OUT LINE TAFSIR ASAS DAN KHITTAH PERJUANGAN

LIGA MUSLIM INDONESIA
BAB I MUKADIMAH BAB II TAFSIR ISLAM SEBAGAI ASAS ORGANISASI A. PERAN DAN KEDUDUKAN ISLAM SEBAGAI ASAS ORGANISASI 1. Islam Sebagai Landasan Etis Organisasi Adalah menjadikan konsepsi Islam sebagai standard etika dan mind set(proposisi pemikiran) dalam perumusan fikrah dan amaliyah organisasi. 2. Islam Sebagai Landasan Yuridis Organisasi Adalah menjadikan Yuridusfrensi Islam yang pernah dijalan Generasi Awal Islam dan setelahnya sebagai sandaran dalam penetapan fatwa syar’i organisasi. 3. Islam Sebagai Landasan Strategis Organisasi Adalah menjadikan Islam sebagai landasan menetapkan kebijakan strategis organisasi dalam berhubungan dengan sesama komunitas Muslim maupun dengan Non-Muslim beserta produk turunannya. B. PERAN DAN KEDUDUKAN AD/ART DAN TAFSIR ASAS DAN KHITTAH 1. AD/ART dan Tafsir Asas/Khittah sebagai “Dustur Organisasi” 2. AD/ART dan Tafsir Asas/Khittah sebagai “Qonun Asasi Organisasi” 3. AD/ART dan Tafsir Asas/Khittah sebagai “Mitsaqul Muslimin” C. MABADI’UL ISLAM 1. MANUSIA DAN AGAMA Manusia merupakan makhluk paling unik yang tercipta dari kombinasi unsur material yang hina dan unsur ilahiyah yang mulia (as-Sajdah ayat 7-9).Implikasinya manusia berkehidupan dalam dua dimensi sekaligus yakni dimensi ruhaniah dan jasmaniah, personal dan sosial dalam satu eksistensi ruang dan waktu.Secara ruhaniah, iapun dianugerahi kecerdasan ‘aqliyyah(‘aql fikriyyah dan ‘aql qalbiyyah) yang menjadi penanda kesempurnaan dan ketinggian derajatnya dibanding makhluk lainnya(AlIsraa':70, QS. 95:4), bahkan dibanding ‘Arasy sekalipun (Al-Hadits),kendati pun pada

dimensi jasmaniahnya(QS. 90:8-9)dan ia terikat oleh tatanan hukum material sebagaimana makhluk hidup lainnya. Tuhan secara konseptual maupun eksistensial merupakan realitas abadi sepanjang sejarah manusia.Karena berbekal kecerdasan fitriahnya sekaligus demi memberikan makna atas arah hidupnya, manusia mampu memahami kehadiranTuhandan merumuskandalam berbagai bentuk pemahaman.Dalam kenyataannya, Perbedaan konseptualisasi dan kodifikasi atas eksistensi dan isyarat-Nya, sematamatadipengaruhi oleh dinamika historisitas kemasyarakatan yang dilaluinya. Namun secara hakiki perbedaan itu niscaya akan bergerak pada satu titik sentrum integrasi ketuhanan, karena semuanya tak terlepas dari Tuhan Pencipta yang Esa. Dalam mengapresiasi Tuhan, Manusia umumnya mengidealisasikan-Nya sebagai Realitas Tertinggi, yang melingkupi dan menghidupi alam semesta.Sementara itu seiring perkembangan kapasitas‘aqalfikriyyah-nya dalam memahami bahkan menggali potensi alam, secara perlahan manusia kian “merdeka” dari dominasi dan ketergantungan dirinya terhadap alam, melalui berbagai penemuan saintifiknya yang spektakuler. Pada puncaknya, arogansi intelektualitas manusia pun kian menjadi, hingga seolah mendeklarasikan diri sebagai Penguasa Tunggal atas bumi, seraya melupakan bentangan galaksi di atas langit dan Sang Kausa Prima yang telah menciptakannya. Dalam konteks itulah, peran Agama sebagai ajaran yang disucikan dan mensucikan mengalami pasang surut makna dalam kehidupan manusia.Namun terlepas dari peradaban, kebudayaan, dan kesejarahannya, Agama selalu hadir dan dihadirkan ulang demi kemaslahatan manusia.Dalam sejarah manusia, Dinul Islam mempersaksikan dirinya sebagai Ajaran terakhir dan terunggul sepanjang zaman.Kompleksitas persoalan manusia dalam mengaktualisasikan segenap potensi fitrinya dan mengarungi problematika hidupnya, diklaim telah dinaungi ajaran Islam seluruhnya.Hal ini bukanlah klaim dan uthopia apalagi dongeng belaka, namun secara faktual telah terpersonifikasikan secara utuh dan nyata dalam lembaran sejarah manusia, yakni pada Era Kerasulan Muhammad SAW dilanjutkan oleh Para Khulafaurasyidin hingga Generasi setelahnya, yang dengan bersandarkan pada Dinul Haqsecara konsisten, sanggup memimpin peradaban dunia untuk jangka waktu berabad-abad lamanya. 2. DEFINISI DINUL ISLAM 2.1. Definisi Ad-Din dan Agama a) Utang b) Kekuasaan c) Ketundukan 2.2. Definisi Al-Islam, Salam, Tasliman 2.3. Definisi Termonologis Dinul Islam 2.3.1. Definisi Umum Sistem nilai dan norma kehidupan manusia secara ruhaniah maupun jasmaniah, individual maupun sosial, I’tiqodiyyah maupun ‘amaliyyahyang

diajarkan, dilembagakan, dan diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan Para Pengikut/Penerusnya yang setia(komunitas ma’iyyah), yang bersumber dari Wahyu Allah SWT. Dinul Islam secara praksis merupakan tradisi yang terbangun dalam proses interaksi Wahyu, Rasulullah, dan Komunitas Jama’ahnya, yang keseluruhanya membentuk cermin sejarah abadi yang layak diteladani hingga akhir zaman. Dalam makna ini, Dinul Islam bukanlah ajaran kontemplasi inter-personal (dimensi ruhani) dalam berkomunikasi dengan Tuhan semata, akan tetapi memilki dimensi jama’I yang sangat luas. Hal ini menegaskan Dinul Islam sebagai Dinul Fitrah yang selaras dengan struktur natural manusia sebagai makhluk ruhaniahjasmaniah, individual-sosial dalam satu kesatuan eksistensi yang tak bisa dipisah-pisahkan. 2.4. Definisi Islam menurut isyarat Al-Qur’an 2.4.1. Dinul Haq ) ‫( دٌه الحق‬ Dinul Haq yang mutlak (dikompetisikan) dan dimenangkan atas Din lainnya. Tersurat dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath 28

‫هو الذي ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى باهلل شهيدا‬
Artinya : “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-Huda dan agama yang haq (benar), agar Dia menangkan atas semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”.

‫قاتلوا الذين ال يؤمنون باهلل وال باليوم اآلخر وال يحرمون ما حرم‬
.‫هللا ورسوله وال يدينون دين الحق‬
Artinya : “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidk pula beriman kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar”

2.4.2. Dinullah (‫(دٌه هللا‬ Dinullah artinya Agama Allah, yaitu agama yang datang dari Allah dan satusatunya agama yang di ridhoi oleh Allah. Istilah Dinullah terdapat dalam AlQur’an surat An-Nashr ayat 2 :
‫افىاجا‬

‫ورايت الناس يدخلون فى دين هللا‬

Artinya “ Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondongbondong”

2.4.3. Dinul Kholis ) ‫( الذٌه الخالص‬ Dinul Kholis artinya agama yang bersih, murni suci dan bebas dari perbuatan-perbuatan syirik. Sebagaimana firman Allah dalam (QS: AzZumar ayat 3)

‫اال هلل الدين الخالص‬

Artinya : “Ingatlah bahwa agamayang kholis itu adalah milik Allah”

2.4.4. Dinul Qoyyim ) ‫(الذٌه القٍم‬
Ad-Dinul Qoyyim artinya agama yang lurus

‫وما امروا اال ليعبدوا هللا مخلصين له الدين حنفآء ويقيموا الصالة ويؤتوا الزكاة وذلك‬ .‫دين القيمة‬
Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalammenjalankan agama dengan lurus dan uspaya mereka mendirikan sholat, membayar zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Al-Bayyinah : 5)

2.4.5. AshShirotol Mustaqim
Ash-Shirotol Mustaqim artinya jalan yang lurus,sepertidalam surat Al-Fatihah ayat 5 dan 6

‫اهدنا الصراط المستقيم‬
Artinya : “Tunjukilah kami jalan yang lurus”

2.5. Definisi Islam menurut isyarat Al-Hadits 2.5.1. Nasehat/Ajaran yang berhak ditansformasikan oleh Allah, Kitab-Nya, RasulNya, dan Hak Komunitas Islam (Jama’ah dan Imamahnya).

‫أن النبً صلى هللا علٍو وسلم ,عه أبً رقٍة تمٍم به أوس الذاري رضً هللا عنو‬ ُ ِّ ‫ألئمة المسلمٍه ,ولرسىلو ,ولكتابو ,هلل« :لمه؟ قال :قلنا »الذٌْه النَّصٍحةُ« :قال‬ َ ِْ ‫رواه مسلم .»وعامتهم‬
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu „anhu, bahwasanya Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”.Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

2.6. Definisi Sosiologis 3. Tujuan Esesial Dan Watak Dinul Islam 3.1. Tujuan Esensial Dinul Islam Bagi Ummat Manusia 3.1.1. Mengarahkan manusia pada kebahagiaan sejatidi dunia dan akhirat. 3.1.2. Memelihara dan meningkatkan derajat kemuliaan sesuai dengan hakikat dirinya.(QS Adz-Dzaariyaat : 56) 3.1.3. Membimbing manusia dalam menjaga eksistensi semesta, sesuai dengan amanah kekhilafahannya di muka bumi. (QS Al Baqarah [2] : 30) 3.1.4. Menunjukan isyarat ketinggian dan keberadaan Kalimatullah untuk dipersaksikan di tengah-tengah kehidupan Ummat Manusia.

3.1.5. Memurnikan kembali jiwa dan raga manusia melalui penghambaan totalitas atas hidup dan kehidupan serta aktivitasnya secara ikhlas untuk Allah SWT semata. 3.2. Watak Khas Dinul Islam: a) Rabbaniyyah: Ajaran yang bersumber dari Allah Yang Maha Suci, yang disampaikan melalui Pewahyuan yang suci Kepada Rasulullah SAW yang suci untuk disampaikan kepada Ummat manusia dengan jalan yang suci, untuk dipedomani umat manusia, agar bisa kembali kepada-Nya dalam keadaan suci sebagaimana awal kelahirannya yang suci. b) Syumuliyyah: Ajaran serba paripurna yang bersumber dari Allah Maha Yang Sempurna, yang memuat prinsip dan norma yang melingkupi secara lengkap dan sempurna seluruh aspek kehidupan dan kebutuhan manusia dalam menyempurnakan kemanusiaannya di muka bumi.(QS: Al-Maidah, 3) dan (AlHadits) c) Insaniyyah: Ajaran yang bersumber dari Allah Maha Kasih, yang atas rahman dan rahim-Nya terhadap manusia menjadikan Agama, bukan sebagai alat membebani sebagaimana halnya Majikan kepada Hamba Sahayanya, namun justru menganugerahkan Iman dan Islam sebagai sumber pencerahan menuju kemerdekaan, keadilan, dan kedamaian serta keselamatan bagi manusia sesuai hasrat fitrah insaninya. 4. SUMBER HUKUM DAN METODOLOGI
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa Al-huda dan agama Islam yang hak, agar Islam itu nyata keunggulannya melebihi semua agama.Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS 48:28)

Dinul Islam yang dipahami dan dikembangkan oleh LIGA MUSLIM INDONESIA bersumber kepada praktek (amaliyah) dan pemahaman (fikrah) Islam yang diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dengan merujuk pada sumber antara lain: 4.1. Sumber Hukum Primer: 1) Al-Qur’an Al-Karim 2) Al-Hadits Rasulullah SAW (Qowliyyah, Af’aliyyah, Taqririyyah, dan Sirrah) 3) Atsar Al-Khilafatu Rasyidah 4.2. Sumber Hukum Sekunder 1) Ijtihad ‘Ulama Salaf 2) Ijtihad ‘Ulama Khalaf 4.3. Metodologi(Kaidah): 1) Prosedur (Kaifiyat) Istimbath dan Qiyas Ketetapan dan Putusan Syar’i LIGA MUSLIM INDONESIA dijabarkan dan ditetapkan oleh melalui Ijma’ yang diatur organisasi dengancara ber-Istimbath dan Qiyas terhadap sumber hukum diatas dengan menggunakan alat bantu Fiqhul Waqi’ (Pemahaman Realitas Kontemporer) yang absah (up dated). 2) Kualifikasi Penafsir Teks/Nash Islam memiliki kualitas ‘Ulama dan Ulul Albab, yang antara lain memiliki kriteria:

a) Kriteria Primer:  Mu’min yang ‘alim dan takwa  Mu’min yang faqih atas berbagai perangkat ‘ulumu mabadi’ul Islam  Mu’min yang faqih atas berbagai perangkat ‘ulumu duniawiyyah b) Kriteria Sekunder, yakni kriteria kefaqihan atas sejumlah disiplin ilmu yang dirumuskan oleh para Ulama Salaf, yang meliputi:  ilmu kebahasaan  ilmu Ushulu-din. 3) Mind setetika penafsiran 1. Berdasarkan iman dan Keberpihakan Merujuk pada Al-Qur’an surat Al-fath 28 di atas, Din Al-Islam bukanlah sebuah sistem ajaran yang netral. Melainkan ajaran berdimensi subjektif;yakni Ajaran yang mutlak dimenangkan atas Ajaran yang lainnya. Karenanya Penafsiran dan penjabaran kedalam dimensi praksis kekinian,sejatinyaberlandaskan pada mind set memenangkan Islam atas ajaran lainnya. Dimensi subjektivitas ini, sesungguhnya sudah diawali dengan pra-syarat Iman. Karena pemahaman atas teks Islam, hanyalah bernilai (benar dan sah) jika dilakukan oleh manusia yang Akal Pikiran (rasio) dan Akal Budinya (intuisi) telah menerima Allah sebagai Ilah-nya dan Muhammad SAW sebagai Rasul-nya. Sementara penafsiran atas teks Islam tanpa didasarkan Iman, hanyalah sebuah kesia-siaan belaka dan mustahil menghasilkan penafsiran yang sah dan benar. Hal ini termaktub dalam AlQur’an Surat: 2. Berdasarkan kaidah dan adab ijtihad yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. 3. Berdasarkan kaidah p 5. ANATOMIDINUL ISLAM 5.1. Aqidah Islamiyyah Adalah system keyakinan terhadap konsep-konsep dasar Dinul Islam (Mabadi’u Dinul Islam) yang bersumber dari fikrah dan amaliyyah Rasulullah Muhammad SAW, sebagai landasan I’tiqodiyyah(komitment dasar) yang wajib diyakini oleh setiap Muslim. 5.1.1. SYAHADATAIN: RUH AQIDAH ISLAM 1) Makna Syahadatain: Syahadatain adalah Ikrar, Sumpah, dan Perjanjian Suci yang mengikat antara seorang manusia atas keyakinannya terhadap Allah SWT, dan risalah serta kepemimpinan Muhammad SAW, berikut segala impilkasi logis yang ditimbulkannya akibat I’tiqodiyyah-nya. a) Asyhadu, “AKU” bersaksi dalam makna: Totalitas diri yang berkesadaran penuh, dengan segala intelegensi yang dimiliki, dengan segenap kemampuan ‘amaliyyah (daya kerja) dan maliyyah (harta benda) yang dimiliki, mempernyatakan, bersumpah dan berjanji pada Diri Sendiri. b) An Laa Ilaha,bahwasannya Tiada Ilah, dalam makna: 1) Penafian atas wujud;

2) Penafian atas sifat; 3) Penafian atas af’al dan yang dianggap mawjudsecara dzahir maupunghaib. c) Illa-llah: kecuali Allah semata. Pengukuhan atas Allah sebagai Dzat, sifat, af’al dan segala kualitas yang melekat pada-Nya. d) Anna Muhammadan, bahwasanya Muhammad bin Abdullah, yakni sosok basyariyyah (manusia biasa), e) Rasulullah, adalah:  Penerima Wahyu dan Mukjizat dari Allah  Pengemban otoritas mewakili yang Allah(waliyullah)  Pembawa amanah dan misi risalah  Uswah Hasanah 2) Syarat Sah Syahadatain: a) ‘Ilmu (QS Muhammad: 19) dan (QS Az-Zukhruf 86) b) Yakin (QS Al-Hujurat: 15) c) Qabul dan tidak mengingkari ayat-ayat Allah (QS: Al-Baqarah: 136, 108) dan (Qs. An nisa: 150-151) d) Tunduk(QS Az-Zumar: 54) e) Jujur, tidak berdusta. f) Ikhlas (QS: Al-Bayyinah 5) 3) Kewajiban/Konsekuensi akibat Syahadatain: Adalah Kewajiban Asasi Manusia Muslim yang wajib dilaksanakan dengan keikhlasan seorang Manusia Muslim, yang timbul sebagai implikasi dari keyakinan dan sumpah/ikrarnya: a) Wajib Setia atas Ikrar Syahadatain b) Wajib Meningkatkan pengetahuan ‘Ilmu Keislamannya c) Wajib Tazkiyatul Maal d) Wajib Taat atas Perintah dan LaranganAllah e) Wajib Taat terhadap otoritas kenabian/Ulil Amri f) Wajib Dakwah dan Tawshiyah g) Wajib memuliakan Hak Fitrah(Adami) sesama manusia 4) Hak akibat Syahadatain: Adalah Hal-hal yang secara mendasar berhak diterima seorang Manusia Muslim, baik dari sesamanya, dari Rasulullah/Ulil Amri, maupun dari Allah, baik bersifat duniawidandzahiry maupun ukhrawi dan ghaiby, yang a) Mendapatkan pemeliharaan atas Hak insaninya, yakni:  Hak dicintai sesama Muslim  Hak hidup dan berkehidupan layak  Hak Berkeyakinan  Hak Berpikir dan berilmu  Hak Berbicara dan berpendapat  Hak Bekerja/Berpencaharian  Hak Berkeluarga& Berketurunan  Hak Bersosialisasi

b) Mendapatkan jaminan atas HakGhaibiyyah:  Hak diberi catatan pahala atas kebajikan  Hak diberi catatan dosa atas pelanggaran  Hak dinominasikan Ahli Sorga  Hak diakui sebagai Ummat Nabi Muhammad  Hak dianugerahi ‘Inayah (Ma’unah) c) Hal yang membatalkanSyahadatain Tindakan yang mengakibatkan batalnya ikrar syahadatain antara lain:  Berbagi keyakinan ‘Aqidah (Syirk)  Berpindah Agama (Murtadh)  Bughot Kepada Rasulullah/Ulim Amri yang sah  Bersekutu dengan Kaum Kaffir  Bercerai-berai d) Sanksi Duniawi (dzahiry)dan Ukhrawi(ghaiby)  Sanksi Duniawi diberikan dalam berbagai bentuknya sesuai derajat pelanggaran oleh otoritas Rasulullah/Ulim Amri.  Sanksi Ukhrawi diberikan dalam bentuk “masa kurungan di Neraka”, dengan prosesi oleh otoritas mutlak Allah SWT. 5.2. AQIDAH ULUHIYYAH 5.2.1. PENAFIAN kepada Thagut (Mawjud selain Allah): 1) Syaitan 2) Hawahu 3) Berhala 4) Tradisi Jumud 5) Kerahiban 6) Fir’aun 5.2.2. PENGUKUHAN kepada: 1) Allah SWTselaku Ilah, Rabb, dan Malik a) Dzat dan Sifat Allah b) Hak-hak Mutlak Allah atas Ummat Manusia:  HakUluhiyyah: Hak Allah SWT untuk disembah secara murni dan totalitas, tanpa disertai syirk.  HakRubbubiyyah: Hak Allah untuk menciptakan, mengatur, mendidik, memberikan hukuman bagi manusia.  HakMulkiyyah: Hak Allah untuk dijadikan Raja Diraja, Pemimpin, dan Penguasa tertinggi Ummat Manusia. c) Hak Mutlak bagi Allah adalah Kewajiban mutlak bagi Ummat Manusia untuk menunaikannya kewajiban pengabdiannya(‘ibadah)dalam berbagai bidang kehidupan berdasarkanPetunjuk Wahyu dan Pengetahuan (‘Ilmu) yang diberikan Allah SWT kepada manusia. 2) Malaikat a) Menurut bahasa, kata “Malaikat” merupakan kata jamak yang berasal dari Arabmalak(‫ )ملك‬yang berarti kekuatan, yang berasal dari kata mashdar “alalukah” yang berarti risalah atau misi/tugas.

b) Makhluk Ghaib yang terbuat dari nur(Al-Hadits) yang atas qudrat dan iradat-Nya berperan sebagai Pembantu Allah dalam mengurusi kehidupan semesta alam.(Faathir 35:1) c) Allah menciptakan ribuan malaikat, namun yang wajib dikenal sebagaipara Malaikat Utama, antara lain:  Jibril:Pemimpin seluruh malaikat dan bertugas menjadi perantara wahyu  Mikail: bertugasmembagirezeki.  Isrofil:bertugas meniupkan sangkakala kiamat.  Izrail:bertugas mencabut nyata.  Munkar& Naqir: bertugas memeriksa catatan amal manusia.  Raqib&Atidz: bertugas mencatat  Malik: bertugasmemimpin malaikat jabaniyyah dan menjaga neraka.  Ridhwan: bertugas menjaga pintu sorga.  Jundallah:Para malaikat perang yang bertugas membantu nabi dalam peperangan. d) Sifat-sifat malaikat  Selalu bertasbih siang dan malam tidak pernah berhenti.  Suci dari sifat-sifat manusia dan jin, seperti hawa nafsu, lapar, sakit, makan, tidur, bercanda, berdebat, dan lainnya.  Selalu takut dan taat kepada Allah.  Tidak pernah maksiat dan selalu mengamalkan apa saja yang diperintahkan-Nya.  Mempunyai sifat malu.  Bisa terganggu dengan bau tidak sedap, anjing dan patung.  Tidak makan dan minum.  Mampu mengubah wujudnya.  Memiliki kekuatan dan kecepatan cahaya. 3) Kitab-kitab-Nya a) Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an, yakni: kitab Zabur, Tawret, Injil b) Kitab Al-Qur’an Al-Karim (QS Qaf: 1)adalah Kitab Penutup dan Penyempurna dalam rangkaian kesatuan wahyuyang diturunkan Allah SWT melalui perantaraan malaikat Jibril(Asy-Su'arâ: 192-193)sebagai Mukjizat Teragung Kerasulan (An-Nisa 174), dengan fungsi pokok antara lain:  Al-Huda:Kitab Petunjuk menuju jalan yang lurus (QS. Al-Isra: 9)untuk segenap Ummat Manusia secara umum, dan Kaum Mukminin secara khusus (QS Albaqarah 1-2).  Al-Furqan:KitabPembeda yang memberikan peringatan. (QS. AlFurqon:1)  Ad-Dzikr: KitabPeringatan yang terpelihara. (QS Al-Hijr: 9)  Al-Syifa:Kitabyang mampu menjadi penawar dan penyembuh Kaum Beriman (Yunus: 57, Fushshilat: 44).  Al-Hukm: Kitab Peraturan yang benar. (QS Ar-Ra’d: 37)  Al-Hikmah: KitabKebijaksanaan (QS. Al Israa':39)

4) Nabi dan Rasul-Nya Iman terhadap seluruh Nabi dan Rasulnya sebagai bagian dari Kesatuan Kerajaan, Kebenaran, Wahyu, dan Misi Ilahy. 5) Hari Kiamat 6) Qadha dan Qadhar 5.3. AQIDAH RISALAH 5.3.1. Legitimasi otoritas dan Mukjizat Rasulullah Legitimasi kerasulan diperoleh dari Allah SWT melalui malaikat Jibril, dengan dibekali ciri khas kenabian yaitu mukjizat sebagai pusaka kerasulan yang bersifat supra-rasional, yang antara lain: 1) Al-Qur’an, sebagai Mukjizat Teragung dan Abadi. 2) Isra Mi’raj 3) Mukasyaffah terhadap hal-hal ghaib 4) Memiki kharisma dan wibawa yang luar biasa 5) Do’a yang mustajabah 6) Mampu menundukan berbagai berbagai gejala alam 7) Mampu berkomunikasi dengan bebatuan, hewan dan tumbuhan 8) Menyembuhkan Pengikut dan sahabatnya yang tengah sakit 5.3.2. Amanah, Fungsi, dan Misi Risalah 1) Menjadi rahmat bagi alam semesta. 2) Mengajarkan Wahyu Ilahy (Al-Huda) bagi ummat manusia. 3) Memimpin ummatnya dalam memenangkan Dinul Islam atas din yang lain. 4) Menetapkan perintah dan larangan serta sanksi bagi ummatnya. 5.3.3. Kontinuitas Otoritas Risalah Paska Wafatnya Muhammad SAW 1) Masa Khulafaur Rasyidin (Generasi As-Sabiqunal Awwalun) 2) Masa Mulkan ‘Adzon (Generasi ‘Arabiyyah-Konflik Kekuasaan) 3) Masa Mulkan Jabarin (Generasi Wathoniyyah-dan Imperialisme Salibis) 4) Masa Khilaffah ‘Ala Minhajin Nubbuwah (Generasi Masa Depan) 5.4. ‘ISY KARIMAN AW MUT SYAHIDAN: EKSPRESI IMAN TERDALAM 5.5. SYARI’AT ISLAM 5.5.1. SYARIAT UBUDIYYAH 5.5.2. SYARIAT MU’AMALAH 5.6. JAMA’AH MUSLIMIN
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS: 48:29)

5.6.1. DEFINISI DAN HUKUM BERJAMA’AH

5.6.2. HAKIKAT JAMA’AH MUSLIMIN a) Institusionalisasi Penyataan Ilahi tentang Ukhuwah Islamiyyah(QS. 49 AlHujurat : 10) b) Institusionalisasi Bertahap Syariat Ilahi c) Institusionalisasi Imaratul Islamiyyah 5.6.3. ASAS KEHIDUPAN JAMA’AH: a) Musyawarah b) Musyarakah c) Ta’awun d) Tarbiyyah e) Tawshiyah 5.6.4. ARKANUL JAMA’AH: a) Jama’ah b) Imamah/Imarah c) Bay’ah d) Tha’ah e) Quwwah 5.6.5. IMAMATUL ‘UDZMA D. LIGA MUSLIM INDONESIA SEBAGAI HARAKATU L-TAJDIDUL L-AMMAH 1. LMI sebagai Gerakan Pembaharuan semesta: 1.1. Harakatul Jama’atu l-Irsyad: Pelopor Pencerahan Tatanan Keruhanian Ummat 1.2. Harakatull-Taghyir: Pelopor Pembangun Tatanan Kemasyarakatan (Ijtima’iyyah) 2. LMI sebagai JAMA’AH MIN JAMA’ATUL-MUSLIMIN 2.1. Jama’atul Muslimin Dalam Skala Nasional 2.2. Jama’atul Muslimin Dalam Skala Regional 2.3. Jama’atul Muslimin Dalam Skala Global BAB III PETA RISALAH ISLAM DALAM KONTEKS KE-INDONESIA-AN A. DINAMIKA DAN PETA REALITAS UMMAT ISLAM BANGSA INDONESIA 1. Masa Islam dalam Konteks Global 1.1. Masa Pra-Futuh Makkah (Era Jahiliyyah) Adalah era Jazirah Arab dikuasasi oleh rezim jahilly Abu Jahal-Abu Lahab-Abu Sofyan, hingga runtuh melalui Revolusi Makkah (Futh Makkah) yang ditandai dengan penyerahan tampuk kepemimpinan Abu Sofyan kepada Rasulullah SAW. 1.2. Masa Kepemimpinan Rasulullah SAW Adalah era perjuangan Rasulullah dan Generasi Awal Islam (Hizbullah) dalam melakukan transformasi masyarakat Arab jahiliyyah menuju terwujudnya “Ummat Islam” sebagai “Ummat Wahiddah: yang berkualifikasi sebagai Khairo Ummat, Ummat Wasatho, yang dibangun sejak pengukuhan kerasulannya hingga Futh Makkah dan kewafatannya. Moment-moment strategis Perjuangan Rasulullah a) Penggunaan Metode Da’wahSirr b) Penggunaan Metode Da’wahJahr

c) Moment Pemboikotan d) Moment Isra Mi’raj e) Moment Hijrah f) Moment Perang Badar g) Moment Futuh Makkah 1.3. Masa Khilafatu Rasyidah (Generasi Sahabat) 1.4. Masa Mulkan ‘Adhon (Generasi ‘Arabiyyah-Konflik Kekuasaan) 1.5. Masa Mulkan Jabbarin (Generasi Wathoniyyah-Paska Imperialisme Salibis) 1.6. Masa Khilafatu ‘Al Minhajjin-Nubuwwah 2. Masa Islam dalam Konteks Nusantara 2.1. Masa Kerajaan Islam 2.2. Masa Penjajahan Kaum Nasrani 2.3. Masa Kemerdekaan Nasional (Rezim Pribumi) a) Rezim Orde Lama b) Rezim Orde Baru c) Rezim Orde Reformasi 2.4. Masa Kemerdekaan Sejati? B. TATA BANGUN IDEALITAS ISLAMY MASA DEPAN: Khilafah ‘Ala Minhajjin-Nubuwwah Mewujudkan Tatanan Kehidupan Ummat Islam dan Ummat Non-Islam se-nusantara yang bermartabat dan berkemakmuranberlandaskan Kemerdekaan Sejati, Persaudaraan Insani, dan Keadilan Ilahi, dengan indikasi pokok: 1. Tegaknya Imamatul/Imaratul‘Udzma, yang memiliki watak dasar: 2.1. Bermartabat dikarenakan kesucian ruhani dan keluhuran budi. 2.2. Berkhidmat untuk Rakyat. 2.3. Berkelayakan ditaati sebagaimana wajib taatnya kepada Allah dan Rasul. 2. Tegaknya Mitsaqul Insaniyyah(Komitment Baru Antar Ummat Beragama) 3. Tegaknya Syari’at Islam BAB IV KHITTAH PERJUANGAN: CITTA KEMANUSIAAN UNIVERSAL (TRI-CITTA MANUSIA) 1. Kemerdekaan Sejati 1.1. Merdeka dari Dominasi Akal Budi atas Nurani 1.2. Merdeka dari Dominasi Syahwat Hewani atas Fitrah Insani 1.3. Merdeka dari Dominasi Mithos atas Realitas 1.4. Merdeka dari Dominasi Kekuatan atas Kebenaran 1.5. Merdeka dari Dominasi Kediktatoran atas Rakyat 1.6. Merdeka dari Dominasi Kaum Mutrafin/Mustakbirin atas Kaum Mustadh’afin 2. Persaudaraan Insani 2.1. Persamaan atas dasar Kesatuan Penciptaan 2.2. Persamaan atas dasar Kesatuan Keturunan 2.3. Persamaan atas dasar Kesatuan Kehidupan 2.4. Persamaan atas dasar Kesatuan Kerasulan/Kenabian 3. Keadilan Ilahi 3.1. Mengutamakan Kewajiban Hambaterhadap Hak Pencipta-Nya

3.2. Mengutamakan Kewajiban Diriterhadap Hak Sesamanya 3.3. Mengutamakan Kewajiban Pemerintah terhadap Hak Rakyatnya BAB V MANHAJ HARAKATU TAJDIDUL-‘AMMAH LIGA MUSLIM INDONESIA A. DEFINISI DAN RUANG LINGKUP STRATEGI B. Harakatu Al-Tajdidul-‘Ammah (Gerakan Pembaharuan Semesta) LIGA MUSLIM INDONESIA,istiqomah berjuang dengan berkomitment meneladani: 1. Kualitas Personal Nabi Sebagai Figur Ideal: 1.1. Shidiq: Populis yang Kredibel 1.2. Tablig: Komunikan Efektif 1.3. Amanah: Pemimpin yang Kompeten 1.4. Fathonah: Berkecerdasan Strategis 1.5. Syaja’ah: Pemberani 2. Model ‘Amaliyyah RasulullahSAW sebagai Kerangka Aksi Haraky, yakni: 1.1. Ijtihad Wat-Tahajjud Disiplin aktivitas intelektual (fikriyyah)dan spiritual (qalbiyyah) dalam rangka meningkatkan kualitas ma’rifat dan penghambaan kepada Allah SWT. 1.2. ‘Amal Sholeh Aktivitas nafsiyyah yang bersifat ‘ibadah mahdah maupun ghairmahdah yang ditetapkan sebagai ketentuan syari’at bagi Ummat Islam oleh Allah, Rasululullah SAW, dan Ulil Amri demi mewujudkan kemaslahatan ummat. 1.2.1. ‘Ibadah mahdah: amal ibadah yang tatacaranya telah secara tersurat ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya. 1.2.2. ‘Ibadah ghair mahdoh: ‘amal ibadah yang tatacaranya tidak diatur secara jelas oleh Allah dan Rasulnya, sehingga memberikan ruang ijtihady bagi Ummatnya untuk menetapkan tatacaranya sesuai dengan kebutuhan kemaslahatan yang ingin dicapainya. 1.3. Da’wah Wa Tarbiyyah Da’wah dan Tarbiyayah merupakan segala bentuk kreasi dan aktivitas yang mendorong terbangunnya kesadaran manusia terhadap nilai-nilai DinulIslam. 1.3.1. Da’wah adalah aktivitas kaum mukmin untuk membangun dan mempengaruhi kesadaran Islami di antara kaum kuffar (ummat manusia secara umum), dengan metode: a) Dakwah bil hal, melalui kepeloporan dan keteladanan b) Dakwah bil lisan, melalui retorika dan propaganda, 1.3.2. Tarbiyyah adalah sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka regenerasi dan pembentukan kualitas kepribadian Ummat Islam secara utuh dan paripurna. 1.4. Amar Ma’ruf Nahy Munkar Upaya penguatan kebajikan dan penghapusan kemunkaran yang terjadi di tengah tengah Ummat, yang dilakukan secara nafsiyyah maupun jama’ah dengan mempergunakan: 1.4.1. Kekuatan politik (tekanan, jabatan, maupun kebijakan)

1.4.2. Kekuatan intelektual(lisan/tulisan) 1.4.3. Kekuatan spiritual (do’a) 1.5. Jihad Fii Sabilillah 1) Jihad secara Jama’ah ‘Amal jama’ah yang dilakukan secara terorganisir yang dilakukan dengan segenap kemampuan harta, jiwa, dan raga guna memenangkan konfrontasi dengan Musuh Islam. 2) Jihad secara Nafsiyyah ‘Amal nafsiyyah yang dilakukan seseorang dengan segenap kemampuan yang dimilikinya dalam mengalahkan dominasi hawa nafsu dan meningkatkan maqam ruhaninya. 3. Marhalah Harakah Sebagai Tahapan Transformasi Ummat 1.1. Penataan dan Penguatan Individual (Takwinul Syakhsiyyah) Mewujudkan Kualitas Indivual sebagai Al-Amiin(Ulul Albab yang diakui dan dipercaya integritas kpribadian dan kompetensinya oleh Masyarakat Luas). 1.2. Penataan dan Penguatan Ummat (Takwinul Ummah) Mewujudkan Khaira Ummah (Memiliki kapasitas kompetitif secara moral, intelektual, dan finansial dibanding Kaum Kuffar) 1.3. Penataan dan Penguatan Negara (Takwinul Dawlah) Mewujudkan Pilar-pilar Kenegaraan/Arkanul Dawlah Bersendikan Citta Kemanusiaan Universal dan Asasul-Jama’ah dengan landasanHikmah Islamsecara utuh (syamil) dan menyeluruh (kamil).

BAB VI MATRA GARAPAN ORGANISASI MASA KINI Matraatau bidang garapan organisasi adalah suatu formulasi sosiologis berbasis epistemologiIslamy dalam memandang fenomena sosial-politik kekinian (waqi’iyah)sebagairujukan faktual untuk merancang Agenda-Aksi Responsif Pembaharuan Ummat (Tajdidul Ummat) dalam berbagai bidang kehidupan. 3. Ideologi (Fikratul I’tiqodiyyah) Sistem pemikiran yang dipedomani secara sadar maupun tidak oleh masyarakat, yang ditopang oleh kekuatan (material-non material) tertentu sehingga mewujud dalam berbagai bentuk konsepsi, kelembagaan, kegiatan, maupun produk material tertentu. 1.1. Kategorisasi Ideologis terhadap Golongan Kaffir: a) Golongan Kaffir Kitaby yaitu Kaum Yahudi dan Nashrani b) Golongan Kaffir Non-Kitaby yaitu Kaum Musyrikin-Penganut Politheisme c) Golongan Kaffir Munafiqin yaitu Kaum Muslim-Pengkhianat Islam 1.2. Kategorisasi Ideologis terhadap Pemikiran “bentukan” Yahudi/Nasrani, yakni: a) Komunisme b) Liberalisme-Kapitalisme c) Sekulerisme d) Materialisme 4. Bidang Politik (Siyasah)

Segala hal yang berkait dengan tatanan Kelembagaan, produk kebijakan dan prilaku aparatur politik (militer dan sipil) yang terbangun dalam zaman “Mulkan Jabbarin”, baik pada era Rezim Imperialis-militer Barat (Salibis) maupun era kekuasaan Rezim Pribumi/Kebangsaan. 2.1. Pola Kebijakan dan prilaku Politik Melingkupi segala kebijakan organisasial-kenegaraan dalam berbagai tingkatan dan sektornya berikut latar belakang penetapannya dan mentalitas serta tindakan aparatur politik dalam pelayanan dan pengelolaan urusan rakyat. a) Politik Pro-Barat b) Politik Transaksional c) Politik Anti-Subsidi d) Politik Privatisasi e) Politik Konflik Kepentingan f) Politik Represi g) Politik Korupsi 2.2. Kelembagaan Pemerintahan a) Sentralisme Lembaga Eksekutif b) Sentralisme Pemerintahan Pusat c) Sentralisme Pertumbuhan Makro-Ekonomi d) Sentralisme Kaum Konglomerat 5. Hukum (Syari’ah) Sistem hukum yang mengatur Hak dan Kewajiban serta Sanksi yang ditetapkan oleh negara maupun masyarakat dalam melaksanakan dan melindungi kepentingan personal maupun sosial, jasmani maupun ruhaninya. 3.1. Putusan Hukum berdasarkan logika kekuatan (quwwah) 3.2. Putusan Hukum berdasarkan logika akal pikiran (aqliyyah) 3.3. Putusan Hukum berdasarkan logika positivisme-modern (Penjajah YahudiNasrani) 6. Sosial-Budaya (Tsaqofah Ummat) Tatanan prilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan hasrat alaminya baik pada dimensi jasmani maupun ruhani. 4.1. Budaya Keilmuan (Tsaqofah ‘Ilmiyyah) Tatanan nilai dan prilaku serta karya manusia yang bersumber dari kemampuan kecerdasannya ‘aqalfikriyyah maun qalbiyyah-nya. a) Superioritas positivistik-materialistik Tradisi sains modern berpijak pada realitas inderawi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan kebenaran yang absah seraya menafikan realitas takterindera (ghaibiyyah) dan metodologi qalbiyyah dalam memperoleh pengetahuan dan kebenaran. b) Superioritas ‘ulumu-duniawiyyah atas ‘ulumu-ddiniyyah. Sebagai implikasi logis dari berkembangannya pemikiran positivistik di atas, fungsi dan peranan ilmu-ilmu keduniaan, sebagai sarana mempermudah kehidupan manusia mendapatkan kedudukan tertinggi seraya menafikan ‘Ulumu-ddiniyyah yang berfungsi memberikan makna dan arah atas kehidupan. c) Superioritas teknokratis

Yakni bentuk aplikasi dari ‘ulumu-duniawiyyahdalam berbagai bentuk perangkat teknologi guna menguasai dan memanfaatkan seluruh kekayaan alam yang mengalami perkembangan yang cepat dan tanpa kendali, serta diimbangi kesadaran dan tanggungjawab moral manusia-akibat tidak berkembangnyapencerahan berbasis ‘Ulumu-ddiniyyah, hingga mengakibatkan kerusakan tatanan ekologis dan tatanan sosial.(QS 7/56) d) Sekulerisasi Institusi Keilmuan Ketimpangan perkembangan antara tsaqofatul ‘Ulumu-ddiniyyah dan ‘ulum dunniawiyyah, mengakibatkan system metodologi kajian dan penemuaan serta pengajaraanya mengalami sekulerisasi baik pada level teoritis maupun praktis.Dampaknya kebenaran Agama (qalbiyyah) termaginalisasi oleh kebenaran fikriyyah dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan manusia, terutama dalam bidang politik dan kemasyarakatan.Islam mengidealkan kedua ‘kebenaran’ tersebut dapat difungsikan secara adil dan integratif, karena pada hakikatnya keduanya bersumber dari Sang Maha Benar, Allah SWT. e) Dis-apresiasi masyarakat terhadap ‘Ulumu-ddiniyyah Sebagai efek lanjutan dari berbagai gejala massif di atas, maka ‘Ulumuddiniyyah kian kehilangan nilai fungsional-utilitariannya (Nilai Manfaat SosialEkonomi) dalam kehidupan, dan akibatnya masyarakat mengalami penurunan apresiasi dan antusiasme bahkan mengidap apatisme terhadap produk keilmuan maupun institusi pengajaran formal maupun non-formal ‘Ulumuddiniyyah. 4.2. Budaya Kesenian (Tsaqofatul Funun) Tatanan prilaku dan ekspresi manusia dalam bentuk benda maupun kegiatan tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan rekreatif (kesenangan) dan hasratnya terhadap nilai-nilai keindahan. a) Gejala superioritas hedonistik Ummat mengalami kehancuran supremasi spiritualitas melalui gelombang pembudayaan cara hidup berorientasi kesenangan instan. Secara sosial mewujud dalam bentuk produksi dan konsumsi legal maupun ilegal beragam alat/sarana kesenangan inderawi yang merusak kecerdasan manusia, seperti napza, miras, pesta pora, dan beragam aktivitas hobby sebagai pengalih atas kecenderungan ritualisme-spiritual. b) Gejala superioritas eksotika-fisik Ummat mengalami kehancuran makna keindahan, akibat dihadapkan pada gelombang penguatan tata nilai dan kaidah keindahan berdasarkan pada konstruksi material yang terindra an sich. Dalam realitas sosial mewujud dalam bentuk fanatisme dan pemujaan serta peneladanan terhadap hasil kreasi dan figur seni yang didominasi sisi erotisme ragawi manusia. 4.3. Budaya Ekonomi (Tsaqofah Mu’amalah) Tatanan pola prilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau suatu tujuan nilai komersial tertentu melalui aktivitas konsumsi, produksi/industri, maupun distribusi tertentu. a) Eksploitasi-Manipulasi atas Kekayaan alam b) Eksploitasi-Manipulasi atas Kaum Buruh/Pekerja c) Eksploitasi-Manipulasi atas Kaum Usahawan Lebih Kecil

d) Eksploitasi-Manipulasi atas Pasar/Konsumen e) Eksploitasi-Manipulasi atas Alat Tukar/Mata Uang 4.4. Budaya Kemasyarakatan (Tsaqofah Ijtima’iyyah) Tatanan pola prilaku masyarakat dalam melakukan interaksi sosial berdasarkan tujuan dan kepentingan seksual, genetikal, atau rekreatif tertentu. a) Gejala Desakralisasi Hubungan Gender (Laki-laki dan Perempuan) Ummat dihadapkan pada adanya gelombang penguatan dalam legimatimasi sosial maupun yuridis terhadap hubungan homo-seksual dan free seks baik atas dasar motif ekonomi maupun non-ekonomi, baik pada strata orang dewasa maupun remaja bahkan anak-anak. b) Gejala Desakralisasi Hubungan Antar Individu maupun antar kelompok Ummat mengalami kerusakan sistemik hubungan sosial akibat berkembangnya nilai dan kaidah ekonomi sebagai faktor dominan mendorong dalam proses interaksi antar individu. Uang dan nilai serta kepentingan ekonomis menjadi patokan tertinggi dalam menakar urgensi atas status dan relasi sosial dengan sesama, bahkan dengan keluarga sekalipun. Secara faktual mewujud dalam bentuk maraknya tindakan kekerasan dan pemaksaan/perampasan/pengambilan atas hak milik yang bukan melalui cara yang benar dan etis. c) Gejala Desakralisasi Institusi Keluarga Ummat mengalami gelombang kerusakan tatanan keluaga dalam tatanan hubungan alamiah genetis-nya.Hal ini ditandai kian mencuatnya kasus incest (hubungan seks antara sesama anggota keluarga), konflik warisan, dan malfungsi antara laki-laki dan perempuan, serta anak dengan orangtuanya. 7. Pertahanan dan Kemanan Bidang yang berkait dengan kemampuan ummat dalam mencegah dan menghadapi “Ancaman Fisik” yang secara potensial maupun aktual mengganggu Hak-hak fundamentalnya sebagai individu maupun kesatuan sosial (Jama’ah). 5.1. Ancaman Bencana/Musibah yang bersumber dari alam: a) Banjir b) Gempa Bumi c) Longsor d) Letusan Gunung berapi e) Tsunami f) Wabah Penyakit 5.2. Ancaman bencana/musibah yang bersumber dari manusia atas dasar motif kriminal maupun motif politik, antara lain: a) Individu b) Kelompok Masyarakat c) Negara BAB VI KHATIMAH

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful