan fakta yang objektif? Atau akan mengingat dengan ‘cara yang lain’? Dalam konteks inilah pertanyaan krusial yang ingin dijawab baik pada tingkat teoretis dan praktis adalah menyangkut hubungan

pengungkapan kebenaran (antara kebenaran sejarah dan ingatan kolektif), dengan proses penyembuhan dan pemulihan serta rekonsiliasi. Dalam hal ini, pandangan bahwa ingatan kolektif akan memainkan fungsinya sebagai alat untuk mencapai

kesembuhan dan pemulihan pasca peristiwa traumatik akan sangat masuk akal. Berangkat dari asumsi bahwa langkah pertama untuk mencapai rekonsiliasi adalah dengan cara peng136

ungkapan kebenaran (Edelstein, 1994). Pertanyaan selanjutnya adalah: versi kebenaran siapa yang mesti didengar dan diungkapkan? Bagaimana jika timbul berbagai macam versi kebenaran? Bisakah dicapai ‘kesepakatan’ jika terjadi berbagai macam versi kebenaran? Di beberapa negara, pengungkapan kebenaran disponsori oleh negara (Afrika Selatan, Rwanda), pada beberapa negara lain, proses ini disponsori oleh lembaga bukan negara (gereja, LSM) seperti kasus Guatemala. Hasil yang ingin dicapai oleh adanya komisi kebenaran (baik itu disponsori negara atau lembaga bukan negara) adalah untuk menghasil-kan

‘kesepakatan’ yang terdokumentasi tentang suatu peristiwa traumatik. Hasil kerja komisi ini kemudian yang akan menjadi proyek sejarah (historical project) yang dilaporkan pada negara, yang kemudian akan menjadi pijakan bagi bangsa, komunitas, dan individu untuk pulih dan melangkah ke arah rekonsiliasi. Dalam kerangka proyek rekonsiliasi yang

disponsori oleh lembaga formal, strategi dan politik ingatan suatu negara akan menjadi pijakan formal (hukum dan politik) bagi suatu komunitas untuk mengusahakan pemulihan dan rekonsiliasi. Dalam ketiadaan kerangka ini, komunitas akan
137

mencari cara mereka sendiri untuk pulih dan melakukan rekonsiliasi. Dalam kondisi seperti ini, peranan ingatan kolektif sebagai alat untuk mencapai penyembuhan dan pemulihan akan sangat masuk akal. Satu contoh dari usaha kelompok dan kolektiva untuk memunculkan ingatan kolektif mereka sendiri adalah apa yang dilakukan oleh gerakan Madres de la Plaza de mayo – mothers of disappeared child - , kelompok ibu-ibu di Argentina pascadiktatorial yang menginginkan ‘kebenaran’ tentang

penghilangan dan penculikan anak-anak mereka diungkapkan. Dalam hal ini ingatan kolektif versi mereka hendak ditampilkan sebagai kebenaran sejarah. Mereka meminta pengakuan

bahwa telah terjadi kejahatan (penculikan, pembunuhan) secara sistematis oleh negara terhadap anak-anak mereka. Pengakuan terhadap ingatan kolektif ini yang mereka tuntut, bukan kompensasi dalam bentuk uang. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa ingatan kolektif akan dengan sendirinya dimunculkan, diciptakan,

didokumentasikan, dan diabadikan demi dan untuk mencapai proses penyembuhan dan pemulihan terhadap masa lalu yang menyakitkan. Apa yang dicapai oleh gerakan sosial yang
138

bernama ‘Khulumani’ (speak out group) di Afrika Selatan, kelompok-kelompok tempat orang berbicara dan bersaksi, adalah sebagai satu strategi untuk membicarakan, proses berbagi dan proses katarsis setelah peristiwa politik traumatis. Apa yang ingin dicapai adalah adanya dukungan emosional dan proses penyembuhan lewat katarsis bicara, atau analog dengan apa yang dikatakan Freud sebagai ‘talking cure’. Persoalannya adalah, ingatan kolektif seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bersifat dikonstruksi secara sosial, lentur, sarat kepentingan, mudah mengalami distorsi, subjektif. Padahal posisinya sebagai alat untuk sebagai titik berangkat (starting point) bagi proses penyembuhan dan pemulihan dalam rangka rekonsiliasi menjadi amat strategis. Walaupun kaitan antara ingatan kolektif dengan proses pemulihan, rekonstruksi dan rekonsiliasi secara teoretis masih belum konklusif, namun Chirwa (1997) berani menyimpulkan bahwa: It is for this reason that collective memory becomes part of the process of healing, reconciliation, and reconstruction at both the individual and communal levels. (Chirwa, 1997: 482) Commemoration

139

Satu cara masyarakat membuat ingatan kolektif terus hidup dalam komunitasnya adalah lewat perayaan-perayaan (commemoration), atau proses saat komunitas mengenang, memberi penghormatan dan melakukan semacam ‘napak tilas’ terhadap kejadian-kejadian pada masa lalu. Distorsi dan penggunaan ingatan kolektif seperti yang diuraikan di atas sangat ditunjang oleh proses commemoration ini. Sesuai dengan pendapat Halbwach seperti dikutip Hutton (1993) berikut ini: Halbwach’s theory was particularly appealing to the historians of the politics of commemoration because of his insistence on the way which collective memory is continually revised to suit present purposes. Because we continually reinvent the past in our living memories, they are highly unreliable as a guide to what actually transpired, and their imagery must be interpreted for hidden agendas (Hutton, 1993: 7) Connerton (1989) mengatakan commemoration adalah semacam mengingat. praktik ritual dengan Frijda proses cara mana masyarakat bahwa akan

Sementara adalah posisi

(1997)

mengatakan laku yang

commemoration mendefinisikan

tingkah dalam

individu

kontinuitas

sejarah.

Beberapa penelitian lain melihat bahwa commemoration dan pengaruhnya masyarakat terhadap menempati ingatan posisi kolektif penting dalam dalam suatu wacana
140

mengenai sejarah (Hutton, 1993; Neal, 1998; Schwartz, 1982; Zerubavel, 1985). Collective memory is substantiated through multiple forms of commemora-tion: the celebration of communal festival, the reading of a tale, the participation in a memorial service, or the observance of a holiday. Through these commemorative rituals, group create, articulate and negotiate their shared memories of particular events (Zerubavel, 1995: 5) Peristiwa-peristiwa yang sering diperingati biasanya adalah peristiwa yang mempunyai pengaruh dan perubahan besar dalam kehidupan individu dan masyarakat. Satu bentuk lain dari commeration adalah proses pengkisahan kembali

(storytelling). Pelbagai macam bentuk cerita, narasi dan sejarah lisan mempunyai kontribusi yang besar dalam

pembentukan ingatan kolektif (Fentress & Wickham, Freeman, 1993: 1992; Gergen & Gergen, 1997; Middleton & Edwards, 1990; Miller, 1994; Neisser, 1994; Pennebaker & Banasik, 1997; Ross, 1991). Pentingnya soal narasi dan wacana dalam pembentukan ingatan kolektif terletak pada kenyataan bahwa ‘realitas baru’ akan terbentuk dengan cara membawa masa lalu ke masa sekarang. Bellah, dkk. (1985) menyatakannya sebagai komunitas ingatan di mana masyarakat mengabadikan masa lalunya, “a community of memory is “one that does not
141

forget its past”. In order not to forget the past, a community is involved in retelling its story, its constitutive narrative” (Bellah, dkk , 1985: 153). Kecenderungan untuk membuat pengisahan kembali

(storytelling) sebenarnya adalah kecenderungan manusia yang paling lumrah, sebagai-mana juga anak kecil terpesona dengan kisah-kisah yang dituturkan oleh kakek-neneknya. Adalah juga lumrah dalam proses pengisahan kembali beberapa bagian hilang, kebenaran dan makna mungkin berubah selama proses transmisi informasi. With the passing of time, the boundaries around specific events weaken as they are placed within the general fabric of social life. In telling and retelling the stories of our past, the events in question become stereotyped and selectively distorted as they become embedded in our collective memories (Neal, 1998: 201) Banyak cara yang dilakukan tiap-tiap generasi untuk membuat narasinya sendiri. Narasi bukan sekadar

memperingati (commemorate) dan mengenang masa lalu, bahkan terkadang ia mengkonstruksikannya. Terkadang jalinan kekuasan ikut pula menentukan apa yang harus dituturkan. Bahkan terkadang apa yang dituturkan dalam sebuah narasi tidak terlalu penting dibandingkan siapa yang menuturkan dan
142

bagaimana ia dituturkan (Sarup, 1996). Juga kepada siapa narasi tadi akan dituturkan, akan sangat menentukan

keberlangsungan ingatan kolektif. Dari uraian-uraian sebelumnya mengenai dinamika ingatan kolektif sebagai suatu konstruksi sosial, kelihatannya masalah ini lebih tepat didekati lewat lewat metode penelitian (method of inquiry) dengan paradigma kualitatif seperti groundend theory methodology, social constructionism, analisis wacana (discourse analysis) dan narasi (narrative approach). 3.3.9. Ingatan Kolektif dan Sejarah Sebegitu jauh telah dibahas mengenai ingatan kolektif dan dinamika-nya. Soal yang belum jelas adalah bagaimana sebenarnya kaitan antara ingatan kolektif dan sejarah? Teori-teori terutama psikologi proses tradisonal mengingat mengenai kembali ingatan— (recall)—

dalam

membedakan dua macam ingatan; pertama ingatan episodik (episodic memory), yaitu ketika seseorang mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang dialami secara personal, dan ingatan semantik (semantic memory), mengingat kembali fakta-fakta umum atau yang sudah menjadi sejarah (Baddeley, 1989; Buttler, 1989; Siegel, 1999; Tulving, 1972; Tulving & Craik,
143

2000). Sebagai contoh misalnya, seseorang seorang ikut dalam demonstrasi 12 Mei 1998, dengan segala episode dan

pengalaman personal dia selama ikut demonstrasi. Semantic memory dari peristiwa yang sama akan meliputi misalnya pengetahuan bahwa tanggal 12 Mei dua mahasiswa tertembak mati, tanggal itu demonstrasi dipusatkan di Jembatan

Semanggi, mahasiswa yang meninggal itu kemudian dikenal sebagai pahlawan reformasi, dan sebagainya. Masalahnya kemudian, dengan berjalannya waktu,

kesulitan dan kebingungan kerap kali muncul saat orang-orang mulai mencampur-adukkan kedua jenis ingatan ini. Misalnya, seseorang menganggap ingatan episodik sebagai fakta sejarah. Soal ini memang menjadi problematika, ketika misalnya penulisan sejarah harus didasarkan pada fakta yang didapat lewat sejarah tuturan (oral history). Dalam hal ini kemungkinan munculnya banyaknya pelbagai macam versi fakta pelaku sesuai sejarah dengan yang

kelompok,

ataupun

menuturkan ceritanya berdasarkan interaksi antara ingatan episodik dan ingatan semantik menjadi sangat besar. Baddeley (1989) misalnya mengatakan bahwa apa yang didefinisi-kan sebagai ingatan semantik seringkali adalah akumulasi dari
144

serangkaian ingatan episodik, yaitu ketika beberapa orang meyakini masing-masing ingatan episodiknya sebagai suatu ingatan semantik. Dalam beberapa hal, pembedaan antara episodik dan ingatan semantik ini mempunyai kesejajaran pengertian

dengan pembedaan antara sejarah dan ingatan kolektif. Sejarah lebih menyerupai hakikat ingatan semantik, prosesproses yang faktual, sementara itu ingatan kolektif lebih menyerupai prinsip ingatan episodik. Karena sejarah

mengklaim faktualitas, namun dalam kenyataanya sejarah sebagai ilmu yang interpretif juga tidak bisa mengelak dari persoalan penafsiran. Pembatasan yang tegas antara ingatan dan sejarah menjadi suatu soal yang problematik. Polarisasi ataupun konflik antara sejarah resmi (formal history) dengan ingatan membawa kesukaran tersendiri dalam proses resolusi konflik dan rekonsiliasi. Proses pembuatan sejarah sering kali berhadapan dengan kenyataan tidak sesuainya antara ingatan kolektif terhadap peristiwa sejarah yang sama antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Pertanyaannya: sejarah menurut versi siapa? Pertempuran tidak hanya antara satu ingatan kolektif dengan ingatan kolektif lainnya, tapi mungkin
145

juga

pertempuran

dalam

kelompok

sendiri,

pertempuran

‘ingatan melawan lupa’, seperti yang dikatakan oleh karya satra Milan Kundera dalam bukunya The Book of Lauhgter and Forgetting (Kundera, 1978). Sejarah sebagai disiplin akademik sebenarnya juga sedang bergulat dengan persoalan objektivitas dalam paradigma keilmuannya. Persoalan-persoalan; objektivitas, bukti, dan

pengukuran seperti yang dituntut oleh pendekatan positivisme tampaknya makin menjauh dari studi sejarah. Sementara itu, lebih banyak para sarjana lebih leluasa menempatkan studi sejarah sebagai studi interpretif di mana batas antara ingatan, narasi, dan proses-proses konstruksi sosial lainnya tidak terlalu dipersoalkan. mencari Karena-nya kaitan banyak antara peneliti sejarah yang dan mencoba ingatan

kejelasan

(Halbwachs, 1950/1980; Hutton, 1993; LeGoff, 1992; Neal, 1998; Nora, 1989; Schwartz, 1982; Yerushalmi, 1982) menemui kesulitan tersendiri untuk menjawab pertanyaan ini. Sebegitu jauh, tidak terdapat kesesuaian temuan antara para peneliti terhadap persoalan ingatan dan sejarah ini. Halbwachs (1950/1980) memberikan definisi konseptual yang membe-dakan antara proses ingatan kolektif dengan
146

ingatan sejarah (historical memory). Bagi Halbwachs batas dan pembedaan antara keduanya sangat jelas, keduanya malah berada dalam kutub yang berlawanan. Sejarah menurut Halbwachs, adalah melulu investigasi dan pencarian fakta-fakta objektif tentang masa lalu, eksplorasi terhadap fakta, data, dan catatan-catatan tanpa ada kaitannya atau dipengaruhi oleh kepentingan masa sekarang. Sementara ingatan, adalah

proses mengingat kembali (recalling) secara subjektif masa lalu, yang dasar-dasarnya ditentukan oleh kebutuhan masa sekarang yang terus berubah. Ingatan dan sejarah dalam posisi pembedaan yang berhadap-hadapan dapat dikatakan sebagai berikut: ketika ingatan sangat kuat ia akan cenderung

mengaburkan sejarah, sebaliknya ketika ingatan melemah, sejarah akan mengambil alihnya sebagai sumber utama pengetahuan terhadap masa lalu. Dengan cara pandang seperti ini bisa dikatakan sejarah berciri: statis, objektif, serangkaian fakta tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Ingatan di sisi lain bersifat cair, lebih dinamis dan terkait dengan fenomena dan kebutuhan pada masa sekarang. Dengan penjelasan tersebut, terlihat bahwa sejarah (formal history) dan ingatan kolektif (dalam bentuk diskursif, interaksi,
147

social sharing, bahasa, narasi, monumen, perayaan-perayaan, peringatan-peringatan) keduanya akan hidup dalam

masyarakat dan individual dengan pola hubungan yang bisa linear, transaktif, ataupun kontradiktif dan konfliktual satu sama lainnya. Pertanyaannya adalah: apakah sejarah dan ingatan bisa dipisahkan secara jelas? Bisakah seorang peneliti meneliti sejarah tanpa melihat pengaruh subjektif dari ingatan? Bisakah seorang sejarawan mempelajari masa lalu tanpa pertimbangan pengaruh masa sekarang? Banyak peneliti kontemporer di bidang ini memberikan jawaban: tidak! Seperti yang ditegaskan Zerubavel: Historical writing is inevitably limited by its interpretive perspective, the choice and ordering of information, and narratological constraints. Historians may indeed strive to become detached analysis, but they are also members of their own societies, and, as such, they often respond to prevalent social ideas about the past.. Collective memory continuously negotiates between available historical records and current social political agendas. (Zerubavel, 1995: 5) Sarjana yang pertama kali mengulas masalah ini adalah seorang sarjana Perancis, Piere Nora (1989). Dalam studinya tentang ingatan kolektif dan kaitannya dengan sejarah, Norra menyebut istilah ‘lieux de memoire’ (sites of memory), untuk mengatakan ingatan akan terus bertahan dalam dalam
148

masyarakat, ada ataupun tidak ada sejarah resmi, apalagi dalam ketiadaan sejarah. Ia mengatakan masyarakat

memerlukannya untuk menciptakan tempat untuk mengenang kembali (commemoration). Tanpa ‘lokasi’ seperti itu ingatan tentang masa lalu akan hilang. Nora membedakan ingatan dan sejarah sebagai berikut: Memory and history, far from being synonymous, appear now to be in fundamental opposition. Memory is life, borne by living societies founded in its name. It remains in permanent evolution, open to dialectic of remembering and forgetting. Unconscious of its successive deformations, vulnerable to manipulation and appropriation, susceptible to being long dormant and periodically revived. History, on the other hand, is the reconstruction, always problematic and incomplete of what is no longer. Memory is a perpetually actual phenomenon, a bond tying us to the eternal present; history is a representation of the past. History is perpetually suspicious of memory, and its true mission is to suppress and destroy it. (Nora, 1989: 9) Seorang ahli lain Nadel, seperti dikutip LeGoff (1992) mengatakan ada dua jenis sejarah. Pertama, sejarah yang bisa dianggap sebagai ‘objektif’, pengumpulan rangkaian faktafakta sejarah, dan yang kedua sejarah dalam bentuk

‘ideological’, di mana fakta-fakta diorganisir sesuai dengan tradisi, keyakinan, kebutuhan dan nilai-nilai masyarakat.

Pendapat ini masih sejalan dengan pembedaan sebelumnya, dan juga sejalan dengan pembe-daan antara konstruk ingatan
149

semantik dan ingatan episodik. Sebagai penyimpulan dapat dikatakan sejarah dan ingatan kolektif pada taraf tertentu memungkinan untuk dibedakan, namun dalam praktik dan implikasinya terhadap perilaku kolektif, perbedaan di antara keduanya menjadi sangat cair dan tipis. Hal terpenting ingin dicapai oleh studi ini (terlepas dari apakah itu sejarah atau ingatan kolektif) adalah: bagaimana masyarakat bisa

menyelesaikan masa lalunya dan membuat rekonsiliasi antara masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Tesis yang ingin ditegakkan dalam studi ini adalah, masyarakat dan individual perlu menata ulang masa lalunya supaya proses rekonsilasi tercapai. 3. 3.10. Ingatan Kolektif dan Emosi Penelitian-penelitian dalam ingatan memperlihatkan

pentingnya pengaruh faktor emosi dalam proses recall. Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pengalaman-

pengalaman yang bermuatan emosional yang tinggi cenderung lebih banyak diingat-kembali (recall) dibandingkan pengalaman yang tidak bermuatan emosional (Buttler, 1989; Christianson & Safer, 1996; Siegel, 1995, 1999). Pengecualian terhadap kecenderungan ini adalah jika peristiwa tersebut tidak saja
150

mengandung muatan emosi, tapi sudah merupakan peristiwa traumatis. Apa yang lumrah terjadinya adalah kebalikannya, recall banyak gagal karena orang cenderung melakukan represi terhadap ingatan mereka yang (memory bermuatan repression). emosional,

Terhadap

peristiwa-peristiwa

terutama bersifat negatif, kecende-rungannya adalah akan diingat secara tidak akurat (Baddeley, 1989; Christianson & Safer, 1996; Loftus, 1979). Oleh karena itu, ingatan terhadap peristiwa-peristiwa negatif yang bermuatan emosional yang tinggi akan lebih mudah untuk didistorsi. Walaupun ada juga sebagian ahli yang menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang mempunyai muatan emosi akan diingat-kembali (recall) dengan lebih akurat (Bohannon & Symons, 1992; Heuer & Reisberg, 1990). Namun terlepas dari soal mana yang lebih akurat, dalam konteks disertasi ini, hal tersebut bukan tujuan dari penelitian. Suatu yang prinsip yang mungkin perlu dikemukakan adalah bahwa faktor emosi memainkan peranan penting dalam ingatan kolektif. Masyarakat cenderung akan lebih memperhatikan dan mengingat kembali peristiwa-

perisitiwa yang mempunyai muatan emosi tinggi.

151

Faktor emosi sebagaimana ia juga dialami secara kolektif, akan mempengaruhi kolektivitas dalam pengertian bahwa transmisi ingatan kolektif tidak hanya mewariskan informasi, tapi juga sekaligus emosi dan trauma. Seperti yang dikatakan Neal (1998): The traumas of the past become ingrained in collective memories and provide reference points to draw upon when the need arises. Hearing or reading about an event does not have the same implications as experiencing event directly. However, as parts of the social heritage, events from the past become selectively embedded in collective memories. Neal (1998: 7) Bukan hanya kandungan emosi yang ditansmisikan kepada generasi berikutnya, tetapi juga pada tingkat mana masyarakat masih larut dengan trauma tersebut. Masyarakat yang masih trauma dengan masa lalu menandakan masyarakat yang belum pulih dan sembuh dari luka-luka lama. Banyak penelitian memperlihatkan bahwa peristiwa yang mengan-dung muatan emosi yang tinggi akan cenderung dibagi (shared) dengan orang lain. Seperti yang dikatakan Pennebaker dan Banasik (1997), Rime dan Christophe (1997), semakin kuat emosi di sekeliling kejadian tersebut, semakin sering orang-orang akan membicarakannya satu sama lain, maka semakin kental narasi dan wacana di sekitar peristiwa tersebut. Sebaliknya jika
152

intensitas

emosional

masyarakat

mulai

berkurang,

maka

wacana dan proses social sharing juga akan berkurang. Penelitian di Spanyol dan Amerika latin pascakekerasan politik memperlihatkan proses-proses sosial dan emosi yang beragam. Pasca kekerasan politik di bawah rezim yang represif, memperlihatkan adanya kecenderungan untuk tidak mengingat-ingat dan membicarakan peristiwa traumatik

tersebut (inhibition of talking past traumatic events). Namun kecenderungan ini diikuti secara paradoksal dengan proses ruminasi mental (mental rumination) yang terjadi secara spontan setelah sebelumnya melewati fase pengingkaran (denial), serta penghindaran (avoidance) (Paez, Basabe & Gonzalez, 1997). Apa yang ingin dikatakan oleh hasil penelitian tersebut adalah: proses-proses emosi dan sosial akan

berinteraksi dalam menentukan apakah kelompok sosial akan cenderung mengingat atau akan melupakan suatu peristiwa traumatik pada masa lalu. Hasil penelitian dalam konteks Amerika latin dan Spanyol pascaperang saudara,

memperlihatkan bahwa mengingat masa lalu yang traumatik akan meningkatkan proses berbagi secara sosial (social sharing) di antara individu dalam komunitas. Proses-proses
153

emosi yang menyertai proses sosial ini di antaranya yang menonjol adalah ruminasi mental (mental rumination) dan inhibisi mental (mental inhibition). Adanya usaha-usaha untuk pemaknaan ulang (reappraisal) dan proses asimilasi terhadap masa lalu dengan kepentingan di masa sekarang. Hasil penelitian di beberapa negara Amerika Latin tidak sepenuhnya mendukung anggapan kaum Neo-Freudian yang mengatakan adanya proses repressed memory setelah peristiwa traumatik, untuk selamanya melupakan peristiwa tersebut. Memang ada keinginan yang kuat untuk melupakan, tapi juga ada proses mental dan emosi secara voluntary untuk mengingat kembali peristiwa tersebut secara otomatis, atau apa yang disebut sebagai ruminasi mental (mental rumination). Yang lebih penting dalam konteks ini adalah proses-proses sosial dan proses regulasi emosi serta proses coping terhadap peristiwa traumatik tersebut akan menentukan apakah suatu komunitas akan tetap terbelenggu atau terbebas dari beban ingatan (memory burden) masa lalu. Secara alamiah, individu dan komunitas akan berusaha secara sungguh-sungguh untuk keluar dari beban ingatan di masa lalu.

154

Pengalaman pemaparan

Afrika

Selatan yang

memperlihatkan muatan

bahwa emosi

peris-tiwa

mengandung

kepada publik (public disclosure) lewat proses storytelling misalnya, sebagian besar akan bisa melepaskan (release) tegangan emosional dalam masyarakat, dan mendorong ke arah pemaafan sosial (social forgiveness) dan rekonsiliasi. Namun proses ini tidak menjamin adanya penyembuhan dan pemulihan (healing procesess) di tingkat individual dan di tingkat antar personal. Neal (1998) mengatakan, bagaimanapun masyarakat perlu pulih dari ingatan kolektif yang masih mengandung beban emosional yang tinggi, supaya masyarakat bisa lepas dari beban ingatan masa lalu (burden of memory). 3.3.11. Ingatan Kolektif dan Identitas Seperti yang dikatakan Halbwachs (1950/1990) salah satu kegunaan ingatan kolektif adalah untuk pengukuhan identitas kelompok: Specifically, the function of socially shared images of the past (collective memory) is to allow the group to foster social cohession, to develop and defend social identification, and to justify current attitudes and needs. (Halbwach dalam Paez, Basabe & Gonzalez, 1997: 147)

155

Identitas dengan demikian adalah konstruk terpenting dalam kaitannya dengan ingatan, baik identitas individu maupun identitas sosial atau kolektif. Tajfel (1978; Tajfel & Turner, 1986) pelopor teori identitas sosial mengangap

indentitas individu bahkan tidak bisa lagi dilepaskan dari identitas sosial. Seperti yang diaktakan oleh Tajfel (1978: 63); “that part of individual’s self concept which derives from his knowledge of his member-ship of a social group (or groups) together with the value and emotional significance attached to that memberships”. Oleh karena itu kelompok dipandang sebagai piranti utama tempat individu mengembangkan

identitasnya (Ross, 1993). Jika identitas orang-orang sangat terkait dengan afiliasinya pada kelompok, dan kesadaran berkelompok sangat berhubung-an dengan ingatan,

konklusinya adalah bahwa hubungan antara ingatan dan identitas adalah sangat kuat. Seperti yang dikatakan

Pennebaker: Families, neighborhoods, cities, regions and entire cultures are bound together by a shared of beliefs, experiences, and memories. The shared histories cement individual’s identities with the groups to which they belong” (Pennebaker, 1997: vii).

156

Dengan demikian, seperti halnya ingatan kolektif yang bersifat subjektif, dikontruksi secara sosial, demikian juga kiranya dengan identitas (Bruner, 1994; Deaux, 1993; Rose, 1996; Sarup, 1996). Diri dan identitas adalah cerita yang ditulis, narasi yang dikembangkan, seperti yang dikatakan Bruner (1994: 53); “Self is a perpetually rewritten story. What we remember from the past is what is necessary to keep that story satisfactorily well formed…the self is a remembered self, the remembering reaches far back beyond our own birth back to the cultural and language forms that specify the defining properties of a self”. Dimensi konstruktif dari identitas dan kaitannya dengan masa lalu berlaku juga pada identitas kolektif. Pendapat ini juga didukung Halbawachs (1992:

47);”We preserve memories of each epoch in our lives, and these are continually reproduced: through them, as by a continual relationship, a sense of our identity is prepetuated”. Sebagaimana dikatakan oleh Erickson (198, 1978), dalam perkem-bangan identitasnya, individu pernah mengalami krisis identitas, demikian juga dengan identitas kelompok. Kejadiankejadian besar seperti perang, tragedi nasional yang traumatis berpengaruh terhadap indentitas kelompok (Balibar, 1995:
157

Neal, 1998), atau misalnya apa saja yang baru dialami Amerika Serikat dengan tragedi 11 September. Kejadian-kejadian ini bisa memperkuat atau memperlemah identitas kelompok, tergantung bagaima-na dampaknya terhadap identitas

kelompok. Seperti yang dikatakan Neal (1998: 31):” All collective traumas have some bearing on national identity. While in some cases national trauma results in enhancing a sense of unity within a society, there are other cases in wich collective traumas have fragmenting effects”. Soal penguatan dan pelemahan identitas ada kaitannya juga antara persoalan hubungan antara ingatan dan sejarah, seperti yang dikatakan Nora berikut ini: The passage from memory to history has required every social group to redefine its identity through the revitalization of its own history. The task of remembering makes everyone his own historian. The demand for history has thus largely overflowed the circle of professional historians. Those who have long been marginalized in traditional history are not only ones haunted by the need to recover their buried pasts. Following the example of ethnic groups and social minorities, every established group, intellectual or not, learned or not, has felt the need to go in search of its own origins and identity. (Nora, 1989: 15). Berkaitan juga dengan soal perayaan-perayaan dan usaha penge-nangan kembali (commemoration), proses narasi adalah sangat penting dalam usaha membangun identitas kelompok.
158

Seperti halnya juga narasi kehidupan adalah salah satu cara individu mendefinisikan dirinya (Neisser, 1994), narasi

kelompok menjadi forum tempat masyarakat mengembangkan dan membangun identitasnya (Conway, 1997; Deutsch, 1973; Rose, 1996). Narasi, kata Zerubael (1995) adalah satu cara terpenting dimana masyarakat mengembangkan identitas nasional dan kulturalnya. Sekali lagi, terlihat bahwa adanya kesejajaran antara teori identitas individu dengan identitas kelompok, di mana identitas besar kemungkinan akan terus ditanamkan dan ditancapkan pada periode krisis. Dalam kaitanya dengan konflik, teori identitas sosial dari Tajfel (1978) memberikan artian sumbangan pemikiran individu yang akan

signifikan,

dalam

bahwa

identitas

mengental dalam konteks identitas kelompok. Konflik sosial seringkali adalah konflik dengan dasar identitas (Hofman, 1988; 1997), identitas misalnya akan semakin mengental dalam suasana konflik di mana terdapat keterancaman

(Burton, 1990b; Kelman, 2001; Volkan, 1988, 1990). Dapat dimengerti misalnya pada periode konflik, kepentingan politik akan terus memperkuat identas kelompok lewat pelbagai

159

macam cara commemoration untuk memperkuat kohesivitas kelompok, dan ingatan kolektif adalah satu instrumennya.

160

3.4.

Ringkasan

Dari penelusuran terhadap banyak ragam literatur dalam kelompok teori resolusi konflik terlihat jelas bahwa tidak ada kesepakatan tentang cara menempatkan faktor masa lalu dalam proses-proses intervensi. Kelompok teori negosiasi mengabaikan faktor masa lalu, atau paling tidak beranggapan bahwa masa lalu adalah sesuatu yang harus ditinggalkan jika kita ingin melangkah ke masa depan. Kelompok teori dalam payung psikologi sosial mencoba menelaah isu ini lebih lanjut dengan mencoba memberi tempat terhadap pentingnya masa lalu. Tetapi masih terlalu sedikit elaborasi dan penelitian lebih lanjut mengenai soal-soal ini. Kelompok teori rekonsiliasi justru banyak memfokuskan perhatiannya pada masa lalu. Walaupun terdapat pelbagai macam sudut pandang teoretik terhadap isu rekonsiliasi, di antaranya pandangan teori pilihan rasional, teori kebutuhan manusia, dan kelompok teori pemaafan, namun semua kelompok teori tersebut sepakat bahwa penanganan terhadap isu masa lalu, faktor pemaafan, pengungkapan kebenaran, elemen proses penyembuhan dan pemulihan Walaupun adalah terdapat

penting

dalam

rekonsiliasi.

pelbagai macam definisi tentang rekonsiliasi, namun dalam hal
161

ini rekonsiliasi dapat dipandang sebagai suatu peristiwa, suatu proses dan sekaligus suatu hasil dari suatu proses perbaikan hubungan ke arah yang lebih konstruktif di masa depan. Perbaikan hubungan tersebut mensyarat-kan perlunya

perubahan dalam aspek identitas, nilai-nilai, sikap dan perilaku. Rekonsiliasi didorong oleh adanya usaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial dari pihak yang bertikai. Beberapa kebutuhan yang substansial tersebut mencakup; keadilan, keamanan, penyembuhan dan pemulihan dan pengungkapan kebenaran. Rekonsiliasi dapat dicapai bila ada usaha untuk mengagendakan isu-isu tersebut serta adanya usaha untuk melakukan negosiasi yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan rasa saling membutuhkan. Rekonsiliasi bisa dimulai dari ranah antarpersonal, antarkelompok (bottom-up approach) dan atau dimulai dari tingkat nasional (top-down approach). Fokus dari disertasi ini adalah pada peranan masa lalu sebagaimana yang terekam dalam ingatan kolektif kelompok-kelompok yang pernah bertikai di masa lalu. Sepintas diungkap-kan bagaimana pentingnya unsur masa lalu dalam usaha rekonsiliasi, namun masih sangat sedikit elaborasi dan eksplorasi bagaimana masa

162

lalu dimaknai ulang, diubah, direkonstruksi, dan dipertahankan untuk keperlu-an rekonsiliasi. Literatur-literatur dalam bidang psikologi mengenai ingatan selama ini masih didominasi oleh pendekatan kognitif yang memandang manusia semata-mata sebagai ‘mesin’ pengolah informasi. Pendekatan ini menempatkan ingatan semata-mata sebagai hasil dari proses kognitif seperti: sensing, perception, encoding, storage dan retrieval. Penelaahan lebih lanjut mengenai usaha manusia untuk mengingat kejadian-kejadian sehari-hari dan kejadian-kejadian sosial memperlihatkan

kelemahan pendekatan psikologi kognitif. Terlihat bahwa ingatan dalam pengertiannya lebih sering bersifat kolektif dan sosial, di mana proses-proses sosial lebih sering terlibat dalam menentukan ingatan, termasuk mulai dari proses sensing, perceiving, encoding, dan retrieval. Ingatan dalam hal ini sangat bersifat konstruksi sosial di mana faktor subjektivitas, kepentingan, budaya, kelompok dan masyarakat saling

berinteraksi dalam mempengaruhi hakikat ingatan. Konstruksi ingatan sebagai suatu yang sosial melibatkan juga prosesproses emosi, proses pembentukan dan perubahan identitas yang tidak dapat terelakkan secara bersama-sama saling
163

membentuk pengalaman dan ingatan kolektif yang terkadang di luar batas-batas kejadian yang terjadi secara faktual. Dalam hal ini sejarah sebagai usaha rekonstruksi faktor-faktor faktual dari masa lalu mendapat tantangan dari proses ingatan. Bagaimana fenomena ingatan kolektif ditempatkan dalam konteks rekonsiliasi, bagaimana peranan yang dimainkannya, serta bagaimana ingatan bisa mempersulit atau mempercepat usaha rekonsiliasi adalah inti dari penulisan disertasi ini.

164

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful